INDIKATOR PEMBANGUNAN DAERAH

Posted: April 21, 2009 in Serba Serbi

16
Pendahuluan Pengalaman menunjukkan bahwa diberbagai negara bahwa ada salah satu syarat yang diperlukan untuk menunjukkan tingginya tingkat keberhasilan pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah yaitu dimulai dari mantapnya pemahaman dari para aparat terkait tentang makna indikator-indikator dan variable-variabel pembangunan serta pengertian kebijaksanaan yang diterapkan oleh pemerintah pusat dan daerah, dimana kedua kebijaksanaan tersebut harus saling melengkapi ataukan searah. Pemahaman yang memadai tentang indikator pembangunan daerah ini akan mengakibatkan semakin terarahnya pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan dan semakin tingginya responsi masyarakat dalam menyukseskan dan mencapai sasaran yang telah ditargetkan.Hal ini saya anggap perlu mendapatkan perhatian terutama dari pihak-pihak pengambilan keputusan, mengingat proses panjang perjalanan bangsa ini untuk mengisi kemerdekaan harus mendapatkan perhatian dari kita semua. Persentase keberadaan Bangsa Indonesia belum beranjak dari starting point pada masa kita memproklamirkan kemerdekaan.

Tulisan ini sekedar dimaksudkan untuk menguraikan sekelumit indikator-indikator dan variable-variabel serta kebijaksanaan ekonomi makro dibarengi dengan sekelumit uraian pendukung, termasuk contoh-contoh yang bisa dapat lebih mempermudah untuk memahaminya beberapa indikator tersebut. Meskipun demikian, para pembentuk definisi juga masih sering mempunyai perbedaan pandangan tertentu dalam mengemukakan definisinya terutama untuk hal-hal yang sangat abstrak. Pengertian pembangunan harus dilihat secara dinamis, bukan dilihat sebagai konsep statis yang selama ini sering kita anggap sebagai suatu kesalahan yang wajar. Pembangunan pada dasarnya adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. ” Development is not a static concept. It is continuously changing“.Artinya juga bisa dikatakan bahwa pembangunan itu sebagai “never ending goal”.

Proses pembangunan sebenarnya adalah merupakan suatu perubahan sosial budaya. Pembangunan supaya menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya. Jadi bukan hanya yang dikonsepsikan sebagai usaha pemerintah belaka. Pembangunan tergantung dari suatu innerwill, proses emansipasi diri. Dan suatu partisipasi kreatif dalam proses pembangunan hanya menjadi mungkin karena proses pendewasaan. Indonesia, sebagai kelompok negara berkembang pada umumnya melakukan dan sedang di dalam proses perubahanperubahan sosial yang besar. Proses atau usaha usaha perubahan sosial tersebut dapat berarti suatu proses dan usaha pembangunan. Pada pokoknya suatu usaha perubahan dan pembangunan dari suatu keadaan atau kondisi kemasyarakatan yang dianggap lebih baik dan lebih diinginkan. Artinya ada perubahan dari yang ada sekarang dengan segala kekurangannya menjadi lebih baik, minimal ada “progress” dari kondisi yang sekarang ini..

Perubahan-perubahan dalam masyarakat yang bersifat menyeluruh tersebut, dapat dikembangkan secara sadar oleh pemerintah, yang sebaiknya pula mewakili kekuatan-kekuatan pembaharuan di dalam masyarakat. Hal ini sudah pasti sudah sesuai dengan paradigma yang diinginkan yaitu paradigma pembangunan yang partisipatif yang lebih mengarah kepada aspirasi dari akar rumput. Akan tetapi pada akhirnya supaya perubahan-perubahan itu mempunyai kemampuan berkembang yang dinamis, perlulah diperhatikan agar proses tersebut didukung dan dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pembaharuan dan pembangunan yang timbul dan bergerak di dalam masyarakat bangsa itu sendiri. Hal ini sangat penting, jangan sampai proyek pembangunan jalan di lokasi terpencil hanya pernah dilalui oleh mobil, yang bertugas mengantarkan material ke

Yang dimaksud dengan proses adalah berlangsungnya kekuatan-kekuatan tertentu yang saling berkaitan dan mempengaruhi. (sebelumnya dikenal dengan istilah Pelita) baru merupakan awal dari proses pembangunan. Penekanan pada kenaikan pendapatan per kapita (GNP riil dibagi dengan jumlah penduduk) dan tidak hanya kenaikan pendapatan nasional riil menyiratkan bahwa perhatian pembangunan bagi negara miskin adalah menurunkan tingkat kemiskinan. Harus diakui bahwa secara umum. Proses pembangunan menghendaki adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan (growth plus change) dalam: pertama. dan lain-lain bagi sebagian masyarakat. definisi pembangunan ekonomi yang paling banyak diterima adalah: suatu proses peningkatan output dalam Jangka Panjang. Oleh karena itu. Bila pertumbuhan penduduk melebihi atau sama dengan pertumbuhan pendapatan nasional maka pendapatan per kapita bisa menurun atau tidak mengalami perubahan. Artinya pembangunan yang dilaksanakan tidak dilakukan hanya “secepat membalik telapak tangan”. Pembangunan itu sendiri. Hal tersebut seringkali mengakibatkan adanya frustasi. sikap-sikap masyarakat. Dengan kata lain. Demikianpula usaha untuk menyalurkan dan mengarahkan berbagai kepentingan dan tuntutan yang sering bertentangan didalam masyarakat dalam rangka kepentingan nasional dan kepentingan pembangunan yang menyeluruh.Hal ini dimaksudkan agar terdapat satu persepsi yang sama terhadap sesuatu. . meliputi perubahan-perubahan sosial yang besar. Pendapatan nasional riil (GNP pada tingkat harga konstan) yang meningkat seringkali tidak diikuti dengan perbaikan kualitas hidup masyarakat. sehingga pada akhirnya definisi tentang pembangunan pun sedemikian banyak dan berbeda satu sama lain. Pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur social. untuk bergerak maju menuju suatu kondisi kehidupan yang serba lebih baik. tanpa menjadi sarana transportasi yang memudahkan masyarakat menyalurkan hasil produksinya ke pasar. alienasi. Kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat ini disebut “autonomous energies“. Pengertian Pembangunan Setiap orang bisa saja mengartikan istilah pembangunan secara berbeda sesuai dengan seleranya sendiri. Kurun waktu yang panjang menyiratkan bahwa kenaikan pendapatan per kapita perlu berlangsung terus menerus dan berkelanjutan.. pembangunan ekonomi lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi. Tanpa adanya suatu perspektif dan criteria yang dapat disepakati bersama. dan ini jelas tidak dapat disebut bahwa ada pembangunan ekonomi di negara tersebut. dan institusi-institusi nasional. Tugas yang paling berat adalah menjaga sustainabilitas pembangunan dalam jangka yang lebih panjang. Tahapan-tahapan pembangunan. disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi.. baik lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan itu sendiri. akan tetapi dimulai dari proses yang panjang dan lama. baik secara material maupun spiritual. perubahan kelembagaan. Jadi pada hakekatnya. pembangunan itu harus mencerminkan terjadinya perubahan secara total suatu masyarakat atau penyesuaian system social secara keseluruhan. Oleh karena itu.. serta pengentasan kemiskinan. seperti telah dikemukakan sebelumnya. kegoncangan dalam identitas.yang kalau dalam bahasa penelitian ilmiah harus valid dan reliabel. paradigma tradisional mengenai pembangunan cenderung mengidentikkan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi. Dewasa ini. RPJM (5 tahun). di negara-negara berkembang. kita perlu memastikan terlebih dahulu perspektif inti atas makna dasar pembangunan. kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat relatif masih lemah. Pada umumnya pembangunan nasional banyak Negara-negara sedang berkembang dipusatkan pada pembangunan ekonomi melalui usaha pertumbuhan ekonomi. perubahan struktur ekonomi. seperti yang kita laksanakan baik melalui RKP (1 tahun). dan RKP (25 tahun). tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual maupun kelompok-kelompok social yang ada didalamnya..daerah tersebut. dari pertanian ke industri atau jasa. Kedua. kita tidak akan bisa mengetahui negara mana saja yang telah mengalami pembangunan secara pesat dan negara mana yang tidak. penanganan ketimpangan pendapatan.

Diantara kelompok-kelompok tersebut.Tanpa ada komitmen yang jelas dan indikator yang terukur kita akan sulit untuk mensejajarkan diri dengan negara tersebut. Kelompok keempat yang paling makmur. sering disebut negara-negara maju atau negara-negara dunia pertama (19 negara). sisanya 13 negara kaya yang merupakan pengekspor minyak anggota OPEC. Dan Negara yang berpendapatn tinggi (high income). dan institusional yang harus diciptakan demi meningkatnya standar hidup penduduk miskin di negara-negara sedang berkembang. tingkat kematian bayi. minimal se level dengan negara tetangga kita seperti Singapura. disamping variable-variabel pokok ekonomi seperti angka pendapatan per kapita. Kita mengenal istilahistilah kelompok negara maju versus negara sedang berkembang. Tingkat pendapatan nasional negara-negara OPEC ini meningkat dramatis setelah terjadinya lonjakan harga minyak pada tahun 1970-an. Negara-negara yang berpendapatan rendah (low income). Usaha klasifikasi terakhir dan paling ambisius dilakukan oleh United Nations Development Program (UNDP). yakni: 1. Program pembangunan PBB.Yang pasti sudah saatnya Bangsa Indonesia bangkit bersama untuk meraih cita-cita bersama. 2. Oleh karena itu. mencoba membagi semua negara berkembang menjadi tiga golongan besar: yakni negara paling miskin (sekitar 44 negara) yang oleh PBB disebut sebagai negara-negara yang paling terkebelakang (least developed). sejumlah analisis dalam upayanya untuk menyusun klasifikasi kelompok negara-negara berkembang berdasarkan system klasifikasi baku yang telah disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Brunei Darussalam. berdasarkan tingkat kemajuan atau kekayaan suatu negara.. Evolusi Makna Pembangunan Pada awalnya upaya pembangunan negara berkembang diidentikkan dengan upaya meningkatkan pendapatan per kapita. ekonomi pembangunan juga memberikan perhatian besar kepada formulasi kebijakan-kebijakan public yang sebaik-baiknya demi menghadirkan serangkaian transformasi ekonomi. dan capaian pendidikan. Malaysia. yang kebanyakan merupakan negara-negara dunia ketiga. setiap analisis realistis terhadap masalah-masalah pembangunan perlu ditopang dengan variable-variabel.. Khusus bagi negara berkembang. Bank dunia membagi 132 negara berpenduduk lebih dari 1 juta orang (baik itu negara-negara berkembang maupun negara maju) ke dalam empat kategori pokok sesuai dengan tingkat pendapatan per kapitanya. Negara-negara yang berpendapatan menengah (middle income). social. yang lebih dikenal dengan World Bank (Bank Dunia). dan 2) indicator Sosial. 3. Ekonomi pembangunan selain mengulas soal alokasi sumberdaya yang seefisien mungkin dan pertumbuhan output agregat secara berkesinambungan dari waktu ke waktu. dan institusional yang sekiranya dapat berdampak positif terhadap kondisi masyarakat secara keseluruhan dalam waktu yang singkat. Semula banyak yang beranggapan bahwa yang membedakan antara . Golongan yang pertama hingga ketiga meliputi 108 negara. ekonomi pembangunan menitik beratkan pula perhatiannya pada berbagai mekanisme ekonomis. Negara berpendapatan menengah tinggi (upper middle income). kelompok utara versus kelompok selatan. baik itu variable ekonomi maupun non ekonomi sebagai indicator atau tolok ukur keberhasilan. Indikator-indikator kunci pembangunan secara garis besar pada dasarnya dapat dikalsifikasikan menjadi: 1) Indikator Ekonomi. social. bahkan kalau perlu Australia. Beberapa analis lebih suka menggunakan klasifikasi yang disusun oleh International Bank for Reconstruction and Development (IRBD). Klasifikasi Negara Dunia ini dibagi atas beberapa kelompok. Sekitar 88 negara yang tergabung dalam kelompok “sedang berkembang” (developing countries) bukan pengekspor minyak. atau popular disebut strategi pertumbuhan ekonomi. Untuk itu. Lembaga internasional ini berfokus pada aspek-aspek “pembangunan manusia” yang mencakup pula variable-variabel non-ekonomis seperti usia harapan hidup. negara kaya versus negara miskin. 4. masing-masing kelompok diklasifikasikan lagi kedalam kelompok tertentu.

Mereka mulai mempertimbangkan untuk mengubah strategi guna mengatasi secara langsung berbagai masalah mendesak seperti tingkat kemiskinan absolute yang semakin parah. Harrod-Domar. Adapun industrialisasi yang memusatkan perhatian pada sector-sektor moderen dan padat modal nampaknya tidak dapat dipisahkan dari pengalaman Inggris sebagai negara industri pertama. dan institusi-institusi nasional. strategi pembangunan yang dianggap paling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal asing dan melakukan industrialisasi. Hircman dan lainnya. Sejarah mencatat munculnya paradigma baru dalam pembangunan seperti pertumbuhan dengan distribusi. ketika banyak diantara negara-negara berkembang berhasil mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun gagal memperbaiki taraf hidup sebagian besar penduduknya. serta pengentasan kemiskinan. dan tingkat pengangguran yang terus melonjak. namun lebih memusatkan perhatian pada kualitas dari proses pembangunan. Indikator berhasil tidaknya pembangunan semata-mata dilihat dari meningkaynya pendapatan nasional (GNP).negara maju dengan negara berkembang adalah pendapatan masyarakatnya. Oleh karena itu. pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur social. Diundangnya modal asing nampaknya diilhami oleh kisah sukses rencana Marshall (Marshallian Planning) dalam membantu pembangunan negara Eropa Barat dan Jepang. Dengan demikian. yang secara garis besar dapat di kelompokkan mej adi : 1) indicator ekonomi. baik secara keseluruhan maupun per kapita. yaitu GNP/GDP dibagi dengan umlah penduduk. misalnya melalui apa yang dikenal dengan istilah “trickle down effect” (efek penetesan kebawah). pembangunan diidentikkan sebagai pertumbuhan ekonomi. dan 2) indicator social. Pembangunan ekonomi tidak lagi memuja GNP sebagai sasaran pembangunan. dan bahasan ekonomi pembangunan sebagai cabang ilmu ekonomi yang relative baru memusatkan perhatian pada factor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi. dan ketimpangan distribusi pendapatan yang dihadapi negara berkembang dapat terpecahkan. pembangunan berkelanjutan dengan perhatian terhadap alam (ecodevelopment). Variabel yang termasuk sebagai indicator ekonomi adalah: 1. kemiskinan. Pengalaman pada dasawarsa 1950 dan 1960-an. pembangunan mandiri (self-reliant development). Meskipun banyak varian pemikiran. Oleh karena itu dibutuhkan indicator sebagai tolok ukur terjadinya pembangunan. Berikut ini disajikan beberapa indicator pembangunan. Jika GNP/GDP tersebut dibagi dengan jumlah penduduk maka didapatkan GNP/GDP per kapita. Selama dasawarsa 1950-an. Bagaimana Mengukur Pembangunan Pembangunan selalu menimbulkan dampak. Jadi pada hakekatnya. baik positif maupun negative. Rostow. GNP/GDP adalah nilai akhir barang dan jasa yang berhasil diproduksi oleh suatu perekonomian (masyarakat) pada suatu periode waktu tertentu (biasanya satu tahun). pembangunan itu harus mencerminkan perubahan total suatu masyarakat atau penyesuaian system social secara keseluruhan. dan beberapa paradigma lainnya. Semakin lama semakin banyak perumus kebijakan yang meragukan ketepatan dan keampuhan tolok ukur GNP sebagai indicator tunggal atas terciptanya kemakmuran dan criteria kinerja pembangunan. sikap-sikap masyarakat. pada dasarnya mereka sependapat bahwa kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal. kebutuhan pokok (basic needs). Fenomena ini terlihat dari pemikiran-pemikiran seperti teori Arthur Lewis. pembangunan ekonomi mengalami redefinisi. GNP/GDP per Kapita. tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual maupun kelompok-kelompok social yang ada didalamnya untuk bergerak maju menuju suatu kondisi kehidupan yang serba “lebih baik”. Selama dasawarsa 1970-an. . secara material maupun spiritual. penanganan ketimpangan pendapatan. Arthur Lewis dalam karyanya The Theory of Economic Growth. menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam definisi pembangunan yang dianut selama itu. disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi. ketimpangan pendapatan yang semakin mencolok. Dengan ditingkatkannya pendapatan per kapita diharapkan masalah-masalah seperti pengangguran. menganggap pembangunan ekonomi merupakan kajian pertumbuhan ekonomi. pembangunan yang memperhatikan ketimpangan pendapatan menurut etnis (ethnodevelopment).

dan Srilangka. sehingga kesalahan sering muncul saat dilakukan perbandingan kinerja antarnegara. dan jasa-jasa). Oleh karena itu. o Sub-Sahara Afrika meliputi semua Negara di sebelah selatan gurun Sahara termasuk Afrika Selatan. Kurs nominal ini tidak mencerminkan kemampuan relative daya beli mata uang yang berlainan. Singapura. GDP per Kapita dengan Purchasing Power Parity Perbandingan antar negara berdasarkan GNP/GDP per kapita seringkali menyesatkan. yaitu: Pertama. Timur Tengah. Growth (pertumbuhan). Portugal. manufaktur. serta Afganistan. Dengan pencapaian tingkat . Kelompok Negara-negara ini memilki rata-rata pertumbuhan GDP riil sebesar 5. o Negara berpenghasilan menengah adalah kelompok Negara-negara dengan GNP/GDP per kapita lebih dari US$ 695 namun kurang dari US$ 8. Kelemahan dari indicator ini. Nepal.5 per sen per tahun. Sebagai contoh. Hal ini disebabkan adanya pengkonversian penghasilan suatu negara ke dalam satu mata uang yang sama (US dollar) dengan kurs resmi. Oleh karena itu. Turki. 4.626. Perubahan Struktur Ekonomi Mengukur tingkat kemajuan struktur produksi (Pertanian. jasa ibu Rumah Tangga. Polandia. dan masalah distribusi pendapatan. dan Taiwan.626. Bank Dunia pada tahun 1993 memperkenalkan beberapa sebutan menyangkut pertumbuhan ekonomi Negara-negara di dunia yaitu. memaksa pemerintah di negara-negara tersebut untuk menyiapkan dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya. yang diidentifikasi karena memiliki cirri umum yang sama. o Amerika Latin dan Karibia terdiri atas semua Negara Amerika dan KAribia di sebelah Selatan Amerika Serikat. Hungaria. yang secara sengaja senantiasa diupayakan agar terus berkembang. Kesempatan Kerja Rendahnya sifat kewirausahaan penduduk di negara-negara berkembang. o Negara berpenghasilan tinggi adalah kelompok Negara-negara dengan GNP/GDP per kapita di atas US$ 8. Bhutan. 5. Rumania. Kelompok HPAEs ini dibagi lagi menurut lamanya catatan sukses mempertahankan pertumbuhan ekonomi. 3. meliputi Indonesia. Bank Dunia pada tahun 1995 mengklasifikan Negara berdasarkan tingkatan GNP/GDP per kapita sebagai berikut: o Negara berpenghasilan rendah. Malaysia. seperti pertumbuhan ekspor yang cepat. o Asia Timur mencakup semua Negara berpenghasilan rendah dan menengah di kawasan Asia Timur dan Tenggara serta Pasifik. o Asia Selatan mencakup Bangladesh. yaitu perubahan output (GNP/GDP) yang terjadi selama satu kurun waktu tertentu (satu tahun). Kedua. 4 macan Asia. biasanya diidentikkan dengan Hongkong. transaksi barang bekas. Negara-negara ini tingkat pertumbuhan ekonominya amat cepat dan mulai mendekati rangking Negara berpenghasilan tinggi. Purchasing Power Parity (PPP) dianjurkan sebagai Pemerataan Pendapatan. o Eropa. Pakistan. Myanmar. o High Performing Asian Economies (HPAEs). Korea Selatan. Newly Industrializing Economies(NIEs). tidak memasukkan produksi yang tidak melalui pasar seperti dalam perekonomian subsisten. dan Thailand. strategi pembangunan biasanya berfokus pada upaya untuk menciptakan industrialisasi secara besar-besaran sehingga kadangkala mengorbankan kepentingan pembangunan sector perrtanian dan daerah pedesaan pada umumnya. India. dan Afrika Utara mencakup Negara-negara berpenghasilan menengah di kawasan Eropa (Bulgaria. Yunani. Peranan sector pertanian akan menurun untuk memberi kesempatan bagi tampilnya sector-sektor manufaktur dan jasa. 2. dan bekas Yugoslavia) dan semua Negara di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah. adalah kelompok Negara-negara dengan GNP per kapita kurang atau sama dengan US$ 695. kerusakan lingkungan.Klasifikasi Negara berdasarkan GNP/GDP atau kelompok pendapatannya dapat saja berubah pada setiap edisi publikasi Bank Dunia.

antara lain: · Laju Peningkatan Pendapatan · Laju Penurunan Jumlah Kecamatan Miskin · Laju Penurunan ketimpangan penerimaan pendapatan · Laju penurunan kesenjangan harapan hidup · Laju pengurangan angka kematian bayi . pada akhirnya menjadi bom waktu sekitar 15 sampai dengan 20 tahun kemudian. 4. mencoba merangking semua negara dalam skala 0 (sebagai tingkatan pembangunan manusia yang terendah) hingga 1 (Pembangunan manusia yang tertinggi) berdasarkan atas 3 tujuan atau produk pembangunan. terdiri atas 7 indikator ekonomi dan 9 indikator social. yaitu: 1) Tingkat Harapan Hidup. Persentase penerima gaji dan upah terhadap angkatan kerja. Adapun beberapa variable yang termasuk dalam indicator social adalah: 1. kinerja ekonomi suatu negara dinyatakan dalam skala 1 hingga 100. ekuivalen kg batu bara per kapita 14. masingmasing: 1. kw per kapita 12. Persentase tenaga kerja pria dewasa di pertanian 11. angka kematian. 5. konsumsi energi. pada saat mereka masuk sebagai angkatan kerja. Harapan Hidup Persentase penduduk di daerah sebanyak 20. 2. Dengan penciptaan lapangan pekerjaan. sedangkan 100 adalah kinerja terbaik. yaitu disesuaikan menurut daya beli mata uang masing-masing negara dan asumsi menurunnya utilitas marginal penghasilan dengan cepat. dimana 1 merupakan kinerja terjelek. Pengangguran Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi di negara-negara berkembang. Besarnya angkatan kerja yang tersedia di negara-negara berkembang. 7. Human Development Index (HDI). diharapkan akan menciptakan lapangan pekerjaan dan berbagai peluang ekonomi lainnya. diharapkan angka pengangguran yang relative tinggi dinegara berkembang akan mengalami penurunan. Konsumsi baja. gas. baik oleh sector swasta maupun oleh pemerintah. 6. 2. Beberapa indikator yang selama ini dipergunakan Indonesia. 9. Persentase sector manufaktur dalam GDP 15. 6. Konsumsi listrik. Indikator kunci pembangunan social ekonomi lainnya versi United Nations Research Institute on Social Development(UNRISD) yang dikeluarkan pada tahun 1970. tidak diikuti dengan penyediaan lapangan kerja buat mereka sehingga menyebabkan angka pengangguran menjadi tinggi. 8. air dan sebagainya Produksi pertanian per pekerja pria di sector pertanian 10. 3. Untuk masing-masing indicator. Indeks Mutu Hidup (IMH) merupakan indeks gabungan dari 1) Harapan hidup pada usia 1 tahun.000 atau lebih konsumsi protein hewani per kapita per hari Kombinasi tingkat pendidikan dasar dan menengah Rasio pendidikan luar sekolah Rata-rata jumlah orang per kamar Sirkulasi surat kabar per 1000 penduduk Persentase penduduk usia kerja dengan listrik. kg per kapita 13. dan tingkat melek huruf.pertumbuhan ekonomi yang tinggi. dan 3) Penghasilan yang diukur dengan pendapatan per kapita riil yang telah disesuaikan. Perdagangan laur negeri per kapita 16. 2) Pengetahuan yang diukur dengan rata-rata tertimbang dari jumlah orang dewasa yang dapat membaca (diberi bobot dua pertiga) dan rata-rata tahun sekolah (diberi bobot sepertiga).

Sekali jati diri kita hilang. papan. Kebebasan juga meliputi kemampuan individual atau masyarakat untuk memilih satu atau sebagian dari sekian banyak pilihan yang tersedia. . Jika satu saja dari sekian banyak kebutuhan dasar tidak terpenuhi maka muncullah kondisi “keterbelakangan absolute”. kita tidak semata-mata dipilih. sandang. serta kebebasan (freedom). Ketiga komponen dasar tersebut adalah kecukupan (sustenance). Kebebasan di sini hendaknya diartikan secara luas sebagai kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran aspek-aspek materiil dalam kehidupan ini. karena jati diri itu sendiri bukan hal yang sepele. adalah konsep kemerdekaan manusia. ekonomi dan institusional. dan seterusnya. Jati diri.Atas dasar itulah kita bisa menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan itu merupakan prasyarat bagi membaiknya kualitas kehidupan. Kebebasan dari sikap menghamba. melainkan kitalah yang akan memilih. beberapa ahli pembangunan. melalui serangkaian kombinasi proses social. kesehatan. dan keamanan. Sehubungan dengan hal tersebut. Kebutuhan dasar ini meliputi pangan. untuk menghargai diri sendiri. Jika kita memiliki kebebsan itu berarti untuk selamanya kita mampu berpikir jernih dan menilai segala sesuatu atas dasar keyakinan. Pencarian jati diri bukan suatu urusan yang sepele. Ketiga hal inilah yang merupakan tujuan pokok yang harus dicapai oleh setiap orang dan masyarakat melalui pembangunan. dan keamanan. yang terwujud dalam berbagai macam manifestasi (bentuk) di hampir semua masyarakat dan budaya sepanjang zaman. Apa yang disebut sebagai kebutuhan dasar adalah segala sesuatu yang jika tidak dipenuhi akan menghentikan kehidupan seseorang. sandang. Fungsi dasar dari semua kegiatan ekonomi pada hakekatnya adalah untuk menyediakan sebanyak mungkin perangkat dan bekal guna menghindari segala kesengsaraan dan ketidak berdayaan yang diakibatkan oleh kekurangan pangan. Kebebasan di sini juga harus diartikan sebagai kebebasan terhadap ajaran-ajaran yang dogmatis. Selain mengulas soal alokasi sumberdaya seefisien mungkin dan pertumbuhan output agregat secara berkesinambungan dari waktu ke waktu. Kesimpulan dari ketiga komponen dasar pembangunan seperti yang telah diuraikan sebelumnya yaitu bahwa pembangunan merupakan suatu kenyataan fisik sekaligus tekad suatu masyarakat untuk berupaya sekeras mungkin. Jurang perbedaan serta kemunduran tajam ini banyak mengajarkan kepada kita tentang apa saja yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan. maka kita akan kehilangan segala-galanya. Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. Ketiganya berkaitan secara langsung dengan kebutuhan-kebutuhan manusia yang paling mendasar. jati diri (self-esteem). dan institusional yang harus diciptakan demi meningkatnya standar hidup penduduk. social. Namun pada dasawarsa yang terakhir jpula dapat disaksikan kemandekan dan kemunduran. melainkan mewakili semua hal yang merupakan kebutuhan dasar manusia secara fisik. demi mencapai kehidupan yang serba lebih baik. menjadi manusia seutuhnya adalah adanya dorongan dari diri sendiri untuk maju. Gouletmengatakan bahwa setidaknya ada tiga komponen dasar atau nilai inti yang harus dijadikan basis konseptual dan pedoman praktis untuk memahami pembangunan yang paling hakiki. 2. bahkan di negara yang sebelumnya telah mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi pun mengalami hal yang sama. Kecukupan. ekonomi pembangiunan juga menitik beratkan perhatiannya kepada berbagai mekanisme ekonomi. 1. 3. Semua orang pasti punya kebutuhan dasar. untuk merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu. pikiran sehat. diantaranya adalah Prof. kesehatan. Penutup Ekonomi Pembangunan merupakan bentuk perkembangan lebih lanjut dari ilmu ekonomi tradisional dan ilmu ekonomi politik. Kecukupan disini bukan hanya menyangkut makanan.· Laju pengurangan melek huruf · Laju penurunan pertumbuhan penduduk · Komponen Dasar Pembangunan Dua dasawarsa terakhir dari abad kedua puluh menyaksikan kemajuan besar di berbagai belahan dunia. Dengan adanya kebebasan. papan. dan hati nurani kita sendiri.

.Setiap analisis realistis terhadap masalah-masalah pembangunan perlu ditopang dengan variable-variabel ekonomi yang ketat seperti halnya angka kepadatan penduduk. Pembangunan ekonomi yang berusaha untuk meningkatkan output. pendidikan dan kesejhatan serfta beberapa variable lainnya. Semua variable ini sama pentingnya factor-faktor institusional non-ekonomi seperti pengaturan hak pemanfaatan tanah. Segenap kekuatan itu selalu berinteraksi. terkadang saling menunjang. dan mengentaskan kemiskinan. struktur perkreditan. menciptakan lapangan kerja. seringkali gagal di masa-masa lampau hanya karena para ekonom dan perumus kebijakan lainnya lupa bahwa perekonomian nasional merupakan suatu system social utuh. pengaruh stratifikasi social dan kelas. tapi tidak jarang pula bersifat kontradiktif. yang terdiri dari kekuatan-kekuatan ekonomis dan nonekonomis yang satu sama lain saling tergantung. harga-harga dan tingkat tabungan.

dan Kebijakan. Edisi Keenam. Tjokroamidjojo. Jakarta. Michael.. Masalah. Somkid Jatusripitak. Perkembangan Pemikiran Ekonomi: Dasar Teori Ekonomi pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Tambunan. P.. Jakarta. Philip. Yogyakarta. . Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta. Ekonomi Pembangunan : Teori. 1984. Todaro. Jakarta. Kotler. Mudrajad. Bintoro. Kuncoro. Pemasaran Keunggulan Bangsa. 1994. Mustopadidjaja. Suvit Maesincee. 1997. Perekonomian Indonesia. Pengantar Pemikiran tentang Teori dan Strategi Pembangunan nasional.DAFTAR PUSTAKA Djojohadikusumo. 1996. Tulus T. Sumitro. 1998. Jakarta: Ghalia Indonesia.. 1998.H.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful