RESUME MATA KULIAH ANTROPOLOGI HUKUM BAB III BUDAYA HUKUM DAN MASYARAKAT 1.

Pengertian Budaya Hukum Hal-hal yang merupakan milik bersama itu dalam Antropologi Budaya di namakan Kebudayaan. Budaya hukum adalah tanggapan umum yang sama dari masyarakat tertentu terhadap gejala-gejala hukum. Jadi suatu budaya hukum menunjukan tentang pola prilaku individu sebagai anggota masyarakat yang menggambarkan tanggapan (orientasi) yang sama terhadap kehidupan hukum yang dihayati masyarakat bersangkutan. Ketika membicarakan budaya hukum tidak terlepas dari keadaan masyarakat, sistem dan susunan masyarakat yang mengandung budaya hukum itu. Misalnya bagaimana tentang sikap prilaku dan tanggapan masyarakat tertentu terhadap sikap prilaku dan pandangan masyarakat yang lain.tanggapan yang sama itu dapat bersifat menerima atau bersisaf menolak budaya hukum yang lain. Masyarakat indonesia tidak akan dapat menerima adat suku indian yanomano dari perbatasan venezuela brazil yang menganjurkan kepada anak anak yang marah kepada bapaknya agar memukul bapaknya.memukul bapak bagi suku yanomano merupakan perbuatan yang terpuji. Maksud pembahasan budaya hukum adalah agar dapat mengenal ciri ciri (atribut) yang asasi untuk mengkaji proses yang berlanjut maupun yang berubah atau yang seirama dengan perkembangan masyarakat dikarenakan sipat kontrol sosial itu tidak selamanya tetap. Dikarenakan pemahaman (persepsi) budaya hukum.berkaitan dengan peradaban dan teknologi,makatidak salahnya budaya hukum itu juga di sebut peradaban hukum.budaya hukum itu meliputi orientasi pribadi yang berlatar belakang pada pengetahuan dan pengalaman seseorang yang menyebabkan adanya penilaian,adanya penilaian itu lebih dekat pada pengertian peradaban dari pada kebudayaan. Dengan demikian budaya hukum itu merupakan tangapan yang bersipat penerima atau penolakan terhadap suatu peristiwa hukum.sistem hukum merupakan hubungan yang kait mengait di antara manusia,masyarakat,kekuasaan dan aturan aturan,maka titik perhatian antropologihukum pada perilaku manusiayang terlibat dalam peristiwa hukum.kaitan antara perilaku hukum manusia dengan budaya hukumnya terletak pada tanggapannya terhadap hukum yang ideologis dan hukum yang praktis dengan sudut pandangan yang eklektika. Tercapainya kesepakatan dalam penyelesaian suatu perselisihan hokum dalam mayarakat, yang merupakan pencerminan budaya hokum, yaitu pencerminan dari nilai-nilai

budaya mengenai hokum dan keadilan yang dirasakan masyarakat, yang dikehendaki dab dibenarkan oleh masyarakat bersangkutan. Kepustakaan antriopologi budaya hokum adat di Indonesia begitu pula bahan-bahan tertulis dan tercatat , seperti cerita rakyat, prosa dan puisi pedesaan, pepatah dan pribahasa setempat yang telah terkumpul maupun yang masih berbeda di lingkungan masyarakat, merupakan sumber bahan untuk mengenal budaya hokum masyarakat pedesaan Indonesia. 2. Tipe Budaya Hukum Pada masyarakat yang parokikal (picik) tanggapannya terhadap hokum hanya terbatas dalam lingkungannya sendiri. Masyarakat demikian masih kuat bertahan pada tradisi hukumnya sendiri, kaidah-kaidah hokum yang telah di gariskan dari zaman leluhur merupakan azimat yang pantang di ubah. Pemimpinnya sebagai kepala suku dan sekaligus sebagai kepala adat ataupun sebagai kepala agama. Ia bertindak sebagai kepala polisi, jaksa penuntut serrta sebagai hakim dan memutuskan perselisihan warga adatnya. Jika pemimpinnya bersifat egosentris, maka ia lebih mementingkan dirinya sendiri dan sulit untuk berurusan dengan orang lain. Jika sifatnya altruis, maka warga masyarakatnya mendapat perhatian. Namun pada umumnya masyarakat yang sederhana sifat budaya hukumnya, etnosentris, lebih mengutamakan dan membanggakan bidaya hokum sendiri. Dalam masyarakat budaya parochial, penilaian terhadap sejarah dan penerapan hukum setempat lebih banyak didasarkan pada ingatan dan kesemuanya di kembalikan kepada sesepuh adat. Semua aturan yang merupakan keluaran (output) dari pemimpin jarang di bantah atau takut di bantah, takut pada adanya sanksi gaib dan sebagainya. Sehingga diri pribadi demikian tidak berkembang dan tidak mudah menerima budaya hokum yang baru. Orientasi pandangan mereka terhadap aspek hokum yang baru sudah ada, sudah ada sikap menerima atau menolak, walaupun cara pengungkapannya bersifat pasif, tidak terangterangan atau masih tersembunyi, dikarenakan sifat prilakunya prilaku takluk, ikut saja pada apa yang di atur penguasa baik langsung atau tidak langsung. Warga masyarakat yang bersifat menaklukan diri ini, menganggap dirinya tidak berdaya mempengaruhi apalagi akan berusaha mengubah system hokum, konsepsi hokum, keputusan hokum, norma hokum, yang dihadapinya, walaupun apa yang Nampak di sajikan kepadanya dirasakan bertentangan dengan kepentingan ribadi dan masyarakat. Dalam masyarakat budaya partisipan (berperan serta) cara berfikir dan berprilaku para anggota masyarakatnya berbeda-beda, ada yang masih berbudaya takluk, namun sudah banyak yang merasa berhak dan berkewajiban berperan serta, karena ia merasa sebagai bagian dari kehidupan hokum yang umum. Disini seseorang sudah merasa mempunyai

kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dalam hokum dan pemerintahan, ia tidak mau dikucilkan dari kegiatan tanggapan terhadap masukan dan keluaran hokum, ia ikut menilai setiap peristiwa hokum dan peradilan, ia merasa terlibat dalam kehidupan hokum baik yang menyangkut kepentingan umum maupun kepentingan keluarga dan dirinya sendiri. Di daerah lampung misalnya jauh sejak masa sebelum kemerdekaan cara berfikir, dan berprilaku masyarakat tulang bawang berbeda dari masyarakat abung, walaupun antara keduanya termasuk dalam ruang lingkup adat yang sama, yaitu beradat pepadun. Masyarakat Tulangbawang asal-usul keturunan warga adatnyacampur aduk, tempat kediamannya dekat pantai, sejak dahulu sudah terbuka sebagai pelabuhan sungai, maka sifat prilakunya yang primordial mudah berubah. Orang-orang tulang bawang sejak masa sebelum kemerdekaan sudah banyak bergaul dan mengenal dunia luar dan banyak merantau keluar daerah, disana sudah banyak terdapat berbagai macam perkuympulan organisasi social, keagamaan dan politik yang bersifat vertical. Sehingga struktur masyarakat adat dan pengaruh pada pemuka adatnya sudah lama lemah, bahkan setelah kemerdekaan dapat dikatakan sudah tidak berarti lagi peranannya. Budaya hukum sebagaimana di uraikan di atas hanya merupakan sebagian dari sikap dan perilaku yang mempengaruhi sistem dan konsepsi hukum dan masyarakat setempat.masih ada faktor faktor lain yang juga tidak kecil pengaruhnya terhadap budaya hukum,seperti sistem dan kemasyarakatan,kekerabatan,keagamaan,ekonomi dan politik serta letak tempat kediaman,lingkungan hidup dan cara kehidupan (ecologi),di samping sifat watak pribadi seseorang,yang kesemuanya saling bertautan. 3. Seni Hukum Dalam bahasa hukum yang diungkapkan adalah tentang pola prilaku individu dan orientasinya terhadap kehidupan hukum yang di hayati oleh para anggota dari masyarakat. Seni hukum orang barat yang di dunia hukum sekarang ini besar pengaruhnya bersikap tegas dan nyata, sedangkan seni hukum timur,seperti halnya seni hukum adat di Indonesia bersifat samar samar dan adakalanya sukar di mengerti tanpa memperhatikan penafsiranya yang umum.hal mana tidak saja seringkali di jumpai dalam peradilan adat (desa) tetapi juga adakalanya menjelma di hadapan peradilan Negara. Pada masyarakat sederhana seni hukum dalam bentuk lambang atau peribahasa lebih besar perananya dari pada masyarakat modern ,pada masyarakat modern seni hukum merupakan latar belakang pengertian hukum ,sedangkan pada masyarakat sederhana ia merupakan latar depan.dikarenakan pada masyarakat modern system hukumnya

tertulis,sedangkan pada masyarakat sederhana tidak tertulis.

Pandangan mengenai tugas hakm; untuk mengetahui “ajaran hukum“ atau untuk “menentukan hukum” dalam arti ilmu pengetahuan hukum yang dogmatis dan sistematis; begitu pula untuk mengetahui pengertian-pengertian hukum begitu juga “kekhayalan” hukum (Apeldoorn, 1954:318-345).sedangkan seni hukum dalam masyarakat sederhana di gunakan untuk memahami apa yang di wujudkan dalam bentuk perlambang atau ungkapan kata pribahasa baik yang tertulis maupun tidak tertulis,yang di sampaikan dengan lisan. Dengan di pahaminya maksud perlambang atau pribahasa itu,maka dapat di perkirakan bagaimana budaya hukum masyarakat bersangkutan. Apeldoorn melanjutkan bahwa perkembangan hukum dalam menyerahkan tanah di zaman dahulu di lambangkan dengan menyerahkan segumpal tanah. Kemudian di Jerman tongkat berperanan penting sebagai perlambang hukum. Di masa sekarang pun penyerahan tongkat belarti penyerahan jabatan; begitu pula dilakukan pemasangan tanda jabatan bagi seorang pejabat yang baru,atau juga dengan memasang atribut kebesaran lainya,seperti mahkota dalam pegangkatan raja atau penyerahan bendera bagi pergantian jabatan pasukan,dan sebagainya. Seni hukum dalam perundangan dapat di lihat dari egi politik hukum, apa yang menjadi alas an tujuan isi dari suatu peraturan begitu pula dapat di lihat dari segi teknik, cara merumus peraturan tersebut, sehingga dapat di fahami maksud dari pembuat undangundangnya. Untuk itu dapat dapat di lakukan dengan study dokumentasi dan kepustakaan. Di daerah-daerah ada yang masih berlaku dengan pemberian tanda pada sebatang pohon dengan mengeratkan ranting atau bilah bamboo dengan rotan, perbuatan seperti itu disebut “mebeli” atau “ngubali” , itu di maksudkan bahwa daeerah hutan itu ia akan membuka lading atau dalam hukum adat ia telah mendapat hak utama atau hak wenang pilih atas bidang tanah itu untuk di bukanya menjadi lading. Dan sebagai tanda larangan juga untuk membuka tanah itu, apabila ada pelanggaran maka di ajukan pada peradilan adat yang jadi penengahnya ialah kepala desa, dihukum dengan diselesaikan meminta maaf dan member tanda seperti member ayam atau juwadah serambi. Kalau di amerika pemberian ganti rugi di gunakan selembar kulit yang disebut “moccasin”, di Indonesia dengan upacara selamatan, dengan memotong ayam atau kambing. Perlambang dan tanda-tanda prilaku itu mempunyai arti dan membawa akibat hukum dalam susunan masyarakat bersangkutan. Dari tanda-tanda itu dapat di perkirakan bagaimana system hukum dan konsepsi hukum masyarakat tertentu. Jadi hukum adat masyarakat yang satu berbeda dari masyarakat yang lain, menurut penelitian para ahli hukum adat ia mempunyai corak-corak umum yang sama,asa-asa hukum material

yang sama,sebagaimana di uraikan soepono ,hukum adat itu mempunyai sifat kebersamaan (communal) , magischreligieus,serba kontret dan sangat visual (soepono, 1972;107) yang oleh Van Dijk di tambahkan dengan bentuk yang tidak dikodifikasi, tradisional, dapat berubah dan mampu menyesuaikan diri. Sehubungan dengan hal tersebut maka peribahasa minangkabau menyatakan : “using-usang diperbaharui, lapuk-lapuk dikajangi,nan elok dipakai,nan buruk di buang ,kok minta diulas,panjang minta di kerat, rumpang hararap di sisit”. (nasroen,1971: 25). Yang penting bagi hukum masyarakat sederhana itu adalah persatuan dan kesatuan masyarakat, kerukunan dan keseimbangan, dengan pimpinan yang bijaksana. Sebagaimana peribasa melayu menyatakan: “bulat air oleh pembuluh,bulat kata oleh sepakat”. Bulat air karena penyalur,seia sekata karena sepakat. Masih banyak pepatah peribahasa dari berbagai masyarakat di daerah-daerah yang mengandung seni hukum pemerintahan (ketatanegaraan), keperdataan dan sebagainya,yang sudah di tulis dalam kepustakaan dan masih banyak pula tersimpan dan hidup dalam alam pikiran dan ungkapan masyarakat yang dapat di gali di lapangan. Seni hukum itu adalah rasa keindahan hukum yang timbul dari pikiran dan dinyatakan dalam bentuk tanda-tanda dan kata-kata yang bersifat “penjelmaan rasa astetika” (Herbert Read,1959: 16; S. Gazalba,1963: 50),khasusnya rasa estetika tentang hukum dalam masyarakat. 4. System dan Konsepsi Hukum Suatu sistem adalah suatu keasatuan atau kebulatan dari beberapa unsur yang fungsional yang saling bertautan antara yang satu dan ang lain. Dalam system ilmu pengetahuan hukum yang umum terbagi atas dogmatic hukum, sejarah hukum, ilmu hukum perbandingan, politik hukum,sosiologi hukum dan ilmu hukum yang umum, termasuk pula antropologi hukum. Antara setiap unsure itu saling bertautan, sehingga merupakan kebulatan pengertian. Pengertian system di masud tidak akan di ketemukan jika akan membahas system hukum local yang sifatnya sederhana dan kebanyakan hukumnya tidak tertulis. Apabila kita kaitkan dengan ilmu hayat seperti yang disebut system peredaran darah, ma ak yang di maksud dengan system adalah suatu cara yang mekanismenya mempunyai pola yang tetap dan bersifat otomatis. System hukum dalam antropologi yaitu sitem hukum local atau system hukum pedesaan. System hukum local ini menunjukan mekanusme dari seperangkat fungsi dan peranan yang saling bertautan dalam proses hukum yang berkesinambungan dari suatu masyarakat. Jadi system hukum ini terikat pada pola idealnya.

Pola ideal yang di maksud adalah pola budaya hukum yang di kehendaki berlaku oleh masyarakat tertentu, dan merupakan pola dasar yang tercermin dalam berbagai bentuk konsepsi, sebagai pandangan hidup, cita hidup, cita hukum, norma hukum dan prilaku, dimana antara yang satu dengan yang lain secara fungsional saling bertautan sebagai suatu system hukum. Misalnya pola ideal bangsa Indonesia adalah pancasila, maka pandangan hidup, cita hukum, norma hukum, prilaku konsepsinya berporos pada pancasila, sehingga pandangan hidup dan tujuan hidup nasional adalah untuk mewujudkan masyarakat pancasila , dan untuk itu maka system hukumnya adalah system huku,m pancasila. Oleh karena system hukum adalah juga merupakan intraksi dari sejumlah prilaku warga masyarakat yang berpegang pada pola ideal tertentu, maka secara teoritis jika masyarakat berubah karena system politil (kekuasaan) berubah hukumnya akan berubah pula. Sebagai warga Negara ia tunduk pada pola ideal Negara, sebagai warga agama ia tunduk pada pola ideal agama, sebagai warga adat ia tunduk pada pola ideal adat. Di lingkngan masyarakat adat yang masih sederhana, yang tipe budayanya parochialsubjek, maka system hukumnya tetap dan sedikit sekali mengalami perubahan, pola idealnya sempit dan terbatas. Warga masyarakat lebih banyak bersifat paternal (kebapaan) atau patriomanial (mewarisi kebapaaan), sehingga system hukunya bersifat turun temurun, dimana para pemuka adat berfungsi dan berperan. Dalam system hukum adat local yang tradisional berlaku konspsi kelembagaan hukum yang tradisional, hukum adat yang berlaku turun temurun dari zaman nenek moyang masih Nampak dipertahankan. Namun semua konsep hukum adat kebanyakan tidak tertulis dengan sistematik dan tidak di kodifikasi. Konsep hukum adat yang bercorak keagamaan Nampak dari lembaga dan prilaku warga masyarakatnya yang berlatar belakang pada adanya pengaruh kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Masih percaya pada adanya kekuatan Ghaib,adanya roh-roh leluhur yang di anggap selalu memperhatikan prilaku anak cucu yang masih hidup. Konsepsi hukum adat yang bercorak kebersamaan (komunal) Nampak dari lembaga dan prilaku warga masyarakat yang berlatar belakang pada pola ideal yang tradisional, yaitu asas kekeluargaan, tolongmenolong, dimana kehidupan manusia itu beersifat altruis yang tidak semata-mata mementingkan diri sendiri tetapu juga memperhatikan kepentingan orang lain. Konsepsi adat yang bersifat konkrit dan visual Nampak dari lembaga dan prilaku warga masyarakat yang sederhana, yang menginginkan apa yang di hadapinya berlaku dengan terang dan tunai tidak tersembunyi. Konsepsi hukum adat yang sifatnya terbua dan sederhana, terbuka artinya tidak tertutup kemungkinan untuk menyesuaikan hukum yang ideal dengan keadaan waktu dan

tempat, tidak tertutup kemungkinan untuk menerima perubahan karena pengaruh dari luar, asal saja tidak bertentangab dengan hal-hal yang asasi. Sederhana artinya bahwa perubahan prilaku hukum itu tidak memerlukan banyak tata cara yang di jadikan persyaratan, asal saja segala sesuatunya di selesaikan dengan baik, dengan musyawarah dan mufakat, bukan karena paksaan. Dengan demikian konsepsi hukum adat local itu dapat berubah dan di ubah, isalnya dengan mengubah struktur masyarakat yang tradisional dengan struktur masyarakat yang modern. Pada kenyataannnya konsepsi hukum yang bersifat nasional mudah di terima oleh masyarakat dalam hal-hal yang menyangkut kebutuhan social ekonomi, tetapi yang menyangkut social budaya dan agama, terutama dalam bidang hukum kekeluargaan dan prilaku keagamaan merupakan soal yang peka terhadap masyarakat. Pada akhirnya dalam kita membicarakan tentang system hukum dan konsepsi hukum ini hendaknya tidak menerimanya sebagai suatu kebenaran, oleh kareana pada hakikatnya setiap system atau konsepsi itu sifatnya tertutup, karena bentuk dan pengertiannya sudah di tentukan lebih dahulu menurut asas-asas tertentu. 5. Masyarakat Adat Menurut pengertian Antropologi masyarakat adalah suatu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi satu sama lain menurut system adat tertentu, yang sifatnya teruus menerus dan terikat dengan rasa identitas bersama. Kesatuan hidup manusia itu ada yang ikatannya bersifat tradisional dan ada yangikatannya sudah maju (modern) dalam bentuk organisasi perkumpulan yang teratur. Susunan masyarakat itu menunjukan rangkaian hubungan antara komponen yang mewujudakan susunannya. Komponen-komponen itu terdiri dari keanggotaan masyarakat adat bersangkutan yang taut menaut berpangkal tolak dari pola ideal masyarakatnya yang primordial atau yang baru. Kesatuan-kesatuan masyarakat itu mempunyai nama atau sebuatan , seperti kerabat atau suku, amrga, desa, daerah atau menurut golongannya. Adanya kesatuan-kestuan itu karena manusia cenderung hidup berkelompok. Kcenderungan mngelompok Nampak lebih kuat berlaku di kalangan masyarakat adat berdasarkan ikatan kekerabatan dari pada masyarakat adat berdasarkan ikatan ketetanggan atau kedaerahan. Perubahan kecenderungan itu dapat di perhatikan prilaku manusianya yang dalam sosiologi di sebut “pergaulan”. Perkembangan masyarakat, pergaulan hidup yang kian meluas menimbulkan penghayatan-penghayatan baru dan penilaian-penilaian yang baru dan meluas. Marbangumn menyatakan bahwa “penghayatan budaya jawa sudah mulai tampak tererosi oleh selera-selera baru”. Akibatnya maka anggota masyarakat adat yang lama cenderung pula memasuki

pengelompokan cara hidup yang baru. Dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai unsure pranata kedudukan kemasyarkatan dan peranannya yang merupakan suattu kerangka yang saling berkaitan dan menunjukan bagaimana susunannya. Menurut Ter Haar susunan masyarakat hukum adat dapat dilihat dari dua dasar ikatan, yaitu yang berdasarkan keturunan (genealogis) dan yang berdasarkan tempat kediaman (territorial) Ter Haar/Soebekti Poesponoto. Dalam perkembangannya di karenakan masyarakat pergaulannya kian meluas, maka ada juga yang mengelompok ke dalam ikatan yang berdasarkan kekayaan. Manusia dewasa ini telah di pengaruhi oleh tiga macam prilaku, yaitu prilaku kekerabatan, ketetanggaan dan kekaryaan. Pada masyarakat kekerabatan tidak dikenal batas ruang lingkup tempat kediaman. Batasannya hanya dapatdi ukur dari akrab tidaknya hubungan yang berlaku di antara warga adat yang satu dengan warga adat yang lain. Prilaku ketetanggaan dapat di lihat dari sikap tindak warga masyarakat ketetanggan, menurut tempat kediaman di pedukuhan, kampong dan desa atau kesatuan dari beberapa kampong yang dahulu di sebut mukim, kuria, nagari, marga, negorei dan sebagainya. Masyarakat ketetanggan ini terbatas ruang lingkup hubungan kewargaannya pada tempat kediaman yang dalam istilah jawa di sebut “tetangga tepara”, yang berdekatan rumah. Ketetanggan di desa-desa di pedalaman lebih akrab dari ketetanggan di desa-desa yang telah di pengaruhi kehidupan kota, kehidupan tolong-menolong atau gotong royong tenaga lebih Nampak di giatkan di desa dari pada di kota. Di karenakan warga kota bersifat heterogen, bercampur baur antara golongan masyarakat yang berlainan kedudukannya. Kelanggenagan hubungan du antara tetangga tergantung pada lama tidaknya seseorang atau keluarga menetap di tempat kediaman itu. Sejauh mana kekuatan ikatan ketetanggan itu tergantung pada rasa persaudaraan, ia bersifat perseoangan oleh karena tidak ada tali pengikat yang lain seperti dalam masyarakat kekerabatan. Prilaku kekaryaan dapat di lihat dari sikap tinadak warga masyarakat kekaryaan, menurut bidang karyanya, kegiatan usahanya, dan kepentingannya, serta perhatiannya misalnya dalam ikatan organisasi perkumpulan, ikatan pekerjaan yang sama, di mesjid di pengajian dan sebagainya termasuk kedalamnya dalam kegiatan-kegiatan politik dan lainnya. Kesemuanya yang bersifat tetap dan terus-menerus. Baatas ruang lingkup hubungan keanggotaannya hanya pada adanya kekaryaan itu, misalnya karena kegiatan koprasi dan lain-lain. Apabila anggota meninggalkan kekaryaannya itu maka lunturlah hubungan kekaryaannya.

Jika ada perselisihan dalam sengketa mengenai urusan keluarga penyelesaiannya dengan para anggota kerabat, kepala kerabat atau kepala adat. Jika ia berselisih semngketa mengenai urusan tetangga makapenyelesaian damainya dengan kerabat dan tetangga atau minta bantuan kepada kepala kampong, kepala desa atau lurah. Jiaka ia berselisih sengketa mengenai urusan kekaryaan, maka jalan penyelesaiannya dengan perantaraan teman sekerja atau meminta bantuan kepala kantornya. jika Ia berselisih sengketa mengenai organisasi perkumpulan atau keagamaan, maka jalan penyelesaian damai dengan perantaraan teman sekarya, seorganisasi, seagama, dan sebagainya. BAB IV PRILAKU DALAM BEBERAPA MASYARAKAT DI SUMATERA Lapangan penelitian antropologi hukum ditujukan pada garis prilaku manusia yang terus-menerus terjadi, pola ulang prilaku manusia yang selalu ama dan sering berlaku, itulah yang merupakan norma, dan apabila norma itu mempunyai akibat hukum, yang menimbulkan hak dan kewajiban, yang mempunyai sanksi, maka norma itu merupakan norma hukum. Oleh karena hukum itu dapat terjadi karena danya hubungan kepentingan seseorang, sebagaimana dianut perundangan bahwa semua persetujuan yang dibuat sah berlaku sebagai undangundang bagi mereka yang membuatnya (pasal 1338 KUH Perdata). Berbagai prilaku manusia dalam beberapa lingkungan masyarakat adat di sumatera : 1. Prilaku Orang Aceh Semua orang yang berasal dari daerah istimewa aceh adalah orang aceh. Kecuali orang-orang Gayo dan Alas yang sistem kemasyarakatannya berdasarkan kekerabatan, maka seluruh masyarakat aceh merupakan masyarakat teritorial keagamaan. Walaupun masih nampak adanya pengaruh keturunan bangsawan dengan gelat teuku bagi keturunan pria dan gelar cut bagi keturunan wanita yang demikian banyaknya, orang-orang aceh tidak mengenal sistem klen. Kehidupan yang bersifat parental atau bilateral mendiami tempat kediaman yang disebut “mukim”, “gampong” atau “meunasah”, yang dipakai oleh kepala mukim, keucik (kepala kampung) dan teuku kepala meunasah (pusat pengajian kampung), disamping orangorang tua selaku pemuka masyarakat setempat, merekalah yang berprilaku sebagai kepala adat dan berperan menjadi penengah atau jurudamai dalam menyelesaikan perselisihan adat setempat. Orang aceh tidak biasa dalam pertemuan warga masyarakat menanyakan hubungan kekerabatan, mengusut-usut pertalian daerah atau pertalian perkawinan seperti orang batak

atau orang lampung. Bagi mereka hubungan persaudaraan atau kekerabatan cukup dengan pertalian keagamaan islam, dengan mengucapkan salam “assalamualaikim” sudah merupakan langkah terbuka untuk menjain pembicaraan selanjutnya. Bagi orang aceh agama islam merupakan hal yang sangat sensitif, ia memandang dirinya identik dengan islam. Baginya yang dikatakan hukum adalah hukum islam yang berjalan bersama dengan adat, oleh karenanya adat harus sesuai dengan hukum islam, adat itu mempunyai sanksi dan tidak bisa dipisah dengan hukum islam, ia merupakan mata putih dengan mata hitam. Pepatah aceh mengatakan “hukom ngon adat lagee zat ngon sipheuet”, hukum dengan adat itu seperti zat dengan sifat. Adat dalam arti kebiasaan yang tradisional menurut bahasa Aceh disebut “reusam”, dari kata arab “rasam” yang artinya kebiasaan, cara, adat istiadat. Prilaku hukum dalam kekeluargaan Aceh dapat dilihat dari cara pembentukan keluarganya melalui cara perkawinan, yang diadakan dengan cara pelamaran dari orang tua pihak pria kepada orang tua pihak wanita. Menurut adat lama dapat terjadi kawin gantung, tetapiyang kebanyakan terjadi adalah perkawinan anak sudah dewasa, terutama diantara pria dan wanita yang sekampung atau semukim. Perkawinan dengan luar kampung, luar daerah, luar negeri kebanyakan terjadi dikalangan orang-orang bangsawan, hartawan, ulama atau para terpelajar yang pergaulannya sudah luas. Lamaran untuk perkawinan dimulai dari pihak pria kepada orang tua pihak wanita, oleh karena kata orang aceh, “kon mon mita tima” yang maksudnya bukanlah sumur mencari timba, apabila orang tua bujang telah setuju untuk melamar seorang gadis maka ia mencari orang yang semartabat dengan dia untuk dijadikan “seulangke”, yang akan berfungsi dan berperan mewakili orang tua bujang guna melaksanakan pertemuan dengan orang tua gadis, didalam pelaksanaan tugas-tugas terhormat tersebut seulangke akan mendapat balas jasa dari pihak bujang. Menurut adat aceh tidak di kenal pergaulan bujang gadis secara langsung, anak-anak muda dilarang mendatangi rumah gadis, apalagi masuk-mamsuk ke bawah rumah gadis, berbicara di dapur atau di luar dinding rumah seperti di lampung. Jika mereka sudah keluar dari kampung halaman menjadi pelajar, mahasiswa, karyawan, dan sebagainya, tentu saja perkenalan antara muda-mudi sudah bebas, sudah nampak pemuda-pemudi berpesiar ke pantai-pantai laut saling mengadu kasih cinta. Hal mana berlaku diluar pengetahuan orang tuanya, tetapi jika pergaulan mereka akan meningkat ke jenjanng perkawinan, maka harus dilakukan dengan lamaran.

Apabila seulangke berhasil menjumpai orang tua gadis dan lamaran terhadap anak gadisnya diterima, maka untuk selanjutnya seulangke bersama ayah si pemuda menghadap keuchiq dan teungku meunasah di kampung pihak gadis, untuk melaporkan maksud pelamaran dan menentukan hari baik guna menyerahkan tanda pertunangan (peukong haba/narit). Pada hari yang telah ditentukan bersama, orang tua pria yang didampingi seulangke, keunchiq, Teungku/imeum munasah dan beberapa kerabat pria berkunjung ketempat wanita dengan membawa tanda pertunangan (konghaba/narit), tanda pertunangan itu disertai sirih yang terssusun (ranub dong) dan perhiasan emas, dalam penyerahan tanda pertunangan itu kedua pihak berbicara sahut menyahut dengan kata-kata adat yang berirama penuh sopan dan hormat. Penyampaian hadiah pertunangan tersebut akan dibalas pula oleh pihak wanita (dara baro) dengan 2-3 talam bahan makanan (halwa meuseukat) disertai pula sirih tersusun (ranub gapu) untuk pihak pemuda (linto). Selama masa pertunangan di sekitar waktu satu bulan atau sampai masa panen berikutnya, llinto dilarang berkunjung ke rumah dara baro, ia dilarang berbicara dengan dara baro atau calon mertuanya, kecuali dalam keadaan luar biasa misalnya ada musibah di tempat dara baro. Tetapi dimasa sekarang adat ini sudah dilanggar, oleh karena sudah ada calon mertua yang berbicara dengan linto mengenai rencana perkawinan dengan anaknya. Andaikata selama waktu pertunangan terjadi putus pertunangan dikarenakan kesalahan linto misalnya linto kawin dengan gadis lai, maka semua hadiah perkawinan menjadi milik dara baro. Sebaliknya jika pertunangan putus karena salah dara baro, misalnya dara baro berbuat tidak baik dengan pemuda lain, maka hadiah pertunangan dikembalikan semua kepada pihak linto. Jika putus pertunangan itu dikarenakan salah orang tua gadis, misalnya secara diam-diam telah menerima lamaran pemuda lain, maka hadiah pertunangan harus dikembalikan ayah gadis dua kali lipat dari jumlah semula kepada pihak bujang. Untuk mempersiapkan upacara perkawinan kedua pihak meminta bantuan dan menyerahkan pengaturannya kepada Keunchiq dan Teungku Meunasahnya masing-masing beserta dengan orang-orang tua. Dalam rangka persiapan perkawinan tersebut maka para anggota kerabat terdekat memberikan sumbangan (teumeunteuk) berupa bahan makanan, sayur mayur, ternak ayam atau kambing dan sebagainya. Beberapa hari menjelang waktu upacara perkawinan mempelai wanita (dara baro) dilakukan penginayan (bohgaca), sekurangkurangnya menghias kuku-kuku jarinya. Untuk pelaksanaan akad nikah pihak dara baro menyediakan tikar perkawinan, wadah air (mudam) untuk linto berkumur agar lancar berbicara menerima penyerahan wali. Sedangkan maskawin (jeunamee) disediakan pihak linto. Besarnya mas kawin menurut adat

lama yaitu 25 ringgit aceh untuk orang biasa, 50 ringgit untuk keluarga Keuchiq atau Teungku Meunasah, 100 ringgit untuk keluarga raja (Cut Meurah) atau Uleebalang dan 500 ringgit untuk Teungku-Raja. Sedangkan biaya akad nokah menurut adat lama untuk Keuchiq ¼ ringgit, untuk Teungku Meunasah 1 ringgit, dan untuk para saksi ½ ringgit. Setelah akad nikah selesai maka linto di antar ke tempat dara baro (antat linto), sampai di rumah dara baro para tamu dipersilakan lebih dahulu mengambil tempat, baru kemudian linto baro dibawa menuju ke kamar dan baro yang telah menunggu di dalamnya (juree). Selesai acara pesta perkawinan itu linto kembali ke rumah orang tuanya, dan keesokan malamnya barulah ia ke rumah isterinya lagi dengan ditemani oleh beberapa anggota kerabatnya pria dan wanita. Ia hanya berkenalan denngan tetangga dan kerabat isterinya, setelah itu ia kembali lagi ke rumah orang tuanya, setelah enam bulan berlalu barulah linto dapat menetap ditempat istrinya untuk seterusnya. Isteri aceh menurut adat memang menetap dikampungnya dan di rumah pemberian ayahnya padanya (rumah peunulang). Ia tidak boleh dibawa pergi dari kampungnya maka menjadi kewajiban suami untuk membuatkan rumah untuk menjadi miliknya. Setelah suami menetap di rumah isterinya, maka setelah beberapa tahun, ibu dari suami dengan beberapa anggota kerabat datang menjenguk (saweue) anak dan mantunya serta untuk menjemput mantunya itu (Tueng dara baro) untuk bermalam dirumah orang tua suami dan mengakrabkan hubungan dengan para anggota kerabat suami. Sudah menjadi adat tradisional bagi orang tua aceh terutama di Aceh Besar dan aceh Pidie menyediakan rumah bagi anak-anak wanita. Oleh karenanya maka kecenderungan perkawinan di Aceh bersifat materilokal dan orang tua isteri menetap dengan anak wanita dan cucu-cucunya, walaupun ia akan memilih tempat tidur di ruang belakang atau di bagian dapur dalam rumah anak wanitanya. Selain pemberian rumah kepada anak-anak wanita sudah menjasi adat Aceh bahwa orang tua akan memisahkan sebagian harta tetap atau harta bergeraknya kepada anak-anaknya yang menjelang dewasa atau akan berumah tangga, asal saja pemisahan harta itu tidak melebihi 1/3 dari semua harta yang akan ditinggalkannya. Setiap anak yang mendapat bagian harta yang dipisah dari orang tua wajib mengurus dan memelihara harta itu dengan baik, apabila kelak anak-anaknya tidak dapat mengurusnya dengan baik bahkan akan menghabiskannya maka orang tua dapat menarik harta itu kembali dalam kekeuasaannya. Jika kesalahan dalam pengurusan harta itu disebabkan perbuatan dari mantunya, misalnya karena tidak bisa memelihara dan hidup boros, ada kemungkinan menjadi alaan untuk anaknya bererai dari suaminya. Apabila terjadinya putus perkawinan karena suami wafat, jika isteri masih dalam masa belum mendapat harta pemisahan dari orang tuanya, maka isteri akan mendapatkan ½ dari

maskawinnya. Kemudian menjadi kewajiban mertuanya atau pihak suaminya mencarikan ganti suami baginya baik dari anggota kerabat suami maupun orang lain yang disetujui kerabat suami, jika orang tua suaminya orang beada ia mungkin pula akan mendapat bagian dari harta peninggalan mertuanya. Tentang harta yang diperoleh bersama suami isteri selama dalam ikatan perkawinan, apabila suami wafat, maka isteri akan mendapat bagian menurut adat setempat, atau isteri mewarisi harta pencarian itu untuk mengurus kehidupan rumah tangga dan anak-anaknya. Jika putus perkawinan karena isteri wafat, apalagi jika keluarga itu baru mempunyai satu dua anak dimana suami sepenuhnya membiayai keluarganya, karena keluarga masih menjadi tanggungan orang tua isteri (masa goh pumeukleh), maka suami hanya mempunyai hak untuk mendapatkan kembali (hak balee) setengah dai mas kawin yang diberikan kepada isterinya. Putus perkawinan di Aceh yang bukan karena kematian adalah dikarenakan perceraian yang berlaku menurut hukum Islam, yaitu cerai talak (taleuk), cerai fasakh dan cerai khulu’. Cerai talak terjadi karena disebabkan suami melepas ikatan perkawinan atau memutuskan hubungan suami isteri dengan alasan atau tanpa alasan, cerai fasakh dilakukan dengan keputusan hakim atas dasar pengaduan isteri dengan alasan misalnya karena suami gila, berpenyakit kusta, lemah syahwat, miskin dan sebagainya. Tetapi pada kenyataannya yang banyak terjadi di Aceh adalah cerai fasakh. Cerai khulu’ akan berlaku apabila isteri bersedia membayar iwadl (pengganti) kepada suami. Biasanya pembayaran iwadl yang berlaku adalah mengembalikan nilai mahar atau baranng-barang lainnya menurut jumlah tertentu yang disetujui suami atau menurut keputusan hakim agama. Dalam penelitian yang telah dilakukan terhadap maslah perceraian di Aceh, antara lain pada Tahun 1972 oleh pusat penelitian ilmu-ilmu sosial Aceh di kevamatan Mutiara Kabupaten Pidie terhadap 154 kasus perceraian, nampak bahwa terjadinya perceraian itu adalah disebabkan alasan-alasan yang bersifat ekonomi, tingkah laku, biologis dan campur tangan pihak lain. Dari tabel yang dikemukakan dari hasil penelitian tersebut menunjukan perceraian lebih banyak terjadi dikarenakan perminntaan isteri daripada yang dilakukan suami. Alasan-alasan ekonomi mengapa isteri meminta cerai di kecamatan mutiara adalah dikarenakan suami kurang memberi nafkah, suami dikatakan tidak bertanggung jawab, suami meninggalkan isteri tidak pulang dan suami malas. Sedangkan alasan suami menceraikan isterinya adalah dikarenakan isteri terlalu boros. Alasan-alasan tingkah laku mengapa istri meminta cerai adalah dikarenakan tindakan suami kejam dan tidak patuh. Sedangkan mengapa suami menceraikan isterinya dengan alasan tingkah laku karena isteri tidak patuh (setia) dan suka pergi keluar rumah. Alasan-alasan yang bersifat biologis mengapa istri

meminta cerai dikarenakan dimadu, suami mempunyai isteri lain. Sedangkan mengapa suami menceraikan isterinya karena alasan biologis, kebanyakan karena isteri melakukan perbuatan serong atau tidak punya keturunan. Alasan-alasan yang menjadi sebab perceraian karena ada pihak lain yang campur tangan, dari pihak isteri mengapa meminta cerai karena campur tangan orang tua, sedangkan mengapa suami menceraikan istrinya karena isteri dibujuk rayu orang lain. Menurut adat jika isteri dicerai suami maka sebaliknya sebelum suami meninggalkan rumah isteri, ia memperbaiki kerusakan-kerusakan rumah, misalnya memperbaiki atap dinding lantai tangga rumah, pagar pekarangan, dinding (keupalang) sumur dan diberinya pula pakaian untuk istrinya. Selama masa idah suami mengirimkan nafkah pada isterinya, jika ada anak-anak, maka semua anak tinggal pada isterinya, dan kewajiban suami memberi nafkah untuk anaknya dan sewaktu-waktu suami datang menjenguk anak-anaknya. Apabila istri tidak mengurus anak-anaknya dengan baik maka suami dapat mengambil anak-anaknya itu, jika terjadi perselisihan mengenai anak-anak, maka penelesaiannya dilakukan dihadapan Keuchiq dan Teungku Meunasah dengan rukun dan damai, biasanya anak yang masih menyusu tetap dipelihara ibunya dengan bantuan biaya suaminya sedangakan yang sudah agak besar dapat ikut suami, dan apabila sudah besar boleh memilih ikut ayah atau ibunya. Jika terjadi perceraian maka areuta peunulang tetap tinggal pada isteri menjadi areuta tuha untuk diberikan dan dibagikan kepada anak-anaknya dikemudian hari. Sedangkan mengenai areuta sihareukat dapat dibagi berimbang banyaknya antara suami dan istri atau sepertiga bagian bagi istri dan dua pertiga bagian bagi suami sebaliknya menurut keadaan setempat dan sejauh mana istri ikut berperan dalam pengumpulan harta pencarian itu. Dengan demikian dalam keluarga Aceh yang hidup rukun sampai umur tua, ada kemungkinan mempunyai tiga macam harta yang akan menjadi harta warisan bagi para waris dari pewaris yang wafat, yaitu areuta tuha, areuta peunulang dan areuta sihareukat. Areuta Tuha adalah harta yang menjadi milik suami istri (ayah-ibu) masing-masing yang berasal dari hibah, wasiat atau warisan orang tua masing-masing. Areta Peunulang adalah harta yang dimiliki istri (ibu) berasal dari pemberian orang tua atau mertua ketika berpisah hidup berumah tangga sendiri (dipeungkleh). Menurut hasil penelitian Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Syiah Kuala tahun 1980/1981 di daerah tingkat II Aceh Besar, apabila pewaris wafat, maka yang berhak menjadi waris adalah semua anak pria dan wanita, semua cucu dari anak lakilaki, ayah dan ibu kakek dan nenek, sudara laki-laki, paman, anak-anak paman, janda dan atau duda yang mamsih hidup. Jika pewaris tersebut semuanya ada maka yang diutamakan

mendapat bagian warisan adalah ayah dan ibu mendapat 1/6 bagian, janda 1/8 bagian, duda ¼ bagian, kemudian anak laki-laki dan perempuan dengan perbandingan anak laki-laki mendapat satu bagian, sedangkan anak perempuan setengah bagian. Pelaksanaan pembagian warisan (peurae atau weuk-pusaka) dilakukan dengan berpedoman pada hukum islam dan memperhatikan hukum adat, artinya tidak mutlak berpegang pada hukum Islam melainkan juga diperhatikan adat yang tradisional yaitu kepentingan anak-anak wanita yang diutamakan dari anak-anak laki-laki. Dalam praktek pelaksanaan pembagian warisan dilakukan dalam tenggang waktu paling cepat tujuh hari, atau 44 hari atau 100 hari sejak wafatnya pewaris, maksud tenggang waktu tersebut adalah untuk memberi kesempatan bagi para penagih utang atau pembayar yang menyelesaikan utang piutang pada waris. Tenggang waktu tersebut juga tidak mutlak, masih diperhatikan jika para waris masih ada yang masih anak-anak. Jika demikian pembagian warisan ditangguhkan pelaksanaannya sampai anak-anak dewasa, dan warisan dikuasai dalam keadaan tidak terbagibagi di tangan ayah atau ibu yang masih hidup. Menurut hasil penelitian Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Syiah Kuala tahun 1980/1981 di daerah tingkat II Aceh Besar pelaksanaan hibah dapat berlaku tidak saja terhadap bangunan rumah atau tanah kepada anak-anak wanita, tetapi juga mungkin perhiasan dan ternak yang bukan saja diberikan bagi keperluan anak melainkan juga keperluan orang lain. Biasanya penghibahan itu dilakukan orang tua dihadapan keuchiq, Teungku Meunasah dan orang-orang tua (Tuha Peuet) serta para ahli waris. Apabila ketika hidupnya orang tua belum menghibahkan harta kepada anak-anaknya, maka sebelum ia meninggal ia dapa berwasiat (wasiet), meninggalkan pesan tentang harta kekayaan yang akan ditinggakannya, baik dengan lisan maupun dalam bentuk tulisan, wasiat itu dikemukakannya dengan diketahui oleh Keuchiq, Teungku Meunasah dan Tuha Peuet serta ahli waris. Jumlah harta yang diwasiatkan itu juga tidak boleh lebih dari 1/3 bagian harta kekayaannya, baik wasiat untuk para ahli waris maupun kepada orang-orang yang berjasa kepada pewaris atau untuk maksud tertentu. Jika wasiat melebihi 1/3 bagian dari harta peninggalan maka para ahli waris berhak menuntut pembatalannya. Anak-anak sebagai ahli waris dibedakan yang pria dan yang wanita, yang pria akan mendapat dua bagian sedangkan anak wanita sebagian, sedangkan anak yang lahir di luar perkawinan yang sah hanya mewaris dari ibu biologisnya, dan anak tiri hanya mewaris dari orang tua yang melahirkannya. Pewarisan itu tidak menimbulkan masalah jika warisnya tunggal, jika ahli waris anak laki-laki tunggal maka semua harta peninggalan orang tuanya diwarisinya sendiri, ialah yang berkuasa mengaturnya, tetapi jika waris tunggal anak wanita

maka ia hanyamendapat seperduanya dan jika anak wanita ada dua orang, maka mereka berhak atas 2/3 bagian dari harta warisan. 2. Prilaku Orang Batak Orang-orang batak terdiri beberapa kesatuan masyarakat yang disebut Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Pardembanan (Asahan), Batak Pak-Pak (Dairi), Batak Angkola, Batak Mandaling. Daerah kediaman asal mereka ialah di daerah pegunungan sampai pantai barat dalam Provinsi Sumatra Utara. Budaya hukum orang Batak dipengaruhi ajaran kepercayaan asli “perbegu”, pemujaan roh kerabat yang telah meninggal (Masri SingarimbunKoentjaraningrat, 1964-42), atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Tinggi yang disebut Ompu Tuan Mula Djadi na Bolon atau singkatnya Debata, selanjutnya ia mempunyai nama lain sebagaimana dikemukakan PH.O.L.Tobing. “As the god of the upperworld he is not only called Mula Djadi na Bolon, but also Tuan Budi na Bolon; as the God of the middleworld he has the same names, but also the name of Ompu Silaon na Bolon (=Radja Pinangkabo); as the God of the underworld, of the sea and the lightning he is not only called Mula Djadi na Bolon, but also Tuan Pane na Bolon” (PH.O.L.Tobing, 1963 : 35) Jadi menurut kepercayaan asli Batak (Toba) ada Dewata penguasa dunia atas, Dewata penguasa dunia tengah dan Dewata penguasa dunia bawah, selain itu orang batak juga dipengaruhi ajaran Hindu Jawa (Budha Tantrik) dalam abad ke-13. Namun kemudian orangBatak dipengaruhi ajaran Islam, terutama didaerah Angkola dan Mandailing dan ajaran Kristen di daerah Toba dan lainnya. Hal mana tidak berarti tidak ada orang batak Toba, Karo yang beragama Islam atau sebaliknya beragama Kristen. Bahkan adakalanya dalam satu keluarga Batak suami beragama Islam istri beragama Kristen atau orang tua beragama Islam anak beragama Kristen. Apalagi orang-orang Batak sudah banyak yang merantau dan terjadi perkawinan antar suku dan atau perkawinan dengan orang asing. Hubungan kekerabatan orang Batak didasarkan pada adanya pertalian darah yang ditarik menurut garis keturunan ayah (genea-logis patrilineal) dan pertalian perkawinan antara pihak pemberi dara (Toba: Hula-Hula, Karo: Kalimbubu) dengan pihak penerima dara (Toba: Boru, Karo: Anak Beru). Jadi setiap anak pria atau wanita Batak akan menarik garis keturunannya melalui garis ayah, dengan memakai nama marga ayah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful