BAB 2 KERANGKA TEORETIS

2.1 Pengantar Bab ini berisi uraian singkat mengenai teori-teori yang berhubungan dengan penelitian ini. Di dalamnya terdapat uraian singkat mengenai kajian pemilihan bahasa dan kajian mengenai campur kode serta prosesnya. Bab ini diawali dengan tinjauan tentang konsep pemilihan bahasa yang diajukan oleh Fishman dan kemudian dilengkapi oleh Saville-Troike. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan definisi alih kode dan campur kode yang diajukan oleh beberapa ahli. Lalu akan dibahas juga batasan campur kode dan faktor sosial dari campur kode. Pembahasan selanjutnya akan menjelaskan tiga proses campur kode yang diajukan oleh Muysken (2000), yang terdiri atas penyisipan, alternasi, dan leksikalisasi kongruen. Bagian yang terakhir akan membahas kelas kata dan juga fungsi sintaksis.

2.2 Pemilihan Bahasa Menurut Fishman, pilihan atau ragam bahasa yang digunakan oleh seorang penutur dipengaruhi oleh faktor partisipan, latar, dan topik (Holmes, 2001: 21). Ketiganya secara umum dikenal dengan konsep ranah (domain) penggunaan bahasa. Ranah ini berhubungan dengan interaksi khusus dan dalam latar yang khusus pula. Contohnya dapat dilihat pada sebuah keluarga bilingual yang bermukim di Selandia Baru, sang anak berkomunikasi dengan orang tuanya mempergunakan bahasa Tongan untuk membicarakan beragam topik, namun ia mempergunakan bahasa Inggris untuk berdiskusi tentang pelajaran sekolah dengan saudaranya. Saville-Troike (2003: 42—43) memberikan penjelasan dari konsep yang diajukan oleh Fishman bahwa topik banyak digunakan menjadi penentu pilihan bahasa dalam konteks multilingual. Para penutur bilingual seringkali mempelajari topik-topik tertentu melalui suatu bahasa dan topik lainnya dengan bahasa yang lain. Hal ini menyebabkan mereka hanya mengenal kosakata topik tersebut dalam bahasa masing-masing dan merasa lebih “natural” mempergunakan suatu bahasa

Universitas Indonesia

Campur code..., Annisa Ramadhani, FIB UI, 2011.

15

untuk topik tertentu. Faktor partisipan meliputi usia, jenis kelamin, dan status sosial, sedangkan latar meliputi tempat dan waktu. Namun, adakalanya ketiga faktor tersebut tidak cukup untuk menjelaskan mengapa seorang penutur memilih suatu bahasa. Faktor lain yang juga harus diperhatikan antara lain jarak sosial, hubungan status penutur, peran sosial, dimensi formalitas, dan juga fungsi atau tujuan dari interaksi (Holmes 2001: 25— 26). Lebih lanjut, Saville-Troike (2003: 43) menambahkan bahwa pilihan bahasa juga dipengaruhi oleh identitas sosial dan politik, terutama di tempat yang menjadikan bahasa regional sebagai simbol nasionalisme. Penentuan pilihan bahasa pada umumnya dirumuskan tanpa disadari oleh penuturnya. Rumusan dari pola pemilihan bahasa akan menghasilkan deskripsi tentang aturan komunikasi dalam sebuah masyarakat tutur.

2.3 Definisi Alih Kode dan Campur Kode Alih kode dan campur kode dimaknai secara berbeda oleh beberapa ahli, tetapi ada pula di antaranya yang menyamakannya. Berikut ini adalah penjelasan tentang definisi alih kode dan campur kode menurut beberapa ahli. Menurut Kachru (1978: 107), perbedaan antara alih kode dan campur kode adalah sebagai berikut. Alih kode merupakan kemampuan untuk beralih dari kode A ke kode B, atau disebut juga peralihan dari satu bahasa ke bahasa lain. Pergantian kode ini ditentukan oleh fungsi, situasi, dan partisipan. Dengan kata lain, alih kode mengacu pada kategorisasi dari khazanah verbal seseorang dalam hal fungsi dan peran. Alih kode dalam beberapa konteks merupakan penanda dari sebuah sikap, intensitas emosi, atau beragam jenis identitas. Campur Kode, di sisi lain, adalah pemindahan unit bahasa dari satu kode ke kode yang lain. Pemindahan (pencampuran) ini dihasilkan dalam pengembangan suatu interaksi kode bahasa. Kita dapat menganggap alih kode adalah suatu proses yang dapat dihasilkan dalam variasi campur kode. Beragam tipe percampuran bahasa atau dialek dapat diterapkan oleh seorang multibahasawan atau multidialek. Variasi campur kode menghasilkan indikator sosiolinguistik dari beragam hal (tipe). Ritchie & Bhatia (2006: 337) mendefinisikan alih kode sebagai penggunaan unit-unit linguistik (kata, frasa, klausa, dan kalimat) dari dua sistem
Universitas Indonesia

Campur code..., Annisa Ramadhani, FIB UI, 2011.

berpendapat bahwa peralihan kode dapat melibatkan juga perbedaan jumlah tuturan dan perbedaan unit linguistis—dari beberapa pengulangan ujaran hingga kata maupun morfem. Annisa Ramadhani. yaitu alih kode intrakalimat (intra-sentential code switching) yang terjadi dalam suatu kalimat dan alih kode interkalimat (inter-sentential code switching) yang peralihannya terjadi di akhir kalimat. Alih kode secara formal dapat dibedakan menjadi dua. frasa. dan kalimat) terutama dari dua sistem gramatika dalam satu kalimat. Menurut Hatch (seperti dikutip oleh Ritchie & Bhatia 2006: 337). 2011. Muysken (2006: 149) menggunakan istilah campur kode alih-alih alih kode karena campur kode lebih netral dan tidak membuat klaim tentang mekanisme yang terkandung di dalamnya. pewatas (modifier). klausa... . Istilah ‘pencampuran’ (mixing) digunakan sebagai istilah yang netral. interferensi. kalimat. sedangkan campur kode mengacu pada pencampuran berbagai unit linguistis (morfem. kata. Banyak ahli yang memperdebatkan pembedaan definisi tersebut. Swann et al. tidak ada perbedaan yang jelas antara alih kode interkalimat dan campur kode intrakalimat dan ahli yang lain menolak perbedaan pada dasar fungsional dan memperlakukan keduanya sebagai ‘peralihan situasional’. Selain itu digunakan pula terminologi ‘campur kode’ untuk mengacu fenomena lain yang terkait seperti serapan (borrowing). Istilah ‘peralihan’ (switching) lebih spesifik menjelaskan tentang apa yang terkandung dan diperkenalkan sehubungan dengan peralihan antara klausa.16 gramatika dalam sebuah peristiwa komunikasi. transfer. Hal tersebut dapat bertahan stabil dalam komunitas bilingual. Campur kode mengimplikasikan sebagai hasil dari ujaran yang spontan. maupun ujaran. atau pun Universitas Indonesia Campur code. Campur kode bersifat intrakalimat dan dibatasi oleh prinsip gramatikal dan dapat juga ditimbulkan dari faktor sosio-psikologis. (2004: 40). Alih kode—yang dapat dimotivasi oleh faktor sosial dan psikologis—terjadi antarkalimat (intersentential) dan dapat tunduk pada prinsip wacana.. Ahli yang lain menganggap penting dan sangat berguna bila tujuannya adalah untuk mengembangkan gramatika dari percampuran bahasa. Campur kode umumnya terjadi pada alih kode intrakalimat. FIB UI.

17 peralihan (switching) (Pfaff. kecuali bentuk leksikal tersebut telah terintegrasi secara fonologis ke dalam bahasa dari morfem tersebut. Perbedaan yang cukup mencolok dari alih kode dan campur kode adalah batas kalimat. Di samping itu. saya dalam penelitian ini saya sependapat dengan Hatch (seperti dikutip oleh Ritchie & Bhatia 2006: 337) dan Muysken (2006: 149) dengan tidak membuat perbedaan antara campur kode atau pun alih kode serta fenomena yang lain seperti serapan. McLaughlin seperti dikutip oleh Ritchie & Bhatia. Annisa Ramadhani.4 Batasan Campur Kode Usaha pertama untuk memformulasikan batasan sintaktis umum pada campur kode dapat ditemukan dalam penelitian Sankoff dan Poplack (Yassi. Syarat ini memprediksi bahwa pencampuran tidak dapat terjadi antara morfem terikat dan sebuah bentuk leksikal. alih kode dan campur kode. 2006: 337).. sulit menentukan batas kalimat yang disampaikan oleh penutur. Muysken (2000: 4) menghindari istilah alih kode karena menurutnya peralihan (switching) hanya cocok digunakan sebagai istilah untuk menyebut tipe alternasi dari campur kode. 2.. Sebagai gantinya.. . alih kode kurang netral karena istilah tersebut sudah mengasumsikan sesuatu seperti peralihan. Pertama batasan morfem bebas (free morpheme constraint). Selain itu. digunakan terminologi campur kode untuk menyebut kedua fenomena. yang berseberangan dengan tipe penyisipan. Mereka mengajukan bahwa campur kode bahasa Inggris dan bahasa Spanyol dapat dihasilkan dari sebuah model gramatika yang diatur oleh dua batasan (syarat). Bentuk flipeando— ‘flipping’ adalah bentuk yang berterima. alih kode dianggap kurang netral karena memisahkan campur kode dari fenomena peminjaman dan interferensi. Contohnya disajikan sebagai berikut dalam campur kode bahasa Inggris dan Spanyol. Pada data lisan. Dalam penelitian ini saya mempergunakan data lisan yang kemudian ditranskripsi. 2011. 2001: 238). Oleh karena itu. FIB UI. Lebih lanjut. namun bentuk *catcheando tidak Universitas Indonesia Campur code. Alih kode terjadi antarkalimat sementara campur kode terjadi di dalam kalimat.

Ini berarti bahwa pencampuran bahasa hanya dapat terjadi pada batasan yang dapat diterima oleh kedua bahasa dan pencampuran juga tidak dapat terjadi di antara dua elemen kalimat kecuali elemen tersebut berada di bawah kaidah yang sama. Sementara itu.. Syarat ini memprediksi bahwa campur kode cenderung terjadi pada titik kesejajaran elemen-elemen dari kedua bahasa yang tidak merusak kaidah sintaktik dari kedua bahasa. Contohnya disajikan sebagai berikut. Selain itu. peminjaman. diambil dari Muysken (2000: 14). 2. Goke-Pariola (1983: 39) berpendapat bahwa jika bahasa atau penutur bertemu dalam sebuah kontak. pijin dan kreol. Dalam wacana.. Campur kode digunakan sebagai strategi komunikatif dengan beragam motivasi. Yang kedua adalah batasan ekuivalensi (the equivalence constraint). maka ada beragam fenomena yang dapat diobservasi. dan pencampuran bahasa. dan yang kedua. yang pertama. ada dua praanggapan. campur kode dapat digunakan sebagai perangkat untuk memarkahi antara benda-benda.5 Faktor Sosial Campur Kode Kachru (1978: 107) menyatakan bahwa dalam membahas dua ‘piranti bahasa’. ada kontak bahasa atau pun dialek. dan ini juga meliputi bilingualisme. (8) I told him that so that he would bring it fast | X | | | X | (Yo) le dije eso pa’que (él) la trajera rápido ‘Saya katakan padanya bahwa dia akan membawa itu dengan cepat’ Percampuran tidak dapat dilakukan bila ada perbedaan susunan susunan kata antara bahasa Spanyol dan bahasa Inggris. Annisa Ramadhani. Peristiwa ini banyak ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari. atau suatu peran. 2011. ada alasan fungsional atau pragmatik untuk penggunaan campur kode atau alih kode.18 berterima karena ‘catch’ tidak terintegrasi ke dalam fonologi bahasa Spanyol sehingga tidak dapat menerima sufiks progresif –eando (Yassi. . yaitu alih kode dan campur kode. FIB UI. konvergensi linguistik. campur kode juga cenderung terjadi pada tataran struktur permukaan yang dipetakan bersama oleh kedua bahasa. Universitas Indonesia Campur code. peralihan bahasa. identitas.. 2001:238).

Kita menyerap kata-kata dari bahasa lain untuk mengungkapkan sebuah objek maupun konsep yang tidak terdapat dalam bahasa yang kita gunakan. Campur kode juga dapat mengekspresikan solidaritas kelompok. . Topik pembicaraan juga merupakan salah satu factor pemicu campur kode. FIB UI.. yaitu pengalihan dari satu bahasa ke bahasa lain dalam tempo singkat. Lebih lanjut. Muysken (2000) berpendapat bahwa percampuran tidak disebabkan kesulitan menemukan kata atau pun karena tekanan budaya yang spesifik. Selain itu. Annisa Ramadhani. seperti halnya metafor. faktor kurangnya kosakata juga dapat memicu terjadinya campur kode.19 Menurut Holmes (2001: 34—40). peristiwa tersebut—campur kode— mengacu pada pengalihan dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Faktor pemicu campur kode yang terakhir adalah alasan retoris (disebut juga metaphorical switching) yang menggambarkan asosiasi antara kedua bahasa. Keinginan untuk mengutip bahasa asli ini dapat pula menunjukkan identitas etnis. Metaphorical switching dikenal juga sebagai campur kode (code mixing). Faktor selanjutnya adalah perbedaan status dan formalitas antara penutur. Suatu topik biasanya lebih mudah dibicarakan dalam bahasa tertentu dibandingkan bahasa lain. Dalam pada itu. Hal ini dilakukan karena penutur ingin menunjukkan identitas kelompok atau kesamaan etnis dengan lawan bicara. dibandingkan dengan percakapan dua teman dekat yang tidak menunjukkan jarak sosial (L).. Setiap variasi bahasa menampilkan sebuah makna sosial. yaitu kehadiran peserta lain dalam sebuah percakapan. peralihan ini merefleksikan gramatika dari kedua bahasa yang berjalan secara simultan. 2003). Umumnya. 2011. disebutkan bahwa fenomena ini bukanlah gramatika yang buruk (bad grammar) (Fromkin. Misalnya percakapan antara dokter dan pasien yang menggunakan ragam formal (H). para penutur bilingual hanya bercampur kode bila lawan bicara mereka adalah penutur Universitas Indonesia Campur code. Holmes (2001) menambahkan faktor-faktor yang memicu terjadinya campur kode adalah keinginan untuk mengutip perkataan orang lain atau peribahasa dengan menggunakan bahasa aslinya. Ini menunjukkan bahwa campur kode seperti ini memerlukan keterampilan retoris. Holmes (2001) juga menambahkan beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya campur kode..

Berikut ini adalah beberapa Universitas Indonesia Campur code. Leksikalisasi kongruen adalah proses campur kode yang melibatkan pola berbeda dari bahasa yang berbeda dalam suatu ujaran. Pendapat Muysken ini berkaitan dengan pernyataan Holmes yang telah dijelaskan di atas. Penelitian ini akan menganalisis proses campur kode yang terdapat dalam data. Dalam kasus yang lain. pilihan kode berhubungan dengan perbedaan situasi dan juga ranah sosiolinguistik. proses campur kode ini mengadaptasi kerangka teori yang diajukan oleh Myers-Scotton. yaitu dari penyisipan pada bahasa negara asal ke unsur-unsur bahasa negara tuan rumah. 2006: 152—153). 2.20 bilingual juga.6. 2000) yang digunakan penutur untuk menempatkan diri mereka dalam ruang sosial dan dalam hubungan mereka dengan interlokutor.. Penyisipan banyak terjadi pada komunitas dengan latar belakang kolonial dan juga komunitas migran baru. penyisipan (insertion)..6 Proses Campur Kode Ada tiga tipe proses campur kode yang diajukan oleh Muysken (2000: 3. dan leksikalisasi kongruen (congruent lexicalization). yaitu model kerangka bahasa matriks (Matrix Language Frame model). Jenis fenomena bahasa ini mencerminkan cara penutur untuk menganggap diri mereka sebagai bagian dari identitas sosial dan dalam berhubungan satu sama lain dalam konteks yang lebih luas dari struktur komunitas sosial mereka. Ada ketimpangan pada kemampuan penutur dalam menguasai dua bahasa (pergeseran dominasi bahasa). 2. FIB UI.. . ini juga dapat menjadi strategi komunikatif yang dipergunakan untuk meraih tujuan komunikasi. Alternasi adalah proses campur kode dengan mengalihkan tuturan pada suatu ujaran ke dalam bahasa lain. Campur kode juga seringkali menjadi identitas (Winford. Prosesproses tersebut akan dijelaskan sebagai berikut. Penyisipan merupakan pemasukkan elemen dari beragam kategori linguisitis bahasa lain ke dalam suatu ujaran. 2011.1 Penyisipan (insertion) Menurut Muysken (2000). Hal tersebut tercermin dalam pergeseran arah penyisipan. Menurut Winford (2003). Annisa Ramadhani. alternasi (alternation). Ini terjadi pada generasi pertama dan ketiga pada komunitas imigran.

Dalam beberapa kasus. Kemudian beberapa elemen tersebut akan membentuk konstituen yang unik. Konstituen yang unik dapat terbentuk bila konstituen tersebut tidak mengandung elemen yang lain. ada pula penyisipan yang memasukkan beberapa konstituen. pl: plural marker (pemarkah jamak) Universitas Indonesia 3 Campur code. Contohnya disajikan sebagai berikut dalam pencampuran bahasa Bolivia Quechua dan Spanyol yang diberikan oleh Muysken (2000: 63). Konstituen ini dapat dimasukkan dengan mudah. Dalam teori ini disebutkan bahwa susunan konstituen bahasa matriks dan kategori fungsional bahasa matriks dianggap mendominasi klausa. 2000: 62).. FIB UI. CIS: cislocative (near or toward speaker).. Penyisipan yang memasukkan elemen tunggal disebut penyisipan konstituen well-defined. (9) Žib li-ya een glas water of zo Get for-me a glass water or so ‘Please get me a glass of water or something’ ‘Tolong ambilkan saya segelas air atau yang lain’ Pada contoh di atas.21 ciri dari proses campur kode penyisipan. Annisa Ramadhani. Dalam model ini. Fragmen yang mendahului penyisipan dan fragmen yang mengikuti berhubungan secara gramatikal. yang dapat berbentuk unsur leksikal (misalnya nomina) atau berbentuk frasa (contohnya frasa preposisional atau frasa nominal). 2011. Model ini menggabungkan gagasan bahwa ada hubungan asimetris antara bahasa matriks dan sematan pada situasi pencampuran.. yang disebut juga penyisipan ganda berdampingan. Penyisipan cenderung menunjukkan struktur nested a b a. (10) Chay-ta las dos de la noche-ta chaya-mu-yku that-AC the two of the night-AC arrive-CIS-1pl3 ‘There at two in the morning we arrive’ ‘Kami sampai pada pukul dua’ AC: accusative case (kasus akusatif). unsur yang dimasukkan adalah sebuah konstituen. Konstituen tersebut merupakan unit sintaktis. penyisipan serupa dengan pencampuran konstituen bahasa matriks dan bahasa sematan (embedded language). . Berikut ini adalah contoh pemasukkan sebuah konstituen pada campur kode bahasa Arab Maroko dan Belanda (Muysken. Pada proses campur kode penyisipan. bagian yang dimasukkan adalah frasa nominal.

TO: topic (topik) 5 4 Universitas Indonesia Campur code. banyak ditemukan penyisipan yang merupakan elemen terpilih (yang berupa objek atau pun pelengkap) alih-alih keterangan. Contoh adalah sebagai berikut. elemen yang dimasukkan adalah verba ‘paga’ dan adjektiva ‘dura’. O: objek. EMPH: emphatic (penegas) ABL: ablative case (kasus ablatif). Pay-1O-IM one silver hard-with say-PST-2-EMPH4 Se había comprometido pagarle con plata dura. adjektiva. dan verba. banyak proses penyisipan yang menerima pemarkah kasus bahasa Quechua. ‘You had promised to pay him with hard cash’ ‘Kamu harus berjanji untuk membayarnya secara tunai’ Dalam contoh di atas. LO: locative (lokatif). hal ini tidak hanya terjadi pada verba. 2011. PST: past (lampau). Ciri diagnostik lain dari proses ini adalah intergrasi morfologis. de verdad merupakan bagian dari ungkapan yang lebih lengkap. (11) Paga-wa-y uj qolqe duro-wan willa-sqa-yki-taj. M: maskulin.. Pada data bahasa Spanyol. Elemen yang dimasukkan pada umumnya adalah nomina.22 Pada contoh di atas. .. PST: past (lampau). pada proses campur kode ini elemen yang dialihkan cenderung berupa kata penuh alih-alih kata tugas.’ ‘Tentu saja. Dalam data bahasa Spanyol. FIB UI. ditemukan pula bentuk pencampuran telegrafis (telegraphic mixing). Contohnya disajikan sebagai berikut dalam pencampuran bahasa Bolivia Quechua dan Spanyol yang diberikan oleh Muysken (2000: 63). tetapi juga terjadi pada pembilang (quantifier). AC: accusative case (kasus akusatif). aku melakukannya di Capunita’ Pada contoh di atas. Selain itu. I did that in Capunita. (12) Sut’I de verdad-manta capunita-pi rua-rqa-ni chay-ta-qa name in truth-ABL Capunita-LO do-PST-1 that-AC-TO5 ‘For sure. diambil dari Muysken (2000: 64). ungkapan lokatif/direksional chay-ta ‘there’ dan verba chayamu-yku ‘we arrive’ merupakan bagian dari klausa yang sama. Dalam kalimat tersebut. bahasa Quechua ditulis dengan huruf tegak dan bahasa Spanyol ditulis dengan huruf miring. Kadangkala.. Annisa Ramadhani.

(14) Je dois je dois glisser [daan vinger] [hier]. Contohnya adalah sebagai berikut dalam bahasa Belanda dan bahasa Prancis (Muysken. dan elemen-elemen tersebut tidak terhubung secara struktural. (15) Bij mijn broer y a un ascenseur en alles.6./di sana ada lift/dan lain-lainnya. Berikut ini adalah diagram proses campur kode alternasi. namun terjadi juga pada komunitas yang lain. sebagai tambahan dari proses penyisipanal yang disebutkan di atas. maka ada kemungkinan terjadinya pinjaman leksikal. (13) A….23 2. FIB UI. Dalam proses ini dua bahasa ditampilkan dalam satu klausa namun tetap relatif terpisah..’ ‘Di tempat saudara saya. karena penutur mengalihkan bahasa maupun ragam secara bersamaan. 2000: 96).. bila rangkaian yang dialihkan diawali dan diikuti oleh elemen bahasa lain. Struktur ini hampir serupa dengan proses penyisipan. Contohnya disajikan sebagai berikut (Muysken. Annisa Ramadhani.. terjadi peralihan beberapa konstituen dalam satu ujaran. Pada penelitian campur kode bahasa Belanda dan bahasa Prancis yang dilakukan oleh Treffers-Daller (Muysken.2 Alternasi (alternation) Muysken (2000: 96). Seringkali proses ini menjadi tipe campur kode yang agak kacau strukturnya. ‘At my brother’s place. 2000: 97). 2000: 96). maka ini dapat disebut proses alternasi./there is an elevator/and everything. Proses campur kode ini sering terjadi dalam komunitas bilingual yang stabil dengan tradisi pemisahan bahasa. proses campur kode ini melibatkan urutan non-nested A…B…A (A dan B mengacu pada bahasa-bahasa).’ Selain itu. ‘I have to insert/my finger here.’ ‘Saya ingin memasukkan jari saya di sini. Berikut ini adalah beberapa ciri dari proses campur kode alternasi.’ Universitas Indonesia Campur code. ditemukan 12% peralihan yang terdiri atas beberapa konstituen. . Namun. Dalam alternasi. Elemen fungsional dapat bergabung dengan bahasa melalui alternasi.B Hubungan yang pasti antara A dan B tidak terdefinisi dan tidak dapat digolongkan pada suatu prinsip dengan mudah. 2011. menjelaskan bahwa alternasi merupakan strategi yang sangat umum dalam campur kode.

Dengan kata lain. Contohnya disajikan sebagai berikut dalam pencampuran antara bahasa Cina dan Inggris yang diberikan oleh Milroy dan Li Wei (Muysken. Dalam data bahasa Jepang. Ciri ini tidak ditemukan pada pencampuran antara bahasa Prancis dan Belanda.24 Pada contoh di atas.. akan semakin mendekati alternasi. konstruksi berawal dengan bahasa Inggris yang berstruktur VO atau bahasa yang bercabang ke kanan (right-branching language) menjadi bahasa Jepang yang berstruktur OV atau bahasa yang bercabang ke kiri (left-branching Universitas Indonesia Campur code. Proses alternasi tidak hanya dapat ditemukan pada tataran internal kalimat. dalam proses ini. Contohnya adalah bila dalam sebuah ujaran terdapat klausa campuran yang dimulai dengan bahasa A dan klausa selanjutnya menggunakan bahasa B. tetapi juga dapat disematkan pada wacana (embedding in discourse). Annisa Ramadhani. We always have opportunities/to get to know people from other churches.’ Fragmen bahasa Prancis pada contoh di atas merupakan sebuah kalimat penuh yang panjang dan cukup kompleks. (17) We always have opportunities heu xig kei ta dei fong gao wui di yen. how shall I say it. ya. karena itu bagaimana. Selanjutnya. maksudnya. tapi klasik. tetapi terdapat pada bahasa lain seperti Jepang.. ‘They are going to arrange that inside to make apartments. 2011. semakin banyak kata-kata yang dikandung sebuah fragmen peralihan (switching). FIB UI. it is not antique it’s classified.. alternasi memperhitungkan panjangnya fragmen dan juga kompleksitasnya seperti terlihat pada contoh berikut. fragmen bahasa Belanda tersebut tidak memiliki hubungan sintaktis. itu bukan suatu hal yang antik./because it is. . ‘Kami selalu berkesempatan untuk bertemu orang dari gereja lain.’ Penggandaan (doubling) juga merupakan salah satu ciri indikatif dari alternasi.’ ‘Mereka akan mengaturnya untuk merapikan apartemen. 2000: 104). (16) Ze gaan dat arrangeren van binnen voor appartementen te doen parce que c’est comment dirais-je c’est pas antique c’est classé.

2000: 105). Contohnya adalah sebagai berikut (Muysken. Dalam proses leksikalisasi kongruen. Berkaitan juga dengan ragam dialek atau standar dan post-creola continua. 2011. Contoh diambil dari Muysken (2000: 128). (19) Oli oaken niin kuin latest. pada umumnya dalam komunitas ini tidak ada tradisi pemisahan bahasa. Proses campur kode ini berhubungan dengan generasi kedua kelompok migran. konsep ini dikembangkan berdasarkan penelitian dari Labov pada tahun 1972 dan Trudgill pada tahun 1986. Berikut ini adalah beberapa ciri dari proses campur kode leksikalisasi kongruen. (18) become techi ni narao tight become ‘become tight’ ‘Menjadi ketat’ Dalam proses campur kode ini. elemen kosong niin kuin ‘like’ menunjukkan bahwa akan ada bahasa lain yang diujarkan. Annisa Ramadhani. terjadi sesuatu yang berbeda. Berikut ini adalah contohnya (Muysken. yaitu penyisipan dari elemen silih (dummy elements).25 language)..3 Leksikalisasi Kongruen (Congruent Lexicalization) Menurut Muysken (2000: 4). 2. Was really like ‘It was really like the latest’ ‘Ini sama persis dengan yang sebelumnya’ Secara semantis. 2000: 105). Pada data pencampuran bahasa Finlandia dan Inggris. Universitas Indonesia Campur code. Susunan sebaliknya tidak terjadi. penandaan (flagging) telah dianalisis sebagai strategi besar pada pencampuran bahasa Prancis dan Inggris dan juga bahasa Finlandia dan Inggris..6.. Selain hal tersebut. . yang membahas pergeseran variasi dialek dan standar. Para penuturnya merupakan penutur bilingual dari bahasa yang berkerabat dengan prestise yang seimbang. Bahasa Belanda standar dicetak miring dan elemen yang terlibat diletakkan di dalam kurung. terdapat kesejajaran linier dan struktural (linear and structural equivalence) pada tataran sintaksis di antara ragam bahasa. FIB UI. Contohnya disajikan sebagai berikut dalam pencampuran bahasa Belanda dan dialek Ottersum Jerman.

(21) maar wat [kunde d’r] nog aan doen? ‘But what / can [you] / do about it?’ ‘Tapi apa / yang dapat [kamu] / lakukan untuk mengatasi hal ini?’ Pada contoh di atas. Selanjutnya. Selain itu.. what then?’ ‘Kalau kami saat ini / mengatakan ingin yang lain. FIB UI. Pencampuran nonkonstituen ini sangat identik dengan leksikalisasi kongruen karena bentuk ini melibatkan unsur kata dalam struktur bersama (shared structure). ada sedikit perbedaan antara kedua bahasa yang melibatkan pronomina subjek orang kedua dan memungkinkan terjadinya pelanggaran gramatika. (22) voor gistere hebbe jullie ‘t ingedeeld wa for yesterday have / you it subdivided / eh? ‘For yesterday you have subdivided it eh?’ ‘Kemarin kamu sudah menyisakannya.. Ini dimungkinkan karena dua bahasa yang terlibat saling berbagi struktur sintaktis. pencampuran tidak dapat diakomodasi dalam teori yang prosesnya mengandung batasan sintaksis karena teori sintaksis mengasumsikan bahwa susunan dalam konstituen merupakan komponen penting dalam struktur linguistik. ya?‘ Selain itu. Pada contoh berikut (Muysken.26 (20) as [wij nou zegge] da we et anders wille. dalam proses ini ditemukan pula bentuk campur kode multikonstituen. peralihan dapat terjadi pada konstituen apa pun. wad an ‘If we now / say that we want something else. kan?’ Ciri selanjutnya dalam leksikalisasi kongruen adalah pencampuran nonkonstituen (non-constituent mixing). tidak ada hubungan gramatikal baik antara fragmen-fragmen dialek maupun fragmen ragam standar. Annisa Ramadhani. leksikalisasi kongruen cenderung menunjukkan struktur nonnested a b a. diambil dari Muysken (2000: 129). seharusnya ada pronomina setelah modal ‘kunde’ seperti kaidah bahasa Belanda standar. 2000: 130).. Contohnya disajikan sebagai berikut. Pada ciri ini. 2011. diambil dari Muysken (2000: 129). . bagaimana. sementara pada dialek Ottersum Jerman pronomina digabungkan dengan bentuk verba. Universitas Indonesia Campur code. Berikut ini adalah contohnya. Oleh karena itu. karena elemen asing dari bahasa b tidak perlu berhubungan dengan sebuah konstituen yang well-defined.

op de Roepaan… ‘ … no / under your direction / done. seluruh kategori dapat dialihkan. (26) … nee onder leiding van jou gedaan. Annisa Ramadhani. diambil dari Muysken (2000: 132) . proses campur kode ini juga melibatkan campur kode dua arah (bidirectional code mixing). karena tidak ada bahasa matriks yang menentukan bahasa dari kata tugas. seringkali kita menemukan peralihan belakang dan depan (back-and-forth switching) karena dalam proses ini tidak ada bahasa matriks yang dominan.27 (23) ja maar bij ouwe mensen komt dat gauwer tot stilstand als bij jonge mense wa ‘Yes but with / older people/that comes / to a halt more quickly than with younger people eh... tidak seperti preposisinya.’ ‘Beberapa karet gelang putus. da gij daor de keuke kent. on the Roepaan. termasuk kata tugas. . kan. that you know the kitchen there.. tapi untuk / orang-orang tua/semua berjalan / lebih cepat dibandingkan dengan orang muda.’ Leksikalisasi kongruen juga mengizinkan peralihan beberapa elemen seperti frasa adposisional dan objek karena beberapa syarat yang mengatur elemen yang terlibat sudah banyak disepakati bersama.’ ‘Ceritakan tentang/dirimu. diambil dari Muysken (2000: 130). diambil dari Muysken (2000: 132).. Contohnya disajikan sebagai berikut. Contohnya disajikan sebagai berikut. Contohnya disajikan di bawah ini. Dalam strategi campur kode ini.’ ‘Ya. Seringkali terjadi komplemen disebutkan dengan bahasa lain.’ Selain itu. (24) sommige elastiekjes zin kapot ‘Some rubber bands are broken. karena tidak ada bahasa matriks dominan. (25) vertel [over jou] maar effe ‘Tell about/yourself then.’ Dalam proses ini..’ Universitas Indonesia Campur code. FIB UI. Leksikalisasi kongruen cukup berbeda dari dua proses sebelumnya yang hanya mencakup campur kode satu arah (unidirectional). 2011.

Tom.’ ‘Tom. Contohnya disajikan sebagai berikut. Annisa Ramadhani. (27) Mijn moeder <knoje> da’k te loat was. FIB UI.. 2008: 49) Universitas Indonesia 6 Campur code. ‘My mother grumbling that I was late.. tolong ambilkan tehnya’ Satuan morfologis abstrak yang dirumuskan untuk menandai kesepadanan antara satuansatuan morfologis di antara pelbagai dialek (Kridalaksana. 2011. Selain itu. Leksikalisasi kongruen juga dapat dipicu oleh campur kode kata dari bahasa lain karena kedua bahasa mempunyai hubungan yang sangat dekat. Tom please pass the tea. ‘Ibuku memarahiku karena aku datang terlambat’ Ciri yang terakhir dari proses ini adalah pencampuran kolokasi dan idiom karena struktur yang terlibat di dalamnya memiliki leksikon bersama yang berhubungan. 2000: 133).28 ‘… bukan / di bawah arahanmu / sudah. Berikut ini adalah contohnya.. Kehadiran diamorf homofon. untuk dapur yang di sana. juga seringkali terjadi pada leksikalisasi kongruen karena dekatnya hubungan antara ragam bahasa yang terlibat.’ Ciri yang lain dari leksikalisasi kongruen adalah adanya diamorf6 homofon. . Tom give just the tea once to ‘Tom. (28) Tom. Umumnya pencampuran ini melibatkan kombinasi partikel dan verba.. karena sistem morfosintaksisnya memiliki banyak persamaan. Seringkali kita menemukan dua elemen yang dapat dipisahkan dari kombinas leksikalisasi atau idiom dari dua bahasa berbeda. di Roepaan. diambil dari Muysken (2000: 134). yang memberikan leksikon bersama baik secara terpisah maupun keseluruhan. Clyne menyatakan bahwa perbedaan antara dua kode dapat dinetralkan pada situasi kedua bahasa saling berbagi pasangan diamorf homofon (Muysken. diambil dari Muysken (2000: 134) . Tom [geef] effe de thee ‘s [en] Tom. ciri lain yang banyak ditemukan pada proses campur kode ini adalah munculnya integrasi morfologis.

. misalnya nomina biasanya mewakili orang atau benda. kategori sintaktis adalah kategori yang memberi tanda pada diagram struktur frasa: kalimat (K). Secara spesifik. yang dikenal dengan kelas kata. listen. (6) adverbia. kategori sintaktis dalam bahasa Inggris menurut O’Grady (1996: 182) terbagi menjadi sepuluh.1 Kategori Sintakstis Bahasa Inggris No Kategori Leksikal 1 noun (nomina) Contoh harry. Sementara itu. (9) artikel. Kategori terkecil dari kategori sintaktis adalah kategori leksikal.. Annisa Ramadhani. frasa nominal (FN).. verba. (10) preposisi. (4) pronomina.. beautiful. dislike 3 adjective (adjektiva) good. bravery 2 verb (verba) arrive. frasa verbal (FV). 2011. discuss. seperti nomina. tall. kategori sintaktis adalah segala sesuatu dari beberapa kategori bagian gramatikal yang membentuk kalimat dalam sebuah bahasa. fond Universitas Indonesia Campur code. (5) numeralia. wheat. remain. preposisi. Ciri-ciri formal kelas kata berbeda dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Kategori sintaktis dalam bahasa Indonesia terbagi menjadi tiga belas (Kridalaksana. Kategori tersebut diperinci dalam tabel berikut. kelas kata merupakan salah satu aspek tata bahasa bahasa Indonesia yang sentral. Kategori sintaktis merupakan setiap kelas dari bagian-bagian yang dikenal dalam sintaksis sebuah bahasa. (1) verba. Pembagiannya akan diperinci sebagai berikut. (2) adjektiva. (8) demonstrativa. (3) nomina. Kelas kata adalah golongan kata yang mempunyai kesamaan dalam perilaku formalnya. (7) interogativa. moisture. 2008). Bagian yang lebih besar adalah kategori frasal. yang mewakili beberapa macam frasa yang ada dalam suatu bahasa seperti frasa nominal dan frasa verbal. (11) konjungsi. intelligent. 1999. boy. policy. old. (12) fatis. Tabel 2.7 Kelas Kata Menurut Kridalaksana (2005). dan lain-lain (Matthews 1997: 368). Menurut Trask (1999: 303). Namun secara universal dan dipandang dari sudut semantis ada persamaan antara kelas dalam berbagai bahasa. melt.29 2. (13) interjeksi. FIB UI.

this...30 4 5 preposition (preposisi) adverb (adverbia) Kategori Non-Leksikal to. quite perbandingan) 8 9 10 qualifier (pemeri) auxilary (verba bantu conjunction (konjungsi) Sumber: O’Grady (1996: 182) always. dan keterangan yang berhubungan secara fungsional.. but Dalam tingkatan yang lebih tinggi dari kelas kata antara terdapat frasa. Subjek adalah bagian klausa atau gatra yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara. 2. bagian ini merupakan subjek klausa. so. often. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif. dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat. objek. may. very. Penentuan kelasnya didasarkan pada perilaku sintaktisnya. could and. mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa. a. pelengkap. these 6 7 determiner (determinator) degree word (tingkat too. by silently. almost will. or. in. Predikat adalah bagian klausa atau gatra yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara tentang subjek. FIB UI. should. Fungsi ini berkaitan dengan subjek. at. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri. . perhaps. quietly. tetapi juga pada satuan-satuan di atasnya. more. Komponen-komponen tersebut akan dijelaskan di bawah ini secara terperinci (Kridalaksana. Berikut ini adalah definisi dari ketiga hal tersebut menurut Kridalaksana (2008). Klausa adalah satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat. near. slowly. Annisa Ramadhani. 2011. quickly. now Contoh the. on. must. 1999: 128—133). klausa. a. Fungsi sintaktis merupakan hubungan antara unsur-unsur bahasa dilihat dari sudut pandang penyajiannya dalam ujaran. never.8 Fungsi Sintaktis Menurut Kridalaksana (1999: 128—133). dan juga kalimat. predikat. klasifikasi gramatikal tidak terbatas pada satuan kata. can. Contoh: dalam klausa jalan licin berbahaya pembicara membicarakan jalan licin. Predikat dapat berwujud Universitas Indonesia Campur code. b.

frasa nominal. pelengkap pelaku. Objek langsung. berfungsi untuk meluaskan atau membatasi makna subjek atau predikat. Keterangan. keterangan alasan. keterangan sebab. Pembentukan kata dapat Universitas Indonesia Campur code. pelengkap musabab. adjektiva. Contoh: dalam klausa jalan licin berbahaya. keterangan asal. yakni nomina. keterangan waktu. yakni nomina atau frasa nominal yang melengkapi verba transitif yang dikenai oleh perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal. bagian ini disebut predikat. numeralia. Kata dapat dibentuk untuk memenuhi fungsi derivasional maupun infleksional.31 nomina. pelengkap objek. Annisa Ramadhani. d. Contoh: dari utara dalam Burung-burung itu berasal dari utara merupakan keterangan tempat. pelengkap resiprokal. e.. tentang jalan licin dinyatakan berbahaya. keterangan tujuan. FIB UI. keterangan modalitas. c. keterangan objek. Contoh: Tuti dalam Ibu membuatkan baju untuk Tuti. dan pelengkap pemeri.. keterangan subjek. keterangan perwatasan. Contoh: buku dalam Mereka membaca buku. adjektiva.9 Proses Morfologis Proses morfologis merupakan proses pembentukan kata yang banyak terjadi pada suatu bahasa untuk segala kebutuhan gramatikal. atau frasa preposisional. Objek tak langsung. keterangan alat. keterangan peserta. keterangan perlawanan. atau frasa adjektival yang merupakan bagian dari predikat verbal yang menjadikannya predikat yang lengkap. Berikut ini adalah keterangan yang terdapat dalam bahasa Indonesia: keterangan akibat. keterangan kuantitas. pronomina. keterangan kualitas. keterangan tempat.. keterangan syarat. 2. . Contoh: guru dalam Ia menjadi guru. pelengkap pengkhususan. Dilihat dari hubungan di antara pelengkap dengan subjek atau objek. Pelengkap (komplemen). f. yakni nomina atau frasa nominal yang menyertai verba transitif dan menjadi penerima atau diuntungkan oleh perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal. 2011. verba. dapat dibedakan menjadi pelengkap subjek.

Sufiks Menurut Haspelmath (2002: 19) sufiks adalah afiks yang mengikuti bentuk dasar. 1999: 6). yaitu prefiks dan sufiks. (1) untuk mengubah dari satu kelas kata ke kata yang lain. (2) untuk mengubah makna dari bentuk dasar. tetapi selalu terikat pada bentuk dasarnya. Contohnya: (29) (30) (31) (32) slow + -ly fast + -est work + -ing cook + -ed slowly fastest working cooked Pada contoh di atas (29)—(32). dan transfiks. interfiks. Sementara itu afiks infleksional mempunyai fungsi untuk mengindikasikan makna gramatikal (dalam bahasa Inggris selalu berupa sufiks). konfiks. infiks. Annisa Ramadhani.9.. Afiks juga merupakan morfem terikat dan tidak pernah berdiri sendiri di dalam sebuah kalimat (Katamba 1993: 44). 2. . Sufiks dilekatkan setelah bentuk dasar (Katamba 1993: 44). Afiks adalah morfem yang digunakan dengan cara menggabungkannya dengan morfem lain yang merupakan bentuk dasar. Bahasa Inggris mempunyai afiks lebih sedikit daripada bahasa-bahasa yang lain (Trask.1 Afiksasi Pembentukan kata yang paling umum adalah dengan menambahkan afiks atau dikenal dengan afiksasi (Bauer 1988: 19).. Afiks berperan penting dalam pembentukan leksem baru dalam bahasa (Brinton 2000: 77)..32 terjadi dalam beberapa proses. Afiks derivasional mempunyai dua fungsi yaitu. Afiks sendiri tidak mempunyai makna. Berikut ini proses-proses tersebut akan dijelaskan antara lain: afiksasi dan reduplikasi. Bauer (1988: 19) menyatakan bahwa afiks dapat berupa sufiks. Pada contoh (29) bentuk dasar slow mendapat sufiks -ly sehingga Universitas Indonesia Campur code. 2011. a. keempat bentuk dasar tersebut mendapatkan sufiks. prefiks. yaitu derivasional dan infleksional. Brinton (2000: 77) menambahkan bahwa bahasa Inggris hanya mempunyai dua jenis afiks. FIB UI. Brinton (2000: 78) membagi afiks menjadi dua tipe. Sufiks digunakan untuk segala tujuan dalam morfologi (Bauer 1988: 19).

FIB UI..sehingga menjadi disconnect.+ connect (36) pre. 2011. Annisa Ramadhani. Tetapi bahasa Inggris tidak menggunakan prefiksasi untuk membentuk infleksi.. Walaupun agak jarang dipakai dibandingkan dengan sufiks. Pada contoh (36) bentuk dasar requisite mendapat prefiks pre.+ charge (35) dis. Pada contoh (33) bentuk dasar large mendapat prefiks en. Pada contoh (31) bentuk dasar work mendapat sufiks -ing sehingga menjadi working. baik untuk pembentukan derivasi leksem baru (contohnya -ize. -ed. -tion) maupun untuk menyatakan hubungan gramatikal atau infleksi (contohnya -s. Prefiks dilekatkan sebelum bentuk dasar (Katamba 1993: 44).. Bahasa yang menggunakan prefiks untuk infleksi di antaranya adalah bahasa Jerman (Crystal 1997: 304). Universitas Indonesia Campur code. Prefiks Prefiks adalah afiks yang mengawali bentuk dasar (Haspelmath 2002: 19). Pada contoh (32) bentuk dasar cook mendapat sufiks -ed sehingga menjadi cooked. b. Contohnya: (33) en.+ requisite enlarge recharge disconnect prerequisite Pada contoh di atas (33)—(36). keempat bentuk dasar tersebut mendapatkan prefiks. . Pada contoh (35) bentuk dasar connect mendapat prefiks dis. Pada contoh (30) bentuk dasar fast mendapat sufiks -est sehingga menjadi fastest.+ large (34) re.sehingga menjadi prerequisite. ing) (Crystal 1997: 371). Proses sufiksasi banyak terjadi dalam kata-kata bahasa Inggris.sehingga menjadi enlarge. prefiks juga berfungsi sama dengan sufiks (Bauer 1988: 21).33 menjadi slowly.sehingga menjadi recharge. Proses prefiksasi banyak terjadi dalam kata-kata bahasa Inggris untuk membentuk leksem baru (contohnya un-. Pada contoh (34) bentuk dasar charge mendapat prefiks re. mini-).

. Infiks dimasukkan ke dalam bentuk dasar (Katamba 1993: 44). d. Konfiks ke-an. 2011. kelima contoh tersebut mendapatkan konfiks. Konfiks (Sirkumfiks) Konfiks adalah afiks yang tempatnya terpisah. Contohnya disajikan sebagai berikut. . Sirkumfiks adalah prefiks dan sufiks yang mengapit bentuk dasar. FIB UI. Pada contoh (41). yang menghasilkan tiga bentuk. disebut juga morfem terputus (discontinuous morph) (Bauer 1988: 22). hanya ada keadilan.+ maling + -an (40) ke. Pada contoh (39).+ ibu + -an (38) ke.+ curi + -an adjektiva (terlalu) (41) ke. nomina abstrak (37) ke.34 c. verba.. 2003: 80). Pada contoh (38).. bentuk dasar kecil mendapat konfiks ke-an sehingga menjadi bentuk kekecilan. dan adjektiva. Infiks Infiks adalah afiks yang muncul di antara deretan konsonan dan vokal dari bentuk dasar (Robins. yaitu nomina abstrak. 1992: 245). bentuk dasar ibu mendapat konfiks ke-an sehingga menjadi bentuk keibuan.+ adil + -an verba (ditimpa/terkena peristiwa) (39) ke. Proses infiksasi tidak terdapat dalam Universitas Indonesia Campur code. Afiks disebut sirkumfiks jika merupakan satu morfem yang terputus. bentuk dasar adil mendapat konfiks ke-an sehingga menjadi bentuk keadilan. Pada contoh (40). Infiks menghasilkan bentuk dasar yang terputus (discontinuous base) (Bauer 1988: 23). Sirkumfiks dilekatkan pada awal dan akhir bentuk dasar (Fromkin et al. Annisa Ramadhani. Pada contoh (37).+ kecil + -an kekecilan kemalingan kecurian keibuan keadilan Pada contoh di atas (37)—(41). bentuk dasar maling mendapat konfiks ke-an sehingga menjadi bentuk kemalingan. Afiks ke-an merupakan satu morfem yang harus berpasangan karena tidak ada bentuk *keadil atau *adilan. bentuk dasar curi mendapat konfiks ke-an sehingga menjadi bentuk kecurian. Dalam bahasa Indonesia contohnya antara lain ke-an dan per-an.

FIB UI.35 bahasa-bahasa di Eropa. dan afrika. bentuk dasar tunjuk mendapat infiks -el.sehingga menjadi telunjuk. Biasanya proses ini terdapat dalam bahasa-bahasa di asia. 2011. f.. Contohnya: (44) czech + o + slovakia czechoslovakia Pada contoh (44) di atas dua bentuk czech dan slovakia disisipi interfiks -osehingga menjadi czechoslovakia. Elemen penghubungnya adalah sebuah afiks yang berada di antara dua bentuk dasar yang berbeda. e. Bahasa Inggris tidak mempunyai infiks. Pada contoh (43). bentuk dasar getar mendapat infiks -em.sehingga menjadi gemetar. Indian Amerika. Contohnya dalam bahasa Indonesia: (42) tunjuk + -el(43) getar + -emtelunjuk gemetar Pada contoh (42) dan (43) di atas. Afiks ini biasanya memberikan vokal kepada bentuk dasar konsonan dan ditambahkan juga prefiks dan afiks. Contohnya dalam bahasa Arab: (45) INFLEKSI j a l a s j a l a s j a l a s a j l i s a ta tu u jalasa jalasta jalastu ajlisu : dia (lk) duduk : kamu duduk (lk) : saya duduk : saya akan duduk Universitas Indonesia j (‫ )ج‬l (‫ )ل‬s(‫ )س‬jalasa : duduk j – l – s Campur code. Pada umumnya ada di bahasa Arab dan Ibrani. Annisa Ramadhani. bentuk-bentuk dasar tersebut mendapatkan infiks. Interfiks Interfiks adalah afiks yang menyatukan dua bentuk dasar (kata) dan berada di antaranya. . Interfiks banyak digunakan dalam bahasa Jerman (Bauer 1988: 23). Pada contoh (42). Transfiks merupakan bentuk afiks yang paling kompleks karena melibatkan dua morfem terputus (Bauer 1988: 24)... Transfiks Transfiks adalah afiks yang menghasilkan morfem terputus dan bentuk dasar terputus.

. Dalam bahasa Inggris. Pengulangan ini biasanya juga disertai dengan sedikit pengubahan fonologis. anak-anak. rah-rah..36 ya j i j l i s u l i s yajlisu : dia (lk) akan duduk ijlis : duduk! (imperatif) DERIVASI ma j l i s u majlisu ma j aa l i s u majaalisu 2. reduplikasi sering digunakan dalam bahasa kanakkanak (e.9. vokal. dan juga bentuk katanya (Bauer 1988: 25). contohnya: superduper. choo-choo) atau untuk kata-kata lelucon (e. boo-boo. suku kata..2 Reduplikasi : tempat untuk duduk-duduk (tunggal) : tempat untuk duduk-duduk (jamak) Reduplikasi adalah pembentukan kata yang mengulang sebagian atau seluruh bentuk akar di dalam kata yang sama (Robins 1992: 248). Biasanya reduplikasi juga ditentukan oleh unsur fonologis. Dalam bahasa Indonesia ada dua bentuk reduplikasi. Pada contoh-contoh tersebut. putt-putt. Contoh perulangan sempurna adalah sebagai berikut. Reduplikasi juga merupakan salah satu cara dari pembuatan komposisi jenis khusus. goody-goody. FIB UI. Contoh perulangan dengan pengubahan adalah sebagai berikut. Universitas Indonesia Campur code. 2011.. bersenang-senang. sayur-mayur.g.g. sehingga aturan reduplikasi menyatakan seberapa besar bentuk dasar diulang pada bagian konsonan. rumah-rumah. Annisa Ramadhani. kata yang bercetak tebal adalah inti dari reduplikasi tersebut. yaitu perulangan sempurna dan perulangan dengan pengubahan. pooh-pooh) (Brinton 2000: 91). mobil-mobil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful