You are on page 1of 21

1.1.

Kerangka Teori Pengertian Museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum seperti peninggalan sejarah, seni dan ilmu. Tempat menyimpan barang kuno. (sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia ) Fasad (Bahasa Perancis: façade) adalah suatu sisi luar (eksterior) sebuah bangunan, umumnya terutama yang dimaksud adalah bagian depan, tetapi kadang-kadang juga bagian samping dan belakang bangunan. Kata ini berasal dari Bahasa Perancis, yang secara harfiah berarti "depan" atau "muka". Dalam arsitektur, fasad bangunan sering kali adalah suatu hal yang paling penting dari sudut pandang desain, karena ia memberikan suasana bagi bagian-bagian bangunan lainnya. Terdapat banyak fasad yang memiliki nilai sejarah, sehingga peraturan-peraturan penetapan zona lokal atau undang-undang lainnya umumnya dibuat untuk sangat membatasi atau bahkan melarang pengubahan mereka. ( sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Fasad) Fungsi Fasad Fasad merupakan rangkaian elemen-elemen arsitektur, mulai dari atap, dinding, bukaan, lantai, struktur, material, hingga pencahayaan. Bahkan vegetasi atau tanaman menjadi salah satu elemen pelengkap yang turut mempengarui fasad. 1. Fasad sebagai Eksterior Bangunan Menjadi bagian dari eksterior bangunan membuat fasad menjadi pembatas ruang dalam dengan lingkungan sekitarnya. Fasad berfungsi untuk:
  

Membedakan hierarki ruang Membatasi pandangan Meredam bising

Mengikuti iklim / cuaca – Desain fasad umumnya dibuat mengikuti kondisi cuaca setempat. 2. Fasad Sebagai Citra Pertama Fasad menjadi penting karena bagian ini yang pertama dilihat orang. Perlu desain

semenarik mungkin agar menimbulkan kesan yang baik dan mendalam terhadap penikmatnya. Secara visual, vasad mencitrakan konsep desain rumah secara keseluruhan. Melalui Fasad, seorang arsitek atau pemilik rumah hendak menyampaikan suatu pesan terhadap publik penikmatnya.

Landmark Kawasan – fasad dapat berbeda dari lingkungannya secara bentuk, gaya, warna, hingga penggunaan material Identitas Pribadi – Begitu banyak pesan yang tertuang melalui fasad sebagai identitas pribadi sang arsitek ataupun pemilik rumah 3. Fasad Sebagai Kulit Bangunan

 

Fasad sebagai Peneduh Fasad Sebagai Pelapis

Macam- macam jenis fasad: 1. Berdasarkan Bentuk

Fasad Geometrik – Bentuk – bentuk geometrik yang paling sering ditemukan adalah persegi, kotak, lingkaran, juga segitiga. Masing-masing bentuk dapat digunakan tidak hanya sebagai bidang dinding, tapi berlaku pada bentuk atap dan bukaannya. Unsur garis biasanya hadir dalam pola-pola geometris. Meski terkesan lebih datar, kehadiran bayangan membuat fasad dua dimensi (2D) ini lebih hidup.

Fasad Volumetrik – Fasad jenis ini menerapkan bentuk-bentuk tiga dimensi (3D), seperti kubus, bola, limas, silinder. Umumnya sebuah bentuk 3D ini mewakili ruang dibaliknya. Misalnya kubus menggambarkan adanya ruang persegi di baliknya.

2. Berdasarkan Pengaruh Gaya Arsitektur

Fasad Bergaya etnik – Ragam etnik dari arsitektur tradisional Indonesia tergolong sangat kaya dan variatif. Fasad bergaya etnik tidak mesti menerapkan gaya etnik 100%. Ciri khas

Arsitektur tradisional Bali merupakan microkosmos dari alam raya sebagai makrokosmos. Museum ini bergaya arsitektur Bali dan dihiasi beraneka ukiran dan patung Bali yang sangat halus dan indah. Tidak hanya meliputi gaya masa kini tapi gaya oldies. kemoksaan senantiasa mengajarkan tentang hubungan harmonis antara Bhuwana Agung dan Bhuwana alit. (sumber: http://www.com/?p=1393) Arsitektur Bali dan Museum Indonesia Museum Indonesia.. Museum ini menyimpan koleksi beraneka seni. Arsitektur Tradisional Bali Sejumlah pengertian arsitektur tradisional Bali antara lain : a. Art Deco. Jakarta. Filsafat hindu yang lazim disebut “ Tutur Sukma “ atau Tatwajhana. seperti De Stilj. pakaian tradisional dan kontemporer dari berbagai daerah di Indonesia. Lingkup yang terlalu luas kami batasi cakupannya berdasarkan gaya-gaya modern yang sedang in. adalah museum antropologi dan etnologi yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).rumah-strategis. b. dan Art Neuvo. Museum ini berkonsentrasi pada seni dan budaya berbagai suku bangsa yang menghuni Nusantara dan membentuk negara kesatuan Republik Indonesia. di dalam . c. kerajinan.  Fasad Bergaya modern – Gaya arsitektur modern mmenunjukkan rentang waktu yang cukup lama. sedangkan gaya klasik amerika lebih sederhana dengan lis berprofil dan gaya white house.suatu daerah yang kemudian disesuaikan dengan detail bangunan dirasa sudah cukup mewakili gaya etnik tertentu. Arsitektur tradisional merupakan gambaran alam yang dituangkan dalam analogi – analogi.  Fasad Bergaya Klasik – Gaya klasik Eropa diwarnai dengan kolom utama dan ornamen relief. Indonesia. dan menyatakan terjemahan prinsip – prinsip kehidupan tradisi yang memberi gambaran totalitas kehidupan individu dan masyarakat yang ritual. Arsitektur tradisional sebagai wadah untuk membina dan menempatkan manusia secara individu maupun kelompok agar selaras dengan alam semesta.

seterusnya. dikelilingi oleh tembok yang disebut tembok penyengker. dan Ciwa di tengah. dan Ciwa di paunduhan hati. dan Yang dimaksud dengan rumah dalam arsitektur tradisional Bali. yaitu:    Pondasi dan lantai sebagai kaki ( Bhur Loka ) Kontruksi Vertikal ( tiag dan dinding ) sebagai badan ( Bwas Loka ) Pondasi atap sebagai kepala ( Swah Loka ) dan memiliki hitungan ganjil seperti 1. # Bangunan itu sendiri merupakan symbol dari Bhuwana Agung dengan Trilokanya. misalnya Panca Dewata di Bhuwana Agung yaitu : Iswara di timur.5. pura puseh. Terwujudnya bentuk rumah dan perumahan ini. pura dalem.3. Mahadewa di ……. Wisnu di empedu. Brahma di hati. yaitu : Iswana di jantung. pura desa.9. Perumahan adalah kumpulan beberapa rumah di dalam kesatuan wilayah yang disebut banjar adat atau desa adat. Dalam falsafah . Brahma di selatan. Wisnu di utara. Dalam arsitektur Bali mengandung filosofis symbol dari Bhuwana Agung dengan Trilokanya.7. adalah satu kompleks rumah yang terdiri dari beberapa bangunan. Mahadewa di barat.tatwa – tatwa disebut dengan istilah – istilah Pasak Weko. disebut “ Tri Angga “ :    Nistama Angga ( Kaki ) Madya Angga ( Badan ) Utama Angga ( Kepala )# Arsitektur Bali mengikuti konsep Bhuwana Agung dengan pembagian menjadi 3 bagian. juga merupakan kesatuan keagamaan dengan pura kayangan tiga yakni. Panca dewa di Buwana Alit . yaitu :    Bhur Loka ( alam semesta ) Bwas Loka ( alam manusia ) Swah Loka ( alam dewa ) Sedangkan dalam Bhuwana Alit ( Badan Manusia ) juga di bagi 3 bagian. tidak terlepas dari dasar pemikiran yang dilandasi oleh tata kehidupan masyarakat yang bersumber dari agama Hindu.

Di dalam tatwa seperti Tutur Suksema. memberikan perlambang manik ring cecupu. Karang desa adalah teritorial tempat hubungan harmonis ketiga unsur di atas. Hubungan manusia dengan Tuhan 2. merupakan penggerak atau tenaga yang menghidupi desa. Hubungan hamonis di atas juga bisa diidentikkan dengan . bayu (angin). Jiwa dan jasmani yang digerakkan oleh tenaga dapat diwujudkan pada suatu tempat. 1. Krama desa merupakan warga desa atau aparatur desa. hanya dalam skala berbeda. 2. akan menimbulkan tenaga (kaya).agama Hindu. yakni : apah (zat cair). Dalam hubungannya dengan desa adat maka: 1. yang tidak dipisahkan dari seluruh kehidupan desa. Tutur Diatmika. dan selalu akan tergantung dengan alam. Hubungan manusia dengan sesama manusia krama desa melakukan aktivitas untuk menjaga . Hasil hubungan yang harmonis antara wadah dan jiwa. Hubungan harmonis antara bhuana agung dan bhuana alit. Komoksan. dimana manusia dilahirkan oleh alam ini. akasa(ether). Kayangan tiga merupakan jiwa pada karang desa. pertiwi (zat padat). teja (sinar). atau janin didalam rahim. Gabungan dari unsur jasmani. manusia dan alam ini diyakini terbentuk oleh lima unsur yang sama yang disebut “ Panca Maha Bhuta”. merupakan hal yang mutlak dan harus dipertahankan untuk ketenangan dan kesetabilan alam. jiwa dan tenaga merupakan sumber kehidupan yang baik dan sempurna yang disebut „Tri Hita Karana” (tiga unsur sumber kebaikan). senantiasa mengajarkan agar kita selalu mengharmoniskan diri dengan alam. Bhuana agung sebagai wadah dan bhuana alitsebagai isi. Unsur-unsur bhuana alit dan bhuanaagung adalah sama. Tatwa Pelepasan. Tatwa Jenana. Manusia sebagai mikro cosmos dan alam sebagai makro cosmos yang tidak bisa lepas keterkaitannya. 3.

Areal sanggah atau merajan adalah areal persembahyangan untuk memuja Sang Yang Widhi. Areal natah atau halaman tengah adalah untuk mendirikan rumah untuk tidur dan melakukan upacara adat dan aktivitas sosial lainnya. Paduraksa biasanya dilengkapi dengan pintu. 1. Pengertian Tri Hita Karana ini tidak hanya berlaku pada desa adat saja. natah dan lebuh. Areal lebuh adalah untuk meletakkan bahanbahan yang tidak terpakai lagi dan lahan peternakan. pertanian.3. paduraksa lebih jarang dipakai daripada candi bentar. Maka disimpulkan baik untuk kompleks pura maupun tempat tinggal. 2. meskipun pada masa sekarang banyak rumah yang menggunakan gapura semacam ini. baik Candi bentar maupun Paduraksa merupakan satu kesatuan rancang arsitektur. Paduraksa adalah sejenis bangunan gapura yang memiliki atap penutup yang menghubungkan kedua sisi bangunan pembatas. Di Bali. sedangkan paduraksa untuk lingkungan dalam. Candi bentar merupakan gerbang untuk lingkungan terluar yang membatasi kawasan luar pura dengan Nista mandala (Jaba pisan) zona terluar kompleks pura. 3. Bangunan Belanda Benteng adalah bangunan untuk keperluan militer yang dibuat untuk keperluan pertahanan sewaktu dalam peperangan. Pada aturan zona tata letak pura atau puri (istana) Bali. tercermin juga pada badan lainnya. Sedangkan gerbang Kori ageng atau Paduraksa digunakan sebagai gerbang di lingkungan dalam pura. Hubungan manusia dengan lingkungannya. Benteng sudah dibangun oleh umat manusia sejak ribuan tahun yang lalu dalam berbagai bentuk dan pada akhirnya berkembang menjadi bentuk yang . dan leluhur setiap keluarga. candi bentar digunakan untuk lingkungan terluar. misalnya pada satu unit rumah tradisional yang pada umumnya terdiri dari sanggah. Bangunan ini biasa dijumpai pada gerbang masuk bangunanbangunan lama di Jawa. dan digunakan untuk membatasi zona Madya mandala (Jaba tengah) dengan Utama mandala (Jero) sebagai kawasan tersuci pura Bali.

bentuk ditentukan oleh adanya hubungan campur tangan dan kegiatan manusia. Beranda depan dan belakang merupakan adaptasi terhadap arsitektur tradisional Jawa. Penentuan bentuk dapat meningkat lebih jauh. Bentuk dalam Arsitektur Sebuah bangunan dibentuk dari bentukan-bentukan dasar geometri. penyesuaian bentuk bangunan indis terhadap kondisi iklim tropis basah digambarkan dengan ciri-ciri pokok bentuk plafon tinggi. Bentuk tersebut merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda pada jaman yang bersamaan dengan iklim tropis basah Indonesia. dapat diuraikan dan memiliki sesuatu yang dapat diukur. dan dihitung. Plafon yang tinggi akan mempunyai volume ruang yang lebih besar. banyak pengaruh Eropa dan terjadi percampuran bentuk Arsitektur Barat dan tradisional.sangat kompleks. terutama Belanda. lewat ukuran menuju ke suatu hal yang ditentukan. maupun yang bersifat berdiri. Objek menjadi lebih mudah untuk dikenali dan diidentifikasikan. dan pada umumnya menampilkan sebuah tingkatan hierarki dan biasanya penyusunan komposisi yang jelas dan terpusat menurut sistem geometri. benteng yang masih ada umumnya adalah tinggalan dari kolonialisme Eropa. tergantung kepada apa-apa saja yang di dalam pemberian bentuk ditentukan secara primer dan kemudian apa yang timbul karena kegiatan primer tersebut. diamati. dan juga untuk pembayangan terhadap tembok yang terkena sinar matahari langsung. Handinoto dalam Wiyatiningsih (2000). Ada juga beberapa bangunan arsitektur kolonial Belanda yang mengambil elemen-elemen tradisional . overstek yang cukup lebar. baik di depan atau di belakang rumah. dan mengenai penentuan secara langsung maupun tidak langsung. sehingga kemungkinan terjadi panas dalam ruangan akibat radiasi dapat diperkecil. Di Indonesia. baik yang bersifat mendatar. Nix (1953) dalam Pamungkas (2002). Bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900-an merupakan bentuk yang spesifik. termasuk pada penggunaan elemen bangunan dan detail ragam hiasnya pada seni bangunan (Trianingrum 2006:14). Pada awal abad ke-19 sampai dengan tahun 1920-an. Overstek yang cukup lebar dapat dipakai untuk menahan tampias air hujan. arsitektur kolonial Belanda berkembang di Indonesia. yaitu berasal dari massa. adanya beranda-beranda yang cukup dalam.

Muka bangunan dibentuk oleh dimensi. warna. wajah bangunan juga menceritakan dan mencerminkan kepribadian penghuni bangunannya. Aspek penting dalam wajah bangunan adalah pembuatan semacam pembedaan antara elemen horizontal dan vertikal. dan elemen dekoratif lainnya. teritisan yang . yang kemudian diterapkan ke dalam bentuk arsitekturnya. dan pada puncaknya merupakan representasi komunitas tersebut dalam publik. dan selaras. Selubung bangunan tersebut tentunya mengalami adaptasi dengan iklim. Hal lainnya tidak kalah penting untuk mendapatkan perhatian lebih adalah proporsi bukaan. bahan. keseimbangan komposisi yang baik. bahwa muka bangunan merupakan wajah bangunan yang memamerkan keberadaan sebuah bangunan kepada publik. dimana proporsi elemen tersebut harus sesuai terhadap keseluruhannya. dan berjasa dalam memberikan kemungkinan dan kreativitas dalam ornamentasi dan dekorasi. Penggunaan elemen-elemen naratif seperti balok jendela untuk mempertegas independensi jendela. Setelah prinsip penyusunan wajah bangunan ini. Wajah/ Muka/ Fasad Bangunan Selubung bangunan merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan ciri dari suatu bentukan kolonial. serta tema yang tercakup ke dalam variasi. ketinggian bangunan. penyusunan elemen horizontal dan vertikal yang terstruktur. karena faktor tersebut berhubungan langsung dengan penghawaan dan pencahayaan pada bangunan yang menentukan kenyamanan penghuni bangunan. Ciri bangunan yang dapat terlihat dari wajah bangunan atau selubung bangunan adalah bentuk atap. kondisi konstruksi dapat dibuat terlihat. Krier (2001) mempertegas pendapatnya. wajah bangunan mengungkap kriteria tatanan dan penataan. Dalam pandangan Krier (2001). misalnya artikulasi vertikal pada tiang sebagai penyangga. prinsip perulangan. wajah bangunan menyampaikan keadaan budaya saat bangunan tersebut dibangun. memberikan semacam identits kolektif sebagai suatu komunitas bagi mereka. Komposisi muka bangunan mempertimbangkan persyaratan fungsional pada dasarnya berkaitan dengan kesatuan proporsi yang baik. komposisi. harmonis.setempat. Hasil keseluruhan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia tersebut adalah suatu bentuk yang khas yang berlainan dengan arsitektur modern yang ada di Belanda sendiri (Trianingrum 2006:24). serta ragam hias. ornamen atau ragam hias. Selanjutnya menurut Krier (2001). dan juga elemen-elemen penyusun wajah bangunan lainnya seperti bukaan dan dinding bangunan (Suryokusumo 2006).

yang memiliki keharmonisan geometris dengan ruang tersebut. Dinding. 2. Posisi pintu ditentukan oleh fungsi ruangan atau bangunan. begitu pula sebaliknya. Elemen-elemen pendukung wajah bangunan menurut Krier (2001). Alternatif lainnya adalah dengan membuat relung-relung pada dinding atau konsentrasi suatu kelompok bukaan seperti pintu dan jendela. Pintu.. misalnya pintu berukuran pendek.dari sisi manapun kita memasukkan cahaya. Jendela.menghasilkan bayangan. pintu memainkan peranan penting dan sangat menentukan dalam menghasilkan arah dan makna yang tepat pada suatu ruang. bahkan pada batasan-batasan fungsional yang rumit. Sebagai suatu aturan. Contohnya pada sebuah bangunan monumental. dan bukanlah dengan tumit kita: selain ketidaknyamanannya. Atap.Lantai. valuasi dan makna dari tingkat-tingkat tertentu diaplikasikan pada rancangan jendelanya. biasanya ukuran dari pintu dan bukaan lainnya disesuaikan dengan proporsi kawasan sekitarnya.2001). Susunan pada bangunan-bangunan ini mewakili kondisi-kondisi sosial. antara lain adalah sebagai berikut: 1. dan seluruh bagian dari sisa ruangan akan gelap. mengungkapkannya sebagai berikut: “. karena masing-masing tingkat dihuni oleh anggota dari kelas sosial yang berbeda. dan 3.. . juga terhadap elemen-elemen pintu dan jendela. Proporsi tinggi pintu dan ambang datar pintu terhadap bidang-bidang sisa pada sisi-sisi lubang pintu adalah hal yang penting untuk diperhatikan. pengaplikasian sistem proporsi yang menentukan denah lantai dasar dan tinggi sebuah bangunan. Albert (tt) dalam Krier (2001). kita wajib membuat bukaan untuknya. yaitu jika seseorang berada di antara sesuatu dan jendela. yang selalu memberikan kita pandangan ke langit yang bebas. digunakan sebagai entrance ke dalam ruangan yang lebih privat. ukuran pintu selalu memiliki makna yang berbeda. cahaya akan terperangkap.. dan puncak bukaan tersebut tidak boleh terlalu rendah.” Pada beberapa masa. Pendapat Lippsmeier (1980:74-90) mempertegas lagi mengenai elemen wajah bangunan dari sebuah bangunan yang sekaligus merupakan komponen-komponen yang mempengaruhi wajah bangunan adalah: 1. karena kita harus melihat cahaya dengan mata kita. Ukuran umum pintu yang biasa digunakan adalah perbandingan proporsi 1:2 atau 1:3.. Skala manusia tidak selalu menjadi patokan untuk menentukan ukuran sebuah pintu. jendela dapat membuat orang yang berada di luar bangunan dapat membayangkan keindahan ruangan-ruangan dibaliknya. bahan-bahan yang menonjolkan massa juga dapat digunakan (Krier. 2.

yang paling sering dikorbankan untuk tujuan eksploitasi volume bangunan. 4.Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan jendela pada wajah bangunan. Jenis yang sering dijumpai saat ini adalah atap datar yang terbuat dari beton cor dan atap miring berbentuk perisai ataupun pelana. sehingga atap bergerak mundur dari pandangan mata manusia.Dinding. Ornamen tersebut dapat berupa sun shading yang biasanya diletakkan di bagian atas wajah dan bukaan-bukaan yang ada pada wajah bangunan. jenis atap ada bermacam-macam. antara lain adalah sebagai berikut: . Permainan kedalaman dinding juga dapat digunakan sebagai alat untuk menonjolkan wajah bangunan. tekstur. yang bisa didapatkan dari pemilihan bahan.Proporsi geometris wajah bangunan. . dan juga tekniknya.wajah bangunan memerlukan perlindungan dari cuaca dan iklim. Atap. yaitu dengan pembuatan zona wajah bangunan yang terencana. berasal dari kenyataan bangunan memiliki bagian bawah (alas) yang menyuarakan hubungan dengan bumi. . Sun shading juga dapat . Atap merupakan mahkota bagi bangunan yang disangga oleh kaki dan tubuh bangunan. bukti dan fungsinya sebagai perwujudan kebanggaan dan martabat dari bangunan itu sendiri. Penataan dinding juga dapat diperlakukan sebagai bagian dari seni pahat sebuah bangunan. dalam pembentukan wajah bangunan. ataupun cara finishing dari dinding itu sendiri. oleh karena itu perlu adanya penggunaan ornamen atau bentukan-bentukan yang dapat melindungi wajah bangunan dari kedua faktor tersebut. keberadaan jendela memang menjadi salah satu unsur penting dalam pembentukan wajah bangunan bangunan. Sun Shading/Luifel. yang seringkali disisipi dengan loteng. dan bagian atas yang memberitahu batas bangunan berakhir dalam konteks vertikal.Jendela memberikan distribusi pada wajah bangunan.Penataan komposisi. 3. bagian khusus dari bangunan dapat ditonjolkan dengan pengolahan dinding yang unik. salah satu efek atau elemen tertentu tidak dapat dihilangkan atau bahkan dihilangkan. Perlunya bagian ini diperlakukan dari segi fungsi dan bentuk.Memperhatikan keharmonisan proporsi geometri. atap adalah ruang yang tidak jelas. Secara umum. dan 5. oleh karena itu. seperti warna cat. . dan -Jendela dapat bergabung dalam kelompok-kelompok kecil atau membagi wajah bangunan dengan elemen-elemen yang hampir terpisah dan membentuk simbol atau makna tertentu. Secara visual. akan tetapi dinding juga memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya dengan jendela. atap merupakan sebuah akhiran dari wajah bangunan.

merupakan lambang masa prakristen yang diwujudkan dalam bentuk pohon hayat. bouvenlicht adalah bukaan pada bagian wajah bangunan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan kenyamanan termal. Di tempat asalnya. . kotak atau segi empat ramping. dan ada juga yang dipadukan dengan geveldepan. 4. atau dek bangunan. merupakan ornamen yang diletakkan di atas nok atap. Tympannon/ Tadah angin. ballustrade adalah pagar yang biasanya terbuat dari beton cor yang digunakan sebagai pagar pembatas balkon. 6. Belanda. maka bouvenlicht sangat bergantung pada kondisi cuaca. atau bentuk-bentuk geometris lainnya.Windwijzer (Penunjuk angin). 5. dan sebaliknya. dormer biasanya menjulang tinggi dan digunakan sebagai ruang atau cerobong asap untuk perapian. berkaitan fungsinya dengan kesehatan.menimbulkan efek berupa bayangan pada wajah bangunan yang dapat menjadikan wajah bangunan terlihat lebih indah. 3. oleh karena itu. berfungsi untuk penghawaan dan pencahayaan. Bisa juga diartikan sebagai bagian wajah bangunan yang berbentuk segitiga yang terletak pada dinding samping di bawah condongan atap. Bouvenlicht/ Lubang ventilasi. ukuran dari bouvenlicht harus disesuaikan dengan kondisi cuaca. Ballustrade. Gable/gevel. atau roda matahari. berbentuk segitiga yang mengikuti bentukan atap. Bouvenlichtberfungsi untuk mengalirkan udara dari luar ke dalam bangunan. Biasanya diwujudkan dalam bentuk hiasan batu yang diberi ornamen berbentuk bunga atau sulur-suluran. Dalam penggunaannya.Tower/Menara. Lambang masa kristen diwujudkan pada penggunaan bentukan-bentukan salib dan hati. kepala kuda. 2. Elemen lainnya yang dapat digunakan sebagai pendukung wajah bangunan kolonial Belanda adalah: 1. Dormer/Cerobong asap semu. 7. Ornamen ini berfungsi sebagai penunjuk arah angin. Bouvenlicht tidak tergantung dari keadaan cuaca. akan tetapi apabila dikaitkan dengan kenyamanan termal. berada pada bagian tampak bangunan. mulai dari bulat. dapat diusahakan agar bouvenlicht terhindar dari sinar matahari secara langsung. variasi bentuknya beragam. segi enam.

Kemudian Hadipradianto (2004) menegaskan kembali bahwa untuk mendapatkan kesan menyatu.ada tiga jenis kolom yang terkenal pada bangunan kolonial. dan – Kolom. dan 3. Ornamen ini dulunya dipakai pada rumah-rumah petani di Belanda. Proporsi arsitektural (perbandingan bukaan masif. Prinsip-prinsip komposisi. 10. yaitu antara lain: 1. dan Makelaar. Pemakaian elemen dekoratif. 2. A.Oelebord/oelenbret.Hiasan pada lubang angin diatas pintu dan jendela. Dominasi. yaitu kolom doric. 9.Voorschot.Hiasan/ornamen ikal sulur tumbuhan yang berujung tanduk kambing. dan terbuat dari daun alang-alang. ionic. unsur vertikal-horisontal. keterkaitan visual antar elemen). berbentuk segitiga dan terletak di bagian depan rumah. Ragam hias pada tubuh bangunan. Karakteristik Arsitektur Kolonial Belanda dalam hal ini dapat dilihat dari segi periodisasi perkembangan arsitekturnya maupun dapat pula ditinjau dari berbagai elemen ornamen yang digunakan bangunan kolonial tersebut. terutama pada bagian serambi bangunan kolonial. Dikatakan oleh Hadipradianto (2004) bahwa kriteria penataan wajah bangunan antara lain mencakup: 1. Penataan wajah bangunan dapat diwujudkan dengan mengkaji skala massa. Kolom-kolom ini banyak ditemukan pada bangunan kolonial klasik dengan gaya Yunani atau Romawi. terletak di bagian puncak atap. tekstur). Selain angsa. dancornithian. Biasanya dihias dengan papan kayu yang dipasang vertikal. . ornamen ini dibuat dari bahan beton atau semen. Nok Acroterie (Hiasan puncak atap). . Penyelesaian akhir (material. dan 4. Geveltoppen (Hiasan kemuncak atap depan). dan diwujudkan seperti pohon palem atau manusia.8. biasanya berupa:. ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam menyusun bentukan wajah bangunan. papan kayu berukir yang ditempel secara vertikal. berupa papan kayu berukir. Di Indonesia. pada bangunan indis seringkali simbol angsa digantikan bentuk pohon kalpa. warna. Perulangan. 3. Komposisi. dan memiliki makna simbolik. 2. Kolom biasanya diekspose sedemikian rupa. Periodisasi Arsitektur Kolonial Belanda Helen Jessup dalam Handinoto (1996: 129-130) membagi periodisasi perkembangan arsitektur kolonial Belanda di Indonesia dari abad ke 16 sampai tahun 1940-an menjadi empat bagian. yaitu: . . digambarkan sebagai dua angsa yang bertolak belakang yang bermakna pembawa sinar terang atau pemilik wilayah.

Tahun 1920 sampai tahun 1940-an Pada tahun ini muncul gerakan pembaruan dalam arsitektur. tetapi kadang-kadang juga muncul gaya yang disebut sebagai ekletisisme (gaya campuran). Hindia Belanda kemudian sepenuhnya dikuasai oleh Belanda. Selama periode ini arsitektur kolonial Belanda kehilangan orientasinya pada bangunan tradisional di Belanda serta tidak mempunyai suatu orientasi bentuk yang jelas. Oleh sebab itu. 4. Tahun 1902-1920-an Antara tahun 1902 kaum liberal di negeri Belanda mendesak apa yang dinamakan politik etis untuk diterapkan di tanah jajahan. maka “indische architectuur” menjadi terdesak dan hilang. Belanda pada abad ke-19 harus memperkuat statusnya sebagai kaum kolonialis dengan membangun gedung-gedung yang berkesan grandeur (megah). baik nasional maupun internasional di Belanda yang kemudian memengaruhi arsitektur kolonial di Indonesia. muncul standar arsitektur yang berorientasi ke Belanda. yaitu: 1) perkembangan arsitektur antara tahun 1870- . Dengan adanya suasana tersebut. 3. Sebagai gantinya. pemerintah Belanda mengambil alih Hindia Belanda dari perusahaan dagang VOC. Setelah pemerintahan Inggris yang singkat pada tahun 1811-1815. Hampir serupa dengan Helen Jessup. Pada 20 tahun pertama inilah terlihat gaya arsitektur modern yang berorientasi ke negeri Belanda. Yang lebih buruk lagi. Hanya saja arsitektur baru tersebut kadang-kadang diikuti secara langsung. Tahun 1800-an sampai tahun 1902 Ketika itu. Mereka ini menggunakan kebudayaan arsitektur tradisional Indonesia sebagai sumber pengembangannya. Handinoto (1996: 130-131) membagi periodisasi arsitektur kolonial di Surabaya ke dalam tiga periode. Pada masa tersebut muncul arsitek Belanda yang memandang perlu untuk memberi ciri khas pada arsitektur Hindia Belanda. Abad 16 sampai tahun 1800-an Pada waktu ini Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda) di bawah kekuasaan perusahaan dagang Belanda yang bernama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie).1. Indonesia waktu itu diperintah dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan ekonomi negeri Belanda. Bangunan gedung dengan gaya megah ini dipinjam dari gaya arsitektur neo-klasik yang sebenarnya berlainan dengan gaya arsitektur nasional Belanda waktu itu. pemukiman orang Belanda tumbuh dengan cepat. bangunan-bangunan tersebut tidak diusahakan untuk beradaptasi dengan iklim dan lingkungan setempat. 2. Sejak itu.

Gaya ini oleh Handinoto juga dapat disebut sebagai The Dutch Colonial. . satu lantai dan ditutup dengan atap perisai. Daendels adalah seorang mantan jenderal angkatan darat Napoleon. Karakteristik lain dari gaya ini diantaranya: terbuka. 2) perkembangan arsitektur sesudah tahun 1900. Gaya tersebut sebenarnya dipelopori oleh Gubernur Jenderal HW. 1996: 132). 1996: 132-133). terdapat pilar di serambi depan dan belakang. bukan Belanda) yang diterjemahkan secara bebas. Serambi belakang seringkali digunakan sebagai ruang makan dan pada bagian belakangnya dihubungkan dengan daerah servis (Handinoto. terlepas dari kebudayaan induknya. yakni Belanda. sehingga gaya arsitektur yang didirikan Daendels memiliki ciri khas gaya Perancis. Gaya arsitektur Hindia Belanda abad ke-19 yang dipopulerkan Daendels tersebut kemudian dikenal dengan sebutan The Empire Style.1900. dan 3) perkembangan arsitektur setelah tahun 1920. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda (Indonesia) yang bergaya kolonial. yang disesuaikan dengan lingkungan lokal dengan iklim dan tersedianya material pada waktu itu (Akihary dalam Handinoto. Gaya arsitektur The Empire Style adalah suatu gaya arsitektur neoklasik yang melanda Eropa (terutama Prancis. Perkembangan arsitektur kolonial Belanda tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Perkembangan Arsitektur Antara Tahun 1870-1900 Akibat kehidupan di Jawa yang berbeda dengan cara hidup masyarakat Belanda di negeri Belanda maka di Hindia Belanda (Indonesia) kemudian terbentuk gaya arsitektur tersendiri. Ciri khas dari gaya arsitektur ini yaitu adanya barisan pilar atau kolom (bergaya Yunani) yang menjulang ke atas serta terdapat gevel dan mahkota di atas serambi depan dan belakang. Ciri-cirinya antara lain: denah yang simetris. Daendels yang datang ke Hindia Belanda (1808-1811). terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang tidur dan kamarkamar lain.

2) Perkembangan Arsitektur Sesudah Tahun 1900 Handinoto (1996: 163) menyebutkan bahwa. Hasil keseluruhan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia tersebut adalah suatu bentuk khas yang berlainan dengan arsitektur modern yang ada di Belanda sendiri. Ada juga beberapa bangunan arsitektur kolonial Belanda yang mengambil elemen-elemen tradisional setempat yang kemudian diterapkan ke dalam bentuk arsitekturnya. bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900 merupakan bentuk yang spesifik. Bentuk tersebut merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda pada waktu yang bersamaan dengan penyesuaian iklim tropis basah Indonesia. .

desain grafis. melukis. kayu. Berlage (185-1934) dan rekan-rekannya seperti Willem Kromhout (1864-1940). Hal ini sejalan dengan filosofiArt Nouveau bahwa seni harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari (sumber: http://en. didalam dunia desain “Nieuwe Kunst” yang berkembang di Belanda. Bahan-bahan alam tersebut dipasang dengan ketrampilan tangan yang tinggi sehingga memungkinkan . logam.org/wiki/Art_Nouveau). Gaya ini ditandai dengan bentuk organik. tanah liat. kebangkitan arsitektur Belanda sebenarnya dimulai dari seorang arsitek Neo-Gothik.Handinoto (1996: 151-163) juga menguraikan bahwa. khususnya yang diilhami motif-motif bunga dan tanaman lain. (1892-1904). sehingga setiap desain yang dihasilkan. PJH. harus merupakan ekspresi pribadi perancangnya. perhiasan. The Amsterdam School dan De Stijl dapat dijabarkan sebagai berikut: a) Art Nouveau Art Nouveau adalah gerakan internasional dan gaya seni arsitektur dan diterapkan terutama pada seni-seni dekoratif yang memuncak pada popularitas di pergantian abad 20 (1890-1905). Cuypers (1827-1921) yang kemudian disusul oleh para arsitek dari aliran Niuwe Kunst (Art Nouveau gaya Belanda) HP. furnitur. Aliran Amsterdam Shool menafsirkan „orisinalitas‟ ini sebagai sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap perancang. dsb. berpegang pada dua hal yang pokok. KPC. yang pada awalnya berkembang disekitar Amsterdam.wikipedia. De Bazel (1869-1928). b) The Amsterdam School Arsitektur Amsterdam School. Gaya Art Nouveau dan pendekatannya telah diterapkan dalam hal arsitektur. gelas. e-journal ilmiah Petra Surabaya). JLM. Agak berbeda dengan „Art Nouveau„.nya). Gerakan Nieuw Kunst yang dirintis oleh Berlage di Belanda ini kemudian melahirkan dua aliran arsitektur modern yaitu The Amsterdam School serta aliran De Stijl. Nama Art Nouveauadalah bahasa Perancis untuk „seni baru‟. pertama adalah „orisinalitas‟ dan kedua adalah „spritualitas‟. berakar pada sebuah aliran yang dinamakan sebagai Nieuwe Kunst di Belanda. Lauweriks (1864-1932). disamping rasionalitas yang membantu dalam validitas universal dari bentuk yang diciptakan (de Wit dalam Handinoto. tembikar. dengan memakai bahan dasar yang berasal dari alam (bata. dan juga sangat bergaya bentuk-bentuk lengkung yang mengalir. dan tekstil dan patung. Sedangkan „spritualitas‟ ditafsirkan sebagai metode penciptaan yang didasarkan atas penalaran yang bisa menghasilkan karya-karya seni (termasuk arsitektur). batu alam. Adapun penjelasan mengenai arsitektur Art Nouveau. Nieuwe Kunst adalah versi Belanda dari aliran “Art Nouveau” yang masuk ke Belanda pada peralihan abad 19 ke 20. dan Edward Cuypers (1859-1927).

wikipedia. sehingga setiap desain yang dihasilkan. (sumber: http://en. Berlage). mereka melihat bahwa desain interior harus mendapat perhatian yang sama sebagai gagasan yang terpadu dalam arsitektur itu sendiri. ciri-ciri lain dari aliran Amsterdam School oleh Handinoto (dalam e-journal ilmiah Petra Surabaya). Tujuannya adalah untuk menciptakan pengalaman total arsitektur. interior dan eksterior. dan diintegrasikan dengan sculpture arsitektural. Pertama yaitu aliranAmsterdam School dan yang kedua adalah De Stijl. dan integrasi dari skema yang rumit pada elemen bangunan luar dan dalam: batu dekoratif. antara lain : a) Bagi Amsterdam School. seni kaca. tapi ternyata kedua aliran arsitektur ini mempunyai perbedaan. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan bahwa Amsterdam School tidak pernah menerima mesin sebagai alat penggandaan hasil karya-karyanya. Pengertian lain mengenai Amsterdam School (Belanda: Amsterdamse School) adalah gaya arsitektur yang muncul dari 1910 sampai sekitar 1930 di Belanda. dan hal tersebut sama sekali bukan merupakan hasil kerja atau produk mekanis. harus merupakan ekspresi pribadi perancangnya. Hal ini berbeda dengan De Stijl.dibuatnya bermacam-macam ornamentasi yang indah. dan bisa menerima mesin sebagai alat pengganda karya-karyanya. karya orisinalitas merupakan sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap perancang. Nilai estetika dari karya-karya aliran Amsterdam School bukan bersifat publik atau estetika universal. Itulah sebabnya Amsterdam School tidak pernah menerima mesin sebagai alat penggandaan hasil karyanya. yang menganggap hasil karya dengan gaya tersebut sebagai nilai estetika publik atau estetika universal. massa relatif tradisional. menara atau “tangga” jendela (dengan horizontal bar). b) Bagi Amsterdam School mengekspresikan ide dari suatu gagasan lebih penting dibanding suatu studi rasional atas kebutuhan perumahan ke arah pengembangan baru dari jenis denah lantai dasar suatu bangunan c) Arsitek dan desainer dari aliran Amsterdam School melihat bangunan sebagai “total work of art”. Tapi semuanya ini harus tetap memperhatikan fungsi utamanya. Meskipun berasal dari sumber yang sama dan mempunyai panutan yang sama (H. Pada saat yang sama.org/wiki/Amsterdam_School) Di samping karakteristik diatas. „Nieuwe Kunst‟ ini kemudian terpecah menjadi dua aliran. mereka berusaha untuk memadukan tampak luar dan bagian dalam (interior) bangunan menjadi suatu kesatuan yang utuh. .P. Pada tahun 1915. Gaya ini ditandai oleh konstruksi batu bata dan batu dengan penampilan bulat atau organik. besi tempa.

mereka menyederhanakan komposisi visual ke arah vertikal dan horisontal. dan hanya digunakan warna-warna primer bersamaan dengan warna hitam dan putih. batu alam.petra. ornamen skulptural dan diferensiasi warna dari bahan-bahan asli (bata. Selanjutnya. merah.ac. mereka menganggap arsitektur sebagai unsur yang paling utama dan oleh karenanya harus sanggup mendikte semua seni yang lain.id/ e-jurnal ilmiah Petra Surabaya) c) Gaya Arsitektur De Stijl Gaya De Stijl dikenal sebagai neoplasticism. Pendukung De Stijlberusaha untuk mengekspresikan utopia baru ideal dari keharmonisan spiritual dan ketertiban. (Sumber:http://fportfolio. dari segi warna adalah terbatas pada warna utama. Mereka menganjurkan abstraksi murni dan universalitas dengan pengurangan sampai ke inti bentuk dan warna. De Stijl mengusulkan kesederhanaan dan abstraksi pokok.d) Bangunan dari aliran Amsterdam School biasanya dibuat dari susunan bata yang dikerjakan dengan keahlian tangan yang tinggi dan bentuknya sangat plastis. neoplasticism sendiri dapat diartikan sebagai seni plastik baru. Dalam hal ini. . Secara umum. baik dalam arsitektur dan lukisan dengan hanya menggunakan garis lurus horisontal dan vertikal dan bentuk-bentuk persegi panjang. adalah gerakan artistik Belanda yang didirikan pada 1917. kuning. e) Walaupun arsitek aliran Amsterdam School sering bekerja sama dengan pemahat dan ahli kerajinan tangan lainnya. kayu) memainkan peran penting dalam desainnya.

wikipedia. 1996: 237-238) menggunakan istilah gaya bangunan sesudah tahun 1920-an dengan nama Niuwe Bouwen yang merupakan penganut dari aliran International Style. Seperti halnya arsitektur barat lain yang diimpor. atap datar. hitam. putih. (sumber: http://en. Wujud umum dari dari penampilan arsitektur Niuwe Bouwen ini menurut formalnya berwarna putih. dan tiga nilai utama.org/wiki/De_Stijl) 3) Perkembangan Arsitektur Setelah Tahun 1920 Akihary (dalam Handinoto. dan abu-abu. maka penerapannya disini selalu disesuaikan dengan iklim serta tingkat teknologi setempat.dan biru. menggunakan gevel horizontal dan volume bangunan yang berbentuk kubus . Gaya ini menghindari keseimbangan simetri dan mencapai keseimbangan estetis dengan menggunakan oposisi.

Belanda dan Perancis. Hal ini dicapai melalui penggunaan bahan-bahan modern dan metode konstruksi. dan h) balustrade.wikipedia. f) geveltoppen(hiasan kemuncak atap depan). cahaya dan udara. e) nok acroterie (hiasan puncak atap). d) windwijzer (penunjuk angin). bersih. . 1996:165-178) antara lain: a) gevel (gable) pada tampak depan bangunan. dan tanpa hiasan. (sumber: http://nl.org/wiki/Nieuwe_Bouwen) B. b) Simetris dan pengulangan yaitu keseimbangan antara bagian-bagian yang tidak setara. c) dormer. Berbagai Elemen Bangunan Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia Elemen-elemen bangunan bercorak Belanda yang banyak digunakan dalam arsitektur kolonial Hindia Belanda (Handinoto. ArsitekNieuwe Bouwen nasional dan regional menolak tradisi dan pamer dan penampilan. Istilah “Nieuwe Bouwen” ini diciptakan pada tahun dua puluhan dan digunakan untuk arsitektur modern pada periode ini di Jerman.Gaya ini (Niuwe Bouwen/ New Building) adalah sebuah istilah untuk beberapa arsitektur internasional dan perencanaan inovasi radikal dari periode 1915 hingga sekitar tahun 1960. Gaya ini dianggap sebagai pelopor dari International Style. ruang. b)tower. Karakteristik Nieuwe Bouwenmeliputi: a) Transparansi. g) ragam hias pada tubuh bangunan. berdasarkan bahasa desain sederhana. c) Penggunaan warna bukan sebagai hiasan namun sebagai sarana ekspresi. Dia ingin yang baru.