1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pengaturan dalam suatu peradilan secara yuridis formal tentang putusan bebas (vrijspraak) yang berkorelasi dengan upaya hukumnya, khususnya berupa upaya hukum kasasi terhadap perkara pidana, tercantum dalam rumusan Pasal 244 KUHAP, sebagai berikut: “Terhadap putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain dari pada Mahkamah Agung, terdakwa atau penuntut umum dapat mengajukan permintaan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agung kecuali terhadap putusan bebas.” Berdasarkan rumusan redaksional Pasal 244 KUHAP tersebut, yakni pada bagian kalimat terakhir tampak bahwa secara yuridis normatif KUHAP telah menutup kesempatan bagi Jaksa Penuntut Umum untuk mengajukan upaya hukum kasasi terhadap putusan bebas (vrijspraak) tersebut. Dalam praktek peradilan pidana akhirnya terjadi perkembangan yang dimotori oleh pihak eksekutif, yakni Departemen Kehakiman Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI Nomor: M. 14-PW. 07. 03. Tahun 1983 tanggal 10 Desember 1983 tentang Tambahan Pedoman Pelaksanaan KUHAP, dalam butir 19 pada Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman tersebut ditetapkan, bahwa: “Terhadap putusan bebas tidak dapat dimintakan banding tetapi berdasarkan situasi, dan kondisi, demi hukum, keadilan dan kebenaran, terhadap putusan bebas dapat dimintakan kasasi. Hal ini akan didasarkan pada yurisprudensi.

2

Keberadaan yurisprudensi yang dilandasi keluarnya Keputusan Menteri Kehakiman RI Nomor: M. 14-PW. 07. 03 Tahun 1983 tanggal 10 Desember 1983 tersebut, di bidang substansi putusan bebas dengan upaya hukum yang menyertainya masih selalu menjadi wacana kalangan teoritisi maupun praktisi oleh karena Keputusan Menteri Kehakiman tersebut mengenyampingkan Pasal 244 KUHAP sehingga menimbulkan berbagai interpretasi atau multi tafsir yang menambah rancunya esensi putusan bebas yang dicanangkan oleh KUHAP. Kasus pidana yang diselesaikan dengan amar putusan bebas bukan hal yang baru.Putusan bebas memiliki proses hukum yang tidak pendek, kronologis peradilan dengan putusan bebas terkadang mengundang reaksi dan kecaman dari pihak yang dirugikan. Alasannya tindakan pidana yang dilakukan terdakwa cukup jelas dengan bukti-bukti yang diperoleh dilapangan dan diperkuat dengan alat bukti serta saksi-saksi yang menurut hukum dapat digunakan untuk memberatkan terdakwa, namun proses peradilan yang berlangsung malah dapat memberikan saksi ringan bahkan putusan bebas (vrijspraak). Yuridis dari sebuah keputusan bebas kepada pihak terdakwa tidak dapat diintervensi oleh pihak manapun karena hal tersebut memiliki nilai hukum yang kuat dan keputusan bebas bersumber dari penilaian dan pertimbangan hakim atas data dan fakta yang tadinya mendakwaan terdakwa pada kasus pidananya. Di sisi lain, yuridis keputusan bebas kepada seorang terdakwa dapat dijadikan alat politik untuk dikembangkan sebagai fenomena baru dalam peradilan yang tidak pernah berujung (not for ending). Perisitiwa ini yang membuat sebuah peradilan terus

3

berlangsung tetapi tidak berkembangkan pada kasus lain karena terfokus pada yuridis keputusan bebas yang dilakukan peninjauan kembali. Keputusan bebas dalam kasus Korupsi yang menimpa Drs. Lukman Abunawas M.Si. Beliau pada masa kerjanya sebagai kepala Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Konawe didakwa melakukan tindak pidana kosupsi dan dakwaan tersebut muncul pada saat beliau menjabat Bupati Kabupaten Konawe. Persidangan yang berlangsung secara berulang dan memakan waktu yang relatif lama, menghadirkan sejumlah saksi baik saksi yang memberatkan dakwaan maupun saksi yang meringankan dakwaan. Proses hukum yang berlangsung alot sempat membuat jabatan Bupati menjadi terganggung dan menimbulkan opini publik terhadap kepemimpinan Bupati yang korup. Pihak-pihakyang menghendaki adanya putusan pidana terhadap Drs. Lukman Abunawas M.Si terus berkembang dengan berbagai intervensi untuk menutup peluang jabatannya sebagai Bupati Konawe. Penyelenggaraan peradiran yang dihadiri oleh Drs. Lukman Abunawas M.Si menunjukkan wujud tanggung jawabnya atas semua perbuatannya bahwa telah didakwa sebagai koruptor terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di negeri sendiri. Namun pada bagian lain pihak Drs. Lukman Abunawas M.Si terus berjuang menghadirkan saksi dan alat bukti yang kemudian digunakan untuk membela diri dan dikembangkan untuk menepis semua dakwaan dari para jaksa penuntut. Keputusan bebas yang diterima Drs. Lukman Abunawas M.Si dalam persidangan di Pengadilan Negeri Kendari membuktikan bahwa dakwaan yang

4

dilimpahkan kepada Drs. Lukman Abunawas M.Si adalah dakwaan yang lemah dan tidak mendasar dan hasil dari peradilan adalah sebuah keputusan bahwa Drs. Lukman Abunawas M.Si dinyatakan bebas. Yuridis putusan bebas yang diberikan kepada Drs. Lukman Abunawas M.Si membangun opini baru terhadap putusan hakim. Berdasarkan hal ini penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan topik Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Bebas Dalam Kasus Korupsi Anggaran APBD di Kabupaten Konawe (Studi Putusan Nomor 33/PID.B/2005/PN.KDI). B.Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan sebelumnya, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana putusan bebas dalam kasus korupsi anggaran APBD di Kabupaten Konawe? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui yuridis terhada putusan bebas dalam kasus korupsi anggaran APBD di Kabupaten Konawe.

D. Manfaat Penelitian Penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat bermanfaat : a. Manfaat Teoritis 1. Untuk menerapkan putusan bebas menurut Kitap Undang-Undang Hukum Acara Pidana

5

2. Untuk mengimplementasikan putusan bebas kepada terdakwa kasus pidana korupsi b. Manfaat Praktik 1. Untuk menunjang penyelenggaraan yuridis putusan bebas pada Pengadilan Negeri Kendari 2. Untuk menjadi pedoman dalam pelaksanaan yuridis putusan bebas pada Pengadilan Negeri Kendari

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Terhadap Sistem Peradilan Pidana Indonesia Mengenai pengertian dari Sistem Peradilan Pidana, Barda Nawawi Arief (1992:197) mengartikan Sistem Peradilan Pidana sebagai suatu proses penegakan hukum pidana.Oleh karena itu berhubungan erat dengan perundangundangan pidana itusendiri, baik hukum pidana substantif maupun hukum acara pidana. Padadasarnya perundang-undangan pidana merupakan penegakan hukumpidana in abstracto yang diwujudkan ke dalam penegakan hukum inconcrecto. Menurut Muladi (2002:35) bahwa “Sistem Peradilan Pidana merupakan suatujaringan peradilan yang menggunakan hukum pidana materiil,

hukumpidana formil maupun hukum pelaksanaan pidana.”. Pengkajian secara teoritik normatif mengenai upaya hukum kasasioleh Jaksa Penuntut Umum terhadap putusan bebas (vrijspraak) dalamSistem Peradilan Pidana Indonesia dengan pola Sistem Peradilan PidanaTerpadu (Integrated Criminal Justice System) atas dasar KUHAP adalahuntuk mengetahui adanya penyimpanganpenyimpangan norma hukum dibidang peradilan pidana khususnya terfokus pada upaya hukum kasasiterhadap putusan bebas (vrijspraak).Mekanisme Sistem Peradilan Pidana Terpadu didukung olehkomponen sub sistem struktur Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan,Lembaga Pemasyarakatan dan Advokat sebagai administrator pelaksanaperadilan pidana yang bernaung di bawah Kitab

7

Undang-Undang HukumAcara Pidana/KUHAP (Undang-undang No. 8 Tahun 1981) denganPeraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1983 dengan masingmasingUndang-undang organiknya, meliputi: Undang-undang No. 2 Tahun 2004tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Undang-undang No. 16Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, Undang-undang No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-undang No. 12Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, Undang-undang No. 18 Tahun2003 tentang Advokat. Berbicara mengenai institusi-institusi penegakan hukum terkaitdengan upaya hukum kasasi oleh Jaksa Penuntut Umum terhadapputusan bebas (vrijspraak) dalam Sistem Peradilan Pidana maka dalamhal ini akan terfokus hanya pada institusi Kejaksaan dan Pengadilan. B. Pengertian Upaya Hukum Mengenai pengertian upaya hukum, secara yuridis normatif diaturdalam Bab I Pasal 1 Angka 12 KUHAP yang menyatakan upaya hukum adalah: hak terdakwa atau penuntut umum untuk tidakmenerima putusan pengadilan yang berupa perlawanan atau banding ataukasasi atau hak terpidana untuk mengajukan permohonan peninjauankembali dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undangini. Undang-undang menyediakan upaya hukum bagi terdakwamaupun Penuntut Umum, yakni apabila pihak-pihak tersebut merasa tidakpuas akan kualitas putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan atau putusantersebut dirasakan tidak mencerminkan nilai-nilai keadilan.Terkait dengan upaya hukum

8

tersebut maka keadilan yang relevandalam hal ini yakni terwujudnya keadilan sosial yang secara inherendisebut dengan keadilan Pancasila, yakni dengan berpijak pada keadilandistributif sebagai landasannya dengan melalui sarana keadilan korektif. Menurut Ibadur Rahman (2009:16) yang dimaksud dengan upaya hukum ialah suatu usaha setiap pribadi atau badan hukum yang merasa dirugikan haknya atau atas kepentingannya untuk memperoleh keadilan dan perlindungan atau kepastian hukum, menurut cara-cara yang ditetapkan dalam undangundang. Upaya hukum peninjauan kembali (PK)/Herziening merupakan salah satu upaya hukum yang banyak menuai kontroversi oleh karenanya patutlah bila upaya hukum peninjauan kembali disebut sebagai upaya hukum luar biasa. (Bachtiar Sitanggang, 1997:45). Menurut Bachtiar Sitanggang, (1997:45) sebelum KUHP dibentuk dan disahkan pada Tahun 1981 peninjauan kembali telah ada diatur. Dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, pengaturan mengenai PK pertama kali diatur dalam UU No. 19 Tahun 1964 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, yaitu dalam pasal 15. Pasal 15 Terhadap putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dapat dimohon peninjauan kembali, hanya apabila terdapat hal-hal atau keadaan-keadaan, yang ditentukan dengan Undang-undang. Penjelasan Pasal 15 Pasal ini mengatur tentang peninjauan kembali putusan pengadilan atau herziening. Peninjauan kembali putusan merupakan alat hukum

9

yang istimewa dan pada galibnya baru dilakukan setelah alat-alat hukum lainnya telah dipergunakan tanpa hasil. Syarat-syaratnya ditetapkan dalam Hukum Acara. Pada umumnya, peninjauan kembali putusan hanya dapat dilakukan, apabila terdapat nova, yaitu fakta-fakta atau keadaan-keadaan baru, yang pada waktu dilakukan peradilan yang dahulu, tidak tampak atau memperoleh perhatian Setelah diundangkannya UU No. 19/1964 tersebut, tak selang berapa lama keluar UU No. 13 Tahun 1965 tentang Pengadilan Dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Mahkamah Agung sebagai turunan dari UU 19/1964. Dalam UU ini kemudian dipertegas kembali mengenai adanya lembaga Peninjauan Kembali, tak kurang dari 2 pasal yang menyatakan instrumen hukum ini, yaitu pada Pasal 31 dan pasal 52. Pasal 31 Terhadap putusan Pengadilan Negeri yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dapat dimintakan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung sesuai dengan ketentuan yang diatur dengan Undang-undang. Pasal 52 Mahkamah Agung mengadili tentang putusanputusan yang dimohon peninjauan kembali untuk masing-masing lingkungan peradilan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Undangundang. Dari dua pasal di atas terlihat bahwa pengaturannya masih terlalu minim. Atas kondisi ini kemudian MA mengeluarkan Surat Edaran (SEMA) No. 6 Tahun 1967 tentang Permohonan Peninjauan Kembali Putusan/Gugatan Secara “Request-Civiel. Inti dari SEMA ini adalah menginstruksikan kepada pengadilan-pengadilan untuk tidak menerima permohonan PK, karena hingga

10

saat itu belum ada undang-undang yang mengatur mengenai persyaratan, tata cara dan lain sebagainya. Namun mengingat ternyata cukup banyaknya permohonan yang diajukan ke pengadilan akhirnya dua tahun kemudian MA mencabut SEMA tersebut dan mengatur mengenai persyaratan dan tata cara permohonan PK melalui PERMA No. 1 Tahun 1969. PERMA yang terdiri dari 8 pasal ini kemudian yang menjadi kerangka dasar pengaturan mengenai PK selanjutnya, baik PK dalam hukum acara pidana maupun peradilan lainnya. Khusus mengenai PK dalam perkara pidana diatur dalam pasal 3 dan 4 Perma tersebut. Pasal 3 Mahkamah Agung dapat meninjau kembali atau memerintahkan ditinjaunya kembali suatu putusan pidana yang tidak mengandung pembebasan dari semua tuduhan yang telah memperoleh kekuatan Hukum yang tetap,atas dasar alasan: a. apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan sesuatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang menyolok; b. apabila dalam putusan itu terdapat keterangan-keterangan itu dianggap terbukti, akan tetapi ternyata satu sama lain bertentangan; c. apabila terdapat keadaan-keadaan baru, sehingga menimbulkan

pertimbangan mendalam bahwa apabila keadaan-keadaan itu diketahui pada waktu sidang yang masih berlangsung putusan yang akan dijatuhkan akan mengandung pembebasan terpidana melepaskan dari segala tuntutan atas dasar bahwa perbuatan yang di tuduhkan itu tidak merupakan tindak pidana, tidak dapat diterimanya perkara yang diajukan oleh jaksa kepada pengadilan atau penetapan ketentuan-ketentuan pidana lain yang lebih ringan;

11

d. apabila dalam putusan itu suatu perbuatan yang dituduhkan telah dinyatakan sebagai terbukti, akan tetapi tanpa ketentuan bahwa pernyataan terbukti itu diikuti oleh suatu pemidanaan. Pasal 4 (1) Permohonan peninjauan kembali suatu putusan pidana yang telah memperoleh kekuatan Hukum yang tetap harus diajukan oleh terpidana atau pihak yang berkepentingan atau oleh Jaksa Agung. (2) Permohonan peninjauan kembali suatu putusan pidana tidak dibatasi dengan suatu jangka waktu. (3) Permohonan harus diajukan secara tertulis,dengan menyebutkan sejelas jelasnya alasan yang diajukan dasar permohonan itu dan dimasukkan di kepanitraan Pengadilan tingkat pertama yang telah memutus perkaranya. (4) Apabila pemohon tidak dapat menulis, maka ia diperbolehkan menguraikan permohonannya secara lisan di hadapan Ketua Pengadilan tersebut, yang akan memuat catatan tentang permohonan itu. (5) Ketua Pengadilan itu selekaslekasnya mengirim surat permohonan atau catatan tentang permohonan lisan itu beserta berkas perkaranya kepada Ketua Mahkamah Agung disertai dengan pertimbangannya. (6) Mahkamah Agung akan memberi putusan setelah mendengar pendapat Jaksa Agung. Dari pasal 3 di atas terlihat bahwa tedapat kesamaan antara pasal tersebut dengan pasal 263 UU No. 8 Tahun 1981. Berbeda dengan pasal 263 KUHAP dalam Perma ini memang diatur secara tegas bahwa Jaksa, khususnya Jaksa Agung memiliki kewenangan juga untuk mengajukan PK (Pasal 4 ayat 1), namun tanpa menjelaskan dalam hal apa kewenangan tersebut dimungkinkan. Namun Perma ini sendiri ternyata tak berumur lama, karena tiga bulan

12

kemudian MA mengeluarkan SEMA No. 18 Tahun 1969 yang pada intinya menunda pelaksanaan Perma tersebut hingga batas waktu yang tidak ditentukan. C. Pengertian Upaya Hukum Kasasi Kasasi berasal dari kata casser yang artinya memecah. Lembaga Kasasi berawal di Prancis, ketika suatu putusan hakim dibatalkan demi untuk mencapai kesatuan peradilan. Mulanya, kewenangan itu berada di tangan raja beserta dewannya yang disebut conseil du Roi. Setelah revolusi yang meruntuhkan kerajaan Prancis, dibentuklah suatu badan khusus yang tugasnya menjaga kesatuan penafsiran hukum, jadi merupakan badan antara yang menjembatani pembuat undang – undang dan kekuasaan kehakiman. Lembaga kasasi tersebut lalu diaplikasikan di negeri Belanda yang kemudian masuk ke Indonesia. pada asasnya, kasasi didasarkan atas pertimbangan bahwa terjadi kesalahan penerapan hukum atau hakim telah melampaui kekuasaan kehakimannya. Hadar Djenawi Tahir (2002:8)

menyebutkan dalam bukunya bahwa kasasi merupakan upaya hukum terhadap putusan banding yang telah dijatuhkan oleh pengadilan banding/tinggi . Selama ini banyak orang keliru menafsirkan bahwa pemeriksaan kasasi adalah pemeriksaan tingkat tiga. Pemeriksaan tingkat kasasi itu sebenarnya bukanlah pemeriksaan tingkat ketiga. Kasasi adalah membatalkan atau memecah. Kasasi merupakan upaya hukum terhadap putusan – putusan yang diberikan tingkat tertinggi oleh pengadilan – pengadilan lain dalam perkara – perkara pidana maupun perdata, agar dicapai kesatuan dalam menjalankan peraturan – peraturan dan undang – undang.

13

Siapa saja yang dapat mengajukan kasasi? Kasasi dapat diajukan oleh : 1. pihak – pihak, yaitu terdakwa atau penuntut umum, pihak – pihak ini mengajukan permohonan kepada Mahkamah Agung, maka pembatalan keputusan dalam tingkat kasasi mempengaruhi keputusan yang dimintakan kasasi itu; 2. Jaksa Agung demi kepentingan hukum. jaksa agung menyampaikan permohonan tertulis kepada Mahkamah Agung. Kasasi demi kepentingan hukum ini tidak membawa pengaruh terhadap putusan pengadilan yang telah dijatuhkan. Tujuan kasasi ialah untuk menciptakan kesatuan penerapan hukum dengan jalan membatalkan putusan yang bertentangan dengan undang – undang atau keliru dalam menerapkan hukum. menurut Yahya Harahap (2006:19), ada beberapa tujuan utama upaya hukum kasasi. 1. Koreksi terhadap kesalahan putusan pengadilan bawahan. Salah satu tujuan kasasi adalah memperbaiki dan meluruskan kesalahan penerapan hukum, agar hukum benar – benar diterapkan sebagaimana mestinya serta apakah cara mengadili undang – undang. 2. Menciptakan dan membentuk hukum baru. Selain tindakan koreksi yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dalam peradilan kasasi, adakalanya tindakan koreksi itu sekaligus menciptakan hukum baru dalam bentuk yurisprudensi. perkara benar – benar dilakukan menurut ketentuan

14

3. Pengawasan terciptanya keseragaman penerapan hukum. tujuan lain dari pemeriksaan kasasi, adalah mewujudkan kesadaran “keseragaman”

penerapan hukum atau unified legal frame work dan unified legal opinion. Dengan adanya putusan kasasi yang menciptakan yurisprudensi, akan mengarahkan keseragaman pandangan dan titik tolak penerapan hukum, serta dengan adanya upaya hukum kasasi, dapat terhindari kesewenangan dan penyalahgunaan jabatan oleh para hakim yang tergoda dalam memanfaatkan kebebasan kedudukan yang dimilikinya. Tidak semua hal dapat dimintakan pemeriksaan kasasi. kasasi hanya dimungkinkan apabila mengetahui persoalan – persoalan hukum (rechtsvragen). Adapun persoalan – persoalan hukum itu adalah: 1. apabila satu aturan hukum tidak diperlakukan oleh hakim atau 2. ada kekeliruan dalam memperlakukan satu aturan hukum atau 3. apabila hakim melampaui batas kekuasaan. Apakah suatu hak itu mengenai persoalan hukum atau tidak diputus oleh Mahkamah Agung sendiri. Dalam perundang – undangan Belanda, ada tiga alasan untuk melakukan kasasi, yaitu; 1. Apabila terdapat kelalaian dalam acara; 2. Peraturan hukum tidak dilaksanakan atau ada kesalahan pada

pelaksanaannya; 3. apabila tidak dilaksanakan cara melakukan peradilan menurut cara yang ditentukan undang – undang.

15

Dalam undang – undang No. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, disebutkan bahwa segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan – alasan dan dasar putusan itu, memuat pula pasal – pasal tertentu dari peraturan – peraturan yang bersangkutan atau sumber hukum tidak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Ini adalah dasar hukum yang sah bahwa suatu putusan hakim haruslah memuat alasan – alasan dan dasar – dasar putusan itu. Dalam tahun 1947 dan 1974, Hoge Raad membatalkan putusan hakim yang lebih rendah karena alasan – alasan yang kurang cukup dan kelihatan di situ bahwa pidana yang dijatuhkan kurang seimbang dengan alasan – alasan yang dikemukakan dalam putusan pengadilan tersebut. Berdasar alasan – alasan atau pertimbangan – pertimbangan yang ditentukan oleh undang – undang yang menjadi dasar suatu putusan yang kurang jelas, dapat diajukan kasasi melalui jalur kelalaian dalam acara (vormverzuim) itu. Dalam putusan pengadilan negeri atau pengadilan tinggi kadang – kadang tidak disertai dengan pertimbangan yang dikehendaki oleh undang – undang (dalam hal ini khususnya yang tercantum pada Undang – Undang Kekuasaan Kehakiman). Tidak / kurang adanya pertimbangan / alasan – alasan atau pun alasan – alasan yang kurang jelas, sukar dimengerti ataupun bertentangan satu sama lain, dapat menimbulkan suatu kelalaian dalam acara, oleh karena itu dapat menimbulkan batalnya putusan pengadilan negeri/tinggi oleh Mahkamah Agung dalam putusan kasasi. Pasal 253 ayat (1) KUHAP dimuat beberapa alasan mengajukan kasasi, yaitu;

16

1. Apakah benar suatu peraturan hukum tidak diterapkan atau diterapkan tidak sebagaimana mestinya; 2. Apakah benar cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan undang – undang; 3. Apakah benar pengadilan telah melampaui batas wewenangnya. Permohonan pemeriksaan tingkat kasasi harus dilakukan menurut tenggang–tenggang waktu tertentu, yaitu 14 hari setelah putusan pengadilan yang dimintakan kasasi itu diberitahukan kepada terdakwa atau penuntut umum, dan kemudian harus disusul dengan mengajukan memori kasasi yang memuat alasan – alasan permohonan kasasi, dalam tempo 14 hari setelah mengajukan permohonan tersebut (pasal 245 dan 248). Jika tenggang waktu sebagaimana dimaksudkan di atas dilampaui, hak mengajukan permohonan kasasi dan hak menyerahkan memori menjadi gugur dengan sendirinya (pasal 246 ayat (2) dan pasal 248 ayat (4) KUHP). Cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan undang – undang, misalnya pengadilan dilakukan di belakang pintu tertutup tanpa alasan menurut undang – undang. Berdasarkan esensi Pasal 244 KUHAP dan pendapat kalangan doktrina dapat disimpulkan bahwa upaya hukum kasasi merupakan suatuhak yang dapat dipergunakan atau dikesampingkan oleh terdakwa ataupenuntut umum. Apabila terdakwa atau penuntut umum tidak menerimaputusan yang dijatuhkan pengadilan tingkat bawahnya maka dapatmengajukan permohonan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agungterhadap pelaksanaan dan pengetrapan hukum

17

yang telah dijalankan olehpengadilan di bawahnya kecuali terhadap putusan yang mengandungpembebasan. Demi keadilan dan kebenaran maka putusan hakim harus dapat diperbaiki atau dibatalkan jika dalam putusannya terdapat kekhilafan atau kekeliruan. Oleh karena itu hukum menyediakan sarana atau upaya perbaikan atau pembatalan putusan guna mencegah atau memperbaiki kekhilafan atau kekeliruan putusandan sarana atau upaya tersebut dinamakan sebagai upaya hukum. Upaya hukum merupakan hak dari pihak yang berkepentingan, karena itu pula pihak yang bersangkutan sendiri yang harus aktif dengan mengajukannya kepada pengadilan yang diberi kekuasaan untuk itu jika ia menghendakinya. Pada kenyataan sata ini upaya hukum adalah cara atau jalan yang ditempuh oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam memperjuangkan kepentingannya demi mendapatkan apa yang diharapkannya. D. Pengertian Yurisprudensi Di dalam suatu perkara di muka pengadilan yang memberikan keputusan dalam sengketa antara dua belah pihak, keputusan pengadilan itu berfungsi memberikan kepastian bahwa keputusannya itu adalah kaidah atau norma yang harus dipatuhi dalam perkara itu. Kekuatan keputusan pengadilan mengenai suatu perkara baru berlaku secara pasti setelah mendapat kekuatan tetap, artinya dikuatkan dalam perkara banding pada tahap pengadilan yang lebih tinggi atau karena lewatnya batas waktu untuk mengajukan banding. Dalam sistem hukum Indonesia, keputusan pengadilan hanya mempunyai kekuatan mengikat bagi perkara yang diadili itu dan pihak – pihak yang

18

bersengketa dalam perkara tersebut. dengan perkataan lain, keputusan pengadilan dalam sistem hukum Indonesia mempunyai kekuatan yang terbatas pada perkara yang diputuskan. Keputusan tersebut tidak mempunyai kekuatan mengikat secara umum walaupun bagi peristiwa atau pekara serupa. Hakim tak dapat membentuk peraturan – peraturan yang umum mengikat, mengakibatkan perbedaan inti antara undang – undang dan yurisprudensi. Undang – undang bersifat abstracto, keputusan hakim konkreto. Ini berlainan dengan sistem hukum Inggris atau Amerika di mana keputusan pengadilan itu mempunyai kekuatan mengikat bagi perkara – perkara serupa lainnya (“rule of the binding precedent” atau “stare decisis”). Kumpulan keputusan pengadilan mengenai perkara yang serupa atau yurisprudensi mengenai suatu jenis perkara sangat memperkuat arti keputusan pengadilan itu sebagai sumber hukum. walaupun dalam sistem hukum nasional Indonesia keputusan pengadilan tidak mempunyai kekuatan yang mengikat, namun paling tidak kumpulan keputusan pengadilan atau yurisprudensi demikian mempunyai kekuatan yang cukup meyakinkan (persuasive). Istilah jurisprudensi berasal dari kata yurisprudentia (bahasa latin) yang berarti pengetahuan hukum (rechtsgeleerdheid). Kata yurisprudensi sebagai istilah teknis Indonesia sama artinya dengan kata „yurisprudentie‟ dalam bahasa Prancis, yaitu peradilan tetap atau bukan peradilan. Subekti R. (2004:45) mengartikan bahwa yurisprudensi sebagai putusan – putusan hakim atau pengadilan yang tetap atau dibenarkan oleh Mahkamah Agung sebagai pengadilan kasasi atau putusan – putusan Mahkamah Agung

19

sendiri yang tetap. Sementara itu, Sudikno Mertokusumo (2004:5) mengatakan bahwa yurisprudensi mengandung beberapa pengertian. Yurisprudensi dapat berarti setiap putusan hukum. tapi yurisprudensi dapat berarti pula kumpulan putusan hakim yang disusun secara sistematis dari tingkat peradilan pertama sampai pada tingkat kasasi dan pada umumnya diberi anotasi oleh pakar di bidang peradilan. Pada kesempatan lain, Sudikno Mertokusumo (2004:5) mengartikan yurisprudensi sebagai pandangan atau pendapat para ahli yang dianut oleh hakim dan dituangkan dalam putusannya. Dari segi praktik peradilan yurisprudensi adalah keputusan – keputusan hakim sebelumnya yang dipergunakan sebagai bahan pertimbangan oleh hakim berikutnya dalam mengambil keputusan. Menurut R. Soeroso (2005:64), ada beberapa sebab seorang hakim mempergunakan putusan hakim lain. 1. pertimbangan psikologis. Keputusan hakim mempunyai kekuatan/kekuasaan hukum, terutama keputusan Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung. Hal ini menyebabkan hakim bawahan segan untuk tidak mengikuti putusan tersebut. 2. pertimbangan praktis. Karena dalam kasus yang sama sudah pernah dijatuhkan putusan oleh hakim terdahulu, maka akan lebih praktis apabila hakim berikutnya memberikan putusan yang sama. 3. pendapat yang sama. Karena hakim yang bersangkutan sependapat dengan keputusan hakim lain yang lebih dahulu (terutama apabila isi dan tujuan undang – undang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sosial yang nyata

20

pada waktu kemudian) maka sudah wajarlah apabila keputusan hakim lain tersebut dipergunakan. Dalam prakteknya, ada dua macam yurisprudensi. 1. Yurisprudensi Tetap. Adalah keputusan – keputusan hakim yang berulang kali dipergunakan pada kasus – kasus yang sama. Jadi yurisprudensi tetap terjadi karena suatu rangkaian keputusan – keputusan yang serupa atau karena beberapa keputusan yang diberi nama standaardarresten, ialah keputusan MA yang menjadi dasar bagi pengadilan untuk mengambil keputusan (arrest adalah keputusan MA dan standar adalah dasar atau baku). Dengan suatu standar arrest hakim secara prinsipal memberi suatu penyelesaian tertentu. Suatu hal yang telah lama membangkitkan keragu – raguan di dalam kalangan peradilan administrasi negara dan mereka yang mempunyai pekerjaan yang prinsipil. Oleh karenanya standaard arrest menjadi suatu pegangan yang kuat bagi kalangan pengadilan administrasi negara, sarjana hukum dan orang – orang yang bersangkutan dalam bidang hukum. bahkan sering kali merupakan suatu pegangan yang lebih kuat daripada suatu undang – undang, terutama apabila isi dari undang – undang yang bersangkutan sudah tidak sesuai dengan keadaan sosial yang nyata. 2. Yurisprudensi tidak tetap. Adalah yurisprudensi yang belum masuk menjadi yurisprudensi tetap. Pada dasarnya, yurisprudensi dipergunakan berdasar pada dua hal. Yang pertama adalah dasar historis, yaitu ketika suatu yurisprudensi diikuti oleh umum karena sejarahnya. Dasar yang kedua adalah karena adanya kekurangan daripada

21

hukum yang ada, karena pembuat undang – undang tidak dapat mewujudkan segala sesuatu dalam undang – undang, maka yurisprudensi digunakan untuk mengisi kekurangan dari undang – undang. Dasar kedua ini merupakan akibat dari pasal 22 AB yang menyatakan: “Bilamana seorang hakim menolak menyelesaikan suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan alasan peraturan perundang – undangan yang bersangkutan tidak menyebut, tidak jelas atau tidak lengkap, maka ia dapat dituntut karena penolakan mengadili” E. Pengertian Putusan Bebas Putusan bebas, menurut Yahya Harahap, (2005:110) berarti terdakwa dijatuhi putusan bebas atau dinyatakan bebas dari tuntutan hukum (vrijspraak) atau acquital. Maksud dari terdakwa diputus bebas, adalah terdakwa dibebaskan dari tuntutan hukum, dalam arti dibebaskan dari pemidanaan. Sementara itu, Harun M. Husein merumuskan bahwa yang dimaksud dengan putusan bebas, ialah putusan pengadilan yang membebaskan terdakwa dari dakwaan, karena menurut pendapat pengadilan terdakwa tidak terbukti dengan sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Dasar seorang terdakwa diputus bebas tercantum dalam pasal 191 ayat (1) yang menjelaskan dasar putusan yang berbentuk putusan bebas; a. Dari hasil pemeriksaan di sidang pengadilan; b. kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya “tidak terbukti” secara sah dan meyakinkan. Maksud dari terbukti secara sah, berarti terbukti dalam pemeriksaan di persidangan, dan meyakinkan, yang berarti hakim memiliki keyakinan bahwa

22

terdakwa bersalah dan pantas dijatuhi pidana penjara. Dalam hukum acara pidana memang yang penting selain memenuhi unsur dalam undang – undang juga adanya keyakinan dan perasaan adil hakim. Ditinjau dari segi yuridis, putusan bebas ialah putusan yang dinilai oleh majelis hakim yang bersangkutan: 1. Tidak memenuhi asas pembuktian menurut undang – undang secara negatif. Pembuktian yang diperoleh di persidangan, tidak cukup membuktikan kesalahan terdakwa dan sekaligus kesalahan terdakwa yang tidak cukup terbukti itu tidak diyakini oleh hakim. 2. Tidak memenuhi asas batas minimum pembuktian Kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa hanya didukung oleh satu alat bukti saja, sedang menurut ketentuan pasal 183, diperlukan minimal dua alat bukti yang sah agar dapat membuktikan kesalahan seorang terdakwa. Bila diteliti lebih lanjut, ketentuan pasal 183 memuat dua asas. Yang pertama, asas pembuktian menurut undang – undang secara negatif, yang mengajarkan prinsip hukum pembuktian, di samping kesalahan terdakwa cukup terbukti, harus pula dibarengi akan keyakinan hakim akan kebenaran kesalahan terdakwa. Kedua, pasal 183 juga mengandung batas minimum pembuktian , yang dianggap cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa harus sekurang – kurangnya dua alat bukti yang sah. Maka bila ditarik hubungan antara kedua asas yang diatur dalam pasal 183 dan dihubungkan dengan pasal 191 ayat (1), putusan bebas pada umumnya didasarkan pada penilaian dan pendapat hakim:

23

1) kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa sama sekali tidak terbukti, semua alat bukti yang diajukan di persidangan baik berupa keterangan saksi, keterangan ahli, surat dan petunjuk maupun keterangan terdakwa, tidak dapat membuktikan kesalahan yang didakwakan. Berarti perbuatan yang didakwakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan karena menurut penilaian hakim semua alat bukti yang diajukan, tidak cukup atau tidak memadai membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa, atau 2) secara nyata hakim menilai, pembuktian kesalahan yang didakwakan tidak memenuhi ketentuan batas minimum pembuktian. 3) Putusan bebas tersebut bisa juga didasarkan atas penilaian, kesalahan yang terbukti itu tidak didukung oleh keyakinan hakim. Keterbuktian kesalahan yang didakwakan dengan alat bukti yang sah, harus didukung oleh keyakinan hakim. Sekalipun secara formal kesalahan terdakwa dapat dinilai cukup terbukti, namun nilai pembuktian yang cukup ini akan lumpuh apabila tidak didukung oleh keyakinan hakim. Dalam keadaan penilaian yang seperti ini, putusan yang akan dijatuhkan pengadilan, membebaskan terdakwa dari tuntutan hukum. Apa yang diatur dalam pasal 191 KUHAP dapat lagi diperluas dengan syarat–syarat putusan pembebasan atau pelepasan dari segala tuntutan hukum yang diatur dalam KUHP. Di dalam KUHP, buku kesatu bab III terdapat beberapa pasal yang mengatur tentang hal – hal yang menghapuskan pemidanaan terhadap seorang terdakwa. Jika pada diri seorang terdakwa terdapat hal–hal atau keadaan yang ditentukan dalam pasal–pasal KUHP yang

24

bersangkutan, hal – hal atau keadaan itu merupakan alasan membebaskan terdakwa dari pemidanaan, antara lain: 1. pasal 44 “(1) barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau terganggu karena penyakit (ziekelijke storing), tidak dipidana. 2. Jika ternyata bahwa perbuatan tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan. 3. Ketentuan tersebut dalam ayat (2) hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri. “ 4. Pasal 45 “ dalam menuntut orang yang belum cukup umur (minderjarig) karena melakukan perbuatan sebelum umur enam belas tahun, hakim dapat menentukan: memerintahkan supaya yang bersalah dikembalikan kepada orangtuanya, walinya, atau pemeliharaannya, tanpa pidana apapun; atau memerintahkan supaya yang bersalah diserahkan kepada pemerintah, tanpa pidana apapun, yaitu jika perbuatan merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut pasal 489, 490, 492, 496, 497, 503, 505, 514, 517919, 926, 531, 532, 536 dan 540 serta belum lewat dua tahun sejak dinyatakan salah karena melakukan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut di atas, dan putusannya menjadi tetap atau menjatuhkan pidana.“

25

5. Pasal 48 “barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana.“ orang yang melakukan perbuatan dalam keadaan pengaruh daya paksa, dan secara nyata dan objektif hal ini terbukti, maka menurut ketentuan pasal 48 orang yang melakukan perbuatan tadi tidak dijatuhi hukum pidana. Dalam keadaan yang seperti ini, orang tersebut secara mutlak dan objektif tidak mempunyai pilihan lain selain daripada mesti melakukan perbuatan itu. Ketidakmungkinan melakukan pilihan selain daripada melakukan perbuatan tadi, bukan semata – mata ditinjau dari sudut subjektif pelaku. Kesalahan itu ada, namun tidak semata – mata tanggung jawab terdakwa. Adanya alasan pemaaf yang menghapuskan kesalahan tersebut membuat terdakwa dibebaskan dari segala tuntutan hukum, karena perbuatan yang didakwakan terbukti secara sah dan meyakinkan tapi tidak ada kesalahan pada diri terdakwa. 1. Pasal 49 “ barangsiapa terpaksa melakukan perbuatan untuk pembelaan, karena ada serangan atau ancaman serangan ketika itu yang melawan hukum, terhadap diri sendiri maupun orang lain; terhadap kehormatan kesusilaan (eerbarheid) atau harta benda sendiri maupun orang lain, tidak dipidana. “ 2. Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh goncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana.“ orang yang melakukan perbuatan pembelaan diri atau self defence maupun pembelaan darurat yang demikian tidak dipidana.

26

Terdakwa harus diputus bebas, asal sifat pembelaan itu sepadan dan benar – benar dalam keadaan impossibilitas. Artinya pembelaan itu merupakan spontanitas karena tak mungkin lagi ada pilihan lain. 3. Pasal 50 “barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang – undang, tidak dipidana. “ Ketentuan yang menjadi faktor alasan menjatuhkan putusan pembebasan terhadap terdakwa dari pemidanaan. Memang kalau semata – mata bertitik tolak dari pasal 191 ayat (1) KUHAP, putusan pembebasan hanya didasarkan pada penilaian hakim bahwa kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan tidak memenuhi asas pembuktian menurut undang – undang secara negatif. Atau kesalahan terdakwa yang didakwakan kepadanya tidak memenuhi ketentuan asas batas minimum pembuktian. Akan tetapi, seperti yang diperlihatkan, di samping apa yang diatur dalam KUHAP, terdapat lagi ketentuan yang diatur dalam KUHP, beberapa hal atau keadaan yang dapat dijadikan dasar alasan untuk membebaskan atau melepaskan orang yang melakukannya dari pemidanaan dan tuntutan hukum. Suatu hal yang perlu diperhatikan dalam putusan pembebasan ialah “perintah untuk membebaskan” terdakwa dari tahanan. Perintah pembebasan dari tahanan dikeluarkan hakim ketua sidang bersamaan dengan saat putusan diumumkan, jika seandainya terdakwa yang diputus bebas itu berada dalam tahanan. Kelalaian mengeluarkan perintah pembebasan terdakwa dari tahanan

27

dalam putusan pembebasan, mengakibatkan putusan batal demi hukum. hal ini ditegaskan dalam pasal 197 ayat (1) juruf k jo. Pasal 197 ayat (2). Perintah pembebasan dari tahanan harus segera dilaksanakan jasa penuntut umum, sesudah putusan diucapkan, kecuali ada alasan lain yang sah. Misalnya karena terdakwa masih dalam taraf penuntutan dalam perkara lain. Pelaksanaan perintah pembebasan dari tahanan terhadap seorang terdakwa yang diputus bebas; Perintah pembebasan dari tahanan “segera” dilaksanakan jaksa sesudah putusan diucapkan, dan sekaligus pelaksanaan pembebasan dari tahanan itu: a. Jaksa membuat laporan tertulis mengenai pelaksanaan perintah pembebasan dimaksud b. Laporan pelaksanaan pembebasan dilampiri dengan surat pelepasan c. Laporan dan lampiran surat pelepasan, disampaikan ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan selambat – lambatnya dalam waktu 3×24 jam. Berikut beberapa pengertian putusan bebas (vrijspraak) yangdikemukakan oleh kalangan doktrina, diantaranya: Djoko Prakoso (1985:270) mengemukakan : Vrijspraak adalah putusan hakim yang mengandung pembebasanterdakwa, karena peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam suratdakwaan setelah diadakan perubahan atau penambahan selamapersidangan, bila ada sebagian atau seluruh dinyatakan oleh hakim yangmemeriksa dan mengadili perkara yang bersangkutan dianggap tidakterbukti.

28

Menurut Soekarno (1978:15), bahwa Vrijspraak, adalah, “Salah satu daribeberapa macam putusan hakim yang berisi pembebasan terdakwa darisegala tuduhan, manakala perbuatan terdakwa dianggap tidak

terbuktisecara sah dan meyakinkan.” Sedangkan Harun M. Husein (1992:108) berpendapat bahwa Sesuai dengan rumusan pengertian bebas dalam Pasal 191 ayat 1 KUHAP, maka dapat kita definisikan bahwa yang dimaksud denganputusan bebas, ialah putusan pengadilan yang membebaskan terdakwadari dakwaan, karena menurut pendapat pengadilan terdakwa tidakterbukti dengan sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidanayang didakwakan kepadanya. Berdasarkan pendapat dari beberapa sarjana dan yurisprudensi,akhirnya didapat suatu kesimpulan terkait dengan pengertian dari putusanbebas murni (zuivere vrijspraak) dan putusan bebas tidak murni(onzuivere vrijspraak), sebagai berikut: Bahwa dapat ditarik kriteria untuk mengidentifikasi apakah putusan bebasitu mengandung pembebasan yang murni atau tidak murni. Kriteria dimaksud, adalah: a. Suatu putusan bebas mengandung pembebasan yang tidak murniapabila: Pembebasan itu didasarkan pada kekeliruan penafsiranatas suatu istilah dalam surat dakwaan, atau apabila dalam putusan bebas itu pengadilan telah bertindak melampaui bataswewenangnya.

29

b. Suatu putusan bebas mengandung pembebasan yang murni,apabila pembebasan itu didasarkan pada tidak terbuktinya suatuunsur tindak pidana yang didakwakan.

E. Pengertian Korupsi Korupsi berasal dari bahasa Latin “Corruptus” atau “Corruptio” yang kemudian dalam bahasa Inggris dan bahasa Prancis “Corruption” dalam bahasa Belanda “Korruptie” dan selanjutnya dalam bahasa Indonesia dengan sebutan “Korupsi”. Pengertiannya adalah gejala dimana pejabat, badan-badan negara Istilah korupsi hadir dalam khasanah hukum Indonesia adalah pada Peraturan Peguasa Perang Nomor Prt/Perpu/013/1958 Tentang Peraturan Pemberantasan Korupsi. Kemudian dimasukkan juga dalam Undang-Undang Nomor 24/Prp/19660 tentang Pengusutan Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi. Undang-Undang ini kemudian dicabut dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang kemudian sejak tanggal 16 Agustus 1999 diganti dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 dan kemudian diubah dengan UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001(selanjutnya disebut Undang-Undang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi)23Secara harfiah korupsi merupakan suatu yang busuk, jahat dan merusak,menyangkut segi-segi moral, sifat dan keadaan yang busuk, jabatan dalam instansi atau aparatur pemerintah, penyelewengan kekuasaan dalam jabatan dalam pemberian, faktor ekonomi dan politik, serta penempatan keluarga dalam kedinasan dibawah kedinasan

30

jabatannya. Jadi dapat ditari suatu kesimpulan bahwa sesungguhnya istilah korupsi memiliki arti yang sangat luas. 1. Korupsi penyelewengan atau penggelapan ( uang negara atau perusahaan dan sebagainya) untuk kepentingan pribadi dan orang lain. 2. Korupsi: busuk; rusak;suka memakai barang atau uang yang dipercayakan kepadanya, dapat disogok (melalui kekuasaannya untuk kepentingan pribadi) Dalam Webster’s New American Dictionary, kata “corruption” diartikan sebagai “decay” (lapuk), “contamination” (kemasukan sesuatu yang merusak) dan”impurity” (tidak murni). Sedangkan kata “corrupt” dijelaskan sebagai” to become rotten or putrid” (menjadi busuk, lapuk atau buruk ), juga” to induce decay in something originally clean and sound” (memasukkan sesuatu yang busuk, atau yang lapuk ke dalam sesuatu yang semula bersih dan bagus). Pengertian Korupsi dalam Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 tahun 1999 Jo. 20 tahun 2001, tidak hanya perbuatan yang merugikan keuangan negara atau perekonomian saja, tetapi juga menyangkut perbuatan lain, seperti: penyuapan, penggelapan, pemalsuan, merusak barang bukti, atau pemerasan dalam jabatan, gratifikasi . Pasal 2 ayat 1 dan 2 Undangundang No.31 tahun 1999 Jo. Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyatakan bahwa yang dapat dihukum adalah setiap orang atau korporasi yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara.

31

Pasal 2 (1) Setiap orang secara melawan hukum memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipenjara minimal 4 (empat) tahun dan maksimal 20 (dua puluh) tahun dan denda minimal 200 (dua ratus) juta rupiah dan maksimal 1 (satu) milyar rupiah; (2) Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan. Dalam keadaan tertentu dalam ketentuan ini dimaksudkan sebagai pemberatan bagi pelaku tindak pidana korupsi apabila tindak pidana itu dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya, bencana alam, kerusuhan sosial, krisis ekonomi dan moneter, dan penangulangan Tindak Pidana Korupsi dapat dijatuhkan pidana mati. Pasal 3 Setiap orang dengan tujuan menguntungkan diri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana, yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana seumur hidup atau penjara minimal 1(satu) tahun atau maksimal 20 (dua puluh) tahun dan atau denda minimal 50 (lima puluh) juta rupiah maksimal 1 (satu) Milyar rupiah; Beberapa sarjana memberikan pendapat mereka mengenai istilah korupsi, antara lain: (Andi Hamzah, 2005:5). a. David M. Chalmer menguraikan pengertian korupsi dalam berbagai bidang, antara lain menyangkut masalah penyuapan yang berhubungan dengan manipulasi di bidang ekonomi, yang menyangkut kepentingan umum.

32

b. Fockema Andrea menyataka kata korupsi tersebut berasal dari kata asal corrumpere, suatu kata Latin yang lebih tua. Dari bahasa Latin itulah turun kebanyak bahasa Eropa, seperti Inggris, yaitu corruption, di Perancis dikenal istilah corruption, dan di Belanda dikenal dengan istilah corruptie. Istilah dari bahasa Belanda inilah yang turun ke dalam bahasa Indonesia yang kita kenal dengan korupsi. c. Huntington menyebutkan bahwa korupsi adalah perilaku menyimpang dari public official atau para pegawai dari norma-norma yang diterima dan dianut masyarakat dengan tujuan memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi. d. Alatas mengemukakan pengertian korupsi dengan menyebutkan benang merah yang menjelujuri dalam aktivitas korupsi, yaitu suborbinasi kepentingan umum dibawah kepentingan-kepentingan pribadi yang

mencakup pelanggaran norma-norma, tugas, dan kesejahteraan umum serta dibarengi dengan kerahasiaan, penghianatan, penipuan dan kemasabodohan yang luar biasa akan akibat-akibat yang dirasakan masyarakat.,yang berarti bahwa penyalahgunaan amanat untuk kepentingan pribadi. e. Suyatno, mengatakan korupsi merupakan tindakan desosialiasai yakni suatu tindakan yang tidak memperdulikan hubungan-hubungan dalam sistem sosial. Menurut Chairudin (2008:8) makna korupsi terus berkembang dari waktu ke waktu sebagai pencerminan kehidupan bermasyarakat dari sisi negatif. Semula istilah korupsi banyak digunakan dalam ilmu politik, akan tetapi kemudian menjadi

33

sorotan berbagai disiplin ilmu. Beberapa ahli hukum memberikan arti umum tentang korupsi dari berbagai sumber dengan klasifikasi, antara lain. a. Rumusan korupsi dari sisi pandang teori pasar Jacob van Klaveren menyatakan bahwa seorang pengabdi negara (pegawai negeri) yang berjiwa korup menganggap kantor administrasinya sebagai perusahaan dagang, dimana pendapatannya akan diusahakan semaksimal mungkin. 30 b. Rumusan yang menekankan pada titik berat jabatan pemerintahan 1. L. Bayle, perkataan korupsi dikaitkan dengan perbuatan penyuapan yang berkaitan dengan penyalah gunaan wewenang atau kekuasaan sebagai akibat adanya pertimbangan dari mereka yang memegang jabatan bagi keuntungan pribadi. 2. M.Mc Mullan menyatakan seorang pejabat pemerintahan dikatakan “korup” apabila ia menerima uang sebagai dorongan untuk melakukan sesuatu yang ia bisa lakukan dalam tugas jabatannya padahal ia selama menjalankan tugasnya seharusnya tidak boleh berbuat demikian. Atau dapat berarti menjalankan kebijaksanaannya secara sah untuk alasan yang tidak benar dan dapat merugikan kepentingan umum. Yang menyalahgunakan kewenagan dan kekuasaan. 3. J.S. Nye menyatakan korupsi sebagai perilaku yang menyimpang dari kewajiban-kewajiban normal suatu peran instansi pemerintah, karena kepentingan pribadi, demi mengejar status dan gengsi atau melanggar

34

peraturan dengan jalan melakukan atau mencari pengaruh bagi kepentingan pribadi.33 c. Rumusan korupsi dengan titik berat pada kepentingan umum Carl. J. Friesrich, mengatakan bahwa pola korupsi dapat dikatakan ada apabila seseorang memegang kekuasaan yang berwenang untuk melakukan halhal tertentu seperti seorang pejabat yang bertanggungjawab melalui uang atau semacam hadiah lainnya yang tidak diperbolehkan oleh Undang-Undang, membujuk untuk mengambil langkah yang menolong siapa saja yang menyediakan hadiah dan dengan demikian benar-benar membahayakan kepentinan umum. d. Rumusan korupsi di bidang politik Theodore M. Smith, dalam tulisannya “Corruption Tradition and Channge” menyatakan secara keseluruhan korupsi di Indonesia muncul lebih sering sebagai masalah politik daripada masalah ekonomi. Ia menyentuh keabsahan (legitimasi) pemerintah di mata generasi muda, kaum elite terdidik dan pegawai pada umumnya. Korupsi mengurangi dukungan pada pemerintah dari kelompok elite di tingkat profinsi dan kabupaten. Rumusan-rumusan rumusan pengerian korupsi pada dasarnya dapat memberi warna pada korupsi dalam hukum positif,oleh karena itu rumusan pengertian korupsi tidak ada yang sama pada setiap negara, tergantung pada tekanan atau titik beratnya yang diambil oleh pembentuk undang-undang. Dari rumusan korupsi tersebut tercermin bahwa korupsi menyangkut segi moral, sifat dan keadaan yang busuk, jabatan dalam instansi atau aparatur pemerintahan,

35

penyelewengan kekuasaan karena pemberian, faktor ekonomi dan politik serta penempatan keluarga, golongan, ke dalam dinas di bawah jabatannya. F. Kerangka Konseptual 1. Yuridis Putusan Bebas Secara teoritikal terhadap putusan bebas (vrijspraak) tidak tersediakesempatan bagi Jaksa Penuntut Umum untuk mengajukan upaya hukumkasasi kepada Mahkamah Agung, yang dikonsepsi dalam rumusan Pasal244 KUHAP, yang berbunyi, “Terhadap putusan perkara pidana yangdiberikan pada tingkat agung, terakhir terdakwa oleh atau pengadilan penuntut lain umum selain dapat

daripadaMahkamah

mengajukanpermintaan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah agung kecualiterhadap putusan bebas.” Berdasarkan bahwapembentuk redaksional undang-undang Pasal 244 KUHAP KUHAP) tersebut sebagai

(pembentuk

pemegangkebijakan yang memformulasikan ide-ide menyangkut esensi upayahukum kasasi terhadap putusan bebas tersebut secara konseptual teoritistampak dengan tegas tidak memperkenankan Jaksa Penuntut Umumuntuk mengajukan upaya hukum kasasi terhadap putusan bebas. Beberapa kalangan doktrina memandang dengan versi danargumen senada dengan pembentuk undang-undang yangmemformulasikan rumusan Pasal 244 KUHAP tersebut dengan inti esensibahwa terhadap putusan bebas tidak dapat dimohonkan upaya hukum lagioleh Jaksa Penuntut Umum baik berupa banding maupun kasasi.

36

Konstruksi pemikiran teoritikal konseptual para pakar ilmu hukummasing-masing memberikan justifikasi argumennya tentang ratio legisatau ide dasar terhadap putusan bebas (vrijspraak) yang tidak dapatdimintakan upaya hukum oleh Jaksa Penuntut Umum.Menurut van Bemmelen sebagaimana dikutip oleh Moeljatno yangdimuat dalam bukunya Harun M. Husein, mengatakan bahwa putusan pembebasan terdakwa dirasa sebagaisuatu hak yang diperoleh dan tidak boleh diganggu gugat.”Senada dengan pendapat van Bemmelen yakni Soedirjo yangdikutip oleh Harun M. Husein (1992:117) mengatakan bahwa, “Putusan bebas pintujalan hukum tertutup.” Menurut Agus Santoso (2002:9) putusan bebas, menyatakan: Bagi seorang terdakwa putusan bebas, yang tidak dapat dibuktikanperbuatan pidana yang dituduhkan terhadapnya lebih merupakan faktorutama, maka putusan bebas sebagai suatu hak yang diperoleh danmenghilangkan perbuatan pidana yang dituduhkan seyogianya tidakdijadikan dasar mengajukan permintaan kasasi seperti dinyatakan olehUndang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman dan KUHAP (Pasal 244 jo67 KUHAP).12. Demikian beberapa pandangan kalangan doktrina yang padaintinya memberikan konsepsi pemikiran tentang pemberian putusan bebaskepada terdakwa yang dianggapnya sebagai hak yang prinsip, tidak dapatdiganggu gugat lagi. Dapat dipahami bahwa putusan bebas yangdiperoleh terdakwa merupakan hak yang mutlak. Jadi dalam konteks iniadalah berbicara mengenai “kebebasan” yang merupakan hak asasikodrati manusia yang diinterpretasikan secara gramatikal dan sistematisdalam lingkup hukum pidana (hukum acara pidana) adalah bebas darihukuman oleh hakim atas tuduhan yang didakwakan kepada terdakwaapabila kesalahan atau

37

perbuatan yang didakwakan kepadanya tidakterbukti secara sah dan meyakinkan. Mengenai benar atau tidaknya haktersebut, apakah sudah diperoleh dengan proses yang benar atau tidak,secara teoritis konseptual (ketentuan dalam KUHAP), Jaksa PenuntutUmum sudah tidak diberikan kemungkinan untuk melakukan upaya kontrolatau koreksi baik berupa upaya hukum banding maupun kasasi. 2. Pengertian Korupsi Dalam ensiklopedia Indonesia disebut “korupsi” (dari bahasa Latin: corruption = penyuapan; corruptore = merusak) gejala dimana para pejabat, badan-badan Negara menyalahgunakan wewenang dengan terjadinya penyuapan, pemalsuan serta ketidakberesan lainnya. Adapun arti harfia dari korupsi dapat berupa : 1. Kejahatan kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan, dan ketidakjujuran. 2. Perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan sogok dan sebagainya. 3. Korup (busuk; suka menerima uang suap, uang sogok; memakai kekuasaan untuk kepentingan sendiri dan sebagainya. 4. Korupsi (perbuatan busuk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya); 5. Koruptor (orang yang korupsi). Baharuddin Lopa (1998:17) mengutip pendapat dari David M. Chalmers (1968:412), menguraikan arti istilah korupsi dalam berbagai bidang, yakni

38

yang menyangkut masalah penyuapan, yang berhubungan dengan manipulasi di bidang ekonomi, dan yang menyangkut bidang kepentingan umum. Menurut Hartanti Evi (2005:15) berdasarkan undang-undang bahwa korupsi diartikan: 1. Barang siapa dengan melawan hukum melakukan perbuatan

memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan yang secara langsung merugikan keuangan Negara dan atau perekonomian Negara dan atau perekonomian Negara atau diketahui patut disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan Negara (Pasal 2); 2. Barang siapa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan menyalah gunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan secara langsung dapat merugikan Negara atau perekonomian Negara (Pasal 3). 3. Barang siapa melakukan kejahatan yang tercantum dalam pasal 209, 210, 387, 388, 415, 416, 417, 418, 419, 420, 425, 435 KUHP. Dalam Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, pertanggung jawaban pidana pada perkara tindak pidana korupsi yaitu: a) Korporasi adalah kumpulan orang dan atau kekayaan yang terorgan isasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. b) Pegawai Negeri adalah meliputi :

39

1. pegawai

negeri

sebagaimana

dimaksud

dalam

Unda

ng-undang tentang Kepegawaian; 2. pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undangundang HukumPidana; 3. orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah; 4. orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah; atau 5. orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat. c. Setiap orang adalah orang perseorangan atau termasuk korporasi. Berdasarkan ketentuan undang-undang nomor 31 Tahun 1999 jo undang-undang nomor 20 tahun 2001, jenis penjatuhan pidana yang dapat dilakukan hakim terhadap terdakwa tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut : 3. Terhadap Orang yang melakukan Tindak Pidana Korupsi

a. Pidana Mati Dapat dipidana mati karena kepada setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau

perekonomian Negara sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang nomor 31 tahun 1999 jo Undang-undang nomor 20 tahun

40

2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, yang dilakukan dalam keadaan tertentu. b. Pidana Penjara

a) Pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) bagi setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perkonomian Negara. (Pasal 2 ayat 1) b) Pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak satu Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) bagi setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara (Pasal 3) c) Pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta) bagi setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan,

41

penuntutan, dan pemeriksaan di siding pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi. (Pasal 21) d) Pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) bagi setiap orang sebagaimana dimaksud dalam pasal 28, pasal 29, pasal 35, dan pasal 36. c. Pidana Tambahan 1. Perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut. 2. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta yang diperoleh dari tindak pidana korupsi. 3. Penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun. 4. Pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan tertentu yang telah atau dapat diberikan oleh pemerintah kepada terpidana. 5. Jika terpidana tidak membayar uang pengganti paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh

42

kekuatan hukum tetap maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. 6. Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti maka terpidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak memenuhi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai ketentuan undang-undang nomor 31 tahun 1999 jo undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan. d. Tindak Pidana yang dilakukan Oleh atau Atas Nama Suatu Korporasi Pidana pokok yang dapat dijatuhkan adalah pidana denda dengan ketentuan maksimal ditambah 1/3 (sepertiga). Penjatuhan pidana ini melalui procedural ketentuan pasal 20 ayat (1)-(5) undang-undang 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut: 1. Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, maka tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya. 2. Tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama.

43

3. Dalam hal ini tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi maka korporasi tersebut diwakili oleh pengurus, kemudian pengurus tersebut dapat diwakilkan kepada orang lain. 4. Hakim dapat memerintahkan supaya pengurus korporasi menghadap sendiri di pengadilan dan dapat pula memerintahkan supaya penguruh tersebut dibawa ke siding pengadilan. 5. Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, maka panggilan untuk menghadap dan menyerahkan surat panggilan tersebut disampaikan kepada pengurus di tempat tinggal pengurus atau ditempat pengurus berkantor. Unsur-unsur tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Undangundang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi adalah 1. Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi; 2. Perbuatan melawan hukum; 3. Merugikan keuangan Negara atau perekonomian; 4. Menyalahgunakan kekuasaan, kesempatan atas sarana yang ada padanya karena jabatan dan kedudukannya dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain.

44

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian Penelitian ini termasuh dalam tipe penelitian empiris yakti penelitian tentang hukum, di daam pelaksanaan penelitian ini dikaitkan dengan tema/teori.konsepnya adalah bersifat normatif karena ada proses, prinisp dan prosedur yang digunakan. Namun demikian pada dasarnya penelitian ini tidak sepenuhnya bersifat normatif mengingat kasus yang dibahas dalam penulisan ini terjadi pada lingkup yang sebenarnya. B. Jenis dan Sumber Bahan Hukum 1. Jenis Bahan Hukum Bahan hukum menurut jenisnya yang digunakan dalam penelitian ini keterangan-keterangan yang diperoleh langsung melalui Putusan Bebas Dalam Kasuk Korupsi Nomor : 33/PID.B/2005/PN.KDI. 2. Sumber Bahan Hukum Menurut sumbernya bahan hukum dibedakan menjadi : a. Bahan hukum primer Bahan hukum primer dalam penelitian ini adalah Nomor: 33/PID.B/2005/PN.KDI. b. Bahan hukum sekunder Putusan Bebas

45

Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini adalah memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer melalui literatur yang diambil dari perpustakaan, jurnal hukum, majalah hukum dan majalah peradilan C. Metode Pendekatan Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yaitu metode untuk memberikan penjelasan-penjelasan sehubungan dengan tujuan penelitian yang akan dicapai. Metode pendekatan ini lebih memberikan gambaran berupa tinjauan yuridis terhadap putusan bebas dalam kasus korupsi anggaran APBN di Kabupaten Konawe. D. Tehnik Pengumpulan Bahan Hukum Untuk memperoleh data dari obyek penelitian sebagai bahan penelitian skripsi diperlukan suatu cara atau tehnik yang efisien dan efektif agar mendapat data yang aktual. Adapun tehnik pengumpulan data yaitu : 1) Studi Kepustakaan Data kepustakaan dikumpulkan dengan cara membaca, mencatat, mempelajari dan menganalisa isi pustaka yang berkaitan dengan masalah objek penelitian. Penulis mempelajari dokumen dan arsip yang berhubungan dengan masalah objek penelitian yang berhubungan dengan yuridis terhadap putusan bebas dalam kasus korupsi. 2) Wawancara (Interview) Data ini diperoleh dari pihak kantor Pengadilan Negeri Kendari dengan menggunakan daftar pertanyaan.

46

E. Instrumen Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah, dan tujuan penelitian dalam bentuk pertanyaan untuk memperoleh data-data variabel mengenai hasil keputusan bebas dalam kasus korupsi anggaran APBD di Kabupaten Konawe. Daftar pertanyaan merupakan salah satu jenis instrumen pengumpulan data yang disampaikan kepada responden/subyek penelitian melalui sejumlah pertanyaan teknik ini dipilih semata-mata karena subyek adalah orang yang mengetahui dirinya sendiri, apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya, dan interpretasi subyek tentang pertanyaan/pernyataan yang diajukan kepada subyek adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh penelitian F. Analisis Bahan Hukum Data yang diserahkan dari hasil penelitian dianalisis dengan

menggunakan analisis secara : Deskriptif kualitatif yaitu suatu cara menarik kesimpulan dengan memberikan gambaran atau menjabarkan terhadap data yang terkumpul dalam bentuk uraian kalimat sehingga pada akhirnya dapat mengantarkan pada

kesimpulan.Dari teknik analisis data tersebut agar terbentuk suatu gambaran umum atau lukisan secara sistematis, kemudian diuraikan dengan logika deduktif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times