BAB VII DAYA SAING AGRO INDUSTRI GULA

Oleh: Mahmud Thoha

7.1.

Pendahuluan

Gula merupakan salah satu jenis kebutuhan pokok masyarakat yang sangat vital, disamping beberapa jenis kebutuhan pokok lainnya seperti beras, daging, minyak goreng dan lain-lain. Selain sebagai barang konsumsi untuk minuman, gula juga rnerupakan komponen utama pada harnpir semua jenis rnakanan seperti roti, kue dan aneka penganan dan masakan. Oleh karena itu permintaan terhadap gula meningkat seiring dengan pertarnbahan penduduk. Penduduk Indonesia dewasa ini rnencapai 216.948.400 jiwa (2003), dengan permintaan gula diperkirakan mencapai 130 juta ton setahun. Permintaan sebanyak itu baru dapat dipenuhi dari dalarn negeri sekitar separuhuya. Dengan demikian ada kesenjangan yang cukup lebar Selain antara permintaan dan penawaran gula di dalarn negeri.

merupakan masalah, kesenjangan ini sekaligus adalah peluang dan tantangan. Ketidakmampuan industri gula dalam memasok kebutuhan di dalam negeri merupakan indikasi adanya "supply bottleneck" dalam industri ini. Dengan perkataan lain, ada kelernahan pada sisi suplai atau aspek produksi dalam industri gula sehingga tidak rnarnpu

194

memenuhi permintaan pasar yang jumlahnya cukup besar.

Hal ini

bertolak belakang dengan beberapa kornoditi seperti ayam, telor dan berbagai jenis komoditi lainnya pada umumnya yang mengalami kesulitan dalarn rnernasarkan produk. Kelemahan pada sisi suplai atau produksi dapat dilihat dari rendahnya efisiensi Indonesia. teknis maupun ekonornis dari pabrik-pabrik gula di Survei singkat yang dilakukan oleh tim peneliti

Departemen Kehutanan dan Perkebunan tahun 1999 memberikan gambaran tentang kondisi 44 pabrik gula (PG) di Jawa sebagai berikut (Agus Pakpahan, 2004: 92-93): • 10 PG berada pada posisi efisien baik secara teknis maupun ekonomis, yakni PG Jatiroto, PG Krembung, PG Tulangan, PG Gempolkerep, PG Watutulis, PG Cukir, PG Jombang Barn, PG Pesantren Barn, PG Merican, PG Lestari. • • • 26 PG tidak efisien baik secara teknis maupun ekonomis, 2 PG efisien secara teknis, tetapi tidak efisien secara ekonomis. 2 PG efisien secara ekonomis, tetapi tidak efisien secara teknis. Sementara itu dari 9 PG di luar Jawa, hanya 2 PG yang efisien baik secara teknis maupun ekonomis yakni PG Gunung Madu Plantations dan PG Gula Putih Mataram, sedangkan 7 PG lainnya tidak efisien.

195

Rendahnya efisiensi pabrik-pabrik gula tersebut disebabkan karena sebagian besar pabrik gula mempunyai kapasitas giling yang relatif kecil, yaitu di wabah 3000 ton tebu per hari. Faktor lain yang menjadi sumber inefisiensi tersebut adalah umur mesin dan teknologi yang sudah terlalu tua serta kualitas bahan baku tebu yang rendah (Rachmat Pambudy, 2004: xx - xxi). Akibatnya produktivitas ,gula hablur menjadi rendah sebagaimana ditunjukkan oleh terns menurnnnya produktivitas gula nasional dari 9,0 tonlhektar pada tahun 1960-1970 menjadi 6,1 ton/hektar pada dekade 1980-1990 dan hanya 4,8 tonJhektar pada periode 1999-2001. Kelemahan pada sisi suplai inilah yang menyebabkan produk gula Indonesia tak berdaya saing sebagaimana diindikasikan oleh besarnya volume gula impor dari tahun ke tahun. Oleh karena itu pembahasan industri gula ini terntama akan digunakari untuk menjelaskan faktorfaktor yang menjadi/penyebab rendahnya daya saing industri gula di tanah air, dengan menggunakan pendekatan "diamond" kluster Michael Porter, yakni faktor permintaan, faktor input, faktor industri pendukung dan penunjang, faktor strategi industri dan kompetisi, serta faktor peluang. 7.2. Faktor Permintaan Permasalahan industri gula Indonesia tidak dapat dilepaskan keterkaitannya dengan perkembangan permintaan dan penawarangula dalam pasar global. Produsen gula dewasa ini menyebar di berbagai

196

wilayah terutama Eropa Barat, Eropa Timur, Afrika, Amerika Tengah dan Utara dan Asia. Amerika Produksi gula di Eropa Barat dan Afrika serta pertumbuhan yang lamb an Tengah dan Utara mengalami

atau konstan, bahkan di Eropa Timur mengalami pertumbuhan negatif. Pertumbuhan 1990-an. produksi paling pesat terjadi di wilayah Amerika Selatan mencapai 7,7% per tahun selama satu dasawarsa yang cukup tinggi juga terjadi di Asia (3.7%) dengan pertumbuhan

Pertumbuhan

dan Oceania (2,9%) (lihat Tabel 7.1)
Tabel7.1 Pcrkembangan Produksi Gula Dunia Berdasarkan Wilayahnya Tahun 1990/1991 s.d, 1998/1999 (juta ton)
Taboo 94/95 18.71 8,57 7,42 19,17 Pertum95196 18,96 9,80 8,01 19,85 96/97 20,66 9.63 6,23 20,32 97/98 22,18 8,25 8,77 20,53 98/99 21,41 7,76 9,12 20,59

Wilayah Eropa Barat Eropa Timur Afrika Arnerika Tengah & Utara Amerika Selatan Asia Oceania Total

90/91 21.03 13,50 8,09 21,45

91192 19,92 10,63 7,84 20,74

92193 20,76 9,92 6,68 19,57

93/94 20,93 10,93 7,01 18,71

huban
(%J

1,12 -5,73 1,45 -0,14

14.42 30,06 4,17 115,72

15,25 38,49 3,94 116,80

16,65 34,23 4,88 112,68
,

16.17 31,99 5,59 111,37 1999/2000

18,90 37,77 5,29 115,83

21,45 40,94 6,16 125,18

21,21 37,19 6,46 123.70

24,21 37,54 6,21 127,70

27,50 42,30 5,14 133,81

7,73 3,74 2,95 2,27

Sumber: F.O. Lich, World

. Sugar Statistics

Dilihat dari pangsa produksi tahun 1998/99, Asia masih mendominasi
(32%), (21,0%). disusul oleh Amerika Selatan (27.5%) dan Eropa Barat Juga tampak bahwa produsen gula utama adalah Asia dan

197

Amerika Selatan dengan total produksi meningkat dari 44 juta tall pada tahun 1990/91 menjadi 70 juta ton 199E/99. Secara keseluruhan produksigula dunia meningkat dari 115 juta tonmenjadi 133 juta ton atau mengalami kenaikan 2,3% rata-rata per tahun selama periode tersebut. Produksi total tersebut selalu melampaui - konsumsinya sehingga stock atau cadangan gula dunia terus meningkat dari 20 juta ton menjadi 35 juta ton selama periode tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab utama tertekannya harga rata-rata gula dunia (lihat Tabel 7.2).
Tabel7.2 Neraca Gula Dunia Tahun 1991 s.d, 200 I Harga rata-rata white sugar (US$/ton) 268,20 247,80 255,80 344,99 396,13 366,70 315,87 255,19 200,61 221,73 249,31 Dewan

Tahun

Stock

Produksi

Impor

Total Suplai 165,391 [68,24[ 164,581 161,225 164,986 177,425 181,868 183,767 190,388 201,205 199,970

Ekspor

Konsumsi

Stock Akhir

[991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 Sumber.

19,395 20,927 23,510 21,574 18,614 22,756 26,569 26,276 25,463 30,454 34,789

113,458 116,512 112,089 109,787 115,842 122,212 122,496 124,997 130,228 135,641 [29,653

32,538 30,802 28,982 29,864 30,530 32,457 32,803 32,494 34,697 35,110 35,528

32,538 30,802 28,982 29,864 30,530 32,457 32,803 32,494 34,697 35,110 35,528

111,925 113,929 114,025 112,747 113,622 116,574 119,667 122,918 123,738 126,859 128,787

20,927 23,510 21,574 18,614 20,834 28,394' 29,398 28,355 31,953 39,236 35,655

USDA, Sugar: World Markets and Trade, November Gula Nasional 2002

2001, diolah oleh Sekretariat

198

Gambaran lebih mutakhir memperlihatkan bahwa selama 5 tahun terakhir (1999/2000 - 2003/2004) produksi gula dunia berkisar antara 130,4 juta ton hingga 143,2 juta ton. Sementara stock akhir gula dunia berkisar 27,1 - 37,2 juta ton selama kurun waktu tersebut. Harga rata-rata gula dunia berkisar antara US$ cent 7 - 13/1b. Sedangkan harga gula dunia sangat rendah yakni: US$ 216/ton di London dan US cent 6,75/lb di New York. Tetapi biaya produksi ratarata lebih dari US cent 13/Ib. Dengan kondisi seperti itu maka sebenamya hampir semua produsen gula dunia akan tutup, karena harga jual tak mampu menutup biaya produksinya. Namun demikian, Uni Eropa mampu mengekspor sekitar 5 juta ton gula, atau merupakan eksportir terbesar kedua dunia setelah Kuba. Hal ini merupakan indikasi bahwa sistem produksi dan pasar gula dunia tidak mumi dikendalikan oleh mekanisme pasar, melainkan penuh dengan distorsi atau intervensi pemerintah (Agus Pakpahan, 2004: 96). Melimpah ruahnya produksi gula dunia dibandingkan dengan

permintaan (konsumsi)-nya menyebabkan banyak negara produsen menjual produk tersebut di bawah harga rata-rata produksinya, yang mengakibatkan banyak negara lainnya mengambil langkah-langkah protektif untuk melindungi industri gula dalam negerinya. Beberapa negara maju yang menggembar-gemborkan perdagangan bebas seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa telah menentukan tarif di atas ketentuan World Trade Organization (WTO) yakni "base rate tariff' sebesar 110% dan "binding rate tariff' sebesar 95%. Sebagai negara

199

eksportir utama, pada tahun 2002 Uni Eropa mengenakan tarif impor

240%, sementara itu sebagai negara importir, Amerika Serikat mengenakan tarif sebesar 155%. Indonesia sebagai negara sedang
sebesar berkembang merupakan eksportir, berdasarkan dan sekaligus pengimpor gula justru hanya mengenakan Ini tarif terendah kecuali Mesir di antara negara-negara yang mengenakan importir maupun Padahal tarif sebesar 32% untuk "raw sugar" dan 43% untuk gula jadi. tarif 30%.

ketentuan WTO, Indonesia sebenamya bisa menentukan

tarif gula sebesar

95%.
Tabe1 7.3 Gula Tebu di Beberapa Negara TarifImpor (%) Negara Importir Tarif Impor (%)

TarifImpor No. Negara Eksportir Utama Uni Eropa Kolumbia Afrika Selatan Thailand Brasilia

Bangladesh Arnerika Serikat 3. Philipina 4. India 5. 55 Cina 6. Srilanka 7. Mesir 8. Indonesia Sumber: Asosiasi Gula Indonesia (AGI) 1. 2.

240 130 124 104

200 155 133 150 76 66 30 32&43

200

Dari kebijakan tarif impor gula di berbagai negara di atas tampak bahwa negara-negara lain lebih "concern" melindungi produsen gula dalam negerinya sedangkan Indonesia lebih "concern" terhadap konsumennya. Pemerintah Indonesia lebih berkepentin:gan untuk Kebijakan tarif impor gula menyediakan gula yang murah daripada memikirkan kepentingan petani tebu dengan harga yang layak. Indonesia yang begitu rendah merupakan konsekuensi logis dari keterikatan Indonesia terhadap kesepakatan yang telah ditandatangani pemerintah dan IMP sebagaimana tertuang dalam salah satu butir letter of intent (Lol) 1998 yang berisi penghapusan monopoli BULOG atas tataniaga gula, termasuk impor gula. Sejak saat itu impor gula boleh dilakukan oleh importir umum, dan tarifuyapun ditekan serendah mungkin sehingga Indonesia kebanjiran gula impor dengan harga yang sangat murah. Pada sisi yang lain, negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa justru melindungi produsen gula dalam negerinya dengan tarif yang melebihi ketentuan WTO. Ini merupakan ironi rejim perdagangan bebas, Negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia diminta membuka pasar domestilmya seluas-luasnya terhadap komoditi negara-negara maju, dalam waktu yang bersamaan negara-negara maju justru membentengi pasar dalam negerinya terhadap komoditi berkembang. impor dari negara-negara sedang Dengan demikian rejim perdagangan bebas jelas

merupakan suatu konsep yang tidak bebas nilai, melainkan merupakan instrumen ekonomi politik negara-negara maju untuk mengukuhkan hegemoni ekonominya atas negara-negara sedang berkembang. Rejim

201

perdagangan bebas yang bertumpu pada paham ekonomi neoklasik dan paham politik neoliberalisme sering dipandang oleh para penentangnya sebagai neokolonialisme dan neoimperialisme. Pihak yang sangat diuntungkan oleh rejim perdagangari bebas adalah konsumen, karena bisa mendapatkan komoditi yang diinginkan Sementara itu, produsen yang tidak Bila dengan harga paling murah. perdagangan bebas.

kompetitif dan tidak efisien, akan menjadi korban pertama dari Ini merupakan dilemakebijakan publik. pemerintah berpihak kepada petani tebu dan pabrik gula dengan cara memberikan tarif yang agak tinggi agar dapat bersaing dengangula impor maka konsumen gula baik sektor rumah tangga maupun sektor industri akan terpukul. Sebaliknya bila pemerintah lebih berpihak kepada konsumen dengan cara pengenaan tarif impor yang rendah maka para petani tebu yang terdiri dari ratusan ribu orang akan menderita. Demikian pula puluhan pabrik gula bisa berhenti beroperasi karena kurang atau tidak ada pasokan tebu. Dalam situasi demikian, tampaknya pemerintah harus ambil jalan tengah dengan cara penetapan tarif impor yang moderat sehingga petani berminat menanam tebu dan memperoleh keuntungan yang layak, sedangkan .konsumen masih cukup mempunyai daya beli untuk memenuhi kebutuhannya akan gula.

202

7.3. Faktor Input Ketidakmampuan industri gula untuk memenuhi kebutuhan gula di dalam negeri dalam jumlah yang sedemikian besar disebabkan oleh faktor menurunnya luas areal tanaman, produktivitas dari rendemen tebu di Jawa. Luas areal tanaman tebu di Jawa turon dari 296 ribu hektar pada tahun 1995 menjadi 225 ribu hektar tahun 2002, atau merosot 1,7% rata-rata per tahun. Demikian pula rendemen tebu di Jawa merosot dari 7,17% tahun 1995 menjadi 6,92% tahun 2002, sehingga produktivitas tebu dan gulajuga merosot (lihat Tabel 7.4).

203

Tabel 7.4 Realisasi Luas Areal dan Produksi Gula di Indonesia Tahun 1995 sId 2002
Urman JAWA Luas (ha) Tcbu(lon) Tebu (IC!Vha) 1995 295.899 21.728.417 73,43 7,11 1.557.691 1996 274.sn 19.110.304 11,71 1.36 1.45U168
5,28

1997 257.788 19.350.786 71,19 7,63 1.400.962 5.43

199& 245.173 17.131.452 72,32 5,39 955.101 3,90

1999 209.710 12.791.140 60,99 6,65 851.009 4,06

2000 209.048 14.583.135 69,16 6,48 945.646 4.52

2001 211.000 15.456.113

2002·) 224.953 16.233.176 72,16 6,92 1.123.107 S.W

.13;1.5
6,18 955.691 4.53

Rendemen
(%) Hahlur (Ion)

Hahlur
(Ionlha) LUAR JAWA Luos(h') Tebu(lon) Tebu (Ion/ha) Rcndem •• (%) Hahlur (Ion) H.bluT (lonIha)

5.26

124.731 8.367.645 67,09 6.44 538.780 4,32

128.414 8.893.226 69,25 7,23 643.127 5,ot

121.B78 9.600.07B 75.07 S.22 789.005 6,17

133.121 9.446.314 70,96 5,67 535.852 4,03

131.092 8.610.697 65,68 7,40 637.592 4,S6

130.819 9.448.159 72.22 7,8B 744.3» 5,69

133.441 9.130.141 12.92 7,91 769.777 5.77

124.:197 9.485.709 76,32 8.5S 814.289 6,>5

INDONESIA
Luas (ha) Tebu(ton) Tctru (tonlha) 420.630 30.096,062 71.55 6,97 2.096.471 4,98 403.266 286.035.300 70,30 7,32 2.094J95 5.19 385.666 27.950.863 72.47 7,84 2.189.967 5,68 378.294 27.177.766 71,84 5.49 1.491.552 3,94 340.802 21.401.837 62.80 6,96 1.488.601 4,37 339.867 24.031.294 70.71 1.03 1.690.001 4,97 344.441 25.186.254 73,12 6,85 1.725.467 5,01 349.250 25.118.885 73,64 7.54 1.937.997 5.55

Rendem..
(%) Hobl"T (Ion)

HublUT
(Ionlh.)

.. Sumber; Perusahaan-perusahaan Gul. dlolah dl Sekretnnat Dew an Gula Nasional, Ok!. 2002
• ) Taksasi MaTet2oo2

Kecenderungan sebaliknya terjadi di luar Jawa, karena luas areal, produksi, produktivitas dan rendemen tebu justru meningkat. Menurunnya luas areal tanaman tebu di Jawa, berdasarkan hasil wawancara dengan administratur Pabrik Gula (PG) Poerwodadi di Magetan dan PG Soedhono di Ngawi serta wakil petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) dan Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) di dua daerah tersebut disebabkan antara lain oleh beberapa faktor. Pertama, harga gula kurang merangsang

204

bagi petani untuk menanam diterima menopang petani terlalu

tebu,

karena margin keuntungan kurang memadai Kedua,

yang untuk

keciI

sehingga

hidup petani secara layak.

umur tanaman tebu

relatif lama yakni sekitar 14 bulan. lama dibandingkan

Ini merupakan waktu yang cukup semangka

dengan komoditi tanaman pangan lainnya seperti Ketiga, beralih fungsinya sebagian lahan untuk industri atau kegiatan usaha gula di Jawa tidak garapannya. Pemilik gula hanyalah

padi, jagung, kedelai, kacang tanah, singkong, tembakau, atau tanaman lainnya. peruntukan Iainnya. lahan mempunyai adalah Iainnya seperti perumahan,

Keempat, hampir seluruh pabrik-pabrik Hak Guna Usaha atas tanah-tanah para petani sedangkan

fungsi pabrik

sebatas sebagai tukang giling tebu. beroperasi arealnya Pemerintah menyebabkan diantaranya teknis. mendapatkan dengan yakni dengan di

Karena pabrik gula tak memiliki lahan dari pabrik, gula petani yang atau luas

lahan sendiri maka hanya ada dua pilihan agar mesin pabrik gula tetap cara menyewa tebu rakyat luar wewenang mengandalkan pasokan di sekitar

benar-benar

pabrik

maupun

Daerah untuk mengontrolnya. menurunnya adalah di daerah produktivitas kurang hilir pada semakin

Adapun faktor-faktor yang dan rendemen tebu di Jawa berfungsinya umumnya saluran kesulitan irigasi untuk

Lahan

air dari irigasi teknis.

Di daerah Madiun, sumber air Hal ini tentu saja nilai yang cukup

irigasi diperoleh menambah signifikan.

dari air bawah tanah yang disedot melalui pompa, biaya produksi dengan

biaya sekitar Rp. 1,5 juta per hektar. komponen

Semakin Iangkanya sumber daya air irigasi ini antara lain

205

karena beberapa sumber mata air yang semula merupakan sumber air untuk irigasi teknis, beberapa tahun terakhir ini telah beralih fungsi menjadi bahan baku atau sumber pasokan bagi Perusahaan DaerahAir Minum (PDAM). Selain itu air irigasi banyak dialirkan ke lahanlahan tegalan, lahan kering atau lahan kritis. Pompanisasi air bawah tanah untuk tanaman tebu ini telah menimbulkan dampak buruk bagi sumur-sumur air di sektor rumah tangga. Hampir tiap tahun setiap rumah tangga di daerah ini harus mengeduk kembali sumumya Iebih dalam karena sumur mereka semakin kering. Menipisnya areal hutan di daerah hulu sungai juga menyebabkan pasokan atau debit air irigasi teknis semakin kecil. Keterbatasan sumberdaya air ini akan menjadi kendala utama dalam pengelolaan tanaman tebu di Jawa pada beberapa tahun mendatang. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya produktivitas gula di Jawa adalah menurunnya kualitas tebu sebagai akibat dari terlalu banyaknya frekuensi panenan tebu hasil keprasan (ratoon). Seeara teoritis jumlah keprasan yang ideal adalah maksimal tiga atau empat kaIi, tetapi yang terjadi pada tebu rakyat jumlah tersebut seringkali mencapai di atas 7 kali. Artinya petani hanya menanam tebu sekali, setelah dipanen yang pertama maka petani tidak menanam tebu lagi untuk panenan berikutnya tetapi hanya mengandalkan tunas-tunas tebu hasil tebangan pertama, demikian seternsnya sampai yang ketujuh kali atau lebih. Selain itu petani tampaknya juga tidak memupuk tebunya dengan takaran standar sehingga produksi tidak optimal. Belum lagi faktor

206

ketidaksesuaian waktu antara kebutuhan untuk memupuk dengan ketersediaan kredit dari bank. Hal ini jelas berpengaruh negatif terhadap produksi tebu. Dengan perkataan lain kaidah-kaidah baku: tentang tata cara bercocok tanam yang baik dan profesional tidak atau belum dapat diterapkan sebagaimana mestinya oleh para petani tebu . rakyat di Jawa. Di atas itu semua ada faktor terpenting yang menyebabkan rendahnya produktivitas tebu dan gula di Jawa adalah harga gula yang tidak cukup kuat merangsang petani untuk menanam tebu. Margin keuntungan petani tebu dengan harga gula yang cenderung menurun adalah terlalu kecil, karena biaya produksi cenderung naik, Kalau berbagai kendala teknis seperti keterbatasan lahan dan semakin sulitnya memperoleh air irigasi merupakan faktor penghambat dari sisi suplai, tidak demikian halnya dengan pabrik-pabrik gula di luar Jawa terutama di Lampung. Dua pabrik gula yaitu PG Gunung Madu Plantation di Lampung Tengah dan PG Bunga Mayang di Lampung Utara yang dijadikan salah satu obyek penelitian ini menunjukkan bahwa kedua pabrik gula tersebut relatif tidak menghadapi masalahmasalah teknis sebagaimana terjadi pada pabrik gula di Jawa. PG Gunung Madu yang dikelola oleh pihak swasta mempunyai lahan berstatus HGU dengan luas 33.000 hektar, sedangkan PG Bunga Mayang memiliki laban seluas 24.000 hektar dengan status HGU pula. Dengan demikian kedua pabrik gula ini praktis tidak menghadapi persoalan yang berkaitan dengan lahan garapan, sehingga dapat

207

mengelola usaha secara profesional pula.

Meskipun lahan kedua

pabrik ini merupakan lahan kering dan tak ada irigasi teknis tetapi kendala pasokan air dapat diatasi dengan memanfaatkan "lebung" atau kantong-kantong air yang jumlahnya cukup banyak untukmenampung airhujan dan dimanfaatkan untuk mengairi tebu pada musim kemarau. Dengan demikian kedua pabrik ini tak menghadapi masalah "supply bottleneck"sebagaimana halnya pabrik-pabrikgula di Jawa. Karena Efisiensi biaya pabrik dikelola secara profesional bisnis mumi (utamanya PG Gunung Madu) maka biaya produksi juga dapat ditekan. produksi ini dapat dicapai melalui antara lain pemanfaatan skala ekonomi, menghapuskan korupsi dengan sangsi yang tegas, teknik budidaya yang berjalan sebagaimana mestinya. Akibatnya "break event point" (BEP) produksi gula pada tingkat harga gula sekitar Rp. 2.200,- per Kg atau sekitar Rp. 1.000,- lebih rendah dibandingkan dengan pabrik -pabrik gula di Jawa. Keunggulan Iainnya dari pabrik-pabrik gula di Lampung ini selain faktor status lahan ber-HGU yang memungkinkan perusahaan dapat mengelola usahanya secara lebih profesional, pabrik-pabrik ini juga dilengkapi dengan devisi "Research and Development" yang cukup berdaya guna dan berhasil guna. Devisi R&D ini mempunyai tugas melakukan percobaan-percobaan guna rnenemukan varietas bam yang unggul melalui teknik kultur jaringan dan menernukan berbagai jenis predator untuk mengatasi berbagai hama tebu.

208

usaha di Jawa tampaknya juga tidak lebih baik. Magetan dan Madiun, juga desa, sumbangan

Selain hams

membayar retribusi air, pihak pabrik gula di daerah Kabupaten ngawi, dibebani dengan retribusi parkir, jalan, sumbangan portal dan sumbangan

pemeliharaan jaringan/saluran air. Sumbangan portal dikenakan oleh warga masyarakat pada setiap truk yang mengangkut tebu yang melewati portal yang hampir ada pada setiap RT dan RW, yang jumlahnya bisa sangat banyak. Pihak pabrik juga dibebani retribusi pemeliharaan jaringanlsaluran air, padahal aktivitas pemeliharaan saluran air tersebut dapat dikatakan hampir tidak ada, karena saluran yang ada tidak berfungsi lagi karena tak ada air. Air irigasi untuk tanaman tebu di daerah ini hampir selurubnya diperoleh dengan menyedot air bawah tanah dengan pompa. lainnya sejak era otonomi Jenis-jenis pungutan daerah diantaranya ialah retribusi/pajak

desa, retribusi/pajak kecamatan, retribusilpajak kabupaten, sumbangan peringatan HUT Rl di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten, sumbangan-sumbangan sosial dan pungutan dari pihak kepolisian (Polwil) sebesar Rp. 7,50 per kuintal tebu atas kelebihan muatanltonase. Faktor input lainnya yang menyebabkan rendahnya efisiensi pabrikpabrik gula, terutama di Jawa adalah karena adanya beban tenaga kerja yang kelewat banyak dari kebutuhan. sebanyak 470 orang. Sebagai contoh PG Poerwodadi di Magetan saat ini (2004) memiliki tenaga kerja tetap Padahal menurut pihak Administratur, bagi

211

pabrik gula barn dengan kapasitas yang sarna hanya diperlukan tenaga kerja sekitar 163 orang atau sepertiga dari tenaga kerja yang dipekerjakan saat ini. Tekanan dari berbagai pihak terhadap pihak manajemen juga dialami oleh PG Bungamayang di Lampung guna menarnpung keluarga dekat para camat, kepala desa, kepala dinas dan lain-lain. Padahal pihak pabrik saat ini sudah kelebihan tenaga kerja. Inilah dilema yang selalu dialami oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni pertimbangan efisiensi ekonomi bisnis dan pertimbangan sosial-kemanusiaan. Situasi bertambah pelik mengingat tingginya masalah pengangguran dalam masa krisis ekonomi dewasa ini. Dalam menghadapi situasi demikiart, pihak manajemen pabrik hams berani mengambil sikap untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan, apalagi mengingat bahwa status hukum pabrik-pabrik gula sekarang berada pada payung Perseroan Perkebunan yang lebih berorientasi ekonomi-bisnis ketimbang kepentingan sosial. dalam dua tahun terakhir ini. 7.4.Strategi Industri dan Kompetisi Kompetisi antar pabrik gula di Jawa dewasa ini memang ada, tetapi tidak dalam bentuk memperebutkan pasar melainkan terutama dalam memperebutkan laban garapan karena pabrik-pabrik gula tersebut memang tidak mempunyai lahan sendiri. Semakin terbatasnya areal lahan milik petani yang digarap untuk tanaman tebu karena petani cenderung memilih jenis tanaman apa saja yang dipandang paling Sikap demikian telah diambiI oleh pihak manajemen PG Bungamayang,

212

menguntungkan seperti padi, kacang tanah, jagung, tembakau atau buah-buahan seperti semangka, melon atau sayur-sayuran seperti kacang panjang, kol, wortel atau yang lainnya. Dengan demikian kompetisi yang terjadi lebih berbentuk memperebutkan input lahan yang mempunyai berbagai macam peruntukan bercocok tanam daripada memasarkan hasil produksi berupa gula, Kompetitor riil pabrik-pabrik gula di Indonesia adalah para importir gula baik yang legal maupun ilegal. Importir legal menjadi kompetitor terutama bila mereka melakukan impor justru sewaktu terjadi panen sehingga menekan harga gula, Mereka juga menjadi kompetitor bila jumlah gula impor terlalu banyak sehingga suplai gula di pasar melebihi permintaannya sehingga juga menekan harga gula. Apalagi importir illegal, mereka jelas bukan hanya kompetitor melainkan telah berfungsi sebagai predator pabrik-pabrik gula di negeri ini. Hal ini terjadi karena importir gula illegal memasukkan barang tanpa membayar pajak sehingga dapat menjual gula dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya produksi per unit pabrikpabrik gula di Jawa. Kompetitor lainnyapada skala global adalah para produsen gula dan beberapa negara Afrika.

utama dunia seperti Brazilia, Uni Eropa, Australia, Negara-negara Asia lainnya terutama Thailand Keunggulan kompetitor dari Brazilia ialah terletak pada fleksibilitas pabrik-pabrik gula di negara tersebut dalam menyesuaikan jenis produksinya dengan perkembangan pasar. Bila harga minyak bumi

213

meningkat misalnya maka pabrik-pabrik gula di negara Amerika Selatan tersebut dengan cepat dapat mengubah produksinya dari gula menjadi ethanol atau jenis bahan bakar lainnya. Dengan demikian para kompetitor pabrik-pabrik gula kita mempunyai keunggulan di bidang teknologi yang lebih bersifat fleksibel sehingga lebih dapat menyesuaikan diri dari gejolak dan instabilitas pasar. Narnun demikian kompetisi global dalam komoditi gula dunia dewasa ini tidak berada dalam situasi perdagangan dunia yang bebas melainkan penuh dengan distorsi. Bahkan menurut Rahmat Pambudy (2004: xiv - xvi) keterpurukan industri gula nasional dewasa ini adalah akibat tidak kondusifnya lingkungan ekstemal yang disebabkan distorsi harga gula yang artificial rendah di pasar intemasional. Negaranegara lain penghasil gula bukan hanya mengambil kebijakan protektif untuk melindungi industri gula domestiknya, melainkan juga rnelakukan promosi ekspor untuk menembus pasar luar negeri. Langkah-Iangkah protektif tersebut diantaranya adalah penerapan pembatasan impor dengan salah satu atau kombinasi dari berbagai instrurnen seperti kuota, tarif, bea masuk tambahan dan pengaturan pasokan gula domestik. Thailand misalnya, menerapkan kebijakan kuota impor sebanyak 13.700 ton dengan tarif sebesar 65 persendan selebihnya 96 persen. Sementara itu China menerapkan kuota imp or sebanyak 1,8 juta ton dengan tarif 30 persen untuk gula putih dan 20 persen untuk raw sugar, selebihnya tarif keduanya ditingkatkan menjadi 76 persen. Untuk kebijakan promosi, China saat ini mendirikan 25 lernbaga penelitian gula dan 15 universitas/akademi

214

dan sekolah teknik menengah dengan spesialisasi pengembangan gula. Kuba memberikan modal investasi agribisnis gula. Mesir memberikan subsidi usaha tani tebu sebesar US$ 113.2 juta pada tahun 2002, dan hampir semua negara memberikan subsidi bunga pinjaman dan menetapkan harga dasar pembelian tebu/gula yang dihasilkan. Negara-negara Eropa mengalokasikan subsidi harga kepada industri gulanya sebesar US$ 10 milyar dan subsidi ekspor sekitar US$ 6 juta. Pemberian subsidi yang sedemikian besar inilah yang menjadi salah satu sebab utama tertekannya harga gula di pasar intemasional, yang akhimya berujung pada berkurangnya gairah petani di Indonesia untuk menanam tebu. Akibat selanjutnya ialah menurunnya areal tanaman dan produksi tebu sehingga banyak pabrik gula yang beroperasi di bawah kapasitas terpasangnya atau bahkan berhenti beroperasi karena tidak atau kurangnya pasokan tebu. Rentetan akibat berikutnya adalah terjadi inefisiensi dan keuntungan pabrik gula merosot sehingga tak ada insentif untuk .memperbaharui pabrik-pabrik gula yang sudah tua, apalagi untuk melakukan inovasi teknologi. Muara dari itu semua adalah tingginya biaya per unit produksi gula dan mahalnya harga gula di tangan konsumen. Dari uraian di atas tampak bahwa rendahnya daya saing gula Indonesia dewasa ini bukan semata-mata karena ketidakefisiean dalarn produksi tebu (on farm) dan pabrik gula (o.ff-farm) melainkan yang terutarna adalah karena faktor lingkungan eksternal yang distortif. Faktor ekstemal ini nampaknya malahan Iebih berpengaruh terhadap

215

situasiketidakefisienan

industri gula nasionaldibandingkan

dengan

faktor-faktor internal. Efisiensi yang tinggi bahkan tidak merupakan jaminan bagi terciptanya daya saing yang tinggi. Contoh angka-angka berikut merupakan bukti pendukung terhadap kebenaran pernyataan tersebut. Untuk menghasilkan 1 Kggula, industri gula di Brasil hanya membutuhkan biaya sekitar Rp. 1.190 - Rp. 1.530,-, sedangkan Eropa membutuhkan biaya sekitar empat kali lipat yaitu Rp. 6.035 per Kg, di Amerika Serikat sekitar Rp. 9.750 per Kg dan di Australia sekitar Rp. 2.848 per Kg (kurs US$ 1,- = Rp. 8.500,-). dalam menghadapi para pesaingnya, kedua Untuk melindungi negara tersebut ketidakefisienan industri gula dari Uni Eropa dan Amerika Serikat mengenakan tarifimpor melebihi batas ambang yang ditetapkan WTO dan memberikan subsidi kepada para petani tebunya. Dari gambaran di atas tampak jelas bahwa setiap negara berusaha untuk mencapai ketahanan pangan, termasuk gula. Untuk itu langkahlangkah protektif dan promosi terns dijalankan. Agak mengherankan dan sekaligus suatu ketololan bila negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia justru membuka lebar-lebar pasar domestiknya terhadap produk-produk dari luar, seraya membiarkan para petaninya tetap miskin dan pabrik-pabrik gulanya gulung tikar serta para pemudanya menjadi penganggur. Jepang dan Korea Selatan menjadi negara-negara maju justru tidak menempuh jalur perdagangan bebas ala paham neoklasik, melainkan melalui campur tangan pemerintah

216

yang tepat guna mengoreksi pasar yang penuh dengan distorsi dan ketidaksempumaan. 7.5. Industri Terkait dan Pendukung Minimal ada dua kegiatan yang terkait dengan agro industri gula yakni pengelola perkebunan tebu (onfarm) dan pengelolaan pabrik gula (off farm). Industri gula juga mempunyai dua model yakni model Jawa dan luar Jawa. Di Jawa on farm dan off farm tersebut dikelola oleh institusi yang berbeda. Perkebunan tebu dikelola oleh para petani baik secara mandiri maupun di bawah bimbingan pabrik gula, sedangkan proses pengolahan tebu menjadi gula dikelola oleh pihak pabrik gula yang hampir keseluruhannya berstatus BUMN (Persero) kecuali PG Semboro-Jember, Situbondo. PG Jatiroto-Mojokerto dan PG AsembagusSementara itu industri gula di luar Jawa dikelola oleh

institusi tunggal yakni pabrik gula baik yang berstatus BUMN maupun swasta. Perbedaan pola atau model tersebut terjadi karena pabrik-pabrik gula di Jawa tidak mempunyai lahan sendiri melainkan dimiliki oleh Petani, sedangkan di luar Jawa pabrik-pabrik gula sekaligus memiliki lahan sendiri dengan status HGU. dibandingkan dengan di Jawa. Dengan demikian pengelolaan industri gula di luar Jawa lebih sederhana Industri gula di Jawa sering laban, dihadapkan pada masalah kesulitan untuk mendapatkan

sedangkan industri gula di Iuar Jawa (misalnya PO Gunung Madu Plantations di Lampung) hampir tidak pemah dihadapkan pada persoalan seperti itu. Kalaupun ada persoalan tentang lahan, kasusnya

217

berbeda yakni konflik kepernilikan lahan antara pabrik gula dengan masyarakat sekitar. Hubungan antara pabrik gula dengan petani tebu di Jawa mempunyai sifat kesaling-tergantungan atau mutualisme simbiosis. Pabrik gula memerlukan bahan baku tebu dari para petani, sedangkan para petani tebu juga mutlak tergantung kepada pabrik gula untuk mengolah tebunya menjadi gula, Dalam hubungannya dengan pabrik gula, para petani di Jawa membentuk organisasi petani yakni Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) dan Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR). Pembentukan kedua kelembagaan petani ini diprakarsai oleh Ditjen Perkebunan tahun 2001. Fungsi KPTR adalah sebagai penyalur kredit ketahanan pangan tebu rakyat (KKP-TR) dan bongkar "ratoon" dari perbankan kepada para petani tebu yang pengembaliannya dipotong oleh pabrik gula dari harga tebu. KPTR juga berfungsi dalam hal pengadaan pupuk dan pengadaandana untuk biaya garap. Sedangkan fungsi APTR adalah mencari mitralpartner/penj amin/investor untuk mendapatkan dana talangan dalam pelelangangula. petani tebu. Fungsi APTR lainnya adalah memperjuangkan harga gula, rendemen dan aspirasi Sejak tahun 2001 APTR wilayah kerja PTPN XI menerapkan pola bagi hasil dalam marketing gula. Pola ini kemudian diadop oleh PTPN wilayah kerja lainnya di seluruh Indonesia sejak 2003 dengan struktur sebagai berikut (Agus Pakpahan, 2004: 70 dan hasil wawancara dengan pengurus APTR PG Soedhono & PO Poerwodadi): 218

Semua anggota petani menyerahkan hak mengelola gula sesuai DO milik mereka bukan kepada pabrik gula lagi melainkan kepada APTR.

APTR mencari mitra usaha untuk memberikan dana talangan, dan menjual gulanya melalui lelang dengan sistem bagi hasil. Harga lelang minimal ditentukan berdasarkan tingkat "break event point" (BEP) pada tingkat petani sebesar Rp. 3.150/kg dan BEP pada tingkat pabrik gula sebesar Rp. 3.410Ikg. Berdasarkan Keputusan Menperindag No. 643 Tahun 2002, jika harga lelang melebihi harga patokan tersebut, maka
kelebihannya

dibagi antara penjamin atau investor (PT AGS)

dan APTR dengan komposisi masing-masing sebesar 60 : 40 atau 70: 30, dan tentu saja pihak penjamin mendapatkan
kembali dana talangannya pada APTR. Jika harga lelang gula

di bawah Rp, 3.410,- maka petani tetap memperoleh jaminan
harga Rp. 3.410,-

Lembaga lain yang terkait dalam industri gula yang dikelola oleh
.BUMN

adalah Perseroan Terbatas Perkebunan Negara (PTPN). Sebagai terutama Namun

Fungsi lembaga ini adalah sebagai perusahaan induk atau holding

company bagi beberapa pabrik gula yang dikoordinasinya. perusahaan induk PTPN mempunyai peran strategi, mencakup aspek "business plan" dan pemasaran gula.

demikiankeberadaan PTPN selama ini justru dianggap membebani saja karena setiap pabrik gula harus menyisihkan dana sebesar 20 219

persen dari anggaran PG untuk kantor direksi PTPN. Sebagai contoh tahun 2001 PG Soedhono mengalami kerugian Rp. 13 milyar, kemudian tahun 2003 sebenamya memperoleh keuntungan Rp. 1 milyar (dihitung berdasarkan selisih harga antara hasil produksi dengan biaya operasional pabrik), tetapi karena pihak pabrik hams menyisihkan dana kepada direksi PTPN XI sebesar Rp. 4 milyar maka pabrik mengalami kerugian. Berdasarkan kenyataan ini keberadaan PTPN dianggap sebagai salah satu sumber inefisiensi industri gula nasional. Selain itu pihak PTPN juga dikritik karena kurang berperan dalam rnengatasi persoalan saling serobot lahan dan panenan tebu antar pabrik gula meskipun masih dalam satu wilayah kerja PTPN. Saling serobot tersebut terjadi misalnya antara PG Soedhono, PG Rejosari, PG Poerwodadi, PG Pagotan dan PG Kanigoro, padahal kesemuanya berada di bawah naungan dan koordinasi PTPN XI. Praktis tak ada lagi rayonisasi areal tebu antar pabrik gula. Pada sisi yang lain pihak APTR maupun PG sendiri berpendapat bahwa sumber inefisiensi industri gula juga berasal dari struktur organisasi PG yang terlalu gemuk dan mesin-mesin pabrik sudah terlalu tua. Sebagai contoh, salah satu mesin pabrik gula Soedhono yang didirikan tahun 1930-an ini memerlukan tenaga operator sebanyak 40 orang, padahaI mesin dengan fungsi yang sarna pada salah satu pabrik gula yang lebih modern di Lampung, hanya memerlukan 3 orang tenaga kerja.

220

Terhadap beberapa pennasalahan

tersebut pihak APTR maupun

pabrik gula menyarankan agar struktur organisasi setiap pabrik gula dirampingkan dan mesin-mesin yang sudah tua diganti dengan yang barn dan berteknologi lebih maju. Selain itu disarankan agar setiap pabrik gula diberi otonomi penuh dalam pengeloaan pabrik secara rnandiri sehingga setiap pabrik tersebut berfungsi sebagai "single entity" atau "Strategic Business Unit". Sementara itu terhadap Keputusan Menperindag No. 643 Tahun 2002, para petani tebu yang terhimpun dalam APTR dan KPTR mengusulkan agar Keputusan Menteri tersebut ditingkatkan statusnya menjadi Keputusan Presiden (Keppres) agar mempunyai kekuatan hukum yang Iebih baik. Lembaga lain yang terkait dengan industri gula nasional saat ini adalah BULOG. Sebelum "diobok-obok" oleh IMF melalui LoI tahun 1998, peran lembaga ini dalam industri gula nasional sangat vital. Selain sebagai stabilisator harga melalui mekanisme "buffer stock"nya, lembaga ini juga berperan dalam menentukan harga dasar gula dan sekaligus pendistribusiannya. Sejak dilucuti oleh IMF, lembaga ini hanya berperan sebagai stabilisator harga, itupun tidak efektif karena BULOG tidak lagi berkewajiban membeli gula dari petani dan juga tidak lagi berperan sebagai importir gula. Peran distribusi dan pemasaran sekarang digantikan oleh pihak PTPN. Selain itu petani sekarang juga hams sibuk melakukan lelang gula sendiri menghadapi para pembeli. Sementara itu peran importir, kini digantikan oleh lima importir terdaftar (IT), yakni PTPN yang pasokan tebunya minimal

221

sebesar 75 persen diperoleh dari petani. Menghadapi permasalahan ini APTR dan KPTR menyarankan BULOG diberikan peran lebih besar Iagi, minimal sebagai penentu harga dasar (floor price) gula. Sedangkan lelang ·sebaiknya dilakukan di kantor direksi PTPN dengan mengikutsertakan pihak APTR. Sementara itu pihak pabrik swasta di Lampung (PG Gunung Madu Plantations) menyarankan agar peran distribusigula dikembalikan kepada pihak BlJLOG sehingga pihak Terhadap pabrik dapat memfocuskan diri pad a aspek produksi.

permasalahan saling serobot lahan dan tebu antar pabrik gula, pihak APTR dan KPTR menyarankan agar penataan areal tanaman tebu ditata ulang. Pola yang ideal menurut mereka adalah misaInya di satu desa ada 30 hektar lahan maka 10 hektar ditanami tebu, sedangkan yang 20 hektar ditanami padi, agar terjadi proses penyuburan tanah. Dengan pola ini maka setiap lahan milik petani akan ditanami tebu secara berotasi setiap tiga tahun sekali, Agar pola ini dapat diterapkan maka pihak pemda yang selama ini dimandulkan, dapat diperankan Iagi dalam pengaturan lahan untuk tebu dan padi, demi tercapainya ketahanan pangan nasional minimal untuk komoditi strategisguladan
beras,

Lembaga lain yang terkait dengan industri gula nasional dewasa ini adalah Pusat Penelitiau Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) yang didirikan sejak zaman kolonial di Pasuruan. Lembaga ini terutama berperan dalam menemukan 18 varietas tebu unggul misalnya PS 864, PS 851, PS 865, PS 863. Namun demikian menurut Mizarwan,

222

Kepala

P3GI,

lembaga

pendukung tahun 2000 SDM

industri yang Ialu,

gula

nasional Sementara

ini itu, biaya

mengalarni masalah finansial sejak dihentikannya departemen masalah Keuangan yang menurutWahyudjati, finansial Direktur dan Umum

dana penelitian dari PTPN IX Solo,

dihadapi

oleh P3GI

adalah

karena

penelitian untuk sampai pada penemuan bibit unggul itu mahal sekali.
Oleh karen a itu mestinya pemerintah bekerjasama memikirkan bahwa penelitian diproduksi dan mendukung gula ini antara keberadaan P3GI itu mutlak diperlukan. bibit dengan APTR turut P3GI mengingat Besarnya yang biaya sudah agar sepenuhnya pendanaan lain karena

unggul

secara teknis tidak bisa disimpan.

Juga disarankan pangan

dana program akselerasi peningkatan yang disisihkan gula ini benar-benar dapat diwujudkan.

produktivitas

gula nasional, ada di bidang

untuk P3GI sehingga ketahanan

Institusi lain yang berperan dalam industri gula nasional dewasa ini tentu saja pihak pemerintah. juga berperan mengeluarkan Selain bertindak promotor. sebagai Sejak regulator, 2002, pemerintah pemerintah program sebagai kebijakan tahun

yang kemudian

dikenal dengan

akselerasi Peningkatan

Produktivitas menyediakan

Gula Nasional 2002 dana Rp. 66,8 milyar. KPTR berupa

2007; yang dalam implernentasinya Melalui program ini pemerintah Dana tersebut disalurkan pinjaman ini digunakan

dilakukan oleh Dinas Perkebunan.

kepada petani tebu melalui untuk membongkar

sebesar Rp. 1.950.000Ihektar. oleh petani

Dana pinjarnan tanpa bunga

"ratoon" (pangkal

223

pohon tebu) menggantinya karena Program

yang sudah dipanen lebih dati tiga periode tanam dan dengan bibit unggul agar produktivitasnya ini di kaiangan petani tinggi. Oleh ke Iebih .dikenal dengan ini dikembalikan

itu program Bongkar

"Ratoon".

Dana pinjaman

KPTR untuk kemudian digulirkan kembali kepada petani lainnya.

75. Kebijakan Pemerintah
Amburadulnya musababnya tepat, kepada yakni petani pergulaan sejak untuk di tanah

air dapat
kebijakan

ditelusuri pemerintah yang

sebabmelalui dianggap petani

pada kebijakan pemerintah yang dapat dianggap kurang dikeluarkannya menanam No. 12 Tahun 1992. yang memberikan komoditi apapun Sebelum kebijakan keleluasaan

Undang-Undang menguntungkan. tanahnya

ini dikeluarkanpara

pemilik lahan di sekitar lokasi pabrik .gula diwajibkan .menyewakan kepada pabrik gula. Setelah ditanami padi atau tanaman gula di Jawa tidak (HGU). tebu. Dengan Keadaan Nomor 12 Sejak pangan lainnya sebanyak dua kali maka petani wajib memperuntukkan lahannya bagi tanaman tebu karena pabrik-pabrik mempunyai ketentuan kesulitan sebaliknya lahan dalam berstatus tersebut mencari Hak Guna lahan untuk Usaha tanaman pemerintah

maka pabrik gula tidak mengalami Undang-Undang

terjadi sejak dikeluarkannya

Tahun 1992 yang membebaskan karena tidak mempunyai lahan tebunya

petani dari kewajiban tersebut.

beberapa tahun lalu beberapa pabrik gula di Jawa terpaksa ditutup lahan untuk ditanami tebu, atau luas areal skala ekonomis bagi sebuah pabrik tidak mencapai

224

gula,

Pabrik-pabrik gula yang sekarang masih beroperasi cenderung

berebut lahan petani dengan berlomba menawarkan tarif sewa yang lebih menarik, meskipun mereka masih di bawah satu koordinasi PTP. Komitmen petani kepada pabrik gula terdekatpun sangat longgar karena petani cenderung menyewakan lahannya kepada pabrik gula manapun yang berani menawarkan tarif sewa paling tinggi. Kebijakan pemerintah lainnya yang menjadi salah satu penyebab permasalahan "supply bottleneck" dalam industri gula nasional adalah kebijakan Tebu Rakyat Intensifikasi membudidayakan (TRI). Melalui kebijakan ini cara pemerintah bermaksud memberdayakan petani tebu dengan cara tebu oleh petani sendiri, tidak dengan menyewakan Iahannya kepada pabrik gula sebagaimana sebelumnya. Kebijakan ini kurang berhasil karena tidak diikuti dengan dukungan teknis secara memadai kepada petani, terutama tentang teknik budidaya tebu secara profesionaL Petani dengan luas areal lahan yang terbatas juga tidak mempunyai kemampuan kepemilikan modal kerja yang memadai untuk bercocok tanam secara profesionaL Akibatnya petani hanya mengandalkan tebu keprasan untuk yang kesekian kalinya, yang berujung pada rendahnya produktivitas tanaman tebu per hektar. Cara tebang, angkut dan muat tebu yang tidak memenuhi kaidah yang benar juga menjadi salah satu sebab rendahnya tingkat rendemen tebu, yang selanjutnya berakibat pada rendahnya produksi gula nasionaL

225

Kebijakan pemerintahlainnya

yang dianggap kurang berpihak pada

petani tebu adalah kebijakan tarif impor yang terlalu rendah, bahkan terendah di antara beberapa negara eksportir dan importir utama gula dunia (lihat Tabel 8.3). Tarif impor gula sebesar 34% hanya memberi perlindungan minimal kepada petani tebu, karena harga gula kurang merangsang petani untuk menanam tebu dibandingkan dengan komoditi pangan lainnya. Beberapa petani yang diwawancarai dalam penelitian ini mengatakan bahwa bila harga gula cukup menarik, maka para petani tak perlu lagi diajari bagaimana cara bercocok tanam tebu yang baik. profesional memadai. Mereka akan dengan serta merta menanam tebu secara karena berharap dapat memetik keuntungan secara Harga suatu komoditi dibandingkan dengan komoditi

lainnya tampaknya sudah cukup menjadi sinyal dan membimbing para petani untuk memilih komoditi apa yang akan ditanam. Kalau swa sembada gula ingin dicapai pada tahun 2007 atau 2008 guna menghemat devisa negara, maka kebijakan harga melalui tarif impor akan menjadi salah satu faktor penentukeberhasilan atau kegagalan program akselerasi gula nasional. Semakin tinggi tarif impor, selama masih dalam koridor ketentuan tarif WTO, maka semakin tinggi pula probabilitas keberhasilan program tersebut. program swasembada gula tersebut. Sebaliknya semakin rendah tarif impor gula, .semakin kecil pula kemungkinan tercapainya Dalam hal ini pemerintah memang dihadapkan pada berbagai dilema. Bila pemerintah terlalu memihak pada petani tebu atau industri gula dengan cara penetapan tarif impor yang meningkat maka konsumen gula di dalam negeri akan

226

merasa dirugikan.

Konsumen tersebut baik rumah tangga maupun

perusahaan-perusahaan yang memproduksi makanan dengan bahan pembantu gula. Sebaliknya bila pemerintah terlalu berpihak kepada konsumen dengan menurunkan tarif impor gula maka para' petani tebu dan industri gula yang akan terancam eksistensinya, berujung pada semakin parahnya tingkatpengangguran mengatasinya karena tuntutan para petani yang akan dan semakin

terkurasnya devisa negara. Dilema ini sebenamya tidak terlalu sulit tebu sebenarnya tidak muluk-muluk dan berIebihan. Margin keuntungan yang wajar melalui tarif impor yang memadai sudah cukup menggairahkan para petani untuk mendukung program swasembada gula. Kenaikan tarif impor yang tidak terlalu tinggi diharapkan juga tidak terlalu memberatkan konsumen karena harga gula di tingkat eceran di beberapa negara Asia
seperti Jepang, Thailand, Philipina dan Malaysia dalam kenyataannya

jauh lebih.jinggi bila dibandingkan dengan harga gula eceran di Indonesia. 6.000,Harga gula eceran di beberapa negara tetangga tersebut sedangkan di Indonesia hanya berkisar pada angka Rp. rnenurut beberapa nara sumber berkisar antara Rp. 5.000,- hingga Rp. 3.500,-. Sumber lain (Bungaran Saragih, 2004) menyebutkan bahwa pada awal Mei 2003, harga gula di Tokyo rnencapai Rp. 18.000,-lkg, di New Delhi Rp. 4.650.-ikg, di Canberra Rp. 4.500,-lkg, di Singapura Rp. 4.400,-ikg.
internasional

Pada waktu yang sarna harga gula di pasar

adalah US$ 230/ton atau sekitar Rp. 2.000,-lkg.

227

Dalam -rangka mewujudkan

ketahanan pangan

terutama

gula,

pemerintah berusaha untuk membangkitkan kembali kinerja industri gula nasional melalui kebijakan proteksi dan sekaligus promosi. Kebijakan promosi tersebut diantaranya adalah: (a)' subsidi bunga dalam kredit KKP-TR yang alokasinya pada saat ini mencapai Rp. 876 milyar; (b) subsidi pupuk sebesar Rp. 1,3 trilyun untuk berbagai komoditas termasuk tebu; (c) dukungan pengembangan prasarana pengairan yang difasilitasi oleh departemen Pennukiman dan Prasarana Wilayah sebesar Rp. 4,5 trilyun, tennasuk untuk areal tebu; (d) dukungan permodalan bagi koperasi tebu untuk pembongkaran ratoon, pembangunan kebun bibit dan prasarana pengairan sederhana Rp. 66,8 milyar pada tahun 2003 dan akan dianggarkan lagi pada tahun-tahun berikutnya; dan (e). dukungan dana untuk penyehatan lembaga penelitian dan pengembangan. Sementara itu dalam kebijakan proteksi, prinsip kebijakan ideal adalah mengatur masulmya suatu produk impor (dalam hal ini gula mentah) yang tidak merugikan petani dan industri gula dalam negeri serta tetap memperhatikan kepentingan konsumen. Beberapa kebijakan proteksi yang dikeluarkan oleh pemerintah antara lain: (a) SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 141 Tahun 2002 yang mengharuskan importir 8 komoditas, tennasuk gula untuk memiliki Nomor Pengenal Importir Khusus (NPIK), dalam kaitan ini, gula mentah (raw sugar) hanya boleh diimpor oleh importir yang mempunyai Angka Pengenal Importir Produsen (API-P) dan Angka

228

Pengenal Importir Terbatas (API-T); (b) SK Menteri Keuangan No.
324/2002 yang menetapkan tarif impor gula putih sebesar Rp. 700lkg

dan gula mentah sebesar Rp. 5501kg; (c) SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 643 Tahun 2002 yang mengatur tata niaga impor gula dan Nomor 61 Tahun 2004 yang mengatur perdagangan gula antarpulau dimana gula merupakan barang yang diawasi; dan (d) Instruksi Direktorat lenderal Bea dan Cukai Nomor Ins07IBCI09/2002 line procedure)

yang mengatur prosedur pemeriksaanjalur merah (red terhadap gula Impor.

7.6. Peluang Industri gula Indonesia pemah berjaya di panggung gula dunia. Pada periode tahun 1930-an negeri ini pemah menjadi eksportir gula terbesar di dunia, setelah Kuba, tetapi sejak tahun 1967 hingga saat ini telah berubah menjadi importir gula yang cukup besar. Kondisi sebalilrnya terjadi di Thailand, yang pada tahun 1930-an merupakan salah satu negera pengimpor gula, saat ini telah berubah menjadi negara pengekspor gula yang cukup besar di dunia. beberapa negara seperti Brasilia dan Kuba, perkembangannya Sementara itu sejak awal

hingga saat ini tetap dapat mempertahankan Sebagai akibat pasar gula duniayang

statusnya sebagai negara pengekspor gula yang cukup besar (Rachmat Pambudy, et.al., 2004, xiii). penuh distorsi dan kebijakan pemerintah yang kurang tepat pada masa lampau, industri gula nasional kini berada dalam kondisi terpuruk. Nmaun demikian, ditinjau dari sisi permintaan, peluang untuk

229

mengembangkan

industri gula di Indonesia masih terbuka luas, Kalau

Sampai saat ini industri gula barn mampu memasok sekitar separuh atau tepatnya 47 persen dari kebutuhan pasar domestik. kemandirian ekonomi bangsa sebagaimana diamanatkan dalam pasal

33 ayat 1 Amandemen UUD 1945 hendak diwujudkan maka kemandirian dalam industri gula tampalmya merupakan tantangan riil yang mesti dapat diatasi. Permasalahannya adalah bagaimana meningkatkan produksi dalam negeri dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan pasar domestik pada tingkat harga yang kompetitif dengan harga gula di pasar internasional. Dengan demikian ada dua tantangan riil yang dihadapi industri gula domestik yaitu volume produksi yang jauh lebih rendah daripada permintaan pasar, dan biaya produksi yang lebih mahal dibandingkan dengan negara-negara pesaing. Untuk meningkatkan produksi dapat dicapai melalui intensifikasi atau peningkatan produktivitas dan ekstensifikasi atau peningkatan kapasitas pabrik dan luas areal tanaman. Peningkatan produktivitas tebu dapat dilakukan dengan membatasi frekuensi tanaman keprasan maksimal tiga kali, dengan dukungan modal kerja yang cukup dan tepat waktu bagi para petani tebu. Modal kerja tersebut diperlukan untuk membongkar "ratoon" atau akar tebu keprasan, pembelian pupuk dan lain-lain. Karena itu dukungan modal kerja dari perbankan mutlak diperlukan, Dengan bongkar ratoon maka salah satu sebab menurunnya produktivitas tebu dapat diatasi karena dapat ditanam bibit tebu barn dengan varietas yang lebih

230

ungguL

Selain melalui program bongkar ratoon, peningkatan

produktivitas tebu dapat dilakukan dengan menerapkan pola tebang, angkut dan giling tepat waktu. Salah satu problem utama dalam peningkatan efisiensi pabrik-pabrik gula di Jawa adalah faktor mesin atau teknologi yang sudah tua dan bersifat padat karya. Peningkatan efisiensi pabrik melalui "upgrading" teknologi sebenarnya bukanlah suatu masalah yang sulit untuk diatasi tetapi problem sosial berupa kemungkinan terjadinya pemutusan hubungan kerja dalam situasi yang belum pulih dari krisis ekonomi jelas merupakan pilihan yang sulit bagi pemerintah. Oleh karena itu salah satu jalan keluar untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mendirikan pabrik-pabrik gula baru di luar Jawa dengan kapasitas yang cukup besar. PT PG Gunung Madu Plantations dan PG Gula Putih Mataram di Lampung adalah beberapa contoh pabrik gula yang cukup berhasil meningkatkan produksi, produktivitas dan efisiensi usaha. Keduanya merupakan pabrik gula dengan areal lahan garapan yang cukup luas. PG Gunung Madu Plantations (PGGMP) mempunyai lahan 100 persen berstatus HGD sehingga memungkinkan pengelolaan tebu dan gula secara profesional dan murni pertimbangan bisnis. Sejak dua tahun terakhir ini PGGMP juga memperluas usahanya melalui pola kemitraan dengan petani. Meskipun demikian pendirian pabrik -pabrik gula baru di luar Jawa tidak otomatis menjamin terjadinya efisiensi produksi, mengingat bahwa dari 9 pabrik gula di Iuar Jawa, dimana 5 diantaranya merupakan perusahaan

231

swasta, hanya 16 persen yang efisien. Beberapa pabrik gula di Jawa yang berstatus BUMN juga sangat efisien, rnisalnya PG Gempol Krep mampu menghasilkan 2004: 93). gula per kg dengan biaya Rp. 1.700,- dengan dengan pabrik gula bahan baku sebesar 99 persen berasal dari petani (Agus Pakpahan,

Ini jauh lebih efisien dibandingkan

yang paling efisien di Lampung

saat ini yaitu PG Gunung Madu

Plantations yang mempunyai unit cost sekitar Rp. 2.200,-ikg. Meskipun ada hubungan antara efisiensi atau kinerja suatu perusahaan dengan status kepemilikannya, Bangkrutnya namun hubungan tersebut kurang kuat. swasta menghadapi badai krisis kuat tentang hal ini. Yang atau bagaimana dengan profesionaI gula Sehubungan perusahaan-perusahaan

ekonomi merupakan indikasi yangsangat lebih dominan tampaknya mengelola itu tampaknya persoalan dapat dewasa ini, memberikan suatu perusahaan merupakan inefisiensi restrukturisasi

adalah faktor manajemen secara profesional. dengan

perusahaan

manajemen

salah satu kunci venting pengelolaan lain melalui

untuk mengatasi pabrik-pabrik gula negara manajemen", artinya pihak

dan rendahnya produktivitas antara

Profesionalisme

pabrik-pabrik "kontrak

ditempuh

status setiap pabrik gula sebagai "strategic business unit" Kontrak manajemen gula yang ditunjuk. otonomi untuk

(SBU), merger serta swastanisasi. untuk membenahi pabrik-pabrik pabrik gula diberi kekuasaan

PTP selaku "holding company" mengontrak para manajer profesional Sedangkan yang pabrik, dimaksud dengan "strategic business unit" (SBU) adalah bahwa setiap mengelola

232

terutama dalam hal pendanaan. lebih pabrik gula di bawah dimaksudkan denganswastanisasi

Merger artinya penggabungandua satu komando. Sedangkan di sini adalah menjual

atau yang

sebagian

saham pabrik gula kepada pihak swasta baik melalui "strategic sales" (SS) yaitu menjual saham perusahaan kepada mitra strategis (ESOP). masyarakat saham seluruhnya. dimungkinkan "Strategic Sales (SS) yaitu menjual

"initial

public offering" (IPO), dan atau "employee stock option program
saham perusahaan kepada maupun yang kepada mitra strategis, IPO ialah menjuaI saham perusahaan melalui pasar modal, sedangkan kepada karyawannya atau Model privatisasi perusahaan baik sebagian

ESOP adalah menjual lainnya

swastanisasi

dalam kasus pabrik gula ini ialah menjual perusahaan

kepada para petani tebu yang selama ini menjadi mitra usaha pihak pabrik gula. Itulah beberapa langkah strategis dari aspek kelembagaan yang perlu dipertimbangkan dalam rangka restruldurisasi pabrikmaupun pabrik gula di Jawa. Langkah altematifnya adalah dengan mendirikan pabrik-pabrik swasta. Berdasarkan hasil survei Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia tebu dan tersebut gula baru di luar Jawa baik oleh pemerintah

(P3GI), diketahui bahwa masih tersedia potensi areal netto 711.000 hektar lahan di luar Jawa yang sesuai untuk perkebunan industri Sulawesi, gula. Potensi tersebut NTB, NIT tersebar di Sumatera, dan Papua. Maluku, Dari jumlah Kalimantan,

sekitar 70 persen atau 500.000 hektar berada di Papua, 220 hektar

233

diantaranya

terdapat di Kabupaten Merauke (Agus Pakpahan,

2004:

83). Mengingat bahwa luas areallahan tergarap 1,9 juta

tebu di seluruh Indonesia pada yang sudah digarap

tahun 2002 mencapai 349.250 hektar berarti potensi lahan tebubelum saat ini sebanyak dua kali lipat dibandingkan ton (lihat Tabel 4), maka lahan ada. Bila dengan lahan 349.250 hektar dapat dihasilkan gula sebanyak yang belum mempunyai potensi menghasilkan berkisar produsen 3 juta gula sebanyak ton. Dengan dua kali lipat atau demikian dari SiS1

sekitar 3,8 juta ton per tahun, jauh melampaui kebutuhan gula nasionaI saat ini yang ketersediaan untuk dengan Indonesia kelayakan untuk menjadi mengingat lahan, Indonesia mempunyai peluang yang sangat besar gula utama dunia, apalagi konsumsi Brasil pasar dalam berupa kalau sekedar Tetapi maka kebutuhan dari domestik.

pemenuhan belajar

suplai gula dunia saat ini melebihi permintaannya pengalaman tebu mulai untuk turunan konkrit terutama memikirkan melakukan produk-produk energi

mengembangkan altematif, mengambil dan studi dari

produk-produk langkah-langkah

seyogyanya

dan segera penelitian

serta menghasilkan

turunan tebu tersebut.

Tak kurang dari 60 jenis

produk turunan yang bisa dihasilkan

bahan baku tebu, diantaranya adalah ethanol, particle board, bleached pulp, pupuk, bio-gas, antibiotik, lampiran2). Kembali ke persoalan efisiensi, benarkah industri gula Indonesia makanan temak dan lain-lain (lihat

kurang efisien dibandingkan

dengan produsen gula dari negara-negara

234

lainnya? Jika dilihat dari rata-rata biaya produksi gula dunia yang besarnya 13 sen dolar AS per pound (1999),sedangkan Indonesia 11 sen dolar AS per pound, industri gula nasional sebenarnya masih tergolong kompetitif. Bahkan, dua pabrik gula yang beroperasi di Lampung biaya produksinya hanya 7 sen dolar AS per pound, sedangkan 10 pabrik gula di Jawa sisanya masih bisa bersaing. Dalam tingkat efisiensi produksipun, petani tebu Indonesia masih menempati urutan ke 15 dari 60 negara produsen gula dunia. Harga pokok produksi (HPP) gula Indonesia tahun 1999 berkisar Rp. 1.800,- - Rp. 2.000,-lkg, sedangkan 5 produsen gula paling efisien di dunia, HPPnya adalah US$ 265/ton "raw sugar" atau US$ 315lton white sugar (Rp. 2.150,-). Jadi dari segi biaya produksi, industri gula nasional masih kompetitif(Khudori, 2004: 250-251). Sumber lain (Agus Pakpahan, 2004: 106) menyebutkan bahwa unit cost per kilogram di dalam negeri tahun 2002 berkisar antara Rp. 1.800lkg hingga Rp. 3.300Ikg, sedangkan rata-rata unit cost adalah Rp. 3.1001kg - Rp. 3.200Ikg. Sementara itu unit cost produksi ratarata dunia adalah sekitar 13 sen dolar AS per pound atau sekitar Rp. 2.340Ikg. Selanjutnya, sekitar 20% dari PG yang ada di Jawa unit cost-nya sekitar Rp. 2.000,-lkg, dan kesemuanya ada di Jawa Timur. Adapun di luar Jawa, hanya PG swasta di Lampung yang unit cost-nya di bawah Rp. 2.000/kg, yakni PG Gunung Madu Plantations dan PG Gula Putih Mataram. Unit cost pabrik-pabrik gula tersebut jauh di bawah unit cost rata-rata dunia.

235

Tabel 7.5 Biaya Produksi Gula Dirinei Menurut Skala Usaha Pabrik Gula di Jawa

Skala Produksi (tonlhari) PG PG PG PG Sangat Keeil «1500) Kecil (1500 - 2000) Sedang (2500 - 4000) Besar (>4000)

1995 (Rp./kg) 1.225 1.109 1.012 832 1.102

1999 (Rp./kg 2.499 2.287 2.169 1.745 2.300

Rata-rata Sumber: Khudon, 2004, hal. 251.

Tampak bahwa biaya produksi gula berkorelasi negatif dengan skala usahanya, gula. semakin besar skala usaha semakin efisien suatu pabrik oIeh fakta bahwa pabrik gula yang paling adalah salah satu pabrik gula giling eukup besar untuk ukuran pabrik di luar Jawa yaitu PG Gunung Madu Hal ini diperkuat

efisien di Jawa yaitu PO Gempolkrep yang mempunyai guladi.Jawa pabrik Plantation (Sekretariat kapasitas efisien

yaitu 5.950 ton tebu per hari (TTH). Demikian pula dua dan PO Gula Putih Mataram mempunyai Dewan Gula Nasional, 2002: 45-46). kapasitas giling Mengingat bahwa

gula paling

lebih dari 10.800 TTH, skala terbesar untuk pabrik gula di luar Jawa

236

dari 3 juta ton kapasitas terpasang industri gula nasional saat ini (2004), baru termanfaatkan 64 persen maka faktor "idle capacity" ini jelas sangat berpengaruh terhadap tingkat efisiensi produksi gula di Indonesia. Oleh karena itu tingkat efisiensi produksi gula nasional gula dapat ditekan serendah mungkin. masih dapat ditingkatkan secara signifikan bila tingkat "idle capacity" pabrik-pabrik Permasalahannya adalah mengapa terjadi "idle capacity" yang

sedemikian besar? ltu merupakan akibat dari liberalisasi gula dengan tarif bea masuk nol persen sebagaimana direkomendasikan oleh IMF tahun 1998 seperti tertuang dalam salah satu butir Letter of Intent (Lol) antara IMF dan pemerintah Indonesia. Banjir gula impor dengan harga murah (turun dari Rp. 3.0001kg menjadi Rp. 2.000/kg) merupakan disinsentif yang luar biasa bagi para petani untuk menanam tebu, yang pada gilirannya mengakibatkan banyak kapasitas terpasang pabrik-pabrik gula yang menganggur atau bahkan sama sekali menganggur. Oleh karena itu efisiensi perkebunan tebu dan pabrik gula tampaknya lebih banyak dipengaruhi oleh insentif harga. Bila harga gula di dalam negeri cukup menarik maka para petani segera meresponnya dengan produksi dalam jumlah yang memadai. Hal ini terbukti dari diberlakukannya kembali tarif bea masuk untuk gula mentah sebesar 43 persen atau Rp. 550,- per kg dan gula putih sebesar 32 persen atau Rp. 700,- per kg berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 324/tahun 2002. Sejak itu produksi gula nasional meningkat dari 1,49 juta ton tahun 1999 menjadi 1,93 juta ton tahun 2003, atau naik sebesar 7,4 persen rata-rata per tahun, suatu

237

peningkatan yang cukup signifikan. Kalau kebutuhan gula nasional diperkirakan sebesar 3 juta ton per tahun maka ketergantungan kebutuhangula impor dalam empat tahun terakhir dapat ditekan dari 50% menjadi 35,6%. Kalau tarif bea masuk tersebut dinaikkan lagi sampai pada batas yang ditolerir oleh WTO (95%) maka dampaknya terhadap produksi gula dalam negeri tentu lebih signifikan lagi, dan swa sembada gula dapat diraih kembali dalam waktu dekat. 7.7. Penutup Rendahnya efisiensi teknis maupun ekonomis pabrik-pabrik gula di Indonesia dewasa ini lebih merupakan akibat ketimbang sebab rendahnya daya saing industri gula nasional. Selanjutnya rendahnya daya saing industri gula Indonesia terutama disebabkan oIeh faktor eksternal ketimbang faktor internal, yakni pasar gula dunia yang distortif karena campur tangan pemerintah negara-negara eksportir maupun importir gula, baik daIam bentuk proteksi maupun promosi. Proteksi dalam berbagai bentuknya seperti tarif bea masuk dan bea masuk tambahan serta pengaturan pasokan guia domestik diIakukan oIeh hampir semua negara-negara produsen maupun konsumen gula. Tarif bea masuk paling tinggi justru dilakukan oleh negara-negara penyanjung perdagangan bebas seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Tingkat tarif yang dikenakan terhadap gula impor bahkan melebihi ketentuan 'WTO tentang "base rate tariff' dan "binding rate tariff'. Sedangkan promosi diberikan oIeh negara-negara tersebut dalam bentuk subsidi harga kepada dan negara-negara lainnya

238

industri gula, subsidi ekspor, subsidi usaha tani tebu, subsidibunga pinjaman dan. penetapan harga dasar pembelian tebu/gula serta penguatan kelembagaan gula seperti pendirian lembaga penelitian gula dan akademi serta sekolah teknik menengah gula. Melalui kombinasi kebijakan proteksi dan promosi tersebut, banyak negara bisa negara-negara importir gula mengekspor gula dengan harga yang lebih rendah dari biaya produksinya, tidak sehingga membanjiri dengan harga yang sangat murah. Rendabnya harga gula dunia yang dilindungi dengan tarif bea masuk (tarif 0%) sebagai konsekuensi dari kesepakatan pemerintah Repuhlik Indonesia dan [MF sebagaimana tertuang dalam salah satu butir "Letter of Intent" :LoI) tahun 1998 inilah yang menjadi salah satu sehab utama gonjangganjing-nya industri gula Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini.

Pada tingkat makro, faktor penting yang menjadi salah satu sebab .endahnya daya saing industri gula nasional adalah dicabutnya Inpres '>fo.9 Tahun 1975 dan dikeluarkannya UU No. 12 Tahun 1992 yang nemberi kebebasan kepada petani untuk menanam komoditi apapun Iiluar tebu, tanpa disertai dengan kebijakan pendukung yang memadai ian memihak, Pada level mikro, lingkungan usaha yang semakin Para petani tebu
curang kondusif sejak pemberlakuan otonomi daerah juga turut

nemperparah kinerja industri gula nasional.

ridonesia barn bangkit kembali setelah pemerintah mengenakan tarif mpar gula mentah sebesar Rp. 550lkg dan tarif impor gula putih .ebesar Rp. 700lkg pada tahun 2002. Melalui kebijakan proteksi

239

industri gula, subsidi ekspor, subsidi usaha tani tebu, subsidi bunga penguatan kelembagaan gula seperti pendirian lembaga penelitian gula dan akademi serta sekolah teknik menengah gula. Melalui kombinasi kebijakan mengekspor produksinya, tidak proteksi dan promosi tersebut, banyak negara bisa importir gula gula dengan harga yang lebih rendah dari biaya sehingga membanjiri negara-negara dengan tarif bea masuk pinjaman ,. dan penetapan harga dasar pembelian tebu/gula serta

dengan harga yang sangat murah. Rendahnya harga gula dunia yang dilindungi (tarif O%)sebagai konsekuensi dari kesepakatan pemerintah Republik Indonesia dan IMF sebagaimana tertuang dalam salah satu butir "Letter of Intent" (LoI) tahun 1998 inilah yang menjadi salah satu sebab utama gonjangganjing-nya industri gula Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada tingkat makro, faktor penting yang menjadi salah satu sebab
.rendahnya daya saing industri gula nasional adalah dicabutnya Inpres

No.9 Tahun 1975 dan dikeluarkannya UU No. 12 Tahun 1992 yang memberi kebebasan kepada petani untuk menanam komoditi apapun diluar tebu, tanpa disertai dengan kebijakan pendukung yang memadai dan memihak, Pada level mikro, lingkungan usaha yang semakin Para petani tebu kurang kondusif sejak pemberlakuan otonomi daerah juga turut memperparah kinerja industri gula nasional. Indonesia bam bangkit kembali setelah pemerintah mengenakan tarif impor gula mentah sebesar Rp. 550lkg dan tarif impor gula putih sebesar Rp. 700lkg pada tahun 2002. Melalui kebijakan proteksi

239

tersebut produksi gula nasional dapat ditingkatkan sebesar 7,2 persen rata-rata per tahun. Kebijakan proteksi yang dibarengi dengan kebijakan promosi seperti subsidi suku bunga kredit, subsidi pupuk, dukungan pengembangan prasarana pengairan dan dukungan permodalan bagi koperasi tebu untuk pembongkaran ratoon, pembangunan kebun bibit dan lain-lain diharapkan dapat meningkatkan efisiensi teknis dan efisiensi ... -._
. .. -'

ekonomis industri gula nasional, yang pada gilirannya diharapkan dapat mengantarkan industri gula nasional mencapai swasembada gula dalam waktu dekat (2007/2008). Dihadapkan pada pasargula dunia yang ditandai dengan kelebihan

stock dan bersifat distortif, pemerintah seyogyanya memperhatikan dua hal berikut. Pertama, tetap konsisten mempertahankan kebijakan proteksi dan promosi, selama masih dalam koridor ketentuan WTO. Kedua, mulai mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengambil inisiatif dalam program pengembangan jangka panjang produk-produk turunan tebu, yang terpenting diantaranya adalah ethanol dan alkohol untuk energi altematif sebagaimana telah dilakukan dengan berhasil .. leh Brasil. Pengembangan produk-produk turunan tebu ini menjadi o semakin penting mengingat bahwa Indonesia saat ini telah menjadi "net importir country" untuk energi bahan bakar minyak.

240

DAFTAR PUSTAKA Asian Development Bank (2001); Prakiik Terbaik Mengembangkan Klaster Industri dan Jaringan Bisnis, Policy Discussion Paper No.8. Jusmaliani (2003); Optimalisasi Program Privatisasi, LIP! Khudori Jakarta: P2E -

(2u04), Neoliberalisme Menumpas Petani: Menyingkap Kejahatan Industri Pangan, Y ogyakarta: Resist Book

Pakpahan, Agus (2004), Petani Menggugat, Bogor: Gapperindo Porter, M.E. (1997), Strategi Bersaing, Jakarta: Penerbit Erlangga Profil PT Gunung Madu Plantations., Lampung Perkebunan dan Pabrik Gula

Rachmat Pambudy (ed.) (2004), Ekonomi Gula: 11 Negara Pemain Utama Dunia, Kajian Komparasi Dari Perspektif Indonesia, Jakarta: Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan Sekretariat Dewan Gula Nasional (2002), Program Akselerasi PeningkatanProduktivitas Gula Nasional 2002-2007, Jakarta Saragih, Bungaran (1998), Membangun Pustaka Sinar Harapan Strategi Ekonomi, Jakarta:

241

LAMPIRAN

1
Daftar Permasalahan Tanah PT Perkebunan Nusantara Unit Usaha Bungamayang Nama dan Alamat Pengklaim Syaiful Adl, Desa Vii (Persero)

No.

Wil.Rayo n Rayon III

Status Tanah

I.

HGU.No. 7/SK.S/1989

Kota Napali

Luas Tanah {Ha) 17

Upaya Penyelesaian Setelah
Pemda

Keterangan Telah diselesaik an

2.

Rayon III

HGU. No. lOiSK.Si1990

Syaiful Adl, Kota Napali

Desa

12

3.

Rayon III

HGU.No. 1O/SK.s1I 990

4.

Rayon IV

EksHPH Masyarakat Sukadana Udik

A. Rozali/Abu Yazid Busthomi HN, Masyarakat Negara batin Pipi, Rusdi dan Rusdan Effendi, BBA

895

Lampungke Polres Lampung Utara Setelah Pemda Lampungke Pol res Lampung Utara Polres Lampung Utara Tim Sengketa Tanah Lampung Utara Setelah Pemda Lampung ke Polres Lampung Utara Pengadilan Negeri Lampung Utara Setelah Pemda Lampungke Polres Lampung Utara Pemda Lampung Utara

Telah diselesaik an

Telah diselesaik an Telah dilakukan pengemba lian batas round meeting Tanah dita-nami sing-kong oleh pihak pengklaim

100

5.

Rayon

r

HGU.No. 7/SK.S1l989

Syamsudin, Desa
Tanah Abang

90

6. c7.

Rayon Il

Lahan
Pengembangan Eks.PT. SSM

Basirun, Desa Sukadana Hir

6

Rayon HI

HGU.No. 7/SK.Si1989

Drs. Suryadi .(P4KI}a.n. Masyarakat Negara Batin dan Gedung Batin Pesawik Glr. SI. Pati Kindoran cs, Desa Bandar Agung

150

8.

Rayon IV

HGU No. 21/1995

415

Tanah dita-nami sing-kong oleh pihak pengklaim Telah dibayar 50% dari harga

242

9.

Rayon IV

HGU No. 21/1995

Masyarakat Haduyang Ratu

136

Pemda Lampung Utara

10.

Rayon IV

Eks. HPH

Masyarakat Haduyang Ratu

125

Pemda Lampung Utara

11.

Rayon IV

HGU No. 21/1995

Ahli waris Raden Mangku Negara

2.957

Melalui masyarakat Tulang Bawang Udik bersama UU. Buma PemdaWay Kanan

Rp.2.500. 000 (tanah masih dikuasai pengklaim ) Tanah masih dikuasi pihak pengklaim Tanah masih dikuasi pihak pengklaim Tanah

masih
dikuasi pihak pengklairn &sebag. Dita-nami sing-kong Tanah masih dikuasi pihak pengklaim & Ditanami singkong Tanah masih dikuasi pihak pengklaim Tanah masih dikuasi pihak pengklaim & Ditanami singkong

12.

Rayon IV

HGU No. 21/1995

Masyarakat Kanan

Way

301

13.

Rayon V

Eks. HPH

Rusdan Effendi csIR. Hamami cs

1.059

Pengadilan Ne-geri (Tk. Kasasi)

14.

Rayon VI

Eks. HPH

Masyarakat Way Kanan, Masyarakat TIg. Bawang Udik

4.650

Pemda Way Kanan

Sumber. Profil PTP Nusantara

vn

Total (Persero) Unit Usaha Bungamayang,

10.913 Kotaburni, Lampung Utara, 2004

243

LAMPIRAN2
Fertilizer Animal reed Electricity Cane wax Anticorrostves tjgno-sclphonare Sucrolin

Ligln:

I
"'05

-

I
Fuel Bagasse: [SUCROSE

Electricity Charcoal bnquete Producer gas Co-generation

Fibrous Produ<,-, Bleached pulp Fibre board Particle board Flulfpulp Writing p.per Newsprint

Flue 0 Tmsh

Cane"'f. opsll.ea\·es: Fodder Leaf protein SCP E'h""ol Solicana/Sccharmn Miscellaneous

FurrtirnllRes~n a·CeIJulos.

Xylil<>l
Plastic

Furnace

Ash: Glass industry

SUGiJr Cone Animal feed Soil conditioner Antibiotics

from Juice

Allied Products: Jaggery Liquidjcggery Khandasari sugar

..
Molasses:
Svmhetic

Direct

use

E.x pcrtatien Ferti]izer Animil! feed

Sweet

enersmertvoeve:
sweeteners S~erose derivatives Tensonctive agents

I
Miscellaneous: Acoeuic aeld lraconic acid E;>;plo.iv.·NIROMIEL Biocid es ·IFOPOL Dextran l-lysine Xenthan gum Mono sodium glutamate

Distillery Industry

Rum
Ethanol Rectified spirits Anhydrous alcohol Alcohol derivatives Other Fermentation ProduC!5 Vinegar

DistiUe 'Y Effluents: Fertilizer Bio-gas Pctash

Acetic acid

Butanol Citric ecid Lactie ncld Food & feed yeast

Diag.-am Sumher: Agriculurrcl and Industrial Weillth from Sugarcane

Produk (Source:

Beraumher

Dan Tebu l!J!.IS)

GoB. Singh end S. Solomon,

244

BAB VIII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

8.1. Kesimpulan Berdasarkan pasar berikut: (I) Walaupun Indonesia merupakan suatu negara agraris yang besar di dunia, sampai sekarang Indonesia satu negara pengekspor belum mampu menjadi salah besar dalam produk-produk makanan. hasil studi "desk research" maka kondisi maupun pasar global daya saing di sebagai komoditi dan lingkungan usaha produk-produk domestik makanan Indonesia

dapat digambarkan

Diantara produk -produk makanan yang merupakan juta doIar AS, yakni cokelat, buah-buahan ikan olahan. Dari kelompok Indonesia dan memang mempunyai

ekspor u..t.a,ma dan oleh

Indonesia ada tiga (3) diantaranya yang nilainya selalu di atas 100 dan sayur-sayuran, ikan, yang paling diandalkan prospek

pasar dunia yang

bagus adalah tuna, cakalang, tongkol, udang, demersal dan pelagis besar dan kecil, yang jumlahnya diperkirakan 4 juta ton lebih, atau hampir cakalang, migas potensi 63% dari total potensi tongkol sumber daya perikanan andalan yang dimiliki Indonesia. Indonesia Diantara komoditas-komoditas dan udang merupakan tersebut, tuna, ekspor nonjuga punya dari kategori dan mutiara,

selama ini. Selain itu, Indonesia perikanan kekerangan, rumput laut,

besar di komoditas-komoditas

mariculture, seperti

245

walaupun diperkirakan jumlahnya lebih kecil, tidak mencapai I juta ton (sekitar 6,7%). Sayangnya, potensi yang ada ini hinggat kini belum semuanya terrealisasi sepenuhnya. Pengalaman produk-produk selama ini menunjukkan bukan bahwa yang sangat

menentukan keunggulan di dalam perdagangan dunia untuk makanan faktor-faktor keunggulan komparatif melainkan keunggulan kompetitif, terutama teknologi dan SDM. Pentingnya teknologi terutama untuk meningkatkan kualitas produk dan produktivitas
serta

efisiensi.

Dengan

penguasaan teknologi yang tepat, sebuah negara walaupun keeil bisa menghasilkan volume produksi pertanian lebih banyak daripada sebuah negara besar seperti Indonesia. Sedangkan pentingnya SDM tidak saja dalam melakukan inovasi produk dan proses produksi, tetapi juga dalam menyusun perencanaan dalam produksi kornpetitif kesepakatan seperti ini perencanaan di dalam pengembangan produk-produk dunia juga makanan olahan. Semakin pentingnya faktor-faktor keunggulan perdagangan pangan disebabkan oleh rnuneulnya berbagai macarn ketentuan atau intemasional yang mengatur perdaganganantar negara. Diantaranya adalah ketentuan keamanan pangan yang . <ketat yang diterapkan oleh tiga pasar besar yakni UE~Jepang dan AS. Di DE telah dibentuk European Food Safety Authority (EFSA) yang akan rnenerapkan peraturan kearnanan pangan yang bam yang akan diterapkan mulai tanggal1 Januari 2006.

246

Kurangnya Indonesia memiliki atau mengembangkan faktor-faktor keunggulan kompetitif selama ini juga menjelaskan hilangnya kesempatan Indonesia sebagai negara eksportir terbesar di dunia untuk sejumlah produk makanan. (2) Mengenai lingkungan usaha produk pangan di pasar global, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa peta perdagangan dunia dalam industri pangan/pertanian saat ini sangat tidak adil. Pasar pangan dunia saat ini tidak bisa lagi dianggap sebagai pasar yang steril dari praktik-praktik bisnis tidak sehat yang dilakukan oleh negara-negara besar. Negara-negara berkembang tidak hanya memperoleh kesulitan dalam memasarkan produk-produk pertaniannya di pasar global, melainkan juga tidak mampu bersaing dengan negara maju yang sanggup menetapkan harga dari produk pertanian yang relatif rendah. Bahkan beberapa negara maju (khususnya Jepang) melakukan proteksi tarif terhadap impor beras sebesar 800 persen yang menghambat negara berkembang untuk memasarkan produk berasnya ke negara ini. Selain bentuk proteksi tarif, negara maju juga menerapkan proteksi non-tarif seperti persyaratan kebersihan (Sanitary dan Phytosanitarys untuk membatasi akses pasar produk pertanian dari negara-negara berkembang. Persyaratan kebersihan yang ditetapkan oleh negaranegara maju ini bahkan lebih tinggi dari persyaratan yang ditetapkan secara intemasional sehingga banyak merugikan negara-negara berkembang. Tentu saja banyak lagi proteksi non-

247

tarif yang dilakukan negara maju terhadap ekspor produk pertanian dari negara berkembang yang tidak saja membatasi atau bahkan mencegah pasar produk petanian kerja dan untuk negara berkembang, pendapatan, (3) Adapun melainkan juga berpengaruh pada peningkatan perluasan kesempatan pengurangan

kemiskinan di negara-negara berkembang. lingkungan usaha di Indonesia dewasa ini belum sepenuhnya kondusif bagi upaya-upaya peningkatan daya saing. Ketidak-kondusifan tersebut diantaranya adalah: (1) masih adanya gangguan keamanan di beberapa wilayah di Indonesia, (2) ketidakpastian hukum dan lemahnya penegakan hukum di Indonesia, (3) pasar tenaga kerja yang dianggap kurang kondusif bagi para pengusaha, (4) tumpang tindihnya kebijakan atau peraturan pemerintah pusat dan daerah, (5) prosedur administrasi yang panjang dan rumit sejak dari prosedur perijinan sampai ke pabeanan, (6) lemahnya insentif perpajakan, (7) korupsi yang semakin merajalela baik pada tingkat pemerintah pusat maupun daerah. Sementara itu hasil penelitian lapangan atau ''field research" dengan menggunakan pendekatan "diamond" model Michael Porter tentang faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing tiga (3) jenis produk makanan olahan yakni nenas, kacang tanah dan gula menghasilkan beberapa temuan sebagai berikut:

248

(1) Kondisi faktor: industri produk makanan olahan yang memiliki

perkebunan sendiri pada umumnya memiliki fleksibilitas ;Wmg lebih tinggi dalam pengelolaan usaha sehingga peluang untuk melakukan inovasi dalam rangka peningkatan daya saing juga lebih besar. Meskipun demikian industri kacang tanah yang tidak memiliki kebun sendiri juga masih bisa berdaya saing tinggi selama mampu menjalin kemitraan yang baik dengan para petani. (2) Kondisi permintaan: permintaan terhadap produk-produk makanan olahan di pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri masih cukup besar bahkan cendernng meningkat. Kemampuan untuk berinovasi dan melakukan diversivikasi produk mernpakan faktor penting dalam memenuhi permintaan pasar yang terns meningkat tersebut. (3) Konteks strategi dan rivalitas pernsahaan: Selain inovasi dan diversivikasi produk, setiap industri makanan olahan yang berdaya saing pada umumnya menempuh strategi peningkatan kualitas output dengan memenuhi standar ISO dan standar keamanan informasi produk untuk makanan, memanfaatkan teknologi mempromosikan produk-produknya,

mempunyai network yang luas dengan para "stakeholder" dan memelihara hubungan yang baik dengan para karyawan serta masyarakat sekitar, serta mempunyai segmen pasar yang jelas (niche).

249

(4) Industri pendukung:

Industri makanan olahan yang berdaya

saing tinggi pada umumnya ditunjang dengan ketersediaan industri pendukung yang memadai, terutarna industri kemasan yang cukup murah dan industri ttansportasi guna memperIancar arus distribusi. Secara rinci temuan-temuan lapangan dari ketiga Jems komoditi tersebut adalah sebagai berikut:

250

Kondisi Faktor
Nenas Su mber pasokan bahan baku: Kebon nenas milik petani Kebnn nenas rnilik perusahaan (Lampung) Laban untuk kebon nenas yang disewa perusahaan dari petani Tanah negara yang disown perusabaan dengan hak guna usaba(HGU) Kaeang Tanah Sumber pasokan bahan baku: Sepenulmya berasal dati kebun kacang milik petani (Jawa dan luar Jawa) lndustri sama sekali tidak memiliki kebun sendiri. Tebu/Gula Sumber pasoknn bahan baku: Sebagian besar kebun tebu milik petani (Jawa) Hampir selurubnya milik perusahaan (hiar Jawa Permasalahan pasokan nenas darl petanl; - Kualitas (rendemen) rendah, karena hampir selurubnya tebu keprasan, bukan plan; cane. - Petani tidak akan menanam tebu apabila pada waktu tertenm tanaman lain lebib menguntungkan - Kerusakan daerah tangkapan air di Pulan Jaw. ber-pengaruh signifikan terhadap produksi kebun tebu petani,
Jaminan kantinuitas pasokan bahan baku: - Tidak ada jaminan kontinuitas pasokan karena petani bebas menjual tebu kepada pabrik gula yang memberi harga lebib tinggi. - Hanya pabrik gula yang memiliki perkebunan tebu sendiri yang akan dapat bertahan dalam jangka panjang dan melakukan inovasi untuk meuingkatkan daya saing.

Permasalahan

pasokan nenas dari

Permasalahan pasokan nenas
dart petanl: Petani enggan rnengikuti teknologi pertanian yang barn, sehingga kualitas panen rendah Petani kurang memiliki kornitmen dalam perjanjian pernasokan kepada perusahaan Jaminan kontinultas pasokaa bahan baku: Sulit mengandalkan kontinuitas pasokan dar] perani, Hanya perusahaan yang memiliki perkehunan sendiri yang terjamin kontinuitas pasokan bahan bakuny a, Akresibilitas Jokasl perkebunan dan industrl: Lahan pertanian yang sernakin terbatas di Pulau Jawa tidak meunmgkinkan usaha perkebunan nenas untuk memasok industri skala besar. lndustri yang dapat bertahan dengan daya saing tingg] hanya yang berlokasi di luar Jawa dan memiliki perkebunan sendiri, dengau pabrik berada di tengah perkebunan,

petani: Kualitas hasil panen tidak bisa optimal karena mahalnya biaya produksi (harga pupuk, dsb, Tidak ada ikatan kontrk dengan petani sehingga petani bebas menjual hasil panen kepada industri yang memberi harga lebih tinggi Jamlnan kontinuttas pasokan bahau baku, lndustri barns memeliltara bubungan baik dengan pedagang/supplier kacang tanah agar kontinnitas pasokan sesuai dengan kebutuhan bisa terjamin Mata rantai pasokan yang dari panjang petani penebas, pedagang/supplier ke industri kurang menjamin kontinuitas pasokan,
I

Aksesibllltas industri:

lokasi perkebunan

dan

Kebon kaeang tidak bisa terlalu jauh dengan industri karen. untuk menjamin kualitas produk (kacang garing) kacang hams sudah diproses paling lambat 24 jam setelah dipanen. Kacang dari IUBr Jawa tidak dapat diandalkan karena jarak dan waktu angkut tidak rnemenuhi persyaratan,

Aksesibilitas lokasi perkebunau dan lndustrk PG di Jawa belum lentu mcndapat pasokan dari kebun tebu yang ada didekatnya karena petani cenderung menjual ke PG yang berlokasi lebih jauh yang memberi harga lebib tinggi. - Industri gula luar Jawa yang umunmya memiliki pabrik dan perkebunan tebu sendiri yang berasa dalam satu area lebib berpotensi untuk berdaya saing dibandingkan dengan pabrik gula di Jawa.

251

Kondisi Permintaan
Ncnas Kacang Tanah Tcbu/Gula

Pasar Dalarn Negeri: Masih lebih banyak permintaan terhadap buah nenas segar daripada hasil olahan industri, seperti juice dan nenas kaleng.

-

-

-

Pasar Luar Negeri: - Sangat paten sial untuk rnemasuki pasar global, terutama bila menggunakan brand name dari perusahaan pemesan dari rnancanegara. Saat ini industri pengalengan nenas nasional terbesar menjadi pemasok 15 persen kebutuhan konsumsi nenas dunia, melalui sekitar 500 merk dagang mancanegara, - Ada keeenderungan peningkatan permintaan terhadap nenas segar, bukan dalam bent uk olahan.

-

Pasar Dalarn Negeri: Sekitar 80 persen permintaan konsurnen dalarn negeri ditujukan pada produk-produk dua industri kacang tanah terbesar Terdapat peningkatan perrnintaan dari tahun ke tahun, karena adanya berbagai inovasi dan diversifikasi produk, Permintaan konsumen meningkat pada waktu peringatan hari-hari besar keagarnaan.

-

Permintaan Luar Ncgeri: Sepu luh tahun terakhir terjadi peningkatan terhadap berbagai jenis rnakanan kaeang olahan, Permintaan luar negeri dipasok oleh dua industri kacang terbesar, Peningkatan permintaan dan pasokan ke pasar mancanegara lebih dimungkinkan dengan adanya ekspor dalam bentuk eurah yang kernudian .dijual dengan kemasan dan

Pasar Dalam Negeri: Peningkatan permintaan dalarn negeri tidak rnampu dipasok oleh industri gula dalarn negeri, sehingga Indonesia harus rnengirnpor lebih dari satu juta ton, dan kebutuhan sekitar tigajuta ton. Beberapa industri yang mernakai gula sebagai bahan tarnbahan pada urnumnya menggunakan gula impor dengan alasan harganya lebih rnurah dan lebih rnernenuhi persyaratan estandar industri.

-

-

-

-

Persaingan dengan Industr] Luar Negcri: Industri gula dalam negeri sulit rnenyaingi gula impor karena rendemen tebu yang sangat rendah dan teknologi pengolahan yang umurnnya tidak efisien. Ada dugaan bahwa para produsen gula mancanegara rnelakukan konspirasi .

-

merk dagang pemesan,

252

Konteks Strategi dan Rivalitas Perusahaan
Ncnas Kacang Tanah Tebu/Cula
',

'-'.'~. -.-

-

Strategi Perusahaan: Menjagadan meningkatkan kualitas dengan memenuhi .estandar ISO dan berbagai estandar keamanan produk makanan seperti HACCP dan lain-lain. - Menjaga produktivitas dan kelangsungan hidup perusahaan dengan memberi jaminan hidup yang layak kepada karyawan. Menekan biaya produksi dengan menggunakan bahan-bahan tambahan asal impor (seperti gula) yang relatiflebih murah,

-

-

Strategi Perusabaan: Inovasi dan diversifikasi produk merupakan strategi yang digunakan perusahaan besar untuk merebut pasar dan memenuhi sclera konsumen yang semakin bervariasi, Teknologi informasi dimanfaatkan secara optimal untuk mempromosikanproduk seeara luas, memperluas pemasaran dan sarana transaksi (e-

commerce).
Network dengan institusi kesehatan dijadikan sumber justifikasi guna meyakinkan konsumen akan keamanan dan tingkat nutrisi produk,

-

-

Rivalltas antar perusahaan: Persaingan frontal dengan perusahaan sejenis dan mancanegara tidak terjadi karena perusahaan menggarap segrnen pasar (niche) sendiri yang tidak dimasuki perusahaan lain. Persaingan dengan industri sejenis di dalam negeri tidak terjadi karena segmen pasar dan konsumen yang dilayani berbeda.

-

Rlvalltas antar perusahaan: Rivalitas tetjadi antara dua perusahaan besar dalam

Strategi Pernsahaan: Mernbina hubungan baik dengan APTR dan KPTR untuk kelancaran pasokan tebu dari petani (PG di Jawa). Memelihara hubungan baik dengan karyawan dan masyarakat sekitar demi ke lancaran operasi perusahaan {PG di luarJawa). - Menjadikan PG menjadi independen dan mandiri demi efisiensi (PG yang berada di bawah PTPN). Diversifikasi produk dengan juga memproduksi ethanol yang lebih rnenguntungkanj Sugar Group)

-

-

-

merebut pasar dalam negeri.
Jargon-jargon kesehatan dieksploitasi untuk menunjukkan keunggulan prod uk sendiri dibandingkan produk kompetitor,

Rivalitas antar pcrusahaan: - Memberi harga lebih baik kepada petani untuk rnenda-pat pasokan tebu (pG di Jawa) Memelihara hubungan baik dengan distributor untuk menjamin kelancaran pemasaran,

-

253

8.2. Rekomendasi (1) Dalamlingkup makro, kebijakan industri pangan yang perlu ditempuh oleh pemerintah dalam menghadapi semakin keras dan ketatnya kompetisi dalam era globalisasi dewasa ini dapat dilakukan dalam dua bentuk. pertanian umumnya. negara maju. Pertama, kebijakan melalui perbaikan kondisi internal industri pangan khususnya dan sektor Kedua, kebijakan perbaikan pada sisi eksternal untuk memperluas pasar produk pertanian di negaraDalam hal kebijakan internal, pemerintah di kemampuan negara-negara ini harus mampu·meningkatkan

produksi pangannya+baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Pada sisi eksternal, upaya untuk melakukan kerjasama perdagangan dilakukan. (2) Peran pemerintah dalam mendukung peningkatan daya saing industri makanan olahan dapat dikatakan belum optimal. Masih banyak peluang yang dapat diberikan oIeh pemerintah guna membantu meningkatkan daya saing industri makanan olahan diantara yang terpenting adalah penciptaan iklim usaha yang kondusif seperti dukungan kebijakan insentif fiskaI untuk impor bahan baku, keberpihakan pada petani dalam bentuk promosi dan proteksi dalam menghadapi pasar bebas, serta penghapusan korupsi dan penciptaan kepastian hukum. (3) Industri makanan olahan bisa bertahan dan berdaya saing di pasar lokal dan global apabila ketergantungan pada bahan baku terutama dengan negara-negara maju penting

254

dan bahan penolong impor bisa dikurangi. baku (4) dan penolong yang memang

Untuk impor bahan di

tidak bisa didapatkan

Indonesia sebaiknya tidak dikenakan bea masuk. Peraturan perundangan untuk petani melakukan menanam tebu yang memberi kebebasan kepada petani dan menghapuskan telah keharusan secara interval menyebabkan polikultur,

kontinuitas

pasokan bahan baku dari petani untuk industri gula K.ebijakan pemerintah ini perlu saling menguntungkan peningkatan dari

di pulau Jawa sulit diharapkan. ditinjau kembali, (5) Sinergisme merupakan perlu dan kerjasama

yang

semua industri yang terkait dalam klaster usaha agro-industri salah satu kunei insentif untuk daya saing produk industri makanan memberikan produk-produk terciptanya industri industri. (6) Salah satu cara yang mungkin dilakukan untuk mengatasi masalah pasokan bahan baku, dalam kasus industri gula adalah dengan merelokasi mana tersedia untuk memiliki sebagian pabrik gula ke luar Jawa, di temp at perkebunan sendiri, sehingga ketergantungan lahan yang masih eukup Iuas bagi perusahaan olahan. Oleh karena itu pemerintah yang menggunakan Untuk mendukung khusus

bagi industri

dalam negeri sehingga tercipta keterkaitan yang ini, maka perlu dibuat mapping cluster daerah pengembangan

erat dan kuat antar industri dalam negeri. sinergisme yang akan dijadikan

kepada petani dapat dihilangkan sarna sekali.

255

(7)

Pemerintah, kembali sangat

terutama

Pemerintah berbagai dunia usaha,

Daerah, tentang sehingga

perlu

meninjau yang

keberadaan memberatkan industri

regulasi

retribusi

menyebabkan sulit

terjadinya ekonomi biaya tinggi (high cost economy), karena hal ini bcrakibat meningkatkan (8) Dalam rangka makanan yang daya ada didaerahnya industri daya saing. meningkatkan saing makanan

olahan, maka kebijakan pro petani, promosi dan proteksi tetap diperlukan, selama masih dalam koridor WTO. (9) Pemerintah daerah secara proaktif seyogyanya menjadi mediator dalam kerjasama antara perusahaan dengan petani dan menjamin adanya kepastian hukum dalam berusaha didaerahnya,

256

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful