REKONSILIASI FISKAL

Dalam akuntansi pajak penghasilan (PPh), laba dibedakan menjadi laba akuntansi (accounting profit), laba komersial dengan laba fiscal (taxable profit), atau Penghasilan Kena Pajak. Laba Komersial (Laba Akuntansi) Laba akuntansi merupakan laba atau rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak yang dihitung berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan lebih ditujukan untuk menilai kinerja ekonomi. Menurut Commite On Terminology (Sofyan Syafri H,2004) dalam Aliyal Azmi (2007:12) mendefinisikan laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi. Sedangkan menurut Soemarso SR (2004 : 227) angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah Laba Bersih (net income). Jumlah ini merupakan kenaikan bersih terhadap modal. Sebaliknya, apabila perusahaan menderita rugi, angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah rugi bersih (net loss).

Laba Fiskal Laba fiskal adalah laba atau rugi bersih selama satu periode yang dihitung berdasarkan Peraturan Perpajakan dan lebih ditujukan untuk menjadi dasar perhitungan PPh (IAI, 2004). Pada tahun 1998, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 46 (PSAK 46) mengenai akuntansi PPh. Penerapan PSAK 46 ini diharapkan dapat menjembatani antara Peraturan Perpajakan dengan Ketentuan Akuntansi yang berlakku secara umum. Rekonsiliasi Laba Komersial dengan Laba Fiskal Dengan adanya perbedaan antara laba Komersial dengan laba fiscal maka dilakukan penyesuaian-penyesuaian atas laba komersial yang berbeda dengan ketentuan fiskal untuk menghasilkan laba yang sesuai dengan ketentuan perpajakan, Penyesuaian tersebutlah yang dikenal dengan istilah Rekonsiliasi fiskal/ koreksi fiskal Koreksi fiskal terdiri dari dua : 1. Koreksi Positif dilakukan apabila pendapatan menurut fiskal bertambah, dan dilakukan karena adanya : 1. Beban-beban atau pengeluaran yang tidak diakui oleh pajak 2. Penyusutan komersial yang berbeda dengan penyusutan fiskal 3. Amortisasi komersial yang berbeda dengan amortisasi fiskal 4. Biaya yang ditangguhkan pengakuannya. 5. Penyesuaian fiskal positif lainnya

4. badan pendidikan. warisan. Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak 3. Penghasilan yang Bukan Objek Pajak 1. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat. dan 5. atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil. Penghasilan yang dikenakan PPh final 2. penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya. transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa. penghasilan tertentu lainnya. termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia. badan sosial termasuk yayasan. atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan. badan keagamaan. penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan.sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha. 3. dan 2. Koreksi Negatif yaitu koreksi-koreksi untuk mengurangi Laba Akuntansi : 1.2. usaha jasa konstruksi. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya. kepemilikan. Penyesuaian fiskal negatif lainnya Beda Permanan dan Temperor Beda Tetap/ Permanent Beda tetap/ permanent perbedaan ini terjadi karena peraturan perpajakan mengharuskan hal hal berikut dikeluarkan dari penghasilan kena pajak : a. b. . penghasilan berupa hadiah undian. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. bunga obligasi dan surat utang negara. 3. pekerjaan. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. 4. yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak. dan persewaan tanah dan/atau bangunan. Bantuan atau sumbangan. koperasi. dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura. Penghasilan yang telah dikenakan PPh final (UU PPH pasal 4 ayat 2): 1. dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi 2. usaha real estate.

12. 6. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham.. yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan. 9. dihapus. dengan syarat badan pasangan usaha tersebut: a) merupakan perusahaan mikro. 10. firma. perkumpulan. dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat: a) Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri. dan b) Bagi perseroan terbatas. atau badan usaha milik daerah. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu. sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan. dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut. kecil.5. yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. menengah. . Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. asuransi dwiguna. yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya. kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak.dan b) sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pada angka 8. 7. asuransi jiwa. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau pemerintah. koperasi. 8. yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen. baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan. 13. badan usaha milik negara. dan kongsi. atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. asuransi kecelakaan. dan 15. kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia. dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. dan asuransi bea siswa. termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif. 14. 11. persekutuan.

sewa guna usaha dengan hak opsi. pembentukan atau pemupukan dana cadangan. 2. kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dan asuransi bea siswa. b. jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan. asuransi dwiguna. dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b. kecuali: 1. c. termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis. yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi. menagih. yaitu untuk mendapatkan. cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan 5. perusahaan pembiayaan konsumen. e. cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan 4. kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m serta zakat yang diterima oleh badan . cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan. cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. asuransi kecelakaan. yang ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. harta yang dihibahkan. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham. asuransi jiwa.c. dan 6. sekutu. premi asuransi kesehatan. g. cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan. 3. dan perusahaan anjak piutang. d. dan memelihara penghasilan dan serta pengeluaran yang sifatnya pemakaian penghasilan atau yang jumlahnya melebihi kewajaran. 1) Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan (non Deductible Expense): a. atau anggota. f. cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan limbah industri. dan pembagian sisa hasil usaha koperasi. kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan. Pengeluaran yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen. bantuan atau sumbangan.

36 Tahun 2008 perubahan keempat atas undang-undang nomor 7 tahun 1983 tentang pajak penghasilan : 1. antara lain: 1) biaya pembelian bahan. dan memelihara penghasilan. dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundangundangan di bidang perpajakan. ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. 4) biaya perjalanan. Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. termasuk: a. 5) biaya pengolahan limbah. biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha. denda. i. 10) penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 11A. dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus. k. 6) premi asuransi. atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham. h. yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. sanksi administrasi berupa bunga. 8) biaya administrasi. menagih. menagih. firma. dan royalti. bonus. honorarium. dan 9) pajak kecuali Pajak Penghasilan. j. 2) Pengeluaran untuk mendapatkan. gaji. gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan. 2) biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah.gratifikasi. dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang. sewa. . biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya. 3) bunga. 7) biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A. 11) iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. Pajak Penghasilan. 3) Dalam kaitannya dengan biaya Berikut biaya-biaya yang dapat dikurangkan (Deductible Expense) dari penghasilan bruto berdasarkan Undang-undang PPh No.amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia.

13) kerugian selisih kurs mata uang asing. dan pelatihan. 20) sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus. 5) Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. 18) sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan 21) sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu. menagih. 4) Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didapat kerugian. telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara. 16) piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat: a. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial. atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak. d. 15) biaya beasiswa. dan c. b.12) kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan. syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf k. 17) sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. magang. kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun. . 14) biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia. 19) biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan memelihara penghasilan.

Kredit pajak luar negeri Pajak yang dibayar atau terutang berdasarkan atas penghasilan dari luar negeri. Akrual dan Realisasi 2. 3. Pengkreditan PPh 24 dilakukan di tahun pajak digabungkannya penghasilan tersebut. Penyusutan dan Amortisasi dll Kredit Pajak Kredit pajak dalam tahunn berjalan dapat terdiri atas : 1. PPh yang dibayar sendiri Pembayaran pajak yang dilakukan oleh WP sendiri berupa angsuran PPh 25 yang dibayar setiap bulan. Penilaian persediaan 3.html . http://dudiwahyudi. Sedangkan untuk WP badan kredit pajak dalam negerinya terdiri atas PPh pasal 22 atau 23. 23.com/pajak/pajak-penghasilan/rekonsiliasi-fiskal. 22. yaitu secara keseluruhan beban atau pendapatan akuntansi maupun perpajakan sebenarnya sama.Beda Waktu/ Temporer Beda waktu merupakan perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan yang sifatnya sementara. Kredit pajak dalam negeri Untuk WP orang pribadi kredit pajak dalam negeri dapat terdiri atas PPh yang dipotong/dipungut pihak lain meliputi PPh 21. tetapi berbeda alokasinya perbedaan ini biasanya terjadi karena penggunaan metode menurut akuntansi dan perpajakan antara lain : 1. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful