KATA PENGANTAR

ϢϴΣή˷΍ϦϤΣήϟ΍Ϳ΍ϢδΑ ϟ Puji syukur kehadirat Allah swt, atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyuunan skripsi yang berjudul “ PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELLAUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH”. Shalawat dan alam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabatnya. Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana pendidikan agama Islam pada Jurusan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan tidak lepas dari keterbatasan, namun berkat bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak, maka skripsi ini dapat diselesaikan. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan, terutama kepada Bapak Drs. Khalimi, M Ag. sebagai pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan arahan yang sangat berharga kepada penulis. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada : 1. Kepada ayahanda dan Ibunda, H. Mucharor AM.,dan Hj. Sumiyati, yang telah mendidik dan membesarkan dengan kasih sayang dan memberi dorongan semangat serta doa yang tidak henti-hentinya, baik dikala siang maupun di

iv

tengah keheningan malam bagi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi ini. 2. Ibu Dra. Zikri Neni Iska ,M.SPi., penasehat akademik yang telah banyak memberikan waktunya dan masukan-masukan yang sangat berharga buat penulis. 3. Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 4. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 5. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. 6. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah. 7. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan benih-benih pengetahuan kepada penulis. 8. Kepada seluruh kakak-kakakku dan adikku tercinta, yang turut mencarikan buku-buku rujukan kepada penulis dan turut juga mendo’akan penulis dalam menyelesaikan studi ini. 9. Teruntuk Hj. Ida Rosyida –sang “mumtazah”-, yang tidak jemu-jemu dan bosannya memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. dan juga kepada keluarga besarnya di Cinagara. Semoga Allah selalu meridhai. “‘Asallaahu laa Yufarriquna” 10. Kepada teman-teman dan sahabatku, A. Dimyati, Yordan Sebastian, A. Dedi Muhdi, Syukri Rifa’i, Khusnun, Hafiz, Ari, Aji, Fauzi, Rohidin, Umar, Didin,

v

Syukur, Widi dan The C Mania Lainnya, dan juga kepada Eka Triwahyuningrum, keluarga Istana dan H Risdiyanto menyumbangkan saran-sarannya serta doa kepada penulis. Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan doa semoga Allah SWT. Memberikan ganjaran pahala yang berlipat kepada mereka yang turut membantu dalam menyelasaikan skripsi dan studi ini. yang yang telah

Jakarta, 12 November 2006

Penulis

vi

Mendambakan Keluarga Tentram ( Keluarga Sakinah). perkelahian antar pelajar. sehingga mengesampingkan kasih sayang terhadap anak-anak mereka. korban narkoba dan dekadensi moral lainnya. Oleh karena itu timbullah gejala-gejala kemerosotan moral akhlak yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. (Semarang: Intermasa.BAB I PENDAHULUAN A. 1 Rafi’udin. sehingga melalaikan kehidupan yang lebih kekal. h. Kenakalan remaja pun semakin meningkat. iii 1 1 . Kenyataan tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya. Ke-1. antara lain dengan bertambahnya aneka sumber kemaksiatan secara mencolok. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman. justru karena sibuknya orang tua dalam mencari dan mengumpulkan harta benda. yaitu akhirat. Hal ini ditandai semakin banyaknya terjadi dikalangan remaja perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada kriminalitas. di mana setiap manusia kini tengah disibukkan dengan urusan duniawi. Mereka mengira dengan uang dan materi akan mampu membahagiakan mereka. seks bebas. Hal ini akan berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. 2001). Cet.

pada realitasnya berdasarkan intensitas waktu seorang anak selama satu hari misalnya. sehingga lambat laun akan membentuk watak serta kepribadian anak ketika dia beranjak dewasa.2 Terkait dengan hal di atas.3 Hal ini bisa dilihat dari fiman Allah Swt : ϢϳήΤΘϟ΍. seorang anak pada dasarnya akan meniru apa yang dilihat atau dialami pada lingkungannya (behaviorisme/empirisme) di mana semua memori kejadian akan tersimpan dalam pikiran alam bawah sadarnya. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama. maka yang terjadi adalah anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan lingkungan di luar sekolahnya (keluarga). Ini artinya keluarga mempunyai peran yang sangat sentral di dalam membentuk kepribadian dan akhlak anak.2 Dalam konteks psikologi pendidikan.

peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. 20 Rafi’udin. Op Cit. Itu artinya orang 2 M. 2001). Dalyono.΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. 21 3 . Ke-2. h. h. At-Tahrim: 6) Ayat ini memberikan penjelasan bahwa Islam memerintahkan kita agar menjaga keluarga kita agar tidak terjerumus ke dalam jurang nista dan dosa yang akan mendorong kita dan keluarga masuk ke dalam api neraka. Cet. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta.

Dan hal ini hanya dapat diperoleh dari keluarga yang sakinah. perkelahian antar pelajar dan perbuatan-perbuatan lain yang mengarah kepada kriminalitas. Yusak Burhanudin yang berjudul “Kesehatan Mental” dikatakan tentang penyebab timbulnya kenakalan remaja atau anak-anak adalah salah satunya kurangnya pendidikan agama yang diberikan di dalam keluarga (orang tua). memaafkan kesalahan orang lain.4 4 Yusak Burhanudin. Untuk dapat sampai ke arah sana (dalam membentuk keluarga yang sakinah). 86 . benar. penyalahgunaan narkoba. pengertian dan keakraban terhadap anak. misalnya menghargai hak milki orang lain. keterbukaan. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Kesehatan Mental. dan jujur. seperti seks bebas/seks di luar nikah. perlindungan. dan sebagainya. yaitu manusia yang bertakwa. Yang dimaksud pendidikan agama di sini adalah penanaman jiwa agama sejak anak masih kecil dengan jalan membiasakan mereka untuk melakukan sifat-sifat dan kebiasaan yang baik. Ke-1. rasa aman. di antaranya: pemenuhan kasih sayang. selalu berkata terang. yang jauh dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang. (Bandung: CV Pustaka Setia. dan dari sanalah akan tumbuh masyarakat yang sejahtera. h.3 tua mempunyai kewajiban memberikan bimbingan dan contoh yang nyata berupa suritauladan kepada anak-anaknya agar mereka hidup selamat dan sejahtera. Cet. Dalam bukunya Drs. Dari keluarga yang sakinah inilah akan lahir generasi-generasi tumpuan bangsa. 1999). suka menolong.

. Kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan ajaran agama. maka mereka akan terhindar dari kelakukan-kelakuan yang buruk. tidak semua orang tua memahami ajaran agama tersebut bahkan memandang rendah ajaran agama itu. orang tua hendaknya mendorong anak-anaknya untuk memahami ajaran agama. sehingga mereka terperosok dalam kelakuan yang tidak baik. Apabila kepribadiannya dipenuhi nilai-nilai agama. maka si anak akan memiliki hati nurani yang lemah dan dirinya menjadi kosong dari nilai-nilai yang baik.4 Penanaman kebiasaan yang baik yang sesuai dengan jiwa ajaran agama itu. Selain itu.5 Menurut para ahli jiwa. Bila hal tersebut terjadi. yaitu kasih sayang orang tua. si anak tidak mendapatkan pendidikan agama di sekolah karena pelajaran agama dianggap kurang penting dan tidak mempengaruhi kenaikan kelas. Namun. Sebagai orang tua haruslah benar-benar memperhatikan hal ini agar penyesalan di kemudian hari tidak menimpa dirinya. menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian si anak. dapat dilakukan dengan mudah pada anak apabila ia mendapatkan contohcontoh dari orang dewasa disekitarnya terutama dari kedua orang tuanya. anak yang lahir itu membutuhkan kebutuhan pokok kejiwaan yang mana kebutuhan tersebut haruslah dipenuhi. Oleh karena itu. Orag tua yang tidak memperhatikan kasih sayang terhadap anaknya dan hanya disibukkan dengan 5 Ibid.

h. Karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama untuk pembentukan serta pembinaan kepribadian anak secara utuh. agama. bangsa dan negara. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hafiz Ibrahim yang dikutip oleh Athiyah al-Abrasyi dalam bukunya “Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam”. 18 Athiyah Al-Abrasyi. Dasar-dasar Pokok Pendiidkan Anak dalam Islam. yaitu: Ύ˱ ͋ ˴ Ύ˱ ˸ό˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴Ύ˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴΍˴ ˶˲ ˴ ˴ ˸Ϊ˴ ͊ ˵ ˴ Βϴσ Β η Ε Ϊ ΍ ϬΗ Ϊ ΍ Ϋ΍ Δγέ ϣ ϡϷ΍ Artinya: “Ibu adalah suatu sekolah. peran ibu sangat penting dalam membentuk karir keberhasilan anaknya sebagai anak yang berguna bagi keluarga. 133 7 6 . (Semarang: Intermasa. Dalam hal ini.h. yang bila engkau persiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat. Cet.5 urusan duniawi semata akan menyebabkan si anak menyimpang tingkah lakunya.” 7 Hal ini juga seiring dengan suatu nasihat yang mengatakan bahwa “Jika kau mendidik seorang pria berarti kau mendidik seorang manusia. Cet.” 8 Rafi’udin. (Jakarta: Akafa Press. 1997). di samping juga dapat menyebabkan si anak kehilangan pegangan. tetapi bila kau mendidik seorang wanita berarti kau mendidik seluruh keluarga.6 Oleh karena itu hendaklah orang tua harus dapat menciptakan suasana yang nyaman yang penuh kasih sayang di dalam keluarga demi terciptanya akhlakul karimah terhadap anak. Ke-7. 2001). Mendambakan Kelaurga Tentram (Keluarga Sakinah). Ke-1.

h. Cet. Membina Keluarga Sakinah. Sejahtera lahir adalah bebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. Ibid. yaitu orang beriman. Janganlah menikahi orang musyrik karena hal itu sangat dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya: Nur Aeni Iskandar. Cet.26 9 8 Zaitunah Subhan. yaitu fitrah sebagai hamba Tuhan yang baik dan fitrah sebagai khalifah fil ardhi. 2004).9 Di samping itu. h. Allah swt.6 Dalam keluarga yang harmonis (sakinah). keluarga sakinah dapat memberi setiap anggotanya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dasar fitrah kemanusiaan.. dan sejahtera lahir dan batin. Sedangkan kesejahteraan batin adalah bebas dari kemiskinan iman. aman. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara). 7 10 . Dua kemampuan dasar fitrah kemanusiaan dalam keluarga yang harmonis (sakinah) berkembang menjadi tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan SangPencipta. bahagia. 8 Ke-2. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. setiap anggotanya merasakan suasana damai. (Jakarta: Eska Media). h. dan dengan sesama manusia serta lingkungan10 Dalam hal ini hendaknya perlu disadari bawa pembinaan kehidupan keluarga yang sakinah itu haruslah dimulai sejak memilih pasangan atau jodoh. Ke-12. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren.

Kemudian agar pembinaan keluarga itu dapat mengoptimalkan pembinaannya kepada si anak sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Bekalilah diri dan juga mereka dengan ketakwaan kepada Allah. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu…(QS. Islam telah mengajarkan agar kita jangan meninggalkan generasi yang lemah. Namun kenyataannya setelah pernikahan tersebut berjalan dalam waktu yang relative lama (bertahun-tahun) dan telah dikaruniai anak. Di sini akan ditemui jalan buntu dalam upaya mencari jalan damai.7 ˸Ϯ˴˴ ˳ ˴ ˶ ˸θ˵ ˸Ϧ˶ ˲ ˸ϴ˴ ˲ ˴ ˶ ˸Ά˵ ˲ ˴ ˴˴˴ ͉ ˶ ˸Ά˵ ϰ͉ ˴ ˶ Ύ˴ ˶ ˸θ˵ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ˶ ˸Ϩ˴ Ύ˴˴ ϟϭ Δϛή ϣ ϣ ή Χ ΔϨϣ ϣ Δϣ΄ϟϭ Ϧϣ ϳ ΘΣ Ε ϛή Ϥ ΤϜ Η ϟϭ ˸Ϣ˵ ˸Θ˴ ˴ ˸ϋ˴ Ϝ ΒΠ ΃ Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Maka hebatnya Islam dan ajarannya yang jauh-jauh sebelumnya telah membekali umatnya agar jangan menikah dengan pria atau wanita yang tidak seiman. Allah Ta’ala berfirman: . Pada saat berlangsungnya pernikahan kedua mempelai atau salah satunya mengikrarkan diri ke dalam agama yang sama. Al-Baqarah: 221) Di dalam kehidupan masyarakat kita sering melihat atau setidak-tidaknya melalui berita atau surat kabar diberitakan bahwa kasus yang sulit untuk didamaikan adalah kasus sengketa suami istri yang berbeda agama. maka salah satu pihak kembali ke agama yang dipeluknya.

Karena banyaknya gejala-gejala kemerosotan moral akhlak anak remaja yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. 2. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” ( QS. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. B. Dan jika masyarakat itu rusak maka sudah dipastikan bahwa bangsa itu pun akan rusak.8 ΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴ Ύ˱ Ύ˴ ˶ ˱ ͉ ͋ ˵ ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴ ˸Ϧ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴ ϘΘϴ ϓ Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Pembatasan masalah Untuk menghindari perbedaan persepsi serta pengarahan masalah agar tidak meluas. penulis merasa tertarik dan terpanggil untuk menyusun skripsi dengan judul “PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELALUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH” Adapun alasan penulis memilih judul di atas adalah sebagai berikut: 1. maka permasalahan dalam penelitian ini peneliti batasi sebagai berikut: . Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat di mana jika unit terkecil itu rusak (keluarga) maka rusak pula masyarakat itu. An-Nisa: 9) Dari uraian di atas.

maka perlu adanya perumusan masalah. Tujuan dan Manfaat Penelitian Ada pun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. C. Cara mendidik anak secara secara Islami dalam keluarga 2. Keluarga sakinah dalam mempengaruhi pembentukan akhlakul karimah terhadap anak. 2.9 a. Untuk mengetahui cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga. Akhlakul karimah yang dimaksud adalah akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Untuk mengetahui sejauhmana keluarga yang harmonis dalam mempengaruhi akhlakul karimah anak. yakni: 1. 2. meliputi usaha-usaha keluarga berupa cara-cara yang ditempuh dalam pembinaan akhlakul karimah anak. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga. . Perumusan masalah Agar permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini jelas dan terarah. b.

Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku pedoman penulisan skripsi.10 Mengenai manfaat dari penelitian ini. jenis data yang akan dibutuhkan adalah data kualitatif yang peneliti kumpulkan dari berbagai sumber tertulis. hadits dan karangan para ahli dan cendikiawan yang ada hubungannya dengan pembahasan dalam skripsi ini. Oleh karena itu. secara teoritis untuk memperkaya khazanah keilmuan khususnya di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. D. baik sifatnya primer maupun sekunder. . maupun lingkungan akademis lain dan masyarakat pada umumnya. Buku-buku yang dijadikan bahan rujukan adalah Kitab Suci Al-Qur’an. tesis dan disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidatatullah Jakarta tahun 2002. Dan secara praktis penelitian ini manfaatnya adalah sebagai kontribusi pemikiran dalam pembinaan akhlakul karimah terhadap anak khususnya dalam lingkungan keluarga. peneliti memakai jenis penelitian library research. Metode Penelitian Dalam penelitian karya ilmiah ini.

BAB III. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. metode penelitian dan sitematika penulisan. dan keniscayaan lingkungan yang kondusif (sakinah) dalam membina akhlakul karimah . dan contoh keluarga sakinah dalam bingkai sejarah. yaitu: BAB I. pembatasan dan perumusan masalah.11 E. BAB II. peran keluarga sakinah dalam pembinaan akhlak. BAB IV. yang terdiri dari pembinaan akhlak pada anak. bab ini terdiri dari latar belakang masalah. yang setiap bab terdiri atas beberapa sub yang saling berkaitan. manfaat akhlakul karimah dan faktorfaktor yang mempengaruhi akhlakul karimah. dalam bab ini dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan akhlakul karimah yang terdiri dari pengertian akhlakul karimah. tujuan dan kegunaan penelitian. dalam bab ini akan dipaparkan mengenai pembinaan akhlakul karimah pada anak. bab ini mendeskripsikan tentang eksistensi keluarga sakinah yang terdiri dari pengertian keluarga sakinah. cara membina keluarga yang sakinah. aspek-aspek yang dibutuhkan dalam pembinaan akhlak terhadap anak. dasar-dasar pembinaan akhluklul karimah. ciri-ciri keluarga yang sakinah.

bab ini berisi kesimpulan dari uraian pembahasan yang terdapat dalam bab-bab sebelumnya dan saran-saran yang merupakan kontribusi pemikiran dari penulis.12 serta implikasi positif pembinaan dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) BAB V. sebagai penutup. ditujukan kepada segala pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan akhlakul kariamah terhadap anak khususnya orang tua yang mempunyai anak. .

terutama kepada Bapak Drs.. Sumiyati. Kepada ayahanda dan Ibunda. M Ag. Khalimi. beserta keluarga dan sahabatnya. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada : 1. sebagai pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan arahan yang sangat berharga kepada penulis. maka skripsi ini dapat diselesaikan. Mucharor AM. baik dikala siang maupun di iv . H. taufik dan hidayah-Nya. atas rahmat. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan tidak lepas dari keterbatasan. yang telah mendidik dan membesarkan dengan kasih sayang dan memberi dorongan semangat serta doa yang tidak henti-hentinya. Shalawat dan alam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad saw.KATA PENGANTAR ϢϴΣή˷΍ϦϤΣήϟ΍Ϳ΍ϢδΑ ϟ Puji syukur kehadirat Allah swt. penulis dapat menyelesaikan penyuunan skripsi yang berjudul “ PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELLAUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH”. namun berkat bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak.dan Hj. Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana pendidikan agama Islam pada Jurusan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. 3. 4. 2. A. Hafiz. Yordan Sebastian. Kepada teman-teman dan sahabatku.. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Syukri Rifa’i. A. yang turut mencarikan buku-buku rujukan kepada penulis dan turut juga mendo’akan penulis dalam menyelesaikan studi ini. v . Khusnun. Dedi Muhdi. Zikri Neni Iska . Ari. yang tidak jemu-jemu dan bosannya memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Teruntuk Hj. Ibu Dra.SPi. Didin. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Ida Rosyida –sang “mumtazah”-. Aji. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan benih-benih pengetahuan kepada penulis. “‘Asallaahu laa Yufarriquna” 10. 6. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah. Rohidin. 8.tengah keheningan malam bagi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi ini.M. Umar. penasehat akademik yang telah banyak memberikan waktunya dan masukan-masukan yang sangat berharga buat penulis. 9. dan juga kepada keluarga besarnya di Cinagara. Semoga Allah selalu meridhai. Kepada seluruh kakak-kakakku dan adikku tercinta. Fauzi. Dimyati. 7.

Syukur. Widi dan The C Mania Lainnya. keluarga Istana dan H Risdiyanto menyumbangkan saran-sarannya serta doa kepada penulis. dan juga kepada Eka Triwahyuningrum. Memberikan ganjaran pahala yang berlipat kepada mereka yang turut membantu dalam menyelasaikan skripsi dan studi ini. Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan doa semoga Allah SWT. yang yang telah Jakarta. 12 November 2006 Penulis vi .

... D........................ B............ iv vii 1 9 10 10 11 BAB II HAKIKAT PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH A............. Pembatasan Masalah ................................... Ciri-ciri Keluarga Sakinah .......................... Sistematika Penulisan .......... D.................................................... Latar Belakang Masalah .................................................................................................................................... D...... B.......................................... E.. Dasar-dasar Pembinaan Akhlakul Karimah ........ B... Pengertian Keluarga Sakinah ................ C..................................... Manfaat Akhlakul Karimah ............................................................................................. DAFTAR ISI ..................................................................... Cara Membina Kaluarga Sakinah .................................. Pengertian Akhlakul Karimah .......................................................... Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............................................... Contoh Keluarga Sakinah dalam Bingkai Sejarah ........ C........................ 13 18 21 23 BAB III KONSEPSI KELUARGA SAKINAH A................................. 29 33 40 47 vii .............. C..... BAB I PENDAHULUAN A.. Metode Penelitian ............. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Akhlakul Karimah ...

................................... C........... 79 E.................... 90 LAMPIRAN viii ....................................................................... Saran .......... Pembinaan Akhlak Pada Anak .............................. 88 DAFTAR PUSTAKA ............................... 87 B............... 70 Aspek-aspek yang Dibutuhkan dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Terhadap Anak ....... Implikasi Positif Pembinaan dalam merespon Perkembangan Ilmu Pengetahuan & Tekhnologi (IPTEK) ............ 82 BAB V PENUTUP A.................. 73 D..................................................................... Keniscayaan Lingkungan yang Kondusif (Sakinah) dalam Membina Akhlakul Karimah ............................................................... Peran Keluarga Sakinah dalam Pembinaan Akhlak ................. Kesimpulan ......................... 54 B..........................BAB IV PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PADA ANAK A................

(Semarang: Intermasa. Mereka mengira dengan uang dan materi akan mampu membahagiakan mereka. Ke-1. 2001). h. Kenyataan tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya. korban narkoba dan dekadensi moral lainnya. Kenakalan remaja pun semakin meningkat. Hal ini akan berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. yaitu akhirat. Hal ini ditandai semakin banyaknya terjadi dikalangan remaja perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada kriminalitas. Oleh karena itu timbullah gejala-gejala kemerosotan moral akhlak yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. sehingga melalaikan kehidupan yang lebih kekal. sehingga mengesampingkan kasih sayang terhadap anak-anak mereka. seks bebas.BAB I PENDAHULUAN A. justru karena sibuknya orang tua dalam mencari dan mengumpulkan harta benda. Mendambakan Keluarga Tentram ( Keluarga Sakinah). Cet. antara lain dengan bertambahnya aneka sumber kemaksiatan secara mencolok. iii 1 1 . perkelahian antar pelajar. di mana setiap manusia kini tengah disibukkan dengan urusan duniawi. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman. 1 Rafi’udin.

maka yang terjadi adalah anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan lingkungan di luar sekolahnya (keluarga).3 Hal ini bisa dilihat dari fiman Allah Swt : ϢϳήΤΘϟ΍. Ini artinya keluarga mempunyai peran yang sangat sentral di dalam membentuk kepribadian dan akhlak anak.2 Terkait dengan hal di atas. pada realitasnya berdasarkan intensitas waktu seorang anak selama satu hari misalnya.2 Dalam konteks psikologi pendidikan. seorang anak pada dasarnya akan meniru apa yang dilihat atau dialami pada lingkungannya (behaviorisme/empirisme) di mana semua memori kejadian akan tersimpan dalam pikiran alam bawah sadarnya. sehingga lambat laun akan membentuk watak serta kepribadian anak ketika dia beranjak dewasa. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama.

Op Cit. At-Tahrim: 6) Ayat ini memberikan penjelasan bahwa Islam memerintahkan kita agar menjaga keluarga kita agar tidak terjerumus ke dalam jurang nista dan dosa yang akan mendorong kita dan keluarga masuk ke dalam api neraka. Dalyono. 21 3 . h. Ke-2. 20 Rafi’udin. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta. Itu artinya orang 2 M. Cet.΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. 2001). h.

perlindungan. Kesehatan Mental. h. dan sebagainya. dan dari sanalah akan tumbuh masyarakat yang sejahtera. seperti seks bebas/seks di luar nikah. rasa aman. 1999). Dan hal ini hanya dapat diperoleh dari keluarga yang sakinah. yaitu manusia yang bertakwa. pengertian dan keakraban terhadap anak.3 tua mempunyai kewajiban memberikan bimbingan dan contoh yang nyata berupa suritauladan kepada anak-anaknya agar mereka hidup selamat dan sejahtera. selalu berkata terang. penyalahgunaan narkoba.4 4 Yusak Burhanudin. Yang dimaksud pendidikan agama di sini adalah penanaman jiwa agama sejak anak masih kecil dengan jalan membiasakan mereka untuk melakukan sifat-sifat dan kebiasaan yang baik. yang jauh dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. misalnya menghargai hak milki orang lain. perkelahian antar pelajar dan perbuatan-perbuatan lain yang mengarah kepada kriminalitas. suka menolong. dan jujur. (Bandung: CV Pustaka Setia. di antaranya: pemenuhan kasih sayang. Yusak Burhanudin yang berjudul “Kesehatan Mental” dikatakan tentang penyebab timbulnya kenakalan remaja atau anak-anak adalah salah satunya kurangnya pendidikan agama yang diberikan di dalam keluarga (orang tua). Ke-1. Dari keluarga yang sakinah inilah akan lahir generasi-generasi tumpuan bangsa. memaafkan kesalahan orang lain. 86 . Dalam bukunya Drs. Cet. keterbukaan. benar. Untuk dapat sampai ke arah sana (dalam membentuk keluarga yang sakinah).

anak yang lahir itu membutuhkan kebutuhan pokok kejiwaan yang mana kebutuhan tersebut haruslah dipenuhi. sehingga mereka terperosok dalam kelakuan yang tidak baik. Namun.4 Penanaman kebiasaan yang baik yang sesuai dengan jiwa ajaran agama itu. maka mereka akan terhindar dari kelakukan-kelakuan yang buruk. dapat dilakukan dengan mudah pada anak apabila ia mendapatkan contohcontoh dari orang dewasa disekitarnya terutama dari kedua orang tuanya. Selain itu. Oleh karena itu. Bila hal tersebut terjadi. Apabila kepribadiannya dipenuhi nilai-nilai agama. tidak semua orang tua memahami ajaran agama tersebut bahkan memandang rendah ajaran agama itu. maka si anak akan memiliki hati nurani yang lemah dan dirinya menjadi kosong dari nilai-nilai yang baik. menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian si anak. yaitu kasih sayang orang tua.5 Menurut para ahli jiwa. Orag tua yang tidak memperhatikan kasih sayang terhadap anaknya dan hanya disibukkan dengan 5 Ibid. Kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan ajaran agama. Sebagai orang tua haruslah benar-benar memperhatikan hal ini agar penyesalan di kemudian hari tidak menimpa dirinya. si anak tidak mendapatkan pendidikan agama di sekolah karena pelajaran agama dianggap kurang penting dan tidak mempengaruhi kenaikan kelas. . orang tua hendaknya mendorong anak-anaknya untuk memahami ajaran agama.

Mendambakan Kelaurga Tentram (Keluarga Sakinah). di samping juga dapat menyebabkan si anak kehilangan pegangan. agama. Ke-7.5 urusan duniawi semata akan menyebabkan si anak menyimpang tingkah lakunya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hafiz Ibrahim yang dikutip oleh Athiyah al-Abrasyi dalam bukunya “Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam”. Dalam hal ini. tetapi bila kau mendidik seorang wanita berarti kau mendidik seluruh keluarga. h. yang bila engkau persiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat. 1997).” 8 Rafi’udin. (Jakarta: Akafa Press. Karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama untuk pembentukan serta pembinaan kepribadian anak secara utuh. (Semarang: Intermasa.h. 18 Athiyah Al-Abrasyi. bangsa dan negara.” 7 Hal ini juga seiring dengan suatu nasihat yang mengatakan bahwa “Jika kau mendidik seorang pria berarti kau mendidik seorang manusia. peran ibu sangat penting dalam membentuk karir keberhasilan anaknya sebagai anak yang berguna bagi keluarga. 133 7 6 . Cet. Cet. yaitu: Ύ˱ ͋ ˴ Ύ˱ ˸ό˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴Ύ˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴΍˴ ˶˲ ˴ ˴ ˸Ϊ˴ ͊ ˵ ˴ Βϴσ Β η Ε Ϊ ΍ ϬΗ Ϊ ΍ Ϋ΍ Δγέ ϣ ϡϷ΍ Artinya: “Ibu adalah suatu sekolah.6 Oleh karena itu hendaklah orang tua harus dapat menciptakan suasana yang nyaman yang penuh kasih sayang di dalam keluarga demi terciptanya akhlakul karimah terhadap anak. 2001). Ke-1. Dasar-dasar Pokok Pendiidkan Anak dalam Islam.

7 10 . dan dengan sesama manusia serta lingkungan10 Dalam hal ini hendaknya perlu disadari bawa pembinaan kehidupan keluarga yang sakinah itu haruslah dimulai sejak memilih pasangan atau jodoh. Membina Keluarga Sakinah. dan sejahtera lahir dan batin. h. bahagia. h. 8 Ke-2. 2004). Cet. yaitu fitrah sebagai hamba Tuhan yang baik dan fitrah sebagai khalifah fil ardhi. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Ibid.9 Di samping itu. (Jakarta: Eska Media). aman. setiap anggotanya merasakan suasana damai. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Dua kemampuan dasar fitrah kemanusiaan dalam keluarga yang harmonis (sakinah) berkembang menjadi tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan SangPencipta. Sedangkan kesejahteraan batin adalah bebas dari kemiskinan iman. h. Allah swt. keluarga sakinah dapat memberi setiap anggotanya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dasar fitrah kemanusiaan. yaitu orang beriman. Ke-12. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara). Janganlah menikahi orang musyrik karena hal itu sangat dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya: Nur Aeni Iskandar..26 9 8 Zaitunah Subhan. Cet. Sejahtera lahir adalah bebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani.6 Dalam keluarga yang harmonis (sakinah).

Bekalilah diri dan juga mereka dengan ketakwaan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman: . Islam telah mengajarkan agar kita jangan meninggalkan generasi yang lemah. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu…(QS. Al-Baqarah: 221) Di dalam kehidupan masyarakat kita sering melihat atau setidak-tidaknya melalui berita atau surat kabar diberitakan bahwa kasus yang sulit untuk didamaikan adalah kasus sengketa suami istri yang berbeda agama.7 ˸Ϯ˴˴ ˳ ˴ ˶ ˸θ˵ ˸Ϧ˶ ˲ ˸ϴ˴ ˲ ˴ ˶ ˸Ά˵ ˲ ˴ ˴˴˴ ͉ ˶ ˸Ά˵ ϰ͉ ˴ ˶ Ύ˴ ˶ ˸θ˵ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ˶ ˸Ϩ˴ Ύ˴˴ ϟϭ Δϛή ϣ ϣ ή Χ ΔϨϣ ϣ Δϣ΄ϟϭ Ϧϣ ϳ ΘΣ Ε ϛή Ϥ ΤϜ Η ϟϭ ˸Ϣ˵ ˸Θ˴ ˴ ˸ϋ˴ Ϝ ΒΠ ΃ Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Namun kenyataannya setelah pernikahan tersebut berjalan dalam waktu yang relative lama (bertahun-tahun) dan telah dikaruniai anak. Kemudian agar pembinaan keluarga itu dapat mengoptimalkan pembinaannya kepada si anak sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Di sini akan ditemui jalan buntu dalam upaya mencari jalan damai. Maka hebatnya Islam dan ajarannya yang jauh-jauh sebelumnya telah membekali umatnya agar jangan menikah dengan pria atau wanita yang tidak seiman. maka salah satu pihak kembali ke agama yang dipeluknya. Pada saat berlangsungnya pernikahan kedua mempelai atau salah satunya mengikrarkan diri ke dalam agama yang sama.

penulis merasa tertarik dan terpanggil untuk menyusun skripsi dengan judul “PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELALUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH” Adapun alasan penulis memilih judul di atas adalah sebagai berikut: 1. An-Nisa: 9) Dari uraian di atas. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” ( QS. 2.8 ΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴ Ύ˱ Ύ˴ ˶ ˱ ͉ ͋ ˵ ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴ ˸Ϧ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴ ϘΘϴ ϓ Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. maka permasalahan dalam penelitian ini peneliti batasi sebagai berikut: . Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Dan jika masyarakat itu rusak maka sudah dipastikan bahwa bangsa itu pun akan rusak. Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat di mana jika unit terkecil itu rusak (keluarga) maka rusak pula masyarakat itu. B. Pembatasan masalah Untuk menghindari perbedaan persepsi serta pengarahan masalah agar tidak meluas. Karena banyaknya gejala-gejala kemerosotan moral akhlak anak remaja yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan.

Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga. maka perlu adanya perumusan masalah. Tujuan dan Manfaat Penelitian Ada pun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. . b. Akhlakul karimah yang dimaksud adalah akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. yakni: 1. meliputi usaha-usaha keluarga berupa cara-cara yang ditempuh dalam pembinaan akhlakul karimah anak.9 a. Keluarga sakinah dalam mempengaruhi pembentukan akhlakul karimah terhadap anak. Perumusan masalah Agar permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini jelas dan terarah. Untuk mengetahui sejauhmana keluarga yang harmonis dalam mempengaruhi akhlakul karimah anak. Untuk mengetahui cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga. 2. Cara mendidik anak secara secara Islami dalam keluarga 2. 2. C.

Dan secara praktis penelitian ini manfaatnya adalah sebagai kontribusi pemikiran dalam pembinaan akhlakul karimah terhadap anak khususnya dalam lingkungan keluarga. Oleh karena itu. Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku pedoman penulisan skripsi. . Buku-buku yang dijadikan bahan rujukan adalah Kitab Suci Al-Qur’an. D. peneliti memakai jenis penelitian library research. hadits dan karangan para ahli dan cendikiawan yang ada hubungannya dengan pembahasan dalam skripsi ini. jenis data yang akan dibutuhkan adalah data kualitatif yang peneliti kumpulkan dari berbagai sumber tertulis. secara teoritis untuk memperkaya khazanah keilmuan khususnya di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Metode Penelitian Dalam penelitian karya ilmiah ini. maupun lingkungan akademis lain dan masyarakat pada umumnya. tesis dan disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidatatullah Jakarta tahun 2002. baik sifatnya primer maupun sekunder.10 Mengenai manfaat dari penelitian ini.

yang setiap bab terdiri atas beberapa sub yang saling berkaitan. pembatasan dan perumusan masalah. BAB IV. BAB II. dan contoh keluarga sakinah dalam bingkai sejarah. aspek-aspek yang dibutuhkan dalam pembinaan akhlak terhadap anak. bab ini terdiri dari latar belakang masalah. tujuan dan kegunaan penelitian. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. yaitu: BAB I. bab ini mendeskripsikan tentang eksistensi keluarga sakinah yang terdiri dari pengertian keluarga sakinah. peran keluarga sakinah dalam pembinaan akhlak. metode penelitian dan sitematika penulisan. BAB III. dalam bab ini dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan akhlakul karimah yang terdiri dari pengertian akhlakul karimah. ciri-ciri keluarga yang sakinah. dan keniscayaan lingkungan yang kondusif (sakinah) dalam membina akhlakul karimah . manfaat akhlakul karimah dan faktorfaktor yang mempengaruhi akhlakul karimah.11 E. cara membina keluarga yang sakinah. dasar-dasar pembinaan akhluklul karimah. yang terdiri dari pembinaan akhlak pada anak. dalam bab ini akan dipaparkan mengenai pembinaan akhlakul karimah pada anak.

bab ini berisi kesimpulan dari uraian pembahasan yang terdapat dalam bab-bab sebelumnya dan saran-saran yang merupakan kontribusi pemikiran dari penulis. ditujukan kepada segala pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan akhlakul kariamah terhadap anak khususnya orang tua yang mempunyai anak. sebagai penutup. .12 serta implikasi positif pembinaan dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) BAB V.

Bilamana perbuatan-perbuatan yang timbul dari jiwa yang baik. Sinonimnya etika dan moral. maka keadaannya disebut akhlak yang baik. maka keadaannya disebut akhlak yang buruk. Maka dari itu penulis akan memberikan pengertian tentang akhlakul karimah. Untuk itu akhlak bisa dihasilkan dengan latihan dan perjuangan pada awal hingga akhirnya menjadi watak. Hakikat Pembinaan Akhlakul Karimah 1. Etika dari bahasa latin etos yang berarti 13 . maka ia tidak disebut dengan akhlak.BAB II AKHLAKUL KARIMAH A. Apabila keadaan itu tidak mantap dalam jiwa. Jika yang ditimbulkan kebalikan dari itu. dari mana timbul berbagai perbuatan dengan mudah tanpa menggunakan pikiran dan perencanaan. Dengan pengertian akhlak secara etimologis berasal dari bahasa Arab ( ϕϠ ΍ ˲ Ύ˴˸Χ˴ ) bentuk jamak dari mufrodnya ϖϠΧ ˲ ˵˵ ) yang berarti “Budi Pekerti”. Pengertian Akhlakul Karimah Akhlakul karimah merupakan keadaan jiwa yang kokoh.

h. Mores berarti “kebiasaan. dan sebagainya dan tentang prinsip-prinsip yang umum yang membenarkan kita dalam mempergunakannya terhadap sesuatu. Kamus Ilmiah Populer. 14 Ismail Thaib. “wrong”.1994). “seharusnya”. “salah”. (Yogyakarta: CV. (Jakarta: Pustaka Panjimas. 4 2 3 4 Nurfarida.el. Cet. h. Cet. Sistem Ethika Islam. h. also called “ moral philosophy”. 1996). “Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Aktifitas Pengajian Sekolah”. et.”1 Dalam kamus ilmiah. 26 Pius A Partanto. Skripsi Pendidikan. “bad”. Risalah Akhlak. Ke-1. Ke-3. akhlak diartikan budi pekerti. “:benar”. Dan moral berasal dari bahasa latin juga. right”.2 Ismail Thaib mengatakan bahwa dalam pengertian sehari-hari perkataan “akhlak” umumnya disamakan dengan sopan santun atau kesusilaan. Bina Usaha. Cet. “good.14 kebiasaan. “buruk”. Menurut Imam Ghazali ˶ Ύ˴ ˸ϓ˴ ˸΍ ˵ ˵ ˸μ˴  Ύ˴ ˸Ϩ˴  ˲ ˴ ˶ ΍˴  ˶ ˸ϔ͉ ϟ΍ ϰ˶  ˳ ˴ ˸ϴ˴  ˸Ϧ˴  ˲ ˴ Ύ˴ ˶ ϝ ˵ ό ϻ έΪ Η Ϭ ϋ ΔΨγ έ β Ϩ ϓ ΔΌ ϫ ϋ Γέ Βϋ ˳ ˴ ˶ ˵ ˴ ˳ ˸Ϝ˶ ϰ˴˶˳ ˴ Ύ˴ ˵ ˸ϴ˴ ˳ ˸δ˵ ˴ ˳ ˴˸Ϯ˵ ˵ ˶ Δϳϭέϭ ή ϓ ϟ΍ ΔΟ Σ ή Ϗ ή ϳϭ Δϟ ϬδΑ 1 Rahmat Djatmika. (Jakarta: Perpustakaan UIJ. 11 . “ought”. Ke-1. h. 1. tingkah laku atau perangai seseorang. etc. and of the general principles which justify us inappliying them to anything. (Surabaya: Arkola. 1984).. Artinya: “Ilmu akhlak adalah studi yang sistematik tentang tabi’at dari pengertian-pengertian nilai “baik”. 2000). ini juga disebut “filsafat moral”. 4 Adapun pengertian akhlak menurut terminology (istilah) dapat disebutkan berikut beberapa pengertian dari pada ahli ilmu.3 Di dalam Ensyiklopedia Britannica: “Ethis is the syistimatic study of the nature of value concept.

Cit. 1975). (Mesir: Darul Ma’arif. Ibnu Maskawaih merumuskan akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong untuk melakukan suatu perbuatan tanpa dipikir dan diteliti. Ethika (Ilmu Akhlak).12 Ahmad Amin. Menurut Ibrahim Anis ˳ ˸ϴ˴ ˸Ϧ˶ ˵ Ύ˴ ˸ϋ˴ ˸΍Ύ˴ ˸Ϩ˴ ˵ ˵ ˸μ˴  ˳ ˴ ˸΅˵ ˴ ˲ ˴ ˶ ΍˴ ˶ ˸ϔ͉ ˶ϟ˲ Ύ˴ ή Χ ϣ ϝ Ϥ Ϸ Ϭ ϋ έΪ Η Δϳ έϭ ΔΤγ έ β ϨϠ ϝ Σ ˳ ˴ ˶ ˵ ˴ ˳ ˸Ϝ˶ ϰ˴˶˳ ˴ Ύ˴ ˶ ˸ϴ˴ ˸Ϧ˶ ˷ ˴ ˸ϭ˴ Δϳϭέϭ ή ϓ ϟ΍ ΔΟ Σ ή Ϗ ϣ ˳ η ΍ ή Artinya: “ Sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan. h. Op. Ke-2. h. (Jakarta: Bulan Bintang.”8 5 6 7 Al-Ghazali.”5 2.15 Artinya: “Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macammacam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. 1972).”6 3. (Semarang: Wicaksana. 56 Ibrahim Anis. h.. Berarti kehendak itu apabila membiasakan sesuatu maka disebut akhlak. 1985). Cet. Ahmad Amin menyebutkan bahwa : “Setengah dari mereka mengartikan akhlak ialah kebiasaan kehendak. Al-Mu’jam Al-Wasith. 62 8 . 81 Nurfarida. Ahklak Seorang Muslm. baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.7 4. h.

Etika terhadap Allah 4. Etika terhadap Nabi . Ihsan 2. di antaranya adalah: 1. Di dalam Al-Qur’an kata-kata akhlakul karimah mengandung beberapa pengertian. Menyampaikan amanat 3. gabungan dari dua kekuatan itu menimbulkan yang lebih besar inilah yang bernama “akhlak”.16 Kehendak itu sendiri itu adalah beberapa keinginan manusia setelah bimbang. sedangkan kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga melakukannya. yakni akhlak yang bagus atau baik. Jadi kalau pengertian akhlak digabungkan dengan pengertian karimah yang artinya mulia. Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan itu mempunyai kekuatan. maka arti akhlakul karimah adalah perilaku manusia yang mulia atau perbuatan- perbuatan yang dipandang baik atau mulia yang dibiasakan dan perbuatan yang dipandang baik atau mulia oleh akal serta sesuai dengan ajaran Islam (syara’) yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Akhlak ini disebut akhlak mahmudah atau hasanah. Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut bahwa akhlak adalah suatu keadaan atau kebiasan atau kehendak seseorang yang dapat mendorong melakukan perbuatan baik atau perbuatan buruk tanpa berpikir terlebih dahulu.

Bersyukur 32. Hikmah 20. Mengadu kepada Allah 31. Barharap (raja’) 24. tolong-menolong 14. Ketenangan 29. Zuhud 28. Takwa 16. Berbuat baik 12. Inabah (taubat) 8. Bersabar 33. Menjaga rahasia 19. Kasih sayang 25. Tawadhu’ 17. Takut kepada Allah 23.17 5. Cinta karena Allah 18. Sabar 21. Infaq 9. Jujur 34. Berserah diri (tawakal) 15. Ridha 26. Lapang dada 30. Lemah lembut 27. Mendahulukan kepentingan orang lain 10. Mematuhi pemimpin . Rendah hati dan khusyuk 13. Mendamaikan 7. Menyempurnakan takaran dan timbangan 11. Malu 22. Istiqamah 6.

.18 35. Waspada 43. Memuliakan dan menerima tamu 40. Nasihat 44. com. Keyakinan. Kepuasan (qana’ah) 39. tentang akhlakul karimah menurut Al-Qur’an . Siaga 42. Apa yang baik menurut Al-Qur’an atau asSunnah itulah yang biak untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan seharihari.? Jawabnya akhlak Nabi Muhammad saw ialah AlQur’an.9 2. Sebaliknya apa yang buruk menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah berarti itu tidak baik dan harus dijauhi. Dasar-dasar Pembinaan Akhlakul Karimah Dalam agama Islam yang menjadi dasar atau alat pengukur yang menyatakan bahwa sifat-sifat seseorang itu dapat dikatakan baik atau buruk adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akhlak-akhlak di dalam Al-Qur’an mengatur perbuatan manusia 9 buka www. Adil 36. Menurut pendapat Mahmud Yunus bahwa: “Pokok-pokok akhlak dalam Islam ialah Al-Qur’an. 2004. Memaafkan yang bersalah 38. alqur’an digital. Menjaga kehormatan diri 37. pujian 41. Ditanyakan orang kepada ‘Aisyah: “Apakah akhlak Nabi Muhammad saw.

Ke. 14 M. jiwa yang bersih. kemauan yang keras. tahu arti kewajiban dan pelaksanaannya. 10 11 Ibid . Skripsi Pendidikan. 2000). beliau mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral.12 Pribadi Nabi Muhammad adalah contoh yang paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membentuk kepribadian. Ali Hasan. dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw dalam kesehariannya dengan demikian kita pun patut mematuhi ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw. 11 12 . harus dinilai dengan norma-norma yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Cet. akhlak yang tinggi. 1983). h. t. Nurfarida. h. dan kalau tidak harus ditinggalkan. h. (Jakarta: Bulan Bintang.3. kalau sesuai terus dipupuk dan dikembangkan. “Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Aktifitas Pengajian Sekolah”.19 terhadap dirinya sendiri dan perbuatan manusia terhadap orang lain atau masyarakat.d. menghormati hak-hak yang tinggi. baik laki-laki maupun perempuan.11 Jika ada orang yang menjadikan dasar akhlak itu adat kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat maka untuk menentukan atau menilai baikburuknya adat kebiasaan itu. cita-cita yang benar.10 Menurut Athiyah Al-Abrasyi. (Jakarta: Perpustakaan UIJ. 13. Tuntunan Akhlak. dan tahu membedakan yang baik dan yang buruk. Begitu juga sahabat-sahabat beliau yang selalu mempedomani Al-Qur’an.

ialah Kitab Allah Sunnahku. Hakim). bahwa yang menjadi dasar ideal bagi seluruh aktifitas manusia dalam kehidupannya adalah Al-Qur’an dan AsSunnah Nabi Muhammad saw. Dengan demikian dasar akhlakul karimah adalah ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.” (H. Dari keterangan hadits di atas jelaslah. Berkata: Rasulullah saw bersabda: Aku tinggallkan untuk kamu dua hal yang kamu tidak akan sesat sesudahnya.20 Nabi Muhammad saw bersabda: ˵ ΍ϰ͉˴ ˶ ΍˵ ˸Ϯ˵ ˴ ˴ Ύ˴ ˴ Ύ˴ ˵ ˸Ϩ˴ ˵ ΍˴ ˶ ˴ ˴ ˴ ˸ϳ˴ ˵ ˸ϲ˶ ˴˸Ϧ˴ Ϳ Ϡλ Ϳ ϝ γέ ϝ ϗ ϝ ϗ Ϫ ϋ Ϳ ϲοέ Γή ήϫ Α΍ ϋ ˶ ΍ ˴ Ύ˴ ˶  Ύ˴ ˵ ˴ ˸ό˴  ΍˸Ϯ͊˶ ˴  ˸Ϧ˴ ˶ ˴ ˴ ˸ϴ˴   ˸Ϣ˵ ˸ϴ˶  ˵ ˸ϛ˴ ˴  ˴ ͉˴ ˴  ˶ ˸ϴ˴˴ Ϳ Ώ Θϛ ϤϫΪ Α ϠπΗ ϟ ϦϴΌ η Ϝ ϓ Ζ ήΗ ϢϠγϭ Ϫ Ϡϋ ϰΘ͉ ˵ ˴ Ϩγ ϭ Artinya: “Dari Abu Hurairah RA.R. karena keduanya adalah kitab undang-undang yang paling sempurna memuat petunjuk-petunjuk praktis untuk menjadi pedoman bagi umat Islam. . baik dalam hubungan kepada Allah maupun sesama makhluk.

dari judul asli Mukasyafatul Qulub. (Surabaya: Terbit Teran). : Ia berkata kepada Nabi saw. dan dia termasuk penghuni neraka.” Nabi saw.21 3. Ke-1. 283 13 . Manfaat Akhlakul Karimah Akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang paling penting sekali. Sebab suatu bangsa akan maju atau hancur sangat tergantung dari akhlak masyarakatnya. bersabda : “Untuk dia tidak ada kebaikan. h. Apabila akhlaknya baik maka bangsanya akan baik pula dan sebaliknya bila akhlak telah hancur maka hancur pula bangsa itu. Manusia tanpa akhlak yang mulia akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai mahluk Allah yang paling mulia dan meluncur turun kepada martabat hewani.” 13 Al-Imam Al-Ghazali. baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa.) Fatihuddin Abdul Yasin. : “Sesungguhnya si fulan berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. Manusia yanmg telah tiada sifat kemanusiaannya adalah sangat berbahaya daripada binatang buas. yang selalu menyakiti tetangga dengan mulutnya. dan bertanya: “Apa yang disebut agama. Akhlak merupakan sesuatu yang penting dan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. ya Rasul!?” Nabi saw menjawab : “Akhlak yang mulia”. Cet. namun dia wanita yang akhlaknya jelek. (terj. Kata Fudhail ra. Imam Ghazali dalam bukunya “Mukasyafatul Qulub” menyatakan bahwa: Ada seorang lelaki datang kepada Nabi saw. Rahasia Ketajaman Mata Hati.

2003). Penyair Syauqi Bei mengatakan: ΍˸Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϣ˵ ˵ ˴ ˸Χ˴΍˸Ϯ˵ ˴ ˴ ΍˸Ϯ˵ ˵ ˸ϥ˶˴ ˸Ζ˴ ˶ ˴ Ύ˴ ˵ ˴ ˸Χ˴ ˸˴˴ ˵ ˴ ˵ ˸΍Ύ˴ ͉ ˶ ΒϫΫ Ϭϗϼ ΍ ΒϫΫ Ϥϫ ΍ϭ ϴϘΑ ϣ ϕϼ ϻ΍Ϣϣϻ Ϥϧ΍ 14 Abudin Nata. Raja Grafindo Persada. Hal ini menggambarkan bahwa manfaat dari akhlakul karimah itu adalah keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat. (Jakarta: PT. Menghilangkan kesulitan. maka kehancuran pun akan segera datang. begitu juga suatu masyarakat atau bangsa akan mengalami proses kehancuran bila akhlak mulia telah tiada. 2. h. Pribadi seseorang tidak punya arti jika akhlak karimah telah sirna dari dirinya. Akhlak Tasawuf. yaitu pahala yang berlipat ganda dan kehidupan yang lebih baik. Memperkuat dan menyempurnakan agama. Keberuntungan atau manfaat lain dari akhlakul karimah di antaranya adalah: 1.22 Kutipan tersebut di atas dengan jelas berisikan manfaat dan pentingnya akhlakul karimah (akhlak mulia) yang dalam hal ini melakukan amal saleh disertai dengan keimanan dijanjikan oleh Allah swt. Mempermudah perhitungan amal di akhirat 3.173-175 . Cet. Ke-5. yakni akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah dikerjakan.14 Sebaliknya jika akhlak yang mulia itu sirna dan berganti dengan akhlak yang tercela (akhlak madzmumah). Selamat hidup di dunia dan akhirat. 4.

t.d. Anak akan memiliki akhlak atau budi pekerti yang baik apabila dididik atau mendapat pendidikan budi pekerti yang baik atau diberi contoh yang baik. dan yang sangat dominan dalam pembentukan dan pembinaan akhlak adalah pengaruh dari luar. Faktor dari luar misalnya pengaruh lingkungan keluarga. Nurfarida. h. dalam hal ini akhlak tidak bisa lepas dari 2 faktor di atas. Baik disaat ada dalam lingkungan keluarga. selama berakhlak mulia. “Pembinaan Akhlak Melalui Aktivitas Pengajian Sekolah”. maupun di lingkungan di mana dia bermain.23 Artinya: “Hanya saja bangsa itu kekal. atau lingkungan sekolah. 15 . Faktor dari dalam yakni yang dibawa sejak lahir dan ini merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir. Skripsi Pendidikan. 17. yakni keluarga. dan bagi siswa sudah barang tentu termasuk lingkungan sekolah. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Pembinaan Akhlak Perbuatan dan kelakuan yang berbeda di antara manusia pada prinsipnya ditentukan dan dipengaruhi oleh dua faktor: a. b.”15 4. Oleh karena itu pembinaan akhlak anak harus dilaksanakan secara terus-menerus dan dilakukan sedini mungkin. bila akhlak mulia telah lenyap punahlah bangsa itu. lingkungan tempat ia bermain. Di atas telah diuraikan bahwa akhlakul karimah merupakan perbuatan atau perilaku seseorang yang menggambarkan budi pekerti baik. (Jakarta: Perpustakaan UIJ 2000).

keturunan. dengan uraian sebagai berikut:. hanya kepada-Ku-lah kamu kembali. “Hai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.24 Terutama penanaman pendidikan budi pekerti yang harus ditanamkan sejak dini (sejak kecil) seperti halnya Luqmanul Hakim berwasiat pada putranya: Surat Luqman ayat13: ˴ ˸ή͋ ϟ΍ ͉ ˶ ˶ ͉ϟΎ˶  ˸ϙ˶ ˸θ˵  Ύ˴ ͉ ˴ ˵ Ύ˴  ˵ ˵ ˶ ˴  ˴ ˵ ˴  ˶ ˶ ˸ΑΎ˶ ˵ Ύ˴ ˸Ϙ˵ ˴ Ύ˴  ˸Ϋ˶˴  ϙ θ ϥ· ϪϠ Α ή Η ϟ ϲϨΑ ϳ Ϫψόϳ Ϯϫϭ ϪϨ ϟ ϥ Ϥ ϟ ϝ ϗ ·ϭ .” (QS. .” (QS. Ϣ ψϋ Ϣ ψϟ ˲ ϴ˶ ˴ ˲ ˸Ϡ˵ ˴ Artinya: “Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya. Adapun yang dapat mempengaruhi akhlak adalah insting (naluri). Luqman:14) Maka dari ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa akhlak (budi pekerti yang baik) pada anak bisa dimiliki melalui pendidikan yang baik. Luqman:13) Dan di dalam Firman Allah Ta’ala yang lain: ϲ˶  ˵ ˵Ύ˴ ˶ ˴  ˳ ˸ϫ˴  ϰ˴˴  Ύ˱ ˸ϫ˴  ˵ ͊ ˵ ˵ ˸Θ˴˴ ˴  ˶ ˸ϳ˴ ˶΍˴ ˶  ˴ Ύ˴ ˸ϧ˶˸ϟ΍ Ύ˴ ˸ϴ͉ ˴ ˴ ϓ Ϫϟ μϓϭ Ϧ ϭ Ϡϋ Ϩ ϭ Ϫϣ΃ Ϫ ϠϤΣ Ϫ Ϊϟ ϮΑ ϥ δ Έ Ϩ λϭϭ . dan pendidikan. ή μϤ ϲϟ· Ϛ Ϊϟ Ϯϟϭ ϟ Ϝ ϥ΃ Ϧ ϣ ϋ ˵ ϴ˶ ˴ ˸ϟ΍͉ ˴˶˴ ˸ϳ˴ ˶΍˴ ˶˴ ϲ˶˸ή˵ ˸η΍˶ ˴˶ ˸ϴ˴ Ύ˴ Artinya: “Dan Kami perintahkan pada manusia berbuat baik kepada dua orang tua ibu dan bapaknya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah dan bertambah dan menyapihnya dalam dua tahun. beryukurlah pada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. azam/kemauan yang keras.

instink suatu kepandaian yang dimilki mahluk Tuhan tanpa belajar. Ethika Islam. Contoh tersebut di atas dapat memberi kesan bahwa segala pekerjaan jika dilakukan secara berulang-ulang dengan penuh kegemaran akan menjadi kebiasaan. ke-ibu-bapak-an. Sedangkan menurut Hamzah Ya’qub bahwa instink adalah “Setiap kelakuan manusia lahir dari suatu kehendak yang digerakkan oleh naluri (instink). 1993). mengerjakan shalat tahajud. Menurut Hamzah Ya’qub sudah merupakan sunnatullah yang berlaku pada alam ini sehingga dapat diketaui bahwa cabang itu menyerupai pokoknya dan pokok menghasilkan 16 Hamzah Ya’qub. Keturunan Keturunan adalah cabang yang menyerupai pokok atau yang menyebabkan anak menyerupai orang tuanya. Ke-6. Yang dimaksud dengan kebiasaan adalah perbuatan-perbuatan yang selalu diulang-ulang sehinga menjadi mudah dikerjakannya contoh: merokok. 57 Ibid. bangun tengah malam. (Bandung: CV. berjodoh. minum minuman keras.17 2. di antaranya naluri makan. h. Di antara naluri satu dan yang lainnya berbeda dan mengakibatkan daya pendorong dan daya kesanggupan berbeda. Diponogoro. Cet. h. Instink (Naluri) Instink menurut Rahmat Djatmika termasuk salah satu hidayah yang ada pada manusia. 61 17 .25 1. yang merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir dan lebih lanjut Hamzah Ya’qub menerangkan bahwa naluri yang ada pada manusia adalah pendorong tingkah laku.16 Menurut Hamzah Ya’qub salah satu faktor penting di dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan atau adat kebiasaan. berjuang dan naluri bertuhan.

h.19 18 Ibid. misalnya tumbuh-tumbuhan. lingkungan pekerjaan. hewan dan pada manusia itu sendiri. lingkungan organisasi. Selain itu Hamzah Ya’qub menyatakan bahwa kemauan atau kehendak ini merupakan faktor penting di dalam akhlak karena kehendak yang mendorong manusia berkelakuan dan berakhlak. h.18 Lingkungan pergaulan menurut Hamzah Ya’qub adalah lingkungan keluarga. Demikian faktor lingkungan yang dipandang cukup menentukan pematangan watak dan tingkah lau seseorang. dari kehendak itulah menjelma niat yang baik dan yang buruk yang selanjutnya akan menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan.26 yang serupa atau hampir serupa dengannya hal ini terjadi pada sejumlah mahluk. Azam/Kemauan Kemauan atau azam merupakan kekuatan atau dorongan yang menimbulkan manusia bertingkah laku. 66 Ibid. 46 19 . 3. Menurut Rachmat Djatmika kekuatan kemauan dapat mengarah kepada melaksanakan sesuatu atau juga mengarah kepada menolak atau meninggalkan sesuatu. lingkungan kehidupan ekonomi dan lingkungan pergaulan yang bersifat umum dan bebas. lingkungan sekolah.

27 4. hal ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak karena dengan pendidikan. Cet. M. non formal dan informal. Pendidikan Dalam bukunya Prof. seseorang akan mengetahui perbuatan baik dan perbuatan buruk. 2000). Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak karena pendidikan turut mematangkan kepribadian manusia sehingga tingkah lakunya sesuai dengan pendidikan yang lazim diterima meliputi pendidikan formal. 86 21 . (Jakarta: Bumi Aksara. moral dan fisik (jasmaniah) yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi.21 Dari keterangan tersebut di atas dapat diketahui bahwa dalam proses pembinaan akhlak itu terkait dengan dengan hal-hal di atas baik itu datangnya 20 M. Arifin. H. Op.10 Hamzah ya’qub. Sementara itu pergaulan dengan orang-orang baik dapat dimasukkan sebagai pendidikan tidak langsung karena pengaruh pula terhadap kepribadian. h. Ke-5.”20 Pendidikan yang pada dasarnya adalah upaya pembinaan jasmani dan rohani kepada anak menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Arifin yang berjudul “Ilmu Pendidikan Islam” dikatakan bahwa “Pendidikan adalah latihan mental. Pendidikan merupakan tuntunan dan pengajaran yang diterima seseorang dalam membina kepribadian. h. Cit. bahkan naluri dan bakat seseorang dapat disalurkan atau diarahkan dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Ilmu Pendidikan Islam.

dan dilakukan secara kontinue (terusmenerus) agar dapat melekat pada setiap individu terutama pada saat usia prasekolah dan masa-masa usia sekolah .28 dari diri sendiri atau pun dari luar.

Cet.”2 Sedangkan Ali Akbar memberikan pengertian keluarga lebih luas lagi. 2004).1 Sedangkan menurut Abu Ahmadi dalam bukunya “Pengantar Sosiologi” mengatakan bahwa “keluarga adalah suatu persekutuan hidup terkecil yang terdiri dari suami.BAB III KONSEPSI KELUARGA SAKINAH A. 1 2 Abu Ahmadi. Ke-2. istri dan anak-anak. yang hidup dalam ikatan pernikahan. Membina Keluarga Sakinah ( Yogyakarta: Pustaka Pesantren. h.” 1 Zaitunah Subhan. Pengertian Keluarga Sakinah 1. yaitu : “Keluarga adalah susunan terkecil dari masyarakat kita yang pada mulanya terdiri dari dua manusia. 75 29 . yaitu kesatuan kemasyarakatan (sosial) berdasarkan hubungan perkawinan atau pertalian darah. h. kemudian berkembang dengan lahirnya anak. Pengertian Keluarga Kata “Keluarga” (Ensiklopedi Indonesia) menurut makna sosiologi (family Inggris). 1975). Pengantar Sosiologi (Semarang: Ramadany. yaitu pria dan wanita. guna membangun rumah tangga yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian.

4 3 Zaitunah Subhan.Cit. batih. keluarga Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah. kaum kerabat. Orang yang ada dalam naungan organisasi atau sejenisnya. c. yang cerai ataupun yang ditinggal mati bersama anakanaknya. . c. Beberapa sanak saudara dengan anak-anaknya yang rumah tangga. Masyarakat terkecil berbentuk keluarga atau lainya. d. Susunan kekeluargaan ini bertalian dengan hakikat kedudukan perkawinan dalam tatanan masyarakat. anak. misalnya. e. Orang seisi rumah. h. Zaitunah Subhan menyimpulkan pengertian keluarga menjadi: a. suami-istri. tanpa anak. b.3 Dalam pertalian keluarga atau keturunan dapat diatur secara parental atau belateral. Kelompok yang terdiri dari seorang bapak dan ibu yang menikah atau tidak. Kelompok anak yang ditinggalkan orang tua. ibu. Op. Keluarga inti atau keluarga batih (primary group) terdiri atas bapak.. dan anak. Sanak saudara. ibu). d. di sana terjalin hubungan kekeluargaan. 2 . Dalam kehidupan sehari-hari kata keluarga dipakai dengan pengertian antara lain: a. b. Hj. Pasangan yang menikah maupun tidak. artinya menurut orang tua (bapak.30 Dr. dan patrilineal artinya menurut garis bapak. matrilineal artinya menurut garis ibu.

5 Sedangkan Dr. dengan kata lain. (Surabaya: Arkola. Cet. Ke-2. Baik dan buruknya suatu masyarakat adalah tergantung pada baik buruknya masyarakat kecil itu (keluarga). 2004). Cet. yang penulis maksud keluarga di sini adalah keluarga yang terdiri dari ayah. ibu dan anak.6 4 Ibid. surat AtTaubah: 26 dan 40. Zaitunah Subhan mengatakan kata sakinah yang berasal dari bahasa Arab mempunyai arti “ketenangan dan ketentraman jiwa”. Kamus Ilmiah Populer. Membina Keluarga Sakinah. h.31 Dari beberapa definisi tersebut.18. ketenangan. et. Hj. h. Ke-1. 3 5 Pius A Partanto. masyarakat merupakan kumpulan keluarga-keluarga. dan 26. tidak akan ada masyarakat bila tidak ada keluarga. surat Al-Fath: 4. Pengertian Sakinah Kata sakinah berarti tentram. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. h. damai. Jadi kesejahteraan dan kebahagian suatu masyarakat berpangkal pada masyarakat terkecil itu. yaitu surat Al-Baqarah: 248. dan makna keluarga di sini juga mempunyai arti adalah unit terkecil dari masyarakat. 2. 3 6 . 1994).el. Kata ini disebutkan sebanyak enam kali dalam Al-Qur’an. 689 Zaitunah Subhan.

Dan munculnya istilah keluarga sakinah adalah berdasarkan Firman Allah Surat Ar-Ruum: 21.. Al-Isfahani (ahli fiqh dan tafsir) mengartikan sakinah dengan tidak adanya rasa gentar dalam menghadapi sesuatu. dan merupakan keyakinan berdasarkan (ain al-yaqin). h. cobaan. c. rintangan. ataupun musibah.. dibarengi satu nur (cahaya) dalam hati yang memberi ketenangan dan ketentraman pada yang menyaksikannya. Firman Allah dalam Surat Ar-Ruum. 21. yang menyatakan bahwa tujuan dari pernikahan itu adalah mencari ketenangan dan ketentraman yang Allah tanamkan dalam jiwa suami istri itu akan mawaddaah wa rahmah (cinta dan kasih sayang). Menurut Rasyid Ridha. bahagia. berbunyi: 7 Ibid. sakinah adalah adanya ketentraman dalam hati pada saat datangnya sesuatu yang tidak diduga. ujian. sebagai berikut: a.7 b. dan sejahtera lahir dan batin serta tidak gentar ketika mengahadapi badai ujian yang terjadi di dalam rumah tangga atau keluarga. tentram. sakinah adalah sikap jiwa yang timbul dari suasana ketenangan dan merupakan lawan dari kegoncangan batin dan kekalutan.32 Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa sakinah itu didatangkan ke dalam hati para nabi dan orang-orang yang beriman agar tabah dan tidak gentar dalam menghadapi tantangan. 3-4 . maka muncul beberapa pengertian. Sehingga sakinah dapat juga dipahami dengan “sesuatu yang memuaskan hati”. Menurut Al-Jurjani (ahli bahasa). Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud keluarga sakinah itu adalah keluarga yang tenang. Dari sejumlah ungkapan yang diabadikan dalam Al-Qur’an tentang sakinah .

setiap anggota merasakan suasana tentram. bahagia. damai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. dan sejahtera lahir dan batin. Memupuk rasa cinta dan kasih sayang. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai kehidupan dalam keluarga dan masyarakat.33 Artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya. Saling pengertian serta bergaul secara baik.8 B.(QS. Saling menghormati dan mengembangkan sikap sopan santun. h. Sedangkan sejahtera batin adalah bebas dari kemiskinan iman. d. b. supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Menghormati orang tua serta keluarga kedua belah pihak. Terwujudnya kesadaran akan kewajiban sebagai suami-istri Kewajiban-kewajiban suami-istri antara lain adalah: a. dan dijadikannya di antara kamu rasa kasoih dan saying. c. bersikap setia sekata. Dialah menciptakan untukmu istri dari jenismu sendiri. Ar-Ruum: 21) Dalam keluarga sakinah. Sejahtera lahir adalah terbebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. 7 . di antaranya adalah: 1. 8 Ibid. saling beradaptasi (menyesuaikan diri). Ciri-ciri Keluarga Sakinah Ada beberapa hal yang menjadi ciri-ciri atau tanda-tanda terbentuknya karakteristik keluarga sakinah.

Senantiasa melaksanakan musyawarah untuk kepentingan bersama. h. h. Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). Saling menyesuaikan diri f. Selalu bermusyawarah10 Rafi’udin. f. Sabar serta ridha terhadap kekurangan dan kelemahan kedua belah pihak. Ke-1. g. Saling berpartisipasi untuk kemajuan bersama d. 7 . Terwujudnya hubungan suami-istri secara harmonis Agar hubungan antara suami istri dapat berjalan secara harmonis diperlukan usaha-usaha antara lain seperti: a. 6 10 9 Ibid. Bertindak secara matang serta penuh pemikiran dan tidak terbawa emosi dalam menghadapi serta memecahkan masalah. Saling menerima kenyataan g.9 2. Saling pengertian b. Saling memlihara kepercayaan dan menyembunyikan rahasia kedua belah pihak. 2001). Saling memaafkan c. h.34 e. Saling mencintai e. Cet. (Semarang: Intermasa.

35

3. Terwujudnya hubungan yang baik antara anggota keluarga serta lingkungan Secara makro, keluarga itu tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak, akan tetapi juga menyangkut hubungan persaudaraan yang lebih besar, yaitu hubungan antara keluarga maupun hubungan dengan masyarakat sekitar. Adapun tentang hubungan antar anggota keluarga, hubungan tersebut haruslah terjalin secara baik, yaitu hubungan baik terhadap famili kedua belah pihak, memelihara hubungan baik, terhadap famili ini sesuai dengan yang diisyaratkan oleh Allah di dalam firman-Nya :

Artinya : “Bertakwalah kamu semua kepada Allah yang kamu selalu meminta kepada-Nya, dan peliharalah hubungan famili (silaturahim)”. (QS. An Nisaa’ : 1) Sedangkan hubungan dengan lingkungan masyarakat, merupakan keharusan dan haruslah secara baik pula. Perlu diketahui bahwa masyarakat, khususnya tetangga, adalah orang-orang yang terdekat dan umumnya para tetangga itu adalah orang-orang yang pertama kali mengetahui serta dimintai pertolongan. Oleh karena itu dianggap aneh apabila hubungan dengan tetangga ini tidak mendapatkan perhatian serius.

Ύ˱ ϴ˶ ˴ ˸Ϣ˵ ˸ϴ˴˴ ˴ Ύ˴ ˴ ͉ϟ΍͉ ˶˴ Ύ˴ ˸έ˴˸ϟ΍˴ ˶ ˶ ˴ Ϯ˵˴ Ύ˴ ˴ ϱ˶ ͉΍˴ ͉ϟ΍΍Ϯ˵ ͉ ΍˴ Β ϗέ Ϝ Ϡϋ ϥ ϛ ϪϠ ϥ· ϡ Σ ΄ ϭ ϪΑ ϥ ϟ˯ δΗ άϟ ϪϠ ϘΗ ϭ

36

4. Terciptanya nilai-nilai agama dalam keluarga Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang benar-benar

memperhatikan nilai-nilai ke-Islaman di dalam keluarga. Salah satu yang termasuk di dalam lingkup tersebut adalah mengenai makanan, minuman serta kebutuhan lain yang diperoleh secara halal. 11 Di samping itu dalam rangka mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera, dalam hal makanan juga harus diperhatikan gizinya. Makanan yang bergizi dapat menyehatkan seluruh anggota keluarga. Islam telah mengajarkan kepada umatnya agar masing-masing keluarga mewariskan keturunan yang baik serta sehat. 12 Hal ini sesuai denga firman Allah: 

˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴  Ύ˱ Ύ˴ ˶  ˱ ͉ ͋ ˵  ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴  ˸Ϧ˶  ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴  Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ ϘΘϴ ϓ
Artinya : Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Maka hendaklah mereka

11

Rafiudin, Op. Cit., h. 10
12

Ibid

37

bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.(QS. An Nisaa: 9) Selayaknya juga seorang ayah membiasakan anaknya untuk tidak berlebihan dalam hal ini, di samping juga mengajarkan kepada mereka untuk tidak terlalu sedikit makan. Hal ini karena kebanyakan makan akan menyebabkan dispepsi (kerusakan alat pencernaan). Sedangkan terlalu sedikit makan menyebabkan hal yang lebih berbahaya daripada dispepsi.13 5. Terciptanya keakraban orang tua dengan anak Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dengan Al-Qur’an sebagai dasarnya dan hadits sebagai penjelasannya, telah memberi pedoman jelas kepada orang tua sepanjang zaman tentang langkah dan cara yang praktis dan mudah untuk membina keakraban orang tua dan anak. Ada tiga langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan keakraban antara orang tua dan anak. a. Langkah orang tua 1. Memberi salam 2. Menyambut anak kedatangan anak dengan senang hati 3. Memanggil dengan panggilan kesayangan

Abdul Hakam Ash-Sha’idi, Menuju Keluarga Sakinah, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2001), Cet. Ke-1, h. 122

13

14 Hj. Mengajak berdialog 5. Berjalan bersama-sama 3. D/71/1999 Pasal Muhammad Thalib. Mengunjungi orang tua sakit c. (Bandung: Irsyad Baitus Salam. Berkata santun dan dengan suara rendah 3. b. Melibatkan diri dalam permainan anak 6. Langkah anak 1. 2001). Langkah bersama 1. Memanggil orang tua dengan sebutan keayangan 2.38 4. Menyenangkan orang tua 4. Makan bersama 2. Zaitunah Subhan membagi keluarga sakinah menjadi 4 kriteria yang sesuai Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah sesuai dengan SK Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji No. Cet Ke-1. h. Menegur dan membetulkan kesalahan dengan lembut 7. 43 Langkah Mengakrabkan orang tua dengan anak. 7-9 14 . saling mengunjungi. Memberi hadiah.

yaitu keluarga yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan. serta pengembangan keluarganya. infak. Keluarga Sakinah I. fitrah. 3. dan belum mampu mengikuti interaksi sosial keagamaan dengan lingkungannya. menabung. yaitu keluarga-keluarga yang dibentuk melalui perkawinan yang sah. . ketakwaan. bimbingan keagamaan dalam keluarga. papan. yaitu keluarga-keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya dan juga mampu memahami pentingnya pelaksanaan ajaran agama serta mampu mengadakan interaksi sosial keagamaan dengan lingkungannya. zakat. 4. ketakwaan. puasa. tetapi belum mampu menjadi suri tauladan bagi lingkungannya. Keluarga Sakinah I. Keluarga Pra Sakinah. dan sebagainya. seperti keimanan. yang terdiri dari keluarga Pra Sakinah. sandang. Keluarga Sakinah II. Keluarga Sakinah II. Tetapi belum mampu mengahayati nilai-nilai keimanan. 2.39 4. tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya. dan Keluarga Sakinah III plus: 1. dan kesehatan. tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan materil (basic need) secara minimal. Keluarga Sakinah III. dan akhlak mulia. pangan. shalat. dan sosial psikologis. yaitu keluarga-keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan materil secara minimal. amal jariyah. wakaf. seperti kebutuhan akan pendidikan. Keluarga Sakinah III.

yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan. dapat diketahui peningkatan upaya masyarakat dalam pengamalan nilainilai keimanan. ketakwaan. pendidikan masyarakat. misalnya. dan pendidikan formal untuk mencapai kemakmuaran dan keadalian yang merata bagi seluruh bangsa Indonesia. Cara Membina Keluarga Sakinah Rumah tangga yang baik menurut Islam bukan hanya dinilai dari segi materil saja. karena keduanya (suami dan istri) merupakan mitra sejajar dalam mencapai cita-cita keluarga sakinah. Corak atau bentuk suatu masyarakat itu adalah merupakan cerminan secara watak kepribadian anak setelah 15 Zaitunah Subhan. dan akhlak mulia melalui pendidikan keluarga. B. Keluarga Sakinah III plus. ketakwaan. 11-12 .15 Dengan ciri-ciri atau kriteria program pembinaan keluarga sakinah di atas. kebutuhan sosial psikologis. tetapi titik berat penilaian itu adalah kepada masalah-masalah moral (akhlak) atau pergaulan sehari-hari dengan orang-orang yang sekitarnya. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren.40 5. baik laki-laki maupun perempuan. dan pengembangannya. dan akhlak mulia secara sempurna. serta dapat menjadi suri tauladan bagi lingkungannya. rumah yang indah dengan segala peralatannya. 2004) h. Membina Keluarga sakinah.

41

dewasa sangat tergantung kepada pembinaan orang tua (ayah dan ibu) dalam rumah tangga masing-masing. 16 Dalam membina keluarga yang sakinah sehingga terwujudnya generasi yang baik di tengah-tengah masyarakat, ada beberapa hal yang harus diterapkan atau ditumbuhkan dalam anggota keluarga rumah tangga antara lain sebagai berikut: 1. Orang tua (ayah dan ibu) hendaknya membina sikap keterpaduan dan selalu memberikan contoh suri tauladan yang baik terhadap anak-anaknya, baik dalam segi kejiwaan atau kepribadian, tentang pengamalan ajaran agama, maupun di segi sosial bermasyarakat dan lain-lain sebagainya. 2. Untuk Pembinaan keperibadian anak-anak itu harus dilandasi dengan kasih sayang dan disiplin yang sesuai dengan perkembangan anak-anak. 3. Jangan selalu memanjakan anak karena kemanjaan itu akan membuat perkembangan atau pertumbuhan yang kurang baik dan tidak sehat di kemudian hari. Anak yang selalu dimanjakan oleh orang tuanya kurang kreatif (pemalas), karena ia mendapatkan apa saja yang ia inginkan dari orang tuanya, dengan kata lain; anak manja hanya tahu apa adanya saja.17

Sidi Nazar Bakry, Kunci Keutuhan Rumah Tangga (Keluarga yang Sakinah), (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet Ke-2, h. 35
17

16

Ibid, h. 35-36

42

Dalam bukunya Abdul Latif bin Wahab Al-Ghamidy yang berjudul “100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim” yang beliau petik kiat-kiat ini dari bumi realita dan pengalaman hidup beliau, kiat-kiat itu adalah: 1. Meningkatkan kelimuwan mereka Allah Ta’ala berfirman:

Ε ΟέΩ Ϣ ό Η ΃ Ϧ άϟ ϭ Ϝ ϣ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϪϠ ϊϓ ϳ ˳ Ύ˴ ˴ ˴ ˴ ˸Ϡ˶ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ϭ˵˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ϣ˵ ˸Ϩ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍˵ ͉ϟ΍˶ ˴ ˸ή˴
Artinya: “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Dalam meningkatkan keilmuwan mereka (anak-anak atau istri) dapat dilakukan dengan cara: a. Membuat jadwal rutin-minimal-harian atau setiap pecan untuk belajar bersama dengan semua anggota keluarga. b. Mengahafal bebrapa surat Al-Qur’anul Karim c. Menghafal hadits-hadits Rasulullah saw., dan memilihkan hadits-hadits yang cocok dan yang sangat dibutuhkan oleh mereka. d. Mengahadiri pengajian-pengajian umum yang diadakan di masjid-masjid maupun tempat-tempat kegiatan dakwah.Mengakrabkan mereka kepada para ulama-ulama yang alim dan ahlu ilmu yang amanah.

43

e. Menyediakan papan tulis yang kemudian ditulisi dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi keluarga., khususnya doa-doa dan dzikir.18 2. Membina amalan mereka a. Memerintahkan (kepada keluarga) supaya mengerjakan ibadah, seperti mendirikan shalat dan lain sebagainya. b. Mengerjakan puasa bersama, tidak hanya puasa yang wajib, tetapi juga puasa yang sunnah, seperti puasa senin dan kamis, dan lain sebagainya. c. Pergi bersama-sama keluarga untuk mengerjakan ibadah-ibadah yang disyari’atkan secara berjama’ah, seperti shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. d. Melatih mereka supaya gemar bersedekah, berkorban di jalan Allah Ta’ala, dan memberi fakir miskin dan sebagian harta yang telah Allah berikan kepadanya. e. Menganjurkan mereka agar membaca dzikir-dzikir harian denngan sempurna (baik dzikir yang umum maupun yang terikat dengan waktu, tempat, bilangan dan tata cara) f. Ikut serta membantu tetangga dikala mereka susah atau senang. g. Memperingatkan mereka supaya menjauhi hal-hal yang haram.
18

Abdul Latif bin Wahhab Al-Ghamidy, 100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim, (Solo: AtTibyan), Cet Ke-1, h.50-68

sebab rasulullah saw. Membagi pekerjaan-pekerjaan rumah di antara mereka. 19 Ibid.102 . h. membatasi tanggungjawab-tanggungjawab masing-masing. Mengikut sertakan keluarga dalam dakwah a. Mungkin bisa dengan cara memanfaatkan kemampuan mereka dan mendidiknya supaya ikut berpartisipasi aktif dalam berbagai macam kegiatan dakwah. membiasakan mereka saling bekerjasama dalam pekerjaan-pekerjaannya. i. Memotivasi mereka untuk menulis makalah-makalah yang ringkas lagi bermanfaat sepuatar aktifitas mereka di sekolah-sekolah. b.19 3.44 h. Meningkatkan kreativitas dan hobi-hobi mereka yang bermanfaat serta menghubungkannya dengan syari’at Islam. Melibatkan mereka dalam acara-acara dakwah yang diadakan oleh kepala keluarga. j. 69. Membiasakan mereka supaya selalu bersegera tidur (sehabis shalat Isya’) dan memperingatkan mereka supaya jangan begadang malam serta membiasakan mereka selalu bersegera bangun tidur sebelum shalat fajar untuk mengerjakan shalat witir dan beristigfar. sangat membenci tidur sebelum shalat Isya’ dan mengobrol setelahnya.

Memperbaiki jiwa dan meluruskan kepribadian mereka a.45 c. Berkunjung ke rumah-rumah keluarga miskin. 4.20 Dari kiat-kiat di atas jelaslah bahwa dalam membina keluarga sakinah perlu adanya kesadaran antara setiap anggota keluarga tentang hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga. b. 20 Ibid. sebagaimana yang telah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an surat Ar Ruum: 21. caranya dengan membiasakan mengerjakan perbuatan yang mulia itu di depan mereka. memeriksa kondisi dan keadaan mereka serta ringan tangan dalam membantu mereka.) bagaimana cara membina kelaurga sakinah mawaddah warahmah. Menasihati secara empat mata kepada salah satu di antara mereka yang melakukan kesalahan. h. 112-121 . Menanamkan dalam hati sanubari mereka kegemaran beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Mengunungi kerabat atau tetangga yang menderita sakit c. dan Islam mengajarkan kepada umatnya dengan detail melalui firman-Nya maupun utusan-Nya (Rasulullah saw.

48 . Pembinaan keluarga dalam hal ini meliputi beberapa objek sasaran. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. antara lain: 1. Pembentukan jiwa agama bagi anak-anak. Pengamalan amar makruf nahi mungkar c. karena agama merupakan pijakan dasar dalam membangun sebuah keluarga sakinah. 42. Membina Keluarga sakinah.46 Hj. yaitu: a. bagaimana tidak yang kita jadikan tolak ukur adalah kepemimpinan Rasulullah dalam membangun sebuah keluarga. 2004). Zaitunah Subhan menyatakan bahwa ada beberapa aspek yang mendukung terwujudnya kehidupan keluarga yang sakinah. maka pasti siapa yang membangun keluarga pijakannya adalah ridha Allah dan mencontoh keluarga Rasulullah. tidak diragukan lagi bahwa keluarga itu adalah keluarga yang sakinah 21 Zaitunah Subhan. h. Aspek Agama Untuk mendukung terwujudnya keluarga sakinah.21 Aspek keagamaan ini adalah sangat penting dan mutlak harus ada dan dilaksanakan oleh anggota keluarga. Ayah dan ibu adalah pemimpin yang bertanggungjawab atas pembinaan keagamaan di dalam keluarga. pembentukan pribadi secara utuh sangat menentukan. Pembinaan agama bagi ayah dan ibu b.

22 22 Ibid. dan bahkan menjadi retak dan berantakan. Agar dapat menyeimbangkan kebutuhan dan pendapatan. Kondisi keuangan sebuah keluarga bisa dikatakan stabil apabila terdapat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.51-52 .47 2. Bahkan persoalan ekonomi ini juga sering kali mempengaruhi kadar keimanan seseorang. Aspek Ekonomi Kestabilan ekonomi merupakan salah satu penunjang terwujudnya keluarga sakinah. Rasulullah saw. h. bersabda: “kadangkadang kefakiran itu menjadikan kekufuran”. terjadi karena kedaaan ekonomi keluarga yang kurang stabil. seseorang minimal harus mampu merencanakan anggaran belanja rumah tangga. Dalam hal ini. keluarga perlu memperhatikan kestabilan ekonomi untuk mencapai predikat keluarga sakinah. Tidak sedikit kasus kegagalan menciptakan keluarga sakinah. Karena itu. dan meningkatkan pendapatan. menambah semangat kerja.

. pemimpin keluarga dan sekaligus pemimpin negara. adalah Rasulullah pembawa risalah Islam yang paripurna rahmat dan petunjuk untuk seluruh alam. 27 Ibid.el. et. Beliau saw adalah seorang pribadi. ayah. h.23 Keluarga Nabi Muhammad saw merupakan keluarga istimewa. Interaksi antara Nabi saw sebagai suami dengan para isteri Beliau saw beserta seluruh anak-anak benar-benar terlaksana hanya karena perintah Allah SWT dan mencari ridho-Nya. suami. tetapi Rasulullah mampu mengatakan dalam sabdanya: 23 Ridha Salamah. Bangunan Keluarga Dambaan. Kewajiban meneladaninya mencakup seluruh aspek kehidupannya yang utuh sebagai sosok manusia yang hidup secara normal dalam masyarakat. (Ciputat: Wadi Press. Inilah realisasi dari kesaksian bahwa Muhammad saw. 2005). Contoh Keluarga Sakinah dalam Bingkai Sejarah 1.yang menjadi teladan semua manusia hingga hari kiamat. tentu saja bukan sebatas persoalan ibadah ritual. Itulah keluarga yang benar-benar sakinah yang penuh kasih sayang. Keluarga Nabi Muhammad Saw Mencontoh dan meneladani Nabi saw. h. Di dalamnya menyatu secara sempurna antara fungsi internal dan seksternal sebuah keluarga.48 D.24 Sejarah membuktikan bahwa Rasulullah dalam membina keluarganya adalah dalam rumah yang sangat sederhana. 28 24 .

Padahal poligami saat itu merupakan adat bangsa Arab yang menunjukkan kemuliaan.. Abu Bakar r. bukan sekedar memenuhi hasrat seksual dan melahirkan keturunan. Pada saat Khadijah wafat maka beliau Nabi saw.a. Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa Nabi saw menikahi Khadijah r.49 ˸ϲ˶ ͉ ˴ ˸ϲ˶ ˸ϴ˴ ΘϨΟ Θ Α Artinya :”Rumah tanggaku adalah laksana surga bagiku” Dari hadits ini menunjukkan bukti bahwa rumah tangga Nabi merupakan rumah tangga yang penuh ketenangan dan keharmonisan walaupun kita tahu bahwa isteri Nabi itu lebih dari satu. Hal ini dapat dibuktikan bahwa Nabi hanya satu menikahi wanita yang masih gadis. Juga bukan untuk memenuhi keinginan akan harta benda dan kedudukan. saat beliau berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun. sedang 25 Ibid . Sejak menikah dengan Khadijah beliau belum pernah berpikir untuk menikah lagi dengan wanita lain.a.25 Pernikahan Nabi dengan para isteri-isteri beliau merupakan pernikahan yang agung dalam rangka mendukung perjuangan dakwahnya. tetapi belum tinggal serumah kecuali sesudah hijrah ke Madinah. puteri sahabatnya yang terdekat dan terpercaya. Kemudian beliau meminang dan menikahi ‘Aisyah r. berpikir untuk menikah lagi.a.

Mereka telah berperan sebagi isteri pendamping suami. beliau lebih suka menjahit baju robeknya dengan kedua tangannya sendiri. Isteri-isteri beliau juga adalah para pejuang. Keluarga paling mulia dan bahagia dalam naungan Rahmat Allah SWT. 27 Inilah sosok keluaga sakinah yang sesungguhnya. Nabi Muhammad saw telah menjalin hidup penuh kemandirian dengan semua isterinya. karena beliaulah yang menjadi 26 Ibid. Beliau bisa mengurus berbagai keperluannya sendiri. Sepanjang hidup Nabi Muhaamad saw adalah perjuangan di jalan Allah.50 yang lainnya adalah kebanyakan para janda yang ditinggal oleh suaminya karena meninggal dalam peperangan yang suci.26 Demikian pula peran anak-anak Nabi saw. 33 Ibid. h. 27 . Dari keluarga nabi saw yang istimewa itu wajib dicontoh tentang bagaimana beliau mengelolanya. ibu. Keluarga yang telah sukses dunia akhirat dalam mewujudkan visi dan misinya baik secara internal maupun eksternal. Walaupun semua isterinya siap membantu dan melayani semua kebutuhannya. dan pendidik bagi anak-anaknya juga sebagai pejuang yang berperan untuk memajukan masyarakat. Fatimahlah yang membersihkan tubuh Nabi ketika Abu Jahal meletakkan isi perut kambing pada saat Nabi shalat.

29 .a. Keluarga Sahabat-sahabat Nabi Saw.a seoarang sahabat utama yang telah mendapat kabar gembira untuk masuk surga.a. a.29 28 Ibid. ‘Aisyah Ummul Mukminin dan ‘Asma’ binti Abu Bakar isteri Zubeir bin Awwam r. Asma’ binti Abu Bakar menyimpan kerikil di tempat penyimpanan uang ayahnya. adalah orang pertama yang berinfaq dengan seluruh hartanya. 38 Ibid.51 rujukan umatnya dalam berbagai segi kehidupan beliau dan beliaulah adalah uswah hasanah (tauladan baik) dalam membina sebuah keluarga. adalah sebuah rumah bahagia yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar di panggung sejarah. Perhatikanlah orang-orang sekaliber Abdullah bin Umar dan Hafshah binti Umar Ummul Mukminin selain Umar sendiri.a. 28 b. Umar bin Khathab r. h. Tentu saja Abu Bakar telah memlihara dan menafkahi kelaurganya dengan sangat baik. Keluarga Umar bin Khathab r. Nampak jelas produk rumah bahagia ini adalah dua wanita mulia. Dalam keluarga Abu Bakar yang istimewa tentu saja antar suami. Dan kakeknya yang buta itupun merasa tenang ketika merabanya.a. 2. Dia termasuk pedagang yang cukup sukses. Bahkan ketika dia menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar r. Bahkan untuk menenangkan kakeknya. maka terlihat betapa seorang Umar dapat berkarya dan melayani rakyat tanpa hambatan apapun dari keluarganya. Isterinya dan anaknya mendukung sepenuhnya tindakan ini. Orang-orang besar hanya akan lahir dari asuhan keluarga istimewa. isteri dan anak-anaknya saling mendukung bukan saling menghalangi. Perhatikanlah betapa Umar bisa berperan aktif dalam mendampingi Nabi saw di samping tetap mencari nafkah. Keluarga Abu Bakar As Shiddiq Ketika Nabi saw mengumumkan himbauan untuk berinfak di jalan Allah maka Abu Bakar r.

Cet Ke-1. Umar berkata: “Kalau begitu engkau tidak pantas menjadi pemimpin kaum Muslimin”. anak yang sedang berdiri cepatcepat duduk.: Amirul Mukminin.”30 Dari kisah di atas menunjukkan bahwa keluarga Umar bin Khathab merupakan keluarga yang harmonis yang penuh kasih sayang dan keakraban terhadap anak-anak dan anggota keluarganya. sehingga ia (Umar) berani memecat seorang kepada daerah hanya karena ia merupakan orang yang otoriter terhadap keluarganya.a.. apa yang engkau lakukan di rumahmu? Al-Aqra’ menjawab. 2005). 75 30 . apakah seperti itu engkau lakukan bersama anak-anakmu? Umar bangun dan balik bertanya.a.a. Ali bin Abi Thalib r. Demikian pula dengan keluarga Utsman bin Affan r. Menggapai Hidayah dari Kisah (Kumpulan Kisah dari Buku-buku AlGhazali). Anak-anak Umar menempel di punggungnya dan Umar merayap. (Bandung: Hasyimi. Ia menemukan Umar sedang bermain dengan anak-anaknya.a.. Thalhah bin Ubaidillah r. : “Jika saya pulang ke rumah.52 Al-Imam Al-Ghazali mengisahkan tentang sakinahnya keluarga Sayyidina Umar bin Khathab dan keakrabannya terhadap anak-anak dan anggota keluarganya. Zubeir bin Awwam r. dan keluarga seluruh sahabat yang mulia. Lebih jelas kisahnya adalah: “Alkisah ada seorang yang bernama Al-Aqra’ bin Habis menemui Amirul Mukminin. Umar bin Khathab. Sa’ad bin AbiWaqash r. anak yang sedang berbicara mendadak terdiam. h. Begitu pula para sahabat wanita yang telah lahir menjadi tokoh-tokoh yang turut berkiprah untuk membangkitkan masyarakat di samping tetap berperan sebagai isteri Isyan Basya. Saya mempunyai anak sebanyak sepuluh orang. dan anak yang sedang tidur-tiduran mendadak bangun. Al-Aqra’ berkata.a. Namun tidak ada satu pun yang pernah saya cium”... Maka Al-Aqra’ diperintahkan Umar untuk segera dipecat dari jabatannya sebagai kepala daerah saat itu.

.31 31 Ridha Salamah. Cit. h. et. Lihatlah manusia mulia seperti Ummu Kultsum binti Uthbah. Ummu Athiyah serta para isteri dan anak-anak Nabi saw sendiri. Op. el.. Ummu Sulaim. Ummu Aiman. 39 .53 dan ibu.

(Jakarta: Bulan Bintang. Cet.”2 Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa orang tua (keluarga) adalah Pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. Ilmu Jiwa Agama. 36 3 Zakiyah Daradjat. menumbuhkan. 41 2 1 Zakiah Daradjat. Menurut Zakiah Daradjat bahwa : “Pembinaan adalah upaya pendidikan baik formal maupun non formal yang dilaksanakan secara terarah. 1993). h. membangun) dan dapat juga diartikan bentuk (membentuk)1. keingan serta prakarsa sendiri menambanh. dan pribadi yang mandiri. h. Cet. 66 54 . 2003). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Kepribadian orang tua.BAB IV PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PADA ANAK A. Kesehatan Mental dalan Keluarga. Cet. Ke-3. meningkatkan dengan mengembangkan ke arah terciptanya martabat. Pembinaan Akhlak pada Anak Pembinaan kata dasarnya adalah “bina” yang mempunyai arti bangun (membina. h. mengambangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang utuh dan selaras. pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat. Jadi yang dimaksud dengan pembinaan adalah mempertahankan sesuatu yang sudah baik dan berusaha untuk mengembangkannya. teratur dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan. (Jakarta: Penasehat Pustaka Amami. mutu dan kemampuan manusia yang optimal.3.3 Muhammad Ali. 1993). (Jakarta: Pustaka Antara. merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh itu. Ke. sikap dan cara hidup mereka. Ke-16.

sedikitnya akan mengikuti ucapan atau prilaku orang tua (keluarga) sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: ˸ϭ˴˶ ˶ ΍˴ ˷ ˴ ˵ ˸ϭ˴˶ ˶ ΍˴ ˷ ˴ ˵ ˵ ΍˴ ˴ ˴˴ ˶ ˴ ˸τ˶ ˴΍ϰ˴˴ ˵ ˴˸Ϯ˵ ˳ ˸Ϯ˵˸Ϯ˴ ͊ ˵ ΍ Ϫϧ ή˶ ϨΑ ΍ Ϫϧ Ω˶ Ϭϳ ϩ ϮΑ΄ϓ Γή ϔϟ Ϡϋ Ϊϟ ϳ Ω ϟ ϣ Ϟϛ μ Ϯ Ϫϧ δ˶ Ϥϳ ˶ ˶ Ύ˴ ˷ ˴ ˵ Π Artinya: “Setiap bayi yang lahir ada dalam keadaan suci. Nasrani atau Majusi. masyarakat bahkan berbangsa dan bernegara. keluarga. maka tergantung ibu bapaknyalah akan jadi Yahudi.” (HR. karena baik buruk seseorang atau keluarga dapat dilihat dari prilaku kesehariannya dari kepribadiannya yang menggambarkan budi pekerti yang ada pada dirinya. Begitu pula anak akan memiliki budi pekerti yang baik apabila lingkungan keluarganya menanamkan akhlak yang baik. Bukhari) . karena keluarga merupakan tempat pendidikan utama dan pertama.55 Pembinaan akhlak di sini mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia baik secara pribadi. Akhlak atau budi pekerti tidak mungkin terwujud tanpa melalui proses pembinaan pada seseorang yang dapat memberikan perubahan pribadi seseorang di antaranya adalah pengaruh lingkungan bagi seorang anak sudah barang tentu yang pertama kali atau berpengaruh pada kepribadian adalah pengaruh lingkungan keluarga.

Cit. Pada usia sekolah lingkungan sekolah pun memberikan pada anak warna. Cet.5 4 Abudin Nata. h. 2001). (Jakarta: PT. yakni tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan. h. Raja Grafindo Persada. khususnya ibu mendapat gelar madrasah. Akhlak Tasawuf.56 Hadits tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pelaksana utama dalam pendidikan anak adalah kedua orang tua. Ke-5. maka pendidikan yang diberikan oleh guru pada anak di masa awal ini akan mudah diterima. dan proses pembinaannya harus secara terus menerus baik melalui agama atau memberikan contoh perilaku yang baik. Op. 169 5 Zakiyah Daradjat.4 Kemudian pendidikan akhlak pada anaknya yang selanjutnya setelah lingkungan keluarga adalah lingkungan masyarakat yakni teman bergaulnya di mana anak memilki lingkungan bermain. teman di mana ia bermain akan banyak memberikan pengaruh pada prilaku anak khususnya akhlak (perilaku budi pekerti). 129 . dengan demikian pendidikan akhlak pada awal usia sekolah tingkat SD dirasakan akan lebih muda diterima. Itulah sebabnya orang tua.

Pembinaan akhlak pada usia Sekolah Dasar (6-12 tahun) sudah dapat dilakukan secara langsung melalui petunjuk dan nasihat yang sederhana yang 6 Abudin Nata. seyogyanya ia dilatih untuk suka meminjamkan mainannya kepada temannya ketika bermain. misalnya ketika si anak mulai suka bermain dengan teman sebayanya. Pembinaan akhlak pada usia ini diperlukan dan dibutuhkan perhatian. Jika manusia membiasakan berbuat jahat. maka ia akan menjadi orang yang jahat. Op.”6 Pribadi manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembinaan atau pembiasaan.57 Cara lain yang dapat ditempuh untuk pembinaan akhlak ini adalah dengan “Pembiasaan” yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu. Cit. sebaliknya bila manusia membiasakan dirinya dengan cara yang bertingkah laku yang mulia maka ia dapat membentuk pribadi yang mulia. perkembangan kecerdaannya belum sampai kepada kemampuan menangkap hal yang maknawi (abstrak). Untuk anak-anak umur Taman Kanak-kanak (3-5 tahun). pembiasaan dan percontohan. 162 . Pendidikan akhlak terhadap anak dilakukan dengan memanfaatkan kecerdasan si anak. h. maka pendidikan akhlak pada umur tersebut menurut Zakiah Daradjat dengan latihan..

7 8 Zakiyah Daradjat. naluri dan kecerdasan anak. Hendaknya setiap ucapan yang baik dan perbuatan yang baik yang dilakukan oleh anak usia ini diberi pujian dan didorong untuk mempertahankan kebaikan yang telah dicapainya. gerakan dan sikap diam pada orang-orang yang sering berhubungan dengan mereka. h. Lalu mereka didorong untuk memilih mana yang baik dan menjauhi yang tidak baik. h. dan percontohan.58 sesuai dengan perkembangan kecerdasan dan daya pikirnya.. merusak dan membahayakan.8 Pembinaan akhlak pada usia SMA atau yang sejenisnya (16-19 tahun) sangat penting dan tidak mudah terutama bagi mereka yang pada tahap sebelumnya mendapatkan bimbingan pembinaan akhlak secara tepat. Pembinaan akhlak pada usia sekolah dasar ini masih tetap menekankan pada latihan. Cit. kebiasaan. Maka pembinaan akhlak pada usia ini diberikan penjelasan dan keterangan yang rasional tentang kaidah-kaidah akhlak dan setiap masalah akhlak yang penting dijelaskan secara analisa yang tepat disertai manfaat dan hikmahnya dalam kehidupan anak masa sekarang dan masa yang akan datang. Op. Pembinaan pada usia SMP (13-16 tahun) dapat dilakukan dengan cara langsung nasihat. misalnya suka meniru. 69 .7 Pembinaan akhlak pada usia ini dapat pula memanfaatkan bakat. melakukan identifikasi terhadap kata-kata perbuatan. bisa juga dengan cara diskusi atau tanya jawab. Dalam hal ini dapat digunakan syair dengan lagu yang menarik. 93 Ibid. serta digairahkan atau diberi semangat untuk memperbaiki kekurangannya. bermanfaat serta hal yang buruk. petunjuk dan penjelasan tentang berbagai hal yang baik.

9 Dalam diskusi. Ke-5. Dengan pengungkapan masalahnya dan mendapat tanggapan dari orang tuanya atau saudara-saudaranya akan menyebabkan anak yang bersangkutan lebih memahami persoalan yang dideritanya.10 Dalam pembinaan akhlak tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran. 93 Abudin Nata. Ahmad Amin dalam bukunya :”Ethika (ilmu Akhlak)” menyebutkan cara yang ditempuh dalam membina akhlak yaitu: 9 Ibid. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada). Menurut Abudin Nata bahwa: “Pembinaan akhlak dapat ditempuh dengan cara memberikan keteladanan”. Pendidikan itu tidak akan sukses melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata. h. Cet. Akhlak Tasawuf. dr. h. remaja mendapat kesempatan untuk mengungkap perasaan dan masalah yang dihadapinya. Menurut Prof. 165 10 . instruksi dan larangan akan tetapi memerlukan pendidikan yang panjang dan pendekatan yang baik.59 Dalam mendidik akhlak anak pada usia ini perlu dikaitkan dengan ajaran agama karena mereka telah sampai pada umur baligh artinya bahwa mereka bertanggung jawab langsung kepada Allah serta perlu dikaitkan pula dengan perundang-undangan yang berlaku.

h. 63. ada banyak cara yang dapat dilakukan.60 1. Akan tetapi sebaliknya akal pkiran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) akan menjadi obor penerang bagi kehidupannya. yaitu12: 1. Mengisi akal pikiran dengan ilmu pengetahuan Akal pikiran seseorang besar sekali pengaruhnya dalam kehidupannya. 11-20 12 . Cet. Membaca dan menyelidiki perjalanan para pahlawan dan orang yang berpikir luar biasa 2. Akal pikiran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) itu akan tetap menuntun seseorang ke jalan yang benar. 1996). Ke-6. 1986). Membersihkan pribadi dengan ilmu dan perbuatan itulah yang membawa kita kepada kebahagiaan. Cet. Meluaskan wawasan berpikir 2.11 Sedangkan menurut Oemar Bakrie yang menjelaskan hal ini lebih luas lagi mengatakan bahwa dalam mendidik seseorang supaya berakhlak yang baik. Cukup banyak contoh dalam sejarah bahwa akal pikran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) menjadikan berbudi pekerti yang luhur. Akal pikiran yang sempit dan buntu akan menjadikannya menempuh jalan yang sesat. Akhlak Muslim. (Bandung: Aksara. Ke-1. Membiasakan diri melakukan perbuatan baik. Memberi dorongan untuk berbuat baik bagi masyarakat umum 3. h. dan akan menjadikan kebahagiaan yang luar biasa jika kemudian ilmu pengetahuan yang ada itu diimbangi dengan amal perbuatan. Berkawan dengan orang yang terpilih 1. 11 Ahmad Amin.66 Oemar Bakrie. Etika (Ilmu Akhlak). (Jakarta: Bulan Bintang.

61 Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Ύ˴ Ύ͉ ˴ ˸Ϧ˴ ˴ Ύ˴ ˸Ϊ˴ ˴  () Ύ˴ Ύ͉ ˴ ˸Ϧ˴ ˴ ˴˸ϓ˴˸Ϊ˴ ϫ γΩ ϣ Ώ Χ ϗϭ ϫ ϛί ϣ ΢Ϡ ΃ ϗ Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah (menanglah dunia akhirat) orang yang membersihkan dirinya (dari sifat yang jahat). bergaul dengan orang berani maka menjadikan ia seorang yang pemberani pula. Bergaul dengan orang-orang yang baik Sudah menjadi sifat yang alami jika manusia suka meniru atau mencontoh hal-hal yang dilakukan oleh orang lain dalam kehidupan di masyarakat. Dalam pergaulan di masyarakat. Asy-Syamsu: 9-10) 2. Teman yang suci hatinya maka cahaya iman pasti menerangi jiwanya dan ini dapat menjadi teladan bagi teman bergaulnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pergaulan dapat mempengaruhi terjadinya perubahan karakter pada diri seseorang. Dan sesungguhnya merugilah (sengsaralah) siap yang mengotori dirinya (dengan tindak laku yang jahat). Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam Al-Qur’an: . Akan tetapi jika bergaul dengan orang penakut maka membawa ia menjadi penakut. sehingga ada baiknya jika dalam bergaul kita memilih teman yang baik. (QS. Teman yang baik dapat ditiru dan diteladani amal perbuatannya.

Luqmanul Hakim memberi nasihat kepada anaknya: ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴  ˴ ͉ ˴ ˵  ˸ϥ˴ ˴ ΍ ˶ ͉˶ ˸Ϣ˶ ˶ ˴ ˵  ˴ ˴  ˴ Ύ͉ ˴ ˸ϟ΍ ˶ ˶Ύ˴ ˵  ˴  ͉ ˴ ˵ Ύ˴ Ϭ Ϡϋ ϝΰϨϳ ΍ Ϳ ϖΗ΍ ϬθϤΗ ϻϭ έ Π˵ βϟ ΠΗ ϻ ϲϨΑ ϳ ϔ ˴ Ύ˴ ˴˵ ˸ϟ΍˴  ˶ ˴ ˴ ˵ ϟ΍˸ ˶ ˶Ύ˴ ˴  ˸Ϣ˵ ˴ ˴  ˴ ˵ ˸ϴ˶ ˵ ˴  ˶ Ύ˴ ͉ ϟ΍ ˸Ϧ˶  ˲ ΍˴ ˴ ˯ ϤϠό ϭ ˴ ϼπϔ βϟ Οϭ Ϭόϣ ϚΒ μϴϓ ˯ Ϥδ ϣ Ώ άϋ ˯ ˴ ˸έ˴ ΍ ϰ˶ ˸Τ˵  Ύ˴ ˴  ˶ ˴˸ϴ˶ ˴ ˴Ύ˶  ˴ ˴ ˸ϴ˴ ˸ϟ΍ ˴ ˸Ϯ˵˵ ˸ϟ΍ ϰ˶ ˸Τ˵  ˴ ΍ ͉ ˶˴ ν ϻ ϴ ϳ Ϥϛ ΔϠ πϔϟ Α ΔΘ Ϥ Ώ ϠϘ ϴ ϳ Ϳ ϥΈϓ ήτϤ ϞΑ ϮΑ ˶ ˴ ˴ ˸ϟ΍˶ ˶ ΍˴ ˶ Artinya: “Wahai anakku! Janganlah sekali-kali kamu bergaul dengan orang-orang yang jahat.” (QS. mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. orang-orang yang mati syahid (pejuang yang jadi korban dalam kebenaran). Bergaullah dengan orang-orang yang baik dan berilmu. karena mereka akan menjadi teman yang bisa membimbing ke arah jalan-jalan yang memang telah digariskan oleh Allah swt. yaitu Nabi-nabi. Selanjutnya berkenaan dengan pemilihan teman dalam bergaul. para shiddiiqiin. Jangan bersama mereka. Dengan pergaulan yang baik itu Allah akan menghidupkan hati- . jelaslah bagi kita bahwa dalam memilih teman hendaknya dicari orang orang-orang yang selalu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Takutilah azab yang akan menimpa kamu. dan mereka itulah yang sebaik-baiknya. dan orang-orang yang saleh. An-Nisa: 69) Berdasarkan ayat di atas.62 ˴ ˶ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ˵ ͉ϟ΍˴ ˴ ˸ϧ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˴ ˴ ˶ ˴ϭ˵˴ ˴ Ϯ˵ ͉ ϟ΍˴ ˴ ͉ϟ΍˶ ˶ ˵ ˸Ϧ˴ ˴ Ϧϣ Ϭ Ϡϋ ϪϠ Ϣό ΃ Ϧ άϟ ϊϣ ϚΌϟ ΄ϓ ϝ γή ϭ ϪϠ ϊτϳ ϣϭ Ύ˱ ϴ˶ ˴ ˴ ˶ ˴ϭ˵˴ ˵ ˴ ˴ ˴ ϴ˶ ˶Ύ͉ ϟ΍˴ ˶ ΍˴ ˴ ͊ ϟ΍˴ ˴ ϴ˶ ϳ͋ ͋ ϟ΍˴ ˴ ϴ͋ ˶ ͉ϟ΍ Ϙ ϓέ ϚΌϟ ΃ ϦδΣϭ Ϧ Τϟ μ ϭ ˯ ΪϬθ ϭ Ϧ Ϙ Ϊμ ϭ Ϧ ϴΒϨ Artinya: “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya.

Karena apa yang diatur dalam QS. Ia akan menjadi orang baik. seseorang dapat terhindar dari segala perbuatan jahat. An Nisa: 69. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya. h. jangan sekali-kali memilih teman yang justru menggiring kita kepada kehancuran dan kesesatan. perlu dijadikan pedoman (pegangan) dalam mencari dan memilih teman. orang yang giat bekerja. Pada akhirnya cenderung untuk melamun melakukan perbuatan yang tidak baik.13 Nasihat yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya dalam memilih teman ternyata sejalan dengan ketentuan yang telah disebutkan dalam QS.63 hati yang mati sebagaimana hujuan menghidupkan tanah yang tandus dengan tumbuh-tumbuhan. tidak berdaya dan akan tampak seperti orang bodoh. Meninggalkan sifat pemalas Sifat pemalas dan duduk-duduk berpangku tangan tanpa amal. yaitu: 13 Ibid. Dengan bekerja keras. 3. sehingga menurut hemat penulis dapat disimpulkan bahwa dalam mencari teman harus dilakukan dengan hati-hati sekali. merusak kesehatan. berguna kepada nusa. Sebaliknya. bangsa dan agama. An Nisa : 69 dan apa yang disampaikan oleh Luqmanul Hakim kepada anaknya. cenderung untuk tidak mempunyai waktu merenungi perbuatan-perbuatan yang jahat. berjuang dengan ulet untuk mencapai cita-cita yang diinginkannya. Semua organ tubuh menjadi lesu. 16 .

64 .

Walaupun bagaimana berat dan sulitnya meninggalkan kebiasaan lama. sesungguhnya manusia tetap selalu dalam kerugian. wasiat-mewasiati dalam kebeneran dan dan kesabaran. 4. Biasanya tabiat atau kebiasaan buruk yang telah mendarah daging akan sulit dipisahkan. Merubah kebiasaan buruk Sesuatu perbuatan yang sudah dilakukan seringkali ia akan menjadi tabiat dan sulit sekali untuk merubahnya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merubah tabiat buruk.” (QS. ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ͉˶  . Al-‘Ashr: 1-3 menurut penulis adalah suatu seruan yang diberikan oleh Allah swt bahwa manusia harus saling berjuang (giat bekerja) dalam kehidupan ini. ˶ ˸Β͉ ϟΎ˶ ΍˸Ϯ˴ ΍˴ ˴ ˴ ͋ ˴ ˸ϟΎ˶ ΍˸Ϯ˴ ΍˴ ˴ ˴ ˶ Ύ˴ ˶Ύ͉ ϟ΍΍Ϯ˵˶ ˴ ˴ ή μ Α λ ϮΗϭ ϖΤ Α λ ϮΗϭ Ε Τϟ μ ϠϤϋϭ Artinya: “Demi masa.. Jangan sekali-kali meninggalkan perbuatan baik yang baru dicoba sebagai penggganti tingkah laku jahat yang baru ditinggalkan. akan tetapi harus dicoba untuk melupakannya. Untuk meninggalkannya perlu kemauan keras dan tekad yang kuat serta kesadaran yang mendalam. kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh (giat bekerja). karena kalau tidak maka manusia akan berada dalam kerugian yang disebabkan oleh kemalasannya sendiri. yaitu: a. Al-‘Ashr: 13) Salah satu intisari yang terdapat di dalam QS.

˳ ˸δ˵ ϲ˶ ˴˴ Ύ˴ ˸ϧ˶˸ϟ΍͉ ˶  .

 ˶ ˸μ˴ ˸ϟ΍˴ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϟ· ή Χ ϔϟ ϥ δ Έ ϥ · ή ό ϭ .

Tarbiyatul Aulad (Pedoman Pendidikan dalam Islam). 1986). 1988). Cet. dan mencari kaidah-kaidah pendidikan yang influentif dalam mempersiapkan anak secara mental dan moral. sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna. Apabila ada keinginan untuk berubah maka lakukan itu dengan segera.15 14 Oemar Bakrie. (Bandung: Asy-Syifa’. h. saintikal. Cet. penulis berpendapat bahwa untuk menghentikan (menghilangkan) perbuatan buruk. Tinggalkan kebiasaan yang jahat sesegera mungkin.14 Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Oemar Bakry.1 15 . c. Ke-1.65 b. (Bandung: Aksara. Akhlak Muslim. Tanamkan keberanian untuk berbuat atau melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan buruk yang pernah dilakukan. Dalam mendidik anak haruslah terus mencari metode yang lebih efektif. h. Diperlukan kemauan yang keras untuk meninggalkan kebiasaan jahat yang telah sekian lama dilakukan.16 Abdullah Nashih Ulwan. dilarang oleh Allah swt atau perbuatan tersebut merugikan orang lain. Ke-1. Dengan munculnya kesadaran dan keyakinan tersebut penulis yakin bahwa proses penghentian kebiasaan buruk tersebut akan jauh lebih mudah. jangan menunggununggu. Jilid 2. spiritual dan sosial. hendaknya perlu ditanamkan keyakinan dan kesadaran yang kuat bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak baik.

hendaknya orang tua dapat mengerti tentang ilmu pendidikan atau pengetahuan dalam mendidik anak. atau seorang ayah yang jarang 16 Ibid. Anak yang terlahir dari ayah dan ibu yang tidak komunikatif cenderung membentuk pribadi si anak menjadi pemalu. Pendidikan dengan memberikan hukuman. Dalam mendidik anaknya. Pendidikan dengan adat kebiasaan c. hal ini bertujuan agar tidak ada kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak yang akan berakibat buruk bagi perkembangannya pada masa yang akan datang.16 Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa proses pembinaan akhlak pada anak khususnya haruslah sejalan antara keluarga. 2 . Pendidikan dengan memberikan perhatian e. Penddikan dengan nasihat d. Pendidikan dengan keteladanan b. Sehingga ketika dewasa dapat memilih yang baik dan menjauhi yang buruk. h. lingkungan bermain dan lingkungan sekolah.66 Kaidah-kaidah atau metode-metode pendidikan yang influensif dalam membentuk anak ini adalah tersimpul dalam lima masalah di bawah ini: a.

Mengubah Anak pemalu Menjadi Pemberani. jangan salahkan anak semata. Tidak menyikapi kesalahan-kesalahan anak dengan ekstra 5. Jadi. adalah: 1. 36 (September. 49 . 2006). bisa jadi. Sikap orang tua yang enggan menerapkan kedisiplinan pada anak 4. Memerintahkan anak dengan tanpa menjelaskan alasan pentingnya menunaikan perintah tersebut 2.17 Di antara Kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak. 7. Paras. Sikap orang tua yang menerima persyaratan yang diajukan anak. h. Para pendidik tidak berusaha memahami berbagai faktor yang mendorong anak melakukan perilaku yang salah 6.67 mengajak buah hatinya bertutur kata. orang tualah faktor pemicunya. si anak cenderung menarik diri. Batasan strategi yang diterapkan dalam berinteraksi dengan anak tidak berubah meskipun perilakunya telah berubah 3. Berlebihan dalam memberikan janji yang berulang kepada anak 8. Hal ini menjadikan anak selalu mengaharapkan imbalan ketika melakukan sesuatu. Mengomentari anak dengan komentar yang justru menghalanginya kembali berprilaku baik 9. Tidak menghukum perilaku salah yang muncul dari anak 17 Retno.

Tidak adanya kesepakatan antara kedua orang tua dalam hal metode pendidikan yang seragam 19. Tidak menempuh tahapan-tahapan dalam berinteraksi dengan anak 17. mengejek. h. Tidak memberikan sprit yang positif pada diri anak 11. 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak.68 10. Ke-1. dan kelembutan 14. Tidak memenuhi kebutuhan anak dalam memperoleh kasih sayang. dan membeda-bedakan dalam mendidik anak 18. 2005). Tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan individual dalam mendidik anak 16. cinta. 11-13 18 . Membandingkan secara tidak proporsional dengan anak-anak lain 12. Tidak menyertakan anak dalam menetapkan kaidah-kaidah yang berlaku 20. Mengikuti pola pandang negatif dalam berinteraksi dengan anak. Cet.18 Muhammad Rasyid Dimas. Kontradiktif dalam menerapkan sistem pendidikan anak 13. Tidak memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam memberikan hukuman fisik ketika mendidik anak 15. (Jakarta: Pustaka AlKautsar. Meremehkan.

Maka ia belajar menahan diri Jika anak dibesarkan dengan dorongan.19 Syahminan Zaini. Pendidikan Anak dalam Islam ( Jakarta: Kalam Mulia. Puisi itu adalah: Jika anak dibesarkan dengan celaan. Maka ia belajar percaya diri Jika anak dibesarkan dengan dengan sebaik-baiknya perlakuan. h. dan ingin dibawa ke mana si anak adalah tidak terlepas dari peran orang tua sebgai pendidik yang pertama dan utama. sehingga baik baruknya anak. 37 19 .. Ke-3. Maka ia belajar berkelahi Jika anak dibesarkan dengan penghinaan. Cet. Maka ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan cemoohan. Maka ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya.69 Perlu penulis cantumkan ada puisi yang sangat indah yang berasal dari Dorothy Nolt yang berkaitan tentang pengaruh orang tua yang sangat sentral dalam mendidik anak. 2004). Maka ia belajar menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi.el. et. Maka ia belajar keadilan Jika anak dibesarkan dengan dengan kasih sayang.

Sebagai lembaga pendidikan bagi anak. No. Di antara peranan keluarga sakinah itu adalah sebagai berikut: a. Oleh karena itu orang tua mempunyai peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak.II/MPR/1983.70 Dari puisi di atas dapat kita pahami bahwa dalam baik dan buruknya pendidikan anak adalah banyak ditentukan oleh kedua orang tuanya (keluarga). sebab keluarga merupakan lembaga pendidian dasar utama bagi seorang anak. Peran Keluarga Sakinah dalam Pembinaan Akhlak Keluarga yang sakinah memliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan pembinaan akhlakul karimah anak. agar dapat terbina secara optimal dan maksimal. baik sebagai mahluk individu atau sebagai mahluk sosial. Keluarga sebagai satu kesatuan terkecil dari suatu masyarakat memliki peranan penting dalam pembinaan manusia. untuk itu orang tua harus dapat memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan si anak. sebagaimana yang tercantum dalam GBHN Tap. karena dari keluarga sakinah-lah akan muncul generasi-generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman pada era globalisasi ini. Keluarga merupakan suatu lembaga yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam tercapai atau tidak suatu tujuan pendidikan anak yang selanjutnya. B. Bagi seorang anak .

b.71 sebelum ia mengetahui dunia luar secara lebih luas. Setiap orang tua berusaha untuk menjaga keluarga. yang akan membawa perkembangan positif bagi perkembangan psikis anak-anaknya. maka lingkungan keluargalah yang pertama ia jumpai. yaitu hubungan orang tua dengan anaknya yang mengarah kepada sikap mendidik. sehingga terjadi hubungan yang khas. Termasuk juga pengaruhnya setelah anak memasuki lembaga pendidikan formal. Keluarga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap anak-anak yang menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya. Lingkungan yang dapat menciptakan hubungan yang serasi antara sesama anggota keluarga. menyayangi dan menghormati harus terwujud secara . Sebagai sumber kasih sayang Pelaksanaan tugas dan peran keluarga sehari-hari tentunya dilakukan tanpa menghilangkan unsur kasih sayang sebagai segalanya di antara anggota keluarga. maka sifat saling mengerti. Orang tua sebagai penganggung jawab dalam lingkungan keluarga berperan penuh dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat. menghargai. Karena nilai-nilai pendidikan tersebut akan dijadikan bekal bagi seorang anak yang akan menjadi generasi penerus di masa yang akan datang. Peranan orang tua juga dituntut dalam mengembangkan nilai-nilai pendidikan sedini mungkin.

Keinginan dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tua pada umumnya akan mempengaruhi motivasi belajar pada anak. c. Motivasi belajar pada anak dapat dikembangkan sedini mungkin melalui usaha di antaranya.72 nyata dan dapat dirasakan adanya rasa kasih sayang dalam keluarga tersebut sejak lahir. Sebagai sumber motivasi Motivasi belajar pada anak biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Dengan usaha tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan atau motivasi bagi anak untuk belajar dengan penuh kesungguhan. Adanya rasa kasih sayang dalam keluarga akan memberikan rasa tentram. Di sekolah sering kita jumpai motivasi belajar pada anak yang bervariasi. emosi. hal ini didasarkan pada latar belakang kehidupan keluarga yang berbeda. keterampilan dan kreatifitas pada anak. yang dimulai sejak anak dapat berkomunikasi dengan dunia luar. yaitu: memberikan permainan yang mengandung unsur edukatif (pendidikan) untuk merangsang penalaran. akan tetapi melalui proses yang panjang. sehingga anak-anak betah berada di dalam lingkungan keluarga. .

Dengan turut sertanya orang tua dalam mematuhi setiap peraturan yang dibuat akan memberikan penilaian bagi anak terhadap orang tuanya. baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun orang tua dituntut untuk mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku di dalam keluarga. Orang tua hendaknya menerapkan tentang aspek-aspek yang . Islam mengajarkan kepada setiap orang tua yang dalam hal ini adalah keluarga agar mengetahui tentang aspek-aspek yang dibutuhkan dalam proses pembinaan akhlakul karimah terhadap anak. D. Keteladan yang diberikan orang tua kepada anaknya dalam rumah tangga akan lebih mudah meresap ke dalam jiwa anak dibanding melalui nasihat. Mereka akan menjadikan orang tua sebagi figur teladan bagi anak-anaknya. Sebagai sumber teladan bagi anak Orang tua memilki peranan yang sangat penting dan memilki tanggung jawab terhadap semua anggota keluarga yang berada di bawah tanggung jawabnya.73 d. Aspek-aspek yang dibutuhkan dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Terhadap Anak Dalam membina akhlakul karimah anak. Orang tua adalah panutan yang selalu ditiru dan dicontoh oleh anaknya dalam setiap tingkah lakunya.

et. Hal ini karena orang tua terutama ibu mempunyai pengaruh dalam pembentukan kepribadian anak yang masih berada di dalam kandungan ibu. 20 Syahmini Zaini.el. Menanamkan nilai-nilai agama Islam telah mengajarkan bahwa dalam membina akhlak anak haruslah dilakukan sedini mungkin. h. (Jakarta: Kalam Mulia. Pendidikan Anak dalam Islam. 24 Ke-3. 21 Dari keterangan di atas dapat kita pahami bahwa menanamkan nilai-nilai keagamaan pada anak mutlak diperlukan dan itu dimulai sedini mungkin agar kelak setelah dewasa anak dapat terbiasa dengan nilai-nilai agama yang diberikan orang tuanya. di antaranya adalah:20 1. 38 21 . h. mulai pasangan suami istri melakukan kebersamaan (persetubuhan) untuk mengucapkan doa yang telah diajarkan Rasulullah saw. 2004) Cet Ibid..74 dibutuhkan dalam proses pembinaan akhlakul karimah anak. agar dijauhkan dalam kebersamaan suami-istri itu dari godaan dan campur tangan setan. Dan ajaran Islam itu sangatlah sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa pendidikan itu dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan. dan mempraktekkannya dalam kehidupannya.

sebab dia merasa telah dibohongi. Memberikan teladan Nabi dikirim Allah ke bumi ini adalah untuk mendidik manusia. Dengan demikian berarti mendidik manusia adalah juga dengan memberikan keteladanan.75 Dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak hendaknya orang tua dapat melakukan hal ini kepada anak: a. sedang ia sendiri tidak mengerjakannya. Sifat hanya akan terbentuk dengan pembiasaan. puncaknya anak akan menajdi pemberontak. . Adat yang diulangulang akan menjadi sifat. maka anak paling tidak akan menjadi bingung. apalagi kalau mengerjakannya berlawanan dengan yang disuruhnya. Pembiasaan Nabi Muhammad saw. untuk diteladani haruslah terlebih dahulu mempunyai budi pekerti yang baik. Abu Daud dan Baihaqi). Ada hukum yang menyatakan: “Sesuatu yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan.” b. Kebiasaan yang diulang-ulang akan menjadi adat. bersabda: “Biasakanlah anak dengan shalat apabila ia telah dapat membedakan antara tangan kanan dan kiri (HR. Kalau orang tua menyuruh anaknya berbuat sesuatu.

d. . e. Memberikan pengertian ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Memberikan pengertian Berikanlah pengertian kepada anak terhadap setiap tingkah laku dan ajaran Islam yang harus dikerjakan. Seperti puasa adalah untuk menghayati rasa lapar yang sering dirasakan oleh orang-orang miskin. diskusi. Memberikan penghayatan Memberikan penghayatan di sini adalah memberikan maknamakna apa dibalik perbuatan ini harus dilakukan dan perbuatan ini harus ditinggalkan. bercerita dan lain sebagainya. Orang tua dalam hal ini hendaknya memberikan pengalaman-pengalaman mereka ataupun pengalaman orang-orang sebelum mereka kepada anaknya.76 c. Tanya jawab. Seperti ceramah. Tetapi juga harus diingat pemberian pengertian ini harus disesuaikan dengan perkembangan akalnya. Pengalaman Pengalaman adalah guru terbaik. agar kelak anaknya dapat memetik pelajaran dari pengalaman orang tuanya atau pengalaman orang lain yang diceritakan oleh kedua orang tuanya.

baik itu pengetahuan agama ataupun pengetahuan umum. mengingatkan akan pentingnya beriman dan bertaqwa kepada Allah. (Jakarta: Kalam Mulia. h. dan lain sebagainya. 40-43 22 . Pendidikan Anak dalam Islam. melazimkan membaca Al-Qur’an setelah shalat maghrib atau shalat shubuh. mengajarkan untuk dapat istiqamah dalam hal kebaikan. Ke-3. hendaklah mereka diajak bermusyawarah untuk menyelesaikannya. Ilmu adalah “Nur” (cahaya) yang akan menerangi seseorang kepada jalan yang Syahminan Zaini. 2004) Cet. et al. mengajarkan membaca doa ketika akan atau setelah melakukan aktifitas.22 Dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak juga bisa dilakukan dengan mengajaknya pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Dengan demikian si anak akan merasa dihargai dan merasa bertanggung jawab. karena dengan pengetahuan seseorang dapat mengetahui hal-hal apa saja yang boleh dilakukan dan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan. karena itu mereka akan siap untuk memikulnya walaupun berat dan penuh resiko.77 f. 2. Musyawarah Setiap persoalan yang dihadapi yang berhungan dengan anak tersebut. mengajarkan untuk mencintai Rasulullah saw. anak perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan. Pengetahuan Dalam membina akhlakul karimah.

maka adalah dengan ilmu”. dan siapa yang ingin mendapatkan akhirat. maka adalah dengan ilmu. Dengan ilmu seseorang akan mengetahui dengan jelas paku-paku kehidupan yang akan mencelakakan dia. dan siapa yang ingin mendapatkan keduanya.78 lurus yang diridhai Allah. maka adalah dengan ilmu. maka hendaknya orang tua memperhatikan hal ini dan menyadari akan pentingnya menanamkan keilmuwan kepada anak agar kelak ia mempunyai akhlakul karimah pada kehidupannya. sedang ilmu umum akan membawanya kepada kebahagiaan di dunia. Dan Nabi Muhammad saw telah menegaskan dalam sabdanya: ˶ Ύ˴˸Χ˴ ˸΍˴ ˶ Ύ˴ ˴ ˴ ˷ ˴ ˵ ˵ ˸Θ˶ ˵ Ύ˴ ͉ ˶ ϕ Ϡ ϻ ϡέ Ϝϣ Ϣ˶ Η˶ Κ όΑ Ϥϧ΍ Ϥϻ Artinya : “Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak. Ilmu agama akan membawa dia kepada derajat yang tinggi dan kehidupan yang bahagia di hari kiamat nanti. sedang orang yang tidak berilmu akan terkena paku-paku kehidupan yang membawanya kepada kesesatan dan kemaksiatan sehingga akan menimbulkan kemerosotan moral bagi orang yang tak berilmu.” Orang tua juga dalam hal ini mempunyai kewajiban agar anaknya mempunyai dan menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu . Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah saw : “Siapa yang ingin mendapatkan dunia. Oleh karena itu.

h. 99 Wasty Soemanto. seperti keluarga. Wasty Soemanto yang berjudul “Psikologi pendidikan” dikatakan bahwa “Lingkungan adalah yang mencakup segenap stimulasi. mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut. (Jakarta: Rineka Cipta.79 dan mendalami ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Cet. agar kemudian setelah mereka selesai dapat kembali ke masyarakat. (Jakarta: Menara Kudus. Cet. yaitu faktor internal dan ekternal. Faktor internal adalah faktor yang dibawa sejak lahir. et. Dalam buku Drs. interaksi dan kondisi dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain”. Keniscayaan Lingkungan yang Kondusif (Sakinah) dalam Membina Akhlakul Karimah Pada hakikatnya perbuatan atau kelakuan seseorang adalah ditentukan dan dipengaruhi oleh dua faktor.24 Chatibul Umam. dan masyarakat atau tempat bermainnya dan lain sebagainya. dan faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi yang berasal dari luar. Ke-1. 1996).1990). Qur’an Hadits (Untuk Madrasah Aliyah Kelas III). 23 b. h. serta menjalankan dakwah Islamiyah dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula. Ke-3. 80 24 23 . el. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pempinan Pendidkan).

Ke-1. (Jakarta: Bumi Aksara.. Orang yang tidak pandai menjaga amanat adalah termasuk orang yang khianat. Al-Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa anak adalah suatu amanat Tuhan kepada orang tuanya. dan orang yang khianat adalah termasuk kategori orang munafik. 1991) Cet. Anak lahir dalam keadaan suci. yaitu: 1. lingkungan ikut memberi andil bagi proses pertumbuhan. et. el. hatinya suci bagaikan juhar yang indah sederhana dan bersih dari segala goresan dan bentuk. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. h.26 Lebih lanjut Al-Imam Ghazali mengatakan bahwa tanggung jawab keluarga yakni kedua orang tua terhadap pendidikan anaknya meliputi dua macam alasan. Ia masih menerima segala apa yang digoreskan kepadanya dan canderung kepada setiap hal yang ditunjukkan kepadanya.25 Dari keterangan di atas dapat kita pahami bahwa keluarga (orang tua) merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pendidikan akhlak anak. 81 Zainuddin.89 26 . Hal ini menunjukkan bahwa anak lahir dalam keadaan tidak berdaya dan 25 Ibid. karena anak merupakan amanat yang Allah berikan kepadanya. h.80 Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa lingkungan sangat besar artinya bagi setiap pertumbuhan pisik. Sejak individu berada dalam konsepsi. oleh sebab itu hendaknya orang tua dapat memberikan seluruh kemampuannya dalam mendidik anaknya. bersih dan sederhana.

2. .27 Dari keterangan di atas dapat jelas kita pahami bahwa lingkungan (keluarga) mempunyai pengaruh terhadap perkembangan akhlakul karimah anak. Dari generasi-generasi yang seperti inilah yang akan melahirkan masyarakat yang tidak berakhlak. perjudian. seks bebas. 27 Ibid. seperti tawuran antar pelajar. Kelahiran anak di dunia adalah merupakan akibat langsung dari perbuatan kedua orang tuanya. maka tentu akan lahir generasi-generasi yang tidak kita harapkan. 89. h. perampokan. Orang tua (keluarga) adalah tempat menggantungkan diri dan tempat berlindung anak secara wajar berdasarkan atas adanya hubungan antara anak dan kedua orang tua. sehingga masih sangat menggantungkan diri pada orang lain yang lebih dewasa. jika keluarga itu tidak ada ketenangan dan kesejahteraan serta tidak ada penanaman nilai-nilai agama dan pengetahuan di dalamnya.81 belum dapat berbuat apa-apa. Hal yang semacam ini adalah karena gagalnya sebuah keluarga dalam mendidik anak-anaknya dan tidak menanamkan nilai-nilai dan batasan-batasan yang telah agama atur di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. narkotika dan lain sebagainya. Oleh karena itu kedua orang tua sebagai orang yang telah dewasa harus menanggung segala resiko yang timbul sebagai akibat perbuatannya. . yaitu bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya sebagi amanat Tuhan yang wajib dilaksanakan. pemerkosaan. hal ini karena keluarga adalah pendidikan pertama dan yang utama bagi seorang anak. sehingga akan banyak muncul tindakantindakan yang negatif bahkan dapat kepada tindakan yang kriminal dan anarkis.

82 Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. 2005).” (QS. Membangun Keluarga. 11) 28 Abdullah Gymnastiar.(QS.28 Ketika keluarga atau orang tua itu menyakini dan mengamalkan di dalam keluarga itu tentang firman Allah SWT : ˳ Ύ˴ ˴ ˴ ˴ ˸Ϡ˶ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ϭ˵˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ϣ˵ ˸Ϩ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍˵ ͉ϟ΍˶ ˴ ˸ή˴ Ε ΟέΩ Ϣ ό Η ΃ Ϧ άϟ ϭ Ϝ ϣ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϪϠ ϊϓ ϳ Artinya :“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan dan orangorang yang berilmu itu beberapa derajat. Tidak akan ada masyarakat tanpa keluarga. (Bandung: MQS. Ke-2. Implikasi Positif Pembinaan dalam Merespon Perkembangan Ilmu Pengetahuan & Tekhnologi (IPTEK) Keluarga yang sakinah merupakan keluarga yang dapat menjadikan di dalamnya sebagai pusat ilmu. Firman Allah Ta’ala: ΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Jagalah/peliharalah neraka…. Oleh karena itu Allah berfirman agar kita menjaga diri kita dan keluarga kita agar tidak jatuh dalam jurang kehancuran dan kenistaan. Dan baiknya masyarakat menandakan baik pula keluarga di dalamnya. Publishing. Cet. Al-Mujadilah. dan rusaknya masyarakat adalah menandakan rusaknya keluarga di dalamnya. h. At-Tahrim: 6) dirimu dan keluargamu dari api E. 14 .

Ibarat orang memasuki rimba belantara tetapi tidak . dan meluaskan ilmu. Kegigihan sebuah rumah tangga dalam menuntut. yakni tentang keimanan dan keilmuwan. kesejahteraan (sakinah). orang tua mampu menanamkan nilai-nilai agama kepada anak. Hendaknya orang tua dapat menjadikan di dalam keluarganya sebagi pusat ilmu terhadap anak-anaknya. kenyamanan. Orang tua yang mampu membina rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah. Orang yang tidak mempunyai ilmu. Ilmu pengetahuan akan menjadikannya generasigenerasi yang mampu menghadapi tantangan zaman di kemudian hari. Semuanya itu tidak akan terwujud bila dalam keluarga itu tidak mempunyai manejemen yang baik dalam rumah tangganya. dan salah satu nilai-nilai agama yang harus ditanamkan kepada anak adalah tentang firman Allah Ta’ala pada surat Al-Mujadilah :11. akan mampu menanamkan pada anaknya tentang pentingnya ilmu pengetahuan. adalah kekayaan yang teramat berharga.83 Maka orang tua akan menyadari tentang kewajiban untuk membina anaknya agar tidak hanya matang dalam bidang keagamaan tetapi juga matang dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. memperkaya. Dalam keluarga yang sakinah. seperti orang yang main film atau sinetron tetapi tidak mengenal skenario. sedang manajemen yang baik hanya ada pada keluarga yang terdapat di dalamnya ketentraman.

2001) Cet. h. Musibah dan fitnah akhirnya menjadi akrab dengan rumah tangga tersebut. 17 Ibid 30 Rafi’udin. Perlunya strategi untuk membina ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut adalah dalam rangka mengikis krisis IPTEK di kalangan umat Islam. baik 29 Ibid.. (Semarang: Inetrmasa. seperti orang yang masuk ke dalam lorong gua tanpa mengenali jalan-jalannya. 31 Oleh karena itu.30 Rafiu’din dalam bukunya “Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah)” mengatakan bahwa dalam pembinaan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak.84 membawa peta. perlu adanya strategi yang intensif dan terarah. sebuah keluarga yang dalam hal ini adalah orang tua mempunyai kewajiban dalam mengembangkan strategi yang intensif dan terarah kepada anak-anaknya.h. Ke-1. yakni memberikan stimulus dan motivasi kepada anak-anaknya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 65 31 . Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah).29 Keluarga yang semacam ini adalah sepanjang waktu diselimuti oleh kegelisahan. yaitu strategi yang dapat mengembangkan atas kerja dan etos IPTEK berdasarkan AlQur’an dan Sunnah Rasul.

dan berapa banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi saw yang 32 Ridha Salamah.. Ke-1.85 dengan mengajarkannya langsung di rumah. dari keluarga inilah lahir tokoh-tokoh besar di panggung sejarah. Hal ini seperti keluarganya Sayyidina Umar bin Khathab ra. 38 . et. Hal ini karena keluarga sakinah adalah keluarga yang menyadari akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Cet. dari keluarga semacam inilah akan tumbuh dan berkembang pemudapemuda yang dapat mengejar ketertinggalan umat Islam dalam bidang keilmuwan dan teknologi. h. Bangunan Keluarga dambaan. 2005). maka jelaslah bahwa keluarga sakinah mempunyai dampak yang positif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) kepada anak-anaknya. Orang-orang yang besar hanya akan lahir dari asuhan keluarga yang istimewa (sakinah). berapa banyak ayat AlQur’an dan hadits Nabi saw yang menyatakan akan pentingnya ilmu dan keutamaannya. yakni keluarga yang memilki cita-cita besar untuk menata dunia. Ajaran Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi yang terbelakang dan tertinggal dengan umat yang lain.32 Dari keterangan di atas. (Jakarta: Wadi Press. ataupun memasukkannya ke sokolah-sekolah yang berkualitas.el. Perhatikanlah orang-orang sekaliber Abdullah bin Umar dan Ummu Hafshah binti Umar Ummul Mukminin..

dan dengan ilmu manusia berbeda dengan hewan. bukan umat yang tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi . karena itulah manusia Allah bekali dengan akal agar manusia dapat mempelajari ayat-ayat Allah yang tertulis dan yang tidak tertulis (alam semesta). akan mampu menjadikan umat Islam sebagai umat yang maju dan terdepan.86 menyatakan ruginya orang yang tidak mempunyai ilmu. Dengan ilmu dunia dan akhirat dapat diperoleh. Keluarga yang di dalamnya terdapat pengetahuan tentang agama dan mampu menanamkan nilai-nilainya khususnya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya atau anggota keluarganya.

penulis akan berupaya menyimpulkan pembahasan tersebut. hukuman. Peranan orang tua (keluarga) yang di dalamnya penuh kasih sayang. yang berguna bagi kehidupannya di dalam maupun di luar keluarga. dan pemberian ganjaran yang sesuai dengan prinsip-pinsip Islam. Keberhasilan dan suksesnya orang tua dalam membangun keluarga yang sakinah akan membawa keluarga tersebut berhasil dan sukses di luar keluarga. Untuk itu. Kesimpulan Uraian yang telah disajikan pada bab-bab sebelumnya mengenai Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Kehidupan Keluarga yang Sakinah telah membawa penulis pada bagian akhir dari skripsi ini. keteladanan. sebagai berikut: 1. Cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan pembiasaan. Begitu juga sebaliknya kegagalan di dalam keluarga akan membawa kegagalan di luar keluarga.BAB V PENUTUP A. keakraban terhadap anak-anaknya atau anggota keluarga akan mudah mendidik anak-anaknya untuk dapat menjadi muslim yang berkualitas yang senantiasa berkarya dalam kehidupannya. 2. latihan. 87 .

dan juga dapat mempersiapkan keluarganya nanti menjadi keluarga yang penuh ketenangan dan kasih sayang (Sakinah Mawaddah Warahmah) dengan mengambil pelajaran dari keluarga orang tuanya atau keluarga orang lain. di antara saran-saran itu adalah: 1. keakraban.88 B. membaca buku-buku yang berkaitan dengan keluarga Sakinah. karena Nabi merupakan uswah (tauladan) dalam segala aspek kehidupan kita. Saran-saran Dalam memberikan saran-saran. ketenangan. atau membaca sejarah tentang keluarga Nabi saw. kesejahteraan. dan kasih sayang di dalam keluarga serta dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada anggota keluarga. Kepada para orang tua agar kiranya dapat menciptakan kenyamanan. Hendaknya kepada para pemuda dan pemudi yang belum menikah atau yang akan menikah agar mengutamakan wanita/laki-laki yang patuh dalam menjalankan agamanya sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. agar tercipta keluarga yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. 2. Dalam membina keluarga tentu yang dijadikan pegangan dan contoh adalah keluarga Nabi Muhammad saw. cara Nabi membina keluarga. Orang tua juga hendaknya memperhatikan tentang perkembangan anak-anaknya dalam hal menjalankan ajaran agama dan juga . penulis tunjukkan saran ini kepada pihakpihak yang mempunyai andil dalam membangun sebuah keluarga dan yang mempunyai andil dalam pembinaan akhlak seorang anak.

3. Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat.89 memperhatikan tentang keilmuan mereka baik yang sifatnya sementara (dunia) ataupun yang akan datang (akhirat). . hendaknya dapat memahami hal ini agar kelak ketika di sekolah para pendidik dapat bekerja sama dengan para orang tua murid tentang kendala-kendala yang dihadapi anak di sekolah. tetapi keluarga-keluarga yang ada di masyarakat juga ia perhatikan demi terwujudnya masyarakat madani yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur”. 4. Oleh karena itu pemerintah hendaknya memperhatikan kesejahteraan keluarga yang ada di bawah naungan. tidak hanya pada keluarganya sendiri. Kepada para segenap aparat pemerintah atau tokoh masyarakat agar mempunyai peranan dalam hal ini. Dan ini harus dilakukan sedini mungkin agar kelak nanti si anak akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik di kemudan hari. Bagi pihak guru atau pendidik. yang bila keluarga itu rusak maka rusak pula masyarakat itu.

87 .BAB V PENUTUP A. dan pemberian ganjaran yang sesuai dengan prinsip-pinsip Islam. yang berguna bagi kehidupannya di dalam maupun di luar keluarga. Untuk itu. keakraban terhadap anak-anaknya atau anggota keluarga akan mudah mendidik anak-anaknya untuk dapat menjadi muslim yang berkualitas yang senantiasa berkarya dalam kehidupannya. hukuman. penulis akan berupaya menyimpulkan pembahasan tersebut. keteladanan. 2. Peranan orang tua (keluarga) yang di dalamnya penuh kasih sayang. Begitu juga sebaliknya kegagalan di dalam keluarga akan membawa kegagalan di luar keluarga. Kesimpulan Uraian yang telah disajikan pada bab-bab sebelumnya mengenai Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Kehidupan Keluarga yang Sakinah telah membawa penulis pada bagian akhir dari skripsi ini. sebagai berikut: 1. latihan. Cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan pembiasaan. Keberhasilan dan suksesnya orang tua dalam membangun keluarga yang sakinah akan membawa keluarga tersebut berhasil dan sukses di luar keluarga.

88 B. Hendaknya kepada para pemuda dan pemudi yang belum menikah atau yang akan menikah agar mengutamakan wanita/laki-laki yang patuh dalam menjalankan agamanya sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. penulis tunjukkan saran ini kepada pihakpihak yang mempunyai andil dalam membangun sebuah keluarga dan yang mempunyai andil dalam pembinaan akhlak seorang anak. Orang tua juga hendaknya memperhatikan tentang perkembangan anak-anaknya dalam hal menjalankan ajaran agama dan juga . dan kasih sayang di dalam keluarga serta dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada anggota keluarga. ketenangan. di antara saran-saran itu adalah: 1. cara Nabi membina keluarga. atau membaca sejarah tentang keluarga Nabi saw. keakraban. karena Nabi merupakan uswah (tauladan) dalam segala aspek kehidupan kita. dan juga dapat mempersiapkan keluarganya nanti menjadi keluarga yang penuh ketenangan dan kasih sayang (Sakinah Mawaddah Warahmah) dengan mengambil pelajaran dari keluarga orang tuanya atau keluarga orang lain. agar tercipta keluarga yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. Kepada para orang tua agar kiranya dapat menciptakan kenyamanan. 2. Saran-saran Dalam memberikan saran-saran. Dalam membina keluarga tentu yang dijadikan pegangan dan contoh adalah keluarga Nabi Muhammad saw. kesejahteraan. membaca buku-buku yang berkaitan dengan keluarga Sakinah.

tetapi keluarga-keluarga yang ada di masyarakat juga ia perhatikan demi terwujudnya masyarakat madani yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur”.89 memperhatikan tentang keilmuan mereka baik yang sifatnya sementara (dunia) ataupun yang akan datang (akhirat). Oleh karena itu pemerintah hendaknya memperhatikan kesejahteraan keluarga yang ada di bawah naungan. Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. hendaknya dapat memahami hal ini agar kelak ketika di sekolah para pendidik dapat bekerja sama dengan para orang tua murid tentang kendala-kendala yang dihadapi anak di sekolah. 3. Dan ini harus dilakukan sedini mungkin agar kelak nanti si anak akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik di kemudan hari. . Kepada para segenap aparat pemerintah atau tokoh masyarakat agar mempunyai peranan dalam hal ini. 4. yang bila keluarga itu rusak maka rusak pula masyarakat itu. Bagi pihak guru atau pendidik. tidak hanya pada keluarganya sendiri.

. Bandung. Jakarta: Bumi Aksara. 1993 Amin. Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Ghazali. Akhlak Muslim.. Ke-7 Ahmadi. et. 1975 Ali. Jakarta: Bulan Bintang. Jakarta: CV. Al-Mu’jam Al-Wasith. Cet. Oemar. 1999.Ed. Cet. Kesehatan Mental. Cet. 1972 A. Athiyah. Drs. Hasyimi. Prof. Ibrahim. Partanto. Kunci Keutuhan Rumah Tangga (Keluarga yang Sakinah). M. Cet. H. H. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Bandung: Aksara. Mesir: Darul Ma’arif. Ke-1 Burhanudin.DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an al-Karim Abrasyi. Yusak. Ke-5 Bakrie. Pedoman Ilmu Jaya. Cet. 1996. 2004. Ke-1 Arifin. 1975. Ke-1 Bakri. Sidiq Nazar. Surabaya: Arkola. Muhammad. 1986. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Bandung: Pustaka Setia. Cet. Abu. Cet. dr. 1994. Ahmad. Prof.. Ke1 90 . . Drs. Ke-1 Anis. Ethika (Ilmu Akhlak).el. Jakarta: Penasehat Pustaka Amami. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Bulan Bintang. 2000. Ke-2 Basya. Al. Muhammad. Cet. Kamus Ilmiah Populer. Semarang: Ramadany. 1993. Isyan. Ilmu Pendidikan Islam. Pius.

Imam. Cet.3 Nata. Sistem Ethika Islam. 2001. Bandung: Pustaka Hidayah. Bandung: MQS. 2001. Publishing. Cet. Ke-2 Ha’iri. 2005. 1983. Ilmu komunikasi Suatu Pengantar. Muhamamd. 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak. 1995 Gymnastiar. 1993. Bandung: Remaja Rosdakarya. Cet.91 Dalyono. Jakarta: Pustaka Panjimas. Jakarta: Bulan Bintang. Kesehatan Mental dalan Keluarga. Jakarta: PT. 1996. Jakarta: Pustaka Antara. M.. Cet. Mukasyafatul Qulub  (Rahasia Ketajaman Mata hati). Cet. Ke-16 ____________. Ke-5 . Cet. (Alih Bahasa: Fatihuddin Abul Yasin). Ilmu Jiwa Agama. Ke-1 Djatmika. Ke-1 Ghazali. Muhammad. Cet. Deddy. Cet. Prof. 2003. . Tuntunan Akhlak. Ke-3 Dimas. 2003. Nur ‘Aini. Ke.˶ Al. Jakarta: Eska Media. RajaGrafindo Persada. Jakarta: Bulan Bintang. Cet. Surabaya: Terbit Terang. Rahmat.Ali. Syekh. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara). Zakiyah. Akhlak Tasawuf. Psikologi Pendidikan. Muhammad Rasyid. Ke-4 Hasan. Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku. Cet. Cet. Ke. HJ. Semarang: Wicaksana. 2004. Ke-3 Ghazali. DR. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Fadhlullah. Al. 2005. Ke-2 Daradjat. Cet. Ke-12 Mulyana. Jakarta: Rineka Cipta. Membangun Keluarga. (Kata-kata Mutiara ‘Ali bin Abi Thalib. Abdullah. Akhlak Seorang Muslim. Abudin.3 Iskandar.

Prof. Cet. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pimpinan Pendidikan). 100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim.. Jakarta: PT: Hikmat Syahid Indah. Cet.. Cet. 1988. Cet. Abdul Hakam. 2001. Drs. Dr. et. Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). 43 langkah Mengakrabkan Orang Tua dengan Anak. Ke-1 Thalib. Bandung: Irsyad Baitus Salam. 1984. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana. Zaitunah. 2005. Paras. Ke-1 Retno. DR. 2001. Wasty. Ke-3 Subhan. Ke-1 UIN Syarif Hidayatullah. 1990. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Membina Keluarga Sakinah. Ke-1 Wahhab.. H. Teis dan Disertasi IAIN Syarif Hidayatullah. S. Qur’an Hadits (Kelas 3). Abdullah Nashih. Risalah Akhlak. et. Ke-1 Soemanto. 2004. Semarang: Inermasa. Ke-2 Thaib. Solo: At-Tibyan . al. Chatibul. Jawa Tengah: Menara Kudus. Drs. Cet.92 Rafiu’din. Mengubah Anak pemalu Menjadi Pemberani. . 36 (September.. Ciputata: Wadi Press. Menuju Keluarga Sakinah. Hj. Bina Usaha. 1996. Cet. Cet. Cet. Bangunan Keluarga Dambaan (Panduan Membangun keluarga). Cet. Jakarta: Rineka Cipta. 2002 Ulwan. Ridha. Yogyakarta: CV. Ke-1 Umam. Abdul Latif. Ismail. Muhammad..al. 2001..Ag... Pedoman Penulisan Skripsi. Bandung: Asy-Syifa’. Tarbiyatul Aulad (Pedoman Pendidikan dalam Islam). Ke-1 Salamah. 2006) Sha’idi.

Drs. al. Syahmini.. 1991. Cet. tentang akhlakul karimah menurut Al-Qur’an Ya’qub. Ke-6 Zaini.. Pendidikan Anak Dalam Islam.. 2004. Cet. Ethika Islam. Seluk-Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. Jakarta: Kalam Mulia. 1993. Diponogoro. Ke-3 Zainudin. Bandung: CV. et. H. Jakarta: Bumi Aksara. 2004. Drs.. com.93 WWW. Cet. Ke-1 . qur’an digital. Hamzah..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful