Pasar Tradisional: Sebuah Review Kritis

11:10 Suhadi Rembang No comments ABSTRAK Arus utama dari berbagai studi tentang pasar tradisional adalah menaruh empati pasar tradisional yang dalam ambang kehancuran. Akhir beberapa studi pasar tradisional sebagian besar juga menawarkan revitalisasi pasar tradisional. Namun sebagian besar pula memberikan rekomendasi agar pasar tradisional mengejar pasar modern. Menurut penulis, pengarusutamaan pasar tradisional mengejar pasar modern hanya sebatas kontes empati semu, dan tidak disadari bahwa cara pandang tersebut telah berperan aktif dalam meluluhlantakkan pasar tradisional di lembah kemunduran. Karena mengejar pasar modern hanya sia-sia saja, sebab pasar tradisional akan selalu menggunakan teknologi sampah dari pasar modern. Untuk itu pasar tradisional perlu menggunakan haluan yang khas pasar tradisional, bukan berhaluan pasar modern. Mengedepankan pasar tradisional sebagai identitas lokal, media membangun karakter bangsa, sumber sosialisasi generasi, sumber nilai-nilai sosial, basik laboratorium ekonomi, media pendidikan formal-nonformal dan informal, pengauatan dan ketahanan ekonomi lokal, hingga penguatan tradisi lokal, adalah suatu diversitas fungsi pasar tradisional yang tidak dimiliki oleh pasar modern. Pada saat itulah, pasar tradisional sebagai pemangku dan pemegang ekonomi lokal yang kokoh dan mapan, yang tidak akan terkikis oleh desakan pasar modern. Tulisan ini disuguhkan sebagai review kritis dari beberapa studi tentang pasar tradisional, khususnya tulisan dari saudara Awan Santosa dan Puthut Indroyono dengan studinya yang berjudul Pedagang Pasar Tradisional Terancam dalam junal JER - No. 108/13 - 2011-03-11. Kata kunci: Pasar tradisional, pasar modern, haluan pasar

Namun kepekaan penulis terdahulu dalam memandang social problem pasar tradisional ini berhenti pada kewajiban pasar tradisional untuk mengejar pasar modern.PENDAHULUAN Tulisan ini berangkat pada Jurnal Ekonomi Rakyat dalam tulisan yang berjudul “Pedagang Pasar Tradisional Terancam” oleh Awan Santosa dan Puthut Indroyono. pasar tradisional dalam keadaan gawat. atau malah semakin tinggal landas menuju keadaan gawat dan terpinggirkan. Sanjaya (2011). Susilo (2007). Apakah rekomendasi ini cukup teruji di lapangan. Beberapa studi terdahulu yang terplih dalam mereview jurnal saudara Awan Santosa dan Puthut Indroyono adalah Gustriandi (2005). Tulisan ini akan menyusuri berbagai pandangan dari ahli yang diawali dengan studi yang mendalam dan ketat. bahwa pasar tradisional dalam keadaan terpinggirkan. Anam (2011). Saranita (2010). Menurut kedua penulis di atas. Nelawati (2010). dan Suhadi (2011). . Agustinawati (2007). Jauh sebelum itu. Dengan demikian tulisan ini dapat meletakkan diri akan mengapa dan bagaimana pasar tradisional sebagai simbol diversitas kemandirian ekonomi lokal yang cukup penting untuk dilestarikan. studi yang dilakukan oleh Saputro (2008) juga berargumen demikian.

walaupun semu.KAJIAN PUSTAKA Menurut wikipedia. Di sisi lain. tidak hanya secara lokasi tetapi juga oleh konsumen. Jika hanya demikian. Hanya saja para pembeli dan pedagang tidak melandasi interaksinya dengan tatanan nilai yang dasar yang sifatnya tidak tergantikan. Nilai-nilai ini melembaga . Menggambarkan struktur yang meliputi bentuk. los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. jauh dari itu ada fungsi pasar tradisional yaitu sebagai laboratorium ekonomi sosial budaya yang cukup luas. kolektivitas dan hubungan antar golongan. jasa dan lain-lain. bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai. barang yang diperdagangkan sebagian besar adalah hasil tani yang masih dalam kondisi segar. Hubungan atau relasi dalam perilaku ekonomi tidak berjalan dengan sendirinya. Kemudian beralihlah para pembeli ke pasar tradisional. karena akan meningkatkan bahaya keamanan pangan. Inilah yang menjadi daya tarik yang cukup luar biasa. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi serangan dari pasar modern. dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. dan lokasi pasar yang dekat dengan pemukiman. Menurut Saputro (2008) keberadaan pasar tradisional kini secara pelan tapi pasti kian terpinggirkan. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Yogyakarta. telur. pasar Klewer di Solo. Untuk itu para pedagang dan pembeli bersama-sama menjadi interaksi ekonomi sosial budaya di pasar tradisional untuk lebih mantap dan berkualitas. tetapi masih diwarnai dengan nilai-nilai turun-temurun tentang sistem yang digunakan dalam kehidupan pasar. pasar Johar di Semarang. Pedagang bertemu dengan pedagang. sayur-sayuran. relasi. kain. Namun mengapa kekuatan itu kiranya menjadi kelemahan saat ini. dalam proses tawar menawar yaitu bertemunya pedagang dan pembeli. Saya lihat tidak hanya tawar menawar. Selain itu. ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. proses interaksi sosial secara luas juga terjadi di dalam pasar. daging. pakaian barang elektronik. dan pertemuan pedagang dengan pembeli tidak hanya sebatas tawar menawar harga barang. pembeli bertemu dengan pembeli. Kerena tindakan tersebut tidak sulit ditemukan dalam transaksi di pasar modern yang mengandalkan media iklan yang berfungsi laten. revitalisasi terhadap pasar tradisional mendesak untuk dilakukan agar tidak punah Dalam studi Agustinawati (2007) tentang Kehidupan Pasar Tradisional (Studi Struktur dan Organisasi Pedagang Kain Pasar Tradisional Klewer). pasar modern akan meminjam proses interaksi sosial yang ada di pasar tradisional. buah.org (2011) pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar. Kejujuran dan kearifan menjadi daya tarik dalam transasksi ekonomi sosial budaya dalam pasar tradisional. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia. Tindakan penyimpangan perilaku ekonomi seminimal mungkin tidak ditampilkan. Kekuatan pasar tradisional menurut wikipedia. Ketersediaan fasilitas dan utilitas yang tidak memadai di pasar-pasar tradisional harus diakhiri.org di atas yaitu adanya proses tawar-menawar. memfokuskan studinya tentang gambaran kultur sosial yang ada di komunitas pedagang kain pasar Klewer.

mengambil sampah. Ikatan-ikatan sosial dan identitas sosial barangkali menjadi petanda untuk disuguhkan agar pasar tradisional sebagai kontekstualisasi dan aktualisasi konsumen agar tidak lepas dari pasar tradisional. Apakah ikatan sosial itu . Dalam studi ini belum nampak nilai-nilai sosial yang dibedah. dan membendung mobilitas konsumen ke pasar modern.html) ikatan sosial yang terbangun dari intensitas pertemuan di pasar kemudian berubah menjadi struktur yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat pasar tradisional. Menurut Anam (2011. jalan-jalan. apakah ke pasar tradisional atau ke pasar modern. baik barang konsumtif maupun nonkonsumtif sebagai tanda kelas sosial mereka. Banyak fenomena yang meluas bahwa pasar tradisional semakin menggeliat. Banyak literatur menyatakan dalam pasar tradisional terdapat interaksi sosial beragam dari individu yang berkecimpung di dalamnya. mobilitas konsumen tidak hanya sebatas kemana konsumen membeli barang. nongkrong. Apa muatan yang ada di dalamnya. bekerja sebagai tukang parkir. Ini yang menjadi subtansi pasar tradisional sebagai ruang publik bagi masyarakat terutama masyarakat kelas menengah kebawah. maka kualitas ikatan sosial perlu diketahu derajatnya. rekreasi dengan anak. Menjadi penting kemudian adalah apa barang akan dipilih oleh konsumen. Paparan Susilo tersebut kembali mengingatkan kita pada urgensitas pasar tradisional yang masih dilirik oleh masyarakat. Ingat. Studi antroposentris tentang ikatan sosial sebagian besar hanya fokus pada kepentingan regulasi dan kepentingan kuasa. mencari teman. namun asal-usul barang-barang yang mendominasi di pasar modern adalah lebih penting untuk diperhatikan. Jika kemudian ikatan sosial di pasar tradisional itu membangun struktur relasi antara pedagang dan pembeli. Jumlah di atas perlu ditangkap oleh pasar tradisional.com/2011/02/analisapermasalahan-pasar-dinoyo. tentu ada nilai pendukung yang berperan aktif dalam pengancuran pasar tradisional. dalam http://sendyakalaning. seperti: jualan. Memang secara fungsional. menyetok barang. Dengan demikian. jika terjadi kehancuran pasar tradisional. baik dari masyarakat sekitar maupun dari pedagang pasar sendiri. memulung plastik dan ngojek. Hubungan nilai-nilai sosial degan eksistensi pasar tradisional juga belum dipertajam. Ini bukan pekerjaan mudah untuk civitas pasar tradisional. menabung. Tiga puluh dua persen masyarakat adalah jumlah yang tinggi dimana masyarakat masih melakukan proses pembelian barang. Pasar tradisional masih menjadi ruang publik dan masih menjadi milik publik. apakah barang-barang dari produk lokal atau produk non lokal. namun produknya tidak produk lokal. narik becak. Jika demikian perlu direkayasan ulang akan nilai-nilai sosial yang mampu menciptakan ketahanan pasar tradisional. Untuk itu perlu eksplanasi tentang dua hubungan hal di atas.dalam kehidupan sebagai nilai hakekat kehidupan yang mampu menyeimbangkan hubungan antar individu ditengah persaingan dagang yang ketat dan sering sangat tajam. namun produk import.blogspot. Dalam penelitian Susilo (2010) dinyatakan terdapat 32% dari sampelnya terdapat keperluan lain dari masyarakat selain membeli barang. Studi tentang ikatan sosial sudah mendesak dikritisi ulang. Ikatanikatan sosial yang berperan aktif dalam memproduksi ikatan yang mesra antara pedagan dan pembeli di pasar konsumen tidak banyak dilakukan. pasar modern tidak hanya sebatas pendekatan ruang dan waktu saja.

dan legal. formal. yaitu jaringan dengan keluarga. Selain keberhasilan ethos ini diukur melalui keberhasilan melainkan diukur dari prestasi kerja yang dihasilkan dan keberhasilan mengumpulkan kekayaan material atau dalam bahasa yang umum sebagai akumulasi materiil. Konsumsi dianggap gaya hidup baru yang diyakini sebagai salah satu simbol dari kemodernan. Terpinggirkannya pasar tradisional tak dapat lepas dari meanstream manusia pada saat iin. Kedua faith in technology adalah keyakinan yang mengilhami segala sesuatu dapat diselesaikan dengan bantuan tekhnologi. growth ethic. paham antroposentrisme menjadi bagian interaksi antara manusia dengan lingkungan tidak terlepas dari rasa percaya diri manusia yang berlebihan (over confidence). Akibatnya. Ketiga. Perkembangannya pada era modern merubah pemikiran manusia dalm kaitannya dengan ethos. Sekelompok masyarakat yang memiliki hak mengelola dan hak mengatur alam tidak jarang menyebabkan watak indiviualisme berkembang subur. yaitu jaringan keluarga. Lima faktor ala Susilo ini (over confidence. Dari hasil penelitian Gustriandi (2005) tentang social capital pedagang kaki lima. Pada awalnya terkait dengan etika agama yang mengharuskan pemeluknya untuk terus berusaha dalam mencapai kesuksesan hidup. tapi tindakan untuk menyelesaikan seperti pasar tradisional. konsumsi menjadi semacam candu yang tidak bisa dikendalikan sehingga Negara maupun masyarakat berlomba-lomba mencari sumber-sumber material untuk memanjakan nafsu mereka. jaringan pertemanan. Pertama. Hukum-hukum alam dikesampingkan dan manusia selalu berubah dan tidak terbatas. yakni. materialism. faith in technology. yakni etika ingin maju terus. Konsumsi bukan lagi sekedar sebagai sarana untuk bertahan hidup atau menjaga kelangsungan hidup manusia. meyimpulkan. agen. Tekhnologi telah menghadirkan pemenuhan kebutuhan dengan cara instan dan bersifat masal. materialism. tetapi justru konsumsi berubah menjadi pola hidup. dan jaringan usaha. Permasalahan yang muncul seperti pasar modern. terbentuknya jaringan pedagang kaki lima dengan berbagai pihak adalah dari kerjasama yang dilandasi hubungan moral kepercayaan. Temuan Gustriandi di lapangan menunjukkan ada 4 (empat) pedagang kaki lima dengan berbagai pihak. alias pasar modern tidak. . growth ethic. Dua hal ini kemudian bercampuraduk dengan melahirkan aroma baru.seperti yang ungkapkan oleh Durkheim dengan gemainschaft-nya. Selanjutnya keempat. pasar tradisional juga tidak. yakni sikap dan keyakinan dengan menekankan dorongan personal tanpa memikirkan kepentingan dan kerugian dari pihak lain. yaitu meanstream industrialism. yaitu pasar tengahan. dan individualism) telah tampak dengan jelas bahwa gerbang kehancuran pasar tradisional tidak hanya dirusak dari luar (exward looking). individualism. Keempat jaringan tersebut dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) jaringan. Memang. kemoderenan diukur dengan tindakan-tindakan konsomsi yang dilakukan manusia. dan Iangganan. mau tidak mau. masyarakat pemilik mutlak pasar tradisional harus kritis melihat fenomena ini. Kelima. Menurut Susilo (2007) paham ini tumbuh subur dikarenakan beberapa hal. sesama pedagang kaki lima. Ataukah ikatan sosial di pasar tradisional itu lebih pada modern. Ketiga jaringan pedagang kaki lima ini masing-masing memiliki pola hubungan sosial yang berbeda. namun juga dari dalam sendiri (inward looking).

Premis kedua.nilai atau pilihan yang merekapertimbangkan sebagai pilihan rasional. konsumen pernah dan selalu menawar produk yang akan dibeli dan sering memperoleh produk yang sesuai dengan yang diharapkan konsumen. dengan menggunaan pendekatan teori interaksi simbolik Herbert Blumer dan teori pilihan rasional James C. pandangan dan pengalaman pembeli dapat hasil dari interaksi dengan konsumen lainnya baik dengan tetangga. itu mengarah ke tujuan mana tujuan juga ditentukan oleh nilai atau pilihan. Produk yang biasa dibeli oleh konsumen Pasar Soponyono Rungkut adalah kebutuhan pokok. Harga produk di Pasar Soponyono Rungkut masih wajar atau normal. Dalam teori interaksi simbolik Herbert Blumer. Hal ini juga dipengaruhi oleh pemahman dan pengalaman mereka merasa bahwa berdasarkan pelanggan ini untuk membuat tindakan. Hal ini juga berlaku untuk pembeli yang memilih pasar modern.00. produk di Pasar Soponyono Rungkut lengkap dengan kualitas yang baik. Teori pilihan rasional dengan ide dasar bahwa tindakan Coleman dalam satu tujuan menagarah. Keamanan lingkungan maupun fasilitas parkir Pasar Soponyono Rungkut baik dengan petugas keamanan yang telah terkoordinasi dengan baik.00-Rp 3. dan tujuan (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi). Pelayanan penjual Pasar Soponyono Rungkut baik dengan pertimbangan kejujuran. Studi Nelawati (2010) tentang makna sosial pasar bagi kosumen. bahwa sikap dan perilaku orang dalam transaksi di pasar tradisionallah yang tak dapat dilepaskan dari budaya dan sistem kepercayaan yang bertumpu pada perwatakan lokal.000. Coleman. keramahan dan kecepatan dalam pelayanan penjualan. dengan pemahaman. mereka memilih untuk melakukan tindakan berbelanja di pasar modern. Premis ketiga yang melalui proses interaksi dapat meningkatkan pemahaman. Ini adalah pilihan bagi individu apakah mereka akan lebih memilih pasar tradisional atau pasar modern. Kondisi kebersihan dan kondisi lingkungan Pasar Soponyono .000. Pasar tradisional bukanlah berbau tradisonal. yang didasarkan pada tiga premis yaitu premis pertama bahwa manusia bertindak atas "yang berarti". Dalam hal ini ketika pembeli membuat tindakan yang mengarah ke tujuan pembeli tindakan mereka memilih berbelanja di pasar tradisional. sebagian responden tidak pernah kecewa dengan sikap penjual. itu akan menjadi tujuan pilihan mereka di mana untuk berbelanja di pasar tradisional ditentukan oleh nilai . pandangan dan pengalaman yang dimiliki oleh pembeli tentang pasar tradisional dan pasar modern. kerabat atau teman dan mempengaruhi berarti mereka disebabkan. Pilihan rasional seseorang yang memilih untuk berbelanja di pasar modern karena kenyamanan berbelanja. dan melalui interpretasi tindakan mereka. Saranita (2010) dari hasil Analisis Perilaku Konsumen yang Berbelanja Pada Pasar Tradisional (Studi Kasus pada Konsumen di Pasar Soponyono) menyimpulkan bahwa sebagian besar konsumen yang berbelanja di Pasar Soponyono Rungkut adalah wanita dengan usia 44-52 tahun dengan status sudah menikah dan memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. atau fasilitas yang diberikan lengkap dan lain-lain.Fifiyani (2008) menyatakan kehidupan pasar tradisional sebagai sebuah mata rantai dalam menumbuhkembangkan serta pemberdayaan pasar tradisional sebagai salah satu urat nasi kehidupan masyarakat. penghasilan tiap bulan sebesar diatas Rp 1. Lokasi Pasar Soponyono Rungkut strategis dan rata-rata jarak rumah responden dengan pasar berjarak kurang dari 1 km.000.001.

Rungkut baik. 67% di Hongaria. Namun. Fasilitas. Taiwan. dan Polandia. Polandia. Supermarket bermerek asing mulai masuk ke Indonesia pada akhir 1990-an semenjak kebijakan investasi asing langsung dalam sektor usaha ritel dibuka pada 1998. pangsa pasarnya mencapai sekitar 60%. Thailand. Keamanan. regulasi harga tidak menentu. Keyword : Produk. Beberapa tragedi karena imbas rekomendasi di atas adalah pasar terbakar. Harga. Lokasi. meskipun masih terkonsentrasi di kota-kota besar. konflik pasar. di Indonesia. di mana deregulasi sektor usaha ritel yang bertujuan untuk meningkatkan investasi asing langsung (IAL) telah berdampak pada pengembangan jaringan supermarket (Reardon & Hopkins 2006). menjelang dekade akhir milenium lalu persaingan telah meluas hingga ke negara-negara berkembang. pangsa pasar supermarket akan mencapai 61% di Argentina. Akibatnya. PEMBAHASAN Rekomendasi Terpuruk Rekomendasi dari saudara Awan Santosa dan Puthut Indroyono tak ubahnya sebagai rekomendasi terpuruk untuk pasar tradisional. Reardon et al (2003) menemukan bahwa sejak 2003 pangsa pasar supermarket di sektor usaha ritel makanan di banyak Negara berkembang seperti Korea Selatan. atas rekomendasi demikian. penjamuran supermarket hingga ke kota-kota kecil dan adanya praktik pemangsaan melalui strategi pemangkasan harga memungkinkan konsumen kelas menengah-bawah untuk mengakses supermarket. supermarket lokal telah ada sejak 1970-an. Di Brazil dan Argentina. Studi Saranita (2010) di atas mendapatkan temuan penting bahwa pasar tradisional adalah milik pembeli perempuan yang usianya paruh baya. pedagang pasar yang gulungtikar. telah ditinggalkan para generasi muda. Meksiko. di mana perkembangan supermarket telah lebih dulu dimulai. dan 76% di Brazil. Menurut Sanjaya (2011) persaingan sengit dalam industri ritel telah melanda negara-negara maju sejak abad yang lalu. Persaingan terjadi terutama antara usaha ritel tradisional dan ritel modern (supermarket dan hipermarket). Kebersihan. Tragedi muncul kemudian telah terbukti. Karena masyarakat pengikut dari pasar tradisional dalam keadaan riskan dan menyedihkan. Dengan mudahnya mereka berdua merekomendasikan bahwa pasar tradisional harus mengejar pasar modern. Pelayanan. Pasar tradisional yang berfungsi media besar dan terbuka untuk belajar perdagangan dengan kearifan dan kejujuran. Lantas dimana pembeli yang berusia muda? Apakah mereka tidak membeli barang atau membeli barang di luar pasar tradisional? Temuan studi ini cukup penting diperhatikan. bila supermarket Indonesia hanya melayani masyarakat kelas menengah-atas pada era 1980-an dan awal 1990-an. Apakah ini proses sosialisasi yang putus antara generasi tua dan generasi muda? Jika demikian perlu dilakukan proses sosialisasi generasi tua dan muda akan fungsi pasar tradisional. Sanjaya (2011) menambahkan. Fasilitas tempat parkir dan fasilitas toilet di Pasar Soponyono Rungkut cukup baik. Meningkatnya persaingan telah mendorong kemunculan supermarket di kotakota lebih kecil dalam rangka untuk mencari pelanggan baru dan terjadinya perang harga. dan Hongaria telah mencapai 50%. kelahnya pedagang pasar imbas monopoli pemodal besar. hingga . Meksiko. khususnya di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Traill (2006) menggunakan berbagai asumsi dan memprediksi bahwa menjelang 2015.

Impacnya adalah kualitas hasil rekomendasi itu dibawah rata-rata. Jika demikian. Jelas tidak hanya pasar tradisional semakin terpinggirkan seperti yang diungkap Saputro (2008) namun juga semakin terlemparnya pedagang pasar yang hanya memiliki modal recehan. Para kuasa sebisa mungkin untung dengan proyek rekomendasi. dan pedagang berduit tebal saling mengedepankan keuntungan. betul apa kata Susilo (2007) dimana kita telah teracuni faham-faham industrialism yang bercorak individualism. adalah suatu diversitas fungsi pasar tradisional yang tidak dimiliki oleh pasar modern. pengauatan dan ketahanan ekonomi lokal. Peran kelompok sosial dalam memobilitasi konsumen ke pasar tradisional tidak hadir di permukaan. media pendidikan formalnonformal dan informal. pasar tradisional sebagai pemangku dan pemegang ekonomi lokal yang kokoh dan mapan. Pada saat itulah. Anehnya para tokoh masyarakat yang menjadi penjaga di garda depan dalam menyelamatkan pasar tradisonal malah memilih dapat royalti dari bintang iklan pada pemodal dan pemegang pasar modern. termasuk pada pedagang berduit tebal. Perilaku rekomendasi yang diharapkan akan membawa kabar baik malah sebaliknya. Menurut Suhadi (2011) inilah awal penghancuran pasar tradisional karena antara pedagang pasar saling membunuh satu dengan yang lain. basik laboratorium ekonomi. . Sungguh keadaan yang penuh dengan kesemrawutan. Para kuasa. Mengapa demikian? Rekomendasi yang dipandang baik ini telah dimainkan oleh ruang yang salah. mereka saling berebut untuk cari untung dengan berbagai kesempatan dalam mengendalikan proyek. sumber nilai-nilai sosial. sumber sosialisasi generasi. Mengedepankan pasar tradisional sebagai identitas lokal. strategi mengejar pasar modern adalah tindakan yang fatal apalagi eksekusi dari rekomendasi itu terjadi kesemrawutan. Sudah saatnya membangkitkan peranan kelompok sosial dalam menyadarkan para konsumen. Dengan sentuhan budaya semu. yang tidak akan terkikis oleh desakan pasar modern. Dalam ulasan Suhadi (2011) memaparkan bahwa langkah seribu pasar tradisional mengejar pasar modern hanya menciptakan kesemrawutan akan status dan peranan sturktus pasar tradisional yang kemudian melahirkan stadart safety pasar tradisional di bawah rata-rata. Mobilitasi Pembeli Hilang Kendali Keadaan darurat itu kemudian ditambah dengan peranan iklan di televisi yang massif dalam menawarkan barang dagangan di pasar modern. pemodal. agar mobilitas konsumen tidak meninggalkan pasar tradisional.kekuasaan pasar modern menjadi pengendali sirkulasi barang dan harga di pasar tradisional. Katakanlah pasar tradisional sudah jatuh tertimpa tangga. Pasar tradisional yang telah di himpit oleh rekomendasi terpuruk. media membangun karakter bangsa. Haluan Pasar Tradisional Menurut penulis. hingga penguatan tradisi lokal. Renovasi pasar dan relokasi pasar misalnya. Pemodal pun demikian. Hal ini terjadi karena tindakan menjalankan rekomendasi tidak diatur dengan ketat. Untuk itu pasar tradisional perlu menggunakan haluan yang khas pasar tradisional. bukan berhaluan pasar modern. iklan telah mendorong ke gerbang pasar modern. masih ditampah terbuangnya ruang sosial para konsumen di pasar tradisional karena mereka dipaksa mobilisasi ke pasar modern dengan hadirnya iklan di televisi dalam sehari-harinya.

.

Tempat – tempat tersebut menjajikan tempat belanja yang nyaman dengan harga yang tidak kalah menariknya. Haluan pasar tradisional tidak semata-mata menolak kehadiran pasar tradisional. Pada tahun 1990-an masuk kembali peritel asing dengan format Hipermarket. Pasar tradisional pun mulai tergoyah keberadaannya. Pasar tradisional adalah simbol pembangunan mental sosial ekonomi masyarakat. hal ini merupakan salah satu budaya yang patut dipertahankan. Sangat mudah menjumpai minimarket.PENUTUP Haluan pasar tradisional merupakan suatu meanstrem sikap dan perilaku untuk mewujudkan tatanan sosial yang mandiri dalam meraih kesejahteraan sosial. jauh dari itu. hal ini mengubah cara pandang konsumen Indonesia terhadap gerai ritel modern. Kelebihan lainnya adalah kontak sosial yang dilakukan oleh pembeli dan penjual pada saat transaksi yang tidak kita jumpai di pasar modern. simulasi pasar bebas yang sesungguhnya. Sebelum melangkah lebih jauh. pada saat itu perusahaan ritel SevenEleven asal Jepang merupakan waralaba pertama yang masuk Indonesia. . tidak hanya di kota metropolitan tetapi juga telah merambah sampai ke kota kecil di tanah air. setiap tahunnya 400 kios tutup. Menjadi pengendali atau dikendalikan adalah suatu tindakan. Pasar modern mulai masuk ke Indonesia tahun 1980. Bukan pasar tradisonal yang menjadi ruang pasar modern.1% setiap tahunnya (sedangkan pasar modern berkembang sebesar 31. Pasar tradisional. mana yang seharusnya kita lakukan. supermarket. sebisa mungkin pasar tradisional jauh mencari ruang di pasar-pasar modern. Pasar tradisional memiliki kekuatan harga yang relatif lebih murah dan bisa ditawar. namun tidak berkembang dan mati. Apalagi masyarakat Indonesia cenderung konsumtif sehingga dengan cepat pasar modern berkembang. hubungan sosial antara penjual dan pelanggan. relatif lebih dekat dengan pemukiman dan memberikan banyak pilihan barang segar. pertumbuhan pasar tradisional menyusut 8. Semenjak diterimanya pasar modern(ritel) pasar tradisional-pun semakin mengkhawatirkan keberadaannya. bahkan hipermarket di sekitar tempat tinggal kita.4% per tahun) bahkan di Jakarta. masihkah mendapat perhatian? Banyaknya pasar modern yang muncul di Indonesia. tak bijak bila kita tak menganalisa kedua jenis pasar tersebut. Proses tawar menawar.

terlalu padat lalu lintas pembeli.daging „tiren‟. Pertama. pasar tradisional merupakan penggerak “GDP riil”. Indonesia hanya akan menjadi negara konsumen produk asing dan ketimpangan ekonomi yang terjadi akan sangat tinggi. putaran roda ekonomi dalam transaksi pasar tradisional yang melibatkan pedagang kecil hingga unit-unit usaha berskala menengah merupakan sinergi mata rantai yang menopang basis ekonomi rakyat. Belum lagi gembargembornya media yang menyoroti kasus produk yang dijual di pasar tradisional menggunakan zat kimia berbahaya. pasar tradisional yang lebih tepat disebut wet market terkenal dengan kondisi tempat yang kumuh. Sebagian besar usaha ekonomi yang menghidupkan urat nadi pasar tradisional berbasis pada inisiatif usaha rakyat. kotor. tertib. Memang hal ini tak bisa disalahkan. Berbeda dengan ritel yang lebih mengedapankan faktor harga dalam pemilihan produknya tanpa mempedulikan asal produk tersebut yang akhirnya berujung pada keuntungan pengusaha besar dan negera maju. Berbagai hal diatas menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap pasar tradisional turun. bahkan jika tidak dapat datang ke supermarket tersebut konsumen dapat menelfon dan memesan barang belanjaannya maka akan diantar sampai tujuan. pemerintah pusat kian sulit mengontrol kebijakan pemerintah daerah menyangkut keberadaan pasar modern. pasar tradisional kian terpinggirkan. aman. pilihan yang banyak. pemerintah hingga kini terlihat kurang sigap dalam membatasi pertumbuhan pasar modern yang tidak sehat. Di era otonomi daerah. copet berkeliaran dan berbagai ketidaknyamanan lainnya. memang begitu banyak hal yang disuguhkan pasar modern kepada konsumen. Secara makro. namun jika hal ini terus berlanjut. Jika dibandingkan dengan pasar modern. Dengan mayoritas produk dalam negeri. bukan hanya presties tapi juga memenuhi kebutuhan akan rasa nyaman. ketidak sesuaian timbangan barang. Padahal kita semua tahu. Pedagang yang tidak mampu bertahan akhirnya harus gulung tikar. Pasar tradisional merupakan sentra penggerak kehidupan masyarakat kita yang mayoritas menggaantungkan hidupnya pada usaha berskala kecil-menengah. Pelan tapi pasti.Sedangkan kelemahannya. becek. pasar tradisional berperan besar dalam roda perekonomian nasional. dapat membayar dengan menggunakan kredit. dan daging “glonggongan” dan trik-trik tidak sehat lainnya dalam bidang perdagangan. Kebijakan pertumbuhan pasar modern berada di . Paling tidak ada dua hal yang membuat eksistensi pasar tradisional kian terpuruk. kualitas barang yang higienis. maraknya daging oplosan. bau menyengat.

Regulasi pembatasan yang telah dibuatpun menjadi ompong karena tak berlaku mundur. dan karena ritel nasional kalah bersaing karena bekerja kurang efisien. mereka telah berdiri dan berkembang lebih dulu di negera asalnya. pengelolaan pertumbuhan pasar modern begitu tidak terkontrol. namun silahkan tengok Singapura. Pemerintah selalu berpikir praktis dan pragmatis dalam menyelesaikan . industri ritel nasional-pun menjadi bulan-bulanan industri ritel asing. Tapi mengapa pemerintah tak pernah memberi kesempatan industri nasional untuk berkembang. citra pasar tradisional yang buruk di mata masyarakat. Sementara penyerahan pengelolaan kepada pihak swasta sering kali berujung pada konflik antara pedagang dan pengelola. Persaingan usaha benar-benar dijaga di negeri tersebut. namun ternyata hanya berujung pada relokasi paksa dan penggusuran pasar. tercatat lebih dari 50 outlet pasar modern ( dengan dominasi ritel prancis) berdiri megah tanpa menghiraukan tata kota dan keberadaan pasar tradisional. masih ada oknum-oknum pedagang tak bertanggung-jawab yang berdagang dengan cara yang tidak sehat. pemerintah daerah dengan bebasnya mengijinkan berdirinya ritel dan pasar modern dengan kuantitas dan tata letak yang sangat mengancam keberadaan pasar tradisional. Tengok saja di Jakarta. mereka cukup mendapatkan proteksi di negara asalnya sehingga menjadi eficien multi-national company yang bisa ekspansi ke negara lain. Demi mengejar target pendapatan asli daerah (PAD).tangan kepala daerah tanpa ada regulasi pengontrol yang mengawal kebijakan kepala daerah. Seperti sudah dijelaskan diatas. Pemerintah memang berusaha memperbaiki citra pasar tradisional. terdapat berpuluh-puluh alasan dan fakta negatif mengenai pasar tradisional. Sekali lagi kita dapat berdalih itu adalah konsekuensi perdagangan bebas. Lalu apakah pemerintah akan diam saja melihat hal itu? Kedua. Akhirnya banyak ritel nasional yang bangkrut atau diakuisisi oleh ritel asing. di negara yang bisa kita sebut surga belanja hanya terdapat 1 outlet ritel asal Perancis. Tak dapat disangkal. belum lagi media yang selalu latah dengan berita-berita tersebut yang sayangnya memang tak dapat disalahkan. Pemerintah Indonesia lupa bahwa nasib para pengusaha kecil dan pedagang pasar tradisional seharusnya menjadi prioritas untuk dilindungi. Mungkin pemerintah berdalih bahwa itu adalah hasil dari perdagangan bebas dan merupakan bentuk investasi asing yang menguntungkan. Sedikit menyoroti hal lain. Wajar jika ritel asing lebih efisien. Wajar jika bayi Indonesia kurang gizi yang baru belajar berjalan kalah cepat berlari dengan pelari cepat Perancis yang pada masa mudanya selalu diberi ransum.

Masalah ini prinsipnya dilakukan berbagi waktu. Solusi yang dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi pasar tradisional dapat dilakukan dengan lima cara. Ketiga adalah pengaturan kewajiban perusahaan besar untuk memberikan ruangannya sekitar 20 persen untuk usaha kecil dan menengah. Memang sudah ada regulasi yang mengatur jarak minimal pasar dsb. yang berimbas positif bagi tumbuhnya usaha rakyat. Pasar modern harus hadir sebagai penanda bagi kemajuan ekonomi bangsa.persoalan ini. yaitu: Pertama adalah pengaturan tata kelola wilayah dimana pasar tradisional tidak boleh dikepung oleh pasar modern. dan tata kelola pasar tradisional diperlukan pendekatan ethnografi dan sosial budaya yang lebih kompleks dan “bersahabat” dengan masyarakat pasar tradisional. . Dalam perbaikan citra. namun jika pemerintah serius dalam melakukannya perbaikan citra dan pengelolaan pasar tradisional bukan sekedar impian Faktual. Kita tidak mengharapkan kehadiran pasar modern menjadi sinyal bagi peminggiran pasar tradisional yang menjadi tumpuan hidup dari mayoritas masyarakat kita yang miskin. Kita seharusnya bisa mencontoh Singapura. tanpa harus saling menegasikan. Ini sudah pernah dilaksanakan oleh pemerintah DKI tetapi perlu dijalankan lebih serius lagi. Peluang usaha yang adil dan proporsional bagi seluruh lapisan masyarakat harus tercermin disana. Sedangkan sudah terlanjur banyak pasar modern yang berdiri. pola kemitraan. paling tidak ada perbedaan dalam waktu pelayanan. Pengaturan pembagian zonasi ruang usaha. negeri ini membutuhkan regulasi pasar yang pro-wet market. Kedua adalah substansi pengaturan waktu pelayanan dimana pasar-pasar pagi yang menjadi tradisi pasar tradisional tidak boleh diganggu oleh pasar modern. mekanisme perlindungan. yang mampu menata dengan baik pasar tradisionalnya. dan alokasi distribusi barang menyangkut pasar tradisional harus menjadi bagian integral dari regulasi pasar. bentuk. Memang sulit dan membutuhkan kerja dan waktu yang lama. Pasar modern harus ditempatkan di kawasan baru dan berada di luar pemukiman. hidup berdampingan dengan pasar modern. namun sekali lagi. peraturan tersebut tidak berlaku mundur. bukan malah menggusur mereka. Memang perlu ketegasan dan keberanian pemerintah dalam menyikapi permasalahan ini.

Departemen Kajian Strategis Fakultas Ekonomika dan Bisnis Hypermarket adalah bentuk nyata dari pasar kapitalisme. sehingga mempersulit kegiatan perekonomian yang dapat meningkatkan kesejahteraan kalangan bawah. pasar beringharjo (Yogyakarta) yang menjual bermacam – macam batik dan pasar gede bage (Bandung) yang menjual pakaian – pakaian bekas. tenaga kerja dan pemasok barang berasal dari bumi Indonesia. Pengangguran yang meningkat menjadi salah satu faktor peningkatan tindak kriminal pula. Hal inilah yang menyebabkan koperasi menjadi luntur seperti yang diutarakan oleh Bapak Koperasi kita (Drs Moh. . Kelima adalah dapat dengan spesifikasi pasar sehingga masing – masing pasar dapat memiliki kekhas-an. Mengapa? Hal ini dapat kita lihat bahwa hypermarket sebagai pemodal yang sebenarnya hanya menyediakan tempat dan fasilitas lain untuk mencari keuntungan dengan memanfatkan sumber daya lokal. Walalupun memang tak bisa diterapkan pada semua. Sangat arif dan bijaksana jika pemerintah tidak hanya cakap dalam menarik setoran retribusi. namun memberikan nilai lebih dan ke-khas-an pada suatu produk(dalam hal ini pasar) dapat diterapkan dan biasanya berdampak baik. seperti contohnya pasar tanah abang (Jakarta) yang menjual barang – barang grosir. bahkan kalangan pelaku ekonomi ”kaki lima” dan pasar tradisional akan runtuh. Artinya kegiatan perekonomian mulai dari pasokan barang. Hal ini dapat terlihat dari tempat pasar tradisional selalu diletakkan jauh dari hypermarket yang tersisihkan bahkan susah untuk dijangkau konsumen. dan tak harus berupa spesialisasi produk yang dijual. Kemitraan ini sudah banyak dilakukan di berbagai bidang dan bisa juga dilaksanakan untuk sektor perdagangan.Keempat adalah pengaturan untuk membangun kemitraan antara yang besar dan yang kecil agar keduanya saling membantu satu sama lain. kecil kemungkinan pasar rakyat ini bisa bertahan hidup di tengah iklim persaingan usaha yang kian ketat dan tak toleran. Tanpa upaya serius pemerintah melindungi eksistensi pasar tradisional. Masalah menjadi semakin rumit dapat muncul jika suatu hypermarket bangkrut karena suatu hal yaitu munculnya pengangguran. tapi juga mau memikirkan kelangsungan hidup pasar tradisional. Namun untuk teknisnya diperlukan perhatian yang lebih. Hatta) Masalah sosial yang timbul jika hypermarket terus berjamuran adalah munculnya persaingan tidak sehat antar pelaku ekonomi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful