Fonologi Dan Morfologi

4. 2 Fonologi Fonologi mengacu pada sistem bunyi bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Inggris karena tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris, namun gugus konsonan tersebut mungkin dapat dengan mudah diucapkan oleh penutur asli bahasa lain yang sistem fonologisnya terdapat gugus konsonan tersebut. Contoh sederhana adalah pengucapan gugus „ng‟ pada awal kata, hanya berterima dalam sistem fonologis bahasa Indonesia, namun tidak berterima dalam sistem fonologis bahasa Inggris. Kemaknawian utama dari pengetahuan akan sistem fonologi ini adalah dalam pemberian nama untuk suatu produk, khususnya yang akan dipasarkan di dunia internasional. Nama produk tersebut tentunya akan lebih baik jika disesuaikan dengan sistem fonologis bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional. 4. 3 Morfologi Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Sebagai perbandingan sederhana, seorang ahli farmasi (atau kimia?) perlu memahami zat apa yang dapat bercampur dengan suatu zat tertentu untuk menghasilkan obat flu yang efektif; sama halnya seorang ahli linguistik bahasa Inggris perlu memahami imbuhan apa yang dapat direkatkan dengan suatu kata tertentu untuk menghasilkan kata yang benar. Misalnya akhiran -en dapat direkatkan dengan kata sifat dark untuk membentuk kata kerja darken, namun akhiran -en tidak dapat direkatkan dengan kata sifat green untuk membentuk kata kerja. Alasannya tentu hanya dapat dijelaskan oleh ahli bahasa, sedangkan pengguna bahasa boleh saja langsung menggunakan kata tersebut. Sama halnya, alasan ketentuan pencampuran zat-zat kimia hanya diketahui oleh ahli farmasi, sedangkan pengguna obat boleh saja langsung menggunakan obat flu tersebut, tanpa harus mengetahui proses pembuatannya. MORFOLOGI 1.Pengertian Morfologi Menurut Ramlan pengertian morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta perubahan bentuk kata serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan kata. Bentuk kata yaitu ; •Kata dasar, contohnya sepeda •Kata berimbuhan, contoh berepeda •Kata majemuk, contohnya sapu tangan •Kata ulang, contohnya berbondong2 Pembagaian bentuk kata menurut C.A. Mees yang berkebangsaan Belanda terdiri dari: •Kata benda •Kata kerja •Kata sifat •Kata ganti •Kata bilangan •Kata depan

Misalnya bunyi [l]. [b] dan [u] jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama. [a]. yaitu: a) fonetik artikulatoris atau fonetik organis atau fonetik fisiologi. aplitudonya. menjadi tiga jenis fonetik. FONOLOGI DAN BIDANG PEMBAHASANNYA Pengertian Fonologi Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik. Jadi arti kata hanya mengartikan kata tesebut. fonetik yaitu cabang kajian yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Jos Daniel Perera meberi batasan morfologis (proses). Chaer (2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu. b) fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam (bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getaranya.•Kata sandang •Kata Sambung •Kata seru •Kata keterangan. fonemik yaitu kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika. mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Karena itu. untuk menunjukan arti – arti imbuhan gramatikal. Kedua. dan fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran. serta bersepeda. [a]. artinya kegiatan menggunakan sepeda. bersepeda dan sepeda. Bidang Pembahasannya Fonologi mempunyai dua cabang kajian. juga bisa dilihat dari sepeda dan bersepeda dengan diberi imbuhan maka kata sepeda dan bersepeda pun menjadi beda. [b] dan [u]. Arti kata ini misalnya. fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. dan [r]. . yaitu Morfemis adalah proses perubahan dari golongan kata yang satu lalu berubah menjadi golongan kata yang lain akan tetapi dengan kata dasar yang sama. c) fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Pertama. Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris. juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan golongan arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata. yang berarti sepeda. disamping bidangnya yang utama menyelidiki seluk beluk bentuk kata. Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. artinya benda yang mmilki roda dua yang dijalankan dengan cara dikayuh. Perbedaan golongan arti kata – kata tidak lain disebabkan oleh perubahan bentuk kata. contohnya bersepeda dll.dan intensitasnya. makna (arab). sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. misalnya sepeda menjadi bersepeda arti (sanksekerta) hanya untuk kata dasar (sepeda). yaitu bunyi [l] dan bunyi [r]. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa. maka morfologi.

[teras] dan [t∂ras] akan bermakna lain. dan kalimat. dan semantik. misalnya morfologi. [tau]. Hasil analisis fonologislah yang membantunya. klausa. Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf. (kalimat berita). yang berkosentrasi pada persoalan makna kata pun memanfaatkan hasil telaah fonologi. Contoh kata [tahu]. Fonologi dalam cabang Morfologi Bidang morfologi yang kosentrasinya pada tataran struktur internal kata sering memanfaatkan hasil studi fonologi. nama orang. terutama dalam bahasa Indonesia. Perlambangan unsure suprasegmental ini dikenal dengan istilah tanda baca atau pungtuasi. [didī?]. nada. tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk kata. ketika berhadapan dengan kalimat kamu berdiri. sintaksis. 1.terutama hasil kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. jedah dan tekanan pada kalimat yang ternyata dapat membedakan maksud kalimat. Kedudukan Fonologi dalam Cabang-cabang Linguistik Sebagai bidang yang berkosentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi ujar. Fonologi dalam cabang Sintaksis Bidang sintaksis yang berkosentrasi pada tataran kalimat. dan kamu berdiri! (kalimat perintah) ketiga kalimat tersebut masing-masing terdiri dari dua kata yang sama tetapi mempunyai maksud yang berbeda. ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi tersebut. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologis. lambang-lambang teknis keilmuan dan sebagainya. yaitu segmental dan suprasegmental. kamu berdiri? (kalimat tanya). hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguitik yang lain. frase. [dīdī?] tidak membedakan makna. Misalnya dalam mengucapkan sebuah kata dapat divariasikan. Fonologi dalam cabang Semantik Bidang semantik. [dUdU?]. hasil kajian fonemik terhahadap ejaan suatu bahasa disebut ejaan fonemis. bagaimana menuliskan singkatan. Tata cara penulisan bunyi ujar ini bias memanfaatkan hasil kajian fonologi. dan tidak. Oleh karena itu.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia. . 2. Sedangkan kata duduk dan didik ketika diucapkan secara bervariasi [dudU?]. Manfaat Fonologi dalam Penyusunan Bahasa Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. durasi. Perlambangan unsure suprasegmental bunyi ujar menyangkut bagaimana melambangkan tekanan. yaitu tentang intonasi. Karena bunyi ujar adalah dua unsur. bagaimana memenggal suku kata. jedah dan intonasi. yaitu fonem /l/ dan fonem /r/. 3. misalnya ketika menjelaskan morfem dasar {butuh} diucapkan secara bervariasi antara [butUh] dan [bUtUh] serta diucapkan [butuhkan] setelah mendapat proses morfologis dengan penambahan morfem sufiks {-kan}.

Masing-masing kategori sintaksis dapat berdiri sendiri dalam sebuah kalimat (kecuali kata tugas) sesuai fungsi-fungsi sintaksis tertentu. dan kartun. test. Oleh sebab itu. tes. yaitu bahasa dalam bentuk bunyi ujar. saloon. sehingga kata balloon. Struktur Morfologis Struktur morfologis adalah struktur terkecil yang dapat dianalisis dalam penggunaan bahasa tulis. diserap dengan pelesapan konsonan terakhir menjadi proses. Demikian juga dengan deret vokal oo. sehingga bentuk turunan dari proses afiksasi {meng-} dan {pesona} adalah {memesona}. kata bahasa Inggris seperti process. adjektiva dan adverbia memiliki fungsi keterangan. dan konfiks). Konsekuensi logis dari anggapan – bahkan keyakinan – ini adalah dasar analisis cabang-cabang linguistik apa pun (: fonologi. Struktur morfologis melibatkan bentuk-bentuk kata yang dibedakan secara umum atas dua: bentuk bebas (morfem bebas) dan bentuk terikat (morfem terikat). afiks {ber-} dengan nomina bunga menghasilkan verba turunan berbunga. dan kas. dianggap sebagai bahasa sekunder. Struktur fonologi juga menjadi persoalan dalam kasus perubahan morfonemik. Fonologi dan Bidang Pembahasannya Bahwa bahasa adalah sisten bunyi ujar sudah disadari oleh para linguis. A. dan kata tugas memiliki fungsi konjungsi dan preposisi. salon. Oleh karena itu. misalnya kata pesona. infiks. dan lainnya) berkiblat . objek utama kajian linguistik adalah bahasa lisan. dan cartoon diserap menjadi balon. Misalnya. st. Kategori-kategori sintaksis bentuk turunan yang dibentuk dengan penggunaan afiks tertentu harus tepat agar dapat berfungsi sebagaimana seharusnya. leksikologi. Bentuk terikat atau morfem terikat wujud dalam semua bentuk afiks (prefiks. di mana pembentukan kata dengan afiks tertentu menyebabkan terjadinya perubahan fonemfonem tertentu. Contoh lain. Kalau toh dalam praktik berbahasa dijumpai ragam bahasa tulis. sh dalam sebuah suku kata. sufiks. Kasus ini dapat kita lihat pada proses afiksasi /meŋ/ pada kata dengan fonem awal /p/. yaitu “rekaman” dari bahasa lisan. Morfem terikat tidak dapat berdiri sendiri dalam bentuk apapun. verba memiliki fungsi sebagai predikat. Nomina memiliki fungsi sebagai subjek dan objek. konfiks {ke-an} dengan adjektiva sedih menghasilkan nomina turunan kesedihan. dan cash. dan adverbia serta kata tugas. sintaksis. Bentuk ini berbeda dengan bentuk yang diturunkan dengan proses afiksasi konfiks {pe-an} dengan nomina dasar {rumah} yang menghasilkan nomina turunan tempat {perumahan}. Dalam hal ini. verba. Afiks digunakan dalam proses pembentukan kata turunan pada semua kategori.a. bahasa Indonesia tidak mengenal deret konsonan rangkap ss. bahasa tulis bukan menjadi sasaran utama kajian linguistik. khususnya dalam bahasa media massa cetak. Misalnya. Misalnya. adjektiva. Oleh karena itu. konfiks {peng-an} dengan nomina dasar {rumah} akan membentuk nomina turunan proses {pengrumahan}. Kategori sintaktis mengelompokkan kata berdasarkan bentuk serta perilakunya yaitu: nomina. Bentuk atau morfem bebas wujud dalam seluruh kategori sintaksis (kelas kata). b. Struktur Fonologi Struktur fonologi dalam bahasa tulis terutama sekali adalah struktur fonem yang membangun kata yang harus sesuai aturan fonotaktis bahasa Indonesia yang baku. fonem /ŋ/ pada /meŋ/ akan melebur dengan fonem /p/ pada /pesona/ menjadi fonem /m/. semantik. morfologi.

persoalan jeda dan tekanan pada kalimat. dan leksikologi pada persoalan perbendaharaan kata. dan ketika bergabung dengan morfem dasar {pacu}. pasir. pengajaran bahasa. Secara lebih rinci. yang konsentrasi analisisnya pada tataran struktur internal kata (mulai dari perilaku kata. yang konsentrasi analisisnya pada tataran kalimat ketika berhadapan dengan kalimat Kamu di sini. {jerit} menjadi [məmbaca]. bunyi-bunyi ujar ini dapat dipelajari dengan dua sudut pandang. yang ter-nyata bisa membedakan maksud kalimat. {daki}. Bunyi-bunyi ujar merupakan unsur-unsur bahasa terkecil yang merupakan bagian dari struktur kata dan yang sekaligus berfungsi untuk membedakan makna. {garap}. bagaikan batu. dan [məñjərīť]. mengapa morfem dasar {pukul} diucapkan secara bervariasi antara [pukUl] dan [pUkUl]. padahal masing-masing terdiri atas tiga kata yang sama. Begitu juga. Kapan sebuah kata bisa divariasikan ucapannya. morfologi pada persoalan struktur internal kata. Mengapa kata tahu dan teras kalau diucapkan secara bervariasi [tahu]. semantik. Dengan demikian. Kamu di sini? (kalimat tanya). praktis “minta bantuan” hasil studi fonologi. Bidang semantik. Oleh fonologi. Misalnya. Fonologi yang memandang bunyi-bunyi ujar itu sebagai bagian dari sistem bahasa lazim disebut fonemik. [mənari]. Apalagi. mengapa morfem prefiks {məN-} ketika bergabung dengan morfem dasar {baca}. yaitu tentang intonasi. Dari dua sudut pandang tentang bunyi ujar tersebut dapat disimpulkan bahwa fonologi mempunyai dua cabang kajian. dan Kamu di sini! (kalimat seru/perintah) yang ketiganya mempunyai maksud yang berbeda. serta diucapkan [pukulan] setelah mendapatkan proses morfologis dengan penambahan morfem sufiks {–an}. semen sebagai bahan mentah bangunan rumah. Fonologi yang memandang bunyi-bunyi ujar demikian lazim disebut fonetik. fonologi berkonsentrasi pada persoalan bunyi. [teras]. {kuras}. Bidang sintaksis. {tari}. (kalimat berita). dan . Bidang morfologi. [məŋgarap‟]. walaupun yang dikaji sesuai dengan konsentrasinya masing-masing. bisa dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologi. kedua cabang kajian fonologi ini diuraikan pada bab-bab berikutnya. proses pembentukan kata. {sayat} menjadi [məmacu]. Ketika ingin menjelaskan. korpus data yang menjadi sasaran analisinya adalah bahasa lisan. [tau]. dan psikolinguistik. yang berkonsentrasi pada persoalan makna kata pun tidak jarang memanfaatkan hasil telaah fonologi. B. leksikologi. [məñayať]? Jawabannya juga memanfaatkan hasil studi fonologi. sintaksis. bunyi-bunyi dianggap sebagai bahan mentah. yaitu (1) fonetik dan (2) fonemik. Begitu juga. Misalnya morfologi. dan kapan tidak. Pertama. Kajian mendalam tentang bunyi-bunyi ujar ini diselediki oleh cabang linguistik yang disebut fonologi. semantik pada persoalan makna kata. sampai dengan nosi yang timbul akibat pembentukan kata) sering memanfaatkan hasil studi fonologi. Kedua. baik linguistik teoretis maupun terapan. dialektologi. bunyi-bunyi ujar dipandang sebagai bagian dari sistem bahasa. [məndaki].pada korpus data yang bersumber dari bahasa lisan. Kedudukan Fonologi dalam Cabang-cabang Linguistik Sebagai bidang yang berkonsentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi ujar. bunyi-bunyi ujar dipandang sebagai media bahasa semata. [məŋuras]. hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguistik yang lain. sintaksis pada persoalan susunan kata dalam kalimat. Dari sini dapat dipahami bahwa material bahasa adalah bunyi-bunyi ujar. terutama dalam bahasa Indonesia. tak ubahnya seperti benda atau zat.

dan sebagainya. Linguistics in Clinical Practice (oleh Kim Grundy). Bidang dialektologi. Pengajaran bahasa (khususnya pengajaran bahasa kedua dan pengajaran bahasa asing) yang bertujuan keterampilan berbahasa lisan harus melatihkan cara-cara pengucapan bunyi-bunyi bahasa target kepada pembelajar (the learner). yang berkonsentrasi pada persoalan perbendaharaan kata suatu bahasa. Dalam bidang klinis. nama orang. Begitu juga pada bidang linguistik terapan. Robert Spence. yang bermasud memetakan “wilayah” pemakaian dialek atau variasi bahasa tertentu sering memanfaatkan hasil kajian fonologi. Assessment and Therapy for Young Dysfluent Children: Familiy Interaction (oleh Lena Rustin dan Elaine Kelman). Bidang leksikologi. Perlambangan unsur suprasegmental bunyi ujar menyangkut bagaimana melambangkan tekanan. Mengapa bunyi-bunyi bilabial dikuasai lebih dahulu dari pada bunyi-bunyi labiodental. frase. tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk kata. bagaimana memenggal suku kata. Pada awal tahun 2000-an ini telah muncul buku yang berkaitan dengan klinis ini. [bidī?]. bisa dijelaskan dengan gamblang lewat analisis fonetik artikulatoris. Cara-cara pengucapan yang khas suatu kata dan variasi pengucapan hanya bisa dideskripsikan secara cermat lewat transkripsi fonetis. Variasi-variasi ucapan hanya bisa dijelaskan dengan tepat kalau memanfaatkan hasil analisis fonologi. klausa. [bīdī?] tidak membedakan makna? Hasil analisis fonologislah yang bisa membantunya. dan kalimat. bagaimana menuliskan singkatan. Phonetics for Speech Pathology. juga leksokografi. jeda. maka ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi ujar tersebut. dan masih banyak lagi lainnya. nada. C. Manfaat Fonologi dalam Penyusunan Ejaan Bahasa Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. dan France Cook). terutama variasi-variasi ucapan pemakaian bahasa baik secara sosial maupun geografis. dan intonasi. sering memanfaatkan hasil kajian fonologi. Cara-cara pengucapan ini akan lebih tepat dan cepat bisa dikuasai kalau pembelajar ditunjukkan ciri-ciri artikulasi dan cara-cara pengucapan setiap bunyi yang dilatihkan dengan memanfaatkan hasil kajian fonologi. Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya bagaimana me-lambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf. Management of Stuttering in Adolescence: A Cpmmunication Skills Approach (oleh Lena Rustin. Perlambangan unsur suprasegmental ini dikenal dengan istilah tanda baca atau . sedangkan kata duduk dan bidik ketika diucapkan secara bervariasi [dudU?]. lambang-lambang teknis keilmuan. Instrumen Clinical Phonetics (ketiganya oleh Martin Ball dan Chris Code).[təras] akan bermakna lain. mengapa bunyi vokal rendah-depan dikuasai lebih dahulu dari pada vokal tinggibelakang. Psikolinguistik ketika menganalisis perkembangan penguasaan bunyi-bunyi bahasa pada diri anak juga memanfaatkan hasil kajian fonologi. hasil kajian fonologi (khsususnya fonetik) dapat dimanfaatkan untuk menangani orang atau anak yang mengalami hambatan berbicara dan mendengar. Does Speech and Language Therapy Work? (oleh Pamela Enderby dan Joyce Emerson). baik dalam rangka penyusunan kamus maupun tidak. dUdU?]. misalnya Methods in Clinical Pohonetics. Developmental Speech Disorders (oleh Pamela Grunwell). Karena bunyi ujar ada dua unsur. durasi. yaitu segmental dan suprasegmental. Dari uraian di atas jelaslah bahwa studi fonologi sangat berkaitan dengan (bahkan sangat berperan pada) bidang-bidang linguistik lain baik secara teoretis maupun praktis. mengapa bunyi lateral dikuasai lebih dahulu dari pada bunyi tril.

Satu sistem ejaan sesuai dengan bahasa yang dilambangkan pada waktu ejaan itu diciptakan.com/2011/08/fonologi-dan-morfologi.pungtuasi.blogspot. ejaanlah yang harus disesuaikan terus-menerus seiring dengan perkembangan atau perubahan bunyi pada bahasa yang dilambangkan. pen) harus mengikuti dan tunduk pada ejaan (bahasa tulis. Bahasa mana pun selalu berubah. Oleh karena itu. Tatacara penulisan bunyi ujar (baik segmental maupun suprasegmental) ini bisa memanfaatkan hasil kajian fonologi. terutama hasil kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Bahasa lisan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa ejaan. ejaan bahasa Indonesia dikenal dengan istilah ejaan fonemis. ada usulan dari beberapa kalangan yang menarik untuk diperhatikan. termasuk bahasa Indonesia. ejaan bahasa Indonesia yang selama ini telah diterapkan dalam penulisan memanfaatkan hasil studi fonologi bahasa Indonesia.html . Jadi. tidaklah ada alasan kuat bahwa bahasa (bahasa lisan. yaitu “ucapan bahasa Indonesia hendaknya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia”. usulan itu sangat lemah dan tidak berdasar karena selain menyalahi kodrat bahasa juga bertentangan dengan kealamiahan bahasa. Mengapa demikian?   Kita tahu bahwa ejaan tumbuh beratus-ratus tahun – bahkan beribu-ribu tahun – setelah bahasa lisan ada. Sebagi contoh. pen). Oleh karena itu. terutama yang bertkaitan dengan pelambangan fonem. Terkait dengan pemberlakukan ejaan bahasa Indonesia. http://eldhieya. bukan sebaliknya. Dilihat dari pengkajian fonetik. bukan sebaliknya. Ejaan diciptakan untuk melambangkan bunyi-bunyi bahasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful