ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian Anamnesis Data demografi. Umur, myopia dan hiperopia dapat terjadi pada semua umur sedangkan presbiopia timbul mulai umur 40 tahun. Pekerjaaj, perlu di kaji terutama pada pekerjaan yang memerlukan penglihatan ekstra dan pada pekerjaan yang membutuhkan kontak dengan cahaya yang terlalu lama, seperti operator computer, reparasi jam. Ras, etnis cina dan Yahudi lebih sering menglami miopia. Keluhan yang dirasakan. Pandangan atau penglihatan kabur, kesulitan memfokuskan pandangan, epirofa, pusing, sering lelah dan mengantuki, pada klien myopia terdapat astenopia astenovergen dan pada hiperopia terjadi astenopia akomodasi yang menyebabkan klien lebih sering beristirahat. Riwayat penyakit keluarga. Umumnya didapatkan riwayat penyakit diabetes mellitus dan padsa myopia aksialis didapatkan factor herediter. Riwayat penyakit yang lalu. Pada myopia mungkin terdapat retinitis sentralis dan ablaso retina, sedangkan pada astigmatisme di dapatkan riwayat keratokonus, keratoglobus dan keratektasia. Kaji pula adanya deficit vitamin A yang dapat memengaruhi sel betang dan kerucut serta serta produksi aksuesus humor dann kejernihan kornea. PEMERIKSAAN Presbiopia. Klien terlebih dahulu dikoreksi penglihatan jauhnya dengan metode “trial and e rror” hingga visus 6/6. Dengan menggunakan koreksi, jauhnya kemudian secara binokuler ditambahkan lensasferis positif dan diperiksa dengan menggunakan kartu Jaeger pada jarak 30 cm. Miopia. Reflaksi subjektif, metode “trial and error” dengan menggunakan kartu Snellen, mata diperiksa satu persatu, ditentukan visus masing- masing mata, pada dewasa dan visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sferis negatif. Reflaksi objektif, retinoskop dengan lensa S+2.00 pemeriksa mengawasi reaksi fundus yang bergerak berlaewanan dengan gerakan retionoskop (against movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sferis negative sampai tercapai netralisasi, autorefraktometer (computer). Hipermetropia Refraksi subyektif, metode trial and error dengan menggunakan kartu snellen, mata diperiksa satu persatu, ditentukan visus masing-masing mata, pada dewasa dan visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa siferis positif pada anak-anak dan remaja dengan visus 6/6 dan keluhan astenofia

derajat bidang meridian tersebut dilanjutkan dengan pemeriksaan kartu snellen. epicarotovakia. Reflaksi objektif. Pada FRK langsung digunakan untuk mengangkat lapisan tipis dari kornea sehingga dapat mengoreksi lengkungan . Diagnosis dan intervensi keperawatan Perubahan sensori.persepsi (visual) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan menfokuskan sinar pada retina.akomodatif dikoreksi dengan sikloplegik. Jelaskan penyebab terjadinya gangguan penglihatan. Untuk myopia.06 pemeriksaan mengawasi reaksi fundus yang bergerak berlawanan dengan gerakan retinoskop(against movement) kemudian dikoreksi dengan lensa seferis positif sampai tercapai netralisasi. atau foto refraktif keratetektomi(FRK). Rasional :   Mengetahui visus dasar klien dan perkembangannya setelah diberikan. autorefraktometer (computer) Astigmatisme Dasar pemeriksaan astigmatisme dengan teknik fogging yaitu klien disuruh melihat gambaran kipas dan ditanya manakah garis yang paling jelas terlihat titik garis ini sesuai dengan meridian yang paling emetrop dan yang harus dikoreksi adalah axis tegak lurus. Intervensi :  Rasional :   Pengetahuan tentang penyebab mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien koperatif dalam tindakan keperawatan Lakukan uji ketajaman. retinoskop dengan masa kerja S+2. Klien mengenal gangguan sensori yang terjadi dan melakukan kompensasi terhadap perubahan . Tujuan :   Ketajaman penglihatan klien meningkat dengan bantuan alat. Kaloborasi dengan tim medis dalam pemberian lensa kontak atau kaca mata bantu atau operasi(keratotomy radical).

Rasional : Mengurangi silau dan akkomodasi yang berlebihan. Kolaborasi : Pemberian kaca mata untuk meningkatkan tajam penglihatan klien Resiko cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.fotofobia) berkurang / hilang. Perbaikan visual tampak dalam 3-5hari. Kreteria hasil:   Keluhan klien (pusing. Rasional :Mengurangi kelelahan mata sehingga pusing berkurang Gunakan lampu atau penerangan yang cukup ( dari atas dan belakang ) saat membaca. Prosedur ini dilakukan kurang darisatu menit. berair dan fotofobia. Klien mengenal gejala gangguan sensori dan dapat berkompensasi terhadap perubahan yang terjadi. Gangguan rasa nyaman (pusing) yang berhubungan dengan usaha pemfokuskan mata. Intervensi:  Jelaskan penyebab pusing. mata lelah. Tujuan: rasa nyaman klien terpenuhi. berair. mata lelah. Rasional: mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan. Anjurkan agar klien cukup istirahat dan tidak melakukan aktivitas membaca terus menerus. Klien dapat mengidentifikasi potensial bahaya dalam lingkungan Intervensi :  Jelaskan tentang kemungkinan yang terjadi akibat penurunan tajam penglihatan Rasional : Perubahan ketajaman penglihatan dan kedalaman persepsi dapat meningkatkan resiko cedera sampai klien belajar untuk mengkompensasi  Beritahu klien agar lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas  Batasi aktivitas seperti mengendarai kendaraan pada malam hari Rasioanl : Mengurangi potensial bahaya karena penglihatan kabur      .kornea yang berlebihan yang mengganggu memfokuskan cahaya yang tepat melalui lensa. Tujuan tidak terjadi cedera Kriteria Hasil : Klien dapat melakukan aktivitas tanpa mengalami cedera.

 Gunakan kaca mata koreksi atau pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi untuk menghindari cedera .