You are on page 1of 7

PROFIL TANAH

MOH. FIKRI POMALINGO G 621 08 010 I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Manusia yang hidup di permukaan bumi amat tergantung kepada tanah. Sebaliknya suatu tanah pertanian yang baik ditentukan pula oleh sampai sejauh mana manusia itu cukup terampil mengelolanya, sehingga justru bukan kebalikannya yang terjadi yakni kesalahan dalam pengelolaannya akan dapat mengakibatkan kerusakan-kerusakan tanah dipandang dari kesuburannya. Tanah itu adalah tubuh alam (natural body) yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam (natural forces) terhadap bahan-bahan alam (natural material) di permukaan bumi. Tanah secara vertikal berdifferensiasi membentuk horizon-horizon (lapisan-lapisan) yang berbeda-beda baik dalam morfologis seperti ketebalan dan warnanya, maupun karakteristik fisik, kimiawi, dan biologis masing-masing sebagai konsekuensi bekerjanya faktor-faktor lingkungan terhadap bahan induk maupun bahan-bahan eksternal, berupa bahan organik sisa-sisa biota yang hidup di atasnya dan mineral nonbahan-induk yang berasal dari letusan gunung api atau yang terbawa oleh aliran air. Susunan horizon-horizon tanah dalam lapisan permukaan bumi setebal 100-120 cm disebut sebagai profil tanah. Umumnya profil tanah telah memiliki dua atau lebih horizon utama.

Tanah tersusun dari air, udara, dan bagian padat yang terdiri dari bahan-bahan mineral dan organik yang berperan dalam pertumbuhan tanaman. Dalam kondisi alam, perbandingan udara dan air selalu berubah-ubah, tergantung pada iklim dan faktor lainnya. Tanah merupakan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia. Tanah dapat digunakan untuk medium tumbuh tanam-tanaman yang mampu menghasilkan makanan, sandang, obatobatan serta keperluan lainnya. 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari pengamatan profil tanah adalah untuk mengetahui sifat-sifat fisik tanah serta faktorfaktor yang mempengaruhinya. Kegunaan dari pengamatan profil tanah adalah untuk memperlihatkan perbedaan dan karakteristik pada berbagai lapisan tanah serta menentukan jenis pengelolaan tanah lebih lanjut. II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah Alfisol Molisol yang lebih lembab (udol) terjadi di kawasan basah dengan pohon sebagai vegetasi alami. Banyak teori telah dikemukakan untuk menerangkan padang rumput yang sangat luas yang terdapat di Iowa dan Illionois. Di sepanjang perbatasan Molisol yang lebih basah terdapat daerah tanah luas yang dikembangkan di bawah pohon-pohon dengan epipedon okrik, horison bawah permukaan argilik (horison aluvial dari penimbunan tanah liat silikat), dan kejenuhan basa yang sama atau agak lebih rendah daripada Molisol di dekatnya. Tanah-tanah ini adalah Alfisol

Hal ini umumnya dianggap bergerak ke bawah namun juga berdimensi horison. 1986). Tanah Alfisol memiliki pH ysng sering kali berubah dengan meningkatnya kedalaman dan kecenderungan lebih tinggi pada bagian bawah profil dan sejumlah bahan-bahan glasial sampai ke suatu karbonat bebas dengan pH 8. bahan induk biasanya lebih tua daripada di daerah dingin. Perkembangan struktur yang berbeda di antara horison merupakan morfologi yang khas dari Alfisol. Di Indonesia. Alfisol diartikan oleh horison argilik yaitu horison B yang paling sedikit mengandung 1. Tanah Alfisol memiliki struktur tanah yang liat.35 me/100 gram tanah. Kandungan P dan K sangat tergantung dengan umur dan macam tuff. Di daerah basah. Di daerah dingin.2 Pembentukan Tanah Alfisol Dan Yang Mempengaruhinya Tanah Alfisol terbentuk dari bahan-bahan yang mengandung karbonat dan tidak lebih tua dari Pleistosin. pembentukan tanah alfisol memerlukan waktu sekitar 2000 sampai 7000 tahun yang berdasarkan tingkat perkembangan horisonnya (Munir. 2004).5 – 7. Tanah-tanah mediteran (Alfisol) terdapat di kaki bukit dan dataran berombak pada gunung berapi tua. tidak memperlihatkan bercakbercak gley. dan bukit-bukit biasanya berasosiasi Gromol sebagai suatu peralihan dari tanah Latosol Coklat Kemerahan ke Grumosol. Bentukan dari tuff vulkan biasanya mempunyai tekstur yang ringan.0. pH dan kejenuhan basa yang tinggi serta kandungan P dan K yang rendah. KTK 25 . hampir semuanya berasal dari bahan induk yang berkapur dan masih muda. yaitu ditemukan mineral liat kristalin yang sedang jumlahnya dan terjadi akumulasi liat kristalin tersebut di horison B yang jumlahnya memenuhi syarat horison argilik. Tanah Alfisol kebanyakan ditemukan di daerah beriklim sedang. Luas areal tanah mediteran ini meliputi luas 350. 2. Tanah-tanah yang mempunyai kandungan liat tinggi di horizon B (horizon argilik) dibedakan menjadi tanah Alfisol (pelapukan belum lanjut) dan tanah Ultisol (pelapukan lanjut). 1996). 1994). Pembentukan tanah Alfisol memerlukan waktu ± 5000 tahun karena lambatnya proses akumulasi liat untuk membentuk horison argilik.(Foth.2 kali liat lebih besar daripada liat di atasnya. atau kandik. Morfologi yang khas dari Alfisol dicirikan oleh horison permukaan umumnya berwarna terang karena dipengaruhi oleh beberapa jenis mineral seperti kuarsa yang dapat mempengaruhi warna tanah Alfisol lebih terang (Foth. Ada dua syarat yang diperlukan pembentukan tanah Alfisol.000 hektar (Hakim. gumpal membulat. 1982). mempunyai bercakbercak dari besi dan mangan yang biasanya terdapat konkresi di bawah pada bajak dan mempunyai selaput liat pada ped surfaces. batu kapur. Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci ke bawah bersama gerakan air. 1985) sebagai Abrupat Tekstural Change (perubahan tekstur yang sangat ekstrim) (Buckman dan Brady. dkk. dimana terakhir berhubungan erat dengan perkembangan akar (Hanafiah. tetapi dapat pula ditemukan di daerah tropika dan subtropika terutama di tempat-tempat dengan tingkat pelapukan sedang (Hardjowigeno. Translokasi liat tersebut terjadi dalam . 1994). Dalam banyak pola Alfisol digambar adanya perubahan tekstur yang sangat jelas dalam jarak vertikal yang sangat pendek dikenal dalam taksonomi tanah (USDA. Tanah Alfisol dapat ditemukan pada wilayah dengan temperatur sudang/sub tropik dengan adanya pergantian musim hujan dan musim kering. pH bervariasi sekitar 6.0 lebih tinggi. Horison pada utamanya memperlihatkan struktur bersudut atau kubus. kejenuhan basa lebih dari 50%. 2003). teguh (kering) atau agak gambur (lembab). Tanah-tanah yang berkembang dari batuan kapur.

Alfisol adalah tanah yang relatif muda.0). Dengan pencucian karbonat ini tanah lapisan atas menjadi lebih masam kadang-kadang sampai mencapai pH 4. pada kedalaman 2-10 cm. Pencucian liat berjalan secara mekanik (lessivage) bersama air perkolasi. Mineral-mineral resisten seperti kuarsa menjadi lebih banyak di horison A dan rasio SiO2/R2O3 menjadi lebih besar dari Bt. Pembentukan Horison Albik. Keadaan lingkungan yang memungkinkan terbentuknya horison spodik. Oleh karena itu. karena akar-akar halus tanaman hutan tidak terlalu banyak masuk ke dalam tanah seperti daerah padang rumput.1 Letak Administratif Lokasi tempat penelitian profil tanah adalah di wilayah Ex-Farm Fakultas Pertanian Universitas . Horison albik kadangkadang juga mengandung juga mengandung cukup banyak bahan organik tetapi tidak berwarna. Proses biocycling unsur hara dan basa-basa dari subsoil ke horison O dan A merupakan proses yang penting untuk tanah Udalf. Pembentukan Epipedon Okhrik (Horison A). sehingga warna tanah menjadi coklat (braunification). yaitu air perkolasi tidak cukup banyak sehingga tidak dapat meresap lebih jauh ke dalam tanah. mineral liat kristalin dan kaya unsur hara. tetapi yang utama adalah di daerah beriklim sedang yang bersifat humid atau subhumid. Pengendapan Argillan.8-5. Pencucian karbonat dari lapisan atas merupakan prasyarat untuk pembentukan Alfisol. mollik atau horison lain yang bukan argilik tidak terdapat. KEADAAN UMUM LOKASI 3. Besi sebagai flocculant dengan kekuatan sedang mengalami pencucian dari lapisan atas setelah karbonat. Di daerah tropika ditemukan di tempat yang lebih muda daripada daerah-daerah Ultisol dan Oxisol. penyaringan oleh pori-pori halus yang tersumbat.5-7. III. Pencucian Besi dan Braunifikasi.lingkungan agak masam atau dalam lingkungan ”sodik alkaline”. dan diendapkan di horison B. Kalsium karbonat (dan bikar-bonat) merupakan flocculant yang kuat sehingga dalam pembentukan Alfisol. sedang reaksi tanah di subsoil menjadi lebih masam (pH 4. karbonat perlu dicuci lebih dulu agar plasma menjadi lebih mudah bergerak bersama dengan air perkolasi. Bahan organik tidak tercampur terlalu dalam dengan bahan-mineral.8). dan flokulasi liat bermuatan negatif oleh besi oksida yang bermuatan positif di horison Bt dan oleh kejenukan basa yang lebih tinggi setelah kemarau panjang mendorong pembentukan Alfisol (Hardjowigeno. dengan bahan induk relatif muda dan stabil paling sedikit selama beberapa ribu tahun. 2003). Bahan organik yang terdapat di permukaan tanah dicampur dengan bahan mineral oleh cacing atau hewan-hewan lain. masih banyak mengandung mineral primer yang mudah lapuk. menutup pori-pori tanah sehingga air perkolasi lambat bergerak. Horison ini terbentuk sebagai akibat pencucian liat dan bahan organik. butir-butir tanah yang mengembang. Hal ini dapat menyebabkan reaksi tanah di permukaan menjadi hampir netral (pH 6. sedang proses mineralisasi sedikit sekali terjadi. Terjadinya pengendapan liat (argillan) bersama seskuioksida dan bahan organik di horison Bt disebabkan oleh beberapa hal. Beberapa jenis Alfisol ada yang memiliki horison E yang jelas berwarna pucat yang disebut horison albik (misalnya tanah Albaqualf).5. Proses pembentukan Alfisol melalui urutan sebagai berikut : Pencucian Karbonat. sehingga terbentuk lapisan mull (horison A). atau di tempat-tempat dengan bahan induk mafic. Alfisol ditemukan di banyak zone iklim.

4. Adapun bahan-bahan yang digunakan pada saat pengambilan sampel tanah adalah tanah. Keadaan di lokasi adalah C2-C3 dengan curah hujan rata-rata berkisar 800-1500 mm. 3.1 Tempat dan Waktu Pengamatan profil tanah dilaksanakan di Ex-Farm Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar pada hari Minggu. sedangkan penggunaan lahan pada lokasi pengambilan sampel tanah profil dangkal adalah tanah persawahan. Daerah ini termasuk iklim C.Sebelah Timur : Laboratorium Peternakan .3 Topografi Topografi merupakan perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah. papan ukuran 10 x 15 cm. dan pohon pisang. kantong plastik. dan ring sampel.4 Vegetasi Vegetasi pada tempat pengambilan sampel tanah di profil dalam adalah subur. pohon mangga. Keadaan topografi di tempat pengambilan profil tanah adalah datar dengan persen kelerengannya adalah 0% .6 Penggunaan Lahan Penggunaan lahan pada lokasi pengambilan sampel tanah profil dalam adalah tanah perkebunan.2 Iklim Iklim merupakan faktor yang amat penting dalam proses pembentukan tanah. dengan tanaman utama berupa rumput ilalang dan tanaman lain berupa bambu. dan kertas label. 4.Lubang penampang harus besar. .Tanah bekas galian tidak ditumpuk di atas sisi penampang pemeriksaan. di tempat miring penampang pada dinding teratas.5 Jenis Tanah Jenis tanah pada daerah pengamatan profil tanah menurut USDA adalah jenis tanah Alfisol dan menurut ISSS merupakan jenis tanah mediteran merah kuning.3 Prosedur Kerja 4.Mengeluarkan air di dalam penampang jika berair sebelum pengambilan.Ukuran penampang 1. Sedangkan pada tempat pengambilan sampel tanah pada profil dangkal adalah vegetasinya subur. meteran. BAHAN DAN METODE 4. secara administratif terletak pada : . . Suhu dan curah hujan sangat berpengaruh terhadap intensitas reaksi fisik di dalam tanah.Sebelah Barat : Kebun Ex-Farm Ilmu Tanah 3.2 Alat dan Bahan Adapun alat-alat yang digunakan pada saat pengambilan sampel tanah profil adalah cangkul.Hasanuddin Makassar. linggis. IV. sesuai dengan pembagian iklim Schmit Fergussan. . 3.Sebelah Selatan : Politeknik .00 WITA – selesai. tanggal 01 April 2007. pada pukul 09.5 x 1 m sampai bahan induk dan memilih pemeriksaan di sisi lubang penampang yang mendapat sinar matahari. supaya orang dapat mudah duduk atau berdiri di dalamnya dan pemeriksaan dapat berjalan dengan sempurna. dengan tanaman utama berupa rumput dan tanaman lainnya berupa pohon jati. cutter.3%. 3. sekop. sendok tanah. 3. . termasuk perbedaan kecuraman dan bentuk lereng.Sebelah Utara : Pemukiman penduduk . air.1 Pembuatan Profil .3.

Hal ini sependapat dengan Hardjowigeno (2003).3.Memisahkan ring sampel kedua dari ring sampel pertama dengan hati-hati. kemudian menekan lagi sampai bagian bawah masuk ke dalam tanah. PEMBAHASAN Pembahasan Berdasarkan pada tabel di atas.36 cm dan berwarna coklat kehitaman. terlihat bahwa setiap tanah mempunyai horison-horison yang berbeda. kemudian memotong kelebihan tanah yang ada pada permukaan ring sampel. karena hanya gulungan tanah kurang dari 1 cm yang dapat terbentuk.2.3. . Tidak adanya karatan disebabkan adanya keseimbangan antara oksidasi dan reduksi yang terjadi di dalam tanah. 4. yang menjelaskan bahwa bila tanah kadang-kadang basah kadang-kadang kering.Menutup ring sampel dengan plastik. . Konsistensinya lepas karena tanah tidak melekat satu sama lain.Meletakkan ring sampel lain tepat di atas ring sampel pertama.134 cm. dan tidak ada karatan. Penyebab lainnya adalah adanya perbedaan nyata dari sifat retraktif (aksi pembiasan cahaya) komponen padatan tanah dan udara.1 Sampel Tanah Utuh ..2 Pengambilan Sampel Tanah 4. Memiliki tekstur lempung berliat dan struktur sedang karena pada saat pengambilan profil butir-butir struktur agak kuat dan tidak hancur atau rusak. kemudian meletakkan ring sampel tegak lurus pada lapisan tanah tersebut. dan tidak ada karatan. 4. Memiliki karatan Fe yang berwarna agak merah bata. Konsistensinya agak plastik. Memiliki tekstur lempung berliat dan struktur sedang. karena pada saat pengambilan profil butir-butir struktur agak kuat dan tidak hancur atau rusak.Meratakan dan membersihkan lapisan yang akan diambil. Warna gelap tersebut terjadi karena dipengaruhi oleh kandungan bahan organik yang tinggi yang terdekomposisi. karena di dalam bahan organik terjadi peristiwa immobilisasi.2. Memiliki tekstur liat berdebu dan struktur yang halus. .Melakukan pengamatan pada sinar matahari cukup (tidak terlalu pagi atau sore).121 cm dan berwarna coklat muda.35 cm dengan warna coklat. dimana ion Fe. V. . terdapat bercakbercak karatan di tempat-tempat dimana udara dapat masuk sehingga terjadi oksidasi besi di . Al.Mengambil tanah dengan sendok tanah atau pisau sesuai dengan lapisan yang akan diambil. lapisan I memiliki kedalaman lapisan 0 . Lapisan I pada profil dalam mempunyai kedalaman lapisan 0 . Tidak adanya karatan disebabkan adanya keseimbangan antara oksidasi dan reduksi yang terjadi di dalam tanah. dan Mn berpengaruh besar dalam perombakan bahan organik sehingga ion-ion tersebut mudah difiksasi oleh ion P. karena tanah tidak melekat satu sama lain. Hal ini dituturkan oleh Hardjowigeno (2003).3. Lapisan III pada profil dalam berwarna coklat muda dengan kedalaman lapisan 121 . Pada profil dangkal. Terbentuk karatan Fe karena terjadinya reduksi besi ke bentuk larutan dan oksidasi yang menyebabkan terjadinya presipitasi. .Menggali ring sampel beserta tanah di dalamnya dengan sekop dan linggis. . Konsistensinya lepas. Konsistensinya gembur. Lapisan II pada profil dalam mempunyai kedalaman lapisan 36 .Menekan ring sampel sampai ¾ bagiannya masuk ke dalan tanah.2 Sampel Ring Terganggu . karena diperlukan sedikit tekanan untuk menghancurkan gumpalan tanah dengan meremasnya. Tidak memiliki karatan karena adanya keseimbangan antara oksidasi dan reduksi yang terjadi di dalam tanah. Memiliki tekstur liat dan struktur halus.Memasukkan tanah ke dalam kantong plastik yang telah diberi kertas label. lalu menyimpannya dalam kotak khusus yang telah disediakan.

VI.1. konsistensi tanah lepas. struktur sedang. Jakarta Foth. Lapisan II pada profil dangkal memiliki kedalaman 35 .35 cm dengan warna coklat. struktur halus. 6. . tekstur liat. Memiliki tekstur liat berdebu dan struktur yang halus. Yogyakarta . 1994. Ilmu Tanah. KESIMPULAN DAN SARAN 6. tekstur lempung berdebu. struktur halus.134 cm dengan warna tanah coklat muda. struktur halus. topografi batas lapisan berombak. Memiliki karatan Mn yang berwarna hitam seperti arang. memiliki batasan lapisan berangsur. Bharata Karya Aksara. DAFTAR PUSTAKA Buckman dan Brady. Oleh karena itu seluruh tanah umumnya berwarna merah atau coklat.1. konsistensi tanah lepas. 1982. dan tidak ada karatan.Lapisan II mempunyai kedalaman 36 . topografi batas lapisan rata. topografi batas lapisan berombak. dan tidak ada karatan.. Adanya karatan menunjukkan bahwa udara masih dapat masuk ke dalam tanah sehingga terjadi oksidasi di tempat tersebut. tekstur lempung berliat.2 Profil Dangkal .67 cm dengan warna abu-abu. Karatan Mn terjadi karena terjadinya reduksi mangan ke bentuk larutan dan oksidasi yang menyebabkan terjadinya presipitasi yang berwarna hitam seperti arang. 6. konsistensi tanah gembur.Lapisan III mempunyai kedalaman 121 . dan terdapat karatan Mn. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno (2003) bahwa bila air tidak pernah menggenang sehingga tata udara dalam tanah selalu baik. tetapi apabila diremas tidak meninggalkan noda hitam di tangan.Lapisan II mempunyai kedalaman 35 . struktur sedang.1 Profil Dalam . dan terdapat karatan Fe.tempat tersebut. batasan lapisan nyata.121 cm dengan warna tanah coklat muda.1 Kesimpulan 6. topografi batas lapisan berombak.36 cm dengan warna coklat kehitaman. tekstur liat berdebu. konsistensi agak plastik. . tekstur lempung berliat. dan tidak ada karatan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gajah Mada University Press. konsistensi agak plastik. maka seluruh profil tanah dalam keadaan oksidasi . maka sebaiknya ditanami dengan tanaman yang berproduksi tinggi dengan perawatan yang baik. memiliki batasan lapisan baur.2 Saran Berdasarkan dari pengamatan yang telah dilakukan bahwa tanah yang dipakai pada percobaan ini merupakan tanah yang cukup subur. Konsistensinya agak plastik karena hanya gulungan tanah kurang dari 1 cm yang dapat terbentuk. Hendry D.67 cm dengan warna abu-abu. Erlangga.Lapisan I mempunyai kedalaman 0 . batasan lapisan nyata. . topografi batas lapisan berombak. memiliki batasan lapisan baur.Lapisan I mempunyai kedalaman 0 .

Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung Hardjowigeno. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. A. Sarwono. Akademika Pressindo.Hakim.. Universitas Lampung. 2003. 1986. M. Pustaka Jaya.. Jakarta . Jakarta Munir. M. N. M. H. Yusuf Nyakpa. Bailey. Sutopo Ghani Nugroho. Amin Diha. H. H. Lubis. 1996. Go Ban Hong. Tanah-Tanah Utama Indonesia.