MELAKSANAKAN ASUHAN MASA NIFAS NORMAL

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Nifas Semester IV

Disusun Oleh: Kelompok 7 Suci Lestari Edvina Risma Mutia Lina Lydia Conita Maolaya Meila Linggawati Rizma F. Lasari Kelas 6A 130103100001 130103100006 130103100013 130103100023 130103100039 130103100042

PROGRAM DIPLOMA KEBIDANAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2012

kenormalan fisik . yang harus diketahui oleh seorang petugas kesehatan dalam memberi asuhan pada ibu nifas yaitu data-data sebagai berikut : 1) Data Subyektif a. perilaku bonding. Identitas isteri dan suami. Selain pengkajian data diatas. Berisi nama serta latar belakang pendidikan. serta penyesuaian terhadap transisi yang diperlukan untuk menjadi ibu. Selain itu. suku dan agama serta alamat lengkap. Manajemen tersebut yaitu : I. kurangnya pengetahuan terkait dengan kesiapan untuk belajar. Pencantuman alamat lengkap memudahkan dalam kunjungan rumah dan kondisi yng mengharuskan tindak lanjut di rumah pasien. Pengkajian Data Pengkajian Ibu postpartum berfokus pada status fisiologis dan psikologis ibu. Hal ini berguna agar saat pemberian asuhan dapat diberikan dengan memperhatikan sosial budaya dan ekonomi. Manajemen postpartum dapat memberi arah yang jelas untuk mengkoordinasikan pelaayanan.Melakukan Asuhan Masa Nifas Normal Dalam melakukan asuhan masa nifas. tingkat kenyamanan. mengajarkan informasi yang penting. pekerjaaan. serta kemampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan bayi. bayi juga perlu dikaji mengenai penyesuaian fisiologis bayi terhadap lingkungan di luar rahim. seorang petugas kesehatan khususnya bidan memerlukan proses manajemen. serta menyiapkan ibu postpartum untuk bisa mandiri dalam merawat diri dan bayinya. Proses manajemen adalah suatu pemecahan masalah yang dapat memberikan metode pengorganisasian rangkaian pemikiran dan tindakan dalam urutan logis bagi kedua belah pihak. yaitu pasien dan pelaksana pelayanan kesehatan. .

Kaji apa yang menjadi keluhan saat ini. seperti: Kebutuhan nutrisi Eliminasi Istirahat Personal hygiene Mobilisasi Sexual . Terutama apabila ibu sudah pernah hamil dan atau melahirkan sebelumnya. Contoh: Ibu merasa nyeri pada perineum akibat adanya jahitan luka jalan lahir. Riwayat penyakit keturunan dalam keluarga . Kaji riwayat persalinan secara lengkap dengan menyertai durasi setiap kala dalam persalinan serta masalah yang ditemui pada setiap kala. Misalnya TBC. sejak kapan dan bagaimana pengaruhnya pada ibu. Misalnya penyakit ashma dan penyakit keturunan lainnya. Data biologis/fisiologis Keluhan utama . Riwayat kelahiran dan persalinan . Riwayat kehamilan persalinan dan nifas terdahulu . Kaji apakah ibu pernah atau sedang menderita penyakit yang dianggap berpengaruh pada kondisi kesehatan saat ini. Riwayat penyakit menular dalam keluarga . sehingga ibu merasa sakit jika duduk dan upaya yang dilakukan adalah duduk miring kiri atau kanan. c. heoatitis danHIV/AIDS. infeksi saluran kencing.b. dan tindakan yang dilakukan dalam mengatasi setiap masalah. Riwayat kesehatan yang lalu . dll). Pemenuhan kebutuhan dasar Dikaji dengan tetap memperhatikan kondisi pasien masa nifas. Misalnya penyakit-penyakit degeneratif (jantung DM.

KB serta hal-hal lain yang penting diketahui ibu dalam masa nifas dan meyusui e. asi ekslusif cara menyusui. . Pemeriksaan fisik . jika peningkatan tekanan darah signifikan.Pola hubungan ibu. Perhatikan adanya kenaikan suhu samapi 38 derajat pada hari kedua samapi hari kesepuluh yang menunjukkan adanya morbiditas puerperalis.Keaaan umum dan kesadaran .Tanda-tanda vital  Tekanan darah .  Suhu . Data psikososial. Suhu maternal kembali dari suhu yang sedikit meningkat selama periode intrapartum dan stabil dalam 24 jam pertama pascapartum. suami dan keluarga . Segera setelah melahirkan.d. tetapi serius.Kehidupan spiritual dan ekonomi keluarga . banyak wanita mengalami peningkatan sementara tekanan darah sistolik dan diastolik. Data tambahan Dapat berisi beberpa data tambahan misalnya obat-obatan yang diperoleh selama masa nifas. ekonomi dan spiritual .Kepercayaan dan adat istiadat f. komplikasi yang relatif jarang. yang kembali secara spontan kanan darah sebelum hamil selama beberapa hari bidan bertanggung jawab mengkaji resiko preeklamsi pascaparum. 2) Data Obyektif a. Kaji pengetahuan ibu yang berhubungan dengan perawatan bayi.Respons ibu dan suami terhadap kelahiran bayi . perawatan nifas. Data pengetahuan/perilaku ibu.

hal tersebut abnormal dan mungkin menunjukkan adanya infeksi atau hemoragi pascapartum lambat. posisi bayi pada payudara. sclera dan konjuctiva mata. pembesaran kelenjar thiroid dan bendungan vena jugolaris.  Pernapasan . demam selama persalinan. atau perubahan lain memerlukan evaluasi adanya kondisi – kondisi seperti kelebihan cairan. seperti eksaserbasi asma. dan emboli paru.  Genitalia . Nafas pendek. diatesis recti dan kandung kemih. Apabila denyut nadi diatas 100 selama puerperium. oedema. Evaluasi abdomen terhadap involusi uterus. adaya oedema. Pemeriksaan . kongesti.  Dada dan payudara . . mukosa mulut. dan nyeri akut atau persisten dapat mempengaruhi proses ini. Untuk involusi uterus periksa kontraksi uterus. Pengakajian payudara pada periode awal pascapartum meliputi penampilan dan integritasi puting. dan tanda – tanda mastitis potensial. Fungsi pernafasan kembali pada rentang normal wanita selama jam pertama pascapartum. Hemoragi.  Abdomen dan uterus . dan adanya sumbatan ductus. inflamasi. Nadi . penyembuhan setiap jahitan.wajah dan leher . cepat. kembali normal selama beberapa jam pertama pascapartum. adanya pembesaran limfe. hematoma. atau perubahan nyata pada penampilan atau tanda-tanda vital. Pengkajian perinium terhadap memar. posisi dan tinggi fundus uteri. adanya kolostrum. Auskultasi jantung dan paru-paru sesuai ondikasi keluhan ibu. Denyut nadi yang meningkat selama persalinan akhir. Periksa ekspresi wajah. apakah payudara terisi susu.Pemeriksaan head to toe  Kepala.

nyeri tekan atau panas pada betis adanya tanda homan. Pemeriksaan penunjang Berupa pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjnag lainnya. kuntitas dan bau lokhea. Berasal dari data – data dasar yang di kumpulkan menginterpretasikan data kemudian diproses menjadi masalah atau diagnosis khusus. II. Pemeriksaan ekstremitas terhadap adanya oedema. Kata masalah dan diagnosis sama – sama digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diidentifikasikan dalam mengembangkan rencana perawatan kesehatan yang menyeluruh. Nyeri setelah melahirkan disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi uterus berurutan yang terjadi secara terus – menerus. Tanda homan didapatkan dengan meletakkan satu tangan pada lutut ibu. Diagnosa sebaiknya memasukkan juga riwayat paritas. PP hari ke2 ibu dan bayi normal Beberapa masalah yang mungkin ada pada masa nifas: 1.type. Alasan nyeri lebih berat pada paritas tinggi adalah penurunan tonus otot uterus secara bersamaan menyebabkan intermitten ( sebentar – . Masalah sering berkaitan dengan bagaimana ibu menghadapi kenyataan tentang diagnosisnya dan ini seringkali bisa diidentifikasi berdasarkan pengalaman bidan dalam mengenali masalah seseorang. Masalah nyeri . Dorsifleksi kai tersebut jika terdapat nyeri pada betis maka tanda homan positif. dan lakukan tekanan ringan untuk menjaga tungkai tetap lurus. Nyeri ini lebih umum terjadi pada wanita dengan paritas tinggi dan pada wanita menyusui. Pemeriksaan anus terhadap adanya hemoroid. refleks. Merumuskan Diagnosa / Masalah Aktual. b. contoh P2OO AH 2 partus aterm spontan.  Ekstremitas .

isapan bayi menstimulasi produksi oksitosin oleh hipofisis posterior. Masalah nyeri yang lain juga bisa disebabkan karena luka jahitan bekas laserasi jalan ahir. dengan bantal atau gulungan selimut diletakkan dibawah abdomen. saat lebih dikenal sebagai demam nifas. . Masalah infeksi . Jika kandung kemih kosong. Kompresi uterus yang konstan pada posisi ini dapat mengurangi kram secara signifikan. Infeksi tidak lagi bertanggung jawab terhadap tingginya insiden mortalitas puerperium seperti dahulu. 2. Nyeri setelah melahirkan akan hilang jika uterus tetap berkontraksi dengan baik. infeksi puerperium masih bertanggung jawab terhadap presentase signifikan morbiditas puerperium.sebentar ). Meskipun produk yang mengandung aspirin tidak direkomendasikan bagi ibu menyusui karena resiko penurunan hitung trombosit dan dapat menyebabkan sindrom Reye. Pelepasan oksitosin tidak memicu refleks let down (pengeluaran ASI) pada payudara. menyebabkan relaksasi dan kontraksi uterus yang lebih nyeri. ibuprofen dan asetaminofen terbukti aman. Ibu harus diingatkan bahwa pengisian kandung kemih yang sering seiring tubuhnya mulai membuang kelebihan cairan setelah melahirkan akan menyebabkan kebutuhan berkemih yang sering. Infeksi puerperium adalah infeksi bakteri yang berasal dari saluran reproduksi selama persalinan atau puerperium. Akan tetapi. Pada wanita menyusui. yang tonus uterusnya masih kuat dan uterus tetap berkontraksi tanpa relaksasi intermitten. Kandung kemih yang penuh menyebabkan posisi uterus keatas. Analgesia yang efektif bagi sebagian besar wanita yang kontraksinya sangat nyeri dapat diperoleh dengan mengutamakan asetaminofen (tylenol) ataupun ibuprofen (motrin). tetapi jugamenyebabkan kontraksi uterus. yang memerlukan kandung kemih kosong. beberapa wanita merasa nyerinya cukup berkurang dengan mengubah posisi dirinya berbaring telungkup. Berbeda pada wanita primipara.

dan penanganan memerlukan diskusi dan kalaborasi dengan dokter. Persalinan lama. selaput ketuban. b. pemeriksaan lebih lanjut. yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir.Beberapa faktor predisposisi : a. Organisme pada infeksi puerperium berasal dari 3 sumber : a. Infeksi saluran genetalia bawah. c. malaise umum. Tertinggalnya sisa placenta. Peningkatan kecepatan nadi dapat terjadi. Bakteri dalam nasofaring atau tangan personel yang menangani persalinan atau di udara dan debu lingkungan. seperti pnemonia. seperti perdarahaan banyak. paling mungkin merupakan akibat sejumlah faktor. juga infeksi lain. Masalah cemas . dan bekuan darah. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh penderita. Cukup sering ibu menunjukkan depresi ringan beberapa hari setelah kelahiran. 3. dan lokia berbau tidak sedap. Tindakan bedah vaginal. atau “ biru postpartum “. Wanita sebaiknya secara rutin di jalani menjalani penapisan terhadap adanya infeksi saluran genetalia bawah dan segera ditangani saat pranatal. preeklamsia. Sumber infeksi ketiga paling baik dicegah dengan mencuci tangan dan teknik asepsis yang cermat. khususnya dengan pecah ketuban. d. terutama pada infeksi berat. Depresi ringan sekilas tersebut. dan sebagainya. c. Penyebab yang menonjol adalah : (1) kekecewaan. emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang dialami kebanyakan wanita selama . b. Bakteri dari sumber infeksi pertama adalah bakteri endogen dan menjadi patogaen hanya jika terdapat kerusakan jaringan atau jika terdapat kontaminasi saluran genetalia dari usus besar. nyeri. Tanda dan gejala infeksi umumnya termasuk peningkatan suhu tubuh. Interpretasi kultur laboratorium dan sensifitas. organisme yang normalnya berada dalam saluran genetalia bawah atau dalam usus besar. penyakit jantung.

dan rasa aman. Efek persalinan pada kandung kemih dan uretra menghilang dalam 24 jam pertama pascapartum. dan (5) Rasa takut menjadi tidak menarik lagi bag suaminya. Begitu depresi postpartum menetap. mengalami Segera kongesti. meskipun kadang kala menetap sampai 10 hari. (4) kekecewaan pada kemampuannya untuk merawat bayinya setelah meninggalkan Rumah Sakit. tetapi pada 90 % kasus. pemehaman. (3) kelelahan karena kurang tidur selama persalinan dan postpartum padak kebanyakan Rumah Sakit. Uretra jarang mengalami obstruksi. Pelvis renalis dan ureter. kandung dapat kemih.edema. (2) Rasa sakit masa awal yang telah diterangkan diatas. gangguan ringan ini hilang sendiri dan biasanya membaik setelah 2 atau 3 hari. kembali normal pada akhir minggu keempat pascapartum. yang meregang dan dilatasi selama kehamilan.kehamilan dan persalinan. Watson dkk (1984) melaporkan bahwa 12 % wanita mengalami gangguan depresif yang secara klinis relevan pada 6 minggu setelah kelahiran. Pada sebagian besar kasus. Sekitar 40 % wanita pascapartum tidak mengalami proteinuria nonpatologis sejak segera setelah melahirkan hingga hari kedua pascapartum. Seperti ditekankan oleh Robinson dan Stewart (1986). atau bertambah buruk. tetapi mungkin tidak dapat dihindari akibat persalinan lama dengan kepala janin dalam panggul. yang memerlukan konsultasi cepat. terapi yang efektif tidak perlu apa – apa kecuali antisipasi. aspek situasional atau masalah jangka panjang mempunyai peranan etiologik yang penting. Gangguan perkemihan . menyebabkan yang overdistensi. dan residu urine yang berlebihan kecuali perawatan diberikan untuk memastikan berkemih secara periodik. Spesimen urine harus berupa urine yang diambil bersih atau . kecuali wanita mengalami infeksi seluruh saluran kemih. setelah dan pascapartum hipotonik. perlu dipertimbangkan yang khusus untuk mencari gejala – gejala depresi psikotik. pengosongan yang tidak lengkap. 4. Para wanita khususnya yang rentan terhadap depresi yang lebih berat adalah mereka yang mengalami kesulitan perkawinan yang besar.

Diuresis mulai segera setelah melahirkan dan berakhir hingga hari kelima pascapartum. Gangguan BAB . Diuresis adalah rute utama tubuh untuk membuang kelebihan cairan intertisial dan kelebihan volume darah. 5. Merumuskan Diagnosa Masalah Potensial Merupakan kegiatan antisipasi. Produksi urine mungkin lebih dari 3000 ml per hari. karena kontaminasi lokia juga akan menghasilkan preeklamsia. menunggu dan waspada. Potensial terjadi infeksi pada jahitan jalan lahir. Pengidentifikasian kemungkinan adanya maslah potensial ini harus didasari atau didukung dengan data baik subyektif maupun obyektif. 6. Di tekankan bahwa wanita baru bersalin memang memerlukan istirahat dalam berjam – jam pertama postpartum. Masalah menyusui . pencegahan jika memungkinkan. tidak jarang maslah ini dapat diatasi. Contohnya. Bila ada obstipasi dan timbul koprostase hingga skibala tertimbun di rectum. serta persiapan untuk segala sesuatu yang terjadi pada ibu postpartum yang dirawat dirumah. perilaku ibu dalam meyusui. Dasar/data pendukung : . pemberian susu formulan. Hal ini merupakan penjelasan terhadap perpirasi yang cukup banyak yang dapat terjadi selama hari – hari pertama pascapartum. Meliputi kemampuan ibu dalam menyusui dengan benar. akan tetapi jika persalinan ibu serba normal tanpa kelainan. Defekasi atau buang air bersih harus ada dalam 3 hari postpartum. mungkin akan terjadi febris. kondisi payudara. Dengan diadakannya mobilisasi sedini – dininya.kateterisasi. maka wanita yang baru bersalin itu bukan seorang penderita dan hendaknya jangan dirawat seperti seorang penderita..dsb. III.

Penatalaksanaan asuhan selama selama pureperium meliputi: . misalnya konseling. Langkah-langkah ini ditetapakan apabila terdapat kondisi pasien yang membutuhkan tindakan segera. misalnya adanya perdarahan yang membutuhkan tindakan rehidrasi dan penentuan penyebab perdarahan. Sedapat mungkin bidan melibatkan mereka semua dalam rencana dan mengatur prioritas serta pilihan mereka untuk setiap tindakan yang dilakukan.- Data Subyektif o Nyeri bila bergerak dan duduk o Ibu belum tahu melakukan vulva hygiene dengan benar - Data Objektif o Luka jahitan masih basah o Pengeluaran lokhia rubra IV. Hasil akhir atau tujuan yang ingin dicapai disusun dengan istilah yang berpusat pada pasien dan diprioritaskan dengan bekerja sama dengan ibu dan keluarga. V. Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera . Beberapa data dapat mengindikasikan adanya situasi darurat di mana bidan harus segera bertindak dalam rangka menyelamatkan jiwa pasien. Bidan yang memberi perawatan postpartum dirumah melanjutkan perawatan dalam berbagai bentuk dan cara. suportif. Merencanakan Asuhan Suatu rencana asuhan diformulasikan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan ibu dan keluarganya. pengajaran dan perujukan yang didasarkan pada tambahan berkelanjutan di dalam data dasar.Kosultasi Dan Kolaborasi Bidan melakukan perannya sebagai penolong dan pengajar dalam mempersiapkan ibu dan keluarganya pada masa postpartum.

B dan C. teknik menyusui dan perawatan payudara atau manajemen laktasi. meliputi: adaptasi pada masa nifas. Pemahaman klienterhadap keadaan dirinya perlu kita bantu. proses involusi. Pelayanan kontrasepsi. Perawatan perinium termsuk pemulihan ketidaknyamanan pasca partum 8. Dalam proses konseling. 2. engorgement. hal tersebut karena klien masih dalamkeadaan lelah akibat persalinan. Melakkukan pengkajian bayi selama kunjungan rumah jika diperlukan. adanya perasaan nyeri setelah bersalin. Perawatan payudara dan Memberi bantuan dalam menyusui 7. senam kegel) istirahat.1. Memberi pedoman tanda-tanda bahaya masa nifas tindakan yang dilakukan 11. Zat besi. proses lokhea. penghilang nyeri. Pemberian pendidikan kesehatan (konseling). eliminasi (ketidakmampuan berkemih) 5. Medikasi (vitamin A. 13. Konseling Yang Bisa Diberikan Pada Ibu Nifas. senam nifas. Pemenuhan kebutuhan mobilisasi (early ambulasi. dan laktasi. antibiotika) 6. Bantuan konseling pada ibu nifas. Bidan memeriksa keadaan fundus uteri dengan penuh kelembutan serta melakukan komunikasi dengan klien dan menerima . bidan sebagai konselor harus mampu mendengarkan klien dan melaksanakan bimbingan dan pelatihan kepada ibu dalam rangka memandirikan ibu dalam merawat dan memenuhi kebutuhan bayinya. Penatalaksanaan puerperium awal Penatalaksanaan puerperium awal meliputi penatalaksanaan perawatan ketika berada di fasilitas kesehatan setelah melahirkan dan ketika kembali ke rumah. Melakukan penapisan kontinu puerperium. Memberi pemulihan dari ketidaknyamanan fisik 3. 10. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi 4. Memfasilitasi pelaksanaan peran sebagai orang tua 9. 12.

keluarga. Tujuan asuhan masa nifas 2. dilakukan juga evaluasi terhadap: 1. Hasil asuhan .segala keluhan klien. jika hasil akhir berikut bisa dicapai : 1. atau anggota kesehatan yang lain. Bagi Peran orang tua baru.Mengevaluasi Asuhan Untuk bisa efektif. evsluasi didasarkan pada harapan pasien yang diidentifikasi saat merencanakan asuhan kebidanan. 2. Bidan membimbing klien dalam melaksanakan proses menyusui yang baik pada prosesrawat gabung. 3. Efektifitas tindakan untuk mengatasi masalah 3. Ibu postpartum mengalami pemulihan fisiologis tanpa komplikasi. 4. dilakukan sesuai rencana berdasarkan kondisi pasien dan kebutuhan. VI. Asuhan yang diberikan. Ibu postpartum mendemostrasikan perawatan yang tepat untuk dirinya dan perawatan terhadap bayinya. Bidan mencontohkan cara memegang bayi dengan kasih saying penuh. Ibu postpartum menyebutkan pengetahuan dasar yang akurat mengenai penkes yang telah diberikan selama asuhan masa nifas oleh bidan atau petugas kesehatan . mereka dapat mendemonstrasikan interaksi yang positif antara satu sama lain terhadap bayi dan anggota keluarga yang lain. Melaksanakan Asuhan Tindakan atau implementasi dapat dikerjakan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dilaksanakan oleh ibu sendiri. Bidan bisa merasa cukup yakin bahwa asuhan yang diberikan cukup efektif. Selain hal-hal diatas. VII.

......................................... No................................................. Mendokumentasikan Asuhan Segala sesuatu data yang kita temukan dan asuhan yang kita berikan pada ibu nifas hendaknya di dokumentasikan.........................Rekam Medis Ruang Dikaji oleh : ........................ Alamat Golongan Darah : .....................VIII..................... ......... Alasan Utama / keluhan .............................................................................................................. Tanggal pengkajian : ............................................. : ................................................... I.... : ................................. : .. : ............. ........ : .................................. : ..... G.................................... Identitas Nama Umur Agama Kebangsaan Pendidikan Pekerjaan Istri : ......... FORMAT PENDOKUMENTASIAN PADA IBU NIFAS ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS Ny...... 2........................ ..........P........... (Kaji keluhan utama yang membuat ibu datang..................... Periksa secara fisik maupun psikologis) ........O.............. ... Suami .......................... jam : ........................ ............. S ( SUBJEKTIF ) 1... : ................................... ............... : .. ....................... DI.

.... : ………… cm : …………..... Tempat melahirkan b. Menit : ………… Jam ……………...3..... Jelaskan jika ada Dipimpin Meneran Kala III Ketuban pecah pukul Amniotomi Banyak air ketuban ………….. Jenis persalinan d. Menit : ………… Jam …………….... Menit : …………... : ada / tidak Vulva Jahitan Perdarahan Total perdarahan :.frekuensi........ : ………………………..... : : ……………........ ...... malam... Lama persalinan Kala I Kala II : ………………………..... Aktivitas dan pola istirahat – tidur 5..... :..... ukuran Kelainan Panjang tali pusat Kelainan Sisa plasenta Komplikasi dalam persalinan : Ya/ Tidak : Ya / Tidak..... Menit : ………… Jam …………….. Penolong c.. Pola nutrisi :siang. Riwayat Persalinan a......... : .. : : ………… Jam …………….... cc : Ada / tidak.................. ml 4. : ……………………….... Jelaskan jika ada …………… : …cm Berat :…… gram : …………………….. :jenis... Plasenta Lahir spontan Dilahirkan dengan indikasi Lengkap......

Pengeluaran ....Konsistensi .Benjolan ........Adanya rasa nyeri : ..... Payudara ........... : . b. Pernapasan 3.......Warna . : : ……………… mmHg : ……………… x/menit : ……………… oC : ……………… x/menit : : ……………... : ……………............Reflek : ………… : ………… : Keadaan jahitan : ....Perineum .......... Keadaan umum : …………………….. Pemeriksaan fisik a....Pengeluaran lochea .TFU ....Bendungan ASI Tanggal : Jam : 1.Puting susu .........Jumlah : ………….... : …. Tanda – tanda vital a..cc .Bau .... : ………… cm : ...... : ……………........ .Kandung kemih c... Ekstremitas .....Anus d.. Tekanan darah b.Konsistensi : …………… .. Anogenital .. Nadi c.. : ..... : …………… : ……………..II. .. Suhu tubuh d..Oedema ..... Abdomen ..... O (Objektif) 2..

Protein urine . A (ANALISA) Diagnosa ……………………………………………………………………………. P (PENATALAKSANAAN) Tanggal : Jam : Bidan ( ) . Masalah ……………………………………………………………………………… IV.Pemeriksaan laboratorium . Pemeriksaan penunjang ...4.Glukosa urine : …………… : …………… : …………… III.Hb .

2009. Jakarta : Buku Kedokteran EGC . Jakarta : Salemba Medika 2.DAFTAR PUSTAKA 1. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Bahiyatun. 2009. Asuhan Kebidananan Pada Masa Nifas. Saleha Sitti.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful