Perbedaan PSAK 50 dan IFRS 32 Penyajian : Kewajiban dan Ekuitas" (REVISI) Perbedaan PSAK 50 DAN IFRS 32 Penyajian : Kewajiban

dan Ekuitas" (REVISI) Anisa Eko Riani C1C007082 Asri Wulandari Daryoko C1C007086 Ade Siti Harisnani C1C007087 PENDAHULUAN Dengan berkembang pesatnya instrumen keuangan, berkembang pula standar akuntansi kompleks dan perusahaan-perusahaan di Indonesia dituntut untuk segera mengimplementasikan, bank diwajibkan untuk mulai mengimplementasikannya dari 1 Januari 2010, sedangkan non-bank diwajibkan untuk mulai mengimplementasikannya dari tahun 2012. Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 50 revisi 2006 mengenai Instrumen Keuangan ― Penyajian dan Pengungkapan‖ dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 55 revisi 2006 mengenai Instrumen Keuangan ―Pengakuan dan Pengukuran‖ dimana PSAK 50 dan PSAK 55 tersebut akan berlaku efektif mulai 1 Januari 2010. PSAK 50 dan 55 merupakan standar akuntansi mengacu pada International Accounting Standard (IAS) 39 mengenai Recognition and Measurement of Financial Instruments dan IAS 32 mengenai Presentation and Disclosures of Financial Instruments. PSAK 50 dan 55 diharapkan dapat mendorong proses harmonisasi penyusunan dan analisis laporan keuangan. Itu juga akan mendorong terciptanya market discipline. International Financial Reporting Standard (IFRS) adalah Standar, Interpretasi dan Kerangka yang diadopsi oleh International Accounting Standard Board (IASB). Standar IFRS lebih dulu dikenal dengan nama International Accounting Standard (IAS). IAS diterbitkan antara tahun 1973 dan 2001 oleh International Accounting Standard Comittee (IASC). Pada tanggal 1 April 2001, yang baru mengambil alih IASB dari IASC yang bertanggung jawab untuk menetapkan Standar Akuntansi Internasional. IFRS dianggap sebagai "berdasarkan prinsip" dalam standar tersebut mereka menetapkan aturan-aturan yang luas. Standar Pelaporan Keuangan Internasional terdiri dari: Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) - standar yang dikeluarkan setelah tahun 2001 Standar Akuntansi Internasional (IAS) - standar yang dikeluarkan sebelum 2001 Interpretasi berasal dari International Financial Reporting Interpretations Committee (IFRIC) - yang dikeluarkan setelah 2001 Standing Interpretations Committee (SIC) - yang dikeluarkan sebelum 2001

PEMBAHASAN Dengan diterbitkannya PSAK baru tahun 2007, jurang pemisah terdalam PSAK dengan IFRS (International Financial Reporting Standards) telah teratasi yaitu dengan diperbolehkannya penggunaan nilai wajar (fair value) dalam PSAK. Namun peraturan perpajakan belum mendukung hal ini dengan masih dikenakannya PPh final 10% atas keuntungan dari revaluasi aset. Ditambah lagi dengan kurangnya tenaga penilai di Indonesia yang jumlahnya cuma 2000an orang (anggota MAPI - Masyarakat Penilai Indonesia). Lalu penerapan audit berbasis resiko di Indonesia juga belum mencakup BUMN. PAdahal IFRS (international Accounting Standard Board) berkiblat pada COSO dalamstandar auditnya. Dalam paper ini akan dibahas mengenai perbedaan antara PSAK 50 (revisi 2006) dengan IFRS 32 tentang penyajian kewajiban dan ekuitas menggunakan pendekatan studi komparatif untuk mengetahui apakah yang telah dilakukan Indonesia dalam usahanya menkonversi IFRS sebagai standar. Dalam istilah akuntansi, kewajiban adalah utang yang harus dilunasi atau pelayanan yang harus dilakukan pada masa datang pada pihak lain. Kewajiban adalah kebalikan dari aktiva yang merupakan sesuatu yang dimiliki. Contoh kewajiban adalah uang yang dipinjam dari pihak lain, giro atau cek yang belum dibayarkan, dan pajak penjualan yang belum dibayarkan ke negara. Kewajiban dimasukkan dalam laporan neraca dengan saldo normal kredit, dan biasanya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: 1.Kewajiban Lancar - kewajiban yang dapat diharapkan untuk dilunasi dalam jangka pendek (biasanya satu tahun). Biasanya terdiri dari hutang pembayaran (hutang dagang, gaji, pajak, dll), pendapatan ditangguhkan, bagian dari hutang jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini, obligasi jangka pendek (misalnya dari pembelian peralatan), dll. 2..Kewajiban Jangka Panjang - kewajiban yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun. Biasanya terdiri dari hutang jangka panjang, obligasi pensiun, dll. Sedangkan ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Dari perbandingan yang kami lakukan antara PSAK 50 dengan IFRS 32 tidak terdapat terlalu banyak perbedaan. Pada PSAK 50 paragraf 12 hanya menggambarkan dua kondisi instrumen ekuitas, yaitu : Ketika penerbit menerapkan definisi dalam paragraf 7 untuk menentukan apakah instrumen keuangan merupakan instrumen ekuitas dan bukan kewajiban keuangan maka instrumen tersebut merupakan instrumen ekuitas jika, dan hanya jika, kedua kondisi (a) dan (b) berikut terpenuhi : (a)Instrumen tersebut tidak memiliki kewajiban kontraktual : (i)Untuk menyerahkan kas atau asset keuangan lain kepada entitas lain; atau (ii)Untuk mempertukarkan asset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan penerbit; (b)Jika instrumen tersebut akan atau mungkin di selesaikan dengan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas, instrumen tersebut merupakan : (i)Non-derivatif yang tidak memiliki kewajiban kontraktual bagi penerbitnya untuk menyerahkan suatu jumlah yang bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas; atau (ii)Derivatif yang akan diselesaikan hanya dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau asset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. Untuk tujuan ini, instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut tidak termasuk instrumen yang merupakan kontrak untuk menerima atau menyerahkan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut di masa depan. Kewajiban kontraktual, termasuk kewajiban yang berasal dari instrumen keuangan derivatif, yang akan atau dapat menyebabkan adanya penerimaan atau penyerahan instrumen ekuitas milik penerbit di masa depan, namun tidak memenuhi kondisi (a) dan (b) diatas, bukan merupakan

atau perusahaan kecil yang berbeda dengan perusahaan multinasional. d. sedangkan negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris menggunakan laporan keuangan yang telah disesuaikan dengan aturan perpajakan sebagai dasar penentuan utang pajak dan disampaikan terpisah dengan laporan keuangan untuk pemegang saham. Sifat kepemilikan perusahaan Kebutuhan akan pengungkapan informasi dan pertanggungjawaban kepada publik lebih besar ditemui pada perusahaan-perusahaan yang dimiliki publik dibandingkan dengan pada perusahaan keluarga. b. Karena IFRS dibuat atas dasar global (luas). polotik. Tetapi bagi perusahaan-perusahaan yang sudah go international. misalnya agribisnis yang berbeda dengan manufaktur. Aturan-aturan akuntansi Standar dan aturan akuntansi yang ditetapkan di negara tertentu tentunya tidak sepenuhnya sama dengan negara lain. Industri jasa juga memunculkan pertimbangan atas pencatatan aktiva tak berwujud seperti merek. Indonesia merupakan salah satu negara yang akan mengadopsi IFRS sebagai standar pelaporan keuangan. Sistem perundang-undangan Di negara-negara seperti Perancis dan Jerman yang menggunakan civil codes. hukum. atau yang memiliki partner dari Uni Eropa. praktik-praktik akuntansi beserta pengungkapan informasi finansial di perusahaan di berbagai negara dipengaruhi oleh berbagai faktor. tentu sudah tidak punya pilihan lain selain ―mau tidak mau harus mulai berusaha menerapkan IFRS‖ dalam pelaporan keuangannya jika masih mau berpartner dengan mereka. Sistem perpajakan Negara-negara seperti Perancis dan Jerman menggunakan laporan keuangan perusahaan sebagai dasar penentuan utang pajak penghasilan. membuat International Accounting Standard Boards . Tingkat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Perubahan struktur perekonomian dari agraris ke manufaktur akan menampilkan sisi lain dari sistem akuntansi. h. aturan-aturan akuntansi yang dipakai cenderung rinci dan komprehensif. diantaranya : a. k. berbeda dengan Amerika Serikat dan Inggris yang menggunakan common law. adanya perbedaan mengenai 6 (enam) hal yang terdapat dalam IFRS 32 dan PSAK 50 disebabkan berbagai macam hal. i. Iklim sosial Iklim sosial diartikan sebagai sikap atas penghargaan terhadap hak-hak pekerja dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. IFRS (International Financial Reporting Standards) ini dibuat oleh IASB dan Financial Accounting Standard Boards (Badan Pembuat Standar Akuntansi di Amerika Serikat). PENUTUP Kesimpulan Upaya untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan.com . Dalam paper ini kami akan memfokuskan apasajakah hal-hal yang melatarbelakangi adanya perbedaan mengenai 6 (enam) hal yang terdapat di dalam IFRS 32 tetapi tidak terdapat di PSAK 50. f. seperti halnya pilihan atas perencanaan terpusat (central planning) atau swastanisasi (private enterprises). REFERENSI www. c.managamentfile. Australia dan Russia dan beberapa Middle East countries. sosial. Bagi pengusaha pada umumnya.com www.IASB melakukan percepatan harmonisasi standar Akuntansi internasional khususnya IFRS. goodwill dan sumber daya manusia. Namun pada IFRS 32 paragraf 16 instrumen ekuitas digambarkan dalam 6 poin penjabaran yang lebih rinci. Sumber pendanaan Kebutuhan akan pengungkapan informasi dan pertanggungjawaban kepada publik lebih besar ditemui pada perusahaan-perusahaan yang mendapatkan sumber pendanaan dari para pemegang saham eksternal dibandingkan dengan pada perusahaan dengan sumber pendanaan dari perbankan atau dari dana keluarga. dan budaya bangsa Indonesia. g. l.iaiglobal. antara lain dengan mulai diperhitungkannya depresiasi mesin. Dengan diterapkannya IFRS di Indonesia telah membuktikan bahwa Indonesia secara bertahap telah mengadaptasi dan mengharmonisasikan IFRS dalam penyusunan standar. j. Aktivitas usaha Sistem akuntansi dipengaruhi oleh jenis aktivitas usaha. Perubahan tata cara pelaporan keuangan dari GAAP (atau PSAK atau lainnya) ke IFRS berdampak sangat luas. Sistem politik Sistem politik yang dijalankan oleh suatu negara sangat berpengaruh pada sistem akuntansi yang dibuat untuk menggambarkan filosofi dan tujuan politik di negara tersebut. IFRS akan menjadi ―kompetensi wajib-baru‖ bagi para pekerja accounting. Hingga saat ini Indonesia telah melakukan perubahan-perubahan. Seperti halnya dunia bisnis pada umumnya. Peran profesi akuntan dalam menentukan standar dan aturan akuntansi lebih banyak ditemukan di negara-negara yang telah memasukkan aturan-aturan profesional dalam aturan-aturan perusahaan. sehingga perlu adanya penyesuaian dalam pengimplementasiany. Pendidikan dan riset akuntansi Pendidikan dan riset akuntansi yang baik kurang dijalankan di negara-negara yang sedang berkembang. yang menjadi bahan pertimbangan apakah akan beralih ke IFRS atau tidak adalah ―Apakah implementasi IFRS akan menghasilan incremental benefit atau tidak?‖. seperti di Inggris dan Amerika Serikat.instrumen ekuitas. Sedangkan pada paragraf yang lain tidak ditemukan perbedaan. Informasi yang berkaitan dengan hal-hal tersebut pada umumnya dipengaruhi atas sistem sosial tersebut. Menurut kelompok kami. Sehingga diharapkan nantinya Indonesia dapat menyajikan laporan keuangan yang berstandar internasional dan ikut berperan serta dalam persaingan bisnis global. salah satunya pada PSAK 50. Pengembangan profesi juga dipengaruhi oleh pendidikan dan riset akuntansi yang bermutu. Salah satu yang paling mempengaruhi adalah keadaan ekonomi. e. Tingkat inflasi Timbulnya hyperinflation di beberapa negara di kawasan Amerika Selatan membuat adanya pemikiran untuk menggunakan pendekatan lain sebagai alternatif dari pendekatan historical cost. Eksistensi dan pentingnya profesi akuntan Profesi akuntan yang lebih maju di negara-negara maju juga membuat sistem akuntansi yang dipakai lebih maju dibandingkan dengan di negaranegara yang masih menerapkan sistem akuntansi yang sentralistik dan seragam.

pendapatan ditangguhkan. Dalam istilah akuntansi. yaitu: 1. Untuk itu dalam paper ini akan dibahas mengenai perbedaan antara PSAK 50 (revisi 2006) dengan IFRS 32 tentang penyajian kewajiban dan ekuitas menggunakan pendekatan studi komparatif untuk mengetahui apakah yang telah dilakukan Indonesia dalam usahanya menkonversi IFRS sebagai standar. Biasanya terdiri dari hutang pembayaran (hutang dagang. giro atau cek yang belum dibayarkan. PAdahal IFRS (international Accounting Standard Board) berkiblat pada COSO dalamstandar auditnya. obligasi .com http://mulfasli. IFRS dianggap sebagai "berdasarkan prinsip" dalam standar tersebut mereka menetapkan aturan-aturan yang luas. Asri Wulandari Daryoko Thursday. dan pajak penjualan yang belum dibayarkan ke negara. PSAK 50 dan 55 merupakan standar akuntansi mengacu pada International Accounting Standard (IAS) 39 mengenai Recognition and Measurement of Financial Instruments dan IAS 32 mengenai Presentation and Disclosures of Financial Instruments. Contoh kewajiban adalah uang yang dipinjam dari pihak lain. kewajiban adalah utang yang harus dilunasi atau pelayanan yang harus dilakukan pada masa datang pada pihak lain. 50 revisi 2006 mengenai Instrumen Keuangan ― Penyajian dan Pengungkapan‖ dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. bank diwajibkan untuk mulai mengimplementasikannya dari 1 Januari 2010.standar yang dikeluarkan setelah tahun 2001 Standar Akuntansi Internasional (IAS) . Pada tanggal 1 April 2001.yang dikeluarkan setelah 2001 Standing Interpretations Committee (SIC) . Standar Pelaporan Keuangan Internasional terdiri dari: Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) . Itu juga akan mendorong terciptanya market discipline. jurang pemisah terdalam PSAK dengan IFRS (International Financial Reporting Standards) telah teratasi yaitu dengan diperbolehkannya penggunaan nilai wajar (fair value) dalam PSAK. yang baru mengambil alih IASB dari IASC yang bertanggung jawab untuk menetapkan Standar Akuntansi Internasional.kewajiban yang dapat diharapkan untuk dilunasi dalam jangka pendek (biasanya satu tahun). Lalu penerapan audit berbasis resiko di Indonesia juga belum mencakup BUMN.vibizmanagement.multiply.Masyarakat Penilai Indonesia). PSAK 50 dan 55 diharapkan dapat mendorong proses harmonisasi penyusunan dan analisis laporan keuangan. dll). Interpretasi dan Kerangka yang diadopsi oleh International Accounting Standard Board (IASB). Ditambah lagi dengan kurangnya tenaga penilai di Indonesia yang jumlahnya cuma 2000an orang (anggota MAPI . Kewajiban dimasukkan dalam laporan neraca dengan saldo normal kredit. International Financial Reporting Standard (IFRS) adalah Standar. IAS diterbitkan antara tahun 1973 dan 2001 oleh International Accounting Standard Comittee (IASC). Standar IFRS lebih dulu dikenal dengan nama International Accounting Standard (IAS).standar yang dikeluarkan sebelum 2001 Interpretasi berasal dari International Financial Reporting Interpretations Committee (IFRIC) . berkembang pula standar akuntansi kompleks dan perusahaan-perusahaan di Indonesia dituntut untuk segera mengimplementasikan. bagian dari hutang jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini.IFRS 2009 PSAK 2009 www.Kewajiban Lancar . dan biasanya dibagi menjadi dua kelompok.com/journal/item/64/PSAK_menuju_IFRS Posted by cerita paw at 2:24 AM 0 comments Labels: Ade siti Harisnani. sedangkan non-bank diwajibkan untuk mulai mengimplementasikannya dari tahun 2012. Anisa Eko Riani. Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 2010 Perbedaan PSAK 50 dan IFRS 32 "Penyajian : Kewajiban dan Ekuitas" Perbedaan PSAK 50 DAN IFRS 32 "Penyajian : Kewajiban dan Ekuitas" Anisa Eko Riani C1C007082 Ade Siti Harisnani C1C007087 Asri Wulandari Daryoko C1C007086 PENDAHULUAN Dengan berkembang pesatnya instrumen keuangan. pajak. 55 revisi 2006 mengenai Instrumen Keuangan ―Pengakuan dan Pengukuran‖ dimana PSAK 50 dan PSAK 55 tersebut akan berlaku efektif mulai 1 Januari 2010. Kewajiban adalah kebalikan dari aktiva yang merupakan sesuatu yang dimiliki.yang dikeluarkan sebelum 2001 PEMBAHASAN Dengan diterbitkannya PSAK baru tahun 2007. Namun peraturan perpajakan belum mendukung hal ini dengan masih dikenakannya PPh final 10% atas keuntungan dari revaluasi aset. gaji. June 17.

kedua kondisi (a) dan (b) berikut terpenuhi : (a)Instrumen tersebut tidak memiliki kewajiban kontraktual : (i)Untuk menyerahkan kas atau asset keuangan lain kepada entitas lain. Bukan hanya investor dan analyst yang membutuhkan informasi seperti ini. Perubahan tata cara pelaporan keuangan dari GAAP (atau PSAK atau lainnya) ke IFRS berdampak sangat luas. Kewajiban kontraktual. Benchmarking adalah sangat crucial jika mau competitive dalam global business di masa sekarang ini. misalnya: Investor dari Amerika bisa dengan mudah ber-investasi di Eropa atau di Singapore atau bahkan di Indonesia. Tetapi bagi perusahaan-perusahaan yang sudah go international. instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut tidak termasuk instrumen yang merupakan kontrak untuk menerima atau menyerahkan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut di masa depan. antara PSAK 50 dengan IFRS 32 tidak terdapat perbedaan yang signifikan. bukan merupakan instrumen ekuitas.IASB melakukan percepatan harmonisasi standar Akuntansi internasional khususnya IFRS. Indonesia merupakan salah satu negara yang akan mengadopsi IFRS sebagai standar pelaporan keuangan. Namun pada IFRS 32 paragraf 16 instrumen ekuitas digambarkan dalam 6 poin penjabaran yang lebih rinci. obligasi pensiun. Jika tidak. Untuk tujuan ini.Kewajiban Jangka Panjang . salah satunya pada PSAK 50. atau yang memiliki partner dari Uni Eropa. yang akan atau dapat menyebabkan adanya penerimaan atau penyerahan instrumen ekuitas milik penerbit di masa depan. PENUTUP Kesimpulan Technology informasi yang berkembang pesat telah mengubah lingkungan pelaporan keuangan secara dramatis. atau (ii)Untuk mempertukarkan asset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan penerbit. dapat dibandingkan dan relevan.kewajiban yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun.jangka pendek (misalnya dari pembelian peralatan). dll. melainkan juga dibutuhkan oleh stakeholder lainnya (pekerja. Pada PSAK 50 paragraf 12 hanya menggambarkan dua kondisi instrumen ekuitas. Biasanya terdiri dari hutang jangka panjang. yaitu : Ketika penerbit menerapkan definisi dalam paragraf 7 untuk menentukan apakah instrumen keuangan merupakan instrumen ekuitas dan bukan kewajiban keuangan maka instrumen tersebut merupakan instrumen ekuitas jika. 2. untuk tujuan benchmarking. termasuk kewajiban yang berasal dari instrumen keuangan derivatif. instrumen tersebut merupakan : (i)Non-derivatif yang tidak memiliki kewajiban kontraktual bagi penerbitnya untuk menyerahkan suatu jumlah yang bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. Upaya untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan. Sedangkan pada paragraf yang lain tidak ditemukan perbedaan. Mereka (stakeholders) di jaman globalisasi ini bukan hanya sekedar ingin mengetahui informasi keuangan dari satu perusahaan saja. customers. Bagi pengusaha pada umumnya. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia secara bertahap telah mengadaptasi dan mengharmonisasikan IFRS dalam penyusunan standar. Ke-efektif-an pasar dunia ini tergantung pada ke—tepat waktu—an dari informasi keuangan yang transparan. membuat International Accounting Standard Boards . Hingga saat ini Indonesia telah melakukan perubahan-perubahan. maka akan tergilas. IFRS akan menjadi ―kompetensi wajib-baru‖ bagi para pekerja accounting. membandingkan antar industry vertical maupun horizontal. (b)Jika instrumen tersebut akan atau mungkin di selesaikan dengan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. suppliers. melainkan dari banyak perusahaan (jika bisa mungkin dari semua perusahaan) dari seluruh belahan dunia. Kemajuan ini membawa jutaan investor (jika tidak milyaran) ke lantai pasar modal di seluruh penjuru dunia. Menurut kelompok kami. bahkan pemerintah). Sedangkan ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Australia dan Russia dan beberapa Middle East countries. tentu sudah tidak punya pilihan lain selain ―mau tidak mau harus mulai berusaha menerapkan IFRS‖ dalam pelaporan keuangannya jika masih mau berpartner dengan mereka. Sehingga diharapkan nantinya Indonesia dapat menyajikan laporan keuangan yang berstandar internasional dan ikut . and vice versa. atau (ii)Derivatif yang akan diselesaikan hanya dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau asset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. dll. Antusiasnya para investor tidak terhalangi oleh batasan negara. IFRS (International Financial Reporting Standards) ini dibuat oleh IASB dan Financial Accounting Standard Boards (Badan Pembuat Standar Akuntansi di Amerika Serikat). Dari perbandingan yang kami lakukan antara PSAK 50 dengan IFRS 32 tidak terdapat terlalu banyak perbedaan. institusi penyedia credit. namun tidak memenuhi kondisi (a) dan (b) diatas. dan hanya jika. yang menjadi bahan pertimbangan apakah akan beralih ke IFRS atau tidak adalah ―Apakah implementasi IFRS akan menghasilan incremental benefit atau tidak?‖. mengurangi batasan jarak fisik dan mampu membuat informasi menjadi tersedia di seluruh dunia hanya dengan sekali pencet tombol (enter) dari sebuah computer di tengah perkebunan di desa terpencil.

Hal ini diputuskan setelah melalui pengkajian dan penelaahan yang mendalam dengan mempertimbangkan seluruh risiko dan manfaat konvergensi terhadap IFRS. REFERENSI www. June 13. maka pada tahun 2012 seluruh standar yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan IAI akan mengacu kepada IFRS dan diterapkan oleh entitas.managamentfile.com http://mulfasli. Pengaturan perlakuan akuntansi yang konvergen dengan IFRS akan diterapkan untuk penyusunan laporan keuangan entitas yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2012. 23 Desember 2008 dalam rangka Ulang tahunnya ke-51 mendeklarasikan rencana Indonesia untuk convergence terhadap International Financial Reporting Standards (IFRS) dalam pengaturan standar akuntansi keuangan.berperan serta dalam persaingan bisnis global. International Financial Reporting Standards (IFRS) dijadikan sebagai referensi utama pengembangan standar akuntansi keuangan di Indonesia karena IFRS merupakan standar yang sangat kokoh. Penyusunannya didukung oleh para ahli dan dewan konsultatif internasional dari seluruh penjuru dunia.iaiglobal. Dewan standar akuntansi keuangan pada kesempatan ini juga akan menerbitkan Eksposur draft Standar Akuntansi Keuangan Usaha Kecil dan Menengah. Mereka menyediakan waktu cukup dan didukung dengan masukan literatur dari ratusan orang dari berbagai displin ilmu dan dari berbagai macam jurisdiksi di seluruh dunia.com www.com IFRS 2009 PSAK 2009 www. BAB II PEMBAHASAN . Standar UKM ini akan menjadi acuan bagi usaha kecil dan menenggah dalam mencatat dan membukukan semua transaksinya. Dengan telah dideklarasikannya program konvergensi terhadap IFRS ini.com/journal/item/64/PSAK_menuju_IFRS Posted by cerita paw at 9:12 PM 0 comments Sunday.vibizmanagement. 2010 IFRS FOR SME’s STUDI PERBANDINGAN DENGAN GAAP Oleh : Tisna Putri Utami C1C007015 Maginta Sari C1C007016 Kristanti Dewi C1C007044 Catur Aan Setiawan C1C007103 BAB I PENDAHULUAN Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada hari Selasa.multiply.

mana yang memberikan informasi yang dapat diandalkan dan lebih relevan Kesimpulan International Financial Reporting Standards (IFRS) dijadikan sebagai referensi utama pengembangan standar akuntansi keuangan di Indonesia karena IFRS merupakan standar yang sangat kokoh. IFRS untuk UKM adalah sebuah modifikasi dan penyederhanaan IFRS penuh ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan perusahaan swasta pengguna dan meringankan beban pelaporan keuangan perusahaan-perusahaan swasta melalui pendekatan biaya-manfaat. Itu juga mensyaratkan penyajian analisis biaya dengan menggunakan klasifikasi berdasarkan baik sifat biaya atau fungsi beban di dalam entitas. DAFTAR PUSTAKA http://google.LATAR BELAKANG IFRS untuk entitas kecil dan menengah (UKM) dimaksudkan untuk mengaplikasikan tujuan umum laporan keuangan entitas yang tidak dimemiliki akuntabilitas public atau yang sering kita sebut dengan Entitas Tanpa Akuntan Publik (ETAP).APRILIANINGTYAS C1C007074 3. Standar pelaporan keuangan global diaplikasikan secara konsisten. kinerja dan arus kas yang berguna untuk pengambilan keputusan ekonomi oleh berbagai pengguna yang tidak dalam posisi untuk permintaan pelaporan disesuaikan untuk mengenai kebutuhan informasi mereka.com http://ifrs. IFRS untuk UKM adalah global mandiri akuntansi dan standar pelaporan keuangan yg berlaku bagi tujuan umum laporan keuangan. Ini menentukan item baris yang akan disajikan dalam laporan keuangan tersebut dan melarang presentasi atau deskripsi dari setiap item pendapatan atau beban luar biasa item sebagai extraordinary item. yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan usaha kecil dan menengah (UKM). Tujuan umum laporan keuangan entitas kecil menengah adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan entitas itu. Di beberapa Negara. kinerja dan arus kas yang berguna untuk pengambilan keputusan ekonomi oleh berbagai pengguna yang tidak dalam posisi untuk permintaan pelaporan disesuaikan untuk mengenai kebutuhan informasi mereka. Penyusunannya didukung oleh para ahli dan dewan konsultatif internasional dari seluruh penjuru dunia. Tujuan umum laporan keuangan entitas kecil menengah adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan entitas itu.KHALISAH VISIANA C1C007063 2.com http://ececilia. Bagian 5 Laporan Laba Rugi Komprehensif menentukan persyaratan penyajian kinerja keuangan suatu entitas untuk periode yang bersangkutan. yang entitas tidak memiliki akuntabilitas public disarankan untuk memiliki keseragaman pelaporan.blogspot. Ini memberikan pilihan kebijakan akuntansi antara menampilkan total pendapatan komprehensif dalam sebuah pernyataan tunggal atau dalam dua laporan terpisah. IFRS untuk UKM ini dimaksudkan untuk diterapkan untuk tujuan umum laporan keuangan entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik. IFRS untuk UKM adalah standar berisi kurang dari 230 halaman.ANISA RIZKYANA C1C007125 PENDAHULUAN A. dan pelaporan keuangan lainnya oleh entitas yg dibanyak negara dikenal sebagian kecil dan menengah entitas. yang lebih dari 95 persen dari semua perusahaan di seluruh dunia.IFRS untuk UKM ini dimaksudkan untuk diterapkan untuk tujuan umum laporan keuangan entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik.com Posted by Tugas Seminar Akuntansi at 5:53 PM 0 comments IFRS untuk UKM di Swiss dan SAK ETAP di Indonesia KELOMPOK 6 : 1.com http://scribd. akan meningkatkan keterbandingan informasi keuangan. Bagian 3 Penyajian Laporan Keuangan mengatur persyaratan umum untuk penyajian laporan keuangan. Perbedaan pelaporan . termasuk perusahaan perorangan dan entitas yang tidak mempublikasikan akuntabilitasnya.

Lembaga peyedia modal menyediakan modal untuk SMEs di setiap Negara. Kelebihan standar pelaporan keuangan global tidak terbatas pada entitas yang terdaftar di pasar modal.menerbitkan laporan keuangan tujuan umum untuk pengguna eksternal. Dalam tataran hukum yang luas sebagian besar SMEs termasuk yang paling kecil memiliki pinjaman bank.Apakah pengukuran dengan metode current market value akan mempengaruhi besarnya pajak ? 2. Laporan keuangan ETAP berbeda dari satu Negara dengan Negara lain dengan alasan : 1. Pihak bank mengandalakan laporan keuangan untuk membuat keputusan kredit. Jika sebuah entitas publik akuntabel menggunakan IFRS ini. Syarat penyajian informasi keuangan yang bermanfaat (relevan. amal organisasi. dan lembaga pemeringkat kredit. serikat kredit perusahaan asuransi. pelanggan atau anggota tidak terlibat dalam manajemen entitas. dan b. 5. maka dapat mengambil beberapa poin rumusan masalah. Hal ini biasanya terjadi bagi bank. atau (b) memegang aset dalam kapasitas fidusia bagi sekelompok orang luar yang luas sebagai salah satu bisnis utama. yaitu : 1. Sebuah perusahaan anak yang perusahaan induknya menggunakan IFRSs penuh.Supplier ingin mengevaluasi kondisi keuangan pembeli di berbagai Negara sebelum mereka menjual barang atau jasa secara kredit. penyandang dana dan pengguna lainnya. tidak dilarang menggunakan IFRS dalam perusahaan memiliki keuangan laporan jika anak dengan sendirinya tidak memiliki akuntabilitas publik. laporan keuangan tidak akan digambarkan sebagai sesuai dengan IFRS untuk UKMbahkan jika hukum atau peraturan yang yurisdiksi izin atau membutuhkan ini IFRS untuk digunakan oleh publik akuntabel entitas. yang tidak membuat mereka publik akuntabel. 3. SMEs-dan bagi mereka yang menggunakan laporan keuangan-mendapatkan keuntungan dari pengaturan umum standar akuntansi.Banyak SMEs yang memiliki pemasok luar negri dan menggunakan menggunakan laporan keuangan pemasok untuk menilai prospek dari kelangsungan hubungan bisnis jangka panjang. reliable. Switzerland‖ yang diterbitkan 09 September 2009. harus B. Contoh pengguna eksternal termasuk pemilik yang tidak terlibat dalam pengelolaan bisnis. 4. reksa dana dan bank investasi Beberapa perusahaan juga dapat memegang aset dalam fiduciary untuk grup luas orang luar karena mereka memegang dan mengelola sumber daya keuangan yang dipercayakan kepada mereka oleh klien. termasuk pasar lokal dan regional).RUMUSAN MASALAH Berdasarkan arrtikel ―Accounting Advisory New. B. Dalam penilaian IASB. mungkin kasus untuk perjalanan atau agen real estat. perusahaan koperasi yang membutuhkan deposit keanggotaan nominal. dan potensi yang ada kreditur. Jika perusahaan laporan keuangan yang digambarkan sebagai menyesuaikan dengan IFRS untuk UKM.perusahaan kecil dan menengah adalah perusahaan yang tidak memiliki akuntabilitas publik. Standar global juga meningkatkan konsistensi dalam kualitas audit dan memudahkan pendidikan dan pelatihan.Banyak SMEs yang memiliki investor luar negri yang tidak terlibat dengan entitas manajemen setiap harinya. Keuntungannya tidak hanya bagi kreditor atau pemilik modal tapi juga menguntungkan bagi entitas yang membutuhkan modal karena akan mengurangi pengeluaran mereka dan mengalihkan resiko tidak pasti yang berakibat pada biaya modal.IFRS for SMEs . Sebuah entitas memiliki akuntabilitas publik jika: (a)utang atau instrumen ekuitas yang diperdagangkan di pasar umum atau dalam proses menerbitkan instrumen tersebut untuk diperdagangkan di pasar umum (Bursa efek dalam negeri atau asing atau pasar over-the-counter.keterbandingan.Intitusi keuangan membuat pinjaman antar Negara beroperasi secara multinasional. broker sekuritas / dealer.Small and Medium Entyties atau Usaha Kecil Menengah Small and Medium Entyties menurut IFRS for SMEs adalah : a.dll) standar pelaporan keuangan global yang berkualitas meningkatkan efisiensi dari alokasi dan pengunaan modal. jika mereka melakukannya untuk alasan yang terkait dengan bisnis utama (seperti. dan penjual yang menerima pembayaran sebelum pengiriman barang atau jasa seperti perusahaan utilitas). 2.dapat mengaburkan perbandingan yang digunakan oleh investor.Apakah penggunaan IFRS lebih praktis dibandingkan dengan SAK ETAP bagi UKM ? BAB II TELAAH PUSTAKA A. atau yang merupakan bagian dari kelompok konsolidasi yang menggunakan IFRSs penuh. sekolah. Misalnya. Namun. dan menetapkan jangka waktu serta tingkat bunga.

yang harus dibayar oleh anak perusahaan.Aset tidak berwujud diamortisasi selama 10th. or a liability settled.Pengukuran menggunakan metode biaya. Metode Fair value untuk properti investasi. sebagai berikut . . ―29.Laba Rugi comprehensive . Memberikan pilihan metode biaya atau revaluasi untuk aset tetap.Derecognition . IFRS for SMEs memiliki dua metode pengukuran atau measurement yang tercantum pada IFRS No. historical cost is the amount of proceeds of cash or cash equivalents received or the fair value of non-cash assets received in exchange for the obligation at the time the obligation is incurred. dan tidak langsung. 3. between knowledgeable. ―2. Ketentuan pengungkapan dalam IFRS for SMEs No. (b) Fair value is the amount for which an asset could be exchanged.Impayment menggunakan incurred loss concept.‖ Tunjukkan huruf C. 2. asosiasi atau joint venture pada distribusi bagi entitas pelaporan‖ Pengungkapan atas pajak harus dilakukan oleh entitas sehingga memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi sifat dan dampak keuangan dari pajak kini dan tangguhan konsekuensi transaksi diakui dan acara lainnya. seperti pemotongan pajak. (B) penyesuaian yang diakui pada periode pajak kini periode sebelumnya.1 pajak penghasilan mencakup semua pajak dalam negeri dan luar negeri yang berdasarkan laba kena pajak. 4. income tax) the amounts of cash or cash equivalents expected to be paid to settle the liability in the normal course of business. tersedia untuk dijual. (E) pengaruhnya terhadap beban pajak tangguhan yang timbul dari perubahan dalam pengaruh hasil yang mungkin dari tinjauan oleh otoritas pajak (lihat ayat 29. . properti investasi menggunakan metode biaya kecuali ada ketentuan pemerintah yang mengharuskan model revaluasi diterapkan. (C) jumlah beban pajak tangguhan (penghasilan) yang berkaitan dengan originasi dan pembalikan dari beda. tidak diamortisasi.Saat ini aset tidak berwujud diamortisasi selama 20th. (H) jumlah beban pajak sehubungan dengan perubahan kebijakan akuntansi dan kesalahan (lihat Pasal 10 Kebijakan Akuntansi. Minimum pos yang harus ada di neraca lebih sedikit. Komponen tersebut dari beban pajak (penghasilan) mungkin termasuk: (A) beban pajak kini (penghasilan). . .29 menyatakan bahwa lingkup untuk pajak penghasilan adalah.ED PSAK 19 (Terbit 2011) . Perkiraan dan Kesalahan).24). . Instrumen Keuangan .21 dan 29. pinjaman dan pinjaman yang diberikan. willing parties in an arm’s length transaction. .Aset tidak berwujud dengan masa manfaat tak terbatas. Penyajian Laporan Keuangan Dengan adanya ED PSAK 1 di masa depan penyajian laporan keuangan mengikuti IFRS dengan perubahan antara lain.Ruang lingkup: aset dan kewajiban keuangan. .‖ 2. ―29.Pengukuran. . historical cost is the amount of cash or cash equivalents paid or the fair value of the consideration given to acquire the asset at the time of its acquisition.1. Aset tetap. Aset Tidak Berwujud .Laporan laba rugi (tanpa harus menyajikan laba rugi komprehensive) .Cash flow dengan metode tidak langsung 2. (G) perubahan dalam penyisihan penilaian (lihat ayat 29. or in some circumstances (for example. adalah sebagai berikut. For liabilities. Elemen SAK UMUM SAK ETAP 1.Cash flow metode langsung (dianjurkan). 34 Two common measurement bases are historical cost and fair value: (a) For assets. (F) penyesuaian untuk beban pajak tangguhan yang timbul dari perubahan status pajak perusahaan tersebut atau para pemegang saham.2 paragarf 34.Tidak ada lagi pos luar biasa pada neraca .Pajak Penghasilan dan pengungkapannya IFRS for SMEs No.Diklasifikasikan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dimiliki hingga jatuh tempo.Silent terhadap pos luar biasa . Amortised historical cost is the historical cost of an asset or liability plus or minus that portion of its historical cost previously recognised as expense or income.31 entitas harus mengungkapkan secara terpisah komponen utama dari beban pajak (penghasilan). Aset Tetap dan Properti Investasi 1.SAK ETAP No. (D) Beban pajak tangguhan (penghasilan) sehubungan dengan perubahan pajak tarif atau pengenaan pajak baru. 29 paragraf 31.22). pajak penghasilan juga termasuk pajak.

such as Foreign Currency Translation. Section 1-10 are general in nature and include the scope of the standard (section 1). The requirements apply regardless of whether the transition is from full IFRSs or from another set of accounting principles such as the Swiss Code of Obligations or Swiss GAAP FER. Sections 30-34 include special topics that are not related to single balance sheet items or transactions. Section 35 sets out the requirements for first-time adoption of the SME standard. With this provision. Hence. measurement and disclosure requirements of full IFRSs. Illustrative Financial Statements and a Disclosure Checklist that are not mandatory. the relevant excerpts from the framework and the basic recognition and measurement principles (section 2).e. The standard is supplemented by the Basis for Conclusions.). that have been more or less derived from the corresponding IFRSs. however. While the first (simpler) option was explicitly set out in the exposure draft.Jauh lebih sederhana dibanding ketentuan PSAK 50 dan PSAK 55 (revisi 2006) 5. which now form part of the mandatory accounting standard – unlike full IFRSs. entities that apply the SME standard have the choice of applying IAS 36 (in particular paragraph 86) by analogy or to develop an independent accounting policy. According to the current draft of the new Swiss accounting law. In Switzerland. . consoli-dated financial statements will need to be prepared under generally accepted accounting principles.Klasifikasi trading. held to maturity. however urgent matters may need to be considered earlier than in the normal three-year cycle. extensive recognition and measurement simplifications. US GAAP and. Hal tsb mengacu pada PSAK no 50 (1998). the final standard only includes the simpler option for SMEs. which are also based on the true and fair view principle. Example: The exposure draft of the SME standard allowed the subsequent measurement of property. the final standard includes considerably less accounting options than full IFRSs. dan available for sale. to some extent.Ruang lingkup. Hence. Hyper-inflation and Special Activities (i. Accounting options While the exposure draft granted all accounting options available under full IFRSs to SMEs.Hedging dan derivatif.a Standard for Switzerland ? Structure and content The final IFRS for SMEs is a stand-alone document. During this time fundamental changes were considered in relation to the basic concept of the standard and individual accounting rules. which has been developed on the basis of the full IFRSs and its framework. a group of entities that has neither equity nor debt instruments listed on a public market and is neither a bank nor an insurance company. the SME standard remains fairly flexible but is still not considered for amendment as often as full IFRSs. with each topic presented in a separate section. IFRS for SMEs. The final standard issued by the IASB. IFRS for SMEs. Pajak Penghasilan Menggunakan deffered tax concept Pengukuran dan pengakuan pajak kini Pengakuan dan pengukuran pajak tangguhan Menggunkan tax payable konsep Tidak ada pengakuan&pengukuran untuk pajak tangguhan 6 Imbalan kerja Komponen biaya Kapitalisasi dan pengakuan biaya Biaya pinjaman langsung dibebankan BAB III PEMBAHASAN A.. . A derivation table in the back of the standard identifies the IASs/IFRSs from which the principles in each section of the IFRS for SMEs were derived. for details on applying more complex accounting options or as a source of guidance when the IFRS for SMEs does not address an accounting issue directly) that had been proposed in the exposure draft to this standard were eliminated in the final standard. Agriculture and Exploration of Mineral Resources). However. SMEs would have had the option to apply the more complex option via a cross-reference to full IFRSs (IAS 16. in contrast to the original intention of the IASB. The IASB plans to update the IFRS for SMEs approximately every three years. potentially. Sections 11-29 contain topics related to individual balance sheet items and transactions.31 ff. The cross-references to full IFRSs (e. we explain to you the significant simplifications of the SME standard and highlight the major differences to Swiss GAAP FER. Hence. were eliminated in the final standard in order to allow a stand-alone IFRS for SMEs standard.g. the accounting standard IFRS for SMEs competes with the generally accepted accounting principles of Swiss GAAP FER. . New IFRSs. full IFRSs and US GAAP are not likely to constitute a sensible alternative for SMEs given their complexity. Example: The IFRS for SMEs does not include any guidance regarding the derecog-nition of goodwill that has been allocated to a cashgenerating unit when an entity disposes of an operation within that unit. More than 8 years have passed since the issue was added to the IASB’s project agenda. The first draft of the standard was based on cost-benefit considerations for SMEs and provided a slimmed-down version of full IFRSs with simplification to recognition. The IFRS for SMEs is organised by topics. theoretically has the choice between four different accounting principles. A directive of the Swiss Federal Council will set out which standards are likely to be accepted as generally accepted accounting principles which is likely to include Swiss GAAP FER. IFRS. The cross-references to full IFRSs that allowed SMEs to apply the more complex options included in full IFRSs.Artikel IFRS for SMEs ACCOUNTING ADVISORY SERVICES Accounting Advisory News Switzerland ADVISORY Issue 2 – September 2009 In July 2009 One of the longest and most controversial projects of the IASB culminated with the release of the standard IFRS for Small and Medium-sized Entities (IFRS for SMEs). without connections to full IFRSs (except for the reference to IAS 39). presents itself as a self-contained standard for SMEs that contains. In this newsletter.ARTIKEL 1. investasi pada efek tertentu . plant and equipment either at cost less any accumulated depreciation and impair-ment losses or at fair value. issued by the IASB since the SME standard was last revised do not automatically apply to the IFRS for SMEs.

including all derivatives. The future will show whether this will lead to significant divergence in practice as most SMEs are likely to have only basic financial instruments. In contrast.Further significant accounting options in full IFRSs that are not available for SMEs. shall be measured at fair value with changes in fair value to be recognised in profit or loss.92) or by adopting any systematic method that results in faster recognition (IAS 19.). Topics without major simplifications The following accounting topics. such as the definition of the tax base and the accounting for uncertain tax positions. the requirements for business combinations are not based on the current IFRS 3 (2008) but on the previous version issued in 2004. shall be measured at fair values. more financial instruments tend to be measured at fair values under IFRS for SMEs than under Swiss GAAP FER. only securities as part of the current assets for which a fair value exists and derivatives that are not part of a hedge relationship. While the guidance on income taxes in the IFRS for SMEs anticipates future changes to full IFRSs. Swiss GAAP FER requires the recognition of a derivative as soon as it constitutes an asset or a liability. Embedded derivatives are treated together with the basic instrument. debt instruments at fixed or variable rates with common terms. Proportionate consolidation for investments in jointly‐controlled entities (IAS 31. which probably shows that the issue is not as relevant for the users of Swiss GAAP FER. Share-based payments. at fair value through profit or loss or by applying the equity method. Subsequent measurement of intangible assets at fair value (IAS 38. The complex requirements for embedded derivatives set out in IAS 39 have not been transferred to the IFRS for SMEs. Basic financial instruments also com-prise investments in non-convertible preference shares and non-puttable ordinary and preference shares. sale or usage requirements are also classified as other financial instruments and measured in their entirety at fair value.30 ff. Contracts to buy or sell non-financial items that include risks that are not in accordance with the entity’s expected purchase. include the following:  Recognition of actuarial gains and losses from defined benefit plans in line with the corridor method (IAS 19. These financial instruments shall be measured at fair value with changes in fair value recognised in profit or loss. which was also used as a starting point for the discussions around the revision of accounting for financial instruments in full IFRSs. Significant simplifications The final IFRS for SMEs contains several recognition and measurement simplifications compared to full IFRSs and to the exposure draft. Revenue recognition.). bills and others. These financial instruments shall be measured at amortised cost using the effective interest method less any impairment losses. the results are likely to be comparable to the . Deducting government grants from the carrying amount of the corresponding asset (IAS 20. Subsequent measurement of investment properties at cost less any accumulated depreciation and impairment losses (IAS 40. Financial instruments The most far going separation from full IFRSs becomes obvious in the financial instruments section. Hence. Basic financial instruments comprise. Comparison to Swiss GAAP FER: Under Swiss GAAP FER. All other such investments shall be measured at cost less impairment.  Investments in associates and jointly controlled entities can be accounted for in the consolidated financial statements at cost. In this section. Hence.24). however. the separation of the embedded derivative is not necessary. As per IFRS for SMEs financial instruments with embedded derivates (such as convertible bonds) are classified as other financial instruments and hence measured in their entirety at fair value. SMEs still have the option to prepare the cash flow statement by using either the direct or indirect method. if the shares are publicly traded or their fair value can otherwise be measured reliably. Comparison to Swiss GAAP FER: Swiss GAAP FER does not set out detailed requirements for embedded derivatives. Further. with separation as an allowed alternative. trade receivables and payables. In contrast to full IFRSs. there are only two instead of four categories of financial instruments: (1) basic financial instruments and (2) other financial instruments. Thus. In general. sale or usage requirements are not likely to fulfil the definition of an asset or a liability and hence would not be separable. the SME standard provides the following additional accounting options: Financial instruments can be accounted for by either applying the requirements of sections 11 and 12 of the IFRS for SMEs or by applying the recognition and measurement requirements of IAS 39. The SME standard still requires relevant docu-mentation and prospective effective-ness testing of the hedge relationship.75 ff. the requirements for hedge accounting have been simplified but are still relatively complex.30). an independent approach has been developed. for example. In addition. Components of non-financial contracts that are in accordance with the entity’s expected purchase. Other financial instruments. there are no significant differences between the SME standard and Swiss GAAP FER. Only retrospective effectiveness testing of the hedge relationship is not required as the termination of the hedge relationship is accounted for prospectively – unlike IAS 39. Income taxes and Business combinations. which are considered to be complex in practice. bank deposits. that are not part of a hedge relationship. There is only one general require-ment in the framework regarding revenue recognition. ……………………. are consistent with full IFRSs without major simplifications for SMEs: Leases. However. Comparison to Swiss GAAP FER: Accounting for leases as lessees is comparable with IFRS. accounting for leases as lessors is not specified in Swiss GAAP FER.93).

ch 2. Disclosures The final SME standard still requires detailed disclosures in some areas. there are no exemptions from the retrospective application comparable to the ones included in the SME standard. An entities’ first financial statements prepared under the IFRS for SMEs would require the disclosure of comparative information in respect of the previous comparable period for all statements. Swiss GAAP FER users are in practice often required to develop and consistently apply their individual accounting policies in accounting areas with no or only general requirements. the frequency of changes to the standards is likely to be higher under IFRS for SMEs than under Swiss GAAP FER due to the planned regular revisions of the SME standard. However. However. Swiss GAAP FER often does not set out any. the accuracy of this state-ment will depend on the individual circumstances. Namun demikian. Further.11/37/DKBU/2009 TANGGAL 31 DESEMBER 2009 TENTANG PENETAPAN PENGGUNAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT 1. SE ini diterbitkan sebagai penetapan penggunaan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) sebagai standar akuntansi keuangan bagi Bank Perkreditan Rakyat yang melakukan kegiatan usaha berbasis konvensional. http://kpmg. as it was the IASB’s intention that financial statements of these entities shall not be described as conforming to the IFRS for SMEs. yang menggantikan PSAK 31. disclosures are required in relation to the significant differences in tax amounts presented in the statement of comprehensive income and amounts reported to tax authorities. Further. Apa latar belakang penerbitan Surat Edaran (SE) ini? Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR selama ini adalah PSAK 31 tentang Akuntansi Perbankan (PSAK 31) yang berlaku bagi seluruh perbankan. are not allowed to apply the SME standard. deferred taxes are not recognised for temporary differences of income and expenses that do not affect the results (such as translation differences that have been recognised in equity). the first financial statements under the IFRS for SMEs require the disclosure of a reconciliation of the entity’s equity and profit or loss determined in accordance with its previous financial reporting framework to its equity determined in accordance with the SME standard.SME standard. A disadvantage of the IFRS for SMEs is that the scope of application is considerably more restricted. Financial statements under IFRS for SMEs might potentially be more comparable than under Swiss GAAP FER resulting from the more detailed requirements of the SME standard.Artikel Surat Edaran Bank Indonesia FREQUENTLY ASKED QUESTIONS (FAQs) SE NO.The retrospective application of the standard is not explicitly set out in Swiss GAAP FER. Sehubungan dengan itu maka BPR memerlukan standar akuntansi keuangan yang sesuai.e. For example. the temporary differences concept is not followed as strictly as under the SME stan-dard. This might involve substantial costs and coordination effort especially for multinational groups of companies with a certain size. The disclosures required for transactions with related parties are also comparable. This is also the case in relation to financial statements under full IFRSs given the fewer accounting options included in the IFRS for SMEs. although the overall quantity of disclosures has been significantly reduced compared to full IFRSs. entities that are listed in the Domestic Standard of the SIX or whose debt instruments are traded in a public market. the requirements of the SME standard are more detailed than Swiss GAAP FER. i. Accounting for business combinations is generally comparable with the SME standard but the requirements are significantly less detailed. the standard grants several exemptions from the retro-spective application requirement – some of them are mandatory and others are optional. However. Comparison to Swiss GAAP FER: Overall. In addition. if applicable to the company. the compilation of financial statements under the SME standard is likely to take more time and effort. recognition and measurement of all assets and liabilities as if the standard would have been applied in the past. First-time adoption IFRS for SMEs should be applied retro-spectively when adopted for the first time. Under Swiss GAAP FER. Hence. For example. In this regard. due to the necessity to develop individual accounting policies in accounting areas with no or only general requirements. Swiss GAAP FER does not require the disclosure of key manage-ment personnel compensation. The disclosure requirements in relation to defined benefit obliga-tions under Swiss GAAP FER are similar to IFRS for SMEs. requirements for certain important accounting areas. The concept of accounting for deferred taxes is comparable to the IFRS for SMEs. Even a change of the SIX’s listing rules would not change the applicability of the SME standard to entities whose debt and equity instruments are traded in public market. which is still pending. Apa pokok-pokok pengaturan dalam SE ini? Pokok pengaturan dalam SE ini adalah pemberlakuan SAK ETAP sebagai standar akuntansi . despite the sometimes significant simplifications to full IFRSs. penerapan PSAK 50 dan PSAK 55 bagi BPR dipandang tidak sesuai bagi BPR dan memerlukan biaya yang besar dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh. In addition. The individual circumstances of Swiss entities and the international acceptance of the SME standard will determine whether Swiss entities will be prepared to accept the higher costs and time effort to prepare financial statements under the IFRS for SMEs. 2. maka standar akuntansi bagi perbankan mengacu pada PSAK yang berlaku. Adoption in Switzerland The comparison between IFRS for SMEs and Swiss GAAP FER shows that. the comparability of Swiss GAAP FER financial statements might be limited from the point of view of users of financial statements. recognition as an expense is not inevitable. one of the key consider-ations is likely to be the endorsement of the SME standard by the EU. or only general. Comparison to Swiss GAAP FER: Swiss GAAP FER requires only the disclosure of an opening balance sheet upon first time adoption for the current reporting period (closing balance at the end of the previous financial year). the disclosure requirements under Swiss GAAP FER are signifi-cantly less than under the IFRS for SMEs. On the other hand. due to the significant larger quantity of disclosures under IFRS for SMEs. Dengan diberlakukannya PSAK 50 Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan (PSAK 50) dan PSAK 55 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran (PSAK 55). However. However. As accounting for share-based payments is not set out under Swiss GAAP FER. However. the disclosure of a tax rate reconciliation is not required for SMEs. but there are significant differences in relation to the detailed requirements. This might require costly changes to the current accounting processes and systems. Swiss GAAP FER can be applied by all entities that are not listed on the Main Standard of the SIX (and hence are required to apply full IFRSs or US GAAP anyway).

muncul wacana bahwa IASB memiliki rencana untuk memperbaharui IFRS untuk UKM dengan frekuensi tiga tahun sekali. Current Market Value atau nilai sekarang telah merubah nilai kos yang akan ditandingkan dengan penjualan. maka akan timbul nilai kos depresiasi yang baru. pada SAK Umum pajak tangguhan diakui. Metode ini memberikan kontrovesi. terlebih sebelumnya muncul banyak kontroversi dari metode pengukuran yang terrcantum dalam IFRS. B. Hal ini membuat bervariasinya laporan keuangan UKM dan bahkanUKM tidak menyajikan laporan keuangan dalam mengajukan pinjaman kepada bank. Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan adalah entitas yang menguasai asset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat. Pada saat kos diukur dengan metode fair value akan tercipta nilai yang baru sehingga akan merubah besarnya nilai pendapatan. penurunan ekuitas dan aliran kas masuk agar dapat mengukur pendapatan. Jika perusahaan menggunakan nilai sekarang dalam mengukur seluruh asset tetapnya. Nilai tersebut akan mempengaruhi jumlah kos yang akan ditandingkan dengan penjualan sehingga laba perushaan . telah ada beberapa entitas khususnya BPR yang telah menerapkan SAK ETAP ini. contohnya bank. IASB dan rencananya ini menimbulkan banyak pertanyaan. Kapan SE ini berlaku? SE ini berlaku sejak tanggal 1 Januari 2010. meskipun penerapan SAK ETAP akan membantu entitas dalam penyediaan modal dan perluasan usaha. Standar tentang pelaporan keuangan UKM yang belum tersedia merupakan sebuah kendala yang harus segera diselesaikan.29 paragaraf 31. perlu dikaji ulang pilihan menggunakan IFRS sebagai standar untuk UKM. terdapat beberapa kendala diantaranya mengenai perpajakan. Namun. 3. itu dulu sebelum akhirnya Negara. SAK ETAP memiliki metode pengukuran yang sama dengan SAK Umum sehingga entitas ridak perlu melakukan revaluasi untuk semua nilai asset yang tercatat. Perubahan dalam IFRS adalah perubahan yang akan menimbulkan dampak biaya yang material dan sebanding dengan manfaatnya atau tidak serta tingkat kepraktisan penerapan standar yang baru dan dipilih yang tidak menimbulkan kompleksitas dan lebih sederhana.Perbedaan SAK Umum & SAK ETAP Indonesia memberlakukan SAK ETAP bagi UKM dan entitas tanpa akuntan publik sebagai pengganti PSAK 50 dan PSAK 55(bagi BPR) sejak 1 Januari 2010. SAK ETAP tentu akan digunakan secara menyeluruh oleh entitas dari Negara tersebut. 3. sepanjang otoritas berwenang mengatur penggunaan SAK ETAP dimaksud. Harmonisasi antara keduanya telah dilakukan dan bahkan SAK ETAP melakukan adopsi IFRS untuk standar atas klasifikasi asset sewa dan biayanya.Meskipun begitu. hal ini tidak menutup kemungkinan pilihan bagi UKM untuk menggunakan IFRS sebagai pengganti SAK ETAP. Hal ini memacu IAI membuat standar untuk entitas tanpa akuntan public dan Bank Indonesia segera mengeluarkan Surat Edaran untuk memberlakukan SAK ETAP yang merupakan sebuah bentuk . Perbedaan ini menybabkan kendala dalam penerapan SAK ETAP .ISI 1. Bagi UKM Indonesia yang baru akan menerpakan SAK ETAP pada 01 Januari 2011. Ada beberapa perbedaan antara SAK umum dengan SAK ETAP ini.pun akan berubah dan besaran pajak yang harus dibayar oleh entitas berubah pula terlebih jika harga pasar dari asset tetap berfluktuasi dan atau mengalami penurunan yang drastis. Mengapa BPR sebagai bank menggunakan SAK ETAP? Mempertimbangkan bahwa penerapan PSAK 50 dan PSAK 55 bagi BPR dipandang tidak sesuai dengan karakteristik operasional BPR dan memerlukan biaya yang besar dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh maka BPR memerlukan standar akuntansi keuangan yang sesuai. Ketika IFRS for SMEs muncul. Hal ini tentu aka merugikan entitas karena jumlah pajak yang akan dibayarkan akan menjadi lebih besar. Namun pengungkapan atas pajak tangguhan dari UKM tidak dicantumkan secara rinci dalam SAK ETAP dan hal ini berbanding terbalik dengan IFRS for SMEs. dan untung (menurut IAI semua unsur tersebut merupakan satu kesatuan yaitu pengasilan). 2. dan untung. metode pengukuran IFRS yang tersedia adalah Historical Cost dan Fair Value. 4. Swiss menerapkan IFRS secara perlahan dan melakukan harmonisasi dengan GAAP FER. Jika pada SAK ETAP pajak tangguhan tidak diakui maka. laba. salah satunya adalah Bank Perkreditan Artha Graha.Penerapan SAK ETAP Indonesia. Ketika nilai penghasilan berubah akan muncul indikasi bahwa perubahan nilai tersebut diikuti pula dengan perubahan nilai dari komponen kos. PAjak tangguhan dalam IFRS tetap diungkapkan dengan tujuan pengguna laporan dapat memperkirakan bessarnya pajak yang akan dibayar pada periode mendatang dan diatur dalam IFRS for SMEs No. Penerapan SAK ETAP akan membantu UKM utuk menyajikan Laporan Keuangan lebih baik dan dengan biaya yang lebih sedikit. BAB IV KESIMPULAN A. Pada tahun 2009. berbeda dengan IFRS untuk UKM yang menyediakan penerapan secara menyeluruh atau tidak secara menyeluruh.Perbedaan pengukuran dan pengungkapan IFRS for SMEs dengan ETAP Switzerland atau Swiss terkenal sebagai salah satu Negara ―Surga Pajak‖ karena pajak yang ditetapkan hamper mendekati 0%(nol persen) bagi investor asing tapi. beberapa penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa investor lebih mempercayai Laporan Keuangan yang disusun dengan metode pengukuran Historical Cost dibandingkan dengan Fair Value. Standar akuntansi keuangan yang ditetapkan adalah SAK ETAP. laba. penerapan IFRS dirasa telalu cepat dan akan menyedot baanyak biaya. Negara dengan struktur pelaku ekonomi yang didominasi oleh pebisnis skala UKM dan perdaganagan di sector riil memiliki persoalan yang harus segera diselesaikan yaitu dimana sebagian besar UKM membutuhkan pendanaan dengan jumlah yang besar dan terkendala dengan persyaratan perbankan yang mengharuskan adanya laporan keuangan sesuai dengan PSAK. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan DSAK-IAI dalam SAK ETAP bahwa SAK ETAP dapat diberlakukan bagi entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan.Negara lain melakukan protes atas peraturan pajak pemerintah Swiss yang dikhawatirkan akan membuat Swiss menjadi Negara ―pencuci uang‖.keuangan bagi BPR. Jika IASB dengan rencananya memperbarui IFRS setiap tiga tahun sekali maka.Tingkat kepraktisan penggunaan IFRS for SMEs dan SAK ETAP Penerapan akuntansi dan pemilihan kebijakannya didasarkan pada tingkat kepraktisan penggunaannya serta keselarasan dengan tujuan Negara. Swiss dan beberapa Negara lain mengalami kendala ketika akan menerapakan IFRS for SMEs.

September.himatansi. Surat Edaran Bank Indonesia NO. kelompok 6 (khalisah. Perlakuan akuntansi dalam standar umumnya lebih sederhana dari itu diizinkan atau diharuskan oleh IFRS. dan topik yang tidak relevan dengan UKM telah dihilangkan dari standar. IASB memberikan pengakuan dan pengukuran persyaratan tertentu oleh umumnya hanya mengizinkan satu perlakuan akuntansi. IFRS for SMEs. dengan tujuan memberikan alternatif praktis untuk IFRS. Rizky Fabianto C1C005244 Guntur Perdana C1C005199 PENDAHULUAN IFRS untuk UKM adalah versi sederhana dari IFRS. Pada akhirnya. 2010 IFRSs for SMEs Tony Sulistyo Pambudi C1C005238 M.Penggunaan IFRS secara menyeluruh dan tidak secara menyeluruh akan membuat laporan keuangan menjadi tidak standar. tyas Friday. persyaratan pengungkapan yang dikurangi dari IFRS. SAK Umum vs SAK ETAP. sebuah versi sederhana dari SAK Umum.Pengukuran nilai sekarang membuat jumlah pajak yang harus dibayarkan entitas akan berubah.sehingga tidak menimbulkan komlpekstisitas. HIMATANSI. 2010. 2010. Indonesia yang baru saja memberlakukan SAK ETAP pada 01 Januari 2010 sebelumnya telah melakukan harmonisasi dengan IFRS for SMEs dalam beberapa hal sehingga harmonisasi selanjutnya perlu dipercepat. 2009. kendala tersebut diantaranya. Mei.iasb. Penyederhanaan ini menyediakan versi IFRS yang tidak terlalu mahal untuk diterapkan daripada IFRS dan mungkin lebih relevan bagi pengguna laporan keuangan UKM. SAK Entitas Tanpa Akuntan Publik. Penerapan SAK ETAP ini tentu akan menyita sumber daya yang dimiliki oleh entitas.Mengingat IASB mempunyai rencana untuk memperbarui IFRS untuk UKM setiap tiga tahun maka. disamping itu biaya yag dikeluarkan akan lebih kecil jika dibandingkan dengan penerapan SAK Umum oleh entitas. SAK ETAP. June 11. IFRS memiliki kendala dan kontroversi ketika akan ditetapkan dibeberapa Negara juga Indonesia. Lewis.Penggunaan metode pengukuran nilai sekarang masih mengundang kontroversi di berbagai negara yang telah lebih dulu menerapkan IFRS. United Kingdom. dan 4. 2. 3.penyederhanaan dari SAK Umum. Ken.org.11/37/DKBU/2009 TANGGAL 31 DESEMBER 2009 TENTANG PENETAPANPENGGUNAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN BAGI BANK PERKREDITANRAKYAT. investor local bahkan inbestor asing. www. Switzerland. 2009. . IASB telah menyederhanakan kegunaan standar dengan membatasi revisi atas IFRS untuk UKM untuk sekali setiap tiga tahun. www. Selain itu. Standar yang berlaku internasional ini juga akan membantu UKM untuk memperluas lingkup usahanya hingga kancah internasional. perlu pengkajian ulang atas penerapannya karena jika ada perubahan yang medasar atas IFRS apakah akan membawa dampak biaya yang material dan menurunkan nilai manfaat yang dipengaruhi juga oleh tingkat kepraktisan penerapan standar. diperkuat. Februari. memiliki hubungan kerjasama dengan pihak asing dan memperluas usaha hingga luar negeri. 1.ac. IFRS untuk UKM dirancang untuk memberikan perbandingan komprehensif dan rinci. Accounting Advisory News. B. IFRS for SMEs adalah akuntansi mandiri dan standar pelaporan keuangan yang berlaku untuk laporan keuangan umum. PEMBAHASAN IFRS for SMEs merupakan modifikasi dan penyederhanaan IFRS yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan swasta.id IAI.IFRS for SMEs sebagai Pengganti SAK ETAP IFRS untuk UKM akan membantu UKM mendapatkan pendanaan dari pihak bank. Oliver. Jakarta IASB. melalui entitas yang di dikenal sebagai entitas kecil dan menengah (UKM). dan pelaporan keuangan lainnya. DAFTAR PUSTAKA Bank Indonesia.ch Posted by tugas semak at 3:02 AM 0 comments Labels: anisa). Dengan pandangan ini. www. dan lebih diselaraskan dengan tujuan Negara dan tujuan pelaporan keuangan. 2010.rss. pengguna pelaporan keuangan dan meringankan beban pelaporan keuangan pada perusahaan swasta melalui pendekatan biaya-manfaat.com Koster. www. UKM akan memiliki kesempatana yang cukup luas untuk mengembangkan usahanya. IFRS for SMEs – A Standard for Switzerland.kpmg. Namun jika prinsip biaya yang ditandingkan dengan manfaat dimasa depan atas pengguaan SAK ETAP ini maka. Pedoman ini adalah hasil analisis biaya manfaat secara keseluruhan pemilik dalam mempertimbangkan kebutuhan entitas non-publik bertanggung jawab dan pengguna laporan keuangan mereka. entitas akan memperoleh manfaat yang lebih besar karena akan lebih mudah mendapatkan pendanan guna memperluas usahanya.

likuiditas. kreditur. Beberapa perbedaan kunci berdasarkan IFRS for SMEs:        Pengungkapan disederhanakan di berbagai bidang termasuk dana pensiun dan instrumen kuangan sewa. Karena IFRS for SMEs seperti IFRS.IFRS for SMEs adalah standar yang digunakan digunakan oleh UKM. Pengguna laporan keuangan UKM (atau perusahaan swasta di AS) umumnya tidak memiliki kebutuhan yang sama. Kemungkinan kurangnya komparatif. 2010 Solvency II versus IFRS: Cost of Capital Implications for Insurance Firms Paul J M Klumpes and Kathryn Morgan 2008 Vera Nurpujia C1C007079 Sera Ekowati C1C007090 Hermawan S C1C005261 A. Penyusutan berdasarkan pendekatan komponen. pelaku bisnis. Anggota AICPA bisa melaporkan laporan keuangan dan disajikan dengan baik atau penggunaan IFRS for SMEs diizinkan menurut undang-undang dan peraturan masing-masing negara. dan pengguna laporan keuangan. IFRS for SMEs ini tidak dimaksudkan untuk digunakan oleh organisasi-organisasi nirlaba atau badan pemerintah. Kelebihan IFRS for SMEs:   Ringkas dan lengkap seperangkat dengan prinsip akuntansi yang disederhanakan diatur menurut topiknya. Posted by Tony at 4:12 AM 0 comments Sunday. June 6. aturan yang kurang spesifik dan lebih banyak kesempatan untuk menerapkan penilaian profesional. Jika kriteria tertentu terpenuhi diperbolehkan untuk pembalikan beban penurunan nilai. ada kemungkinan bahwa jenis transaksi yang sama dibuat oleh beberapa perusahaan yang berbeda dapat dilaporkan dalam laporan keuangan. ada kebutuhan yang signifikan untuk standar akuntansi dan pelaporan keuangan untuk UKM yang akan memenuhi kebutuhan pengguna laporan keuangan mereka ketika menyeimbangkan biaya dan manfaat. Sebuah pendekatan yang disederhanakan perbedaan sementara untuk akuntansi pajak penghasilan. Demikian sebaliknya. akan memiliki pilihan lebih untuk menggunakan kerangka akuntansi berbasis IFRS untuk menyiapkan laporan keuangan mereka yang telah disederhanakan. Di Amerika Serikat. termasuk perusahaan swasta di Amerika Serikat. PENDAHULUAN Perusahaan asuransi adalah suatu perusahaan yang mempunyai fungsi utama sebagai mekanisme untuk mengalihkan resiko (risk transfer mechanism). IFRS for SMEs lebih baik dalam memenuhi kebutuhan pengguna laporan keuangan. istilah "UKM" akan mencakup banyak perusahaan swasta. Di antara investor. Jenis-jenis dan kebutuhan pengguna laporan keuangan UKM sering berbeda dengan jenis dan kebutuhan pengguna laporan keuangan perusahaan publik dan entitas lain yang mungkin akan menggunakan full IFRS. Jadi perbandingannya kurang baik. Akuntansi untuk aktiva keuangan dan kewajiban yang menggunakan biaya yang lebih besar. melainkan pihak penanggung menyediakan pengamanan finansial (financial security) serta ketenangan . IASB juga telah menerbitkan petunjuk pelaksanaan dan materi pelatihan untuk mengembangkan standar. likuiditas dan solvabilitas. atau membuat keputusan bisnis yang penting dengan standar-standar yang ada. IFRS for SMEs dipandang sebagai kerangka kerja akuntansi untuk entitas yang bukan dari ukuran atau memiliki sumber daya besar. cakupan bunga dan solvabilitas. Kelemahan IFRS for SMEs   Pada saat ini di Amerika Serikat belum cukup dikenal. IFRS for SMEs dirancang untuk memenuhi kebutuhan itu. yang merupakan entitas kecil yang mempublikasikan tujuan umum laporan keuangan untuk pengguna eksternal dan tidak memiliki akuntabilitas publik. Tidak menggunakan LIFO Goodwill dan aktiva tak berwujud diamortisasi selama jangka waktu tidak lebih dari sepuluh tahun. Sebagian besar perusahaan yang memenuhi syarat untuk IFRS for SMEs fokus pada arus kas jangka pendek. pendidik. Ruang lingkup standar mencakup UKM yang mempublikasikan tujuan umum laporan keuangan untuk pengguna eksternal. Dengan penerbitan IFRS for SMEs. dan tidak memiliki akuntabilitas publik. yaitu mengalihkan resiko dari satu pihak (tertanggung) kepada pihak lain (penanggung). AICPA telah mengakui IASB sebagai badan standard akuntansi. banyak UKM di seluruh dunia. pengguna laporan keuangan UKM lebih berfokus pada arus kas jangka pendek. Pengalihan resiko ini tidak berarti menghilangkan kemungkinan misfortune. Sementara IFRS for SMEs ini mirip dengan IFRS. Setiap entitas memiliki akuntabilitas publik di bawah IASB. IFRS dirancang untuk memenuhi kebutuhan investor mengendalikan modal pada perusahaan-perusahaan di pasar modal publik. KESIMPULAN IFRS for SMEs adalah versi sederhana dari full IFRS. neraca kekuatan. memberikan fleksibilitas yang lebih. beberapa telah menghabiskan waktu yang diperlukan untuk memahami perbedaan dari US GAAP dan dampak yang sesuai tidak siap untuk mengadopsi. Dengan demikian.

Sampel mencakup 172 perusahaan asuransi yang listing. Berdasarkan penelitian empiris sebelumnya. Untuk metode FF3F. Kemudian IFRS menghasilkan suatu standar IFRS 4. Prosedur FIB divisi biaya modal dengan mendapatkan versi beta koefisien untuk sampel perusahaan dan kemudian regresi dengan cross-sectional beta terhadap variabel measuring komposisi bisnis setiap perusahaan di seluruh industri. Dalam IASB masih ditemukan adanya ketidakkonsistenan mengenai pengukuran aset dan kewajiban serta pengakuan pendapatan dan biaya. Polis asuransi adalah suatu kontrak yakni suatu perjanjian yang sah antara penanggung (dalam hal ini perusahaan asuransi) dengan tertanggung. Variabel komposisi bisnis yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio dari pendapatan yang berasal dari setiap industri dibagi dengan total pendapatan dari semua industri. Paper ini mengkaji estimasi biaya modal untuk asuransi menggunakan metodologi yang relatif baru. Kerangka konseptual yang digunakan oleh perusahaan asuransi dan perusahaan lain serta perusahaan non asuransi berbeda. di mana banyak saham yang dicirikan oleh infrequent trading. yang dimaksud dengan asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih. Dimana IFRS mengindikasikan sebuah kesimpulan bahwa aset dan kewajiban suatu perusahaan asuransi harus diukur secara konsisten pada nilai wajar atau nilai pasar. Dalam memperkirakan koefisien beta untuk CAPM dan metode FF3F. Evaluasi Paper ini memberikan kontribusi literatur pertama yang komprehensif untuk analisis biaya modal pada lini bisnis dan menggunakan jauh lebih . atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung.hal ini penting terutama dalam industri asuransi. Beta regresi untuk Fama-French ukuran dan BE / ME faktor risiko juga termasuk log dari kapitalisasi pasar setiap perusahaan dan log dari rasio BE. dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian pada tertanggung karena kerugian. dimana pihak penanggung bersedia menanggung sejumlah kerugian yang mungkin timbul dimasa yang akan datang dengan imbalan pembayaran (premi) tertentu dari tertanggung. Menggunakan biaya modal yang salah dapat menyebabkan kerusakan nilai perusahaan melalui pengambilan keputusan proyek yang salah dan keputusan harga. PEMBAHASAN 1. dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri pada tertanggung. Koefisien Beta diperkirakan dengan menggunakan dua model biaya modal utama untuk menerapkan pendekatan beta full-information model penetapan harga aset modal (CAPM) dan model tiga faktor Fama-French (FF3F). CAPM termasuk faktor risiko yang mewakili exposure perusahaan terhadap risiko pasar sistematis. hanya dilakukan satu FIB regresi. Estimasi koefisien regresi ditafsirkan sebagai beta full-information. Kita dapat mengetahui berapa besar biaya yang dikeluarkan secara riil yang harus ditanggung oleh perusahaan untuk mendapatkan modal dengan perhitungan dari biaya modal. tertanggung membayarkan premi dalam jumlah yang sangat kecil bila dibandingkan dengan potensi kerugian yang mungkin dideritanya (Morton:1999). ME. Biaya modal merupakan biaya yang harus dikeluarkan atau dibayar oleh perusahaan untuk mendapatkan modal yang digunakan dalam investasi perusahaan B. Dan hal tersebut menyiratkan bahwa Solvency II mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan Solvency I. satu untuk masing-masing tiga faktor dalam model Fama-French. Pada negara Uni Eropa perlakuan yang mengatur transaksi perusahaan asuransi terdapat pada Solvency II dimana perlakuan untuk aset dan kewajiban menggunakan nilai wajar tetapi keuntungan pada perusahaan asuransi akan terpengaruh oleh kerugian dimasa depan yang diproyeksikan oleh pasar baik dengan cara yang konsisten ataupun penggunaan tarif diskon standar untuk kewajiban. yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti. Untuk estimasi beta full-information bagi industri asuransi. 3) kerugian harus signifikan. sebagai regressors untuk mengendalikan yang negatif (Positif) hubungan antara ukuran perusahaan (BE/M 2. Agar suatu kerugian potensial (yang mungkin terjadi) dapat diasuransikan (insurable) maka harus memiliki karakteristik: 1) terjadinya kerugian mengandung ketidakpastian. kami menggunakan sampel terdiri dari semua perusahaan Compustat estimasi untuk periode 1997-2000. pendekatan full-information beta (FIB). 2) kerugian harus dibatasi. IFRS mengharapkan perusahaan asuransi menghasilkan laporan keuangan yang sesuai dengan standar pelaporan keuangan internasional. Koefisien rasio partisipasi industri-industri tertentu untuk kemudian ditafsirkan sebagai full information koefisien beta untuk industri itu. Untuk CAPM. Variabel partisipasi industri termasuk untuk semua industri dua digit yang didefinisikan oleh NAICS. Sebagai imbalannya. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka IFRS segera melakukan tindakan dengan mengeluarkan suatu standar baru yaitu IFRS 4. proksi dengan rasio nilai buku (BE) dari ekuitas ke nilai pasar (ME) dari ekuitas. Adanya ketidakkonsistenan pengakuan transaksi pada perusahaan asuransi mengakibatkan IFRS mendesak IASB untuk segera mengeluarkan suatu standar yang konsisten dan bisa diterapkan pada kontrak asuransi. Hal tersebut menimbulkan suatu wacana bagaimana dapat memunculkan suatu keuntungan yang berkesinambungan dari kontrak asuransi. Memperkirakan biaya modal oleh lini ini penting karena biaya modal diketahui bervariasi secara signifikan berbeda untuk jenis kegiatan ekonomi. Namun negara-negara Uni Eropa mempunyai seperangkat peraturan yang telah diperbaharui yang dikenal dengan nama Solvency II. ukuran perusahaan diharapkan akan berbanding terbalik dengan biaya modal. Rangkuman Jurnal Jurnal ini membahas tentang perlakuan pengakuan transaksi yang berbeda dengan perusahaan lain dan perusahaan-perusahaan serupa tapi bukan perusahaan asuransi.(peace of mind) bagi tertanggung. Alasan dikeluarkanya peraturan atau undangundang tersebut adalah untuk memfasilitasi Pasar Tunggal dibidang jasa asuransi di Eropa. Menurut Undang-Undang No. kami menggunakan prosedur jumlah-beta untuk menyesuaikan infrequent-trading. dimana divisi perusahaan publik tidak diperdagangkan. dan rasio BE / ME diharapkan untuk secara positif berkaitan dengan biaya modal. Model FF3F menambahkan faktor risiko untuk ukuran perusahaan (total kapitalisasi pasar) dan kesulitan keuangan perusahaan. Pada dasarnya masing-masing jenis perusahaan mempunyai cara sendiri untuk mengembangkan usahanya dengan menambah investasi perusahaan. Metode ini dirancang untuk memperoleh biaya modal untuk divisi atau lini bisnis perusahaan. tiga FIB regresi diperkirakan. Solvency II akan didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi untuk pengukuran aktiva dan kewajiban. 2 Tahun 1992. dengan faktor risiko pasar yang sistematis (beta) sebagai dependen variabel. atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. Hal ini juga akan menjadi suatu sistem berbasis resiko yang mana resiko akan diukur pada prinsip-prinsip yang konsisten dan persyaratan modal akan secara langsung tergantung pada ini. 4) rasio kerugian dapat terprediksi dan 5) kerugian tidak bersifat katastropis (bencana) bagi penanggung. sementara pada saat yang sama menjamin tingkat perlindungan konsumen yang memadai. IASB untuk perusahaan asuransi memperlakukan aset dan kewajiban sebagai instrumen keuangan. kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan.

KESIMPULAN Dari paper yang kami review penulis tidak memberikan hipotesis sehingga kami tidak tahu apakah tujuan dari penulisan paper telah tercapai. memperkenalkan bahwa nilai wajar dari kewajiban asuransi dapat sulit untuk ditentukan. bertentangan dengan penemuan sebelumnya. beta pasar yang diteliti dan estimasi beta ukuran untuk perusahaan asuransi hampir sama dengan seluruh rata-rata industri untuk kedua parameter Fama dan French. kerangka konseptual dengan tegas mengidentifikasi resiko regulasi ketidakmampuan membayar dihubungkan dengan berbagai pilihan yang kompleks dalam kontrak asuransi. . menaksir biaya modal dan juga memberikan kontribusi literatur dalam menjelaskan harga cross-sectional pada industri asuransi. Model FF3F menambahkan risiko premium untuk menangkap efek ukuran perusahaan dan ekuitas rasio book to market dan memberikan penjelasan variasi cross-sectional dengan tingkat return saham. mengindikasikan adanya hubungan positif antara biaya modal dan rasio book-to-market ekuitas. Penelitian ini dilakukan secara obyektif. Selain itu. yang menunjukkan bahwa rata-rata saham perusahaan asuransi sensitif terhadap resiko pasar sistematik dan ukuran perusahaan. Akan tetapi dari model yang diajukan oleh penulis (FF3F dan FIB) membuktikan bahwa model tersebut lebih baik dibandingkan dengan model biaya modal yang digunakan pada penelitian sebelumnya(CAPM. Pendekatan FIB untuk estimasi biaya modal menggunakan sampel seluruh perusahaan (asuransi dan bukan asuransi yang terdaftar pada data compustat periode 2001-2004). Data yang diperoleh berasal dari Compustat dan NAIC. Variabel dependen dalam paper ini adalah beta dan variabel independennya adalah partisipasi perusahaan dari berbagai lini bisnis. Untuk memperkirakan CAPM. dan memberikan daya tarik serta perhatian terhadap daya saing internasional dan efisiensi dari perusahaan asuransi jiwa. faktor risiko pasar sistematis memiliki koefisien beta lebih tinggi daripada faktor BE/ME dan faktor ukuran perusahaan memiliki koefisien beta terendah. memasukkan koefisien beta dan risiko pasar diperkirakan pada premium untuk mendapatkan perkiraan biaya modal tiap-tiap perusahaan. Perusahaan asuransi memiliki biaya modal yang lebih signifikan dibandingkan dengan kapitalisasi pasar yang sejenis rasio BE/ME spesialisasi di bidang asuransi. Dibandingkan dengan hasil penelitian Fama French. Kedua. daftar pustaka dan indeks yang ada pada paper kami dapat memperoleh pamahan lebih mengenai paper ini. Kemudian paper ini juga memanfaatkan metodologi pendekatan full-information beta (FIB). menunjukkan suatu invers hubungan antara ukuran perusahaan dan biaya modal. log dari kapitalisasi pasar memiliki koefisien negatif dalam persamaan untuk ukuran beta. C. Beta yang digunakan sebagai variabel dependen pada regresi FIB berasal dari CAPM dan tiga model faktor yang dikembangkan oleh Fama dan French. Dari perhitungan CAPM hasil kuartil tidak menunjukkan bahwa perusahaan asuransi yang besar secara konsisten memiliki beta lebih kecil daripada perusahaan asuransi yang kecil. perusahaan asuransi rata-rata memiliki signifikan lebih rendah daripada biaya modal perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang sama dan rasio BE / ME yang mengkhususkan diri dalam asuransi jiwa dan keuangan termasuk asuransi tapi jauh lebih tinggi dibanding untuk semua industri non-keuangan lainnya. kemunduran faktor risiko pasar untuk mendapatkan koefisien beta pada masing-masing perusahaan sampel. koefisien beta CAPM rata-rata tertimbang secara signifikan lebih kecil dari beta dari asuransi kesehatan dan semua kategori industri lain non-keuangan tetapi tidak berbeda signifikan dari kehidupan asuransi atau keuangan. Paper yang kami review ini juga membicarakan tentang suatu kerangka konseptual umum yang memperkenalkan tiga unsur penilaian untuk kontrak asuransi dan variasinya. FF3F dan Full-information beta biaya modal data yang digunakan adalah Return saham dan pendapatan lini bisnis dari sampel perusahaan. Dari ilustrasi. FF3F perkirakan biaya modal perusahaan asuransi harus lebih tinggi daripada rata-rata karena perusahaan asuransi cenderung lebih kecil dari perusahaan rata-rata di industri lain dan karena mereka cenderung memiliki kepekaan lebih ke faktor BE / ME. Demikian pula. Ini semua juga memberikan bukti bahwa return saham perusahaan keuangan jauh lebih sensitif terhadap kesulitan keuangan dari saham pada umumnya dan kesulitan keuangan secara signifikan meningkatkan biaya modal untuk perusahaan keuangan. Koefisien partisipasi variebel lini bisnis kemudian diinterpretasikan sebagai full-information beta koefisien untuk lini bisnis. Dengan estimasi Full-Information biaya modal secara terpisah tiap tahun melakukan regresi data panel termasuk semua data selama empat periode pada sampel perusahaan yang menggunakan regresi tunggal. dari judul paper yang kami review terdapat ketidaksesuaian antara judul tersebut dengan isi paper itu sendiri sehingga kami tidak dapat membandingkan perhitungan biaya modal. berdasarkan kedua hasil rata-rata tertimbang dan nilai-tertimbang. beta ukuran perusahaan lebih rendah dan lebih tinggi beta BE / ME dari semua industri lainnya. Berdasarkan hasil regresi panel. penulis menyediakan suatu kritik dari pengajuan dasar pengukuran nilai wajar untuk kontrak asuransi. keuangan termasuk asuransi. Ketiga. koefisien log dari rasio BE / ME memiliki tanda positif yang diharapkan dalam persamaan untuk beta BE / ME. Metodologi FIB menghasilkan perkiraan biaya modal yang mencerminkan garis komposisi bisnis perusahaan. Tahap pertama. paper yang kami review memberikan kontribusi bagi investor yang menyediakan informasi berharga untuk membuat keputusan keuangan. saham perusahaan keuangan cenderung memiliki biaya modal lebih tinggi dari pada saham secara umum. solvency II dengan IFRS secara benar. Estimasi biaya modal CAPM dengan dua pendekatan. Dan untuk memberikan perspektif lebih lanjut mengenai FF3F estimasi biaya modal kita juga menghitung return tahunan pada indeks tertimbang sama dengan seluruh saham Inggris dalam klasifikasi SIC 63. Berdasarkan hasil nilai-tertimbang. Estimasi Full-information beta. Peneliti dalam paper ini menghendaki adanya perbaikan kekurangan literatur yang sudah ada dengan mengembangkan model biaya modal yang berbias dari jalur karakteristik usaha dari perusahaan keuangan dan industri nonfinancial untuk membantu pemilik perusahaan dalam membuat keputusan dalam memaksimalkan nilai perusahaan.banyak sampel perusahaan asuransi dan paper yang kami review adalah yang pertama menggunakan pendekatan model 3 faktor Fama French (FF3F) dan Tehnik Full-information Beta pada perusahaan asuransi. dan semua non-keuangan industri lain tetapi tidak berbeda nyata dari kehidupan asuransi. FF3f dan biaya modal untuk perusahaan asuransi dengan regresi panel menunjukkan bahwa perusahaan asuransi memiliki beta risiko pasar sistematis yang lebih tinggi. Penulis menyarankan agar penelitian selanjutnya perlu menggunakan comprehensively kinerja aspek dari model laporan penilaian wajar. Ada beberapa kelemahan pada paper yang kami review yaitu penulis tidak memberikan hipotesis sehingga kami tidak dapat menyimpulkan apakah analisis yang dilakukan oleh penulis sudah sesuai dengan dugaan yang diharapkan oleh penulis atau belum. Hal tersebut didasari karena perusahaan dapat dibayangkan sebagai suatu portofolio aset. Pertama. sedangkan nilai pasar rata-rata tertimbang memberikan indikasi yang sistematis sensitivitas resiko untuk industri secara keseluruhan. setidaknya selama periode terakhir. Kedua. CAPM-APT). Asuransi memiliki resiko sistematis rata-rata yang lebih rendah dengan menggunakan CAPM dibandingkan dengan industri lainnya. Return saham perusahaan keuangan yang jauh lebih peka terhadap kesulitan keuangan dari pada saham umumnya dan kesulitan keuangan berpengaruh signifikan terhadap biaya modal untuk perusahaan asuransi. Selain itu. Hasil penilitian yang dilakukan oleh penulis pada paper tersebut berasal dari analisis yang dilakukan melalui persamaan rumus dari model yang diajukan. Seperti yang diharapkan. Dan penulis menghimbau para peneliti dan praktisi selanjutnya untuk membahas pemecahan ini agar dapat dengan sukses mengembangkan dan menyelaraskan menjadi satu standar akuntansi internasional. Berdasarkan metode FF3F rata-rata. Secara merata rata-rata tertimbang memberikan indikasi beta untuk rata-rata perusahaan keuangan.

Kemudian diharapkan juga para praktisi melakukan penelitian menganai biaya modal pada perusahaan non asuransi. Untuk penelitian selanjutnya disarankan ada keterbandingan yang lebih konkret antara pembahasan biaya modal pada perusahaan asuransi dengan IFRS dan Solvensy II. Kami juga dapat mengetahui bahwa ada peraturan tertentu untuk perusahaan asuransi di Uni Eropa yang disebut dengan Solvensi II dan perlakuan terhadap perusahaan asuransi oleh IFRS pada IFRS4.Dengan adanya penelitian ini pemilik perusahaan. Terutama perhitungan biaya modal untuk parusahaan asuransi. investor serta akademisi dapat memperoleh pengetahuan lebih mengenai perhitungan biaya modal yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful