HIPOSPADIA

A.

PENGERTIAN

1. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glans penis). (Arif Mansjoer, 2000 : 374).

2. Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan orifisium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian ventral penis antara skrotum dan glans penis. (A.H Markum, 1991 : 257).

3. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288).

4. Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat lain pada bagian belakang batang penis atau bahkan pada perineum ( daerah antara kemaluan dan anus ). (Davis Hull, 1994 )

5. Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya, hanya pengelolaannya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli supaya mendapatkan hasil yang memuaskan. (http://photos1.blogger.com/blogger/4603/1833/1600/op.jpg).

B. ETIOLOGI

1.

Embriologi.

2.

Maskulinisasi inkomplit dari genetalia karena involusi yang prematur dari sel intersitisial testis.

C. KLASIFIKASI

Hipospadia dibagi menjadi beberapa tipe menurut letak orifisium uretra eksternum yaitu :

1.

Tipe sederhana adalah tipe grandular, disini meatus terletak pada pangkal glands penis. Pada kelainan ini secara klinis umumnya bersifat asimtomatik.

2. 3.

Tipe penil, meatus terletak antara glands penis dan skortum. Tipe penoskrotal dan tipe perineal, kelainan cukup besar, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu.

1. 1.

D.

MANIFESTASI KLINIS

Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar, mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat BAK.

2. 3. 4.

Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan mengangkat penis keatas. Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok. Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi.

E. PATOFISIOLOGI

Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang penis, hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis.

F. PATHWAY Maskulinasi inkomplit Embriologi dari genetalia Fusi digaris tengah uretra tidak lengkap Meatus uretra terbuka Cemas Managemen regimen terapeutik tidak efektif Lubang Keluar di bagian Operasi .

2005-2006 ) G. Derajat chordee. korona. 3. 2. 1995. Ditentukan oleh satu posisi meatus uretra : glands.Perubahan eliminasi urin (Retensi urin) Kesiapan dalam penigkatan manajemen regien terapeutik ( Sumber : Price Sylvia Anderson. . Lokasinya. batang penis sambungan dari batang penis dan skrotum dan perineum. DERAJAT KEPARAHAN 1. NANDA.

yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi. Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal. PENATALAKSANAAN 1. Striktur. yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas. atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut. 5. . Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu ) 2. Divertikulum. KOMPLIKASI 1. Rambut dalam uretra. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. I. bila tidak segera dioperasi saat dewasa. Psikis ( malu ) karena perubahan posisi BAK. Residual chordee/rekuren chordee. pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosis. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi. merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai parameter untuyk menilai keberhasilan operasi. 3. terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar. Pada prosedur satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %. J. Fitula uretrokutan. 6.H. Rontgen USG sistem kemih kelamin. 4. juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit. Komplikasi paska operasi yang terjadi : 1. dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang. 3. 3. 2. Kesukaran saat berhubungan sexsual. akibat dari rilis korde yang tidak sempurna. 2. BNO-IVP Karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan kongenital ginjal.

Operasi Hipospadia satu tahap ( ONE STAGE URETHROPLASTY ) “Adalah tekhnik operasi sederhana yang sering digunakan. Meskipun sering hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Tipe hipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan kelainan-kelainan yang berat seperti korda yang berat. . 1. Tipe distal ini meatusnya letak anterior atau yang middle. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu : a.2. Sehingga banyak dokter lebih memilih untuk melakukan 2 tahap. skin hood dan propenil bifid scrotum. dan sebelum operasi dilakukan bayi atau anak tidak boleh disirkumsisi karena kulit depan penis digunakan untuk pembedahan nanti. memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian ventral/bawah penis. globuler glans yan bengkok kearah ventral ( bawah ) dengan dorsal. Operasi Hipospadia 2 tahap “Tahap pertama operasi pelepasan chordee dan tunelling dilakukan untuk meluruskan penis supaya posisi meatus ( lubang tempat keluar kencing ) nantinya letaknya lebih proksimal ( lebih mendekati letak yang normal ). Untuk tipe hipospadia proksimal yang disertai dengan kelainan yang jauh lebih berat. Operasi harus dilakukan sejak dini. maka one stage urethroplasty nyaris dapat dilakukan. Kelainan yang seperti ini biasanya harus dilakukan 2 tahap. 3. Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air seninya lebih kearah proksimal ( jauh dari tempat semestinya ) biasanya diikuti dengan penis yang bengkok dan kelainan lain di scrotum atau sisa kulit yang sulit di tarik pada saat dilakukan operasi pembuatan uretra ( saluran kencing ). Tahap selanjutnya ( tahap kedua ) dilakukan uretroplasty ( pembuatan saluran kencing buatan/uretra ) sesudah 6 bulan. Dokter akan menentukan tekhnik operasi yang terbaik. 1. Satu tahap maupun dua tahap dapat dilakukan sesuai dengan kelainan yang dialami oleh pasien. b. terutama untuk hipospadia tipe distal.

2. PENGKAJIAN Kaji biodata pasien Kaji riwayat masa lalu: Antenatal. natal. 5. 3. A.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ANAK HIPOSPADIA 1. Kaji riwayat pengobatan ibu waktu hamil Kaji keluhan utama Kaji skala nyeri (post operasi) . 1. 4.

1. Nyeri berhubungan dengan post prosedur operasi Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter Perubahan eliminasi urine berhibingan dengan trauma operasi 1. DIAGNOSA KEPERAWATAN Pasien pre operasi 1. Pasien post operasi 1. Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat. 1. PEMERIKSAAN FISIK Inspeksi kelainan letak meatus uretra Palpasi adanya distensi kandung kemih. 2. Diagnosa : Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan pola perawatan keluarga. 3. 3. C. 2.1. Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan obstruksi mekanik Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga dan klien. B. 2. D. Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan pola perawatan keluarga. NOC : Family health status Indikator : . 4. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan manajemen regimen terapeutik kembali efektif. INTERVENSI Diagnosa pre operasi 1.

1. 5. 4. 4. 3. 7. Jadilah pendengar yang baik untuk anggota keluarga Diskusikan kekuatan kelurga sebagai pendukung Kaji pengaruh budaya keluarga Monitor situasi kelurga Ajarkan perawatan di rumah tentang terapi pasien Kaji efek kebiasaan pasien untuk keluarga Dukung kelurga dalam merencanakan dan melakukan terapi pasien dan perubahan gaya hidup . 6. Status imunisasi anggota kelurga Kesehatan fisik anggota keluarga Asupan makanan yang adekuat Tidak adanya kekerasan anggota kelurga Penggunaan perawatan kesehatan Keterangan skala : 1 = Tidak pernah dilakukan 2 = Jarang dilakukan 3 = Kadang dilakukan 4 = Sering dilakukan 5 = Selalu dilakukan NIC : Family mobilization Intervensi : 1. 3. 5. 2. 2.

Diagnosa : Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan obstruksi mekanik Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan retensi urin berkurang. 3.8. 2. 4. 6. 7. 5. 2. Identifikasi perlindungan yang dapat digunakan kelurga dalam menjaga status kesehatan. Mengatakan keinginan untuk BAK Menentukan pola BAK Mengatakan dapat BAK dengan teratur Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK Mengesankan kandung kemih secara komplet Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC : Perawatan retensi urin . NOC : Pengawasan urin Indikator : 1.

Tingkat kecemasan di batas normal Mengetahui penyebab cemas Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas Informasi untuk mengurangi kecemasan Strategi koping untuk situasi penuh stress Hubungan sosial Tidur adekuat Respon cemas . Melakukan pencapaian secara komperhensif jalan urin berfokus kepada inkontinensia (ex: urin output. fungsi kognitif dan masalah urin) 2. 7. 2. 8. Tujuan : Setelah dilakukan tindkan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan kecemasan pasien berkurang. 3. keinginan BAK yang paten. 9. 7. 6.Intervensi : 1. 4. 5. NOC : Kontrol ansietas Indikator : 1. 6. Berikan waktu berkemih dengan interval reguler. jika dibutuhkan Menganjurkan untuk mencegah konstipasi Monitor intake dan output Monitor distensi kandung kemih dengan papilasi dan perkusi 10. 3. 5. jika diperlukan. Diagnosa : Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga dan klien. 8. Menjaga privasi untuk eliminasi Menggunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK di toilet Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan blader (10 menit) Menyediakan perlak di kasur Menggunakan manuver crede. 4. 3.

4. Dengarkan dengan penuh perhatian Kuatkan kebiasaan yang mendukung Ciptakan hubungan saling percaya Identifikasi perubahan tingkatan kecemasan Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan. Ciptakan suasana yang tenang Sediakan informasi dengan memperhatikan diagnosa. tindakan dan prognosa. 6. 5. 7. dampingi pasien untuk meciptakan suasana aman dan mengurangi ketakutan 3. 2. Diagnosa post operasi .Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC : Pengurangan cemas Intervensi : 1.

NOC : Family participation in profesioal care Indikator : 1. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan kesiapan peningkatan regimen terapeutik baik. 5. 2. 3. 4. Ikut serta dalam perencanaan perawatan Ikut serta dalam menyediakan perawatan Menyediakan informasi yang relefan Kolaborasi dalam melakukan latihan Evaluasi keefektifan perawatan Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC : Family process maintenance Intervensi : .1. Diagnosa : Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat.

Melaporkan nyeri (frekuensi & lama) Perubahan vital sign dalam batas normal Memposisikan tubuh untuk melindungi nyeri NOC 2 : Tingkat kenyamanan Indikator : 1.1. 3. 5. Anjurkan kunjungan anggota keluarga jika perlu Bantu keluarga dalam melakukan strategi menormalkan situasi Bantu keluarga menemukan perawatan anak yang tepat Identifikasi kebutuhan perawatan pasien di rumah dan bagaimana pengaruh pada keluarga Buat jadwal aktivitas perawatan pasien di rumah sesuai kondisi Ajarkan keluarga untuk menjaga dan selalu menngawsi perkembangan status kesehatan keluarga. Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan post prosedur operasi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan nyeri berkurang. NOC 1 : Level nyeri Indikator : 1. 6. 2. 2. 2. Melaporkan kondisi fisik yang nyeman Menunjukan ekspresi puas terhadap manajemen nyeri NOC 3 : Kontrol nyeri Indikator : . 4. 3. 2.

intensitas. karakteristik.1. 3. 4. kualitas. frekuensi. 5. dan faktor pencetus nyeri Observasi keluhan nonverbal dari ketidaknyamanan Ajarkan teknik nonfarmakologi (ralaksasi) Bantu pasien & keluarga untuk mengontrol nyeri Beri informasi tentang nyeri (penyebab. prosedur antisipasi nyeri) NIC 2 : Monitor tanda vital . durasi. 3. durasi. Kaji secara komperhensif mengenai lokasi. Mengungkap faktor pencetus nyeri Menggunakan tetapi non farmakologi Dapat menggunakan berbagai sumber untuk mengontrol nyeri Melaporkan nyeri terkontrol Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC 1 : Manajemen nyeri Intervensi : 1. 2. 4. 2.

3. Monitor TD. nadi. Mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan resiko Menjelaskan kembali tanda & gejala yang mengidentifikasi faktor resiko Menggunakan sumber & pelayanan kesehatan untuk mendapat sumber informasi . 2.Intervensi : 1. 3. NOC 1 : Deteksi resiko Indikator : 1. suhu pasien Monitor keabnormalan pola napas pasien Identifikasi kemungkinan perubahan TTV Monitor toleransi aktivitas pasien Anjurkan untuk menurunkan stress dan banyak istirahat NIC 3 : Manajemen lingkungan Intervensi : 1. Diagnosa : Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi. 2. 5. 2. Cegah tindakan yang tidak dibutuhkan Posisikan pasien dalam posisi yang nyaman 3. 4. RR.

2. Tidak menunjukan infeksi berulang Suhu tubuh dalam batas normal Sel darah putih tidak meningkat Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan .NOC 2 : Kontrol resiko Indikator : 1. 3. Membenarkan faktor resiko Memonitor faktor resiko dari lingkungan Memonitor perilaku yang dapat meningkatkan faktor resiko Memonitor & mengungkapkan status kesehatan NOC 3 : Status imun Indikator : 1. 4. 2. 3.

2. 4. Ajarkan pasien & kelurga cara mencucitangan yang benar Ajarkan pada pasien & keluarga tanda gejala infeksi & kapan harus melaporkan kepada petugas Batasi pengunjung Bersihkan lingkungan dengan benar setelah digunakan pasien NIC 2 : Perawatan luka Intervensi : 1. 2. Monitor peningkatan granulossi.5 = Selalu menunjukan NIC 1 : Kontrol infeksi Intervensi : 1. 2. Diagnosa : Perubahan eliminasi urine (retensi urin) berhubungan dengan trauma operasi . 3. Catat karakteristik luka. sel darah putih Kaji faktor yang dapat meningkatkan infeksi. 3. 4. 4. drainase Bersihkan luka dan ganti balutan dengan teknik steril Cuci tangan dengan benar sebelum dan sesudah tindakan Ajarkan pada pasien dan kelurga cara prosedur perawatan luka NIC 3 : Perlindungan infeksi Intervensi : 1.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan retensi urin berkurang. 7. 3. 5. Mengatakan keinginan untuk BAK Menentukan pola BAK Mengatakan dapat BAK dengan teratur Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK Mengosongkan kandung kemih secara komplet Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC : Perawatan retensi urin . 6. 2. 4. NOC : Pengawasan urin Indikator : 1.

Status imunisasi anggota kelurga Kesehatan fisik anggota keluarga Asupan makanan yang adekuat Tidak adanya kekerasan anggota kelurga Penggunaan perawatan kesehatan 5 4 5 5 4 1. EVALUASI skala Pre operasi 1. E. fungsi kognitif dan masalah urin) 2. 8. 2. 5. Indikator : 1. 9. 6. Melakukan pencapaian secara komperhensif jalan urin berfokus kepada inkontinensia (ex: urin output. 5. 3. 4. Diagnosa : Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan pola perawatan keluarga. Menjaga privasi untuk eliminasi Menggunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK di toilet Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan blader (10 menit) Menyediakan perlak di kasur Menggunakan manuver crede. jika diperlukan.Intervensi : 1. Diagnosa : Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan obstruksi mekanik Indikator : 1. Berikan waktu berkemih dengan interval reguler. 7. 4. 3. 1. keinginan BAK yang paten. jika dibutuhkan Menganjurkan untuk mencegah konstipasi Monitor intake dan output Monitor distensi kandung kemih dengan papilasi dan perkusi 10. Mengatakan keinginan untuk BAK 4 .

4. 5. 8. Diagnosa : Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga dan klien. 4. Diagnosa : Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat. 5. 6. Tingkat kecemasan di batas normal Mengetahui penyebab cemas Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas Informasi untuk mengurangi kecemasan Strategi koping untuk situasi penuh stress Hubungan sosial Tidur adekuat Respon cemas 4 4 4 4 4 4 4 4 Post operasi 1. 7. 3. 7. Indikator : 1. 2. 6. Menentukan pola BAK Mengatakan dapat BAK dengan teratur Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK Mengesankan kandung kemih secara komplet 4 4 4 4 4 4 3.2. 2. Indikator : 1. Ikut serta dalam perencanaan perawatan Ikut serta dalam menyediakan perawatan 5 5 . 3.

2. Memposisikan tubuh untuk melindungi nyeri Melaporkan kondisi fisik yang nyeman Menunjukan ekspresi puas terhadap manajemen nyeri Mengungkap faktor pencetus nyeri Menggunakan tetapi non farmakologi Dapat menggunakan berbagai sumber untuk mengontrol nyeri Melaporkan nyeri terkontrol 5 4 4 4 4 4 4 3. 5.8ºC) 5 5 1. 2. Diagnosa : Nyeri berhubungan dengan post prosedur operasi Indikator : 1. 6. 3. Melaporkan nyeri (frekuensi & lama) Perubahan vital sign dalam batas normal (TD 120/80 mmHg. S 36. 4. 5. 5. RR 22 x/mt. 4. 2. 3. 4. 7. Menyediakan informasi yang relefan Kolaborasi dalam melakukan latihan Evaluasi keefektifan perawatan 5 5 5 2. 6. N 75x/mt.3. Diagnosa : Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter Indikator : 1. Mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan resiko Menjelaskan kembali tanda & gejala yang mengidentifikasi faktor resiko 4 4 Menggunakan sumber & pelayanan kesehatan untuk mendapat sumber informasi 4 Membenarkan faktor resiko Memonitor faktor resiko dari lingkungan Memonitor perilaku yang dapat meningkatkan faktor resiko 4 4 4 .

6. Mengatakan keinginan untuk BAK Menentukan pola BAK Mengatakan dapat BAK dengan teratur Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK Mengosongkan kandung kemih secara komplet 4 4 4 4 4 4 4 BAB IV PENUTUP Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah. . Diagnosa : Perubahan eliminasi urine berhibingan dengan trauma operasi Indikator : 1. Sel darah putih tidak meningkat 4. Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang terjadi pada 3 diantara 1. Memonitor & mengungkapkan status kesehatan Tidak menunjukan infeksi berulang Suhu tubuh dalam batas normal 4 4 4 4 10. 5. 3.7. 4. 7. 8. 2.000 bayi baru lahir. 9. bukan di ujung penis.

Rangkaian pembedahan biasanya telah selesai dilakukan sebelum anak mulai sekolah. anak harus duduk. Kelainan ini seringkali berhubungan dengan kordi.Beratnya hipospadia bervariasi. Bayi yang menderita hipospadia sebaiknya tidak disunat. Kulit depan penis dibiarkan untuk digunakan pada pembedahan nanti. mungkin akan terjadi kesulitan dalam pelatihan buang air pada anak dan pada saat dewasa nanti. . mungkin perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk memeriksa kelainan bawaan lainnya. Jika tidak diobati. perbaikan hipospadia dianjurkan dilakukan sebelum anak berumur 18 bulan. Gejalanya adalah: 1. Jika hipospadia terdapat di pangkal penis. tetapi berada di bawah atau di dasar penis 2. yaitu suatu jaringan fibrosa yang kencang. Penis melengkung ke bawah 3. yaitu pada glans penis. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik. yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat ereksi. Jika berkemih. Penis tampak seperti berkerudung karena adanya kelainan pada kulit depan penis 4. kebanyakan lubang uretra terletak di dekat ujung penis. dan kadang pada skrotum (kantung zakar) atau di bawah skrotum. mungkin akan terjadi gangguan dalam melakukan hubungan seksual. Pada saat ini. Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah batang penis atau pada pangkal penis.

jpg http://www.com/blogger/4603/1833/1600/op.DAFTAR PUSTAKA http://photos1.blogger.medicastore.com .

Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. dkk. (2005-2006). Sylvia Anderson. Joanne C. Arif. (2001). Marion dkk. Prima Medika Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1996). Nursing interventions classification (NIC). (1995).Johnson. (1985). . Budi. B Basuki. dkk. Jilid 2. Jakarta : Infomedika Santosa. Mosby Price. (2000). (2000). Dasar – dasar urologi. McCloskey. Jakarta : Fajar Interpratama Mansjoer. Jakarta :EGC. Jakarta : Media Aesculapius. Pathofisiologi. NANDA. Jakarta: EGC Purnomo. Nursing outcomes classification (NOC). Mosby Suriadi SKp. Asuhan keperawatan pada anak. (2000).Kapita Selekta Kedokteran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful