KATA PENGANTAR

ϢϴΣή˷΍ϦϤΣήϟ΍Ϳ΍ϢδΑ ϟ Puji syukur kehadirat Allah swt, atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyuunan skripsi yang berjudul “ PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELLAUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH”. Shalawat dan alam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabatnya. Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana pendidikan agama Islam pada Jurusan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan tidak lepas dari keterbatasan, namun berkat bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak, maka skripsi ini dapat diselesaikan. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan, terutama kepada Bapak Drs. Khalimi, M Ag. sebagai pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan arahan yang sangat berharga kepada penulis. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada : 1. Kepada ayahanda dan Ibunda, H. Mucharor AM.,dan Hj. Sumiyati, yang telah mendidik dan membesarkan dengan kasih sayang dan memberi dorongan semangat serta doa yang tidak henti-hentinya, baik dikala siang maupun di

iv

tengah keheningan malam bagi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi ini. 2. Ibu Dra. Zikri Neni Iska ,M.SPi., penasehat akademik yang telah banyak memberikan waktunya dan masukan-masukan yang sangat berharga buat penulis. 3. Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 4. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 5. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. 6. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah. 7. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan benih-benih pengetahuan kepada penulis. 8. Kepada seluruh kakak-kakakku dan adikku tercinta, yang turut mencarikan buku-buku rujukan kepada penulis dan turut juga mendo’akan penulis dalam menyelesaikan studi ini. 9. Teruntuk Hj. Ida Rosyida –sang “mumtazah”-, yang tidak jemu-jemu dan bosannya memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. dan juga kepada keluarga besarnya di Cinagara. Semoga Allah selalu meridhai. “‘Asallaahu laa Yufarriquna” 10. Kepada teman-teman dan sahabatku, A. Dimyati, Yordan Sebastian, A. Dedi Muhdi, Syukri Rifa’i, Khusnun, Hafiz, Ari, Aji, Fauzi, Rohidin, Umar, Didin,

v

Syukur, Widi dan The C Mania Lainnya, dan juga kepada Eka Triwahyuningrum, keluarga Istana dan H Risdiyanto menyumbangkan saran-sarannya serta doa kepada penulis. Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan doa semoga Allah SWT. Memberikan ganjaran pahala yang berlipat kepada mereka yang turut membantu dalam menyelasaikan skripsi dan studi ini. yang yang telah

Jakarta, 12 November 2006

Penulis

vi

BAB I PENDAHULUAN A. Kenakalan remaja pun semakin meningkat. di mana setiap manusia kini tengah disibukkan dengan urusan duniawi. seks bebas. Ke-1. sehingga mengesampingkan kasih sayang terhadap anak-anak mereka. Kenyataan tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya. 1 Rafi’udin. Cet. Mereka mengira dengan uang dan materi akan mampu membahagiakan mereka. perkelahian antar pelajar. Mendambakan Keluarga Tentram ( Keluarga Sakinah). Hal ini ditandai semakin banyaknya terjadi dikalangan remaja perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada kriminalitas. h. antara lain dengan bertambahnya aneka sumber kemaksiatan secara mencolok. justru karena sibuknya orang tua dalam mencari dan mengumpulkan harta benda. sehingga melalaikan kehidupan yang lebih kekal. iii 1 1 . korban narkoba dan dekadensi moral lainnya. Oleh karena itu timbullah gejala-gejala kemerosotan moral akhlak yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. Hal ini akan berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. yaitu akhirat. 2001). Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman. (Semarang: Intermasa.

Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Ini artinya keluarga mempunyai peran yang sangat sentral di dalam membentuk kepribadian dan akhlak anak.2 Terkait dengan hal di atas. sehingga lambat laun akan membentuk watak serta kepribadian anak ketika dia beranjak dewasa.3 Hal ini bisa dilihat dari fiman Allah Swt : ϢϳήΤΘϟ΍. maka yang terjadi adalah anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan lingkungan di luar sekolahnya (keluarga).2 Dalam konteks psikologi pendidikan. seorang anak pada dasarnya akan meniru apa yang dilihat atau dialami pada lingkungannya (behaviorisme/empirisme) di mana semua memori kejadian akan tersimpan dalam pikiran alam bawah sadarnya. pada realitasnya berdasarkan intensitas waktu seorang anak selama satu hari misalnya.

21 3 . Cet. 20 Rafi’udin. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. Dalyono. At-Tahrim: 6) Ayat ini memberikan penjelasan bahwa Islam memerintahkan kita agar menjaga keluarga kita agar tidak terjerumus ke dalam jurang nista dan dosa yang akan mendorong kita dan keluarga masuk ke dalam api neraka. h. Op Cit. Itu artinya orang 2 M. h.΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta. 2001). Ke-2.

Cet. Dan hal ini hanya dapat diperoleh dari keluarga yang sakinah. rasa aman. keterbukaan. selalu berkata terang. benar. Ke-1. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Untuk dapat sampai ke arah sana (dalam membentuk keluarga yang sakinah). dan dari sanalah akan tumbuh masyarakat yang sejahtera.4 4 Yusak Burhanudin. dan jujur. Dalam bukunya Drs. pengertian dan keakraban terhadap anak. perkelahian antar pelajar dan perbuatan-perbuatan lain yang mengarah kepada kriminalitas. yang jauh dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang.3 tua mempunyai kewajiban memberikan bimbingan dan contoh yang nyata berupa suritauladan kepada anak-anaknya agar mereka hidup selamat dan sejahtera. Dari keluarga yang sakinah inilah akan lahir generasi-generasi tumpuan bangsa. memaafkan kesalahan orang lain. h. suka menolong. Yusak Burhanudin yang berjudul “Kesehatan Mental” dikatakan tentang penyebab timbulnya kenakalan remaja atau anak-anak adalah salah satunya kurangnya pendidikan agama yang diberikan di dalam keluarga (orang tua). Kesehatan Mental. misalnya menghargai hak milki orang lain. dan sebagainya. 86 . seperti seks bebas/seks di luar nikah. di antaranya: pemenuhan kasih sayang. 1999). Yang dimaksud pendidikan agama di sini adalah penanaman jiwa agama sejak anak masih kecil dengan jalan membiasakan mereka untuk melakukan sifat-sifat dan kebiasaan yang baik. (Bandung: CV Pustaka Setia. yaitu manusia yang bertakwa. penyalahgunaan narkoba. perlindungan.

5 Menurut para ahli jiwa. Orag tua yang tidak memperhatikan kasih sayang terhadap anaknya dan hanya disibukkan dengan 5 Ibid. anak yang lahir itu membutuhkan kebutuhan pokok kejiwaan yang mana kebutuhan tersebut haruslah dipenuhi. dapat dilakukan dengan mudah pada anak apabila ia mendapatkan contohcontoh dari orang dewasa disekitarnya terutama dari kedua orang tuanya. Namun. maka si anak akan memiliki hati nurani yang lemah dan dirinya menjadi kosong dari nilai-nilai yang baik. . yaitu kasih sayang orang tua. menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian si anak.4 Penanaman kebiasaan yang baik yang sesuai dengan jiwa ajaran agama itu. orang tua hendaknya mendorong anak-anaknya untuk memahami ajaran agama. Oleh karena itu. Apabila kepribadiannya dipenuhi nilai-nilai agama. Selain itu. Sebagai orang tua haruslah benar-benar memperhatikan hal ini agar penyesalan di kemudian hari tidak menimpa dirinya. tidak semua orang tua memahami ajaran agama tersebut bahkan memandang rendah ajaran agama itu. Kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan ajaran agama. maka mereka akan terhindar dari kelakukan-kelakuan yang buruk. si anak tidak mendapatkan pendidikan agama di sekolah karena pelajaran agama dianggap kurang penting dan tidak mempengaruhi kenaikan kelas. Bila hal tersebut terjadi. sehingga mereka terperosok dalam kelakuan yang tidak baik.

Cet. 1997). yang bila engkau persiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat.” 8 Rafi’udin. Cet.” 7 Hal ini juga seiring dengan suatu nasihat yang mengatakan bahwa “Jika kau mendidik seorang pria berarti kau mendidik seorang manusia. bangsa dan negara. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hafiz Ibrahim yang dikutip oleh Athiyah al-Abrasyi dalam bukunya “Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam”. yaitu: Ύ˱ ͋ ˴ Ύ˱ ˸ό˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴Ύ˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴΍˴ ˶˲ ˴ ˴ ˸Ϊ˴ ͊ ˵ ˴ Βϴσ Β η Ε Ϊ ΍ ϬΗ Ϊ ΍ Ϋ΍ Δγέ ϣ ϡϷ΍ Artinya: “Ibu adalah suatu sekolah. h. 133 7 6 .5 urusan duniawi semata akan menyebabkan si anak menyimpang tingkah lakunya.6 Oleh karena itu hendaklah orang tua harus dapat menciptakan suasana yang nyaman yang penuh kasih sayang di dalam keluarga demi terciptanya akhlakul karimah terhadap anak. tetapi bila kau mendidik seorang wanita berarti kau mendidik seluruh keluarga. Ke-1. Karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama untuk pembentukan serta pembinaan kepribadian anak secara utuh. Dasar-dasar Pokok Pendiidkan Anak dalam Islam. Mendambakan Kelaurga Tentram (Keluarga Sakinah). 2001). 18 Athiyah Al-Abrasyi. di samping juga dapat menyebabkan si anak kehilangan pegangan.h. (Jakarta: Akafa Press. peran ibu sangat penting dalam membentuk karir keberhasilan anaknya sebagai anak yang berguna bagi keluarga. Dalam hal ini. (Semarang: Intermasa. Ke-7. agama.

h.6 Dalam keluarga yang harmonis (sakinah). Ibid. (Jakarta: Eska Media). h. dan sejahtera lahir dan batin.. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. aman. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara). 7 10 . yaitu orang beriman. yaitu fitrah sebagai hamba Tuhan yang baik dan fitrah sebagai khalifah fil ardhi.9 Di samping itu. Cet. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Ke-12. Allah swt. setiap anggotanya merasakan suasana damai. Sejahtera lahir adalah bebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. keluarga sakinah dapat memberi setiap anggotanya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dasar fitrah kemanusiaan. h. Membina Keluarga Sakinah. dan dengan sesama manusia serta lingkungan10 Dalam hal ini hendaknya perlu disadari bawa pembinaan kehidupan keluarga yang sakinah itu haruslah dimulai sejak memilih pasangan atau jodoh. 8 Ke-2.26 9 8 Zaitunah Subhan. Janganlah menikahi orang musyrik karena hal itu sangat dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya: Nur Aeni Iskandar. Dua kemampuan dasar fitrah kemanusiaan dalam keluarga yang harmonis (sakinah) berkembang menjadi tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan SangPencipta. Sedangkan kesejahteraan batin adalah bebas dari kemiskinan iman. 2004). bahagia. Cet.

Bekalilah diri dan juga mereka dengan ketakwaan kepada Allah. maka salah satu pihak kembali ke agama yang dipeluknya. Maka hebatnya Islam dan ajarannya yang jauh-jauh sebelumnya telah membekali umatnya agar jangan menikah dengan pria atau wanita yang tidak seiman.7 ˸Ϯ˴˴ ˳ ˴ ˶ ˸θ˵ ˸Ϧ˶ ˲ ˸ϴ˴ ˲ ˴ ˶ ˸Ά˵ ˲ ˴ ˴˴˴ ͉ ˶ ˸Ά˵ ϰ͉ ˴ ˶ Ύ˴ ˶ ˸θ˵ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ˶ ˸Ϩ˴ Ύ˴˴ ϟϭ Δϛή ϣ ϣ ή Χ ΔϨϣ ϣ Δϣ΄ϟϭ Ϧϣ ϳ ΘΣ Ε ϛή Ϥ ΤϜ Η ϟϭ ˸Ϣ˵ ˸Θ˴ ˴ ˸ϋ˴ Ϝ ΒΠ ΃ Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Namun kenyataannya setelah pernikahan tersebut berjalan dalam waktu yang relative lama (bertahun-tahun) dan telah dikaruniai anak. Di sini akan ditemui jalan buntu dalam upaya mencari jalan damai. Allah Ta’ala berfirman: . Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu…(QS. Al-Baqarah: 221) Di dalam kehidupan masyarakat kita sering melihat atau setidak-tidaknya melalui berita atau surat kabar diberitakan bahwa kasus yang sulit untuk didamaikan adalah kasus sengketa suami istri yang berbeda agama. Pada saat berlangsungnya pernikahan kedua mempelai atau salah satunya mengikrarkan diri ke dalam agama yang sama. Islam telah mengajarkan agar kita jangan meninggalkan generasi yang lemah. Kemudian agar pembinaan keluarga itu dapat mengoptimalkan pembinaannya kepada si anak sehingga menjadi manusia yang berkualitas.

Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat di mana jika unit terkecil itu rusak (keluarga) maka rusak pula masyarakat itu. Dan jika masyarakat itu rusak maka sudah dipastikan bahwa bangsa itu pun akan rusak. Pembatasan masalah Untuk menghindari perbedaan persepsi serta pengarahan masalah agar tidak meluas. B. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” ( QS. Karena banyaknya gejala-gejala kemerosotan moral akhlak anak remaja yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. penulis merasa tertarik dan terpanggil untuk menyusun skripsi dengan judul “PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELALUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH” Adapun alasan penulis memilih judul di atas adalah sebagai berikut: 1. 2. maka permasalahan dalam penelitian ini peneliti batasi sebagai berikut: . Pembatasan dan Perumusan Masalah 1.8 ΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴ Ύ˱ Ύ˴ ˶ ˱ ͉ ͋ ˵ ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴ ˸Ϧ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴ ϘΘϴ ϓ Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. An-Nisa: 9) Dari uraian di atas.

Keluarga sakinah dalam mempengaruhi pembentukan akhlakul karimah terhadap anak. 2. Untuk mengetahui sejauhmana keluarga yang harmonis dalam mempengaruhi akhlakul karimah anak. meliputi usaha-usaha keluarga berupa cara-cara yang ditempuh dalam pembinaan akhlakul karimah anak. yakni: 1. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga.9 a. Cara mendidik anak secara secara Islami dalam keluarga 2. b. 2. Untuk mengetahui cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga. C. . Perumusan masalah Agar permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini jelas dan terarah. Tujuan dan Manfaat Penelitian Ada pun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Akhlakul karimah yang dimaksud adalah akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. maka perlu adanya perumusan masalah.

Buku-buku yang dijadikan bahan rujukan adalah Kitab Suci Al-Qur’an. D. hadits dan karangan para ahli dan cendikiawan yang ada hubungannya dengan pembahasan dalam skripsi ini.10 Mengenai manfaat dari penelitian ini. peneliti memakai jenis penelitian library research. Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku pedoman penulisan skripsi. Oleh karena itu. maupun lingkungan akademis lain dan masyarakat pada umumnya. secara teoritis untuk memperkaya khazanah keilmuan khususnya di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. jenis data yang akan dibutuhkan adalah data kualitatif yang peneliti kumpulkan dari berbagai sumber tertulis. Metode Penelitian Dalam penelitian karya ilmiah ini. . tesis dan disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidatatullah Jakarta tahun 2002. baik sifatnya primer maupun sekunder. Dan secara praktis penelitian ini manfaatnya adalah sebagai kontribusi pemikiran dalam pembinaan akhlakul karimah terhadap anak khususnya dalam lingkungan keluarga.

aspek-aspek yang dibutuhkan dalam pembinaan akhlak terhadap anak. dan keniscayaan lingkungan yang kondusif (sakinah) dalam membina akhlakul karimah . BAB II. dalam bab ini dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan akhlakul karimah yang terdiri dari pengertian akhlakul karimah. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. BAB IV. bab ini terdiri dari latar belakang masalah. tujuan dan kegunaan penelitian. bab ini mendeskripsikan tentang eksistensi keluarga sakinah yang terdiri dari pengertian keluarga sakinah. BAB III. manfaat akhlakul karimah dan faktorfaktor yang mempengaruhi akhlakul karimah. metode penelitian dan sitematika penulisan. dalam bab ini akan dipaparkan mengenai pembinaan akhlakul karimah pada anak. yang terdiri dari pembinaan akhlak pada anak. dasar-dasar pembinaan akhluklul karimah. peran keluarga sakinah dalam pembinaan akhlak. ciri-ciri keluarga yang sakinah. yaitu: BAB I.11 E. dan contoh keluarga sakinah dalam bingkai sejarah. yang setiap bab terdiri atas beberapa sub yang saling berkaitan. pembatasan dan perumusan masalah. cara membina keluarga yang sakinah.

12 serta implikasi positif pembinaan dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) BAB V. sebagai penutup. ditujukan kepada segala pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan akhlakul kariamah terhadap anak khususnya orang tua yang mempunyai anak. bab ini berisi kesimpulan dari uraian pembahasan yang terdapat dalam bab-bab sebelumnya dan saran-saran yang merupakan kontribusi pemikiran dari penulis. .

Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana pendidikan agama Islam pada Jurusan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. baik dikala siang maupun di iv . beserta keluarga dan sahabatnya.KATA PENGANTAR ϢϴΣή˷΍ϦϤΣήϟ΍Ϳ΍ϢδΑ ϟ Puji syukur kehadirat Allah swt. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan tidak lepas dari keterbatasan. sebagai pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan arahan yang sangat berharga kepada penulis.dan Hj. M Ag. Shalawat dan alam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad saw. penulis dapat menyelesaikan penyuunan skripsi yang berjudul “ PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELLAUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH”. Sumiyati. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada : 1. yang telah mendidik dan membesarkan dengan kasih sayang dan memberi dorongan semangat serta doa yang tidak henti-hentinya. atas rahmat.. Khalimi. H. taufik dan hidayah-Nya. terutama kepada Bapak Drs. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan. Mucharor AM. Kepada ayahanda dan Ibunda. namun berkat bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak. maka skripsi ini dapat diselesaikan.

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Syukri Rifa’i. yang tidak jemu-jemu dan bosannya memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.M.. “‘Asallaahu laa Yufarriquna” 10.SPi. Rohidin. dan juga kepada keluarga besarnya di Cinagara. Khusnun. penasehat akademik yang telah banyak memberikan waktunya dan masukan-masukan yang sangat berharga buat penulis. Yordan Sebastian. Umar.tengah keheningan malam bagi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi ini. Ibu Dra. Dimyati. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah. Hafiz. 5. Ari. v . 6. yang turut mencarikan buku-buku rujukan kepada penulis dan turut juga mendo’akan penulis dalam menyelesaikan studi ini. Kepada seluruh kakak-kakakku dan adikku tercinta. 8. 2. A. 9. Semoga Allah selalu meridhai. Kepada teman-teman dan sahabatku. Fauzi. Dedi Muhdi. A. Aji. Teruntuk Hj. 4. 7. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan benih-benih pengetahuan kepada penulis. Zikri Neni Iska . Ida Rosyida –sang “mumtazah”-. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Didin.

12 November 2006 Penulis vi .Syukur. Widi dan The C Mania Lainnya. keluarga Istana dan H Risdiyanto menyumbangkan saran-sarannya serta doa kepada penulis. yang yang telah Jakarta. Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan doa semoga Allah SWT. Memberikan ganjaran pahala yang berlipat kepada mereka yang turut membantu dalam menyelasaikan skripsi dan studi ini. dan juga kepada Eka Triwahyuningrum.

............................................................ B......................................... E.......................................................... Sistematika Penulisan ...... Pengertian Akhlakul Karimah .......................................... iv vii 1 9 10 10 11 BAB II HAKIKAT PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH A.................................................................................... Dasar-dasar Pembinaan Akhlakul Karimah ........... Ciri-ciri Keluarga Sakinah ................... BAB I PENDAHULUAN A................................................ Contoh Keluarga Sakinah dalam Bingkai Sejarah .................................................. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................... 13 18 21 23 BAB III KONSEPSI KELUARGA SAKINAH A...................................................... Pengertian Keluarga Sakinah ............. C..................................... Cara Membina Kaluarga Sakinah .. Latar Belakang Masalah ................................................................... Metode Penelitian ............... D................................................. Pembatasan Masalah .................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .. B.. 29 33 40 47 vii ..... DAFTAR ISI ................................................. C...... B....... D.............. Manfaat Akhlakul Karimah ...................... C...... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Akhlakul Karimah ........ D.......

Kesimpulan ............................................. C........... Implikasi Positif Pembinaan dalam merespon Perkembangan Ilmu Pengetahuan & Tekhnologi (IPTEK) ..................................... Pembinaan Akhlak Pada Anak ......................................... 87 B........................ Saran ...... 82 BAB V PENUTUP A.................. 79 E........................BAB IV PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PADA ANAK A............................................................... Keniscayaan Lingkungan yang Kondusif (Sakinah) dalam Membina Akhlakul Karimah .................................... 73 D.................................................................... 54 B................ 88 DAFTAR PUSTAKA .......... Peran Keluarga Sakinah dalam Pembinaan Akhlak ........ 70 Aspek-aspek yang Dibutuhkan dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Terhadap Anak ............ 90 LAMPIRAN viii .........................................................

di mana setiap manusia kini tengah disibukkan dengan urusan duniawi. Kenyataan tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya. Kenakalan remaja pun semakin meningkat. sehingga mengesampingkan kasih sayang terhadap anak-anak mereka. yaitu akhirat. 2001). Cet. Mereka mengira dengan uang dan materi akan mampu membahagiakan mereka. Oleh karena itu timbullah gejala-gejala kemerosotan moral akhlak yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan.BAB I PENDAHULUAN A. justru karena sibuknya orang tua dalam mencari dan mengumpulkan harta benda. 1 Rafi’udin. Ke-1. korban narkoba dan dekadensi moral lainnya. (Semarang: Intermasa. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman. Hal ini akan berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. perkelahian antar pelajar. h. sehingga melalaikan kehidupan yang lebih kekal. antara lain dengan bertambahnya aneka sumber kemaksiatan secara mencolok. seks bebas. Mendambakan Keluarga Tentram ( Keluarga Sakinah). Hal ini ditandai semakin banyaknya terjadi dikalangan remaja perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada kriminalitas. iii 1 1 .

Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama.2 Dalam konteks psikologi pendidikan.2 Terkait dengan hal di atas. maka yang terjadi adalah anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan lingkungan di luar sekolahnya (keluarga).3 Hal ini bisa dilihat dari fiman Allah Swt : ϢϳήΤΘϟ΍. pada realitasnya berdasarkan intensitas waktu seorang anak selama satu hari misalnya. sehingga lambat laun akan membentuk watak serta kepribadian anak ketika dia beranjak dewasa. Ini artinya keluarga mempunyai peran yang sangat sentral di dalam membentuk kepribadian dan akhlak anak. seorang anak pada dasarnya akan meniru apa yang dilihat atau dialami pada lingkungannya (behaviorisme/empirisme) di mana semua memori kejadian akan tersimpan dalam pikiran alam bawah sadarnya.

΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. Op Cit. h. h. Cet. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. 20 Rafi’udin. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta. Itu artinya orang 2 M. Dalyono. At-Tahrim: 6) Ayat ini memberikan penjelasan bahwa Islam memerintahkan kita agar menjaga keluarga kita agar tidak terjerumus ke dalam jurang nista dan dosa yang akan mendorong kita dan keluarga masuk ke dalam api neraka. 21 3 . Ke-2. 2001).

di antaranya: pemenuhan kasih sayang. Yang dimaksud pendidikan agama di sini adalah penanaman jiwa agama sejak anak masih kecil dengan jalan membiasakan mereka untuk melakukan sifat-sifat dan kebiasaan yang baik. Dalam bukunya Drs. seperti seks bebas/seks di luar nikah. dan jujur. Dan hal ini hanya dapat diperoleh dari keluarga yang sakinah. Untuk dapat sampai ke arah sana (dalam membentuk keluarga yang sakinah). penyalahgunaan narkoba. Yusak Burhanudin yang berjudul “Kesehatan Mental” dikatakan tentang penyebab timbulnya kenakalan remaja atau anak-anak adalah salah satunya kurangnya pendidikan agama yang diberikan di dalam keluarga (orang tua). ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. benar. selalu berkata terang. misalnya menghargai hak milki orang lain. rasa aman. 86 . perkelahian antar pelajar dan perbuatan-perbuatan lain yang mengarah kepada kriminalitas. keterbukaan. Ke-1. dan dari sanalah akan tumbuh masyarakat yang sejahtera. dan sebagainya. Dari keluarga yang sakinah inilah akan lahir generasi-generasi tumpuan bangsa. Cet.3 tua mempunyai kewajiban memberikan bimbingan dan contoh yang nyata berupa suritauladan kepada anak-anaknya agar mereka hidup selamat dan sejahtera. (Bandung: CV Pustaka Setia. yang jauh dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang. 1999). h. yaitu manusia yang bertakwa. perlindungan. Kesehatan Mental. memaafkan kesalahan orang lain. pengertian dan keakraban terhadap anak. suka menolong.4 4 Yusak Burhanudin.

. Oleh karena itu. si anak tidak mendapatkan pendidikan agama di sekolah karena pelajaran agama dianggap kurang penting dan tidak mempengaruhi kenaikan kelas. Namun. maka mereka akan terhindar dari kelakukan-kelakuan yang buruk. tidak semua orang tua memahami ajaran agama tersebut bahkan memandang rendah ajaran agama itu. Bila hal tersebut terjadi. dapat dilakukan dengan mudah pada anak apabila ia mendapatkan contohcontoh dari orang dewasa disekitarnya terutama dari kedua orang tuanya. menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian si anak. yaitu kasih sayang orang tua.4 Penanaman kebiasaan yang baik yang sesuai dengan jiwa ajaran agama itu. sehingga mereka terperosok dalam kelakuan yang tidak baik. Kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan ajaran agama. orang tua hendaknya mendorong anak-anaknya untuk memahami ajaran agama. Apabila kepribadiannya dipenuhi nilai-nilai agama. Orag tua yang tidak memperhatikan kasih sayang terhadap anaknya dan hanya disibukkan dengan 5 Ibid. Sebagai orang tua haruslah benar-benar memperhatikan hal ini agar penyesalan di kemudian hari tidak menimpa dirinya. Selain itu. anak yang lahir itu membutuhkan kebutuhan pokok kejiwaan yang mana kebutuhan tersebut haruslah dipenuhi. maka si anak akan memiliki hati nurani yang lemah dan dirinya menjadi kosong dari nilai-nilai yang baik.5 Menurut para ahli jiwa.

h.” 7 Hal ini juga seiring dengan suatu nasihat yang mengatakan bahwa “Jika kau mendidik seorang pria berarti kau mendidik seorang manusia. 2001). agama. 18 Athiyah Al-Abrasyi. Karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama untuk pembentukan serta pembinaan kepribadian anak secara utuh.5 urusan duniawi semata akan menyebabkan si anak menyimpang tingkah lakunya. h. Dalam hal ini.6 Oleh karena itu hendaklah orang tua harus dapat menciptakan suasana yang nyaman yang penuh kasih sayang di dalam keluarga demi terciptanya akhlakul karimah terhadap anak. peran ibu sangat penting dalam membentuk karir keberhasilan anaknya sebagai anak yang berguna bagi keluarga. tetapi bila kau mendidik seorang wanita berarti kau mendidik seluruh keluarga. Mendambakan Kelaurga Tentram (Keluarga Sakinah). yang bila engkau persiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat. Dasar-dasar Pokok Pendiidkan Anak dalam Islam. Ke-7.” 8 Rafi’udin. 133 7 6 . Cet. 1997). (Jakarta: Akafa Press. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hafiz Ibrahim yang dikutip oleh Athiyah al-Abrasyi dalam bukunya “Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam”. (Semarang: Intermasa. Ke-1. bangsa dan negara. di samping juga dapat menyebabkan si anak kehilangan pegangan. Cet. yaitu: Ύ˱ ͋ ˴ Ύ˱ ˸ό˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴Ύ˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴΍˴ ˶˲ ˴ ˴ ˸Ϊ˴ ͊ ˵ ˴ Βϴσ Β η Ε Ϊ ΍ ϬΗ Ϊ ΍ Ϋ΍ Δγέ ϣ ϡϷ΍ Artinya: “Ibu adalah suatu sekolah.

h. h. Ke-12. yaitu fitrah sebagai hamba Tuhan yang baik dan fitrah sebagai khalifah fil ardhi. Allah swt.26 9 8 Zaitunah Subhan. setiap anggotanya merasakan suasana damai. Janganlah menikahi orang musyrik karena hal itu sangat dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya: Nur Aeni Iskandar. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. aman. Ibid. Cet.. 7 10 . keluarga sakinah dapat memberi setiap anggotanya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dasar fitrah kemanusiaan. Sejahtera lahir adalah bebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. 8 Ke-2.6 Dalam keluarga yang harmonis (sakinah). Cet. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara). dan sejahtera lahir dan batin. yaitu orang beriman. Sedangkan kesejahteraan batin adalah bebas dari kemiskinan iman. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. 2004). h. Dua kemampuan dasar fitrah kemanusiaan dalam keluarga yang harmonis (sakinah) berkembang menjadi tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan SangPencipta. dan dengan sesama manusia serta lingkungan10 Dalam hal ini hendaknya perlu disadari bawa pembinaan kehidupan keluarga yang sakinah itu haruslah dimulai sejak memilih pasangan atau jodoh.9 Di samping itu. bahagia. (Jakarta: Eska Media). Membina Keluarga Sakinah.

Pada saat berlangsungnya pernikahan kedua mempelai atau salah satunya mengikrarkan diri ke dalam agama yang sama. Bekalilah diri dan juga mereka dengan ketakwaan kepada Allah. maka salah satu pihak kembali ke agama yang dipeluknya. Islam telah mengajarkan agar kita jangan meninggalkan generasi yang lemah. Al-Baqarah: 221) Di dalam kehidupan masyarakat kita sering melihat atau setidak-tidaknya melalui berita atau surat kabar diberitakan bahwa kasus yang sulit untuk didamaikan adalah kasus sengketa suami istri yang berbeda agama. Maka hebatnya Islam dan ajarannya yang jauh-jauh sebelumnya telah membekali umatnya agar jangan menikah dengan pria atau wanita yang tidak seiman. Namun kenyataannya setelah pernikahan tersebut berjalan dalam waktu yang relative lama (bertahun-tahun) dan telah dikaruniai anak. Allah Ta’ala berfirman: . Kemudian agar pembinaan keluarga itu dapat mengoptimalkan pembinaannya kepada si anak sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu…(QS.7 ˸Ϯ˴˴ ˳ ˴ ˶ ˸θ˵ ˸Ϧ˶ ˲ ˸ϴ˴ ˲ ˴ ˶ ˸Ά˵ ˲ ˴ ˴˴˴ ͉ ˶ ˸Ά˵ ϰ͉ ˴ ˶ Ύ˴ ˶ ˸θ˵ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ˶ ˸Ϩ˴ Ύ˴˴ ϟϭ Δϛή ϣ ϣ ή Χ ΔϨϣ ϣ Δϣ΄ϟϭ Ϧϣ ϳ ΘΣ Ε ϛή Ϥ ΤϜ Η ϟϭ ˸Ϣ˵ ˸Θ˴ ˴ ˸ϋ˴ Ϝ ΒΠ ΃ Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Di sini akan ditemui jalan buntu dalam upaya mencari jalan damai.

Dan jika masyarakat itu rusak maka sudah dipastikan bahwa bangsa itu pun akan rusak.8 ΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴ Ύ˱ Ύ˴ ˶ ˱ ͉ ͋ ˵ ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴ ˸Ϧ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴ ϘΘϴ ϓ Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. B. Pembatasan masalah Untuk menghindari perbedaan persepsi serta pengarahan masalah agar tidak meluas. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” ( QS. Karena banyaknya gejala-gejala kemerosotan moral akhlak anak remaja yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. penulis merasa tertarik dan terpanggil untuk menyusun skripsi dengan judul “PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELALUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH” Adapun alasan penulis memilih judul di atas adalah sebagai berikut: 1. Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat di mana jika unit terkecil itu rusak (keluarga) maka rusak pula masyarakat itu. maka permasalahan dalam penelitian ini peneliti batasi sebagai berikut: . Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. An-Nisa: 9) Dari uraian di atas. 2.

Keluarga sakinah dalam mempengaruhi pembentukan akhlakul karimah terhadap anak. meliputi usaha-usaha keluarga berupa cara-cara yang ditempuh dalam pembinaan akhlakul karimah anak. Akhlakul karimah yang dimaksud adalah akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. yakni: 1. Perumusan masalah Agar permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini jelas dan terarah. Untuk mengetahui cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga. maka perlu adanya perumusan masalah. b. C. Cara mendidik anak secara secara Islami dalam keluarga 2. Tujuan dan Manfaat Penelitian Ada pun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. 2. 2.9 a. . Untuk mengetahui sejauhmana keluarga yang harmonis dalam mempengaruhi akhlakul karimah anak.

D. baik sifatnya primer maupun sekunder. hadits dan karangan para ahli dan cendikiawan yang ada hubungannya dengan pembahasan dalam skripsi ini. Metode Penelitian Dalam penelitian karya ilmiah ini. secara teoritis untuk memperkaya khazanah keilmuan khususnya di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan secara praktis penelitian ini manfaatnya adalah sebagai kontribusi pemikiran dalam pembinaan akhlakul karimah terhadap anak khususnya dalam lingkungan keluarga. jenis data yang akan dibutuhkan adalah data kualitatif yang peneliti kumpulkan dari berbagai sumber tertulis. peneliti memakai jenis penelitian library research.10 Mengenai manfaat dari penelitian ini. Oleh karena itu. maupun lingkungan akademis lain dan masyarakat pada umumnya. . Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku pedoman penulisan skripsi. Buku-buku yang dijadikan bahan rujukan adalah Kitab Suci Al-Qur’an. tesis dan disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidatatullah Jakarta tahun 2002.

bab ini terdiri dari latar belakang masalah. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. dalam bab ini akan dipaparkan mengenai pembinaan akhlakul karimah pada anak. aspek-aspek yang dibutuhkan dalam pembinaan akhlak terhadap anak. yaitu: BAB I. manfaat akhlakul karimah dan faktorfaktor yang mempengaruhi akhlakul karimah. tujuan dan kegunaan penelitian. ciri-ciri keluarga yang sakinah. BAB III. metode penelitian dan sitematika penulisan. bab ini mendeskripsikan tentang eksistensi keluarga sakinah yang terdiri dari pengertian keluarga sakinah. pembatasan dan perumusan masalah. dalam bab ini dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan akhlakul karimah yang terdiri dari pengertian akhlakul karimah. yang setiap bab terdiri atas beberapa sub yang saling berkaitan. dasar-dasar pembinaan akhluklul karimah. BAB II. cara membina keluarga yang sakinah. dan keniscayaan lingkungan yang kondusif (sakinah) dalam membina akhlakul karimah . dan contoh keluarga sakinah dalam bingkai sejarah. yang terdiri dari pembinaan akhlak pada anak.11 E. peran keluarga sakinah dalam pembinaan akhlak. BAB IV.

12 serta implikasi positif pembinaan dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) BAB V. ditujukan kepada segala pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan akhlakul kariamah terhadap anak khususnya orang tua yang mempunyai anak. bab ini berisi kesimpulan dari uraian pembahasan yang terdapat dalam bab-bab sebelumnya dan saran-saran yang merupakan kontribusi pemikiran dari penulis. . sebagai penutup.

maka keadaannya disebut akhlak yang baik. Untuk itu akhlak bisa dihasilkan dengan latihan dan perjuangan pada awal hingga akhirnya menjadi watak. Sinonimnya etika dan moral. Hakikat Pembinaan Akhlakul Karimah 1. Bilamana perbuatan-perbuatan yang timbul dari jiwa yang baik. Dengan pengertian akhlak secara etimologis berasal dari bahasa Arab ( ϕϠ ΍ ˲ Ύ˴˸Χ˴ ) bentuk jamak dari mufrodnya ϖϠΧ ˲ ˵˵ ) yang berarti “Budi Pekerti”. Maka dari itu penulis akan memberikan pengertian tentang akhlakul karimah. maka ia tidak disebut dengan akhlak.BAB II AKHLAKUL KARIMAH A. dari mana timbul berbagai perbuatan dengan mudah tanpa menggunakan pikiran dan perencanaan. Apabila keadaan itu tidak mantap dalam jiwa. Etika dari bahasa latin etos yang berarti 13 . Pengertian Akhlakul Karimah Akhlakul karimah merupakan keadaan jiwa yang kokoh. maka keadaannya disebut akhlak yang buruk. Jika yang ditimbulkan kebalikan dari itu.

“wrong”. 14 Ismail Thaib. 1. Mores berarti “kebiasaan. 26 Pius A Partanto. Cet. 4 2 3 4 Nurfarida. also called “ moral philosophy”. Ke-1. h. Sistem Ethika Islam. ini juga disebut “filsafat moral”. Bina Usaha. Ke-1. and of the general principles which justify us inappliying them to anything. Skripsi Pendidikan.2 Ismail Thaib mengatakan bahwa dalam pengertian sehari-hari perkataan “akhlak” umumnya disamakan dengan sopan santun atau kesusilaan.”1 Dalam kamus ilmiah. (Surabaya: Arkola. h. “buruk”. Cet. 2000). Risalah Akhlak. (Jakarta: Perpustakaan UIJ.el. Cet. (Jakarta: Pustaka Panjimas. “seharusnya”. etc. right”. “bad”. Dan moral berasal dari bahasa latin juga. 4 Adapun pengertian akhlak menurut terminology (istilah) dapat disebutkan berikut beberapa pengertian dari pada ahli ilmu. “ought”. “:benar”. (Yogyakarta: CV. “Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Aktifitas Pengajian Sekolah”. akhlak diartikan budi pekerti. “good.. Ke-3.1994). Menurut Imam Ghazali ˶ Ύ˴ ˸ϓ˴ ˸΍ ˵ ˵ ˸μ˴  Ύ˴ ˸Ϩ˴  ˲ ˴ ˶ ΍˴  ˶ ˸ϔ͉ ϟ΍ ϰ˶  ˳ ˴ ˸ϴ˴  ˸Ϧ˴  ˲ ˴ Ύ˴ ˶ ϝ ˵ ό ϻ έΪ Η Ϭ ϋ ΔΨγ έ β Ϩ ϓ ΔΌ ϫ ϋ Γέ Βϋ ˳ ˴ ˶ ˵ ˴ ˳ ˸Ϝ˶ ϰ˴˶˳ ˴ Ύ˴ ˵ ˸ϴ˴ ˳ ˸δ˵ ˴ ˳ ˴˸Ϯ˵ ˵ ˶ Δϳϭέϭ ή ϓ ϟ΍ ΔΟ Σ ή Ϗ ή ϳϭ Δϟ ϬδΑ 1 Rahmat Djatmika. et. Kamus Ilmiah Populer. Artinya: “Ilmu akhlak adalah studi yang sistematik tentang tabi’at dari pengertian-pengertian nilai “baik”. h.3 Di dalam Ensyiklopedia Britannica: “Ethis is the syistimatic study of the nature of value concept.14 kebiasaan. dan sebagainya dan tentang prinsip-prinsip yang umum yang membenarkan kita dalam mempergunakannya terhadap sesuatu. 1996). “salah”. 1984). tingkah laku atau perangai seseorang. h. 11 .

81 Nurfarida. Ahklak Seorang Muslm.”5 2. (Semarang: Wicaksana. (Mesir: Darul Ma’arif. Al-Mu’jam Al-Wasith. Ibnu Maskawaih merumuskan akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong untuk melakukan suatu perbuatan tanpa dipikir dan diteliti.”6 3. baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Cet. Ethika (Ilmu Akhlak).Cit. h. 1985). Ahmad Amin menyebutkan bahwa : “Setengah dari mereka mengartikan akhlak ialah kebiasaan kehendak.15 Artinya: “Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macammacam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Ke-2.7 4. (Jakarta: Bulan Bintang. 56 Ibrahim Anis. Menurut Ibrahim Anis ˳ ˸ϴ˴ ˸Ϧ˶ ˵ Ύ˴ ˸ϋ˴ ˸΍Ύ˴ ˸Ϩ˴ ˵ ˵ ˸μ˴  ˳ ˴ ˸΅˵ ˴ ˲ ˴ ˶ ΍˴ ˶ ˸ϔ͉ ˶ϟ˲ Ύ˴ ή Χ ϣ ϝ Ϥ Ϸ Ϭ ϋ έΪ Η Δϳ έϭ ΔΤγ έ β ϨϠ ϝ Σ ˳ ˴ ˶ ˵ ˴ ˳ ˸Ϝ˶ ϰ˴˶˳ ˴ Ύ˴ ˶ ˸ϴ˴ ˸Ϧ˶ ˷ ˴ ˸ϭ˴ Δϳϭέϭ ή ϓ ϟ΍ ΔΟ Σ ή Ϗ ϣ ˳ η ΍ ή Artinya: “ Sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan. 1972). 62 8 . h. Berarti kehendak itu apabila membiasakan sesuatu maka disebut akhlak. 1975).. h. h. Op.”8 5 6 7 Al-Ghazali.12 Ahmad Amin.

Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan itu mempunyai kekuatan. Akhlak ini disebut akhlak mahmudah atau hasanah. yakni akhlak yang bagus atau baik. gabungan dari dua kekuatan itu menimbulkan yang lebih besar inilah yang bernama “akhlak”. Etika terhadap Nabi . Jadi kalau pengertian akhlak digabungkan dengan pengertian karimah yang artinya mulia. di antaranya adalah: 1. sedangkan kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga melakukannya.16 Kehendak itu sendiri itu adalah beberapa keinginan manusia setelah bimbang. Menyampaikan amanat 3. Ihsan 2. Di dalam Al-Qur’an kata-kata akhlakul karimah mengandung beberapa pengertian. maka arti akhlakul karimah adalah perilaku manusia yang mulia atau perbuatan- perbuatan yang dipandang baik atau mulia yang dibiasakan dan perbuatan yang dipandang baik atau mulia oleh akal serta sesuai dengan ajaran Islam (syara’) yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Etika terhadap Allah 4. Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut bahwa akhlak adalah suatu keadaan atau kebiasan atau kehendak seseorang yang dapat mendorong melakukan perbuatan baik atau perbuatan buruk tanpa berpikir terlebih dahulu.

Sabar 21. Berbuat baik 12. Hikmah 20. Lemah lembut 27. Cinta karena Allah 18. Bersabar 33. Menjaga rahasia 19. Mendamaikan 7. Tawadhu’ 17. Mengadu kepada Allah 31. tolong-menolong 14. Infaq 9. Bersyukur 32. Menyempurnakan takaran dan timbangan 11. Lapang dada 30. Zuhud 28. Ketenangan 29. Berserah diri (tawakal) 15. Mematuhi pemimpin .17 5. Rendah hati dan khusyuk 13. Malu 22. Mendahulukan kepentingan orang lain 10. Ridha 26. Takwa 16. Istiqamah 6. Jujur 34. Kasih sayang 25. Inabah (taubat) 8. Takut kepada Allah 23. Barharap (raja’) 24.

Sebaliknya apa yang buruk menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah berarti itu tidak baik dan harus dijauhi. pujian 41. Kepuasan (qana’ah) 39. com.9 2. Waspada 43.. Menurut pendapat Mahmud Yunus bahwa: “Pokok-pokok akhlak dalam Islam ialah Al-Qur’an.18 35. Akhlak-akhlak di dalam Al-Qur’an mengatur perbuatan manusia 9 buka www. Ditanyakan orang kepada ‘Aisyah: “Apakah akhlak Nabi Muhammad saw. Memuliakan dan menerima tamu 40. Nasihat 44. Memaafkan yang bersalah 38. Keyakinan. Dasar-dasar Pembinaan Akhlakul Karimah Dalam agama Islam yang menjadi dasar atau alat pengukur yang menyatakan bahwa sifat-sifat seseorang itu dapat dikatakan baik atau buruk adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. tentang akhlakul karimah menurut Al-Qur’an . Siaga 42. 2004. Apa yang baik menurut Al-Qur’an atau asSunnah itulah yang biak untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan seharihari. Adil 36. alqur’an digital.? Jawabnya akhlak Nabi Muhammad saw ialah AlQur’an. Menjaga kehormatan diri 37.

11 Jika ada orang yang menjadikan dasar akhlak itu adat kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat maka untuk menentukan atau menilai baikburuknya adat kebiasaan itu.10 Menurut Athiyah Al-Abrasyi. 11 12 . kemauan yang keras.3. dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw dalam kesehariannya dengan demikian kita pun patut mematuhi ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw. tahu arti kewajiban dan pelaksanaannya.19 terhadap dirinya sendiri dan perbuatan manusia terhadap orang lain atau masyarakat. jiwa yang bersih. harus dinilai dengan norma-norma yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. beliau mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral. “Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Aktifitas Pengajian Sekolah”. akhlak yang tinggi. dan tahu membedakan yang baik dan yang buruk. 2000). menghormati hak-hak yang tinggi. Skripsi Pendidikan.d. h. Ali Hasan. Nurfarida.12 Pribadi Nabi Muhammad adalah contoh yang paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membentuk kepribadian. 10 11 Ibid . 1983). 13. Tuntunan Akhlak. Begitu juga sahabat-sahabat beliau yang selalu mempedomani Al-Qur’an. 14 M. t. Cet. (Jakarta: Perpustakaan UIJ. h. cita-cita yang benar. dan kalau tidak harus ditinggalkan. baik laki-laki maupun perempuan. Ke. h. (Jakarta: Bulan Bintang. kalau sesuai terus dipupuk dan dikembangkan.

20 Nabi Muhammad saw bersabda: ˵ ΍ϰ͉˴ ˶ ΍˵ ˸Ϯ˵ ˴ ˴ Ύ˴ ˴ Ύ˴ ˵ ˸Ϩ˴ ˵ ΍˴ ˶ ˴ ˴ ˴ ˸ϳ˴ ˵ ˸ϲ˶ ˴˸Ϧ˴ Ϳ Ϡλ Ϳ ϝ γέ ϝ ϗ ϝ ϗ Ϫ ϋ Ϳ ϲοέ Γή ήϫ Α΍ ϋ ˶ ΍ ˴ Ύ˴ ˶  Ύ˴ ˵ ˴ ˸ό˴  ΍˸Ϯ͊˶ ˴  ˸Ϧ˴ ˶ ˴ ˴ ˸ϴ˴   ˸Ϣ˵ ˸ϴ˶  ˵ ˸ϛ˴ ˴  ˴ ͉˴ ˴  ˶ ˸ϴ˴˴ Ϳ Ώ Θϛ ϤϫΪ Α ϠπΗ ϟ ϦϴΌ η Ϝ ϓ Ζ ήΗ ϢϠγϭ Ϫ Ϡϋ ϰΘ͉ ˵ ˴ Ϩγ ϭ Artinya: “Dari Abu Hurairah RA.R. . Berkata: Rasulullah saw bersabda: Aku tinggallkan untuk kamu dua hal yang kamu tidak akan sesat sesudahnya. Dengan demikian dasar akhlakul karimah adalah ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.” (H. bahwa yang menjadi dasar ideal bagi seluruh aktifitas manusia dalam kehidupannya adalah Al-Qur’an dan AsSunnah Nabi Muhammad saw. Hakim). Dari keterangan hadits di atas jelaslah. baik dalam hubungan kepada Allah maupun sesama makhluk. ialah Kitab Allah Sunnahku. karena keduanya adalah kitab undang-undang yang paling sempurna memuat petunjuk-petunjuk praktis untuk menjadi pedoman bagi umat Islam.

(Surabaya: Terbit Teran). 283 13 . : Ia berkata kepada Nabi saw. : “Sesungguhnya si fulan berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. yang selalu menyakiti tetangga dengan mulutnya.” 13 Al-Imam Al-Ghazali. Kata Fudhail ra. dan dia termasuk penghuni neraka. (terj.” Nabi saw. Manusia yanmg telah tiada sifat kemanusiaannya adalah sangat berbahaya daripada binatang buas.21 3. Cet. Manfaat Akhlakul Karimah Akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang paling penting sekali. baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa. Imam Ghazali dalam bukunya “Mukasyafatul Qulub” menyatakan bahwa: Ada seorang lelaki datang kepada Nabi saw.) Fatihuddin Abdul Yasin. dari judul asli Mukasyafatul Qulub. namun dia wanita yang akhlaknya jelek. Apabila akhlaknya baik maka bangsanya akan baik pula dan sebaliknya bila akhlak telah hancur maka hancur pula bangsa itu. Rahasia Ketajaman Mata Hati. ya Rasul!?” Nabi saw menjawab : “Akhlak yang mulia”. Manusia tanpa akhlak yang mulia akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai mahluk Allah yang paling mulia dan meluncur turun kepada martabat hewani. Sebab suatu bangsa akan maju atau hancur sangat tergantung dari akhlak masyarakatnya. dan bertanya: “Apa yang disebut agama. Ke-1. bersabda : “Untuk dia tidak ada kebaikan. h. Akhlak merupakan sesuatu yang penting dan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

begitu juga suatu masyarakat atau bangsa akan mengalami proses kehancuran bila akhlak mulia telah tiada. Selamat hidup di dunia dan akhirat.173-175 . yakni akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah dikerjakan. maka kehancuran pun akan segera datang. 2. Cet. Akhlak Tasawuf. Ke-5. (Jakarta: PT. Memperkuat dan menyempurnakan agama. Menghilangkan kesulitan. h. yaitu pahala yang berlipat ganda dan kehidupan yang lebih baik.22 Kutipan tersebut di atas dengan jelas berisikan manfaat dan pentingnya akhlakul karimah (akhlak mulia) yang dalam hal ini melakukan amal saleh disertai dengan keimanan dijanjikan oleh Allah swt. Hal ini menggambarkan bahwa manfaat dari akhlakul karimah itu adalah keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat. Mempermudah perhitungan amal di akhirat 3. Raja Grafindo Persada. 4. 2003). Keberuntungan atau manfaat lain dari akhlakul karimah di antaranya adalah: 1. Pribadi seseorang tidak punya arti jika akhlak karimah telah sirna dari dirinya. Penyair Syauqi Bei mengatakan: ΍˸Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϣ˵ ˵ ˴ ˸Χ˴΍˸Ϯ˵ ˴ ˴ ΍˸Ϯ˵ ˵ ˸ϥ˶˴ ˸Ζ˴ ˶ ˴ Ύ˴ ˵ ˴ ˸Χ˴ ˸˴˴ ˵ ˴ ˵ ˸΍Ύ˴ ͉ ˶ ΒϫΫ Ϭϗϼ ΍ ΒϫΫ Ϥϫ ΍ϭ ϴϘΑ ϣ ϕϼ ϻ΍Ϣϣϻ Ϥϧ΍ 14 Abudin Nata.14 Sebaliknya jika akhlak yang mulia itu sirna dan berganti dengan akhlak yang tercela (akhlak madzmumah).

lingkungan tempat ia bermain.”15 4. bila akhlak mulia telah lenyap punahlah bangsa itu. Oleh karena itu pembinaan akhlak anak harus dilaksanakan secara terus-menerus dan dilakukan sedini mungkin. Faktor dari dalam yakni yang dibawa sejak lahir dan ini merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir. Di atas telah diuraikan bahwa akhlakul karimah merupakan perbuatan atau perilaku seseorang yang menggambarkan budi pekerti baik. dan yang sangat dominan dalam pembentukan dan pembinaan akhlak adalah pengaruh dari luar. atau lingkungan sekolah. Nurfarida. maupun di lingkungan di mana dia bermain. yakni keluarga. dan bagi siswa sudah barang tentu termasuk lingkungan sekolah. selama berakhlak mulia. (Jakarta: Perpustakaan UIJ 2000). Anak akan memiliki akhlak atau budi pekerti yang baik apabila dididik atau mendapat pendidikan budi pekerti yang baik atau diberi contoh yang baik. “Pembinaan Akhlak Melalui Aktivitas Pengajian Sekolah”. 15 . Skripsi Pendidikan. h. b. Baik disaat ada dalam lingkungan keluarga. 17.23 Artinya: “Hanya saja bangsa itu kekal. Faktor dari luar misalnya pengaruh lingkungan keluarga. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Pembinaan Akhlak Perbuatan dan kelakuan yang berbeda di antara manusia pada prinsipnya ditentukan dan dipengaruhi oleh dua faktor: a. t.d. dalam hal ini akhlak tidak bisa lepas dari 2 faktor di atas.

hanya kepada-Ku-lah kamu kembali. dengan uraian sebagai berikut:. beryukurlah pada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. dan pendidikan.24 Terutama penanaman pendidikan budi pekerti yang harus ditanamkan sejak dini (sejak kecil) seperti halnya Luqmanul Hakim berwasiat pada putranya: Surat Luqman ayat13: ˴ ˸ή͋ ϟ΍ ͉ ˶ ˶ ͉ϟΎ˶  ˸ϙ˶ ˸θ˵  Ύ˴ ͉ ˴ ˵ Ύ˴  ˵ ˵ ˶ ˴  ˴ ˵ ˴  ˶ ˶ ˸ΑΎ˶ ˵ Ύ˴ ˸Ϙ˵ ˴ Ύ˴  ˸Ϋ˶˴  ϙ θ ϥ· ϪϠ Α ή Η ϟ ϲϨΑ ϳ Ϫψόϳ Ϯϫϭ ϪϨ ϟ ϥ Ϥ ϟ ϝ ϗ ·ϭ . Luqman:14) Maka dari ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa akhlak (budi pekerti yang baik) pada anak bisa dimiliki melalui pendidikan yang baik. Ϣ ψϋ Ϣ ψϟ ˲ ϴ˶ ˴ ˲ ˸Ϡ˵ ˴ Artinya: “Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya.” (QS. azam/kemauan yang keras.” (QS. . keturunan. “Hai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar. Adapun yang dapat mempengaruhi akhlak adalah insting (naluri). ή μϤ ϲϟ· Ϛ Ϊϟ Ϯϟϭ ϟ Ϝ ϥ΃ Ϧ ϣ ϋ ˵ ϴ˶ ˴ ˸ϟ΍͉ ˴˶˴ ˸ϳ˴ ˶΍˴ ˶˴ ϲ˶˸ή˵ ˸η΍˶ ˴˶ ˸ϴ˴ Ύ˴ Artinya: “Dan Kami perintahkan pada manusia berbuat baik kepada dua orang tua ibu dan bapaknya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah dan bertambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Luqman:13) Dan di dalam Firman Allah Ta’ala yang lain: ϲ˶  ˵ ˵Ύ˴ ˶ ˴  ˳ ˸ϫ˴  ϰ˴˴  Ύ˱ ˸ϫ˴  ˵ ͊ ˵ ˵ ˸Θ˴˴ ˴  ˶ ˸ϳ˴ ˶΍˴ ˶  ˴ Ύ˴ ˸ϧ˶˸ϟ΍ Ύ˴ ˸ϴ͉ ˴ ˴ ϓ Ϫϟ μϓϭ Ϧ ϭ Ϡϋ Ϩ ϭ Ϫϣ΃ Ϫ ϠϤΣ Ϫ Ϊϟ ϮΑ ϥ δ Έ Ϩ λϭϭ .

Menurut Hamzah Ya’qub sudah merupakan sunnatullah yang berlaku pada alam ini sehingga dapat diketaui bahwa cabang itu menyerupai pokoknya dan pokok menghasilkan 16 Hamzah Ya’qub. Contoh tersebut di atas dapat memberi kesan bahwa segala pekerjaan jika dilakukan secara berulang-ulang dengan penuh kegemaran akan menjadi kebiasaan.17 2. h. Cet. mengerjakan shalat tahajud. Sedangkan menurut Hamzah Ya’qub bahwa instink adalah “Setiap kelakuan manusia lahir dari suatu kehendak yang digerakkan oleh naluri (instink). Diponogoro.25 1. berjuang dan naluri bertuhan. 57 Ibid. 61 17 . Di antara naluri satu dan yang lainnya berbeda dan mengakibatkan daya pendorong dan daya kesanggupan berbeda. h. Ethika Islam. di antaranya naluri makan. berjodoh. Keturunan Keturunan adalah cabang yang menyerupai pokok atau yang menyebabkan anak menyerupai orang tuanya. bangun tengah malam. (Bandung: CV. Yang dimaksud dengan kebiasaan adalah perbuatan-perbuatan yang selalu diulang-ulang sehinga menjadi mudah dikerjakannya contoh: merokok. ke-ibu-bapak-an. Instink (Naluri) Instink menurut Rahmat Djatmika termasuk salah satu hidayah yang ada pada manusia. Ke-6. instink suatu kepandaian yang dimilki mahluk Tuhan tanpa belajar. 1993). minum minuman keras.16 Menurut Hamzah Ya’qub salah satu faktor penting di dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan atau adat kebiasaan. yang merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir dan lebih lanjut Hamzah Ya’qub menerangkan bahwa naluri yang ada pada manusia adalah pendorong tingkah laku.

26 yang serupa atau hampir serupa dengannya hal ini terjadi pada sejumlah mahluk. lingkungan organisasi. lingkungan kehidupan ekonomi dan lingkungan pergaulan yang bersifat umum dan bebas. lingkungan sekolah. Menurut Rachmat Djatmika kekuatan kemauan dapat mengarah kepada melaksanakan sesuatu atau juga mengarah kepada menolak atau meninggalkan sesuatu. lingkungan pekerjaan. 3. h. h. 46 19 . misalnya tumbuh-tumbuhan. Demikian faktor lingkungan yang dipandang cukup menentukan pematangan watak dan tingkah lau seseorang. hewan dan pada manusia itu sendiri. Selain itu Hamzah Ya’qub menyatakan bahwa kemauan atau kehendak ini merupakan faktor penting di dalam akhlak karena kehendak yang mendorong manusia berkelakuan dan berakhlak. dari kehendak itulah menjelma niat yang baik dan yang buruk yang selanjutnya akan menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan.18 Lingkungan pergaulan menurut Hamzah Ya’qub adalah lingkungan keluarga. 66 Ibid. Azam/Kemauan Kemauan atau azam merupakan kekuatan atau dorongan yang menimbulkan manusia bertingkah laku.19 18 Ibid.

bahkan naluri dan bakat seseorang dapat disalurkan atau diarahkan dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Ke-5. Op.21 Dari keterangan tersebut di atas dapat diketahui bahwa dalam proses pembinaan akhlak itu terkait dengan dengan hal-hal di atas baik itu datangnya 20 M. moral dan fisik (jasmaniah) yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi. Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak karena pendidikan turut mematangkan kepribadian manusia sehingga tingkah lakunya sesuai dengan pendidikan yang lazim diterima meliputi pendidikan formal. h. hal ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak karena dengan pendidikan. h. Pendidikan merupakan tuntunan dan pengajaran yang diterima seseorang dalam membina kepribadian.27 4. Cit. Ilmu Pendidikan Islam. Pendidikan Dalam bukunya Prof. 86 21 .10 Hamzah ya’qub. 2000). seseorang akan mengetahui perbuatan baik dan perbuatan buruk. non formal dan informal. H. Arifin.”20 Pendidikan yang pada dasarnya adalah upaya pembinaan jasmani dan rohani kepada anak menuju terbentuknya kepribadian yang utama. (Jakarta: Bumi Aksara. M. Cet. Sementara itu pergaulan dengan orang-orang baik dapat dimasukkan sebagai pendidikan tidak langsung karena pengaruh pula terhadap kepribadian. Arifin yang berjudul “Ilmu Pendidikan Islam” dikatakan bahwa “Pendidikan adalah latihan mental.

dan dilakukan secara kontinue (terusmenerus) agar dapat melekat pada setiap individu terutama pada saat usia prasekolah dan masa-masa usia sekolah .28 dari diri sendiri atau pun dari luar.

Membina Keluarga Sakinah ( Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Ke-2.”2 Sedangkan Ali Akbar memberikan pengertian keluarga lebih luas lagi. 75 29 .BAB III KONSEPSI KELUARGA SAKINAH A. 1 2 Abu Ahmadi.1 Sedangkan menurut Abu Ahmadi dalam bukunya “Pengantar Sosiologi” mengatakan bahwa “keluarga adalah suatu persekutuan hidup terkecil yang terdiri dari suami. Pengantar Sosiologi (Semarang: Ramadany. h. kemudian berkembang dengan lahirnya anak. Pengertian Keluarga Sakinah 1. yaitu pria dan wanita. 2004). 1975). yaitu kesatuan kemasyarakatan (sosial) berdasarkan hubungan perkawinan atau pertalian darah. h. istri dan anak-anak.” 1 Zaitunah Subhan. Pengertian Keluarga Kata “Keluarga” (Ensiklopedi Indonesia) menurut makna sosiologi (family Inggris). Cet. guna membangun rumah tangga yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian. yaitu : “Keluarga adalah susunan terkecil dari masyarakat kita yang pada mulanya terdiri dari dua manusia. yang hidup dalam ikatan pernikahan.

Keluarga inti atau keluarga batih (primary group) terdiri atas bapak. Hj.30 Dr. Orang yang ada dalam naungan organisasi atau sejenisnya. tanpa anak. batih. suami-istri. Pasangan yang menikah maupun tidak. matrilineal artinya menurut garis ibu. c. h. Kelompok yang terdiri dari seorang bapak dan ibu yang menikah atau tidak. Masyarakat terkecil berbentuk keluarga atau lainya.. . b. dan anak. yang cerai ataupun yang ditinggal mati bersama anakanaknya. Dalam kehidupan sehari-hari kata keluarga dipakai dengan pengertian antara lain: a. d. keluarga Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah. d. kaum kerabat. Op. Kelompok anak yang ditinggalkan orang tua. 2 . ibu). dan patrilineal artinya menurut garis bapak. Zaitunah Subhan menyimpulkan pengertian keluarga menjadi: a. Sanak saudara.Cit. ibu. Beberapa sanak saudara dengan anak-anaknya yang rumah tangga.3 Dalam pertalian keluarga atau keturunan dapat diatur secara parental atau belateral. e.4 3 Zaitunah Subhan. anak. b. c. Orang seisi rumah. artinya menurut orang tua (bapak. misalnya. Susunan kekeluargaan ini bertalian dengan hakikat kedudukan perkawinan dalam tatanan masyarakat. di sana terjalin hubungan kekeluargaan.

surat Al-Fath: 4. Hj. Cet. 2. 2004). (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Membina Keluarga Sakinah. Jadi kesejahteraan dan kebahagian suatu masyarakat berpangkal pada masyarakat terkecil itu. 3 6 . ibu dan anak. Ke-2. yaitu surat Al-Baqarah: 248. et. Cet. Ke-1. dengan kata lain. Pengertian Sakinah Kata sakinah berarti tentram.18. 689 Zaitunah Subhan. dan makna keluarga di sini juga mempunyai arti adalah unit terkecil dari masyarakat. dan 26. (Surabaya: Arkola.31 Dari beberapa definisi tersebut. surat AtTaubah: 26 dan 40. yang penulis maksud keluarga di sini adalah keluarga yang terdiri dari ayah. Kamus Ilmiah Populer.5 Sedangkan Dr. masyarakat merupakan kumpulan keluarga-keluarga. damai. h. h. 3 5 Pius A Partanto. Kata ini disebutkan sebanyak enam kali dalam Al-Qur’an.el. 1994).6 4 Ibid. ketenangan. Baik dan buruknya suatu masyarakat adalah tergantung pada baik buruknya masyarakat kecil itu (keluarga). tidak akan ada masyarakat bila tidak ada keluarga. h. Zaitunah Subhan mengatakan kata sakinah yang berasal dari bahasa Arab mempunyai arti “ketenangan dan ketentraman jiwa”.

maka muncul beberapa pengertian. dan merupakan keyakinan berdasarkan (ain al-yaqin). cobaan. Al-Isfahani (ahli fiqh dan tafsir) mengartikan sakinah dengan tidak adanya rasa gentar dalam menghadapi sesuatu. bahagia. ataupun musibah. sakinah adalah sikap jiwa yang timbul dari suasana ketenangan dan merupakan lawan dari kegoncangan batin dan kekalutan. Firman Allah dalam Surat Ar-Ruum. Sehingga sakinah dapat juga dipahami dengan “sesuatu yang memuaskan hati”.. yang menyatakan bahwa tujuan dari pernikahan itu adalah mencari ketenangan dan ketentraman yang Allah tanamkan dalam jiwa suami istri itu akan mawaddaah wa rahmah (cinta dan kasih sayang). Menurut Al-Jurjani (ahli bahasa). rintangan. Dari sejumlah ungkapan yang diabadikan dalam Al-Qur’an tentang sakinah . Dan munculnya istilah keluarga sakinah adalah berdasarkan Firman Allah Surat Ar-Ruum: 21. Menurut Rasyid Ridha. sebagai berikut: a. c.7 b. dan sejahtera lahir dan batin serta tidak gentar ketika mengahadapi badai ujian yang terjadi di dalam rumah tangga atau keluarga. sakinah adalah adanya ketentraman dalam hati pada saat datangnya sesuatu yang tidak diduga.32 Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa sakinah itu didatangkan ke dalam hati para nabi dan orang-orang yang beriman agar tabah dan tidak gentar dalam menghadapi tantangan. 21. ujian. Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud keluarga sakinah itu adalah keluarga yang tenang. berbunyi: 7 Ibid. tentram. dibarengi satu nur (cahaya) dalam hati yang memberi ketenangan dan ketentraman pada yang menyaksikannya.. h. 3-4 .

33 Artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya. 7 . saling beradaptasi (menyesuaikan diri). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. c. di antaranya adalah: 1. b. setiap anggota merasakan suasana tentram. damai. Sedangkan sejahtera batin adalah bebas dari kemiskinan iman. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai kehidupan dalam keluarga dan masyarakat.(QS. 8 Ibid.8 B. d. Terwujudnya kesadaran akan kewajiban sebagai suami-istri Kewajiban-kewajiban suami-istri antara lain adalah: a. Ar-Ruum: 21) Dalam keluarga sakinah. dan sejahtera lahir dan batin. Sejahtera lahir adalah terbebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. bahagia. Saling menghormati dan mengembangkan sikap sopan santun. h. dan dijadikannya di antara kamu rasa kasoih dan saying. Menghormati orang tua serta keluarga kedua belah pihak. Memupuk rasa cinta dan kasih sayang. bersikap setia sekata. Saling pengertian serta bergaul secara baik. supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dialah menciptakan untukmu istri dari jenismu sendiri. Ciri-ciri Keluarga Sakinah Ada beberapa hal yang menjadi ciri-ciri atau tanda-tanda terbentuknya karakteristik keluarga sakinah.

Saling memlihara kepercayaan dan menyembunyikan rahasia kedua belah pihak. Saling menerima kenyataan g.9 2. 7 . Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). f.34 e. Saling berpartisipasi untuk kemajuan bersama d. Saling mencintai e. h. Selalu bermusyawarah10 Rafi’udin. Bertindak secara matang serta penuh pemikiran dan tidak terbawa emosi dalam menghadapi serta memecahkan masalah. Saling memaafkan c. Ke-1. Terwujudnya hubungan suami-istri secara harmonis Agar hubungan antara suami istri dapat berjalan secara harmonis diperlukan usaha-usaha antara lain seperti: a. 6 10 9 Ibid. h. g. (Semarang: Intermasa. Saling menyesuaikan diri f. Sabar serta ridha terhadap kekurangan dan kelemahan kedua belah pihak. Saling pengertian b. 2001). Senantiasa melaksanakan musyawarah untuk kepentingan bersama. Cet. h.

35

3. Terwujudnya hubungan yang baik antara anggota keluarga serta lingkungan Secara makro, keluarga itu tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak, akan tetapi juga menyangkut hubungan persaudaraan yang lebih besar, yaitu hubungan antara keluarga maupun hubungan dengan masyarakat sekitar. Adapun tentang hubungan antar anggota keluarga, hubungan tersebut haruslah terjalin secara baik, yaitu hubungan baik terhadap famili kedua belah pihak, memelihara hubungan baik, terhadap famili ini sesuai dengan yang diisyaratkan oleh Allah di dalam firman-Nya :

Artinya : “Bertakwalah kamu semua kepada Allah yang kamu selalu meminta kepada-Nya, dan peliharalah hubungan famili (silaturahim)”. (QS. An Nisaa’ : 1) Sedangkan hubungan dengan lingkungan masyarakat, merupakan keharusan dan haruslah secara baik pula. Perlu diketahui bahwa masyarakat, khususnya tetangga, adalah orang-orang yang terdekat dan umumnya para tetangga itu adalah orang-orang yang pertama kali mengetahui serta dimintai pertolongan. Oleh karena itu dianggap aneh apabila hubungan dengan tetangga ini tidak mendapatkan perhatian serius.

Ύ˱ ϴ˶ ˴ ˸Ϣ˵ ˸ϴ˴˴ ˴ Ύ˴ ˴ ͉ϟ΍͉ ˶˴ Ύ˴ ˸έ˴˸ϟ΍˴ ˶ ˶ ˴ Ϯ˵˴ Ύ˴ ˴ ϱ˶ ͉΍˴ ͉ϟ΍΍Ϯ˵ ͉ ΍˴ Β ϗέ Ϝ Ϡϋ ϥ ϛ ϪϠ ϥ· ϡ Σ ΄ ϭ ϪΑ ϥ ϟ˯ δΗ άϟ ϪϠ ϘΗ ϭ

36

4. Terciptanya nilai-nilai agama dalam keluarga Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang benar-benar

memperhatikan nilai-nilai ke-Islaman di dalam keluarga. Salah satu yang termasuk di dalam lingkup tersebut adalah mengenai makanan, minuman serta kebutuhan lain yang diperoleh secara halal. 11 Di samping itu dalam rangka mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera, dalam hal makanan juga harus diperhatikan gizinya. Makanan yang bergizi dapat menyehatkan seluruh anggota keluarga. Islam telah mengajarkan kepada umatnya agar masing-masing keluarga mewariskan keturunan yang baik serta sehat. 12 Hal ini sesuai denga firman Allah: 

˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴  Ύ˱ Ύ˴ ˶  ˱ ͉ ͋ ˵  ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴  ˸Ϧ˶  ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴  Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ ϘΘϴ ϓ
Artinya : Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Maka hendaklah mereka

11

Rafiudin, Op. Cit., h. 10
12

Ibid

37

bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.(QS. An Nisaa: 9) Selayaknya juga seorang ayah membiasakan anaknya untuk tidak berlebihan dalam hal ini, di samping juga mengajarkan kepada mereka untuk tidak terlalu sedikit makan. Hal ini karena kebanyakan makan akan menyebabkan dispepsi (kerusakan alat pencernaan). Sedangkan terlalu sedikit makan menyebabkan hal yang lebih berbahaya daripada dispepsi.13 5. Terciptanya keakraban orang tua dengan anak Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dengan Al-Qur’an sebagai dasarnya dan hadits sebagai penjelasannya, telah memberi pedoman jelas kepada orang tua sepanjang zaman tentang langkah dan cara yang praktis dan mudah untuk membina keakraban orang tua dan anak. Ada tiga langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan keakraban antara orang tua dan anak. a. Langkah orang tua 1. Memberi salam 2. Menyambut anak kedatangan anak dengan senang hati 3. Memanggil dengan panggilan kesayangan

Abdul Hakam Ash-Sha’idi, Menuju Keluarga Sakinah, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2001), Cet. Ke-1, h. 122

13

Menyenangkan orang tua 4.14 Hj. Makan bersama 2. Melibatkan diri dalam permainan anak 6. (Bandung: Irsyad Baitus Salam. 2001). Langkah anak 1. h. Mengunjungi orang tua sakit c. Cet Ke-1. saling mengunjungi. Memberi hadiah. D/71/1999 Pasal Muhammad Thalib. Berkata santun dan dengan suara rendah 3. Langkah bersama 1. Memanggil orang tua dengan sebutan keayangan 2. b. 7-9 14 . Menegur dan membetulkan kesalahan dengan lembut 7. Mengajak berdialog 5. 43 Langkah Mengakrabkan orang tua dengan anak. Zaitunah Subhan membagi keluarga sakinah menjadi 4 kriteria yang sesuai Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah sesuai dengan SK Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji No.38 4. Berjalan bersama-sama 3.

tetapi belum mampu menjadi suri tauladan bagi lingkungannya. shalat. 3. Keluarga Sakinah III. Tetapi belum mampu mengahayati nilai-nilai keimanan. 4.39 4. dan akhlak mulia. papan. 2. ketakwaan. Keluarga Sakinah III. bimbingan keagamaan dalam keluarga. dan sebagainya. dan Keluarga Sakinah III plus: 1. tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya. yaitu keluarga yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan. dan belum mampu mengikuti interaksi sosial keagamaan dengan lingkungannya. Keluarga Pra Sakinah. dan sosial psikologis. amal jariyah. fitrah. menabung. Keluarga Sakinah II. sandang. . yaitu keluarga-keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan materil secara minimal. seperti keimanan. tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan materil (basic need) secara minimal. yang terdiri dari keluarga Pra Sakinah. wakaf. seperti kebutuhan akan pendidikan. Keluarga Sakinah I. puasa. serta pengembangan keluarganya. yaitu keluarga-keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya dan juga mampu memahami pentingnya pelaksanaan ajaran agama serta mampu mengadakan interaksi sosial keagamaan dengan lingkungannya. pangan. dan kesehatan. Keluarga Sakinah I. infak. yaitu keluarga-keluarga yang dibentuk melalui perkawinan yang sah. ketakwaan. zakat. Keluarga Sakinah II.

ketakwaan. Keluarga Sakinah III plus. dan pengembangannya.15 Dengan ciri-ciri atau kriteria program pembinaan keluarga sakinah di atas. serta dapat menjadi suri tauladan bagi lingkungannya.40 5. kebutuhan sosial psikologis. pendidikan masyarakat. 11-12 . rumah yang indah dengan segala peralatannya. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. dapat diketahui peningkatan upaya masyarakat dalam pengamalan nilainilai keimanan. Membina Keluarga sakinah. dan akhlak mulia melalui pendidikan keluarga. karena keduanya (suami dan istri) merupakan mitra sejajar dalam mencapai cita-cita keluarga sakinah. dan pendidikan formal untuk mencapai kemakmuaran dan keadalian yang merata bagi seluruh bangsa Indonesia. Corak atau bentuk suatu masyarakat itu adalah merupakan cerminan secara watak kepribadian anak setelah 15 Zaitunah Subhan. Cara Membina Keluarga Sakinah Rumah tangga yang baik menurut Islam bukan hanya dinilai dari segi materil saja. yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan. misalnya. baik laki-laki maupun perempuan. dan akhlak mulia secara sempurna. 2004) h. B. ketakwaan. tetapi titik berat penilaian itu adalah kepada masalah-masalah moral (akhlak) atau pergaulan sehari-hari dengan orang-orang yang sekitarnya.

41

dewasa sangat tergantung kepada pembinaan orang tua (ayah dan ibu) dalam rumah tangga masing-masing. 16 Dalam membina keluarga yang sakinah sehingga terwujudnya generasi yang baik di tengah-tengah masyarakat, ada beberapa hal yang harus diterapkan atau ditumbuhkan dalam anggota keluarga rumah tangga antara lain sebagai berikut: 1. Orang tua (ayah dan ibu) hendaknya membina sikap keterpaduan dan selalu memberikan contoh suri tauladan yang baik terhadap anak-anaknya, baik dalam segi kejiwaan atau kepribadian, tentang pengamalan ajaran agama, maupun di segi sosial bermasyarakat dan lain-lain sebagainya. 2. Untuk Pembinaan keperibadian anak-anak itu harus dilandasi dengan kasih sayang dan disiplin yang sesuai dengan perkembangan anak-anak. 3. Jangan selalu memanjakan anak karena kemanjaan itu akan membuat perkembangan atau pertumbuhan yang kurang baik dan tidak sehat di kemudian hari. Anak yang selalu dimanjakan oleh orang tuanya kurang kreatif (pemalas), karena ia mendapatkan apa saja yang ia inginkan dari orang tuanya, dengan kata lain; anak manja hanya tahu apa adanya saja.17

Sidi Nazar Bakry, Kunci Keutuhan Rumah Tangga (Keluarga yang Sakinah), (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet Ke-2, h. 35
17

16

Ibid, h. 35-36

42

Dalam bukunya Abdul Latif bin Wahab Al-Ghamidy yang berjudul “100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim” yang beliau petik kiat-kiat ini dari bumi realita dan pengalaman hidup beliau, kiat-kiat itu adalah: 1. Meningkatkan kelimuwan mereka Allah Ta’ala berfirman:

Ε ΟέΩ Ϣ ό Η ΃ Ϧ άϟ ϭ Ϝ ϣ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϪϠ ϊϓ ϳ ˳ Ύ˴ ˴ ˴ ˴ ˸Ϡ˶ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ϭ˵˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ϣ˵ ˸Ϩ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍˵ ͉ϟ΍˶ ˴ ˸ή˴
Artinya: “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Dalam meningkatkan keilmuwan mereka (anak-anak atau istri) dapat dilakukan dengan cara: a. Membuat jadwal rutin-minimal-harian atau setiap pecan untuk belajar bersama dengan semua anggota keluarga. b. Mengahafal bebrapa surat Al-Qur’anul Karim c. Menghafal hadits-hadits Rasulullah saw., dan memilihkan hadits-hadits yang cocok dan yang sangat dibutuhkan oleh mereka. d. Mengahadiri pengajian-pengajian umum yang diadakan di masjid-masjid maupun tempat-tempat kegiatan dakwah.Mengakrabkan mereka kepada para ulama-ulama yang alim dan ahlu ilmu yang amanah.

43

e. Menyediakan papan tulis yang kemudian ditulisi dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi keluarga., khususnya doa-doa dan dzikir.18 2. Membina amalan mereka a. Memerintahkan (kepada keluarga) supaya mengerjakan ibadah, seperti mendirikan shalat dan lain sebagainya. b. Mengerjakan puasa bersama, tidak hanya puasa yang wajib, tetapi juga puasa yang sunnah, seperti puasa senin dan kamis, dan lain sebagainya. c. Pergi bersama-sama keluarga untuk mengerjakan ibadah-ibadah yang disyari’atkan secara berjama’ah, seperti shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. d. Melatih mereka supaya gemar bersedekah, berkorban di jalan Allah Ta’ala, dan memberi fakir miskin dan sebagian harta yang telah Allah berikan kepadanya. e. Menganjurkan mereka agar membaca dzikir-dzikir harian denngan sempurna (baik dzikir yang umum maupun yang terikat dengan waktu, tempat, bilangan dan tata cara) f. Ikut serta membantu tetangga dikala mereka susah atau senang. g. Memperingatkan mereka supaya menjauhi hal-hal yang haram.
18

Abdul Latif bin Wahhab Al-Ghamidy, 100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim, (Solo: AtTibyan), Cet Ke-1, h.50-68

69. membatasi tanggungjawab-tanggungjawab masing-masing. Membiasakan mereka supaya selalu bersegera tidur (sehabis shalat Isya’) dan memperingatkan mereka supaya jangan begadang malam serta membiasakan mereka selalu bersegera bangun tidur sebelum shalat fajar untuk mengerjakan shalat witir dan beristigfar. sangat membenci tidur sebelum shalat Isya’ dan mengobrol setelahnya.19 3. Melibatkan mereka dalam acara-acara dakwah yang diadakan oleh kepala keluarga. Membagi pekerjaan-pekerjaan rumah di antara mereka. Meningkatkan kreativitas dan hobi-hobi mereka yang bermanfaat serta menghubungkannya dengan syari’at Islam. i. b. Mungkin bisa dengan cara memanfaatkan kemampuan mereka dan mendidiknya supaya ikut berpartisipasi aktif dalam berbagai macam kegiatan dakwah. 19 Ibid. Memotivasi mereka untuk menulis makalah-makalah yang ringkas lagi bermanfaat sepuatar aktifitas mereka di sekolah-sekolah. Mengikut sertakan keluarga dalam dakwah a. sebab rasulullah saw. j.102 .44 h. membiasakan mereka saling bekerjasama dalam pekerjaan-pekerjaannya. h.

Memperbaiki jiwa dan meluruskan kepribadian mereka a.45 c.) bagaimana cara membina kelaurga sakinah mawaddah warahmah. sebagaimana yang telah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an surat Ar Ruum: 21. h.20 Dari kiat-kiat di atas jelaslah bahwa dalam membina keluarga sakinah perlu adanya kesadaran antara setiap anggota keluarga tentang hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga. Berkunjung ke rumah-rumah keluarga miskin. Mengunungi kerabat atau tetangga yang menderita sakit c. 20 Ibid. dan Islam mengajarkan kepada umatnya dengan detail melalui firman-Nya maupun utusan-Nya (Rasulullah saw. Menanamkan dalam hati sanubari mereka kegemaran beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Menasihati secara empat mata kepada salah satu di antara mereka yang melakukan kesalahan. 4. caranya dengan membiasakan mengerjakan perbuatan yang mulia itu di depan mereka. 112-121 . memeriksa kondisi dan keadaan mereka serta ringan tangan dalam membantu mereka. b.

yaitu: a. Pembinaan keluarga dalam hal ini meliputi beberapa objek sasaran. Aspek Agama Untuk mendukung terwujudnya keluarga sakinah. 2004). pembentukan pribadi secara utuh sangat menentukan. karena agama merupakan pijakan dasar dalam membangun sebuah keluarga sakinah.48 . bagaimana tidak yang kita jadikan tolak ukur adalah kepemimpinan Rasulullah dalam membangun sebuah keluarga. maka pasti siapa yang membangun keluarga pijakannya adalah ridha Allah dan mencontoh keluarga Rasulullah. Pembinaan agama bagi ayah dan ibu b. h. Membina Keluarga sakinah. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren.21 Aspek keagamaan ini adalah sangat penting dan mutlak harus ada dan dilaksanakan oleh anggota keluarga. tidak diragukan lagi bahwa keluarga itu adalah keluarga yang sakinah 21 Zaitunah Subhan. Zaitunah Subhan menyatakan bahwa ada beberapa aspek yang mendukung terwujudnya kehidupan keluarga yang sakinah. Pembentukan jiwa agama bagi anak-anak. Pengamalan amar makruf nahi mungkar c.46 Hj. Ayah dan ibu adalah pemimpin yang bertanggungjawab atas pembinaan keagamaan di dalam keluarga. 42. antara lain: 1.

menambah semangat kerja.51-52 . dan meningkatkan pendapatan. seseorang minimal harus mampu merencanakan anggaran belanja rumah tangga. Aspek Ekonomi Kestabilan ekonomi merupakan salah satu penunjang terwujudnya keluarga sakinah. dan bahkan menjadi retak dan berantakan. bersabda: “kadangkadang kefakiran itu menjadikan kekufuran”. Dalam hal ini.22 22 Ibid. keluarga perlu memperhatikan kestabilan ekonomi untuk mencapai predikat keluarga sakinah. Bahkan persoalan ekonomi ini juga sering kali mempengaruhi kadar keimanan seseorang. terjadi karena kedaaan ekonomi keluarga yang kurang stabil. Tidak sedikit kasus kegagalan menciptakan keluarga sakinah.47 2. Kondisi keuangan sebuah keluarga bisa dikatakan stabil apabila terdapat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Rasulullah saw. h. Karena itu. Agar dapat menyeimbangkan kebutuhan dan pendapatan.

tentu saja bukan sebatas persoalan ibadah ritual. Kewajiban meneladaninya mencakup seluruh aspek kehidupannya yang utuh sebagai sosok manusia yang hidup secara normal dalam masyarakat. tetapi Rasulullah mampu mengatakan dalam sabdanya: 23 Ridha Salamah. pemimpin keluarga dan sekaligus pemimpin negara. Beliau saw adalah seorang pribadi. Di dalamnya menyatu secara sempurna antara fungsi internal dan seksternal sebuah keluarga.. 28 24 . suami. Keluarga Nabi Muhammad Saw Mencontoh dan meneladani Nabi saw. 2005). h. Inilah realisasi dari kesaksian bahwa Muhammad saw.23 Keluarga Nabi Muhammad saw merupakan keluarga istimewa. ayah. Bangunan Keluarga Dambaan. h.48 D. Contoh Keluarga Sakinah dalam Bingkai Sejarah 1. Interaksi antara Nabi saw sebagai suami dengan para isteri Beliau saw beserta seluruh anak-anak benar-benar terlaksana hanya karena perintah Allah SWT dan mencari ridho-Nya.yang menjadi teladan semua manusia hingga hari kiamat.24 Sejarah membuktikan bahwa Rasulullah dalam membina keluarganya adalah dalam rumah yang sangat sederhana. et. 27 Ibid. adalah Rasulullah pembawa risalah Islam yang paripurna rahmat dan petunjuk untuk seluruh alam. (Ciputat: Wadi Press.el. Itulah keluarga yang benar-benar sakinah yang penuh kasih sayang.

Pada saat Khadijah wafat maka beliau Nabi saw. Padahal poligami saat itu merupakan adat bangsa Arab yang menunjukkan kemuliaan. Juga bukan untuk memenuhi keinginan akan harta benda dan kedudukan. berpikir untuk menikah lagi. Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa Nabi saw menikahi Khadijah r. Sejak menikah dengan Khadijah beliau belum pernah berpikir untuk menikah lagi dengan wanita lain.. Kemudian beliau meminang dan menikahi ‘Aisyah r.a. tetapi belum tinggal serumah kecuali sesudah hijrah ke Madinah.25 Pernikahan Nabi dengan para isteri-isteri beliau merupakan pernikahan yang agung dalam rangka mendukung perjuangan dakwahnya.a. saat beliau berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.49 ˸ϲ˶ ͉ ˴ ˸ϲ˶ ˸ϴ˴ ΘϨΟ Θ Α Artinya :”Rumah tanggaku adalah laksana surga bagiku” Dari hadits ini menunjukkan bukti bahwa rumah tangga Nabi merupakan rumah tangga yang penuh ketenangan dan keharmonisan walaupun kita tahu bahwa isteri Nabi itu lebih dari satu. Abu Bakar r. sedang 25 Ibid . bukan sekedar memenuhi hasrat seksual dan melahirkan keturunan.a. Hal ini dapat dibuktikan bahwa Nabi hanya satu menikahi wanita yang masih gadis. puteri sahabatnya yang terdekat dan terpercaya.

karena beliaulah yang menjadi 26 Ibid. 27 . Walaupun semua isterinya siap membantu dan melayani semua kebutuhannya. Dari keluarga nabi saw yang istimewa itu wajib dicontoh tentang bagaimana beliau mengelolanya. 33 Ibid. h. Keluarga yang telah sukses dunia akhirat dalam mewujudkan visi dan misinya baik secara internal maupun eksternal.26 Demikian pula peran anak-anak Nabi saw. beliau lebih suka menjahit baju robeknya dengan kedua tangannya sendiri. Beliau bisa mengurus berbagai keperluannya sendiri. Mereka telah berperan sebagi isteri pendamping suami. dan pendidik bagi anak-anaknya juga sebagai pejuang yang berperan untuk memajukan masyarakat. Sepanjang hidup Nabi Muhaamad saw adalah perjuangan di jalan Allah. Nabi Muhammad saw telah menjalin hidup penuh kemandirian dengan semua isterinya. 27 Inilah sosok keluaga sakinah yang sesungguhnya. Fatimahlah yang membersihkan tubuh Nabi ketika Abu Jahal meletakkan isi perut kambing pada saat Nabi shalat. Isteri-isteri beliau juga adalah para pejuang. ibu.50 yang lainnya adalah kebanyakan para janda yang ditinggal oleh suaminya karena meninggal dalam peperangan yang suci. Keluarga paling mulia dan bahagia dalam naungan Rahmat Allah SWT.

2.51 rujukan umatnya dalam berbagai segi kehidupan beliau dan beliaulah adalah uswah hasanah (tauladan baik) dalam membina sebuah keluarga. Asma’ binti Abu Bakar menyimpan kerikil di tempat penyimpanan uang ayahnya. Isterinya dan anaknya mendukung sepenuhnya tindakan ini. Dia termasuk pedagang yang cukup sukses. Perhatikanlah orang-orang sekaliber Abdullah bin Umar dan Hafshah binti Umar Ummul Mukminin selain Umar sendiri. Tentu saja Abu Bakar telah memlihara dan menafkahi kelaurganya dengan sangat baik. 28 b. Keluarga Umar bin Khathab r. 29 . adalah sebuah rumah bahagia yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar di panggung sejarah.a. Orang-orang besar hanya akan lahir dari asuhan keluarga istimewa. maka terlihat betapa seorang Umar dapat berkarya dan melayani rakyat tanpa hambatan apapun dari keluarganya. isteri dan anak-anaknya saling mendukung bukan saling menghalangi. Dan kakeknya yang buta itupun merasa tenang ketika merabanya. a. Perhatikanlah betapa Umar bisa berperan aktif dalam mendampingi Nabi saw di samping tetap mencari nafkah. Keluarga Sahabat-sahabat Nabi Saw. 38 Ibid. Bahkan ketika dia menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar r. Bahkan untuk menenangkan kakeknya. Keluarga Abu Bakar As Shiddiq Ketika Nabi saw mengumumkan himbauan untuk berinfak di jalan Allah maka Abu Bakar r. ‘Aisyah Ummul Mukminin dan ‘Asma’ binti Abu Bakar isteri Zubeir bin Awwam r.a. Nampak jelas produk rumah bahagia ini adalah dua wanita mulia.a. Umar bin Khathab r.a. h. Dalam keluarga Abu Bakar yang istimewa tentu saja antar suami.29 28 Ibid.a seoarang sahabat utama yang telah mendapat kabar gembira untuk masuk surga. adalah orang pertama yang berinfaq dengan seluruh hartanya.

Lebih jelas kisahnya adalah: “Alkisah ada seorang yang bernama Al-Aqra’ bin Habis menemui Amirul Mukminin. Ali bin Abi Thalib r.. Zubeir bin Awwam r. anak yang sedang berdiri cepatcepat duduk. sehingga ia (Umar) berani memecat seorang kepada daerah hanya karena ia merupakan orang yang otoriter terhadap keluarganya.. : “Jika saya pulang ke rumah. Cet Ke-1. Ia menemukan Umar sedang bermain dengan anak-anaknya.52 Al-Imam Al-Ghazali mengisahkan tentang sakinahnya keluarga Sayyidina Umar bin Khathab dan keakrabannya terhadap anak-anak dan anggota keluarganya. apa yang engkau lakukan di rumahmu? Al-Aqra’ menjawab. Umar bin Khathab.a.a.. 75 30 . h. dan anak yang sedang tidur-tiduran mendadak bangun. Demikian pula dengan keluarga Utsman bin Affan r. (Bandung: Hasyimi. Saya mempunyai anak sebanyak sepuluh orang. apakah seperti itu engkau lakukan bersama anak-anakmu? Umar bangun dan balik bertanya.: Amirul Mukminin. anak yang sedang berbicara mendadak terdiam.a.. Maka Al-Aqra’ diperintahkan Umar untuk segera dipecat dari jabatannya sebagai kepala daerah saat itu. Namun tidak ada satu pun yang pernah saya cium”.a. Begitu pula para sahabat wanita yang telah lahir menjadi tokoh-tokoh yang turut berkiprah untuk membangkitkan masyarakat di samping tetap berperan sebagai isteri Isyan Basya. Sa’ad bin AbiWaqash r. Thalhah bin Ubaidillah r. dan keluarga seluruh sahabat yang mulia.”30 Dari kisah di atas menunjukkan bahwa keluarga Umar bin Khathab merupakan keluarga yang harmonis yang penuh kasih sayang dan keakraban terhadap anak-anak dan anggota keluarganya. Anak-anak Umar menempel di punggungnya dan Umar merayap. Al-Aqra’ berkata.a. Umar berkata: “Kalau begitu engkau tidak pantas menjadi pemimpin kaum Muslimin”. 2005). Menggapai Hidayah dari Kisah (Kumpulan Kisah dari Buku-buku AlGhazali).

Op.. Lihatlah manusia mulia seperti Ummu Kultsum binti Uthbah. el. Ummu Aiman. Ummu Sulaim. et. 39 . Cit.31 31 Ridha Salamah.53 dan ibu. Ummu Athiyah serta para isteri dan anak-anak Nabi saw sendiri.. h.

dan pribadi yang mandiri.”2 Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa orang tua (keluarga) adalah Pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. keingan serta prakarsa sendiri menambanh. Ilmu Jiwa Agama. 1993). teratur dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan. mengambangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang utuh dan selaras. h. Ke-3. 41 2 1 Zakiah Daradjat. menumbuhkan. Jadi yang dimaksud dengan pembinaan adalah mempertahankan sesuatu yang sudah baik dan berusaha untuk mengembangkannya.3 Muhammad Ali. Menurut Zakiah Daradjat bahwa : “Pembinaan adalah upaya pendidikan baik formal maupun non formal yang dilaksanakan secara terarah. Cet. Ke. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Ke-16.BAB IV PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PADA ANAK A. Kepribadian orang tua. 36 3 Zakiyah Daradjat. 1993). (Jakarta: Pustaka Antara. Pembinaan Akhlak pada Anak Pembinaan kata dasarnya adalah “bina” yang mempunyai arti bangun (membina. (Jakarta: Bulan Bintang.3. 66 54 . Kesehatan Mental dalan Keluarga. h. sikap dan cara hidup mereka. 2003). Cet. Cet. mutu dan kemampuan manusia yang optimal. meningkatkan dengan mengembangkan ke arah terciptanya martabat. membangun) dan dapat juga diartikan bentuk (membentuk)1. (Jakarta: Penasehat Pustaka Amami. merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh itu. h. pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat.

masyarakat bahkan berbangsa dan bernegara. Nasrani atau Majusi.” (HR.55 Pembinaan akhlak di sini mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia baik secara pribadi. karena keluarga merupakan tempat pendidikan utama dan pertama. maka tergantung ibu bapaknyalah akan jadi Yahudi. keluarga. sedikitnya akan mengikuti ucapan atau prilaku orang tua (keluarga) sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: ˸ϭ˴˶ ˶ ΍˴ ˷ ˴ ˵ ˸ϭ˴˶ ˶ ΍˴ ˷ ˴ ˵ ˵ ΍˴ ˴ ˴˴ ˶ ˴ ˸τ˶ ˴΍ϰ˴˴ ˵ ˴˸Ϯ˵ ˳ ˸Ϯ˵˸Ϯ˴ ͊ ˵ ΍ Ϫϧ ή˶ ϨΑ ΍ Ϫϧ Ω˶ Ϭϳ ϩ ϮΑ΄ϓ Γή ϔϟ Ϡϋ Ϊϟ ϳ Ω ϟ ϣ Ϟϛ μ Ϯ Ϫϧ δ˶ Ϥϳ ˶ ˶ Ύ˴ ˷ ˴ ˵ Π Artinya: “Setiap bayi yang lahir ada dalam keadaan suci. Begitu pula anak akan memiliki budi pekerti yang baik apabila lingkungan keluarganya menanamkan akhlak yang baik. Bukhari) . karena baik buruk seseorang atau keluarga dapat dilihat dari prilaku kesehariannya dari kepribadiannya yang menggambarkan budi pekerti yang ada pada dirinya. Akhlak atau budi pekerti tidak mungkin terwujud tanpa melalui proses pembinaan pada seseorang yang dapat memberikan perubahan pribadi seseorang di antaranya adalah pengaruh lingkungan bagi seorang anak sudah barang tentu yang pertama kali atau berpengaruh pada kepribadian adalah pengaruh lingkungan keluarga.

Akhlak Tasawuf.5 4 Abudin Nata. yakni tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan. khususnya ibu mendapat gelar madrasah. 2001). 169 5 Zakiyah Daradjat. Cit. Ke-5.4 Kemudian pendidikan akhlak pada anaknya yang selanjutnya setelah lingkungan keluarga adalah lingkungan masyarakat yakni teman bergaulnya di mana anak memilki lingkungan bermain. dengan demikian pendidikan akhlak pada awal usia sekolah tingkat SD dirasakan akan lebih muda diterima. Pada usia sekolah lingkungan sekolah pun memberikan pada anak warna. Op. teman di mana ia bermain akan banyak memberikan pengaruh pada prilaku anak khususnya akhlak (perilaku budi pekerti). Raja Grafindo Persada. maka pendidikan yang diberikan oleh guru pada anak di masa awal ini akan mudah diterima. 129 . Cet. dan proses pembinaannya harus secara terus menerus baik melalui agama atau memberikan contoh perilaku yang baik. h. h. (Jakarta: PT. Itulah sebabnya orang tua.56 Hadits tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pelaksana utama dalam pendidikan anak adalah kedua orang tua.

Jika manusia membiasakan berbuat jahat.57 Cara lain yang dapat ditempuh untuk pembinaan akhlak ini adalah dengan “Pembiasaan” yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu. perkembangan kecerdaannya belum sampai kepada kemampuan menangkap hal yang maknawi (abstrak). Pembinaan akhlak pada usia ini diperlukan dan dibutuhkan perhatian. 162 .. Untuk anak-anak umur Taman Kanak-kanak (3-5 tahun). maka pendidikan akhlak pada umur tersebut menurut Zakiah Daradjat dengan latihan. h. Pendidikan akhlak terhadap anak dilakukan dengan memanfaatkan kecerdasan si anak. Pembinaan akhlak pada usia Sekolah Dasar (6-12 tahun) sudah dapat dilakukan secara langsung melalui petunjuk dan nasihat yang sederhana yang 6 Abudin Nata.”6 Pribadi manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembinaan atau pembiasaan. Op. sebaliknya bila manusia membiasakan dirinya dengan cara yang bertingkah laku yang mulia maka ia dapat membentuk pribadi yang mulia. misalnya ketika si anak mulai suka bermain dengan teman sebayanya. pembiasaan dan percontohan. Cit. maka ia akan menjadi orang yang jahat. seyogyanya ia dilatih untuk suka meminjamkan mainannya kepada temannya ketika bermain.

naluri dan kecerdasan anak.58 sesuai dengan perkembangan kecerdasan dan daya pikirnya. 69 . 93 Ibid. kebiasaan. bermanfaat serta hal yang buruk. misalnya suka meniru. Hendaknya setiap ucapan yang baik dan perbuatan yang baik yang dilakukan oleh anak usia ini diberi pujian dan didorong untuk mempertahankan kebaikan yang telah dicapainya. Op. serta digairahkan atau diberi semangat untuk memperbaiki kekurangannya. Cit. dan percontohan. h. 7 8 Zakiyah Daradjat.. Lalu mereka didorong untuk memilih mana yang baik dan menjauhi yang tidak baik. Maka pembinaan akhlak pada usia ini diberikan penjelasan dan keterangan yang rasional tentang kaidah-kaidah akhlak dan setiap masalah akhlak yang penting dijelaskan secara analisa yang tepat disertai manfaat dan hikmahnya dalam kehidupan anak masa sekarang dan masa yang akan datang. merusak dan membahayakan.8 Pembinaan akhlak pada usia SMA atau yang sejenisnya (16-19 tahun) sangat penting dan tidak mudah terutama bagi mereka yang pada tahap sebelumnya mendapatkan bimbingan pembinaan akhlak secara tepat. Pembinaan pada usia SMP (13-16 tahun) dapat dilakukan dengan cara langsung nasihat. Dalam hal ini dapat digunakan syair dengan lagu yang menarik. h. bisa juga dengan cara diskusi atau tanya jawab. Pembinaan akhlak pada usia sekolah dasar ini masih tetap menekankan pada latihan. petunjuk dan penjelasan tentang berbagai hal yang baik.7 Pembinaan akhlak pada usia ini dapat pula memanfaatkan bakat. melakukan identifikasi terhadap kata-kata perbuatan. gerakan dan sikap diam pada orang-orang yang sering berhubungan dengan mereka.

Dengan pengungkapan masalahnya dan mendapat tanggapan dari orang tuanya atau saudara-saudaranya akan menyebabkan anak yang bersangkutan lebih memahami persoalan yang dideritanya. Cet. remaja mendapat kesempatan untuk mengungkap perasaan dan masalah yang dihadapinya. 165 10 . instruksi dan larangan akan tetapi memerlukan pendidikan yang panjang dan pendekatan yang baik.9 Dalam diskusi.10 Dalam pembinaan akhlak tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran. dr.59 Dalam mendidik akhlak anak pada usia ini perlu dikaitkan dengan ajaran agama karena mereka telah sampai pada umur baligh artinya bahwa mereka bertanggung jawab langsung kepada Allah serta perlu dikaitkan pula dengan perundang-undangan yang berlaku. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada). 93 Abudin Nata. Akhlak Tasawuf. Ke-5. h. Ahmad Amin dalam bukunya :”Ethika (ilmu Akhlak)” menyebutkan cara yang ditempuh dalam membina akhlak yaitu: 9 Ibid. h. Menurut Abudin Nata bahwa: “Pembinaan akhlak dapat ditempuh dengan cara memberikan keteladanan”. Menurut Prof. Pendidikan itu tidak akan sukses melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata.

Akhlak Muslim. Cet. yaitu12: 1. Ke-1. Membersihkan pribadi dengan ilmu dan perbuatan itulah yang membawa kita kepada kebahagiaan. Meluaskan wawasan berpikir 2. 11 Ahmad Amin. (Jakarta: Bulan Bintang.60 1. dan akan menjadikan kebahagiaan yang luar biasa jika kemudian ilmu pengetahuan yang ada itu diimbangi dengan amal perbuatan. Akan tetapi sebaliknya akal pkiran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) akan menjadi obor penerang bagi kehidupannya. Ke-6. Membiasakan diri melakukan perbuatan baik. 11-20 12 . ada banyak cara yang dapat dilakukan. h. 1986). Cet. h. Akal pikiran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) itu akan tetap menuntun seseorang ke jalan yang benar. 1996). Berkawan dengan orang yang terpilih 1.11 Sedangkan menurut Oemar Bakrie yang menjelaskan hal ini lebih luas lagi mengatakan bahwa dalam mendidik seseorang supaya berakhlak yang baik. Memberi dorongan untuk berbuat baik bagi masyarakat umum 3. 63. Akal pikiran yang sempit dan buntu akan menjadikannya menempuh jalan yang sesat. Etika (Ilmu Akhlak). Membaca dan menyelidiki perjalanan para pahlawan dan orang yang berpikir luar biasa 2. Mengisi akal pikiran dengan ilmu pengetahuan Akal pikiran seseorang besar sekali pengaruhnya dalam kehidupannya. Cukup banyak contoh dalam sejarah bahwa akal pikran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) menjadikan berbudi pekerti yang luhur. (Bandung: Aksara.66 Oemar Bakrie.

Dan sesungguhnya merugilah (sengsaralah) siap yang mengotori dirinya (dengan tindak laku yang jahat).61 Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Ύ˴ Ύ͉ ˴ ˸Ϧ˴ ˴ Ύ˴ ˸Ϊ˴ ˴  () Ύ˴ Ύ͉ ˴ ˸Ϧ˴ ˴ ˴˸ϓ˴˸Ϊ˴ ϫ γΩ ϣ Ώ Χ ϗϭ ϫ ϛί ϣ ΢Ϡ ΃ ϗ Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah (menanglah dunia akhirat) orang yang membersihkan dirinya (dari sifat yang jahat). Dalam pergaulan di masyarakat. Teman yang baik dapat ditiru dan diteladani amal perbuatannya. (QS. Asy-Syamsu: 9-10) 2. sehingga ada baiknya jika dalam bergaul kita memilih teman yang baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam Al-Qur’an: . bergaul dengan orang berani maka menjadikan ia seorang yang pemberani pula. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pergaulan dapat mempengaruhi terjadinya perubahan karakter pada diri seseorang. Bergaul dengan orang-orang yang baik Sudah menjadi sifat yang alami jika manusia suka meniru atau mencontoh hal-hal yang dilakukan oleh orang lain dalam kehidupan di masyarakat. Teman yang suci hatinya maka cahaya iman pasti menerangi jiwanya dan ini dapat menjadi teladan bagi teman bergaulnya. Akan tetapi jika bergaul dengan orang penakut maka membawa ia menjadi penakut.

” (QS. yaitu Nabi-nabi. Bergaullah dengan orang-orang yang baik dan berilmu. Dengan pergaulan yang baik itu Allah akan menghidupkan hati- . karena mereka akan menjadi teman yang bisa membimbing ke arah jalan-jalan yang memang telah digariskan oleh Allah swt. Jangan bersama mereka. para shiddiiqiin. orang-orang yang mati syahid (pejuang yang jadi korban dalam kebenaran).62 ˴ ˶ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ˵ ͉ϟ΍˴ ˴ ˸ϧ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˴ ˴ ˶ ˴ϭ˵˴ ˴ Ϯ˵ ͉ ϟ΍˴ ˴ ͉ϟ΍˶ ˶ ˵ ˸Ϧ˴ ˴ Ϧϣ Ϭ Ϡϋ ϪϠ Ϣό ΃ Ϧ άϟ ϊϣ ϚΌϟ ΄ϓ ϝ γή ϭ ϪϠ ϊτϳ ϣϭ Ύ˱ ϴ˶ ˴ ˴ ˶ ˴ϭ˵˴ ˵ ˴ ˴ ˴ ϴ˶ ˶Ύ͉ ϟ΍˴ ˶ ΍˴ ˴ ͊ ϟ΍˴ ˴ ϴ˶ ϳ͋ ͋ ϟ΍˴ ˴ ϴ͋ ˶ ͉ϟ΍ Ϙ ϓέ ϚΌϟ ΃ ϦδΣϭ Ϧ Τϟ μ ϭ ˯ ΪϬθ ϭ Ϧ Ϙ Ϊμ ϭ Ϧ ϴΒϨ Artinya: “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya. jelaslah bagi kita bahwa dalam memilih teman hendaknya dicari orang orang-orang yang selalu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. An-Nisa: 69) Berdasarkan ayat di atas. Selanjutnya berkenaan dengan pemilihan teman dalam bergaul. Takutilah azab yang akan menimpa kamu. Luqmanul Hakim memberi nasihat kepada anaknya: ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴  ˴ ͉ ˴ ˵  ˸ϥ˴ ˴ ΍ ˶ ͉˶ ˸Ϣ˶ ˶ ˴ ˵  ˴ ˴  ˴ Ύ͉ ˴ ˸ϟ΍ ˶ ˶Ύ˴ ˵  ˴  ͉ ˴ ˵ Ύ˴ Ϭ Ϡϋ ϝΰϨϳ ΍ Ϳ ϖΗ΍ ϬθϤΗ ϻϭ έ Π˵ βϟ ΠΗ ϻ ϲϨΑ ϳ ϔ ˴ Ύ˴ ˴˵ ˸ϟ΍˴  ˶ ˴ ˴ ˵ ϟ΍˸ ˶ ˶Ύ˴ ˴  ˸Ϣ˵ ˴ ˴  ˴ ˵ ˸ϴ˶ ˵ ˴  ˶ Ύ˴ ͉ ϟ΍ ˸Ϧ˶  ˲ ΍˴ ˴ ˯ ϤϠό ϭ ˴ ϼπϔ βϟ Οϭ Ϭόϣ ϚΒ μϴϓ ˯ Ϥδ ϣ Ώ άϋ ˯ ˴ ˸έ˴ ΍ ϰ˶ ˸Τ˵  Ύ˴ ˴  ˶ ˴˸ϴ˶ ˴ ˴Ύ˶  ˴ ˴ ˸ϴ˴ ˸ϟ΍ ˴ ˸Ϯ˵˵ ˸ϟ΍ ϰ˶ ˸Τ˵  ˴ ΍ ͉ ˶˴ ν ϻ ϴ ϳ Ϥϛ ΔϠ πϔϟ Α ΔΘ Ϥ Ώ ϠϘ ϴ ϳ Ϳ ϥΈϓ ήτϤ ϞΑ ϮΑ ˶ ˴ ˴ ˸ϟ΍˶ ˶ ΍˴ ˶ Artinya: “Wahai anakku! Janganlah sekali-kali kamu bergaul dengan orang-orang yang jahat. mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. dan mereka itulah yang sebaik-baiknya. dan orang-orang yang saleh.

63 hati yang mati sebagaimana hujuan menghidupkan tanah yang tandus dengan tumbuh-tumbuhan. cenderung untuk tidak mempunyai waktu merenungi perbuatan-perbuatan yang jahat. An Nisa : 69 dan apa yang disampaikan oleh Luqmanul Hakim kepada anaknya. perlu dijadikan pedoman (pegangan) dalam mencari dan memilih teman. Semua organ tubuh menjadi lesu. Dengan bekerja keras. h. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya. yaitu: 13 Ibid.13 Nasihat yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya dalam memilih teman ternyata sejalan dengan ketentuan yang telah disebutkan dalam QS. orang yang giat bekerja. merusak kesehatan. sehingga menurut hemat penulis dapat disimpulkan bahwa dalam mencari teman harus dilakukan dengan hati-hati sekali. Meninggalkan sifat pemalas Sifat pemalas dan duduk-duduk berpangku tangan tanpa amal. jangan sekali-kali memilih teman yang justru menggiring kita kepada kehancuran dan kesesatan. berguna kepada nusa. Pada akhirnya cenderung untuk melamun melakukan perbuatan yang tidak baik. seseorang dapat terhindar dari segala perbuatan jahat. Sebaliknya. 3. Ia akan menjadi orang baik. Karena apa yang diatur dalam QS. An Nisa: 69. 16 . berjuang dengan ulet untuk mencapai cita-cita yang diinginkannya. tidak berdaya dan akan tampak seperti orang bodoh. bangsa dan agama.

64 .

” (QS.. 4. Untuk meninggalkannya perlu kemauan keras dan tekad yang kuat serta kesadaran yang mendalam. Al-‘Ashr: 13) Salah satu intisari yang terdapat di dalam QS. Walaupun bagaimana berat dan sulitnya meninggalkan kebiasaan lama. karena kalau tidak maka manusia akan berada dalam kerugian yang disebabkan oleh kemalasannya sendiri. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merubah tabiat buruk. kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh (giat bekerja). ˶ ˸Β͉ ϟΎ˶ ΍˸Ϯ˴ ΍˴ ˴ ˴ ͋ ˴ ˸ϟΎ˶ ΍˸Ϯ˴ ΍˴ ˴ ˴ ˶ Ύ˴ ˶Ύ͉ ϟ΍΍Ϯ˵˶ ˴ ˴ ή μ Α λ ϮΗϭ ϖΤ Α λ ϮΗϭ Ε Τϟ μ ϠϤϋϭ Artinya: “Demi masa. Merubah kebiasaan buruk Sesuatu perbuatan yang sudah dilakukan seringkali ia akan menjadi tabiat dan sulit sekali untuk merubahnya. ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ͉˶  . sesungguhnya manusia tetap selalu dalam kerugian. Al-‘Ashr: 1-3 menurut penulis adalah suatu seruan yang diberikan oleh Allah swt bahwa manusia harus saling berjuang (giat bekerja) dalam kehidupan ini. yaitu: a. akan tetapi harus dicoba untuk melupakannya. Jangan sekali-kali meninggalkan perbuatan baik yang baru dicoba sebagai penggganti tingkah laku jahat yang baru ditinggalkan. Biasanya tabiat atau kebiasaan buruk yang telah mendarah daging akan sulit dipisahkan. wasiat-mewasiati dalam kebeneran dan dan kesabaran.

˳ ˸δ˵ ϲ˶ ˴˴ Ύ˴ ˸ϧ˶˸ϟ΍͉ ˶  .

 ˶ ˸μ˴ ˸ϟ΍˴ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϟ· ή Χ ϔϟ ϥ δ Έ ϥ · ή ό ϭ .

1986). Dalam mendidik anak haruslah terus mencari metode yang lebih efektif. h. spiritual dan sosial. h. Tarbiyatul Aulad (Pedoman Pendidikan dalam Islam). (Bandung: Asy-Syifa’. Tinggalkan kebiasaan yang jahat sesegera mungkin. Cet. Tanamkan keberanian untuk berbuat atau melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan buruk yang pernah dilakukan. Dengan munculnya kesadaran dan keyakinan tersebut penulis yakin bahwa proses penghentian kebiasaan buruk tersebut akan jauh lebih mudah. c. Apabila ada keinginan untuk berubah maka lakukan itu dengan segera. sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna. Cet. dan mencari kaidah-kaidah pendidikan yang influentif dalam mempersiapkan anak secara mental dan moral. Akhlak Muslim. 1988). Ke-1.1 15 . Ke-1.15 14 Oemar Bakrie. (Bandung: Aksara. saintikal. dilarang oleh Allah swt atau perbuatan tersebut merugikan orang lain.14 Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Oemar Bakry. penulis berpendapat bahwa untuk menghentikan (menghilangkan) perbuatan buruk. jangan menunggununggu. hendaknya perlu ditanamkan keyakinan dan kesadaran yang kuat bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak baik.65 b.16 Abdullah Nashih Ulwan. Jilid 2. Diperlukan kemauan yang keras untuk meninggalkan kebiasaan jahat yang telah sekian lama dilakukan.

Pendidikan dengan keteladanan b. Pendidikan dengan adat kebiasaan c. atau seorang ayah yang jarang 16 Ibid. 2 . Pendidikan dengan memberikan perhatian e. Pendidikan dengan memberikan hukuman.66 Kaidah-kaidah atau metode-metode pendidikan yang influensif dalam membentuk anak ini adalah tersimpul dalam lima masalah di bawah ini: a. Dalam mendidik anaknya. Penddikan dengan nasihat d.16 Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa proses pembinaan akhlak pada anak khususnya haruslah sejalan antara keluarga. Anak yang terlahir dari ayah dan ibu yang tidak komunikatif cenderung membentuk pribadi si anak menjadi pemalu. hal ini bertujuan agar tidak ada kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak yang akan berakibat buruk bagi perkembangannya pada masa yang akan datang. Sehingga ketika dewasa dapat memilih yang baik dan menjauhi yang buruk. lingkungan bermain dan lingkungan sekolah. h. hendaknya orang tua dapat mengerti tentang ilmu pendidikan atau pengetahuan dalam mendidik anak.

67 mengajak buah hatinya bertutur kata. jangan salahkan anak semata. adalah: 1. si anak cenderung menarik diri. bisa jadi. Sikap orang tua yang enggan menerapkan kedisiplinan pada anak 4. Jadi. Memerintahkan anak dengan tanpa menjelaskan alasan pentingnya menunaikan perintah tersebut 2. Para pendidik tidak berusaha memahami berbagai faktor yang mendorong anak melakukan perilaku yang salah 6. Mengomentari anak dengan komentar yang justru menghalanginya kembali berprilaku baik 9. Tidak menyikapi kesalahan-kesalahan anak dengan ekstra 5. 36 (September. Hal ini menjadikan anak selalu mengaharapkan imbalan ketika melakukan sesuatu. 2006). 49 . Mengubah Anak pemalu Menjadi Pemberani. Berlebihan dalam memberikan janji yang berulang kepada anak 8. Tidak menghukum perilaku salah yang muncul dari anak 17 Retno. Paras. 7. Sikap orang tua yang menerima persyaratan yang diajukan anak. Batasan strategi yang diterapkan dalam berinteraksi dengan anak tidak berubah meskipun perilakunya telah berubah 3. orang tualah faktor pemicunya.17 Di antara Kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak. h.

Tidak memberikan sprit yang positif pada diri anak 11. Mengikuti pola pandang negatif dalam berinteraksi dengan anak. Tidak menyertakan anak dalam menetapkan kaidah-kaidah yang berlaku 20. Tidak memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam memberikan hukuman fisik ketika mendidik anak 15. Tidak adanya kesepakatan antara kedua orang tua dalam hal metode pendidikan yang seragam 19. (Jakarta: Pustaka AlKautsar. Cet. h. 11-13 18 . Tidak memenuhi kebutuhan anak dalam memperoleh kasih sayang. dan membeda-bedakan dalam mendidik anak 18.68 10. Ke-1.18 Muhammad Rasyid Dimas. Kontradiktif dalam menerapkan sistem pendidikan anak 13. dan kelembutan 14. Membandingkan secara tidak proporsional dengan anak-anak lain 12. Tidak menempuh tahapan-tahapan dalam berinteraksi dengan anak 17. Meremehkan. 2005). 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak. cinta. mengejek. Tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan individual dalam mendidik anak 16.

Pendidikan Anak dalam Islam ( Jakarta: Kalam Mulia.19 Syahminan Zaini. et. Maka ia belajar menahan diri Jika anak dibesarkan dengan dorongan.el. Maka ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan cemoohan. Maka ia belajar percaya diri Jika anak dibesarkan dengan dengan sebaik-baiknya perlakuan. 37 19 . dan ingin dibawa ke mana si anak adalah tidak terlepas dari peran orang tua sebgai pendidik yang pertama dan utama. Maka ia belajar keadilan Jika anak dibesarkan dengan dengan kasih sayang.. Maka ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya. 2004).69 Perlu penulis cantumkan ada puisi yang sangat indah yang berasal dari Dorothy Nolt yang berkaitan tentang pengaruh orang tua yang sangat sentral dalam mendidik anak. Ke-3. Maka ia belajar menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi. sehingga baik baruknya anak. Maka ia belajar berkelahi Jika anak dibesarkan dengan penghinaan. Puisi itu adalah: Jika anak dibesarkan dengan celaan. Cet. h.

II/MPR/1983. Keluarga merupakan suatu lembaga yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam tercapai atau tidak suatu tujuan pendidikan anak yang selanjutnya. Oleh karena itu orang tua mempunyai peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. Peran Keluarga Sakinah dalam Pembinaan Akhlak Keluarga yang sakinah memliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan pembinaan akhlakul karimah anak. B. No. sebab keluarga merupakan lembaga pendidian dasar utama bagi seorang anak. baik sebagai mahluk individu atau sebagai mahluk sosial. sebagaimana yang tercantum dalam GBHN Tap. untuk itu orang tua harus dapat memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan si anak. agar dapat terbina secara optimal dan maksimal. karena dari keluarga sakinah-lah akan muncul generasi-generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman pada era globalisasi ini.70 Dari puisi di atas dapat kita pahami bahwa dalam baik dan buruknya pendidikan anak adalah banyak ditentukan oleh kedua orang tuanya (keluarga). Keluarga sebagai satu kesatuan terkecil dari suatu masyarakat memliki peranan penting dalam pembinaan manusia. Di antara peranan keluarga sakinah itu adalah sebagai berikut: a. Sebagai lembaga pendidikan bagi anak. Bagi seorang anak .

b. Termasuk juga pengaruhnya setelah anak memasuki lembaga pendidikan formal. Karena nilai-nilai pendidikan tersebut akan dijadikan bekal bagi seorang anak yang akan menjadi generasi penerus di masa yang akan datang. Orang tua sebagai penganggung jawab dalam lingkungan keluarga berperan penuh dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat.71 sebelum ia mengetahui dunia luar secara lebih luas. Sebagai sumber kasih sayang Pelaksanaan tugas dan peran keluarga sehari-hari tentunya dilakukan tanpa menghilangkan unsur kasih sayang sebagai segalanya di antara anggota keluarga. yaitu hubungan orang tua dengan anaknya yang mengarah kepada sikap mendidik. yang akan membawa perkembangan positif bagi perkembangan psikis anak-anaknya. Setiap orang tua berusaha untuk menjaga keluarga. sehingga terjadi hubungan yang khas. menghargai. Keluarga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap anak-anak yang menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya. menyayangi dan menghormati harus terwujud secara . Lingkungan yang dapat menciptakan hubungan yang serasi antara sesama anggota keluarga. maka sifat saling mengerti. maka lingkungan keluargalah yang pertama ia jumpai. Peranan orang tua juga dituntut dalam mengembangkan nilai-nilai pendidikan sedini mungkin.

c. Sebagai sumber motivasi Motivasi belajar pada anak biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. yaitu: memberikan permainan yang mengandung unsur edukatif (pendidikan) untuk merangsang penalaran. keterampilan dan kreatifitas pada anak. hal ini didasarkan pada latar belakang kehidupan keluarga yang berbeda. Motivasi belajar pada anak dapat dikembangkan sedini mungkin melalui usaha di antaranya. Di sekolah sering kita jumpai motivasi belajar pada anak yang bervariasi.72 nyata dan dapat dirasakan adanya rasa kasih sayang dalam keluarga tersebut sejak lahir. Keinginan dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tua pada umumnya akan mempengaruhi motivasi belajar pada anak. yang dimulai sejak anak dapat berkomunikasi dengan dunia luar. akan tetapi melalui proses yang panjang. emosi. Adanya rasa kasih sayang dalam keluarga akan memberikan rasa tentram. . Dengan usaha tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan atau motivasi bagi anak untuk belajar dengan penuh kesungguhan. sehingga anak-anak betah berada di dalam lingkungan keluarga.

Dengan turut sertanya orang tua dalam mematuhi setiap peraturan yang dibuat akan memberikan penilaian bagi anak terhadap orang tuanya. baik secara langsung maupun tidak langsung. Aspek-aspek yang dibutuhkan dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Terhadap Anak Dalam membina akhlakul karimah anak. Keteladan yang diberikan orang tua kepada anaknya dalam rumah tangga akan lebih mudah meresap ke dalam jiwa anak dibanding melalui nasihat. Sebagai sumber teladan bagi anak Orang tua memilki peranan yang sangat penting dan memilki tanggung jawab terhadap semua anggota keluarga yang berada di bawah tanggung jawabnya. Orang tua hendaknya menerapkan tentang aspek-aspek yang . Orang tua adalah panutan yang selalu ditiru dan dicontoh oleh anaknya dalam setiap tingkah lakunya. Mereka akan menjadikan orang tua sebagi figur teladan bagi anak-anaknya. D.73 d. Islam mengajarkan kepada setiap orang tua yang dalam hal ini adalah keluarga agar mengetahui tentang aspek-aspek yang dibutuhkan dalam proses pembinaan akhlakul karimah terhadap anak. Namun orang tua dituntut untuk mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku di dalam keluarga.

Dan ajaran Islam itu sangatlah sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa pendidikan itu dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan. mulai pasangan suami istri melakukan kebersamaan (persetubuhan) untuk mengucapkan doa yang telah diajarkan Rasulullah saw. h. 20 Syahmini Zaini. dan mempraktekkannya dalam kehidupannya. di antaranya adalah:20 1. 24 Ke-3.74 dibutuhkan dalam proses pembinaan akhlakul karimah anak. et. h. agar dijauhkan dalam kebersamaan suami-istri itu dari godaan dan campur tangan setan.el. Hal ini karena orang tua terutama ibu mempunyai pengaruh dalam pembentukan kepribadian anak yang masih berada di dalam kandungan ibu. Menanamkan nilai-nilai agama Islam telah mengajarkan bahwa dalam membina akhlak anak haruslah dilakukan sedini mungkin.. Pendidikan Anak dalam Islam. 21 Dari keterangan di atas dapat kita pahami bahwa menanamkan nilai-nilai keagamaan pada anak mutlak diperlukan dan itu dimulai sedini mungkin agar kelak setelah dewasa anak dapat terbiasa dengan nilai-nilai agama yang diberikan orang tuanya. 38 21 . (Jakarta: Kalam Mulia. 2004) Cet Ibid.

. sedang ia sendiri tidak mengerjakannya. puncaknya anak akan menajdi pemberontak. Adat yang diulangulang akan menjadi sifat. maka anak paling tidak akan menjadi bingung.75 Dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak hendaknya orang tua dapat melakukan hal ini kepada anak: a. Abu Daud dan Baihaqi). sebab dia merasa telah dibohongi.” b. Kebiasaan yang diulang-ulang akan menjadi adat. untuk diteladani haruslah terlebih dahulu mempunyai budi pekerti yang baik. Kalau orang tua menyuruh anaknya berbuat sesuatu. bersabda: “Biasakanlah anak dengan shalat apabila ia telah dapat membedakan antara tangan kanan dan kiri (HR. Pembiasaan Nabi Muhammad saw. Sifat hanya akan terbentuk dengan pembiasaan. apalagi kalau mengerjakannya berlawanan dengan yang disuruhnya. Dengan demikian berarti mendidik manusia adalah juga dengan memberikan keteladanan. Memberikan teladan Nabi dikirim Allah ke bumi ini adalah untuk mendidik manusia. Ada hukum yang menyatakan: “Sesuatu yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan.

. Seperti puasa adalah untuk menghayati rasa lapar yang sering dirasakan oleh orang-orang miskin. Memberikan pengertian Berikanlah pengertian kepada anak terhadap setiap tingkah laku dan ajaran Islam yang harus dikerjakan. Seperti ceramah. Pengalaman Pengalaman adalah guru terbaik. diskusi. bercerita dan lain sebagainya. Tanya jawab. Memberikan pengertian ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. d. Memberikan penghayatan Memberikan penghayatan di sini adalah memberikan maknamakna apa dibalik perbuatan ini harus dilakukan dan perbuatan ini harus ditinggalkan.76 c. agar kelak anaknya dapat memetik pelajaran dari pengalaman orang tuanya atau pengalaman orang lain yang diceritakan oleh kedua orang tuanya. Tetapi juga harus diingat pemberian pengertian ini harus disesuaikan dengan perkembangan akalnya. e. Orang tua dalam hal ini hendaknya memberikan pengalaman-pengalaman mereka ataupun pengalaman orang-orang sebelum mereka kepada anaknya.

anak perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan. Pendidikan Anak dalam Islam. mengingatkan akan pentingnya beriman dan bertaqwa kepada Allah. (Jakarta: Kalam Mulia. baik itu pengetahuan agama ataupun pengetahuan umum. Ke-3. hendaklah mereka diajak bermusyawarah untuk menyelesaikannya. karena itu mereka akan siap untuk memikulnya walaupun berat dan penuh resiko. 40-43 22 . 2. et al. karena dengan pengetahuan seseorang dapat mengetahui hal-hal apa saja yang boleh dilakukan dan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan.77 f.22 Dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak juga bisa dilakukan dengan mengajaknya pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. melazimkan membaca Al-Qur’an setelah shalat maghrib atau shalat shubuh. Musyawarah Setiap persoalan yang dihadapi yang berhungan dengan anak tersebut. h. Pengetahuan Dalam membina akhlakul karimah. dan lain sebagainya. mengajarkan untuk dapat istiqamah dalam hal kebaikan. 2004) Cet. mengajarkan untuk mencintai Rasulullah saw. Ilmu adalah “Nur” (cahaya) yang akan menerangi seseorang kepada jalan yang Syahminan Zaini. Dengan demikian si anak akan merasa dihargai dan merasa bertanggung jawab. mengajarkan membaca doa ketika akan atau setelah melakukan aktifitas.

dan siapa yang ingin mendapatkan keduanya. maka adalah dengan ilmu”.78 lurus yang diridhai Allah. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah saw : “Siapa yang ingin mendapatkan dunia. maka adalah dengan ilmu. sedang orang yang tidak berilmu akan terkena paku-paku kehidupan yang membawanya kepada kesesatan dan kemaksiatan sehingga akan menimbulkan kemerosotan moral bagi orang yang tak berilmu. Ilmu agama akan membawa dia kepada derajat yang tinggi dan kehidupan yang bahagia di hari kiamat nanti. dan siapa yang ingin mendapatkan akhirat. Dengan ilmu seseorang akan mengetahui dengan jelas paku-paku kehidupan yang akan mencelakakan dia. maka hendaknya orang tua memperhatikan hal ini dan menyadari akan pentingnya menanamkan keilmuwan kepada anak agar kelak ia mempunyai akhlakul karimah pada kehidupannya. sedang ilmu umum akan membawanya kepada kebahagiaan di dunia. Oleh karena itu. maka adalah dengan ilmu. Dan Nabi Muhammad saw telah menegaskan dalam sabdanya: ˶ Ύ˴˸Χ˴ ˸΍˴ ˶ Ύ˴ ˴ ˴ ˷ ˴ ˵ ˵ ˸Θ˶ ˵ Ύ˴ ͉ ˶ ϕ Ϡ ϻ ϡέ Ϝϣ Ϣ˶ Η˶ Κ όΑ Ϥϧ΍ Ϥϻ Artinya : “Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak.” Orang tua juga dalam hal ini mempunyai kewajiban agar anaknya mempunyai dan menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu .

1990). 1996). agar kemudian setelah mereka selesai dapat kembali ke masyarakat. 99 Wasty Soemanto. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pempinan Pendidkan). yaitu faktor internal dan ekternal. Qur’an Hadits (Untuk Madrasah Aliyah Kelas III). dan masyarakat atau tempat bermainnya dan lain sebagainya. Dalam buku Drs. Ke-3. Cet. serta menjalankan dakwah Islamiyah dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula. Cet. (Jakarta: Menara Kudus. Faktor internal adalah faktor yang dibawa sejak lahir. Ke-1. 23 b. seperti keluarga. interaksi dan kondisi dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain”. el. Wasty Soemanto yang berjudul “Psikologi pendidikan” dikatakan bahwa “Lingkungan adalah yang mencakup segenap stimulasi. h. mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut. Keniscayaan Lingkungan yang Kondusif (Sakinah) dalam Membina Akhlakul Karimah Pada hakikatnya perbuatan atau kelakuan seseorang adalah ditentukan dan dipengaruhi oleh dua faktor. (Jakarta: Rineka Cipta.79 dan mendalami ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan. 80 24 23 . et.24 Chatibul Umam. dan faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi yang berasal dari luar. h.

dan orang yang khianat adalah termasuk kategori orang munafik. 1991) Cet. (Jakarta: Bumi Aksara. lingkungan ikut memberi andil bagi proses pertumbuhan. Ia masih menerima segala apa yang digoreskan kepadanya dan canderung kepada setiap hal yang ditunjukkan kepadanya. h. Ke-1. et. el. bersih dan sederhana.89 26 . oleh sebab itu hendaknya orang tua dapat memberikan seluruh kemampuannya dalam mendidik anaknya. Sejak individu berada dalam konsepsi. Anak lahir dalam keadaan suci. Hal ini menunjukkan bahwa anak lahir dalam keadaan tidak berdaya dan 25 Ibid. hatinya suci bagaikan juhar yang indah sederhana dan bersih dari segala goresan dan bentuk. Orang yang tidak pandai menjaga amanat adalah termasuk orang yang khianat. karena anak merupakan amanat yang Allah berikan kepadanya. h..25 Dari keterangan di atas dapat kita pahami bahwa keluarga (orang tua) merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pendidikan akhlak anak.26 Lebih lanjut Al-Imam Ghazali mengatakan bahwa tanggung jawab keluarga yakni kedua orang tua terhadap pendidikan anaknya meliputi dua macam alasan. 81 Zainuddin. Al-Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa anak adalah suatu amanat Tuhan kepada orang tuanya.80 Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa lingkungan sangat besar artinya bagi setiap pertumbuhan pisik. yaitu: 1. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali.

narkotika dan lain sebagainya. perjudian. yaitu bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya sebagi amanat Tuhan yang wajib dilaksanakan. sehingga akan banyak muncul tindakantindakan yang negatif bahkan dapat kepada tindakan yang kriminal dan anarkis. hal ini karena keluarga adalah pendidikan pertama dan yang utama bagi seorang anak. seks bebas. pemerkosaan.27 Dari keterangan di atas dapat jelas kita pahami bahwa lingkungan (keluarga) mempunyai pengaruh terhadap perkembangan akhlakul karimah anak. maka tentu akan lahir generasi-generasi yang tidak kita harapkan. Orang tua (keluarga) adalah tempat menggantungkan diri dan tempat berlindung anak secara wajar berdasarkan atas adanya hubungan antara anak dan kedua orang tua. seperti tawuran antar pelajar. sehingga masih sangat menggantungkan diri pada orang lain yang lebih dewasa.81 belum dapat berbuat apa-apa. . Dari generasi-generasi yang seperti inilah yang akan melahirkan masyarakat yang tidak berakhlak. jika keluarga itu tidak ada ketenangan dan kesejahteraan serta tidak ada penanaman nilai-nilai agama dan pengetahuan di dalamnya. Hal yang semacam ini adalah karena gagalnya sebuah keluarga dalam mendidik anak-anaknya dan tidak menanamkan nilai-nilai dan batasan-batasan yang telah agama atur di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kelahiran anak di dunia adalah merupakan akibat langsung dari perbuatan kedua orang tuanya. perampokan. 2. h. 89. 27 Ibid. Oleh karena itu kedua orang tua sebagai orang yang telah dewasa harus menanggung segala resiko yang timbul sebagai akibat perbuatannya. .

Membangun Keluarga. At-Tahrim: 6) dirimu dan keluargamu dari api E. Firman Allah Ta’ala: ΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Jagalah/peliharalah neraka…. Ke-2. Cet.28 Ketika keluarga atau orang tua itu menyakini dan mengamalkan di dalam keluarga itu tentang firman Allah SWT : ˳ Ύ˴ ˴ ˴ ˴ ˸Ϡ˶ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ϭ˵˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ϣ˵ ˸Ϩ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍˵ ͉ϟ΍˶ ˴ ˸ή˴ Ε ΟέΩ Ϣ ό Η ΃ Ϧ άϟ ϭ Ϝ ϣ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϪϠ ϊϓ ϳ Artinya :“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan dan orangorang yang berilmu itu beberapa derajat. h. 2005). dan rusaknya masyarakat adalah menandakan rusaknya keluarga di dalamnya. (Bandung: MQS.82 Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat.” (QS. Publishing. Al-Mujadilah. 11) 28 Abdullah Gymnastiar. Dan baiknya masyarakat menandakan baik pula keluarga di dalamnya. Tidak akan ada masyarakat tanpa keluarga.(QS. Oleh karena itu Allah berfirman agar kita menjaga diri kita dan keluarga kita agar tidak jatuh dalam jurang kehancuran dan kenistaan. Implikasi Positif Pembinaan dalam Merespon Perkembangan Ilmu Pengetahuan & Tekhnologi (IPTEK) Keluarga yang sakinah merupakan keluarga yang dapat menjadikan di dalamnya sebagai pusat ilmu. 14 .

Semuanya itu tidak akan terwujud bila dalam keluarga itu tidak mempunyai manejemen yang baik dalam rumah tangganya. Orang tua yang mampu membina rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah. adalah kekayaan yang teramat berharga. dan meluaskan ilmu. kesejahteraan (sakinah). akan mampu menanamkan pada anaknya tentang pentingnya ilmu pengetahuan. yakni tentang keimanan dan keilmuwan. Dalam keluarga yang sakinah. seperti orang yang main film atau sinetron tetapi tidak mengenal skenario. kenyamanan. sedang manajemen yang baik hanya ada pada keluarga yang terdapat di dalamnya ketentraman. Ilmu pengetahuan akan menjadikannya generasigenerasi yang mampu menghadapi tantangan zaman di kemudian hari. Orang yang tidak mempunyai ilmu. memperkaya.83 Maka orang tua akan menyadari tentang kewajiban untuk membina anaknya agar tidak hanya matang dalam bidang keagamaan tetapi juga matang dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. orang tua mampu menanamkan nilai-nilai agama kepada anak. Kegigihan sebuah rumah tangga dalam menuntut. Ibarat orang memasuki rimba belantara tetapi tidak . Hendaknya orang tua dapat menjadikan di dalam keluarganya sebagi pusat ilmu terhadap anak-anaknya. dan salah satu nilai-nilai agama yang harus ditanamkan kepada anak adalah tentang firman Allah Ta’ala pada surat Al-Mujadilah :11.

seperti orang yang masuk ke dalam lorong gua tanpa mengenali jalan-jalannya. Musibah dan fitnah akhirnya menjadi akrab dengan rumah tangga tersebut. Ke-1. yaitu strategi yang dapat mengembangkan atas kerja dan etos IPTEK berdasarkan AlQur’an dan Sunnah Rasul. baik 29 Ibid. sebuah keluarga yang dalam hal ini adalah orang tua mempunyai kewajiban dalam mengembangkan strategi yang intensif dan terarah kepada anak-anaknya. (Semarang: Inetrmasa. h.30 Rafiu’din dalam bukunya “Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah)” mengatakan bahwa dalam pembinaan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak. 17 Ibid 30 Rafi’udin.. 31 Oleh karena itu.29 Keluarga yang semacam ini adalah sepanjang waktu diselimuti oleh kegelisahan.h. 65 31 . yakni memberikan stimulus dan motivasi kepada anak-anaknya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. perlu adanya strategi yang intensif dan terarah. 2001) Cet.84 membawa peta. Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). Perlunya strategi untuk membina ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut adalah dalam rangka mengikis krisis IPTEK di kalangan umat Islam.

dari keluarga semacam inilah akan tumbuh dan berkembang pemudapemuda yang dapat mengejar ketertinggalan umat Islam dalam bidang keilmuwan dan teknologi. maka jelaslah bahwa keluarga sakinah mempunyai dampak yang positif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) kepada anak-anaknya. 2005). Ke-1. dari keluarga inilah lahir tokoh-tokoh besar di panggung sejarah.32 Dari keterangan di atas. Ajaran Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi yang terbelakang dan tertinggal dengan umat yang lain... dan berapa banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi saw yang 32 Ridha Salamah. (Jakarta: Wadi Press. Hal ini seperti keluarganya Sayyidina Umar bin Khathab ra. Orang-orang yang besar hanya akan lahir dari asuhan keluarga yang istimewa (sakinah). Bangunan Keluarga dambaan. 38 . et. Cet.el. Hal ini karena keluarga sakinah adalah keluarga yang menyadari akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi. h. ataupun memasukkannya ke sokolah-sekolah yang berkualitas. yakni keluarga yang memilki cita-cita besar untuk menata dunia.85 dengan mengajarkannya langsung di rumah. Perhatikanlah orang-orang sekaliber Abdullah bin Umar dan Ummu Hafshah binti Umar Ummul Mukminin. berapa banyak ayat AlQur’an dan hadits Nabi saw yang menyatakan akan pentingnya ilmu dan keutamaannya.

karena itulah manusia Allah bekali dengan akal agar manusia dapat mempelajari ayat-ayat Allah yang tertulis dan yang tidak tertulis (alam semesta). bukan umat yang tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi .86 menyatakan ruginya orang yang tidak mempunyai ilmu. akan mampu menjadikan umat Islam sebagai umat yang maju dan terdepan. dan dengan ilmu manusia berbeda dengan hewan. Dengan ilmu dunia dan akhirat dapat diperoleh. Keluarga yang di dalamnya terdapat pengetahuan tentang agama dan mampu menanamkan nilai-nilainya khususnya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya atau anggota keluarganya.

sebagai berikut: 1. Untuk itu. latihan. Begitu juga sebaliknya kegagalan di dalam keluarga akan membawa kegagalan di luar keluarga. yang berguna bagi kehidupannya di dalam maupun di luar keluarga.BAB V PENUTUP A. penulis akan berupaya menyimpulkan pembahasan tersebut. Keberhasilan dan suksesnya orang tua dalam membangun keluarga yang sakinah akan membawa keluarga tersebut berhasil dan sukses di luar keluarga. keakraban terhadap anak-anaknya atau anggota keluarga akan mudah mendidik anak-anaknya untuk dapat menjadi muslim yang berkualitas yang senantiasa berkarya dalam kehidupannya. dan pemberian ganjaran yang sesuai dengan prinsip-pinsip Islam. Cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan pembiasaan. hukuman. Peranan orang tua (keluarga) yang di dalamnya penuh kasih sayang. 87 . keteladanan. Kesimpulan Uraian yang telah disajikan pada bab-bab sebelumnya mengenai Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Kehidupan Keluarga yang Sakinah telah membawa penulis pada bagian akhir dari skripsi ini. 2.

di antara saran-saran itu adalah: 1. Kepada para orang tua agar kiranya dapat menciptakan kenyamanan. kesejahteraan. karena Nabi merupakan uswah (tauladan) dalam segala aspek kehidupan kita. Orang tua juga hendaknya memperhatikan tentang perkembangan anak-anaknya dalam hal menjalankan ajaran agama dan juga . Hendaknya kepada para pemuda dan pemudi yang belum menikah atau yang akan menikah agar mengutamakan wanita/laki-laki yang patuh dalam menjalankan agamanya sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. Dalam membina keluarga tentu yang dijadikan pegangan dan contoh adalah keluarga Nabi Muhammad saw. dan kasih sayang di dalam keluarga serta dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada anggota keluarga. keakraban. 2. agar tercipta keluarga yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. cara Nabi membina keluarga.88 B. penulis tunjukkan saran ini kepada pihakpihak yang mempunyai andil dalam membangun sebuah keluarga dan yang mempunyai andil dalam pembinaan akhlak seorang anak. dan juga dapat mempersiapkan keluarganya nanti menjadi keluarga yang penuh ketenangan dan kasih sayang (Sakinah Mawaddah Warahmah) dengan mengambil pelajaran dari keluarga orang tuanya atau keluarga orang lain. membaca buku-buku yang berkaitan dengan keluarga Sakinah. atau membaca sejarah tentang keluarga Nabi saw. ketenangan. Saran-saran Dalam memberikan saran-saran.

Oleh karena itu pemerintah hendaknya memperhatikan kesejahteraan keluarga yang ada di bawah naungan.89 memperhatikan tentang keilmuan mereka baik yang sifatnya sementara (dunia) ataupun yang akan datang (akhirat). tidak hanya pada keluarganya sendiri. . 3. Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. hendaknya dapat memahami hal ini agar kelak ketika di sekolah para pendidik dapat bekerja sama dengan para orang tua murid tentang kendala-kendala yang dihadapi anak di sekolah. Bagi pihak guru atau pendidik. tetapi keluarga-keluarga yang ada di masyarakat juga ia perhatikan demi terwujudnya masyarakat madani yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur”. Kepada para segenap aparat pemerintah atau tokoh masyarakat agar mempunyai peranan dalam hal ini. Dan ini harus dilakukan sedini mungkin agar kelak nanti si anak akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik di kemudan hari. 4. yang bila keluarga itu rusak maka rusak pula masyarakat itu.

penulis akan berupaya menyimpulkan pembahasan tersebut. keakraban terhadap anak-anaknya atau anggota keluarga akan mudah mendidik anak-anaknya untuk dapat menjadi muslim yang berkualitas yang senantiasa berkarya dalam kehidupannya. Cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan pembiasaan.BAB V PENUTUP A. latihan. 87 . Untuk itu. sebagai berikut: 1. Peranan orang tua (keluarga) yang di dalamnya penuh kasih sayang. 2. hukuman. Keberhasilan dan suksesnya orang tua dalam membangun keluarga yang sakinah akan membawa keluarga tersebut berhasil dan sukses di luar keluarga. dan pemberian ganjaran yang sesuai dengan prinsip-pinsip Islam. yang berguna bagi kehidupannya di dalam maupun di luar keluarga. keteladanan. Begitu juga sebaliknya kegagalan di dalam keluarga akan membawa kegagalan di luar keluarga. Kesimpulan Uraian yang telah disajikan pada bab-bab sebelumnya mengenai Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Kehidupan Keluarga yang Sakinah telah membawa penulis pada bagian akhir dari skripsi ini.

dan kasih sayang di dalam keluarga serta dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada anggota keluarga. Hendaknya kepada para pemuda dan pemudi yang belum menikah atau yang akan menikah agar mengutamakan wanita/laki-laki yang patuh dalam menjalankan agamanya sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. dan juga dapat mempersiapkan keluarganya nanti menjadi keluarga yang penuh ketenangan dan kasih sayang (Sakinah Mawaddah Warahmah) dengan mengambil pelajaran dari keluarga orang tuanya atau keluarga orang lain. membaca buku-buku yang berkaitan dengan keluarga Sakinah. Saran-saran Dalam memberikan saran-saran. cara Nabi membina keluarga. karena Nabi merupakan uswah (tauladan) dalam segala aspek kehidupan kita. ketenangan. keakraban. kesejahteraan. Orang tua juga hendaknya memperhatikan tentang perkembangan anak-anaknya dalam hal menjalankan ajaran agama dan juga .88 B. 2. Dalam membina keluarga tentu yang dijadikan pegangan dan contoh adalah keluarga Nabi Muhammad saw. atau membaca sejarah tentang keluarga Nabi saw. Kepada para orang tua agar kiranya dapat menciptakan kenyamanan. agar tercipta keluarga yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. penulis tunjukkan saran ini kepada pihakpihak yang mempunyai andil dalam membangun sebuah keluarga dan yang mempunyai andil dalam pembinaan akhlak seorang anak. di antara saran-saran itu adalah: 1.

tidak hanya pada keluarganya sendiri. Oleh karena itu pemerintah hendaknya memperhatikan kesejahteraan keluarga yang ada di bawah naungan.89 memperhatikan tentang keilmuan mereka baik yang sifatnya sementara (dunia) ataupun yang akan datang (akhirat). 4. Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Bagi pihak guru atau pendidik. . Kepada para segenap aparat pemerintah atau tokoh masyarakat agar mempunyai peranan dalam hal ini. 3. tetapi keluarga-keluarga yang ada di masyarakat juga ia perhatikan demi terwujudnya masyarakat madani yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur”. Dan ini harus dilakukan sedini mungkin agar kelak nanti si anak akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik di kemudan hari. hendaknya dapat memahami hal ini agar kelak ketika di sekolah para pendidik dapat bekerja sama dengan para orang tua murid tentang kendala-kendala yang dihadapi anak di sekolah. yang bila keluarga itu rusak maka rusak pula masyarakat itu.

Cet. Athiyah. Jakarta: Bulan Bintang. Cet. Drs.. Bandung. Pedoman Ilmu Jaya. 1996. 1993. Muhammad. Ke-7 Ahmadi. Kesehatan Mental. Semarang: Ramadany. Ke-5 Bakrie. Partanto. Cet. Muhammad. H. . 1975. Ke-1 Anis. Prof. H. Ethika (Ilmu Akhlak).DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an al-Karim Abrasyi. Ke-1 Bakri. Ahmad. Drs. Cet. Jakarta: CV. Ilmu Pendidikan Islam. 1975 Ali.Ed. Oemar. Al. Ibrahim. Jakarta: Penasehat Pustaka Amami. 1972 A. Bandung: Aksara. Ke-2 Basya. Cet. 1993 Amin. et. Cet. Ke1 90 . Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Jakarta: Bulan Bintang. 2004. Jakarta: Bumi Aksara. Pengantar Sosiologi. 1994. Surabaya: Arkola. 2000. Cet.. Ke-1 Burhanudin. Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Ghazali. Kamus Ilmiah Populer.. Akhlak Muslim. Kunci Keutuhan Rumah Tangga (Keluarga yang Sakinah). Isyan. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Prof. Al-Mu’jam Al-Wasith. Ke-1 Arifin. 1999. 1986. Yusak. Bandung: Pustaka Setia.el. dr. Cet. Hasyimi. M. Pius. Abu. Sidiq Nazar. Mesir: Darul Ma’arif.

Kesehatan Mental dalan Keluarga. Abdullah. Ilmu komunikasi Suatu Pengantar. . 2003. Cet. 1983. Sistem Ethika Islam. Jakarta: Rineka Cipta. Cet. Ke-5 .3 Iskandar. Jakarta: Pustaka Antara. HJ. 2001. Publishing. Ke-3 Ghazali. Muhammad Rasyid. Ke-1 Djatmika. Ke-2 Ha’iri. Al. 2005. Ke-3 Dimas. Ke. Ilmu Jiwa Agama.3 Nata. Imam. Ke-2 Daradjat. RajaGrafindo Persada. Mukasyafatul Qulub  (Rahasia Ketajaman Mata hati). Prof. M. Rahmat. 1993. Akhlak Seorang Muslim.91 Dalyono. Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku. 2004. 1996. Syekh. Cet. Nur ‘Aini. Cet. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara). Membangun Keluarga. Ke. Fadhlullah. Cet. 1995 Gymnastiar. Jakarta: Pustaka Panjimas. 2003. Cet. Bandung: MQS. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2001. Cet. Cet. (Alih Bahasa: Fatihuddin Abul Yasin). Cet.Ali. DR. Jakarta: Bulan Bintang. Zakiyah. Ke-1 Ghazali. Muhammad. Psikologi Pendidikan. 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak. Deddy. Ke-4 Hasan.˶ Al. Cet. Tuntunan Akhlak.. Jakarta: Bulan Bintang. (Kata-kata Mutiara ‘Ali bin Abi Thalib. Ke-12 Mulyana. 2005. Cet. Jakarta: Eska Media. Akhlak Tasawuf. Semarang: Wicaksana. Abudin. Ke-16 ____________. Surabaya: Terbit Terang. Muhamamd. Bandung: Pustaka Hidayah. Jakarta: PT. Cet. Bandung: Remaja Rosdakarya.

100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim. Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). Ciputata: Wadi Press.. 2006) Sha’idi. Cet. Drs. 2005.. Cet. Bangunan Keluarga Dambaan (Panduan Membangun keluarga). Zaitunah. Membina Keluarga Sakinah. Abdul Latif.al. Ke-1 Retno. . Paras. Prof. 1996. Cet. Semarang: Inermasa. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pimpinan Pendidikan).. Tarbiyatul Aulad (Pedoman Pendidikan dalam Islam). Ke-1 Soemanto. 36 (September.. Cet. Qur’an Hadits (Kelas 3). Dr. Abdullah Nashih. 1990. Ke-2 Thaib.. Cet. Ke-1 Salamah. 2004. 2001. DR. Bina Usaha. Abdul Hakam. Jakarta: PT: Hikmat Syahid Indah. Jakarta: Rineka Cipta. Cet. Ismail. Chatibul. Yogyakarta: CV. Ke-1 Wahhab. al. 43 langkah Mengakrabkan Orang Tua dengan Anak. Cet. Jawa Tengah: Menara Kudus. 2001. S.. Ridha.. et. Ke-1 Thalib. Hj. Risalah Akhlak.. Cet. Ke-3 Subhan. Bandung: Asy-Syifa’. 1988. Muhammad. Ke-1 Umam.92 Rafiu’din. Bandung: Irsyad Baitus Salam. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Mengubah Anak pemalu Menjadi Pemberani. 1984. H. 2001.Ag. 2002 Ulwan. Pedoman Penulisan Skripsi. Solo: At-Tibyan . Ke-1 UIN Syarif Hidayatullah. Teis dan Disertasi IAIN Syarif Hidayatullah. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana. Wasty. et. Cet. Drs. Menuju Keluarga Sakinah.

Cet. Ke-6 Zaini. Bandung: CV.. al. Cet. 1991. 2004. Hamzah. H. Diponogoro. qur’an digital. 2004. Cet. 1993. Pendidikan Anak Dalam Islam... Jakarta: Bumi Aksara. Ke-3 Zainudin...93 WWW. Syahmini. Seluk-Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. com. Drs. Ke-1 . Drs. et. tentang akhlakul karimah menurut Al-Qur’an Ya’qub. Ethika Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.