AUL DAN RADD

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri Matakuliah …..:

Disusun Oleh : ( 1410220111 ) ALIYAH ( KELAS ) VIVA : EPI_4 (Semester 2)

FAKULTAS SYARIAH JURUSAN EKONOMI PERBANKAN ISLAM IAIN SYEKH NURJATI CIREBON 2011

Sistem ini sangat terkenal karena dengan sistem ini salah satu persoalan hukum waris yang sebelumnya sulit untuk diselesaikan dapat dengan mudah diselesaikan. apakah benar Muhammad.1 Latar Belakang Aul dan radd adalah sistem pembagian harta warisan yang lahir pada zaman khalifah Umar bin Khattab dan berkembang serta tetap dipertahankan sampai saat ini. Dengan membawa kitab suci yang didalamnya mengandung hukum waris yang tidak jelas. antara lain sebagaimana yang Penulis baca dalam face book dengan pertanyaan-pertanyaan yang maksudnya lebih kurang sebagai berikut : 1.2 Identifikasi Masalah 1. dijadikan alat untuk melemahkan keyakinan ummat Islam terhadap kesucian Al-Quran dan Kerasulan Muhammad SAW. Bagaimanakah cara penyelesaian masalah aul ? 4. Akan tetapi belakangan ini diketahui bahwa sistem ini banyak mengandung kelemahan terutama bila diselaraskan dengan rumusrumus matematika. Apa sajakah rukun-rukun radd ? 2 . Apakah pengertian dari radd ? 5. Apakah adil bila dalam pembagian harta warisan anak laki-laki mendapat bagian dua kali lipat dari bagian anak perempuan? 1. SAW itu Rasulullah? 3. Selanjutnya kelemahan-kelemahan tersebut dijadikan titik serangan oleh mereka yang tidak senang dengan Islam. Apakah pantas Al-Quran dijadikan kitab suci yang perhitungan matematika warisan Allah SWT didalamnya kadang kurang kadang lebih sehingga harus dilengkapi hukum buatan manusia yaitu ‘aul dan radd ? 2.BAB I PENDAHULUAN 1. Apakah pengertian dari aul ? 2. Siapa Orang yang menerapkan aul ? 3.

Bagaimanakah cara penyelesaian masalah radd ? 1. Apakah porsi masing-masing ahli waris yang telah ditetapkan dengan jelas dalam Al-Quran tersebut seluruhnya harus diambil dari harta Pewaris secara keseluruhan atau ada yang harus diambil dari sisa harta yang telah diberikan kepada ahli waris sebelumnya? 3.6. Siapa ahli waris dalam dalam Al-Quran khususnya yang terkait masalah aul dan radd ini yang harus diberikan terlebih dahulu bagiannya dan siapa pula yang terakhir? 2.3 Rumusan Masalah 1. Apakah asal masalah atau Kelipatan Persekutuan Terkecil perlu ditetapka dan bagaimana cara menetapkannya agar dalam penghitungannya sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam Al-Quran dan tidak bertentangan dengan rumusrumus matematika? BAB II 3 .

a.PEMBAHASAN 2. dan bapaknya dalam masalah seorang mati meninggalkan ahli waris yang terdiri dari suami. yaitu ketika r. 2. Pengertian Aul Aul secara leksikal adalah kecenderungan kepada kezhaliman dan menyimpang dari kebenaran. dan pada umumnya bermakna untuk mengangkat. niscaya tidak ada hak yang sempurna bagi yang lain”. niscaya tidak terjadi aul sama sekali”.a. katanya: “ Aulkanlah faridhah-faridhah mereka “ Kemudian atas usul abbas tersebut Umar bin khatab r. Masalah tersebut lalu dimusyawarakan dengan Zaid bin tsabit r. Dan diakhirkan orang yang diakhirkan oleh Allah swt. Dalam permusyawaratan ini. Perselisihan tentang aul 4 .1 AUL 1. mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan putusan umar bin khatab r. Ibnu abbas r. memutuskan aul atas masalah yang semula diragukannya. andaikata didahulukan orang yang didahulukan oleh Allah swt. 3. niscaya beliau akan mengakhirkannya. dengan mengatakan: “ jika kumulai dengan memberikan kepada suami atau dua orang saudari. ibu dan saudari tunggal ayah. setelah beliau memusyawarakan dengan Zaid bin tsabit r. Orang yang pertama menetapkan Aul Orang yang pertama kali menetapkan aul adalah Umar bin khatab r.a.a. yaitu: “ Demi Allah. di datangi salah seorang sahabat yang menanyakan menanyakan penyelesaian suatu masalah seorang mati meninggalkan ahli waris yang terdiri dari suami (yang fardhnya 1/2) dan 2 orang saudari kandung (yang fardhnya 2/3). yang kalau beliau mengetahuinya. Abbas bin abdul muthalib memberikan pendapat.a. Beliau semula bimbang tidak mengetahui siapakah yang berhak didahulukan menurut ketentuan Allah. agar masalah tersebut diaulkan. dan Abbas bin abdul muthalib r.a.a. Sedangkan menurut istilah Aul adalah bertambahnya saham ashab al-furudh dari asal masalah.a. dan Abbas r. dan sekiranya beliau mengetahuinya tentu beliau akan mendahulukannya dan siaplah yang harus diakhirkan oleh Allah.a.

Alasannya adalah sebagai berikut: 1) macam furudh secara sempurna. karena itu setiap pemilik hak harus dipenuhinya. para imam-imam besar dari golongan tabi’in dan sebagian para imam-imam mazhab. seperti anak perempuan dan saudari-saudari hendaknya tidak dipenuhi haknya. Ulama-ulama syi’ah imamiyah dan ja’fariyah. yaitu bahwa tidak aul karena mustahil sekali kalau allah menentukan furudhul muqaddarah bagi ahli waris. b. ahli zhahir mengikuti pendapat ibn Abbas. pembayaran hutang harus didahulukan daripada wasiat dan seterusnya. 2) Jika keadaan harta peninggal itu tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh hak-hak yang bersangkutan dengan harta peninggalan.a. tetapi ternyata harta peninggalan yang dibagikannya tidak cukup. 2) Perintah Rasulullah saw: “ Berikanlah harta pusaka kepada orang-orang yang berhak sesudah itu sisanya untuk orang laki-laki yang lebih utama” Tidak mengisyaratkan kepada sebagian ahli waris Lahirnya ayat-ayat mawaris itu telah menjelaskan macam- 5 . maka harus diutamakan lebih dahulu untuk memenuhi hak-hak yang lebih penting. Tetapi jika keadaan tidak memungkinkan. berpendapat bahwa aul itu ada. sebab mereka itu dalam keadaan dapat berubah menjadi ahli waris ashabah. maka hak-hak sebagian ahli waris. Oleh karena itu mendahulukan salah seorang dari ashabul furudh dan mengakhirkan dengan mengurangi hak-hak anak-anak perempuan atau saudari-saudari berarti membuat hukum baru dengan jalan mentarjih sesuatu ketentuan nash tanpa alat tarjih yang kuat. alasannya adalah sebagai berikut: 1) Nash-nash yang menjelaskan hak-hak ahli waris dalam pusaka mwmpusakai tidak mengutamakan sebagai ashabul-furudh dengan ashabul-furudh yang lain dan tidak membedakan antara harta peninggalan yang mepet dengan harta peninggalan yang longgar. selagi keadaan memungkinkan. Misalnya pemenuhan biaya perawatan bagi si mayit harus didahulukan daripada pembayaran hutang. kebanyakan para sahabat.

sedang sebagian ahli waris yang lain dikurangi. b. demi untuk memenuhi fardh-fardh para ahli waris terhadap harta peninggalan yang sangat mepet. Cara-cara mengerjakan aul Pertama: a. Hal itu demi untuk melaksanakan keadilan. Kebutuhan adanya masalah aul Walaupun ada pendapat yang kontra terhadap masalah aul ini. Membeda-bedakan mereka melawan nash adalah tindakan yang tidak adil. Jumlah ini di pakai Asal masalah yang semula tidak di pakai lagi. 4. hendaknya ditempu dengan jalan sedemikian rupa. Setelah diketahui fardh dari masing-masing ashhabul-furudh hendaknya dicari asal masalahnya Dicari saham-saham dari masing-masing ashhabul-furudh c. Oleh karena itu. tetapi yang dijadikan asal masalah baru ialah jumlah saham-saham yang para ahli waris sahabat sebelum ibn abbas menentangnya. 3) 4) Masalah aul ini telah disepakati oleh seluruh fuqaha Furudhul muqaddarah itu merupakan bagian yang sudah tertentu besar dan kecinya dan telah disepakati oleh seluruh umat islam tentang kewajiban melaksanakannya. Ketiga: Jalan menurut ilmu hitung. namun aul tetap dibutuhkan. 5.untuk dipenuhi hak-haknya dengan menganaktirikan ahli waris yang lain untuk dikurangi hak-haknya. Kedua: Jumlah sisa kurang dari peninggalan yang terbagi ditanggung oleh asshhabul-furudh dengan jalan mengurangkan penerimaan masing-masing menurut perbandingan furudh atau saham mereka masing-masing.ialah dengan mengadakan perbandingan furudh/saham mereka satu sama lain. Kemudian saham mereka di jumlah. Dapat dikatakan adil apabila sebagian ahli waris dipenuhi hak-haknya. apabila masalahnya menghendaki demikian. sehingga setiap ahli waris mendapat penggunaan yang sebanding dengan fardh mereka masing-masing. 6 .

Suami dan dua orang saudara kandung. Suami 2.000. 6.000.. maka menurut: Cara ke 1 Ahli waris .untuk membagi harta pusaka agar di ketahui berapa harga tiap-tiap bagian.000.Rp 42.Ini harus dipotong dari penerimaan masing-masing dengan jalan memperbandingkan fardh-fardhnya      Perbandingan fardh masing-masing = 1/2 : 2/3 = 3:4 Jumlah perbandingan = 3 + 4 = 7 = Rp 7.Potongan untuk 2 sdri knd 4/7 × Rp 7. tentu diketahui bagian masing-masing.Rp 3.000.000.000.000.Penerimaan suami tinggal Rp 21. Dari a..000 = Rp 18. 2 sdri knd : 1/2 : 1/2 × 6 = 3 : 2/3 : 2/3 × 6 = 4 Jumlah = 7 Cara ke 2 Ahli waris.000..= Rp 21.000 .6 Sisa kurang = Rp 7.000.= Rp 28..: : Penerimaannya 3 × Rp 42. suami 2.Sahamnya 1.7 : (dijadikan asal masalah dalam aul)  7 .000.Potongan untuk suami 3/7 × Rp 7.. Setelah harga tiap-tiap bagian diketahui.7 4 × Rp 42.000.000.= Rp 4. Fardh .000.000.= Rp 18. dari peninggalan sejumlah Rp 42. Contoh dan penyelesaiannya: 1. Harta peninggalan sejumlah Rp 42.= Rp 24.000.000.000 – Rp 4.6 4 × Rp 42. dari a.000.m 6.= Rp 3.m.000 = Rp 24.000. 2 sdri knd : 1/2 : 1/2 × 6 = 3 : 2/3 : 2/3 × 6 = 4 : : Penerimaannya 3 × Rp 42.Sahamnya: 1. dari peninggalan sejumlah Rp 42.000.Ahli warisnya terdiri dari.000..Penerimaan 2 sdri knd tinggal Rp 28. fardh.

Jika ada kelebihan setelah dibagikan keashabul furud dan tidak ashobah maka diberikan kepada baitul ma. At Tirmidhi ” • Alasan ketiga. • Alsan kedua. 8 .000. al Zuhri. Malik. pendapat yang mengingkari yang mengingkari adanya al radd.Perbandingan furudh suami di banding dengan 2 saudari kandung 1/2 : 2/3 = 3/4 Jumlah perbandingannya = 3+4 = 7 = Rp 42.000. • Alasan pendapat pertama yaitu bahwa Allah telah menentukan fardh para ashabul furud yang besar kecilnya pun secara pasti. Para fuqoha seperti Urwah. bahwa Rasul telah menguatkan firman Allah yang menetapkan fardh fardh para pemiliknya.2 RADD Al-Radd dalam bahasa arab berarti kembali atau juga bermakna berpaling.mnambah fard mereka berarti membuat ketentuan yang melampaui batas ketentuan syariat islam.Cara ke 3 Jumlah harta yang di bagi = Rp 42.000. Oleh karenanya harus diserahkan ke baitul mal. Pendapat para ulama tentang radd : Pertama. tidak perlu ditambah apalagi dikurangi. Kedua. setelah selesai diturunkan ayat-ayat waris dengan sabdanya “ susungguhnya Allah telah memberikan hak kepada pemegang ha itu. para imam mujtahid. Al rad merupakan kebalikan dari al aul. Adapun radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya atau lebihnya jumlah bagian ashabul furud.R. Ahmad bin Hambal.Penerimaan suami 3/7 × Rp 42. sisa lebih dari harta pniggalan setelah dibagi bagi kan pada ahli waris ashabul furud merupakan harta benda yang tidak dapat dimiliki oleh seorang ahli waris. Syafi’I dan ibnu haajm (Zhahiri) pada dasarnya sependapat dengan zaid bin tsabit. seperti imam abu Hanifah. H. pendapat zumhur sahabat. karena tidak ada jalan untuk memilikinya. Pendapat yang menyetujui adanya radd. thabi’in. yaitu pendapat zaid bin tsabit dan sebagian kecil para sahabat mengingkari adanya radd dalam pembagian harta warisan.2.000 = Rp 24.

dan fuqoha syi’ah zaidiyah dan syiah imamiyah yang menyetujui adanya radd. Adanya pemilik bagian yang berbeda-beda dan tanpa suami atau isteri c. misalnya semuanya berhak mendapatkan bagian setengah atau seperempat atau seterusnya dalam keadaan ini tidak terdapat suami atau istri maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan 9 . 1. Saudara kandung perempuan d. Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama yakni dari satu jenis saja. syafi’iyah. Saudara perempuan seibu h. b. Adanya pemilik bagian yang sama dan dengan adanaya suami atau istri d. karena itu adanya tali ikatan pernikahan. Cucu keturunan anak laki-laki c. Ibu kandung f. adanya ashabul furud tidak adanya ashobah ada sisa harta waris bila dalam pembagian waris tidak ada tiga syarat tersebut maka. Rukun-rukun Radd : a. Saudara laki-laki seibu Sedangkan ahli waris yang dari ashabul furud yang tidak bisa mendapatkan radd hanyalah suami dan istri. Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. Macam-macam Radd: a. Nenek shahih (ibu dari bapak) g. Adapun ashabul furud yang dapat menerima radd ada 8 orang : a. b. Saudara perempuan seayah e. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab).ulama mutaakhirin dari madzhab malikiyah. Adanya pemilik bagian yang berbeda-beda dan adanya suami atau istri 1. c. Anak perempuan b. Adanya ahli waris pemilik bagian yang sama dan tanpa adanya suami atau isteri.

disini tampak jumlah bagiannya tiga dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah yakni tiga.a 6 : 1/2 : 1 x 12 h. sebab bagian mereka sesuai dengan fardh adalah dua per tiga 2/3 dan sisanya mereka secara radd.a. 1x 12 h.a / 2 =6 h. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok maslahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lainnya sesuai dengan jumlah per kepala. ahli waris terdiri dari nenek shahihah dan saudari sekandung tunggal ibu. Sebagai misal.a bagian masing-masing = 6 h. maka pokok masalahnya dari tiga sesuai jumlah ahli waris. disertai salah satu dari suami / istri. Maka pembagiaannya bagi ibu 1/6.a Catatan : jumlah saham 2 dijadikan a. Karena itu pembagian hak mereka sesuai dengan jumlah mereka disebabkan karena mereka merupkan ahli waris dari bagian yang sama.nenek . seorang wafat dan hanya meniggalkan tiga anak perempuan.m dalam radd 10 . 3. sawah.Sdr seibu Fard 1/6 X 1/6 X a. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. untuk kedua saudara laki-laki seibu 1/3. 2. yakni sesuai jumlah kepala. maka : penyelesaian menurut cara pertama : AW . Hukum Keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh yang sama.m 6 saham 6 : 1. seorang wafat dan meniggalkan suami dan dua ana perempuan maka suami mendapatkan 1/4 dan sisanya 3/4 dibagikan kepada anaknya secara merata.jumlah agli waris. Tidak ada ahli waris yang tolak menerima radd harta peninggalan si mayit 12 h. Sebagai misal. Sebagai misal. Contoh-contoh dan Penyelesaiannya : a. seorang wafat dan meninggalkan ahli waris seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam dan tidak ada salah satu dari suami istri maka cara pembagiannya dihitung dan nilai baginya bukan dari jumlah ahli waris (perkeala).

000 = 4.a Tambahkan untuk nenek shaihah = ½ x 8 h.000.000 Tambah utk nenek = 1/3 x 6.a b.000.a / 4 h.a : 6 h.000 12 =6.000 =8.a Tambahan utk saudari seibu = ½ x 8 h.000 = 2. istri.a Catatan : sisa harta waris adalah 6 h.000.000 fard a.000 Jmlah = 18.Penyelesaian cara kedua .a = 6 h.000.a Jadi penerimaan saudari seibu seharusnya = 2 h.m 12 saham bagian 1/3 x 11 .000.a / 6 = 2 h.000.000 (24 jt – 18 jt= 6 jta) Sisa lebih ini ditambah radd kepada nenek dan kedua saudari seibu dengan jln perbandingan Perbandingan fardh nenek dengan 2 saudari seibu = 1/6 : 1/3 = 1 : 2 Jml perbandingan = 1+ 2 =3 = 6.000.a/6 = 2 h.000.000.a = 4 h.000 / 12 4 x 24. nenek shahihah dan dua orang saudari tunggal ibu.000.a : 1 x 12 h.a (12 h.000. AW -nenek S -sdri seibu fard 1/6 1/6 x x a.a) Sisa harta waris ini ditambahkan kepada mereka dengan jalan : Perbandingan furudh mereka masing –masing = 1/6 : 1/6 = 1 :1 Jumlah perbandingan = 1 + 1 = 2 = 8 h.a = 4 h.a + 4 h. Ahli waris yang tolak menerima radd harta peninggalan si mayit sejumlah 24.a = 6 h. maka : penyelesaian mnurut pertama : AW masing2 Istri Nenek sh 2 sdri seibu ¼ x 1/6 x 12 = 3 12 = 2 12 = 4 3 x 24.000 / 12 2 x 24.000 Catatan sisa harta waris 6.a Jadi penerimaan nenek shahihah seharusnya = 2 h. ahli warisnya terdiri .a + 4 h.m 6 6 6 saham bagian masing” : 1 : 1 x 12 h.a -4 h.000.000.

Definisi Al-Hijab Al –Hijab dalam bahsa Arab bermakna penghalang atau penggugur. Hijab nuqshan (pengurangan hak ) yaitu pengalang terhada dak waris seseorang untuk mendapatkan yang terbanyak. Hak waris mereka jadi gugur atau terhalang. Demikian juga seperti penghalang bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. Macam-macam Al-Hijab a.000. Ahli waris yang tidak terkena hijab Hirman Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap medapatkan hak waris. 2. Al-Hijab bi al-wasfhi berarti orang terkena hijab tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. Misalnya terhalangnya hak waris kakek karena adanya ayah. b. 3. anak kandung perempuan. 2. Al.000 = 4. Misalnya penghalang terhadap hak waris ibu yang seharusya mendapat sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). sang istri yang tadinya seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak dan seterusnya. Hijab ini terbagi menjadi dua macam: 1. Penghalang Hak Waris (al-Hijab) 1.Tambah utk 2 sdri seibu 1/2 x 6. 12 . Hijab hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. terhalangnya hak waris saudara karena adanya saudara kandung.000 Jadi penerimaan nenek seluruhnya 4 jt + 2 jt = 6 jt Jadi penerimaan 2 sdri seibu seluruhnya 8 jt + 4 jt = 12 jt C.syakhshi yaitu gugurnya waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. terhalang hak waris cucu karena adanya anak. dan seterusnya.000. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki.Hijab al. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu.

Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu terhalang oleh pokok (ayah. Nenek terhalangi dengan adanya ibu b. cucu. kakek danseterusnya. Sepupu kandung laki-laki terhalangi dengan adanya paman seayah k. Saudara sekandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah dan keturunan laki-laki c.ayah. Saudara kandung perempuan terhalangi dengan adanya ayah. suami dan istri. danseterusnya) e. Sadara laki-laki seayah terhalang dengan adanya saudara kandunga laki-laki d. Sepupu laki-laki terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) Sedangkan lima waris dari kelompok wanita : a. Keponakan laki-laki terhalangi dengan adanya ayah dan kakek g. Keponakan laki-laki terhalang dari yang menghalangi keponakan h. anak.kakek. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hijab Hirman Terdiri dari laki-laki ada sebelas : a. 4. cicit dan seterusnya d. Saudara perempuan seibu akan terhalangioleh adanya sosok laki-laki (ayah. Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi ashabul mal e. Kakek terhalang adanya ayah b. Cucu laki-laki keturunana anak laki-laki terhalngi oleh adany anak laki-laki f. Paman kandung terhalangi dengan adanya anak laki-laki dan saudara lakilaki i. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. Cucu perempuan terhalangi dengan adanya anak laki-laki c. Paman seayah dan terhalangi oleh paman kandung j. BAB III PENUTUP 13 . maka semuanya harus mendapatkan warisan. ibu.

Sedangkan menurut istilah Aul adalah bertambahnya saham ashab al-furudh dari asal masalah. 5.1 Kesimpulan Setelah mengadakan pembahasan secara singkat ini Penulis dapat memberikan beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut : 1. keliru kurang tepat ataupun istilah lain yang semakna dengan itu. Sistem pembagian harta warisan aul dan radd dalam hukum Islam banyak kerancuan sehingga menimbulkan berbagai kekeliruan dalam penghitungan pembagian warisan. maka secepat mungkin akan Penulis koreksi kembali. saran. DAFTAR PUSTAKA radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya atau lebihnya jumlah 14 .a. pendapat dari para pembaca sangat penulis harapkan karena seandainya pendapat penulis ini salah. Segala kritikan. Aul secara leksikal adalah kecenderungan kepada kezhaliman dan menyimpang dari kebenaran. 3. Orang yang pertama kali menetapkan aul adalah Umar bin khatab r.3. Adapun bagian ashabul furud. Sistem tersebut bukan bawaan kitab Al-Quran dan bukan pula petunjuk yang diberikan oleh nabi Muhammad SAW melainkan salah satu solusi yang diambil oleh Umar bin Khattab ketika timbul permasalahan waris pada masa pemerintahannya. 2. 4. Demikian artikel singkat ini dan semoga ada manfaatnya. dan pada umumnya bermakna untuk mengangkat. Al-Radd dalam bahasa arab berarti kembali atau juga bermakna berpaling. Penulis sangat tidak sependapat dengan cara pembagian harta warisan dengan sistem aul dan radd ini namun tetap menaruh hormat kepada penemunya karena bagaimanapun sistem ini telah menyelamatkan ummat Islam dari pertikaian akibat permasalahan warisan.

Mustafa Haffas. 2008) Maruzi. cet IV (Jakarta : Raja Grafindo persada. 2005 ) SARAN 15 . Teungku. cet III. Hukum Kewarisan Islam. (Semarang: Mujahidin. Hukum Waris Islam. cet I. 1981) Muhammad Hasbi Ash Shiddiqie. lengkap dan praktis. Suhrawardi K. Hukum Waris Islam. (Semarang : Pustaka Rizki Putra. (Jakarta: Kencana.Lubis. ( Jakarta : Sinar grafika. Muslich. Komis Simanjuntak.2006) Syarifuddin. Fiqh Mawaris.. Pokok-pokok ilmu Waris. (Bandung: Refika Aditama. Ahmad. 2001) Rofiq. Amir. 2001) Salman. Fiqh Mawaris. Otje.

16 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful