Proses Pembuatan Gula Rafinasi

Proses rafinasi yang digunakan dalam pabrik gula rafinasi bervariasi tergantung pada bahan yang diolah produk yang dikehendaki dan pertimbangan lain sesuai kondisi lokal. Namun demikian secara garis besar dapat diuraikan menjadi stasiun sebagai berikut . Tahap pertama pemurnian gula yang masih kasar adalah pelunakan dan pembersihan lapisan cairan induk yang melapisi permukaan kristal dengan proses yang dinamakan dengan afinasi. Tujuan afinasi adalah mencuci kristal GKM (raw sugar) agar lapisan molases yang melapisi kristal berkurang sehingga warnanya semakin ringan atau warna ICUMSA lebih kecil. Pencucian dilakukan dalam mesin sentrifuga yaitu setelah GKM dicampur dengan sirup menjadi magma. Penurunan warna yang dicapai pada stasiun ini berkisar 3050 %. Kristal yang telah dicuci dilebur dengan mencampur dengan air atau sweet water menghasilkan leburan(liquor) dengan brix sekitar 65.

Gula kasar dicampur dengan sirup kental(konsentrat) hangat dengan kemurnian sedikit lebih tinggi dibandingkan lapisan sirup sehingga tidak akan melarutkan kristal, tetapi hanya sekeliling cairan(coklat). Campuran hasil(magma) di-sentrifugasi untuk memisahkan kristal dari sirup sehingga kotoran dapat dipisahkan dari gula dan dihasilkan kristal yang siap untuk dilarutkan sebelum proses karbonatasi.

Cairan yang dihasilkan dari pelarutan kristal yang telah dicuci mengandung berbagai zat warna, partikel-partikel halus, gum dan resin dan substansi bukan gula lainnya. Bahan-bahan ini semua dikeluarkan dari proses.

Gambar: Proses afinasi gula rafinasi

Sumber: slide kuliah kimia & masyarakat, Arimulyo Nugroho(2009)

Tahap selanjutnya adalah proses klarifikasi. Pengoperasian unit ini bertujuan untuk membuang semaksimal mungkin pengotor non sugar yang ada dalam leburan(melt liquor). Ada dua pilihan teknologi yaitu fosflotasi dan karbonatasi, keduanya banyak dipakai, fosflotasi pada umumnya dan beberapa di Asia sedangkan selebihnya menggunakan teknologi karbonatasi, termasuk pabrik rafinasi di Indonesia.

Pada proses ini digunakan asam fosfat dan kalsium hidroksida yang akan membentuk gumpalan (primer) kalsium fosfat, reaksi ini berlangsung di reaktor. Penambahan flokulan(anion) sebelum tangki aerator dilakukan untuk membantu pembentukan gumpalan sekunder yang terbentuk dari

Pada tahap ini beberapa komponen warna juga akan ikut hilang. yaitu dengan sekrap yang berputar pada permukaan clarifier dan menyingkirkan scum ke kanal yang dipasang pada sekeliling clarifier. Supaya gabungan-gabungan padatan tersebut stabil. Setelah proses ini dilakukan.Tahap pertama pengolahan cairan(liquor) gula berikutnya bertujuan untuk membersihkan cairan dari berbagai padatan yang menyebabkan cairan gula keruh. sehingga dengan menyaring kapur keluar maka substansi-substansi non gula ini dapat juga ikut dikeluarkan. . partikel yang melayang dan lain-lain. Pembentukan gumpalan sekunder dapat menjerap berbagai pengotor : zat warna. Gas karbondioksida ini akan bereaksi dengan kapur membentuk partikel-partikel kristal halus berupa kalsium karbonat yang menggabungkan berbagai padatan supaya mudah untuk dipisahkan. teknik yang lain berupa fosfatasi. Pada clarifier ini juga pemisahan gumpalan yang mengambang(scum) terjadi. Untuk memisahkan gumpalan tersebut oleh karena dalam media liquor yang kental(brix: 65-70) maka gumpalan tidak diendapkan melainkan diambangkan.gumpalan-gumpalan primer yang terikat oleh rantai molekul flokulan. cairan gula siap untuk proses selanjutnya berupa penghilangan warna. Kandungan karbon aktif sekitar 60% dan dicampur dengan 5% MgO untuk mencegah turunnya pH. Gambar: Proses karbonatasi gula rafinasi Sumber: slide kuliah kimia & masyarakat. Karbon aktif ini dapat digunakan selama 3-6 minggu tergantung dari kualitas dan jumlah bahan yang masuk. Arimulyo Nugroho(2009) Tahap selanjutnya adalah penghilangan warna. perlu dilakukan pengawasan yang ketat terhadap kondisi-kondisi reaksi. Selain karbonatasi. zat anorganik. Karbonatasi dapat diperoleh dengan menambahkan kapur/lime ke dalam cairan dan mengalirkan gelembung gas karbondioksida ke dalam campuran tersebut. Fosfatasi merupakan proses yang sedikit lebih kompleks. Proses pengambangan berlangsung dengan bantuan partikel udara yang dibangkitkan dalam aerator. dan dapat dicapai dengan menambahkan asam fosfat ke cairan setelah liming seperti yang sudah dijelaskan di atas. proses pengambangan terjadi pada clarifier. Gumpalan yang terbentuk tersebut akan mengumpulkan sebanyak mungkin materi-materi non gula. Secara kimiawi teknik ini sama dengan karbonatasi tetapi yang terjadi adalah pembentukan fosfat dan bukan karbonat. Untuk menghilangkan zat warna dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya dengan granula karbon aktif.

namun resin akrilik kurang efektif dibanding resin stiren. terbentuk dalam proses.Kemampuan karbon aktif dalam mereduksi zat warna sangat tinggi. Senyawa karamel terbentuk dalam proses bila sukrosa mengalami pemanasan berlebihan sehingga terbentuk senyawaan yang berwarna. Meskipun kemampuan mereduksi zat warna tidak sebaik karbon aktif namun mampu mereduksi kotoran zat anorganik. Selain itu juga dihasilkan senyawa Melanoidins. Bahan utama kristalisasi adalah liquor yang sudah melewati tahap dekolorisasi. Warna yang dihasilkan bisa kuning. Bahan ini terdiri dari campuran 90 % kalsium fosfat dan 10 % karbon yang dibuat dari tulang-tulang binatang ternak dipanaskan pada suhu 700 oC. Senyawaan ini terdapat dalam tebu yang terbentuk dari hasil reaksi enzimatik flavonoid dan asam sinamat. Oleh sebab itu dalam proses dekolorisasi dianjurkan untuk menggunakan gabungan dua jenis resin ini secara seri. Bahan ini mudah diregenerasi dan dalam penggunaannya mempunyai kapasitas lebih besar dibandingakan dengan karbon aktif maupun bone char. Liquor tersebut kemurniannya tinggi sehingga teknik kristalisasi berbeda dengan kristalisasi yang lainnya. Bone char dapat digunakan selama 4-5 hari kemudian di regenerasi kembali. Ada dua jenis resin yang digunakan dalam rafinasi yaitu resin anion yang berfungsi mereduksi warna dan resin kation untuk menghilangkan senyawaan anorganik.exchange resin). coklat atau hitam tergantung dari tingkatan reaksi selama pemanasan. namun senyawa ini mudah rusak oleh pemanasan terutama pada pH tinggi akan membentuk senyawaan polimer berwarna coklat yaitu 5(hydroksimetil)-2-furaldehid. Pada umumnya stasiun dekolorisasi menghasilkan liquor dengan warna di bawah 300 IU sehingga dengan bahan tersebut dapat diproduksi gula rafinasi lebih rendah dari 45 IU. Kristalisasi . Warna senyawa ini umumnya hitam. pertama sirup dilewatkan resin akrilik terlebih dahulu kemudian baru dilewatkan resin stiren. terbentuk dari reaksi antara gula reduksi dengan asam amino(Reaksi Maillard). namun bahan ini tidak mampu menghilangkan zat anorganik yang terlarut. Meskipun kandungan glukosa dan fruktosa dalam proses rafinasi sangat kecil. Selain itu digunakan juga bone char. Gambar: Proses penghilangan warna gula rafinasi Sumber: slide kuliah kimia & masyarakat. Terakhir yang dihasilkan pada proses rafinasi adalah produk degdradasi gula invert. Selain itu penggunaan air juga lebih efisien. Penggunaan resin senyawa akrilik lebih tahan dari resin stiren. Bisa juga untuk menghilangkan warna ini digunakan resin penukar ion(ion. Arimulyo Nugroho(2009) Dalam proses rafinasi terdapat beberapa macam zat warna yang terbawa atau terbentuk yaitu senyawaan fenolik.

Proses terakhir adalah proses pengeringan gula produk. Pembuatan dua jalur dimulai dari stasiun sentrifugal. Ketika kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Gambar: Proses pengeringan warna gula rafinasi Sumber: slide kuliah kimia & masyarakat. Untuk gula produk dibuat dua jalur dengan tujuan agar dapat diproduksi dua macam produk misal GKR dan GKP pada waktu yang bersamaan. Pada kondisi tersebut dimasukkan bibit kristal secara hati-hati sehingga inti kristal akan tumbuh mencapai ukuran yang dikehendaki tanpa menumbuhkan kristal baru. pengering gula penimbangan dan pengemasan. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. dengan berat gula 50 kg setiap kantong. Sebagai standarisasi proses pembuatan gula rafinasi maka lembaga Standar Nasional Indonesia(SNI) mengeluarkan standar tertentu agar dipenuhi oleh setiap industri pembuatan gula rafinasi. Gula ditampung dalam sugar bin kapasitas 150 ton. Campuran kristal sukrosa dengan liquor disebut masakan. Arimulyo Nugroho(2009) Produk dikemas dalam kantong polipropilen dengan linier. B dan C yang masuk dalam katagori gula rafinasi. Pemisahan kristal dilakukan dengan cara memutar masakan dalam mesin sentrifugal menghasilkan kristal (gula A) dan sirup A. Selanjutnya sirup A dimasak seperti yang dilakukan sebelumnya menghasilkan gula B dan sirup B. Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Gambar: Proses pengemasan gula rafinasi . Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum dikemas dan/ atau disimpan siap untuk didistribusikan.(evapocrystalisation) dilakukan di bejana vakum(65 cm Hg) dengan penguapan liquor pada suhu sekitar 70-80 0C sampai mencapai supersaturasi tertentu. Proses ini dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang berputar. Demikian seterusnya sehingga secara berjenjang menghasilkan gula A. Berikut adalah persyaratan dari SNI.

Arimulyo Nugroho(2009) Tabel Persyaratan SNI Gula Rafinasi .Sumber: slide kuliah kimia & masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful