You are on page 1of 68

Irfani e-Publika

30 Hari Aku Bersajak 1
30 Hari Aku Bersajak; Antologi Sajak Kehidupan
Sukron Abdilah@2008

Penyunting : Sukron Abdilah
Desain Cover : Dasam Syamsuddin
Layout : Sukron Abdilah

Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved

Terbit, November 2008

Diterbitkan oleh:
Irfani e-Publika
Jln. A.H. Nasution Gg. Kujang No. 61B
Rt 04/ Rw 05 Cipadung Bandung 40614
Cp: 081322151160
e-mail: irfanipublika@gmail.com
weblog: http://irfanipublika.blogspot.com

Perpustakaan Pribadi: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Sukron Abdilah
30 Hari Aku Bersajak; Antologi sajak Kehidupan
Bandung: Irfani e-Publika ; Terbit, November 2008
68 hlm; kertas A5

30 Hari Aku Bersajak 2
Kenapa saya bersajak?

Entah kenapa, hari-hari ini saya lebih suka menulis puisi dan
cerpen. Bermain-main dengan keindahan kata. Meski ada
yang pernah bilang bahwa hidup ini tidak sesingkat cerpen,
prosa dan puisi. Namun, saya semakin terperosok pada
lubang keindahan dunia estetika bahasa. Ya, bidang sastra
namanya.

Ada perasaan malu. Tapi tanpa belajar merangkai kata, mana
mungkin saya bisa menulis cerpen dan puisi. Ini hanya
untuk konsumsi pribadi. Bahkan hanyalah luapan emosi
sesaat yang tak akan pernah kembali mengisi kedalaman hati.
Memohon saya dengan sangat pada pembaca. Sudi kiranya
jika saya menengadahkan tangan untuk menerima tetes demi
tetes dari bergalon-galon kritik dan saran para pembaca.

Saya sadar e-book ini akan menjadi penghantar untuk
dicemoohi, tapi ; saya yakin ini adalah luapan hati saya atas
realitas kehidupan. Jadi, tak salah kalau saya bikin versi e-
booknya.

Karya tanpa tata aturan ini menggelayuti otak kiri dan otak
kanan. Selamat berimajinasi !!!!

Bandung, 2008
Karya @sli Sukron Abdilah

30 Hari Aku Bersajak 3
Daftar Isi
Pengantar; Kenapa Saya Bersajak?

Satu Paham Saja Cukup!
Kelelawar Malam
Lelah pada Hidup
Aku Bukan Sisifus
Dingin

Atas Nama Kasih Abjeksi
Bebatuan Rasa
Bibir Sunggingmu
Suara Parau itu MATI Juga
Tempatku di Sini
Pesan dari Kampung

Surau Kotor
Hemat Kata
Mencari Makan
Nasi Aking

Cahaya Peradaban
Asam Garam
Kecapi Suling
Gelanggang Kebudayaan
Gangsingku dicuri orang

Sang Pemarah
30 Hari Aku Bersajak
Insomnia
Kanuraga

30 Hari Aku Bersajak 4
Tanah pusaka

Kemana kau pergi?
Bangsa terus bermimpi
Goyang Dangdut
Pakem Kebudayaan
Kasih Palsu
Akhirat
Khuldi Duniawi

Aku Bukan Sisifus
Dingin
Atas Nama Kasih Abjeksi
Sufi Pedesaan
Surau Kotor
Dll………………..Lihat saja sendiri

30 Hari Aku Bersajak 5
Satu Paham Saja Cukup!

NASIONALISME hadir. Kapitalisme hadir. Agamaisme hadir.
Sosialisme ketok palu hadir. Bahkan, komunisme juga masih
hadir.

Belum lagi yang lain-lain. Belum lagi yang kawinan. Belum lagi
yang adofsian. Belum lagi yang pertukaran. Ah, pokoknya kalau
dituliskan belum lagi cukup saya menuliskannya.

Mang Tarjo tukang kebo, hanya inginkan satu. Si Jimmy hanya
ingin satu pula. Ahmad juga maunya sih satu saja. Safitri juga satu
saja sudah cukup. Bahkan, si Kolep bilang harus satu paham saja.
Titik!

Saya juga maunya satu saja. Kesejahteraanisme. Atau, rakyatisme
ketok palu hukum. Titik, koma, dan titik seterusnya. Insyaallah
dengan titik-titik kesejahteraan ini bangsa tak perlu harus saling
menjatuhkan. Ya, kesejahteraanisme saja satu paham cukup
ampuh.
2007

30 Hari Aku Bersajak 6
Kelelawar Malam

Cari makan halal saja susahnya minta ampun!
Bagaimana dengan yang haram?
Ah, sama saja susahnya.
Kalau tidak ada kesejahteraan dan keadilan
dan dikejar-kejar orang berdasi.
2007

Lelah pada Hidup

Terkungkung jiwa dan rasaku.
Menukik aku ke kedalaman alam bawah sadar.
Namun tak ketemukan secuil pun
Kebebasan rasa.

Aku hanya bisa melilitkan rasa lelah.
Di kedua belah mata
yang kosong dari cahaya kehidupan.

2007

30 Hari Aku Bersajak 7
Aku Bukan Sisifus

Hari ini aku mengantuk, esok-lusa pun masih mengantuk
Hari ini aku suntuk, satu-dua tahun pun ku masih suntuk

Aku mengangguk,
Bahwa hidup tak semestinya begini terus-menerus
Aku bukan Sisifus
Manusia yang terjebak rutinitas
Bahkan nihil kreativitas

Tapi kegembiraannya adalah aku
yang berwujud orang lain
2007

30 Hari Aku Bersajak 8
Dingin

Menggigil tubuh kedinginan, bayangkan hangatnya kopi panas
dan nikmatnya sebatang rokok

Kepulan asap kopi tebarkan aroma kehangatan
Bergerombolannya asap rokok bawa hantarkan aku
Bertajalli dengan segenap kegelisahan

Imajiku berputar kian kemari jelajahi kemaha-indahan alam
marcapada, Laiknya sang Gatot Kaca yang kepakkan sayap terbang
ke angkasa raya

Mencari para kurawa yang hancurkan tatanan dunia
Sekadar untuk hangatkan rasa dengan deburan ombak darah di
urat nadi
2007

30 Hari Aku Bersajak 9
Atas Nama Kasih Abjeksi

Atas nama cinta kau duakan hati.
Atas nama agama kau eksploitasi tubuh wanita.
Deretan diksi yang menggedor kembali keterpendaman rasa
tak setuju terhadap poligami mulai merangkak naiki ubun-ubun
kepala.

Ingatan itu kembali meronta hendak keluar
dari alam bawah sadar yang puluhan tahun mulai kutekan,
kuhancurkan dan kuremas-remas
agar tak menghantui bayang-bayang tubuhku.

2007

30 Hari Aku Bersajak 10
Bebatuan Rasa

Sayup suara resisten di tengah jalan tak mendobrak ketetapan.
Manusia batu yang hanya memendam kegelisahan di pagi, siang,
sore dan malam hari; hanya sekadar menumpuki diri
dengan jutaan kilogram harta.
Merambat hingga mencekik ketuhanan di sisi kemanusiaan.

Urat nadi dan hati tak berdegup,
mati merasai kehadiran sisi kemanusiaannya.
Nafas kepeduliaan di hati sanubari pun tertimbun lapisan ruang
dan waktu; mati tak menjelajahi sisi ketuhanan di kedalaman
spiritualitas.
Pancaroba membentuk hatinya sekeras batu.

Rengekan mereka, adalah milik mereka.
Tak sudi ia hantarkan kegelisahan manusiawi,
karena telanjur ku menjadi manusia dari bebatuan rasa.

2007

30 Hari Aku Bersajak 11
Bibir Sunggingmu

Tersungging bibirmu
bikin hatiku mulai tersinggung.
Terkelupas kepedulianmu
yang mencipta kebencian rasa.

Kala aktualisasi kata yang menjemukan merasuki
rasanya aku tak bisa hindarkan maut.
Mematungkan diri pada sebongkah cermin
di dinding berlumur kotoran-kotoran hidup.

Sunggingan bibirmu pun tak kuasa aku tahan
hingga kebencian membuncah
dan terhunjam di dasar kalbu manusia
miskin, kumuh, dan tertindas oleh setiap sunggingan
bibirmu.

Kapankah sungginganmu tak terlihat,
dan tak terasa menohok hatiku ini?
Mungkin esok, lusa, lusa dan lusa lagi;
Ataukah mungkin tak pernah sama sekali?

Ah, aku masih tetap tersinggung atas sunggingan bibirmu
kala kemiskinan, kekumalan, dan ketidaksejahteraan
merembet di urat nadi realitas masyarakat kampung bau
lisung.
2007

30 Hari Aku Bersajak 12
Suara Parau itu MATI Juga

Bosan aku terus berteriak lantang
tak didengar meski itu meneriaki ketulianmu.
Kesal aku melemparkan kepalan tangan ke angkasa
yang berbalas letupan-letupan senapan dengan gagah
perkasa.

Akhirnya, suaraku makin parau; tak terdengar
di tengah-tengah genjlong yang mengguncang dunia maya
bahkan dengan pekik histeris pun tak kunjung membuka
lem perekat
di telinga kiri dan kananmu yang tuli dan tak mendengar.

Suara parauku sekarang tak pernah terdengar berteriak-
teriak.
Mungkin, telah mati diterjang peluru panas yang mengganas.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un!!!
Suara perjuanganku kini tengah duduk di sisi Tuhan.
2007

30 Hari Aku Bersajak 13
Tempatku di Sini

Tempatku di sini
lahir dan mati
tak kan kutinggalkan
kendati kekumuhan menghantui.

Tempatku di sini
berkeluarga dan beranak pinak
menuliskan tinta takdir kehidupan
yang berjibun ketidakpastian.

Gerangan kuhampiri wajah jijikmu
kusemburkan ludah bau
dan kulepaskan kepalan tinju
karena aku hanya akan terus menetap
hidup di sini dan mati pun aku mau di sini.

Di kampung tempatku berdendang teduh
yang pancari hidup dengan cahaya ke seluruh tubuh yang
ringkih seringkih tiang dari bambu kuning!
2007

30 Hari Aku Bersajak 14
Pesan dari Kampung

Aku mulai membosani tingkah polah
yang datang bertubi dari ketakmanusiawian diri.

Kepulan asap dari dapur, hanya kepulan kesedihan
pembunuh kepercayaan.

Kata-katamu hanya disimpan di bawah bantal
yang tebarkan harum pesona.

Wajahmu jernih tak sejernih hati
hingga aku menolak buncahkan kata
yang berjibun kekaguman.

Kau tersenyum,
aku ketus tersenyum dalam hati.
Kau melambaikan tangan,
aku kepalkan tangan kebencian dibelakangmu.
Kau sorotkan pandang kebahagiaan,
aku tersedu-sedu seminggu setelah kunjunganmu itu berlalu.

Pesanku ternyata tak kau baca!
2007

30 Hari Aku Bersajak 15
Surau Kotor

Kotoran hidup jengahi Tuhan
atap genteng dari keringat kemunafikan,
menghisap ketulusikhlasan;
tembikar dari penghisapan kaum miskin
tak dikehendaki Tuhan. Korupsi!
2007

Hemat Kata

Itu saja judul puisi yang kutulis
di atas kertas putih.
Tak sudi kuhambur-hamburkan isi kepala
kalau saja masih sisakan kepedihan.
2007

Mencari Makan

Cari makan halal saja susahnya minta ampun!
Bagaimana dengan yang haram?
Ah, sama saja susahnya.

Kalau tidak ada kesejahteraan, nirkeadilan
dan dikejar-kejar orang berdasi.
2007

30 Hari Aku Bersajak 16
Nasi Aking

Lari kecilmu menahan lapar. Ma aku ingin makan!
Tak ada apa-apa di rumah! Jawabnya.

Hanya sisa-sisa nasi kemarin ditinggali jamur, lumutan,
dan kekuning-kuningan hampari jutaan harap di dasar
keramaian.

Ambil. Marilah masak rame-rame.
Biar dunia tahu.
Kemunafikan masih menjadi
menu sistem nilai bangsa ini.

Sudah tiga bulan hujan tak kunjung mengunjungi.
Lihatlah sawah, masih sisakan retakan-retakan menyayat
hati.
Ketika hujan guyuri tanah ini, benih dan pupuk pun susah
kugenggam.
Jengah ema-mu ini de!

Makanan sehari-hari juga nasi aking.
Bagaimana kamu mau pintar, nak!
2007

30 Hari Aku Bersajak 17
Cahaya Peradaban

Sang surya di ufuk sebelah Timur
pancarkan berjuta cahaya peradaban.
Kutinggalkan kursi malas yang teronggok di depan teras
rumah,
hendak kusongsong cahaya itu
biar dunia bergemuruh menepuk-nepukkan telapak tangan.

Kubangkitkan tubuh ini dan kuayuhkan kedua kaki;
pergi tinggalkan anak-istri
dan kembali lagi nanti sore hari
kala matahari tenggelam di sebelah Barat.

oh...Tuhan sang pencipta Surya,
cahaya-Mu hunjamkan daya hidup
ke peluh keringat dingin
mendobraki sumpah serapah kemalasan
yang dari dulu, semenjak orde baru menempeli ulu hati.

Cangkul di belakang rumah di samping kandang kambing
aku dudukkan di pundak pengharapan.
Cahaya pagi hari cipratkan bintik-bintik hormon semangat
hidup,
hari esok pasti aku beroleh seberkah kesejahteraan;
kendati diperolehnya hanya sekejap hari
yang terus lahirkan kebimbangan.

Hari -- sebagai kumpulan waktu -- menjadi semacam
penantian panjang

30 Hari Aku Bersajak 18
kala perut anak dan istriku terus bernyanyi riang.

oh...Tuhan sang pencipta hari,
guliran waktu-Mu itu telah perdayai aku yang lemah,
para pengharap hari esok terserah kepada kemurahan-Mu
dan itu aku rasakan semenjak cahaya peradaban
dibantai keserakahan-keserakahan saudara sepermanusiaan.

Namun, aku yakin
bahwa asma-Mu akan pancarkan cahaya peradaban...!
-- 02 November 2007

30 Hari Aku Bersajak 19
Asam Garam

Gerah eskalasi politik bangsa, tatkala aku terhuyung-huyung
menahan sakit, perih, luka menganga, dan perut
keroncongan;
bekerja di rumah sendiri tapi merasa seperti di sebuah hutan
belantara
yang dihuni hewan-hewan bertaring yang siap menyergapku.

Aku sudah makan asam garam dengan kemiskinan dan
kelaparan,
kebutuhan pokok yang mahal
dan intrik-intrik penipuan yang licik selicik manusia kerdil.
Aku ibarat domba yang terasing sendirian di padang ilalang
dikerubuti serigala-serigala penyantap dagingku yang peot,
ringkih, kurus
dan pancarkan kemelaratan.

Aku korban para penggembala domba yang makan asam
garam
dan meninggalkanku sendirian
di padang rumput untuk dilahap Serigala.
Mereka telah makan asam garam menindih, menindas, dan
menggasak.
Sementara aku hanya bisa berdalih, berpuluh tahun aku lihai
menjadi korban dari politik asam garam.
-- 02 November 2007

30 Hari Aku Bersajak 20
Kecapi Suling

Getar senar berdawai menari meliuk-liuk
hinggapi telinga kiri-kanan.
Gerlik alunan nada tulat-tulit terobosi ulu pilu qalb
yang undang bulu romaku bergidig.

Ketakutan aku setengah mati, atau malah berjingkrak-
jingkrak
aku melenggok kangkung kala angin hantarkan suara kecapi
suling
dari dalam gubuk rumah tua di sebelah sungai Cimanuk.

Tetabuhan dari arah Barat, aku tutupi dengan kain batik
Garutan
kusumpali dengan saputangan merah jambu kelabu
pemberian nenek moyang Ki Sunda.
Seperti kecapi dan suling yang saat ini
aku tak lagi dengar dan nikmati
aku menjadi manusia Sunda yang kehilangan jati diri.

Bergeol, bergitek, dan bergoyang
bukan dengan apa yang diakarkan kepada Ki Sunda.
Malahan pada dunia yang aku pun tak kuasa
menahan rasa kantuk akibat semburan mantranya.
Tapi, kecapi suling yang dipajang di dinding rumah uwak
ingatkan aku pada pengembaraan sang nenek moyang Ki
Sunda
yang upayakan melestarikan pohon-pohonan dan awi
tamiang.

30 Hari Aku Bersajak 21
Dua karya bangsa itu pun -- suling dan kecapi -- kini
teronggok
di dinding menjadi hiasan mata, tidak lagi menjadi pelipur
lara
di kala aku berduka.

Dinding di rumah almarhum Uwak Elim
sekarang hanya dihiasi kecapi dan suling yang menunggu
anak cucunya
memetik dan meniupnya seindah dan seasyik ma'syuk
mungkin,
hingga sang uwak berpepatah-berpepitih: "jangan sampai Ki
Malaya
mencurinya dari tangan kita, seperti nasib alat musik
kembarannya,
angklung dari Tanah Sunda, Jawa Barat".
-- 02 November 2007

30 Hari Aku Bersajak 22
Gelanggang Kebudayaan

Suburnya tanah Negaraku
kaya akan kebudayaan tentunya bangsaku
dari Sabang sampai Merauke
aku hanya bisa mendecak-decaki lokalitas yang plural.

Sang merpati terbang
sebebas-bebasnya kalahkan para pengelana
namun hari ini wajah negaraku coreng-moreng
oleh lumpur keseragaman.

Mang Udin tidak lagi asyik
membajak sawah dengan kerbau
sambil mengumandangkan kalimat perintah "kiya-kiya"
di sawah hanya terdengar sumpah serapah
dan deru-menderu suara mesin
yang membunuh belut, bekicot, dan ikan impun
di areal pesawahan juragan Udung.

Malunya, bangsaku kala bertandang ke luar negeri
dan membincangkan persoalan ekonomi negeri.
Tapi itu tidak semalu -- malahan gembira -- kala bangsaku
membincangkan soal kebudayaan negara Indonesia.

Orang luar akan mengacungkan jempol
seraya berujar: "wah memang kaya kebudayaan Negara
Indonesiamu".
Ya, saking kayanya bangsaku dengan kebudayaan
hingga lupa bahwa local genious

30 Hari Aku Bersajak 23
banyak yang dicuri saudara dari bangsa lain.

Gelanggang kebudayaan kita sekarang tengah terancam
oleh gerusan dan ancaman "aku-aku angga" bangsa luar.
Para arif cendekia pecinta kebudayaan pun berteriak lantang:
"Lindungi HAK CIPTA INTELEKTUAL MASYARAKAT
LOKAL".....!

Gelanggang kebudayaan bangsaku
tak ingin dikebiri hingga anak cucu tak mengenal lagi
keaslian dirinya yang sekarang mulai tak dilirik
dan mulai menghilang dari jati diri.
-- 03 November 2007

30 Hari Aku Bersajak 24
Gangsingku dicuri orang*

Aku susun pakem permainan gangsing buat melawan orang
yang berusaha mencurinya dariku. Dari saluran FM sebuah
radio swasta memberitakan bahwa gangsingku akan dicuri
bangsa lain. Bangsa yang tak punya kreativitas budaya
setinggi saudara-saudaraku di Indonesia.

Aku kembali mengukuhkan bahwa aku dan saudara-
saudaraku adalah para pencipta permainan gangsing. Tak
sudi kalau nasibnya seperti angklung dan kain batik, yang
distempeli cap Ki Malaya. Aku susun buku tentang tata-
aturan bermain gangsing, jangan-jangan ada maling yang
hendak mencuri di tengah kelengahan. Kan mereka bakal
malu kalau mencuri, sementara bukti tertulis ada dihadapan
mata setengah memandangnya itu.

Ini lho buku Panduan bermain Gangsing!
-- 03 November 2007
* judul ini terinspirasi oleh pencurian-pencurian kekayaan
intelektual bangsa Indonesia oleh bangsa luar.

30 Hari Aku Bersajak 25
Sang Pemarah

Marah rona wajahmu mengguratkan sejibun beban berat
yang gagahi kehidupan, entah kamu akan terus memeras
keringat
hanya untuk menumplekkan kekesalan-kekesalan itu ?
ataukah hanya mengeram dan memantul dari dalam
badanmu
menggigil membendung aliran amarah yang terus
menggenangi setiap langkah?

Aku terbata-bata merangkai kata, menerawangi kekikukkan
serasa dunia menjadi neraka.
Tutur aku ucapkan buat memaklumimu
yang tiap hari guratkan amarah
dan pantulkan kebencian-kebencian.

Terperanjat aku digubris
kala aku menelungkupi diri dengan selimut imajinasi
mendengarmu merintih-rintih kesakitan
menahan rasa ageung kedigjayaan nafsu-amarah
yang kian hari kian terpancar kuat dari ilham fujur kamu.

Sekarang aku menumbuk ketakutan-ketakutan
kala bertatap wajah denganmu,
tapi saat ini dirimu telah membaringkan
tubuh di kursi roda, khusus kaum manula.
Dan, lagi-lagi aku tatap keriput di wajahmu...,
tentunya pancarkan kedamaian
diselingi ketakutan

30 Hari Aku Bersajak 26
yang dari dulu kau benamkan
di alam bawah sadar, hingga akhirnya
di akhir hayatmu, tatkala malaikat pencabut nyawa
mendekapmu, dari mulut keringmu pun
terlontar ucap-kata yang janggal.

:"Aku sang pemarah yang tak bisa marah lagi
kala diriku diculik pencabut nyawa melintasi semesta alam
raya"....!
03 November 2007

30 Hari Aku Bersajak 27
30 Hari Aku Bersajak

Peluh keringatku pantulkan bau amis.
Jari-jemari meliuk merangkai kata untuk kuucapkan
manakala aku bertatap dengan hari
yang terus saja bergonta-ganti.

Ku rajut kata-kata ejawantah dari realitas
tuk ukirkan hati dengan berjuta kata-ucap hikmah.
Terus dan terus kurangkai kata
selama 30 hari tanpa henti
untuk bersajak indah pada alam, manusia dan Tuhan.

Kerongkonganku saja mulai mengeluarkan dahak yang
menggumpal
tidak pernah aku ambil gelas berisi air
disamping note book yang hitam legam dan kelabu.

Akankah aku ambil gelas dan air pelepas dahaga itu?
Ah, kupalingkan kembali wajah ini
pada suatu dahan yang mengering kekeringan
dan menerbangkan dedaunan, sisakan kelakai-kelakai
keputusasaan.

Aku pun mulai kembali merangkai kata
bersajak selama 30 hari tanpa memejamkan mata.
Menderaikan nafas hidup yang sedari dulu mulai berkurang
seiring hari berganti.
Karena.., aku pun tahu bahwa siapa tahu esok aku kan mati.
04 Oktober 2007

30 Hari Aku Bersajak 28
Insomnia

Wah, batinku serasa tertusuk sebilah pedang.
Gelisah hingga mata lelah namun susah untuk dipejamkan.
Suntuk hati dan aku ambil buku di almari
kemudian mulai kutelaah halaman per halaman, hingga aku
merasa
mataku mulai terantuk-antuk.
Lagi-lagi, aku hanya bisa menguapkan mulut
tanpa bisa menutupkan mata merah yang menahan kantuk.

Aku sang manusia gelisah pengidap insomnia.
Mulai lagi berkecawas-keciwis memarahi kenapa mata ini
susah terpejam.
Ah, rasanya aku hanya akan merasa kaduhung ketika mata
ini terpejam
selamanya di pembaringan.
Meratapi segala tindak yang dulu pernah aku hadiahkan
untuk memenuhi kepuasan-kepuasan tak abadi.

Masih untung aku mengidap insomnia.
Coba kalau mata ini terpejam selamanya?
Oh..., aku belum siap rasanya menghadapi kematian,
karena aku
tak bisa membawa amal apa-apa.

Akhirnya aku pun terpejam selama dua jam
dan bangun membahagiakan mata dengan hijau-hijau
dedaunan
serta cericit suara burung yang mengindahkan telinga.

30 Hari Aku Bersajak 29
Aku mulai lagi bersajak untuk menyambut cerahnya
kehidupan.
04 Oktober 2007

30 Hari Aku Bersajak 30
Kanuraga

Tubuhku mendekap kegelapan
ruh tinggalkan cahaya kerumunan
tuk mengangkasa
temui manusia beraneka ragam

Ruang pengap kamar sesaki detak jantung
hingga berhenti hanya tuk keluarkan diri
dari hari-hari yang tak bergantung

melayang aku hampir terjatuh
dari lelangitan ruh
yang tinggi dan mulai meninggi
tinggalkan kerangkeng tubuh

Dingin dan mulai tak berdaya
aku meninggalkan penjara rasa
dari jasad yang mulai terkelupas mengangkasa
05 Oktober 2007

30 Hari Aku Bersajak 31
TANAH PUSAKA
Kingkilaban tina tanah Sunda
estuning matak kagagas
lalangse acian diri
ngahimengkeun sumeredetna
hate ka tanah pusaka
anu dilaksa ku Gusti Nu Maha Kawasa

Nanjerkeun darma ku laku nyata
nu mercekakeun gemah ripahna tanah Sunda
teu kabita tanah lian, ngan aya tanah pusaka
ngancik dina bale hate kawula
12 November 2007

30 Hari Aku Bersajak 32
KEMANA KAU PERGI?

Kau hanyutkan rasa di limbo hatiku yang meredup
seraya bayangi bayangan tubuhku yang gempal,
menerawang ke angkasa
dan percikan api kebencian, hingga darahku mulai
memuncaki
kepala yang kubungkus dengan sehelai kain putih

Kau pergi sejak kuludahi dan kutampar
tapi kau tahu, bahwa rasa ini nyinyir tak berarah,
mendobrak pintu hati
yang tertancap di kedalaman hati dan kubungkus
dengan kerinduan semu berbalut rasa kesal
12 November 2007

30 Hari Aku Bersajak 33
BANGSA TERUS BERMIMPI

Negeri seribu pulau ini tengah berduka
beratus juta anak bangsa gigih perjuangkan nasib, hendak
keluar dari penjara ketidakberdayaan Negara. Topan angin
silih berganti mendatangkan sejumput
kekecewaan dan kegetiran yang meliak-liuk kian kesana
semakin kemari
hancurkan benteng-benteng yang mentereng, tapi tak sekuat
dan setahan katulistiwa.

Aku kobarkan api semangat yang merapat di tungku-tungku
pembakaran arang,
hanya tuk menyalakan semangat gotong royong yang sedari
dulu terpateri sampai urat nadi.

Jamrud katulistiwa itu kini kian meradang
karena kehilangan pulau yang terhampar di tengah lautan,
diperjualbelikan
dan ditidakperhatikan bapak bangsa yang asyik berpoligami
dengan kepentingan pribadi.

Hanyut rasaku ke kedalaman jiwa tak tersadar, dibuai
berjuta mimpi yang kini hanya bisa kunikmati dari alam tak
berkepastian. Mimpi! Kekayaan negeri laiknya bunga tidur
bagi anak bangsa, yang tak tahan ketika arus impor beras
masuk ke sumsum dan tulang belulang, kendati negeri ini
punya segudang sentra penghasil padi terbesar di dunia.
18 Nopember 2007

30 Hari Aku Bersajak 34
Goyang Dangdut

Jerit lengking suara berparas ayu luluhkan rasa
Dentuman talu bersahutan kirimkan dag-dig-dug jantungku
Melodi indah sayati hati ini
Seruling bambu pun masih sisakan kegetiran yang mendayu-
dayu
Apalagi lenggak-lenggok pinggul biduanita usir kesuntukan

Goyang dangdut memang terus terbayang
Menyatukan ragam jiwa dan rasa dalam satu bayangan
Dangdut is my country…!
Jangan cemberut tapi teruslah berseri-seri
- 2007

30 Hari Aku Bersajak 35
Pakem Kebudayaan

Aku bukan kebudayaan yang tak berkembang
Pakem adalah dicipta untuk memudahkan kebudayaan terus
berubah.

Tapi, jangan lupakan dan hapuskan
Intisari kearifan lokal…!

Pakem tercipta agar kebudayaan
terus berada di keaslian jati dirinya
-2007

30 Hari Aku Bersajak 36
KASIH PALSU

Anak jalang tinggal dijalanan bukan berarti tak bertempat
tinggal
Hanya sekedar geliatkan jiwa dari kesuntukan setelah sekian
lama hidup sepi di tengah keramaian

O, akankah kau beri aku ketenangan rasa? Atau,
mungkinkah akan kau jejali aku dengan berjuta penderitaan?

Ternyata aku tak dapatkan keaslian kasih sayangmu
Hanya kepalsuan kasih berbungkus senyum ketus
Hingga ku tak kuasa menahan muntahan kata-kata kasih
berbungkus kepalsuan itu

2008

30 Hari Aku Bersajak 37
AKHIRAT

Negeri yang dulu kala ku bayangkan indah tentramkan
kegelisahan rasa
Merangkak aku menyembah-Mu hingga tengkuk, tumit, dan
jidatku hitam mengkilat

Ingin ku kembali ke dunia fana yang sekarang tak
berpenghuni tuk torehkan segenap amal baik.
Agar bekal hidup di tempat yang aku pijak sekarang tak
pernah berkurang, namun berkecukupan

Ya, tempat nan indah dulu itu berubah
Dari metafora keindahan ke simbol kepedihan, kegetiran,
dan kesakitan yang sesaki sukma

Menjerit aku kesakitan, terima hantaman palu godam
malaikat Mungkar-Nakir
Meringis aku kegetiran, tatkala tubuh ini hancur berkeping-
keping

O, Tuhan kembalikan aku ke dunia nyata? Inilah dunia
nyata itu! Jawab-Nya
2008

30 Hari Aku Bersajak 38
KHULDI DUNIAWI

Berlomba-lomba manusia berkehendak gapai pohon
kesenangan
Sikut sana-sikut sini manusia bersaing saling rebut buah
kebahagiaan semu

Kehormatan, kedigjayaan, kesombongan dan aneka bentuk
gambar kerakusan
Rasuki motif kekuasaan umat manusia tuk rangsang
gemerlap hasrat khuldi duniawi

Perang dihalalkan, pertengkaran disebarkan dan ragam
ketakteraturan hidup disandang kiri-kanan
Hanya tuk nikmati khuldi duniawi yang berjibun
ketakabadian

2008

30 Hari Aku Bersajak 39
AKU BUKAN SISIFUS

Hari ini aku mengantuk, esok-lusa pun masih mengantuk
Hari ini aku suntuk, satu-dua tahun pun ku masih suntuk

Aku mengangguk,
Bahwa hidup tak semestinya begini terus-menerus
Aku bukan Sisifus
Manusia yang terjebak rutinitas
Bahkan nihil kreativitas

2008

30 Hari Aku Bersajak 40
DINGIN

Menggigil tubuhku kedinginan, bayangkan hangatnya kopi
panas dan nikmatnya sebatang rokok

Kepulan asap kopi tebarkan aroma kehangatan
Bergerombolannya asap rokok bawa hantarkan

Imajiku berputar-putar kian ke sana kian kemari jelajahi
kemaha-indahan alam marcapada, Laiknya sang Gatot Kaca
yang kepakkan sayap terbang ke angkasa raya

Mencari para kurawa yang hancurkan tatanan dunia
Sekedar untuk hangatkan rasa dengan deburan ombak darah
di urat nadi

2008

30 Hari Aku Bersajak 41
ATAS NAMA KASIH ABJEKSI

Atas nama cinta kau duakan hati.
Atas nama agama kau eksploitasi tubuh wanita.
Deretan diksi yang menggedor kembali keterpendaman rasa
tak setuju terhadap poligami mulai merangkak naiki ubun-
ubun kepala.

Ingatan itu kembali meronta-ronta hendak keluar
dari alam bawah sadar yang puluhan tahun mulai kutekan,
kuhancurkan dan kuremas-remas
agar tak menghantui bayang-bayang tubuhku.

Hari itu tepatnya tatkala matahari mengintip malu-malu dari
balik gunung Cikurai, aku dan ibu sedang sarapan pagi di
ruang makan. Seperti biasanya, ayahku selalu tak sudi
sarapan berjamaah dengan keluarga. Tidak seperti sedang
menunaikan shalat di Mesjid, dia sering kali menunggu
warga agar bisa melaksanakan shalat secara berjamaah.

Alasannya biar muncul kepekaan terhadap realitas sosial.
Tapi, antara kenyataan dan logika meditatifnya tak
gambarkan kesaling-jalanan. Malahan teramat sangat
paradoksal. Kecewa aku!

Hardikan ibuku redam segala keingintahuan yang berjejal-
jejal di dalam lubang akal sehat dan kerongkongan seakan
hendak bebaskan diri dari penjara-penjara ketidakpastian.
Aku hendak dicipta laiknya Sisifus yang tak kritis tatkala
dijatuhi hukuman oleh dewa untuk terus-terusan

30 Hari Aku Bersajak 42
menggelindingkan batu ke puncak gunung. Setelah sampai
di puncak, batu itu pun kembali jatuh ke kaki gunung.
Begitulah hidupku saat itu.

Tak bisa mengeksplorasi dan mentransformasi semangat
dikedalaman jiwa. Aku hanya robot yang bergerak tatkala
sipemiliknya memijit-mijit tombol start atau play. Dan
berhenti tatkala mereka telah bosan menjalankanku,
memasung kreativitasku dan mengatur hidupku.
Tiga tahun lamanya aku hidup dalam abjeksi kasih sayang
ibu kedua.

Ada setitik rasa rindu bergelayutan di hati sanubari ketika
wajah sendu ibu gerayangi puncak kesadaranku.
Aku ingat waktu dulu, arogansi ayah membludak lewat
tindakan patriarkhis.

Ya, menampar ibu tercinta yang protes bahwa cintanya tak
mau dibagi dengan orang lain.

Apalagi kalau mesti dibagi dengan Tante Rina yang tak
disukainya itu.

Betul juga prasangka ibu.
Sekarang, aku hanya bisa mangut-mangut, berkata sumuhun
dawuh, dan kadangkala dampratan tangannya mendarat di
pipi kanan-kiri.

Cinta kasihnya pun seakan ucapan yang hampa tindakan.
Di depan ayah, ia berpura-pura sayang.

30 Hari Aku Bersajak 43
Namun, tatkala ayah menghilang dari panggung kehidupan
rumah; tangan dan kata-katanya kembali torehkan luka
mendalam. 2008

30 Hari Aku Bersajak 44
SURGA KOK BEGINI

RENGEKAN anak kecil buncit. Undangi hormon kebencian
menaiki ubun-ubun kepala. Rasa kolektif menghimpun
partikel-partikel kecil di dinding hati saya untuk kemudian
mendobraki pintu kesadaran akan realitas alam sekitar. Saya
palingkan muka namun masih tetap saja menemukan anak
kecil buncit yang busung lapar. Negeri antah berantah yang
membikin saya mual-mual ingin muntah.

Syukur-syukur negeri ini menanggalkan label tetesan surga
yang disandangkan oleh para ahli hikmah. Surga kok begini
tidak begitu. Kecewa saya dibikin muntah tatkala
menyaksikan undangan realitas yang asal-asalan, sangkan
paran, sakainget, dan pikarunyaeun ini. Surga kok begini.
Ya, tidak begitu!

Jangan heran kalau manusia tak lagi merasa terenyuh rasa
dengan estetika gambaran surga. Lho, kenapa saya labelkan
kata surga dengan estetika? Apa tidak melenceng? Ah, tidak
juga saya pikir. Karena saking telah merasakan bagaimana
keindahan surga di tanah air ini, manusia negeri ini jadi tak
mau lagi masuk surga. Ngapain masuk surga, kalau negeri ini
saja sudah seindah surga!

Tapi, saya bunuh saja nyawa surga untuk negeri ini. Biar,
mereka sadar bahwa tetesan surga itu telah berganti dengan
tetesan neraka. Ih, amit-amit deh. Ya, saya juga setuju kalau
negeri ini indah bagaikan surga. Tapi, untuk saat ini tak
seindah surga lagi saya kira.

30 Hari Aku Bersajak 45
Mengapa? Ya, kalau negeri ini tetesan surga kenapa harus
ada anak buncit akibat busung lapar.

30 Hari Aku Bersajak 46
BAPAK SATU PULAU

NEGERI ini dikasih predikat wilayah seribu pulau. Maka ada
bahasa yang ngetrend bahwa generasi kita kerap disebut
anak seribu pulau. Kalau anak seribu pulau itu betul
eksistensinya, mengapa banyak bapak yang menganaktirikan
pulau-pulau di negeri ini. Jadi, tepat kalau disebut negara
satu kota dan berbapak satu pulau saja. Jakarta dan Jawa.

30 Hari Aku Bersajak 47
SATU PAHAM SAJA CUKUP!

NASIONALISME hadir. Kapitalisme hadir. Agamaisme hadir.
Sosialisme ketok palu hadir. Bahkan, komunisme juga masih
hadir. Belum lagi yang lain-lain. Belum lagi yang kawinan.
Belum lagi yang adofsian. Belum lagi yang pertukaran. Ah,
pokoknya kalau dituliskan belum lagi cukup saya
menuliskannya.

Mang Tarjo tukang kebo, hanya inginkan satu. Si Jimmy
hanya ingin satu pula. Ahmad juga maunya sih satu saja.
Safitri juga satu saja sudah cukup. Bahkan, si Kolep bilang
harus satu paham saja. Titik!

Saya juga maunya satu saja. Kesejahteraanisme. Atau,
rakyatisme ketok palu hukum. Titik, koma, dan titik
seterusnya. Insyaallah dengan titik-titik kesejahteraan ini
bangsa tak perlu harus saling menjatuhkan. Ya,
kesejahteraanisme saja satu paham cukup ampuh.

30 Hari Aku Bersajak 48
KELELAWAR MALAM

Cari makan halal saja susahnya minta ampun!
Bagaimana dengan yang haram?
Ah, sama saja susahnya. Kalau tidak ada kesejahteraan dan
keadilan.
Dan dikejar-kejar orang berdasi.

30 Hari Aku Bersajak 49
TERKUNGKUNG

Terkungkung jiwa dan rasaku.
Menukik aku ke kedalaman alam bawah sadar.
Namun tak ketemukan secuil pun
Kebebasan rasa.

Aku hanya bisa melilitkan kelelahan.
Pada kedua belah mata.
Yang kosong dari cahaya kehidupan.

Bandung, 31 Januari 2007

.

30 Hari Aku Bersajak 50
limbo kehancuran

kepulan asap bergeroyok tutupi mata sedesa
nyanyian sumbang teriak warga menyelingi sukma
duhai hutan belantara, adakah rasa benci
menghunjam di kedalaman sanubarimu?

cerah-benderah langit membiru warnanya kedapkan laksa
rasa dan imaji warga berlari ke masa lalu saat tumbangkan
pohon berjejer di hutan belantara
duhai langit meluas, pongahkah aku?
manusia berderai nafsu ngangkangi keagungan alam

tanda-ayat itu kini menebar tak tergagahi
merangsek menusuk-nusuki manusia pongah dengan
ketidakadilan

temaram malam kian gagapi aku yang malang
melintang ke arah sumur tua di kabuyutan
tepi sungai pun tak henti-hentinya aliri kekalutan
dengan limbo-limbo kehancuran
Bandung, Maret 2008

30 Hari Aku Bersajak 51
Berdetak Kencang

duduk di tepi trotoar
kaki kupanjatkan pada sebilah pedang
sakit kupaksakan meski derai air mata meluber ke sekujur
badan

bus itu maju ke depan, tak ke belakang
genjring, gitar, dan talu rebana mengiringi nada Sunda
dari tiga pengamen jalanan lenyapkan duka lara

cantik…, wanita Cicalengka pandangkan matanya
aku tersipu malu menahan rasa cinta yang datang sekejap
mata
belokan jalan itu pun kembali buyarkan sejuta asa

mengembalikan keterpurukan jiwa yang tak kunjung
membaik
garut-bandung, Maret 2008

30 Hari Aku Bersajak 52
Alamat kekerasan

duka memendungi lelangitan hidupku
baitullah di kampungku gosong terbakar api kebencian
raungan titahnya memerindingkan bulu kudukku
hingga senyap-senyipkan rasa kantuk yang sejak kemarin
ku tahan erat-kuat agar me-“meleki” gerakan pedang
dan serulitmu

sumbing bibirku tak lenyapkan selaksa kata kebenaran
tertusuk anak panah yang melesat dari busur
digenggam angkara murka Arjuna
yang kerasukan dedemit perusak kedamaian

gerlik suara cericit burung kematian itu tetap terdengar jelas
memekak ke dalam gendang telinga yang pecah karena
kebengisan
laku-kata yang tak luapkan ke-Mahapengasih-an Tuhan
alamat kekerasan pula yang kemarin menuliskan
kampung halaman, tempatku bercengkrama
dengan berjuta derita
dalam secarik kertas fatwa kekerasan atas nama Agama!
Garut-Bandung, Mei 2008

30 Hari Aku Bersajak 53
matinya kebenaran

mata elang itu tertusuk duri pohon salak
hempasan tubuhnya membuat aku tersentak kaget
lantas kemudian jejak-menjejaki menuntun langkah
ketakpastianku yang terus menggerogoti keyakinan

terbang juga akhirnya kau burung elang
meski dengan satu mata kebenaran
yang tak jamak di mata orang banyak

biar matinya kebenaran menjadi petanda
bahwa manusia gila akan terus menggilas
suara sumbang kebenaran

Bandung, Mei 2008

30 Hari Aku Bersajak 54
puncak kearifan

kerikil-kerikil tajam di sepanjang jalan kenangan
menuju puncak gunung Manglayang yang tinggi menjulang
hamparkan semiliar perbedaan di Kota kembang
laiknya harum bunga di taman firdaus penuh harapan
untuk terus menggerayangi memukaunya keindahan

puncak gunung itu ajarkan aku melihat dari angkasa
atas hamparan kota dipenuhi bangunan yang melalat
kerlip cahaya lampu temaram dari arah Barat
cerahi rasa egoisku atas penyeragaman keberbedaan
pemahaman

dan, aku pun menemukan puncak kearifan yang me-luas
kala menyaksikan putaran Bumi yang diversif dan majemuk
dari puncak menara Melayang aku terjatuh
menimpa keindahan yang ragam dan unik

lalu, aku pun tersedu menangis
kembali kepada keegoisan yang melekatkan diri
dengan berjumput laku kekerasan
bandung, Mei 2008

30 Hari Aku Bersajak 55
tentang hitam
hitam kotoran anjing menempel di baju putihku
sehitam aspal di jalan raya Soekarno-Hatta
aku melepuh tak bisa melepasnya dari hehitaman
yang mencekat
terus-terusan bagaikan dedakian di punggungku
yang menghitam
berlarian membercaki seluruh tubuh dan jiwa
bajuku pun hanya bisa menundukkan diri
nerima catatan ilahi yang digariskan dari lauhmahfudz
dosaku kilatannya sedemikian tak terlihat
hingga de javu kerap hantui akibat tak beringat
akan kental menghitamnya dosaku yang kini mulai legam

warna hitam dosa menutup diri dari nur aini
menjadikan aku sebagai manusia berkubang dzulmun aini
aku bermetamorofsa jadi makhluk wail yang tak bergeming
kala si cacah miskin tak bisa makan nasi aking sekalipun

jiwaku terkurung tubuh kasat
yang tegak ajek menyombongi Tuhan
karena matinya cahaya putih bersih bersinar dari jiwa
terembusi angin kegelapan yang meracaukan kebejatan
moral
manusiawi di dalam diriku pun warnanya telah
menghitamkan rasa berbagi dengan sesama

aku, saat ini sang hitam yang merindukan sang putih
hidupkan dirinya kembali
merengkuh kemanusiaan yang seputih

30 Hari Aku Bersajak 56
berbening-bening mutiara
kalau dalam konteks keindonesiaan, hitam adalah
warna kejahatan.
Bandung, Mei 2008

30 Hari Aku Bersajak 57
Jamur kepedihan

mati rasa aku tengkurap dalam kenestapaan
kerinduan tak pasti terus saja menghinggapi asa
aku dan ragam rasa bergelayutan jadi satu
membunuh keangkaramurkaan

tak biasa harus tertunduk pada hidup!

tak bergeming kala rintih kepiluan
datangkan kesenyapan hati yang tak bersahutan
dengan biofilia yang sejak kemarin kalah
mati tertunduk hasrat nekrofilia dalam diri

pemimpinku, wahai yang tersenyum pada kemiskinan
akankah kau balut diri dengan kepedulian?
hari ini aku hanya bisa merengkuh sepiring nasi
berlumur jamur kepedihan
Bandung, Mei 2008

30 Hari Aku Bersajak 58
Wau qasam

Wallahi Surti,
Aku tak bisa membiarkan diperbudak berhala duniawi
Wallahi Agami,
Aku tak bisa menghalangi diri membumikan ajaran suci
Wallahi Insani,
Rasa kemanusiaanku tak akan pernah mati
Wallahi Khalafi,
Keberbedaan itu tak mungkin aku caci-maki

Wallahi ya harfal ilahi,
Huruf nan Agung itu ikatkan diri bersama ilahi Rabbi
Wau qasam terus bersemayam menukik di hati
Tak kuat diri melepaskan semangat Ilahi
bandung, Mei 2008

30 Hari Aku Bersajak 59
Sufi pedesaan

sarung lama lekat di pinggang
kopiah ladus wadahi kepala
sorba putih kecoklatan melilit leher berkurap
tak menghijabnya berma’rifat pada Tuhan

seusai Subuh bergulir, ia pergi ke sawah becek
memangku cangkul di pundak
bergontai lewati jalan penuh aral menghadang
untuk menanam urat nadi kehidupan

bulir-bulir padi itu merekah
tanda keikhlasan sang sufi mengabdi pada ilahi
yang tak tertandindi mobil, HP, dan duit bergepok
dari kekuasaan yang berjabat-jabat
bandung, Mei 2008

30 Hari Aku Bersajak 60
estetika kata

kata apa yang harus kutuliskan di atas lembaran kertas?

estetika kata pun tak menyerap dalam tarian jari tanganku

ah, biar tak kau bilang estetis juga.

Asal ada semangat kemanusiaan yang coba aku tawarkan.
Karena itulah estetika kata yang didengungkan penyair
ulung
dunia humanitas.
Bandung, Mei 2008

30 Hari Aku Bersajak 61
Sang Pemarah

Marah rona wajahmu mengguratkan sejibun beban berat
yang gagahi kehidupan, entah kamu akan terus memeras
keringat
hanya untuk menumplekkan kekesalan-kekesalan itu ?
ataukah hanya mengeram dan memantul dari dalam
badanmu
menggigil membendung aliran amarah yang terus
menggenangi setiap langkah?

Aku terbata-bata merangkai kata, menerawangi kekikukkan
serasa dunia menjadi neraka.
Tutur aku ucapkan buat memaklumimu
yang tiap hari guratkan amarah
dan pantulkan kebencian-kebencian.

Terperanjat aku digubris
kala aku menelungkupi diri dengan selimut imajinasi
mendengarmu merintih-rintih kesakitan
menahan rasa ageung kedigjayaan nafsu-amarah
yang kian hari kian terpancar kuat dari ilham fujur kamu.

Sekarang aku menumbuk ketakutan-ketakutan
kala bertatap wajah denganmu,
tapi saat ini dirimu telah membaringkan
tubuh di kursi roda, khusus kaum manula.
Dan, lagi-lagi aku tatap keriput di wajahmu...,
tentunya pancarkan kedamaian
diselingi ketakutan

30 Hari Aku Bersajak 62
yang dari dulu kau benamkan
di alam bawah sadar, hingga akhirnya
di akhir hayatmu, tatkala malaikat pencabut nyawa
mendekapmu, dari mulut keringmu pun
terlontar ucap-kata yang janggal.

:"Aku sang pemarah yang tak bisa marah lagi
kala diriku diculik pencabut nyawa melintasi semesta alam
raya"....!
03 November 2007

30 Hari Aku Bersajak 63
30 Hari Aku Bersajak

Peluh keringatku pantulkan bau amis.
Jari-jemari meliuk merangkai kata untuk kuucapkan
manakala aku bertatap dengan hari
yang terus saja bergonta-ganti.

Ku rajut kata-kata ejawantah dari realitas
tuk ukirkan hati dengan berjuta kata-ucap hikmah.
Terus dan terus kurangkai kata
selama 30 hari tanpa henti
untuk bersajak indah pada alam, manusia dan Tuhan.

Kerongkonganku saja mulai mengeluarkan dahak yang
menggumpal
tidak pernah aku ambil gelas berisi air
disamping note book yang hitam legam dan kelabu.

Akankah aku ambil gelas dan air pelepas dahaga itu?
Ah, kupalingkan kembali wajah ini
pada suatu dahan yang mengering kekeringan
dan menerbangkan dedaunan, sisakan kelakai-kelakai
keputusasaan.

Aku pun mulai kembali merangkai kata
bersajak selama 30 hari tanpa memejamkan mata.
Menderaikan nafas hidup yang sedari dulu mulai berkurang
seiring hari berganti.

Karena.., aku pun tahu bahwa siapa tahu esok aku kan mati.

30 Hari Aku Bersajak 64
04 Oktober 2007

30 Hari Aku Bersajak 65
KEMANA KAU PERGI?

Kau hanyutkan rasa di limbo hatiku yang meredup
seraya bayangi bayangan tubuhku yang gempal,
menerawang ke angkasa
dan percikan api kebencian, hingga darahku mulai
memuncaki
kepala yang kubungkus dengan sehelai kain putih

Kau pergi sejak kuludahi dan kutampar
tapi kau tahu, bahwa rasa ini nyinyir tak berarah,
mendobrak pintu hati
yang tertancap di kedalaman hati dan kubungkus
dengan kerinduan semu berbalut rasa kesal

Oh, Tuhan kemana Engkau pergi
12 November 2007

BANGSA TERUS BERMIMPI

Negeri seribu pulau ini tengah berduka
beratus juta anak bangsa gigih perjuangkan nasib, hendak
keluar
dari penjara ketidakberdayaan Negara. Topan angin silih
berganti mendatangkan sejumput
kekecewaan dan kegetiran yang meliak-liuk kian kesana
semakin kemari
hancurkan benteng-benteng yang mentereng, tapi tak sekuat
dan setahan katulistiwa.

30 Hari Aku Bersajak 66
Aku kobarkan api semangat yang merapat di tungku-tungku
pembakaran arang,
hanya tuk menyalakan semangat gotong royong yang sedari
dulu terpateri sampai urat nadi.

Jamrud katulistiwa itu kini kian meradang
karena kehilangan pulau yang terhampar di tengah lautan,
diperjualbelikan
dan ditidakperhatikan bapak bangsa yang asyik berpoligami
dengan kepentingan pribadi.

Hanyut rasaku ke kedalaman jiwa tak tersadar, dibuai
berjuta mimpi
yang kini hanya bisa kunikmati dari alam tak berkepastian.
Mimpi! Kekayaan negeri laiknya bunga tidur bagi anak
bangsa, yang tak tahan ketika arus impor beras masuk ke
sumsum dan tulang belulang, kendati negeri ini punya
segudang sentra penghasil padi terbesar di dunia.
18 Nopember 2007

Tentang AKU

Sukron Abdilah, Lahir di Garut 22 Maret 1982. Sedang
mencoba mengadu nasib di dunia sastra persajakan. Tak ada
antologi puisi satu pun yang pernah dihasilkannya. Sajak-
sajak ini adalah karya pertama dari seorang manusia
kelelawar pencari keadilan dan kesejateraan. Menyelesaikan
kuliah di UIN SGD Bandung tahun 2007 ini. Selama ini ia
terbiasa dengan menulis artikel opini dan kolom agama di

30 Hari Aku Bersajak 67
media massa lokal seperti Pikiran Rakyat, Kompas Jawa
Barat, SKM Medikom, Galamedia, dan lain-lain.

30 Hari Aku Bersajak 68