LPPOM - MUI

Lampiran 1. Contoh Halaman Pengesahan

MANUAL SJH PERUSAHAAN “XYZ”

Disiapkan oleh (KAHI)

Disahkan oleh (Perwakilan Manajemen)

Panduan Sistem Jaminan Halal

42

LPPOM - MUI

Lampiran 2. Contoh Daftar Distribusi Manual

No 1. 2. Pembelian QA/QC Dst

Divisi

Personel Mr. Buyer Mr. Quality

Tandatangan

Tanggal 01/01/08 01/01/08

Panduan Sistem Jaminan Halal

43

dst Panduan Sistem Jaminan Halal 44 .6 Hala man 51 Keterangan Penambahan bahan dan pemasok baru 2. 03/03/08 II Lampiran 12 65 II Lampiran12 65 Perubahan tim AHI 3.6 Hala man 50 Dokumen Hasil Revisi Edisi I Bab Lampiran 4.MUI Lampiran 3. Contoh Daftar Revisi Dokumen Perubahan NO 1. Tanggal 02/02/08 Dokumen yang direvisi Edisi I Bab Lampiran 4.LPPOM .

Menjamin system produksi adalah bersih dan bebas dari bahan yang tidak halal dan najis Panduan Sistem Jaminan Halal 45 . Kita akan mencapainya melalui : 1.MUI Lampiran 4. Contoh Kebijakan Halal PT XYZ mempunyai komitmen untuk memproduksi produk halal secara konsisten dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen termasuk konsumen muslim.LPPOM . Menjamin seluruh produk akhir yang dibuat untuk pasar Indonesia disertifikasi oleh LPPOM MUI 2. Menjamin seluruh bahan yang digunakan dalam pembuatan produk-produk kami adalah halal 3.

2. Panduan Halal PANDUAN HALAL A. Oleh karena itu dalam bab ini disampaikan kedudukan ketetapan hukum dalam Islam agar dapat diterima mengapa hal tersebut dapat terjadi. 4. sehingga memerlukan penjelasan lebih lanjut. berdasarkan pada kaidah-kaidah pengambilan dan penentuan hukum.MUI Lampiran 5. Al-Hadist: merupakan penjabaran aplikatif dari kaidah-kaidah Qur’aniyyah yang bersifat tetap. PENGANTAR Sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi pangan. Qiyas: merupakan metoda penentuan hukum secara analogi. dalam bab ini disampaikan pula dasar hukum dari Al Quran serta fatwa MUI terbaru tentang status bahan. sekaligus juga penjelasan lebih lanjut terhadap kaidah-kaidah yang bersifat umum 3. Panduan Sistem Jaminan Halal 46 . dan sebagiannya masih bersifat umum. Al Qur’an : hukumnya bersifat tetap.LPPOM . Untuk memberikan pemahaman tentang pengertian halal haram. dan tidak ada ketentuannya secara khusus di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. atas hal-hal yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Kedudukan ketetapan hukum dalam Islam : 1. seperti dengan metode qiyas atau ijma’. karena meluasnya wilayah da’wah serta perkembangan kehidupan sosial. Ijma Shahabat: merupakan kesepakatan para shabat Nabi saw dan ulama atas permasalahan yang terjadi. Namun keputusan ijma’ itu tentu didasarkan pada pemahaman mereka atas Al-Qur’an maupun Al-Hadits. setelah ditemukan adanya hal-hal meragukan maka bisa menjadi berubah fatwanya. yang diambil berdasarkan pada kasus yang telah ditentukan Al-Qur’an maupun Al-Hadits 5. Fatwa: adalah keputusan hukum agama yang dibuat dengan ijtihad (ulama). status bahan yang dulu difatwakan halal.

Al-Baqarah 172-173 : “Hai orang-orang yang beriman.LPPOM . PRINSIP-PRINSIP TENTANG HUKUM HALAL DAN HARAM 1. C. Haram adalah sesuatu yang Allah SWT melarang untuk dilakukan dengan larangan yang tegas. Menyiasati yang haram. kebanyakan makanan termasuk halal kecuali secara khusus disebutkan dalam Al Qur’an atau Hadits. Sesuatu yang diharamkan karena ia buruk dan berbahaya. Niat baik tidak menghapuskan hukum haram. 9. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian”. 10. Halal adalah boleh. Sesuatu yang haram adalah haram untuk semua. Pada dasarnya segala sesuatu halal hukumnya.MUI Lampiran 5. 6. 7. Pada sesuatu yang halal sudah terdapat sesuatu yang dengannya tidak lagi membutuhkan yang haram. Al-Baqarah 168 : “ Hai sekalian umat manusia makanlah dari apa yang ada di bumi ini secara halal dan baik. 8. haram hukumnya. Setiap orang yang menentangnya akan berhadapan dengan siksaan Allah di akhirat. Dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syetan. 2. Bahkan terkadang juga terancam sanksi syariah di dunia ini. HALAL DAN HARAM BERDASARKAN AL QUR’AN 1. PENGERTIAN HALAL DAN HARAM 1. Sesuatu yang mengantarkan kepada yang haram maka haram pula hukumnya. Pada kasus makanan. Hati-hati terhadap yang syubhat agar tidak jatuh ke dalam yang haram. 4. (lanjutan) B. 2. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram termasuk perilaku syirik terhadap Allah SWT. 5. makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Panduan Sistem Jaminan Halal 47 . 2. D. 3. Penghalalan dan pengharaman hanyalah wewenang Allah SWT semata.

maka apakah kalian berhenti dari mengerjakan pekerjaan itu. 7. Dan diharamkan pula bagi kalian binatang yang disembelih di sisi berhala”. Sesungguhnya syetan itu hendak menimbulkan permusuhan dan perbencian di antara kalian lantaran meminum khamr dan berjudi dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat. 6. kecuali bangkai.LPPOM . Al-Maidah 3 : “Diharamkan bagi kalian bangkai. jika benar-benar kepada-Nya kalian menyembah. daging babi dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah.MUI Lampiran 5. yang tercekik. sedangkan ia tidak berkehendak dan tidak melampaui batas. Al-A’raf 157 : “Dia menghalalkan kepada mereka segala yang baik dan mengharamkan kepada mereka segala yang kotor” Panduan Sistem Jaminan Halal 48 . Barang siapa dalam keadaan terpaksa. 9. Al-Maidah 90-91 : “Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya meminum khamr. yang dipukul. yang ditanduk. 5. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”. yang jatuh. dan yang diterkam binatang buas kecuali yang kalian sempat menyembelihnya. Al-Anam 145 : “Katakanlah. (lanjutan) Allah. mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. mengharamkan bagi kalian bangkai.” 8. darah. berjudi. Barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas. hewan yang disembelih dengan atas nama selain Allah. Al-Maidah 96 : “Dihalalkan untuk kalian binatang buruan laut dan makanannya”. saya tidak mendapat pada apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi yang memakannya. berkorban untuk berhala. maka tidaklah berdosa. Sesungguhnya Allah hanya 3. 4. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. darah yang tercurah. darah. daging babi. daging babi karena ia kotor atau binatang yang disembelih dengan atas nama selain Allah. maka tidaklah berdosa.

Minuman beralkohol adalah : a) minuman yang mengandung etanol dan senyawa lain di antaranya metanol. Rumus umum senyawa alkohol tersebut adalah R-OH atau Ar-OH di mana R adalah gugus alkil dan Ar adalah gugus aril. e. Alkohol/Ethanol a. (lanjutan) E. Alkohol adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apapun yang memiliki gugus fungsional yang disebut gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon. asetaldehida. a. tidak dikategorikan khamr tetapi haram untuk dikonsumsi. atau b) minuman yang mengandung etanol dan/atau metanol yang ditambahkan dengan sengaja. d. Meminum minuman beralkohol sebagaimana dimaksud hukumnya haram. Panduan Sistem Jaminan Halal 49 . b. 2. baik dimasak ataupun tidak. Khamr adalah setiap minuman yang memabukkan. c. dan etilasetat yang dibuat secara fermentasi dengan rekayasa dari berbagai jenis bahan baku nabati yang mengandung karbohidrat.LPPOM .MUI Lampiran 5. dan minuman beralkohol adalah tidak najis jika alkohol/ethanolnya berasal dari bukan khamr. baik dari anggur atau yang lainnya. dikategorikan sebagai khamr. Minuman yang diproduksi dari proses fermentasi yang mengandung kurang dari 1% ethanol. b. Khamr a. Alkohol sebagaimana dimaksud yang berasal dari khamr adalah najis. b. Sedangkan alkohol yang tidak berasal dari khamr adalah tidak najis. Minuman yang dikategorikan khamr adalah najis. Minuman beralkohol adalah najis jika alkohol/etanolnya berasal dari khamr. FATWA MUI UNTUK BEBERAPA BAHAN 1. Minuman yang mengandung minimal 1% ethanol.

tidak bisa disertifikasi halal serta tidak boleh dikonsumsi walaupun ingredien yang digunakan adalah halal. kosmetika. dan obat-obatan. flavor babi. hukumnya: haram. apabila secara medis membahayakan. hukumnya haram. 3. Hasil Samping Industri Khamr a. dan obat-obatan. hukumnya: mubah.MUI Lampiran 5. kosmetika dan obat-obatan. contohnya flavor rum. Komponen bahan yang diperoleh dari industri khamr melalui pemisahan secara fisik adalah haram (contohnya iso amil alkohol). selama tidak terdeteksi pada produk akhir. Flavor Yang Menyerupai Produk Haram Flavor yang menggunakan nama dan mempunyai profil sensori produk haram. minuman. (lanjutan) f. bahan baru tersebut adalah halal. Penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan. minuman. dan lain-lain. apabila secara medis tidak membahayakan. Penggunaan alcohol/etanol yang berasal dari industri non khamr di dalam produksi pangan diperbolehkan. Fusel oil yang berasal dari hasil samping industri khamr adalah haram dan najis b.LPPOM . Ketentuan Umum Panduan Sistem Jaminan Halal 50 . Produk Mikrobial A. kosmetika. 4. h. i. tetapi apabila direaksikan untuk menghasilkan bahan baru. 5. minuman. g. Penggunaan alkohol/etanol hasil industri khamr untuk produk makanan. Penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan.

d. Mikroba dan produk mikrobial dari mikroba yang memanfaatkan unsur babi sebagai media pertumbuhan hukumnya haram. Ketentuan Hukum a. Panduan Sistem Jaminan Halal 51 . dan asam amino.LPPOM . B. Produk mikrobial adalah produk yang diperoleh dengan bantuan mikroba yang dapat berupa sel mikroba itu sendiri atau berupa hasil metabolisme mikroba. e. Produk mikrobial dari mikroba yang tumbuh pada media pertumbuhan yang suci hukumnya halal. apabila dapat dipisahkan antara mikroba dan medianya maka hukumnya halal setelah disucikan. pelarut organik. asam organik. Mikroba pada dasarnya halal selama tidak membahayakan dan tidak terkena barang najis. b. g. c. (lanjutan) a. Mikroba yang tumbuh pada media pertumbuhan yang suci hukumnya halal. Mikroba yang tumbuh pada media pertumbuhan yang najis. f. Mikroba adalah organisme mikroskopik yang berukuran sekitar seperseribu milimeter (1 mikrometer) dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan alat bantu mikroskop. b. apabila dapat dipisahkan antara mikroba dan medianya maka hukumnya halal setelah disucikan.MUI Lampiran 5. Produk mikrobial dari mikroba yang tumbuh pada media pertumbuhan yang najis. yakni melalui produksi dengan komponen air mutlaq minimal dua qullah [setara dengan 270 liter]) hukumnya halal. vitamin. antara lain berupa protein. Mikroba dan produk mikrobial dari mikroba yang tumbuh pada media pertumbuhan yang terkena najis kemudian disucikan secara syar'i (tathhir syar'an).

pemisahan fasilitas produksi harus dilakukan mulai dari tempat penyimpanan bahan.MUI Lampiran 5. formulasi. Bagi industri yang memproduksi produk halal dan non halal maka untuk menghindari terjadinya kontaminasi silang. proses produksi dan penyimpanan produk jadi. yang meliputi antara lain pengulitan. b) Memahami tata cara penyembelihan secara syar'i. Pengolahan adalah proses yang dilakukan terhadap hewan setelah disembelih. Standar Penyembelih a) Beragama Islam dan sudah akil baligh. c) Kondisi hewan harus memenuhi standar kesehatan hewan yang ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan.LPPOM . Gagal penyembelihan adalah hewan yang disembelih dengan tidak memenuhi standar penyembelihan halal. Ketentuan Hukum a. dan pemotongan daging. Penggunaan Alat Bersama a. b. b. b. B. Panduan Sistem Jaminan Halal 52 . d. Suatu peralatan tidak boleh digunakan bergantian antara produk babi dan nonbabi meskipun sudah melalui proses pencucian. Ketentuan Umum a. 7. b) Hewan harus dalam keadaan hidup ketika disembelih. Stunning adalah suatu cara melemahkan hewan melalui pemingsanan sebelum pelaksanaan penyembelihan agar pada waktu disembelih hewan tidak banyak bergerak. Penyembelihan adalah penyembelihan hewan sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Penyembelihan Hewan A. (lanjutan) 6. pencincangan. Standar Hewan Yang Disembelih a) Hewan yang disembelih adalah hewan yang boleh dimakan. c.

pengangkutan (seperti pengapalan/shipping).MUI Lampiran 5. mulai dari penyiapan (seperti pengepakan dan pemasukan ke dalam kontainer). Standar Proses Penyembelihan a) Penyembelihan dilaksanakan dengan niat menyembelih dan menyebut asma Allah. Penyimpanan.LPPOM . e. c) Penyembelihan dilakukan dengan satu kali dan secara cepat. disunnahkan untuk dihadapkan ke kiblat. Panduan Sistem Jaminan Halal 53 . d) Dalam proses pengiriman daging. d) Memastikan adanya aliran darah dan/atau gerakan hewan sebagai tanda hidupnya hewan (hayah mustaqirrah). Standar Alat Penyembelihan a) Alat penyembelihan harus tajam. harus ada informasi dan jaminan mengenai status kehalalannya. c) Penyimpanan dilakukan secara terpisah antara yang halal dan nonhalal. dan Pengiriman a) Pengolahan dilakukan setelah hewan dalam keadaan mati oleh sebab penyembelihan. Standar Pengolahan. c. (lanjutan) c) Memiliki keahlian dalam penyembelihan. e) Memastikan matinya hewan disebabkan oleh penyembelihan tersebut. saluran pernafasan/tenggorokan (hulqum/trachea). b) Hewan yang gagal penyembelihan harus dipisahkan. Lain-Lain a) Hewan yang akan disembelih. f. dan dua pembuluh darah (wadajain/vena jugularis dan arteri carotids). b) Penyembelihan dilakukan dengan mengalirkan darah melalui pemotongan saluran makanan (mari'/esophagus). hingga penerimaan. gigi/taring atau tulang d. b) Alat dimaksud bukan kuku.

serta tidak digunakan antara hewan halal dan nonhalal (babi) sebagai langkah preventif. b. Air dua kullah adalah air yang volumenya mencapai paling kurang 270 liter. 5) Penetapan ketentuan stunning. Air Daur Ulang A. tanpa didahului dengan stunning (pemingsanan) dan semacamnya. c. Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan air daur ulang adalah air hasil olahan (rekayasa teknologi) dari air yang telah digunakan (musta'mal).MUI Lampiran 5. dan d. c. tidak menyebabkan kematian serta tidak menyebabkan cedera permanen. dan teknis pelaksanaannya harus di bawah pengawasan ahli yang menjamin terwujudnya syarat a. yakni rasa. 2) 3) bertujuan untuk mempermudah penyembelihan. d) Melakukan penggelonggongan hewan. Panduan Sistem Jaminan Halal 54 . dan bau (mutaghayyir) sehingga dapat dimanfaatkan kembali. hukumnya haram. 8. b. Ketentuan Umum a. (lanjutan) b) Penyembelihan semaksimal mungkin dilaksanakan secara manual. pelaksanaannya sebagai bentuk ihsan. warna. b. c) Stunning (pemingsanan) untuk mempermudah proses penyembelihan hewan hukumnya boleh. bukan untuk menyiksa hewan.LPPOM . pemilihan jenis. dengan syarat: 1) stunning hanya menyebabkan hewan pingsan sementara. terkena najis (mutanajjis) atau yang telah berubah salah satu sifatnya. 4) peralatan stunning harus mampu menjamin terwujudnya syarat a.

(lanjutan) B. selama tidak membahayakan kesehatan. mensucikan najis dan istinja’.MUI Lampiran 5. Daging Panduan Sistem Jaminan Halal 55 . 2) Alat bantu yang digunakan harus suci. c) Thariqah Taghyir: yaitu dengan cara mengubah air yang terkena najis atau yang telah berubah sifatnya tersebut dengan menggunakan alat bantu yang dapat mengembalikan sifat-sifat asli air itu menjadi suci lagi mensucikan (thahir muthahhir). sepanjang diproses sesuai dengan ketentuan fikih. serta unsur najis dan semua sifat yang menyebabkan air itu berubah menjadi hilang. sehingga yang tersisa tinggal air yang aman dari najis dan yang tidak berubah salah satu sifatnya.LPPOM . Air daur ulang adalah suci mensucikan (thahir muthahhir). dengan syarat: 1) Volume airnya lebih dari dua kullah. b. mandi. b) Thariqah al-Mukatsarah: yaitu dengan cara menambahkan air suci lagi mensucikan (thahir muthahhir) pada air yang terkena najis (mutanajjis) atau yang berubah (mutaghayyir) tersebut hingga mencapai volume paling kurang dua kullah. digunakan untuk memasak dan untuk kepentingan lainnya. Ketentuan Hukum a. Beberapa Contoh Bahan Kritis 1. F. serta halal diminum. c. Ketentuan fikih sebagaimana dimaksud dalam ketentuan hukum nomor 1 adalah dengan salah satu dari tiga cara berikut : a) Thariqat an-Nazh: yaitu dengan cara menguras air yang terkena najis atau yang telah berubah sifatnya tersebut. Air daur ulang sebagaimana dimaksud dalam angka 1 boleh dipergunakan untuk berwudlu.

c. Peralatan/pisau (harus tajam) d. b. Harus ada kecocokan antara dokumen dengan fisik (kemasan.LPPOM . dan sebagainya. Lemak b. bukan berasal dari darah dan tidak bercampur dengan bahan haram atau najis. Proses pasca penyembelihan (hewan harus benar-benar mati sebelum proses selanjutnya dan darah harus keluar secara tuntas). Penyembelih (harus seorang muslim yang taat dan melaksanakan syariat Islam sehari-hari). (lanjutan) Daging yang berasal dari hewan halal dapat menjadi tidak halal jika disembelih tanpa mengikuti aturan syariat Islam. b. Berikut ini disampaikan contoh – contoh bahan turunan hewani / mungkin berasal dari turunan hewani : a. c. Harus dilengkapi dengan sertifikat halal dari lembaga yang diakui LP POM MUI. Harus ada kecocokan antara sertifikat halal dengan dokumen lain. Protein c. Gelatin Panduan Sistem Jaminan Halal 56 . dan sebagainya).MUI Lampiran 5. Harus ada kecocokan nomor lot. Untuk daging impor perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini: a. Hal-hal yang menjadi titik kritis proses penyembelihan adalah sebagai berikut : a. Pemingsanan (tidak menyebabkan hewan mati sebelum disembelih). 2. dan lainlain) e. plant number. tanggal penyembelihan. d. Bahan Turunan Hewani Bahan turunan hewani berstatus halal dan suci jika berasal dari hewan halal yang disembelih sesuai dengan syariat Islam. Harus dilengkapi dengan dokumen pengapalan dan dokumen lainnya (kesehatan. label.

Hormon (contoh : insulin) p. Di/trikalsium fosfat k. Tepung plasma darah l. akan tetapi jika diproses menggunakan bahan tambahan dan penolong yang tidak halal. turunan susu dan hasil sampingnya yang diproses menggunakan enzim (contoh: keju. B6. Kolagen e. Gliserol/gliserin (E422) h. tripsin) q.pepsin. maka bahan tersebut menjadi tidak halal. Media pertumbuhan mikroba (contoh : blood agar) o. Asam amino (contoh : sistein. Fibrinogen n.LPPOM . whey. Oleh karena itu perlu diketahui alur proses produksi beserta bahan tambahan dan penolong yang digunakan dalam memproses suatu bahan nabati. Taurin r.MUI Lampiran 5. Arang aktif v. Enzim dari pankreas babi/sapi (amilase. Garam atau ester asam lemak (E470-E495) g. Bahan Nabati Bahan nabati pada dasarnya halal. Asam lemak dan turunannya (E430-E436) f. kasein/kaseinat) t. D. Produk susu. laktosa. Beberapa vitamin (contoh: vitamin A. lipase. Kuas 3. fenilalanin. (lanjutan) d. dan sebagainya) i. E) u. Konsentrat globulin m. Berikut ini disampaikan beberapa contoh bahan nabati yang mungkin menjadi titik kritis: Panduan Sistem Jaminan Halal 57 . Edible bone phosphate (E521) j. Plasenta s.

kasein atau gelatin menggunakan asam atau Panduan Sistem Jaminan Halal 58 . isobutil alkohol. b. Beberapa contoh produk hasil samping industri minuman beralkohol dan turunannya yang merupakan titik kritis : a. seperti daging. Produk mikrobial yang dalam proses pembuatannya melibatkan enzim dari bahan yang haram. aseton dan diasetil dan sebagainya). gliserol. asetaldehid. Produk Mikrobial Status produk mikrobial dapat menjadi haram jika termasuk dalam kategori berikut : a. Produk mikrobial yang jelas haram. Produk mikrobial yang menggunakan media dari bahan yang haram pada media agar. Contoh media yg haram atau diragukan kehalalannya diantaranya : darah. 2.MUI Lampiran 5. Akan tetapi jika bahan/produk tersebut direaksikan secara kimiawi sehingga menghasilkan senyawa baru. Brewer yeast (merupakan hasil samping industri bir) Tartaric Acid (hasil samping industri wine) 5. propil alkohol. Cognac oil (merupakan hasil samping distilasi cognac/brandy) Fusel Oil (merupakan hasil samping distilled beverages) dan turunannya seperti isoamil alkohol. propagasi dan produksi. b.3 butanadiol. pepton (produk hasil hidrolisis bahan berprotein enzim). c. yaitu produk minuman beralkohol (khamr) beserta produk samping dan turunannya. (lanjutan) 4. d. c. maka senyawa baruyang telah mengalami perubahan kimiawi statusnya menjadi halal.LPPOM . Produk Hasil Samping Industri Minuman Beralkohol dan Turunannya Produk/bahan hasil samping industri minuman beralkohol beserta turunannya berstatus haram jika cara memperolehnya hanya melalui pemisahan secara fisik dan produk masih memiliki sifat khamr.

MUI Lampiran 5.LPPOM . coli rekombinan dengan gen dari jaringan pankreas babi. coli rekombinan. gliserol atau bahan lainnya. Produk mikrobial yang dalam proses pembuatannya menggunakan bahan penolong yang haram. e. Produk mikroba rekombinan yang menggunakan gen yang berasal dari bahan yang haram. (lanjutan) d. c) Hormon pertumbuhan (human growth hormone) yang dihasilkan oleh E. b) Hormon insulin yang dihasilkan oleh E. berikut ini adalah contoh bahan/kelompok bahan lain yang belum sering menjadi titik kritis.  Aspartam (terbuat dari asam amino fenilalanin dan asam aspartat)  Pewarna alami  Flavor  Seasoning  Bahan pelapis vitamin  Bahan pengemulsi dan penstabil  Anti busa  Dan lain-lain Panduan Sistem Jaminan Halal 59 . Contohnya adalah sebagai berikut : a) Enzim -amilase dan protease yang dihasilkan oleh Saccharomyces cerevisae rekombinan dengan gen dari jaringan hewan. Bahan-Bahan Lain Selain kelompok bahan-bahan di atas. Contohnya adalah penggunaan anti busa dalam kultivasi mikroba yang dapat berupa minyak/lemak babi. 6.

bukan bahan nabati yang sudah mendapat status keharaman terlebih dahulu.LPPOM . 1. Pohon Keputusan untuk Identifikasi Titik Kritis Keharaman A. Panduan Sistem Jaminan Halal 60 . opium. Identifikasi Titik Kritis Bahan Nabati Bahan nabati Pengolahan ? Tidak Non TK Ya Kultivasi Mikrobial ? Ya Tidak Fermentasi Khamr? + Bahan Tambahan ? Tidak Tidak Ya Non TK TK Haram Ya TK Catatan :  TK : Titik Kritis  Non TK : Tidak Kritis  TK untuk bahan dikaji lebih lanjut pada Prosedur Penetapan Status Bahan  Bahan nabati yang di periksa dalam penetapan titik kritis ini adalah bahan nabati yang status awalnya halal. dan lain-lain. kokain. seperti ganja.MUI Lampiran 6. Identifikasi Titik Kritis Bahan A.

tulang.LPPOM . dll) Ada Pengolahan ? Apakah daging dan hasil samping berasal dari Hewan Halal ? Ya Tidak Tidak Ya TK Non TK Haram Apakah Hewan disembelih sesuai dengan Syari’at Islam dan memiliki SH MUI atau lembaga yang diakui LP POM MUI ? Tidak Ya Tidak Boleh Digunakan Ada Pengolahan lanjutan Ya Tidak TK Non TK Panduan Sistem Jaminan Halal 61 .MUI Lampiran 6. kulit. Identifikasi Titik Kritis Bahan Hewani Bahan Hewani Susu. Ikan Daging dan hasil samping (lemak. (lanjutan) A. Telur.2.

(lanjutan) A.4. A.MUI Lampiran 6. baik media penyegaran hingga media produksi (bisa nabati atau hewani).3. Identifikasi Titik Kritis Produk Mikrobial Produk Mikrobial TK   Semua produk mikrobial merupakan titik kritis Titik kritis terletak pada media. Identifikasi Titik Kritis Bahan Lain-lain Bahan Lain-lain Bahan Tambang Sintetik Campuran TK Non TK Organik Non Organik Apakah Mengandung Bhn Penolong TK Tidak Non TK Ya TK Panduan Sistem Jaminan Halal 62 .LPPOM .

penyimpanan bahan dan produk untuk produk disertifikasi dg non sertifikasi terpisah ? Ya Tidak dapat disertifikasi Ya Non TK Tidak Apakah prosedur sanitasi yang dilakukan dapat menghilangkan lemak. Identifikasi Titik Kritis Penyimpanan dan Lini Produksi Apakah semua Produk disertifikasi halal ? Ya Tidak Apakah ada peluang terkontaminasi Bahan-bahan haram/najis ? Apakah produk sejenis non sertifikasi menggunakan merk yang sama ? Ya Tidak Apakah bahan untuk produk non sertifikasi mengandung babi atau hasil sampingnya Ya TK 1 Tidak Non TK Tidak dapat disertifikasi Tidak Apakah lini produksi.MUI Lampiran 6. (lanjutan) B.LPPOM . bau. warna + rasa? Tidak Ya Apakah ada peluang terkontaminasi bahan-bahan haram/najis ? Ya TK 2 Tidak Non TK 63 Tidak dapat disertifikasi Panduan Sistem Jaminan Halal .

TK1 adalah kontaminasi dari lingkungan (hewan piaraan. Untuk TK 2 perlu dilakukan pencegahan melalui pemisahan secara fisik dan administrasi antara bahan untuk produk yang disertifikasi halal dan yang tidak. tempat penyimapanan bahan atau produk yang disertifikasi dan yang tidak disertifikasi harus terpisah secara nyata. 4.LPPOM . 8. Karyawan dilarang untuk membawa makanan dan minuman ke ruang produksi. minuman). (lanjutan) Catatan : 1. Panduan Sistem Jaminan Halal 64 . 6. Penutupan tempat-tempat terbuka yang memungkinkan terjadinya kontaminasi. Untuk TK1 Perlu dilakukan pencegahan dengan cara : 1. tidak mengandung babi atau bahan turunan dari babi. 3. burung. Lini produksi. LP POM MUI merekomendasikan agar perusahaan yang mengajukan sertifikat halal mensertifikat selmua produknya pada semua pabrik dan lini produksi yang dimilikinya. maka produk yang tidak disertifikasi tidak boleh menggunakan merek yang sama dengan produk yang disertifikasi. 2. 2. 5. 7. Perusahaan harus menjaga agar produk yang disertifikasinya tidak tercemar dengan barang haram dan janis.MUI Lampiran 6. Jika perusahaan hanya mensertifikasi sebagain produknya. TK2 adalah kontaminasi silang dari bahan-bahan yang tidak disertifikasi (bahanbahan haram atau najis selain babi). cicak dan lainlain) dan karyawan (katering. makanan.

Panduan Sistem Jaminan Halal 65 .LPPOM .MUI Lampiran 6. Jika distribusi dilakukan oleh pihak ketiga harus dibuat sistem distribusi yang bisa menjamin bahwa distribusi dilakukan terpisah antara produk yang disertifikasi dan non sertifikasi. TK 2 dapat dicegah dengan penggunaan kemasan distribusi yang dapat mencegah kontaminasi silang. (lanjutan) C. sehingga harus menggunakan wadah yang dapat mencegah terjadinya kontaminasi silang. 2. TK 1 adalah dimana kondisi produk dalam keadaan curah. Identifikasi Titik Kritis Distribusi Apakah semua produk yang didistribusikan bersertifikat Halal ? Tidak Apakah alat distribusi berbeda ? Ya Non TK Tidak Ya Non TK Apakah produk non sertifikasi halal mengandung babi dan hasil sampingnya ? Ya Tidak disertifikasi Tidak Ada kemasan ? Ya Apakah kemasan dapat mencegah kontaminasi silang ? Ya Non TK Tidak TK2 Tidak TK1 Catatan : 1. 3.

(lanjutan) D.MUI Lampiran 6.LPPOM . Identifikasi Titik Kritis Pemajangan (Display) Apakah semua produk yang dipajang bersertifikat Halal ? Ya Non TK Tidak Apakah pemajangan terpisah secara nyata Ya Non TK Tidak Apakah produk non sertifikasi halal mengandung babi ? Ya TK1 Tidak Ada kemasan ? Ya Non TK Tidak TK2 Catatan :  TK1 dan TK2 = tidak boleh dilakukan sama sekali Panduan Sistem Jaminan Halal 66 .

LPPOM . Identifikasi Titik Kritis Penyembelihan Apakah penyembelih beragama Islam ? Ya Apakah penyembelih memahami dan menjalankan proses penyembelihan sesuai Syari’at Islam Tidak TK1 Ya Apakah dilakukan pemingsanan ? Tidak Ya Tidak Tidak dapat SH TK2 Apakah digunakan pisau tajam Ya Tidak TK3 Apakah hewan mati sempurna & darah keluar sempurna Ya Tidak TK4 Apakah darah/ bangkai dimanfaatkan Tidak Non TK Catatan : TK1 TK2 : dicegahdengan cara pembinaan terhadap penyembelih : dicegah dengan menggunakan teknik stunning dengan peralatan tertentu yang tidak menyebabkan hewan mati sebelum disembelih dan harus dilakukan pemeriksaan secara rutin terhadap : dicegah dengan cara mengontrol pisau yang digunakan dan diperiksa ketajamannya setiap saat. (lanjutan) E.MUI Lampiran 6. : dicegah dengan cara menetapkan tenggang waktu tertentu yang menjamin hewan dapat sudah benar-benar mati dan darah keluar dengan tuntas sebelum diproses lebih lanjut (perendaman air panas dan pengulitan) Ya Tidak dapat SH TK3 TK4 Panduan Sistem Jaminan Halal 67 .

Bahan dalam kategori daftar bahan yg tidak dapat digunakan tidak boleh ada di areal pabrik. Prosedur ini berlaku untuk semua produsen dan pemasok 2. Keluaran dari prosedur penetapan status bahan adalah daftar bahan yang dapat dipakai sebagai acuan untuk auditor halal internal. 4.LPPOM . Bahan yang dapat digunakan harus dilengkapi dokumen pendukung berupa spesifikasi bahan. atau produk khamr) Sertifikasi Halal Tidak Ya Tidak Apakah memiliki SH MUI dan masih berlaku? Tidak Ya Tidak Ya Kajian LP POM MUI Bermasalah Tidak Bermasalah Halal Bahan tidak dapat digunakan Catatan : Bahan dapat digunakan 1. surat rekomendasi atau sertifikat halal dari LP POM MUI atau Lembaga Sertifikasi Halal luar negeri yg direkomendasi LP POM MUI 6. Bahan dalam kategori daftar bahan yg dapat digunakan. sedangkan bahan yg melalui sertifikasi halal dilengkapi dengan sertifikat halal MUI. Bahan yang melalui proses kajian LP POM MUI dilengkapi dengan rekomendasi LP POM MUI. Panduan Sistem Jaminan Halal 68 . (lanjutan) PROSEDUR PENETAPAN STATUS BAHAN Apakah bahan merupakan Produk Impor ? Ya Apakah memiliki SH MUI atau Lembaga Luar Negeri yang diakui MUI dan masih berlaku? Tidak Apakah ada kemungkinan mengandung bahan yang diragukan ? (biasanya bahan hewani. 5. 3. sebelum diimplementasikan harus disahkan terlebih dahulu oleh LP POM MUI.MUI Lampiran 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful