Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi adalah fakultas yang berkaitan dengan ilmu rekayasa kebumian, dan Program Studi Geologi sebagai salah satu jurusannya, bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang dapat memahami bumi sebagai suatu sistem alam sebagai materi dan mengenali hukum alam yang terjadi secara keseluruhan makro maupun mikro, dan mempunyai pengetahuan dan berpola pikir yang cukup terhadap bumi sebagai sumber benda / materi, sehingga mampu untuk pekerjaan eksplorasi dan mengeksploitasinya dengan pertimbangan keadaan

lingkungan secara optimal. Pemetaan geologi daerah Cibadak, Cikembar dan sekitarnya Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat, dilakukan untuk mengetahui gejala – gejala geologi yang berkembang di daerah tersebut, dan Seiring dengan kegiatan penambangan yang semakin marak di daerah pemetaan khususnya Gn Walat, memungkinkan terjadinya perbedaan interpretasi geologi yang terlebih dahulu dilakukan oleh peneliti geologi sebelumnya.

1

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

I.2 Maksud dan Tujuan Penelitian geologi daerah Cibadak, Cikembar dan sekitarnya dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan kurikulum Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Ilmu Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti Jakarta, untuk menempuh tingkat sarjana (S1). Adapun tujuan dari pemetaan ini adalah untuk mengetahui keadaan geologi yang meliputi proses geomorfologi, lingkungan pengendapan, sejarah geologi, dan potensi sumber daya alam yang ada di daerah tersebut.

I.3 Lokasi Penelitian Daerah penelitian berada pada daerah Cibadak, Cikembar, Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya, Propinsi Jawa Barat, dimana daerah yang akan dipetakan adalah : Koordinat : 106 0 47‟ 86 ” BT – 106 0 50‟ 40 ” BT : Kabupaten Kecamatan Desa Propinsi 06 0 53‟ 88 ” LS – 06 0 58‟ 78” LS

: Sukabumi : Cikembar, Cibadak : Bojongkembar, Hegarmanah, dan sekitarnya : Jawa Barat

I.4 Kesampaian Daerah Daerah penelitian mempunyai luas 45 Km2., dengan kesampaian daerah dapat dicapai menggunakan kendaraan roda empat maupun bis antar

2

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

kota jurusan Jakarta – Sukabumi, melalui jalan utama dan kemudian dapat dilanjutkan dengan kendaraan roda dua melalui jalan desa ataupun jalan setapak.

Gambar 1.1 Letak lokasi daerah penelitian

I.5 Metodologi Metode penelitian yang dilakukan adalah penggabungan antara penelitian lapangan dengan penelitian laboratorium. Adapun tahap penelitian yang dilakukan meliputi : studi literatur, perencanaan lintasan lokasi pengamatan, analisa peta topografi, penelitian laboratorium, konsultasi dengan pembimbing dan penulisan laporan.

3

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

1.5.1 Studi Literatur Dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi dari peneliti terdahulu bukan sebagai data penelitian tetapi sebagai bahan acuan untuk gambaran geologi daerah studi dan efektifitas kerja di lapangan.

1.5.2. Perencanaan lintasan lokasi pengamatan Untuk mencapai efektifitas kerja lapangan, maka dipilih lintasan dengan pertimbangan sebagai berikut :  Lintasan harus memotong atau hampir tegak lurus terhadap jurus lapisan (perlapisan).  Perencanaan lintasan akan mempertimbangkan faktor keberadaan desa atau pemukiman dangan resiko keselamatan.  Diutamakan lintasan yang memotong perlapisan, ataupun tebing jalan.

1.5.3. Analisa peta topografi Analisa peta topografi dapat digunakan untuk memperkirakan adanya indikasi struktur geologi berupa lipatan atau patahan. Analisa peta dalam hal bentuk dan relief kontur dapat digunakan untuk penafsiran awal peta geomorfologi.

4

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

1.5.4. Penelitian dilapangan Dalam penelitian lapangan dapat dipisahkan menjadi dua (2) bagian, yaitu: a. Kegiatan lapangan :  Pengamatan satuan batuan dan pengukuran kedudukan singkapan batuan  Pencatatan informasi dalam buku lapangan.  Pengukuran data struktur  Pengambilan contoh batuan untuk analisa laboratorium  Pembuatan tektonik section yang dilalui  Pengambilan foto morfologi, batuan singkapan batuan, serta struktur pada

b. Kegiatan base camp :  Pemindahan data dari buku lapangan ke base map  Membuat analisa sementara (belum ditunjang data laboratorium).  Memindahkan lokasi pengamatan ke peta

1.5.5. Penelitian Laboratorium Metode penelitian laboratorium dilaksanakan untuk memberikan informasi hasil pemerian secara mikroskopis ataupun untuk menentukan nama batuan atau lingkungan pengendapannya dan memperkuat data

lapangan agar dapat meningkatkan penafsiran geologi yang lebih mendekati di antaranya adalah :

5

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

a. Analisa Paleontologi dan Stratigrafi 1) Penafsiran umur relatif dari batuan 2) Untuk mengetahui lingkungan pengendapan satuan batuan dari hasil analisa struktur sedimen dan laboratorium. b. Analisa Petrografi 1) Mengetahui komposisi mineral dari batuan 2) Penentuan nama batuan secara petrografi.

1.5.6. Konsultasi dengan pembimbing Konsultasi dengan pembimbing dilakukan seiring dengan

pelaksanaan pemetaan lapangan, ini dilakukan mulai tahap persiapan hingga akhir penulisan laporan. Kemudian diikuti konsultas secara bertahap meliputi masalah teknis penelitian sampai masalah penulisan hasil pemetaan.

1.5.7. Penulisan laporan Merupakan langkah akhir pemetaan sebagai suatu media untuk menuangkan atau memaparkan segala penafsiran dan analisa daerah penelitian dan mengintegrasikan (menggabungkan) hasil penelitian lapangan, laboratorium, dan studi pustaka.

6

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

1.6 Peneliti Terdahulu Daerah penelitian dan sekitarnya telah banyak diteliti oleh para ahli geologi, antara lain : 1. van Bemmelen (1949) menyusun stratigrafi daerah Cianjur-Padalarang. 2. Martodjodjo (1984) melakukan penelitian Evolusi Cekungan Bogor. 3. Sudjatmiko (1972) membuat peta geologi lembar peta Cianjur dan sekitarnya skala 1 : 100.000.

I.7 Sistematika Pembahasan. Sistimatika pembahasan dalam tulisan ilmiah ini dimulai dengan bab Pendahuluan yang membahas latar belakang, maksud dan tujuan, letak dan kesampaian daerah, serta metoda penelitian. Bab Geomorfologi yang membahas fisiografi regional,

geomorfologi daerah penelitian, pola aliran sungai, stadia sungai serta stadia daerah. Bab Stratigrafi membahas stratigrafi secara regional,

stratigrafilokal secara umum dan pembagian litostratigrafi yang disertai ciri litologi, umur, lingkungan pengendapan. Bab Struktur geologi yang membahas struktur geologi secara regional, struktur geologi daerah penelitian berdasarkan data struktur geologi yang ditemukan dilapangan. Rangkuman dari uraian stratigrafi dan struktur geologi selanjutnya akan dibahas dalam bab Sejarah Geologi.

7

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Adapun bab penutup adalah bab Evaluasi Geologi yang mencoba mengangkat salah satu materi geologi untuk dilakukan evaluasi.

8

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

BAB II GEOMORFOLOGI

2.1 Fisiografi Regional Berdasarkan perbedaan struktur, van Bemmelen (1949) membagi Jawa Barat menjadi beberapa zona fisiografi (Gambar 2.1), yaitu : 1. Dataran Alluvium Utara Jawa Barat 2. Antiklinorium Bogor 3. Zona depresi tengah Jawa Barat/Zona Bandung 4. Jalur pegunungan Selatan 5. Kubah dan Pegunungan pada Zona Depresi Tengah 6. Gunungapi Kuarter Berdasarkan pembagian fisiografi diatas, maka daerah penelitian termasuk Zona Bandung. Zona Bandung merupakan jalur lekuk diantara jalur pegunungan, memanjang dari mulai Teluk Pelabuhan Ratu hingga Segara Anakan. Lebar Zona ini bervariasi antara 20-30 Km. Zona ini secara struktural merupakan bagian puncak dari geantiklin yang telah hancur sesudah atau selama pelengkungan pada akhir zaman Tersier. Bagian utara zona ini terdiri atas kumpulan gunungapi Kuarter yang merupakan batas dengan Zona Bogor. Bagian selatan berbatasan dengan Zona Pegunungan Selatan yang juga terdiri dari gunungapi Kuarter (Gambar 2.1)

9

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Gambar 2.1 Fisiografi Regional Jawa Barat menurut van Bemmellen (1949)

. 2.2 Geomorfologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan Sekitarnya. Daerah penelitian merupakan perbukitan lipatan terpatahkan dengan arah umum Timurlaut-Baratdaya hingga Timur-Barat, dengan kemiringan perlapisan batuan relatif kearah Utara hingga selatan. Secara umum, relief daerah ini didominasi oleh perbukitan bergelombang structural yang terdapat di bagian Utara hingga ke Selatan daerah penelitian. Satuan litologi daerah ini adalah satuan batupasir, satuan batugamping serta satuan breksi vulkanik. Secara umum litrologi daerah ini memiliki resistensi yang cukup baik terhadap faktor erosi. Pada bagian Selatan daerah ini tertutup oleh endapan volkanik Kuarter secara tidak selaras.

10

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Lipatan pada daerah penelitian yaitu antiklin dan sinklin.Diperkirakan Struktur lipatan tersebut umumnya berarah Barat – Timur. Sesar yang terdapat di daerah penelitian ini adalah sesar-sesar naik yang relatif berarah Barat-Timur dan sesar-sesar mendatar yang relatif berarah Timurlaut-Baratdaya. Dengan demikian, secara genesa faktor dominan yang membentuk morfologi daerah penelitian adalah proses endogen. Faktor ini tercermin dari morfologi berupa pergeseran puncak bukit, kelokan sungai yang mengikuti pola rekahan struktur.

2.3 Satuan Geomorfologi Daerah Penelitian Geomorfologi daerah penelitian dipengaruhi oleh faktor endogen dan eksogen yang bekerja. Sehubungan dengan itu, penulis melakukan pendekatan deskriptif dan genetik. Pendekatan deskriptif untuk menyatakan kemiringan lereng dan beda tinggi. Dalam hal ini penulis mengacu kepada klasifikasi relief menurut van Zuidam (1983) (Tabel 2.1).

Tabel 2.1 Klasifikasi Relief menurut van Zuidam (1983) (modifikasi oleh Nugroho, 2000)

Satuan Relief
Datar –Hampir Datar Berombak / Miring landai Bergelombang / Miring Berbukit / Bergelombang Berbukit tersayat tajam Pegunungan tersayat tajam Pegunungan sangat curam

Kelerengan (%)
0 –2 3 –7 8 –13 14 – 20 21 – 55 56 – 140 >140

Beda Tinggi (m)
<5 5 – 50 25 – 75 50 – 200 200 – 500 500 – 1000 >1000

11

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Pendekatan genetik yang dilakukan mengacu kepada Handaya dan Hidartan (1984), yaitu proses geologi yang bekerja di daerah penelitian sedangkan litologi hanya merupakan faktor pendukung. Berdasarkan pendekatan deskriptif dan genetik tersebut diatas, maka penulis membagi daerah penelitian menjadi tiga satuan, yaitu : 1. Satuan Geomorfologi Perbukitan Tersayat Tajam Struktural Denudasional 2. Satuan Geomorfologi Berbukit bergelombang Denudasional 3. Satuan Geomorfologi Bergelombang/Miring Denudasional 4. Satuan Geomorfologi Berombak Miring Landai Denudasional Gambar 2.2 memperlihatkan geomorfologi daerah penelitian. Foto 2.1 memperlihatkan geomorfologi dari satuan perbukitan tersayat tajam denudasional dan satuan perbukitan bergelombang denudasional.

2.3.1 Satuan Geomorfologi Perbukitan Tersayat Tajam Denudasional Satuan ini mendominasi sebagian besar daerah pemetaan yang terletak dari utara memanjang hingga ke selatan daerah penelitian ke utara daerah penelitian, dan luasnya sekitar 20% dari seluruh daerah penelitian. Secara deskriptif, dicirikan dengan sebaran kontur yang relatif rapat dengan slope 27%-55% dan beda tinggi dengan kisaran 223m hingga 623m. Mengacu kepada klasifikasi bentukan relief oleh van Zuidam, maka daerah ini termasuk kepada perbukitan tersayat tajam..

12

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Litologi penyusun satuan geomorfologi ini yaitu batulempung, batupasir. Litologi satuan ini umumnya memiliki resistensi rendah hingga sedang.

Foto 2.1 Satuan geomorfologi perbukitan tersayat tajam denudasional daerah Cikembar dan Cibadak

Faktor genetik yang berperan adalah struktur geologi berupa antiklin, sinklin, sesar naik dan sesar mendatar. Kenampakan struktur geologi di lapangan berupa kelokan sungai yang mengikuti pola rekahan struktur yang terbentuk, dan beberapa bidang sesar yang ditemukan. Faktor endogen berupa struktur geologi cukup berperan pada satuan geomorfologi ini. Faktor eksogen yang berperan ialah erosi permukaan. Kenampakan dilapangan yaitu mulai lembah yang relatif terbuka. Dari penjelasan diatas, maka secara umum satuan geomorfologi daerah ini lebih didominasi oleh faktor endogen berupa struktur geologi.

13

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

2.3.2 Satuan Geomorfologi Berbukit Bergelombang Denudasional Satuan ini terletak di Utara tengah ke Selatan daerah Penelitian yang memanjang dari Timur hingga Barat, luasnya sekitar 45% dari seluruh daerah penelitian. Secara deskriptif, dicirikan dengan sebaran kontur yang agak rapat dengan slope 15%- 20% dan beda tinggi dengan kisaran 300m hingga 500m. Berdasarkan cirri ini maka dapat disimpulkan daerah ini adalah bergelombang miring.

Foto 2.2 Satuan geomorfologi bergelombang miring di daerah G. Walat

Litologi satuan ini adalah batuan yang terubah dari batu Pasir. Secara endogen, satuan ini merupakan hasil kegiatan struktur di daerah penelitian.

14

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

2.3.3 Satuan Geomorfologi Bergelombang Miring Denudasional Satuan geomorfologi ini terletak pada bagian utara membelah satuan geomorfologi perbukitan tersayat tajam struktural kearah selatan daerah penelitian,. Satuan ini memiliki penyebaran seluas 30% dari daerah penelitian. Secara deskriptif, satuan ini meiliki slope 9%- 13 % dengan beda tinggi sekitar 30 m hingga 40 m. Litologi penyusunnya berupa pasir kasar sampai halus, batuan breksi yang Secara endogen, satuan ini merupakan hasil kegiatan struktur di daerah penelitian.

2.3.4 Satuan Geomorfologi Berombak Miring Landai Denudasional Satuan geomorfologi ini terletak pada bagian selatan daerah penelitian,. Satuan ini memiliki penyebaran seluas 45% dari daerah penelitian. Secara

deskriptif, satuan ini meiliki slope 3% - 7 % dengan beda tinggi sekitar 30 m hingga 40 m. Litologi penyusunnya berupa pasir kasar sampai halus, batuan breksi serta fragmen yang berukuran gravel. Secara genetik, satuan ini merupakan hasil kegiatan erosi dan deposisi di daerah penelitian.

2. 4 Pola Aliran Sungai Sungai utama di daerah penelitian adalah Cibatu Girang yang mengalir dari arah Timur ke Selatan. Dan sungai Cimahi . Genetika sungai yang

berkembang pada daerah penelitian yaitu aliran yang searah dengan jurus perlapisan batuan (sub-sekuen), berlawanan (obsekuen) dan searah dengan

15

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

kemiringan lapisan batuan (konsekuen). Pola aliran sungai yang berkembang di daerah ini, yaitu pola aliran Dendritik (gambar 2.2)

2.4.1 Pola aliran Dendritik Pola aliran Dendritik merupakan pola umum aliran sungai yang berkembang pada daerah Denudasional. Pola ini dapat diamati 2 sungai utama yaitu Cibatu Girang dan Cimahi.

Gambar 2.2 Peta aliran sungai dengan pola aliran dendritik daerah pemetaan

16

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Di daerah penelitian, pola ini berkembang pada semua satuan batuan yang terdapat di daerah penelitian. Adapun litologi daerah penelitian berupa batupasir, batugamping, batulempung, dan breksi. Kontrol struktur mengakibatkan adanya pelurusan sungai dan pembelokan sungai yang disebabkan oleh kekar-kekarnya. Resistensi dan erosional daerah penelitian lebih dominan mengakibatkan adanya perkembangan yang komplek dari pola aliran dendritik.

2.5 Stadia Sungai Secara umum pengelompokan stadia sungai didasari oleh berbagai macam kriteria (tabel 2.2). Dalam pengelompokan stadia sungai, penulis mengecu kepada Nugroho (2000). Secara genetik, daerah ini terbagi menjadi dua stadia sungai, yaitu bagian tengah-utara dan bagian tengah-selatan. Gambar 2.2 menggambarkan pola dan genetika sungai daerah penelitian.
Tabel 2.2 Parameter stadia erosi sungai (Nugroho, 2000)

STADIA EROSI SUNGAI PARAMETER Slope Gradient
Kecepatan Aliran Jenis Aliran air Jenis Erosi Proses yang bekerja Bentuk/Pola sungai

MUDA
Besar Tinggi Turbulent Vertikal Erosi Lurus

DEWASA
Relatif Kecil Sedang Turbulent-Laminer Vertikal-Horisontal Erosi-Deposisi Lurus-Meander

TUA
Tidak ada Rendah Laminer Horisontal Deposisi Meander-Komplek

17

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Bentuk penampang sungai Kerapatan/Anak Sungai Kenampakan Lain

„V‟ Kecil/Jarang Banyak Air terjun Tidak ada dataran banjir

„V‟ – „U‟ Sedang/Mulai banyak Air terjun sedikit Mulai ada dataran banjir

„U‟ Besar/Banyak Tak ada air terjun Dataran banjir luas

Daerah penelitian secara garis besar terbagi menjadi dua morfologi yang dominan (foto 2.1). Pada morfologi tersayat tajam, sungainya memiliki stadia muda. Hal ini berdasarkan atas slope gradient relatif besar, bentuk penampang sungai „V‟ , dengan pola anak sungai relatif lurus.

Foto 2.3 Stadi sungai yang menunjukkan bentuk penampang V. Lp 42

Untuk morfologi bergelombang miring, stadia sungainya yaitu dewasa. Hal ini berdasarkan atas kecilnya slope gradient, bentuk penampang sungai yang relatif „U – V‟, anak sungai mulai relif rapat dan mulai adanya dataran banjir. Dari

18

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

uraian diatas, penulis menafsirkan bahwa stadia sungai daerah penelitian adalah muda menjelang dewasa. 2.6 Stadia Daerah Penentuan stadia daerah bergantung pada stadia sungainya dan stadia daerah satuan geomorfologi. Pada daerah pemetaan umumnya memiliki stadia daerah dewasa, walaaupun setiap satuan memiliki genetik yang berbeda- beda. Dari uraian diatas, penulis menafsirkan bahwa stadia daerah penelitian adalah muda menjelang dewasa

19

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

BAB III STRATIGRAFI
3.1 Stratigrafi Regional Mengacu kepada peneliti teradahulu, Martodjojo (1984) membagi Jawa Barat menjadi tiga mendala sedimentasi, yaitu (gambar 3.1) : Cekungan Paparan, Cekungan Banten, Cekungan Bogor. Berdasarkan pembagian mendala

sedimentasi tersebut, maka daerah penelitian termasuk kedalam Cekungan Bogor.

Gambar 3.1 Pembagian Mandala sedimentasi menururt Martodjodjo (1984)

Stratigrafi regional Cekungan Bogor yang termasuk pula daerah penelitian, diawali dengan terbentuknya endapan darat atau delta berupa pasir konglomeratan dengan selang – seling lempung (Formasi Bayah), selanjutnya endapan laut dalam berupa lempung hitam dan napal (Formasi Batuasih) yang menjari-jemari dengan Formasi Rajamandala (gambar 3.2). Formasi Rajamandala

20

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

itu sendiri terdiri atas batugamping terumbu yang berumur Oligsen Akhir Miosen Awal.

Selanjutnya diikuti dengan endapan gravitasi dari Formasi Citarum yang terdiri atas tufa dan batupasir greywacke dengan ketebalan 1250 meter. Sedimen pada formasi ini merupakan bagian dari suatu sistem kipas laut dalam. Di atas Formasi Citarum secara selaras diendapkan Formasi Saguling dengan ketebalan 1500 meter yang terutama didominasi oleh breksi yang berumur Miosen Tengah. Dalam pembahasan selanjutnya, penulis akan memakai kesebandingan stratigrafi regional menurut Martodjojo (1984), karena kesebandingan tersebut merupakan penelitian yang terbaru, juga mendekati dengan keadaan geologi di lapangan penelitian. Susunan stratigrafi mendala Cekungan Bogor menurut Martodjojo, secara berurutan (umur tertua ke umur termuda) adalah sebagai berikut (Gambar 3.2) : 1. Formasi Bayah 2. Formasi Batuasih 3. Formasi Rajamandala 4. Formasi Citarum 5. Formasi Saguling 6. Formasi Cimandiri 7. Formasi Bantargadung Berdasarkan atas ciri dan umurnya, maka di daerah penelitian terdapat empat formasi. empat formasi secara berurut dari tua ke muda yaitu

21

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

:Formasi Bayah, Formasi Batuasih, Formasi Rajamandala,dan Formasi Citarum.

3.1.1 Formasi Bayah ( Walat ) Formasi Bayah ( Walat ) merupakan nama yang diberikan oleh Koolhoven (1933) terhadap batuan tertua di daerah Banten Selatan. Nama Bayah diambil dari nama kota kecamatan di daerah Banten Selatan kabupaten Rangkasbitung. Batuan di daerah ini terdiri dari batupasir kasar, sering

konglomeratan berselang-seling dengan batulempung yang mengandung batubara (Martodjodjo,1984). Dari hasil penyelidikan terdahulu, beberapa singkapan lain dari batuan berciri serta dianggap genesanya sama dan berhubungan juga dinamakan juga sebagai Formasi Bayah. Singkapan batupasir kwarsa di G. Walat, Pasir Bongkok. Berdasarkan ciri litologi, terutama struktur sedimen, komposisi butir, serta banyaknya sisipan batubara maka disimpulkan lingkungan

pengendapan Formasi Bayah adalah darat. (Martodjodjo 1984).

3.1.2 Formasi Batuasih Formasi Batuasih diendapkan tidak selaras diatas Formasi Bayah dan menjemari dengan Formasi Rajamandala (Martodjodjo, 1984). Batas bawah Formasi Batuasih dengan Formasi Bayah ditandai dengan mulai berkurang atau menghilangnya pasir dan konglomerat Formasi Bayah.

22

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Pada umumnya bagian bawah Formasi Batuasih umumnya berwarna gelap, terdiri dari lempung, sering karbonatan, sering mengandung mineral pirit dan jarang akan kehadiran fosil, sehingga dapat disimpulkan bahwa bagian bawah formasi ini diendapkan pada lingkungan reduksi. Bagian atas Formasi Batuasih berupa napal hitam, lempung dan berangsur menjadi gamping. Berdasarkan analisa fosil foraminifera plangtonik, umur Formasi Batuasih ini adalah N2 - N4 (Martodjodjo, 1984). Secara lateral formasi ini terbatas. Secara litologi, formasi ini menyerupai Formasi Cijengkol, tetapi Formasi Cijengkol lebih bersifat marin dan kaya akan plankton. Hubungan antara Formasi Batuasih dengan Formasi Rajamandala adalah menjemari dan sama-sama tidak selaras diatas Formasi Bayah, sehingga kedudukan stratigrafi tiga formasi ini adalah sama. Formasi Batuasih dan Rajamandala merupakan endapan transisi dan laut dangkal sehingga memungkinkan perubahan fasies secara setempat. Adanya sisipan batupasir kuarsa di sekitar bagian bawah Formasi Rajamandala menguatkan argumen ini (Martodjodjo, 1984).

23

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Tabel 3.1 Kompilasi Stratigrafi Cekungan Bogor dari beberapa peneliti sebelumnya

3.1.2 Formasi Rajamandala Formasi ini terdiri atas batugamping. Secara lateral, macam batugamping penyusunnya berubah-ubah. Secara umum batugamping formasi ini berlapis dan di beberapa tempat berkembang sebagai terumbu. Singkapan batugamping di Pr. Pabeasan kebanyakan terdiri dari batugamping fragmental, berselingan dengan batugamping masif (Tjahyo Hadi, 1972, dalam Martodjojo, 1984). Semakin kearah Barat di Gn. Manik, Pasir Balukbuk dan Ps. Sangiangtikoro, batugamping terlihat lebih masif (Sudrajat, 1973, dalam Martodjojo, 1984). Ketebalan Formasi ini umumnya bervariasi yang telah dahulu diteliti oleh peneliti sebelumnya, yang berkisar antara ±200 m. Batas antara Formasi

24

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Rajamandala dengan Formasi Batuasih adalah Menjemari, dan batas dengan Formasi Citarum yang ada diatasnya adalah selaras (Martodjojo,1984) Hasil penyelidikan Adinegoro dan Arpandi (1976) (dalam Martodjojo, 1984) membuktikan bahwa ke arah utara Gn. Hawu ke Togagapu, fasiesnya berubah dari laut tengah ke laut yang lebih dalam. Umur Formasi Rajamandala adalah Oligosen Akhir hingga Miosen Awal (Martodjojo, 1984).

3.1.3 Formasi Citarum Nama Formasi Citarum pertama-tama diajukan oleh Sudjatmiko (1972) dalam Peta Geologi Lembar Cianjur, nama Citarum dirujuk dari Martin (1887) yang kemudian dikutip oleh Van Bemmelen (1949). Secara geografi, penyebaran Formasi Citarum ini mulai dari barat di Sukabumi Selatan dan menerus ke timur di Sungai Citarum. Formasi ini umumnya dicirikan dengan greywacke yang berselang-seling dengan batuanau dan batulempung. Batas bawah formasi ini pada umumnya adalah batulempung-lanau dengan sisipan batupasir halus, dimana lempung dan lanau sering gampingan. Bagian atas formasi ini, pada umumnya terdiri dari batupasir dengan sisipan batupasir konglomerat. Formasi ini merupakan endapan turbidit dari suatu sistem kipas laut dalam (Martodjojo, 1984). Dari penyelidikan yang telah dilakukan, dimana Formasi Citarum berubah dari dominan batulempung di bagian bawah ke dominan batupasir di bagian atas. Hal ini membuktikan bahwa Formasi Citarum merupakan endapan distal dari sistem kipas laut dalam.

25

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Umur Formasi ini berdasarkan kandungan foraminifera planktonik adalah Miosen Awal (N4-N9). Batas atas dengan Formasi Saguling dan batas bawah Formasi dengan Formasi Rajamandala adalah selaras. Formasi Citarum memiliki ketebalan 1500 m (Martodjojo, 1984).

3.1.4 Formasi Saguling Penamaan Formasi Saguling adalah merupakan pengganti satuan batuan yang dahulu dimasukkan kedalam Formasi Citarum oleh Sudjatmiko (1972) (dalam Martodjodjo, 1984). Satuan ini meliputi singkapan batuan yang berada didaerah Cianjur Selatan yaitu pada hulu S. Cimandiri. Formasi Saguling diendapkan selaras diatas Formasi Citarum. Nama Saguling dipakai untuk satuan ini, disebabkan singkapan terbaik terdapat pada jalan baru Rajamandala ke Bendungan Saguling. Formasi Saguling didominasi oleh breksi yang berselang - seling dengan batupasir greywacke, berbeda dengan Formasi Citarum yang umumnya terdiri atas greywacke saja dengan selingan lithic wacke yang kaya akan fragmen batulempung dan batugamping. Formasi Saguling umumnya menempati morfologi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, hal ini disebabkan oleh batuan penyusun formasi ini memiliki resistensi tinggi terhadap erosi. Formasi Saguling bagian bawah umumnya terdiri atas breksi dengan sisipan batupasir lempungan. Di Sukabumi, pada bagian bawahnya fragmen batugamping hampir mencapai 40 % dari seluruh fragmen breksi yang kebanyakan terdiri atas andesit. Bagian tengah dari Formasi Saguling kebanyakan

26

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

terdiri atas batupasir dengan sisipan batulanau sampai batulempung. Bagian teratas dari Formasi Saguling ditandai oleh sisipan batulempung yang lebih banyak. Dari hasil analisa mikropaleontologi, Formasi Saguling menunjukkan umur Miosen Tengah (N9 - N13, Blow 1969), (Martodjojo, 1984). Fosil penentu lingkungan pengendapan pada Formasi Saguling tidak dapat dipakai dengan pasti, tetapi dengan cukup banyaknya fosil plankton pada sisipan tufa hijau pada Formasi Saguling dapat menunjukkan lingkungan laut cukup dalam.

3.1.5 Formasi Bantargadung Formasi Bantargadung diajukan sebagi satuan pengganti dari Formasi Nyalindung (Efendi, 1974; Soekamto, 1975; dalam Martodjodjo, 1984). Formasi Bantargadung pada umumnya menempati daerah yang bermorfologi rendah. Penyebaran formasi ini memanjang dari lembah Cimandiri-Sukabumi hingga ke Purwakarta sesuai Fisiografi Bogor. Formasi Bantargadung diendapkan selaras diatas Formasi Saguling yang banyak mengandung breksi dan batupasirnya bersifat greywacke. Formasi Bantargadung pada umumnya terdiri dari selang-seling lempung serpih dan pasir tufaan dan berwarna abu-abu. Bagian bawah formasi ini pada umumnya terdiri dari batupasir dengan sortasi buruk, makin keatas batupasir ini kaya akan kuarsa. Ukuran butir pasir umumnya berukuran sedang dengan bentuk menyudut runcing dan tanggung, terkadang semennya berupa karbonat.

27

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Bagian tengah formasi ini terdiri dari selang-seling pasir yang banyak mengandung fragmen dan bersifat lebih tufaan dibandingkan bagian bawah Formasi Bantargadung ini. Makin keatas, batupasir lebih bersifat gampingan dimana lempung-serpih makin tebal bila dibandingkan pada bagian bawah formasi ini. Bagian atas formasi ini kembali bersifat tufaan. Berdasarkan kandungan fosil foraminifera plangtonik, umur formasi ini adalah N13-N14. Struktur sedimen yang berkembang pada formasi ini menunjukan ciri endapan aliran gravitasi (Martodjodjo, 1984).

3.2. Stratigrafi Daerah Penelitian Dalam pembahasan stratigrafi daerah penelitian, penulis melakukan pembagian satuan batuan yang didasarkan atas karakteristik batuan. Pengertian satuan batuan disini adalah satuan litostratigrafi tidak resmi. Pengelompokan satuan-satuan batuan tersebut berdasarkan ciri-ciri litologi dominan serta yang tampak dilapangan. Kontak antara satuan batuan yang satu dengan yang lainnya sering ditemukan tidak jelas antara lain dikarenakan tertutup soil yang merupakan hasil pelapukan intensif dan tempat tinggal warga di daerah penelitian. Untuk itu penarikan batas-batas satuan selain mengacu kepada penampakan di lapangan tapi juga mengacu kepada topografi dan kedudukan perlapisan. Sedangkan kedudukan stratigrafinya didasarkan pada kandungan fosil dan Hukum Superposisi. Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis memilah satuan batuan di daerah penelitian dari tua ke muda adalah sebagai berikut :

28

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

1. Satuan Batupasir selang-seling batulempung 2. Satuan Batupasir Kuarsa 3. Satuan Batugamping 4. Satuan Batupasir tufaan 5. Endapan Breksi 6. Endapan Lahar Dalam penentuan umur, digunakan fosil foraminifera planktonik berdasarkan kisaran hidup dari Blow (1969). Penentuan lingkungan pengendapan digunakan beberapa parameter antara lain analisis foraminifera bentonik berdasarkan zona bathymetri dari Hedgpeth (1957). Kolom stratigrafi daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Kolom Stratigrafi Daerah Pemetaan

29

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

3.2.1

Satuan Batupasir selang-seling batulempung Secara stratigrafi regional, satuan ini merupakan satuan batuan tertua di

daerah penelitian. Satuan ini menempati bagian utara daerah pemetaan seluas 20% dari luas daerah pemetaan. Penamaan satuan ini berdasarkan dominasi batupasir bila dibandingkan dengan batulempung, dan dibeberapa tempat terdapat sisipan batubara (tabel 3.3).

Tabel 3.3 Kolom litologi tanpa skala satuan batupasir selang – seling batulempung.

3.2.1.1 Penyebaran dan Ketebalan Satuan ini menempati di bagian utara daerah utara penelitian. Singkapan terbaik ditemukan di G. Walat, yaitu sekitar Desa Cibadak,, Desa Karangtengah dan Batununggal. Penyebaran satuan ini mencakup 20 % dari keseluruhan

daerah penelitian dengan pola penyebaran relatif barat – timur.

30

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Pada bagian utara satuan ini berbatasan dengan endapan lahar, sedangkan pada bagian selatan satuan ini berbatasan dengan batulempung, dan batugamping. Tebal satuan ini berdasarkan pengukuran pada penampang diperkirakan lebih dari ± 1250 m. 3.2.1.2 Litologi Secara umum susunan litologi terdiri atas batupasir kuarsa selang-seling batulempung. sisipan batubara. Pada bagian bawah diikuti Batupasir kuarsa, warna abu-abu, kompak, berbutir sangat halus hingga sangat kasar, menyudut tanggung – membundar tanggung, kemas terbuka, terpilah buruk - baik, berlapis, tebal 20 cm - 2,5 meter, keatas makin halus, diantara lapisan disisipi lempung tipis dengan tebal 3-5 cm. Lapisan batulempung, tebal 1 - 5 meter, abu-abu hingga abu-abu kehitaman, agak kompak, kadang menyerpih, dan sisipan batubara dengan tebal 20 - 50 cm yang menipis keatas. Pada bagian tengah susunan litologi berupa batupasir kuarsa, warna abu-abu hingga abu-abu keputihan, kompak, menyudut tanggung – membundar tanggung, kemas terbuka, terpilah buruk - baik, berlapis, tebal 30 cm – 4 meter keatas makin kasar, sisipan batulempung tipis 2 – 6 cm. Analisis petrografi batupasir pada sayatan tipis Lp 2, batupasir menunjukkan warna abu-abu , berbutir sedang - kasar, bentuk butir menyudut sampai membundar tanggung, kemas grain supported, pemilahan baik, tekstur klastik, komposisi terdiri atas kuarsa, feldspar, mineral opak yang tertanam dalam mineral lempung, dan gelas. Nama batuan ini secara petrografi adalah Mudrock (Pettijohn, 1975) (Lampiran 1).

31

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

3.2.1.3 Penentuan umur Penentuan umur berdasarkan atas kehadiran fosil foraminifera plangtonik. Berdasarkan analisa mikropaleontologi (Tabel 3.4) pada satuan batuan ini dijumpai fosil foraminifera plangtonik Globigerina selli (BORSETTI),

Globigerina praebuloides BLOW, dan Globigerinita unicova BOLLI. Yang menunjukan kisaran umur N1 – N2 (Oligosen Atas).

Tabel 3.4 Kisaran umur satuan batupasir selang – seling batulempung berdasarkan foraminifera plangtonik, pada Lp 13.

3.2.1.4 Penentuan lingkungan pengendapan Berdasar ciri litologi, terutama struktur sedimen, laminasi sejajar (Foto 3.2), banyaknya sisipan batubara (Foto 3.3), dan ditemukannya fosam bentonik Elphidium sp, Ammobaculites sp, (Tabel 3.5) yang mencirikan lingkungan pengendapan transisi, maka lingkungan pengendapan satuan batuan ini adalah darat, atau delta ( Martodjojo 1984).

32

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Foto 3.2 Struktur sedimen laminasi sejajar di Lp 2, daerah Gn Walat.

Foto 3.3 Singkapan yang menunjukan lapisan batubara, pada satuan batupasir selang – seling batulempung, pada Lp 2, daerah Gn Walat.

33

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

3.2.1.5 Hubungan stratigrafi dan kesebandingan Hubungan Stratigrafi satuan batupasir selang – seling batulempung dengan satuan batupasir kuarsa yang berada di atasnya adalah tidak selaras. Hal ini didasari oleh lingkungan pengendapan yang sama, dimana satuan ini diendapkan pada lingkungan darat atau delta, sedangkan lingkungan pengendapan satuan batulempung yang berada di atasnya diendapkan pada lingkungan transisi (laut dangkal). Berdasarkan ciri litologi penyusunnya, umur dan posisi stratigrafinya, maka satuan batupasir selang – seling batulempung ini dapat disebandingkan dengan Formasi Bayah atau Walat menurut Martodjojo (1984).

3.2.2 Satuan Batupasir Secara stratigrafi, satuan ini menindih tidak selaras dengan satuan batupasir selang-seling lempung. Penyebaran satuan ini menempati bagian tengah pada daerah pemetaan. Penyebaran satuan ini mencakup 30%. Penamaan satuan ini berdasarkan dominasi batupasir yang mempunyai komposisi kuarsa (Tabel 3.6). Perhitungan ketebalan ini didasari penarikan rekonstruksi kemiringan

lapisan pada penampang A-B.

3.2.2.1 Penyebaran dan Ketebalan Satuan batuan ini terletak di bagian tengah daerah penelitian, yaitu di Desa Hegarmanah dan menyebar kearah selatan daerah penelitian, yaitu di Desa

34

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Kebonbera. Penyebaran satuan ini mencakup 30 % penelitian dengan pola penyebaran relatif barat – timur.

dari keseluruhan daerah

Di bagian utara dan barat satuan ini berbatasan dengan satuan Batupasir selang-seling batulempung kemudian mengelilingi satuan batugamping, dan di bagian selatan berbatasan dengan satuan batupasir tufaan. Berdasarkan pengukuran ketebalan pada penampang Geologi, satuan batuan ini mempunyai ketebalan kurang lebih ±1125 meter.

3.2.2.2 Litologi Susunan litologinya berupa batupasir. Pada bagian bawah berupa batupasir halus, abu-abu kecoklatan, agak kompak, kadang menyerpih. Analisis petrografi batupasir pada sayatan tipis batuan Lp 39 dan Lp 3, batupasir berwarna abu-abu terang, berbutir halus – sadang, terpilah baik, kemas grain supported, sortasi baik. Komposisi mineral terdiri atas kuarsa (70%), mika (7%), fragmen batuan (18%), dan mineral opak (5%). Kuarsa, mika, fragmen batuan dan mineral opak yang tertanam dalam matriks mikrokristalin kuarsa. Nama secara petrografis adalah Pettijohn, 1975) (Lampiran 2). Quartz Wacke/Quartz sandstone (Klasifikasi

35

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

B

T

Foto 3.4 Singkapan Batupasir kuarsa pada Lp 42 a.

Tabel 3.6 Kolom litologi satuan Batupasir Kuarsa daerah penelitian tanpa skala

36

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

3.2.2.3 Penentuan Umur Penentuan umur berdasarkan atas kehadiran fosil foraminifera planktonik. Berdasarkan analisa mikropaleontologi. kandungan foraminifera bentonik yang kemudian dikalibrasi dengan zona kedalaman menurut Hedgpeth (1957). Berdasarkan analisis pada perconto lokasi pengamatan (tabel 3.7).

Tabel 3.7 Kisaran umur satuan batupasir berdasarkan foraminifera plangtonik, pada Lp 42a

3.2.2.4 Lingkungan Pengendapan Kehadiran bentonik Robulus sp, Rotalia sp dan Elphidium guntori menunjukan bahwa paleobathimetrinya pada Neritik Tengah hingga Neritik Luar, dengan kedalaman kurang dari 200 m (tabel 3.8).
Tabel 3.8 Kisaran kedalaman lingkungan pengendapan satuan batupasir berdasarkan foraminifera bentonik pada Lp 42a.

37

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

3.2.2.5 Hubungan Stratigrafi dan Kesebandingan S. Martodjojo (1984) menyatakan bahwa berdasarkan perbedaan umur antara formasi Batuasih dengan formasi Bayah yang berada dibawahnya mempunyai hubungan yang tidakselaras, sedangkan Effendi dkk (1998) berpendapat bahwa hubungan antar keduanya adalah selaras dan dibatasi oleh kontak sesar. Satuan ini terdiri dari dominasi batulempung. Umur satuan batupasir kuarsa ini N2 – N3, dimana bagian tengah hingga atas dari satuan ini menjemari dengan satuan batugamping. Hal ini juga tercermin dari pola penyebaran dari jurus perlapisan dari kedua satuan batuan ini. Dengan mempelajari ciri litologi penyusunnya, kisaran umur, posisi stratigrafi dan pola penyebaran di lapangan, maka satuan batupasir kuarsa ini dapat disebandingkan dengan Formasi Batuasih menurut Martodjojo (1984).

3.2.3

Satuan Batugamping Secara regional, satuan batugamping ini merupakan satuan batuan ketiga

di daerah pemetaan. Satuan batuan ini diendapkan setelah satuan batupasir kuarsa. Kedudukan stratigrafi bagian bawah hingga tengah satuan ini adalah menjemari dengan satuan batupasir kuarsa. Dasar penamaan satuan batuan ini dikarenakan satuan ini seluruhnya terdiri dari batugamping (Tabel 3.9).

38

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

3.2.3.1 Penyebaran dan Ketebalan Satuan ini menempati bagian tengah daerah pemetaan. Singkapan terbaik ditemukan di Desa Cilubang (foto 3.5) penyebaran satuan ini mencakup 10% dari keseluruhan luas daerah pemetaan. Bagian selatan satuan ini dibatasi oleh satuan batupasir quarsa, kontak antar keduanya adalah menjemari (Martodjojo 1984). Pada bagian selatan dibatasi oleh satuan batupasir tufaan. Pola penyebaran satuan batugamping ini relatif berarah barat-timur.Pola penyebaran satuan batuan mengikuti pola penyebaran satuan batupasir kuarsa dimana kedudukan statigrafi kedua satuan batuan ini adalah menjemari. Untuk ketebalan satuan batugamping, penulis berdasarkan rekonstruksi penampang geologi A-B. Dalam rekonstruksi tersebut, penulis menggunakan bantuan satuan batulempung yang kedudukan stratigrafinya adalah menjemari. dari rekonstruksi tersebut, ketebalan yang didapat yaitu kurang lebih 200 m.

Tabel 3.9 Kolom stratigrafi tanpa skala satuan batugamping

39

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

S

U

Foto 3.5 Singkapan batugamping di daerah Desa Sungapan Lp 30.

3.2.3.2 Ciri Litologi Satuan ini terdiri atas litologi batugamping klastik. Batugamping sebagai litologi dominan mempunyai ciri di lapangan berwarna putih kecoklatan, dan massif (foto 3.5). Secara mikroskopis yang dilakukan dari perconto Lp 30. dan Lp26. bertekstur klastik dengan matriks lebih didominasi oleh lumpur karbonat (foto 3.6) dibandingkan pecahan cangkang fosil. Adapun fragmen batuan ini berupa cangkang fosil foram besar berupa Lepidocyclina sp dan Miogypsina sp serta sedikit komponen koral. Seluruh fragmen cangkang telah tergantikan dengan karbonat dan sebagian dari cangkang tersebut dalam keadaan tidak utuh. Mengacu kepada Pettijohn (1975), penulis menamakan batugamping ini wackestone. Analisis petrografi batugamping pada sayatan tipis Lp 23, menunjukkan batugamping warna abu-abu terang, berbutir halus-sedang (sparit), terpilah buruk-

40

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

sedang dengan butiran membundar-menyudut tanggung yang terdiri dari fragmen fosil, mineral bijih dan mineral lempung, yang tertanam di dalam matriks mikrokristalin kalsit dan lumpur karbonat. Secara petrografi, batu ini dinamakan Batugamping Packestone (Dunham,1962) (Lampiran 3). U S

Foto 3.6 Singkapan batugamping klastik Lp 26.

3.2.3.3 Penentuan Umur Dari kandungan fosil pada perconto Lp 26. dan dengan litologi batugamping, kisaran umur yang diperoleh yaitu umur N3 – N5 (Koch, 1969) atau Oligosen Akhir hingga Miosen Awal (tabel 3.10), dicirikan dengan hadirnya fosil Globigerina venvezuelana HEDBERG, dan Globigerina binaensis KOCH.
Tabel 3.10 Kisaran umur satuan batugamping berdasarkan foraminifera plangtonik pada Lp 26.

41

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

3.2.3.4 Penentuan Lingkungan Pengendapan Untuk analisis lingkungan pengendapan batugamping yang dilakukan, penulis melakukan beberapa pendekatan yaitu : 1. Keterdapatan foraminifera bentonik Lepidocyclina sp, Miogypsina sp,

merupakan penciri lingkungan laut terbuka dengan kedalaman sekitar dari 100 m (Haynes, 1981). 2. Analisa foraminifera bentonik di Lp 26 (tabel 3.11) menunjukan bahwa paleobathimetri satuan batuan ini diendapkan pada Neritik Tengah – Luar. 3. Peneliti terdahulu menyimpulkan di daerah tinggian Sukabumi, umumnya hanya merupakan satu sistem terumbu yang bersifat regresif, dibuktikan dengan penampang di Desa Sungapan (Martodjojo 1984). Berdasarkan pendekatan diatas, penulis mengintepretasikan bahwa satuan batugamping klastik ini diendapkan di laut dangkal.
Tabel 3.11 Kisaran lingkungan pengendapan satuan batugamping, pada Lp26.

3.2.3.5 Hubungan Stratigrafi dan Kesebandingan Litologi penyusun satuan ini adalah batugamping klastik yang memiliki kisaran umur N3 – N5 dengan pola penyebaran setempat-setempat dan relatif berarah barat-timur. Berdasarkan umur dan pola penyebaran tersebut, satuan

42

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

batugamping ini pada bagian tengah hingga atasnya menjemari dengan satuan batupasir kuarsa. Dengan mempelajari ciri litologi penyusunnya, kisaran umur, posisi stratigrafi dan pola penyebaran di lapangan, maka satuan batugamping dapat disebandingkan dengan Formasi Rajamandala menurut Martodjojo (1984).

3.2.4 Satuan Batupasir tufaan Secara regional, satuan batupasir tufaan ini merupakan satuan batuan ketiga di daerah penelitian. Satuan batuan ini diendapkan setelah satuan batugamping. Kedudukan stratigrafi satuan ini adalah menjemari dengan satuan batugamping. Dasar penamaan satuan batuan ini dikarenakan satuan ini seluruhnya terdiri dari batupasir tufaan (table 3.12).

3.2.4.1 Penyebaran dan Ketebalan

Satuan batuan ini terletak pada topografi yang rendah dibanding satuan batuan lainnya, meyebar di wilayah selatan daerah pemetaan di daerah Cikembar menyebar dari barat hingga ke timur daerah pemetaan. Penyebaran satuan ini mencakup 15% dari keseluruhan luas daerah pemetaan. Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi maka tebal satuan ini diperkirakan ± 1500 m.

43

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Tabel 3.12 Kolom litologi tanpa skala satuan batupasir tufaan.

3.2.4.2 Ciri Litologi Secara umum litologi yang dominan adalah batupasir tufaan.

Batulempung warna abu-abu kehijauan, agak kompak, , membundar-menyudut tanggung, kemas tertutup, terpilah buruk terdiri atas kuarsa dan mineral opak dalam matriks berupa mineral lempung dan gelas. Analisis petrografi batupasir tuff pada sayatan tipis Lp 7, Lp 29 dan Lp 10, menunjukkan batupasir tuff warna abu-abu kekuningan, membundar-membundar tanggung, kemas matriks supported, terpilah buruk yang terdiri dari kuarsa dan mineal opak dalam matriks berupa mineral lempung dan glass. Secara petrografi, batu ini dinamakan Batugamping Tuff Gelas (Schmid,1981) (Lampiran 5).

44

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

T

B

Kasar Halus

Kasar

Foto 3.7 Singkapan batupasir Citarum Lp14.

3.2.4.3 Penentuan Umur Penentuan umur yang dilakukan dengan melakukan analisa foraminifera plangtonik mengacu pada Blow (1969). Adanya kandungan fosil planktonik

berupa Globigerinoides altipeltura dan Globigerina venezuelana, menunjukan kisaran umur N5–N7. Berdasarkan analisa ini, kisaran umur yang disimpulkan penulis yaitu umur N5– N7 atau Miosen Awal (tabel 3.13).

Tabel 3.13 kisaran penentuan umur satuan batupasir, berdasarkan foraminifera plangtonik pada Lp 14.

45

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

3.2.4.4 Lingkungan Pengendapan Hadirnya foraminifera bentonik Cibicides sp, Cassidulina sp, dan

Amphistegina lessonii D’ORBIGINI menunjukan kisaran lingkungan kedalaman 100-200 m atau Neritik Luar (Tabel 3.14).

Tabel 3.14 Kisaran kedalaman lingkungan pengendapan satuan batupasir tufaan berdasarkan foraminifera bentonik.

3.2.4.5 Hubungan Stratigrafi dan Kesebandingan Berdasarkan Perbedaan umur antara satuan batuan ini (N5–N8) dengan satuan batugamping (N2-N4) yang berada dibawahnya, disimpulkan bahwa satuan batuan ini menindih satuan batuan dibawahnya dengan selaras. Ciri-ciri litologi dan umur yang terdapat pada satuan batuan ini dapat disebandingkan dengan formasi Citarum.

3.2.5 Endapan Lahar Satuan ini didasari atas proses vulkanisme yang membentuk satuan endapan ini, satuan ini berupa endapan lahar sebagai hasil vulkanik.

46

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

3.2.5.1 Penyebaran dan Ketebalan Endapan Lahar terletak pada bagian utara daerah penelitian, tepatnya di sungai Benda hilir pada bagian utara dan Desa Hegarmanah dengan pola penyebaran mengikuti aliran sungai. Satuan ini menempati bagian utara daerah pemetaan seluas 10% dari luas daerah pemetaan. Kenampakan dilapangan dari endapan lahar umumnya berupa singkapan batuan beku yang mengikuti arah perlapisan (sill). Ketebalan satuan batuan beku yang didapat berdasarkan pengamatan di lapangan. Ketebalan yang didapat yaitu berkisar antara ± 15 - 20 m.

3.2.5.2 Ciri Litologi Litologi penyusunnya terdiri dari batuan beku berwarna abu-abu kehitaman, tektur porfiritik, hipidiomorf, hipokristalin, bentuk butir euheral-

subhedral, vesikuler amigdaloidal, fenokrist terdiri dari plagioklas, piroksen, klorit dan mineral opak dengan massa dasar berupa mikrokristalin dan glass.

S

U

47

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

B

T

Foto 3.8 Tersingkap batuan beku di Desa Hegarmanah LP 18

3.2.5.3 Penentuan Umur Dalam penentuan umur satuan, penulis mengacu kepada kesebandingan Martodjojo (1984) yang diperkirakan pada umur Kuarter. Sifat endapan lahar yang merupakan hasil aktifitas vulkanik dari Gunung Pangrango berada di sebelah utara daerah penelitian, maka penulis mengintepretasikan endapan lahar tersebut berumur Kuarter . 3.2.5.4 Penentuan Jenis Endapan Lahar Untuk menentukan jenis endapan lahar, penulis menentukan berdasarkan kenampakan di lapangan dan analisis petrografi. Endapan lahar tersebut secara genesa merupakan hasil proses vulkanik dari magma yang bersifat basaintermediet.

48

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

3.2.6. Endapan Breksi Volkanik Penamaan satuan ini berdasarkan dominasi litologi yang menyusun satuan ini, yaitu breksi volkanik.

3.2.6.1 Penyebaran dan Ketebalan Satuan ini menempati bagian selatan daerah pemetaan seluas ± 20% dari luas daerah pemetaan. Penyebaran satuan ini merata dari bagian barat sampai ke timur daerah pemetaan. Satuan breksi volkanik ini tersingkap baik di Desa Cirengkol sampai Desa Bojong Kaler menerus ke selatan sampai dengan Bojong Kidul (Foto 3.9). Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi, ketebalan satuan breksi . volkanik berkisar ± >25 m. Perhitungan

ketebalan ini didasari penarikan rekonstruksi kemiringan lapisan pada penampang A-B.

B

T

49

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

B

T

B

T

Foto 3.9 Tersingkap batuan breksi vulkanik di Sungai yang terletak pada Desa Cirengkol, Bojong kaler dan Bojong Kidul.

3.2.6.2. Litologi Satuan ini terdiri atas breksi volkanik sebagai dominan litologi pada satuan ini. Breksi Volkanik merupakan jenis breksi monomik. Secara megaskopis, breksi volkanik menunjukkan warna abu-abu kehitaman, berukuran kerikil-berangkal (Foto 3.9), dengan bentuk menyudutmenyudut tanggung, sortasi buruk. Fragmen terdiri atas batuan beku (andesitbasalt), disusun oleh mineral Feldspar, plagioklas. Analisis petrografi fragmen breksi volkanik pada sayatan tipis batuan Lp 52, Lp 9 dan Lp 27 batuan beku berwarna abu-abu kecoklatan, tekstur porfiritik,

50

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

hipidiomorf,

hipokristalin,

bentuk

butir

euhedral-subhedral,

vesikuler

amigdaloidal, fenokrist terdiri dari plagioklas, piroksen, klorit dan mineral opak, yang tertanam di dalam masa dasar berupa mikrokristalin dan gelas. Komposisi mineral terdiri atas plagioklas (31%), piroksen (6%), karbonat (3%), glass (21%), mineral opak (2%) dan mikrokristalin (35%). Nama secara petrografis adalah Andesit (Klasifikasi Sterckeisen, 1978) (Lampiran 6).

3.2.6.3 Umur Dari hasil analisa mikropaleontologi pada matrik breksi andesit tidak ditemukan fosil foraminifera planktonik. Berdasarkan kesebandingan

Kosoemadinata dan Siregar (1984), Sehingga dapat disimpulkan bahwa umur satuan ini adalah Kuarter. Satuan ini merupakan hasil vulkanik dari gunung yang berada di sebelah selatan dan utara daerah pemetaan.

51

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

BAB IV STRUKTUR GEOLOGI
4.1 Struktur Geologi Regional Struktur umum Pulau Jawa merupakan hasil interaksi tumbukan Lempeng Samudra Hindia dengan Lempeng Benua Asia, dengan arah tumbukan relatif berarah utara - selatan (U - S), yang menghasilkan pola struktur lipatan berarah barat - timur (B - T) dan pola patahan geser berarah baratdaya - timurlaut (BD TL) dan tenggara - baratlaut (TG - BL). Menurut Baumann dkk. (1973), daerah Jawa Barat bagian selatan di bagi atas beberapa satuan struktur yaitu tinggian dan rendahan. Daerah tinggian diantaranya adalah Honje, Bayah, Sukabumi, Ciletuh, Jampang dan Cimandiri. Sedangkan daerah rendahan adalah Malimping dan Cibadak - Pelabuhan Ratu. Selanjutnya dikatakan bahwa sejak Oligosen hingga Kuarter di daerah Jawa Barat bagian selatan dapat di bagi menjadi 4 fase tektonik yang diikuti oleh aktivitas vulkanik, yaitu :

1. Fase tektonik Oligosen Akhir hingga Miosen Awal Pada periode ini, batupasir Oligosen telah mengalami perlipatan dengan arah timurlaut - baratdaya (TL - BD) dan beberapa struktur patahan dengan arah barat - timur (B - T). Pada bagian tengah ini terjadi gerak-gerak vertikal yang diikuti oleh aktivitas vulkanik.

52

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

2. Fase tektonik Miosen Tengah Pada periode ini terjadi fase tektonik yang besar. Daerah Jawa Barat bagian selatan mengalami pengangkatan dan beberapa daerah mengalami perlipatan dan pensesaran secara intensif seperti : Perlipatan dan sesar - sesar longitudinal berarah timur - barat (BL TG) terjadi di daerah tinggian Bayah, Hegarmanah,

3. Fase tektonik Pliosen Akhir – Pleistosen Pada periode ini sebagian besar daerah Jawa Barat bagian selatan terangkat. Beberapa sesar mendatar berarah timur - barat (T - B) memotong struktur yang telah ada. Akibatnya, pola struktur daerah Jampang telah mengalami perubahan kearah baratdaya pada masa itu. Selanjutnya tidak diketahui secara pasti, apakah fase ini berlangsung terus hingga Kuarter.

4. Fase tektonik Kuarter Pada periode ini terjadi aktivitas vulkanik yang kuat, membentuk struktur baratdaya - timurlaut (BD - TL). Sukendar Asikin (1987), menyimpulkan adanya tiga gejala sesar yang menonjol di Jawa Barat, yaitu : 1. Sesar berarah timurlaut - baratdaya (TL - BD) yang dijumpai didaerah Pelabuhan Ratu, yang berhimpit dengan lembah Cimandiri. Dari jenis batuan sedimen yang tersingkap di daerah ini, memperlihatkan suatu

53

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

pengendapan yang diduga terjadi di dalam suatu cekungan yang dipengaruhi oleh struktur sesar. 2. Sesar berarah baratlaut – tenggara (BL - TG) membagi suatu jalur fisiografi, oleh van Bemmelen (1949) disebut Zona Bogor. Sesar ini dapat diikuti dari Jakarta sampai ke Cilacap. 3. Sesar berarah timur - barat (T - B) memotong Pegunungan Selatan diperkirakan sebagai sesar normal dengan bagian utara relatif naik terhadap bagian selatan. Martodjojo (1978), menyimpulkan bahwa pola struktur di daerah Jawa Barat dapat di bagi menjadi tiga arah utama (Gambar 4.1) yang berarah baratdaya - timurlaut searah dengan pola struktur Pulau Sumatera, kemudian utara - selatan. Pembentukan dari pola struktur tersebut berkaitan dengan zona penunjaman yang mengalami pergeseran pada zaman Kapur hingga Resen.

Gambar 4.1 Pola struktur geologi daerah Jawa Barat menurut Martodjodjo (1984)

54

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

4.2 Struktur Geologi Cibadak dan sekitarnya Pola struktur daerah Cibadak dan sekitarnya termasuk kedalam arah baratdaya – timurlaut (Martodjodjo, 1984). Menurut Katili (1974, dalam Martodjodjo, 1984), arah ini dikenal dengan nama Arah Meratus (Meratus Trend) yang secara umum arah struktur ini mengikuti pola busur umur Kapur yang menerus hingga ke pegunungan Meratus. Daerah struktur Cibadak dan sekitarnya di dominasi oleh lipatan- lipatan, sesar naik dan sesar geser. Daerah struktur Gn Walat ini adalah sesuai dengan arah Sumatra. Sesar dan lipatannya pada daerah aliran Cimandiri umumnya berubah arah mengikutinarah Cimandiri, Sedangkan disebelah selatannya (Daerah Struktur Jampang Kulon) merupakan suatu tinggian.

4.3 Struktur Geologi Daerah Penelitian Secara umum struktur geologi daerah Cibadak,Cikembar dan sekitarnya dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu struktur perlipatan antiklin – sinklin, patahan naik serta patahan geser (gambar. 4.3). 4.3.1 Struktur Perlipatan Struktur perlipatan yang dijumpai di daerah penelitian yang berupa antiklin dan sinklin. Dasar penamaaan strukutr-struktur antiklin dan sinklin ini berdasarkan nama daerah yang dilalui oleh strukturr perlipatan tersebut. Adapun secara rinci struktur perlipatan tersebut yaitu :

55

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

4.3.1.1 Sinklin Cilubang Terletak pada bagian utara daerah penelitian tepatnya melalui desa Wangun. Sumbu sinklin memanjang relatif berarah barat – timur. Struktur sinklin ini bersumbu pada satuan batupasirkuarsa, penentuan sumbu lipatan sinklin berdasaarkan rekonstruksi penampang geologi. Dari pengukuran jurus dan kemiringan lapisan, pada sayap utara terlihat bahwa kemiringan lipatan berkisar antara 30˚ - 35˚ ke arah utara dan di sayap selatan mempunyai kemiringan 35o – 40o. Data dari pengukuran dan rekonstruksi penampang geologi, maka Sinklin Wangun ini merupakan sinklin simetris .
.

4.3.1.2. Sinklin Cibungur Struktur sinklin ini terletak di bagian timur daerah penelitian, tepatnya di desa Sungapan. Sumbu sinklin memanjang relatif barat – timur, struktur sinklin ini bersumbu pada satuan batulempung, penentuan sumbu lipatan ini berdasarkan rekonstruksi penampang geologi. Dari pengukuran jurus dan kemiringan lapisan, pada sayap utara terlihat bahwa kemiringan lipatan berkisar antara 30˚ - 35˚ ke arah utara dan di sayap selata mempunyai kemiringan 25o – 30o. Data dari pengukuran dan rekonstruksi penampang geologi, maka Sinklin Wangun ini merupakan sinklin simetris

4.3.1.4 Antiklin Cisonggom Struktur antiklin ini terletak di bagian selatan daerah penelitian melintasi daerah Cisonggom. Antiklin Cisonggom ini memanjang dengan arah relatif Barat

56

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

– Timur. Struktur antiklin ini bersumbu pada satuan batupasir. Penentuan sumbu lipatan berdasarkan rekonstruksi pada penampang geologi. Dari pengukuran jurus dan kemiringan lapisan, pada satuan batulempung di daerah Cisonggom terlihat pada sayap utara kemiringannya berkisar antara 32° - 34° kearah utara dan sayap selatan mempunyai kemiringan 30° - 35°. Data dari pengukuran dan rekonstruksi penampang geologi, maka antiklin Cisonggom ini merupakan antiklin simetris.

4.3.1.5 Sinklin Cioray Struktur sinklin ini terletak di bagian tenggara daerah penelitian, tepatnya di desa BojongKaler sinklin memanjang relatif barat laut – tenggara, struktur sinklin ini bersumbu pada satuan batupasir kuarsa, penentuan sumbu lipatan ini berdasarkan rekonstruksi penampang geologi. Dari pengukuran jurus dan kemiringan lapisan, pada sayap utara terlihat bahwa kemiringan lipatan berkisar antara 29˚ - 35˚ ke arah selatan dan di sayap selatan mempunyai kemiringan 40o – 42o ke arah utara. Data dari pengukuran dan rekonstruksi penampang geologi, maka Sinklin Cioray ini merupakan sinklin asimetris, perbedaan kemiringan ini bisa juga karena pengaru sesar naik pada desa Bojongkaler.

4.3.1.7 Sinklin Cikareo Struktur sinklin ini terletak di bagian Barat daya daerah penelitian,

tepatnya di desa Cikareo sinklin memanjang relatif barat – timur, struktur sinklin

57

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

ini bersumbu pada satuan batupasir kuarsa, penentuan sumbu lipatan ini berdasarkan rekonstruksi penampang geologi. Dari pengukuran jurus dan kemiringan lapisan, pada sayap utara terlihat bahwa kemiringan lipatan berkisar antara 29˚ - 35˚ ke arah selatan dan di sayap selatan mempunyai kemiringan 40o – 42o ke arah utara. Data dari pengukuran dan rekonstruksi penampang geologi, maka Sinklin Cikareo ini merupakan sinklin asimetris, perbedaan kemiringan ini bisa juga karena pengaruh sesar naik pada desa Bojongkaler.

4.3.2 Struktur Sesar Struktur sesar pada daerah penelitian dikelompokan menjadi dua jenis sesar, yaitu sesar geser dan sesar naik dengan rincian sebagai berikut : 4.3.2.1 Sesar Naik Cioray Sesar ini terdapat di bagian tengah daerah pemetaan. Yang ditafsirkan membentang dari bagian barat ke timur daerah penelitian. Kenampakan gores – garis ditemui pada litologi batupasir di antara satuan litologi data – data yang dijumpai dilapangan (Lp 62) adalah : 1. Kenampakan gores garis pada Lp 30 dengan bidang sesar 42° / U 290° T (Foto 4.3). 2. Perubahan litologi yang tiba – tiba dari satuan batugamping dengan satuan batupasir. Berdasarkan data – data yang diperoleh maka dapat disimpulkan sesar ini adalah sesar naik.

58

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Foto 4.3 Bidang sesar pada LP 30 daerah Cioray dengan 35° / U 290° T

4.3.2.2 Sesar Naik Cikareo Sesar ini terdapat di wilayah selatan daerah penelitian yang diperkirakan membentang dari daerah Cirengkol di bagian timur, hingga daerah Cikembang di bagian barat daerah penelitian. Data – data yang dijumpai adalah: 1. Kenampakan gores garis pada Lp 30, dengan bidang sesar 3° / U 290° T dengan (Foto 4.4). 2. Kenampakan lapisan tegak pada LP 30 (Foto 4.5). 3. Perubahan litologi yang tiba – tiba dari satuan batulempung dengan satuan batupasir tufaan. 4. Kenampakan topografi yang relatif tinggi dari topografi disekitarnya. Berdasarkan data – data tersebut dan kenampan yang ditemukan dilapangan maka sesar Cikembar merupakan sesar naik.

59

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Foto 4.4 kenampakan LP24 dengan bidang sesar 40° / U 275°

Foto 4.5 Lapisan tegak pada LP 55 di daerah Gn Batu.

60

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

4.4 Mekanisme Pembentukan Struktur Daerah Penelitian Struktur yang terdapat pada daerah penelitian berupa struktur perlipatan sinklin Cibungur, antiklin Cisonggom, sinklin Cikareo, antiklin Cisonggom serta Sinkil Cioray yang berarah relatif barat - timur. Sedangkan struktur sesar yang terbentuk adalah sesar geser Gn Walat yang berarah baratlaut - tenggara, sesar geser Hegarmanah yang berarah

baratlaut - tenggara, sesar naik Cikareo dan sesar naik Cioray yang keduanya relatif berarah barat – timur. Sesuai dengan konsep “keterakan batuan” menurut Sukendar Asikin (1978) bahwa arah tegasan utama yang berarah Utara-Selatan, akan menyebabkan terbentuknya struktur perlipatan berupa sinklin dan antiklin yang berarah BaratTimur. Pembentukan dari tegasan utama ini akan menghasilkan sesar gerus yang membentuk sesar mendatar dengan arah Baratlaut-Tenggara. Untuk menerangkan mekanisme struktur geologi daerah penelitian, penulis mengacu pada Baumman (1973) guna menerangkan aktifitas tektonik yang berlangsung di Pulau Jawa. Dari empat kala tektonik yang terjadi di P. Jawa, daerah penelitian dipengaruhi tiga fasa tektonik, yaitu : 1. Fasa tektonik pertama (Oligosen Akhir – Miosen Awal). Fasa ini berdasarkan pergantian lingkungan pengendapan yang signifikan antara satuan berumur Oligosen Akhir – Miosen Awal yang diendapkan pada lingkungan Neritik Tengah – Luar, dengan satuan batuan yang berumur Miosen Awal yang diendapkan pada Bathial Atas – Tengah. Fasa

61

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

ini diintepretasikan menyebabkan terlipatnya satuan batuan berumur Oligosen Akhir. 2. Fasa tektonik kedua (Miosen Tengah). Gaya kompresi utama yang berarah relatif utara – selatan dapat ditafsirkan sebagai fase tektonik kedua. Kompresi ini menyebabkan terbentuknya struktur lipatan yang diikuti dengan sesar naik yang berarah barat – timur pada daerah penelitian. 3. Fasa tektonik ketiga (Plio – Pleistosen) Aktifitas tektonik yang terus berlangsung pada kala Plio-Pleistosen menyebabkan terbentuknya sesar-sesar geser berarah timurlaut – baratdaya dan baratlaut – tenggara. Dampak dari sesar – sesar geser ini yaitu memotong struktur serta merubah orientasi dari strukutur-struktur yang telah ada sebelumnya. Dari uraian diatas, diperoleh gambaran bahwa sejak Miosen Tengah, arah gaya kompresi dominan yang bekerja di daerah penelitian berarah Utara – Selatan.

4.5 Umur Struktur Umur struktur geologi daerah penelitian ditentukan berdasarkan umur satuan batuan yang terpengaruh oleh struktur geologi yang terbentuk. Berdasarkan bukti di lapangan, satuan yang ikut terlipat dan terangkat adalah satuan

batupasir selang-seling batulempung, satuan batupasir dan satuan batu gamping yang berumur sebelum N10. Hal ini menandakan bahwa perlipatan dan

62

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

sesar naik terjadi sesudah N10. Intepretasi ini diperkuat dengan Martodjodjo (1984) yang menyatakan bahwa struktur perlipatan dan sesar naik di daerah Jampang kulon, Cibadak dan sekitarnya terjadi sesudah N10. Periode berikutnya yaitu pembentukan sesar – sesar geser yang berumur Plio – Pleistosen.

63

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

BAB V

SEJARAH GEOLOGI
Daerah penelitian yang terletak pada Cibadak, Cikembar, dan sekitarnya, masuk ke dalam mandala sedimentasi Bogor (Martodjodjo, 1984). Stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi beberapa satuan batuan tidak resmi yang kemudian di sebandingkan dengan formasi batuan menurut peneliti terdahulu. Pola struktur yang berkembang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu struktur lipatan dan struktur sesar. Gambar 5.1 hingga 5.7 menggambarkan ilustrasi sejarah geologi daerah penelitian sejak Oligosen Akhir hingga Resen. Runtunan stratigrafi daerah penelitian dimulai pada kala Oligosen Tengah – Oligosen Akhir (N1 – N2). Satuan batuan yang terbentuk pada kala itu adalah satuan batupasir selang – seling batu lempung dan terdapat lapisan tipis batubara muda. Lingkungan pengendapan satuan ini adalah darat (delta). Berdasarkan ciri litologi satuan batuan ini dapat disebandingkan oleh Formasi Bayah menurut Martodjojo (1984). Seterusnya Oligosen Akhir – Miosen Awal (N2-N4). Satuan batuan yang terbentuk pada kala ini adalah satuan batulempung dan satuan batugamping berupa klastik. Berdasarkan pola penyebaran dan umur, kedudukan stratigrafi dari kedua satuan batuan ini adalah menjemari (gambar 5.1). Lingkungan pengendapan dari kedua satuan ini adalah Neritik Tengah – Luar, dengan kedalaman kurang dari 200 m. Berdasarkan ciri litologi dan umurnya, satuan batulempung dapat disebandingkan dengan Formasi Batuasih sedangkan satuan

64

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

batugamping dapat disebandingkan dengan Formasi Rajamandala menurut Martodjodjo (1984). Pada Miosen Awal (N5-N7), diendapkan satuan batupasir tufaan diatas satuan sebelumnya secara selaras (gambar 5.2). Batupasir tufaan satuan ini dapat disebandingkan dengan Formasi Citarum (Martodjodjo, 1984). Pada kala akhir Miosen Tengah terjadi proses tektonik yang

mengakibatkan terangkatnya Cekungan Bogor ke permukaan dan terbentuknya struktur perlipatan yang berarah relatif barat – timur (Baumann, 1973)(gambar 5.4) Pada kala Miosen Akhir – Pliosen aktifitas tektonik semakin meningkat sehingga mengakibatkan terbentuknya Sesar naik Cirengkol dan Cioray.. Dampaknya dari Sesar Naik Cirengkol dan Cioray yaitu terangkatnya Formasi Bayah, Formasi Batuasih dan Formasi Rajamandala serta dilanjutkan dengan formasi lainnya yang lebih muda hanya saja tidak tersingkap pada daerah pemetaan ke permukaan. Gambar 5.7 memperlihatkan kondisi geologi daerah penelitian pada sekarang ini, setelah dipengaruhi oleh faktor eksogen.

65

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Kala Oligosen Tengah – Atas (N1 – N2)

Gambar 5.1 Satuan batupasir selang – seling batulempung diendapkan pada lingkungan pengendapan darat

Kala Oligosen Atas – Miosen Bawah (N2 – N5)

Gambar 5.2 Setelah pengendapkan satuan batupasir selang – seling batu lempung, dilanjutkan pengendapan satuan batupasir dan secara menjemari ikuti pembentukan satuan batugamping seiring dengan naik turun muka air laut.

66

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Kala Miosen Bawah (N5 – N7)

Gambar 5.3 Satuan berikutnya yaitu satuan batupasir tufaan diendapkan secara selaras diatas satuan sebelumnya pada lingkungan laut dalam.

Kala Miosen Tengah

Gambar 5.4 Pada kala ini terjadi pengangkatan dan gaya kompresi yang berarah relatif utara – selatan, menyebabkan terbentuknya struktur lipatan yang berarah barat – timur.

67

Geologi Daerah Cibadak,ci Kembar dan sekitarnya

Kala Plio – Plistosen

Gambar 5.5 Setelah mengalami pelipatan, resistensi batuan yang tidak kuat menyebabkan terjadinya patahan naik yang berarah barat – timur, yang menyebabkan batuan berumur Oligosen terangkat.

Kala Resen

Gambar 5.6 Kondisi geologi daerah pemetaan pada masa sekarang, terjadi aktivitas vulkanik yang memnghasilkan endapan baru berupa lava dan breksi vulkanik

68

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

BAB VI EVALUASI GEOLOGI

6.1 Tinjauan Umum Pembahasan evaluasi geologi adalah menyangkut hubungan interaksi antara manusia dengan keadaan geologi yang terdapat di sekitar lingkungan hidupnya. Aspek-aspek geologi yang berpengaruh dalam hal ini menyangkut sifat keteknikan tanah atau batuan, potensi batuan yang dapat dipergunakan untuk kepentingan manusia dan bahaya yang ditimbulkan oleh alam (bencana alam). Sampurno (1981) mengelompokkan aspek-aspek geologi tata lingkungan kedalam dua kelompok utama, yaitu: 1. Sumber Alam 2. Bencana Alam Purbohadiwidjoyo (1975) menyatakan bahwa sumber alam adalah segala sesuatu yang ditemukan oleh manusia di alam sekitarnya (lingkungannya) yang dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan hidupnya. Sumber dapat dibagi menjadi dua macam: 1. Sumber yang dapat dibeli dan dapat diangkut seperti lahan tanah, air, bahan galian dan sebagainya. 2. Sumber yang tidak dapat dibeli dan tidak dapat diangkut, tetapi dapat diusahakan untuk berbagai tujuan, seperti pariwisata, industri dan sebagainya.

-

69

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Bencana alam adalah gejala alam yang dapat menimbulkan ancaman atau bahaya bagi lingkungan hidup dan kehidupan. Semua bencana alam mempunyai beberapa persamaan, yaitu mempunyai kecenderungan untuk terulang di daerahdaerah tertentu dengan waktu dan besaran tertentu, serta di beberapa daerah bencana alam dapat diramalkan kejadiannya.

6.2 Geologi Tata Lingkungan Daerah Pemetaan 6.2.1 Sumber Alam Potensi sumber alam yang terdapat pada daerah pemetaan adalah: 1. Potensi lahan 2. Potensi air 3. Potensi bahan galian

6.2.1.1 Potensi Lahan Pada daerah pemetaan sebagian besar dari lahan yang ada merupakan lahan perkebunan, persawahan dan pemukiman. Daerah pemukiman terletak di daerah yang relative datar atau yang memiliki kelerengan landai . (Foto 6.1) Untuk daerah persawahan umumnya menempati daerah yang relatif datar sampai dengan miring. (Foto 6.1) .Dan daerah perkebunan menempati lereng yang landai sampai datar dan dekat dengan sungai-sungai yang mengalir dari atas perbukitan. (Foto 6.1).

-

70

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Foto 6.1 Daerah persawahan, perkebunan dan pemukiman Sebagai tata guna lahan daerah pemetaan kanan ke kiri : foto Pemukiman penduduk di Desa Cirengkol, . Persawahan di Cibadak Perkebunan di Desa Cioray.

6.2.1.2 Potensi Air Potensi air pada daerah penelitian ini diperoleh dari air tanah dan air sungai. Air tanah tersebut kebanyakan diambil melalui sumur-sumur galian yang dibuat sendiri oleh warga. Kebanyakan warga yang menggunakan sumur-sumur ini adalah warga yang tinggal di daerah Cibadak. Air sungai merupakan sumber air yang cukup besar manfaatnya bagi penduduk di daerah pemetaan. Selain untuk keperluan rumah tangga, air sungai juga digunakan untuk pengairan sawah dan ladang. Kebanyakan warga yang tinggal dekat dengan sungai Cimahi masih menggunakan air sungai untuk

-

71

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

keperluan sehari-hari. Tetapi air sungai ini sudah tercemar akibat masih adanya warga yang buang air besar di sungai tersebut.

6.2.1.3 Potensi Bahan Galian Bahan galian yang terdapat di daerah pemetaan umumnya ditambang oleh warga, ada yang memiliki izin resmi (Foto 6.3.a) atau penambangan liar(Foto 6.3). Umumnya batuan yang ditambang adalah Batubara dan pasir kuarsa sebagai bahan baku pembuatan semen. Sedangkan di G.Batu terdapat penambangan batu zeolit , serta pemotong batu dan tempat penampungan sementara dari hasil pemotongan seperti terlihat pada gambar (Foto 6.3.c).

Foto 6.3Kanan ke kiri. Pemotong batuan zeolit di Gunung Batu. Pabrik batuan metamorf guna pembuatan dinding batu di G.Batu Penambangran di G.Walat.

-

72

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

6.2.2 Bencana Alam Potensi bencana alam yang dapat terjadi di daerah pemetaan yaitu: 1. banjir dan 2. tanah longsor. Daerah yang memiliki potensi terjadinya banjir adalah daerah sepanjang Bencana Alam Potensi bencana alam yang dapat terjadi di daerah pemetaan yaitu: 1. banjir dan 2. tanah longsor. Daerah yang memiliki potensi terjadinya banjir adalah daerah sepanjang Sungai Cimahi. Hal ini dikarenakan daerah sungai tersebut merupakan dataran rendah yang dikelilingi oleh perbukitan dan banyak terdapat anak sungai yang bermuara ke sungai ini. Sehingga pada musim hujan, air yang mengalir dari anakanak sungai tersebut meluap dan membanjiri daerah sekitar Sungai Cimahi. Sungai-sungai di daerah di sebelah selatan G.Walat bila musim hujan arus air sungai nya sangat deras, sehingga membahayakan warga sekitar. Sedangkan bencana longsor sering terjadi pada zona sesar,. Seperti pada daerah Cibalene. Sungai Cimahi. Hal ini dikarenakan daerah sungai tersebut merupakan dataran rendah yang dikelilingi oleh perbukitan dan banyak terdapat anak sungai yang bermuara ke sungai ini. Sehingga pada musim hujan, air yang mengalir dari anakanak sungai tersebut meluap dan membanjiri daerah sekitar Sungai Cimahi.

-

73

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Sungai-sungai di daerah di sebelah selatan G.Walat bila musim hujan arus air sungai nya sangat deras, sehingga membahayakan warga sekitar. Sedangkan bencana longsor sering terjadi pada zona sesar,..

-

74

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

BAB VII KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bab ini akan dibahas kesimpulan akhir dari laporan sebagai berikut: 1. Secara geomorfologi daerah pemetaan dapat dibagi menjadi penulis membagi daerah penelitian menjadi 4 satuan, yaitu :     2. Satuan Geomorfologi Perbukitan Tersayat Tajam Struktural Denudasional Satuan Geomorfologi Berbukit bergelombang Denudasional Satuan Geomorfologi Bergelombang/Miring Denudasional Satuan Geomorfologi Berombak Miring Landai Denudasional Pada daerah pemetaan dapat dikenali lima satuan litologi, yaitu; satuan

batupasir kuarsa selang-seling batu lempung yang berumur Oligosen bawah sampai dengan Oligosen atas , satuan batupasir kuarsa yang berumur Oligosen Akhir - Miosen awal, satuan batugamping yang berumur Miosen Awal, satuan batupasir tuff yang berumur Miosen Bawah, satuan breksi vulkanik yang berumur Holosen, dan satuan Batubeku Andesite yang berumur Holosen. 3. Tatanan struktur yang terbentuk pada daerah pemetaan merupakan hasil

deformasi dari aktifitas tektonik yang terjadi pada Oligosen Akhir yang mengakibatkan penurunan cekungan dan berubahnya lingkungan pengendapan dari neritik menjadi bathial. Serta Plio-Plistosen yang membentuk struktur perlipatan dan sesar. Perlipatan yang terbentuk adalah Sinklin Cibatugirang, Antiklin Cisonggom, Sinklin Sungapan dan Antiklin Cibule dengan arah tegasan

-

75

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Barat-Timur. Sedangkan gaya kompresi yang terjadi menyebabkan sesar naik Cirengkol dan Cioray. 4. Sejarah sedimentasi yang terjadi di daerah pemetaan diperkirakan terjadi pada Oligosen Awal sampai Holosen. Pada Oligosen akhir terjadi aktifitas tektonik yang mengakibatkan berpindahnya lingkungan pengendapan menuju laut dalam. Pada Plio- Plistosen terjadi kompresi yang diperkirakan telah menyebabkan terlipatnya Seluruh satuan batuan dan gaya yang berlanjut ini akhirnya menghasilkan sesar geser pada daerah penelitian, kemudian terjadi pengangkatan yang menyebabkan pengerosian pada daerah penelitian.

Pengendapan breksi vulkanik terjadi pada kala Holosen. 5. Aspek-aspek evaluasi geologi pada daerah penelitian dibagi menjadi dua bagian yaitu potensi alam berupa lahan pengembangan, air, pariwisata dan bahan galian serta bencana alam berupa banjir dan longsor.

-

76

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

DAFTAR PUSTAKA

Asikin. Sukendar, Dasar-dasar Geologi Struktur, Departemen Teknik geologi, ITB, Bandung. Baumann. Paul, 1972, Summary od The Stratigraphical Result Obtained During The SW Java Field Campaign of Lemigas. Lembaga Minyak Bumi dan Bagian Eksplorasi dan Produksi, Jakarta. Bemmelen, R.W van, 1949, The Geology Of Indonesia, Vol 1. Netherlands: Martinus Nijhoff, The Haque. Blow, A.H., 1969, Late Middle Eocene to Recent Planktonic Foraminifera Biostratigraphy, Proc. Intern, Conf. Planktonic Microfossil, 1st. Edition. Darwin P. Kadar, Neogene Planktonik foraminifera Biostratigraphy of The South Sumatera Java Area indonesia, Republic Indonesia Ministry of Mines & Energy Directorate General of Geology & Mineral Resource Geological Research & Dev. Centre, 1986. Special Publication, N5. pp.1-103. Effendi, 1974, Peta Geologi Lembar Bogor, skala 1: 100.000; Direktorat Geologi Indonesia. Heinrich, E.WM., 1956, Microscopic Petrography, MCGraw Hill Book Company, Inc, New York-London-Toronto.

-

77

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Hidartan dan Handayana, Agung Ms, 1994, Pemetaan Geomorfologi Sistematis Untuk Studi Geologi. Majalah Ikatan Ahli Geologi Indonesia. Hal 854-874. Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia, 1997, Sandi Stratigrafi Indonesia. IAGI, Jakarta Lobeck, A.K., 1989, Geomorphology an Introduction to The Study of Landscape, MC Graw Hill Book, Company Inc, New York, London. Martodjojo, S., 1984, Evolusi Cekungan Bogor, Jawa Barat, Fakultas Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung, Bandung. R. Soeria Atmadja, 1994, Tertiary Magmatic Belts in Java, American Assosiation Petroleum Geology (AAPG). Sudjatmiko, 1972, Peta Geologi Lembar Cianjur, peta geologi bersistem Jawa, skala 1 : 100.000 : Direktorat Geologi Indonesia Sukamto, Rab, 1975, Peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa, (peta 9 XIV A. 9 XIV B) : Direktorat Geologi Indonesia, skala 1 : 100.000 Suwiyanto, 1978, Hubungan antara Kegempaan dengan Kelurusan Struktur

Citra Landsat di Daerah Jawa Barat : Riset, LIPI, Jld.1, No.2 U.S. Army Map Service, 1962, Topography Map, Sukabumi-Djampang Tengah, Far East. Zuidam, van R.A., 1978, Terrain Analysis an Classification Using Aerial Photographs, ITC Neterlands.

-

78

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

William, H., Turner, F.J. & Gilbert, C. M., 1982, “Petrography, An Introduction to Study of Rock in Thin Section”, W.H. Reeman and Co.

-

79

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful