KATA PENGANTAR

ϢϴΣή˷΍ϦϤΣήϟ΍Ϳ΍ϢδΑ ϟ Puji syukur kehadirat Allah swt, atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyuunan skripsi yang berjudul “ PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELLAUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH”. Shalawat dan alam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabatnya. Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana pendidikan agama Islam pada Jurusan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan tidak lepas dari keterbatasan, namun berkat bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak, maka skripsi ini dapat diselesaikan. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan, terutama kepada Bapak Drs. Khalimi, M Ag. sebagai pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan arahan yang sangat berharga kepada penulis. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada : 1. Kepada ayahanda dan Ibunda, H. Mucharor AM.,dan Hj. Sumiyati, yang telah mendidik dan membesarkan dengan kasih sayang dan memberi dorongan semangat serta doa yang tidak henti-hentinya, baik dikala siang maupun di

iv

tengah keheningan malam bagi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi ini. 2. Ibu Dra. Zikri Neni Iska ,M.SPi., penasehat akademik yang telah banyak memberikan waktunya dan masukan-masukan yang sangat berharga buat penulis. 3. Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 4. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 5. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. 6. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah. 7. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan benih-benih pengetahuan kepada penulis. 8. Kepada seluruh kakak-kakakku dan adikku tercinta, yang turut mencarikan buku-buku rujukan kepada penulis dan turut juga mendo’akan penulis dalam menyelesaikan studi ini. 9. Teruntuk Hj. Ida Rosyida –sang “mumtazah”-, yang tidak jemu-jemu dan bosannya memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. dan juga kepada keluarga besarnya di Cinagara. Semoga Allah selalu meridhai. “‘Asallaahu laa Yufarriquna” 10. Kepada teman-teman dan sahabatku, A. Dimyati, Yordan Sebastian, A. Dedi Muhdi, Syukri Rifa’i, Khusnun, Hafiz, Ari, Aji, Fauzi, Rohidin, Umar, Didin,

v

Syukur, Widi dan The C Mania Lainnya, dan juga kepada Eka Triwahyuningrum, keluarga Istana dan H Risdiyanto menyumbangkan saran-sarannya serta doa kepada penulis. Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan doa semoga Allah SWT. Memberikan ganjaran pahala yang berlipat kepada mereka yang turut membantu dalam menyelasaikan skripsi dan studi ini. yang yang telah

Jakarta, 12 November 2006

Penulis

vi

justru karena sibuknya orang tua dalam mencari dan mengumpulkan harta benda. di mana setiap manusia kini tengah disibukkan dengan urusan duniawi. Cet. Oleh karena itu timbullah gejala-gejala kemerosotan moral akhlak yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. perkelahian antar pelajar. Mendambakan Keluarga Tentram ( Keluarga Sakinah). sehingga melalaikan kehidupan yang lebih kekal. yaitu akhirat. 2001). (Semarang: Intermasa. seks bebas. Hal ini ditandai semakin banyaknya terjadi dikalangan remaja perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada kriminalitas. 1 Rafi’udin.BAB I PENDAHULUAN A. Mereka mengira dengan uang dan materi akan mampu membahagiakan mereka. iii 1 1 . sehingga mengesampingkan kasih sayang terhadap anak-anak mereka. Kenakalan remaja pun semakin meningkat. Kenyataan tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman. antara lain dengan bertambahnya aneka sumber kemaksiatan secara mencolok. h. Hal ini akan berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. Ke-1. korban narkoba dan dekadensi moral lainnya.

sehingga lambat laun akan membentuk watak serta kepribadian anak ketika dia beranjak dewasa.2 Dalam konteks psikologi pendidikan. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama.3 Hal ini bisa dilihat dari fiman Allah Swt : ϢϳήΤΘϟ΍. seorang anak pada dasarnya akan meniru apa yang dilihat atau dialami pada lingkungannya (behaviorisme/empirisme) di mana semua memori kejadian akan tersimpan dalam pikiran alam bawah sadarnya. maka yang terjadi adalah anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan lingkungan di luar sekolahnya (keluarga). pada realitasnya berdasarkan intensitas waktu seorang anak selama satu hari misalnya.2 Terkait dengan hal di atas. Ini artinya keluarga mempunyai peran yang sangat sentral di dalam membentuk kepribadian dan akhlak anak.

h. Ke-2. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta. Op Cit.΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. Itu artinya orang 2 M. At-Tahrim: 6) Ayat ini memberikan penjelasan bahwa Islam memerintahkan kita agar menjaga keluarga kita agar tidak terjerumus ke dalam jurang nista dan dosa yang akan mendorong kita dan keluarga masuk ke dalam api neraka. Dalyono. 21 3 . 2001). peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. h. Cet. 20 Rafi’udin.

memaafkan kesalahan orang lain. pengertian dan keakraban terhadap anak. 1999). yang jauh dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang. (Bandung: CV Pustaka Setia.4 4 Yusak Burhanudin. perkelahian antar pelajar dan perbuatan-perbuatan lain yang mengarah kepada kriminalitas. Dalam bukunya Drs. Yang dimaksud pendidikan agama di sini adalah penanaman jiwa agama sejak anak masih kecil dengan jalan membiasakan mereka untuk melakukan sifat-sifat dan kebiasaan yang baik. Dari keluarga yang sakinah inilah akan lahir generasi-generasi tumpuan bangsa. perlindungan. di antaranya: pemenuhan kasih sayang. dan jujur. Ke-1. yaitu manusia yang bertakwa. rasa aman. benar. 86 . Untuk dapat sampai ke arah sana (dalam membentuk keluarga yang sakinah). keterbukaan. h. Kesehatan Mental. misalnya menghargai hak milki orang lain.3 tua mempunyai kewajiban memberikan bimbingan dan contoh yang nyata berupa suritauladan kepada anak-anaknya agar mereka hidup selamat dan sejahtera. seperti seks bebas/seks di luar nikah. penyalahgunaan narkoba. Yusak Burhanudin yang berjudul “Kesehatan Mental” dikatakan tentang penyebab timbulnya kenakalan remaja atau anak-anak adalah salah satunya kurangnya pendidikan agama yang diberikan di dalam keluarga (orang tua). dan dari sanalah akan tumbuh masyarakat yang sejahtera. Cet. Dan hal ini hanya dapat diperoleh dari keluarga yang sakinah. dan sebagainya. suka menolong. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. selalu berkata terang.

Kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan ajaran agama. . yaitu kasih sayang orang tua. Namun. dapat dilakukan dengan mudah pada anak apabila ia mendapatkan contohcontoh dari orang dewasa disekitarnya terutama dari kedua orang tuanya. maka mereka akan terhindar dari kelakukan-kelakuan yang buruk. anak yang lahir itu membutuhkan kebutuhan pokok kejiwaan yang mana kebutuhan tersebut haruslah dipenuhi. Sebagai orang tua haruslah benar-benar memperhatikan hal ini agar penyesalan di kemudian hari tidak menimpa dirinya. orang tua hendaknya mendorong anak-anaknya untuk memahami ajaran agama. Bila hal tersebut terjadi. Apabila kepribadiannya dipenuhi nilai-nilai agama. tidak semua orang tua memahami ajaran agama tersebut bahkan memandang rendah ajaran agama itu. Orag tua yang tidak memperhatikan kasih sayang terhadap anaknya dan hanya disibukkan dengan 5 Ibid. maka si anak akan memiliki hati nurani yang lemah dan dirinya menjadi kosong dari nilai-nilai yang baik. Oleh karena itu.4 Penanaman kebiasaan yang baik yang sesuai dengan jiwa ajaran agama itu.5 Menurut para ahli jiwa. sehingga mereka terperosok dalam kelakuan yang tidak baik. si anak tidak mendapatkan pendidikan agama di sekolah karena pelajaran agama dianggap kurang penting dan tidak mempengaruhi kenaikan kelas. menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian si anak. Selain itu.

(Semarang: Intermasa.6 Oleh karena itu hendaklah orang tua harus dapat menciptakan suasana yang nyaman yang penuh kasih sayang di dalam keluarga demi terciptanya akhlakul karimah terhadap anak. Ke-7.h. agama. bangsa dan negara. Cet. (Jakarta: Akafa Press. Ke-1. 133 7 6 . yang bila engkau persiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat. 1997). di samping juga dapat menyebabkan si anak kehilangan pegangan. 18 Athiyah Al-Abrasyi. tetapi bila kau mendidik seorang wanita berarti kau mendidik seluruh keluarga. Cet. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hafiz Ibrahim yang dikutip oleh Athiyah al-Abrasyi dalam bukunya “Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam”. yaitu: Ύ˱ ͋ ˴ Ύ˱ ˸ό˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴Ύ˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴΍˴ ˶˲ ˴ ˴ ˸Ϊ˴ ͊ ˵ ˴ Βϴσ Β η Ε Ϊ ΍ ϬΗ Ϊ ΍ Ϋ΍ Δγέ ϣ ϡϷ΍ Artinya: “Ibu adalah suatu sekolah. Dalam hal ini. peran ibu sangat penting dalam membentuk karir keberhasilan anaknya sebagai anak yang berguna bagi keluarga. 2001). Dasar-dasar Pokok Pendiidkan Anak dalam Islam. Mendambakan Kelaurga Tentram (Keluarga Sakinah).” 8 Rafi’udin. Karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama untuk pembentukan serta pembinaan kepribadian anak secara utuh.5 urusan duniawi semata akan menyebabkan si anak menyimpang tingkah lakunya. h.” 7 Hal ini juga seiring dengan suatu nasihat yang mengatakan bahwa “Jika kau mendidik seorang pria berarti kau mendidik seorang manusia.

aman. Janganlah menikahi orang musyrik karena hal itu sangat dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya: Nur Aeni Iskandar. h. 7 10 .. setiap anggotanya merasakan suasana damai. dan dengan sesama manusia serta lingkungan10 Dalam hal ini hendaknya perlu disadari bawa pembinaan kehidupan keluarga yang sakinah itu haruslah dimulai sejak memilih pasangan atau jodoh. 8 Ke-2.9 Di samping itu. yaitu orang beriman. Sejahtera lahir adalah bebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. keluarga sakinah dapat memberi setiap anggotanya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dasar fitrah kemanusiaan. Ibid. dan sejahtera lahir dan batin. Sedangkan kesejahteraan batin adalah bebas dari kemiskinan iman. bahagia. Cet.26 9 8 Zaitunah Subhan. Cet. Ke-12. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Allah swt.6 Dalam keluarga yang harmonis (sakinah). h. Dua kemampuan dasar fitrah kemanusiaan dalam keluarga yang harmonis (sakinah) berkembang menjadi tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan SangPencipta. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara). h. yaitu fitrah sebagai hamba Tuhan yang baik dan fitrah sebagai khalifah fil ardhi. Membina Keluarga Sakinah. 2004). (Jakarta: Eska Media).

7 ˸Ϯ˴˴ ˳ ˴ ˶ ˸θ˵ ˸Ϧ˶ ˲ ˸ϴ˴ ˲ ˴ ˶ ˸Ά˵ ˲ ˴ ˴˴˴ ͉ ˶ ˸Ά˵ ϰ͉ ˴ ˶ Ύ˴ ˶ ˸θ˵ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ˶ ˸Ϩ˴ Ύ˴˴ ϟϭ Δϛή ϣ ϣ ή Χ ΔϨϣ ϣ Δϣ΄ϟϭ Ϧϣ ϳ ΘΣ Ε ϛή Ϥ ΤϜ Η ϟϭ ˸Ϣ˵ ˸Θ˴ ˴ ˸ϋ˴ Ϝ ΒΠ ΃ Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Allah Ta’ala berfirman: . Islam telah mengajarkan agar kita jangan meninggalkan generasi yang lemah. Di sini akan ditemui jalan buntu dalam upaya mencari jalan damai. Bekalilah diri dan juga mereka dengan ketakwaan kepada Allah. Namun kenyataannya setelah pernikahan tersebut berjalan dalam waktu yang relative lama (bertahun-tahun) dan telah dikaruniai anak. Al-Baqarah: 221) Di dalam kehidupan masyarakat kita sering melihat atau setidak-tidaknya melalui berita atau surat kabar diberitakan bahwa kasus yang sulit untuk didamaikan adalah kasus sengketa suami istri yang berbeda agama. maka salah satu pihak kembali ke agama yang dipeluknya. Pada saat berlangsungnya pernikahan kedua mempelai atau salah satunya mengikrarkan diri ke dalam agama yang sama. Kemudian agar pembinaan keluarga itu dapat mengoptimalkan pembinaannya kepada si anak sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Maka hebatnya Islam dan ajarannya yang jauh-jauh sebelumnya telah membekali umatnya agar jangan menikah dengan pria atau wanita yang tidak seiman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu…(QS.

penulis merasa tertarik dan terpanggil untuk menyusun skripsi dengan judul “PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELALUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH” Adapun alasan penulis memilih judul di atas adalah sebagai berikut: 1. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Karena banyaknya gejala-gejala kemerosotan moral akhlak anak remaja yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. Dan jika masyarakat itu rusak maka sudah dipastikan bahwa bangsa itu pun akan rusak. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” ( QS. B. Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat di mana jika unit terkecil itu rusak (keluarga) maka rusak pula masyarakat itu. Pembatasan masalah Untuk menghindari perbedaan persepsi serta pengarahan masalah agar tidak meluas.8 ΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴ Ύ˱ Ύ˴ ˶ ˱ ͉ ͋ ˵ ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴ ˸Ϧ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴ ϘΘϴ ϓ Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. maka permasalahan dalam penelitian ini peneliti batasi sebagai berikut: . 2. An-Nisa: 9) Dari uraian di atas.

Cara mendidik anak secara secara Islami dalam keluarga 2. Tujuan dan Manfaat Penelitian Ada pun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. maka perlu adanya perumusan masalah. Keluarga sakinah dalam mempengaruhi pembentukan akhlakul karimah terhadap anak.9 a. Perumusan masalah Agar permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini jelas dan terarah. Untuk mengetahui sejauhmana keluarga yang harmonis dalam mempengaruhi akhlakul karimah anak. C. Untuk mengetahui cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga. 2. meliputi usaha-usaha keluarga berupa cara-cara yang ditempuh dalam pembinaan akhlakul karimah anak. Akhlakul karimah yang dimaksud adalah akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. . 2. b. yakni: 1. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga.

D. maupun lingkungan akademis lain dan masyarakat pada umumnya. baik sifatnya primer maupun sekunder. . tesis dan disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidatatullah Jakarta tahun 2002. peneliti memakai jenis penelitian library research. Oleh karena itu. Dan secara praktis penelitian ini manfaatnya adalah sebagai kontribusi pemikiran dalam pembinaan akhlakul karimah terhadap anak khususnya dalam lingkungan keluarga. Buku-buku yang dijadikan bahan rujukan adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku pedoman penulisan skripsi. secara teoritis untuk memperkaya khazanah keilmuan khususnya di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. jenis data yang akan dibutuhkan adalah data kualitatif yang peneliti kumpulkan dari berbagai sumber tertulis. hadits dan karangan para ahli dan cendikiawan yang ada hubungannya dengan pembahasan dalam skripsi ini. Metode Penelitian Dalam penelitian karya ilmiah ini.10 Mengenai manfaat dari penelitian ini.

11 E. manfaat akhlakul karimah dan faktorfaktor yang mempengaruhi akhlakul karimah. cara membina keluarga yang sakinah. tujuan dan kegunaan penelitian. yang setiap bab terdiri atas beberapa sub yang saling berkaitan. dasar-dasar pembinaan akhluklul karimah. BAB IV. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. BAB II. dalam bab ini akan dipaparkan mengenai pembinaan akhlakul karimah pada anak. pembatasan dan perumusan masalah. peran keluarga sakinah dalam pembinaan akhlak. BAB III. ciri-ciri keluarga yang sakinah. yang terdiri dari pembinaan akhlak pada anak. bab ini mendeskripsikan tentang eksistensi keluarga sakinah yang terdiri dari pengertian keluarga sakinah. dan contoh keluarga sakinah dalam bingkai sejarah. yaitu: BAB I. dan keniscayaan lingkungan yang kondusif (sakinah) dalam membina akhlakul karimah . aspek-aspek yang dibutuhkan dalam pembinaan akhlak terhadap anak. metode penelitian dan sitematika penulisan. bab ini terdiri dari latar belakang masalah. dalam bab ini dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan akhlakul karimah yang terdiri dari pengertian akhlakul karimah.

ditujukan kepada segala pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan akhlakul kariamah terhadap anak khususnya orang tua yang mempunyai anak. .12 serta implikasi positif pembinaan dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) BAB V. sebagai penutup. bab ini berisi kesimpulan dari uraian pembahasan yang terdapat dalam bab-bab sebelumnya dan saran-saran yang merupakan kontribusi pemikiran dari penulis.

. Kepada ayahanda dan Ibunda. namun berkat bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak.KATA PENGANTAR ϢϴΣή˷΍ϦϤΣήϟ΍Ϳ΍ϢδΑ ϟ Puji syukur kehadirat Allah swt. Sumiyati. beserta keluarga dan sahabatnya. taufik dan hidayah-Nya. maka skripsi ini dapat diselesaikan.dan Hj. atas rahmat. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada : 1. penulis dapat menyelesaikan penyuunan skripsi yang berjudul “ PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELLAUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH”. baik dikala siang maupun di iv . H. Khalimi. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan tidak lepas dari keterbatasan. Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana pendidikan agama Islam pada Jurusan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. sebagai pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan arahan yang sangat berharga kepada penulis. Shalawat dan alam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad saw. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan. yang telah mendidik dan membesarkan dengan kasih sayang dan memberi dorongan semangat serta doa yang tidak henti-hentinya. terutama kepada Bapak Drs. M Ag. Mucharor AM.

3.M. yang turut mencarikan buku-buku rujukan kepada penulis dan turut juga mendo’akan penulis dalam menyelesaikan studi ini. penasehat akademik yang telah banyak memberikan waktunya dan masukan-masukan yang sangat berharga buat penulis. 2. Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Teruntuk Hj. 5. Ibu Dra. Ida Rosyida –sang “mumtazah”-. Hafiz. Rohidin. Khusnun. Dimyati. Yordan Sebastian. Zikri Neni Iska .SPi. Ari. Didin. v . Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. “‘Asallaahu laa Yufarriquna” 10. Semoga Allah selalu meridhai. Dedi Muhdi. Kepada teman-teman dan sahabatku. 9. yang tidak jemu-jemu dan bosannya memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. A. 6. 7. Umar. 8.tengah keheningan malam bagi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi ini. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah. A. Syukri Rifa’i. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan benih-benih pengetahuan kepada penulis. Fauzi. Aji. dan juga kepada keluarga besarnya di Cinagara. Kepada seluruh kakak-kakakku dan adikku tercinta. 4.

Memberikan ganjaran pahala yang berlipat kepada mereka yang turut membantu dalam menyelasaikan skripsi dan studi ini. dan juga kepada Eka Triwahyuningrum. Widi dan The C Mania Lainnya. keluarga Istana dan H Risdiyanto menyumbangkan saran-sarannya serta doa kepada penulis. 12 November 2006 Penulis vi . Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan doa semoga Allah SWT. yang yang telah Jakarta.Syukur.

........................................... Tujuan dan Manfaat Penelitian ............ DAFTAR ISI ................................... Dasar-dasar Pembinaan Akhlakul Karimah ....... Pengertian Keluarga Sakinah ........................................... Sistematika Penulisan .................. Contoh Keluarga Sakinah dalam Bingkai Sejarah ................................ iv vii 1 9 10 10 11 BAB II HAKIKAT PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH A......... Pengertian Akhlakul Karimah ............................... Manfaat Akhlakul Karimah ....................................... C.. Ciri-ciri Keluarga Sakinah ......................... B........................... Pembatasan Masalah ......................................................... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Akhlakul Karimah ............... Latar Belakang Masalah ........... D............................................... B....... Cara Membina Kaluarga Sakinah .....................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ......... D........................................................ 13 18 21 23 BAB III KONSEPSI KELUARGA SAKINAH A....................... BAB I PENDAHULUAN A......... E...................... C........................................................ 29 33 40 47 vii ......... Metode Penelitian .............................. D....................... B.................................................................................. C................................................

..................... C....................................................... 79 E................................... 87 B........................................ Keniscayaan Lingkungan yang Kondusif (Sakinah) dalam Membina Akhlakul Karimah ....................BAB IV PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PADA ANAK A................. Kesimpulan ...... Saran ....... 70 Aspek-aspek yang Dibutuhkan dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Terhadap Anak ............ Peran Keluarga Sakinah dalam Pembinaan Akhlak .. 73 D.................................. 54 B................................... 82 BAB V PENUTUP A........................................................... Implikasi Positif Pembinaan dalam merespon Perkembangan Ilmu Pengetahuan & Tekhnologi (IPTEK) ............... 90 LAMPIRAN viii ... 88 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. Pembinaan Akhlak Pada Anak .

sehingga mengesampingkan kasih sayang terhadap anak-anak mereka. seks bebas. Kenyataan tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya. Cet. 2001). korban narkoba dan dekadensi moral lainnya. justru karena sibuknya orang tua dalam mencari dan mengumpulkan harta benda. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman. yaitu akhirat. 1 Rafi’udin. Ke-1. Kenakalan remaja pun semakin meningkat.BAB I PENDAHULUAN A. di mana setiap manusia kini tengah disibukkan dengan urusan duniawi. Mereka mengira dengan uang dan materi akan mampu membahagiakan mereka. Hal ini akan berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. (Semarang: Intermasa. iii 1 1 . perkelahian antar pelajar. Hal ini ditandai semakin banyaknya terjadi dikalangan remaja perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada kriminalitas. Oleh karena itu timbullah gejala-gejala kemerosotan moral akhlak yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. sehingga melalaikan kehidupan yang lebih kekal. h. antara lain dengan bertambahnya aneka sumber kemaksiatan secara mencolok. Mendambakan Keluarga Tentram ( Keluarga Sakinah).

seorang anak pada dasarnya akan meniru apa yang dilihat atau dialami pada lingkungannya (behaviorisme/empirisme) di mana semua memori kejadian akan tersimpan dalam pikiran alam bawah sadarnya. pada realitasnya berdasarkan intensitas waktu seorang anak selama satu hari misalnya.2 Dalam konteks psikologi pendidikan.2 Terkait dengan hal di atas. maka yang terjadi adalah anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan lingkungan di luar sekolahnya (keluarga). sehingga lambat laun akan membentuk watak serta kepribadian anak ketika dia beranjak dewasa. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama.3 Hal ini bisa dilihat dari fiman Allah Swt : ϢϳήΤΘϟ΍. Ini artinya keluarga mempunyai peran yang sangat sentral di dalam membentuk kepribadian dan akhlak anak.

Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta. At-Tahrim: 6) Ayat ini memberikan penjelasan bahwa Islam memerintahkan kita agar menjaga keluarga kita agar tidak terjerumus ke dalam jurang nista dan dosa yang akan mendorong kita dan keluarga masuk ke dalam api neraka. h. Dalyono. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. 21 3 . Cet. Ke-2. 2001). h. 20 Rafi’udin. Op Cit. Itu artinya orang 2 M.΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman.

penyalahgunaan narkoba. benar. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. (Bandung: CV Pustaka Setia.4 4 Yusak Burhanudin. memaafkan kesalahan orang lain. Yang dimaksud pendidikan agama di sini adalah penanaman jiwa agama sejak anak masih kecil dengan jalan membiasakan mereka untuk melakukan sifat-sifat dan kebiasaan yang baik. 1999). Dari keluarga yang sakinah inilah akan lahir generasi-generasi tumpuan bangsa. Ke-1. rasa aman. misalnya menghargai hak milki orang lain.3 tua mempunyai kewajiban memberikan bimbingan dan contoh yang nyata berupa suritauladan kepada anak-anaknya agar mereka hidup selamat dan sejahtera. keterbukaan. Yusak Burhanudin yang berjudul “Kesehatan Mental” dikatakan tentang penyebab timbulnya kenakalan remaja atau anak-anak adalah salah satunya kurangnya pendidikan agama yang diberikan di dalam keluarga (orang tua). yaitu manusia yang bertakwa. dan dari sanalah akan tumbuh masyarakat yang sejahtera. pengertian dan keakraban terhadap anak. perlindungan. selalu berkata terang. dan jujur. dan sebagainya. h. 86 . Kesehatan Mental. Untuk dapat sampai ke arah sana (dalam membentuk keluarga yang sakinah). yang jauh dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang. Cet. Dalam bukunya Drs. Dan hal ini hanya dapat diperoleh dari keluarga yang sakinah. perkelahian antar pelajar dan perbuatan-perbuatan lain yang mengarah kepada kriminalitas. suka menolong. seperti seks bebas/seks di luar nikah. di antaranya: pemenuhan kasih sayang.

si anak tidak mendapatkan pendidikan agama di sekolah karena pelajaran agama dianggap kurang penting dan tidak mempengaruhi kenaikan kelas.5 Menurut para ahli jiwa. maka si anak akan memiliki hati nurani yang lemah dan dirinya menjadi kosong dari nilai-nilai yang baik. yaitu kasih sayang orang tua. Orag tua yang tidak memperhatikan kasih sayang terhadap anaknya dan hanya disibukkan dengan 5 Ibid. Namun. Selain itu.4 Penanaman kebiasaan yang baik yang sesuai dengan jiwa ajaran agama itu. sehingga mereka terperosok dalam kelakuan yang tidak baik. anak yang lahir itu membutuhkan kebutuhan pokok kejiwaan yang mana kebutuhan tersebut haruslah dipenuhi. dapat dilakukan dengan mudah pada anak apabila ia mendapatkan contohcontoh dari orang dewasa disekitarnya terutama dari kedua orang tuanya. Bila hal tersebut terjadi. Apabila kepribadiannya dipenuhi nilai-nilai agama. Oleh karena itu. maka mereka akan terhindar dari kelakukan-kelakuan yang buruk. Kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan ajaran agama. menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian si anak. orang tua hendaknya mendorong anak-anaknya untuk memahami ajaran agama. . tidak semua orang tua memahami ajaran agama tersebut bahkan memandang rendah ajaran agama itu. Sebagai orang tua haruslah benar-benar memperhatikan hal ini agar penyesalan di kemudian hari tidak menimpa dirinya.

2001). di samping juga dapat menyebabkan si anak kehilangan pegangan. Ke-1. Dalam hal ini. 18 Athiyah Al-Abrasyi. Ke-7. Mendambakan Kelaurga Tentram (Keluarga Sakinah). peran ibu sangat penting dalam membentuk karir keberhasilan anaknya sebagai anak yang berguna bagi keluarga. bangsa dan negara. yaitu: Ύ˱ ͋ ˴ Ύ˱ ˸ό˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴Ύ˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴΍˴ ˶˲ ˴ ˴ ˸Ϊ˴ ͊ ˵ ˴ Βϴσ Β η Ε Ϊ ΍ ϬΗ Ϊ ΍ Ϋ΍ Δγέ ϣ ϡϷ΍ Artinya: “Ibu adalah suatu sekolah. (Semarang: Intermasa.h.” 8 Rafi’udin.” 7 Hal ini juga seiring dengan suatu nasihat yang mengatakan bahwa “Jika kau mendidik seorang pria berarti kau mendidik seorang manusia. Cet. (Jakarta: Akafa Press. 1997). Cet.6 Oleh karena itu hendaklah orang tua harus dapat menciptakan suasana yang nyaman yang penuh kasih sayang di dalam keluarga demi terciptanya akhlakul karimah terhadap anak.5 urusan duniawi semata akan menyebabkan si anak menyimpang tingkah lakunya. agama. 133 7 6 . yang bila engkau persiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat. Karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama untuk pembentukan serta pembinaan kepribadian anak secara utuh. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hafiz Ibrahim yang dikutip oleh Athiyah al-Abrasyi dalam bukunya “Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam”. h. tetapi bila kau mendidik seorang wanita berarti kau mendidik seluruh keluarga. Dasar-dasar Pokok Pendiidkan Anak dalam Islam.

8 Ke-2. dan sejahtera lahir dan batin.9 Di samping itu. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara). bahagia. aman. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Janganlah menikahi orang musyrik karena hal itu sangat dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya: Nur Aeni Iskandar. keluarga sakinah dapat memberi setiap anggotanya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dasar fitrah kemanusiaan. Sedangkan kesejahteraan batin adalah bebas dari kemiskinan iman.26 9 8 Zaitunah Subhan. Allah swt. h. Ibid. Dua kemampuan dasar fitrah kemanusiaan dalam keluarga yang harmonis (sakinah) berkembang menjadi tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan SangPencipta. h.. h. setiap anggotanya merasakan suasana damai. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. yaitu orang beriman.6 Dalam keluarga yang harmonis (sakinah). 2004). Sejahtera lahir adalah bebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. yaitu fitrah sebagai hamba Tuhan yang baik dan fitrah sebagai khalifah fil ardhi. 7 10 . Membina Keluarga Sakinah. Cet. Ke-12. (Jakarta: Eska Media). dan dengan sesama manusia serta lingkungan10 Dalam hal ini hendaknya perlu disadari bawa pembinaan kehidupan keluarga yang sakinah itu haruslah dimulai sejak memilih pasangan atau jodoh. Cet.

Maka hebatnya Islam dan ajarannya yang jauh-jauh sebelumnya telah membekali umatnya agar jangan menikah dengan pria atau wanita yang tidak seiman. Islam telah mengajarkan agar kita jangan meninggalkan generasi yang lemah. Kemudian agar pembinaan keluarga itu dapat mengoptimalkan pembinaannya kepada si anak sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu…(QS. Pada saat berlangsungnya pernikahan kedua mempelai atau salah satunya mengikrarkan diri ke dalam agama yang sama. Namun kenyataannya setelah pernikahan tersebut berjalan dalam waktu yang relative lama (bertahun-tahun) dan telah dikaruniai anak. Bekalilah diri dan juga mereka dengan ketakwaan kepada Allah. Di sini akan ditemui jalan buntu dalam upaya mencari jalan damai. Allah Ta’ala berfirman: .7 ˸Ϯ˴˴ ˳ ˴ ˶ ˸θ˵ ˸Ϧ˶ ˲ ˸ϴ˴ ˲ ˴ ˶ ˸Ά˵ ˲ ˴ ˴˴˴ ͉ ˶ ˸Ά˵ ϰ͉ ˴ ˶ Ύ˴ ˶ ˸θ˵ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ˶ ˸Ϩ˴ Ύ˴˴ ϟϭ Δϛή ϣ ϣ ή Χ ΔϨϣ ϣ Δϣ΄ϟϭ Ϧϣ ϳ ΘΣ Ε ϛή Ϥ ΤϜ Η ϟϭ ˸Ϣ˵ ˸Θ˴ ˴ ˸ϋ˴ Ϝ ΒΠ ΃ Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Al-Baqarah: 221) Di dalam kehidupan masyarakat kita sering melihat atau setidak-tidaknya melalui berita atau surat kabar diberitakan bahwa kasus yang sulit untuk didamaikan adalah kasus sengketa suami istri yang berbeda agama. maka salah satu pihak kembali ke agama yang dipeluknya.

penulis merasa tertarik dan terpanggil untuk menyusun skripsi dengan judul “PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELALUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH” Adapun alasan penulis memilih judul di atas adalah sebagai berikut: 1. maka permasalahan dalam penelitian ini peneliti batasi sebagai berikut: . Pembatasan dan Perumusan Masalah 1.8 ΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴ Ύ˱ Ύ˴ ˶ ˱ ͉ ͋ ˵ ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴ ˸Ϧ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴ ϘΘϴ ϓ Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. 2. Pembatasan masalah Untuk menghindari perbedaan persepsi serta pengarahan masalah agar tidak meluas. An-Nisa: 9) Dari uraian di atas. Dan jika masyarakat itu rusak maka sudah dipastikan bahwa bangsa itu pun akan rusak. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” ( QS. B. Karena banyaknya gejala-gejala kemerosotan moral akhlak anak remaja yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat di mana jika unit terkecil itu rusak (keluarga) maka rusak pula masyarakat itu.

meliputi usaha-usaha keluarga berupa cara-cara yang ditempuh dalam pembinaan akhlakul karimah anak. 2. . Tujuan dan Manfaat Penelitian Ada pun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga. Untuk mengetahui sejauhmana keluarga yang harmonis dalam mempengaruhi akhlakul karimah anak. C. 2.9 a. Akhlakul karimah yang dimaksud adalah akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. maka perlu adanya perumusan masalah. yakni: 1. Keluarga sakinah dalam mempengaruhi pembentukan akhlakul karimah terhadap anak. Perumusan masalah Agar permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini jelas dan terarah. Untuk mengetahui cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga. Cara mendidik anak secara secara Islami dalam keluarga 2. b.

baik sifatnya primer maupun sekunder. Dan secara praktis penelitian ini manfaatnya adalah sebagai kontribusi pemikiran dalam pembinaan akhlakul karimah terhadap anak khususnya dalam lingkungan keluarga. hadits dan karangan para ahli dan cendikiawan yang ada hubungannya dengan pembahasan dalam skripsi ini. jenis data yang akan dibutuhkan adalah data kualitatif yang peneliti kumpulkan dari berbagai sumber tertulis. tesis dan disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidatatullah Jakarta tahun 2002. Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku pedoman penulisan skripsi. . maupun lingkungan akademis lain dan masyarakat pada umumnya. peneliti memakai jenis penelitian library research.10 Mengenai manfaat dari penelitian ini. D. Oleh karena itu. secara teoritis untuk memperkaya khazanah keilmuan khususnya di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Metode Penelitian Dalam penelitian karya ilmiah ini. Buku-buku yang dijadikan bahan rujukan adalah Kitab Suci Al-Qur’an.

dalam bab ini dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan akhlakul karimah yang terdiri dari pengertian akhlakul karimah. metode penelitian dan sitematika penulisan. yaitu: BAB I. BAB IV. manfaat akhlakul karimah dan faktorfaktor yang mempengaruhi akhlakul karimah. ciri-ciri keluarga yang sakinah. BAB III. tujuan dan kegunaan penelitian. dalam bab ini akan dipaparkan mengenai pembinaan akhlakul karimah pada anak. pembatasan dan perumusan masalah. yang setiap bab terdiri atas beberapa sub yang saling berkaitan. peran keluarga sakinah dalam pembinaan akhlak. dan keniscayaan lingkungan yang kondusif (sakinah) dalam membina akhlakul karimah .11 E. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. bab ini terdiri dari latar belakang masalah. aspek-aspek yang dibutuhkan dalam pembinaan akhlak terhadap anak. dasar-dasar pembinaan akhluklul karimah. dan contoh keluarga sakinah dalam bingkai sejarah. bab ini mendeskripsikan tentang eksistensi keluarga sakinah yang terdiri dari pengertian keluarga sakinah. cara membina keluarga yang sakinah. yang terdiri dari pembinaan akhlak pada anak. BAB II.

. sebagai penutup.12 serta implikasi positif pembinaan dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) BAB V. bab ini berisi kesimpulan dari uraian pembahasan yang terdapat dalam bab-bab sebelumnya dan saran-saran yang merupakan kontribusi pemikiran dari penulis. ditujukan kepada segala pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan akhlakul kariamah terhadap anak khususnya orang tua yang mempunyai anak.

maka keadaannya disebut akhlak yang buruk. maka keadaannya disebut akhlak yang baik.BAB II AKHLAKUL KARIMAH A. Dengan pengertian akhlak secara etimologis berasal dari bahasa Arab ( ϕϠ ΍ ˲ Ύ˴˸Χ˴ ) bentuk jamak dari mufrodnya ϖϠΧ ˲ ˵˵ ) yang berarti “Budi Pekerti”. Untuk itu akhlak bisa dihasilkan dengan latihan dan perjuangan pada awal hingga akhirnya menjadi watak. Pengertian Akhlakul Karimah Akhlakul karimah merupakan keadaan jiwa yang kokoh. Maka dari itu penulis akan memberikan pengertian tentang akhlakul karimah. maka ia tidak disebut dengan akhlak. Apabila keadaan itu tidak mantap dalam jiwa. Hakikat Pembinaan Akhlakul Karimah 1. Etika dari bahasa latin etos yang berarti 13 . Sinonimnya etika dan moral. dari mana timbul berbagai perbuatan dengan mudah tanpa menggunakan pikiran dan perencanaan. Bilamana perbuatan-perbuatan yang timbul dari jiwa yang baik. Jika yang ditimbulkan kebalikan dari itu.

(Surabaya: Arkola.el. etc. Kamus Ilmiah Populer. and of the general principles which justify us inappliying them to anything. Ke-3. 1996). Cet.14 kebiasaan. Dan moral berasal dari bahasa latin juga. 11 . “ought”. Skripsi Pendidikan. “good. also called “ moral philosophy”.”1 Dalam kamus ilmiah. Cet.3 Di dalam Ensyiklopedia Britannica: “Ethis is the syistimatic study of the nature of value concept. Cet. “seharusnya”. 4 2 3 4 Nurfarida. “buruk”. Artinya: “Ilmu akhlak adalah studi yang sistematik tentang tabi’at dari pengertian-pengertian nilai “baik”. h.2 Ismail Thaib mengatakan bahwa dalam pengertian sehari-hari perkataan “akhlak” umumnya disamakan dengan sopan santun atau kesusilaan. 1.. (Jakarta: Pustaka Panjimas. (Yogyakarta: CV. 26 Pius A Partanto. Bina Usaha. 2000). tingkah laku atau perangai seseorang.1994). Mores berarti “kebiasaan. “wrong”. 14 Ismail Thaib. et. h. right”. “salah”. Sistem Ethika Islam. Ke-1. 4 Adapun pengertian akhlak menurut terminology (istilah) dapat disebutkan berikut beberapa pengertian dari pada ahli ilmu. Risalah Akhlak. h. 1984). (Jakarta: Perpustakaan UIJ. “bad”. dan sebagainya dan tentang prinsip-prinsip yang umum yang membenarkan kita dalam mempergunakannya terhadap sesuatu. akhlak diartikan budi pekerti. Menurut Imam Ghazali ˶ Ύ˴ ˸ϓ˴ ˸΍ ˵ ˵ ˸μ˴  Ύ˴ ˸Ϩ˴  ˲ ˴ ˶ ΍˴  ˶ ˸ϔ͉ ϟ΍ ϰ˶  ˳ ˴ ˸ϴ˴  ˸Ϧ˴  ˲ ˴ Ύ˴ ˶ ϝ ˵ ό ϻ έΪ Η Ϭ ϋ ΔΨγ έ β Ϩ ϓ ΔΌ ϫ ϋ Γέ Βϋ ˳ ˴ ˶ ˵ ˴ ˳ ˸Ϝ˶ ϰ˴˶˳ ˴ Ύ˴ ˵ ˸ϴ˴ ˳ ˸δ˵ ˴ ˳ ˴˸Ϯ˵ ˵ ˶ Δϳϭέϭ ή ϓ ϟ΍ ΔΟ Σ ή Ϗ ή ϳϭ Δϟ ϬδΑ 1 Rahmat Djatmika. “:benar”. h. Ke-1. ini juga disebut “filsafat moral”. “Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Aktifitas Pengajian Sekolah”.

62 8 .. h.”6 3.Cit. Ahmad Amin menyebutkan bahwa : “Setengah dari mereka mengartikan akhlak ialah kebiasaan kehendak.”8 5 6 7 Al-Ghazali. h. Al-Mu’jam Al-Wasith.12 Ahmad Amin. (Semarang: Wicaksana. Op. baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. 56 Ibrahim Anis. Cet. 1975). 81 Nurfarida. (Mesir: Darul Ma’arif. 1985).7 4. Menurut Ibrahim Anis ˳ ˸ϴ˴ ˸Ϧ˶ ˵ Ύ˴ ˸ϋ˴ ˸΍Ύ˴ ˸Ϩ˴ ˵ ˵ ˸μ˴  ˳ ˴ ˸΅˵ ˴ ˲ ˴ ˶ ΍˴ ˶ ˸ϔ͉ ˶ϟ˲ Ύ˴ ή Χ ϣ ϝ Ϥ Ϸ Ϭ ϋ έΪ Η Δϳ έϭ ΔΤγ έ β ϨϠ ϝ Σ ˳ ˴ ˶ ˵ ˴ ˳ ˸Ϝ˶ ϰ˴˶˳ ˴ Ύ˴ ˶ ˸ϴ˴ ˸Ϧ˶ ˷ ˴ ˸ϭ˴ Δϳϭέϭ ή ϓ ϟ΍ ΔΟ Σ ή Ϗ ϣ ˳ η ΍ ή Artinya: “ Sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan. Ahklak Seorang Muslm. h.”5 2. Ibnu Maskawaih merumuskan akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong untuk melakukan suatu perbuatan tanpa dipikir dan diteliti. 1972). h. Berarti kehendak itu apabila membiasakan sesuatu maka disebut akhlak. Ke-2.15 Artinya: “Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macammacam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Ethika (Ilmu Akhlak). (Jakarta: Bulan Bintang.

Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut bahwa akhlak adalah suatu keadaan atau kebiasan atau kehendak seseorang yang dapat mendorong melakukan perbuatan baik atau perbuatan buruk tanpa berpikir terlebih dahulu. yakni akhlak yang bagus atau baik. di antaranya adalah: 1. Etika terhadap Allah 4. sedangkan kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga melakukannya. Di dalam Al-Qur’an kata-kata akhlakul karimah mengandung beberapa pengertian. Jadi kalau pengertian akhlak digabungkan dengan pengertian karimah yang artinya mulia. Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan itu mempunyai kekuatan.16 Kehendak itu sendiri itu adalah beberapa keinginan manusia setelah bimbang. Etika terhadap Nabi . Ihsan 2. Menyampaikan amanat 3. gabungan dari dua kekuatan itu menimbulkan yang lebih besar inilah yang bernama “akhlak”. Akhlak ini disebut akhlak mahmudah atau hasanah. maka arti akhlakul karimah adalah perilaku manusia yang mulia atau perbuatan- perbuatan yang dipandang baik atau mulia yang dibiasakan dan perbuatan yang dipandang baik atau mulia oleh akal serta sesuai dengan ajaran Islam (syara’) yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.

Cinta karena Allah 18. Inabah (taubat) 8.17 5. Mendamaikan 7. Infaq 9. Mematuhi pemimpin . Sabar 21. Mendahulukan kepentingan orang lain 10. Lapang dada 30. Menyempurnakan takaran dan timbangan 11. tolong-menolong 14. Takut kepada Allah 23. Kasih sayang 25. Ketenangan 29. Lemah lembut 27. Zuhud 28. Mengadu kepada Allah 31. Menjaga rahasia 19. Rendah hati dan khusyuk 13. Berserah diri (tawakal) 15. Istiqamah 6. Tawadhu’ 17. Barharap (raja’) 24. Bersabar 33. Hikmah 20. Jujur 34. Takwa 16. Malu 22. Bersyukur 32. Ridha 26. Berbuat baik 12.

? Jawabnya akhlak Nabi Muhammad saw ialah AlQur’an. Kepuasan (qana’ah) 39. Menurut pendapat Mahmud Yunus bahwa: “Pokok-pokok akhlak dalam Islam ialah Al-Qur’an. Apa yang baik menurut Al-Qur’an atau asSunnah itulah yang biak untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan seharihari. Keyakinan. Sebaliknya apa yang buruk menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah berarti itu tidak baik dan harus dijauhi. Siaga 42. 2004. Dasar-dasar Pembinaan Akhlakul Karimah Dalam agama Islam yang menjadi dasar atau alat pengukur yang menyatakan bahwa sifat-sifat seseorang itu dapat dikatakan baik atau buruk adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.. Menjaga kehormatan diri 37. alqur’an digital. Memuliakan dan menerima tamu 40. com. tentang akhlakul karimah menurut Al-Qur’an . Akhlak-akhlak di dalam Al-Qur’an mengatur perbuatan manusia 9 buka www. Adil 36. Nasihat 44. Memaafkan yang bersalah 38.9 2. Waspada 43. pujian 41.18 35. Ditanyakan orang kepada ‘Aisyah: “Apakah akhlak Nabi Muhammad saw.

h. Ali Hasan. tahu arti kewajiban dan pelaksanaannya. (Jakarta: Perpustakaan UIJ.10 Menurut Athiyah Al-Abrasyi.d. Nurfarida.19 terhadap dirinya sendiri dan perbuatan manusia terhadap orang lain atau masyarakat. dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw dalam kesehariannya dengan demikian kita pun patut mematuhi ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw. cita-cita yang benar. menghormati hak-hak yang tinggi. Cet. 2000). 10 11 Ibid . 13.3. Begitu juga sahabat-sahabat beliau yang selalu mempedomani Al-Qur’an. beliau mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral. 14 M.12 Pribadi Nabi Muhammad adalah contoh yang paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membentuk kepribadian. dan kalau tidak harus ditinggalkan. kemauan yang keras. Ke. (Jakarta: Bulan Bintang.11 Jika ada orang yang menjadikan dasar akhlak itu adat kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat maka untuk menentukan atau menilai baikburuknya adat kebiasaan itu. Tuntunan Akhlak. h. dan tahu membedakan yang baik dan yang buruk. h. baik laki-laki maupun perempuan. Skripsi Pendidikan. kalau sesuai terus dipupuk dan dikembangkan. jiwa yang bersih. akhlak yang tinggi. 11 12 . harus dinilai dengan norma-norma yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. 1983). t. “Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Aktifitas Pengajian Sekolah”.

ialah Kitab Allah Sunnahku.R.20 Nabi Muhammad saw bersabda: ˵ ΍ϰ͉˴ ˶ ΍˵ ˸Ϯ˵ ˴ ˴ Ύ˴ ˴ Ύ˴ ˵ ˸Ϩ˴ ˵ ΍˴ ˶ ˴ ˴ ˴ ˸ϳ˴ ˵ ˸ϲ˶ ˴˸Ϧ˴ Ϳ Ϡλ Ϳ ϝ γέ ϝ ϗ ϝ ϗ Ϫ ϋ Ϳ ϲοέ Γή ήϫ Α΍ ϋ ˶ ΍ ˴ Ύ˴ ˶  Ύ˴ ˵ ˴ ˸ό˴  ΍˸Ϯ͊˶ ˴  ˸Ϧ˴ ˶ ˴ ˴ ˸ϴ˴   ˸Ϣ˵ ˸ϴ˶  ˵ ˸ϛ˴ ˴  ˴ ͉˴ ˴  ˶ ˸ϴ˴˴ Ϳ Ώ Θϛ ϤϫΪ Α ϠπΗ ϟ ϦϴΌ η Ϝ ϓ Ζ ήΗ ϢϠγϭ Ϫ Ϡϋ ϰΘ͉ ˵ ˴ Ϩγ ϭ Artinya: “Dari Abu Hurairah RA. Hakim). baik dalam hubungan kepada Allah maupun sesama makhluk. karena keduanya adalah kitab undang-undang yang paling sempurna memuat petunjuk-petunjuk praktis untuk menjadi pedoman bagi umat Islam.” (H. . Dari keterangan hadits di atas jelaslah. Berkata: Rasulullah saw bersabda: Aku tinggallkan untuk kamu dua hal yang kamu tidak akan sesat sesudahnya. Dengan demikian dasar akhlakul karimah adalah ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. bahwa yang menjadi dasar ideal bagi seluruh aktifitas manusia dalam kehidupannya adalah Al-Qur’an dan AsSunnah Nabi Muhammad saw.

Imam Ghazali dalam bukunya “Mukasyafatul Qulub” menyatakan bahwa: Ada seorang lelaki datang kepada Nabi saw. Akhlak merupakan sesuatu yang penting dan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. bersabda : “Untuk dia tidak ada kebaikan. namun dia wanita yang akhlaknya jelek. : “Sesungguhnya si fulan berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. yang selalu menyakiti tetangga dengan mulutnya. Manfaat Akhlakul Karimah Akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang paling penting sekali. dan dia termasuk penghuni neraka.21 3. 283 13 . dari judul asli Mukasyafatul Qulub. (terj. Manusia yanmg telah tiada sifat kemanusiaannya adalah sangat berbahaya daripada binatang buas. ya Rasul!?” Nabi saw menjawab : “Akhlak yang mulia”.” 13 Al-Imam Al-Ghazali. Kata Fudhail ra. Cet. dan bertanya: “Apa yang disebut agama. Apabila akhlaknya baik maka bangsanya akan baik pula dan sebaliknya bila akhlak telah hancur maka hancur pula bangsa itu. (Surabaya: Terbit Teran). baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa. h. Ke-1. Sebab suatu bangsa akan maju atau hancur sangat tergantung dari akhlak masyarakatnya.) Fatihuddin Abdul Yasin. Rahasia Ketajaman Mata Hati. Manusia tanpa akhlak yang mulia akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai mahluk Allah yang paling mulia dan meluncur turun kepada martabat hewani.” Nabi saw. : Ia berkata kepada Nabi saw.

Mempermudah perhitungan amal di akhirat 3. yaitu pahala yang berlipat ganda dan kehidupan yang lebih baik. Keberuntungan atau manfaat lain dari akhlakul karimah di antaranya adalah: 1. Ke-5. Menghilangkan kesulitan. Selamat hidup di dunia dan akhirat. Cet. yakni akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah dikerjakan. Akhlak Tasawuf. 2003).22 Kutipan tersebut di atas dengan jelas berisikan manfaat dan pentingnya akhlakul karimah (akhlak mulia) yang dalam hal ini melakukan amal saleh disertai dengan keimanan dijanjikan oleh Allah swt. h. begitu juga suatu masyarakat atau bangsa akan mengalami proses kehancuran bila akhlak mulia telah tiada. 4. Hal ini menggambarkan bahwa manfaat dari akhlakul karimah itu adalah keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat.173-175 .14 Sebaliknya jika akhlak yang mulia itu sirna dan berganti dengan akhlak yang tercela (akhlak madzmumah). (Jakarta: PT. Pribadi seseorang tidak punya arti jika akhlak karimah telah sirna dari dirinya. 2. Penyair Syauqi Bei mengatakan: ΍˸Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϣ˵ ˵ ˴ ˸Χ˴΍˸Ϯ˵ ˴ ˴ ΍˸Ϯ˵ ˵ ˸ϥ˶˴ ˸Ζ˴ ˶ ˴ Ύ˴ ˵ ˴ ˸Χ˴ ˸˴˴ ˵ ˴ ˵ ˸΍Ύ˴ ͉ ˶ ΒϫΫ Ϭϗϼ ΍ ΒϫΫ Ϥϫ ΍ϭ ϴϘΑ ϣ ϕϼ ϻ΍Ϣϣϻ Ϥϧ΍ 14 Abudin Nata. maka kehancuran pun akan segera datang. Raja Grafindo Persada. Memperkuat dan menyempurnakan agama.

t. Faktor dari dalam yakni yang dibawa sejak lahir dan ini merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir. Di atas telah diuraikan bahwa akhlakul karimah merupakan perbuatan atau perilaku seseorang yang menggambarkan budi pekerti baik. Faktor dari luar misalnya pengaruh lingkungan keluarga. maupun di lingkungan di mana dia bermain. lingkungan tempat ia bermain.d. Anak akan memiliki akhlak atau budi pekerti yang baik apabila dididik atau mendapat pendidikan budi pekerti yang baik atau diberi contoh yang baik. yakni keluarga. dan yang sangat dominan dalam pembentukan dan pembinaan akhlak adalah pengaruh dari luar. Baik disaat ada dalam lingkungan keluarga. (Jakarta: Perpustakaan UIJ 2000). Nurfarida. selama berakhlak mulia.23 Artinya: “Hanya saja bangsa itu kekal. 15 . “Pembinaan Akhlak Melalui Aktivitas Pengajian Sekolah”. bila akhlak mulia telah lenyap punahlah bangsa itu. b. dan bagi siswa sudah barang tentu termasuk lingkungan sekolah.”15 4. Skripsi Pendidikan. 17. atau lingkungan sekolah. h. dalam hal ini akhlak tidak bisa lepas dari 2 faktor di atas. Oleh karena itu pembinaan akhlak anak harus dilaksanakan secara terus-menerus dan dilakukan sedini mungkin. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Pembinaan Akhlak Perbuatan dan kelakuan yang berbeda di antara manusia pada prinsipnya ditentukan dan dipengaruhi oleh dua faktor: a.

” (QS. dan pendidikan. . azam/kemauan yang keras. beryukurlah pada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. dengan uraian sebagai berikut:. Luqman:13) Dan di dalam Firman Allah Ta’ala yang lain: ϲ˶  ˵ ˵Ύ˴ ˶ ˴  ˳ ˸ϫ˴  ϰ˴˴  Ύ˱ ˸ϫ˴  ˵ ͊ ˵ ˵ ˸Θ˴˴ ˴  ˶ ˸ϳ˴ ˶΍˴ ˶  ˴ Ύ˴ ˸ϧ˶˸ϟ΍ Ύ˴ ˸ϴ͉ ˴ ˴ ϓ Ϫϟ μϓϭ Ϧ ϭ Ϡϋ Ϩ ϭ Ϫϣ΃ Ϫ ϠϤΣ Ϫ Ϊϟ ϮΑ ϥ δ Έ Ϩ λϭϭ . hanya kepada-Ku-lah kamu kembali. Adapun yang dapat mempengaruhi akhlak adalah insting (naluri). “Hai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar. Ϣ ψϋ Ϣ ψϟ ˲ ϴ˶ ˴ ˲ ˸Ϡ˵ ˴ Artinya: “Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya.” (QS. ή μϤ ϲϟ· Ϛ Ϊϟ Ϯϟϭ ϟ Ϝ ϥ΃ Ϧ ϣ ϋ ˵ ϴ˶ ˴ ˸ϟ΍͉ ˴˶˴ ˸ϳ˴ ˶΍˴ ˶˴ ϲ˶˸ή˵ ˸η΍˶ ˴˶ ˸ϴ˴ Ύ˴ Artinya: “Dan Kami perintahkan pada manusia berbuat baik kepada dua orang tua ibu dan bapaknya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah dan bertambah dan menyapihnya dalam dua tahun.24 Terutama penanaman pendidikan budi pekerti yang harus ditanamkan sejak dini (sejak kecil) seperti halnya Luqmanul Hakim berwasiat pada putranya: Surat Luqman ayat13: ˴ ˸ή͋ ϟ΍ ͉ ˶ ˶ ͉ϟΎ˶  ˸ϙ˶ ˸θ˵  Ύ˴ ͉ ˴ ˵ Ύ˴  ˵ ˵ ˶ ˴  ˴ ˵ ˴  ˶ ˶ ˸ΑΎ˶ ˵ Ύ˴ ˸Ϙ˵ ˴ Ύ˴  ˸Ϋ˶˴  ϙ θ ϥ· ϪϠ Α ή Η ϟ ϲϨΑ ϳ Ϫψόϳ Ϯϫϭ ϪϨ ϟ ϥ Ϥ ϟ ϝ ϗ ·ϭ . Luqman:14) Maka dari ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa akhlak (budi pekerti yang baik) pada anak bisa dimiliki melalui pendidikan yang baik. keturunan.

Di antara naluri satu dan yang lainnya berbeda dan mengakibatkan daya pendorong dan daya kesanggupan berbeda. 1993). 61 17 . mengerjakan shalat tahajud. bangun tengah malam.25 1. berjodoh. Diponogoro. h. h. yang merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir dan lebih lanjut Hamzah Ya’qub menerangkan bahwa naluri yang ada pada manusia adalah pendorong tingkah laku. Contoh tersebut di atas dapat memberi kesan bahwa segala pekerjaan jika dilakukan secara berulang-ulang dengan penuh kegemaran akan menjadi kebiasaan.16 Menurut Hamzah Ya’qub salah satu faktor penting di dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan atau adat kebiasaan. di antaranya naluri makan. 57 Ibid. Yang dimaksud dengan kebiasaan adalah perbuatan-perbuatan yang selalu diulang-ulang sehinga menjadi mudah dikerjakannya contoh: merokok. Keturunan Keturunan adalah cabang yang menyerupai pokok atau yang menyebabkan anak menyerupai orang tuanya. Ethika Islam.17 2. Menurut Hamzah Ya’qub sudah merupakan sunnatullah yang berlaku pada alam ini sehingga dapat diketaui bahwa cabang itu menyerupai pokoknya dan pokok menghasilkan 16 Hamzah Ya’qub. (Bandung: CV. minum minuman keras. berjuang dan naluri bertuhan. Instink (Naluri) Instink menurut Rahmat Djatmika termasuk salah satu hidayah yang ada pada manusia. Ke-6. instink suatu kepandaian yang dimilki mahluk Tuhan tanpa belajar. Cet. ke-ibu-bapak-an. Sedangkan menurut Hamzah Ya’qub bahwa instink adalah “Setiap kelakuan manusia lahir dari suatu kehendak yang digerakkan oleh naluri (instink).

lingkungan sekolah. h. h.26 yang serupa atau hampir serupa dengannya hal ini terjadi pada sejumlah mahluk.19 18 Ibid. lingkungan pekerjaan. dari kehendak itulah menjelma niat yang baik dan yang buruk yang selanjutnya akan menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan. Selain itu Hamzah Ya’qub menyatakan bahwa kemauan atau kehendak ini merupakan faktor penting di dalam akhlak karena kehendak yang mendorong manusia berkelakuan dan berakhlak. hewan dan pada manusia itu sendiri. misalnya tumbuh-tumbuhan.18 Lingkungan pergaulan menurut Hamzah Ya’qub adalah lingkungan keluarga. 66 Ibid. lingkungan kehidupan ekonomi dan lingkungan pergaulan yang bersifat umum dan bebas. 46 19 . Menurut Rachmat Djatmika kekuatan kemauan dapat mengarah kepada melaksanakan sesuatu atau juga mengarah kepada menolak atau meninggalkan sesuatu. Azam/Kemauan Kemauan atau azam merupakan kekuatan atau dorongan yang menimbulkan manusia bertingkah laku. lingkungan organisasi. 3. Demikian faktor lingkungan yang dipandang cukup menentukan pematangan watak dan tingkah lau seseorang.

Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak karena pendidikan turut mematangkan kepribadian manusia sehingga tingkah lakunya sesuai dengan pendidikan yang lazim diterima meliputi pendidikan formal. (Jakarta: Bumi Aksara. M.10 Hamzah ya’qub. Op. Ke-5. Sementara itu pergaulan dengan orang-orang baik dapat dimasukkan sebagai pendidikan tidak langsung karena pengaruh pula terhadap kepribadian.21 Dari keterangan tersebut di atas dapat diketahui bahwa dalam proses pembinaan akhlak itu terkait dengan dengan hal-hal di atas baik itu datangnya 20 M. H. Cit. Cet. bahkan naluri dan bakat seseorang dapat disalurkan atau diarahkan dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya. 86 21 . Ilmu Pendidikan Islam. non formal dan informal.”20 Pendidikan yang pada dasarnya adalah upaya pembinaan jasmani dan rohani kepada anak menuju terbentuknya kepribadian yang utama. moral dan fisik (jasmaniah) yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi. seseorang akan mengetahui perbuatan baik dan perbuatan buruk. hal ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak karena dengan pendidikan. h. Pendidikan merupakan tuntunan dan pengajaran yang diterima seseorang dalam membina kepribadian.27 4. Arifin yang berjudul “Ilmu Pendidikan Islam” dikatakan bahwa “Pendidikan adalah latihan mental. Arifin. 2000). h. Pendidikan Dalam bukunya Prof.

28 dari diri sendiri atau pun dari luar. dan dilakukan secara kontinue (terusmenerus) agar dapat melekat pada setiap individu terutama pada saat usia prasekolah dan masa-masa usia sekolah .

h. yaitu : “Keluarga adalah susunan terkecil dari masyarakat kita yang pada mulanya terdiri dari dua manusia. yaitu kesatuan kemasyarakatan (sosial) berdasarkan hubungan perkawinan atau pertalian darah.” 1 Zaitunah Subhan. 1975). yaitu pria dan wanita. Pengertian Keluarga Kata “Keluarga” (Ensiklopedi Indonesia) menurut makna sosiologi (family Inggris). yang hidup dalam ikatan pernikahan. 2004). istri dan anak-anak. guna membangun rumah tangga yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian. h. Pengantar Sosiologi (Semarang: Ramadany. kemudian berkembang dengan lahirnya anak. Ke-2. Pengertian Keluarga Sakinah 1. Membina Keluarga Sakinah ( Yogyakarta: Pustaka Pesantren.BAB III KONSEPSI KELUARGA SAKINAH A. 75 29 .1 Sedangkan menurut Abu Ahmadi dalam bukunya “Pengantar Sosiologi” mengatakan bahwa “keluarga adalah suatu persekutuan hidup terkecil yang terdiri dari suami. 1 2 Abu Ahmadi. Cet.”2 Sedangkan Ali Akbar memberikan pengertian keluarga lebih luas lagi.

Kelompok anak yang ditinggalkan orang tua.Cit. Kelompok yang terdiri dari seorang bapak dan ibu yang menikah atau tidak. artinya menurut orang tua (bapak. 2 . Masyarakat terkecil berbentuk keluarga atau lainya. Keluarga inti atau keluarga batih (primary group) terdiri atas bapak. Orang seisi rumah.. kaum kerabat.4 3 Zaitunah Subhan. c. d. Beberapa sanak saudara dengan anak-anaknya yang rumah tangga. matrilineal artinya menurut garis ibu. misalnya. Op. dan patrilineal artinya menurut garis bapak. Orang yang ada dalam naungan organisasi atau sejenisnya. Hj.3 Dalam pertalian keluarga atau keturunan dapat diatur secara parental atau belateral. keluarga Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah. suami-istri. c. . Pasangan yang menikah maupun tidak. b. tanpa anak. dan anak. Dalam kehidupan sehari-hari kata keluarga dipakai dengan pengertian antara lain: a. anak. ibu). d. di sana terjalin hubungan kekeluargaan. ibu. yang cerai ataupun yang ditinggal mati bersama anakanaknya. Sanak saudara. Zaitunah Subhan menyimpulkan pengertian keluarga menjadi: a.30 Dr. e. Susunan kekeluargaan ini bertalian dengan hakikat kedudukan perkawinan dalam tatanan masyarakat. h. b. batih.

1994). Jadi kesejahteraan dan kebahagian suatu masyarakat berpangkal pada masyarakat terkecil itu. Ke-1. Kamus Ilmiah Populer. Hj. 2. h. dan 26. dengan kata lain. tidak akan ada masyarakat bila tidak ada keluarga. yang penulis maksud keluarga di sini adalah keluarga yang terdiri dari ayah.6 4 Ibid. 3 5 Pius A Partanto. et. ibu dan anak. Cet. ketenangan. h. yaitu surat Al-Baqarah: 248. 2004). Pengertian Sakinah Kata sakinah berarti tentram. Ke-2. h.5 Sedangkan Dr. Membina Keluarga Sakinah. Kata ini disebutkan sebanyak enam kali dalam Al-Qur’an. Baik dan buruknya suatu masyarakat adalah tergantung pada baik buruknya masyarakat kecil itu (keluarga).31 Dari beberapa definisi tersebut. (Surabaya: Arkola. 3 6 . dan makna keluarga di sini juga mempunyai arti adalah unit terkecil dari masyarakat.el.18. surat Al-Fath: 4. 689 Zaitunah Subhan. masyarakat merupakan kumpulan keluarga-keluarga. damai. surat AtTaubah: 26 dan 40. Zaitunah Subhan mengatakan kata sakinah yang berasal dari bahasa Arab mempunyai arti “ketenangan dan ketentraman jiwa”. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Cet.

bahagia. Menurut Rasyid Ridha. dan merupakan keyakinan berdasarkan (ain al-yaqin). dan sejahtera lahir dan batin serta tidak gentar ketika mengahadapi badai ujian yang terjadi di dalam rumah tangga atau keluarga. Dan munculnya istilah keluarga sakinah adalah berdasarkan Firman Allah Surat Ar-Ruum: 21. tentram.32 Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa sakinah itu didatangkan ke dalam hati para nabi dan orang-orang yang beriman agar tabah dan tidak gentar dalam menghadapi tantangan. h. 21. Al-Isfahani (ahli fiqh dan tafsir) mengartikan sakinah dengan tidak adanya rasa gentar dalam menghadapi sesuatu. Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud keluarga sakinah itu adalah keluarga yang tenang.7 b.. Dari sejumlah ungkapan yang diabadikan dalam Al-Qur’an tentang sakinah . c. sakinah adalah sikap jiwa yang timbul dari suasana ketenangan dan merupakan lawan dari kegoncangan batin dan kekalutan. maka muncul beberapa pengertian. Sehingga sakinah dapat juga dipahami dengan “sesuatu yang memuaskan hati”. sakinah adalah adanya ketentraman dalam hati pada saat datangnya sesuatu yang tidak diduga. ujian. berbunyi: 7 Ibid. yang menyatakan bahwa tujuan dari pernikahan itu adalah mencari ketenangan dan ketentraman yang Allah tanamkan dalam jiwa suami istri itu akan mawaddaah wa rahmah (cinta dan kasih sayang). cobaan. Firman Allah dalam Surat Ar-Ruum. 3-4 . ataupun musibah. rintangan. Menurut Al-Jurjani (ahli bahasa). sebagai berikut: a. dibarengi satu nur (cahaya) dalam hati yang memberi ketenangan dan ketentraman pada yang menyaksikannya..

setiap anggota merasakan suasana tentram.(QS.8 B. bahagia. Sedangkan sejahtera batin adalah bebas dari kemiskinan iman. bersikap setia sekata. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Sejahtera lahir adalah terbebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. di antaranya adalah: 1. Dialah menciptakan untukmu istri dari jenismu sendiri. supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Terwujudnya kesadaran akan kewajiban sebagai suami-istri Kewajiban-kewajiban suami-istri antara lain adalah: a. Memupuk rasa cinta dan kasih sayang. d.33 Artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya. dan dijadikannya di antara kamu rasa kasoih dan saying. 7 . damai. Ar-Ruum: 21) Dalam keluarga sakinah. h. Saling pengertian serta bergaul secara baik. c. Saling menghormati dan mengembangkan sikap sopan santun. saling beradaptasi (menyesuaikan diri). b. Ciri-ciri Keluarga Sakinah Ada beberapa hal yang menjadi ciri-ciri atau tanda-tanda terbentuknya karakteristik keluarga sakinah. dan sejahtera lahir dan batin. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai kehidupan dalam keluarga dan masyarakat. 8 Ibid. Menghormati orang tua serta keluarga kedua belah pihak.

Saling menyesuaikan diri f. h. Saling pengertian b. Saling berpartisipasi untuk kemajuan bersama d. g. Ke-1. Cet. Saling memlihara kepercayaan dan menyembunyikan rahasia kedua belah pihak. Selalu bermusyawarah10 Rafi’udin. Saling menerima kenyataan g. 7 . 2001). Sabar serta ridha terhadap kekurangan dan kelemahan kedua belah pihak. Bertindak secara matang serta penuh pemikiran dan tidak terbawa emosi dalam menghadapi serta memecahkan masalah. Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). f. h. h.9 2. (Semarang: Intermasa. Terwujudnya hubungan suami-istri secara harmonis Agar hubungan antara suami istri dapat berjalan secara harmonis diperlukan usaha-usaha antara lain seperti: a.34 e. Saling mencintai e. 6 10 9 Ibid. Saling memaafkan c. Senantiasa melaksanakan musyawarah untuk kepentingan bersama.

35

3. Terwujudnya hubungan yang baik antara anggota keluarga serta lingkungan Secara makro, keluarga itu tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak, akan tetapi juga menyangkut hubungan persaudaraan yang lebih besar, yaitu hubungan antara keluarga maupun hubungan dengan masyarakat sekitar. Adapun tentang hubungan antar anggota keluarga, hubungan tersebut haruslah terjalin secara baik, yaitu hubungan baik terhadap famili kedua belah pihak, memelihara hubungan baik, terhadap famili ini sesuai dengan yang diisyaratkan oleh Allah di dalam firman-Nya :

Artinya : “Bertakwalah kamu semua kepada Allah yang kamu selalu meminta kepada-Nya, dan peliharalah hubungan famili (silaturahim)”. (QS. An Nisaa’ : 1) Sedangkan hubungan dengan lingkungan masyarakat, merupakan keharusan dan haruslah secara baik pula. Perlu diketahui bahwa masyarakat, khususnya tetangga, adalah orang-orang yang terdekat dan umumnya para tetangga itu adalah orang-orang yang pertama kali mengetahui serta dimintai pertolongan. Oleh karena itu dianggap aneh apabila hubungan dengan tetangga ini tidak mendapatkan perhatian serius.

Ύ˱ ϴ˶ ˴ ˸Ϣ˵ ˸ϴ˴˴ ˴ Ύ˴ ˴ ͉ϟ΍͉ ˶˴ Ύ˴ ˸έ˴˸ϟ΍˴ ˶ ˶ ˴ Ϯ˵˴ Ύ˴ ˴ ϱ˶ ͉΍˴ ͉ϟ΍΍Ϯ˵ ͉ ΍˴ Β ϗέ Ϝ Ϡϋ ϥ ϛ ϪϠ ϥ· ϡ Σ ΄ ϭ ϪΑ ϥ ϟ˯ δΗ άϟ ϪϠ ϘΗ ϭ

36

4. Terciptanya nilai-nilai agama dalam keluarga Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang benar-benar

memperhatikan nilai-nilai ke-Islaman di dalam keluarga. Salah satu yang termasuk di dalam lingkup tersebut adalah mengenai makanan, minuman serta kebutuhan lain yang diperoleh secara halal. 11 Di samping itu dalam rangka mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera, dalam hal makanan juga harus diperhatikan gizinya. Makanan yang bergizi dapat menyehatkan seluruh anggota keluarga. Islam telah mengajarkan kepada umatnya agar masing-masing keluarga mewariskan keturunan yang baik serta sehat. 12 Hal ini sesuai denga firman Allah: 

˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴  Ύ˱ Ύ˴ ˶  ˱ ͉ ͋ ˵  ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴  ˸Ϧ˶  ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴  Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ ϘΘϴ ϓ
Artinya : Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Maka hendaklah mereka

11

Rafiudin, Op. Cit., h. 10
12

Ibid

37

bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.(QS. An Nisaa: 9) Selayaknya juga seorang ayah membiasakan anaknya untuk tidak berlebihan dalam hal ini, di samping juga mengajarkan kepada mereka untuk tidak terlalu sedikit makan. Hal ini karena kebanyakan makan akan menyebabkan dispepsi (kerusakan alat pencernaan). Sedangkan terlalu sedikit makan menyebabkan hal yang lebih berbahaya daripada dispepsi.13 5. Terciptanya keakraban orang tua dengan anak Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dengan Al-Qur’an sebagai dasarnya dan hadits sebagai penjelasannya, telah memberi pedoman jelas kepada orang tua sepanjang zaman tentang langkah dan cara yang praktis dan mudah untuk membina keakraban orang tua dan anak. Ada tiga langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan keakraban antara orang tua dan anak. a. Langkah orang tua 1. Memberi salam 2. Menyambut anak kedatangan anak dengan senang hati 3. Memanggil dengan panggilan kesayangan

Abdul Hakam Ash-Sha’idi, Menuju Keluarga Sakinah, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2001), Cet. Ke-1, h. 122

13

Menegur dan membetulkan kesalahan dengan lembut 7. Langkah anak 1. Mengunjungi orang tua sakit c. Menyenangkan orang tua 4. Zaitunah Subhan membagi keluarga sakinah menjadi 4 kriteria yang sesuai Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah sesuai dengan SK Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji No. h. saling mengunjungi. D/71/1999 Pasal Muhammad Thalib. Mengajak berdialog 5. Berjalan bersama-sama 3. Makan bersama 2.14 Hj. 7-9 14 . Memanggil orang tua dengan sebutan keayangan 2. Berkata santun dan dengan suara rendah 3. Langkah bersama 1. 43 Langkah Mengakrabkan orang tua dengan anak. Memberi hadiah. Melibatkan diri dalam permainan anak 6. 2001). Cet Ke-1.38 4. (Bandung: Irsyad Baitus Salam. b.

seperti kebutuhan akan pendidikan. dan kesehatan. dan Keluarga Sakinah III plus: 1. Keluarga Pra Sakinah. yaitu keluarga-keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya dan juga mampu memahami pentingnya pelaksanaan ajaran agama serta mampu mengadakan interaksi sosial keagamaan dengan lingkungannya. Tetapi belum mampu mengahayati nilai-nilai keimanan. seperti keimanan. yaitu keluarga-keluarga yang dibentuk melalui perkawinan yang sah. tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan materil (basic need) secara minimal. yaitu keluarga yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan. Keluarga Sakinah I.39 4. 4. dan belum mampu mengikuti interaksi sosial keagamaan dengan lingkungannya. Keluarga Sakinah II. 3. puasa. yang terdiri dari keluarga Pra Sakinah. dan akhlak mulia. serta pengembangan keluarganya. fitrah. sandang. Keluarga Sakinah II. tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya. Keluarga Sakinah III. infak. Keluarga Sakinah III. pangan. zakat. shalat. yaitu keluarga-keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan materil secara minimal. ketakwaan. Keluarga Sakinah I. dan sebagainya. wakaf. menabung. papan. amal jariyah. ketakwaan. dan sosial psikologis. 2. bimbingan keagamaan dalam keluarga. . tetapi belum mampu menjadi suri tauladan bagi lingkungannya.

B. baik laki-laki maupun perempuan. Corak atau bentuk suatu masyarakat itu adalah merupakan cerminan secara watak kepribadian anak setelah 15 Zaitunah Subhan. dan akhlak mulia secara sempurna. ketakwaan.40 5. yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan. karena keduanya (suami dan istri) merupakan mitra sejajar dalam mencapai cita-cita keluarga sakinah. kebutuhan sosial psikologis. 2004) h. rumah yang indah dengan segala peralatannya. ketakwaan.15 Dengan ciri-ciri atau kriteria program pembinaan keluarga sakinah di atas. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. dan pengembangannya. dapat diketahui peningkatan upaya masyarakat dalam pengamalan nilainilai keimanan. tetapi titik berat penilaian itu adalah kepada masalah-masalah moral (akhlak) atau pergaulan sehari-hari dengan orang-orang yang sekitarnya. pendidikan masyarakat. Keluarga Sakinah III plus. dan akhlak mulia melalui pendidikan keluarga. 11-12 . Cara Membina Keluarga Sakinah Rumah tangga yang baik menurut Islam bukan hanya dinilai dari segi materil saja. Membina Keluarga sakinah. dan pendidikan formal untuk mencapai kemakmuaran dan keadalian yang merata bagi seluruh bangsa Indonesia. serta dapat menjadi suri tauladan bagi lingkungannya. misalnya.

41

dewasa sangat tergantung kepada pembinaan orang tua (ayah dan ibu) dalam rumah tangga masing-masing. 16 Dalam membina keluarga yang sakinah sehingga terwujudnya generasi yang baik di tengah-tengah masyarakat, ada beberapa hal yang harus diterapkan atau ditumbuhkan dalam anggota keluarga rumah tangga antara lain sebagai berikut: 1. Orang tua (ayah dan ibu) hendaknya membina sikap keterpaduan dan selalu memberikan contoh suri tauladan yang baik terhadap anak-anaknya, baik dalam segi kejiwaan atau kepribadian, tentang pengamalan ajaran agama, maupun di segi sosial bermasyarakat dan lain-lain sebagainya. 2. Untuk Pembinaan keperibadian anak-anak itu harus dilandasi dengan kasih sayang dan disiplin yang sesuai dengan perkembangan anak-anak. 3. Jangan selalu memanjakan anak karena kemanjaan itu akan membuat perkembangan atau pertumbuhan yang kurang baik dan tidak sehat di kemudian hari. Anak yang selalu dimanjakan oleh orang tuanya kurang kreatif (pemalas), karena ia mendapatkan apa saja yang ia inginkan dari orang tuanya, dengan kata lain; anak manja hanya tahu apa adanya saja.17

Sidi Nazar Bakry, Kunci Keutuhan Rumah Tangga (Keluarga yang Sakinah), (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet Ke-2, h. 35
17

16

Ibid, h. 35-36

42

Dalam bukunya Abdul Latif bin Wahab Al-Ghamidy yang berjudul “100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim” yang beliau petik kiat-kiat ini dari bumi realita dan pengalaman hidup beliau, kiat-kiat itu adalah: 1. Meningkatkan kelimuwan mereka Allah Ta’ala berfirman:

Ε ΟέΩ Ϣ ό Η ΃ Ϧ άϟ ϭ Ϝ ϣ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϪϠ ϊϓ ϳ ˳ Ύ˴ ˴ ˴ ˴ ˸Ϡ˶ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ϭ˵˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ϣ˵ ˸Ϩ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍˵ ͉ϟ΍˶ ˴ ˸ή˴
Artinya: “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Dalam meningkatkan keilmuwan mereka (anak-anak atau istri) dapat dilakukan dengan cara: a. Membuat jadwal rutin-minimal-harian atau setiap pecan untuk belajar bersama dengan semua anggota keluarga. b. Mengahafal bebrapa surat Al-Qur’anul Karim c. Menghafal hadits-hadits Rasulullah saw., dan memilihkan hadits-hadits yang cocok dan yang sangat dibutuhkan oleh mereka. d. Mengahadiri pengajian-pengajian umum yang diadakan di masjid-masjid maupun tempat-tempat kegiatan dakwah.Mengakrabkan mereka kepada para ulama-ulama yang alim dan ahlu ilmu yang amanah.

43

e. Menyediakan papan tulis yang kemudian ditulisi dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi keluarga., khususnya doa-doa dan dzikir.18 2. Membina amalan mereka a. Memerintahkan (kepada keluarga) supaya mengerjakan ibadah, seperti mendirikan shalat dan lain sebagainya. b. Mengerjakan puasa bersama, tidak hanya puasa yang wajib, tetapi juga puasa yang sunnah, seperti puasa senin dan kamis, dan lain sebagainya. c. Pergi bersama-sama keluarga untuk mengerjakan ibadah-ibadah yang disyari’atkan secara berjama’ah, seperti shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. d. Melatih mereka supaya gemar bersedekah, berkorban di jalan Allah Ta’ala, dan memberi fakir miskin dan sebagian harta yang telah Allah berikan kepadanya. e. Menganjurkan mereka agar membaca dzikir-dzikir harian denngan sempurna (baik dzikir yang umum maupun yang terikat dengan waktu, tempat, bilangan dan tata cara) f. Ikut serta membantu tetangga dikala mereka susah atau senang. g. Memperingatkan mereka supaya menjauhi hal-hal yang haram.
18

Abdul Latif bin Wahhab Al-Ghamidy, 100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim, (Solo: AtTibyan), Cet Ke-1, h.50-68

Mengikut sertakan keluarga dalam dakwah a. i. membiasakan mereka saling bekerjasama dalam pekerjaan-pekerjaannya. Membiasakan mereka supaya selalu bersegera tidur (sehabis shalat Isya’) dan memperingatkan mereka supaya jangan begadang malam serta membiasakan mereka selalu bersegera bangun tidur sebelum shalat fajar untuk mengerjakan shalat witir dan beristigfar.19 3. sebab rasulullah saw. Memotivasi mereka untuk menulis makalah-makalah yang ringkas lagi bermanfaat sepuatar aktifitas mereka di sekolah-sekolah. Mungkin bisa dengan cara memanfaatkan kemampuan mereka dan mendidiknya supaya ikut berpartisipasi aktif dalam berbagai macam kegiatan dakwah.44 h.102 . Melibatkan mereka dalam acara-acara dakwah yang diadakan oleh kepala keluarga. sangat membenci tidur sebelum shalat Isya’ dan mengobrol setelahnya. membatasi tanggungjawab-tanggungjawab masing-masing. h. 69. j. Membagi pekerjaan-pekerjaan rumah di antara mereka. b. 19 Ibid. Meningkatkan kreativitas dan hobi-hobi mereka yang bermanfaat serta menghubungkannya dengan syari’at Islam.

Menasihati secara empat mata kepada salah satu di antara mereka yang melakukan kesalahan. sebagaimana yang telah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an surat Ar Ruum: 21. dan Islam mengajarkan kepada umatnya dengan detail melalui firman-Nya maupun utusan-Nya (Rasulullah saw. caranya dengan membiasakan mengerjakan perbuatan yang mulia itu di depan mereka. Berkunjung ke rumah-rumah keluarga miskin. h. 4.20 Dari kiat-kiat di atas jelaslah bahwa dalam membina keluarga sakinah perlu adanya kesadaran antara setiap anggota keluarga tentang hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga. 112-121 . b.) bagaimana cara membina kelaurga sakinah mawaddah warahmah. Mengunungi kerabat atau tetangga yang menderita sakit c. Menanamkan dalam hati sanubari mereka kegemaran beramar ma’ruf dan nahi mungkar.45 c. Memperbaiki jiwa dan meluruskan kepribadian mereka a. memeriksa kondisi dan keadaan mereka serta ringan tangan dalam membantu mereka. 20 Ibid.

antara lain: 1. tidak diragukan lagi bahwa keluarga itu adalah keluarga yang sakinah 21 Zaitunah Subhan. maka pasti siapa yang membangun keluarga pijakannya adalah ridha Allah dan mencontoh keluarga Rasulullah. Ayah dan ibu adalah pemimpin yang bertanggungjawab atas pembinaan keagamaan di dalam keluarga.48 . bagaimana tidak yang kita jadikan tolak ukur adalah kepemimpinan Rasulullah dalam membangun sebuah keluarga. Aspek Agama Untuk mendukung terwujudnya keluarga sakinah.46 Hj. Pengamalan amar makruf nahi mungkar c. 2004). Pembinaan keluarga dalam hal ini meliputi beberapa objek sasaran. Pembentukan jiwa agama bagi anak-anak. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 42. karena agama merupakan pijakan dasar dalam membangun sebuah keluarga sakinah.21 Aspek keagamaan ini adalah sangat penting dan mutlak harus ada dan dilaksanakan oleh anggota keluarga. Zaitunah Subhan menyatakan bahwa ada beberapa aspek yang mendukung terwujudnya kehidupan keluarga yang sakinah. yaitu: a. h. pembentukan pribadi secara utuh sangat menentukan. Membina Keluarga sakinah. Pembinaan agama bagi ayah dan ibu b.

Agar dapat menyeimbangkan kebutuhan dan pendapatan.47 2. Kondisi keuangan sebuah keluarga bisa dikatakan stabil apabila terdapat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. h. Karena itu. terjadi karena kedaaan ekonomi keluarga yang kurang stabil.22 22 Ibid. menambah semangat kerja. Bahkan persoalan ekonomi ini juga sering kali mempengaruhi kadar keimanan seseorang. Dalam hal ini. Aspek Ekonomi Kestabilan ekonomi merupakan salah satu penunjang terwujudnya keluarga sakinah.51-52 . Tidak sedikit kasus kegagalan menciptakan keluarga sakinah. keluarga perlu memperhatikan kestabilan ekonomi untuk mencapai predikat keluarga sakinah. seseorang minimal harus mampu merencanakan anggaran belanja rumah tangga. dan meningkatkan pendapatan. bersabda: “kadangkadang kefakiran itu menjadikan kekufuran”. Rasulullah saw. dan bahkan menjadi retak dan berantakan.

h. Inilah realisasi dari kesaksian bahwa Muhammad saw. Di dalamnya menyatu secara sempurna antara fungsi internal dan seksternal sebuah keluarga. Itulah keluarga yang benar-benar sakinah yang penuh kasih sayang. Kewajiban meneladaninya mencakup seluruh aspek kehidupannya yang utuh sebagai sosok manusia yang hidup secara normal dalam masyarakat. Bangunan Keluarga Dambaan. 2005).48 D. ayah..23 Keluarga Nabi Muhammad saw merupakan keluarga istimewa. (Ciputat: Wadi Press. tentu saja bukan sebatas persoalan ibadah ritual. Contoh Keluarga Sakinah dalam Bingkai Sejarah 1. Interaksi antara Nabi saw sebagai suami dengan para isteri Beliau saw beserta seluruh anak-anak benar-benar terlaksana hanya karena perintah Allah SWT dan mencari ridho-Nya. Keluarga Nabi Muhammad Saw Mencontoh dan meneladani Nabi saw. adalah Rasulullah pembawa risalah Islam yang paripurna rahmat dan petunjuk untuk seluruh alam. h. 28 24 .el. tetapi Rasulullah mampu mengatakan dalam sabdanya: 23 Ridha Salamah. Beliau saw adalah seorang pribadi. pemimpin keluarga dan sekaligus pemimpin negara.24 Sejarah membuktikan bahwa Rasulullah dalam membina keluarganya adalah dalam rumah yang sangat sederhana. et. suami. 27 Ibid.yang menjadi teladan semua manusia hingga hari kiamat.

Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa Nabi saw menikahi Khadijah r.a. tetapi belum tinggal serumah kecuali sesudah hijrah ke Madinah. Padahal poligami saat itu merupakan adat bangsa Arab yang menunjukkan kemuliaan. Kemudian beliau meminang dan menikahi ‘Aisyah r.a. Pada saat Khadijah wafat maka beliau Nabi saw.a. berpikir untuk menikah lagi. Abu Bakar r.. Juga bukan untuk memenuhi keinginan akan harta benda dan kedudukan.25 Pernikahan Nabi dengan para isteri-isteri beliau merupakan pernikahan yang agung dalam rangka mendukung perjuangan dakwahnya. Sejak menikah dengan Khadijah beliau belum pernah berpikir untuk menikah lagi dengan wanita lain. saat beliau berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun. sedang 25 Ibid . bukan sekedar memenuhi hasrat seksual dan melahirkan keturunan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa Nabi hanya satu menikahi wanita yang masih gadis.49 ˸ϲ˶ ͉ ˴ ˸ϲ˶ ˸ϴ˴ ΘϨΟ Θ Α Artinya :”Rumah tanggaku adalah laksana surga bagiku” Dari hadits ini menunjukkan bukti bahwa rumah tangga Nabi merupakan rumah tangga yang penuh ketenangan dan keharmonisan walaupun kita tahu bahwa isteri Nabi itu lebih dari satu. puteri sahabatnya yang terdekat dan terpercaya.

33 Ibid. 27 Inilah sosok keluaga sakinah yang sesungguhnya.50 yang lainnya adalah kebanyakan para janda yang ditinggal oleh suaminya karena meninggal dalam peperangan yang suci. karena beliaulah yang menjadi 26 Ibid.26 Demikian pula peran anak-anak Nabi saw. dan pendidik bagi anak-anaknya juga sebagai pejuang yang berperan untuk memajukan masyarakat. ibu. Keluarga yang telah sukses dunia akhirat dalam mewujudkan visi dan misinya baik secara internal maupun eksternal. Walaupun semua isterinya siap membantu dan melayani semua kebutuhannya. Fatimahlah yang membersihkan tubuh Nabi ketika Abu Jahal meletakkan isi perut kambing pada saat Nabi shalat. beliau lebih suka menjahit baju robeknya dengan kedua tangannya sendiri. 27 . Keluarga paling mulia dan bahagia dalam naungan Rahmat Allah SWT. Sepanjang hidup Nabi Muhaamad saw adalah perjuangan di jalan Allah. Beliau bisa mengurus berbagai keperluannya sendiri. h. Mereka telah berperan sebagi isteri pendamping suami. Dari keluarga nabi saw yang istimewa itu wajib dicontoh tentang bagaimana beliau mengelolanya. Isteri-isteri beliau juga adalah para pejuang. Nabi Muhammad saw telah menjalin hidup penuh kemandirian dengan semua isterinya.

Bahkan ketika dia menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar r. adalah sebuah rumah bahagia yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar di panggung sejarah. Keluarga Abu Bakar As Shiddiq Ketika Nabi saw mengumumkan himbauan untuk berinfak di jalan Allah maka Abu Bakar r. Umar bin Khathab r. Asma’ binti Abu Bakar menyimpan kerikil di tempat penyimpanan uang ayahnya. Bahkan untuk menenangkan kakeknya. Perhatikanlah orang-orang sekaliber Abdullah bin Umar dan Hafshah binti Umar Ummul Mukminin selain Umar sendiri.51 rujukan umatnya dalam berbagai segi kehidupan beliau dan beliaulah adalah uswah hasanah (tauladan baik) dalam membina sebuah keluarga. Keluarga Sahabat-sahabat Nabi Saw. ‘Aisyah Ummul Mukminin dan ‘Asma’ binti Abu Bakar isteri Zubeir bin Awwam r. Dia termasuk pedagang yang cukup sukses. Dan kakeknya yang buta itupun merasa tenang ketika merabanya. maka terlihat betapa seorang Umar dapat berkarya dan melayani rakyat tanpa hambatan apapun dari keluarganya. Tentu saja Abu Bakar telah memlihara dan menafkahi kelaurganya dengan sangat baik. Isterinya dan anaknya mendukung sepenuhnya tindakan ini. Perhatikanlah betapa Umar bisa berperan aktif dalam mendampingi Nabi saw di samping tetap mencari nafkah. 2.a.a.a seoarang sahabat utama yang telah mendapat kabar gembira untuk masuk surga. 28 b. 38 Ibid. Dalam keluarga Abu Bakar yang istimewa tentu saja antar suami. Nampak jelas produk rumah bahagia ini adalah dua wanita mulia.a. a. 29 . h.a. Orang-orang besar hanya akan lahir dari asuhan keluarga istimewa.29 28 Ibid. isteri dan anak-anaknya saling mendukung bukan saling menghalangi. adalah orang pertama yang berinfaq dengan seluruh hartanya. Keluarga Umar bin Khathab r.

Umar bin Khathab.: Amirul Mukminin. Umar berkata: “Kalau begitu engkau tidak pantas menjadi pemimpin kaum Muslimin”. apakah seperti itu engkau lakukan bersama anak-anakmu? Umar bangun dan balik bertanya.52 Al-Imam Al-Ghazali mengisahkan tentang sakinahnya keluarga Sayyidina Umar bin Khathab dan keakrabannya terhadap anak-anak dan anggota keluarganya. Maka Al-Aqra’ diperintahkan Umar untuk segera dipecat dari jabatannya sebagai kepala daerah saat itu.a.. Namun tidak ada satu pun yang pernah saya cium”. Sa’ad bin AbiWaqash r. 2005). Lebih jelas kisahnya adalah: “Alkisah ada seorang yang bernama Al-Aqra’ bin Habis menemui Amirul Mukminin.. dan anak yang sedang tidur-tiduran mendadak bangun. apa yang engkau lakukan di rumahmu? Al-Aqra’ menjawab. Thalhah bin Ubaidillah r. Al-Aqra’ berkata. Zubeir bin Awwam r. Menggapai Hidayah dari Kisah (Kumpulan Kisah dari Buku-buku AlGhazali). Ali bin Abi Thalib r. sehingga ia (Umar) berani memecat seorang kepada daerah hanya karena ia merupakan orang yang otoriter terhadap keluarganya. Ia menemukan Umar sedang bermain dengan anak-anaknya.a. (Bandung: Hasyimi. h.a.. Saya mempunyai anak sebanyak sepuluh orang. : “Jika saya pulang ke rumah. Anak-anak Umar menempel di punggungnya dan Umar merayap. dan keluarga seluruh sahabat yang mulia.a. Begitu pula para sahabat wanita yang telah lahir menjadi tokoh-tokoh yang turut berkiprah untuk membangkitkan masyarakat di samping tetap berperan sebagai isteri Isyan Basya..a. anak yang sedang berbicara mendadak terdiam. Demikian pula dengan keluarga Utsman bin Affan r.”30 Dari kisah di atas menunjukkan bahwa keluarga Umar bin Khathab merupakan keluarga yang harmonis yang penuh kasih sayang dan keakraban terhadap anak-anak dan anggota keluarganya. anak yang sedang berdiri cepatcepat duduk. 75 30 . Cet Ke-1.

. h. el. Ummu Aiman. et. Op. Ummu Athiyah serta para isteri dan anak-anak Nabi saw sendiri. Lihatlah manusia mulia seperti Ummu Kultsum binti Uthbah.31 31 Ridha Salamah.53 dan ibu. 39 .. Ummu Sulaim. Cit.

meningkatkan dengan mengembangkan ke arah terciptanya martabat. Cet. mutu dan kemampuan manusia yang optimal. 1993).”2 Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa orang tua (keluarga) adalah Pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. 1993). keingan serta prakarsa sendiri menambanh. Ke. sikap dan cara hidup mereka. (Jakarta: Penasehat Pustaka Amami. 41 2 1 Zakiah Daradjat. pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat. Jadi yang dimaksud dengan pembinaan adalah mempertahankan sesuatu yang sudah baik dan berusaha untuk mengembangkannya. (Jakarta: Bulan Bintang. Cet. 2003). Ke-3.BAB IV PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PADA ANAK A. h. menumbuhkan. mengambangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang utuh dan selaras.3. 66 54 . Cet. h. h. Menurut Zakiah Daradjat bahwa : “Pembinaan adalah upaya pendidikan baik formal maupun non formal yang dilaksanakan secara terarah. Kesehatan Mental dalan Keluarga. 36 3 Zakiyah Daradjat. Ilmu Jiwa Agama.3 Muhammad Ali. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Ke-16. Kepribadian orang tua. (Jakarta: Pustaka Antara. dan pribadi yang mandiri. membangun) dan dapat juga diartikan bentuk (membentuk)1. teratur dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan. merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh itu. Pembinaan Akhlak pada Anak Pembinaan kata dasarnya adalah “bina” yang mempunyai arti bangun (membina.

Bukhari) . keluarga. masyarakat bahkan berbangsa dan bernegara. sedikitnya akan mengikuti ucapan atau prilaku orang tua (keluarga) sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: ˸ϭ˴˶ ˶ ΍˴ ˷ ˴ ˵ ˸ϭ˴˶ ˶ ΍˴ ˷ ˴ ˵ ˵ ΍˴ ˴ ˴˴ ˶ ˴ ˸τ˶ ˴΍ϰ˴˴ ˵ ˴˸Ϯ˵ ˳ ˸Ϯ˵˸Ϯ˴ ͊ ˵ ΍ Ϫϧ ή˶ ϨΑ ΍ Ϫϧ Ω˶ Ϭϳ ϩ ϮΑ΄ϓ Γή ϔϟ Ϡϋ Ϊϟ ϳ Ω ϟ ϣ Ϟϛ μ Ϯ Ϫϧ δ˶ Ϥϳ ˶ ˶ Ύ˴ ˷ ˴ ˵ Π Artinya: “Setiap bayi yang lahir ada dalam keadaan suci. karena baik buruk seseorang atau keluarga dapat dilihat dari prilaku kesehariannya dari kepribadiannya yang menggambarkan budi pekerti yang ada pada dirinya.55 Pembinaan akhlak di sini mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia baik secara pribadi. Akhlak atau budi pekerti tidak mungkin terwujud tanpa melalui proses pembinaan pada seseorang yang dapat memberikan perubahan pribadi seseorang di antaranya adalah pengaruh lingkungan bagi seorang anak sudah barang tentu yang pertama kali atau berpengaruh pada kepribadian adalah pengaruh lingkungan keluarga. Begitu pula anak akan memiliki budi pekerti yang baik apabila lingkungan keluarganya menanamkan akhlak yang baik. Nasrani atau Majusi. maka tergantung ibu bapaknyalah akan jadi Yahudi. karena keluarga merupakan tempat pendidikan utama dan pertama.” (HR.

129 . h.5 4 Abudin Nata. teman di mana ia bermain akan banyak memberikan pengaruh pada prilaku anak khususnya akhlak (perilaku budi pekerti). (Jakarta: PT. Ke-5.56 Hadits tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pelaksana utama dalam pendidikan anak adalah kedua orang tua. maka pendidikan yang diberikan oleh guru pada anak di masa awal ini akan mudah diterima. dan proses pembinaannya harus secara terus menerus baik melalui agama atau memberikan contoh perilaku yang baik. yakni tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan. Op.4 Kemudian pendidikan akhlak pada anaknya yang selanjutnya setelah lingkungan keluarga adalah lingkungan masyarakat yakni teman bergaulnya di mana anak memilki lingkungan bermain. Cit. Cet. Itulah sebabnya orang tua. 169 5 Zakiyah Daradjat. khususnya ibu mendapat gelar madrasah. h. dengan demikian pendidikan akhlak pada awal usia sekolah tingkat SD dirasakan akan lebih muda diterima. Pada usia sekolah lingkungan sekolah pun memberikan pada anak warna. Akhlak Tasawuf. 2001). Raja Grafindo Persada.

misalnya ketika si anak mulai suka bermain dengan teman sebayanya. Pembinaan akhlak pada usia ini diperlukan dan dibutuhkan perhatian. h. Cit. maka ia akan menjadi orang yang jahat. Pembinaan akhlak pada usia Sekolah Dasar (6-12 tahun) sudah dapat dilakukan secara langsung melalui petunjuk dan nasihat yang sederhana yang 6 Abudin Nata. maka pendidikan akhlak pada umur tersebut menurut Zakiah Daradjat dengan latihan.”6 Pribadi manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembinaan atau pembiasaan. Jika manusia membiasakan berbuat jahat.. Pendidikan akhlak terhadap anak dilakukan dengan memanfaatkan kecerdasan si anak. Op.57 Cara lain yang dapat ditempuh untuk pembinaan akhlak ini adalah dengan “Pembiasaan” yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu. perkembangan kecerdaannya belum sampai kepada kemampuan menangkap hal yang maknawi (abstrak). sebaliknya bila manusia membiasakan dirinya dengan cara yang bertingkah laku yang mulia maka ia dapat membentuk pribadi yang mulia. pembiasaan dan percontohan. Untuk anak-anak umur Taman Kanak-kanak (3-5 tahun). seyogyanya ia dilatih untuk suka meminjamkan mainannya kepada temannya ketika bermain. 162 .

Lalu mereka didorong untuk memilih mana yang baik dan menjauhi yang tidak baik. serta digairahkan atau diberi semangat untuk memperbaiki kekurangannya. bisa juga dengan cara diskusi atau tanya jawab. melakukan identifikasi terhadap kata-kata perbuatan. Hendaknya setiap ucapan yang baik dan perbuatan yang baik yang dilakukan oleh anak usia ini diberi pujian dan didorong untuk mempertahankan kebaikan yang telah dicapainya. h. naluri dan kecerdasan anak.8 Pembinaan akhlak pada usia SMA atau yang sejenisnya (16-19 tahun) sangat penting dan tidak mudah terutama bagi mereka yang pada tahap sebelumnya mendapatkan bimbingan pembinaan akhlak secara tepat. Pembinaan pada usia SMP (13-16 tahun) dapat dilakukan dengan cara langsung nasihat. merusak dan membahayakan.7 Pembinaan akhlak pada usia ini dapat pula memanfaatkan bakat. Maka pembinaan akhlak pada usia ini diberikan penjelasan dan keterangan yang rasional tentang kaidah-kaidah akhlak dan setiap masalah akhlak yang penting dijelaskan secara analisa yang tepat disertai manfaat dan hikmahnya dalam kehidupan anak masa sekarang dan masa yang akan datang. h. 69 . bermanfaat serta hal yang buruk. gerakan dan sikap diam pada orang-orang yang sering berhubungan dengan mereka. 7 8 Zakiyah Daradjat. kebiasaan. 93 Ibid. dan percontohan. petunjuk dan penjelasan tentang berbagai hal yang baik. Cit.58 sesuai dengan perkembangan kecerdasan dan daya pikirnya. misalnya suka meniru.. Op. Dalam hal ini dapat digunakan syair dengan lagu yang menarik. Pembinaan akhlak pada usia sekolah dasar ini masih tetap menekankan pada latihan.

Cet. Dengan pengungkapan masalahnya dan mendapat tanggapan dari orang tuanya atau saudara-saudaranya akan menyebabkan anak yang bersangkutan lebih memahami persoalan yang dideritanya. Menurut Abudin Nata bahwa: “Pembinaan akhlak dapat ditempuh dengan cara memberikan keteladanan”.9 Dalam diskusi. 93 Abudin Nata. 165 10 .10 Dalam pembinaan akhlak tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran. remaja mendapat kesempatan untuk mengungkap perasaan dan masalah yang dihadapinya. Akhlak Tasawuf. dr. Pendidikan itu tidak akan sukses melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada). instruksi dan larangan akan tetapi memerlukan pendidikan yang panjang dan pendekatan yang baik.59 Dalam mendidik akhlak anak pada usia ini perlu dikaitkan dengan ajaran agama karena mereka telah sampai pada umur baligh artinya bahwa mereka bertanggung jawab langsung kepada Allah serta perlu dikaitkan pula dengan perundang-undangan yang berlaku. h. Ke-5. Menurut Prof. Ahmad Amin dalam bukunya :”Ethika (ilmu Akhlak)” menyebutkan cara yang ditempuh dalam membina akhlak yaitu: 9 Ibid. h.

Memberi dorongan untuk berbuat baik bagi masyarakat umum 3. (Bandung: Aksara. Akal pikiran yang sempit dan buntu akan menjadikannya menempuh jalan yang sesat. Akal pikiran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) itu akan tetap menuntun seseorang ke jalan yang benar. Membiasakan diri melakukan perbuatan baik. Ke-1. 63. 11-20 12 . Membersihkan pribadi dengan ilmu dan perbuatan itulah yang membawa kita kepada kebahagiaan. Cet. Cukup banyak contoh dalam sejarah bahwa akal pikran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) menjadikan berbudi pekerti yang luhur. 1986). 11 Ahmad Amin. h. h. Cet.11 Sedangkan menurut Oemar Bakrie yang menjelaskan hal ini lebih luas lagi mengatakan bahwa dalam mendidik seseorang supaya berakhlak yang baik.60 1. dan akan menjadikan kebahagiaan yang luar biasa jika kemudian ilmu pengetahuan yang ada itu diimbangi dengan amal perbuatan. Ke-6. Meluaskan wawasan berpikir 2.66 Oemar Bakrie. Membaca dan menyelidiki perjalanan para pahlawan dan orang yang berpikir luar biasa 2. Mengisi akal pikiran dengan ilmu pengetahuan Akal pikiran seseorang besar sekali pengaruhnya dalam kehidupannya. Berkawan dengan orang yang terpilih 1. 1996). Etika (Ilmu Akhlak). yaitu12: 1. Akan tetapi sebaliknya akal pkiran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) akan menjadi obor penerang bagi kehidupannya. (Jakarta: Bulan Bintang. Akhlak Muslim. ada banyak cara yang dapat dilakukan.

Akan tetapi jika bergaul dengan orang penakut maka membawa ia menjadi penakut. Dan sesungguhnya merugilah (sengsaralah) siap yang mengotori dirinya (dengan tindak laku yang jahat). Dalam pergaulan di masyarakat. Bergaul dengan orang-orang yang baik Sudah menjadi sifat yang alami jika manusia suka meniru atau mencontoh hal-hal yang dilakukan oleh orang lain dalam kehidupan di masyarakat. Teman yang baik dapat ditiru dan diteladani amal perbuatannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam Al-Qur’an: . Asy-Syamsu: 9-10) 2. bergaul dengan orang berani maka menjadikan ia seorang yang pemberani pula.61 Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Ύ˴ Ύ͉ ˴ ˸Ϧ˴ ˴ Ύ˴ ˸Ϊ˴ ˴  () Ύ˴ Ύ͉ ˴ ˸Ϧ˴ ˴ ˴˸ϓ˴˸Ϊ˴ ϫ γΩ ϣ Ώ Χ ϗϭ ϫ ϛί ϣ ΢Ϡ ΃ ϗ Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah (menanglah dunia akhirat) orang yang membersihkan dirinya (dari sifat yang jahat). sehingga ada baiknya jika dalam bergaul kita memilih teman yang baik. Teman yang suci hatinya maka cahaya iman pasti menerangi jiwanya dan ini dapat menjadi teladan bagi teman bergaulnya. (QS. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pergaulan dapat mempengaruhi terjadinya perubahan karakter pada diri seseorang.

jelaslah bagi kita bahwa dalam memilih teman hendaknya dicari orang orang-orang yang selalu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. An-Nisa: 69) Berdasarkan ayat di atas. Takutilah azab yang akan menimpa kamu. para shiddiiqiin. yaitu Nabi-nabi. Jangan bersama mereka. Luqmanul Hakim memberi nasihat kepada anaknya: ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴  ˴ ͉ ˴ ˵  ˸ϥ˴ ˴ ΍ ˶ ͉˶ ˸Ϣ˶ ˶ ˴ ˵  ˴ ˴  ˴ Ύ͉ ˴ ˸ϟ΍ ˶ ˶Ύ˴ ˵  ˴  ͉ ˴ ˵ Ύ˴ Ϭ Ϡϋ ϝΰϨϳ ΍ Ϳ ϖΗ΍ ϬθϤΗ ϻϭ έ Π˵ βϟ ΠΗ ϻ ϲϨΑ ϳ ϔ ˴ Ύ˴ ˴˵ ˸ϟ΍˴  ˶ ˴ ˴ ˵ ϟ΍˸ ˶ ˶Ύ˴ ˴  ˸Ϣ˵ ˴ ˴  ˴ ˵ ˸ϴ˶ ˵ ˴  ˶ Ύ˴ ͉ ϟ΍ ˸Ϧ˶  ˲ ΍˴ ˴ ˯ ϤϠό ϭ ˴ ϼπϔ βϟ Οϭ Ϭόϣ ϚΒ μϴϓ ˯ Ϥδ ϣ Ώ άϋ ˯ ˴ ˸έ˴ ΍ ϰ˶ ˸Τ˵  Ύ˴ ˴  ˶ ˴˸ϴ˶ ˴ ˴Ύ˶  ˴ ˴ ˸ϴ˴ ˸ϟ΍ ˴ ˸Ϯ˵˵ ˸ϟ΍ ϰ˶ ˸Τ˵  ˴ ΍ ͉ ˶˴ ν ϻ ϴ ϳ Ϥϛ ΔϠ πϔϟ Α ΔΘ Ϥ Ώ ϠϘ ϴ ϳ Ϳ ϥΈϓ ήτϤ ϞΑ ϮΑ ˶ ˴ ˴ ˸ϟ΍˶ ˶ ΍˴ ˶ Artinya: “Wahai anakku! Janganlah sekali-kali kamu bergaul dengan orang-orang yang jahat. Bergaullah dengan orang-orang yang baik dan berilmu.62 ˴ ˶ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ˵ ͉ϟ΍˴ ˴ ˸ϧ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˴ ˴ ˶ ˴ϭ˵˴ ˴ Ϯ˵ ͉ ϟ΍˴ ˴ ͉ϟ΍˶ ˶ ˵ ˸Ϧ˴ ˴ Ϧϣ Ϭ Ϡϋ ϪϠ Ϣό ΃ Ϧ άϟ ϊϣ ϚΌϟ ΄ϓ ϝ γή ϭ ϪϠ ϊτϳ ϣϭ Ύ˱ ϴ˶ ˴ ˴ ˶ ˴ϭ˵˴ ˵ ˴ ˴ ˴ ϴ˶ ˶Ύ͉ ϟ΍˴ ˶ ΍˴ ˴ ͊ ϟ΍˴ ˴ ϴ˶ ϳ͋ ͋ ϟ΍˴ ˴ ϴ͋ ˶ ͉ϟ΍ Ϙ ϓέ ϚΌϟ ΃ ϦδΣϭ Ϧ Τϟ μ ϭ ˯ ΪϬθ ϭ Ϧ Ϙ Ϊμ ϭ Ϧ ϴΒϨ Artinya: “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya. Selanjutnya berkenaan dengan pemilihan teman dalam bergaul. Dengan pergaulan yang baik itu Allah akan menghidupkan hati- . karena mereka akan menjadi teman yang bisa membimbing ke arah jalan-jalan yang memang telah digariskan oleh Allah swt. dan mereka itulah yang sebaik-baiknya. mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. dan orang-orang yang saleh. orang-orang yang mati syahid (pejuang yang jadi korban dalam kebenaran).” (QS.

Semua organ tubuh menjadi lesu. tidak berdaya dan akan tampak seperti orang bodoh. h. berjuang dengan ulet untuk mencapai cita-cita yang diinginkannya. Sebaliknya. 3. perlu dijadikan pedoman (pegangan) dalam mencari dan memilih teman.13 Nasihat yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya dalam memilih teman ternyata sejalan dengan ketentuan yang telah disebutkan dalam QS. An Nisa : 69 dan apa yang disampaikan oleh Luqmanul Hakim kepada anaknya. 16 .63 hati yang mati sebagaimana hujuan menghidupkan tanah yang tandus dengan tumbuh-tumbuhan. bangsa dan agama. orang yang giat bekerja. jangan sekali-kali memilih teman yang justru menggiring kita kepada kehancuran dan kesesatan. merusak kesehatan. seseorang dapat terhindar dari segala perbuatan jahat. cenderung untuk tidak mempunyai waktu merenungi perbuatan-perbuatan yang jahat. Pada akhirnya cenderung untuk melamun melakukan perbuatan yang tidak baik. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya. berguna kepada nusa. An Nisa: 69. Dengan bekerja keras. sehingga menurut hemat penulis dapat disimpulkan bahwa dalam mencari teman harus dilakukan dengan hati-hati sekali. Ia akan menjadi orang baik. Meninggalkan sifat pemalas Sifat pemalas dan duduk-duduk berpangku tangan tanpa amal. Karena apa yang diatur dalam QS. yaitu: 13 Ibid.

64 .

΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ͉˶  . yaitu: a. wasiat-mewasiati dalam kebeneran dan dan kesabaran. Jangan sekali-kali meninggalkan perbuatan baik yang baru dicoba sebagai penggganti tingkah laku jahat yang baru ditinggalkan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merubah tabiat buruk. ˶ ˸Β͉ ϟΎ˶ ΍˸Ϯ˴ ΍˴ ˴ ˴ ͋ ˴ ˸ϟΎ˶ ΍˸Ϯ˴ ΍˴ ˴ ˴ ˶ Ύ˴ ˶Ύ͉ ϟ΍΍Ϯ˵˶ ˴ ˴ ή μ Α λ ϮΗϭ ϖΤ Α λ ϮΗϭ Ε Τϟ μ ϠϤϋϭ Artinya: “Demi masa. Al-‘Ashr: 13) Salah satu intisari yang terdapat di dalam QS. Al-‘Ashr: 1-3 menurut penulis adalah suatu seruan yang diberikan oleh Allah swt bahwa manusia harus saling berjuang (giat bekerja) dalam kehidupan ini. Merubah kebiasaan buruk Sesuatu perbuatan yang sudah dilakukan seringkali ia akan menjadi tabiat dan sulit sekali untuk merubahnya. akan tetapi harus dicoba untuk melupakannya. Walaupun bagaimana berat dan sulitnya meninggalkan kebiasaan lama.” (QS. sesungguhnya manusia tetap selalu dalam kerugian. karena kalau tidak maka manusia akan berada dalam kerugian yang disebabkan oleh kemalasannya sendiri. Biasanya tabiat atau kebiasaan buruk yang telah mendarah daging akan sulit dipisahkan.. kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh (giat bekerja). Untuk meninggalkannya perlu kemauan keras dan tekad yang kuat serta kesadaran yang mendalam. 4.

˳ ˸δ˵ ϲ˶ ˴˴ Ύ˴ ˸ϧ˶˸ϟ΍͉ ˶  .

 ˶ ˸μ˴ ˸ϟ΍˴ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϟ· ή Χ ϔϟ ϥ δ Έ ϥ · ή ό ϭ .

jangan menunggununggu. Akhlak Muslim. dan mencari kaidah-kaidah pendidikan yang influentif dalam mempersiapkan anak secara mental dan moral. Tanamkan keberanian untuk berbuat atau melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan buruk yang pernah dilakukan.14 Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Oemar Bakry. Tinggalkan kebiasaan yang jahat sesegera mungkin. penulis berpendapat bahwa untuk menghentikan (menghilangkan) perbuatan buruk. Diperlukan kemauan yang keras untuk meninggalkan kebiasaan jahat yang telah sekian lama dilakukan. Dengan munculnya kesadaran dan keyakinan tersebut penulis yakin bahwa proses penghentian kebiasaan buruk tersebut akan jauh lebih mudah. Ke-1. (Bandung: Aksara.15 14 Oemar Bakrie. Jilid 2. (Bandung: Asy-Syifa’.16 Abdullah Nashih Ulwan. sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna. saintikal. spiritual dan sosial. Tarbiyatul Aulad (Pedoman Pendidikan dalam Islam). dilarang oleh Allah swt atau perbuatan tersebut merugikan orang lain.65 b.1 15 . Ke-1. 1988). Apabila ada keinginan untuk berubah maka lakukan itu dengan segera. h. Dalam mendidik anak haruslah terus mencari metode yang lebih efektif. c. Cet. hendaknya perlu ditanamkan keyakinan dan kesadaran yang kuat bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak baik. h. Cet. 1986).

2 . Pendidikan dengan keteladanan b. h. Penddikan dengan nasihat d. Sehingga ketika dewasa dapat memilih yang baik dan menjauhi yang buruk. lingkungan bermain dan lingkungan sekolah. Dalam mendidik anaknya. Pendidikan dengan memberikan perhatian e.66 Kaidah-kaidah atau metode-metode pendidikan yang influensif dalam membentuk anak ini adalah tersimpul dalam lima masalah di bawah ini: a.16 Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa proses pembinaan akhlak pada anak khususnya haruslah sejalan antara keluarga. hendaknya orang tua dapat mengerti tentang ilmu pendidikan atau pengetahuan dalam mendidik anak. hal ini bertujuan agar tidak ada kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak yang akan berakibat buruk bagi perkembangannya pada masa yang akan datang. atau seorang ayah yang jarang 16 Ibid. Pendidikan dengan memberikan hukuman. Pendidikan dengan adat kebiasaan c. Anak yang terlahir dari ayah dan ibu yang tidak komunikatif cenderung membentuk pribadi si anak menjadi pemalu.

2006). bisa jadi. Sikap orang tua yang menerima persyaratan yang diajukan anak.17 Di antara Kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Tidak menyikapi kesalahan-kesalahan anak dengan ekstra 5. Paras. Berlebihan dalam memberikan janji yang berulang kepada anak 8. jangan salahkan anak semata. adalah: 1. 7. 36 (September. Hal ini menjadikan anak selalu mengaharapkan imbalan ketika melakukan sesuatu. orang tualah faktor pemicunya. Mengubah Anak pemalu Menjadi Pemberani. Jadi. Batasan strategi yang diterapkan dalam berinteraksi dengan anak tidak berubah meskipun perilakunya telah berubah 3. si anak cenderung menarik diri. Mengomentari anak dengan komentar yang justru menghalanginya kembali berprilaku baik 9. Sikap orang tua yang enggan menerapkan kedisiplinan pada anak 4. 49 . Memerintahkan anak dengan tanpa menjelaskan alasan pentingnya menunaikan perintah tersebut 2.67 mengajak buah hatinya bertutur kata. h. Tidak menghukum perilaku salah yang muncul dari anak 17 Retno. Para pendidik tidak berusaha memahami berbagai faktor yang mendorong anak melakukan perilaku yang salah 6.

Tidak memberikan sprit yang positif pada diri anak 11. dan membeda-bedakan dalam mendidik anak 18. Tidak memenuhi kebutuhan anak dalam memperoleh kasih sayang. 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak. Meremehkan.68 10. Tidak adanya kesepakatan antara kedua orang tua dalam hal metode pendidikan yang seragam 19. Ke-1. (Jakarta: Pustaka AlKautsar. Tidak menempuh tahapan-tahapan dalam berinteraksi dengan anak 17. dan kelembutan 14.18 Muhammad Rasyid Dimas. cinta. Cet. Tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan individual dalam mendidik anak 16. Kontradiktif dalam menerapkan sistem pendidikan anak 13. 2005). Tidak menyertakan anak dalam menetapkan kaidah-kaidah yang berlaku 20. Mengikuti pola pandang negatif dalam berinteraksi dengan anak. 11-13 18 . mengejek. h. Tidak memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam memberikan hukuman fisik ketika mendidik anak 15. Membandingkan secara tidak proporsional dengan anak-anak lain 12.

Cet. Pendidikan Anak dalam Islam ( Jakarta: Kalam Mulia. 2004). Maka ia belajar menahan diri Jika anak dibesarkan dengan dorongan. Maka ia belajar menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi. Maka ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan cemoohan.19 Syahminan Zaini. Maka ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya. 37 19 . dan ingin dibawa ke mana si anak adalah tidak terlepas dari peran orang tua sebgai pendidik yang pertama dan utama. Maka ia belajar percaya diri Jika anak dibesarkan dengan dengan sebaik-baiknya perlakuan. sehingga baik baruknya anak. Maka ia belajar berkelahi Jika anak dibesarkan dengan penghinaan. Ke-3.el. Puisi itu adalah: Jika anak dibesarkan dengan celaan. h.69 Perlu penulis cantumkan ada puisi yang sangat indah yang berasal dari Dorothy Nolt yang berkaitan tentang pengaruh orang tua yang sangat sentral dalam mendidik anak.. Maka ia belajar keadilan Jika anak dibesarkan dengan dengan kasih sayang. et.

karena dari keluarga sakinah-lah akan muncul generasi-generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman pada era globalisasi ini. Sebagai lembaga pendidikan bagi anak. No. agar dapat terbina secara optimal dan maksimal.II/MPR/1983. Keluarga sebagai satu kesatuan terkecil dari suatu masyarakat memliki peranan penting dalam pembinaan manusia. Oleh karena itu orang tua mempunyai peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. sebagaimana yang tercantum dalam GBHN Tap. baik sebagai mahluk individu atau sebagai mahluk sosial. Di antara peranan keluarga sakinah itu adalah sebagai berikut: a.70 Dari puisi di atas dapat kita pahami bahwa dalam baik dan buruknya pendidikan anak adalah banyak ditentukan oleh kedua orang tuanya (keluarga). Peran Keluarga Sakinah dalam Pembinaan Akhlak Keluarga yang sakinah memliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan pembinaan akhlakul karimah anak. Bagi seorang anak . Keluarga merupakan suatu lembaga yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam tercapai atau tidak suatu tujuan pendidikan anak yang selanjutnya. sebab keluarga merupakan lembaga pendidian dasar utama bagi seorang anak. B. untuk itu orang tua harus dapat memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan si anak.

Termasuk juga pengaruhnya setelah anak memasuki lembaga pendidikan formal. Keluarga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap anak-anak yang menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya. Karena nilai-nilai pendidikan tersebut akan dijadikan bekal bagi seorang anak yang akan menjadi generasi penerus di masa yang akan datang. Setiap orang tua berusaha untuk menjaga keluarga. sehingga terjadi hubungan yang khas. maka lingkungan keluargalah yang pertama ia jumpai. menghargai. maka sifat saling mengerti. yang akan membawa perkembangan positif bagi perkembangan psikis anak-anaknya. yaitu hubungan orang tua dengan anaknya yang mengarah kepada sikap mendidik. Sebagai sumber kasih sayang Pelaksanaan tugas dan peran keluarga sehari-hari tentunya dilakukan tanpa menghilangkan unsur kasih sayang sebagai segalanya di antara anggota keluarga. b. Orang tua sebagai penganggung jawab dalam lingkungan keluarga berperan penuh dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat. Peranan orang tua juga dituntut dalam mengembangkan nilai-nilai pendidikan sedini mungkin. menyayangi dan menghormati harus terwujud secara . Lingkungan yang dapat menciptakan hubungan yang serasi antara sesama anggota keluarga.71 sebelum ia mengetahui dunia luar secara lebih luas.

emosi. hal ini didasarkan pada latar belakang kehidupan keluarga yang berbeda. akan tetapi melalui proses yang panjang. Di sekolah sering kita jumpai motivasi belajar pada anak yang bervariasi. Keinginan dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tua pada umumnya akan mempengaruhi motivasi belajar pada anak. Sebagai sumber motivasi Motivasi belajar pada anak biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. sehingga anak-anak betah berada di dalam lingkungan keluarga. Adanya rasa kasih sayang dalam keluarga akan memberikan rasa tentram. Dengan usaha tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan atau motivasi bagi anak untuk belajar dengan penuh kesungguhan. . yaitu: memberikan permainan yang mengandung unsur edukatif (pendidikan) untuk merangsang penalaran. yang dimulai sejak anak dapat berkomunikasi dengan dunia luar.72 nyata dan dapat dirasakan adanya rasa kasih sayang dalam keluarga tersebut sejak lahir. c. keterampilan dan kreatifitas pada anak. Motivasi belajar pada anak dapat dikembangkan sedini mungkin melalui usaha di antaranya.

baik secara langsung maupun tidak langsung. D. Orang tua hendaknya menerapkan tentang aspek-aspek yang . Namun orang tua dituntut untuk mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku di dalam keluarga. Keteladan yang diberikan orang tua kepada anaknya dalam rumah tangga akan lebih mudah meresap ke dalam jiwa anak dibanding melalui nasihat. Sebagai sumber teladan bagi anak Orang tua memilki peranan yang sangat penting dan memilki tanggung jawab terhadap semua anggota keluarga yang berada di bawah tanggung jawabnya. Islam mengajarkan kepada setiap orang tua yang dalam hal ini adalah keluarga agar mengetahui tentang aspek-aspek yang dibutuhkan dalam proses pembinaan akhlakul karimah terhadap anak. Aspek-aspek yang dibutuhkan dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Terhadap Anak Dalam membina akhlakul karimah anak. Mereka akan menjadikan orang tua sebagi figur teladan bagi anak-anaknya. Orang tua adalah panutan yang selalu ditiru dan dicontoh oleh anaknya dalam setiap tingkah lakunya. Dengan turut sertanya orang tua dalam mematuhi setiap peraturan yang dibuat akan memberikan penilaian bagi anak terhadap orang tuanya.73 d.

Hal ini karena orang tua terutama ibu mempunyai pengaruh dalam pembentukan kepribadian anak yang masih berada di dalam kandungan ibu. 20 Syahmini Zaini. 2004) Cet Ibid. Pendidikan Anak dalam Islam. Dan ajaran Islam itu sangatlah sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa pendidikan itu dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan. di antaranya adalah:20 1. mulai pasangan suami istri melakukan kebersamaan (persetubuhan) untuk mengucapkan doa yang telah diajarkan Rasulullah saw. h. et.. 21 Dari keterangan di atas dapat kita pahami bahwa menanamkan nilai-nilai keagamaan pada anak mutlak diperlukan dan itu dimulai sedini mungkin agar kelak setelah dewasa anak dapat terbiasa dengan nilai-nilai agama yang diberikan orang tuanya. dan mempraktekkannya dalam kehidupannya. (Jakarta: Kalam Mulia. agar dijauhkan dalam kebersamaan suami-istri itu dari godaan dan campur tangan setan. h.74 dibutuhkan dalam proses pembinaan akhlakul karimah anak. 24 Ke-3.el. 38 21 . Menanamkan nilai-nilai agama Islam telah mengajarkan bahwa dalam membina akhlak anak haruslah dilakukan sedini mungkin.

Kebiasaan yang diulang-ulang akan menjadi adat. Kalau orang tua menyuruh anaknya berbuat sesuatu.” b. untuk diteladani haruslah terlebih dahulu mempunyai budi pekerti yang baik. Pembiasaan Nabi Muhammad saw. Memberikan teladan Nabi dikirim Allah ke bumi ini adalah untuk mendidik manusia. puncaknya anak akan menajdi pemberontak. Ada hukum yang menyatakan: “Sesuatu yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Dengan demikian berarti mendidik manusia adalah juga dengan memberikan keteladanan. bersabda: “Biasakanlah anak dengan shalat apabila ia telah dapat membedakan antara tangan kanan dan kiri (HR.75 Dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak hendaknya orang tua dapat melakukan hal ini kepada anak: a. sebab dia merasa telah dibohongi. maka anak paling tidak akan menjadi bingung. . apalagi kalau mengerjakannya berlawanan dengan yang disuruhnya. Sifat hanya akan terbentuk dengan pembiasaan. Abu Daud dan Baihaqi). sedang ia sendiri tidak mengerjakannya. Adat yang diulangulang akan menjadi sifat.

bercerita dan lain sebagainya. Memberikan penghayatan Memberikan penghayatan di sini adalah memberikan maknamakna apa dibalik perbuatan ini harus dilakukan dan perbuatan ini harus ditinggalkan. agar kelak anaknya dapat memetik pelajaran dari pengalaman orang tuanya atau pengalaman orang lain yang diceritakan oleh kedua orang tuanya. Tetapi juga harus diingat pemberian pengertian ini harus disesuaikan dengan perkembangan akalnya. . Memberikan pengertian Berikanlah pengertian kepada anak terhadap setiap tingkah laku dan ajaran Islam yang harus dikerjakan. Tanya jawab. Memberikan pengertian ini dapat dilakukan dengan berbagai cara.76 c. Seperti puasa adalah untuk menghayati rasa lapar yang sering dirasakan oleh orang-orang miskin. Pengalaman Pengalaman adalah guru terbaik. d. Seperti ceramah. Orang tua dalam hal ini hendaknya memberikan pengalaman-pengalaman mereka ataupun pengalaman orang-orang sebelum mereka kepada anaknya. diskusi. e.

Pengetahuan Dalam membina akhlakul karimah. mengajarkan untuk mencintai Rasulullah saw. dan lain sebagainya.22 Dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak juga bisa dilakukan dengan mengajaknya pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. 2004) Cet. baik itu pengetahuan agama ataupun pengetahuan umum. karena itu mereka akan siap untuk memikulnya walaupun berat dan penuh resiko. (Jakarta: Kalam Mulia. melazimkan membaca Al-Qur’an setelah shalat maghrib atau shalat shubuh. hendaklah mereka diajak bermusyawarah untuk menyelesaikannya. Ke-3. 2. h. mengingatkan akan pentingnya beriman dan bertaqwa kepada Allah. anak perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan. karena dengan pengetahuan seseorang dapat mengetahui hal-hal apa saja yang boleh dilakukan dan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan. 40-43 22 . mengajarkan untuk dapat istiqamah dalam hal kebaikan. Musyawarah Setiap persoalan yang dihadapi yang berhungan dengan anak tersebut. Pendidikan Anak dalam Islam. Dengan demikian si anak akan merasa dihargai dan merasa bertanggung jawab.77 f. et al. Ilmu adalah “Nur” (cahaya) yang akan menerangi seseorang kepada jalan yang Syahminan Zaini. mengajarkan membaca doa ketika akan atau setelah melakukan aktifitas.

maka adalah dengan ilmu”. Dan Nabi Muhammad saw telah menegaskan dalam sabdanya: ˶ Ύ˴˸Χ˴ ˸΍˴ ˶ Ύ˴ ˴ ˴ ˷ ˴ ˵ ˵ ˸Θ˶ ˵ Ύ˴ ͉ ˶ ϕ Ϡ ϻ ϡέ Ϝϣ Ϣ˶ Η˶ Κ όΑ Ϥϧ΍ Ϥϻ Artinya : “Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak. sedang orang yang tidak berilmu akan terkena paku-paku kehidupan yang membawanya kepada kesesatan dan kemaksiatan sehingga akan menimbulkan kemerosotan moral bagi orang yang tak berilmu.78 lurus yang diridhai Allah. dan siapa yang ingin mendapatkan keduanya. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah saw : “Siapa yang ingin mendapatkan dunia. Oleh karena itu.” Orang tua juga dalam hal ini mempunyai kewajiban agar anaknya mempunyai dan menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu . Ilmu agama akan membawa dia kepada derajat yang tinggi dan kehidupan yang bahagia di hari kiamat nanti. maka adalah dengan ilmu. sedang ilmu umum akan membawanya kepada kebahagiaan di dunia. maka adalah dengan ilmu. maka hendaknya orang tua memperhatikan hal ini dan menyadari akan pentingnya menanamkan keilmuwan kepada anak agar kelak ia mempunyai akhlakul karimah pada kehidupannya. Dengan ilmu seseorang akan mengetahui dengan jelas paku-paku kehidupan yang akan mencelakakan dia. dan siapa yang ingin mendapatkan akhirat.

Qur’an Hadits (Untuk Madrasah Aliyah Kelas III). (Jakarta: Rineka Cipta. h. el. h.24 Chatibul Umam. 23 b. Cet. Faktor internal adalah faktor yang dibawa sejak lahir. 80 24 23 . Ke-1. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pempinan Pendidkan). mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut. 99 Wasty Soemanto. serta menjalankan dakwah Islamiyah dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula.79 dan mendalami ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan. yaitu faktor internal dan ekternal. Keniscayaan Lingkungan yang Kondusif (Sakinah) dalam Membina Akhlakul Karimah Pada hakikatnya perbuatan atau kelakuan seseorang adalah ditentukan dan dipengaruhi oleh dua faktor. (Jakarta: Menara Kudus. seperti keluarga. Wasty Soemanto yang berjudul “Psikologi pendidikan” dikatakan bahwa “Lingkungan adalah yang mencakup segenap stimulasi. interaksi dan kondisi dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain”. agar kemudian setelah mereka selesai dapat kembali ke masyarakat. dan faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi yang berasal dari luar. et. Ke-3.1990). 1996). Dalam buku Drs. dan masyarakat atau tempat bermainnya dan lain sebagainya. Cet.

Ia masih menerima segala apa yang digoreskan kepadanya dan canderung kepada setiap hal yang ditunjukkan kepadanya. el. hatinya suci bagaikan juhar yang indah sederhana dan bersih dari segala goresan dan bentuk. Anak lahir dalam keadaan suci. dan orang yang khianat adalah termasuk kategori orang munafik. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. 1991) Cet. h.25 Dari keterangan di atas dapat kita pahami bahwa keluarga (orang tua) merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pendidikan akhlak anak. Hal ini menunjukkan bahwa anak lahir dalam keadaan tidak berdaya dan 25 Ibid.. yaitu: 1. Ke-1. et. Sejak individu berada dalam konsepsi.26 Lebih lanjut Al-Imam Ghazali mengatakan bahwa tanggung jawab keluarga yakni kedua orang tua terhadap pendidikan anaknya meliputi dua macam alasan.80 Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa lingkungan sangat besar artinya bagi setiap pertumbuhan pisik. Orang yang tidak pandai menjaga amanat adalah termasuk orang yang khianat. (Jakarta: Bumi Aksara. 81 Zainuddin.89 26 . bersih dan sederhana. oleh sebab itu hendaknya orang tua dapat memberikan seluruh kemampuannya dalam mendidik anaknya. h. Al-Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa anak adalah suatu amanat Tuhan kepada orang tuanya. lingkungan ikut memberi andil bagi proses pertumbuhan. karena anak merupakan amanat yang Allah berikan kepadanya.

pemerkosaan. . yaitu bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya sebagi amanat Tuhan yang wajib dilaksanakan. Orang tua (keluarga) adalah tempat menggantungkan diri dan tempat berlindung anak secara wajar berdasarkan atas adanya hubungan antara anak dan kedua orang tua. perampokan. hal ini karena keluarga adalah pendidikan pertama dan yang utama bagi seorang anak. seks bebas. Oleh karena itu kedua orang tua sebagai orang yang telah dewasa harus menanggung segala resiko yang timbul sebagai akibat perbuatannya. 27 Ibid. Hal yang semacam ini adalah karena gagalnya sebuah keluarga dalam mendidik anak-anaknya dan tidak menanamkan nilai-nilai dan batasan-batasan yang telah agama atur di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.81 belum dapat berbuat apa-apa. 89. perjudian. h. seperti tawuran antar pelajar. narkotika dan lain sebagainya. Kelahiran anak di dunia adalah merupakan akibat langsung dari perbuatan kedua orang tuanya. 2. sehingga masih sangat menggantungkan diri pada orang lain yang lebih dewasa. sehingga akan banyak muncul tindakantindakan yang negatif bahkan dapat kepada tindakan yang kriminal dan anarkis. .27 Dari keterangan di atas dapat jelas kita pahami bahwa lingkungan (keluarga) mempunyai pengaruh terhadap perkembangan akhlakul karimah anak. maka tentu akan lahir generasi-generasi yang tidak kita harapkan. Dari generasi-generasi yang seperti inilah yang akan melahirkan masyarakat yang tidak berakhlak. jika keluarga itu tidak ada ketenangan dan kesejahteraan serta tidak ada penanaman nilai-nilai agama dan pengetahuan di dalamnya.

(Bandung: MQS. 11) 28 Abdullah Gymnastiar.(QS. Al-Mujadilah. Dan baiknya masyarakat menandakan baik pula keluarga di dalamnya.82 Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. 2005). At-Tahrim: 6) dirimu dan keluargamu dari api E. Tidak akan ada masyarakat tanpa keluarga. Implikasi Positif Pembinaan dalam Merespon Perkembangan Ilmu Pengetahuan & Tekhnologi (IPTEK) Keluarga yang sakinah merupakan keluarga yang dapat menjadikan di dalamnya sebagai pusat ilmu.” (QS. Oleh karena itu Allah berfirman agar kita menjaga diri kita dan keluarga kita agar tidak jatuh dalam jurang kehancuran dan kenistaan. Cet. h. Firman Allah Ta’ala: ΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Jagalah/peliharalah neraka…. 14 . Ke-2. dan rusaknya masyarakat adalah menandakan rusaknya keluarga di dalamnya.28 Ketika keluarga atau orang tua itu menyakini dan mengamalkan di dalam keluarga itu tentang firman Allah SWT : ˳ Ύ˴ ˴ ˴ ˴ ˸Ϡ˶ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ϭ˵˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ϣ˵ ˸Ϩ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍˵ ͉ϟ΍˶ ˴ ˸ή˴ Ε ΟέΩ Ϣ ό Η ΃ Ϧ άϟ ϭ Ϝ ϣ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϪϠ ϊϓ ϳ Artinya :“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan dan orangorang yang berilmu itu beberapa derajat. Membangun Keluarga. Publishing.

kesejahteraan (sakinah). sedang manajemen yang baik hanya ada pada keluarga yang terdapat di dalamnya ketentraman. orang tua mampu menanamkan nilai-nilai agama kepada anak. Ibarat orang memasuki rimba belantara tetapi tidak . akan mampu menanamkan pada anaknya tentang pentingnya ilmu pengetahuan. adalah kekayaan yang teramat berharga. seperti orang yang main film atau sinetron tetapi tidak mengenal skenario. dan salah satu nilai-nilai agama yang harus ditanamkan kepada anak adalah tentang firman Allah Ta’ala pada surat Al-Mujadilah :11. yakni tentang keimanan dan keilmuwan. dan meluaskan ilmu. Ilmu pengetahuan akan menjadikannya generasigenerasi yang mampu menghadapi tantangan zaman di kemudian hari. kenyamanan. Semuanya itu tidak akan terwujud bila dalam keluarga itu tidak mempunyai manejemen yang baik dalam rumah tangganya. Orang tua yang mampu membina rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah. Hendaknya orang tua dapat menjadikan di dalam keluarganya sebagi pusat ilmu terhadap anak-anaknya. Dalam keluarga yang sakinah. Kegigihan sebuah rumah tangga dalam menuntut.83 Maka orang tua akan menyadari tentang kewajiban untuk membina anaknya agar tidak hanya matang dalam bidang keagamaan tetapi juga matang dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. memperkaya. Orang yang tidak mempunyai ilmu.

perlu adanya strategi yang intensif dan terarah.h. Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). 2001) Cet. 31 Oleh karena itu. sebuah keluarga yang dalam hal ini adalah orang tua mempunyai kewajiban dalam mengembangkan strategi yang intensif dan terarah kepada anak-anaknya. yakni memberikan stimulus dan motivasi kepada anak-anaknya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. baik 29 Ibid. (Semarang: Inetrmasa.30 Rafiu’din dalam bukunya “Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah)” mengatakan bahwa dalam pembinaan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak. yaitu strategi yang dapat mengembangkan atas kerja dan etos IPTEK berdasarkan AlQur’an dan Sunnah Rasul. 17 Ibid 30 Rafi’udin.84 membawa peta.. Ke-1. Musibah dan fitnah akhirnya menjadi akrab dengan rumah tangga tersebut. 65 31 .29 Keluarga yang semacam ini adalah sepanjang waktu diselimuti oleh kegelisahan. h. seperti orang yang masuk ke dalam lorong gua tanpa mengenali jalan-jalannya. Perlunya strategi untuk membina ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut adalah dalam rangka mengikis krisis IPTEK di kalangan umat Islam.

el. Hal ini karena keluarga sakinah adalah keluarga yang menyadari akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi. berapa banyak ayat AlQur’an dan hadits Nabi saw yang menyatakan akan pentingnya ilmu dan keutamaannya. ataupun memasukkannya ke sokolah-sekolah yang berkualitas. et. Orang-orang yang besar hanya akan lahir dari asuhan keluarga yang istimewa (sakinah). dari keluarga inilah lahir tokoh-tokoh besar di panggung sejarah. Bangunan Keluarga dambaan.. Hal ini seperti keluarganya Sayyidina Umar bin Khathab ra. Perhatikanlah orang-orang sekaliber Abdullah bin Umar dan Ummu Hafshah binti Umar Ummul Mukminin. 2005). Cet. 38 . maka jelaslah bahwa keluarga sakinah mempunyai dampak yang positif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) kepada anak-anaknya. yakni keluarga yang memilki cita-cita besar untuk menata dunia. Ke-1. dan berapa banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi saw yang 32 Ridha Salamah.32 Dari keterangan di atas.85 dengan mengajarkannya langsung di rumah. Ajaran Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi yang terbelakang dan tertinggal dengan umat yang lain. h. (Jakarta: Wadi Press. dari keluarga semacam inilah akan tumbuh dan berkembang pemudapemuda yang dapat mengejar ketertinggalan umat Islam dalam bidang keilmuwan dan teknologi..

akan mampu menjadikan umat Islam sebagai umat yang maju dan terdepan.86 menyatakan ruginya orang yang tidak mempunyai ilmu. karena itulah manusia Allah bekali dengan akal agar manusia dapat mempelajari ayat-ayat Allah yang tertulis dan yang tidak tertulis (alam semesta). bukan umat yang tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi . Dengan ilmu dunia dan akhirat dapat diperoleh. dan dengan ilmu manusia berbeda dengan hewan. Keluarga yang di dalamnya terdapat pengetahuan tentang agama dan mampu menanamkan nilai-nilainya khususnya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya atau anggota keluarganya.

Cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan pembiasaan. hukuman. Keberhasilan dan suksesnya orang tua dalam membangun keluarga yang sakinah akan membawa keluarga tersebut berhasil dan sukses di luar keluarga.BAB V PENUTUP A. penulis akan berupaya menyimpulkan pembahasan tersebut. Untuk itu. sebagai berikut: 1. Peranan orang tua (keluarga) yang di dalamnya penuh kasih sayang. 87 . dan pemberian ganjaran yang sesuai dengan prinsip-pinsip Islam. yang berguna bagi kehidupannya di dalam maupun di luar keluarga. 2. latihan. Kesimpulan Uraian yang telah disajikan pada bab-bab sebelumnya mengenai Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Kehidupan Keluarga yang Sakinah telah membawa penulis pada bagian akhir dari skripsi ini. keteladanan. keakraban terhadap anak-anaknya atau anggota keluarga akan mudah mendidik anak-anaknya untuk dapat menjadi muslim yang berkualitas yang senantiasa berkarya dalam kehidupannya. Begitu juga sebaliknya kegagalan di dalam keluarga akan membawa kegagalan di luar keluarga.

Kepada para orang tua agar kiranya dapat menciptakan kenyamanan. 2. di antara saran-saran itu adalah: 1. agar tercipta keluarga yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. penulis tunjukkan saran ini kepada pihakpihak yang mempunyai andil dalam membangun sebuah keluarga dan yang mempunyai andil dalam pembinaan akhlak seorang anak. Orang tua juga hendaknya memperhatikan tentang perkembangan anak-anaknya dalam hal menjalankan ajaran agama dan juga . membaca buku-buku yang berkaitan dengan keluarga Sakinah. dan kasih sayang di dalam keluarga serta dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada anggota keluarga. keakraban. kesejahteraan. Saran-saran Dalam memberikan saran-saran. cara Nabi membina keluarga. atau membaca sejarah tentang keluarga Nabi saw. dan juga dapat mempersiapkan keluarganya nanti menjadi keluarga yang penuh ketenangan dan kasih sayang (Sakinah Mawaddah Warahmah) dengan mengambil pelajaran dari keluarga orang tuanya atau keluarga orang lain. karena Nabi merupakan uswah (tauladan) dalam segala aspek kehidupan kita. ketenangan.88 B. Hendaknya kepada para pemuda dan pemudi yang belum menikah atau yang akan menikah agar mengutamakan wanita/laki-laki yang patuh dalam menjalankan agamanya sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. Dalam membina keluarga tentu yang dijadikan pegangan dan contoh adalah keluarga Nabi Muhammad saw.

yang bila keluarga itu rusak maka rusak pula masyarakat itu. Kepada para segenap aparat pemerintah atau tokoh masyarakat agar mempunyai peranan dalam hal ini.89 memperhatikan tentang keilmuan mereka baik yang sifatnya sementara (dunia) ataupun yang akan datang (akhirat). . Bagi pihak guru atau pendidik. hendaknya dapat memahami hal ini agar kelak ketika di sekolah para pendidik dapat bekerja sama dengan para orang tua murid tentang kendala-kendala yang dihadapi anak di sekolah. Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. 4. tidak hanya pada keluarganya sendiri. Dan ini harus dilakukan sedini mungkin agar kelak nanti si anak akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik di kemudan hari. Oleh karena itu pemerintah hendaknya memperhatikan kesejahteraan keluarga yang ada di bawah naungan. tetapi keluarga-keluarga yang ada di masyarakat juga ia perhatikan demi terwujudnya masyarakat madani yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur”. 3.

yang berguna bagi kehidupannya di dalam maupun di luar keluarga. latihan. 2. Untuk itu. sebagai berikut: 1. Kesimpulan Uraian yang telah disajikan pada bab-bab sebelumnya mengenai Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Kehidupan Keluarga yang Sakinah telah membawa penulis pada bagian akhir dari skripsi ini. Cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan pembiasaan. Keberhasilan dan suksesnya orang tua dalam membangun keluarga yang sakinah akan membawa keluarga tersebut berhasil dan sukses di luar keluarga. keakraban terhadap anak-anaknya atau anggota keluarga akan mudah mendidik anak-anaknya untuk dapat menjadi muslim yang berkualitas yang senantiasa berkarya dalam kehidupannya.BAB V PENUTUP A. 87 . keteladanan. Peranan orang tua (keluarga) yang di dalamnya penuh kasih sayang. Begitu juga sebaliknya kegagalan di dalam keluarga akan membawa kegagalan di luar keluarga. hukuman. dan pemberian ganjaran yang sesuai dengan prinsip-pinsip Islam. penulis akan berupaya menyimpulkan pembahasan tersebut.

di antara saran-saran itu adalah: 1. 2.88 B. ketenangan. Saran-saran Dalam memberikan saran-saran. keakraban. dan juga dapat mempersiapkan keluarganya nanti menjadi keluarga yang penuh ketenangan dan kasih sayang (Sakinah Mawaddah Warahmah) dengan mengambil pelajaran dari keluarga orang tuanya atau keluarga orang lain. agar tercipta keluarga yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. Orang tua juga hendaknya memperhatikan tentang perkembangan anak-anaknya dalam hal menjalankan ajaran agama dan juga . kesejahteraan. cara Nabi membina keluarga. Kepada para orang tua agar kiranya dapat menciptakan kenyamanan. Hendaknya kepada para pemuda dan pemudi yang belum menikah atau yang akan menikah agar mengutamakan wanita/laki-laki yang patuh dalam menjalankan agamanya sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. karena Nabi merupakan uswah (tauladan) dalam segala aspek kehidupan kita. dan kasih sayang di dalam keluarga serta dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada anggota keluarga. penulis tunjukkan saran ini kepada pihakpihak yang mempunyai andil dalam membangun sebuah keluarga dan yang mempunyai andil dalam pembinaan akhlak seorang anak. membaca buku-buku yang berkaitan dengan keluarga Sakinah. Dalam membina keluarga tentu yang dijadikan pegangan dan contoh adalah keluarga Nabi Muhammad saw. atau membaca sejarah tentang keluarga Nabi saw.

hendaknya dapat memahami hal ini agar kelak ketika di sekolah para pendidik dapat bekerja sama dengan para orang tua murid tentang kendala-kendala yang dihadapi anak di sekolah.89 memperhatikan tentang keilmuan mereka baik yang sifatnya sementara (dunia) ataupun yang akan datang (akhirat). Oleh karena itu pemerintah hendaknya memperhatikan kesejahteraan keluarga yang ada di bawah naungan. . yang bila keluarga itu rusak maka rusak pula masyarakat itu. tetapi keluarga-keluarga yang ada di masyarakat juga ia perhatikan demi terwujudnya masyarakat madani yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur”. tidak hanya pada keluarganya sendiri. 3. Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Kepada para segenap aparat pemerintah atau tokoh masyarakat agar mempunyai peranan dalam hal ini. 4. Bagi pihak guru atau pendidik. Dan ini harus dilakukan sedini mungkin agar kelak nanti si anak akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik di kemudan hari.

Cet. Ke-1 Bakri. Kamus Ilmiah Populer. Prof. Ke-1 Arifin. Kesehatan Mental. dr.Ed. M. 1975 Ali. 1996. Bandung. et. 1975. Semarang: Ramadany. Ke-5 Bakrie. 1999. Ke-1 Anis. Jakarta: Bumi Aksara. 1972 A. Ilmu Pendidikan Islam. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Hasyimi. Cet. Cet. Abu. Ke-7 Ahmadi. Muhammad. Al. Ibrahim. 2000. Drs. Athiyah. Cet. Ke-1 Burhanudin. Jakarta: Penasehat Pustaka Amami. 1993 Amin. Ethika (Ilmu Akhlak). . Mesir: Darul Ma’arif. Yusak. Prof. Pedoman Ilmu Jaya.. H. Jakarta: Bulan Bintang. Muhammad. Sidiq Nazar. Partanto. Isyan. Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Ghazali. Bandung: Aksara. Jakarta: CV. Cet. Pius. Kunci Keutuhan Rumah Tangga (Keluarga yang Sakinah). Oemar. 1986.. Drs. 1994. Cet. Surabaya: Arkola.DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an al-Karim Abrasyi. Cet. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Ke-2 Basya. Ke1 90 . Cet. Ahmad. Pengantar Sosiologi. Al-Mu’jam Al-Wasith.el. Bandung: Pustaka Setia. 1993. Jakarta: Bulan Bintang. H. 2004.. Akhlak Muslim.

Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku. 2003. Zakiyah. 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak.˶ Al.3 Nata. Membangun Keluarga. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Bandung: Remaja Rosdakarya.91 Dalyono. Muhammad Rasyid. 2003. Akhlak Seorang Muslim. Ke-5 . Bandung: MQS. Akhlak Tasawuf. Cet. Al. Sistem Ethika Islam. Muhammad. Muhamamd. Jakarta: PT. 2005. Cet. Cet. (Kata-kata Mutiara ‘Ali bin Abi Thalib. Ilmu komunikasi Suatu Pengantar. Publishing. Abdullah. (Alih Bahasa: Fatihuddin Abul Yasin). Ke-4 Hasan. 1995 Gymnastiar. Rahmat.Ali. Ke-3 Ghazali. Ke-12 Mulyana. Ke-1 Ghazali. Mukasyafatul Qulub  (Rahasia Ketajaman Mata hati). Ke. Tuntunan Akhlak. 1993. Kesehatan Mental dalan Keluarga. Ke.. Jakarta: Pustaka Antara. Surabaya: Terbit Terang. Bandung: Pustaka Hidayah. Jakarta: Bulan Bintang. Jakarta: Rineka Cipta. Cet. Jakarta: Eska Media. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara). 2001. Ke-2 Ha’iri. Deddy. Fadhlullah. . Cet. 2004. M. Cet. Ilmu Jiwa Agama. DR. Cet. Cet.3 Iskandar. 1983. Prof. Jakarta: Pustaka Panjimas. Cet. Ke-3 Dimas. Syekh. Cet. Abudin. RajaGrafindo Persada. 2001. Imam. Ke-16 ____________. 1996. Cet. Psikologi Pendidikan. Ke-1 Djatmika. Ke-2 Daradjat. Semarang: Wicaksana. 2005. Cet. HJ. Jakarta: Bulan Bintang. Nur ‘Aini.

al.92 Rafiu’din. Cet. S. Ridha. Hj. Cet. Semarang: Inermasa. Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). Pedoman Penulisan Skripsi. Cet. Cet. Teis dan Disertasi IAIN Syarif Hidayatullah.. Drs. 1996. Ke-1 Salamah. 2004. Bandung: Asy-Syifa’. Bina Usaha. Ismail.. Ke-3 Subhan. Abdul Latif. Abdul Hakam. 2002 Ulwan. 1984. Cet. Menuju Keluarga Sakinah. Ke-2 Thaib. Ke-1 Thalib.. 2001. Membina Keluarga Sakinah.. Cet. Mengubah Anak pemalu Menjadi Pemberani. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pimpinan Pendidikan). DR. Solo: At-Tibyan . 43 langkah Mengakrabkan Orang Tua dengan Anak. Ke-1 Retno. Ke-1 Wahhab. Ke-1 UIN Syarif Hidayatullah. . al. 2001. Zaitunah. Cet. 36 (September... Bangunan Keluarga Dambaan (Panduan Membangun keluarga). Wasty. Jakarta: PT: Hikmat Syahid Indah. Drs.Ag. Qur’an Hadits (Kelas 3). 2006) Sha’idi. Ke-1 Umam. Prof. Muhammad. 1990. 1988. Cet. Jawa Tengah: Menara Kudus. Chatibul. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Jakarta: Rineka Cipta. 100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana. Dr. Ke-1 Soemanto. Bandung: Irsyad Baitus Salam. Ciputata: Wadi Press. Cet. Tarbiyatul Aulad (Pedoman Pendidikan dalam Islam). 2005. Yogyakarta: CV. Paras. Abdullah Nashih. et. et. H. Risalah Akhlak... 2001.

Syahmini. H. Cet. Drs. Bandung: CV. Diponogoro.. tentang akhlakul karimah menurut Al-Qur’an Ya’qub. Ethika Islam. 2004.93 WWW. Cet. Jakarta: Bumi Aksara. 1991. Pendidikan Anak Dalam Islam. Drs.. com. Hamzah. Seluk-Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. Ke-3 Zainudin.. Ke-6 Zaini. Jakarta: Kalam Mulia. Ke-1 . al. et. 1993. Cet.. 2004. qur’an digital..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful