30

31

BAB II GEOMORFOLOGI

II.1 Geomorfologi Regional Pulau Selayar Secara fisiografi pesisir Timur merupakan penghubung antara lembah Walanae di Utara dan pulau Selayar di Selatan. Bagian Selatan pesisir Timur membentuk suatu tanjung yang ditempati sebagian besar oleh daerah berbukit kerucut dan sedikit topografi Karst. Teras pantai dapat diamati di daerah ini sejumlah antara 3 dan 5 buah. Bentuk morfologi ini disusun oleh batugamping berumur Miosen Akhir Pliosen. Pulau Selayar mempunyai bentuk memanjang utara-selatan, yang secara fisiografi merupakan lanjutan dari pegunungan di sebelah timur di lembar Pangkajene dan Watampone bagian barat. Bagian timur rata-rata lebih tinggi dengan puncak tertinggi 608 meter, dan bagian barat lebih rendah. Pantai Timur rata-rata terjal dan pantai barat landai, secara garis besar membentuk morfologi lereng miring ke arah barat. Pada daerah batugamping membentuk perbukitan rendah dengan ketinggian rata-rata 150 meter, dan yang paling tinggi 400 meter di Pulau Selayar. Endapan alluvial dijumpai di sebelah barat Pulau Selayar yang pada umumnya material-materialnya berasal dari laut berupa pasir dan kerikil, di mana sebagian besar masyarakat memanfaatkan sebagai tambak

32

STRATIGRAFI

III.1. Strattigrafi Regional Pulau Selayar Stratigrafi regional Pulau Selayar tediri dari 5 (lima) formasi yaitu Formasi Camba (Tmc), Formasi Camba vulkanik (Tmcv), Formasi Walanae (Tmpw), Formasi Walanae Anggota Selayar (Tmps), dan formasi Alluvial (Qac) (Sukamto dan Supriatna, 1982). Batuan Gunungapi Formasi Camba (Tmcv) ; berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir dengan ketebalan sekitar 2.500 m. Formasi Camba (Tmcv) ini disusun oleh batuan gunungapi, lava, konglomerat dan tufa berbutir halus hingga lapili, bersisipan dengan batuan sedimen laut berupa batupasir tufaan, batupasir gampingan dan batulempung yang mengandung banyak sisa- sisa tumbuhan. Bagian bawahnya

lebih banyak mengandung breksi gunungapi dan lava yang berkomposisi andesit dan basal, konglomerat juga berkomponen andesit dan basal dengan ukuran 3 – 50 cm,

tufa kristal dan tufa vitrik. Bagian atasnya mengandung ignimbrit bersifat trakit dan tefrit leusit, ignimbrit berstruktur kekar meniang, berwarna kelabu kecoklatan dan coklat tua, tefrit leusit berstruktur aliran dengan permukaan berkerak roti, berwarna hitam. Breksi gunungapi yang tersingkap di Pulau Selayar mungkin termasuk formasi ini. Breksinya sangat kompak, sebagian gampingan, berkomponen basal amfibol, basal

33

piroksin dan andesit (0,5 – 30 cm), bermassa dasar tufa yang mengandung biotit dan piroksin. Satuan ini merupakan fasies gunungapi dari Foramsi Camba yang berkembang baik di daerah sebelah utaranya (Lembar Pangkajene dan Watampone Bagian Barat), lapisannya kebanyakan terlipat lemah dengan kemiringan rata- rata 20o, menindih tak selaras batugamping Formasi Tonasa (Temt) dan batuan yang lebih tua. Formasi Walanae (Tmpw) ; berumur Miosen Akhir dan Pliosen dengan ketebalan sekitar 2.500 m. Formasi ini disusun oleh perselingan batupasir, konglomerat dan tufa dengan sisipan batugamping, napal dan lignit, batupasir berbutir sedang sampai kasar, umumnya gampingan dan agak kompak, berkomposisi sebagian andesit dan sebagian lainnya mengandung kuarsa, tufanya berkisar dari tufa breksi, tufa lapili, dan tufa kristal yang banyak mengandung biotit, konglomerat berkomponen andesit, trakit dan basal, dengan ukuran 1/2 - 70 cm, rata- rata 10 cm. Di daerah utara banyak mengandung tufa, bagian tengah banyak mengandung batupasir, dan dibagian selatan sampai di Pulau Selayar berjemari dengan batugamping Anggota Selayar (Tmps), kebanyakan batuannya berlapis baik, terlipat lemah dengan kemiringan antara 10o – 20o dan membentuk perbukitan dengan ketinggian rata- rata 250 m diatas muka laut. Di Pulau Selayar, formasi ini terutama terdiri dari lapisan batupasir tufaa (10 – 65 cm) dengan sisipan napal, batupasirnya mengandung kuarsa, biotit, amfibol dan piroksin. Pada Formasi Walanae terdapat Tmps merupakan Anggota Selayar Formasi Walanae Anggota Selayar Formasi Walanae (Tmps) ; berumur Miosen Akhir dan Pliosen dengan ketebalan sekitar 2.000 m. Formasi ini disusun oleh batugamping pejal,

34

batugamping koral dan kalkarenit, dengan sisipan napal dan batupasir gampingan, umumnya putih, sebagian coklat dan merah. III.2 Stratigrafi Daerah Penelitian pembagian dan penamaan satuan batuan pada daerah penelitian didasarkan pada litostratigrafi tidak resmi, yang bersendikan ciri fisik yang dapat diamati di lapangan, meliputi jenis batuan, tekstur, struktur, komposisi mineral, keseragaman gejala litologi, dan urutan satuan batuan yang menerus, serta dapat terpetakan pada sekala 1 : 25.000 (Sandi stratigrafi, 1996). Berdasarkan hal tersebut di atas, maka satuan batuan yang menyusun daerah penelitian dapat dibagi menjadi 3 (tiga) satuan batuan dari yang termuda sampai yang tertua, yaitu : 1. Satuan batugamping 2. Satuan tufa 3. Satuan breksi vulkanik Berikut ini akan diuraikan pembahasan setiap satuan batuan yang menyusun daerah penelitian, dimulai dari yang tertua sampai yang termuda. III.2.1 Satuan breksi vulkanik Satuan batuan ini menyebar di bagian Timur daerah penelitian, yang keseluruhan satuan ini menempati lebih kurang 25,5% dari luas keseluruhan daerah

35

penelitian atau lebih kurang 20,5 km2. Hasil pengukuran ketebalan pada penampang geologi C - D, didapatkan ketebalan lebih kurang 1450 m. Satuan breksi vulkanik terdiri dari tufa halus, tufa lapili, tufa kasar dan breksi vulkanik. Pengendapan satuan ini diawali dengan pengendapan tufa halus, secara menerus terbentuk tufa lapili, tufa kasar dan breksi vulkanik yang merupakan bagian satuan breksi. Kenampakan lapangan dari breksi vulkanik ini memperlihatkan segar berwarna abu-abu, lapuk berwarna hitam, tekstur klastik , ukuran butir > 64 mm, bentuk butir angular – sub angular, sortasi jelek, kemas terbuka, kedudukan batuan N190oE/10o N195oE/10o, tersusun atas fragmen basal dan andesit, matriks tufa berukuran halus kasar, dengan semen silika (foto 10).

Foto 10. Singkapan breksi vulkanik yang tersingkap di sungai bukit 422 (stasiun 112), difoto relatif ke arah timur.

36

Kenampakan petrografis fragmen batuan ini dengan nomor 8/BV/FS, warna coklat muda, tekstur porfiritik, hipokristalin, inequigranular, ukuran 0,001 mm - 1,6 mm, bentuk subhedral - anhedral, terdiri dari mineral andesin 37%, augit 22%, kuarsa 12% dan mineral opak 5%, massa dasar kristal 15%, massa dasar gelas 9%. Nama batuan andesit porfiri (foto11) (Travis, 1955). Kenampakan petrografis fragmen batuan ini dengan nomor 9/BV/FS, warna coklat muda, tekstur porfiritik, hipokristalin, inequigranular, ukuran 0,001 mm - 1,6 mm, bentuk subhedral-anhedral, terdiri dari mineral labradorit 33%, augit 17%, kuarsa 13% dan mineral opak 5%, massa dasar kristal 28%, massa dasar gelas 12%. Nama batuan basal porfiri (foto12) (Travis, 1955).

Foto 11. Sayatan tipis fragmen breksi vulkanik andesit (8/BV/fs), yang terdiri dari plagioklas (pl), piroksin (pr), kuarsa (ku), massa dasar kristal (mk), massa dasar gelas (mg).

37

Kenampakan petrografis sayatan matriks batuan ini dengan nomor 8/BV/FS, memperlihatkan warna coklat, dengan ukuran 0,001 mm – 1,6 mm, bentuk bulat tanggung - menyudut tanggung, struktur shutter crack, terdiri dari mineral diopsit 42%, kuarsa 32%, glass vulkanik 26% (foto13). (Pettijohn, 1975). Kenampakan lapangan tufa halus memperlihatkan segar berwarna abu-abu, lapuk berwarna coklat, tekstur klastik, ukuran butir < 1/2 mm, struktur sedimen Nama batuan “Cristall vitric tuff”

laminasi – berlapis, tebal lapisan > 1 cm – ( 5 – 85) cm, kedudukan perlapisan batuan N170oE/15o - N190oE/8o (foto14), komposisi mineral terdiri atas kuarsa dan piroksin.

Foto 12. Sayatan tipis fragmen breksi vulkanik basal (9/BV/FS) yang tersusun atas mineral kuarsa (ku), piroksin (pr), plagioklas (pl), massa dasar kristal (mk), massa dasar gelas (mg).

38

Foto 13. Sayatan tipis matriks breksi vulkanik (8/BV/FS), yang terdiri dari mineral piroksin (pr), kuarsa (ku), gelas vulkanik (gv)

Foto 14. Singkapan tufa halus yang tersingkap pada sungai Bukit 422 (stasiun 136), difoto ke arah Timurlaut. Kenampakan petrografis sayatan tufa halus dengan nomor 6/TH/FS, memperlihatkan warna coklat, ukuran 0,001mm-0,4mm menyudut tanggung - bulat

39

tanggung, struktur shutter crack, terdiri dari kuarsa 35%, augit 30%, sanidin 10%, mineral opak 5%, gelas vulkanik 20% (foto 15). Nama batuan (Pettijohn, 1975). Kenampakan lapangan tufa lapili memperlihatkan segar berwarna abu-abu, lapuk berwarna hitam, tekstur klastik, ukuran butir 2 mm – 64 mm, bentuk bulat-bulat tanggung,, kedudukan batuan N190oE/10o, tebal lapisan (5 – 15) cm,tersusun atas basal dan andesit yang berukuran lapili, piroksin, plagioklas, kuarsa (foto 16). “Cristal tuff”

Foto 15. Sayatan tipis tufa halus dengan nomor 6/TH/FS, terdiri dari kuarsa (ku), piroksin (pr), gelas vulkanik (gv), sanidin (sn).

40

Foto 16. Singkapan tufa lapili yang tersingkap di pantai timur daerah penelitian (stasiun 124), difoto ke arah timur laut. Kenampakan petrografis matriks tufa lapili dengan nomor 124/TL/FS,

memperlihatkan warna coklat muda, ukuran 0,001 mm - 0,4 mm, bentuk menyudut tanggung – bulat tanggung, struktur shutter crack, tersusun atas mineral kuarsa 49%, piroksin 17%, bitownit 12%, glass vulkanik 17% tuff ” (Pettijohn, 1975). Kenampakan lapangan tufa kasar memperlihatkan segar berwarna abu-abu, lapuk berwarna coklat, tekstur klastik, ukuran butir 1/2 mm – 2 mm, struktur sedimen laminasi – berlapis, tebal lapisan > 1 cm – (15 – 65) cm, adanya perlapisan dengan kedudukan N170oE/15o - N195oE/10o (foto18), terdiri atas mineral piroksin dan kuarsa. (foto 17). Nama batuan “Cristall

41

Foto 17. Sayatan tipis matriks tufa lapili (124/TL/FS), yang terdiri dari piroksin (pr), sanidin (sn), kuarsa (ku), gelas vulkanik (gv).

Foto 18 Singkapan tufa kasar, yang tersingkap di sungai bukit 422 (stasiun 119), difoto ke arah Utara. Kenampakan petrografis tufa kasar dengan nomor 119/TK/FS dan 1/TK/FS, memperlihatkan coklat muda, tekstur klastik, ukuran 0,001 mm - 1,4 mm, bentuk menyudut tanggung - bulat tanggung, struktur shutter crucks, tersusun atas mineral

42

bitownit (30-35)%, kuarsa (20-27)%, diopsit (22- 18)%, sanidin (6-20)% , mineral opak (5-10)%, glass vulkanik (12-25)%, (foto 19). Nama batuan “Cristall tuff” –

“Cristall vitric tuff” (Pettijohn, 1975). Penentuan lingkungan pengendapan satuan breksi berdasarkan struktur sedimen laminasi dan tidak dijumpai adanya fosil. Berdasarkan hal tersebut, maka lingkungan pengendapan dari satuan breksi yaitu lingkungan darat.

Foto 19. Sayatan tipis tufa kasar (119/TK/FS), yang terdiri dari mineral kuarsa (ku), piroksin (pr), plagioklas (pl), gelas vulkanik (gv). Penentuan umur satuan breksi vulkanik di daerah penelitian digunakan

kesebandingan terhadap satuan yang telah resmi, dimana ciri fisik dari Formasi Camba (Tmcv) hasil peneliti terdahulu memperlihatkan segar berwarna abu-abu, lapuk

43

berwarna hitam, tekstur klastik, ukuran butir > 64 mm, bentuk butir angular – subangular, sortasi jelek, kemas terbuka, terdiri dari fragmen basal dan andesit, matriks tufa dan semen silika dan beranggotakan breksi vulkanik, lava, konglomerat, dan tufa kristalin berukuran halus hingga lapili. Sedangkan ciri fisik breksi vulkanik di daerah penelitian memperlihatkan segar berwarna abu-abu, lapuk berwarna hitam, tekstur klastik, ukuran butir > 64 mm, bentuk butir angular – subangular, sortasi jelek, kemas terbuka, terdiri dari fragmen basal dan andesit, matriks tufa dan semen silika dan beranggotakan breksi vulkanik, dan tufa kristalin berukuran halus hingga lapili. Berdasarkan ciri fisik dan letak geografis yang relatif dekat dengan lokasi tipe, maka satuan breksi pada daerah penelitian mempunyai kesebandingan yang sama dengan breksi Formasi Camba (Tmcv) yang berumur berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir ( Sukamto dan Supriatna, 1982). Hubungan stratigrafi antara satuan breksi vulkanik dengan satuan tufa merupakan hubungan keselarasan. III.2.2 Satuan tufa Satuan batuan menyebar dibagian tengah daerah penelitian meliputi Desa Bonto-bonto, Desa Baera, Desa Lebo, Desa Lembangjaya, Desa Reaia, bukit 133, bukit 185, bukit 171. Satuan ini menempati sekitar 30% dari luas keseluruhan daerah penelitian, atau lebih kurang 26,6 km2. Hasil pengukuran ketebalan pada penampang geologi C – D diperoleh ketebalan satuan tufa lebih kurang 750 meter.

44

Satuan tufa terdiri dari tufa halus, tufa kasar dan batugamping. Pengendapannya diawali dengan pengendapan tufa kasar, secara menerus terbentuk tufa halus yang merupakan anggota satuan tufa bagian bawah, kemudian terendapkan tufa halus dengan tufa kasar sebagai anggota satuan tufa bagian tengah, dan disusul oleh pengendapan tufa halus dan sisipan batugamping sebagai anggota satuan tufa bagian atas. Kenampakan lapangan tufa halus, segar berwarna abu-abu, lapuk berwarna coklat kehitaman, tekstur klastik, ukuran butir < 1/2 mm, struktur sedimen laminasi – berlapis, tebal lapisan > 1 cm – (5 – 65) cm, kedudukan perlapisan batuan N170oE/10 N195oE/19o, komposisi mineral piroksin, kuarsa, plagioklas dan mineral karbonat (foto 20). Kenampakan petrografis sayatan tufa halus dengan nomor 45/TF/FS,8/TH/FS, dan 5/TH/FS, memperlihatkan warna coklat, ukuran 0,001 mm - 0,4 mm menyudut tanggung - bulat tanggung, komposisi mineral terdiri dari mineral lempung (12-62)%, kuarsa (23-35)%, piroksin (26-30)%, sanidin (10-15)%, mineral opak (10-5)%, gelas vulkanik (19-38)% (foto 21). Nama batuan “ Cristall tuff” - “Cristal vitric tuff” (Pettijohn, 1975).

45

Foto 20. Singkapan tufa halus di Sungai Binangalura daerah Tanabau (stasiun 45) difoto ke arah barat baratlaut.

Foto 21. Sayatan tipis dari tufa halus (45/TF/FS), yang terdiri dari sanidin (sn), kuarsa (ku), piroksin (pi), gelass vulkanik (gv), mineral lempung (ml). Kenampakan lapangan tufa kasar memperlihatkan segar berwarna abu-abu, lapuk berwarna coklat kehitaman, tekstur klastik, ukuran butir 1/2 mm – 2 mm, struktur sedimen laminasi – berlapis, tebal lapisan > 1 cm – (10 – 50) cm, adanya kedudukan

46

batuan N185oE/10o – N190oE/13o , komposisi terdiri dari mineral plagioklas, piroksin, hornblende, kuarsa (foto 22).

Foto 22. Singkapan tufa kasar yang tersingkap di Sungai Binangalura (stasiun 33), difoto ke arah barat Kenampakan sayatan tipis tufa kasar dengan nomor 10/TK/FS, berwarna coklat muda, ukuran 0,1 mm - 0,2 mm, bentuk bulat tanggung-menyudut tanggung, struktur, terdiri dari mineral andesin 27%, augit 15%, kuarsa 12%, hornblende 8%, sanidin 7%, mineral opak 6%, glass vulkanik 25%, (foto 23). Nama batuan “Cristall vitric tuff” (Pettijohn, 1975).

47

Foto 23. Sayatan tipis tufa kasar dengan nomor 10/TK/FS, terdiri dari mineral plagioklas (pl), hornblende (hb), kuarsa (ku), gelas vulkanik (gv). Kenampakan lapangan batugamping, segar berwarna abu-abu, lapuk berwarna coklat sampai hitam, tekstur mud, ukuran butir 1/2 mm – 1/4 mm, komposisi mineral karbonat, struktur sedimen laminasi - berlapis, tebal lapisan > 1 cm – (10 – 50)

cm, kedudukan batuan N175oE/11o , terdiri dari minerak karbonat (foto 24). Kenampakan sayatan tipis batuan dengan nomor 9/GP/FS, memperlihatkan warna coklat muda, ukuran mineral 0,001 mm – 0,4 mm, tersusun atas sparit 62%, mikrit 38%, pori berwarna hitam dengan ukuran 0,1mm-0,4mm, bentuk subroundedsubangular, jenis intergranular, serta fosil plantonik dan bentonik dengan bentuk bulat tanggung (foto25). Nama batuan “Biosparit” (Folk, 1974).

48

Foto 24. Singkapan batugamping yang tersingkap di Sungai Binangalura (stasiun 9), difoto ke arah utara.

Foto 25. Sayatan tipis batugamping nomor 9/GP/FS, yang terdiri dari mikrit (mk), sparit (sp). Berdasarkan analisa miropaleontologi pada stasiun 45, kandungan fosil plantonik yang dijumpai pada tufa halus adalah Orbulina universa D’ORBIGNY, Globorotalia scitula (BRADY), Globorotalia acostaensis BLOW, Globigerinoides immaturus LEROY, Globoquadrina dehiscens (CHAPMAN, PARR and COLLINS).

49

Kandungan fosil bentonik pada batuan ini antara lain Eponides coryelli D.K.PALMER, Nodosarella subnodosa BERMUDEZ, HERON – ALLEN & EARLAND. Berdasarkan analisa miropaleontologi pada stasiun 53, kandungan fosil plantonik yang dijumpai pada batuan ini adalah Orbulina universa D’ORBIGNY, Orbulina bilobata (D”ORBIGNY), Globigerinoides trilobus (REUSS), Protobotellina clyndrien

Globoquadrina dehiscens (CHAPMAN,PARR and COLLINS), Sphaerodinella subdehiscens BLOW, Globigerina praebulloides BLOW, Globoquadrina altispira (CHUSMAN and JARVIS). Kandungan fosil bentonik pada batuan ini antara lain Protobotellina clyndrien HERON – ALLEN & EARLAND, Eponides coryelli D.K.PALMER, Nodogerina advena (CHUSMAN & LAIMING), Dentalina panperata D’ORBIGNY. Berdasarkan analisa miropaleontologi pada stasiun 8, kandungan fosil plantonik yang dijumpai pada batuan ini adalah Orbulina universa D’ORBIGNY,

Globoquadrina altispira (CHUSMAN AND JARVIS), Globorotalia plesiotumida BLOW and BARNER, Globorotalia obesa BOLLI. Kandungan fosil bentonik pada batuan ini antara lain Protobotellina clyndrien HERON – ALLEN & EARLAND, Eponides coryelli D.K.PALMER, Nodogerina advena (CHUSMAN & LAIMING), Dentalina panperata D’ORBIGNY. Penentuan lingkungan pengendapan satuan tufa didasarkan pada kandungan fosil bentonik, dengan demikian lingkungan pengendapan berada pada “ inner neritic (0 – 50) meter (Robertson Research, 1985).

50

Hasil analisis mikropaleontologi kandungan fosil plantonik yang dijumpai pada satuan tufa diawali dengan pemunculan Globorotalia acostaensis BLOW dan akhir punahnya Globorotalia obesa BOLLI yang berada pada zonasi Globorotalia (L) continueta sampai Globorotalia (G) tumida tumida sampai Sphaeroidinellopsis subdehiscens paenedehiscens, maka umur dari tufa halus yaitu Miosen Akhir bagian Bawah sampai Pliosen bagian Bawah atau pada N 15 – N 18 (Postuma, 1971). Berdasarkan kesamaan umur dan letak geografis yang relatif dekat dengan lokasi tipe, maka satuan tufa dikorelasikan dengan Formasi Walanae (Tmpw) yang berumur Miosen Akhir sampai Pliosen ( Sukamto dan Supriatna, 1982). Hubungan stratigrafi antara satuan tufa dengan satuan di atasnya adalah menjemari dan dibawahnya merupakan hubungan selaras.

a

b

c

d

51

e

f

g

h

i

j

k

l

Foto 26. Fosil foraminifera kecil plantonik Orbulina universa D’ORBIGNY (a), Globorotalia scitula (BRADY) (b), Globorotalia plesiotumida BLOW and BANNER (c), Globigerinoides immaturus LEROY (d), Globorotalia acostaensis BLOW (e), Orbulina bilobata D’ORBIGNY (f), Globigerinoides trilobus (REUSS) (g), Globoquadrina dehiscenss (CHAPMAN, PARR and COLLINS) (h), Globogerina praebullides BLOW (i), Globoquadrina altispira (CHUSMAN and JARVIS) (j), Globorotalia obesa BOLLI (k), dan Globigerina nephentes TODD (l).

a

b

c

d

e

f

g

52

Foto 27. Fosil foraminifera kecil bentonik Protobotellina clyndrien HERONALLEN & EARLAND (a), Eponides coryelli D.K. PALMER (b), Discorbis bailoensis BERMUDEZ (c), Nodogerina advena CHUSMAN and LAIMING (d), Dentalina panperata d’ORBIGNY (e), Nodogerina subnodosa (GUPPY) (f), dan alga (g). III.2.3 Satuan batugamping Satuan batuan ini terdapat dibagian Barat dari daerah penelitian yang memanjang menyebar dari Utara ke Selatan meliputi Desa Tanabau, Desa Subur, Sungai Pagonting, Sungai Binangalura, bukit 124, dan bukit 131. Secara keseluruhan satuan ini menempati sekitar 36% daerah penelitian atau kurang lebih 30,52 km2. Hasil pengukuran ketebalan pada penampang geologi C – D didapatkan ketebalan lebih kurang 725 meter. Kenampakan lapangan batugamping, segar berwarna abu-abu, lapuk berwarna coklat sampai hitam, tekstur mud, ukuran butir 1/2 mm – 1/4 mm, komposisi mineral karbonat, struktur sedimen laminasi – berlapis (stasiun 70), tebal lapisan > 1 cm – – 15) cm, kedudukan batuan N170oE - N195oE/11o karbonat. (5

(foto 28), komposisi mineral

53

54

55

56

57

Foto 28. Singkapan batugamping yang dijumpai di Sungai Binangalura Desa Lebo (stasiun 70), difoto ke arah barat. Kenampakan sayatan tipis batugamping, memperlihatkan warna coklat muda, ukuran mineral 0,001 mm – 1,6 mm, tersusun atas mikrit (40-62)%, sparit (38-60)%, fosil plantonik dan bentonik, bentuk panjang tanggung – bulat tanggung, (foto 29). Nama batuan “Biomikrit” (Folk, 1974). Kenampakan lapangan tufa halus, segar berwarna abu-abu, lapuk berwarna coklat kehitaman, tekstur klastik, ukuran butir < 1/2 mm, struktur sedimen laminasi – berlapis, tebal lapisan < 1 cm - (5 – 10) cm, kedudukan perlapisan batuan N170 oE/11o, komposisi mineral piroksin, kuarsa, plagioklas dan mineral karbonat (foto 30). Kenampakan petrografis dari batuan ini dengan nomor 13/TF/FS,

memperlihatkan warna coklat muda, ukuran 0,1 mm - 0,4 mm , bentuk bulat

58

Foto 29. Kenampakan sayatan tipis batugamping (11/GP/FS) terdiri dari mineral mikrit (mr), sparit (sp), dan alga (al).

Foto 30. Singkapan tufa halus yang dijumpai di Sungai Binangalura Desa Tanabau (stasiun 6), difoto ke arah Timurlaut. tanggung - menyudut tanggung, tersusun atas mineral kuarsa 32%, piroksin 25%, sanidin 10%, mineral lempung 9%, sanidin 10%, mineral opak 7%, albit 5%, glass vulkanik 12%, (foto 31). Nama batuan “Cristall tuff” (Pettijohn, 1975).

59

Foto 31. Sayatan tipis tufa halus (13/TH/FS), yang tersusun atas mineral piroksin (pr), sanidin (sn), kuarsa (ku), gelas vulkanik (gv), mineral lempung, mineral kalsit (kl). Hasil analisis mikropaleontologi pada stasiun 70, kandungan fosil plantonik yang dijumpai pada batuan ini antara lain: Orbulina universa D’ORBIGNY, Globorotalia plesiotumida BLOW and BARNER,Globoquadrina dehiscenss

(CHAPMAN,PARR, AND COLLINS), Globigerinoides ruber (D’ORBIGNY). Fosil bentonik yang diperoleh antara lain alga, Protobotellina clyndrien HERON-ALLEN & EARLAND, Triloculina laevigata D’ORBIGNY,

Quinqueloculina seminula (LINNE), cycloclypeus carpenteri (BRADY), alga. Hasil analisis mikropaleontologi pada stasiun 7, kandungan fosil plantonik yang dijumpai pada batuan ini antara lain: Orbulina universa D’ORBIGNY, Globoquadrina altispira (CHUSMAN and JARVIS), Globigerinoides rubber (D’ORBIGNY), Globigerinoides trilobus (REUSS).

60

Fosil bentonik yang diperoleh antara lain alga, Protobotellina clyndrien HERON – ALLEN & EARLAND, Amphimorphina haveriana REUGEBERN. Hasil analisis mikropaleontologi pada stasiun 2, kandungan fosil plantonik yang dijumpai pada batuan ini antara lain: Orbulina universa D’ORBIGNY, Globorotalia multicamerata CHUSMAN and JARVIS, Globigerinoides rubber (D’ORBIGNY), Sphaerodinella subdehiscens BLOW. Fosil bentonik yang diperoleh antara lain alga, Protobotellina clyndrien HERON-ALLEN & EARLAND, cycloclypeus carpenteri (BRADY).

61

Penentuan lingkungan pengendapan satuan batugamping didasarkan pada kandungan fosil bentonik, dengan demikian lingkungan pengendapan berada pada “ inner neritic (0 – 50) meter (Robertson Research, 1985). Hasil analisis mikropaleontologi kandungan fosil plantonik, maka disimpulkan satuan batugamping berada pada zonasi Globorotalia (G) tumida plesiotumida sampai Globorotalia (L) tulaensis lenuilheda, sehingga berumur Miosen Akhir bagian Atas sampai Pliosen bagian Atas atau N 17 – N 21 (Postuma, 1971). Berdasarkan kesamaan umur dan letak geografis yang relatif dekat dengan lokasi tipe, maka satuan batugamping dikorelasikan dengan Formasi Walanae Anggota Selayar (Tmps) yang berumur Miosen Akhir sampai Pliosen ( Sukamto dan Supriatna, 1982). Hubungan stratigrafi dengan satuan yang ada di bawahnya adalah hubungan menjemari.

62

63

64

65

66

III.2.4 Satuan alluvial pantai Satuan ini menyebar di bagian Barat daerah penelitian yang meliputi desa Polocamba, sungai besar Binangalura dan Pagonting. Secara keseluruhan satuan ini menempati sekitar 8,5% dari seluruh luas daerah penelitian atau lebih kurang 6,5 km2. Pada daerah ini terdiri dari material-material yang berukuran lempung sampai pasir yang merupakan hasil pelapukan dari batugamping. Sebagian besar dari satuan ini terdiri dari material-material Lumpur yang oleh penduduk dimanfaatkan sebagai areal tambak (foto 34).

67

Satuan ini merupakan endapan pantai, yang terdiri atas material pasir dan lumpur, serta rawa, yang terbentuk pada kala Holosen, dan masih berlangsung sampai sekarang . Berdasarkan material penyusunnya, berupa endapan pasir, lumpur dan rawa,maka satuan ini dapat dikorelasikan dengan “Qac“, dalam Sukamto dan Supriatna (1982).

68

Foto 34. Kenampakan satuan aluvial pantai di daerah Polocamba, difoto ke arah utara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful