LAPORAN INDIVIDU

CHOLECISTITYS

OLOEH:

I GEDE MADE INDRA PUTRA WISNAWA (1002053)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESAHATAN BETHESDA
YOGYAKARTA 2011

DEFINISI Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang merupakan inflamasi akut dinding kandung empedu disertai nyeri perut .Kolesistitis adalah peradangan kandung empedu baik secara akut maupun kronis.Kolesistitis Akut adalah peradangan dari dinding kandung empedu, biasanyamerupakan akibat dari adanya batu empedu di dalam duktus sistikus, yang secaratiba-tiba menyebabkan serangan nyeri yang luar biasa.Kolesistitis Kronis adalah peradangan menahun dari dinding kandung empedu, yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri perut yang tajam dan hebat.Cholesistektomy adalah bedah pengangkatan kandung empedu (biasanya untuk relief batu empedu sakit) . ANFIS HATI Hati dan kandung empedu terletak di perut kanan bagian atas, dan keduanya dihubungkan oleh suatu saluran yang dikenal sebagai duktus biliaris (saluran

empedu).Meskipun memiliki saluran penghubung dan keduanya berperan dalam fungsi yang sama, tetapi hati dan kandung sangat berbeda satu sama lain. Hati berbentuk seperti baji dan merupakan pabrik kimia pada tubuh manusia.Hati merupakan suatu organ kompleks yang melaksanakan berbagai fungsi vital, mulai dari mengatur kadar bahan kimia dalam tubuh sampai menghasilkan zat-zat pembekuan darah. Kandung empedu berbentuk seperti buah pirdan merupakan tempat penyimpanan empedu (cairan pencernaan yang dihasilkan oleh hati).

HATI

Hati merupakan organ tubuh yang paling besar dan paling kompleks.Salah satu fungsi utamanya adalah menghancurkan zat-zat yang berbahaya yang diserap dari usus atau dibuat di bagian tubuh lainnya, kemudian membuangnya sebagai zat yang tidak berbahaya ke dalam empedu atau darah.Zat di dalam empedu ini masuk ke dalam usus lalu dibuang melalui tinja.Zat di dalam darah disaring oleh ginjal dan dibuang melalui air kemih. Hati menghasilkan sekitar separuh kolesteroltubuh, sisanya berasal dari makanan. Sekitar 80% kolesterol yang dibuat di hati digunakan untuk membuat empedu. Kolesterol merupakan bagian penting dari setiap selaput sel dan diperlukan untuk membuat hormon-hormon tertentu (termasuk hormon estrogen, testosteron dan hormon adrenal). Hati juga merubah zat-zat di dalam makanan menjadi protein, lemak dan karbohidrat. Gula disimpan di dalam hati sebagai glikogen dan kemudian dipecah serta dilepaskan ke dalam aliran darah sebagai glukosa, sesuai dengan kebutuhan tubuh (misalnya ketika kadar gula darah terlalu rendah). Fungsi lainnya dari hati adalah membuat berbagai senyawa penting, terutama protein, yang digunakan tubuh untuk menjalankan fungsinya. Salah satu senyawa yang dihasilkan, diperlukan dalam proses pembekuan darah ketika terjadi perdarahan. Senyawa ini dikenal sebagai faktor pembekuan.Hati menerima darah dari usus dan jantung.Pembuluh darah kecil (kapiler) di dinding usus mengalirkan darahnya ke dalam vena porta, yang akan masuk ke dalam hati. Selanjutnya darah mengalir melalui saluransaluran kecil di dalam hati, dimana zat gizi yang dicerna dan berbagai zat yang berbahaya diproses.Arteri hepatika membawa darah dari hati ke jantung.Darah ini membawa oksigen untuk jaringan hati, kolesterol dan zat lainnya.Darah dari usus dan jantung kemudian bercampur dan mengalir kembali ke dalam jantung melalui vena hepatika.

ETIOLOGI a. Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut, memiliki batu empedu. Kadang suatu infeksi bakteri menyebabkan terjadinya peradangan.Kolesistitis akut tanpa batu merupakan penyakit yang serius dan cenderungtimbul setelah terjadinya:      cedera, pembedahan luka bakar sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh) penyakit-penyakit yang parah (terutama penderita yang menerima makanan lewatinfus dalam jangka waktu yang lama).

.Kolesistitis kronis terjadi akibat serangan berulang dari kolesistitis akut, yang menyebabkan terjadinya penebalan dinding kandung empedu dan penciutankandung empedu.Pada akhirnya kandung empedu tidak mampu menampung empedu.Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan angka kejadiannya meningkatpada usia diatas 40 tahun.

b. Obstruksi duktus sistikus dengan distensi dan iskemia vesika bilaris. Sumbatan batu empedu pada duktus sistikus menyebabkan distensi kandung empedu dan gangguam aliran darah dan limfe, bakteri komensal kamudian berkembang biak. c. Cedera kimia (empedu) dan atau mekanik (batu empedu) pada mukosa d. Infeksi bakteri. Adanya kuman seperti E. Coli, salmonela typhosa, cacing askaris, atau karena pengaruh enzim – enzim pankreas. PATOFISIOLOGI Kandung empedu memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan cairan empedu dan memekatkan cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara mengabsorpsi air dan elektrolit. Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel hati. Pada individu normal, cairan empedu mengalir ke kandung empedu pada saat katup Oddi tertutup. Dalam kandung empedu, cairan empedu dipekatkan dengan mengabsorpsi air. Derajat pemekatannya diperlihatkan oleh peningkatan konsentrasi zat-zat padat.Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut. Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis empedu, dapat menyebabkan infeksi kandung empedu. TANDA DAN GEJALA Timbulnya gejala bisa dipicu oleh makan makanan berlemak. Gejala bisa berupa: 1. Tanda awal dari peradangan kandung empedu biasanya berupa nyeri di perut kanan bagian atas. 2. Nyeri bertambah hebat bila penderita menarik nafas dalam dan sering menjalar ke bahu kanan. 3. Biasanya terdapat mual dan muntah. 4. Nyeri tekan perut 5. Dalam beberapa jam, otot-otot perut sebelah kanan menjadi kaku. 6. Pada mulanya, timbul demam ringan, yang semakin lama cenderung meninggi.

Jika pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan kadar enzim amilase. Nyeri perut yang tidak jelas (samar-samar) 10. mungkin telah terjadi peradangan pankreas (pankreatitis) yang disebabkan oleh penyumbatan batu empedu pada saluran pankreas (duktus pankreatikus). Serangan yang disertai jaundice (sakit kuning) atau arus balik dari empedu ke dalam hati menunjukkan bahwa saluran empedu telah tersumbat sebagian oleh batu empedu atau oleh peradangan. Vitamin yang dapat membantu penyembuhan: . 8. Serangan nyeri berkurang dalam 2-3 hari dan kemudian menghilang dalam 1 minggu.7. Penderita yang memiliki resiko pembedahan tinggi karena keadaan medis lainnya. menggigil. PEMERIKSA PENUNJANG     CT scan perut Kolesistogram oral USG perut. gangren atau perforasi kandung empedu. Demam tinggi. Bisa diberikan antasid dan obat-obat antikolinergik. 2. KOMPLIKASI 1. Kolesistektomi bisa dilakukan melalui pembedahan perut maupun melalui laparoskopi. peningkatan jumlah leukosit dan berhentinya gerakan usus (ileus) dapat menunjukkan terjadinya abses. Sendawa. Gangguan pencernaan menahun 9. 3. blood tests (looking for elevated white blood cells) PENATALAKSANAAN     Pengobatan yang biasa dilakukan adalah pembedahan. dianjurkan untuk menjalani diet rendah lemak dan menurunkan berat badan.

Kolesistitis AkutMerupakan reaksi inflamasi akut dinding kandung empedu. JENIS KOLESISTITIS A. Gejala nyeri perut bertambah bila makan banyak lemak 6. Lesitin : membantu mengurangi tumpukan lemak dan kolesterol dalam liver. jeruk. Diam karena menahan nyeri . Membiasakan makan buah dan sayuran. Mekanisme klinis : 1.1. gemuk dan berusia diatas 40 tahun. Vit B Complex : membantu membersihkan kandung empedu secara efisiensi. mual muntah 2. Nyeri perut kanan atas atau kadang tidak enak diepigastrium 3. oat bran dan pektin (jenis serat yang sifatnya larut air dan dapat membantu menurunkan kolesterol) pada apel. 4. cacing askaris. 2. wortel. 3. salmonella typhosa. Biasakan minum air sedikitnya 8 gelas setiap hari. 2. Demam dan ikterus (bila terdapat batu diduktus koledokus sistikus) 5. dan oyong berguna mencegah dan membantu menghancurkan batu empedu. 4. Umumnya pada wanita. Vit E : mencegah dan melarutkan batu empedu. PENCEGAHAN 1. Kurangi karbohidrat halus. Sumbatan batu empedu pada duktus sistikus menyebabkan distensi kandung empedu dan gangguan aliran darah darah dan limfe. bakteri komensal kemudian berkembang biak. Penyebab lain adalah kuman E. Coli. Etiologi : Umunya kolesistitis disebabkan oleh batu empedu. atau karena pengaruh enzim – enzim pancreas. kacang polong. Nyeri menjalar kebahu atau scapula 4. Jaga berat badan ideal dengan pola makan tinggi serat. gula dan lemak. 3. 5. kubis. Temulawak : mengandung khasiat antiradang dan antiracun untuk membantu menurunkan kolesterol jahat. Gangguan pencernaan. Extra Vit C : untuk mengurangi timbunan kolesterol.

Leukositosis ringan 2. Koleskintigrafi radionuklida (Scan Tc – HIDA) : memperlihatkan obstruksi duktus sistikus 6.demam. Foto polos radiologi : kadang terlihat batu empedu 5. Penatalaksanaan : 1. Fosfatase alkali dan serum transaminase meningkat 4. lambung atau kolon Kolesistitis emfisematosa : proses peradangan akut yang melibatkan organisme virulen pembentuk gas Empisema vesika biliaris : berlanjut supurasi (banyak pus dalam vesika biliaris) . nyeri tekan disertai tanda – tanda peritonitis lokal. nyeri lokal dandefans muskular. Bilirubin serum meningkat 4 mg/100 ml 3. Pemeriksaan penunjang : 1.Pemeriksaan fisik : Pasien tampak sakit akut. kombinasi aminoglikosida. ERCP atau PTC : untuk menyingkirkan atau mengkonfirmasi adanya abstruksi duktus sistikus. Konservatif pada keadaan akut     Hidrasi intravena Istirahat baring Mendekompresi lambung bila ada ileus puasa. takikardi. kandung empedu membengkak. intubasi nasogaster mencegah rangsangan vesika biliaris bersamaan dengan analgesia parenteral Antibiotika : sefalosporin generasi kedua. teraba vesika biliaris pada sepertiga pasien. Koleksistektomi 4 sampai 6 minggu kemudian Komplikasi : Septikemia Pembentukan abses di dalam lumen vesika biliaris Nekrosis dengan perforasi lokal (abses perikolesistik) Fistulisasi ke organ berongga lain : duodenum. ampisilin dan klindamisin atau metronidazol 2.

. sehingga kemampuan memekatkan empedu hilang. Nekrosis / iritasi tekanan. menghindari makanan yang digoreng dan berlemak b. Kolesistitis kronikSuatu keadaan dimana mukosa dan jaringan otot polos kandung empedu diganti dengan jaringan ikat. Serangan berulang obstruksi duktus sistikus b. Kolesistektomi Komplikasi Infeksi llluka Abses intra abdomen Peritonitis empedu. salah cerna. kembung dan bersendaw Penatalaksanaan a. Nyeri biasanya pada malam hari d. Enterokokus dan Salmonela Manifestasi klinis a. kolik bilier : nyeri parah. Invasi bakteri primer : E Coli. berkualitas menetap. Dispepsia. mual dan muntah c. PENGKAJIAN a. Kolik bilier timbul penekanan makanan berlemak e. ulserasi dan peradangan reaksi local c.B. biasanya dalam kuadran kanan atas atau epigastrium dialihkan ke skapula kanan b. Etiologi: a. Aktivitas dan istirahat S : kelemahan. cedera duktuis bilier besar ke penyediaan darah hati ASUHAN KEPERAWATAN I. Klebsiella.

iskemia jaringan / nekrisis. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. II. regurgitas ulang. Respirasi Pernapasan panjang / pendek. tingkat dan karakter nyeri. rasa seperti terbakar pada epugastrik. Tujuan : Nyeri terkontrol. Keamanan Demam menggigil. f. teradaptasi Kriteria hasil : penurunan respon terhadap nyeri (ekspresi) laporan nyeri terkontrol Rencana intervensi :  observasi catat lokasi. cenderung perdarahan (defisiensi vit K). ada peristaltik. jundice. tidak ada troleransi makan lunak yang mengandung gas. kulit kering dan pruritus. hal inidilakukan pada pmeriksaan RUQdan menunjukkan tanda marfin (+). O: istensi abdomen. Sirkulasi Takikardi. nyeri tiba-tiba dan mencapai puncak setelah 30 menit. eruption. proses inflamasi.nyeri epigastrium setelah makan. Diaphoresis c. . kehilangan berat badan (kurus). O :cenderung teraba lembut pada kolelitiasis. Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi / spasmeduktus.O : kelelahan b. Eliminasi S : perubahan warna unrine dan feses. teraba masa di abdomen atas / quadran kanan atas. kembung dan dyspepsia. flatunasi. urine pekat. e. teraba otot meregang / kaku.rasa tak nyaman g. Nyeri / kenyamanan S : nyeri abdomen menjalar ke punggung sampai ke bahu. O : kegemukan. Makan / minum S : anoreksia. d. nausea /vomiting. nafas dangkal.

Kompres hangat R/ dilatasi dingin empedu spasme menurun.R/ membantu mengidentifikasi nyeri dan memberi informasi tentang terjadinya perkembangannya. distensi dan hipermotilitas gaster. Tujuan : Menunjukkan keseimbangan cairan yang adekuat Kriteria hasil : Turgor kulit yang baik Membran mukosa lembab Pengisian kapiler baik Urine cukup TTV stabil Tidak ada muntah Rencana intervensi :  Pertahankan intakke dan output cairan R/ mempertahankan volume sirkulasi  Awasi tanda rangsangan muntah . Kekurangan volume cairan (resiko tinggi terhadap) berhubungan dengan muntah.      Tingkatkan tirah baring (fowler) / posisi yang nyaman R/ posisi fowler menurunkan tekanan-tekanan intra abdominal. Kolaborasi Antibiotik Analgetik Sedatif Relaksasi otot halus 2. gangguan proses pembekuan.  catat respon terhadap obat nyeri R/ nyeri berat yang tidak hilang dengan tindakan rutin dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Ajarkan teknik relaksasi (nafas dalam) R/ meningkatkan istirahat dan koping. Ciptakan lingkungan yang nyaman (turunkan suhu ruangan) R/ mendukung mental psikologik dalam persepsi tentang nyeri.

 Anjurkan cukup minum (1 botol aqua 1500 ml/hr) R/ mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh. laporan tidak mual muntah Rencana intervensi : Kaji perkiraan kebutuhan kalori tubuh R/ mengidentifikasi jumlah intake kalori yang diperlukan tiap hari Timbang BB sesuai indikasi R/ mengawali keseimbangan diet Diskusi menu yang disukai dan ditoleransi R/ meningkatkan toleransi intake makanan Anjurkan gosok gigi sebelum atau sesudah makan R/ menjaga kebersihan mulut agar tidak bau dan meningkatkan nafsu makan Konsultasi pada ahli gizi untuk menetapkan diit yang tepat R/ berguna dalam membuat kebutuhan nutrisi individual melalui rute yang paling tepat Anjurkan mengurangi makan na berlemak dan menghasilkan gas R/ pembatasan lemak menurunkan rangsangan pada kandung empedu dan nyeri Berikan diit rendah lemak R/ mencegah mual dan spasme Kaji distensi abdomen. nyeri gas Ambulasi dan tingkatkan aktivitas sesuai toleransi . menolak gerak R/ menunjukkan ketidaknyamanan berhubungan dengan gangguan pencernaan. Resiko tinggi perubahan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan gangguan pencernaan lemak. berhati-hati. nyeri Tujuan : Menunjukkan kestabilan BB Krieteria hasil : BB stabil.R/ muntah berkepanjangan. kalium dan klorida. mual muntah. dispepsia.  Kolaborasi : Pemberian antiemetic Pemberian cairan IV Pemasangan NGT 3. aspirasi gaster dan pembatasan pemasukan oral menimbulkan degfisit natrium.

Tujuan : menyatakan pemahaman klien Kriteria hasil : Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam pengobatan Rencana intervensi : Kaji informasi yang pernah didapat R/ mengkaji tingkat pemahaman klien Beri penjelasn tentang penyakit. untuk persiapan operasi Anjurkan teknik istirahat yang harus dilaporkan tentang penyakitnya Anjurkan untuk menghindari makanan atau minuman tinggi lemak R/ mencegah / membatasi terulangnya serangan kandung empedu . penurunan distensi abdomen Kolaborasi :   nutrisi total garam empedu 4.R/ membantu dalam mengeluarkan flatus. prognosa. pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi. Kurang pengetahuan tentang penyakit. dan tindakan diagnostic R/ memungkinkan terjadinya partisipasi aktif Beritahukan diit yang tepat. teknik relaksasi. prognosa.

untuk siapa. 5. Fidelity (setia). mengimplemtasikan tindakan yang mengutungkan klien dan keluarga. apa yang harus dipertimbangkan sebelum tindakan tsb dilakukan. pilihannya sering kali kurang jelas. Apakah keputusan ini mencegah konsekuensi bahaya. 3. resiko membahayakan. Terdapat beberapa prinsip etik dalam pelayanan kesehatan dan keperawatan yaitu : 1. Beneficence berarti melakukan yang baik. tetapi bagi orang dewasa. Sebagian besar anak-anak diajarkan untuk selalu berkata jujur. Bahaya dapat berarti dengan sengaja membahayakan. Keenam prinsip terebut harus senantiasa menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dengan klien yang skabies : apakah otonomi klien dihargai. apakah keputusan ini adil dalam pemberian perawatan. perawat tidak boleh membeda- . Perawat yang mengikuti prinsip autonomi menghargai hak klien untuk mengambil keputusan sendiri.bila klien Nn T menginginkan perawatan dilakukan oleh keluarganya. dan bahaya yang tidak disengaja.ASPEK LEGAL ETIS Etika berkenaan dengan pengkajian kehidupan moral secara sistematis dan dirancang untuk melihat apa yang harus dikerjakan.Veracity mengacu pada mengatakan kebenaran. Prinsip ini adalah prinsip dasar sebagaian besar kode etik keperawatan. 4. dan ini menjadi acuan untuk melihat suatu tindakan benar atau salah secara moral.Fidelity berarti setia terhadap kesepakatan dan tanggung jawab yang dimikili oleh seseorang 6.Non Maleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidak menyebabkan bahaya bagi kliennya. maka kita izinkan asalakan sebelumnya keluarga klien harus diberikan pengarahan tentang perawatan klien skabies. Veracity (kebenaran). Autonomy (penentu pilihan). Perawat memiliki kewajiban untuk melakukan dengan baik. Beneficence (do good) . Justice (perlakuan adil) . Non Maleficence (do no harm) . Dengan menghargai hak autonomi berarti perawat menyadari keunikan induvidu secara holistik.Perawat sering mengambil keputusan dengan menggunakan rasa keadilan. yaitu.apakah tindakan ini bermanfaat. 2.

Hak-hak tersebut menyangkut kehidupan.bedakan klien dari status sosialnya tetapi melihat dari penting atau tidaknya pemberian perawatan untuk klien tersebut. perlakuan adil dan integritas diri. hak-hak klien harus dihargai dan dilindungi. privacy. kebebasan. Untuk alasan moral. selfdetermination. kebahagiaan. .

Kegiatan Penyuluhan E. Media: Brosur D. Tujuan Instruksi Umum (TIU) Setelah mendapat penyuluhan selama 30 menit diharapkan Sdr. B. Materi:       Pengertian penyakit Kolelitiasis Penyebab penyakit Kolelitiasis Tanda dan gejala penyakit Kolelitiasis Cara pengobatannya Mampu menjelaskan pengertian penyakit Kolelitiasis Mampu menjelaskan penyebabnya Mampu menelaskan tanda dan gejalanya Mampu menjelaskan cara pengobtannya B. Metode: Ceramah Tanya Jawab C.Sipri mampu:     A. Tujuan Instruksi Khusus (TIK) Setelah mendapat penyuluhan selama 30 meni diharapkan Sdr. Evaluasi .PENDIDKAN KESEHATAN Tema Sub Tema Sasaran Tempat Waktu : Penyakit Kolelitiasis : Memberikan penyuluhan tentang penyakit Kolelitiasis :Sdr.Sipri dapat mengetahui tentang penyakit Kolelitiasis.Sipri : Ruang Melati : 30 Menit A.

19-11-2011 Penguji Yustina Kurniawati .Yogyakarta.

asp http://www. Edisi I. Syaifudin. H.com/journal/item/8 http://kamus.com/index. http://arifs45.medicastore. Ethel. Drs. Kamus Saku Keperawatan.com/f/10869-kolesistitis-kronis/ http://www.Ac. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula.multiply.landak.medicastore. B.php?m=04&y=10&entry=entry100420-113302 . Christine.com/stomach/cholecy.info/blog/index. Jakarta : EGC.com/index.DAFTAR REFERENSI : Brooker.mamashealth. Jakarta: EGC. 2001.php?mod=penyakit&id=607 http://www. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta : EGC. 2004.php?mod=penyakit&id=608 Sloane.wahyukurniawan.com/cari/cholecystectomy http://www. 1997. Edisi 2. http://indonesiaindonesia.

LAPORAN INDIVIDU KOLELITIASIS OLOEH: I GEDE MADE INDRA PUTRA WISNAWA (1002053) SEKOLAH TINGGI ILMU KESAHATAN BETHESDA YOGYAKARTA 2011 .

Saraf yang menuju kekandung empedu berasal dari plexus coeliacus. dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior abdomen setinggi ujung rawan costa IX kanan.Corpus bersentuhan dengan permukaan visceral hati dan arahnya keatas. d. empedu (Duktus Koledocus). cystica. hepatica kanan. Sejumlah arteri yang sangat kecil dan vena – vena juga berjalan antara hati dan kandung empedu. Radang saluran empedu (Kolangitis) : adanya radang pada saluran empedu. . Vesica fellea dibagi menjadi fundus.Dari sini. b. Batu Empedu(kolelitiasis) : adanya batu yang terdapat pada kandung empedu. Peritoneum mengelilingi fundus vesica fellea dengan sempurna menghubungkan corpus dan collum dengan permukaan visceral hati.DEFINISI a. cystica mengalirkan darah lengsung kedalam vena porta. corpus dan collum. Pembuluh limfe berjalan menuju ke nodi lymphatici cysticae yang terletak dekat collum vesica fellea.V.Collum dilanjutkan sebagai duktus cysticus yang berjalan dalam omentum minus untuk bersatu dengan sisi kanan ductus hepaticus comunis membentuk duktus koledokus. ANATOM FISISOLOGI ANATOMI Kandung empedu ( Vesica fellea) adalah kantong berbentuk buah pear yang terletak pada permukaan visceral hepar.Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah pinggir inferior hepar. cabang a. pembuluh limfe berjalan melalui nodi lymphatici hepaticum sepanjang perjalanan a. c. hepatica menuju ke nodi lymphatici coeliacus. Radang empedu (Kolesistitis) : adanya radang pada kandung empedu. belakang dan kiri. Batu saluran empedu : adanya batu yang terdapat pada sal. Pembuluh arteri kandung empedu adalah a.

mukosanya mempunyai lipatan – lipatan permanen yang satu sama lain saling berhubungan.FISIOLOGI SALURAN EMPEDU Vesica fellea berperan sebagai resevoir empedu dengan kapasitas sekitar 50 ml.Saluran ini kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri. Sel. Dan untuk membantu proses ini. PENGOSONGAN KANDUNG EMPEDU . Sehingga permukaanya tampak seperti sarang tawon. Pada saluran ini sebelum mencapai doudenum terdapat cabang ke kandung empedu yaitu duktus sistikus yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu sebelum disalurkan ke duodenum. Empedu dibentuk oleh sel-sel hati ditampung di dalam kanalikuli.Kemudian disalurkan ke duktus biliaris terminalis yang terletak di dalam septum interlobaris.sel thorak yang membatasinya juga mempunyai banyak mikrovilli. Vesica fellea mempunya kemampuan memekatkan empedu.Kemudian keduanya membentuk duktus biliaris komunis.

Hormon ini yang paling besar peranannya dalam kontraksi kandung empedu.Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak kedalam duodenum. sehingga memungkinkan masuknya empedu yang kental ke dalam duodenum. hormon kemudian masuk kedalam darah.Lemak menyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari mukosa duodenum.Empedu dialirkan sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial kandung empedu.  Neurogen :  Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase Cephalik dari sekresi cairan lambung atau dengan refleks intestino-intestinal akan menyebabkan kontraksi dari kandung empedu. Sehingga pada keadaan dimana kandung empedu lumpuh. Garam – garam empedu dalam cairan empedu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan membantu pencernaan dan absorbsi lemak. otot polos yang terletak pada ujung distal duktus coledokus dan ampula relaksasi. Pengosongan empedu yang lambat akibat gangguan neurologis maupun hormonal memegang peran penting dalam perkembangan inti batu. Pada saat yang sama.  Rangsangan langsung dari makanan yang masuk sampai ke duodenum dan mengenai Sphincter Oddi. Proses koordinasi kedua aktifitas ini disebabkan oleh dua hal yaitu :  Hormonal Zat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampai duodenum akan merangsang mukosa sehingga hormon Cholecystokinin akan terlepas. cairan empedu akan tetap keluar walaupun sedikit. KOMPOSISI CAIRAN EMPEDU Komposisi Cairan Empedu . menyebabkan kandung empedu berkontraksi.

Komponen Air Garam Empedu Bilirubin Kolesterol Asam Lemak Lecithin Elektrolit 1. Dari Hati 97.3 – 1. monoglycerid.3 gm % gm % gm % gm % gm % gm % Garam Empedu.04 0.3 0. Sehingga bila ada gangguan pada daerah tersebut misalnya oleh karena radang atau reseksi maka absorbsi garam empedu akan terganggu.12 0. Bila terjadi pemecahan sel darah merah berlebihan misalnya pada malaria maka bilirubin yang terbentuk sangat banyak. Fungsi garam empedu adalah :  Menurunkan tegangan permukaan dari partikel lemak yang terdapat dalam makanan.1 0. Absorbsi garam empedu tersebut terjadi disegmen distal dari ilium.Zat ini di dalam plasma terikat erat oleh albumin.5 1. Asam empedu berasal dari kolesterol.9 0. Garam empedu yang masuk ke dalam lumen usus oleh kerja kuman-kuman usus dirubah menjadi deoxycholat dan lithocholat. kolesterol dan vitamin yang larut dalam lemak.04 gm % gm % gm % gm % gm % gm % Dari Kandung Empedu 95 6 0.1 0. sehingga partikel lemak yang besar dapat dipecah menjadi partikel-partikel kecil untuk dapat dicerna lebih lanjut. 2.  Membantu absorbsi asam lemak. Bilirubin Hemoglobin yang terlepas dari eritrosit akan pecah menjadi heme dan globin.3 – 0. Sebagian besar (90 %) garam empedu dalam lumen usus akan diabsorbsi kembali oleh mukosa usus sedangkan sisanya akan dikeluarkan bersama feses dalam bentuk lithocholat. Heme bersatu membentuk rantai dengan empat inti pyrole menjadi bilverdin yang segera berubah menjadi bilirubin bebas.4 . Asam empedu dari hati ada dua macam yaitu : Asam Deoxycholat dan Asam Cholat. Sebagian bilirubin bebas diikat oleh zat lain (konjugasi) yaitu 80 % oleh glukuronide.2 0.

selain itu juga tersusun oleh bilirubin. perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut. Faktor hormonal khususnya selama kehamilan dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan merupakan insiden yang tinggi pada kelompok ini. Sebagian besar batu tersusun dari pigmen-pigmen empedu dan kolesterol.PATOFISIOLOGI Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang pada saluran empedu lainnya. ETIOLOGI Batu di dalam kandung empedu. Gangguan kontraksi kandung empedu dapat menyebabkan stasis. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif. kalsium dan protein. Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat memegang peranan sebagian pada pembentukan batu dengan meningkatkan deskuamasi seluler dan pembentukan mukus. Infeksi lebih sering sebagai akibat pembentukan batu empedu dibanding infeksi yang menyebabkan pembentukan batu. Kolesterol yang berlebihan akan mengendap dalam kandung empedu. Macam-macam batu yang terbentuk antara lain: . Mukus meningkatkan viskositas dan unsur seluler sebagai pusat presipitasi. Faktor predisposisi yang penting adalah :    Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu Statis empedu Infeksi kandung empedu Perubahan susunan empedu mungkin merupakan faktor yang paling penting pada pembentukan batu empedu.

ada dua macam. terjadi karena :kenaikan sekresi kolesterol dan penurunan produksi empedu. berlapis-lapis. Biasanya tak tampak gambaran pada abdomen 2. GEJALA AKUT TANDA : 1. Ada dugaan bahwa kelainan anatomi atau pengisian divertikula oleh makanan akan menyebabkan obstruksi intermiten duktus koledokus dan bendungan ini memudahkan timbulnya infeksi dan pembentukan batu. Batu pigmen hitam : terbentuk di dalam kandung empedu dan disertai hemolisis kronik/sirosis hati tanpa infeksi Batu pigmen coklat : bentuk lebih besar . Epigastrium kanan terasa nyeri dan spasme GEJALA KRONIS TANDA: 1. Faktor lain yang berperan dalam pembentukan batu:         Infeksi kandung empedu Usia yang bertambah Obesitas Wanita Kurang makan sayur Obat-obat untuk menurunkan kadar serum kolesterol  Batu pigmen empedu . Usaha inspirasi dalam waktu diraba pada 2. disertai bendungan dan infeksi  Batu saluran empedu Sering dihubungkan dengan divertikula duodenum didaerah vateri. Ikterus ringan . Batu empedu kolesterol. Kadang terdapat nyeri di kwadran kanan atas kwadran kanan atas 3. Kandung empedu membesar dan nyeri 4. TANDA DAN GEJALA Penderita batu saluran empedu sering mempunyai gejala-gejala kronis dan akut. ditemukan disepanjang saluran empedu.

.000 iu).5°°C) GEJALA: 1. Rasa nyeri (kolik empedu) yang menetap 2. Endoscopic Retrograde choledocho pancreaticography (ERCP).000 . Eruktasi (bersendawa) DIAGNOSTIK Tes laboratorium : 1.000 /iu (N : 5000 . dilatasi pada saluran empedu. Febris (38. bila aliran dari empedu intestin menurun karena obstruksi sehingga menyebabkan penurunan absorbsi vitamin K. Cholecystogram (untuk Cholesistitis kronik) : menunjukkan adanya batu di sistim billiar. tiga cabang saluran empedu melalui ductus duodenum. 8. obstruksi/obstruksi joundice. lekosit : 12.( N: 17 . 5. Protrombin menurun.6 mnt). Tempat : abdomen bagian atas (mid epigastrium). CT Scan : menunjukkan gellbalder pada cysti. Mual dan muntah 3. Intoleransi dengan makanan berlemak 4.(cara Kapilar : 2 .115 unit/100ml). Rasa nyeri (kolik empedu).GEJALA: 1. Nausea dan muntah 3. Sifat : terpusat di epigastrium menyebar ke arah skapula kanan 2. 2.10. Bilirubin : meningkat ringan. 9. 4. hal ini karena adanya batu empedu dan distensi saluran empedu ( frekuensi sesuai dengan prosedur diagnostik) 6. 7. Flatulensi 5. (N : <> 3. USG : menunjukkan adanya bendungan /hambatan . PTC (perkutaneus transhepatik cholengiografi): Pemberian cairan kontras untuk menentukan adanya batu dan cairan pankreas. bertujuan untuk melihat kandung empedu. Amilase serum meningkat.15.

10. Jika kandung empedu tidak tervisualisasikan sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulang dengan dosis ganda zat kontras. pengapuran pada saluran atau pembesaran pada gallblader. kenaikan kadar bilirubin darah dan fosfatase alkali. 2. 3. 4. kecuali bila terjadi komplikasi kolesistitis akut bisa didapatkan leukositosis. Bila kadar bilirubin serum lebih dari 3 mg% kolesistografi tidak dikerjakan karena zat kontras tidak diekskresi ke saluran empedu. Kolesistografi Foto dengan pemberian kontras baik oral maupun intravena diharapkan batu yang tembus sinar akan terlihat. Goldberg dan kawan-kawan menyatakan bahwa reliabilitas pemeriksaan kolesistografi oral dalam mengindentifikasikan batu kandung empedu kurang lebih 75 %. Foto Polos Abdomen Kurang lebih 10 % dari batu kandung empedu bersifat radio opak sehingga terlihat pada foto polos abdomen. Pemeriksaan Laboratorium Tidak ada pemeriksaan yang spesifik untuk batu kandung empedu. DIAGNOSIS Diagnosis pasti dilakukan dengan pemeriksaan radiologi 1. Ultra Sonografi . Foto Abdomen :Gambaran radiopaque (perkapuran ) galstones.

ukuran CBD (Common Bile Duct) dan jika ada batu intraduktal. Kolesistektomi . Ditambah pula bahwa USG dapat dilakukan pada penderita yang sakit berat. ada tidaknya radang akut. Ugandi menganjurkan agar pemeriksaan USG dipakai sebagai langkah pemeriksaan awal. 5. tebal dinding.Penggunaan USG dalam mendeteksi batu di saluran empedu sensitivitasnya sampai 98 % dan spesifitas 97. TINDAKAN OPERATIF 1. wanita hamil dan tidak tergantung pada keadaan faal hati. aman karena tidak infasif dan tidak perlu persiapan khusus. Karena mahalnya biaya pemeriksaan. Tomografi Komputer Keunggulan Tomografi Komputer adalah dengan memperoleh potongan obyek gambar suara secara menyeluruh tanpa tumpang tindih dengan organ lain. jumlah batu.7 %. PENGELOLAAN KOLELITIASIS F. Dengan pemeriksaan ini bisa ditentukan lokasi dari batu tersebut. alergi kontras. besar batu. maka alat ini bukan merupakan pilihan utama. Keuntungan lain dari pemeriksaan cara ini adalah mudah dikerjakan. Ditinjau dari berbagai segi keuntungannya. ukuran kandung empedu.

karena ada penyakit lain yang berat yang menyertai. Indikasi dari kolesistostomi adalah : 1. 2. Sebagian ahli lainnya berpendapat lain mengingat “silent stone” akhirnya akan menimbulkan gejala-gejala bahkan komplikasi. Pembedahan untuk batu empedu tanpa gejala masih diperdebatkan. 2. 3. kesulitan teknik operasi dan . Keadaan umum sangat buruk misalnya karena sepsis. Kolesistostomi Beberapa ahli bedah menganjurkan kolesistostomi dan dekompresi cabangcabang saluran empedu sebagai tindakan awal pilihan pada penderita kolesistitis dengan resiko tinggi yang mungkin tidak dapat diatasi kolesistektomi dini.Terapi terbanyak pada penderita batu kandung empedu adalah dengan operasi. dan 2. Penderita yang berumur lanjut. Adanya penyakit lain yang mempermudah timbulnya komplikasi misalnya Diabetes Mellitus. Kolesistektomi dengan atau tanpa eksplorasi duktus komunis tetap merupakan tindakan pengobatan untuk penderita dengan batu empedu simptomatik. Adanya keluhan bilier apabila mengganggu atau semakin sering atau berat. Adanya komplikasi atau pernah ada komplikasi batu kandung empedu. banyak ahli menganjurkan terapi konservatif. maka mereka sepakat bahwa pembedahan adalah pengobatan yang paling tepat yaitu kolesistektomi efektif dan berlaku pada setiap kasus batu kandung empedu kalau keadaan umum penderita baik. kandung empedu yang tidak tampak pada foto kontras dan sebagainya. Indikasi kolesistektomi sebagai berikut : 1.

Penggunaan garam empedu yaitu asam Chenodeodeoxycholat (CDCA) yang mampu melarutkan batu kolesterol invitro.5 mg/kg berat badan/hari. 4. Asam Ursodioxycholat (UDCA) merupakan alternatif lain yang dapat diterima dan tidak mengakibatkan diare atau gangguan fungsi hati namun harganya lebih mahal. . terjadi peningkatan transaminase serum.3. hanya tidak dijelaskan terjadinya kekambuhan. Amerika Serikat juga dapat berhasil. masing-masing dengan dosis 7. Efek samping pengobatan CDCA yang terlalu lama menimbulkan kerusakan jaringan hati. Pengobatan dengan asam empedu ini dengan sukses melarutkan sempurna batu pada sekitar 60 % penderita yang diobati dengan CDCA oral dalam dosis 10 – 15 mg/kg berat badan per hari selama 6 sampai 24 bulan. Terapi Disolusi 2. TINDAKAN NON OPERATIF 1. Kerugian dari kolesistostomi mungkin terselipnya batu sehingga sukar dikeluarkan dan kemungkinan besar terjadinya batu lagi kalau tidak diikuti dengan kolesistektomi. 5. nausea dan diare. Pada saat ini pemakaiannya adalah kombinasi antara CDCA dan UDCA. Penghentian pengobatan CDCA setelah batu larut sering timbul rekurensi kolelitiasis. 3. Dianjurkan dosis terbesar pada sore hari karena kejenuhan cairan empedu akan kolesterol mencapai puncaknya pada malam hari. Tersangka adanya pankreatitis. Pemberian CDCA dibutuhkan syarat tertentu yaitu :     Wanita hamil Penyakit hati yang kronik Kolik empedu berat atau berulang-ulang Kandung empedu yang tidak berfungsi. secara invivo telah dimulai sejak 1973 di klinik Mayo. 4.

Pemecahan batu menjadi partikel kecil bertujuan agar kelarutannya dalam asam empedu menjadi meningkat serta pengeluarannya melalui duktus sistikus dengan kontraksi kandung empedu juga menjadi lebih mudah. Batu radiolusen Tidak ada obstruksi dari saluran empedu Tidak terdapat jaringan paru pada jalur transmisi gelombang kejut ke arah batu. G. 8. 9. Kombinasi dari terapi ini agar berhasil baik harus memenuhi beberapa kriteria mengingat faktor efektifitas dan keamanannya. Kriteria Munich :      Terdapat riwayat akibat batu tersebut (simptomatik). ESWL merupakan litotripsi untuk batu empedu dimana dasar terapinya adalah disintegrasi batu dengan gelombang kejut sehingga menjadi partikel yang lebih kecil. Kekurangan lain dari terapi disolusi ini selain harganya mahal juga memerlukan waktu yang lama serta tidak selalu berhasil. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi (ESWL).6. 7. Penderita tidak sedang hamil. DIETETIK . Setelah terapi ESWL kemudian dilanjutkan dengan terapi disolusi untuk membantu melarutkan batu kolesterol. Mekanisme kerja dari CDCA adalah menghambat kerja dari enzim HMG Ko-a reduktase sehingga mengurangi sintesis dan ekskresi kolesterol ke dalam empedu. Kriteria Dublin :    Riwayat keluhan batu empedu Batu radiolusen Batu radioopak dengan diameter kurang dari 3 cm untuk batu tunggal atau bila multiple diameter total kurang dari 3 cm dengan jumlah maksimal  Fungsi konsentrasi dan kontraksi kandung empedu baik.

maka diet dengan menggunakan buah-buahan dan sayuran yang tidak mengeluarkan gas akan sangat membantu. semakin banyak faktor resiko yang dimiliki seseorang. FAKTOR RESIKO Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko dibawah ini. Bahan makanan yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan makanan juga harus dihindarkan. semakin besar kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasis. juga untuk memperkecil kemungkinan batu memasuki duktus sistikus. 2. Tinggi cairan untuk mencegah dehidrasi. Prinsip perawatan dietetic pada penderita batu kandung empedu adalah memberi istirahat pada kandung empedu dan mengurangi rasa sakit.1. Angka kejadian di Indonesia di duga tidak berbeda jauh dengan angka di negara lain di Asia Tenggara dan sejak tahu 1980-an agaknya berkaitan erat dengan cara diagnosis dengan ultrasonografi. EPIDEMIOLOGI Insiden kolelitiasis di negara barat adalah 20% dan banyak menyerang orang dewasa dan usia lanjut. Di samping itu untuk memberi makanan secukupnya untuk memelihara berat badan dan keseimbangan cairan tubuh. Bila terlalu gemuk jumlah kalori dikurangi. Cukup kalori. Namun. terutama vitamin yang larut dalam lemak. Pembatasan kalori juga perlu dilakukan karena pada umumnya batu kandung empedu tergolong juga ke dalam penderita obesitas. protein dan hidrat arang. Syarat-syarat diet pada penyakit kandung empedu yaitu :   Rendah lemak dan lemak diberikan dalam bentuk yang mudah dicerna. Kadangkadang penderita batu kandung empedu sering menderita konstipasi.   Cukup mineral dan vitamin. Faktor resiko tersebut antara lain : .

Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi. mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi kolelitiasis. Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan pria. Riwayat keluarga. dan ileus paralitik. Sehingga resiko untuk terbentuknya batu menjadi meningkat dalam kandung empedu. anemia sel sabit. Usia. Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi. diabetes. 3. 5. Makanan. Orang dengan riwayat keluarga kolelitiasis mempunyai resiko lebih besar dibandingn dengan tanpa riwayat keluarga. Penyakit yang dilaporkan berhubungan dengan kolelitiasis adalah crohn disease. karena tidak ada makanan/ nutrisi yang melewati intestinal. trauma.1. Jenis Kelamin. 2. Penggunaan pil kontrasepsi dan terapi hormon (esterogen) dapat meningkatkan kolesterol dalam kandung empedu dan penurunan aktivitas pengosongan kandung empedu. dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu. Nutrisi intravena jangka lama. kehilangan berat badan yang cepat (seperti setelah operasi gatrointestinal) mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu. Penyakit usus halus. Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan orang degan usia yang lebih muda. Berat badan (BMI). Nutrisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu tidak terstimulasi untuk berkontraksi. PEMERIKSAAN PENUNJANG KOLELITIASIS . Resiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Ini dikarenakan oleh hormon esterogen berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh kandung empedu. Intake rendah klorida. Kurangnya aktifitas fisik berhungan dengan peningkatan resiko terjadinya kolelitiasis. 8. 7. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit berkontraksi. 4. Kehamilan. Aktifitas fisik. yang menigkatkan kadar esterogen juga meningkatkan resiko terkena kolelitiasis. 6.

Pemeriksan USG dapat mendeteksi kalkuli dalam kandung empedu atau duktus koleduktus yang mengalami dilatasi. memekatkan isinya. Disamping itu. Kolangiografi oral dapat dilakukan untuk mendeteksi batu empedu dan mengkaji kemampuan kandung empedu untuk melakukan pengisian.(Smeltzer.(Williams. Pemeriksaan ini meliputi insersi endoskop serat optik yang fleksibel ke dalam esofagus hingga mencapai duodenum pars desendens. Prosedur ini akan memberikan hasil yang paling akurat jika pasien sudah berpuasa pada malam harinya sehingga kandung empedunya berada dalam keadan distensi. dan dapat digunakan pada penderita disfungsi hati dan ikterus. Sebuah kanula dimasukan ke dalam duktus koleduktus serta duktus pankreatikus.1. ERCP (Endoscopic Retrograde Colangiopancreatografi) Pemeriksaan ini memungkinkan visualisasi struktur secara langsung yang hanya dapat dilihat pada saat laparatomi. 2002) 5.(Smeltzer. pemeriksaan USG tidak membuat pasien terpajan radiasi inisasi. 2003) 4. Pemeriksaan darah        Kenaikan serum kolesterol Kenaikan fosfolipid Penurunan ester kolesterol Kenaikan protrombin serum time Kenaikan bilirubin total. Penggunaan ultra sound berdasarkan pada gelombang suara yang dipantulkan kembali. berkontraksi serta mengosongkan isinya. Oral kolesistografi tidak digunakan bila pasien jaundice karena liver tidak dapat menghantarkan media kontras ke kandung empedu yang mengalami obstruksi. kemudian bahan kontras disuntikan ke dalam duktus tersebut untuk menentukan keberadaan batu di duktus dan memungkinkan visualisassi serta evaluasi percabangan bilier. Radiologi Pemeriksaan USG telah menggantikan kolesistografi oral sebagai prosedur diagnostik pilihan karena pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cepat dan akurat. Radiografi: Kolesistografi digunakan bila USG tidak tersedia atau bila hasil USG meragukan. 2. transaminase Penurunan urobilirubin Peningkatan sel darah putih . Sonogram Sonogram dapat mendeteksi batu dan menentukan apakah dinding kandung empedu telah menebal. 2002) 3.

(Smeltzer. tinggi protein Pemasangan pipa lambung bila terjadi distensi perut. alat pemotong dimasukkan lewat endoskop tersebut ke dalam ampula Vater dari duktus koledokus. Prosedur kedua adalah penggunaan endoskop ERCP. Alat lain yang dilengkapi dengan jaring atau balon kecil pada ujungnya dapat dimsukkan melalui endoskop untuk mengeluarkan batu empedu. atau kateter bilier transnasal. kecuali jika kondisi pasien memburuk. penghisapan nasogastrik. analgesik dan antibiotik. Setelah endoskop terpasang. Intervensi bedah harus ditunda sampai gejala akut mereda dan evalusi yang lengkap dapat dilaksanakan. Peningkatan serum amilase. jaring digunakan untuk memegang dan menarik keluar batu yang terjepit dalam duktus koledokus.  Pengangkatan non bedah Beberapa metode non bedah digunakan untuk mengelurkan batu yang belum terangkat pada saat kolisistektomi atau yang terjepit dalam duktus koledokus. 2002) Manajemen terapi :       Diet rendah lemak. bila pankreas terlibat atau bila ada batu di duktus utama PENATALAKSANAAN KOLELITIASIS 1. Pengangkatan batu empedu tanpa pembedahan Pelarutan batu empedu Pelarutan batu empedu dengan bahan pelarut (misal : monooktanoin atau metil tertier butil eter/MTBE) dengan melalui jalur : melalui selang atau kateter yang dipasang perkutan langsung kedalam kandung empedu. Penatalaksanaan pendukung dan diet Kurang lebih 80% dari pasien-pasien inflamasi akut kandung empedu sembuh dengan istirahat. cairan infus. Pemberian antibiotik sistemik dan vitamin K (anti koagulopati) 2. pelebaran ini memungkinkan batu yang terjepit untuk bergerak dengan spontan kedalam duodenum. Prosedur pertama sebuah kateter dan alat disertai jaring yang terpasang padanya disisipkan lewat saluran T Tube atau lewat fistula yang terbentuk pada saat insersi T Tube. Observasi keadaan umum dan pemeriksaan vital sign Dipasang infus program cairan elektrolit dan glukosa untuk mengatasi syok. melalui endoskop ERCP. melalui selang atau drain yang dimasukkan melalui saluran T Tube untuk melarutkan batu yang belum dikeluarkan pada saat pembedahan. tinggi kalori. Alat ini digunakan untuk memotong serabut-serabut mukosa atau papila dari spingter Oddi sehingga mulut spingter tersebut dapat diperlebar. Meskipun .

Penuhi kebutuhan nutrisi. pemberian larutan glukosa scara intravena bersama suplemen hidrolisat protein mungkin diperlikan untuk membentu kesembuhan luka dan mencegah kerusakan hati. Pemeriksaan faal hati 5. perforasi dan pankreatitis. untuk menghilangkan penyebab kolik bilier dan untuk mengatasi kolesistitis akut. namun kondisi pasien harus diobservasi dengan ketat untuk mengamati kemungkinan terjadinya perdarahan.  ESWL (Extracorporeal Shock-Wave Lithotripsy) Prosedur noninvasiv ini menggunakan gelombang kejut berulang (Repeated Shock Wave) yang diarahkan pada batu empedu didalam kandung empedu atau duktus koledokus dengan maksud memecah batu tersebut menjadi beberapa sejumlah fragmen. Penatalaksanaan bedah Penanganan bedah pada penyakit kandung empedu dan batu empedu dilaksanakan untuk mengurangi gejala yang sudah berlangsung lama. Ektrokardiogram 4. Pembedahan dapat efektif jika gejala yang dirasakan pasien sudah mereda atau bisa dikerjakan sebagai suatu prosedur darurat bila mana kondisi psien mengharuskannya . Pemeriksaan sinar X pada kandung empedu 2. Vitamin k (diberikan bila kadar protrombin pasien rendah) 6.komplikasi setelah tindakan ini jarang terjadi.Tindakan operatif meliputi:     Sfingerotomy endosokopik PTBD (perkutaneus transhepatik bilirian drainage) Pemasangan “T Tube ” saluran empedu koledoskop Laparatomi kolesistektomi pemasangan T Tube PENATALAKSANAAN PRA OPERATIF : 1.(Smeltzer. 2002). . 3. Foto thoraks 3. Terapi komponen darah 7.

mengimplemtasikan tindakan yang mengutungkan klien dan keluarga. apa yang harus dipertimbangkan sebelum tindakan tsb dilakukan. Beneficence (do good) . Perawat memiliki kewajiban untuk melakukan dengan baik. Kurangnya informasi ASPEK LEGAL ETIS Etika berkenaan dengan pengkajian kehidupan moral secara sistematis dan dirancang untuk melihat apa yang harus dikerjakan. Terdapat beberapa prinsip etik dalam pelayanan kesehatan dan keperawatan yaitu : 2. resiko membahayakan. proses pembedahan) 2. prosedur perawatan b. 4. muntah. 3. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif. yaitu. dan bahaya yang tidak disengaja. Non Maleficence (do no harm) . Autonomy (penentu pilihan). dan ini menjadi acuan untuk melihat suatu tindakan benar atau salah secara moral. Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan 4. Dengan menghargai hak autonomi berarti perawat menyadari keunikan induvidu secara holistik. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk ingesti dan absorbsi makanan 3. Kurang pengetahuan: penyakit. Perawat yang mengikuti prinsip autonomi menghargai hak klien untuk mengambil keputusan sendiri.Non Maleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidak menyebabkan bahaya bagi kliennya. Bahaya dapat berarti dengan sengaja membahayakan. Prinsip ini adalah prinsip dasar sebagaian besar kode etik keperawatan. drainase selang yang berlebihan) 7. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan (mual. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (obstruksi.d. Beneficence berarti melakukan yang baik. . kerusakan jaringan (luka operasi) 5. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas trakturs gastrointestinal (sekunder terhadap imobilisasi) 6.DIAGNOSA KEPERAWATAN DENGA KOLELITIASIS 1.

pilihannya sering kali kurang jelas.Fidelity berarti setia terhadap kesepakatan dan tanggung jawab yang dimikili oleh seseorang 7. Hak-hak tersebut menyangkut kehidupan. Fidelity (setia). Untuk alasan moral.bila klien Nn T menginginkan perawatan dilakukan oleh keluarganya.5. kebahagiaan. apakah tindakan ini bermanfaat. Sebagian besar anak-anak diajarkan untuk selalu berkata jujur. Apakah keputusan ini mencegah konsekuensi bahaya.Perawat sering mengambil keputusan dengan menggunakan rasa keadilan. tetapi bagi orang dewasa. Veracity (kebenaran). perawat tidak boleh membedabedakan klien dari status sosialnya tetapi melihat dari penting atau tidaknya pemberian perawatan untuk klien tersebut. privacy. perlakuan adil dan integritas diri. Keenam prinsip terebut harus senantiasa menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dengan klien yang skabies : apakah otonomi klien dihargai. hak-hak klien harus dihargai dan dilindungi.Veracity mengacu pada mengatakan kebenaran. Justice (perlakuan adil) . apakah keputusan ini adil dalam pemberian perawatan. kebebasan. . maka kita izinkan asalakan sebelumnya keluarga klien harus diberikan pengarahan tentang perawatan klien skabies. 6. selfdetermination.untuk siapa.

d. Makan / minum (cairan)  Subyektif : Anoreksia. Diaphoresis c. Aktivitas dan istirahat:   subyektif : kelemahan Obyektif : kelelahan b. Nyeri apigastrium setelah makan.  Obyektif :   Kegemukan. . Eliminasi :   Subektif : Perubahan pada warna urine dan feces Obyektif : Distensi abdomen. Rasa seperti terbakar pada epigastrik (heart burn). urine pekat. Regurgitasi ulang. Sirkulasi :  Obyektif : Takikardia. Kehilangan berat badan (kurus).     Tidak ada toleransi makanan lunak dan mengandung gas. kembung dan dyspepsia. teraba massa di abdomen atas/quadran kanan atas.ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian a. e. flatunasi. Ada peristaltik. eruption. Kenyamanan :  Subyektif :   Nyeri abdomen menjalar ke punggung sampai ke bahu. Nausea/vomit.

Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.  Obyektif : Cenderung teraba lembut pada klelitiasis. teraba otot meregang /kaku hal ini dilakukan pada pemeriksaan RUQ dan menunjukan tanda marfin (+). Prioritas Perawatan :     Mengurangi nyeri dan meningkatkan istirahat. Mencegah komplikasi seminimal mungkin. Tujuan Asuhan Perawatan :     Mengurangi nyeri. ramalan dan proses pengobatan. Nyeri tiba-tiba dan mencapai puncak setelah 30 menit. g. kulit kering dan pruritus . pernafasan pendek. Berikan imformai tentang proses penyakit. Juga pada riwayat DM dan gangguan / peradangan pada saluran cerna bagian bawah. h. Keamanan : Obyektif : demam menggigil. nafas dangkal. Pencapaian keseimbangan (Homeostasis). Respirasi : Obyektif : Pernafasan panjang. cenderung perdarahan ( defisiensi Vit K ). f. Proses penyakit. Diagnosa Perawatan: . Cegah komplikasi. rasa tak nyaman. Jundice. Belajar mengajar : Obyektif : Pada keluarga juga pada kehamilan cenderung mengalami batu kandung empedu. prognosa dan pengobatan yang dibutuhkan.

prilaku yang hati-hati. mempengaruhi pencernaan yang disebabkan karena gangguan/penyempitan saluran empedu. 4) Kurangnya pengetahuan tentang prognosa dan kebutuhan pengobatan. distensi dan hipermolity gaster.nadi).1) Nyeri (akut) berhubungan dengan Trauma biologi obstruksi/spasme saluran proses peradangan. 3) Potensial gangguan Nutrisi Kurang dari yang dibutuhkan tubuh. ditandai dengan :     keluhanon nyeri. berhubungan dengan. kesakitan. Ekspresi wajah saat nyeri. Proses pembekuan yang ditandai dengan : Tanda dan gejala yang tidak stabil tidak dapat diaplikasikan pada diagnosa yang aktual. iskhemi/nekrosis jaringan. Mis Interpretasi imformasi Belum/tidak kenal dengan sumber imformasi. mual. Fokus terhadap diri yang terbatas. Kehilangan nutrisi. Respon autonomik (perubahan pada tekanan darah . berhubugan dengan :    Menanyakan kembali tentang imformasi.Faktor-faktor resiko yang mempengaruhi :   Dibebankan pada diri sendiri dan dibatasi makanan yang diberikan. 2) Potensial Kekurangan cairan berhubungan dengan :    Penigkatan kehilangan cairan lambung : muntah. muntah. dispepsia. colik billiary (frequensi nyeri ). Pengobatan yang mempunyai efek mengurangi cairan. .

2002. hal 121. Reksoprodjo S. hal 380 – 83. Selijima J. Jakarta. 1991 : 94 : 1996 – 84. Owying C. 1995. Jakarta. Dooley J. Ikterus dalam bedah. Jakarta. Balai Penerbit FK UII. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Penerbit Buku Kedokteran. Edisi 2. Jilid I edisi 3. London : Blackwell Scientific Publication. Penerbit Media Aesculapius. 1993. L John Cameron. 1. Text book of gastro enterology. Mansjoer A. Sabiston (1994). Snell. Jr. hal 71 – 77. FKUI. New York : J. Penerbit EGC.B. bag. In : Yamanda T. Anatomi klinik.DAFTAR PUSTAKA C. Richard S.A. edisi 3. S. Gallstone. 767 – 733. hal 510-512. Dalam Noer. Disease of the Liver and Biliary Sistem 9 th. Buku Ajar Ilmu Bedah. ed. etal. Kolelitiasis. Lesmana. Lee Sp. eds. Wim de jong. S. Jakarta. EGC. Powel DW. Sherlock. Penerbit EGC. Devid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. L. Jilid I. . hal. Sars MG. Kapita Selekta Kedokteran. 1997. Alpers DH.3. Ed Revisi. Lippincot Come. Ed. 1995. Jakarta. Bina Rupa Aksara. hal 265 – 266. Dalam Buku Ajar Bedah. . 1999. Silverstein FE. Jakarta Sjamsuhidajat R. Dalam Ahmadsyah I. Sistem Empedu. Batu Empedu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful