STEP 1 Koagulasi Perdarahan : proses penggumpalan : saluran pembuluh darah yang putus atau pecah karena trauma,bias

terjadi diluar pembuluh darah dibawah kulit

Riwayat perdarahan: keturunan sebelumnya memiliki kasus yang sama atau tidak -RPK dan RPD

STEP 2 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Mengapa dalam setengah jam perdarahan tidak berhenti? Bagaimana proses pembekuan darah? Bagaimana fungsi trombsit pada pembekuan darah? Factor yang mempengaruhi pembekuan darah? Peran pembuluh darah pada proses pembekuan darah? Jenis sel apa saja yang hilang saat perdarahan? Komponen pembekuan darah? Bagaimana kompensasi tubuh bila terjadi perdarahan? Bagaimana hubungan hemostasis,perdarahan luka dan pembekuan luka? Kelainan sel darah apa yang berhubungan dengan kejadian tersebut? Dan termasuk kekurangan apa? Bagaimana riwayat perdarahan nenek dari garis ibu dapat diturunkan kepada angga? Apa hubunganya penyakit ini dengan keturunan? Jika terdapat hub adakah kelainan genetic? Bagaimana prosedur study koagulasi? Data apa yang diperlukan dalam pemeriksaan study koagulasi? Pemeriksaan apa saja untuk mengetahui penderita mengelami hemofili? Apakah ada perbedaan pembekun luka kecil dan luka besar? Jika ada bagimana prosesnya? Apakah usia mempengaruhi hemofili? Jika ada jelaskan? Step 3

1. Bagaimana proses pembekuan darah? Terjadi luka,dinding endotel rusak,endotel hilang terjadi aktifitas protrombin lalu protrombin itu dibantu leh calcium yang bias membantu protrombin berubah menjadi thrombin lalu thrombin mengubah fibrinogen menjadi fibrin,lalu benang2 fibrin menutupi luka lalu darah tertahan agar tidak keluar

Pada hemostasis terjadi vasokonstriksi inisial pada pembuluh darah yang cedera sehingga aliran darah di sebelah distal cedera terganggu. Kemudian hemostasis dan thrombosis memiliki 3 fase yang sama: 1. Pembekuan agregat trombosit yang longgar dan sementara pada tempat luka. Trombosit akan mengikat kolagen pada tempat luka pembuluh darah dan diaktifkan oleh thrombin yang terbentuk dalam kaskade pristiwa koagulasi pada tempat yang sama, atau oleh ADP yang dilepaskan trombosit aktif lainnya. Pada pengaktifan, trombosit akan berubah bentuk dan dengan adanya fibrinogen, trombosit kemudian hemostatik mengadakan atau agregasi terbentuk trombos sumbat yang hemostatik ataupun lebih trombos. stabil. 2. Pembentukan jarring fibrin yang terikat dengan agregat trombosit sehingga terbentuk sumbat 3. Pelarutan parsial atau total agregat hemostatik atau trombos oleh plasmin Tipe trombos : 1. Trombos putih tersusun dari trombosit serta fibrin dan relative kurang mengandung eritrosit (pada tempat luka atau dinding pembuluh darah yang abnormal, khususnya didaerah dengan aliran yang cepat[arteri]). 2. Trombos merah terutama terdiri atas erotrosit dan fibrin. Terbentuk pada daerah dengan perlambatan atau stasis aliran darah dengan atau tanpa cedera vascular, atau bentuk trombos ini dapat terjadi pada tempat luka atau didalam pembuluh darah yang abnormal bersama dengan sumbat trombosit yang mengawali 3. Endapan fibrin yang tersebar luas dalam kapiler/p.darah pembentukannya. yang amat kecil.

Ada dua lintasan yang membentuk bekuan fibrin, yaitu lintasan instrinsik dan ekstrinsik. Kedua lintasan ini tidak bersifat independen walau ada perbedaan artificial yang dipertahankan. Proses yang mengawali pembentukan bekuan fibrin sebagai respons terhadap cedera jaringan dilaksanakan oleh lintasan ekstrinsik. Lintasan intrinsic pengaktifannya berhubungan dengan suatu permukaan yang bermuatan negative. Lintasan intrinsic dan ekstrinsik menyatu dalam sebuah lintasan terkahir yang sama yang melibatkan pengaktifan protrombin menjadi thrombin dan pemecahan fibrinogen yang dikatalis thrombin untuk membentuk fibrin. Pada pristiwa diatas melibatkan macam jenis protein yaitu a. b. c. d. Transglutaminase yang menstabilkan bekuan e. Protein pengatur dan sejumla protein lainnya Lintasan intrinsic Lintasan intinsik melibatkan factor XII, XI, IX, VIII dan X di samping prekalikrein, kininogen dengan berat molekul tinggi, ion Ca2+ dan fosfolipid trombosit. Lintasan ini membentuk factor Xa (aktif). Lintasan ini dimulai dengan “fase kontak” dengan prekalikrein, kininogen dengan berat molekul tinggi, factor XII dan XI terpajan pada permukaan pengaktif yang bermuatan negative. Secara in vivo, kemungkinan protein tersebut teraktif pada permukaan sel endotel. Kalau komponen dalam fase kontak terakit pada permukaan pengaktif, factor XII akan diaktifkan menjadi factor XIIa pada saat proteolisis oleh kalikrein. Factor XIIa ini akan menyerang prekalikrein untuk menghasilkan lebih banyak kalikrein lagi Zimogen dapat protease yang diklasifikaskan bergantung pada serin dan sebagai diaktifkan pada proses berikut: koagulasi Kofaktor Fibrinogen fibrin

dengan menimbulkan aktivasi timbale balik. Begitu terbentuk, factor xiia mengaktifkan factor XI menjadi Xia, dan juga melepaskan bradikinin(vasodilator) dari kininogen dengan berat molekul tinggi. Factor Xia dengan adanya ion Ca2+ mengaktifkan factor IX, menjadi enzim serin protease, yaitu factor IXa. Factor ini selanjutnya memutuskan ikatan Arg-Ile dalam factor X untuk menghasilkan serin protease 2rantai, yaitu factor Xa. Reaksi yang belakangan ini memerlukan perakitan komponen, yang dinamakan kompleks tenase, pada permukaan trombosit aktif, yakni: Ca2+ dan factor IXa dan factor X. Perlu kita perhatikan bahwa dalam semua reaksi yang melibatkan zimogen yang mengandung Gla (factor II, VII, IX dan X), residu Gla dalam region terminal amino pada molekul tersebut berfungsi sebagai tempat pengikatan berafinitas tinggi untuk Ca2+. Bagi perakitan kompleks tenase, trombosit pertama-tama harus diaktifkan untuk membuka fosfolipid asidik (anionic). Fosfatidil serin dan fosfatoidil inositol yang normalnya terdapat pada sisi keadaan tidak bekerja. Factor VIII, suatu glikoprotein, bukan merupakan precursor protease, tetapi kofaktor yang berfungsi sebagai resepto untuk factor IXa dan X pada permukaan trombosit. Factor VIII diaktifkan oleh thrombin dengan jumlah yang sangat kecil hingga terbentuk factor VIIIa, yang selanjutnya diinaktifkan oleh thrombin dalam proses pemecahan lebih lanjut. Lintasan Ekstrinsik Lintasan ekstrinsik melibatkan factor jaringan, factor VII,X serta Ca2+ dan menghasilkan factor Xa. Produksi factor Xa dimulai pada tempat cedera jaringan dengan ekspresi factor jaringan pada sel endotel. Factor jaringan berinteraksi dengan factor VII dan mengaktifkannya; factor VII merupakan glikoprotein yang mengandung Gla, beredar dalam darah dan disintesis di hati. Factor jaringan bekerja sebagai kofaktor untuk factor VIIa dengan menggalakkan aktivitas enzimatik untuk mengaktifkan factor X. factor VII memutuskan ikatan Arg-Ile yang sama dalam factor X yang dipotong oleh kompleks tenase pada lintasan intrinsic. Aktivasi factor X menciptakan hubungan yang penting antara lintasan intrinsic dan ekstrinsik. Interaksi yang penting lainnya antara lintasan ekstrinsik dan intrinsic adalah bahwa kompleks factor jaringan dengan factor VIIa juga mengaktifkan factor IX dalam lintasan intrinsic. Sebenarna, pembentukan kompleks antara factor jaringan dan factor VIIa kini dipandang sebagai proses penting yang terlibat dalam memulai pembekuan darah secara in vivo. Makna fisiologik tahap awal lintasan intrinsic, yang turut melibatkan factor XII, prekalikrein dan kininogen dengan berat molekul besar. Sebenarnya lintasan intrinsik bisa lebih penting dari fibrinolisis dibandingkan dalam koagulasi, karena kalikrein, factor XIIa dan Xia dapat memotong plasminogen, dan kalikrein dapat mengaktifkanurokinase rantai-tunggal. Inhibitor lintasan factor jaringan (TFPI: tissue factor fatway inhibitior) merupakan inhibitor fisiologik utama yang menghambat koagulasi. Inhibitor ini berupa protein yang beredar didalam darah dan terikat lipoprotein. TFPI menghambat langsung factor Xa dengan terikat pada enzim tersebut didekat tapak aktifnya. Kemudian kompleks factor Xa-TFPI ini manghambat kompleks factor VIIa-faktor jaringan. Lntasan Terakhir Pada lintasan terskhir yang sama, factor Xa yang dihasilkan oleh lintasan intrinsic dak ekstrinsik, akan mengaktifkan protrombin(II) menjadi thrombin (IIa) yang kemudian mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Pengaktifan protrombin terjadi pada permukaan trombosit aktif dan memerlukan perakitan kompelks protrombinase yang terdiri atas fosfolipid anionic platelet, Ca2+, factor Va, factor Xa dan protrombin.

Factor V yang disintesis dihati, limpa serta ginjal dan ditemukan didalam trombosit serta plasma berfungsi sebagai kofaktor dng kerja mirip factor VIII dalam kompleks tenase. Ketika aktif menjadi Va oleh sejumlah kecil thrombin, unsure ini terikat dengan reseptor spesifik pada membrane trombosit dan membentuk suatu kompleks dengan factor Xa serta protrombin. Selanjutnya kompleks ini di inaktifkan oleh kerja thrombin lebih lanjut, dengan demikian akan menghasilkan sarana untuk membatasi pengaktifan protrombin menjadi thrombin. Protrombin (72 kDa) merupakan glikoprotein rantai-tunggal yang disintesis di hati. Region terminal-amino pada protrombin mengandung sepeuluh residu Gla, dan tempat protease aktif yang bergantung pada serin berada dalam region-terminalkarboksil molekul tersebut. Setelah terikat dengan kompleks factor Va serta Xa pada membrane trombosit, protrombin dipecah oleh factor Xa pada dua tapak aktif untuk menghasilkan molekul thrombin dua rantai yang aktif, yang kemudian dilepas dari permukaan trombosit. Rantai A dan B pada thrombin disatukan oleh ikatan disulfide. Konversi Fibrinogen menjadi Fibrin Fibrinogen (factor 1, 340 kDa) merupakan glikoprotein plasma yang bersifat dapat larut dan terdiri atas 3 pasang rantai polipeptida nonidentik (Aα,Bβγ)2 yang dihubungkan secara kovalen oleh ikatan disulfda. Rantai Bβ dan y mengandung oligosakarida kompleks yang terikat dengan asparagin. Ketiga rantai tersebut keseluruhannya disintesis dihati: tiga structural yang terlibat berada pada kromosom yang sama dan ekspresinya diatur secara terkoordinasi dalam tubuh manusia. Region terminal amino pada keenam rantai dipertahankan dengan jarak yang rapat oleh sejumlah ikatan disulfide, sementara region terminal karboksil tampak terpisah sehingga menghasilkan molekol memanjang yang sangat asimetrik. Bagian A dan B pada rantai Aa dan Bβ, diberi nama difibrinopeptida A (FPA) dan B (FPB), mempunyai ujung terminal amino pada rantainya masing-masing yang mengandung muatan negative berlebihan sebagai akibat adanya residu aspartat serta glutamate disamping tirosin O-sulfat yang tidak lazim dalam FPB. Muatannegatif ini turut memberikan sifat dapat larut pada fibrinogen dalam plasma dan juga berfungsi untuk mencegah agregasi dengan menimbulkan repulse elektrostatik antara molekul-molekul fibrinogen. Thrombin (34kDa), yaitu protease serin yang dibentuk oleh kompleks protrobinase, menghidrolisis 4 ikatan Arg-Gly diantara molekul-molekul fibrinopeptida dan bagian α serta β pada rantai Aa dan Bβ fibrinogen. Pelepasan molekul fibrinopeptida oleh thrombin menghasilkan monomer fibrin yang memiliki struktur subunit (αβγ)2. Karena FPA dan FPB masing-masing hanya mengandung 16 dab 14 residu, molwkul fibrin akan mempertahankan 98% residu yang terdapat dalam fibrinogen. Pengeluaran molekul fibrinopeptida akan memajankan tapak pengikatan yang memungkinkan molekul monomer fibrin mengadakan agregasi spontan dengan susunan bergiliran secara teratur hingga terbentuk bekuan fibrin yang tidak larut. Pembentukan polimer fibrin inilah yang menangkap trombosit, sel darah merah dan komponen lainnya sehingga terbentuk trombos merah atau putih. Bekuan fibrin ini mula-mula bersifat agak lemah dan disatukan hanya melalui ikatan nonkovalen antara molekul-molekul monomer fibrin. Selain mengubah fibrinogen menjadi fibrin, thrombin juga mengubah factor XIII menjadi XIIIa yang merupakan transglutaminase yang sangat spesifik dan membentuk ikatan silan secara kovalen anatr molekul fibrin dengan membentuk ikatan peptide antar gugus amida residu glutamine dan gugus ε-amino residu lisin, sehingga menghasilkan bekuan fibrin yang lebih stabil dengan peningkatan resistensi terhadap proteolisis. Regulasi Trombin Begitu thrombin aktif terbentuk dalam proses hemostasis atau thrombosis, konsentrasinya harus dikontrol secara cermat untuk mencegah pembentukan bekuan lebih lanjut atau pengaktifan trombosit.

Pengontrolan

ini

dilakukan

melalui

2

cara

yaitu:

1. Thrombin beredar dalam darah sebagai prekorsor inaktif, yaitu protrombin. Pada setiap reaksinya, terdapat mekanisme umpan balik yang akan menghasilkan keseimbangan antara aktivasi dan inhibisi. 2. Inaktivasi setiap thrombin yang terbentuk oleh zat inhibitor dalam darah. Sumber : Biokimia Harper

2. Bagaimana fungsi trombsit pada pembekuan darah?

Sumber : www.sentra-edukasi.com/.../pengertian-jumlah-fungsi-trombosit.html 3. Komponen pembekuan darah? -fibrinogen: protein plasma yang disinteisis dalam hati yang di ubah menjadi fibrin -protrombin: protein plasma yang disintesis di plasma dan di ubah menjadi thrombin -tromboplastin:lipoprotein yang dilepas jaringan rusak mengaktivasi factor tujuh untuk pembentukan thrombin. -ion kalsium: ion anorganik dalam plasma yang didapat dari makanan dan tlang diperlukan dalam semua tahap pembekuan darah -proakselerin: protein plasma yang disintesis dalam hati diperlukan dalam mekanisme ekstrinsik intrinsic -prokonvertin:protein plasma yang disintesis dalam hati diperlukan untuk mekanisme intrinsic -anti hemofilik: protein plasma yang disintesis dalam hati( memerlukan vit K) berfungsi dalam mekanisme ekstrinsik. -plasma troboplastin:protein plasma yang disintesis hati (memerlukan vit K) berfungsi dalam mekanisme intrinsik

-faktor stuart prower: protein plasma yang disintesis dalam hati diperlukan dalam mekanisme ekstrinsik intrinsic -anti seden tromboplastin plasma: protein plasma yang disintesis hati (memerlukan vit K) berfungsi dalam mekanisme intrinsic -faktor Hageman: protein plasma yang disintesis hati berfungsi dalam mekanisme intrinsic -faktor penstabilan fibrin: protein yang ditemukan dalam plasma dan trombosit, hub silang filamen2 fibrin 4. Factor yang mempengaruhi pembekuan darah?

5. Faktor-Faktor Pembekuan Darah
Faktor I Fibrinogen: sebuah faktor koagulasi yang tinggi berat molekul protein plasma dan diubah menjadi fibrin melalui aksi trombin. Kekurangan faktor ini menyebabkan masalah pembekuan darah afibrinogenemia atau hypofibrinogenemia. Faktor II Prothrombin: sebuah faktor koagulasi yang merupakan protein plasma dan diubah menjadi bentuk aktif trombin (faktor IIa) oleh pembelahan dengan mengaktifkan faktor X (Xa) di jalur umum dari pembekuan. Fibrinogen trombin kemudian memotong ke bentuk aktif fibrin. Kekurangan faktor menyebabkan hypoprothrombinemia. Faktor III Jaringan Tromboplastin: koagulasi faktor yang berasal dari beberapa sumber yang berbeda dalam tubuh, seperti otak dan paru-paru; Jaringan Tromboplastin penting dalam pembentukan prothrombin ekstrinsik yang mengkonversi prinsip di Jalur koagulasi ekstrinsik. Disebut juga faktor jaringan. Faktor IV Kalsium: sebuah faktor koagulasi diperlukan dalam berbagai fase pembekuan darah. Faktor V Proaccelerin: sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif labil dan panas, yang hadir dalam plasma, tetapi tidak dalam serum, dan fungsi baik di intrinsik dan ekstrinsik koagulasi jalur. Proaccelerin mengkatalisis pembelahan prothrombin trombin yang aktif. Kekurangan faktor ini, sifat resesif autosomal, mengarah pada kecenderungan berdarah yang langka yang disebut parahemophilia, dengan berbagai derajat keparahan. Disebut juga akselerator globulin. Faktor VI Sebuah faktor koagulasi sebelumnya dianggap suatu bentuk aktif faktor V, tetapi tidak lagi dianggap dalam skema hemostasis.

Faktor VII Proconvertin: sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif stabildan panas dan berpartisipasi dalam Jalur koagulasi ekstrinsik. Hal ini diaktifkan oleh kontak dengan kalsium, dan bersama dengan mengaktifkan faktor III itu faktor X. Defisiensi faktor Proconvertin, yang mungkin herediter (autosomal resesif) atau diperoleh (yang berhubungan dengan kekurangan vitamin K), hasil dalam kecenderungan perdarahan. Disebut juga serum prothrombin konversi faktor akselerator dan stabil. Faktor VIII Antihemophilic faktor, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif labil dan berpartisipasi dalam jalur intrinsik dari koagulasi, bertindak (dalam konser dengan faktor von Willebrand) sebagai kofaktor dalam aktivasi faktor X. Defisiensi, sebuah resesif terkait-X sifat, penyebab hemofilia A. Disebut juga antihemophilic globulin dan faktor antihemophilic A. Faktor IX Tromboplastin Plasma komponen, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif stabil dan terlibat dalam jalur intrinsik dari pembekuan. Setelah aktivasi, diaktifkan Defisiensi faktor X. hasil di hemofilia B. Disebut juga faktor Natal dan faktor antihemophilic B. Faktor X Stuart faktor, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif stabil dan berpartisipasi dalam baik intrinsik dan ekstrinsik jalur koagulasi, menyatukan mereka untuk memulai jalur umum dari pembekuan. Setelah diaktifkan, membentuk kompleks dengan kalsium, fosfolipid, dan faktor V, yang disebut prothrombinase; hal ini dapat membelah dan mengaktifkan prothrombin untuk trombin. Kekurangan faktor ini dapat menyebabkan gangguan koagulasi sistemik. Disebut juga Prower Stuart-faktor. Bentuk yang diaktifkan disebut juga thrombokinase. Faktor XI Tromboplastin plasma yg di atas, faktor koagulasi yang stabil yang terlibat dalam jalur intrinsik dari koagulasi; sekali diaktifkan, itu mengaktifkan faktor IX. Lihat juga kekurangan faktor XI. Disebut juga faktor antihemophilic C. Faktor XII Hageman faktor: faktor koagulasi yang stabil yang diaktifkan oleh kontak dengan kaca atau permukaan asing lainnya dan memulai jalur intrinsik dari koagulasi dengan mengaktifkan faktor XI. Kekurangan faktor ini menghasilkan kecenderungan trombosis. Faktor XIII Fibrin-faktor yang menstabilkan, sebuah faktor koagulasi yang merubah fibrin monomer untuk polimer sehingga mereka menjadi stabil dan tidak larut dalam urea, fibrin yang memungkinkan untuk

membentuk pembekuan darah. Kekurangan faktor ini memberikan kecenderungan seseorang hemorrhagic. Disebut juga fibrinase dan protransglutaminase. Bentuk yang diaktifkan juga disebut transglutaminase. Sumber : buku anatomi dan fisiologi untuk paramedis – evelyn c. pearce

6. Peran pembuluh darah pada proses pembekuan darah?

7. Jenis sel apa saja yang hilang saat perdarahan?

8. Bagaimana kompensasi tubuh bila terjadi perdarahan?
Tubuh memberikan reaksi terhadap perubahan tidak normal yang terjadi pada dirinya. Pada saat terjadi perdarahan yang cukup banyak, reaksi pertama dari tubuh adalah dengan menyempitkan pembuluh darah kecilkecil yang ada didekat permukaan tubuh agar sebagian besar darah mengalir ke ginjal, otak dan jantung, tiga organ yang menurut tubuh paling penting dan membutuhkan darah secara konstan. Tapi karena prioritas tubuh untuk ketiga organ tersebut tinggi, dengan jumlah darah yang sedikit, maka harus ada organ yang dikorbankan. Organ tersebut adalah kulit, otot, dan saluran pencernaan. Menurunnya aliran darah ke organ-organ tersebut memberikan kita gejala pertama dari syok. Pada penderita syok akan ditemukan kulit yang teraba dingin dan tubuh yang lemas, sedangkan gejala pada saluran pencernaan tidak bisa diamati dari luar tubuh. Selanjutnya, jika keadaan tersebut dibiarkan, jumlah darah akan semakin berkurang, sedangkan tubuh (lebih tepatnya tiga organ utama yang tadi) membutuhkan darah yang konstan. Jadi apa yang bisa dilakukan tubuh? Tubuh akan meningkatkan denyut jantung. Hal ini dilakukan agar tekanan darah tetap tinggi. Pertukaran oksigen ke jaringan hanya bisa terjadi dengan tekanan darah yang cukup. Hal ini terjadi karena oksigen yang larut dalam darah mempunyai tekanan. Mungkin masih ada yang ingat dengan fisika SMP, dimana benda gas dengan volume yang sama memiliki tekanan lebih besar jika berada dalam ruang yang lebih kecil. Gas hanya bisa bergerak dari tekanan yang lebih besar ke tekanan yang lebih kecil. Hal yang sama juga terjadi pada oksigen di dalam pembuluh darah. Jadi tubuh berusaha meningkatkan tekanan darah agar tekanan oksigen dalam darah juga meningkat dan terjadi pertukaran darah ke jaringan. Tapi tubuh tidak bisa meningkatkan tekanan darah dengan menambah volume darah dalam waktu singkat, jadi tubuh melakukannya dengan meningkatkan denyut jantung. Hal di atas memberi kita gejala kedua yaitu peningkatan denyut jantung (istilah medisnya takikardi). Berapa denyut jantung yang bisa dikatakan meningkat? Hal ini tergantung oleh usia. Pada bayi denyut jantung yang lebih dari 160 kali per menit sudah bisa dikatakan meningkat, sampai usia 6 tahun denyut jantung meningkat bila lebih dari 140 kali per menit. Untuk anak-anak sampai masa puber denyut jantung di atas 120 kali per menit

bisa dikatakan meningkat. Sedangkan dewasa denyut jantung lebih dari 100 kali per menit sudah dikatakan meningkat. Khusus untuk pasien yang lebih dari 60 tahun, karena respon tubuhnya sudah mulai menurun, kemungkinan tidak ditemukan peningkatan denyut jantung. Begitu juga pada atlet, umumnya tidak ditemukan peningkatan denyut jantung, karena latihan yang rutin, tubuhnya memproduksi darah yang lebih banyak, dengan fungsi sel darah yang lebih baik dari orang kebanyakan. Ok, tadi dikatakan pada penderita syok tubuh akan meningkatkan tekanan darah agar pertukaran oksigen terjadi dengan baik. Ini adalah gejala berikutnya. Mungkin kalau Anda pernah ke dokter dan diperiksa tekanan darahnya, dokter akan mengatakan dua angka. Angka yang pertama (biasanya lebih besar dari angka yang kedua) disebut sistol. Angka ini menunjukkan tekanan darah saat jantung memompa darah keluar dari jantung. Angka kedua disebut diastol. Angka ini menunjukkan tekanan darah saat jantung menghisap darah masuk ke jantung. Pada orang dewasa normal tekanan darahnya kurang lebih 120/70 mmHg (milimeter merkuri). Pada pasien syok bisa ditemukan penurunan angka yang pertama bisa juga tidak. Apakah angka yang kedua mengalami penurunan? Belum tentu juga. Tadi dikatakan tubuh manusia akan berusaha mengimbangi penurunan jumlah darah dengan meningkatkan tekanan darah. Hal ini menyebabkan tekanan darah yang relatif stabil pada fase awal syok. Yang berubah adalah tekanan nadi. Tekanan nadi adalah perbedaan antara sistol dan diastol. Kemampuan tubuh untuk mengimbangi penurunan jumlah darah tidaklah sempurna. Tubuh bisa meningkatkan diastol tapi tidak diimbangi dengan peningkatan sistol. Hal ini menyebabkanpenurunan tekanan nadi (ada juga bilang tekanan nadi menyempit). Seiring dengan kehilangan darah, tubuh tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan ke tiga organ utama diatas. Tapi itu baru terjadi jika tubuh kehilangan lebih dari 40% volume darah. Jika sudah terjadi maka gejalanya akan ditambah dengan penurunan kesadaran atau kejang (karena penurunan aliran darah ke otak). Tabel di bawah merangkum gejala-gejala yang ditemui dalam tiap fase syok. Perkiraan kehilangan darah dari gejala klinis pasien* Kelas I Sampai 750 Darah yang hilang (ml) (mirip dengan saat donor darah) Darah yang hilang (% volume darah) Denyut nadi (kali per menit) Tekanan darah Tekanan nadi (mmHg) Sampai 15% 15%-30% 30% – 40% >40% 750 – 1500 1500-2000 >2000 Kelas II Kelas III Kelas IV

<100

100 – 120

120 – 140

>140

Normal Normal atau menurun

Normal

Menurun

Menurun

Menurun

Menurun

Menurun

Laju pernafasan (kali per menit) Produksi urin (ml/jam)

14-20

20 – 30

30 – 40

>35

>30

20 – 30

5 – 15

Tidak terukur

Keadaan mental

Sedikit gelisah

Gelisah

Gelisah, bingung

Bingung, tidak sadar Kristaloid dan transfusi darah

Jenis cairan pengganti

Kristaloid

Kristaloid

Kristaloid dan transfusi darah

*untuk orang dewasa berat badan 70kg Dikutip dalam buku cara mudah mengatasi demam berdarah – pustaka medika

9. Faktor yang mempengaruhi perdarahan? -koagulasi -besarnya luka -fibrinolisis -pembuluh darah : pembuluh darah flesibilitas sehingga memperkecil luka,lalu ditutup trombosit

10. Bagaimana hubungan hemostasis,perdarahan luka dan pembekuan luka?
Hemostasis merupakan pristiwa penghentian perdarahan akibat putusnya atau robeknya pembuluh darah, sedangkan thrombosis terjadi ketika endothelium yang melapisi pembuluh darah rusak atau hilang. Proses ini mencakup pembekuan darah (koagulasi ) dan melibatkan pembuluh darah, agregasi trombosit serta protein plasma baik yang menyebabkan pembekuan maupun yang melarutkan bekuan. sumber : biokimia harper

11. Mengapa dalam setengah jam perdarahan tidak berhenti? Karena adanya gangguan pembekuan darah. Pada orang normal saat terluka, trombosit akan saling menempel satu sama lain dan membentuk agregat sehingga darah yang keluar bisa berhenti. Tapi ada juga orang yang luka sedikit saja, darahnya terus mengucur atau sulit berhenti. Bila mengalami kondisi seperti itu, artinya ada masalah dengan protein dalam sel darah merahnya yang disebut dengan faktor von Willebrand (VWF).

Penyakit von Willebrand (VWD) adalah salah satu penyakit gangguan perdarahan yang diturunkan dari gen orangtuanya. Faktor von Willebrand ini penting karena mengontrol perdarahan dan proses pembekuan darah. Jika tidak memiliki faktor ini, maka trombosit yang ada hanya akan melayang-layang saja atau tidak akan bisa menempel dan agregat tidak akan terbentuk sehingga perdarahan terus menerus terjadi.

(Prof Dr Djajadiman Gatot, SpA(K), Bersatu Mencapai Pengobatan untuk Semua)

12. Kelainan sel darah apa yang berhubungan dengan kejadian tersebut? Dan termasuk kekurangan apa?

Hemofili merupakan kelainan yang menyebabkan darah sukar membeku apabila terluka, hal ini terjadi karena tidak ada faktor pembeku darah. Seperti pada buta warna gen hemofili juga bersifat resesif dan terpaut pada kromosom seks X. Walaupun secara genotip dapat dimungkinkan adanya wanita hemofili tetapi kita tidak menjumpai wanita penderita hemofili karena gen nya bersifat letal jika muncul homozigot resesif. Gen letal adalah gen yang menimbulkan kematian, pada kasus hemofili bayi sudah meninggal dalam kandungan. Genotip XH XH XH Xh Xh Xh XH Y Xh Y Fenotip Wanita normal Wanita normal carrier Wanita hemofili (bersifat letal) Pria Normal Pria hemofili

Darah yang sukar membeku bisa dikarenakan faktor keturunan, seperti Hemofilia, yang diakibatkan keabnormalan pada salah satu gen pada kromosom X. wanita sebagai pembawa, dan laki-laki lebih banyak menderita hemofilia karena hanya memiliki satu kromosom X. keabnormalan kromosom ini akan mempengaruhi faktor pembekuan darah nomor VIII dan IX. Kelainan kromosom X menyebabkan defisiensi faktor VIII, akan mengakibatkan hemofilia A. dan defisiensi faktor IX akan mengakibatkan hemofilia B. Faktor IX diproduksi di hati dan merupakan salah satu faktor pembekuan dependen vitamin K. Kapita Selekta Hematologi A.V. Hoffbrand Edisi 4 http://www.hemofilia.or.id/hemofilia.php

13. Bagaimana riwayat perdarahan nenek dari garis ibu dapat diturunkan kepada angga? 14. Apa hubunganya penyakit ini dengan keturunan? Jika terdapat hub adakah kelainan genetic?

Keturunan Hemofilia
21089 hit(s)

Prinsip dasar dari suatu keturunan
Setiap sel di dalam tubuh memiliki struktur - struktur yang di sebut kromosom (chromosomes). Didalam ilmu kimia, sebuah rantai kromosom yang panjang disebut DNA. DNA ini disusun kedalam ratusan unit yang di sebut gen yang dapat menentukan beberapa hal, seperti warna mata seseorang. Setiap sel terdiri dari 46 kromosom yang disusun dalam 23 pasang. Salah satu pasangnya dikenal sebagai kromosom seks, atau kromosom yang menentukan jenis kelamin manusia. Wanita memiliki dua kromosom X dalam satu pasang, dan pria memiliki satu kromosom X, dan satu kromosom Y dalam satu pasang.

Gambar 1 Gambar 1 menggambarkan keadaan keturunan pada kromosom jenis kelamin. Ibu yang memiliki dua kromosom X, menghasilkan sebuah sel telur yang mengandung kromosom X. Ayah yang menghasilkan satu kromosom X dan satu kromosom Y, menghasilkan sel sperma yang mengandung kromosom X atau Y. Jika ayah menyumbangkan kromosom X-nya, keturunan yang terjadi adalah anak perempuan. Dan jika ayah menyumbangkan kromosom Y, maka keturunan yang terjadi adalah anak laki - laki. Banyak penderita hemofilia yang terkena dampaknya.

Bagaimana hemofilia ditunrunkan dari suatu generasi ke genarasi berikutnya ?
Hemofilia terjadi akibat adanya mutasi pada gen yang menghasilkan Faktor VIII dan IX. Dan ini terjadi pada kromosom X.

Gambar 2 Gambar 2 memperlihatkan apa yang akan terjadi jika seorang laki - laki penderita hemofilia memiliki seorang anak dari seorang wanita normal. Semua anak perempuan akan menjadi pembawa sifat hemofilia (carrier), jika mereka mewarisi kromosom X yang membawa sifat hemofilia dari sang ayah. Dan semua anak laki - laki tidak akan terkena hemofilia, jika mereka mewarisi kromosom Y normal dari sang ayah.

Gambar 3 Gambar 3 menggambarkan keadaan keturunan, jika seorang laki- laki normal memiliki anak dari seorang wanita pembawa sifat hemofilia hemofilia. Jika mereka mendapatkan anak laki -laki, maka anak tersebut 50% kemungkinan terkena hemofilia. Ini tergantung dari mana kromosom X pada anak laki - laki itu didapat. Jika ia mewarisi kromoson X normal dari sang ibu, maka ia tidak akan terkena hemofilia. Jika ia mewarisi

kromosom X dari sang ibu yang mengalami mutasi, maka ia akan terkena hemofilia. Dengan jalan yang sama, sepasang anak perempuan memiliki 50% kemungkinan adalah pembawa sifat hemofilia. Ia akan normal jika ia mewarisi kromosom X normal dari sang ibu. Dan sebaliknya ia dapat mewarisi kromosom X dari sang ibu yang memiliki sifat hemofilia, sehingga ia akan menjadi pembawa sifat hemofilia.

Dapatkah seorang carrier hemofilia mengalami hemofilia ?
Karena seorang carrier hanya memiliki satu buah kromosom X normal yang dapat memproduksi sejumlah Faktor VIII atau Faktor IX didalam susunan pembeku darah, maka mereka dapat terhindar dari segala jenis hemofilia berat yang jumlah kadar zat pembekunya kurang dari 1 %. Bagaimanapun juga, tingkatan dalam zat pembeku darah yang bervariatif pada seorang pembawa sifat sangatlah luas. Jumlah kadar zat pembeku darah seorang carrier hemofilia akan memiliki jumlah yang sama dengan penderita hemofilia hanya saja mereka masih dalam taraf yang normal. Hal ini terjadi karena adanya 2 buah kromosom X, salah satu gennya memiliki pembawa sifat hemofilia sehingga fungsinya tidak seimbang. Bila kromosom X hemofilia fungsionilnya terjadi di setiap sel, maka seorang carrier akan memiliki aktifitas pembeku darah dengan tingkatan yang paling rendah. Kebanyakan dari seorang carrier hemofilia memiliki tingkatan pembeku darah antara 30 % dan 70 % dari angka normal dan tidak selalu mengalami perdarahan yang berlebihan. Namun beberapa carrier hemofilia memiliki kadar faktor VIII atau IX 30% lebih rendah dari keadaan normalnya. Dan para wanita ini dapat di kategorikan setengah hemofilia. Dalam hal ini , semua carrier hemofilia harus lebih menaruh perhatian pada perdarahan yang tidak wajar. Tanda -tandanya antara lain : menstruasi yang berkepanjangan dan berlebihan (menorrhagia), mudah terluka, sering mengalami perdarahan pada hidung (mimisan)

Apakah harus selalu ada sejarah keturunan hemofilia dalam suatu keluarga ?
Tidak. Ada beberapa penjelasan dalam setiap kelahiran seorang bayi laki-laki hemofilia dalam suatu keluarga dimana dalam sejarah keturunan keluarga penderita tidak terdapat penderita hemofilia yang lain. Sehingga hal tersebut tidak dapat dipastikan darimana asal hemofilia tersebut Hal ini terjadi akibat adanya mutasi gen saat terjadinya pembuahan pada sang ibu. Jadi sang Ibu merupakan orang pertama yang menjadi carrier hemofilia dan akan berdampak pada sang anak yang akan dilahirkan, baik itu sebagai carrier kembali maupun penderita hemofilia itu sendiri. Selain adanya perubahan struktur (mutasi) pada sel telur sang ibu dapat pula disebabkan oleh perubahan struktur sel pada sperma sang ayah. Dalam beberapa contoh kasus, bila sang ibu bukan sebagai carrier maka kemungkinan besar anak lelaki lainnya akan normal. Pada Gambar 4 dijelaskan bagaimana bila seorang penderita hemofilia lahir dari seorang ibu yang bukan carrier.

Gambar 4 Diperkirakan sampai dengan 30 % terjadi kasus dimana seorang penderita hemofilia lahir pada sebuah keluarga tanpa adanya garis keturunan hemofilia.Banyak dari kasus tersebut merupakan mutasi gen baru. Yang artinya hemofilia dapat hadir pada setiap keluarga. Karena baik sudara kandung perempuan maupun sang ibu penderita hemofilia tidak selalu carrier, seperti yang terlihat pada Gambar 3 dan 4, sehingga sangatlah penting untuk mereka melakukan pemeriksaan carrier hemofilia.

Tes apa sajakah yang harus dilakukan untuk memastikan adanya carrierhemofilia pada seorang hemofilia?
Ada dua cara untuk memastikan apakah seorang wanita akan menjadi carrier hemofilia. Dokter dapat menganalisa pada setiap garis keturunan.Dengan adanya berbagai informasi yang akurat akan dapat mengungkap bagaimana hemofilia tersebut akan hadir. Bila sang ayah hemofilia, maka sang anak perempuan merupakan carrier. Dan bila sang ibu yang carrier, maka sang anak wanitanya memiliki kesempatan 50 % menjadi seorang carrier. Cara yang kedua merupakan cara yang paling dapat dipercaya, yaitu melalui tes DNA. Contoh darah tidak hanya di ambil dari orang yang berpotensial sebagai carrier tetapi juga pada seluruh anggota keluarga yang lainnya. Hasil dari tes tersebut baru dapat dilihat setelah 10-14 hari. Apabila tes tersebut masih dianggap meragukan, status carrier dapat diperkirakan dengan tingkat keakuratan antara 95-99%.

Referensi : Canadian Hemophilia Society, The history of hemophilia – 1999

15. Bagaimana prosedur study koagulasi?

16. Data apa yang diperlukan dalam pemeriksaan study koagulasi? 17. Pemeriksaan apa saja untuk mengetahui penderita mengelami hemofili?
    Jumlah trombosit Waktu perdarahan Rumple leede Waktu pembekuan prothrombin consumpsion test

http://www.hemofilia.or.id/pemeriksaan-lab.php 18. Apakah ada perbedaan pembekuan luka kecil dan luka besar? Jika ada bagimana prosesnya?

19. Apakah usia mempengaruhi hemofili? Jika ada jelaskan?

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful