LAPORAN AKUNTAN INDEPENDEN ATAS PENERAPAN PROSEDUR YANG TELAH DISEPAKATI BERSAMA KOMISI PEMILIHAN UMUM

Laporan akuntan independen atas penerapan prosedur yang telah disepakati bersama ketua komisaris pemilihan umum telah dilakukan oleh KAP Usman & Rekan dengan atas nama Drs. Usman Tiro CPA yang dilakukan pada tanggal 7 September 2009. Laporan akuntan independen atas prosedur yang telah disepakati di tujukan kepada komisi pemilihan umum yang diketuai oleh ketua komisaris pemilihan umum. Objek dalam laporan ini hanya sebatas mengenai laporan keuangan pendukung terkait, Laporan Penerimaan dan Penggunaan Dana Kampanye, RKDK, LDK Penerimaan Awal, LDK Penerimaan I dan LDK Penerimaan II. Dengan dilaksanakannya prosedur yang telah disepakati kedua belah pihak bahwa kecukupan dari prosedur yang disepakati tersebut merupakan tanggung jawab KPU, maka akuntan tidak memberikan pernyataan seperti yang diuraikan dalam Bagian Prosedur dan Temuan/Hasil dari Prosedur, Akuntan tidak memberikan pernyataan baik untuk tujuan pelaporan maupun tujuan lainnya karena akuntan tidak ditugasi dan tidak melakukan perikatan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh IAPI dengan tujuan untuk menyatakan pendapat atas kewajaran penyajian LPPDK maupun efektivitas pengendalian internal atas pelaporan LPPDK. Alinea 1 (Paragraf Pengantar) Isinya : Kami telah melaksanakan prosedur yang disepakati yang diterapkan atas Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Kampanye Pemilu (LPPDK) Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 beserta laporan pendukung terkait dari Pasangan Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Calon Wakil Presiden Boediono dan Tim Kampanye Nasional. Prosedur tersebut telah disepakati oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang bertujuan untuk membantu KPU dalam memahami dan memantau ketaatan pencatatan, pengelolaan, dan pelaporan LPPDK oleh Pasangan Calon dan Tim Kampanyenya seperti yang disyaratkan oleh perundang-undangan, serta ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku. Analisis : Perikatan prosedur yang disepakati telah dilaksanakan berdasarkan standar

yang ditetapkan oleh IAPI. Akuntan menyatakan bahwa dirinya tidak bertanggung jawab atas memadainya prosedur ini (dimana dalam hal ini menjadi tanggung jawab pemakai laporan) sehingga akuntan tidak membuat representasi atas laporan. Alinea 2 (Paragraf Lingkup) Isinya : Kami melaksanakan perikatan prosedur yang disepakati berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Kecukupan dari prosedur yang disepakati tersebut merupakan tanggung jawab KPU. Sebagai konsekuensinya, kami tidak membuat representasi tentang kecukupan prosedur yang disepakati seperti yang

baik untuk tujuan pelaporan maupun tujuan lainnya. Seandainya kami diminta untuk melaksanakan prosedur tambahan. dan pelaporan LPPDK oleh Pasangan Calon dan Tim Kampanyenya seperti yang disyaratkan oleh perundang-undangan. kami tidak menyatakan pendapat atasnya. 2. mungkin terdapat hal-hal lain yang dapat kami ketahui dan kami laporkan kepada KPU. pengelolaan. Sehingga dari lingkup diatas auditor tidak membuat representasi tentang kecukupan prosedur seperti yang disepakati dan diuraikan dalam Bagian Prosedur dan Temuan/Hasil dari Prosedur. baik untuk tujuan pelaporan maupun tujuan lainnya. Melaporkan hasil pelaksanaan prosedur yang disepakati kepada KPU. Penerimaan laporan-laporan tersebut didokumentasikan dalam Tanda Terima Penyerahan LPPDK. Karena tujuan awal auditor hanya untuk membantu KPU dalam memahami dan memantau ketaatan pencatatan. penyajian. 3. Akses terhadap bukti pendukung atas LPPDK beserta laporan pendukung terkait diberikan langsung oleh TKN kepada KAP tanpa perlu melalui KPU. auditor melaksanakan auditnya atas dasar pengujian. 5. Perikatan umum ini hanya mencakup audit atas kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh klien. serta ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku. Dalam perikatan umum. Alinea 3 (Paragraf Pendapat) Isinya : Kami tidak ditugasi dan tidak melakukan perikatan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh IAPI dengan tujuan untuk menyatakan pendapat atas kewajaran penyajian LPPDK maupun efektivitas pengendalian internal atas pelaporan LPPDK.diuraikan dalam Bagian Prosedur dan Temuan/Hasil dari Prosedur. dan pelaporan LPPDK sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku. bukan berdasarkan pemeriksaan dari seluruh bukti. Menerapkan prosedur yang disepakati atas LPPDK beserta laporan pendukung terkait. Analisis : Auditor menyampaikan pesan bila: 1. Menerima LPPDK beserta laporan pendukung terkait sesuai dengan tingkatannya dari Pasangan Calon dan tim kampanye terkait yang disampaikan melalui KPU. 4. Memperoleh surat representasi dari Pasangan Calon dan Tim Kampanye terkait yang menegaskan tanggung jawab Pasangan Calon dan tim kampanye tersebut atas penyusunan. . Oleh karena itu.

. 2. Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup auditnya. Sehingga kalimat ini dapat dikatakan sebagai suatu pernyataan oleh auditor bahwa ia telah membuat simpulan positif mengenai lingkup pekerjaan audit yang telah dilaksanakan. Analisis : Paragraf penjelas ini mengidentifikasikan keterbatasan audit yang dapat dilaksanakan oleh auditor. yaitu bahwa pendapat auditor yang hanya menegaskan penggunaan laporan audit yang mereka buat sebatas yang digunakan oleh KPU dan juga tidak bertanggungjawab atas kecukupan prosedur karena tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan secara rinci. sehingga laporan audit ini disebut dengan laporan tanpa pendapat(no opinion report). Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan kliennya. Yang ditegaskan disaat auditor menyatakan bila auditor tidak ditugasi dan tidak melakukan perikatan audit sesuai dengan standar auditing sesuai yang ditetapkan IAPI.Analisis : Pernyataan tidak memberikan pendapat (Disclaimer of Opinion) Auditor menyatakan tidak memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan. Alinea 4 (Paragraf Penjelas) Isinya : Laporan ini hanya dimaksudkan untuk digunakan oleh KPU dan tidak diperkenankan untuk digunakan oleh pihak-pihak yang tidak menyepakati prosedur tersebut dan yang tidak bertanggungjawab atas kecukupan prosedur untuk tujuan mereka. Kondisi yang menyebabkan auditor menyatakan tidak menyatakan pendapat adalah dikarenakan alasan sebagai berikut: 1. Kami tidak mempunyai kewajiban untuk memutakhirkan laporan kami setelah tanggal laporan ini. Auditor dalam hal ini tidak cukup memperoleh bukti mengenai kewajaran laporan keuangan auditan. Hal ini ditegaskan ketika auditor menyatakan “seumpama ia diberi wewenang untuk melakukan prosedur tambahan” yang berarti ada ketidak independenan hubungannya dengan kliennya.