EDISI 6/2007

FREE

EDISI VI / 2007

1

www.thelightmagz.com

THEEDITORIAL

THEEDITORIAL

break the rule
Demam “break the rule” walaupun sudah lama dikumandangkan, tapi tampaknya masih berjangkit. Untuk itu edisi ini kami mencoba untuk tidak ketinggalan dalam hal break the rule. Hanya saja break the rule kali ini adalah break our own rule. Ya jika sebelumnya kami selalu menghadirkan 5 fotografer di tiap edisinya, untuk kali ini dengan sangat terpaksa kami hanya menampilkan 3 orang fotografer. Bukan karena kehabisan nara sumber, bukan juga karena tidak sempat menginterview nara sumber, namun hanya karena alasan sepele yang kami sebut “file size”. Ya untuk menjaga majalahini tetap ramping untuk didownload bahkan oleh komputer jebot sekalipun kami terpaksa menyunat 2 space untuk fotografer dan masih menyisakan 3 space. Ya file size rupanya menjadi hal yang tidak bisa diabaikan, terutama ketika liputan utama kali ini memuat banyak sekali foto. Ditambah lagi ketika 3 orang nara sumber kami kali ini memiliki foto-foto yang terlalu menarik untuk disortir. untuk itu, kami memilih untuk menaikkan kualitas walaupun harus dengan menurunkan kuantitas. Bagaimana dengan edisi mendatang? kita lihat saja nanti, apakah akan hadir kembali dengan 5 fotografer, atau 3, atau jangan-jangan 10 orang fotografer? Tapi yang jelas, berapapun fotografer yang kami tampilkan di sini, kualitas majalah ini akan tetap terjaga. Edisi ini kami menampilkan beberapa warna yang bisa bisa dipandang bertentangan namun kami lebih memilih untuk melihatnya sebagai perbedaan warna yang

ABOUT THE COVER PHOTOGRAPHER: NICOLINE PATRICIA MODEL: KARYNA @ PMG SHANGHAI MAKE UP ARTIST: NICOLINE PATRICIA

memperkaya. Anda akan menemui foto-foto pemenang Salon Foto Indonesia yang kebetulan gayanya jauh berbeda dengan foto-foto beberapa orang nara sumber kami. Nara sumber kami kali ini pun berasal dari 3 didikan negara asing yang berbeda (selain indonesia tentunya). Novijan Sanjaya yang lama belajar dii Jerman, Suherry Arno yang banyak belajar di Amerika Serikat dan juga Nicoline Patricia yang berguru ke negeri Belanda. Semoga semuanya dilihat bukan untuk menghadirkan pertentangan, namun memberi warna yang memperkaya. Selamat membaca. Redaksi. “Hak cipta foto dalam majalah ini milik fotografer yang bersangkutan, dan dilindungi oleh Undang-undang. Dilarang menggunakan foto dalam majalah ini dalam bentuk / keperluan apapun tanpa seijin pemiliknya.” PT Imajinasia Indonesia, Jl. Grinting II No.11, 7202495, www.thelightmagz.com, Pemimpin Perusahaan/Redaksi: Ignatius Untung, Technical Advisor: Gerard Adi, Redaksi: redaksi@thelightmagz.com, Public relation: Prana Pramudya, Marketing: marketing@thelightmagz.com, Sirkulasi: Maria Fransisca Pricilia, sirkulasi@thelightmagz.com, Graphic Design: ImagineAsia, Webmaster: Gatot Suryanto

2

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

3

STILLLIFE

STILLLIFE

NOVIJAN SANJAYA: MASTER THE BASIC.
Dari semua cabang dalam fotografi, fotografi fashion mendapat penggemar paling banyak. dimana-mana. Ironisnya, fotografi still life yang diyakini banyak fotografer sebagai dasar fotografi tidak menarik minat banyak fotografer. Still life sendiri berasal dari bahasa Belanda ”stilleven” yang berarti ”hidup yang diam”. Saat itu banyak sekali pelukis Belanda yang mendalami seni lukis dnegan obyek benda mati. Untuk menggali lebih dalam mengenai fotografi still life, kami menemui Novijan Sanjaya seorang fotografer yang banyak melakukan pemotretan still life. Sebenarnya apa arti dari still life? Bagi saya pribadi still life merupakan cabang seni yang menangkap keindahan dan arti dari subyek yang berupa benda-benda mati atau benda-benda yang sudah tidak bernyawa. Uniknya seni still life mencoba memberikan cara pandang yang berbeda sehingga seolah-olah kita Tidak hanya di indonesia tapi juga di luar negeri. Ya banyak sekali kita temui fotografer fashion

4

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

5

STILLLIFE

STILLLIFE

6

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

7

STILLLIFE
memberikan “nyawa” pada benda tidak bernyawa itu. Apakah benar banyak seniman besar dunia yang menjadikan still life sebagai disiplin dasar dari dunia seni? Betul. Mulai dari Vincent Van Gogh, Ver Meer, Robert Maplethorpe, hingga Andy Warhol. Hal ini karena kunci penguasaan still life adalah penguasaan bentuk, tekstur, lighting, komposisi, kepekaan, kedalaman dan lain sebagainya. Dan memang semua hal tersebut merupakan dasar dari seni. Buktinya ketika kita mengambil sekolah seni, pasti hal dasar awal yang diajarkan pada kita adalah penguasaan bentuk, tekstur, garis, komposisi dan lain sebagainya.

STILLLIFE

Sedikit kembali ke awal, bagaiman anda bisa terjun ke dunia fotografi ini? Saya baru memegang kamera pada tahun 1991, ketika saya belajar mechanical enginering di Jerman. Waktu itu saya ingin sekali menjadi desainer otomotif. Saya pikir jurusan itu bisa mengarahkan saya menjadi desainer otomotif, ternyata tidak karena terlalu teknis. Karena kesukaan saya pada visual akhirnya saya menekuni fotografi. Pada tahun 1993 saya mulai mengajukan aplikasi untuk pindah jurusan ke jurusan fotografi. Orang tua mengijinkan anda pindah jurusan? Waktu itu orang tua saya hanya bilang ”resiko tanggung sendiri ya”. Saya pun percaya bahwa hidup itu tidak bisa selalu menuruti apa kata orang. Hiduplah menurut apa yang terbaik menurut kamu sendiri. Saya ingat waktu itu orang tua saya bilang bahwa saya EDISI VI / 2007

”kalau jualan gado-gado lalu nggak enak terus pindah jadi jualan bakso, kapan mau enak gado-gadomu?”
8
EDISI VI / 2007 more about novijan: www.nvpd.net

9

STILLLIFE

STILLLIFE
harus ”jadi orang” kalau tidak dia malu sama tukang bakso di dekat rumah saya. Karena tukang bakso di dekat rumah saya saja punya tanah 10 hektar di kampungnya dan berhasil menyekolahkan anaknya hingga jadi sarjana hukum, jadi saya harus berhasil. Akhirnya anda berhasil diterima di jurusan fotografi? Tidak semudah itu, saya sempat 1 tahun mencoba hingga akhirnya diterima tahun 1994. Itu pun prosesnya panjang. Saya harus kirim portfolio saya ke mereka, lalu kalau mereka suka mereka akan kirim formulir untuk diisi dan dikasih project untuk dikerjakan. Kalau project yang dikerjakan disukai maka saya akan dipanggil untuk tes gambar. Tesnya pun aneh, saya diminta gambar kertas. Wah berarti harus bisa gambar dong? Semua orang bisa gambar kok. Kita terlahir dengan kreatifitas. Gambar kita tidak perlu bagus, yang ingin mereka lihat adalah kreatifitas kita. Apakah kita bisa berfantasi? Apakah kita bisa mengimajinasikan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda? Maka dari itu saya pun merasa bahwa untuk diterima di jurusan yang ada hubungannya dengan seni dan kreatifitas di jerman jauh

Saya ingat waktu itu orang tua saya bilang bahwa saya harus ”jadi orang” kalau tidak dia malu sama tukang bakso di dekat rumah saya. Karena tukang bakso di dekat rumah saya saja punya tanah 10 hektar di kampungnya dan berhasil menyekolahkan anaknya hingga jadi sarjana hukum, jadi saya harus berhasil.

10

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

11

STILLLIFE

STILLLIFE
lebih susah daripada jurusan eksak seperti yang saya ambil sebelumnya. Tapi pendidikan di sana jauh lebih baik dari di Indonesia. Bisa kita lihat dari bagaimana mereka menyaring calon mahasiswa. Sementara di Indonesia pendidikannya diarahkan untuk mengejar nilai. Maka dari itu banyak siswa SMA yang ketika lulus tidak tau mau jadi apa. Dan yang juga sering kita lihat, pendidikan di Indonesia membuat orang jadi takut salah. Akhirnya tidak mau mencoba. Jadi apa yang anda pelajari waktu berkuliah di jurusan fotografi di Jerman? Saya ambil jurusan photo design artinya saya diajari untuk bisa membuat konsep, membuat foto yang baik hingga mengerti kebutuhan klien. Di awal masa kuliah saya banyak disuruh motret bola, kubus, tekstur, batu. Sempat bosan tapi karena saya senang motret tetap saya jalani. Selain belajar fotografi saya banyak belajar cara pikir dari orang Jerman. Mereka tidak peduli yang mereka kerjakan akan menghasilkan uang atau tidak. Yang penting lakukanlah hal yang kamu suka. Ketika kamu melakukan sesuatu yang kamu suka pasti kamu akan melakukannya dengan senang hati. Jika sesuatu kita lakukan dengan senang hati pasti jadi yang terbaik. Dan kalau

12

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

13

STILLLIFE

STILLLIFE
yang kita lakukan jadi yang terbaik pasti akan mendatangkan uang. Jadi saya nggak kapok. Saya jalani terus. Saya ingat pesan orang tua saya ”kalau jualan gado-gado lalu nggak enak terus pindah jadi jualan bakso, kapan mau enak gado-gadomu?” Maka dari itu commitmen, consistency dan hardwork itu harus. Yang ketiga hal itu berada dalam satu paket bernama passion. Hal positif apa lagi yang anda pelajari di Jerman? Waktu saya kuliah, setiap project dinilai bersama. Foto semua siswa dipajang di dalam kelas lalu satu per satu yang ada di kelas itu dimulai dari dosen memberikan penilaian dan komentar terhadap foto itu termasuk muridmuridnya. Jadi kita diajak untuk berpikir dan berargumen. Oke kita kembali lagi ke fotografi still life. Apa menariknya fotografi still life? Mungkin lebih banyak orang yang lebih suka fotografi fashion. Tapi di fotografi fashion ada make up ada kostum yang bisa membuat penilaian terhadap hasil foto tersebut jadi bias. Sementara di still life yang ada hanya benda mati tak bernyawa. Bahkan tantangan terbesar fotografer still life adalah benda-benda

Mereka tidak peduli yang mereka kerjakan akan menghasilkan uang atau tidak. Yang penting lakukanlah hal yang kamu suka. Ketika kamu melakukan sesuatu yang kamu suka pasti kamu akan melakukannya dengan senang hati. Jika sesuatu kita lakukan dengan senang hati pasti jadi yang terbaik. Dan kalau yang kita lakukan jadi yang terbaik pasti akan mendatangkan uang.

14

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

15

STILLLIFE

STILLLIFE

16

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

17

STILLLIFE

STILLLIFE
terabaikan seperti tong sampah. Tantangan-

pelajari teknis dasar fotografi, master the basic! Kalau basicnya kita kuasai motret apapun pasti bisa. Sayangnya memang justru basicnya itu susah.

nya adalah bagaimana membuat benda-benda yang terabaikan menjadi menarik dengan angle, komposisi dan lighting yang berbeda. Ada tips untuk mereka yang sedang belajar still life? Sebelum masuk ke still life, kita diskusi mengenai fotografi secara umum dulu. Yang pertama saya selalu menyarankan untuk menguasai alat. Pelajari betul apa yang bisa dibuat oleh alat tersebut. Bukannya kita mau diperbudak oleh alat tapi justru supaya ketika kita mulai memotret alat ini nggak jadi ganggu karena kita udah tau bagaimana menggunakannya dan apa saja yang bisa dilakukan alat itu sendiri.

Selanjutnya saya selalu bilang pelajari teknis dasar fotografi, master the basic! Kalau basicnya kita kuasai motret apapun pasti bisa. Sayangnya memang justru basicnya itu susah. Hahaha... Tapi tetap harus diingat bahwa fotografi bukan hapalan tiap object atau subject treatmentnya beda, untuk itu diperlukan kepekaan. Ignorance is our biggest enemy. Dalam fotografi still life kepekaan itu sangat penting. Kita bisa mulai belajar still life dengan hal-hal yang kita temui. Kalau kita peka kita bisa menemukan banyak obyek disekeliling kita yang terabaikan padahal ketika kita ambil dari angle tertentu akan menjadi menarik. Belajarlah lighting dari matahari. Perhatikan jatuhnya kemana, bayangannya kemana. Kalau kita peka bungkus rokok di tempat sampah pun bisa jadi menarik. Nah akhirnya ketika kita ingin memotret still life, kita harus

18

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

19

STILLLIFE

STILLLIFE

20

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

21

STILLLIFE
tau menguasai materi dasar, lighting dasar, komposisi gambar dan komposisi warna. Kita harus bisa mengeluarkan karakter material dari obyek yang akan kita foto. Kita harus tau pencahayaannya akan seperti apa, highlight dan shadownya. Maka dari itu kalau kita kuliah fotografi ada sesi shadow studi. Sesi itu dimana kita hanya mempelajari tentang bayangan. Jatuhnya seperti apa, karakternya seperti apa, dan lain sebagainya. Sisanya adalah kepekaan itu tadi. Dan jangan lupa banyak latihan. Hunting maksudnya? Hunting itu bukan latihan, tapi fun buat saya. Latihan itu artinya kita eksperimen, eksplorasi. Tujuannya cari tahu apa yang bisa dilakukan. Lihat saja fotografer-fotografer senior, setiap mereka motret langsung jadi tanpa di crop, tidak seperti fotografer sekarang yang hasil

STILLLIFE

Hunting itu bukan latihan, tapi fun buat saya. Latihan itu artinya kita eksperimen, eksplorasi. Tujuannya cari tahu apa yang bisa dilakukan.
22
EDISI VI / 2007 EDISI VI / 2007

23

STILLLIFE

STILLLIFE

24

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

25

STILLLIFE
fotonya banyak yang harus di crop. Hal ini juga salah satunya karena mereka banyak eksperimen jadi tahu apa yang mau mereka hasilkan. Bagaiman aplikasi still life? Still life itu punya turunan yaitu food photograhy dan product photography. Kalau food tujuannya adalah untuk membuat makanan menjadi enak. Sementara untuk produk tujuan utamanya adalah shapenya kelihatan dan karakter materialnya keluar. Selain itu kesan yang ingin ditampilkan dari produk itu juga harus keluar.

STILLLIFE

Yang ingin saya tegaskan di sini adalah, apapun yang ingin digeluti yang penting disukai dan tepat caranya. Dan jangan lupa eksperimen. Istilahnya temukanlah resep andalanmu sendiri.
26
EDISI VI / 2007 EDISI VI / 2007

27

STILLLIFE
Bagaimana potensi fotografi still life di masa yang akan datang? Pasar fotografi still life memang tidak seramai fotografi fashion, tapi karena pemainnya sedikit jadi lumayan juga. Yang ingin saya tegaskan di sini adalah, apapun yang ingin digeluti yang penting disukai dan tepat caranya. Dan jangan lupa eksperimen. Istilahnya temukanlah resep andalanmu sendiri. Dulu studio saya di bekasi tapi banyak klien besar saya mau datang ke sana walaupun jauh. Sama seperti makanan, walaupun jauh kalau memang enak sekali pasti didatangi. Maka dari itu cari resep andalan tadi itu. Caranya eksperimen, perbanyak referensi untuk memicu imajinasi, master the basic dan kepekaan itu tadi. Kini Novijan Sanjaya mendirikan sebuah sekolah fotografi di bilangan kelapa gading, Jakarta. Untuk info lebih lanjut: www.nvpd.net

STILLLIFE

Dulu studio saya di bekasi tapi banyak klien besar saya mau datang ke sana walaupun jauh. Sama seperti makanan, walaupun jauh kalau memang enak sekali pasti didatangi.
EDISI VI / 2007

28

EDISI VI / 2007

29

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA
Sayangnya dari sekian banyak kesempatan pembelajaran fotografi, hanya terdapat sedikit lomba foto yang secara konsisten dari tahun ke tahun menjadi semacam tahap evaluasi penerimaan rapor pehobi fotografi. Salah satu lomba yang masih secara konsisten diadakan tiap tahunnya adalah SalonFoto. SalonFoto adalah sebuah lomba fotografi yang diadakan oleh FPSI yang pelaksanaannya ditunjuk secara bergiliran dari antara anggotaanggotanya. Keunikan SalonFoto dibandingkan lomba foto sejenis adalah kekonsistenannya dan system poin yang diberikan. Setiap peserta yang memenangi penghargaan mendapat poin yang akan diakumulasi setiap tahunnya. ”mungkin ini salah satu hal yang membuat SalonFoto bisa konsisten diadakan dan konsisten mendapat sambutan dari peserta. Karena dengan adanya sistem poin tersebut peserta jadi terpacu lagi untuk ikut lagi dan lagi.” Ungkap salah seorang peserta yang sudah 3 kali mengikuti SalonFoto. ”SalonFoto mungkin salah satu lomba foto yang mencoba menghargai pesertanya dengan system poinnya. Artinya apa yang pernah dibuat oleh peserta tersebut tidak dilupakan dengan tetap mengakumulasi poin-poinnya dari tahun ke tahun.” Ungkap peserta yang lain. SalonFoto kali ini diadakan di Jakarta yang

SALON FOTO INDONESIA, KONSISTEN DI TENGAH PERUBAHAN JAMAN
Fotografi Indonesia dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang naik turun. Penyebabnya beragam, mulai dari penemuan dan perkemabangan teknologi digital yang lebih memudahkan pengguna kamera hingga pada tumbuh dan gugurnya media yang ikut menstimulir dan menginspirasikan peminat fotografi Indonesia. Beberapa majalah fotografi bertumbangan satu per satu. Komunitas fotografi konvensional pun berguguran. Namun di sisi lain komunitas online bertumbuhan. Acara-acara hunting, seminar, dan workshop makin variatif. Segala sarana dan kesempatan semacam ini sangat dibutuhkan pehobi foto dalam memperkaya wawasan dan kemampuan fotografi mereka.

”SalonFoto mungkin salah satu lomba foto yang mencoba menghargai pesertanya dengan system poinnya. Artinya apa yang pernah dibuat oleh peserta tersebut tidak dilupakan dengan tetap mengakumulasi poinpoinnya dari tahun ke tahun.”

30

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

31

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

medali perak medali perak

Syaharry Wibowo, Jakarta, Judul: Kemuning, Medali Emas

medali emas medali emas
32
EDISI VI / 2007

Bram Lukito LRPS, A. FPSI**, E. FPSI, Jakarta, Judul: Di balik Jendela, Medali Perak

Anom Manik Agung, Denpasar, Judul: Menunggu Kelahiran, Medali Perak

EDISI VI / 2007

33

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

1. STEPHANUS HANNIE

3. SAELAN WANGSA JAKARTA, Judul: Gawat 4. EDWIN RANTY SURABAYA, Judul: Manusia Cicak

medali perunggu medali perunggu
34
EDISI VI / 2007

5. NOGO AGUSTO ALIMIN SURABAYA, Judul: Kecak Kolosal

SEMARANG, Judul: It's My Life 2. MADE ARYA DWITA DEDOK DENPASAR, Judul: Lilin-lilin Harapan

EDISI VI / 2007

35

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

1. I KETUT WIDIATMIKA A.FPSI*, A.NPC, E.FPSI DENPASAR, Judul: Gebuk Seraya 2. HERRY WIYANTO A. FPSI ** MAGELANG, Judul: The Mask 3. TONNY DJOHAN A. FPSI ** - A. RPS - PSA *** MALANG, Judul: Barong 4. ANTONY SETIAWAN

penghargaan penghargaan
36
EDISI VI / 2007

SURABAYA, Judul: White On White 5. KAMSER LUMBAN RADJA JAKARTA, Judul: Misty Miror Lake

EDISI VI / 2007

37

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA
1. BUDI DARMAWAN ARPS,ACPA, APSS,AFPSI***, Hon EFPSI SURABAYA, Judul: Water Festival 2. MUKRI SULAIMAN A. FPSI TANGERANG, Judul: Ada Serangga Dibunga-ku 3. AGUS SUWARTO SURABAYA, Judul: “ini Gigiku!” 4. GUNAWAN TJOKROSETIO SOLO, Judul: Pulang Kerja 5. PETERS VINCEN E.FPSI BATAM, Judul: Waktu Rokok

penghargaan penghargaan

38

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

39

LIPUTANUTAMA
pelaksanaannya diorganisir oleh Lembaga Fotografi Candra Naya. Ditunjuknya Candra Naya oleh FPSI juga melalui proses yang panjang. Hal ini terjadi ketika Munas FPSI di Bali tahun lalu. Ketika itu Jakarta dan Malang mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan FPSI tahun ini. Namun dengan beberapa pertimbangan tertentu, Candra Naya lah yang ditunjuk sebagai pelaksana tahun ini. Proses penjurian SalonFoto tahun ini dilakukan di pusat pelatihan Modern Group di kawasan Ciawi Jawa Barat. Beberapa nama besar seperti Oscar Matuloh dan Darwis Triadi terlihat dalam daftar juri. Hasil penjurian tersebut dipamerkan bersamaan dengan acara FGD (Forum Grafika Digital) Expo di Jakarta Convention Centre. Pada acara penutupan pameran terlihat beberapa orang fotografer besar tanah air seperti Lans Brahmantyo, Sigit Pramono dan Oscar Matuloh ikut menyerahkan penghargaan kepada para Dalam beberapa kesempatan kami juga menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan beberapa orang peserta, pengamat fotografi dan juga juri yang terlibat dalam proses penjurian ini. Pujian dan kritik yang membangun pun bermunculan. Sebagian besar yang kami temui sependapat bahwa pemenang.

LIPUTANUTAMA

”yang saya takutkan, karena sudah mapan SalonFoto punya peluang untuk jadi stagnan, tidak berubah dan seolah-olah merasa tidak perlu membaca jaman. Padahal jaman berubah terus. Begitu juga dengan fotografi. Jangan sampai SalonFoto dianggap sebagai kerajaan masa lampau.”

SalonFoto dan FPSI sebagai pemilik acara ini patut mendapat acungan jempol atas usahanya yang terus menerus dalam mengadakan satu lagi kesempatan bagi pehobi foto indonesia dalam mengevaluasi kemampuan fotografi mereka. Usaha yang tidak habis secara terus-menerus ini lah yang seharusnya menginspirasi komunitas dan pihak lain dalam mengadakan acara sejenis. Namun tentu saja kekonsistenan dan kesenioritasan SalonFoto sebagai salah satu lomba foto di Indonesia bisa memunculkan hal negatif. Seperti yang diutarakan Oscar Matuloh, salah seorang fotografer senior yang sudah beberapa kali terlibat sebagai juri SalonFoto, ”yang saya takutkan, karena sudah mapan SalonFoto punya peluang untuk jadi stagnan, tidak berubah dan seolaholah merasa tidak perlu membaca jaman. Padahal jaman berubah terus. Begitu juga dengan fotografi. Jangan sampai SalonFoto dianggap sebagai kerajaan masa lampau.” Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang pengamat fotografi yang tidak ingin diungkapkan identitasnya, ”Ada kesan SalonFoto itu mulai tidak bisa mengikuti perkembangan tren fotografi. Padahal salah satu hal yang menonjol dalam fotografi adalah flexibilitasnya mengikuti tren. Bagaimana dengan obyek yang sama, kamera yang sama foto yang dihasilkan bisa lebih memperkaya referensi yang melihatnya.”

”Ada kesan SalonFoto itu mulai tidak bisa mengikuti perkembangan tren fotografi. Padahal salah satu hal yang menonjol dalam fotografi adalah flexibilitasnya mengikuti tren. Bagaimana dengan obyek yang sama, kamera yang sama foto yang dihasilkan bisa lebih memperkaya referensi yang melihatnya.”
EDISI VI / 2007

40

EDISI VI / 2007

41

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

JOSUA VICTOR TANUGERAH, A. FPSI*, SURABAYA, Judul: Kejar, Medali Perak

PETERUS, JAKARTA, Judul: Terlelap, Medali Emas

medali emas medali emas
42
EDISI VI / 2007

medali perak medali perak

ADITHYA ZEN, BANDUNG, Judul: Aku "pispot" Mu Kah?, Medali Perak EDISI VI / 2007

43

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

1. SETIADY TANZIL, Hon.E.FPSI, HoN.PAF, A.FPSI** BANDUNG, Judul: Menjaring Ikan 2. HANDOKO WONOADI MAGELANG, Judul: MALANG, Judul: Santai Aja 4. CHRIS INDRIA JAKARTA, Judul: Domba Yang Hilang 5. EFFENDY SURYAJAYA, A.FPSI* JAKARTA, Judul: Bermain Morning Activity 3. DIETER BEHRENS, A, FPSI **** ELDAF

medali perunggu medali perunggu
44
EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

45

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

46

EDISI VI / 2007

penghargaan penghargaan

EDISI VI / 2007

47

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

penghargaan penghargaan
1. I B PUTRA ADNYANA DENPASAR, Judul: Cucu Nan Setia 2. DEDY H. SISWANDI A.FPSI* BANDUNG, Judul: Ladang Garapan 3. ANDREAS MESSAH BATAM, Judul: Pantai Gading Tj-batu 4. BUDI DARMAWAN ARPS,ACPA, APSS,AFPSI***, Hon EFPSI SURABAYA, Judul: Long Shadow 5. RICKY ALEXANDER BATAM, Judul: Paddle To Market 6. HARTO SOLICHIN MARGO A, FPSI *, HON, PAF, PAF * BANDUNG, Judul: Hard Job 7. BAMBANG EKOJANTO MAGELANG, Judul: Gersang 8. CIPTO AJI GUNAWAN DENPASAR, Judul: Diantara Ikan-ikan 9. SANTOSO AFPSI* JAKARTA, Judul: Anak-anak Samosir 10. SAELAN WANGSA JAKARTA, Judul:Pohon2 Kering 11. JOHANNES WINATA JAKARTA, Judul: What's The Friend Are For

48

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

49

LIPUTANUTAMA
Oscar pun berpendapat bahwa SalonFoto dan lomba-lomba semacam ini harus bisa memberi referensi kepada pehobi foto bukan sekedar pameran. ”Peminat fotografi di Indonesia ini miskin referensi. Majalah dan buku-buku nggak banyak, untuk itu seharusnya lombalomba semacam ini bisa kasih referensi yang segar bagi mereka. Bahkan kalau memungkinkan bisa melatih apresiasi setiap orang terhadap fotografi.” Ungkap Oscar. Salah satu indikasi mulai terperangkapnya SalonFoto pada kemapanan seperti yang diungkapkan Oscar juga diungkapkan salah seorang peserta yang sudah berkali-kali mengikuti SalonFoto namun memutuskan untuk tidak mengikuti lagi pada beberapa pelaksanaan terakhir. ”Kalau kita perhatikan tiap tahun, selalu saja ada foto yang sama. Sama obyeknya, mirip komposisinya, bahkan sampai olahannya. Ini menandakan belum ada kemajuan yang berarti dari para peserta.” Ungkapnya. Pada kategori Jurnalistik Oscar melihat ada perkembangan yang menggembirakan. ”Yang terakhir ini dari segi konten ada kemajuan, hasilnya pun ada perkembangan. Foto jurnalistik yang masuk nggak terlalu harafiah saja. Tapi juga mengutamakan unsur keindahan walaupun tidak meninggalkan esensi jurnalistik. Jadi fotonya lebih bisa berbicara.” Oscar pun menambahkan ”tiap tahun pasti ada foto ruangan gelap dengan genteng yang sedikt terbuka, lalu ada cahaya masuk. sunset di pantai, siluet, close up kakek atau nenek dengan kerut-kerut di wajahnya, dan lain sebagainya. Nah ini perlu penyegaran.”

LIPUTANUTAMA

”Baik tidaknya sebuah lomba salah satunya dilihat dari entry yang masuk. Untuk itu doronglah supaya SalonFoto bisa makin baik lagi dengan hanya mengirimkan foto yang benar-benar baik dan segar. Bukan foto yang mirip-mirip dengan tahun sebelumnya.”

Pada akhir pembicaraan kami, Oscar berharap agar di kemudian hari SalonFoto bisa lebih membaca jaman dan lebih bisa mentrigger fotografer amatif untuk tidak mau kalah dengan profesional. ”Amatir itu lebih dahsyat dari profesional. Mereka menekuni fotografi dengan dorongan dari dalam hati, bukan karena uang. Artinya passionnya bisa lebih tahan banting. Selanjutnya hanya perlu arahan agar amatir bisa menyentuh area kemampuan seorang profesional.” Selain itu Oscar juga berharap peserta yang ikut mau ikut mendorong SalonFoto ke perubahan yang positif. ”Baik tidaknya sebuah lomba salah satunya dilihat dari entry yang masuk. Untuk itu doronglah supaya SalonFoto bisa makin baik lagi dengan hanya mengirimkan foto yang benarbenar baik dan segar. Bukan foto yang mirip-mirip dengan tahun sebelumnya.” Pada akhirnya, bagi seluruh pelaksana dan peserta SalonFoto Indonesia, selamat atas keberhasilannya dalam terus menyediakan kesempatan pengembangan fotografi Indonesia. Dan marilah sama-sama kita dukung SalonFoto dan acara sejenis untuk terus eksis dan menjadi lebih baik lagi.

50

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

51

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

MUKRI SULAIMAN A. FPSI, TANGERANG, Judul: Lumpur Lapindo, Medali Perak

ANDRY PRASETYO, SOLO, Judul: Relawan Gempa, Medali Emas

medali emas medali emas medali perak medali perak
52
EDISI VI / 2007 STEPHANUS SETIAWAN, YOGYAKARTA, Judul: Toleransi Antar Agama, Medali Perak EDISI VI / 2007

53

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

1. ARBAIN RAMBEY JAKARTA, Judul: Anggun 2. LAWMIN JAKARTA, Judul: Motor Ku 3. ANDREAS SUSANTO MALANG, Judul: After Finish 4. AGUS BAGJANA BATAMA, Judul: Tragedi Pasar Pagi

medali perunggu medali perunggu
54
EDISI VI / 2007

5. RADITYA HELABUMI SURABAYA, Judul: Hajar Suporter

EDISI VI / 2007

55

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

penghargaan penghargaan
1. HERRY WIYANTO A. FPSI ** MAGELANG, Judul: Dunia Milik Berdua 2. WILYA ELAWITACHYA ARPS JAKARTA, Judul: Loncat 3. SUTRISNA RAMLI E. FIAP., A.FPSI*.,PSA3*CSD JAKARTA, Judul: Kereta Gratis 4. ANDI WIJAYA A. FPSI * BANDUNG, Judul: Lautan Sampah 5. MUKRI SULAIMAN A. FPSI TANGERANG, Judul: Tradisi Rakyat Dibulan Maulud

56

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

57

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

1. NEDI PUTRA MALANG, Judul: Amuk Massa 2. AGATHA ANNE BUNANTA ARPS, APSS (SPORE) JAKARTA, Judul: "aku Akan Selalu Menghiburmu, Nak" 3. RADITYA HELABUMI SURABAYA, Judul: Nenek Pasti Selamat 4. NUNU NUGRAHA BANDUNG, Judul: Ruang Kelasku 5. RIZAL ADI DHARMA JAKARTA, Judul: Jakarta February 2007

penghargaan penghargaan
58
EDISI VI / 2007 EDISI VI / 2007

59

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

ADITHYA ZEN, BANDUNG, Judul: Stop Smoke, Medali Perak

MUKRI SULAIMAN, A.FPSI*, TANGERANG, Judul: Power Of Jakarta, Medali Emas

medali emas medali emas medali perak medali perak
NURBINA HADISANTOSA A.FPSI*, SEMARANG, Judul: La Pieta, Medali Perak

60

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

61

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

medali perunggu medali perunggu
1. I B PUTRA ADNYANA DENPASAR, Judul: Ayo Kita Comeon... 2. I KETUT WIDIATMIKA, A.FPSI*, A.NPC, E.FPSI DENPASAR, Judul: Terkejut 3. DIETER BEHRENS, A.FPSI **** ELDAF MALANG, Judul: Dont Smoke 4. HERRY WIYANTO, A. FPSI ** MAGELANG, Judul: Window 5. JOSEPH LEO JAKARTA, Judul: Pertarungan

62

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

63

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

penghargaan penghargaan
64
EDISI VI / 2007 EDISI VI / 2007

65

LIPUTANUTAMA

FASHIONPHOTOGRAPHY

penghargaan penghargaan
1. SETIADY TANZIL, Hon.E.FPSI, Hon.PAF, A.FPSI** BANDUNG, Judul: Domba Perjoangan 2. ANDI SUCITRA I.B. DENPASAR, Judul: Resleting 3. TAN SIOE LAY, A.FPSI*, ANPC SINGARAJA, Judul: Sepasang Umbul-umbul 4. ROSA BATAM, Judul: Maluaahhh.. 5. EDWIN DJUANDA, ARPS, A.FPSI* JAKARTA, Judul: Kechak 5000 6. AGATHA ANNE BUNANTA, ARPS, APSS (SPORE) JAKARTA, Judul: Dragon Boat 7. BUDI PURNOMO SOLO, Judul: "wanita Terkekang" 8. W RAHARDJO SOLO, Judul: Kelakar 9. ARIEF SETIAWAN PURWANTO DENPASAR, Judul: Three Bull Racers

66

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

67

BLACK&WHITE

BLACK&WHITE
nasaran dan segera menanyakan perbedaan fotografer BW dengan print maker. ”Fotografer tugasnya hanya memotret. Ia menjual jasanya dalam memotret. Sementara print maker menjual hasil akhir dari foto tersebut sehingga ia harus memproses sendiri fotonya karena proses penciptaan foto tidak berhenti ketika kita selesai memotret. Ada processing film kalau di analog atau olah digital kalau di media digital. Selain itu masih ada proses cetak sehingga didapat hasil output berupa bentuk fisik sebuah foto. Jadi fotografer tanggung jawabnya bisa berhenti di tengah setelah ia selesai memotret, sedangkan print maker tanggung jawabnya baru selesai ketika ia menghasilkan sebuah bentuk fisik sebuah foto.” Jelasnya. Suherry Arno mengaku mendalami dunia fotografi sama seperti kebanyakan orang yaitu dengan media berwarna. Uniknya saat itu ia tidak pernah melakukan hunting seperti banyak fotografer yang sedang belajar. Ia memilih untuk memperdalam teori fotografinya sendiri. Ia banyak membaca buku dan artikel-artikel. Hingga akhirnya suatu saat ia bertemu dengan Warren Kiong (pengamat fotografi. Red). ”Warren bilang ke saya ”Tidak ada gambar yang lebih indah dari gambar BW. Maka dari

SUHERRY ARNO, KONSISTEN DI JALUR NON POPULER
imaging yang ada. Pada edisi ini, untuk pertama kalinya kami menghadirkan seorang yang print maker bukan sekedar fotografer.” Ucapnya membuka pembicaraan kami. Kami pun pe-

”Fotografer tugasnya hanya memotret. Ia menjual jasanya dalam memotret. Sementara print maker menjual hasil akhir dari foto tersebut sehingga ia harus memproses sendiri fotonya karena proses penciptaan foto tidak berhenti ketika kita selesai memotret.

Teknologi terus berkembang dari hari ke hari. Cara manusia memotret pun berpindah dari analog ke digital. Namun black & white photography tidak pernah kehilangan peminatnya. Ya black & white photography atau yang biasa BW photography memang memiliki daya tarik tersendiri di tengah begitu semakin banyaknya warna yang bisa dihasilkan dan ditampilkan oleh perangkat banyak berkutat pada BW photography, walaupun sesekali ia juga melakukan pemotretan color. Namun status fotografer BW tampaknya terlalu sempit bagi Suherry Arno. ”Saya ingin menjadi

68

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

69

BLACK&WHITE
itu kamu harus coba.” Ungkapnya. Suherry pun sempat ragu-ragu untuk mendalami fotografi BW karena ia sadar mendalami fotografi BW berarti harus belajar teknik kamar gelap. Namun pada akhirnya ia menjawab tantangan Warren untuk mendalami fotografi BW. ”saya orangnya tidak bisa ditantang. Bahkan setelah itu Warren pernah datang ke saya dan menceritakan fotografi infra red. Dia bilang, Infra red itu susah. kalau orang motret 1 rol paling banyak jadinya hanya 1 buah. Wah saya makin tertantang.” Ungkapnya serius. ”Kebetulan waktu itu warren kasih saya 2 rol film, saya ambil dua-duanya lalu saya cari buku tentang fotografi infra red, saya pelajari setelah itu saya coba motret dengan 2 rol itu. Dan benar saja, dari 2 rol itu foto yang jadi ada 72, artinya jadi semua tidak ada yang gagal.” Tambahnya dengan sumringah. Suherry mengaku bahwa ia adalah tipe orang yang perfeksionis. Artinya ketika ia ingin mempelajari sesuatu ia akan mempelajari sampai bisa dan harus bisa. ”Tapi bukan berarti harus sampai jago, setidaknya sampai bisa lah.” Ungkapnya. Mulai saat itu hingga kini Suherry mengaku sering diprovokasi Warren & Kayus Mulia untuk belajar hal baru. ”Belajar apa saja, termasuk proses cetak dengan platinum paladium.” Ungkapnya. Dalam mempelajari fotografi, Suherry merasa diuntungkan dengan statusnya yang hanya fotografer amatir bukan profesional sehingga ia dapat dengan mudah memiliki akses untuk belajar pada fotografer profesional. ”Kalau saya fotografer profesional mungkin akan susah untuk belajar dari sesama fotografer profesional karena akan dianggap pesaing.”

BLACK&WHITE

”Kalau saya fotografer profesional mungkin akan susah untuk belajar dari sesama fotografer profesional karena akan dianggap pesaing.”
70
EDISI VI / 2007 EDISI VI / 2007

71

BLACK&WHITE

BLACK&WHITE

72

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

73

BLACK&WHITE
Ungkapnya sambil tersenyum.

BLACK&WHITE

Perjalanan Suherry menjadi print maker bermulai ketika ia menemukan majalah foto yang mengulas tiga orang printer BW terkemuka yang merupakan murid2 terbaik Ansel Adam. ”Saya ingat ada 3 orang print maker hebat yang diulas dalam majalah itu, setelah membaca majalah itu saya kirim email dan telepon ke mereka untuk minta diajari dan saya diterima oleh ketiganya. Saya pun berangkat ke Amerika Serikat untuk kursus.” Kenangnya. Hingga saat ini Suherry setiap tahunnya menyediakan waktu untuk ke US sedikitnya setahun sekali untuk belajar hal baru tentang print making. Berbicara mengenai fotografi BW dan print making, Suherry mengaku cukup bangga karena bisa memproses fotonya dari A hingga Z. ”Banyak sekali fotografer bagus, tapi yang bisa process hasil fotonya sendiri dengan benar tidak banyak.” ungkap lelaki yang memiliki galeri di kawasan kemang, Jakarta ini.

previsualisasi dalam memotret BW itu sangat perlu. Artinya ketika kita memotret BW kita harus bisa membayangkan nanti jadinya mau seperti apa. Bagian mana yang mau lebih hitam bagian mana yang mau lebih terang.
74
EDISI VI / 2007

Suherry mengaku menghasilkan foto BW yang baik tidaklah mudah, hal ini mungkin disebabkan karena mata kita tidak bisa secara otomatis mengkonversi obyek berwarna yang kita lihat menjadi hitam putih. ”Ansel Adams pernah berkata: previsualisasi dalam memotret BW itu sangat perlu. Artinya ketika kita memotret BW kita harus bisa membayangkan nanti jadinya mau seperti apa. Bagian mana yang mau lebih hitam bagian mana yang mau lebih terang.” Ungkapnya. “Untuk itu saya selalu buat catatan ketika memotret. Untungnya saya banyak pakai kamera large format dan ultra large format. Sehingga filmnya satu-satu tidak dalam bentuk rol, sehingga EDISI VI / 2007

75

BLACK&WHITE

BLACK&WHITE

76

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

77

BLACK&WHITE
mudah mencatatnya.” Tambahnya. Suherry mengakui terkadang ketika memotret ia ingin memiliki beberapa alternative sehingga sesekali ia melakukan bracketing. ”Bracketing kan bisa depth of fieldnya, bisa fokusnya, bisa diafragmanya bisa exposurenya. Nggak ada masalah dengan bracketing sejauh kita tahu apa yang kita mau bukan asal bracketing.” Ungkapnya. Setelah melakukan pemotretan Suherry biasanya memproses filmnya dan membuat contact print. “Dari contact print saya bikin coret-coretan mana bagian yang ingin lebih gelap mana yang kurang terang dan lain sebagainya.” Tambahnya. Setelah itu proses pencetakan foto pun dimulai. Tidak jarang memerlukan beberapa kali karena Suherry selalu membiarkan foto yang akan diolah untuk diendapkan dulu sementara. “Kadang saya endapkan dulu beberapa hari biar tidak jenuh dan bias.” jelasnya.

BLACK&WHITE

Nggak ada masalah dengan bracketing sejauh kita tahu apa yang kita mau bukan asal bracketing.”
78
EDISI VI / 2007 EDISI VI / 2007

79

BLACK&WHITE

BLACK&WHITE
Ditanya mengenai penggunaan software pengolah foto dalam memproses foto digital Suherry menganggap hal itu sebagai salah satu yang wajar saja. ”proses pengolahan foto dengan software itu mengadopsi teknik pengolahan foto dari kamar gelap konvensional jadi sah-sah saja. Perlu diingat bahwa dalam mengolah foto salah satu yang menentukan bagus tidaknya adalah masalah taste juga, jadi kalau hasil olahannya bagus pasti karena dia punya taste yang bagus juga.” Ungkapnya. ”Hanya saja idealnya ketika yang mengolah dan memproses foto tersebut bukan fotografernya dan bukan dengan arahan fotografernya sebaiknya kredit title foto tersebut atas kedua nama yang bersangkutan tersebut. Namun jika arahan processing foto tersebut berasal dari fotografernya maka boleh saja kredit titlenya hanya si fotografernya. Karena itu kan seperti pinjam tangan saja, tapi otaknya dari fotografernya.” tambahnya. Mengenai potensi menjadikan print maker sebagai profesi Suherry menganggap masih belum terlaku menggembirakan di Indonesia. ”Print maker masa depannya masih suram di sini. Mungkin karena waktu yang tersita cukup banyak selain mahal. Pada akhirnya banyak yang frustasi karena memang sulit untuk mendapatkan hasil yang bagus. Selain itu dengan adanya teknologi

Perlu diingat bahwa dalam mengolah foto salah satu yang menentukan bagus tidaknya adalah masalah taste juga, jadi kalau hasil olahannya bagus pasti karena dia punya taste yang bagus juga.

80

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

81

BLACK&WHITE

BLACK&WHITE
digital ini banyak fotografer yang puas dengan melihat fotonya di layar monitor saja.” Ungkapnya. ”Namun perlu diingat, profesi ini masih sangat jarang sehingga pesaingnya juga sedikit.” tambahnya. Pada akhir pembicaraan kami, Suherry membagikan tipsnya dalam mendalami fotografi BW. ”Yang pertama, dalam mempelajari fotografi BW sebaiknya memiliki dark room sendiri. Akan lebih baik lagi kalau bisa mempelajari teknik zone system-nya Ansel Adams. Sementara untuk cetak digital semua alat yang akan digunakan harus dikalibrasi dengan benar. Monitornya, printernya, dan lain sebagainya. Dalam mengkalibrasi monitor perlu diperhatikan pencahayaan karena monitor sensitif terhadap cahaya.” Ungkapnya. Fotografer yang ingin menggeluti fotografi BW sebaiknya mengerti dengan baik zone system sehingga mereka tau mau diletakkan dimana shadow dan highlightnya. Selanjutnya Suherry juga menganjurkan fotografer untuk merencanakan mengenai proses yang akan dilakukan pada foto yang diambil. ”Dan yang paling penting adalah previsualisasi. Kita harus tau foto ini akan jadi seperti apa, distribusi tonalnya, harmonisasi dan gradasinya.” Tutupnya.

82

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

83

BLACK&WHITE

BLACK&WHITE

84

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

85

FOODPHOTOGRAPHY

THELEPASAN

BREAK THE RULE OR BLUNDER?
Menyambung omong kosong di edisi terdahulu mengenai breaking the rule, saya tertarik untuk berbagi sedikit pengetahuan mengenai sejarah marketing yang saya tahu dan saya percayai karena kebetulan ada hubungannya dengan topik omong kosong kita ini. Setidaknya ketika ikutikutan break the rule, kita tahu mengapa dan untuk apa kita breaking the rule. Ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan barang-barang komoditas tanpa merk. Mereka membeli gula, beras, dan lain sebagainya tanpa ada satu merk. Mereka tidak melihat perbedaan dari produk-produk komoditas tersebut. Karena tidak ada perbedaannya, maka kontrol harga ada di tangan konsumen. Jika di satu toko gula dijual lebih mahal dari toko lain maka secara otomatis orang akan membeli di toko lain yang lebih murah. ”wong gulanya sama kok.”. Era ini terus berlanjut hingga akhirnya pengusaha-pengusaha swasta membuat produk-produk komoditas menjadi sebuah barang bermerk yang memiliki ciri khas yang tidak dimiliki merk lainnya. Salah satunya mungkin mereka mengemas gula yang mungkin sama persis dalam satu kemasan yang lebih menarik dan terlihat lebih higienis. Proses pengemasannya pun dilakukan dengan lebih higienis pada tempat yang bersih, bukan di depan sebuah toko di pinggir jalan yang dilewati banyak kendaraan. Pengemasan dilakukan oleh pekerja bersarung tangan higienis bukan dengan tangan telanjang yang baru saja dipakai untuk garuk kepala, garuk punggung, memegang uang dan lain sebagainya. Akhirnya, memang gula dalam kemasan dengan merk tertentu ini bisa dijual sedikit lebih mahal karena memiliki nilai tambah tertentu. Awal dari usaha diferensiasi yang dilakukan oleh pengusaha gula ini adalah dengan tujuan supaya gula mereka lebih dikenali, lebih mudah diingat dan lebih diinginkan. Caranya, dengan cara break the rule. Jika sebelumnya gula tanpa kemasan khusus, mereka membuat kemasan khusus. Jika sebel-

86

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

87

THELEPASAN
umnya gula dikemas oleh siapapun juga, kini dikemas oleh pekerja yang memperhatikan betul kebersihan dan kesehatan. Itulah break the rule versi mereka. Era ini berkembang terus menerus. Pengusaha yang tertarik untuk break the rule untuk mendiferensiasikan gulanya makin bertambah banyak. Ada yang lebih senang menjiplak dan mengikuti formula pengusaha yang sudah lebih dulu break the rule ada yang meramu formulanya sendiri. Hingga pada akhirnya semua gula menjadi berkemasan khusus dan bermerk. Masing-masing mencoba menciptakan diferensiasi dengan cara breaking the rule walaupun pada akhirnya banyak juga yang mengikuti. Awalnya hanya satu dua pemain yang berusaha menciptakan aturan baru dan meninggalkan aturan lama. Namun lama kelamaan semua pemain ikut dalam aturan baru tersebut. Dan ketika semua pemain yang ada sudah meninggalkan aturan lama dan bermain pada area aturan baru yang lebih menarik, maka aturan baru yang lebih menarik itu juga tidak menjadi menarik lagi. Karena kembali ditemukan keseragaman, tidak ada pembeda antara satu dengan yang lain. Untuk itulah manusia tidak pernah habisnya break the rule. Bagaimana dengan fotografi? Sejatinya fotografer juga sama seperti manusia kebanyakan, mereka break the rule karena menemukan dirinya terperangkap pada satu aturan yang seolah-olah baku yang dianut banyak sekali pemain sejenis sehingga tidak ada yang lebih menonjol atau lebih terlihat. Tujuannya jelas agar lebih terlihat, lebih dikenali karena beda dari yang lain. Menonjol di antara paritas. Banyak fotografer yang terkungkung pada pakem dasar fotografi. Hingga muncul satu

THELEPASAN

Ada yang lebih senang menjiplak dan mengikuti formula pengusaha yang sudah lebih dulu break the rule ada yang meramu formulanya sendiri.

Banyak yang break the rule, tapi tidak sebanyak itu yang berhasil break the rule dalam arti positif karena banyak juga yang justru dengan break the rule malah membawa mereka ke identitas yang tidak menguntungkan bagi mereka karena tidak bisa diterima pasar.
dua orang yang merasa ingin lebih dikenal, ingin lebih menonjol dengan meninggalkan pakem lama itu dan menciptakan pakem baru dengan ciri khasnya sendiri atau sekedar ingin mengejar kepuasan batin dalam mencipta satu aturan di luar aturan yang sudah ada. Banyak yang break the rule, tapi tidak sebanyak itu yang berhasil break the rule dalam arti positif karena banyak juga yang justru dengan break the rule malah membawa mereka ke identitas yang tidak menguntungkan bagi

88

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

89

THELEPASAN
mereka karena tidak bisa diterima pasar. Di beberapa komunitas online dan web blogger biasa kita temui orang-orang yang mencoba membuat aturan baru dengan gaya dan seleranya sendiri. Ada masa dimana foto-foto colorful dengan saturasi tinggi berjaya. Ada masa dimana pakem itu didobrak dan muncul generasi dimana foto-foto yang menarik perhatian pengunjung adalah foto-foto dengan saturasi rendah, tonal cenderung low key. Salah satu contoh yang berhasil break the rule pada masanya adalah salah satu nara sumber edisi perdana kami, Rarindra Prakasa atau yang lebih dikenal dengan RDP. Gaya foto dan olah digital RDP menjadi satu hal yang baru bagi komunitas itu sehingga foto RDP selalu mendapat poin tinggi. Tidak jarang pula yang tidak mau kalah breaking the rulenya dengan mengikuti gaya foto dan olah digital RDP walaupun mereka sadar, itu hanya akan membawa mereka kepada komentar ”wah foto lo RDP banget ya!”. Di sisi lain banyak peminat fotografi yang justru berusaha untuk break the rule, namun sayangnya masih salah alamat sehingga justru dibilang ”aneh”. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya kita mengetahui bahwa kita sudah breaking the rule dengan benar? Ya fotografer dengan foto-foto unik sama-sama break the rule dengan fotografer aneh dengan foto-foto anehnya. Jika kembali dalam kasus gula. Banyak cara untuk break the rule. Ada yang mencoba break the rule dengan mengemas gula tersebut dengan kemasan plastic yang lebih bersih, lebih menarik dengan gambar dan merk di depannya. Bisa juga break the rule dengan mengemas gula dengan daun jati yang besar kemudian diikat tali rami. Ada pula yang tidak mau tanggung-tanggung dalam breaking the rule dengan mengemas gula tersebut dalam sebuah panci emas yang mahal dan mewah sehingga jelas terlihat bedanya. Manakah break the rule yang benar dan mana yang salah? Salah satu formula yang mungkin bisa digunakan untuk mendeteksinya adalah dengan melihat mana yang dalam proses breaking the rulenya mencoba menambahkan nilai tambah dari format sebelumnya. Nilai tambah di sini tentunya yang masih bisa dilihat dan diterima oleh konsumen. Gula dalam kemasan plastik higienis dengan merk dan elemen grafis tertentu akan menimbulkan kesan modern, bersih, dan menarik. Gula dengan kemasan daun jati mungkin saja memberi nilai tambah yaitu membuat harga gula menjadi lebih murah, namun pengemasan dengan daun jati tanpa alasan khusus justru mungkin akan mengurangi nilai dan kesan higienis dari gula tersebut. Sehingga bisa jadi dianggap sebagai break the rule yang salah. Begitu juga dengan gula yang dikemas dalam panci

THELEPASAN

Artinya dalam menemukan formula breaking the rule yang benar kita harus melihat apakah pada akhirnya kita memberikan nilai tambah dengan breaking the rule tadi? Nilai tambah di sini artinya bukan nilai tambah yang bernilai bagi kita saja tapi bagi konsumen kita.

Ya fotografer dengan foto-foto unik sama-sama break the rule dengan fotografer aneh dengan foto-foto anehnya.

emas, nilai tambahnya gula tersebut jadi lebih mewah dan modern, hanya saja harga jualnya menjadi melambung dan tidak signifikan bagi konsumen tertentu. Artinya dalam menemukan formula breaking the rule yang benar kita harus melihat apakah pada akhirnya kita Apakah kita sebagai fotografer dalam melakukan breaking the rule sudah memberi nilai tambah yang bisa diterima konsumen kita? memberikan nilai tambah dengan breaking the rule tadi? Nilai tambah di sini artinya bukan nilai tambah yang bernilai bagi kita saja tapi bagi konsumen kita.

90

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

91

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY
Beberapa saat lalu setelah majalah ini diterbitkan beberapa kenalan pehobi foto melontarkan kritik kepada kami. ”Kok yang diinterview yang kalibernya kakap semua sih? Yang baru-baru juga diinterview dong!” pinta salah seorang teman. Kami pun berusaha memenuhi permintaan tersebut sebisa mungkin. Namun memang mencari fotografer atau pehobi fotografi dengan jam terbang relatif masih pendek namun memiliki kemampuan fotografi yang baik sangat susah. Apakah memang kualitas dan kemampuan seorang pehobi foto berbanding lurus dengan jam terbang? Kami sempat berpikir seperti itu, hingga akhirnya kami menemukan Nicoline Patricia Malina, seorang pehobi fotografer yang jam terbangnya masih belum terlalu tinggi namun karyanya bisa disejajarkan dengan fotografer profesional dengan jam terbang panjang sekalipun.

NICOLINE PATRICIA MALINA, ANAK BAWANG YANG BERJAYA DI NEGERI ORANG.
92
EDISI VI / 2007

”Kamera pertamaku saya beli awal tahun 2004.” Ungkapnya membuka pembicaraannya dengan kami. ”Setelah punya kamera sendiri, kebetulan bulan agustus di tahun yang sama aku ke Belanda. Ya mulai seneng motret di sana. Apa aja dipotret biarpun paling banyak street documentary.” sambungnya. Tahun 2006 Nicoline mulai mempelajari fotografi fashion. ”awalnya nggak punya model, akhirnya ketemu sama model yang juga masih belajar, jadi sama-sama belajar deh.” Ungkap fotografer yang pernah belajar fashion desain dan bisnis ini. Kini Nicoline sedang menyelesaikan studi Fine Artnya di Belanda. Ia mengaku sedikit banyak mendapat manfaat dari kuliahnya itu walaupun ia sendiri sering merasa tidak cocok untuk berkuliah di jurusan itu. ”Dosenku EDISI VI / 2007

93

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

94

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007 www.nicolinepatricia.com, info@nicolinepatricia.com

95

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY
banyak yang memperhatikan proses, maklumlah namanya aja fine art. Sementara aku lebih memperhatikan hasil akhir. Makanya aku disuruh ambil jurusan fotografi. Tapi aku nggak mau karena dulu aku nggak berencana jadi fotografer.” Ungkapnya. Namun ia mengaku kini ia bercita-cita menjadi fotografer. ”Kerja itu paling enak kalau kita bisa melakukannya dengan senang dan tanpa capek atau bosan. Dan aku dapet itu di fotografi. Aku seneng banget motret, maunya motret terus tiap hari, dan sama sekali nggak ngerasa capek.” Tambahnya. Nicoline merasa sedikit banyak kemampuan fotografinya terbantu oleh pengalamannya menekuni fashion desain di surabaya. ”Setidaknya aku belajar teori warna, komposisi, pose, proporsi badan, banyak liat majalah fashion, foto dll. Dan itu nyambung banget sama hobi fotografi-ku ini.” Ungkap fotografer yang sempat berprofesi sebagai model ini. Sementara pengalamannya sebagai model membantunya berhubungan dengan model pemotretannya. ”Aku pernah jadi model jadi tau rasanya gimana jadi model. Jadi ketika ketemu model yang manja dan nggak mau susah aku tau gimana cara ngedeketinnya.” Ungkapnya. ”aku merasa pendekatan dengan model itu sangat penting, dan itu sering dilupakan banyak orang. Hubungan personal dengan model harus dibangun. Bagaimana caranya supaya model merasa aman dan nyaman dengan kita sebelum kita mulai motret. Untuk itu aku selalu melakukan kontak mata dan kontak fisik dengan

”Kerja itu paling enak kalau kita bisa melakukannya dengan senang dan tanpa capek atau bosan. Dan aku dapet itu di fotografi. Aku seneng banget motret, maunya motret terus tiap hari, dan sama sekali nggak ngerasa capek.”
96
EDISI VI / 2007 EDISI VI / 2007

97

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

98

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

99

FASHIONPHOTOGRAPHY
mereka.” Ungkapnya sambil memberi contoh bagaimana ia melakukan kontak fisik dengan model. Nicoline percaya dengan melakukan

FASHIONPHOTOGRAPHY

”aku merasa pendekatan dengan model itu sangat penting, dan itu sering dilupakan banyak orang. Hubungan personal dengan model harus dibangun. Bagaimana caranya supaya model merasa aman dan nyaman dengan kita sebelum kita mulai motret. Untuk itu aku selalu melakukan kontak mata dan kontak fisik dengan mereka.”

pendekatan yang pas dengan model ia bisa menangkap ekspresi dan karakter dari si model. Untuk model yang masih pemalu Nicoline selalu memasang lagu untuk menciptakan mood yang dimaui dari sang model. Nicoline mengaku mood sangat penting dalam memotret fashion. ”Aku sendiri kalau lagi sedih juga fotonya bisa ikut sedih moodnya, kalau lagi senang ya ikut senang moodnya.” Ungkap gadis yang menguasai bahasa Inggris, Cina, Belanda dan Indonesia ini. Satu hal lagi yang membantu kemampuannya sebagai fotografer fashion adalah pengalamannya mempelajari make up dari ibunya yang seorang make up artis. ”Aku memang sudah lahir dan besar di keluarga yang ada hubungannya dengan fotografi, biarpun nggak secara langsung. Mamaku make up artis, jadi sedikit banyak belajar make up juga dari mama.” Waktu memotret Nicoline mengaku jarang merencanakan konsep, kecuali untuk pekerjaan. Nicoline mengaku lebih senang melaku-

100

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

101

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

102

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

103

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

”Model itu kan bukan manequin, dia punya karakter, dia punya emosi jadi kenapa nggak dieksplor saja.”
kan eksplorasi dari model yang akan dipotret. ”Model itu kan bukan manequin, dia punya karakter, dia punya emosi jadi kenapa nggak dieksplor saja.” Ungkapnya tegas. Sementara jika bertemu dengan model yang agak susah dieksplor emosi dan karakternya, Nicoline biasa bermain dengan lighting dan lokasi. Melihat foto-fotonya yang banyak menggunakan model eropa, kami pun menanyakan apakah hal itu ada pengaruhnya terhadap hasil fotonya. ”Memang harus diakui, model eropa ada nyawanya. Karakternya dalam dan yang paling penting mereka nggak takut kelihatan jelek.” Akunya.

104

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

105

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

106

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

107

FASHIONPHOTOGRAPHY
Berbicara mengenai hal teknis, Nicoline mengaku banyak berguru dari teman-temannya di Indonesia. ”Aku di Belanda nggak punya siapa-siapa dan orang sana individualis, jadi nggak gampang belajar dari seseorang di sana. Makanya aku banyak chat dengan teman-teman di Indonesia.” Aku fotografer yang menyukai shadow keras dan continuous light ini. Mengenai lighting, Nicoline merasa tidak begitu banyak menemui kesulitan. ”Pada prinsipnya lighting equipment itu sama seperti matahari. Bahkan lebih mudah lagi karena kita bisa kontrol.” Tambahnya. Namun dari semua itu Nicoline menganggap mood sebagai salah satu yang paling penting dalam fotografi fashion. ”Mungkin banyak orang yang berpikir bahwa foto harus bagus detailnya. Sayangnya mood dan geraknya dilupakan. Nah aku selalu ”kejar” 1 second yang bikin foto tersebut jadi bicara.” Jelasnya. Ditanya mengenai kesalahan yang sering dilakukan fotografer pemula Nicoline menjawab, ”Aku paling nggak suka dengan ucapan ”nanti di oldig (olah digital) saja. Aku selalu ingin merasakan apa yang aku rasain waktu motret setiap kali aku lihat foto aku. Jadi jangan pikir segala sesuatu bisa dioldig apalagi kalau waktu yang dihabiskan di proses oldig lebih banyak. Lebih baik habiskan waktu di sesi pemotretan kalau belum dapet ya terusin.” tegasnya. Nicoline juga mengang-

FASHIONPHOTOGRAPHY

”Mungkin banyak orang yang berpikir bahwa foto harus bagus detailnya. Sayangnya mood dan geraknya dilupakan. Nah aku selalu ”kejar” 1 ”Memang harus diakui, model ero- second yang bikin pa ada nyawanya. foto tersebut jadi Karakternya dalam bicara.” dan yang paling penting mereka nggak takut kelihatan jelek.”

108

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

109

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

Aku selalu ingin merasakan apa yang aku rasain waktu motret setiap kali aku lihat foto aku. Jadi jangan pikir segala sesuatu bisa dioldig apalagi kalau waktu yang dihabiskan di proses oldig lebih banyak. Lebih baik habiskan waktu di sesi pemotretan kalau belum dapet ya terusin.
110
EDISI VI / 2007 EDISI VI / 2007

111

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

”Di eropa orang awam pun bisa bedain foto yang bagus dan jelek, jadi kalau mau motret ya harus bagus.”

gap apresiasi masyarakat Indonesia terhadap sebuah karya foto belum setinggi negaranegara barat terutama eropa. ”Di eropa orang awam pun bisa bedain foto yang bagus dan jelek, jadi kalau mau motret ya harus bagus.” Sementara untuk fotografer yang ingin menekuni fotografi fashion lebih dalam lagi Nicoline menyarankan untuk banyak mencari referensi yang baik. ”contek saja dulu mumpung masih belajar. Kalau sudah bisa mulai coba bikin karya sendiri.” ungkapnya. Nicoline

112

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

113

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

”kerjasama lah dengan make up artis pemula, stylist pemula, model pemula karena masih sama-sama butuh jadi masih bisa diajak bikin karya yang bener-bener bagus.”

114

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

115

FASHIONPHOTOGRAPHY
juga menyarankan fotografer pemula untuk banyak bekerjasama dengan team pemula. ”kerjasama lah dengan make up artis pemula, stylist pemula, model pemula karena masih sama-sama butuh jadi masih bisa diajak bikin karya yang bener-bener bagus.” Tambahnya. Dalam menghadapi model Nicoline menyarankan untuk tidak memaksakan pose sulit terutama kepada model pemula. ”Pemanasan dulu, jangan maunya langsung jadi. Kalau moodnya sudah mulai keluar, baru mulai serius.” Ungkapnya.

FASHIONPHOTOGRAPHY

”Pemanasan dulu, jangan maunya langsung jadi. Kalau moodnya sudah mulai keluar, baru mulai serius.”
116
EDISI VI / 2007 EDISI VI / 2007

117

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

Di akhir pembicaraan kami Nicoline menceritakan kegigihannya untuk mendapat kesempatan dari majalah, ”Setiap harinya aku kirim email ke majalah-majalah yang aku tahu. Intinya memperkenalkan diri dan menawarkan jasa fotografi. Tiga bulan pertama nggak ada yang balas. Akhirnya aku datangi saja. Hingga akhirnya ada 1 majalah yang ngasih kesempatan. Setelah itu yang lain ikutan kasih kesempatan. Itu aku lakukan berulang-ulang. Jadi tiap hari aku kirim email ke majalah. Kalau belum dibalas aku kirim lagi.

118

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

119

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

120

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

121

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

Beberapa jam sebelum tulisan ini diturunkan kami menyempatkan diri untuk chat dengan Nicoline sambil melakukan persetujuan akhir sebelum tulisan dan foto-foto Nicoline masuk dapur design kami. ”Aku baru menang award loh.” Ungkap Nicoline waktu itu. Kami pun kaget dan mencari tahu lebih jauh lagi. Ternyata benar saja, Nicoline baru saja memenangkan penghargaan ”Iconique Societas Excellence In Fashion Photography Award” yang diadakan oleh Iconique.com, sebuah majalah online fashion dengan pembaca yang tersebar di seluruh penjuru dunia bekerjasama dengan progressive creative agency dan think tank Societas. Hebatnya, Nicoline berhasil memenangkan award ini walaupun seluruh nominatornya memiliki foto yang luar biasa bagusnya. Juri yang terlibat pada penilaian penghargaan ini berasal dari kalangan designer topi termahal di dunia, fashion designer, advertising company dan juga pihak-pihak yang berhubungan dengan penyelenggara. Congratulation Nicoline, satu lagi fotografer Indonesia yang berhasil membuktikan kehebatannya di tingkat internasional.

122

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

123

FASHIONPHOTOGRAPHY

COMMERCIALPHOTOGRAPHY

124

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

125

DIGITALPROCESS

DIGITALPROCESS
intensitas tiap warnanya dinyatakan dalam rentang 0 sampai 255. Ketika warna Red memiliki intensitas sebanyak 255, begitu juga dengan green dan blue. Maka terjadilah warna putih. Sementara ketika ketiga warna tersebut mencapai intensitas 0, maka terjadilah warna hitam, sama seperti ketika kita berada di ruangan gelap tanpa cahaya, yang tampak hanya warna hitam. Hal ini bisa kita lihat ketika kita menonton di bioskop tua dimana proyektor yang digunakan masih menggunakan proyektor dengan 3 warna dari lubang yang terpisah, kita bisa melihat ketika film menunjukkan ruangan gelap, cahaya yang keluar dari ketiga celah proyektor tersebut berkurang. Sementara ketika gambar di layar menunjukkan warna dominan dari salah satu dari ketiga warna RGB maka cahaya Anda pasti familiar dengan nama ”RGB” dan ”CMYK”. Tapi apakah anda tahu apa arti dari kedua nama tersebut? RGB sering disebut sebagai warna additive atau warna Tuhan. Hal ini karena warna ini dihasilkan oleh cahaya yang ada. Beberapa alat yang menggunakan color model RGB antara lain: mata manusia, projector, TV, kamera video, kamera digital, dan alat-alat yang menghasilkan cahaya. Proses pembentukan cahayanya adalah dengan mencampur ketiga warna tadi. Skala yang keluar dari celah proyektor hanya kuat di salah satu celah saja. Bagaimana dengan CMYK? CMYK sering disebut sebagai warna subtractive. Mode warna ini digunakan oleh alat-alat yang mereproduksi warna dengan cairan atau pigmen buatan manusia seperti printer untuk merepresentasikan warna yang diinginkan. Pada awalnya mode warna CMYK berasal dari color model CMY. Ilmuwan warna pada saat itu berusaha menemukan formula yang tepat untuk menemukan mode warna yang bisa menghasilkan warna seperti pada mode warna RGB. Jika warna putih pada RGB dibuat dengan mencampur warna red, green dan blue pada skala maksimal, pada color model CMY warna putih dihasilkan ketika intensitas warna Cyan, Magenta dan Yellow berada pada titik 0%. Hal ini berdasar pada asumsi kertas yang digunakan putih. Maka dari itu anda tidak pernah bisa menghasilkan warna putih dengan printer anda ketika anda mengguEDISI VI / 2007

COLOR THEORY
Fotografi erat hubungannya dengan warna. Hampir setiap fotografer, terutama yang bukan fotografer black & white pernah melakukan color correction atau dalam bahasa Indonesianya koreksi warna. Koreksi warna dilakukan baik karena keterbatasan kamera dalam mereproduksi warna-warna persis seperti yang kita inginkan maupun karena memang ingin memperkuat atau melemahkan kandungan warna tertentu pada foto kita. Alasan lain orang melakukan koreksi warna adalah karena ada perubahan warna ketika kita melakukan konversi mode warna dari RGB ke CMYK dan sebaliknya. Sayangnya tidak semua orang yang melakukan koreksi warna mengerti tentang teori warna. Memang benar, setiap orang boleh dan bisa melakukan koreksi warna walaupun tanpa mengetahui teori warna yang baku. Namun alangkah baiknya jika kita mengetahui sedikit mengenai teori warna yang ada karena sedikit banyak akan membantu kita dalam melakukan koreksi warna.

126

EDISI VI / 2007

127

DIGITALPROCESS
nakan kertas berwarna. Sementara dengan RGB apapun warna dasar yang ada bisa berubah menjadi terlihat putih, karena adanya cahaya. Selanjutnya, ketika ilmuwan berusaha membuat warna hitam dengan color model CMY, mereka menemui jalan buntu. Walaupun secara teori dengan mencampur warna cyan, magenta dan yellow pada kadar 100% bisa didapatkan warna hitam, namun pada kenyataannya warna yang didapatkan dengan mencampur ketiga warna tersebut pada kadar maksimal hanya akan mendapatkan warna coklat tua mendekati hitam. Untuk itulah ditambahkan warna black. Dan sejak saat itu mode warna CMY menjadi CMYK. Tapi jangan salah sangka K pada CMYK bukan merupakan singkatan dari Black, melainkan singkatan dari “Key” yang kurang lebih artinya warna tersebut adalah kunci dari masalah tersebut. RGB COLOR MODEL CMY COLOR MODEL

DIGITALPROCESS

COLOR BALANCE Mode warna CMY & RGB saling berhubungan dan saling bertentangan. Percampuran warna-warna CMY bisa menghasilkan warnawarna RGB begitu juga sebaliknya. Pengurangan intensitas pada satu warna tertentu akan berakibat pada menambahnya intensitas pada warna lain yang diseberangnya. Hal ini bisa dilihat pada fasilitas color COLOR GAMUT Bagi anda yang memotret hanya untuk keperluan website, atau hanya dilihat di monitor tentunya anda banyak bekerja pada mode warna RGB karena mode warna itu yang digunakan oleh peralatan semacam itu. Namun bagi anda yang memotret untuk keperluan cetak offset tentunya anda harus mengkonversi warna dari mode RGB ke CMYK. Masalah yang paling banyak terjadi adalah balance di beberapa software seperti Adobe Photoshop. Misalnya, Yellow dengan Blue yang berseberangan, Green dengan Magenta, Red dengan Cyan. Masing-masing pasangan ini berseberangan. Artinya penambahan warna yang satu akan berakibat pengurangan intensitas warna yang ada di seberangnya. Dengan mengetahui color balance ini anda bisa lebih leluasa melakukan color correction.

128

EDISI VI / 2007

EDISI VI / 2007

129

DIGITALPROCESS
JABOTABEK Seasons Imaging Jl Senopati no 37 Kebayoran Baru Jakarta selatan Focus Nusantara KH Hasyim Azhari No 18 Jakarta 5804848 Susan Photo Album Kemang raya no.15, LT 3 Jakarta Selatan 12730 E-studio Wisma Starpage Jl Salemba tengah no 5 3928440 Vogue Photo Studio Ruko Sentra Bisnis Blok B16-17 Tanjung Duren raya 1-38 Jakarta 5647873-75 Shoot & Print Jl. Bulevard Raya Blok FV-1 No. 4 Kelapa Gading-Jakarta TELP: 021-4530670 QFoto Jl. Balai Pustaka Timur No 17 Rawamangun, Jakarta 4706022 Digital Studio College Jl. Cideng Barat No. 21A Jakarta Pusat Tel/Fax : 021-633 0950 Darwis Triadi School of Photography Jl. Patimura No.2 Kebayoran eK-gadgets Centre Roxy Square Lt. 1 Blok B2 28-29, Jakarta Lubang Mata Jln. Pondok Cipta Raya B2/28 .Bekasi Barat 17134 TELP: 8847105 CONTACT PERSON: Rafi Indra Telefikom Fotografi Universitas Prof. Dr. Moestopo (B). Jln. Hang Lekir I Jak-pus. Indonesia Photographer Organization (IPO) Studio 35 Rumah Samsara Jl. Bunga Mawar, no. 27 Jakarta Selatan 12410 Unit Seni Fotografi IPEBI (USFIPEBI) Komplek Perkantoran Bank Indonesia , Menara Sjafruddin Prawiranegara lantai 4, Jl. MH.Thamrin No.2, Jakarta UKM mahasiswa IBII Fotografi Institut Bisnis Indonesia (FOBI) Kampus STIE-IBII Jl Yos Sudarso Kav 87, Sunter, Jakarta Utara Perhimpunan Penggemar Fotografi Garuda Indonesia (PPFGA), PPFGA, Gedung Garuda Indonesia Lt.18 Jl. Medan Merdeka Selatan No.13 Jakarta Komunitas Fotografi Psikologi Atma Jaya Jakarta

WHERETOFIND
UNIKA Atma Jaya Jakarta Jl Jendral sudirman 51 Sekretariat Bersama Fakultas Psikologi Atma Jaya Ruang G. 100 Kelompok Pelajar Peminat fotografi SMU 28 (KPPF28) Jl Raya Ragunan (depan RS Pasar Minggu) Jakarta XL Photograph Grha XL, Jl. Mega Kuningan Kav. E 4 – 7 no. 1 Jakarta Selatan HSBC Photo Club Menara Mulia Lantai 22, Jl Jend Gatot Subroto Kav 9-11, JakSel 12930 LFCN (Lembaga Fotografi Candra Naya) Komplek Green Ville – AW / 58-59, Jakarta Barat 11510 Klub Fotografi PT Komatsu Jl. Raya Cakung CIlincing Km.4 Jakarta Utara 14140 Style Photo Jl Gaya Motor Raya No. 8 Gedung AMDI-B, Sunter Jakarta Utara 14330 Contact Person: Hasan Supriadi Perhimpunan Fotografi Tarumanagara Kampus I UNTAR Blok M lt. 7 Ruang PFT Jl. Letjen S. Parman I Jak Bar Studio 51 EDISI VI / 2007

VISIBLE COLOR

RGB GAMUT

CMY GAMUT

terjadinya distorsi warna atau perubahan warna. Hal ini juga sering kita temui ketika kita mencetak foto kita dengan printer rumahan. Perlu diketahui bahwa tiap color model memiliki keterbatasan menampilkan warna. Singkatnya tidak semua warna yang bisa ditampilkan oleh color model RGB bisa ditampilkan oleh color model CMYK, begitu pun sebaliknya. Warna-warna dengan saturasi tinggi yang bisa ditampilkan dengan bantuan system reproduksi cahaya tentunya tidak bisa ditampilkan oleh CMYK. Keterbatasan menampilkan warna inilah yang disebut dengan color gamut. Dengan mengenali color gamut anda, anda bisa bekerja lebih leluasa bukan?

130

EDISI VI / 2007

131

WHERETOFIND
Universitas Atma Jaya Jakarta CP PERFILMA (Film dan Fotografi Hukum UI) Freephot (Freeport Jakarta Photography Community) PT Freeport Indonesia Plaza 89, 6th floor Jl. HR Rasuna Said Kav X-7/ No.6 CANILENS Kolese Kanisius Jakarta Nothofagus PT Freport Indonesia Plaza 895th Floor. Jl Rasuna Said Kav X-7 No. 6 V-3 Technologies Mal Ambasador Lt. UG / 47 Jl. Prof. Dr. Satrio - Kuningan Neep’s Art Institute Jl. Cideng Barat 12bb Jakarta Cybilens PT Cyberindo Aditama, Manggala Wanabakti IV, 6th floor. Jl. Gatot Subroto, jakarta 10270 iBox Puri Imperium Puri Imperium Office Plaza Unit G11-12 (Belakang Menara Imperium) Jl. Kuningan Madya Kav. 5-6, Jakarta 12980 iBox Senayan City Senayan City 4th Fl. Unit #4-29 Jl. Asia Afrika Lot 19, Jakarta iBox Mal Kelapa Gading 3 Mal Kelapa Gading 3 Lantai Dasar Unit. G-40 Jl. Bulevar Kelapa Gading Blok M Jakarta iBox eX’ - Bridge Plaza Indonesia Entertainment X’nter 2, 2nd Floor #EX-i082, Jl. MH Thamrin Kav. 28-30 Jakarta iBox Ratu Plaza Ratu Plaza 3rd Floor #7, Jl. Jend. Sudirman No 9, Jakarta iBox Pondok Indak Mal 1 Pondok Indah Mall 1st Fl. #118 A Jl. Metro Pondok Indah Blok III B, Jakarta Lassale College Sahid Office Boutique Unit DE-F (komp. Hotel Sahid Jaya). Jl. Jend Sudirman Kav. 86, Jakarta 1220 FIKOM Universitas Al-Azhar Indonesia Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran baru, Jak-Sel, 12110 FSRD Universitas Trisakti, Kampus A. Jl. Kyai Tapa, Grogol. Surat menyurat: jl. Dr. Susilo 2B/ 30, Grogol, Jakbar SKRAF (Seputar Kamera Fikom) Jl. Prof. Dr. Soepomo, SH No. 84, Jak-Sel 12870 One Shoot Photography FIKOM UPI YAI jl. Diponegoro no. 74, JakPus Cetakfoto.net kemang raya 49D, jakarta Selatan 12730 Padupadankan Photography Jl. Lombok No 9s Bandung 4232521 Laboratorium Teknologi Proses Material Jl. Ganesha 10 Labtek VI Lt.dasar Bandung CP: dwi karsa agung r. STUDIO INTERMODEL Fashion Design and Photography Course Jl. Cihampelas 57 A - Bandung 40116 Perhimpunan Amatir Foto (PAFBandung) Kompleks Banceuy Permai Kav A-17, Bandung 40111 Jepret Sekeretariat Jepret Lt Basement Labtek IXB Arsitektur ITB Jl. Ganesa 10 Bandung FSRD ITB Contact: Genoveva Hega EcoAdventure Community Jl. Margasari No. 34 RT 2 RW 8 Rajapolah Tasikmalaya 46155 SPEKTRUM (perkumpulan unit fotografi UNPAD) jl. Raya Jatinangor Km 21 Sumedang, Jabar Jl Pleburan VIII No 2 Semarang 8413991 Ady Photo Studio d/a Kanwil BRI Jl. Teuku Umar 24 Semarang Contact Person: Ady Agustian Prisma UNDIP PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) Joglo Jl. Imam Bardjo SH No. 1 Semarang 50243 Pandawa7 digital photo studio jl. Wonodri sendang raya no. 1068 c, Semarang Jurusan Komunikasi UNDIP Jl. Imam Bardjo SH. No. 1, semarang Lembaga pendidikan seni dan design visimedia college jl. Bhayangkara 72 Solo FIKOM UNDIP Jl. Imam Bardjo SH. No. 1, Semarang Himpunan Seni Bengawan Jl. Tejomoyo No. 33 Rt. 03/ 011, Solo 57156 YOGYAKARTA Atmajaya Photography club Gedung PUSGIWA kampus 3 UAJY, jl. babarsari no. 007 yogyakarta INDONESIA “UKM MATA” Akademi Seni Rupa dan Desain MSD (Modern SchooL of DEsign) Jalan Taman Siswa 164 Yogyakarta 55151, UFO (Unit Fotografi UGM) Gelanggang Mahasiswa UGM, Bulaksumur Yogyakarta Fotografi Jurnalistik Klub Kampus 4 FISIP UAJY Jl. Babarsari Yogyakarta ADVY Yogyakarta Contact person: Sdr. Toddy FOTKOM Universitas Pembanungan Nasional (UPN) Yogyakarta Eventweb Wisma Melati. Jl. Kaliurang km 14,4 no. 11, Sleman, Yogyakarta

WHERETOFIND
UFO (united fotografer club) perum mastrip y-8 jember, jawatimur JUFOC (Jurnalistik Fotografi Club) Universitas Muhammadiah Malang student Centre Lt. 2 Universitas Muhammadiyah Malang. Jl. Raya Tlogomas No. 246 malang, 65144 VANDA Gardenia Hotel & Villa Jl Raya Trawas, Jawa Timur Contact Person : Roy SENTRA DIGITAL Pusat IT Plasa Marina Lt. 2 Blok A-5. Jl. Margorejo Indah 97-99 Surabaya Jurusan Komunikasi UNAIR JL. Airlangga 4-6, Surabaya FIKOM Universitas PETRA jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya 60236 BW Camera-accessories jl. Jemursari VIII/ 32 surabaya. Toko (royal Plaza 2nd Floor Jl. SURABAYA & JAWA TIMUR Ahmad Yani Surabaya Hot Shot Photo Studio Malang Photo Club Ploso Baru 101 Jl. Pahlawan Trip No. 25 Surabaya 3817950 SUMATRA Toko Digital Batam Photo Club Ambengan Plasa B2 Perumahan Muka kuning indah 031-5313366 Blok C-3 Himpunan Mahasiswa Batam 29435 Penggemar Fotografi (HIMMedan Photo Club MARFI) Jl. Dolok Sanggul Ujung No.4 Jl. Rungkut Harapan K / 4, Samping Kolam Paradiso Surabaya Medan, 20213 Sumut EDISI VI / 2007

SEMARANG & JAWA TENGAH Digimage Studio I Jl Setyabudi 86a Semarang 7461151 BANDUNG & JAWA BARAT Digimage Studio II

132

EDISI VI / 2007

133

WHERETOFIND
Telp : 061-77071061 CCC Caltex Camera Club PT. Chevron Pacific Indonesia, SCM-Planning, Main Office 229, Rumbai Pekanbaru 28271 Malahayati Photography Club Jl. Pramuka No. 27, Kemiling, Bandar Lampung, 35153 KALIMANTAN Badak Photographer Club (BPC) ICS Department System Support Section PT BADAK NGL Bontang, KALTIM 75324 KPC Click Club/PT Kaltim Prima Coal Supply Department (M7 Buliding), PT Kaltim Prima Coal, Sangatta FOBIA Indah Foto Studio Komplek Ruko Bandar Klandasan Blok A1 Balikpapan SULAWESI Sorowako Photographers Society General Facilities & Serv. Dept - DP. 27 (Town Maintenance) - Jl. Sumantri Brojonegoro SOROWAKO 91984 - LUWU TIMUR SULAWESI SELATAN Masyarakat Fotografi Gorontalo Graha Permai Blok B-18, Jl. Rambutan, Huangobotu, Dungingi, Kota Gorontalo

MAILING LIST (NOTIFIKASI) thelightmagz@yahoogroups.com pentax-indonesia@yahoogroups.com indonikon@yahoogroups.com indonesianphotographer@yahoogroups.com CanonMania@yahoogroups.com artdirectorclub@yahoogroups.com komunitas-fotografer@yahoogroups.com kameradigital@yahoogroups.com foto-id@yahoogroups.com belajardesain@yahoogroups.com fgd@yahoogroups.com id_photographer@yahoogroups.com bursakamera@yahoogroups.com DiPan@yahoogroups.com indomelb_fotografi@yahoogroups.com WEBSITE www.thelightmagz.com www.estudio.co.id www.forumkamera.com http://charly.silaban.net www.event.web.id

134

EDISI VI / 2007

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful