LEHER Pemeriksaan leher terdiri atas 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bentuk Gerak dan refleks Kelenjar getah bening Kelenjat thyroid A.

Carotis V. Jugularis eksterna Trakea

Leher relatif pendek pada bayi dan anak kecil, myxedema, sindrome Cushing, cretin. Benjolan/ pembesaran dileher dapat disebabkan oleh pembesaran kelenjar getah bening, kelenjar thyroid, aneurysma A. Carotis, kista ( bronkiogenik, higroma, kista dermoid dan sebagainya ) Keterbatasan gerak leher dapat disebabkan kelainan vertebrae, cervikalis, otot-otot leher, tetanus atau menderita retropharyngeal abses. Posisi kepala abnormal akibat kekakuan atau pendeknya otot leher ( m.sternocleidomastoideus ) unilateral disebut tortikolis. Pada adanya rangsang meningeal seperti pada meningitis misalnya, terdapat kaku kuduk dan refleks brudzinsky I positif. Pemeriksaan kelenjar thyroid Pemeriksaan kelenjar thyroid dilakukan dengan inspeksi, palpasi dan auskultasi. Pada inspeksi dilihat apakah ada pembesaran, jejas, sikatrik. Pada palpasi posisi pemeriksa dibelakang pasien. Pasien disuruh menelan ludahnya sendiri untuk memastikan kelenjar thyroid atau bukan, kelenjar thyroid bergerak naik bila pasien melakukan gerak menelan. Tentukan besar, konsistensi, permukaan, kulit diatasnya, nyeri tekan atau tidak, dan suhu. Pada auskultasi mencari ada tidaknya bruit. Pembesaran kelenjar thyroid disebut struma ( goiter ) yang mungkin bersifat toksik ( hipertiroidisme ) atau non toksik ( eutiroid atau hipotiroidisme ) Pemeriksaan A. Carotis. Pada keadaan normal A. Carotis tidak tampak berdenyut, tapi denyutnya dapat diraba. Bila tampak berdenyut kemungkinan menderita insufiensi katup aorta ( AI ), hipertensi, hyperthyroidisme, anemia berat, coaretatio aorta, pada orang yang melakukan aktifitas fisik berat atau karena emosi. Pada AI denyut dapat hebat sekali hingga leher pasien itu seolah turut bergoyang sinkron dengan denyut jantung, ini disebut “honmo pulsans”. Pada stenosis katup aorta ( AS ), A. Carotis tampak bergetas setiap kali sistol jantung dan disebut “carotid shudder” . Bila A. Carotis tidak teraba, mungkin disebabkan adanya tumor yang menekan arteri itu karena ada thrombus/emboli.

sinkron dengan sistole jantung ( pasien diperiksa dalam posisi duduk atau tegak dan wajah agak menengadah) . Letak trakea diraba dan pada keadaan normal berada ditengah leher/incisura jugular sterni. Bila letaknya tidak ditengah kemungkinan terdorong atau tertarik oleh suatu proses di mediastinum atau paru seperti efusi pleura ( mendorong ke sisi yang sehat ). sedangkan garis horizontal yang melalui angulus sternalis ludovici diberi nilai 5cm H2O. JVP normal adalah hingga 3 cm diatas bidang horizontal atau ditulis sebagai 5+3 cm H2O. lalu bendunglah vena daerah proksimal ( disebelah atas klavicula ) sampai vena tampak jelas kemudian tandai. insufisiensi vena cava superior (sindrom vena cava superior). Hitunglah jarak antara titik yang ditandai tadi ke garis/bidang horizontal yang melalui angulus sternalis ludovici. Jika JVP lebih tinggi dari normal dianggap meningkat dan ditemukan pada decompensatio cordis kanan.Vena jugularis diperiksa untuk menentukan tinggimya tekanan di atrium kanan yang dapat ditetapkan dengan melihat tingginya kolom pengisian darah di vena jugularis atau dengan cara pasien diminta berbaring tinggikan posisi kepala dengan sudut 30˚-45˚ dengan kepala menengok ke samping kiri atau kanan. fibrosis paru ( menarik ke sisi yang sakit ). Makin tinggi JVP. perikarditis konstriktiva. Jika berada di atas garis horizontalis diberi tanda + bila dibawanya diberi tanda minus (-). Pada aneurysma aorta mungkin teraba “tracheal tug” yaitu denyutan yang agak mendorong ke atas. makin berat keadaan sakitnya. atelektasis paru ( menarik ke sisi sakit ).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful