You are on page 1of 11

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn.

A DENGAN TUMOR GINJAL DI LANTAI IV UTARA GEDUNG TERATAI RSUP FATMAWATI

Disusun Oleh : MUJTAHIDAH INTAN NUQSAH 105104003468

PROGRAM PROFESI NERS FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TUMOR GINJAL

A. ANATOMI GINJAL Ginjal merupakan organ ganda yang terletak di daerah abdomen, retroperitoneal antara vetebra lumbal 1 dan 4. pada neonatus kadang-kadang dapat diraba. Ginjal terdiri dari korteks dan medula. Tiap ginjal terdiri dari 8-12 lobus yang berbentuk piramid. Dasar piramid terletak di korteks dan puncaknya yang disebut papilla bermuara di kaliks minor. Pada daerah korteks terdaat glomerulus, tubulus kontortus proksimal dan distal. . Panjang dan beratnya bervariasi yaitu 6 cm dan 24 gram pada bayi lahir cukup bulan, sampai 12 cm atau lebih dari 150 gram. Pada janin permukaan ginjal tidak rata, berlobuslobus yang kemudian akan menghilang dengan bertambahnya umur.

Tiap ginjal mengandung 1 juta nefron (glomerulus dan tubulus yang berhubungan dengannya ). Pada manusia, pembentukan nefron selesai pada janin 35 minggu. Nefron baru tidak dibentuk lagi setelah lahir. Perkembangan selanjutnya adalah hipertrofi dan hiperplasia struktur yang sudah ada disertai maturasi fungsional. Tiap nefron terdiri dari glomerulus dan kapsula bowman, tubulus proksimal, anse henle dan tubulus distal. Glomerulus bersama denga kapsula bowman juga disebut badan maplphigi. Meskipun ultrafiltrasi plasma terjadi di glomerulus tetapi peranan tubulus dala pembentukan urine tidak kalah pentingnya.

Gambar 2. Perdarahan pada ginjal Fungsi Ginjal Fungsi primer ginjal adalah mempertahankan volume dan komposisi cairan ekstrasel dalam batas-batas normal. Komposisi dan volume cairan ekstrasel ini dikontrol oleh filtrasi glomerulus, reabsorpsi dan sekresi tubulus.3 Fungsi utama ginjal terbagi menjadi : 1. Fungsi ekskresi -

Mempertahankan osmolalitas plasma sekitar 285 mOsmol dengan mengubah ekskresi air. Mempertahankan pH plasma sekitar 7,4 dengan mengeluarkan kelebihan H+ dan membentuk kembali HCO3 Mempertahankan kadar masing-masing elektrolit plasma dalam rentang normal. Mengekskresikan produk akhir nitrogen dan metabolisme protein terutama urea, asam urat dan kreatinin.

2. Fungsi non ekskresi


-

Menghasilkan renin yang penting untuk mengatur tekanan darah. Menghasilkan eritropoietin yaitu suatu faktor yang penting dalam stimulasi produk sel darah merah oleh sumsum tulang. Memetabolisme vitamin D menjadi bentuk aktifnya. Degradasi insulin. Menghasilkan prostaglandin

Fungsi dasar nefron adalah membersihkan atau menjernihkan plasma darah dan substansi yang tidak diperlukan tubuh sewaktu darah melalui ginjal. Substansi yang paling penting untuk dibersihkan adalah hasil akhir metabolisme seperti urea, kreatinin, asam urat dan lain-lain. Selain itu ion-ion natrium, kalium, klorida dan hidrogen yang cenderung untuk berakumulasi dalam tubuh secara berlebihan.

Mekanisme kerja utama nefron dalam membersihkan substansi yang tidak diperlukan dalam tubuh adalah : 1. Nefron menyaring sebagian besar plasma di dalam glomerulus yang akan menghasilkan cairan filtrasi. 2. Jika cairan filtrasi ini mengalir melalui tubulus, substansi yang tidak diperlukan tidak akan direabsorpsi sedangkan substansi yang diperlukan direabsorpsi kembali ke dalam plasma dan kapiler peritubulus. Mekanisme kerja nefron yang lain dalam membersihkan plasma dan substansi yang tidak diperlukan tubuh adalah sekresi. Substansi-substansi yang tidak diperlukan tubuh akan disekresi dan plasma langsung melewati sel-sel epitel yang melapisi tubulus ke dalam cairan tubulus. Jadi urine yang akhirnya terbentuk terdiri dari bagian utama berupa substansi-substansi yang difiltrasi dan juga sebagian kecil substansi-substansi yang disekresi.
B. DEFINISI TUMOR GINJAL

Tumor ginjal sering disebut juga hipernefroma, carcinoma alveolar, dan clear cell carcinoma. Pada fase awal biasanya asimtomatik, dan baru diketahui sebagai massa abdomen yang teraba setelah dilakukan pemeriksaan fisik yang rutin. Tipe tumor ginjala yang paling sering ditemukan adalah adenocarsinoma renal atau sel renal yang menyebabkan lebih dari 85% dari semua tumor ginjal. Tumoer ini dapat melakukan metastase sampai ke paru-paru, tulang, hati, otak dan ginjal yang ain. Seperempat hingga setengah dari bagian pasien tumor ginjal sudah mengalami kelainan metastasik pada saat penyakitnya didiagnostik (brnner & suddart, 2002)

C. ETIOLOGI
1. Genetic 2. Paparan bahan kimia : asbes dan petrokimia 3. Kegemukan 4. Sosioekonomi rendah 5. Minum kopi dalam jangka lama 6. Penggunaan diuretik kronik

Banyak faktor yang diduga menjadi penyebab timbulnya tumor ginjal. Merokok merupakan salah satu faktor resiko yang menyebabkan tumor ginjal. Semakin lama merokok dan semakin muda seseorang mulai merokok semakin besar kemungkinan menderita tumor ginjal. D. TANDA DAN GEJALA

Keluhan klinis ditentukan oleh besar dan invasi terhadap jaringan sekitar seperti kelenjar getah bening, serta invasi ke dalam pembuluh darah terutama pada vena renalis dan pada gilirannya memberikan keluhan dan gejala metastasis tumor tersebut. Tiga gejala khas dari tumor ginjal yang didapatkan 10-15% pasien pada stadium lanjut : 1. Hematuria Dibuktikan dengan diagnosis bukan karena batu, infeksi tuberkulosa, dan kista 2. Nyeri pinggang Nyeri ini bisa diakibatkan oleh tekanan balik yang oaleh kompresi ureter perluasan tumor ke daerah perineal atau perdarahan ke dalan jaringan ginjal. Nyeri kronik terjadi jika bekuan darah atau massa sel tumor bergerak melalui ureter. 3. Massa di daerah ginjal. Gejala lain tumor menimbulkan kelainan neoplasmatik dan eritrositosis. Hipertensi dan kelainan hati, muncul juga sindrom cushing hipoglikemia, genekomastia, anemia, hematuria dan peningkatan laju endap darah, kelainan tulang yang diikuti hiperkalsemia dan peningkatan hormon paratiroid.

E. PATOFISIOLOGI

Tumor ini berasal dari sel tubulus ginjal yang dapat dimulai dari korteks maupun daerah medulla.Tumor dari daerah korteks cenderung meluas kedarah sekitar ginjal. Tumor ini mempunyai pseudo kapsul yang terdiri dari jaringan parenkim yang tertekan serta jaringan fibrous dan sel-sel inflamasi. Infiltrasi tumor ke daerah luar menyebabkan tonjolan yang dapat digunakan sebagai tanda diagnostik pada pemeriksaan USG atau CT scan. Ukuran sangat bervariasi mulai dari yang berukuran kecil sampai ukuran 8-9 cm. Secara makroskopik akan terlihat pewarnaan kekuningan atau orange oleh karena mengandung banyak lemak. Permukaan tumor yang lebih kecil tampak homogen sedang yang besar biasanya disertai kista sekunder di dalamnya dengan daerah perdarahan dan daerah nekrosis serta kadang ditemukan kalsifikasi didaerah perifer

F. KLASIFIKASI TUMOR Berdasarkan asal jaringan, tumor dapat dibagi menjadi: 1) Tumor yang berasal dari epithelial Squamous epithelium : squamous cell papilloma, squamous cell carcinoma Transitional epithelium : transitional cell papilloma, transitional cell carcinoma. Basal cell (hanya di kulit): basal cell carcinoma. Glandular epithelium: adenoma, cystadenoma, adenocarcinoma.

- Tubules epithelium (ginjal): renal tubular adenoma, renal cell carcinoma (Grawitz tumor). - Hepatocytes: hepatocellular adenoma, hepatocellular carcinoma - Bile ducts epithelium: cholangiocellular adenoma, cholangiocellular carcinoma. - Melanocytes: melanocytic nevus, malignant melanoma. 2) Tumor yang berasal dari mesenchymal Jaringan yang berhubungan: - fibroma, fibrosarcoma - myxoma, myxosarcoma - chondroma, chondrosarcoma - osteoma, osteosarcoma (osteogenic sarcoma) - lipoma, liposarcoma

Otot:

- leiomyoma, leiomyosarcoma - rhabdomyoma, rhabdomyosarcoma

Endothelium:

- Hemangioma (capillary h., cavernous h.), glomus tumor, hemangiosarcoma,

Kaposi sarcoma - Lymphangiosarcoma

Tumor sel darah:

- Hematopoetic cells: leukemia

- Lymphoid cells: non-Hodgkin lymphoma, Hodgkin lymphoma

Tumor sel germ:

- Teratoma (mature teratoma, immature teratoma)

- Tumor epithelial dianggap ganas apabila telah menembus lamina basalis dan dianggap jinak bila tidak menembus lamina basalis. G. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Skrining b. Laboratorium c. Teknik Pencitraan (Imaging) d. Pemeriksaan Rontgen Konvensional e. Radiografi Digital f. Tomografi Komputer (CT Scan) g. Ekhografi h. Resonansi magnetik nuklear i. Skintigrafi H. PENATALAKSANAAN MEDIS Pengobatan kanker pada dasarnya sama, yaitu salah satu atau kombinasi dari beberapa prosedur berikut : 1) Pembedahan (Operasi)

2) Penyinaran (Radioterapi) 3) Pemakaian obat-obatan pembunuh sel kanker ( sitostatika/khemoterapi) 4) Peningkatan daya tahan tubuh (imunoterapi) 5) Pengobatan dengan hormone I. STADIUM Robson membagi derajat invasi adenokarsinoma ginjal dalam 4 stadium yaitu: Stadium 1 : tumor masih terbatas di dalam parenkim ginjal dengan fasia gerota masih utuh Stadium II : tumor invasi ke jaringan lemak perirenal dengan fasia gerota masih utuh. Stadium III : tumor invasi ke vena renalis/ vena kava atau limfonodi regional. IIIA : tumor menembus fasia gerota dan masuk ke v.renalis IIIB : kelenjar limfe regional IIIC : pembuluh darah local Stadium IV : tumor ekstensi ke organ sekitarnya/ metastasis jauh (usus) IVA : dalam organ sekitarnya, selain adrenal IVB : metastasis jauh (Basuki, 2003). TNM Tumor Grawitz T Tumor primer T1 Terbatas pada ginjal <2,5>2,5 cm T3 Keluar ginjal, tidak menembus fasia gerota T3a Masuk adren atau jaringan perinefrik T3b Masuk v.renalis/ v.kava T4 Menembus fasia Gerota N Kelenjar regional/ hilus, para aorta, para kava N0 Tidak ada penyebaran N1 Kelenjar tunggal <>5 cm

Cara penyebaran bisa secara langsung menembus simpai ginjal ke jaringan sekitarnya dan melalui pembuluh limfe atau v. Renalis. Metastasis tersering ialah ke kelenjar getah bening ipsilateral, paru, kadang ke hati, tulang , adrenal dan ginjal kontralateral (De Jong, 2000).

J. DIAGNOSIS

Untuk diagnosis memerlukan pemeriksaan urographi intravena, sitoskopi, nefrotomografi, atau pemindai CT. semua pemeriksaan ini mungkin melelahkan bagi pasien yang konsisi umumnya menurun akibat efek sistemik tumor

K. PENATALAKSANAAN

Tujuan penatalaksanaan tumor ginjal adalah untuk menghilangkan tumor itu sebelum terjadi metastasis. Nefrektomi radikal adalah terapi pilihan jika tumornya dapat diangkat. Tindakan ini mencakup pengangkatan ginjal serta tumornya. Kelenjar adrenal, lemak perirenal, disekitarnya serta fasia gerota dan nodus limfatikus. Terapi radiasi, hormonal atau kemoterapi dapat dilakukan bersama-sama pembedahan, imunoterapi dapat pula membantu ( brunner & suddart, 2002)

L. ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono,1994:10). Pengkajian pasien Pre operatif (Marilynn E. Doenges, 1999) meliputi : Sirkulasi Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus). Integritas ego Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup. Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis. Makanan / cairan Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi). Pernapasan Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok. Keamanan Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse. Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam. Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi,

antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi). Diagnosa dan intervensi keperawatan 1. cemas b.d kurang pengetahuan tentang penyakitnya.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam cemas berkurang intervensi :

kaji kecemasan pasien beri penjelasan secara umum tentang penyakitnya perawatan dan pengobatan intruksikan penetingnya pemeriksaan yang rutin.

2. Resiko bersihan jalan nafas b.d lokasi insisi operatif Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam bersihan jalan nafas adekuat intervensi :
-

Berikan analgesik sesuai advice

Fiksasi luka insisi dengan kedua belah tangan atau benatal untuk membantu pasien pada saat batuk
-

Berikan posisi yang nyaman untuk pasien Bantu dan dorong ambulasi dini

3. Nyeri b.d luka insisi dan distensi abdomen Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam rasa nyeri berkurang intervensi : Kaji tingkat nyeri pasien Beri analgetik sesuai program Lakukan kompres hangat Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi 4. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan drainase urin

Tujuan : perthankan eliminasi urin intervensi : -

Kaji sistem drainase urin Kaji keadekuatan keluaran urin dan potensi sistem drainase Pertahankan sistem drainase tertutup

REFERENSI
-

Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta. Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta : EGC. Marilynn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. Jakarta : EGC. Nasrul Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta. Robin S.L. dan Kumar V. 1995. Buku Ajar Patologi I. Jakarta : EGC. Tjakra, Ahmad. 1991. Patologi. Jakarta : Bagian Patologi FKUI Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta. Kasper, et al. 2000. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume 3 Edisi 13. EGC. Jakarta Price, Sylvia A. 2003. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 2 Edisi 6. EGC.Jakarta Purnomo, Basuki. 2003. Dasar-Dasar Urologi Edisi 2. Sagung Seto. Jakarta Underwood, JCE. 2000. Patologi Umum dan Sistemik Volume 2 Edisi 2. EGC. Jakarta Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. EGC. Jakarta