BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah reumatoid arthritis. Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia. Dari berbagai masalah kesehatan itu ternyata gangguan muskuloskeletal menempati urutan kedua 14,5% setelah penyakit kardiovaskuler dalam pola penyakit masyarakat usia >55 tahun (Household Survey on Health, Dept. Of Health, 1996). Dan berdasarkan survey WHO di Jawa ditemukan bahwa reumatoid arthritis menempati urutan pertama (49%) dari pola penyakit lansia (Boedhi Darmojo et. al, 1991). Artritis reumatoid merupakan kasus panjang yang sangat sering diujikan. Bisanya terdapat banyak tanda- tanda fisik. Diagnosa penyakit ini mudah ditegakkan. Tata laksananya sering merupakan masalah utama. Insiden pucak dari artritis reumatoid terjadi pada umur dekade keempat, dan penyakit ini terdapat pada wanita 3 kali lebih sering dari pada laki- laki. Terdapat insiden familial ( HLA DR-4 ditemukan pada 70% pasien ). Artritis reumatoid diyakini sebagai respon imun terhadap antigen yang tidak diketahui. Stimulusnya dapat virus atau bakterial. Mungkin juga terdapat predisposisi terhadap penyakit. Berdasarkan hal tersebut kelompok tertarik untuk membahas tentang asuhan keperawatan di komunitas dengan reumatoid arthritis. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang maka dapat dirumuskan suatu masalah “Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Komunitas dengan Reumatoid Arthritis”.

1.3 Tujuan 1. Tujuan Umum Mampu Memahami dan mendapatkan gambaran tentang Asuhan Keperawatan Komunitas dengan Reumatoid Arthritis sesuai dengan standart keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan. 2. Tujuan Khusus Pada tujuan khusus diharapkan mampu melaksanakan standart keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan meliputi: 1) Mendiskripsikan pengkajian komunitas dengan masalah utama Reumatoid Arthritis. 2) Menentukan masalah keperawatan komunitas dengan Reumatoid Arthritis. 3) Menyusun diagnosa keperawatan komunitas dengan Reumatoid Arthritis. 4) Menyusun rencana keperawatan dengan tujuan sesuai dengan diagnosa keperawatan komunitas dengan Reumatoid Arthritis.

2

BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Konsep Keperawatan Kesehatan Komunitas 2.1.1 Pengertian Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan, penyempumaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Keperawatan kesehatan komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan pendekatan pada kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan keperawatan (Spradley, 1985; Logan and Dawkin, 1987). Keperawatan kesehatan komunitas menurut ANA (1973) adalah suatu sintesa dari praktik kesehatan masyarakat yang dilakukan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat. Praktik keperawatan kesehatan komunitas ini bersifat menyeluruh dengan tidak membatasi pelayanan yang diberikan kepada kelompok umur tertentu, berkelanjutan dan melibatkan masyarakat. 2.1.2 Paradigma Keperawatan Komunitas Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat komponen pokok, yaitu manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins, 1987). Sebagai sasaran praktik keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat.

3

1. Individu Sebagai Klien Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurangnya kemauan menuju kemandirian pasien atau klien. 2. Keluarga Sebagai Klien Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri. Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu fokus pelayanan keperawatan yaitu : a. Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat. b. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, memperbaiki ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam kelompoknya sendiri. c. Masalah kesehatan didalam keluarga saling berkaitan. Penyakit yang diderita salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga tersebut. 3. Masyarakat Sebagai Klien Masyarakat memiliki ciri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur oleh adat istiadat, norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat mengikat semua warga. Lingkungan dalam paradigma keperawatan berfokus pada lingkungan

masyarakat, dimana lingkungan dapat mempengaruhi status kesehatan manusia. Lingkungan disini meliputi lingkungan fisik, psikologis, sosial dan budaya dan lingkungan spiritual.

4

di panti dan di masyarakat.2. 1. keluarga serta masyarakat. 2) Meningkatnya kemampuan individu. 2. Tujuan Umum Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara meyeluruh dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal secara mandiri.1. 6) Terlayaninya kasus-kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi yang memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan di rumah dan di Puskesmas. 5) Tertanganinya kasus-kasus yang memerlukan penanganan tindaklanjut dan asuhan keperawatan di rumah. 3) Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlu¬kan pembinaan dan asuhan keperawatan. Tujuan khusus 1) Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat. 5 . 7) Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk menuju keadaan sehat optimal. keluarga dan kelompok didalam konteks komunitas serta perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat dan mempertimbangkan masalah atau isu kesehatan masyarakat yang dapat mempengaruhi individu. keluarga. 4) Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan pembinaan dan asuhan keperawatan di rumah.3 Tujuan Keperawatan Kesehatan Komunitas Keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan sebagai upaya dalam pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan keperawatan langsung (direction) terhadap individu. kelompok dan masyarakat untuk melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah keperawatan.

Perawat memberikan asuhan keperawatan kepada individu yang mempunyai masalah kesehatan tertentu (misalnya TBC. dan kelompok yang beresiko tinggi seperti keluarga penduduk di daerah kumuh. mengambil keputusan untuk mengatasi masalah kesehatan.2. Keluarga dengan resiko tinggi. keluarga. penyakit kronis menular yang tidak bisa diintervensi oleh program. ibu hamil d1l) yang dijumpai di poliklinik. yaitu keluarga dengan: ibu hamil yang belum ANC. keluarga dengan ibu hamil resiko tinggi seperti perdarahan. Sasaran kegiatan adalah keluarga dimana anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan dirawat sebagai bagian dari keluarga dengan mengukur sejauh mana terpenuhinya tugas kesehatan keluarga yaitu mengenal masalah kesehatan. Puskesmas dengan sasaran dan pusat perhatian pada masalah kesehatan dan pemecahan masalah kesehatan individu. Tingkat Keluarga. Prioritas pelayanan Perawatan Kesehatan Masyarakat difokuskan pada keluarga rawan yaitu : a. penyakit kronis tidak menular atau keluarga dengan kecacatan tertentu (mental atau fisik). daerah terisolasi dan daerah yang tidak terjangkau termasuk kelompok bayi. menciptakan lingkungan yang sehat dan memanfaatkan sumber daya dalam masyarakat untuk meningkatkan kesehatan keluarga. hipertensi. Menurut Anderson (1988) sasaran keperawatan komunitas terdiri dari tiga tingkat yaitu : 1.4 Sasaran Keperawatan Kesehatan Komunitas Sasaran keperawatan komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk individu. Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan. balita tertentu. infeksi.1. seperti anemia gizi be-rat (HB kurang dari 8 gr%) ataupun Kurang Energi Kronis (KEK). ibu nifas yang persalinannya ditolong oleh dukun dan neonatusnya. keluarga dengan balita dengan BGM. balita dan ibu hamil. Tingkat Individu. memberikan perawatan kepada anggota keluarga. penyakit endemis. 2. yaitu keluarga dengan ibu hamil yang memiliki masalah gizi. keluarga dengan neonates 6 . b.

4) Perawat sebagai provider dan klien sebagai konsumer pelayanan kesehatan. Keluarga dengan tindak lanjut perawatan 3. keluarga dengan usia lanjut jompo atau keluarga dengan kasus percobaan bunuh diri. kuratif. 2) Upaya promotif dan preventif adalah upaya pokok tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Falsafah keperawatan memandang keperawatan sebagai pekerjaan yang luhur dan manusiawi. olahraga teratur. c. kelompok dan masyarakat dengan melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan. 2. pemeliharaan kesehatan perorangan. peningkatan gizi. pemeliharaan kesehatan lingkungan.5 Ruang Lingkup Keperawatan Komunitas Keperawatan komunitas mencakup berbagai bentuk upaya pelayanan kesehatan baik upaya promotif. rekreasi dan pendidikan seks. Pembinaan desa atau masyarakat bermasalah 2. Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu. Pembinaan kelompok khusus b. Penerapan falsafah dalam keperawatan kesehatan komunitas. preventif.BBLR. a.1. maupun resosialitatif. menjalin suatu hubungan yang saling mendukung dan mempengaruhi perubahan dalam kebijaksanaan dan pelayanan kesehatan.nilai yang menjadi pedoman untuk mencapai suatu tujuan atau sebagai pandangan hidup. keluarga.1. 3) Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien berlangsung secara berkelanjutan. Tingkat Komunitas Dilihat sebagai suatu kesatuan dalam komunitas sebagai klien. rehabilitatif.6 Falsafah Keperawatan Kesehatan Komunitas Falsafah adalah keyakinan terhadap nilai . yaitu: 1) Pelayanan keperawatan kesehatan komunitas merupakan bagian integral dari upaya kesehatan yang harus ada dan terjangkau serta dapat di terima oleh semua orang. 7 .

7 Karakteristik Keperawatan Komunitas Keperawatan komunitas memiliki beberapa karakteristik. 8 . klien memiliki otonomi yang tinggi. pelayanan keperawatan kesehatan komunitas dilakukan bekerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat berkelanjutan serta melakukan kerjasama lintas program dan lintas sektoral.8 Prinsip Pemberian Pelayanan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada saat memberikan pelayanan kesehatan. perawat secara langsung dapat mengkaji dan mengintervensi klien dan lingkungannya dan pelayanan didasarkan pada kewaspadaan epidemiologi. la harus ikut mendorong. lingkungannya termasuk lingkungan sosial. 2. 2. asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan intervensi. pelayanan keperawatan komunitas juga harus memperhatikan prinsip keadilan dimana tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas dari komunitas itu sendiri.1. 6) Individu dalam suatu masyarakat ikut bertanggungjawab atas kesehatannya. yaitu kemanfaatan dimana semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat yang besar bagi komunitas. fokus perhatian dalam pelayanan keperawatan lebih kearah pelayanan pada kondisi sehat. klien dan. perawat komunitas harus rnempertimbangkan beberapa prinsip. fokus pelayanan utama adalah peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. ekonomi serta fisik mempunyai tujuan utama peningkatan kesehatan. pelayanan memerlukan kolaborasi interdisiplin. dan berpartisipasi secara aktif dalam pelayanan kesehatan mereka sendiri.1. asuhan keperawatan diberikan secara komprehensif dan berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi klien/masyarakat. medidik.5) Pengembangan tenaga keperawatan kesehatan masyarakat direncanakan berkesinambungan. yaitu pelayanan keperawatan yang diberikan berorientasi kepada pelayanan kelompok.

Tanggung Jawab Perawat Kesehatan Komunitas Claudia M. 9 .10. pencegahan. mencegah dan melaporkan adanya kelalaian atau penyalahgunaan (neglect & abuse). sesuai dan adekuat.9. memberikan pembelaan untuk mendapatkan kehidupan dan pelayanan kesehatan yang sesuai standart.2. Perawat selalu mengkaji dan memotivasi belajar klien. mempertahankan lingkungan yang sehat. 2. Kolaborator Perawat komunitas juga harus bekerjasama dengan pelayanan rumah sakit atau anggota tim kesehatan lain untuk mencapai tahap kesehatan yang optimal. mengurangi fragmentasi. serta menjamin pelayanan keperawatan yang berkualitas dan melaksanakan riset keperawatan.1. Pendidik (Educator) Perawat memiliki peran untuk dapat memberikan informasi yang memungkinkan klien membuat pilihan dan mempertahankan autonominya. melaksanakan pelayanan mandiri serta berpartisipasi dalam mengembangkan pelayanan profesional. mengajarkan upaya-upaya peningkatkan kesehatan. kolaborasi dalam mengembangkan pelayanan kesehatan yang dapat diterima.Smith & Frances A Mauren (1995) menjelaskan bahwa tanggung jawab perawat komunitas adalah menyediakan pelayanan bagi orang sakit atau orang cacat di rumah mencakup pengajaran terhadap pengasuhnya. identifikasi standar kehidupan yang tidak adekuat atau mengancam penyakit/injuri serta melakukan rujukan. Advokat Perawat memberi pembelaan kepada klien yang tidak dapat bicara untuk dirinya. 2. Peran Perawat Komunitas 1. Manajemen Kasus Perawat memberikan pelayanan kesehatan yang bertujuan menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas. serta meningkatkan kualitas hidup klien. 3. penyakit dan injuri.1. 4.

2000).1998). 1999). keluarga. Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut (Susan Martin Tucker.2 Konsep Reumatoid Arthritis 2. keluarga. dan masyarakat terutama dalam merubah perilaku dan pola hidup yang erat kaitannya dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan.1 Definisi Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke.5.2. Peneliti Penelitian dalam asuhan keperawatan dapat membantu mengidentifikasi serta mengembangkan teori-teori keperawatan yang merupakan dasar dari praktik keperawatan. penurunan mobilitas. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. Perawat dituntut berperilaku sehat jasmani dan rohani dalam kehidupan sehari-hari. Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut. kelompok. Artritis Reumatoid (AR) adalah kelainan inflamasi yang terutama mengenai mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan dengan nyeri persendian. kaku sendi. 2. dan masyarakat sesuai dengan peran yang diharapkan. Baughman. Pembaharu (Change Agent) Perawat kesehatan masyarakat dapat berperan sebagai agen pembaharu terhadap individu. progesif. dan keletihan. cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris (Rasjad Chairuddin. 7. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur (Felson dalam Budi Darmojo. Panutan (Role Model) Perawat kesehatan komunitas seharusnya dapat menjadi panutan bagi setiap individu. (Diane C. hal. 2001: 1248). 10 . Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non-bakterial yang bersifat sistemik. 165 ). kelompok. 6.

2. Penyebab infeksi diduga bakteri. Infeksi Dugaan adanya infeksi timbul karena permulaan sakitnya terjadi secara mendadak dan disertai tanda-tanda peradangan. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetic. Radikal bebas Contohnya radikal superokside dan lipid peroksidase yang merangsang keluarnya prostaglandin sehingga timbul rasa nyeri.2. hormonal dan faktor system reproduksi. yang menyangkut persendian. dan lutut. Ditandai dengan sakit dan bengkak pada sendi-sendi terutama pada jari-jari tangan. Artritis reumatoid ini merupakan bentuk artritis yang serius. mikoplasma. lingkungan. 2001) Beberapa faktor di bawah ini diduga berperan dalam timbulnya penyakit artritis rheumatoid. peradangan dan pembengkakan. 6. disebabkan oleh peradangan kronis yang bersifat progresif. 5. 1. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri. Hormon seks Faktor keseimbangan hormonal diduga ikut berperan karena perempuan lebih banyak menderita penyakit ini dan biasanya sembuh sewaktu hamil. Faktor genetik dan lingkungan Terdapat hubungan antara HLA-DW4 dengan AR seropositif yaitu penderita mempunyai resiko 4 kali lebih banyak terserang penyakit ini. Penyebab artritis reumatoid masih belum diketahui walaupun 11 . 3. 2.2 Etiologi Penyebab pasti reumatod arthritis tidak diketahui. atau virus. mikoplasma dan virus (Lemone & Burke. pergelangan tangan. Heat Shock Protein (HSP) HSP merupakan sekelompok protein berukuran sedang yang dibentuk oleh tubuh sebgai respons terhadap stres. tetapi terbanyak antara umur 35-45 tahun. Umur Penyakit ini terjdai pada usia 20-60 tahun. 4. siku.

Namun pada orang Amerika. kongesti vaskular. protease. terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. Proses ini diduga adalah bagian dari respon autoimun terhadap antigen yang diproduksi secara lokal Destruksi jaringan juga terjadi melalui kerja panus reumatoid. Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian. ligamen. Sementara ada orang yang sembuh dari 12 . Terdapat kaitan dengan penanda genetik seperti HLA-DW4 (Human Leukocyte Antigens) dan HLA-DR5 pada orang Kaukasia. Peradangan yang berkelanjutan. Pertama adalah destruksi pencernaan oleh produksi. eksudat febrin dan infiltrasi selular. sinovial menjadi menebal. dan Indian Chippewa hanya ditentukan kaitan dengan HLA-DW4. karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). kolagen. 2. Destruksi jaringan sendi terjadi melalui dua cara. dan enzim hidrolitik lainnya. Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi. kolagenase. Ditandai dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat. Enzim ini memecah kartilago. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus.3 Patofisiologi Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema. serta dilepaskan bersama – sama dengan radikal O2 dan metabolit asam arakidonat oleh leukosit polimorfonuklear dalam cairan sinovial. Panus merupakan jaringan granulasi atau vaskuler yang terbentuk dari sinovium yang meradang dan kemudian meluas ke sendi. Pannus masuk ke tulang subchondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer. atau penutup yang menutupi kartilago. Kartilago menjadi nekrosis. dan proteoglikan melalui produksi enzim oleh sel di dalam panus tersebut. Di sepanjang pinggir panus terjadi destruksi. tendon. Jepang. Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.2. Afrika.banyak hal mengenai patogenesisnya telah terungkap. Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. dan tulang pada sendi. Penyakit ini tidak dapat ditunjukkan memiliki hubungan pasti dengan genetik.

merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi.2. anoreksia. Deformitas. yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu berkurang dari satu jam. deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan 13 . Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tei tulang. Pergeseran ulnar atau deviasi jari. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya. 3.serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. 5. Gejala-gejala konstitusional. terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid) gangguan akan menjadi kronis yang progresif. Otot akan terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Pada artritis reumatoid. Enzim-enzim tersebut akan memecah kogen sehingga terjadi edema. 4. Artritis erosif. Hampir semua sendi diartrodial dapat diserang. proliferasi membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. berat badan menurun dan demam. reaksi autoimun (yang sudah dijelaskan sebelumnya) terutama terjadi dalam jaringan sinovial. dapat bersifat generalisata tetapi terutama menyerang sendi-sendi. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer: termasuk sendi-sendi di tangan. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam. subluksasi sendi metekarpofalangeal. namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalang distal. Yang lain. Kerusakan jaringan penungjang sendi meningkatdengan pejalanan penyakit. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi. 2. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis. 2. misalnya lelah. 1.4 Gambaran Klinis Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada seseorang artritis reumatoid.

Diantara perubahan deformitas yang berat terdapat otot yang tidak digunakan dalam “snuffbox” anatomik (antara ibu jari dan jari telunjuk). 7.yangsering dijumpai. artritis reumatoid juga dapat menyerangorgan-organ lain di luar sendi. dan pembuluh darah dapat rusak. walaupun demikian nodula-nodula ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. paru-paru (pleuritis). Terlihat poliartritis pada sendi tangan. Jantung (perikarditis). Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metersal yang timbul sekunder dari subluksasi metetersal. Manifestasi dekstra-artikular. Nodul-nodul reumatoid: adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa pasien artritis reumatoid. mata. 6. Adanya nodula-nodula ini biasanya merupakan suatu petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat. Gbr. Sendi-sendi yang besar juga dapa teserang dan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerakan ekstensi. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan. 14 . 1 Tangan reumatoid dengan boutonniere dan deformitas leher angsa.

berat badan turun. anoreksia.2. Sendi mungkin mengalami ankilosis disertai kehilangan kemampuan bergerak yang total. Bila ditinjau dari stadium. Paling sering mengenai sendi kecil tangan. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya tidak berlangsung lama. nyeri pada saat istirahat maupun saat bergerak. o Lambat laun membengkak. lemah. deviasi jari-jari. 15 . panas merah. kaki. Sendi yang lebih besar mungkin juga terserang yang disertai penurunan kemampuan fleksi ataupun ekstensi. 2. o Artritis erosif à sifat radiologis penyakit ini.6 Tanda dan gejala sistemik Lemah. maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu: 1) Stadium sinovitis Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai adanya hiperemi. deformitas b€outonniere dan leher angsa. rahang dan bahu.2. kasus ini sering menyerang bagian siku (bursa olekranon) atau sepanjang permukaan ekstensor lengan bawah. dan kekakuan. bengkak. pergelangan tangan. o Poli artritis simetris sendi perifer à Semua sendi bisa terserang. lutut.2. o Rematoid nodul à merupakan massa subkutan yang terjadi pada 1/3 pasien dewasa. panggul. pergelangan tangan.5 Tanda dan gejala setempat o Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning stiffness) dan gerakan terbatas. anemia. subluksasi sendi metakarpofalangea. edema karena kongesti. o Deformitas à pergeseran ulnar. Peradangan sendi yang kronik menyebabkan erosi pada pinggir tulang dan ini dapat dilihat pada penyinaran sinar X. demam tachikardi. siku.. kekakuan berlangsung tidak lebih dari 30 menit dan dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari. meskipun sendi yang lebih besar seringkali terkena juga. bentuknya oval atau bulat dan padat.

6. 3) Stadium deformitas Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali. Selain tanda dan gejala tersebut diatas terjadi pula perubahan bentuk pada tangan yaitu bentuk jari swanneck. perubahan apda sendi dapat minor. 3. Kekakuan pagi hari (lamanya paling tidak satu jam) Artritis pada tiga atau lebih sendi Artritis sendi-sendi jari-jari tangan Artritis yang simetris Nodul reumatoid Faktor reumatoid dalam serum Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang) Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabikla sekurang-kurangnya empat dari tujuh kriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang disebutkan terdahulu harus sudah berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu. Perubahan pada sendi diawali adanya sinovitis. 5. Kriteria diagnostik yang dipakai adalah sebagai berikut: 1. dan terakhir ankilosis tulang. 4.2) Stadium destruksi Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon. 16 . ankilosis fibrosa. deformitas dan ganggguan fungsi secara menetap. 2. Diagnosis tidak hanya bersandar pada satu karakteristik saja tetapi berdasarkan pada suatu evaluasi dari sekelompok tanda dan gejala.7 Kriteria Diagnostik Diagnostik artritis reumatoid dapat menjadi suatu proses yang kompleks. berlanjut pada pembentukan pannus. 7. Pada tahap dini mungkin hanya akan ditemukan sedikit atau tidak ada uji laboratorium yang positif. dan gejala gejalanya dapat hanya bersifat sementara.2. 2.

2) Anemia normositer atau mikrositer.8 Pemeriksaan Penunjang Tidak banyak berperan dalam diagnosis reumatoid. Bekuan yang berat dan menurunnya viskositas menggambarkan penurunan kadar asam hyaluronat. kadarnya lebih tinggi dari serum. keadaain ini dikenal sebagai Felty’s syndrome. 5) Rheumatoid factor positif. derajat kekeruhan menggambarkan peningkatan jumlah sel darah putih.000 – 50.2. didominasi oleh sel neutrophil (65%).000/mm3). 95% + pada penderita dengan nodul subkutan. 4) Glukosa: normal atau rendah. 6) Penurunan kadar komlemen menggambarkan pemakaiannya pada reaksi imunologis. b) Darah tepi 1) Leukosit: normal atau meningkat (<12.2. Leukosit menurun bila terdapat splenomegali. 3) Leukosit 5. fibrin clot menggambarkan kronisitas. Pemeriksaan laboratorium a) Cairan synovial 1) Kuning sampai putih.75% penderita. tipe penyakit kronis.000/mm3. 1. 3) Antinuclear antibodies positif (10%-50% penderita) dengan titer yang lebih rendah dibandingkan dengan Lupus Eritematosus Sistemik. berbanding terbalik dengna kadar komplemen cairan sinovium. 17 . 2) Anti CCP antibodies positif telah dapat ditemukan pada AR dini. namun dapat menyokong bila terdapat keraguan atau untuk melihat prognosis gejala pasien. 8) Phagocites – neutrophils yang “difagosit” oleh kompleks immun. menggambarkan adanya proses inflamasi. 7) Peningkatan kadare IgG dan kompleks imun. c) Pemeriksaan Sero-imunologi 1) Rheumatoid factor + (IgM) . 2) Mucin clot.

Secara radiologik didapati adanya tanda-tanda dekalsifikasi (sekurangkurangnya) pada sendi yang terkena. Perhatikan penurungan jarak sendi (panah hitam). 7) Meningkatnya kadar γ-gobulin menggambarkan kenaikan/akselerasi dari katabolisme protein pada penyakit kronis. 6) Meningkatnya kadar alpha1 dan alpha2 globulin sebagai acute phase reactans. erosi kaput metakarpal (panah putih kecil) dan tejadi deformitas sendi (panah putih besar). 2 Radiogram tangan reumatoid. Terjadi erosi tulang pada tepi sendi dan penurunan densitas tulang. menurunnya kadar komplemen dapat terjadi pada keadaan penyakit dengan gejala ekstra artikular yang berat seperti vaskulitis. 5) Peningkatan CRP. 8) Kadar komplemen serum normal. 18 . menggambarkan aktivitas penyakit. Gbr. Pemerikasaan Gambaran Radiologik Pada awal penyakit tidak ditemukan. tetapi setelah sendi mengalami kerusakan yang berat dapat terlihat penyempitan ruang sendi karena hilangnya rawan sendi.4) Anti-DNA antibodies negatif. 9) Adanya circulating immune comlexes – serta ditemukan pada penyakit dengan manifestasi sistemik. 2. fibrinogen dan laju endap darah. Perubahan ini sifatnya tidak reversibel.

tetapi tidak bisa mengubah perkembangan penyakit AR. Beberapa jenis obat yang digunakan pada AR antara lain sebagai berikut: 1. b.2. Ibuprofen. ahli terapi okupasional. Pengobatan kortikosteroid sistemik jangka panjang hanya diberikan kepada 19 . perawat.9 Penatalaksanaan 1. saat ini pengobatan pasa pasien AR ditujukan untuk: a. 2. ahli farmasi. Piroksikam.2. Pengobatan Medis Belum ada penyembuhan untuk AR. ahli gizi dan ahli psikologi. ahli fisioterapi. Dalam pengobatan AR umumnya selau dibutuhkan pendekatan multidisipliner. Suatu tim yang idealnya terdiri dari dokter. Contoh obat golongan ini yaitu Asetosal. sehingga memerlukan penanganan seumur hidup pula. Kortikosteroid bisa digunakan secara sistemik (tablet. Mengembalikan kelainan fungsi organ dan persendian yang terlibat agar sedapat mungkin menjadi normal kembali. suntikan IM) maupun suntikan lokal di persendian yang sakit sehingga rasa nyeri dan pembengkakan hilang secara cepat. Walaupun hingga kini belum berhasil didapatkan suatu cara pencegahan dan pengobatan AR yang sempurna. Indometasin. Golongan obat ini tidak dapat melindungi rawan sendi maupun tulang dari proses kerusakan akibat penyakit AR. Asam flufenamat. Kortikosteroid Obat ini berkhasiat sebagai antiradang dan penekan reaksi imun (imunosupresif). Penyakit biasanya berlangsung seumur hidup. Fenilbutason. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) Obat ini diberikan sejak mulai sakit untuk mengatasi nyeri sendi akibat proses peradangan. Natrium Diclofenak. pekerja sosial. semuanya memiliki peranan masing-masing dalam pengelolaan pasien AR baik dalam bidang edukasi maupun penatalaksanaan pengobatan penyakit ini. c. Menghilangkan gejala inflamasi aktif baik lokal maupun sistemik Mencegah terjadinya destruksi jaringan Mencegah terjadinya deformitas dan memelihara fungsi persendian agar tetap dalam keadaan baik d. dan Naftilakanon.

Semua bahan ini di rebus dalam air sebanyak 2 gelas. vitamin C. D-penisilamin. Sulfazalazine. Beberapa ahli bahkan menganjurkan pemberian DMARDs. 5. d. Methothexate. toksik pada ginjal dan hati. Contoh obat golongan ini yaitu Klorokuin. b. daun murbei 1 genggam. Obat imunosupresif Obat ini jarang digunakan karena efek samping jangka panjang yang berat seperti timbulnya penyakit kanker. a. dan bidara upas 1 jari. Cyclosporin-A dan Lefonomide. oabt golongan ini harus segera diberikan. AST). Daun seledri sebanyak 10 batang dimakan sebagai lalap. Bila penggunaan satu jenis DMARDs dengan dosis adekuat selama 3-6 bulan tidak menampakkan hasil. c. kemudian disaring untuk diminum airnya. dan selenium. 3. Suplemen antiokdsidan Vitamin dan mineral yang berkhasiat antioksidan dapat diberikan sebagai suplemen pengobatan seperti beta karoten. baik sebagai obat tunggal maupun kombinasi dengan DMARDs lain pada tahap dini.penderita dengan komplikasi berat dan mengancam jiwa. tawas ½ sendok makan. 4. daun meniran 7 batang. dan air rebusan sirih untuk merendam/mengompres bagian badan yang terserang rheumatik. vitamin E. seperti radang pembuluh darah (vaskulitis). temulawak 10 potong. 20 . Hidroksiklorokuin. Gunakan campuran garam 1 sendok makan. baru kemudian dikurangi secara bertahap bila aktivitas AR telah terkontrol. Diusahakan agar badan dalam keadaan hangat. Garam Emas (Auro Sodium Thiomalate. Pengobatan Tradisional Perawatan dan pengobatan terhadap penyakit rheumatik adalah sebagai berikut. Daun kumis kucing sebanyak 1 genggam. segera hentikan atau dikombinasi dengan DMARDs yang lain. Desease Modifing Anti Rheumatoid Drugs (DMARDs)/ Obat pengubah perjalanan penyakit Bila diagnosis AR telah ditegakkan. 3.

Umumnya berhubungan dengan myelopati akibat ketidakstabilan vertebra vertical dan neuropati iskemik akibat vaskulitis. jantung. Maka seluruh organ dapat diserang. 2) Daun kecubung wuluh 5 lembar dan kapur siri ditumbuk dan digosokkan pada bagian tubuh yang sakit. minyak kayu putih dan kapur sirih dicampur dan digunakan untuk menggosok bagian tubuh yang sakit. dan sebagainya. sehingga sukar dibedakan akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Sebagian kecil lainnya akan menderita artritis reumatoid yang progresif yang disertai dengan penurunan kapasitas fungsional yang menetap pada setiap eksaserbasi. Seperti telah disebutkan sebelumnya. paru-paru.11 Prognosis Pada umumnya pasien artritis reumatoid akan mengalami manifestasi penyakit yang bersifat monosiklik (hanya mengalami satu episode artritis reumatoid dan selanjutnya akan mengalami remisi sempurna). kulit. bahwasannya penyakit ini bersifat sistemik. ginjal.e. Pada paru-paru dapat menimbulkan 21 . 2. 2. jaringan ikat. kemudian dicampur dengan minyak kayu putih dan digosokkan pada bagian tubuh yang sakit. Bintik-bintik kecil yang berupa benjolan atau noduli dan tersebar di seluruh organ di badan penderita. Dengan obat gosok alami: 1) Air jeruk nipis. DMARD) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis rheumatoid. baik mata.10 Komplikasi Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptikum yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit (desease modifying antirhematoid drugs. Tapi sebagian besar penyakit ini telah terkena artritis reumatoid akan menderita penyakit ini selama sisa hidupnya dan hanya diselingi oleh beberapa masa remisi yang singkat (jenis polisiklik).2.2. Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas. 3) Bengle lempu yang dan cabe ditumbuk halus.

nodulus rheumaticus ini bentuknya lebih besar dan terdapat pada daerah insertio dan otot-otot atau pada daerah extensor. Bahkan di kulit. sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikular dan lesi neuropatik. Di sekitarnya dikelilingi oleh deposit-deposit fibrin dan di pinggirnya ditumbuhi dengan fibroblast. DMARD) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada artritis reumatoid. Disamping hal-hal yang disebutkan di atas gambaran anemia pada penderita RA bukan disebabkan oleh karena kurangnya zat besi pada makanan atau tubuh penderita. Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gratitis dan ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit (desease modifying antiremathoid drugs. Komplikasi saraf yang terjadi tidak memberikan gambaran jelas. Hal ini timbul akibat pengaruh imunologik. yang menyebabkan zat-zat besi terkumpul pada jaringan limpa dan sistema retikulo endotelial. sehingga jumlahnya di daerah menjadi kurang. pada jantung dapat menimbulkan pericarditis. 22 .lung fibrosis. Benjolan rematik ini jarang dijumpai pada penderita-penderita RA jenis ringan. Bila RA nodule ini kita sayat secara melintang maka kita akan dapati gambaran: nekrosis sentralis yang dikelilingi dengan sebukan sel-sel radang mendadak dan menahun yang berjajar seperti jeruji roda sepeda (radier) dan membentuk palisade. myocarditis dan seterusnya. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.

Batas geografis di RW 02 Kelurahan Tambak Asri Surabaya.1. Barat terdapat Balai Desa. Rata-rata masyarakat tidak mempunyai kandang ternak. beberapa keluarga masih sering membeli obat ditoko. 23 . (3) jumlah lansia 20% dari total penduduk. tidak pernah melalukan aktivitas fisik atau pekerjaaan rumah untuk mengisi waktu senggangnya. Jumlah penduduk 15% adalah Balita. RT I 210 KK.000-Rp. Selatan terdapat SD dan SMP. becak. kendaraan pribadi. Penghasilan rata-rata penduduk perbulan antara Rp. Sarana Transportasi Angkot. 35% yang mengikuti program KB dengan lasan takut efek samping. sebagian besar menderita Reumatoid Arthritis (RA).000 dan rata-rata beberapa keluarga mempunyai tabungan. tidak berwarna dan berasa. Pembuangan limbah di WC dengan menggunakan leher angsa dan salurannya lancar. RT IV 220 KK.1 Asuhan Keperawatan Komunitas Pada Klien dengan Reumatoid Arthritis Kasus : Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara dan FGD di RW 02 Kelurahan Tambak Asri Surabaya. 30% PUS. jumlah balita yang hadir dari pelaksanaan posyandu hanya 40% balita. di dapatkan data bahwa di wilayah RW 02 terdapat 4 RT dengan 2000 penduduk dan 869 KK. 15% Anakanak. Rata-rata keluarga membuang sampah berserakan dibelakang rumah kemudian dibakar. terdapat halaman di depan rumah. (2) Dari 600 PUS yang ada. semi permanen. makan dan minum dari PAM dan dimasak lagi. jarak sumber air dengan septic tank > 10 M. Sumber air mandi. 20 % Remaja. Perumahan rata-rata menyewa. Karakteristik penduduk menetap 1035 jiwa dan penduduk tidak menetap 965 jiwa. 20% Lansia.3. Hasil survey menunjukkan : (1) Kegiatan posyandu balita dilaksanakan 1 bulan 3 kali. utara terdapat Puskesmas. tempat penampuangan air menggunakan bak dan dibuka. kegiatan posyandu lansia hanya dilakukan 1 bulan sekali. dan demam berdarah.500. ventilasi dan penerangan cukup. RT III 215 KK.000. kebanyakan lansia hanya duduk-duduk dirumah. jarak rumah dengan tetangga dekat. dan keaktifan olahraga yang dilakukan lansia 5%. sumber dana JPS dan tabungan. Fasilitas pelayanan kesehatan terdekat puskesmas. RT II 224 KK. Timur terdapat Mushola. Masalah kesehatan yang sering di derita masyarakat batuk pilek. berlantai. keaktifan lansia dalam kegiatan posyandu 15%.

Jumlah Penduduk 2000 jiwa RT I RT II RT III RT IV : 210 KK : 224 KK : 215 KK : 220 KK : Puskesmas : SD dan SMP : Mushola : Balai desa Jumlah KK di RW 02 Kelurahan Tambak Asri Surabaya : 869 KK b. Demografi a. Karateristik Penduduk Penduduk menetap Penduduk tidak menetap : 1035 jiwa : 965 jiwa 24 . Geografis Peta RW 02 Kelurahan Tambak Asri Surabaya dengan batas-batas sebagai berikut : Utara Selatan Timur Barat 2. Data Umum 1.FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS A. Fasilitas Kesehatan Posyandu Poliklinik Puskesmas RS : ada : tidak ada : ada : tidak ada c.

1. Tidak permanen 3. Jika ada. Semen d. Tidak i. Ya 2. Kolam Berapa luas rumah : m2 3. Ada 2.000. Lantai 1. Tanah 2. Ya 2. Halaman di sekitar rumah 1. Milik sendiri 3. < Rp. Rp. Tipe Rumah 1. Dekat h. Bersatu 2. Perumahan a. Gelap g.000 2. Tegel 4. 500. Pencahayaan dalam rumah di siang hari 1. II. Sewa 2. Jarak rumah dengan tetangga 1. Penghasilan rata-rata perbulan : 1. > Rp. Kandang 3. Papan 3. lokasinya 1.000 b. Di belakang 3.000 1. Terpisah 25 . Ya 2. Tidak 3. apakah dibuka tiap hari 1. Jika ya. Permanen c. Ada jendela di setiap kamar/rumah 1. LINGKUNGAN FISIK A.B. Semi permanen 2. 500. Data Ekonomi a. Tidak e. Di depan 2. Apakah rata-rata keluarga menabung : 1. Status Kepemilikan : 1. Numpang b. Kebun 2. Remeng – remeng 3. Pemanfaatan pekarangan 1.000. Terang 2.000 – Rp. Disamping j. Tidak f.

Tidak c. Sumber air mandi/mencuci 1. Ada 2.B.. Kondisi tempat penampungan air 1. Bak 2. Ditimbun 3. Jarak sumber air dengan septic tank 1. Berbau 3. Ember 4. Sumur d. b. Terbuka 2. keadaannya 1. Berasa 4. Dimana keluarga membuang sampah 1. Penampungan sampah sementara 1. Sumur b. Air mineral 3. Dibakar tempat 5. Sumber Air a. sebutkan .. PAM 2. sumur 1. Lain-lain. Tempat penampungan air sementara 1. Bila ada... Jauh (> 5m) 4. Sungai 2.. Sembarang 26 .. Tertutup d. Jika di PAM. Tertutup 3.. > 10 m e. < 10 m 2. Sumber air untuk masak dan minum 1.. f. Tidak berasa/berwarna C. Berwarna 2. Dimasak 2. Dekat (< 5m) 2. Tidak ada/berserakan c. Pembuangan Sampah a. Lain-lain... Sungai 3.. Kondisi air dalam penampungan 1. PAM 2.. Jarak dengan rumah 1. g. Gentong sebutkan. Terbuka 2.

Ya. Pelayanan Kesehatan a. Dalam rumah 2. Sembarangan d. JPS 5. Dokter praktik 4. Bidan 6. Sarana kesehatan terdekat 1. jenisnya .. RS 2. Beli obat bebas 2. Jamu d. Puskesmas 3. Balai pengobatan 3. Rumah sakit 2. lain-lain. Pembuangan Limbah a. Dokter/Perawat/Bidan 5. lain-lain. Kondisi 1. Tidak ada 3.. Bila ya letak kandang ternak 1. Tersumbat/tergenang E.. Perawat 5.. Jamban/WC 2. Leher Angsa 3.. c. Dana sehat 27 ..... Tidak terawat III. Tabungan 4. Kepemilikan kandang ternak 1.. sebutkan ... Kandang Ternak a. Kebiasaan keluarga untuk minta tolong bila sakit 1. Sembarang 3.. Plengsengan c. Terawat 2... KONDISI KESEHATAN UMUM A. Pembuangan air limbah 1... Lancar 2. Resapan 2.... b. Sumber pendanaan kesehatan keluarga 1.. Puskesmas 4. Got 3. Kondisi saluran pembuangan 1. Kebiasaan keluarga sebelum ke pelayanan kesehatan 1.. ASTEK/ASKES 2. Cemplung 2. Kebiasaan keluarga buang air besar 1... Di luar rmah c. Jenis jamban yang digunanakan 1.. Tidak 2. Sungai b..D. b.

jenis penyakitnya 1.. Kendaraan pribadi f.. Diobati sendiri e. TBC 4. sebutkan C. Thipus 6...... 2 – 5 Km 4.. 28 .. b.... Ya c. Jarak rumah dengan sarana kesehatan 1.. Katarak 8. > 5 Km B.. Usia Lanjut a. Senam 4.. < 1Km 2. d. Jalan kaki 2.... Apakah lansia memilki keluhan penyakit 1... Hypertensi 5.. sebutkan ..... Osteophorosis 10. Tidak ada 2.... Lain-lain...... Penyakit yang paling sering di derita keluarga dalam 6 bulan terakhir 1. Lain-lain.. Penggunaan waktu senggang pada lansia 1... Sarana transportasi ke pelayanan kesehatan keluarga 1... Upaya yang telah dilakukan 1. Berkebun/pekerjaan rumah 2. Jantung 11.. Lain-lain. Batuk pilek 3.. Lain-lain... Asma 2... Asma 4. Jika ya..... Berobat ke sarana kesehatan 3. Liver 3. sebutkan.e.... Becak 3.. 2.. Tidak 2.. Jalan-jalan 3. Kencing manis 7... Penyakit kulit 9. Demam berdarah 2.. Masalah Kesehatan Khusus a. 1 – 2 Km 3.. sebutkan. Reumatik/arthritis 6. Apakah anggota keluarga ada ang bersuia lanjut (lebih dari 55 tahun) 1.. Berobat ke non medis 4. TBC 5. Ada.. usianya . Angkot 4..

Ada. sebutkan 29 .. .kali/perbulan h. Tidak 2.....kali/bulan g. Jika tidak... Apakah Posyandu lansia di daerah tempat tinggal saudara 1.. Jika ada... .f.. Tidak tahu 2....... apakah lansia ikut posyandu lansia tersebut 1... Lain-lain... alasannya 1. Tidak ada 2.. Ya... Tidak mau 3.....

sebagian besar menderita Reumatoid Arthritis (RA). kebanyakan lansia hanya duduk-duduk dirumah. keaktifan lansia dalam kegiatan posyandu 15%. - 30 . penduduk. tidak pernah melalukan aktivitas fisik atau pekerjaaan rumah untuk mengisi waktu senggangnya.Analisis Data Keperawatan Komunitas di RW 02 Kelurahan Tambak Asri Data - Masalah Di wilayah RW 02 terdapat 2000 penduduk. Kegiatan posyandu lansia hanya dilakukan 1 bulan sekali. - - Di wilayah RW 02 terdapat 2000 penduduk. keaktifan lansia dalam kegiatan posyandu 15%. Jumlah lansia 20% dari total Tingginya kasus reumatoid arthritis pada lansia di RW 02 Kelurahan Tambak Asri penduduk. sebagian besar menderita Reumatoid Arthritis (RA). dan keaktifan olahraga yang dilakukan lansia 5%. dan keaktifan olahraga yang dilakukan lansia 5%. kebanyakan lansia hanya duduk-duduk dirumah. Kegiatan posyandu lansia hanya dilakukan 1 bulan sekali. Jumlah lansia 20% dari total Resiko terjadinya penurunan derajat kesehatan lansia di RW 02 Kelurahan Tambak Asri. tidak pernah melalukan aktivitas fisik atau pekerjaaan rumah untuk mengisi waktu senggangnya.

Kegiatan posyandu balita dilaksanakan 1 bulan 3 kali.- Di wilayah RW 02 terdapat 2000 penduduk. penduduk. jumlah balita yang hadir dalam pelaksanaan posyandu hanya 40% balita. - 31 . Jumlah Balita 15% dari total Resiko terjadinya penurunan derajat kesehatan balita di RW 02 Kelurahan Tambak Asri. Dari 600 PUS yang ada. penduduk. Jumlah PUS 30% dari total Resiko terjadinya peningkatan jumlah penduduk di RW 02 Kelurahan Tambak Asri. hanya 35% yang mengikuti program KB dengan alasan takut efek samping. - - Di wilayah RW 02 terdapat 2000 penduduk.

2 Sedang. 3. Resiko terjadinya penurunan derajat kesehatan lansia di RW 02 Kelurahan Tambak Asri.Prioritas Masalah Keperawatan Komunitas di RW 02 Kelurahan Tambak Asri Masalah Pentingnya Masalah untuk dipecahkan : 1 Rendah. 1 Rendah. Tingginya kasus reumatoid arthritis pada lansia di RW 02 Kelurahan Tambak Asri. 2 Sedang Total 1. 2. 3 Tinggi 3 Peningkatan terhadap kualitas hidup bila diatasi : 0 Tidak ada. 3 2 8 3 2 2 7 2 2 2 6 32 . 3 Tinggi Kemungkinan perubahan positif jika diatasi : 0 Tidak ada. Resiko terjadinya peningkatan jumlah penduduk di RW 02 Kelurahan Tambak Asri. 1 Rendah. 2 Sedang.

Resiko terjadinya penurunan derajat kesehatan balita di RW 02 Kelurahan Tambak Asri. 2 2 1 5 33 .4.

TUM TUK Meningkatnya kemandirian pada lansia di RW 02 Kelurahan Tambak Asri dalam menolong dirinya sendiri agar terhindar dari penyebaran reumatoid arthritis. Tingginya kasus reumatoid arthritis pada lansia di RW 02 Kelurahan Tambak Asri yang berhubungan dengan kurangnya kesadaran lansia dalam meningkatkan status kesehatan.Tujuan Keperawatan Komunitas di RW 02 Kelurahan Tambak Asri Diagnosis Keperawatan Komunitas 1. - Terjadi peningkatan pengetahuan lansia terkait penanganan reumatoid arthritis dari 20 % menjadi 60 % - Penemuan kasus reumatoid arthritis secara mandiri oleh masyarakat 34 .

70% lansia mampu menyebutkan pengertian. 35 . Ajarkan masyrakat ketrampilan dalam menangani gejala reumatoid arthritis. TUM TUK Rencana Kegiatan Evaluasi Meningkatnya kemandirian pada lansia di RW 02 Kelurahan Tambak Asri dalam menolong dirinya sendiri agar terhindar dari penyebaran reumatoid arthritis. 3. dan penyebab Reumatoid Arthritis. Beri Penyuluhan tentang Reumatoid Arthritis dan perawatannya.RENCANA KEGIATAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DI RW 02 KELURAHAN TAMBAK ASRI Diagnosa Keperawatan Komunitas Tingginya kasus reumatoid arthritis pada lansia di RW 02 Kelurahan Tambak Asri yang berhubungan dengan kurangnya kesadaran lansia dalam meningkatkan status kesehatan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama satu bulan. diharapkan : Terjadi peningkatan pengetahuan lansia terkait penanganan reumatoid arthritis dari 20 % menjadi 60 % Penemuan kasus reumatoid arthritis 1. Deteksi kasus Reumatoid Arthritis di masyarakat Kriteria Evaluasi : Pengetahuan lansia tentang Reumatoid Arthritis meningkat Standar Evaluasi : 1. 2. tanda atau gejala.

3. 75% lansia mampu melakukan tindakan pencegahan Reumatoid Arthritis. 4. Lakukan pembinaan kader dalam kemampuan penemuan kasus dan penanganan Reumatoid Arthritis. 2.secara mandiri oleh masyarakat melalui skrining. Bagikan leaflet setelah penyuluhan Reumatoid Arthritis 5. 36 . 75% kader mampu menemukan kasus Reumatoid Arthritis dan melakukan penanganan Reumatoid Arthritis.

37 .

sendiri agar terhindar dari 2. Memberi Meningkatnya penyuluhan kemandirian tentang pada lansia di Reumatoid RW 02 Kelurahan Arthritis Tambak Asri dan dalam perawatann menolong dirinya ya. poster Lansia dan Minggu keluarga di kedua RW 02 Kelurahan Tambak Asri. dalam TUK : menangani Setelah gejala Lansia dan Minggu keluarga di Pertama RW 02 Kelurahan Tambak Asri. Balai warga Leaflet. Balai warga Swadaya Leaflet 38 .Planning of Action (POA) Asuhan Keperawatan Komunitas Di Rw 02 Kelurahan Tambak Asri Masalah Keperawatan Tingginya kasus reumatoid arthritis pada lansia di RW 02 Kelurahan Tambak Asri Tujuan Kegiatan Sasaran Waktu Tempat Sumber Dana Swadaya Media Penaggung Jawab TUM : 1. Mengajarka penyebaran n masyrakat reumatoid ketrampilan arthritis. booklet.

Balai warga Swadaya Leaflet. . Melakukan Lansia dan Minggu pembinaan keluarga di keempat RW 02 kader dalam Kelurahan kemampuan Tambak Asri penemuan kasus dan penanganan Reumatoid Swadaya Lansia di Minggu RW 02 ketiga Kelurahan Tambak Asri. Balai warga 39 .Penemuan kasus reumatoid arthritis. 4. Mendeteksi kasus Reumatoid Arthritis di masyarakat melalui skrining .Terjadi peningkatan pengetahuan lansia terkait penanganan reumatoid arthritis dari 20 % menjadi 60 %. 3.dilakukan tindakan keperawatan selama satu bulan. booklet. diharapkan : . poster.

40 .reumatoid arthritis secara mandiri oleh masyarakat Arthritis.

1998).BAB III PENUTUP 3. maka diperlukan tindakan keperawatan secara terpadu dan menyeluruh melalui kerja sama antar anggota masyarakat dan tim keperawatan komunitas.2 Saran Diharapkan mahasiswa dapat memahami materi yang telah kami susun. Berdasarkan tingginya angka kejadian penyakit Reumatoid arthritis. pada individu yang beresiko melalui modifikasi gaya hidup (pola makan tidak sesuai dan aktifitas fisik yang kurang) dengan didukung program edukasi yang berkelanjutan Kendati program ini mudah dan sangat menghemat biaya.1 Kesimpulan Bersama dengan pola hidup masyarakat yang cenderung semakin meningkat. Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut (Susan Martin Tucker. Pencegahan primer adalah pencegahan terjadinya Reumatoid arthritis. dan dapat menginterpretasikan di dalam melakukan tindakan keperawatan dalam praktik. khususnya pada pasien yang mengalami gangguan sistem muskuloskeletal Rheumatoid Arthritis. dan mampu memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan standar keperawatan. Salah satu diantaranya adalah apa yang dinamakan Arthritis Reumatoid. 41 . 3. berbagai macam penyakit semakin dikenal oleh masyarakat.

2009.DAFTAR PUSTAKA Ayu H. Jakarta : EGC 42 . John. Chang. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. 2009. A. Teori dan Praktek Asuhan Keperawatan Komunitas. 2011. Komang. Patofisiologi Aplikasi pada Praaktik Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. Daly. Elliott. Esther. Doug. Lukman. Ningsih. Jakarta : EGC.

43 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful