Case Report Session

Anemia DEFENISI. Anemia adalah Menurunya jumlah masa eritrosit yang dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup kejaringan perifer. Dalam prakteknya anemia merupakan suatu keadaan yang ditunjukan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit dan hitung eritrosit. Anemia bukanlah suatu penyakit tersendiri tetapi merupakan gejala dari penyakit dasar. Dignosa anemia harus mencakup diagnose marfologi dan diagnosa etiologi. KRITERIA ANEMIA. Para meter yang umum dipakai untuk menunjukan penurunan masa eritrosit adalah:  Kadar HB.  Hematokrit.  Hitung eritrosit. Kriteria anemia menurut WHO Laki – laki dewasa Wanita dewasa tidak hamil Wanita hamil < 13 g/dl. < 12g/dl. < 11g/dl.

Para klinisi di Indonesia membuat batasan untuk anemia apabila HB < 10g/dl. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI ANEMIA. Pada dasarnya penyebab anemia adalah: • • • Gangguan pembentukan eritrosit di sumsum tulang. Pendarahan. Proses penghancuran eritrosit yang berlebihan.

1

Berdasarkan morfologi anemia dapat dibagi menjadi 3: • Anemia mikrositer hipokrom.  Bila kadar MCV < 80 fl.  MCH< 27 pg. • Anemia normositer normokrom.  Bila kadar MCV antara 80 – 95 fl.  Kadar MCH antara 27 – 34pg. • Anemia makrositer.  Bila kadar MCV > 95 fl. Klasifikasi anemia menurut etio patogenesa adalah: • Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang. • • • Anemia akibat hemoragik. Anemia hemolitik. Anemia dengan penyebab yang tidak diketahui atau patogenesa yang kompleks. I.Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang terdiri dari:    Anemia karena kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit. Anemia karena gangguan penggunaan besi. Anemia karena kerusakan sumsum tulang.

2

Anemia karena kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit terdiri dari:  Anemia defisiensi besi.  Anemia akibat penyakit kronik.Anemia karena kerusakan sumsum tulangterdiri dari: • • • • • Anemia aplasti. I.  Anemia sideroblastik. III. I.  Anemia hemolitik ekstra kospuskuler. III. Anemia pada keganasan hematologi.2.  Anemia defisiensi asam folat. Anemia akibat perdarahan kronik.  Anemia defisiensi vitamin B12. Anemia pada diseritropoitik. Anemia akibat kekurangan eritropoitin kronik. Anemia pada sindroma mielodisplasia.Anemia akibat hemoragik terdiri dari: • • Anemia paska perdarahan akut.1.3.Anemia karena gangguan paenggunaan besi terdiri dari. 3 .Anemia hemolitik terbagi atas:  Anemia hemlitik intra kospuskuler. II. Anemia mieloplasti.1. I.Anemia hemolitik intra kospuskuler terdiri dari:  Anemia akibat gangguan membrane eritrosit (membranopati).

Anemia makrositer terdiri dari: 4 .Anemia normositik normokromterdiri dari: • • • • • • • Anemia paska pendarhan akut. Anemia aplasti. Anemia sideroblastik.  Anemia hemolitik mikroangiopati. Anemia pada sindroma mielodysplasia. III.  Anemia hemolitik karena intoksikasi. Anemia pada keganasan hematologi. II.Anemi mikrositer hipokrom terdiri dari: • • • • Anemia defisiensi besi.  Gangguan hemoglobin (hemoglobinopati) berupa talasemia dan hemoglobinopati structural (HbS dan HbE). Anemia akibat penyakit kronik. Gangguan enzim eritrosit (enzimopati) : terjadi karena defisiensi enzim G6PD.Anemia hemolitik ekstra kospuskuler terdiri dari:  Anemia hemolitik autoimun . Talasemia mayor. Anemia hemolitik didapat. Klasifikasi anemia berdasarkan mrfologi: I. Anemia pada penyakit ginjal kronik. Anemia akibat penyakit kronok. III.2.

MCV dapat dihitung dengan memakai rumus: MCV = HT ( vol% X 10 ) / JML ERITROSIT (juta/mm3 ) MCH merupakan hemoglobin eritrosit rata rata.rata. III. Anemia pada sindroma mielodisplastik. Anemia pada penyakit hipotiroid. MCH dapat dihitung dengan rumus: MCH = hemoglobin (g/dl X 10)/jumlah eritrosit ( juta/mm3 ) MCHC merupakan konsentrasi hemoglobin eritrosit rata.• • Bentuk megaloblastik Bentuk non-megaloblastik.Anemia makrositer bentuk non megaloblastik terdiri dari: • • • Anemia pada penyakit hati kronik. MCH. III.2. MCV merupakan volum eritrosit rata – rata. MCHC. Anemia pernisiosa.Anemia makrositik bentuk megaloblastik terdiri dari: • • • Anemia defisiensi asam folat.1. • Bila gambaran darah tepi memperlihatkan mikrositer hipokrom dan MCV < 80 fl dan MCH < 27pg maka lanjutkan pemeriksaan kadar besi serum ( SI ). ALGORITMA PENDEKATAN DIAGNOSA ANEMIA: Bila ditemukan pasien anemia dengan Hb < 10g/dl maka ambil sediaan hapus darah tepi dan nilai indek eritrosit dengan menghitung MCV. Anemia defisiensi vitamin B 12. MCHC = hemoglobin (g/dl X 100) / HT ( vol % ) ANEMIA MIKROSITER HIPOKROM. 5 .

6 . • Bila TIBC menurun. • Bila hasil elektroforesis HB memperlihatkan Hba2 meningkat dan Hbf meningkat maka maka jenis penyakitnya adalah talasemia beta. feritin menurun dan besi sumsum tulang negative maka anemianya adalah anemia defisiensi besi. • BIla retikulosit meningkat dan ada riwayat perdarah akut maka jenis anemia adalah anemia paska perdarahan akut. riwayat penyakit keluarga positif maka anemia adalah jenis anemia karena kelainan enzim (enzimopati). • Bila hasil comb tes positif maka jenis anemianya adalh anemia hemolitik autoimun. feritin meningkat atau normal dan besi sumsum tulang positif maka anemia adalah akibat penyakit kronik. kelainan membrane (membranopati).• • Bila kadar besi menurun maka lakukan penilaian terhadap TIBC dan feritin. Bila kadarc TIBC meningkat. • Bila ditemukan ring sideroblastik dalam sumsum tulang maka jenis anemianya adalah anemia sideroblastik. • Bila hasil comb tes negative dan riwayat keluarga negative maka anemianya adalah anemia mikroangiopati karena obat dan parasit. • Bila pada sediaan darah tepi ditemukan gambaran normositer normskrom dengan MCV antara 80 – 95 fl dan MCH 27 – 34 pg dan ditemukan retikulosit yang meningkat dan tanda hemolitik positif maka lakukan comb tes . kelainan hemoglobin (hemoglobinopati). • Bila kadar besi serum normal dan feritin normal maka lanjutkan pemeriksaan elektro foresis HB dan ring sideroblastik dalam sumsum tulang. ANEMIA NORMOSITER NORMOKROM. • Bila hasil comb tes negative.

faal tiroid dan penyakit kronik maka jenis anemia yang timbul adalah anemia pada gagal gnjal. • Bila retikulosit normal atau menurun dan sumsum tulang normal kemudian ditemukan adanya gangguanpada faal hepar. myeloma ) maka jenis anemia adalah leukemia akut atau myeloma. hipotiroid dan penyakit kronik. • Bila retikulosit normal atau menurun dan pada sumsum tulang ditemukan infiltrasi dan ada limpoma kangker maka jenis anemia adalah anemia mieloplastik. • Bila kadar retikulosit normal atau menurun dan pada pemeriksaan sumsum tulang ditemukan megaloblastik dan kadar B12 dan asam folat rendah maka jenias anemianya adalah anemia defisiensi B12 dan defisiensi asam folat. • Bila kadar retikulosit meningkat dan ada riwayat perdarahan akut maka jenis anemia adalah anemia paska perdarahan akut.• Bila retikulosit normal atau menurun. dan ditemukan tumor ganas hematologi ( leukemia. ANEMIA MAKROSITER. faal hati teganggu dan ada 7 . • Bila retikulosit normal atau menurun dan pada sumsum tulang ditemukan displastik maka jenis anemia adalah anemia pada sindroma mielodisplastik. • Bila kadar retikulosit meningkat maka anemia yang terjadi adalah anemia defisiensi asam folat. • Bila retikulosit normal atau menurun dan pada sumsum tulang tidak ditemukan megaloblastik kemudian faal tiroid. penyakit hati kronik. • Bila retikulosit normal atau menurun. sedangkan pada sumsusm tulang ditemukan keadaan hipoplasi maka jenis anemia adalah anemia aplasti. • Bila pada sedian hapus ditemukan gambaran makrositer dan MCV > 95 fl maka nilai retikulosit. defisiensi B12 dalam terapi. faal ginjal.

Lesuh. Gejala umum anemia terjadi karena: • • Anoksia organ. Berat ringannya gejala anemia sangat ditentukan oleh: • • • • Derajat penurunan HB. Usia. PATOFISIOLOGI DAN GEJALA ANEMIA. sindroma mielodisplasia. Sindroma anemia terdiri dari: • • • Rasa lemah.masing anemia. Mekanisme kompensasi tubuh terhadap berkurangnya daya angkut oksigen. Cepat lelah. Disebut sebagai sindroma anemia yang timbul sebagai akibat iskemik organ target serta akibat mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan kadar Hb. . Kecepatan penurunan HB. 8 Gejala umum anemia. Gejala umum anemia akan lebih jelas bila kadar HB < 7mg/dl. Gejala penyakit dasar.dysplasia maka jenis anemia adalah anemia pada hipotiroid. Adanya kelainan jantung atau paru sebelumnya. Gejala khas masing . Gejala anemia dapat digolongkan menjadi 3 golongan: • • • Gejala umum anemia. Gejala akan terlihatv jelas apabila kadar Hb < 7g/dl.

Dispesia. Stomatitis angularis. mukosa mulut.• • • • • Telinga berdenging. Koilonikea (kuku sendok) Pada anemia megaloblastik dapat ditemukan: • • Glositis. telapak tangan. Pada pemeriksaan fisik: Pasien tampak pucat yang mudah dilihat pada konjungtiva.Masing Anemia. Sesak nafas. Mata berkunang kunang. Kaki terasa dingin. Gejala Khas Masing. Splenomegali. 9 . Atropi papil lidah. Pada anemia defisiensi besi dapat ditemukan : • • • • Dispagia. Gangguan neurologi pada defisiensi Vit B 12. Sindroma anemia tidak spesifik karena dapat terjadi oleh penyakit lain diluar anemia dan tidak sensitive karena timbul setelah penurunan kadar Hb yang berat (<7g/dl). Pada anemia hemolitik dapat ditemukan: • • Ikterus. dan jaringan dibawah kuku.

• Hepatomegali. Pemeriksaan dasar seri anemia terdiri dari: • • • • • Hitung leukosit. Tanda tanda infeksi. Pemeriksaan penyaring terdiri dari: • • • Pengukuran kadar Hb. Pemeriksaan sum-sum tulang. 10 . Pemeriksaan labor yang terdiri dari pemeriksaan: • • • • Pemeriksaan penyaring. Akan memberikan informasi yang sangat berharga mengenai keadaan sistim hematopoitik. Pemeriksaan sum-sum tulang. Indeks eritrosit. Pemeriksaan penyaring. Hitung trombosit. PEMERIKSAAN UNTUK DIAGNOSTIK ANEMIA. Berguna untuk mengarahkan diagnose lebih lanjut. Hitung retikulosit. Pemeriksaan darah seri anemia. Laju endap darah. Pada anemia aplasti dapat ditemukan: • • Pendarahan. Hapusan darah tepi. Pemeriksaan khusus.

Reseptor transferin. Elektroforesis Hemoglobin.Berguna untuk diagnose defenitif pada beberapa jenis anemia. Vitamin B12 serum. Anemia megalobastik. Tes supresi deoksiuridin. Tes comb. Pada anemia megaloblastik dilakukan pemeriksaan: • • • • Folat serum. 11 . Protoporpirin eritrosit. Pemeriksaan kusus pada beberapa jenis anemia: Pada anemia defisiensi Fe dilakukan pemeriksaan: • • • • • • • Serum iron. Pemeriksaan sum-sum tulang mutlak dilakukan pada: • • • Anemia aplasti. Saturasi transferin. Pengecatan sum sum tulang (perls stain). Pada anemia hemolitik dilakukan pemeriksaan: • • • Bilirubin serum. Kelainan hematologic yang dapat mensupresi sistim eritropoitik. Feritin serum. TIBC. Tes skiling.

Pendekatan probabilitas. Dalam mendiagnosa anemia harus ada beberapa hal: • • • • Tentukan adanya anemia. Tentukan ada tidaknya penyakit penyerta yang dapat mempengaruhi hasil pengobatan. Pendekatan tradisional didasarkan pada: • • • Anamnesa. pemeriksaan fisik. Faal ginjal. Pendekatan fungsional.Pada anemia aplastik dilakukan pemeriksaan: • Biopsi sum-sum tulang. Pendekatan fungsional didasarkan pada: 12 . Pemeriksaan laboratorium. Selain itu juga diperlukan pemeriksaan lain seperti: • • • Faal hepar. Tentukan jenis anemia. Pendekatan marfologi. Tentukan etiologi atau penyakit dasar anemia. Faal tiroid. Pendekatan diagnose anemia: • • • • Pendekatan tradisional.

anemia karena penyakait kronik.• Apakah anemia disebabkan karena penurunan produksi eritrosit di sumsum tulang yang dapat dilihat dari penurunan angka retikulosit. talasemia. Anemia yang sering ditemukan adalah: • • • anemia defisiensi Besi. Pada daerah yang endemic malaria sering ditemukan anemia karena panyakit malaria. Berat ringan derajat anemia. • Apakah anemia karena kehilangan darah atau hemolitik yang dapat ditandai dengan peningkatan angka retikulosit. Pendekatan probabilitas. Pada daerah tropic yang paling banyak adalah: • • • anemia defisiensi besi. • berdasarkan data epidemiologi anemia pada suatu daerah. Gejala yang menonjol. defisiensi besi. talasemia. Pada wanita hamil yang sering adalah: • • anemia defisiensi asam folat . anemia karena penyakit kronik. Berdasarkan waktu munculnya penyakit: 13 . Pendekatan klinik pada penderita anemia: Dalam pendekatan klinik yang harus diperhatikan adalah: • • • Kecepatan timbul penyakit.

Anemia yang terjadi secara perlahan dapat ditemukan pada: • • • Anemia defisiensi besi.Anemia yang berlansung cepat dalam beberapa hari sampai minggu ditemukan pada: • • Anemia karena perdarahan akut. Anemia berat biasanya disebabkan oleh: • • • • • • Anemia defisiensi besi. Anemia pada leukemia akut. Anemia aplastik. Anemia akibat penyakit kronik.anemia hemolitik kronik yang bersifat konggenital. Anemia pada penyakit sistemik. • • Anemia karena leukemia akut. Anemia paska pendarahan akut. Anemia defisiensi asam folat dan vitamin B 12. Berdasarkan beratnya anemia: Beratnya suatu anemia dapat dijadikan petunjuk kearah etiologi. Anemia hemolitik yang didapat seperti AIHA dan anemia hemolitik intravascular karena reaksi transfusi serta episode hemolitik akibat defisiensi G6PD. 14 . Anemia hemolitik didapat atau konggenital seperti talasemia mayor. Krisis aplastik pada anemia hemolitik kronik. Anemia ringan sampai sedang disebabkan oleh: • • Anemia karena penyakit kronik. Anemia pada penyakit GGK stadium terminal.

Anemia hemolitik. Tidak dianjurkan memberikan hematin tanpa indikasi yang jelas. BEBERAPA HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PEMBERIAN TERAPI PADA PASIEN ANEMIA.• Talasemia trait. Anemia aplastik. pada anemia kronik transfuse baru diberikan bila anemia bersifat simtomatik dan adanya ancaman payah jantung. Pendekatan berdasarkan sifat gejala anemia: Kalau gejala anemia yang lebih menonjol di banding penyakit dasar sering ditemukan pada: • • • Anemia defisiensi besi. Transfusi dapat diberikan pada pendarahan akut dengan adanya tanda tanda gangguan hemodinamik. • • • Terapi diberikan berdasarkan diagnosa defenitif. Pada anemia penyakit kronik dan anemia sekunder maka gejala yang menonjol adalah gejala penyakit dasar. Untuk mencegah beban volume sesudah tranfusi maka dapat diberikan diuritik kerja cepat sebelum transfusi darah di berikan. ILUSTRASI KASUS Seorang pasien Perempuan 64 tahun dirawat di bangsal penyakit dalam bagian penyakit dalam RSUD Lubuk Basung sejak 5 Februari 2012 dengan: Keluhan Utama : BAB lunak dan sering sejak 3 hari SMRS Riwayat Penyakit Sekarang: 15 . Pada anemia kronik darah yang diberikan adalah PRC bukan WB karena pada anemia kronik sering ditemukan peningkatan volume vaskuler.

: Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : JVP 5-2 cmH2O 16 -Keadaan umum: sedang -Nadi -Suhu -Anemia : 84x/menit : 36.Riwayat Hipertensi(-)  Tidak ada keluarga yang menderita sakit seperti ini.dirawat selama 3 hari dan mendapat terapi metronidazol 3x1.lendir(+). Perut pasien makin membesar sejak 10 hari terakhir Os Merasa Lemas dan lesu Riwayat Penyakit Dahulu • • Riwayat pernah menderita penyakit kuning disangkal Riwayat DM(-).Sosial.loperamid.Tapi tidak ada perbaikan dan os dirujuk ke RS • • • • Mual(+) muntah(-) Demam (+) tidak tinggi. Os mencret sejak 9 hari SMRS. Riwayat Pekerjaan. tidak mudah dicabut : Konjungtiva anemis.Ekonomi  Pasien adalah seorang IRT  Os mempunyai asupan gizi yang cukup PEMERIKSAAN FISIK -Kesadaran -Nafas -Edema Kepala Rambut Mata Telinga Hidung Tenggorokan Leher :CMC : 20x/menit : (-) : Normocephal : Beruban.kemudian os dibawa ke puskesmas.paracetamol.Frekuensi 3-5 kali sehari.warna kuning kecoklatan.konsistensi lunak.7 ⁰C : (+) -Tekanan Darah : 100/70 mmHg Riwayat Penyakit Keluarga .• • BAB lunak dan sering sejak 3 hari SMRS.pada 6 hari pertama os hanya berobat ke mantri.terus menerus. Sklera tidak iketrik.darah(+).

000 /mm³ : 22 % : 2.edema +/+ : Bunyi jantung murni. nyeri ketok (-) : Tidak diperiksa : Tidak diperiksa : Akral hangat.refilling kapiler <2”. luas 1 jari.Kelenjar tiroid tidak membesar Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Iktus cordis tidak terlihat : Iktus teraba 1 jari madial LMCS RIC V : Batas Jantung kanan : LSD Atas : RIC II kiri : 1 jari medial LMCS RIC V. rhonki (-/-). kuat angkat Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Perut membuncit. Wheezing (-/-) Punggung Alat kelamin Anus Anggota Gerak Laboratorium 05 – 02 – 2012 Hemoglobin : 6. kolateral (-). M1 > M2.300 /mm³ : 238.2 gr/dl Leukosit Trombosit Hematokrit Eritrosit : 8.000/mm3 17 . sikatrik (-) : Hepar lien sulit dinilai : Timpani. teratur. P2 < A2.shifting dullness (+) : Bising usus (+) N : Costa Vertebrae Angle Nyeri tekan (-).180. Bising (-) : Statis simetris dan dinamis kiri = kanan : Fremitus kiri = kanan : Sonor kiri = kanan : Vesikuler.

BAB hitam (-) -Pucat(+) Pemeriksaan Fisik : 18 .Gastroenteritis Akut dengan dehidrasi ringan .Anemia sedang ec suspect penyakit kronis Terapi . • • • • • • Istirahat /Diet MB TKTP IVFD RL 6 jam/kolf Ciprofloxacin 2x500 mg Paracetamol 3 x 500 mg Ranitidin 2x150 mg Neurodex 2x1 : 2-3/LPB : 0-1/LPB : 30-50/LPB Diagnosis Kerja Follow up 6 Februari 2012 Anamnesis :-Perut membesar (+) -BAB lunak.Urinalisa Warna Albumin Bilirubin : Kuning :+ :- Sedimen eritrosit : 0-1/LPB Sedimen leukosit : 1-2/LPB Slinder Kristal Epitel Kimia Klinik Kreatinin SGOT SGPT : 1.9 mg/dl : 73 U/L : 38 U/L .

2 gr/dl :0.66 mg/dl :0.7 gr/dl 7 Februari 2012 Anamnesis :-Perut membesar (+) -BAB lunak berkurang.40C : Konjungtiva anemis.Shifting dullness (+) Kesadaran Nadi Nafas : CMC : 72x/i : 16x/i Mata Perut Anjuran : Ekstremitas : Edema +/+ .6% Kimia Klinik Total Protein Albumin Bilirubin total Bil direk : :3.42 mg/dl Globulin :2.5 fl MCH :28.9 gr/dl :3.glob -Hematologi Lengkap USG abdomen : Kesan Normal Pemeriksaan lab : Hematologi MCV : 99.4 pg MCHC:28.Pitting +/+ -USG Abdomen -Pemeriksaan lab Alb.sklera tidak ikterik : Membesar.KU : Sedang TD : 110/70 mmhg T : 36.BAB berdarah (+) -Letih dan lesu -Pucat(+) Pemeriksaan Fisik : 19 .

Shifting dullness (+) Kesadaran Nadi Nafas : CMC : 80x/i : 20x/i Mata Perut Ekstremitas : Edema +/+ .Pitting +/+ Pemeriksaan feces Konsistensi Warna Lendir Darah Mikroskopis Eritrosit Leukosit Amoeba Telor cacing Lemak : (+) 5-10 : 3-5 : (-) : (-) : (-) : Lunak : Coklat :+ :+ Terapi tambahan : Asam folat 1x5mg dan fe 3x200mg 8 Februari 2012 Anamnesis :-Perut membesar (+) -BAB lunak(-).KU : Sedang TD : 120/70 mmhg T : 36.40C : Konjungtiva anemis.BAB berdarah (-) -Letih dan lesu -Pucat(+) Pemeriksaan Fisik : KU : Sedang TD : 110/70 mmhg T : 36.80C : Konjungtiva anemis.sklera tidak ikterik : Membesar.Shifting dullness (+) 20 Kesadaran Nadi Nafas : CMC : 68x/i : 20x/i Mata Perut .sklera tidak ikterik : Membesar.

sklera tidak ikterik : Membesar.lendir(+).Ranitidin 2x150mg untuk mual pada pasien ini dan Neurodex .lemah dan lesu.Pitting +/+ 9 Februari 2012 Anamnesis :-Perut membesar (+) -BAB lunak(-).terdapat mual dan juga demam yang tidak tinggi.perut membuncit.darah(+).Pitting +/+ DISKUSI Telah dirawat seorang pasien perempuan berumur 64 tahun dengan diagnosis : Gastroenteritis akut (GEA) dengan dehidrasi ringan dan anemia sedang dengan ec masih belum jelas Diagnosis GEA dan anemia sedang ditegakkan berdasarkan anamnesa BAB lunak dan sering sejak 3 hari SMRS.os tampak pucat.shifting dullness (+) dan pada ekstremitas ditemukan edema Pada pemeriksaan laboratorium di temukan penurunan haemoglobin dan jumlah eritrosit Penatalaksanaan pada pasien ini adalah istirahat total dan makanan biasa tinggi kalori tinggi protien. 21 .BAB berdarah (-) -Letih dan lesu -Pucat(+) Pemeriksaan Fisik : KU : Sedang TD : 110/70 mmhg T : 36. untuk sakit kepala dan demam diberikan Paracetamol 500 mg sebanyak 3 kali sehari.Frekuensi 3 kali sehari. Pemberian cairan untuk saat ini diberikan RL 500 cc yang dihabiskan selama 6 jam.Ekstremitas : Edema +/+ .60C : Konjungtiva anemis. Serta diberikan pengganti cairan supaya tidak terjadi dehidrasi.Pada pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis.Shifting dullness (+) Kesadaran Nadi Nafas : CMC : 72x/i : 20x/i Mata Perut Ekstremitas : Edema +/+ .konsistensi lunak.warna kuning kecoklatan.

Pada pasien ini keluhan BAB sudah tidak ada tetapi masih ada gejala anemia pada pasien ini.Pemeriksaan penunjang. pemeriksaan hematologi lengkap didapatkan kesan pada pasien ini terdapat anemia makrositer.Pada pemeriksaan feses tidak ada ditemukan amoeba dan telor cacing. 22 .Pada pasien ini sudah dianjurkan pemeriksaan retikulosit untuk mencari penyebab dari anemia yang dialami oleh pasien ini dan mungkin akan dilaksanakan pemeriksaan BMP pada pasien ini.Pada pemeriksaan USG yang dilakukan pada pasien ini didapatkan kesan normal.Pada pemeriksaan Total protein didapatkan penurunan pada total protein dan albumin.