Model Reformasi Birokrasi Indonesia

Syafuan Rozi Soebhan"

Abstrak
Pada masa Orde Baru sampai menjelang masa transisi tahun 1998,Kondisi birokrasi di Indonesia mengalami sakit bureaumania seperti kecenderungan inefisiensi; penyalahgunaan wewenang, kolusi, korupsi dan nepotisme. Birokrasi dijadikan alat status quo mengkooptasi masyarakat guna mempertahankan dan memperluas kekuasaan monolitik. Birokrasi Orde Baru rdijadikan secara struktural untuk mendukung pemenangan partai politik pemerintoh. Padahal birokrasi diperlukan sebagai aktor public services yang netral dan adil, tapt dalam beberapa kasus menjadi penghambat dan sumber masalah yang menghalangi berkembangnya keadilan dan demokrasi. Reformasi merupakan langkah-langkah perbaikan terhadap proses pembusukan politik, termasuk buruknya kinerja birokrasi. Tujuan tulisan tnt berupaya untuk mengelaborasi model reformasi birokrasi di Indonesia pasca Orde Baru.

Pendahuluan
Buruknya birokrasi tetap menjaeli salah satu problem terbesar yang dihadapi Asia, meskipun reformasi dalam skala lwnayan telah berlangsung eli beberapa negara yang terpukul oleh krisis finansial ill tahun .1997. Dari beberapa negara yang eliteliti Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hongkong terhadap para eksekutif bisnis asing (expatriats), birokrasi Indonesia termasuk terburuk dan belum mengalami perbaikan berarti dibandingkan keadaan eli tahun 1999, meskipun lebih baik dibanding keadaan Cina, Vietnam dan India Di tahun 2000, Indonesia memperoleh skor 8,0 atau tak bergerak dari skor 1999, dari kisaran skor yang dimungkinkan, yakni nol untuk terbaik dan 10 untuk . terburuk. Skor 8,0 atau jauh di bawah rata-rata ini diperoleh berdasarkan pengalaman dan persepsi expatriats yang menjaeli responden bahwa masih banyak pejabat tinggi pemerintah Indonesia yang memanfaatkan posisi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan orang terdekat,' Para eksekutifbisnis yang disurvei PERC juga berpendapat, sebagian besar negara eli kawasan Asiamasih perlu menekan hambatan birokrasi (red tape barriers) tersebut. Meskipun demikian, mereka juga mencatat beberapa kemajuan, terutama dengan tekanan terhadap birokrasi untuk melakukan reformasi. Hal ini, menurut temuan PERC teIjadi di beberapa negara Asia seperti Thailand dan Korea .Selatan. Peringkat Thailand dan Korea Selatan tahun 2000 membaik, meskipun di bawah
.) Kandidat Peneliti Puslitbang Kependudukan dan Kewilayahan UP! 1 Lihat Masalah Birokrasi di Indonesia, Jumal Transparansi, Website Masyarakat
Indonesia, Edisi 18 Maret 2000.

Transparansi

Widyariset, Vol. /,2000

211

rata-rata, yakni masing-rnasing 6,5 dan 7,5 dari tahun lalu yang 8,14 dan 8,7. Tahun laln, hasil penelitian PERC menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat korupsi tertinggi dan sarat kroniisrne dengan skor 9,91 untuk korupsi dan 9,09 untuk kroniisme dengan skala penilaian yang sama antara nol yang terbaik hingga sepuluh yang terburuk. Kemunculan reformasi birokrasi seiring dengan terjadinya gelombang transisi menuju demokrasi di tahun 1998. Hal ini dipicu oleh krisis ekonomi dan pembusukan politik yang rnengundang unjuk rasa mahasiswa, kalangan intelektual dan massa. Soeharto kemudian mengundurkan diri sebagai presiden RI tanggal 21 Mei 1998. Kondisi politik nasional mengalami dinamika perubahan yang begitu cepat. Berbagai visi dan agenda reformasi bergulir, muaranya antara lain ingin mengembalikan kedaulatan pada rakyat dengan mengontrol eksekutif, dengan menuntut dicabutnya dwi fungsi ABRI atau militerisme di Indonesia, ditegakkannya supremasi hukum, diadilinya Soeharto dan kroninya, dilakukannya amandemen UUD 45, diberikannya otonomi daerah seluas-luasnya, dibudayakannya demokrasi yang rasional dan egaliter serta dimintakannya pertanggung jawaban Orde Barn. Dalam konteks Orde Barn, kooptasi kelembagaan terhadap birokrasi terjadi sejak 1970, lewat kebijakan monoloyalitas pegawai negeri. Mulai saat itu Pegawai Negeri Sipil (PNS), menjadi mesin politik untuk mendukung status quo Presiden Soeharto. Organisasi birokrasi KORPRI dijadikan bagian dari Golkar, yaitu jalur B untuk memperkuat dukungan dengan memobilisasi PNS dalam setiap pemilu Orde Barn. Pada tahun 1998 terjadi gerakan yang ingin membenahi kepolitikan birokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, menarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai upaya dan alternatif model refonnasi birokrasi Indonesia tersebut. Sampai akhir kekuasaan presiden kedua, Indonesia belum memiliki kebijakan publik yang mengatur pembatasan hubungan partai politik terhadap birokrasi dan akibatnya peran birokrasi menjadi infinitas (meluas tidak terbatas). Lewat kooptasi Golkar, peran birokrasi sipil cenderung menjadi penggerak mobilisasi partisipasi semu masya rakat dalam pemilu. Belum ada peraturan perundangan yang membatasi birokrasi untuk tidak diperbolehkan terlibat dalam kegiatan memperoleh kekuasaan.' Berikut ini ilustrasi atau model yang menggambarkan perbandingan antara birokrasi yang menimbulkan pembusukan politik karena politisasi dan model netralitas politik birokrasi, yang diharapkan ideal dan sehat untuk Indonesia ke

2

Birokrasi yang ideal dan sehat adalah hirokrasi yang tidak berpolitik, tidak ikut dalam pemenangan partai dalam suatu Pemilu dan tidak diskriminatif dalam rangka memobilisasi dukungan puhlik

untuk kemenangan partai tertentu, Birokrasi yang ideal dan sehat adalah birokrasi yang menjaga jarak terhadap partai politik, bersikap profesional, sensitif terhadap keinginan publik yang membutnhkan eflsiensi, kualitas, Birokrasi yang ideal dan sehat mendukung terbangunnya
dernokrasi, keadilan dan pen egak kan H A\1.

212

Model Reformasi Birokrasi Indonesia

Syafuan Rozi Soebhan

unluk. Model pertama tampak terjadi pada masa Orde Bam. antara lain menggunakan dana. -+ -- . Pada pasal 3.depan. dengan memakai instrumen birokrasi daJam rangka mencari dukungan dan mempertahankan kekuasaan rezim. aranya dengan kooptasil mobiJisasi C _partisipasi organisasi kemasyarakatan (Dharma Wanita. Kalimat kunci dari kedua model ini adalah apakah ada jarak yang tegas atau tidak antara birokrasi dan partai politik.-omoitPNS .. dan model n tampak berusaha diwujudkan pada masa Orde Reformasi dewasa ini di Indonesia. . sebagai berikutr' Mod'el2 N. _I'oIIfIIIK<tpotI"l!. darnol<rall oallit.~_uan~OOj)Iasipciik. Civil Soci8ty ralcal Ciri·cirl: · ~a ~IIU KORPRl • B•• •. . Jika Golkar kalah di suam daen!h. PKK... melarang birokrasi melakukan tindakan diskriminatif tedtadap pengurus dan pendukung partai politik tertentu. yaitu bagaimana peraturan yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru maupun Orde Refonnasi. Bersl<op NQn OiII<dr!IInatIrlerfuld~p paI1aj polik manapun. t PanIlU wadJII!tJlmlal «gantsasi"~S T«fIaofa9 PWIi. menggambarkan KORPRl sebagai organisasi profeai pegawai negeri ·sipil menyatakan dirinya independen dari partai politik manapun. Model ini menggambadcan berlangsungnya korporatisme negara terbadap organisasi kepeot. fasilitas umum tidak eliprioritaskan elibangun di tempat tersebut Tujuannya untuk meo.dominasi dan menguasai parlemen seeara teNsmenerus..yang berp. 2000.. • BRkruI lIdol< bct_ PoIKIk. melarang penggunaan program.ingan dan organisasi masyarakat. PP (Peraturan Pemerintah) No... pejabat birokrasi dan star pegawainya eli departem.en teknis dan di pemerintahan daerah. beIjat3k dengan ParIaI 1'Ilm. PNS iw"us bersikap netral dan menghindari penggunaan fasilitas negara untuk golongan tertentu. 1. Orde Bam.. 511999 yang dibuat saat gerakan reformasi bergulir disebutkan. • Pooron I.. J Hal ini bertolak belakang sekali dengan kebijakan eliawal Orde Baru.' Widyariset. Jab" pareua. • MilS)'lIZIkat.Im".Monoloyalllu B. •MilI)'lI_lImIobilull & loIIIooplDI. Clt~ciri: • KORPRI dOIyllUlkanI""apenden darl Panai PoIMo." Wn membaflllun eM Socioly (alia dernokres~ HAMdan kaadilon OWI~. dana dan fasilitas negara untuk kepcntingan pcmenangan partai politik tertentu. Model 2. mendukung Golkar. dst. Hal ito dapat di1acak dari pendekatan stIUkturaI. ~-'.6 Tahun 1970 yang mengharuskan sikap monoloyalitas PNS terbadap Gob. LKMD. PemooWM. Struktur yang mengukuhkan politisasi birokrasi. program dan fasilitas negara untuk kepentingan Golkar. Nege"..SMdaIIKMontpI>Ir~/tKIopMdonIahlllIo"_. Paltiolpllll DlDnornM..1 din r--crina~I_.r1Ialp •• r._ .2000 213 . . Vol.tnl"tlU~ PoUtlk Blrokras! r------. Ilustrasi di atas diharapkan bisa menjadi model ketangka berfddrtentang ada atau tidaknya jarak antara birokrasi dengan pactai polit1k pemerintah pada maW negara. Kemudian dibuat kebijakan publik berupa peraturan dan sanksi yang melarang pejabat dan pegawai birokrasi. 3 Pada model I. berpolitik.). KNPI. digambarkan terjadinya proses politisasi birokrasi melalui kebijakan publik untuk melibatkan organisasi birokrasi (KORPRI). Karang T8runa. hahwa PNS (birokrasj) adalah bagian atau faksi dari Gob. Serbagai praktik tekanan politis dan tindakan diskriminatif terjaeli terbadap masyarakat pemilih daJam pemilihan umum Orde. PP No.n: BlIPI' 1"1dlawun 010IISyaI\Ian R~.

Litteraire." Hegel membicarakan birokrasi dalam konteks perlunya menciptakan suatu struktur yang dapat menjembatani antara negara. Bentuk gerakannya cukup beragam dari yang menyatakan keluar dari KORPRl. Friederich Hegel menilai bahwa birokrasi seharusnya melayani kepentingan umum. 214 Model Reformasi Birokrasi Indonesia ~qfUan RoziSoebhan ." Weber memandang birokrasi sebagai 4 Deugau adanya gerakan reforrnasi yang berhasil menggantikanSoeharto. dengan civil society yang terdiri dari berbagai kepentingan khusus dalam masyarakat. Seorang bureaumania Teoritisi birokrasi modern yang terkenal dan sering dijadikan acuan ilmuan sosial adalah Max Weber. edisi 1813. tapi terkadang menjadi penghambat dan sumber masalah berkembangnya demokrasi. Reformasi merupakan langkah-Iangkah perbaikan pembusukan politik di Indonesia 4 Tujuan tulisan ini berupaya untuk. filsuf dari Peraneis. 4. 31. Wirtschaft lind Gesellschaft. dan sejenisnya yang dipilih lewat proses pemilihan politik. tidak ada pelaksanaan otoritas yang benar-benar birokratis yakni semata-mata melalui pejabat yang dibayar dan diangkat secara kontraktual. yaitu suatu institusi yang melakukan pengaturan yang memiliki ketidakterbatasan wewenang dan ruang gerak di suatu negara". Philosophique et Critique. karena dalam kenyataannya kebijaksanaan-kebijaksanaan negara seringkali hanya menguntungkan sekelompok orang dalam masyarakat. M. Hegel. guburnur. "Bentuk Negara dan Pemerataan Hasil-hasil Pembangunan". edisi ke empat.al.W. him.552. M: Rusli Karim dan Totok Daryanto. (Jakarta:LP3ES. yang merefleksikan kepentingan urnurn. para menteri. timbul pula gerakan yang menginginkun posisi hirokrasi (KORPRI) menjadi netral atau independen. Yogyakarta: Tiara Wacana. Informasi ini diambil dari Martin Albrow. Konsep Weber ini membantu menjelaskan siapa yang dimaksud dan apa ciri-ciri suatu birokrasi modem. pernah meneliti keadaan yaitu adanya sebuah penyakit yang jelas-jelas merusak di Perancis. Kerangka Pemikiran Studi birokrasi terc\ahulu dilakukan oleh filsuf Jerman. hlm. Baron de Grimm.. Selain itu. terj. 5 Lihat G. tidak lagi menjadi bagian Golkar atau partai politik rnanapun. 1753-1769. 146. 5. Birokrasl. dnlam Arief Budiman. disebabkan adanya sosok birokrasi yang bersifat infmitas. sampai menginginkan pembubaran organisasi birokrasi tersebut. mengelaborasi model arah reformasi birokrasi di Indonesia pasca Orde Barn. Birokrasi.Tujuan Penulisan Birokrasi diperlukan. Berpolitiknya birokrasi merupakan bagian kooptasi kelembagaan oleh penguasa yang merupakan salah satu faktor penyebab yang menyurnbang terjadinya pembusukan politik dan ekonomi di Indonesia di kemudian had. menurut Weber. 1989. Max Weber. him. rnenyebut birokrasi bagi pejabat yang dipilih atau seseorang yang diseleksi oleh sekumpulan orang. 1. Rusli Karim et. Baron de Grimm. suatu istilah yang ditulis oIeh filsuf Perancis.7. Yogyakarta: Tiara Wacana. terj. 1982) hIm. Vol.' Weber berpendapat eiri pokok pejabat birokratis bahwa ia adalah orang yang diangkat.F. PRlSMA No. Correspondance. 8 Hal yang lazim disebut sebagai pejabat negara atau pejabat politik seperti presiden. him. 1989. Weber menolak untuk. 6 Bureaumania. dikutip dari Martin Albrow.

33·34. 1978) hlm.unsur pokok dalam rasionalisasi dunia modem. berdasarkan suatu 2. Hal ini merupakan un sur formal yang menjadi ciri khas dati Weber dengan ideal type of bureaucracy-uye. Pejabat dapat selalu menempati posnya dan dalam keadaan tertentu dapatjuga diberhentikan. 6. Bagi Weber. promosi dimungkinkan berdasarkan 7. Mereka dipiIih berdasarkan kualifikasi profesional. (ada pembagian kerja yangjelas). The Theory of Social and Economic Organization.'! Bila dikaitkan dengan konteks perubahan. 11 Karl D. 3·22.' 0 Beberapa model teoritis yang digunakan untuk: memahami ciri politik dan birokrasi di Indonesia masa Orde Bam adalah model bureaucratic polity yang dikemukakan oleh Karl D. 1947. Terdapat suatu struk:tur karirdan senioritas maupun keahlian (merit). Ada hierarki. Jackson. dalam pandangan Jakson pada situasi bureaucratic polity ini. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: " 1. Mereka merniliki gaji berjenjang menumt kedudukan dalam hierarki dan hak-hak pensiun. "Bureaucratic Polity: A Theortticai Framework for The Analysis of Power and Communications in Indonesia". Para pejabat diangkat berdasarkan suatu kontrak. sangat menentuk:an apakah perubahan sosial ekonomi yang ternsmenerus itu akan bisa menuju kepada sejumlah altematif sebagai berikut: (a) ke arah pengembangan sistem demokratik yang kompetitif berdasarkan partai politik 9 Ibid hlm. Pejabat mungkin tidak sesuai dengan posnya maupun dengan sumber yang tersedia di pos tersebut. dalam Political Power and Communications in Indonesia. pilihan kaum elit terutama presiden. Para anggota staf secara pribadi bebas. Pye (Berkley: University of California Press. (penjenjangan." diploma (ijazah) yang diperoleh melalui ujian. 9. 3. Jakson. 5. Pos jabatan adalah lapangan kerjanya sendiri atau lapangan keIja pokoknya. Organisasi ini mempakan alat untuk mencapai tujuan tertentu. Vol. 10 Max Weber. tingkatan) jabatan yang jelas. birokrasi atau aparat administrasi ini merupakan unsur terpenting bagi pertumbuhan dan perkembangan organisasi. 9 10. dan Lucian W. yang antara lain menjelaskan keterlibatan birokrasi dalam bidang politik. hanya menjelaskan tugas-tugas impersonal jabatan (berkemampuan mernisahkan urusan pnbadi dengan urusan dinas). Widyariset. 1. ed. The Free Press. 4. 2000 215 . Fungsi-fungsi jabatan ditentukan secara tegas (pembagian kerja yangjelas). suatu birokrasi yang legal rasional. Pejabat tunduk pada sistem disipliner dan kontrol yang seragam. Oleh karena itu perhatian Weber tertuju pada stmktur yang diatur secara normatif dan mekanisme untuk mempertahankan struktur itu. New York. 8.

massa di luar birokrasi secara politik adalah pasif. atau (c) terjadinya kelangsungan atau siklus berulang suatu kepolitikan-birokratik." Selanjutnya dijelaskan lebih lanjut oleh Manuel Kaisiepo bahwa korporatisme dapal dipahami sebagai monopolisasi perwakilan kepentingan oleh organisasiorganisasi fungsional. "The New Order: The Prospect {or Political Stability" dalam Indonesia: The Making of Nation. mengungkung individu dan kelompok di dalam kerangka struktur yang ditetapkan secara legal yang mendapat legitimasi keberadaan mereka dari dan diintegrasikan oleh suatu pusat birokrasi tunggal. "Indonesia New Order as a Bureaucratic Polity. kalau mobilisasi digunakan dalam pengertian David Apter. lembaga-Iembaga politik lainnya seperti parlernen.A. disisi lain. yang sebagian merupakan kclemahan partai-partai politik. Bahan ini diambil dari Manuel Kaisiepo dalam Jurnal Ilmu PolitikNo. 2. IS Manuel Kaisiepo.. maka sua III strategi organisasi korporatis akan dilihat sebagai strategi mengasingkan dan membungkam partisipasi. Mackie (Canberra: Research School of Pacific Studies.. 14 Dwight Y.27. lembaga politik yang dominan adalah birokrasi.: 16 David E. (b) bergerak ke arah terbenmknya suatu s partai tunggal ke arah suatu rezim mobilisasi dengan pendasaran ideologis. King. Jurnal Ilmu Politik No. a Neopatrimonial Regime or a Bureaucratic-authoritarian Regime: What Difference Does it Make]." Model korporatisme negara di satu sisi menguntungkan negara otoriter untuk mempolarisasikan konfrontasi kelompok yang cenderung membahayakan otonomi kekuasaan eksekutif negara. Anderson dan Kahin. Iegitimasi dan bekerjanya negara tergantung pada dukungan dan pengakuan atas unsur-unsur pokok berupa unit-unit persekutuan yang otonom. Pertama.' i 12 Ibid . Gramedill-AIPI. 17 thid. ed. The Australian Nattonal Universtty. Pada masa Orde Barn. (j59.111<1SSa erta partisipasi warga negara. Sistem korporatis negara membuat segmentasi masyarakat secara vertikal. 13 Harold Crouch. The Politics of Modernization (Chicago: The University of Chicago Press. hlm. Jakarta: AIPI-Gramedia. unit-unit pokok dibentuk dan dijaga sebagai organ-organ pembantu dan tergantung sepenuhnya pada negara dari pada dengan korporatisme masyarakat. him. tidak bersaingan dan diawasi oleh agen-agen birokrasi negara. J. korporatisme dikecam karena kecendenmgannya untuk mcmobilisasi masyarakat tanpa diikuti partisipasi yang otonomous.hlm. Ibid. Kedua. 1965). didukung secara resmi. apter. 4. dalam Interpreting Indonesian Politics. ed. 31. 216 Model Reformasi Birolcrasi Indonesia $Yq1Uan RoziSoebhan .C. Harold Crouch melihat bahwa kepolitikan birokratik di Indonesia mengandung tiga ciri utama. 1980). hlm. Akan tetapi.'6 suatu strategi mobilisasi dalam korporatisme negara dapat dipaoclang sebagai menggalang atau diarahkan pada mobilisasi. partai politik dan kelompok-kelompok kepentingan berada dalam keadaan lemah sehingga tidak mampu mengimbangi atau mengontrol kekuasaan birokrasi. spontan atau kalkulatif Kalau mobilisasi digunakan dalam pengertian Karl Deutsch. tanpa partisipasi. dikutip dari Manuel Kaisiepo. 31. 12 Sebagai competiting theory atau teori pembanding. Dalam hal ini. King mengemukakan konsep korporatisme negara. Sebaliknya. Ketiga.'" Dwight Y.

lihat Eep.al." Manuel Kaiseipo menjelaskan beberapa sebab mengapa peranan birokrasi semakin penting dan meluas selama Orde Bam. New Jersey: Princeton University Press. 2000 217 . dan tentang organisasi buruh Princen. Hal itu terjadi karena alasan berikut bersamaan dengan proses depolitisasi massa di lapisan bawah melalui konsep massa mengambang (floating mass) dan pengebirian partai-partai politik lewat proses fusi. 1. Peranan politik birokrasi ini semakin jelas bila dikaitkan dengan fenomena Golkar sebagai kekuatan politik utama. 32-33. 18 William 9 1 Lihat Myron Weiner. Orde Barn ditandai oleh adanya gejala ke arah krisis partisipasi (kooptasi dan mobilisasi poIitik) yang antara lain diterapkan lewat tangan-tangan birokratisasi yaitu. terj. 21 Untuk menjelaskan sebab kemuculan gerakan netralitas politik birokrasi yang dilakukan oleh Departemen Penerangan. Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) dipersoaikan. 187. Partisipasi Politik di Negara Berkembang. Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). et.C Princen dipersoalkan keberadaannya 1994. Penelitian Liddle itu menunjukkan bahwa apa yang disebut Huntington dan Nelson sebagai partisipasi politik yang otonom. sehingga berlangsunglah krisis partisipasi politik di dalam negara. unjuk rasa mendapatkan tekanan represif dari pemerintah lewat instrumen birokrasi yang berpihak terhadap kekuatan politik partai yang sedang berkuasa. sebaIiknya upaya mobilisasi cenderung Iebih kuat pada era Orde Bam. baik birokrasi pusat maupun Iokal. "Political Participation: Crisis of The Political Process.berarti.. 18 Kooptasi masyarakat lewat instrumen birokrasi bukanlah suatu gejala yang sehat. kurang terlihat secara ." daIam Leonard Binder. 21 Lihat Manuel Kaisiepo. terj. Pemilih cenderung lebih banyak dikendalikan oleh 'komando' pamong atau pejabat birokrasi dim militer. 1971 hIm. Krisis partisipasi politik menurut Myron Weiner adalah sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh dianggap tidak sah dan tidak legalnya tuntutan dan tingkah laku tertentu masyarakat yang ingin berperan serta dalam politik dan pemerintahan. Jurnal Jlmu Politik No. Federasi Buruh Indonesia (FBI). maka birokrasi dimunculkan baik sebagai agen pembangunan maupun sebagai alat untuk mengontrol perilaku politik rakyat. lewat lembaga perizinan departemen tertentu yang dinyatakanterkait (Surat Izin PenerbitartBurat Izin Us aha. Serikat Buruh Independen yang didirikan H. Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) diakui. Liddle" Pemilu-Pemilu Orde Baru. 1992). Nug Kagasungkana (Jakarta: Grafiti Press. bisa mengacu pada pendapat Antlov and Cederroth.4. 20 Kepolitikan R.William Liddle di daIam penelitiannya tentang Pemilu-Pemilu Orde Bam menunjukkan sejumlah partisipan pemilu memberikan suara dan pilihan partai politiknya relatif lebih banyak disebabkan atau dipengaruhi oleh mobilisasi birokrasi negara. petisi. Nelson. yang eksistensi dan peranannya tidak bisa dipahami secara lain kecuali sebagai "perpanjangan tangan" dari birokrasi itu sendiri. hIm. Lihat Samuel P. Huntington dan Joan M. Hal itu melemahkan kontrol terhadap pemerintah. lewat negara hanya mengakui ada satu wadah tunggal organisasi payung (Surat Izin Pendirian Organisasi hanya diberikan untuk satu organisasi. Crisis and Sequences in Political Development. Vol.J. 9-14. him. 46. him. Sabat Simamora (Jakarta: Rineke Cipta. Surat Izin Keramaian dan Berkumpul). Jakarta: AIPI-Gramedia Widyariset. contob Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) diakui.l'' Sehingga berbagai bentuk oposisi yang bertindak sebagai kekuatan pengimbang dan kontrol sosial masyarakat seperti penyampaian kritik. 1990).

22 Pembusukan Politik di Indonesia Pada akhir pemerintahan presiden Soeharto terjadi pemusatan kekuasaan yang disebabkan oleh belum adanya pembatasan yang tegas tentang masa jabatan presiden. teruji dan dikajinya aspek ideologi dan konstitusi. dibuatnya aturan-aturan yang adil mengenai mekanisme pelaksanaan Iewat proses politik yang trnnsparan. Kelima. "PNS Berpolitik untuk Kepentingan dalam Harlan Umum Suara Merdeka. Kritik sosial dan sikap oposisi tidak mendapat tempat dalam keadaan tersebut. Beberapa persyaratan yang diperlukan antara lain: Pertama. menyumbang terjadinya pembusukan politik di Indonesia Agenda Reformasi Reformasi politik mengacu pada proses perubahan politik bertahap menuju pembentukan format politik barn yang demokratis. Akibat berkuasa cukup lama. Jum'at. Selain itu terjadi juga penyeragaman pemerintahan lokal eli berbagai daerah menjadi bentuk kelurahan yang mematikan keberadaan tokoh dan adat Iokal. proses dan produk 22 Antlov and Cederroth. sistem pemilu. antikekerasan. Selain itu berlangsung juga program Kekaryaan ABRI. efektif dan produktif (good governance).1994. kepentingan bisnis keluarga dan kroni. terjaeli juga sakralisasi kekuasaan eli tangan presiden. menghargai perbedaan. dirjen. Nepotisme dan Kroniisme terjadi juga dalam pengangkatan anggota DPRIMPR Penyalahgunaan hukurn untuk kekuasaan dan bisnis terjaeli Iewat Keppres untuk. memperhatikan aspek struktur. KORPRI dan Kekaryaan ABRI menjaeli mesin politik Golkar sehingga bertindak kooptasi dan diskriminatif terhadap masyarakat. Kedua. Ketiga. fungsi. lihat Teguh Yuwono. Politisasi Birokrasi berlangsung dengan peraturan pemerintah yang mewajibkan monoloyalitas birokrasi terhadap Golkar. disiplin. ditunjuk dan diangkat menjaeli pejabat yang memimpin posisi kunci di jajaran pemerintahan sipil dari tingkat menteri. eksekutif yang bertanggung jawab terhadap publik. personil ABRI masuk atau 'dimasukkan'. sistem perwakilan politik. sistem penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis. toleransi. Golkar" 218 Model Reformasi Birokrasi Indonesia ~~an RoziSoebhan . khususnya dari pegawai birokrasi itu sendiri". yang menyatakan: "Praktik birokrasi di negara-negara berkembang menunjukkan pemihakan birokrasi pada suatu partai politik telah memunculkan ketidakpuasan. 22 Januari 1999. 1994. Keempat. irjen sampai kepala-kepala bagian eli berbagaidepartemen. Kontrol terhadap media massa oleh Departemen Penerangan terjadi lewat pencabutan Surat Izin Penerbitan Pers. perbaikan rancang bangun sistem kepartaian. Dalam kekaryaan ini. semangat kerja sarna. perbaikan aspek kultural kejujuran.

setiap PNS mempercleh kartu keanggotaan Golkar. c. agar tidak terjadi suasana kontraproduktif yang mendorong kembalinya kekuatan otoritarian untuk berkuasa Iagi. sebagaimana kalangan aktor politik." Model Reformasi Birokrasi Indonesia Pembahasan pertanyaan pokok apakah birokrasi perlu berpolitik atau tidak. pertama.sudnya pemerintah perlu rnenjadikan birokrasinya antar bagian bersaing dalam memberikan ketepatan. para ilmuwan politik dan cendikiawan pun ada yang berbeda pandangan. Beberapa sarannya a.sic) terhadap dimilikinya nilai-nilai dasar demokrasi yang kemudian dikembangkan daIam interaksi sosial yang akan menghasilkan terbangunnya interkasi sistemis.. adaIah membangun: Reinventing Government. Caranya lewat peraturan pemerintah dan KORPRI yang mewajibkan PNS memilih Golkar. 1998. Lab. Ilmu Politik FISIP UI & Mizan. I. yang ber1angSllllg di sebagian kalangan masyarakat. 17-26. dalam rangka reformasi politik perlu diciptakan beberapa kondisi. 2000 219 . Competitive Government: Injecting competition into service delivery mak. hal. ada yang menyatakan setuju (pro) dan ada yang menyatakan menolak (kontra) 23 Pada masa Orde Bam. mendorong muncu1nya komitmen individual (kelompok dan komunal. kedua. Walaupun. Untuk kasus Orde Barn.setiap komponen dalam sistem politik. SiC) bahwa refonnasi politik di Indonesia perlu dijaJankan secara terarah dan bertahap sesuai agenda yang ditetapkan secara bersama-sama dan partisipatif. Widyariset. Catalytic government: Steering rather than rowing yang maksudnya pemerintah disarankan melepaskan pekerjaan pelaksanaan yang sekiranya dapat dikerjakan masyarakat sendiri. sehingga pada tahun 2000-an nanti negeri dan penduduk Indonesia sudah siap memasuki zaman persaingan global. ketiga diperlukan semangat kohesivitas dan pengendalian did di tengah suasana euphoria. 1992. "Wacana Reformasi Politik: Rekonstruksi dati Disknsi Publik". yakni lima taboo ke depan setelah Pemilu 1999. yaitu terbentuknya sistem kehidupan politik yang benar-benar terkonsolidasi berlandaskan demokrasi. dan beberapa prinsip-prinsip yang lain. 2S Dielaborasi dati Seri Penerbitan Studi Politik. merupakan persoalan yang sering dibahas dalam studi ilmn politik. dari artikel Valina Singka.23 Berkaitan dengan reformasi birokrasi. mencoba melakukan pembenahan birokrasi dengan beberapa prinsip Osborn dan Gebler tentang reinventing government?4 Konsep refonnasi politik memiliki agenda jangka pendek sebelum dilaksanakannya Pemilu 1999 dan agenda jangka panjang. mutu dan kenyamanan pelayanan. 26 Dalam jangka pendek. Mengubur Sistem Pol/tik Orde Baru. pada hari pemilihan pemberian suara dilakukan pada hari kerja di TPS ( Tempat Pemungutan Suara) terdekat dengan kantor. Vol. anarldIis dan anomi. Abduralunan Wahid sebagai presiden barn." Dengan reformasi menuju kehidupan politik yang demokratis itu akan menjadi dasar yang kuat untuk pengembangan ekonomi yang sehat. penggalangan ibu-ibu Dharma Wanita mendukung Golkar lewat acara Santiaji. ix. setelah Soeharto menyatakan berhenti. him. pada praktiknya birokrasi terlibat dalam kepengurusan dan pemenangan parmi politik pemerintah. birokrasi diharuskan untuk hanya menyalutkan aspirasi politik mereka melalui Golkar dengan memberlakukan kebijakan monoloyalitas. Community-Owned Government: Empowering rather than serving. 24 Lihat David Osborne and Ted Gaebler. Pada tahun diharapkan 2004 reformasi politik di Indonesia dapat mencapai sasaran akhir. b. perlunya dibangun kesadaran (Iewat iklan layanan masyarakat. yang maksudnya Pemerintah adalah kepunyaan masyarakat: Berilah pemberdayaan kepada masyarakat ketimbang pemerintah yang melayani.

seorang pegawai tak akan perna h naik pangkat secara lancar jika disinyalir tidak memilih Golkar. khususnya saat kampanye. sebagai dampak dari keberpihakkan birokrasi dalam poIitik di Indonesia. keberpihakan birokrasi pada Golkar telah membawa ketakutan terhadap sebagian anggotanya.terhadap peran pegawai pemerintah dalarn kebidupan politik. karier organisatorisnya lebih didasarkan pada kepentingan politik (Golkar) ketimbang profesionalisme kerja. Akibatnya. sikap oposisi Ali Sa dikin agar KaRP Rl menyatakan keluar dari Golkar. diduga dan diyakini akan menyebabkan conflict of interest yang pada akhimya akan. ada kecenderungan beberapa aspek negatif yang bisa dikemukakan untuk dikaji ulang. 220 Model Reformasi Birokrasi Indonesia ~qtUan RoziSoebhan . Contolmya.27 Belajar dari pengalaman Orde Bam. khususnya dari kalangan birokrasi itu sendiri. Saat itu. Ketiga. haruskeluar dad jajaran birokrasi. untuk membangun paradigma bam birokrasi. Kedua. Jum'at. lihat Teguh Yuwono. pelepasan seragam KORPRl oIeh dokter-dokter RSCMlFKUI. jika ada pegawai birorkasi yang memilih atau menjadi pengurus partai nonGolkar. kalangan muda FKP di parlemen yang menginginkan agar PNS netral. 22 Januari 1999. 1994. Kenyataan sepert i itu hampir terjad i d i semua daerah. PNS Berpolitik untuk Kepentingan Golkar dalam Harian Umum Suara Merdeka. terjadi kcterpasungan pegawai birokrasi dalam kehidupan politik. khususnya akibat yang menimpanya jika memilih partai selain Golkar. Presiden dan Menteri Dalam Negeri yang menginginkan PNS nctral. pemihakan birokrasi pada suatn partai politik telah memunculkan ketidakpuasanketidakpuasan politik. menrsak salah satu wadah tersebut. Pcrtama. Praktik birokrasi di negara-negara berkembang menunjukkan. '!7 AnLlov and Cederroth. khususnya soal hak-hak rakyat. Mereka tak lagi berani rnengenakan seragam KORPRI dan PSH (Pakaian Seragam Harlan) saat kampanye berlangsung. keberpihakkan birokrasi pada Golkar lebih mengakibatkan ancamanancaman struktural ketimbang fungsional. Untuk kasus Indonesia masa transisi pemcrintahan Soeharto ke pemerintahan reformasi (1998-1999) telah memunculkan gerakan netralitas politik birokrasi yang juga dipelcpori oleh PNS seperti pembubaran KORPRl di unit Departemen Penerangan. Mereka yang setuju birokrasi boleh berpolitik antara lain mendasarkan diri pada asumsi dasar bahwa semua orang mempunyai hak memilih dan hak dipilih. desakan pembuatan PP (Peraturan Pemerintah) agar PNS bersikap netral dan tidak menggunakun fasilitas negara untuk golongan tertentu. KORPRI unit Departemen Kehutanan menyatakan tidak berafiliasi terhadap partai politik manapun. tidak rasional membatasi peran politik birokrasi. karena hanya akan menjadi sasaran ketidakpuasan simpatisan partai non-Golkar atas praktik keberpihakan birokrasi itu. Gejala tumpang tindihnya kedua peran tersebut (sebagai pelayan masyarakat dan aktor politik sekaligus) baik dalam tingkatan perorangan manpun institusi birokrasi. yang menciptakan pembusukan politik dalam jangka panjang. Pembatasan hak merupakan tindakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). merusak kinerja birokrasi ataupun bisa merusak kehidupan politik.

Lindblom mengingatkan. 28 Pada tahun 1992. Mewirausahakan Birokrast. antar bagian daIam memberikan pendampingan dan penyediaan regulasi dan barang-barang kebutuhan publik?9 28 Ibid . kerja tim dan kontrol rekan kerja (peer group).Keempat. Jakarta. baik dalam aspek administratif maupun pembangunan Sudah bisa ditebak saat itu. Tegnh Yuwono. Pemerintah perIu menjadikan birokrasinya saling bersaing. pembuatan akte dan Kartu Tanda Penduduk. Hal itu disarankan oleh David Osborne dan Ted Gaebler. Ix Buku ini dialibahasakan ke dalam bahasa Indonesia: David Osborne dan Ted Gaebler. Reinventing Government. Vol. 1992. 2000 221 . pembuatan jernbatan dan penyediaan fasilitas listrik.. bukan lagi dominasi atau kontrol atasan. jangan berharap daerah tersebut mampu dan diperioritaskan untuk dibangun sarana dan prasana fisiknya dengan lancar. daripada menjadikan masyarakat tergantung terhadap pemerintah. Pemerintah dan birokrasinya disarankan untuk melepaskan bidang-bidang atau pekerjaan yang seldranya sudah dapat dikerjakan oleh masyarakat sendiri. keberpihakkan birorkasi pada salah satu partai politik memperlemah profesionaIisme organisasi pemerintahan. Kondisi ini nyata dalam pengurusan persoalan perizinan. ada koreksi terhadap paradigma birokrasi modern Weber yang hirarkis. kecenderungan pelayanan birokrasi yang diskriminatif. tidak efisien dan amoral. berIaku hal yang sarna. lebih balk rnenyetir daripada mendayung. jika suatu daerah tidak bisa memenangkan Golkar. jangan terIalu berharap atau perIu menambahkan "nang pelicin". keasyikan birokrasi bermain dalam politik. Bahkan permohonan pembangunan fisik seperti pengaspalan jalan. him. Pemerintahan yang kompetitif adalah pemerintahan yang memasukan semangat kompetisi di dalam birokrasinya. disarankan untuk berubah menjadi birokrasi yang memperhatikan partisipasi. tidak akan tercapai jika Golkar kaIah di tempat itu. karenanya menjadi milik masyarakat Pemerintah akan bertindak lebih utama jika memberikan pemberdayaan kepada masyarakat untuk mengurus masalalmya secara mandiri. pada suatu titik tertentu akan menghasilkan birokrasi yang korup. Jika mereka Golkar. 1995. Juga disarankan paradigma birokrasi yang bam antara lain: (a) Catalytic government: steering rather than rowing. Pustaka Binaman Pressindo. Charles E. 29 Lihat David Osborne and Ted Gaebler. (c) Competitive government: injecting competition into service delivery. Kelima. Pemerintah dipilih oleh wakil masyarakat. maka akan dengan lancar mengurusnya. Pemerintah adalah rnilik masyarakat: lebih baik memberdayakan daripada melayani. Widyariset. 1. Dalam pengurusan surat-surat administratif. tetapi jika bukan. (b) Community-owned government: empowering rather than serving. Pemerintah sebagai katalis.

perlu memperhitungkan terjadinya perubahan lingkungan kerja dan kecenderungan dinarnika sosial ekonomi masyarakat universal. 1993. seperti yang dikemukakan berikut ineo Power of bosses (Atasan berkuasa) Power of customers/public/stakeholder (Konsumcn/publik berkuasa) Coordination from above (Koordinasi dari atas) Coordination rekan kerja) among peers (Kordinasi antar Sumber: Gifford and Pinchot. 1997. 31 Frediekson. The Spirit of Public Administration. San Fransisco: Jossey Bass. and The Rise of The Intelligent George. The End of Bureaucracy Organization. Elizabeth. Berikut ini perbandingan sistem birokratis pemerintahan enterpreuner sebagai berikut dan model perubahannya menjadi 30 Gifford and Pinchot. San Fransisco: Barret-Koehler Publishers. 1993. 222 .Dalanimenyusun arab reformasi birokrasi Indonesia.

swasta khawatir akan ditinggalkan oleh pelanggannya.Dalam praktiknya di negara dunia ketiga yang memiliki sifat patron-client yang kental. Contoh birokrasi yang terlalu hirarkis. PNS perlu dibiasakan mencari cara-cara bam yang praktis untuk pelayanan publik. Birokrasi yang membesar ini jika tidak dibatasi peran dan fungsinya maka dengan sendirinya akan "mengurusi" dan memaksa masuk semua bidang kemasyarakatan menjadi urusannya. melakukan kerja kelompok bukan kerja individu dan memperhatikan kemauan pasar atau rnengarahkan. Keadaan itu menunjukkan gejala over-bureaucratic. lama. PNS perlu memiliki semangat pioner. Sasarannya agar Indonesia mampu keluar dari terulangnya gejala pernbusukan politik dan melanjutkan penerapan agenda demokratisasi yang sedang dibangun. digerakkan oleh misi yang ditetapkan olehnegara bukan aturan yang dibuat sendiri. Sebelum adanya kebijakan zero growth. Membangun kultur birokrasi yang rasional egaliter dengan melatih PNS untuk menghargai penggunaan nalar sehat dan mengunakan hasil-hasil ilmu pengetahuan. . Kualitas pelayanan birokrasi dinilai buruk. perintah dan persetujuan dari atasan. Akibatnya kreatifitas. rnenghargai prinsip kesederajatan kemanusian setiap orang yang berurusan dengan rnereka untuk diperIakukan dengan sama pentingnya. Widyariset.ianggap berdampak telah mematikan inisiatif masyarakat dan kualitas pelayanan masyarakat menjadi tidak efisien. 1. memandang semna orang sederajat di muka hukum." Padahal urusan masyarakat dan pasar tersebut akan Iebih cepat. berbelit-belit. Berikut ini paradigma bani atau model yang ditawarkan untuk birokrasi Indonesia masa depan. melakukan pemberdayaan masyarakat. dipecat dan meninggal dunla. d. ciri h. selain untuk menggantikan posisi PNS yang pensiun. J ika t ida k begitu. bukan memelihara budaya minta petunjuk dari atasan. efisien dan bisa berjalan dengan sendirinya (anpa memerlukan campur tangan berlebihan dari birokrasi. Vol. penuh inisiatif. mencegah daripada mengobati.mengurus semua bidang. sebagai berikut: I. kompetitif dan cepat. enterpreneur. dikendalikan oleh warga negara pembayar pajak. terIihat ketika ada kebiasaan kerja bahwa setiap hal atau pekerjaan harus menunggu petunjuk. berkecendmngan jumlah personilnya dibuat membesar untuk menampung pencari kerja dan para kader politiknya. inisiatif dan sikap kemandirian birokrasi menjadi berkurang. bukan irasional-hirarkis. 32 Kebijakan Zero Growth membatasi pengangkatan PNS baru. Membangun birokrasi yang mempunyai kultur dan struktur rasional-egaliter. pemerintah dan birokrasi hanya bukan .irarkis birokrasi Weber. saling bersaing dalam memberikan yang terbaik. Hal itu berbeda sekali dengan swasta yang memberikan pelayanan interaktif.2000 223 . menghasilkan pendanaan bukan menunggu anggaran. yang scmestinya bisa dilakukan oleh masyarakat sendiri. cerdas membaca keadaan kebutuhan publik. memperhitungkan tabungan. antisipatif dan proaktif. jumlah personal tidak sebanding dengan beban kerja birokrasi yang sebenamya. Dalam model pemerintahan pnblik.

5.2. diskriminatif dan kurang mendidik. Birokrasi Indonesia ke depan perlu mendukung dan melakukan peran pemberdayaan dan memerdekakan masyarakat untuk berkarya dan berkreatifitas. berikut ini tabel arah perubahan paradigma lama ke paradigma baru untuk membangun birokrasi sipillndonesia yang lebih sehat: 224 Model Reformasi Birokrasi Indonesia ~ajUan RoziSoebhan . PNS perIu memberikan informasi dan transparansi sebagai hak masyarakat dan bisa dimintai pertanggungiawabannya (public accountibility) lewat dengar pendapat (hearing) dengan legislatif atau kelompok kepentingan yang datang. PNS perlu mengurangi kadar pengawasan dan represinya terhadap hak ekspresi masyarakat PNS meninggalkan cara-cara penguasaan masyarakat lewat kooptasi kelembagaan masyarakat dan menghindari sikap dominasi peran dan pengawasan secara berjenjang. bukan mengangkat staf atau pimpinan karena alasan kolusi dan nepotisme. salah urns. Kontrol sosial antaranggota masyarakat akan berjalan dengan sendirinya. bukan minta dilayani atau membebani masyarakat dengan pungutan liar. tidak diskriminatif. Birokrasi yang saling bersaing antar bagian dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas dalarn melavani publik secara kompetitif. 6. Dalam memberikan pelayanan ada transparansi biaya dan tidak terjadi pungutan liar. Birokrasi yang melakukan rekruitmen sumber claya manusianya melalui seleksi fit and proper test. dan ketidakpcdulian. tidak 3. memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan partai politik tertentu Berdasarkan paparau di atas. Birokrasi yang bertindak profesional terhadap publik. pola reward dan punishment kurang berjalan). Birokrasi yang memberikan reward merit system (memberikan pcnghargaan dan imbalan gaji sesuai pencapaian prestasi) bukan spoil system (hubungan kerja yang kolutif. 4. PNS berperan menjadi pelayan masyarakat (public servent). Birokrasi yang bersikap netralitas politik. Birokrasi yang propartisipan-outonomus bukan komando-hirarkis. Molakukan pemberdayaan publik dan mendukung terbangunnya proses demokratisasi.

BirokrasiIPNS ''tidak boleh" menyerahkan penyelenggaraan program pemerintah. transparansi biaya.Perbandingan Paradigma Lama dan Bam Birokrasi untnk Indonesia Tujuan ketja Pengnasaan. Contoh: Partai peserta pernilu akan terkena sanksi pidana. J. public accountibility Sikap terhadap publik Rent-seeking tinggi) (ekonomi biaya Pola Rekruitmen. obyektiiJ ikatan primordial -suku. pelayanan pubJik. 33 Diclaborasi dari Ramlan Surbakti . apalagi memakai dana APBNI APBD di luar dana peruntukkan untuk partai yang untuk berkampanye. 2000 225 . apalagi saat kampanye. Demokratisasi Profesional. diskriminasi berdasarkan Merit System (pengangkatan karena keah1ian. dilakukan beberapa pengembangan ide. sanksi perdata atan sanksi sosial bila terbukti mengaku program pembangunan adalah miliknya. pengawasan kolektit. Widyariset. ras. sebagai langkah membangun peradaban politik Indonesia. yang diharapkan mampn menciptakan birokrasi Indonesia yang lebih bersih dalam berkinerja Ada beberapa tabn yang hams dihindari oleh setiap pegawai birokrasi. Pemain yang sekaligus wasit akan mengalami konflik kepentingan yang rumit termasuk tindakan korupsi oleh partai daIam menyelenggarakan program. BirokrasiJPNS "tidak boleh" menggunakan program dan anggaran pembangunan dari APBNI APBD atan sumber milik negara yang lain untuk k. Kornite Pernilihan Umum (KPU) dan Panwaslu (panitia 2. pengawasan & Penghargaan Spoil System (Nepotisme. agama) Model Pelayanan Tidak Ada Kompetisi dalam Pelayanan Ada Kompetisi dalam Memberikan PeJayanan Penutup Ada sejumlah gagasan kode etik yang akan menuntun perilaku birokrat untuk menjalankan prinsip netralitas poIitik dan reformasi birokrasi. Vol. Pengendalian Publik Pemberdayaan Publik. pelaksanaan ataupun pemantauan kepada suatu partai politik atau politisinya.epentingan salah satu partai politik pada saat apapun. antara lain: 33 1.

The Australian National University. SuaraMerdeka. melakukan transparansi dalam berbagai urusan publik. BirokrasiJPNS diskriminasi Birokrasi pasca berhentinya Presiden Soeharto ada dalam persimpangan jalan antara adanya upaya pihak yang ingin tetap mempertahankan berlangsungnya politisasi birokrasi (bureaucratic polity). The Politics of Modernization. politik dan hukum. memiliki sikap kompetisi dalam memberikan pelayanan. 4. 3. punya integritas tinggi. 226 . David E. pengolahan dan pemberian infonnasi. fasilitas kantor dananggaran kantor untuk kepentingan suatu partai politik. Chicago: The University Chicago Press. 1989 Apter. tidak boleh diisi oleh wakil partai politik. 1965. Budiman. berupa dukungan atau kritik di luar bidangnya. Crouch.rasi hams netral terhadap partai politik peserta pemilu. "tidak boleh" memberikan keistimewaan atau melakukan terhadap suatu parpol dalam pemberian izin. seniman. Birokrasi. Pembangunan" . of Antlov and Cederroth. birokrasi perlu mendukung demokratisasi dan terbentuknya clean and good governance yaitu tumbulmya pemerintahan yang rasional. BirokrasiJPNS "tidak boleh" memasang satu atau lebih atribut parpol pada kantor. 22 Januari 1999. Martin.7. lA. budayawan. berhadapan dengan pihak yang menginginkan ditegakkannya ketidakberpihakan politik dan profesionalisme. penegakkan hukum. gedung dan kendaraan milik negara. Arief "Bentuk Negara dan Pemerataan Hasil-hasil . Jum'at. Jakarta:LP3ES. Mackie. pelayanan administratif. cendikiawan mahasiswa. memobilisasi atau mengintimidasi seseorang. Tiara Wacana. dalam Teguh Yuwono. perlindungan dan pengayoman keamanan dan ketertiban terhadap suatu partai politik tertentu saja. Arah bam atau reformasi birokrasi mulai diperbincangkan orang antara lain posisi birok. Harold. Prisma No.C. BirokrasiJPNS "tidak boleh" menggunakan waktu kerja (jam dinas). 6. 5.Pengawasan Pemilu). 1980. Canberra: Research School of Pacific Studies. ed. tapi diisi oleh kelompok independen seperti ilmuan sosial. Rusli Karim dan Totok Daryanto. mendorong tegaknya hukum dan bersedia memberikan pertanggungjawaban terhadap publik (public accountibility) secara teratur. 1982. BirokrasiJPNS "tidak boleh" memberikan pernyataan secara terbuka kepada umum tentang parpol. terj. rohaniwan dan wartawan yang'. (SR) Daftar Pustaka Albrow. M. "The New Order: The Prospect for Political Stability" dalam Indonesia: The Making of Nation. "PNS Berpolitik untuk Kepentingan Golkar". Yogyakarta.

Fredickson. Jakarta. Seri Penerbitan Studi Politik. Kaisiepo. Berkley: University of California Press. Mewirausahakan Birokrasi. New York: The Free Press. Philosophique 1769.al. Anderson danKahin. Correspondence. Vol." dalam Leonard Binder. Nelson. Reinventing Government. New Jersey: Princeton University Press. William R Pemilu-Pemilu Orde Baru. Pustaka Binaman Pressindo. King. Manue1. The Theory of Social and Economic Organization. Jakarta: Grafiti Press. Huntington. 1993. The Spirit of Public Administration. "Political Participation: Crisis of The Political Process.1990. Samuel P. Nug Katjasungkana. Weiner. 1992. San Fransisco: Jossey Bass. San Fransisco: Barret-Koehler Publishers. dan Lucian W. Widyariset. Pye. dalam Political Power and Communications in Indonesia. 1998. Elizabeth. Litteraire. Karl D.2. 1971. Jakarta: Masyarakat Transparansi Indonesia. 1978. terj. Jackson. a Neopatrimonial Regime or a Bureaucratic-authoritarian Regime: What Difference Does it Make? Interpreting Indonesian Politics. Sahat Simamora. 1992 Osborne and Gaebler. dan Joan M. Lab. edisi 18 Maret 2000. ed.. Vol. terj. 1947. Crisis and Sequences in Political Development. Weber. Osborne dan Gaebler. Indonesia Gramedia-Asosiasi Ilmu Politik Liddle. edisi 1813.1753- Dwight Y. Gifford and Pinchot. Partisipasi Politik di Negara Berkembang. Max. 2000 227 . Jumal Transparansi. Jumal Ilmu Politik No.De Grimm. 1995. Ilmu PolitikFISIP VI & Mizan. et. Mengubur Sistem Politik Orde Baru. "Bureaucratic Polity: A Theoritical Framework-for The Analysis of Power and Communications in Indonesia". Jakarta: Rineke Cipta. 1. 1997. Myron. et Critique. . «Indonesia New Order as a Bureaucratic Polity. The End of Bureaucracy and The Rise of The Intelligent Organization. Baron. 4. ed. George.

kepasirahan.P. Terjadi kolusi dan nepotisme dalam transaksi bisnis Nepotisme dim Kroniisme di MPR Penyalahgunaan Hukumuntuk Kekuasaan dan Bisnis.. Presiden secara aklamasi dipilih oleh kronikroninyasehingga terpilih lag! setiap 5 tahun. pemenjaraan. banjar desa adat. Pembesaranjumlah PNS sebagai kantong kader dan pendukung Golkar. nagari. Tidak berfungsinya kontrol kelembagaan oleh DPRIMPR terhadap presiden. Lewat Yayasan dan pengeluaran Keppres memungut berbagai macam pungutan dari dunia usaha Kampung. Utusan Daerah belumlah orang-orang yang aseli mewakili daerah Mengeluarkan Keppres untuk kepentingan bisnis keluarga dan kroni.Jn~~ka~i ••••••••••• . Editor dan Tabloid Detik. Soeharto tidak boleh dikritik MPR tidak berperan mengawasi dan mengontrol Presiden.. Berlangsungnya personal rule.. . mukim. wanua. Sebagai presiden. Diolah oleh: Syafuan 2000 dan berbagai sumber . diubah menjadi kelurahan Penyeragaman desa adat menj adi kelurahan di seluruh Indonesia Pembreidelanfpencabutan Izin Usaha Penerbitan Pers terhadap majalah Tempo. berjenjang dan pengendalian yang ketat ROZl. kekuasaan di tangan Soeharto Pengangkatan anggota utusan golongan di MPR terdiri dari kerabat. berlangsung diskriminasi pelayanan terbadap publik dan pihak non-Golkar bila suatu daerah tidak bisa memenangkan Golkar dalam pemilu di wilayah tersebut. dsb. penculikan para oposan dan kritikus politik. Hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat dan faktual menjadi diabaikan Berlangsung mobilisasi politik oleh birokrasi untuk memenangkan Golkar.. Berlangsungnya ketldakadilan dalam bisnis.. .. tidak dipilih oleh masyarakat setempat. 228 . Pemerintahan Perorangan Soeharto (personal ruler). Presiden berkuasa terlalu lama. Mematikan hak perdata. Para Menteri merangkap sebagai anggota MPR.. penangkapan. Lurah diangkat oleh pemerintah.. .. . Blrokrasi Indonesia mengawasi masyarakat secara birokratis.namak .. lemahnya kekuataan pengimbang/ pengontrol terhadap pemerintah. ternan & keluarga.. ... Penghapusan Pemerintahan Lokal untuk pemusatan kekuasaan Kontrol Media Massaoleh Departemen Penerangan Politisasi Birokrasi Depdagri cenderung menyeragamkan pemerintahan lokal di masyarakat. . Terjadi sakralisasi .. serta teguran keras terhadap Majalah D&R Birokrat dijadikan bagian dari faksi dalam Golkar. Kontrol oleh media mass a terhadap eksekutif tidak bisa berjalan.Lampiran 1 Gejala Pembusukan Politik Orde Baru: Indikasi dan Dampakoya Terhadap Demokrasi ~: Pemusatan Kekuasaan ·:. . ••• "' Belum ada pembatasan yang tegas tentang masajabatan presiden..

penegakkan keadilan sosial Jumlah anggota pengangkatan . Departemen Penerangan melakukan Masa jabatan maksimal 2 priode. Terbentuk Dewan Utusan Daerah yang merupakan wakil rakyat asel i asal daerah berdasarkan pertimbangan keterwakilan geografis RI. Dominasi fraksi dikurangi dengan mengubah Tatib DPR Tidak ada anggota MPR yang diangkat tapi dipilih lewat Pemilu. Tidak ada rationale struktur dan personel. Hak prerogatif presiden.. pergiliran kekuasaan. Pancasila sebagai prilaku bukan slogan Ideologi & UUDlKonstitusi Dasar MPRIDPR Anggota MPR yang diangkat berjumlah 57. mengawasi perkembangan peran eksekutif. Ada akuntibilitas kebijakan dan transparansikekayaan pejabat negara terhadap publik. Hak dan kekuasaan MPR dibatasi/dibuat lemah.. Berdaulat dalam Sidang Umum Tahunan MPR. Terjadi pengawasan dan pembatasan kekuasaan. Dominasi fraksi dan dewan Pimpinan Partai dikurangi. Pancasila sebagai alat legitimasi status quo Mass Translsl . . Produk perundangan perlu melewati konsultasi dan klarifikasi dengan DPR. 2000 229 . Seleksi anggota kabinet perlu lewatflt dan proper test yang transparan Widyariset. Penguatan Pancasila sebagai ideologi kerakyatan (Civil Society. Tidak ada akuntabilitas dan transparansi terhadap publik. 1. Perubahan UUD atau amandemen batang tubuh (pasal-pasalnya) yangmemuat pembarasan kekuasaan. Ada pertanggungjawaban kebijakan (akuntabilitas) dan transparansi kekayaan pribadi eksekutif dengan pengawasan Komisi Pemeriksaan Kekayaan Pejabat Negarayang independen dan Lembaga Kepresidenan dan kabinet Tanpa betas peri ode boleh memerintah. Berdaulat Penuh dan melakukan Sidang Umum Tahunan. Masyarakat Madani). l\1asaDemokrasi Pancasila ideologi terbuka. pengawasan.5%. Terlalu menonjolkan hak pregoratif. Pancasila ideologi nasional milik bangsa. Vol. Agenda ~ . Persiapan dibentuknya Dewan Utusan daerah yang dipilih lewat pemilu dalam MPR. Terlalu banyak Keppres/inpres yang dibuat.. Pembagian peran antar cabang kekuasaan (check and balances). Fraksi hanya alat administratif Masajabatan presiden maksimal dua kali periode jabatan (5 tahun). 'l\1:ass Orde Baru Monopoli interpretasi Pancasila.. terus bisa dipilih kernbali. tumpang tindih kewenangan.Lampiran 2 Agenda Reformasi Politik di Indonesia Pasca 1998 .: Penghapusan Monopoli interpretasi.. penegakan HAM.

Desa Adat. pemerintahan adat dihapuskan (Nagari. Kampong. dalarn bingkai negara nasional yang Bhineka Tungga\ Ika Institusi netral dantidak diskriminitif terhadap pactai politik peserta pemilu manapun Birokrasi Sipil Birokrasi Militer (ABRIITentara Nasional Indonesia) Menjadi institusi yang netral terhadap pactai politik. 230 . Kepasirahan. Penegakan prinsip profesionalisme dan pemberdayaan masyarakat Melakukan reposisi. Mengurangi secara bertahap peran Sospol (Dwifungsi TNI). Majalah' FORUM edisi Khusus 1998 dan RIDEP. PNS diwajibkan memberikan suaranya kepada Golkar (monoloyalitas) Alat kekuasaan. Wanua. Menghidupkan kembali bentuk-bentuk pemerintahan lokal Penghapusan kebijakan monoloya1itas terhadap organisasi peserta pemilu. Desentral isasi kekuasaan lewat persiapan otonomi daerah yang diperJuas sesuai dengan kemampuan dan pembagian alokasi pendapatan yang lebih berimbang. Menjadi profesional dalam bidang pertahanan Sumber: Diolah dan bahan-bahan LIP-FISIP UI.. Kebijakan dan penanganan masalah oleh kabinet perlu konsultasi dan hearing dengan DPR . aktualisasi dan redefinisi peran dan fungsi TNI. Tidak otonom. Sentralisasi kekuasaan dan alokasi kekayaan nasional oleh pus at. Banjar. Penyeragaman pemerintahan lokal ke dalam bentuk kelurahan. Politik TN] adalah politik nasional.Agenda MasaOrde Baru pengendalian yang berlebihan Masa Transisi Masa Demoki'asi terpercaya. Marga.1 . Membiarkan terbentuknya pemerintahan lokal dan konstiusi lokal yang mengakar di daerah. Sistem Pemerintahan Daerah. Memisahkan Polri dari TN! Otonomi daerah yang luas dalam bingkai negara dengan semangat kesatuan dan jiwa federalisme yang alamiah. menjadi bagian yang mendukung Golkar.) Berpol itik secara institusional. dsb. Mukim. Birkorasi menjadi salah satu unsur/faksi dalam Golkar.·.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful