BAB I PENDAHULUAN

Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan keluarnya urine. Keadaan ini dapat menimbulkan berbagai permasalahan, antara lain: masalah medic, social, maupun ekonomi. Masalah medic berupa iritasi dan kerusakan kulit di sekitar kemaluan akibat urine, masalah social berupa perasaan malu , mengisolasi diri dari pergaulannya, dan mengurung diri di rumah. Pemakaian pemper atau perlengkapan lain guna menjaga supaya tidak selalu basah oleh urine, memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pada wanita umumnya inkontinensia merupakan inkontinensia stres, artinya keluarnya urine semata-mata karena batuk, bersin dan segala gerakan lain dan jarang ditemukan adanya inkontinensia desakan, dimana didapatkan keinginan miksi mendadak. Keinginan ini demikian mendesaknya sehingga sebelum mencapai kamar kecil penderita telah membasahkan celananya. Jenis inkontinensia ini dikenal karena gangguan neuropatik pada kandung kemih. Sistitis yang sering kambuh, juga kelainan anatomik yang dianggap sebagai penyebab inkontinensia stres, dapat menyebabkan inkontinensia desakan. Sering didapati inkontinensia stres dan desakan secara bersamaan. Stigma tentang inkontinensia urin disertai dengan kurangnya pemahaman tenaga profesional kesehatan tentang pilihan intervensi menyebabkan kurang tepatnya terapi untuk kondisi ini dengan konsekuensi yang serius pada pasien-pasien berusia lanjut (usila). Beberapa bentuk terapi termasuk intervensi terapi fisik yang umum dilakukan seperti terapi latihan, latihan beban, biofeedback dan stimulasi elektrik, bersifat efektif dalam memperbaiki atau mengobati inkontinensia urin sesuai dengan kondisi individual sebagai suatu bentuk terapi utama ataupun terapi tambahan untuk terapi medikamentosa ataupun operasi. Terapi inkontinensia urin secara dini dan efektif diperlukan untuk mengembalikan fungsi fisik dan emosional orang yang menderitanya.

1

Dua puluh lima persen wanita antara usia 30-59 tahun pernah mengalami inkontinensia urin. sedangkan tekanan pelvis ginjal adalah 6. Tekanan proksimal tubular yang normal adalah 14 mmHg. Di antara wanita berusia pertengahan. Sementara Kondon dan rekannya menemukan prevalensi stress incontinence maksimum (43%) pada kelompok usia 50 tahun). yang sedikit melebihi tekanan ureter dan kandung kemih saat istirahat. Gaya pasif ditimbulkan oleh tekanan filtrasi ginjal. suatu penelitian mengindikasikan bahwa dari 58% populasi yang melaporkan inkontinensia hanya 25% yang mencari terapi untuk kondisi tersebut. Hampel menemukan bahwa stress incontinence merupakan bentuk paling sering (49%) inkontinensia pada wanita sementara urge incontinence merupakan bentuk tersering (40-80%) pada pria. Tahun 1997. Thomas mengidentifikasikan bahwa hanya 1 dari 10 wanita akan mencari pelayanan kesehatan profesional untuk masalah inkontinensianya. berdasarkan hasil dari 21 penelitian. sementara urge incontinence kejadiannya akan meningkat seiring dengan pertambahan usia (antara 35-64 tahun). Fisiologi Berkemih Normal Berkemih terdiri dari dua fase : fase pengisian dan pengosongan. Fase pengisian terjadi saat orang tidak mencoba melakukan berkemih.Epidemiologi Inkontinensia urin merupakan keluhan terbanyak yang tercatat pada Papyrus Ebers (1550 SM). sementara pada individu berusia 60 tahun atau lebih. Pada tahun 1998 Asia Pacific Continence Advisory Board (APCAB) menyatakan prevalensi inkontinensia urin pada wanita Asia adalah sekitar 14. 15%30% menderita inkontinensia urin. Thomas et al melaporkan bahwa gejala stress incontinence lebih sering terjadi pada wanita berusia 45-54 tahun. Transpor urin merupakan hasil gaya pasif dan aktif. Gaya aktif merupakan hasil gaya peristaltik calyces. Peristaltik dimulai dengan aktivitas elektris sel pacu di bagian proksimal traktus pengumpul urin (collecting urinary tract) 2 .6%. Di Amerika Serikat saat ini tercatat 13 juta orang mengalami inkontinensia dengan 11 juta diantaranya berjenis kelamin wanita. Fase pengosongan terjadi saat pasien berusaha untuk melakukan berkemih atau diminta untuk berkemih. pelvis ginjal dan ureter.5mmHg.

akan timbul kenaikan tekanan intravesikal yang progresif. Fisiologi berkemih normal Produksi urine berjalan secara tetap sekitar 15 tetes per menit. Kontraksi volunter sfingter eksternal disebut dengan guarding mechanism. Peningkatan ini akan menstimulasi reseptor regangan di dinding detrusor. secara refleks menginhibisi kandung kemih (guarding reflex). Peningkatan aktivitas ini juga akan secara refleks menghambat kontraksi detrusor. Selama fase ini. Peningkatan tekanan intra abdominal akan menyebabkan terjadinya kontraksi otot dasar panggul untuk mengatasi peningkatan tekanan dan mempertahankan kondisi kontinen. terjadi peningkatan progresif aktivitas EMG sfingter uretra. Bila tercapai volume urin 200-300 ml. sfingter eksternal memegang peranan penting. Bila pengisian berlanjut melewati batas kemampuan viskoelastik kandung kemih (volume urin 400-550ml). Selama proses pengisian. Otot detrusor tetap tidak berkontraksi dan otot dasar panggul mempertahankan tonus istirahat normalnya. meningkatkan kontraksi sfingter dan menekan impuls parasimpatis ke detrusor. menghambat impuls ke segmen sakral melalui 3 . tekanan tetap rendah akan tetapi terjadi sensasi urgensi yang lebih kuat karena peningkatan aktivasi reseptor regangan. karena mekanisme ini menginterupsi berkemih atau mencegah keluarnya urin pada saat terjadi peningkatan cepat tekanan intra abdominal. Akumulasi urin akan mendistensikan dinding kandung kemih secara pasif dengan penyesuaian tonus sehingga tegangan tidak akan meningkat secara cepat hingga terkumpul kurang lebih 150ml. Impuls aferen dari syaraf pelvis dan pudendal akan mengaktivasi pontine center. Pengisiannya berjalan konstan kecuali bila ada iritan kandung kemih yang akan meningkatkan produksi urin. Impuls aferen dari kontraksi otot dasar panggul.Gambar 1. pada kandung kemih dengan compliance yang normal. Untuk fase pengisian. Reseptor regangan di kandung kemih lalu memberikan sinyal pada otak yang memberikan suatu impuls urgensi (sensasi pertama berkemih). Otot detrusor dan dasar panggul tetap tidak mengalami perubahan. tekanan intravesikal yang rendah dipertahankan oleh peningkatan progresif stimulasi simpatis dari reseptor beta yang berlokasi di badan kandung kemih sehingga timbul relaksasi kandung kemih dan stimulasi reseptor alfa yang berada di dasar kandung kemih dan uretra yang menyebabkan kontraksi pada area tersebut.

dan tidak terjadi peningkatan tekanan intra abdominal selama berkemih. Berkemih merupakan suatu peristiwa neuromuskular yang dimediasi oleh stimulasi parasimpatis sehingga timbul kontraksi “phasic” otot detrusor. akan tetapi hal tersebut berada di bawah kontrol volunteer suprapontine cerebral centers. biasanya tidak terdapat residual urin setelah berkemih (Postvoid Residual). akan tetapi sebagian praktisi menganggap bahwa volume PVR 5-50ml di kandung kemih dianggap sesuatu yang normal. sehingga kelompok otot lain (lengan. tangan) dapat diintegrasikan untuk membantu proses berkemih. melepas pakaian dan duduk atau berdiri di toilet. Berkemih dapat terjadi secara volunter sebelum kandung kemih penuh dan dapat juga diinhibisi saat kandung kemih penuh oleh inhibisi suprapontine. kaki. Tidak terdapat refleks inhibisi ke pusat berkemih di sakral dari mekanisme sfingter yang kemudian diikuti dengan kontraksi detrusor. Refleks regangan otonom (refleksberkemih) ini memberikan kontrol kandung kemih di tingkat spinal. Saat pasien diminta untuk berkemih (fase pengosongan) terjadi penurunan aktivitas EMG dan tekanan sfingter uretra. Walaupun proses berkemih dan penyimpanan urine merupakan fungsi utama sistem syaraf otonom.syaraf pelvis. Sfingter uretra tetap terbuka selama berkemih. Pada orang muda. Kontraksi detrusor ini kemudian akan menyebabkan relaksasi uretra. akan tetapi walaupun begitu volume pasca berkemih (PVR) akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. 4 . Badan-badan sel parasimpatis distimulasi dan impuls eferen akan berjalan pada syaraf pelvis ke dinding kandung kemih sehingga akan menimbulkan kontraksi otot detrusor. Volume PVR yang normal bervariasi. Urgensi berkemih yang lebih kuat akan timbul dan otak akan memerintahkan seseorang untuk pergi ke toilet.

Keluhan khas yaitu mengeluarkan urine sewaktu batuk. berdiri sesudah berbaring atau duduk dan mengangkat benda berat. bersin. Terjadinya inkontinensia ini karena factor sfingter (uretra) yang tidak mampu mempertahankan tekanan intrauretra pada saat tekanan intravesika meningkat (buli-buli) terisi. menaiki tangga atau melakukan gerakan mendadak. Inkontinensia urin dapat merupakan suatu gejala. 5 . Inkontinensia stres (Stres Inkontinence) Inkontinensia urine stress (SUI) Adalah keluarnya urine dari uretra pada saat terjadi peningkatan tekanan intraabdominal. di sini hanya dibahas beberapa jenis yang paling sering ditemukan yaitu : A. Tidak jarang pasien mengalami kerusakan total sfingter eksterna sehingga mengeluh inkontinensia totalis.Definisi Inkontinensia Inkontinensia urin menurut International Continence Society didefinisikan sebagai keluarnya urin secara involunter yang menimbulkan masalah sosial dan hygiene serta secara objektif tampak nyata. tanda ataupun suatu kondisi. Kondisi ini bukan merupakan bagian yang normal dari proses penuaan. walaupun prevalensinya meningkat sejalan dengan peningkatan usia Jenis inkontinensia urine Terdapat beberapa macam klasifikasi inkontinensia urine. sedangkan pada wanita penyebab kerusakan uretra dibedakan dalam dua keadaan. Pada pria kelainan pada uretra yang menyebabkan inkontinensia biasanya adalah kerusakan sfingter uretra eksterna pasca prostatektomi. Kerusakan sfingter uretra eksterna pasca prostatetomi radikal lebih sering terjadi daripada pasca TURP. yakni hipermobilitas uretra dan deisiensi intrinsic uretra.

 Tipe 1 Jika terdapat penurunan kurang dari 2 cm dan kadang-kadang disertai dengan sistokel yang masih kecil. Cirri-ciri dari jenis ISD adalah leher buli-buli dan uretra posterior tetap terbuka pada keadaan istirahat meskipun tidak ada kontraksi otot detrusor sehingga uretra proksimal tidak lagi berfungsi sebagai sfingter. Defisiensi sfingtter intrinsic (ISD) dapat disebabkan karena suatu trauma .  Tipe II Jika penurunan lebih dari 2 cm dan seringkali disertai dengan adanya sistokel. leher buli-buli dan uretra menjadi terbuka. Pada video urodinamika setelah maneuver valsava . atau kelainan neurologi. Klasifikasi inkontinensia stress Klasifikasi yang ditemukan oleh blaivas dan Olsson (1988). berdaasarkan pada penurunan letak lehher buli-buli dan uretra setelah pasien diminta melakukan maneuver valsava. radiasi. sehingga urine selalu keluar karena factor gravitasi atau penambahan tekkanan intravesika (gerakan yang minimal). Herniasi dan angulasi itu terlihat sebagai terbukanya leher buli-buli uretra sehingga menyebabkan bocornya urine dari buli-buli meskipun tidak ada peningkatan tekanan intravesika. dalam hal ini sistokel mungkin berada di dalam vagina (tipe IIa) atau di luar vagina (tipe IIb)  Tipe III Leher buli-buli dan uretra tetap terbuka meskipun tanpa adanya kontraksi detrusor maupun maneuver valsava. 6 . Tipe ini disebabkan defisiensi sfingter intrinsic atau intrinsic sphincter defisience (ISD). Kelemahan otot ini menyebabkan terjadinya penurunan (herniasi) dan angulasi leher buli-buli uretra pada saat terjadinya peningkatan tekanan intraabdomen. Penilaian ini dilakukan berdasarkan pengamatan klinis berupa keluarnya (kbocoran) urine dengan bantuan video urodinamik  Tipe 0 Pasien mmengeluh tentang inkontinensia stress tetapi pada pemeriksaan tidak diketemukan adanya kebocoran urine.Hipermobilitas uretra disebabkan karena kelemahan otot-otot dasar panggul yang berfungsi sebagai penyanggah uretra dan buli-buli. penyulit dari operasi.

sistitis interstisial. menyebutkan penyebabnya adalah tumor pada susunan saraf pusat. tumor/batu pada kandung kemih. sklerosis multipel. Penyebab kelainan ini berasal dari penyakit neurogen. divertikula uretra. yang sering dihubungkan dengan gangguan meatus uretra. sklerosis multipel. akan tetapi juga akibat fenomena sensorik (urgensi sensorik). sistitis. bukan hanya karena detrusor (urgensi motorik). Terjadi pada keadaan kandung kemih yang lumpuh akut atau kronik yang terisi terlalu penuh.B. Kandung kemih dengan keadaan semacam ini disebut kandung kemih tak stabil. Inkontinensia luapan (Overflow Incontinence) Inkontinensia luapan yaitu keluarnya urine secara involunter ketika tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal uretra akibat dari distensi kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor. Sewaktu pengisian. C. buli-buli tidak pernah 7 . termasuk pemberian sedativa dan antikolinegrik. Rasa ingin miksi biasanya terjadi. Keadaan ini paling sering disebabkan oleh fistula system urinaria yang menyebabkan urine tidak melewati sfingter uretra. Pada fistula vesikovagina terdapat lubang yang menhubungkan buli-buli dan vagina. frekuensi. sistitis radiasi. Biasanya kontraksinya disertai dengan rasa ingin miksi. penyakit serebrovaskular. Inkontinensia desakan (Urgency Inkontinence) Inkontinensia desakan adalah keluarnya urine secara involunter dihubungkan dengan keinginan yang kuat untuk mengosongkannya (urgensi). Jika lubangnya cukup besar. serta tumor otak dan medula spinalis. sehingga tekanan kandung kemih dapat naik tinggi sekali tanpa disertai kontraksi sehingga akhirnya urine menetes lewat uretra secara intermitten atau keluar tetes demi tetes. seperti akibat cedera vertebra. meningomyelokel. gangguan pada sumsum tulang. trauma kapitis. uretritis dan infeksi pada vagina dan serviks.Burnett. penyakit Parkinson. Sedang urgensi motorik lebih sering dihubungkan dengan terapi suportif. otot detusor berkontraksi tanpa sadar secara spontan maupun karena dirangsang (misalnya batuk). Gejala gangguan ini yaitu urgensi. Urgensi sensorik terjadi karena adanya faktor iritasi lokal. nokturia dan nokturnal enuresis. ikontinensia kintinua Inkotinensi kontinua adalah urine yang selalu keluar stiap saat dan dalam berbagai posisi. D. Biasanya terjadi akibat kandung kemih tak stabil.

menaiki tangga biasanya ditemukan pada inkontinensia stress sednagkan pada inkontinensia urgensi didapatkan adanya gejala khas berupa urgensi . Diagnosis Perlu ditanyakan sampai seberapa jauh inkontinensia ini mengganggu kehidupan dan berapa banyak urine yang dikeluarkan pada saat inkontinensia. perforasi dan kranioklasi. dapat terjadi langsung pada waktu tindakan operatif seperti seksio sesar. Pada region urogenitalia. atau ekstraksi dengan cunam. Fistula vesikovagina seringkali disebabkan oleh operasi ginekologi . Dapat juga timbul beberapa hari sesudah partus lama. 8 . Keadaan ini juga disebabkan karena cedera ureter pasca operasi daerah pelvis. Fistula urine Fistula urine sebagian besar akibat persalinan. prolaps uteri. karena urine yang berasal dari kedua ureter tidak sempat tertampung di buli-buli dan keluar melalui fistula ke vagina. E. enterokel. ektopik ureter . Perhatikan adanya perubahan warna dan penebalan mukosa vagina yang merupakan tanda dari vaginitis atrofikans akibat defisiensi estrogen. bersin. Keluarnya tetesan-tetesan urine yang tidak mampu dicegah dapat dijumpai pada inkontinensia paradoksa. trauma obstetric atau pasca radiasi di daerah pelvic fistula system urinaria yang lain adalah fistula ureterovagina yaitu terdapat hubungan langsung antara ureter dengan vagina. atau rektokel yang menyertai suatu SUI. Keluarnya urine dalam jumlah yang cukup banyak dijumpai pada inkontinensia kontinua akibat suatu fistula. Pemeriksaan palpasi bimanual untuk mencari adanya massa pada uterus atau adneksa.terisi dengan urine . Mungkin ditemukan jaringan parut bekas operasi pelvis atau abdomen. Hal ini biasanya disertai dengan peningkatan sensitifitas buli-buli dan uretra yang dapat terlihat pada inkontinensia urge. Perhatikan kemungkinan adanya sistokel. Pada pemeriksaan abdomen dicari kemungkinan dijumpai adanya distensi buli-buli yang merupakan tanda dari inkontinensia paradoksa atau adanya massa di pinggang dari suatu hidronefrosis. perhatikan orifisium uretra dan vagina dicari kemungkinan adanya kelainan dinding vagina anterior maupun posterior. nokturia dan nocturnal enuresis. Keluhan khas yaitu mengeluarkan urine sewaktu batuk. yang disebabkan karena tekanan kepala janin terlalu lama pada jaringan jalan lahir di tulang pubis dan simfisis. ataupun kerusakan sfingter uretra. frekuensi. sehingga menimbulkan iskemia dan kematian jaringan di jalan lahir. dekapitasi.

p elvic floor exercise atau disebut kegel exercise bertujuan untuk meningkatkan resistensi uretra dengan 9 . normal maupun hipoaktif. pemeriksaan laboratorium juga harus mencakup pemeriksaan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin serum (National Institutes of Health. Diagnostik imaging meliputi USG. Sistourethroskopi dikerjakan dengan anestesi umum maupun tanpa anestesi. Resnick. yang berhubungan dengan inkontinensia Test diagnostik lanjut yaitu sistourethroskopi dan diagnostik imaging. ureter ektopik maupun divertikulum. dapat dilihat keadaan patologi seperti fistula. uretra. Kultur urin akan membantu untuk menyingkirkan infeksi. Terapi Inkontinensia urine adalah merupakan gejala atau manifestasi klinis dari suatu kelainan yang ada di buli-buli. disamping dilakukan usaha-usaha untuk mengatasi problematic social akibat inkontinensia. Pada inkontinensia yang disebabkan oleh fistula ureterovagina. CT scan dan IVP yang digunakan untuk mengidentifikasi kelainan patologi (seperti fistel/tumor) dan kelainan anatomi (ureter ektopik). 1990. jika terdapat penurunan leher buli-buli uretra dan dijumpai urine yang keluar. fistula vesikovagina yang cukup lebar . atau organ lain. Sistometri merupakan test yang paling penting. Pemeriksaan Penunjang Selain dilakukan urinalisis dan kultur urin. 1990a). Terapi yang dipilih berupa 1) latihan/rehabilitasi 2) medikamentosa 3) operasi Latihan / Rehabilitasi Bantuan ahli rehabilitasi medic sangat diperlukan untuk keberhasilan program ini. pilihan terapi tergantung dari derajat keparahan inkontinensia. Jika didapatkan penonjolan dari orifisium externum mungkin merupakan suatu proses inflamasi atau divertikulum. Untuk itu terapi ditujukan pada penyakit yang menyebabkan timbulnya inkontinensia urine . karena dapat menunjukan keadaan kandung kemih yang hiperaktif. Begitupula pada inkontinensia paradoksa yang disebabkan adanya obstruksi infravesika. terapi paling tepat adalah desobstruksi.Perhatikan posisi orifisium externum. pilihan terapi adallah berupa operasi. Test urodinamik meliputi uroflowmetri dan sistometri. dan ureter ektopik. Mintalah pasien untuk melakukan maneuver valsava. 1. kemungkinan pasien menderita suatu SUI. Pada inkontinensia urine stress atau urge.

Tidak jarang latihan ini dikombinasikan dengan stimulasi elektrik dan biofeedback. Obat pilihan pada inkontinensia urge Secara sistemik Secara topical 10 . Dalam hal ini oksibutinin dapat diberikan secara sistemik ataupun intravesika. Pada terapi behavioural pasien diberi pengetahuan tentang fisiologi system urinaria sebelah bawah dan kemudian mengikuti jadwal miksi seperti yang telah ditentukan. Ikatan obat ini pada reseptor muskarinik lebih kuat daripada ikatan Ach-reseptor muskarinik sehingga menghambat transmisi impul yang mencetuskan kontraksi detrusor. Dalam hal ini pasien dilatih untuk mengenal timbulnya sensasi urgensi . Jika sudah terbiasa dengan cara ini .cara memperkuat otot-otot dasar panggul dan otot periuretra. Tabel 1. kemudian mencoba menghambatnya. oksibutinin (ditropan). Obat ini dapat meningkatkan kapasitas buli-buli dan menunjukkan hasil yang cukup baik pada overaktivitas buli-buli jenis obat yang digunakan adalah: propanthelin bromide. dan talterodine tartrate.latihan ini dapat dipakai sebagai prevensi terjadinya inkontinensia urine pada wanita muda sebelum melahirkan. Setelah itu pasien diinstruksikan untuk melakukan kontraksi otot dasar panggul (seolah-olah menahan urine) selama 10 detik sebanyak 10-20 kali kontraksi dan dilakukan dalam 3 kali setiap hari. Hal ini dapat meningkatkan tekanan mekanik pada uretra sehingga memperbbaiki fungsi sfingter uretra. dan selanjutnya menunda saat miksi. Pasien dilatih belajar cara melakukan atau mengenal kontraksi otot dasar panggul dengan cara mencoba menghentikan aliran urine (melakukan kontraksi otot-otot pelvic) kemudian mengeluarkan kembali urine melalui relaksasi otot sfingter. interval diantara miksi menjadi lebih lama dan didapatkan volume miksi yang lebih banyak Medikamentosa Antikolinergik. Untuk mendapatkan efek yang diharapkan mungkin diperlukan 6-8 minggu latihan. Antikolinergik adalah obat penghambat system parasimpatik eferen pada otot detrusor. Dikatakan bahwa latihan ini menyebabkan terjadinya hipertrofi otot-otot dasar panggul. Hipertrofi otot dasar panggul dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyanggah organ-organ pelvis sehingga mampu mencegah desensus buli-buli-uretra.

Kadar ion kalsium di dalam sel dapat diturunkan dengan menghalangi masuknya ke intraselular diharapkan dapat menurunkan kontraksi otot detrusor pada instabilitas buli-buli. Obat ini cukup efektif jika diberikan pada inkontinensia stress derajat ringan dan sedang. Pelemas flavoxate) otot polos bromide. dan antidepresan trisiklik. Dicyclomine dan flavoxate merupakan pelemas otot polos yang mempunyai efek antispasmodic. tolterodine 1. Antikolinergik prophantelin tartrate) 2. Antiprostaglandin 5. Obat ini merupakan suatu stimulator reseptor adrenergic α yang dapat mmenyebabkan kontraksi otot polos pada leher buli-buli dan uretra posterior. Keduanyan berguna pada keadaan hiperefleksia otot detrusor Trisiklik antidepresan. pseudoefedrin dan fenilpropanolamin. estrogen. Imipramin adalah obat golongan antidepresan trisiklik yang mempunyai berbagai macam efek pada inkontinensia urge. (oksibutinin. 11 . memberikan anestesi local pada buli-buli. Inkontinensia stress Tujuan terapi pada inkontinensia stress adalah meningkatkan tonus otot sfingter uretra dan resistensi bladder outlet. Jenis obat yang diberikan adalah efedrin . Menghambat jalur aferen Anestesi local Capsaicin Resiniferatoxin 3. Penghambat kanal kalsium. hipotensi dsn reflek takikardi. pada usia lanjut sebaiknya penggunaan obat ini dibatasi. Obat-obatan yang dipakai adalah agonis adrenergic α. mudah lelah. Agonis α adrenergic.1. - 2. pusing dan sedasi . Kalsium dikenal sebagai ion yang keberadaannya di dalam sel dapat menyebabkan terjadinya kontraksi otot. Obat ini dikatakan mampu berfungsi sebagai pelemas otot. Efek samping yang dapat terjadi adalah kelemahan. palpitasi. dan mempunyai efek antikolinergik. hipotensi postural. pusing. Menghambat jalur eferen (transmisi kolinergik nervus pelvikus detrusor) Oksibutinin Atrofin (dicyclomine. Penghambat kanal kalsium Pelemas otot polos. Efek samping yang dapat terjadi berupa flushing. Secara klinis obat ini menurunkan kontraktilitas buli-buli dan meningkatkan resistensi uretra. Antidepresan trisiklik (imipramine) 4.

Beberapa ahli menyebutkan bahwa pemakaian kombinasi bersama obat adrenergic α mempunyai efek aditif atau sinergistik.Estrogen. atau teknik yang lain. injeksi kolagen periuretra. Pembedahan Pada inkontinensia yang disebakan oleh fistula atau kelainan bawaan ektopik ureter tindakan yang paling tepat adalah pembedahan. Pemberian perooral dapat mengembalikan atau mencegah terjadinya atrofi jaringan urogenitalia. tension free vaginal tape (TVT). Estrogen dapat diberikan peroral atau pervagina. sedangkan penurunan komplians buli-buli dilakukan augmmentasi buli-buli. antara lain : marshall marchetti kranzt (MMK). atau sfingter artificial. Pemakaian estrogen pada inkontinensia masih dalam perdebatan. Pada inkontinensia urge untukk mengurangi overaktivitas buli-buli dapat dilakukan rhizolis. diantaranya adalah otot dan jaringan pada dasar panggul. Inkontinensia urge dan inkontinensia stress tindakan pembedahan dilakukan jika terapi konservatif tidak memberikan hasil yang maksimal. stamey. Pada saat menopause terjadi penurunan estrogn sehingga semua jaringan yang keberadaannya membutuhkan estrogen menjadi atrofi. 12 . Hipermobilitas uretra dikoreksi dengan melakukan suspense leher buli-buli dengan berbagai teknik. berupa penutupan fistula atau neoimplantasii ureter ke buli-buli. Pada keadaan defisiensi sfingter uretra intrinsic (ISD) dapat dilakukan pemasangan pubovaginal sling. Pemberian estrogen pada menopause dapat meningkatkan kembali jumlah resepptor adrenergic α pada uretra. burch.

Fistula urine Inkontinensia urine adalah merupakan gejala atau manifestasi klinis dari suatu kelainan yang ada di buli-buli. Untuk itu terapi ditujukan pada penyakit yang menyebabkan timbulnya inkontinensia urine . fistula vesikovagina yang cukup lebar . Pada inkontinensia urine stress atau urge. Begitupula pada inkontinensia paradoksa yang disebabkan adanya obstruksi infravesika. uretra. walaupun prevalensinya meningkat sejalan dengan peningkatan usia Terdapat beberapa macam klasifikasi inkontinensia urine. Terapi yang dipilih berupa 1) latihan/rehabilitasi 2) medikamentosa 3) operasi 13 . pilihan terapi adallah berupa operasi. di sini hanya dibahas beberapa jenis yang paling sering ditemukan yaitu : A. Inkontinensia urin dapat merupakan suatu gejala.KESIMPULAN Inkontinensia urin menurut International Continence Society didefinisikan sebagai keluarnya urin secara involunter yang menimbulkan masalah sosial dan hygiene serta secara objektif tampak nyata. Inkontinensia luapan (Overflow Incontinence) D. dan ureter ektopik. disamping dilakukan usaha-usaha untuk mengatasi problematic social akibat inkontinensia. Inkontinensia desakan (Urgency Inkontinence) C. ikontinensia kintinua E. Kondisi ini bukan merupakan bagian yang normal dari proses penuaan. tanda ataupun suatu kondisi. terapi paling tepat adalah desobstruksi. atau organ lain. Pada inkontinensia yang disebabkan oleh fistula ureterovagina. Inkontinensia stres (Stres Inkontinence) B. pilihan terapi tergantung dari derajat keparahan inkontinensia.

Evaluasi dan Manajemen Medis inkontinensia urine. http://www. Available from http://www. 2011.com/doc/11489146/Inkontinensia-urin(Accesed : 2011. September 24). Dasar-dasar urologi edisi ketiga. (Accesed : 2011. dr. 2002.DAFTAR PUSTAKA Andrianto. Basuki. Vitriana.com/doc/51088744/evaluasi dan manajemen medis inkontinensia urine.scribd. September 24 ). Inkontinensia urine.scribd. Purnomo B. Jakarta . sagung seto 14 .