PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Masalah Setiap akan melakukan proses pembelajaran, seorang pengajar akan menyiapkan sebuah desain pembelajaran. Diantara pengajar itu ada yang mempersiapkan seluruh kegiatan pembelajarannya secara khusus jauh sebelum memulainya dan ada pula yang membuat persiapannya untuk setiap kali proses pembelajarannya. Kelompok pengajar yang lain merasa tidak perlu membuat persiapan apapun sebelum memulai proses pembelajaran. Kelompok yang terakhir di atas langsung mengajar karena merasa telah dapat mengajar dengan baik apabila mengetahui topik yang akan diajarkan untuk setiap kali pertemuan. Setiap pengajar baik yang membuat persiapan maupun tidak, selalu mencari cara untuk melaksanakan kegiatan instruksionalnya dengan sebaik-baiknya. Demikian pula setiap pengelola program pendidikan dan latihan senantiasa mencari jalan meningkatkan programnya melalui cara yang dianggapnya baik. Setiap pengajar yang membuat persiapan dalam proses pembelajaran selalu diawali dengan membuat tujuan instruksional umum (TIU). Tetapi ada pula pengembang instruksional termasuk pengajar melompat dari TIU ke TIK, tes, atau isi pelajaran tanpa melalui analisis instruksional (analisis pembelajaran) sehingga menghasilkan kegiatan instruksional yang tidak sistematis. Implikasi proses pengembangan instruksional yang melompat antara lain yaitu daftar TIK yang telah disusun tidak konsisten dengan TIU-nya seperti kurang lengkap atau berlebihan, materi tes tidak terperinci, urutan isi pelajaran kurang sistematis, titik berangkat materi pelajaran tidak sesuai dengan kemampuan awal peserta didik, dan cara penyajiannya tidak sesuai dengan karakteristik peserta didik. Ketrampilan melakukan analisis instruksional (pembelajaran) sangat penting bagi kegiatan instruksional karena pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang harus diberikan lebih dahulu dari yang lain dapat ditentukan dari hasil analisis instruksional. Dengan demikian pengajar jelas melihat arah kegiatan instruksionalnya secara bertahap menuju pencapaian TIU sehingga

Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011

1

2. Rumusan Masalah Dari uaraian latar belakang di atas. Kegiatan tersebut untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang dapat menggambarkan perilaku umum secara lebih terperinci. yaitu perilaku yang menurut urutan gerakan fisik berlangsung lebih dahulu.pengajar terhindar dari pemberian isi pelajaran yang tidak relevan dengan TIU. Menurut Muhibbin Syah (Muhibbin Syah. Kedudukan perilaku khusus dilakukan lebih dahulu daripada perilaku lainnya karena sebagai perilaku prasyarat. Pengertian Analisis Instruksional Analisis instruksional merupakan proses menjabarkan perilaku umum ke perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis. Empat Macam Struktur Perilaku. Bagaimanakah praktek analisis pembelajaran? PEMBAHASAN Pada bab Pembahasan akan diuraikan tentang Analisis Pembelajaran (Instruksional) yang meliputi tiga sub bab yaitu Pengertian Analisis Instruksional. Bagaimakah instruksional ? langkah-langkah melakukan analisis 4. Apakah pengertian Analisis instruksional ? 2. Apa sajakah yang termasuk empat macam struktur perilaku ? 3. maka timbul permasalahan sebagai berikut : 1. Melalui tahapan perilaku-perilaku khusus tertentu siswa dapat mencapai perilaku umum. 1. Analisis instruksional dapat menggambarkan susunan perilaku khusus dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Perilaku khusus yang telah disusun secara sistematis menuju Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011 2 . dan Langkah-langkah Melakukan Analisis Instruksional. perilaku yang menurut proses psikologis muncul terlebih dahulu atau secara kronologis terjadi lebih awal. 2004: 181-182) jumlah dan susunan perilaku tersebut akan memberikan keyakinan kepada pengajar bahwa perilaku umum yang tercantum dalam TIU dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Mengamati jaringan tumbuhan seperti mengamati sel penyusun. hanya dapat dipelajari bila siswa telah dapat melakukan perilaku A. prosedural. Perilaku B misalnya. ukuran sel penyusun tidak mungkin dilakukan bila siswa belum memahami tentang sel tumbuhan. 2. atau Kompetensi Dasar (KD) A merupakan prasyarat untuk mengikuti Kompetensi Dasar (KD) B. bentuk sel penyusun. yaitu hierarkikal. mata pelajaran A merupakan prasyarat untuk mengikuti pelajaran B. Struktur Hierarkikal Struktur perilaku yang hierarkikal adalah kedudukan dua perilaku yang menunjukkan bahwa perilaku hanya dapat dilakukan bila telah dikuasai perilaku yang lain. terdapat Empat Macam Struktur Perilaku empat macam susunan. Dalam suatu kurikulum. Memahami pengertian sel tumbuhan merupakan prasyarat untuk dapat mengamati jaringan tumbuhan. Tanpa lulus KD A siswa tidak boleh atau tidak mungkin langsung mengikuti KD B. Bila perilaku umum diuraikan menjadi perilaku khusus akan pengelompokan. Kedudukan A dan B disebut hierarkikal. dan kombinasi. 2) Kedudukan perilaku memahami penulisan kalimat Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011 3 . a. Mengamati Jaringan Tumbuhan Memahami Pengertian Sel Tumbuhan Kedua perilaku tersebut tersusun secara hierarkikal.perilaku umum bagaikan jalan yang singkat yang harus dilalui oleh para siswa untuk mencapai tujuannya dengan baik. Perhatikan contoh-contah perilaku di bawah ini : 1) Kedudukan perilaku mengamati jaringan tumbuhan dan memahami sel tumbuhan.

pemilihan tanda baca penutup yang tepat dalam kalimat pernyataan dan mengklasifikasikan sebuah kalimat lengkap sebagai kalimat pernyataan. Memahami penulisan kalimat pernyataan dengan tanda baca penutup yang tepat mengenali kalimat pernyataan dengan tanda baca penutup yang tepat pemilihan tanda baca penutup yang tepat dalam kalimat pernyataan mengklasifikasikan sebuah kalimat lengkap sebagai kalimat pernyataan Setiap contoh di atas dapat diteruskan dengan menambah kotak di bawah atau di atas kedua kotak yang telah ada. Struktur Prosedural Struktur perilaku prosedural adalah kedudukan beberapa perilaku yang menunjukkan satu seri urutan perilaku. tetapi setiap perilaku Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011 4 . b. kotak tambahan harus menunjukkan perilaku prasyaratnya (bila di bawah) atau perilaku yang lebih tinggi tingkatannya (bila di atas). tetapi tidak ada perilaku yang menjadi prasyarat untuk yang lain. kedua kotak dalam setiap kotak tadi disusun atas-bawah dan dihubungkan dengan garis vertikal.pernyataan dengan tanda baca penutup yang tepat hanya dapat diketahui dengan cara mengenali terlebih dahulu kalimat pernyataan dengan tanda baca penutup yang tepat.Walaupun perilaku khusus dilakukan berurutan untuk dapat melakukan perilaku umum. Untuk menunjukkan struktur perilaku hierarkikal yang berbeda dengan struktur yang lain. Untuk menunjukkan struktur hierarkikal.

garis penghubung antara perilakuperilaku khusus yang satu dan yang lain tidak diperlukan. a) b) c) Menempatkan transparansi di atas OHP Menyalakan OHP Mengatur focus Siswa dapat mempelajari cara mengatur fokus lebih dahulu. Bila digambarkan dalam bagan. kedudukan perilaku-perilaku Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011 5 . Pada kesempatan lain ia belajar meletakkan preparat pada kaca benda. sedikitnya ada empat perilaku khusus yang terstruktur secara prosedural. Dalam keadaan seperti itu.dapat dipelajari secara terpisah. Struktur Pengelompokan Dalam struktur pengelompokan terdapat perilaku-perilaku khusus yang tidak mempunyai ketergantungan satu sama lain. 1) Dalam menggunakan mikroskop cahaya. a) b) c) d) Mengatur focus Meletakkan preparat pada kaca benda Menggambar preparat Mengatur cahaya Siswa dapat mempelajari cara mengatur cahaya dahulu. Pada kesempatan lain ia belajar menempatkan ransparansi di atas OHP dan kemudian menyalakannya. c. Bila dilukiskan pada bagan mudah dibedakan dari perilaku yang tersusun secara hierarkikal yang tampak dihubungkan dengan garis vertikal. kemudian mengatur fokus dan menggambar preparat. Di bawah ini beberapa contoh perilaku yang tersusun secara prosedural. Perilaku yang tersusun secara prosedural dilukiskan kotak-kotak yang berderet ke samping dan dihubungkan dengan garis horisontal. Tetapi dalam kegiatan keeluruhan ketiga perilaku tersebut muncul secara berurutan muncul sebagai seri perilaku. walaupun semuanya berhubungan. 2) Dalam menggunakan OHP sedikitnya ada tiga perilaku khusus yang terstruktur secara prosedural. Sebagai contoh dalam mata pelajaran biologi yang menjelaskan sistem organ pada tubuh manusia.

dan pengelompokan.khusus tersebut tampak sebagai berikut : Menjelaskan sistem organ pada tubuh manusia Menjelaskan sistem respirasi Menjelaskan sistem pencernaan Menjelaskan sistem ekskresi Menjelaskan sistem gerak Menjelaskan sistem reproduksi Menjelaskan sistem saraf Menjelaskan sistem endokrin d.1 Menjelaskan teknik menggambar preparat 1. prosedural. Mengoprasikan mikroskop 1. Struktur Kombinasi Suatu perilaku umum bila diuraikan menjadi perilaku khusus sebagian tersebar akan terstruktur secara kombinasi antara struktur hierarkikal.4 Mengatur focus 1.3. Sebagian dari perilaku khusus yang terdapat di dalam ruang lingkup perilaku umum itu mensyaratkan perilaku khusus yang lain. Selebihnya merupakan urutan penampilan perilaku khusus dan umum.1 Menjelaskan teknik meletakkan preparat pada kaca benda 1.3 Mengatur cahaya 1.2.1.1 Meletakkan preparat pada kaca benda 1.4.2 Menggambar preparat 1.1 Menjelaskan teknik mengatur focus Perilaku umum mengoperasikan mikroskop cahaya terbentuk dengan merangkaikan perilaku meletakkan preparat pada kaca benda. mengatur Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011 6 .1 Menjelaskan teknik mengatur cahaya 1. Contoh dari perilaku struktur kombinasi adalah perilaku umum mengoperasikan mikroskop cahaya dapat diuraikan dalam perilaku khusus sebagai berikut : 1.

dan evaluasi. mengatur fokus. Bagan di atas menunjukkan struktur kombinasi antara prosedural dan hierarkikal. yaitu ketrampilan Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011 7 . Karena itu kedudukan keempat perilaku tersebut antara satu dan yang lain terstruktur sebagai prosedural. mengatur cahaya. analisis. Setiap orang dapat memilih perilaku mana yang harus didahulukan diantara empat perilaku khusus tersebut. penerapan. Keenam tingkatan tersebut merupakan tingkatan perilaku kognitif dari yang paling rendah (sederhana) sampai ke yang paling tinggi (kompleks). Sementara itu Nana Sudjana (2002: 22-23) berpendapat bahwa belajar secara sistematis meliputi berbagai perilaku sebagai berikut: Perilaku kognitif. pemahaman. karena dalam merangkaikan keempatnya berurutan. dan menggambar preparat. Memecahkan masalah instruksional secara sistematis merupakan contoh perilaku kawasan kognitif. Perilaku merangkaikan tersebut dapat dilakukan bila telah menguasai keempat perilaku yaitu meletakkan preparat pada kaca benda. Perilaku Kawasan Kognitif Perilaku kawasan kognitif adalah perilaku yang merupakan hasil proses berpikir atau perilaku hasil kerja otak. sintesis. dan menggambar preparat yang tentu saja membutuhkan prasyarat. Perilaku mengatur cahaya mempunyai prasyarat perilaku menjelaskan teknik mengatur cahaya. Beberapa contoh di atas adalah perilaku yang berada dalam kawasan kognitif dan psikomotor.cahaya. Sedangkan perilaku menggambar preparat memerlukan prasyarat menjelaskan teknik menggambar preparat. Perilaku meletakkan preparat pada kaca benda mempunyai prasyarat perilaku menjelaskan teknik meletakkan preparat pada kaca benda. Demikian pula perilaku mengatur fokus mempunyai prasyarat perilaku menjelaskan teknik mengatur fokus. mengatur fokus. Perilaku psikomotorik 1. Gagne dalam Atwi Suparman (2001:108) membagi kapabilitas manusia dalam kawasan kognitif menjadi tiga macam. Bloom dalam Atwi Suparman (2001:108) membagi kawasan kognitif menjadi enam tingkatan yaitu pengetahuan. Perilaku afektif.

Sikap tidak tampak oleh mata tetapi berada “di dalam” hati. membuat respon terhadap nilai.intelektual. merangkaikan berbagai gerak. memanipulasikan kata-kata menjadi gerak. mengorganisasikan nilai. strategi kognitif. memukul dan menendang adalah perilaku psikomotor. dan mengamalkan nilai secara konsisten atau karakterisasi. Menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus dalam kawasan afektif pada dasarnya tidak berbeda dengan kawasan kognitif dan kawasan psikomotorik. dan melakukan gerak dengan gerakan wajar dan efisien. ketrampilan dalam mencari cara pemecahan masalah adalah contoh strategi kognitif. Melompat. dan informasi verbal. pengembang instruksional melakukan analisis instruksional dengan langkah-langkah yang sistematis 3. Dave dalam Atwi Suparman (2001:109) membagi perilaku kawasan psikomotor dalam lima jenjang perilaku yaitu : menirukan gerak. 3. Langkah-langkah Melakukan Analisis Instruksional Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011 8 . Setelah diketahui perilaku umum yang terdapat dalam Tujuan Instruksional Umum pengembang instruksional selanjutnya mencari jawaban atas pertanyaan. menghargai nilai-nilai yang ada. melakukan gerak dengan tepat. Bloom dan Masia dalam Atwi Suparman (2001:109) membagi kawasan afektif menjadi lima tingkatan kemampuan yaitu: menerima nilai. Sedangkan contoh informasi verbal adalah ketrampilan mengungkapkan kembali pengetahuan verbal yang telah dimiliki. berputar. Ketrampilan teknis dalam ilmu pengetahuan adalah contoh ketrampilan intelektual. Perilaku Kawasan Psikomotor Perilaku kawasan psikomotor adalah perilaku yang dimunculkan oleh hasil kerja fungsi tubuh manusia. Gerakan tubuh. 2. melempar. Perilaku kawasan Afektif Perilaku kawasan afektif adalah perilaku yang dimunculkan seseorang sebagai pertanda kecenderungan untuk membuat keputusan atau pilihan untuk beraksi dalam lingkungan tertentu. berlari. “Perilaku khusus apa saja yang mengacu kepada munculnya perilaku umum tersebut ?”Untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut.

d. Menuliskan perilaku umum yang terdapat dalam TIU untuk mata pelajaran yang akan dikembangkan b. h. Menambah diperlukan. k. atau perilaku khusus yang berada di bawah perilaku umum yang berbeda. bisa bertambah bila diperlukan c. Meneliti kemungkinan menghubungkan perilaku umum yang satu dan yang lain. Menggambar letak perilaku-perilaku tersebut dalam kotakkotak. atau pengelompokan menurut kedudukan masing-masing terhadap kartu yang lain. Menulis perilaku khusus yang menjadi bagian dari perilaku umum. Memberi nomor urut pada setiap perilaku khusus dari yang terjauh sampai yang terdekat dengan perilaku umum.Langkah-langkah yang digunakan dalam melakukan analisis instruksional adalah sebagai berikut : a. j. Menyusun perilaku khusus dari yang paling “dekat” sampai yang “jauh” hubungannya dengan perilaku umum dalam daftar. e. Jumlah perilaku khusus setiap perilaku umum berkisar 5-10 buah. dengan memperhatikan :  Lengkap tidaknya perilaku khusus sebagai penjabaran dari setiap perilaku umum atau mengurangi perilaku tersebut jika Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011 9 . Mengkonsultasikan atau mendiskusikan bagan yang telah dibuat dengan teman sejawat untuk mendapatkan masukan. Tambah atau kurangi perilaku khusus jika dianggap perlu. prosedural. pengelompokan atau kombinasi. sampai tidak ada lagi perilaku khusus yang ketinggalan atau kelebihan serta susunannya menurut struktur hierarkikal. Menulis perilaku khusus dalam kartu dengan ukuran 3 x 5 cm f. g. Menyusun kartu dalam struktur hierarkikal. i. prosedural.

prosedural. PENUTUP Kesimpulan Ketrampilan melakukan analisis instruksional (pembelajaran) sangat penting bagi kegiatan instruksional karena pengetahuan. ketrampilan. Kegiatan tersebut untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang dapat menggambarkan perilaku umum secara lebih terperinci. Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011 10 . Dalam menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus terdapat empat macam susunan. dan sikap yang harus diberikan lebih dahulu dari yang lain dapat ditentukan dari hasil analisis instruksional. Logis tidaknya urutan dari perilaku-perilaku Struktur hubungan perilaku-perilaku khusus khusus menuju perilaku umum  tersebut (hierarkikal. Kegiatan analisis instruksional merupakan proses menjabarkan perilaku umum ke perilaku khusus yang tersusun senara logis dan sistematis. Analisis instruksional dilakukan oleh pengembang instruksional dengan langkah-langkah yang sistematis. yaitu struktur hierarkikal. prosedural. atau kombinasi). pengelompokan dan struktur kombinasi. Dengan demikian pengajar jelas melihat arah kegiatan instruksionalnya secara bertahap menuju pencapaian TIU sehingga pengajar terhindar dari pemberian isi pelajaran yang tidak relevan dengan TIU. pengelompokan.

Walter and Carey Lou. Teknologi Pendidikan-Pasca UNS 2011 11 . Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.net/2011/04/resum-analisis-instruksional-syahrirnurhidayatulloh/ Sudjana. 2011. Nur. Nana 2004. Desain Instruksional. 2004. 2001.DAFTAR PUSTAKA Afiuddin.html. Jakarta. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Atwi Suparman. 2009. Resume Analisis Intraksional. 1990. Jakarta: Rosda. Diakses pada 29 September 2011. M.com/2009/02/analisis-instruksional. http://tpers. The Systematic Design of instruction 3rd Ed. Walter Dick and Lou Carey. Analisis Instruksional http://begawanafif. Jakarta : PAU-PPAI-UT Dick. USA. Syahrir. Muhibbin. Nurhidayatullah.blogspot. Rosda. Syah. Includes Bibliographical References.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful