Tema: Identitas Nasional

Etika Periklanan Produk Anak-anak di Indonesia
Penyebaran informasi di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari dunia periklanan. Berbagai media cetak maupun elektronik telah menjadi santapan harian bagi masyarakat yang membutuhkannya. Namun, sayangnya tidak semua iklan yang ditayangkan di iklan adalah benar apa adanya. Seringkali media memberi “bumbu” pada informasi yang diberitakannya yang bisa menyebabkan mispersepsi. Orang dewasa pada umumnya lebih selektif dalam memilah informasi, akan tetapi bagaimana dengan anak-anak?. Pola pikir anak-anak jauh berbeda dengan pemikiran orang dewasa. Bagi orang pemasaran, anak-anak merupakan target pasar yang potensial, apalagi saat ini anak-anak juga mulai memegang peranan penting dalam memilih produknya sendiri. Hal ini mendorong para marketer berlomba-lomba untuk merebut hati anak-anak dengan meluncurkan produk dengan iklan atau pemasaran yang beragam dan dituntut harus kreatif serta menarik. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan marketer yang berlomba-lomba membuat iklan dengan target utamanya anak-anak. Namun, ketika terjadi penyimpangan etika lah yang menjadi persoalan. Penyampaian iklan yang tidak sesuai dengan EPI (Etika Periwara Indonesia) tidak hanya merugikan produk pesaingnya, tetapi juga akan berdampak pada perkembangan dan perilaku anak-anak yang masih rentan terhadap informasi yang salah atau berlebihan. Sebelum saya membahas lebih jauh mengenai etika mengiklankan produk kepada anak-anak di Indonesia, saya akan menyinggung sedikit mengenai regulasi periklanan kepada anak-anak di beberapa negara lain, dimana mereka bisa menyampaikan pesan produknya dan tetap kreatif meskipun banyak aturan yang membatasinya. Regulasi yang pertama adalah tidak diperbolehkan memakai kata “baru” dan “memperkenalkan” untuk mengiklankan produk selama lebih dari satu tahun. Bagi anakanak, produk baru selalu terkesan lebih menarik dan mengasyikkan. Sebenarnya tidak ada yang salah secara etika dengan menggunakan kata “baru” atau “memperkenalkan” pada produk yang memang masih baru dipasarkan, yang jadi masalah ketika produk telah dipasarkan setahun lalu dan hingga sekarang masih dikatakan “baru”. Anak-anak sangat

Kemudian salah satu regulasi lain yaitu WYSIWYG (What you see is what you get) harus diterapkan dalam iklan. “terdahsyat” dan sebagainya. Regulasi berikutnya yaitu tidak boleh menampilkan adegan berbahaya. Anak-anak cenderung mudah meniru sesuatu yagn dilihatnya tanpa pikir panjang. mungkin penerapan aturan ini belum maksimal karena masih ada beberapa iklan yang menampilkan beberapa adegan yang dapat dikatakan cukup berbahaya jika ditiru oleh anak-anak. pengiklan dalam mengiklankan produknya harus menjelaskan secara akurat apa yang pembeli dapatkan dan berapa harga serta barang yang didapatkan sesuai dengan gambar di iklan.Tema: Identitas Nasional mudah menerima informasi tanpa mencernanya terlebih dahulu sehingga dengan iklan dengan kata “baru” yang terus dikumandangkan cenderung sangat persuasif bagi anak-anak. Secara psikologi. tidak hanya untuk iklan anak-anak saja tetapi seluruh jenis iklan. Jadi. misalnya iklan makanan yang saat iklan menampilkan produk yang begitu menarik dan dalam porsi besar ketika produk aslinya dibeli malah tidak sesuai dengan apa yang ditampilkan dalam iklan tersebut. tidak boleh ada . Namun dengan berbagai modus dan kepentingan tidak jarang ditemukan iklan yang menggunakan kata-kata superlative (yang seharusnya bertentangan dengan nilai etika periklanan) seperti “terbaik”. Sayangnya peraturan ini kata belum terlalu ditegaskan di Indonesia melihat masih banyaknya iklan yang tidak memenuhi persyaratan ini. Di Indonesia. sehingga dapat dikatakan bahwa hal ini secara tidak langsung mengintervensi anak untuk membeli produk tersebut karena memiliki unsur persuasif yang cukup kuat. apalagi jika anak-anak yang dihadapkan pada situasi tersebut. Ada lagi regulasi lain yang melarang memperlihatkan lebih dari satu iklan untuk satu produk yang sama dalam waktu kurang dari setengah jam. Regulasi kedua adalah tidak boleh “berlebihan”. Sebenarnya aturan ini juga sudah diberlakukan di Indonesia. Selanjutnya ada pula pula regulasi yang secara tegas melarang menggunakan selebriti yang terkenal—termasuk karakter kartun—untuk mempromosikan atau meng-endorse suatu produk. Dengan kata lain. “terhebat”. orang dewasa saja ketika disuguhi dengan embel-embel “ter-“ tentu tertarik. misalnya iklan biskuit yang menampilkan seorang anak melompati beberapa orang seolah-olah anak tersebut menjadi sekuat macan. Peraturan ini mungkin diterapkan karena anak-anak sangat mudah untuk menjadikan orang terkenal sebagai role model mereka.

salah satu contohnya adalah hindari pemikiran rumit dan bertele-tele apalagi yang berlebihan. Hal penting selanjutnya adalah paparkan fakta terkait produk yang benar dan jangan terjebak dalam persaingan yang tidak sehat dengan rival bisnis. Dalam Etika Pariwara Indonesia dijelaskan bahwa iklan yang ditujukan kepada khalayak anak-anak tidak boleh menampilkan hal-hal yang dapat mengganggu atau merusak jasmani dan rohani mereka. hindari penggunaan kata-kata yang berlebihan karena seringkali tidak sesuai dengan etika karena hal yang berlebihan itu dapat dikatakan membohongi publik. magis. Salah satu contohnya adalah pambatasan konten iklan yang berlebihan. Sekali lagi ditekankan bahwa anak-anak masih begitu rentan dalam menerima informasi yang salah.Tema: Identitas Nasional kesan “cuci otak”. Iklan baru dapat ditayangkan jika telah mengantongi izin dari lembaga sensor film. Selanjutnya dijelaskan pula dalam Etika Pariwara Indonesia bahwa untuk iklan yang menggunakan peran anak-anak harus memenuhi syarat berikut: anak-anak tidak boleh . hindari penggunaan tema yang sifatnya fantasi. karena anak-anak akan langsung mencerna apa yang didengarnya. Walaupun di Indonesia telah ada Badan Pengawas Periklanan Indonesia tetapi tetap saja banyak iklan yang tidak sesuai dengan Etika Pariwara Indonesia (EPI). Lalu bagaimana strategi pengiklanan produk kepada anak-anak tanpa harus menyimpang dari peraturan EPI tersebut? Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam mempromosikan produk kepada anak-anak. hal ini sangat sering dijumpai dalam periklanan di Indonesia apalagi saat prime time acara kartun yang disponsori oleh salah satu produk. Selain itu. Jadi. Berkomunikasi dengan anak tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit apalagi bertele-tele. Hal ini perlu dihindari karena tema-tema tersebut dapat mempengaruhi pikiran anak-anak dan bertentangan dengan kehidupan nyata. Regulasi dan aturan yang diterapkan di luar negeri di atas ada beberapa yang menurut saya perlu diberlakukan dan diperketat pengawasannya di Indonesia. memanfaatkan kemudahpercayaan. misteri. Padahal. Mungkin hal ini dikarenakan peraturan EPI tersebut bukan merupakan undang-undang jadi tidak berkonsekuensi hukum sehingga kesannya hanya berupa imbauan. kekurangpengalaman. dalam mengiklankan produk anda sebaiknya gunakan fakta yang benar tanpa mengurangi kreativitas iklan tersebut. ketegangan atau kejutan. atau kepolosan mereka. Selain itu.

Tema: Identitas Nasional digunakan untuk mengiklankan produk yang tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak. salah satu contohnya adalah iklan wafer yang menampilkan seorang anak yang terus merengek secara berlebihan kepada ibunya yang hanya bisa diam saat dia diberikan wafer tersebut. sebagai contoh iklan biskuit yang saya sebutkan sebelumnya. Hal ini menurut saya penting karena jangan sampai dengan penggunaan pemeran anak-anak dalam iklan dengan target pasar orang dewasa tersebut menimbulkan salah persepsi bagi anak-anak yang mengira bahwa produk itu adalah produk untuk mereka. Peraturan lain menyebutkan iklan tidak boleh menampilkan anak-anak sebagai penganjur bagi penggunaan suatu produk yang bukan untuk anak-anak. iklan tidak boleh memperlihatkan anak-anak dalam adegan-adegan yang berbahaya. Hingga pada akhirnya. khususnya dalam aspek-aspek pendidikan dan kesehatan. menyesatkan atau tidak pantas dilakukan oleh anak-anak. Hal ini dapat mendorong anak-anak meniru perbuatan tersebut. Selanjutnya. tanpa didampingi orang dewasa. . Kita jangan sampai hanya memanfaatkan hal tersebut yang justru nantinya malah merugikan masa depan mereka. tetapi peraturan ini kadang masih sering dilanggar oleh iklan di Indonesia. misalnya adalah mainan yang perlu kontrol dari orang dewasa seperti mobil-mobilan yang menggunakan mesin. ketika kita mengiklankan produk sepatutnya Iklan yang ditujukan kepada anak-anak itu dianjurkan untuk ikut mendukung pertumbuhan dan pengembangan optimum atas kesejahteraan umum mereka. Selain itu. Dalam periklanan di Indonesia. Sama seperti aturan yang diterapkan di luar negeri. iklan tidak boleh menampilkan adegan yang mengeksploitasi daya rengek (pester power) anak-anak dengan maksud memaksa para orang tua untuk mengabulkan permintaan anak-anak mereka akan produk terkait. saya sempat menemukan iklan yang melanggar aturan ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful