4 BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Menurut Wellek dan Warren dalam Melani Budianto, (1995:109) sastra adalah instutusi sosial yang memakai medium bahasa yang “menyajikan kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia. Menurut Teeuw dalam Nyoman Kutha Ratna, (2005:4), sastra berasal dari akar kata sas (sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi secara leksikal berarti kumpulan alat untuk mengajar atau buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Karya sastra berdasarkan sifatnya dibagi menjadi dua macam sifat yaitu, karya sastra yang bersifat imajinasi (fiksi) dan karya sastra yang bersifat non imajinasi (non fiksi). Menurut Aminudin (2000:66), sastra fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Dengan demikian karya sastra lahir ditengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang yang merupakan refleksi kehidupan manusia terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Sebagai sebuah karya yang imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusian, hidup dan kehidupan. Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan seksama, Nurgiyantoro (1995:3). Karya fiksi
Universitas Sumatera Utara

5 lebih lajut masih dapat dibedakan dalam berbagai macam bentuk, baik itu roman, novel, maupun cerita pendek. Salah satu bentuk karya fiksi adalah novel. Menurut H. B. Jassin dalam Suroto, (1989:19) novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan kejadian secara luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh-tokoh cerita), luar biasa karena dari kejadian ini terlahir suatu konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib mereka. Ada dua unsur pokok yang membangun sebuah karya sastra, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur dalam sastra yang ikut serta membangun karya sastra tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah tema, plot, latar, penokohan, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa dan lainlain. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar tubuh karya sastra itu sendiri yang ikut mempengaruhi penciptaan karya sastra. Unsur-unsur tersebut meliputi latar belakang kehidupan pengarang, keyakinan dan pandangan hidup pengarang, adat istiadat yang berlaku saat itu, situasi politik, persoalan sejarah, ekonomi, pengetahuan agama dan lain-lain yang dapat mempengaruhi pengarang dalam penulisan karyanya. Novel sebagai salah satu karya sastra fiksi memiliki kedua unsur tersebut. Salah satu unsur instrinsik yang akan ditelaah adalah tokoh cerita. Peristiwa dalam karya sastra fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Aminudin (2000:79), tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Novel hanya menceritakan salah satu kehidupan sang tokoh yang benar-benar istimewa yang

Salah satu novel yang telah dihasilkan oleh Natsume Soseki adalah novel yang berjudul “Botchan”. Botchan yang sebelumnya tinggal di Tokyo sering terkejut dengan kebiasaan dan peraturan yang berlaku di sekolah tempat Botchan mengajar seperti seorang guru dilarang berkunjung dan makan di restoran ramen dan dango. yang dibuat tahun 1906. Novel ini merupakan novel satir dan tema utama dari novel ini adalah moralitas. ayah dan kakaknya tidak pernah baik hingga ayah dan ibunya pun meninggal dunia. Cerita yang diturturkan secara humoris ini sangat populer di kalangan tua dan muda di Jepang. Botchan yang seorang guru baru memberontak terhadap “sistem” yang selama ini berlaku di sekolah desa tersebut karena ketidakadilannya dan tidak . bertanggung jawab dan teguh pendiriannya. ia terlibat dalam berbagai konflik dengan rekannya sesama guru dan murid-muridnya yang nakal menyangkut tatakrama. Keesokan harinya ia diejek dan ditertawakan murid-muridnya. Karena sifat yang dimilikinya Universitas Sumatera Utara 7 tersebutlah banyak masalah dan konflik yang dialami Botchan dengan orang di sekitarnya. Walaupun novel ini tergolong klasik. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris saja. kemunafikan. Soseki tidak diragukan lagi sebagai salah seorang pengarang Jepang yang terbesar. Tentunya dalam novel tersebut terdapat beberapa peristiwa kehidupan sang tokoh sehingga ia mengalami perubahan jalan hidup. dan barangkali merupakan novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang Modern. ia selalu bisa melihat sisi positif dan kejujuran dari seorang Botchan. Hanya Kiyo sang pelayan tua yang sangat menyayangi Botchan. yang pergi ke desa terpencil untuk menjadi seorang guru. beberapa diantaranya. dan kepura-puraan berada. novel ini menceritakan kehidupan Botchan kecil yang tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya karena dianggap sebagai anak yang nakal. Botchan menerima tawaran menjadi guru matematika di sekolah menengah pedesaan di Shikoku. Di awal cerita. Awalnya “Botchan” tidak tau akan hal itu dan ia berkunjung dan makan di toko ramen dan dango. Natsume Soseki merupakan seorang tokoh terbesar dalam kesusastraaan modern Jepang yang lahir di Tokyo pada tahun 1867. seperti Botchan dan Aku Seekor kucing. Semenjak kakinya menginjak daerah baru tersebut. idealis. adil dan tidak suka kepura-puraan dan blak-blakan dipertemukan dengan dunia nyata di mana banyak sekali ketidakadilan. Hubungan Botchan dengan ibu. Karya Soseki adalah buah tangan pengarang Jepang yang paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing. sedangkan orang-orang asing pun berlomba-lomba menerjemahkanya ke dalam bahasanya masing-masing. Tidaklah mengherankan kalau karya-karya Soseki sampai sekarangpun tetap menarik dan tetap popular bagi orang Jepang. penulis akan membahas sebuah novel yang berjudul “Botchan” karya Natsume Soseki. status sosial dan peraturan yang berlaku di sekolah tersebut. adil. namun isinya sangat relevan dengan zaman modern saat ini karena sarat dengan nilai-nilai moral. Menceritakan kehidupan seorang pemuda Tokyo bernama “Botchan” yang mempunyai sifat jujur. Di sinilah cerita seperti benar-benar dimulai di mana sosok seorang Botchan yang jujur. blak-blakan.Universitas Sumatera Utara 6 mengakibatkan terjadinya perubahan nasib. Pada penelitian ini. Lulus dari Sekolah Ilmu Alam Tokyo.

Berdasarkan uraian di atas dan setelah membaca novel tersebut. Tetapi Botchan kemudian sadar bahwa ia sedang di adu domba dan segera berbaikan dengan Hotta. maka penulis tertarik menulis skripsi yang berjudul “Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki”. Buku ini memiliki daya tarik yang besar bagi masyarakat Jepang. Dari uraian di atas terlihat konflik sosial yang dialami sang tokoh utama Botchan dalam lingkungan pekerjaanya. adil dan blak-blakan. Botchan dianggap remeh dan tidak sopan oleh orang-orang disekitarnya karena memiliki sifat jujur. sok intelek dan merasa superior. Karena Sifat Botchan yang selalu terus terang dan pemberani sering kali membuat ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Ia memanfaatkan jabatannya untuk merebut tunangan orang lain seorang guru yang lebih rendah jabatannya. Padahal sebelumnya si kepala guru berkata pergi ke tempattempat hiburan merusak disiplin sebagai seorang guru. Karena tak betah lagi tinggal lebih lama di desa terpencil ini. adil dan . Sebagian dari daya tarik buku ini dapat ditemui pada sifat ksatria yang diembuskan Botchan dari suatu kemelut ke kemelut lain. yang dinilai Botchan munafik. Bagi pembaca di dunia Barat alur cerita novel ini mungkin terasa tipis. dan mungkin bertanya-tanya mengapa buku ini begitu menarik bagi pembaca Jepang. Dalam perjalananya sebagai seorang guru inilah Botchan banyak merasakan keadaankeadaan yang tidak sesuai dengan hatinya terutama setelah berinteraksi dengan sesama guru.dapat bersikap tegas terhadap kenakalan siswa. Ternyata tidak mudah menjadi seorang guru baru di desa terpencil. ini yang membuatnya dicintai pembaca modern Jepang sampai sekarang. akhirnya ia dan Hotta meninggalkan desa tersebut setelah sebelumnya memergoki kepala guru dan rekannya yang penjilat seorang guru seni yang diberi julukan si Badut oleh Botchan berkunjung ke Kagoya (rumah bordil). licik dan pura-pura baik. Seperti ketika terjadi insiden ia Universitas Sumatera Utara 8 dikerjai murid-muridnya yang nakal yang memasukkan belalang ke dalam futonnya ketika ia tugas malam di sekolah. Dan menurutnya kepala sekolah tidak dapat bersikap tegas. Kemeja Merah juga mengadu domba Botchan dengan seorang guru Matematika senior yang bernama Hotta yang mengakibatkan pertengkaran diantara Botchan dan guru tersebut. Botchan tidak tunduk pada seseorang atau suatu norma. 1. Novel ini juga bercerita tentang perseteruan/konflik terselubung antara Botchan dan Kepala Guru yang di beri julukan si Kemeja Merah oleh Botchan. masyarakat dan para muridnya. Menceritakan tentang kehidupan dan konflik sosial yang dialami tokoh utamanya yang dipanggil “Botchan” yang berasal dari Tokyo pergi ke Shikoku untuk mengajar Matematika di Sebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang jujur. jujur dan terkadang bersikap sinis terhadap orang lain.2 Perumusan Masalah Novel Botchan merupakan novel Natsume Soseki yang sangat terkenal. Kemudian Hotta dan Botchan melayangkan tinju kepada kepala guru dan Universitas Sumatera Utara 9 rekannya tersebut. karena bahkan saat inipun orang Jepang terkungkung ketatnya tatakrama sosial. dan akhirnya guru tersebut dipindah tugaskan. Tentu saja Botchan marah besar dan menimbulkan keributan di sekolah karena muridnya tidak mau jujur mengakui kesalahan. Botchan tumbuh menjadi sosok yang idealis.

idealis. guru-guru dan para murid. adil dan tidak suka kepura-puraan dipertemukan dengan dunia nyata dimana banyak sekali ketidakadilan. logis dan terarah. Bagaimanakah kondisi sosial dalam novel Botchan karya Natsume Soseki? 2. Botchan terlibat dalam berbagai konflik dengan rekannya sesama guru dan murid-muridnya yang nakal menyangkut tatakrama. penulis hanya akan membatasi ruang lingkup pembahasan yang difokuskan pada masalah konflik sosial yang dihadapi tokoh utama “Botchan” dalam novel Botchan. Dia mendapat masalah dengan adanya penipuan. status sosial dan peraturan yang berlaku di sekolah tersebut. dan terkadang bersifat sinis terhadap orang lain yang menimbulkan banyak masalah dan konflik dengan orang di sekitarnya. Botchan betul-betul menampilkan karakter dirinya sendiri. Untuk memudahkan arah sasaran yang ingin dikaji. Agar dalam pembahasan novel ini lebih akurat. Ia mempunyai sifat jujur. Kejujuran dan sifatnya yang blak-blakan sering bertolak belakang dengan sebagian besar orang yang dijumpainya. setting . Universitas Sumatera Utara 10 Dalam novel ini diceritakan bahwa setelah lulus dari Sekolah Ilmu Alam Tokyo. adil. kemunafikan orang-orang yang bermuka dua dan penjilat berada. maka masalah penelitian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: Universitas Sumatera Utara 11 1. masyarakat dan para muridnya. maka penulis sebelum bab pembahasan menjelaskan lagi tentang defenisi novel. Di sinilah konflik seperti benar-benar di mulai di mana sosok seorang Botchan yang jujur. Kejujuran serta kepolosan dan sifatnya yang blak-blakan bertolak belakang dengan sebagian besar orang yang dijumpainya. blak-blakan. Botchan banyak merasakan keadaan-keadaan yang tidak sesuai dengan hatinya terutama setelah berinteraksi dengan sesama guru. Tokoh Botchan merupakan seorang pemuda Tokyo yang pergi ke sebuah sekolah desa untuk mengajar Matematika. Dalam analisis ini. Kejujuran dan keteguhan hati Botchan serta pesan moral yang ingin di sampaikan penulis dalam cerita inilah yang membuat novel ini menarik. Bagaimanakah konflik sosial yang dialami oleh tokoh utama “Botchan” dalam novel Botchan karya Natsume Soseki? 1.blak-blakan banyak menimbulkan konflik dengan orang-orang disekitar lingkungan tempat Botchan mengajar di sekolah menengah Matsuyama. sehingga penulisan dapat lebih terarah dan terfokus. hingga perkelahian. Botchan menerima tawaran menjadi guru matematika di sekolah menengah pedesaan di Shikoku.3 Ruang Lingkup Pembahasan Dari permasalahan-permasalahan yang ada maka penulis menganggap perlu adanya pembatasan ruang lingkup dalam pembahasan. pencemaran nama baik. Hal ini dimaksudkan agar masalah penelitian tidak terlalun luas. khususnya di lingkungan pekerjaanya di sebuah sekolah desa. Ketidaksesuain hati terhadap kondisi yang dihadapinya sehari-hari inilah yang menjadi pembangunan alur cerita dan konflik dalam novel Botchan. Mulai dari kepala sekolah. semua hal yang menyebabkan dirinya semakin lama semakin muak dengan kemunafikan serta kepura-puraan yang terjadi di sekelilingnya Dalam perjalanannya sebagai seorang guru. Dan semenjak kakinya menginjak daerah baru tersebut.

Interaksi sosial menurut Soekanto (2003:61) merupakan hubunganhubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan. riwayat hidup Natsume Soseki. kepribadian seseorang dibentuk oleh keluarga dan masyarakat. sastra fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan. atau ide yang berkaitan dengan harga diri.Perbedaan kepentingan.Perbedaan kebudayaan. Menurut Selo Soemarjan dan Soemardi dalam Soekanto. (http://sosiologi-sosiologixavega.Perubahan sosial. Soerjono Soekanto mengemukakan 4 faktor penyebab terjadinya konflik yaitu : . .novel Botchan. oleh karena tanpa interaksi sosial. Apa yang dianggap baik oleh satu masyarakat belum tentu baik oleh masyarakat lainnya. Tidak semua masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma yang sama.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1) Tinjauan Pustaka Menurut Aminudin (2000:66).wikipedia. Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial. latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. tak akan mungkin ada kehidupan bersama. konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya ( http://id.org/wiki/Konflik). . Secara sosiologis. Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation). persaingan (competition). Universitas Sumatera Utara 12 1. . dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). antara kelompok-kelompok manusia. perubahan yang terlalu cepat yang terjadi pada suatu masyarakat dapat mengganggu keseimbangan sistem nilai dan norma yang . html).com/2010/10/konflik-dan-integrasisosial. dan identitas seseorang. pendirian.blogspot. Kemudian timbul amarah dalam diri anda. dan pengertian dan teori tentang konflik sosial. Perbedaan kepentingan itu dapat menimbulkan konflik diantara mereka.Perbedaan antar individu. emosi. Sehingga terjadi konflik. karena menurut teman anda itu sangat mundukung. termasuk perubahan-perubahan sosial. Sebagai contoh anda ingin suasana belajar tenang tetapi teman anda ingin belajar sambil bernyanyi. Sedangkan menurut Gillin dan Gillin konflik konflik adalah bagian dari sebuah proses sosial yang terjadi karena Universitas Sumatera Utara 13 adanya perbedaan-perbedaan fisik. kebanggan. (2000:21) Sosiologi adalah ilmu yang memepelajari struktur sosial dan proses-proses sosial. kebudayaan dan perilaku. merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan. Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. setiap kelompok maupun individu memiliki kepentingan yang berbeda pula. Dengan demikian karya sastra lahir ditengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang yang merupakan refleksi kehidupan manusia terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya.

penulis menggunakan pendekatan sosiologis dan pendekatan semiotika di dalam menganalisis karya sastra ini. Menurut Swingewood dalam Tarihoran. (2009:8). sosiologi sastra merupakan disiplin yang tanpa bentuk. Hal ini sesuai dengan pengertian semiotik sebagai ilmu tanda. yang memandang fenomena sosial dan budaya sebagai sistem tanda. Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan seksama. Persfektif ini akan berhubungan dengan life story seorang pengarang dan latar belakang sosialnya. dan adanya kontak sosial. yaitu: a.berlaku. namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia. sosiologi sastra dapat meneliti sekurang-kurangnya melalui tiga perspektif. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatanya terhadap kehidupan. Oleh karena itu. Persefektif Biografis Yaitu peneliti menganalisis pengarang. yang masing-masingnya hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dengan hubungan sastra dan masyarakatnya. kenaifan dengan pengalaman atau individualistis dan kemauan beradaptasi. Dengan menggunakan pendekatan semiotika dalam menganalisis penulis dapat mengetahui konflik sosial yang dialami tokoh “Botchan” melaui interaksiinteraksi tokoh utama dengan tokoh-tokoh lain dalam lingkungan masyarakatnya. hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya sekaligus memasukan hiburan dan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia. Stanton (2007:13). membenturkan “sifat-sifat” dan “kekuatan-kekuatan” tertentu seperti kejujuran dengan kemunafikan. Pendekatan semiotika adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sistem tanda. khususnya lingkungan pekerjaan dalam novel ini melalui dialog atau komunikasi antar tokoh. (2008:77). Setiap konflik utama selalu bersifat fundamental. Persfektif Reseptif Yaitu peneliti menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra. dan dijelaskan makna sosiologisnya. Menurut Wolf dalam Endraswara. akibatnya konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu dengan masyarakat. c. b. tidak terdefenisikan dengan baik. Universitas Sumatera Utara 15 Dalam menganalisis suatu karya sastra diperlukan suatu pendekatan yang menjadi acuan bagi penulis dalaam menganalisis karya sastra tersebut. Ada dua elemen yang membangun alur adalah konflik dan klimaks. Perspektif Teks Sastra Artinya peneliti menganalisis sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. (2009:92). Preminger dalam Wiyatmi. fiksi dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajiner. Untuk melihat gambaran kehidupan sosial seseorang individu secara . Namun. 2) Kerangka Teori Menurut Altenbernd dan lewis dalam Nurgiyantoro (1995:3). Teks biasanya dipotong-potong diklasifikasikan. terdiri dari sejumlah Universitas Sumatera Utara 14 studi-studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang lebih general. Konflik dalam sebuah karya fiksi sangatlah penting dalam pembentukan alur cerita.

2) Manfaat penelitan Manfaat penelitian ini adalah: 1. (2009:30) tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi yang merupakan ciptaan pengarang. pertentangan. 1. khususnya dalam novel “Botchan” karya Natsume Soseki. Dengan menggunakan teori sosiologis penulis dapat menganalisis bagaimanakah konflik sosial yang dialami tokoh utama terhadap Universitas Sumatera Utara 16 tokoh lain dalam novel ini. (2000:21) sosiologi adalah ilmu yang memepelajari struktur sosial dan prosesproses sosial. Untuk mendeskripsikan kondisi sosial novel ”Botchan” karya Natsume Soseki. html . Menurut Sayuti dalam Wiyatmi. konflik berarti pertentangan atau percekcokan. 2. dalam arti tokohtokoh itu memiliki ”kehidupan” atau “berciri hidup”. oleh karena itu dalam sebuah fiksi tokoh hendaknya dihadirkan secara alamiah. penokohan.com/2010/10/konflik-dan-integrasisosial. alur. amanat. Untuk mendeskripsikan konflik sosial yang dihadapi tokoh utama Botchan melalui interaksi sosial tokoh utama Botchan dengan tokohtokoh lain di dalam novel Botchan. manusia adalah makluk konfliktis (homo conflictus). meskipun dapat juga merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata. Tokoh dan penokohan merupakan merupakan unsur yang penting dalam karya naratif. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto konflik adalah suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan /atau kekerasan dalam (http://sosiologi-sosiologixavega. Tokoh cerita menempati sebagai posisi yang strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan. konflik adalah bagian dari sebuah proses sosial yang terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan fisik. Menurut Soemarjan dan Soemardi dalam Soekanto. khususnya prosa antara lain tema. Pertentangan sendiri bisa muncul ke dalam bentuk pertentangan ide maupun fisik antara dua belah fihak yang bersebrangan.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1) Tujuan Penelitian Sesuai dengan masalah sebagaimana telah dikemukakan di atas.blogspot. yaitu makluk yang selalu terlibat dalam perbedaan. termasuk perubahan-perubahan sosial. kebudayaan dan perilaku. Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. dan sebagainya. atau memiliki derajat Universitas Sumatera Utara 17 lifelikeness (kesepertihidupan). dan persaingan baik sukarela dan terpaksa. Bagi peneliti dan masyarakat umum diharapkan dapat menambah informasi dan pengetahuan mengenai sosiologis sastra dalam karya fiksi. Unsur-unsur penunjang terciptanya sebuah karya sastra. setting. Melihat sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat. Menurut Gillin and Gillin. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. maka tujuan penelitian adalah: 1. Menurut Susan Novri (2009:4).khusus dan masyarakat pada umumnya di dalam sebuah karya sastra adalah dengan menggunakan disiplin ilmu yaitu sosiologi sastra. emosi. . moral atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. plot.

Selain memanfaatkan literatur yang berupa buku. Metode yang digunakan dalam penelitian sastra ini adalash metode deskriftif. Universitas Sumatera Utara . mengumpulkan data dari berbagai website yang berhubungan dengan materi penelitian ini. penulis juga memanfaatkan teknologi internet. penulis menggunakan metode studi kepustakaan (Library Research) dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan karya sastra. dan buku-buku panduan analisis sosiologis dalam karya sastra serta tambahan literatur tambahan lainnya.6 Metode Penelitian Dalam melakukan sebuah Penelitian. Dalam mengumpulkan data-data penelitian. atau kelompok tertentu. kritik sastra. tentulah dibutuhkan sebuah metode sebagai penunjang untuk mencapai tujuan. Koentjaraningrat (1976:30) mengatakan bahwa penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa jurusan Sastra Jepang sebagai referensi analisis karya sastra. 3.2. Metode deskriftif digunakan karena penelitian ini terbatas untuk mengungkapkan pada suatu masalah sebagaimana adanya sehinnga sekedar mengungkapkan fakta. Universitas Sumatera Utara 18 1. keadaan. Menambah wawasan tentang Natsume Soseki sebagai salah seorang penulis terbesar dalam sejarah kesusastraan Jepang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful