1

2

BAB I PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG Apakah hukum pidana itu ? pertanyaan ini sesungguhnya sangat sulit untuk dijawab, mengingat hukum pidana itu mempunyai banyak segi, yang masing-masing mempunyai arti sendirisendiri. Penerapan hukum pidana berkaitan dengan ruang lingkup hukum pidana itu sendiri dapat bersifat luas dan dapat pula bersifat sempit. Dalam tindak pidana dapat melihat seberapa jauh seseorang telah merugikan masyarakat dan pidana apa yang perlu dijatuhkan kepada orang tersebut karena telah melanggar hukum. Selain itu, tujuan hukum pidana tidak hanya tercapai dengan pengenaan pidana, tetapi merupakan upaya represif yang kuat berupa tindakan-tindakan pengamanan. Perlunya pemahaman terhadap teori-teori serta Asas-Asas Hukum Pidana tersebut bagi peserta diklat, maka Pusat Pendidikan Dan Pelatihan Kejaksaan R.I menyusun modul mengenai asas-asas hukum pidana dengan tujuan agar peserta Pendidikan dan Pelatihan

3

4

pendahuluan mengerti dan memahami teori-teori maupun asas-asas hukum pidana yang perlu diperhaitkan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai jaksa nantinya.

II. DESKRIPSI SINGKAT Modul asas-asas hukum pidana memberikan pemahaman bagi peserta pendidikan dan pelatihan tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana.

B. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan mengetahui tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana. IV. POKOK BAHASAN a. Ruang lingkup berlakunya Hukum Pidana. b. Tindak Pidana. c. Hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat). d. Sifat melawan hukum (rechtswdrig, unrecht, wederrechtelijk, onrechmatig). e. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. f. Kesengajaan (dolus, intent, opzet, vorsatz).

III. TUJUAN PEMBELAJARAN A. Tujuan Intruksional Umum Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mengetahui tentang teori, asas, delik tindak pidana dan dapat menerapkannya dalam melaksanakan tugas sebagai penyidik dan penuntut umum dalam penanganan perkara pidana.

g. Kealpaan (culpa). h. Kesalahan dalam delik pelanggaran. i. Pidana dan pemidanaan (hukum penitensier). j. Percobaan (poging, attempt). k. Penyertaan. l. Penggabungan tindak pidana (samenloop / concursus).

5

6

m. Alasan / dasar penghapus pidana (straffuitsluitingsgrond, grounds of impiunity.) n. Gugurnya kewenangan menjalankan pidana. V. FASILITAS / MEDIA Fasilitas dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran Pengantar asas-asas hukum pidana antara lain : a) b) c) d) Modul asas-asas hukum pidana; Internet; Peraturan perundang-undangan; Literatur yang terkait. menuntut dan

BAB II RUANG LINGKUP BERLAKUNYA HUKUM PIDANA

A. RUANG

BERLAKUNYA

HUKUM

PIDANA

MENURUT WAKTU Penerapan hukum pidana atau suatu perundangundangan pidana berkaitan dengan waktu dan tempat perbuatan dilakukan. Serta berlakunya hukum pidana menurut waktu menyangkut

penerapan hukum pidana dari segi lain. Dalam hal seseorang melakukan perbuatan (feit) pidana sedangkan perbuatan tersebut belum diatur atau belum diberlakukan ketentuan yang bersangkutan, maka hal itu tidak dapat dituntut dan sama sekali tidak dapat dipidana. Asas Legalitas (nullum delictum nula poena sine praevia lege poenali) Terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Tidak dapat dipidana seseorang kecuali atas perbuatan yang dirumuskan dalam suatu

2) Dengan cara demikian maka orang Dalam catatan sejarah asas ini dirumuskan oleh Anselm von Feuerbach dalam teori : “vom psychologishen zwang (paksaan psikologis)” yang akan melakukan perbuatanyang dilarang itu telah mengetahui terlebih . nilai-nilai agama.7 8 aturan perundang-undangan yang telah ada dimana adagium : nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali yang mengandung tiga prinsip dasar : terlebih dahulu. Karenanya asas ini dapat pula dinyatakan sebagai asas konstitusional. perbuatan harusdirumuskan dengan jelas. Dalam perkembangannya amandemen ke-2 UUD 1945 dalam Pasal 28 ayat (1) berbunyi dan berhak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan Pasal 28 J ayat (2) Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi : “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undangundang dengan maksud semata-mata untuk - Nulla poena sine lege (tiada pidana tanpa undang-undang) - Nulla Poena sine crimine (tiada pidana tanpa perbuatan pidana) - Nullum crimen sine poena tanpa legali (tiada perbuatan pidana undang-undang pidana yang terlebih dulu ada) Adagium ini menganjurkan supaya : 1) Dalam menentukan perbuatan- menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk perbuatan yang dilarang di dalam peraturan macamnya bukan saja tentang yang memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. tetapi juga macamnya pidana yang diancamkan. keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”.

Prof. 3) Dengan demikian dalam batin orang itu akan mendapat tekanan untuk tidak berbuat. b) Tidak diperkenankan suatu Analogi dijatuhkan kepadanya. Moeljatno menjelaskan inti pengertian yang dimaksud dalam asas legalitas yaitu : 1) Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. Schaffmeister dan Heijder merinci asas ini dalam pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a) Tidak dapat dipidana kecuali ada hukum pidana tidak melakukan perbuatan.9 10 dahulu pidana apa yangakan dijatuhkan kepadanya jika nanti betul-betul akan tetapi diperbolehkan penggunaan penafsiran ekstensif. 3) Aturan-aturan berlaku surut. . menyetujui Andaikata juga maka dia ternyata yang dia akan perbuatan dinpandang yang pidana ketentuan pidana berdasar peraturan perundang-undangan (formil). e) Tidak boleh Retroaktif (berlaku surut) f) Tidak boleh ada ketentuan pidana diluar Undang-undang. Hal ini dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. c) Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan (Hukum tidak tertulis). melakukan dilarang. (pengenaan undang-undang terhadap perbuatan yang tidak diatur oleh undang-undang tersebut). d) Tidak boleh ada perumusan delik yang kurang jelas (lex Certa). 2) Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi.

apabila ditinjau dari sudut Negara ada 2 (dua) pendapat yaitu : a. akan melihat kepada berlakunya B. Asas Personal (nasional aktif). Asas Perlindungan (nasional pasif) IV. I. Perundang-undangan hukum pidana Ad. baik dilakuakan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh orang lain (asas territorial). asas Pandangan personal ini atau berdasarkan atau dengan cara yang ditentukan undang-undang. b. dimana saja. Perbuatan (yurisdiksi hukum pidana nasional). Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi diwilayah Negara. Asas Universal. menganut prinsip nasional aktif. Dalam hal ini asas-asas hukum pidana menurut tempat : I. II.11 12 g) Penuntutan hanya dilakukan diluar disebut wilayah Negara. juga apabila perbuatan pidana itu dilakukan “Ketentuan dalam perundang- undangan Indonesia diterapkan bagi setiap . Asas Teritorial. RUANG BERLAKUNYA HUKUM PIDANA hukum pidana menurut ruang tempat dan MENURUT TEMPAT (LEX LOCI) Teori tetang ruang lingkup berlakunya hukum pidana nasional menurut tempat terjadinya. Pada bagian ini. berkaitan pula dengan orang atau subyek. III. Asas Teritorial Asas ini diatur juga dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yaitu dalam pasal 2 KUHP pidana yang menyatakan : berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh warga Negara.

tidak termasuk wilayah territorial suatu Negara. Perluasan dari Asas Teritorialitas diatur dalam pasal 3 KUHP yang menyatakan : “Ketentuan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang di luar wilayah Indonesia melakukan tindak pidana didalan kendaraan air atau pesawat udara Indonesia”. sewajarnya berlaku bagi Negara yang berdaulat. dan ketentuan ini sudah peraturan-peraturan hukum Negara dimana yang bersangkutan berada. Ketentuan ini memperluas berlakunya pasal 2 KUHP. Asas territorial yang pada saat ini banyak diikuti oleh Negaranegara di dunia termasuk Indonesia. Tujuan dari pasal ini adalah supaya perbuatan pidana yang terjadi di dalam kapal atau pesawat terbang yang berada di perairan bebas atau berada di wilayah udara bebas. Asas territorial lebih menitik beratkan pada terjadinya perbuatan pidana di dalam wilayah Negara tidak mempermasalahkan siapa pelakunya.13 14 orang yang melakukan suatu tindak pidana di Indonesia”. Hal ini adalah wajar karena tiap-tiap orang yang berada dalam wilayah suatu Negara harus tunduk dan patuh kepada . tetapi tidak berarti bahwa perahu (kendaraan air) dan pesawat terbang lalu dianggap bagian wilayah Indonesia. tempat tidak terjadinya mempermasalahkan perbuatan pidana. sehingga ada yang mengadili apabila terjadi suatu perbuatan pidana. Sedang dalam asas kedua (asas personal atau asas nasional yang aktif) menitik beratkan pada orang yang melakukan perbuatan pidana. warga Negara atau orang asing. Pasal ini dengan tegas menyatakan asas territorial.

Kapal merupakan bentuk khusus dari alat   Pejabat-pejabat Internasional. Alat pelayaran pengertian lebih luas dari kapal. Apabila ada warga Negara asing yang berada dalam suatu wilayah Negara telah melakukan tindak pidana dan tindak pidana dan tidak diadili menurut hukum Negara tersebut maka berarti diplomatik yang dalam perjalanan melalui Negara-negara lain atau menuju Negara lain. badan Kapal-kapal perang dan pesawat udara militer / ABK diatas kapal maupun di luar kapal.    Kepala Negara asing dan anggota keluarganya.15 16 Setiap orang yang melakukan perbuatan pidana diatas alat pelayaran Indonesia diluar wilayah Indonesia. Asas Personal Asas Personal atau Asas Nasional yang aktif tidak mungkin digunakan sepenuhnya terhadap warga Negara yang sedang berada dalam wilayah Negara lain yang kedudukannya sama-sama berdaulat. II. Pasal 5 KUHP hukum Pidana Indonesia berlaku bagi warga Negara Indonesa melakukan di luar Indonesia pidana yang tertentu perbuatan .  Suatu angkatan bersenjata yang terpimpin. Pejabat-pejabat Negara asing pemerintahan yang berstatus Ad. Asas-asas Extra Teritorial / kekebalan dan hak-hak Istimewa (Immunity and Previlege). Di luar Indonesia atau di laut bebas dan laut wilayah Negara lain. bertentangan dengan kedaulatan Negara tersebut. Pejabat-pejabat perwakilan asing dan keluarganya. pelayaran.

17

18

Kejahatan terhadap keamanan Negara, martabat kepala Negara, penghasutan, dll. Pasal 5 KUHP menyatakan :

dilakukan

juga

jika

terdakwa

menjadi warga Negara sesudah melakukan perbuatan”. Sekalipun rumusan pasal 5 ini memuat

“(1).

Ketetentuan

pidana

dalam Indonesia

perkataan “diterapkan bagi warga Negara Indonesia yang diluar wilayah Indonesia”’, sehingga seolah-olah mengandung asas personal, akan tetapi sesungguhnya pasal 5 KUHP memuat asas melindungi

perundang-undangan

diterapkan bagi warga Negara yang di luar Indonesia melakukan : salah satu kejahatan yang

tersebut dalam Bab I dan Bab II Buku Kedua dan Pasal-Pasal 160, 161, 240, 279, 450 dan 451. Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam Indonesia kejahatan,

kepentingan nasional (asas nasional pasif) karena : Ketentuan pidana yang diberlakukan bagi warga Negara diluar wilayah territorial wilyah Indonesia tersebut hanya pasalpasal tertentu saja, yang dianggap penting sebagai perlindungan terhadap

perundang-undangan dipandang sebagai

sedangkan menurut perundangundangan Negara dimana

kepentingan nasional. Sedangkan untuk asas personal, harus diberlakukan seluruh perundang-undangan hukum pidana bagi warga Negara yang melakukan kejahatan

perbuatan itu dilakukan diancam dengan pidana. (2). Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir 2 dapat

di luar territorial wilayah Negara.

19

20

Ketentuan pasal 5 ayat (2) adalah untuk mencegah agar supaya warga Negara asing yang berbuat kejahatan di Negara asing tersebut, dengan jalan menjadi warga Negara Indonesia (naturalisasi). Bagi Jaksa maupun hakim Tindak Pidana yang dilakukan di negara asing tersebut, apakah menurut undang-undang disana merupakan kejahatan atau

perundang-undangan

Negara

dimana

perbuatan dilakukan terhadapnya tidak diancamkan pidana mati”. Latar belakang ketentuan pasal 6 ayat (1) butir 2 KUHP adalah untuk

melindungi kepentingan nasional timbal balik (mutual legal assistance). Oleh karena itu menurut Moeljatno, sudah sewajarnya pula diadakan imbangan pulu terhadap maksimum pidana yang mungkin dijatuhkan menurut KUHP

pelanggaran, tidak menjadi permasalahan, karena mungkin pembagian tindak

pidananya berbeda dengan di Indonesia, yang penting adalah bahwa tindak pidana tersebut di Negara asing tempat perbuatan dilakukan sedangkan diancam menurut dengan KUHP pidana, Indonesia

Negara asing tadi.

Ad. III. Asas Perlindungan Sekalipun asas personal tidak lagi

merupakan kejahatan, bukan pelanggaran. Ketentuan pasal 6 KUHP : “ Berlakunya pasal 5 ayat (1) butir 2 dibatasi sedemikian rupa sehingga tidak dijatuhkan pidana mati, jika menurut

digunakan sepenuhnya tetapi ada asas lain yang memungkinkan diberlakukannya hukum pidana nasional terhadap

perbuatan pidana yang terjadi di luar wilayah Negara

21

22

Pasal

4

KUHP

(seteleh

diubah

dan

talon, tanda deviden atau tanda bunga yang mengikuti surat atau sertifikat itu, dan tanda yang

ditambah

berdasarkan

Undang-undang

No. 4 Tahun 1976) “Ketentuan undangan pidana dalam perundang-

dikeluarkan sebagai pengganti surat tersebut atau menggunakan suratsurat tersebut di atas, yang palsu atau dipalsukan, seolah-olah asli dan tidak palsu; 4. Salah satu kejahatan yang disebut dalam Pasal-pasal 438, 444 sampai dengan 446 tentang pembajakan laut mengenai kertas mata yang dan pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut dan pasal 479 huruf j tentang penguasaan pesawat udara secara melawan hukum, pasal 479 l, m, n dan o tentang kejahatan yang mengancam surat hutang atau penerbangan sipil. keselamatan Indonesia diterapkan bagi

setiap orang yang melakukan di luar Indonesia : 1. Salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 108 dan 131; 2. Suatu uang kejahatan atau 104, 106, 107,

uang

dikeluarkan oleh Negara atau bank, ataupun mengenai dan oleh materai merek yang yang

dikeluarkan digunakan Indonesia; 3. Pemalsuan

Pemerintah

sertifikat hutang atas tanggungan suatu daerah atau bagian daerah Indonesia, termasuk pula pemalsuan Dalam pasal 4 KUHP ini terkandung asas melindungi kepentingan yaitu melindungi kepentingan nasional dan melindungi

IV. Indonesia atau segel / materai dan merek yang digunakan oleh Pasal ini menentukan berlakunya hukum pidana nasional bagi setiap orang (baik warga Negara Indonesia maupun warga negara asing) yang di luar Indonesia melakukan kejahatan yang disebutkan dalam pasal tersebut. Asas Universal Berlakunya pasal 2-5 dan 8 KUHP dibatasi memberlakukan perundang-undangan pidana Indonesia bagi setiap orang yang di luar wilayah Negara Indonesia melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kepentingan nasional.23 24 kepentingan internasional (universal). . Bahwa dalam asas melindungi kepentingan internasional (asas universal) adalah dilandasi pemikiran bahwa setiap Negara di dunia wajib turut dan Presiden Republik Indonesia (pasal 4 ke-1) 2) Kejahatan mata uang mengenai atau pemalsuan uang kertas melaksanakan tata hukum sedunia (hukum internasional). yaitu : 1) Kejahatan Negara martabat Republik dan / terhadap kejahatan kehormatan Indonesia keamanan terhadap Presiden Wakil oleh hukum pengecualian-pengecualian internasional. pemerintah Indonesia (pasal 4 ke-2) 3) Kejahatan surat-surat mengenai hutang pemalsuan sertifkat- atau sertifikat hutang yang dikeluarkan oleh Negara Indonesia atau bagianbagiannya (pasal 4 ke-3) Dikatakan nasional melindungi karena pasal 4 kepentingan KUHP ini 4) Kejahatan mengenai pembajakan kapal laut Indonesia dan pembajakan pesawat udara Indonesia (pasal 4 ke4) Ad.

maka asas yang berlaku diterapkan adalah asas melindungi kepentingan nasional (asas nasional pasif). adalah laut atau internasional (kepentingan universal) karena rumusan pasal 4 ke-2 KUHP (mengenai kejahatan pemalsuan mata uang atau uang kertas) dan pasal 4 ke-4 KUHP (mengenai pembajakan kapal laut dan pembajakan pesawat udara) tidak menyebutkan mata uang atau uang kertas Negara mana yang dipalsukan atau kapal laut dan pesawat terbang negara mana yan dibajak. dan mungkin juga menyangkut kapal laut atau pesawat terbang Negara asing. pembajakan kapal laut atau pesawat terbang adalah mengenai kepemilikan Negara asing. dalam Bab XXVIII Buku Indonesia. mengenai kepemilikan Indonesia. pesawat pembajakan terbang kapal. Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas. Pembajakan kapal laut atau pesawat terbang yang dimaksud dalam pasal 4 ke-4 KUHP dapat menyangkut kapal laut Indonesia atau pesawat terbang internasional (asas universal). .25 26 Dikatakan melindungi kepentingan Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas. Pasal 7 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- undangan Indonesia berlaku bagi setiap pejabat yang di luar Indonsia melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksudkan Kedua”. maka asas yang berlaku adalah asas melindungi kepentingan Pemalsuan mata uang atau uang kertas yang dimaksud dalam pasal 4 ke-2 KUHP menyangkut mata uang atau uang kertas Negara Indonesia. akan tetapi juga mungkin menyangkut mata uang atau uang kertas Negara asing.

387. 417. 416. maupun dalam ordonansi perkapalan”. 419. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. pertimbangan lain untuk memasukkan Bab . 420. 418. 31 Tahun 1999 tentang undangan Indonesia berlaku nahkoda dan penumpang perahu Indonesia. Akan tetapi pasal-pasal dalam pasal 2. 4 Tahun 1976 yang dimasukkan dalam KUHP pada Buku Kedua Bab XXIX A. begitu pula yang tersebut dalam peraturan mengenai surat laut dan pas kapal di Indonesia. 388. pidana satu sebagaimana dimaksudkan dalam Bab XXIX Buku Kedua dan Bab IX buku ketiga.27 28 Pasal ini mengenai kejahatan jabatan yang sebagian besar sudah diserap menjadi tindak pidana korupsi. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan rumusan tersendiri sekalipun masih menyebut unsur-unsur yang terdapat dalam masing-masing pasal KUHP yang diacu. 415. melakukan sekalipun salah di luar tindak perahu. 423. 210. Dalam hal demikian apakah pasal 7 KUHP masih dapat diterapkan ? untuk masalah tersebut harap diperhatikan pasal 16 UU No. 435) telah dirubah oleh Undang-undang No. sarana atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pidana tentang kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana / prasarana penerbangan berdasarkan UU No. pasal 3. Dengan telah diundangkannya tindak pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi : “setiap orang di luar wilayah Negara republik Indonesia yang memberikan bantuan. kesempatan. 425. yang di luar Indonesia. pasal 5 sampai dengan pasal 14” Pasal 8 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- tersebut (pasal 209.

dimana mereka mempunyai hak eksteritorial. . internasional. Menurut Moeljatno. sekalipun ada di luar kapal. Menurut hukum adalah internasional teritoir kapal peran yang digunakan sebagai bagian dari kegiatan terorisme yang dilakukan oleh kelompok terorganisir pasal 9 KUHP. Diterapkannya pasal-pasal 2-5-7 dan 8 dibatasi oleh pengecualian-pengecualian yang diakui dalam hukum-hukum Negara mempunyainya 4) Tentara Negara asing yang ada di dalam wilayah Negara dengan persetujuan Negara itu. pada umumnya pengecualian yang diakui meliputi : 1) Kepala Negara beserta keluarga dari Negara sahabat.29 30 XXIX A Buku Kedua ke dalam pasal 8 KUHP adalah juga menjadi kenyataan bahwa kejahatan penerbangan sudah 3) Anak buah kapal perang asing yang berkunjung di suatu Negara. Hukum nasional suatu Negara tidak berlaku bagi mereka 2) Duta besar Negara asing beserta keluarganya meeka juga mempunyai hak eksteritorial.

Pandangan ini disebut pandangan dualistis yang sering dihadapkan dengan pandangan monistis yang tidak membedakan keduanya. Menurut Prof. oleh karena antara kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu ada hubungan erat pula.H.31 32 BAB III TINDAK PIDANA a.. Moeljatno S. b. . Sejalan dengan itu memisahkan pengertian perbuatan pidana (strafbaar feit). Tindak Pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. PENGERTIAN TINDAK PIDANA Hingga saat ini belum ada kesepakatan para sarjana tentang pengertian Tindak pidana  Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat. dan orang tidak dapat diancam pidana jika tidak karena kejadian yang ditimbulkan olehnya”. ditujukan (criminal act) dan pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility). Terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan :  Perbuatan pidana adalah perbuatan oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana. UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA Dalam suatu peraturan perundang-undangan ditimbulkan sedangkan kelakuan pidana kepada orang yang menimbulkan kejadian itu. larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu. bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut.  Larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan oleh ancaman atau kejadian yang orang). pidana selalu mengatur tentang tindak pidana. “ Kejadian tidak dapat dilarang jika yang menimbulkan bukan orang. Selanjutnya Moeljatno membedakan dengan tegas dapat dipidananya perbuatan (die strafbaarheid van het feit) dan dapat dipidananya orang (strafbaarheid van den person).

mengetahui adanya tindak pidana. Untuk   Dilakukan dengan kesalahan (met schuld in verband staand) Oleh orang yang mampu bertanggung jawab (toerekeningsvatoaar person). larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut”. Dalam rumusan tersebut ditentukan beberapa unsur atau syarat yang menjadi ciri atau sifat khas dari larangan tadi sehingga dengan jelas dapat dibedakan dari perbuatan lain yang tidak dilarang. Menurut  Simons. Perbuatan kesalahan. maka pada umumnya dirumuskan dalam peraturan Simons juga menyebutkan adanya unsur obyektif dan unsur subyektif dari tindak pidana (strafbaar feit). unsur-unsur tindak pidana menyertai perbuatan itu seperti dalam pasal 281 KUHP sifat “openbaar” atau “dimuka umum”. harus dilakukan dengan (strafbaar feit) adalah : Perbuatan manusia (positif atau negative. Unsur Obyektif :  Perbuatan orang  Akibat yang kelihatan dari perbuatan itu. Perbuatan pidana menunjuk kepada sifat perbuatannya saja.33 34 Sedangkan menurut Moeljatno “Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. Unsur Subyektif :  Orang yang mampu bertanggung jawab  Adanya kesalahan (dollus atau culpa).  Mungkin ada keadaan tertentu yang perundang-undangan pidana tentang perbuatanperbuatan yang dilarang dan disertai dengan sanksi. Diancam dengan pidana (statbaar gesteld) Melawan hukum (onrechtmatig) . berbuat   atau tidak berbuat atau membiarkan). yaitu dapat dilarang dengan ancaman pidana kalau dilanggar.

Unsur subyektif atau pribadi Yaitu mengenai diri orang yang mungkin diterapka pasal tersebut b. yang dibagi menjadi : a. Kalau yang menerima hadiah bukan pegawai negeri maka tidak perbuatan pidana :  Perbuatan (manusia)  Yang memenuhi rumusan dalam undangundang (syarat formil)  Bersifat melawan hukum (syarat materiil) Unsur-unsur tindak pidana menurut Moeljatno terdiri dari : 1) Kelakuan dan akibat 2) Hal ikhwal atau keadaan tertentu yang menyertai perbuatan. 531 KUHP Pasal 164 KUHP : barang jahat siapa untuk mengetahui permufakatan . 31 Tahun 1999 jo. UU No. Pasal 418 KUHP jo. misalnya pasal 160 KUHP tentang penghasutan di muka umum (supaya melakukan perbuatan pidana atau melakukan kekerasan terhadap penguasa umum). misalnya unsur pegawai negeri yang diperlukan dalam delik jabatan seperti dalam perkara tindak pidana korupsi. memperingan atau memperberat melakukan perbuatan. Unsur obyektif atau non pribadi Yaitu mengenai keadaan di luar si pembuat. Pasal 1 ayat (1) sub c UU No.35 36 Kesalahan ini dapat berhubungan dengan akibat dari perbuatan atau dengan keadaan mana perbuatan itu dilakukan. Sementara menurut Moeljatno unsur-unsur Tahun 1971 atau pasal 11 UU No. 20 Tahun 2001 tentang pegawai negeri yang menerima hadiah. Apabila penghasutan tidak dilakukan di muka umum maka tidak mungkin diterapkan pasal ini Unsur keadaan ini dapat berupa keadaan yang menentukan. 3 pidana yang dijatuhkan. (1) Unsur keadaan yang menentukan misalnya dalam pasal 164. 165.

(2) Keadaan tambahan yang memberatkan pidana Misalnya penganiayaan biasa pasal 351 ayat (1) KUHP diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan. dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Orang yang tidak melapor baru dapat dikatakan jika melakukan perbuatan pidana. orang tadi baru melakukan perbuatan pidana. 113. Kewajiban untuk melapor kepada yang berwenang. 107. Keharusan memberi pertolongan pada orang yang sedang menghadapi bahaya maut jika tidak memberi pertolongan. Syarat tambahan tersebut tidak dipandang sebagai unsur delik (perbuatan pidana) tetapi sebagai syarat penuntutan. dan pada saat kejahatan masih bisa dicegah dengan sengaja kepada tidak pejabat kepadanya tanpa selayaknya menimbulkan bahaya bagi dirinya atau orang lain. 124. 187 dan 187 bis. apabila kejahatan jadi dilakukan. diancam. Apabila penganiayaan tersebut memberitahukannya kehakiman atau kepolisian atau kepada yang terancam. kejahatan tadi kemudian betul-betul terjadi. apabila mengetahui akan terjadinya suatu kejahatan. Pasal 531 KUHP : barang siapa ketika menyaksikan bahwa ada orang yang sedang menghadapi maut. Tentang hal kemudian terjadi kejahatan itu adalah merupakan unsur tambahan. diancam. 108. kalau orang yang dalam keadaan bahaya tadi kemudian lalu meninggal dunia. 106. tidak memberi pertolongan yang dapat diberikan menimbulkan luka berat. ancaman pidana diperberat menjadi 5 tahun (pasal 351 ayat . jika kemudian orang itu meninggal.37 38 melakukan kejahatan tersebut pasal 104. 115.

Unsur melawan hukum yang dinyatakan sebagai unsur tertulis misalnya pasal 362 KUHP dirumuskan sebagai pencurian yaitu pengambilan barang orang lain dengan maksud untuk memilikinya secara melawan hukum. Apabila tidak dicantumkan maka apabila perbuatan yang didakwakan dapat dibuktikan maka secara diam-diam unsure itu dianggap ada. tetapi dalam praktek hal ini sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan pembuktian perkara pidana.39 40 2 KUHP). dan jika mengakibatkan mati ancaman pidana menjad 7 tahun (pasal 351 ayat 3 KUHP). Adakalanya unsur ini tidak dirumuskan secara tertulis rumusan pasal. Tanpa ditambahkan kata melawan hukum setiap orang mengerti bahwa memaksa dengan kekerasan atau ancaman unsur-unsur permasalahan “pengertian” unsur-unsur tindak pidana bersifat teoritis. Luka berat dan mati adalah merupakan keadaan tambahan yang memberatkan pidana (3) Unsur melawan hukum Dalam perumusan delik unsur ini tidak selalu dinyatakan sebagai unsur tertulis. tentang dilakukan perbuatan sudah jelas dari istilah atau rumusan kata yang disebut. Misalnya pasal 285 KUHP : “dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh di luar perkawinan”. Pengertian unsur-unsur tindak pidana kekerasan adalah pantang dilakukan atau sudah mengandung sifat melawan hukum. Apabila dicantumkan maka jaksa harus mencantumkan dalam dakwaannya dan dapat diketahui dari doktrin (pendapat ahli) ataupun dari yurisprudensi yan memberikan penafsiran terhadap rumusan . sebab sifat melawan hukum atau sifat pantang oleh karenanya harus dibuktikan. Pentingnya pengertian Sekalipun pemahaman tindak terhadap pidana.

Bagi Jaksa pentingnya memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana adalah : 1) Untuk menyusun surat dakwaan. 5) Mengarahkan jalannya penyidikan atau memudahkan aparat menerapkan peraturan hukum. . atau biasa diulas dalam analisa hukum. Biasa terjadi bahwa suatu alat bukti hanya penjelasan penegak berguna untuk menentukan pembuktian satu unsur tindak pidana. 2) Dapat menguraikan perbuatan terdakwa yang menggambarkan uraian unsur tindak pidana yang didakwakan sesuai dengan pengertian / penafsiran yang dianut oleh doktrin maupun yurisprudensi. maka pengertian-pengertian unsur tindak pidana yang dianut dalam doktrin atau kepada saksi atau ahli atau terdakwa untuk menjawab sesuai fakta-fakta yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan. harus diuraikan sejelas-jelasnya karena ini menjadi dasar atau dalil untuk berargumentasi. tidak seluruh unsur tindak pidana. agar dengan jelas. Dalil-dalil yang digunakan dalam pembuktian akan secara dapat obyektif dipertanggungjawabkan karena berlandaskan teori dan bersifat ilmiah. 6) Menyusun requisitoir yaitu pada saat uraian penerapan fakta perbuatan kepada unsurunsur tindak pidana yang didakwakan. yurisprudensi atau dengan cara penafsiran hukum.41 42 undang-undang yang semula tidak jelas atau terjadi perubahan makna karena perkembangan pengertian dan jaman. akan diberikan sehingga hukum 4) Menentukan nilai suatu alat bukti untuk membuktikan unsur tindak pidana. 3) Mengarahkan pertanyaan-pertanyaan pemeriksaan di sidang pengadilan berjalan secara obyektif.

Ia hanya membrisir atau memasukkan kejahatan dan dalam dalam kelompok kelompok pertama kedua masyarakat bertentangan dengan keadilan misal : pembunuhan. Delik-delik semacam ini disebut “kejahatan” (mala perse). Wetsdelicten Ialah perbuatan yang oleh umum baru disadari sebagai tindak pidana karena undang-undang menyebutnya sebagai delik. jadi yang benar-benar sebagai dirasakan oleh pelanggaran ini disebut oleh undang-undang. Kejahatan dan Pelanggaran Pembagian delik atas kejahatan dan Ialah yang perbuatan yang bertentangan dengan keadilan. pencurian. 1. Misal : memarkir mobil di sebelah kanan jalan (mala quia ini prohibita). terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. ialah : semacam “pelanggaran”. Dengan ukuran ini lalu didapati 2 jenis delik. Perbedaan secara kwalitatif ini tidak dapat diterima. KUHP buku ke II memuat delik-delik yang disebut : pelanggaran criterium apakah yang dipergunakan untuk membedakan kedua jenis delik itu ? KUHP tidak memberi jawaban tentang hal ini.43 44 1. Tetapi ilmu pengetahuan mencari secara mengancamnya dengan pidana. jadi karena ada undang-undang pelanggaran. disebut Delik-delik intensif ukuran (kriterium) untuk membedakan kedua jenis delik itu. 2. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwalitatif. JENIS-JENIS TINDAK PIDANA Di bawah ini akan disebut berbagai pembagian jenis delik. Rechtdelicten c. sebab ada kejahatan yang baru disadari sebagai delik karena tercantum dalam undang-undang . Ada dua pendapat : a.

45 46 pidana. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwantitatif. 373. 315. di muka umum menyatakan perasaan kebencian. Delik materiil adalah delik yang perumusannya dititikberatkan kepada akibat yang tidak dikehendaki (dilarang). penyuapan (pasal 209. 352. Misal : penghasutan (pasal 160 KUHP). Oleh karena perbedaan secara demikian itu tidak memuaskan maka dicari ukuran lain. bahwa penggolongan-penggolongan dalam dua macam delik itu harus ditiadakan. jadi sebenarnya tidak segera dirasakan sebagai bertentangan dengan rasa keadilan. 379. 384. b. permusuhan atau penghinaan kepada salah satu atau lebih golongan rakyat di Indonesia (pasal 156 KUHP). Delik ini digolongkan kejahatan-kejahatan . sumpah pemalsuan palsu surat (pasal (pasal 242 263 KUHP). Pendirian ini hanya meletakkan kriterium pada perbedaan yang dilihat dari segi kriminologi. Delik tersebut telah selesai dengan dilakukannya dalam perbuatan seperti tercantum rumusan delik. 2. ialah “pelanggaran” itu lebih ringan dari pada “kejahatan”. 302 (1). Mengenai pembagian delik dalam kejahatan dan pelanggaran itu terdapat suara-suara yang menentang. Delik formil dan delik materiil (delik dengan perumusan secara formil dan delik dengan perumusan secara materiil) a. Seminar Hukum Nasional 1963 tersebut di atas juga berpendapat. Delik formil itu adalah delik yang kepada dirasakan bertentangan dengan rasa keadilan. Dan sebaliknya ada “pelanggaran”. Kejahatan ringan : Dalam KUHP juga sebagai terdapat delik yang perumusannya dititikberatkan perbuatan yang dilarang. 210 KUHP). KUHP). pencurian (pasal 362 KUHP). 375. yang benar-benar misalnya pasal 364. 407. 382. b.

pencurian. Delik ommisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap perintah. Delik dolus : delik yang memuat unsur kesengajaan. 360 KUHP. 245. misal : tidak menghadap sebagai saksi di muka pengadilan (pasal 522 KUHP). Delik dolus dan delik culpa (doleuse en culpose delicten) a. commissa a. pertolongan (pasal 531 (enkelvoudige en samenge-stelde delicten) . 338 KUHP b. Batas antara delik formil dan materiil tidak tajam misalnya pasal 362. penipuan. 203. Misal : pembakaran (pasal 187 KUHP). 310. 340 KUHP). c. delik ommisionis dan delik commisionis per ommisionen kecelakaan kereta api dengan sengaja tidak memindahkan wissel (pasal 194 KUHP). 5. Misal : seorang ibu yang membunuh anaknya dengan tidak memberi air susu (pasal 338.47 48 baru selesai apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. pembunuhan (pasal 338 KUHP). ialah tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan / yang diharuskan. Delik commisionis. Delik commisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan. penipuan (pasal 378 KUHP). 231 ayat 4 dan pasal 359. 197. ialah 4. Delik commisionis per ommisionen commissa : delik yang berupa pelanggaan larangan (dus delik commissionis). misal : pasal-pasal 187. penggelapan. seorang penjaga wissel yang menyebabkan 3. akan tetapi dapa dilakukan dengan cara tidak berbuat. b. Kalau belum maka paling banyak hanya ada percobaan. Delik culpa : delik yang memuat kealpaan sebagai salah satu unsur misal : pasal 195. Delik tunggal dan delik berangkai berbuat sesuatu yang dilarang. tidak menolong orang yang memerlukan KUHP). 263. 197. 201.

. 3 KUHP). Delik-delik ini menurut sifatnya hanya dapat dituntut berdasarkan pengaduan. hutangnya karena kepada B A. pencurian pada waktu malam hari dsb. sebagai : penganiayaan yang menyebabkan luka berat atau matinya orang (pasal 351 ayat 2. 8. Delik aduan yang absolut. 7. 310. ialah mis.49 50 a. misal : merampas pembuat dan orang yang terkena. misal : A menggugat B di muka pengadilan. Delik aduan yang relative ialah mis. tidak membayar hanya kemerdekaan seseorang (pasal 333 KUHP). Delik tunggal : delik yang cukup dilakukan dengan perbuatan satu kali. : pasal 367. ayat 2). Catatan : perlu dibedakan antara aduan den gugatan dan laporan. misal : (pemerasan dengan ancaman pencemaran. b. Gugatan dipakai dalam acara perdata. 335 ayat 1 sub 2 KUHP jo. ps. chantage pemberitahuan belaka tentang adanya sesuatu tindak pidana kepada Polisi atau Jaksa. Delik aduan dan delik laporan Laporan (klachtdelicten en niet klacht delicten) Delik aduan : delik yang penuntutannya hanya dilakukan apabila ada pengaduan dari pihak yang terkena (gelaedeerde partij) misal : penghinaan (pasal 310 dst. Delik sederhana dan delik yang ada pemberatannya / peringannya (eenvoudige dan gequalificeerde / geprevisilierde delicten) Delik yang ada pemberatannya. Delik berangkai delik. misal : pasal 481 (penadahan sebagai kebiasaan) 6. disebut relatif karena dalam delik-delik ini ada hubungan istimewa antara si merupakan dilakukan beberapa kali perbuatan. jo 319 KUHP) perzinahan (pasal 284 KUHP). : pasal 284. Delik yang berlangsung terus dan delik selesai (voordurende en aflopende delicten) Delik yang berlangsung terus : delik yang mempunyai ciri bahwa keadaan terlarang itu berlangsung terus. b. Delik aduan dibedakan menurut sifatnya. : delik apabila yang baru a. 332.

memberi petunjuk bahwa yang dapat dipertanggungjawabkan itu adalah manusia. pidana kurungan d. Dalam pemeriksaan perkara dan juga sifat dari hukum pidana yang dilihat ada / tidaknya kesalahan pada terdakwa. Delik ekonomi (biasanya disebut tindak pidana ekonomi) dan bukan delik ekonomi Apa yang disebut tindak pidana ekonomi itu terdapat dalam pasal 1 UU Darurat No. Rumusan delik dalam undang-undang lazim dimulai dengan kata-kata : “barang siapa yang Sifat dari pidana tersebut adalah sedemikian rupa. Ada delik yang ancaman ……. SUBYEK TINDAK PIDANA Sebagaimana diuraika terdahulu. misal : pembunuhan kanakkanak (pasal 341 KUHP). pencabutan hak-hak tertentu b. d. pidana denda. pada dasarnya yang dapat melakukan tindak pidana itu manusia (naturlijke personen). .51 52 (pasal 363). sehingga pada dasarnya hanya dapat dikenakan pada manusia. perampasan barang-barang tertentu c. Kata “barang siapa” ini tidak dapat diartikan lain dari pada “orang”. c. yaitu : 1. bahwa unsur pertama tindak pidana itu adalah perbuatan orang. b. pidana penjara c. 9. pidana mati b. pidana pokok : a. pidana tambahan : a.”. yang dapat diganti pidananya diperingan karena dilakukan dalam keadaan tertentu. 7 tahun 1955. Dalam pasal 10 KUHP disebutkan jenis-jenis pidana yang dapat dikenakan kepada tindak pidana. Delik ini disebut “geprivelegeerd delict”. dimumkannya keputusan hakim ekonomi. misal : penganiayaan (pasal 351 KUHP). Ini dapat disimpulkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : a. Delik sederhana. pencurian (pasal 362 KUHP). UU darurat tentang tindak pidana dengan pidana kurungan 2.

Dalam hukum positip Indonesia. penuntutan dan peradilan tindak pidana ekonomi (UU Darurat No.v. Menurut pasal ini yang dapat dipidana adalah orang yang melakukan korporasi. buka korporasinya. Pengertian kesalahan yang dapat berupa kesengajaan dan kealpaan itu merupakan sikap dalam batin manusia. Akan tetapi ajaran ini sudah ditinggalkan. Dalam perkembangannya apakah kecuali manusia tidak ada sesuatu yang dapat melakukan tindak pidana misalnya badan hukum ? dalam KUHP terdapat pasal yang seakan-akan menyinggung soal ini. suatu perkumpulan atau badan (korporasi) lain. dan juga pasal 398 dan 399. Keterangan : di dalam hukum acara. sesuatu Seorang fungsi anggota dalam pengurus sesuatu dapat pasal 169 : “ikut serta dalam perkumpulan yang terlarang”. mengenai pengurus atau komisaris perseroan terbatas dan sebagainya yang dalam keadaan pailit merugikan perseroannya. Pasal ini tidak menunjuk ke arah dapat dipidana suatu badan hukum. yang berbunyi : “suatu tindak pidana hanya dapat dilakukan oleh manusia”. ialah pasal 59. akan tetapi disinipun yang diancam pidana adalah orang. Ordonansi obat bius S.1948-295) “Ordonansi terdapat membebaskan diri. Atau dalam UU Darurat tentang pengusutan. Dalam KUHP juga ada pasal lain yang pengendalian ketentuan yang mengatur apabila suatu badan (hukum) melakuka tindak pidana yang disebut dalam ordonansi-ordonansi itu.1948-144) harga” dan (S. Bahwasanya yang menjadi subyek tindak pidana itu adalah manusia.T) terhadap pasal 59 KUHP. misalnya dalam “ordonansi barang-barang yang diawasi” (S. Vide . ini disebut “pembalikan beban pembuktian” (omkering van bewijslast). 27-278 jo. 7 tahun 1955 pasal 15 dimana dalam ayat 1 dan 2 dengan tegas menyebutkan kelihatannya juga menyangkut korporasi sebagai subyek hukum.53 54 d. apabila dapat membuktikan bahwa pelanggaran itu dilakukan tanpa ikut campurnya. 33-368 pasal 25 ayat 7. sesuai dengan penjelasan (M.

bahwa korporasi dapat mempunyai kesalahan dan . …………. Persoalan mengenai penyertaan dan kesalahan dalam pada itu akan kerap kali menjadi sumber perbedaan pendapat”. sebab peradilan terhadap badan hukum kiranya akan menduduki tempat yang penting dalam hukum pidana kita. sebaiknya pembentuk undang-undang membuat ketentuan-ketentuan umum dalam hal suatu tindak pidana dilakukan oleh suatu korporasi. 83) menyatakan mengenai persoalan ini (terjemahan) “Untuk sebagian peradilan dengan dibantu oleh ilmu pengetahuan hukum harus menemukan sendiri penyelesaian untuk problem dalam materi baru ini”.l. 477 van Hattum menulis a. Van Hattum (hal. korporasi dapat melakukan tindak pidana. Dan dalam hal. bahwa menurut Hoge Raad. : (terjemahan) Pompe (hal.55 56 bahwa badan hukum dapat menjadi subyek hukum pidana. 147) : “agaknya perlu untuk menggambarkan pertumbuhan ajaran ini agak lebih luas dari pada biasanya dalam buku pelajaran. ya bahkan kadang-kadang korporasi sajalah yang dapat menjadi pembuat. bahkan mereka itu dapat mengemukakan alasan tidak adanya kesalahan sama sekali”. Dalam pada itu sekarang suda pasti.

Kausalitas Didalam delik-delik yang dirumuskan secara materiil (selanjutnya disebut delik materiil). maka harus dapat dibuktikan bahwa A. 195 ayat 2. Selain itu juga merupakan persoalan pada delik-delik yang dikualifikasi oleh akibatnya (door het gevolg gequafili ceerde delicten) misal pasalpasal : 187. maka delik (materiil) itu tidak ada. 355 ayat 2 dan 3 KUHP. 194 ayat 2. Misalnya : Pasal 338 KUHP : Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain dihukum karena pembunuhan. Persoalan kausalias ini terjadi karena kesulitan untuk menetapkan apa yang menjadi sebab dari suatu akibat. paling banyak ada percobaan. 188.57 58 BAB IV HUBUNGAN SEBAB AKIBAT (CAUSALITEIT. Contoh : matinya Oleh karenanya untuk dapat menuntut seseorang (misalnya X) yang dilakukan melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan matinya seseorang. “akibat” ini artinya “perubahan atas suatu keadaan” dimana atau dapat berupa suatu terhadap terdapat unsur akibat sebagai suatu keadaan yang dilarang dan merupakan unsur yang menentukan (essentialia dari delik tersebut). sebab jika disini tidak terjadi akibat yang dilarang dalam delik itu. Hubungan sebab akibat (causaliteitsvraagstuk) ini penting dalam delik materiil. bukan suatu essentialia. 334 ayat 2 dan 3. pembahayaan perkosaan kepentingan hukum. Berbeda dengan dengan delik formil terjadinya akibat itu hanya merupakan accidentalia. Perlu diketahui bahwa . Keadaan yang menentukan di sini adalah terampasnya nyawa seseorang. 351 ayat 2 dan 3. karena perbuatan X itu maka timbul akibat matinya A. CAUSALITAT) si A. pasal 333 ayat 2 dan 3.

kemudian dibawa ke dokter. Kalau satu syarat dihilangkan. Di tengah jalan ia kejatuhan genting. Persoalan ini pun terdapat dalam lapangan ilmu pengetahuan lainnya. dan semua syarat itu nilainya sama. maka terjadilah beberapa teori kausalita.59 60 persoalan ini tidak hanya terdapat dalam B. . Akibat kongkrit harus bisa kongkrit. Dalam hubungan ini baik dipandang terlampau sederhana. dan mempunyai nilai yang sama. Dalam filsafat terdapat “peringatan”. Dalam menetapkan apakah yang dapat dianggap sebagai sebab dari suatu kejadian. baik positif maupun negatif untuk timbulnya suatu akibat itu adalah sebab. misalnya dalam filsafat. Contoh : A dilukai ringan. Teori Ekivalensi (aquivalenz-theorie) atau Bedingungstheorie atau teori condition sine qua non dari von Buri Teori ini mengatakan : tiap syarat adalah sebab. tempat dan keadaannya. Akan tetapi sebenarnya tidak boleh tanpa menyebabkan berubahnya akibat. sebab kalau satu syarat tidak ada maka akibatnya akan lain pula. Teori ekivalensi ini memakai pengertian “sebab” sejalan dengan pengertian yang dipakai dalam logika. Penganiayaan ringan terhadap A itu juga merupakan sebab dari matinya A.1. menurut waktu. Tidak ada syarat yang dapat dihilangkan (lazim dirumuskan “nicht hiin weggedacht warden kann dan seterusnya) ditelusuri sampai ke sebab. seperti yang senyata-nyatanya. belum tentu disebabkan karena kejadian “A” (post hoc non propter hoc). lalu mati. Teori-teori Kausalitas (ajaran-ajaran kausalitas) B. akan tetapi juga dalam lapangan hukum lainnya. bahwa kejadian “B” yang terjadi sesudah kejadian “A”. maka tidak akan terjadi akibat lingkungan hukum pidana saja. Tiap syarat. yang tidak dikehendaki oleh undang-undang. Misalnya hukum perdata dalam penentuan ganti rugi dan dalam hukum asuransi. Teori-teori hendak dagang misalnya dalam persoalan menetapkan hubungan obyektif antara perbuatan (manusia) dan akibat.

B. Berhubungan dengan keberatan itu. Teori-teori Individualisasi Teori-teori ini memilih secara post actum (inconcreto).2. bahwa terlepas satu sama lain. dari serentetan faktor yang aktif dan pasif dipilih sebab yang paling menentukan dari peristiwa tersebut. sedang faktor-faktor lainnya . merupakan “akibat” dari “sebab” yang terjadi sebelumnya. apabila tidak ada pembuatan pisau. Teori ekivalensi ini dapat dipandang sebagai pangkal dari teori-teori lain. maka ada teori-teori lain yang hendak membatasi teori tersebut teori-teori yang akan disebutkan di bawah ini. dan juga karena tori ini menarik secara luas sekali dalam membatasi lingkungan berlakunya antara jawaban pertanggung pertanggungjawaban pidana. seorang penganut teori begitu Jadi pembuatan pisau itu juga “sebab” dan seterusnya.61 62 dikemukakan. sebab tiap-tiap “sebab” sebenarnya dengan bahwa kausal sebaik-baiknya”. Kebaikan teori ini : mudah diterapkan. mengambil dari sekian faktor yang menimbulkan akibat itu ekivalensi berpendapat bahwa “untuk hukum pidana teori ini boleh digunakan. “bahwa “sebab itu adalah “the whole of antecedents” (1843). tetapi juga penjualan pisau itu kepada A dan penjualan pisau itu tidak ada. sedang faktor-faktor lainnya dipisahkan sebagai faktorfaktor yang irrelevant (yang tidak perlu / penting). apabila diperbaiki dan diatur oleh teori kesalahan yang harus diterapkan dijelaskan. John Stuart Mill (di Inggris) dalam bukunya : Sistem of Logic berpendapat. artinya setelah peristiwa kongkrit terjadi. harus dan dibedakan Di sini beberapa faktor yang kuat (dominant). Kritik / keberatan terhadap teori ini : hubungan kausal membentang ke belakang tanpa akhir. sehingga tidak banyak menimbulkan persoalan. hubungan pidana. Yang merupakan sebab bukan hanya ditikam A. Jadi misal : B ditikam oleh A sampai mati. Van Hamel.

atau tidaknya “Ubergewichtstheorie)” Dikatakan : sebab dari sesuatu perubahan adalah identik dengan perubahan dalam keseimbangan antara faktor yang menahan (negatif) dan faktor yang positif. Suatu jotosan ang mengenai hidung. biasanya dapat mengakibatkan hidung keluar darah. Yang disebut “sebab” adalah syarat-syarat positif dalam keunggulannya (in ihrem Ubergerwicht-bobot yang melebihi) terhadap syarat-syarat yang negatif. Teorinya disebut semacam itu. Seorang yang menyetir mobil terpaksa keseimbangan positif itu.3. mempunyai kadar (kans) untuk itu. Ini suatu akibat yang abnormal. b. artinya menurut pengalaman hidup biasa. yang tidak biasa. Satu-satunya sebab ialah faktor atau syarat terakhir dan yang menghilangkan faktor Contoh-contoh ada hubungan sebab akibat yang adequat : a. Oleh karena itu teori ini disebut teori adequat (teori adequate. Akan tetapi apabila orang yang pukul itu menjadi buta itu bukan akibat yang adequate. Binding. memenangkan mengerem sekonyong-konyong. Birkmayer (1885) mengemukakan : sebab adalah syarat yang paling kuat (Ursache ist die wirksamste Bedingung) 2. oleh karena ada pengendara sepeda hendak menyebrang . atau menurut perhitungan yang layak. Teori-teori generalisasi Teori-teori ini melihat secara ante factum (sebelum kejadian/in abstracto) apakah diantara serentetan syarat itu ada perbuatan manusia yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat penganutnya tidak banyak antara lain : 1. Dalam teori ini dicari sebab yang adequate untuk timbulnya akibat yang bersangkutan (ad-aequare artinya dibuat sama). dimana faktor yang positif itu lebih unggul. tentang Ada-quanzttheorie).63 64 hanya merupakan syarat belaka. Penganut- B.

Adakah pen-sebab-an yang adequate ? Jawabannya tergantung dari keadaan. Hal yang merupakan persoalan dalam teori ini ialah : bagaimanakah penentuannya. Penentuan subyektif (subjective ursprungliche Prognose). Penentuan obyektif. c. dimana secara kebetulan bersembunyi / tidur seorang penjahat hingga ikut mati terbakar. oleh ini sedang ini tidak mobil. Akan tetapi apabila di daerah itu merupakan kebiasaan orang untuk bersembunyi atau menginap dalam tumpukan rumput. bahwa suatu sebab itu pada umumnya cocok untuk disangka-sangka Pengendara pengendara mendapat mobil penyakit trauma karena menekan urat. Dasar penentuan apakah suatu perbuatan itu dapat menimbulkan akibat ialah keadaan atau hal-hal yang secara obyektif kemudian si pembuatlah yang sepeda itu tidak merupakan penyebab yang adequate untuk timbulnya penyakit trauma tersebut. Disini disebut antara lain : 1. Jika biasanya menurut pengalaman sehari-hari. melainkan pengetahuan dari hakim. . Seorang petani membakar tumpukan rumput kering (hooi). diketahui atau pada umumnya diketahui. maka perbuatan petani itu benar-benar mempunyai kadar untuk matinya seseorang. Jadi bukan yang diketahui atau yang dapat diketahui oleh sipembuat.65 66 jalan yang membelok. Disini yang dianggap sebab ialah apa yang oleh sipembuat dapat diketahui / diperkirakan bahwa apa yang dilakukan itu pada umumnya dapat menimbulkan akibat semacam itu (Von Kries jadi pandangan atau pengetahuan menentukan). Dianipun dapat dikatakan bahwa perbuatan pengendara menimbulkan akibat tertentu itu ? Mengenai hal ini ada beberapa pendirian. 2. tidak timbul akibat semacam itu maka perbuatan petani itu bukanlah sebab.

maka ia tidak mati. Menurut teori ekivalensi : ya. Sebab suatu perbuatan baru dianggap sebagai sebab yang adequate apabila sipembuat dapat mengira-ngirakan atau membayangkan dipandang terlalu jauh. Beberapa penganut teori adequat yang lain : 1. maka ia juga menentukan pertanggunganjawab (pidana). Simons : Dikatakan olehnya : “suatu perbuatan dapat disebut sebagai sebab dari suatu akibat. jadi sipembuat dapat membayangkan dan seharusnya dapat membayangkan. oleh karena itu dapat dikatakan bahwa teori adequate subyektif dari von Kries ini bukan teori kausalitas yang murni. Harapan itu Sebenarnya dalam teori kausal adequat subyektif (Von Kries) itu tersimpul unsur terkabul dan pekerjanya itu mati disambar petir. Konsekwensi ini umumnya penentuan tentang kesalahan). ingin sekali agar pekerja itu . Pada waktu hujan yang disertai petir ia menyuruh pekerjanya itu pergi ke suatu tempat dengan harapan agar orang itu disambar petir. Menurut teori ini : perbuatan menyuruh orang ke tempat lain pada umumnya tidak mempunyai kadar untuk kematian seseorang karena disambar petir. “objektive nachtragliche Prognose” mati. Penyambaran petir adalah hal yang (voor zien) akan terjadinya akibat atau kalau orang umumnya membayangkan terjadinya akibat itu. sebab seandainya pekerja itu tidak disuruh keluar oleh majikan. melepasnya. Dengan ini maka tidak ada hubungan kausal.67 68 Dasar penentuan (Beurteilungs standpunkte) ini disebut (Rumelin). Oleh karena dalam ajaran tersebut tersimpul unsur kesalahan. jadi bukan teori kausalitas dalam arti yang sesungguhnya. sehingga juga tidak ada pemidanaan. Oleh karena itu lebih memuaskan apabila dipakai teori adequate. tetapi tidak berani kebetulan. Contoh : seorang majikan. apabila menuntut pengalaman manusia pada umumnya harus diperhitungkan kemungkinan. yang sangat membenci pekerjanya.

Kami (Ringkasan Hukum Pidana hal. bahwa teori tersebut sesuai dengan jiwa hukum pidana. Akan tetapi kelemahan teori ini tidak mudah dalam kenyataan. itulah yang dianggap sebagai suatu sebab”. kadar. bahwa alur peristiwa di dunia ini ada biasa dan normal. dengan mengikuti hal ikhwal yang berada dan menurut pengalaman kita. itu dapat juga dikatakan. 47) berpendirian senada dengan Simons. pengalaman akibat yang bersangkutan. tidak terlihat tersebut di atas : teori ekuivalentie dapat dikatakan teori kausalitas yang benar. penentuan ada dan tidaknya unsur kesalahan pada sipembuat. 2. Beliau katakan : “Kehidupan hukum dan perhubungan hukum itu terdiri atas persangkaan. ia menggunakan istilah-istilah yang tidak terang misalnya biasanya. biasanya. Pompe : yang disebut sebab ialah perbuatanperbuatan yang dalam keadaan tertentu itu mempunyai strekking untuk menimbulkan menunjukkan perbuatan-perbuatan tersebut. Hukum Pidana itu mempunyai tugas untuk melindungi kepentingan hukum terhadap perkosaan dan perbuatan yang membahayakan. yang sesuai dengan asas konkordantie pada waktu itu. Dalam yurisprudensi Hindia Belanda. Mengenai teori adequat dari von Kries. Berhubung dengan tugas tersebut maka hukum pidana harus membuat “pagar” terhadap perbuatan-perbuatan yang agaknya mendatangkan kerugian.69 70 bahwa dari perbuatan sendiri akan terjadi akibat itu”. Ini kesimpulan pengalaman kita sebagai manusia. Tinjauan terhadap teori-teori kausalitas manusia pada umumnya dan sebagainya. dengan kadarnya memadai sesuatu akibat. Dalam hal ini teori adequat dapat apakah sebab sesuatu sesuatu rumusan perbuatan akibat delik itu yang yang dari dalam (presumptie). 3. akan tetapi selalu diberi suatu penambahan. Syarat yang pada umumnya. Teori ini ditambah dengan . dan memberi keterangan yang cukup memuaskan merupakan dimaksudkan bersangkutan. mengikuti yurisprudensi Negeri Belanda.

yang membiarkan pengemudi itu tetap menyopir. Perbuatan terdakwa yang tidak menarik seorang pengemudi mobil yang sembrono dari tempat kemudi (stuur) dan membiarkan pengemudi Hooggerechtshof condong ke teori adequate. Akan tetapi dalam pada itu di dalam berbagai putusan pengadilan dapat ditunjukkan adanya persyaratan. d. boleh disebut sebab dari tabrakan itu. Maka matinya si korban dapat dipertanggungjawabkan atas kesalahan si terdakwa (pengendara mobil). hanya dipandang sebagai suatu syarat dan bukan sebab. Anak tersebut menabrak orang. c. Disini memang perbuatan si ayah dapat disebut syarat tersebut terus menyopir tidak dianggap sebagai sebab dari kecelakaan yang terjadi.71 72 dengan nyata teori mana yang dipakai. Terlindasnya pengendara sepeda motor oleh kereta api itu dipandang oleh pengadilan sebagai akibat langsung dan segera dari penabrakan sepeda motor oleh mobil. akan tetapi tidak . bahwa antara perbuatan dan akibat harus ada hubungan yang langsung dan seketika (onmiddellijk en rechtsreeks) a. 147 hal 115) sebuah mobil menabrak sepeda motor. Putusan Raad van Justitie Batavia 23 Juli 1937 (. oleh karena terdakwa sebagai orang yang mengatur pemasukan barang- (voorwaarde) dari tabrakan itu. Putusan Politierechter Bandung 5 April 1933 Seorang ayah yang membiarkan anaknya yang berumur 14 tahun mengendarai sepeda motornya. oleh karena antara perbuatan ayah dan tabrakan itu tidak ada hubungan kausal yang langsung. Putusan Penagadilan Negeri Pontianak 7 Mei 1951. Putusan Politierechter Palembang 8 Nopember 1936 diperkuat oleh Hooggerechtshof 2 Pebruari 1937. dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta Terdakwa sebagai kerani bertanggung jawab atas tenggelamnya satu kapal yang disebabkan oleh terlalu berat muatannya dan yang mengakibatkan 7 orang meninggal dunia. oleh karena antara perbuatan terdakwa dan terjadinya kecelakaan itu tidak terdapat hubungan yang langsung. Pengendara sepeda motor terpental ke atas rel dan seketika itu dilindas oleh kereta api. b. Perbuatan terdakwa.

yang disebut sebagai sebab ialah “sesuatu yang dilakukan ibu itu pada saat ia tidak memberi susu itu. misal pergi ke toko. Jenis kedua ini sebenarnya delik commissi yang dilakukan dengan “tidak berbuat”. Tidak mungkin orang tidak berbuat bisa menimbulkan akibat. karena kepergian ibu itu tidak bisa dianggap ada perhubungan dengan akibat itu. karena delik omissi itu adalah delik formil. c. Yang ada persoalan ialah pada delik commisionis per omission commissa. Kausalitas dalam hal tidak berbuat Persoalan ini timbul dalam delik-delik omissi dan dalam delik comisionis per ommisionem commissa (delik omissi yang tak sesungguhnya). Teori ini disebut “teori berbuat yang sebelumnya”. C. Pada delik ini ada pelanggaran larangan dengan “tidak berbuat”. Pendirian ini didasarkan kepada dalil ilmu pengetahuan alam yang berbunyi bahwa dari keadaan negatif tidak mungkin timbul kedaan positif. Pendirian ini tidak bisa diterima. sehingga tidak ada persoalan tentang kausalitas. Pada delik omissi persoalannya mudah. Misal : dalam hal seorang ibu membunuh anaknya dengan tidak memberi susu. Dalam persoalan ini ada beberapa pendirian : ini). karena dalil pengetahuan alam tidak tepat untuk dipakai dalam ilmu pengetahuan rokhani (seperti hukum pidana berbagai pihak tentang terlalu beratnya muatan pada waktu kapal akan berangkat. Yang disebut sebagai sebab ialah perbuatan yang mendahului akibat yang timbul.73 74 barang angkutan dalam kapal in casu tidak mempedulikan peringatan-peringatan dari a. Teori inipun tidak dapat diterima. Yang disebut sebab ialah perbuatan yang positif yang dilakukan oleh sipembuat pada saat akibat itu timbul. b. Di dalam pertimbangan juga disebut bahwa perbuatan terdakwa mempunyai “hubungan erat” dengan “kecelakaan itu”. Teori ini dinamakan “teori berbuat lain. misal .

d. yang diharapkan untuk penerimaan jabatan dengan akibat yang timbul. orang tuanya mengetahui hal ini. ialah norma-norma lainyang berlaku dalam masyarakat yang teratur. menurut ajaran ini yang menjadi sebab ialah apa yang dilakukan penjaga wesel. tetapi memang sikap memindahkan wesel. apabila ia mempunyai kewajiban hukum untuk berbuat. Di bawah ini diberi contoh-contoh apakah ada kewajiban berbuat atau tidak : 1) Ada anak yang dibunuh. 2) Seorang penjaga gudang membiarkan pencuri melakukan aksinya. sebab sebagai penjaga ia berkewajiban untuk menjaga dan berbuat sesuatu. Seseorang yang tidak berbuat dapat dikatakan sebab dari sesuatu akibat. ia dapat dipertanggungjawabkan. Apakah orang tua bertanggung jawab sebagai ikut berbuat dalam diperbuat/dilakukan. sebab sulit dilihat hubungannya antara semacam itu sangat tercela (laakbaar) dan tidak patut. mengingat keadaan yang kongkrit. bahwa tidak berbuat itu dapat menjadi sebab dari suatu akibat. dalam arti dapat menjadi syarat untuk terjadinya suatu akibat.75 76 seorang penjaga wesel yang menyebabkan kecelakaan kereta api karena tidak Jawab (Hof Amsterdam 23 Oktober 1883): tidak. Teori inipun tidak memuaskan. Dalam delik commisionis per omissionem commissa (delik omissi yang tidak sesungguhnya) “tidak berbuat” itu bukannya “tidak berbuat sama sekali” akan tetapi “tidak berbuat sesuatu”. “Tidak berbuat” sebenarnya juga merupakan “perbuatan”. pembunuhan ? . Kesimpulan mengenai kausalitas dalam hal tidak berbuat : sekarang tidak ada persoalan lagi. tidak hanya yang nyata-nyata tertulis dalam suatu peraturan tetapi juga dari peraturan-peraturan yang tidak tertulis. Maka dengan pengertian ini hal “tidak berbuat” pada hakekatnya sama dengan “berbuat sesuatu”. tetapi tidak berbuat apa-apa. Sedang menurut teori adequate. Kewajiban itu timbul dari hukum.

jadi juga dapat menjadi “sebab”. Wederrechtelijk. 510). dengan istilah lain misalnya : “tanpa mempunyai hak untuk itu” (pasal 303. 549). Istilah dan Pengertian KUHP memakai istilah bermacam-macam : a. jadi harus dibedakan dari persoalan kesalahan atau pertanggungan jawab pidana yang merupakan segi subyektifnya. b. 335 (1). tegas dipakai istilah “melawan hukum”. “tanpa izin” (zonder verlof) (pasal 496. Unrecht. 168. BAB IV SIFAT MELAWAN HUKUM (Rechtswdrig. Akhirnya perlu diperhatiakn bahwa soal hubungan kausal ini terletak dalam segi obyektif (yang menyangkut perbuatan) dari keseluruhan syarat pemidanaan. 548. ialah yang menyangkut orangnya.77 78 dapat juga mempunyai kadar untuk terjadinya akibat. Onrechmatig) A. “tanpa mengindahkan cara-cara yang ditentukan oleh peraturan umum” (pasal 429). 522. (wederrechtelijk) dalam pasal 167. . “dengan melampaui kewenangannya” (pasal 430).

Pengecualian atas tasbestand mer male. memenuhi unsur-unsur delik tersebut pasal 338 KUHP. . Arti istilah bersifat melawan hukum itu terdapat tiga pendirian: 1. hal ini tidak perlu bertentangan dengan hukum (H.79 80 Alasan pembentuk undang-undang itu mencantumkan unsur sifat melawan hukum itu tegas-tegas dalam sesuatu rumusan delik karena pembentuk undangundang khawatir apalagi unsur melawan hukum itu tak dicantumkan dengan tegas. Salah satu unsur dari tindak pidana adalah unsur sifat melawan hukum. Tasbestand dalam arti sempit ini terdiri atas tasbestand mer male. berwenang untuk melakukan perbuatan-perbuatan sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang itu. Dalam bahasa Jerman ini disebut “tatbestandsmaszig”.R). Misalnya dalam melaksanakan perintah undang-undang (ps. bertentangan dengan hukum (Simons) 2. 50 KUHP) : 1) regu penembak. ialah unsur seluruhnya dari delik sebagaimana dirumuskan dalam peraturan pidana. Perbuatan mereka tidak melawan hukum. tanpa kewenangan atau tanpa hak. Tasbestand disini dalam arti sempit. ialah masing-masing unsur dari rumusan delik. Ia tidak dapat dikatakan melakukan kejahatan tersebut pasal 333 KUHP. yang menembak mati seorang terhukum yang telah dijatuhi hukuman pidana mati. yang berhak atau rumusan delik sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang”. mungkin dipidana pula. sebab mungkin ada hal yang menghilangkan sifat melawan hukumnya perbuatan tersebut. bertentangan dengan hak (subyektief recht) orang lain (Noyon) 3. Bilamana sesuatu perbuatan itu dikatakan melawan hukum ? Orang akan menjawab : “apabila perbuatan itu masuk dalam dapat dikecualikan atas perbuatan yang memenuhi rumusan delik (tatbestandsmaszig) itu tidak senantiasa bersifat melawan hukum. Unsur ini merupakan suatu penilaian obyektif terhadap perbuatan. dan bukan terhadap si Pembuat. 2) Jaksa menahan orang yang sangat dicurigai telah melakukan kejahatan.

Perbuatan dokter hewan itu tegas-tegas masuk dalam rumusan delik . Pengadilan Negeri berpendapat perbuatan Mamak cs melanggar pasal KUHP (merusak ketentraman rumah). karena ia luka-luka berat dan tidak mungkin hidup terus. maka Mamak dari perempuan ini bersama-sama dengan orang lain mendatangi orang tersebut untuk dimintai menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan terdapat di dalam undang-undang. karena dalam ekspedisi di Kutub Selatan seorang bioloog membedah binatang-binatang (vivisectie) untuk penyelidikan ilmiah. Di dalam kedua contoh tersebut hal yang Seorang perempuan Minangkabau hidup bersama dengan seorang laki-laki dengan siapa ia menurut hukum adat dilarang kawin. sehingga membahayakan permintaan sendiri. dan memidana Mamak 3 bulan penjara dan lain-lainnya masing-masing 2 bulan. apalagi jauh dari dokter. Namun dalam kasus : seorang ayah memukul seorang pemuda yang memperkosa anak-anaknya seorang menembak mati temannya atas pertanggungjawaban dan untuk membawa laki-laki itu ke Wali Negeri.81 82 karena ia melaksanakan undang-undang (terdapat dalam peraturan hukum acara pidana) sehingga tidak ada unsur melawan hukum. Berhubung dengan pelanggaran adat ini. Alasan Arrest Hoge Raad 20 Pebruari 1933 Seorang dokter hewan di kota Huizen dengan sengaja memasukkan sapi-sapi yang sehat ke dalam kandang yang berisi sapi-sapi yang sudah sakit mulut dan kuku. Contoh lain yang mempermasalahkan unsur melawan hukum adalah : Putusan PN Sawahlunto 10 Setember 1936 sapi-sapi yang sehat itu. Oleh karena perempuan itu tidak mau membuka pintu rumahnya pintu didobrak. Maka timbul persoalan ada tidaknya sifat melawan hukumnya perbuatan.

“Memang boleh diakui. Menurut Simons. bahwa unsur sifat melawan hukum tidak dicantumkan di dalam rumusan delik dan meskipun demikian tidak ada pemidanaan. Putusan Pembagian Ajaran Sifat Melawan Hukum Menjawab persoalan tersebut maka hukum pidana membagi ajaran sifat melawan hukum dalam dua sudut pandang yaitu : 1. mungkin sekali dapat terjadi. apabila perbuatan diancam pidana dan Mahkamah Agung Belanda : Pasal 82 Undang- undang ternak tidak dapat diterapkan kepada dokter hewan itu. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan melawan atau bertentangan dengan undang-undang alasan-alasan penghapus pidana. apabila undang-undang sendiri tidak dengan tegas-tegas menyebut adanya dirumuskan sebagai suatu delik dalam undangundang. bahwa suatu perbuatan. . Pertimbangannya antara lain : “tidak dapat dikatakan. ialah dengan sengaja menempatkan ternak dalam keadaan yang membahayakan / mengkhawatirkan. sehingga oleh karenanya pasal yang bersangkutan yang tidak berlaku letterlijk terhadap memenuhi (hukum tertulis). Ketika dituntut. menurut ajaran sifat melawan hukum yang formil suatu perbuatan itu bersifat melawan hukum. bahwa perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan peternakan. jika di dalam hukum positif terdapat alasan untuk suatu perbuatan secara rumusan delik”. sedang sifat melawan hukumnya perbuatan itu dapat hapus. yang masuk larangan dalam sesuatu undang-undang itu tidaklah mutlak bersifat melawan hukum. akan tetapi tidak adanya sifat melawan hukum itu hanyalah bisa diterima. bahwa seseorang yang melakukan perbuatan yang diancam pidana itu mesti dipidana.83 84 tesebut dalam pasal 82 undang-undang ternak. hanya berdasarkan suatu ketentuan undang-undang. dokter hewan mengemukakan pada pokoknya. karena dalam hal ini sifat melawan hukumnya perbuatan ternyata tidak ada.

Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan bertentangan dengan undang-undang menganut ajaran sifat melawan hukum yang meteriil ialah : a) Von Liszt : perkosaan atau pembahayaan terhadap kepentingan hukum hanyalah bersifat melawan hukum materiil (materiel rechts widrig). c) M. 2. jika perbuatan itu bertentangan dengan tujuan ketertiban hukum (den Zwecken der das Zusammenleben regelnden Recht sordnung widerspricht). tidak hanya yang terdapat dalam undang-undang (yang tertulis) saja. maka tidak bersifat melawan hukum. Sifat melawan hukumnya perbuatan yang nyatanyata masuk dalam rumusan delik itu dapat hapus berdasarkan ketentuan undang-undang dan juga berdasarkan aturan-aturan yang tidak tertulis (uber gezetzlich). kalau tidak bertentangan dengan tujuan itu. menurut ajaran sifat melawan hukum yang materiil Suatu perbuatan itu melawan hukum atau tidak. Contohnya ialah seorang yang memukulpemuda yang memperkosa anak perempuannya.E. akan tetapis harus dilihat berlakunya azas-azas hukum yang tidak tertulis.85 86 pengecualian berlakunya ketentuan / larangan itu. b) Zu Dohna mengatakan : Suatu perbuatan itu tidak melawan hukum jika perbuatan itu merupakan upaya yang haq untuk tujuan yang haq (richtiges Mittel zum techten zwecke). Mayer mengatakan : bersifat (hukum tertulis) dan juga bertentangan dengan hukum yang tidak tertulis termasuk tata susila dan sebagainya sebagaimana para sarjana yang . Di sini menurut Zu Dohna perbuatan ayahnya tidak melawan hukum. Alasan untuk menghapuskan sifat melawan hukum tidak boleh diambil di luar hukum positif dan juga alasan yang disebut dalam undang-undang tidak boleh diartikan lain daripada secara limitatief.

ditentukan oleh norma kebudayaan (kulturnorm). dan istimewa hakim harus membuka diri pada peristiwa-peristiwa yang kongkrit. d) Zevenbergen Onrechtmatigheid adalah syarat yang umum. Dalam hal ada keraguan mengenai sifat melawan hukum maka tidak boleh ada penjatuhan pidana. Persaksian terhadap sifat melawan hukum yang materiil itu harus dilakukan secara hatihati. (Eugenetiek adalah ajaran yang mempelajari perbaikan ras / keturunan). Kesimpulan mengenai persoalan melawan hukumnya perbuatan. Akan tetapi sifat itu hapus apabila diterobos dengan adanya tentang dokter hewan Huizen itu. yang biasanya ada jika suatu perbuatan memenuhi rumusan delik dalam undang-undang.87 88 Perbuatan itu melawan hukum materiil atau tidak. apakah yang diharapkan oleh ketertiban hukum. bila suatu perbuatan itu memenuhi rumusan delik. maka itu menjadikan tanda / indikasi bahwa perbuatan itu bersifat melawan hukum. berarti bertentangan dengan kulturnorm yang diakui oleh negara. 348 KUHP) bisa tidak melanggar hukum berdasarkan petunjuk eugenetisch atau sosial. tetapi mengenai hal itu harus diselidiki untuk tiap-tiap kejadian yang kongkrit. ia katakan : . Kalau perbuatan itu sesuai dengan kulturnorm itu maka sifat melawan hukumnya hapus. Sifat melawan hukum itu. Misal abortus protus (ps. e) Van Hattum Dengan adanya keputusan Hoge Raad dengan itu menurut hemat saya (mer van Hattum) telah diterima ajaran sifat melawan hukum yang materiil oleh Hoge Raad dan telah dipecahkan persoalan mer azas-azas yang boleh dikatakan benar dalam ajaran “penentuan hukum” dewasa ini (in de hedendaagse leer Her rechtsvir onbetwist). obyektif yang berdiri sendiri.

yang dibuat dengan sah. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. . juga dipandang adil / benar oleh seluruh bagaimanakah keadaan keadaan lebih-lebih masyarakat Indonesia dinamis yang bergerak menuju suatu masyarakat yang dicita-citakan. sedang penganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil alasan itu boleh diambil dan luar hukum yang tertulis. harus kepribadiannya bertanggung jawab masyarakat pada umumnya. sebab tiaptiap keputusan harus memuat alasan yang mendasari keputusan mengetahui itu. c). Berkaitan dengan hukum tertulis maka hakim dalam perkara kongkrit yang sedang dihadapi harus betul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menghapuskan kekuatan berlakunya peraturan yang tertulis dsb. maka perlu dipertimbangkan betul- kebenaran keputusannya. Benarkah yang dipandang adil oleh suatu golongan dalam masyarakat biasa. ialah masyarakat Pancasila mata. Sampai dimanakah rasa keadilan dan keyakinan masyarakat dapat menyisihkan peraturan yang tertulis. maka perlu dipertimbangkan betulbetul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menyisihkan peraturan yang tertulis.89 90 alat pembenar (rechtvaardigingsgrond). Ini adalah beban yang berat bagi hakim. Maka hakim harus benar-benar masyarakat yang mempertimbangkan : a). yang dibuat dengan sah. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. baik secara formil maupun secara materiil. kedengaran apa agar yang sedang terjadi dalam tidak seluruh atas supaya Hakim putusannya dengan sumbang. b). Bagi mereka yang menganut ajaran sifat melawan hukum yang formil alasan pembenar itu hanya boleh diambil dan hukum yang tertulis. pikiran dan perasaan hakim harus tajam untuk dapat menangkap masyarakat.

Nasional nanti dan masih berlakunya KUHP yang sekarang ini dimana juga masih tercantum azas seperti tersebut dalam pasal 1. Misal A membunuh B dengan alasan bahwa B telah membunuh C kakak dari A. B. ada yang tercantum dengan tegas. dalam fungsinya yang positif Pengertian sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif menganggap sesuatu perbuatan tetap sebagai sesuatu delik. apabila bertentangan dengan hukum atau ukuran-ukuran lain yang ada di luar undang-undang. Ini adalah konsekwensi dari diterimanya azas legalitas untuk KUHP.91 92 Mengenai pengertian melawan hukum yang materiil itu perlu dibedakan : dalam fungsinya yang negatif Ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang negatif mengakui kemungkinan adanya hal-hal yang ada di luar undang-undang melawan hukumnya perbuatan yang memenuhi rumusan undang-undang. jadi hal tersebut sebagai alasan penghapus sifat melawan hukum. . Suatu negara yang mengakui azas nullum delictum dalam arti yang sebenarnya tidak mungkin menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif. meskipun tidak nyata diancam dengan pidana dalam Kalau Seminar Hukum Nasional tersebut di atas menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil tentunya hal tersebut dalam fungsinya yang negatif. Pembuktian Unsur Sifat Melawan Hukum Unsur sifat melawan hukum itu ada dalam rumusan delik : 1. Jadi disini diakui hukum yang tak tertulis sebagai sumber hukum yang positif. maka dalam hal ini adanya unsur tersebut harus dibuktikan undang-undang. Memang di daerah yang bersangkutan ada anggapan bahwa hutang nyawa harus disaur dengan nyawa.

Yang menganggap sifat melawan hukum itu sebaliknya oleh terdakwa. van Hamel dan Zevenbergen. Sifat melawan hukum disini sebagai unsur konstitutif. karena pada umumnya dengan mencocoki rumusan undang-undang sifat melawan hukumnya perbuatan sudah ternyata pula. kecuali jika dibuktikan sesuatu delik (artinya ada delik kalau perbuatan itu bersifat melawan hukum). Prof. mempunyai fungsi yang positif (merupakan unsur konstitutif) a. bahwa itu tidak berarti bahwa dalam lapangan procesueel (acara pemeriksaan perkara) sifat itu harus dibebankan pembuktiannya kepada penuntut umum. Ini terjadi jika seorang mengira telah melakukan delict. Putatif Delik .93 94 2. padahal perbuatannya itu sama sekali bukan suatu C. jika tak disebut dalam rumusan delik.l. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang positif untuk dengan pertanyaan apakah ada pengecualian yang menyebabkan hapusnya sifat melawan hukum”. Pendapat Simons. maka harus dibuktikan. ada pula yang tidak tercantum. maka tidak perlu dibuktikan. Hazewinkel-Suringa memandang sifat melawan hukum hanya sebagai tanda ciri dari tindak pidana. Muljatno yang meskipun menganggap unsur sifat melawan hukum adalah syarat mutlak yang tak dapat ditinggalkan”. Terhadap delikdelik semacam itu ada perbedaan paham : a. Beliau setuju. b. unsur dianggap dengan diam-diam ada. namun berpendirian. Yang menganggap sifat melawan hukum mempunyai fungsi yang negatif adalah Simons. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang negatif (artinya : tidak ada unsur sifat melawan hukum pada perbuatan merupakan pengecualian untuk adanya suatu delik). “ajaran sifat melawan hukum untuk hukum pidana pada umumnya hanyalah mempunyai hubungan Dalam pembicaraan unsur sifat melawan hukum ini ada delik disebut wahn delict atau putativ delict.

Bilamana seseorang itu dikatakan mampu bertanggungjawab ? Apakah ukurannya untuk menyatakan adanya kemampuan bertanggung jawab itu ? KUHP tidak memberikan rumusannya. BAB V KESALAHAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA 1. bahwa untuk adanya pertanggungjawab pidana diperlukan syarat bahwa pelaku mampu bertanggung jawab.95 96 delik. sebab perbuatannya itu tidak bersifat melawan hukum. Pengertian Kemampuan Bertanggungjawab (Zurechnungsfahigkeit Toerekeningsvatbaarheid) Telah disebutkan. Dalam literatur hukum pidana Belanda dijumpai beberapa definisi untuk “kemampuan bertanggung jawab”. Tidaklah mungkin seseorang dapat dipertanggungjawabkan bertanggung jawab. apabila ia tidak mampu – .

sebab masih dapat ditanyakan kapankah diartikan sebagai suatu keadaan psychis sedemikian. bahwa seseorang mampu seseorang itu dikatakan “dapat mempertahankan bertanggung jawab. yakni apabila : a.97 98 Simons : “kemampuan bertanggung jawab dapat Van Bemmelen : seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan ialah orang yang dapat mempertahankan hidupnya dengan cara yang patut. Ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut. b. Mampu untuk menyadari. Dalam hal ia tidak ada kebebasan untuk memilih antara berbuat dan tidak berbuat mengenai apa yang dilarang atau diperintahkan oleh undangundang. baik dilihat dari sudut umum maupun dari orangnya”. Definisi van Bemmelen ini singkat. antara lain demikian : Tidak ada kemampuan bertanggung jawab pada sipelaku Van Hamel : kemampuan bertanggung jawab adalah suatu keadaan normalitas psychis dan kematangan (kecerdasan) yang membawa 3 kemampuan : a. yang membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan. Dikatakan selanjutnya. akan tetapi juga kurang jelas. Ia mampu untuk mengetahui atau menyadari bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum b. Mampu untuk mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya sendiri b. bahwa perbuatannya itu menurut pandangan masyarakat tidak dibolehkan c. jika jiwanya sehat. sehingga tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya itu bertentangan . hidupnya dengan cara yang patut” ? Adapun Memorie van Toelichting (memori penjelasan) secara negative menyebutkan mengenai kemampuan bertanggung jawab itu. Mampu untuk menentukan kehendaknya atas perbuatannya-perbuatannya itu : a. Dalam hal ia ada dalam suatu keadaan yang sedemikian rupa.

bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt).1. orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatnnya. Definisi-definisi tersebut memang ada manfaatnya. Seorang terdakwa pada dasarnya dianggap (supposed) mampu bertanggung jawab. Kesalahan 2. dipertanggungjawabkannya orang tersebut masih perlu adanya syarat. namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. Pengertian Kesalahan Dipidananya seseorang tidaklah cukup dengan membuktikan bahwa orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Dalam hal ini berlaku asas “TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN” atau Keine Strafe ohne Schuld atau Geen straf zonder Schuld atau Nulla Poena Sine Culpa (“culpa” disini dalam arti luas. kecuali dinyatakan sebaliknya (lihat pembahasan tentang dasar-dasar penghapus pidana). Dengan perkataan lain.99 100 dengan hukum dan tidak dapat menentukan akibat perbuatannya. perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut. Dalam persoalan kemampuan bertanggung jawab itu ditanyakan apakah seseorang itu merupakan “normadressat” (sasaran norma). ia mampu untuk menilai dengan pikiran atau perasaannya bahwa 2. meliputi juga kesengajaan). yang mampu. tetapi untuk setiap kali dalam kejadian yang kongkrit dalam praktek peradilan menilai jiwa seorang terdakwa dengan ukuran-ukuran tadi tidaklah mudah. apabila orang yang normal jiwanya itu mampu bertanggung jawab. . Sebagai dasar untuk mengukur hal tersebut. Jadi meskipun perbuatannya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan (an objective breach of a penal provision). Untuk dapat perbuatannya itu dilarang oleh undang-undang dan berbuat sesuai dengan pikiran atau perasaannya itu.

101 102 Asas ini tidak tercantum dalam KUHP Indonesia atau dlam peraturan lain. kecuali yang apabila sah pengadilan. mendapat keyakinan. bahwa seorang yang dianggap dapat bertanggung jawab. menurut karena alat berpijak pada orang yang melakukan tindak pidana (taterstrafrecht). Mengenai hubungan . Tidak berbeda dengan konsep yang berlaku dalam sistem hukum di Negara Eropa Kontinental. Untuk salah. tanpa meninggalkan sama sekali sifat dari Tatstrafrecht. penjatuhan pidana disyaratkan adanya kesalahan pada si pelaku. namun berlakunya asas tersebut sekarang tidak diragukan. Asas “tiada pidana tanpa kesalahan” yang telah disebutkan di atas mempunyai sejarahnya sendiri. 4 / 2004) berbunyi : Tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana. Pasal 6 ayat 2 Undang-undang Kekuasaan Kehakiman (UU No. Dengan demikian hukum pidana yang ada dewasa ini dapat disebut sebagai Sculdstrafrecht. unsur kesalahan sebagai syarat untuk penjatuhan pidana di Negara Anglo Saxon tampak dengan adanya maxim (asas) “Actus non facit reum nisi mens sit rea” atau disingkat dengan asas “mens rea”. Mens rea merupakan subjective guilt melekat pada sipelaku subjective gilt ini berupa intent (kesengajaan setidak-tidaknya negligence (kealpaan). Bahwa unsur kesalahan itu. sangat menentukan akibat dari perbuatan seseorang. adany pemidanaan harus ada kesalahan pada sipelaku. 2. Dasar Pemikiran Filosofi dasar yang mempersoalkan kesalahan pembuktian undang-undang.2. Arti aslinya ialah “evil will” “guilty mind”. dapat juga dikenal dari pepatah (Jawa) “sing seleh” (yang bersalah pasti salah). Dalam ilmu hukum pidana dapat dilihat sebagai unsur yang menjadi persyaratan untuk dapat dipertanggungjawabkannya pelaku berpangkal pada pemikiran tentang hubungan antara perbuatan pertumbuhan dari hukum pidana yang menitikberatkan kepada perbuatan orang beserta akibatnya (Tatstrafrecht atau Erfolgstrafrecht) ke arah hukum pidana yang dengan kebebasan kehendak. apabila ada orang yang dijatuhi pidana padahal ia sama sekali tidak bersalah. artinya bahwa. telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya. Akan bertentangan dengan rasa keadilan.

Kesalahan seseorang tidak dihubungkan dengan ada dan tidak adanya kehendak bebas 1. Tetapi reaksi terhadap perbuatan yang dilakukan itu berupa tindakan (maatregel) untuk ketertiban masyarakat. Dalam pandangan ketiga melihat bahwa ada dan tidak adanya kebebasan kehendak itu untuk hukum pidana tidak menjadi soal (irrelevant). yang bahwa kehendak bebas (free will) dan ini merupakan sebab dan segala keputusan kehendak. dan bukannya pidana dalam arti penderitaan sebagai buah hasil kesalahan oleh si pelaku.3.103 104 antara kebebasan kehendak dengan ada atau tidak adanya kesalahan ada 3 pendapat dari : a. itu tak berarti bahwa orang yang melakukan tindak pidana tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. maka tidak ada pencelaan. Aliran klasik yang melahirkan pada manusia pandangan dasarnya mempunyai tidak punya kehendak bebas. Aliran positivist yang melahirkan pandangan determinisme mengatakan. Keputusan kehendak ditentukan sepenuhnya oleh watak (dalam arti naPasalu-naPasalu manusia dalam hubungan kekuatan satu sama lain) dan motifmotif ialah perangsang-perangsang yang datang dari dalam atau dari luar yang mengakibatkan watak tersebut. Ini berarti bahwa seseorang. b. tidak dapat dicela atas perbuatannya atau dinyatakan mempunyai kesalahan. Kesalahan Menurut Beberapa Sarjana tidak mempunyai kehendak bebas. sehingga tidak ada pemidanaan. Justru karena tidak adanya kebebasan indeterminisme. Namun meskipun diakui bahwa tidak punya kehendak bebas. c. Tanpa ada kebebasan kehendak maka tidak ada kesalahan dan apabila tidak ada kesalahan. bahwa manusia kehendak itu maka ada pertanggungan-jawab dari seseorang atas perbuatannya. sebab ia . berpendapat.

di bawah ini disebutkan pendapat-pendapat dari berbagai penulis. dat bestaat uit een strafbaar feit en deswege een strafbare dader).” dan dalam arti bahwa berdasarkan perbuatannya pelaku”. d. VAN HAMEL mengatakan. a. SIMONS mengartikan kesalahan itu sebagai pengertian yang “sociaal ethisch” dan Verwurf gegen den Tater keseluruhan yang berupa strafbaarfeit termasuk si pelakunya (al het geen psychisch is aan dat complex. b.105 106 Guna memberi pengertian lebih lanjut tentang kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. MEZGER mengatakan : kesalahan adalah c. perhubungan antara keadaan jiwa si pelaku dan terwujudnya unsur-unsur delik karena perbuatannya. Kesalahan adalah pertanggungan jawab dalam hukum (Schuld is de verant woordelijkheid rechtens)”. yang bersifat psychisch yang terdapat dapat Vcrraussetzungen. bahwa “kesalahan dalam suatu delik merupakan pengertian psychologis. e. jika perbuatan dapat dan patut . VAN HATTUM berpendapat : “Pengertian keseluruhan syarat yang memberi dasar untuk adanya pencelaan pribadi terhadap si pelaku tindak pidana (Schuldist der Erbegriiffder kesalahan yang paling luas memuat semua unsur dalam mana seseorang dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana terhadap perbuatan yang melawan hukum. dasarnya tanggungan jawab terhadap hukum pidana”. keadaan dapat psychisch dicelakakan (jiwa) kepada itu si celaan. Selanjutnya ia katakan : “Salah dosa berada. KARNI yang mempergunakan istilah “salah dosa” mengatakan mengandung : “Pengertian Celaan salah ini dosa menjadi mengatakan antara lain : “Sebagai dasar untuk pertanggungan jawab dalam hukum pidana ia berupa keadaan psychisch dari si pelaku dan hubungannya terhadap perbuatannya. die aus der Strafcat einen personlichen begrunden). meliputi semua hal.

ialah apa yang seharusnya diperbuat oleh sipelaku secara extreem dikatakan bahwa “kesalahan seseorang tidaklah terdapat pelanggaran dilakukan kesalahannya. Segi dalamnya. yang bertalian dengan kehendak si pelaku adalah kesalahan.107 108 dipertanggungkan atas si perbuat. Hubungan batin tersebut bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. POMPE mengatakan norma antara yang lain : “Pada karena Pandangan yang normatif tentang kesalahan ini menentukan kesalahan seseorang tidak hanya berdasar sikap batin atau hubungan batin antara pelaku dengan perbuatannya. Pengertian kesalahan psychologisch. ialah di dalamkepala dari mereka yang memberi penilaian terhadap sipelaku itu. biasanya sifat melawan hukum itu merupakan segi luarnya. Dalam arti ini kesalahan hanya dipandang sebagai hubungan psychologis (batin) antara pelaku dan perbuatannya. perbuatan itu Dari pengertian-pengertian kesalahan dari beberapa sarjana di atas maka pengertian kesalahan dapat dibagi dalam pengertian sebagai berikut : . baik dengan sengaja. Yang perbuatan atau akibat perbuatan. perbuatan itu harus dilakukan. harus boleh dicela karena perbuatan itu. . Yang bersifat melawan hukum itu adalah perbuatannya. Jadi di sini hanya digambarkan (deskriptif) keadaan batin berupa kehendak terhadap dalam kepala sipelaku. melainkan di dalam kepala orang-orang lain”.Pengertian kesalahan yang normatif mengandung perlawanan hak. “Penilaian dari luar” ini merupakan pencelaan dengan memakai ukuran-ukuran yang terdapat dalam masyarakat. maupun dengan salah”. pada kesengajaan hubungan batin itu berupa menghendaki perbuatan (beserta akibatnya) dan pada kealpaan tidak ada kehendak demikian. f. tetapi di samping itu harus ada unsur penilaian atau unsur normatif terhadap perbuatannya. Penilaian normatif artinya penilaian (dari luar) mengenai hubungan antara sipelaku dengan perbuatannya.

Namun demikian. melainkan “veranwoordelijkheid rechtens. untuk adanya kesalahan hemat kami harus ada pencelaan ethis. 1. yang terdiri dari sesama penghapus kesalahan. di . Setidaktidaknya pelaku dapat dicela karena tidak menghormati tata dalam masyarakat. yang dapat disamakan dengan pengertian dihindarkannya (vermijdbaar-heid) perbuatan yang melawan hukum Dari pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapatlah dimengerti bahwa kesalahan itu mengandung unsur “pertanggungjawaban dalam hukum pidana”. menurut hakekatnya ia adalah hal dapat 1. Bukan “ethische schuld”. Jadi orang yang bersalah melakukan sesuatu perbuatan. seperti dikatakan oleh van Hamel. pencelaan disini bukannya pencelaan berdasarkan kesusilaan. Arti “kesalahan” dalam hukum Pidana Dalam hukum pidana kesalahan memiliki 3 pengertian yaitu : a. bahwa “das Recht ist das ethische Minimum”. Di samping itu ada unsur lain ialah penilaian mengenai keadaan jiwa sipelaku. betapapun kecilnya. yang berupa kesengajaan dan kealpaan tetap diperhatikan. kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. itu berarti bahwa perbuatan itu dapat dicelakakan kepadanya. Kesalahan dalam Hukum Pidana Kesalahan ini dapat dilihat dari 2 sudut : a. Ini sejalan dengan pendapat. dicelakakan (verwijtbaarheid) b.4. Di dalam pengertian ini sikap batin si pelaku ialah. menurut akibatnya ia ada hal yang dapat hidupnya. dan yang memuat segala syarat untuk hidup bersama. ialah kemampuan bertanggungjawab dan tidak adanya alasan pencelaan terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana. melainkan pencelaan berdasarkan hukum yang berlaku. akan tetapi hanya merupakan unsur dari kesalahan atau unsur dari pertanggung-jawaban pidana.109 110 memberi penilaian pada instansi terakhir adalah hakim.

Disini dipersoalkan apakah orang mampu. opzet. Jadi apabila dikatakan. berubahlah pengertian kesalahan yang psychologis menjadi pengertian kesalahan yang normatif (normativer schuldbegriff).2 di atas. c. Unsur-unsur dari kesalahan (dalam arti yang seluas-luasnya) Kesalahan dalam arti seluas-luasnya amat berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana dimana meliputi : a. Pemakaian istilah “kesalahan” dalam arti ini sebaiknya dihindarkan dan digunakan saja istilah “kealpaan”. kesalahan dalam arti sempit. misalnya dengan perbuatannya. b. ini disebut bentuk-bentuk kesalahan. adanya sipelaku kemampuan bertanggungjawab pada atau keadaan jiwa melakukan sesuatu tindak pidana. ialah kealpaan (culpa) seperti yang disebutkan dalam b.111 112 dalamnya terkandung makna dapat dicelanya (verwijtbaarheid) sipelaku atas perbuatannya. maka itu berarti bahwa ia dapat dicela atas perbuatannya. kesengajaan intention) atau 2. vorzatz atau (schuldfahigkeit artinya zurechnungsfahigkeit). . hubungan batin antara sipelaku dengan tertentu menjadi “normadressat” yang fahrlassigkeit atau negligence). bahwa orang bersalah 2. Dengan diterimanya pengertian kesalahan (dalam arti luas) sebagai dapat maka dicelanya si pelaku atas perbuatannya. onachtzaamheid. (dolus. kealpaan (culpa. c. Dalam hal ini dipersoalkan sikap batin seseorang pelaku terhadap perbuatannya. kesalahan dalam arti bentuk kesalahan (sculdvorm) yang berupa : 1. yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa). sipelaku harus normal. tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf meskipun apa yang disebut dalam a dan b ada. ada kemungkinan bahwa ada keadaan yang mempengaruhi sipelaku sehingga kesalahannya hapus. b.

maka kita harus senantiasa menyadari akan dua pasangan dalam syarat-syarat pemidaan ialah adanya : 1.113 114 adanya kelampauan batas pembelaan terpaksa (ps. (pertanggungan jawab bersangkutan harus pula dibuktikan terlebih dahulu bahwa perbuatannya bersifat melawan hukum. sehingga bisa dipidana. artinya tidak dengan sendirinya dapat dicela atas perbuatan itu. Kalau ini tidak ada. Dalam pada itu harus diingat bahwa untuk adanya kesalahan dalam arti yang pidana) seluas-luasnya orang yang (strafbaarheid van de persoon). Sebaliknya seseorang yang melakukan perbuatan yang melawan hukum tidak dengan sendirinya mempunyai kesalahan. 49 KUHP) Kalau ketiga-tiga unsur ada maka orang yang bersangkutan bisa dinyatakan bersalah atau Itulah sebabnya. kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak ada perlunya untuk menerapkan kesalahan sipelaku. dapat dipidananya perbuatan (strafbaarheid van het feit) 2. artinya. dapat dipidananya orangnya atau pelakunya mempunyai pertanggungan jawab pidana. .

Teori ini menitikberatkan b. INTENT.115 116 BAB VI KESENGAJAAN (DOLUS. OPZET.v. (Pompe : 166). Zevenbergen) . orang tak bisa menghendaki akibat. Teori pengetahuan / membayangkan (voorstellingtheorie) kesengajaan adalah kehendak untuk dicelakakan kepada sipelaku itu. Jadi dapatlah dikatakan. Teori kehendak (wilstheorie) Inti Apakah yang diartikan dengan sengaja ? KUHP kita tidak memberi definisi. yang mengartikan “kesengajaan” (opzet) sebagai : “menghendaki dan mengetahui” (willens en wetens). Teori-teori Kesengajaan Berhubung dengan keadaan batin orang yang berbuat Unsur kedua dari kesalahan dalam arti yang seluasluasnya (pertanggungjawaban pidana) adalah hubungan batin antara si pelaku terhadap perbuatan. Hubungan batin ini bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. melainkan hanya dapat membayangkannya.T. yang berisi menghendaki dan mengetahui itu. Misal : seorang Ibu. Orang yang melakukan perbuatan dengan sengaja menghendaki perbuatan itu dan disamping itu Sengaja berarti membayangkan akan akibat timbulnya akibat perbuatannya. menghendaki dan sadar akan perbuatannya. yang sengaja tidak memberi susu kepada anaknya. maka dalam ilmu pengetahuan hukum pidana dapat disebut dua teori sebagai berikut: a. Petunjuk untuk dapat mengetahui arti kesengajaan. VORSATZ) mengetahui atau menyadari tentang apa yang dilakukan itu. (Memorie van Toelichting). bahwa sengaja berarti menghendaki dan mengetahui apa yang dilakukan. yang dengan sengaja. mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang (Simons. dapat diambil dari M. 1.

Perbuatan sipelaku bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang. jengkel dsb. kedua-duanya mengakui bahwa dalam kesengajaan harus ada kehendak untuk berbuat. dolus directus b. Dalam hal delik materiil harus dihubungkan faktor kausa yang menghubungkan perbuatan dengan akibat (kausalitas) dimana : 1. Perbedaannya adalah dalam istilahnya saja. Misal : A menempeleng B. akibat yang memang dituju sipelaku. kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (yang dekat). Amenghendaki sakitnya B 2. Ini dapat merupakan delik tersendiri atau tidak. Ia menghendaki perbuatan beserta akibatnya. kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn noodzakkelijkheidbewustzijn atau . Dalam praktek penggunaannya. Motif suatu perbuatan adalah alasan yang mendorong untuk berbuat misalnya cemburu. Perhatikan : haruslah ditoh:bedakan antara tujuan dan motif. (Frank). Kalau akibat ini tidak akan ada.117 118 pada apa yang diketahui atau dibayangkan oleh sipelaku ialah apa yang akan terjadi pada waktu ia akan berbuat. Bentuk Kesengajaan Dalam hal seseorang melakukan sesuatu agar B tidak membohong. kesengajaan yang biasa dan sederhana. c. kedua teori adalah sama. kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voorwaardelijk-opzet) Bentuk kesengajaan ini merupakan bentuk Terhadap perbuatan yang dilakukan sipelaku kedua teori itu tak ada perbedaan. dengan sengaja dapat dibedakan 3 bentuk sikap batin. maka ia tidak akan berbuat demikian. yang menunjukkan tingkatan atau bentuk dari kesengajaan sebagai berikut : a.

Terhadap terbunuhnya B kesengajaan merupakan tujuan sedangkan terhadap rusaknya kaca (ps. akibat ini pasti timbul atau terjadi. A tahu bahwa ada kemungkinan istri B.R. Ia ingin terhadap kematian istri B (Arrest H. Dalam hal ini ada keadaan tertentu yang semula merupakan diperkirakan sipelaku sebagai Contoh 3 : Seorang yang melakukan penggelapan. Jadi dalam kasus ini : Ada kesengajaan sebagai tujuan terhadap matinya B dan kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan kepastian atau keharusan sebagai syarat tercapainya tujuan. menghindarkan diri dari peradilan dunia dan hendak . Contoh 1 : A hendak membunuh B dengan tembakan pistol. 1 tadi. kematian tersebut tidak menjadi persoalan baginya. Penembakan terhadap B pasti akan memecahkan kaca pemilik restoran itu. oleh karena itu kesengajaan dianggap tertuju pula pada matinya istri B. merasa bahwa akhirnya ia akan ketahuan. 9 Maret 1911) kemungkinan terjadi kemudian ternyata benar-benar terjadi merupakan resiko yang harus diemban sipelaku. Dalam batin si A. meskipun A tahu akan hal terakhir ini namun ia tetap mengirim kue tersebut. 406 KUHP) ada kesengajaan dengan keinsyafan Contoh 2 : A hendak membalas dendam B yang bertempat tinggal di Hoorn. B duduk di balik kaca jendela restoran.119 120 2. yang tidak berdosa itu juga akan makan kue tersebut dan meninggal karenanya. A mengirim kue taart yang beracun dengan maksud untuk membunuhnya. akibat yang tidak didinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan dalam no.

121

122

membunuh dirinya dengan merencanakan sustu kecelakaan lalu – lintas, Ia menabrakkan mobil yang dikendarainya kepada otobis yang berisi penumpang. Tujuannya agar uang asuransinya yang sangat tinggi (1 ton) itu dapat dibayarkan kepada soprnya. Tetapi ini gagal, ia tidak mati, hanya luka-luka. Beberapa penumpang bis mengalami luka dan seorang diantaranya luka yang membahayakan jiwa. R.v.J (Raad van Justitie) Semarang yang diperkuat oleh Hoogerechtshof dalam tingkat banding

3. Dolus Eventualis Dolus eventualis lahir karena suatu keadaan dimana sikap batin pelaku dimana pelaku tidak menghendaki suatu tujuan untuk mewujudkan suatu tindak pidana, akan tetapi keadaan menyebabkan ia tidak dapat mengelak dari suatu keadaan tertentu. Contoh: Seorang mengendarai mobil angkutan umum dengan lajunya di jalan dalam kota. Dimuka ia lihat

menyatakan terdakwa bersalah telah melakukan penganiayaan berat. Pertimbangannya antara lain sebagai berikut: Meskipun terdakwa tidak mengharapkan penumpangpenumpang bis mendapat luka-luka, namun akibat ini ada dalam kesengajaanya, sebab iatetap melakukan perbuatan itu, meskipun ia sadr akan akibat yang mungkin terjadi. Kasus ini adalah pengalaman Jokers, ketika menjadi Jaksa Tinggi (Officier van Justitie) pada R.v.J di Semarang.

sekelompok anak yang sedang bermain-main. Apabila ia tetap dalam kecepatan yang sama tanpa

menghiraukan nasib anak-anak dan tanpa mengambil tindakan pencegahan, dan apabila akibat perbuatanya itu beberapa anak luka atau mati, maka disini ada kesengajaan unuk menganiaya atau membunuh, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa ia

mengiginkan akibat tadi, namun jelas ia menghendaki hal itu, dalam arti, meskipun ia sadar akan

kemungkinan tentang luka dan matinya anak ia mendesak kesadaran itu kebelakang dan menerima

123

124

apa

boleh

buat

kemungkinan

itu,

dengan

Dalam kedua teori itu digambarkan, bahwa dalam batin si – pelaku terjadi suatu proses, bahwa ia lebih baik berbuat dari pada tidak berbuat. Disini ada suatu

melampiaskan naPasalunya untuk menegar kudanya. Di atas telah disebutkan 2 teori yang menerangkan bagaimana sikap batin seseorang yang melakukan perbuatan dengan sengaja. Bagaimanakah

yang tidak jelas, oleh karena itu disamping kedua teori itu ada teori yang disebut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie”atau” op de koop toe nemen theorie”). Menurut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie

menerangkan adanya kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis) ? Berdasarkan menetapkan teori dalam kehendak, batinnya, jika bahwa sipelaku ia lebih

“atau”op de koop toe nemen theorie”) keadaan batin si pelaku berikut: a. akibat itu sebenarnya tidak dikehendaki, bahkan ia benci atau takut akan kemungkinan timbulnya akibat itu b. akan tetapi meskipun ia tidak menghendakinya, terhadap perbuatannya adalah sebagai

menghendaki perbuatan yang dilakukan itu, meskipun nanti akan ada akibat yang ia tidak harapkan, dari pada tidak berbuat, maka kesengajaan orang tersebut juga ditujukan kepada akibat yang tidak diharapkan itu. Berdasarkan teori pengetahuan, pelaku mengetahui / membayangkan akan kemungkinan terjadinyan akibat yang tak dikehendaki, tetapi bayangkan itu tidak mencegah dia untuk tidak berbuat; maka dapat dikatakan, bahwa kesengajaan diarahkan kepada akibat yang mungkin terjadi itu.

namun apabila toh keadaan/akibat itu timbul, apa boleh buat hak itu diterima juga, ini berarti ia berani memikul resiko.”

125

126

Dalam perdebatan di Eerste Kamsr mengenai W.v.S. Menteri Modderman mengatakan, bahwa

batin yang berupa kesengajaan (atau kealpaan) itu benar-benar ada pada pelaku. Orang tidak dapat secara pasti mengetahui mengetahui batin orang lain, lebih-lebih bagaimana keadaan batinnya pada waktu orang ini berbuat. Apabila orang ini dengan jujur menerangkan keadaan batinnya yang sebenarnya maka tidak ada kesukaran. Kalau tidak, maka sikap batinnya harus disimpulkan

“voorwaardelijkk opzet” (dolus eventualis) itu ada, apabila kehendak kita langsung ditujukan pada kejahatan tersebut, tetapi meskipun telah mengetahui bahwa keadaan tertentu masih akan terjadi, namun kita berbuat dengan tiada tercegah oleh kemungkinan terjadinya hal yang telah kita ketahui itu. Dengan teori apa boleh buat ini maka sebenarnya tidak perlu lagi untuk membedakan kesengajaan dengan sadar kepastian dan kesengajaan dengan sadar kemungkinan.

dari keadaan lahir, yang tampak dari luar. Jadi dalam banyak hal hakim baru mengobyektifkan adanya kesengajaan itu. Contoh Van Bemmelen:

Dalam

uraian-uraian si-pelaku

diatas

penentuan dengan

tentang melihat A melepaskan tembakan kepada B dalam jarak 2 meter. Meskipun A mungkin, bahwa ia mempunyai

kesengajaan

adalah

bagaimana sikap batinnya perbuatan ataupun akibat perbuatannya. Demikian itu karena kesengajaan dipandang sebagai sikap batin pelaku terhadap perbuatannya. Dengan teori-teori itu diusahakan untuk menetapkan kesengajaan sipelaku Dalam kejadian konkret tidaklah mudah bagi Hakim untuk menentukan bahwa sikap

kesengajaan untuk membunuh B, namun Hakim tetap akan menentukan adanya kesengajaan tersebut, kecuali apabila dapat diterima alasan-alasan yang sangat masuk akal bahwa A tidak tahu pistol itu berisi

Persoalan ini berhubungan dengan masalah: apakah untuk adanya kesengajaan itu sipelaku harus menyadari bahwa perbuatannya itu dilarang (bersifat melawan hukum) ? Mengenai hal ini ada 2 pendapat. Hakim harus sangat berhati-hati. Dalam hal ini diragukan adanya kesenjajaan.” Untuk kesengajaan. sedang ia tidak mengetahui bahwa . Kesengajaan tidak berwarna Kalau dikatakan bahwa kesengajaan itu tak berwarna.127 128 atau bahwa matinya B itu disebabkan karena kekhilafan dari A. dilarang. tahun 1924. bahwa perbuatannya dilarang dan/atau dapat dipidana b. artinya sengaja untuk berbuat jahat (boos opzet). halaman 169). Dapat saja sipelaku dikatakan berbuat dengan sengaja. bahwa sengaja disini berarti dolus malus. di perlukan syarat. Kesengajaan berwarna (gekleurd) dan tidak berwarna (kleurloos). Dikatakan. untuk adanya kesengajaan perlu bahwa sipelaku menyadari bahwa perbuatannya menghendaki perbuatan yang dilarang itu. bahwa untuk adanya kesengajaan cukuplah bahwa sipelaku itu melawan hukum (dilarang). sifat kesengajaan itu berwarna dan kesengajaan melakukan pengetahuan sesuatu sipelaku perbuatan bahwa mencakup perbuatanya hubungannya perkataan adanya lain dengan tersimpul melawan adanya kesengajaan sifat kesadaran mengenai hukumnya perbuatan. Jadi menurut pendirian yang pertama. bahwa: Kesengajaan dengan dalam dolus senantiasa molus. maka itu berarti. Penganutnya antara lain Zevenbergen. ialah yang mengatakan bahwa: a. Ia tak perlu tahu bahwa perbuatannya terlarang / sifat melawan hukum. harus ada hubungan antara keadaan batin si-pelaku dengan melawan hukumnya perbuatan. ada sehingga ada pembebasan. yang mengatakan (dalam bukunya leerboek van het Nederlandsch Strafrecht. bahwa pada sipelaku ada kesadaran.

Penganut-penganutnya antara lain : Simons. Oleh Keberatan terhadap pendirian bahwa kesengajaan itu berwarna ialah akan merupakan beban yan berat bagi jaksa apabila untuk membuktikan adanya kesengajaan. bahwa “unsur-unsur delik yang terletak 4.v. Pompe. (bacalah ps. Perumusan Unsur Sengaja dalam KUHP Apabila ia sama sekali tidak sadar akan itu. 151 dan 152 dan bandingkan letak perkataan sengaja dalam kedua pasal tersebut).T. Unsur yang terletak di muka M.v.v. itu dilarang atau bertentangan kesengajaan itu berwarna ialah kesalahan itu. jadi termasuk kesengajaan. Jadi tidak perlu dibuktikan bahwa . artinya dilepaskan dari kekuasaan kesengajaan. membuktikan terdakwa perkataan “opzettelijk” disebut “diobjektip-kan” kesadaran atau pengetahuan tentang dilarangnya perbuatan itu.T. tidak perlu ada “boos opzet”. Jonkers. yang melawan hukum.129 130 perbuatannya dengan hukum. Sebaliknya. bahwa tiap pada kali ia harus ada karena itu pembentuk undang-undang menetapkan dengan seksama dimana letak perkataan “opzettelijk” itu. alasan bahwa (geobjektiveerd). mengatakan demikian : “Akan tetapi untuk berbuat dengan sengaja itu apakah sipelaku tidak harus menyadari. memuat suatu asas yang mengatakan antara lain.T. meskipun pada kenyataannya ia melakukan perbuatan yang dilarang. ia tidak dapat dipidana. dibelakang perkataan opzettelijk (dengan sengaja) dikuasai atau diliputi olehnya”. berisi bahwa sipelaku harus sadar bahwa perbuatan itu keliru. M. bahwa ia melakukan suatu perbuatan yang menurut tata susila tidak dibenarkan (zadelijk ongeoorlooid) ? Cukupkah dengan adanya kesengajaan saja atau perlukah adanya “kesengajaanj jahat” (boos opzet) ? Jawabnya tidak akan lain dari pada itu. Menurut M.

...). ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan. oleh karena itu teknik perundang-undangan dalam memberi.. Demikianlah teknik perundang-undangan yang diikuti oleh KUHP dalam teks Belanda. Ada pengecualiannya. menyusun kalimat tentunya tidak dapat atau tidak . Kesengajaan disini harus ditujukan kepada hal-hal apa saja ? Pecahkanlah sendiri ! Dalam hal itu asas yang dianut M. yang sebenarnya bukan teks resmi. Lihat ps... sehingga tak perlu dibuktian bahwa kesengajaan pelaku ditujukan kepada hal tersebut yang diobjektipkan. perlu mengikuti KUHP sepenuhnya... Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur “met het oogmerk om ..v. 362).T.131 132 kesengajaan sipelaku ditujukan kepada hal tersebut. Yang menjadi masalah ialah apabila kita menghadapi KUHP dalam teks Bahasa Indonesia... ialah apa yang disebut “Tendenz-delikte” atau “Absicht-delikte”. Di sini ada keadaan-keadaan. pemalsuan surat (pasal 263). apakah artinya sipelaku yang tidak perlu atau ditanyakan mengetahui menghendakinya... ialah “dapat terjadinya bahaya umum atau bahaya maut tersebut”.. misalnya pada delik pencurian (ps.. untu melihat teks aslinya ialah teks Bahasa Belanda dan mendasarkan penafsiran pada teks tersebut. dari Unsur ini yang diobjektipkan.. 152. pemalsuan surat (ps. 187 KUHP. 263)... ialah yang disebut “Tendenz-delikte” atau Absicht-delikte”. misalnya dalam delik pencurian (pasal 362). yang disebut di belakang perkataan sengaja.sifat perbuatan dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan. ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan. Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur ”met het oogmerk om.. 303 KUHP.. Menghadapi teks terjemahan yang diusahakan oleh beberapa penulis sekarang ini tidak ada jalan lain bagi pelaksana hukum misalnya hakim...(dengan tujuan untuk. melainkan unsur melawan atau hukum arah subjektif.. Tata bahasa kedua bahasa itu tidak sama.. (dengan tujuan untuk).... Lihat ps.. itu tidak berlaku untuk semua delik. seperti halnya ps.

Unsur ini memberi sifat atau arah dari perbuatan yang dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan... dalam merumuskan sesuatu delik... Perkataan “en” (dan) menunjukkan kedudukan yang sejajar. bahwa ia dalam keadaan tertentu boleh merampas kemerdekaan seseorang. 4. Dalam rumusan (dalam bahasa Belanda) yang demikian ini menjadi persoalan apakah sifat melawan hukumnya perbuatan juga hal harus ini diliputi terdapat oleh tiga “sengaja” dan perkataan “melawan hukum”.. Kata “dan” Dalam KUHP (teks Belanda)... Pasal 406: Hij die opzettelijk en wederrechitelijk enig goed dat geheel of ten deele aan een onder toebe hoort... beschadigt. wordt. onbruik baar maakt of wegmaakt.1. terdapat bentuk rumusan: Sengaja tanpa ada rumusan unsur melawan hukum (wederrechtelijk) Sengaja melawan hukum (wederrechtelijk) tanpa kata dan Meyisipkan kata “dan” diantara perkataan pelaku harus tahu.. disamping ia berbuat dengan sengaja.... pandangan: Mengenai a..133 134 melainkan unsur melawan hukum yang subjektif.. Contoh: Pasal 333: Hij die opzettelijk iemand wederrechtelijk van devrijhiid berooft of berooft houdt... Dalam pasal ini jelas bahwa kesengajaan meliputi melawan hukumnya perbuatan dengan perkatan lain kesengajaan. bahwa perbuatan yang dilakukan itu bertentangan dengan hukum..... maka ia tak dapat dipidana..... jadi merumuskan sebagai “sengaja dan melawan hukum” (opzettelijk en wederrechtelijk)... dengan perkataan lain sifat melawan . Disini ada kesesatan yang bisa membebaskan... vernielt..... Kesengajaan pelaku tidak perlu ditujukan kepada sifat melawan hukumnya perbuatan. Apabila ia dengan iktikad baik (te goeder trouw) mengira.

maka unsur melawan hukum tidak diliputi oleh kesengajaan. Simons. b. 21 Desember 1914 dimuat antara lain : karena antara unsur kesengajaan dan unsur melawan hukum ada perkataan “en”. melawan hukum” dapat dibaca “sengaja dan melawan hukum”. Van Hamel. c. Dalam arrest tgl. Pompe menganut pendapat melaksanakan perintah tersebut. tetapi sebelum melawan hukum “sebagai” sengaja melawan hukum. kesengajaan sipelaku harus ditujukan kepada melawan hukumnya perbuatan. Semua delik yang menurut unsur “sengaja yang pertama. Bagi Prof. Ia merusak dengan sengaja dan dengan melawan hukum. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya Langemeyer mengikuti pendapat yang ketiga. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya.135 136 hukum ini diobjektipkan. pendapat ini diragukan. Jadi menurut pendapat ini dalam contoh tersebut di atas. Hoge Raad mengikuti pendapat pertama. Muljatno perkataan “dan” diantara Berbeda dengan pendapat ke 2 tersebut. Sipelaku tidak perlu tahu bahwa perbuatannya melawan hukum. yang berarti dua hal yang terpisah dan tidak berpengaruh satu sama lain. bahwa semua unsur yang terletak di belakang perkataan sengaja dikuasai olehnya. Zevenbergen. si-pekerja tidak dapat dipidana karena ia sama sekali tidak mengetahui sifat melawan hukumya perbuatan yang ia lakukan. Jadi meskipun ada perkataan dan. perkataan “sengaja” dan perkataan “melawan hukum” tidak mempunyai arti. Ia dapat dipidana. tanpa diketahui olehnya rumah itu ganti pemilik. meskipun tidak ada perkataan “en” (dan) tersebut : Dalam hukum. Unsur sifat melawan hukum itu pendapat ini justru mengartikan sengaja dan . Contoh pasal 406 : Seorang pekerja yang mendapat perintah dari pemilik rumah untuk membongkar rumahnya. Ia terus saja membongkar. sedang Vos. sesuai dengan asas.

dolus determinatus dan indeterminatus Dalam ilmu pengetahuan dikenal beberapa macam kesengajaan : a. dolus premeditatus Bentuk ini mengacu pada rumusan delik yang mensyaratkan unsur “dengan rencana lebih Unsurnya ialah pendirian bahwa kesengajaan dapat lebih pasti atau tidak. c. dolus alternativus Dalam hal ini. Pelaku harus tahu bahwa yang dilakukan itu bersifat melawan hukum.137 138 harus dikuasai oleh unsur kesengajaan. akibat yang satu atau yang lain “voorbedachte rade” diperlukan “saat memikirkan dengan tenang” (een tijdstip van kalm overleg. Istilah tersebut meliputi bagaimana terbentuknya “kesengajaan” dan bukan merupakan bentuk atau tingkat kesengajaan. dan sebagainya. Ini terdapat dalam delik-delik yang dirumuskan dalam pasal 363. Untuk dapat dikatakan “ada . Pada dolus determinatus. memikirkan secara wajar apa yang ia lakukan atau yang akan ia lakukan. pelaku misalnya menghendaki dolus matinya orang tertentu.v. 342 KUHP. Menurut M. untuk penumpang-penumpang dalam mobil yang tidak mau disuruh berhenti.T. 340. sipelaku menghendaki atau A atau B. b. sedang pada indeterminatus pelaku misalnya menembak ke arah gerombolan orang atau menembak dahulu” (met voorbedachte rade) sebagai unsur yang menentukan dalam pasal. 5. van bedaard nedenken). si pelaku sebelum atau ketika melakukan tindak pidana tersebut. Kesengajaan Menurut Doktrin rencana lebih dulu”. atau meracun reservoir air minum.

diduga atau tidak diduga. Misalnya A dan B berkelahi. meskipun akibat itu tidak dapat dibayangkan sama sekali olehnya dan timbul secara kebetulan. Menurut . dolus directus Ini berarti. Ajaran ini dengan tegas ditolak oleh pembentuk undang-undang. itu dianggap sebagai hal yang ditimbulkan dengan sengaja. Ini oleh Code Penal dipandang sebagai “meutre”. Macam dolus ini masih dikenal oleh Code Penal Perancis. illicita. bahwa semua akibat dari perbuatan yang dipertanggung-jawabkan atas semua akibatnya. Di Inggris dan Spanyol pengertian dolus indirectus adalah sama dengan apa yang kita sebut “dolus eventualis”. disengaja. Hazewinkel-Suringa menganggap hal ini sebagai suatu pengertian yang tidak baik.menurut melakukan ajaran perbuatan ialah ini versari seseorang terlarang in re yang juga Misalkan membunuh seseorang orang yang lain. bermaksud telah untuk melakukan serangkaian perbuatan misalnya mencekik dan kemudian melemparnya ke dalam sungai. Dipertanggung-jawabkan dalam hukum pidana. dolus generalis Pada delik materiil harus ada hubungan kausal antara perbuatan terdakwa dan akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. A memukul B. dituju atau tidak dituju. Versari in re illicita Ajaran tentang “dolus indirectus” mengatakan. Ajaran dolus indirectus ini mengingatkan orang kepada ajaran kuno (hukum kanonik) tentang pertanggung-jawab. Dolus ini ada. apabila dari suatu perbuatan yang dilarang dan dilakukan dengan sengaja timbul akibat yang tidak diinginkan. B jatuh dan dilindas mobil. bahwa kesengajaan sipelaku tidak hanya ditukaun kepada perbuatannya. e. f.139 140 d. melainkan juga kepada akibat perbuatannya. dolus indirectus.

ialah harapan dari terdakwa secara umum agar orang yang dituju itu mati. Hazewinkel-Suringa menganggap hal tersebut secara dogmatis tidak tepat. namun karena akibat yang dikenhendaki telah terjadi. Akan tetapi air pasangnya tidak setinggi yang matinya orang karena diharapkan. Pendirian Von Hippel ini sama dengan pendapat H. Contoh : Seorang Ibu yang ingin melepaskan diri dari bayinya. Meskipun jalannya peristiwa tidak tepat seperti yang dibayangkan oleh sipelaku. (melempar ke kali) merupakan perbuatan yang terletak / di luar lapangan hukum pidana atau “menyebabkan kealpaannya”. dalam arrestnya tanggal 26 Juni 1962. Pendirian von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. sedang perbuatan kedua dan kedinginan. Perbuatan pertama (mencekik) dikualifikasikan sebagai “percobaan pembunuhan”. Simons menyetujui jenis dolus ini. jadi pada waktu dilempar ke air ia belum mati. namun bayinya mati karena kelaparan . bagaimanapun telah tercapai. Menurut ajaran kuno disini ada dolus generalis. maka disini menurut von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. menaruh bayi itu di pantai dengan harapan agar dibawa oleh arus pasang.141 142 otopsi (pemeriksaan mayat) matinya orang ini disebabkan karena tenggelam.R.

Hal ini terdapat dalam beberapa delik.NEGLIGENCE. Suatu keadaan. die de algemene vefligheid van onen of goederen zozeer in gevaar brengen of zo groot en onherstelbaar nadeel sipenyimpan bijzondere personen berokkenen. larangan pendek penghati-hati. NALATIGHEID. Disamping sikap batin berupa kesengajaan ada pula sikap batin yang berupa kealpaan. SCHULD. TELEDOR). teledor. kebakaran dst Pasal 231 (4) : Karena kealpaannya . kata “ schuld” sikap sembrono yang (kealpaan menyebabkan keadaan tadi)”. membahayakan keamanan orang atau atau mendatangkan kerugian terhadap seseorang yang sedemikian besarnya dan tidak dapat diperbaiki lagi. Pasal 409 : Karena kealpaannya menyebabkan alat-alat perlengkapan (jalan api dsb) hancur dsb. Akibat ini timbul karena ia alpa. yang sedemikian barang. RECKLESSNESS. Dalam buku II KUHP terdapat beberapa pasal yang memuat unsur kealpaan. Perkataan culpa dalam arti luas berarti kesalahan pada umumnya. Ini adalah delik-delik culpa (culpose delicten).143 144 BAB VII KEALPAAN (CULPA) Pasal 359 : menyebabkan hilangnya dan sebagainnya barang yang disita Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang Pasal 360 (CULPA dalam arti sempit). SEMBRONO. ia berbuat kurang hati-hati atau kurang penduga-duga. Delik-delik itu dimuat antara lain dalam : Pasal 188 : Karena kealpaannya menimbulkan FAHRLASSIGKEIT. sedang dalam arti sempit adalah bentuk kesalahan yang berupa kealpaan. dat de wet ook de peletusan.(er zijn feiten. : Karena kealpaannya menyebabkan orang luka berat dsb. sehingga umdang-undang juga bertindak terhadap (teledor). ia sembrono.

Beberapa penulis menyebut beberapa syarat untuk adanya kealpaan: a. 2.T kealpaan disatu pihak berlawanan benar-benar dengan kesengajaan dan dipihal lain dengan hal yang kebetulan (toevel atau caous). Ada 3 macam yang masuk kealpaan mengartikan “schuld” (kealpaan) sebagai: 1.v. (anachtzaamheid): . 2. in een woord. Hazenwinkel – Suringa Simons: Pada umumnya “schuld” (kealpaan) mempunyai dua unsur : 1. akan tetapi bukannya kesengajaan yang ringan. merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan dari pada kesengajaan. het gebrek aan voorzorg. Pengertian kealpaan atau culpa (dalam arti sempit) Menurut M. waar het feit prong heeft. Van hamel Kealpaan mengandung dua syarat: 1.145 146 onvoorzichtigheid.kealpaan b. kekurangan penduga – duga atau kekurangan penghati-hati. tidak mengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukum. c. de tigheid. moet tekeer gaan”) 1. dapat diduganya akibat d. schuld. Pompe. Tidak adanya penghati-hati. di samping Ilmu pengetahuan hukum dan jurispruden 2. tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum.

360 (1) K. paling ahli dan sebagainya.P) .147 148 1. Yang harus memegang ukuran normatif dari kealpaan itu adalah Hakim. Undang-undang mewajibkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau Tetapi nomor 2 dan 3 hanya apabila mengetahui atau dapat mengetahuinyaitu menyangkut juga kewajiban untuk menghindarkan perbuatannya (=untuk tidak melakukan perbuatan). paling hatihati. dalam peraturan lalu-lintas ada ketentuan bahwa” di simpangan jalan. “Orang pada umunya” ini berarti bahwa tidak boleh orang yang paling cermat. Untuk menentukan adanya kealpaan ini harus dilihat peristiwa demi peristiwa. maka apabila perbuatannya itu mengakibatkan tabrakan. Sehingga orang lain luka berat. b.U. Kealpaan orang tersebut harus ditentukan secara normatif. Misalnya. Tidaklah mungkin diketahui bagaimana sikap batin seseorang yang sesungguh-sungguhnya maka haruslah ditetapkan dari luar bagaimana untuk tidak melakukan sesuatu. Dapat mengirakan (kunnen venvachten) timbulnya akibat 2. Apabila seorang pengendara dalam hal ini berbuat lain ini berbuat lain daripada apa yang diatur itu. Mengetahui adanya kemungkinan (kennen der mogelijkheid) 3. apabila datangnya bersamaan waktu maka kendaraan dari kiri harus didahulukan”. (Pasal. dan tidak secara fisik atau psychis. maka ia dapat dikatakan karena kealpaannya mengakibatkan orang lain seharusnya ia berbuat dengan mengambil ukuran sikap batin orang pada umunya apabila ada dalam situasi yang sama dengan si-pelaku itu.H. Dapat mengetahui adanya kemungkinan (kunnen kennen van de mogelijkheid) a.

namun culpa menunjukkan kepada tidak patutnya perbuatan itu dan jika perbuatan itu tidak bersifat melawan hukum. Dalam hali ini si pelaku melakukan sesuatu yang tidak menyadari kemungkinan akan timbulnya abnormal. Kerapkali justru karena tanpa berfikir akan kemungkinan timbulnya akibat malah terjadi akibat yang . Bentuk kealpaan Pada dasarnya orang berfikirdan berbuat secara sadar. Perbedaan itu bukanlah berarti bahwa kealpaan yang disadari itu sifatnya lebih berat dari pada kealpaan yang tidak disadari. Pada delik culpoos kesadaran si. Kealpaan yang tidak disadari (onbewuste schuld). Kealpaan yang disadari (bewuste schuld) Disini sipelaku dapat menyadari tentang apa yang dilakukan beserta akibatnya. Untuk adanya pemidanaan perlu adanya kekurangan hati-hati yang cukup besar. jadi harus culpa lata dan bukanya culpa levis (kealpaan yang sangat ringan). bahwa dalam delik-delik culpa sifat melawan hukum telah tersimpul di dalam culpa itu sendiri. maka tidaklah mungkin perbuatan itu perbuatan yang 2. sesuatu akibat. Karena Bentuk kealpaan dapat dibagi dalam 2 (dua bentuk) yaitu a. jadi tidak mungkin ada culpa. padahal seharusnya ia dapat menduga sebelumnya. c. Dalam diajukan delik alasan culpoos tidak mungkin (rechtvaar pembenar digingsgrond). Ia menyatakan antara lain “Memang culpa tidak mesti meliputi dapat dicelanya si-pelaku.pelaku tidak berjalan secara tepat. akan tetapi ia percaya dan mengharap-harap bahwa akibatnya tidak akan terjadi b.149 150 Dalam hubungan ini VOS mengemukakan.

Hemat kami perbedaan tersebut tidak banyak artinya. Penentuan kealpaan seseorang harus dilakukan dari luar. bahwa belum mampu dikawin”. Rumusan yang dipakai dalam delik-delik tersebut ialah “diketahui” atau “mengerti” bentuk kesengajaan dan “sepatutnya harus di-duga” atau “seharusnya menduga bentuk kealpaan. 360. Misalnya: itu”.151 152 sangat berat. Pasal 287. 288. VAN HATTUM mengatakan. 3. Pada delik-delik kesusilaan (pasal 287 dan pasal 288) ditujukan kepada “umur-wanita belum lima belas tahun. sedang ancaman pidananya sama. Kealpaan merupakan pengertian yang normatif bukan suatu pengertian yang menyatakan keadan (bukan feitelijk begrip). Pada delik-delik Pasal 483 dan Pasal 484 ditujukan kepada unsur “pelaku/orang yang Pasal 480 (penadahan) . Disamping itu ada delik-delik yang di dalam perumusanya memuat unsur kesengajaan dan kealpaan sekaligus. yang tidak merupakan dolus eventualis”. harus disimpulkan dari situasi tertentu. 484 (delik yang menyangkut pencetak dan penerbit). bahwa Pasal 483. 188. Delik “pro parte dolus pro parte culpa” Delik-delik yang di-rumuskan dalam pasal 359. Pada delik Pasal 292 ditujukan kepada unsur “ belum cukup umur dari orang yang sama kelamin “kealpaan yang disadari itu adalah suatu sebutan yang mudah untuk bagian kesadaran kemungkinan (yang ada pada pelaku). 292 (delik-delik kesusilaan). Pada delik penadahan ditujukan kepada hal “bahwa barang yang bersangkutan diperoleh dari kejahatan”. 409 dapat disebut delik-delik culpoos dalam arti yang sesungguhnya. atau kalau umurnya tak ternyata. Pada delik-delik ini kesengajaan atau kealpaan hanya tertuju kepada salah tertuju kepada salah satu unsur dari delik itu. bagaimana saharusnya si-pelaku itu berbuat. Muljatno menamakan delik-delik tersebut sebagai delik yang salah satu unsurnya diculpakan.

apakah ia kurang hati-hati dan dibuktikan dalam pemeriksaan pengadilan ditetapkan oleh Hakim. tetapi ini tidak meniadakan kealpaan terdakwa. Ada dan tidak adanya kealpaan itu harus sekali tidak menagnggap penting apakah terdakwa betulbetul mempunyai dugaan atau tidak. bahwa diperoleh dari kejahatan”. c. yang membebaskan terdakwa yang dituduh melakukan kurang-menduga-duga ? bagaimana keadaan mobilnya ? kalau lampunya kurang terang. . Kelapaan orang lain tidak dapat meniadakan kealpaan dari terdakwa. maka ini merupakan lampunya indikasi normal.H) menyatakan bahwa wet tidak mengharuskan adanya dugaan pada terdakwa sepatutnya harus menduga bahwa barang itu berasal dari kejahatan. maka ini merupakan kealpaan. Arrest Hooggerchtshof (dalam tingkat kasasi) yang membatalkan keputusan Raad van Justitie Medan. dengan sama mengetahui orang yang tidur di jalan itu. Contoh : a. dari maka kealpaannya. b. yang diketahui atau sepatutnya harus diduga. atau menetap diluar Indonesia. tidak dapat dituntut.00 melanggar sekaligus 4 orang yang sedang tidur di tengah jalan raya. akan tetapi tetap harus ditinjau ada dan tidak adanya kealpaan pada pengemudi mobil. Cukup dicantumkan uraian kata-kata presis seperti apa yang dirumuskan dalam undang-undang. Pembuktiannya cukup secara normatif. Seorang pengemudi mobil pada pagi hari jam 03. Hooggerechtshof (H. jadi misalnya untuk delik dalam pasal 480 : benda). b. Dalam kasus inipun tidak boleh dilihat “kealpaan orang lain”.153 154 menyuruh cetak pada saat penerbitan. seharusnya ia Apabila dapat “schuldheling” (pasal 480).G. Pengendara gerobag alpa. Dalam surat dakwaan: a. terdakwa sebagai pengendara mobil tetap dipidana karena ia pada malam hari menabrak gerobag yang tidak memakai lampu. Kalau tidak. jadi tidak dilihat apakah terdakwa mengetahui.

bahkan adanya kealpaan juga tidak. padahal dicampur Duduk perkara. Pada suatu ketika susu yang dilever oleh D itu ternyata tidak murni (dicampur air).v.T. . Dalam rumusan tindak pidana berupa pelanggaran pada dasarnya tidak ada penyebutan tentang kesengajaan atau kealpaan. Pasal 303a dan 344 Peraturan Polisi Umum mengancam dengan pidana Barang siapa melever susu dengan nama susu murni. artinya tidak disebut apakah perbuatan dilakukan dengan sengaja atau alpa. sebab kalau tidak tercantum dalam rumusan Undang-undang.B. A. : Pada pelanggaran hakim tidak perlu mengadakan pemeriksaan secara khusus tentang adanya kesengajaan.155 156 BAB VIII KESALAHAN DALAM DELIK PELANGGARAN Dalam hal ini berlakulah ajaran “fait materiel” (de leer an het matericle feit ajaran perbuatan materiil) dimana menurut M. Pada tidak pidana berupa kejahatan diperlukan adanya kesengajaan atau kealpaan. lagi Persoalan kesalalahan pada tindak pidana berupa pelanggaran. pengusaha (veehouder) menyuruh melever susu kepada para langganan. pelayan. Contoh : arrest H. pula tidak perlu memberi keputusan tentang hal tersebut.. Yang mengedarkan susu itu D. Soalnya apakah terdakwa berbuat/tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Undang-undang atau tidak.R tanggal 14 Pebruari 1916 (arrest air dan susu). maka tidak perlu dicantumkan dalam surat tuduhan dan juga tidak perlu dibuktikan. D tidak tahu menahu tentang hal itu. Dalam undang-undang unsur-unsur dinyatakan dengan tegas atau dapat diambil dari kata kerja dalam rumusan tindak pidana itu. Hal ini penting untuk hukum acara pidana.

U. Hal mana tidak diketahui oleh D.R.S. tidak ada suatu alasanpun. B) telah menyuruh pelayannya (D) untuk melever susu dengan sebutan “susu murni” padahal dicampur dengan air. H. dengan alasan yang lebih kurang demikian: a. lebih-lebih pasal 303a dan 344 tersebut mengancam dengan pidana barang siapa melever susu yang tidak murni tanpa memandang ada kesalahan atau tidak. tidak terjadi persoalan apakah pelaku materiil (D) dianggap tidak berhak untuk menyelidiki murni dan tidaknya susu yang disuruh melevernya. c. Ini merupakan tindak pidana berupa pelanggaran.H. Permohonan kasasi ini ditolak oleh Hooge Raad. b. dituntut dan dalam tingkat banding dijatuhi pidana.B. b. Telah dinyatakan terbukti bahwa penuntut kasasi (A A. yang memaksa untuk menganggap dalam hal unsur kesalahan tidak dicantumkan dalam rumusan delik.B.v.B.P).157 158 dengan sesuatu (tidak murni). sebab telah memutuskan secara tidak benar bahwa A. khususnya dalam pelanggaran. memang dalam pasal 303 tidak disebut dengan tegas bahwa orang yang melakukan perbuatan itu harus mempunyai kesalahan (“enige schuld”). memberi pertimbangan antara lain sebagai berikut: a. Rechtbank Amsterdam salah menerapkan Pasal 47 W. akan tetapi ini tidak dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak mempunyai kesalahan sama sekali (geheel gemis van schuld) peraturan ini dapat diterapkan kepada. terutama dalam riwayat W. orang yang berbuat harus dipidana yang terdapat dalam Undangundang. mengajukan kasasi. tanpa menyelidiki terlebih dahulu apakah pelaku materiil (ialah D) tidak bertanggung-jawab atas perbuatan itu. dan terhadap alasan yang dikemukakan oleh A. pembentuk Undang-undang menyetujui sistem.v.B. telah menyuruh lakukan perbuatan yang dituduhkan. c. . sekalipun ternyata tidak ada kesalahan sama sekali (asas : afwezigheid van alle schuld).S Belanda (Pasal 55 K. A.

159 160 d. hal ini harus tegas-tegas ternyata dalam rumusan delik. yang bertentangan dengan rasa keadilan dan asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” yang juga dianut dalam hukum pidana kita. Untuk menerima sistim tersebut (dalam c). dan proses pengambilan keputusan oleh sejumlah lembaga (kepolisian. kejaksaan. Dengan arrest itu. Arrest air dan susu penting untuk perkembangan hukum pidana. BAB IX PIDANA DAN PEMIDANAAN (HUKUM PENITENSIER) Sebelum membahas materi ini terlebih dahulu kita memahami apa yang dimaksud dengan pidana dan pemidanaan. Adapun Proses Peradilan Pidana (the criminal) justice process) merupakan struktur. ajaran “fait materiel” pada pelanggaran ditinggalkan. b. maka: a. fungsi. Diakui untuk pertama kalinya oleh badan pengadilan yang tertinggi (Belanda) berlaku asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” (geen straf zonder schuld).pengadilan & lembaga pemasyarakatan) yang berkenaan dengan penanganan & pengadilan kejahatan dan pelaku kejahatan. Pemidanaan merupakan penjatuhan pidana/sentencing sebagai upaya yang sah yang dilandasi oleh hukum . Pidana merupakan nestapa/derita yang dijatuhkan pengadilan) dengan dimana sengaja nestapa oleh itu negara (melalui pada dikenakan seseorang yang secara sah telah melanggar hukum pidana dan nestapa itu dijatuhkan melalui proses peradilan pidana.

Lamanya sanksi itu dijalani. Cara sanksi itu dijalankan. Straf. 4. Ilmu yang mempelajari pidana dan pemidanaan Punishment. Pidana perlu dijatuhkan pada seseorang yang melakukan pelanggaran pidana karena pidana juga berfungsi (matregelstelsel). ISTILAH Ada beberapa istilah yang digunakan untuk materi ini. Tempat sanksi itu dijalankan. al: Hukum Penitensier. yakni norma yang mencerminkan nilai dan struktur masyarakat yang merupakan terhadap reafirmasi “hati nurani simbolis bersama“ atas pelanggaran bentuk sebagai ketidaksetujuan terhadap perilaku tertentu. Jadi pidana berbicara mengenai hukumannya dan pemidanaan berbicara mengenai proses penjatuhan hukuman itu sendiri. Beratnya sanksi itu. Dalam hal ini pidana sebagai bagian dari reaksi sosial manakala terjadi pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku. hukum penitensier ini merupakan sebagaian dari hukuman pidana positif yaitu bagian yang menentukan: 1. Menurut beberapa ahli hukum pidana lain. 3. Bentuknya berupa konsekwensi yang menderitakan. menurut Utrecht. Hukum Penitensier adalah segala peraturan positif mengenai sistem hukuman (strafstelsel) dan sistem tindakan . 2. menurut pendapat Moeljatno: lebih tepat ”pidana” untuk dinamakan Hukum Penitensier/Hukum Sanksi. Jenis sanksi terhadap suatu pelanggaran dalam hal ini terhadap KUHP dan sumber-sumber hukum pidana lainnya (UU pidana yang memuat sanksi pidana dan UU non pidana yang memuat sanksi pidana). Hukuman. hukuman. atau setidaknya tidak menyenangkan. Sanksi berupa pidana maupun tindakan inilah yang akan dipelajari oleh hukum penitensier.161 162 untuk mengenakan nestapa penderitaan pada seseorang yang melalui proses peradilan pidana terbukti secara sah dn meyakinkan bersalah melakukan suatu tindak pidana. sebagai pranata sosial. Hukum Sanksi.dan 5. dan Jinayah.

3. Soesilo mendefinisikan pidana / hukum sebagai perasaan tidak enak / sengsara yang dijatuhkan oleh Hakim dengan vonis kepada orang yang telah melanggar UU Hukum Pidana. pembatasan kebebasan bergerak/kemerdekaan orang (pidana kurungan/penjara) dan perampasan terhadap nyawa (hukuman mati).Soesilo. SEJARAH PIDANA DAN PEMIDANAAN DI INDONESIA Pidana dan pemidanaan di Indonesia dimulai sejak Wetboek van Strafrecht (Wvs) diundangkan yaitu tahun 1915 dan berlaku di indonesia berdasarkan UU No. Dipukul. Di samping itu hukum pidana merupakan ultimum remedium (senjata pamungkas. . 2. 4. Dicap bakar. unsur-unsur atau ciri-ciri pidana meliputi: 1. Kerja paksa pada pekerjaan-pekerjaan umum. Suatu pengenaan penderitaan/nestapa atau akibatakibat lain yang tidak menyenangkan. jalan terakhir. Menurut Utrecht suatu dan R. Dimatikan dengan suatu keris 3. jalan satu-satunya/tiada jalan lain). dipukul dengan rantai (pidana badan/corporal punishment) 5. Dibakar hidup.163 164 menerjemahkan straf. Ditahan/dimasukkan dalam penjara 6. Diberikan dengan sengaja oleh badan yang memiliki kekuasaan (berwenang). Menurut Muladi dan Barda Nawawi Arief. peristiwa pidana menurut UU ( orang memenuhi rumusan delik/pasal). 22 April 1808. Sedangkan R. yang hukum bersifat pidana istimewa: merupakan sanksi terkadang dikatakan melanggar HAM karena melakukan perampasan terhadap harta kekayaan (pidana denda). Sudarto juga berpendapat Jenis-jenis hukuman yang dapat dijatuhkan oleh demikian. Dikenakan pada seseorang penanggung jawab Pengadilan berdasarkan plakat tgl. al: 1. terikat pada suatu tiang (hanya untuk pelaku pembakar/pembunuh) 2. 1/1946 tentang KUHP (berdasarkan atas konkordansi).

karena perbuatan tersebut bertentangan dengan tata tertib negara (dilihat dari sudut obyektif).165 166 Selanjutnya kita akan membahas siapakah pihak yang berhak menuntut. Beysens seperti dikutip oleh Utrecht menyatakan pada dasarnya negaralah yang berhak. Menurut Leo Polak (aliran retributif). Negara sebagai organisasi sosial tertinggi oleh karena itu sangat logis jika negara diberi tugas mempertahankan tata tertib masyarakat. para penganutnya antara lain E. bukan hanya sekedar sebagai pembalasan. Perbuatan tersebut dapat dicela (melanggar etika) b. Teori-Teori yang berkaitan dengan Pemidanaan Tujuan Pemidanaan Menurut Doktrin 1. 2. Tidak bboleh dengan maksud prevensi (melanggar etika) c. 2. Hukuman pada umumnya bersifat menakutkan. Teori relatif / tujuan (utilitarian). Beratnya hukuman seimbang dengan beratnya delik. Negara sebagai satu-satunya alat yang dapat menjamin kepastian hukum.Leo Polak. Utrecht juga menambahkan bahwa negaralah yang berhak melakukan hal tersebut. Kant. Hegel. mengingat. dalam hal ini KUHP merupakan peraturan yang dibentuk oleh negara dan perbuatannya merupakan tindakan yang dapat dipertanggung jawabkan oleh pelaku (dilihat dari sudut subyektif). 1. Mereka berpandapat bahwa hukum adalah sesuatu yang harus ada sebagai konsekwensi dilakukannya kejahatan dengan demikian orang yang salah harus dihukum. menyatakan bahwa penjatuhkan hukuman harus memiliki tujuan tertentu. sehingga bersifat seyogyanya hukuman memperbaiki/merehabilitasi karena pelaku kejahatan . dan memaksa pelaku untuk menjalankan pidana. Teori Absolut/Retributif/Pembalasan (lex talionis). hukuman harus memenuhi 3 syarat: a. menjatuhkan.

Tujuan yang lain adalah memberikan perlindungan agar orang   Merehabilitasi Pelaku Melindungi Masyarakat Saat ini sedang berkembang apa yang disebut sebagai Restorative Justice sebagai koreksi atas Retributive justice. supaya jera/kapok. jadi hukuman dijatuhkan untuk pencegahan yakni ditujukan pada masyarakat luas sebagai contoh pada masyarakat agar tidak meniru perbuatan atau kejahatan yang telah dilakukan (prevensi umum) dan ditujukan kepada si pelaku sendiri. 3. mencegah dilakukanya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat. Pemahaman ini telah diakomodir oleh R-KUHP tahun 2005. Keadilan yang bukan saja menjatuhkan sanksi yang seimbang bagi pelaku namun juga memperhatikan keadilan bagi korban. mencegah terjadinya tindak pidana a. tidak disakiti. Jadi hukumanya lebih ditekankan pada treatment dan pembinaan yang disebut juga dengan model medis. tidak mengulangi perbuatan/kejahatan serupa. tidak merasa takut dan tidak mengalami kejahatan. atau kejahatan lain (prevensi khusus). Sehingga pidana bertujuan untuk:   Pembalasan. Teori Gabungan.167 168 adalah orang yang “sakit moral” sehingga harus diobati. Tujuan Pemidanaan berdasarkan Pasal 54 R-KUHP tahun 2005: Pasal 54 (1) Pemidanaan bertujuan: lain/masyarakat pada umumnya terlindung. . Restorative Justice (keadilan yang merestorasi) secara umum bertujuan untuk membuat pelaku mengembalikan keadaan kepada kondisi semula. merupakan gabungan dari teori-teori sebelumnya. Tujuan lain yang hendak dicapai dapat berupa upaya prevensi. membuat pelaku menderita Upaya prevensi.

Pasal 55. d. (2) Rintangan perbuatan. Pemaafan dari korban dan/atau keluarganya dan /atau. (2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia . Motif dan tujuan melakukan tindak pidana. k. memaafkan terpidana. g.169 170 b. memulihkan keseimbangan. Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan. dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat. . Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban. i. Cara melakukan tindak pidana. Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana. Sikap batin pembuat tindak pidana. b. e. membebaskan rasa bersalah pada terpidana dan. atau keadaan pada waktu dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian. e. c. Riwayat hidup dan keadaan sosial dan ekonomi pembuat tindak pidana h. dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan. d. c. Apakah tindak pidana dilakukan dengan pembuat tindak pidana. Kesalahan pembuat tindak pidana. keadaan pribadi pembuat. j. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. Pengaruh pidana terhadap massa depan tindak pidana. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh f. Teori prevensi umum tercermin dari tujuan pemidanaan mencegah dilakukannya tindak berencana. rehabilitasi dan restotaif dalam tujuan pemidanaannya. Dari aturan diatas dapat dicermati bahwa dalam R-KUHP menganut teori prevensi. Dalam pasal 55 R-KUHP juga terdapat pedoman pemidanaan yang belum diatur dalam UU kita. (1) Dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan: a.

Hukuman Pokok: 1. 1/1960. Jenis-jenis Hukuman/Pidana Menurut Pasal 10 KUHP : a. dikonversi: dikali 15) 5. pidana denda.171 172 pidana dengan menegakkan norma hukum demi 1. Dan restoratif terdapat dalam tujuan pemidanaan yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana.20/1946) b. Hukuman mati 2. Pasal 67 (1) Pidana tambahan terdiri atas: . Denda (UU No. b. Tutupan (UU No. Kurungan 4. pengayoman kepada masyarakat. Hukuman Tambahan: (2) Urutan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menentukan berat ringannya pidana Pasal 66 Pidana mati merupakan pidana pokok yang bersifat khusus dan selalu diancamkan secara alternatif. dan memaafkan terpidana. dengan melakukan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. pengumuman keputusan hakim Jenis-jenis Hukuman / Pidana Menurut R-KUHP: Pasal 65 (1) Pidana pokok terdiri atas: a. pidana penjara. Pencabutan beberapa hak tertentu 2. Teori rehabilitasi dan resosialisasi tergambar dari tujuan pemidanaan untuk memasyarakatkan terpidana. membebaskan rasa bersalah pada terpidana. dan mendatangkan rasa damai dalam damai dalam masyarakat. Perampasan barang tertentu 3. pidana kerja sosial. Penjara (sementara waktu atau seumur hidup) 3. pidana tutupan c. dan e. pidana pengawasan d. memulihkan keseimbangan.

B. c. (4) Pidana tambahan untuk percobaan dan pembantuan adalah sama dengan pidana tambahan untuk pidan pidananya. pemenuhan kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut masyarakat. d. sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan walaupun tidak hukum yang hidup dalam Tindak Pidana yang diancam dengan hukuman mati : A. Hukuman mati dijalankan oleh algojo di tiang gantungan tercantum dalam perumusan tindak pidana.173 174 a. dan e. sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana tambahan lain. Diluar KUHP.11 KUHP). perampasan barang tertentu dan/atau tagihan. pencabutan hak tertentu. baik waktu dan tempat eksekusinya). (2) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok. tapi berdasarkan Penpres no. (3) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok.     Terorisme Narkoba Korupsi Pelanggaran HAM Berat. pengumuman putusan hakim. Uraian tentang jenis-jenis hukuman menurut KUHP: Hukuman/pidana Mati (diatur dalam pasal 11 jo Pasal 10 KUHP) (ps. . pembayaran ganti kerugian. b. Kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang dilakukan secara meluas dan sistematis. Dalam KUHP :      Pembunuhan berencana Kejahatan terhadap keamanan negara Pencurian dengan pemberatan Pemerasan dengan pemberatan Pembajakan di laut dengan pemberatan. 2/1964 : ditembak dibagian jantung dan/atau kepala dan tidak dilakukan di muka umum (rahasia.

di mana para hukuman pada siang hari disuruh bekerja bersama-sama tapi tidak boleh saling bicara. tapi tidak boleh lebih dari 20 thn). 12/1995 tentang Pemasyarakatan) Pasal 12 KUHP:  Hukuman penjara lamanya seumur hidup atau sementara/pidana penjara dilakukan dalam jangka waktu tertentu (min 1 hari-selama-lamanya 15 tahun atau dapat dijatuhkan selama 20 thn. . Kalau dibiarkan bergaul dengan napi lain dikhawatirkan bisa saja menjadi bertambah jahat. Untuk pemulihan kembali hubungan antara narapidana dan masyarakat. disebut juga sebagai silent system. di indonesia disebut sabagai Lembaga Pemasyarakatan (LP/lapas). Terhukum diberikan waktu untuk merenung. dalam hal ini diterapkan hukum yang keras. menggunakan penilaian. Sistem Irlandia (Irish System) yang berasal dr mark system. Pidana penjara dilakukan di penjara (prison/jail). Jika berkelakuan baik. New York. menurut Utrecht :  Sistem Pennsylvania.175 176 Hukuman mati tidak dapat dijatuhkan pada anak. Hukuman/Pidana Penjara (Menurut pasal-pasal dalam KUHP dan UU No. Pembagian Sistem Penjara – gevangenisstelsel. (inmates): Penghuninya Warga disebut Binaan  terhukum diperkenankan melakukan pekerjaan tangan dan secara terbatas dapat menerima tamu. maka hukumannya narapaidana/napi Pemasyarakatan (berdasarkan UU No. AS. Terhukum hanya melakukan kontak dengan penjaga sel/sipir penjara. malam hari kembali ke sel. pidana mati tidak dapat dilakukan pada orang yang setelah dihukum menjadi gila dan wanita hamil. tapi ia tetap dilarang bergaul dengan terhukum lain Sistem Auburn. Dilakukan peringatan: Eksekusi baru dapat dilakukan jika orang gila itu sembuh dan wanita tersebut telah melahirkan. AS : para hukuman terus menerus ditutup sendiri-sendiri dalam satu kamar sel.12/1995). menyesali perbuatannya dan diharapkan ia dapat memperbaiki diri. Para hukuman mula-mula ditempatkan dalam ruang tertutup terus menerus.

Jika melakukan pelanggaran berat atau berkelakuan tidak baik ataupun melanggar aturan maka dimasukkan dalam sel sendirian. jadi terpidana diberikan pengajaran. Boleh bekerja di luar sel secara bersama-sama = kerja di kebon/taman. Minimum security/maximum security/Super Maximum Security (SMS) Napi pada umumnya boleh keluar dari sel pada pagi dan/atau siang hari. Kemudian diperkenankan kerja sama-sama. Banten. bersyarat). AS). lalu secara bertahap diberi kelonggaran untuk bergaul satu sama lain. kerajinan/furniture. Memilih ‘BOS’ – mandor dr kalangan napi sendiri untuk mengatur napi : Tamping/building tender. menyulam. masak di dapur. . dan ticket to leave.  Sistem Elmira (NY. pendidikan dan pekerjaan yang nantinya bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. disebut juga dengan tutupan sunyi. sore masuk sel sampai besok pagi. Boleh belajar/sekolah dlm LP. kerja di bengkel LP untuk buat penerapannya ada ketentuan khusus dari Menteri Kehakiman (Minister of justice). Seperti LP Pemuda dan LP Anak laki-laki di Tangerang. Pelepasan bersyarat dapat dilakukan jika telah menjalani dari ¾ hukumannya. Dalam    Di Indonesia diterapkan ke 5 nya :  Beberapa hukuman dimasukkan dalam satu sel atau 1 orang/1 sel. Disebut sebagai penjara reformatory yakni tempat untuk memperbaiki orang menjadi warga masyarakat yang berguna. Khusus untuk pelaku yang masih muda yaitu mereka yang berusia kurang dari 19 th.177 178 diperingan : mulai dimasyarakatkan dan dapat diberikan the rise of feformatory (pelepasan  Sistem Osborne (NY. Mirip dengan sistem Irlandia namun titik berat lebih pada usaha-usaha untuk memperbaiki si pelaku. diperuntukan bagi terhukum yang berusia tidak lebih dari 30 thn. UK). publik work prison.US). menjahit. merangkai bunga dsb. boleh membaca. bersihkan kolam. Ada jadwal kegiatannya. dengar radio/nonton TV olah raga dsb.  Sistem Borstal (LONDON.

tapi lebih bebas.  Dapat diberikan jika pelepasan telah bersyarat 2/3 PBdr Dengan adanya pidana denda seringkali penerapan Hukum Pidana menjadi kabur karena pidana denda dianggap bukan pidana karena pelaku tadi ada di LP. patut namun dihormati/dihargai. Pidana Tutupan (UU No. Untuk hukuman ini terdapat 1 yurisprudensi di Jogja. menempuh hukumannya (pasal 15 KUHP).179 180 Antara warga binaan boleh saling berinteraksi sesuai dengan jam yang telah ditentukan. ada hak pistole yaitu tersedia fasilitas yang lebih dari terpidana penjara. 1/1960) mempertimbangkan bahwa perbuatan yang dilakukan didasari oleh suatu motivasi di yang penjara. Selain itu terdapat juga ketentuan tentang pidana percobaan seperti yang diatur dalam Pasal 14a KUHP. Tempatnya diberikan fasilitas yang lebih baik karena terpidana boleh membawa dan menikmati buku bacaan dan radio/tape.  Meskipun hukuman penjara dilakukan bersamasama tapi tetap ada pemisahan mutlak :  Laki-laki dan perempuan  Orang dewasa dan anak di bawah umur  Orang yang dihukum/ditahan – orang yang dihukum karena upaya preventif  Orang militer dan orang sipil Pidana kurungan Dilaksanakan di penjara. Pidana Denda (Pasal 30 ayat (1) KUHP dan UU No. .20/1946) Pidana yang dijatuhkan oleh Hakim dengan reclassering).

Oleh karena itu percobaan pun terlalu rendah dari KUHP. sedangkan percobaan terhadap pelanggaran tidak dipidana sebagimana ditentukan dalam pasal 54 KUHP. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan. yaitu pasal 53 (1) yang menyatakan : “Mencoba melakukan kejahatan dipidana. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. ATTEMPT) antara percobaan yang dapat dipidana dan yang tidak dapat dipidana. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri”. Yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap tindak pidana yang berupa “kejahatan” saja. Pada pasal 54 KUHP memperlihatkan adanya pemikiran dari para perumusnya bahwa delik pelanggaran bersifat lebih ringan dari pada kejahatan. . tetapi hanya merumuskan syaratsyarat atau unsur-unsur yang menjadi batas misalnya : Percobaan duel / perkelahian tanding (pasal 184 ayat 5). Disamping itu perlu dicatat bahwa ketentuan umum dalam pasal 53 (1) diatas tidak berarti bahwa percobaan terhadap semua kejahatan dapat  dipidana. PENGERTIAN Di dalam bab IX buku I KUHP (tentang arti beberapa istilah yang dipakai dalam kitab undang-undang). tidak dijumpai rumusan arti atau definisi mengenai apa yang dimaksud dengan istilah “percobaan”. Percobaan yang dapat dipidana menurut system KUHP bukanlah percobaan terhadap I. batasan KUHP hanya kapan semua jenis tindak pidana.181 182 BAB X PERCOBAAN (POGING. Redaksi pasal ini jelas tidak merupakan suatu definisi. Pengecualian tersebut merumuskan mengenai dikatakan adanya percobaan untuk melakukan kejahatan yang dapat dipidana.

Menurut pandangan ini. Strafausdehnungsgrund (dasar/alasan perluasan pertanggungjawaban pidana). II. Dengan demikian menurut pandangan ini. Termasuk pandangan pertama ini ialah : Prof. Jadi merupakan delik tersendiri (delictum sui generis). percobaan tidak dipandang sebagai jenis atau bentuk delik yang tersendiri (delictum sui generis) tetapi dipandang sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen dalam terhadap hewan (pasal 302 ayat 4). seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu tindak pidana meskipin tidak Menurut melakukan pandangan sesuatu ini. Percobaan penganiayaan ringan (pasal 352 ayat 2). dekictsvorm).183 184    Percobaan penganiayaan ringan rumusan-rumusan delik. Percobaan penganiayaan biasa (pasal 351 ayat 5). percobaan pidana tindak merupakan satu kesatuan yang bulat dan lengkap. Percobaan dipandang sebagai (2). bukan memperluas . tetapi merupakan delik yang sempurna hanya dalam bentuk yang khusus/istimewa. Ny. SIFAT LEMBAGA PERCOBAAN Apakah percobaan itu merupakan suatu bentuk delik khusus yang berdiri sendiri ataukah hanya merupakan suatu delik yang tidak sempurna? Mengenai sifat dari percobaan ini terdapat dua pandangan : (1). dan Porf. Jadi sifat percobaan adalah untuk memperluas dapat dipidananya orang. memenuhi semua unsur delik. Hazewinkel-Suringa Seno Adji. Oemar Percobaan dipandang sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (perluasan delik). tetap dapat dipidana apabila telah memenuhi rumusan pasal 53 KUHP. Percobaan bukanlah bentuk delik yang tidak sempurna.

b. Dalam hukum adat tidak dikenal percobaan sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen delictsvorm). Menurut pasal ini percobaan untuk melakukan penganjuran (poging tot uitloking) atau yang biasa juga disebut penganjuran yang gagal (mislukte uit-lokking) tetap dapat dipidana. Pompe dan Prof. dapat pula misalnya dikemukakan contoh adanya pasal 163 bis. keselamatan masyarakat. sendiri dan merupakan delik selesai. 106. dan 107 KUHP. Prof. yang ada hanya delik selesai. jadi pandangan sebagai delik yang berdiri sendiri. Moelyatno. d. Dalam KUHP ada beberapa perbuatan sebagai yang delik dipandang berdiri Mengenai adanya dua pandangan tersebut diatas. Mulyatno berpendapat bahwa pandangan pertama sesuai dengan alam atau masyarakat individual karena yang diutamakan adalah strafbaarheid van de person (sifat yang . Dalam konsep “perbuatan karena melakukan merupakan Misalnya percobaan. Pada dasarnya seseorang itu dipidana suatu delik. c. pidana” (pandangan dualistis) ukuran suatu delik didasarkan pada pokok pikiran adanya sifat berbahayanya sendiri bagi perbuatan itu Mengenai contoh yang dikemukakan Prof Moelyatno terakhir ini. walaupun pelaksanaan dari perbuatan itu sebenarnya Alasan Prof. ialah : a. delik-delik maker (aanslagdelicten) dalam pasal 104. jadi baru percobaan sebagai delik tersendiri.185 186 Termasuk dalam pandangan kedua ini ialah Prof. Moelyatno memasukkan belum selesai.

dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sikap batin atau watak yang berbahaya dari si pembuat. Niat. III. Teori Subyektif Menurut teori ini. Teori ini melihat dasar patut dipidananya percobaan dari dua segi.1. Prof. terdapat beberapa teori sbb: 1. pelaksanaan dari teori ini tidak mudah. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap kepentingan / benda hukum. UNSUR-UNSUR PERCOBAAN Dari rumusan pasal 53 (1) KUHP diatas jelas terlihat bahwa unsur-unsur percobaan ialah : IV. 2. Namun karena dalam kenyataanya.a. sedangkan pandangan yang kedua sesuai kita dengan alam atau yang masyarakat sekarang karena diutamakan adalah perbuatan yang tak boleh dilakukan. Moelyatno dapat dikategorikan sebagai penganut teori campuran. Teori obyektif-formil. yaitu : sikap batin pembuat yang berbahaya (segi subyektif) dan juga sifat berbahayanya perbuatan (segi obyektif). Menurut beliau rumusan delik percobaan dalam pasal 53 KUHP mengandung dua inti yaitu : yang subyektif (niat untuk melakukan kejahatan tertentu) dan yang obyektif (kejahatan tersebut telah mulai dilaksanakan tetapi tidak selesai). Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap tata hukum. Termasuk dalam teori ini ialah pendapat Langemeyer dan Jonkers. 2. Di samping itu beliau mengatakan bahwa baik teori subyektif maupun obyektif. dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sifat berbahayanya perbuatan yang dilakukan oleh si pembuat. Dengan demikian menurut beliau. yaitu : 2. Teori ini terbagi dua.b. Penganut teori ini antara lain Simons. Teori obyektif-materiil. DASAR PATUT DIPIDANANYA PERCOBAAN Mengenai dasar pemidanaan terhadap percobaan ini. apabila dipakai secara murni akan membawa kepada ketidak adilan. Teori Campuran. Termasuk penganut teori ini ialah Van Hamel. mereka nampaknya lebih cendrung pada teori subyektif. dalam percobaan tidak mungkin dipilih salah satu diantara teori obyektif dan teori subyektif karena jika demikian berarti menyalahi dua inti dari delik percobaan itu. IV.187 188 dipidananya orang). ukurannya harus mencakup dua criteria tersebut (subyektif dan obyektif). Teori Obyektif Menurut teori ini. 3. .

Dalam hal ini. Catatan Prof.189 190 Kebanyakan para sarjana berpendapat bahwa unsur niat sama dengan sengaja dalam segala tingkatan/coraknya. Misal : A bermaksud membunuh B dengan pistol. perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan belum dilakukan (misal : picu belum ditarik) sehingga akibat yang terlarang juga belum ada maka dalam hal demikian dikatakan ada “percobaan tidak selesai/tertunda”. niat hanya merupakan unsur sifat melawan hukum yang subyektif (subyektif onrechtselement). Moelyatno terhadap unsur niat : a. disitu niat 100% menjadi kesengajaan. Picu (trekker) pistol telah ditarik. yaitu subjectieve onrechtselement. tetapi ternyata pistol tersebut tidak meletus atau tembakan tidak mengenai sasaran. niat sama dengan kesengajaan. Oleh karena itu niat tidak sama dan tidak bisa disamakan dengan kesengajaan. dalam hal ini maka niat yang belum diwujudkan sebagai perbuatan (belum ditunaikan keluar) . menurut Moelyatno. tetapi akibat yang dilarang tidak timbul (percobaan selesai/voltooidc poging). Dalam hal percobaan selesai (percobaan lengkap/voltoo-ide poging/completed attempt). 2. Tetapi kalau belum semua ditunaikan menjadi perbuatan maka niat masih ada dan merupakan sikap batin yang membari arah kepada perbuatan. Dikatakan ada “percobaan selesai” apabila terdakwa telah melakukan semua perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan. b. Dari delik percobaan dapat mempunyai dua arti : 1. maka isinya niat jangan diambilkan dari isinya kesengajaan apabila kejahatan timbul. Tetapi apabila dalam contoh diatas. niat sudah berubah menjadi kesengajaan karena telah diwujudkan dalam bentuk perbuatan. tetapi niat secara potensiil dapat berubah menjadi kesenjangan apabila sudah ditunaikan menjadi perbuatan yang dituju. c. dalam hal semua perbuatan yang diperlukan untuk kejahatan telah dilakukan. Dalam hal percobaan tertunda (percobaan terhenti atau tidak lengkap/geschorste poging/incompleted attempt). Niat jangan disamakan dengan kesenjangan. tetapi akibat yang terlarang tidak terjadi. Menurut Moelyatno. untuk ini diperlukan pembuktian tersendiri bahwa isi yang tertentu tadi sudah ada sejak niat belum ditunakan jadi perbuatan. sama kalau mengahadapi delik selesai.

Moelyatno setuju dengan pendapat yang luas bahwa hal itu meliputi juga kesenjangan sebagai keinsyafan kemungkinan. IV. Dalam memecahkan masalah ini para sarjana menghubungkannya dengan teori atau dasar-dasar patut dipidananya percobaan. Ukuran demikian menurut VAN HAMEL sesuai dengan ajaran hukum pidana yang lebih baru yang bertujuan memberantas kejahatan sampai ke akar-akarnya. Unsur kedua ini. maka dalam hal ini dikatakan sudah ada . Ada permulaan pelaksanaan. Pada delik formil. Dalam hal niat telah berubah menjadi kesengajaan. Prof. SIMIONS berpendapat sbb : a. Contoh untuk delik formil : A bermaksud melakukan pencurian dirumah B untuk melaksanakan aksinya. kemudian pada malam hari ia mendatangi rumah B. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang obyektif materiil. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang subyektif.2. A telah mempersipkan segala sesuatu peralatan untuk mencuri.191 192 masih tetap menjadi niat yaitu baru merupakan sikap batin yang mengarah kepada suatu perbuatan yang melawan hukum. b. Jadi yang dipentingkan atau yang dijadikan ukuran oleh VAN HAMEL ialah ternyata adanya sikap batin yang jahat dan berbahaya dari si pembuat. perbuatan pelaksanaan ada pabila telah dimulai/dilakukan perbuatan yang menurut sifatnya langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang tanpa mensyaratkan adanya perbuatan lain. merupakan persoalan pokok dalam percobaan yang cukup sulit karena baik secara teori maupun praktek selalu dipersoalkan batas antara perbuatan persiapan (voorbereidingshandeling) dan perbuatan pelaksanaan (uitvoeringshandeling). Sesampainya di rumah B. melepas kaca jendela dan baru saja A masuk rumah lewat jendela itu ia tertangkap. perbuatan pelaksanaan ada apabila telah dimulai perbuatan yang disebut dalam rumusan delik. Apabila digunakan ukuran Van Hamel. Pada delik materiil. ia mematikan lampu teras. VAN HAMEL berpendapat bahwa dikatakan ada perbuatan pelaksanaan apabila dilihat dari perbuatan yang telah dilakukan telah ternyata adanya kepastian niat untuk melakukan kejahatan.

193

194

perbuatan pelaksanaan, tetapi menurut ukuran Simons baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum mulai melakukan perbuatan seperti yang disebut dalam rumusan delik (pencurian : pasal 362 KUHP) yaitu “ mengambil barang “. Apabila A sudah mengambil barang dan pada saat itu ketahuan dan tertangkap, barulah dikatakan pada saat itu A telah melakukan perbuatan pelaksanaan yang oleh karenanya dapat dituntut telah melakukan percobaan pencurian. Contoh untuk delik materiil : A bermaksud membunuh B dengan meledakkan mobil yang dikendarainya dengan dinamit di suatu tempat yang dilalui B. A telah mempersiapkan dinamit dengan segala peralatan yang diperlukan dengan rapid an menunggu di samping saklar sampai B lewat ditempat itu. Apabila pada saat menunggu itu, gerak gerik A dicurigai dan akhirnya ditangkap, maka menurut ukuran Simons perbuatan A belum merupakan perbuatan pelaksanaan tetapi baru perbuatan persiapan, karena untuk meledakkan dinamit itu masih diperlukan perbuatan lain yaitu mengotakkan/menekan saklarnya.

Dalam menentukan adanya permulaan/perbuatan pelaksanaan dalam delik percobaan Prof Moelyatno berpendapat bahwa ada dua factor yang harus diperhatikan, yaitu : 1. Sifat atau inti dari delik percobaan, dan 2. Sifat atau inti dari delik pada umumnya Mengingat kedua factor tersebut, maka menurut beliau perbuatan pelaksanaan harus memenuhi 3 syarat yaitu : i. Secara Obyektif, apa yang telah dilakukan terdakwa harus mendekatkan kepada delik/kejahatn yang dituju atau dengan kata lain, harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik tersebut; ii. Secara Subyektif, dipandang dari sudut niat, harus tidak ada keraguan lagi bahwa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu ditujukan atau diarahkan pada delik/kejahatan yang tertentu tadi; iii. Bahwa apa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu merupakan perbuatan yang bersifat melawan hukum.

V. PERCOBAAN DALAM YURISPRUDENSI

BEBERAPA

Yurispridensi yang terkenal ialah Arrest HR tahun 1934 tentang Eindhoven.

195

196

Kasus Posisi : H dituduh hendak membakar rumah R (dengan persetujuan R). Pada malam yang telah ditentukan H masuk kerumah R, menaruh pakaian dan barang-barang yang mudah terbakar di tiap kamar, yang semuanya dihubungkan satu sama lain dengan sumbu yang akhirnya dihubungkan pada kompor gas yang mengeluarkan api jika ditembakkan. Trekker (penarik pintol gas) diikatkan dengan tali dan melalui jendela, ujungnya digantungkan di luar rumah yang terletak di pinggir jalan kecil. Pakaianpakaian itu disiram bensin dan jika orang berjalan di tepi jalan menarik talinya maka pistol gas mengeluarkan api dan menyalakan kompor gas dan selanjutnya akan merata keseluruh rumah. Setelah pemasangan pistol dan tali itu selesai, H menyingkirkan benda-benda ke tempat lain. Sementara itu, karena tertarik bau bensin banyak orang berpendapat di dekat tali itu, sehingga H tak mugkin menyelesaikan maksudnya. Terhadap kasus tersebut peradilan (gerechtshop) di Her-togenbosch menyatakan bahwa perbuatan H adalah perbuatan permulaan pelaksanaan dan dijatuhi pidana 4 tahun penjara karena melanggar pasal 53 jo 187 KUHP. H mengajukan kasasi dengan alasan bahwa Hof telah salah menafsirkan pasal 53 KUHP dan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya baru merupakan perbuatan persiapan. Jaksa Agung

Muda BEISER menyimpulkan bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan karena belum nyata-nyata merupakan pelaksanaan untuk melakukan pembakaran. Senada dengan konklusi Beiser, HOGE RAAD berpendapat bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum merupakan perbuatan yang sangat diperlukan untuk pembakaran yang telah diniatkan, ialah yang tidak dapat tidak menuju kearah dan langsung berhubungan dengan kejahatan yang dituju dan juga menurut pengalaman nyata-nyata menuju pembakaran, tanpa sesuatu perbuatan lain dari si pembuat. Atas dasar alasan ini HR membatalkan putusan Hof dan H dilepaskan dari segala tuntutan. Apabila kasus dan putusan pengadilan di atas dihubungkan pendapat para Sarjana yang telah dikemukakan di atas, maka terlihat bahwa : - Konklusi Beiser dan terutama pendapat HR, lebih cocok dengan teori atau pendapat Simons (Teori Obyektif Materiil); - Putusan Hof, lebih sesuai dengan teori atau pendapat Duynstee (Teori Obyetif Formil) Terhadap putusan HR tersebut, DUYNSTEE sendiri menulis bahwa menurut pendapatnya terdakwa H telah mulai dengan perbuatan pelaksanaan pembakaran. Alasan yang dikemukakannya ialah :

197

198

a. Semua perbuatan terdakwa (H) saling berhubungan dan memenuhi rumusan delik; b. Jika HR menganggap perbuatan pelaksanaan yaitu perbuatan yang menimbulkan kejahatan (akibat) tanpa adanya perbuatan lain, berarti jika tiap perbuatan pelaksanaan akan menimbulkan akibat terlarang, maka perbuatan pelaksanaan hanya ada percobaan lengkap saja, ini tidak tepat karena di dalam teori dikenal juga adanya percobaan yang tidak lengkap. Mengenai kasus diatas, Prof. Moelyatno mengemukakan pendapatnya sbb : “Kalau perkara pembakaran di Eindhoven ditinjau dengan ukuran yang saya sarankan, maka mengenai syarat pertama tidak perlu diragukan adanya. Secara potensiil apa yang telah dilakukan terdakwa mendekatkan kepada kejahatan yang dituju. Juga mengenai syarat yang kedua yaitu bahwa yang dituju itu menimbulkan kebakaran, telah wajar. Tinggal syarat yang ketiga, yaitu apakah yang telah dilakukan itu sudah bersifat melawan hukum ? Kalau diingat bahwa rumah itu di diami orang lain di waktu orangnya tidak ada, hemat saya adalah perbuatan yang melanggar hukum. Jadi karena tiga-tiganya syarat sudah dipenuhi, hemat saya putusan yang yang diberikan

oleh Hof’s Hertogenbosch adalah tepat. Terdakwa telah melakukan delik percobaan pembakaran seperti yang ditentukan dalam pasal 53 juncto pasal 187 KUHP”. IV.3. Pelaksanaan tidak selesai bukan sematamata karena kehendak pelaku sendiri. Tidak selesainya pelaksanaan kejahatan yang dituju bukankarena kehendak sendiri, dapat terjadi dalam hal-hal sbb : a. Adanya penghalang fisik; Misal : tidak matinya orang yang ditembak, karena tangannya disentakkan orang sehingga tembakan menyimpang atau pistol terlepas. Termasuk dalam pengertian penghalang fisik ini ialah apabila adanya kerusakan pada alat yang digunakan (misal : pelurunya macet / tidak meletus, bom waktu yang jamnya rusak). b. Walaupun tidak ada penghalang fisik, tetapi tidak selesainya itu disebabkan karena akan adanya penghalang fisik. Misal : takut segera ditangkap karena gerak geriknya untuk mencuri telah diketahui oleh orang lain. c. Adanya penghalang yang disebabkan oleh factor-faktor / keadaan-keadaan

v.199 200 khusus pada obyek yang menjadi sasaran.  Alasan pemaaf (van Hattum. tetapi dengan sukarela menghalau timbulnya akibat mutlak delik tersebut. Misal : daya tahan orang yang ditembak cukup kuat sehingga tidak mati atau yang tertembak bagian yang tidak membahayakan. bahwa usaha yang paling tepat (efektif) untuk mencegah timbulnya kejahatan ialah menjamin tidak dipidananya orang yang telah mulai melakukan kejahatan tetapi kemudian dengan sukarela mengurungkan pelaksanaannya. ia masih dapat meneruskannya.T maksud dicantumkannya unsur ke-3 ini dalam pasal 53 KUHP ialah :  Untuk menjamin supaya orang yang dengan kehendaknya sendiri secara sukarela mengrungkan kejahatan yang telah dimulai tetapi belum terlaksana.  Pertimbangan dari segi kemanfaatan (utilitas). tetapi setelah diminumnya. secara teori dapat dibedakan antara :  Pengunduran diri secara sukarela (Rucktritt) yaitu tidak menyelesaikan perbuatan pelaksanaan yang diperlukan untuk delik yang bersangkutan.  Tindakan penyesalan (Tatiger Reue) yaitu meskipun perbuatan pelaksanaan sudah diselesaikan. tetapi ia tidak mau meneruskannya. Seno Adji). maka menurut M. Misal : Orang member racun pada minuman si korban. Tidak selesainya perbuatan karena kehendak sendiri. barang yang kan dicuri terlalu berat walaupun si pencuri telah berusaha mengangkatnya sekuat tenaga. Dalam hal tidak selesainya perbuatan itu karena kehendak sendiri. Sehubungan dengan masalah pengunduran diri sukarela ini. ia segera memberikan obat penawar racun sehingga si korban tidak jadi meninggal. tidak dipidana. sering dirumuskan bahwa ada pengnduran diri sukarela. . apabila menurut pandangan terdakwa. Dengan adanya penjelasan MvT tersebut. maka ada pendapat bahwa unsur ketiga ini merupakan :  Alasan pengahpus pidana yang diformulir sebagai unsur (Pompe). maka dalam hal ini dikatakan ada pengunduran diri sukarela.

Dengan perkataan lain. Mengenai konsekwensi adanya unsur ke-3 dalam perumusan pasal 53 KUHP ini. dan pidananya dikurangi menurut kebijaksanaan Hakim. Pendapat serupa ini terlihat dalam putusan Hoge Raad tanggal 17 Juni 1889 tentang kasus sumpah palsu. Moelyatno tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan unsur ke-3 ini sebagai alasan pemaaf (fait d’ex-cuse) maupun sebagai alasan pengahpus pidana. Mempunyai konsekuensi materiil Artinya unsur ketiga ini merupakan unsur yang melekat pada percobaan. maka tidak ada percobaan. Moelyatno). maka saksi tersebut mencabut kembali keterangan palsunya itu. untuk ditengah-tengah mengundurkan diri secara sukarela. jadi bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri). Jadi ada pertimbangan utilitas. seprti halnya dirumuskan pada pasal 367 (1) KUHP (pencurian antara suami-istri). Menurut beliau dengan tidak dituntutnya terdakwa. Pertimbangan utilitas lain dikemukakan beliau ialah untuk menghemat tenaga dan biaya. Walaupun Prof. Ini berarti apabila ada pengunduran diri secara sukarela. namun beliau tidak berkeberatan untuk menuntut orang yang secara sukarela telah mengurngkan niatnya itu apabila telah menimbulkan kerugian. Dalam kasus ini ada tanda-tanda bahwa saksi yang dihadapkan ke persidangan diatas sumpah telah meberikan keterangan yang bertentangan dengan kenyataan (kesaksian palsu). tetapi tidak dituntutnya itu karena dipandang lebuh berguna bagi masyarakat. Apakah saksi dapat dipidana karena percobaan sumpah palsu? HR dalam putusannya berpendapat bahwa saksi itu tidak dapat dipidana melakukan . Setelah Jaksa dan Hakim memperingatkan bahwa ia akan dituntut sumpah palsu.201 202  Alasan pengahpusan penuntutan (Vos. Moelyatno memandang unsur ke-3 ini sebagai alasan penghapusan penuntutan. Prof. ada dua pendapat : a. tidak ada fait d’excuxe karena sifat tak baik perbuatan maupun kesalahn tetap ada. Dalam pengunduran sukarela (dan tindakan penyesalan/Tatiger Reue). sebab perbuatannya tetap tidak baik (yang baik adalah tidak mencoba sama sekali) sehingga tidak ada alasan untuk memaafkan ataupun membenarkan. untuk adanya percobaan unsur ke-3 ini (tidak selesainya pelaksanaan perbuatan bukan karena kehendak sendiri) harus ada. diberi stimulans bagi orang-orang lain yang mempunyai niat melakukan kejahatan.

Pembeda antara percobaan mampu dan tidak mampu ini sebenarnya hanya pada mereka yang menganut teori percobaan yang obyektif. ia merupakan unsur yang berdiri sendiri. mencoba membunuh orang yang sudah mati. Tidak selesainya delik atau tidak timbulnya akibat terlarang itu dapat disebabkan karena tidak mempunyai obyek (misal : mencoba menggugurkan bayi yang ternyata tidak hamil. Dengan perkataan lain. Mempunyai konsekwensi formil (dibidang processuil) Artinya unsur ke-3 itu dicantumkan dalam pasal 153 maka unsur tersebut harus disebutkan didalam surat tuduhan dan dibuktikan. karena hanya menitik beratkan pada sifat bahayanya perbuatan. perbuatannya tetap dipandang sebagai perbuatan terlarang dan soal dipidana tidaknya si pembuat maupun si penganjur adalah masalah pertanggunganjawab. unsur ke-3 ini tidak merupakan unsur yang melekat pada percobaan. Dalam kasus diatas si pembuat (saksi) tidak dipidana karena (menurut HR) disitu ada pengunduran diri secara sukarela. sedangkan sipenganjur tetap dapat dipidana karena telah menganjurkan suatu perbuatan yang terlarang. PERCOBAAN MAMPU DAN TIDAK MAMPU Masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini timbul sehubungan dengan telah dilakukannya perbuatan pelaksanaan tetapi delik yang dituju tidak selesai atau akibat yang terlarang menurut undang-undang tidak timbul. Para penganut teori yang subyektif tidak mengenal pembedaan tersebut. Jadi dalam kasus yang dikemukakan diatas. mencuri uang dari sebuah peti uang yang ternyata kosong. karena lebih .203 204 percobaan sumpah palsu karena dalam hal ini ada pengunduran diri secara sukarela. Begitu pula si penganjur tidak dapat dipidana karena adanya pengunduran diri itu perbuatannya (saksi) tidak merupakan perbuatan terlarang. dsb) atau karena tidak mempunyai alat yang digunakan ( misal : mencoba membunuh orang dengan gula yang dikiranya racun). jadi tidak bersifat accessoir. VI. b. Jadi pendapat kedua ini membedakan antara perbuatan yang dapat dipidana (criminal act) dan pertanggung jawaban pidana (criminal responsibility). meskipun ada pengunduran diri secara sukarela. walaupun unsur ini tidak ada (yaitu karena adanya pengunduran diri secara sukarela) maka percobaan tetap dipandang ada. Menurut pendapat ini.

T tidak mungkin ada percobaan pada obyek yang tidak mampu. M.205 206 menitik beratkan pada sifat berbahayanya sikap batin atau watak si pembuat. maka gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh.v.  Tidak mampu relative. Begitu pula orang yang dituju. maka juga tidak ada percobaan”. dalam hal ini tidak mungkin ada delik percobaan. dapat dilihat secara abstrak untuk rata-rata orang dan dapat dilihat dari keadaan konkrit tertentu. yaitu bila dengan alat itu tidak ditimbulkan delik selesai karena justru hal ikhwal yang tertentu dalam mana si pembuat melakukan perbuatan atau justru karena keadaan tertentu dalam mana orang yang dituju itu berada.v. Jadi menurut M. tetapi dapat menjadi alat yang . Dalam hal ini mungkin ada delik percobaan.V. b. Ukuran yang dikemukakan M.T itu ternyata tidak mudah : a. yang ada hanya percobaan yang tidak mampu pada alatnya saja. Mengenai percobaan yang tidak mampu karena alatnya. yaitu bila dengan alat itu tidak pernah mungkin timbul delik selesai.Apabila dilihat sebagai jenis tersendiri.T membedakan antara :  Tidak mampu mutlak. Jika untuk terwujudnya kejahatan tertentu tersebut diperlukan adanya obyek. .T mengemukakan : “Syarat-syarat umum percobaan menurut pasal 53 KUHP ialah syarat-syarat percobaan untuk melakukan kejahatan yang tertentu didalam buku II KUHP.T diatas terlihat bahwa ketidakmampuan relative dapat dilihat dari dua segi : .v. M. Kalau tidak ada obyeknya. maka alat yang pada umumnya mampu untuk membunuh (misal warangan) dapat menjadi alat yang tidak mampu apabila jumlahnya tidak memenuhi dosis yang cukup mematikan (untuk arsenicum 5 mg). sedangkan warangan (arsenicum) adalah mampu.Apabila dilihat dari keadaan konkritnya. maka percobaan melakukan kejahatan itupun harus ada obyeknya.Keadaan tertentu dari alat pada waktu si pembuat melakukan perbuatan . Mengenai percobaan yang tidak mampu karena obyeknya. Dari apa yang dikemukakan M.Gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh orang pada umunya.Keadaan tertentu dari orang yang dituju. Alat itu dapat dilihat sebagai jenis tersendiri dan dapat dilihat dari keadaan konkritnya : .v. .

v. Orang dapat mengatakan bahwa pistol yang demikian adalah alat yang absolut tidak mampu. tetapi untuk orang yang sudah biasa warangan sejumlah itu tidak merupakan alat yang mematikan. Sehubungan dengan tidak jelas dan tidak mudahnya ukuran yang diberikan oleh M. akibat yang merupakan delik yang dituju justru belum terjadi.T itu. tergantung dari cara berpikir seseorang mengenai sesuatu hal. Ukuran atau batas percobaan mampu dan tidak mampu yang dikemukakan oleh para sarjana itu adalah sbb : 1. Berdasarkan hal-hal diatas. apabila perbuatan yang menggunakan alat yang tertentu itu dapat membahayakan benda hukum. Misal : percobaan pembunuhan dengan pistol yang tidak berpeluru. Karena pada hakekatnya masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini dalah masalah hubungan kausal yang ada dalam lapangan obyeltif. Ukuran-ukuran kausalitas yang digunakan adalah teori generalisasi (adekuat) yang melihat secara ante factum (sebelum peristiwa/akibat) karena memang dalam hal percobaan. jadi tidak menggunakan teori individualisasi yang melihat sesudah terjadinya akibat (post factum). . merupakan alat yang mampu untuk membunuh. maka banyak sarjana (misal Simons. maka banyak sarjana yang menyatakan bahwa batas antara absolute dan relative itu tergantung dari kehendak orang yang menggunakan (willekeurig). Tidak perlu bahwa bahaya itu harus nyatanyata ada dalam keadaan khusus dimana perbuatan itu dilakukan. tetapi dapat juga dikatakan bahwa pistol adalah alat yang mampu untuk membunuh.207 208 mampu mematikan untuk orang yang berpenyakit diabetes.Warangan yang memenuhi dosis 5 mg. Sebaliknya . Pompe. maka para sarjana berusaha memberikan batas atau ukuran antara percobaan yang mampu dan tidak mampu. SIMONS Ada percobaan yang mampu. Jika menurut keadaan normal. namun dalam hal tertentu bersifat relative karena tidak ada pelurunya. dengan alat tersebut tidaklah akan ditimbulkan delik maka dalam hal demikian tidak ada percobaan yang mampu. Van Hattum) yang berusaha menentukan garis pembatas tersebut dengan menggunakan ukuran-ukuran dalam hubungan kausal.

b. tetapi dalam keadaan tertentu dapat membahayakan dan dengan sengaja pula alat itu digunakan. VAN HATTUM Dalam menentukan percobaan mampu dan tidakmampu.Ada orang membeli warangan di apotik untuk melakukan pembunuhan. van Hattum memberikan ukuran/pedoman sbb : a. Perbuatan demikian lalu dapat dipidana. Dalam menggunakan hubungankausal yang adekuat itu. Hal-hal yang merintangi selesainya kejahatan yang dituju jangan dimasukkan. tetapi karena kekeliruan apotik. menurut van Hattum yang penting adalah bagaimana merumuskan (memformulir) perbuatan terdakwa yang bersangkutan. Misal : . bukan warangan yang diberikan tetapi gula sehingga tidak menimbulkan kematian. absolute. apabila perbuatan terdakwa ada hubungan kausal yang adekuat dengan akibat yang dilarang oleh undangundang. Dalam hal demikian. karena rasa keadilan tidak membenarkan hal demikian member keuntungan kepada si pembuat. bukanlah percobaan yang mampu sebaliknya pemberian warangan pada orang yang normal adalah mampu jika jumlahnya memang dapat mematikan orang yang normal. tetap dikatakan ada percobaan karena meskipun sifat gula adalah tidak mampu secara . tetapi penting dilihat dari keseluruhan perbuatan yaitu mencampurkan gula (yang diberikan oleh apotik) yang dikiranya warangan. apabila pada hakekatnya perbuatan 2. Hal-hal yang terjadi secara kebetulan jangan dimasukan.209 210 jika alat yang pada umumnya tidak berbahaya. POMPE Ada percobaan mampu. maka persangkaan bahwa alat itu tidak berbahaya akan lenyap dengan diajukan bukti-bukti sebaliknya. Dalam memformulir perbuatan terdakwa secara adekuat kausal itu. . van Hattum seperti halnya Simons dan Pompe jelas-jelas menggunakan hubungan kausal yang adekuat. 3.Mencoba membunuh orang dengan mendoakan terus menerus supaya mati. Dikatakan ada percobaan yang mampu. kedalam makanan orang lain. jika perbuatan atau alat yang digunakan mempunyai kecendrungan (strekking) atau menurut sifatnya mampu untuk menimbulkan delik selesai.

211

212

terdakwa membahayakan benda/kepentingan hukum (rechtsgoed). Misal : Dengan maksud menembak musuhnya, seseorang telah mengisi senapanya dengan peluru dan kemudian meletakkannya di suatu tempat untuk menunggu saat yang baik. Sementara itu dengan tidak diketahuinya ada orang lain mengososngkan senapanya itu, sehingga pada saat ditembakkan tidak menimbulkan akibat amtinya orang lain (musuhnya itu). Dalam hal yang demikian, menurut van Hattum janganlah perbuatan terdakwa diformulir sebagai percobaan yang tidak mampu karena kenyataannya ia membunuh dengan alat yang relative tidak mampu yaitu senapan yang kosong. Tetapi harus diformulirkan sbb : “mengarahkan senapan yang semula sudah diisi dengan peluru dan kemudian menembakkannya”. Perbuatan demikian merupakan yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat matinya orang lain (jadi mempunyai hubungan kausal yang adekuat untuk adanya pembunuhan). Dengan demikian perbuatan terdakwa merupakan percobaan yang mampu. Tidak berbeda dengan menembakkan senapan yang pelurunya macet. Dari pendapat van Hattum diatas jelas terlihat bahwa “kosongnya pistol” merupakan hal yang

kebetulan dan mengisi senapandengan peluru dan menembakkannya” merupakan perbuatan yang membahayakan benda hukum orang lain (berupa nyawa). Van Hattum menyatakan bahwa makin banyak hal-hal konkrit yang dimasukkan dalam merumuskan perbuatan terdakwa, maka ketidakmampuan yang relative akan menjadi ketidakmampuan yang absolut. 4. MOELYATNO Dalam memecahkan masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini, Prof. Moelyatno tidak mendasarkan pada teori adekuat kausal karena kenyataanya dalam percobaan tidak sampai menimbulkan kejahatan yang dituju (tidak timbul akibat terlarang). Ukuran yang dugunakan beliau dikembalikan pada ukuran patut dipidananya suatu delik, yaitu adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. Jadi ukurannya tidak ditetapkan secara kausatif, tetapi secara normatif. Dikatakan ada percobaan yang mampu apabila perbuatan terdakwa mendekatkan pada terjadinya delik selesai sedemikian rupa sehingga merupakan perbuatan yang melawan hukum. Perlu dicatat bahwa karena beliau menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil, maka perbuatan itu harus menggelisahkan masyarakat atau tidak pantas dilakukan.

213

214

Ukuran yang digunakan Prof. Moelyatno itu didasarkan pada Eindrucks theorie (teori kesan) yang berasal dari Von Bar, yang dikemukakan didalam bukunya Prof. Edmund Mezger (1952). Menurut teori ini, sudah cukup dikatakan ada percobaan, yang mampu apabila dalam keadaan tertentu ada perbuatan yang menimbulkan kesan keluar bahwa ada permulaan perbuatan yang dapat dipidana. Apabila suatu perbuatan dipandang dari sudut masyarakat telah menimbulkan kesan mengganggu atau melukai tata-hukum, dan oleh karena itu telah menggincangkan kesadaran umum mengenai kepastian berlakunya tata hukum tadi, maka perbuatan demikian sudah mengandung bahaya. Dengan demikian ternyata, menurut Mezger, bahwa di dalam teori kesan terdapat azas general preventive. Misal : perbuatan orang yang hendak membunuh dengan senjata yang ternyata kosong atau macet pelurunya, atau pencuri yang merogoh kantong orang lain yang ternyata kosong. Perbuatan-perbuatan demikian dilihat dari teori kesan sudah merupakan percobaan yang mampu dan oleh karenanya dapat dipidana, karena ada kesan dari luar yaitu dari sudut

masyarakat bahwa perbuatan-perbuatan itu telah mengganggu/ melukai tata hukum. Menurut Prof. Moelyatno, dengan memakai ukuran melawan hukumnya perbuatan dalam menentukan mampu tidaknya suatu percobaan berdasar teori kesan, tidak berarti bahwa sifat berbahaya tidaknya percobaan itu dilihat dari sudut hubungan kausal tidak perlu diperhatikan. Pertimbangan segi kausalitas ini tetap penting, tetapi bukan untuk menentukan mampu tidaknya suatu percobaan, melainkan untuk menentukan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan. Dalam hubungan ini beliau membandingkan dengan pasal 23 KUHP Swiss yang menentukan. “Jika alat yang dipakai untuk mencoba melakukan kejahatan, atau obyek/terhadap mana dilakukan kejahatan, adalah sedemikian rupa hingga perbuatan memang tidak mungkin dilaksanakan dengan alat atau terhadap obyek yang demikian itu, maka hakim boleh mengurangi pidana menurut kebijaksanaanya sendiri. Jika si pembuat berbuat karena kebodohan (unverstand) hakim boleh tidak menjatuhkan pidana”. 5. MANGEL AM TATBESTAND Telah dilemukakan diatas bahwa secara teoritis percobaan mampu dan tidak mampu dapat dibedakan mengenai obyeknya maupun

215

216

mengenal alatnya dan dapat pula dibedakan antara tidak mampu yang absolute dan relative. Karena tidak jelasnya batas penetu antara tidak mampu absolute danrelatif, tergantung dari kehendak/ cara berpikir seseorang (bersifat Willekeurig), maka ada pendapat seperti M.v.T yang tidak memasukkan kedalam lapangan percobaan tidak mampu apabila objek tidak mampu. Menurut pendapat aliran ini, percobaan tidak mampu karena obyeknya bukanlah delik percobaan karena tidak cukupnya atau tidak terpenuhinya unsur-unsur delik. Misal dalam hal membunuh orang yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil, disitu tidak terpenuhi unsur delik dalam pasal 333 KUHP yaitu harus adanya nyawa orang (hidup) yang dihilangkan dan unsur delik dalam pasal 346 KUHP (menggugurkan/mematikan kandungan) yaitu harus adanya seorang wanita yang benarbenar mengandung. Dalam ilmu hukum pidana Jerman, tidak adanya atau tidak lengkapnya/ tidak terpenuhinya unsur-unsur delik itu, disebut Mangel am Tatbestand (Mangel =kekurangan; Tatbestand = keadaan yang betul/sempurna atau mencocoki rumusan delik). Istilah ini dikemukakan oleh Graf zu Dohna (1910).

Yang setuju dengan pendapat ini ialah Simons dan Pompe. Menurut Pompe, dalam kedua contoh yang dikemukakan diatas tidak mungkin lagi dikatakan ada percobaan karena maksud/tujuan terdakwa sudah tercapai. Sedangkan van Hamel, tidak setuju dengan mereka yang memandang tidak ada percobaan apabila obyeknya tidak mampu. Menurut beliau memang benar bahwa membunuh bayi yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil adalah tidak mungkin, tetapi hal yang demikian sebenarnya tidak berbeda dengan membunuh bayi yang lahir hidup tetapi kemudian diganti dengan boneka atau mencuri uang dari sebuah kantong yang ternyata kosong. Demikian pula Jonkers tidak setuju bahwa dalam contoh-contoh di atas dikatakan tidak ada percobaan, karena sifat khusu dari percobaan ialah : a. Delik tidak selesai karena hal ikhwal yang tidak tergantung dari kehendak terdakwa; b. Oleh karena dalam pikiran terdakwa (dalam kasus-kasus diatas) adalah mungkin sekali akan melaksanakan delik yang dituju.

delik putatief merupakan “rechtsdwaling” sedangkan Mangel am Tatbestand merupakan “feitelijke dwaling”. VII.Orang yang mencuri barang yang ternyata sudah menjadi miliknya. jadi ini bukan Mangel am Tatbestand. Bagaimanakah apabila kejahatan yangbersangkutan diancam pidana mati atau penajara seumur hidup. maksimumnya ialah 10 tahun penjara.Orang yang melarikan perempuan yang ternyata sudah cukup umur. Dalam hal menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil. Selanjutnya ditegaskan oleh Karni bahwa Mangel am Tatbestand ini merupakan “kekhilafan tentang anasir delik” yang harus dibedakan dengan salah sangka tentang adanya undang-undang (putatief delict). Sedangkan untuk mangel am Tatbestand dicontohkan sbb: . yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap kejahatan. Jadi misalnya untuk percobaan pembunuhan (pasal 53 jo pasal 338 KUHP). Dalam kedua contoh ini menurut Karni tujuanya sudah tercapai. Dalam hal percobaan terhadap kejahatan. disini ada percobaan yang tidak mampu karena tujuan si pembuat tidak tercapai (jadi berbeda dengan pendapat Pompe). sedangkan terhadap pelanggaran tidak dipidana. Dalam hal demikian. maka menurut pasal 53 (2) KUHp maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah maksimum pidana untuk kejahatan (pasal) yang bersangkutan dikurangi sepertiga. Sehubungan dengan masalah ini KARNI membedakan antara Mangel am Tatbestand dengan percobaan tidak mampu (istilah beliau “percobaan tak terkenan”). . Ketidak sempurnaan dipenuhinya unsur delik inilah yang menurut Karni merupakan hakekat atau watak hukum dari Mangel am Tatbestand.217 218 Dari alasan yang kedua (b) ini jelas terlihat pandangan yang subyektif tentang percobaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut . hanya saja unsur delik yang bersangkutan (pasal 332 dan pasal 362 KUHP) tidak terpenuhi secara sempurna. maksimum pidana yang dapat dijatuhkan hanya 15 tahun penjara. terdakwa tidak dapat dipidana karena memang tidak ada pasal yang dilanggar dan kepastian hukum terancam (jadi berlainan dengan van Hamel). PEMIDANAAN TERHADAP PERCOBAAN Telah dikemukakan di muka bahwa menurut system KUHP. Perbedaan ini terlihat pula dalam pendapat Utrecht. seperti halnya dalam pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana)? Menurut pasal 53 (3).

Turut campur dalam peristiwa pidana (Tresna).Penyertaan merupakan suatu delik. Sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya perbuatan) : . menurut pasal 53 (4) adalah sama dengan kejahatan selesai. BEBERAPA PANDANGAN TENTANG SIFAT PENYERTAAN Filosofi dasar keberadaan lembaga penyertaan terdapat dua pandangan : 1. Sedangkan untuk pidana tambahannya. 3. B. 4. Delneming (Belanda). hanya bentuknya tidak sempurna.219 220 KUHP. BEBERAPA ISTILAH 1. maksimum pidana pokok untuk percobaan adalah lebih rendah daripada apabila kejahatan itu telah selesai seluruhnya. 2. Participation (Perancis). Teilnahme/Tatermehrhaeit (Jerman).Penganut a. Turut berbuat delik (Karni). Sebagai Strafa sdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya orang) : .Penyertaan dipandang sebagai persoalan pertanggung jawaban pidana . van Hattum. . 2.l : Simons. Hazewinkel Suringa. Turut serta (Utrecht). BAB XI PENYERTAAN A. Complicity (Inggris).

Pembagian penyertaan menurut KUHP Indonesia adalah : a.1. c. Pembuat/dader (pasal 55) yang terdiri dari : . Moelyatno.b.1. d. Accessory D. Pembagian tiga : 2. Menurut Prof.l : Pompe.Penyertaan merupakan suatu delik.3. Co principals (pembuat) 2.2. .Penganut a.4. hanya bentuknya istimewa. Gehile (pembantu) 2.a. b. C. Medeplichtige / pembantu (pasal 48 KUHP Belanda / pasal 56 KUHP Indonesia).2.1. . KUHP Belanda dan Indonesia : b. Accessories (peserta pembantu). Moelyatno pandangan yang pertama sesuai dengan alam/pandangan individual karena yang diprimairkan adalah “strafbaarheid van de person” (hal dapat dipidananya orang).3. Accessories (pembantu) 3. Code Penal Perancis dan Belgia : c.a.c. Instigator (penganjur) 2. Di Jepang : 2.2. Pembagian empat : Di Uni Sovyet : 3. Autores. Anstifter (penganjur) 2.221 222 . pandangan yang kedua sesuai dengan alam Indonesia karena yang diutamakan adalah perbuatan yang tidak boleh dilakukan.Penyertaan dipandang bentuk khusus dari tindak pidana. 2.1. Executive of crime 3. Instigator 3. Dader / Pembuat (pasal 47 Belanda / pasal 55 KUHP Indonesia). Di Inggris : d. Urherber (pembuat) a. Terbagi dua : a. c.2. jadi lebih ditekankan pada strafbaarheid van het feit” (hal dapat dipidananya perbuatan).b.3.b. Gehilfe (pembantu) b.a. Von Feuerbach membagi penyertaan dalam dua bentuk : a. d.2. Tater (pembuat) 2. PEMBAGIAN PENYERTAAN 1.1. Di Jerman : 2.a.2. Organizer 3. PENYERTAAN MENURUT KUHP INDONESIA 1.1.2. Complices. Menurut Moelyatno. Principals (peserta baku). pandangan pertama tidak dikenal dalam hukum adat.1. Roeslsn Saleh.

yang menyuruh lakukan (doenpleger) a.Penganut : HR.2.1. Mengenai hal ini ada beberapa pedoman : 1). Pleger (pelaku) a. terutama dalam hal pembuat undangundang tidak menentukan secara pasti siapa yang menjadi pembuat. . Pelaku (pleger) a. Hazewinkel-Suringa.4. Pandangan yang luas (extensief) : . .3.T. Dalam praktek sukar menentukannya.223 224 a. Mengenai pengertian pembuat (dader). Jonkers.1 pada pasal 55 di atas).2. Pompe. Peradilan Indonesia Pembuat (dalam arti sempit yaitu pelaku) ialah orang yang menurut maksud pembuat undang-undang harus dipandang yang bertanggung jawab. Moelyatno. yang turut serta (medepleger) a. pembantu pada saat kejahatan dilakukan b. Pelaku (pleger) ialah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi rumusan delik. jadi hanya disamakan saja dengan dader. ada dua pandangan : a. penganjur (uitlokker) b. Pandangan yang sempit (restrictief) : . . Pembantu / mendeplichtige (pasal 56) yang terdiri dari : b.Menurut pandangan ini. jadi hanya pembuat materiil saja (yaitu pada no. mereka yang tersebut dalam pasal 55 hanya dipandang sebagai pembuat.Dengan demikian mereka yang disebut dalam pasal 55 diatas adalah pembuat. Simons. 2. .1.Penganut : M. van Hattum. b. b. pembantu pada saat kejahatan belum dilakukan. van Hamel.Pembuat hanyalah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang sesuai dengan rumusan delik.v.

manus domina). Dengan demikian : . jadi plegers juga termasuk (Hazewinkel-Suringa). Karena pasal 55 menyebut “ siapa-siapa yang dinamakan pembuat”. sedang perantara ini hanya diumpamakan sebagai alat. Doenpleger ialah orang yang melakukan perbuatan dengan perantaraan orang lain. c.225 226 2). manus ministra) . Mengenai hal ini ada dua pendapat : 1).Alat yang dipakai itu “berbuat” (bukan alat yang mati) . 3). didalamnya 3.Pembuat langsung (onmiddelijke dader. jadi plegers termasuk didalamnya “Pompe”. Dapat dipahami Alasan : Karena pasal 55 menyebut “mereka yang dipidana” sebagai pembuat”.Alat yang dipakai itu “tidak dapat dipertanggungjawabkan” unsur ketiga inilah yang merupakan tanda ciri dari doenpleger . 2).Alat yang dipakai adalah manusia. Kedudukan “pleger” dalam pasal 55 sering dipermasalahkan. Peradilan Belanda Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kekuasaan/kemampuan untuk mengakhiri keadaan terlarang. auctor physicus. Janggal dan tidak pada tempatnya Alasan : Karena pasal 55 berada dibawah bab V yang berjudul “Penyertaan tersangkut beberapa pidana”. tetapi tetap memberikan keadaan terlarang itu berlangsung terus. . auctor intellectuals. Pompe Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kewajiban untuk mengakhiri keadaan terlarang itu. doenpleger. Pada Doenpleger terdapat unsur-unsur sbb : .Pembuat tidaklangsung (middelijke dader. pada penyertaan apabila “mereka yang melakukan” (para pelaku) itu diartikan pembuat tunggal. Doenpleger (yang menyuruh lakukan) a). b). Hal yang menyebabkan alat (pembuat materiil) tidak dapat dipertanggungjawabkan ialah : .

B mengambilnya untuk diserahkan kepada A dan ia sama sekali tidak mempunyai maksud untuk memiliki bagi dirinya sendiri. Namun demikian. tetap dikatakan tidak ada doenpleger. (dalam undangundang) misal A menyuruh B (seorang kuli) untuk mengambil barang dari suatu tempat. sedangkan B tidak mengetahui pemalsuan tersebut. Jadi walaupun B (yang disuruh) adalah “ pegawai negeri. Alasan.2. .1. maka ia tidak dapat melakukan “delik jabatan”. Misalnya : A bukan pegawai negeri.  Bila ia berbuat karena daya paksa (pasal 48)  Bila ia melakukannya atas perintah jabatan yang tidak sah seperti dimaksudkan dalam pasal 51 ayat (2). apabila yang disuruh itu anak yang masih sangat muda sekali. maka A tidak bisa menjadi doenpleger.  Bila ia keliru (sesat) mengenai salah satu unsur delik. jadi A tidak bisa menjadi pembuat langsung (onmiddelijke dader) oleh karena itu ia juga tidak bisa menjadi pembuat tidak langsung. maka tidak ada menuruh lakukan. d.227 228  Bila ia tidak sempuna pertumbuhan jiwanya atau rusak jiwanya (pasal 44). Pendapat pertama : “harus”. misalnya A menyuruh B untuk menguangkan pos wesel yang tanda tangannya dipalsu oleh A. c). Apakah orang yang menyuruh lakukan (doenpleger) harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? ada dua pendapat : d. yang belum begitu sadar akan perbuatannya. maka dalam hal ini dimungkinkan ada menyuruh lakukan. Dalam hal pembuat materiil (alat) seseorang yang belum cukup umur. karena tidakmungkin seorang A menyuruh oarng lain B melakukan sesuatu yang A sendiri tidak dapat melakukannya. karena pada dasarnya KUHP menganggap orang yang belum cukup unur itu tetap mampu bertanggungjawab (lihat pasal 45 jo 47).  Bila ia tidak mempunyai maksud seperti yang diisyaratkan untuk kejahatan ybs. Pendapat kedua : “tidak harus”. d).

T : Orang yang turut serta melakukan (medepleger) ialah orang yang dengan sengaja turut Hazewinkel-Suringa : “Seorang peserta itu bukannya dipidana karena ia melakukan perbuatan (pidana). 4. ialah apabila pelaksanaanya bukan. A tetap dikatakan sebagai doenpleger dalam delik omissi yang dilakukan oleh B. Menurut M. maka A dapat dituntu karena menyuruh-lakukan tindak pidana yang tersebut dalam pasal 359 KUHP. B mengira bahwa A telah mengadakan pengamanan seperlunya. akan tetapi juga sebaliknya. sehingga untuk menjadi middelijke dader (doenpleger) tidak perlu . tetapi bahwa mereka dipidana sebagai dader. dalam halo rang yang menyuruh-lakukan dapat menduga sebelumnya bahwa ka nada sesuatu akibat yang tidak diharapkan. Medepleger (orang yang turut serta) a. e). Jika karena lemparan itu ada yang tertimpa dan mati.229 230 “Menyuruh-lakukan sesuatu delik jabatan tidak hanya terdapat apabila pembuat materiilnya adalah seorang pejabat.v. Misal : A menyuruh seseorang pekerja B untuk melemparkan benda yang berat dari atap rumah ke bawah. tanpa menghiraukan apakah benda itu akan menimpa orang yang kebetulan ada / lewat di bawah atap rumah itu. Undang-undang tidak memberikan definisi 2). ada kualitas pribadi seperti pembuat materiil”. 21 April 1913 (kasus Walikota Zaan-dam) menyatakan : “Pasal 55 tidak menyatakan bahwa mereka yang menyuruh lakukan adalah dader. sehingga lalai menjalankan tugasnya dan timbul kecelakaan. Arrest HR tgl. Walaupun A tidak berkualitas seperti B (yaitu tidak mempunyai kewajiban seperti B). Mungkinkah ada menyuruh lakukan terhadap delik-colpoos? Mungkin. sedang yang menyuruh-lakukan itu adlah pejabat”. akan tetapi ia justru dipidana walaupun ia tidak melakukan perbuatan”. Pengertian : 1). Misal : A membius B seorang penjaga keamanan kereta api.

sedang kawannya menghendaki matinya si korban. “turut mengerjakan terjadinya sesuatu tindak pidana itu ada dua kemungkinan : Mereka masing-masing memenuhi semua unsur dalam rumusan delik. salah seorang memenuhi semua unsur delik. Syarat adanya medepleger :  Ada kerjasama secara sadar (bewuste samenwerking). bila orang yang satu hanya menghendaki untuk menganiaya. Menurut Pompe. cukup apabila ada pengertian antara peserta pada saat perbuatan dilakukan dengan tujuan menacpai hasil yang sama. . A yang menabrak orang yang menjadi sasaran.Tidak seorangpun memenuhi unsur-unsur delik seluruhnya tetapi mereka bersama-sama mewujudkan delik itu misalnya : dalam pencurian dengan merusak (pasal 363 ayat (1) ke5) salah seorang melakukan penggangsiran. sedang yang lainnya tidak.231 232 berbuat atau turut mengerjakan terjadinya sesuatu. sedang B yang mengambil dompet orang itu. Yang penting aialah harus ada kesenjangan secara sadar. yang menggangsir b. Persoalan kapan dikatakan ada perbuatan pelaksanaan merupakan persoalan yang sulit (ingat/lihat Bab VI tentang . 3). Adanya kesadaran bersama tidak berarti ada permufakatan lebih dulu.  Ada pelaksanaan bersama secara fisik (gezamenlijke ultvoering/physieke samenwerking). Misal : dua orang pencopet (A dan B) saling bekerja sama. sedang kawannya masuk rumah dan mengambil barang-barang yang kemudian diterimakan kepada kawannya tadi. Misal : dua orang dengan bekerja sama melakukan pencurian disebuah gudang beras. Tidak ada turut serta. Penentuan kehendak atau kesenjangan masing-masing peserta itu dilakukan secara normatif.

namun secara singkat dapat dikatakan bahwa perbuatan pelaksanaan berarti perbuatan yang langsung menimbulkan selesainya delik ybs. c. Pendapat kedua : “tidak harus”. Medepleger adalah suatu bentuk daderschap (keadaan / sifat pelaku pembuat). Suami A menggadaikan gelang tersebut untuk kepentingannya sendiri. sedang suaminya “turut serta melakukan penggelapan” meskipun suaminya tidak memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal 372. Dalam kasus A dinyatakan salah melakukan penggelapan. sedang status suaminya terhadap barang itu ialah . dengan persetujuan A.233 234 “percobaan”). Sifat-sifat atau keadaan pribadi yang menentukan dapat dipidananya perbuatan. orang turut serta melakukan adalah pembuat (dader) apabila ada beberapa orang bersama-sama melakukan delik. Barang siapa tidak dapat menjadi pembuatan tunggal (alleendader) juga tidak dapat dinamakan pembuat peserta (mededader). Yurisprudensi putusan pengadilan Negeri Tulunganggung tanggal 5 Januari 1932 yang kasusnya sbb : A memegang gelang milik orang lain untuk dijualkan. Status A terhadap barang ialah “memiliki dengan melawan hukum barang yang ada padanya bukan karena kejahatan “. Batas antara perbuatan pelaksanaan dan perbuatan pembantuan sangatlah sulit dan hal ini akan dibicarakan dalam masalah pembantuan. hanya berlaku pada pembuat peserta yang mempunyai sifat-sifat tersebut. Pendapat pertama : “harus”. Apakah medepleger harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? Mengenai hal ini ada dua penadapat : 1). Pembuat peserta sebagai pembuat harus mempunyai sifat yang oleh rumusan undang-undang diisyaratkan untuk daderschap. maka mereka timbal balik terhadap satu sama lain disebut pembuat peserta (mededader). 2). Yang penting disini harus ada kerjasama yang erat dan langsung.

Yaitu ia dapat dari A dan tahu bahwa barang itu bukan milik A. Oleh karena itu mereka dapat dituntut bersama-sama melakukan perbuatan yang tersebut dalam pasal 55 jo pasal 359 KUHP. ialah kepada perbuatan yang dilakukan bersama. pada penganjuran (uitlokking) ini ada usaha untuk menggerakkan orang lain sebagai pembuat materiil / auctor physicus. Dalam delik culpa orang tidak menghendaki terjadinya akibat. akan tetapi mereka bersamasama secara sadar melakukan pelemparan barang dan merekapun kurang berhati-hati serta patut menduga akibat yang timbul. Mungkinkah ada turut serta terhadap delik culpoos ? pada turut serta. 5. Pengertian : Pengajur ialah orang yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana denganmenggunakan sarana-sarana yang ditentukan oleh undang-undang untuk melakukan kejahatan. Kerjasama dengan orang lain (ditujukan pada perbuatan). Misal : A dan B bersama-sama melemparkan barang berat dari gedung bertingkat dan menimpa orang yang ada di bawah sampai mati. Adapun perbedaannya sbb : Penganjuran Menyuruh-lakukan Menggerakkannya Sarana dengan sarana. Jadi hamper sama dengan menyuruhlakukan (doen-pleger). Keduanya tidak menghendaki sampi matinya orang tersebut. 2.menggerakkannya . Akan tetapi jika kesengajaan itu hanya ditujukan kepada adanya kerjasama. Tercapainya hasil yangmerupakan delik (ditujukan pada akibat). Uitlokker (penganjur) a. Kalau kesenjangan orang turut serta juga harus ditujukan untuk timbulnya delik culpa tersebut. d. maka jelas tidak mungkin ada turut serta melakukan secara culpa.235 236 menggadaikan barang milik orang lain yang ada dalam kekuasaannya karena kejahatan”. kesengajaannya ditujukan kepada : 1. maka mungkin ada turut serta melakukan secara culpa.

Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : .  Putusan kehendak dari si pembuat materiil ditimbulkan karena hal-hal tersebut pada a dan b (jadi ada psychise causaliteit).237 238 sarana tertentu (limitatif) Pembuat materiil dapat dipertanggungjawa bkan (tidakmerupakan manus ministra) tidak ditentukan (tidak limitatif) Pembuat materiil tidak dapat dipertanggungjawa bkan (merupakan manus ministra) b. jelas bahwa syarat 1 dan 2 merupakan syarat yang harus ada pada si penganjur. Si pembuat materiil tersebut melakukan tindak pidana yang dianjurkan atau percobaan melakukan tindak pidana.  c. maka syarat pengajuran yang dapat dipidana ialah :  Ada kesenjangan untuk menggerakkan orang lain melakukan perbuatan yang terlarang. 4 dan 5 merupakan syarat yang melekat pada orang yang dianjurkan (pembuat materiil). Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : 1. sedangkan syarat 3. Tidak mungkin.  Pembuat materiil tersebut harus dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana. Mungkinkah ada percobaan pengajuran atau pengajuran yang gagal ? e. Pertanggungjawaban si penganjur. Syarat penganjuran yang dapat dipidana : Berdasarkan pengertian diatas. d. Dari lima syarat yang disebutkan diatas. c.  Menggerakkannya dengan menggunakan upaya-upaya (sarana-sarana) seperti tersebut dalam undang-undang (bersifat limitatif).

pada pembujuk ada kesengajaan yang ditujukanuntuk menggerakkan orang lain untuk menyupir. Kalau orang lain itu tidak dapat menyupir hal mana diketahui oleh pembujuk. d. Jadi. dan pula dalam arti bahwa yang di bujuk dan pembujuk mempunyai kealpaan yang diisyaratkan oleh undang-undang. (catatan : Dengan kata lain. (b). Mungkin. Tidak mungkin. akan tetapi orang lain itu tidak mau melakukan atau mau melakukan akan tetapi tidak sampai dapat melaksanakan perbuatan yang dapat dipidana. baru terpenuhi syarat 1 dan 2 atau syarat 1 s/d 3) seperti dikemukakan pada no. maka jika pengendara tersebut melanggar seseorang yang mengakibatkan mati. orang lain tersebut akan mengendarainya. b diatas. Misal : Seorang pemilik mobil sengaja meminjamkan mobilnya untuk dipakai orang lain dengan mengetahui bahwa dengan pemberian pinjaman itu. Mungkinkah ada percobaan penganjuran atau penganjuran yang gagal ? Penganjuran yang gagal ini dapat terjadi dalam hal seseorang telah dengan sengaja menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu tindak pidana dengan menggunakan salah satu sarana dalam pasal 55 (1) ke-2. sedang pemilik mobil dapat dikatakan melakukan pembujukan untuk terjadinya pelanggaran pasal 359 itu.239 240 (a). . Simons menganggap bukannya mustahil dalam bentuk demikian seseorang dapat membujuk terjadinya sesuatu perbuatan dengan pengetahuan bahwa orang yang akan melakukan perbuatan itu dapat mengira-ngira kemungkinan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki atau dapat mengirakan kemungkinan terjadinya akibat tersebut. ia dapat dikatakan melakukan tindak pidana dalam pasal 359. dalam arti orang itu sebagai pembujuk mempunyai kesengajaan untuk menggerakkan agar orang lain melakukan perbuatan yang ternyata suatu delik culpa dan inklusif didalam perbuatan sengaja itu termasuk kealpaan. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh van Hamel dengan mengemukakan alasan bahwa sifat khas dari uitlokking ialah membujuk terjadinya perbuatan dengan sengaja. Menurut Pompe orang nyata-nyata dapat sengaja menyuruh orang lain untuk melakukan delik culpa.

241 242 Timbul masalah apakah terhadap percobaan untuk membujuk atau penganjuran yang gagal dapat dipidana ? mengenai hal ini sebelum adanya pasal 163 bis. tidak bergantung pada yang lain). Penganutnya : Blok. ada / tidaknya penganjuran tidak tergantung pada ada tidaknya atau terjadi / tidaknya tindak pidana. tetapi juga dapat dijatuhi pidana. van Heml. D. bahwa menurut pendapat pertama (accessoir).l si penganjur dipidana apabila orang yang dibujuk melakukan perbuatan yang dapat dipidana. untuk dapat memidana seseorang peserta sebagai Mittater (si turut-serta melakukan / medepleger. Menurut pandangan ini. anstifter / pengajur uitlokker. 2). Jadi sudut pandangnya tidak membedakan antara sifat dapat dipidananya perbuatan (tindak pidana) dan sifat dapat dipidananya orang (pertanggungjawaban pidana). pengajuran itu ada apabila ada tindak pidana yang dilakukan oleh pembuat materiil. van Hattum. Karena dalam “percobaan untuk penganjuran” ini.p. Menururt KUHP Jerman itu. yang diartikan bukan saja melakukan perbuatan yang dilarang / diancam pidana. Penganutnya : Hazewinkel-Suring. vos. Pendapat kedua : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang tidak accessoir (berdiri sendiri = zelfstanding. tindak pidana itu tidak terjadi maka si pengajur juga tidak dapat dipidana.l sipenganjur tetap dapat dipidana walaupun tindak pidana yang dianjurkan kepada si pelaku tidak terjadi. Sehubungan dengan pandangan yang pertama diatas. Catatan :  Dari uraian diatas jelas. maka si pembuat materiil harus melakukan strafbare handlung. “percobaan untuk penganjuran” tetap dapat dipidana. Dengan demikian apabila si pembuat  . atau gehilfe / pembantu / medeplichtige). D. Jadi lebih mendekati pandangan monistis.p. dalam KUHP Jerman (sebelum perubahan tahun 1943). strafbaarheid (sifat dapat dipidananya si penganjur digantungkan dari apa yang dilakukan oleh orang lain). Simons. Jomkers. Pompe. Pendapat pertama : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri = onzelfstandig). ada dua pandangan : 1). Menurut pendapat ini. dikenal apa yang dinamakan extreme accessoiriteit yaitu bahwa untuk adanya bentuk-bentuk penyertaan harus ada yang bertanggung jawab sebagai Tater (pelaku). Jadi menurut pandangan kedua ini.

asal saja pelaku atau peserta lainnya itu telah melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang. tetapi dengan ketentuan.500. setelah pada tahun 1925 (S. jika tidak mengakibatkannya kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana itu disebabakan karenakehendaknya sendiri. 2).-). tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari yang ditentukan terhadap kejahatan itu sendiri. 1925 No. atau jika percobaan itu tidak dipidana. mencoba menggerakkan orang lain supaya melakukan kejahatan. artinya perumusannya dititikberatkan pada perbuatan si pembuat. bahwa sekali-kali tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari pada yang ditentukan terhadap percobaan kejahatan. Delik ini merupakan delik formil. Dari sudut pertanggungjawaban. pada umumnya tiap-tiap peserta tidak berdiri sendiri-sendiri. tetapi dipandang berdiri sendiri. Barang siapa dengan menggunakan salah satu sarana tersebut dalam pasal 55 ke-2.243 244 materiil tidak dapat dijatuhi pidana (karena tidak ada kesalahan). 273) ditambahkan pasal 163 bis kedalam KUHP pasal ini berbunyi : 1). Dengan demikian pasal ini menjadikan perbuatan “ pembujukan yang gagal” sebagai delik yang berdiri sendiri (delictum suigeneris).l Prof. tidak mungkin ada penyertaan. sifat melawan hukumnya perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatannya di hubungkan dengan pelaku atau peserta lainnya. 4. Ruslan saleh) yang melihatnya dari dua sudut pandang : 1). jadi jika seseorang dengan .  Pertanggungjawaban peserta tidak lagi digantungkan pada pertanggungjawaban si pelaku atau peserta lainnya. Dari sudut perbuatan. Persoalan percobaan pengajuran atau penganjuran yang gagal ini sekarang sudah tidak menjadi persolan lagi. Aturan tersebut tidak berlaku. 2). tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri menurut sikap batinya masing-masing berhubung dengan apa yang diperbuatnya. Pandangan accessoiriteit yang terbatas ini sesuai dengan pandangan dualistis (a. 197 / jo Pasal diatas mengancam pidana terhadap pembujukan yang gagal dan juga yang tidak menimbulkan akibat. diancam pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah (sekarang menjadi Rp. jika tidak mengakibatkan kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana.

Pertanggungjawaban si penganjur. maka pasal 163 bis tidak dapat dikenakan pada A. B baru melaksankannya . kalau penganiayaan ringan pasal 352 maksimumnya 3 bulan. Misal : A menganjurkan B untuk menganiaya C dan akibat penganiayaan itu C mati. Moelyatno. e. dalam hal ini matinya C tidak dapat dipertanggungjawabkan pada A (Jadi tidak dapat dituduh berdasar pasal 55 jo 338). yaitu pembujukan yang gagal untuk penganiayaan. yaitu kalau penganiayaan biasa pasal 351 (1). Alasan penghapus pidananya tercantum dalam ayat (2). Namun demikian. Maksimum pidana yang dapat dikenakan adalah maksimum pidana untuk penganiayaan yang terbukti sengaja dianjurkan oleh A. Menurut Prof. maksimumnya 2 tahun 7 bulan. maka ia sudah dapat dipidana. Jadi dapat juga dikenakan kepada “menyuruh lakukan / doenplegen yang gagal”. Ketentuan pasal 163 bis juga dapat dipertanggungjawabkan pada A dalam hal B (yang dianjuri) tidak mau melaksanakan anjuran dari A walaupun mungkin ia sudah menerima sesuatu pemberian / hadiah dari A. Dalam hal ini pertanggungjawaban A bukan terhadap perbuatan “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan” (pasal 55 jo 351) tetapi “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan yang berakibat mati” (pasal 55 jo 351 ayat (3)). jadi gagalnya pengajuran A karena kehendak orang yang ditujuk (B). Jadi maksimumnya bukan 6 tahun (perhatikan redaksi pasal 163 bis). pasal 163 biss (2) merupakan alasan penghapus penuntutan. asal saja sarana yang dipakai oleh si pembuat termasuk salah satu sarana untuk pembujukan yang tersebut dalam pasal 55 ayat (1) ke2.245 246 salah satu sarana yang tersebut dalam pasal 55 ke-2 itu berusaha menggerakkan orang lain untuk melakukan kejahatan. Apabila tidak terjadi atau gagalnya pengajuran A itu karena kehendak A sendiri. kalau penganiayaan yang direncanakan pasal 351 (1) maksimumnya 4 tahun penjara dst. Bagaimanakah apabila dalam melaksanakan anjuran A untuk menganiaya C itu. Dalam pasal 55 ayat (2) dinyatakan bahwa penganjur dipertanggungjawabkan terhadap perbuatan yang sengaja dianjurkannya beserta akibatnya. Perlu diperhatikan bahwa dalam pasal 163 bis itu digunakan kata-kata “mencoba / berusaha menggerakkan orang lain untuk…”. A masih dapat dipertanggungjawabkan berdasrkan pasal 163 bis. Bagaimanakah apabila B yang dianjuri langsung membunuh C. karena pembunuhan itu bukan dimaksud (disengaja) oleh A.

b. apakah A dapat dipertanggungjawabkan ? Ada pendapat bahwa dalam hal ini A tidak dapat dipertanggungjawabkan karena matinya D bukan yang dikenhendaki (disengaja dianjurkan) oleh A. Tetapi dilihat dari pertanggungjawaban tidak accessoir.247 248 sampai taraf percobaan penganiayaan tidak dipidana dan ini berarti “tidak terjadi percobaan kejahatan yanmg dipidana” seperti disebutkan dalam pasal 163 bis. . Sifat : Dilihat dari perbuatannya. Pembantuan ini bersifat accessoir artinya untuk adanya pembantuan harus ada orang yang melakukan kejahatan (harus ada orang yang dibantu). apakah hanya bertanggung jawab terhadap “kesengajaan dengan maksud (yang langsung dituju)” atau meliputi juga seluruh corak kesengajaan. maka dlam kasus diatas A juga dapat dipertanggungjawabkan terhadap matinya D apabila terbukti bahwa pada saat B (pembuat materiil) menembak C dapat dibayangkan kemungkinan tertembaknya orang lain (b) yang berada di dekat C. PEMBANTUAN (medeplichtige) a. jadi karena tidak ada identitas (kesamaan) antara perbuatan yang dibujukkan dengan perbuatan yang benar–benar dilakukan. Kalau A membujuk B untuk membunuh C dengan menggunakan pistol. Jadi masalah pokoknya berkisar pada sampai seberapa jauh “kesengajaan” menurut pasal 55 (2) itu dapat dipertanggungjawabkan kepada di pembujuk. 6. tetapi karena “penyimpangan sasaran” (aberretio ictus / afdwalirgsgevallen) tembakan B mengenai D. Pendapat ini menghendaki adanya hubungan langsung antara kesengajaan si pembujuk dengan terjadinya delik yang dilakukan oleh orang yang dibujuk. Apabila pengertian “sengaja yang dianjurkan” dalam pasal 55 (2) meliputi juga dolus eventualis yang dilakukan oleh pembuat materiil. Jenis : Menurut pasal 56 KUHP. ada dua jenis pembantu : Jenis pertama :  Waktunya : Pada saat kejadian dilakukan. maka perbuatan A tetap dapat disebut “membujuk untuk percobaan pembunuhan terhadap C” (pasal 55 jo 53 jo 338). Penetuan hal ini dilakukan secara normative oleh Hakim. Artinya dipidananya pembantu tidak tergantung pada dapat tidaknya si pelaku dituntut pidana. Bagaimanakah terhadap matinya D.

Menurut system ini tiap-tiap peserta sama nilainya (sama jahatnya) dengan orang yang melakukan.  Caranya : Ditentukan secara limitatif dalam undang-undang (yaitu dengan cara : memberi kesempatan. Adanya ajaran / teori penyertaan yang obyektif dan subyektif. Maksimum pidananya sam dengan si pembuat. Sistem yang berasal dari hukm Romawi. Pembantuan jenis pertama ini mirip dengan turut serta (medeplegen) perbedaannya sbb : Pembantuan Menurut ajaran penyertaan obyektif : perbuatannya hanya membantu / menunjang (ondersteuning shanling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus socii (hanya untuk memberi bantuan saja pada orang lain). yaitu : A. . Pembantuan jenis kedua ini mirip dengan penganjuran (uitlokking). Perbedaannya adalah sebagai berikut : Penganjuran Kehendak untuk melakukan kejahatan pada pembuat materiil ditimbulkan oleh si pengajur (ada kausalitas psikhis) Pembantuan Kehendak jahat pada pembuat materiil sudah ada sejak semula (tidak ditimbulkan oleh si pembantu). Maksimum pidananya dikurangi sepertiga (pasal 57-1). sendiri.  Tidak harus ada kerja sama yang disadari (beweste samenwerking)  Tidak mempunyai Turut Serta Menurut ajaran obyektif : perbuatan merupakan perbuatan pelaksanaan (uitvoering shandelling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus coauctores (diarahkan untuk terwujudnya delik). sarana atau keterangan).  Harus ada kerja sama yang disadari (bewuste samenworking)  Mempunyai kepentingan / tujuan kepentingan / tujuan sendiri. Terhadap kejahatan maupun pelanggaran dapat dipidana. ditimbulkan oleh adanya konsepsi yang saling bertentangan menganai batas-batas pertanggungjawaban para peserta. Terhadap pelanggaran tidak dipidana (pasal 60 KUHP).249 250  Caranya : Tidak ditentukan secara limitatif dalam undang-undang Jenis kedua :  Waktunya : sebelum kejahatan dilakukan.

Sistem yang pertama ini terdapat dalam Code Penal Prancis dan dianut juga di Inggris. artinya harus ditentukan secara tegas. maka batas antara bentukbentuk penyertaan tidaklah prinsip. KUHP kita dapat digolongkan kedalam kelompok teori campuran karena : Dalam pasal 55 disebutkan “dipidana sebagai pembuat” dan dalam pasal 56 disebutkan “ dipidana sebagai pembantu”. anstifter (penganjur) dan Gehilfe (pembantu). Berdasar teori subyektif. Menurut Prof Moelyatno. maka ini berarti dianut yang kedua. Sistem yang berasal dari para jurist Italia dalam abad pertengahan. maka batas antara masing-masing bentuk penyertaan itu adalah prinsip sekali. B. Seperti telah dikemukakan. Menurut system ini tiap-tiap peserta tidak dipandang sama nilainya (tidak sama jahatnya). Karena tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sama. Dengan adanya dua bentuk penyertaan ini (yang dapat disamakan dengan pembagian autors dan complices di Prancis atau principals dan accessoir di Inggris. di Jerman dibedakan antara Tater (pembuat). maka batas antara bentuk-bentuk penyertaan sama. tergantung dari perbuatan yang dilakukan. ada kalanya sama berat dan ada kalanya lebih ringan dari pelaku. Adapun yang dijadikan batas antara masing-masing bentuk penyertaan dititik beratkan pada sikap batin masing-masing peserta. Pendirian inilah yang dikenal dengan teori atau ajaran penyertaan yang subyektif. Akan tetapi apabila dilhat perbedaan pertanggungjawabannya yaitu pembantu dipidana lebih ringan (dikurangi sepertiga) dari si pembuat. Pendirian inilah yang kemudian dikenal dengan teori atau jaran penyertaan obyektif. yang dijadikan titik berat untuk menentukan batas antara pelaku dengan para peserta diletakkan pada perbuatannya dan saat bekerjanya masing-masing (jadi bersifat obyektif). kedua ini dianut dalam KUHP Jerman dan Swiss. berarti menganut system yang pertama.251 252 tindak pidana itu sendiri. - . maka jarang termasuk tater harus mempunyai tater-willen (niat untuk menganjurkan) dan yang termasuk Gehilfe harus mempunyai Gehilfewiller (niat untuk membantu orang lain). Sistem. sehingga mereka masingt-masing juga dipertanggungjawabkan sama dengan pelaku. Oleh karena itu pertanggungjawabannya juga berbeda. Karena pertanggungjawaban para peserta itu berbeda.

tetapi cukup bahwa : . maka konsekuensinya ialah : A). Pidana tambahan untuk pembantu sama dengan ancaman terhadap kejahatannya itu sendiri. Dalam pertanggungjawaban seorang pembantu. apabila cara-cara yang digunakan untuk menganjurkan tersebut dalam pasal 55 (1) ke-2 dan si pembuat materiil dapat dipertanggungjawabkan. c. Perbedaan antara pembuat (dader) dan pembantu (megeplichtige)) adalah prinsipil.Apabila kejahatan diancam pidana mati atau penjara seumur hidup. Perbedaan dalam pasal 55 antara pelaku orang yang menyuruh lakukan. dalah tidak prinsipil.Untuk menjadi pengajur sudah cukup. Prinsip ini terlihat didalam pasal 57 (1) dan (2) yaitu : . tetapi cukup secara obyektif menurut bunyinya peraturan saja. (lihat juga pasal 349). KUHP mengamut system bahwa . Pengecualian terhadap prinsip ini terlihat dalam : a). yang turut serta dan yang menganjurkan. maka maksimum pidana untuk pembantu ialah 15 tahun penjara (ayat 2). jadi sama dengan si pembuat (pasal 57 : 3). apabila orang yang disuruh tidak dapat dipidana sebagai pembuat karena dipandang tidak mempunyai kesalahan. 3). Perbedaan antara keduanya jangan dicari dalam sikap batin masing-masing. 2). Pasal 333 (4) : Pembantu dipidana sama berat dengan pembuat. sehingga batas antara keduanya ditentukan menurut sikap batinnya. dan . 1). B).253 254 Selanjutnya dikemukakan oleh beliau. Pertanggungjawaban pembantu. Pasal 231 (3) : Pembantu dipidana lebih berat dari si pembuat. (lihat juga pasal 415 dan 417). Pada prinsipnya KUHP menganut system bahwa pidana poko untuk pembantu lebih ringan dari pembuat. bahwa apabila pada dasarnya KUHP kita menganut system Code Penal (system pertama) dengan pengecualian untuk pembantuan dianut system KUHP Jerman (system kedua). Dalam hubungan ini yang penting adalah perbedaan antara orang yang menyuruh lakukan dan penganjur. . Ini berarti batas antara mereka yang tergolong dalam “daders” itu tidak perlu ditentukan secara subyetif menurut niatnya masing-masing peserta. b).Maksimum pidana poko untuk pembantuan dikurangi sepertiga (ayat 1).Untuk menjadi orang yang menyuruh lakuka.

delik baru terjadi kalau ada orang lain (kawan berbuat) yang mau harus ada. Misal : 1. Terhadap kasus serupa itu Karni juga berpendapat A tidak dapat dipidana karena adanya unsur “sengaja” didalam pasal 56 merupakan anasir subyektif dari pembantuan.Doenplegen / menyuruh lakukan (dianalogikan dengan “membujuk”) . 2. bahwa system pemidanaan untuk pembantuan hendaknya dipakai system “facultative Minderbes Taftung / strafmilderung yaitu terserah pada hakim apakah terhadap pembantu pidananya akan dikurangi atau tidak. PENYERTAAN DENGAN KEALPAAN (CULPOSE DEELNEMING) Misal : 1. A tidak dapat dipidana karena adanya untuk “membujuk” atau “membantu” menurut hukum pidana positif harus ada unsur sengaja. pasal 297 : bigamy 4. tetapi ternyata digunakan oleh B untuk mencuri atau untuk membunuh. artinya tidak digantungkan pada pertanggungjawaban si pembuat. 4). Pasal 149 : Menyuap (membujuk) seseorang untuk tidak menjalankan haknya untuk memilih. Ada pendapat dari Prof Moelyatno dan Prof. Pasal 345 : menolong orang lain untuk bunuh diri. menurut Vos. Pada waktu B akan memasuki rumah C dengan maksud mencuri. ia berkelakuan seolah-olah (pura-pura) kehilangan kunci rumah A yang pada waktu itu lewat dan sama sekali tidak tahu bahwa B berdiri dimuka rumah orang lain dan telah merencanakan untuk mencuri.255 256 pertanggungjawabannya berdiri sendiri (tidak bersifat accessoir). Dalam contoh-contoh diatas. A memberi gunting kepada B yang katanya untuk menggunting kain. Unsur ini harus juga dipenuhi untuk : . 5. PENYERTAAN MUTLAK PERLU (NOODZAKELIJKE DEELNEMING / NECESSARY COMPLICITY). Pasal 238 : membujuk orang untuk masuk dinas militer Negara asing. F.Medeplegen / turut serta (dianalogikan dengan “membantu”). menolong B membuka kaca jendela sehingga B dapat masuk ke rumah C. pasal 287 : melakukan hubungan kelamin dengan anak perempuan di bawah umur 15 tahun. 6. E. 3. . artinya kesengajaan si pembantu harus diarahkan pada kejahatan yang bersangkutan. Oemar sadji. 2. Misal pasal 57 (4) dan 58. Dalam contoh-contoh diatas. pasal 284 : perzinahan.

. karena yang dimaksud dengan istilah “bekerja / berbuat bersama-sama” oleh beliau adalah sama dengan istilah “turut serta” (medeplegen). Kami mempersoalkan bagaimana apabila justru yang membujuk terjadinya delik itu adalah anak perempuan yang belum berumur 15 tahun itu ? terhadap hal ini. Misal : 1.257 258 apabila kawan berbuat itu tidak ada maka delik itu tidak dapat dilakukan. Mr. membantu untuk menganjurkan (pasal 56 jo 55) – putusan Hoge Raad 25-1-1950 DALAM AAN . tetapi yang dilakukan setelah terjadinya tindak pidana lain. 482 : delik penadahan. membujuk untuk membantu (pasal 55 jo 56). . TINDAKAN-TINDAKAN SESUDAH TERJADINYA TINDAK PIDANA SEBAGAI DELIK YANG BERDIRI SENDIRI. Inilah yang dimaksud dengan penyertaan yang tidak dapat dihindarkan atau penyertaan yang harus dilakukan. G. H.putusan Rv j Senmarang 20-12-1937 2. Dalam pasal-pasal diatas ada yang menetapkan bahwa dipidana hanya si pelaku. PERBUATAN PENYERTAAN PENYERTAAN (DEELNEMING DEELNEMINGSHANSELINGEN) Misal : 1. pasal 223 : menolong orang melepaskan diri dari tahanan. Dalam il. tetapi ada juga yang menetapkan bahwa kawan pelakunya dapat dipidana. 3. 4. Mengenai pasal 287. Pasal 480. pasal 483 : menerbitkan tulisan / gambar yang dapat dipidana karena sifatnya. Dalam contoh-contoh diatas sebeanrnya juga merupakan bentuk penyertaan.putusan Rv j Batavia 20-3-1936 .mu hukum pidana Jerman dikenal dengan istilah “Nachtaterschaft” atau “Begunstigung” (bentuk-bentuk “pemudahan”). 2. kami menyatakan tidak keberatan untuk memidana anak gadis tersebut. pasal 221 : menyembunyikan penjahat. Membujuk untuk membujuk (pasal 55 jo 56).putusan Landraad Batavia 18-21936 . Karni menyebutnya dengan “istilah” bekerja bersama-sama yang diharuskan oleh penegasan delik . jadi istilah beliau dimasukkan dalam pengertian “noodzakelijke medeplegen” (turut serta yang diharuskan).putusan Rv j Batavia 8-5-1930 3. 481.

Ada dua kelompok pandangan persoalan concursus : mengenai 1. Mezger.259 260 Catatan : bagi mereka yang memandang “deelneming” sebagai “Tatbescandausdeh-nungsgrund”. Namun bagi mereka yang memandangnya sebagi “strafausdehnungsgrund”. di mana untuk tindak pidana itu belumada putusan hakim diantaranya dan terhadap perkaraperkara pidana itu akan diperiksa serta diputus sekaligus. BEBERAPA PANDANGAN. contoh-contoh diatas dapat dimaklumi karena penyertaan dipandang sebagai “delichtum sui generic”. Yang memandang sebagai bentuk khusus dari tindak pidana a. yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana pada orang tersebut. . Yang memandang sebagai masalah pemberian pidana a. jika satu orang. BAB XII GABUNGAN TINDAK PIDANA (SAMENLOOP / CONCURSUS) Dalam suatu tindak pidana dikatakan telah terjadi suatu perbarengan dalam kondisi. I. melakukan lebih dari 1 tindak pidana. Moelyatno.l : Pompe. contoh-contoh diatas dipandang tidak mungkin atau janggal.l HazewinkelSuringa 2.

Kesulitan ini timbul karena dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. 2. secara fisik jasmaniah. PENGERTIAN 1. khususnya dalam hal terdakwa hanya melakukan perbuatan. III. terlepas dari unsur-unsur tanbahan (dikenal dengan jaran feit materiil). Catatan : Diantara perbuatanperbuatan yang dilakukan pada (concursus realis dan perbuatan berlanjut) narus belum ada keputusan hakim. 2. dan ada pula yang melihatnya dari sudut hukum yaitu yang dihubungkan dengan danya akibat / keadaan yang terlarang. 3. perbuatan tersebut masingmasing merupakan kejahatan atau pelanggaran antara perbuatan-perbuatan itu ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut. yaitu dipikikan terlepas dari akibatnya. Perbuatan berlanjut (Delictum Continuatum /Voortgezettehandeling) pasal 64. “perbuatan” (feit) itu ada meninjaunya secara materiil. Perbarengan perbuatan (Concursus Realis) pasal 65 s/d 71. Perbarengan peraturan (concursus Idealis) pasal 63. Ada perbuatan berlanjut. apabila pasal 64 Seseorang melakukan beberapa. Menurut pendapat sarjana : Adanya istilah “perbuatan/feit” dalam pasal-pasal di atas menimbulkan masalah yang cukup sulit.261 262 II. PENGATURAN DIDALAM KUHP Didalam KUHP diatur dalam pasal 63 s/d 71 yang terdiri dari : 1. . namun demikian dari rumusan pasal-pasal diperoleh pengertian sbb :   Concursus Idealis. pasal 63 (suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. Menurut rumusan KUHP : Sebenarnya didalam KUHP tidak ada definisi mengenai Concursus.

Misal : perkosaan dijalan umum. disamping masuk 281 (melanggar kesusilaan di muka umum). apabila orang melakukan sesuatu perbuatan konkrit yang diarahkan kepada satu tujuan merupakan benda / obyek aturan hukum. TAVERNE Ada concursus Idealis . - Contoh : Oranga dalam keadaan mabuk mengendarai mobil diwaktu malam tanpa lampu. POMPE Ada concursus Idealis. tetapi dilihat dari sudut hukumada dua perbuatan yang masingmasing dapat dipikirkan terlepas satu sama lain. Misalnya bersetubuh dengan anak sendiri yang belum berusia 15 th. Dalam hal ini perbuatan hanya satu yaitu “mengendarai mobil”.263 264 Sehubungan dengan kesulitan itu. mau tidak mau (eoipso) masuk pula dalam peraturan pidana lain. yaitu: . Antara perbuatanperbuatan itu tidak dapat dipikirkan terlepas satu sama lain. apabila : Dipandang dai sudut hukumpidana ada dua perbuatan atau lebih. perbuatan ini masuk pasal 294 (perbuatan cabul dengan anak sendiri yang belum cukup umur) dan pasal 287 (bersetubuh dengan wanita yang belim berusia 15 tahun diluar perkawinan). maka para sarjana mengemukakan beberapa pendapat : HAZEWINKEL-SURINGA Ada concursus Idealis apabila suatu perbuatan yang sudah memenuhi suatu rumusan delik.

Khusus mengenai penjelasan M.v. memukul dan akhirnya membunuh. Concursus Idealis (pasal 63). Simons tidak sependapat. mengartikannya secara umum dan lebih luas yaitu “tidak berarti harus ada kehendak untuk tiap-tiap kejahatan”. - Contoh : Perkosaan dijalan umum (melanggar pasal 285 & 281 KUHP). a). yaitu hanya dikenakan satu pidana pokok yang terberat. IV. Dengan sendirinya melakukan perbuatan (feit) yang lain pula. VAN BEMMELEN Ada Concursus Idealis. Simons . SISTEM PEMBERIAN PIDANA / STELSEL PEMIDANAAN 1. merobek bajunya. Jadi dalam hal ini ada Concursus Realis. maka tidak perlu perbuatanperbuatan itu sejenis. asal perbuatan itu dilakukan dalam rangka pelaksanaan tujuan. Misal : perkosaan dijalan umum. melanggar pasal 285 (12 th penjara) dan pasal 281 (2 tahun 8 bulan penjara). apabila : Dengan melanggar satu kepentingan hukum.265 266 Pertama. Mengenai syarat “ ada satu keputusan kehendak”. A melakukan serangkaian perbuatan-perbuatan berupa meludahi. Misalnya untuk melampiaskan balas dendamnya kepada B. Berdasar pengertian yang luas ini. “mengendarai mobil dalam keadaan mabul” (menggambarkan keadaan orang / pelakunya) dan kedua “mengendarai mobil tanpa lampu diwaktu malam” (menggambarkan keadaan mobilnya). Menurut ayat 1 digunakan system absorbsi.T mengenai criteria untuk adanya “perbuatan berlanjut” seperti dikemukakan diatas.

maka menurut VOS ditetapkan pidana pokok dengan tambahan yang paling berat. pada prinsipnya berlaku system absorbsi yaitu hanya dikenakan satu aturan pidana. b). Apabila Hakim menghadapi pilihan antara dua pidana poko sejenis yang maksimumnya sama. maka penetuan pidana yang terberat didasarkan pada urut-urutan jenis pidana seperti tersebut dalam pasal 10 (lihat pasal 69 ayat (1) jo pasal 10). Perbuatan ibu ini dapat masuk dalam pasal 338 (15 tahun penjara dan pasal 341 (7 tahun penjara). c).267 268 Maksimum pidana penjara yang dapat dikenakan ialah 12 tahun. jadi misalnya memilih antara 1 minggu penjara. Menurut pasal 64 ayat (1). Maksimum pidana penjara yang dikenakan ialah yang terdapat dalam pasal 341 (lex specialis) yaitu 7 tahun penjara. maka pidana yang terberat adalah 1 minggu penjara. d). Perbuatan berlanjut (pasal 64). 2. dan jika berbeda-beda dikenakan satu aturan pidana. 1 tahun kurungan dan denda 5 juta rupiah. Dalam hal ini perbuatan A tidak dipandang sebagai concursus Realis. Pasal 64 ayat (2) merupakan ketentuan khusus dalam hal pemalsuan dan perusakan mata uang. a). Apabila menghadapi dua pilihan antara dua pidana pokok yang tidak sejenis. Dalam pasal 63 ayat (2) diatur ketentuan khusus yang menyimpang dari prinsip umum dalam ayat (1). dan jika berbeda-beda dikenakan ketentuan yang memuat ancaman pidana pokok yang terberat. b). tetapi tetap dipandang sebagai perbuatan berlanjut sehingga ancaman maksimum pidananya dapat dikenakan 15 tahun penjara . Misal A setelah memalsu mata uang (pasal 244 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun) kemudian menggunakan / mengedarkan mata uang yang palsu itu (pasal 245 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun). dalam hal ini berlaku adagium “lex specialis derogate legi generali” Contoh : seorang ibu membunuh anaknya sendiri pada saat anaknya dilahirkan.

system ini disebut system Kumulasi yang diperlunak. Apabila nilai kerugian yang timbul dari kejahatan-kejahatn ringan yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut itu lebih dari Rp. Jadi disini berlaku system absorbsi yang dipertajam. maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah jumlah ancaman pidananya yaitu 10 tahun penjara. 379 (penipuan ringan) dan 407 (1) (perusakan barang ringan) yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut. 373 (penggelapan ringan).269 270 c). . Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok tidak sejenis berlaku pasal 66 yaitu semua jenis ancaman pidana untuk tiap-tiap kejahatan dijatuhkan. karena melebihi jumlah maksimum pidana untuk masing-masing kejahatan tersebut.  A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing.. Concursus Realis (pasal 65 s/d 71).masing diancam pidana penjara 1 tahun dan 9 tahun. 3. 378 (penipuan) atau 406 (perusakan barang). Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok sejenis. Berarti yang dikenakan adalah pasal 362 (pencurian). Misal :  A melakukan 3 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 4 tahun. A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 9 bulan kurungan dan dua tahun penjara. Dalam hal ini.maka menurut pasal 64 ayat (3) dikenakan aturan pidana yang berlaku untuk kejahatan biasa. berlaku pasal 65 yaitu hanya dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa jumlah maksimum pidana tidak boleh lebih dari maksimum terberat ditambah sepertiga. Misal : 1). 250. 372 (penggelapan). Pasal 64 ayat (3) merupakan ketentuan khusus dalam hal kejahatan-kejahatn ringan yang terdapat dalam pasal 364 (pencurian ringan). b. Dalam hal ini yang dapat digunakan ialah 9 tahun + (1/3 x 9) tahun = 12 tahun penjara. tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum piudana yang terberat ditambah sepertiga. 5 tahun dan 9 tahun. a.

50. Dengan telah adanya perubahan pidana denda. tetapi karena menurut pasal 30 (3) maksimum kurungan pengganti 6 bulan.000. Dengan demikian pidana yang dijatuhkan misalnya terdiri dari 2 tahun penjara dan 8 bulan kurungan.-_ Perhitungan blok mengenai jumlah pidana kurungan pengganti di atas masih didasarkan pada perhitungan lama sebelum adanya perubahan pidana denda 15 kali menurut UU No.. 2). Karena semua jenis pidana harus dijatuhkan maka 6 bulan ini dipecah menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan 1/3 x Rp. . 1. Bagaimanakah dalam hal A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam 6 bulan penjara dan denda Rp. tiap denda 50 sen atau kurang dihitung sama dengan satu hari kurungan pengganti..447.= Rp. Menurut perhitungan lama.= Rp. . 334. 333.kurungan penggantinya sama dengan 134 hari (dibulatkan).000. 1. 18 tahun 1960.. 1.- - - - - (atau dibulatkan menjadi Rp. Dengan demikian maksimumnya ialah 6 + (1/3 x 6) bulan = 8 bulan. maka untuk denda Rp. Dengan demikian apabila diikuti perhitungan menurut Blok di atas maka jumlah maksimum 8 bulan dapat dipecah misalnya menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan denda 60/134 x Rp.000. 1.000.000. maka 1 hari kurungan pengganti dihitung sama dengan Rp. 1.76.maksimumnya kurungan penggantinya 6 bulan. 1..Menurut Noyon semuanya harus dijatuhkan yaitu 6 bulan penjara dan denda Rp.271 272 Dalam hal ini semua jenis pidana (penjara dan kurungan) harus dijatuhkan.30. Adapun maksimumnya adalah 2 tahun ditambah (1/3 x 2) tahun = 2 tahun 9 bulan atau 33 bulan.000.-.. 7.Menurut blok perhitungannya sbb : pidana denda dijadikan dulu pidana kurungan pengganti yaitu maksimum 6 bulan (lihat pasal 30 KUHP).? mengenai hal ini ada dua pendapat : .(yaitu 50 sen dikalikan 15) jadi untuk denda Rp.

khusus untuk pasal 302 (1). maka maksimumnya adalah (6+9) bulan = 15 bulan. . 379 dan 482 berlaku pasal 70 bis yang menggunakan system kumulasi tetapi dengan pembatan maksimum untuk penjara 8 bulan. berlaku pasal 71 yang berbunyi sbb: “Jika seseorang setelah dijatuhi pidana kemudian dinyatakan salah lagi karena melakukan kejahatan atau pelanggaran lain sebelum ada putusan pidana itu. Jadi misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam pidana kurungan 9 bulan. d. maka digunakan system absornsi yang dipertajam / diperberat (pasal 65). Misal :  A melakukan pencurian ringan (pasal 364) dan penggelapan ringan (pasal 373) yang masing-masing diancam pidana 3 bulan penjara. 373.  Tetapi apabila A misalnya melakukan 3 kejahatan ringan yang masingmasing diancam pidana penjara 3 bulan. baik kejahatan maupun pelanggaran untuk diadili pada saat berlainan. Misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam piadan kurungan 6 bulan dan 9 bulan. system kumulasi itu dibatasi sampai maksimum 1 tahun 4 bulan kurungan. Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan adalah 6 bulan penjara (system kumulasi).-) dalam pasal 360 (diancam pidana 5 tahun penjara atau 1 tahun kurungan ? Dalam hal ini hakim harus mengadakan “pilihan hukum” terlebih dahulu. 4. tetapi maksimumnya adalah 1 tahun 4 bulan atau hanya 16 bulan. e. 364. berlaku pasal 70 yang menggunakan system kumulasi. maka pidana yang dahulu diperhitungkan pada pidana yang akan dijatuhkan dengan menggunakan aturan-aturan dalam bab ini mengenai c.500. maka maksimumnya bukan 9 bulan penjara (kumulasi) tetapi 8 bulan penjara. Untuk Concursus Realis. Untuk Concursus Realis berupa pelanggaran. Untuk Concursus Realis berupa kejahatan ringan.273 274 3). maka maksimum pidana kurungan yang dapat dijatuhkan bukanlah (9+9) bulan = 18 bulan. Kalau dipilih ancaman pidana yang sejenis. 352. Namun menurut pasal 70 ayat 2. Bagaimanakah dalam hal A melakukan dua jenis kejahatan yang terdapat dalam pasal 351 (diancam pidana 2 tahun 8 bulan penjara atau denda Rp.

 Tgl. 20/1 : penipuan (pasal 378. Andaikata untuk keempat tindak pidana itu. ancaman pidana 5 tahun penjara). Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah 5 tahun + (1/3 x 5 tahun) = 6 tahun 8 bulan. Misal : A melakukan kejahatan-kejahatan sbb :  Tgl.  Tgl. Dengan contoh diatas.275 276 hal perkara-perkara diadili pada saat yang sama”. diancam 4 tahun penjara).  Tgl. 1/1 : pencurian (pasal 362. Kemudian A ditangkap dan diadili dalam satu keputusan. 5/1 : penganiayaan biasa (pasal 351 diancam 2 tahun 8 bulan). hakim menjatuhkan pidana 6 tahun penjara. diancam 4 tahun penjara). maka jika kemudian ternyata bahwa A pada tanggal 14/1 (jadi sebelum ada keputusan) melakukan penggelapan (pasal 372 yang diancam pidana penjara 4 tahun). 10/1 : penadahan (pasal 480. maka keputusan yang kedua kalinya ini untuk penggelapan itu paling banyak hanya dijatuhi pidana penjara selama 6 tahun 8 bulan (putusan sekaligus) dikurangi 6 tahu (putusanI) yaitu 8 bulan penjara. . dapatlah bunyi pasal 71 diatas dirumuskan secara singkat sbb : Putusan ke II = (putusan sekaligus) – (putusan ke-I).

mengemukakan apa yang disebut “alasan-alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang atau alasanalasan tidak dapat dipidananya seseorang”. Umur yang masih muda (mengenai umur yang masih muda ini di Indonesia dan juga di negeri Belanda sejak tahun 1905 tidak lagi merupakan lasan penghapus pidana Dalam hukum pidana perlu dikemukakan materi tentang alasan-alasan yang mengecualikan dijatuhkannya hukuman. meskipun orang tersebut melakukan suatu tindakan sesuai dengan lukisan perbuatan yang dilarang oleh UU pidana. Alasan atau Dasar Penghapusan Pidana merupakan hal-hal atau keadaan yang dapat mengakibatkan seseorang yang telah melakukan . Berdasarkan sifatnya ini maka UU pidana mengandung kemungkinan akan dijatuhkannya hukuman yang adil bagi orang-orang tertentu yang mungkin saja tidak bersalah.277 278 BAB XIII ALASAN / DASAR PENGHAPUS PIDANA (Strafuitsluitingsgrond.T menyebut 2 (dua) alasan :  Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak pada diri orang itu (inwendig). Sehingga. tidak dapat dipidana. Grounds Of Impunity) perbuatan yang dengan tegas dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU Pidana (KUHP). M. karena menurut Utrecht.v. Pembicaraan selanjutnya akan mengenai alasan penghapus pidana. 2) Perbuatannya tidak lagi merupakan perbuatan yang melawan hukum. karena : 1) Orangnya tidak dapat dipersalahkan. yakni : a. mengurangkan dan memberatkan pidana”. masih menurut Utrecht. UU pidana seperti UU lainnya mengatur hak-hal yang umum dan yang akan terjadi (mungkin akan terjadi).v.T dari KUHP (Belanda) dalam penjelasannya mengenai alasan mengahpus pidana ini. tidak dihukum. Bab I dan Bab II KUHP memuat : “ Alasan-alasan yang menghapuskan. aialah alasan-alasan yang memungkinkan orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi rumusan delik. Dengan demikian materi ini menjadi penting untuk memperoleh kepastian dan keadilan hukum dalam penyelesaian suatu perkara pidana. Pertumbuhan jiwa yang tidak sempurna atau terganggu karena sakit (pasal 44 KUHP) b. UU pidana mengatur hal-hal yang bersifat abstrak dan hipotesis. M.

Daya paksa atau overmacht (pasal 48). yaitu: a. Selain perbedaan yang diterangkan dalam M. Pasal 166 KUHP : “Ketentuan-ketentuan pasal 164 dan 165 KUHP tidak berlaku pada orang yang karena pemberitahuan itu mendapat bahaya untuk dituntut sendiri dst………………………………………” Pasal 164 dan 165 memuat ketentuan : bila seseorang mengetahui ada makar terhadap suatu kejahatan yang membahayakan Ilmu pengetahuan hukum pidana juga mengadakan pembedaan lain. pasal 49 ayat (1) (pembelaan terpaksa). II. Melaksanakan Undang-undang (pasal 50). yaitu yang berlaku umum untuk tiap-tiap delik dan disebut dalam pasal 44. 50 dan 51 KUHP. Alasan penghapus pidana yang umum (starfuitingsgronden yang umum). maka orang tersebut harus melaporkan.T. sejalan dengan pembedaan antara dapat dipidananya perbuatan dan dapat dipidananya pembuat. 2. Melaksanakan perintah jabatan (pasal 51). Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak di luar orang itu (uitwendig). ilmu pengetahuan hukm Pidana juga mengadakan pembedaan sendiri. meskipun perbuatan ini telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. Negara dan Kepala Negara. suami dan sebagainya (orang-orang yang masih ada hubungan darah). c. Pembelaan terpaksa atau noodweer (pasal 249). d.279 280  melainkan menjadi dasar untuk memperingan hukuman). schuldausschliesungsgrund). rechtfertigungsgrund). maka dibedakan dua jenis alasan penghapus pidana : a) Alasan pembenar (rechtvaardigingsgrond. entschuldigungsdrund. fait justificatif. Pasal 221 ayat (2) : menyimpan orang yang melakukan kejahatan dan sebagainya”. Disini ia tidak dituntut jika ia hendak menghindarkan penuntut dari istri. Kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak mungkin ada pemidanaan. b) Alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan (schulduitsluittingsgrond-fait d’excuse.v. 48. yaitu yang hanya berlaku unutk delik-delik tertentu saja. Alasan pembenar yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 48 (keadaan darurat). pasal 50 (peraturan perundangundangan) dan pasal 51 (1) (perintah jabatan). Penghapusan pidana dapat menyangkut perbuatan atau pembuatnya. ialah : 1. misal : I. Alasan pemaaf menyangkut pribadi si pembuat. 49. Alasan pembenar menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. dalam arti bahwa orang ini tidak dapat dicela (menurut hukum) . Alasan penghapus pidana yang khusus (starfuitingsgronden yang khusus). b.

selanjutnya dari hasil tersebut akan disampaikan di muka persidangan. Penafsiran bisa . Adapun mengenai pasal 48 (daya paksa) ada dua kemungkinan. Apa yang diartikan dengan daya paksa ini dapat dijumpai dalam KUHP. pasal 49 ayat (2) (noodweer exces). dapat merupakan alasan pembenar dan dapat pula merupakan alasan pemaaf. Pelaku akan diperiksa oleh seorang ahli (yang akan menyampaikan catatan medis). 50 dan 51 KUHP. sehingga tidak mungkin pemidanaan. sehingga dalam hal ini dapat dikatakan suatu alasan penghapus kesalahan.T menyebutkan sebagai tak dapat dipertanggung-jawabkan karena sebab yang terletak didalam si pembuat sendiri. yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena kurang sempurna akal/jiwanya atau terganggu karena sakit. ALASAN PENGHAPUS PIDANA (UMUM) DALAM KUHP. pasal 51 ayat (2) (dengan itikad baik melaksanakan perintah jabatan yang tidak sah). Jadi disini ada alasan yang menghapuskan kesalahan si pembuat. TIDAK MAMPU BERTANGGUNG JAWAB (PASAL 44) : Pasal 44 KUHP memuat ketentuan bahwa tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan DAYA PAKSA-OVERMACHT (PASAL 48 KUHP). Uraian berikut membahas tentang dasar penghapus pidana yang terdapat dalam pasal 44. maka kita memerlukan ilmu pengetahuan lain yang dapat membantu yaitu psikiatri forensic. 49. Tidak adanya kemampuan bertanggung jawab mengahpuskan kesalahan mekipun perbuatannya tetap melawan hukum.281 282 dengan perkataan lain ia tidak bersalah atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. (Mengenai pasal 44 KUHP ini hendaknya dilihat lagi Bab Kemampuan Bertanggung jawab yang membahas tentang kesalahan dan pertanggung jawaban pidana). Pasal 48 KUHP menentukan : “ tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang didorong oleh daya paksa”. 48. Alasan pemaaf yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 44 (tidak mampu bertanggungjawab). meskipun perbuatannya bersifat melawan hukum.v. Untuk membuktikan apakah seseorang yang melakukan tindakpidana ternyata tidak dapat dihukum dengan lasan pasal 44 KUHP. Seperti diketahui M.

melainkan apa yang dapat diharapkan dari seseorang secara wajar. Kalimat “tidak dapat ditahan” menunjukkan. 2. Maka dalam overmacht (daya paksa) dapat dibedakan dalam du hal : 1. Yang dimaksud denganm daya paksa dalam pasal 48 ialah daya paksa relative (vis complusiva). memberi sifat kepada tekanan atau paksaan itu. setiap paksaan atau tekanan yang dapat ditahan”. Perlawanan terhadap paksaan itu tak boleh disertai syarat-syarat yang tinggi sehingga harus menyerahkan nyawa misalnya.v. Keadaan ini harus ditinjau secara obyektif. ia tidak menyerahkan dan ditembak mati. (Prof. Contoh : A mengancam B. sehingga kaca pecah. vis absoluta (paksaan yang absolut). Istilah “gedrongen” (didorong) menunjukkan bahwa paksaan itu tak dapat diharapkan bahwa ia akan dapat mengadakan perlawanan. kasir bank. Hal yang disebut terakhir ini. Contoh : tangan seseorang dipegang oleh orang lain dan dipukulkan pada kaca. jadi tak ada paksaan absolut. Dalam M.283 284 dilakukan dengan melihat penjelasan yang diberikan oleh pemerintah ketika undang-undang (Belanda) itu dibuat. Moelyatno hanya menyebut “karena penagruh daya paksa”). B dapat berpikir dan menentukan kehendaknya. dengan meletakkan pistol di dada B. Daya paksa yang absolute vis absoluta dapat disebabkan oleh kekuatan manusia atau alam. bahwa menurut akal sehat tak dapat diharapkan dari si pembuat untuk mengadakan perlawanan. untuk menyerahkan uang yang disimpan oleh B. B dapat menolak. dan jalan lain juga tidak ada. Memang ada paksaan tetapi masih ada kesempatan bagi B untuk mempertimbangkan apakah ia melanggar kewajibannya untuk menyimpan surat-surat berharga itu dan menyerahkannya kepada A atau sebaliknya. Yang dimaksud dengan daya paksaan disini bukan paksaan mutlak. masuk akal dan sesuai dengan keadaan. Maka orang yang pertama tadi tak dapat dikatakan telah melakukan perusakan benda (pasal 406 KUHP). . Dalam hal ini paksaan tersebut sama sekali tak dapat ditahan. vis compulsive (paksaan yang relatif). Jadi harus ada kekuatan (daya) yang mendesak dia kepada suatu perbuatan yang dalam kata lain tak akan ia lakukan. yang tidak memberi kesempatan kepada si pembuat menentukan kehendaknya. Antara sifat dari paksaan di satu pihak dan kepentingan hukum yang dilanggar oleh si pembuat di lain pihak harus ada keseiombangan. Ia ada ditengah-tengah dua hal yang sulit yang sama-sama buruknya. Sifat dari daya paksa ialah bahwa ia datang dari luar diri si pembuat dan lebih kuat dari padanya. Pada overmacht (daya paksa) orang ada dalam keadaan dwangpositie (posisi terjepit).T dilukiskan sebagai : “setiap kekuatan. yang tak dapat ditahan”.

 Keberatan hati nurani (terhadap masuk dinas tentara) bukan keadaan darurat. karena ada dalam keadaan darurat. Misal : . Orang yang mendorong tersebut tidak dapat dipidana. Mereka tak mau taat pada undang-undang dan ingin mengikuti pandanganya sendiri mengenai keadilan dan kesusilaan yang menyimpang dari ketenatuan undang-undang. namun menurut hukum perbuatan ini karena dapat difahami bahwa merupakan naluri setiap orang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. tanpa melihat sampai di mana si pembuat dapat di cela atas perbuatannya. Di Jerman untuk daya paksa ada istilah notigungstand (pasa.285 286 Paksaan Dario dalam : Kita mengambil contoh dari Arrest H. Menurut doktrin. orang yang tak mau masuk dinas tentara karena suara hati atau hati nuraninya keberatan tetap dihukum. KEADAAN DARURAT-NOODTOESTAND (PASAL 48 KUHP). Ada dua orang yang karena kapalnya karam hendak menyelamatkan diri dengan berpegangan pada sebuah papan. terdapat 3 bentuk dari keadaan darurat : I. Ia harus memeriksa kemungkinannya masuk kedalam alasan penghapusan pidana yang umum. seorang diantaranya mendorong temannya sehingga yang di dorong mati tenggelam dan yang mendorong terhindar dari maut (cerita ini berasal dari CICERO).  Hakim tidak boleh begitu saja mengabaikan alasan keberatan hati nurani. Mungkin ada orang yang memandang perbuatan itu bertentangan dengan norma kesusilaan. padahal papan itu tak dapat menahan dua orang sekaligus.R tgl 26 Juni 1916 (Arrest “tak mau masuk tentara”). Kalau keduaduanya tetap berpegangan pada papan itu. yang diatur dalam pasal 54 SGB. Pertentangan antara dua kepentingan hukum : Contoh klasik : “papan dari carneades”. 52 SGB) dan keadaan darurat disebut notstand. Daya paksa dalam arti sempit ditimbulkan oleh orang sedang pada keadaan darurat. Dalam Arrest ini. II. maka kedua-duanya akan tenggelam. paksaan itu datang dari hal di luar perbuatan orang KUHP kita tidak mengadakan pembedaan tersebut. Hal ini tidak bisa diterima. Dalam vis compulsiva (daya paksa relative) kita dibedakan daya paksa dalam arti sempit (atau paksaan psikis) dan keadaan darurat. Pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum. Namun di Belanda sejak tahun lima puluhan ada perubahan pandangan. Maka untuk menyelamatkan diri.

sehingga pemilik took dilarang melakukan penjualan. Permintaan kasasi oleh jaksa terhadap putusan hakim yang menyatakan bahwa. Di sini ia memilih tetap merahasiakan penyakit pasiennya. b) Seorang yang dalam satu hari (pada waktu yang bersamaan) dipanggil menjadi saksi di dua tempat. 2. Namun karena si pembeli itu ternyata tanpa kacamata tak dapat melihat. Orang yang sedang menghadapi bahaya kebakaran rumahnya. lalu masuk atau melewati rumah orang lain guna menyelamatkan barang-barangnya. Oleh pengadilan tentara ia dikenakan hukuman 1 (satu) hari. 15 Oktober 1923). tetapi dokter tadi naik banding. (kota pelabuhan) terjangkit penyakit kelamin.287 288 1. maka penjual kacamata dapat dikatakan bertindak dalam keadaan memaksa dan khususnya dalam keadaan darurat. VAN HATTUM dalam hal 351 membandingkan daya memaksa dengan noodtoestand sebagai berikut : Pada daya memaksa dalam arti sempit si pembuat berbuat atau tidak berbuat III. dan mahkamah tentara tinggi membebaskannya karena ia ada dalam keadaan darurat (putusan tgl. sehingga betul-betul dalam keadaan sangat memerlukan pertolongan. Dokter tersebut tak mau melaporkan pada atasan. Disini dihadapkan pada dua kewajiban hukum :  Melaksanakan perintah dari atasannya (sebagai tentara)  Memegang teguh rahasia jabatan sebagai dokter. terdakwa (opticien) tak dapat dipidana dan melepas terdakwa dari segala tuntutan. Ia memberatkan salah satu. Padahal pada saat itu menurut peraturan penutupan took sudah jam tutup took. 26 November 1916). Seorang pemilik toko kacamata kepada seorang yang kehilangan kacamatanya.R (putusan tgl. Pertentangan antara kewajiban hukum dangan kewajiban hukum : a) Seorang perwira kesehatan (dokter angkatan laut) diperintahkan atasannya untuk melaporkan apakah ada para perwira-perwira laut yang bebas tugas dan berkunjung ke darat . Terdakwa ada dalam keadaan darurat. Ia merasa dalam keadaan seperti itu mempunyai kewajiban untuk menolong sesame (Arrest ini disebut Arrest optician). jadi ia tetap patuh pada sumpah kedokteran. tak dapat diterima oleh H. sebab dengan memberi laporan pada atasannya ia berarti melanggar sumpah jabatan sebagai dokter yang harus merahasiakan semua penyakit dari para pasiennya.

Pasal 49 ayat (1) berbunyi :”tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang terpaksa dialkukan untuk membela dirinya sendiri atau orng lain. Istilah noodmeer atau pembelaan darurat tidak ada dalam KUHP sehingga untuk memahaminya kita memerlukan ajaran dari para ahli hukum pidana . d. misalnya dengan tinju . Serangan itu dapat merupakan tindak pidana. Contoh serangan yang tidak merupakan tindak pidana.289 290 dikarenakan satu tekanan psikis oleh orang lain atau keadaan. dan harta benda 2. tapi hal ini tidak perlu asal saja memenuhi syarat-syarat seperti tersebut diatas. BELA PAKSA-PEMBELAAN DARURAT-NOODWEER (PASAL 49 AYAT (1)). membela peri kesopanan sendiri atau orang lain terhadap serangan yang melwan hukum yang mengancam langsung atau seketika itu juga”. a. Pada keadaan darurat si pembuat ada dalam suatu keadaan yang berbahaya yang memaksa atau mendorong dia untuk melakukan suatu pelanggaran terhadap undang-undang. Tidak terhadap semua serangan dapat diadakan pembelaan. memenuhi asas subsidiaritas & proporsionalitas. subsidiaritas maksudnya tidak ada cara lain selain membela diri dan proporsionalitas artinya seimbang antara serangan dan pembelaan. seketika dan langsung b. melainkan pada serangan yang memenuhi syarat sebagai berikut : melawan hukum seketika dan langsung ditujukan pada diri sendiri / orang lain terhadap badan / tubuh. Bagi si pembuat tak ada penentuan kehendak secara bebas. Ia dororng oleh paksaan psikis dari luar yang sedemikian kuatnya. c. b. Tidaklah dapat diharapkan dari seorang warga Negara menerima saja suatu perlakuan yang melawan hukum yang ditujukan kepada dirinya. Padahal Negara dengan alat-alat perlengkapannya tidak dapat tepat pada waktunya melindungi kepentingan hukum dari orang yang diserang itu : maka pembelaan diri ini bersifat menghilangkan sifat melawan hukum. adanya serangan. kehormatan seksual. Syarat pembelaan : a. Dalam pembelaan darurat ada dua hal yang pokok : 1. ada pembelaan yang perlu diadakan terhadap serangan itu. Perbuatan orang yang membela diri itu seolah-olah mempertahankan haknya sendiri. nyawa. sehingga ia melakukan perbuatan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan.

291 292 menyerbu seseorang. ialah : jika dapat dicegah atau dihilangkan. yakni menunggu belum dapat dikatakan serangan. Dalam hubungan pembelaan darurat ini ada satu perbuatan orang yang disebut putatief noodweer. Persoalan yang timbul pada serangan ialah : kapankah ada serangan dan kapankah serangan itu berakhir ? Sebagai contoh : A menunggu B di luar rumah. Tentu saja perbuatan B itu harus dilihat dalam keadaan yang menyertai perbuatan itu. tetapi B lalu membalas. disini kesengajaan dihilangkan karena orang mengira bahwa dia berada dalam keadaan di mana harus mengadakan pembelaan darurat dalam hal ini harus di lihat peristiwa dari peristiwa oleh karena itu maka harus diterangkan dalam proses verbal. sedang dalam pembelaan darurat harus ada serangan. . sedang dalam pembelaan darurat. 4. maka perbuatan b itu bukanlah perbuatan pembelaan karena terpaksa. dalam keadaan darurat tidak perlu adanya serangan. Sebagai contoh : pembunuh dengan pisau terhunus menyerbu korbannya. 3. 2. dengan perkataan lain dalam keadaan darurat hak berhadapan dengan hak. pembelaan itu syarat-syarat sudah ditentukan secara limitative (pasal 49 ayat (1)). karena disini terjadi serangan balasan. Terhadap serangan yang tidak melawan hukum tidak mungkin ada pembelaan darurat. maka perbuatan A tersebut. mengambil catatan untuk di fotocopy guna kepentingan majikannya tapi tidak untuk dimiliki sendiri. Dalam keadaan darurat orang dapat bertindak berdasarkan berbagai kepentingan atau alasan sedang dalam pembelaan darurat. hak berhadapan dengan bukan hak. kepentingan hukum dan kewajiban hukum serta kewajiban hukum dan kewajiban hukum. sedang dalam pembelaan darurat para penulis memandang sebagai alasan pembenar ialah sebagai penghapus sifat melawan hukum. Sifat keadaan darurat tidak ada keseragaman pendapat dari pada penulis yakni ada yang berpendirian sebagai alasan pemaaf dan ada sebagai alasan pembenar. Istilah mengancam seketika dan langsung berarti bahwa serangan itu sedang berlangsung dan juga bahaya serangannya. Kalau misal A menembak B tidak kena dan A tidak menunjukkan akan menembak lagi. Apakah perbedaan pembelaan darurat ? antara keadaan darurat dan 1. Dalam keadaan darurat dapat dilihat adanya perbenturan antara kepentingan hukum. Dalam pembelaan daruart situasi darurat ini ditimbulkan oleh adanya perbuatan melawan hukum yang bisa dihadapi secara sah. Kapan serangan itu ada dan kapan serangan itu berlangsung menurut Hazewinkel-Suringa.

yang dimaksud dengan UU ialah : undang-undang dalam arti formil. bingung. hasil perundang-undangan dari DPR dan/atau raja. MENJALANKAN PERINTAH (PASAL 50 KUHP).293 294 BELA PAKSA LAMPAU-NOODWEER EXCES (PASAL 49 AYAT 2 KUHP) (pelampauan batas pembelaan darurat atau bela paksa lampau batas) Istilah exces dalam pembelaan darurat tidak dapat kita jumpai dalam pasal 49 ayat (2). 2. Dalam hala ini umumnya cukup. Tetapi kemudian pendapat HR berubah dan diartikan dalam arti materiil. dan mata gelap. Untuk adanya kelampauan batas pembelaan darurat ini harus ada syarat-syarat sebagai berikut : 1. Pembelaan dilakukan sebagai akibat yang langsung dari kegoncangan jiwa yang hebat (suatu perasaan hati yang sangat panas). Mulamula Hoge Raad (HR) menafsirkan secara sempit. jadi sabagai alasan pemaaf sementara perbuatannya tetap bersifat melawan hukum. Yang menyebabkan kegoncangan jiwa yang hebat itu harus penyerangan itu dan bukan misalnya karena sifat mudah tersinggung. Dalam hubungan ini persoalannya adalah apakah perlu bahwa peraturan perundang-undangan itu menentukan kewajiban untuk melakukan suatu perbuatan sebagai pelaksanaan. pasal 49 ayat (2) dan ayat (1) itu mempunyai hubungan yang erat. jika perbuatan itu merupakan akibat langsung dari suatu kegoncangan jiwa yang hebat yang disebabkan oleh serangan itu”. melampaui asas subsidairitas dan proporsionalitas seperti yang diisyaratkan dalam pasala 49 ayat (1) KUHP. maka syarat pembelaan yang tersebut dalam pasal 49 ayat (1) disebut sebagai syarat dalam pasal 49 ayat (2). Cara dan alat tersebut harus dibenarkan pula oleh keadaan. Pasal tersebut bunyinya : “tidak dipidana seseorang yang melampaui batas pembelaan yang diperlukan. yaitu tiap peraturan yang dibuat oleh alat pembentuk undang-undang yang umum. dengan kata lain : antara kegoncangan jiwa tersebut dan serangan harus ada hubungan kausal. Disini pembelaan itu perlu dan harus diadakan dan tidak ada jalan lain untuk bertindak. 3. Sifat dari noodweer exces adalah menghapuskan kesalahan (pertanggungjawaban pidana). UNDANG-UNDANG Pasal 50 KUHP menentukan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan”. Termasuk disini adalah rasa tajut. kegoncangan jiwa yang hebat itu disebabkan karena adanya serangan. apabila peraturan itu memberi wewenang untuk kewajiban . Kelampauan batas pembelaan yang diperlukan. Disini juga yang perlu dilihat apakah serangan itu dapat menimbulkan akibat kegoncangan jiwa yang hebat bagi orang biasa pada umumnya.

akan tetapi juga dapat menyuruh orang lain untuk melaksankannya. Dalam pasal 51 inipun cara melaksanakan perintah harus patut dan wajar. Misalnya : Pejabat polisi. MELAKSANKAN PERINTAH JABATAN (PASAL 51 AYAT (1) DAN (2)). Jadi dalam hal ini letnan polisi tersebut melaksanakan perintah jabatan yang sah. Kadang-kadang dalam melaksanakan peraturan undang-undang dapat bertentangan dengan peraturan lain. tidak dapat berlindung dibawah pasal 50 KUHP ini. meskipun sifatnya sementara. Sesuai pasal 51 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksankan perintah jabatan yang sah”. Yang diperbolehkan adalah tindakan eksekutor yang melaksanakan eksekusi terhadap terpidana mati. Bilamanakah perintah itu dikatakan sah ? apabila perintah itu berdasarkan tugas. Anatar orang yang diperintah dan orang yang memerintah harus ada hubungan jabatan dan harus ada hubungan sub-ordinasi (hubungan atasan dan bawahan). Maka jika seorang melakukan perintah yangsah ini maka ia tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum.295 296 tersebut dalam melaksanakan perundang-undangan ini diberikan suatu kewajiban. Dalam hal ini dipakai pedoman : “lex specialis derogate legi generaki” atau “lex posterior derogate legi priori”. Jadi untuk dapat menggunakan pasal 50 ini maka tindakan harus dilakukan secara patut. untuk dapat membebaskan diri dari tuntutan hukum. Dengan perkataan lain kewajiban / tugas itu diperintahkan oleh peraturan undang-undang. Jadi dalam tindakan ini seperti dalam daya memaksa dan dalam pembelaan darurat harus ada keseimbangan antara tujuan yang hendak dicapai dengan cara pelaksanaannya. Kejengkelan pejabat tersebut tidak dapat membenarkan tindakannya. misalnya seperti permintaan bantuan oleh pamong praja kepada angkatan bersenjata (sesuai pasal 413 KUHP). sehingga pasal 50 tersebut merupakan alasan pembenar. Perbuatan orang yang menjalankan peraturan undangundang tidak bersifat melawan hukum. maka orang dapat melaksanakan undang-undang sendiri. yang menembak mati seorang pengendara sepeda yang melanggar peraturan lalu lintas karena tidak mau berhenti tanda peluitnya. pula harus seimbang dan tidak boleh melampaui . Contoh kasus : seorang Letnan Polisi diperintah oleh Kolonel Polisi untuk menangkap pelaku tindak pidana. Dalam hukum acara pidana dan hukum acara perdata dapat dijumpai adannya kewajiban dan tugas-tugas/wewenang yang diberikan pada pejabat/orang untuk bertindak. Colonel polisi tersebut berwenang untuk memerintahkannya. wajar dan masuk akal. wewenang atau kewajiban yang didasarkan kepada suatu peraturan.

Syarat pasal 51 ayat (2) KUHP. misal : mobil. Sifat dari perbuatan seorang yang melakukan perbuatan karena perintah jabatan yang tidak sah ialah : perbuatannya tetap perbuatan yang melawan hukum. perintah itu berada dalam lingkungan wewenang dari orang yang diperintah. karena memukul seorang tahanan tidak termasuk wewenang dari seorang anggota polisi. akan tetapi pembuatnya tidak dipidana. 2. Contoh lainnya : Seorang kepala polisi memerintahkan anak buahnya untuk memukuli seorang tahanan yang menjengkelkan. Contoh lainnya : Seorang kepala kantor memerintahkan kepada bendaharawan untuk mengeluarkan sejumlah uang guna sesuatu pembelian. Catatan : Mengenai ketaatan seorang bawahan kepada atasannya Hazewinkel-Suringa mengatakan.297 298 batas kepatutan. sebabnya ialah pengeluaran dari pemerintah sudah ditentukan pos-pos tertentu. Andaikata bendaharawan tiu melaksanakan perintah tersebut tapa akibatnya ? perintah tersebut tidak sah karena pembelian mobil itu tidak termasuk dalam wewenang bendaharawan tersebut. Dalam keadaan ini perbuatan orang ini tetap bersifat melawan hukum. bahwa ketaatan yang membuta tidak mendisculpeert” (tidak patut di pidananya perbuatan). Perintah jabatan ini adalah alasan pembenar. tetapi behubung dengan keadaan pribadinya maka ia tidak dapat dipidana. karena ia patut menduga bahwa perintah itu tidak sah. Keadaan tersebut adalah merupakan alasan pemaaf. Disini agen polisi tidak dapat dipidana karena : ia patut menduga bahwa perintah itu sah dan pelaksanaan perintah itu ada dalam batas wewenangnya. Disini bendaharawan itu dapat dipidana. yang tidak masuk dalam mata-anggaran. jika ia mengira dengan itikad baik bahwa perintah itu sah. Andaikata bawahan ini mengira bahwa perintah itu sah maka ia tetap dapat dipidana. tetapi ternyata perintah tidak beralasan atau tidak sah. . apabila memenuhi syarat : 1. dikatakan melakukan perintah jabatan yang tidak sah menghapuskan dapat dipidananya seseorang. Sebagai contoh : seorang agen polisi mendapat perintah dari kepala kepolisian untuk menangkap seorang agitator dalam suatu rapat umum atau umumnya seorang yang dituduh telah melakukan kejahatan.

Ia dapat berlindung pada “taksi” (avas). ALASAN AVAS. f. Alasan penghapus pidana putatief merupakan alasan penghapus kesalahan atau alasan pemaaf. diluar undang-undang pun ada alasan penghapus pidana. misalnya : a. pada arrest susu dan air). Dapatkah orang tersebut dipidana ? sesuai dengan pendapat MJ van Bemmelen orang tersebut tidak dapat dijatuhi pidana. apabila dapat diterima secara wajar bahwa ia boleh berbuat seperti itu. PENGHAPUS PIDANA PUTATIEF DAN penghapus pidana yang putatief.299 300 ALASAN PENGHAPUS PIDANA DI LUAR UU. Menurut Jan Remmelink. e. hak yang timbul dari pekerjaan (beroepsrecht) seorang dokter. mewakili urusan orang lain (zaakwaarneming). Ada kemungkinan bahwa seseorang mengira telah berbuat sesuatu dalam daya paksa atau dalam keadaan pembelaan darurat atau dalam menjalankan undangundang atau dalam melaksanakan perintah jabatan yang sah. terjadi eror fact (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi factual) atau eror yuridis (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi yuridis). ijin atau persetujuan dari orang yang dirugikan kepada orang lain mengnai suatu perbuatan yang dapat dipidana. bidan dan penyelidik ilmiah (misalnya untuk vivisectie). tidak adanya kesalahan sama sekali (avas. b. d. hak dari orang tua. apabila dilakukan tanpa ijin atau persetujuan (consent of the victim). jika ada kasus-kasus di mana kita dapay membuktikan bahwa tiada kesalahan sama sekali maka kita dapat menggunakan avas untuk : kasus-kasus khusus. gurur untuk menertibkan anakanak atau anak didiknya (tuchtrecht). AVAS merupakan singkatan dari afwezigheid van alle schuld. Dimuka telah dibicarakan tentang alasan penghapus pidana yang berupa alasan pembenar dan pemaaf (atau alasan penghapus kesalahan) yang terdapat dalam KUHP. c. apoteker. pada kenyataannya ialah bahwa tidak ada alasan penghapus pidana tersebut dalam hal ini ada alasan . tidak adanya unsur sifat melawan hukum yang materiil (arrest dikter hewan).

I. untuk melarikan wanita (pasal 332). Pada prinsipnya kewenangan melakukan penuntutan hadir seketika ada dugaan terjadinya tindak pidana. Namun demikian terdapat beberapa hal yang menjadi dasar atas gugurnya kewenangan jaksa untuk melakukan penuntutan menurut KUHP adalah : a.1. persetubuhan terhadap anak dibawah umur (pasal 287-288). Amnesti Delik Aduan. Ne bis in idem (pasal 76 KUHP) c. Tidak adanya pengaduan dalam hal delik aduan (pasal 72-75 KUHP) b. . Matinya terdakwa (pasal 77 KUHP) d. Bentuk Delik Aduan Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Telah ada pembayaran denda maksimum kepada pejabat tertentu untuk pelanggaran yang hanya diancam dengan denda saja (pasal 82 KUHP). Misal : A. pencemaran nama baik (319) dan lain-lain. maka hukum memberikan pilihan kepadanya untuk mencegah atau memulai suatu proses penuntutan. delik aduan dibagi dalam dua bentuk : a.301 302 BAB XIV GUGURNYA KEWENANGAN MENUNTUT DAN MENJALANKAN PIDANA Sementara ketentuan diluar KUHP adalah : a. GUGURNYA KEWENAGAN MENUNTUT. Abolisi b. Delik Aduan Absolut Dalam hal dianggap bahwa kepentingan orang yang terkena tindak pidana itu melebihi kerugian yang diderita oleh umum. Daluwarsa (pasal 78 KUHP) e. Kewenangan melakukan penuntutan pada prisipnya tidak berhubungan dengan kehendak perorangan kecuali dalam beberapa delik tertentu diantaranya perzinahan (pasal 284). Disini dianggap bahwa kepentingan umum dianggap langsung terkena sehingga pihak yang terkena tindak pidana itu harus menerima adanya penuntutan sekalipun ia sendiri tidak menghendakinya.

II. pasal 335 (1) & (2) (perbuatan tidak menyenangkan) atau pasal 369 (pengancaman). Baik hubungan karena keturunan / darah atau dalam hal hubungan perkawinan. Yang berhak mengadu (subyek). Delik Aduan relative Karakter delik aduan ini tidak terletak pada sifat kejahatan yang dilakukan melainkan pada hubungan antara pelaku / pembantu dan korban. sewaktu-waktu.303 304 Seorang perempuan muda yang telah disetubuhi boleh memilih untuk menikahi lakilaki yang menyetubuhinya daripada pelaku dijatuhi pidana. misalnya :  Untuk perzinahan (pasal 284). Kebanyakan delik-delik ini terkait dengan delik dibidang harta benda (pasal 367 KUHP). Penarikan kembali pengaduan dapat dilakukan. b. Delik aduan absolute ini dapat dijumpai antara lain dalam ketentuan pasal 293 (perbuatan cabul terhadap anak dibawah umur) pasal 322 (pelanggaran kewajiban menyimpan rahasia). selama pemeriksaan dalam siding pengadilan . Yang berhak mengadu hanya suami / istri yang tercemar (ketentuan pasal 72 dan 73 diatas tidak berlaku). Belum 18 th / belum cukup umur / dibawah pengampunan (pasal 72) :  Oleh wakil yang sah dalam perkara perdata. ada pula ketentuan-ketentuan khusus.  Wali pengawas / pengampu  Istrinya  Keluarga sedaraj garis lurus  Keluarga sedarah garis menyimpang sampai derajat ke-3 2) Jika ybs meninggal pasal 73 oleh :    Orang tuanya Anaknya.2. Ketentuan umum menentukan : dalam pasal 72 KUHP 1) Jika ybs. Dalam hal relasi antara sifat keperdataan yang lahir dari h8ubungan tersebut dapat menjadi alasan dalam mencegah terjadinya penuntutan. Disamping ketentuan umum tersebut diatas . atau Suami / istri (kecuali ybs tidak menghendaki).

Akan tetapi jika aduan tersebut ditarik kembali. Bertempat tinggal di luar Indonesia 9 bulan sejak mengetahui adanya kejahatan.4. Tenggang waktu pengajuan pengaduan (pasal 74) a. atau orang yang harus memberi ijin bila wanita itu kawin  Jika sudah cukup umur. Sering juga digunakan istilah “nemodebet bis vexari” (tidak seorangpun atas perbuatnya dapat diganggu / dibahayakan untuk kedua kalinya) yang dalam literature Angka Saxon diterjemahkan menjadi “No one could be put twice in jeopardy for tha same offerice”. Diakuinya azas Neb is in idem ini terlihat dalam rumusan pasal 76 KUHP yang berbunyi (ayat (1) sub 1) sbb : “Kecuali dalam hal putusan haikm masih mungkin diulangi (herzeining). pada dasarnya . Penarikan kembali aduan. oleh : wanita ybs. maka kewenangan menuntut menjadi hapus. II. Memang selayakanya pengaduan mencakup pelaporan (aangifte) dengan permohonan dilakukannya penuntutan (verzoek tot vervolging). NE BIS IN IDEM (PASAL 76) Arti sebeanarnya dari neb is in idem ialah “tidak atau jangan dua kali yang sama”.305 306 belum dimulai (ayat 4). jaksa penuntut umum tak perlu menunggu lewatnya daluarsa menarik adauan. atau suaminya. Dibuatnya suatu pengaduan tidak dengan serta merta berarti bahwa ijin memberikan kewenangan penuntutan dilakukan secara final. meskipun undang-undang memberikan jangka waktu 3 bulan (pasal 75). Jadi ketentuan pasal 75 KUHP tidak berlaku. Bila pengaduan sudah disampaikan. Bertempat tinggal di Indonesia 6 bulan sejak mengetahui b. orang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang oleh hakim Indonesia II. b) Untuk rasa kepastian bagi terdakwa yang telah mendapat keputusan. Dasar pikiran atau ratio dari azas ini ialah : a) Untuk menjaga martabat pengadilan (untuk tidak memerosotkan kewibawaan Negara).  Untuk melarikan wanita (pasal 332) Yang berhak mengadu :  Jika belum cukup umur oleh : wanita ybs. B.3.

Pelepasan dari segala tuntutan hukum (ontslag van allerechtvervolging) pasal 191 ayat (2) KUHAP (dulu 314 RIB). Dengan demikian penuntutan terhadap seseorang dapat hapus berdasar neb is in idem. dengan adanya herzeining berarti putusan itu memang belum berkelanjutan dari tuntutan hukum yang pertama. misalnya : a. Dengan adanya syarat ini berarti terhadap putusan tersebut harus sudah tidak ada alat hukum / upaya hukum (rechtsmiddel) yang dapat dipakai untuk merubah keputusan tersebut. Keputusan hakim (yang berkekuatan hukum tetap) yang dimaksud disini adalah keputusan terhadap perbuatan atau perkara ybs. sehingga pengecualian yang tersebut dalam pasal 76 itu (yaitu adanya herzeining merupakan pengecualian terhadap azas ne bis in idem) sebenarnya tidak perlu.307 308 terhadap dirinya telah diadili dengan putusan yang berkekuatan hukum tetap”. yang biasanya disebut “penetapan-penetapan” (beschikking). Jadi keputusan-keputusan tersebut sudah mengandung penentuan terbukti tidaknya tindak pidana atau kesalahan terdakwa. III.1. Ada pendapat bahwa peninjauan kembali (herzeining) merupakan salah satu upaya hukum. Pembebasan (vrijspraak) pasal 191 (1) KUHAP (dulu 313 RIB).  Orang terhadap siap putusan itu dijatuhkan adalah sama. jadi bukan merupakan tuntutan hukum yang kedua kali. . apabila dipenuhi syarat-syarat sbb :  Ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. yaitu yang dapat berupa : I. Azas ne bis in idem tidak berlaku untuk keputusan hakim yang belum berhubungan dengan pokok perkara.  Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. Tentang tidak berwenangnya hakim untuk memeriksa perkara yang bersangkutan. Adanya putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. b. II. Penjatuhan pidana pasal 193 ayat (1) KUHAP (dulu 315 RIB). Jadi menurut pendapat ini. Tentang tidak diterimanya tuntutan Jaksa karena terdakwa tidak melakukan kejahatan. B.

Apabila misalnya A dan B melakukan tindak pidana bersama-sama. Orang yang dituntut harus sama. Jadi dalam hal ini tidak ada neb is in idem. maka dalam hal B kemudian tertangkap ia tetap masih dapat dituntut walaupun misalnya A dibebaskan. maka putusan ini tidak merupakan alasan untuk neb is in idem dalam perkara gugatan perdata. Ini merupakan segi subyektif dari persyaratan neb is in idem. jadi keputusan mengenai hukum pidana. Adanya keputusan hakim yang menjadi syarat neb is in idem ini tidak hanya keputusan hakim Indonesia. . tetapi dapat juga keputusan hakim Negara lain (hakim Dengan syarat-syarat diatas. Begitu pula sebaliknya. maka apabila keputusan hakim asing yang berupa pemidanaan baru sebagian dijalani. = voorwaardelijke invrijheidstelling). c) Putusan berupa pemidanaan : . Perlu pula diperhatikan bahwa putusanputusan hakim seperti dikemukakan diatas adalah putusan yang menyangkut perkara pidana. akan tetapi yang tertangkap dan dituntut pidana baru A. = voorwaardelijke veroordelling) dan pelepasan bersyarat (V. Jadi pasal 76 KUHP tidak mengenai penetapanpenetapan. Adanya penetapan-penetapan serupa itu tidak merupakan alasan untuk adanya neb is in idem. Tetang tidak diterimanya perkara penuntutan sudah daluwarsa. Hal ini disebut dalam pasal 76 (2) dengan syarat putusan hakim asing tersebut harus berupa : a) Putusan yang berupa pembebasan.Yang sekuruhnya telah dijalani.309 310 c. maka orang tersebut di Indonesia dapat dituntut lagi. maka putusan hakim mengnai hal ini tidak menghalangi untuk dilakukannya penuntutan dalam perkara pidananya.I. apabila yang diputus adsalah perkara pidananya lebih dulu.V. atau . menurut Pompe termasuk pidana bersyarat (V. Dalam pengertian “telah dijalani seluruhnya” putusan hakim asing itu. Apabila misalnya seorang pengendara motor menabrak penjual soto dan dia dituntut secara perdata untuk memberi ganti rugi. atau. Jadi tegasnya pasal 76 KUHP hanya berlaku untuk perkara-perkara pidana. karena asing).Yang telah diberi ampun (grasi). b) Putusan yang berupa pelepasan dari tuntutan hukum.

maka dimungkinkan ada Dalam yurisprudensi. Terdakwa banding. Mula-mula terdakwa diputus dan dipidana karena menganiaya polisi (pasal 356 sub. telah memukul dada dan menendang kaki seorang anggota polisi yang sedang menjalankan tugasnya. Kasusnya : Orang yang sedang mabuk ditempat umum mengganggu ketentraman umum. Catatan : Apabila dipandang sebagai concursus realis. seperi halnya dijumpai dalam concursus/ gabungan tindak pidana.311 312 - Yang wewenang untuk menjalankannya telah hapus karena kadaluwarsa. Ini segi obyektif dari neb is in idem (objective identiteit). maka tidak ada neb is in idem.2. Misal : A melakukan pemerkosaan dijalan umum (pasal 285 dan 281). sehingga terdakwa lepas dari segala tuntutan. kemudian oleh jaksa dituntut lagi mengenai menggangu ketentraman umu dalam keadaan mabuk (pasal 492). Apabila dipandang sebagai concursus idealis. sehingga dapat dikatakan terdakwa melakukan beberapa perbuatan. Akan tetapi apabila dipandang sebagai concursus idealis. maka hanya dimungkinkan adanya satu kali penuntutan saja. yaitu dengan Arrest HR 27 Juni 1932. Jaksa mengajukan kasasi ke Hoge Raad dengan . Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. B. dan pengadilan tinggi menyatakan ada ne bis in idem. dimana hanya dipandang ada satu perbuatan. Harus ada feit / perbuatan yang sama. Kalau kasus diatas dipandang sebagai concursus realis. Seandainya Jaksa hanya menuntut berdasar pasal 285 (perkosaan) saja dan ternyata tidak terbukti. maka apakah Jaksa masih dapat menuntut yang kedua kalinya berdasar pasal 281 (melanggar kesusilaan dimuka umum) ? dan pakah putusan yang pertama merupakan res judicata (putusan yang neb is in idem)? Jawaban terhadap masalah ini tergantung atau berkisar pada apa yang dimaksud dengan “feit”. maka ada neb is in idem. Masalah ini merupakan masalah yang paling sukar. ajaran feit materiil pada neb is in idem telah ditinggalkan pada tahuan 1932. Tuntutan kedua ini oleh pengadilan diterima dan terdakwa dijatuhi pidana. penuntutan lagi. 2).

asal Feitnya tetap. Jaksa kemudian mengajukan tuduhan lagi. Disinipun ada neb is in idem. juga berhubungan dengan masalah. Disini ada neb is in idem. Dengan perubahan ini menurut Pompe.313 314 mengatakan bahwa perbuatan terdakwa itu merupakan dua perbuatan dipandang dari sudut hukum pidana. sehingga tuntutan jaksa dapat diterima. dapat lebih merugikan kepentingan umum dari pada mengulangi percobaan untuk penerapan undang-undang pidana dengan setepat-tepatnya. 3) Dengan sengaja menganiaya yang berakibat mati (pasal 351 ayat (3)). . penerapan pasal 76 lebih mudah. b. Misal semula terdakwa dituduh mencuri di taman Diponegoro. Berdasar tempat pencurian yang sebenarnya dilakukan yaitu di Stadion Diponegoro. Persoalan feit / perbuatan pada pasal 76. Namun diakui bahwa itu berarti menyempitkan berlakunya pasal 76. halangan dalam penuntutan baru. disamping berlkaitan erat de4ngan masalah concursus. Tempat terjadinya tindak pidana. tetapi didalam surat tuduhan tercantum tgl 1 Juli 1979. 2) Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain (pasal 359). Perbuatannya/ketentuan yang dilanggar : Misal : perbuatan A sebenarnya dapat dikualifisir dalam 3 kemungkinan yaitu : 1) Dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain (pasal 338). c. seperti dimaksud dalam pasal 76 HR melihat disini juga ada 2 perbuatan yang mempunyai cirri yang berlainan. alternativitas dalam tuduhan dapat meliputi masalah : a. jaksa dapat mengajukan permintaan unutk “merubah surat tuduhan berdasar pasal 282 HIR. artinya kemungkinana penuntutan kembali menjadi longgar. jjadi disini tidak ada perbuatan yang sama. Kesukaran dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perkataan ”feit” dirubah menjadi “strafbaar feit”. Tetapi menurut Pompe. 1 Juni. Dalam hala ini sebenarnya sebelum ada putusan. kemudian dibebaskan. Yang betul. Jaksa tidak dapat menuntut lagi berdasar tgl. apabila terdakwa dibebaskan unutk tuduhan pencurian tercantum tgl. Waktu terjadinya tindak pidana Misal seorang dituntut telah melakukan pencurian pada tgl 1 Juni 1979.

D. Menurut pasal 79. Karena itu adagium punier non (simper) necesse est (menghukum tidak selamanya perlu) menajdi dasar dari keberadaan lembaga ini. yaitu :     Untuk semua pelanggaran dan kejahatan percetakan : sesudah 1 tahun. Untuk kejahatan yang diancam pidana penjara lebih dari 3 tahun daluwarsanya 12 tahun.1. Namun demikian yang utama dari ketiga lasan itu adalah kebutuhan untuk memidana dan kesulitan pembuktian menjadi alasan utama. Hal ini wajar karena KUHP berpendirian bahwa yang dapat menjadi subyek hukum hanyalah orang dan pertanggungan jawab bersifat pribadi. MATINYA TERDAKWA (PASAL 77) DAN MATINYA TERPIDANA (PASAL 83). Konsekwensi dari pemikiran ini adalah bahwa kematian seorang tersangka atau terdakwa menyebabkan kewenangan seorang Jaksa penuntut menjadi gugur. Untuk kejahatan yang diancam denda. Sementara kematian seseorang terpidana menyebabkan kewajiban menjalankan pidana menjadi terhapuskan.315 316 C. D. tenggang daluwarsa mulai berlaku pada hari sesudah perbuatan dilakukan. DALUWARSA (VERJARING). kurungan atau penjara maksimum 3 tahun : daluwarsanya sesudah 6 tahun.1. Dalam hal ini tidak ada suatu tanggungjawab pidana diwariskan. Tenggang waktu daluwarsa ditetapkan dalam pasal 78 (1). kecuali dalm hal-hal tertentu yang disebut dalam pasal tersebut yang menyangkut vorduurende delict (delik berlangsung terus lihat penjelasan . Ditetapkannya lemabga daluarsa penuntutan dalam KUHP pada dasarnya dilandasi oleh beberapa pemikiran yaitu :  Dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga mengahpuskan keinginan untuk melakukan pembalasan. Tenggang Waktu Daluwarsa Penuntutan.  Berjalannya waktu sekaligus menghapuskan jejak-jejak tindak pidana yang menyebabkan kesulitan pembuktian.  Bahwa pelaku setelah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan. Untuk kejahatan yang diancam pidana mati atau seumur hidup : daluwarsanya sesudah 18 tahun. D.1 Daluwarsa Penuntutan.

317 318 dalam bab tetang jenis delik). Menurut pasal 80 (1) tenggang daluwarsa terhenti / tercegah (gestuit) apabila ada tindakan penuntutan (daad van vervolging). 329. dipertangguhkan. jadi tindakan pengusutan tidak lagi dianggap termasuk tindakan penuntutan. a. - D. jadi selama terhentinya selama ada tindakan penuntutan tenggang waktunya tidak dihitung. Pencegahan dan penangguhan. - tuduhan. Dalam hal ada penundaan/pertangguhan (schorsing) maka tenggang waktu yang telah dilalui.1. sehari setelah data tersebut dimasukkan dalam catatan register. Adapun yang diatur dalam pasal 79 adalah : Kejahatan terhadap mata uang (pasal 244) perhitungan daluwarsa didasarkan pada waktu setelah uang dipakai atau diedarkan. daluwarsa dihitung keesokan hari setelah orang tersebut dibebaskan atau ditemukan meninggal dunia. Pencegahan (stuiting). tetap diperhitungkan terus. b. Kejahatan terhadap kemerdekaan seseorang (pasal 328. yaitu hanya perbuatan-perbuatan penuntut umum yang langsung menyangkutkan hakimdalam acara pidana (misal menyerahkan perkara ke siding. sebelum diadakannya penundaan. Menurut pasal 81 (1) tenggang daluwarsa penuntutan tertunda/tertangguhkan (geschorst) apabila ada perselisihan praejudisiil. yaitu perselisihan menurut hukum perdata yang terlebih dulu harus diselesaikan sebelum acara pidana dapat diteruskan. Hanya saja selama acara hukum perdata berlangsung dan belum selesai. Menurut pasal 80 (2) sesudah terjadinya pencegahan (stuiting) mulai berjalan tenggang daluwarsa yang baru.2. tenggang daluwarsa tuntutan pidana. Hal ini dimaksudkan agar terdakwa tidak diberi kesempatan untuk menunda-nunda penyelesaian perkara perdatanya dengan perhitungan dapat dipenuhinya tenggang daluwarsa penuntutan pidana. mendakwa / mengajukan . Pada mulanya tindakan penuntutan diartikan secara luas yaitu mencakup juga tindakan-tindakan pengusutan (daad van opsporing). Penangguhan (scorsing). Kejahatan terhadap register kependudukan (pasal 556-558 a). memohon revisi). Tetapi yurisprudensi kemudian menerima pendapat yang lebih sempit. 330 dan 333).

2. Pencegahan Dan Penagguhan Daluwarsa Pemidanaan.2. Ini tidak sama dengan putusan hakim yang inkracht van gewijsde (putusan ayat berkekuatan tetap). Daluwarsa Pemidanaan. kewenangan Menurut pasal 85 (1) tenggang daluwarsa dihitung mulai pada keesokan harinya sesudah putusan hakim dapat dijalankan. Pada ayat (3) ditetapkan bahwa : “tidak ada daluwarsa untuk mejalankan hukuman mati”. D. Perbedaannya disini adalah alasan kesulitan pembuktian tetunya tidak lagi relevan disini. yaitu “verstekvonnis” (keputusan diluar hadirnya terdakwa). pencegahan (stuiting) pencegahan (stuiting) terhadap daluwarsa hak untuk menjalankan / mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 85 ayat (2)) yaitu : 1) Jika terpidana melarikan diri selama menjalani pidana. Dalam hal ini. D.319 320 D. yaitu :  untuk semua pelanggaran : daluwarsanya 2 tahun.  Untuk kejahatan lainnya : daluwarsanya sama dengan daluwarsa penuntutan (lihat pasal 78 ) ditambah sepertiga. Daluwarsa kewenangan menjalankan pidana.2. bahwa pelaku setetlah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan.  Untuk kejahatan percetakan : daluwarsanya 5 tahun.1. a. Tenggang waktu daluwarsanya diatur dalam pasal 84 (2). tenggang daluwarsa baru dihitung pada keesokan harinya setelah melarikan diri. dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga menghapuskan keinginan unutk melakukan pembalasan 2. Pada umumnya memang putusan hakim yang berkakuatan hukum tetap. . Tetapi ada putusan hakim yang sudah dapat dieksekusi sebelum keputusan itu berkekuatan tetap.2. Sama dengan daluarsa penuntutan maka landasan pemikiran atas daluarsa pemidanaan didasarkan kepada dua hal yaitu : 1.

Dasar pemikiran lembaga grasi menurut Remelink adalah keadaan pada waktu hakim menjatuhkan putusan tidak atau kurang diperhatikan atau mungkin pertimbangan dan yang bila (secara memadai sebelumnya ia keathui. maka pada esok harinya setelah pencabutan. Keputusan hakim tetap ada. akan mendorongnya menjatuhkan pidana atau tindakan lain atau bahkan untuk tidak menjatuhkan sanksi sekalipun. Grasi dapat dikabulkan manakala hukuman yang dijatuhkan dianggap tidak akan mencapai tujuan atau sasaran pemidanaan itu sendiri. Perihal prosedur Grasi diatur dalam undangundang 22 tahun 2002. penjara seumur hidup. A. penjara paling rendah 2 tahun. walaupun perampasan kemerdekaan itu berhubung dengan pemidanaan lain. E. penagguhan (schorsing). kurungan diganti dengan denda. menurut ketentuan pasal 2 ayat (2) grasi hanya dapat dimohonkan bagi terpidana yang dijatuhi pidana mati. b. maka jangka lewat waktu yang telah dilalui hilang sama sekali (tidak dihitung). Dengan demikian selama ada pencegahan. Dalam pasal 2 ayat (3) permohonan grasi hanya dapat diajukaqn 1 (satu) kali. Jadi grasi dari presiden. kecuali dalam hal : . Grasi. Hanya mengeksekusi sebagian saja Mengadakan komutasi yaitu jenis pidananya diganti. Penundaan (schorsing) terhadap daluwarsa hak untuk mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 33 ayat (3) yaitu :  selama perjalanan pidana ditunda menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. pidana mati diganti penjara seumur hidup. Ketentuan Gugurnya Kewenangan Menuntut Dan Menjalankan Pidana di luar KUHP.  selama terpidana dirampas kemerdekaannya (ada calon tahanan).321 322 2) Jika pelepasan bersyarat dicabut Dalam hal ini.1. dapat berupa :    Tidak mengeksekusi seluruhnya. tetapi pelaksanaannya dihapuskan atau dikurangi / diringankan. mulai berlaku tenggang daluwarsa baru. misal penjara diganti kurungan. Grasi tidak menghilangkan putusan hakim ybs.

keputusan Presiden dapat berupa pemberian atau penolakan grasi. Presiden memberikan keputusan atas permohonan grasi setelah memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. atau keluarganya kepada Presiden. Jangka waktu pemberian atau penolakan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diterimanya pertimbangan Mahkamah Agung. Terpidana yang pernah diberi grasi dari pidana mati menjadi pidana penjara seumur hidup dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan pemberian grasi diterima. kecuali dalam hal putusan pidana mati. . dengan persetujuan terpidana (pasal 6 (1-2)) kecuali dalam hal terpidana dijatuhi pidan mati. Sementara pasal 3 permohonan grasi tidak menunda pelaksanaan putusan pemidanaan bagi terpidana. kuasa hukumnya. Salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah Agung. permohonan grasi dapat diajukan oleh keluarga terpidana tanpa persetujuan terpidana (pasal 6 ayat (3)). Kepala Lembaga Pemasyarakatan menyampaikan permohonan grasi tersebut kepada Presiden dan salinannya dikirimkan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama paling lambat 7 hari terhitung sejak diterimanya permohonan grasi dan salinannya.323 324 I. Permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dan pasal 7 diajukan secara tertulis oleh terpidana. Permohonan grasi dan slinannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat disampaikan oleh terpidana melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (3). Dan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tigta) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya salinan permohonan dan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 9. II. Permohonan grasi oleh terpidana atau kuasa hukumnya atau oleh keluarga terpidana. penagdilan tingkat pertama mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara terpidana kepada Mahkamah Agung. Terpidana yang pernah ditolak permohonan grasinya dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal penolakan permohonan grasi tersebut. Mahkamah Agung mengirimkan pertimbangan tertulis kepada Preisden. Dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) haru terhitung sejak tanggal penerimaan salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 8.

Amnesti.325 326 E. Dalam praktek amnesti diberikan karena alasan politik. Abolisi dengan demikian berlaku ante sentiam yang berkaitan dengan dilepaskannya kewenangan melakukan penuntutan atau pelanjutan dari penuntutan yang sudah dimulai. terdakwa ataupun bukan.3. Oleh karena itu amnesti mencakup perkara dalam fase ante sentantiam (sebelum dijatuhkanya putusan) maupun post sentantiam (pasca proses ajudikasi). termasuk putusan itu sendiri. .2. abolisi merupakan hak prerogative presiden yang ditetapkan dalam UUD 1945 sebelum perubahan. mereka yang identitasnya diketahui ataupun tidak namun bersalah melakukan tindakan tersebut. E. demi kepentingan semua terpidana maupun bukan. Amnesti dapat didefinisikan sebagai pernyataan umum (yang diterbitkan dalam suatu aturan perundang-undangan) yang memuat pencabutan senua akibat pemidanaan dari suatu delik tertentu atau satu kelompok delik tertentu. Abolisi mengandung pengertian penghapusan yang diberikan kepada perseorangan yang mencakup penghapusan seluruh akibat penghukuman seluruh akibat penjatuhan putusan. Seperti halnya grasi dan amnesti. Abolisi.

Dalam ilmu hukum pidana dikenal ada dua sistem residive ini. 2. yaitu : 2. Perbedaannya dengan Concursus Realis ialah pada Residive sudah ada putusan Pengadilan berupa pemidanaan yang telah MKHT sedangkan pada Concursus Realis terdakwa melakukan beberapa perbuatan pidana dan antara perbuatan sang satu dengan yang lain belum ada putrusan Pengadilan yang MKHT. merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan. Disamping itu di dalam KUHP juga memberikan syarat tenggang waktu pengulangan yang tertentu. Jadi tidak ditentukan jenis tindak pidana dan tidak ada daluwarsa dalam residivenya. Residive merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan.327 328 BAB XV RESIDIVE ( PENGULANGAN TINDAK PIDANA) Menurut sistem ini. Sistim Residive Umum . 1. Sistem Residive Khusus Menurut sistem ini tidak semua jenis pengulangan merupakan alasan pemberatan pidana. MENURUT KUHP Dalam KUHP ketentuan mengenai Residive tidak diatur secara umum tetapi diatur secara khusus untuk kelompok tindak pidana tertentu baik berupa kejahatan maupun pelanggaran. PENGERTIAN Residive atau pengulangan terjadi apabila seseorang yang melakukan suatu tindak pidana dan telah dijatuhi pidana dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap ( MKHT) atau “in kracht van gewijsde”. 1. Jadi dengan demikian KUHP termasuk ke dalam sistem Residive Khusus. Pemberatan hanya dikenakan terhadap pengulangan yang dilakukan terhadap jenis tindak pidana tertentu dan yang dilakukan dalam tenggang waktu yang tertentu pula. kemudian melakukan tindak pidana lagi. setiap pengulangan terhadap jenis tindak pidana apapun dan dilakukan dalam waktu kapan saja.

216(3). ii. 530. Residive Pelanggaran Residive dalam pelanggaran ada 14 jenis tindak pidana. 216. Sedangkan untuk residive yang diatur dalam Pasal 486. 208. Residive Kejahatan. 549 KUHP.Tenggang waktu lima tahun. Ancaman pidana ditambah sepertiga ii. 161(2). 157. 163 dan 393 tenggang waktunya lima tahun. 477 dan 488 KUHP mensyaratkan bahwa tindak pidana yang diulangi termasuk dalam kelompok jenis tindak pidana tersebut. 517. 208(2). RECIDIVE DI LUAR KUHP Recidive diluar KUHP antara lain diatur di dalam Undang-Undang: i.5/1997). ancaman pidana ditambah sepertiga. 144. 3. Pasal 72. 144(2). 512. 540. 501. Residive terhadap kejahatan dalam pasal : 137(2). Pasal 78 s/d 85. 516. 492. 495. 303 bis dan 321 tenggang waktunya dua tahun . 536. Tindak Pidana Narkotika (UU 22 / 1997). 544. Pasal : 137. 545. misalnya : i. dan pasal 87. 321(2). Jadi ada 11 jenis kejahatan yang apabila ada pengulangan menjadi alasan pemberat.329 330 a. iii. yaitu : Pasal : 489. . 393(2) dan 303 bis (2). 163(2). 161. 155(2). Tindak Pidana Psikotropika (UU No. Pasal 154. 541. Syarat-syarat Recidive pelanggaran disebutkan dalam masing-masing pasal yang bersangkutan. b. Perlu diingat bahwa mengenai tenggang waktu dalam residive tersebut tidak sama.

5. 3. Jelaskan dimana diatur ruang berlakunya hukum pidana di dalam KUHP dan di luar KUHP ? 2. Apa pentingnya bagai Jaksa memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana ?. Apa yang dimaksud dengan Recidive ? . 4. Moeljatno apa saja yang menjadi unsur dari suatu perbuatan pidana ?. Menurut Prof. Ruang berlakunya hukum pidana dapat dibedakan menurut waktu dan menurut tempat.331 SOAL UJIAN DAFTAR PERTANYAAN MATERI DIKLAT ASAS-ASAS HUKUM PIDANA 1. Siapa yang dimaksud sebagai Pelaku (dader) menurut pasal 55 KUHP ?.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful