KHI 1991 Pasal 12 (1).

Peminangan dapat dilakukan terhadap seorang wanita yang masih perawan atau terhadap janda yang telah habis masa iddahnya. (2). Wanita yang di talak suami yang masih berada dalam masa iddah raji’ah, haram dan dilarang untuk dipinang. (3). Dilarang juga meminang seorang wanita yang sedang dipinang orang lain, selama pinangan pria tersebut belum putus atau belum ada penolakan dari pihak wanita. (4). Putus pinangan pihak pria, karena adanya pernyataan tentang putusnya hubungan pinangan atau secara diam-diam pria yang meminang telah menjauhi dan meninggalkan wanita yang dipinang.

PENJELASAN Pendahuluan

Dalam UU Perkawinan sama sekali tidak membicarakan peminangan. Hal ini mungkin disebabkan peminangan itu tidak mempunyai hubungan yang mengikat dengan perkawinan. KHI mengatur peminangan itu dalam pasal 1, 11, 12, dan 13. keseluruhan pasal yang mengatur peminangan ini keseluruhannya berasal dari fqh madzhab, terutama madzhab Syafi’ie. Namun hal-hal yang dibicarakan dalam kitab-kitab fiqh tentang peminangan seperti hukum perkawinan yang di lakukan setelah berlangsungnya peminangan yang tidak menurut ketentuan, tidak diatur dalam KHI. Dalam makalah ini dijelaskan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pinangan atau dalam bahasa lain (baca: Arab) adalah khitbah (merujuk pada KHI 1991 Pasal 12, tentang aturan pinangan). Selain itu, permasalahan khitbah ini - sering - dianggap sepele oleh masyarakat Indonesia tanpa mengacu kepada hukum-hukum Islam yang ada. Oleh karena itu, dalam makalah ini diulas beberapa hal yang berhubungan dengan khitbah, mohon maaf atas segala kekurangan.

1. Pengertian Pinangan

Pinangan (meminang/melamar) atau khitbah dalam bahasa Arab, merupakan pintu gerbang menuju pernikahan. Khitbah menurut bahasa, adat dan syara, bukanlah perkawinan. Ia hanya merupakan mukaddimah (pendahuluan) bagi perkawinan dan pengantar kesana. Khitbah

Namun Masa khitbah bukan lagi saat untuk memilih. Pertunangan (khitbah) belum tentu berakhir dengan pernikahan. walaupun disertai dengan ritual-ritual seperti tukar cincin. khitbah tidak lebih dari sekedar mengumumkan keinginan untuk menikah dengan wanita tertentu. Seluruh kitab/kamus membedakan antara kata-kata "khitbah" (melamar) dan "zawaj" (kawin/menikah). hakhak. masing-masing keluarga juga sudah saling mengenal dan dekat. selamatan dll. kecuali ada takdir Allah yang menghendaki lain. adalah keliru. dan syari'at pun membedakan secara jelas antara kedua istilah tersebut. Ada satu hal penting yang perlu kita catat. adat/kebiasaan juga membedakan antara lelaki yang sudah meminang (bertunangan) dengan yang sudah menikah. anggapan masyarakat bahwa pertunangan itu adalah tanda pasti menuju pernikahan. dan akibat-akibat tertentu.merupakan proses meminta persetujuan pihak wanita untuk menjadi istri kepada pihak lelaki atau permohonan laki-laki terhadap wanita untuk dijadikan bakal/calon istri. Khitbah dilaksanakan saat keyakinan sudah bulat. Dan khitbah bagaimanapun keadaannya tidak akan dapat memberikan hak apa-apa kepada si peminang melainkan hanya dapat menghalangi lelaki lain untuk meminangnya. mereka sudah menjadi mahram. sebagaimana disebutkan dalam hadits: ِ ِ ِ ‫ْ ِي َن َ ِيد ن ُ َ ب َن َب ُ َ َة َ ِ ي و َ و‬ ‫َ د َِي ن َ د و َ د ُ ْ ن َ د‬ َ ُُّ ‫ح َّثَنَا عل ُّ بْ ُّ عْب ُّ اللَُّّ ح َّثَنَا سفيَا ُُّ ح َّثَنَا الزىر ُّ ع ُّْ سع ُّ بْ ُِّ الْمسيَّ ُِّ ع ُّْ أِ ُّ ىريْرُّ رض َُّ اللَُُّّ عْن‬ ُ ٍ ‫و و م ن يع ِ ر‬ ِ ‫قَ َُّ نَهى رس ُُّ اللَُّّ صلَّى اللَُّّ علَي ُّ وسلَّ ُّ أَ ُّْ يبِ ُّ حاض ُّ لِب ُّ وَُّ تَنَاجشوا وَُّ يبِ ُّ الرج ُّ علَى ب ي ُِّ أَخ‬ ِ ‫ع‬ ِ ِ ‫ُ َ ْ َ َ َ َ َ َ ٌ َاد َل َ ُ َل َ يع َّ ُ ل َ َْ يو َل َ ب‬ ُُّ ُ‫ُّ وَُّ َيْط‬ َ ‫ال َ َ ُ ول و‬ ُ ُ ِِ ِ ِ ‫علَى خطْبَُّ أَخ ُّ وَُّ تَسأ ُُّ الْمرأَُُّ طََل َُّ أُختِها لِتَكفَُّ ما ِ ُّ إِنَائِها‬ َ َ ‫ة يو َل ْ َل َ ْ ة َ ق ْ َ ْ َ أ َ ف‬ Dari Abu Hurairah ra. hal itu tak lebih hanya untuk menguatkan dan memantapkannya saja. Karena itu. Khitbah. Bahwa Rosulullah saw bersabda "………Tidak boleh salah seorang diantara kamu meminang pinangan saudaranya……" (Muttafaq 'alaih) Karena itu. yang penting dan harus diperhatikan di sini bahwa wanita yang telah dipinang atau dilamar tetap merupakan orang asing (bukan mahram) bagi si pelamar sehingga terselenggara perkawinan (akad nikah) dengannya. Oleh karenanya baik pihak laki-laki maupun wanita harus tetap menjaga batasan-batasan yang telah ditentukan oleh syariat. Jadi shalat istiharah sebaiknya dilakukan sebelum khitbah. Tidak boleh si wanita diajak . Mengkhitbah sudah jadi komitmen untuk meneruskannya ke jenjang pernikahan. sedangkan zawaj (pernikahan) merupakan aqad yang mengikat dan perjanjian yang kuat yang mempunyai batas-batas. sehingga peluang untuk dibatalkan akan sangat kecil. Pinangan yang kemudian berlanjut dangan “pertunangan” yang kita temukan dalam masyarakat saat ini hanyalah merupakan budaya atau tradisi saja yang intinya adalah khitbah itu sendiri. hingga mereka mengira dengan melaksanakan ritual itu. syarat-syarat. meski bagaimanapun dilakukan berbagai upacara.

. 3. Hukum Peminangan (Khitbah) Memang terdapat dalam Alqur’an dan banyak hadis Nabi yang membicarakan tentang peminangan. Tunangan bukan hakekat dari perkawinan melainkan langkah awal menuju tali perkawinan. Wanita tunangannya tetap sebagai orang asing bagi si peminang (pelamar) yang tidak halal bagi mereka untuk berduaan. Oleh karena itu. Mayoritas ulama' mengatakan bahwa tunangan hukumnya mubah. Bahwa Nabi saw berkata kepada (dia) seseorang yang telah meminang seorang perempuan : Lihatlah dia karena yang demikian akan lebih menguatkan ikatan perkawinan”. Adapun hikmah dari adanya syariat peminangan adalah untuk lebih menguatkan ikatan perkawinan yang diadakan sesudah itu. Namun tidak ditemukan secara jelas dan terarah adanya perintah atau larangan melakukan peminangan sebagaimana perintah untuk mengadakan perkawinan dengan kalimat yang jelas. Namun sebagian ulama' cenderung bahwa tunangan itu hukumnya sunah dengan alasan akad nikah adalah akad luar biasa bukan seperti akad-akad yang lain sehingga sebelumnya disunahkan khitbah sebagai periode penyesuaian kedua mempelai dan masa persiapan untuk menuju mahligai rumah tanggapun akan lebih mantap. syara'.hidup serumah (rumah tangga) kecuali setelah dilaksanakan akad nikah yang benar menurut syara'. sebab tunangan ibarat janji dari kedua mempelai untuk menjalin hidup bersama dalam ikatan keluarga yang harmonis. meskipun hukumnya tidak sampai pada tingkat wajib.selalu mempunyai tujuan dan hikmah. dalam menetapkan hukumnya tidak terdapat pendapat ulama’ yang mewajibkannya. karena dengan peminangan itu kedua belah pihak dapat saling mengenal. 2. dan rukun asasi dalam akad ini ialah ijab dan kabul. maupun undang-undang.hal ini sebagaimana dalam hadis Nabi : ِ ِ ِ ‫َ د ْ د ن َ ع َ د ن َب َ َ ة ال َ َّ ن َ ِ م ن ُ َ ن ُ و ْ ْ َ ل َن ْ ر ن َ د و‬ َُّّ‫ح َّثَنَا أَْحَ ُُّ بْ ُُّ منِي ٍُّ ح َّثَنَا ابْ ُُّ أِ ُّ زائِدُّ قَ َُّ حدثَِ ُّ عاص ُّ بْ ُُّ سلَْيما َُّ ى َُّ اْلَحو ُُّ ع ُّْ بَك ُّ بْ ُِّ عْب ُّ الل‬ َ ُ ِ ِ ‫الْمزِ ُّي ع ُّْ الْمغِريُّ بْ ُِّ شعبََُّ أَن ُُّ خطَ َُّ امرأَُّ فَق َُّ النِ ُّ صلَّى اللَُُّّ علَْي ُّ وسلَّ ُّ انْظُُّْ إِلَْي ها فَِإن ُُّ أَحرى أَ ُّْ يُؤد ُّ بَْي نَكما‬ ً َ َ ُ ‫ُ َن َن ُ َة ن ُ ْ ة َّو َ ب ْ َ ة َ ال َّب َ و َ و َ َ م ر َ َّو ْ َ ن ْ َم‬ َ Dari Al Mughiroh bin Syu’bah. Hikmah Disyariatkannya Peminangan (Khitbah) Setiap hukum yang disyariatkan. Selama akad nikah dengan ijab dan kabul .ini belum terlaksana. baik menurut adat. baik dalam Alqur’an maupun dalam hadis Nabi. maka perkawinan itu belum terwujud dan belum terjadi.

itu tadi adalah pendapat mayoritas ulama' (Hanafiah. Syarat-syarat Khitbah Pertunangan diperbolehkan oleh agama apabila terpenuhi syarat-syarat di bawah ini a) Tidak adanya penghalang antara kedua mempelai. 4. itu lebih baik dan akan bisa mendatangkan rasa cinta di antara kalian". seperti dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam An-Nasai mengatakan :" Tidak boleh bagi seorang lelaki melamar tunangan orang lain sehingga ia menikahinya atau meninggalkannya "Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim. mushoharoh. Dalam riwayat Mughirah bin Syu'bah ketika hendak melakukan khitbah kepada seorang perempuan. seperti ucapan : “tidak ada orang yang tidak senang kepadamu”. namun sebagian ulama' lain memperbolehkan khitbah tersebut apabila tidak ada jawaban yang jelas dari mempelai wanita. b) Tidak berstatus tunangan orang lain. baik dengan menggunakan bahasa terus terang . Malikiah dan Hanabilah). meskipun dengan janji akan dinikahinya pada waktu dia telah boleh dinikahi. Rasulullah menasehatinya "Lihatlah dulu. sebab tunangan adalah langkah awal dari perkawinan maka disamakan hukumnya dengan akad perkawinan. yaitu tidak ada hubungan keluarga (mahram). bahkan sebelum menyatakan khitbah secara resmi.Dalam khitbah dianjurkan bagi lelaki untuk melihat perempuan (dalam batas yang diperbolehkan agama). Menggunakan ucapan yang kurang jelas dan tidak terus terang (kinayah) yang berarti ucapan itu dapat mengandung arti bukan untuk peminangan. Adapun cara menyampaikan ucapan peminangan terdapat dua cara : a) Menggunakan ucapan yang jelas dan terus terang dalam arti langsung dipahami atau tidak mungkin dipahami dari ucapan itu kecuali untuk peminangan seperti ucapan : “saya berkeinginan untuk menikahimu”. Tidak boleh meminang seorang perempuan yang masih punya suami. tunggal susuan (rodhoah). atau penghalang yang lain. Keharaman ini jika tidak mendapat izin dari pelamar pertama atau ada unsur penolakan dari pihak mempelai wanita. b) Perempuan yang belum menikah atau sudah menikah dan telah habis masa iddahnya boleh dipinang dengan ucapan terus terang dan boleh pula dengan ucapan sindiran.

Kebolehan meminangnya (dengan sindiran) dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat : 235 "Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita (yang suaminya telah meninggal dan masih dalam 'iddah) itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Sedangkan perempuan yang sedang menjalani iddah karena kematian suaminya. namun dapat dilakukan dengan cara sindiran. kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf (sindiran yang baik). Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis 'iddahnya. ialah bahwa perempuan dalam iddah talak raj’i statusnya sama dengan perempuan yang sedang terikat dalam perkawinan. tidak boleh dipinang dengan menggunakan bahasa terus terang. dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia. Melihat wanita yang dipinang Waktu berlangsungnya peminangan. namun boleh meminangnya dengan bahasa sindiran. 5. Kebolehan ini karena perempuan tersebut telah putus hubungannya dengan bekas suaminya. saya yang akan melindungimu”. laki-laki yang melakukan peminangan diperbolehkan melihat perempuan yang dipinangnya. sebagaimana yang berlaku pada perempuan yang kematian suami. Alasannya. seperti : “Jangan khawatir dicerai suamimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebutnyebut mereka. Meskipun menurut asalnya seorang laki- . Perempuan yang telah dicerai suaminya dan sedang menjalani iddah raj’i. sama keadaannya dengan perempuan yang punya suami dalam hal ketidakbolehannya untuk dipinang bak dengan bahasa terus terang atau bahasa sindiran.seperti : “Bila kamu dicerai suamimu saya akan menikahi kamu” atau dengan bahasa sindiran." (Al Baqarah: 235) ِ ِ ِ ‫َل ُ اح َ ُ م َ َ َّ ْ م و ِ ن ِ ة َ اء َو ْ م ف ُ ِ ُ م َ م و ُ م َ ْ ُ ُ ُ ن‬ َُّّ ‫وَُّ جنَ َُّ علَْيك ُّْ فِيما عرضتُ ُّْ بُِّ م ُّْ خطْبَُّ النيس ُّ أ ُّْ أَكنَ ْنتُ ُّْ ِ ُّ أَنْفسك ُّْ علِ ُّ اللَُُّّ أَنَّك ُّْ ستَذكرونَه‬ َ ‫ْل َ ْ ُ َل ْ ُِ ْ َ ة َ اح َ ّت غ ِ اب َ و َ ْ ُ َن و‬ َ ُ ‫َ ِن ل َ ِ ُ ُ ن ِ ًّ ل ن‬ َ ََُّّ‫ولَك ُّْ َُّ تُواعدوى َُّّ سرا إَُِّّ أَ ُّْ تَقولُوا قَوًُّ معروفًا وَُّ تَعزموا عُقدُّ النيك ُِّ ح َُّّ يَْب لُ ُّ الْكتَ ُُّ أَجلَُُّ واعلَموا أ َُّّ الل‬ -532ُّ:ُّ‫يَعلَ ُّ ما ِ ُّ أَنْفسك ُّْ فَاحذر ُُّ واعلَموا أ َُّّ اللََُّّ غف ٌُّ حلِ ُّ ُُُّّّ-ُّالبقرة‬ ‫ْ م َ ف ُ ِ ُ م ْ َ ُوه َ ْ ُ َن و َ ُور َ يم‬ ٌ ُ Perempuan yang sedang menjalani iddah dari talak ba’in dalam bentuk fasakh atau talak tiga tidak boleh dipinang secara terus terang.

Rosulullah saw bersabda: “……Bila seseorang diantara kamu meminang perempuan dan ia mampu melihatnya yang akan mendorong untuk menikahnya. ِ ِ ْ َ ِ ‫ْ ِ ُ ِ َ َ د َ ْ ُ ُ ِ ٍ َ ْ َ َّ ٍ َ ْ ُ َّ ِ ُّب ِ ُ َ َ َ ْ َ ي‬ ُّ‫ح َّثَنَاُّأَبُوُّبَكر ُّبْن ُّأَب ُّشْيبَةَُّح َّثَنَاُّحفص ُّبْن ُّغيَاث ُّعن ُّحجاج ُّعن ُُّمَمد ُّْن ُّسلَْيمان ُّعن ُّعمو ُّسهل ُّبْن‬ ‫َد‬ ِ ِ ِ ُّ‫أَب ُّحثْمة ُّعن ُُّمَمد ُّبْن ُّمسلَمةَُّقَ َُّ خطَْبت ُّامرأَة ُّفَجع ْلت ُّأََتَبَّأَُُّلَاُّحّت ُّنَظَرت ُّإِلَْي هاُّف َُّنْل َُّلَاُّفَقيل ُّلَوُُّأَتَفعل ُّىذا‬ ََ ُ َْ َ َ ٍ َ َ ُ ْ َّ َ َ َ ُ َ َ ً َ ْ ُ َ ‫ِ َ َ َ َ ْ ُ َّ ِ َ ْ َ ال‬ ِ َ ِ ِ ِ ِ ِ ُُّّ ِ ُ‫وأَنْت ُّصاحب ُّرسول ُّاللَّو ُّصلَّىُّاللَّوُُّعلَْيو ُّوسلَّم ُّفَقال َُّسعت ُّرسول ُّاللَّو ُّصلَّىُّاللَّوُُّعلَْيو ُّوسلَّم ُّيَقول ُّإِذَاُّأَلْقىُّاللَّو‬ ‫ُّف‬ ُ ُ َ ََِ َ َ َ َ َُ ُ َْ َ َ َ ََ َ َُ ُ َ َ َ ِ ٍِ ِ ‫قَ ْلبُّامرئُّخطْبَةَُّامرأَةٍُّفََلُّبَأْسُّأَنُّيَْنظُرُّإِلَْي ها‬ ْ َ َ ْ َ َ َْ Dari Muhammad bin Salamah. maka lakukanlah…….” Dalam hadis Nabi yang lain. Bersabda : “Bila Allah telah menggerakkan hati seseorang untuk meminangnya. . ‫انْظُُّْ إِلَْي ها فَِإن ُُّ أَحرى أَ ُّْ يُؤد ُّ بَْي نَكما‬ َ َ ُ ‫ر َ َّو ْ َ ن ْ َم‬ “Memandanglah kepadanya. “…saya mendengar Rosulullah saw. baik menggunakan kalimat suruhan. karena yang demikian itu akan lebih melanggengkan perkawinan keduanya.” Dalam hadis lain. tidak mengapa jika ia melihat kepadanya” Banyak hadis Nabi yang berkenaan dengan melihat perempuan yang dipinang.laki haram melihat kepada seorang perempuan. Kebolehan melihat ini didasarkan kepada hadis Nabi saw dari jabir: ِ ٍ ٍ ِ ِِ ُ ِ ُّ‫ح َّثَنَاُّيُونُس ُّبْن ُُّمَمد ُّح َّثَنَاُّعْبد ُّالْواحد ُّبْن ُّزيَاد ُّح َّثَنَاُُّمَمد ُّبْن ُّإِسحاق ُّعن ُّداود ُّبْن ُّاْلُصْي ُّعن ُّواقِد‬ ‫َد‬ َ ْ َ ْ َ ْ ِ َ ُ َ ْ َ َ َ ْ ُ ُ َّ ُ ‫َ د‬ ُ َ َ ‫ُ ُ ُ َّ َ د‬ ِ ِ ٍ ِ ُ ُّ‫بْن ُّعْبد ُّالرْحَن ُّبْن ُّسعد ُّبْن ُّمعاذ ُّعن ُّجابِر ُّقَ َُّ قَال ُّرسول ُّاللَّو ُّصلَّىُّاللَّوُُّعلَْيو ُّوسلَّم ُّإِذَاُّخطَب ُّأَحدك ُّْ ُّالْمرأَة ُّفَِإن‬ ْ َ ْ َ ‫َ ِ َ َ َ َ َ َ ُ ُم‬ َ ُ َ َ ‫ِ َ َّ ْ ِ ِ َ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ٍ ال‬ ِ ِ ُّ‫استَطَ ُّ ُّأَن ُّيَْنظُر ُّمْن هاُّإَِل ُّماُّيَدعُوهُ ُّإَِل ُّنِكاحهاُّفَ ْليَ فع ُّْ قَال ُّفَخطَْبت ُّجاريَة ُّمن ُّبَن ُّسلِمة ُّفَكْنت ُّأَختَبِئ َُّلَاَُّتت‬ ْ َ َ َ ِ َ ْ ‫ْ اع‬ َ َ َْ َ ُ ْ ُ ُ َ َ َ ِ ْ ً ِ َ ُ َ َ ‫َ َ َ ْ َ ل‬ ِ ِ ِ ‫الْكربُّحّتُّرأَيْتُّمْن هاُّبَعضُّماُّدعانُّإَِلُّنِكاحهاُّفَتَ زوجتُها‬ َ ْ َّ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ ْ َ ُ َ َّ َ َ َ Dari Mu’adz bin Jabir. maupun dengan menggunakan ungkapan “tidak mengapa”.

namun ada batas-batas yang boleh dilihat. Nabi berpaling daripadanya dan berkata : “Hai Asma‟ bila seorang perempuan telah haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini” Nabi mengisyaratkan kepada muka dan telapak tangannya…… Alasan disamakan dengan muka dan telapak tangan saja. Ini adalah batas yang umum aurat seorang perempuan. yaitu: a.……Asma‟ binti Abi Bakar masuk ke rumah Nabi saw. Bahkan juga tidak dalam literature ulama’ Dzahiri yang biasanya memahami perintah itu sebagai suatu kewajiban. Ulama’ jumhur menetapkan hukumnya adalah boleh. Ditetapkannya hokum mubah ini meskipun terdapat dalam hadis kata suruhan disebabkan oleh dua hal. Pertama. Yang menjadi dasar bolehnya melihat dua bagian badan itu adalah hadis Nabi : ُّ‫ح َّثَنَاُّيَعقوب ُّْنُّكعبُّاْلَنْطَاكِيُّومؤملُّبْنُّالْفضلُّاْلَرانُّقَالُّح َّثَنَاُّالْولِيدُّعنُّسعِيدُّبْنُّبَشري ُّنُّقَتَادة‬ ْ ٍ ْ َ ُ ‫َ د ْ ُ ُ ُّب‬ َ َ ْ ‫َ ُ َ َّ ُ ُ َ ْ ِ ْ َّ ِ َ َ د َ ُ َ ْ َ ِ ِ ِ ٍ ُّع‬ َ ٍ ِ ِ ِ ٍ ٍ ُُّ‫عنُّخالِدُّقَالُّيَعقوبُّابْنُّدريْكُّعنُّعائِشةَُّرضيُّاللَّوُُّعْن ها أَنُّأََسَاءَُّبِْنتُّأَبُّبَك ُُّّدخلَتُّعلَىُّرسولُّاللَّوُّصلَّىُّاللَّو‬ ْ َّ َ َ َ َْ َ ُ َ َ ْ َ َ ‫َ ِ ْر‬ َ َ َ َ ْ َ َُ ُ ُ ُ ْ َ ِ ‫علَيو ُّوسلَّم ُّوعلَي هاُّثِياب ُّرقَاق ُّفَأَعرض ُّعْن هاُّرسول ُّاللَّو ُّصلَّىُّاللَّو ُّعلَي‬ ِ ُ ِ ُّ‫ُ َ ْو ُّوسلَّم ُّوقَال َُّاُّأََسَاءُ ُّإِن ُّالْم ْرأَة ُّإِذَاُّبَلَغَت‬ َ َ َّ ْ ‫َ َ َ َ َ ُّي‬ ْ َ ُ َ َ َ َ َْ ٌ ِ ٌ َ َ ْ َ َ َ َ َ ْ َ ِ ُّْ‫الْمح َُّ َلُّْتَصلُح ُّأَن ُّيُرىُّمْن هاُّإِل ُّىذاُّوىذاُّوأَشار ُّإَِل ُّوجهو َك َّي ُّ قَال ُّأَبُوُّداودُّىذاُّمرسل ُّخالِد ُّبْن ُّدريْك َُّل‬ َ ‫َ ِ يض َ ْ ْ ْ َ ِ َ َّ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ْ ِ ِ ُّوَ فْو‬ َ ٍ َُ ُ ُ َ ٌ َ ُْ َ َ ُ َ ِ ِ ‫يُدركُّعائِشةَُّرضيُّاللَّوُُّعْن ها‬ ََ َ َ َ َ ْ ْ Dari Aisyah ra. Daud Dzahiri berpendapat boleh melihat semua badan. namun perintah tersebut dating sesudah sebelum berlakunya larangan secara umum untuk memandang perempuan. Batas yang boleh dilihat Meskipun hadis Nabi menetapkan boleh melihat perempuan yang dipinang. Sedangkan ia memakai pakaian yang sempit. meskipun terdapat lafadz amr dalam beberapa versi hadis Nabi.Namun tidak ditemukan secara langsung ulama’ mewajibkannya. Jumhur ulama’ menetapkan bahwa yang boleh dilihat hanyalah muka dan telapak tangan. Ulama’ lain seperti Al awza’iy berpendapat boleh melihat bagian-bagian yang berdaging. Kedua. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama’. karena hadis Nabi yang membolehkan . tidak sunnah apalagi menetapkan hokum wajib. Suruhan setelah datangnya larangan menunjukkan yang disuruh itu hukumnya hanyalah mubah. ditemukan dalam beberapa versi hadis Nabi menggunakan kata “la junaha” atau kata “la ba’sa” yang keduanya tidak mengandung arti selain dari mubah. karena dengan melihat muka dapat diketahui kecantikannya dan dengan melihat telapak tangannya dapat diketahui kesuburan tangannya. b.

atau untuk mencari tempat yang akan disewa. Jeda waktu antara khitbah dan menikah Secara dalil nash. Dari Jabir. kami belum menemukan dalil yang sharih dan shahih tentang keharusan adanya jarak waktu tertentu antara khitbah dan akad. Kalau pun jarak waktu itu dibutuhkan. barangkali sekedar untuk memberikan beberapa persiapan yang bersifat teknis. Larangan Menyendiri dengan Tunangan Haram menyendiri dengan tunangan. Namun telah dikecualikan oleh Nabi untuk kepentingan peminangan. karena bila ia tidak suka setelah melihat ia akan dapat meninggalkannya tanpa menyakitinya. Akan tetapi apabila ditemani oleh salah seorang mahramnya guna mencegah terjadinya perbuatan-perbuatan maksiat.melihat waktu meminang itu tidak menyebutkan batas-batasnya. Apakah harus sebulan. Sebab biasanya. dua bulan. atau keperluan-keperluan lain yang manusiawi. karena bukan mahramnya. Walaupun yang demikian adalah aurat. Agama tidak memperbolehkan melakukan sesuatu terhadap pinangannya. Rosulullah saw bersabda : ِ ُ ِ ِ ِ ِ ُُّ‫ح َّثَنَاَُّيَيُّبْنُّإِسحاقُّأَخبَ رنَاُّابْنَُّلِيعةَُّعن ُّأَبُّالزبَري ُّعن ُّجابِرُّبْنُّعْبدُّاللَّوُّقَ َُّ قَالُّرسولُّاللَّوُّصلَّىُّاللَّو‬ َ َ َ ْ َ ِْ ُّ ِ ْ َ َ َ ُ َ ْ َ َ ْ ُ َ َْ ‫َ د‬ ُ َ َ ‫ال‬ ِ ِ ِ ْ ْ َ ِ ُ ِ ْ َ َ ْ َ َ ٍ َ ‫َ ِ َ َ َ ْ َ َ ْ ِ ُ ِ َ ْ ْ ِ ِ َ ْ ُ ْ َّ َ َّ ُِّب‬ ُّ‫علَْيوُّوسلَّمُّمنُّكانُّيُؤمنُّبِاللَّوُّوالْيَ وِمُّاْلخرُّفََلُّيَدخلُّاْلَمامُّإِل ِِْئ زرُّومنُّكانُّيُؤمنُّبِاللَّوُّوالْيَ وِمُّاْلخرُّفَ َُُّّيُدخل‬ ْ ْ ‫َل‬ ْ َ ِْ َ َ ٍَ ِ َّ‫حلِيلَتَو ُّاْلمام ُّومن ُّكان ُّي ؤمن ُّبِاللَّو ُّوالْي وِم ُّاْلخر ُّفََل ُّي قعد ُّعلَىُّمائِدة ُّيشرب ُّعلَي ُّاُّاْلمر ُّومن كان ي ؤمن بِالل‬ ِ ْ ِ ِْ َ َ ‫ُ ُ ه‬ ْ َ َ ُ ْ َْ ‫ِ َ َ ْ ُ ْ َ َ ُ ْ َ ُ َ ْ ه‬ َ ْ َ َ َ َّ َْ ُ َ َْ َ ُ ُ ِ ‫والْيَ وِم اْلخر فََل يَخلُون بِامرأَةٍ لَْيس معها ذُو محرم م ْن ها فَِإن ثَالِثَهما الش ْيطَان‬ ُ َّ َ ُ َّ َ ِ ٍَ ْ َ َََ َ َ ْ َّ َ ْ َ ِ ْ ْ َ “……barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah sekalikali menyendiri dengan seorang perempuan yang tidak disertai oleh mahramnya. dibolehkan. sebab yang ketiga adalah setan” 6. Sehingga. sedangkan perbuatan-perbuatan yang lainnya tetap haram. Sebagian orang ada yang butuh waktu untuk mengumpulkan dana. Adapun untuk melihat kepada perempuan itu adalah saat menjelang menyapaikan pinangan bukan setelahnya. setiap akad nikah yang akan digelar memang membutuhkan persiapan-persiapan teknis yang mutlak. Hal tersebut mengandung arti “boleh” melihat bagian manapun tubuh seorang perempuan. jarak waktu ini . kecuali melihat saja. tiga bulan atau berapa lama waktu.

sebab kondisinya yang kuat atau karena faktor lain yang mendukung. sesaat setelah khitbah diterima. Sehingga tidak lagi memboroskan waktu. Oleh sebab itu. pacaran -naudzubillah. Selain juga untuk memberikan kesempatan kepada kedua calon pengantin untuk dapat segera menunaikan hajat mereka. tentu tidak ada larangan. Adapun perempuan dalam keadaan yang ketiga menurut sebagian ulama’ diantaranya Ahmad bin Hanbal juga tidak boleh dipinang sama keadaannya dengan perempuan dalam keadaan pertama. Misalnya. Sebab dalam beberapa kasus. Akan tetapi sering terjadi pula seorang lelaki yang nekat melangsungkan akad pernikahan dengan wanita tunangan orang lain. maka sebaiknya jarak waktu antara khitbah dan akad tidak terlalu lama. Metode seperti ini kalau memang ingin dilakukan. . langsung saja digelar akad nikah. dan kebutuhan lain. Keadaan keadaan perempuan yang dipinang dapat dibagi dalam tiga hal : a) Perempuan tersebut menyukai laki-laki yang meminangnya dan menyetujui pinangan itu secara jelas memberi izin kepada walinya untuk menerima pinangan itu. akad nikah bisa digelar saat itu juga berbarengan dengan khitbah.sampai ke tingkat perzinaan. Cukup sekedar bisa mempertimbangkan masalah teknis saja. sebagian ulama’ berpendapat bahwa tidak haram meminang perempuan yang tidak secara jelas menerima pinangan pertama. hal itu demi untuk menjaga hak si lelaki pelamar pertama dan juga upaya menghindari timbulnya sengketa umat manusia. seandainya kedua belah pihak telah siap segala sesuatunya. Secara umum. Sedangkan dalam keadaan kedua boleh dipinang karena pinangan pertama jelas ditolak. Namun. 7. semakin cepat akad nikah dilakukan akan semakin baik. Karena niat baik itu memang biasanya harus dipercepat. atau mungkin juga tidak terlalu merepotkan urusan teknis. biaya. Maksudnya. seringnya terjadi khalwat. terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan.dikembalikan kepada al-'urf (kebiasaan dan kepantasan) serta tuntutan hal-hal yang bersifat teknis semata. terkadang karena terlalu lama jarak antara khitbah dengan akad nikah. lantaran memang tidak ada nash yang melarangnya. namun ada isyarat dia menyenangi peminangan itu. Menikahi Wanita Tunangan rang Lain Di atas tertera bahwa melamar wanita tunangan orang lain dilarang oleh agama. Apalagi taaruf antara kedua mempelai sudah menghasilkan kesaling-cocokan. Perempuan dalam keadaan yang pertama tersebut tidak boleh dipinang oleh seseorang. untuk menghindarinya. Dengan demikian. b) Perempuan tersebut tidak senang dengan laki-laki yang meminang dan secara terus terang menyatakan ketidaksetujuannya baik dengan ucapan atau dengan tindakan atau isyarat. c) Perempuan itu tidak memberikan jawaban yang jelas.

boleh saja membatalkan tali pertunangan. kemelut mengguncang. kondisi yang kurang mendukung atau karena kemelut badai yang mengguncang eratnya tali pertunangan hingga pudar. diketahui adanya cacat fisik atau mental pada salah satu pihak beberapa waktu setelah pertunangan. bila telah berlangsung hubungan kelamin dalam pernikahan tersebut. seperti tanda pengokoh (peningset atau pikukuh di jawa) para ulama’ berbeda pendapat : . kebahagiaan yang indah. mungkin sebab terlalu lama menunggu. Menurut ulama’ Dzahiry pernikahan tersebut tidak sah dengan arti harus dibatalkan.Belum juga imbas dari pembatalan tali pertunangan ini. bagaimana nasib hadiah-hadiah atau mahar tersebut apabila akhirnya pertunangan terputus? Apakah dikembalikan pada pihak laki-laki atau tetap menjadi hak sepenuhnya calon istri yang urung tersebut? Mahar yang dibayarkan sebelum akad nikah (dalam masa tunangan) menjadi hak laki-laki. Sedangkan pendapat ketiga dikalangan Malikiyah berpendapat. Masalah yang sering muncul adalah pada masa peminangan. sebab pertunangan ibarat ikatan janji setia dari kedua mempelai untuk menjalin hidup bersama membina rumah tangga bahagia. Berbeda halnya pemutusan pertunangan tanpa alasan yang sah menurut ajaran Islam. Misalnya. sebab kewajiban suami membayar maskawin adalah setelah terjadi ikatan pernikahan. Sedangkan mengenai hadiah-hadiah pertunangan. sudah tidak asing lagi. dalam masalah janji akan menikah ini kadang-kadang terjadi hal-hal yang dapat menjadi alasan yang sah menurut Islam untuk memutuskan hubungan petunangan. tunangan yang batal adalah ajang percorengan muka. Menurut Ahmad bin Hanbal dan Imam Asy Syafi’ie serta Imam Abu Hanifah pernikahan tersebut adalah sah dan tidak dapat dibatalkan. sedangkan pembatalan pertunangan ini adalah sebuah pengkhianatan ikatan janji setia.Tentang hukum pernikahan yang telah (terlanjur) dilaksanakan (melangsungkan akad pernikahan dengan wanita tunangan orang lain – dalam perbedaan pendapat ulama’-). Ulama' berpendapat. Lalu bagaimana sikap ulama' menanggapi masalah ini? Meskipun Islam mengajarkan bahwa memenuhi janji adalah suatu kewajiban. namun itu adalah makruh. maka pernikahan tersebut tidak dibatalkan sedangkan bila belum terjadi hubungan kelamin dalam pernikahannya maka pernikahan tersebut harus dibatalkan. karena ingin mendapatkan yang lebih baik dari segi keduniaan. 8. pihak laki-laki memberikan hadiah-hadiah pertunangan atau – mungkin – mahar telah dibayarkan kepada pihak perempuan sebelum akad nikah dilaksanakan. Misalnya. kenangan manis dan canda ria pun ikut hangus terbakar. yang dirasakan akan mengganggu tercapainya tujuan itu tidak dipandang melanggar kewajiban termasuk hak khiyar. pemutusan pertunangan seperti itu sama sekali tidak dapat dibenarkan. kecuali apabila direlakan. Ditinjau dari segi nilai moral Islam. Pembatalan Tali Pertunangan Memang sering kali tali pertunangan putus di tengah jalan tanpa membuahkan hasil sampai ke jenjang perkawinan.

inilah adat di Negara kita dan budaya ketimuran pada umumnya. Mengungkapkan cintanya terhadap Rasulullah dan memohon agar Rasulullah berkenan menikahinya. Meskipun demikian. Madzhab Hanafiah mengatakan jika hadiah itu masih utuh dan tidak ada perubahan. Berbeda lagi dengan pendapat Malikiah. Memang ini bukan hal yang baru atau imbas dari era modern. Begitu juga di zaman Rasulullah saw. Namun juga sering terjadi pihak keluarga mempelai wanita yang memulai jalinan tali pertunangan dan bahkan banyak wanita yang berani mengungkapkan cintanya pada sang pria. karena masalah ini sudah berjalan di zaman Nabiyullah Suaib a.s. atau berubah menjadi barang lain. maka kedua belah pihak boleh menuntutnya kembali. menurutnya pihak yang menghendaki pembatalan tali tunangan tidak berhak apa-apa atas pemberiannya. Penyimpangan dari ketentuan tersebut hanya dibanarkan apabila ada syarat lain antara keduabelah pihak. dan harus mengembalikan hadiah-hadiah yang pernah diterima dari pihak lain baik barangnya masih utuh ataupun telah rusak. c. 9. pemutusan peminangan tersebut . dan jika barang pemberian tersebut telah rusak atau berubah menjadi barang lain maka wajib mengembalikan qimahnya. Namun peminangan itu bukan suatu perjanjian yang mengikat untuk dipatuhi. b.s. sebab mayoritas wanita dihiasi perasaan malu yang tinggi dan enggan mengutarakan isi hatinya. Akibat Hukum Pinangan Peminangan itu adalah suatu usaha yang dilakukan mendahului pernikahan. maka kedua belah pihak tidak boleh saling menuntut kembali atas pemberiannya itu. 10. Perempuan Melamar Laki-laki Biasanya prialah yang menentukan pilihanya pada seorang wanita. namun bila terjadi perubahan atau rusak. baik pembatalan tunangan tersebut bersumber dari pihak mempelai pria maupun dari mempelai wanita. pernah menawarkan puterinya pada Nabi Musa as. tertera dalam Al Qur'an surat al-Qishos ayat 27 bahwa Nabiyullah Suaib a. justru karena tabiat inilah yang membuat kaum lelaki tertarik dan ingin segera mempersuntingnya. ketika Ummul mukminin Khodijah ra. Laki-laki yang meminang atau pihak yang dipinang dalam masa menjelang pernikahan dapat saja membatalkan pinangan tersebut. meskipun dulunya ia menerima. Sebagian ulama' (Syafi’iyah) mengatakan bahwa kedua belah pihak boleh menuntut kembali atas pemberiannya. namun budaya ini adalah warisan nenek moyang kita.a. atau apabila „urf (adat kebiasaan) tempat piha-pihak bersangkutan mengatakan lain.

di dalamnya terdapat hukum sebagaimana yang tertulis dalam pasal 12 (peraturan pinangan) ayat 3 yaitu tidak boleh meminang wanita yang masih dalam pinangan orang lain.sebaiknya dilakukan secara baik dan tdak menyakiti pihak manapun. pemberian tersebut dapat diambil kembali bila peminangan itu tidak berlanjut denganpernikahan. Simpulan KHI kurang jelas/mendetail dalam mengatur peminangan. belum berlaku hak dan kewajiban (suami-istri) diantara keduanya. Dengan demikian. Dalam pasal 13 sendiri dibahas tentang akibat hukum suatu peminangan. Oleh karena itu. . Disisis lain. Hubungan antara laki-laki yang meminang dengan perempuan yang dipinang –selama masa antara peminangan dan perkawinan. boleh dilamar namun harus dengan cara kinayah (sindiran) tidak boleh menggunakan cara yang shorih (jelas). Pemberian yang dilakukan dalam acara pinangan tersebut tidak mempunyai kaitan apapun dengan mahar yang diberikan kemudian dalam pernikahan. Begitu juga dengan seorang wanita yang menjalani masa iddah dari talaq ba’in dalam bentuk fasakh atau talaq tiga boleh dipinang namun dengan cara sindiran.adalah sebagaimana hubungan laki-laki dan perempuan asing (ajnabi dan ajnabiyah). selama pinangan tersebut belum putus atau belum ada penolakan dari pihak wanita. dalam pasal 12 poin 1 yang berbunyi “peminangan dapat dilakukan terhadap seorang yang masih perawan atau terhadap janda yang telah habis masa iddahnya. “hukum” yang dimaksud dalam pasal 13 ayat 1 adalah hukum atau hubungan antara laki-laki yang meminang dengan perempuan yang dipinang adalah “orang asing” dan tidak menimbulkan akibat hukum yang mengikat. Namun.” Dalam pasal ini tidak disebutkan bahwa wanita yang ditinggal mati oleh suaminya namun masih dalam masa iddah.

Cetakan Pertama. jangan sampai jarak antara tunangan dan perkawinan terlalu lama. semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa dibuat bahan acuan dan pertimbangan bagi mereka yang akan menjalin rumah tangga bahagia dan semoga Allah SWT. Alih Bahasa: Muhammad Thalib. (1980). Wallahu a'lamu bisshowab. Referensi Sabiq. ada yang membuahkan hasil positif sebagi langkah awal membina rumah tangga. Fiqih Sunnah. mungkin karena belum ada kesiapan atau sebab beberapa pertimbangan yang wajib dibuat acuan malah dilupakan. Bandung . 5) Status pendidikan dan penghasilan pasangan. Sayid. Selalu memberikan yang terbaik bagi kita semua Amin. namun harus memperhatikan hal-hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya sebagai berikut: 1) Punya rencana kapan penikahan akan diadakan. Sekian. 2) Sudah yakin siap mengikatkan diri pada satu orang. dan juga banyak yang kandas di tengah jalan. Dengan demikian cenderung perlu adanya tali pertunangan sebagai langkah awal menuju perkawinan. 3) Menikah dengan motivasi yang positif. PT Al Ma’arif. 4) Kesiapan kedua belah pihak menhadapi limpahan tanggung jawab.Penutup Begitulah tunangan yang membudaya saat ini.

Cetakan I. Hukum Perkawinan Islam. Ke-9.Undang-undang perkawinan Indonesia 2007 (Kompilasi Hukum Islam). WIPRESS Azhar Basyir. Ahmad. (1999). Cet. UII Press. Yogyakarta .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful