Thesis (TM 092501

)

EXPERIMENTAL STUDY ABOUT IMPACT OF MICROSCOPE UTILISATION ON PHOTOELASTICITY METHODS TO IMPROVE COUNTING OF FRINGE ORDER ON THE LOADING ZONE
By : Melvin Bismark H. Sitorus (2108205005)

SUPERVISOR Dr. Ir. Agus Sigit Pramono, DEA.

MAGISTER PROGRAM DESIGN AND CONSTRUCTION ENGINEERING CONCENTRATION MECHANICAL ENGINEERING DEPARTMENT INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2011

Thesis (TM 092501)

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PENGGUNAAN MIKROSKOP PADA METODE FOTOELASTISITAS DALAM MENINGKATKAN KEPRESISIAN PENGHITUNGAN ORDE FRINJI PADA ZONA PEMBEBANAN
Oleh : Melvin Bismark H. Sitorus (2108205005)

DOSEN PEMBIMBING Dr. Ir. Agus Sigit Pramono, DEA.

PROGRAM MAGISTER BIDANG KEAHLIAN REKAYASA DESAIN DAN KONSTRUKSI JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2011

EXPERIMENTAL STUDY ABOUT IMPACT OF MICROSCOPE UTILISATION ON PHOTOELASTICITY METHODS TO IMPROVE COUNTING OF FRINGE ORDER ON THE LOADING ZONE Name ID Number Department Supervisor : Melvin Bismark Hamonangan Sitorus : 2108.205.005 : Mechanical Engineering : Dr. Ir. Agus Sigit Pramono., DEA

Abstract The utilization of photoelastis method in measuring strain and stress fields have been carried out. It was faced with the precission problem of determining frinji order of loading and cracking and notch areas. Several studies done to minimize it, but the same problem over and over on rapid fringe areas. In this study, microscope was used as an additional tool in photoelastic device to get magnification of isochromatic fringe size obtained from experiment. An experimental method was used by utilisizing optical system and reflective polariscope. A simple compression tool designed to provide a compression load on the solid disk-shaped specimens. Isochromatic fringe field observed at the loading zone for different loading and captured image based on such condition: without magnification, and with magnification respectively 9x, 15x and 20x by using SLR type Nikon camera Serie D3000. Image processing using OpenCV software C + + is used to produce more clear isochromatic fringe pattern formed on the surface of the specimen in determination of the maximum fringe order observed. Furthermore average of additional fringe could be obtained as the optical magnification result .The experimental analysis has been compared with Finite Elemen analysis Software. The experimental result has shown an increasing trend in an average of additional amount of fringe-order with increasing levels of optical magnification. Its maximum value has been obtained on condition 20x optical zoom, which was 2-order fringe Keywords : Photoelasticity, fringe order, loading zone.

ii

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PENGGUNAAN MIKROSKOP PADA METODE FOTOELASTISITAS UNTUK MENINGKATKAN KEPRESISIAN PENGHITUNGAN ORDE FRINJI PADA ZONA PEMBEBANAN Nama Mahasiswa NRP Jurusan Dosen Pembimbing : Melvin Bismark Hamonangan Sitorus : 2108.205.005 : Teknik Mesin FTI – ITS : Dr. Ir. Agus Sigit Pramono., DEA Abstrak Penggunaan metoda fotoelastis dalam menentukan medan regangan dan tegangan telah banyak dilakukan. Penggunaan metode ini diperhadapkan pada masalah kepresisian saat penghitungan orde frinji pada zona pembebanan karena terbentuknya pola frinji yang rapat dan jumlah yang banyak pada medan frinji isokromatik terutama untuk beban yang relatif besar. Pada penelitian ini, perbesaran optis dilakukan dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran optis maksimum 50x terhadap medan frinji isokromatis yang didapatkan dari eksperimen. Metode yang digunakan adalah secara eksperimental dengan menggunakan sistem optik dan tipe polariskop refleksi. Suatu alat pemberi beban sederhana didesain untuk memberikan beban kompresi pada spesimen berbentuk disk pejal. Medan frinji isokromatik diamati pada zona pembebanan untuk tingkat pembebanan yang berbeda dan dilakukan perekaman citra pada kondisi tanpa perbesaran, perbesaran 9x, perbesaran 15x dan perbesaran 20x dengan menggunakan kamera Nikon type SLR (Single Lens Reflex) Serie D3000. Pengolahan citra dengan menggunakan software OpenCV C++ dilakukan memperjelas pola frinji isokromatik yang terbentuk pada permukaan spesimen untuk memudahkan penentuan orde frinji maksimum yang dapat diamati. Berdasarkan orde frinji tersebut didapatkan efek perbesaran optis berupa tambahan frinji rata-rata untuk masing-masing perbesaran. Selisih tegangan prinsipal hasil eksperimen dikomparasi dengan menggunakan software Finite Element Hasil eksperimen menunjukkan trend yang semakin meningkat untuk besarnya tambahan orde frinji rata-rata yang diperoleh dengan bertambahnya tingkat perbesaran optis dimana nilai maksimumnya diperoleh pada kondisi perbesaran optic 20x, yaitu sebesar 2 orde frinji. Kata kunci : Photoelastisitas, orde frinji, zona pembebanan.

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melimpahkan segala anugerahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini sebagai satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dalam hal ini penulis juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu memberikan dukungan baik secara moril maupun material yaitu: 1. Ibunda Melva Hutapea yang senantiasa memberikan dukungan berupa materi maupun dukungan doa sehingga tesis ini dapat terselesaikan 2. Abanganda Krisman Sitorus yang senantiasa memberikan dukungan doa dan semangat. 3. Bapak Dr. Ir. Agus Sigit Pramono, DEA yang telah dengan sabar memberikan bimbingan kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini. 4. Bapak Prof. Dr. Ir. Wajan Berata, DEA., Ir. Yusuf Kaelani, M.Sc.E dan Dr. Eng. Harus Laksana Guntur, ST, M.Eng yang telah memberikan masukan untuk penyempurnaan laporan tesis ini 5. Bapak Prof. Dr. Ing. I Made Londen Batan, M.Eng selaku koordinator Program Pasca Sarjana Jurusan Teknik Mesin ITS 6. Teman-teman dari program Magister Jurusan Teknik Mesin Program Studi Desain Sistem Mekanikal Angkatan 2008 yang selalu memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan Tesis ini. Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan laporan tesis ini, karenanya dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun. Harapan penulis, tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Surabaya, Januari 2011

Penulis

iv

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN............................................................................. ABSTRAK ................................................................................................... i ii iii

ABSTRACT .................................................................................................. DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... iv ………………...........……………....……………….……...… v ………………..............…....…………..…………...… vii ………………..……………....…………..………...… ............................................................................ ......................................................................... ……………………………………………. ……………………………………………... ………………………………………....…… ................................ x 1 1 2 3 3 3 5 5 10 10 16 18 19 20 21 DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penelitian

1.4 Manfaat Penelitian ……………………………………………... 1.5 Batasan Masalah

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

2.1 Kajian Pustaka ............................................................................... 2.2 Teori Photoelastisitas ..................................................................... 2.2.1 Perilaku Photoelastik ............................................................ 2.2.2 Polariskop Refleksi ............................................................... 2.2.3 Material Pelapis ................................................................... 2.2.3 Penentuan Order Frinji ........................................................ 2.3 Dasar Teori Pengolahan Citra ....................................................... 2.3.1 Mengubah RGB ke Bentuk Grayscale .................................

2.3.2 Representasi Citra Digital ..................................................... 22 2.3.3 Ketetangaan Sebuah Piksel .................................................... 23 2.4 Proses Pengolahan Citra yang Dilakukan ........................................ 24 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Langkah – Langkah Penelitian ….……………..………………... 27 ………………………………….. 27

3.2 Diagram Alir Penelitian . …………..……………………………. 34 BAB 4 PEMODELAN DAN EKSPERIMEN ….…………………………... v 35

4.1 Pemodelan

…………………………………….………………..

35 39 46 53

4.2 Eksperimen Dengan Metode Fotoelastis ………….……………. 4.3 Pengolahan Citra ………….……………………………………. BAB 5 ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ….……………………... 5.1 Orde Frinji Maksimum Yang Dapat Diamati

…………………... 53

5.2 Tambahan Orde Frinji Yang Dapat Diamati Akibat Perbesaran Optis .......................................................................…. 5.3 Perbandingan Hasil Eksperimen Dan Analisa Numerik ...........…. BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ….………………………………..... 6.1 Kesimpulan 6.2 Saran 60 60 65

……….…………………………………………….. 65

……...................................................................................…. 65

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Setup eksperimen untuk disk yang dikompresi secara diametrik ............................................................................ Gambar 2.2 Urutan pemrosesan citra digital setelah perbesaran pertama .......... Gambar 2.3 Pemrosesan citra digital setelah perbesaran kedua ......................... Gambar 2.4 Langkah-langkah pembukaan peta fase isoklinik untuk disk
yang dibebani secara kompresi ........................................................

6 6 7

8

Gambar 2.5 Langkah-langkah pembukaan peta fase isokromatik untuk disk
yang dibebani secara kompresi .......................................................

9 11 11 12 15 16 17 22 22 23 24

Gambar 2.6 Polarizer ........................................................................................ Gambar 2.7 Wave Plate ..................................................................................... Gambar 2.8 Efek birefringent ............ ............................................................... Gambar 2.9 Disk dalam kompresi ..................................................................... Gambar 2.10 Distribusi tegangan sepanjang diameter horizontal ...................... Gambar 2.11 Skema polariskop .......................................................................... Gambar 2.12 Konversi RGB ke grayscale .......................................................... Gambar 2.13 Representasi citra dalam bentuk matriks ....................................... Gambar 2.14 Citra berderajat keabuan dan matriks representasinya .................. Gambar 2.15 Ketetanggaan piksel yang berkoordinat ...................................... Gambar 3.1 (a) Rancangan alat pemberi beban (b) Realisasi alat
pemberi beban ............................................................................

28 28 30 30

Gambar 3.2 Rancangan Spesimen ................................................................... Gambar 3.3 Polariskop ................................................................................... Gambar 3.4 Set-up mikroskop yang akan digunakan ...................................... Gambar 3.5 (a) Susunan mikroskop yang terpasang pada polariskop
(b) Susunan mikroskop yang terpasang pada polariskop ditambah dengan kamera .............................................................

31 34 36 37

Gambar 3.6 Diagram alir penelitian .............................................................. Gambar 4.1 Kontour stress intensity dengan beban 5.04 N .......................... Gambar 4.2 Kontour stress intensity dengan beban 7.54 N .......................... vii

Gambar 4.3 Kontour stress intensity dengan beban 10.04 N ........................

37

Gambar 4.4 Kontour stress intensity dengan beban 12.54 N ............................ 38 Gambar 4.5 Pola frinji untuk beban 5.04.N dan perbesaran 9x ......................... 40 Gambar 4.6 Pola frinji untuk beban 7.54.N dan perbesaran 9x ......................... 40 Gambar 4.7 Pola frinji untuk beban 10.04.N dan perbesaran 9x ....................... 40 Gambar 4.8 Pola frinji untuk beban 12.54.N dan perbesaran 9x ....................... 41 Gambar 4.9 Pola frinji untuk beban 5.04.N dan perbesaran 15x ....................... 41 Gambar 4.10 Pola frinji untuk beban 7.54.N dan perbesaran 15x ....................... 42 Gambar 4.11 Pola frinji untuk beban 10.04.N dan perbesaran 15x ..................... 42 Gambar 4.12 Pola frinji untuk beban 12.54.N dan perbesaran 15x ..................... 42 Gambar 4.13 Pola frinji untuk beban 5.04.N dan perbesaran 20x ....................... 43 Gambar 4.14 Pola frinji untuk beban 7.54.N dan perbesaran 20x ....................... 43 Gambar 4.15 Pola frinji untuk beban 10.04.N dan perbesaran 20x ..................... 44 Gambar 4.16 Pola frinji untuk beban 12.54.N dan perbesaran 20x ..................... 44 Gambar 4.17 Pola frinji untuk beban 5.04.N tanpa perbesaran ........................... 45 Gambar 4.18 Pola frinji untuk beban 7.54.N tanpa perbesaran ........................... 45 Gambar 4.19 Pola frinji untuk beban 10.04.N tanpa perbesaran ......................... 45 Gambar 4.20 Pola frinji untuk beban 12.54.N tanpa perbesaran ......................... 46 Gambar 4.21 Hasil pengolahan citra untuk beban 5.04.N dan perbesaran 9x ........................................................................... 47 Gambar 4.22 Hasil pengolahan citra untuk beban 7.54.N dan perbesaran 9x ........................................................................... 47 Gambar 4.23 Hasil pengolahan citra untuk beban 10.04.N dan perbesaran 9x ........................................................................... 48 Gambar 4.24 Hasil pengolahan citra untuk beban 12.54.N dan perbesaran 9x ........................................................................... 48 Gambar 4.25 Hasil pengolahan citra untuk beban 5.04.N dan perbesaran 15x .......................................................................... 48 Gambar 4.26 Hasil pengolahan citra untuk beban 7.54.N dan perbesaran 15x .......................................................................... 49 Gambar 4.27 Hasil pengolahan citra untuk beban 10.04.N dan perbesaran 15x .......................................................................... 49 viii

Gambar 4.28 Hasil pengolahan citra untuk beban 12.54.N dan perbesaran 15x .......................................................................... 49 Gambar 4.29 Hasil pengolahan citra untuk beban 5.04.N dan perbesaran 20x .......................................................................... 50 Gambar 4.30 Hasil pengolahan citra untuk beban 7.54.N dan perbesaran 20x ......................................................................... 50 Gambar 4.31 Hasil pengolahan citra untuk beban 10.04.N dan perbesaran 20x ......................................................................... 50 Gambar 4.32 Hasil pengolahan citra untuk beban 12.54.N dan perbesaran 20x ........................................................................ Gambar 4.33 Hasil pengolahan citra untuk beban 5.04.N tanpa perbesaran ............................................................................ Gambar 4.34 Hasil pengolahan citra untuk beban 7.54.N tanpa perbesaran ............................................................................ Gambar 4.35 Hasil pengolahan citra untuk beban 10.04.N tanpa perbesaran ............................................................................ Gambar 4.36 Hasil pengolahan citra untuk beban 12.54.N tanpa perbesaran ............................................................................. 52 Gambar 5.1 grafik orde frinji yang dapat dihitung untuk perbesaran optis 1x, 9x, 15x dan 20x berdasarkan pertambahan beban yang diterimanya .................................................................. 54 Gambar 5.2 grafik orde frinji yang dapat dihitung untuk perbesaran optis 1x, 9x, 15x dan 20x berdasarkan pertambahan beban yang diterimanya dengan penambahan notasi ...................... 55 Gambar 5.3 Grafik Pebandingan Selisih Tegangan Prinsipal Tanpa Perbesaran Optik .................................................................. 61 Gambar 5.4 Grafik Pebandingan Selisih Tegangan Prinsipal Dengan Perbesaran Optik 9x ........................................................... 62 Gambar 5.5 Grafik Pebandingan Selisih Tegangan Prinsipal Dengan Perbesaran Optik 15x ......................................................... 62 Gambar 5.6 Grafik Pebandingan Selisih Tegangan Prinsipal Dengan Perbesaran Optik 20x ......................................................... 63 ix 52 51 51 51

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4

Karakteristik Isokromatik Frinji .................................................... Data Eksperimen Tanpa Perbesaran .............................................. Format Data Eksperimen Dengan Perbesaran Mx ........................

20 31 32

Format Data Eksperimen Dengan Perbesaran Nx .......................... 32 Format Data Hasil simulasi numerik pada zona pembebanan .................................................................................. 33 39

Tabel 4.1 Tabel 5.1.

Data Hasil analisa numerik pada zona pembebanan ..................... Orde frinji maksimum yang dapat dihitung berdasarkan beban dan perbesaran optis ...........................................................

53

Tabel 5.2.

Perbandingan selisih tegangan principal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen tanpa perbesaran optik ................................. 57

Tabel 5.3.

Perbandingan selisih tegangan principal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen dengan perbesaran optik 9x ......................... 58

Tabel 5.4.

Perbandingan selisih tegangan principal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen dengan perbesaran optik 15x ....................... 59

Tabel 5.5.

Perbandingan selisih tegangan principal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen dengan perbesaran optik 20x ....................... 61

x

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Struktur teknik didesain untuk mampu menahan beban yang kemungkinan

akan diderita dalam pelayanannya. Dalam hal ini perlu dihindari tegangan yang dan batas keamanan yang layak diambil untuk menjamin harga tegangan yang terjadi dibawah tegangan maksimum yang diijinkan. Kekuatan komponen atau struktur dapat dinilai dengan mengevaluasi tegangan pada komponen atau struktur tersebut. Besarnya tegangan ini dapat dievaluasi dengan menggunakan teknikteknik analitis, numeris dan eksperimental. Sejumlah metode analisa tegangan eksperimental melibatkan suatu penginderaan (sensing) regangan dari dari nilai tegangan yang berhubungan ditentukan baik dengan perhitungan matematis atau dengan mengkalibrasi langsung instrumentasi tersebut dalam hal tegangan. Dalam kebanyakan kasus, tegangan interest ada pada titik yang sangat terlokalisasi, yang adalah awal mula potensi retak fatik. Tegangan-tegangan terlokalisasi adalah lebih umum ditentukan dengan menggunakan fotoelastisitas, brittle coating atau electric resistance strain gages. Fotoelastisitas adalah teknik analisa tegangan grafis medan menyeluruh (whole-field) yang didasarkan pada sifat optomekanis yang disebut birefringence atau pembiasan ganda, yang dimiliki oleh setiap polimer transparan. Bila dipadukan dengan elemen optis lainnya dan diberi sumber pencahayaan biasa, suatu spesimen fotoelastis atau lapisan foto elastis yang direkatkan ke spesimen biasa akan menampakkan pola frinji bila diberikan sejumlah beban tertentu. Frinji ini berhubungan dengan beda tengangan prinsipal dalam bidang yang normal terhadap perambatan cahaya. Penemuan awal untuk sifat optis tegangan ini dilakukan oleh Sir David Brewster, seorang berkebangsaan Inggris yang pada tahun 1816 mempublikasikan

1

sebuah laporan hasil penelitiannya bahwa gelas bening yang diberi tegangan akan menampakkan pola warna saat diamati di bawah cahaya terpolarisasi. Sejak tahun 1920 sampai tahun 1940, metode Fotoelastisitas adalah bentuk yang paling banyak digunakan dalam melakukan analisis tegangan eksperimental.

Fotoelastisitas banyak digunakan untuk mempelajari distribusi tegangan bidang (plane stress), dan banyak dari studi ini menjadi basis untuk menggambarkan grafik konsentrasi tegangan. Untuk suatu elemen yang tersusun pada suatu konstruksi yang cukup rumit, posisi pengukuran yang tidak memungkinkan serta bahan yang tidak diketahui, penggunaan teknik fotoelastisitas untuk menentukan medan tegangan lebih disukai daripada metode lain, yang umumnya melakukan pengukuran pada suatu titik. Pada penggunaan praktis dalam berbagai masalah industry yang kompleks, penggunaan metode fotoelastis dengan material pelapis lebih disukai, sedangkan untuk pengukuran yang membutuhkan akurasi data, penggunaan model dari material transparan lebih umum digunakan. Ketelitian pengukuran tengangan dengan metode Fotoelastisitas ini sangat bergantung pada ketepatan penentuan orde frinji pada daerah interest, misal daerah sekitar diskontinuitas bahan. Beberapa metode telah dilakukan untuk dapat menetapkan secara tepat order frinji yang dimaksud, namun demikian kendala yang dihadapi adalah bilamana menentukan frinji order dimana zona pembebanan berada. Pada daerah tersebut frinji yang terbentuk sangat rapat dengan jumlah yang sangat banyak sehingga sering dijumpai kesalahan dalam menentukan nomor atau order frinji yang tepat.

1.2

Rumusan Masalah Dari latar belakang yang tercantum pada sub-bab di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Penggunaan metode fotoelastisitas untuk mendapatkan nilai tegangan pada zona pembebanan masih terbatas pada order tertentu dari frinji yang dihasilkan dikarenakan semakin rapatnya ukuran frinji yang dihasilkan

2

dengan jumlah yang sangat banyak pada daerah sekitar pembebanan tersebut. 2. Metode pengolahan citra yang digunakan masih terbatas pada penentuan order frinji yang relatif rendah. 3. Pentingnya penggunaan media untuk memperbesar secara optis objek pengukuran seperti mikroskop sebagai alat bantu untuk menambah kepresisian pengukuran orde frinji dalam memperoleh nilai selisih tegangan prinsipal dengan metode fotoelastisitas.

1.3

Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan

penelitian ini dapat dirumuskan pula sebagai berikut: 1. Meningkatkan kepresisian dalam penghitungan orde frinji pada spesimen di zona pembebanan dengan menggunakan metode fotoelastisitas. 2. Membandingkan selisih tegangan prinsipal yang dihasilkan pada zona pembebanan spesimen dengan metode fotoelastisitas dengan dan tanpa mikroskop. 3. Mendapatkan metode alternatif untuk mengurangi kesalahan pada

perhitungan selisih tegangan prinsipal.

1.4

Manfaat Penelitian Dengan penelitian yang dilakukan, maka diharapkan akan diperoleh

manfaat sebagai berikut : 1. Mendapatkan metode baru yang lebih sederhana dalam menentukan besarnya selisih tegangan prinsipal secara eksperimen dengan kepresisian memadai. 2. Memperoleh alternatif pengujian material tidak kontak untuk menentukan tegangan prinsipal, daerah kritis spesimen dan besarnya konsentrasi tegangan di daerah kritis tersebut. 3. Memberikan kontribusi dalam memperkaya bahan pengajaran, khususnya dalam bidang mekanika kekuatan material.

3

1.5

Batasan Masalah Agar penelitian yang dilakukan menjadi lebih terarah tanpa mengurangi

maksud dan tujuannya, maka ditentukan batasan permasalahan sebagai berikut : 1. Penelitian dilakukan dengan menggunakan polariskop 030-series, suatu instrumen optik untuk mengadakan pengukuran regangan dengan metode Photostress 2. 3. dari reflection photoelasticity.

Pengukuran orde frinji dilakukan dengan metode Tardy Compensation. Pengolahan citra digital yang diperoleh dilakukan dengan menggunakan pemrograman OpenCV C++ khususnya yang dilengkapi toolbox image processing.

4

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

2.1

Kajian Pustaka Aplikasi metoda fotoelastisitas dalam menentukan tegangan eksperimental

telah banyak dilakukan. Hasil eksperimen dengan metoda fotoelastisitas standar memerlukan jumlah frinji tertentu untuk mendapatkan kepresisian yang lebih baik pengukuran medan regangan. Masalah yang muncul dalam penentuan orde frinji sering terjadi pada zona pembebanan atau daerah dimana beban bekerja karena pada daerah tersebut jumlah frinji sangat banyak terbentuk pada area yang kecil sehingga sulit untuk menentukan orde frinji dengan tepat. Akibanya sering terjadi kesalahan dalam penentuan order frinji di daerah berfrinji rapat tersebut yang dikenal dengan dense error [Venketesh, 2009]. Berbagai metoda dan pendekatan telah dilakukan untuk meminimalisir masalah ini, antara lain dengan penggunaan algoritma tertentu untuk pengolahan citra yang diperoleh dari hasil eksperimen dan juga perbaikan pada elemen optik yang dipergunakan, seperti penggunaan alat optis tambahan untuk memperbesar area tertentu pada spesimen yang diamati. Metode unwrapping dengan melakukan perbesaran optis diperkenalkan oleh Xue-Feng Yao, Long-Hui Jian, Wei Xu, Guan-Chang Jin dan Hsien-Yang Yeh dari Tsinghua University, Talbot Campuss, Beijing, China pada tahun 2005. Pada eksperimennya teknologi unwrapping yang diperbesar secara optik dikombinasikan dengan teknologi beda tegangan geser jejak kombinasi untuk mengevaluasi informasi tegangan lokal. Dalam eksperimen ini digunakan susunan elemen optik konvensional dalam analisis fotoelastis ditunjukkan pada Gambar 2.1 dengan menggunakan model epoxy disk berdiameter 0,06 m dan tebal 0,005m yang dikompresi secara diametrik. Detektor tiga warna CCD digunakan untuk merekam citra digital RGB fotoelastis.

5

Gambar 2.1 Setup eksperimen untuk disk yang dikompresi secara diametrik (Xue Feng dkk, 2005)

Citra secara keseluruhan ditangkap dengan perbesaran optis yang mungkin. Pertama, zona frinji kepadatan tinggi harus diidentifikasi dan tiap zona yang diukur secara terpisah ditangkap dengan perbesaran optis tinggi yang sesuai. Kedua, proses menangkap citra harus diulang untuk citra asli dengan menyesuaikan pengaturan optik dengan teknologi pergeseran fasa. Dalam tulisan ini, faktor rasio antara perbesaran citra pertama dan citra asli adalah 2,5, dan faktor rasio antara perbesaran citra kedua dan citra pertama adalah 2.2. Urutan pemrosesan citra digital setelah perbesaran pertama ditunjukkan dalam gambar 2.2.

Gambar 2.2 Urutan pemrosesan citra digital setelah perbesaran pertama: (a) Pemilihan 5 titik dari tepi busur, (b) fitting curve, (c) peta fase isoklinik, (d) de-noising, (e) unwrapping dan (f) peta fase isokhromatik. (Xue Feng dkk, 2005)

6

Sedangkan tahapan untuk pemrosesan citra setelah perbesaran kedua dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.3. Pemrosesan citra digital setelah perbesaran kedua: (a) Pemilihan 5 titik dari tepi busur, (b) fitting curve, (c) peta fase isoklinik, (d) de-noising, (e) unwrapping dan (f) peta fase isokhromatik. (Xue Feng dkk, 2005)

Validasi yang dilakukan dengan membandingkan data eksperimen dan data teoritis menunjukkan bahwa terdapat kesesuaian yang baik, dimana kesalahan relatif antara data eksperimen dan data teoritis di bawah 4 %. Kelemahan dari metode ini adalah bahwa tahapan pemrosesan citra yang dilakukan cukup panjang dan rumit. Selain itu gambaran untuk perbandingan medan tegangan/regangan penuh secara eksperimental dan teoritis tidak diberikan karena validasi dilakukan hanya terhadap data beberapa titik sampel saja. M. Ramji dan K. Ramesh dari Indian Institute of Technology, Madras, India pada tahun 2007 melakukan evaluasi terhadap medan penuh untuk

komponen tegangan dalam masalah Fotoelastisitas digital. Titik tolak dari eksperimennya didasarkan pada perlunya pemisahan tegangan (stress separation) dalam mendapatkan nilai individu tegangan prinsipal/ tegangan normal secara terpisah. Hal ini tidak bisa terlepas dari penentuan nilai orde frinji dan sudut isoklinik yang bebas dari noise (gangguan) pada setiap pixel di seluruh domain. Suatu pendekatan baru pemandu kualitas untuk pembukaan isoklinik (isoclinic unwrapping) dikembangkan dalam eksperimen ini.

7

Peta fase Isokromatis yang bebas dari zona ambigu diperoleh dengan metodologi baru dan dibuka (unwrapped) dengan pendekatan pemandu kualitas (quality guided). Model-model yang dikembangkan dalam penelitian ini dipengaruhi oleh pembebanan moderat yang menunjukkan level interaksi isokromatik-isoklinik yang tinggi. Kekusutan yang diperoleh pada formasi lapisan di perhalus dengan menggunakan outlier smoothing algorithm untuk mendapatkan variasi yang lebih halus dari parameter photoelastik digital di seluruh domain. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembukaan peta fase isoklinik ditunjukkan dalam gambar 2.4.

Gambar 2.4 Langkah-langkah pembukaan peta fase isoklinik untuk disk yang dibebani secara kompresi. (M Ramji dkk, 2007)

8

Sedangkan langkah-langkah dalam pembukaan peta fase isokromatik ditunjukkan dalam gambar 2.5.

Gambar 2.5 Langkah-langkah pembukaan peta fase isokromatik untuk disk yang dibebani secara kompresi. (M Ramji dkk, 2007)

Kelemahan yang mendasar dalam metode ini terutama dalam pembukaan fase isokromatik adalah saat nilai isokromatik yang diperoleh dari eksperimen hanya memiliki gelombang kecil, smoothing tidak menunjukkan efek yang signifikan, dan eror mutlak didapatkan menjadi 0.05 orde frinji. Kelemahan lain adalah bahwa metode ini membutuhkan analisa yang agak rumit dan langkah yang cukup panjang. Teknik perbesaran optis untuk metode fotoelastisitas juga dilakukan oleh Herman Winata, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November pada tahun 2007 yang melakukan eksperimen pengolahan citra medan regangan-tegangan hasil pengukuran metoda Fotoelastisitas sebagai informasi mempercepat analisa kegagalan material. Perbesatan optis dilakukan dengan menggunakan perpaduan lup dan teleskop kamera. Tidak dijelaskan seberapa besar perbesaran yang dihasilkan dalam penelitian tersebut, namun inti dari perbesaran tersebut adalah untuk dapat mengamati secara jelas medan friji isoklomatik yang terbentuk pada 9

spesimen yang diuji, yaitu berupa plat berbentuk cincin. Dalam penelitian tersebut, sebanyak 12 orde frinji dapat teramati dengan jelas.

2.2 Teori Fotoelastisitas Fotoelastisitas adalah teknik eksperimental untuk menganalisa regangan dan tegangan grafis, non destruktif medan penuh yang berbasis pada sifat optomekanis yang disebut birefringence, yang dimiliki oleh banyak polimer transparan. Bila dikombinasikan dengan elemen optik lain dan diterangi dengan sumber cahaya biasa (atau coating fotoelastis yang direkatkan pada spesimen biasa) akan menampakkan pola frinji yang berhubungan dengan beda antara tegangan-teganga prinsipal dalam bidang yang normal terhadap arah rambatan cahaya. Lama sebelum penggunaan komputer, metode fotoelastisitas telah digunakan untuk menentukan faktor konsentrasi tegangan untuk bentuk struktural yang bervariasi. Metode ini digunakan terutama untuk menganalisa problemproblem bidang dua dimensi. Kelemahan utamanya adalah bahwa suatu model plastis (dan bukan prototipe) dari part aktualnya harus digunakan. Suatu metoda yang disebut stress freezing memungkinkan metode tersebut digunakan untuk problem tiga dimensi. Lapisan photoelastik digunakan untuk menganalisa tegangan pada permukaan dalam bodi dengan geometri kompleks.

2.2.1 Perilaku Fotoelastik Metode fotoelastisitas mempersyaratkan penggunaan dua tipe elemen optis, yaitu polarizer dan wave plate. Suatu polarizer adalah elemen yang mengkonversikan cahaya yang terpolarisasi secara acak ke dalam cahaya yang terpolarisasi bidang (plane-polarized light). Perilaku polarizer ditunjukkan pada gambar 2.6.

10

Gambar 2.6. Polarizer.

Berbeda dengan polarizer, wave plate memecah cahaya masuk menjadi dua komponen dengan memperlambat salah satu komponennya relatif terhadap komponen lain seperti terlihat dalam gambar 2.7. Wave plate dapat bersifat permanen atau temporer. Suatu wave plate permanen memiliki fast-axis tetap dan retardasi relatif yang

yang tetap pula, sedangkan wave plate temporer

memiliki kemampuan untuk menghasilkan refraksi berganda sebagai responnya terhadap stimulus mekanis. Spesimen Fotoelastis adalah wave plate temporer.

Gambar 2.7. Wave plate

Material photoelastik adalah birefringent, yang berarti bahwa material tersebut berlaku sebagai wave plate secara temporer, membiaskan cahaya secara berbeda untuk orientasi amplitudo cahaya berbeda, bergantung kepada kondisi pembebanan material tersebut. Efek birefringent dapat dilihat pada gambar 2.8.

11

Gambar 2.8. Efek birefringent

Pada kondisi tanpa beban, material fotoelastis menampakkan indeks bias n0 yang tidak bergantung kepada orientasinya. Karenanya, cahaya dari semua orientasi merambat sepanjang seluruh sumbu melewati material dengan kelajuan yang sama sebesar /n0. Untuk kondisi terbebani, orientasi dari suatu vektor amplitudo cahaya yang dipengaruhi sumbu tegangan prinsipal dan besar tegangan prinsipal akan menentukan indeks pembiasan untuk gelombang cahaya. Maxwell pada tahun 1853 mengemukakan teori yang menghubungkan perubahan indeks bias material dengan intensitas tegangan. Hubungannya adalah bersifat linier, dikenal dengan hukum tegangan optik.
n1 n0 n2 n0 n3 n0 c1 c1 c1
1 2 3

c2( c2( c2(

2 3 1

3

) ) ) [Dally, 1991, hal: 425]

1

2

……..…….(2.1)

dimana: σ1, σ2, dan σ3 adalah tegangan prinsipal pada sebuah titik n0 adalah indek bias meterial tanpa beban n1, n2, dan n3 adalah indek bias arah prinsipal pada material dengan beban c1 dan c2 adalah koefisien tegangan optik, bila birefringece bertahan c1 c2

12

Pada aplikasi praktis biasanya dibatasi pada kasus plane stress (σ3 = 0). Sehingga persamaan (2.1) dapat disederhanakan menjadi:

n1 n0 n2 n0

c1 c1

1 2

c2 c2

2 1

[Dally, 1991, hal: 426]

..……….....(2.2)

Pada persamaan (2.1) adalah metoda pengukuran tegangan dengan menggunakan perubahan indek bias absolut. Penggunaan metoda fotoelastis akan lebih mudah penerapannya jika perubahan indeks bias absolut itu dirubah kedalam perubahan relatif. Sehingga persamaan (2.1) menjadi:
n2 n1 (c2 c1) ( n3 n2 n1 n3 (c2 c1) ( (c2 c1) (
1 2 3 2

) )

c ( c ( c (

1 2 3

2

) )

3 1

3 1

)

) [ Dally, 1991, hal: 426] ...(2.3)

dengan c = c2 - c1 merupakan koefisien tegangan optik relatif yang dinyatakan dalam Brewster ( 1 brewster = 10-13 cm2/dyn = 10-12 m2/N = 6.895 x 10-9 in2/lb). Koefisien tegangan optik umumnya diasumsikan sebagai konstanta material dan tergantung pada panjang gelombang cahaya yang digunakan. Perilaku model fotoelastik seperti temporary wave plate, relative retardasi Δ (relative angular phase shift) digunakan untuk mengubah indek bias pada pembebanan material. Relatif retardasi terbentuk diantara komponen perambatan cahaya arah prinsipal, dan memiliki hubungan linier dengan perbedaan tegangan prinsipal dengan arah tegak lurus bagian perambatan cahaya. Tegangan prinsipal yang ketiga σ3 sejajar dengan bagian arah perambatan cahaya sehingga tidak memberikan efek terhadap relatif retardasi.

Relatif retardasi dirumuskan seperti:
2 .h.c
12

( ( (

1

2

) )

2 .h.c
23

2

3

2 .h.c
31

3

1

)

[Dally, 1991, hal: 427] ……..……...(2.4)

dengan h = tebal material λ = panjang gelombang cahaya

13

Pada aplikasi fotoelastik, brewster biasanya tidak secara langsung digunakan, sehingga relatif retardasi untuk kasus tegangan bidang diekspresikan seperti:
1 2

N. f h
2

[Dally, 1991, hal: 428]

…………………..(2.5)

dimana N
f

, merupakan bilangan tanpa dimensi , merupakan nilai frinji material dalam lb/in atau N/m

c

Perbedaan tegangan prinsipal pada model dua dimensi dapat ditentukan jika N (frinji order) dapat diukur dan nilai frinji material fσ dapat ditentukan melalui kalibrasi (dapat dilihat pada lampiran). Sesungguhnya fungsi dari polariskop digunakan untuk menentukan nilai N pada setiap titik pada model. Pada model yang memiliki sifat linier elastik, perbedaan regangan prinsipal (ε1- ε2) dapat juga diukur dengan menentukan fringe order N. Hubungan tegangan-regangan pada kasus tegangan bidang dua dimensi adalah:
1

1 ( E

1

2

)

;
1 ( )

2

1 ( E

2

1

)

sehingga:

1

2

E

1

2

[Dally, 1991, hal: 428]

dengan mensubtitusikan persamaan (2.5) didapat:
1
1 2

dengan f

E 1
E N. f h

N. f h

f .N

f , sehingga:

1

2

[Dally, 1991, hal: 429]

...........................….. (2.6)

Nilai konstanta frinji material dapat ditentukan secara eksperimen dengan memunculkan suatu beda tegangan yang diketahui
1

-

2

ke dalam suatu model

yang dibuat dari material yang sama dengan spesimen interest dengan mengamati nilai N yang berhubungan dan menyelesaikan persamaan (2.5) untuk :

f

h

1

2

N

...............................

(2.7)

14

Material yang sangat birefringent akan memiliki nilai

yang kecil karena

tegangan yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu nilai N akan kecil. Suatu spesimen kalibrasi yang umum adalah disk sirkular dengan diameter D dan tebal h yang dibebani dengan kompresi diametral seperti pada gambar 2.9.

Gambar 2.9. Disk dalam kompresi

Tegangan normal horizontal dan vertikal sepanjang sumbu x adalah tegangan prinsipal karena tegangan geser tidak muncul karena simetri dengan sumbu x. positif saat negatif. Sehingga diambil nilai dan

yang juga menghasilkan

. Dari teori elastisitas, solusi tersebut untuk

tegangan normal sepanjang diameter horizontal adalah [Dally, 1991]:
1

2P 1 hD 1
1

2 2

2

,
2

2

6P hD

1

1 3
2 2

2

, .................................. (2.8)

1

Dimana

; P = beban yang diberikan. Tegangan tegangan ini

diplotkan pada gambar 2.10.

15

Gambar 2.10. Distribusi tegangan sepanjang diameter horizontal

Sepanjang diameter horizontal, beda maksimum lingkaran, yaitu pada
1 2

terjadi pada titik pusat

. Pada titik ini,

8P ................................. (2.9) hD

Dengan menggabungkan hasil persamaan (2.9) di atas dengan persamaan (2.7) diperoleh hubungan:

N f h
atau

1

2

8P , hD

f

8 P , ............................ (2.10) DN

2.2.2 Polariskop Refleksi Pengamatan fotoelastik dengan menggunakan polariskop terdapat dua tipe yaitu polariskop transmisi dan polariskop refleksi. Kedua tipe ini menggunakan peralatan optik yang sama yaitu linier polarizer, ¼ wave plate retardasi dan analyzer seperti ditunjukkan pada gambar 2.11.

16

(a) Polariskop Transmisi

(b) Polariskop Refleksi

Gambar 2.11 Skema Polariskop

Pada eksperimen ini digunakan polariskop refleksi yang telah dimiliki oleh Laboratorium Mekanika Benda Padat Teknik Mesin ITS. Sehingga penjelasan yang lebih mendalam dititik beratkan pada polariskop refleksi. Metoda polariskop refleksi dikenal dengan metoda birefringent coating merupakan pengembangan dari metoda transmisi dalam mengukur regangan permukaan baik dua maupun tiga dimensi yang tidak tembus cahaya. Pelapis fotoelastik adalah lembaran tipis dari material birefringent biasanya polimer, yang dilekatkan pada spesimen yang dianalisa. Pada bidang antara pelapis dan spesimen berfungsi sebagai cermin untuk merefleksikan cahaya. Ketika spesimen dibebani perpindahan yang terjadi pada permukaan spesimen ditransmisikan ke permukaan pelapis, sehingga pada pelapis terjadi medan regangan sepanjang ketebalannya. Distribusi medan regangan (perbedaan regangan prinsipal) pada permukaaan ditentukan dengan memakai pantulan cahaya polariskop untuk mencatat fringe order. Dengan pelapis yang tipis regangan yang terjadi pada permukaan spesimen ditransisikan ke pelapis tanpa adanya distorsi. Pada kondisi ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

17

3

zz

0 , pada pelapis. Besarnya perbedaan tegangan prinsipal pada pelapis

dipengaruhi oleh properties material pelapis dan tebal pelapis (2hc), maka didapatkan persamaan :
1 ( 2
1

c

2

c)

N. f 2h c

[Dally, 1991, hal: 455]

.........(2.11)

Jelaslah bahwa dengan mengamati fringe order N dan mengetahui properties material pelapis, maka perbedaan tegangan prinsipal dapat diketahui. Dengan adanya hubungan regangan-tegangan, maka persamaan (2.11) menjadi,
1 ( 2
1

c

2

c)

N. f 2h c

N 2h c K

.....................(2.12)

Dengan K adalah koefisien regangan optik. λ adalah panjang gelombang cahaya

Untuk meterial fotoelastis bersifat elastik linier, konstanta fε, fσ, dan K memiliki hubungan sebagai berikut:

f

K

1 f Ec

[Dally, 1991, hal: 429]

........….............……(2.13)

2.2.3 Material Pelapis Salah satu faktor yang terpenting pada analisa fotoelastik adalah pemilihan material pelapis, untuk itu perlu diketahui kriteria material pelapis. Sifat fisik dari pelapis yang ideal haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Memiliki koefisien regangan optik K yang tinggi untuk memaksimalkan jumlah frinji per unit regangan. b. Modulus elastisitasnya rendah Ec untuk mengurangi efek penguatan. c. Memiliki ketahanan yang tinggi terhadap relaksasi regangan optik dan mekanik untuk memaksimalkan stabilitas pengukuran.

18

d. Respon regangan optik yang linier untuk memperkecil reduksi data. e. Memiliki sifat rekat yang baik untuk menjamin regangan pada interfis antara pelapis dan spesimen. f. Memiliki perpanjangan yang sesuai, sehingga dapat diketahui range maksimum regangan yang mampu ditangani oleh pelapis. g. Kestabilan koefisien strain-optik K terhadap temperatur. h. Dapat diaplikasikan pada berbagai kontur. Material pelapis yang diproduksi oleh Vishay Measurement Group, tersedia dalam berbagai type baik dalam bentuk lembaran (PS) maupun cairan (PL).

2.2.4 Penentuan Order Frinji Metoda yang dilakukan untuk menentukan order frinji yang ditunjukkan oleh pelapis tergantung pada respon pelapis dan akurasi yang dibutuhkan pada analisa. Jika respon pelapis besar (4 atau lebih), cahaya monokromatik dapat digunakan untuk mendapatkan pola isokromatik frinji dengan field terang dan gelap. Umumnya frinji-frinji ini dapat diinterpolasi maupun ekstrapolasi mendekati 0,2 fringe, dengan akurasi 5% didasarkan pada 4 frinji. Untuk pola frinji antara 2 dan 4, gunakan pola warna yang dihasilkan oleh cahaya putih. Pola warna dihasilkan dengan penguraian atau menghilangkan satu atau lebih warna dari spektrum sinar putih. Warna frinji yang diamati dihasilkan dengan porsi spektrum yang ditransmitkan oleh spektrum sinar putih. Urutan warna frinji yang dihasilkan dengan peningkatan tegangan ditunjukkan pada tabel 2.1. Warna yang terjadi merupakan fungsi dari distribusi energi spektrum sinar putih. Urutan warna ini cukup memadai pada pengamatan secara visual. Untuk penentuan order frinji dengan presisi, dimana maksimum order frinji kurang dari 2 dengan akurasi 5% atau kurang, biasanya sering menggunakan teknik kompensasi. Teknik ini menggunakan metode titik per titik secara signifikan dapat meningkatkan akurasi penentuan order frinji.

19

Tabel 2.1 Karakteristik Isokromatik Frinji Approximate Relative Fringe Color Retardation Order (nm) (N) Black 0 0 Gray 160 0.8 White 260 0.45 Pale Yellow 345 0.6 Orange 460 0.8 Dull Red 520 0.9 Purple (Tin of passage) 575 1 Deep Blue 620 1.08 Blue Green 700 1.22 Green-Yellow 800 1.39 Orange 935 1.63 Rose Red 1050 1.82 Purple (Tin of passage) 1150 2 Green 1350 2.35 Green-Yellow 1440 2.5 Red 1520 2.65 Red / Green Transition 1730 3 Green 1800 3.1 Pink 2100 3.65 Pink / Green Transition 2300 4 Green 2400 4.15 Type PS-1 Photoelastic Plastic, 0.080in (2 mm) thick, f = 950 με/fringe (reflection)

Strain (με) 0 265 425 570 760 855 950 1025 1160 1320 1550 1730 1900 2230 2380 2520 2850 2950 3470 3800 3940

Sumber: Vishay Measurement Group, Operating Instruction and Technical Manual

2.3 Dasar Teori Pengolahan Citra Pengolahan Citra merupakan salah satu bentuk simulasi dalam pengolahan gambar atau citra. Dalam pengolahan citra, gambar atau citra diidentifikasi sebagai matriks yang terdiri atas angka yang menyatakan harga tiap pixel warna.

20

Hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut ini:

r

R R G

B

, g

G R G

B

,

b

B R G B

dimana : r = harga yang menyatakan persentase dari warna merah dengan warna hijau dan biru g = harga yang menyatakan persentase dari warna hijau dengan warna merah dan biru b = harga yang menyatakan persentase dari warna biru dengan warna hijau dan merah. R = nilai warna merah G = nilai warna hijau B = nilai warna biru r+g+b=1 Untuk warna gray scale dinyatakan dalam range 0-255. Sedangkan untuk warna hitam putih (black and white) dinyatakan dalam range 0-1. Dalam sub bab ini, akan dijelaskan sekilas tentang citra digital, yang meliputi representasi citra digital dalam komputer dan ketetanggaan sebuah piksel.

2.3.1 Mengubah RGB Menjadi Bentuk Grayscale OpenCv menyediakan syntax untuk mengubah RGB ke grayscale dengan menggunakan perintah “cvCvtColor”. Berikut ini contoh untuk mengkonversi RGB ke grayscale IplImage *src = cvLoadImage( argv[1], CV_LOAD_IMAGE_COLOR );

width = src->width; height = src->height;

IplImage *dst = cvCreateImage( cvSize( width, height ), IPL_DEPTH_8U, 1 );

21

cvCvtColor( src, dst, CV_RGB2GRAY );

Gambar 2.12. Konversi RGB ke grayscale

2.3.2 Representasi Citra Digital Sebuah citra digital dapat dianggap sebagai sebuah matriks yang elemenelemennya berupa bilangan real. Citra berderajat keabuan (grayscale) dapat dianggap sebagai sebuah fungsi dua dimensi f ( x, y) , dimana nilai setiap titik

( x, y) menyatakan tingkat kecerahan (derajat keabuan) citra.
Untuk citra berukuran M
x 1, 2, ..., M

N , sebuah matriks

f ( x, y) untuk nilai

dan y

1, 2, ..., N

dapat mewakili citra tersebut. Representasi

citra dalam bentuk matriks dapat dilihat pada gambar 2.17. Masing-masing elemen matriks ini disebut dengan piksel.

x
f (1,1)
f (1,2) f (2,1)

f (M ,1)

f (2,2)

f (M ,2)


y

f (1, N ) f (2, N )

f (M , N )

Gambar 2.13 Representasi citra dalam bentuk matriks

22

Demi kemudahan dan kesederhanaan, representasi citra dapat dituliskan sebagai sebuah formulasi (2.10).

f ( x, y )

f (1,1) f (1,2)  f (1, N )

f (2,1)  f (2,2)   

f ( M ,1) f ( M ,2) 

……….... (2.14)

f (2, N )  f ( M , N )

Contoh sebuah citra berderajat keabuan dan matriks representasinya dapat dilihat pada gambar 2.14.

f ( x, y )

156 159 158 155 158  152 160 154 157 158 157  153 156 159 158 155 158  152        121 126 130 162 102  113

Gambar 2.14 Citra berderajat keabuan dan matriks representasinya

2.3.3

Ketetanggaan Sebuah Piksel Sebuah sub citra yang berukuran m n (bilangan m dan n merupakan

bilangan ganjil yang lebih dari 3) dari citra f ( x, y) adalah sebuah citra yang didefinisikan sebagai:
0 x, y

f ( a , b) | x

m 1 m 1 n 1 n 1 a x ,y b y 2 2 2 2

..(2.15)

Jika terdapat sebuah piksel p pada koordinat ( x, y) , dan koordinat titik

( x, y) merupakan titik pusat sub citra
sub citra tersebut didefinisikan sebagai:
xy 0 xy

0 x, y

. Maka, ketetanggaan piksel p pada

\ f ( x, y )

.....................................(2.16)

23

Simbol \ merupakan operasi „kecuali‟. Persamaan (2.16) mempunyai arti bahwa ketetanggaan piksel p merupakan himpunan piksel f ( x, y) . Jika sebuah sub citra berukuran m n , maka jumlah anggota ketetanggan piksel adalah mn 1 . Sebagai contoh adalah sub citra yang memiliki ukuran 3 3 , dan piksel p berada pada pusat koordinat ( x, y) . Maka piksel p memiliki 8 ketetanggaan, yaitu:
x, y
0 xy

tanpa menyertakan

f ( x 1, y 1), f ( x, y 1), f ( x 1, y 1), f ( x 1, y), f ( x 1, y), f ( x 1, y 1), f ( x, y 1), f ( x 1, y 1)
Gambar 2.15 menunjukkan 8 ketetanggaan sebuah piksel
p

yang

berkoordinat ( x, y) .

Gambar 2.15 Ketetanggaan piksel yang berkoordinat ( x, y)

2.4. Proses Pengolahan Citra Yang Akan Dilakukan
Proses pengolahan citra yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan

library untuk pengolahan citra menggunakan bahasa C/C++ atau lebih dikenal dengan OpenCV. OpenCV berarti Intel ® Open Source Computer Vision Library, merupakan kumpulan library yang digunakan untuk melakukan proses Pengolahan Citra, Object Identification, Segmentation, Racognition (Face Recognition, Gesture Recognition, Motion Tracking) dll. Data yang akan diolah
berupa citra (image) hasil pengukuran Metoda Fotoelastisitas. Dalam hal ini format citra adalah jpg. Proses selanjutnya adalah pengolahan citra (image processing) melalui beberapa tahapan, sebagai berikut:

24

a.

Input file citra yang akan diproses Tahapan ini mencakup pendeklarasian library yang dibutuhkan,

pendeklarasian variabel yang digunakan, input nama file dan level deteksi, memasukkan ke dalam memori termasuk proses masking. b. Mengubah citra RGB menjadi citra keabuan Tujuannya untuk menyederhanakan model citra. Konsepnya mengurangi citra dengan tiga layer (citra RGB) menjadi satu layer matrik (citra keabuan). c. Tresholding Yaitu pengambilan harga-harga piksel, dimana nilai yang ditampilkan adalah nilai maksimum dan minimum dalam suatu range tertentu saja dengan prosentase pengambilan yang kita tentukan sendiri. Dimana dalam hal ini yang diambil adalah harga piksel hitam-putih yang memiliki nilai 0 untuk warna hitam dan 255 untuk warna putih. Hasil tresholding berupa citra biner atau citra yaitu citra dengan nilai setiap piksel diasumsikan salah satu dari dua nilai diskrit, yaitu nilai “on” dan nilai off. d. Filtering Berfungsi untuk menghabiskan titik putih pada citra biner yang dihasilkan dari proses treshold (dengan perintah cverode) dan menghaluskan citra (dengan perintah cvdilate). Pada tahap ini diharapkan gambar yang diperoleh bisa lebih tajam karena noise yang terdapat pada citra bisa dihilangkan e. Penyimpanan citra hasil pengolahan Citra hasil pengolahan disimpan dalam folder yang sama dengan citra input, dalam hal ini ukuran citra hasil pengolahan dibuat sama dengan ukuran citra input, tetapi dengan format png. Keunggulan dari penyimpanan citra dalam format png karena format ini tidak menghilangkan bagian dari citra yang sedang diolah (sehingga penyimpanan berulang ulang dari citra tidak akan menurunkan kualitas citra)

25

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

26

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian yang akan digunakan adalah secara eksperimental dengan menggunakan sistem optik. Sedangkan langkah–langkah yang digunakan untuk merealisasikan Studi eksperimental pengaruh penggunaan mikroskop pada metode fotoelastisitas untuk meningkatkan kepresisian penghitungan orde frinji pada zona pembebanan dipaparkan pada sub-bab berikut dengan tujuan agar penulisan tugas Tesis ini dapat dilakukan secara lebih terarah dan terencana.

3.1.

Langkah-langkah Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan sehubungan dengan studi studi

eksperimental pengaruh penggunaan mikroskop pada metode fotoelastisitas untuk meningkatkan kepresisian penghitungan orde frinji pada zona pembebanan adalah sebagai berikut:

a. Studi Literatur Dilakukan studi literatur untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan teknik pengukuran dengan metode fotoelastisitas, baik itu berupa jurnal, situs internet, maupun dari buku teks. b. Pembuatan Alat dan Objek Penelitian Dalam hal ini alat yang akan digunakan adalah alat pemberi beban tekan sederhana (gambar 3.1) dan objek penelitian berupa disk pejal yang terbuat dari bahan urethane rubber dengan diameter (D) = 60 mm, dan tebal (h) = 6 mm dijelaskan dalam gambar 2. Bahan urethane rubber tersebut memiliki Modulus elastisitas (E) = 3.1 MPa, Poisson’s ratio v = 0,46 dan nilai frinji tegangan, f = 1.81 N/cm frinji. Pemilihan bentuk spesimen disk adalah berdasarkan pada penelitian terdahulu yang menggambarkan kondisi pembebanan statis pada benda berputar yang mengalami kontak dengan elemen lainnya. Selain itu penghitungan
27

orde frinji untuk medan frinji isokromatis pada spesimen berbentuk disk lebih mudah dilakukan dibandingkan bentuk-bentuk lainnya karena pola frinji yang dihasilkan lebih teratur.

Gambar 3.1 (a) Rancangan Alat Pemberi Beban (b) Realisasi Alat Pemberi Beban

D

h

Gambar 3.2 Rancangan Spesimen

28

c. Identifikasi Variabel-variabel yang mempengaruhi penelitian Setelah alat uji dan objek penelitian telah dipersiapkan maka diidentifikasi variabel-variabel apa saja yang mempengaruhi penelitian yang akan dilakukan. Dalam eksperimen ini variabel yang dimaksud berupa besarnya pembebanan P i, Tingkat Perbesaran obyek M sebagai variabel bebasnya yang selanjutnya dipakai dalam penentuan orde frinji N yang berhubungan langsung dengan selisih tegangan prinsipalnya (
1

2).

d. Set up Peralatan Optis Peralatan optis yang diperlukan pada penelitian ini adalah 030-Series Reflection Polariscope yang diproduksi oleh Vishay Measurement Group serta

peralatan mikroskop dan perekam citra berupa kamera type SLR (Single Lens Reflex) merk Nikon serie D3000. Adapun Susunan Reflection Polariscope 030Series dapat dilihat pada gambar 3.3, dimana polariscope ini terdiri atas lensa polarizer, yang tepat berada di depan sumber cahaya dan susunan lensa analyser untuk mengamati obyek. Sedangkan mikroskop direncanakan ditempatkan di depan lensa analyser. Set-up mikroskop yang akan digunakan dalam eksperimen ini dapat dilihat pada gambar 3.4. Untuk merekam citra hasil perbesaran optis, pada posisi lensa okuler dipasang kamera adaptor yang kompatibel dengan semua type kamera SLR merk Nikon. Kamera adaptor ini selanjutnya dihubungkan dengan body kamera. Untuk mendapatkan fokus yang sesuai dari citra perbesaran, lensa kamera Nikon tersebut ditempatkan tepat di depan analyser. Susunan mikroskop yang terpasang pada polariskop selanjutnya dapat dilihat pada gambar 3.5 (a), sedangkan susunan mikroskop lengkap dengan alat perekam citra, yaitu kamera SLR merk Nikon dapat dilihat pada gambar 3.5 (b)

29

Gambar 3.3 Polariskop

Gambar 3.4 Set-up mikroskop yang akan digunakan

30

(a)

(b)

Gambar 3.5 (a) Susunan mikroskop yang terpasang pada polariskop (b) Susunan mikroskop yang terpasang pada polariskop ditambah dengan kamera.

e. Pemberian Beban Pada Objek Pemberian Beban dilakukan dengan memutar komponen batang ulir penekan dengan torsimeter sesuai pembebanan yang diinginkan. Semakin besar torsi yang diberikan, semakin besar pula beban yang diberikan pada specimen uji. Untuk mendapatkan pembebanan yang sesuai maka pemberian beban dengan torsimeter dikalibrasi dengan alat pengukur gaya. Beban dikenakan pada specimen atas 4 tingkatan pembebanan, masing-masing untuk kondisi sebelum dilakukan perbesaran dan selanjutnya untuk 3 tingkat perbesaran yang berbeda, selanjutnya berdasarkan pola isokromatis yang terbentuk pada obyek pengamatan dicatat variabel-variabel terkait tingkat pembebanan tersebut dalam tabel 3.1, 3.2, dan 3.3 berikut:

Tabel 3.1. Format Data Eksperimen Tanpa Perbesaran No 1 2 3 4 Beban (Pi) P1 P2 P3 P4 Orde frinji (N) N1 N2 N3 N4
1

2

31

Tabel 3.2. Format Data Eksperimen Dengan Perbesaran Mx No 1 2 3 4 Beban (Pi) P1 P2 P3 P4 Orde frinji (N) N1 N2 N3 N4
1

2

Tabel 3.3. Format Data Eksperimen Dengan Perbesaran Nx No 1 2 3 4 Beban (Pi) P1 P2 P3 P4 Orde frinji (N) N1 N2 N3 N4
1

2

f. Image Processing Setelah setting alat optis dilakukan maksimal kemudian akan di dapatkan pola frinji isokromatis yang diberikan pada material uji yang kemudian di tangkap oleh kamera dengan tipe SLR (Single Lens Reflex. Image yang diperoleh dari kamera tadi diolah dengan menggunakan software OpenCV C++ untuk mendapatkan hasil pengukuran orde frinji secara lebih akurat pada zona pembebanan.

g. Komparasi Pada data yang diperoleh akan dilakukan komparasi dengan menggunakan software ANSYS sesuai dengan besar pembebanan yang diberikan. Adapun format tabel untuk data yang diperoleh dari simulasi numerik dengan software ANSYS tersebut dapat dilihat pada tabel 3.4.

32

Tabel 3.4. Format Data Hasil simulasi numerik pada zona pembebanan
No Beban (N) Stress Intensity (M Pa)

1 2 3 4

P1 P2 P3 P4

Selanjutnya hasilnya, berupa selisih tegangan principal pada zona pembebanan tersebut dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari data eksperimen pada kondisi sebelum perbesaran, dan sesudah perbesaran untuk kelima tingkat pembebanan tersebut. Hasil komparasi menunjukkan sejauh mana kesesuaian efek perbesaran dengan hasil simulasi numerik.

h. Analisa Hasil Analisa hasil eksperimen dimaksudkan untuk menentukan tingkat kepresisian atau perbaikan kesalahan pengukuran selisih tegangan prinsipal dengan adanya perbesaran optis. Pada analisa ini dihitung besarnya tambahan orde frinji rata-rata yang bisa didapatkan dari hasil eksperimen dengan 3 macam perbesaran optis. Semakin besar tambahan orde frinji rata-rata yang bisa didapatkan menunjukkan semakin signifikannya efek perbesaran perbesaran optis tersebut.

3.2

Diagram Alir Penelitian Penjelasan langkah – langkah rancang bangun secara sistematis dapat

dibuat dalam bentuk diagram alir seperti ditunjukkan Gambar 3.7. berikut ini:

33

Mulai

Tinjauan Pustaka dan Studi Literatur

Pembuatan Obyek Penelitian

Penentuan Variabel Penelitian Analisa Hasil Set up Peralatan Optis Penyusunan Laporan

BebanPada Objek

Selesai Pola Isokromatis Perhitungan Numerik

Tidak Ya
Image Capture

Image Processing

Komparasi

Gambar 3.6. Diagram alir penelitian.

34

BAB 4 PEMODELAN DAN EKSPERIMEN

4.1.

Pemodelan Material uji digambarkan dan dimodelkan dengan software Ansys dengan

spesifikasi geometri dan material properties sebagai berikut: Jenis material : urethane rubber Diameter 60 mm Tebal 6 mm Rapat massa ( ) 1.25 x 10-3 kg/mm3 Modulus Elastisitas (E) 3.1 MPa Poisson ratio ( ) 0.46

Material uji mengalami pembebanan terpusat kompresi diametral pada sisi sebelah atas dalam arah y negatif dan ditahan tetap pada ujung sebelah bawahnya. Pemodelan dilakukan untuk variasi beban 5.04 N, 7.54 N, 10.04 N, dan 12.54 yang diperoleh dengan penambahan kelipatan 2.5 N (0.25 kg) yaitu harga 1 skala pada dial pengukur gaya terhadap beban 2.54 N yang merupakan berat poros penekan itu sendiri saat ulir penekan masih memberikan gaya tekan 0 N terhadap material uji. Pemberian beban dibatasi hanya pada harga 12.54 N dikarenakan material spesimen uji yang cenderung lunak menyebabkan spesimen mengalami deformasi yang cukup besar pada saat beban ditambah menjadi 15.04 N, sehingga bentuk spesimen berobah secara signifikan. Dari hasil analisa numerik dihasilkan countor stress intensity, yaitu selisih tegangan prinsipal maksimum dan tegangan prinsipal minimum (
1

-

3).

Besarnya stress intensity ini adalah dua kali harga tegangan geser maksimum. Stress intensity yang terjadi pada spesimen untuk beban 5.04 N dapat dilihat pada gambar 4.1.

35

Gambar 4.1 Kontour stress intensity dengan beban 5.04 N

Gambar 4.1 dihasilkan dari pemberian meshing dengan panjang 1 mm, yang menghasilkan jumlah elemen 3407 dan jumlah node 10410. Pemberian beban dilakukan pada node di ujung atas dengan intensitas beban ke arah y sebesar -5,04 N, sedangkan displacement pada node di ujung sebelah bawah spesimen dibuat 0 (nol) untuk semua DOF. Dari gambar 4.1 dapat dilihat besarnya stress intensity maksimum terjadi pada node 2 yang terletak di ujung sebelah atas disk (bagian yang berwarna biru muda) yang terletak pada zona pembebanan, yang besarnya 0.7933 MPa dan stress intensity minimum sebesar 0.183 x 10-4 MPa. Ini menunjukkan bahwa ( node 2. Untuk beban sebesar 7.25 N, besarnya stress intensity dapat dilihat pada gambar 4.2, dimana pemberian meshing sama dengan kondisi pada beban 5.04 N. Dari gambar 4.2 dapat dilihat besarnya stress intensity maksimum terjadi pada node 2 yang terletak di ujung sebelah atas disk (bagian yang berwarna biru muda) yang terletak pada zona pembebanan, yang besarnya 1.187 MPa dan stress intensity minimum sebesar 0.427 x 10-4 MPa. Ini menunjukkan bahwa (
3)maks 1 1

-

3)maks

= 0.7933 MPa yang terletak pada

-

= 1.187 MPa yang terletak pada node 2.

36

Gambar 4.2 Kontour stress intensity dengan beban 7.54 N

Besarnya stress intensity ( dilihat pada gambar 4.3.

1

-

3)

untuk pemberian beban 10.04 N dapat

Gambar 4.3 Kontour stress intensity dengan beban 10.04 N

37

Sama halnya dengan pembebanan sebelumnya, dari gambar 4.3 dapat dilihat bahwa besarnya stress intensity maksimum terjadi pada node 2 yang terletak di ujung sebelah atas disk (bagian yang berwarna biru muda) yang terletak pada zona pembebanan, yang besarnya 1.58 MPa dan stress intensity minimum sebesar 0.484 x 10-4 MPa. Pada pembebanan sebesar 12.25 N, besarnya stress intensity dapat dilihat pada gambar 4.4, dimana pemberian meshing sama dengan kondisi pada beban 5.04 N. Dari gambar 4.4 dapat dilihat besarnya stress intensity maksimum terjadi pada node 2 yang terletak di ujung sebelah atas disk (bagian yang berwarna biru muda) yang terletak pada zona pembebanan, yang besarnya 1.974 MPa dan stress intensity minimum sebesar 0.171 x 10-3 MPa. Ini menunjukkan bahwa (
3)maks 1

-

= 1.974 MPa yang terletak pada node 2.

Gambar 4.4 Kontour stress intensity dengan beban 12.54 N

Dari keseluruhan hasil simulasi di atas, besarnya stress intensity, atau selisih tegangan prinsipal maksimum dan tegangan prinsipal minimum yang dihasilkan dari simulasi numerik dengan software Ansys pada zona pembebanan, dalam hal ini pada node 2, untuk pembebanan sebesar 5.04 N, 7.54 N, 10.04 N

38

dan 12.54 N dapat ditabulasikan pada tabel 4.1. Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa stress intensity bertambah dengan bertambahnya intensitas beban.

Tabel 4.1 Data Hasil analisa numerik pada zona pembebanan Beban (N) 5.04 7.54 10.04 12.54 Stress intensity
1

No

2

(MPa) 0.7933 1.1870 1.5800 1.9740

1 2 3 4

4.2.

Eksperimen Dengan Metode Fotoelastis

Eksperimen yang dilakukan menggunakan sumber cahaya monokromatis yang dihasilkan oleh lampu halogen berwarna merah untuk mendapatkan pola frinji isokromatis gelap-terang yang akan memudahkan untuk pengolahan citra selanjutnya. Pertimbangan untuk menggunakan warna merah adalah dikarenakan warna tersebut merupakan elemen primer warna dalam sistem citra RGB disamping ketersediaan lampu halogen berwarna untuk spesifikasi yang sesuai dengan tipe polariskop yang dipergunakan hanya terdiri dari warna merah, hijau dan kuning. Penggunaaan warna hijau dan kuning menunjukkan kualitas hasil citra yang tidak maksimal. Hasil perekaman citra dengan metode Fotoelastis untuk perbesaran 9x ditampilkan pada gambar. 4.5 s/d gambar 4.8.

39

Gambar 4.5 Pola frinji untuk beban 5.04.N dan perbesaran 9x

Gambar 4.6 Pola frinji untuk beban 7.54.N dan perbesaran 9x

Gambar 4.7 Pola frinji untuk beban 10.04.N dan perbesaran 9x

40

Gambar 4.8 Pola frinji untuk beban 12.54.N dan perbesaran 9x

Dari citra hasil perekaman pada gambar 4.5 s/d gambar 4.8 dapat dilihat bahwa pada bagian ujung sebelah atas spesimen terdapat pola gelap sehingga tidak dimungkinkan untuk menghitung frinji pada bagian tersebut. Hasil perekaman citra dengan metode Fotoelastis untuk perbesaran 15x ditampilan sebagai berikut:

Gambar 4.9 Pola frinji untuk beban 5.04.N dan perbesaran 15x

41

Gambar 4.10 Pola frinji untuk beban 7.54.N dan perbesaran 15x

Gambar 4.11 Pola frinji untuk beban 10.04.N dan perbesaran 15x

Gambar 4.12 Pola frinji untuk beban 12.54.N dan perbesaran 15x

42

Dari citra hasil perekaman pada gambar 4.9 s/d gambar 4.12 dapat dilihat bahwa seperti halnya citra yang dihasilkan dengan perbesaran 9x, pada bagian ujung sebelah atas spesimen terdapat pola gelap sehingga tidak dimungkinkan untuk menghitung frinji pada bagian tersebut. Hasil perekaman citra dengan metode Fotoelastis untuk perbesaran 20x ditampilan sebagai berikut:

Gambar 4.13 Pola frinji untuk beban 5.04.N dan perbesaran 20x

Gambar 4.14 Pola frinji untuk beban 7.54.N dan perbesaran 20x

43

Gambar 4.15 Pola frinji untuk beban 10.04.N dan perbesaran 20x

Gambar 4.16 Pola frinji untuk beban 12.54.N dan perbesaran 20x

Dari citra hasil perekaman pada gambar 4.13 s/d gambar 4.16 dapat dilihat bahwa pada bagian ujung sebelah atas spesimen juga terdapat pola gelap seperti pada citra hasil perbesaran terdahulu sehingga tidak dimungkinkan untuk menghitung frinji pada bagian tersebut. Hasil perekaman citra dengan metode Fotoelastis tanpa perbesaran optis ditampilan sebagai berikut:

44

Gambar 4.17 Pola frinji untuk beban 5.04.N tanpa perbesaran

Gambar 4.18 Pola frinji untuk beban 7.54.N tanpa perbesaran

Gambar 4.19 Pola frinji untuk beban 10.04.N tanpa perbesaran

45

Gambar 4.20 Pola frinji untuk beban 12.54.N tanpa perbesaran

Dari citra hasil perekaman pada gambar 4.17 s/d gambar 4.20 dapat dilihat bahwa hampir seluruh garis-garis frinji isokromatik yang terbentuk pada disk dapat diamati dengan jelas, kecuali pada bagian ujung atas, tempat dimana zona pembebanan berada, dan pada ujung bawah disk, yaitu tempat dimana constraint berada. Pada tersebut, orde frinji sulit untuk ditentukan karena semakin rapatnya jarak antara orde frinji yang berdekatan. Karenanya perlu dilakukan pengolahan citra untuk memperjelas tampilan citra yang dihasilkan, sehingga lebih mudah untuk melakukan penghitungan orde frinji dan selanjutnya menentukan selisih tegangan prinsipal maksimum dan tegangan prinsipal minimum berkenaan dengan orde frinji tersebut. 4.2. Pengolahan Citra Pengolahan citra pada eksperimen ini, berguna untuk mendapatkan citra hasil yang lebih jelas, khususnya pada pola frinji isokromatik yang terbentuk pada disk pasca pemberian beban. Dalam hal ini pengolahan citra dilakukan dengan menggunakan software pemrograman Open CV C++. Pengolahan citra yang sama dilakukan dengan tingkat deteksi warna yang berbeda (dalam kisaran 0 sampai 100), Hal ini dikarenakan kualitas yang dihasilkan berbeda untuk masing-masing citra.

46

Secara umum, tahapan pengolahan citra yang dilakukan dapat dituliskan sebagai berikut: a. Input citra dan penentuan level deteksi citra b. Mengubah citra menjadi gray image c. Mengubah citra gray image menjadi citra citra biner (hitam putih) berdasarkan level deteksinya d. Proses penghilangan titik putih yang tersisa, dan penghalusan citra hasil deteksi frinji e. Penyimpanan hasil pengolahan citra ke dalam file hasil.png

Hasil pengolahan terhadap citra yang terekam pada perbesaran optik 9x dapat dilihat pada gambar 4.21 s/d gambar 4.24.

4 2 1 3

Gambar 4.21 Hasil pengolahan citra untuk beban 5.04.N dan perbesaran 9x

2 1

3

4 5 6

Gambar 4.22 Hasil pengolahan citra untuk beban 7.54.N dan perbesaran 9x

47

2 3 1 4 5 6 7 8

9

Gambar 4.23 Hasil pengolahan citra untuk beban 10.04.N dan perbesaran 9x

4 6 9 8 7 5

3

2 1

Gambar 4.24 Hasil pengolahan citra untuk beban 12.54.N dan perbesaran 9x

Hasil pengolahan untuk citra hasil perekaman pada perbesaran optis 15x dapat dilihat pada gambar 4.25 s/d gambar 4.28.

4 3 1 2

Gambar 4.25 Hasil pengolahan citra untuk beban 5.04.N dan perbesaran 15x

48

1

2

3

4 5 6 7 8

Gambar 4.26 Hasil pengolahan citra untuk beban 7.54.N dan perbesaran 15x

4 5 9 8 7 6

3

2 1

Gambar 4.27 Hasil pengolahan citra untuk beban 10.04.N dan perbesaran 15x

3 4 5 6 10 9 8 7

2

1

Gambar 4.28 Hasil pengolahan citra untuk beban 12.54.N dan perbesaran 15x

Hasil pengolahan untuk citra hasil perekaman pada perbesaran optis 20x dapat dilihat pada gambar 4.29 s/d gambar 4.32.
49

1 5 2 3

6

4

Gambar 4.29 Hasil pengolahan citra untuk beban 5.04.N dan perbesaran 20x
2 3 6 5 4 1

8

7

Gambar 4.30 Hasil pengolahan citra untuk beban 7.54.N dan perbesaran 20x

1

2 3 4 5

6 7 8 9

Gambar 4.31 Hasil pengolahan citra untuk beban 10.04.N dan perbesaran 20x

50

1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Gambar 4.32 Hasil pengolahan citra untuk beban 12.54.N dan perbesaran 20x

Hasil pengolahan citra untuk citra terekam tanpa perbesaran optis dapat dilihat pada gambar 4.33 s/d gambar 4.36.
4 3 2

1

Gambar 4.33 Hasil pengolahan citra untuk beban 5.04.N tanpa perbesaran

6 5 4 3 2 1

Gambar 4.34 Hasil pengolahan citra untuk beban 7.54.N tanpa perbesaran

51

6 5 4 3 2 1

7

Gambar 4.35 Hasil pengolahan citra untuk beban 10.04.N tanpa perbesaran
7 5 4 6

3 2 1

Gambar 4.36 Hasil pengolahan citra untuk beban 12.54.N tanpa perbesaran

52

BAB 5 ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

5.1 Orde Frinji Maksimum Yang Dapat Diamati Berdasarkan citra hasil pengolahan dengan software hasil pemrograman OpenCv C++, dapat dibuat tabulasi jumlah orde frinji maksimum yang dapat diamati untuk kondisi tanpa perbesaran optis maupun dengan perbesaran optis masing-masing 9x, 15x dan 20x yang dikelompokkan menurut besarnya pembebanan yang diterima. Hasil tabulasi dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut:

Tabel 5.1 Orde frinji maksimum yang dapat dihitung berdasarkan beban dan perbesaran optis Orde Frinji maksimum Perbesaran 5.04 1x 9x 15x 20x 4 4 4 6 Beban (N) 7.54 6 6 8 8 10.04 7 9 9 9 12.54 7 9 10 11

Dari tabel 5.1 selanjutnya dibuat plot grafik orde frinji yang dapat dihitung untuk perbesaran masing-masing 1x, 9x, 15x dan 20x berdasarkan pertambahan beban yang diterimanya seperti terlihat pada gambar 5.1. Dari gambar 5.1 terlihat bahwa pada untuk kurva biru muda (tanpa perbesaran optis atau perbesaran 1x), kurva merah (perbesaran optis 9x) dan kurva hijau muda (perbesaran optis 15x) masih terdapat beberapa titik yang saling berimpit. Artinya belum terlihat pemisahan yang jelas antara efek perbesaran optis dan kondisi tanpa perbesaran optis. Pemisahan yang jelas baru terlihat pada kurva ungu (perbesaran optis 20x),

53

yang menunjukkan bahwa untuk setiap intensitas beban, efek perbesaran optis memberikan tambahan orde frinji terlihat yang signifikan.

12 10 Orde Frinji 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 10 12 14 1 9 15 20

Beban (N)

Gambar 5. 1 grafik orde frinji yang dapat dihitung untuk perbesaran optis 1x, 9x, 15x dan 20x berdasarkan pertambahan beban yang diterimanya

5.2 Tambahan Orde Frinji Yang Dapat Diamati Akibat Perbesaran Optis Tambahan orde frinji rata-rata yang dapat diamati akibat adanya perbesaran optis diperoleh dengan membandingkan kurva frinji yang dapat dihitung untuk perbesaran optis 9x, 15x dan 20x terhadap kurfa frinji yang dapat dihitung untuk perbesaran optis 1x (tanpa perbesaran optis). Untuk lebih jelasnya, grafik pada gambar 5.1 dapat digambar kembali pada gambar 5.2 dengan memberikan tambahan notasi pada masing-masing titik. Kurva biru muda (perbesaran optis 1x) dinamai dengan kurva A, kurva merah (perbesaran optis 9x) dinamai dengan kurva B, kurva hijau muda (perbesaran optis 15x) dinamai dengan kurva C, dan kurva ungu (perbesaran optis 20x) dinamai dengan kurva D. Sedangkan titik-titik pada keempat kurva yang berada pada posisi beban 5.04 N, 7.54 N, 10.04 N dan 12.54 N berturut-turut ditandai dengan subscript I, II, III dan IV.

54

12 10 Orde Frinji 8 6 4 2 0

BIII, CIII, DIII CII, DII DI AII, BII AI, BI, CI AIII

DIV CIV BIV AIV
1 9 15 20

0

2

4

6

8

10

12

14

Beban (N)

Gambar 5. 2 grafik orde frinji yang dapat dihitung untuk perbesaran optis 1x, 9x, 15x dan 20x berdasarkan pertambahan beban yang diterimanya dengan penambahan notasi.

Dengan memperhatikan notasi-notasi pada gambar 5.2, diperoleh besarnya tambahan orde frinji rata-rata yang dapat diamati untuk perbesaran 9x :

Dimana

n = jumlah data = banyaknya tingkatan pembebanan = 4

Tambahan orde frinji rata-rata yang dapat diamati untuk perbesaran 15x adalah

Dimana

n = jumlah data = banyaknya tingkatan pembebanan = 4

55

Tambahan orde frinji rata-rata yang dapat diamati untuk perbesaran 20x adalah

Dimana

n = jumlah data = banyaknya tingkatan pembebanan = 4

Dari ketiga hasil perhitungan di diatas dapat dilihat bahwa terdapat trend yang semakin meningkat untuk besarnya tambahan orde frinji rata-rata yang diperoleh dengan bertambahnya tingkat perbesaran optis.

5.3 Perbandingan Hasil Eksperimen Dan Analisa Numerik Untuk membandingkan data yang dihasilkan antara hasil simulasi numerik dengan software Ansys dan data hasil eksperimen dengan metode Fotoelastisitas dengan dan tanpa perbesaran terlebih dahulu ditentukan posisi vertikal orde frinji terbesar yang dapat terlihat berada. Agar pengukuran lebih mudah dilakukan, penentuan posisi frinji dilakukan sepanjang sumbu vertikal, sehingga absis tetap pada posisi 0, hanya ordinat yang berubah. Jarak frinji diukur dari ujung sebelah atas spesimen, dimana titik 0 (nol) ditetapkan tepat di sebelah ujung sebelah atas specimen. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan ruler tool pada software adobe photoshop, dimana jarak pengukuran dinyatakan dalam mm. Untuk mendapatkan ukuran aktual, konversi pengukuran pada gambar didekati dengan membagi hasil pengukuran dengan ruler tool pada adobe photoshop dan perbesarannya. a. Kondisi Tanpa Perbesaran Optis Orde frinji maksimum (N) yang dapat terhitung untuk pembebanan 5.04N tanpa perbesaran optis sebesar 4 frinji, sehingga berdasarkan persamaan 2.5 diperoleh besarnya selisih tegangan prinsipal pada koordinat pengukuran frinji tersebut:
N . f h

1   2 

56

dalam hal ini, h adalah tebal spesimen, yaitu sebesar 6 mm, sehingga:

1  2 

4 x1.81 N / cm frinji 1cm x 6 mm 10 mm

 1   2  0.12067MPa
Jarak vertikal untuk orde frinji ke 4 tersebut diukur dari ujung sebelah atas pada sumbu simetri specimen adalah sebesar -5.3333 mm Selanjutnya pada koordinat tersebut, dicari besarnya stress intensity, yaitu besarnya selisih tegangan prinsipal maksimum dan tegangan prinsipal minimum hasil simulasi numerik dimana:

Selebihnya untuk beban 7.54 N, beban 10.04 N dan 12.54 N, perbandingan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen yang diperoleh tanpa perbesaran optik pada jarak frinji terkait selanjutnya ditampilkan pada tabel 5.2. Tabel 5.2. Perbandingan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen tanpa perbesaran optik. Beban (N) 5.04 7.54 10.04 12.54 Orde Frinji 4 6 7 7 (1 - 2)Eksperimen (MPa) 0.12067 0.18100 0.21117 0.21117 Jarak frinji (mm) (1 - 2)Analisis (MPa)

-6.0000 0.11926 -8.0000 0.12251 -10.6667 0.13449 -13.3333 0.14722

b. Kondisi Perbesaran Optis 9x Dengan perbesaran optis sebesar 9x, jumlah orde frinji maksimum (N) yang dapat terhitung untuk pembebanan 5.04N adalah sebesar 4 frinji, sehingga berdasarkan persamaan 2.5 diperoleh besarnya selisih tegangan prinsipal pada koordinat pengukuran frinji tersebut:
N . f h

1   2 

57

1  2 

4 x1.81 N / cm frinji 1cm x 6 mm 10 mm

 1   2  0.12067MPa
Jarak vertikal untuk orde frinji ke 4 tersebut diukur dari ujung sebelah atas pada sumbu simetri spesimen adalah sebesar 60 mm. Sehingga diperoleh jarak aktual sebagai berikut:

Selanjutnya pada koordinat tersebut, dicari besarnya stress intensity, yaitu selisih tengangan prinsipal hasil simulasi numerik dimana:

Selebihnya untuk beban 7.54 N, beban 10.04 N dan 12.54 N, perbandingan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen yang diperoleh dengan perbesaran optik 9x pada jarak frinji terkait selanjutnya ditabulasikan pada tabel 5.3.

Tabel 5.3. Perbandingan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen dengan perbesaran optik 9x. Beban (N) 5.04 7.54 10.04 12.54 Orde Frinji 4 6 9 9 (1 - 2)Eksperimen (MPa) 0.12067 0.18100 0.27150 0.27150 Jarak frinji (mm) (1 - 2)Analisis (MPa)

-6.6667 0.10943 -7.7778 0.12585 -6.8889 0.21802 -8.0000 0.27235

c. Kondisi Perbesaran Optis 15x Orde frinji maksimum (N) yang dapat terhitung untuk pembebanan 5.04 N dengan perbesaran optis sebesar 15x adalah sebesar 4 frinji, sehingga berdasarkan

58

persamaan 2.5 diperoleh besarnya selisih tegangan prinsipal pada koordinat pengukuran frinji tersebut:
N . f h
4 x1.81 N / cm frinji 1cm x 4 mm 10 mm

1   2 
1  2 

 1   2  0.12067MPa
Jarak pengukuran dari ujung sebelah atas spesimen pada sumbu simetrinya terhadap frinji orde ke-4 adalah sebesar Lm = -98 mm. Sehingga diperoleh jarak aktual sebagai berikut:

Selanjutnya pada koordinat tersebut, dicari besarnya stress intensity, yang adalah selisih tengangan prinsipal hasil simulasi numerik dimana:

Selebihnya untuk beban 5.04 N, beban 7.54 N, beban 10.04 N dan 12.54 N, perbandingan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen yang diperoleh dengan perbesaran optik 15x pada jarak frinji terkait selanjutnya ditampilkan pada tabel 5.4.

Tabel 5.4. Perbandingan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen dengan perbesaran optik 15x. Beban (N) 5.04 7.54 10.04 12.54 Orde Frinji 4 8 9 10 (1 - 2)Eksperimen (MPa) 0.12067 0.24133 0.27150 0.30167 Jarak frinji (mm) (1 - 2)Analisis (MPa)

-6.5333 0.10943 -5.6667 0.16661 -6.1333 0.21802 -7.6667 0.27235

59

d. Kondisi Perbesaran Optis 20x Untuk perbesaran optis sebesar 20x, orde frinji maksimum (N) yang dapat terhitung untuk pembebanan 5.04N adalah sebesar 6 frinji, sehingga berdasarkan persamaan 2.5 diperoleh besarnya selisih tegangan prinsipal pada koordinat pengukuran frinji tersebut:
N . f h
6 x1.81 N / cm frinji 1cm x 4 mm 10 mm

1   2 
1  2 

 1   2  0.181MPa
Hasil pengukuran dari ujung sebelah atas spesimen pada sumbu simetrinya terhadap frinji orde ke-6 adalah sebesar Lm = -68 mm. Sehingga diperoleh jarak aktual sebagai berikut:

Selanjutnya pada koordinat tersebut, dicari besarnya stress intensity, yaitu selisih tengangan prinsipal hasil simulasi numerik dimana:

Selebihnya untuk beban 7.54 N, beban 10.04 N dan 12.54 N, perbandingan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen yang diperoleh dengan perbesaran optik 20x pada jarak frinji terkait selanjutnya ditampilkan pada tabel 5.5. Dari tabel 5.5 terlihat bahwa orde frinji maksimum yang dapat diukur adalah pada pembebanan 12.54N dengan jumlah orde frinji N = 11 frinji

60

Tabel 5.5. Perbandingan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dan hasil eksperimen dengan perbesaran optik 20x. Beban (N) 5.04 7.54 10.04 12.54 Orde Frinji 6 8 9 11 (1 - 2)Eksperimen (MPa) 0.18100 0.24133 0.27150 0.33183 Jarak frinji (mm) (1 - 2)Analisis (MPa)

-3.4000 0.20646 -4.5000 0.23591 -6.0500 0.25718 -7.0000 0.32126

Dari tabel 5.2 selanjutnya dibuat plot grafik perbandingan selisih tegangan prinsipal yang diperoleh dari hasil eksperimen tanpa perbesaran optis dan selisih tegangan principal hasil simulasi numerik dengan software Ansys seperti ditunjukkan pada pada gambar 5.3.

Perbandingan selisih tegangan prinsipal tanpa perbesaran optis
0.25 s1-s2 (MPa) 0.2 0.15 0.1 0.05 0 5.04 7.54 10.04 12.54 (s1-s2)Eksperimen (s1-s2)Analisis

Gambar 5. 3 Grafik Pebandingan Selisih Tegangan Prinsipal Tanpa Perbesaran Optis

Plot grafik perbandingan selisih tegangan principal yang diperoleh dari hasil eksperimen dengan perbesaran optis 9x dan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dengan software Ansys dapat dibuat berdasarkan data pada tabel 5.3. Hasilnya dapat dilihat pada gambar 5.4

61

Perbandingan selisih tegangan prinsipal dengan perbesaran 9x
0.3 0.25 s2-s1 (MPa) 0.2 0.15 0.1 0.05 0 5.04 7.54 10.04 12.54

(s1-s2)Eksperimen
(s1-s2)Analisis

Gambar 5. 4 Grafik Pebandingan Selisih Tegangan Prinsipal Dengan Perbesaran Optis 9x

Plot grafik perbandingan selisih tegangan prinsipal hasil eksperimen dengan perbesaran optis 15x dan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dengan software Ansys berdasarkan data pada tabel 5.4. dapat dilihat pada gambar 5.5 Perbandingan selisih tegangan prinsipal dengan perbesaran 15x
0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 5.04 7.54 10.04 12.54

s1-s2 (MPa)

(s1-s2)Eksperimen (s1-s2)Analisis

Gambar 5. 5 Grafik Pebandingan Selisih Tegangan Prinsipal Dengan Perbesaran Optis 15x

Plot grafik perbandingan selisih tegangan prinsipal yang diperoleh dari hasil eksperimen dengan perbesaran optis 20x dan selisih tegangan prinsipal hasil simulasi numerik dengan software Ansys berdasarkan data pada tabel 5.5. dapat dilihat pada gambar 5.6

62

Perbandingan selisih tegangan prinsipal dengan perbesaran optis 20x
0.35 0.3 s1-s2 (Mpa) 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 5.04 7.54 10.04 12.54 (s1-s2)Eksperimen

(s1-s2)Analisis

Gambar 5. 6 Grafik Pebandingan Selisih Tegangan Prinsipal Dengan Perbesaran Optis 20x

Berdasarkan grafik pada gambar 5.3 s/d 5.6 dapat dilihat kecenderungan bertambahnya kesesuaian antara kurva selisih tegangan prinsipal hasil eksperimen dan kurva selisih tegangan prinsipal hasil analisa numerik dengan bertambahnya tingkat perbesaran optis.

63

(Halaman Ini Sengaja Dikosongkan)

64

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan dengan empat kondisi perbesaran optis serta hasil analisa numerik, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Terdapat trend yang semakin meningkat untuk besarnya tambahan orde frinji rata-rata yang diperoleh dengan bertambahnya tingkat perbesaran optis. Dalam hal ini terdapat tambahan orde frinji rata-rata maksimum sebesar 2 orde frinji pada kondisi perbesaran optis 20x bila dibandingkan dengan kondisi tanpa perbesaran optis. 2. Adanya kecenderungan bertambahnya kesesuaian antara kurva hasil eksperimen dan kurva hasil analisa numerik dengan bertambahnya tingkat perbesaran optis. 3. Tingkat pembebanan maksimum untuk dapat melihat dengan jelas pola frinji isokromatis terbatas pada beban 12.54 N. Pada tingkat pembebanan selanjutnya, spesimen mengalami deformasi yang cukup signifikan (terdapat buckling). 4. Berdasarkan pola frinji isokromatis yang terlihat pada citra hasil eksperimen terdapat sedikit perbedaan jumlah frinji antara bagian ujung atas dan ujung bawah spesimen akibat luas permukaan kontak yang berbeda.

6.1 Saran 1. Dalam melaksanakan eksperimen diusahakan tidak ada sumber penerangan yang lain untuk memaksimalkan hasil perekaman citra. Adanya sumber penerangan lain dapat menyebabkan degradasi terhadap kualitas citra yang dihasilkan. 2. Penggunaan alat tambahan berupa kamera ccd yang terkoneksi langsung dengan tele-mikroskop dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas citra yang dihasilkan untuk kondisi eksperimen dengan perbesaran optis.
65

3. Agar diperoleh kualitas hasil citra terekam yang maksimal, penggunaan polariskop transmisi sangat dianjurkan untuk spesimen yang terbuat dari material transparan.

66

DAFTAR PUSTAKA

Budynas Richard G. (1999). Advanced Strength And Applied Stress Analysis. Second Edition, Mc.Graw-Hill, Inc. Del Toro, Vincent, (1975), Electromechanical Devices For Energy Conversion And Control System, Prentice – Hall of India, New Delhi. Draft Spots Standard Part III.(2005). Calibrations and Assessment of Optical Strain Measurement. Vishay Measurements Group Inc. Dally JW., and W.F. Riley. (1991). Experimental Stress Analysis. Third Edition, Mc.Graw-Hill, Inc. Doyle JF. (2004). Modern Experimental Stress Analysis. John Willey and Son.,New York. James Phillips W. (1998). Experimental Stress Analysis. University of Illinois at Urbana-Champain. Operations Intructions and Technical Manual. (1994). Strain Measurement With The 030-Series Refections Polariscope. Vishay Measurements Group Inc. Tada, H., P. C. Paris, and G. R. Irwin. (1985), Stress Analysis of Cracks Hanbook, 2nd edition. St. Louis, Mo.: Paris Productions, Inc.. T.P. Ganesan. (2005), Model Analysis of Structures. Universities Press (India) Limited., Hyderabad.. S.P. Timoshenko and J.N Goodier. (1969). Theory of Elasticity. 3rd edition, Mc.Graw-Hill, Inc. Venketesh, N. Dubey dan Gurtej, S.Grewal., (2009), “Noise removal in threefringe photoelasticity by median filtering”, Elsevier Optics and Lasers Engineering, Vol. 47, hal: 1226 – 1230. M. Ramji dan K. Ramesh., (2008), “Whole field evaluation of stress components in digital photoelasticity - Issues, implementation and application”, Elsevier Optics and Lasers Engineering, Vol. 46, hal: 257 – 271. Xue-Feng Yao, Long-Hui Jian, Wei Xu, Guan-Chang Jin dan Hsien-Yang Yeh., (2005), “Digital Shifting Photoelasticity with Optical Enlarged Unwrapping Technology for Local Stress Measurement”, Elsevier Optics & Lasers Technology, Vol. 37, hal: 582 – 589. Herman Winata., (2007), “Pengolahan Citra Medan Regangan-Tegangan Hasil Pengukuran Metoda Photoelastisitas Sebagai Informasi Mempercepat Analisa Kegagalan Material”, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Tabel Sifat Mekanis dan Optis Material Fotoelastis

T.P. Ganesan. (2005)

Lampiran 2. Listing Progam Image Processing dengan OpenCv

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40.

#include "cv.h" #include "highgui.h" #include <stdlib.h> #include <stdio.h> #include <math.h> int main() { char file_name[100]; char c = 0; int level=60; IplImage* imgsource = 0; printf("Masukkan File Image bmp/jpg yang ingin diproses ! \n\n"); printf("(misal ketik foto1.bmp >> pastikan nama file image tanpa spasi) \n\n"); scanf("%s", &file_name); printf("\nAnda memilih file : %s\n\n", file_name); printf("Masukkan Level Deteksi Warna\n\n"); //35 scanf("%d", &level); printf("\n\nSelesai !! Cek hasil olahan di Hasil.bmp\n \n"); imgsource = cvLoadImage(file_name,-1); CvMemStorage* storage = cvCreateMemStorage(0); CvSeq* contour = 0; IplImage* src = 0; IplImage* dst =0; IplImage* Hrv =0; IplImage* Srv =0; IplImage* Vrv =0; IplImage* RV1 =0; IplImage* RV2 =0; IplImage* result =0; IplImage* Mask =0;

41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. }

src = imgsource; dst=cvCreateImage(cvGetSize(src),IPL_DEPTH_8U,3); dst->origin=src->origin; result=cvCreateImage(cvGetSize(src),IPL_DEPTH_8U,1); result->origin=src->origin; Mask=cvCreateImage(cvGetSize(src),IPL_DEPTH_8U,1); Mask->origin=src->origin; cvZero(Mask); cvNot(Mask,Mask);

cvCvtColor(src,result,CV_BGR2GRAY); cvThreshold(result,result,level,255,CV_THRESH_BINARY);

//88

cvErode(result,result,NULL,3); cvDilate(result,result,NULL,2); cvSaveImage("hasil.png",result ); cvWaitKey(1); cvReleaseImage(&imgsource); cvDestroyWindow("FringeSource"); return 0;

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful