NASKAH PUBLIKASI PENELITIAN DASAR KEILMUAN

Metode Pengembangan Agribisnis Jarak Pagar Berbasis Masyarakat Untuk Mendukung Sumber Energi Alternatif (Biodiesel) di Jawa Timur

Ir. Bambang Yudi Ariadi, MM

Dibiayai dari Anggaran Dana Pembinaan Pendidikan (DPP) Universitas Muhammadiyah Malang Berdasarkan SK Pembantu Rektor I Nomor:

FAKULTAS PERTANIAN/JURUSAN AGRIBISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG JANUARI 2007

1

kelompok mitra. Dukungan data dan kajian 1 Dosen Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian UMM. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). 2 . sementara dilain pihak persediaan minyak bumi domestik semakin berkurang dan disertai harga di pasar dunia yang meningkat tajam hingga mencapai tingkat USD 70 per barel. Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur. diperkirakan cadangan minyak bumi hanya cukup untuk konsumsi 10 tahun ke depan. maka sudah saatnya dikembangkan sumber energi alternatif terbarukan berbahan baku minyak nabati.) potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel.NASKAH PUBLIKASI METODE PENGEMBANGAN AGRIBISNIS “JARAK PAGAR” BERBASIS MASYARAKAT UNTUK MENDUKUNG SUMBER ENERGI ALTERNATIF (BIODIESEL) DI JAWA TIMUR Oleh: Bambang Yudi Ariadi1 ABSTRAK Tujuan Penelitian tahap pertama adalah: 1) Untuk mengidentifikasi lingkungan agribisnis jarak pagar. Grati. yaitu biodiesel. Tempat penelitian di Kecamatan. PT Kebun Grati Agung (KGA) sebagai perusahaan mitra. Jawa Timur. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: 1) Pelaku pengembangan agribisnis “jarak pagar” terdiri dari. kebutuhan industri kimia dan ekspor CPO. Kata kunci: agribisnis. 2) Relasi antar pelaku pengembangan agribisnis “jarak pagar” dengan peran strategis yang dijalankan mengarah pada sistem yang kondusif dalam pengolah biji “jarak pagar” menjadi menjadi minyak mentah (crude jatropa oil) sebagai sumber energi alternatif di Jawa Timur. Ketergantungan terhadap minyak bumi selama ini semakin meningkat. Hal ini dikarenakan minyak biji jarak pagar tidak termasuk dalam kategori minyak makanan (edible oil). Keberhasilan pengembangan jarak pagar ditunjukkan dengan posisi tawar yang kuat bagi petani dalam mekanisme pasar. 2) Pola relasi antar pelaku usaha secara backward dan forward linkage agribisnis jarak pagar. Untuk itu mekanisme dalam menciptakan posisi tawar yang kuat perlu untuk dikaji secara mendalam. Selain itu tanaman ini tahan terhadap kekeringan. sehingga pemanfaatannya sebagai biodiesel tidak mengganggu penyediaan kebutuhan minyak makan nasional. Kabupaten Pasuruan. kelompok petani dan petani PENDAHULUAN Indonesia sedang mengalami krisis energi. “Jarak pagar” (Jatropha curcas L. kelompok petani mitra dan petani. perusahaan mitra. kelompok mitra. sehingga mampu untuk tumbuh dan berkembang dengan baik dilahan marginal.

yaitu proses menghasilkan komoditi pertanian.kelayakan aspek teknis. Lingkungan Agribisnis “jarak pagar” Agribisnis merupakan suatu sistem yang melibatkan usaha di bidang pertanian dari subsistem input. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Kecamatan Grati. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara deskriptif kuantitatif. ekonomis dan sosial merupakan modal ilmiah mutlak diperlukan. masing-masing subsistem bekerja secara parsial. 2) Pola relasi antar pelaku usaha secara backward dan forward linkage agribisnis jarak pagar. Tujuan penelitian tahap pertama adalah 1) Untuk mengidentifikasi lingkungan agribisnis jarak pagar. pemasok biji “jarak pagar”. Subsistem proses adalah usaha di bidang farm itu sendiri. proses dan output. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN a. Metode ini efektif dilakukan mengingat tanaman “jarak pagar” merupakan suatu tanaman baru yang bersifat top down. Sampel diperoleh dengan cara ditelusuri mulai dari industri pengolah. Penelusuran sampel dimulai dari Perusahaan pengolah yang dalam hal ini PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) atau PT Kebun Grati Agung (KGA). Naskah publikasi ini merupakan hasil dari penelitian tahap pertama dari dua tahap penelitian dengan tujuan akhir yang ingin dicapai adalah dirumuskannya metode pengembangan agribisnis jarak pagar berbasis masyarakat untuk mendukung sumber energi alternatif (biodiesel) di Jawa Timur. kelompok tani dan petani/penggarap usahatani “jarak pagar”. pupuk. Dalam rangkaian sistem agribisnis yang panjang. Populasi penelitian adalah pelaku agribisnis jarak pagar. kelompok tani mitra. subsistem output adalah usaha yang mengolah dan atau memasarkan komoditi pertanian hingga sampai konsumen. yang meliputi petani. Selanjutnya. Masing-masing pelaku agribisnis melakukan usahanya secara 3 . Subsistem input meliputi bisnis-bisnis yang menghasilkan sarana produksi pertanian (benih. kemudian dilanjutkan kepada kelompok mitra. kelompok petani mitra dan berakhir kepetani/penggarap. obat-obatan dan alat-alat mekanisasi pertanian). Kabupaten Pasuruan. kelompok mitra dan perusahaan mitra atau industri pengolah. Ketiga subsistem tersebut bekerja seperti mata rantai panjang yang satu sama lain saling berkaitan.

dari aspek finansial. Jadilah jutaan pelaku agribisnis kecil yang berjalan begitu saja mengikuti kondisi pasar. Kaitan ke depan karena ada ciri-ciri produk pertanian seperti bersifat musiman. Kaitan ke belakang berlangsung karena pertanian memerlukan input produksi. 4 . 1 : Keterkaitan Petani/penggarap usahatani “jarak pagar” secara backward linkage (Agroindustri hulu) dan forward (Agroindustri hilir) linkage. keberadaannya dapat di subsistem input maupun di subsistem output. maka kaitannya dengan industri berlangsung ke belakang (backward linkage) dan ke depan (forward linkage). Kegiatan ini ada yang memerlukan penanganan yang tanpa mengubah struktur aslinya (processing) dan ada pula pengolahan lebih lanjut yang mengubah sifat aslinya atau sifat-sifat kimianya (manufacturing). mudah rusak atau karena permintaan konsumen yang masih menuntut persyaratan kualitas bila pendapatan meningkat. alat pertanian dan mesin yang langsung dipakai sektor pertanian. Idealnya diperlukan kerjasama antar subsistem dengan suatu jejaring (networking) yang kuat.alamiah berdasarkan pengamatan mereka pada peluang bisnis dan minat serta kemampuan sumberdaya yang dimiliki untuk menggeluti bisnis tertentu. pertanian dan agro-output dalam suatu sistem agribisnis “jarak pagar” dapat diilustrasikan sebagaimana pada gambar berikut ini: Agrroindustri hulu: Penyedia bibit “jarak pagar” dan Teknologi Budidaya Agrroindustri hilir: Pengolah biji “jarak pagar” menjadi minyak mentah (crude jatropa oil) Petani/Penggarap Usahatani “jarak papagar’ Gambar. Masing-masing subsistem perlu mempertimbangkan kelayakan usahanya. Keterkaitan agro-input. Pengembangan sistem agribisnis mengharuskan adanya sinkronisasi dan sinergi antar subsistem. pasar dan ekonomi. berupa: pupuk. Padahal masing-masing subsistem membutuhkan dukungan keunggulan komparatif dan kompetitif yang mungkin berada di daerah yang berbedabeda. Agroindustri merupakan bagian dari system agribisnis. volumeus. Apabila pertanian digambarkan sebagai proses menghasilkan produk pertanian di tingkat primer. obat.

Hasil penelitian menemukan KGA disamping berperan aktif dalam menyediakan kebutuhan usahatani “jarak pagar” bagi petani. Untuk meningkatkan ketangguhan pada usahatani “jarak pagar” keterkaitan kedepan dengan agroindustri yang mengolah biji “jarak pagar” menjadi minyak mentah (crude jatropa oil) sebagai sumber energi alternatif merupakan suatu keharusan. KGA menjalin kerjasama dengan kelompok mitra sebagai institusi yang berperan dalam menyalurkan kebutuhan input bagi petani/penggarap. juga sekaligus menampung semua biji “jarak pagar” yang dihasilkan petani. karena akan menjadi faktor penentu keberhasilan dalam proses produksi biji “jarak pagar”. Dukungan ini sangat berarti bagi usahatani. yaitu industri yang menyediakan bibit dan teknologi budidaya “jarak pagar”. banyak petani yang tidak sungguh-sungguh dalam berusahatani “jarak pagar”. Nota kesepahaman ini merupakan payung hukum dan regulasi dalam pengembangan “jarak pagar” untuk mengatasi 5 . yang pada akhirnya akan menentukan kuantitas. kualitas dan kontinyuitas bagi petani/penggarap. sebagaimana tertuang dalam Nota Kesepahaman antara Rajawali Nusantara Indonesia dengan Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur (terlampir). Disamping itu petani sebagai pelaku dalam usahatani “jarak pagar” sangat menaruh perhatian terhadap kepastian pasar. kualitas dan kontinyuitas produksi biji “jarak pagar” yang dihasilkan. PT Kebun Grati Agung (KGA) yang merupakan anak perusahaan PT Rajawali Nusantra Indonesia (RNI) merupakan agroindustri yang menyediakan kebutuhan usahatani. Petani sangat berkepentingan dengan agroindustri hilir yang menyerap biji “jarak pagar” untuk diolah menjadi minyak mentah (crude jatropa oil). Agar bibit dan paket teknologi ini sampai pada petani/ penggarap usahatani ”jarak pagar” diperlukan institusi lain yang secara efektif menghubungkan dengan sasaran.Pengembangan usahatani “jarak pagar” yang dihasilkan oleh petani sangat ditentukan oleh dukungan sektor lain. yang dalam hal ini KGA secara konsisten menyediakan bibit “jarak pagar” serta paket teknologi budidaya “jarak pagar”. Kelompok mitra ini sangat strategis dalam meningkatkan ketersediaan input (bibit dan teknik budidaya) secara kuantitas. Keterkaitan kebelakang dari usahatani “jarak pagar” adalah dukungan yang konsisten dari agroindustri yang menghasilkan input bagi petani/penggarap usahatani “jarak pagar”. bahkan ada yang menggantikan dengan komoditas lainnya karena persoalan tidak jelasnya daya serap pasar biji “jarak pagar”. tidak jarak ditemui dilapang. Agroindustri hilir ini menjadi daya tarik yang kuat bagi petani dalam berusahatani “jarak pagar”.

Hasil penelitian menunjukkan dalam melakukan kegiatan budidaya “jarak pagar” petani yang tergabung dalam kelompok tani mitra menyediakan lahan untuk digunakan budidaya. demikian pula agroinustri hilir berkepentingan dengan usahatani. Pendampingan budidaya oleh kelompok tani mitra terjadi terus menerus sampai tanaman berproduksi.. sebagian besar lahan berupa tanah tegal. Budidaya “jarak pagar” dilakukan sebagian petani melakukan dengan cara monokultur dan sebagian dengan cara tumpangsari dengan tanaman pangan (jagung dan ketela pohon). Usahatani berkepentingan dengan agroindustri hulu. seluruh hasil produksi yang dihasilkan petani dikumpulkan dan dibeli kelompok mitra dengan harga yang telah disepakati bersama sebesar Rp 500/ kg. Keterkaitan kebelakang dan kedepan dalam usahatani jarak pagar ini menjadi modal dasar dalam pengembangan agribisnis “jarak pagar”. Kepastian pasokan input dan pasar biji “jarak pagar” menjadi modal dasar dalam menciptakan ketangguhan dalam berusatani “jarak pagar”.kelangkaan bahan bakar minyak dan mendukung bahan bakar alternatif di Jawa Timur. Relasi Pelaku Pengembangan Agribisnis “jarak pagar” di Jawa Timur. Selanjutnya biji “jarak pagar” yang telah dikumpulkan kelompok mitra seluruhnya dijual ke perusahaaan mitra (PT Kebun Grati Agung (KGA)) dengan sistem bagi hasil berupa minyak mentah (crude jatropha oil) sebanyak 65% kelompok mitra dan 35% perusahaan mitra. b. Atas dasar ini pula pola pengembangan agribisnis “jarak pagar” di Jawa Timur mulai dilakukan. Untuk kebutuhan benih dan pupuk serta cara budidaya “jarak pagar” yang benar dibantu oleh kelompok tani mitra. Selengkapnya relasi pelaku agribisnis dalam pengembangan agribisnis “jarak pagar dapat dilihat dalam gambar berikut ini: 6 . tanaman buah (mangga).

RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA (RNI) DINAS PERKEBUNAN PROPINSI JATIM PERUSAHAAN MITRA PT KEBUN GRATI AGUNG (KGA) Pengolahan biji “jarak pagar” menjadi minyak mentah (crude jatropa oil) sebagai sumber energi alternatif Pembelian / penampungan biji jarak pagar KELOMPOK MITRA Budidaya Jarak pagar: Monokultur Tumpangsari dengan tan. pangan dan atau buah KELOMPOK PETANI MITRA Penyediaan Sarana Produksi : Bibit jarak pagar Pupuk Teknologi budidaya PETANI MITRA Gambar 2. PELAKU AGRIBISNIS PENGEMBANGAN AGRIBISNIS 7 . Relasi pelaku Agribisnis dalam pengembangan Agribisnis “jarak pagar” di Jawa Timur.

Kewajiban Kelompok Tani Mitra diatur secara khusus oleh Kelompok Mitra. PT Kebun Grati Agung (KGA) adalah perusahaan mitra yang menjalin kerjasama dalam pengembangan “jarak pagar” dengan kelompok mitra. 3. 4. b) menyediakan unit pengolahan biji “jarak pagar”. Sebagai Perusahaan mitra ini berkewajiban. Kelompok Mitra yang merupakan mitra kerja dari perusahaan mitra dalam pengembangan agribisnis “jarak pagar” bertugas untuk . b) membiayai seluruh kegiatan yang berkaitan dengan tanaman “jarak pagar”. PT Kebun Grati Agung (KGA) merupakan anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang berkedudukan di Pasuruan adalah perusahan yang menyediakan teknologi (pupuk. bibit dan budidaya) dan agroindustri yang mengolah biji “Jarak Pagar” menjadi minyak mentah (crude jatropa oil) untuk sumber bahan bakar alternatif sebagai substitusi atau suplemen bahan bakar minyak. Kelompok Tani Mitra merupakan kelompok tani yang bermitra dengan Kelompok Mitra. Kewajiban perusahaan mitra dengan kelompok mitra diatur dalam perjanjian kerjasama secara khusus. tetapi tersebar pada seluruh daerah di Jawa Timur.Pada gambar 2 diatas dapat dijelaskan pelaku agribisnis dalam pengembangan agribisnis “jarak pagar” sebagaimana hal-hal berikut ini: 1. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) merupakan pelaksana operasional dan menyediakan serta memiliki teknologi yang mampu mengolah biji “jarak pagar” menjadi bahan bakar alternatif. c) mensosialisasikan cara penanaman “jarak pagar” dan d) menampung semua produksi yang dihasilkan oleh kelompok mitra berupa biji “jarak pagar” untuk diolah menjadi minyak mentah (crude jatropa oil). c) mengawasi proses kegiatan pelaksanaan penanaman “jarak pagar” dan d) mengembalikan pinjaman bibit pada saat panen pertama. Kedudukan Kelompok Tani Mitra tidak dibatasi pada satu wilayah administrasi saja. Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur 2. Keberhasilan pengembangan agribisnis “jarak pagar” ini sangat ditentukan oleh kelompok tani 8 . a) menyediakan lahan untuk bididaya “jarak pagar”. Yang dimaksudkan biji “jarak pagar” adalah buah “jarak pagar” yang sudah dikupas daging buahnya. hal ini dapat dimengerti karena kelompok tani mtra ini merupakan ujung tombak yang berhadapan langsung dengan petani atau penggarap budidaya “jarak pagar” serta luasnya cakupan wilayah kerja yang menjadi tanggung jawabnya. 5. a) memberikan pinjaman bibit “jarak pagar ”.

Peran strategis yang dilakukan sebagaimana dalam tabel berikut: 9 . Peran Strategis Pelaku Agribisnis dalam Pengembangan Agribisnis “jarak pagar” di Jawa Timur.mitra. Mengingat tanaman “jarak pagar” ini merupakan tanaman baru bagi petani/ penggarap dan tidak memberikan jaminan pendapatan/kesejahteraan dalam kehidupannya. c. Kelompok Tani Mitra harus “santun” dalam melakukan pendekatan dengan petani/penggrap. Menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan petani Jawa Timur khususnya yang berada di Wilayah Binaan Gerdu-Taskin. Situbondo. yang meliputi wilayah Pasuruan. Madura. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang diberi kepercayaan oleh Pemerintah Jawa Timur untuk mengembangkan tanaman “jarak pagar” sampai dengan tahun 2007 sudah mencapai lahan seluas 5. dilakukan kerjasama dengan pesantern atau kelompok masyarakat lainnya. Cikal bakal pengembangan “jarak pagar” di Jawa Timur diawali dari Nota Kesepahaman antara PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dengan Dinas perkebunan Propinsi Jawa Timur. 6. Kelompok ini selanjutnya dikenal dengan “Kelompok Mitra”. Untuk meningkatkan efektifitas dalam pengembangan tanaman “jarak pagar” dengan memanfaatkan lahan tidur atau tidak produktif milik petani di Jawa Timur. Petani atau penggrap budidaya “jarak pagar” melakukan usahataninya secara monokultur maupun tumpang sari dengan tanaman pangan dan atau tanaman buah. Mojokerto. 3. Secara prinsip kewajiban Kelompok Tani Mitra ini sama dengan kewajiban Kelompok Mitra.) dapat dikembangkan secara teknis dan ekonomis. Lamongan dan Sidoarjo. tugas yang utama dan yang membutuhkan penanganan serius adalah mengawasi proses kegiatan penanaman “jarak pagar”. melalui upaya pemanfaatan lahan secara optimal. Membantu Pemerintah dalam mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak. Tuban. 2.000 hektar. Pengembangan “jarak pagar” di wilayah Jawa Timur didasarkan atas hal-hal sebagai berikut: 1. dengan cara mencari sumber bahan bakar alternatif sebagai substitusi atau suplemen bahan bakar minyak. Bahan bakar alternatif dari minyak “jarak pagar” (jatropha curcas L. Probolinggo.

ekonomis dan faktor resiko ketidakpastian menjadi pertimbangan petani dalam membuat keputusan dalam alokasi penggunaan sumberdaya untuk pengembangan agribisnis “jarak pagar”. 10 . Karakteristik Peran Strategis Pelaku Agribisnis “jarak pagar” No. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) PT Kebun Grati Agung 3. 1. Kendala teknis meliputi ketidakmampuan untuk mempraktekkan teknologi yang baik. Menampung dan membeli seluruh biji “jarak pagar” dari kelompok mitra. Bekerjasama dengan kelompok mitra untuk budidaya tanaman “jarak pagar”. Petani/Penggarap Sumber: Nota Kesepahaman Dinas Perkebunan. Sumber ketidakpastian yang penting adalah harga pertanian. Kendala lain adalah faktor resiko ketidakpastian (resk and uncertainty). RNI.Tabel 1. Menyediakan lahan dan tenaga kerja untuk budidaya tanaman “jarak pagar”. Pelaku Agribisnis Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur Peran Strategis Mencari sumber bahan bakar alternatif sebagai substitusi atau suplemen bahan bakar minyak. Pelaksana operasional dan menyediakan serta memiliki teknologi untuk pengolahan biji “jarak pagar” menjadi bahan bakar alternatif. Bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten dan Petani/Kelompok Tani di Wilayah Binaan GerduTaskin (Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan) guna memanfaatkan lahan tidak produktif untuk budidaya tanaman “jarak pagar”. Perilaku petani “jarak pagar” dalam Agribisnis “jarak pagar” Pada setiap aktivitas produksi terdapat kendala teknis dan ekonomis. sedangkan kendala ekonomi berupa ketidakmampuan menyediakan biaya yang diperlukan untuk alokasi faktor produksi optimal. Kelompok Petani Mitra 6. d. Kendala teknis. 2. KGA dan Kelompok Mitra. Pabrik pengolah biji “jarak pagar” menjadi menjadi minyak mentah (crude jatropa oil) sebagai sumber energi alternatif. Bekerjasama dengan petani untuk budidaya tanaman “jarak pagar” Menyalurkan bibit dan paket teknologi budidaya. 4. Membeli seluruh hasil hasil produksi kelompok tani mitra dan menyalurkan ke KGA. Bekerjasama dengan kelompok tani mitra untuk budidaya tanaman “jarak pagar” Menyalurkan bibit dan paket teknologi budidaya. Membeli seluruh hasil hasil produksi petani mitra dan menyalurkan ke kelompok mitra. Kelompok Mitra 5.

Resiko berproduksi dalam melakukan usahatani yang dihadapi usaha masing-masing petani dapat dilihat dari adanya variasi dalam perolehan hasil pertanian. Dalam teori uitilas. Oleh karena itu petani selalu berhati-hati dalam mengadopsi teknologi baru. sebaliknya dikatakan ketidakpastian (uncertainty) bilamana outcomes dan probabilitasnya tidak diketahui. Adanya spekulasi pedagang yang ingin memperoleh keuntungan besar. rantai pemasaran yang panjang adalah penyebab fluaktuasi harga. mengingat untuk menggunakan hal itu diperlukan tambahan modal peralatan yang relatif besar. bahwa petani yang rasional dalam menghadapi situasi ketidakpastian berusaha memaksimalkan kepuasan atau utilitasnya sehingga dalam suatu usahatani kesediaan petani untuk memilih resiko pada dasarnya tergantung kepada sifat pembawaan psikis. Ketidakpastian harga hasil pertanian sulit diprediksi secara tepat. meskipun akan menghasilkan penerimaan yang lebih besar. yaitu resiko dan ketidakpastian (Knight. Ketergantungan aktivitas pertanian pada alam mengakibatkan resiko dalam produksi pertanian. Selain itu penggunaan teknologi baru ternyata memiliki resiko yang lebih besar daripada cara tradisional yang sudah lazim diterapkan petani. Disisi lain keberhasilan usaha peningkatan produksi salah satu syarat mutlaknya yakni teknologi.Ketidakpastian hasil pertanian lebih banyak disebabkan oleh faktor alam. Sebagaimana ditegaskan oleh Soekartawi (1993). Resiko petani “jarak pagar” dalam berproduksi mempengaruhi perilakunya dalam pengambilan keputusan berusahatani. yaitu keputusan yang didasarkan pada konsep utilitas. bahwa perubahan system pengusahaan petani yang tradisional ke komersial membawa dampak terhadap perilaku produsen dalam pengambilan keputusan. Faktor-faktor tersebut menentukan strategi yang diambil. Utilitas yang mengukur tingkat kepuasan petani. Situasi ketidakpastian diklasifikasikan menjadi dua kategori. Hasil pertanian yang gagal akan berpengaruh terhadap keputusan usahatani mendatang. maka berarti petani yang bertujuan untuk memaksimalkan utilitas akan memilih strategi 11 . Petani jera dan menolak terhadap usahausaha penggunaan teknologi baru (jarak pagar) yang mengandung resiko. kepuasan atau utilitas yang diterima petani dari hasil keluarannya atau outcome. 1921). karena bila utilitas sama dengan nilai harapan pendapatan. tidak berkaitan dengan nilai harapan pendapatan. Pada keadaaan ini pengaruh buruk alam banyak mempengaruhi total hasil panen. mengingat begitu kompleksnya faktor yang menyebabkan fluktuasi harga. Suatu peristiwa mengandung resiko bilamana hasil akhir atau outcomes dan probabilitas terjadinya dapat diketahui.

2002. hal ini tidak selalu benar. Kalau fungsi utilitas setiap petani diestimasi. maka bentuk dan letak kurva fungsi ini akan memberi gambaran tentang perilaku petani. 2) Relasi antar pelaku pengembangan agribisnis “jarak pagar” dengan peran strategis yang dijalankan mengarah pada sistem yang kondusif dalam pengolah biji “jarak pagar” menjadi menjadi minyak mentah (crude jatropa oil) sebagai sumber energi alternatif di Jawa Timur. Edisi VII. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur. yang meliputi: 1) Menganalisis kelayakan finansial dalam budidaya tanaman “jarak pagar”. PT Kebun Grati Agung (KGA) sebagai perusahaan mitra. Fungsi utilitas merupakan hubungan antara nilai nominal dari penerimaan dengan nilai relative yang diberikan oleh seseorang terhadap nilai uang (penerimaan). Jakarta: Dirjen Dikti. Pedoman Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat oleh Perguruan Tinggi. 3) Meng analisis norma sosial yang berkembang dalam budidaya tanaman “jarak pagar”. kelompok mitra. 2) Menganalisis sikap petani dalam berusahatani “jarak pagar”. kelompok petani mitra dan petani. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan penelitian adalah sebagai berikut: 1) Pelaku pengembangan agribisnis “jarak pagar” terdiri dari. Direktoral Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat.yang mengahsilkan harapan pendapatan yang paling tinggi. Jadi sikap atau perilaku pengambilan keputusan terhadap situasi berisiko dapat ditunjukkan oleh bentuk fungsi utilitas. 12 . Saran yang dapat derekomendasikan adalah sebagai berikut: Perlu ditindaklanjuti dengan penelitian untuk mengevaluasi sumberdaya guna memperoleh modal ilmiah dalam metode pengembangan agribisnis jarak pagar. DAFTAR PUSTAKA Anonim.

dan Indriyo G. Third Edition. 2004. Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang. 2004.. Pertanian Membangun Bangsa. Planning. Marketing Management: Analysis. Prentice Hall International.. dkk. Belmont – California – USA. UGM. New Jersey – USA. Jakarta.P. Universitas Muhammadiyah Malang. Yogyakarta 13 . Implementation and Control. Armand Sudiyono. Soekanto R. Eighth Edition. Business Research for Decision Making. BPS Propinsi. Bary. 2000.D. The IOWA State Univercity Press. Jakarta. Erliza Hambali.---------. Resiko dan Ketidakpastian Dalam Agribisnis: Teori dan Aplikasi. Pustaka Sinar Harapan. Philip (1994). Manajemen Produksi. Downey W. Jakarta. BPFE. Penerbit Erlangga. 2006. Hasil Penelitian Dosen Muda. Davis and Cosenza. 1999. Kotler. Jakarta. 1997. PT Raja Grafindo Persada. Penebar Swadaya. Risk Management in Agriculture. Manajemen Agribisnis. Soekartawi. dan Erickson S. Surabaya. Aplikasi Analisis Biaya. 1993. Tataniaga Pertanian. Jawa Timur Dalam Angka. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodiesel. Dillon H. Volume dan Laba pada Agroindustri Kripik Pisang. Bambang Yudi A. 1984. Wadsworth Publishing Company. PJ.. 1993.S. 1987.