KARYA ILMIAH

UPAYA PELESTARIAN HUTAN MANGROVE BERDASARKAN PENDEKATAN MASYARAKAT

Disusun Oleh

Meika Rizka

JURUSAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU 2010

UPAYA PELESTARIAN HUTAN MANGROVE BERDASARKAN PENDEKATAN MASYARAKAT

I.

PENDAHULUAN Salah satu bagian terpenting dari kondisi geografis Indonesia sebagai wilayah

kepulauan adalah wilayah pantai dan pesisir dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Wilayah pantai dan pesisir memiliki arti yang strategis karena merupakan wilayah interaksi/peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut yang memiliki sifat dan ciri yang unik, dan mengandung produksi biologi cukup besar serta jasa lingkungan lainnya. Kekayaan sumber daya yang dimiliki wilayah tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan secara langsung atau untuk meregulasi pemanfaatannya karena secara sektoral memberikan sumbangan yang besar dalam kegiatan ekonomi misalnya pertambangan, perikanan, kehutanan, industri, pariwisata dan lain-lain. Wilayah pesisir merupakan ekosistem transisi yang dipengaruhi daratan dan lautan, yang mencakup beberapa ekosistem, salah satunya adalah ekosistem hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan penting di wilayah pesisir dan kelautan. Selain mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan (nursery ground) berbagai macam biota, penahan abrasi pantai, amukan angin taufan dan tsunami, penyerap limbah, pencegah interusi air laut, hutan mangrove juga mempunyai fungsi ekonomis yang tinggi seperti sebagai penyedia kayu, obat-obatan, alat dan teknik penangkapan ikan. Hutan mangrove sebagai salah satu ekosistem wilayah pesisir dan lautan yang sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat baik dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup, namun sudah semakin kritis ketersediaannya. Di beberapa daerah wilayah pesisir di Indonesia sudah terlihat adanya degradasi dari hutan mangrove akibat penebangan hutan mangrove yang melampaui batas kelestariannya. Hutan mangrove telah dirubah menjadi berbagai kegiatan pembangunan seperti perluasan

2

Tomlinson (1986) dalam Wightman (1989) menggunakan kata mangrove baik untuk tumbuhan maupun komunitasnya. Berdasarkan hal di atas. MacNae (1968) menggunakan kata mangrove untuk individu tumbuhan dan mangal untuk komunitasnya. II. Bali. TINJAUAN MENGENAI EKOSISTEM MANGROVE 1. maka makalah ini mencoba menguraikan bagaimana pemulihan mangrove berdasarkan pendekatan kepada masyarakat yang berada di kawasan ekosistem mengrove. 2002). rumput laut. yaitu dengan memperhatikan segi-segi fungsi ekosistem pesisir dan lautan dengan menata sempadan pantai dan jalur hijau dan mengkonservasi jalur hijau hutan mangrove untuk perlindungan pantai. jarang kepada rakyat kecil. penyu). kata mangro pada mulanya merupakan kata yang umum dipakai untuk jenis Rhizophora mangle (Karsten 1890 dalam Chapman 1976). kata mangue digunakan untuk menunjukkan suatu individu pohon dan kata mangal untuk komunitas pohon tersebut. Hal seperti ini terutama terdapat di Aceh. Di Suriname. dan Davis (1940) dalam Walsh (1974) menyebutkan bahwa kata mangrove merupakan istilah umum untuk pohon yang hidup di daerah yang berlumpur. pelestarian siklus hidup biota perairan pantai (ikan dan udang. kerang. Sumatera. Salah satunya model pendekatan pengelolaan sumberdaya alam termasuk didalamnya adalah sumberdaya hutan mangrove adalah pendekatan pengelolaan yang berbasis masyarakat. 1983). Mepham dan Mepham 3 . terumbu karang. Riau. basah dan terletak di perairan pasang surut daerah tropis. Di Portugal. pembangunan dermaga dan lain sebagainya. Pemerintah sepertinya kurangpercaya bahwa rakyat mampu mengelola sumberdaya alam yang ada di lingkungannya (Sallatang dalam Golar. padanan yang digunakan untuk mangrove adalah kata menglier. Di lain pihak. Definisi Mangrove Mangrove berasal dari kata mangal yang menunjukkan komunitas suatu tumbuhan (Odum. dan Kalimantan Timur. asalkan mengikuti penataan yang rasional.areal pertanian. pantai utara Jawa. pengembangan budidaya pertambakan. serta mencegah intrusi air laut. Sulawesi Selatan. Meskipun terdapat perbedaan dalam penggunaan kata. kebijakan pengelolaan sumberdaya alam dikontrol kuat oleh negara yang pengelolaannya selalu didelegasikan kepada pengusaha besar. Selama ini. Di Perancis. Kegiatan pembangunan tidak perlu merusak ekosistem pantai dan hutan mangrovenya.

mengemukakan bahwa mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut di daerah pasang surut. Kusmana (2002).(1985)dalam Wightman (1989) menyatakan bahwa pada umumnya tidak perlu dikacaukan dalam penggunaan kontekstual dari kata-kata tersebut. yang merupakan formasi tumbuhan litoral yang karakteristiknya terdapat di daerah tropika (Saenger. dan Naamin (1990) menyatakan bahwa fungsi ekosistem mangrove mencakup: fungsi fisik. biasanya terdapat di daerah teluk dan di muara sungai yang dicirikan oleh: (1) tidak terpengaruh iklim. nyirih (Xylocarpus Sp). Hutan mangrove adalah tipe hutan yang secara alami dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove disebut juga “Coastal Woodland” (hutan pantai) atau “Tidal Forest” (hutan surut)/hutan bakau. lacang (Bruguiera Sp). (5) hutan tidak mempunyai struktur tajuk. pertambakan. menyatakan hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa species pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. nipah (Nypa Sp) dan lain-lain. Fungsi biologis . (3) tanah tergenang air laut. yang dimaksud dengan “mangrove” adalah vegetasi hutan yang tumbuh di antara garis pasang surut. tempat bersarangnya burung. (2) dipengaruhi pasang surut. melindungi pantai dari erosi laut (abrasi) dan intrusi air laut. pedada (Sonneratia). tempat pemijahan beberapa biota air. Salim (1986). tergenang pada saat pasang naik dan bebas dari genangan pada saat pasang rendah.1983) 2. habitat alami bagi berbagai jenis biota. seperti Soerianegara dan Indrawan (1982) menyatakan bahwa hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai. bakau (Rhizophora Sp). dan mengolah bahan limbah. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas lingkungan biotik dan abiotik yang saling berinteraksi di dalam suatu habitat mangrove. tempat pembenihan ikan.Menurut Steenis (1978). udang. tempat pembuatan garam. baik secara sendiri 4 . Fungsi ekonomi sebagai sumber bahan bakar (arang kayu bakar). (6) jenis-jenis pohonnya biasanya terdiri atas api-api (Avicenia Sp). Ekosistem mangrove. (4) tanah rendah pantai. Fungsi dan Manfaat Hutan mangrove Saenger (1983). menjaga garis pantai agar tetap stabil. Beberapa ahli mengemukakan definisi hutan mangrove. Nybakken (1988). dan bahan bangunan.

bahan bangunan. pengeringan ikan. dan perangkap sedimen. obat-obatan dan minuman. 2002). obat.maupun secara bersama dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang berperan penting dalam stabilisasi suatu ekosistem pesisir. asam cuka.26 joule (Pratikto dkk. mangrove di Indonesia terdiri atas 157 jenis tumbuhan tingkat tinggi dan rendah. gula alkohol. tiang-tiang untuk perangkap ikan. f. serta daerah pemijahan (spawning ground) bagi berbagai jenis ikan. pupuk dsb. dan sebagai tempat pariwisata. tonggak dan atap rumah. 118 jenis fauna laut dan berbagai jenis fauna darat (Kusmana. 2002). Bahan bakar. Bahan bangunan.obatan. hasil dari hutan mangrove dapat berupa kayu. Tikar bahkan pagar pun menggunakan jenis yang berasal dari hutan mangrove. c. Makanan. penahan lumpur. Perikanan. Karena karakter pohon mangrove yang khas. jembatan. Juga sebagai pemasok larva ikan. daerah untuk mencari makan (feeding ground).7340. balok rel kereta api. Hasil penelitian yang dilakukan di Teluk Grajagan. chip. disamping itu. Selanjutnya Saenger. d. Jawa Timur. b.. menunjukkan bahwa dengan adanya ekosistem mangrove telah terjadi reduksi tinggi gelombang sebesar 0. Ekosistem mangrove juga merupakan perlindungan pantai secara alami untuk mengurangi resiko terhadap bahaya tsunami. bahan penyamak jaring dan lantai. pelindung abrasi. (1983) juga merinci hasil-hasil produk dari ekosistem hutan mangrove berupa : a. dan biota laut lainnya. udang. arang kulit kayu yang menghasilkan tanin (zat penyamak) dan lain-lain. ekosistem mangrove juga merupakan penghasil detritus dan merupakan daerah asuhan (nursery ground). Produksi kertas. kayu bakar. kayu bakar. berbagai macam kertas Hutan mangrove merupakan sumber daya alam daerah tropis yang mempunyai manfaat ganda baik dari aspek sosial ekonomi maupun ekologi. pelampung jaring. ekosistem mangrove merupakan sumber plasma nutfah yang cukup tinggi (misal. ekosistem mangrove berfungsi sebagai peredam gelombang dan badai. e. dan perubahan energi gelombang sebesar (E) = 19635. Banyuwangi. bangunan. Disamping itu. arang dan alkohol. baik secara fisik maupun secara biologis. balok perancah. Pertanian. udang. pembuatan kapal. Menurut Hardjosento (1981) dalam Saenger (1983). Besarnya peranan ekosistem hutan mangrove bagi kehidupan dapat diketahui dari banyaknya jenis hewan 5 . makanan ternak.

Fungsi ekologis ekosistem hutan mangrove menjamin terpeliharanya: ekologis. kayu Manfaat konstruksi) dan hasil bukan kayu (hasil hutan ikutan dan pariwisata). Manfaat ekonomis diantaranya terdiri atas hasil berupa kayu (kayu bakar. Fungsi Sosial dan ekonomis. yang terdiri atas berbagai fungsi lindungan baik bagi lingkungan ekosistem adalah a. memijah dan berkembang biak berbagai jenis ikan dan udang • Pembangun lahan melalui proses sedimentasi • Pengontrol penyakit malaria • Memelihara kualitas air (meredukasi polutan. daratan dan lautan maupun habitat berbagai jenis fauna. di atas lahan maupun di tajuk. moluska dan berbagai jenis reptil serta jenis-jenis burung serta mamalia. pengendapan sedimen. b.baik yang hidup di perairan. Lingkungan hidup daerah di sekitar lokasi (khususnya iklim makro). Lebih lanjut Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur (1994). arang.tajuk pohon mangrove atau manusia yang bergantung pada hutan mangrove tersebut (Naamin. pencegahan dan pengendalian intrusi air laut ke wilayah daratan serta pengendalian dampak pencemaran air laut. 1991). Sumber mata pencaharian dan produksi berbagai jenis hasil hutan dan hasil hutan ikutannya. yaitu perlindungan pantai terhadap pengikisan oleh ombak dan angin. sebagai berikut 1. Lingkungan fisik. diantaranya : • Sebagai proteksi dari abrasi/erosi. udang. yaitu sebagai: a. Lingkungan biota. pencemar air) • Penyerap CO2 dan penghasil O2 yang relatif tinggi disbanding tipe hutan lain. 2. c. yaitu sebagai tempat berkembang biak dan berlindung biota perairan seperti ikan. 6 . menyatakan bahwa ekosistem hutan mangrove mempunyai peranan dan fungsi penting yang dapat mendukung kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. gelombang atau angin kencang • Pengendali intrusi air laut • Habitat berbagai jenis fauna • Sebagai tempat mencari makan.

Dalam ekosistem hutan mangrove terjadi mekanisme hubungan antara ekosistem mangrove dengan jenis-jenis ekosistem lainnya seperti padang lamun dan terumbu karang. f. Sebagai pengendalian banjir. Dengan sistem perakaran yang kokoh ekosistem hutan mangrove mempunyai kemampuan meredam gelombang. yaitu fungsi ekologis dan fungsi sosial ekonomi Dahuri (2004). khususnya bahan-bahan organic. menahan lumpur dan melindungi pantai dari abrasi. Fungsi ekologis ekosistem hutan adalah sebagai berikut : a. Secara garis besar ekosistem hutan mangrove mempunyai dua fungsi utama. Sebagai penghasil bahan organik yang merupakan mata rantai utama dalam jaringjaring makanan di ekosistem pesisir. atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia. gelombang pasang dan taufan. e. latihan dan pengembangan ilmu pengetahuan. udangudang kecil dan akhirnya hewan-hewan ini akan menjadi makanan larva ikan. c. kepiting dan hewan lainnya. ikan dan kerang-kerangan. Tempat rekreasi atau wisata alam. mangrove dapat berfungsi sebagai penyerap bahan pencemar d.b. Obyek pendidikan. c. Hutan (environmental service). Kondisi Mangrove di Indonesia Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara. serasah mangrove yang gugur dan jatuh ke dalam air akan menjadi substrat yang baik bagi bakteri dan sekaligus berfungsi membantu proses pembentukan daun-daun tersebut menjadi detritus. Kekhasan ekosistem 7 . hutan mangrove yang banyak tumbuh di daerah estuaria juga dapat berfungsi untuk mengurangi bencana banjir. udang. b. 3. Merupakan daerah asuhan (nursery ground) hewan-hewan muda (juvenile stage) yang akan bertumbuh kembang menjadi hewan-hewan dewasa dan juga merupakan daerah pemijahan (spawning ground) beberapa perairan seperti udang. Selanjutnya detritus menjadi bahan makanan bagi hewan pemakan seperti : cacing.

III. Ekosistem mangrove terdiri dari hutan atau vegetasi mangrove yang merupakan komunitas pantai tropis. Sonneratiaceae (Sonneratia). 5 jenis palem. 44 jenis epifit. Secara umum. Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera.25 juta hektar pada tahun 1982 menjadi sekitar 3.50 juta hektar pada tahun 1993. karakteristik habitat hutan mangrove tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur. Kecenderungan penurunan tersebut mengindikasikan bahwa terjadi degradasi hutan mangrove yang cukup nyata. Jumlah jenis yang tercatat mencapai 202 jenis yang terdiri dari 89 jenis pohon. sosial juga merupakan 8 . Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan konversi menjadi lahan tambak. Daerah habitat mangrove Hutan tergenang air laut secara berkala. Dalam hutan mangrove. Habitat hutan mangrove memiliki air bersalinitas payau (2-22 bagian per mil) hingga asin (mencapai 38 bagian permil). serta terhadap tanah yang kurang stabil dan pasang surut (Kusmana. mangrove menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat serta terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. yaitu sekitar 200 ribu hektar/tahun. yaitu selain sebagai sumberdaya potensial bagi kesejahteraan masyarakat dari segi ekonomi. dan Pohon mangrove sanggup beradaptasi terhadap kadar oksigen yang rendah. estuaria. 19 jenis liana. yang termasuk ke dalam empat famili: Rhizoporaceae (Rhizophora. Terdapat sekitar 47 jenis vegetasi yang spesifik hutan mangrove. Avicenniaceae (Avicennia). 2002). Bruguiera. Luas penyebaran mangrove terus mengalami penurunan dari 4. paling tidak terdapat salah satu jenis tumbuhan mangrove sejati. Indonesia memiliki vegetasi hutan mangrove yang keragaman jenis yang tinggi. atau pada saat pasang purnama. Kalimantan dan Papua. setiap hari. PENYEBAB RUSAKNYA EKOSISTEM MANGROVE Seperti kita ketahui. Meliaceae (Xylocarpus). Hutan mangrove banyak ditemukan di pantai-pantai teluk yang dangkal. dan daerah pantai yang terlindung.24 juta hektar pada tahun 1987. dan Ceriops). 2002). dan tersisa seluas 2. dan 1 jenis sikas. terhadap salinitas yang tinggi.mangrove Indonesia adalah memiliki keragaman jenis yang tertinggi di dunia. berlempung. dan/atau berpasir. hutan mangrove merupakan tipe ekosistem peralihan darat dan laut yang mempunyai multi fungsi. Frekuensi genangan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove. penebangan liar dan sebagainya (Dahuri.

Keinginan untuk membuat pertambakan dengan lahan yang terbuka dengan harapan ekonomis dan menguntungkan. antara lain : 9 . Terdapat ancaman yang semakin besar terhadap daerah mangrove yang belum diganggu dan terjadi degradasi lebih lanjut dari daerah yang mengalami tekanan baik oleh sebab alami maupun oleh perbuatan manusia (UNDP/UNESCO 1984). yang merupakan faktor penyebab yang relatif kecil (Tirtakusumah. lingkungan dan kelestarian sumber daya wilayah pesisir. Rendahnya pengetahuan masyarakat akan berbagai fungsi hutan mangrove. Tekanan pada ekosistem mangrove yang berasal dari dalam. disebabkan karena pertumbuhan penduduk dan yang dari luar sistem karena reklamasi lahan dan eksploitasi mangrove yang makin meningkat telah menyebabkan perusakan menyeluruh atau sampai tingkattingkat kerusakan yang berbeda-beda.pelindung pantai dari hempasan ombak. 2. yaitu : 1. sehingga terjadi proses jual beli lahan yang sudah tidak rasional. Faktor manusia yang merupakan faktor dominan penyebab kerusakan hutan mangrove dalam hal pemanfaatan lahan yang berlebihan. Secara garis besar ada dua faktor penyebab kerusakan hutan mangrove. Faktor alam. seperti : banjir. b. 1994). d. perkebunan. Pertumbuhan penduduk yang pesat menyebabkan tuntutan untuk mendayagunakan sumberdaya mangrove terus meningkat. Adanya kesenjangan sosial antara petani tambak tradisional dengan pengusaha tambak modern. c. perikanan dan kehutanan harus mempertimbangkan lokasi rekreasi. Faktor-faktor yang mendorong aktivitas manusia untuk memanfaatkan hutan mangrove dalam rangka mencukupi kebutuhannya sehingga berakibat rusaknya hutan (Perum Perhutani 1994). Menurut Soesanto dan Sudomo (1994) Kerusakan ekosistem mangrove dapat disebabkan oleh berbagai hal. Kebutuhan kayu bakar yang sangat mendesak untuk rumah tangga. antara lain : a. karena tidak ada pohon lain di sekitarnya yang bisa ditebang. Oleh karena itu dalam usaha pengembangan ekonomi kawasan mangrove seperti pembangkit tenaga listrik. daya dukung pemukiman dan sarana perhubungan serta pengembangan pertanian pangan. karena mudah dan murah. kekeringan dan hama penyakit. Dibeberapa tempat ekosistem mangrove telah diubah sama sekali menjadi ekosistem lain.

Kurang dipahaminya kegunaan ekosistem mangrove. Sesuai dengan fungsi hutan mangrove sebagai penahan ombak.1. pembangunan landasan udara Ngurah Rai Bali menyebabkan pantai Kuta menguntungkan ditinjau dari terabrasi. Hal ini sering menimbulkan konflik penguasaan. Di wilayah Teluk Jakarta pemanfaatan yang ada sekarang saling berkompetisi. transportasi laut. kelembagaan. 2. Pemanfaatan Ganda Yang Tidak Terkendali Pemanfaatan ganda antar berbagai sektor dan Penggunaan sumberdaya yang berlebihan telah menyebabkan terjadi pengikisan pantai oleh air laut. Di beberapa daerah kawasan pantai hutan mangrove sudah banyak yang hilang sehingga lahan pantai terkikis oleh ombak. Karena lokasinya umumnya kehutanan. berdekatan dengan lahan untuk Permasalahan utama yang muncul adalah tentang status tanah timbul tersebut. 2. Permasalahan Tanah Timbul Akibat Sedimentasi Yang Berkelanjutan Di daerah muara sungai banyak dijumpai tanah timbul karena endapan lumpur yang terus-menerus terbawa dari daerah hulu sungai. seperti perluasan areal pelabuhan. Tekanan ekonomi masyarakat miskin yang bertempat tinggal dekat atau sebagai bagian dari ekosistem mangrove. Akibatnya banyak terjadi perusakan hutan mangrove sumberdaya alam untuk meregenerasi. perencanaan. industri. walaupun oleh masyarakat setempat dimanfaatkan kepentingan mereka. Disamping itu. Menurut Sugandhy (1994) beberapa permasalahan yang terdapat di kawasan hutan mangrove yang berkaitan dengan upaya kelestarian fungsinya adalah : 1. Contoh : kasus kawasan di Segara Anakan. penebangan yang tidak terkendali. Pemanfaatan demikian yang kurang aspek keseimbangan lingkungan. kawasan Sulawesi Selatan dan lain-lain. dan kawasan Pantura Jawa. 3. maka sering terjadi status penguasaannya langsung menjadi kawasan hutan. sehingga pemanfaatannya melampaui kemampuan 10 . pengelolaan hutan mangrove belum berkembang. baik dalam hal silvikultur. pelaksanaan maupun seperti pengawasannya. karena dapat menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan wilayah pesisir. sumberdaya manusia. tanpa mengindahkan status tanahnya. Demikian juga di Bali. khususnya di kawasan hutan mangrove Suwung. permukiman dan kehutanan. Karena pertimbangan ekonomi lebih dominan daripada pertimbangan lingkungan hidup.

Upaya pengembangan pertanian intensif(coastal agriculture). pantai utara Jawa Tengah. Bali. Hutan mangrove sepanjang pantai utara Jawa. dan kegiatan serta kesempatan yang berorientasi kelautan masih terbatas dikembangkan. lading garam dan lain-lain. Hal ini terjadi di Bali Selatan. Sulawesi dan Lampung menyebabkan timbulnya ketidak seimbangan antara permintaan kebutuhan hidup. Permasalahan Sosial Ekonomi Meningkatkannya pertumbuhan penduduk dan laju pembangunan di wilayah pesisir. Konversi Hutan Mangrove. manfaat ekonomi dan penguasaan teknologi. Bali Selatan dan Sulawesi Selatan bagian barat telah dikonversi menjadi kawasan permukiman. sehingga sulit dapat pulih kembali.3. 5. Pemanfaatan sumber daya alam wilayah pesisir mestinya tidak hanya terbatas pada hutan mangrove atau tambak saja tapi juga eksploitasi terumbu karang yang telah melampaui batas. reklamasi. kesempatan dengan persediaan sumber daya alam pesisir yang ada . Kebanyakan konversi hutan mangrove menjadi bentuk pemanfaatan lain belum banyak ditata berdasarkan kemampuan dan peruntukan pembangunan. tambak. khususnya Jawa. usaha penggalian pasir laut. Akibat tersebut menyebabkan terus meningkatnya perusakan ekosistem kawasan pesisir dan lautan khususnya kawasan hutan mangrove. Oleh karena itu pemanfaatan hutan mangrove yang tersisa atau upaya rehabilitasinya harus sesuai dengan potensi dan rencana pemanfaatan yang lainnya dengan mempertimbangkan kelestarian ekosistem. perhotelan. tambak dan sawah yang berorientasi kepada ekosistem daratan. hampir semua hutan mangrove telah habis dirombak menjadi kawasan pemukiman. Hal tersebut menyebabkan simpang siur tanggung jawab dan prosedur perizinan untuk kegiatan pembangunan pesisir dan lautan. Permasalahan Kelembagaan dan Pengaturan Hukum Kawasan Pesisir dan Lautan Sering terjadi tumpang tindih. sehingga menimbulkan kondisi yang kurang menguntungkan dilihat dari manfaat regional dan nasional. 4. Contahnya seperti pembukaan lahan di kawasan pesisir. penangkapan ikan dan pengambilan terumbu karang dan lain-lain. kawasan industri. Di pantai utara Jawa. konflik dan ketidakjelasan kewenangan antara instansi sektoral pusat dan daerah. 11 . Hampir semua bentuk pemanfaatan lahan di wilayah pesisir berasal dari konversi hutan mangrove. pelabuhan.

maka rencana restorasi harus terlebih dahulu melihat potensi aliran air laut yang terhalangi atau tekanantekanan lain yang mungkin menghambat perkembangan bakau (Kusmana.20 tahun jika: (1) kondisi normal hidrologi tidak terganggu. Kita manusia pelaku mencoba membuka jalan dan peluang serta mempercepat proses pemulihan terutama karena dalam beberapa kondisi. maka dapat direstorasi dengan cara penanaman. Oleh karena itu habitat bakau dapat diperbaiki tanpa penanaman. Jika kondisi hidrologi adalah normal atau mendekati normal tetapi biji bakau tidak dapat mendekati daerah restorasi. terdapat tiga parameter lingkungan yang menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan mangrove. UPAYA PELESTARIAN EKOSISTEM MANGROVE Ekosistem restorasi/rehabilitasi. semua habitat bakau dapat memperbaiki kondisinya secara alami dalam waktu 15 . IV. Secara umum. perlindungan kawasan serta rehabilitasinya. peluang ekonomi dan peran serta keluarga. kegiatan restorasi secara fisik akan lebih murah dibanding kita memaksakan usaha penanaman mangrove secara langsung. Dengan demikian. pembinaan dalam pemanfaatan secara lestari. Dalam kondisi seperti ini. yaitu: (1) suplai air tawar dan 12 . ekositem homeastatis telah berhenti secara permanen dan proses normal untuk suksesi tahap kedua atau perbaikan secara alami setelah kerusakan terhambat oleh berbagai sebab. mangrove yang rusak dapat dipulihkan dengan cara Restorasi dipahami sebagai usaha mengembalikan kondisi lingkungan kepada kondisi semula secara alami. 2005).6. Permasalahan Informasi Kawasan Pesisir Keberadaan data dan informasi serta ilmu pengetahuan teknologi yang berkaitan dengan tipologi ekosisitem pesisir Keanekaragaman hayati. sumber daya hutan mangrove masih terbatas sehingga belum dapat mendukung penataan ruang kawasan pesisir. dan (2) ketersediaan biji dan bibit serta jaraknya tidak terganggu atau terhalangi. Campur tangan manusia diusahakan sekecil mungkin terutama dalam memaksakan keinginan untuk menumbuhkan jenis mangrove tertentu menurut yang dipahami/diingini manusia. lingkungan sosial budaya. usaha restorasi semestinya mengandung makna memberi jalan/peluang kepada alam untuk mengatur/memulihkan dirinya sendiri. Dahuri dkk (1996) menyatakan. Restorasi perlu dipertimbangkan ketika suatu sistem telah berubah dalam memperbaiki atau memperbaharui diri tingkat tertentu sehingga tidak dapat lagi secara alami.

dkk. karena selain petani dapat memanfaatkan lahan untuk kegiatan pemeliharaan ikan. Sumarhani. Pola silvofishery yang digunakan adalah pola komplangan (Gambar 1) dan empang parit (Gambar 2) (Perum Perhutani. pihak Perum Perhutani secara tidak langsung menjalin hubungan kerja sama yang saling menguntungkan. 60.1993). Ketersediaan air tawar tergantung pada (a) frekuensi dan volume air dari system sungai dan irigasi dari darat. 1994. SILVOFISHERY SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PELESTARIAN MANGROVE BERBASIS MASYARAKAT Pendekatan teknis yang dilakukan dalam kegiatan Perhutanan Sosial adalah dengan sistem silvofishery (Perum Perhutani. Secara internal melalui jaringan-jaringan makanan berbasis detritus (detrital food web). pemeliharaan dan pengamanan hutan dengan cara mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan hutan. meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus perbaikan lingkungan dan kelestariannya yang pelaksanaannya terbatas dikawasan hutan. Amir.Pola ini dipandang sebagai pola pendekatan teknis yang dianggap cukup baik. Surat Keputusan Direksi Perum Perhutani No. dapat mengatasi masalah pangan dan energi (aspek ekonomi) serta kestabilan iklim mikro dan konservasi tanah (aspek ekologi). Berdasarkan pengertian tersebut diharapkan Perhutanan Sosial dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan tekanan sosial budaya penduduk di sekitar hutan yang berakibat turunnya produktivitas lahan dan fungsihutan maupun kualitas lingkungan biofisik di sekitarnya.2/Kpts/DIR/1988 merupakan 13 . Aspek keuntungan yang diperoleh dengan model silvofishery ini antara lain dapat meningkatkan lapangan kerja (aspek sosial). Perhutanan Sosial yang dilakukan oleh Perum Perhutani merupakan program pembangunan. Sistem ini merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah yang cukup efektif dan ekonomis. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan fungsi. dan (c) tingkat evaporasi ke atmosfer. dimana ketersediaan air tawar dan konsentrasi kadar garam (salinitas) mengendalikanefisiensi metabolik dari ekosistem hutan mangrove. 1994. (b) frekuensi dan volume air pertukaran pasang surut. V.salinitas.fungsi hutan secara optimal. 1994). (2) Pasokan nutrien: pasokan nutrient bagi ekosistem mangrove ditentukan oleh berbagai proses yang saling terkait. meliputi input dari ion-ion mineral an-organik dan bahan organik serta pendaurulangan nutrien.

Pendekatan Teknis Keterangan : a. khususnya Kelompok Tani Hutan sehingga terjalin hubungan mitra pembangunan yang harmonis yang saling menguntungkan. Jika tanaman kehutanan dikombinasikan dengan pertambakan ikan atau udang disebut silvofishery. peternakan atau kehutanan (Setiawan 1991). yaitu pendekatan teknis dan non teknis. Perhutanan Sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pola agroforestry. Pola Komplangan 1. yaitu : untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan memelihara ekosistem hutan mangrove. Penggarap empang dianggap sebagai mitra sejajar dalam pembangunan hutan atas dasar saling menguntungkan. Agroforestry merupakan suatu alternatif yang cukup efektif dalam upaya untuk menyatukan kepentingan antara kehutanan dengan masyarakat sekitar hutan. pintu air 2 buah (pintu masuk dan keluar) b. Tujuan kegiatan Perhutanan Sosial di hutan mangrove ini sama halnya dengan di kawasan hutan produksi. c.Pedoman Pelaksanaan Perhutanan Sosial. empang pemeliharaan ikan Keuntungan 14 . tanggul pemisah areal bertegakan hutan dengan pasang surut bebas d. Gambar 1. Dalam system agroforestry. penggunaan lahan pada dasarnya dititikberatkan pada salah satu usaha tanaman pangan. Hal ini dilakukan dengan dua macam pendekatan.

empang tempat pemeliharaan ikan lebar maksimum 5 meter d.perkembangan hutan dan ikan tidak saling menghambat Hambatan : . areal tegakan hutan dengan pasang surut bebas e.membutuhkan biaya investasi untuk pembuatan empang Gambar 2 Pola empang parit Keterangan : a.lebar parit terbatas sehingga cahaya matahari yang menyinari tidak cukup banyak 2. Pendekatan Non Teknis Dalam melaksanakan pendekatan non teknis ini perlu dibentuk suatu organisasi 15 .pemeliharaan ikan kurang terintegrasi . saluran air pasang surut bebas untuk hutan c. tanggul Keuntungan : cahaya matahari yang menyinari cukup baik biaya penyempurnaan empang parit dapat dilaksanakan secara bertahap setiap pemeliharaan Hambatan : .dapat diterapkan budidaya semi intensif ..cahaya matahari yang menyinarinya cukup baik . pintu air untuk pemeliharaan ikan b.

pelayanan saprodi. kepiting dikawasan hutan mangrove. pemasaran hasil ikan dan pengembangan pengolahan ikan. para petani dikelompokkan dalam wadah Kelompok Tani Hutan (KTH) dan diberikan penyuluhan secara intensif. diantaranya cara budidaya ikan. Sulawesi. Padahal dalam pelaksanaannya tersedia 16 . baik di pulau Jawa. 3. Sumatera. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas. Produksi ikan dari silvofishery seluruhnya menjadi hak penggarap anggota KTH. VI. Disamping itu melakukan usaha koperasi simpan pinjam. maupun Irian Jaya telah sering kita lihat. Ikut menerbitkan pemukiman/perambah dalam kawasan hutan mangrove Gotong royong memperbaiki saluran air yang dangkal untuk memperlancar pasang surut air laut dan aliran sungai Secara rutin mengadakan pertemuan untuk membahas permasalahan yang dihadapi. Tugas dari Kelompok Tani Hutan (KTH) antara lain : 1.penggarap kawasan hutan ialah “Kelompok Tani Hutan” (KTH). Untuk mempermudah pembinaan petani empang parit. Namun hasil yang diperoleh relatif tidak sesuai dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan oleh pemerintah. Melaksanakan tanaman hutan disetiap lokasi garapan masing-masing. 4. 5. perlu adanya pembentukan organisasi dan tanggung jawab masingmasing seksi dari kelompok tani hutan. KTH ini perlu pula dilengkapi dengan koperasi sebagai wadah penyediaan sarana produksi pertanian atau sarana pengolahan hasil. udang. PENDEKATAN BUTTOM UP DALAM RANGKA PELESTARIAN HUTAN MANGROVE Usaha pemulihan ekosistem mangrove di beberapa daerah. dimana para petani penggarap membangun hutan mangrove bersama-sama dengan kelompoknya dan membentuk program kerja yang akan di laksanakannya. 2. Upaya ini biasanya berupa proyek yang berasal dari Departemen Kehutanan ataupun dari Pemerintah daerah setempat.

evaluasi keberhasilan dan pemanfaatannya secara berkelanjutan semuanya dipercayakan kepada masyarakat. bukan subyek dalam upaya pembangunan (Subing. pelaksanaan. dan berbagai fasilitas penunjang yang lainnya. sehingga mereka dapat mengambil atau memotong hutan mangrove tersebut secara bebas. Akibatnya setelah selesai proyek tersebut. Begitulah pengertian yang ada pada benak masyarakat pesisir yang dekat dengan hutan mangrove yang telah mereka rehabilitasi (Savitri dan Khazali. Mengapa hasilnya kurang memuaskan? Salah satu penyebabnya adalah kurangnya peran serta masyarakat dalam ikut terlibat upaya pengembangan wilayah. maka masyarakat merasa sudah tidak ada lagi yang mengawasinya. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dapat juga melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bersama perangkat desa. padahal idealnya masyarakat tersebutlah yang harus berperan aktif dalam upaya pemulihan ekosistem mangrove tersebut. 17 . dan masyarakat masih cenderung dijadikan obyek. yaitu saat dana telah habis tentu saja pelaksana proyek tersebut juga merasa sudah habis pula tanggung jawabnya. pengawasan cukup memadai. pengontrol. Begitu pula. Pelaksanaan proyek semacam ini tentu saja kurang memberdayakan potensi masyarakat. Di sisi lain masyarakat tidak merasa ikut memiliki (sense of belonging tidak tumbuh) hutan mangrove tersebut. seandainya hutan mangrove tersebut telah menjadi besar. khususnya rehabilitasi hutan mangrove. tersedia bibit yang cukup. Dalam pelaksanaan pemulihan ekosistem mangrove yang telah terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini dilakukan atas perintah dari atas. 1999). dan lain-lain. dan fasilitator berbagai kegiatan yang terkait. sedangkan pemerintah hanyalah sebagai penyedia dana.biaya yang cukup besar. Seyogyanya upaya pemulihan ekosistem mangrove adalah atas biaya pemerintah. pemimpin umat. sedangkan perencanaan. 1995). sedangkan bawahan (masyarakat) sebagai ujung pelaksana proyek hanya sekedar melaksanakan perintah atau dengan istilah populer dengan pendekatan top-down (Gambar 3). tersedia tenaga ahli. sehingga jika membutuhkan mereka tinggal mengambil tanpa merasa diawasi oleh pemerintah atau pelaksana proyek. Masyarakat beranggapan bahwa hutan mangrove tersebut masyarakat adalah milik pemerintah dan bukan milik mereka. Seperti suatu kebiasaan dalam suatu proyek apapun yang namanya rencana itu senantiasa tombak datangnya dari atas.

Dari sini akan tergambar andaikata ada sekelompok orang yang bukan anggota masyarakat yang ikut menaman hutan mangrove tersebut ingin memotong sebatang tumbuhan mangrove saja. penyulaman tersebut dilakukan oleh masyarakat. Ini merupakan salah satu contoh kasus kecil dalam perusakan hutan mangrove yang telah dihijaukan. melainkan ikut memiliki hutan mangrove tersebut. maka mereka tentu akan ramairamai mencegah atau mengingatkan bahwa mereka menebang pohon tanpa ijin. khususnya yang berada di daerah pesisir. istilah pendekatan Pemerintah Pemerintah Kabupaten 18 . Melalui mekanisme ini. perawatan. sehingga status mereka akan berubah. Dengan demikian semua proses rehabilitasi atau reboisasi hutan mangrove yang dimulai dari proses penanaman. karena mereka merasa ikut merencanakan penanaman dan lainlain. masyarakat tidak merasa dianggap sebagai “kuli”.Masyarakat pesisir secara keseluruhan perlu mendapat pengertian bahwa hutan mangrove yang akan mereka rehabilitasi akan menjadi milik masyarakat dan untuk masyarakat. Pelaksanaan rehabilitasi hutan mangrove dengan penekanan pada pemberdayaan masyarakat setempat ini biasa dikenal dengan bottom. yaitu bukan sebagai kuli lagi melainkan ikut memilikinya. Masyarakat merasa mempunyai andil dalam upaya rehabilitasi hutan mangrove tersebut. kemudian dirusak oleh anggota masyarakat lainnya yang bukan anggota kelompoknya.up (Gambar 4).

Sitepu. R. Dari sini nampak bahwa pendekatan bottom up relatif lebih baik jika dibandingkan dengan pendekatan top down dalam pelaksanan pemulihan ekosistem. 1996. J. Pradnya Paramita. sekalipun tidak ada yang mengawasinya. Ginting. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut. 2001. karena masyarakat sadar bahwa kayu yang mereka potong tersebut sebenarnya adalah milik mereka bersama. 2004. Jakarta. Dengan demikian ini juga sekaligus merupakan proses langsung (Savitri dan Khazali. 2002. selain “pemerintah atau pemilik itu modal” tidak terlalu berat melakukannya.P. Jakarta. karena masyarakat dapat berlaku aktif pada proses pelaksanaan pemulihan tersebut. 1999). Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu. S.J. Tugas pemerintah hanyalah memberikan pengarahan secara umum dalam pemanfaatan hutan mangrove secara berkelanjutan. Pusat Kajian Bengkulu Utara. sebab tanpa arahan yang jelas nantinya akan terjadi konflik kepentingan dalam pengelolaan dalam jangka panjang. Rais.G. Dahuri. D. DAFTAR PUSTAKA Bengen. dan pada masyarakat pesisir akan timbul rasa ikut memiliki terhadap hutan mangrove yang telah berhasil mereka hijaukan.Perangkat Desa Masyarakat Gambar 4. Pendekatan Buttom-up Menurut Sudarmadji (2001) Hasil dari kegiatan dengan pendekatan bottom up ini akan menjadikan masyarakat enggan untuk merusak hutan mangrove yang telah mereka tanam. Dahuri. Bengkulu. Integrasi Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Pulaupelaksanaan suatu proyek dengan pendekatan bottom up atau menumbuhkan adanya partisipasi dari anggota masyarakat pendidikan pada masyarakat secara tidak 19 . M. R.

Jakarta. New Consept and Approach to Land Management in the Tropics with Emphasis on Steeplands. F. Dixon.. 2001. Makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional Pengelolaan Ekosistem mangrove di Jakarta. 10. Badan Planologi Kehutanan. Rome. Inc. C. 1992. 6-7 Agustus 2002 Golar.G. Dixon.R. Cet. Paimin. Westview Press and Lond. and M. Watershed Resources Management. Eksekutif. Soil 20 . Economic Analysis at the Watershed Level. Departemen Kehutanan. NJ. Fletcher. MOF-DENGANRLR and DSIR. PT. Sci. 2005. Hudson. No.. Ke-3. Hartati. Studies in Water Policy and Mngt. Makalah dalam Lokakarya Hutan mangrove Pasca sunami. Kusmana. 1978. Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Kolaboratif. 3rd ed. An Integrated Framework with Studies from Asia and the Pasific.W.Pulau Kecil. Easter. BT Basford Ltd. Jakarta. 1971. Alih Bahasa. J. J. Land Resource Survey Kandbook for Soil Conservation Planning in Indonesia. Printice-Hall. Hufschmidt. Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Tengah. Presfektif Pengolahan Hutan Berbasis masyarakat: Antara Harapan dan Kenyataa. Savitri. FAOUN. 1986. Easter. K.W.11. Gibb. April 2005 Barlowe. K.M. Gramedia Pustaka Utama.A. N. The Economics of Real Estate. Pedoman Survai Sumberdaya Lahan Untuk Perencanaan Konservasi Tanah di Indonesia. R. Project Report No 2. J. Medan. S. Shaxson. E. Report No. Rencana Rehabilitasi Hutan Mangrove dan Hutan Pantai Pasca Tsunami di NAD dan Nias. Conservation. Data Strategis Kehutanan. Land Resource Economics.A. 2002. 1999. 75. FAO Soil Bul. R. Indonesia. In.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful