You are on page 1of 8

ISI

1. PARASETAMOL (asetaminofen) {N-asetil-p.aminofenol} [C8H9NO2] Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik / analgesik. Paracetamol utamanya digunakan untuk menurunkan panas badan yang disebabkan oleh karena infeksi atau sebab yang lainnya. Disamping itu, paracetamol juga dapat digunakan untuk meringankan gejala nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang. Ia aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi. Sifat antipiretik yang dimiliki parasetamol disebabkan oleh gugus

aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Parasetamol memiliki sebuah cincin benzena, tersubstitusi oleh satu gugus hidroksil dan atom nitrogen dari gugus amida pada posisi para (1,4). Senyawa ini dapat disintesis dari senyawa asal fenol yang dinitrasikan menggunakan asam sulfat dan natrium nitrat. Parasetamol dapat pula terbentuk apabila senyawa 4-aminofenol direaksikan dengan senyawa asetat anhidrat. Sifat analgesik dari parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Dalam golongan obat analgetik, parasetamol memiliki khasiat sama seperti aspirin atau obat-obat non steroid antiinflamatory drug (NSAID) lainnya. Seperti aspirin, parasetamol berefek menghambat prostaglandin (mediator nyeri) di otak tetapi sedikit aktivitasnya sebagai penghambat postaglandin perifer. Namun, tak seperti obat-obat NSAIDs. Parasetamol termasuk ke dalam kategori NSAID sebagai obat anti demam, anti pegel linu dan anti-inflammatory. Inflamasi adalah kondisi pada darah pada saat luka pada bagian tubuh (luar atau dalam) terinfeksi, sebuah imun yang bekerja pada darah putih (leukosit). Contoh pada bagian luar tubuh jika kita terluka hingga timbul nanah itu tandanya leukosit sedang bekerja, gejala inflamasi lainnya adalah iritasi kulit. Sifat antiinflamasi parasetamol sangat rendah sehingga tidak digunakan sebagai antirematik. Pada penggunaan per oral Parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60 menit setelah pemberian. Parasetamol diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi. Karena parasetamol memiliki aktivitas antiinflamasi (antiradang) rendah, sehingga

tidak menyebabkan gangguan saluran cerna maupun efek kardiorenal yang tidak menguntungkan. Metabolisme utamanya meliputi senyawa sulfat yang tidak aktif dan konjugat glukoronida yang dikeluarkan lewat ginjal.benzo-kuinon imina). Sedangkan sebagian kecil. aseton. kloroform. alkohol. Parasetamol mempunyai wujud berupa butiran kristal putih dengan rasa yang pahit. Parasetamol berikatan dengan sulfat dan glukuronida terjadi di hati. Parasetamol larut dalam air. Ikatan jenuhnya mudah diputus menjadi asam asetat dan p-aminofenol. konsentrasi metabolit beracun ini menjadi jenuh sehingga menyebabkan kerusakan hati. Bila pasien mengkonsumsi parasetamol pada dosis normal. Namun apabila pasien mengkonsumsi parasetamol pada dosis tinggi. eter. Struktur dari parasetamol adalah sebagai berikut : Parasetamol . gliserol. propilen glikol. dimetabolismekan dengan bantuan enzim sitokrom P450. Karenanya cukup aman digunakan untuk semua golongan usia pada dosis yang aman.263 g/cm³ dan massa molar 151. gliserol. yang stabil pada pH > 6 namun tidak stabil pada pH asam atau kondisi alkalis.17 g/mol. Hanya sedikit jumlah parasetamol yang bertanggung jawab terhadap efek toksik (racun) yang diakibatkan oleh metabolit NAPQI (N-asetil-p. Mempunyai titik lebur 169 °C (336 °F) dengan densitas 1. metabolit toksik NAPQI ini segera didetoksifikasi menjadi konjugat yang tidak toksik dan segera dikeluarkan melalui ginjal. Pada dosis normal bereaksi dengan sulfhidril pada glutation metabolit non-toxic diekskresi oleh ginjal. Perlu diketahui bahwa sebagian kecil dimetabolisme cytochrome P450 (CYP) atau Nacetyl-p-benzo-quinone-imine (NAPQI) bereaksi dengan sulfidril.

Hal ini juga yang membuat efek toksiknya muncul. dosis lazim harian : 40 . didetoksifikasi oleh glutation membentuk asam merkapturat yang bersifat non toksik dan diekskresikan melalui urin.60 mg/KBB/hari. . Dengan proses yang sama parasetamol juga bersifat nefrotoksik. 4. sehingga metabolit tersebut bereaksi dengan sel-sel hepar dan timbulah nekrosis sentrolobuler. Mekanisme toksisitas Pada dosis terapi. Waktu paruh kira-kira 2 jam. kerusakan hati lebih berat. yaitu besarnya dosis parasetamol yang masuk ke dalam tubuh sehingga glutation tidak mampu mendetoksifikasi NAPQI. Oleh karena itu pada penanggulangan keracunan parasetamol terapi ditujukan untuk menstimulasi sintesa glutation. hepatotoksik meningkat karena produksi metabolit meningkat. penderita yang mengkonsumsi obat-obat yang menginduksi enzim hati. Pada dosis normal bereaksi dengan gugus sulfhidril dari glutation menjadi substansi nontoksik. sekitar 3 % diekskresi dalam bentuk tidak berubah melalui urin dan 80-90 % dikonjugasi dengan asam glukoronik atau asam sulfurik kemudian diekskresi melalui urin dalam satu hari pertama. dalam jumlah besar. Namun. Pada kasus Maimunah. Farmakokinetik Parasetamol cepat diabsorbsi dari saluran pencernaan. Pada dosis besar akan berikatan dengan sulfhidril dari protein hati. Dosis 4g pada anak-anak dan 15 g pada dewasa dapat menyebabkan hepatotoksitas berat sehingga terjadi nekrosis sentrolobuler hati. Metabolisme di hati. sebagian dihidroksilasi menjadi N asetil benzokuinon yang sangat reaktif dan berpotensi menjadi metabolit berbahaya (NAPQI). dengan kadar serum puncak dicapai dalam 30-60 menit. Dosis lebih dari 20 g bersifat fatal. salah satu metabolit parasetamol bersifat hepatotoksik (NAPQI). tetapi pada dosis berlebih produksi metabolit hepatotoksik meningkat melebihi kemampuan glutation untuk mendetoksifikasi. parasetamol dosis 140 mg/kg pada anak-anak dan 6 gram pada orang dewasa berpotensi hepatotoksik. yang merupakan metabolit toksik. pengkonsumsian tablet parasetamol hingga 15 tablet. Pada alkoholisme.2. 3. Dosis Toksik Penggunaan parasetamol pada dosis normal adalah Pengobatan tunggal ratarata : 10 mg/KBB.

6. 3. keluar keringat berlebih.5. Gejala sistim pencernaan menghilang dan muncul ikterus. Terjadi pula gangguan faal ginjal berupa oliguria. jika terjadi penurunan kesadaran karbon aktif diberikan melalui pipa nasogastrik. Dekontaminasi Sebelum RS Dapat diberikan karbon aktif atau sirup ipekak untuk menginduksi muntah pada anak-anak dengan waktu paparan 30 menit. berkeringat. bingung. muntah. pucat. meningkatnya bilirubin dan waktu protombin.96 jam ) Merupakan puncak gangguan faal hati. mual dan muntah muncul kembali. RS Pemberian karbon aktif. ensefalopati hepatikum 4. Stadium II (24-48 jam) Peningkatan SGOT-SGPT. tetapi jika kerusakan hati luas dan progresif dapat terjadi sepsis. Stadium III ( 72 . muntah. Pada kasus Maimunah. disuria. 2. Stadium I (0-24 jam) Asimptomatis atau gangguan sistim pencernaan berupa mual. Jika dipilih pemberian metionin sebagai antidotum untuk menstimulasi glutation. ikterus dan terjadi penurunan kesadaran. Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) dan kematian. karbon aktif tidak boleh diberikan karena akan mengikat dan menghambat metionin. nyeri perut kanan atas.10 hari) Terjadi proses penyembuhan. mata kuning (ikterus) dan kehilangan kesadaran (dalam kasus ini koma). lemas. ia telah mengalami stadium awal yang berupa pusing. Stadium IV ( 7. Gambaran klinis Gejala keracunan parasetamol dapat dibedakan atas 4 stadium : 1. Penanganan I. hematuria atau proteinuria. kesulitan mendengar. . Pada anak-anak lebih sering terjadi muntah-muntah tanpa berkeringat. Lalu ia juga mengalami stadium II dan III yang ditunjukkan dengan perut sakit.

sistem biliary. Pemberian obat ini akan mengurangi timbulnya ikterus. Efek yang timbul ini biasanya terjadi selama 15-60 menit setelah dilakukan terapi dimana konsentrasi Nacetylcysteine yang ada pada plasma sangat tinggi. Namun reaksi ini jarang terjadi. Ikterus ditunjukkan dengan menguningnya sklera. atau sistem hematologi. Cara ini efektif untuk mencegah kerusakan liver. Reaksi “anaphylactoid” bisa terjadi akibat terapi intravena Nacetylcysteine. Intravena N-acetylcysteine (Metode khas) Treatment menggunakan intravena N-acetylcysteine digunakan pada pasien yang mengalami keracunan parasetamol setelah mengkonsusmsinya selama 15 jam dan untuk pasien yang mempunyai kadar paresetamol dalam plasma diatas dosis pengobatan. namun efikasi terapi akan turun setelah 8 jam. b. dan kematian jika terapi mulai dilakukan selama 8 jam pertama konsumsi parasetamol. Pemercepat Eliminasi Injeksi Fenobarbital Fenobarbital dapat meningkatkan konjugasi dan ekskresi bilirubin. hipotensi. lalu 100mg/kg dalam dektrosa 5% s dalam jangka waktu 16 jam. koreksi keseimbangan cairan dan asam basa. Indikasi hemodialisis : . mata atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh atau akumulasi bilirubin dalam darah yang besar dalam 24 jam. gagal ginjal. Reaksi ini berupa urtikaria. yang menandakan terjadinya gangguan fungsional dari hepar. Cara terapi ini terdiri dari injeksi intravena dosis 150 mg/kg yang dibuat dalam dektrosa 5% 200 ml 15 menit pertama. dan broncospam sementara.II. Mekanisme kerja dari fenobarbital adalah menstimulir pelepasan GABA. Dialisis Sangat efektif mengeluarkan salisilat dengan cepat. Diikuti injeksi dosis 50 mg/kg dalam dektrosa 4% 500ml dalam jangka waktu 4 jam. kulit. Antidotum a. Sehingga dosis total yang diberikan selama selama 20 jam adalah 300mg/kg.

Penderita intoksikasi kronik dengan kadar serum > 600 mg/L ( 60 mg/dL).4. Pemberian aktif karbon harus diteruskan sampai kadar salisilat dalam serum benar-benar turun. Penderita intoksikasi berat. d. Namun. Infus albumin . letargi terutama penderita muda dan debil. Penderita intoksikasi akut. karbon aktif tidak boleh diberikan karena akan mengikat dan menghambat metionin. Jika terjadi penurunan kesadaran karbon aktif diberikan melalui pipa nasogastrik. c. bila perlu dilakukan pemeriksaan gas darah arteri dan X-ray untuk memantau adanya edema pulmonal.i. iii. e. Suportif Oksigenasi Dilakukan untuk mempertahankan jalannya napas (respirasi). Darah dibasakan hingga pH-nya mendekati 7. ditambah asidosis. Pemberian cairan elektrolit Dilakukan supaya pasien tidak mengalami dehidrasi dan hipotensi yang disebabkan oleh muntah dan hiperventilasi. Dengan catatan bahwa dosis salisilat yang sangat besar (30-60 g). Penghambatan Distribusi Injeksi natrium bikarbonat Dilakukan untuk membasakan darah yang telah terjenuhi oleh NAPQI yang bersifat asam. ii. Pada kasus demikian perlu aktif karbon 25-50 g tiap 3-5 jam. dengan kadar serum >1200 mg/L (120 mg/dL) atau asidosis berat. jika dipilih pemberian metionin sebagai antidotum untuk menstimulasi glutation. bingung. Penghambatan Absorbsi Penghambatan absorbsi dapat dilakukan salah satunya dengan pemberian karbon aktif. memerlukan dosis aktif karbon sangat besar untuk mengabsorpsi salisilat dan mencegah desorpsi.

html http://www. N-asetilsistein merupakan antidotum terpilih untuk keracunan parasetamol. sebelum metabolit terakumulasi http://sumarheni.gov/pmc/articles/PMC1401868/pdf/brjclinpharm00205-0053. Larutan N asetil sistein dapat dilarutkan dalam larutan 5 % jus atau air dan diberikan sebagai cairan yang dingin.annemergmed. Keberhasilan terapi bergantung pada terapi dini. dilanjutkan 50 mg/KBB dalam 500 ml dextrose 5 % selama 4 jam.bestbets. Pemberian secara oral dapat menyebabkan mual dan muntah.html http://yermei. Jika muntah dapat diberikan metoklopropamid ( 60-70 mg IV pada dewasa ). N asetil sistein sangat efektif bila diberikan segera 8-10 jam yaitu sebelum terjadi akumulasi metabolit.gov/pmc/articles/PMC1368435/pdf/brjclinpharm00055-0009.pharmweb. diberi dosis pemeliharaan 70 mg / kg BB setiap 4 jam sebanyak 17 dosis.nlm.ac. Nasetil-sistein bekerja mensubstitusi glutation.pdf http://www.ncbi.blogs.unhas.ncbi. kemudian 100 mg/KBB dalam 1000 ml dextrose melalui IV perlahan selama 16 jam berikut.com/2010/12/paracetamol.id/2010/12/23/penggunaan-phenobarbital-dalam-terapi/ http://www.org/bets/bet.Albumin yang ada dalam darah kemudian akan mengikat NAPQI.pdf . meningkatkan sintesis glutation dan mening-katkan konjugasi sulfat pada parasetamol.nih. Dosis .nih.blogspot.com/article/S0196-0644%2805%2981352-6/abstract http://www.  Oral atau pipa nasogatrik Dosis awal 140 mg/ kgBB 4 jam kemudian.php?id=40 http://www.net/pwmirror/pwy/paracetamol/pharmwebpicm.Cara pemberian N-asetilsistein  Bolus 150 mg /KBB dalam 200 ml dextrose 5 % : secara perlahan selama 15 menit. sehingga distribusinya akan terhambat dan kadar NAPQI tersebut di dalam darah akan berkurang.nlm.