Setiap orang yang ingin mengetahui seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat

dalam agamanya. Mempelajari teologi akan memberikan kepada seseorang keyakinan yang didasarkan pada landasan yang kuat, yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh perubahan zaman. Teologi dalam islam dikenal dengan nama “ilmu Aqaid” atau “Ilmu Tauhid”. Dinamakan demikian karena dalam islam keyakinan tentang ke-Maha Esaan Tuhan adalah termasuk ajarang yang sangat penting. Teologi Islam disebut juga “Ilmu Kalam”. Dinamakan demikian, karena masalah “kalam” atau firman Tuhan, yaitu AlQuran, pernah menjadi polemic yang menimbulkan pertentangan-pertentangan keras dikalangan umat Islam, terutama dalam abad 9 sampai 10 Masehi yang membawa kepada penganiayaan-penganiayaan bahkan pembunuhan pembunuhan terhadap sesama muslim pada waktu itu. Dalam Islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada aliran yang bersifat liberal, ada yang bersifat tradisional dan ada pula yang bersifat tengah-tengah antara liberal dan tradisional. Hal ini mungkin ada hikmahnya. Orang yang bersifat tradisional dalam pemikirannya, mungkin lebih sesuai dan dapat menerima paham-paham dari ajaran teologi tradisional. Sedangkan orang yang bersifat liberal dalam pemikirannya, mungkin lebih sesuai dan dapat menerima paham-paham dari ajaran teologi liberal. Dalam soal paham jabariyah (fatalism) dan paham qadariyah (free will) misalnya, orang yang bersifat liberal dalam pemukimannya, tentu tidak dapat menerima paham jabariyah (fatalisme). Bagi faham qadariyah (free will) yang terdapat dalam ajaran teologi liberalisme yang lebih sesuai dengan jiwa dan pemikirannya. Begitu pula sebaliknya. Adapun beberapa aliran teologi dalam Islam, yaitu aliran Khawarij, aliran Murji’ah, aliran Qadariyah dan aliran Jabariyah.

PENDAHULUAN

BAB I

2 B. kalau pada waktu Nabi Muhammad wafat. Hal. 151 . BAB II Pembahasan Pengertian dan rujukan pemikiran. bahwa kaum khawarij pada mulanya adalah pengikut-pengikut Ali bin Abi Thalib. karena tidak setuju dengan sikap Ali bin Abi Thalib yang menerima “tahkim” (arbitrase) sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaannya dengan Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan. Nama tersebut diberikan kepada mereka karena mereka menyatakan diri keluar dari barisan Ali dalam persengketaannya dengan Mu’awiyah.Latar belakang kemunculannya. 1998. Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah.1 Kaum Khawarij menganggap dirinya sebagai orang yang pergi untuk meninggalkan rumahnya. bahwa pemberian nama “Khawarij” tersebut didasarkan pada ayat 100 dari surat An-Nisa yang berbunyi:                        Artinya: barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. bahwa Nabi Muhammad di samping sebagai Rasul beliau juga pemimpin umat. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah. Ada pula pendapat lain yang mengatakan. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah lslam. Nama “Khawarij” berasal dari kata “kharaja” yang berarti: keluar. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ini berarti bahwa Islam disamping sebagai system agama. tetapi kemudaian mereka meninggalkan barisannya.A. masyarakat Madinah menjadi bingung memikirkan 1 2 Al-Quran H. juga sebagai system politik. Pustaka Setia. Muhammad Ahmad. Tauhid Ilmu Kalam. Oleh karena itu tidak mengherankan. Bandung. Dengan bertujuan untuk dapat mengebdika diri kepada Allah dan Rasul-Nya. yang mengatur tentang ketatanegaraan. sebagai kepala Negara. Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju).

Tetapi ia mendapat tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin pula menjadi khalifah. yaitu siapakah yang akan menggantikan Nabi Muhammad sebagai kepala Negara. Perasaan tidak senang muncul di daerah-daerah. Usman termasuk dalam golongan pedangan Quraisy yang sangat kaya. Setelah Usman wafat. Perkembangan suasana di Madinah selanjutnya menimbulkan pembunuhan terhadap Usman. sebagai Gubernur Mesir. khalifah yang terkenal sebagai orang kuat dan tak memikirkan kepentingan sendiri atau kepentingan keluarganya itu dijatuhkan oleh Usman. Kaum keluarganya terdiri dari orang-orang aristokrasi Mekkah. Karena itu Abu Bakar dikenal sebagai khalifah pertama. dan kemudian Umar digantikan oleh Usman ibn Affan sebagai khalifah ketiga. mereka tidak mempersoalkannya. Tindakan-tindakan politik yang dijalankan Usman ini sudah barang tentu menimbulkan reaksi yang tidak menguntungkan bagi khalifah Usman sendiri. yang dilakukan oleh pemuka-pemuka pemberontakan dari Mesir ini. Dr. Seperti halnya Talhah dan Zubair. karena pengalaman dagang. Orang-orang yang semula ingin menjadi khalifah mulai pula menangguk di air keruh yang timbul pada waktu itu. salah satu anggota kaum keluarga Usman. ia tak mau mengakui Ali sebagai . mereka mempunyai pengetahuan tentang administrasi. Masalah ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai masalah khilafah. Talhah dan Zubair mati terbunuh dan Aisyah dikirim kembali ke Mekkah. Dalam pertempuran yang terjadi di Irak pada tahun 656 M. Dari Mesir sebagai reaksi terhadap dijatuhkannya Umar ibn al-As yang diganikan oleh Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarh. bahwa tantangan kedua datang dari Mu’awiyah. yang semakin lama semakin bertambah banyak masuk ke bawah kekuasaan Islam. Tantangan dari Aisyah-Talhah Zubair ini dapat dipatahkan oleh kekuatan Ali. Harun Nasution. maka Ali menjadi khalifah yang keempat. ketika melihat tindakan yang kurang tepat itu. Gubernur Damaskus dan keluarga dekat Usman. Sahabat-sahabat Nabi yang mulanya menyokong Usman. lima ratus pemberontak bergerak ke Madinah. Pengetahuan mereka ini sangat bermanfaat dalam mengelola administrasi daerah-daerah di luar semenanjung Arabia. Gubernur-gubernur yang diangkat oleh Umar ibn al-Khattab. Dalam sejarah kita ketahui bahwa masyarakat Islam pada waktu itu menyetujui Abu Bakar sebagai pengganti Nabi Muhammad dalam mengepalai Negara mereka. Menurut Prof. mulai meninggalkan khalifah yang ketiga ini. yang mendapat sokongan dari Aisyah. Sebagai Nabi atau Rasul. Selanjutnya Al-Tabari menerangkan. Kemudian Abu Bakar digantikan oleh Umar ibn alKhatab sebagai khalifah kedua.pengganti beliau untuk mengepalai Negara Islam yang belum lama berdiri. sebab Nabi atau Rasul itu tidak dapat digantikan. Maka timbullah masalah besar bagi mereka. terutama Talhah dan Zubair dari Mekkah.

sesuai dengan kesepakatan mereka. Tetapi tangan kanan Mu’awiyah.khalifah. Dengan demikian Amr ibn al-‘As telah sengaja melanggar kesepakatan bersama. Bahkan ia menuduh Ali turut campur dalam pembunuhan itu. Sebagai arbiters diangkatlah dua orang. bahwa kejadian tersebut sangat merugikan Ali dan sangat menguntungkan Mu’awiyah. dan itulah kelicikannya terhadap Abu Musa alAsy’ari. dan dengan demikian dicarinyalah perdamaian dengan mengadakan arbitrase (tahkim). Lagi pula Ali nampak tidak mengambil tindakan keras terhadap kaum pemberontak itu. Qurra’ yang ada di pihak Ali mendesak Ali supaya menerima tawaran itu. dan mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa ia hanya menyetujui penjatuhan Ali. Karena itu tidak mengherankan kalau putusan ini ditolak oleh Ali. Dalam pertemuan mereka. sampai beliau wafat karena terbunuh pada tahun 661 M. Menurut tradisi. Menurut mereka Ali telah melakukan kesalahan. Padahal yang sah menurut hukum Ali-lah yang berhak menjadi khalifah. tetapi menolak penjatuhan Mu’awiyah. bahwa antara Amr ibn al-‘As dan Abu Musa al-Asy’ari terjadi kesepakatan untuk menjatuhkan kedua pemuka yang saling bertentangan itu. Mereka berpendapat. bahwa putusan serupa itu tidak dapat diberikan oleh manusia. sedangkan Mu’awiyah kedudukannya tak lebih dari Gubernur daerah yang tak mau tunduk kepada Ali sebagai khalifah. yang terkenal sebagai orang yang sangat licik. yaitu Amr ibn al-As dari pihak Mu’awiyah dan Abu Musa al-Asy’ari dari pihak Ali. Kemudian setelah itu berdirilah Amr ibn al-‘As. pasukan Ali dapat mendesak pasukan Mu’awiyah. minta berdamai dengan mengangkatkan Quran ke atas. yaitu Ali dan Mu’awiyah. Maka berdirilah Abu Musa al-Asy’ari untuk mengumumkan kepada khalayak ramai putusan menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan itu. Salah seorang pemuka pemberontak Mesir yang datang ke Madinah dan kemudian membunuh Usman adalah Muhammad ibn Abi Bakr. dan ia tak mau meletakkan jabatannya sebagai khalifah. yaitu Amr ibn al-‘As. anak angkatnya Ali bin Abi Thalib. Maka jelaslah bagi anda. Putusan hanya dapat diterima apabila datang dari Allah. Ia menuntut kepada Ali agar ia menghukum orang-orang yang membunuh Usman. sungguhpun dalam keadaan terpaksa. Keadaan Ali menerima tipu muslihat Amr ibn al-‘As dalam arbitrase. Karena itu mereka meninggalkan . bahkan Muhammad ibn Abi Bakr diangkat oleh Ali menjadi Gubernur Mesir. Dalam sejarah dapat kita baca. kelicikan Amr ibn al-‘As dapat mengalahkan Abu Musa yang terkenal sangat takwa itu. Dalam pertempuran yang terjadi antara kedua golongan ini di Siffin. karena tidak berpegang kepada hukum Allah. tidak dapat diterima oleh sebagian dari pasukannya. orang yang lebih tua harus melakukannya lebih dahulu. Tetapi dengan arbitrage ini Mu’awiyah dapat diangkat menjadi khalifah.

Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab. 2. 7. C. Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar. yaitu pasukan Mu’awiyah dan kaum Khawarij. Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syariat Islam. tetapi setelah tahun ke 7 kekhalifahannya. ia wajib diperangi karena hidup di dalam dar al-harb (Negara musuh). Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. 6. Khalifah Ali adalah sah. Golongan yang keluar dari barisan Ali inilah yang dalam sejarah dikenal dengan nama Khawarij. 9. Umar. dan setelah Ali ibn Abi Thalib wafat. Karena selalu mendapat serangan dari golongan Khawarij. tetapi setelah terjadi arbitrase (tahkim). mereka menganggap bahwa muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir dengan resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula.a dianggap telah menyeleweng. Karena itu Mu’awiyah tetap berkuasa di Damaskus. . Yang sangat anarkis (kacau) lagi. Khalifah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam. Doktrin-doktrin pokoknya. Bila tidak mau bergabung. 11. Mu’awiyah dengan mudah dapat memperoleh pengakuan sebagai Khalifah Umat Islam pada tahun 661 M. Muawiyah dan Amr bin Ash serta Abu Musa Al-Asy’ari juga dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir. Pasukan perang jamal yang melawan Ali juga kafir. pasukan Ali merasa sudah terlalu capai untuk meneruskan pertempuran dengan pasukan Mu’awiyah. sehingga Ali sekarang menghadapi dua musuh. 4.barisannya. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan kezaliman. Utsman r. 8. Mereka memisahkan diri dari barisan Ali. ia dianggap telah menyeleweng. sedang golongan mereka sendiri dianggap berada dalam dar al-Islam (Negara Islam). Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng. 1. Karena menganggap Ali bersalah dan berbuat dosa. Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh. 5. 3. Tetapi setelah mereka ini kalah. Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga dan orang yang jahat harus masuk neraka). maka mereka memusuhi Ali. maka Ali harus memusatkan perhatiannya untuk menghancurkan kaum Khawarij itu lebih dahulu. dan Utsman) adalah sah. Dengan demikian setiap orang mulim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat. 10.

bekas pengikutpengikut Ali. M. 15. Al-Muhhakkimah Al-Muhakkimah adalah golongan khawarij asli. sehingga orang yang melakukan dosa besar pun termasuk orang yang telah kafir. D. Amar ma’ruf nahi mungkar. Pustaka Setia. dia telah menjadi orang kafir. dan kemudian menentang Ali. Ali dan Mu’awiyah serta kedua pengantarnya. Radikalitas yang melekat pada watak dan perbuatan kelompok Khawarij menyebabkan mereka sangat rentan pada perpecahan. dan keluar dari Islam.. Abdul Rozak. maupun secara eksternal deangan sesame kelompok Islam lainnya. Demikian pula membunuh sesame muslim tanpa sebab adalah termasuk dosa besar. karena menyimpang dari ajaran Islam. dan dikeluarkan dari Islam. Karena itu menurut golongan ini perbuatan membunuh manusia itu membuat si pembunuhnya menjadi orang kafir. tokoh dan sekte-sektenya. Adapun. Terlepas dari berapa banyak subsekte pecahan khawarij. Para pengamat berbeda pendapat tentang jumlah sekte yang terbentuk akibat perpecahan yang terjadi dalam tubuh Khawarij. Sebagaimana telah dikemukakan. 14. AlBagdadi mengatakan bahwa sekte ini telah terpecah menjadi 18 subsekte. Al-Asfarayani. karena itu menurut golongan ini orang yang mengerjakan zina. Selanjutnya hukum kafir ini mereka luaskan artinya.12. Dr. Memalingkan ayat-ayat al-qur’an yang tampak mutsyabih (samar). 51. Hal. tokohtokoh yg disebut diatas sepakat bahwa subsekte Khawarij yang besar terdiri dari delapan macam. yaitu Amr ibn ‘As dan Abu Musa Al-Asy’ari. dan Prof. 3 . 13. Demikian pula dengan dosa-dosa besar lainnya Prof. mereka itu telah melakukan perbuatan salah.Ag. yaitu: 1. serta semua orang yang telah menyetujui arbitrase. Khawarij telah menjadikan imamah-khalifah (politik) sebagai doktrin sentral yang memicu timbulnya doktrin-doktrin teologis lainnya. mengatakan bahwa sekte ini pecah menjadi 22 subsekte. seperti dikutip Al-Bagdadi. perbuatan mereka itu membuat mereka menjadi kafir. yang kemudian memisahkan diri.Perkembangan. “Ilmu Kalam”. Menurut golongan ini. Al-qur’an adalah makhluk. M. Bandung : 2001. Berbuat zina adalah termasuk dosa besar. Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari 3 Tuhan. baik secara internal kaum Khawarij sendiri. Rosihon.Ag. Dr.

2. sebelum mereka lulus dalam menjalani suatu ujian. Nafi’ meninggal dunia dalam pertempuran di Irak pada tahun 686 M. tetapi juga anak-anak mereka. juga dianggap sebagai orang musyrik. Nafi’ ibn al-Azraq. Daerahdaerah kekuasaan mereka terletak di perbatasan antara Iran dan Irak. hanya daerah mereka sajalah yang merupakan “Dar al-Islam”.orang Islam yang sepaham dengan ajaran-ajaran al-Azariqah. Bahkan orang-orang Islam yang sepaham dengan al-Azariqah. Musyrik lebih besar dosanya daripada kafir. tetapi mereka tidak berhijrah kedalam lingkungan mereka. Al-Azriqah Golongan ini muncul setelah hancurnya golongan Al-Muhakkimah. yaitu mau membunuh seorang yang ditawan. yaitu.000 orang. dijadikan budak ataupun dibunuh. . Bahkan anakanak dan istri-istri orang-orang yang demikian pun boleh ditawan. Manurut golongan ini. seperti dalam golongan al-Muhakkimah. Golongan al-Azariqah ini mempunyai paham. orang-orang dari golongan al-Azariqah sendiri. Sebagai khalifah yang pertama mereka memilih Nafi’ ibn al Azraq. Keengganan membunuh tawanan itu dianggap sebagai bukti bahwa ia berdusta dan sebenarnya ia itu bukan penganut paham al-Azariqah. Dan yang mereka pandang musyrik itu bukan hanya orang-orang yang telah dewasa. dan kepadanya diberi gelar. tetapi apabila ia tidak berhasil membunuh tawanan tersebut maka ia sendirilah yang harus dihukum bunuh. Padalah di dalam Islam. bahwa barang siapa yang datang ke daerah mereka. atau “Dar al-Kufr”. sedangkan daerah-daerah Islam lainnya merupakan “Dar al-Herb”. maka mereka tidak dapat diterima begitu saja. maka ia diterima sebagai pengikut al-Azariqah yang baik. karena itu wajib diperangi. dan mengaku sebagai pengikut alAzariqah. “Amir al-Mu’minin”. Nama AlAzariqah diambil dari nama seorang pemuka golongan ini. dan golongan ini kemudian menjadi lebih besar dan lebih kuat dibandingkan dengan golongan Al-Muhakkimah sendiri. musyrik itu merupakan dosa yang paling besar. tetapi mereka sebut sebagai orang yang ‘musyrik’ (politeist). Kalau ia telah berhasil membunuh tawanan. Dalam kitab Al-Farqu baina al-firaq. mereka juga dipandang sebagai orang yang musyrik. termasuk musyrik juga orang. Dengan kata lain. mereka pandang musyrik. Selanjutnya al-Bagdadi menyebutkan. Orang yang melakukan perbuatan dosa besar tidak lagi mereka sebut sebagai orang yang kafir. al-Bagdadi menyebutkan bahwa jumlah pengikut al-Azariqah itu mencapai 20. Golongan ini mempunyai sikap yang lebih radikal di bandingkan dengan golongan al-Muhakkimah. apabila tidak mau pindah ke daerah kekuasaan mereka.

Mereka tidak mau mengakui lagi Nafi ‘ibn al-Azraq sebagai Imam. Perpecahan dalam kalangan al-Azariqah itu disebabkan oleh sebagian dari pengikut-pengikut Nafi’ibnal-Azraq. 3. dan memilih Najdah ibn ‘Amir al-Hanaf’ sebagai Imam mereka. sehinggah Najdah dan pengikut-pengikutnya membatalkan rencana untuk hijrah ke daerah kekuasaan al-Azariqah. Ia berasal dari daerah Yamamah. Oleh karena itu kaum al-Azariqah. tetapi tidak termasuk dalam golongan al-Azariqah. Dalam kalangan khawarij. pandang sebagai golongan musyrik. selalu mengadakan “istri’radh”. maka mereka tidak jadi menggabungkan diri dengan al-Azariqah. maka mereka pun membunuhnya. hanya mereka sajalah yang sebenarnya Islam. bahwa anak-anak dan istri-istri orang yang tak sepaham dengan golongan al-Azariqah itu boleh dibunuh. sebagaimana disebutkan oleh ibn al-Hazm. Disinilah mereka dapat membujuk Najdah bergabung dengan mereka dalam menentang Nafi’. yaitu bertanya tentang pendapat atau keyakinan seseorang yang mereka jumpai. yaitu. bukan hanya dalam bentuk ucapan. mereka tidak dapat menyetujui paham bahwa pengikut-pengikut alAzariqah yang tidak mau berhijrah ke daerah lingkungan mereka. Bahkan mereka telah menganggap Nafi’ telah menjadi kafir. Mereka juga tidak setuju dengan paham dalam golongan al-Azariqah. Kalau orang tersebut mengaku sebagai orang Islam. An-Nadjat Nama golongan ini diambil dari nama seorang pemuka dari golongan ini. demi untuk menjaga keamanan dirinya dari musuhnya. dan orang-orang yang masih mengikutinya pun mereka pandang sebagai orang-orang yang kafir juga. Najdah ibn “Amr al-Hanafi”. diantaranya ialah Abu Fudaik. sebab menurut paham mereka. Rasyidal Tawil dan ‘Atiah al-Hanafi. Taqiyah menurut pandangan mereka. Selanjutnya Abu Fudaik dan pengikut-pengikutnya Najdah bersatu. Setelah memisahkan diri dari Nafi’ Abu Fudaik dan kawankawannya pergi ke Yamamah. Jadi seseorang boleh mengucapkan kata-kata dan boleh melakukan perbuatan- . tetapi karena dalam kalangan al-Azariqah ini timbul perpecahan. golongan al-Nadjat inilah kelihatan yang pertama kali membawa paham taqiyah. yaitu paham bahwa seseorang boleh saja merahasiakan atau menyembunyikan keyakinannya atau keimanannya. Pada mulanya golongan ini ingin menggabungkan diri dengan orang al-Azariqah. Orang Islam yang berdomisili di luar lingkungan mereka adalah kaum musyrik yang harus diperangi. tetapi boleh juga dalam bentuk perbuatan.Golongan al-Azariqah ini jelas mempunyai paham yang sangat ekstrim.

perbuatan yang mungkin menunjukkan bahwa pada lahirnya ia bukan orang Islam. dan mereka tidak dianggap sebagai orang kafir. mereka langsung membaginya untuk orang-orang yang turut dalam peperangan. Dalam masalah ghanimah. termasuk salah seorang teman dari ‘Atiah al-Hanafi. Al-Baihasiyah 5. Perpecahan itu disebabkan oleh sebagian pengikut al-Najdat itu tidak dapat menerima bahwa orang yang melakukan dosa kecil itu bisa menjadi dosa besar. Khalifah ‘Abd al-Malik meminta kembali tawanan itu. Bagi mereka berhijrah itu hanyalah merupakan kebajikan saja. hanyalah harta musuh yang telah mati terbunuh. Atiah mengasingkan diri ke Sijistan di Iran. Akhirnya Najdah dapat mereka tangkap dan mereka potong lehernya. menurut mereka. Kaum Ajaridah ini mempunyai paham puritanisme. dan sikap lunak yang dilakukan oleh Najdah terhadap Khalifah ‘Abd al-Malik ibn Marwandari dinasti Bani Umayah. ternyata permintaan itu dikabulkan oleh Najdah. karena Khalifah ‘Abd al-Malik adalah musuh mereka. Mengenai harta yang boleh dijadikan sebagai harta rampasan perang. dan Atiah al-Hanafi memisahkan diri dari Najdah. Hal ini diangapnya bertentangan dengan ketentuan dalam Al-Quran. tidak mungkin mengandung cerita cinta. Menurut paham mereka.mereka dapat menawan seorang anak perempuan. . perpecahan di kalangan mereka itu terutama disebabkan oleh pembagian ghanimah (harta rampasan perang). Di kemudian hari terjadilah perpecahan diantara pengikutpengikut al-Najdat. Menurut mereka AlQuran sebagai kitab suci. Tetapi menurut al-Bagdadi. Sikap seperti itu tentu saja tak dapat diterima oleh sebagian pengikut-pengikut mereka. pernah mereka memperolah harta rampasan dalam peperangan. yang menurut al-Syahrastani. Al-Ajaridah Golongan ini dinamakan Al-Ajaridah. Dalam perpecahan itu Abu Fudaik. berhijrah bukanlah merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam sebagaimana diajarkan dalam paham al-Azariqah dan paham alNadjat. karena mereka itu adalah pengikut dari ‘Abd Karim ibn ‘Ajrad. tetapi pada hakekatnya ia tetap penganut agama Islam. sedangkan Abu Fudaik dan Rasyid al-Tawil mengadakan perlawanan terhadap Najdah. Surat Yusuf dalam Al-Quran membawa cerita tentang cinta. Rasyid al-Tawil. 4. Paham al-Ajaridah ini lebih lunak dibandingkan dengan golongangolongan lain dalam kalangan khawarij. Dengan demikian kaum Ajaridah bebas tinggal dimana saja di luar daerah kekuasaan mereka. tetapi mereka tidak mengeluarkan seperlima lebih dulu. Dan sikap lunak yang ditunjukkan oleh Najdah kepada Khalifah ‘Abd al-Malik ialah bahwa dalam serangan terhadap kota Madinah.

karena pemimpin golongan ini ialah Ziad ibn al-Asfar. Ada diantara mereka yang membagi dosa besar menjadi dua golongan. 6. As-Saalabiyah 7. f. Menurut mereka kufur itu ada dua macam yaitu : kufr bi inkar al-ni’mah. tidak dipandang kafir. dan dosa yang tidak diancam dengan hukum dunia. taqiyah hanya dibolehkan dalam bentuk perkataan saja. yaitu kufur karena mengingkari rahmat Tuhan. Al-Ibadiyah Nama golongan ini diambil dari nama seorang pemuka mereka yaitu Abdullah ibn Ibad. tidak dianggap sebagai dar al-harb. e. seperti dosa karena meninggalkan shalat atau puasa bulan Ramadhan. Orang sufriyah yang tidak berhijrah tidak dianggap menjadi kafir. mereka itu bukan mukmin dan bukan pula musyrik. yaitu dosa yang diancam dengan hukum dunia. tetapi diancam dengan hukuman karena di akhirat. yaitu daerah yang harus diperangi. Golongan al-Ibadiyah ini merupakan golongan yang paling moderat di bandingkan dengan golongan-golongan khawarij lainnya. Diantara pendapat-pendapat mereka itu ialah : a. As-Sufriyah Golongan ini dinamakan demikian. Menurut mereka.Oleh karena itu mereka tidak mengakui surat Yusuf sebagai bagian dalam Al-Quran. mereka itu adalah . Pada mulanya dia adalah pengikut golongan al-Azariqah. daerah yang boleh diperangi itu hanya daerah ma’askar. Orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka. seorang wanita Islam boleh kawin dengan lakilaki kafir. Karena itu menurut mereka. Anak-anak dan wanita-wanit tidak boleh dibunuh atau dijadikan tawanan. tetapi pada tahun 686 M. 8. tidak selamanya sebutan kafir itu mesti diartikan keluar dari Islam. d. Paham moderat mereka itu dapat dilihat dari ajaran-ajaran mereka sebagai berikut : a. Golongan Al-Sufriyah ini mempunyai paham yang agak ekstrim dibandingankan dengan yang lain. ia memisahkan diri dari golongan al-Azariqah. dan kufr bin inkar al-rububiyah. dan tidak boleh dalam bentuk perbuatan. yaitu kufur karena mengingkari adanya Tuhan. Selanjutnya tidak semua orang sufriyah sependapat bahwa orang yang melakukan dosa besar itu telah menjadi musyrik. b. Daerah golongan Islam yang tidak sepaham dengan mereka. yaitu markas-markas pasukan musuh. Menurut mereka. seperti membunuh dan berzina. c. Tetapi sungguhpun demikian. untuk menjaga keamanan dirinya. Tidak setuju bahwa anak-anak orang yang musyrik itu boleh dibunuh. Orang yang berbuat dosa besar golongan pertama. apabila dia berada di daerah bukan Islam. tetapi orang yang berbuat dosa golongan kedua itulah yang dipandang kafir.

yaitu orang yang meng-Esakan Tuhan. jika perbuatan seseorang tidak cocok dengan iman. Iman dan Kufur (Kehendak Mutlak Tuhan). mempunyai hubungan yang baik dengan al-Hajjah. Syahadat mereka dapat diterima. H. Dengan demikian orang Islam yang mengerjakan dosa besar. Harta yang boleh dijadikan ghanimah (harta rampasan). Bahkan sebaliknya ia mempunyai hubungan yang baik dengan Khalifah Abdul Malik ibn Marwan. b. Orang Islam yang berbuat dosa besar. Persoalan itu dimunculkan pertama kali oleh kaum Khawarij. Dengan orang Islam yang demikian boleh diadakan hubungan perkawinan dan hubungan warisan. maka ia dianggap kafir (keluar dari Islam). maka golongan al-Ibadiah ini masih ada sampai sekarang dan terdapat di Zanzibar. 153-158 . pemimpin golongan al-Ibadiyah sesudah Ibn Ibad. Karena ‘Ali dan Mu‘awiyah beserta para pendukungnya telah melakukan tahkim. Muhammad Ahmad. yaitu daerah orang yang meng-Esakan Tuhan. Tidak mengherankan kalau paham moderat seperti yang digambarkan diatas membuat Abdullah ibn Ibad tidak mau turut dengan golongan al-Azariqah dalam melawan Khalifah Bani Umayah. karena itu daerah seperti itu tidak boleh diperangi. bagi mereka merupakan afar al-kufr. Daerah orang Islam yang tidak sepaham dengan golongan alIbadiyah. Sedangkan daerah ma’askar pemerintah. kalau golongan khawarij lainnya telah hilang dan hanya tinggal dalam sejarah saja. perbuatannya itu tidak membuatnya keluarnya dari Islam. menurut mereka. Demikian pula Jabir ibn Zaid alAzdi. kecuali markas pemerintah. Masalah iman dan kufur. Hal. Oleh karena itu. Omman dan Arabia Selatan. berarti mereka telah berbuat dosa besar. Sebagaimana diketahui bahwa iman itu terdiri dari tiga unsur pokok yaitu pembenaran oleh hati. Bandung : 1998. Emas dan perak harus dikembalikan kepada yang empunya. yang pada waktu itu sedang giat-giatnya memerangi golongan khawarij yang ekstrim. c. d. Membunuh mereka haram hukumnya. mereka sebut orang muwahhid. “Tauhid Ilmu Kalam”. merupakan afar altawhid.kafir. Masalah pelaku dosa besar (Murtakib alKabāir) inilah yang berkaitan langsung dengan iman dan kufur. Pustaka Setia. tetapi ia bukan orang yang mukmin.4 E. karena itu harus diperangi. hanyalah kuda dan senjata saja. pengakuan dengan lisan dan perbuatan dengan badan. 4 Drs. Afrika Utara.

Sehubungan dengan pelaku dosa besar. membunuh manusia tanpa sebab yang sah dan orang Islam yang tidak menganut ajarannya. dalam arti telah keluar dari Islam (murtad). Adapun yang dipandang dosa besar antara lain berbuat zina. maka kafirlah dia. BAB III . puasa. iman bukan hanya membenarkan dalam hati dan ikrar lisan saja.Menurut kaum Khawarij. zakat dan lain-lain. tetapi amal ibadah menjadi bagian dari iman. kaum Khawarij berpendapat bahwa pelaku dosa besar adalah kafir. karena ia kafir maka wajib dibunuh. Barang siapa tidak mengamalkan ibadah seperti shalat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful