Bab I, Pengetahuan Dasar Hukum Perdata

1

BAB I PENDAHULUAN Era globalisasi yang melanda dunia pada dekade terakhir, berpengaruh terhadap Indonesia yang tidak henti-hentinya dilanda berbagai krisis, baik ekonomi, politik, HAM, keamanan negara dan sebagainya, tanpa kompromi, Indonesia sebagai Negara besar harus tetap eksis memperhatikan perkembangan pergaulannya dengan bangsa lain dimuka bumi ini, karena Indonesia sendiri adalah salah satu komponen penghuninya yang harus tetap berhubungan dengan negara dan bangsa lain. Dalam pada itu, sebagai akibat adanya kemungkinan timbulnya pengaruh secara timbal balik arus era globalisasi dan informasi dimaksud, maka salah satunya adalah mempersiapkan keberadaan hukum Perdata Nasional yang mempunyai ciri khusus dan sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sendiri, namun mampu menjawab tantangan kedepan dalam menghadapi persaingan yang semakin kompetitif dengan bangsa-bangsa lainnya, khusus dengan masuknya unsur-unsur asing (foreign element) yang telah melintasi batas negara sendiri, sehingga mau tidak mau dan sangat mendesak adalah keberadaan hukum perdata nasional dimaksud. Berkaitan dengan itu, sebenarnya sejak jauh hari salah seorang pakar hukum yang sangat disegani dan dihormati oleh kalangan ilmuan hukum, beliau adalah Prof. Dr. Mr. R. Soepomo, pernah mengemukakan dan mengingatkan dalam pidato Dies Natalis Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 1947; “bahwa hukum dalam masyarakat itu dipengaruhi oleh perkembangan masyarakat itu sendiri, maka Hukum Perdata Nasional nantinya harus pula dapat menyesuaikan dirinya dengan cita-cita Nasional menurut aspirasi Bangsa Indonesia”. Karena itu dalam menanggapi perkembangan hukum perdata dewasa ini perlu diarahkan kepada arus pembawaan jiwa dan kebudaayan Nasional menuju kepada penemuan Hukum Perdata Nasional yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tindak-tindak perdata, baik yang bersifat dan beraliran barat maupun yang bersendi kepada norma-norma kebuyaan timur” (A.Ichsan, 1969 : 5) Beranjak dari pendapat ahli hukum tersebut, hal ini dapat diartikan bahwa “adanya harapan agar para penerus bangsa ini untuk lebih memperhatikan kehidupan bangsanya disamping tetap memperhatikan pergaulan dengan bangsa lainnya. Dikatakan demikian, karena berbagai produk peraturan-peraturan peninggalan penjajahan Belanda, baik itu Burgerlijk WetBoek (BW) selanjutnya disebut KUHPerdata, WetBoek Van Koophandel (WvK) selanjutnya disebut dengan KUHDagang, dapat dikatakan telah tidak sesuai lagi

Bab I, Pengetahuan Dasar Hukum Perdata

2

dengan perkembangan keadaan, walaupun sebenarnya telah ada berbagai produk peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh negara, seperti Undang-undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960, Undang-undang Pokok Perkawinan No. 1 Tahun 1974, Undang-undang Perseroan Terbatas No. 1 Tahun 1995, Undang-udang Hak Tanggungan Atas Tanah dan benda-benda yang ada di atas Tanah No. 4 Tahun 1996, Undang-undang Jaminan Fiducia No. 42 Tahun 1999, Undang-undang Yayasan No. 16 Tahun 2001, Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 Tahun 1963 dan lain-lain. Adanya ketentuan-ketentuan di atas dan peraturan lainnya sangat berpengaruh terhadap keutuhan ketentuan peninggalan penjajahan dan oleh karenanya keadaan itu janganlah membuat bangsa ini tertidur dan dinina bobokkan dengan adanya Aturan Peralihan Pasal II UUD 1945 yang dibuat tanpa batas yang jelas dan tegas tentang saat kapan berakhirnya. Mencerermati keadaan tersebut wajarlah bahwa Sahardjo, S.H., waktu menjadi Menteri Kehakiman RI pada Tahun 1962 memunculkan suatu gagasan yang diajukan dalam rapat Badan Perancang Hukum Nasional (BPHN) menyarankan bahwa: “khusus KUHPerdata tidak lagi sebagai undang-undang, melainkan sebagai dokumen saja yang hanya menggambarkan suatu kelompok hukum yang tidak tertulis” (Z.A. Ahmad, 1986 : 47). Selanjutnya gagasan Sahardjo, S.H. tersebut dikemukakan lagi dalam Kongres Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) di Yogyakarta Tahun 1962 melalui prasaran Mr. Wirjono Prodjodikoro dengan judul; “Keadaan Transisi dari Hukum Perdata Barat”, di mana isi prasaran tersebut mengemukakan hal-hal sebagai berikuit : 1. Peraturan dari zaman Belanda yang sekarang masih berlaku dan belum dicabut, sudah tidak sesuai lagi dengan kepentingan masyarakat Indonesia saat ini; 2. Mempertanyakan; “apakah BW harus menunggu dicabut dulu, untuk memberhentikan berlakunya sebagai Undang-undang di Indonesia”; 3. Gagasan Sahardjo, S.H., untuk menganggap BW tidak lagi sebagai Undang-undang tetapi hanya sebagai dokumen yang berisi hukum tidak tertulis saja, adalah sangat menarik. Artinya dengan menganggapnya sebagai dokumen, para hakim akan lebih leluasa untuk mengenyampingkan pasal-pasal BW yang tidak sesuai lagi dengan kepentingan Nasional; 4. Karena BW hanya tinggal sebagai pedoman saja, maka demi kepentingan hukum dia perlu secara tegas dicabut. Pencabutannya tidak perlu dengan suatu Undangundang, tetapi cukup dengan suatu pernyataan saja dari Pemerintah atau Mahkamah Agung (Z.A. Ahmad, 1986 : 47).

Bab I, Pengetahuan Dasar Hukum Perdata

3

Kelanjutan gagasan Sahardjo, S.H., yang telah dibawakan pada Kongres MIPI mendapat tanggapan positif dari Mr. Wirjono Prodjodikoro yang waktu itu sebagai Ketua Mahkamah Agung RI yang mengeluarkan Surat Edaran No. 3 Tahun 1963 yang berisi gagasan; “untuk menganggap BW tidak lagi sebagai Undang-undang, konsekuensi gagasan ini adalah dengan mencabut berlakunya sebanyak delapan pasal dari BW tersebut”. Dasar pertimbangan keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung berawal dari prasaran dalam Kongres MIPI Tahun 1962, di mana para hadirin yang umumnya terdiri dari para ahli hukum yang hadir pada waktu itu menyetujuinya dan demikian juga halnya yang kongres juga menerimanya. Tetapi kemudian dalam kenyataannya harus juga dari mereka yang tidak hadir yang menentang gagasan Sahardjo, keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 Tahun 1963 tersebut, tidak ikut diakui banyak S.H. dan

diantaranya adalah; Prof. Mr. Mahadi dan demikian juga Prof. Subekti, S.H., sebagai pengganti Prof. Mr. Wirjono Prodjodikoro sebagai ketua Mahkamah Agung pada waktu itu. Ketidak setujuan Prof. Subekti dikemukakannya di depan Seminar Hukum Nsional II di Semarang pada Tahun 1968 dan pada saat ceramah dihadapan dosen hukum dagang saat mengikuti “Post Graduate Course” di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta Tahun 1975. Menurut Subekti, bahwa : “baik gagasan seorang Menteri Kehakiman maupun Surat Edaran mahkamah Agung, bukanlah merupakan sesuatu sumber hukum formal, paling-paling dia hanya dapat dianggap sebagai suatu anjuran pada para hakim untuk jangan takuttakut menyingkirkan pasal-pasal dari BW yang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dan membikin yurisprudensi, sebab hanya yurisprudensilah yang dapat menyingkirkan pasal-pasal dari BW itu, seperti; Pasal 108 BW, Arrest 31 Januari 1919 yang memperluas pengertian Pasal 1365 BW, Arrest Bierbrouwerij Oktober 1925 yang menyingkirkan Pasal 1152 BW yang mengharuskan penyerahan barang yang digadaikan, tetap dalam kekuasaan orang yang menggadaikan” (Z.A. Ahmad, 1986 : 51). Melihat uraian di atas, dapat dikatakan bahwa keberadaan KUHPerdata sebagai ketentuan undang-undang hingga saat ini masih terus diperdebatkan, artinya usulan-usulan yang menganggap dia hanya sebagai dokumen hukum saja tetap menjadi perdebatan diantara kalangan ahli hukum, tetapi setidak-tidaknya ide itu perlu terus dipikirkan dan dipertimbangkan, terutama baik kalangan ahli hukum, peraktisi hukum dan para pihak yang mempunyai kewenangan dalam pengambilan keputusan, untuk terus menggali dan mencermati berlakunya ketentuan peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan nilai-nilai luhur

1) Pada pertemuan pertama ini diberikan materi tentang : a. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 4 bangsa. di mana materi kuliah dibagi atas beberapa bab dan sub bab.Bab I. referensi/bahan bacaan dan sasaran perkuliahan.1. di mana di negeri Belanda sendiri sebenarnya sudah sejak lama tidak diberlakukan lagi. silabus/acuan perkuliahan. Pengenalan mata kuliah. Maka sudah sewajarnyalah bangsa ini memikirkan tentang bagaimana ketentuan-ketentuan yang berkaitan peraturan-peraturan peninggalan penjajahan tersebut diganti dan atau dinyatakan tidak berlaku lagi dengan jalan terus berupaya membuat dan memberlakukan ketentuan baru yang sesuai dengan keadaan bangsa dan kemajuan zaman. b. Pengenalan mata kuliah. Oleh karenanya setelah mengikuti mata kuliah ini. 1. karena didalam pembahasannya diberikan dasar-dasar yang kuat tentang hukum perdata tersebut yang berpedoman pada ketiga buku dari KUHPerdata. karena ketentuan-ketentuan yang bersifat keperdataan dalam perkembangannya dan penerapannya dapat saja dipengaruhi oleh berbagai aspek hukum lainnya. Pertemuan Pertama (K. administrasi maupun ketentuan hukum Internasional sebagai akibat pengaruh global dan hubungan antar warga yang berlainan kewarganegaraannya. Ditambah lagi ketentuan-ketentuan peninggalan penjajahan sudah berusia cukup lama. silabus/acuan perkuliahan Acuan perkuliahan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan hukum perdata pada umumnya baik sifatnya teoritis maupun teknis. Sasaran perkuliahan Mata kuliah hukum perdata merupakan mata kuliah yang sangat penting yang harus dikuasai oleh setiap mahasiswa fakultas hukum. seperti. demikian juga bahan bacaan yang diperlukan sebagai pendukung perkuliahan. diharapkan . Ad. aspek hukum pidana. Istilah dan Pengertian Hukum Perdata.a. dan tidak terpaku dengan Aturan Peralihan Pasal II UUD 1945 yang tidak membuat batasan yang jelas dan tegas tentang limit waktu berakhirnya ketentuan peninggalan penjajahan tersebut.

dapat diartikan erat hubungannya dengan sejarah dan sisa-sisa politik masa lampau dari Penjajahan Kolonial Belanda. Pasal 144 ayat 1 dan Pasal 158 ayat 1. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 5 mahasiswa mengerti dan memahami tentang kerangka hukum perdata tersebut. Sementara itu dalam penamaan istilahnya.b. kebendaan dan perikatan yang pada dasarnya secara faktual erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. konsorsium ilmu hukum. Ahmad. Kenyataan ini dapat diartikan. Ansori Ahmad "dalam khazanah ilmu hukum di Indonesia. demikian juga dapat dilihat dalam Undang-undang Darurat No. 5 Tahun . sehingga mahasiswa mempunyai landasan yang kuat untuk mengikuti materi kuliah lainnya yang erat kaitannya dengan keperdataan. menurut Z. Istilah dan atau penamaan hukum perdata dimaksud. dengan adanya Konsorsium Ilmu Hukum. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum maupun Akademi Hukumnya. 1986 : 1). dikenalkan dengan berbagai istilah dan atau penamaan hukum perdata di dalam kurikulum pendidikannya. Beranjak dari ketentuan –ketentuan tersebut. Istilah dan Pengertian Hukum Perdata Dalam kurikulum Pendidikan Tinggi Ilmu Hukum di Indonesia pada awal berdirinya telah ditemui berbagai istilah dan atau penamaan dari “hukum perdata”. Pembedaan sebagaimana dimaksudkan. Pasal 101 ayat 1 dan Pasal 106 ayat 3.Bab I.A. mempergunakan istilah "hukum perdata" ditujukan untuk "hukum perdata BW" dan hukum adat untuk "hukum perdata adat". hal ini secara resmi dapat dilihat dalam Pasal 102 UUDS. Kata-kata perdata sebagaimana dimaksudkan pertama kali secara resmi terdapat dalam perundang-undangan Indonesia ditemui dalam Konstitusi RIS yakni pada Pasal 15 ayat 2. bahwa dibidang hukum perdata terjadi dualisme. sementara itu mengenai hukum perdata BW di maksud. terutama penggunaan istilah hukum perdata merupakan alih bahasa dari bahasa Belanda yakni burgerlijk recht. di mana untuk golongan Erofah diberlakukan hukum perdata (BW) sebaliknya untuk golongan bumi putera diberlakukan hukum adat mereka. baik itu pada Fakultas Hukum. Dalam UUDS RI Tahun 1950 istilah perdata dapat dilihat pada pasal 15 ayat 2. namun demikian. yang sampai saat ini masih tetap berlaku sebagai hukum positif berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945. Demikian juga halnya dengan kalangan sarjana hukum. seperti hal-hal yang berkaitan dengan orang.1. Ad. pernah dikenal adanya istilah dan pembedaan antara Hukum Perdata BW dan Perdata Adat (Z. diberlakukanlah di daerah Hindia Belanda dengan menggunakan asas konkordansi.

sebaliknya civiel berarti warga masyarakat. jika dilihat dari berbagai literatur yang ditulis para sarjana. Padanan istilah yang sama dengan burgerlijk recht tersebut adalah civiel recht dan atau privat recht. Mertokusumo." bahwa hukum perdata adalah hukum yang mengatur kepentingan antara warga negara perseorangan yang satu dengan warga negara perseorangan yang lain (Sri Soedewi. Vollmar memberikan suatu pengertian tentang hukum perdata sebagai berikut. juga dijumpai berbagai macam definisi hukum perdata. Sementara itu menurut Sri Soedewi Masjhoen Sofwan. Kebanyakan para sarjana menganggap hukum perdata sebagai hukum yang mengatur kepentingan perseorangan (pribadi) yang berbeda dengan "hukum publik" sebagai hukum yang mengatur kepentingan umum (masyarakat).F. Keadaan tersebut. dalam hal mana burger diartikan sebagai warga masyarakat. 1989: 2). 1986: 108). Dalam uraian berikut dikemukakan beberapa pandangan dari para ahli hukum berkaitan dengan pengertian hukum perdata dimaksud.A. sedangkan privat diartikan dengan pribadi. Kata civil berasal dari bahasa Latin yakni “civis”yang berarti warga negara. hukum perdata adalah “hukum antar perseorangan yang mengatur hak dan kewajiban orang perseorangan yang satu terhadap yang lain di dalam hubungan kekeluargaan dan di dalam pergaulan masyarakat” (S. 21 pada tanggal 20 Pebruari Tahun 1952 dan diundangkan pada tanggal 28 Pebruari Tahun 1952. jika dilihat dalam bahasa Inggrisnya.Bab I. Beranjak dari itu. hukum perdata dikenal dengan istilah civil law. menurut beliau. 1975: 1).F. Selanjutnya Sudikno Mertokusumo juga memberikan pengertian dari hukum perdata. antara lain. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 6 1952 Tentang Bank Industri Negara yang termuat dalam Lembaran Negara RI Tahun 1952 No. Hal tersebut berarti.A. bahwa civil law atau hukum sipil itu merupakan hukum yang mengatur tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan hak-hak warga negara dan atau perseorangan. H. Vollmar. namun tidak menunjukan perbedaan yang tidak terlalu prinsipil. Demikian juga Van Dunne memberikan pengertian hukum perdata sebagai berikut : . terkadang satu sama lainnya berbeda-beda. hukum perdata adalah : “Aturan-aturan atau norma-norma yang memberikan pembatasan dan oleh karenanya memberikan perlindungan pada kepentingan-kepentingan perseorangan dalam perbandingan yang tepat antara kepentingan yang satu dengan kepentingan yang lain dari orang-orang dalam suatu masyarakat tertentu terutama yang mengenai hubungan keluarga dan hubungan lalu lintas” (H.

1987:1).Bab I. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 7 “hukum perdata merupakan suatu aturan yang mengatur tentang hal-hal yang sangat esensial bagi kebebasan individu seperti orang dan keluarganya. maka hukum perdata ini terdiri atas : 1. “keseluruhan aturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur hubungan kepentingan orang (persoon) yang satu dengan kepentingan orang (persoon) lainnya yang terjadi karena hubungan kekeluargaan maupun akibat pergaulan dalam masyarakat. Sementara itu. Hal di atas berarti. orang (persoon) sebagaimana dimaksudkan adalah dalam pengertian yuridis. Selanjutnya dalam hal ruang lingkup perhatiannya juga menitik beratkan kepada adanya hubungan kekeluargaan di dalam pergaulan masyarakat. Beranjak dari pemahaman pengertian hukum perdata di atas. namun tidak berarti semua hukum perdata secara murni mengatur kepentingan orang (persoon) tersebut. Sebaliknya pemahaman pengertian lainnya lebih menitik beratkan kepada aspek perlindungan hukum dan ruang lingkup pembahasannya. Hukum perdata dalam arti luas. Dikatakan demikian. misalnya dari ruang lingkupnya dan dari sudut isinya. Di lihat dari ruang lingkupnya. bahwa hukum perdata pada dasarnya mengatur kepentingan orang (persoon). karena perlindungan hukum sebagaimana dimaksudkan sangat erat berkaitan dengan perlindungan perseorangan dalam melakukan hubungan hukum dengan perseorangan yang lainnya. misalnya bidang perkawinan dan perburuhan. karena dalam perkembangan kehidupan masyarakat banyak bidang-bidang hukum perdata yang telah diwarnai sedemikian rupa oleh hukum publik. artinya disamping manusia sebagai subjek hukum. . dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya hukum perdata itu adalah. Berkaitan dengan itu. dikatakan demikian karena pengertian yang dikemukakan lebih memfokuskan kepada pengaturan ketentuannya seperti apa yang dikemukakan oleh Sri Soedewi dan Van Dunne. Sedangkan hukum publik memberikan jaminan yang menimal bagi kehidupan pribadi” (Van Dunne. maka secara umum dapat dikelompokkan kedalam dua konsep pemahaman. termasuk juga kedalam pengertian orang (persoon) tersebut adalah badan hukum walaupun hanya terbatas dalam lalu lintas hukum saja. dikatakan demikian. hak milik dan perikatan. Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli hukum di atas. sebenarnya hukum perdata tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

dalam hal ini tidak bisa dipisahkan dengan sejarah terbentuknya Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Belanda. pengangkutan dan sebagainya. dalam hal ini pembahasannya lebih terfokus dengan apa yang diatur dalam hukum perdata BW itu sendiri dan peraturan lainnya yang berkaitan dengan masalah keperdataan. jual beli. yakni saat Julius Caesar berkuasa di Eropa Barat. Sejarah terbentuknya Hukum Perdata BW. disamping apa yang diatur dalam hukum perdata BW juga termasuk kedalamnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengaturan yang terdapat dalam hukum dagang (WvK) itu sendiri. Dikatakan demikian. Berkaitan dengan sejarah terbentuknya hukum perdataBW. Sedangkan pemisahan pengaturan antara hukum perdata BW dengan hukum dagang (WvK) hanya soal latar belakang sejarah pembuatannya.Bab I. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 8 Hukum perdata dalam arti luas ini termasuk kedalamnya.Syahrani. Hukum Perdata dan Pemberlakuannya di Indonesia Ad. hal ini disebabkan keadaan yang ditimbulkan dalam perdagangan yang diatur dalam hukum dagang (Wv) tidak bisa dilepaskan dari adanya perbuatan keperdataan itu sendiri. 1992 : 12). Pertemuan kedua (K. seperti. b. 2. a. . Perjalanan sejarah dari terbentuknya BW ini. asuransi.2) Pada pertemuan kedua ini dibahas tentang : a. Hukum perdata dalam arti sempit Membicarakan hukum perdata dalam arti sempit. 2. Sebaliknya sejarah terbentuknya Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Belanda juga tidak bisa dipisahkan dengan sejarah terbentuknya Code Civil Perancis" (R. hukum Romawi telah berlaku di Perancis yang berdampingan dengan hukum Perancis Kuno yang berasal dari hukum Germania yang saling mempengaruhi. sejarah terbentuknya Hukum Perdata BW. karena antara hukum perdata BW dan hukum dagang (WvK) itu sendiri pada dasarnya adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. 2. berawal dari 50 tahun sebelum Masehi. Kedudukan BW/KUHPerdata sebagai undang-undang setelah Indonesia merdeka c.

sedangkan di Daerah Selatan berlaku hukum Romawi yang tertuang dalam Corpus Iuris Civilis pada pertengahan abad ke VI Masehi dari Justianus. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 9 Suatu ketika wilayah negeri Perancis terbelah menjadi dua daerah hukum yang berbeda. Modestinus dan sebagainya. (Institutiones. Ulpianus. . b. Institutiones memuat tentang pengertian lembaga-lembaga hukum Romawi dan Novelles adalah kumpulan undang-undang yang dikeluarkan sesudah codex selesai. yaitu (1) Codex Justiniani. yang menjadi sumbernya adalah : a. Palus. lebih-lebih hukum kebiasaan dari Paris. Hukum Romawi yang digali dari hasil karya-karya para sarjana bangsa Perancis yang kenamaan (Dumolin. Hanya mengenai perkawinan di seluruh negeri Perancis berlaku Codex Iuris Canonici (hukum yang ditetapkan oleh Gereja Katolik Roma). Bagian Utara adalah daerah hukum yang tidak tertulis (pays de droit coutumier). ordonnance Sur les Tertament yang mengatur mengenai soal-soal testamen. oleh Raja Perancis dibuat beberapa peraturan perundang-undangan (seperti ordonnance Sur les Donations yang mengatur mengenai soal-soal pemberian.Bab I. Domat dan Pothier). sedangkan daerah selatan merupakan daerah hukum yang tertulis (pays de droit ecrit). terdiri dari 4 bagian. Pada akhir abad XVII. Pada bagian kedua abad XVII di negeri Perancis telah timbul aliran-aliran yang ingin menciptakan kodifikasi hukum yang akan berlaku di negeri itu agar diperoleh kesatuan hukum Perancis. Kodifikasi hukum Perdata di Perancis baru berhasil diciptakan sesudah Revolusi Perancis (1789-1795). (2) Pandecta. Berabad-abad lamanya keadaan ini berlangsung terus dengan tidak ada kesatuan hukum. Papinianus. dan (4) Novelles Codex Justianni berisi kumpulan undang-undang (leges lex) yang telah dibukukan oleh para ahli hukum atas perintah Kaisar Romawi yang dianggap sebagai himpunan segala macam undang-undang. Hukum Kebiasaan Perancis. ordonannce Sur les Substitutions fideicommissaires yang mengatur mengenai soal-soal substitusi. Corpus Iuris Civilis pada zaman itu dianggap sebagai hukum yang paling sempurna. c. Pandecta memuat kumpulan pendapat para ahli hukum Romawi yang termashur misalnya Gaius. dimana pada tanggal 12 Agustus 1800 oleh Napoleon dibentuk suatu panitia yang diserahi tugas membuat kodifikasi. Di Utara berlaku hukum kebiasaan Perancis Kuno yang berasal dari hukum Germania sebelum resepsi hukum Romawi. Ordonnance-Ordonnance.

Panitia ini diketuai Mr. Kemper. terkenal dengan nama "ontwerp Kemper" (Rencana Kemper). Dalam perdebatan di Perwakilan Rakyat Belanda. Dalam tahun 1822 rencana Kemper itu ditolak oleh Perwakilan Rakyat Belanda. Tahun 1816 oleh Kemper disampaikan kepda Raja suatu rancangan kodifikasi hukum perdata tapi rancangan ini tidak diterima oleh para ahli hukum bangsa Belgia (pada waktu itu negeri Belanda dan negeri Belgia merupakan suatu negera) karena rencana tersebut disusn Kemper berdasarkan hukum Belanda kuno. Demikianlah cara kerja yang dilakukaan semenjak tahun 1822 sampai 1826 bagian demi bagian Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Belanda Rencana ini . J. maka berdasarkan Undang-Undang Dasar (Grond Wet) negeri Belanda tahun 1814 (pasal 100) dibentuk suatu panitia yang bertugas membuat rencana kodifikasi hukum perdata. Sejak tahun 1811 sampai tahun 1838 Code Civil Perancis ini setelah disesuaikan dengan keadaan di negeri Belanda berlaku sebagai kitab undang-undang yang resmi di negeri Belanda. Code Civil Prancis ini mulai berlaku sejak tanggal 21 Maret 1804. karena negeri Belanda berada di bawah jajahan Perancis.M. tapi kemudian disebut dengan Code Civil Perancis. Setelah mendapat sedikit perobahan. panitia lalu menyusun rencana-rencana dan mengajukannya ke parlemen (Perwakilan Rakyat) untuk diputuskan. sebagaimana dimaksudkan harus selesai dibentuk tahun 1804 dengan nama Code Civil des Francais. Di negeri Belanda setelah berakhir pendudukan Perancis tahun 1813. Setelah Kemper meninggal dunia tahun 1824. maka rancangan itu disampaikan kepada Perwakilan Rakyat Belanda (Tweede Kamer) pada tanggal 22 Nopember 1820. Setelah diadakan perubahan sedikit disana-sini. Hukum Intermediare yakni hukum yang ditetapkan di Perancis sejak permulaan Revolusi Perancis hingga Code Civil terbentuk. rencana Kemper ini mendapat tantangan yang hebat dari anggota-anggota bangsa Belgia (wakil-wakil Nederland Selatan) yang dipimpin oleh Ketua Pengadilan Tinggi di Kota Luik (Belgia) yang bernama Nicolai.Bab I. Setelah diketahui kehendak mayoritas. Kodifikasi hukum perdata Perancis. Sedangkan para ahli hukum bangsa Belgia menghendaki agar rancangan itu disusun menurut Code Civil Perancis. pembuatan kodifikasi dipimpin oleh Nicolai dengan suatu metode kerja yang baru yaitu dengan menyusun daftar pertanyaan tentang hukum yang berlaku yang akan dinilai parlemen. pada tahun 1807 diundangkan dengan nama Code Napolion. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 10 d.

Kemudian dengan Firman Raja tanggal 15 Desember 1845 timbangan Negara Jhr.J Scholten. Berdasarkan azas konkordansi maka peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negeri Belanda diberlakukan juga buat orang-orang golongan Eropah di Hindia Belanda. Mr. Untuk itu. 3. Pada waktu yang sama dinyatakan pula berlaku Wetboek van Koophandel (WvK). 68) berhubung dengan permintaan berhentinya Mr. 5. 1. Dalam tahun 1829 pekerjaan itu selesai dan diakhiri dengan baik. Sedangkan Wetboek van Strafrecht (WvS) menyusul kemudian. Reglement op de Rechterlijke Organisatie en het Beleid der Justitie (RO = Peraturan susunan pengadilan dan pengurusan justisi).I Wichers diutus ke Hindia Belanda untuk memangku jabatan Ketua Mahkamah Agung dan Mahkamah Agung Tentara sebelum berangkat dia diwajibkan bersama-sama Mr. I Scheiner dan Mr. Burgelijke Rechtsvordering ( BRv). Wicher dan Mr. Mr. H. dan beberapa hari kemudian . 102 dibentuk suatu komisi dengan tugas membuat rencana peraturan-peraturan untuk memberlakukan peraturan itu sekiranya dipandang perlu. Wetboek van Koophandel ( K. I.U. Scholten van Out Haaslem oleh karena selalu terganggu kesehatannya. tetapi tanggal mulai berlakunya tentu saja ditangguhkan sampai seluruhnya selesai. dengan firman Raja Belanda tanggal 15 Agustus 1839 No. Rencana peraturan yang telah dihasilkan adalah : 1. Setelah 6 tahun bekerja komisi tersebut dibubarkan (dengan Firman Raja tanggal 15 Desember 1845 No. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 11 diselesaikan dan setiap bagian dimuat tersendiri dalam Staatsblad.Bab I.F. mitsgader bij Surseance van Betaling (Beberapa ketentuan mengenai kejahatan yang dilakukan dalam keadaan pailit dan dalam keadaan nyata tidak mampu membayar) Sebagai hasil kerja Mr. 2. Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Nederlandsch Indie (Ketentuan umum perundang-undangan di Indonesia).C.H van Nos. Scholten van Out Haarlem maka dikeluarkan Firman Raja tanggal 16 Mei 1846 No. 4. Dagang ).H. Enige Bepalingen betreffende Misdrijven begaan tergelegenheid van Faillissement en bij Kennelijk Overmogen. Burgelijk Wetboek (Kitab Undang-undang Hukum Perdata). Undang-undang yang tadinya terpisah dihimpun dalam satu kitab undang-undang dan diberi nomor urut lalu diterbutkan. Berlakunya ditetapkan tanggal 1 Februari 1931. Komisi itu terdiri dari Mr. Scholten van Out Haarlem untuk menyiapakan rencana peralatan hukum buat Hindia Belanda yang masih belum selesai dikerjakan.

Maka oleh karena itu dengan Firman Raja tanggal 10 Pebruari 1847 Nomor 60 diberikan kuasa kepada Gubernur Hindia Belanda untuk mengundurkan penetapan saat berlakunya peraturan-peraturan hukum tersebut. 1 itu semuanya terdiri dari 9 pasal dan isinya diumumkan seluruhnya di Hindia Belanda dengan Stb. Dalam sejarah tercatat. 23. 1848 . 1847 no. sebelum atau pada tanggal 18 Mei 1847 serta untuk memberlakukannya sebelum atau pada tanggal 1 Januari 1848. 1). (2) Kitab undang-undang hukum perdata. Wicher ke Hindia Belanda membawa kitab-kitab hukum yang telah selesai dikerjakannya serta telah ditandatangani oleh Raja untuk diberlakukan di Hindia Belanda. de Burgerlijke Rechtspleging en de Strafvordering onder de Indonesiers (golongan hukum Indonesia asli) en de Vreemde Oosterlingen (golongan hukum Timur Asing) op Java en Madoera" (Stb. Firman Raja Belanda tanggal 16 Mei 1846 No. 1848 No. Dalam hubungan ini Mr. Persiapan memberlakukan peraturan-peraturan hukum tersebut dikerjakan oleh Mr. dan (5) Beberapa ketentuan mengenai kejahatan yang dilakukan dalam keadaan pailit dan dalam keadaan nyata tidak mampu membayar. (4) Peraturan susunan pengadilan dan pengurusan justisi. Kemudian dalam pasal 2 Firman Raja itu ditentukan. Tugas Gubernur Jenderal adalah memberlakukan peraturan-peraturan hukum tersebut (pasal 2 Firman Raja tanggal 16 Mei 1846 no.Bab I. perjalanan kapal yang membawa kitab-kitab hukum itu ternyata terlambat tiba di Indonesia. Dalam pasal 1 nya antara lain dinyatakan bahwa peraturan-peraturan hukum yang dibuat untuk Hindia Belanda adalah : (1) Ketentuan umum perundang-undangan di Indonesia. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 12 berangkatlah Mr. (3) Kitab undang-undang hukum dagang. bahwa Gubernur Jenderal Hindia Belanda akan mengatur tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengumumkan peraturan-peraturan tersebut di atas di dalam bentuk yang lazim digunakan di Hindia Belanda. Wichers telah membuat beberapa rancangan peraturan antara lain "Reglement op de Uitoefening van de Politie. sehingga menimbulkan terhambatnya segala persiapan untuk memberlakukan perundang-undangan yang baru itu. 16 jo 57) yang sekrang sebagai Reglemen Indonesia Baru (RIB). Akhirnya dengan suatu peraturan penjalan (invoeringsverordening) yang bernama "Bepalingen omtrent de Invoering van en de Overgang tot de Niewe Wetgeving (Stb. Wichers yang di Hindia Belanda menjabat sebagai anggota Raad van State Belanda yang diperbantukan pada Gubernur Jenderal.

Dr. Dalam pada itu menurut pasal 2 nya.Bab I. Indonesia sebagai Negara besar harus tetap eksis memperhatikan perkembangan pergaulannya dengan bangsa lain dimuka bumi ini. maka salah satunya adalah mempersiapkan keberadaan hukum Perdata Nasional yang mempunyai ciri khusus dan sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sendiri. berpengaruh terhadap Indonesia yang tidak henti-hentinya dilanda berbagai krisis.2. tanpa kompromi. HAM. baik ekonomi. Kitab Undang-undang Hukum Perdata Belanda dan Burgelijk Wetboek yang diungkapkan di atas ini. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 13 No. 10) yang disingkat dengan "Overgangsbepalingen" (peraturan peralihan) yang juga disusun oleh Mr. maka kodifikasi hukum perdata (Burgerlijk Wetboek) menjadi berlaku di Hindia Belanda tanggal 1 Mei Tahun 1848. Wichers. sebagai akibat adanya kemungkinan timbulnya pengaruh secara timbal balik arus era globalisasi dan informasi dimaksud. Ad. Berkaitan dengan itu. Pasal 1 Overgangbapalingen itu menyatakan bahwa. politik. khusus dengan masuknya unsur-unsur asing (foreign element) yang telah melintasi batas negara sendiri. sehingga mau tidak mau dan sangat mendesak adalah keberadaan hukum perdata nasional dimaksud. hukum Perancis kuno. hal tersebut tidak mengenai hukum pidana. Belanda kuno dan sudah tentu pula hukum yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dimana dan dimasa kodifikasi tersebut diciptakan yakni pada waktu ratusan tahun yang silam. sebenarnya sejak jauh hari salah seorang pakar hukum yang sangat disegani dan dihormati oleh kalangan ilmuan hukum. karena Indonesia sendiri adalah salah satu komponen penghuninya yang harus tetap berhubungan dengan negara dan bangsa lain. maka hukum Belanda Kuno. Kedudukan BW/KUHPerdata sebagai undang-undang setelah Indonesia merdeka Era globalisasi yang melanda dunia pada dekade terakhir. "pada waktu kodifikasi hukum tersebut mulai berlaku.. namun mampu menjawab tantangan kedepan dalam menghadapi persaingan yang semakin kompetitif dengan bangsa-bangsa lainnya. beliau adalah Prof. maka jelaslah bahwa Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek) yang sekarang masih berlaku di Indonesia adalah Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang telah menyerap atau mengambil alih secara tidak langsung asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang berasal dari hukum Romawi. Dalam pada itu. keamanan negara dan sebagainya. . hukum Romawi dan semua statuta aturan yang baru itu".b. Berdasarkan fakta-fakta sejarah tentang terbentuknya Code Civil Perancis.

Adanya ketentuan-ketentuan di atas dan peraturan lainnya sangat berpengaruh terhadap keutuhan ketentuan peninggalan penjajahan dan oleh karenanya keadaan itu janganlah membuat bangsa ini tertidur dan dinina bobokkan dengan adanya Aturan Peralihan Pasal II UUD 1945 yang dibuat tanpa batas yang jelas dan tegas tentang saat kapan berakhirnya. Wirjono Prodjodikoro dengan judul. baik yang bersifat dan beraliran barat maupun yang bersendi kepada norma-norma kebuyaan timur” (A. melainkan sebagai dokumen saja yang hanya menggambarkan suatu kelompok hukum yang tidak tertulis” (Z. maka Hukum Perdata Nasional nantinya harus pula dapat menyesuaikan dirinya dengan cita-cita Nasional menurut aspirasi Bangsa Indonesia”. walaupun sebenarnya telah ada berbagai produk peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh negara.Ichsan. Undang-undang Pokok Perkawinan No. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 14 Mr. pernah mengemukakan dan mengingatkan dalam pidato Dies Natalis Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 1947. Karena itu dalam menanggapi perkembangan hukum perdata dewasa ini perlu diarahkan kepada arus pembawaan jiwa dan kebudaayan Nasional menuju kepada penemuan Hukum Perdata Nasional yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tindak-tindak perdata. Undang-udang Hak Tanggungan Atas Tanah dan benda-benda yang ada di atas Tanah No. “bahwa hukum dalam masyarakat itu dipengaruhi oleh perkembangan masyarakat itu sendiri. Dikatakan demikian. Selanjutnya gagasan Sahardjo. “Keadaan Transisi dari Hukum Perdata Barat”. seperti Undang-undang Pokok Agraria No. baik itu Burgerlijk WetBoek (BW) selanjutnya disebut KUHPerdata.A. hal ini dapat diartikan bahwa “adanya harapan agar para penerus bangsa ini untuk lebih memperhatikan kehidupan bangsanya disamping tetap memperhatikan pergaulan dengan bangsa lainnya. 4 Tahun 1996. 3 Tahun 1963 dan lain-lain. Undang-undang Yayasan No.H. S. Mencerermati keadaan tersebut wajarlah bahwa Sahardjo. Undang-undang Perseroan Terbatas No. karena berbagai produk peraturan-peraturan peninggalan penjajahan Belanda. WetBoek Van Koophandel (WvK) selanjutnya disebut dengan KUHDagang. Ahmad. di mana isi prasaran tersebut mengemukakan hal-hal sebagai berikuit : . 5 Tahun 1960. S. waktu menjadi Menteri Kehakiman RI pada Tahun 1962 memunculkan suatu gagasan yang diajukan dalam rapat Badan Perancang Hukum Nasional (BPHN) menyarankan bahwa: “khusus KUHPerdata tidak lagi sebagai undang-undang.. 1969 : 5) Beranjak dari pendapat ahli hukum tersebut.Bab I. 16 Tahun 2001. 1 Tahun 1974. Soepomo. 42 Tahun 1999. Surat Edaran Mahkamah Agung No. 1986 : 47). dapat dikatakan telah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan. tersebut dikemukakan lagi dalam Kongres Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) di Yogyakarta Tahun 1962 melalui prasaran Mr. R.H. Undang-undang Jaminan Fiducia No. 1 Tahun 1995.

sebagai pengganti Prof. Pasal 108 BW. Menurut Subekti. pertimbangan keluarnya SEMA berawal dari prasaran dalam Kongres MIPI Tahun 1962. Wirjono Prodjodikoro yang waktu itu sebagai Ketua Mahkamah Agung RI yang mengeluarkan Surat Edaran No. maka demi kepentingan hukum dia perlu secara tegas dicabut. S. konsekuensi gagasan ini adalah Dasar dengan mencabut berlakunya sebanyak delapan pasal dari BW tersebut”. Gagasan Sahardjo. Subekti. sebab hanya yurisprudensilah yang dapat menyingkirkan pasal-pasal dari BW itu. adalah sangat menarik. Prof. 6. paling-paling dia hanya dapat dianggap sebagai suatu anjuran pada para hakim untuk jangan takuttakut menyingkirkan pasal-pasal dari BW yang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dan membikin yurisprudensi. (Z. Subekti dikemukakannya di depan Seminar Hukum Nsional II di Semarang pada Tahun 1968 dan pada saat ceramah dihadapan dosen hukum dagang saat mengikuti “Post Graduate Course” di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta Tahun 1975.A. Mahadi dan demikian juga Prof. Arrest Bierbrouwerij Oktober 1925 yang menyingkirkan Pasal 1152 BW yang mengharuskan penyerahan barang yang digadaikan.H. dibawa pada Kongres MIPI mendapat tanggapan positif dari Mr. 3 Tahun 1963 yang berisi gagasan. Ahmad. 1986 : 51). bahwa : “baik gagasan seorang Menteri Kehakiman maupun Surat Edaran mahkamah Agung. hadirin yang umumnya menyetujuinya dan demikian juga halnya yang tidak ikut kongres juga menerimanya. 7. 3 Tahun 1963 tersebut.. Karena BW hanya tinggal sebagai pedoman saja. untuk menganggap BW tidak lagi sebagai Undang-undang tetapi hanya sebagai dokumen yang berisi hukum tidak tertulis saja. bukanlah merupakan sesuatu sumber hukum formal. tetap dalam kekuasaan orang yang menggadaikan”. tetapi cukup dengan suatu pernyataan saja dari Pemerintah atau Mahkamah Agung (Z. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 15 5. 8. S. S.A. Kelanjutan gagasan Sahardjo. diantaranya adalah. Mr. para hakim akan lebih leluasa untuk mengenyampingkan pasal-pasal BW yang tidak sesuai lagi dengan kepentingan Nasional.H.. Wirjono Prodjodikoro sebagai ketua Mahkamah Agung pada waktu itu. Pencabutannya tidak perlu dengan suatu Undangundang.. Arrest 31 Januari 1919 yang memperluas pengertian Pasal 1365 BW. untuk memberhentikan berlakunya sebagai Undang-undang di Indonesia”. seperti.H. “apakah BW harus menunggu dicabut dulu.Bab I. 1986 : 47). . Ketidak setujuan Prof. Mr. Artinya dengan menganggapnya sebagai dokumen. “untuk menganggap BW tidak lagi sebagai Undang-undang. sudah tidak sesuai lagi dengan kepentingan masyarakat Indonesia saat ini. dan keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung No. Tetapi kemudian dalam kenyataannya harus diakui banyak juga dari mereka yang tidak hadir yang menentang gagasan Sahardjo. Peraturan dari zaman Belanda yang sekarang masih berlaku dan belum dicabut. Ahmad. S.H. Mempertanyakan.

26). melontarkan suatu problema hukum : "Apakah BW sebagai kodifikasi tidak telah habis masa berlakunya pada saat kita memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 ?". Maka sudah sewajarnyalah bangsa ini memikirkan tentang bagaimana ketentuan-ketentuan yang berkaitan peraturan-peraturan peninggalan penjajahan tersebut diganti dan atau dinyatakan tidak berlaku lagi dengan jalan terus berupaya membuat dan memberlakukan ketentuan baru yang sesuai dengan keadaan bangsa dan kemajuan zaman. untuk terus menggali dan mencermati berlakunya ketentuan peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa. dan tidak terpaku dengan Aturan Peralihan Pasal II UUD 1945 yang tidak membuat batasan yang jelas dan tegas tentang limit waktu berakhirnya ketentuan peninggalan penjajahan tersebut. karena ketentuan-ketentuan yang bersifat keperdataan dalam perkembangannya dan penerapannya dapat saja dipengaruhi oleh berbagai aspek hukum lainnya. Adiwinata. Dalam pada itu. administrasi maupun ketentuan hukum Internasional sebagai akibat pengaruh global dan hubungan antar warga yang berlainan kewarganegaraannya. tetapi setidak-tidaknya ide itu perlu terus dipikirkan dan dipertimbangkan. 26). SH. dapat dikatakan bahwa keberadaan KUHPerdata sebagai ketentuan undang-undang hingga saat ini masih terus diperdebatkan. Dengan kata lain BW bukan lagi sebagai Wetboek tetapi Rechtsboek yang hanya dipakai suatu pedoman" (S. "Menteri Kehakiman.Bab I. di mana di negeri Belanda sendiri sebenarnya sudah sejak lama tidak diberlakukan lagi. peraktisi hukum dan para pihak yang mempunyai kewenangan dalam pengambilan keputusan. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 16 Melihat uraian di atas. Adiwinata. aspek hukum pidana. Menanggapi persoalan yang dikemukakan Menteri Kehakiman Sahardjo tersebut dalam pada itu Mahadi berpendapat sebagai berikut: . Ditambah lagi ketentuan-ketentuan peninggalan penjajahan sudah berusia cukup lama. artinya usulan-usulan yang menganggap dia hanya sebagai dokumen hukum saja tetap menjadi perdebatan diantara kalangan ahli hukum. mengemukakan "Persoalan ini pertama kali dilontarkan oleh Menteri Kehakiman RI tahun 1962 pada salah satu Rapat Kerja Badan Perancang Lembaga Pembinaan Hukum Nasional bulan Mei tahun 1962" (S. seperti. 1983. pada waktu itu Sahardjo. 1983. tentang bagaimana kedudukan Hukum Perdata BW khususnya KUHPerdata (Burgerlijk Wetboek) sebagaimana dimaksudkan di atas. Menurut Saleh. Saleh Adiwinata. dalam hal mana. Sahardjo berpendapat bahwa BW tidak lagi sebagai suatu undang-undang melainkan sebagai suatu dokumen yang hanya menggambarkan suatu kelompok hukum yang tidak tertulis. terutama baik kalangan ahli hukum.

yang melingkupi sebahagian dari Buku IV sebagainya. pernama norma hukum tertulis dan tidak hilang segi diskriminatifnya. sebab pada umumnya tidak ada Burgerlijke Stand untuk sebagain besar dari warga negara Indonesia. Jadi. yaitu para hakim muda lepasan SMKA dan para hakim bekas-bekas pegawai administratif yang tidak sedikit jumlahnya itu. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 17 1. Setapak kearah itu telah kita lakukan yaitu sebahagian dari Buku II telah diatur secara lain di dalam Undang-undang Pokok Agraria.Bab I. 4. yang sekarang di atur dalam BW. tapi masih tetap ada segi . sedang dirancangkan. bandingkan dengan wesel. Peraturan-peraturan tentang Burgerlike Stand sebagai aturanaturan tertulis. tidak logis kalau yang tertulis sekarang itu dijadikan tidak tertulis. Tegasnya. sebab : a. 2. c. Peraturan-peraturan tentang Burgerlike Stand nyata-nyata bersifat diskriminatif. yang tidak bertentangan dengan semangat serta suasana kemerdekaan. Mungkin hilang segi intergentilnya. Sekarang mereka mempunyai perpegangan. Dan Hukum Perjanjian (Buku III) sedang dalam perencanaan Hukum Acara Perdata. Kedudukan BW rasanya harus kita tilik bergandengan dengan kedudukan KUH Dagang. Dengan berlakunya aturan-aturan BW sebagai hukum adat. akan menjelma nanti di dalam hukum nasional kita juga dalam bentuk tertulis. Tidak setuju diambil suatu tindakan legislatif untuk menyatakan bahwa aturan-aturan BW dicabut sebagai aturan-aturan tertulis. tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan peraturan-peraturan tentang Burgerlijke Stand sebagai aturan-aturan tertulis. Dengan memperlakukan BW sebagai hukum adat. BW sebagai kodifikasi sudah tidak berlaku lagi. tidak setuju. b. 3. Dapatkah kita membuat pernyataan bahwa aturan-aturannya berlaku sebagai hukum adat ?. untuk kemudian dijadikan tertulis kembali (meskipun dengan perubahan-perubahan). Menjadikan aturan-aturan BW sebagai hukum adat mempunyai akibat psikologis terhadap alam pemikiran hakim madya. untuk menjadikan aturan-aturan BW yang masih bisa berlaku menjadi hukum kebiasaan (hukum adat). e. "interlokalnya". Diserahkan kepada yurisprudensi dan doktrina untuk menetapkan aturan mana yang masih berlaku dan aturan mana yang tidak bisa dipakai lagi. d. Yang masih berlaku ialah aturan-aturannya. Kelompok-kelompok hukum. Apakah tidak ada segi-segi internasionalnya.

1979 : 7-11) . kata Mahadi. hanya tinggal satu pegangan ini. untuk menjelaskan aturan-aturan mana dari BW itu yang dapat dipandang sebagai tidak berlaku lagi. 3. di mana dalam prasarannya itu dikemukakan pemikiran : 1. Dengan kata lain apakah BW yang bersifat kolonial masih pantas secara resmi dicabut dulu untuk menghentikan berlakunya di Indonesia sebagai undang-undang?.(S. BW sebagai pedomanpun harus dihilangkan sama sekali dari Bumi Indonesia secara tegas.Bab I. Adiwinata. 1983. Gagasan Menteri Kehakiman Sahardjo. melainkan hanya sebagai suatu dokumen yang hanya menggambarkan suatu kelompok hukum tidak tertulis. 34-35). Kemudian gagasan Sahardjo yang menganggap BW bukan lagi sebagai Wetboek tetapi Rechtsboek ini dibawa ke dalam Kongres Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPIsekarang LIPI) II yang diadakan di Yogyakarta pada bulan Oktober 1962. tidak dengan undang-undang. dibantu oleh para pengarang di dalam majalah hukum. Jika aturan-aturan BW dijadikan hukum adat. Mengingat kenyataan bahwa BW oleh penjajah Belanda dengan sengaja disusun sebagai tiruan belaka dari BW di negeri Belanda dan untuk pertama-tama diperlakukan buat orang-orang Belanda di Indonesia. yang sudah merdeka lepas dari belenggu penjajahan Belanda itu. BW masih tetap sebagai pedoman yang harus diperhatikan seperlunya oleh para pengusa. yang dikemukakan Wirjono Prodjodikoro. sangat menarik hati. masih pada tempatnyakah untuk memandang BW tersebut sejajar dengan suatu Undang-undang yang secara resmi berlaku di Indonesia ?. agar dalam waktu yang tidak terlalu lama. Mahadi akhirnya mengusulkan agar persoalan ini diserahkan kepada Mahkamah Agung melalui yurisprudensinya serta melalui jalan lain di dalam rangka peradilan terpimpin. oleh karena dengan demikian para penguasa terutama para hakim lebih leluasa untuk mengesampingkan beberapa Pasal dari BW yang tidak sesuai dengan Indonesia. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 18 maka kedua yurisprudensi. 2.(Wirjono. dalam prasarannya yang berjudul "Keadaan Transisi dari Hukum Perdata Barat". tidak membawa akibat baik kepada mutu keputusan-keputusan hakim yang bersangkutan. Namun oleh karena dalam gagasan tersebut. melainkan dengan suatu pernyataan Pemerintah atau dari Mahkamah Agung. yaitu dengan suatu pencabutan. maka untuk kepastian hukum masih sangat perlu diusahakan sekuat tenaga. dalam sidang Badan Perancang Lembaga Pembinaan Hukum Nasional pada bulan Mei 1962 yang menganggap BW tidak lagi sebagai suatu undang-undang.P.

pengakuan anak itu tidak lagi berakibat terputusnya perhubungan hukum antara Ibu dan Anak. Surat Edaran Mahkamah Agung No. 5. Sebagai konsekwensi dari gagasan tersebut. Mahkamah Agung sudah pernah memutuskan antara dua orang Tionghoa bahwa pengiriman turunan surat gugat kepada tergugat dapat dianggap sebagai penagihan. Dengan tidak lagi berlakunya pasal ini. bahwa suatu barang tertentu yang sudah dijanjikan dijual.Bab I. oleh karena sitergugat masih dapat menghindarkan terkabulnya gugatan dengan membayar hutangnya sebelum hari sidang pengadilan. 3. di mana Mahkamah Agung menyetujuinya dan sebagai konsekuensinya. Pasal 284 ayat (3) BW mengenai pengakuan anak yang lahir di luar perkawinan oleh seorang perempuan Indonesia asli. sejak saat itu adalah tanggung jawab pembeli. Pasal 1283 BW yang menyimpulkan bahwa pelaksanaan suatu perjanjian hanya dapat diminta di muka hakim. kecuali apabila pada waktu membentuk persetujuan sewa menyewa ini dijanjikan diperbolehkan. bahwa ia akan memakai sendiri barangnya. pasal mana menentukan. Pasal 1579 BW yang menentukan bahwa dalam hal sewa menyewa barang si pemilik barang tidak dapat menghentikan persewaan dengan mengatakan. maka harus ditinjau dari tiap-tiap keadaan. Mahkamah Agung kemudian mengeluarkan Surat Edaran No. meskipun penyerahan barang itu belum dilakukakan. sehingga juga tentang hal ini tidak ada lagi perbedaan diantara semua warga negara Indonesia. Dengan demikian. apakah tidak sepantasnya pertanggungan jawab atau resiko atas musnahnya barang yang sudah . 1. 3 Tahun 1963 tanggal 5 September 1963 yang disebarluaskan kepada semua PN dan PT di seluruh Indonesia. apabila gugatan ini didahului dengan penagihan tertulis. kemudian Mahkamah Agung menganggap tidak berlaku lagi antara lain pasal-pasal berikut dari Burgerlijk Wetboek : Pasal-pasal 108 dan 110 BW tentang wewenang seorang istri untuk melakukan perbuatan hukum untuk menghadap di muka pengadilan tanpa izin dan bantuan suami. 4. mendapatkan sambutan dan persetujuan. Pasal 1460 BW tentang resiko seorang pembeli barang. 2.3 Tahun 1963 tentang "gagasan menganggap Burgerlijk Wetboek tidak sebagai undang-undang". Pasal 1682 BW yang mengharuskan dilakukannya suatu perhibahan dengan akta Notaris. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 19 Gagasan tentang kedudukan hukum BW yang dikemukakan Wirjono dalam Kongres Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia tersebut.

Golongan Timur Asing. Pasal 1603 x ayat (1) dan ayat (2) BW yang mengadakan diskriminasi antara orang Eropah disatu pihak dan bukan orang Eropah di lain pihak mengenai perjanjian perburuhan. Golongan Bumiputera. Hukum Perdata dan Pemberlakuannya di Indonesia Hukum perdata di Indonesia sampai saat ini masih beraneka ragam (pluralistis). Berdasar ketentuan Pasal 131 IS di atas. c. bahkan sejak kedatangan orang Belanda di Indonesia pada tahun 1596. ialah semua orang yang termasuk rakyat Indonesia Asli. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 20 dijanjikan dijual tetapi belum diserahkan harus dibagi antara kedua belah pihak. ialah semua orang yang bukan golongan Eropah dan golongan Bumiputera 3.2. maka kodifikasi hukum perdata hanya berlaku bagi golongan Eropah dan mereka yang dipersamakan. dimana masing-masing golongan penduduk mempunyai hukum perdata sendiri. kecuali bidang-bidang tertentu yang sudah ada unifikasi. Ad. Sementara itu bagi perubahan-perubahan. dan kalau ya. Golongan Eropah. 6. maka hukum untuk golongan Eropah dapat dinyatakan bagi mereka. ialah (a) semua orang Belanda. sampai kapan saatnya. Keanekaragaman hukum perdata di Indonesia ini sebenarnya sudah berlangsung lama. 2. (d) semua orang yang berasal dari tempat lain yang dinegaranya tunduk kepada hukum keluarga yang pada pokoknya berdasarkan atas yang sama seperti hukum Belanda. baik seutuhnya maupun dengan diperbolehkan membuat suatu peraturan baru bersama. Selanjutnya dalam pasal 131 IS dinyatakan bahwa "bagi golongan Eropah berlaku hukum di negeri Belanda (yaitu hukum Eropah atau hukum Barat) dan bagi golongangolongan lainnya (Bumiputera dan Timur Asing) berlaku hukum adat masing-masing". yang tidak beralih masuk golongan lain dan mereka yang semua termasuk golongan lain yang telah membaurkan dirinya dengan rakyat Indonesia.Bab I. (b) semua orang Eropah lainnya. dan juga . dan anak yang dimaksud sub b dan c yang lahir di Hindia Belanda. Kemudian apabila kepentingan umum serta kepentingan sosial mereka berlaku menghendakinya. dan (e) anak sah atau diakui menurut undang-undang. Keaneka ragaman hukum ini berawal pada ketentuan dalam pasal 163 IS (Indische Staatsregeling) yang membagi penduduk Hindia Belanda berdasarkan atas tiga golongan yaitu : 1. (c) semua orang Jepang.

artinya lembaga ini hanya mungkin dilakukan oleh orang Indonesia Asli dan Timur Asing terhadap hukum Perdata Eropah. menandatangani wesel. 717). Peraturan ini mengenal empat macam penundukan diri yaitu: penundukan diri kepada seluruh hukum perdata Eropah (pasal 1 s/d 17). dengan memperlakukan hukum Eropah atas perjanjian yang dibuatnya itu. 569 jo 717 dan ordonansi tentang perkumpulan bangsa Indonesia (Stb. sedikitnya banyaknya adalah untuk kepentingan orang-orang golongan Eropah sendiri. No. sebab kalau mereka membuat perjanjian atau perikatan dengan orang-orang yang tidak tergolong ke dalam orang Eropah. disingkat dengan IMA (Stb. C.Bab I. 1939 No. Mengenai pasal 29 tersebut menentukan jika seorang bangsa Indonesia Asli melakukan suatu perbuatan hukum yang tidak dikenal atau tidak diatur dalam hukumnya sendiri. 1933 No. "bahwa penundukkan sukarela akan memberi keamanan besar dan keuntungan kepada orang Eropah. maka ia dianggap secara diam-diam menundukan dirinya pada hukum perdata Eropah misalnya menandatangani aksep (surat kesanggupan untuk membayar sejumlah uang). Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 21 golongan Bumiputera dan timur asing berlaku hukum adat mereka masing-masing kecuali sejak tahun 1855 hukum perdata Eropah diperlakukan terhadap golongan timur asing selain hukum keluarga dan waris. . menandatangani perjanjian asuransi dan sebagainya. penundukan diri pada perbuatan hukum tertentu (pasal 29).J Scholten . ordonansi perkawinan bangsa Indonesia yang beragama Kristen (Stb. 17 yang diberi nama dengan "Regeling Nopens de Vrijwillige Onderwerping aan het Europeesch Privatrecht" (Peraturan mengenai penundukan diri dengan suka rela kepada hukum perdata Eropah. Selanjutnya ada beberapa peraturan yang khusus dibuat untuk Bumiputera seperti . ordonansi tentang maskapai Andil Indonesia. Dengan demikian kepentingan orang Eropah dapat diamankan karena hukum Eropah merupakan hukum tertulis yang akan lebih banyak memberikan kepastian hukum dari pada hukum adat yang tidak tertulis. Selanjutnya orang-orang bukan Eropah dapat dengan suka rela menunjukan diri kepada hukum perdata Eropah hal ini diatur dalam Stb. Lembaga penundukan diri secara sukarela tidak mungkin terjadi sebaliknya. dan tidak mungkin terjadi penundukan diri secara suka rela dari orang eropah atau timur asing terhadap hukum adat. Diadakannya lembaga penundukkan diri ini. 1917 No. 1939 No. 570 jo. Dikatakan demikian sebab seperti dinyatakan oleh Mr. 74).

1917 No. Menurut peraturan ini seluruh hukum perdata Eropah berlaku bagi mereka. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 22 Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa lembaga penundukan diri kepada hukum perdata Eropah bagi golongan Timur Asing sudah hampir tidak relevan lagi dengan adanya peraturan yang termuat dalam Stb. Sebab dengan peraturan yang termuat dalam Stb. 1855 dan Wetbooek van Koophandel) dinyatakan berlaku terhadap orang golongan timur asing. 1855 No. 129 tersebut. 1917 No.3) Pada pertemuan ketiga di bahas tentang : a. 79. d. kecuali hukum keluarga dan hukum waris. 1924 No. dimana bagi orang-orang Timur Asing Tionghoa diadakan Burgerlijk Stand tersendiri. kecuali pasal-pasal mengenai Burgerlijk Stand yang termuat dalam bagian 2 dan 3 titel 4 buku I BW. Bidang-bidang Hukum Perdata. 79. Tetapi mengenai pembuatan wasiat (testament) hukum perdata Eropah berlaku juga bagi mereka. Dasar Hukum Berlakunya Hukum Perdata Eropah. hukum perdata Eropah berlaku bagi mereka. Pada Tahun 1917 mulai di adakan pembedaan antara golongan Timur Asing Tionghoa dan Timur Asing bukan Tionghoa. 556 tanggal 9 Desember 1924 dan mulai berlaku tanggal 1 Maret 1925. 1855 No. Pertemuan Ketiga (K.Bab I. dimana untuk kedua bidang hukum ini tetap berlaku hukum adat mereka sendiri. berdasarkan peraturan yang termuat dalam Stb. India. serta peraturan tersendiri tentang pengangkatan anak (adopsi) pada bagian II dari Stb. Pakistan dll). Kemudian dirubah dan ditambah dengan Stb. termuat dalam Stb. 3. Hukum Perdata Bersifat Pelengkap dan Memaksa . karena untuk golongan Timur Asing Tionghoa dianggap bahwa hukum Eropah yang sudah berlaku bagi mereka dapat diperluas lagi. c. kecuali mengenai hukum keluarga dan hukum waris. Peraturan tersendiri mengenai hukum perdata ini bagi mereka. b. Bagian-Bagian BW yang Tidak Berlaku Lagi. Dalam pada itu. bagi orang-orang golongan Timur Asing bukan Tionghoa (Arab. 129 (yang baru berlaku untuk seluruh Indonesia sejak tanggal 1 September 1925).

berlaku peraturan-peraturan Pemerintah Balatentara Jepang. Pasal 2 "Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1945". Dalam hal mana untuk daerah Jawa dan Madura. diadakan Peraturan Pemerintah tersebut adalah untuk lebih menegaskan berlakunya pasal 2 Peraturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam menjelaskan Peraturan Pemerintah No. Dasar Hukum Berlakunya Hukum Perdata Erofah Apabila dilihat dalam Undang-Undang Dasar 1945. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dalam UUD 1945 Pasal II nya menentukan : "segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku. Aturan peralihan sebagaimana dimaksudkan di atas. Dalam pada itu Pasal IV Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945 juga menetukan bahwa "sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat. sampai sebelum tanggal 17 Agustus 1945. di mana salah satu maksud diadakannya aturan peralihan tersebut adalah "untuk menjadi dasar berlakunya terus peraturan perundang-undangan yang ada pada saat diberlakukan". Berdasarkan Aturan Peralihan tersebut. kemudian pada tanggal 10 Oktober 1945 Presiden mengadakan dan mengumumkan Peraturan Pemerintah No. Pada waktu Indonesia dijajah oleh Jepang. Pemerintah Balatentara Jepang telah mengeluarkan Undang- .3.Bab I. a. untuk ketertiban masyarakat. 2 tahun 1945 ini disebutkan bahwa. selama sebelum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini". Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 23 Ad. selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar masih berlaku asal saja tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar tersebut". Dengan demikian kefakuman Undang-Undang Dasar tersebut hukum yang dapat menimbulkan ketidakpastian dan kekacauan dalam masyarakat dalam dihindari. Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Pertimbangan Agung dibentuk menurut Undang-Undang Dasar ini. 2 tahun 1945. Konstitusi RIS dan Undangundang Dasar sementara 1950 terdapatnya aturan peralihan. bersandar pada Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia pasal II berhubung dengan pasal IV menetapkan peraturan sebagai berikut" : Pasal 1 "Segala Badan-badan Negara dan Peraturan yang ada sampai berdirinya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. segala kekuasaan dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional Pusat". yang bunyinya sebagai berikut : "KAMI.

dimana dalam pasal 3 dinyatakan : "Semua badan-badan Pemerintah dan kekuasaannya. dapat dikatakan. dan sebagainya) dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. : Tentang benda (van zaken).P. Sementara itu bidang-bidang hukum perdata menurut undang-undang adalah sebagaimana termuat dalam BW yang terdiri dari 4 buku. Hukum Keluarga (familierecht). Hukum harta kekayaan (vermogenrecht). 1 tahun 1942 tanggal 7 Maret 1942. : Tentang pembuktian dan daluwarsa (van bewij en verjaring). dan sebagainya. 2. Sementara itu untuk daerah-daerah di luar Jawa dan Madura ada badan-badan dan keluasaan lain Balatentara Jepang yang tindakan-tindakan dalam hal ini boleh dikatakan sama. seperti hukum pidana. bahwa dengan adanya ketentuan peralihan UUD 1945 dan Peraturan Pemerintah No. Riduan Syahrani mengemukakan. Hukum waris (erfrecht). (Wirjono. 2 Tahun 1945 sebagaimana dikemukakan. 4. antara lain: Buku I Buku II Buku III Buku IV : Tentang orang (van personen). yang sebenarnya tidak hanya mengenai hukum perdata. : Tentang perikatan (van verbintenissen). BW. Hukum keluarga di dalam BW dimasukan pada buku I tentang orang. hukum acara pidana.3. Bidang-bidang Hukum Perdata Mengenai bidang-bidang hukum perdata sebagaimana dimaksudkan di atas.Bab I.b. maka segala peraturan hukum peninggalan Pemerintah Hindia Belanda dahulu (seperti IS. 1979 : 29). tetap diakui sah buat sementara waktu. hukum acara perdata. Hukum perseorangan/badan pribadi (personenrecht). Berkaitan dengan uraian di atas. 3. Hal ini disebabkan oleh karena hubungan-hubungan keluarga berpengaruh besar terhadap kecakapan seseorang untuk memiliki hak-hak serta kecakapannya untuk menggunakan hak- . Oleh karena itu maka dapat dikatakan bahwa pada zaman Jepangpun tetap melanjutkan berlakunya peraturan perundang-undangan dari zaman Hindia Belanda. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 24 Undang No. akan tetapi juga hukum-hukum bidang yang lain. Ad. hukum perdata dibagi dalam 4 bagian yakni : 1. bahwa dalam ilmu pengetahuan. WvK. hukum dan undang-undang dari Pemerintah yang dahulu. asal saja tidak bertentangan dengan aturan Pemerintah Meliter".

Bab I. b. antara laian Undangundang Nasional dilapangan perdata yang pertama sekali secara radikal menyatakan tidak berlakunya lagi beberapa ketentuan dalam BW adalah UUPA Nomor 5 tahun 1960. yakni sebelum terbentuknya peraturan-peraturan yang beru maka peraturan sebelum kemerdekaan masih dapat digunakan sebagai acuan. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 25 haknya itu. maka bagian Buku II BW mengenai benda. demikian juga halnya dengan beberapa ketentuan dari BW tersebut.c. Akan tetapi setelah kemerdekaan. karena sesuai dengan amanat yang terdapat dalam Aturan Peralihan dari UUD 1945. yaitu hak kebendaan atas "boedel" dari orang yang meninggal dunia. yaitu pasal-pasal yang melulu mengatur tentang bumi. Berlakunya UUPA ini. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.3. Tapi rupanya ada pendapat bahwa hukum acara perdata itu dapat dibagi dalam dua bagian yaitu bagian materil dan bagian formil. Bagian-Bagian BW yang Tidak Berlaku Lagi Pada waktu sekarang BW bukan lagi sebagai Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berlaku secara menyeluruh seperti mulai diberlakukan pada tanggal 1 Mei 1848. . Ad. sepanjang mengenai bumi. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. yang lahir tanggal 24 September 1960. Ada pasal-pasal yang masih berlaku penuh karena tidak mengani bumi. Ada pasal-pasal yang menjadi tak berlaku lagi. Selain itu juga dikatan bahwa pembentuk undangundang menganggap bahwa hak waris adalah merupakan hak kebendaan. Soal-soal pembuktian dan alat-alat bukti termasuk bagian materil sehingga dapat juga dimasukan dalam BW sebagai hukum acara perdata. Ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksudkan di atas. dikatakan demikian. Hukum waris dimasukan dalam Buku II tentang benda oleh karena perwarisan adalah merupakan salah satu cara untuk memperoleh hak milik (eigendom). sehingga berakibat peraturan peninggalan kolonial tersebut tidak berlaku lagi. Berlakunya UUPA itu maka berlakunya pasal-pasal BW Buku II sesuai dengan Surat Departemen Agraria tanggal 26 Pebruari 1964 nomor Unda 10/3/29 dapat diperinci atas 3 macam : a. Sedangkan pembuktian dan daluwarsa sebenarnya termasuk hukum acara perdata sehingga kurang tepat dimasukan dalam BW yang pada asasnya mengatur hukum perdara materil. Sedangkan hak milik (eigendom) diatur dalam Buku II. Pemerintah kemudian membuat peraturan-peraturan yang sesuai dengan keadaan sekarang dan nilai-nilai luhur bangsa. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.

1130 BW. Pasal-pasal tentang hipotik. 4. 5 Tahun 1960. PMA 15 tahun 1961 beserta peraturan-peraturan pelaksana lainnya. Pasal-pasal tentang penyerahan benda bergerak pasal 612. 10 tahun 1961. karena hipotik meskipun mengenai tanah memang dikecualikan dari pencabutan oleh UUPA.Bab I. Ada pasal-pasal yang masih berlaku tetapi tidak penuh. 3. dalam arti bahwa ketentuanketentuannya tidak berlaku lagi sepanjang mengenai bumi. dalam bukunya hukum benda memperinci secara garis besar sebagai berikut : a. Pasal-pasal tentang bewoning.pasal 1160 BW. Pasal-pasal tentang benda bergerak yakni pasal 505. Sementara itu Pasal-pasal mana dari Buku II BW yang masih berlaku penuh. Pasal-pasal tentang piutang yang diistimewakan (Previlegie) pasal 1130 . Pasal-pasal yang tidak berlaku lagi ialah : .V (peraturan peralihan perundang-undangan) S. Pasal-pasal yang masih berlaku penuh ialah : 1. b. Sri Soedewi Masjhoen Sofwan. (Sri Soedewi.1149 BW.827 BW. 518 BW. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dan masih tetap berlaku sepanjang benda-benda lainnya.10 setelah berlakunya UUPA ketentuan-ketentuan mengenai segi formil/acara dari hipotik yaitu mengenai pembebanan / pemberian hipotik dan pendaftaran hipotik. maka ketentuan Hipotik atas Tanah sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 57 UUPA No. mengenai hal tersebut harus tunduk pada ketentuan-ketentuan yang ada dalam UUPA. pasalpasal mana yang tidak berlaku dan pasal-pasal mana yang masih berlaku tetapi tidak penuh. 1848 No. 509. 1975 : 4). tanah diwarisi menurut hukum yang berlaku bagi si pewaris. pasal 1150 . Pasal-pasal tentang hukum waris pasal 830 . 6. Walaupun ada beberapa pasal dalam Hukum Waris yang juga mengenai tanah. 7. 613 BW. 5. namun setelah keluarnya undang-undang No. PP No. Pasal-pasal tentang gadai karena gadai hanya melulu mengenai benda bergerak. dinyatakan tidak berlaku lagi. dikurangi pasal-pasal yang tak pernah berlaku berdasarkan pasal 31 O. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah dan Benda-benda yang ada di atas Tanah dan PP No 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. 2. ini hanya mengenai rumah pasal 826 . Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 26 c.

. Pasal-pasal tentang Erfpacht pasal 711 . terletak di antara pasal-pasal 529-568 BW. Demikian juga pasal 621.622 dan 623 BW yang mengatur tentang penegasan hak atas tanah yang menjadi wewenang Pengadilan Negeri. 8. tidak pernah berlaku.672 BW. dan pasal 195 dan 1963 tentang verjaring sebagai upaya untuk mndapatkan hak eigendom atas tanah tidak berlaku lagi. Pasal tentang benda tidak mengenai tanah.710 BW 7. Pasal-pasal tentang pengabdian pekarangan (erfpachtbaarheid) pasal 674 . 5.pasal 505 BW. 5. Pasal tentang hak milik sepanjang tidak mengenai tanah. Pasal-pasal tentang cara memperoleh hak milik melulu mengenai tanah. Pasal-pasal tentang benda tak bergerak yang melulu berhubungan dengan hak-hak mengenai tanah. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. 6. pasal 818 BW. 1975 : 4). Pasal-pasal tentang cara membedakan benda pasal 503 . Pasal tentang hak dan kewajiban pemilik pekarangan bertentangan P 625 . 4. Boedi Harsono mengemukakan. tidak berlaku lagi. Pasal-pasal tentang hak Erfpacht 720 . Berkaitan dengan hal tersebut di atas. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 27 1.736 BW. Pasal-pasal tentang hak memungut hasil (Vruchtgebruuk) sepanjang tidak mengenai tanah pasal 756 BW. 2.Bab I. 3. di antara pasal 570 BW. ialah : 1.719 BW. 3. Pasal-pasal mengenai penyerahan benda-benda tak beregerak. Pasal tentang hak pakai tidak mengenai tanah. masih tetap berlaku sepanjang mengenai benda-benda lain. Pasal-pasal yang masih berlaku tetapi tidak penuh. Pasal-pasal tentang benda pada umumnya. Pasal-pasal tentang kerja Rodipasal 673 BW. meskipun tidak secara tegas dicabut dan letaknya diluar Buku II yaitu dalam Buku III dan Buku IV seperti pasal 1588 s/d 1600 tentang sewa menyewa tanah. 2. 4. (Sri Soedewi.755 BW. 6. 10. 9. Pasal-pasal tentang bunga tanah dan hasil sepersepuluh pasal 737 . Pasal-pasal yang mengatur tentang Hipotik atas Tanah dan benda-benda yang ada di atas tanah. dalam arti tidak berlaku sepanjang mengenai bumi. "Kemudian semua pasal-pasal yang merupakan pelaksanaan atau berkaitan dengan pasal-pasal yang tidak berlaku lagi itu.

127/UKep/12/1966 tanggal 27 Desember 1966 yang diatur lebih lanjut dalam Surat . Dalam Undang-Undang No. perkawinan diluar Indonesia dan perkawinan campuran.1 ). Sementara itu dengan lahirnya Undang-Undang No. batalnya perkawinan. harta benda dalam perkawinan. 1993 : 127 –131). 4 tahun 1961 yang mengatur tentang penggantian nama. Bahkan pasal-pasal 419 s/d 432 (titel XVI) yang mengatur lembaga pendewasaan (Handlichting) menjadi tidak berlaku lagi.1 tahun 1974 tentang perkawinan ini telah diatur tentang dasar perkawinan. Setelah berlakunya UUPA penegasan hak atas tanah harus menurut cara sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 28 karena tempatnya didalam Buku II. Undang-Undang Nasional di lapangan perdata yang juga cukup besar mengakibatkan tidak berlakunya lagi beberapa ketentuan dalam BW adalah UndangUndang No.. Maka pasal-pasal Buku I BW yang mengatur mengenai hal-hal yang telah diatur dalam Undang-undang No. pencegahan perkawinan. 31/U/IN/12/1966 tanggal 27 Desember 1966 dan dilengkapi Keputusan Presedium Kabinet No.10 tahun 1961 tentang "Pendaftaran Tanah" yang telah dicabut dengan berlakunya PP No. perjanjian perkawinan. kedudukan anak. 24 Tahun 1997 yang menentukan bahwa pemberian penegasan hak atas tanah itu dilakukan oleh Kepala Kantor Pendaftaran Tanah saat ini menjadi Badan Pertanahan Nasional” (B. putusnya perkawinan serta akibatnya. maka pasalpasal yang mengatur tentang perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan dalam Buku I BW.1 Tahun 1974 ini. sepanjang telah diatur dalam Undang-Undang Pokok Perkawinan Nasional tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi. Harsoeno. hak-hak dan kewajiban suami isteri. syarat-syarat perkawinan. pembuktian asal usul anak. perwalian. yakni pasal-pasal yang secara tegas dicabut oleh UUPA.1 tahun 1974 tersebut tidak berlaku lagi yaitu sekitar pasal-pasal 26 s/d 418a (titel IV s/d XV).1 tahun 1974 tentang perkawinan yang lahir pada tanggal 2 Januari 1974 ( LNRI 1974 No. hak dan kewajiban antara orang tua dan anak.Bab I.Dengan adanya Undang-Undang No. karena menurut pasal 47 Undang-undang No.1 tahun 1974 seorang anak yang berumur 18 tahun sudah dianggap dewasa. sehingga terhadap dirinya tidak perlu lagi dilakukan pendewasaan. yang disusul Instruksi Presidium Kabinet No.

Dalam pada itu bagian-bagian dan pasal-pasal BW yang tidak berlaku lagi karena dikesampingkan dan mati karena putussan-putusan hakim yang merupakan yurisprudensiyurisprudensi. Hukum yang bersifat memaksa adalah peraturan. kalau mereka tidak menentukan sendiri secara lain. agaknya tidak mungkin disebutkan satu-persatu di sini.1 tahun 1974 ditentukan bahwa . 1238. Akan tetapi untuk menyebutkan sebagai contoh pasal-pasal atau ketentuan-ketentuan BW yang tidak berlaku lagi karena mati oleh yurisprudensi adalah pasal-pasal yang disebut dalam Surat Edaran Mahkamah Agung N0. Dalam pasal 39 Undang-undang No.d. 3/1963 yaitu pasal-pasal 108.3. Hukum Perdata Bersifat Pelengkap dan Memaksa Menurut kekuatan berlakunya atau kekuatan mengikatnya. Pasal 1477 BW barulah mengikat dan berlaku bagi mereka yang mengadakan perjanjian jual-beli sesuatu barang. 1460 dan 1603 x ayat (1) dan (2). Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 29 Mendagri No. 284 ayat (3). hukum perdata dapat dibedakan atas hukum yang bersifat pelengkap (aanvullend recht) dan hukum yang bersifat memaksa (dwingend recht).3/1963 tersebut para hakim tidak merasa takut lagi untuk mengesampingkan pasal-pasal BW tersebut karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat sekarang. Peraturan hukum ini bersifat pelengkap. peraturan-peraturan hukum mana hanyalah berlaku sepanjang orang-orang yang berkepentingan tidak mengatur sendiri kepentingannya. 1682. Dengan adanya Surat Edaran Mahkamah Agung No.peraturan hukum yang tidak boleh dikesampingkan atau disimpangi oleh orang-orang yang berkepentingan. Misalnya dalam pasal 1477 BW ditentukan bahwa penyerahan harus terjadi di tempat dimana barang yang dijual berada pada waktu penjualan. terhadap peraturan-peraturan hukum mana orang-orang yang bekepentingan harus tunduk dan mentaatinya. 110.32/12/21 tanggal 9 Juli 1969 kepada para Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia maka pasal-pasal Buku I BW sepanjang mengenai hal yang sama yang telah diatur dalam Undang-Undang tersebut tidak berlaku lagi. sehingga orang-orang yang mengadakan perjanjian jual beli sesuatu barang boleh menyimpanginya dengan mengadakan perjanjian yang menentukan sendiri tempat dan waktu penyerahan tersebut. Ad.Bab I. Pol. Hukum yang bersifat pelengkap adalah peraturan-peraturan hukum yang boleh dikesampingkan atau disimpangi oleh orang-orang yang berkepentingan. jika tentang itu tidak telah ditentukan lain. 1579.

yang membatasi kehendak individu-individu tersebut. Pada bidang-bidang yang menyangkut ketertiban umum dan kesusilaan inilah otonomi individu dibatasi. Hukum perdata yang bersifat memaksa merupakan hukum perdata yang mengandung ketentuan-ketentuan tentang ketertiban umum dan kesusilaan. meskipun hukum perdata itu merupakan bagian dari pada hukum yang mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan. dan pada galibnya dibidang ini berperan kehendak individu yang bersangkutan. sehingga suami isteri tidak boleh mengadakan perceraian sendiri di luar sidang pengadilan tanpa alasan yang sah yang telah ditentukan.Bab I. Peraturan hukum ini bersifat memaksa. Dengan demikian hukum perdata tidak selalu berisi peraturan-peraturan hukum yang bersifat pelengkap. melainkan ada peraturan-peraturan hukum yang bersifat memaksa. Pengetahuan Dasar Hukum Perdata 30 "perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan berdasarkan alasan yang sah yang telah ditentukan". .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful