You are on page 1of 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, serta bimbingan dan petunjuk-Nyalah makalah Ini dapat terselesaikan tepat waktu . Penulisan makalah ini dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi tugas matakuliah Obstetri yang berjudul “Kehamilan dengan Asthma Bronchale”. Penulis mencoba mengerahkan segenap kemampuan untuk menyelesaikan makalah ini . Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan penulisan yang akan datang . Dalam menyelesaikan makalah ini penulis banyak mengalami kesulitan, namun dengan adanya bimbingan dan Bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan . Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini berguna dan bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya .

Medan,

Maret 2012

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Asma megenai sekitar 3 sampai 4 persen populasi umum. Angka kematian akibat asma berkisar dari 1 sampai 3 persen, dan penyakit ini menyebabkan hampir 5000 kematian setiap tahun di Amerika Serikat. Juga terdapat sekuele jangka panjang yang mencakup berkurangnya fungsi ventilasi (Lange dkk., 1998). National Asthma Education Program (1993) memperkirakan bahwa 1 smpai 4 persen kehamilan memiliki penyulit asma. Status asmatikus merupakan penyulit pada sekitar 0,2 persen kehamilan (Mabie dkk., 1992). Pada umumnya, penyakit paru-paru tidak mempengaruhi kehamilan dan persalinan, nifas, kecuali penyakitnya tidak terkontrol, berat, dam luas yang disertai sesak nafas dan hipoxia. Walaupun kehamilan menyebabkan sedikit perubahan pada sistem pernapasan, karena uterus yang membesar dapat mendorong diafragma dan paru-paru keatas serta sisa udara dalam paruparu kurang, namun penyakit tersebut tidak selalu menjadi lebih parah. Asma bronchial sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. Pengaruh penyakit ini terhadap kehamilan, persalinan, dan nifas serta sebaliknya adalah bervariasi. Asthma bronchial sering merupakan penyakit keturunan. Diagnosis biasanya mudah didapat, karena wanita telah sering berobat kepada dokter atau pengobatan non medis. 1.2 Tujuan A. Tujuan Umum Memenuhi Tugas mata kuliah Askeb V sebagai salah satu bagian dari kegiatan belajar mengajar. B. Tujuan Khusus Tujuan dari penulisan makalah ini untuk mengetahui apa itu Penyakit Asthma Bronchiale dan dampak apa saja yang dapat ditimbulkan oleh penyakit tersebut terhadap ibu hamil. Selain itu juga untuk mengetahui pencegahan dan pengobatan dari penyakit Asthma Bronchiale .

obstruksi saluran napas yang disebabkan oleh adanya sekret yang kental. pada akhirnya menimbulkan hipoksemia. Sedangkan . Gibbs dkk (1992): mendefinisikan sebagai suatu gangguan inflamasi kronik pada saluran napas yang banyak diperankan oleh terutama sel mast dan eosinofil. Fase akut disebabkan oleh mediator primer yang dilepas sel mast. infeksi atau debu industri. Sekarang telah diketahui adanya fase akut dini dan fase lambat pada asma bronkial. pneumotoraks dan pneumomediastinum. Pada asma bronkial sering timbul komplikasi yang menyulitkan pengobatan asma. Komplikasi akut yang sering timbul adalah henti pernapasan dan henti jantung. Fase lambat disebabkan mediator sekunder yang dilepas oleh berbagai sel inflamasi. yang bervariasi dari ringan sampai berat. Manifestasi kelainan yang utama adalah obstruksi saluran napas dalam berbagai tingkatan. bising mengi dan batuk. Komplikasi yang timbul dapat diklasifikasi sebagai komplikasi akut. Terjadinya bronkokonstriksi pada asma adalah kompleks. Hal tersebut dapat disebabkan oleh allergen. dan komplikasi kronik (3).1 Pengertian Asthma Bronchial The American Thoracic Society (1962): adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakhea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah. baik secara spontan maupun sebagai hasil suatu pengobatan. terutama eosinofil dan makrofag. hiperventilasi. Pada komplikasi subakt. hiperkapnia. Asthma Bronchiale Asthma bronchiale adalah suatu sindrom klinik yang ditandai dengan peningkatan kepekaan bronkus (hiperreaktivitas bronkus) terhadap berbagai rangsangan (1). dan pada keadaan yang berat dapat timbul kematian (2). Sedangkan gejala utama asma bronkial adalah sesak napas paroksimal. komplikasi subakut. Teori asma bronkial yang dianut sekarang ialah bahwa asma bronchial terjadi atas dasar adanya saluran yang hiperreaktif.BAB II PEMBAHASAN 2.

komplikasi kronik. termasuk perubahan fungsi paru. disorientasi. Produksi sekret yang terus bertambah. Hiperkapnia dan asidosis menimbulkan gejala gelisah. Bila penderita tidak ditangani secara efektif dengan ventilator mekanik. Pada penderita asma bronkial. serta perubahan kompetensi imun. sehingga bising mengi tidak terdengar (silent chest). yang menggangu proses ventilasi-perfusi. somnolens dan koma. Misalnya pneumonia . Hiperkapnia yang berat selalu disertai dengan takipneu. Komplikasi akut Komplikasi akut timbul dengan sangat cepat. slow reacting subtance of anaphylaxis (SRS-A) dan prostaglandin. Bila status asmatikus berlanjut. Bila keadaan ini terus berlanjut. Salah satu komplikasi asma bronkial adalah infeksi sekunder. Hal tersebut menunjukkan bahwa penderita telah masuk dalam keadaan darurat gawat napas. serta jantung. sering timbul apneu mendadak setelah melakukan aktivitas fisik. penurunan kesadaran dari apatis sampai koma. Komplikasi asma bronkial lainnya adalah timbulnya hiperkapnia dan asidosis respirasi. sehingga akan memperberat obstruksi semula. dapat terjadi status asmatikus. adalah penyakit yang kronik sehingga diperlukan suatu penelitian longitudinal untuk melihat prognosis yang timbul. . dan akhirnya keadaan darurat gagal napas. Perubahan-perubahan tersebut mungkin disebabkan oleh penglepasan yang cepat dan dalamjumlah besar amin-amin vasoaktif seperti histamin. Penderita dapat mengalami hipoksenia dan kehilangan kesadaran sampai koma. Frekuensi denyut jantung atau nadi lebih dari 130 per menit menunjukkan serangan asma bronkial yang berat. maka penderita dapat mengalami aritmia jantung atau henti jantung sampai kematian. dapat ditimbulkan oleh adanya penyakit paru lain. serta gagalnya mekanisme mucociliary clearance akan menyebabkan gejala obstruksi tersebut makin berat. berupa perubahan-perubahan pada otot polos bronkus. Asma bronkial. Bila obstruksi saluran napas hebat sekali maka kecepatan arus udara menjadi sangat berkurang. permeabilitas pembuluh darah. Komplikasi sub akut Komplikasi sub akut terutama disebabkan oleh sekret kental yang menyumbat saluran napas. kelelahan menghebat.yang kemudian dapat menimbulkan edema paru. Pada sistem kardiovaskular terjadi takikardia. dapat terjadi hiperkapnia. dengan akibat hipoksemia serta takipneu.

Perubahan-perubahan ini diperlukan untuk mencukupi peningkatan kebutuhan metabolik dan sirkulasi untuk pertumbuhan janin. Dalam golongan penyakit ini mungkin saja sudah ada komponen bronkitis atau emfisema. Perubahan-perubahan ini menyebabkan terjadinya perubahan pada kimia dan gas darah. Dari faktor mekanis. sebesar 20%. walaupun dalam tingkatan yang berbeda. namun penyakit dasarnya adalah asma bronkial. Hal ini mungkin disebabkan oleh kelainan struktur paru. Selama kehamilan kapasitas vital pernapasan tetap sama dengan kapasitas sebelum hamil yaitu 3200 cc. fungsi paru normal. plasenta dan uterus. Pada penelitian takizawa dan kawan-kawan serta Dunnill dan kawan-kawan ditemukan adanya penambahan ukuran otot polos bronkus serta kelenjar mukosa bronkus. sedangkan dalam keadaan serangan terdapat kelainan fungsi paru. Karena meningkatnya ventilasi maka terjadi penurunan pCO2 menjadi 30 mm Hg. SISTEM PERNAFASAN SELAMA KEHAMILAN Selama kehamilan terjadi perubahan fisiologi sistem pernafasan yang disebabkan oleh perubahan hormonal dan faktor mekanik. Peningkatan volume tidal ini diduga disebabkan oleh efek progesteron terhadap resistensi saluran nafas dan dengan meningkatkan sensitifitas pusat pernapasan terhadap karbondioksida. Selama kehamilan normal terjadi penurunan resistensi saluran napas sebesar 50%. Woolcock dan Read menemukan hampir 50% penderita asma kronik disertai dengan hiperinflasi paru yang persisten. Pada periode tanpa gejala. akan tetapi terjadi peningkatan volume tidal dari 450 cc menjadi 600 cc. . sedangkan pO2 tetap berkisar dari 90-106 mmHg. Pada asma menahun selalu terdapat onstruksi jalan napas. sebagai penurunan pCO2 akan terjadi mekanisme sekunder ginjal untuk mengurangi plasma bikarbonat menjadi 18-22 mEq/L.Komplikasi kronik Pada asma kronik. Penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) jenis asma menahun merupakan salah satu komplikasi asma bronkial. sehingga pH darah tidak mengalami perubahan. serangan timbul berulang-ulang diselingi dengan periode tanpa gejala. terjadinya peningkatan diafragma terutama setelah pertengahan kedua kehamilan akibat membesarnya janin. yang merupakan volume udara yang tidak digunakan dalam paru. menyebabkan turunnya kapasitas residu fungsional. yang menyebabkan terjadinya peningkatan ventilasi permenit selama kehamilan antara 19-50 %.

Dengan demikian ada derajat asma : 1. ekspirasi memanjang. Tingkat ketiga : penderita tidak ada keluhan tetapi pada pemeriksaan fisik maupun maupun fungsi paru menunjukkan tanda-tanda obstruksi jalan nafas.5 selama kehamilan. Tingkat pertama : secara klinis normal. 3. batuk dan nafas berbunyi. konsumsi O2 dapat meningkat 20-25 %.5 – 103. sesak. serta bisa juga disertai nyeri dada. dan pulsus paradoksus. Laju basal metabolisme meningkat selama kehamilan seperti terbukti oleh peningkatan konsumsi oksigen. Perubahan fisik ini disebabkan karena elevasi diafragma sekitar 4 cm dan peningkatan diameter tranversal dada maksimal sebesar 2 cm.Secara anatomi terjadi peningkatan sudut subkostal dari 68. 2. Tingkat keempat : penderita mengeluh sesak nafas. . sebagai konsekuensi fetal distress dapat terjadi. kemampuan untuk meningkatkan konsumsi oksigen terbatas dan mungkin tidak cukup untuk mendukung partus normal. Gejala klinik yang klasik berupa batuk. 4. Bila fungsi paru terganggu karena penyakit paru. dispnea. 2. ortopnea. sianosis. takipnea.2 Gambaran klinis Asthma Bronchial Kriteria diagnostik asma bronkiale : Batuk.Pada pemeriksaan fisik maupun spirometri akan dijumpai tanda-tanda obstruksi jalan napas. Adanya perubahan-perubahan ini menyebabkan perubahan pola pernapasan dari pernapasan abdominal menjadi torakal yang juga memberikan pengaruh untuk memenuhi peningkatan konsumsi oksigen maternal selama kehamilan. dan setelah itu penderita kelihatan sembuh secara klinis. yang mana penderita tidak memberikan respon terhadap terapi (obat agonis beta dan teofilin). Selama melahirkan. kesukaran bicara. sesak nafas. Serangan asma umumnya berlangsung singkat dan akan berakhir dalam beberapa menit sampai jam. tetapi asma timbul jika ada faktor pencetus. penggunaan obat bantu pernapasan. hal ini disebut status asmatikus. hiperventilasi. takikardi persisten. Pada sebagian kecil kasus terjadi keadaan yang berat. Disini banyak ditemukan pada penderita yang baru sembuh dari serangan asma. wheezing. dan mengi (wheezing). Tingkat kedua : penderita asma tidak mengeluh dan pada pemeriksaan fisik tanpa kelainan tetapi fungsi parunya menunjukkan obstruksi jalan nafas.

5. terutama menjelang persalinan aterm.dengan menurunkan klirens metabolik glukokortikoid sehingga terjadi peningkatan kadar kortisol. dan terdapat data-data yang menunjukkan bahwa peningkatan ini menyebabkan menurunnya kapasitas difusi pada jalinan kapiler karena meningkatnya jumlah sekresi asam mukopolisakarida perikapiler. Semua tipe prostaglandin meningkat dalam serum maternal selama kehamilan. yaitu suatu keadaan darurat medik berupa serangan akut asma yang berat. demikian pula kadar total kortisol plasma. Perubahan-perubahan ini akan memberikan pengaruh terhadap fungsi paru. Hal ini mungkin disebabkan terjadinya kompetisi pada reseptor glukoortikoid oleh progesteron. Selama kehamilan kadar estrogen meningkat. PENGARUH PERUBAHAN HORMONAL SELAMA KEHAMILAN Keadaan hormonal selama kehamilan sangat berbeda dengan keadaan tidak hamil dan mengalami perubahan selama perjalanan kehamilan. bersifat refrakter terhadap pengobatan yang biasa dipakai. hal ini tidak selalu memberikan pengaruh buruk pada penderita asma selama persalinan. yang menyebabkan terjadinya hiperventilasi ringan. Estrogen juga mempotensiasi relaksasi bronkial yang diinduksi oleh isoproterenol. Tampaknya beberapa wanita hamil refrakter terhadap kortisol meskipun terjadi peningkatan kadar dalam serum 2-3 kali lipat. akan tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Estrogen memberikan pengaruh terhadap asma selama kehamilan. Lebih lanjut dapat dilihat adanya efek relaksasi otot polos. Tingkat kelima : adalah status asmatikus. Sebagai respon terhadap stimulus ini maka plasenta menghasilkan histaminase (diaminoksidase) dalam jumlah besar . yang bisa disebut sebagai dispnea selama kehamilan. Kadar kortisol bebas plasma meningkat selama kehamilan. dalam serum sebesar 10%30%. Progesteron tampaknya memberikan pengaruh awal dengan meningkatkan sensitifitas terhadap CO2. Meskipun dijumpai adanya peningkatan kadar matabolit prostalandin PGF 2x yang merupakan suatu bronkokonstriktor kuat. deoksikortikosteron dan aldosteron yang semuanya meningkat selama kehamilan. Pada jaringan janin ditemukan histamin dalam konsentrasi tinggi. masih diperdebatkan dengan adanya berbagai temuan klinis yang terbuka diperdebatkan. Peningkatan kadar kortisol ini seharusnya memberikan perbaikan terhadap keadaan penderita asma. Pengaruh total progesteron selama kehamilan karena peningkatannya yang mencapai 50-100 kali dari keadaan tidak hamil.

Kegiatan jasmani (exercises induced ashtma) c. Seiring dengan bertambah parahnya penyempitan jalan napas. Infeksi saluran napas terutama yang disebabkan oleh virus. Penderita ini sangat jarang jatuh ke dalam status asmatikus dan dalam pengobatannya sangat jarang memerlukan kortikosteroid. Scoggin membagi perjalanan klinis asma sebagai berikut : 1.mencapai 1000 kali lipat dibandingkan wanita yang tidak hamil. Asma akut intermiten : Diluar serangan. Obat-obat (drug induced asthma) e. Stadium-stadium klinis asma diringkaskan pada Tabel 46-3. b. hipoksemia berat. Penelitian dewasa ini belum membuktikan perubahan biokkimiawi ini dengan pengaruh klinik yang ditimbulkannya. seperti tercermin oleh normalnya tekanan oksigen arteri dan berkurangnya tekanan karbon dioksida sehingga terjadi alkalosis respiratorik. 2. Perubahan oksigenansi selanjutnya merupakan cerminan dari ketidaksesuaian ventilasi-perfusi karena penyempitan jalan napas tidak merata. hal ini mungkin hanya dijumpai pada awal penyakit karena tekanan CO2 arteri kembali ke kisaran normal. mengi. Akibat fungsional dari bronkospasme akut dalah obstruksi jalan napas dan berkurangnya aliran udara. Pada obstruksi yang parah. Pada penyakit ringan.3 Perjalanan Penyakit Asthma Bronchiale Secara klinis. Akhirnya. Faktor-faktor yang mencetuskan serangan sering berupa : a. Karena adanya hiperventilasi. ventilasi sedemikian terganggu karena kelelahan otot pernapasan sehingga terjadi retensi CO2 awal. Pemeriksaan fungsi paru tanpa provokasi tetap normal. dan kematian. Tidak jelas . Usaha bernapas meningkat secara progresif dan pasien mengeluh dada sesak. atau kehabisan napas. asma merupakan suatu spektrum penyakit yang luas yang berkisar dari mengi ringan sampai bronkokonstriksi berat yang dapat menyebabkan gagal napas. Lingkungan pekerjaan (occupational asthma) d. tidak ada gejala sama sekali. terjadi gagal napas napas yang ditandai dengan hiperkapnia dan asidemia. pada obstruksi yang sudah kritis. hipoksia pada awalnya dikompensasi dengan baik oleh hiperventilasi. gangguan ventilasi-perfusi meningkat sehingga terjadi hipoksemia arteri.

Kapasitas residu fungsional yang lebih kecil serta meningkatnya pirau menyebabkan hipoksia dan hipoksemia lebih mudah terjadi. 3. 2. Zat-zat iritan industri misalnya deterjen untuk mencuci pakaian. Perubahan pada suhu atau kelembapan lingkungan Olahraga dan aktivitas fisik (exercise) Perasaan khawatir. 2. pati atau tepung biji-bijian yang mengeluarkan debu 11. Asma kronik persisten (asma kronik): Pada asma kronik selalu ditemukan gejala-gejala obstruksi jalan napas. Obat yang menyebabkan asma atau membuat asma kambuh kembali 1. spora jamur. 3.2. Reaksi hipersensitivitas atau anafilaksis terhadap obat Preparat penyekat beta misalnya dalam bentuk obat antihipertensi atau obat mata untuk glaukoma . Walaupun perubahan-perubahan ini umumnya reversible dan ditoleransi baik pada individu sehat yang tidak hamil. 2. Bila serangan asma akut tidak dapat diatasi dengan obat-obat adrenergik beta dan teofilin disebut status asmatikus. 9. sehingga diperlukan pengobatan yang terus menerus. tungau debu rumah. Asma akut dan status asmatikus: Serangan asma dapat demikian beratnya sehingga penderita segera mencari pertolongan. Hal tersebut disebabkan oleh karena saluran nafas penderita terlalu sensitif selain adanya faktor pencetus yang terus-menerus.4 Etiologi Penyakit Asthma Bronchial Faktor-faktor pemicu serangan asma 1. stadium-stadium awal asma sudah berbahaya bagi wanita hamil dan janinnya. 6. kacang-kacangan. hewan Asap rokok dan polutan lingkungan misalnya sulfur dioksida Infeksi Hipoksia Menstruasi Tirotoksikosis 10. 7. 4. 5. stres atau kelelahan Pollen (tepung sari bunga). cokelat atau ikan (utamanya pada anak-anak). 8. Makanan tertentu seperti telur.

Walaupun belum terbukti. diklofenak Estrogen Benzodiazepin Tembakau. kerangkerangan. Zat pengawet yang digunakan dalam preparat inhalasi misalnya laktosa Tartrazin misalnya dalam minuman sari buah.3. . Di tabel 46-4 diperlihatkan hasil ibu dan perinatal dari 3858 kehamilan dengan penyulit asma. 10. 8. 4. 9.5 Kehamilan dengan Asthma Bronchial A. Kematian ibu dapat terjadi akibat status asmatikus. 13. Larutan hipotonik atau hipertonik (glosarium) kalau terkena jalan napas misalnya dalam nebulizer. bumbu kari. Obat-obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) seperti aspirin. terutama apabila berat. 11. 6. salisilat. dijumpai peningkatan insiden preeklamsia. bayi berat lahir rendah. dan mortalitas perinatal. 1999). 5. dinoproston) Obat-obat antipsikosis Obat-obat antidepresan trisiklik Preparat relaksan otot golongan atrakurium (penggunaan vekuronium) Lignokain Inhibitor ACE (angiotensin converting enzyme) dapat menyebabkan batuk dan angioedema yang bisa dikelirukan dengan gejala asma. persalinan preterm. minuman bersoda atau minuman softdrink yang berwarna. Zat-zat yang mengandung sulfit misalnya dalam beberapa jenis minuman anggur. 15. kanabis Opioid (fentanil mungkin paling sedikit menimbulkan masalah) Ergometrin (syntometrine© kadang-kadang menimbulkan masalah) Prostaglandin (karboprost. buah-buah yang dikeringkan. Dalam sebagian besar penelitian. 12. dapat mempengaruhi hasil kehamilan secara bermakna. Efek Asthma Pada Kehamilan Asma. acar 18. 7. 17. 2. zat pengawet untuk buah segar. Penyulit yang mengancam nyawa adalah pneumotoraks. acar. 14. dengan demikian larutan normal saline (garam fisiologis) digunakan dalam nebulizer 16. secara logika asma yang terkontrol baik akan memberi hasil yang lebih baik (Schatz.

Angka kematian secara substantif meningkat apabila asmanya memerlukan ventilasi mekanis. Efek Kehamilan Pada Asthma Tidak ada bukti bahwa kehamilan menimbulkan efek yang dapat diprediksi pada asma. Mereka melaporkan bahwa sepertiga dari para pasien ini masing-masing membaik. tidak mengalami perubahan. (1995) 182 Schatz dkk. (1988) secra prospektif meneliti gejala dan pemeriksaan spirometri sepanjang kehamilan dan masa nifas pada 366 wanita yang mengidap asma.6 1. Oleh karena itu. Biasanya serangan akan timbul mulai usai kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu.2 11 ~ NS 2. bahkan pada seorang penderita asma serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan kehamilan berikutnya. Efek Pada Janin .3 13 4. 817 (1998) Demissie dkk. (1995) 486 Wendel dkk. hampir 40% wanita memerlukan terapi yang lebih intensif untuk asmanya pada suatu saat selama kehamilan.pneumomediastinum. sekitar sepertiga wanita asmatik dapat mengalami perburukan penyakit pada suatu saat selama kehamilan mereka. TABEL 46-4. (1988) terhadap 198 kehamilan. B.8 11 -6 18 6.4 Hasil Akhir perinatal (%) Hambatan Pelahiran Diabetes pertumbuhan preterm NS 6 1 -5 15 11. 18 10 17 -15 8 10. 2289 (1998) Rata-rata perkiraan 3858 NS = tidak tercantum. Hasil Ibu dan Perinatal pada Kehamilan dengan Penyulit Asma. aritmia jantung. Penelitian Jumlah Hipertensi kehamilan Jana dkk. C. atau malah memburuk. Pada studi prospektif lainnya oleh Stenius-Aarniala dkk. kor pulmonale akut. 84 (1996) Alexander dkk.2 Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma pada setiap penderita tidaklah sama. dan kelelahan otot disertai henti napas. Schatz dkk. dan akan berkurang pada akhir kehamilan.8 gestasional 1.

berkurangnya aliran balik vena ibu. Angka kesakitan dan kematian perinatal tergantung dari tingkat penanganan asma. Gangguan pada janin diperkirakan disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. angka kesakitan dan kematian perinatal dapat ditekan mendekati angka populasi normal. 2. berupa abortus. akan tetapi dengan penanganan penderita dengan baik. Pengobatan yang harus diusahakan adalah : 1. 2. meningkatkan resistensi vaskular sistemik dan paru. dan berat janin yang tidak sesuai dengan umur kehamilan.6 Pengobatan Asthma Bronchial Dasar-dasar Penanganan Penanganan penderita asma selama kehamilan bertujuan untuk menjaga ibu hamil sedapat mungkin bebas dari gejala asma. persalinan prematur.Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat bergantung dari frekuensi dan beratnya serangan asma. Apabila ibu tidak mampu lagi mempertahankan tekanan oksigen normal dan terjadi hipoksemia. yaitu berkurangnya aliran darah uterus. dan mengobati gejala awal secara tepat. Kesadaran bahwa janin dapat mengalami gangguan serius sebelum penyakit ibu menjadi parah menggarisbawahi pentingnya penatalaksanaan agresif bagi semua wanita hamil dengan asma akut. Menghindari terjadinya perawatan di unit gawat darurat karena kesulitan pernapasan atau status asmatikus. dan pergeseran kurva disosiasi oksihemoglobin ke kiri akibat keadaan basa. Keadaan hipoksia jika tidak segera diatasi tentu akan memberikan pengaruh buruk pada janin. Pemantauan respon janin pada dasarnya menjadi indikator gangguan pada ibu. . dengan melakukan intervensi secara awal dan intensif. 1974). janin akan berespon dengan mengurangi aliran darah umbulikus. Menghindari terjadinya gangguan pernapasan melalui pendidikan terhadap penderita. walauoun demikian eksaserbasi akut selalu tak dapat dihindari. karena ibu dan janin akan mengalami hipoksia.. menghindari pemaparan terhadap alergen. Gordon et al menemukan bahwa angka kematian perinatal meningkat 2 kali lipat pada kehamilan dengan asma dibandingkan kontrol. Baik penelitian pada hewan maupun manusia mengisyaratkan bahwa alkalosis pada ibu dapat menyebabkan hipoksemia janin jauh sebelum oksigenasi ibu terganggu (Rolston dkk. dan akhirnya mengurangi curah jantung.

f. Melakukan penelitian fungsi paru dasar. Obat-obat yang akan diresepkan bergantung pada intensitas penyakitnya. Mendeteksi dan mengeliminasi faktor pemicu timbulnya serangan asma pada penderita tertentu. 2000). nedokromil Kortikosteroid. untuk mengetahui masalah-masalah yang potensial dapat timbul. agonis adrenoroseptor beta2 dan kortikosteroid merupakan preparat yang aman pada kehamilan (Serafin. Kendati demikian diperlukan penelitian yang lebih luas untuk menilai risiko malformasi kongenital yang menyertai terapi yang diresepkan sekarang ini (Jadad et al. terbutalin Preparat antimuskarinik. d. Menghentikan merokok. 1996). di samping melindungi keselamatan ibu. misalnya salbutamol. misalnya kromoglikat. Pembahasan antara ahli kebidanan dan ahli paru. Mendeteksi dan mengatasi secara awal jika diduga adanya infeksi pada saluran nafas. b. seperti bronkitis. rencana penanganan umum termasuk penggunaan obat-obatan. misalnya ipratoprium (jarang digunakan pada dewasa muda) Metilsantin. dalam memulai suatu perawatan obstetri terhadap wanita hamil dengan asma perlu diperhatikan beberapa prinsip tertentu yaitu : a. misalnya beklometason. Golongan obat yang penting dalam pengobatan asma adalah: Bronkodilator    Agonis adrenoreseptor beta. glukokortikoid. karena penanganan suatu kasus mungkin berbeda dengan kasus asma yang lain. prednisolon Antagonis reseptor leukotrien (tidak dianjurkan pada kehamilan) Pengalaman klinik yang luas menunjukkan bahwa preparat inhalasi kromoglikat.3. 4. juga penentuan gas darah khususnya pada penderita asma berat. tetapi masih dalam kerangka respon pengobatan yang baik. Pertimbangan untuk mengurangi dosis pengobatan. Mencapai suatu persalinan aterm dengan bayi yang sehat. Penelitian underpower [glosarium] telah mengaitkan penggunaan agonis adrenoreseptor beta2 dalam . baik untuk alasan obstetrik maupun pulmonal c. sinusitis. Dalam penanganan penderita asma diperlukan individualisasi penanganan. misalnya teofilin Antiinflamasi    Kromon. e.

paru-paru serta usus. Salbutamol) Seperti adrenalin/epinefrin. namun semua efek samping ini lebih cenderung terjadi pada pemakaian dosis yang lebih tinggi untuk tujuan tokolisis. Penyakit jalan napas yang kronis (mis. Penggunaan preparat aerosol salbutamol atau terbutalin merupakan terapi inisial pilihan dalam penanganan asma pada kehamilan asal gejalanya dapat dikontrol dengan inhalasi kurang dari sekali per hari. Preparat bronkodilator akan menimbulkan relaksasi otot polos bronkiolus dan menghasilkan medikasi „penyelamatan‟ yang efektif. obat-obat ini bekerja dengan menstimulasi reseptor beta2 yang terdapat dalam hati. 1996). tremasuk uterus. Terapi oral atau intravena dapat menimbulkan takikardia fetal atau neonatal. Tokolisis . Bentuk oral obat-obat ini sangat jarang digunakan pada kehamilan. mungkin serangan asmanya tidak akan terkendali dengan baik sehingga dapat terjadi hipoksemia yang menggangu keselamatn janin. otot polos dan kelenjar pada banyak organ. Preparat agonis adrenoreseptor beta2 (mis.trimester pertama dengan peningkatan risiko polidaktili pada neonatus (Pangle. hipoglikemia dan tremor pada neonatus (Serafin. Sebagian abnormalitas janin yang ditemukan dalam penelitian binatang terjadi karena pemberian obat-obat ini dengan dosis yangs angat tinggi. 2000). Terapi profilaksis Pencegahan gejala asma pada pasien yang juga mendapatkan terapi profilaksis anti-inflamasi (biasanya salmeterol). Kistik fibrosis): mengurangi edema paru. Penggunaan preparat agonis adrenereseptor beta2      Tindakan penyelamatan pada serangan asma. Penggunaan lebih dari sebuah alat inhaler untuk pemakaian 200 kali dalam waktu sebulan akan disertai dengan peningkatan angka mortalitas karena serangan asma (Drug and Therapy Perspectives. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa preparat inhalasi agonis sdrenoreseptor beta2 berbahaya bagi janin atau neonatus yang disusul ibunya. 1997). Jika seorang ibu hamil menggunakan preparat inhalasi ‘penyelamat’ secara teratur dan melebihi satu kali pemakaian per hari.

hal ini mungkin terjadi karena absorpsi sistemik yang rendah (Nelson-Piercy & Moore-Gillon. artritis reumatoid. 1995) Kromoglikat Kromoglikat merupakan obat yang berkhasiat dengan beberapa efek samping saja. Banyak zat mediator inflamasi (seperti histamin) turut terlibat dalam proses inflamasi sehingga terapi yang efektif lebih ditujukan kepada proses inflamasinya ketimbang kepada suatu zat mediator saja. Inhalasi serbuk kering kering kromoglikat dapat menimbulkan batuk-batuk dan spasme ronkus. 2000). tetapi mungkin kromoglikat mencegah stimulasi reseptor iritan dan menghambat reaksi inflamasi. Mekanisme kerjanya belum jelas. Kromoglikat kini sudah banyak digunakan pada kehamilan tanpa menimbulkan efek yang merugikan. Kromoglikat tidak diangkut melintsi plasenta dan dengan demikian tidak memasuki ASI. 1996).1995). dermatitis eksfoliatif dan penyakit addison. Kadang-kadang obat ini digunakan untuk menstimulasi gerakan napas pada neonatus. sementara itu. pengalaman dalam penggunaan nedokromil masih belum banyak (Nelson-Piercy & Moore-Gillon. Preparat ini diberikan secara inhalasi sebagai terapi preventif yang bisadilakukan secara teratur sebelum exercise. Penggunaan preparat inhalasi beklometason secara teratur akan mengurangi serangan asma yang berat pada kehamilan (Wendel et al. Karena efek sampingnya. pemberian per oral untuk jangka waktu yang lama jika mungkin harus dihindari dan pemakaian rumatan (maintenance) dijaga pada tingkat pemberian yang minimal (BNF.Penggunaan inhalasi salbutamol atau terbutalin untuk mengatasi gejala asma selama persalinan tidak akan memperpanjang proses persalinan atau pun menunda awitan persalinan. Reaksi hipersensitivitas sangat jarang terjadi pada penggunaan obat ini. Preparat anti-inflamasi Inflamasi menyebabkan penyempitan jalan napas pada pasien asma dan penyempitan ini bisa terjadi pada saat serangan asma maupun dalam masa antar-serangan/eksaserbasi. . Kortikosteroid Preparat steroid telah menyelamatkan kehidupan dan merupakan revolusi dalam penatalaksanaan keadaan sakit yang berat seperti serangan asma. Metilsantin Penggunaan teofilin tidak direkomendasikan selama kehamilan. Preparat anti-inflamasi dibeikan untuk mencegah serangan asma dan bukan untuk mengobati serangan asma tersebut.

Steroid akan melintasi plasenta sampai taraf yang beragam. Eliminasi preparat steroid bergantung pada enzim-enzim hati. lebih dari 80 persen prednisolon akan mengalami inaktivasi di dalam plasenta. . Preparat inhalasi kortikosteroid dapat menimbulkan infeksi oral seperti kandidiasis kecuali jika higiene mulut dijaga dengan baik. Kortikosteroid mendorong pemecahan glikogen serta protein menjadi glukosa. Takaran di atas 40 mg per hari dapat menimbulkan efejk samping pada neonatus sehingga pemantauan yang teliti harus dilakukan terhadap neonatus (CSM. 1998). Risiko terjadinya retardasi pertumbuhan intrauteri menunjukkan angka yang signifikan jika pemberian kortikosteroid dilakukan untuk waktu yang lama atau diulang secara berkali-kali (BNF. Berkumur dengan air bersih sesudah menggunakan inhalasi kortikosteroid akan mengurangi risiko timbulnya kandidiasis oral. Efek samping sistemik dapat terjadi pada pemberian 8000 mikrogram preparat inhalasi beklometason per hari. Prednisolon(yang diberikan per oral) akan berjalan masuk ke dalam ASI. 1998). Suprsi adrenal. Masalah pada sistem saraf pusat. Pemakaian topikal atau inhalasi dapat mengurangi efek samping sistemik kendati tidak selalu menghilangkan efek samping tersebut (CSM. Gangguan metabolisme-pertunbuhan. Gangguan metabolisme-hiperglikemia. Sebagai contoh. Makanan yang kaya garam atau gula harus dikurangi untuk menurunkan risiko hipertensi dan karies dentis. dan meningkatkan selera makan dan berat badan. Kerja dan efek samping kortikosteroid Efek samping yang cenderung timbul dengan sgera:    Maslah kardiovaskuler. Efek samping yang cenderung terjadi setelah periode waktu yang lebih lama :    Kerja anti-inflamasi. Keadaan ini menimbulkan beberapa interaksi obat. 2000). viabilitas jaringan dan metabolisme lemak.Namun demikian. preparat steroid oral yang lain seperti prednisolon merupakan obat yang esensial untuk serangan asma yang akut dan berat.

Bantuan psikologik menenangkan penderita bahwa kehamilannya tidak akan memperburuk perjalanan klinis penyakit. diperlukan adanya kerja sama yang baik antara ahli kebidanan dan ahli paru. jarang dijumpai adanya efek teratogenik pada janin akibat penggunaan obat anti asma. abortus. dan tidak dalam serangan akut. 6. 2. Jika diperlukan dapat diberikan terbulatin sulfat 2. karena keadaan gelisah dan stres dapat memacu timbulnya serangan asma. akan tetapi efek terapinya terhadap penderita asma belum diketahui jelas. Diberikan dosis teofilin per oral sampai tercapai kadar terapeutik dalam plasma antara 10-22 mikrogram/ml. biasa dosis oral berkisar antara 200-600 mg tiap 8-12 jam. aman dilakukan selama kehamilan tanpa adanya peningkatan resiko terjadinya prematuritas. Dosis oral teofilin ini sangat bervariasi antara penderita yang satu dengan yang lainnya. atau beta agonis lainnya. 5.5-5 mh per oral 3 kali sehari. jika pengobatan masih belum adekuat gunakan prednison dengan dosis sekecil mungkin. toksemia. . Adapun usaha penanganan penderita asma kronik meliputi : 1. Penanganan asma kronik pada kehamilan Dalam penanganan penderita asma dengan kehamilan.Efek penggunaan obat anti asma dalam kehamilan terhadap janin Umumnya obat-obat anti asma yang biasanya dipergunakan relatif aman penggunaannya selama kehamilan. 4. 7. Desensitisasi atau imunoterapi. dan malformasi kongenital. Usaha-usaha melalui edukasi terhadap penderita dan intervensi melalui pengobatan dilakukan untuk menghindari timbulnya serangan asma yang berat. kematian neonatus. Tambahkan kortikosteroid oral. Menghindari alergen yang telah diketahui dapat menimbulkan serangan asma 3.

4. pertahankan pO2 70-80 mmHg. Cromolyn sodium dapat dipergunakan untuk mencegah terjadinya serangan asma. pada keadaan ini penderita ini harus ditangani di . biasanya penderita mengalami kekurangan cairan. Serangan asma berat yang tidak memberikan respons setelah 30-60 menit dengan terapi infeksi (obat agonis beta & teofilin) disebut status asmatikus. Berikan aminofilin dengan loading dose 4-6 mg/kgBB dan dilanjutkan dengan dosis 0. cairan yang digunakan biasanya ringer laktat atau normal saline. harus secara cepat dinilai beratnya serangan. tiap 4 jam atau setelah loading dose dilanjutkan dengan infus 0. Pemberian oksigen yang telah dilembabkan.25 mg 5. Hindari obat-obat penekan batuk. 3. 2. Janin sangat rentan terhadap keadaan hipoksia. jarang dibutuhkan kecuali pada kasus-kasus yang mengancam kehidupan. 2-4/menit. 4 kali sehari secara inhalasi. jika berat perlu dipertimbangkan perawat diruang unit perawatan intensif dengan tetap memonitor keadaan janin dalam kandungan. Penanganan serangan asma akut pada kehamilan adalah sebagai berikut: 1. Jika diperlukan pertimbangan penggunaan terbulatin subkutan dengan dosis 0. Pertimbangan antibiotika profilaksis pada kemungkinan adanya infeksi saluran nafas atas.8. Berikan steroid : hidrokortison secara intravena 2 mm/kgBB loading dose. dengan dosis 20-40 mg. Penanganan serangan asma akut pada kehamilan Dalam menghadapi ibu hamil dengan serangan asma akut. sedatif dan antihistamin. Pertimbangan penggunaan antibiotika jika ada kecurigaan infeksi yang menyertai 7. 8. 9.8-1 mg/kgBB/jam sampai tercapai kadar terapeutik dalam plasma sebesar 10-20 mikrogram/ml. Tenangkan penderita Berikan cairan intravena.5 mg/kgBB/jam 6. Intubasi dan ventilasi bantuan.

Onset spontan persalinan harus diperbolehkan. Pada persalinan kala II persalinan per vaginam merupakan pilihan terbaik untuk penderita asma. peneliti menunjukkan bahwa 10% wanita memberat gejala asmanya pada waktu persalinan. kala II dengan menggunakan ekstraksi vakum atau forceps akan bermanfaat. Bila mendapat serangan akut selama persalinan. penanganannya sama dengan penanganan serangan akut dalam kehamilan seperti telah diuraikan di atas. Karena pada persalinan kebutuhan ventilasi bisa mencapai 20 I/menit. prostaglandin E2 dan uterotonika lainnya harus digunakan sebagai pengganti prostaglandin F2(x) yang dapat menimbulkan terjadinya bronkospapasme yang berat. Melakukan intubasi dan ventilasi mekanis. Jika dilakukan seksio sesarea lebih dipilih anestesi regional daripada anestesi umum karena intubasi trakea dapat memacu terjadinya bronkospasme yang berat. . 2. Bila terjadi pendarahan post partum yang berat. kecuali jika indikasi obstetrik menghendaki dilakukannya seksio sesarea. Selama persalinan kala I pengobatan asma selama masa prenatal harus diteruskan. intervensi preterm hanya dibenarkan untuk alasan obstetrik. khususnya pada penderita-penderita dengan asma berat atau yang steroid dependen. dan diulangi tiap 8 jam sampai persalinan. maka persalinan harus berlangsung pada tempat dengan fasilitas untuk menangani komplikasi pernapasan yang berat. Pertumbuhan janin harus dimonitor dengan ultrasonografi dan parameterparameter klinik. tidak diperlukan suatu intervensi obstetri awal. ibu yang sebelum persalinan mendapat pengobatan kortikosteroid harus hidrokortison 100 mg intravena. meskipun dilakukan penanganan yang intensif.7 Penanganan asma dalam persalinan Pada kehamilan dengan asma yang terkontrol baik. Jika dilakukan seksio sesarea.unit perawatan intensif Selama kehamilan pertimbangan untuk intubasi lebih awal diperlukan jika fungsi pernapasan ibu terus menurun. karena mereka mempunyai resiko yang lebih besar untuk mengalami masalah pertumbuhan janin. memperpendek. Pada penderita yang mengalami kesulitan pernapasan selama persalinan pervaginam.

BAB III Penutup 3. Kala II diperpendek dengan tindakan ekstraksi atau forceps. golongan narkotik yang tidak melepaskan histamin seperti fentanyl lebih baik digunakan daripada meperidine atau morfin yang melepas histamin. bekerja sama dengan ahli anestesi untuk memilih narkosa yang paling aman.1 Kesimpulan 1. Dalam hal ini diberikan obat-oabatan dan oksigen. seperti halnya prednison. maka sebaiknya anestesi cara spinal. tanpa gangguan. Asma bronchial dapat berkurang atau bertambah dalam kehamilan Menghindari kemungkinan infeksi pernaasan dan tekanan emosional. Teofilin bisa dijumpai dalam air susu ibu. . Bila persalinan dengan seksio sesarea atas indikasi medik obstetrik yang lain. karena hal ini akna memperberat penyakit primer 3. Perjalanan dan penanganan klinis asma umumnya tidak berubah secara dramatis setelah post partum. tetapi jumlahnya kurang dari 10% dari jumlah yang diterima ibu. persalinan dan nifas akan berlangsung seperti biasa. 4. Pada wanita yang menyusui tidak terdapat kontra indikasi yang berkaitan dengan penyakitnya ini. Kehamilan. keberadaan kedua obat ini dalam air susu ibu masih dalam konsentrasi yang belum mencukupi untuk menimbulkan pengaruh pada janin. Biasanya anestesi lumbal atau kaudal. 2. 2. kecuali datang serangan asma yang berat (status asmatikus).8 Penanganan asma post partum Penanganan asma post partum dimulai jika secara klinik diperlukan. Apabila ada indikasi obstetrik untuk melakukan seksio sesarea.Dalam memilih anestesi dalam persalinan. Kadar maksimal dalam air susu ibu tercapai 2 jam setelah pemberian.

James. Danforth buku saku Obstetri dan Setiawati. Ilmu kebidanan. sue. Ida Bagus gde . Obstetri William Edisi 21 vol 1 dan 2. Diadakannya penyuluhan kepada masyarakat terutama ibu hamil supaya memeriksakan kehamilannya secara teratur supaya dapat mendeteksi segala komplikasi secara dini agar dapat menurunkan tingkat kesakitan dan kematian ibu dan bayi. 1990. penyakit kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan Halaman 275. Hanifa. karena obat ini dapat menyebabkan retensi cairan dan kenaikan tekanan darah. Pendeteksian dini melalui pemeriksaan antenatal sangat penting dilakukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. 2002. 2. Obat-obatan : sama saja dengan obat-obat asma pada masa tidak hamil aminofilin. Jakarta: widya medika Jordan. F. Jakarta: EGC R. Arini. Halaman 220.Gary et.al. S. Juga harus tersedia tabung oksigen untuk menghadapi status asmatikus. Jakarta: FKUI. efidrin. 2002. Pemberian kortikosteroid harus hati-hati ada kasus pre-eklamsi. Farmakologi Kebidanan. Daftar Pustaka Cunningham. Jakarta : EGC. Pencegahan Serangan Asma. 1998. dkk.Jakarta : YBSP Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan.cetakan 1.221. Ilmu kebidanan. Jakarta : YBPSP .2 Saran 1. 2006. Prawirohardjo. SCOTT. Jakarta : EGC Ginekologi. 3. dkk.5. 2002. epinefrin dan kortikosteroid. Manuaba .