IMUNISASI

Oleh: Eneng Susilawati

Pendahuluan Pembangunan nasional jangka panjang menitikberatkan pada kualitas hidup sumber daya manusia yang prima. Untuk itu kita bertumpu pada generasi muda yang memerlukan asuhan dan perlindungan terhadap penyakit yang mungkin dapat menghambat tumbuh kembangnya menuju dewasa yang berkualitas tinggi guna meneruskan pembangunan nasional dengan masyarakat yang sehat, sejahtera dan bahagia.

Definisi Imunisasi Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Jadi imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dałam tubuh manusia.1 Kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan untuk mengadakan pencegahan penyakit dałam rangka menghadapi serangan kuman penyakit tertentu. Kebal atau resisten terhadap suatu penyakit, belum tentu kebal terhadap penyakit lain.1

Tujuan Imunisasi untuk Bayi Secara umum imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kematian dań kesakitan serta mencegah akibat buruk lebih lanjut dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Secara khusus imunisasi memberikan kekebalan pada bayi dań anak, memberikan kekebalan pada ibu hamil dań wanita dewasa

2

Strategi Untuk mencapai tujuan program imunisasi untuk bayi, mąka disusunlah strategi untuk mencapai UCI (Universal Child Imunization) yang secara operasional dijabarkan sebagai terciptanya cakupan imunisasi lengkap untuk bayi minimal 80% diseluruh wilayah. Imunisasi yang dijadikan patokan adalah imunisasi BCG, DPT, Campak. dań Polio.

Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Dasar Lengkap Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dasar lengkap meliputi tujuh penyakit, yaitu: 1. Poliomyelitis (kelumpuhan) 2. Campak 3. Difteri 4. Pertusis (batuk rejan, batuk seratus hari) 5. Tetanus 6. Tuberkulosis (TBC) 7. Hepatitis B Imunisasi terhadap penyakit tertentu dilakukan dengan memberikan bibit penyakit yang telah dilemahkan atau sebagian dari partikel virus (mantel dari virus hepatitis B), dapat pula dari hasil rekayasa genetika. Ada yang diberikan secara suntikan adapula yang diberikan dengan meneteskannya ke dałam mulut.

Imunisasi Dasar Lengkap Program pemerintah dałam bidang imunisasi adalah berusaha untuk mencapai suatu komitmen internasional Universal Child Imunization (UCI) pada akhir tahun 1990 yang secara operasional dijabarkan sebagai terciptanya cakupan imunisasi lengkap untuk bayi minimal 80% di seluruh wilayah (tingkat nasional. propinsi. kabupaten bahkan setiap desa). Imunisasi yang dijadikan patokan adalah imunisasi BCG, DPT I, Hepatitis B-l, Hepatitis B-3, dań polio 4.1

3

05 mL dan pada anak 0.4 bulan 6 .6 bulan = 9 bulan Hepatitis B DPT Polio Campak BCG (Bacille Calmette-Guerin) Bacille Calmette-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari Myobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga didapat basil yang tidak virulen tetapi masih imunogenitas.1 Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI2 Jenis imunisasi BCG 1 2 3 1 2 3 1 2 3 4 Usia Waktu diberikan 0 .5 bulan = 4 . BCG diberkan pada umur 0 – 12 bulan dengan tujuan untuk mendapatkan cakupan imunisasi yang lebih luas. Namun. Polio sebanyak 4 dosis. Pemberian imunisasi dasar lengkap harus dapat dicapai sebelum balita berusia 12 bulan.1 5 bulan 2 . Dosis untuk bayi dan anak < 1 tahun adalah 0. pada jadwal PPI. DPT sebanyak 3 dosis. dań Campak sebanyak l dosis.1 ml.1 Program imunisasi dasar lengkap (IDL) mencakup pemberian imunisasi BCG sebanyak l dosis.5 bulan = . Imunisasi BCG sebaiknya diberikan pada umur < 2 bulan.4 bulan = .2 bulan 0 .6 bulan = 0 2 3 4 .Dałam perkembangannya saat ini.2 bulan . Hepatitis B sebanyak 3 dosis.4 bulan = 3 . cara pemberian intrakutan di daerah 4 . pemerintah Indonesia melalui departemen Kesahatan mencanangkan kepada puskesmas-puskesmas untuk mencapai angka 98% dałam cakupan imunisasi tersebut.2 bulan 1 .

deltiodeus kanan. 70% kasus TB berat (misalnya meningitis) ternyata mempunyai parut BCG. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif. diberikan 0. Dosisi kedua diberikan umur 1 – 2 bulan dan dosis ketiga 6 bulan. reaksi uji tuberculin > 5mm. dalam pengobatan steroid jangka panjang . infeksi HIV. sedang mengalami demam tinggi. Apabila pada pemeriksaan selanjutnya diketahui ibu HBsAg-nya positif. diberikan vaksin rekombinan (HB Vax-11 5 pg atau B 10 pg) atau vaksin plasma derived 10 pg. BCG tidak diberikan pada pasien imunokompremais (leukemia. Apabila sampai dengan 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi hepatitis B.5 mL HBIG (sebelum 1 minggu). secara bersamaan. Hepatitis B Imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir. Pemberian imunisasi hepatitis B harus berdasarkan status HBsAg ibu pada saat melahirkan. intramuscular. bayi lahir dari ibu dengan status HBsAg yang tidak diketahui. Bayi lahir dari ibu dengan HBsAg negatif. BCG ulangan tidak dianjurkan karena manfaatnya diragukan mengingat 1. Apabila BCG diberikan pada umur > 3 bulan. intramuskular di sisi tubuh yang berlainan. pernah sakit tuberculosis. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan kemudian dan dosis ketiga 6 bulan setelah imunisasi pertama. Dalam waktu 12 jam setelah lahir.5 mL HBIG dan vaksin rekombinan. anak menderita gizi buruk. kasus dewasa dengan BTA positif di Indonesia cukup tinggi (25 – 36%) walaupun mereka telah mendapatkan BCG pada masa kanak-kanak. Idealnya dilakukan pemeriksaan anti HbsAg (paling cepat) 1 bulan pasca imunisasi B-3.insersio M. dalam waktu 12 jam setelah lahir. dan kehamilan). 5 . dan 3. Diberikan vaksin rekomninan dan vaksin derived secara intramuscular. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan sesudahnya dan dosis ketiga diberikan pada usia 6 bulan. segera berikan 0. sebagai berikut. menderita infeksi kulit yang luas. sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. pada umur 2-6 bulan. efektifitas perlindungan hanya 40% 2.

bengkak. walaupun tidak jelas terbukti hubungannya dengan imunisasi hepatitis B. DPT Imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan dengan interval 4-6 minggu. Hipo dan Nonresponder Tanggap kebal yang rendah pasca imunisasi dapat disebabkan oleh. pasien diabetes mellitus insulin dependent. Ulangan imunisasi hepatitis B (hep B-4) dapat dipertimbangkan pada umur 10-12 tahun. DPT 2 pada umur 3-5 bulan 6 . pasien hemodialisis/transplantasi. Efek samping Efek samping yang terjadi umumnya ringan. 2. imunisasi perlu diulangi dengan meningkatkan dosis (dua kali). 8. infeksi HIV 9. peminum alkohol. 6. DPT 1 diberikan pada umur 2-6 bulan. Kontra indikasi Sampai saat ini belum dipastikan adanya kontra indikasi absolut terhadap pemberian imunisasi hepatitis B. usia tua. pada anak gemuk. 4. 1. setelah melakukan koreksi seperlunya terhadap penyakit dasar. berupa nyeri. Pada keadaan-keadaan tersebut di atas. pemberian vaksinasi di daerah bokong/pantat. 5. 3. terkecuali pada ibu hamil. 7.maka secepatnya diberikan (catch-up vaccination). Walaupun demikian pernah pula dilaporkan adanya aanpilaksi. pasien yang mendapat obat-obatan imunosupresif. pasien leukemia dan keganasan lain. sindrom Guillain-Barre. panas mual nyeri sendi dan otot.

ulangan DPT pada umur 18-24 bulan (DPT 4) akan memperpanjang imunitas 5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-7 tahun. intramuscular. jadi PPI merekomendasikan tetanus toksoid (DPIDT. Ulangan selanjutnya (DPT-4) diberikan 1 tahun setelah DPT : yaitu pada umur 18-24 bulan dan DPT 5 pada saat masuk sekolah dasar (Bulan Imunisasi Anak Sekolah = BIAS). 2. imunisasi DPT 3x akan memberikan imunitas 1-3 tahun. 3. tetapi oleh karena di Indonesia dT belum ada di pasaran maka diberikan DT. atau TT dilaksanakan berdasarkan perkiraan lama waktu perlindungan sebagai berikut: 1. toksoid tetanus tambahan yang diberikan pada tahun berikutnya di sekolah (DT 6 atau dT) akan memperpanjang imunitas 20 tahun lagi. 5. baik untuk imunisasi dasar dan ulangan. Dengan 6 dosis toksoid pada anak dihitung setara dengan 4 dosis toksoid pada dewasa. DT. Sebaiknya untuk ulangan pada umur 12 tahun diberikan dT (adt=adult dose untuk vaksin difteria). toksoid tetanus kelima (DPT 5) diberikan pada usia masuk sekolah. TT) 5x untuk memberikan perlindungan seumur hidup sehingga wanita usia subur (WUS) mendapat perlindungan terhadap bayi yang dilahirkan terhadap 7 . Ulangan DPT 6 diberikan pada umur 12 tahun mengingat masih dijumpai kasus difteria pada umur > 10 tahun. 4.dan DPT 3 pada umur 4-6 bulan. akan memperpanjang imunitas 10 tahun lagi sampai umur 17-18 tahun.5 mL. Dengan 3 dosis tokoid tetanus pada bayi dihitung setara dengan 2 dosis toksoid pada anak yang lebih besar atau dewasa. Tetanus Upaya Departemen kesehatan & Kesos melaksanakan Program Eliminasi Tetanus Neonatarum (ETN) melalui DPT. Dosis DPT/DT 0. Dengan 5 dosis toksoid pada anak dihitung setara dengan 4 dosis toksoid pada dewasa. Dengan 4 dosis toksoid tetanus pada bayi dan anak di hitung setara dengan 3 dosis toksoid pada dewasa.

Keadaan yang bukan merupakan kontra indikasi Sakit akut yang ringan dengan atau tanpa panas atau mencret yang ringan.tetanus neonatarum. atau panas tinggi. Satu-satunya virus vaksin yang dapat diisolasi dari ASI adalah virus vaksin rubela. Baru terpapar infeksi. Maka. upaya pencapaian target ETN dengan pemberian vaksin toksoid 5x sasaran pada bayi dan anak sekolah melalui kegiaatn BIAS Kontra indikasi imunisasi Sakit sedang sampai berat dengan atau tanpa demam merupakan kontra indikasi imunisasi DPT. kemerahan atau pembengkakan pada tempat suntikan. Penderita imunodefisiensi dan imunosupresif merupakan kontra indikasi. Alergi daging bebek. Baru mendapat antibiotik atau fase konvalesens. Prematuritas (pemberian imunisasi pada bayi prematur sama seperti pada bayi normal). Riwayat kejang dalam keluarga terutama untuk vaksin pertusis. Pemakaian kortikosteroid topikal jangka lama dan anak sehat yang diobati dengan kortikosteroid dosis biasa selama > 2 minggu atau dosis tinggi (dosis > 2 mg/kgbb atau 20 mg/hr) merupakan kontra indikasi pemberian vaksin virus hidup. Riwayat sudden infant death di keluarga. Riwayat adanya kejadian efek samping di keluarga setelah imunisasi POLIO Vaksin Virus Polio Oral (Oral Polio Vaccine=OPV) 8 . Riwayat alergi yang tidak spesifik. misalnya untuk vaksin DPT. Terjadi reaksi pada suntikan DPT sebelumnya yang berupa rasa sakit. Alergi penisilin atau antibiotik lainnya kecuali reaksi anafilaktik terhadap neomisin dan streptomisin. tetapi terbukti tidak berbahaya buat bayi.

vaksin akan kehilangan potensi disebbakan perubahan pH setelah terpapar udara kebijaksanaan Departemen Kesehatan & Kesejahteraan Sosial manganjurkan bahwa vaksin polio yang telah terbuka botolnya pada akhir sesi imunisasi (pasca imunisasi masal) harus dibuang. Vaksin polio oral harus disimpan tertutup pada suhu 2-8 °C. tipe2: 105.2.1 ml) mengandung vims tipe 1: 106. kemudian 9 .Vaksin virus polio hidup orak yang dibuat oleh Biofarma Bandung.0 CCID50 dan tipe 3: 105. botol vaksin yang telah terbuka yang terpakai hari itu telah dibuang Vaksin polio oral (OPV) dapat disimpan beku pad temperatur 20°C. vaksin di simpan dalam rantai dingin yang benar (2-8°C) 3. di jaga agar warna tidak berubah yaitu merah muda sampai orange muda (sebagai indikator pH). maka frekuensi eksresi polio virus liar dalam masyarakat dapat dikurangi. tanggal kadarluwarsa tidak terlampui 2. Tetapi saat ini kebijaksanaan WHO membolehkan boto-botol yang berisi vaksin dosis ganda (multidose) digunakan pada sesi-sesi imunisasi. Virus vaksin ini kemudian menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun pada epithelium usus. apabila tiga syarat di bawah ini terpenuhi 1. Vaksin ini digunakan secara rutin sejak bayi lahir dengan dosis 2 tetes oral. Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa.0 CCID50. serta kanamisin tidak lebih 10 mcg. Tiap dosis (2 tetes = 0.5 CCID50 dan eritromisin tidak lebih dari 2 mcg. berisi virus polio tipe 1. dan 3 adalah suku sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Dengan cara ini. maka sangat berguna untuk mengendalikan epidemi. Vaksin yang beku dengan cepat dicairkan dengan cara ditempatkan antara dua telapak tangan dan digulir-gulirkan. Penerima vaksin dapat terlindungi setelah dosis tunggal pertama namun tiga dosis berikutnya akan memberikan imunitas jangka lama terhadap 3 tipe virus polio. Jenis vaksin virus polio ini dapat bertahan (beredar) di tinja sampai 6 minggu setelah pemberian OPV. Vaksin akan menghambat infeksi virus polio liar yang serentak. maka sisa vaksi yang telah terpakai dapat dibekukan lagi. Bila keadaan tersebut dapat terpenuhi. Vaksin sangat stabil namun sekali dibuka. yang menghsilkan pertahanan lokal terhadap virus polio liar yang datang masuk kemudian.

3 diabiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid. CAMPAK Pada tahun 1963. telah dibuat dua jenis vaksin campak yaitu. Muntah atau diare. Penyakit akut atau demam (temp. selanjutnya saat mask sekolah (5-6 tahun). Vaksin Polio Inactivated (inactivated poliomyielitis vaccine. agar tidak mencemari bayi yang lain mengingat virus polio hidup dapat dieksresi melalui tinja. vaksin diberikan 2 tetes per oral dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. imunisasi ditunda 3. Imunisasi polio-0 diberikan saat bayi akan dipulangkan dari rumah sakit/rumah bersalin.IPV) Vaksin polio inactivated yang dibuat oleh Anventis Pasteur berisi tipe 1.dipakai lagi sampai warna berubah dengan catatan dan tanggal kadarluwarsa harus selalu diperhatikan. >38.2. Kontra indikasi 1. maka PPI menambahkan imunisasi polio segera setelah lahir(polio-0 pada kunjungan 1) dengan tujuan menignkatkan cakupan imunisasi. Pemberian dengan dosis 0.3). 10 . Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun sejak imunisasi polio 4. Dosis dan cara pakai untuk imunisasi dasar (polio 1. Sedang dalam pengobatan kortikosteroid atau imunosupresif oral maupun suntikan.2. Vaksin polio inaktif ini harus disimpan pada suhu 2-8°C dan tidak boleh dibekukan. Keganasan dan penderita HIV.5°C). Mengingat Indonesia merupakan daerah endemik polio. juga pengobatan radiasi umum 4.5 ml dengan suntikan subkutan dalam tiga kali berturut-turut dengan jarak 2 bulan antara masing-masing dosis akan memberikan imunitas jangka panjang (mukosal maupun humoral) terhadap tiga macam tipe virus polio yang di timbulkan oleh OPV. imunisasi harus ditunda 2.

Berbeda dengan infeksi alami demam tidak tinggi. sedang memperoleh pengobatan imunoglobulin atau bahan-bahan berasal dari darah. dalam satu dosis 0. Kontra indikasi Kontra indikasi imunisasi camapk berlaku bagi mereka yang sedang menderita demam tinggi. Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan (tipe Edmonston B) 2.5 mL sub-kutan dalam. demam dijumpai pada hari ke 5-6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari. memiliki riwayat alergi.1. sedang memperoleh pengobatan imunosupresi. walaupun demikian peningkatan suhu tubuh tersebut dapat merangsang terjadinya kejang demam. Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam aluminium). Dosis dan cara pemberian Vaksin campak diberikan pada umur 9 bulan. Berdasarkan penelitian dianjurkan pemberian imunisasi campak ulangan pada saat masuk sekolah dasar (5-6 tahun). Kejadian KIPI imunisasi campak telah menurun dengan digunakannya vaksin campak yang dilemahkan. guna mempertinggi serokonversi. 11 . hamil.5°C yang terjadi pada 5-15% kasus. Reaksi KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) Reaksi KIPI imunisasi campak yang banyak dijumpai terjadi pada imunisasi ulang pada seseorang yang telah memiliki imunitas sebagian akibat imunisasi dengan vaksin campak dari virus yang dimatikan. Gejala KIPI berupa demam > 39.

anak dengan penyakit kronik seperti kistik fibrosis. Anak yang tinggal di lembaga cacat mental.MMR Rekomendasi Vaksin MMR harus diberikan sekalipn ada riwayat infeksi campak. maka dapat diberikan secara bersamaan dengan menggunakan alat suntik dan tempat yang berbeda. family day care. Tidak ada efek imunisasi yang terjadi pada anak yang sebelumnya telah mendapat salah satu atau lebih dari ketiga penyakit ini. gondongan dan rubela atau imunisasi campak. Bayi dan anak beresiko terhadap infeksi campak Pada populasi dengan insiden yang tinggi pada infeksi campak dini. Indikasi pemberian vaksin MMR adalah 1. 3. kepada orang tua diberikan pengertian bahwa dapat timbul demam 5-12 hari setelah imunisasi. Bila imunisasi dasar tidak lengkap sampai waktu pemberian MMR. Dianjurkan untuk mengurangi demam dengan pemberian parasetamol. gagaltumbuh. Reaksi KIPI Pada penelitian telah dilaporkan setelah vaksinasi MMR dapat terjadi 12 . dan plygroups. Individu dengan HIV (+) dapat diberikan vaksin MMR bila tidak ditemukan kontra indikasi lainnya. imunisasi dapat diberikan pada usia 9 bulan. sindrom down. Vaksinasi MMR yang terlambat Vaksin yang diberikan pada anak yang berusia > 12 bulan. Anak berusia 1 tahun keatas yang berada di day care centre. kelainan gnjal bawaan. kalainan jantung bawaan. Anak dengan riwayat kejang Anak dengan riwayat kejang atau riwayat keluarga pernah kejang harus diberikan MMR. 2.

seperti pada vaksin rubela. Dosis dan cara pakai Vaksin MMR diberikan pada umur 15-18 bulan. Individu dengan tuberkulin positif akan menjadi negatif setelah pemberian vaksin. 2. Jika MMR diberikan pada wanita dewasa dengan kehamilan harus ditunda selam 2 bulan. 13 . Pemberian MMR harus ditunda sampai penyakit ini sembuh. Vaksin MMR tidak boleh diberikan dalam waktu 3 bulan setelah pemberian imunoglobulin atau transfusi darah (whole blood). Kejang demam pada 0. Pada saat ini imunisasi MMR ditunda lebih kurang 1 bulan setelah imunisasi yang terakhir. sulit bernapas.1. imunisasi campak 2 pada umur 5-6 tahun tidak perlu diberikan. 3. malaise. Anak dengan demam akut. Ulangan diberikan pada umur 10-12 tahun atau 12-18 tahun. 7. hipotensi dan syok) terhadap gelatin dan neomisin. Anak dengan alergi berat ( pembengkakan pada mulut atau tenggorokan. dosis satu kali 0. subkutan. Apabila seorang anak telah mendapat imunisasi MMR pada umur 12-18 bulan.1% anak setelah 6-11 hari imunisasi Kontra indikasi 1.5 ml. 5. 6. Defisiensi imun bawaan dan didapat. demam yang sering terjadi 1 minggu setelah MMR imunisasi dan berlangsung 2-3 hari. mereka yang mendapat pengobatan denga imunosupresif atau terapi sinar atau mendpat steroid dosis tinggi (ekuivalen dengan 2 mg/kgBB/hari prednison) 2. 4. Vaksin MMR yang beredar di pasaran ialah MMR-II (MSD) dan Trimovax (Avenitis Pasteur). Anak dengan penyakit keganasan yang tidak diobati atau gangguan imunitas. MMR diberikan minimal 1 bulan sebelum atau setelah penyutnikan imunisasi lain. Anak yang mendapat vaksin hidup yang lain (termasuk BCG dan vaksin virus hidup) dalam waktu 4 minggu.

pada kunjungan lebih dari 4 bulan. pda kunjungan singkat kurang dari 2 bulan.08 ml/kgBB. Diberikan sebagai pencegahan segera setelah kontak atau pencegahan sebelum kontak. dianjurkan: Dosis: 0. 14 .3.5 ml. Bagi calon pengunjungdaerah endemis. diberikan secara selektif. dan 6 bulan. diberikan dalam kurun waktu tidak lebih dari satu minggu setelah kontak. Imunisasi ulangan dilakukan setiap 3-5 tahun. dikemas dalam 3 dosis dengan interval selang sehari (hari 1. sedangkan Pedvax Hib diberikan pada umru 2 dan 4 bulan.Hib (H.4. Polisakarida suntikan adalah vaksin capsular Vi polysaccharide yaitu Trphim Vi (Aventis Pasteur) diberikan pada anak umur >2 tahun. dosis ketiga (6 bulan) tidak diperlukan. Kedua. Di daerah resiko tinggi. Hepatitis A Imunisasi pasif dilakukan dengan memberikan imunoglobulin (human normal imunoglobulin). Imunisasi aktif dilakukan dengan imunisasi. dan 5).influenzae tipe b yang beredar pertama.02 ml/kgBB. Satu dosis vaksin Hib berisi 0. Dosis: 0.02 ml/kgBB. PRP-T (poly ribosyribitol-tetanus) yaitu Act Hib (Aventis Pasteur). Demam tifoid Di Indonesia terdapat 2 jenis sediaan vaksin.influienzae tipe b) Vaksin conjugate H. terutama mereka yang terbukti belum mempunyai antibodi. vaksin Hib hanya diberikan 1 kali. yaitu vaksin polisakarida suntikan dan oral. Imunisasi dasar untuk Act Hib diberikan pada umur 2. Ulangn vaksin Hib diberikan pada umur 18 bulan. diberikan secara intramuskular. Apabila anak datang pada umur 1-5 tahun. ulangan dilakukan setiap 3 tahun. rekomendasi : 3 Pada anak usia sekolah ( diatas 2 tahun). PRP-OMPC (PRPouter membrane protein complex) yaitu Pedvax Hib (MSD). bagi mereka yang akakn berpergian ke daerah endemis. Dosis yang dianjurkan 0. Tifoid oral Ty21a yaitu Vivoiif (Bema) diberikan pada umur >6 tahun.

Untuk mendapatkan perlindungan jangka panjang (10 tahun) denga nilai ambang pencegahan >20 mlU/ml. dan Avaxim (Aventis Pasteur). imunisasi cukup diberikan dua kali dengan interval 6 bulan.Pada penderita penyakit hati kronik (B maupun C) Vaksin Vaksin hepatitis A diberikan pada daerah yang kurang terpajan (underexposure) pada umur >2tahun. di daerah deltoid atau paha lateral. Saat ini vaksin yang tersedia di Indonesia adalah : 45 Havrix (Glaxo Smith Kline). Vaqta (Merck Sharp Domme). dengan dosis tunggal (dewasa 1440 EIU dan anak 720 EIU). intramuskuler. dan Vaqta (MSD).Vaksin dibuat dari virus yang dimatikan (inactivated vaccine). ulangan 6 bulan verikutnya. Vaksin hepatitis A yang telah beredar ialah Havrix (Glaxo Smith Kline). dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah suntikan pertama. dari strain HM-175. Dosis Avaxim 0. Kemasan Havrix Untuk dewasa 1 flakon (1 ml) berisi 1440 EIU (Elisa International Unit) Untuk anak : 1 flakon (0. 15 . Vaksin diberikan secara intramuskular di daerah deltoid.5 ml) berisi 720 EIU Cara pemberian melalui suntikan intramuskular.5 ml berisi 160 unit. Kemasan Avaxim Setiap 0. Dosis Havrix -Untuk vaksin denga dosis 360 U diberikan 3x dengan interval 4 minggu anatara suntikan 1 dan 2.5 ml mengandung 160 unit antigen virus hepatitis A yang dimatikan. -Apabila mempergunakan dosis 720 U. Avaxim (Aventis Pasteur). Pemberian boster dianjurkan 6 bulan kemudian.

Gejala tersebut biasanya berlangsung dari satu sampai lima hari. batuk tak produktif. jarang lebih dari 5 hari. Influenza Manifestasi Klinik Masa inkubasi umumnya 2 hari. misalnya pada lansia. faringitis. Pada keadaan berat dapat menimbulkan komplikasi berupa ensefalopati atau ensefalitis. dan pada orang dewasa muda yang sehat. lelah. Anak dan bayi yang menderita infeksi virus influenza jangan diberi aspirin karena adanya risiko terjadi sindrom Reye. Akan tetapi. Pada keadaan demikian infeksi influenza dapat memperburuk penyakit jantung atau paru-paru. nyeri otot/sendi dan gangguan pencernaan. Haemophilus influenzae. Influenza adalah penyakit infeksi saluran nafas akut. atau Staphylococcus aureus). penyakitnya bisa lebih berat dan dapat berisiko menyebabkan kematian pada sebagian kecil kasus. Biasanya ditandai dengan adanya demam dan berbagai kombinasi gejala seperti rinitis. lemas. Efek Samping Efek samping yang terjadi sangatlah jarang. dengan dosis tunggal pada anak maupun dewasa sama. ataupun sistemik berupa demam. yaitu infeksi sekunder bakteri (Streptococcus pneumoniae. dapat mengenai semua umur. dilanjutkan pemberian booster 6 bulan kemudian. Komplikasi Komplikasi yang paling sering adalah pneumonia. dapat sembuh sendiri. biasanya 16 . didaerah deltoid atau paha lateral.Cara pemberian melalui suntikan intramuskular. Pada keadaan demikian infeksi influenza dapat memperburuk penyakit jantung atau paru-paru. Komplikasi pneumonia primer virus influenza sangat jarang. pasien penyakit paru atau jantung. nyeri otot. muntah dan diare. bervariasi antara 1 – 5 hari. dapat berupa reaksi lokal berupa nyeri atau kemerahan. nyeri kepala.

Di Rusia telah digunakan untuk vaksinasi dewasa. akibat oedem otak. 17 . Kekebalan terhadap influenza didapat dari pembentukan antibodi sekretori IgA dan IgG terhadap glikoprotein. sehingga perubahan komposisi dapat dipakai untuk menyesuaikan antigenic shifts dan antigenic drift. Sindrom Reye merupakan komplikasi yang dapat timbul pada anak. Vaksin hidup intranasal (cold attenuated intranasal vaccine) telah dikembangkan selama lebih dari 20 tahun. mengingat risiko infeksi influenza pada lansia terutama bila menderita penyakit paru atau penyakit jantung kronis. biasanya dihubungkan dengan tipe B. 1. daya proteksi menurun pada tahun berikutnya. tidak boleh dibekukan. Pada saat ini cakupan imunisasi influenza mencapai 70-90 % untuk proteksi selama satu tahun. Formulasi vaksin influenza direview secara berkala. Vaksin influenza harus disimpan dalam lemari es dengan suhu 2-80 C. Terdapat 2 macam vaksin yaitu whole-virus dan split-virus vaccine. maka perlu dilakukan vaksinasi secara kontinu menggunakan vaksin yang mengandung galur yang mutakhir. apabila galur tetap sama atau hanya terjadi antigenic drift yang kecil.bila ada risiko kematian tinggi. Untuk anak dianjurkan pemakaian jenis split-virus vaccine saja. Lansia diatas 65 tahun. Di Amerika belum digunakan pada anak. namun mungkin dalam waktu dekat telah bisa didapat. Untuk menjaga agar daya proteksi berlangsung terus menerus. hemaglutinin dan neuraminidase virus. karena tidak mengakibatkan demam tinggi. dengan gejala muntah hebat dan penurunan kesadaran bisa sampai koma. Rekomendasi Imunisasi influenza direkomendasikan pada. Saat ini dikenal 2 macam vaksin influenza yaitu Fluvax-CSL (Rhone-Poulenc Rorer) dan Vaxigrip (Aventis Pasteur). Vaksin Vaksin Influenza mengandung virus yang tidak aktif (inactivated influenza virus). Antibodi ini sangat spesifik untuk galur tertentu.

ginjal dan penyakit metabolik. Imunisasi influenza secara teratur juga dianjurkan untuk dewasa dengan penyakit kronis seperti jantung. diberikan 2 dosis dengan jarak interval minimal 4 minggu. 18 . maka vaksin diberikan pada musim gugur. untuk mendapatkan antibodi yang memuaskan. Staf rumah perawatan dan fasilitas perawatan kronis lain (untuk melindungi pasien) Vaksinasi influenza diberikan sebelum KLB terjadi. pada individu yang pernah terpajan pada galur yang terkandung dalam vaksin tersebut. Pada anak atau dewasa dengan gangguan fungsi imun. Vaksin diberikan dengan suntikan subkutan dalam atau intramuskular. Dewasa dan anak yang mendapat obat imunosupresif. kedua vaksin tersebut dapat diberikan pada waktu kunjungan yang sama. Anak dengan kelainan jantung bawaan. Perlu diingat bahwa anjuran pemberian vaksin influenza sama dengan vaksin pneumokokus. Vaksin diberikan satu kali. paru. 4. Satu dosis vaksin secara teratur setiap tahun dapat diberikan pada usia 9 tahun keatas. Imunisasi teratur juga perlu dipikirkan untuk individu yang masuk kelompok.2. Anak usia 6 bulan sampai 9 tahun bila mendapat vaksin pertama kali. 3. Penghuni rumah perawatan (nursing homes) dan fasilitas pelayanan penyakit kronis lain. 5. Staf yang merawat pasien immunokompromais (penyakit keganasan. 1. harus diberikan 2 kali berturut-turut dengan selang waktu 1 bulan. mempunyai risiko tinggi untuk infeksi influenza. penerima transplantasi sumsum tulang dan hati. Pada anak usia antara 6 bulan sampai 5 tahun didapatkan reaksi demam 18%. Tidak ada bukti efikasi vaksin influenza pada bayi usia kurang dari 6 bulan. Misal untuk mencegah KLB pada musim dingin. tetapi mempunyai kemampuan respon imun yang kurang terhadap vaksinasi influenza) 2. dosis tunggal. defisiensi imun.

Begitu pula tidak boleh diberikan pada ibu hamil dan menyusui. seperti protein telur. lemas dan mialgia (flu-like symptoms). 4. ditakutkan setelah vaksinasi timbul demam yang akan menyebabkan perkembangan fetal terganggu. atau mengalami distres nafas akut atau pingsan. Termasuk ke dalam kelompok ini seseorang yang setelah makan telur mengalami pembengkakan bibir atau lidah.Reaksi yang akan terjadi: 1. Vaksin influenza dapat meningkatkan beban virus pada resipien yang telah terinfeksi HIV. Didapat pada 15-20 % resipien yang mendapat vaksinasi. Namun penelitian yang lebih baru menunjukkan tidak ada hubungan. Hal ini terjadi karena respons alergi terhadap komponen vaksin. Kontra indikasi Individu dengan hipersensitif anafilaksis terhadap pemberian vaksin influenza sebelumnya dan komponen vaksin seperti telur jangan diberi vaksinasi influenza. dihubungkan dengan peningkatan frekuensi penyakit Guillain-Barre syndrome (GBS) pada lansia. didapat pada < 1% resipien. Pasien dengan riwayat anafilaksis setelah makan telur atau adanya respons alergi terhadap protein telur jangan diberi vaksin influenza. 2. 19 . Pada tahun 1976 vaksin influenza produksi Amerika Serikat. terutama pada anak yang muda: timbul setelah 6-12 jam pasca vaksinasi dan lamanya 1 atau 2 hari.000 populasi dewasa. eritema dan indurasi pada tempat suntikan. Reaksi lokal sakit. lamanya 1-2 hari. angio-oedema. Vaksin influenza tidak boleh diberikan pada seseorang yang sedang menderita penyakit demam akut sedang dan berat. 5. 3. Reaksi segera (immediate hypersensitivity seperti hives. yang timbul beberapa jam setelah penyuntikan. syok anafilaksis) jarang didapat. Namun progresifitas penyakit HIV tidak pernah ada dan vaksinasi influenza pada keadaan demikian di Amerika masih dilaksanakan. Gejala sistemik tidak spesifik berupa demam. Bila diberikan pada wanita hamil. asma. prevalensi sekitar 1-2 orang per 100.

Apabila dinilai efektivitas vaksin varisella tidak diragukan lagi. Berdasarkan peretimbangan tersebut maka IDAI merekomendasikan agar imunisasi varisela diberikan pada anak umur 10-12 tahun yang belum terpajan. satu kali pemberian. apabila terjadi pada masa kehamilan dapat mengakibatkan bayi menderita sindrom varisela kongenital dengan kecacatan dan kematian yang tinggi. subkutan. Namun apabila dikehendaki oleh orang tua. dosis 0. Vaksin yang telah beredar adalah Vaarilrix (Glaxo Smith Kline). namun sampai saat ini cakupan imunisasi belum luas oleh karena harganya yang masih mahal. vaksin dapat diberikan setelah umur >1 tahun dan diulang 10 tahun kemudian untuk melindungi varisela dewasa. 20 . Penelitian mengenai lama perlindungan vaksin varisela baru 10 tahun sehingga belum diketahui apakah suntikan satu kali dapat melindungi kehamilan di masa dewasa.5 ml.Varisela Data prevalensi kasus varisela di negara tropis berbeda denga sub tropis. Dampak penyakit pada orang dewasa lebih berat daripada anak. Apabila diberikan pada umur >13 tahun maka imunisasi diberikan 2 kali dengan jarak 4-8 minggu.

S. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.R. 2005. Hidayat. 2005. Hidajat. Yogyakarta. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.DAFTAR PUSTAKA 1. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. 11. S. Edisi kedua. 2005. Edisi kedua. S. Pertusis. S. 5. Jakarta. Jakarta. 9. Jakarta.R. 2. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Influenza dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Andi Offset. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2005. 2005. et Hadinegoro. Haemophilus influenza tipe b dalam Buku Imunisasi di Indonesia. P. Notoatmodjo. Jakarta. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Kartasasmita. Hepatitis A dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Gondongan. H. Jakarta. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. . Pusponegoro. Campak. Jakarta. 1993. Tetanus dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Ranuh. Rubela (MMR) dalam Buku Imunisasi di Indonesia. C. Jakarta. Pasaribu. 21 . Poliomielitis dalam Buku Imunisasi di Indonesia. A. B. P. Suyitno. 2005. 2005. Edisi kedua. Difteria.D. Edisi kedua. Campak dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Demam Tifoid dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi pertama. Rampengan. Rahajoe. T. 10.G. Jakarta. et al. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Dasar-Dasar Imunisasi dalam Buku Imunisasi di Indonesia. et Pujiarto. 7. H. Edisi kedua. 4.S.N.S. Jakarta. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. N. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hepatitis B dalam Buku Imunisasi di Indonesia.N. I.H. 2005. 6. Tuberkulosis (Vaksin BCG) dalam Buku Imunisasi di Indonesia. 2005. Edisi kedua. 2001. S. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. et Pujiarto. B. 2005. 8. Soegijanto. 12. Jakarta. Edisi kedua. Tumbelaka. 3. Jakarta.

14. Pedoman Kerja Puskesmas. Departemen Kesehatan R. Jilid 3. Edisi kedua. Satari. 2005. Jakarta. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.13. Varisela dalam Buku Imunisasi di Indonesia.I. H. 1992. Departemen Kesehatan.I. 22 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful