MAKALAH

IMAN DAN PENERAPANYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI
Pendamping Bapak M. Zaini S.Pdl. M.Pd.
AIK II Mata Kuliah Akidah dan Ibadah
Hari : Rabu jam ke 9-10







Kelompok 1 :
Heru Joko Priyo Utomo (201010370311010)
Ovilia Agustina (201010370311011)
M. Luthfi Rizani (201010370311009)

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2010/2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Kata Pengantar

Segala puji syukur khadirat Allah SWT yang mana pada kesempatan ini kami bisa
membuat makalah tentang “Iman dan pengaruhnya dalam kehidupan”. Berkat limpahan
rahmat-Nya kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini dengan lancar. Sholawat serta
salam kami haturkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, yang sudah merubah
kehidupan kita dari jaman kegelapan ke jaman terang benderang yang disebut pencerahan.
Makalah yang berjudul “Iman dan pengaruhnya dalam kehidupan” ini kami susun dalam
rangka membantu mengenali dan menjabarkan apa itu iman, dan bagai mana menerapkanya
dalam diri kita dan kehidupan kita sehari hari. Tak ada gading yang tak retak. Begitupula, dalam
pembuatan dan penyampaian makalah ini jika di dalamnya terdapat kesalahan itu adalah
kesalahan kami dan jika ada kebenaran yang terkandung di dalamnya maka itu adalah datang
dari Allah SWT, melalui kami sebagai perantaranya. Semoga makalah ini bias bermanfaat bagi
kita semua.


1.2 Latar Belakang Masalah

Iman menjadi salah satu hal yang krusial dalam beragama. Secara bahasa, berarti percaya dan
secara istilah pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan
diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dari arti iman tersebut , dapat kita ketahui bahwa
iman adalah unsur yang penting dalam beragama. Bagaimana kita dapat di katakana beragama
tanpa ada iman kepada agama tersebut. Apa yang sebenarnya yang di anut atau hanya ikut-
ikutan itu semua menjadi samar dan tidak jelas jika tidak ada iman yang kuat.


1.3 Rumusan Masalah

 Apa itu iman ?
 Bagaimana mengamalkanya ?
 Dan bagaimana menjaganya ?



1.4 Tujuan

Sesuai dengan rumusan masalah yang dijabarkan di atas, maka tujuan dari disusunnya
makalah ini adalah sebagai berikut :
 Untuk mengetahui apa itu iman
 Bagaimana menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari














BAB II

KAJIAN PUSTAKA

E©^^)³ ¬]ONLg`u·÷©^¯- 4ׯg~-.- -·O)³ 4Og¬O
+.- ;eÞU´_4Ò ¯ª×g×±O¬U¬~ -·O)³4Ò ;e4O)U¬>
¯ªjg¯OÞU4N +O+-4C-47 ¯ª×g^¯E1-Ee 4LE©C)³
_OÞ>4N4Ò ¯¦)_)Þ4O 4pO¬U-4O4-4C ^g÷ ¬-¯g~-.-
¬]O÷©O´³NC ÞE_OÞUO¯- O©g`4Ò ¯ª÷_4L^~Ee4O
4pO¬³g¼LNC ^@÷ Elj·^·¯Òq¡ Nª¬- 4pONLg`u·÷©^¯-
E³EO _ ¯ª+¤=± 7eE_4OE1 E³4gN ¯¦)_)Þ4O
¬E4Og¼^¯4`4Ò ¬-^ejO4Ò _¦C@Oº± ^j÷
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati
mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada
Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari
rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka
akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”

[594] Maksudnya: orang yang sempurna imannya.
[595] Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan
memuliakannya.

(QS : Al-Anfaal 2-4)

Dari potongan ayat di atas, dapat kita ketahui juga bahwa salah satu ciri orang yang beriman ialah, ketika di sebut
nama Allah bergetarlah hatinya.

¬-¯g~-.-4Ò W-ONL4`-47 W-ÒNOE_E-4Ò
W-Ò÷³E_E_4Ò O)× ÷O):Ec *.- 4ׯ´O-¯-4Ò
W-Ò4Ò-47 W-¼Ò+O=^4^EÒ ¬Cj·^·¯Òq¡ Nª¬-
4pONLg`u·÷©^¯- E³EO _ ª+¤=± ¬E4Og¼^¯E` ¬-^ejO4Ò
¬®O@OE ^_j÷
“dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi
tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang
benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.”
(QS : Al-Anfaal 2-4)
BAB III

PEMBAHASAN

A. Pengertian Iman
Pengertian iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah,
pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan
diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman kepada
Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala
sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan
lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.
“Membenarkan dengan hati” maksudnyamenerima segala yang di bawa oleh
Rasulullah SAW. “Diucapkan dengan lisan mkasudnya mengucapkan dua kalimat
syahadat “Laa ilaha illallahu wa ashadu anna Muhammadan Rasulullah”.
“Mengamalkan dengan perbuatan maksudnya hati mengamalkan degan bentuk
keyakinan. Sedangkan anggota badan mengamalkanya dalam bentuk ibadah
ibadahsesuai dengan fungsinya.
Rasulullah juga pernah menjelaskan iman dalam sabdanya yang berbunyi : “iman itu
tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih yang paling utama ialah ucapan
Laa ilaha illallahu dan yang paling rendah ialah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari
tengah jalan, sedang rasa malu itu jugasalah satu cabang dari iman “ (HR. Muslim, 1/63)




Hakikat Iman

^g÷ ¬-¯g~-.- ¬]O÷©O´³NC ÞE_OÞUO¯- O©g`4Ò
¯ª÷_4L^~Ee4O 4pO¬³g¼LNC ^@÷ Elj·^·¯Òq¡ Nª¬-
4pONLg`u·÷©^¯- E³EO _ ¯ª+¤=± 7eE_4OE1 E³4gN
¯¦)_)Þ4O ¬E4Og¼^¯4`4Ò ¬-^ejO4Ò _¦C@Oº± ^j÷
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595]
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya),
dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang
menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman
dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan
ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”

[594] Maksudnya: orang yang sempurna imannya.
[595] Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan
memuliakannya.

(QS : Al-Anfaal 2-4)


¬-¯g~-.-4Ò W-ONL4`-47 W-ÒNOE_E-4Ò
W-Ò÷³E_E_4Ò O)× ÷O):Ec *.- 4ׯ´O-¯-4Ò
W-Ò4Ò-47 W-¼Ò+O=^4^EÒ ¬Cj·^·¯Òq¡ Nª¬-
4pONLg`u·÷©^¯- E³EO _ ª+¤=± ¬E4Og¼^¯E` ¬-^ejO4Ò
¬®O@OE ^_j÷
“dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang
memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah
orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.”

(QS : Al-Anfaal 2-4)

Dalam ayat ayat yang pertama, Allah menyebutkan orang orang yang lembut hatinta
dan takut kepada Allah SWT ketika nama-Nya di sebut, keyakinan mereka bertambah
dengan mendengar ayat ayat Allah. Mereka tidak mengharapkan kepada selain-Nyatidak
menyerahkan hati mereka kecuali kepada-Nya. Mereka mengetahui Dialah semata yang
mengatur kerajaanNya tanpa sekutu. Mereka menjaga seluruh pelaksanaan ibadah
fardhu dengan memenuhi syarat, rukun dan sunahnya.Mereka adalah mukmin yang
benar benar beriman. Allah menjanjikan mereka derajat yang tinggi di sisi-Nya
sebagaimana mereka juga memperoleh pahala dan ampunanNya.
Kemudian dalam ayat yang kedua Allah menyifati para sahabat Rasulullah SAW baik
kaum Muhajirin atau Anshor dengan iman yang sebenar benarnya. Karena iman mereka
yang kokoh dan amal perbuatan mereka yang mejadi buah dari iman tersebut. Telah kita
ketahui bersama lafadzh iman baik secara bahasa maupun menurut istilah.
Sebagaimana kita juga mengetahui bahwa madzhab Ahlus sunnah wal jama’ah
memasukkannamal kedalam makna iman dan bahwa iman itu bias bertambah karena
amal salih dan keyakinan, dan bias berkurang dengan berkurangnya hal tersebut.

4`4Ò .4L·UE¬E_ =UO4'·Ò¡ jOEL¯- ·º)³
LO·¯j·^ÞU4` · 4`4Ò 4L·UE¬E_ ¯ª×g·¯O³gN ·º)³
LO4Lug· 4ׯg~--g¢¯ W-ÒNOE¼E
=}´³^14¯O41g¯ 4ׯg~-.- W-O¬>Òq¡
=U4-´¯^¯- E1-E1uO4C4Ò 4ׯg~-.-
W-EONL4`-47 4L4©C)³ · ºº4Ò =··>¯O4C
4ׯg~-.- W-O¬>Òq¡ =U4-´¯^¯-
4pONLg`u·÷©^¯-4Ò · 4·O¬³4Og¯4Ò 4ׯg~-.- O)×
ªjgj±O¬U¬~ E·=OO· 4pÒNOg¼·¯^¯-4Ò .-·O4`
E1-4OÒ¡ +.- -EOOgj± 1E·14` _ Elg¯EOE
O´_NC +.- }4` +7.4=EC Og³¯g4³4Ò }4`
+7.4=EC _ 4`4Ò O¦ÞUu¬4C E1ONLN_ El)Þ4O ·º)³
4O¬- _ 4`4Ò "Og- ·º)³ ¯O4O^gO )O=¯4:·Ug¯ ^@¯÷
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan
bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang
diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-
orang yang diberi Al kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di
dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah
dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang
yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan tidak ada yang
mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi
manusia.”



Rukun Iman
Seperti yang kita ketahui selama ini mungkin sudah sering di ajarkan sejak kita masih TK atau
SD tentang rukun iman yang terbagi menjadi 6 yaitu :

1. Iman kepada Allah SWT
Yaitu percaya kepada Allah, orang yang beriman kepada Allah akan mendapatkan
ketengan jiwa yang muncul dari kalbu secara ikhlas. Adapun yang utama kita beriman kepada
Allah yaitu kita menyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah.






Dan juga dalam surah Ar-rahman Allah menjelaskan kekuasaanya kepada manusia






E`Ò·· ¬-¯g~-.- W-ON44`-47 *.)
W-O÷©=4;N-4Ò ·gO) ¯ª÷_¬U´=;³NO=O·· O)×
lO4·uO4O +OuLg)` ¯;_··4Ò ¯ªjg³g³¯g4³4Ò
gO^O·¯)³ 1C4O´· V©1´³4-¯OG` ^¯_)÷
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya
Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-
Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang Lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (QS :Annisa-175)
-·O)¯·· geO³4=e- +7.E©OO¯- ;e4^~·¯··
LEE1¯O4Ò ÷pE-g-³¯E ^@_÷ +-OÒ)l··
g7¨º-47 E©7¯)Þ4O ÷p4´¢O·¯¬> ^@g÷
“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS : Ar-Rahman:37-38)

Dari foto di atas terlihat bahwa tidak di ragukan lagi kebenaran dari ayat di atas. Dan
coba kita pikirkan bagaimana manusia di abak ke 7 sekitar tahun 650an Masehi bias
mengetahui hal ini, sedangkan foto ini baru bias di tangkap dari satelit Hubble milk
NASA pada sekitar abad 21? Jelas inilah kekuasaan Allah yang di sampaikan kepada
Rasul-Nya dan kitab-Nya.

2. Iman kepada malaikat Allah
Semua makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. dapat dibagi kepada dua
macam: pertama, yang ghaib (al-ghaib), dan kedua, yang nyata (as-syahadah). Yang
membedakan keduanya adalah bisa dan tidak bisanya dijangkau oleh pancaindera
manusia. Seseuatu yang tidak bisa dijangkau oleh pancaindera manusia digolongkan
kepada yang ghaib, sedangkan sesuatu yang bisa dijangkau oleh pancaindera manusia
digolongkan kepada yang as-shahadah atau nyata.
Bagaimana kita mengimani dan mengetahui wujud malaikat yaitu, pertama melalui
akhbar yang disampaikan oeh Rasullullah SAW baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnah.
Kedua lewat bukti-bukti nyata yang ada dalam semesta yang menunjukan bahwa
Malaikat itu ada.
Pengertian Malaikat yaitu Secara etimologis kata Malaikah adalah bentuk jamak
dari malak, berasal dari al-alukah artinya ar-risalah (missi atau pesan). Secara
terminologis Malaikat adalah makhluk ghaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya
dengan wujud dan sifat-sifat tertentu. Jumlah Malaikat yang wajib kita tahu ada sepuluh
dengan masing-masing tugas yang Allah berikan kepadanya.

3. Iman kepada kitab Allah
Secara etimologis kata kitab adalah bentuk masdhar dari kata ka-ta-ba yang
berarti menulis. Setelah menjadi masdhar berarti tulisan, atau yang ditulis.
Secara terminologis Al-Kitab adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT. kepada
para Nabi dan RasulNya.
Adapun kitab-kitab yang wajib kita tahu ada empat yaitu:
•Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa AS.
•Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa AS.
•Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud AS.
•Kitab Suci Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Iman kepada kitab Allah ini dapat pula di yakini dengan surah Ar-Rahman di atas
tadi. Bahwa Al-Qur’an itu memang benar benar dari Allah dan bukan karangan manusia
belaka. Karena tidak mungkin dalam masa itu manusia sudah mencapai tingkat
pengetahuan sejauh tadi yang baru bias di buktikan di abad ke 21. Jelas sekali itu adalah
ilmu Allah SWT yang di berikan kepada hamba hambanya yang berfikir.

4. Iman kepada Rasul-rasul Allah
Secara etimologis Nabi berasal dari na-ba artinya ditinggikan, atau dari kata na-
ba-a artinya berita. Dalam hal ini seorang Nabi adalah seseorang yang ditinggikan
derajatnya oleh Allah SWT. Dengan memberinya berita (wahyu). Sedangkan Rasul
berasal dari kata ar-sa-la artinya mengutus. Setelah dibentuk menjadi Rasul berarti yang
diutus. Dalam hal ini seorang Rasul adalah seorang yang diutus oleh Allah SWT. untuk
menyampaikan misi, pesan (ar-risalah).
Secara terminologis Nabi dan Rasul adalah manusia biasa, laki-laki, yang dipilih oleh
Allah SWT. untuk menerima wahyu. Apabila tidak diirigi dengan kewajiban
menyampaikan atau membawa satu misi tertentu, maka dia disebut Nabi saja. Namun
bila diikuti dengan kewajiban menyampaikannya atau membawa satu misi tertentu
maka dia disebut juga Rasul. Adapun jumlah Nabi dan sekaligus Rasul ada dua puluh
lima orang.
5. Iman kepada hari kiamat
Yang dimaksud hari akhir adalah kehidupan yang kekal sesudah kehidupan yang
kekal sesudah kehidupan di dunia fana ini berakhir, termasuk semua proses dan
peristiwa yang terjadi pada Hari itu, mulai dari kehancuran alam semesta dan seluruh
isinya, serta berakhirnya seluruh kehidupan (Qiyamah), kebangkitan seluruh umat
manusia dari dalam kubur (Ba’ats), dikumpulkannya seluruh umat manusia di padang
mahsyar (Hasyr), perhitungan seluruh amal perbuatan manusia di dunia (Hisab),
penimbangan amal perbuatan tersebut untuk mengetahui perbandingan amal baik dan
amal buruk (Wazn), sampai kepada pembalasan dengan surga atau neraka (Jaza’).











6. Iman kepada Qadha dan Qadar
Secara etimologis Qadha adalah bentuk masdhar dari kata kerja qadha yang
berari kehendak atau ketetapan hukum. Dalam hali ini Qadha adalah kehendak atau
ketetapan hukum Allah SWT. terhadap segala sesuatu. Sedangkan Qadar secara
etimologis adalah bentuk masdhar dari qadara yang berarti ukuran atau ketentuan.
Dalam hali ini Qadar adalah ukuran atau ketentuan Allah SWT. terhadap segala sesuatu.
El4^O¬U4*¯OEC ^}4N gO4NOO¯- 4p+CÒ¡
E_´Ec¯O÷· W ¯¬~ E©^^)³ E_N©·Ug× E³LgN
O)Þ.4O W ºº OgOggUO_7© .Og´©^~4Og¯ ·º)³
4O¬- _ ;eÞU¬³Ò¦ O)× gª4OE©OO¯-
^·¯O·-4Ò _ ºº ¯7¯Og>··> ·º)³ LO4-^¯4 ¯
El4^O¬U4*¯OEC El^^ÒWE ±O´>EO Ogu+4N W
¯¬~ E©^^)³ E_÷©·Ug× E³LgN *.-
O}´¯·¯4Ò 4O·4-±Ò¡ +EEL¯- ºº 4pO÷©ÞU;¬4C
^¯g_÷
“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah:
"Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun
yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu Amat berat (huru haranya
bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan
dengan tiba-tiba". mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya.
Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi
Secara terminologis ada ulam yang berpenapat kedua istilah tersebut mempunyai
pengertian yang sama, dan ada pula ynag membedakannya. Yang membedakan,
mendefinisikan Qadar sebagai: “Ilmu Allah SWT. Tentang apa-apa yang akan terjadi
pada seluruh makhlukNya pada masa yang akan datanh”. Dan Qadha adalah:
“Penciptaan segala sesuatu oleh Allah SWT. Sesuai dengan ilmu dan IradahNya”.






B. Hubungan iman, Ilmu dan amal
Hubungan ilmu dan keimanan dalam beberapa kedudukan
Ilmu sebagai Prinsip Dasar dan Pemelihara Iman, Jalan Memahami Kebenaran.
Pembahasan mengenai ilmu dan hubungannya dengan iman menjadi masalah yang
menarik. Franz Rosenthal dalam temuannya mengenai Keagungan ilmu, menyebutkan
bahwa, kata ilmu terdapat di dalam al-Qur’an senyak 750 kali. Frekuensi yang begitu
besar ini mengantarkannya kepada pernyataan bahwa ilmu adalah Islam, begitupun juga
ia mengakui bahwa landasan keimanan umat Islam adalah ilmu.
Kata ilmu sendiri berasal dari bahasa bahasa Arab ‘ilm, yang memiliki akar kata
‘ayn – lam – mim, yang diambil dari kata ‘alamah, yaitu tanda, penunjuk, atau petunjuk
yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri; petunjuk;
tanda. Dengan demikian ma’lam (jamak:ma’alim) berarti “tanda jalan” atau sesuatu
yang dengannya seseorang membimbing dirinya atau sesuatu yang membimbing
seseorang”. Seiring dengan itu, menjadi ‘alam sebagai tanda yang dijadikan sumber
ilmu. Maka bukan tanpa alasan keberadaan istilah ayat dalam al-Qur’an, yang secara
literal berarti tanda atau petunjuk untuk memahami al-Qur’an dan fenomena alam. Dari
sinilah, umat Islam menganggap ‘ilm berarti al-Qur’an, syari’at, Sunnah, Islam, Iman,
ilmu spiritual (‘ilm al-Ladunni), hikmah, dan ma’rifah, atau sering juga dimetaforkan
sebagai cahaya (nur), pikiran (fikrah), sains, pendidikan – yang semuanya terhimpun
menjadi realitas (haqiqah) ilmu. Dari sinilah kemudian terdapat pendeskripsian tentang
ilmu. Pemikir Muslim seperti al-Ghazali memandang bahwa ilmu adalah konseptualisasi
(tasawwara) dari jiwa berpikir lagi tenang (muthma’innah) terhadap realitas-realitas
sesuatu (haqaiq al-ashya’), dimana gambaran-gambaran (shuwar) objek tersebut
ditangkap secara murni (mujarrad) dari materi-materi (mawad), disertai dengan intisari
(‘ayan), kualitas (kaifiyyah), kuantitas (kammiyyah), substansi (jawhar), dan esensinya
(dzat) pada objek itu.

Secara historis hubungan iman kepada Allah dan hubungannya dengan ilmu
sangatlah berdasar, karena Allah pada masa Arab Jahiliyyah hanya salah satu Tuhan dari
sekian banyak Tuhan, maka keimanan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan
menjadikan pengetahuan baru bagi manusia umat Islam untuk memahaminya.
Diantara hubungan antara ilmu dan iman, terlihat bagaimana tingkatan tertinggi iman,
yaitu iman kepada Allah, mempunyai hubungan dengan ilmu. Hal ini terkait dengan
firman-Nya shahidah allahu annahu la ilaha illa huwa wa al-malaikah wa ulu al-‘ilm.
Menurut al-Ghazali bahwa penyaksiaan ini membutuhkan ilmu, dan ia merupakan ilmu
yang paling utama (afdhal al-‘ilm). Dengan demikian, manusia terlebih dahulu perlu
mencari ilmu sebagai bekal untuk bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, agar ia
mampu menghilangkan keraguan (shakk), prasangka (dzhann) tentang keberadaan-Nya.
Oleh sebab itu, ilmu menjadi dasar dan pemilihara bagi iman. Sehingga, manusia
mampu mendapatkan ketenangan yang melahirkan keyakinan, yang bertahap dari ‘ilm
al-yaqin, ‘ayn al-yaqin, dan al-Haqq al-yaqin.

Hubungan ilmu dan amal





Ayat al-Quran tersebut menjelaskan bahawa ilmu merupakan dasar dari segala
tindakan manusia. Kerana, tanpa ilmu segala tindakan manusia menjadi tidak terarah,
tidak benar dan tidak bertujuan. Dalam beberapa riwayat di jelaskan tentang hubungan
ilmu dan amal itu. Imam Ali Abi Thalib berkata, “Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal
adalah pengikutnya.” Demikian juga dengan perkataan Rasulullah saw , “Barangsiapa
beramal tanpa ilmu maka apa yang dirusaknya jauh lebih banyak dibandingkan yang
diperbaikinya.”
ºº4Ò ÷-^³·> 4` "·^1·¯ El·¯ ·gO) v¦·Ug× _ Ep)³
E7;©OO¯- 4O=^4l^¯-4Ò E1-E·¬¼^¯-4Ò
O7 Elj·^·¯Òq¡ 4p~E +Ou44N LºO7*¯O4` ^@g÷
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya.” (QS:Al-Israa:36)
Pada riwayat lain dijelakan Imam Ali Abi Thalib berkata, “Ilmu diiringi dengan
perbuatan. Barangsiapa berilmu maka dia harus berbuat. Ilmu memanggil perbuatan.
Jika dia menjawabnya maka ilmu tetap bersamanya, namun jika tidak maka ilmu pergi
darinya.”
Dari riwayat di atas maka jika orang itu berilmu maka ia harus diiringi dengan
amal. Amal ini akan mempunyai nilai jika dilandasi dengan ilmu, begitu juga dengan ilmu
akan mempunyai nilai atau makna jika diiringi dengan amal. Keduanya tidak dapat
dipisahkan dalam perilaku manusia. Sebuah perpaduan yang saling melengkapi dalam
kehidupan manusia, yaitu setelah berilmu lalu beramal.Pengertian amal dalam
pandangan Islam adalah setiap amal saleh, atau setiap perbuatan kebajikan yang
diredhai oleh Allah SWT. Dengan demikian, amal dalam Islam tidak hanya terbatas pada
ibadah, sebagaimana ilmu dalam Islam tidak hanya terbatas pada ilmu fikih dan hukum-
hukum agama.
Ilmu ini mencakup semua yang bermanfaat bagi manusia seperti meliputi ilmu
agama, ilmu alam, ilmu sosial dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini jika dikembangkan dengan
benar dan baik maka memberikan dampak yang positif bagi peradaban manusia.
Misalnya, perkembangan sains akan memberikan kemudahan dalam lapangan praktikal
manusia.
C. Hal hal yang dapat merusak iman
1. Riya
Riya artinya memperlihatkan (menampakan) diri kepada orang lain, supaya
diketahuui kehebatan perbuatannya, baik melalui pembicaraan, tulisan ataupun sikap
dan perbuatan dengan tujuan mendapat perhatian, penghargaan dan pujian manusia,
bukan ikhlas karena Allah. Riya itu dapat terjadi di dalam niat, yaitu ketika akan
melakukan pekerjaan dan bisa juga terjadi setelah melakukan pekerjaan.

Riya dalam niat yaitu ketika mengawali pekerjaan, dia mempunyai keinginam
dari orang lain, bukan karena Allah. Padahal niat itu sangat menentukan nilai suatu
pekerjaan. Jika pekerjaan yang baik dilakukan deengan niat karena Allah, maka
perbuatan itu mempunyai nilai di sisi Allah, dan jika perbuatan itu dilakukan karena ingin
mendapat sanjungan, penghargaan dari orang lain, maka perbuatan itu tidak memperoleh
pahala dari Allah. Hanya sanjungan itulah yang akan ia peroleh.
Riya dalam perbuatan ini misalnya saat mengerjakan shalat dan bersedekah.
Orang riya dalam mengerjakan shalat biasanya dia memperlihatkan kesungguhan,
kerajinan , dan kekhusyu’annya jika dia berada di tengah-tengah orang atau jamaah
sehingga orang lain melihat dia berdiri , ruku’ dan sebagainya. Dia shalat dengan tekun
itu mengharapkan perhatian sanjungan dan pujian dari orang lain agar dia dianggap
sebagai orang yang taat dan tekun beribadah. Orang yang riya dalam shalatnya ini dia
akan celaka di akhirat nanti, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, surat Al Maun
ayat 4 sampai dengan 7 dan An Nisa 142.














¬uC4O·· ¬--j¢-=÷©·Ug¢¯ ^j÷ 4ׯg~-.-
¯ª¬- }4N ¯ªjgj¯ºE= 4pO¬-Ec ^)÷
4ׯg~-.- ¯ª¬- ¬]Ò+7.-4ONC ^g÷
4pON¬4L;©4C4Ò 4pONNE©^¯- ^_÷
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari
shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang
berguna.”(QS:Al-Maun:4-7)

Ep)³ 4×-´³g¼4L÷©^¯- 4pONNg³·C7© -.-
4O¬-4Ò ¯ª÷_NNg³E= -·O)³4Ò W-EON`·~
OÞ¯)³ jE_OÞUO¯- W-ON`·~ _OÞ¯=O7
4pÒ+7.-4ONC "EEL¯- ºº4Ò ¬]ÒNO7'O4C
-.- ·º)³ 1E1)U·~ ^¯jg÷
“ Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan
mereka[364]. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka
bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah
kecuali sedikit sekali” (QS:An-Nisa:142)
2. Takabur
Pengertian takabur menurut bahasa adalah membesarkan diri, menganggap dirinya
lebih besar dari orang lain. Menurut istilah, suatu sikap mental yang merasa diri lebih
besar, lebih tinggi, lebih pandai dan memandang kecil serta rendah terhadap orang
lain.
Takabur itu dapat digolongkan dua bagian, yaitu takabur batin dan takabur lahir.
Takabur dalam batin yaitu sifat dalam jiwa yang tidak terlihat, dia melekat dalam hati
seperti merasa besar, merasa lebih pandai dan lain-lain. Takabur lahir ialah perbuatan
dan tingkah laku yang dapat dilihat seperti merendahkan orang lain, menyepelekan
orang lain, dan lain-lain.

Tanda-tanda sikap dan perbuatan takabur itu antara lain sebagai berikut :
1. Suka memuji diri, membanggakan dirinya, hartanya, ilmunya, dan keturunannya.
2. Merendahkan dan meremehkan orang lain, memalingkan muka ketika bertemu
dengan orang lain yang dikenalnya, congkak dalam tingkah laku dan perbuatan.
3. Suka mencela dan membesar-besarkan kesalahan orang lain. Orang yang takabur
itu selalu menyangka bahwa dirinyalah yang benar, baik, mulia, dan mampu
berbuat sesuatu. Orang lain dianggap rendah, kecil, hina dan tiadk mampu berbuat
sesuatu.

Penyebab takabur antara lain adalah kebanggaan diri yang berlebihan dalam
keturunan, kecantikan, keilmuan, kekuatan, kekuasaan, jabatan dan lain-lain.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al Qur’an Surah An Nisa 36 :







¯ W-Ò÷³+:;N-4Ò -.- ºº4Ò W-O7)O;¯¬ ·gO)
6*^OE- W ÷×^¯4).4O^¯)4Ò 4L=O;O)³
O´O)4Ò _OÞ.¯O¬³^¯- _OE©4-41^¯-4Ò
÷×-´¯=OE©^¯-4Ò jOO_^¯-4Ò OgO
_OÞ.¯O¬³^¯- jOO_^¯-4Ò ´UN4¬×^¯-
´UgOO¯-4Ò ´ULE×^¯) ÷×^¯-4Ò
÷O):OO¯- 4`4Ò ;e·¯ÞU4` ¯ª7¯NLE©uCÒ¡ ¯ Ep)³
-.- ºº OUg47© }4` 4p~º± Lº4^C¬` -OONC·· ^@g÷
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah
kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
3. Nifaq
Nifaq ialah sifat yang berbeda antara lahir dan batin atau tidak sesuai antara ucapan
dengan perbuatan. Lain di hati lain di mulut, lain di mulut lain di perbuatan, tidak
sesuai antara kata dengan perbuatan. Orang yang mepunyai sifat nifaq disebut
munafiq.
1. Sifat dan perbuatan orang munafiq
Orang munafiq itu pebuatannya selalu berpura-pura, apa yang diucapkannya
berbeda dengan perbuatannya. Misalnya dia menyatakan iman kepada Allah
Subahanahu Wa ta’ala dan rasul-Nya, tetapi dalam hatinya dia tidak beriman, ia
mengingkari apa yang telah di ucapkannya. Bila dia berkumpul dengan orang
beriman, dia mengatakan berimana akan tetapi bila ia berkumpul dengan orang
kafir, diapun menyatakan kekafirannya pula. Dia bermuka dua dan selalu berpura-
pura. Diantara sifat munafiq ialah pendusta, pembohong, dan kihanat. Apabila dia
berbicara dia berbohong, apabila dia berjanji dengan orang lain dia tidak menepati
dengan sengaja. Begitu pula apabila dia mendapat kepercayaan dari orang lain untuk
memegang dan melaksanakan pekerjaan dia tidak melaksanakannya dengan baik,
dia khianat.
2. Bahaya nifaq
Orang munafiq yang perbuatannya berpura-pura, dusta, bohong dan khianat,
hatinya akan selalu ragu, was-was dan tidak tenteram. Terhadap perbuatannya yang
tidak benar itu, ia takut akan ketahuhan orang lain dan sifat dusta dan khianatnya
akan menghantui perasaannya, sehingga terjadi konflik batin, menimbulkan ketidak
tenangan pada kehidupannya. Ia juga akan selalu menghadapi kesulitan, karena
harus membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Dia
menjadi sakit batin, sehingga pada akhirnya juga akan berpengaruh pada kondisi
fisiknya. Akibat sifat nifaq orang tersebut akan mendapat kesengsaraan dan
kehinaan di dunia dan di akhirat.

4. Fasiq
Fasiq artinya meniggalkan perintah Allah Subahanahu Wa Ta’ala, tidak berbakti
kepada Allah, atau keluar dari perintah Allah SWT. Orang fasiq ialah orang yang tahu
perintah dan larangan Allah , tetapi ia tidak mau melaksanakan perintah-Nya dan
meniggalkan larangan-Nya. Dia tidak patuh dan tidak berbakti kepada Allah
Subhanahu Wa Ta’ala, dia melupakan segala perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Misalnya Syiful dalam kadaan sakit keras. Dalam keadaan yang demikian itu ia
terbayang segala macam dosa yang telah ia kerjakan pada waktu sehatnya. Dia
sangat menyesal atas segala macam perbuatan dosanya itu, dan dia dengan
sungguh-sungguh berjanji dalam dirinya untuk tidak melakukan lagi perbuatan-
perbuatan dosanya itu.. Namun setelah sehat dia melupakan janjinya yang pernah
diucapkan pada waktu sakit. Dia melakukan lagi hal-hal yang dilarang Allah
Subhanahuu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dia tergolong sebagai orang yang fasiq.
















ºº4Ò W-O+^O7¯·> 4ׯg~-.~E W-OOOÞe
-.- ¯ª÷_¯=OeÒ·· ¯ª×g=O¬¼^Ò¡ _
¬Cj·^·¯Òq¡ Nª¬- ¬]O¬³´OE¼^¯- ^¯_÷
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan
mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS:Al-
Haysr:19)
BAB IV

PENUTUP
Kesimpulan dari pembahasan di atas ialah bahwa iman itu merupakan sesuatu yang penting
dalam agama kita. Tanpa iman kita akan sulit menjalani agama kita karena kita belum yakin
tentang yang kita yakini. Dan iman ini pula dapat berkurang bila tidak di jaga dengan perbuatan
perbuatan yang baik.
Untuk mendapatkan keimanan itu sendiri, bias banyak hal yang kita lakukan antara lain
dengan berfikir dan mempelajari hal-hal yang menjadi keimanan tersebut. Misalnya pada
bagian iman kepada Allah SWT kita melihat di surah Ar-Rahman bahwa ketika langit terbelah
akan berwarna seperti merah mawar. Dan sudah terbukti dari foto yang di lampirkan di atas ciri
cirinya memang mirip dengan yang di deskripsikan di Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an di turunkan
pada tahun 600an Masehi dan itu terbukti sekitar tahun 1900an. Jelas ini bias menambah
keyakinan kita bahwa itu benar benar perkataan Allah. Dan kiranya masih banyak lagi
pembuktian pembuktian dalam Al-Qur’an atau pun hal hal di sekitar kita yang bias
meningkatkan keimanan kita. Karena kekuasaan Allah itu terlihat bagi hamba hambanya yang
berfikir.













DAFTAR PUSTAKA

 At-Tauhid Lish Shaffits Tsani Al-‘Ali jilid 2 (Penerbit Universitas Islam Indonesia)
 Syahru Ushulil Iman (penerbit Haiatul Iqhatsah Al-Alamiyah, Riyadh)
 Al-Qur’an dan terjemahnya (proyek pengadaan kitab suci Al-Qur’an DEPAG RI
1984/1985)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Kata Pengantar

Segala puji syukur khadirat Allah SWT yang mana pada kesempatan ini kami bisa membuat makalah tentang “Iman dan pengaruhnya dalam kehidupan”. Berkat limpahan rahmat-Nya kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini dengan lancar. Sholawat serta salam kami haturkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, yang sudah merubah kehidupan kita dari jaman kegelapan ke jaman terang benderang yang disebut pencerahan. Makalah yang berjudul “Iman dan pengaruhnya dalam kehidupan” ini kami susun dalam rangka membantu mengenali dan menjabarkan apa itu iman, dan bagai mana menerapkanya dalam diri kita dan kehidupan kita sehari hari. Tak ada gading yang tak retak. Begitupula, dalam pembuatan dan penyampaian makalah ini jika di dalamnya terdapat kesalahan itu adalah kesalahan kami dan jika ada kebenaran yang terkandung di dalamnya maka itu adalah datang dari Allah SWT, melalui kami sebagai perantaranya. Semoga makalah ini bias bermanfaat bagi kita semua.

1.2 Latar Belakang Masalah

Iman menjadi salah satu hal yang krusial dalam beragama. Secara bahasa, berarti percaya dan secara istilah pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dari arti iman tersebut , dapat kita ketahui bahwa iman adalah unsur yang penting dalam beragama. Bagaimana kita dapat di katakana beragama tanpa ada iman kepada agama tersebut. Apa yang sebenarnya yang di anut atau hanya ikutikutan itu semua menjadi samar dan tidak jelas jika tidak ada iman yang kuat.

maka tujuan dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :   Untuk mengetahui apa itu iman Bagaimana menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari .3 Rumusan Masalah    Apa itu iman ? Bagaimana mengamalkanya ? Dan bagaimana menjaganya ? 1.1.4 Tujuan Sesuai dengan rumusan masalah yang dijabarkan di atas.

mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” [594] Maksudnya: orang yang sempurna imannya.BAB II KAJIAN PUSTAKA                                       “Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka.” . dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin). (QS : Al-Anfaal 2-4) Dari potongan ayat di atas. dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya). (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. dapat kita ketahui juga bahwa salah satu ciri orang yang beriman ialah.                     “dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah. [595] Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. ketika di sebut nama Allah bergetarlah hatinya.

(QS : Al-Anfaal 2-4) BAB III PEMBAHASAN A. kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan. serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). 1/63) . Muslim. Rasulullah juga pernah menjelaskan iman dalam sabdanya yang berbunyi : “iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih yang paling utama ialah ucapan Laa ilaha illallahu dan yang paling rendah ialah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan. Sedangkan anggota badan mengamalkanya dalam bentuk ibadah ibadahsesuai dengan fungsinya. diucapkan dengan lisan. Pengertian Iman Pengertian iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah. sedang rasa malu itu jugasalah satu cabang dari iman “ (HR. “Mengamalkan dengan perbuatan maksudnya hati mengamalkan degan bentuk keyakinan. Dengan demikian. pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya. “Diucapkan dengan lisan mkasudnya mengucapkan dua kalimat syahadat “Laa ilaha illallahu wa ashadu anna Muhammadan Rasulullah”. pengertian iman adalah membenarkan dengan hati. “Membenarkan dengan hati” maksudnyamenerima segala yang di bawa oleh Rasulullah SAW.

” (QS : Al-Anfaal 2-4) . (QS : Al-Anfaal 2-4)                     “dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” [594] Maksudnya: orang yang sempurna imannya. dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya). dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.Hakikat Iman                      “Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. [595] Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya. dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin). (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman.

Dalam ayat ayat yang pertama. Mereka menjaga seluruh pelaksanaan ibadah fardhu dengan memenuhi syarat. keyakinan mereka bertambah dengan mendengar ayat ayat Allah. Mereka mengetahui Dialah semata yang mengatur kerajaanNya tanpa sekutu.Mereka adalah mukmin yang benar benar beriman. Kemudian dalam ayat yang kedua Allah menyifati para sahabat Rasulullah SAW baik kaum Muhajirin atau Anshor dengan iman yang sebenar benarnya. Sebagaimana kita juga mengetahui bahwa madzhab Ahlus sunnah wal jama’ah memasukkannamal kedalam makna iman dan bahwa iman itu bias bertambah karena amal salih dan keyakinan. Karena iman mereka yang kokoh dan amal perbuatan mereka yang mejadi buah dari iman tersebut. supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orangorang yang diberi Al kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di .                                                                 “Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir. dan bias berkurang dengan berkurangnya hal tersebut. rukun dan sunahnya. Allah menjanjikan mereka derajat yang tinggi di sisi-Nya sebagaimana mereka juga memperoleh pahala dan ampunanNya. Allah menyebutkan orang orang yang lembut hatinta dan takut kepada Allah SWT ketika nama-Nya di sebut. Mereka tidak mengharapkan kepada selain-Nyatidak menyerahkan hati mereka kecuali kepada-Nya. Telah kita ketahui bersama lafadzh iman baik secara bahasa maupun menurut istilah.

dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Rukun Iman Seperti yang kita ketahui selama ini mungkin sudah sering di ajarkan sejak kita masih TK atau SD tentang rukun iman yang terbagi menjadi 6 yaitu : 1.                 “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karuniaNya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang Lurus (untuk sampai) kepada-Nya. Adapun yang utama kita beriman kepada Allah yaitu kita menyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah.” (QS :Annisa-175) Dan juga dalam surah Ar-rahman Allah menjelaskan kekuasaanya kepada manusia             “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS : Ar-Rahman:37-38) . Iman kepada Allah SWT Yaitu percaya kepada Allah. orang yang beriman kepada Allah akan mendapatkan ketengan jiwa yang muncul dari kalbu secara ikhlas. dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.

Iman kepada malaikat Allah Semua makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. 2. yang nyata (as-syahadah). yang ghaib (al-ghaib). pertama melalui akhbar yang disampaikan oeh Rasullullah SAW baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnah. Secara . Dan coba kita pikirkan bagaimana manusia di abak ke 7 sekitar tahun 650an Masehi bias mengetahui hal ini. berasal dari al-alukah artinya ar-risalah (missi atau pesan). Kedua lewat bukti-bukti nyata yang ada dalam semesta yang menunjukan bahwa Malaikat itu ada. Seseuatu yang tidak bisa dijangkau oleh pancaindera manusia digolongkan kepada yang ghaib. Yang membedakan keduanya adalah bisa dan tidak bisanya dijangkau oleh pancaindera manusia. dapat dibagi kepada dua macam: pertama. sedangkan foto ini baru bias di tangkap dari satelit Hubble milk NASA pada sekitar abad 21? Jelas inilah kekuasaan Allah yang di sampaikan kepada Rasul-Nya dan kitab-Nya.Dari foto di atas terlihat bahwa tidak di ragukan lagi kebenaran dari ayat di atas. Bagaimana kita mengimani dan mengetahui wujud malaikat yaitu. sedangkan sesuatu yang bisa dijangkau oleh pancaindera manusia digolongkan kepada yang as-shahadah atau nyata. dan kedua. Pengertian Malaikat yaitu Secara etimologis kata Malaikah adalah bentuk jamak dari malak.

Iman kepada Rasul-rasul Allah Secara etimologis Nabi berasal dari na-ba artinya ditinggikan. kepada para Nabi dan RasulNya. Iman kepada kitab Allah ini dapat pula di yakini dengan surah Ar-Rahman di atas tadi. Sedangkan Rasul berasal dari kata ar-sa-la artinya mengutus. pesan (ar-risalah). 4. 3. Setelah dibentuk menjadi Rasul berarti yang diutus. laki-laki. Jumlah Malaikat yang wajib kita tahu ada sepuluh dengan masing-masing tugas yang Allah berikan kepadanya. Apabila tidak diirigi dengan kewajiban . Dalam hal ini seorang Nabi adalah seseorang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Iman kepada kitab Allah Secara etimologis kata kitab adalah bentuk masdhar dari kata ka-ta-ba yang berarti menulis. Secara terminologis Nabi dan Rasul adalah manusia biasa. atau yang ditulis. •Kitab Suci Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.terminologis Malaikat adalah makhluk ghaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya dengan wujud dan sifat-sifat tertentu. untuk menyampaikan misi. Adapun kitab-kitab yang wajib kita tahu ada empat yaitu: •Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa AS. •Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa AS. Dalam hal ini seorang Rasul adalah seorang yang diutus oleh Allah SWT. Karena tidak mungkin dalam masa itu manusia sudah mencapai tingkat pengetahuan sejauh tadi yang baru bias di buktikan di abad ke 21. Secara terminologis Al-Kitab adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT. atau dari kata naba-a artinya berita. Bahwa Al-Qur’an itu memang benar benar dari Allah dan bukan karangan manusia belaka. yang dipilih oleh Allah SWT. •Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud AS. Setelah menjadi masdhar berarti tulisan. Dengan memberinya berita (wahyu). untuk menerima wahyu. Jelas sekali itu adalah ilmu Allah SWT yang di berikan kepada hamba hambanya yang berfikir.

Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah. Iman kepada hari kiamat Yang dimaksud hari akhir adalah kehidupan yang kekal sesudah kehidupan yang kekal sesudah kehidupan di dunia fana ini berakhir. serta berakhirnya seluruh kehidupan (Qiyamah). kiamat itu Amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. sampai kepada pembalasan dengan surga atau neraka (Jaza’). Namun bila diikuti dengan kewajiban menyampaikannya atau membawa satu misi tertentu maka dia disebut juga Rasul. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". penimbangan amal perbuatan tersebut untuk mengetahui perbandingan amal baik dan amal buruk (Wazn). Iman kepada Qadha dan Qadar Secara etimologis Qadha adalah bentuk masdhar dari kata kerja qadha yang berari kehendak atau ketetapan hukum. tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. terhadap segala sesuatu. terhadap segala sesuatu. dikumpulkannya seluruh umat manusia di padang mahsyar (Hasyr). perhitungan seluruh amal perbuatan manusia di dunia (Hisab). mulai dari kehancuran alam semesta dan seluruh isinya. termasuk semua proses dan peristiwa yang terjadi pada Hari itu. 5.menyampaikan atau membawa satu misi tertentu. Dalam hali ini Qadha adalah kehendak atau ketetapan hukum Allah SWT. kebangkitan seluruh umat manusia dari dalam kubur (Ba’ats). Dalam hali ini Qadar adalah ukuran atau ketentuan Allah SWT. . Adapun jumlah Nabi dan sekaligus Rasul ada dua puluh lima orang. Sedangkan Qadar secara etimologis adalah bentuk masdhar dari qadara yang berarti ukuran atau ketentuan. maka dia disebut Nabi saja.                                             “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku. mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. tetapi 6.

Tentang apa-apa yang akan terjadi pada seluruh makhlukNya pada masa yang akan datanh”. Hubungan iman. mendefinisikan Qadar sebagai: “Ilmu Allah SWT. B.Secara terminologis ada ulam yang berpenapat kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama. Dan Qadha adalah: “Penciptaan segala sesuatu oleh Allah SWT. Sesuai dengan ilmu dan IradahNya”. dan ada pula ynag membedakannya. Yang membedakan. Ilmu dan amal Hubungan ilmu dan keimanan dalam beberapa kedudukan .

petunjuk. ilmu spiritual (‘ilm al-Ladunni). atau petunjuk yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal. ciri. kualitas (kaifiyyah). pikiran (fikrah). kuantitas (kammiyyah). syari’at. dan ma’rifah. hikmah. umat Islam menganggap ‘ilm berarti al-Qur’an. Dari sinilah kemudian terdapat pendeskripsian tentang ilmu. menjadi ‘alam sebagai tanda yang dijadikan sumber ilmu. Kata ilmu sendiri berasal dari bahasa bahasa Arab ‘ilm. menyebutkan bahwa. Maka bukan tanpa alasan keberadaan istilah ayat dalam al-Qur’an. . tanda. disertai dengan intisari (‘ayan). Sunnah. Iman.Ilmu sebagai Prinsip Dasar dan Pemelihara Iman. kata ilmu terdapat di dalam al-Qur’an senyak 750 kali. pendidikan – yang semuanya terhimpun menjadi realitas (haqiqah) ilmu. dan esensinya (dzat) pada objek itu. substansi (jawhar). dimana gambaran-gambaran (shuwar) objek tersebut ditangkap secara murni (mujarrad) dari materi-materi (mawad). penunjuk. Franz Rosenthal dalam temuannya mengenai Keagungan ilmu. atau sering juga dimetaforkan sebagai cahaya (nur). yaitu tanda. sains. Frekuensi yang begitu besar ini mengantarkannya kepada pernyataan bahwa ilmu adalah Islam. yang secara literal berarti tanda atau petunjuk untuk memahami al-Qur’an dan fenomena alam. yang memiliki akar kata ‘ayn – lam – mim. yang diambil dari kata ‘alamah. Pembahasan mengenai ilmu dan hubungannya dengan iman menjadi masalah yang menarik. begitupun juga ia mengakui bahwa landasan keimanan umat Islam adalah ilmu. kognisi atau label. Pemikir Muslim seperti al-Ghazali memandang bahwa ilmu adalah konseptualisasi (tasawwara) dari jiwa berpikir lagi tenang (muthma’innah) terhadap realitas-realitas sesuatu (haqaiq al-ashya’). Islam. Jalan Memahami Kebenaran. Dengan demikian ma’lam (jamak:ma’alim) berarti “tanda jalan” atau sesuatu yang dengannya seseorang membimbing dirinya atau sesuatu yang membimbing seseorang”. Seiring dengan itu. Dari sinilah.

“Ilmu adalah pemimpin amal. Dengan demikian. Imam Ali Abi Thalib berkata. karena Allah pada masa Arab Jahiliyyah hanya salah satu Tuhan dari sekian banyak Tuhan.Secara historis hubungan iman kepada Allah dan hubungannya dengan ilmu sangatlah berdasar. ‘ayn al-yaqin. Hubungan ilmu dan amal                   “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. agar ia mampu menghilangkan keraguan (shakk). manusia mampu mendapatkan ketenangan yang melahirkan keyakinan. Diantara hubungan antara ilmu dan iman. Oleh sebab itu. prasangka (dzhann) tentang keberadaan-Nya. Menurut al-Ghazali bahwa penyaksiaan ini membutuhkan ilmu.” . yang bertahap dari ‘ilm al-yaqin. dan amal adalah pengikutnya. Kerana. Dalam beberapa riwayat di jelaskan tentang hubungan ilmu dan amal itu. “Barangsiapa beramal tanpa ilmu maka apa yang dirusaknya jauh lebih banyak dibandingkan yang diperbaikinya. tanpa ilmu segala tindakan manusia menjadi tidak terarah. yaitu iman kepada Allah. tidak benar dan tidak bertujuan. mempunyai hubungan dengan ilmu. penglihatan dan hati.” Demikian juga dengan perkataan Rasulullah saw . manusia terlebih dahulu perlu mencari ilmu sebagai bekal untuk bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah. Sehingga. dan ia merupakan ilmu yang paling utama (afdhal al-‘ilm). terlihat bagaimana tingkatan tertinggi iman.” (QS:Al-Israa:36) Ayat al-Quran tersebut menjelaskan bahawa ilmu merupakan dasar dari segala tindakan manusia. Sesungguhnya pendengaran. ilmu menjadi dasar dan pemilihara bagi iman. maka keimanan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan menjadikan pengetahuan baru bagi manusia umat Islam untuk memahaminya. Hal ini terkait dengan firman-Nya shahidah allahu annahu la ilaha illa huwa wa al-malaikah wa ulu al-‘ilm. dan al-Haqq al-yaqin.

Barangsiapa berilmu maka dia harus berbuat. ilmu alam.” Dari riwayat di atas maka jika orang itu berilmu maka ia harus diiringi dengan amal. sebagaimana ilmu dalam Islam tidak hanya terbatas pada ilmu fikih dan hukumhukum agama. amal dalam Islam tidak hanya terbatas pada ibadah. Ilmu memanggil perbuatan. Jika dia menjawabnya maka ilmu tetap bersamanya. “Ilmu diiringi dengan perbuatan. Misalnya. supaya diketahuui kehebatan perbuatannya. . Amal ini akan mempunyai nilai jika dilandasi dengan ilmu. begitu juga dengan ilmu akan mempunyai nilai atau makna jika diiringi dengan amal. Ilmu ini mencakup semua yang bermanfaat bagi manusia seperti meliputi ilmu agama. atau setiap perbuatan kebajikan yang diredhai oleh Allah SWT. Hal hal yang dapat merusak iman 1. Sebuah perpaduan yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia.Pengertian amal dalam pandangan Islam adalah setiap amal saleh. namun jika tidak maka ilmu pergi darinya. yaitu setelah berilmu lalu beramal. Riya Riya artinya memperlihatkan (menampakan) diri kepada orang lain. yaitu ketika akan melakukan pekerjaan dan bisa juga terjadi setelah melakukan pekerjaan. perkembangan sains akan memberikan kemudahan dalam lapangan praktikal manusia. Dengan demikian. bukan ikhlas karena Allah. tulisan ataupun sikap dan perbuatan dengan tujuan mendapat perhatian. Ilmu-ilmu ini jika dikembangkan dengan benar dan baik maka memberikan dampak yang positif bagi peradaban manusia.Pada riwayat lain dijelakan Imam Ali Abi Thalib berkata. Riya itu dapat terjadi di dalam niat. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam perilaku manusia. penghargaan dan pujian manusia. C. baik melalui pembicaraan. ilmu sosial dan lain-lain.

ruku’ dan sebagainya. Padahal niat itu sangat menentukan nilai suatu pekerjaan. Jika pekerjaan yang baik dilakukan deengan niat karena Allah. dan Allah akan membalas tipuan mereka[364]. maka perbuatan itu mempunyai nilai di sisi Allah. penghargaan dari orang lain. Dia shalat dengan tekun itu mengharapkan perhatian sanjungan dan pujian dari orang lain agar dia dianggap sebagai orang yang taat dan tekun beribadah. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS:An-Nisa:142) . dan kekhusyu’annya jika dia berada di tengah-tengah orang atau jamaah sehingga orang lain melihat dia berdiri .                 “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. maka perbuatan itu tidak memperoleh pahala dari Allah. orang-orang yang berbuat riya. Orang riya dalam mengerjakan shalat biasanya dia memperlihatkan kesungguhan. kerajinan . Orang yang riya dalam shalatnya ini dia akan celaka di akhirat nanti. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia.”(QS:Al-Maun:4-7)                     “ Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah. bukan karena Allah. dia mempunyai keinginam dari orang lain. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.Riya dalam niat yaitu ketika mengawali pekerjaan. surat Al Maun ayat 4 sampai dengan 7 dan An Nisa 142. dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Hanya sanjungan itulah yang akan ia peroleh. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. dan jika perbuatan itu dilakukan karena ingin mendapat sanjungan. Riya dalam perbuatan ini misalnya saat mengerjakan shalat dan bersedekah.

lebih pandai dan memandang kecil serta rendah terhadap orang lain. baik. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al Qur’an Surah An Nisa 36 :                                     “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. mulia. dia melekat dalam hati seperti merasa besar. Suka memuji diri. ilmunya. Takabur lahir ialah perbuatan dan tingkah laku yang dapat dilihat seperti merendahkan orang lain. menganggap dirinya lebih besar dari orang lain. membanggakan dirinya. Takabur dalam batin yaitu sifat dalam jiwa yang tidak terlihat. Takabur Pengertian takabur menurut bahasa adalah membesarkan diri. memalingkan muka ketika bertemu dengan orang lain yang dikenalnya. menyepelekan orang lain. orang-orang miskin. yaitu takabur batin dan takabur lahir. dan mampu berbuat sesuatu. dan keturunannya. karib-kerabat. Tanda-tanda sikap dan perbuatan takabur itu antara lain sebagai berikut : 1. lebih tinggi. hina dan tiadk mampu berbuat sesuatu. tetangga yang dekat dan . 3. merasa lebih pandai dan lain-lain. kecil. Orang yang takabur itu selalu menyangka bahwa dirinyalah yang benar. Menurut istilah. suatu sikap mental yang merasa diri lebih besar. jabatan dan lain-lain. hartanya. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa. Orang lain dianggap rendah. Penyebab takabur antara lain adalah kebanggaan diri yang berlebihan dalam keturunan. dan lain-lain. kekuatan. Suka mencela dan membesar-besarkan kesalahan orang lain. Takabur itu dapat digolongkan dua bagian. anak-anak yatim. congkak dalam tingkah laku dan perbuatan.2. keilmuan. kekuasaan. kecantikan. Merendahkan dan meremehkan orang lain. 2.

Misalnya dia menyatakan iman kepada Allah Subahanahu Wa ta’ala dan rasul-Nya. dan kihanat. Akibat sifat nifaq orang tersebut akan mendapat kesengsaraan dan kehinaan di dunia dan di akhirat. tidak sesuai antara kata dengan perbuatan. Bahaya nifaq Orang munafiq yang perbuatannya berpura-pura. sehingga terjadi konflik batin. bohong dan khianat. diapun menyatakan kekafirannya pula. menimbulkan ketidak tenangan pada kehidupannya. hatinya akan selalu ragu. Terhadap perbuatannya yang tidak benar itu. ia takut akan ketahuhan orang lain dan sifat dusta dan khianatnya akan menghantui perasaannya. sehingga pada akhirnya juga akan berpengaruh pada kondisi fisiknya. Apabila dia berbicara dia berbohong. Ia juga akan selalu menghadapi kesulitan. apa yang diucapkannya berbeda dengan perbuatannya. Orang yang mepunyai sifat nifaq disebut munafiq. karena harus membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongan sebelumnya. ia mengingkari apa yang telah di ucapkannya. Diantara sifat munafiq ialah pendusta. dusta. dia mengatakan berimana akan tetapi bila ia berkumpul dengan orang kafir.3. Lain di hati lain di mulut. Dia bermuka dua dan selalu berpurapura. Sifat dan perbuatan orang munafiq Orang munafiq itu pebuatannya selalu berpura-pura. dia khianat. apabila dia berjanji dengan orang lain dia tidak menepati dengan sengaja. Begitu pula apabila dia mendapat kepercayaan dari orang lain untuk memegang dan melaksanakan pekerjaan dia tidak melaksanakannya dengan baik. pembohong. Dia menjadi sakit batin. 2. tetapi dalam hatinya dia tidak beriman. lain di mulut lain di perbuatan. Bila dia berkumpul dengan orang beriman. Nifaq Nifaq ialah sifat yang berbeda antara lahir dan batin atau tidak sesuai antara ucapan dengan perbuatan. . was-was dan tidak tenteram. 1.

Orang fasiq ialah orang yang tahu perintah dan larangan Allah . Fasiq Fasiq artinya meniggalkan perintah Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Dia sangat menyesal atas segala macam perbuatan dosanya itu. tidak berbakti kepada Allah. Dia tidak patuh dan tidak berbakti kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” (QS:AlHaysr:19) .4. tetapi ia tidak mau melaksanakan perintah-Nya dan meniggalkan larangan-Nya.. lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik. dia tergolong sebagai orang yang fasiq. atau keluar dari perintah Allah SWT.             “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Dia melakukan lagi hal-hal yang dilarang Allah Subhanahuu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya. dan dia dengan sungguh-sungguh berjanji dalam dirinya untuk tidak melakukan lagi perbuatanperbuatan dosanya itu. Dalam keadaan yang demikian itu ia terbayang segala macam dosa yang telah ia kerjakan pada waktu sehatnya. Namun setelah sehat dia melupakan janjinya yang pernah diucapkan pada waktu sakit. Misalnya Syiful dalam kadaan sakit keras. dia melupakan segala perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

BAB IV PENUTUP Kesimpulan dari pembahasan di atas ialah bahwa iman itu merupakan sesuatu yang penting dalam agama kita. . Tanpa iman kita akan sulit menjalani agama kita karena kita belum yakin tentang yang kita yakini. Karena kekuasaan Allah itu terlihat bagi hamba hambanya yang berfikir. Untuk mendapatkan keimanan itu sendiri. Padahal Al-Qur’an di turunkan pada tahun 600an Masehi dan itu terbukti sekitar tahun 1900an. bias banyak hal yang kita lakukan antara lain dengan berfikir dan mempelajari hal-hal yang menjadi keimanan tersebut. Jelas ini bias menambah keyakinan kita bahwa itu benar benar perkataan Allah. Dan kiranya masih banyak lagi pembuktian pembuktian dalam Al-Qur’an atau pun hal hal di sekitar kita yang bias meningkatkan keimanan kita. Dan sudah terbukti dari foto yang di lampirkan di atas ciri cirinya memang mirip dengan yang di deskripsikan di Al-Qur’an. Misalnya pada bagian iman kepada Allah SWT kita melihat di surah Ar-Rahman bahwa ketika langit terbelah akan berwarna seperti merah mawar. Dan iman ini pula dapat berkurang bila tidak di jaga dengan perbuatan perbuatan yang baik.

DAFTAR PUSTAKA    At-Tauhid Lish Shaffits Tsani Al-‘Ali jilid 2 (Penerbit Universitas Islam Indonesia) Syahru Ushulil Iman (penerbit Haiatul Iqhatsah Al-Alamiyah. Riyadh) Al-Qur’an dan terjemahnya (proyek pengadaan kitab suci Al-Qur’an DEPAG RI 1984/1985) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful