BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Menurut Winslow yang dikutip dalam Notoadmodjo (2002), Kesehatan Masyarakat merupakan suatu ilmu dan seni mencegah penyakit,

memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan melalui usaha untuk pengorganisasian masyarakat yang bertujuan untuk memperbaiki sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit menular, pendidikan kesehatan dan pengembangan rekayasa sosial dalam rangka pemeliharan kesehatan masyarakat. Batasan kesehatan masyarakat mencakup dua aspek, yaitu keilmuan (science) dan seni (art) atau aplikasinya. Oleh karena itu, kesehatan masyarakat bukan hanya berbicara mengenai teori tentang gizi masyarakat, epidemiologi penyakit, kesehatan lingkungan, pendidikan kesehatan,

manajemen kesehatan dan biostatistika tetapi juga bagaimana penerapan teoriteori tersebut dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan salah satu program pendidikan yang diharapkan dapat menghasilkan Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) yang berkompetensi sesuai dengan penerapan konsep teoritis dari kesehatan masyarakat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam aspek kesehatan. Untuk menghasilkan Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) yang berkompetensi dan berdaya guna bagi masyarakat, Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dituntut untuk memberikan suatu proses pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep teori kesehatan masyarakat, namun juga penerapan teori tersebut ke dalam struktur masyarakat. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran calon ahli Kesehatan
Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 1|Page

Masyarakat dituntut untuk mampu menerapkan konsep-konsep teori yang ada melalui kegiatan praktek lapangan. Adapun salah satu praktek yang diberikan bagi para calon ahli Kesehatan Masyarakat berupa Praktek Belajar Lapangan. Kegiatan Praktek Belajar Lapangan ini diorientasikan kepada mahasiswa semester V (lima) kesehatan masyarakat, dimana mahasiswa dalam prakteknya ditempatkan di beberapa Puskesmas yang berada di bawah Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang berada di lingkungan Kota Tangerang Selatan. Sehingga diharapkan, dengan adanya kegiatan PBL ini juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat kota Tangerang Selatan. Praktek Belajar Lapangan (PBL) merupakan salah suatu proses pembelajaran dan sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmunya di bidang kesehatan, baik secara langsung kepada instansi pelayanan kesehatan maupun di tengah-tengah masyarakat yang bersifat menyeluruh dan multi disipliner. Sehingga dengan adanya Praktek Belajar Lapangan ini, diharapkan mahasiswa mampu mengidentifikasi dan memahami peran dan fungsi instansi kesehatan, struktur dan sistem sosial yang ada di masyarakat, mampu mengidentifikasi masalah kesehatan dan dapat menetapkan prioritas

permasalahan serta memberikan alternatif pemecahan masalah yang tepat pada suatu spot area, sehingga dapat melakukan intervensi secara tepat dan terpadu terhadap permasalahan kesehatan di masyarakat. Dengan melaksanakan kegiatan PBL ini, diharapkan mahasiswa kesehatan masyarakat mampu terampil dalam pemahaman teori dan penerapannya sesuai dengan isu kesehatan yang ada dan mampu menganalisis prioritas masalah kesehatan masyarakat yang dapat dijadikan suatu pembelajaran dan pengalaman yang berarti untuk profesinya ke depan, yaitu sebagai Ahli Kesehatan Masyarakat.
Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 2|Page

1.2 Tujuan PBL 1.2.1 Tujuan Umum Diperolehnya gambaran mengenai masalah kesehatan yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung dan dapat menentukan prioritas masalah kesehatan disertai spot area yang akan diintervensi untuk mengidentifikasi akar masalah kesehatan tersebut sebagai langkah perencanaan dalam pelaksanaan program dan kegiatan untuk menanggulangi masalah kesehatan tersebut. 1.2.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui struktur dan karakteristik masyarakat di wilayah kerja puskesmas pondok jagung 2. Mendapatkan gambaran masalah kesehatan di wilayah kerja puskesmas pondok jagung. 3. Menentukan prioritas masalah kesehatan yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. 4. Menentukan spot area utuk melakukan intervensi program dalam menanggulangi permasalahan kesehatan. 5. Mengidentifikasi penyebab (akar) masalah kesehatan yang

menyebabkan terjadinya permasalahan di spot area tersebut. 6. Menyusun gambaran program intervensi dengan analisis SWOT untuk menanggulangi masalah kesehatan yang menjadi prioritas. 1.3 Manfaat PBL Adapun manfaat yang diperoleh dari kegiatan Praktek Belajar Lapangan I (PBL I), yaitu: a. Mahasiswa Memperdalam keilmuan dan melatih skill mahasiwa dalam menganalisis masalah kesehatan masyarakat serta melatih kreativitas mahasiswa dalam menanggulangi masalah kesehatan masyarakat yang terjadi.
Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 3|Page

d.b. Perguruan Tinggi Memperoleh umpan balik sebagai pengintegrasian mahasiswa dengan proses pembangunan kesehatan di tengah-tengah masyarakat. Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Memperoleh masukan dan bantuan pemikiran dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan pembangunan masyarakat yang berwawasan kesehatan. materi perkuliahan dan pengembangan ilmu yang dikelola perguruan tinggi dapat lebih disesuaikan dengan tuntutan nyata pembangunan masyarakat di bidang kesehatan. sehingga kurikulum. Puskesmas Pondok Jagung Memperoleh masukan dan bantuan pemikiran pada salah satu program Puskesmas yang telah ada dengan mencoba mengoptimalkan dan menekan angka kesakitan dan mencegah risiko penyakit lainnya. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 4|Page . c.

1 Definisi Analisis Situasi merupakan proses pengamatan situasi kini (present condition the existing condition) dengan melakukan pengamatan secara langsung di lapangan dan mengumpulkan informasi atau data dari laporan-laporan atau publikasi melalui metode observasi dan wawancara. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 5|Page . Analisa situasi juga dapat digunakan dalam rangka perencanaan program dan analisis hambatan. Proses pemecahan masalah diharapkan benar-benar memecahkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Dalam proses pemecahan masalah selalu dimulai dari analisa situasi. Dengan dilakukan analisis situasi kita dapat memotret kondisi kesehatan masyarakat yang sedang dihadapi suatu daerah serta determinan-determinannya atau faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Semua itu memerlukan dukungan informasi yang tepat dari proses analisa situasi.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Sehingga dapat diperkirakan secara tidak langsung derajat kesehatan masyarakat atau masalah kesehatan yang dialami masyarakat. Analisis situasi merupakan suatu kegiatan mengumpulkan dan memahami informasi tentang suatu situasi yang berguna untuk menetapkan masalah.1 Analisa Situasi Masalah Kesehatan 2. Analisis situasi bertujuan untuk memperoleh gambaran dan dinamika permasalahan secara jelas serta faktor-faktor yang mempengaruhi masalah tersebut terutama masalah kesehatan. Analisa situasi merupakan langkah awal dalam Problem Solving Cycle (Siklus Pemecahan Masalah).

baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 6|Page . perilaku. masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat komplek. politik. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi. dan topografi berhubungan langsung dengan kesehatan sebagaimana halnya interaksi ekonomi. juga saling berpengaruh satu sama lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan. budaya. tetapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah “sehat-sakit” atau kesehatan tersebut. apabila keempat faktor tersebut bersama-sama mempunyai kondisi yang optimal pula. yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. sosial. budaya. kelompok. untuk hal ini Blum menjelaskan secara ringkas sebagai berikut : 1) Perilaku yaitu perilaku perorangan dan kebiasaan yang mengabaikan higiene perorangan. dikelompokkan menjadi empat berdasarkan urutan besarnya atau pengaruh terhadap kesehatan yaitu sebagai berikut:lingkungan yang mencakup lingkungan (fisik. 3) Keturunan atau pengaruh faktor genetik adalah sifat alami didalam diri seseorang yang dianggap mepunyai pengaruh primer dan juga sebagai penyebab penyakit. pelayanan kesehatan. baik individu. ekonomi. maupun masyarakat. Keempat faktor tersebut di samping berpengaruh langsung kepada kesehatan. keadaan tanah.Menurut Blum yang dikutip dalam Notoadmodjo (2002). dan keturunan. Status kesehatan akan tercapai secara optimal. dan kekuatan-kekuatan lain yang mempunyai andil dalam keadaan sehat. 2) Lingkungan yaitu karakter fisik alamiah dari lingkungan seperti iklim. Demikian pula pemecahan masalah kesehatannya sendiri. dan sebagainya).

2. Dapat pula dibandingkan dengan data yang diperoleh dari daerah lain. Metode kecenderungan (trend) Analisis kecenderungan sangat berguna untuk melihat kecenderungan kejadian penyakit di suatu daerah. target dari suatu program kesehatan. dapat digunakan untuk penentuan prioritas masalah dan tujuan program yang akan dicapai. Analisis situasi kesehatan selanjutnya menggunakan metode-metode epidemiologi untuk menganalisis lebih lanjut. internasional. standar lokal. 2.1. Analisis pembandingan Data dari suatu indikator dibandingkan dengan standar yang berlaku umum atau dibandingkan dengan target yang harus dicapai seperti. nilai cakupan.1.4) Pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kesehatan masyarakat dilaksanakan oleh unit pelayanan kesehatan dan pembinaan kesehatan lingkungan. Beberapa analisis sederhana yang dapat dilakukan pada analisis situasi kesehatan yaitu : 1. nasional.3 Penyampaian Data Penyajian data analisa situasi dapat berupa : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 7|Page . Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk menganalisis data yang ada. Tujuannya untuk mengetahui epidemiologi penyakit pada kelompok masyarakat tertentu. melihat apakah kejadian penyakit tertentu mempunyai kecenderungan siklus atau tidak serta dapat memperkirakan hubungan kejadian penyakit dengan terjadinya kasus-kasus tertentu 2.2 Metode Menurut Modul Analisis Situasi Kesehatan Dati II dan sistem Informasi Kesehatan (1998).

grafik batang.2 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan untuk dapat mengumpulkan data secara sistematik mengenai objek studi yang sedang dipelajari (masyarakat. fenomena) dan mengenai lokasi dari objek tersebut berada. Naratif atau deskriptif untuk data kualitatif b. Pengisian kuesioner secara tertulis 5. Grafik. diantaranya yaitu: 1. Tabel secara sistematik dan detail. Wawancara (face-to-face) 4. Beberapa teknik pengumpulan data menurut Suratman (2009) yang dikutip dari buku panduan PBL FKIK UNSOED. scatter plot. (Suratman.a. mudah dipahami c. seperti analisis informasi yang secara rutin dikumpulkan oleh fasilitas kesehatan dapat menjadi sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah dan melaksanakan intervensi untuk menyelesaikan masalah penyakit.1 Penggunaan information) Menggunakan informasi yang tersedia artinya biasanya terdapat berbagai data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain meskipun mungkin data tersebut belum dianalisa atau dipublikasikan. Pengamatan (Observing) 3. Menggunakan informasi yang tersedia (Using available information) 2. data sensus. pie chart. laporan-laporan yang Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 8|Page Informasi yang Tersedia (using available . Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussions) 2. 2009) Penggunaan informasi yang tersedia dapat dengan menganalisis data sistem informasi kesehatan. untuk memudahkan pembacaan dan interpretasi data jenis histogram. grafik garis. 2. objek. Dalam pengumpulan data harus dilakukan secara sistematik.2.

2. walaupun kadang-kadang sulit untuk meningkatkan akses pada hasil pencatatan dan pelaporan serta kemungkinan rendahnya kelengkapan. staf kesehatan.tidak dipublikasikan serta publikasi di perpustakaan atau kantorkantor pada berbagai tingkatan pelayanan kesehatan atau yang berhubungan dengan kesehatan dapat juga merupakan studi itu sendiri. hanya melakukan pengamatan saja. untuk meningkatkan akses terhadap informasi yang tersedia. Serta dapat juga menggunakan informan kunci yang berasal dari para stakholder seperti pemimpin masyarakat. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 9|Page . b. 2. antara lain (Suratman. Observasi partisipasi (participant observation): pengamat mengambil bagian dalam situasi yang sedang diamati (misalnya untuk mengetahui apakah petugas puskesmas mengikuti prosedur dalam mendiagnosa pasien yang diduga mengidap penyakit TB. dan pencatatan perilaku dan karakteristik makhluk hidup. maka peneliti berperan sebagai pasien yang akan mengamati setiap prosedur yang dilakukan tanpa diketahui oleh petugas puskesmas tersebut). 2009): a. Pengamatan ini dapat dilakukan dengan cara yang berbeda. penglihatan. ketepatan ataupun kurang terorganisasi dengan baik. dan lain-lain. Keuntungan menggunakan metode ini adalah murah.2 Pengamatan (Observing) Pengamatan adalah teknik yang secara sistematik melibatkan pemilihan. Observasi bukan partisipasi (Non participant observation): pengamat melihat situasi secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi tetapi tidak melibatkan diri dalam situasi yang sedang diamati. atau fenomena. objek.

3 Wawancara (Interviewing) Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang melibatkan pertanyaan secara lisan terhadap responden baik secara individu atau sebagai kelompok. siapa yang membayar). Peneliti harus mempunyai daftar topik tambahan yang sudah disiapkan ketika responden diam saja tidak mau menjawab (ketika bertanya mengenai metodemetode aborsi yang digunakan.2. Derajat fleksibilitas yang tinggi Peneliti menggunakan daftar topik daripada pertanyaanpertanyaan yang sudah pasti.siapa yang membuat keputusan. b. Wawancara dapat dilaksanakan dengan berbagai derajat fleksibilitas yaitu (Suratman. 2. Metode yang tidak terstruktur ini dapat digunakan saat wawancara terhadap individu ataupun terhadap kelompok informan kunci. 2009): a. Derajat fleksibilitas yang rendah Metode wawancara ini berguna saat peneliti secara relatif mengetahui jawaban-jawaban yang diharapkan atau ketika jumlah responden yang diwawancarai relatif besar. Teknik observasi ini dapat mengecek kebenaran informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara khususnya mengenai hal yang bersifat sensitif seperti penggunaan obat-obatan terlarang atau stigmatisasi terhadap suatu penyakit. Alat mengumpulkan wawancara.Observasi dapat memberikan informasi tambahan mengenai perilaku seseorang dan lebih akurat daripada wawancara atau kuesioner. Kuesioner digunakan dengan daftar pertanyaan yang sudah terstruktur data pada teknik yang digunakan untuk ini disebut Panduan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 10 | P a g e .

Membantu untuk memahami dan memecahkan masalahmasalah yang tidak diharapkan dalam intervensi. FGD adalah metode kualitatif yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara mendalam mengenai konsep. Populasi juga diartikan keseluruhan individu yang menjadi Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 11 | P a g e . FGD lebih dari sekedar interaksi tanya-jawab. dan ide-ide dari kelompok diskusi.1 Definisi Populasi Menurut Sastroasmoro (1995) Populasi atau universe adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga.menggunakan urutan sesuai standar yang membutuhkan jawaban yang sudah ditentukan serta berupa kategori.3 Teknik Penentuan Sampel 2. d. 2009) : a. 2. 2. persepsi.4 Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion) Focus Group Discussion (FGD) merupakan diskusi kelompok dengan diikuti oleh sekitar 6-12 orang yang dipandu oleh fasilitator dan selama diskusi setiap orang dapat berbicara secara bebas dan spontan mengenai topik tertentu. c. b.3. Teknik FGD dapat digunakan untuk (Suratman. Mengembangkan pesan yang sesuai untuk program pendidikan kesehatan dan kemudian mengevaluasi pesan-pesan tersebut untuk kejelasan. Merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai untuk survei dengan skala yang besar dan terstruktur.2. Memfokuskan penelitian dan mengembangkan hipotesis penelitian yang relevan melalui eksplorasi masalah secara mendalam yang akan diteliti penyebab-penyebabnya.

acuan hasil-hasil penelitian akan berlaku. Memperoleh hasil yang lebih akurat 5. Memudahkan dalam pengolahan data. Random Sampling / Probability Sampling : Pengambilan sampel secara acak 2. yang terdiri dari berbagai sub bidang. peneliti dapat melakukan pengambilan sampel terhadap objek yang diteliti.3 Teknik Sampling Pada dasarnya ada dua macam metode pengambilan sampel. 2. Kegunaan sampling di dalam penelitian antara lain (Rahardjo. Mempercepat pelaksanaan penelitian 3. Apabila dilakukan penelitian tidak hanya dapat dilakukan terhadap unit atau sub bidang tertentu saja. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 12 | P a g e . Non Random Sampling : Pengambilan sampel yang bersifat tidak acak. 2009): 1. dan tenaga 2. Memperluas ruang lingkup penelitian 4. banyak masalah yang tidak dapat dipecahkan tanpa memanfaatkan teknik sampling.3. analisis data dan penyajiannya.waktu. Menghemat biaya. 2. 2009): 1. yaitu (Rahardjo. Penelitian kesehatan dan kedokteran meliputi bidang yang sangat luas.2 Kegunaan Sampel Dalam penelitian ilmiah.3. Oleh karena itu agar dapat dilakukan penelitian terhadap semua sub bidang dan dengan biaya murah. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang mana ciri-cirinya diselidiki atau diukur. dimana sampel dipilih berdasarkan pertimbanganpertimbangan tertentu.

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 13 | P a g e cluster random sampling . cukup untuk klaster yang terpilih saja sehingga biaya dan waktu yang diperlukan lebih sedikit. Adapun syarat teknik adalah sebagai berikut : a. seperti RT. Populasi dibagi berdasarkan kelompok (cluster). dll. b. Tiap item (individu) di dalam kelompok yang terpilih akan diambil sebagai sampel. misal: cluster random sampling kelurahan / desa. Contoh: Populasi masyarakat seringkali sudah terbagi menurut kelompok tertentu.ac. Cara ini dipakai : bila populasi dapat dibagi dalam kelompok-kelompok dan setiap karakteristik yang dipelajari ada dalam setiap kelompok. Kluster dipilih secara acak dan sampel dalam kluster diambil secara acak atau diambil seluruhnya.4 Acak Rancangan Klaster (Cluster Random Sampling) Menurut Nasution (http://library. dimana sampling unitnya terdiri dari satu kelompok (cluster). Pengambilan sampel dilakukan terhadap sampling unit.3. RW. Populasi heterogen dan menyebar b. Tidak diperlukannya daftar kerangka sampling dari unit elementer untuk seluruh populasi.2.usu. Keuntungan menggunakan teknik adalah sebagai berikut : a.pdf) Pengambilan sampel acak rancangan klaster adalah metode pengambilan sampel yang menggunakan suatu rangka yang terdiri dari klaster-klaster. desa. Sampel dalam kluster harus seheterogen mungkin c.id/download/fkm/fkmrozaini. Antar kluster harus sehomogen mungkin Sedangkan langkah teknik cluster random sampling adalah sebagai berikut : a.

Adapun kelemahan teknik cluster random sampling adalah sangat sulit untuk menghitung standar error.5) 2.4 Penetapan Prioritas Masalah Prioritas masalah kesehatan merupakan bagian dari proses perencanaan harus dilaksanakan dengan baik dan melibatkan seluruh unsur terkait. 2. termasuk masyarakat.2009) : Z2 1-/2 . Dan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan untuk menanggulangi masalah kesehatan yang ada. Penetapan prioritas masalah menjadi bagian penting dalam proses pemecahan masalah dikarenakan dua alasan.P(1-P) n = -----------------------.b. masyarakat dapat berperan aktif di dalamnya. Maka metode ini sangat sering digunakan dalam penelitian survei walaupun menghasilkan estimasi parameter dengan presisi yang lebih rendah dibandingkan dengan sampel acak stratifikasi dan sampel acak sederhana. Sehingga masalah yang ditetapkan untuk ditanggulangi benar-benar merupakan masalah dari masyarakat.5 Penentuan Besar Sampel Perhitungan besar sampel pada rancangan acak sederhana secara umum adalah sebagai berikut (Rahardjo. Pertama. karena terbatasnya Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 14 | P a g e .x deff d2 n d z = besar sampel = presisi mutlak = z score ditentukan berdasarkan derajat kepercayaan P = proporsi penelitian sebelumnya (jika tidak diketahui gunakan 0. Metode ini lebih murah dan mudah dilakukan untuk survei pada manusia.3.

yakni (Satar. Misalnya: metode hanlon. dan karena itu tidak mungkin menyelesaikan semua masalah. Pertimbangan politis 3. dan karena itu tidak perlu semua masalah diselesaikan (Azwar. Bisa tidaknya masalah tersebut diselesaikan Cara pemilihan prioritas masalah ada 2 macam. 2010) : a.sumber daya yang tersedia. Bila tidak tersedia data. Scoring technique (kuantifikasi) Pemilihan prioritas dilakukan dengan memberikan score (nilai) untuk pelbagai parameter tertentu yang telah ditetapkan. Parameter yg dimaksud adalah : 1) Besarnya masalah 2) Berat ringannya akibat yang ditimbulkan 3) Kenaikan prevalensi masalah 4) Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 15 | P a g e . 2010): 1. Dalam menentapkan prioritas masalah ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan. metode USG . Kedua. 1996). metode bryant. dilakukan bila tersedia data yang lengkap. Non scoring technique (kualifikasi) Memilih prioritas masalah dengan mempergunakan berbagai parameter. karena adanya hubungan antara satu masalah dengan masalah lainnya. Besarnya masalah yang terjadi 2. Persepsi masyarakat 4. maka cara menetapkan prioritas masalah yang lazim digunakan adalah : 1). Delphi Technique 2) Delbeque Technique b.yaitu (Satar.

yaitu: 1= Sangat rendah 2= Rendah 3= Sedang 3) Seriousness. Menunjukkan seberapa besar tingkat 4=peduli 5=sangat peduli kejadian suatu penyakit baik kasus baru maupun kasus lama yang terlaporkan. Dengan interval 1-5. Dengan interval 1-5. Teknik Bryant a. yaitu (Satar. 1.4.1 Teknik Scoring (Kuantifikasi) 1.yaitu: 1= Tidak peduli 2= kurang peduli 3= sedang 2) Prevalensi. Definisi Suatu teknik yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah dengan cara 4 (empat) kriteria. Dengan interval 1-5.2010): 1) Community Concern.yaitu: 1= Tidak gawat 2= agak gawat Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 4= Tinggi 5= Sangat Tinggi 4= gawat 5= sangat gawat 16 | P a g e .5) Keuntungan sosial yang dapat diperoleh jika masalah tersebut terselesaikan. yakni Merupakan tingkat keseriusan penyakit yang berkaitan dengan keparahan suatu penyakit terhadap penderita. yakni Menunjukkan tingkat kepedulian maupun perhatian masyarakat terhadap suatu penyakit. 6) Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah 7) Sumber daya yang tersedia yang dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah.

c. Penanganan terhadap suatu penyakit dilihat dari bagaimana cara penyakit tersebut diatasi (sulit atau mudah penanganannya). Kelebihan dan Kekurangan Teknik Bryant Kelebihan dari metode Bryant yaitu relative lebih mudah dibanding dengan metode-metode lain. kemudian masing-masing skor dikalikan. 4=mudah 5= sangat mudah Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 17 | P a g e . Sedangkan kekurangannya yaitu Pemberian skor terhadap masingmasing kriteria tergantung yang memahami masalah tersebut (Subjektif).yaitu: 1=tidak mudah 2=agak mudah 3= sedang b. masalah dengan skor tertinggi adalah masalah prioritas tertinggi. Dengan interval 1-5. sumber daya yang dimiliki untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut dan sarana prasarana pelayanan kesehatan yang menunjang. Masalah-masalah dengan skor tertinggi.3= Sedang 4) Manageability. akan mendapat prioritas yang tinggi pula. Langkah Menurut cara ini masing-masing kriteria tersebut diberi scoring. Hasil perkalian ini dibandingkan antara masalah-masalah yang dinilai. Jadi.

Mengkaji kriteria 3. 2009) a. Melakukan inventarisasi kriteria dalam penentuan prioritas masalah 2. Langkah 1. Melakukan brainstorming 3. 4. 2. Keuntungan teknik delphi 1. Dapat digunakan bila data kuantitatif tidak tersedia dan pokok permasalahan sangat kompleks. Teknik Delphi (Wardhani.4. b.2 Teknik Non Scoring (Kualifikasi) 1. Syarat 1. Normal C Dalkey juga mengatakan teknik delphi adalah suatu metode untuk mendapatkan pandangan dari kelompok ahli yangg melakukan barinstorming tentang satu topik tertentu dengan sasaran memperoleh kemungkinan masa depan. Teknik delphi merupakan teknik peramalan yang menggunakan curah pendapat/saran (brainstorming) kelompok utk mencapai konsensus dan pemahaman ttg masa depan . Melakukan pembobotan terhadap kriteria antara 1 s/d 5 disertai justifikasinya. Membatasi kontak antar grup untuk menghindari pembentukan kesepakatan (konsensus) c. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 18 | P a g e .1. Definisi Menurut JAF Stoner. Melakukan perhitungan skor d. Memilih orang yang benar-benar ahli dalam bidang yang ditelaah.

Adapun kelebihan dari teori fishbone ini adalah suatu metode sederhana yang dapat dipergunakan untuk menelusuri penyebab suatu permasalahan yang terjadi. serta menjadi dasar suatu prinsip bahwa pemikiran yang bersumber dari orang banyak lebih baik daripada satu orang. Keputusan yang diambil belum matang 3.1 Teori Fishbone Teori Fishbone ditemukan oleh ilmuwan Jepang yang bernama dr. Suasana demokratis menghasilkan keputusan yang bebas dari bias akibat adanya dominasi kelompok ahli 4. Fungsi dari teori fishbone ini adalah adanya Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 19 | P a g e . Tidak memerlukan biaya besar 3. Dapat dilakukan dengan surat dalam format tulisan/ computer e. Kaori Ishikawa yang pada mulanya disebut diagram Ishikawa. dan penyebabpenyebab yang ada sebagai duri-durinya.5. tidak ada validitas ataupun realibilitas. Kerugian teknik delphi 1. 2.5 Akar Masalah 2. Acara diskusi dapat ditutup/ diakhiri lebih awal karena peserta kelelahan 4. Dinamakan diagram tulang ikan karena bentuk dari diagram ini seperti tulang ikan.2. dengan permasalahan sebagai kepalanya. Merangsang kreatifitas kelompok 6. Ramalan masa depan dapat dimonitor 5. melibatkan partisipasi semua orang. Merupakan taksiran yang subjektif dan alamiah. 2. Pemilihan peserta harus hati-hati untuk menghindari bias terhadap keputusan yang dihasilkan.

Di dalam kotak ditulis masalah yang akan diatasi. Mengacu pada teori d. Tergantung pada letak dimensi yang akan dipakai b. Dibayangkan ini sebagai duri kecil dari tulang ikan masalah. Masing-masing penggolongan bisa dibreakdown lagi ke dalam diagram tulang ikan dimana yang menjadi permasalahan adalah kelompok-kelompok tersebut. Menggambar rincian data penyebab dari setiap kategori. Katergorisasi teori fishbone terdiri dari : a. Dibayangkan sebagai duri utama dari tulang ikan permasalahan. 3. 2. Menggambar sebuah panah horizontal yang menunjuk pada kotak tersebut. Menggambar sebuah kotak pada ujung kanan tengah. Tergantung pada permasalahan yang akan dikaji c. 4. Cara lain yang cukup sering digunakan untuk memulai menyusun diagram tulangikan yaitu dengan bertanya berulang kali. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 20 | P a g e .setiap kemungkinan yang ditemukan sebagai penyebab terjadinya permasalahan akan dituliskan pada salah satu “duri”. Menulis nama kategori penyebab pada bagian atas dan pada bagian bawah garis horizontal. Langkah penyusunan teori fishbone adalah : 1. “mengapa ini terjadi”. 5.

6 Landasan Teori Hipertensi Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Menurut ilmu kedokteran. 2010) Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 21 | P a g e . (Sutanto. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps. seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastolik melebihi 140/90 mmHg. Pada populasi lanjut usia. Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong). Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah secara terus menerus sehingga melebihi batas normal.Gambar 2. disebut sebagai penderita hipertensi atau darah tinggi jika tekanan darah dalam arteri meningkat secara kronik.1 Contoh Penerapan Teori Fishbone 2. Secara umum. Hipertensi merupakan produk dari resistensi pembuluh darah perifer dan kardiak output (Wexler. 2002). di ukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu. 2005). Hipertensi biasanya terjadi pada seseorang dengan tekanan darah 140/90 mmHg ke atas. tekanan darah tinggi adalah kondisi medis tekanan darah seseorang yang meningkat secara kronis. Sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung mengerut).

sebenarnya ada beberapa gejala yang tidak terlalu tampak sehingga sering tidak dihiraukan oleh penderita. dari berbagai kelompok umur dan status sosial ekonomi. Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan. tingkat aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHG. Gejala-gejala tersebut mulai bisa dirasakan oleh para penderita hipertensi dengan tekanan darah lebih besar dari 140/90 mmHg. gagal jantung. Tetapi secara umum. angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga. hipertensi dapat menyerang siapa saja. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 22 | P a g e . dimana tekanan darah yang tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskular seperti stroke. Secara umum.Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolik) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya. Dalam aktivitas sehari-hari. gejala-gejala yang dirasakan penderita hipertensi antara lain sebagai berikut: pusing. Walaupun penyakit ini dianggap tidak memiliki gejala awal. tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil. 2. dan kerusakan ginjal. berat badan. hipertensi merupakan keadaan tanpa gejala.1 Tanda dan Gejala Hipertensi Penyakit hipertensi sering disebut sebagai penyakit tersembunyi. serangan jantung. Secara umum.6. sebutan tersebut berawal dari banyaknya orang yang tidak sadar telah mengidap penyakit hipertensi sebelum mereka melakukan pemeriksaan tekanan darah.

2.mudah marah. stroke juga dapat terjadi sebagai akibat dari melemahnya dinding pembuluh darah di otak karena tekanan darah tinggi. dan kaki. napas pendek atau terengah-engah. jika tekanan darah tinggi tidak segera diobati. otak.2 Akibat Hipertensi Hipertensi terus-menerus adalah salah satu faktor penyebab berbagai penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskular seperti stroke. rasa berat di tengkuk. jantung akan menjadi lemah untuk melaksanakan beban tambahan. telinga berdengung. mudah lelah. gagal jantung. dan ginjal sanggup menahan tekanan darah tinggi untuk waktu yang cukup lama. ginjal. dan suhu tubuh rendah. serangan jantung. hal tersebut memungkinkan terjadinya penyempitan pembuluh darah dan gagal jantung dengan gejala-gejala seperti kelelahan. organ jantung. tekanan darah tinggi juga menimbulkan kelemahan pada arteri bagian lain tubuh seperti pada mata. mata berkunang-kunang. pecahnya pembuluh darah di otak. serta kemungkinan terjadi pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki. dan merupakan penyebab utama gagal ginjal kronik. sesak napas. muka pucat. hal ini menyebabkan tidak disadari kemunculannya sehingga merasa dalam kondisi sehat. sukar tidur. jika tekanan darah semakin tinggi maka semakin berat pula kerja jantung. mimisan (jarang dilaporkan).6. di samping merupakan faktor utama penyakit jantung dan pembuluh darah. serta kelumpuhan. Akibat lain yang ditimbulkan tekanan darah yang selalu tinggi adalah pendarahan pada selaput bening (retina mata). jika keadaan ini dibiarkan berkepanjangan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 23 | P a g e . Tekanan darah tinggi mempercepat penyumbatan arteri yang mengarah pada serangan jantung atau stroke jika arteri yang mengalirkan darah ke jantung atau ke otak tersumbat.

d. jika tekanan darah terus-menerus tinggi maka akan menimbulakan komplikasi pada organ tubuh lainnya. Jantung : Gangguan jantung sebagai organ pemompa darah menyebabkan penyakit jantung koroner dan gagal jantung. Mata : Gangguan pada mata biasanya menyebabkan kerusakan selsel retina sehingga jika sangat parah dapat menimbulkan kebutaan. b. Ginjal : Menyebabkan penyakit ginjal kronik.maka bagian tubuh akan mengalami kerusakan yang serius. sehingga sering disebut sebagai “silent killer”. Hal ini terjadi karena pewarisan sifat melalui gen. hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena alasan penyakit tertentu. gagal ginjal terminal. jika salah satu dari anak kembar tersebut adalah penderita hipertensi maka akan dialami juga oleh anak kembar yang lain. Hipertensi bertanggung jawab terhadap tingginya biaya pengobatan dikarenakan alasan tingginya angka kunjungan ke dokter. Pada kebanyakan kasus.3 Faktor Resiko Hipertensi Faktor resiko hipertensi menurut Sutanto (2010). perawatan di rumah sakit dan atau penggunaan obat jangka panjang. Genetika (Keturunan) Apabila riwayat hipertensi didapat pada kedua orang tua maka dugaan terjadinya hipertensi primer pada seseorang cukup besar. Otak : Gangguan pada otak biasanya akibat rusaknya pembuluh darah sehingga menyebabkan stroke. c.6. yaitu: a. 2010) : a. Pengaruh genetika ini terjadi pula pada anak kembar yang lahir dari satu sel telur. bagian tubuh yang paling sering menjadi sasaran kerusakan antara lain (Sutanto. 2. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 24 | P a g e .

d. kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. sebagian besar kasus hipertensi saat ini dipengaruhi oleh faktor ketururnan. Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Usia Dengan semakin bertambahnya usia. Sedangkan pada kaum pria. Hal Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 25 | P a g e . Terjadi kecenderungan bahwa hipertensi lebih banyak dialami oleh masyarakat perkotaan dibanding masyarakat pedesaan. Jenis Kelamin (Gender) Hipertensi berdasarkan gender ini dapat pula dipengaruhi oleh faktor psikologis. Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja ketika beraktivitas) yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Stress Lingkungan Jika dalam keadaan stress maka terjadi respons sel-sel saraf yang mengakibatkan kelainan pengeluaran atau pengangkutan Natrium.Menurut sebagian ahli kesehatan. Hilangnya elastisitas jaringan dan arterisklerosis serta pelebaran pembuluh darah adalah faktor penyebab hipertensi pada usia tua. Secara umum trend stress muncul dari masyarakat perkotaan. depresi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. dan rendahnya status pekerjaan. b. Wanita seringkali mengadopsi perilaku tidak sehat seperti merokok dan pola makan yang tidak seimbang sehingga menyebabkan kelebihan berat badan. hipertensi lebih berkaitan dengan pekerjaan seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran. ternyata prevalensi hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. c.

Obesitas merupakan ciri dari populasi penderita hipertensi. e. 2) Indra perasa kita sejak kanak-kanak telah dibiasakan untuk memiliki ambang batas yang tinggi terhadap rasa asin. Adat Kebiasaan Kebiasaan-kebiasaan buruk seseorang merupakan ancaman kesehatan bagi orang tersebut seperti Sutanto (2010): 1) Gaya hidup modern yang mengagungkan sukses.tersebut berkaitan dengan gaya hidup masyarakat kota yang rentan berinteraksi dengan resiko penyakit hipertensi seperti stress dan pola hidup yang kurang sehat. Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekskresi (pengeluaran) kelebihan garam sehingga kembali pada kondisi keadaan sistem hemodinamik (pendarahan) yang normal. Curah jantung dan sirkulasi volume darah hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita hipertensi yang tidak mengalami obesitas. dan berusaha mengatasi stresnya dengan merokok. Obesitas (Kegemukan) Obesitas atau kegemukan juga merupakan salah satu faktor resiko timbulnya hipertensi. sehingga Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 26 | P a g e . kerja keras dalam situasi penuh tekanan. minum alkohol atau kopi. dan stres terjadi yang berkepanjangan adalah hal yang paling umum serta membuat orang kurang berolahraga. f. g. Asupan Garam Garam merupakan hal yang sangat penting pada mekanisme timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi adalah melalui peningkatan volume plasma atau cairan tubuh dan tekanan darah. padahal semuanya termasuk dalam daftar penyebab yang meningkatkan resiko hipertensi.

dan tingginya kolesterol dalam darah. namun kebiasaan buruk dan gaya hidup yang tidak sehat juga menjadi sebab peningkatan tekanan darah. Faktor-faktor tersebut antara lain merokok. terutama jika kita terbiasa mengonsumsi makanan di luar rumah (warung. Hindari kebiasaan lainnya seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol diduga berpengaruh dalam meningkatkan resiko hipertensi walaupun mekanisme timbulnya belum diketahui pasti. 4) Gaya Hidup Kurang Sehat Walaupun tidak terlalu jelas hubungannya dengan hipertensi.6. 2.sulit untuk dapat menerima makanan yang agak tawar. dapat meningkatkan tekanan darah kerana mengandung natrium dalam jumlah yang berlebih. Makanan yang diawetkan dan garam dapur serta bumbu penyedap dalam jumlah tinggi. Konsumsi garam ini sulit dikontrol. faktor makanan modern sebagai penyumbang utama terjadinya hipertensi. faktor lain yang mempengaruhi terjadinya hipertensi antara lain alkohol. 3) Pola makan yang salah. restoran. Selain faktor-faktor tersebut. hotel. asupan asam lemak jenuh.4 Pencegahan Hipertensi Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup. dan faktor hormon yang mempengaruhi tekanan darah. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan atau kerusakan pada pembuluh darah turut berperan terhadap munculnya penyakit hipertensi. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 27 | P a g e . dan lain-lain). gangguan mekanisme natrium yang mengatur jumlah cairan tubuh.

Pola hidup sehat memiliki peranan yang sangat penting baik sebagai pencegahan maupun sebagai terapi awal terhadap hipertensi. setiap hari dalam seminggu) Penurunan asupan Pembatasan asupan alkohol sampai alcohol tidak lebih dari 2 kali (30 ml etanol) per hari pada pria dan 15 ml pada 2 – 4 mmHg 4 – 9 mmHg Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 28 | P a g e .4 gram natrium murni atau 6 garam natrium klorida 2 – 8 mmHg 8 – 14 mmHg ikan asin. sayuran. garam (garam dapur) dapur) Aktifitas fisik (olahraga) Melakukan aktifitas fisik aerobic rutin seperti jalan cepat (paling kurang 30 menit/ hari. Modifikasi Rekomendasi Penurunan tekanan darah sistolik rata-rata Penurunan bobot Pertahankan berat badan ideal badan (IMT/ BMI 18.9) 5 – 20 mmHg/ 10 kg penurunan berat badan Mengadopsi pendekatan diet untuk menstop hipertensi Pembatasan asupan natrium (seperti yang terdapat dalam Konsumsi diet kaya dengan buahbuahan. dan produk rendah lemak dengan kandungan lemak jenuh dan lemak total yang rendah Penurunan asupan natrium sampai tidak lebih dari 100 mmol/ hari setara dengan 2. Tabel berikut menjelaskan bagaimana pengaturan pola hidup berefek terhadap penurunan tekanan darah sistolik.5 – 24.

Pertahankan berat badan ideal. Hindari minuman beralkohol e. Sedapat mungkin atasi stres dan emosi c. serta perbanyak konsumsi buah dan sayur b. tapi juga kelompok risiko tinggi maupun pasien hipertensi itu sendiri. Upaya-upaya ini tidak hanya ditujukan untuk orang sehat. Periksa tekanan darah secara berkala. hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah. Olahraga teratur. Dan lakukan pengecekan ulang minimal setiap 2 tahun untuk kelompok nomotensi dan setiap tahun untuk kelompok pre hipertensi. yaitu tekanan darah sistolik 120-139 mmHg atau diastolik 80-90mmHg dan bila diperlukan konsumsi obat-obatan penurunan tekanan darah serta makan secara teratur. tentunya dengan upaya perbaikan gaya hidup dan mengatasi faktor resikonya. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 29 | P a g e . Atur pola makan. Hipertensi bukan saja penyakit mematikan.wanita atau orang dengan ukuran badan yang lebih ringan atau kecil. Hentikan kebiasaan merokok d. Caranya yakni : a. Meski demikian. antara lain tidak mengonsumsi makanan tinggi garam dan tinggi lemak. tapi juga pemicu terjadinya penyakit jantung dan stroke.

Data profil kelurahan Data Kecamatan 1. Data profil & Laporan Tahunan Puskesmas tahun 2010 2. Data geografi 2. Data demografi Data Puskesmas 1. membuat trend penyakit dan menetapkan 5 prioritas penyakit Penentuan 3 penyakit utama berdasarkan teknik Bryant Pengumpulan data primer di 4 Kelurahan Pengolahan data primer (analisis dan interpretasi data) Penentuan Prioritas Masalah dengan menggunakan teknik Delphi Penentuan Spot area dan Sasaran Intervensi Pelaksanaan FGD dan Indepth Interview Penentuan Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya masalah dan peluang untuk dilakukannya intervensi Pembuatan Laporan PBL-1 Seminar Hasil PBL-1 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 30 | P a g e . Data geografi 2.BAB III ALUR KEGIATAN PBL 3. 2. Data 10 penyakit teratas di wilayah kerja puskesmas 2010 3. Data demografi 3.1 Bagan Alur Kegiatan PBL I Pengenalan wilayah kerja dan program Puskesmas dari Profil Puskesmas dan Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Pengumpulan data sekunder Data Kelurahan 1. Data laporan bulanan penyakit (LB1) tahun 2011 Pengolahan Data Sekunder: 1. Melihat gambaran umum demografi dan permasalahan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Menganalisis 10 penyakit teratas.

Hipertensi dan penyakit lainnya. kami lakukan pengerucutan penyakit menjadi 5 (lima) penyakit. Influensa Karena Virus Ytt.3. Pengerucutan penyakit menjadi 5 (lima) penyakit terpilih kami lakukan dengan melihat trend (kecenderungan) 10 penyakit tersebut dari bulan Januari hingga Oktober tahun 2011. Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Pondok Jagung. Dari 10 (sepuluh) penyakit teratas tersebut. dapat diketahui perubahan kasus penyakit tersebut apakah mengalami peningkatan. Kemudian mahasiswa mulai melakukan pengumpulan data sekunder yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Setelah data sekunder diperoleh. Pengerucutan dilakukan agar proses penentuan prioritas masalah kesehatan lebih terfokus. Data 10 (sepuluh) penyakit teratas tersebut. Ganggguan gigi dan mulut. kami manfaatkan untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Demam. Kecamatan Serpong Utara dan Kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Pulpa. Gastritis.2 Deskripsi Alur Kegiatan PBL 1 Kegiatan PBL-1 di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung tahun 2011 diawali dengan melakukan pengenalan dan pemahaman mahasiswa tentang ruang lingkup dan program puskesmas melalui Profil dan Laporan tahunan Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010. Berdasarkan laporan tahunan di Puskesmas Pondok Jagung tahun 2010. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 31 | P a g e . didapatkan bahwa 10 (sepuluh) penyakit teratas di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah ISPA. dilakukan pengolahan dan analisis data sekunder. Batuk. Dermatitis. Dengan menggunakan trend penyakit. Data terkait trend penyakit tersebut didapatkan dari Laporan Bulanan (LB1) Puskesmas Pondok Jagung tahun 2011. penurunan atau stabil. sehingga 5 (lima) penyakit terpilih dapat ditentukan secara tepat.

Kemudian tahap selanjutnya adalah melakukan penentuan prioritas masalah dengan menggunakan teknik non scoring.Setelah dilakukan pengerucutan 5 (lima) penyakit terpilih. tahap selanjutnya adalah melakukan pengumpulan data primer terkait 3 (tiga) penyakit tersebut. Kelurahan Jelupang dan Kelurahan Lengkong Karya. aksesbilitas dan sistem sosial di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Instrumen data primer berupa kuesioner yang disebar kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. tahap selanjutnya adalah penentuan sasaran intervensi. yaitu Kelurahan Pondok Jagung. Hasil pengumpulan data primer dari kuesioner tersebut kami lakukan tindak lanjut berupa pengolahan dan analisis data. yaitu teknik Delphi. prevalensi data primer. Berdasarkan hasil penentuan 3 (tiga) penyakit dengan teknik Bryant didapatkan bahwa ISPA. Setelah didapatkan spot area. Penentuan sasaran dimaksudkan agar intervensi lebih terfokus dan mencapai target. faktor resiko. tahap selanjutnya adalah melakukan pengerucutan penyakit dari 5 (lima) penyakit menjadi 3 (tiga) penyakit terpilih. Hipertensi dan Dermatitis merupakan fokus permasalahan kesehatan yang akan dianalisis kembali untuk menetapkan satu prioritas utama masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung tahun 2011. Pengumpulan data primer dimaksudkan untuk mengumpulkan fakta di lapangan dan dapat digunakan untuk melengkapi atau menunjang data sekunder dalam tahap penentuan prioritas masalah selanjutnya. Setelah menentukan prioritas masalah. Penentuan spot area didasarkan pada prevalensi data sekunder. yaitu teknik Bryant dengan mempergunakan data sekunder yang telah dikumpulkan. Setelah mendapatkan 3 (tiga) penyakit terpilih. langkah selanjutnya adalah menetapkan spot area. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 32 | P a g e . Kelurahan Pondok Jagung Timur. Penentuan 3 (tiga) penyakit dilakukan dengan menggunakan teknik scoring.

kami juga melakukan Indepth Interview kepada narasumber yang dapat dipercaya keakuratan informasi yang diberikan. tahap selanjutnya adalah membuat formulasi alternatif solusi masalah kesehatan tersebut.3 Sumber informasi Informan yang terlibat dan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan dalam PBL 1 ini terdiri dari : 1. Pondok Jagung Timur. Kota Tangerang selatan. Jelupang dan legkong Karya Kecamatan Serpong Utara. Tokoh masyarakat dan beberapa warga di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung.Setelah spot area dan sasaran ditetapkan. kader posbindu. Kegiatan PBL ini dilaksanakan pada tanggal 5–19 Desember 2011. tokoh masyarakat dan penderita.4 Lokasi dan Waktu Kegiatan Kegiatan PBL 1 ini dilaksanakan di Puskesmas Pondok Jagung dan wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung yaitu kelurahan Pondok Jagung. Bidan desa terutama kelurahan pondok jagung timur 5. 3. Staff administrasi puskesmas pondok jagung 4. langkah selanjutnya adalah melakukan FGD (Focus Group Discussion) dengan petugas puskesmas. Setelah mendapatkan masalah kesehatan dan penyebeb dari masalah kesehatan tersebut. Tujuan dilakukan FGD dan Indepth interview adalah untuk mengidentifikasi penyebab masalah dari masalah yang akan diintervensi. 3. Kader kelurahan terutama kelurahan pondok jagung timur 6. Selain dilakukan FGD. Kepala puskesmas Pondok Jagung 2. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 33 | P a g e . Propinsi Banten. Penanggungjawab program pra lansia dan lansia 3.

01 =2 = = ( ( ) ) = (Z1. Perhitungan sampel dilakukan guna menentukan berapa besar jumlah sampel yang akan diambil untuk pengumpulan data primer. sehingga responden hanya memilih salah satu jawaban yang dianggap sesuai. digunakan juga pedoman wawancara sebagai alat instrumen dalam indepth interview.4 Instrumen Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data primer berupa lembar kuesioner terstruktur dan berisi pernyataan yang berhubungan dengan variabel penelitian yang harus dijawab oleh responden. Dalam kuesioner disediakan pertanyaan tertutup.5 Penentuan dan Perhitungan Sampel Sampel adalah sebagian individu yang diteliti atau diselidiki (Alghifari. Selain itu. yaitu : ISPA. 2007 = 10 % = 0./2) p d deff nispa = 2. Hipertensi dan Dermatitis. 3. 2001). Adapun perhitungan sampel yang dilakukan sebagai berikut : nsample dimana : (Z1. Pengumpulan data primer dilakukan pada saat masalah kesehatan telah dikerucutkan menjadi 3 (tiga) penyakit terpilih di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung.53 = prevalensi 3 penyakit di wilayah Banten pada Riskesdas. dimana pertanyaan sudah disediakan alternatif jawabannya./2)2 p (1-p) x deff d2 x deff = 28 x 2 = 94 sample Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 34 | P a g e .3.

Berikut ini adalah rincian distribusi sampel di masing-masing kelurahan: Pondok Jagung = = = 18. Pada penelitian ini sampel yang kami ambil sebanyak 330 sampel. Setelah perhitungan jumlah sampel dilakukan.ndermatitis ( = ) ( ) ( ) x deff = = x 2 = 318 sample nhipertensi = = ( ) ( ) ( ) x deff = 28 x 2= 56 sample Dari perhitungan di atas.28% x 318 = 120 sample Pondok jagung Timur = Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 35 | P a g e . tahap selanjutnya adalah menentukan pendistirbusian sampel berdasarkan teknik Cluster Random Sampling. didapat hasil n sample terbanyak yaitu sebanyak 318 sampel.31 % x 318 = 58 Sample Jelupang = = = 38. Justifikasi peneliti mengambil sampel sebanyak 330 adalah sampel minimal adalah 318 dan semakin banyak sampel yang diambil berarti semakin baik penelitian. dimana sampel diambil secara acak dengan proporsi tiap kelurahan dihitung berdasarkan presentase jumlah penduduk.

99% x 318 = 26 sample Data yang dikumpulkan dalam kegiatan PBL ini adalah data sekunder dan data primer. Hal ini dikarenakan Profil dan Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung tahun 2011 belum dapat diakses. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan sebagai berikut: a. Data sekunder yang kami dapatkan dari Puskesmas merupakan Profil dan Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010. Posbindu. b. Kecamatan Serpong Utara dan Kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Pengumpulan data sekunder dilakukan bertujuan untuk mendapatkan informasi yang valid guna mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung.6 Pengumpulan Data = 35.41% x 318 = 111 sample = 7.= Lengkong Karya = = 3. Selain itu. pemgumpulan data primer juga kami lakukan melalui Foccus Group Discussion (FGD) dan indepth interview. Data Primer Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan secara langsung kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. tokoh masyarakat. Selain itu. Pelaksanaan FGD dilakukan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 36 | P a g e . petugas puskesmas dan penderita. FGD dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai penyebab masalah kesehatan. Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari Puskesmas. kami juga mendapatkan Laporan Bulanan (LB1) Puskesmas Pondok Jagung pada bulan Januari hingga Oktober tahun 2011. Anggota FGD adalah para kader.

Tahap kedua adalah menentukan tiga penyakit dari lima penyakit tersebut dengan menggunakan teknik Bryant. 3. Data primer dari hasil penyebaran kuesioner dikonversikan ke dalam bentuk program pengolah data yaitu Epidata dan SPSS.7 Cara Pengolahan Data Data primer dan data sekunder yang telah diperoleh. Data primer dan data sekunder ditulis secara lengkap di bab hasil dan pembahasan. Tahap pertama yaitu dengan memperoleh data sekunder terkait 10 prioritas penyakit teratas di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010. kemudian dianalisis untuk menentukan prioritas masalah. Tahap selanjutnya adalah menentukan prioritas utama masalah kesehatan dengan mengumpulkan data primer di lapangan melalui instrumen kuesioner. Hasil kuesioner dianalisis dengan menggunakan program SPSS dan didapatkan satu prioritas penyakit.secara dua sesi yang bertujuan untuk mendapatkan data yang valid dari beberapa narasumber. 3. dan data sekunder dianalisis untuk mendukung data primer yang telah diolah. Sedangkan data primer yang bersifat kualitatif dideskripsikan dengan narasi dan lampiran dokumentasi kegiatan. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 37 | P a g e . dari 10 penyakit tersebut dipilih lima penyakit dengan melihat trend penyakit per bulan pada tahun 2011.8 Teknik Analisis dan Interpretasi Data dari Puskesmas yang telah diolah. Selanjutnya. Hasilnya diperoleh tiga penyakit yaitu penyakit Hipertensi. Kemudian membandingkan hasil studi lapangan yang telah dilakukan dengan teori yang ada. ISPA. dan Dermatitis. dikumpulkan dan dilakukan pengolahan data agar menghasilkan informasi yang selanjutnya akan dianalisis.

Sebelah Timur c.1. Geografis wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung secara spesifik. Kelurahan Lengkong Karya. terletak di sebelah Timur Pusat Kota tangerang selatan dengan luas wilayah 22. Sebelah Barat b. dapat dilihat di peta wilayah kerja di bawah ini : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 38 | P a g e . Adapun batas-batas wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah : a. Sebelah Utara d. : Kecamatan Serpong Ruang lingkup wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung terdiri dari 04 Kelurahan.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Termasuk dataran rendah dengan ketinggian kirakira 80 m di atas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata 1.1 Data Geografi Puskesmas Pondok Jagung terletak di Kecamatan Serpong Utara. Kelurahan Jelupang.245 km2. yaitu Kelurahan Pondok Jagung.710 mm / tahun. dan Kelurahan Pondok Jagung Timur.1 Gambaran Umum Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung 4. Sebelah Selatan : Kecamatan Kelapa Dua dan Pagedangan : Kecamatan Pondok Aren : Kecamatan Cipondoh/Kota Tangerang.

1. 2010 4. Kelurahan Lengkong Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 39 | P a g e . Kelurahan Pondok Jagung Timur. a.151 jiwa. dimana mencakup 7 (tujuh) kelurahan. Informasi keheterogenan penduduk ini diperoleh berdasarkan data sekunder yang dikumpulkan. yaitu Kelurahan Pondok Jagung. Kepadatan Penduduk Secara demografis wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010 mempunyai penduduk sebanyak 84.Gambar 4. Namun pada tahun 2011. dimana memiliki keadaan penduduk yang dapat dikatakan berheterogen.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung.2 Data Demografi Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung merupakan bagian dari Kecamatan Serpong Utara. Hal ini tercermin pada karakteristik kepadatan penduduk dan kondisi sosial ekonomi penduduk di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. wilayah kerja puskesmas pondok jagung mengalami pemekaran dan hanya mencakup 4 (empat) kelurahan.

diketahui bahwa frekuensi penduduk tertinggi berdasarkan kelompok jenis kelamin di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010 adalah perempuan. b.845 jiwa. dimana frekuensi perempuan 11.372 jiwa yang menempuh pendidikan hingga tingkat SLTA/SMA. yaitu 26.822 jiwa dan laki-laki 9. Sedangkan kelurahan yang memiliki kepadatan penduduk terendah adalah Kelurahan Lengkong Karya hanya berjumlah 4. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada pada lampiran 4. Sosial Ekonomi 1. Berdasarkan data sekunder Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010. Adapun kepadatan penduduk tertinggi di wilayah Puskesmas Pondok Jagung adalah Kelurahan Jelupang yaitu 19. dan Universitas dari 21. Berdasarkan data Puskesmas.888 jiwa.671 jiwa. Hal ini Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 40 | P a g e . Sedangkan frekuensi penduduk tertinggi berdasarkan kelompok usia di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010 adalah kelompok umur 15-44 tahun.1. Diploma. didapatkan bahwa laki-laki memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan pengetahuan seseorang terkait permasalahan kesehatan.1 tabel 4. yaitu 9.2.Karya dan Kelurahan Jelupang. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada lampiran 4.375 penduduk.049 penduduk. dimana jumlah penduduk di 4 (empat) kelurahan tersebut pada tahun 2010 adalah berjumlah 50.525 jumlah penduduk laki-laki.1 tabel 4.

Sedangkan jika dikategorikan berdasarkan jenis kelamin. didapatkan bahwa tingkat pendidikan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 41 | P a g e .4 Persentase Penduduk berumur 10 Tahun ke Atas Yang Melek Huruf di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung.4 dibawah ini: Tabel 4. yang diukur dengan persentase penduduk usia 10 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis.1 tabel 4.5 %. yaitu sebesar 84.berarti kualitas pendidikan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung sudah cukup baik. Sedangkan kemampuan membaca dan menulis dapat dilihat dari angka melek huruf sebagai salah satu indikator tingkat pendidikan. total persentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang melek huruf sebesar 84.8 %. Presentase penduduk berusia diatas 10 tahun ke atas yang melek huruf dapat dilihat pada tabel 4. 2010 Berdasarkan tabel 4.3. Sedangkan berdasarkan hasil pengumpulan data primer yang telah dilakukan. penduduk perempuan memiliki presentase melek huruf lebih tinggi dibandingkan laki-laki.4 diatas. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada lampiran 4.

Status Ekonomi Status ekonomi merupakan salah satu indikator untuk mengetahui tingkat kemampuan seseorang dalam akses pelayanan kesehatan dan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan.1 50.4 3. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4.6 3.4 100 48 91 9 148 32.5 Presentase Tingkat Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Kelurahan Pondok Jagung ∑ % Pondok Jagung Timur ∑ % Jelupang Lengkong Karya ∑ % Tingkat Pendidikan Rendah Sedang Tinggi Total ∑ % 48 14 62 77. Hal ini dapat dilihat dari presentase tingkat pendidikan pada tabel 4.6 100 41 45 9 89 46.5 dibawah ini : Tabel 4.6 dibawah ini : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 42 | P a g e .4 61.4 48. Berdasarkan hasil pengolahan data primer didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki status ekonomi rendah.5 6.2 100 Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner 2.masyarakat di wilayah kerja Pondok Jagung tergolong rendah dan sedang.4 22.1 100 15 15 1 31 48.

4 20.8 24.Tabel 4.7 16.1 12.5 79 31 38 53.1.3 Sumber Daya Kesehatan a.6 Presentase Status Ekonomi di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Kelurahan Pondok Jagung ∑ Ekonomi Rendah Sedang Tinggi 44 10 8 71 16. dapat diketahui bahwa Kelurahan Pondok Jagung merupakan kelurahan dengan presentase status ekonomi rendah tertinggi.7 13.1 16. yaitu 71 %. Sarana Prasarana Puskesmas Sarana dan Prasarana yang terdapat di Puskesmas Pondok Jagung untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat sudah cukup lengkap.9 55 22 12 61.9 25.6 diatas. Sarana dan Prasarana 1. Adapun sarana dan prasana yang tersedia di Puskesmas Pondok Jagung adalah sebagai berikut : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 43 | P a g e . 4.7 21 5 5 67.1 % Pondok Jagung Timur ∑ % Jelupang Lengkong Karya ∑ % ∑ % Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner Berdasarkan tabel 4.

Sarana Kesehatan Adapun sarana kesehatan yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah sebagai berikut : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 44 | P a g e .7 Sarana dan Prasarana Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 SARANA Ruang Kepala Puskesmas Ruang Dokter Ruang Staf Puskesmas Ruang KIA & KB Ruang Mushola Ruang Gudang Ruang Loket Ruang Apotik Ruang BP Umum Ruang BP Anak dan Gizi Ruang BP Gigi Ruang Bersalin dan Nifas Ruang Klinik TB dan Kesling Ruang Laboratorium Ruang Gudang Obat Dapur WC JUMLAH (Ruang ) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung.Tabel 4. 2010 2.

12. 4.8 Sarana Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 NO. Jumlah Tenaga Kesehatan berdasarkan Jenis Ketenagaan dan Status Kepegawaian di Puskesmas Pondok jagung Tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 4. b. FASILITAS KESEHATAN Puskesmas Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Rumah Sakit Swasta Rumah Bersalin Swasta Balai Pengobatan Swasta Praktek Dokter Umum Swasta Praktek Bidan Swasta Dokter Gigi Praktek Swasta Apotik Polindes Poskesdes JUMLAH 1 1 1 2 1 22 137 38 45 5 0 1 Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung. 2. 5.8 diatas. 11. 6. 1. 3.9 dibawah ini : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 45 | P a g e . 9. Sarana Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan merupakan bagian terpenting didalam peningkatan pelayanan kesehatan yang baik.Tabel 4. 10. 2010 Berdasarkan tabel 4. diketahui bahwa praktek dokter umum swasta merupakan sarana kesehatan dengan jumlah tertinggi yaitu sebesar 137 dan pelayanan kesehatan swasta sangat mendominasi pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. 7. 8.

Kategori Tenaga PNS Dokter Umum Dokter Gigi SKM Perawat Bidan Sanitarian TU Perawat Gigi Pranata Laboratorium Ass. diketahui bahwa tenaga kesehatan di Puskesmas Pondok Jagung sebagian besar adalah profesi bidan dengan jumlah 16 orang. 9. c. 3. 4. Adapun rincian penjelasannya dapat dilihat pada tabel 4. 7.9 Data Ketenagaan Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Status No. 2010 Berdasarkan tabel 4. 1. 6. Apoteker Pekarya Kebersihan 2 3 9 10 1 1 1 1 1 2 JUMLAH PTT 6 Honor 1 2 1 2 2 3 1 11 16 1 1 1 1 1 3 2 43 Jml Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung.10 dibawah ini : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 46 | P a g e .9 diatas. 12. 2. 11. Pembiayaan Biaya Operasional Puskesmas Pondok Jagung bersumber dari dana operasional retribusi dan dana Jamkesmas. 8. 5.Tabel 4. 10.

2. 235. dan genetik/demografi.Rp. 46. Bersama dengan faktor perilaku. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 47 | P a g e . Distribusi Rumah Tangga yang Memiliki Sarana Air Bersih Menurut data Puskesmas Pondok Jagung tahun 2010.292. 201 4. diketahui bahwa untuk tahun 2010 jumlah keluarga yang diperiksa yang memiliki akses air bersih 100%. Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat melalui empat indikator. Berdasarkan data puskesmas. lingkungan menentukan baik buruknya status derajat kesehatan masyarakat.Tabel 4. 1.953. pelayanan kesehatan.263.Rp. yaitu persentase keluarga yang memiliki akses air bersih.- Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung.438.498. 10 Anggaran Kesehatan Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 No 1 2 3 4 Sumber Biaya Operasional Puskesmas Program Jamkesmas Sumber lain Total Anggaran Alokasi Anggaran Kesehatan Rp. persentase rumah sehat. keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar.1 Gambaran Lingkungan Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapatkan perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat.000.2 Gambaran Analisis Situasi Kesehatan 4. 178. Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM).

1 Lengkong Karya ∑ 27 % 87. 11 Persentase Keluarga memiliki Akses Air Bersih di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung tahun 2010 Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung.6 Jelupang ∑ 123 % 83.12 Presentase Akses Air Bersih di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Pondok Jagung ∑ 61 % 98. yaitu 2. diperoleh data yang memiliki akses terhadap air bersih adalah sebagai berikut: Tabel 4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik tabel 4.11 dibawah ini : Tabel 4.3 Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 48 | P a g e .657. 2010 Berdasarkan data primer yang dikumpulkan.diketahui bahwa total akses air bersih di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah 7. dengan kelurahan pondok jagung merupakan kelurahan yang memiliki akses air bersih tertinggi.991.4 Pondok Jagung Timur ∑ 78 % 87.

2010 3. kepemilikan jamban keluarga. diketahui bahwa kelurahan yang memiliki akses air bersih tertinggi adalah Kelurahan Pondok Jagung. Keseluruhan hal tersebut sangat diperlukan didalam peningkatan kesehatan lingkungan. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4. 13 Persentase Rumah Sehat di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung. tempat sampah dan pengelolaan air limbah keluarga. Distribusi Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar meliputi persediaan air bersih.4 %. 2. sehingga kondisi kesehatan perumahan dapat berperan sebagai media penularan penyakit diantara anggota keluarga atau tetangga sekitarnya. Data Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 49 | P a g e .12 diatas. yaitu 98.Berdasarkan tabel 4. Distribusi Rumah Tangga yang bersanitasi sehat Rumah merupakan tempat berkumpul bagi semua anggota keluarga dan menghabiskan sebagian besar waktunya. Berdasarkan data puskesmas tahun 2010. jumlah rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah 292 rumah dari 361 rumah yang diperiksa.

didapatkan sebesar 123 KK atau 77. Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Terjadinya peristiwa keracunan dan penularan penyakit akut yang sering membawa kematian banyak bersumber dari makanan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 50 | P a g e . didapatkan bahwa keluarga dengan kepemilikan jamban sehat sebesar 352 KK atau 82. Kondisi ini menunjukan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya sarana sanitasi dasar. 14 Distribusi Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung.14 dibawah ini : Tabel 4.84 % dengan kategori sehat.terkait keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar dapat dilihat pada tabel 4. 2010 Persentase kepemilikan sarana sanitasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah sebagai berikut : dari 429 KK yang diperiksa. 4. Sedangkan kepemilikan tempat sampah dari 158 KK yang diperiksa.05%.

kami berusaha mengidentifikasi struktur sosial di lingkungan masyarakat tersebut. ketua RW. staf kelurahan. diketahui jumlah TUPM yang ada adalah 48 dan jumlah yang diperiksa 15 dengan kategori 100% sehat. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4. rumah makan dan makanan jajanan yang pengelolaannya tidak memenuhi syarat kesehatan atau sanitasi lingkungan. dan warga untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi kesehatan di masyarakat. ketua RT. kader.yang berasal dari tempat umum dan pengolaan makanan (TUPM) khususnya jasa boga. Gambaran Lingkungan Sosial Masyarakat Selama dua pekan kami melaksanakan kegiatan Praktek Belajar Lapangan I di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung. kami mendapatkan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 51 | P a g e . Dari hasil diskusi kami tersebut. 2010 5. Berdasarkan data puskesmas.15 dibawah ini : Tabel 4. Kami melakukan pendekatan dengan petugas puskesmas. 15 Persentase TPUM Sehat di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung.

informasi tentang kondisi sosial masyarakat setempat dan hubungan/interaksi antar warga yaitu masyarakat. Masyarakat merupakan manusia yang heterogen. Begitu juga masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Keheterogenan tersebut sangat nampak terlihat dari lingkungan masyarakat, yang terdiri dari lingkungan perumahan dan

lingkungan perkampungan. Sehingga ada kesenjangan yang signifikan di antara keduanya. Berdasarkan hasil pengamatan, masyarakat di lingkungan perumahan kurang bersosialisasi dan melakukan kegiatan

kemasyarakatan. Kegiatan kemasyarakatan mayoritas ditemukan di lingkungan perkampungan seperti kegiatan majelis ta’lim. Dalam hal kesehatan, kegiatan ini dapat berfungsi sebagai wadah para kader untuk melakukan promosi kesehatan, sharing informasi kesehatan dan diskusi untuk menemukan solusi masalah kesehatan yang sedang terjadi di masyarakat. Budaya di lingkungan perkampungan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung masih sangat kental. Umumnya masyarakat dilingkungan tersebut merupakan masyarakat dengan suku Betawi yang masih kental memegang adat kebudayaan, seperti dalam hal makanan dan perilaku kesehatan. 4.2.2 Gambaran Perilaku Untuk menggambarkan

keadaan

perilaku

masyarakat

yang

berpengaruh terhadap derajat kesehatan dapat dilihat dalam bentuk indikator PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). 1. PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar
Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 52 | P a g e

tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Persentase rumah tangga ber-PHBS dapat dilihat pada tabel 4.16 dibawah ini : Tabel 4.16 Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 No. Kelurahan Rumah Tangga Jml dipantau 1 2 3 4 Pondok jagung Jelupang Pondok jagung timur Lengkong karya Jumlah 210 210 210 210 1470
Ber – PHBS

%

118 207 131 119 1049

56,195 98,557 62,38 56,67 71,36

Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung, 2010

Berdasarkan data puskesmas tahun 2010, jumlah rumah tangga ber-PHBS di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah 1049 rumah atau 71,36 % dari 1470 rumah yang dipantau. Salah satu indikator PHBS yang kami gunakan pada saat pengumpulan data primer adalah indikator perilaku merokok. Adapun hasil pengumpulan data primer yang telah kami lakukan dapat dilihat pada tabel 4.17 berikut ini :

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung

53 | P a g e

Tabel 4.17 Presentase Perilaku Merokok di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011
Pondok Jagung ∑ 47 % 75.8 Pondok Jagung Timur ∑ 75 % 84.3 Jelupang ∑ 99 % 66.9 Lengkong Karya ∑ 22 % 71

Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner

Berdasarkan data primer, diketahui bahwa presentase perilaku merokok tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah Kelurahan Pondok Jagung Timur, yaitu 84,3 %. 4.2.3 Gambaran Pelayanan Kesehatan Gambaran mengenai pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung dapat dilihat dari cakupan pelayanan kesehatan dalam menangani permasalahan kesehatan di masyarakat. Dalam hal ini, kami menjabarkan beberapa pelayanan kesehatan terkait masalah kesehatan yang kami identifikasi. Adapun cakupan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah sebagai berikut :
1. Pelayanan Imunisasi

a. Pelaksanaan imunisasi Pelaksanaan imunisasi dilaksanakan secara rutin. Untuk penjelasannya dapat dilihat pada lampiran 4.2 tabel 4.18. b. Pelaksanaan TT Untuk Kecamatan Serpong Utara tidak melaksanakan TT WUS dengan sasaran Wanita Usia Subur tetapi dengan sasaran wanita hamil. Untuk penjelasannya dapat dilihat pada lampiran 4.2 tabel 4.19.
Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 54 | P a g e

2 tabel 4. Pelayanan neonatal secara jelasnya dapat dilihat pada lampiran 4. satu kali pada umur 0-7 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari.3 tabel 4.c. 2.20 dan tabel 4. Pada tahun 2010 di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung telah terbentuk sebanyak 6 Posbindu. untuk imunisasi campak biasanya dilakukan sekalian penjaringan murid kelas satu SD dan mencapai lebih dari 90%. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Program Pelayanan kesehatan usia lanjut juga telah diupayakan melalui penjaringan usia lanjut di Posbindu. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal dua kali. 3. angka kelahiran kasar dan angka kematian ibu. Pelaksanaan BIAS BIAS adalah Bulan Imunisasi Anak Sekolah dengan sasaran murid SD dan MI. Pelayanan neonatal secara jelasnya dapat dilihat pada lampiran 4.2 tabel 4. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 55 | P a g e .24 dan data pelayanan kesehatan tingkat posbindu hingga November tahun 2011 dapat dilihat pada tabel lampiran 4. Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut yang ditangani Puskesmas dapat dilihat pada lampiran 4. Pelayanan Neonatal Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan yang berisiko kesehatan paling tinggi.25.23.21.22 dan tabel 4. 4. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Pelayanan KIA ditujukan sebagai upaya dalam penanggulangan masalah-masalah kesehatan ibu dan anak dan menitikberatkan pada upaya-upaya penurunan angka kematian bayi dan anak.2 tabel 4.

Sedangkan pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung yang dilayani kesehatannya adalah sebesar 5.5.026 orang. Pelayanan Pengobatan Jumlah kunjungan pasien ke Puskesmas Pondok jagung dapat dilihat pada grafik 4.26 Persentase Keluarga Miskin Mendapat Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 s Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung.2 dibawah ini : Grafik 4. 2010 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 56 | P a g e . Adapun rinciannya adalah sebagai berikut : Tabel 4. diketahui bahwa 45 % jumlah kunjungan yang memanfaatkan pelayanan puskesmas Puskesmas Pondok Jagung berasal dari masyarakat umum. 2010 Berdasarkan data Puskesmas.2 Jumlah Kunjungan Berdasarkan Jenis Pasien di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 4% 2% 36% 1% 45% 12% Umum Askes Astek Jamkesmas Kader/ Lansia Luar Ged. Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung.

yaitu sebagai berikut : a.3 Gambaran Epidemiologi Penyakit di Puskesmas Pondok Jagung 4. Data 10 penyakit teratas tersebut diperoleh dari laporan kunjungan masyarakat (LB1) di Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010.27 Daftar 10 Besar Penyakit Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas 2010 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 57 | P a g e .4. Berikut ini adalah daftar penyakit teratas di wilayah kerja puskesmas pondok jagung pada tahun 2010: Tabel 4.3. Tahap pertama Pada tahap pertama.1 Identifikasi Masalah Identifikasi masalah dilakukan untuk menentukan prioritas masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. dilakukan penentuan 5 (lima) penyakit terpilih dari 10 (sepuluh) penyakit teratas di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. dimana dilakukan dengan beberapa tahap.

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 58 | P a g e .

Penyakit tertinggi yang tercatat di Puskesmas Pondok Jagung adalah ISPA dan penyakit terendah adalah Hipertensi.Tabel 4.27 di atas menunjukkan bahwa penyakit terbesar di Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010 adalah ISPA dengan jumlah sebanyak 4. penurunan atau kecenderungan stabil. Data 10 (sepuluh) besar penyakit teratas di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010 dimanfaatkan untuk menentukan penyakit terpilih yang kemudian akan dianalisis guna menentukan 5 penyakit terpilih.3). gastritis. Analisis dilakukan dengan menggunakan laporan trend penyakit 10 (sepuluh) penyakit teratas tersebut pada bulan Januari hingga Oktober tahun 2011. (lampiran 4. hipertensi. Berdasarkan trend penyakit per bulan di tahun 2011 hingga bulan Oktober. Hal yang menjadikan ISPA kasus terbanyak adalah karena penyakit ISPA terdiri dari beberapa penyakit selain pneumonia yang diklasifikasikan ke dalam kasus ISPA sehingga jumlahnya besar. penyakit yang jumlahnya cukup tinggi dan sudah umum di masyarakat yaitu Penyakit Pulpa dengan jumlah 2673 kasus.27 di atas diolah berdasarkan data kunjungan pasien yang memeriksakan kesehatan di Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010. terpilih lima penyakit yaitu ISPA. dan penyakit pulpa. Penentuan lima penyakit terpilih didasarkan atas grafik kecenderungan penyakit perbulan apakah mengalami peningkatan. Selain ISPA. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 59 | P a g e .203 kasus. dermatitis. dan penyakit lainnya. Data tabel 4.

dimana masing-masing indikator diberikan skor 1-5. tetapi penurunan tersebut tidak terlalu berarti bila diikuti dengan kenaikan prevalensi penyakit pada bulan berikutnya. Masalah yang mendapat total skor terbesar akan menjadi masalah yang diprioritaskan. Dinas Kesehatan setempat maupun instansi kesehatan lainnya terkait distribusi kelima penyakit tersebut di 4 (empat) kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Oleh karena itu. Sehingga dianggap sebagai permasalahan kesehatan masyarakat yang serius. yaitu terkait prevalence. Teknik Bryant merupakan teknik scoring dimana indikator prioritas masalah telah ditetapkan. Semakin besar skor maka semakin memungkinkan untuk menjadi prioritas. yaitu teknik Bryant. begitu pula sebaliknya. Tahap kedua Setelah diperoleh 5 (lima) penyakit terpilih. Justifikasi penggunaan teknik Bryant dikarenakan teknik Bryant merupakan teknik scoring Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung yang telah menetapkan 60 | P a g e . community concern dan manageability. tahap selanjutnya adalah melakukan pengerucutan menjadi 3 (tiga) penyakit utama yang dilakukan menggunakan teknik scoring.Berdasarkan laporan trend penyakit tersebut. grafik trend yang cenderung terus meningkat tiap bulannya juga dapat menunjukkan kemungkinan program pencegahan atau program pengobatan (penanggulangan) yang dilakukan oleh puskesmas belum optimal. grafik trend kelima penyakit tersebut cenderung meningkat setiap bulannya. Meskipun grafik menunjukkan terjadinya penurunan prevalensi penyakit. b. kelima penyakit tersebut dipilih menjadi 5 (lima) penyakit terpilih. seriousness. Selain itu.

maka didapatkan ISPA. sehingga memudahkan kami dalam penentuan prioritas masalah dikarenakan adanya keterbatasan kami dalam mengumpulkan dan memperoleh data sekunder. frekuensi penyakit 5 (lima) terpilih adalah sebagai berikut : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 61 | P a g e . Hipertensi dan Dermatitis menjadi 3 (tiga) penyakit untuk dilakukan analisis kembali guna mendapatkan 1 (satu) prioritas utama masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung tahun 2011. Adapun penjelasan terhadap pemberian masing-masing scoring diatas adalah sebagai berikut : a.28 Penentuan 3 Prioritas Penyakit Berdasarkan Teknik Bryant di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Masalah Kesehatan B ISPA Dermatitis Hipertensi Gastritis Peny. Berdasarkan data sekunder di Puskesmas.Pulpa Prevalence (P) 5 2 1 3 4 Seriousness (S) 4 1 5 3 2 5 4 3 1 1 Community Concern (CC) Manageability (M) 5 3 4 1 2 500 24 60 9 16 PxSxCCxM Berdasarkan teknik Bryant yang telah dilakukan. Adapun pembobotan scoring terhadap indikator teknik Bryant adalah sebagai berikut : Tabel 4.indikator/kriteria dalam penentuan prioritas masalah. Prevalence Menunjukkan seberapa besar tingkat kejadian suatu penyakit baik kasus baru maupun kasus lama yang terlaporkan.

ISPA Seseorang yang mengalami ISPA akan mengalami kondisi seperti kehilangan nutrisi air. 2. dan dapat juga menyebabkan kematian. Hipertensi Gejala akibat komplikasi hipertensi antara lain : gangguan penglihatan. gagal jantung. Adapun penjelasan seriousness pada masing-masing penyakit adalah sebagai berikut : 1.29 Frekuensi Penyakit di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Penyakit ISPA Dermatitis Penyakit Pulpa Gastritis Hipertensi Kasus 4203 1079 2673 1259 843 Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung Berdasarkan tabel 4. didapatkan bahwa ISPA memiliki prevalensi tertinggi dengan jumlah kasus sebesar 4203 kasus. gangguan fungsi ginjal. gangguan serebral (otak) kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan serta gangguan kesadaran hingga koma. b. Seriousness Merupakan tingkat keparahan dan kegawatan yang ditimbulkan suatu penyakit. anoreksia. meningkatnya kebutuhan metabolic.29 diatas. gangguan saraf. Sedangkan kasus terendah adalah Hipertensi dengan 843 kasus. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 62 | P a g e . kekurangan absorbsi makann.Tabel 4.

Tandanya adalah adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang diikuti timbulnya kerusakan komponen organiknya.3. c. dan sementum. Penyakit pulpa Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yaitu email. Gastritis Komplikasi gastritis menyebabkan perdarahan saluran cerna bagian atas. yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat dapat diragikan. masyarakat biasanya cukup dengan meminum obat sakit akan reda. Community concern Menunjukkan tingkat kepedulian atau perhatian masyarakat terhadap suatu penyakit. padahal komplikasi dari penggunaan obat berlebih dapat mengganggu fungsi hati secara jangka panjang. dentin. 5. 4. Penderita gastritis biasanya menggangap enteng. perforasi dan anemia karena gangguan absorbsi vitamin. dermatitis juga dapat menyebabkan infeksi dan iritaso pada kulit. 1984). Perhatian masyarakat ini dapat dilihat dari persentase perilaku pencegahan masalah kesehatan tersebut. Dermatitis Gejala dermatitis yang mengganggu secara fisik dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan pada diri dan penurunan percaya diri sehingga menjadi minder/aktifitas sosial mereka terganggu. Akibatnya terjadi infeksi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan periapeks yang dapat menyebabkan nyeri (Ginting B. Selain itu. ulkus peptikum. Semakin tinggi Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 63 | P a g e .

3.573 yang diperiksa. Manageability Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 64 | P a g e . Jumlah rumah tangga yang menggunakan akses air bersih sebesar 7.89 %.. 1. ISPA Tanggapan masyarakat terhadap ISPA sudah sangat tinggi dilihat dari jumlah kunjungan penderita ispa rawat jalan yaitu mencapai 2848. Dari jumlah rumah sehat yang tertinggi dari 4 kelurahan yaitu 292 dari 361 yang diperiksa dan telah mencapai 80.tingkat kepedulian masyarakat terhadap suatu penyakit. 5. Penyakit pulpa Tanggapan masyarakat terhadap Penyakit Pulpa dapat dilihat dari jumlah kunjungan penderita Penyakit Pulpa sebanyak 2673 orang.89 %. Gastritis Tanggapan masyarakat terhadap Gastritis dapat dilihat dari jumlah kunjungan penderita Gastritis sebanyak 1259 orang.657 rumah tangga dari 15. 4. semakin tinggi skor yang diberikan. 2. Hipertensi Keaktifan penderita untuk memeriksakan kesehatannya ke puskesmas rata-rata sebesar 129 orang dan rutin setiap bulan ke posbindu di 4 kelurahan sebanyak + 313 orang.657 rumah tangga dari 15. Jumlah rumah tangga yang menggunakan akses air bersih sebesar 7. d. Dermatitis Jumlah rumah sehat yang tertinggi dari 4 kelurahan yaitu 292 dari 361 yang diperiksa dan telah mencapai 80.573 yang diperiksa.

upaya penanganan juga dilakukan dengan penyuluhan PHBS ke masyarakat dan instansi-instansi. telah terdapat 6 Posbindu di tiap kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Sedangkan penyuluhan NAPZA tertinggi masih sebesar 12. Hipertensi Adanya sarana kesehatan berupa posbindu yang mendukung dalam upaya penanggulangan dan pencegahan penyakit hipertensi. Penanganan ISPA terkait dengan kasus gizi buruk dan BBLR yang telah ditangani sebesar 100%.Penanganan terhadap suatu penyakit dilihat dari bagaimana cara penyakit tersebut diatasi (sulit atau mudah penanganannya). 3. Saat ini. Adapun penjabaran manageability masing-masing penyakit adalah sebagai berikut : 1. penyuuhan tentang NAPZA turut pula membantu dalam penanggulangan penyakit hipertensi ini. 2. ISPA Upaya penanganan ISPA di wilayah kerja Puskesmas erat kaitannya dengan penanganan kasus gizi buruk dan BBLR serta promotif terkait NAPZA. Selain itu. Selain itu. sumber daya yang dimiliki untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut dan sarana prasarana pelayanan kesehatan yang menunjang. Dermatitis Adanya penyuluhan PHBS ke Rumah Tangga dengan cakupan telah memenuhi target yaitu 1470. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 65 | P a g e . Gastritis Diberikan point 1 karena belum adanya program-program Puskesmas untuk penanggulangan penyakit Gastritis.50 %. 4.

5. Penyakit Pulpa Adanya pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Pondok Jagung bagi siswa SD/MI dengan presentase cakupan sebesar 71.65 %. 4.4 Penentuan Prioritas Masalah Pada tahap penentuan prioritas masalah, dilakukan pengerucutan masalah kesehatan menjadi 1 (satu) prioritas utama masalah kesehatan di wilayah kerja Pondok Jagung. Pada tahap ini, dilakukan penentuan prioritas masalah dengan menggunakan Teknik Delphi (Nominal Group Technique). Teknik Delphi merupakan suatu teknik prioritas masalah kualitatif dimana kriteria suatu masalah dikemukakan dan dirumuskan oleh kelompok yang memiliki keahlian yang sama. Dalam perumusan kriteria tersebut, kami berlandaskan pada indikator/kriteria penentuan prioritas masalah secara umum yang diintegrasikan dengan data sekunder dan data primer yang kami peroleh. Penggunaan teknik delphi berdasarkan pertimbangan kami dalam hal keterbatasan dalam memperoleh data sekunder dan data primer. Oleh karena itu, kami memilih teknik delphi sebagai metode kami dalam menentukan prioritas masalah kami. Adapun kriteria yang digunakan dalam penentuan prioritas masalah adalah tingkat keparahan penyakit, trend penyakit, prevalensi, manageability, community concern dan sosial benefit. Hasil penilaian terhadap masingmasing kriteria dengan teknik Delphi adalah sebagai berikut :

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung

66 | P a g e

Tabel 4.30 Penentuan Prioritas Masalah Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011
Kriteria Seriousness Trend Prevalensi Manageability Community Concern Social benefit Total Ranking Hipertensi 5 4 5 3 3 4 24 1 ISPA 3 3 3 3 4 2 18 2 Dermatitis 2 5 2 2 3 3 15 3

Dari hasil pembobotan nilai berdasarkan kriteria-kriteria diatas, didapatkan bahwa Hipertensi merupakan penyakit yang terpilih menjadi prioritas masalah di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Adapun justifikasi terhadap pembobotan kriteria diatas adalah sebagai berikut : 1. Seriousness Seriousness pada masalah hipertensi mendapatkan angka tertinggi dikarenakan penyakit hipertensi bersifat kronis dan gejala yang diakibatkan dari komplikasi hipertensi yaitu gangguan penglihatan, gangguan saraf, gagal jantung, gangguan fungsi ginjal, gangguan serebral (otak) kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan serta gangguan kesadaran hingga koma bahkan kematian. Selain itu, mayoritas hipertensi menyerang pada usia produktif, pra lansia

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung

67 | P a g e

dan lansia sehingga keluarga juga ikut menjadi korban terutama bila penderita adalah kepala keluarga.

2. Trend Penyakit Trend penyakit menunjukkan kecenderungan pergerakan kasus penyakit apakah mengalami peningkatan, penurunan atau stabil. Adapun trend ketiga penyakit tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini : a. Hipertensi Grafik 4.3 Trend Penyakit Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung pada Bulan Januari – Oktober 2011

Hipertensi
150 100 50 0 Hipertensi

Sumber : Laporan Bulanan Penyakit Tahun 201

Berdasarkan Trend penyakit, masalah hipertensi diberikan angka 4 (empat) dikarenakan kecenderungan terjadi peningkatan yang signifikan meskipun pada bulan Oktber terjadi penurunan. Namun, kami mendapatkan informasi Laporan Bulanan Penyakit pada bulan November tahun 2011, penyakit hipertensi mengalami peningkatan kembali yaitu sebesar 138 orang mengalami hipertensi.

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung

68 | P a g e

5 Trend Penyakit Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung pada Bulan Januari – Oktober 2011 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 69 | P a g e . kami memberikan pembobotan nilai 3 (tiga) pada trend penyakit ISPA. ISPA Grafik 4. Dermatitis Grafik 4.b. c. Oleh karena itu.4 Trend Penyakit ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung pada Bulan Januari – Oktober 2011 ISPA 500 400 300 200 100 0 ISPA Sumber : Laporan Bulanan Penyakit Tahun 2011 Meskipun prevalensi data sekunder ISPA merupakan penyakit dengan jumlah kasus tertinggi. namun jika dilihat dari trend penyakit kecenderungan ISPA stabil dan mengalami penurunan sedikit demi sedikit.

Sedangkan prevalensi penyakit di masing-masing kelurahan adalah sebagai berikut : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 70 | P a g e .Dermatitis 150 100 50 0 Dermatitis Sumber : Laporan Bulanan Penyakit Tahun 2011 Berdasarkan Trend penyakit.4 % dan terendah adalah dermatitis dengan presentase 27 %.6 % 100% ∑ 129 201 330 ISPA % 39. masalah dermatitis diberikan angka 4 (empat) dikarenakan kecenderungan penyakit terjadi peningkatan yang signifikan tiap bulannya. didapatkan hasil prevalensi ketiga penyakit di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah sebagai berikut : Tabel 4.1 % 60. diperoleh bahwa Hipertensi merupakan penyakit dengan jumlah tertinggi dengan presentase 46. Prevalence Berdasarkan pengumpulan data primer yang telah dilakukan.4 % 53.9 % 100 % Dermatitis ∑ 89 241 330 % 27 % 73 % 100 % Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Berdasarkan tabel 4.31 diatas. 3.31 Frekuensi 3 Penyakit di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Hipertensi ∑ Ya Tidak Total 153 177 330 % 46.

7 % 61.4 % 100 % Tabel 4. 32 Frekuensi 3 Penyakit di Kelurahan Pondok Jagung Tahun 2011 Keterangan Hipertensi Ya Tidak Total ISPA Ya Tidak Total Dermatitis Ya Tidak Total Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Frekuensi 33 29 62 24 38 62 14 48 62 Presentase 53 % 47 % 100 % 38.33 Frekuensi 3 Penyakit di Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Keterangan Hipertensi Ya Tidak Total Frekuensi 48 41 89 Presentase 54 % 46 % 100 % Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 71 | P a g e .6 % 77.Tabel 4.3 % 100 % 22.

3 % 100 % 27 % 73 % 100 % Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Tabel 4.6 % 67.7 % 74.34 Frekuensi Penyakit di Kelurahan Jelupang Tahun 2011 Keterangan Hipertensi Ya Tidak Total ISPA Ya Tidak Total Dermatitis Ya Tidak Total Frekuensi 52 96 148 38 110 148 40 108 148 Presentase 35 % 65 % 100 % 25.ISPA Ya Tidak Total 60 29 89 29 60 89 67.4 % 100 % Dermatitis Ya Tidak Total Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Tabel 4.4 % 32.35 Frekuensi Penyakit di Kelurahan Lengkong Karya Tahun 2011 Keterangan Hipertensi Ya Tidak Total ISPA Ya Frekuensi 20 11 31 7 Presentase 64 % 36 % 100 % 22.6 % Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 72 | P a g e .6 % 100 % 32.

didapatkan bahwa Hipertensi merupakan penyakit dengan presentase tertinggi di 3 (tiga) kelurahan yaitu Kelurahan Pondok Jagung.4 % 100 % 19. kami memberikan pembobotan nilai tertinggi untuk penyakit hipertensi. ISPA Tanggapan masyarakat terhadap ISPA sudah cukup tinggi dilihat dari jumlah kunjungan penderita ISPA rawat jalan yaitu mencapai 2848.657 rumah tangga dari 15. 5. Kelurahan Lengkong Karya dan Kelurahan Jelupang.3 % 80.5%. 4. Jumlah rumah tangga yang menggunakan akses air bersih sebesar 7. Dermatitis Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 73 | P a g e .7 % 100 % Berdasarkan data primer. Selain itu telah adanya upaya kesehatan yang telah dilakukan dengan adanya posbindu sebulan 1x yang dilakukan oleh bidan dan dibantu para kader sebagai alat kontrol para lansia dalam upaya kesehatan termasuk hipertensi. dari jumlah rumah sehat dari 4 kelurahan mencapai 80. Oleh karena itu. b.Tidak Total Dermatitis Ya Tidak Total Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer 24 31 6 25 31 77.573 yang diperiksa.89%. Community Concern a. Manageability Hipertensi diberikan angka 3 karena Penyuluhan NAPZA sebagai faktor pemicu hipertensi tertinggi masih mencapai 12.

Hipertensi Keaktifan penderita untuk memeriksakan kesehatannya ke puskesmas rata-rata sebesar 129 orang dan rutin setiap bulan ke posbindu di 4 kelurahan sebanyak + 313 orang.Jumlah rumah sehat tertinggi sebesar 80. pola hidup penderita akan lebih baik dan sehat sehingga meminimalisisr timbulnya penyakit-penyakit lainnya. Penentuan angka 3 dikarenakan masih terdapat masyarakat yang belum memiliki kesadaran untuk memeriksakan tensinya sebelum gejala hipertensi menghampirirnya baik yang memiliki riwayat hipertensi ataupun tidak. Jumlah rumah tangga yang menggunakan akses air bersih sebesar 7. c. 6.89%. dan sistem sosial yang mendukung untuk dilakukannya intervensi di wilayah tersebut. Social benefit Hipertensi diberikan nilai tertinggi karena apabila penyakit ini ditanggulangi maka secara otomatis akan memotong mata rantai penyakit degeneratif lainnya karena hipertensi merupakan awal dari munculnya beberapa penyakit lainnya.5 Penentuan Lokasi Spot Area Penentuan spot area untuk intervensi penyakit hipertensi dilakukan dengan menyeleksi kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung berdasarkan prevalensi data primer dan data sekunder penyakit hipertensi di wilayah tersebut. Penjelasan terhadap masing-masing kriteria diatas adalah sebagai berikut: a. 4.657 rumah tangga dari 15.573 yang diperiksa. Serta membantu masyarakat untuk hidup lebih produktif. selain itu. Prevalensi data primer Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 74 | P a g e .

dapat disimpulkan bahwa Kelurahan Pondok Jagung merupakan kelurahan yang menempati urutan tertinggi dengan 129 orang. Namun. Prevalensi data sekunder Tabel 4. sedangkan kelurahan lainnya hanya memiliki satu posbindu. dapat disimpulkan bahwa kelurahan Lengkong karya merupakan kelurahan dengan persentase hipertensi tertinggi sebesar 64 % dan posisi kedua ditempati oleh kelurahan Pondok Jagung Timur dengan 54 %.37 Penderita Hipertensi Berdasarkan Data Posbindu di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Pondok Jagung Hipertensi 129 orang Jumlah Penduduk 9270 penduduk 17923 penduduk 19275 penduduk 4049 penduduk PondokJagung Timur 97 orang 50 orang Jelupang Lengkong Karya 16 orang Sumber : laporan kader Posbindu tiap Keelurahan Dari hasil analisis.36 Persentase Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Pondok Jagung Hipertensi Tidak Total 33 29 62 53 % 47 % 100 % Pondok Jagung Timur 48 41 89 54 % 46 % 100 % Jelupang 52 96 148 35 % 65 % 100 % Lengkong Karya 20 11 31 64 % 37 % 100 % Sumber : hasil analisis statistik kuesioner Dari hasil analisis. data tersebut didapatkan dari dua posbindu. b.Tabel 4. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 75 | P a g e .

7 100 Jelupang ∑ 99 49 148 % 66.8 24.2 100 Pondok Jagung Timur ∑ 75 14 89 % 84.1 100 Lengkong Karya ∑ 22 9 31 % 71 29 100 Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner d.3 15.38 Presentase Perilaku Merokok di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Pondok Jagung ∑ Merokok Tidak Total 47 15 62 % 75. M (1997) menyatakan bahwa rokok yang dihisap akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah. yaitu 84. didapatkan bahwa Kelurahan Pondok Jagung Timur merupakan Kelurahan dengan presentase tertinggi mengenai perilaku merokok di masyarakat. seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok. dimana zat kimia beracun. masuk kedalam aliran darah dan merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri. mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi.3 %.c. Faktor Risiko 1) Perilaku Merokok Rokok merupakan salah satu factor risiko yang dapat memicu terjadinya hipertensi. Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang telah dilakukan.38 dibawah ini : Tabel 4. Aksestabilitas Aksestabilitas terhadap pelayanan kesehatan menjadi pertimbangan kami dalam menentukan spot area intervensi di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Hal tersebut dikarenakan masyarakat yang memiliki Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 76 | P a g e .9 33. Penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4. Sitepoe.

Setelah didapatkan bahwa penyakit Hipertensi menjadi prioritas utama di kelurahan Pondok Jagung Timur. yaitu 4 RW (RW 1.aksestabilitas yang jauh akan pelayanan kesehatan mempunyai hambatan/kendala dalam upaya peningkatan kesehatan. Kelurahan Pondok Jagung Timur terdiri dari 15 RW. Sehingga diperlukan upaya intervensi guna meningkatkan kesehatan masyarakat dan memperbaiki perilaku dan pola hidup masyarakat di Kelurahan Pondok Jagung Timur agar terhindar dari penyakit khususnya Hipertensi. didapatkan bahwa Kelurahan Pondok Jagung Timur merupakan kelurahan yang memiliki aksestabilitas yang jauh ke Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan di wilayah tersebut masih dapat dikategorikan minim jika dibandingkan dengan kelurahan lainnya. seperti kemudahan dalam pengumpulan masyarakat. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan.Berdasarkan atas pertimbangan tersebut. e. didapatkan bahwa Kelurahan Pondok Jagung Timur merupakan wilayah yang dapat diakses untuk dilaksanakannya program intervensi. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 77 | P a g e . Sistem Sosial Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan. RW 2. RW 5) adalah lingkungan perkampungan dan 11 RW sisanya adalah lingkungan perumahan. tahap selanjutnya adalah mengidentfifikasi dan melakukan kategorisasi kedalam ruang lingkup yang lebih kecil yaitu RW. keterbukaan dan respon positif masyarakat dalam menerima peneliti dan dukungan dari Kader. fasilitas kesehatan dan sumber daya yang menunjang di Kelurahan Pondok Jagung Timur. Hal itu dapat dilihat dari sistem sosial di wilayah Kelurahan Pondok Jagung Timur. maka ditetapkan bahwa spot area untuk intervensi akan dilaksanakan di Kelurahan Pondok Jagung Timur. RW 4.

6 Gambaran Umum Kelurahan Pondok Jagung Timur Pondok Jagung Timur adalah sebuah desa persiapan yang berada dalam pemerintahan Kecamatan Serpong Utara Kota Tangerang Selatan. Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan jenis kelamin. lingkungan perumahan. yaitu lingkungan perkampungan dan 4. Desa Pondok Jagung Timur ini menjadi desa definitif berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. Untuk lebih rinci dapat dilihat pada grafik 4. Batas Wilayah Pondok Jagung Timur: Sebelah Barat Sebelah Timur Sebelah Utara Sebelah Selatan 4.Sehingga program intervensi akan dilakukan berdasarkan pengkategorisasian tersebut.9 Tahun 2000 pada tanggal 26 Februari 2000 yang pada saat itu diresmikan oleh Bupati Tangerang. Jumlah Penduduk 1. sebagian besar penduduk Kelurahan Pondok Jagung Timur merupakan laki-laki dengan presentase sebesar 55 %.1 : Pakujaya/Pakualam : Pondok Kacang Barat : Pondok Jagung/Jelupang : Pakulonan Data Demografi a.6 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Di Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 78 | P a g e .6 dibawah ini : Grafik 4. hasil dari Pamekaran Desa Pondok Jagung Kecamatan Serpong.6.

430 jiwa.410 jumlah penduduk yang ada. distribusi penduduk tertinggi terletak pada kelompok umur 17-56 tahun 10.980 jiwa atau 55% dari jumlah penduduk dan perempuan 7.Jumlah Penduduk Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Laki-Laki Perempuan 45% 55% Sumber : data kelurahan Pondok Jagung Timur Distribusi penduduk di kelurahan Pondok Jagung Timur adalah laki-laki 8. 2.7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 79 | P a g e .430 jiwa atau 45% dari 16. Berikut ini adalah grafik mengenai jumlah penduduk berdasakan kelompok umur Grafik 4.043 jiwa dan terendah pada kelompok umur 57-97 tahun sebesar 1. Berdasarkan Kelompok Umur Berdasarkan kelompok umur.

Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada grafik 4.760 atau 28% dari 16. Tingkat Pendidikan Dari distribusi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan diperoleh jumlah terbanyak adalah tingkat pendidikan lulusan SMA/sederajat dengan jumlah 4.8 dibawah ini : Grafik 4.Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur 12 bulan-11 tahun 12-16 tahun 8% 17-56 tahun 11% 22% 59% 57-97 tahun Sumber : data kelurahan b.410 jumlah penduduk. Sosial Ekonomi 1.8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 80 | P a g e .

karyawan BUMN menjadi jenis pekerjaan yang paling banyak di wilayah kerja Pondok Jagung Timur dengan jumlah 3. Penjelasan lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4.Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan 5% 0% 5% 10% 5% 3% Tidak/blm Sekolah Blm Tamat SD Tamat SD/sdj 21% 23% SMP/sdj SMA/Sdj Diploma 28% S1 S2 Sumber : data kelurahan 2. Jenis Pekerjaan Berdasarkan jenis pekerjaan.9 dibawah ini : Grafik 4.410 jumlah penduduk.204 jiwa atau 33% dari 16.9 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan Di Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 81 | P a g e .

Sarana Kesehatan Adapun sarana kesehatan yang terdapat di Kelurahan Pondok Jagung Timur adalah sebagai berikut : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 82 | P a g e .2 Sarana Umum 1.6.Berdasarkan Jenis Pekerjaan Blm/Tdk Bekerja PNS Petani Guru Bidan 0% 0% 0% 12% 0% 0% 11% IRT TNI Peternak Dosen Pelajar/Mhsswa POLRI Karyawan BUMN Dokter Pensiun Pedagang Buruh Perawat 23% 33% 16% 4% 0% 0% 0% 0% 0% 1% Sumber : data kelurahan 4.

Jumlah Tenaga Kesehatan berdasarkan Jenis Ketenagaan dan Status Kepegawaian di Kelurahan Pondok Jagung Timur dapat dilihat pada tabel 4. 3. 6.40 Tenaga Kesehatan Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 No Tenaga Medis Jumlah Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 83 | P a g e . Sarana Rumah Sakit Puskesmas Puskesmas Pembantu Klinik Umum/Gigi/Bersalin Rumah Bersalin Dokter Praktek Bidan Praktek Posyandu Posbindu Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 Sumber : data kelurahan 2. 4. 8.39 dibawah ini : Tabel 4.39 Sarana dan Prasarana Kesehatan Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 No 1. 5. 7. Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan merupakan bagian terpenting didalam peningkatan pelayanan kesehatan. 2.Tabel 4. 9.

Dokter Umum Dokter Anak Dokter Kandungan Dokter Gigi Dokter Spesialis Bidan Perawat Dukun Bayi/Beranak 5 1 1 2 1 3 Sumber : data kelurahan 4. penyakit hipertensi banyak menyerang pada usia pra lansia (4560 tahun) dan lansia (60 tahun ke atas).7 Penentuan Sasaran Intervensi Pada umumnya. Sustainability Pertimbangan penentuan sasaran intervensi dilihat juga dari tingkat keberlangsungan suatu penyakit tersebut dapat menyerang kelompok umur. 2. 8.1. 3. sasaran intervensi yang kami lakukan adalah kelompok umur pra lansia (4560 tahun) dan lansia (60 tahun ke atas). Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 84 | P a g e . 6. Oleh karena itu. penyakit hipertensi menyerang pada kelompok umur pra lansia. 4. Namun. 5. Hal tersebut didasarkan atas : a. b. 7. lansia dan ibu hamil. diperlukan penanganan dan upaya preventif untuk mengatasi masalah ini. Prevalensi Hipertensi Berdasarkan data sekunder dari posbindu di kelurahan pondok jagung timur. yaitu sebanyak 97 orang dari 127 penduduk pra lansia dan lansia mengalami hipertensi.

Hipertensi pada pra lansia dan lansia umumnya bersifat jangka panjang dan dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif lain yang membahayakan. dimana penyebab atau akar masalah dapat bermacam-macam.8 Penentuan Akar Masalah Masalah merupakan manifestasi dari penyebab. sehingga tekanan darah dapat diketahui dan dikontrol. Teknik yang digunakan dalam menentukan akar masalah dari penyakit Hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur adalah dengan menggunakan teknik fish bone (diagram tulang ikan). Manageability (Penanganan Hipertensi) Cakupan penanganan hipertensi pada ibu hamil telah dimanage oleh program Jampersal dan ibu hamil pada umumnya melakukan control kesehatan kehamilan kepada pelayanan kesehatan. Berikut ini adalah bagan akar masalah penyakit Hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur yang telah diintegrasikan antara teori dengan fakta. yaitu : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 85 | P a g e . 4. intervensi yang akan dilakukan difokuskan pada kelompok umur pra lansia dan lansia. Intervensi yang tepat yaitu pada penyebab atau akar masalah. Intervensi pada masalah saja hanya akan menyelesaikan masalah untuk sementara dan biasanya masalah akan muncul lagi. Masalah diletakkan pada kepala dan tulang belakang ikan. Tulang-tulang yang menuju tulang belakang merupakan penyebab masalah yang merupakan keterkaitan antara fakta di lapangan dengan teori. Sedangkan pada kelompok pra lansia dan lansia kurang mendapatkan mengenai penanganan hipertensi. Dalam menentukan penyebab suatu masalah dapat menggunakan beberapa teknik atau metode penentuan akar atau penyebab masalah. Sedangkan hipertensi pada ibu hamil lebih bersifat sementara. c. Oleh karena itu. Teknik ini menggunakan diagram tulang ikan untuk merepresentasikan penyebab masalah.

persepsi. 2008) - > 35 tahun berpotensi terkena hipertensi - Riwayat keluarga yang mengidap hipertensi . Hasil tersebut telah diintegrasikan antara teori terkait Hipertensi dan fakta temuan di lapangan. umur. dimana merupakan metode kualitatif yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara mendalam mengenai konsep. 2010) Berdasarkan bagan 4.1 Akar Masalah Penyakit Hipertensi UMUR (Kumar.Merokok. 2010) ADAT KEBIASAAN (Sutanto.1 dapat diuraikan bahwa faktor penyebab terjadinya hipertensi adalah karena faktor keturunan. et al 2005) KETURUNAN (Rohaendi. Temuan fakta diperoleh berdasarkan pengumpulan data primer. stress. dan ideLaporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 86 | P a g e .Bagan 4. Minum kopi. STRES (Sutanto.Tingkat ekonomi rendah . yaitu FGD dan Indepht Interview. Sehingga dengan adanya fakta dan teori yang berkesinambungan akan diperoleh suatu spesifikasi akar masalah yang tepat dari masalah hipertensi di wilayah Kelurahan Pondok Jagung Timur. FGD (Forum Group Discussion) merupakan suatu diskusi kelompok dengan diikuti oleh sekitar 6-12 orang yang dipandu oleh fasilitator dan selama diskusi setiap orang dapat berbicara secara bebas dan spontan mengenai topik tertentu.Kurang olah raga HIPERTENSI . dan adat kebiasaan.Pola makan salah/ asupan garam berlebih .

Hal ini dikarenakan arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah meningkat seiring bertambahnya umur. Berikut ini adalah salah satu kutipan FGD : “Sebagian besar penderita hipertensi di daerah kami diderita oleh kelompok umur pada golongan pra lansia sekitar 50 tahun. 15 Desember 2011 yang bertempat di Aula Kelurahan Pondok Jagung Timur dengan anggota FGD adalah petugas puskesmas para kader. semakin tua seseorang maka semakin besar risiko terserang penyakit hipertensi. Umur Umur merupakan faktor risiko dari hipertensi yang tidak dapat dikontrol atau dimodifikasi. menurut Gunawan (2001) yang dikutip oleh Aris Sugiharto. tokoh masyarakat. dan lansia sekitar umur 70 tahun”.ide dari kelompok diskusi. FGD kami lakukan pada hari Kamis. pembuluh darah dan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 87 | P a g e . Adapun penjelasan mengenai penyebab masalah yang didapatkan berdasarkan teori dan fakta dilapangan melalui hasil FGD dan Indeph interview adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan fakta di lapangan yang didapatkan dari hasil FGD dan indepth interview dapat disimpulkan bahwa semakin tua usia seseorang maka semakin rentan untuk terkena hipertensi. Hal ini diperkuat dengan teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya. Sedangkan Indepth interview adalah wawancara mendalam yang merupakan suatu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai. dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara. dan penderita Hipertensi. Tekanan darah yang sedikit meningkat karena bertambahnya usia ini disebabkan oleh perubahan fisiologis pada jantung. pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.

et al. keturunan atau riwayat keluarga dengan hipertensi terbukti sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi... Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku. saya pun mengidap hipertensi karena orangtua juga menderita penyakit tersebut. Menurut Kumar. Dinding arteri akan mengalami penebalan oleh karena adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot. Hal ini didukung dengan hasil indepth interview dengan salah seorang penderita hipertensi yang menyatakan bahwa katanya karena faktor keturunan. Dari hasil FGD diperoleh fakta di lapangan terkait faktor keturunan sebagai pemicu hipertensi. (2005) yang dikutip oleh Syukraini Irza menyatakan setelah usia 45 tahun terjadi peningkatan resistensi perifer dan aktivitas simpatik. et al. 2005). seperti menurut Rohaendi (2008) dalam Syukraini Irza. Fakta tersebut didukung dengan teori dari beberapa ahli. Tekanan darah sistolik (TDS) meningkat karena kelenturan pembuluh darah yang berkurang pada penambahan usia sampai dekade ketujuh sedangkan tekanan darah diastolik (TDD) meningkat sampai dekade kelima dan kemudian menetap atau cenderung menurun (Kumar.hormon tetapi bila perubahan tersebut disertai dengan faktor-faktor lain yang memicu terjadinya hipertensi. seperti yang telah diungkapkan oleh salah satu peserta FGD. Keturunan Riwayat keluarga atau keturunan juga merupakan faktor risiko dari hipertensi yang tidak dapat dikontrol atau dimodifikasi. yang menyatakan Hipertensi itu salah satu penyebabnya karena faktor keturunan. Penelitian Julia Hippisley-Cox dkk yang dikutip oleh Aris Sugiharto juga menyatakan bahwa riwayat keluarga dengan hipertensi beresiko 3. 2. karena orang tua saya kena. saya juga kena.38 kali Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 88 | P a g e .

Stres Stres adalah suatu kondisi yang kita rasakan saat tuntutan emosi. Chunfang Qiu. yang menyatakan bahwa pendapatan yang rendah menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan sehari-hari. sepanjang hidup kita mempunyai 25% kemungkinan terkena pula. Stress dapat meningkatkan tekanan darah untuk Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 89 | P a g e . Hal ini berdasarkan pernyataan dari beberapa peserta FGD.terhadap kejadian hipertensi. Jika seorang dari orang tua kita mempunyai hipertensi. hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan. 2010). dkk mengatakan keluarga yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2–5 kali lipat. Dari hasil FGD dan indepth interview diperoleh fakta dilapangan terkait stress yang dapat memicu timbulnya hipertensi. Faktor yang menurut masyarakat Kelurahan Pondok Jagung Timur yang menyebabkan stress adalah karena tingkat ekonomi yang rendah. Stress diyakini memiliki hubungan dengan hipertensi. hal inilah yang dianggap sebagai penyebab stress yang kemudian berlanjut pada kejadian hipertensi. Di samping itu juga dapat merangsang anak kelenjar ginjal melepaskan hormone adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat sehingga tekanan darah alan meningkat (Sutanto. Fakta di atas diperkuat dengan teori yang dikemukakan oleh Sutanto. Jika kedua orang tua kita mempunyai hipertensi. Hal ini diduga melalui aktivitas saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Menurut Sheps dalam Aris Sugiharto. kemungkinan terkena penyakit tersebut 60%. fisik atau lingkungan tak mudah diatasi atau melebihi daya dan kemampuan kita untuk mengatasinya dengan efektif. 3.

Adat kebiasaan yang tergolong dalam penyebab timbulnya hipertensi adalah sebagai berikut : a. Dari hasil FGD diperoleh fakta dilapangan terkait pola makan yang salah/asupan garam berlebih yang dapat memicu terjadinya hipertensi. Pola Makan yang Salah Menurut Husaini (1989) yang dikutip oleh Ahmad Fitri Hariyanto yang dimaksud pola makan adalah ide tentang makanan. Bahkan menurut mereka apabila dalam lauknya belum terdapat ikan asin maka Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 90 | P a g e . Frekuensi makan ikan asin masyarakat Kelurahan Pondok Jagung Timur sering atau hampir setiap hari.sementara waktu dan bila stress sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali. Adat Kebiasaan Berdasarkan teori yang telah dikemukakan oleh Sutanto 2010 terkait faktor penyebab terjadinya hipertensi adalah karena adat kebiasaan. keturunan dan stress. Pola makan yang salah seperti makanan yang diawetkan dan garam dapur serta bumbu penyedap dalam jumlah tinggi misalnya monosodium glutamate (MSG) dapat meningkatkan tekanan darah karena mengandung natrium dalam jumlah yang berlebih (Sutanto. selain adanya faktor umur. 4. Masyarakat Kelurahan Pondok Jagung Timur yang sebagian besar suku Betawi gemar mengonsumsi makanan yang mengandung kadar garam (ikan asin). sikap terhadap makanan dan praktek makan yang memberikan gambaran makanan mengenai macam dan jumlah makanan yang dikonsumsi tiap hari oleh seseorang dan merupakan ciri khas suatu kelompok masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan buruk seseorang merupakan ancaman bagi kesehatan orang tersebut. 2010). Hal itu diperjelas dengan hasil FGD yang menyatakan sebagaian besar masyarakat kami Betawi yang notabene mereka senang mengkonsumsi ikan asin.

dianggap “belum makan”. 2003). ada garem sama sambel juga udah jadi. dkk (1993) yang dikutip oleh Agus Sediadi kandungan garam yang terdapat dalam ikan asin sekitar 10-20%. Menurut Lany Gunawan dalam Aris Sugiharto. jika asupan garam 5–15 gram/hari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20 % Garam menyebabkan cairan dalam tubuh menumpuk. Fakta di atas diperkuat dengan adanya teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli. sedangkan asupan garam sekitar 7–8 gram tekanan darahnya rata-rata lebih tinggi. Konsumsi ikan asin yang merupakan makanan sehari-hari dan sangat digemari oleh masyarakat pondok jagung timur mengandung kadar garam yang tinggi. karena menarik cairan di luar sel agar tidak keluar. jujur aja ni saya makan gak ada apa-apa. Berikut salah satu kutipannya “saya paling hobi sama garem. Saya paling hobi sama garem.D. kalau tanpa ikan asin rasanya gimana gitu kaya ada yang kurang”. Fakta tersebut didukung berdasarkan hasil indepth interview yang dilakukan ke beberapa penderita hipertensi. Mereka menyatakan bahwa mereka suka mengonsumsi makanan yang mengandung kadar garam tinggi seperti ikan asin. Mengkonsumsi garam ≤ 3 gram ditemukan tekanan darah rata-rata rendah. sehingga meningkatkan volume dan tekanan darah. diantaranya penelitian Radecki Thomas E. Menurut Tri Margono. makanya kalo makan apa-apa harus asin kalo gak asin saya gak suka dan saya suka banget makan ikan asin. yang dikutip oleh Aris Sugiharto menunjukkan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan konsumsi asin akan berisiko terserang hipertensi sebesar 4. Hal inilah yang dapat memicu terjadinya penyakit Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 91 | P a g e . J.35 kali lipat dibandingkan yang tidak biasa mengkonsumsi asin. Konsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol natrium atau 2400 mg/hari (Nurkhalida.

teh dan cola akan meningkatkan risiko terjadinya hipertensi pada seseorang. Pemberian kafein 2-3 cangkir kopi Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 92 | P a g e . et. sehari saya 4x ngopi.33 kali dibanding yang biasa berolah raga. Adapun dari hasil indepth interview didapatkan bahwa rata-rata masyarakat memang kurang untuk berolah raga atau aktivitas fisik. Berikut kutipannya “saya memang pengopi berat.al. Gaya Hidup Kurang Sehat Gaya hidup yang kurang sehat seperti kurang aktivitas fisik atau berolah raga dapat memicu terjadinya hipertensi. Gaya hidup lainnya yang kurang sehat seperti konsumsi kafein yang terdapat dalam minuman kopi. b. Dari hasil wawancara mendalam dengan penderita didapatkan bahwa penderita memang suka minum kopi. Fakta di atas diperkuat dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Hernelahti M.hipertensi ditambah konsumsi ikan asin pada masyarakat Pondok Jagung Timur yang hampir setiap hari mengonsumsi ikan asin yang mengandung kadar garam yang tinggi dan ditambah lauk pauk lain yang mengandung garam juga. Fakta dilapangan yang diperoleh dari hasil diskusi dengan peserta dalam forum FGD didapatkan bahwa salah satu yang memicu terjadinya hipertensi adalah karena kurangnya olahraga atau aktivitas fisik. yang dikutip oleh Aris Sugiharto menyatakan bahwa tidak biasa melakukan olah raga akan meningkatkan risiko hipertensi 2. Fakta di atas didukung dengan teori dari Sianturi (2004) yang dikutip oleh Made Wirnata bahwa kopi mengandung kafein yang meningkatkan debar jantung dan naiknya tekanan darah. kalo gak minum kopi malah pusing saya. Hal ini dikarenakan masih minimnya kesedaran masyarakat untuk melakukan olahraga secara rutin dan khusus karena anggapan mereka dengan berjalan kaki ke tempat kerja sudah termasuk olahraga harian.

Konsumsi kopi menyebabkan curah jantung meningkat dan terjadi peningkatan sistole yang lebih besar dari tekanan diastole. Dengan menghisap sebatang rokok maka akan mempunyai pengaruh besar terhadap kenaikan tekanan darah atau hipertensi. Zat-zat kimia beracun. mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi. diduga kafein mempunyai efek langsung pada medula adrenal untuk mengeluarkan epinefrin. Hal ini terlihat pada orang yang bukan peminum kopi atau peminum kopi yang menghentikannya paling sedikit 12 jam sebelumnya. masuk kedalam aliran darah dan merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri. M (1997) yang menyatakan rokok yang dihisap dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah ini bertahan sampai 2 jam. Dari hasil indepth interview dengan beberapa penderita khususnya para bapak-bapak didapatkan bahwa mereka sering sekali merokok setiap harinya. Hal ini diperkuat dengan teori yang diungkapkan oleh Sitepoe. Akibat gas CO terjadi kekurangan oksigen yang menyebabkan pasokan jaringan berkurang. Hal ini dapat disebabkan karena merokok secara aktif maupun pasif pada dasarnya mengisap CO (karbon monoksida) yang bersifat merugikan.akan meningkatkan tekanan darah 5-15 mmHg dalam waktu 15 menit. saya memang perokok aktif sehari bisa 2 bungkus”. Dari fakta di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dengan seringnya merokok dapat meningkatkan terjadinya penyakit hipertensi. Hal ini dapat diketahui dari kutipannya sebagai berikut ”ya. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 93 | P a g e . seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok. Gaya hidup kurang sehat lainnya yang dapat memicu terjadinya hipertensi adalah karena kebiasaan merokok. Merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 10–25 mmHg dan menambah detak jantung 5–20 kali per menit.

Adapun adat kebiasaan masyarakat berdasarkan hasil FGD dan Indepth interview didapatkan bahwa mayoritas masyarakat Pondok Jagung Timur gemar mengkonsumsi makanan dengan kadar garam tinggi dan ikan asin serta kebiasaan merokok dan minum kopi ditambah dengan kurangnya aktivitas fisik atau olahraga. Dengan menetapkan adat kebiasaan sebagai akar masalah Hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur.Sel tubuh yang menderita kekurangan oksigen akan berusaha meningkatkan yaitu melalui kompensasi pembuluh darah dengan jalan menciut atau spasme dan mengakibatkan meningkatnya tekanan darah. 2. Sosialisasi Kegiatan Sosialisasi kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan kepada masyarakat mengenai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan.1 Deskripsi Kegiatan 1. Penyuluhan Kesehatan Tentang Hipertensi a.9 Rancangan Program Intervensi 4. diharapkan rantai akar pokok masalah akan bisa mengeliminasi atau memperkecil frekuensi terjadinya hipertensi untuk selanjutnya terutama di Wilayah Kelurahan Pondok Jagung Timur karena mengingat faktor umur dan keturunan merupakan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Deskripsi Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 94 | P a g e yang akan kami . 4. sehingga masyarakat dapat mengetahui dan turut berpartisipasi dalam kegiatan intervensi laksanakan.9. Berdasarkan pada fakta dan teori yang telah dikemukakan di atas dapat ditarik suatu spesifikasi akar masalah Hipertensi berupa adat kebiasaan yang menjadi penyebab masalah utama yang dapat memicu faktor resiko terjadinya hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur.

di Posbindu ini lah bagi penderita hipertensi juga dilakukan pemeriksaan tekanan darah dan pencatatan yang kemudian dilaporkan ke Puskesmas Pondok Jagung. 2) Penyuluhan Pencegahan Hipertensi secara sederhana sekaligus Demo perancangan menu untuk penderita Hipertensi Penyuluhan ini dilakukan kepada seluruh warga sekitar mengenai bahaya. pola makan dan aktivitas fisik bagi Hiperensi pada Lansia dan Pra-lansia Penyuluhan ini dilakukan dari majelis ta’lim ke majelis ta’lim.Penyuluhan merupakan salah satu bentuk kegiatan yang memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit dan upaya peningkatan kesehatan. dampak dan upaya pencegahan hipertensi sekaligus pemaparan menumenu makanan yang dapat mencegah hipertensi. gejala. Adapun kegiatan penyuluhan ini dikategorikan menjadi 2. yaitu: 1) Penyuluhan penatalaksanaan. gejala. penyebab. Dimana majelis ta’lim ini sebagai penguatan kegiatan masyarakat dibidang spiritual juga sebagai pusat kegiatan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) setiap bulannya pada lansia dan pra-lansia. faktor risiko serta upaya pencegahan dan pengendalian untuk mengurangi penyakit hipertensi dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masayarakat dan produktivitas pondok jagung timur. factor risiko. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 95 | P a g e . Kegiatan penyuluhan hipertensi ini bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya.

Upaya yang akan dilakukan adalah menggerakkan senam jantung sehat kembali yang belakangan ini vacuum. peran Posbindu juga cukup membantu bagi masyarakat dalam memriksakan kesehatan dasarnya.3. Oleh karena itu kami berinisiatif untuk memberikan pelatihan pelayanan posbindu secara baik. dan membuat makanan sederhana menjadi lebih menarik untuk disantap.2 Tujuan Kegiatan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 96 | P a g e . pemberdayaan dan pemberian motivasi kerja pada kader agar jangkauan masyarakatnya semakin meluas. memasak. Demo masak dan Menu Sehat Dengan diadakan demo masak ini diharapkan masyarakat dapat menambah pengetahuan mengenai cara mengolah. Meskipun Posbindu ini bukan suatu program utama dari Puskesmas melainkan dari Kelurahan setempat.9. Pelatihan Kader Posbindu Pelatihan ini dilaksanakan pada 5 (lima) anggota kader Posbindu Kelurahan Pondok Jagung Timur. 5. dan mengemas makanan tanpa menghilangkan kandungan zat gizi dalam makanan tersebut. 4. 4. Menghidupkan kembali program Senam Jantung Sehat Senam jantung sehat adalah kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas fisik dimana kegiatan yang dilakukan ini bertujuan untuk mengurangi risiko dari berbagai penyakit khusunya hipertensi dan menjadi fasilitas bagi masyarakat untuk menerapkan perilaku dan budaya hidup sehat di lingkungannya. sekaligus menerapkan menu-menu masakan yang sehat ditinjau dari kuantitas dan kualitasnya.

c) Seluruh Masyarakat Kelurahan Pondok Jagung Timur. c) Bertambahnya pengetahuan masyarakat mengenai pola hidup sehat dan dapat menerapkan dalam kegiatan sehari-hari 4.9. Adapun kelompok sasaran organisasi meliputi : a) Kelompok kader dan anggota Kader Posbindu Labuh. b) Bapak/Ibu pengajian setempat di RW01-05 Pondok Jagung Timur.4 Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan dari kegiatan intervensi PBL 2 ini adalah : a) Menjadikan kegiatan intervensi tersebut sebagai meningkatkan kesadaran dalam berperilaku hidup sehat di masyarakat.3 Sasaran Kegiatan Sasaran yang menjadi fokus dari pelaksanaan kegiatan intervensi dari PBL 2 ini adalah masyarakat di tingkat RW Kelurahan Pondok Jagung Timur. 4. pengelolaan pada pelaksanaan penyuluhan dan senam jantung sehat.Tujuan dari pelaksanaan program intervensi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan agar menerapkan perilaku hidup sehat dalam rangka untuk mengurangi dan mencegah penyakit khususnya penyakit hipertensi.5 Ringkasan Kegiatan Intervensi 97 | P a g e Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung .9. 4.9. b) Terbangunnya pranata-pranata sosial pada masyarakat melalui pemberdayaan.

02. Penyuluha Majelis Ta’lim Penyuluhan penatalaksanaan. bahaya.11 dan 12 Kelurahan Pondok Jagung Timur Masyarak at termotivas i untuk lebih mawas diri terhadap Hipertensi . Penguru Masyarak at mengetah ui hal-hal dasar mengenai pencegaha n Hipertensi Kantor Kelurahan Pondok Jagung Timur Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 98 | P a g e . Kader kesehata n 4. gejala.. 04. Tokoh agama 3. pola makan dan aktivitas fisik bagi Hipertensi pada Lansia dan Pra-lansia TUJUAN SASARAN OUTPUT TEMPAT Diperoleh informasi yang komprehens if tentang rencana pelaksaan program  Masyarakat penderita hipertensi yang ada dilingkunga n majelis ta’lim lebih mengetahui pemeliharaa n diri pada penderita. 05. Majelis Ta’lim masingmasing RW 3. Ibu-ibu pengajian RW 01. KEGIATAN Sosialisasi Kegiatan Menyampaikan kepada masyarakat mengenai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan.NO 1. Tokoh masyara kat 2. Seluruh Masyarakat Kelurahan Pondok Jagung Timur Masyarak at dapat turut serta berpartisip asi dalam kegiatan Aula Kelurahan Pondok Jagung Timur 2. 1. Penyuluhan Kelurahan Penyuluhan Pencegahan Hipertensi secara sederhana sekaligus Demo perancangan menu untuk penderita Hipertensi.  Meningkatk an motivasi masyarakat dalam penalataksa naan Hipertensi pada penderita  Meningkatk an pengetahuan masyarakat sekitar mengenai penyebab.

s RT/RW 5. Senam Jantung Sehat Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 99 | P a g e .04 .Ponjati 4.Pondok Jagung Timur Kader dapat termotiv asi dalam pelaksa naan Posbind u di Rwnya dan dapat mening katkan kinerja Posbind u. Pelatihan Kader Posbindu Menyampaikan peran dan pentingnya Posbindu dalam penatalaksanaan Hipertensi sekaligus penambahan alat sbg skrining kasus.05 di Kelurah an Pondok Jagung dan pola dan menu makan sehat sebagai pencegaha n dan penatalaks anaan Hipertensi Kader Posbindu Kel.pencegahan penanggulan gannya dari Hipertensi. Posbindu Kel.  Menambah alat tensi meter sebagai alat skringing kasus.02. Dan seluruh masyara kat RW 01. Karang Taruna 6.  Meningkatk an pengetahuan masyarakat pada pola konsumsi makanan yang sehat sebagai pencegahan Hipertensi 3.  Meningkatk an motivasi kader dalam pelaksanaan programnya.

Pondok Jagung Timur Kelompok Kerja PBL Diketahui nya tingkat pencapaia n dan kesesuaiaa n antara tujusn dan pelaksana an program Kelurahan Pondok Jagung Timur. Evaluasi Program  Membandin gkan tujuan program dengan capaian pada pertengahan dan akhir program 1. Dan seluruh masyarak at RW 01. Karang Taruna 6. 05 di Keluraha n Masyarak at termotivas i untuk melakuka n aktivitas fisik sebagai pencegaha n penyakit.04. Lapang Sepak Bola RW. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 100 | P a g e . Kader PKK 4. 5.02. Tokoh masyarak at 2. 04 Kel. Pengurus RT/RW 5. Kader kesehatan 3. Membangun kembali kebiasaan senam mingguan yang sempat fakum sebelumnya  Meningkatk an kesadaran akan pentingnya aktivitas fisik sebagai pencegahan penyakit  Membangun perilaku hidup sehat.

11 Senam Jantung Sehat Pelatihan Kader Mon Tue Minggu Ke-1 Wen Th Fr Sat Sun Mon Minggu Ke-2 Tue Wen Th Fr Sat Sun 2 3 4 5 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 101 | P a g e .04.05.6 No 1 Rancangan Jadwal Program Intervensi PBL-2 Kegiatan Sosialisai dan Persiapan Kegiatan Penyuluhan Majelis Ta'lim RW01 Penyuluhan Majelis Ta'lim RW01.9.02.4.

Sulit memanage waktu dan biaya dengan kegiatan yang berbeda-beda Opportunities Adanya dukungan dari pihak kelurahan. Threat Karakteristik (budaya) masyarakat yang mempengaruhi antusiasme setiap kegiatan intervensi Adanya SDM yang mencukupi untuk mengorganisir kegiatan intervensi.7 Analisa SWOT Kegiatan Intervensi Strength Weakness Kurangnya fasilitas dalam mendukung pelaksanaan kegiatan intervensi.9. puskesmas. kader. dan penderita hipertensi untuk melakukan kegiatan intervensi Sudah terjalinnya hubungan dan kerja sama yang baik dengan pihak kelurahan. Sulit menyesuaikan waktu kegiatan dengan kondisi dilapangan. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 102 | P a g e . dan warga Kesesuaian program intervensi yang dipilih dengan program yang dimiliki puskesmas Adanya wadah seperti pengajian posbindu memudahkan dalam pengumpulan masyarakat untuk kegiatan program intervensi.4. Kesenjangan yang signifikan antara lingkungan perkampungan dan perumahan menjadi ancaman dalam intervensi. tokoh masyarakat. kader. Tersedianya waktu yang terjadwalkan dalam pelaksanaan kegiatan intervensi (PBL 2) Adanya motivasi dan kerjasama antar tim yang kuat untuk menjalankan intervensi.

Kecamatan Serpong Utara dan Kelurahan Pondok Jagung Timur didapatkan bahwa 5 (lima) masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah ISPA. Penyebab masalah utama dari masalah Hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur adalah adat kebiasaan masyarakat. status ekonomi dan pola hidup masyarakat. 3. 4.1 Simpulan Berdasarkan analisis situasi masalah yang dilakukan pada PBL 1 di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tanggal 05 November-19 Desember 2011 adalah sebagai berikut : 1. seperti dalam hal tingkat pendidikan. Berdasarkan hasil observasi. Hasil identifikasi masalah dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekunder dari Puskesmas Pondok Jagung. serta sistem sosial masyarakat didapatkan bahwa wilayah Pondok Jagung Timur merupakan spot area untuk dilaksanakannya intervensi dengan sasaran intervensi kelompok umur pra lansia dan lansia. didapatkan bahwa karakteristik masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung merupakan masyarakat yang heterogen. Dermatitis. 2. 5. Berdasarkan penentuan prioritas masalah dengan metode Delphi. Hal ini tampak terlihat dari adanya lingkungan perumahan dan perkampungan yang memiliki kesenjangan yang signifikan diantara keduanya. Penyakit Pulpa dan Hipertensi.BAB V PENUTUP 5. diperoleh hasil adalah Hipertensi sebagai prioritas masalah utama di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Hipertensi. Berdasarkan pertimbangan prevalensi data sekunder dan data primer. yaitu pola makan yang salah seperti banyak masyarakat Pondok Jagung Timur yang gemar Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 103 | P a g e .

mengkonsumsi makanan dengan kadar garam tinggi dan ikan asin. 2. Formulasi solusi masalah Hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur dalam bentuk kegiatan intervensi yang akan dilaksanakan pada PBL II. Menghidupkan kembali Senam Jantung Sehat di Kelurahan Pondok Jagung Timur. d. Perlu dilakukan penyuluhan terhadap masyarakat guna meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai permasalahan hipertensi. Diharapkan adanya koordinasi yang baik dari pemerintah sebagai stakeholders kepada bawahannya terutama dalam menangani masalah Hipertensi. Pelatihan. Penyuluhan penatalaksanaan. Penyuluhan Pencegahan Hipertensi secara sederhana sekaligus Demo perancangan menu untuk penderita Hipertensi c.dan gaya hiduo yang kurang sehat seperti kebiasaan merokok dan kurangnya aktifitas fisik dan olahraga. Saran untuk Puskesmas a. b. pola makan dan aktivitas fisik bagi Hipertensi pada Lansia dan Pra-lansia b. 5. Diharapkan memberikan perhatian terhadap keadaan dan masalah kesehatan di lingkungan masyarakat wilayah Tangerang Selatan. Meningkatkan pelatihan bagi kader-kader posbindu secara menyeluruh agar semua kader mempunyai keahlian dan kemampuan yang sama. 6. penguatan motivasi dan Pengadaan alat pada Kader Posbindu Kelurahan Pondok Jagung Timur. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 104 | P a g e . yaitu: a.2 Saran 1. Saran untuk Dinkes (Dinas Kesehatan) a. b.

Puskesmas sebaiknya lebih dekat dan lebih berinteraksi dengan masyarakat serta menjalin kerjasama dengan masyarakat untuk menanggulangi permasalahan hipertensi ini. Saran untuk Fakultas a. sehingga target dan tujuan PBL dapat tercapai.c. b. 4. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 105 | P a g e . Diharapkan Fakultas dengan Puskesmas membina hubungan lebih baik melalui kunjungan dosen pembimbing akademik ke Puskesmas dan melakukan diskusi dengan pembimbing lapangan. Masyarakat hendaknya senantiasa pola hidup yang sehat agar terhindar dari berbagai penyakit terutama Hipertensi. 5. b. Diharapkan kepada semua mahasiswa kesehatan masyarakat mampu mengapliksikan semua ilmu keprofesiannya agar mampu menanggulangi masalah kesehatan. Saran untuk Mahasiswa a. c. Kader dan pemegang kebijakan setempat lebih berkoordinasi aktif dalam menanggapi masalah kesehatan yang terjadi di lingkungannya. Masyarakat diharapkan berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan mereka. Diharapkan kepada semua mahasiswa agar dapat bekerja sama dengan baik antar kelompok dan antar anggota kelompok agar tujuan kegiatan PBL ini dapat tercapai dan diadakan evaluasi kembali pada saat melakukan kegiatan program intervens. 3. Saran untuk masyarakat a.

ristek. “Teknik Sampling”. Agus.go. Jakarta: Depkes R. Sudigdo.unimus. HM Martini Hadani.Rozaini SKM. Purwokerto: buku panduan PBL UNSOED Sastroasmoro. A. Sumatera Barat”.pdf Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 106 | P a g e . “Ikan Asin Cara Kombinasi Penggaraman dan Peragian (Ikan Peda)”http://www..Pengantar Administrasi Kesehatan. Syukraini. Jakarta: Binarupa Aksara Hariyanto.pdf Irza. SKM.warintek.usu.Setiyowati . Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. MKM. Warta Kesehatan Masyarakat. “Analisis Faktor Risiko Hipertensi Pada Masyarakat Nagari Bungo Tanjung. 1995. “Faktor– Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Halmahera Semarang” http://digilib. Hadari H. 1995.id/pangan_kesehatan/pangan/piwp/ik an_asin_kombinasi.id/bitstream/123456789/14464/1/09E02696.2009. 1996. diakses tanggal 04 Januari 2012 dari http://repository.pdf Nawawi.id/download/fkm/fkm-rozaini.ac.DAFTAR PUSTAKA Azwar. 2003 Profil Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Profil Kecamatan Serpong Utara Tahun 2010 Profil Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2010 Rahardjo.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-ahmadfitri-53012-bab1.Prof. Jakarta: Binarupa Aksara Sediadi. diakses pada tanggal 15 Desember 2011 dari http://library.ac. Sofyan Ismael. Instrumen Penelitian Bidang Sosial.pdf Laporan Tahunan Puskesmas Pondok jagung Tahun 2010 Nasution. Fitri.usu.A.ac.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press Nurkhalida.Teknik Sampling.

Cetakan I. Purwokerto: Buku Panduan PBL UNSOED Sutanto. 2010. Yagyakarta : ANDI Yogyakarta Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 107 | P a g e . Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Usaha Mencegah Bahaya Merokok. Suharyo. Teknik Pengumpulan Data.ac. “Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade II Pada Masyarakat (Studi Kasus di Kabupaten Karanganyar)”.pdf Suratman. diakses tanggal 04 Januari 2012 dari http://eprints.undip. Kolesterol. Hadisaputro.Sitepoe.id/16523/1/Aris_Sugiharto. M. Stroke. 1997. Jakarta Sugiharto. dkk. dan Diabetes). 2009. Aris. CEKAL (Cegah dan Tangkal) Penyakit Modern (Hipertensi. Jantung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful