Jual Beli Murabahah, Salam, Istishna’ dan Sharf

M. Denny Jandiar

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI....................................................................................................................................2 1. PENDAHULUAN.......................................................................................................................3 Landasan Syariah Jual Beli dan Jual Beli Kredit.........................................................................3 Akad Jual Beli di Perbankan Syariah...........................................................................................6 2. JUAL BELI MURABAHAH.......................................................................................................8 Pengertian Murabahah.................................................................................................................8 Landasan Syariah Murabahah......................................................................................................8 Operasional Murabahah...............................................................................................................8 Fatwa DSN tentang Murabahah.................................................................................................11 3. JUAL BELI SALAM.................................................................................................................12 Pengertian Salam.......................................................................................................................12 Landasan Syariah Salam............................................................................................................12 Operasional Salam.....................................................................................................................12 Fatwa DSN tentang Salam.........................................................................................................14 4. JUAL BELI ISTISHNA’............................................................................................................15 Pengertian Istishna’....................................................................................................................15 Landasan Syariah Istishna’........................................................................................................15 Operasional Istishna’.................................................................................................................15 Fatwa DSN tentang Istishna’.....................................................................................................17 5. JUAL BELI SHARF..................................................................................................................18 Pengertian Sharf.........................................................................................................................18 Landasan Syariah Sharf.............................................................................................................18 Operasional Sharf.......................................................................................................................18 Fatwa DSN tentang Sharf..........................................................................................................19 6. REFERENSI..............................................................................................................................20

2

Firman tersebut menjadi dalil bagi kebolehan jual beli secara umum. Syaikh Al Jibrin dan lainnya. prinsip jual beli dilakukan melalui perpindahan kepemilikan barang (transfer of property). Pada makalah ini akan dibahas ketiga jenis jual-beli tersebut. penyaluran dana. kebiasaan masyarakat Madinah melakukan jual beli salam adalah penyebab turunnya ayat ini. Namun kebolehan jual beli ini menurut para ulama yang memperbolehkannya harus memenuhi beberapa syarat tertentu. Ibnu Abbas menjelaskan. 3 ." Imam Al Qurthubi menerangkan. Pertama. Al-Baqarah 2:275). Transaksi jual-beli dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu penyerahan barang seperti murabahah. 1. Dalil-dalil yang memperbolehkan jual beli dengan pembayaran tertunda.1. membeli. namun kemudian ayat ini berlaku untuk segala bentuk pinjam meminjam berdasarkan ijma' ulama" (Tafsir Al Qurthubi 3/243). di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sebagai tambahan. hendaklah kamu menulisnya” (QS. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin. Landasan Syariah Jual Beli dan Jual Beli Kredit Allah telah berfirman dalam Al-Quran. Pada perbankan syariah. Mereka berhujjah dengan beberapa dalil berikut yang bisa diklasifikasikan menjadi beberapa bagian. akan dibahas juga jual-beli sharf. Al Baqarah: 282). Imam Ibnul Qoyyim. apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. "Artinya. 1. "Ayat ini diturunkan berkaitan dengan jual beli As Salam saja. para ulama telah membolehkan jual beli secara kredit. salam dan istishna’. ‫وأَحلّ اللهُ اْلبَيْعَ وح ّمَ الربَا‬ ّ ‫َ َر‬ ّ َ َ “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Firman Allah Ta'ala “Hai orang-orang yang beriman. Namun sebelum membahas lebih detil. Selain itu. Syaikh Abdul Aziz bin Baz. akan dijelaskan dulu landasan kebolehan jual beli secara kredit dan perkembangan akad jual beli di perbankan syariah Indonesia secara umum. PENDAHULUAN Kegiatan yang dilakukan perbankan syariah antara lain adalah penghimpunan dana. Tingkat keuntungan bank ditentukan di depan dan menjadi salah satu bagian harga atas barang yang dijual. menjual dan menjamin atas risiko serta kegiatan-kegiatan lainnya.

Kedua. Firman Allah Ta'ala “Wahai orang-orang yang beriman. Dalil-dalil yang menunjukkan dibolehkannya memberikan tambahan harga karena penundaan pembayaran atau karena penyicilan. padahal biasanya dalam jual beli salam uang untuk membeli itu lebih sedikit daripada kalau beli langsung ada barangnya.''Belilah dia dan merdekakanlah karena wala' itu kepunyaan yang memerdekakan . Bukhari 2068. Maka begitu pula dengan jual beli kredit yang merupakan kebalikannya yaitu barang dahulu dan uang belakangan meskipun lebih banyak dari harga kontan. Bukhari 2241. timbangan yang jelas sampai waktu yang jelas" (HR. Muslim 1603). Beliau memberikan baju besi beliau kepada orang tersebut sebagai gadai” (HR. An Nisa': 29). 2. Hadits Rasulullah Dari Aisyah berkata. Hadits ini tegas bahwa Rasululah mendapatkan barang kontan namun pembayarannya tertunda. malah mereka berkata. Hadits Bariroh. ''Kalau Aisyah berkehendak untuk membebaskanmu dengan hanya mengharapkan pahala saja. Hadits Rasulullah Dari Abdullah bin Abbas berkata. Muslim 1604). maka beliau bersabda. maka bisa saja dia lakukan. bahwa Rasulullah membolehkan jual beli salam asalkan takaran dan timbangan serta waktu pembayarannya jelas. Keumuman ayat ini mencakup jual beli kontan dan kredit. "Barangsiapa yang jual beli salam maka hendaklah dalam takaran yang jelas. Pengambilan dalil dari hadits ini. 2. Rasulullah datang ke kota Madinah.2.S. 1.. janganlah kamu saling mernakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil. dan saat itu penduduk Madinah melakukan jual beli buah-buahan dengan cara salam dalam jangka satu atau dua tahun.' Maka Aisyah pun menyebutkan hal ini paa Rasulullah dan beliaupun bersabda. namun wala'mu tetap pada kami. sedangkan dia belum membayar sama sekali. “Pulanglah ke keluargamu. Sesungguhnya Bariroh datang kepadanya minta tolong untuk pelunasan tebusannya. kecuali dengan jaian perniagaan yang berlaku dengan suka sarna suka diantara kamu” (Q.'' Maka Bariroh menyebutkan hal ini pada mereka. maka selagi jual beli kredit dilakukan dengan suka sama suka maka masuk dalam apa yang diperbolehkan dalam ayat ini. kalau mereka ingin saya membayar tebusanmu namun wala'mu menjadi milikku maka akan saya lakukan. namun mereka enggan melakukannya.'' 4 . Dari Aisyah berkata. maka Aisyah berkata padanya. "Sesungguhnya Rasulullah rnembeli makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran tertunda.

"Macam. As Sunnah dan kesepakatan ulama. Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin. 3. hal: 57." (Ahkamul Fiqh. karena transaksi seperti itu tidak mengandung riba sedikitpun. Kaum muslimin sudah terbiasa melakukannya sehingga menjadi Ijma' dari mereka atas diperbolehkannya jual beli seperti itu. 4. setiap tahun saya membayar satu uqiyah. Dalil Ijma' Sebagian ulama mengklaim bahwa dibolehkannya jual beli dengan kredit dengan perbedaan harga adalah kesepakatan para ulama. maka ini diperbolehkan karena juga tercakup dalam ayat terdahulu. Misalnya: Seseorang membeli rumah untuk ditempati atau untuk disewakan seharga 10. Pendapat ini tidak ada dasarnya.000 real. Al Baqarah: 282). Beliau berkata dalam Al Mudayanah hal. atau seseorang . Bukhari 2169. o Seseorang membutuhkan untuk membeli barang namun dia tidak mempunyai uang kontan. satu tahunnya sebanyak sebanyak satu uqiyah. “Wahai orang-orang yang beriman. Muslim 1504). Segi pengambilan dalil. 1." (Majmu' Fatawa 29/498-499).macam hutang piutang. Misal seseorang membeli gandum dengan pembayaran tertunda dan lebih banyak dari harga kontan untuk menjualnya lagi ke luar negeri atau untuk menunggu naiknya harga atau lainnya.'' (HR. Di antara mereka adalah . Syaikh Abduloh Al Jarulloh. yang mana seandainya dijual kontan akan seharga 9.Dalam sebuah riwayat yang lain “Bariroh berkata. maka beliau menjawab. yang mana harga kontannya adalah 9. Masalah ini tercakup dalam firman Alloh Ta'ala. mereka mengira bahwa itu termasuk riba. maka dia membelinya dengan pembayaran tertunda dalam tempo tertentu namun dengan adanya tambahan harga dari harga kontan.000 real sampai tahun depan.58). o Seseorang membeli barang dengan pembayaran tertunda sampai waktu tertentu dengan tujuan untuk memperdagangkannya. 5 .000 real sampai tahun depan.000 real. maka catatlah” (QS. Sebagian ulama memang berpendapat aneh dengan melarang penambahan harga karena pembayaran berjangka. Dan telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang dua bentuk ini adalah diperbolehkan berdasarkan Al Kitab. ''Saya menebus diriku dengan membayar 9 Uqiyah. Syaikh Bin Baaz Saat menjawab pertanyaan tentang hukum menjual karung gula dan sejenisnya seharga 150 Real secara kredit. "Transaksi seperti ini boleh-boleh saja karena jual beli kontan tidak sama dengan jual beli berjangka. dalam hadits ini jelas bahwa Bariroh membayarnya dengan mengkredit karena dia membayar sembilan uqiyah yang dibayar selama sembilan tahun. yang nilainya sama dengan 100 Real tunai. apabita kalian berhutang piutang sampai waktu tertentu. Ini diperbolehkan.membeli mobil baik untuk dipakai sendiri atau disewakan seharga 10. 2.

Hanya saja jual beli salam barangnya yang tertunda. Juga dalam jual beli salam tidak sama dengan harga kontan seperti kredit juga hanya bedanya salam lebih nurah sedangkan kredit lebih mahal. akadnya sangat jelas. barangnya jelas dan keamanannya juga jelas. hal itu bukan berarti peminat pembiayaan murabahah menurun. Dalil Maslahat Jual beli kedit ini mengandung maslahat baik bagi penjual maupun bagi pembeli. "Saya jual barang ini kepadamu dan engkau bayar setiap bulan sekian …" (Al Mudayanah hal: 5). KH Ma'ruf Amin mengungkapkan. dan ini tidak bertentangan dengan tujuan syariat yang memang didasarkan pada kemaslahatan umat. hal. Akad Jual Beli di Perbankan Syariah Data statistik yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) mengenai laporan perkembangan perbankan syariah tahun 2004 menunjukkan sekitar 66. Sementara pembeli senang karena pembayarannya diperlambat dan karena ia tidak mampu mambayar kontan. Syaikh Jarulloh. 4. 58). Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia. sedangkan kredit uangnya yang tertunda. yaitu sama-sama tertunda. Karena itu. "Tidak dibedakan apakah pembayaran tertunda ini dilakukan sekaligus ataukah dengan cara mengangsur." (Ahkamul Ba'i.5 persen. sehingga keduanya mendapatkan keuntungan. "Karena seorang pedagang yang menjual barangnya secara berjangka pembayarannya setuju dengan cara tersebut sebab ia akan mendapatkan tambahan harga dengan penundaan tersebut. Karena pembeli bisa mengambil keuntungan dengan ringannya pembayaran karena bisa diangsur dalam jangka waktu tertentu dan penjual bisa mengambil keuntungan dengan naiknya harga.Syaikh Utsaimin berkata selanjutnya. wajar kalau produk pembiayaan murabahah ini masih banyak diminati. 6 . Maulana Ibrahim Kendati mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2003 yang mencapai 71. Semacam kalau penjual berkata. Dalil Qiyas Sebagaimana yang telah lewat bahwasannya jual beli kredit ini dikiaskan dengan jual beli salam yang dengan tegas diperbolehkan Rasululah karena ada persamaan.3 persen pembiayaan syariah menggunakan akad jual-beli. Sebab pembiayaan dengan sistem murabahah ini. Berkata Syaikh Bin Baz disela-sela jawaban beliau mengenai jual beli kredit. bahwa produk perbankan syariah lainnya juga sangat diminati. Hal ini justru menunjukkan. Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI). 5. masih besarnya peminat perbankan syariah produk pembiayaan murabahah menunjukkan bahwa produk dengan akad jual beli dengan sistem bagi hasil ini diminati oleh nasabah perbankan syariah karena dinilai memiliki resiko yang paling kecil.

7 .4 persen. Data statistik Bank Indonesia (BI) menunjukan bahwa kedua produk perbankan syariah ini -(musyarakah dan mudharabah) -. Produk lainnya seperti mudharabah (jenis pembiayaan bagi hasil dengan kesepakatan antara bank sebagai penyedia modal dan nasabah sebagai pengelola) dan musyarakah (kerja sama) juga makin banyak peminatnya. Dan hal ini dilakukan untuk mengetahui dan mengenal karakteristik calon nasabah perbankan syariah. secara umum pembiayaan perbankan syariah berjalan sangat bagus.9 persen. Pertumbuhan pembiayaan berbasis bagi hasil yang terdiri atas pembiayaan mudharabah dan musyarakah ternyata melebihi pembiayaan berbasis jual-beli (murabahah) sehingga per November 2004 pangsa pasar pembiayaan bagi hasil tersebut mencapai 28. penurunan NPF tersebut mencerminkan kualitas pengelolaan perbankan syariah cukup baik.meningkat cukup tajam. Maulana menyebutkan.Begitu besarnya peminat produk murabahah ini. serta adanya proyek-proyek jangka pendek infrastruktur dan public service (pelayanan umum). hal itu disebabkan produk pertama yang ditawarkan oleh perbankan syariah adalah produk pembiayaan jual-beli.3 persen dibandingkan posisi tahun 2003 yang baru mencapai 19. Beberapa faktor yang diperkirakan mempengaruhi peningkatan pangsa pembiayaan bagi hasil tersebut adalah meningkatnya kerja sama bank syariah dengan lembaga keuangan non-bank seperti koperasi dan pegadaian. bukan berarti produk perbankan syariah lainnya dianggap tidak menguntungkan. Menurut Kyai Ma'ruf. Dengan pertumbuhan pembiayaan baru yang lebih tinggi dibandingkan penurunan kualitas sebagian aset. NPF perbankan syariah per November 2004 hanya 2. atau turun dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 3. Hal itu bisa dilihat dari tingkat Non-Peforming Fiancing (NPF) (pembiayaan bermasalah).8 persen.

bahwa Rasulullah Saw. murabahah ini diartikan sebagai suatu perjanjian yang disepakati antara Bank Syariah dengan nasabah.a. Dalam istilah teknis perbankan syari’ah. Al-Hadits Dari Suhaib al-Rumi r. Kedua belah pihak membuat kesepakatan mengenai barang tersebut serta kemungkinan harga asal pembelian yang masih sanggup ditanggung pemesan. bukan untuk dijual” (HR. Murabahah dapat dilakukan untuk pembelian dengan sistem pemesanan. Dalam murabahah. 8 . Dalam al-Umm. bersabda : “Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh. dimana Bank menyediakan pembiayaan untuk pembelian bahan baku atau modal kerja lainnya yang dibutuhkan nasabah.2. Setelah itu. penjual harus memberitahu harga produk yang dia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. muqaradhah (mudharabah). yang akan dibayar kembali oleh nasabah sebesar harga jual bank (harga beli bank + margin keuntungan) pada waktu yang ditetapkan. atau sebagai dana talangan. Imam Syafi’i menamai transaksi ini dengan istilah al-amir bi al-syira . Karakteristiknya adalah penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. JUAL BELI MURABAHAH Pengertian Murabahah Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tembahan keuntungan yang disepakati. Jual beli kedua belah pihak dilakukan setelah barang tersebut beada di tangan pemesan Landasan Syariah Murabahah Al-Quran ‫وأَحلّ اللهُ اْلبَيْعَ وح ّمَ الربَا‬ ّ ‫َ َر‬ ّ َ َ “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. kedua belah pihak juga harus menyepakati beberapa keuntungan atau tambahan yang harus dibayar pemesan. dengan pihak bank selaku penjual dan nasabah selaku pembeli. Dalam hal ini calon pembeli atau pemesan dapan memesan kepada sesorang (sebut saja pembeli) untuk membelikan suatu barang tertentu yang diinginkannya. dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah. Al-Baqarah 2:275). Ibn Majah). Pembayaran dapat dilakukan secara angsuran sesuai dengan kesepakatan bersama. Operasional Murabahah Produk murabahah adalah pembiayaan perbankan syariah dengan memakai prinsip jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati.

bank syariah tidak diperbolehkankan mengubah harga yang telah diperjanjikan/ diakadkan. mobil. Barang yang diperjualbelikan tersebut berupa harta yang jelas harganya. Dimungkinkan bagi bank memberikan kuasa pembelian barang kepada nasabah untuk membeli barang yang dibutuhkannya. sering kali terjadi penyalahgunaan pemakaian. Pada lembaga keuangan konvensional. Pada pembiayaan konsumen. Bila dibayar secara angsuran.Bila dilihat sekilas. Jadi. Sedangkan akad pembiayaan konsumen adalah akad pinjam meminjam. Persamaannya antara lain. dalam hal utang nasabah. Sedangkan pada pembiayaan konsumen. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba. sejak awal perjanjian sampai dengan masa pelunasan. Terdapat beberapa perbedaan utama antara jual beli murabahah dengan pembiayaan konsumen. Perbedaan pertama. Jika demikian. sehingga diwajibkan adanya suatu barang yang diperjualbelikan. jadi tidak membedakan lagi unsur pokok dan keuntungan. • Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual sebesar harga beli plus margin/keuntungannya. Keunggulan dari sebuah produk jual beli murabahah adalah memberikan kepastian dan kenyamanan kepada nasabah terhadap angsuran pembiayaan. sedangkan margin/tingkat keuntungan murabahah (bila sudah terjadi ijab kabul) bersifat tetap. Bank membeli barang keperluan nasabah atas nama bank sendiri. Dalam hal ini belum tentu ada barangnya. Dalam hal ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan. Apabila nasabah mengangsur utangnya. akad murabahah adalah akad jual beli. utang nasabah itu akan berkurang sebesar pembayaran angsuran yang dilakukan. harga jual pembiayaan konsumen biasanya memakai tingkat bunga yang tergantung situasi pasar. utang nasabah adalah sebesar harga jual. Apabila kita sebagai nasabah suatu bank syariah ingin mengajukan pembiayaan murabahah untuk pembelian bahan baku atau modal kerja lainnya. dalam pembiayaan konsumen dikenal adanya utang pokok dan hutang bunga. akad jual beli (murabahah) harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank. dan krisis nilai tukar. langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : • Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank syariah. karakteristiknya berbeda. bank harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang. utang nasabah adalah sebesar pokok kredit ditambah dengan bunga. • Jika bank syariah menerima permohonan tersebut. Jadi. terdapat persamaan jual beli murabahah dengan pembiayaan konsumtif. dan pembayarannya secara cicilan. Nasabah harus membelinya sesuai 9 . jika diperhatikan lebih dalam sesuai dengan fatwa DSN MUI. Perbedaan kedua. Dalam jual beli murabahah. dll). Perbedaan ketiga. dimungkinkan membuat sebuah klausul untuk meningkatkan bunga seperti karena akibat ketergantungan pada situasi pasar. bukan uang. utang nasabah akan berkurang sebesar pembayaran angsuran pokok kredit dan pembayaran bunga. seperti mobil atau motor. sehingga harga jual tidak boleh berubah. Dalam praktiknya. Namun. Harga jual adalah harga perolehan/pembelian barang ditambah keuntungan yang disepakati. pembiayaan yang diberikan adalah barang (motor. nasabah diberi uang yang akan dipergunakan untuk membeli barang yang dibutuhkan. krisis BBM.

10 . biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut. Dalam akad murabahah. Pembeli 2. Terima (qabul) Syarat-syarat murabahah: 1.• • dengan perjanjian yang telah disepakatinya. Bank Islam memberitahu biaya modal kepada nasabah. Kontrak pertama harus sah. Hal ini untuk menghindari cedera janji dari nasabah. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Bank Islam harus menjelaskan setiap cacat yang terjadi sesudah pembelian dan harus membuka semua hal yang berhubungan dengan cacat. Diskon adalah hak nasabah. bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah. pembagian diskon antara bank syariah dengan nasabah didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang sudah tercantum pada akad. Akad/sighot: a. Nasabah dapat menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. Kontrak harus bebas dari riba. Apabila nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank. Barang yang diperjualbelikan b. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad/perjanjian tersebut. Dalam jual beli tersebut bank dibolehkan meminta nasabah untuk menyediakan jaminan dan atau membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan. Pihak yang berakad: a. Serah (ijab) b. 2. Kemudian. 4. kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli. yang besarnya diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan bank syariah Rukun murabahah: 1. bila diskon dari pemasok diberikan setelah akad murabahah. Objek yang diakadkan: a. karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat. bank syariah boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut. apabila bank syariah mendapat diskon pembelian dari pemasok. Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang disepakati. dan tetap berkewajiban untuk menyelesaikan utangnya kepada bank. Harga 3. Penjual b. Namun. harga perolehan/pembelian adalah harga setelah didiskon. 3. dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad.

6. pembeli memiliki pilihan: a. melanjutkan pembelian seperti apa adanya. c. b. 4 atau 5 tidak dipenuhi. Jika syarat dalam 1.5. membatalkan kontrak. kembali kepada penjual dan menyatakan ketidaksetujuan. Bank Islam harus membuka semua ukuran yang berlaku bagi harga pembelian. Fatwa DSN tentang Murabahah • • • • • • • • • Fatwa 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah Fatwa 13/DSN-MUI/IX/2000 tentang Uang Muka dalam Murabahah Fatwa 16/DSN-MUI/IX/2000 tentang Diskon Dalam Murabahah Fatwa 17/DSN-MUI/IX/2000 tentang Sanksi atas Nasabah Mampu yang Menunda Pembayaran Fatwa 23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah Fatwa 46/DSN-MUI/II/2005 tentang Potongan Tagihan Murabahah Fatwa 47/DSN-MUI/II/2005 tentang Penyelesaian Piutang Murabahah bagi Nasabah Tak Mampu Bayar Fatwa 48/DSN-MUI/II/2005 tentang Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah Fatwa 49/DSN/MUI/II/2005 tentang Konversi Akad Murabahah 11 . misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang.

kualitas. hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula. macam. Oleh karena itu barang diserahkan secara tangguh sedangkan pembayaran dilakukan tunai. Harga jual dicantumkan dalam akad jualbeli dan jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad. kedua pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran. Umumnya transaksi ini diterapkan dalam pembiayaan barang yang belum ada seperti pembelian komoditi pertanian oleh bank untuk kemudian dijual kembali secara tunai atau secara cicilan. "Barangsiapa yang melakukan salaf (salam). 12 . Al-Hadits Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Harga jual yang ditetapkan bank adalah harga beli bank dari nasabah ditambah keuntungan. namun dalam transaksi ini kuantitas. sementara nasabah sebagai penjual. Sekilas transaksi ini mirip jual beli ijon." Operasional Salam Syarat utama salam adalah barang atau hasil produksi yang akan diserahkan kemudian tersebut dapat ditentukan spesifikasinya secara jelas seperti jenis. ukuran. dua. mutu dan jumlahnya. ketika barang telah diserahkan kepada bank. Beliau berkata.3. apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. JUAL BELI SALAM Pengertian Salam Salam adalah transaksi jual beli di mana barang yang diperjualbelikan belum ada. hendaklah kamu menuliskannya” (Al-Baqarah 2: 282). Dalam hal bank menjualnya secara tunai biasanya disebut pembiayaan talangan (bridging financing). untuk jangka waktu yang diketahui. Landasan Syariah Salam Al-Qur'an “Hai orang-orang yang beriman. maka bank akan menjualnya kepada rekanan nasabah atau kepada nasabah itu sendiri secara tunai atau secara cicilan. Sedangkan dalam hal bank menjualnya secara cicilan. Apabila ternyata nantinya barang yang diserahkan tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan di awal maka nasabah harus bertanggung jawab dengan cara menyediakan barang sejenis yang sesuai dengan spesifikasi atau mengembalikan seluruh uang yang telah diterima. Bank bertindak sebagai pembeli. harga. dan waktu penyerahan barang harus ditentukan secara pasti. Dalam praktek perbankan. datang ke Madinah dimana penduduknya melakukan salaf (salam) dalam buah-buahan (untuk jangka waktu) satu. dan tiga tahun.

pedagang pasar induk atau rekanan. Rukun salam: • Muslam atau pembeli • Muslam ilaih atau penjual • Ra’sul mal atau modal/uang • Muslam fiihi atau barang • Sighat atau ucapan/akad Syarat salam: Modal 1) Modal harus diketahui • Barang harus diketahui jenis. Dalam hal ini katakan pedagang belum memiliki uang. • Mengingat bank tidak menjadikan barang yang dibeli atau dipesannya sebagai persediaan (inventory). Misalnya jual beli 100 kg mangga harum manis kualitas "A" dengan harga Rp5000 / kg. Contoh lainnya. • Hukum awal mengenai pembayaran harus dalam bentuk uang tunai. Mekanisme seperti ini disebut dengan paralel salam.Contohnya petani tembakau membutuhkan uang saat ini sedangkan panen belum tiba. Bank Syariah akan memberikan uang tunai kepada petani tembakau dan pedagang tersebut memiliki utang kepada Bank Syariah dan sesuai dengan kesepakatan akan dicicil dan dilunasi dalam jangka waktu tertentu. 2) Penerimaan pembayaran salam • Pembayaran salam dilakukan di tempat kontrak (kebanyakan ulama). kualitas. Tentunya Bank Syariah akan menerapkan persentase keuntungan tertentu sesuai kesepakatan. • Pembayaran salam tidak bisa dalam bentuk pembebasan utang yang harus dibayar dari muslam ilaih (penjual). 13 . akan diserahkan pada panen dua bulan mendatang. dan jumlahnya. • Apabila hasil produksi yang diterima cacat atau tidak sesuai dengan akad maka nasabah (produsen) harus bertanggung jawab dengan cara antara lain mengembalikan dana yang telah diterimanya atau mengganti barang yang sesuai dengan pesanan. maka dimungkinkan bagi bank untuk melakukan akad salam kepada pihak ketiga (pembeli kedua) seperti bulog. Bank akan menambahkan sejumlah persentase keuntungan yang disepakati. Maka kedua pihak tersebut dapat pergi ke Bank Syariah dan mengajukan pembiayaan salam. macam. petani tembakau ingin menjual hasil panennya 2 bulan mendatang kepada pedagang. maka petani tersebut dapat meminta kepada Bank Syariah untuk membeli hasil panen yang akan datang dan bank akan menjualnya kembali kepada petani tersebut dengan cicilan yang disepakati dalam jangka waktu tertentu. ukuran. mutu dan jumlahnya. Ketentuan umum salam: • Pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas seperti jenis.

dan • Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah. pedagang pasar induk. jagung dan cabai. Inilah yang dikenal sebagai Salam Paralel Dibolehkan melakukan salam paralel dengan syarat: • Akad kedua terpisah dari akad pertama. dilakukanlah akad salam kepada pembeli kedua. dan Bank tidak berniat untuk menjadikannya sebagai inventory.Salam paralel: Karena yang dibeli oleh Bank adalah barang seperti padi. Fatwa DSN tentang Salam • Fatwa 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Salam 14 . misalnya kepada Bulog. atau grosir.

15 . kemudian melakukan pembayaran untuk proses tahap berikutnya. Bank Syariah juga akan menunjuk kontraktor yang akan membangun ruko tersebut dan membayar kontraktor sesuai dengan termin pembayaran yang disepakati sampai bangunan ruko tersebut selesai dikerjakan. JUAL BELI ISTISHNA’ Pengertian Istishna’ Produk istishna menyerupai produk salam. Setiap selesai satu tahap. Contoh. maka secara umum landasan syariah yang berlaku pada salam juga berlaku pada istishna’ Mazhab Hanafi menyetujui kontrak istishna’ atas dasar istihsan karena alasan berikut: • Masyarakat telah mempraktikkan istishna’ secara luas tanpa ada keberatan • Dalam syariah dimungkinkan adanya penyimpangan terhadap qiyas berdasarkan ijma’ ulama • Istishna’ didasarkan atas kebutuhan masyarakat • Sesuai dengan aturan umum mengenai kebolehan kontrak selama tidak bertentangan dengan nash atau aturan syariah Hal ini menjadikan istishna’ sebagai kasus ijma atau konsensus secara umum. Operasional Istishna’ Syarat utama istishna’ adalah sama dengan pembiayaan salam yakni spesifikasi barang dapat ditentukan dengan jelas. Bank Syariah akan menetapkan harga jual ruko yang akan dibangun tersebut kepada Pak Badu dan Pak Badu harus mencicil sampai dengan lunas berdasarkan kesepakatan. bank meneliti spesifikasi dan kualitas work in process tersebut. sesuai dengan tahap-tahap proses produksi. namun dalam istishna pembayarannya dapat dilakukan oleh bank syariah dalam beberapa kali (termin) pembayaran dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan.4. Umumnya pembiayaan istishna’ dilakukan untuk membiayai pembangunan konstruksi. Landasan Syariah Istishna’ Karena istishna’ merupakan jenis khusus dari salam. Melalui fasilitas istishna’ bank melakukan pemesanan barang dengan harga yang disepakati kedua belah pihak (biasanya sebesar biaya produksi ditambah keuntungan bagi produsen. tetapi lebih rendah dari harga jual) dan dengan pembayaran di muka secara bertahap. Pak Badu ingin membangun ruko di atas tanah yang dimilikinya maka Pak Badu melakukan transaksi jual beli kepada Bank Syariah. Skim istishna dalam bank syariah umumnya diaplikasikan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi.

dan bila hasil produksi tersebut disewakan. kewajiban dan tanggung jawab pengusaha adalah keberhasilan proses produksi tersebut sampai menghasilkan barang jadi sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang telah diperjanjikan. Kombinasi pembelian dari nasabah produsen dan penjualan kepada pihak pembeli itu menghasilkan skema pembiayaan berupa istishna' paralel atau istishna' wal murabahah. mutu dan jumlah. Rukun istishna’: • Mustashni’ (Pembeli) • Shani’ (Penjual) • Mashnu’ (Barang) • Tsaman (Harga) • Shighat (Ijab Kabul) Syarat istishna’: • Kedua belah pihak yang bertransaksi berakal. • Barang yang dipesan tidak termasuk kategori yang dilarang syara’ (najis. pengusaha berkewajiban menggantinya. Setelah barang selesai. Dengan demikian. potential buyer tersebut telah diperoleh nasabah. cakap hukum dan mempunyai kekuasaan untuk melakukan jual beli • Ridha/kerelaan dua belah pihak dan tidak ingkar janji. Tentu saja bank tidak bermaksud membeli barang itu untuk dimiliki. Harga jual yang telah disepakati dicantumkan dalam akad istishna dan tidak boleh berubah selama berlakunya akad. mutu dan jumlahnya. 16 . tetapi berubah menjadi Ijarah • Mashnu’ (barang yang dipesan) mempunyai kriteria yang jelas seperti jenis. Bank memperoleh keuntungan dari selisih harga beli (istishna') dengan harga jual (murabahah atau dari hasil sewa (ijarah). haram/tidak jelas) atau menimbulkan kemudharatan (menimbulkan maksiat) Ketentuan umum istishna’: • Spesifikasi barang pesanan harus jelas seperti jenis. apakah dengan cara memproduksi lagi ataupun dengan cara membeli dari pihak lain. Dalam praktiknya. ukuran (tipe). Pada saat yang kurang lebih bersamaan dengan proses pemberian fasilitas istishna' tersebut. maka akad ini bukan lagi Istishna’. maka produk tersebut statusnya menjadi milik bank. • Shani’ menyatakan kesanggupan untuk membuat barang • Apabila bahan baku berasal dari mushtasni’. macam ukuran. bank juga telah mencari potential purchaser dari produk yang dipesan oleh bank tersebut. maka akad ini juga bukan lagi Istishna’. skemanya menjadi istishna' wal ijarah.tetapi berubah menjadi Ijarah • Apabila isi akad mensyaratkan shani’ hanya bekerja saja. melainkan untuk segera dijual kembali dengan mengambil keuntungan. maka seluruh biaya tambahan tetap ditanggung nasabah.sampai tahap akhir dari proses produksi tersebut hingga berupa bahan jadi. Bila produksi gagal. Jika terjadi perubahan dari kriteria pesanan dan terjadi perubahan harga setelah akad ditandatangani.

Istishna’ paralel: Dalam sebuah kontrak istishna’. bisa saja pembeli mengizinkan pembuat barang menggunakan subkontraktor untuk melaksanakan kontrak tersebut. Kontrak baru ini dikenal sebagai istishna’ paralel Fatwa DSN tentang Istishna’ • • Fatwa 06/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Istishna’ Fatwa 22/DSN-MUI/III/2002 tentang Jual Beli Istishna' Paralel 17 .

baik spot maupun forward • Melakukan penjualan melebihi jumlah yang dimiliki atau dibeli (oversold) • Melakukan transaksi swap 18 . untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaian paling lambat dalam jangka waktu dua hari. sya'ir dengan sya'ir. • Bukan jual beli bersyarat. perak dengan perak. penyerahannya harus dilakukan pada waktu yang sama (spot).” (HR Muslim) Ijma’Ulama yang menyepakati bahwa akad sharf disyariatkan dengan syarat-syarat tertentu. Jika jenisnya berbeda. Jual beli mata uang yang tidak sejenis ini. gandum dengan gandum. Pada prinsipnya jual-beli valuta asing sejalan dengan prinsip sharf. kurma dengan kurma. • Motif pertukaran adalah dalam rangka mendukung transaksi perdagangan barang dan jasa antarbangsa. bukan dalam rangka spekulasi. juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai. Al-Hadits “(Juallah) emas dengan emas. JUAL BELI SHARF Pengertian Sharf Sharf adalah jual beli mata uang. A setuju membeli barang dari B hari ini dengan syarat B harus membelinya kembali pada tanggal tertentu di masa mendatang. • Transaksi berjangka harus dilakukan dengan pihak-pihak yang diyakini mampu menyediakan valuta asing yang dipertukarkan • Tidak menjual barang yang belum dikuasai atau tanpa hak kepemilikan Sharf yang dilarang: • Perdagangan tanpa penyerahan (future non-delivery trading) atau margin trading • Jual beli valas bukan transaksi komersial (arbitrage). Al-Baqarah 2:275). Misalnya. Bank mengambil keuntungan dari jual beli valuta asing ini.5. Landasan Syariah Sharf Al-Qur'an ‫وأَحلّ اللهُ اْلبَيْعَ وح ّمَ الربَا‬ ّ ‫َ َر‬ ّ َ َ “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Operasional Sharf Syarat Sharf: • Pertukaran harus dilakukan secara tunai (spot). dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai.

Fatwa DSN tentang Sharf • Fatwa 28/DSN-MUI/III/2002 tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf) 19 .

php?id=24&page=syariah • 20 .id/index. Jakarta Suhendi.net/index.com/cetak/2005/0805/21/hikmah/manajemen. http://www. Muhammad Syafi’i (2001).jakarta.vibiznews. http://www.php?option=com_content&task=view&id=90&Itemid= 100 JIC (2006). Gema Insani.php&id=32 Pikiran Rakyat (2005). REFERENSI • • • • • • Antonio.com/1new/articles_financial. http://www. Bank Syariah dari Teori ke Praktek.php?menu=showarticle.pikiranrakyat. Fiqh Muamalah.6.or. RajaGrafindo Persada.htm Vbaitullah (2006). http://jic.vbaitullah.id/2006/11/19/816-jual-beli-kredit-25/ Vibiznews (2007). Hendi (2002).go.badilag. Jakarta Badilag (2005). http://blog.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful