1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Setiap bahasa di dunia tentu saja memiliki persamaan dan perbedaan serta keunikan tersendiri antara satu dengan yang lainnya. Keragaman berbagai bahasa di dunia beserta dengan keunikannya masing-masing merupakan fenomena yang sangat menarik bagi para ahli bahasa untuk diteliti sehingga dapat memperkaya khazanah ilmu kebahasaan itu sendiri. Salah satu objek penelitian bahasa yang menarik adalah pembentukan kata atau word formation karena hal itu mutlak terjadi dalam suatu bahasa dan disebut sebagai proses morfologi. Morfologi termasuk salah satu studi kebahasaan (linguistik) yang mengkaji struktur internal kata atau leksikon suatu bahasa. Kata dalam hal ini dipandang sebagai satuan-satuan padu bentuk dan makna yang memperlihatkan aspek valensi sintaksis, yakni kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki kata untuk berkombinasi dengan kata-kata lain dalam kelompok kata (Uhlenbeck dalam Ekowardono,1982:54). Pada tingkat gramatikal, kata secara tradisional dipahami sebagai unsur terkecil bahasa yang diidentifikasikan asal dan bentuknya dalam suatu paradigma. Setiap bahasa tentunya dapat dijabarkan ihwal kata itu dan properti-properti morfosintaksisnya (Matthews, 1974:136). Pada abad ke-19, istilah morfologi sebagai bidang linguistik dipahami sebagai studi tentang perubahan-perubahan

1

2

secara sistematis tentang bentuk kata yang dihubungkan dengan maknanya (Bauer, 1988:4). Hal itu dapat diambil contoh pasangan kata sebagai berikut: Verba to design ‘menggambar’ to fight ‘berjuang’ to write ‘menulis’ Nomina designer ‘perancang’ fighter ‘pejuang/petinju’ writer ‘penulis’

Kata-kata tersebut tidak hanya dikaji bentuk katanya, tetapi juga dikaji fungsi unit-unit lain dalam mengubah bentuk katanya. Dengan begitu, kajian morfologi berkaitan dengan proses infleksi dan derivasi (Katamba; 1993:206). Dengan demikian, dalam proses pembentukan kata terdapat dua jenis afiks, yaitu afiks-afiks infleksional dan afiks-afiks derivasional. Afiks infleksional adalah afiks yang mampu menghasilkan bentuk-bentuk kata yang baru dari leksem dasarnya, sedangkan afiks derivasional adalah afiks yang menghasilkan leksem baru dari leksem dasar. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa morfologi infleksional atau infleksi berkaitan dengan proses afiksasi yang ditentukan secara sintaksis, sedangkan morfologi derivasional atau derivasi digunakan untuk membentuk leksikal baru (Bauer, 1988:80). Kedua proses morfologis itu menjadi hal yang menarik untuk diteliti karena proses pembentukan kata ini pasti terjadi di semua bahasa dan tiap-tiap bahasa menunjukkan proses yang berbeda. Dalam penelitian ini dibahas tentang salah satu proses derivasi, yaitu nominalisasi. Istilah ini mengacu pada proses pembentukan nomina (kata benda) dari kelas kata yang lain (verba, adjektiva, adverbial) melalui penambahan afiks derivasional (Kridalaksana, 1984 :132).

3

Topik ini menarik untuk dibahas karena nominalisasi merupakan bagian yang penting dalam penggunaan bahasa, baik nominalisasi verba maupun adjektiva. Dalam penelitian ini secara khusus dibahas tentang nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis. Bahasa Perancis sebagai salah satu bahasa internasional tidak hanya digunakan sebagai bahasa resmi oleh 24 negara, namun juga sebagai bahasa ibu oleh lebih dari 77 juta penduduk di dunia, sebagai bahasa kedua oleh 12 juta jiwa lainnya, serta digunakan sebagai bahasa resmi pada komunitas dan organisasi dunia, seperti Uni Eropa, IOC, PBB, dan FIFA. Bahasa Perancis memiliki keunikan dari segi pelafalan, kosakata, dan tata bahasanya. Salah satu bagian yang cukup unik dan menarik untuk dikaji dan dipahami adalah adjektiva dalam bahasa tersebut. Adjektiva bahasa Perancis sendiri memiliki kekhasan jika dibandingkan dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Ada dua hal yang sangat mempengaruhi dalam pembentukan adjektiva bahasa Perancis, yaitu gender (maskulin/feminin) serta number (tunggal atau jamak) dari nomina yang diterangkannya. Sebagai contoh, adjektiva grand ‘besar’ akan memiliki bentuk-bentuk sebagai berikut. grand batiment (n.m.sg) grands batiments (n.m.pl) grande maison (n.f.sg) grandes maison (n.f.pl) ‘gedung besar’, ‘gedung-gedung besar’ ‘rumah besar’, ‘rumah-rumah besar.

Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa ada empat bentuk untuk adjektiva grand ‘besar’, yaitu grand, grands, grande, dan grandes. Proses seperti ini termasuk dalam proses infleksi karena tidak menghasilkan kata yang baru, artinya

4

keempat bentuk tersebut memiliki fungsi dan kategori kata yang sama. Dapat dilihat bahwa tiga bentuk terakhir mendapat sufiks -e, -s, dan –es (dalam bahasa Perancis disebut accord). Sufiks –e bersifat inflektif, yaitu sebagai penanda gender feminin, sedangkan sufiks –s sebagai penanda jamak, dan –es merupakan penanda gender feminin jamak. Perubahan ini mengikuti aturan-aturan morfologi tertentu (adjective agreement) karena ada adjektiva yang mengalami perubahan yang teratur (regulier) dan tidak teratur (irregulier). Secara praktis, adjektiva bahasa Perancis dapat diubah menjadi nomina, baik dengan proses derivasi yang memerlukan derivational affiks maupun nominalisasi dengan zero derivation. Menurut Mattews (1974:65), proses yang terakhir ini disebut konversi (conversion), yaitu perubahan kelas kata tanpa penambahan afiks atau proses derivasi dengan penambahan zero morfem. Dalam bahasa Perancis hal ini juga dikenal dengan istilah derivation impropre, yaitu perubahan kategori gramatikal sebuah kata yang disebabkan oleh fungsinya dalam ujaran (Gardes-Tamine, 2001 :43). Biasanya, kategori sebuah kata dapat kita pastikan dalam kamus, namun dalam percakapan sehari-hari akan cukup sulit untuk menentukan kategori kata. Sering terjadi kategori sebuah kata berubah sesuai dengan fungsinya dalam kalimat. Hal ini dapat kita lihat pada contoh berikut. a. Tous les hommes sont charmé par sa beauté
semua DEF.pl N.m.laki-laki PAS.terpukau oleh POSS.3sg. N.f.sdkecantikan

Semua lelaki terpukau pada kecantikannya. b. Le beau de cette image est sa simplicité
DEF.m.sg ADJ.cantik PART DEM.f.ini gambar adalah POSS3.sg N.f.kesederhanaan

(sesuatu) Yang indah dari gambar ini adalah kesederhanaannya.

5

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa bentuk dasar adjektiva beau ‘cantik/indah’ dapat mengalami kedua tipe nominalisasi, yaitu :
1.

[beauadj + -té]

beauté N ‘keindahan’ beau N ‘indahnya’

2. [beauadj + ø]

Untuk tipe kedua, adjektiva beau berubah kelas katanya menjadi nomina dengan tanpa adanya afiksasi, namun kelas katanya telah berubah menjadi nomina yang dibuktikan dengan adanya artikel definit le. Perlu diketahui bahwa setiap nomina dalam bahasa Perancis harus didahului oleh determinan (penanda nomina), seperti artikel definit/indefinit, artikel partitif, demonstratif, penanda possesif, dan sebagainya (Hutagalung, 2003:30). Dengan demikian, kata beau di atas dapat dipastikan berubah kelas katanya menjadi nomina karena ada artikel definit (le) sebagai penanda nomina masculin di depan kata beau tersebut. Perubahan seperti ini sering disebut dengan zero-derivation atau conversion karena tidak adanya penambahan afiks untuk mengubah kelas kata. Karakteristik dari konversi ini adalah bentuk dasar dan bentuk derivasi yang dihasilkan sama persis, yang membedakan adalah makna semantik dan kategori morfosintaksisnya. Kedua tipe nominalisasi ini sangat umum digunakan dalam bahasa Prancis sehingga menarik untuk diulas karena memperlihatkan dua bentuk nomina yang berbeda dari satu bentuk dasar adjektiva yang sama. Jika dilihat dari struktur morfologinya, bahasa Perancis merupakan tipe bahasa fleksi karena perubahan internal cenderung terjadi dalam akar kata itu sendiri. Namun, pembubuhan afiks juga dapat dilakukan dalam membentuk suatu leksikal baru dan mengekspresikan makna gramatikalnya. Akan tetapi,

6

penggunaannya tidak sesering seperti dalam bahasa aglutinasi. Karena penggunaannya yang khusus tersebut, nominalisasi adjektiva yang termasuk dalam proses derivasi menjadi menarik untuk diteliti sehingga dapat diketahui leksikal baru apa saja yang dapat dibentuk oleh afiks-afiks derivasional yang terdapat dalam bahasa Perancis. Penelitian tentang proses pembentukan kata khususnya tentang

nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis telah dilakukan oleh beberapa peneliti luar, di antaranya adalah Nominalizations and the Structure of Adjectives oleh Roy (2007). Pada penelitian ini, nominalisasi adjektiva hanya dibahas secara umum, tidak diuraikan kaidah pembentukan nomina dari dasar adjektiva. Selain itu, penelitian ini lebih cenderung membahas struktur adjektiva dengan menguraikan fungsinya dalam frasa. Kemudian penelitian yang kedua The Nominalization of Adjectives in French: From Morphological Conversion to Categorial Mismatch” oleh Lauwers (2008) yang membahas nominalisasi adjektiva dengan cara konversi (tanpa afiksasi) beserta struktur frasa dan makna yang dihasilkan dari proses tersebut. Kedua penelitian yang telah dilakukan tersebut sama-sama membahas nominalisasi, namun ada perbedaan, baik dalam hal bidang yang dikaji maupun teori yang digunakan. Begitu pula dengan bukubuku tata bahasa Perancis, pembahasan tentang hal ini hanya bersifat struktural, tidak disertai dengan kaidah-kaidah pembentukan kata. Penelitian mengenai nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis masih perlu dilakukan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, baik tentang proses afiksasi maupun konversi di dalamnya. Penelitian ini berbeda

7

dengan penelitian sebelumnya, terutama dalam teori yang digunakan, yaitu teori Morfologi Generatif ditambah pula kajian bentuk dan makna gramatikal dari kedua proses nominalisasi tersebut. Penerapan teori ini diharapkan dapat menjelaskan dengan baik tentang proses pembentukan kata, temasuk

pembentukan kata-kata potensial dan kaidah penyesuaian yang terjadi dalam proses afiksasi tersebut.

1.2 Rumusan Masalah Di dalam penelitian ini dibahas tiga masalah pokok, yaitu sebagai berikut. 1. Afiks-afiks apa sajakah yang dapat membentuk nomina dari dasar adjektiva dalam bahasa Perancis? 2. Bagaimanakah proses atau kaidah pembentukan kata dalam nominalisasi adjektiva bahasa Perancis, baik dengan afiksasi maupun konversi berdasarkan teori morfologi generatif? 3. Apakah fungsi dan makna gramatikal yang terbentuk dari kedua proses nominalisasi adjektiva tersebut?

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan dua tujuan utama, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. 1.3.1 Tujuan Umum Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena kebahasaan terutama mengenai proses nominalisasi adjektiva dalam bahasa

8

Perancis dari sudut pandang Teori Morfologi Generatif. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan yang positif pada tata bahasa Perancis terutama dalam pemahaman pembentukan nomina dari bentuk dasar adjektiva.

1.3.2 Tujuan Khusus Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan dalam rumusan masalah, yaitu : 1. mengidentifikasi afiks-afiks pembentuk nomina dari dasar adjektiva dalam bahasa Perancis; 2. menjelaskan proses pembentukan kata dalam nominalisasi adjektiva bahasa Perancis dengan menggunakan teori Morfologi Generatif; 3. menemukan makna gramatikal yang terbentuk dari proses nominalisasi tersebut.

1.4 Jangkauan penelitian Jangkauan penulisan dalam penelitian ini adalah proses nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis, baik dengan penambahan afiks derivasional maupun dengan konversi. Permasalahan yang dibahas mencakup

pengidentifikasian afiks-afiks pembentuk nomina dari dasar adjektiva, kemudian bagaimana proses pembentukannya, dan makna gramatikal yang terbentuk dari proses tersebut. Data yang diteliti adalah nomina yang berasal dari bentuk dasar adjektiva kualifikatif, yaitu adjektiva yang mendeskripsikan nominanya, seperti bentuk, warna, ukuran, sifat, dan lain-lain.

9

1.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, baik secara teoretis maupun praktis . Kedua manfaat yang diharapkan itu diuraikan berikut ini.

1.5.1 Manfaat Teoretis Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah pengetahuan di bidang linguistik terutama kajian Morfologi Generatif. Di samping itu, data dan informasi dalam penelitian ini juga dapat memberikan kontribusi dalam pemahaman proses derivasi khususnya nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis.

1.5.2 Manfaat Praktis Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi khususnya tentang proses nominalisasi bagi para peneliti lain ataupun pengguna bahasa Perancis di Indonesia. Di samping itu, penjelasan tentang proses morfologis di dalamnya diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang Teori Morfologi Generatif serta dapat menunjang pengajaran bahasa Perancis tentang penggunaan afiks derivasional pada adjektiva dalam membentuk nomina.

10

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka Penelitian dalam bidang morfologi sudah banyak dilakukan oleh para linguis. Hal ini tentu saja akan sangat membantu dalam penelitian ini, antara lain dapat membuka wawasan tentang topik yang sama dan mengetahui sampai sejauh mana topik ini sudah diteliti. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa hasil penelitian yang berkaitan dengan morfologi bahasa Perancis khususnya masalah nominalisasi dengan menggunakan Teori Morfologi Generatif belum ada. Oleh sebab itu, dianggap perlu untuk meninjau beberapa karya tulis yang membahas masalah morfologi bahasa Perancis dan sejumlah penelitian Morfologi Generatif di luar bahasa Perancis. Jadi, pada bagian ini diuraikan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan Morfologi Generatif terutama dalam derivasi ataupun afiksasi. Dalam uraian berikut terkandung cakupan penelitian, teori yang digunakan, proses analisisnya, dan hasil yang diperoleh. Pramesti (2008) dalam tesisnya yang berjudul “Adjektiva Derivational dalam Bahasa Jepang : Sebuah Kajian Morfologi Generatif” mengkaji aturan dan proses pembentukan adjektiva dalam bahasa Jepang dengan afiks derivasional, termasuk menganalisis fungsi dan makna, serta mengidentifikasi perbedaan antara adjektiva turunan dan adjektiva bukan turunan dilihat dari distribusinya dalam kalimat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa adjektiva derivasional

10

11

dalam bahasa Jepang dapat dibentuk dengan menggunakan prefiks {fu-, ko-, dan ka-} dan sufiks {-(i)ta, -rashi, -ppo, dan –teki}. Adjektiva turunan dan adjektiva bukan turunan berbeda kontribusinya dalam kalimat. Adjektiva turunan hanya dapat muncul satu kali dalam sebuah kalimat, sedangkan adjektiva bukan turunan dapat muncul dan menduduki lebih dari satu fungsi sintaksis. Walupun tulisan ini membahas adjektiva bahasa Jepang, penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang proses derivasi dengan menggunakan teori morfologi generatif sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam penulisan penelitian ini. Simpen (2008) menulis sebuah artikel pada Jurnal Linguistika berjudul “Afiksasi Bahasa Bali : Sebuah Kajian Morfologi Generatif”. Kajian ini berangkat dari fenomena kebahasaan, khususnya bahasa Bali dalam bidang morfologi, di mana sebagian besar kajian morfologi menggunakan Teori Struktural yang dirasa kurang relevan untuk diterapkan dalam proses pembentukan kata. Misalnya untuk bentuk mebisan ‘berbus’ dan niyuk ‘menggunakan alat dengan tiyuk/ pisau’ tidak pernah digunakan dalam percakapan, sedangkan bentuk medokaran ‘berdelman’, mesepedaan ‘bersepeda’, numbeg ‘mencangkul’ sangat biasa digunakan dalam bahasa Bali. Sehubungan dengan itu, dalam penelitian ini digunakan Teori

Morfologi Generatif, yaitu teori baru yang dianggap mampu memberikan penjelasan (explanation adequacy) terhadap fenomena yang ada. Dengan cara ini diharapkan tidak ada bias dalam proses afiksasi. Prinsip dasar dalam Morfologi Generatif adalah proses pembentukan kata dapat menghasilkan bentuk wajar, bentuk potensial, dan bentuk aneh. Mekanisme pembentukan kata biasa melalui idiosinkresi, penyaringan, dan pemblokan.

12

Teori ini juga mengenal adanya penutur yang ideal, yang secara intuitif berbekal kemampuan bahasa bawaan. Oleh karena itu, teori ini mampu menjelaskan bentuk-bentuk potensial dan bentuk-bentuk aneh sejenis niyuk; nyilet, memotlot, memensil. Halle (1973) dan Aronoff (1976) merupakan dua ahli yang memberi warna pada penelitian morfologi generatif. Di samping itu, Scalise (1984) dan Dardjowidjojo (1988) adalah dua ahli yang sangat berperanan dalam pemahaman teori morfologi generatif, khususnya yang berkembang di Indonesia. Walaupun bahasa yang digunakan sebagai objek penelitian dalam dua penelitian di atas tidak serumpun dengan bahasa yang menjadi objek penelitian penulis, penelitian-penelitian tersebut dapat dijadikan kajian pustaka yang memberi banyak sumbangan dalam penelitian penulis. Hal itu mengingat pembahasan proses afiksasi dengan menggunakan teori Morfologi Generatif dapat memberikan kontribusi dalam penelitian ini yang juga akan membedah proses nominalisasi adjektiva dengan menggunakan teori tersebut. Dubois dan Langane (1973: 120) dalam bukunya La Nouvelle Grammaire du Fran ais mengemukakan bahwa kata yang diperoleh setelah penambahan sufiks dan setelah melalui suatu proses transformasi kalimat disebut kata derivasional (mots dérivés). Mereka juga membahas sufiks yang digunakan dalam transformasi suatu bentuk dasar menjadi grup nomina dapat dibagi menjadi dua kelompok tergantung dari bentuk dasarnya apakah merupakan bentuk dasar adjektiva atau participe (suatu bentuk dalam sistem kata kerja bahasa Perancis).

13

Sufiks-sufiks yang ditambahkan pada bentuk adjektiva, antara lain {-at, ce, -erie, -esse, -eur, -ie, -ise, -ité, -itude, -isme}, sedangkan sufiks-sufiks yang digunakan pada bentuk participe atau kata kerja adalah {-age, -e, -ment, -tion, -ure}. Di dalam buku ini, sama sekali tidak dibahas tentang bagaimana proses pembentukan kata derivasional dengan menggunakan sufiks-sufiks tersebut, demikian pula dengan makna yang dihasilkan dari proses derivasi tersebut. Selain itu, juga tidak disinggung mengenai bentuk derivasi melalui proses konversi. Namun, buku ini telah memberikan kontribusi yang berarti dalam penelitian ini dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam transformasi kalimat dan menentukan sufiks-sufiks pembentuk nomina. Kajian berikutnya adalah sebuah artikel pada jurnal Folia Linguistika dengan judul “The Nominalization of Adjectives in French: From Morphological Conversion to Categorial Mismatch” oleh Lauwers (2008). Penelitian ini membahas nominalisasi adjektiva yang terfokus hanya pada nominalisasi dengan zero derivation atau dengan tanpa penambahan afiks pada bentuk dasarnya. Contoh le bavard ‘si cerewet (orang)’, l’aveugle ‘si buta (orang), le faux ‘yang salah’, le vrai ‘kebenaran’. Hal seperti ini juga sering disebut dengan proses konversi, yaitu perubahan kelas kata tanpa pembubuhan afiks. Penelitian ini menggunakan pendekatan secara sintaksis dan dianalisis berdasarkan distorsi kategorial (distortion categorielle). Jadi, dalam penelitian ini tidak diuraikan mengenai proses nominalisasi adjektiva dengan menggunakan afiksasi.

Kontribusinya dalam penulisan penelitian ini adalah tentang bentuk-bentuk

14

konversi adjektiva menjadi nomina dan makna yang terbentuk dari proses tersebut sesuai dengan konteks dalam kalimat. Kajian yang terakhir adalah “Nominalizations and the Structure of Adjectives” oleh Roy (2007). Dalam artikel ini dipaparkan mengenai struktur adjektiva dan implikasinya pada nominalisasi adjektiva. Ada dua sumber jenis adjektiva, yaitu predikatif dan atributif. Adjektiva predikatif adalah adjektiva yang dalam kalimat memerlukan kata kerja keadaan sebagai penghubung, sedangkan adjektiva atributif adalah adjektiva yang muncul sebagai modifier dari nomina yang diterangkannya, seperti diungkapkan pada contoh berikut. dancer a. She is a beautiful Adj.atributif ‘Dia adalah seorang penari cantik’ b. The dancer is beautiful Adj.predikatif ‘Penari itu cantik’ Selanjutnya dikatakan bahwa hanya struktur adjektiva predikatif yang dapat mengalami nominalisasi. Kemudian dipaparkan mengenai struktur sintaksis kedua tipe adjektiva tersebut. Setelah itu disebutkan bahwa ada dua kelas nomina yang dibentuk dari dasar adjektiva, yaitu sebagai berikut. 1. Nomina keadaan (State-nominals)
La popularité de ses chansons m’impressionné DEF.f.sg popularitas PREP POSS.2pl. N.f.pl.lagu ku.memukau ‘Kepopuleran lagu-lagunya memukauku’

Nomina ini mendeskripsikan suatu keadaan dan memerlukan struktur argumen serta hanya dapat diderivasikan dari adjektiva predikatif.

15

2. Nomina kualitas (quality-nominals) La fierté l’ aveugle DEF.f.sg kebanggan COD-dia buta ‘Kebanggaan membutakan dia’ Sebaliknya, nomina kualitas tidak memerlukan struktur argumen dan menggambarkan suatu kualitas. Secara umum penelitian ini cukup menarik terutama tentang struktur adjektiva dan implikasinya pada nominalisasi, sedangkan kelemahannya adalah penjelasan mengenai bagaimana proses pembentukan nomina dari adjektiva masih sangat kurang. Berdasarkan kajian-kajian di atas, dapat dikatakan bahwa penelitian mengenai derivasi dalam bahasa Perancis, terutama tentang nominalisasi adjektiva masih perlu dilakukan untuk menambah keragaman penelitian tentang kajian morfologi. Penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Dalam dua penelitian pertama, objek bahasanya jelas berbeda (bahasa Jepang dan bahasa Bali), namun sama-sama menggunakan Teori Morfologi Generatif untuk menggambarkan proses afiksasi sehingga dapat dijadikan acuan untuk menganalisis data pada penelitian ini. Pada tiga kajian berikutnya yang juga membahas proses nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis, sejauh ini hanya sebatas mendeskripsikan jenis-jenis afiks derivasional dan proses derivasi adjektiva menjadi nomina hanya digambarkan secara struktural. Di samping itu, teori Morfologi Generatif belum pernah diterapkan dalam proses analisis nominalisasi adjektiva oleh para linguis Perancis.

16

2.2 Konsep Sebelum pemaparan teori yang akan digunakan dalam penelitian ini, disampaikan juga konsep dasar yang dianggap relevan sebagai pendukung untuk dapat lebih memahami topik dan bermanfaat untuk menyamakan persepsi terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Konsep-konsep tersebut diuraikan berikut ini. 2.2.1 Leksem dan Kata Mengutip pendapat Lyon, Kridalaksana (1996) membedakan istilah kata dan leksem. Di dalam tulisannya, ia menggunakan leksem sebagai satuan dasar dalam leksikon dan dibedakan dari kata sebagai satuan gramatikal. Dengan perkataan lain, leksemlah yang merupakan “bahan dasar” yang telah mengalami “pengolahan gramatikal” menjadi kata dalam subsistem gramatika. Lyons (1977:23) menyatakan “lexemes are the words that a dictionary would list under a separate entry” yang berarti bahwa leksem merupakan kata yang menjadi entri dalam kamus. Dalam kamus, leksem
WALK

‘berjalan’ akan

dengan mudah ditemukan sebagai entri (leksem), sedangkan bentuk walked, walks, dan walking tidak akan ditemukan dalam entri yang terpisah karena katakata tersebut merupakan bentuk lain dari leksem
WALK.

Huruf capital kecil

digunakan untuk menunjukkan leksem yang membedakannya dengan kata (Boiij, 2007:3). Jadi, kita harus membedakan leksem dengan kata, yaitu leksem sebagai unit yang abstrak, sedangkan kata merupakan unit konkret yang digunakan dalam

17

kalimat (Matthews, 1974:22). Kata sebagai satuan yang memiliki makna dan terdiri atas satu morfem atau lebih.

2.2.2 Infleksi dan Derivasi Menurut Bauer (1988:80), dalam buku Introducing Linguistic

Morphology, morfologi dipilah atas morfologi derivasional dan morfologi infleksional. Infleksi merupakan bagian dalam sintaksis karena bersifat melengkapi bentuk-bentuk leksem dan derivasi menjadi bagian dari leksis karena menyediakan leksem-leksem baru. Morfologi leksikal mengkaji kaidah-kaidah pembentukan kata yang menghasilkan kata-kata baru yang secara leksikal berbeda (beridentitas baru) dari kata yang menjadi dasarnya. Hal ini berbeda dengan morfologi infleksional yang mengkaji hasil-hasil pembentukan kata yang berasal dari leksem yang sama. Mathews (1974: 38) membedakan antara proses infleksi dengan proses pembentukan kata (word formation) yang mencakup derivasi dan komposisi Derivasi adalah proses pembentukan kata yang menghasilkan leksem baru (menghasilkan kata- kata yang berbeda dari paradigma yang berbeda); sedangkan infleksi menghasilkan bentukan kata-kata yang berbeda dengan paradigma yang sama. Pembentukan derivasi bersifat tidak dapat diramalkan, sedangkan pembentukan infleksi bersifat teramalkan (predictable). Misalnya, verba work ’bekerja’ otomatis akan dikenali works, worked, working (bentukan infleksional yang teramalkan); berbeda dengan contoh derivasi work ’bekerja’ ’pekerja’, apakah agree ’setuju’ agreer? worker

18

Sehubungan dengan derivasi dan infleksi, Booij (1988:39) juga menyatakan bahwa afiks-afiks derivasional merupakan morfem terikat yang digabungkan dengan base untuk mengubah kelas katanya (part of speech). Misalnya, kata-kata teach ’mengajar’, build ’membangun’, dan sweep ’menyapu’ adalah verba, tetapi jika ditambahkan afiks derivasional -er, akan menjadi nomina teacher ’pengajar’, builder pembangun’, dan sweeper ’tukang sapu’. Jika ditambahkan sufiks -ly pada adjektiva happy ’senang’, loud ’keras’, smooth ’lembut’, akan didapatkan adverbia happily ’dengan gembira’, loudly ’dengan keras (suara)’, smothly ’dengan lembut’. Haspelmath (2002:60--83) juga mengungkapkan hal yang sama mengenai infleksi dan derivasi dengan para pendahulunya, yaitu morfologi menggunakan terminologi yang berbeda untuk membicarakan infleksi dan derivasi. Dalam bukunya Understanding Morphology dipaparkan bahwa makna infleksi pada bahasa ditemukan sangat terbatas, banyak di antaranya muncul dari kata-kata inti yang umum dari nomor, kasus, aspek, mood, dan agreement ‘persetujuan’, sedangkan makna derivasi lebih bervariasi. Samsuri (1982: 198) di dalam buku Analisis Bahasa mengungkapkan pendapatnya tentang derivasi dan infleksi, yaitu bahwa derivasi ialah konstruksi yang berbeda distribusinya daripada dasarnya, sedangkan infleksi adalah konstruksi yang menduduki distribusi yang sama dengan dasarnya. Samsuri menyatakan bahwa di dalam bahasa-bahasa Eropa, utamanya Inggris, pengertian derivasi dan infleksi dapat dikenakan secara konsisten. Misalnya: books (dari book), stop, stopped, stopping (stop); prettier, prettiest (pretty); sebagai contoh

19

infleksi. Sebaliknya, derivasi dicontohkan: runner (run), beautify (beauty). Semua bentuk, seperti book jika mendapat sufiks -s (plural), merupakan infleksi, seperti car-cars, table-tables, dsb. Namun, di dalam bahasa Indonesia tidaklah demikian karena sistem afiks bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris. Oleh sebab itu, masih merupakan persoalan, apakah pengertian infleksi dan derivasi dapat diterapkan secara konsisten di dalam bahasa Indonesia. Lessard (1996) dalam

Introduction à la Linguistique Fran aise juga membagi proses morfologi ke dalam dua jenis, yaitu la morphologie derivationnelle di mana proses tersebut menghasilkan suatu jenis kata yang baru (dengan menambahkan afiks) dan la morphologie flexionnelle yang tidak menghasilkan suatu kata yang baru (seperti penambahan penanda jamak dan penambahan akhiran dalam konjugasi verba). Dalam hal ini, afiks infleksional cenderung diletakkan setelah afiks derivasional, misalnya kata tristesses ‘kesedihan-kesedihan’. Pada kata itu terdapat tiga morfem, yaitu triste ‘sedih’, sufiks -esse yang memberi makna keadaan/kualitas seperti yang disebutkan pada bentuk dasar, dan –s yang merupakan penanda jamak. [triste] A + [-esse] [tristesse] N + [-s] [tristesse] N.sg (1) [tristesses] N.pl (2)

Proses (1), akhiran –esse (afiks derivasional) dilekatkan terlebih dahulu untuk mengubah bentuk dasar adjektiva ‘triste’ menjadi sebuah nomina abstrak tunggal tristesse ‘kesedihan’. Setelah itu, baru mendapat akhiran –s untuk membuat nomina dalam bentuk jamak (afiks infleksional).

20

2.2.3 Bentuk Dasar (Base) Bentuk dasar adalah satuan, baik tunggal maupun kompleks, yang menjadi dasar bentukan bagi satuan yang lebih besar (Ramlan, 1985:45). Pendapat lain menyatakan bahwa bentuk dasar atau dasar (base) biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar suatu proses morfologis, artinya bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisa diulang dalam suatu proses reduplikasi, atau bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi. Bentuk dasar tersebut berupa morfem tunggal, tetapi dapat juga berupa gabungan morfem (Chaer, 1994:159), contoh : kata berlayar terdiri atas morfem ber- dan layar, maka layar adalah bentuk dasar dari kata berlayar itu. Bentuk dasar dapat dibedakan menjadi bentuk dasar bebas dan bentuk dasar terikat. Ciriciri bentuk dasar adalah: (1) satuan bentuk lingual yang terkecil dalam sebuah kosakata, (2) satuan yang berperan sebagai masukan dalam proses morfologis, (3) merupakan bahan baku dalam bahan morfologis, (4) sebagai unsur yang diketahui adanya dari bentuk yang setelah dianalisis dari bentuk kompleks merupakan bentuk dasar yang lepas dari proses morfologis. Bentuk dasar dalam teori Morfologi Generatif termasuk dalam DM (daftar morfem) yang membedakan morfem dasar dan morfem terikat (Dardjowidjojo, 1998 :65). Morfem bebas adalah kata yang mampu berdiri sendiri dalam tataran lebih tinggi dan telah memiliki kategori tertentu, seperti kategori nomina, verba, adjektiva, adverbial, dan numeralia. Sebaliknya morfem terikat adalah bentuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tataran lebih tinggi, belum memiliki makna tertentu, dan belum memiliki kategori leksikal. Jadi, morfem ini tidak dapat

21

muncul dalam tuturan tanpa digabung dahulu dengan morfem lain. Dalam hal ini semua afiks dikatakan sebagai morfem terikat. Perhatikan contoh dalam bahasa Perancis (BP) berikut : tables ‘meja’, grandes ‘besar’, maisons ‘rumah’, vendeur ‘penjual’, incomplete ‘tidak lengkap’. Bentuk-bentuk dalam tulisan cetak miring merupakan morfem bebas atau bentuk dasar karena dapat ditemukan berdiri sendiri dalam tuturan. Sebaliknya, bentuk -s, -es, - -eur, in- merupakan morfem terikat karena bentuk-bentuk tersebut adalah afiks yang harus digabungkan dengan bentuk lain agar dapat memiliki makna gramatikal.

2.2.4 Nominalisasi Sebelum beranjak pada istilah nominalisasi, ada baiknya dibahas tentang apa itu nomina. Dalam tata bahasa Indonesia, kata benda adalah nama dari semua benda dan segala yang dibendakan, yang menurut wujudnya dibagi atas kata benda konkret dan kata benda abstrak (Keraf, 1984: 63). Dalam bahasa Perancis, kata benda adalah bagian yang paling penting dalam suatu grup nomina, yang dibentuk dengan didahului oleh suatu determinan. Kata benda dapat berupa makhluk hidup (manusia, anjing, nama diri) ataupun benda-benda (mobil, rumah, buku, dll.). Selain itu, juga dapat bermakna suatu kualitas (kecantikan, kekuatan) ataupun suatu aksi (pembersihan, keberangkatan, dan sebagainya). Namun, yang paling penting dalam menentukan kelas nomina adalah melalui fungsi sintaksisnya dalam kalimat (Dubois, 1973: 39). Samsuri (1981 :87) mendeskripsikan nominalisasi secara terperinci berdasarkan kajian transformasi generatif bahwa nominalisasi adalah proses atau

22

hasil perubahan bentuk kata menjadi bentuk-bentuk baru yang mempunyai distribusi seperti nomina. Kridalaksana (1984:132) mengatakan “Nominalisasi itu adalah proses atau hasil membentuk nomina dari kelas kata lain dengan menggunakan afiks tertentu”. Dari pendapat para ahli bahasa di atas dapat disimpulkan bahwa istilah nominalisasi adalah penggunaan verba, ajektiva, ataupun adverbial sebagai bentuk dasar dalam pembentukan nomina, baik dengan maupun tanpa adanya tranformasi secara morfologi. Ada dua tipe nominalisasi dalam bahasa Perancis yang hampir sama dengan yang ada dalam bahasa Inggris. Yang pertama adalah nominalisasi yang memerlukan derivational afiks untuk membentuk nomina, seperti beau (ADJ.indah, tampan/cantik) + {-té} => la beauté (N.f. keindahan, kecantikan). Adjektiva beau berubah menjadi nomina dengan penambahan suffiks -té. Tipe yang kedua adalah nominalisasi dengan zero morfem. Proses ini juga dikenal dengan istilah konversi. Hal yang dimaksud adalah beberapa verba atau adjektiva dapat langsung digunakan sebagai nomina tanpa penambahan sufiks derivasional.

2.2.5 Adjektiva Kejelasan kriteria mengenai adjektiva beserta ciri-cirinya sangat penting diketahui untuk memahaminya dengan baik dan benar. Secara tradisional, adjektiva dikenal sebagai kata yang mengungkapkan kualitas atau keadaan suatu benda. Alwi (2003: 171) berpendapat bahwa adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.

23

Pendapat lain yang hampir sama menyatakan bahwa adjektiva atau kata sifat adalah kata yang melekat pada kata benda untuk menggambarkan atau mendeskripsikan kualitas kata benda tersebut seperti bentuk, warna, ukuran, tampilan, dan lain-lain (Dubois, 1973 : 105). Adjektiva bahasa Perancis memiliki keunikan yang berbeda dengan adjektiva bahasa Inggris, terutama dalam dua hal berikut : 1. Adjektiva bahasa Perancis harus sesuai dengan nomina yang dimodifikasi sehingga suatu adjektiva akan mempunyai sampai dengan empat bentuk adjektiva yang sesuai dengan gender dan number, misalnya untuk kata petit ’kecil’ akan mempunyai bentuk petit (untuk menerangkan nomina maskulin tunggal), petite (feminin tunggal), petits (maskulin jamak), petites (feminin jamak). Namun, ada pula yang mempunyai dua bentuk saja, seperti kata pauvre ’miskin’. Perubahan bentuknya hanya pauvre (maskulin/feminin tunggal) dan pauvres (maskulin/feminin jamak). 2. Adjektiva bahasa Perancis tidak seperti adjektiva bahasa Inggris yang posisi adjektivanya berada sebelum nomina. Namun, adjektiva bahasa Perancis dapat berada sebelum atau sesudah nomina yang diterangkan, tergantung dari jenis dan maknanya.

2.2.6 Morfologi Generatif Prinsip dasar dalam morfologi generatif adalah proses pembentukan kata dapat menghasilkan bentuk wajar, bentuk potensial, dan bentuk aneh. Teori ini

24

memiliki perangkat kaidah untuk membentuk kata-kata baru atau kalimat-kalimat baru dengan kaidah transformasi. Bentuk potensial dalam kajian ini mengacu pada pendapat Halle, Aronoff, Scalise, dan Dardjowidjojo, yaitu bentuk yang secara gramatikal atau morfologis berterima, tetapi bentuk-bentuk itu tidak ada atau belum lazim digunakan secara empiris. Mekanisme pembentukan kata biasa melalui idiosinkresi, penyaringan, pemblokan, dan penyesuaian. Teori ini juga mengenal adanya penutur yang ideal, yang secara intuitif berbekal kemampuan bahasa bawaan. Oleh karena itu, teori ini mampu menjelaskan bentuk-bentuk potensial dan bentuk-bentuk aneh yang tidak lazim ditemukan dalam tuturan sehari-hari.

2.3

Landasan Teori Teori yang digunakan dalam penelitian ini secara umum mengacu pada

teori Morfologi Generatif. Pemilihan teori ini didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu (1) teori Morfologi Generatif belum pernah digunakan dalam penelitian morfologi bahasa Perancis; (2) bertolak dari hasil penelitian yang telah ada, sebagian besar dari penelitian tersebut bersifat deskriptif murni sehingga tidak mampu menjelaskan kendala-kendala yang ditemukan. Dari beberapa penulis yang disebutkan di atas, Halle (1973) dan Aronoff (1976) merupakan dua ahli yang memberi warna pada penelitian morfologi generatif. Di samping itu, Scalise (1984) dan Dardjowidjojo (1988) adalah dua ahli yang sangat berperan dalam pemahaman teori Morfologi Generatif, khususnya yang berkembang di Indonesia.

25

2.3.1 Teori Morfologi Generatif Tulisan pertama Halle tentang Morfologi Generatif berjudul Morphology in Generative Grammar (1972), kemudian mengalami perubahan judul menjadi Prolegomena to a Theory of Word Formation pada tahun 1973. Menurut Halle (1973:3), penutur asli suatu bahasa mempunyai kemampuan yang dinamakan intuisi untuk tidak hanya mengenal kata-kata dalam bahasanya, tetapi juga mengetahui bagaimana kata dalam bahasa itu dibentuk. Morfologi terdiri atas tiga komponen yang saling terpisah. Ketiga komponen itu adalah sebagai berikut. (1) List of morphemes (daftar morfem, selanjutnya disingkat DM) (2) Word formation rules (kaidah/aturan pembentukan kata, selanjutnya disingkat APK atau KPK) (3) Filter (saringan, penapis, tapis) (Halle,1973:3--8) Dalam DM ditemukan dua macam anggota, yaitu akar kata (yang dimaksud adalah dasar) dan bermacam-macam afiks, baik afiks derivasional maupun infleksional. Bentuk dasar adalah satuan, baik tunggal maupun kompleks yang menjadi dasar bentukan bagi satuan yang lebih besar (Ramlan, 1985:45). Bentuk dasar tersebut berupa morfem tunggal, tetapi dapat juga berupa gabungan
morfem (Chaer, 1994:159). Bentuk dasar ini sering kali berupa morfem bebas,

yaitu kata yang mampu berdiri sendiri dalam tataran lebih tinggi dan telah memiliki kategori tertentu, seperti kategori nomina, verba, adjektiva, adverbial, dan numeralia.

26

Anggota kedua dari DM adalah afiks. Afiks ini merupakan morfem terikat, yaitu bentuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tataran lebih tinggi, belum memiliki makna tertentu, dan belum memiliki kategori leksikal. Jadi, morfem ini tidak dapat muncul dalam tuturan tanpa digabung dahulu dengan morfem lain. Dalam hal ini semua afiks dikatakan sebagai morfem terikat. Perhatikan contoh dalam bahasa Perancis berikut : tables ’meja’, grandes ’besar’, maison ’rumah’, vendeur ’penjual’, incomplete ’tidak penuh’. Bentuk-bentuk dalam tulisan italique merupakan morfem bebas atau bentuk dasar karena dapat ditemukan berdiri sendiri dalam tuturan. Sementara itu bentuk -s, -es, - -eur, in- merupakan morfem terikat karena bentuk-bentuk tersebut adalah afiks yang harus digabungkan dengan bentuk lain agar dapat memiliki makna leksikal. Butir leksikal yang tercantum dalam DM tidak hanya diberikan dalam bentuk urutan segmen fonetik, tetapi harus dibubuhi beberapa informasi gramatikal yang relevan. Komponen kedua adalah APK / KPK, yaitu komponen yang mencakup semua kaidah tentang pembentukan kata dari morfem-morfem yang ada pada DM. APK bersama DM menentukan bentuk-bentuk potensial dalam bahasa. Oleh karena itu, APK menghasilkan bentuk-bentuk yang memang merupakan kata dan bentuk-bentuk potensial yang belum ada dalam realitas. Bentuk-bentuk potensial sebenarnya dihasilkan dari kemungkinan penerapan APK dan DM, tetapi bentuk-bentuk itu belum lazim digunakan. Komponen ketiga, yaitu komponen saringan berfungsi menyaring bentukbentuk yang dihasilkan oleh APK dengan memberikan beberapa idiosinkresi, seperti idiosinkresi fonologis, idiosinkresi leksikal, atau idiosinkresi semantik.

27

Idiosinkresi merupakan keterangan yang ditambahkan pada bentuk-bentuk yang dihasilkan APK yang dianggap ‘aneh’. Idiosinkresi fonologis misalnya pada kata mempunyai, menurut kaidah bahasa Indonesia konsonan /p/ di awal kata mendapat prefiks {m N-}, maka konsonan /p/ akan luluh. Bandingkan dengan kata memukul dan meminjam, berasal dari kata dasar pukul dan pinjam. Idiosinkresi semantik dapat dicontohkan pada kata perjuangan memiliki makna kegiatan yang bertarap nasional. Demikian juga kata wafat, gugur, mangkat, berpulang dalam bahasa Indonesia. Idiosinkresi leksikal adalah kata-kata bentukan melalui KPK tidak menyalahi kaidah namun dalam kenyataan tidak pernah muncul dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Kata-kata tersebut dimasukkan ke dalam kata-kata potensial seperti kata *mencantik, *tanyaan, *serahan, dan *memperbetuli. Secara garis besar, pandangan Halle tentang morfologi dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

List of Morphemes

Word Formation Rules

Filter

Dictionary of Word

Output

Phonology

Syntax

Diagram I Pandangan Morfologi Halle

28

Sesungguhnya KPK yang diusulkan Halle memakai morfem sebagai bentuk minimal yang digunakan sebagai landasan penurunan kata sehingga sering disebut morpheme based approach. Akan tetapi, pengertian morfem yang diajukan Halle sangat berbeda dengan yang lumrah dimengerti orang. Menurut Halle (1973:3), kata transformational dianggap terdiri atas lima morfem, yaitu trans-form-at-ion-al. Meskipun Halle mencantumkan kamus dalam diagramnya, ia tidak menganggap bahwa kamus merupakan bagian integral dari morfologi generatif. Kamus memiliki peranan dalam pembentukan kata karena APK dapat memanfaatkan leksikon yang tersimpan dalam kamus. Selain itu, kamus juga menampung bentuk-bentuk yang lolos saringan. Hal ini selaras dengan saran Dardjowidjojo (1988:57). Bentuk-bentuk potensial menurut Halle tidak

dimasukkan ke kamus dan tidak diberi penjelasan di mana bentuk itu ditampung. Saringan atau penapis dengan beberapa idionsinkresi dapat memberikan informasi mengapa bentuk tertentu dapat diterima dan mengapa bentuk lain tidak. Hal itu merupakan langkah maju dalam analisis morfologi yang selama ini hanya diterangkan sebagai perkecualian atau dihindari sama sekali. Meskipun pandangan Halle memiliki kelemahan, seperti apa yang telah dipaparkan di depan, Dardjowidjojo berpendapat bahwa model Halle lebih mudah diterapkan. Aronoff (1976) juga membicarakan morfologi generatif. Pendapatnya tertuang dalam tulisannya yang berjudul “Word Formation in Generatif Grammar”. Pendapat Aronoff berbeda dengan Halle, terutama dalam KPK (Kaidah Pembentukan Kata). Menurut Halle seperti yang telah disebutkan di depan, morfem sebagai bentuk minimal dan sebagai penurunan pembentukan kata,

29

sehingga dikenal dengan istilah morpheme based approach. Sementara itu, Aronoff menganggap bahwa kata adalah bentuk minimal yang dipakai sebagai landasan pembentukan kata. Kata yang dimaksud harus diartikan leksem, sehingga teori Aronoff dikenal dengan lexem based approach karena leksem merupakan bentuk dasar dalam penurunan kata. Teori Morfologi Generatif model Aronoff menyatakan bahwa kata sebagai unit minimal penurunan kata. Kata yang dimaksud harus memenuhi persyaratan (1) dasar pembentukan kata adalah kata, (2) kata yang dimaksud adalah kata yang benar-benar ada dan bukan hanya merupakan bentuk potensial, (3) aturan pembentukan kata (WFR’s) hanya berlaku pada kata tunggal dan bukan kata kompleks atau lebih kecil daripada kata (bentuk terikat), (4) baik masukan maupun keluaran dari (WFR’s) harus termasuk dalam kategori sintaksis yang utama (Aronoff, 1976:40). Pembentukan kata dalam teori Morfologi Generatif model Aronoff dilakukan dengan memanfaatkan leksikon yang ada dalam komponen kamus dengan komponen Kaidah Pembentukan Kata. Komponen kamus memuat leksikon yang memiliki informasi kategorial (nomina, verba, ajektiva, dan lainlain). Sementara itu, Kaidah Pembentukan Kata memuat afiks yang memiliki informasi relasional. Maksudnya, afiks itu memiliki kemampuan untuk bergabung dengan bentuk tertentu dalam proses pembentukan kata baru atau kata turunan (Aronoff ,1976:40).

30

Kaidah Pembentukan Kata oleh Aronoff sangat peka, baik terhadap ciri sintaksis maupun pembatasan seleksional. Aronoff (1976:65) memberikan contoh: pembubuhan sufiks {-ness} hanya dapat dilakukan pada adjektiva, seperti redness ‘merah’, porousness ‘keropos’, sedangkan sufiks {-ee} hanya dapat diletakkan pada verba transitif, seperti employee ’memperkerjakan’, paye ’membayarkan’. Selanjutnya, Aronoff mengajukan konsep blocking ‘perlindungan’ dengan tujuan untuk membendung munculnya suatu kata karena telah ada kata lain yang mewakilinya (Aronoff, 1976:43). Dalam bahasa Perancis dapat dilihat dalam pembubuhan sufiks {-âtre} yang hanya dapat dilakukan pada adjektiva kualifikatif yang menyatakan warna, seperti rougeâtre ‘kemerah-merahan’, blancheâtre ‘keputih-putihan’. Pada mulanya analisis Morfologi Generatif yang dikemukakan oleh Aronoff tidak disertai diagram. Selanjutnya, Scalise (1984:43)

menggambarkannya seperti diagram berikut ini.

Lexical Component
Dictionary

WFR’s

Diagram II Organisasi dari Komponen Leksikal

31

Berikutnya, Aronoff juga mengajukan aturan atau kaidah yang kemudian diberi nama Adjusment Rules ‘Kaidah Penyesuaian’ yang disingkat menjadi AP (Aronoff, 1976:105--132). Dalam pembentukan kata tidak semua kata dapat secara langsung masuk ke komponen kamus. Menurut Aronoff, pembubuhan afiks, baik prefiks, sufiks, maupun konfiks, memerlukan adanya perubahan bentuk, baik bentuk dasar maupun bentuk afiks itu sendiri. Sebagai contoh, dalam bahasa Inggris sufiks {-ee} memenggal morfem dari kata dasar, nominate ‘nominasi’ menjadi nominee ‘nominator’, evacuate ‘evakuasi’ menjadi evacuee ‘evakuator’. Dari kedua data di atas terjadi kaidah pemenggalan atau Truncation Rules. Di samping itu, ada juga kaidah alomorfi atau Allomorphy Rules (1974:116--118). Sebagai contoh, penambahan sufiks {-ation} dalam bahasa Inggris memiliki empat atau lima bentuk, yaitu {-a tion}, {-i tion}, {-u tion}, {ion}, {-tion}. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh data berikut. fascinate realize educate resolve fascination realization *educatation *resolvation *relazion education *resolvion *realization *educatition resolution

AP seperti yang dikemukakan oleh Aronoff tersebut juga dapat dilihat dalam bahasa Perancis, misalnya sufiks {-ence} memenggal leksem dari dasar adjektiva patient ‘sabar’ menjadi patience ‘kesabaran’, puissant ’kuat’ menjadi puissance ‘kekuatan’. Dari contoh tersebut dapat dilihat kaidah pemenggalan atau Trancation Rules. Sementara itu Allomorphy Rules ‘Kaidah Alomorfi’ dapat

32

dilihat pada sufiks {-ité} memiliki tiga bentuk, yaitu {-ité}, {-eté}, dan {-té} yang mengubah adjektiva menjadi nomina, seperti pada daftar leksem berikut.
BRUTAL SÛR MAJESTUEUX

brutalité *sûrité *majestité sûreté *majesteté majesté

Dengan adanya AP, Scalise (1984:168) menggambarkan proses APK sampai kepada AP seperti berikut ini. Lexical Component
Dictionary

WFR’s

RR’s

(TR’s, AR’s)

OUTPUT Diagram III Organisasi dari Komponen Leksikal II Teori Morfologi Generatif yang dikemukakan oleh Halle perlu disesuaikan untuk menelaah proses derivasi dalam bahasa Perancis. Hal itu disesuaikan dengan pendapat Dardjowidjojo bahwa diagram yang diajukan oleh Scalise, ternyata masih belum sempurna. Oleh karena itu, Dardjowidjojo merombak diagram itu menjadi diagram seperti berikut ini.

33

DM

KPK

SARINGAN

KAMUS

Kata Dasar

a

b Bebas Terikat c c c d i a f i k s e f k g

h

j

Diagram IV Model Pembentukan Kata Menurut Dardjowidjojo (1988:57) Dengan merombak diagram Scalise, Dardjowidjojo mengemukakan adanya empat komponen integral dalam teori morfologi generatif. Keempat komponen tersebut adalah DM, KPK, Saringan, dan Kamus. Dalam komponen DM, Dardjowidjojo memisahkan bentuk bebas dan bentuk terikat, tujuannya adalah untuk menampung bentuk terikat seperti morfem prakategorial. Penerapan model ini merupakan bentuk bebas yang ada dalam komponen DM, seperti baju, makan, dan minum dapat melalui jalur (a) tanpa mengalami hambatan pada

34

komponen saringan. Pada jalur (b), bentuk bebas setelah mengalami proses afiksasi andaikata tidak mengalami idionsinkresi, maka langsung dapat masuk ke komponen kamus dan kalau dikenai idionsinkresi, bentuk itu akan melalui jalur (c). Untuk bentuk potensial yang tidak ada dalam pemakaian bahasa sehari-hari, akan melalui jalur (d) dan (g), kemudian disimpan dalam komponen kamus dengan memberikan tanda asterik (*). Untuk bentuk-bentuk yang mustahil seperti *berjalani, melalui jalur (d) dan (h) dan tidak bisa masuk komponen kamus, tetapi tertahan pada komponen saringan. Jalur (f) pecah menjadi jalur (j) untuk bentuk yang tidak mendapatkan idionsinkresi dan jalur (k) untuk bentuk yang mengalami idionsinkresi. Berangkat dari pemahaman terhadap teori Morfologi Generatif di atas, dalam penelitian ini digunakan komponen dalam teori model Halle yang disempurnakan dengan teori morfologi generatif model Aronoff. Dalam penelitian ini kata dijadikan bentuk minimal atau dasar yang dijadikan landasan dalam pembentukan kata baru. Selain itu, dengan adanya kaidah penyesuaian, baik Kaidah Pemenggalan maupun Kaidah Alomorfi dalam pembentukan kata baru sangat tepat dibahas dalam transformasi adjektiva menjadi nomina dalam bahasa Perancis. Dalam proses pembentukan kata, biasanya tidak bisa lepas dari perubahan makna. Sebuah kata dapat mempunyai makan leksikal dan makna gramatikal. Makna leksikal dikatakan sebagai makna yang tertera dalam kamus, sedangkan makna gramatikal makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah
MATA

leksem di dalam kalimat (Pateda, 1989:58--59). Misalnya leksem

yang

35

bermakna leksikal ‘indra’ yang terdapat pada tubuh dan berfungsi untuk ‘melihat’ bila ditempatkan dalam sebuah kalimat “Hei mana matamu”, maka tidak lagi menunjuk pada indra mata, tetapi menunjuk pada makna penglihatan, cara melihat, mencari, dan mengerjakan. Pandangan Fries yang dikutip Lyons (1995:427--428) membedakan adanya makna leksikal dan makna struktural. Makna leksikal terkait dengan kelaskelas utama, sedangkan makna struktural terkait dengan pembedaan antara subjek dan objek kalimat, oposisi-oposisi ketertentuan, kala dan jumlah, dan pertanyaan serta perintah. Chaer (2002:62) mengemukakan pandangan senada dengan Lyons bahwa ia mempertentangkan atau mengoposisikan antara makna gramatikal dan makna leksikal. Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat adanya proses gramatika, seperti proses afiksasi, reduplikasi, dan proses komposisi. Di sisi lain, makna leksikal dinyatakan berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referensinya. Berikut contoh makna gramatikal dari proses nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis, baik melalui proses afiksasi maupun konversi. a. Tous les hommes sont charmé par sa beauté

semua DEF.pl N.m.laki-laki PAS.terpukau

oleh POSS3.sg. N.f. kecantikan

‘Semua lelaki terpukau pada kecantikannya’. b. Le beau de cette image est sa simplicité
DEF.m.sg ADJ.cantik PART DEM.f.ini N.f.gambar adalah POSS3.sg N.f.kesederhanaan

‘Indahnya gambar ini adalah kesederhanaannya’.

36

Dari contoh di atas, diketahui bahwa sufiks {té} yang ditambahkan pada adjektiva beau ‘cantik/indah’ akan membentuk kelas kata nomina beauté ‘kecantikan’ dengan mengandung makna mempunyai kualitas seperti yang disebutkan dalam kata dasarnya. Sebaliknya, makna gramatikal dari nominalisasi adjektiva dalam bentuk konversi dengan kata dasar adjektiva yang sama yaitu beau menjadi nomina le beau akan memiliki makna sesuatu yang indah. Uraian yang disampaikan Chaer di atas memberikan inspirasi terhadap tulisan ini. Dengan demikian, pandangan-pandangan di atas, yang telah diformulasikan oleh Chaer ke dalam suatu pandangan bahwa makna gramatikal tidak hanya terbatas pada struktur sintaksis, tetapi juga struktur morfologis, dijadikan acuan dalam analisis makna pada tulisan ini.

2.4. Model Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk menemukan kaidah-kaidah dalam proses nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis serta makna gramatikal yang terbentuk dari proses tersebut. Analisis terhadap data menggunakan teori Morfologi Generatif sehingga dapat menjelaskan proses nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis. Adapun model penelitian ini adalah sebagai berikut.

37

Bahasa Perancis

Data

Nominalisasi adjektiva

Afiksasi

Konversi

Analisis Morfologi Generatif - afiks pembentuk - kaidah nominalisasi adjektiva - fungsi dan makna

Temuan

Diagram V Model Penelitian

38

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena menggunakan kata-kata atau kalimat dalam suatu struktur yang logis, untuk menjelaskan konsep-konsep dalam hubungan satu sama lain (Danandjaja, 1990: 96). Dalam konteks penelitian ini penerapan metode kualitatif dilakukan secara deskriptif, artinya data yang dianalisis dan hasil analisis berbentuk deskripsi fenomena, tetapi tidak berupa angka-angka atau koefisien tentang hubungan antarvariabel (Aminuddin, 1990:16). Data dikumpulkan berdasarkan pengamatan pada sumber teks tulis dan informan untuk menemukan bentuk-bentuk nominalisasi adjektiva, kemudian ditelusuri kaidah proses pembentukannya serta maknanya.

3.2 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dikaji di sini adalah data primer yang diambil dari bahan tertulis, yaitu sebuah roman Perancis dengan judul La Curée karya Emil Zola. Roman dapat dijadikan sumber dalam memperoleh bentuk-bentuk derivasi termasuk nominalisasi adjektiva karena dalam sebuah karya sastra biasanya pengarangnya sering menggunakan bentuk-bentuk kata baru. Selain itu, terdapat juga data sekunder yang diambil dari Kamus Perancis-Indonesia oleh Arifin dan Soemargono yang digunakan untuk memverifikasi, baik makna adjektiva maupun

38

39

bentuk turunannya, serta untuk mendapatkan contoh-contoh kalimat yang menggunakan kata-kata tersebut.

3.3 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku catatan dan alat tulis untuk mencatat bentuk-bentuk nominalisasi adjektiva yang ditemukan pada sumber data.

3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data Menurut Sudaryanto (1993:132), metode pemerolehan data ada dua macam, yaitu metode simak dan metode cakap. Dari kedua metode yang ada, dalam penelitian ini digunakan metode simak (penyimakan) yaitu dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa yang dalam hal ini merupakan sumber tertulis dengan menggunakan teknik pencatatan. Adapun tahapan-tahapan pengumpulan data adalah sebagai berikut. a. Sumber data diamati dan disimak guna mencari bentuk nomina yang mempunyai bentuk dasar adjektiva di dalam kalimatnya-kalimatnya. Katakata itu, seperti la beauté ‘kecantikan’, la solitude ‘kesendirian’, la richesse ‘kekayaan’, le froid ‘dinginnya’, dan lain-lain. b. Data tersebut kemudian dicatat dan diklasifikasikan sesuai dengan jenisjenis derivasi, apakah termasuk derivasi dengan afiks derivasional ataupun derivasi dengan zero morfem (conversion). Setelah itu dikelompokkan lagi

40

berdasarkan afiks derivasional yang membentuknya. Misalnya, kelompok data dengan sufiks derivasional {-ité}, antara lain brutalité ‘kebrutalan’, tranquilité ‘ketenangan’, dan beauté ‘keindahan’, atau dalam kelompok lain berisikan bentuk nominalisasi adjektiva dengan menggunakan zero morfem, seperti le beau ‘(sesuatu) yang indah’, la malade ‘(orang) yang sakit’, le froid ‘udara dingin, dinginnya’, dan sebagainya. c. Data dianalisis dengan menggunakan teori morfologi generatif model Aronoff untuk menemukan kaidah pembentukan katanya.

3.5 Metode dan Teknik Analisis Data Data berupa satuan lingual yang di dalamnya berisi nomina derivasi dari dasar adjektiva bahasa Perancis, selanjutnya dianalisis. Metode analisis yang digunakan adalah metode agih (Sudaryanto, 1993:13--16). Metode agih terutama digunakan dalam mengklasifikasikan data berupa nomina yang berasal dari bentuk dasar adjektiva. Metode ini memudahkan penulis karena yang dianalisis adalah bagian atau unsur dari bahasa itu sendiri, seperti kata (preposisi, nomina, adverbial, dsb), fungsi sintaksis, klausa, silabe kata, titinada, dan sebagainya. Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah teknik bagi unsur langsung (Sudaryanto, 1993: 31--63). Teknik bagi unsur langsung dalam hal ini digunakan untuk menganalisis bentuk dan kaidah pembentukan nomina dari dasar adjektiva dalam bahasa Perancis dengan cara menguraikan unsur-unsur pembentukan kata yang termuat dalam daftar morfem. Teknik bagi unsur langsung sebagai teknik dasar akan menggunakan teknik lanjutan berupa teknik

41

lesap (delesi), teknik ganti (substitusi), teknik perluas (ekspansi), teknik sisip (interupsi), teknik ubah ujud (parafrasa), dan teknik ulang (repetisi) (Sudaryanto, 1993: 36).

3.6 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Penyajian hasil analisis penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode formal dan informal. Metode informal adalah metode yang menyajikan hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa, sedangkan metode formal adalah metode yang menyajikan hasil analisis data dengan menggunakan tanda atau lambang-lambang tertentu, seperti tanda panah, tanda bintang, tanda kurung kurawal, lambang huruf sebagai singkatan, dan berbagai diagram (Sudaryanto, 1993: 145).

42

BAB IV NOMINA DAN ADJEKTIVA DALAM BAHASA PERANCIS

4.1 Nomina Nomina adalah kata yang merepresentasikan manusia, tempat, atau sesuatu, baik yang konkret (kursi, anjing) maupun yang abstrak (ide, kebahagiaan). Nomina dalam bahasa Perancis memiliki kekhasan karena mengenal gender dan number. Keunikan nomina bahasa Perancis ini dijelaskan dengan uraian berikut.

(1) Gender Dalam bahasa Perancis, semua nomina mempunyai gender. Gender merupakan sebuah karakter morfologi yang melekat pada nomina, baik itu maskulin atau feminin. Bentuk dan makna nomina itu sendiri tidak dapat menunjukkan dengan tepat gender apa yang dimilikinya. Gender dari beberapa nomina dapat diterka terutama biasanya yang berhubungan dengan nomina [+human], misalnya père ‘ayah’ merupakan nomina maskulin, femme ‘wanita’ adalah nomina feminin. Namun, tidak semuanya berlaku seperti itu karena selalu ada pengecualian, seperti personne ‘orang/seseorang’ dan victime ‘tersangka’ selalu merupakan gender feminin walaupun orang atau tersangka tersebut adalah seorang laki-laki. Kebanyakan nomina yang digunakan untuk menunjukkan makhluk hidup (manusia atau binatang) atau yang dalam bahasa Perancis disebut nom-animés

42

43

(Dubois, 1973:42) mempunyai dua bentuk: masculin dan feminin yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan laki-laki dan perempuan, seperti kata benda profesi, kebangsaan, dan beberapa binatang pada umumnya mempunyai dua bentuk seperti : un chanteur – une chanteuse ‘penyanyi laki-laki, penyanyi perempuan’ un technicien – une technicienne ‘teknisi laki-laki, teknisi perempuan’ un chat – une chatte ‘kucing jantan, kucing betina’ Dalam beberapa kasus, nomina yang sama dapat digunakan untuk kedua bentuk feminin dan maskulin, seperti un gendarme – une gendarme ‘polisi lakilaki, perempuan’, un élève – une élève ‘murid laki-laki, perempuan’. Untuk nomina yang menunjukkan suatu benda, baik konkret maupun sesuatu yang abstrak (non-animés), gender-nya terkadang dapat ditentukan melalui akhiran katanya. Beberapa akhiran cenderung menunjukkan nomina maskulin dan akhiran lain lebih sering digunakan untuk nomina feminin, seperti contoh berikut : Akhiran yang (biasanya) menunjukkan nomina maskulin : -age : le garage ‘garasi’, le village ‘desa’ Kecuali : l’image ‘gambar’, la plage ‘pantai’ -ble : le sable ‘pasir’, le diable ‘iblis’ Kecuali : la table ‘meja’, la fable ‘dongeng’ -eau : le bateau ‘perahu’, le ciseau ‘gunting’ Kecuali : l’eau ‘air’, la peau ‘kulit’

44

Akhiran yang menunjukkan nomina feminin : -té : la beauté ‘keindahan’, la gaieté ‘kegembiraan’ -ion : la maison ‘rumah’, la natation ‘renang’ Kecuali : l’avion ‘pesawat’, le lion ‘singa’ Dari contoh di atas, dapat dilihat bahwa akhiran kata tidak dapat sepenuhnya dijadikan kunci utama dalam penentuan gender karena selalu ada pengecualian. Hal itu berarti bahwa, tidak ada jawaban yang sesuai dengan logika untuk mengetahui gender nomina dalam bahasa Perancis. Oleh karena itu, cara yang paling tepat untuk mengetahuinya adalah dengan mempelajari sekaligus mengingat gender yang dimiliki untuk setiap nomina.

(2) Number Ciri khas lainnya dari nomina bahasa Perancis adalah mengenal adanya number yang menyangkut tentang jumlah nomina, baik berupa nomina tunggal (singular) maupun jamak (plural). Penanda jamak untuk nomina bahasa Perancis biasanya ditandai dengan –s, seperti pada homme ‘(seorang) laki-laki’ ‘beberapa laki-laki’, tracteur ‘(sebuah) traktor’ hommes

tracteurs ‘(beberapa) traktor’.

Penanda jamak –s ini tidak dilafalkan dalam ucapan. Namun, tidak semua pola penjamakan nomina dilakukan dengan penambahan –s pada akhir kata. Ada beberapa kasus yang menggunakan akhiran lain sebagai penanda jamak seperti di bawah ini. Untuk nomina yang diakhiri dengan –al atau –ail, penanda jamaknya adalah –aux. Contoh : cheval chevaux ‘kuda’, journal journaux.

45

-

Untuk nomina yang diakhiri dengan –ou maka penanda jamaknya adalah –x, contoh : bijou bijoux ‘permata’, genou genoux ‘lutut’.

-

Nomina yang diakhiri dengan –s atau –x tidak mengalami perubahan dalam bentuk jamak, seperti un tapis des époux ‘suami istri’ des tapis ‘karpet’, un époux

Satu hal lagi yang dapat menunjukkan kejamakan suatu nomina adalah determinan yang digunakan di depan nomina tersebut. Determinan dalam bahasa Perancis juga mempunyai bentuk tunggal dan jamak, seperti des (artikel indefinit), les (artikel definit), ces (demontratif), mes (posesif), dll.

(3) Determinan Nomina dalam bahasa Perancis biasanya tidak dapat berdiri sendiri. Semua nomina, kecuali proper noun (nama diri), baik menempati posisi sebagai subjek maupun objek dalam kalimat, harus didahului oleh sebuah determinan yang disesuaikan dengan gender dan number dari nominanya. Menurut Dubois & Langane (1973, 1973:50), determinan adalah sebuah elemen yang ada pada suatu grup nomina. Berdasarkan fungsi sintaksisnya, determinan dibagi menjadi enam kelas, yaitu sebagai berikut. Article : defini et indefini Article defini (Artikel Definit) Artikel ini mempunyai tiga bentuk, yaitu le (nomina maskulin singular), la (nomina feminin singular), dan les (nomina mask/fem plural). Artikel ini digunakan untuk menunjukkan benda tertentu, baik pembicara maupun

46

pendengarnya, sudah sama-sama mengetahui benda yang dimaksud (‘the’ dalam bahasa Inggris). Contoh : La voiture avance
V.melaju

très
ADV.sangat

vite.
ADJ. Cepat

DEF.f.sg N.f.mobil

Mobil itu melaju sangat cepat. Pada contoh di atas, ‘mobil’ yang dimaksud adalah mobil tertentu yang sudah diketahui oleh mereka yang terlibat dalam percakapan walaupun tidak disertai dengan ciri-ciri spesifik dari mobil tersebut. Article indefini (Artikel Indefinit) Artikel ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang tidak tentu atau belum diketahui dengan pasti oleh pembicara dan pendengar (sama dengan a/an dalam bahasa Inggris). Artikel indefinit bahasa Perancis memiliki tiga bentuk yang penggunaannya ditentukan oleh gender dan number, yaitu un (nomina maskulin singular), une (nomina feminin singular), dan des (nomina mask/fem plural), seperti pada contoh berikut. Elle achete un sac et des chaussures
PRO3.sg.f V.membeli IND.m.sg N.m.tas KONJ.dan IND.pl. N.m.pl.sepatu

‘Dia membeli sepatu dan tas’. Possesif Determinan posesif digunakan untuk menunjukkan kepunyaan atau kepemilikan. Ce sont mon fils et ma fille.
Ini adalah POSS.m.sg.ku N.m.anak laki-laki dan POSS.f.sg.ku N.f.anak perempuan.

Ini adalah anak laki-laki dan anak perempuanku. Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa penggunaan adjektif posesif juga ditentukan oleh gender dan number dari nomina yang dimiliki. Walaupun

47

‘anak laki-laki’ dan ‘anak perempuan’ sama-sama dimiliki oleh orang pertama tunggal, determinannya berbeda, yaitu mon untuk fils (maskulin) dan ma untuk fille (feminin). Berikut adalah tabel adjektif posesif. Yang dimiliki Yang dimiliki nomina nomina feminin maskulin tunggal tunggal Mon Ton Son Notre Votre Leur ma ta Yang dimiliki jamak (maskulin/feminin) mes tes

pemilik saya (-ku) kamu (-mu) Dia (-nya) Kami (-kita) Kalian (-kalian) mereka (-mereka)

sa ses son (diikuti vocal) notre votre leur nos vos leurs

Demonstratif Determinan ini digunakan sebagai penunjuk ‘ini / itu’, yang dalam bahasa Inggris sama dengan this, that, these, those ‘ini/itu’. Bentuk determinan demonstratif bahasa Perancis ada empat, yaitu ce (n.m), cet (n.m yang diawali vokal/h), cette (n.f), dan ces (n.m/f. pl). Contoh : ce bebé ‘bayi ini/itu’ cet homme ‘laki-laki ini/itu’ cette voiture ‘mobil ini/itu’ ces arbres ‘pohon-pohon ini/itu’ Determinan kuantitatif Determinan ini menyatakan kuantitas dari nominanya, seperti plusieurs ‘sebagian besar’, quelque ‘beberapa’, beaucoup ‘banyak’, dan lain-lain.

Determinan interogatif

48

Determinan ini digunakan untuk menanyakan benda yang dimaksud atau dibicarakan. Adjektif interogatif ini mempunyai empat bentuk yang pemakaiannya juga harus sesuai dengan gender dan number dari nominanya, yaitu quel (n.m.sg), quelle (n.f.sg), quels (n.m.pl), dan quelles (n.f.pl). Dalam bahasa Inggris dapat diartikan which atau what ‘yang mana/apa’. Contoh : Quel livre veux – tu?

INTG.apa N.m.buku V.ingin PRO2.sg.kamu

‘Buku apa yang kamu inginkan?’ Numeral Di depan nomina juga dapat diisi oleh angka yang menunjukkan jumlah seperti cinq ‘lima’, dix ‘ sepuluh’, ataupun peringkat seperti premier ’pertama’, deuxième ‘kedua’, dan seterusnya.

(4) Setelah nomina Sebenarnya tidak diperlukan apa pun untuk mengikuti nomina karena sebuah grup nomina sudah bisa dinyatakan lengkap selama sudah mempunyai sebuah determinan beserta nominanya. Namun, ada juga beberapa hal yang biasanya muncul setelah suatu grup nomina, yaitu sebagai berikut. ► Nomina dapat dan sering diikuti oleh adjektiva. Adjektiva bahasa Perancis dapat berada sebelum atau sesudah nomina tergantung dari konteksnya. Contoh: un livre intéressant ‘buku menarik’ ► Nomina juga dapat diikuti oleh sebuah frasa preposisional, seperti bentuk posesif dengan menggunakan de, contoh :

49

Le

livre

de

mon

voisin

DEF.m.sg N.m.buku PREP.dari POSS1.m.sg.ku N.m.tetangga

‘Buku tetanggaku’ ► Nomina juga dapat dilengkapi dengan klausa subordinat seperti klausa relatif. Contoh : Le livre que j'ai lu ‘buku yang saya baca’ Demikian karakteristik nomina bahasa Perancis sehingga dapat dijadikan penanda untuk menentukan kelas kata ini dengan menggunakan ciri-ciri yang telah dipaparkan di atas.

4.2 Adjektiva Bahasa Perancis Adjektiva bahasa Perancis sangat berbeda dengan adjektiva bahasa Inggris, yaitu dalam hal berikut ini. 1. Adjektiva bahasa Perancis berubah sesuai dengan gender dan number dari nomina yang diterangkan. Hal itu berarti bahwa maksimal ada empat bentuk yang dibentuk oleh tiap-tiap adjektiva. Contoh : Adjectif: joli ‘cantik’

Masculine singular joli Feminine singular Masculine plural Feminine plural jolie jolis jolies

Perubahan bentuk ini ada yang bersifat teratur (regulier), yaitu hanya dengan penambahan afiks penanda feminin –e seperti contoh di atas dan ada pula perubahan bentuk dengan tidak menambahkan akhiran –e, tetapi menghasilkan perubahan bentuk yang tidak teratur (irreguliere), seperti

50

beau (m) – belle (f) ‘cantik, indah’, faux (m) – fausse (f) ‘salah’, dan lainlain . Selain itu, itu ada pula adjektiva yang mempunyai satu bentuk yang sama untuk semua gender, seperti triste (m/f) ‘sedih’, vite ‘cepat’, immobille ‘diam’, dan sebagainya. 2. Dalam bahasa Inggris, kata sifat selalu diletakkan di depan kata benda, seperti a blue car ‘mobil biru’, a big house ‘rumah besar’, dll. Akan tetapi, dalam bahasa Perancis, kata sifat dapat diletakkan sebelum atau sesudah kata benda yang diterangkannya, tergantung dari tipe dan maknanya. a. Adjektiva yang diletakkan setelah kata benda Kebanyakan descriptive adjective diletakkan setelah kata benda yang dijelaskannya. Tipe kata sifat ini meliputi bentuk, warna, rasa, kebangsaan, religi, kelas sosial, dan kata sifat lain yang

menggambarkan sesuatu, seperti personality ’kepribadian’ dan mood ’keadaan’. un livre vert ‘buku hijau’ un professeur intelligent ‘guru yang pintar’ une femme américaine ‘seorang perempuan Amerika’ b. Adjektiva yang diletakkan sebelum kata benda Beberapa adjektiva bahasa Perancis ada juga yang diletakkan sebelum kata benda. Biasanya adjektiva jenis ini menggambarkan hal-hal berikut. Beauty ‘keindahan’, contoh : une belle fille ‘gadis cantik’ Age ‘usia’, contoh : une vieille dame ‘wanita tua’

51

-

Good and Bad ‘baik dan buruk’, contoh : mal odeur ‘bau tidak enak/busuk’

-

Size ‘ukuran’, contoh : un petit verre ‘gelas kecil’

c. Adjektiva yang diletakkan tergantung dari maknanya Ada beberapa adjektiva yang memiliki makna literal sekaligus juga makna figuratif dan dapat diletakkan sebelum atau sesudah kata bendanya tergantung dari makna yang dimaksud. Ketika adjektiva itu mengacu pada makna figuratifnya maka diletakkan sebelum kata benda, sedangkan jika mengacu pada makna literalnya, maka diletakkan setelah kata bendanya. Figurative: un grand homme ‘orang hebat’ Literal : un homme grand ‘orang besar (ukurannya)’

Adjektiva kualifikatif dibedakan menjadi tiga kategori dalam hal posisinya pada pembentukan suatu frasa, yaitu seperti di bawah ini. a. Adjectif épithète, adalah adjektif kualifikatif yang tidak dapat dipisahkan dari kata benda yang diterangkannya, baik oleh tanda koma maupun verba. Contoh : Le ballon jaune ‘balon hijau’ L’alliment delicieux ‘makanan enak’ b. Adjectif apposé, adalah adjektif kualifikatif yang dipisahkan dari nomina yang dilengkapinya dengan menggunakan tanda koma. Contoh : Le ballon, jaune, rond, roule
DEF.m.sg N.m.balon ADJ.kuning ADJ.bulat V. menggelinding ‘Balon, yang kuning, bulat, menggelinding’

52

jaune dan rond dilekatkan pada kata ‘balon’ c. Adjectif attribute, adalah adjektif kualifikatif yang dipisahkan dari nomina yang dideskripsikannya oleh sebuah kata kerja keadaan (verbe d’état), seperti être ‘to be’, paraître ‘terlihat’, sembler ‘seperti’, devenir ‘menjadi’, demeurer ‘mengingat’, rester ‘tinggal’, dan lain-lain. Contoh : Le ballon semble jaune
DEF.m.sg N.m.balon V.terlihat ADJ.hijau

‘Balon itu terlihat berwarna hijau’

53

BAB V PROSES NOMINALISASI ADJEKTIVA DALAM BAHASA PERANCIS

Sesuai dengan konsep nominalisasi yang diacu pada penelitian ini, nominalisasi adalah proses pembentukan nomina dari kelas kata yang lain dengan menggunakan afiks tertentu. Pembentukan kata seperti ini dalam morfologi disebut dengan proses derivasi, yaitu proses yang menghasilkan kata-kata yang secara leksikal beridentitas baru atau berbeda dari kata dasarnya. Dengan demikian, proses derivasi yang dijabarkan dalam penelitian ini adalah proses perubahan identitas adjektiva sebagai kata dasar dalam pembentukan nomina dengan atau tanpa adanya afiks derivasional. Seperti telah disinggung dalam Bab II pada bagian kerangka teori bahwa proses nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis ini dianalisis dengan menggunakan teori Morfologi Generatif dari Aronoff. Telah disebutkan pula bahwa teori Morfologi Generatif model Aronoff menganggap bahwa leksem adalah bentuk minimal yang dipakai sebagai landasan pembentukan kata. Komponen berikutnya adalah Kaidah Pembentukan Kata yang memuat afiks yang memiliki informasi relasional, yaitu kemampuan untuk bergabung dengan bentuk tertentu dalam proses pembentukan kata baru atau kata turunan. Komponen selanjutnya adalah Adjusment Rules ‘Kaidah Penyesuaian’. Teori Morfologi Generatif Aronoff juga sangat peka terhadap sistem blocking atau pembatasan sehingga dalam proses pembentukan kata akan dijumpai Kaidah

53

54

Pemenggalan (Truncation Rules) dan Kaidah Alomorfi atau disebut Allomorphy Rules. Kedua kaidah ini muncul karena pembentukan kata memerlukan adanya perubahan bentuk, baik bentuk dasar maupun bentuk afiks itu sendiri sehingga menghasilkan output yang berkategori nomina. Berikut diuraikan lebih jauh mengenai nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis dengan menggunakan komponen-komponen tersebut.

5.1 Komponen Leksikal Dalam proses pembentukan kata dengan teori Morfologi Generatif model Aronoff, leksem merupakan bentuk minimal yang dipakai sebagai landasan pembentukan kata dengan memanfaatkan komponen kamus untuk mengetahui informasi kategorialnya, yaitu kategori nomina seperti voiture ‘mobil’, femme ‘perempuan’, intelligence ‘kepintaran’, dll; kategori verba seperti manger ‘makan’, dormir ‘tidur’, parler ‘berbicara’, dll; kategori adjektiva seperti petit ‘kecil’, belle ‘cantik’, rouge ‘merah’, dll; serta kategori adverbia seperti lentement ‘dengan pelan’, beaucoup ‘banyak’, toujours ‘selalu’, dll. Dalam penelitian ini, yaitu mengenai nominalisasi adjektiva, maka leksem yang menjadi bentuk dasar dalam pembentukan nomina adalah bentuk dasar adjektiva. Adjektiva adalah kata yang melekat pada nomina yang memberikan keterangan tentang sifat atau keadaan (kualitas) kata benda tersebut. Seperti

sudah disebutkan sebelumnya bahwa adjektiva dalam bahasa Perancis mempunyai keunikan, yaitu tergantung dari gender dan number dari nomina yang

55

dimodifikasi, artinya adjektiva BP mempunyai bentuk yang berbeda untuk nomina maskulin dan feminin juga bentuk tunggal dan jamak dari nominanya. Dalam penelitian ini, leksem yang menjadi bentuk dasar dalam pembentukan nomina adalah adjektiva. Bentuk dasar adalah satuan, baik tunggal maupun kompleks yang menjadi dasar bentukan bagi satuan yang lebih besar. Dari data yang ditemukan, terdapat bentuk dasar adjektiva yang merupakan morfem tunggal (adjektiva dasar yang belum mengalami proses morfologi). Di samping itu, terdapat pula bentuk dasar adjektiva yang merupakan gabungan morfem atau bentuk dasar adjektiva yang sudah merupakan bentuk turunan dari kata yang lain. Untuk itu, dalam komponen leksikal ini dibagi menjadi dua, yaitu bentuk dasar adjektiva dasar dan bentuk dasar adjektiva turunan.

5.1.1 Adjektiva Dasar Pembentukan nomina yang berasal dari akar kata adjektiva sangat sering ditemukan dalam bahasa Perancis. Root atau akar kata digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Dilihat dari perilaku semantik adjektiva, Alwi et al (2003:172) membagi adjektiva menjadi dua tipe pokok, yaitu (a) adjektiva bertaraf yang mengungkapkan suatu kualitas dan (b) adjektiva tak bertaraf yang mengungkapkan keanggotaan dalam suatu golongan. Perbedaan kedua tipe adjektiva ini bertalian dengan mungkin tidaknya adjektiva itu menyatakan berbagai tingkat kualitas dan berbagai tingkat bandingan. Untuk mengukur tingkatan itu dapat dipakai kata, seperti sangat, agak, lebih, dan paling,

56

misalnya sangat besar, agak sempit, lebih enak, dan paling cantik. Sebaliknya, adjektiva tak bertaraf tidak dapat diberi pewatas tersebut, misalnya sangat buntu, paling tunggal, dll. Berdasarkan data yang ditemukan, adjektiva dasar yang menjadi bentuk dasar dalam proses nominalisasi dibagi sesuai dengan tipe adjektivanya adalah sebagai berikut. 1. Adjektiva bertaraf (a) Adjektiva pemeri sifat, yaitu adjektiva yang dapat memerikan kualitas dan intensitas yang bercorak fisik dan mental. Dari data yang ditemukan, diambil beberapa contoh sebagai berikut.
Adjektiva pemeri sifat maskulin beau actif responsable honnête important galant poli riche sot égoïste froid fou/fol modeste belle active responsable honnête importante galante polie riche sotte égoïste froide folle modeste feminin ‘cantik, indah’ ‘aktif’ ’bertanggung jawab’ ‘jujur’ ‘penting’ ‘penuh perhatian terhadap wanita’ ‘sopan’ kaya ‘bodoh, dungu’ ‘egois, mementingkan diri sendiri’ ‘dingin’ ’gila, sakit ingatan, tergila-gila’ ‘rendah hati’ Makna

57

vieux social curieux méchant

vieille sociale curieuse méchante

‘tua’ ‘sosial’ ‘ingin tahu’ ‘kejam’

(b) Adjektiva ukuran, yaitu adjektiva yang mengacu pada kualitas yang dapat diukur dengan ukuran yang sifatnya kuantitatif. Beberapa contoh kata sifat ini yang ditemukan pada sumber data adalah sebagai berikut.
Adjektiva ukuran masculin profond gros petit feminin profonde grosse petite ‘dalam’ ‘gemuk’ ‘kecil’ Makna

(c) Adjektiva warna, yaitu adjektiva yang mengacu ke berbagai warna juga berbagai corak dan nuansa warna. Contoh adjektiva warna yang ditemukan pada sumber data adalah sebagai berikut.
Adjektiva warna masculin Blanc Pale Blond Rouge feminin blanche pâle blonde rouge ‘putih’ ‘warna pucat’ ‘pirang, blonde’ ‘merah’ Makna

58

(d) Adjektiva waktu, adjektiva yang mengacu ke masa proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung sebagai pewatas. Contoh :
Adjektiva waktu masculin Vite Long vite longue feminin ‘cepat’ ‘lama, panjang’ Makna

(e) Adjektiva sikap batin, adalah adjektiva yang menerangkan atau berkaitan dengan perasaan atau suasana hati. Beberapa contoh jenis kata sifat ini yang ditemukan pada sumber data adalah seperti di bawah ini.
Adjektiva sikap batin masculin triste inquiet enthousiaste gai triste inquiète enthousiaste gaie feminin ‘sedih’ ‘khawatir, was-was’ ‘bersemangat, bergairah’ ‘iang gembira, ceria’ Makna

(f) Adjektiva jarak, mengacu pada ruang antara dua benda, tempat atau wujud sebagai pewatas nomina. Contoh adjektiva jarak yang ditemukan pada sumber data adalah seperti di bawah ini.

59

Adjektiva jarak masculin Intime Familier feminin intime familière ‘sangat dekat’

Makna

‘sudah dikenal, tidak asing’

(g) Adjektiva cerapan adalah adjektiva yang berkaitan dengan pancaindra, seperti di bawah ini.
Adjektiva cerapan masculin Splendid Doux Clair feminin splendide douce claire ‘cerah, cemerlang, indah sekali’ ‘embut’ ‘terang’ Makna

2. Adjektiva tak bertaraf Adjektiva tak bertaraf menempatkan nomina yang diterangkannya di dalam kelompok atau golongan tertentu dan tidak dapat bertaraf-taraf, seperti:
Adjektiva tak bertaraf masculin faux immobile rond vide feminin fausse immobile ronde vide ‘salah’ ‘diam, tak bergerak’ ‘bulat, bundar’ ‘kosong ‘ Makna

60

Adjektiva-adjektiva tersebut akan mengalami proses derivasi membentuk kelas kata nomina, baik dengan penambahan afiks tertentu maupun dengan tanpa penambahan afiks. Pembahasan lebih dalam diuraikan pada subbagian Kaidah Pembentukan Kata (Word Formation Rules). Selain bentuk dasar adjektiva dasar, leksem yang dijadikan landasan dalam pembentukan kata juga dapat berupa adjektiva turunan. Adjektiva turunan adalah adjektiva yang terbentuk dari proses afiksasi, baik dengan penambahan prefiks, sufiks, maupun infiks. 5.1.2 Adjektiva Turunan Dalam penelitian ini adjektiva turunan yang menjadi dasar dalam pembentukan nomina adalah adjektiva yang terbentuk dari proses afiksasi. Akar kata dari adjektiva turunan ini dapat berasal dari kelas kata, baik nomina, verba, adjektiva, maupun adverbia. Dalam penelitian ini ditemukan adjektiva turunan dengan akar kata nomina, verba, dan adjektiva. 1. Adjektiva turunan dari akar kata nomina Adjektiva turunan yang terbentuk dari akar kata nomina dapat dilihat pada contoh berikut. Adjektiva turunan
paresseux/paresseuse ‘malas, pemalas amoureux/amoureuse ‘jatuh cinta’ Malheureux ‘malang, sengsara’

Akar kata nomina
Paresse (n.m) ‘kemalasan’ Amour (n.m) ‘cinta, kekasih’ Malheur (n.m) ‘kemalangan, musibah’

afiks
-eux/-euse -eux/-euse -eux/-euse

61

Miserable ‘melarat, menyedihkan, sengsara’

Misère (n.m) ‘kesengsaraan, kemelaratan’

-able

Dari contoh di atas, diketahui bahwa akar kata nomina paresse (n.m) dan amour (n.m) diderivasi oleh sufiks {–eux} untuk membentuk kelas adjektiva maskulin, sedangkan {–euse} untuk membentuk adjektiva feminin. Demikian juga dengan adjektiva turunan misérable, yang berasal dari nomina misère (n.m) yang mendapat sufiks {-able}. Kemudian dari adjektiva derivasional yang terbentuk ini akan diderivasi lagi menjadi bentuk nomina yang dijelaskan pada Kaidah Pembentukan Kata. 2. Adjektiva turunan dari akar kata verba Pada penelitian ini ditemukan pula beberapa bentuk dasar adjektiva turunan yang berasal dari akar kata verba, seperti di bawah ini. Adjektiva turunan
ingenieux/ingenieuse ‘banyak akal, cerdik’ défiant/défiante ‘(air muka) curiga’ souffrant, souffrante ‘tidak enak badan, sakit’

Akar kata verba
ingénier (se) ‘memutar otak, mencari akal’ défier (se) ‘meragukan, curiga’ souffrir ‘menderita, merasa sakit’

afiks
-eux/-euse -ant/-ante -ant/-ante

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa akar kata verba mengalami proses derivasi dengan penambahan afiks derivasional tertentu yang

menghasilkan output ‘keluaran’ yang berkelas kata adjektiva. Adjektiva

62

turunan inilah yang kemudian akan menjadi bentuk dasar dalam proses nominalisasi. 3. Adjektiva turunan dengan akar kata adjektiva Adjektiva turunan yang dijadikan bentuk dasar dalam nominalisasi berasal dari akar kata adjektiva yang telah mengalami proses afiksasi. Berikut adalah beberapa contoh yang ditemukan pada sumber data. Adjektiva turunan
Impatient/impatiente ‘tidak sabar’ Desagréable ‘tidak nyaman’ Malade ‘sakit, penderita

Akar kata adjektiva
Patient/patiente ‘sabar’ Agréable ‘nyaman’ Mal ‘sakit, penyakit’ imdes-ade

afiks

Dari contoh di atas, dapat dilihat bahwa tidak terjadi perubahan kategori dari akar kata adjektiva menjadi turunannya karena préfiks {im-}, {des-}, dan sufiks {-ade} merupakan afiks infleksional yang menghasilkan output dengan kategori yang sama dengan bentuk dasarnya.

5.2 Kaidah Pembentukan Kata (Word Formation Rules) Kaidah Pembentukan Kata atau KPK adalah komponen kedua dalam Morfologi Generatif. KPK pada teori Morfologi Generatif model Aronoff memuat afiks yang memiliki informasi relasional, yaitu kemampuan untuk bergabung dengan bentuk tertentu dalam proses pembentukan kata baru atau kata turunan.

63

Muatan yang ada pada komponen leksikal ditarik ke dalam komponen KPK, kemudian diproses sehingga menghasilkan kata turunan atau kata kompleks. Kedudukan bentuk dasar adjektiva yang berpotensi sebagai bentuk asal dalam nominalisasi adjektiva bahasa Perancis, pada penelitian ini dikodekan dengan huruf A. Pada penelitian ini, proses nominalisasi adjektiva bahasa Perancis ditemukan dengan dua cara, yaitu dengan (1) penambahan afiks derivasional dan (2) konversi atau zero derivation. Kedua cara ini akan dijelaskan secara rinci pada uraian berikut ini.

5.2.1 Kaidah Pembentukan Kata dengan Sufiks Derivasional Kaidah yang digunakan dalam komponen KPK dengan menggunakan sufiks derivasional adalah sebagai berikut : A A
derivasi

N [A + suf]N

N [[A+ suf]N[s]]N

infleksi

Artinya, bentuk asal A mengalami proses sufiksasi sehingga menjadi bentuk kompleks [A + suf] yang berkategori nomina (derivasi). Setelah itu, proses nominalisasi dapat berhenti sampai di sana atau dapat pula ditutup oleh proses infleksi, yaitu penambahan penanda jamak –s. Proses di atas dapat dicontohkan sebagai berikut.

64

triste ‘sedih’ triste

[ triste+-esse ]N tristesse (N.f.sg)

[[triste+-esse]N[s]]N tristesses (N.f.pl) ‘kesedihan’

Sufiks dalam proses afiksasi dilekatkan di belakang bentuk dasar atau A sehingga proses pembentukan katanya ditentukan oleh lingkungan segmen terakhir dari bentuk A yang dilekati oleh sufiks tersebut. Dalam proses nominalisasi adjektiva, beberapa sufiks memiliki alomorf yang digunakan sesuai dengan lingkungannya. Di bawah ini dibahas tiap-tiap sufiks yang digunakan untuk membentuk kelas kata nomina dalam bahasa Perancis. (a) sufiks {-ité} Pembentukan nomina dari bentuk asal adjektiva dengan penambahan sufiks {–ité}, dapat dipresentasikan dengan kaidah : [A] [[A] + -ité]N

Proses derivasi yang terjadi akibat penambahan sufiks {-ité} pada bentuk dasar adjektiva akan mengakibatkan perubahan kategori kata menjadi nomina. Dalam proses pembentukan katanya, sufiks {–ité} ini mengalami penyesuaian dengan bentuk dasarnya sehingga ditemukan tiga macam sufiks {–ite}, yaitu {-ité}, {-ete}, dan {-té} seperti pada contoh data berikut.
Adjektiva Actif (m)/ Active (f) ‘aktif, giat’ Responsable (m/f) ‘bertanggung jawab’ + {-ité} responsabilité Sufiks + {-ité} Nomina activité ‘keaktifan, kesibukan’ ‘tanggung jawab’ kegiatan,

65

Curieux (m)/Curieuse (f) ‘bertanggung jawab’ Familier (m)/Familière (f) ‘sudah biasa, tidak asing’ Honnête (m/f) ‘jujur’ Méchant (m)/Mechante (f) ‘jahat, kejam’ Faux (m)/Fausse (f) ‘salah’ Beau (m)/Belle (f) ‘cantik, indah’ humilié (m)/humiliée (f) ‘hina, membuat malu’

+ {-ité} + {-ité} + {-eté} + {-eté} + {-eté} + {-té} + {-té}

curiosité familiarité honnêteté méchanteté fausseté beauté humilité

‘keingintahuan, kemelitan’ ‘keakraban, dekat’ ‘kejujuran’ ‘kejahatan, kekejaman’ kesalahan ‘kecantikan, keindahan’ ‘kehinaan, rasa rendah diri’ hubungan

Dari beberapa data yang telah diungkapkan tersebut, terlihat bahwa sufiks {-ité} dapat mengubah kelas kata adjektiva menjadi nomina. Bentuk dasar berupa adjektiva ditampilkan dalam dua bentuk berdasarkan gender, yaitu bentuk maskulin dan bentuk femininnya. Hal ini dilakukan untuk melihat bentuk manakah yang lebih dominan dipakai dalam proses nominalisasi sebagai bentuk dasar yang akan mendapat sufiks derivasional. Misalnya, bentuk dasar actif ‘aktif, giat’ merupakan adjektiva yang digunakan untuk menerangkan nomina maskulin, sedangkan bentuk active merupakan bentuk feminin dari actif. Biasanya, pembentukan bentuk feminin dilakukan dengan penambahan –e muet (-e yang tidak dilafalkan) pada bentuk maskulin dan terkadang akan terjadi perubahan pula pada suku kata terakhir dari bentuk maskulin tersebut (actif active, faux fausse, etc). Ada pula adjektiva yang hanya mempunyai satu

bentuk yang dapat digunakan untuk maskulin ataupun feminin, seperti responsable ‘bertanggung jawab’, honnête ‘jujur’, dan triste ‘sedih’.

66

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa dalam proses nominalisasi, bentuk adjektiva yang dominan untuk dijadikan sebagai bentuk dasar dalam sufiksasi adalah bentuk adjektiva feminin, yaitu active ‘giat’ ‘kegiatan’, curieuse ‘ingin tahu’ activité

curiosité ‘rasa ingin tahu’, méchante ‘kejam’ fausseté ‘kesalahan’, humiliée ‘hina’ yang mempunyai satu

méchanteté ‘kekejaman', fausse ‘salah’

humilité ‘kehinaan’. Sebaliknya, untuk adjektiva

bentuk yang sama, baik untuk maskulin maupun feminin, seperti responsable ‘bertanggung jawab’ dan honnête ‘jujur’ akan langsung digunakan sebagai bentuk dasar yang mengalami sufiksasi. Namun, terdapat pengecualian, seperti untuk adjektiva beau (m)/belle (f) ‘cantik, indah’ yang digunakan sebagai bentuk

dasarnya adalah bentuk maskulin, yaitu beau yang bertransformasi menjadi nomina la beauté ‘keindahan’. Sufiks {-ité} mempunyai tiga bentuk berbeda, yaitu {-ité}, {-eté}, dan {té}, yang penggunaannya dalam proses afiksasi disesuaikan dengan lingkungan terdekatnya, yaitu suku kata terakhir yang akan dibubuhi sufiks tersebut. Penyesuaian seperti ini dijelaskan dengan lebih mendalam pada subbahasan berikutnya, yaitu Aturan Penyesuaian (adjustment rules).

(b) sufiks {-eur} Proses nominalisasi dengan menggunakan sufiks {-eur} dapat diwakili dengan kaidah : [A] [[A] + -eur]N

67

Bentuk asal adjektiva akan mengalami perubahan identitas menjadi nomina dengan penambahan sufiks {-eur}. Beberapa contoh adjektiva yang mengalami proses nominalisasi dengan sufiks ini adalah sebagai berikut.
Adjektiva Sufiks Derivasional Laid (m)/Laide (f) ‘jelek, buruk’ Blanc (m)/Blanche (f) ‘putih, pucat’ Frais (m)/Fraiche (f) ‘sejuk, baru/belum lama’ Long (m)/Longue (f) ‘panjang’ Splendide (m/f) ‘indah sekali, cemerlang’ Doux (m)/Douce (f) ‘lembut, empuk, halus’ + {-eur} douceur + {-eur} splendeur ‘keindahan mewah, agung’ ‘kelembutan, kehalusan’ yang + {-eur} longueur + {-eur} fraicheur + {-eur} blancheur + {-eur} laideur ‘keburukan, kejelekan, buruknya’’ ‘warna (muka)’ ‘kesejukan, keadaan (sst) yang segar)’ ‘panjangnya, lamanya’ putih, pucat Nomina

Dari beberapa contoh tersebut, diketahui bahwa sufiks {-eur} akan mentransformasi identitas kata adjektiva menjadi nomina. Proses nominalisasi dengan sufiks ini juga menggunakan bentuk feminin dari adjektiva yang diderivasi sebagai bentuk dasarnya, yaitu ‘keburukan’, blanche ‘putih’ laide ‘jelek, buruk’ laideur

blancheur ‘(warna) putihnya’, fraiche ‘sejuk’ longueur ‘panjangnya’, dll.

fraicheur ‘kesejukan, longue panjang’

(c) sufiks {-ence} Proses derivasi dari sufiks {-ence} dapat dipresentasikan dengan kaidah : [A] [[A] + -ence]N

68

Adjektiva

Sufiks Derivasiona

Nomina

Puissant (m)/Puissante (f) ‘berkuasa, sangat kuat’ Défiant (m)/Défiante (f) ‘curiga’ Souffrant (m)/Souffrante (f) ‘sakit, menderita’ Virulent (m)/Virulente (f) ‘tajam, keras, sengit’ Impatient (m)/Impatiente (f) ‘tidak sabar’

+ {-ance} + {-ance} + {-ence} + {-ence} + {-ence}

puissance défiance souffrance virulence impatience

‘kekuatan, berkuasa’

yang

‘rasa curiga, prasangka’ ‘rasa sakit, penderitaan’ ‘ketajaman, kepedasan’ ‘ketidaksabaran’

Dari contoh di atas, dapat dilihat bahwa penggunaan sufik {-ence} dapat menderivasi bentuk dasar adjektiva menjadi nomina. Sufiks ini hanya dapat

melekat pada adjektiva yang diakhiri –ant atau –ent pada suku kata terakhirnya. Sufiks ini juga akan mengalami penyesuaian dalam proses afiksasinya, yaitu mempunyai dua bentuk {-ence} dan {-ance} yang penggunaannya disesuaikan dengan lingkungan atau silabel terakhir bentuk dasar yang dilekatinya.

(d) sufiks {-esse} Proses pembentukan kata dengan sufiks {-ise} dapat dipresentasikan dengan kaidah : [A]
Adjektiva Poli (m)/Polie(f) ‘sopan’ Riche (m/f) ‘kaya’

[[A] + -esse]N
Sufiks Derivasional + {-esse} + {-esse} Nomina politesse richesse ‘kesopanan, sopan santun’ ‘kekayaan, harta’

69

Gros (m)/Grosse (f) ‘besar, gemuk’ Petit (m)/Petite (f) ‘kecil’ Vite (m/f) ‘cepat’ Triste (m/f) ‘sedih’

+ {-esse} + {-esse} + {-esse} + {-esse}

grossesse vetitesse vitesse tristesse

‘bagian terbesar, kehamilan’ ‘kecilnya, kekerdilan’ ‘kecepatan’ ‘kesedihan’

Pelekatan sufiks {-esse} seperti yang terlihat pada contoh data di atas membuktikan bahwa sufiks ini bersifat derivasional karena ketika dilekatkan pada bentuk dasar adjektiva, maka keluaran yang dihasilkan mempunyai bentuk turunan yang berkelas kata nomina.

(e) sufiks {-ise} Proses pembentukan kata dengan sufiks {-ise} dapat dipresentasikan dengan kaidah : [A] [[A] + -ise]N

Berikut ini adalah beberapa contoh pembentukan nomina dengan menggunakan sufiks {-eur} pada bentuk adjektiva.
Adjektiva Sufiks Derivasional Sot (m)/Sotte (f) ‘bodoh, dungu’ Franc (m)/Franche (f) ‘terus terang, terbuka’ Bête (m/f) ‘bodoh, dungu’ + {-ise} bêtise + {-ise} franchise ‘keterusterangan, keterbukaan’ ‘kebodohan, kedunguan’ + {-ise} sottise ‘kebodohan, ketololan’ Nomina

70

Dalam proses sufiksasi dengan sufiks {-ise} dapat dilihat bahwa bentuk dasar yang digunakan adalah bentuk adjektiva feminin, terutama terlihat jelas pada pelekatan sufiks {-ise} pada bentuk dasar franche ‘terus terang’ dan sotte ‘bodoh’. (f) sufiks {-itude} Proses sufiksasi dengan menggunakan sufiks {-itude} adalah : [A] [[A] + -itude]N

Berikut adalah beberapa contoh penggunaan sufiks {-itude} yang diimbuhkan pada adjektiva tertentu.
Adjektiva Sufiks Derivasional Béat (m)/Béate (f) ‘puas, tenang’ Las (m)/Lasse (f) ‘lelah, bosan’ Solitaire (m/f) ‘sendirian’ Inquiet (m)/Inguiète (f) ‘gelisah, khawatir’ + {-itude} + {-itude} Solitude Inquiétude ‘kesendirian, kesepian’ ‘kegelisahan, kekhawatiran’ + {-itude} lassitude + {-itude} béatitude ‘rasa bahagia yang Nomina

sempurna’ ‘kelelahan, kebosanan’

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa nominalisasi adjektiva dapat dilakukan dengan pembubuhan sufiks {-itude} pada bentuk dasar adjektiva feminin. Dalam proses pelekatannya, terlihat adanya beberapa penyesuaian yang terjadi pada bentuk dasar, seperti solitaire ‘sendiri’ dan inquiet ‘khawatir’ yang akan dijelaskan dengan lebih terperinci pada Aturan Penyesuaian.

71

(g) Sufiks {-erie} Proses sufiksasi dengan menggunakan sufiks (-erie) adalah : [A]
Adjektiva

[[A] + -erie]N
Sufiks Derivasional Nomina

Plaisant (m)/Plaisante (f) ‘menyenangkan, lucu’ Galant wanita’ (m)/Galante (f)

+ {-erie} + {-erie}

plaisanterie Galanterie

‘kelucuan, guyonan’ ‘sikap perhatian, kata rayuan’

‘penuh perhatian

terhadap

Dari dua contoh data tersebut, terlihat bahwa bentuk dasar adjektiva plaisante ’menyenangkan’ dan galante ‘perhatian pada wanita’ yang mendapat sufiks {-erie} akan menghasilkan outpout yang berkelas kata nomina, yaitu

plaisanterie ‘kelucuan, guyonan’ dan galanterie ‘sikap perhatian, rayuan’.

(h) Sufiks {-ie} [A]
Adjektiva

[[A] + -ie]N
Sufiks Derivasional Nomina

Fou/Fol (m)/Folle (f) ‘gila, sakit ingatan, tergilagila’ Malade (m/f) ‘sakit’ Modeste (m/f) ‘sederhana, rendah hati’

+ {-ie}

folie

’gangguan sepenuh gila)’

jiwa, jiwa

gila,

(tergila-

+ {-ie} + {-ie}

maladie modestie

‘penyakit’ ‘kesederhanaan, kerendahan hati’

72

Dari beberapa contoh di atas, tampak bahwa sufiks {-ie} akan mentransformasi identitas kata adjektiva menjadi nomina. Proses nominalisasi dengan sufiks ini juga menggunakan bentuk feminin dari adjektiva yang diderivasi sebagai bentuk dasarnya, seperti terlihat pada kata malade (i) Sufiks {-isme} Untuk nominalisasi adjektiva dengan penggunaan sufiks {-isme} dapat dijabarkan dengan kaidah : [A]
Adjektiva

maladie.

[[A] + -isme]N
Sufiks Derivasional Nomina

Égoïste (m/f) ‘egois’ Socialiste (m/f) ‘(bersifat) sosial’ Enthousiaste (m/f) ‘bersemangat, bergairah’ Féodal/féodale (m/f) ‘feodal’

+ {-isme} + {-isme} + {-isme} + {-isme}

égoisme socialisme enthousiasme féodalisme

‘keegoisan’ ‘doktrin sosialisme’ ‘semangat kegembiraan, kegairahan’ ‘kefeodalan, feodalisme’ sosialis,

Sufiks {-isme} juga terbukti dapat menderivasi bentuk asal adjektiva menjadi nomina. Dalam proses sufiksasi dengan sufiks {-isme} terjadi penyesuaian pada bentuk asal yang disebabkan oleh pelekatan sufiks ini, yang akan dijelaskan pada subbab berikutnya. (j) Sufiks {-ard} Kaidah pembentukan nomina dari dasar adjektiva dengan penggunaan sufiks {–ard} adalah :

73

[A]
Adjektiva

[[A] + -ard]N
Sufiks Derivasional + {-ard} + {-ard} Nomina vieillard richard ‘orang laki-laki tua’ ‘orang kaya’ berduit, orang

Vieux (m)/Vieille (f) ‘tua, lama, kuno’ Riche (m/f) ‘kaya’

Dari contoh penggunaan sufiks {-ard} yang ditemukan pada sumber data dapat dilihat bahwa sufiks ini dilekatkan pada bentuk feminin dari adjektiva dasarnya, yaitu dari adjektiva vieille ’tua’ (bentuk feminin dari vieux) menjadi vieillard ’laki-laki tua’ yang berkelas kata nomina. Berdasarkan uraian Kaidah Pembentukan Kata ini dapat disimpulkan bahwa sufiks -ité, -eur, -ence, -esse, -ise, -itude, -erie, -ie, -isme, dan –ard dapat mentranformasi kelas kata adjektiva menjadi nomina yang disertai dengan penyesuaian-penyesuaian, baik pada bentuk dasar maupun pada sufiks tertentu, yang akan diuraikan dengan lebih jelas pada bagian Aturan Penyesuaian.

5.2.2 Kaidah Pembentukan Kata dengan Konversi Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis dapat pula dilakukan dengan cara konversi. Cara ini juga dikenal dengan zero derivation, yaitu proses derivasi tanpa adanya

74

afiksasi. Karakteristik dari konversi ini adalah baik base maupun output-nya mempunyai bentuk yang betul-betul identik [A]A=[A]N. Perubahan atau transformasi adjektiva menjadi nomina dengan cara konversi memang tidak dapat dilihat dari fisiknya, tetapi dapat dirasakan dari konteks kalimatnya. Sebuah kategori kata dapat dengan mudah dilihat dalam kamus. Namun, akan lebih baik jika kategori kata tersebut ditentukan tidak melalui makna kata itu sendiri (makna literal), tetapi dilihat dari fungsi sintaksis dan maknanya dalam sebuah konteks kalimat. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut. Tu es ma mignonne PRO2.sg adalah POSS1.sg.f.-ku ADJ.manis Kamulah manisku. Pada contoh di atas kata mignonne jika dicek dalam kamus, maka kata tersebut masuk ke kelas kata adjektiva dengan makna literal ‘manis, lucu’. Namun, dalam konteks kalimat tersebut, adjektiva mignonne mempunyai makna ‘seseorang yang manis’ yang mengacu pada suatu nomina (seseorang) feminin. Hal ini juga diperkuat dengan adanya determinan posesif ma yang menyatakan kepunyaan untuk orang pertama tunggal dan digunakan untuk menerangkan nomina feminin tunggal sehingga makna ma + mignonne ‘manisku’. Selain itu, sering kali sebuah adjektiva dapat menjadi nomina sebagai akibat dari elipsis atau penghilangan nomina yang diterangkan oleh adjektiva tersebut. Penghilangan nomina ini tidak merusak arti keseluruhan dari klausa atau kalimat tersebut, seperti La (ville) capitale, une (lettre) sirculaire, un (ondulation) permanente (Lauwer, 2008 :136).

75

De

ces

deux

cravates, je

prefere

la

bleue

PREP DEM.f.pl NUM.dua N.f.dasi

PRO1.sg V.lebih suka DEF.f.sg ADJ.biru

‘dari kedua dasi ini, saya lebih suka yang biru’ Pada kalimat ini la bleue merupakan sebuah grup nomina dengan tanpa menyebutkan nominanya. Namun, pembaca ataupun pendengar telah mengetahui bahwa makna le bleue tersebut adalah le (cravate) bleue ‘dasi yang berwarna biru’ karena cravate itu sendiri telah disebutkan pada frasa sebelumnya. Selain itu, nominalisasi dengan cara konversi ini juga dilakukan untuk mempresentasikan seseorang atau sesuatu yang mempunyai karakteristik seperti yang disebutkan adjektivanya. Il ne sait pas, le petit malheureux !
PRO3.sg NEG V.tahu DEF.f.sg ADJ.kecil ADJ.malang

’Dia tidak tahu, si (anak) kecil yang malang !’ Pada contoh kalimat di atas, le petit ‘si kecil’ merupakan grup nomina yang mengacu pada referen seorang anak yang mempunyai karateristik seperti yang disebutkan bentuk dasarnya (fisiknya kecil). Jadi, pembentukan kata dengan cara konversi dapat dipresentasikan dengan kaidah : A [A + ø]N

Bentuk asal A yang berkategori adjektiva mengalami proses derivasi menjadi nomina tanpa adanya pembubuhan sufiks (zero morfem). Setelah proses konversi tersebut, bentuk turunan yang terbentuk disesuaikan dengan gender dan number dari referennya (jika mengacu pada makhluk hidup). Sesuai dengan karakteristik nomina bahasa Perancis, maka di depan bentuk turunan hasil

76

konversi tersebut diberikan determinan yang sesuai dengan konteksnya. Urutan proses konversi ini dapat dijabarkan dalam kaidah : A (a) petit (b) petit (c) petit Penjelasan: (a) Adjektiva petit ’kecil’ menjadi nomina petit ’si kecil’, setelah itu mendapat determinan yang sesuai dengan gender, number, dan konteksnya yaitu le (artikel definit, maskulin singular) karena acuannya adalah seorang anak laki-laki. (b) Adjektiva petit ’kecil’ menjadi nomina petit ’si kecil’(derivasi), kemudian terjadi proses infleksi dengan penambahan penanda gender feminin –e menjadi petite karena acuannya adalah seorang anak perempuan. Setelah itu mendapat determinan yaitu ma ’kepunyaanku’ (posesif, feminin singular) sehingga arti keseluruhan dari ma petite adalah ’anak (perempuan) kecilku’ (c) Adjektiva petit ’kecil’ menjadi nomina petit ’si kecil’(derivasi), kemudian terjadi proses infleksi dengan penambahan penanda gender feminin –e menjadi petite. Setelah itu terjadi proses infleksi lagi dengan penambahan penanda jamak –s sehingga menjadi petites, mengacu pada sekelompok anak kecil perempuan. Determinan yang digunakan yaitu ces ’ini/itu’ (demonstratif, maskulin atau feminin, plural) sehingga makna keseluruhan dari ces petites adalah ’anak-anak (perempuan) kecil ini’. N petit petit petit N petite petite N DET + N Le + petit Ma + petite Ces + petites

petites

77

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses infleksi dapat terjadi setelah terjadinya proses derivasi adjektiva menjadi nomina. Dalam hal ini, proses infleksi yang terjadi yaitu penyesuaian bentuk yang disesuaikan dengan gender dan number acuannya. Setelah itu nomina yang terbentuk mendapat determinan yang juga sesuai dengan gender dan number dari nominanya. Berikut ini dikemukakan beberapa contoh pembentukan nomina dengan cara konversi dengan menggunakan beberapa determinan yang ditemukan pada sumber data.

(a) Article definit
Article Definit La (fem.sg) La (fem.sg) La (fem.sg) Le (masc.sg) Le (masc.sg) Les (m/f.pl) Les (m/f.pl) Adjektiva + belle ‘cantik’ + Petite ‘kecil’ + malheureuse ‘malang’ + Vide ‘kosong’ + mechant ‘jahat’ + miserables ‘sengsara’ + Riches ‘kaya’ Nomina La belle La petite La malheureuse Le vide Le mechante Les miserables Les riches ‘si cantik’ ‘si kecil’ ‘orang yang malang, sengsara’ ‘kekosongan, lubang, hampa’ ‘(perbuatan/sikap) jahat’’ ’orang-orang melarat’ yang miskin,

‘orang-orang kaya’

Dalam prosesnya, penggunaan artikel definit dalam nominalisasi adjektiva harus disesuaikan dengan referen yang diacu atau ingin digambarkan oleh

78

adjektiva tersebut. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian Kaidah Penyesuaian (Adjusment Rules).

(b) Article indefinit
Article Indefinit un (masc.sg) un (masc.sg) un (masc.sg) une (masc.sg) des(fem.sg) + Mal ‘kurang baik, buruk’ + Froid ‘dingin’ + paresseux ‘malas’ + Blonde ‘pirang’ + bêtes ‘bodoh, dungu’ Un mal Un froid Un paresseux Une blonde des bêtes ‘kesusahan, keburukan’ ‘rasa dingin, sikap tanpa emosi’ ‘pemalas’ ‘(orang) berambut pirang’ ‘kebodohan, ketololan’ Adjektiva Nomina

Artikel indefinit merupakan determinan yang digunakan sebelum nomina yang tidak spesifik, yang penggunaannya juga disesuaikan dengan gender dan number dari nomina yang diacu. Jadi, ketika artikel indefinit dirangkaikan dengan bentuk yang telah dikonversi, juga harus memperhatikan referen yang diacu.

(c) Possesif
Possesif Mon/ma ‘-ku ’ Sa ‘-nya’ + + Adjektiva cher/chere ‘sayang’ fin ‘akhir’ Nomina Mon cher (m.sg) Ma chere (f.sg) Sa fin (f.sg) ‘sayangku’ ’ tujuannya’

79

Ses ‘-nya’ Ma ‘-ku ’ Ma ‘-ku ’

+ + +

intimes ‘dekat, akrab’ mignonne ‘manis, lucu’ belle ‘cantik’

Ses intimes (m/f.pl) Ma mignonne (f.sg) Ma belle (f.sg)

‘orang-orang dekatnya’ ‘manisku’ ‘juwitaku’

Bentuk konversi yang mendapat determinan menggambarkan kepemilikan atau kepunyaan akan sesuatu baik benda abstrak maupun konkret. Penggunaannya juga tergantung dari gender dan number dari nominanya. Misalnya mon cher / ma chère, sama-sama berarti ‘sayangku’. Namun, makna mon cher mengacu pada seorang laki-laki (nomina maskulin tunggal), sedangkan ma chère mengacu pada seorang perempuan (nomina feminin singular). (d) Demonstratif Bentuk konversi juga dapat dirangkaikan dengan determinan demonstratif. Hal ini dapat dilihat pada data berikut ini.
Demonstratif Cette Cette Ce Adjektiva + pauvre ‘miskin’ + desagréable ‘tidak nyaman’ + naif ‘naif, polos’ Nomina Cette pauvre (f.sg) Cette desagréable (f.sg) Ce naif (m.sg) ‘orang yang miskin ini’ ‘ketidaknyamanan ini’ ‘orang polos ini’

Determinan berikutnya yang juga digunakan di depan bentuk konversi adalah demonstratif. Sama seperti determinan lainnya, penggunaan demonstratif juga ditentukan oleh gender dan number, ce untuk nomina maskulin, cette untuk menggambarkan nomina feminin, dan ces digunakan untuk menerangkan mask/fem jamak, yang semuanya bermakna ‘ini/itu’.

80

Dalam hal ini, konversi adjektiva menjadi nomina sering kali terjadi atau dilakukan dengan penghilangan (elipsis) nomina inti yang diacu, seperti misalnya pada contoh cette pauvre ‘orang miskin itu’ terdapat inti yang dihilangkan sehingga hanya muncul adjektivanya yang menyatakan karakteristik atau keadaan dari nomina yang diacu. Jika dilihat dari konteksnya, frasa nomina yang seharusnya terbentuk adalah cette pauvre femme ‘wanita miskin itu’ di mana pada kenyataannya femme ‘wanita’ dihilangkan. Namun penghilangan ini tidak mengurangi arti keseluruhan dari klausa karena cette pauvre sudah dapat mewakili nomina yang dimaksud dan dapat dipahami dari konteksnya. Dari uraian Kaidah Pembentukan Kata dengan cara konversi di atas, dapat disimpulkan bahwa adjektiva dapat ditransformasi menjadi nomina dengan tanpa adanya sufiksasi, tetapi dapat dilihat dari fungsi dan maknanya dalam konteks kalimat. Namun, ada hal yang perlu dicermati dalam nominalisasi adjektiva dengan konversi ini, yaitu bahwa tidak semua adjektiva dapat bertransformasi menjadi nomina dengan cara ini. Untuk lebih jelasnya akan dibahas dengan lebih mendalam pada bagian fungsi dan makna dari proses nominalisasi adjektiva bahasa Perancis.

5.3 Kaidah Penyesuaian (Adjustment Rules) Komponen ketiga dalam morfologi generatif model Aronoff adalah Kaidah Penyesuaian. Menurut Aronoff, pembubuhan afiks memerlukan adanya perubahan bentuk, baik bentuk dasar maupun bentuk afiks itu sendiri. Dalam Kaidah Penyesuaian ini dapat terjadi dua macam proses penyesuaian, yaitu

81

Allomorphy

Rules

(Kaidah

Alomorfi)

dan

Truncation

Rules

(Kaidah

Pemenggalan). Seperti sudah dijelaskan sebelumnya pada Kaidah Pembentukan Kata bahwa terdapat sufiks tertentu yang mempunyai beberapa alomorf dan penyesuaian lain, bahkan ada pula pengecualian. Hal-hal tersebut dijelaskan pada bagian ini sehingga proses pembubuhan afiks dan proses dengan cara konversi dapat lebih dimengerti oleh para pengguna bahasa Perancis.

5.3.1 Kaidah Penyesuaian dalam Nominalisasi Adjektiva dengan Sufiks Derivasional Dalam proses sufiksasi, penyesuaian baik bentuk dasar maupun sufiks itu sering kali terjadi. Mengacu pada KPK yang telah diuraikan sebelumnya, penyesuaian biasanya terjadi pada setiap pembubuhan sufiks derivasional. Beberapa kaidah penyesuaian tersebut dijabarkan pada uraian berikut ini. (a) Penyesuaian dalam penggunaan bentuk adjektiva yang menjadi bentuk dasar dalam proses sufiksasi Aturan penyesuaian pertama yang dianalisis adalah penggunaan bentuk adjektiva (maskulin atau feminin) yang menjadi bentuk dasar dalam sufiksasi. Seperti diketahui bahwa adjektiva bahasa Perancis disesuaikan dengan gender nominanya, yaitu bentuk maskulin dan bentuk feminin. Oleh karena itu, biasanya suatu adjektiva mempunyai dua bentuk untuk tiap-tiap gender, dimana pembentukannya mengikuti adjective agreement ‘kesepakatan pembentukan adjektiva’ tertentu. Pembentukan ini ada yang bersifat regulier ‘teratur’, yaitu

82

penambahan penanda feminin –e pada

akhir adjektiva maskulin untuk mefiante

membentuk adjektiva feminin, seperti pada bentuk dasar mefiant (m) (f) ‘curiga’, petit (m) lain-lain. petite (f) ‘kecil’, blond (m)

blonde (f) ‘pirang’, dan

Selain pembentukan adjektiva feminin yang bersifat teratur, ada pula pembentukan yang irregulier ‘tidak beraturan’, seperti pada adjektiva frais (m) – fraiche (f) ‘sejuk, segar’, beau (m) – belle (f) ‘cantik, indah’, gros (m) – grosse (f) ‘besar, gendut’, dan lain-lain. Selain itu, ada pula adjektiva yang hanya mempunyai satu bentuk yang bisa digunakan untuk kedua gender, seperti adjektiva triste (m/f) ‘sedih’, pâle (m/f) ‘pucat’, modeste (m/f) ‘rendah hati’, dan sebagainya. Dalam proses sufiksasi, apabila bentuk dasarnya merupakan adjektiva reguler dan adjektiva yang mempunyai satu bentuk saja (m=f), maka bentuk adjektiva yang digunakan adalah bentuk adjektiva maskulin. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut:

Adjektiva dasar 1 2 3 4 5 6 7 8 Honnête (m/f) ‘miskin’ Pâle (m/f) ‘pucat’ Triste (m/f) ‘sedih’ Bete (m/f) ‘bodoh’ Modeste (m/f)‘rendah hati’ Égoiste (m/f) ‘egois’ Petit(m) – petite (f) ‘kecil’ Patient (m) – patiente (f) ‘sabar’ + + + + + + + +

sufiks -eté -eur -esse -ise -ie -isme -esse -ence

Bentuk nomina Honneteté ‘kemiskinan’ Pâleur ‘warna pucat’ Tristesse ‘kesedihan’ Betise ‘kebodohan’ Modestie ‘kerendahan hati’ Égoisme ‘keegoisan’ Petitesse ‘kecilnya’ Patience ‘kesabaran’

83

9 10

Profond(m) – profonde(f) ‘dalam’ Brutal(m) – brutale (f) ‘brutal’

+ +

-eur -ité

Profondeur ‘dalamnya’ Brutalité ‘kebrutalan’

Pada data di atas, terlihat bahwa adjektiva dasar yang hanya mempunyai satu bentuk (no.1—6), baik untuk maskulin maupun feminin, dapat langsung dibubuhi sufiks derivasional. Begitu pula dengan adjektiva reguler (no.7--10), bentuk maskulinnya dapat langsung dilekatkan dengan sufiks. Jika bentuk dasar adjektiva mempunyai dua bentuk yang berbeda untuk maskulin dan femininnya (irreguliere), maka bentuk feminin digunakan sebagai bentuk dasar. Namun, selalu ada pengecualian karena beberapa adjektiva tak beraturan tetap menggunakan bentuk maskulinnya sebagai bentuk dasar, yaitu adjektiva beau ‘cantik,indah, bon ‘baik’, nouveau ‘baru’, fol ‘gila’. Adjektiva dasar Frais(m) - fraiche (f) ‘sejuk/segar’ 2. Faux(m) - fausse (f) ‘salah’ 3. Actif (m) – active (f) ‘aktif,giat’ 4. Nul (m) – nulle (f) ‘kosong,hampa’ 5. Vieil (m) - vieille (f) ‘tua’ 6. Gros(m) – grosse (f) ‘gendut’ Sot(m) – sotte (f) 7 ‘tolol’ 8. Las(m) – lasse (f) ‘bosan, lelah’ 9. Beau (m) – belle (f) ‘indah, cantik’ 10. Bon (m) – bonne (f) ‘baik, bagus’ 1. + + + + + + + + + + sufiks -eur -eté -ité -ité -ard -esse -ise -itude -té -té Bentuk nomina Fraicheur ‘kesejukan’ Fausseté ‘kesalahan’ Activité ‘keaktifan’ Nullité ‘kehampaan’ Vieillard ‘laki-laki tua’ Grossesse ‘kehamilan’ Sottise ‘ketololan’ Lassitude ‘kebosanan’ Beauté ‘keindahan’ Bonté ‘kebaikan’

84

11. Nouveau(m) – nouvelle (f) ‘baru’ 12. Fol (m) – folle (f) ‘gila’

+ +

-té -ie

Nouveauté ‘yang baru’ Folie ‘kegilaan’

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa apabila suatu adjektiva mempunyai dua bentuk yang berbeda untuk adjektiva maskulin dan feminin, maka bentuk adjektiva femininlah yang dijadikan sebagai bentuk dasar dalam proses sufiksasi. Hal ini terlihat jelas pada salah satu contoh bentuk turunan fraicheur ‘kesejukan’, yang jika dijabarkan menjadi bentuk yang lebih kecil, maka kata ini terdiri atas bentuk dasar fraiche ‘segar, sejuk’ dan –eur, di mana fraiche merupakan bentuk feminin dari frais. Jadi, sufiks {–eur} ini tidak dilekatkan pada bentuk maskulinnya, karena bentuk turunan yang dihasilkan adalah fraicheur, bukan fraiseur. Contoh lain yang membuktikan hal yang sama adalah pada adjektiva faux (m) / fausse (f) ‘salah’. Jika mendapat sufiks {–eté}, maka bentuk turunan yang dihasilkan adalah fausseté ‘kesalahan’, bukanlah fauxeté. Contoh yang diungkapkan di atas dapat dijadikan bukti bahwa bentuk feminin dijadikan bentuk dasar dan mengalami proses sufiksasi. Namun selalu ada pengecualian, seperti yang dapat dilihat pada contoh adjektiva beau (m) / belle (f) ‘indah, cantik’. Bentuk turunan yang dihasilkan dari kata ini setelah mendapat sufiks {-(i)té} adalah beauté ‘keindahan’, padahal jika mengikuti aturan

penyesuaian yang menyatakan bahwa bentuk feminin yang dijadikan bentuk dasar, maka seharusnya bentuk turunannya adalah belleté. Pada kenyataannya, kata belleté belum pernah ditemukan dalam penggunaan bahasa Perancis. Pengecualian seperti ini yang juga ditemukan pada sumber data adalah :

85

bon (m)/bonne (f) + {-(i)té} fol (m)/folle (f) + {-ie}

bonté (bukan bonneté) ‘kebaikan’ folie (bukan follie) ‘kegilaan’

nouveau(m)/nouvelle(f) + {-(i)té}

nouveauté (bukan nouvelleté) ‘yang baru’

Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kata-kata seperti belleté, bonneté, dan follie akan muncul dalam kosakata bahasa Perancis yang mewakili reference yang berbeda dengan kata yang telah ada sebelumnya. Jadi, kata-kata ini dapat dimasukkan dalam bentuk–bentuk potensial karena pembentukannya sudah sesuai dengan kaidah yang ada. Penggunaan bentuk adjektiva feminin sebagai bentuk dasar dalam sufiksasi bukanlah tanpa alasan. Hal ini terjadi karena dalam pelafalan, bentuk adjektiva feminin biasanya diakhiri oleh bunyi konsonan atau suku kata

terakhirnya merupakan suku kata tertutup, sedangkan bentuk maskulin biasanya diakhiri dengan vokal atau vokal nasal (suku kata terbuka). Oleh karena itu, sufiks, yang semuanya diawali dengan bunyi vokal, akan melekat pada kata yang mempunyai bunyi konsonan di akhir agar tercipta kesinambungan bunyi ketika terjadinya sufiksasi. Hal ini dapat dilihat pada uraian berikut: Adjektiva maskulin Doux + {-eur} [du] + [-œr] Las [la] + {-itude} + [-ityd] [duœr] [laityd] Adjektiva feminin Douce + {-eur} [dus] + [-œr] Lasse + {-itude} [las] + [-ityd] [dusœr] [lasityd]

Gros + {-esse} [gro] + [-εs] [groεs]

Grosse + {-esse} [gros] + [-εs] [grosεs]

86

Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa jika menggunakan bentuk adjektiva maskulin doux [du] ‘lembut’ yang diakhiri oleh bunyi vokal dalam pengucapannya, kemudian mendapat sufiks –eur [œr] yang juga diawali oleh bunyi vokal, maka ketika disatukan menjadi [du-œr]. Pertemuan kedua vokal ini kurang dapat menghasilkan kesinambungan bunyi karena adanya dua vokal berurutan yang akan menjadi batas suku kata. Oleh karena itu, diambillah bentuk feminin douce [dus] yang mempunyai bunyi konsonan di akhir kata, sehingga pengucapannya dapat terdengar lebih mengalir menjadi [dusœr].

(b) Peluruhan fonem [ ] atau schwa Sebagian besar adjektiva bahasa Perancis diakhiri oleh fonem [ ], terutama bentuk femininnya. Selanjutnya dalam proses sufiksasi, terjadi pelesapan atau luruhnya fonem [ ] atau schwa yang berada di akhir kata yang mengalami proses sufiksasi. Hal ini disebabkan oleh karakteristik dari fonem [ ] yang sering kali tidak disuarakan dalam suatu pengucapan yang cepat. Oleh karena itu, [ ] atau schwa ini dalam bahasa Perancis sering disebut –e muet (-e diam/tidak dilafalkan). Setiap kata dalam bahasa Perancis yang diakhiri oleh /e/, maka bunyi tersebut tidak pernah muncul dalam pengucapan dan berarti juga tidak muncul dalam transkripsi fonetiknya. Misalnya pada kata sotte ‘bodoh’ akan mempunyai transkripsi fonetik [sot]; –e hilang sehingga jika dibubuhi sufiks {-ise}, akan menjadi [sotiz]; begitu juga kata modeste ‘rendah hati’ mempunyai transkripsi fonetik [modεst], -e di akhir kata tidak diucapkan, kemudian mendapat sufiks {-

87

ie} akan menjadi [modεsti]. Namun, bunyi schwa

ini akan muncul dalam

pelafalan jika kata-kata tersebut dipakai dalam puisi atau lagu. Tidak semua adjektiva mengalami pelesapan fonem [ ] atau schwa terutama ketika adjektiva yang dijadikan bentuk dasar tidak diakhiri oleh [ ], seperti gai ‘kegembiraan’ , fin ‘halus, tajam’, beau ‘cantik, indah’, bon ‘baik’, nouveau ‘baru’, fol ‘gila’, dan lain-lain.

(c) Penyisipan fonem Ketika proses sufiksasi terjadi, sering kali disertai dengan penyesuaian dalam bentuk dasar itu sendiri. Salah satu penyesuaian tersebut adalah penyisipan fonem tertentu pada bentuk dasar sehingga kata turunan yang terbentuk dapat diucapkan dengan baik. Kasus seperti ini hanya terjadi pada beberapa bentuk dasar yang mendapat sufiks tertentu, yang dijelaskan pada contoh berikut ini. - bentuk dasar responsable ‘tanggung jawab’ [rεs-p -sa-bl] + {-ité} [rεsp sablité] [rεsp sabilité]

Penyesuaian yang terjadi dengan adanya pembubuhan sufiks {-ité} pada adjektiva responsable [rεsp sabl] adalah penyisipan bunyi vokal depan [i] di antara bunyi [b] dan [l] pada silabel terakhir sehingga menjadi responsabilité [rεsp sabilite]. Selain untuk mempermudah pengucapan, penyisipan fonem ini juga disebabkan oleh konsonan rangkap [bl] hanya dapat terletak di awal atau di akhir kata (tidak pernah ditemukan di tengah kata). Hal yang sama juga akan terjadi pada bentuk dasar adjektiva

88

honorable, possible, dan lain-lain yang mempunyai akhiran yang sama dengan contoh di atas.

- bentuk asal polie ‘sopan’ polie + {-esse} [po-li] + [εs] poliesse [poliεs] politesse ‘sopan santun’ [politεs]

Jika mengikuti proses seperti yang lainnya, maka seharusnya bentuk turunan yang dihasilkan setelah mendapat sufiks {-esse} adalah poliesse. Akan tetapi, pada kenyataannya bentuk turunan yang ada adalah politesse, yaitu ada penyisipan fonem [t] pada batas penggabungan bentuk dasar dan sufiksnya. Dalam bahasa Perancis, fonem [t] sering kali disisipkan antara dua kata atau morfem yang akhir dan awalnya merupakan bunyi vokal, contoh : A - il un stylo? A – t - il un stylo?
V.punya PRO3.m.sg INDEF.m.sg N.m.pulpen ‘Punyakah dia pensil?’

Pada contoh di atas, terlihat adanya penyisipan fonem [t] antara kata a ‘punya’ dan il ‘dia (m)’. Penyisipan ini bertujuan untuk membuat pengucapan yang lebih menyatu dan mengalir. (d) Substitusi fonem Dalam proses sufiksasi dapat terjadi pula penggantian atau substitusi fonem pada bentuk dasar, yang juga bertujuan untuk lebih memudahkan pengucapan. Substitusi fonem ini terjadi pada beberapa adjektiva yang mendapat imbuhan sufiks derivasional, seperti pada contoh berikut.

89

- Adjektiva curieuse ‘ingin tahu’, superieure ‘superieur’ [ky-rjœz] + {-ité} [sy-pe-rjœr] + {-ité} [kyrjœzité] [kyrjozité] [syperjorité]

[syperjœrité]

Penyesuaian yang terjadi pada bentuk dasar curieuse [ky-rjœz] setelah mendapatkan sufiks {-ité} adalah penggantian bunyi vokal depan [œ] yang berada setelah semivokal [j] pada silabel terakhir menjadi bunyi [o] sehingga menjadi curiosité [kyrjozité] ‘keingintahuan’.
- Adjektiva familière ‘biasa’

[fa-mi-ljεr] + {-ité}

[familjεrité]

[familjarité]

Penyesuaian bentuk familière [familjεr] dengan mendapatkan sufiks {-ité} adalah bunyi vokal depan setengah terbuka [ε] yang berada di akhir suku kata menjadi bunyi vokal depan terbuka [a], sehingga menjadi familiarité [familjarité] ‘hal yang sudah biasa’

5.3.2 Kaidah Alomorfi (Allomorphy Rules) Dalam Teori Morfologi Aronoff juga dikenal adanya Kaidah Alomorfi (Allomorphy Rules) yang memuat bentuk-bentuk alomorfi dari komponen pembentuk kata, yaitu dalam hal ini alomorfi dari sufiks derivasionalnya. Beberapa sufiks ditemukan memiliki alomorfi, seperti sufiks {-ité}, {-ance}, dan {-isme}.

90

(a) Alomorfi sufiks {-ité} Bentuk alomorfi dari sufiks {-ité}, yaitu {-eté} dan {-té}. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut :

Adjektiva 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Active Responsable Curieuse Familière Honnête Mechante Fausse Beau Bon + + + + + + + + +

Sufiks Derivasional {-ité} {-ité} {-ité} {-ité} {-eté} {-eté} {-eté} {-té} {-té}

Nomina activité responsabilité curiosité familiarité honnêteté méchanteté fausseté beauté bonté ‘kegiatan’ ‘tanggung jawab’ ‘keingintahuan’ ‘kebiasaan’ ‘kejujuran’ ‘kekejaman’ ‘kesalahan’ ‘keindahan’ ‘kebaikan

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa bentuk dasar adjektiva nomor 1--4 mendapatkan sufiks {-ité}, nomor 5--7 mendapat sufiks {-eté}, dan nomor 8-9 mendapat sufiks {-té}. Dari ketiga alomorfi ini, sufiks {-ité} yang paling sering muncul dalam pembentukan kata. Hal itu terjadi karena sufiks ini dapat melekat pada semua bunyi konsonan di akhir kata, kecuali [t] dan [s], di mana kedua bunyi inilah yang kemudian akan melekat pada alomorfinya yaitu {-eté}. Sebaliknya, alomorfi {-té} akan melekat pada bentuk dasar adjektiva yang diakhiri bunyi vokal bulat [o] atau vokal nasal bulat [õ].

(b) Alomorfi sufiks {-ance} Sufiks ini mempunyai dua bentuk alomorfi yaitu {-ence} dan {-ance}. Hal ini dapat kita lihat pada data berikut :

91

Adjektiva 1. 2. 3. 4. 5. 6. Violente Impatiente Virulente Souffrante Elegante Puissante + + + + + +

Sufiks Derivasional {-ence} {-ence} {-ence} {-ance} {-ance} {-ance}

Nomina Violence ‘kekerasan, keganasan, paksaan’ Impatience ‘ketidaksabaran’ Virulence ‘ketajaman (kata-kata)’ Souffrance ‘penderitaan, rasa sakit’ Élégance ‘keanggunan’ Puissance ‘kekuatan, yang berkuasa’

Contoh : souffrant + {-ance} [su-frãt] + [ãs]

souffrance ‘penderitaan’ [sufrãs]

Kaidah alomorfi yang terjadi dalam penggunaan, baik sufiks {–ence} maupun bentuk alomorfinya adalah dengan melihat akhiran dari bentuk dasarnya. Sufiks {–ence} hanya dapat melekat pada kata yang berakhiran –ent (contoh no.1--3), sedangkan {-ance} hanya melekat pada bentuk dasar yang berakhiran – ant (contoh no. 4--6).

(c) Alomorfi Sufiks {-isme} Dari data yang ditemukan, sufiks {-isme} terlihat mempunyai satu bentuk alomorfi, yaitu {-asme}. Hal ini dapat kita lihat pada bentuk dasar enthousiaste ‘antusias’ enthousiasme ‘rasa semangat, antusias’, dengan proses sufiksasi

sebagai berikut. enthousiaste + {-isme} [ tuzjast] + [ism] enthousiasme [ tuzjasm]

92

Jadi, ketika sufiks {-isme} dilekatkan pada bentuk asal, maka terjadi penyesuaian pada sufiks tersebut menjadi bentuk {-asme}. Dalam hal ini, sufiks {isme} menyesuaikan dengan silabel terakhir dari kata tersebut adalah ast.

5.3.3 Kaidah Pemenggalan Selain terjadinya penyesuaian bentuk dan alomorfi, kaidah pemenggalan juga sering kali ditemukan. Sesuai dengan Teori Morfologi Aronoff yang sangat peka terhadap pembatasan atau blocking, maka aturan pemenggalan dapat dijadikan sebagai salah satu komponen dalam proses sufiksasi. Beberapa bentuk dasar adjektiva diketahui mengalami pemenggalan ketika dilekatkan dengan sufiks derivasional yang dapat dilihat pada uraian berikut ini. (a) Pemenggalan silabel Suatu bentuk dasar dapat mengalami pemenggalan pada silabel terakhirnya, seperti pada bentuk dasar adjektiva splendide ‘terang, gemerlap’. splen-dide + {-eur} [spl -did] + [œr] splendeur [spl dœr]

Dalam kaidah pemenggalan bahasa Perancis, pemenggalan harus dilakukan setelah vokal nasal sehingga bentuk dasar splendide terdiri dari dua silabel yaitu [spl ] dan [did]. Jadi dapat dilihat bahwa pemenggalan terjadi pada silabel terakhir dari kata tersebut sehingga hanya menyisakan satu silabel, yaitu [spl ] yang kemudian ditambahkan [œr] menjadi [spl -œr]. Kemudian terjadi penyesuaian lagi (Readjustment Rules), yaitu penambahan bunyi [d] yang diambil dari bunyi berikutnya pada silabel yang telah dipenggal. Hal ini terjadi agar

93

tercipta kesinambungan bunyi dari [spl -œr]

[spl dœr]. Bentuk dasar

splendide mengalami pemenggalan karena sufiks {-eur} hanya bisa melekat pada adjektiva dengan satu silabel, seperti douce [du ] ‘lembut’ ‘kelembutan’, fraiche [frε ] ‘sejuk’ (b) Pemenggalan akhiran Selain pemenggalan silabel, pemenggalan bentuk dasar juga dapat terjadi pada bentuk akhir dari kata yang mengalami proses sufiksasi. Kaidah pemenggalan ini terjadi pada bentuk dasar adjektiva yang mempunyai akhiran –ente dan –ante ketika mendapat imbuhan {-ance} atau {-ence}, seperti contoh berikut. • violente + {-ence} [vi l t] + [ s] violence ‘kekejaman’ [vi l s] douceur [du œr]

fraicheur [frε œr] ‘kesejukan’.

souffrante + {-ance) souffrance ‘penderitaan [soufr s] [soufr t] + [- s]

Kedua bentuk dasar adjektiva di atas mempunyai pelafalan yang sama pada bagian akhir katanya, yaitu [- t]. Bagian inilah yang dipenggal untuk kemudian digantikan dengan sufiks {–ence/-ance} yang dilafalkan [- s]. Kaidah pemenggalan lainnya juga ditemukan pada penggunaan sufiks {-isme}, seperti pada contoh di bawah ini. • égoiste + {-isme} [eg ist] + [ism] socialiste + {-isme} [sosialist] + [ism] égoisme ‘keegoisan’ [eg ism] socialisme ‘paham sosial’ [sosialism]

94

Untuk kaidah pemenggalan, sufiks ini memenggal bentuk dasarnya tepat sebelum akhiran –iste, seperti pada contoh di atas, yaitu ego-iste social-iste social-isme, féodal-iste féodal-isme, fémin-iste égo-isme,

fémin-isme.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kaidah penyesuaian yang terjadi dalam proses sufiksasi dapat berupa perubahan, baik bentuk dasar maupun sufiksnya, yang juga menghasilkan kaidah alomorfi pada sufiks derivasional dan kaidah pemenggalan pada bentuk dasar yang mengalami proses tersebut.

5.3.4 Kaidah Penyesuaian dalam Nominalisasi Adjektiva dengan Konversi Proses nominalisasi adjektiva dengan cara konversi terjadi dengan sederhana karena tidak adanya pembubuhan sufiks, namun tetap memerlukan kaidah penyesuaian dalam pembentukannya. Penyesuaian pada proses ini terjadi pada penggunaan determinan dan adjektiva yang sesuai dengan acuannya. Penyesuaian-penyesuaian tersebut adalah sebagai berikut.

(1). Nomina konkret yang menggambarkan makhluk hidup Ketika adjektiva tersebut dikonversi untuk membentuk nomina konkret yang mengacu atau menggambarkan suatu makhluk, hidup baik manusia maupun binatang, maka penggunaan determinan dan bentuk adjektiva disesuaikan dengan gender dan number dari referennyaMisalnya, la petite ‘si kecil’ maka referennya adalah seorang anak kecil perempuan, sedangkan jika referen yang diacu adalah

95

seorang anak laki-laki, maka akan dikatakan le petit ‘si kecil’. Contoh lain dapat dilihat sebagai berikut :
Elle les appelait <<ma mignonne, ma toute belle>> PRO3.sg COD.mereka V.memanggil POSS1 manis, POSS1.ADJ.cantik ’dia memanggilnya manisku, gadis cantikku’

Namun berbeda halnya jika bentuk konversinya bermakna sesuatu pada umumnya atau mewakili sekelompok orang, maka bentuk yang dipakai baik adjektiva maupun determinannya adalah bentuk maskulin baik tunggal maupun jamak. Contoh : Les petits paient pour les gros.

DEF.m.pl ADJ.m.pl.kecil V.membayar PREP.untuk DEF.m.pl ADJ.m.pl.besar

‘(orang-orang) Yang kecil membayari (orang-orang) yang besar.’ Pada contoh di atas, tampak bahwa bentuk konversi les petits ‘orangorang kecil’ dan les gros ‘orang-orang besar’ merupakan bentuk maskulin jamak yang maknanya mengacu pada sekelompok orang yang mempunyai kualitas seperti yang digambarkan oleh adjektivanya.

(2) Nomina abstrak Jika nomina yang terbentuk melalui proses konversi ini menggambarkan nomina abstrak (- konkret), maka penggunaan determinan dan adjektivanya tidak tergantung dari gender dan number (Lauwers, 2008:138). Artinya, mereka hanya menggunakan determinan dan adjektiva untuk bentuk maskulin tunggal.

96

Contoh : Le froid de la nuit
DEF.m.sg ADJ.m.dingin PREP.dari DEF.f.sg NOM.malam

‘dinginnya malam’ Le beau de cette image est sa simplicité
DEF.m.sg ADJ.indah PREP itu gambar adalah POSS.3.f.sg.-nya NOM.f.sg.kesederhanan

‘yang indah dari gambar itu adalah kesederhanaannya’ Dari contoh di atas, diketahui bahwa le froid ‘dinginnya, hawa dingin’ dan le beau ‘yang indah’ merupakan bentuk nominalisasi adjektiva yang menggambarkan sesuatu yang abstrak (kata benda abtrak). Keduanya sama-sama menggunakan bentuk adjektiva maskulin tunggal yaitu penggunaan artikel definit le (m.sg). Tidak seperti nominalisasi adjektiva dengan sufiksasi, pada pembentukan nomina dengan cara konversi ini, tidak ditemukan adanya Aturan Alomorfi maupun Aturan Pemenggalan. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya perubahan bentuk baik pada bentuk dasar maupun bentuk turunannya. Hal itu terjadi karena karena bentuk dasar adjektiva yang dikonversi adalah identik dengan bentuk turunannya yang berkategori nomina.

5.4 Keluaran (Output) Komponen yang terakhir dari Teori Morfologi Generatif model Aronoff adalah keluaran atau output yang dihasilkan dari proses pembentukan kata. Bentuk turunan yang dihasilkan harus memiliki kategori atau kelas kata, baik nomina, verba, adjektiva, maupun adverbia. Dalam penelitian ini keluaran yang dihasilkan, baik dari proses sufiksasi maupun konversi memiliki kategori nomina.

97

Dari keluaran yang dihasilkan, didapatkan bahwa sebagian besar bentuk dasar, baik adjektiva dasar maupun adjektiva turunan, dapat bertranformasi menjadi nomina melalui kedua proses sekaligus, yaitu baik dengan cara sufiksasi maupun dan dengan konversi. Namun, ada juga bentuk dasar adjektiva yang hanya mengalami salah satu proses saja (sufiksasi atau konversi). Beberapa contoh keluaran yang dihasilkan dapat dilihat pada tabel berikut. Bentuk adjektiva dasar Keluaran sufiksasi Activité ‘aktivitas’ Responsabilité ‘tanggung jawab’ Curiosité ‘keingintahuan’ Mechanteté ‘kekejaman’ Fausseté ‘kekeliruan, kepalsuan’ Beauté ‘kecantikan, keindahan’ Fraicheur ‘kesejukan’ Splendeur ‘kegemerlapan’ Blancheur ‘(kualitas) putihnya’ Douceur ‘kelembutan’ Bêtise ‘kebodohan’ Virulence ‘ketajaman’ Souffrance ‘penderitaan’ Lassitude melalui Keluaran melalui konversi Un responsable ‘orang yang bertanggung jawab’ Un curieux ‘orang yang selalu ingin tahu’ Les mechants ‘orang-orang jahat, kejam’ Le faux ‘(hal) yang tidak benar, tiruan’ Le beau, la belle ‘yang indah, si cantik’ Le frais ‘udara segar’ Le blanc ‘warna putih’ Un doux ‘orang yang penuh kasih sayang’ Une bête ‘orang/binatang bodoh’ -

Actif/active ‘aktif, gita’ Responsable ‘bertanggung jawab’ Curieux ‘ingin tahu’ Mechant/mechante ‘kejam, jahat’ Faux/fausse ‘salah, palsu’ Beau/belle ‘cantik, indah’ Frais/fraiche ‘segar, sejuk’ Splendide ‘terang, gemerlap’ Blanc/blanche ‘putih’ Doux/douce ‘lembut’ Bête ‘bodoh’ Virulent/virulente ‘tajam’ Souffrant/souffrante ‘penuh derita’ Las/lasse

98

‘lelah, bosan’ Solitaire ‘sendiri’ Inquiet/inquiete ‘khawatir’ Galant ‘sopan (terhadap wanita) Egoiste ‘egois’ Miserable ‘sengsara’ Malheureux ‘malang, menyedihkan’ Douloureux ‘terluka, sakit’ Vide ‘kosong’ Rouge ‘merah’ Malade ‘sakit’ Chaud ‘panas’ Froid ‘dingin’ Envieux ‘iri hati’

‘kelelahan’ Solitude ‘kesendirian’ Inquietude ‘kekhawatiran’ Galanterie ‘sikap sopan pada wanita’ Egoisme ‘keegoisan’ Maladie ‘penyakit’ Froideur ‘sikap dingin’ -

Un solitaire ‘pertapa’ Un galant ‘orang yang sopan, rayuan’ Un egoiste ‘orang yang egois’ Un miserable ‘orang yang kesusahan’ Malheureux ‘orang yang malang’ Un douloureux ‘orang yang terluka, sedih’ Le vide ‘cekungan, lubang’ Le rouge ‘warna merah’ La malade ‘si sakit, npenderita’ Le chaud ‘hawa panas’ Le froid ‘hawa dingin’ Un envieux ‘orang pencemburu, iri hati’

Berdasarkan proses yang terjadi dan keluaran yang dihasilkan dalam nominalisasi adjektiva bahasa Perancis, terlihat bahwa tidak semua adjektiva dapat diderivasi menjadi nomina dengan cara konversi. Sebaliknya, tidak semua adjektiva dapat dinominalisasi melalui proses sufiksasi. Misalnya, adjektiva warna hanya dapat diderivasi menjadi nomina dengan tanpa adanya sufiksasi (konversi), kecuali pada warna blanc ‘putih’ yang dapat bertransformasi menjadi nomina, baik dengan cara konversi (le blanc) maupun dengan penambahan sufiks {–eur}

99

menjadi blancheur. Tentu saja makna yang dibawa oleh tiap-tiap bentuk akan berbeda sesuai dengan konteksnya. Pada umumnya, adjektiva yang biasanya hanya dapat digunakan sebagai pemeri sifat untuk menyatakan kualitas atau karakteristik pada makhluk hidup terutama manusia dapat mengalami kedua proses nominalisasi, misalnya adjektiva beau ‘cantik’, petit ‘kecil’, curieux ‘ingin tahu’, mechante ‘kejam, jahat’, sot ‘tolol’, bête ‘bodoh’, galant ‘sopan pada wanita’, égoiste ‘sifat egois’, dan lainlain. Setelah dikonversi adjektiva tesebut dapat menjadi nomina konkret yang bermakna seseorang yang mempunyai kualitas/sifat (seperti yang disebutkan bentuk dasar). Sebaliknya, makna yang terbentuk melalui sufiksasi adalah menghasilkan nomina abstrak yang menyatakan kualitas atau keadaan seperti yang disebutkan bentuk dasar. Pada bentuk dasar adjektiva miserable ‘menderita’, malheureux ‘malang’, dan douloureux ‘sakit (di tubuh), memilukan’ hanya mempunyai bentuk konversi yang bermakna seseorang yang mengalami seperti yang disebutkan adjektivanya (un miserable ‘orang yang (sedang) menderita’, un malhereux ‘orang yang malang’, un douloureux ‘orang yang (sedang) terluka’). Adjektiva-adjektiva tersebut merupakan adjektiva yang berasal dari nomina sehingga tidak mempunyai bentuk nominalisasi dengan pembubuhan sufiks karena sudah mempunyai bentuk nomina sendiri yaitu nomina yang menjadi dasar katanya, masing-masing adalah la misère ‘penderitaan’, le malheur ‘kemalangan,

kesusahan’, dan la douleur ‘rasa sakit, penderitaan hati’.

100

Berdasarkan penjelasan itu, dapat disimpulkan bahwa dalam proses nominalisasi adjektiva, baik dengan proses sufiksasi maupun konversi, intuisi kebahasaan sangatlah memegang peranan penting dalam pembentukan suatu kata baru dan penentuan berterima tidaknya bentuk turunan yang dihasilkan. Kenyataan ini sesuai dengan Teori Morfologi Generatif itu sendiri yang mengenal adanya penutur yang ideal yang secara intuitif berbekal kemampuan bahasa bawaan.

101

BAB VI FUNGSI DAN MAKNA GRAMATIKAL YANG TERBENTUK DALAM PROSES NOMINALISASI ADJEKTIVA

6.1 Fungsi Sufiks Pembentuk Nomina dari Dasar Adjektiva Pada bab sebelumnya telah dibicarakan mengenai proses pembentukan kata, terutama pada komponen Kaidah Pembentukan Kata yang menyangkut pelekatan sufiks derivasional pada bentuk asal sehingga menjadi bentuk turunan atau kata kompleks. Selain itu, juga telah dibicarakan tentang cara konversi dalam mentransformasi adjektiva menjadi nomina. Setelah membicarakan proses pembentukan kata pada bab sebelumnya, maka selanjutnya dibahas mengenai makna yang muncul dari proses sufiksasi, dan juga makna yang ditimbulkan dari nominalisasi adjektiva dengan cara konversi. Sebelum menginjak pada maknanya, dijelaskan dahulu mengenai fungsi afiks pembentuk nomina. Fungsi diartikan sebagai kemampuan afiks dalam proses afiksasi untuk menghasilkan suatu bentuk turunan dengan kategori sintaksis tertentu (Ramlan, 1978:96). Dalam hal ini, penambahan afiks dapat mengubah kategori sebuah kata, misalnya dari verbal menjadi nomina. Dengan demikian, proses afiksasi itu memiliki fungsi gramatikal, yaitu fungsi yang berhubungan dengan ketatabahasaan.

101

102

Tata bahasa generatif yang dalam hal ini morfologi generatif menggunakan istilah transformasi yang menyangkut tataran morfologi dan sintaksis. Transformasi sebagai proses morfologi menghasilkan suatu bentuk turunan dengan kategori sintaksis tertentu (Spencer, 1991:67). Dalam proses nominalisasi adjektiva bahasa Perancis, penambahan sufiks akan mengakibatkan perubahan kelas kata adjektiva menjadi kelas kata nomina. Dengan

memperhatikan kategori sintaksis dari bentuk turunan yang dihasilkan dari proses pengimbuhan sufiks, dapat disimpulkan bahwa fungsi sintaksis dari seluruh sufiks derivasional dalam penelitian ini adalah mengubah kategori kata dari adjektiva menjadi nomina,. Di samping itu, nomina yang dihasilkan dapat digolongkan ke dalam nomina abstrak, baik nomina yang menyatakan kualitas maupun nomina keadaan (kecuali sufiks –ard, yang membentuk nomina konkret). (a) Le vieillard chef, de M.Béraud de Châtel, un soixante ans. seorang laki-laki tua usia 60 tahun. grand

DEF.m.sg N.m.sg.kepala, Nama

INDEF.m.sg ADJ.m.sg.besar

N.m.sg.laki-laki tua PREP enampuluh tahun ‘Pemimpinnya, tuan Béraud de Chatel,

(b) Sa

tendre exagérait encore POSS3.f.sg.-nya N.f.sikap ADJ.halus V.membesar-besarkan ADV.lagi la souffrance.
DEF.f.sg N.f.sg.penderitaan

nature

‘Pembawaannya yang halus semakin menonjolkan penderitaan’ (c) C’etait une grande fille, d’une beauté Itu INDEF.f.sg ADJ.f.besar N.f.anak perempuan INDEF.f.sg N.f.Kecantikan exquise et turbulente
ADJ.sangat nyaman CONJ.dan ADJ.bergejolak

‘Itu adalah seorang anak perempuan, dengan kecantikan yang sangat enak dipandang dan penuh gejolak.

103

Bentuk-bentuk asal dari ketiga contoh di atas adalah vieille ‘tua’ yang mendapat sufiks {-ard}, souffrante ‘sakit, (merasa) menderita’ mendapat sufiks {ance}, dan beau ‘cantik, indah’ mendapatkan sufiks {-té}. Proses

pembentukannya dapat dikaidahkan sebagai berikut : (a) [vieille]A [[vieille] + -ard]N [[souffrante] + -ance]N

(b) [souffrante]A (c) [beau]A

[[beau] + -té]N

Proses di atas menjelaskan bahwa ketiga bentuk dasar yang berkategori adjektiva (A) diproses dengan penambahan sufiks –ard, -ance, dan –té, berubah kategori katanya menjadi nomina (N). Jadi, semua sufiks yang ditemukan dalam penelitian ini, yaitu {-ité}, {-eur}, {-ence}, {-esse}, {-ise}, {-itude}, {-erie}, {ie}, {-isme}, dan {-ard} berfungsi mentransformasikan A N. Hal ini juga dapat

dibuktikan dengan uji sintaksis, yaitu dengan melihat adanya determinan yang mendahului bentuk turunan yang dihasilkan seperti pada contoh di atas, yaitu artikel indefinit un (untuk n.mask tunggal) pada un grand vieillard ‘seorang lakilaki tua berbadan besar’, artikel definit la (untuk n.fem tunggal) pada la souffrance ‘penderitaan, rasa sakit’, dan artikel indefinit une (untuk n.fem tunggal) pada une beauté ‘kecantikan, keindahan’. Jika dilihat dari gender-nya, nomina yang dihasilkan melalui sufiksasi merupakan nomina yang ber-gender feminin, kecuali nomina yang dibentuk dengan penambahan sufiks {-isme} dan {ard} yang hanya dapat membentuk nomina maskulin. Dalam tata bahasa Perancis,

104

determinan merupakan hal yang wajib hadir mendahului suatu nomina yang disesuaikan dengan gender dan number dari nominanya. Selain dilihat dari adanya determinan di depan bentuk turunannya, perubahan adjektiva menjadi nomina juga dapat dilihat dari fungsinya dalam frasa atau kalimat. Bentuk dasar adjektiva hanya dapat berfungsi sebagai kualifikator atau penjelas yang menerangkan keadaan/kualitas dari nomina yang

diterangkannya. Sebaliknya, sebuah nomina dapat menduduki posisi, baik subjek, objek, maupun komplemen. i) Isabelle est
Nama

curieuse

V.adalah ADJ.ingin tahu, penasaran

‘Isabelle penasaran’

ii) Sa

curiosité

est causé

par la bruit

bizzare dans

POSS3.f.sg N.f.rasa penasaran PAS.disebabkan oleh N.f.sg.bunyi ADJ.aneh dalam

l’ascenseur
N.m.sg.lift ‘Rasa penasarannya disebabkan

oleh bunyi aneh di dalam lift’

Pada contoh kalimat di atas, terlihat bahwa kata curieuse ‘ingin tahu/penasaran’ pada kalimat pertama berkategori adjektiva yang fungsinya sebagai penjelas atau menerangkan keadaan subjeknya (atributif), yaitu Isabelle yang merasa penasaran. Kemudian pada kalimat kedua, terlihat bentuk curiosité ‘keingintahuan/rasa penasaran’ yang berasal dari bentuk dasar curieuse + {-ité} sehingga menjadi bentuk turunan yang berkategori nomina. Hal ini terjadi karena bentuk curiosité mendapat determinan posesif sa ‘(milik)nya’. Selain itu, jika dilihat dari fungsinya pada kalimat, kata tersebut menduduki posisi subjek (inti).

105

Jadi, nominalisasi ini juga membawa dampak pada perubahan fungsi kata dalam frasa/kalimat. Setelah mengetahui fungsinya, selanjutnya akan dibahas mengenai makna yang dimunculkan oleh sufiks-sufiks derivasional yang diimbuhkan pada bentuk dasar adjektiva tersebut. Selain makna yang muncul dari proses sufiksasi, juga akan dibahas mengenai makna yang muncul sebagai hasil dari nominalisasi adjektiva dengan cara konversi.

6.2 Makna Gramatikal dari Proses Nominalisasi Adjektiva dengan cara Sufiksasi Suatu pembahasan morfologi tidak berhenti pada analisis proses pembentukan kata saja. Dalam proses pembentukan kata, bukan bentuk kata saja yang berubah, tetapi akan disertai pula dengan perubahan makna. Beberapa pakar membedakan istilah makna dengan arti. Arti dikatakan menyangkut makna leksikal dari kata-kata itu sendiri, yang cenderung terdapat dalam kamus sebagai leksem. Menurut Chaer (2002:62), makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenis semantiknya, dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal, Makna leksikal biasanya dipertentangkan dengan makna gramatikal. Kalau makna leksikal berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya, maka makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi .

106

Sejalan dengan pendapat itu, Verhaar (1996:125) mengemukakan pendapat bahwa dalam kata turunan, selain makna leksikal yang terkandung pada unsur yang bersangkutan, maka pada morfologi terdapat pula makna lain, yaitu makna gramatikal. Jadi, dalam pembentukan kata kompleks, selalu melibatkan bentuk asal atau dasar dan afiks sebagai alat pembentuknya, di mana bentuk asal atau dasar (kecuali dasar terikat) telah mempunyai makna yang disebut makna leksikal, sedangkan afiks memiliki makna gramatikal. Kridalaksana (1988:23) mengemukakan bahwa hasil akhir dari proses pembentukan kata ialah makna leksikal ditambah dengan makna gramatikal. Afiks sebenarnya tidak mempunyai makna, namun afiks akan menjadi bermakna apabila sudah dibubuhkan pada bentuk asal atau bentuk terikat. Kombinasi afiks mempunyai bentuk dan makna gramatikal tersendiri yang muncul bersamaan dengan makna bentuk asal. Dalam penelitian ini, analisis makna sufiks pembentuk nomina dari dasar adjektiva menggunakan teori yang diungkapkan oleh Chaer dan para linguis di atas. Dalam hal ini, makna dan arti dianggap sebagai dua istilah yang berbeda, namun memiliki arti yang sama, yaitu arti leksikal dan arti gramatikal adalah sama dengan makna leksikal dan makna gramatikal. Makna yang terbentuk dari proses nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis berkaitan dengan makna gramatikal karena bentuk turunan yang mempunyai kategori nomina terjadi karena adanya proses gramatikal yaitu sufiksasi. Selain proses sufiksasi, proses pembentukan kata dalam penelitian ini

107

juga dapat melalui cara konversi, di mana makna kata turunannya akan lebih jelas tampak dalam hubungannya dengan unsur-unsur lain dalam kesatuan yang lebih besar, yaitu klausa dan kalimat. Berdasarkan hal tersebut, di bawah ini dibahas makna gramatikal yang terbentuk dari proses nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis. (a) Nomina abstrak yang bermakna kualitas Dari segi makna, beberapa sufiks derivasional, yaitu sufiks {-ité}, {-eur}, {-esse}, {-erie}, dan {-ie} menghasilkan makna gramatikal yaitu memberi makna kualitas seperti yang disebutkan oleh adjektivanya. Untuk

mengetahuinya, dapat dilihat pada beberapa contoh berikut ini. • Mme. Aubertot, avec
Nama

sa

bonté

d’ame

ordinaire,

KONJ.dengan POSS3.f.sg.-nya N.f.sg.kebaikan N.f.sg.jiwa ADJ.biasa

parlait difficilement, ….
V.bicara ADV.dengan sulit

‘Nyonya Aubertot, dengan kebaikan hatinya, sulit untuk berkata’ Pada contoh di atas, bentuk dasar adjektiva bon ‘baik, bagus’ mendapat sufiks {-ité} yang kemudian menjadi bentuk turunan bonté ’kebaikan’, yang dalam konteks kalimat di atas menyatakan kualitas yang dimiliki oleh Mme. Aubertot yang sangat baik hati. de caractère.

La

douceur

DEF.f.sg N.f.sg.kelembutan PREP N.f.sg.karakter

‘Kelembutan sifat’ Selain sufiks {-ité}, pembubuhan sufiks {-eur} juga dapat menghasilkan bentuk turunan yang bermakna kualitas. Pada contoh di atas, bentuk dasar adjektiva douce ‘lembut, halus’ mendapat sufiks {-eur} menjadi la douceur

108

‘kelembutan, kehalusan’ yang menyatakan kualitas dari sifat/karakter yang lembut/halus.

Mme. Aubertot, qui n’
Nama

avait pas

d’enfant, Christine

se prit

, yang NEG.tidak V.mempunyai N.m.sg.anak, V.meletakkan

d’une

tendresse maternellle pour

INDEF.f.sg N.f.sg.kasih sayang ibu

PREP.untuk Nama

‘Nyonya Aubertot, yang tidak punya anak, memberikan kasih sayang ibu pada Christine’ Bentuk dasar tendre ‘halus, lembut’ setelah mendapatkan sufiks {-esse} menjadi bentuk turunan une tendresse (maternelle) yang bermakna ‘kelembutan, kehalusan’. Dalam konteks kalimat di atas, seseorang yang lembut, halus, dan penuh kasih sayang maka ia akan digambarkan mempunyai kualitas seperti seorang ibu. • Eugene avait
Nama

la

plaisanterie

feroce
ADJ.menggebu-gebu

V.mempunyai DEF.f.sg N.f.sg.lelucon

‘Eugene memiliki lelucon yang menggebu-gebu’ Sufiks {-erie} yang diimbuhkan pada bentuk dasar plaisante ‘lucu, menyenangkan’ membentuk nomina plaisanterie ‘sesuatu yang lucu, guyonan’. Jadi,di sini sufiks {-erie} membentuk kata benda abstrak yang menunjukkan sesuatu yang memiliki kualitas seperti yang digambarkan bentuk asalnya, yaitu suatu lelucon atau guyonan yang memiliki sifat lucu atau menyenangkan. • Aristide s’approcha, s’inclina,
Nama

fit

de

la

modestie

V.mendekat V.membungkuk V.melakukan PREP. DEF.f. N.f.kerendahan hati

’Aristide mendekat, membungkuk, menunjukkan kerendahan hati’ Makna yang sama juga dihasilkan oleh pembubuhan sufiks {-ie} pada bentuk dasar modeste ’rendah hati’ menjadi nomina la modestie ‘kerendahan

109

hati’ yang bermakna memiliki kualitas seperti yang disebutkan bentuk dasarnya, yaitu rendah hati. Berdasarkan contoh-contoh kalimat di atas, penggunaan sufiks

derivasional tertentu dapat menghasilkan

makna yang menyatakan kualitas.

Selain itu, konteks kalimat juga sangat berpengaruh dalam menentukan maknanya.

(b) Nomina abstrak yang bermakna keadaan atau kondisi Pembubuhan sufiks derivasional juga dapat membentuk makna gramatikal yang menyatakan keadaan atau kondisi, seperti yang dihasilkan oleh sufiks {ité}, {-eur}, {-ance}, {-esse}, dan {-itude}. Pembentukan ini dapat dilihat pada contoh kalimat-kalimat berikut. • Mais Aristide frémissait de rage
V.gemetar

dans cette pauvreté
N.f.sg.kemiskinan

CONJ.tapi Nama

N.f.sg.kemarahan dalam ini

’akan tetapi Aristide gemetar penuh kemarahan dalam kemiskinan ini’ Pada contoh di atas, bentuk dasar adjektiva pauvre ‘miskin’ mendapat sufiks {-eté} sehingga menghasilkan bentuk turunan pauvreté ‘kemiskinan’ yang berkategori nomina yang menyatakan keadaan. Dalam konteks kalimat di atas, terlihat jelas makna tersebut, yaitu Aristide yang sangat geram akan kondisinya yang miskin. Une soirée d’une fraîcheur aiguë
ADJ.runcing,tajam

INDEF.f.sg N.f.sg.malam N.f.sg.kesejukan

‘suatu malam dengan kesejukan yang menusuk’

110

Bentuk dasar adjektiva fraîche ‘sejuk’ mendapat sufiks {-eur} menjadi une fraîcheur ‘kesejukan’ bermakna suatu keadaan yang digambarkan bentuk dasarnya, yaitu malam dengan keadaan udara yang sejuk. • Un temps de la souffrance indicible

INDEF.m.sg N.m.sg.waktu/masa Prep DEF.f.sg N.f.sg.penderitaan ADJ.tak terperikan

‘Suatu masa penderitaan yang tak terperikan’ Pada contoh di atas, sufiks derivasional {-ance} melekat pada bentuk dasar souffrante ‘penderitaan, rasa sakit’ yang juga bermakna keadaan atau kondisi seperti yang disebutkan bentuk dasarnya. Dalam konteks kalimat tersebut, waktu atau masa yang dimaksud adalah keadaan yang penuh derita dan sangat menyakitkan. Renée, reprise completement par ses les avait baissé

lassitudes, paupières

Nama , V.diambil oleh poss3.f.pl.nya N.f.pl.kebosanan, V.past.telah menutup

ADV.dengan sepenuhmya DEF.f.pl kelopak mata

‘Renee, diambil alih oleh kebosanannya, telah menutup sepenuhnya kelopak matanya’ Dari contoh data di atas, dapat disimpulkan bahwa sufiks {-itude} bermakna ‘keadaan seperti yang disebutkan kata dasarnya’. Pada contoh di atas, bentuk asal lasse ‘bosan, jemu’ saat mendapat sufiks {-itude} menjadi lassitude ‘kebosanan, kejemuan’ yang bermakna dalam keadaan jemu dan bosan. (c) Nomina abstrak yang bermakna proses, tindakan, aksi Makna lain yang terbentuk dari nominalisasi adjektiva adalah menyatakan suatu proses, tindakan, atau aksi. Hal ini dapat dilihat pada penggunaan

111

beberapa sufiks, seperti (-ité}, {-ence}, {-ise}. Pembentukan makna juga tidak dapat dilepaskan dari konteks kalimatnya, seperti yang dapat dilihat pada contoh berikut.

Elle une

le

traitait …….,

avec

PRO.3.f.sg COD.dia V.memperlakukan ….., CONJ.dengan

tranquillité

absolue, ….
ADJ.mutlak

INDEF.f.sg N.f.sg.ketenangan

‘Dia memperlakukannya …….., dengan penuh ketenangan,…’ Pada contoh kalimat di atas, sufiks {-ité} yang mentransformasi bentuk dasar adjektiva tranquille ’tenang’ menjadi nomina tranquillité ’ketenangan’ yang bermakna suatu proses atau tindakan yang sangat tenang. Dalam hal ini, konteks kalimat sangat menentukan dalam pembentukan makna, seperti kata tranquillité ’ketenangan’ tersebut. Jika digunakan dalam konteks yang berbeda seperti dalam kalimat Elle desire une tranquillité ’Dia mendambakan ketenangan’, maka makna yang ditimbulkan tidak lagi bermakna proses atau tindakan, tetapi menyatakan suatu keadaan (yang tenang). Hal yang sama juga dapat terjadi pada penggunaan sufiks yang lainnya. Contoh lain dari nominalisasi adjektiva yang bermakna kedaan adalah berikut ini. Sous écoutait jouée, il

son avec une

indifference attention

ADV.di bawah POSS3.m.sg.-nya N.f.sg.ketakacuhan V.diperlihatkan, PRO3.m.sg.

profonde.

V.mendengarkan dengan DEF.f.sg N.f.perhatian ADJ.f.dalam

‘Dalam ketidakpeduliannya, dia mendengarkan dengan penuh perhatian’. Pada contoh di atas, sufiks derivasional {-ence} melekat pada bentuk dasar adjektiva indifférente ‘acuh tak acuh, tak perduli’ yang menghasilkan bentuk turunan indifference ‘ketidakperduliannya’ yang bermakna tindakan seperti

112

yang disebutkan oleh adjektivanya, yaitu tindakan atau tingkahnya yang acuh tak acuh. Je ne
‘Saya

sais

que

tu

es

intelligent, et que sottise

tu

PRO1.sg.saya V.tahu bahwa PRO2.sg.kamu adalah ADJ.m.pintar, dan bahwa PRO2.sg.

commettrais plus une

improductive….

NEG.tidak lagi V.melakukan

INDEF.f.sg N.f.sg.kebodohan ADJ.menghasilkan

tahu kamu pintar, dan kamu tidak akan lagi melakukan kebodohan yang tak ada artinya’ Bentuk dasar adjektiva sotte ’bodoh’ mendapat sufiks {-ise} sehingga

menjadi nomina sottise ’kebodohan’ yang dalam kalimat tersebut bermakna tindakan atau aksi yang bodoh.

(d) Nomina abstrak yang bermakna sikap, perilaku Nomina turunan yang bermakna sikap atau perilaku dapat ditimbulkan oleh pembubuhan sufiks {-esse}, {-erie}, {-ie}, dan {-isme}.

Il jouant

avait

une

attitude

d’adorable,

distrait par pure politesse

PRO3.sg V.punya INDEF.f.sg N.f.sg.sikap ADJ.menyenangkan ADJ.melamun

du pied, paraissant écouter

V.memainkan N.m.kaki V.terlihat

V.mendengarkan ADJ.murni N..kesopanan

‘Dia punya sikap yang menyenangkan, melamun sambil memainkan kaki, terlihat mendengarkan dengan penuh sikap sopan santun’ Bentuk dasar polie ‘sopan’ yang merupakan kelas kata adjektiva kemudian menjadi nomina setelah mendapatkan sufiks {-esse}, yaitu politesse ‘kesopanan’. Dalam konteks kalimat di atas, kata tersebut dapat bermakna sikap atau perilaku yang sopan. Makna yang sama juga dihasilkan oleh kata galanterie ‘sikap sopan, penuh perhatian terhadap wanita’, yang terlihat pada kalimat berikut :

113

Il inusitée.

souriait

à

l’espace,

il était d’une

galanterie

PRO3.m.sg V.tersenyum PREP.ke N.m.sg.ruang, itu adalah IND.f.sg ADJ.sikap sopan

ADJ.tidak biasa

‘Dia tersenyum ke semua orang dalam ruangan, itu adalah sikap sopan yang tidak biasa’ Sufiks {-erie} yang diimbuhkan pada bentuk dasar galant ‘penuh perhatian terhadap wanita’ membentuk nomina feminin galanterie yang bermakna sikap atau perilaku yang sangat sopan atau penuh perhatian. Il avait un égoïsme trop large

PRO3.m.sg V.punya N.keegoisan

ADV.terlalu ADJ.luas

‘Dia mempunyai sikap egois yang terlalu besar Makna sikap atau perilaku (yang disebutkan bentuk dasarnya) juga dapat dilihat pada kalimat di atas, yaitu bentuk dasar adjektiva égoiste ‘egois’ menjadi nomina abstrak feminin égoisme ‘keegoisan, sikap egois’ yang bermakna sikap atau perilaku seseorang yang lebih mementingkan diri sendiri.

(e) Nomina abstrak yang bermakna prinsip, doktrin, paham/ideologi Nomina yang bermakna suatu prinsip atau paham/ideologi dapat dihasilkan dari penggunaan sufiks {-isme} pada bentuk dasar adjektiva seperti social ‘sosial’ yang menjadi nomina socialisme ‘sosialisme’ yang bermakna suatu paham/doktrin sosial atau paham yang bersifat kemasyarakatan. Hal yang sama juga terbentuk dari bentuk adjektiva dasar feodal ‘feodal’ yang

membentuk nomina feodalisme ‘kefeodalan, feodalisme’ yang juga bermakna suatu paham yang bersifat feodal. Kemudian communisme ‘komunisme’ yang

114

berasal dari bentuk dasar communiste ‘bersifat komunis’ yang maknanya adalah suatu doktrin atau ideologi yang dianut, yaitu ideologi komunisme. • La premiere phase du communisme

DEF.f.sg pertama

N.tahap PREP N.m.komunisme

‘tahap awal dari komunisme’ Contoh lain yang juga menggambarkan sebuah prinsip atau doktrin adalah bentuk turunan feminisme ‘femisme’ yang berasal dari bentuk dasar feministe ‘feminin’ yang mendapat sufiks {-isme} kemudian menjadi bermakna suatu prinsip atau doktrin yang mengacu pada aliran yang membela hak-hak kaum perempuan.

(f) Nomina abstrak yang bermakna emosi, perasaan Sufiks-sufiks seperti sufiks {-esse} dan {-itude} juga dapat membentuk nomina abstrak yang bermakna suatu emosi atau perasaan.

Renée sentit au cœur.

toutes

ses

tristesses

lui

remonter

Nama V.merasa ADV.f.pl.semua POSS3.f.pl.nya N.f.kesedihan OBJ.Ind.dia V.naik

PREP.ke N.m.sg.jantung

‘Renée merasa semua kesedihannya merasuki jantungnya.’ Bentuk dasar triste ‘sedih’ yang merupakan kelas kata adjektiva kemudian menjadi nomina setelah mendapatkan sufiks {-esse} menjadi tristesse ‘kesedihan’. Makna nomina yang terbentuk menggambarkan emosi yang dirasakan oleh Renée, yaitu rasa sedih yang merasuki hatinya. • En entrant, les convives, eurent
V.masuk N.f.pl.tamu

une

expression

V.menunjukkan INDEF.f.sg N.f.sg.ekspresi

115

de béatitude

discrète

N.f.sg.kebahagiaan ADJ.tersembunyi

‘Saat masuk, para tamu menunjukkan sebuah ekspresi kebahagiaan yang tak kentara’ Bentuk turunan béatitude ‘kebahagiaan (yang sempurna)’ yang berasal dari bentuk asal béat ‘puas, senang’ yang mendapat sufiks {-itude} sehingga maknanya menggambarkan suatu emosi atau ekspresi kepuasan. Makna ini semakin diperjelas jika melihat penggunaannya dalam frasa di atas, yaitu une expression de béatitude dicrète ‘suatu ekspresi penuh kebahagiaan (kepuasan) yang disembunyikan’ yang berarti ada emosi bahagia atau puas yang dirasakan oleh para tamu.

(g) Nomina konkret yang bermakna seseorang yang memiliki kualitas Jika sebelumnya dikatakan bahwa sufiks-sufiks di atas dapat membentuk nomina abstrak, maka ada pula salah satu sufiks yang dapat membentuk nomina konkret yang bermakna seseorang dengan kualitas seperti yang disebutkan bentuk dasarnya, seperti pada contoh berikut ini. • Elle resta ramena entre ce la petite vieillard à son père, et

PRO3.f.sg V.mengajak DEF.f.sg ADJ.kecil PREP POSS3.m.sg N.m.ayah, KONJ.dan

silencieux et cette blondine souriante.
dan DEM.f N.berambut pirang

V.tinggal diantara DEM.m N.Laki-laki tua ADJ.diam

‘Dia membawa si kecil kepada ayahnya, dan diam di antara laki-laki tua yang terdiam itu dan si anak pirang yang sedang tersenyum.’ • un gros richard
INDEF.m.sg ADJ.besar,gendut N.m.kaya

‘Orang kaya sekali’

116

Bentuk asal vieille ‘tua’ dan riche ‘kaya’ ketika mendapat sufiks {-ard} akan menjadi bentuk turunan ce vieillard ‘orang laki-laki tua ‘ dan richard ‘orang kaya’ yang bermakna orang yang memiliki kualitas seperti yang disebutkan bentuk dasarnya. Jadi, sufiks {-ard} ini berfungsi membentuk nomina maskulin yang menyatakan bahwa nomina tersebut termasuk ke dalam suatu kelas tertentu seperti yang disebutkan bentuk dasarnya. Berdasarkan uraian makna yang terbentuk dari penggunaan sufiks derivasional pada nominalisasi adjektiva, dapat disimpulkan bahwa sufiks-sufiks tersebut membentuk nomina abstrak yang menyatakan kualitas, keadaan, proses atau tindakan. Di samping itu dapat pula bermakna ide, paham, ataupun konsep, yang kesemuanya tidak dapat dilihat dan disentuh oleh pancaindra. Hanya satu sufiks yang dapat membentuk nomina konkret yaitu sufiks {–ard} yang bermakna orang yang memiliki kualitas seperti yang disebutkan bentuk dasarnya.

6.3 Makna Gramatikal dari Proses Nominalisasi dengan Konversi Selain dengan pembubuhan sufiks yang telah dijelaskan sebelumnya, pembentukan nomina dari dasar adjektiva juga dapat dilakukan dengan cara konversi. Perubahan kategori kata dari kelas adjektiva menjadi nomina juga membawa perubahan makna dan fitur semantis pada bentuk turunannya. Makna yang terbentuk dari cara konversi ini akan berbeda dengan makna yang dihasilkan dengan pembubuhan sufiks walaupun bentuk dasar yang digunakan adalah sama.

117

Penjelasan makna sebagai hasil dari proses konversi ini diuraikan pada analisis berikut. Berdasarkan nomina acuannya atau nomina yang dideskripsikan oleh adjektivanya, nominalisasi adjektiva dengan cara konversi ini dibagi menjadi tiga bagian. Pembagian ini juga mengandung makna yang dibentuk dalam proses pembentukan atau pentransformasian adjektiva menjadi nomina dengan tanpa adanya penambahan sufiks (zero morfem). (1) Nomina konkret yang bermakna seseorang yang memiliki sifat atau kualitas seperti yang disebutkan bentuk dasarnya. Adjektiva dapat menjadi nomina ketika digunakan untuk menggambarkan atau merepresentasikan manusia maupun binatang yang memiliki karakteristik seperti bentuk dasarnya. Dengan kata lain, nominalisasi adjektiva ini dilakukan dengan menampilkan kualitas yang dimiliki referennya dan dianggap sebagai pengganti atau representasi dari nomina tersebut. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut. (a) Ses intimes le prenaient pour un paresseux.

POSS3.pl ADJ.akrab COD.dia V.membawa untuk INDEF.m.sg ADJ.malas

’Orang orang dekatnya membuat dia menjadi seorang pemalas’ Dari contoh kalimat di atas, diketahui bahwa pembentukan nomina dari dasar adjektiva terjadi dengan cara konversi. Pada contoh (a) kata intimes ‘akrab, karib, intim’ merupakan bentuk dasar adjektiva yang mendapat sufiks infleksional –s sebagai penanda jamak sehingga ses intimes di sini bermakna ‘orang-orang dekatnya’. Begitu pula dengan adjektiva paresseux ‘malas’ yang

118

bertransformasi menjadi nomina dengan adanya artikel indefinit un sehingga maknanya menjadi ‘(seorang) pemalas’. Jadi, dalam konversi ini, karakteristik atau kualitas yang dimiliki oleh seseorang dijadikan sebagai representasi dari nomina yang dimaksud. (b) Un la soir, malade ne le médecin leur passerait pas la avoua nuit que

INDEF.m.sg N.sore DEF.m.sg N.dokter COI.mereka V. mengaku

DEF.f.sg ADJ.sakit NEG.tidak V.melewati

DEF.f.sg N.malam

‘Suatu sore, dokter mengakui pada mereka bahwa si sakit tidak dapat melewati malam ini.’ Hal yang serupa juga terjadi pada contoh (b) yaitu adjektiva malade ‘sakit’ mengalami konversi menjadi nomina dengan adanya sebuah determinan di depan adjektiva tersebut, yaitu la sehingga menjadi la malade ‘si (orang) sakit’. Yang dimaksud la malade dalam konteks ini adalah seseorang yang sedang sakit yaitu seseorang yang bernama Angèle (sudah definit). Jadi, keadaan yang dialami oleh Angèle yaitu sedang sakit (malade) digunakan sebagai sebutan untuk Angèle itu sendiri. Akan tetapi penulis tidak mencantumkan nama Angele lagi karena pembaca sudah tahu pasti siapa yang dimaksud la malade ‘si sakit’ tersebut. (c) C’est et

un

jaloux

un

envieux

Itu adalah INDEF.m.sg ADJ.cemburu KONJ.dan INDEF.m.sg ADJ.iri hati

‘Ia seorang yang pencemburu dan seorang yang iri hati’ Bentuk nominalisasi adjektiva yang bermakna seseorang yang memiliki kualitas seperti yang disebutkan bentuk dasarnya juga sangat jelas terlihat pada contoh c) yaitu bentuk asal jaloux ‘cemburu’ menjadi un jaloux ‘(seorang) pencemburu’ dan envieux ‘iri hati’ menjadi un envieux ‘seorang yang selalu iri

119

hati’. Determinan un (artikel indefinit maskulin tunggal) yang digunakan dapat diartikan ‘seorang’ sehingga ketika dirangkaikan dengan adjektiva akan membentuk makna ‘seseorang yang (seperti yang dideskripsikan oleh adjektivanya)’. Dalam konversi yang mengacu pada makhluk hidup ini, penentuan makna dan acuannya sangat tergantung dari konteks kalimat ataupun konteks percakapan. Hal ini juga akan mempengaruhi penggunaan determinan dan bentuk adjektiva yang tepat, yaitu harus sesuai dengan gender dan number dari nomina yang diacu. Penyesuaian ini sangat jelas tampak pada contoh (a) di mana di depan adjektiva maskulin paresseux ‘malas’ terdapat determinan un yang digunakan untuk menunjuk nomina maskulin tunggal. Dalam konteks kalimat di atas, yang dikatakan sebagai (orang) pemalas ini adalah Aristide (laki-laki). Berbeda halnya jika yang diacu adalah seorang perempuan, maka penulis pasti akan membuatnya menjadi une paresseuse. Selain itu dengan penggunaan un pembaca akan segera mengetahui bahwa objeknya adalah seorang pria. Demikian pula pada contoh (b) di mana di depan adjektiva malade ‘sakit’ terdapat sebuah determinan la yaitu penanda definit yang digunakan untuk menunjuk nomina feminin tunggal. Penggunaan artikel la ini sudah sesuai dengan konteks di mana nomina yang ingin diacu adalah seorang perempuan yang bernama Angele (sudah definit).

120

(2) Nomina konkret yang bermakna sesuatu yang memiliki sifat atau kualitas seperti bentuk dasarnya Bentuk konversi adjektiva menjadi nomina dapat pula mengacu pada suatu benda [-bernyawa]. Tujuannya juga untuk menonjolkan ciri atau kualitas yang ada pada benda tersebut yang dapat dianggap sebagai perwujudan dari benda acuannya. Contoh konversi adjektiva ini dapat dilihat pada contoh seperti le creux d’un arbre ‘cekungan atau lubang sebuah pohon’. Kata creux merupakan adjektiva yang berarti ‘cekung’ menjadi nomina dengan adanya determinan le (artikel definit unutk nomina maskulin tunggal) bermakna ‘sesuatu yang cekung’ ‘cekungan/ceruk’. menjadi le creux yang

(3) Nomina abstrak yang bermakna memiliki kualitas atau sifat seperti bentuk dasarnya Bentuk yang terakhir adalah nominalisasi adjektiva yang mengacu pada sesuatu yang abstrak. Bentuk konversi adjektiva yang maknanya mengacu pada sesuatu yang abstrak (le beau ‘yang indah dari, indahnya’) banyak sekali dijumpai dalam percakapan bahasa Perancis. Bentuk yang seperti ini dapat dilihat pada contoh berikut.
(a)

Tout etait là.

le

luxe

de

l’ancienne bourgoisie parisienne
N.f.sg.borjuis Nama

ADV.semua DEF.m.sg ADJ.mewah PREP ADJ.lama

adalah ADV.disana

’Segala kemewahan dari mantan seorang borjuis dari Paris ada disana’

121

(b) Elle

craint

le

chaud

autant que le

froid

PRO3.f.sg.dia V.menahan DEF.m.sg ADJ.panas daripada

DEF.m.sg ADJ.dingin

‘Dia lebih tahan panas daripada dingin’ (c) Le mal empira.
DEF.m.sg ADJ.buruk V.memburuk

‘Hal yang buruk terjadi’ Dari ketiga contoh di atas, terlihat bahwa bentuk dasar adjektiva tidak mengalami perubahan bentuk. Namun, yang terjadi di,sini adalah perubahan kategori kata, yaitu dari kelas kata adjektiva menjadi kelas kata nomina. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah terjadinya perubahan makna yang menyertai transformasi tersebut. Jika dilihat dari bentuk turunan yang dihasilkan, maka nomina yang terbentuk merupakan nomina abstrak, baik yang menyatakan kualitas maupun keadaan. Pada contoh(a) adjektiva luxe ‘mewah’ menjadi

nomina le luxe yang mempunyai makna ‘kemewahan, hal yang (bersifat) mewah’. Begitu pula dengan contoh (b) adjektiva chaud ‘panas’ dan froid ‘dingin’ yang bentuk konversinya masing-masing menjadi le chaud ‘hawa panas’ dan le froid ‘hawa dingin’. Sebaliknya pada contoh (c) bentuk adjektiva mal ‘buruk, tidak baik’ menjadi nomina le mal yang maknanya ‘(suatu) hal buruk’. Semua nomina yang terbentuk merupakan nomina abstrak atau nomina yang mempunyai fitur semantik [- konkret]. Satu hal yang membedakan nominalisasi adjektiva yang menggambarkan nomina abstrak dengan nominalisasi adjektiva yang menggambarkan makhluk hidup dan benda adalah dalam hal penggunaan determinan yang mendahului nomina turunan yang terbentuk. Jika dalam nominalisasi yang mengacu pada makhluk hidup dan benda, determinan dan adjektiva yang digunakan sangat

122

tergantung dari gender dan number dari nomina yang diacu. Sebaliknya, konversi adjektiva menjadi nomina abstrak, determinan yang digunakan tidak bergantung dari gender dan number, melainkan hanya bisa didahului oleh determinan untuk nomina maskulin tunggal. Perbedaan dalam hal ini dapat dilihat pada contoh berikut. (1) Les méchants et les bons

DEF.m.pl Adj.m.jahat dan DEF.m.pl. ADJ.m.baik

‘Mereka (orang-orang) yang jahat dan mereka yang baik’ (2) Il fait le mechant
PRO3.m.sg.dia V.melakukan DEF.m.sg ADJ.m.jahat

‘Dia melakukan kejahatan’ Bentuk konversi yang pertama, yaitu les méchants bermakna ‘(orangorang) yang jahat’ sudah pasti mengacu atau menggambarkan nomina [+ bernyawa], sedangkan bentuk konversi kedua yang berasal dari adjektiva yang sama, yaitu le méchant mempunyai makna ‘hal yang jahat, kejahatan’. Selain makna dan referen yang berbeda, penggunaan determinan pun menunjukkan perbedaan. Pada bentuk pertama, digunakan artikel definit les (maskulin/feminin, jamak) yang memang mengacu pada nomina jamak yang juga menyebabkan penambahan –s pada adjektivanya sebagai penanda jamak. Sebaliknya, pada bentuk kedua, digunakan artikel definit le (hanya untuk nomina maskulin, tunggal). Hal ini terjadi karena bentuk abstrak ini menggambarkan sesuatu secara umum atau general, bukan milik salah satu gender. Kemungkinan untuk menciptakan kata benda abstrak dengan mengkonversi adjektiva tergantung pada distribusi kata sifat yang dijadikan masukan. Kata sifat yang biasanya dikombinasikan dengan manusia atau sesuatu yang [+bernyawa],

123

seperti amoureux ’jatuh cinta’, malade ’sakit’, beau/belle ’cantik’, dan lain-lain, maka akan membentuk nominalisasi adjektiva yang mengacu pada manusia. Sebaliknya, kata sifat yang biasanya bergabung dengan benda akan membentuk nomina yang mengacu pada suatu gagasan abstrak. Namun, terdapat batas yang kurang jelas antara adjektiva mana yang biasanya dikombinasikan dengan makhluk hidup dan adjektiva mana yang biasanya digabungkan dengan benda. Hal itu terjadi karena terkadang ditemukan adjektiva yang dapat mengacu pada keduanya, misalnya adjektiva beau/belle ‘bagus, indah, elok’ yang dapat digunakan untuk menggambarkan makhluk hidup maupun benda. Jadi, jika adjektiva beau dikonversi menjadi nomina, maka nomina yang dihasilkan dapat bersifat konkret dan dapat pula bersifat abstrak, seperti pada contoh berikut ini. (1) Il n’ aime que le beau

PRO3.m.sg hanya V.suka

DEF.m.sg ADJ.indah/cantik

‘Dia hanya menyukai hal-hal yang indah’. (2) Il est avec la belle
PRO3.m.sg adalah dengan DEF.f.sg ADJ.cantik

‘Dia bersama si juwita’. Pada bentuk pertama, le beau bermakna ‘segala hal yang indah, bagus’ yang merupakan nomina abstrak, sedangkan pada bentuk kedua la belle mempunyai makna ‘si jelita, cantik’ yang merupakan nomina yang mengacu pada manusia. Oleh karena referen yang dimaksud merupakan seseorang yang bergender feminin, maka digunakanlah kata belle yang merupakan bentuk feminin dari adjektiva beau. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa nominalisasi adjektiva dengan cara konversi dapat membawa makna yang berbeda walaupun bentuk

124

yang dihasilkan adalah sama. Hal ini bergantung pada acuan atau referen yang ingin digambarkan oleh bentuk nominalisasi tersebut sehingga pemakaiannya harus disesuaikan dengan konteks di dalamnya, serta diikuti oleh penyesuaian determinan yang akan digunakan di depan bentuk konversi tersebut.

125

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan Penelitian ini mengulas nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis yang meliputi pengidentifikasian afiks-afiks pembentuk nomina dari dasar adjektiva, proses pembentukan kata, baik dengan afiks maupun dengan

penambahan zero morfem atau dengan cara konversi, serta analisis fungsi dan makna yang terbentuk dari tiap-tiap proses yang terjadi. Pembahasan proses pembentukan kata menggunakan Teori Morfologi Generatif model Aronoff (1976) yang dalam penelitian ini dapat diterapkan dengan baik karena sesuai dengan struktur morfologi bahasa Perancis yang merupakan bahasa fleksi dan dalam pembentukan katanya sering memerlukan adanya penyesuaian berupa kaidah alomorfi dan pemenggalan. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan halhal sebagai berikut. (1)Dalam nominalisasi adjektiva, tipe afiks yang ditemukan hanyalah berupa sufiks derivasional yang terdiri atas sufiks {-ité}, {-eur}, {-ence}, {-esse}, {ise}, {-itude}, {-erie}, {-ie}, {-isme}, dan {-ard}. (2)Pada proses pembentukan kata yang menggunakan Teori Morfologi Generatif model Aronoff, terdapat komponen leksikal yang berisikan adjektiva yang menjadi bentuk dasar dalam proses pembentukan nomina. Komponen

125

126

berikutnya adalah yaitu :

Kaidah Pembentukan Kata yang dibagi menjadi dua,

a. Nominalisasi adjektiva dengan menggunakan sufiks derivasional. Proses pembentukan katanya dapat dikaidahkan dengan [A] [[A] + Sufiks].

b. Proses pembentukan nomina dari dasar adjektiva juga dapat dilakukan dengan cara konversi, yaitu pentransformasian adjektiva menjadi nomina dengan zero morfem atau tanpa pembubuhan sufiks. Pembentukan kata dengan konversi dapat dikaidahkan dengan A [A + ø]N. Setelah

adjektiva dikonversi menjadi nomina, maka proses terakhir adalah peletakan atau penggunaan determinan yang sesuai dengan fungsinya, seperti le beau ‘hal yang indah’, le froid ‘dinginnya, hawa dingin’, la petite ‘si kecil’, dan lain-lain ; sehingga kaidah akhirnya menjadi A Det + N Setelah komponen KPK, dilanjutkan dengan Kaidah Penyesuaian yang terdiri atas Kaidah Alomorfi dan Kaidah Pemenggalan. Dalam proses pembentukan kata, sering kali terjadi perubahan bentuk, baik pada bentuk dasar maupun pada sufiksnya, sehingga beberapa sufiks akan mempunyai bentuk alomorfi. Di samping itu, beberapa bentuk dasarnya juga mengalami pemenggalan untuk membentuk suatu kata baru yang berkategori nomina. (3) Dari analisis fungsi dan makna, diketahui bahwa sufiks-sufiks tersebut berfungsi untuk membentuk nomina dari bentuk dasar adjektiva. Selanjutnya N

127

makna yang terbentuk akibat proses pembentukan nomina ini adalah sebagai berikut. a. Nomina abstrak yang bermakna kualitas, seperti bonté ’kebaikan’, douceur ’kelembutan’, tendresse ’kasih sayang’, plaisanterie

’lelucon’, dan lain-lain. b. Nomina abstrak yang bermakna keadaan atau kondisi, seperti pauvreté ’kemiskinan’, fraicheur ’kesejukan’, souffrance ’penderitaan’,

lassitude ’kebosanan’, dan lain-lain. c. Nomina abstrak yang bermakna proses, tindakan dan aksi, seperti tranquillité ‘ketenangan’, indifference ‘ketidakpeduliannya’, sottise ‘kebodohan’, dan sebagainya. d. Nomina abstrak yang bermakna sikap atau perilaku, seperti politesse ’sikap sopan santun’, galanterie ’sikap sopan terhadap wanita’, egoisme ’sikap egois’, dan lain-lain. e. Nomina abstrak yang bermakna prinsip, doktrin, paham/ideologi; dibentuk oleh sufiks {–isme}, seperti socialisme ’paham

kemasyarakatan, communisme ’ideologi komunis’, dan lain-lain. f. Nomina abstrak yang bermakna emosi, perasaan, seperti tristesse ‘kesedihan’, béatitude ‘kebahagiaan’. g. Nomina konkret yang bermakna seseorang yang memiliki kualitas, seperti vieillard ’laki-laki tua’, richard ’orang kaya’.

128

Sebaliknya,

untuk

nominalisasi

adjektiva

dengan

cara

konversi,

diketemukan tiga jenis makna, yaitu 1) nomina konkret yang bermakna seseorang yang memiliki sifat atau kualitas seperti bentuk dasarnya, dimana determinan yang digunakan harus sesuai gender dan number dari referennya, seperti le pauvre ‘si miskin’, la belle ‘si cantik’, le doux ‘si (anjing) lembut’, dan lain-lain ; 2) nomina konkret yang mengacu pada benda, seperti le creux ‘lubang’ ; dan 3) nomina abstrak yang bermakna memiliki kualitas, dengan penyesuaian determinan yang hanya mneggunakan bentuk maskulin tunggal seperti le luxe ‘kemewahan’, le froid ‘udara dingin’, le beau ‘sesuatu yang indah’.

7.2 Saran Kajian nominalisasi adjektiva dalam bahasa Perancis dengan

menggunakan Teori Morfologi Generatif masih berupa rintisan sehingga masih banyak fenomena morfologi yang belun terungkap. Hasil analisis yang diperoleh bersifat terbuka atas berbagai kritik dan saran, juga terbuka untuk penelitian lanjutan. Kajian lain yang dapat diteliti sebagai penelitian lanjutan, antara lain struktur frasa yang terbentuk melalui proses nominalisasi, kajian suprasegmental terhadap penggunaan nominalisasi adjektiva ini dalam sebuah ujaran bahasa Perancis.

129

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Aminuddin. 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang : Yayasan Asih Asah Asuh Malang Arifin, Winarsih dan Farida Soemargono, 1999. Kamus Perancis Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Aronoff, Mark. 1976. Word Formation in Generative Grammar. United States of America: Massachusetts Institute of Technology. Baker, Mark. C. 2004. Lexical Categories: Verbs, Nouns, and Adjectives. New York: Cambridge University Press. Bauer, Laurie. 1983. English Word Formation. London: Cambridge University Press. Bauer, Laurie.1988. Introducing Linguistic Morphology. Great Britain: Edinburgh University Press. Booij, Geert. 2007. The Grammar of Words: An Introduction to Linguistic Morphology (Second Edition). United States: Oxford University Press Inc. New York. Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Chevalier, Jean-Claude. dkk. 1993. Grammaire du Fran ais Contemporain. France: Larousse. Danandjaja, James. 1990. “Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Foklor” dalam Aminuddin (Editor). Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Djardjowidjojo, Soenjono. 1998. Morfologi Generatif : Permasalahannya. Jakarta : Lembaga Bahasa Atmajaya. Teori dan

Dubois, Jean & Rene Langane. 1973. La Nouvelle Grammaire du Fran ais. France, Montparnasse: Larousse.

128

130

Gardes-Tamine, Joëlle. 2001. La Grammaire 2: Syntaxe (troisieme edition revue et augmenté). Paris: Armand Colin. Halle, Morris. 1973. “Prolegomena to a Theory of Word Formation in English”. Linguistic Inquiry, Vol. IV, No.1 Katamba, F. 1993. Morphology. London: The Macmillan Press Ltd. Keraf, Gorys. 1984. Tatabahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah Kridalaksana, Harimurti. 1996. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia. Lauwers, Peter. 2008. ‘The Nominalization of Adjectives in French: From Morphological Conversion to Categorial Mismatch1”. Folia Linguistika Vol 42/1, 135-176. Mouton de Gruyter – Societas Linguistica Europaea. Lessard, Greg. 1996. Introduction à la Linguistique Française. Études Françaises, Queen's University. Canada Lyons, J. 1995. Pengantar Teori Linguistik (Terjemahan). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Matthews, P.H. 1974. Morphology: An Introduction to The Theory of Word Structure. London:Cambridge University Press. Pramesti, Dewi Yudha. 2008. “Ajektiva Derivasional dalam Bahasa Jepang : Sebuah Kajian Morfologi Generatif”. (Tesis) Denpasar : Universitas Udayana. Ramlan, M. 1978. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: Karyono. Roy, Isabelle. 2007. “Nominalizations and the Structure of Adjectives.” Workshop: “Nominalizations across languages’, 29 Nov-1 Dec 2007, Stuttgart. [cited 2010 Oct. 28]. Available from: http://web.unifrankfurt.de/fb10/rathert/forschung/pdfsnom/roy.pdf Sajarwo. 2003. “Sistem Ketakrifan dalam Bahasa Perancis”. Humaniora Volume XV, No.2/2003. Yogyakarta. Samsuri. 1981. Kamus Istilah Linguistik Transformasi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Samsuri. 1982, Analisis Bahasa. Jakarta: Airlangga.

131

Scalise, Sergio. 1984. Generative Morphology. Dordrecht: Fortis Publication Schane, S.A. 1968. French Phonology and Morphology. Cambridge, MA : MIT Press. Simpen, I Wayan. 2008. “Afiksasi Bahasa Bali : Sebuah Kajian Morfologi Generatif.” Jurnal Linguistika. September, Vol.15 No.29. Spencer, Andrew. 1991. Morphological Theory: An Introduction to Word Structure in Generative Grammar. Cambridge : Basil Blackwell Ltd. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Zola, Emile. 1872. La Curée. Paris: Librairie Générale Francaise.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times