tugas dan wewenang MPR diatur dalam UUD 1945 dan UU Nomor 27 Tahun 2009.

Ketentuan dalam UUD 1945 (Bab II Pasal 2 dan 3) Pasal 2 (1) Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan undangundang. (2) Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibu kota negara. (3) Segala putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat ditetapkan dengan suara yang terbanyak. Pasal 3 (1) Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan UndangUndang Dasar. (2) Majelis Permusyawaratan Rakyat melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden. (3) Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut UndangUndang Dasar. Ketentuan dalam UU Nomor 27 Tahun 2009 Pasal 4 MPR mempunyai tugas dan wewenang: a. mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar; b. melantik Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan hasil pemilihan umum dalam sidang Paripurna Majelis; c. memutuskan usul Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi untuk memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden dalam masa jabatannya setelah Presiden dan/atau Wakil Presiden diberi kesempatan untuk menyampaikan penjelasan untuk menyampaikan penjelasan dalam Sidang Paripurna Majelis; d. melantik Wakil Presiden menjadi Presiden apabila Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melaksanakan kewajibannya dalam masa jabatannya; e. memilih dan melantik Wakil Presiden dari dua calon yang diajukan Presiden apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden dalam masa jabatanya selambat-lambatnya dalam waktu enam puluh hari; f. memilih dan melantik Presiden dan Wakil Presiden apabila keduanya berhenti secara bersamaan dalam masa jabatannya, dari dua paket calon Presiden dan Wakil Presiden yang

kedaulatan rakyat. praktik ketatanegaraan tidak sesuai dengan jiwa Pembukaan UUD 1945. rumusan UUD 1945 yang memuat semangat penyelenggara negara belum cukup didukung oleh konstitusi. HAM. kesejahteraan sosial. serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. kesejahteraan sosial. Demikian diungkapkan AM. perubahan UUD 1945 mempunyai kesepakatan dasar diantaranya tidak mengubah Pembukaan UUD 1945. MPR Setelah Amandemen UUD 1945 9 November 2009 15:35 WIB Tujuan dari perubahan UUD 1945 adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara. Wakil Ketua MPR RI saat berdialog bersama M. Kepala Biro Hubungan Masyarakat MPR dan Mutamminul’ula. Penyebab kekuasaan yang sangat besar di tangan Presiden karena adanya pasal-pasal yang terlalu "luwes" sehingga dapat menimbulkan multitafsir. karena pengaturan lembaga Negara juga dilakukan oleh Presiden melalui pengajuan UU. Fatwa. eksistensi negara demokrasi dan negara hukum.diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang paket calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum sebelumnya sampai habis masa jabatanya. serta mempertegas sistem pemerintahan presidensiil. Kenyataannya. “ ungkap Fatwa. eksistensi negara demokrasi dan negara hukum. “Salah satu tuntutan reformasi tahun 1998 adalah dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945. kekuasaan tertinggi di tangan MPR RI (Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia) terlalu besar dan pada kenyataannya bukan di tangan rakyat. kedaulatan rakyat. anggota Tim Sosialisasi Putusan MPR RI di TVRI Jakarta. Akibatnya. Latar belakang tuntutan reformasi tersebut menginginkan adanya perubahan UUD 1945 antara lain karena pada masa Orde Baru. HAM. Acara yang disiarkan secara langsung pada akhir Maret 2009 dengan tema “MPR” diselenggarakan atas kerjasama TVRI Jakarta dengan Sekretariat Jenderal MPR RI. pembagian kekuasaan. Rizal. Tujuan dari perubahan UUD 1945 adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara. . pembagian kekuasaan. Namun. serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. dan tetap mempertahankan susunan kenegaraan kesatuan atau selanjutnya dikenal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

memutuskan usul DPR berdasarkan putusan (Mahkamah Konstitusi) untuk memberhentikan Presiden/Wakil Presiden dalam masa jabatannya. atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersama-sama. atau memilih Presiden dan Wakil Presiden apabila Presiden dan Wakil Presiden mangkat. Namun. Seperti yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 bahwa kedaulatan di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR. Sementara Mutamminul’ula menjelaskan seputar kedudukan MPR. perubahan UUD 1945 membawa implikasi terhadap kedudukan. sebelum ada perubahan UUD 1945. “Pada kenyataannya. salah satu kegiatan MPR adalah mensosialisasikan atau memasyarakatkan putusan-putusan MPR setelah terjadi perubahan. tugas dan wewenang MPR. sehingga kegiatan MPR sekarang hanya mengubah dan menetapkan UUD 1945. “Yang patut diketahui saat ini Ketetapan MPR (TAP MPR) tidak lagi menjadi bagian dari hierarkhi Peraturan Perundang-undangan. Selain itu. atau tidak dapat melaksanakan kewajibannya dalam masa jabatannya. Artinya. diberhentikan. Hal ini berimplikasi pada materi dan status hukum Ketetapan MPRS/MPR yang telah dihasilkan sejak tahun 1960 sampai tahun 2002. diberhentikan. dan memilih Presiden dan Wakil Presiden apabila keduanya berhenti secara bersamaan dalam masa jabatannya. melantik Wakil Presiden menjadi Presiden apabila Presiden mangkat. MPR juga tidak lagi memiliki kewenangan menetapkan GBHN dan tidak lagi mengeluarkan Ketetapan MPR (TAP MPR). MPR mempunyai tugas memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diajukan Presiden apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden dalam masa jabatannya. . kecuali berkenaan dengan menetapkan Wapres menjadi Presiden. berhenti. penjelasan UUD 1945 memuat hal-hal yang normatif yang akan dimasukkan ke dalam pasal-pasal (batang tubuh) dan perubahan tersebut dilakukan dengan cara “addendum”. kedudukan MPR berdasarkan UUD 1945 merupakan lembaga tertinggi negara dan sebagai pemegang dan pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat. Salah satu perubahan Pasal 1 ayat (2) yang semula berbunyi: Kedaulatan adalah di tangan rakyat. memilih Wapres apabila terjadi kekosongan Wapres. menurut UU Susduk yang berlaku. berhenti.Selain itu. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. ada banyak hal yang penting terjadi. Dan saat ini. melantik Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan hasil pemilihan umum. Setelah perubahan Pasal 1 ayat (2) itu kemudian berbunyi: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD”. Dahulu. “ jelas Mutammimul‘Ula. kekuasaan dilakukan sepenuhnya oleh MPR sehingga tidak terjadi check and balances. Setelah perbuhan UUD. seiring dengan perubahan UUD 1945. Ternyata perubahan tersebut membawa implikasi terhadap kedudukan.

Dalam rapat Panitia Perancang Undang-Undang Dasar. MPR bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibukota negara. Konsepsi Majelis Permusyawaratan Rakyat inilah yang akhirnya ditetapkan dalam Sidang PPKI pada acara pengesahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (pra Amandemen). Soepomo menyampaikan bahwa ‘’Badan Permusyawaratan’’ berubah menjadi ‘’Majelis Permusyawaratan Rakyat’’ dengan anggapan bahwa majelis ini merupakan penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. . Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (pra Amandemen) tersebut mengatur berbagai macam lembaga negara dari Lembaga Tertinggi Negara hingga Lembaga Tinggi Negara. BPK. “ jelasnya. dan MK. DPD. Muhammad Yamin juga mengemukakan perlunya prinsip kerakyatan dalam konsepsi penyelenggaraan negara. dimana setiap anggota keluarga dapat memberikan pendapatnya. DPR. dan wewenang MPR. MPR berkedudukan sebagai lembaga negara yang setara dengan lembaga negara lainnya seperti Lembaga Kepresidenan. pada pidatonya tanggal 01 Juni 1945. politik. bangsa Indonesia memulai sejarahnya sebagai sebuah bangsa yang masih muda dalam menyusun pemerintahan. # Majelis Permusyawaratan Rakyat (disingkat MPR) adalah lembaga legislatif bikameral yang merupakan salah satu lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. yang mana anggotanya terdiri atas seluruh wakil rakyat. Konsepsi penyelenggaraan negara yang demokratis oleh lembaga-lembaga negara tersebut sebagai perwujudan dari sila keempat yang mengedepankan prinsip demokrasi perwakilan dituangkan secara utuh didalamnya. MPR merupakan lembaga tertinggi negara. Ide ini didasari oleh prinsip kekeluargaan. Sebelum Reformasi. Landasan berpijaknya adalah ideologi Pancasila yang diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri beberapa minggu sebelumnya dari penggalian serta perkembangan budaya masyarakat Indonesia dan sebuah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pra Amandemen yang baru ditetapkan keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. seluruh wakil daerah. dan administrasi negaranya. Begitu pula dengan Soepomo yang mengutarakan idenya akan Indonesia merdeka dengan prinsip musyawarah dengan istilah Badan Permusyawaratan.tugas. untuk pertama kalinya dilontarkan oleh Bung Karno. Kehendak untuk mengejawantahkan aspirasi rakyat dalam sistem perwakilan. Kini. Sejarah Sejak 17 Agustus 1945. MA. dan seluruh wakil golongan.

tanggal 5 Juli 1959. Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang berisikan : • • • Pembubaran Konstituante. Konstituante yang semula diharapkan dapat menetapkan Undang-Undang Dasar ternyata menemui jalan buntu. tugas. Pada tanggal 15 Desember 1955 diselenggarakan pemilihan umum untuk memilih anggota Konstituante yang diserahi tugas membuat Undang-Undang Dasar. Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). pada awal berlakunya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (pra Amandemen) dimulailah lembaran pertama sejarah MPR. Namun.Masa Orde Lama (1945-1965) Pada awal masa Orde Lama. Untuk melaksanakan Pembentukan MPRS sebagaimana diperintahkan oleh Dekrit Presiden 5 Juli 1959. segala kekuasaannya dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional. . pada tanggal 22 April 1959 Pemerintah menganjurkan untuk kembali ke UUD 1945. Dengan demikian. Hal ini telah diantispasi oleh para pendiri bangsa dengan Pasal IV Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (pra Amandemen) menyebutkan. yakni terbentuknya KNIP sebagai embrio MPR. Jumlah Anggota MPR ditetapkan oleh Presiden. Sejak diterbitkannya Maklumat Wakil Presiden Nomor X. lembaga MPR tidak dikenal dalam konfigurasi ketatanegaraan Republik Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Pertimbangan Agung dibentuk menurut Undang-Undang Dasar ini. Di tengah perdebatan yang tak berujung pangkal. yakni KNIP diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara. tetapi anjuran ini pun tidak mencapai kesepakatan diantara anggota Konstituante. dan wewenang KNIP. Yang dimaksud dengan daerah dan golongan-golongan ialah Daerah Swatantra Tingkat I dan Golongan Karya. MPR belum dapat dibentuk secara utuh karena gentingnya situasi saait itu. Sejak saat itu mulailah lembaran baru dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia. terjadi perubahan-perubahan yang mendasar atas kedudukan. Sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat. Dalam suasana yang tidak menguntungkan itu. Presiden mengeluarkan Penetapan Presiden Nomor 2 Tahun 1959 yang mengatur Pembentukan MPRS sebagai berikut : • • • MPRS terdiri atas Anggota DPR Gotong Royong ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan. Pada masa berlakunya Konstitusi Republik Indonesia Serikat (1949-1950) dan UndangUndang Dasar Sementara (1950-1959). Berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUD Sementara 1950.

dan 118 Utusan Daerah. MPRS mengadakan Sidang Istimewa untuk memberhentikan Presiden Soekarno dari jabatan Presiden/Mandataris MPRS dan memilih/mengangkat Letnan Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden/Mandataris sesuai Pasal 3 Ketetapan MPRS Nomor IX/MPRS/1966. politis/ideologis membahayakan keselamatan bangsa. Pada tanggal 30 September 1965 terjadi peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Rakyat yang merasa telah dikhianati oleh peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI mengharapkan kejelasan pertangungjawaban Presiden Soekarno mengenai pemberontakan G-30-S/PKI berikut epilognya serta kemunduran ekonomi dan akhlak.• • Anggota tambahan MPRS diangkat oleh Presiden dan mengangkat sumpah menurut agamanya di hadapan Presiden atau Ketua MPRS yang dikuasakan oleh Presiden. Dalam kaitan itu. dan ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1966 bahwa sebelum terbentuknya Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipilih oleh rakyat. Pimpinan MPRS berkesimpulan bahwa Presiden Soekarno telah alpa dalam memenuhi kewajiban Konstitusional. Walaupun kemudian Presiden Seokarno memenuhi permintaan MPRS dalam suratnya tertangal 10 januari 1967 yang diberi nama “Pelengkap Nawaksara”. tetapi ternyata tidak juga memenuhi harapan rakyat. setelah terjadi pemberontakan G-30-S/PKI. mutlak diperlukan adanya koreksi total atas seluruh kebijaksanaan yang telah diambil sebelumnya dalam kehidupan kenegaraan. MPRS yang pembentukannya didasarkan pada Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan selanjutnya diatur dengan Penetapan Presiden Nomor 2 Tahun 1959. Jumlah anggota MPRS pada waktu dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 199 Tahun 1960 berjumlah 616 orang yang terdiri dari 257 Anggota DPR-GR. negara. dan Pancasila”. pemeriksaan. Penetapan Presiden tersebut dipandang tidak memadai lagi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka diadakan langkah pemurnian keanggotaan MPRS dari unsur PKI. Sementara itu DPR-GR dalam Resolusi dan Memorandumnya tertanggal 9 Februari 1967 dalam menilai “Nawaksara” beserta pelengkapnya berpendapat bahwa “Kepemimpinan Presiden Soekarno secara konstitusional. 241 Utusan Golongan Karya. . dan penuntutan secara hukum. Tetapi. maka MPRS menjalankan tugas dan wewenangnya sesuai dengan UUD 1945 sampai MPR hasil Pemilihan Umum terbentuk. Sebagai akibat logis dari peristiwa pengkhianatan G-30-S/PKI. Ketidakpuasan MPRS diwujudkan dalam Keputusan MPRS Nomor 5 Tahun 1966 yang meminta Presiden Soekarno melengkapi pidato pertanggungjawabannya. Setalah membahas surat Presiden tersebut. MPRS mempunyai seorang Ketua dan beberapa Wakil Ketua yang diangkat oleh Presiden. pidato pertanggungjawaban Presiden Soerkarno yang diberi judul ”Nawaksara” ternyata tidak memuaskan MPRS sebagai pemberi mandat. serta memerintahkan Badan Kehakiman yang berwenang untuk mengadakan pengamatan.

Setelah menerima usul pengubahan.Masa Reformasi (1999-sekarang) Bergulirnya reformasi yang menghasilkan perubahan konstitusi telah mendorong para pengambil keputusan untuk tidak menempatkan MPR dalam posisi sebagai lembaga tertinggi. dan wewenang MPR secara konstitusional diatur dalam Pasal 3 UUD 1945. Dalam pemeriksaan. Tugas dan wewenang Mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar MPR berwenang mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. tetapi melalui cara-cara dan oleh berbagai lembaga negara yang ditentukan oleh UUD 1945. anggota MPR tidak dapat mengusulkan pengubahan terhadap Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. MPR menjadi lembaga negara yang sejajar kedudukannya dengan lembaga-lembaga negara lainnya. pimpinan MPR mengadakan rapat . yaitu MPR. Dalam mengubah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pimpinan MPR memeriksa kelengkapan persyaratannya. yang sebelum maupun setelah perubahan salah satunya mempunyai tugas mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar sebagai hukum dasar negara yang mengatur hal-hal penting dan mendasar. Oleh karena itu dalam perkembangan sejarahnya MPR dan konstitusi yaitu Undang-Undang Dasar mempunyai keterkaitan yang erat seiring dengan perkembangan ketatanegaraan Indonesia.” . Perubahan Undang-Undang Dasar telah mendorong penataan ulang posisi lembaga-lembaga negara terutama mengubah kedudukan. fungsi dan kewenangan MPR yang dianggap tidak selaras dengan pelaksanaan prinsip demokrasi dan kedaulatan rakyat sehingga sistem ketatanegaraan dapat berjalan optimal. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. bukan lagi penjelmaan seluruh rakyat Indonesia yang melaksanakan kedaulatan rakyat. Usul pengubahan pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diajukan oleh sekurangkurangnya 1/3 (satu pertiga) dari jumlah anggota MPR. Setelah reformasi. Setiap usul pengubahan diajukan secara tertulis dengan menunjukkan secara jelas pasal yang diusulkan diubah beserta alasannya. yaitu jumlah pengusul dan pasal yang diusulkan diubah yang disertai alasan pengubahan yang paling lama dilakukan selama 30 (tiga puluh) hari sejak usul diterima pimpinan MPR. setelah perubahan Undang-Undang Dasar diubah menjadi “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Pasal 1 ayat (2) yang semula berbunyi: “Kedaulatan adalah di tangan rakyat. Tugas. Usul pengubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diajukan kepada pimpinan MPR.” Dengan demikian pelaksanaan kedaulatan rakyat tidak lagi dijalankan sepenuhnya oleh sebuah lembaga negara.

Pasal 6A ayat (1). pimpinan MPR wajib menyelenggarakan sidang paripurna MPR paling lambat 60 (enam puluh) hari. Jika usul pengubahan tidak memenuhi kelengkapan persyaratan. jika pengubahan dinyatakan oleh pimpinan MPR memenuhi kelengkapan persyaratan. . Perubahan kewenangan tersebut diputuskan dalam Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ke-7 (lanjutan 2) tanggal 09 November 2001. namun sejak reformasi bergulir. kewenangan itu dicabut sendiri oleh MPR. tindak pidana berat lainnya. MPR wajib menyelenggarakan sidang paripurna MPR untuk memutuskan usul DPR mengenai pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden pada masa jabatannya paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak MPR menerima usul. Pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden diusulkan oleh DPR. penyuapan. Memutuskan usul DPR untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya MPR hanya dapat memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebelum reformasi. Keputusan MPR terhadap usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden diambil dalam sidang paripurna MPR yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota yang hadir. Usul DPR harus dilengkapi dengan putusan Mahkamah Konstitusi bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum baik berupa pengkhianatan terhadap negara. dengan persetujuan sekurang-kurangnya 50% (lima puluh persen) dari jumlah anggota ditambah 1 (satu) anggota. pimpinan MPR memberitahukan penolakan usul pengubahan secara tertulis kepada pihak pengusul beserta alasannya. korupsi. Anggota MPR menerima salinan usul pengubahan yang telah memenuhi kelengkapan persyaratan paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum dilaksanakan sidang paripurna MPR. MPR yang merupakan lembaga tertinggi negara memiliki kewenangan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dengan suara terbanyak. maupun perbuatan tercela dan/atau terbukti bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Melantik Presiden dan Wakil Presiden hasil pemilihan umum MPR melantik Presiden dan Wakil Presiden hasil pemilihan umum dalam sidang paripurna MPR.dengan pimpinan fraksi dan pimpinan Kelompok Anggota MPR untuk membahas kelengkapan persyaratan. Namun. yang memutuskan bahwa Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat. Sidang paripurna MPR dapat memutuskan pengubahan pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Jumlah anggota MPR periode 2009–2014 adalah 692 orang yang terdiri atas 560 Anggota DPR dan 132 anggota DPD. MPR segera menyelenggarakan sidang paripurna MPR untuk melantik Wakil Presiden menjadi Presiden. Keanggotaan MPR diresmikan dengan keputusan Presiden. MPR menyelenggarakan sidang paripurna dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari untuk memilih Wakil Presiden dari 2 (dua) calon yang diusulkan oleh Presiden apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden dalam masa jabatannya. berhenti. Masa jabatan anggota MPR adalah 5 tahun. Dalam hal DPR tidak dapat mengadakan rapat. Dalam hal Presiden dan Wakil Presiden mangkat. Menteri Dalam Negeri. ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai berakhir masa jabatannya. utusan daerah. Memilih Wakil Presiden Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden. diberhentikan. menurut aturan yang ditetapkan undang-undang. diberhentikan. Keanggotaan MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan umum. MPR menyelenggarakan sidang paripurna paling lambat 30 (tiga puluh) hari untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Presiden bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguhsungguh di hadapan rapat paripurna DPR. atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya. . berhenti. Jika terjadi kekosongan jabatan Presiden. berhenti. dan Menteri Pertahanan secara bersama-sama. diberhentikan.Melantik Wakil Presiden menjadi Presiden Jika Presiden mangkat. Memilih Presiden dan Wakil Presiden Apabila Presiden dan Wakil Presiden mangkat. dan utusan golongan. Sebelum reformasi. dan berakhir bersamaan pada saat anggota MPR yang baru mengucapkan sumpah/janji. MPR terdiri atas anggota DPR. dari 2 (dua) pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum sebelumnya.Presiden bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan pimpinan MPR dengan disaksikan oleh pimpinan Mahkamah Agung. sampai berakhir masa jabatannya. pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Luar Negeri. atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan. Dalam hal MPR tidak dapat mengadakan sidang. atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan.

Membela diri. dan golongan. Memilih dan dipilih. Menentukan sikap dan pilihan dalam pengambilan keputusan. Kewajiban anggota • • • • • Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. Kelompok Anggota dibentuk untuk meningkatkan optimalisasi dan efektivitas kinerja MPR dan anggota dalam melaksanakan tugasnya sebagai wakil daerah. Hak dan kewajiban anggota Hak anggota • • • • • • • Mengajukan usul pengubahan pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengaturan internal fraksi sepenuhnya menjadi urusan fraksi masing-masing. kelompok. Keuangan dan administratif. Mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kelompok anggota Kelompok Anggota adalah pengelompokan anggota MPR yang berasal dari seluruh anggota DPD. Imunitas. Fraksi dibentuk untuk mengoptimalkan kinerja MPR dan anggota dalam melaksanakan tugasnya sebagai wakil rakyat. Mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. Protokoler. Fraksi dan kelompok anggota Fraksi Fraksi adalah pengelompokan anggota MPR yang mencerminkan konfigurasi partai politik.Anggota MPR sebelum memangku jabatannya mengucapkan sumpah/janji secara bersamasama yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung dalam sidang paripurna MPR. Melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati peraturan perundang-undangan. Pengaturan internal Kelompok Anggota sepenuhnya menjadi urusan Kelompok Anggota. Setiap anggota MPR yang berasal dari anggota DPR harus menjadi anggota salah satu fraksi. Melaksanakan peranan sebagai wakil rakyat dan wakil daerah. Fraksi dapat dibentuk oleh partai politik yang memenuhi ambang batas perolehan suara dalam penentuan perolehan kursi DPR. mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pimpinan MPR. Anggota MPR yang berhalangan mengucapkan sumpah/janji secara bersama-sama. .

Pimpinan dan Panitia Ad Hoc. Sidang MPR sah apabila dihadiri: • • • sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah Anggota MPR untuk memutus usul DPR untuk memberhentikan Presiden/Wakil Presiden sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Anggota MPR untuk mengubah dan menetapkan UUD sekurang-kurangnya 50%+1 dari jumlah Anggota MPR sidang-sidang lainnya Putusan MPR sah apabila disetujui: • • sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Anggota MPR yang hadir untuk memutus usul DPR untuk memberhentikan Presiden/Wakil Presiden sekurang-kurangnya 50%+1 dari seluruh jumlah Anggota MPR untuk memutus perkara lainnya. yang ditetapkan dalam sidang paripurna MPR. Pimpinan Pimpinan MPR terdiri atas 1 (satu) orang ketua yang berasal dari anggota DPR dan 4 (empat) orang wakil ketua yang terdiri atas 2 (dua) orang wakil ketua berasal dari anggota DPR dan 2 (dua) orang wakil ketua berasal dari anggota DPD. terlebih dahulu diupayakan pengambilan putusan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat . Sebelum mengambil putusan dengan suara yang terbanyak. Panitia Ad Hoc Panitia ad hoc MPR terdiri atas pimpinan MPR dan paling sedikit 5% (lima persen) dari jumlah anggota dan paling banyak 10% (sepuluh persen) dari jumlah anggota yang susunannya mencerminkan unsur DPR dan unsur DPD secara proporsional dari setiap fraksi dan Kelompok Anggota MPR. Sidang MPR bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibukota negara.Alat kelengkapan Alat kelengkapan MPR terdiri atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful