LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA BADAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA

LAPORAN TAHUNAN 2010 dan 2011

SEKRETARIAT BAKN DPR RI Gedung DPR RI Jl. Jend.DAFTAR ISI Gatot Subroto Senayan - Jakarta 10270 eMail : bakn@dpr-ri.go.id

BAKN-DPR RI | 1

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

hlm. Daftar isi……….. ..................................................................................................................... Kata Pengantar Pimpinan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara........................................ Profil Badan Akuntabilitas Keuangan Negara ....................................................................... 2 3 5 9 11 11 150 150 167 168 173 174 175 177 177 178

KATA PENGANTAR
BAB I BAB II PENDAHULUAN....................................................................................... KINERJA BAKN TAHUN 2010 dan2011…………………………………………………….. A. B. C. D. E. BAB III Penelaahan BAKN atas Temuan Hasil Pemeriksaan BPK RI………………. Koordinasi BAKN dengan Alat Kelengkapan DPR RI……………….. ………. Rapat Dengar Pendapat dan Kunjungan Kerja BAKN…………………..…… Konsultasi dan Koordinasi BAKN dengan BPK RI……………………………… Rapat Internal, Audiensi, Kunker Luar Negeri dan Workshop…………..

AGENDA DAN TANTANGAN KE DEPAN……………………………………………………. A. B. Optimalisasi Peran dan Fungsi BAKN…………………………………………..….. Penguatan Institusi BAKN…………………………………………………………….....

BAB IV

PENUTUP……………………………………………………………………………………………….. A. B Kesimpulan…………………………………………………………………………………….. Rekomendasi…………………………………………………………………………………..

LAMPIRAN FOTO KEGIATAN KUNJUNGAN KERJA

PIMPINAN BADAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA DPR RI
BAKN-DPR RI | 2

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

Dua tahun telah berlalu, sejak Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) terbentuk di negeri ini. Kiranya selama rentang waktu dua tahun itulah kami bersama dengan anggota BAKN lainnya, dengan dukungan moril dari Ketua DPR RI, tenaga ahli dan Sekretariat BAKN telah berkerja keras, dan berupaya sebaik mungkin mengemban amanah, mewujudkan cita-cita anak bangsa membangun suatu lembaga legislatif yang lebih profesional, transparan, akuntabel, dan terpercaya. Sebagaimana dimaklumi bahwa BAKN merupakan salah satu alat kelengkapan DPR RI yang bersifat tetap, apalagi keberadaannya relatif sangat muda, karena baru lahir dua tahun yang lalu, tepatnya 29 September 2009. Sudah tentu tugas kami, tidak saja menjalankan fungsi sebagai anggota BAKN, tetapi juga harus merintis, membangun, dan mengembangkan BAKN agar peranannya sebagai alat kelengkapan DPR RI benar-benar dapat berfungsi optimal. Namun demikian, kita patut berbesar hati, karena alat kelengkapan legislatif yang mempunyai fungsi sebagaimana BAKN, di dunia hanya terdapat di beberapa negara, yang salah satunya adalah di Indonesia. Pada awal menjalankan tugas dan kewenangan konstitusional, BAKN menghadapi berbagai kendala dan hambatan, dengan tidak mengurangi rasa hormat atas capaian kinerja saat ini, boleh dikatakan semuanya diawali dengan nol dan serba keterbatasan, namun sebagai lembaga legislatif yang pembentukannya diamanatkan oleh Undang-Undang No 27 Tahun 2009 harus segera menjalankan fungsi dan wewenangnya dengan handal. BAKN yang baru lahir tidak lagi merangkak, belajar berjalan, tetapi harus segera berdiri dan langsung berlari sehingga setara dengan alat kelengkapan DPR RI lainnya. Banyak sudah ‘suka-duka dan jatuh-bangun’ yang kami alami dalam mengembangkan dan membangun BAKN, tetapi kami tetap bersemangat dengan selalu mengusung motto kami ‘demi tugas negara tiada kata menyerah sebelum raga berkalang tanah’. Penerbitan Laporan Tahunan BAKN Tahun 2010 dan 2011 ini bertujuan sebagai pertanggungjawaban BAKN kepada publik dan merupakan dokumentasi perjalanan BAKN selama dua tahun, yaitu sejak pertama kali berdiri sampai dengan bulan November 2011. Dalam laporan ini akan disajikan kinerja BAKN dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya untuk mewujudkan VISI dan MISI DPR RI. Meskipun belum semua fungsi BAKN dapat terekam secara lengkap, akan tetapi paparan dalam laporan ini mudah-mudahan dapat menggambarkan sebuah perjalanan singkat namun sarat dengan capaian, maupun hambatan dan kendala yang perlu mendapat perhatian kita bersama, untuk meraih kinerja BAKN lebih baik lagi BAKN adalah salah satu tempat kami mengabdikan diri, segala daya dan upaya, tenaga dan pikiran, telah kami curahkan untuk menggapai BAKN yang handal, sarat dengan karya dan inovasi. Sudah barang tentu masih banyak agenda besar yang masih harus diselesaikan, hal tersebut telah

BAKN-DPR RI | 3

Desember 2011 Pimpinan BAKN Wakil Ketua. kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya. BAKN-DPR RI | 4 . S. ketekunan.IP.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 menjadi catatan kami . semoga Laporan Tahunan BAKN Tahun 2010 dan 2011 dapat bermanfaat bagi bangsa. akuntabel. Laporan Tahunan BAKN Tahun 2010 dan 2011 ini dapat disusun berkat dukungan dan kerja keras berbagai pihak. transfaran. dengan tidak lupa untuk terus belajar dari segala kekurangan dan kelemahan yang kita rasakan selama ini. Untuk itu. Akhir kata. segenap anggota BAKN. Mayjen TNI (Pur) Yahya Sacawiria. Semoga semua kerja keras. Jakarta. khususnya Ketua DPR RI. Anggota A-488 H. Anggota A-21.MM No. dan terpercaya. Tenaga Ahli dan Sekretariat BAKN. Ahmad Muzani No. keikhlasan dan ketulusan hatinya dapat menjadi ladang amal kebaikan di hadapan ALLAH SWT. Ketua BAKN. dan harapan kami dapat dilanjutkan di tahun mendatang. Komisi. khususnya dalam upaya membangun lembaga legislatif yang lebih professional.

Pendahuluan Undang-Undang No. Peraturan DPR RI No. serta Pasal 4 ayat (1) dan (2) Peraturan DPR RI No. Selanjutnya berdasarkan Pasal 71 huruf (h) Undang-Undang No. DPR. 27 Tahun 2009 mengatur secara komprehensif dimana tidak membatasi pengaturan yang hanya terbatas pada materi muatan susunan dan kedudukan lembaga. 4. 5. Ketiga Fungsi tersebut dijalankan dalam rangka representasi rakyat. O7 A/DPR RI/IV/2009-2010 Tentang Tata Kerja Badan Akuntabilitas Keuangan Negara. 15 Tahun 2006 Tentang Badan Pemeriksa Keuangan. UU No. C. 01/DPR RI/I/2009-2010 Tentang Tata Tertib. DPR. terdapat penambahan alat kelengkapan dalam rangka mendukung fungsi serta tugas dan wewenang Dewan. DPD dan DPRD. 27 Tahun 2009 Tentang MPR. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara. tetapi juga mengatur hal-hal lain yang lebih bersifat komprehensif. 6. 3. UU No. 01/DPR RI/I/2009-2010 Tentang Tata Tertib. 7. DPR. Kelembagaan Berdasarkan Pasal 61 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. lembaga perwakilan daerah. 27 Tahun 2009 tentang MPR. maka harus dapat menjaga kredibilitas atau kepercayaan publik/masyarakat dalam melaksanakan fungsi pengawasan dewan. DPD dan DPRD. Berkaitan dengan penguatan dan pengefektifan kelembagaan DPR RI. 01/DPR RI/I/2009-2010 Tentang Tata Tertib. 01/DPR RI/I/2009-2010 Tentang Tata Tertib. 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara. DPR. 27 Tahun 2009 Tentang MPR. B. yaitu Badan Akuntabilitas Keuangan Negara sebagai alat kelengkapan yang bersifat tetap. Dasar Hukum 1. Keputusan DPR RI No. UU No. serta Pasal 6 huruf (h) Peraturan DPR RI No. DPD.14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. DPD dan DPRD. 27 Tahun 2009 Tentang MPR. dan DPRD. dan DPRD disusun untuk meningkatkan peran dan tanggung jawab lembaga permusyawaratan rakyat. Dalam rangka menunjang kelancaran tugas DPR RI dibantu oleh alat kelengkapan DPR sebagaimana Pasal Unddang-Undang No. 27 Tahun 2009 Tentang MPR. anggaran. dijelaskan bahwa DPR mempunyai tugas dan wewenang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan APBN. UU No. sesuai dengan amanat UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. DPD. yang berfungsi untuk menindaklanjuti laporan hasil pemeriksaan BPK RI dalam hal pengawasan penggunaan keuangan negara sehingga diharapkan keberadaan BAKN ini berkontribusi positif dalam pelaksanaan transparansi dan akuntabilitas penggunaan keuangan negara. UU No. 9. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara. 2. serta Pasal 20 ayat (1) dan (2) Peraturan DPR RI No. Dalam rangka melaksanakan fungsi dan tugas serta wewenang BAKN DPR RI sebagai lembaga yang baru dibentuk. DPR. dan pengawasan. dijelaskan bahwa DPR mempunyai fungsi legislasi.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 PROFIL BADAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA DPR RI A. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 8. UU No. lembaga perwakilan rakyat. Adapun alat kelengkapan dimaksud terdiri dari : BAKN-DPR RI | 5 . UU No.

MBA. Wakil Ketua dari Fraksi Demokrat. No. 3. AW Thalib. 3. Ketua dari Fraksi Partai Gerindra 2. Anggota dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. No. DPR. 27 Tahun 2009 tentang MPR. Anggota dari Fraksi Partai Golkar.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 1. A. Panitia Khusus. 11. Ir. Fauzi Achmad. MM. Anggota dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. No. Berdasarkan Undang-Undang No. Badan Akuntabililitas Keuangan Negara ( BAKN ) Badan Kehormatan. Pimpinan. 7. 5. Drs. Ir. H. Anggota dari Fraksi Partai Hanura. 9. S. Keanggotaan BAKN Anggota BAKN berjumlah 9 (sembilan) orang terdiri dari semua unsur fraksi. 8. No. 9. No. MBA. Anggota A-386. Pasal 111 (1) DPR menetapkan susunan dan keanggotaan BAKN pada permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang (2) Anggota BAKN berjumlah paling sdikit 7 (tujuh) orang dan paling banyak 9 (sembilan) orang atas usul fraksi DPR RI yang ditetapkan dalam rapat paripurna pada permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang Pasal 112 (1) Pimpinan BAKN merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat kolektif dan kolegial (2) Pimpinan BAKN terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan 1 (satu) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota BAKN berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dengan memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi. Anggota A-21. No. dan. Dr. Anggota dari Partai Persatuan Pembangunan. 6. yang selanjutnya disingkat BAKN dibentuk oleh DPR dan merupakan alat kelengkapan DPR yang bersifat tetap.IP. 10. BAKN-DPR RI | 6 . Nur Yasin. Anggota A-274. Anggota A-137. 4. 5. 7. Anggota A-316 . Anggota A-164. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh Rapat Paripurna. DPD. Badan Musyawarah. 8. menyebutkan bahwa : Pasal 110 Badan Akuntabilitas Keuangan Negara. Komisi. ditetapkan oleh Wakil Ketua DPR RI : 1. Dr. Sohibul Iman. Badan Kerja Sama Antar Parlemen.A. H.) Yahya Sacawiria. No. Anggota A-3.. Ahmad Muzani. Badan Anggaran. M. Prof. Anggota A-488. Badan Legislasi. Edwin Kawilarang. No. 4. Anggota dari Fraksi Partai Amanat Nasional. No. 2. Anggota A-59. Badan Urusan Rumah Tangga. Anggota dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Ismet Ahmad. MSi. Mayjen TNI (Purn. 6. Eva Kusuma Sundari. Dr. (3) Pemilihan Pimpinan BAKN sebagaimana sebagaimana dimaksud pada ayat (2)dilakukan dalam rapat BAKN yang dipimpin oleh Pimpinan DPR setelah penetapan susunan dan keanggotaan BAKN D.

DR. dan huruf c kepada pimpinan DPR dalam rapat paripurna setelah terlebih dahulu dibicarakan dengan komisi. ( Anggota). 2. Evi Noor Afifah. (Pasal 70 ayat (2) huruf (c)) 13. dalam rangka lebih meningkatkan kelancaran tugas BAKN sejak tahun 2009. (Pasal 72). Mengadakan pemantauan atas tindak lanjut hasil telaahan yang disampaikan kepada komisi. DR. 27 Tahun 2009 tentang MPR. Ak. huruf b. DPR. hambatan pemeriksaan. 3. (Pasal 70 ayat (2) huruf (d)) 14. Achmad Zamroni. (Pasal 70 ayat (1) huruf (b)) 7. serta Pasal 70.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Sesuai dengan Pasal 114 UU No. (Pasal 70 huruf (a)) 2. SE. DPD. (Pasal 70 ayat (2) huruf (a)) 11. (Pasal 70 huruf (c)) 4. baik melalui rapat paripurna maupun melalui Pimpinan Dewan. Mengundang dalam rangka meminta penjelasan BPK mengenai temuan dan tindak lanjut. Adli. BAKN dibantu 5(lima) orang tenaga ahli. (Pasal 70 huruf (d)) 5. ( Koordinator Tenaga Ahli BAKN). Mengadakan rapat untuk melakukan penelaahan atas laporan hasil pemeriksaan BPK. (Pasal 70 ayat (1) huruf (c)) 8. Melakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemerikaan BPK yang disampaikan pada DPR RI. (Pasal 70 ayat (1) huruf (d)) 9. BAKN-DPR RI | 7 . MH. Wisnu Thaib.27 Tahun 2009. dengan komposisi sebagai berikut: 1. TUGAS BAKN Sesuai yang diamanatkan dalam Pasal 113 UU No. (Pasal 71 ayat (3)) 15. MSi.01/DPR RI/I/2009-2010 Tentang Tata Tertib. F. BAKN menginventarisasi permasalahan keuangan negara. ME (Anggota) 4. DR. Membuat evaluasi dan inventarisasi atas tindak lanjut yang dilaksanakan oleh komisi. huruf b. Dapat meminta penjelasan kepada BPK untuk menindaklanjuti penelaahan sebagaimana dimaksud dalam huruf (a) dan huruf (b). Eddy RS. H. Dapat mengadakan koordinasi dengan unsur pimpinan komisi untuk membicarakan hasil pembahasan komisi atas hasil temuan pemeriksaan BPK. dijelaskan bahwa BAKN bertugas: 1. Menyampaikan hasil penelahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf (a) kepada komisi. (Pasal 70 ayat (1) huruf (e)) 10. Dapat mengadakan rapat dengan komisi yang meminta penelaahan lanjutan atas hasil temuan pemeriksaan BPK. (Pasal 70 ayat (1) huruf (a)) 6. Menyampaikan hasil pembahasan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. 71 dan 72 Peraturan DPR RI No. dan DPRD. MSi. 2. (Pasal 70 huruf (b)) 3. Hasil kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 huruf a. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 huruf d. (Anggota) E. Hubungan antara BAKN dengan BPK RI 1. serta penyajian dan kualitas laporan. Menyampaikan hasil telaahan sebagaimana dimaksud dalam huruf (a) kepada komisi berupa ringkasan temuan beserta analisis kebijakan berdasarkan hasil pemeriksaan semester BPK dan hasil temuan pemeriksaan dengan tujuan tertentu setelah BPK menyerahkan hasil temuan kepada DPR. Dapat menyampaikan hasil telaahan sebagaimana dimaksud dalam huruf (b) kepada alat kelengkapan selain komisi. MBA. Penyampaian laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK RI. SE. (Pasal 70 ayat (2) huruf (b)) 12. Menindaklanjuti hasil pemeriksaan komisi terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK atas Permintaan komisi. Memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja pemeriksaan tahunan. Ak. (Anggota) 5. dan huruf d disampaikan kepada pimpinan DPR dalam rapat paripurna secara berkala.

Memberikan usulan kepada Komisi untuk tindak lanjut atas temuan-temuan yang dianggap penting oleh BAKN. BAKN-DPR RI | 8 . Melakukan pemantauan terhadap tindaklanjut Komisi atas temuan pemeriksaan BPK RI. Menginventarisasi tindak lanjut yang dilaksanakan oleh Komisi. 3. Press Release Pelaksanaan Press Release terhadap temuan hasil pemeriksaan yang telah ditelaah oleh BAKN. K. Hubungan antara BAKN dengan Badan Anggaran 1. I. Penyampaian pokok-pokok temuan atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dalam rangka pembahasan RUU Pertanggungjawaban atas Pelakanaan APBN 2. G. Penyampaian hasil telaahan BAKN terhadap Hasil Pemeriksaan Semester (Hapsem) I dan II BPK RI. 4. H. J. 6. hambatan pemeriksaan serta penyajian dan kualitas laporan. Pimpinan DPR RI Hasil kerja BAKN disampaikan kepada pimpinan DPR RI dalam rapat paripurna secara berkala. 2. Penyampaian temuan-temuan K/L sebagai referensi dalam pembahasan APBN Induk dalam rangka rencana pelaksanaan sistem reward and punishment. Memberikan masukan kepada BPK dalam hal memberikan usulan mengenai objek pemeriksaan yang dianggap perlu untuk diperiksa oleh BPK. 5.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 3. rencana kerja pemeriksaan tahunan. Melakukan rapat konsultasi dengan Pimpinan Komisi terhadap hasil telaahan BAKN atas temuan pemeriksaan BPK RI. Hubungan antara BAKN dengan Pimpinan DPR Menyampaikan laporan hasil kerja (ringkasan dan telaahan) atas laporan hasil pemeriksaan BPK beserta laporan tindak lanjutnya kepada Pimpinan DPR dalam rapat paripurna secara berkala. Hubungan antara BAKN dengan Komisi 1. Penyampaian hasil penelaahan mengenai isu-isu keuangan negara yang krusial.

Dalam rangka meningkatkan fungsi pengawasan DPR terhadap pertanggung jawaban Keuangan Negara maka dalam UU No 27 Tahun 2009 tentang MPR. Pengertian good governance memiliki dua perspektif yaitu akuntabilitas dan kesesuaian antara kebijakan yang dibuat dan pelaksanaannya. Pada dasarnya pengawasan DPR terhadap Keuangan Negara dimulai dari tahap penyusunan anggaran sesuai dengan pasal 23 UUD 1945 dan pasal 15 UU No. Sehingga seringkali menjadi kendala dalam pelaksanaan APBN/APBD di lain pihak kondisi-kondisi seperti menjadi temuan dalam pemeriksaan BPK RI. Rapat Dengar Pendapat Umum. dan Kunjungan Kerja masih terdapat permasalahan-permasalahan yang dialami oleh Kementerian. Akuntabilitas sangat diperlukan dimana masyarakat dapat memperoleh gambaran secara jelas dan transparan setiap program Pemerintah. Namun dari hasil pendalaman temuan BPK RI yang dilakukan oleh BAKN melalui Rapat Dengar Pendapat. serta penyajian dan kualitas laporan. DPR. Tetapi pengawasan terhadap akuntabilitas dan tanggung jawab Keuangan dilaksanakan setelah BPK RI menyampaikan laporan hasil pemeriksaan kepada DPR RI sesuai dengan Pasal 17 UU NO 15 Tahun 2004 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. Akuntabilitas dapat diartikan bahwa seluruh organ Pemerintah bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan secara efisien dan efektif. Good governance memiliki pengertian sebagai suatu rangkaian proses.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 BAB I PENDAHULUAN Dalam era reformasi saat ini sangat diperlukan transparasi dan akuntabilitas pemerintah. perundang-undangan dan peraturan yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan pemerintah. BAKN melalui pimpinan DPR RI menyampaikan rekomendasi agar pemerintah melakukan sinkronisasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pengelolaan BAKN-DPR RI | 9 . DPD dan DPRD dibentuk Badan Akuntabilitas Keuangan Negara ( BAKN ) sebagai alat kelengkapan DPR yang bersifat tetap. efesiensi dan efektif atas semua pelaksanaan kegiatan Pemerintah. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. (c) menindaklanjuti hasil pembahasan Komisi terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK atas permintaan Komisi. misalnya antara Peraturan Menteri Keuangan dengan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan Nasional dalam pengelolaan penerimaan negera bukan pajak (PNBP). DPR. Oleh karena itu. Perbaikan transparasi dan akuntabilitas keuangan Negara merupakan bagian terpenting dari penegakan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). hambatan pemeriksaan. yang dalam hal ini perlu menilai ekonomis. telah cukup banyak dirasakan manfaat fungsi pengawasan DPR terhadap Akuntabilitas Keuangan Negara yang dapat dilihat dari tindak lanjut rekomendasi hasil Pemeriksaan BPK yang telah dilaksanakan oleh Kementrian /Lembaga dan Pemerintah Daerah. penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Sosial (BANSOS). kebijakan. DPD dan DPRD serta peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2009 tentang Tata-Tertib antara lain menetapkan bahwa Badan Akuntabilitas Keuangan Negara bertugas antara lain: (a) melakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang disampaikan kepada DPR. Permasalahan tersebut berasal dari peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan keuangan negara yang tidak sinkron antara satu dengan yang lainnya. maupun Pemerintah Daerah dalam melakukan pengelolaan keuangan negara. (d) memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja pemeriksaan tahunan. Kewenangan DPR RI untuk melakukan pengawasan terhadap Akuntabilitas Keuangan Negara (APBN) bila diperhatikan merupakan konsekuensi logis diberikannya otorisasi parlementer kepada pemerintah. dengan kewenangan tersebut DPR RI dapat melakukan verifikasi apakah pemerintah benar-benar telah melakukan amanah rakyat yang diberikan melalui para wakilnya di DPR RI. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR. Dalam kurun waktu 2 ( dua ) tahun setelah terbentuknya BAKN. Lembaga Negara. (b) menyampaikan hasil penelaahan sebagaimana dimaksud dalam butir (a) kepada Komisi.

maka perlu kiranya semua Penyelenggara Negara mentaati semua aturan yang terkait dengan keuangan negara dan melaksanakannya secara efisien.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 keuangan negara dan dalam rangka meningkatkan transparansi dan akuntabilitas keuangan negara serta mencegah terjadinya penyimpangan pengelolaan keuangan negara. BAKN-DPR RI | 10 . ekonomis dan efektif.

Pasal 9 e Jo. reviu (review). dan pemeriksaan atas sistem pengendalian intern. Pemeriksaan Kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas. Pemeriksaan kinerja dilakukan secara obyektif dan sistematik terhadap berbagai macam bukti. jenis pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK RI terdiri atas : 1. Bank BAKN-DPR RI | 11 . Pasal 31 ayat (2) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006. Tujuan Standar pemeriksaan ini adalah untuk menjadi ukuran mutu bagi para pemeriksa dan organisasi pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara. dan 3. PENELAAHAN BAKN ATAS TEMUAN HASIL PEMERIKSAAN BPK RI Pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan terhadap pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara berdasarkan Pasal 23 ayat (1) E UUD 1945. pemeriksaan investigatif. Dalam melakukan pemeriksaan kinerja. BPK melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara pada pemerintah pusat. mutu pelaksanaan pemeriksaan dan persyaratan laporan pemeriksaan yang profesional bagi para Pemeriksa dan organisasi. Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT). pemeriksa juga menguji kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundangundangan serta pengendalian intern. Berkaitan dengan persyaratan profesional Pemeriksa. Pemeriksaan kinerja menghasilkan temuan. Gambaran Umum Pemeriksaan Pada Semester II Tahun 2009. dalam semua hal yang material. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan tentang SPKN ini merupakan pelaksanaan dari Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara Jo. pelaksanaannya didasarkan pada Standar Pemeriksa Keuangan Negara (SPKN) atau disingkat dengan Standar Pemeriksaan yang ditetapkan dengan Peraturan BPK RI Nomor 1 Tahun 2007. simpulan. Sesuai dengan Undang-undang dan Peraturan tersebut diatas. pemerintah daerah. 27 Tahun 2009 Pasal 113 ayat (1) huruf a dan b dan Peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2009. 2. untuk dapat melakukan penilaian secara independen atas kinerja entitas atau program/kegiatan yang diperiksa. BAKN melalui pimpinan DPR RI telah menerima laporan hasil pemeriksaan dari BPK RI dan telah dilakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK RI tersebut kemudian telah disampaikan kepada komisikomisi sesuai dengan bidangnya/mitra kerjanya. Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dapat bersifat : eksaminasi (examination). dan rekomendasi. atau prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures). Pemeriksaan dengan tujuan tertentu meliputi antara lain pemeriksaan atas hal-hal lain di bidang keuangan. Penelaahan atas Hasil Pemeriksaan Periode Semester II Tahun 2009 a. Pemeriksaan Keuangan. Pemeriksaan Kinerja. dengan penjelasaan sebagai berikut : 1. Sejak dibentuknya BAKN pada bulan September 2009 berdasarkan UU No. Pemeriksaan Keuangan adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai (Reasonable Assurance) apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar. sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia seperti standar akuntansi pemerintahan.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 BAB II KINERJA BAKN DPR RI 2010 DAN 2011 A.

dan badan layanan umum (BLU) yang seluruhnya berjumlah 769 obyek pemeriksaan.238.11 BAKN-DPR RI | 12 . kemudian hasil pemeriksaannya telah disampaikan oleh BPK kepada DPR dengan surat No. 3. badan usaha milik negara (BUMN).983 kasus senilai Rp 2. Kota Langsa. 2) Pemeriksaan Kinerja. dengan fokus/sasaran pemeriksaan : 1) Pemeriksaan Keuangan.911. kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja sebanyak 522 kasus. dalam semester II Tahun 2009. PW/5487/DPR/DPRRI/IX/2009. Opini WTP diberikan untuk Laporan Keuangan Kabupaten Nagan Raya. 2. sebanyak 78 obyek pemeriksaan. Pemeriksaan terhadap 189 LKPD Tahun 2008. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 67 entitas. 1.983 Nilai (Rp Jutaan) 677. Hasil evaluasi terhadap sistem pengendalian intern (SPI) atas 189 LKPD. dan Kota Sabang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).63 911.111.753.353/s/I/11/2009 tanggal 23 November 2009.89 triliun. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 107 entitas. BPK juga melakukan pemeriksaan yang bersifat investigasi atas kasus PT Bank Century Tbk. 6.244.20 806. 4. lembaga atau badan lain.00 2. Kelompok Temuan/Berakibat Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaaan Ketidakhematan/Pemborosan Ketidakefektifan Administrasi Jumlah Jumlah Kasus 870 233 572 121 206 981 2.dan masalah kelemahan struktur pengendalian intern sebanyak 302 kasus. sesuai dengan permintaan DPR melalui surat No. badan hukum milik negara (BHMN). terdapat 1. badan usaha milik daerah (BUMD). Pemeriksaan Keuangan Pada Semester II Tahun 2009. BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 4 entitas.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Indonesia. telah dilakukan pemeriksaan keuangan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) sebanyak 190 entitas. Kabupaten Pidie Jaya.649 kasus terdiri atas masalah kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan sebanyak 825 kasus. dengan rincian : No. yaitu sebanyak 189 entitas Tahun 2008 dan 1 (satu) entitas Tahun 2007.85 409. sebanyak 497 obyek pemeriksaan.39 0.217. ditemukan masalah ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan sebanyak 2. Terhadap 189 LKPD Tahun 2008.04 86.891. opini tidak wajar (TW) atas 11 entitas. sebanyak 194 obyek pemeriksaan. Rincian obyek pemeriksaan adalah : OBYEK PEMERIKSAAN Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN BUMD BHMN/BLU/Badan Lainnya JUMLAH FOKUS/SASARAN PEMERIKSAAN TUJUAN KEUANGAN KINERJA KHUSUS 18 126 190 55 312 1 1 23 1 3 35 2 1 1 194 78 497 JUMLAH 144 557 25 38 4 769 Disamping itu. dan 3) Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT). 5.

Pemerintah Kota Denpasar. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk menilai pemenuhan kewajiban pemerintah daerah hasil pemekaran selama masa transisi pemerintahan dan menilai efektivitas pencapaian tujuan pemekaran daerah. Kepulauan Riau dan Jawa Barat.Lima pemerintah kabupaten/kota melaksanakan pengelolaan sarana prasarana (sarpras) pendidikan dasar secara cukup efektif dan 27 pemerintah kabupaten/kota termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kurang efektif.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Pemeriksaan Kinerja Pada Semester II Tahun 2009. Pemerintah Kota Bekasi. tiga perusahaan daerah air minum (PDAM). hanya Pemerintah Kota Cimahi dan Kota Banjar yang dianggap cukup memenuhi kewajibannya selama masa transisi pemerintahan sesuai dengan UU pembentukannya dan PP No. Hasil pemeriksaan atas kinerja daerah pemekaran menunjukkan bahwa dari delapan daerah otonom baru (DOB) yang diperiksa. . prasarana dan tenaga pendidik pendidikan dasar dalam menunjang Program Wajar Dikdas 9 Tahun untuk Tahun 2008 dan Semester I Tahun 2009. 15 RSUD. Pemeriksaan bertujuan untuk menilai aspek efektivitas pengelolaan sarana. karena masih di bawah rata-rata nasional seluruh kabupaten/kota di Indonesia b. 29 pemerintah kabupaten/kota termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kurang efektif dan dua pemerintah kabupaten/kota tidak efektif. serta tenaga pendidik pendidikan dasar dalam menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (Program Wajar Dikdas 9 Tahun) pada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan 31 pemerintah kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN). Sedangkan beberapa indikator kinerja Daerah Induk (DI) dan DOB yaitu seluruh komponen aspek kesejahteraan. c. Pengelolaan Sampah Perkotaan Pemeriksaan kinerja atas pengelolaan sampah perkotaan dilaksanakan atas kegiatan pengelolaan sampah pada Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU). BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja atas pengelolaan sarana dan prasarana. Pengelolaan sarana dan prasarana serta tenaga pendidik pendidikan dasar dalam menunjang program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. dan satu badan usaha milik negara (BUMN). Pemeriksaan kinerja pada Semester II Tahun 2009 dilakukan atas: a. 6 Tahun 2008. 44 obyek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah.Dua puluh empat pemerintah kabupaten/kota termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pengolahan data yang digunakan dalam menghitung angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) secara kurang efektif dan sebanyak delapan pemerintah kabupaten/kota tidak efektif. . Pemerintah Kota Bandung. serta tiga provinsi yaitu Bengkulu. belanja modal dan jumlah ketersediaan dokter ratarata tidak tercapai. Daerah Pemekaran Pemeriksaan kinerja daerah pemekaran dilakukan di Kementerian Dalam Negeri dan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD). BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 15 obyek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH). Hasil pemeriksaan BPK menyimpulkan bahwa: .Satu pemerintah kabupaten telah mengelola tenaga pendidik pendidikan dasar secara cukup efektif. Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa kebijakan dan pelaksanaan pelayanan persampahan belum efektif dalam mendukung pencapaian sasaran pembangunan BAKN-DPR RI | 13 . dan Pemerintah Kabupaten Gianyar Tahun 2005 sampai dengan 2009.

dan melepaskan gas metana yang berkontribusi secara signifikan bagi perubahan iklim. serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. e. Hasil pemeriksaan BPK menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan pengukuhan kawasan hutan masih kurang ekonomis dan efektif karena adanya kelemahan dalam kebijakan dan pelaksanaan kegiatan pengukuhan kawasan hutan. Pengukuhan Kawasan Hutan Pemeriksaan kinerja atas Pelaksanaan Pengukuhan Kawasan Hutan TA 2005 s. Hasil pemeriksaan atas penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam pengelolaan situ di wilayah Sungai Ciliwung Cisadane termasuk Situ Gintung menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana tidak terencana. Pemeriksaan dilaksanakan bertujuan untuk menilai efektifitas penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam pengelolaan Situ Gintung dan situ lainnya di Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane.Pencegahan bencana dalam pengelolaan Situ-Situ di wilayah Sungai Ciliwung Cisadane. Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam pengelolaan situ di wilayah sungai ciliwung cisadane termasuk situ gintung. Tujuan pemeriksaan pengukuhan kawasan hutan adalah untuk menilai apakah pengukuhan kawasan hutan telah dilaksanakan dengan ekonomis dan efektif.Rehabilitasi dan rekonstruksi bencana situ gintung. Kota Bogor. kejadian bencana Situ Gintung dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. pencegahan. . Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). dan Kota Tangerang Selatan. Kementerian Dalam Negeri (Kementerian DN). Kota Depok. f. efisien dan efektif. dan Kalimantan Timur. tepat. d.Mitigasi bencana dalam pengelolaan Situ-Situ di wilayah Sungai Ciliwung Cisadane. Provinsi Banten. BAKN-DPR RI | 14 . Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Pemeriksaan kinerja atas pelayanan kesehatan pada 15 rumah sakit umum daerah (RSUD) kabupaten/kota bertujuan untuk: . dan laut). pemeriksaan juga memiliki tujuan khusus. Kementerian Kehutanan. Kalimantan Barat. yaitu untuk menilai efektivitas: . . Permasalahan tersebut ditinjau dari aspek kelembagaan. Selain itu. terpadu dan terintegrasi.Menilai efektivitas pengendalian intern terhadap kegiatan-kegiatan dalam pelayanan kesehatan.Tanggap darurat bencana situ gintung. Kabupaten Bogor. Pemeriksaan kinerja atas penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam pengelolaan situ di wilayah Sungai Ciliwung Cisadane termasuk Situ Gintung dilakukan pada Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU). sehingga cenderung menjadi tidak cepat. Sumatera Utara. . Kota Tangerang. 2009 (November 2009) dilaksanakan pada Kementerian Kehutanan dan Dinas Kehutanan Provinsi di Jakarta. Kabupaten Tangerang. serta instansi terkait lainnya. Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH). mengganggu kelestarian fungsi lingkungan (pemukiman. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Provinsi Jawa Barat.d.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 persampahan nasional yang telah ditetapkan dalam RPJMN 2004-2009. Timbulan sampah yang tidak terangkut dan pengelolaan sampah yang tidak berwawasan lingkungan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat. sungai. hutan.

g.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Menilai tingkat pencapaian kinerja pelayanan kesehatan berdasarkan indikatorindikator yang telah ditetapkan dan telah dilaksanakan secara ekonomis.d. 2009 pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan BAKN-DPR RI | 15 .Kegiatan perluasan (pencetakan) sawah dalam Program Peningkatan Ketahanan Pangan Tahun 2007 s. distribusi.Menilai apakah pengadaan sarana dan prasarana kesehatan telah memenuhi asas ekonomis sesuai ketentuan yang berlaku dan sesuai prasyarat yang ditetapkan. dan . . h. dan . Hanya empat RSUD yang telah mencapai kategori pencapaian kinerja baik.Pelayanan jasa pengujian mutu barang pada Balai Pengujian Mutu Barang Ekspor dan Impor (BPMBEI) Direktorat Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang. upaya pengelolaan produksi. serta entitas lainnya yang terkait. Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan. . Temuan : Entitas tersebut belum efektif dalam mengelola pelayanan jasa pengujian mutu barang. Temuan : Kedua entitas tersebut belum efektif dalam melakukan kegiatan penagihan surat pemberitahuan kekurangan pembayaran bea masuk (SPKPBM). Hasil pemeriksaan kinerja atas PDAM secara umum menunjukkan bahwa perencanaan dan mekanisme pelayanan kepada pelanggan. PDAM Pemeriksaan kinerja atas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) pada tiga PDAM bertujuan untuk: . upaya pengelolaan produksi. 2007. Temuan : Entitas tersebut yang ada di Bekasi belum efektif mengelola kegiatan pelatihan kerja berbasis kompetensi baik diklat dasar instruktur.Perencanaan pinjaman luar negeri Tahun 2004 sampai dengan 2007 pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN).Mengetahui dan menilai apakah perencanaan dan mekanisme pelayanan kepada pelanggan. serta telah dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya. Kinerja Lainnya (7 entitas pusat dan 1 BUMN). Selain tema pemeriksaan kinerja di atas.Menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. dan distribusi belum efektif. efisien dan efektif.Pengelolaan pelatihan kerja berbasis kompetensi pada Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Luar Negeri (BBPLKLN) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.d. . upgrading instruktur maupun pelatihan bagi pencari kerja. Hasil pemeriksaan kinerja atas pelayanan kesehatan pada RSUD secara umum menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan pada RSUD belum optimal dan masih harus ditingkatkan. Temuan : Entitas tersebut belum efektif dalam melakukan proses perencanaan tas pinjaman luar negeri tahun 2004 s. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja pada delapan obyek pemeriksaan lainnya. dengan rincian sebagai berikut: . serta evaluasi kinerja telah dilaksanakan secara efektif dan sesuai ketentuan yang berlaku. yaitu tujuh obyek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat dan satu BUMN. .Kegiatan penagihan surat pemberitahuan kekurangan pembayaran bea masuk pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tanjung Priok dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Perak Surabaya.

Pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban PNBP Perguruan Tinggi pada 12 perguruan tinggi. produktifitas.95 miliar.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 - - - Air (PLA) Kementerian Pertanian. TMA tidak melaporkan hasil tebangan kayu sebanyak 4.99 miliar. WKS. Temuan : Kedua entitas tersebut belum efektif dalam melaksanakan kegiatan pencetakan/perluasan areal persawahan dan masih perlu perbaikan.Pemeriksaan manajemen aset di Provinsi Bengkulu. peningkatan efisiensi. pemungutan penerimaan Negara bukan pajak/pendapatan asli daerah (PNBP/PAD). Kinerja PT Indonesia Power (IP). . dan kualitas SDM. Manajemen penangkapan ikan pada Kantor Pusat Kementerian Kelautan dan Perikanan. pelaksanaan pekerjaan peningkatan daya guna Waduk Benanga tidak sesuai kontrak mengakibatkan terjadi kelebihan pembayaran senilai Rp6. Temuan : Entitas tersebut dalam mengelola kegiatan pengaturan dan penggunaan bahan bakar pada operasi pembangkitan dan kegiatan pemeliharaan pada Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Suralaya. Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) pada semester II tahun 2009. .Pemeriksaan pendapatan negara di Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota di Jambi.233 m³ senilai Rp63.332.00 miliar belum diterima. . antara lain dilakukan pada : . diantaranya terjadi di Universitas Tanjungpura TA 2008 minimal senilai Rp23.073. BAKN-DPR RI | 16 .Pemeriksaan pendapatan daerah di Kota Palembang. Dinas pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota wilayah Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. sehingga rawan terhadap permasalahan/perselisihan hukum dan penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. pendapatan atas bagian keuntungan PDAM Tirta Mukti senilai Rp5.Pemeriksaan belanja negara pada Kementerian Keuangan. dan PT. Temuan : Entitas tersebut belum efektif dalam mengelola pelayanan pertanahan khususnya pelayanan pendaftaran pertama kali. Pelayanan Kantor Pertanahan Kota Jakarta Barat Tahun 2008 dan 2009 pada Badan Pertanahan Nasional. RHM. Sulawesi Utara dan Maluku.Pemeriksaan belanja daerah di Kota Samarinda.57 miliar dan TA 2009 senilai Rp6.34 miliar belum jelas. PT. perhitungan eskalasi harga kontrak pembangunan Gedung Sekretariat Jenderal Tower I kepada PT AK tidak sesuai ketentuan sehingga terdapat kelebihan pembayaran eskalasi harga senilai Rp18.84 miliar dan sanksi denda pelanggaran eksploitasi hutan senilai Rp130. Temuan : Ketiga entitas yang menjadi sampel pemeriksaan belum efektif dalam menetapkan kebijakan dan melaksanakan kegiatan pelayanan perijinan. Provinsi Sumatera Selatan. serta pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Sumatera Utara. terlihat dari tidak tercapainya beberapa indikator kinerja yang berhubungan dengan fungsi pelayanan. .300. dan pengawasan penangkapan ikan yang menghambat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. unit pelaksana teknis (UPT) pelabuhan dan pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan (P2SDKP). status kepemilikan tanah sebanyak 123 bidang seluas 2. pengolahan ikan. PT.52 miliar.33 miliar.27 miliar. .51 m3 yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara berupa PSDH senilai Rp50. UBP Semarang dan UBP Tanjung Priok belum optimal dan masih harus ditingkatkan. serta kegiatan pemeliharaan. Provinsi Kalimantan Timur. penggunaaan langsung PNBP senilai Rp147.

72 miliar.42 miliar. Penyampaian Hasil Penelaahan BAKN Kepada Komisi Laporan-laporan hasil pemeriksaan BPK tersebut. dan SGD5. Terdapat koreksi cost recovery pada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) TI senilai Rp3.70 miliar yang mengakibatkan dana tersebut tidak dapat segera dimanfaatkan untuk perguliran lebih lanjut.30 ribu termasuk pengembalian untuk penggantian PPN atas barang kena pajak/jasa kena pajak yang tidak dapat di cost recovery. Pemeriksaan operasional BUMN. b. Pemeriksaan subsidi pemerintah. bank. dan PDAM. Ringkasan temuan penting hasil pemeriksaan BPK yang perlu ditindak lanjuti oleh komisi adalah sebagai berikut : 1) Komisi I a) Hasil perbaikan suku cadang Pesawat MK-53 dan Pesawat Hawk 109/209 Tahun Anggaran 2007 di Dinas Aeronautika Angkatan Udara (DISAEROAU) senilai Rp 6. Belum ada penjabaran lebih lanjut atas PP No. Pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan penyelenggaraan dan pelayanan kesehatan ibadah haji Tahun 1429/2008M di Departemen Agama. oleh BAKN telah dilakukan penelaahan dan diselesaikan pada bulan Juli 2010 yang dikelompokkan sesuai dengan komisi DPR dan disampaikan pada komisi-komisi yang bersangkutan. pelaksanaan pekerjaan pembangunan Jalan Ayawasi-Kebar TA 2008 dan TA 2009 tidak sesuai kontrak yang berakibat kekurangan volume pekerjaan. Terdapat pembayaran kompensasi biaya hidup kepada jemaah haji yang tinggal melebihi 39 hari akibat kesalahan Garuda belum dibagikan kepada jemaaah haji oleh Panitia Penyelenggara Ibadaha Haji (PPIH) senilai Rp480. Pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban Program Jaminan Kesehatan Masyarakat. Pemeriksaan operasional RSUD. Pemeriksaan kegiatan penanganan bencana dan pengelolaan dana rehabilitasi serta rekonstruksi pasca bencana. Pemeriksaan investigasi kasus PT Bank Century Tbk.250.761. USD235. dan spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak yang merugikan keuangan daerah senilai Rp24. Pemeriksaan pelaksanaan belanja bidang infrastruktur jalan dan jembatan di Provinsi Papua Barat.80 tidak dapat mendukung kesiapan operasional pesawat mengakibatkan pemborosan Keuangan Negara.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 - - - - - - - Pemeriksaan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan.224.06 miliar. Realisasi bantuan langsung masyarakat yang seharusnya digunakan untuk pembangunan kembali rumah yang rusak tetapi dibagikan kepada aparat desa/kecamatan dan tokoh masyarakat senilai Rp2. khususnya terhadap urusan yang sifatnya concurrent (urusan bersama). kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan. 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintah antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.53 ribu. Pemeriksaan pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi.33 dan USD 1.663.25 juta.408. BAKN-DPR RI | 17 . Pemeriksaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd) Pada 16 kabupaten di delapan provinsi terdapat tunggakan pengembalian dana usaha ekonomi produktif (UEP) dan simpan pinjam untuk kelompok perempuan (SPP) senilai Rp11. Pemeriksaan kegiatan aparat pengawasan intern pemerintah.

318.00 untuk kegiatan Riset Insentif Kedirgantaraan di LAPAN tahun anggaran 2008 belum sepenuhnya efektif.460.518.00 di lingkungan Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Departemen Pertahanan.200.152.683. 4) Komisi IV a) Perencanaan kegiatan pengembangan UPH Coco Biodiesel Tahun Anggaran 2007 Departemen Pertanian melalui Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) senilai Rp 1.530. b) Terdapat pembayaran atas pengeluaran fiktif yang dilakukan oleh konsultan pada Ditjen Adminduk Departemen Dalam Negeri sebesar Rp 2.640.066.906.300.310.460.413.598.207.150.00 pada pekerjaan Pengadaan Jasa Konsultan Penyajian Data Kependudukan dalam rangka Persiapan Pemilu 2009.00.67 dan jaringan jang telah terpasang tidak dimanfaatkan senilai Rp 893. 9) Komisi IX BAKN-DPR RI | 18 .004.250.502. 6) Komisi VI Biaya langsung non personil pekerjaan Jasa Konsultansi di Dekopin tahun anggaran 2007 dan 2008 senilai Rp 11. 7) Komisi VII Pengeluaran biaya sebesar Rp3.921.000. 2) Komisi II a) Pengadaan sarana dan prasarana utama dan pendukung Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) Tahun 2006 dan 2007 pada Ditjen Adminduk Departemen Dalam Negeri senilai Rp117. OPM (Ondop Perkasa Makmur) melakukan penebangan tanpa izin belum dikenakan denda sebesar Rp 7.470. 3) Komisi III a) Pembayaran atas kontrak pekerjaan Sewa/Langganan Telkom VPN IP TPI di Ditjen Imigrasi tidak sesuai ketentuan sebesar Rp 1.697.00.159.00 tidak dimanfaatkan secara optimal.400.00.927. b) Pengadaan Tanah pada Ditjen Badan Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha diatas harga pasar sebesar Rp 1.00.000.600.091. 8) Komisi VIII Pembayaran honorarium Petugas Kesehatan Haji Tahun 1429H/ 2008M di Biro Umum Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan belum dipotong Pajak Penghasilan sebesar Rp 7. 5) Komisi V Pekerjaan pemindahan terminal Bongkar Muat Batubara dari Stasiun Bekasi ke Stasiun Nambo tahap I di Direktur Prasarana Ditjen Perkerataapian Departemen Perhubungan tidak efektif dan memboroskan keuangan Negara Rp 11.100.805.305.00.370.00 kurang cermat. PT.545.566.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 b) Terdapat pemborosan Keuangan Negara senilai Rp 1.576.00 dan pengeluaran yang tidak dapat diyakini kebenarannya atas biaya tenaga ahli dan biaya non personil sebesar Rp2.396.677.00 tidak didukung dengan bukti pembayaran dan tidak sesuai dengan ketentuan.500.815. b) Pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan.00 tidak terjamin kontinuitasnya diantaranya senilai Rp 2.

BUMN. Atas 78 LKKL tersebut meliputi neraca. BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 44 KL.042.013. laporan arus kas (LAK). terdiri atas 1 (satu) laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) Tahun 2009 dan 78 laporan keuangan kementerian/lembaga (LKKL) tahun 2009. dengan fokus pemeriksaan :  Pemeriksaan Keuangan. BUMD. Pemerintah Daerah..00 tidak sesuai ketentuan. lembaga atau badan lain. Rincian obyek pemeriksaan adalah : FOKUS/SASARAN PEMERIKSAAN TUJUAN KEUANGAN KINERJA KHUSUS 79 4 27 350 27 3 3 22 1 5 7 437 7 84 OBYEK PEMERIKSAAN Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN BUMD BHMN/BLU/Badan Lainnya JUMLAH JUMLAH 110 177 28 1 12 528 Pemeriksaan Keuangan Pada Semester I Tahun 2010. sebanyak 437 obyek pemeriksaan. pemerintah daerah.634. (tidak jelas entitasnya) sebesar Rp 6.  Pemeriksaan Kinerja. Penelaahan atas Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2010 a. dan  Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT). badan hukum milik negara (BHMN). sebanyak 84 obyek pemeriksaan. terdiri atas 2 (dua) laporan keuangan BUMN tahun 2009 dan 1 (satu) laporan keuangan BUMN tahun 2008. Bank Indonesia.634. badan usaha milik daerah (BUMD).LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Jasa Giro Rekening Jamkesmas di ….310.168. sebanyak 7 obyek pemeriksaan.00 belum disetorkan ke Kas Negara. terdiri atas 4 (empat) laporan keuangan badan lainnya tahun 2009 dan 1 (satu) laporan keuangan badan lainnya tahun 2008. dan catatan atas laporan keuangan (CALK). dan 1 (satu) LKPD tahun 2008. BPK melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara pada pemerintah pusat. badan usaha milik negara (BUMN). opini wajar dengan BAKN-DPR RI | 19 .851.00 2. laporan realisasi APBN (LRA). dan badan layanan umum (BLU) yang seluruhnya berjumlah 528 obyek pemeriksaan. 1 (satu) LKPD tahun 2007. Terhadap 78 LKKL Tahun 2009.124. 10) Komisi X Prosedur pemberian Bantuan Pengembangan Pariwisata di Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata pada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun anggaran 2008 kepada Daerah senilai Rp 24. Gambaran Umum Pemeriksaan Pada Semester I Tahun 2010. terdiri atas 348 laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) tahun 2009. telah dilakukan pemeriksaan keuangan terhadap Laporan Keuangan : Pemerintah Pusat. 11) Komisi XI Kelemahan pemahaman Aspek Hukum petugas Pajak di Ditjen Pajak Departemen Keuangan berakibat pemberian imbalan bunga yang membebani Negara sebesar Rp 599.864.

produksi sendiri bijih timah.pengelolaan pendapatan negara.Pembangkit Listrik Tenaga Uap dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap . Pemeriksaan Kinerja Dalam Semester I Tahun 2010. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) pada 8 KL.45 triliun. dan penjualan logam timah pada PT Timah (Persero) Tbk. Hasil pemeriksaan tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut : . (2) Pengadaan kapal pengawasan sumber daya kelautan (SDK) pada Direktorat Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen P2SDKP). oleh BAKN telah dilakukan telaahan yang dikelompokkan sesuai dengan kelompok Mitra Kerja Kementerian/Lembaga pada masing-masing komis DPR dan disampaikan pada komisi-komisi yang bersangkutan. BPK telah melakukan PDTT atas 57 entitas yang terbagi dalam 84 objek pemeriksaan.pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias. (3) Kegiatan pengambilan bahan tambang. Cakupan pemeriksaan atas 84 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp 413. adalah sebagai berikut : BAKN-DPR RI | 20 .Pemeriksaan Kinerja Lainnya Dalam Semester I Tahun 2010. (4) Pengelolaan aset pada PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero). BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas empat objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat dan tiga objek pemeriksaan di lingkungan badan usaha milik negara (BUMN). Perkembangan opini LKKL Tahun 2007 sampai dengan LKKL Tahun 2009 dapat dilihat dalam Tabel 2 berikut ini. pengelolaan dana otonomi khusus dan dana bagi hasil. Penyampaian Hasil Penelaahan Kepada Komisi Laporan-laporan hasil pemeriksaan BPK tersebut.pelaksanaan subsidi pemerintah. Pemeriksaan kinerja tersebut dilakukan atas: . Kementerian Kelautan dan Perikanan. . Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT) Dalam Semester I Tahun 2010. operasional BUMN. .Penagihan Piutang Pajak pada di lingkngan Kementerian Keuangan .LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 pengecualian (WDP) atas 26 KL. b. . BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja pada dua objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat dan dua BUMN dengan rincian sebagai berikut : (1) Pengelolaan penerimaan dan penyaluran alat kontrasepsi pada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat dan Provinsi Jawa Barat.selain tema pemeriksaan di atas terdapat delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu yang tidak bisa ditemakan sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. Objek pemeriksaan tersebut terdiri dari 27 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat.Pengembangan Sistem Informasi Kepegawaian pada BKN . 27 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. dan 7 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya. Ringkasan temuan penting hasil pemeriksaan BPK yang disampaikan kepada masingmasing komisi. 22 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. 1 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD. dan .pelaksanaan belanja.

b) Barang Rampasan di Kejaksaan senilai Rp10.975.35 Miliar dan Bangunan sebesar Rp28. 2) Komisi II a) Kementerian Sekretariat Negara membiayai pekerjaan Pengadaan Motor Penggerak Pintu Masuk Pesawat di Hanggar Pesawat VVIP Halim Perdanakusuma Jakarta Milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) sebesar Rp2. b) Kementerian Sekretariat Negara membiayai pekerjaan Pengadaan Peralatan Kesehatan Intensive Care Unit (ICU) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta sebesar Rp 6.00.00 dan bangunan sebesar Rp1.00) Milik Kementerian Sekretariat Negara digunakan untuk kepentingan Pihak Ketiga yang tidak sesuai Tugas Pokok serta Fungsi dan tidak memberikan kontribusi kepada Negara. d) Pengelolaan Dana Hibah di Badan Narkotika Nasional senilai Rp 1.000.520.000.00 tanpa penetapan Kemendagri.3 miliar. e) Pendapatan dan penerimaan Hibah pada Kementerian Dalam Negeri sebesar Rp 4. c) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada Kementerian Komunikasi dan Informatika.00 digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN. e) Komisi Yudisial tidak melaporkan pendapatan Hibah Tahun 2009 kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Utang sebesar Rp 1.165. f) Bantuan Ormas sebesar Rp 4.260.9 miliar di Badan Intelijen Negara (BIN) tidak sesuai dengan ketentuan.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 1) Komisi I a) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada Kementerian Luar Negeri yang tertuang dalam akun kas pada Bendahara Penerimaan belum disetor ke Kas Negara dan terdapat ketidakjelasan penerimaan penyetoran dari perwakilan RI di Luar Negeri.000.955.807.152.5 miliar dari Perkara Pidana yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap ( Inkracht ) tidak dapat dilelang.2 miliar berupa Tanah dan Kendaraan Operasional yang belum dilengkapi dengan bukti kepemilikan yang sah.24 Miliar (dalam uraian nilai Tanah sebesar Rp6.320.850.515.611.079. Proposal dan Laporan Kegiatan serta sebesar Rp 320 juta berada pada Bendahara Pengeluaran. 3) Komisi III a) Harga Kontrak Pengadaan Kendaraan Tahanan Kejaksaan Agung yang dilaksanakan secara Penunjukan Langsung lebih tinggi sebesar Rp 1.172. sebesar Rp 1.886.9 miliar di Kementerian Dalam Negeri tidak sesuai Pedoman Pemberian Bantuan.7 miliar dan menggunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN. c) Aset Tetap Tanah sebesar Rp507. c) Terdapat Aset Milik Negara di Kejaksaan senilai Rp 3. (yang dipermasalahkan tidak jelas). terdapat Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) Telekomunikasi dan Kontribusi Kewajiban Pelayanan Universal/Universal Service Obligation (KKPU/USO) yang belum dipungut sebesar Rp 15.718.00 (yang dipermasalahkan tidak jelas).600.000. b) Penghapusan Aset Tetap senilai Rp 11. BAKN-DPR RI | 21 . d) Terdapat 3 (tiga) buah kendaraan milik Satker Sekretariat Wakil Presiden masih digunakan atau dikuasai oleh mantan pejabat Sekretariat Negara dan Sekretaris Jenderal Dewan Kerajinan Nasional.8 miliar.3 miliar tidak sesuai ketentuan.

6 miliar untuk kepentingan mantan direksi dan pegawai yang telah ditetapkan sebagai terdakwa dan/atau dijadikan saksi dalam perkara dugaan tindak pidana.01 di antaranya digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN sebesar Rp 4.98 miliar dan PNBP yang terlambat disetor ke Kas Negara sebesar Rp 33.444.628.7 miliar tidak benar pada belanja perjalanan dinas BMKG. d) Bukti pertanggungjawaban realisasi belanja perjalanan di Kementerian Perumahan Rakyat senilai Rp 3.95 miliar tidak didukung dengan bukti yang valid.81 miliar. 56/Menhut-II/2008. d) Penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan untuk Belanja Barang Kegiatan Fasilitasi Stimulan Tahun 2009 sebesar Rp 6.1 miliar digunakan untuk kepentingan pribadi yang tidak sesuai dengan Tupoksi.183.02 miliar terlambat dan tidak dilaksanakan oleh Penerima Dana.022 m2 senilai Rp 33.7 miliar belum bersertifikat. 5) Komisi V a) Aset Tanah di Kementerian Perhubungan seluas 293.4 miliar tidak sesuai kenyataan.4 miliar terlambat disetor ke Kas Negara. b) Kendaraan Dinas di Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal senilai Rp 1.P.046.699. c) Aset Tetap di Kementerian Kehutanan berupa Tanah seluas 3.6 miliar yang digunakan langsung pada periode sebelum ditetapkan sebagai BLU. 7) Komisi VII a) Pertanggungan Belanja Perjalanan Dinas di Kementerian Negara Lingkungan Hidup sebesar Rp4.1 miliar pada Kementerian Perdagangan tidak tertib. c) PT Indofarma (INAF) mengeluarkan biaya jasa bantuan hukum minimal sebesar Rp 2. 6) Komisi VI a) Pengelolaan Hibah Proyek ITAP (Indonesia Trade Assistance Project) senilai Rp 27.00 belum bersertifikat/didukung bukti kepemilikan yang sah dan beberapa diantaranya masih dalam sengketa.134 m senilai Rp 41. b) Dana Pengelolaan Gedung Manggala Wanabakti Kementerian Kehutanan senilai Rp 151.622. b) Sisa Uang Persediaan (UP)/Tambahan Uang Persediaan (TUP) di Kementerian Agama sebesar Rp 1.000. b) Prosedur penatausahaan beban representasi Direksi PT Taspen senilai Rp 1.5 miliar dikelola di luar mekanisme APBN.577. 2 BAKN-DPR RI | 22 . c) Terdapat PNBP Kementerian Agama dari UIN Alauddin Makassar Sebesar Rp 4. c) Terdapat Bukti Tiket Pesawat di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika sebesar Rp 2. d) Kegiatan Pembinaan Kelautan dan Perikanan di Kementerian Kelautan dan Perikanan sebesar Rp 211. b) Kendaraan Dinas Roda Empat Milik LIPI yang digunakan untuk kepentingan pribadi belum dikembalikan kepada LIPI.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 4) Komisi IV a) Pemegang Izin pinjam pakai Kawasan Hutan tidak melakukan kewajibannya senilai Rp 2. 8) Komisi VIII a) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di lingkungan Kementerian Agama belum disetor ke Kas Negara per 31 Desember 2009 Sebesar Rp 11.1 miliar sesuai dengan Permenhut No.00 fiktif.9 miliar tidak sesuai dengan ketentuan.625.

9 miliar.688. Penelaahan atas Hasil Pemeriksaan Pada LKPP Tahun 2010 Ringkasan hasil penelahaan BAKN atas hasil pemeriksaan BPK RI pada LKPP Tahun 2010 yang disampaikan kepada Komisi-Komisi adalah sebagai berikut : a.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 9) Komisi IX a) Terdapat Pungutan pada Kementerian Kesehatan Minimal sebesar Rp 15. b. Opini Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2010. b) Realisasi pembayaran pembangunan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kotamobagu tidak sesuai dengan prestasi fisiknya sehingga terdapat indikasi kerugian Negara sebesar Rp 3.28 triliun dan Pajak Bumi dan Bangunan Minyak dan Gas (PBB Migas) sebesar Rp19. 11) Komisi XI a) Realisasi Belanja Modal Akhir Tahun di Kementerian Keuangan sebesar Rp 11. c) Beberapa Kendaraan Dinas Roda Empat Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Masih digunakan dan dikuasai oleh pejabat yang telah purnabakti dan terdapat pejabat yang menggunakan lebih dari satu kendaraan dinas.8 miliar dipertanggungjawabkan oleh KONI dan KOI tidak memadai dan pungutan pajak sebesar Rp 1.501. c) Terdapat dana pada rekening Bendahara Penerimaan di Kementerian Keuangan dari setoran tidak jelas minimal sebesar Rp 9. mendapatkan Opini “Wajar Dengan Pengecualian (WDP)” karena terdapat beberapa temuan yang mempengaruhi opini seperti dijelaskan dalam hasil pemeriksaan berikut. c) Aset Tetap senilai Rp 3.42 miliar. b) Hibah Bantuan Luar Negeri yang diterima langsung oleh Kemenkes selama TA 2009 senilai Rp 514.6 miliar belum disetor ke Kas Negara.31 triliun.30 BAKN-DPR RI | 23 . Temuan Pemeriksaan BPK Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) a) Realisasi Penerimaan Perpajakan untuk Tahun 2010 adalah sebesar Rp723. 10) Komisi X a) Pembayaran biaya langsung non personil pada kontrak konsultan di Kementerian Pendidikan Nasional tidak didukung bukti senilai Rp3. namun belum melalui mekanisme APBN.1 miliar sudah dipertanggungjawabkan kepada Pemberi Hibah.963. Penerimaan Perpajakan tersebut termasuk Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar Rp11.95 miliar di Kementerian Pemuda dan Olah Raga dihibahkan tanpa persetujuan Menteri Keuangan. d) Penerimaan kerjasama antara BPKP dengan Pemda atau BUMD dikelola di luar mekanisme APBN minimal sebesar Rp 6.77 miliar. e) Realisasi belanja kegiatan Perjalanan Dinas di BPKP sebesar Rp 2. 3.00 digunakan langsung diluar mekanisme APBN.47 miliar.78 miliar tidak didukung bukti yang valid.73 miliar tidak sesuai peruntukannya.7 miliar tidak ada dasar hukumnya dan sebesar Rp 10. b) Dana bantuan sosial Kementerian Pemuda dan Olah Raga sebesar Rp10.

30 triliun. (2) Aset Tetap dengan nilai perolehan sebesar Rp5. Data dan catatan yang ada tidak memungkinkan BPK untuk menguji kewajaran Piutang Pajak. penyelesaian PPN melalui Pajak Ditanggung Pemerintah tidak sesuai dengan UU PPN pasal 16B yang menyatakan penyelesaian PPN melalui dibebaskan atau tidak dipungut sebagian/seluruhnya. Sistem pencatatan Piutang Pajak di DJP masih menunjukkan kelemahan.30 triliun yang merupakan nilai Aset Tetap berdasar Neraca Kementerian Negara/Lembaga (KL) dan Neraca BUN. dan pencatatan penerimaan perpajakan tersebut bermasalah sebagai berikut. serta memberlakukan penyusutan.682 km2 dibanding luas wilayah administrasi kabupaten/kota yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri.34 triliun pada delapan KL belum dilakukan IP. dan (c) Data wilayah kerja tidak mengecualikan wilayah yang bukan hak wilayah kerja pertambangan sesuai UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak Bumi dan Gas Bumi. Aset Tetap dinilai dengan menggunakan metode harga perolehan dan belum memperhitungkan penyusutan.03 triliun dengan penerimaannya.95 triliun. Nilai Aset Tetap yang dilaporkan bisa berbeda secara signifikan jika Pemerintah menyelesaikan IP. Pengakuan pajak DTP tersebut berdasarkan UU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) Tahun 2010. Data yang ada tidak memungkinkan BPK untuk meyakini kewajaran dasar pengenaan PBB Migas.42 triliun belum dibukukan. Pemerintah mengungkapkan Piutang Pajak sebesar Rp70. dan (4) IP tidak mencakup penilaian mengenai umur manfaat sehingga Pemerintah belum dapat melakukan penyusutan terhadap Aset Tetap.BPK berpendapat.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 b) c) triliun. : (1) Sistem pencatatan penerimaan perpajakan lemah (2) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tidak menggunakan dokumen yang sah sesuai UU PBB untuk menagih PBB Migas tahun 2010 sebesar Rp19. diantaranya sebesar Rp54.51 triliun dengan dokumen sumbernya yaitu Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atau Surat Tagihan Pajak (STP) dan (2) Pengurangan Piutang PBB berbeda sebesar Rp1.28 triliun sebagai penerimaan perpajakan sekaligus belanja subsidi dalam LRA. DJP juga menggunakan data dasar pengenaan pajak yang tidak valid sebagai berikut: (a) Data hasil produksi yang digunakan berbeda sebesar 56. IP dinyatakan selesai per 31 Maret 2010.82 juta mscf dengan hasil produksi yang dilaporkan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS). Pengakuan. mencatat seluruh hasil IP. (b) Luas 51 kabupaten/kota lebih besar 46.78 juta barel dan 1.01 triliun merupakan Piutang Pajak yang dikelola DJP. BAKN-DPR RI | 24 .184. yaitu (1) Penambahan piutang menurut data aplikasi piutang berbeda sebesar Rp2. penagihan. Pemerintah telah melakukan Inventarisasi dan Penilaian (IP) atas Aset Tetap yang diperoleh sebelum Neraca Awal per 31 Desember 2004. tetapi masih terdapat permasalahan dalam pelaksanaan dan pencatatan hasil IP sebagai berikut: (1) Nilai koreksi hasil IP berbeda dengan hasil koreksi pada Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN) sebesar Rp12. 3) Pemerintah melaporkan PPN DTP Tahun 2010 sebesar Rp11.244. (3) Hasil IP pada empat KL senilai Rp56. Pemerintah mengungkapkan Aset Tetap sebesar Rp1.95 triliun.

60 triliun belum ditagih. dan pembayaran PBB Migas tidak sesuai dengan UU PBB dan UU Migas sehingga realisasi PBB Migas sebesar Rp19. 8) Aset Tetap yang dilaporkan dalam LKPP Tahun 2010 belum seluruhnya dilakukan Inventarisasi dan Penilaian (IP). 2) Pelaksanaan monitoring dan penagihan atas kewajiban PPh Migas tidak optimal sehingga selisih kewajiban PPh Migas sebesar Rp1.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Kelemahan Sistem Pengendalian Intern. Penyelesaian PPN sebesar Rp11. dan pertanggungjawaban potongan gaji PNS untuk Iuran Dana Pensiun masih belum diatur dengan jelas.45 ribu tidak dilaksanakan kegiatannya. masih berbeda dengan Laporan Hasil IP. 9) Status penitipan.70 triliun. penggunaan. dan 10) Saldo Anggaran Lebih (SAL) Tahun 2010 masih berbeda dengan rincian fisik kas. 1) Penerimaan Perpajakan menurut SAU senilai Rp965. 20 kriteria belum sepenuhnya terpenuhi.88 triliun yang disajikan pada LKPP Tahun 2010 belum dapat diyakini kewajarannya. Telaahan Atas Pelaksanaan Transparansi Fiskal Pemerintah Pusat Tahun 2010 Jika dibandingkan dengan tahun 2009 pemenuhan kriteria transparansi fiskal untuk tahun 2010 mengalami penurunan. Penetapan. 24 kriteria sudah terpenuhi.97 miliar belum dan/atau terlambat disetor ke Kas Negara dan sebesar Rp213. 4) Penerimaan Hibah langsung minimal sebesar Rp868. b. tidak sesuai bukti pertanggungjawaban.30 triliun tidak diyakini kewajarannya. 24 kriteria belum sepenuhnya terpenuhi. pengelolaan. dan 1 kriteria belum terpenuhi. Realisasi Belanja Barang pada 44 KL sebesar Rp110.48 miliar dan USD63.43 miliar pada 18 KL belum dilaporkan kepada BUN dan dikelola diluar mekanisme APBN 5) Pengelompokan jenis Belanja pada saat penganggaran tidak sesuai dengan kegiatan yang dilakukan sebesar Rp4. Hasil reviu pada tahun 2009 menunjukkan dari 45 kriteria yang ditetapkan.40 miliar belum dapat direkonsiliasi dengan Penerimaan menurut SAI dan transaksi pembatalan (reversal) Penerimaan Perpajakan senilai Rp3. dan ketidakpatutan : a.28 triliun melalui mekanisme Pajak Ditanggung Pemerintah tidak sesuai dengan UU PPN.25 triliun tidak dipantau dan kekurangan PPh Migas sebesar Rp2. Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas LKPP diantaranya adalah sebagai berikut. PNBP pada 41 KL minimal sebesar Rp368. dan tidak didukung bukti pertanggungjawaban. d. 6) Saldo dan klasifikasi akun Uang Muka dari Rekening BUN sebesar Rp1. 7) Sistem pengendalian atas pencatatan Piutang Pajak oleh DJP tidak memadai. penagihan.75 miliar digunakan langsung di luar mekanisme APBN. c.39 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. Pengalokasian Dana Penyesuaian tidak berdasarkan kriteria dan aturan yang jelas. kecurangan. Sedangkan pada tahun 2010 dari 45 kriteria yang ditetapkan. e. 20 kriteria sudah terpenuhi. dibayar ganda. Kepatuhan Atas Peraturan Perundang Undangan Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan. dan 1 kriteria belum terpenuhi. dan belum didukung dengan pencatatan Pengguna Barang yang memadai.43 triliun. 3) Terdapat inkonsistensi penggunaan tarif pajak dalam perhitungan PPh Migas dan perhitungan Bagi Hasil Migas sehingga Pemerintah kehilangan Penerimaan Negara minimal sebesar Rp1. BAKN-DPR RI | 25 .

Sumber Daya. 1 (satu) objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Kinerja dan 15 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT). Proses Anggaran yang Terbuka c. 2008. Kejelasan Peran Dan Tanggung Jawab Pemerintah. (3) Pelaporan dan Evaluasi Penyelenggaraan Diklat b) Pemeriksaan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak Tahun 2009 dan 2010 pada Kedutaan RI Budapest di Hongaria. dan evaluasi. b. pengawasan. a) Pemeriksaan Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan Kementerian Pertahanan Temuan : Hasil pemeriksaan BPK RI menunjukkan bahwa penyelenggaraan diklat pada Pusdiklat Jemenhan Badiklat Dephan telah dilaksanakan cukup efektif pada aspek pelaksanaan. (2) Terdapat Pembelian Barang Senilai US$207.355 kasus senilai Rp 6.469. Ketersediaan Informasi Bagi Publik 4.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Permasalahan-permasalahan yang diungkapkan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan BPK atas LKPP Tahun 2006. Penyajian hasil penelaahan BAKN pada semester II Tahun 2010 mengalami beberapa perubahan dan berbeda dengan hasil telaahan semester sebelumnya. BPK menemukan 6.602.94 Eq.877. Gambaran Umum Pemeriksaan Dari hasil Pemeriksaan Semester II Tahun 2010 terhadap 734 objek pemeriksaan.43 juta. pelaporan. yaitu : (1) Struktur Organisasi. Penelaahan Atas Hasil Pemeriksaan Periode Semester II Tahun 2010 a. BAKN-DPR RI | 26 . oleh BAKN telah dilakukan penelaahan sesuai dengan kelompok Mitra Kerja Kementerian/Lembaga pada masing-masing komis DPR dan disampaikan pada komisi-komisi yang bersangkutan. namun belum dilaksanakan secara efektif pada aspek-aspek : perencanaan. Ringkasan hasil penelahaan BAKN yang disampaikan kepada masing-masing komisi. 2007.957. (3) KBRI Budapest Belum Menyusun Laporan Keuangan Semester I Tahun 2010.46 triliyun dan USD 156. Rp1. Penyampaian Hasil Penelaahan Kepada Komisi Laporan-laporan hasil pemeriksaan BPK tersebut. adalah sebagai berikut : 1) KOMISI I Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi I DPR RI terdiri atas 16 objek pemeriksaan. dan Perencanaan (2) Sistem dan Prosedur Penyelenggaraan Diklat.00 Yang Belum Diajukan Restitusi Pajaknya. a. Temuan : (1) Pengelolaan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Pada Perwakilan RI Budapest Belum Tertib. dan 2009 sebagian masih ditemukan pada LKPP Tahun 2010. b.

(2) Terdapat Saldo Pihak Ketiga Minus Senilai US$126. Jogjakarta.87 Juta dan Semester 1 Tahun 2010 Rp464.00 Yang Belum Terselesaikan.863. Rp1.68 yang Telah Diputus Pengadilan dengan Berkekuatan Hukum Tetap Masih Membebani Pembukuan KBRI Kuala Lumpur. h) Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Belanja Lain-Lain (BA 999.997. Temuan : (1) Terdapat Kasus Penggelapan Uang Sebesar USD1.06) TA 2009 dan Semester I 2010 pada Lembaga Penyiaran Publik RRI di Jakarta. BAKN-DPR RI | 27 .352.00 g) Pemeriksaan Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Komando Pemeliharaan Materil TNI AU (Koharmatau) dan Jajarannya serta Dinas Terkait di Bandung. Solo.183.691. e) Pemeriksaan Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 (Triwulan III) pada Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) di Surabaya. d) Pemeriksaan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak Tahun 2009 dan 2010 pada Kedutaan RI Moskow di Rusia. Temuan : Kerjasama Pemanfaatan Fasilitas Pemeliharaan di Depohar 10 dan Depohar 70 Belum Sesuai Ketentuan.50 Tidak Sesuai Ketentuan.66 Eq. dan Singaraja. Temuan : Pengelolaan Dana Pendapatan Hasil Pemanfaatan Fasilitas Dinas (DPHP Fasdin) pada Lantamal V tahun anggaran 2008 dan 2009 Tidak Sesuai dengan Ketentuan f) Pemeriksaan Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2007.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 c) Pemeriksaan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak Tahun 2009 dan 2010 pada Kedutaan RI Kuala Lumpur di Malaysia.097. Temuan : (1) Pola Pertanggungjawaban Pengelolaan Anggaran dan Kegiatan Operasi di Lingkungan Koarmabar Belum Sepenuhnya Transparan dan Akuntabel (2) Pelaksanaan Pekerjaan Peningkatan Kemampuan Slipway Fasharkan Jakarta Berlarut-larut dan Terdapat Potensi Kelebihan Pembayaran senilai Rp603.141. Makasar.466. Surabaya. Temuan : (1) Pengelolaan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Pada Kedutaan Besar Republik Indonesia Di Moskow Belum Tertib. Denpasar. Malang. Rp2.719.823. 2008 dan 2009 (Triwulan I) pada Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) di Jakarta. Malang. Temuan : a) Pertanggungjawaban Biaya Perjalanan Dinas Sebesar Rp133.42 Eq. b) Terdapat Pemecahan Kontrak atas Beberapa Pekerjaan Tahun Anggaran 2009 Sebesar Rp1. (3) Penyetoran Sisa UP KBRI Moskow TA 2009 Senilai US$220.293.192. Surakarta.78 Juta.102.84 dan RM99.475. (2) Dana Penyetoran Sisa UP KBRI Kuala Lumpur TA 2009 Tidak Sesuai Ketentuan (3) Terdapat Pembebanan Anggaran pada KBRI Kuala Lumpur yang Belum Terselesaikan.27 Juta Fiktif dan Sebesar Rp190.81 Juta Tidak Dapat Diyakini Kebenarannya. dan Madiun.

300.290. NAD.00 pada Empat Provinsi dan Sebesar Rp1.835.000. c) Pemeriksaan Pengelolaan Penerimaan dan Belanja Kantor Pusat BPN RI TA 2009 dan 2010 pada BPN RI di Jakarta. Bengkulu.500.366.00 pada Enam Provinsi dan 74 Kabupaten/Kota.800.00 pada 34 Kabupaten/Kota. serta Instansi terkait lainnya.780.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 2) KOMISI II Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi II DPR RI terdiri atas 13 objek pemeriksaan dengan jenis pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT).945.000.221. serta Tidak Ada Jaminan Pelaksanaan Sebesar Rp11.\ Temuan : (1) Pembayaran Honorarium sebesar Rp5.00.67 dan Perjalanan Dinas Minimal Sebesar Rp228.360. NTB.000.00 Terindikasi Dipecah-Pecah Untuk Menghindari Proses Pelelangan. d) Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. BAKN-DPR RI | 28 .00 atau 94. Bangka Belitung.369.00 oleh Perusahaan Jasa Konsultan Berpotensi Merugikan Negara (2) Pengadaan Belanja Modal Minimal Senilai Rp837.000.527.00 Boros.658.993.000. dan Sulawesi Selatan.426.282.00.06 TA 2009 pada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Jakarta.500.353.258.950.791.835. (4) Kelebihan Pemberian Bantuan Keuangan Kepada DPD/DPW/DPC Parpol Sebesar Rp13.612. serta Pembayaran Biaya Non Personil sebesar Rp404. Kalimantan Barat.00 b) Pemeriksaan Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Partai Politik TA 2008 dan 2009 pada Ditjen KESBANGPOL Kementerian Dalam Negeri. (3) Pemberian Bantuan Keuangan kepada DPD/DPW/DPC Parpol yang Tidak Mendapatkan Kursi di DPRD Sebesar Rp434.206.67% dari anggaranuntuk Belanja Pegawai Tidak Sesuai Peruntukannya. Temuan : (1) Realisasi anggaran BA 999. (2) Bukti Pertanggungjawaban Penggunaan Dana Bantuan Parpol pada Delapan DPD/DPC Parpol Kota Medan dan Kabupaten Kulon Progo Tidak Memadai Sebesar Rp190.666. Temuan : (1) Penetapan biaya langsung personel pada beberapa pekerjaan jasa konsultan sebesar Rp4.201.822.I Yogyakarta dan Enam Kabupaten/Kota Tidak Sesuai Dengan Permendagri Nomor 25 Tahun 2006 dan Nomor 24 Tahun 2009 Sebesar Rp866. Kalimantan Selatan.00 dan terjadi kelebihan bayar sebesar Rp30. Jambi.06 sebesar Rp 8.00.00. a) Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. (2) Biaya diklat teknis sistem administrator komputerisasi kantor pertanahan (KKP) dan biaya diklat program Larasita tidak sesuai standar biaya umum sebesar Rp211.00. dan Tidak Ekonomis Sebesar Rp3.294.181.202.00 tidak berdasarkan persyaratan yang semestinya dan biaya non personil lebih dibayar sebesar Rp32.126. Sumatera Utara. Temuan : (1) Penggunaan Bantuan Keuangan Kepada Parpol di Provinsi D.000.

Temuan : Hasil pemeriksaan atas Kinerja Pelayanan SIM.000. Temuan : Hasil pemeriksaan BPK RI menunjukkan pelayanan merek dan paten belum efektif.250. BPKB (SSB) tahun 2008 dan 2009 pada Polda Lampung.06 TA 2009 pada Badan Pertanahan Nasional di Jakarta.06 pada kantor Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) I LAN Bandung belum memiliki status kepemilikan yang jelas.06 TA 2009 pada Badan Kepegawaian Negara di Jakarta.06) untuk membiayai Pembangunan Gedung D Pusat Kajian dan pendidikan dan pelatihan Aparatur (PKP2A) I LAN Bandung tidak sesuai dengan karakteristik penggunaan BSBL sesuai dengan Peraturan menteri Keuangan (2) Aset yang berasal dari BA 999. b) Kinerja Pelayanan SIM. Polda Banten Polda DI Yogyakarta dan jajaran terkait menunjukkan beberapa kelemahan. Temuan : Realisasi Anggaran Implementasi Sistim Biometric PNS Berbasis Elektronik yang berasal dari Bagian Anggaran 999. g) Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Temuan : (1) Penggunaan anggaran BSBL (BA 999.092.806. BPKB (SSB) Pada Polda Lampung.00 Tidak Didukung Dokumen dan Biaya Operasional Kapal f) Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.449. Serang dan Yogyakarta. Yogyakarta di Bandar Lampung.I.040.74% dari anggaran tidak sesuai peruntukannya.72% dari anggaranpada BPN tidak sesuai dengan peruntukan dan karakteristik BSBL. (2) Kapal Pendukung Program Larasitadirealisasikan sebesar Rp2.071.000. STNK. Temuan : (1) Penganggaran BSBL dengan realisasi sebesar Rp129.529.00 atau 93.02% dari anggarantidak Sesuai dengan Ketentuan yang Berlaku e) Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. a) Pelayanan merek dan paten pada direktorat merek dan direktorat paten direktorat jenderal hak kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Di Tangerang. diantaranya hasil pengujian atas unsur BAKN-DPR RI | 29 .LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (2) Pelaksanaan Kegiatan Penilaian Dokumen Usulan dan Persiapan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi sebesar Rp1.00 atau 94.06 (Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain) dengan realisasi sebesar Rp55.00 atau 93.844. STNK. Polda Banten dan Polda D.500.06 TA 2009 pada Lembaga Adminsitrasi Negara di Jakarta. 3) KOMISI III Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi III DPR RI terdiri atas 6 (enam) obyek pemeriksaan yaitu untuk Pemeriksaan Kinerja sebanyak 2 obyek pemeriksaan dan untuk Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu sebanyak 4 (empat) obyek pemeriksaan.144.

Polda Banten dan Polda DI Yogyakarta menunjukkan bahwa pelayanan SIM. (b) Penerimaan Negara Bukan Pajak Redaksi di Kepaniteraan Mahkamah Agung terlambat disetor ke Kas Negara dan terdapat pungutan PNBP meskipun tidak ada kegiatannya. Polda DIY dan Polda Lampung masih belum memadai.20. d) Pengadilan Agama Medan meminjam uang perkara perdata untuk membiayai kegiatan di luar penyelesaian perkara. (b) Pengelolaan dan pencatatan keuangan perkara pada Pengadilan Tingkat Pertama masih lemah. d) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang Dan Belanja Modal Serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (Pnbp) Tahun Anggaran 2009 Dan 2010 Pada Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri di Lingkungan Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat di Padang. c) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban PNBP Serta Penerimaan Penanganan Perkara Pada Kepaniteraan Mahkamah Agung dan Badan. (2) Temuan tentang Pengelolaan PNBP (a) Pelaksanaan PP Nomor 53 tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang Berada di Bawahnya tidak dipahami dengan baik oleh Pengadilan Tingkat Pertama. (2) Belanja Barang dan Belanja Modal BAKN-DPR RI | 30 . (3) Temuan tentang Pelaksanaan Penerimaan Penanganan Perkara a) Laporan Keuangan Perkara di Pengadilan Tingkat Banding tidak menggambarkan keadaan keuangan biaya proses secara riil yang dikelola oleh Pengadilan Tingkat Banding dan Buku Kas Umum yang disusun belum memenuhi kaidah penyusunan BKU.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 pengendalian intern pada Polda Lampung. Temuan : (1) Temuan tentang Kelemahan Sistem Pengendalian Intern (a) Pengelolaan biaya proses penyelesaian perkara pada Pengadilan Tingkat Banding dan Kepaniteraan belum tertib. (c) Barang rampasan dari putusan pengadilan yang sudah lama memperoleh kekuatan hukum tetap terlambat penyelesaiannya. Temuan : (1) Temuan tentang Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) (a) Uang Pengganti yang berasal dari perkara korupsi pada Kejari-kejari di Lingkungan Kejati Sumatera Barat belum tertagih sebesar Rp2. (d) Mekanisme penyelesaian perkara pelanggaran lalu lintas/tilang tidak sesuai dengan ketentuan. b) Kebijakan pengembalian sisa panjar biaya perkara di Pengadilan Tingkat Pertama tidak diikuti petunjuk dan pelaksanaan yang jelas.286.846. (b) Uang rampasan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap terlambat penyelesaiannya.508. STNK dan BPKB di lingkungan Ditlantas dan Satlantas Polda Banten. c) Terdapat ketidakseragaman Biaya Pemanggilan/ Pemberitahuan di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama dalam satu wilayah untuk pemanggilan/ pemberitahuan para pihak yang berada dalam satu zona wilayah yang sama.

00 Terlambat Disetor dan Senilai Rp425.53. e) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan Belanja Modal serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (Pnbp) Ta 2009 Dan 2010 Pada Kejaksaan Tinggi Lampung di Bandar Lampung. dan Cabjari Entikong Tidak Tertib.868.00 Belum Disetorkan Ke Kas Negara. Sintang.100. adalah: (a) Pengelolaan Keuangan Oleh Bendahara Pengeluaran Pada Kejati dan Beberapa Kejari Belum Sepenuhnya Sesuai Ketentuan (b) Pelaksanaan Kegiatan Pengadaan Barang/Jasa Pada Beberapa Kejari Belum Sepenuhnya Sesuai Ketentuan 4) KOMISI IV Hasil Pemeriksaan BPK semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi IV DPR RI terdiri atas 4 (empat) objek pemeriksaan.740.377. serta risiko kehilangan dan berkurangnya nilai jual barang rampasan tersebut yang berakibat penurunan penerimaan negara.201.000. Temuan : (1) Temuan-temuan pemeriksaan di Kejati Kalimantan Barat.00 + Rp478.742.Hal ini mengakibatkan negara terlambat memanfaatkan penerimaan yang berasal dari hasil lelang barang rampasan senilai Rp1.993.300.00 belum bisa dieksekusi pada Kejari Pontianak dan Sambas. BAKN-DPR RI | 31 . Bengkayang.568.00 Pada Kejari Mempawah. (c) Uang Rampasan yang Telah Mempunyai Kekuatan Hukum Tetap Senilai Rp1.508.00). Sanggau.490.00 (Rp1.551.164.263.520. (d) Pengelolaan Barang Bukti Berupa Uang dan Bilyet Giro Sebesar Rp4.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (a) Pengelolaan keuangan negara oleh bendahara pengeluaran pada beberapa Kejari di Lingkungan Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat tidak tertib. Pontianak.000.507.001. seluruhnya merupakan Pemeriksaan Kinerja. (e) Terdapat perkara perikanan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dengan denda sebesar Rp29.019. (2) Temuan-temuan pemeriksaan di Kejati Kalimantan Barat. f) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang Dan Belanja Modal Serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (Pnbp) Tahun Anggaran 2009 Dan 2010 Pada Kejaksaan Tinggi Dan Kejaksaan Negeri Di Lingkungan Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat Di Pontianak. adalah: (a) Penyelesaian Perkara Pelanggaran Lalu Lintas/Tilang Pada Kejari-Kejari di Lingkungan Kejati Kalimantan Barat Belum Sesuai Ketentuan (b) Uang Pengganti yang berasal dari perkara korupsi pada Kejari-Kejari di lingkungan Kejati Kalimantan Barat sampai dengan tanggal 30 Juni 2010 belum tertagih sebesar Rp2. (f) Barang rampasan dari putusan pengadilan yang sudah lama memperoleh kekuatan hukum tetap terlambat penyelesaiannya.955. Temuan : (1) Sistem Pengendalian Intern atas Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan Belanja Modal serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejati Lampung dan kejari-kejari di lingkungan Kejati Lampung masih belum memadai.640.

00 belum disalurkan serta rekanan terlambat melaksanakan Pengadaan Benih dan Peralatan Laboratorium belum dikenakan denda minimal sebesar Rp 242 644 130. memperluas tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan petani/gapoktan. Dinas Pertanian dan Peternakan pada lingkungan Provinsi Provinsi/Kabupaten/Kota di Jawa Barat dan Sulawesi. Temuan : (1) Temuan Terkait Kelemahan Kebijakan (a) Relokasi anggaran dan pemilihan program/kegiatan Stimulus Fiskal Kementerian Pertanian melalui mekanisme APBN – P TA 2009 untuk belanja padat modal tidak tepat sasaran guna mendukung pencapaian tujuan program stimulus fiscal. Serta Perusahaan Di Sektor Kehutanan Di Wilayah Provinsi Papua Barat Di Jakarta Dan Papua Barat. Temuan : (1) Temuan Tekait Kebijakan Pengelolaan Kegiatan Pemanenan (a) Pengenaan tarif DR untuk kayu bulat belum memperhatikan asas keadilan dan kepatutan berpotensi penerimaan DR sebesar USD6. 00 belum dimanfaatkan sehingga kurang efektif mendukung pencapaian tujuan tersedianya data luas lahan baku yang akurat. 00 tidak sesuai Spesifikasi Teknis. pelaksanaan. (c) Perencanaan . (a) Pengalokasian anggaran Stimulus Fiskal untuk tambahan dana kontrak tahun jamak pada Badan Karantina Pertanian kurang efektif mendukung pencapaian tujuan penyerapan tenaga kerja yang signifikan.188. dan monitoring kegiatan pengadaan benih tidak memadai. (2) Temuan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran Dan Pemilihan Program/Kegiatan Stmulus Belanja Infrastruktur. dan meningkatkan resiko percepatan kepunahan Kayu Merbau. (b) Pedoman teknis program bantuan sosial ke kelompok tani belum memadai sehingga efektivitas kegiatan belu m dapat dinilai. Balai Embrio Ternak Cipelang.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 a) Kinerja Atas Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pertanian Tahun 2009 Pada Kementerian Pertanian.29 ha. b) Kinerja Atas Pengelolaan Kegiatan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 Dan 2010 Pada Kementerian Kehutanan. Dinas Kehutanan Provinsi Dan Kabupaten/Kota. Balai Inseminasi Buatan Lembang. 00 kurang efektif mendukung pencapaian tujuan program ketahanan pangan yaitu meningkatkan daya saing produk gabah . (c) Benih sebanyak 36 145 pohon senilai Rp 993 540 000. (a) Hasil pengadaan RMU 2 PASS pada Ditjen PPHP senilai Rp 783 420 000.129. (b) Alokasi anggaran belanja perjalanan dinas pada Ditjen Hortikultura tidak dirancang secara efektif untuk menunjang program utama stimulus fiscal. dan BAKN-DPR RI | 32 . (3) Temuan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur. (b) Hasil pengadaan alat Global Positioning System (GPS) pada Setjen Kementan sebanyak 283 unit senilai Rp 3 799 275 000. 00 dan Hasil Pengadaan Peralatan Laboratorium Senilai Rp 1 041 625 000.30 tidak terpungut yang lebih lanjut mengakibatkan hilangnya kesempatan untuk mereboisasi hutan dan/atau lahan seluas 5.872.

(c) Pemegang IUPHHK-HA melakukan penebangan di bawah limit diameter yang diizinkan sebanyak 1. Temuan Terkait Penyelesaian Kewajiban Pembayaran PNBP Pemegang IUPHHK-HA (a) Pemegang IUPHHK-HA di Provinsi Papua Barat belum menyelesaikan kewajiban pembayaran IIUPH mengakibatkan kekurangan PNBP dari tunggakan IIUPH sebesar Rp10. Temuan Terkait Kegiatan Pasca Pemanenan Pemegang IUPHHK-HA di Kabupaten Kaimana dan Fakfak tidak mengelola dan memanfaatkan limbah pembalakan. (b) Pemegang IUPHHK-HA tidak melaporkan kayu hasil tebangan PWH atau pembuatan JAK mengakibatkan kekurangan PNBP atas PSDH dan DR masingmasing sebesar Rp3. Temuan Terkait Kegiatan Perencanaan Pemanenan (a) Pemberian areal IUPHHK-HA di Provinsi Papua Barat berindikasi berada dalam kawasan hutan lindung dan hutan konservasi mengakibatkan peningkatan potensi kerusakan kawasan hutan lindung dan konservasi yang berada di dalam areal konsesi.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (2) (3) (4) (5) (b) Kemenhut belum memiliki mekanisme pemantauan secara detail atas keberhasilan pertumbuhan tanaman pengayaan dan/atau rehabilitasi yang dilakukan Pemegang IUPHHK-HA mengakibatkan tujuan sistem TPTI untuk membentuk komposisi tegakan hutan alam tak seumur yang optimal dan lestari tidak dapat tercapai dan terukur dengan data yang akurat.h. lebih lanjut akan menghilangkan kesempatan untuk mereboisasi hutan dan/atau lahan seluas 57.17 m3.625.35 ha. (d) PT WKH (WANA KAYU HASILINDO) diindikasikan membuka JAK di dalam Hutan Lindung mengakibatkan peningkatan potensi kerusakan kawasan Hutan Lindung Sokua.i.00.50.601.00 dan USD435.139.290.00 dan USD75. dan (e) PT AI membuat jalan angkutan kayu di sempadan sungai (Kawasan Lindung) mengakibatkan kerusakan lingkungan pada kawasan lindung d.590.198.887.943.76 m3 dan belum dikenakan denda mengakibatkan pengelolaan areal kerja IUPHHK-HA berpotensi tidak dapat dikelola secara lestari dan kekurangan PNBP dari denda pelanggaran eksploitasi hutan sebesar Rp1. (b) Penatausahaan hasil hutan kayu di Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Fakfak tidak tertib mengakibatkan meningkatnya potensi peredaran kayu ilegal dan pengiriman kayu yang tidak sah keluar kawasan hutan sebesar 47.477. dan membuka peluang wajib bayar untuk menunggak pembayaran PSDH/DR.220. hilangnya potensi penerimaan Negara atas PSDH dan DR kayu yang tidak dilaporkan. (b) Penetapan rencana produksi kayu bulat bagi pemegang IUPHHK-HA di Provinsi Papua Barat tidak realistis mengakibatkan meningkatnya potensi laju deforestasi pada pemanfaatan hutan alam produksi dan penetapan RKT bagi pemegang IUPHHK-HA over estimasi yang berdampak pada perencanaan penggunaan PNBP yang ditargetkan. sempadan anak sungai tersebut. dan Temuan Terkait Kegiatan Pelaksanaan Pemanenan (a) Dua Pemegang IUPHHK di Kabupaten Kaimana Provinsi Papua Barat tidak melakukan pengusahaan hutan mengakibatkan tidak adanya pihak yang mengawasi areal hutan tersebut sehingga potensi kerusakan hutan atas areal yang telah dibebani IUPHHK meningkat.419.12.597. lebih BAKN-DPR RI | 33 .338.967.494. mengakibatkan potensi PSDH dan DR tidak terpungut atas kayu limbah pembalakan sebesar Rp930.00.

sedimentasi.770.00. Kota Dumai dan Batam menambah potensi kerusakan ekosistem mangrove. Dan Kepulauan Riau Temuan : (1) Temuan Kelemahan Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove (a) Kebijakan pengelolaan tata ruang wilayah oleh Pemerintah Kota Batam kurangmempertimbangkan fungsi kawasan hutan. Riau. Riau dan Kepulauan Riau tidak dimanfaatkan mengakibatkan tujuan rehabilitasi hutan mangrove seluas tersebut tidak tercapai serta terjadi pemborosan keuangan negara sebesar Rp1.248 ha di Provinsi Sumatera Utara. (d) Usaha panglong arang di Kab.02 ha. Provinsi Sumatera Utara.888.405. (b) Peraturan Menteri Kehutanan tentang status tanah timbul belum menjamin kepastian hokum. kekurangan air serta rusaknya ekosistem mangrove di kawasan pesisir pantai. (c) Pemberian HGB pada kawasan mangrove 1309. mengakibatkan penerimaan negara dari PSDH dan DR masing-masing sebesar Rp29. dan c) Kinerja Atas Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.52 ha. mengakibatkan penetapan proporsi luas kawasan hutan terhadap luas daerah aliran sungai (DAS) yang kurang dari 30% berpotensi terganggunya keseimbangan tata air seperti banjir.330. mengakibatkan areal yang berasal dari tanah timbul pada lokasi yang berbatasan dengan kawasan hutan tidak jelas status dan pengelolanya serta berpotensi terjadinya konflik.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 lanjut menghilangkan kesempatan untuk mereboisasi hutan dan/atau lahan seluas 328. (e) Hutan mangrove di kawasan SUAKA MARGASATWA Karang Gading / Langkat Timur Laut +/. Langkat. mengakibatkan hilangnya kawasan hutan dan penetapan proporsi luas kawasan hutan terhadap luas DAS dan atau pulau yang kurang dari 30% berpotensi terganggunya keseimbangan tata air seperti banjir. BAKN-DPR RI | 34 . dan kekurangan air serta rusaknya ekosistem mangrove di kawasan pesisir pantai.6588ha dirambah masyarakat menjadi kebun kelapa sawit sehingga merusak ekosistem dan berindikasi kerugian ekonomis Rp 153 613 713 600. 2010 (Semester I) Pada Kementerian Kehutanantermasuk Unit Pelaksana Teknis (Upt).001.00 dan USD4.574. (c) Kebijakan pembangunan Kawasan Terpadu Pusat Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau di Pulau Dompak kurang memperhatikan fungsi kawasan hutan. Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota Serta Instansi Terkait Lainnya Di Jakarta (Pusat). (b) Rancangan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove seluas 11. lebih lanjut menghilangkan kesempatan untuk mereboisasi hutan dan/atau lahan seluas 3. sedimentasi.90 m3. (2) Temuan Pelaksanaan Pengelolaan Hutan Mangrove (a) Realisasi rehabilitasi hutan mangrove belum memenuhi target dalam rencana strategis 2005 – 2009 mengakibatkan tujuan rehabilitasi hutan mangrove untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai menjadi tidak tercapai.18 ha di kota Tanjung Pinang tidak sesuai ketentuan dan hilangnya hutan mangrove sebagai hutan lindung.21. Indragiri Hilir.d.26 tidak diterima. erosi. (c) PT AI tidak melaporkan potongan A atau potongan B atas hasil hutan kayu sebanyak 308. erosi.

5) KOMISI V Hasil Pemeriksaan BPK semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi V DPR RI terdiri atas 41 obyek pemeriksaan yang semuanya merupakan pemeriksaan kinerja.76 kurang efektif mendukung strategi mitigasi bencana. sehingga kurang mendukung upaya pencapaian tujuan stimulus fiskal.182. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Bidang Infrastruktur (a) Pengalokasian Anggaran Stimulus Belanja Infrastruktur pada Kementerian Perhubungan tidak mempertimbangkan tingkat pengangguran wilayah/daerah. Provinsi DKI Jakarta. (b) Pengenaan Pajak Penghasilan Final Jasa Konstruksi pada 33 Kabupaten/Kota tidak sesuai ketentuan. Provinsi Jawa Tengah.790. Temuan : (1) Kelemahan Kebijakan Tidak Ada Acuan Kriteria dari Kementerian Perhubungan terkait Pengukuran dan Pembayaran atas Pekerjaan Terpasang (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.424.sehingga penggunaan anggaran stimulus belanja infrastruktur senilai Rp1. (c) Pelelangan umum pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana di Kabupaten Flores Timur menyalahi ketentuan. Dan Flores Timur Temuan : (1) Temuan Kelemahan Kebijakan Dirjen KP3K kurang memberikan panduan dalam penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan rumah nelayan mengenai pembebasan PPN sehingga penggunaan dana stimulus fiskal sebesar Rp4. Jawa Timur. a) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kementerian Perhubungan di Instansi Pusat.00 pada Ditjen Perhubungan Udara Tidak Tepat. 5 (lima) obyek terkait dengan program stimulus belanja infrastruktur bidang perhubungan dan 36 obyek terkait dengan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum.761.801. (3) Temuan terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur (a) Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan pembangunan rumah khusus nelayan melalui dana stimulus fiskal 2009 kurang efektif. Provinsi Sulawesi Selatan. (b) Kebijakan Pengalokasian Anggaran Stimulus Belanja Infrastruktur sebagai Tambahan Dana Dua Kontrak Tahun Jamak Sebesar Rp100.000.000. Rembang.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 d) Kinerja Atas Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 Pada Kementerian Kelautan Dan Perikanan . Provinsi Sumatera Utara. Pekalongan. (2) Temuan terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran dan Pemilihan Program/ Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur Pemilihan lokasi 38 unit Rumah Nelayan Ramah Bencana (RNRB) tidak tepat karena dibangun di wilayah sempadan pantai dan sempadan sungai. BAKN-DPR RI | 35 . Provinsi Maluku Utara. Provinsi Papua Dan Provinsi Papua Barat.00 kurang efektif mendukung pencapaian tujuan penyerapan tenaga kerja. Dan Nusa Tenggara Timur Di Jakarta. Sikka.000. Dinas Kelautan Dan Perikanan Kabupaten/Kota Di Wilayah Provinsi Jawa Tengah.849.

Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. ditemukan juga pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan keuangan Negara sebesar Rp13.23 dengan Jumlah Tenaga Kerja yang Tidak Terserap Sebanyak 46. Satker Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan Dan Satker Pembangunan Fasilitas Pelabuhan BatangRembang di Provinsi Jawa Tengah.057. dan umur teknis konstruksi bangunan Negara berpotensi tidak sesuai dengan yang direncanakan.067.17 OH.574.951.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Penetapan Target dan Perhitungan Realisasi Penyerapan Tenaga Kerja Tidak Didasarkan atas Standar atau Pedoman yang Baku.574. b) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Satker Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya.250.00 BAKN-DPR RI | 36 (c) .410.392.80 tidak optimal dan belum sepenuhnya mencapai target/sasaran.601.616. (a) Program Stimulus Bidang Infrastruktur Tahun 2009 pada Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Pusat yang dilaksanakan Satker Direktorat Bandar Udara pada Ditjen Perhubungan Udara dan Satker Palaihari Kalsel pada Ditjen Perhubungan Laut tidak dapat diselesaikan dalam Tahun 2009 sehingga pelaksanaan anggaran program sebesar Rp21.00 (f) Laporan Realisasi Penyerapan Tenaga Kerja Tidak Akurat sehingga Tidak Dapat Digunakan sebagai Dasar Pengambilan Keputusan (g) Pelaporan dan Pertanggungjawaban Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun2009 Tidak Tertib (h) Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Fasilitas Bandar Udara dan Pelabuhan Laut di Maluku Utara Tidak Sesuai Ketentuan Berindikasi Merugikan Keuangan Negara sebesar Rp13.247.895.91 dan dua satker yang memerlukan pendalaman pemeriksaan.350.000.197.694. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Fiskal Bidang Infrastruktur Pengalokasian Anggaran Program Stimulus Pembangunan Infrastruktur Tidak Sepenuhnya Sejalan Dengan Kriteria Stimulus Fiskal dan Terdapat Alokasi Anggaran Kegiatan yang Tidak Dapat Diserapsenilai Rp1.694.52. (d) Ketidakhematan dalam Perhitungan Harga Perkiraan Sendiri pada 46 Kontrak Pekerjaan Stimulus Belanja Infrastruktur Sebesar Rp10.730. (b) Kualitas pekerjaan pada kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada satker Ditjen Perhubungan Udara dan Ditjen Perhubungan Laut di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat tidak memenuhi spesifikasi teknis dan tidak sesuai gambar rencana sehingga merugikan keuangan Negara sebesar Rp2.148.054.91 (i) Selain itu.137.109. (c) Hasil Pelaksanaan Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan pada 23 (Dua Puluh Tiga) Satker Tidak Mencapai Target Kegiatan yang Ditetapkan Sebesar Rp12.23 (e) Pertanggungjawaban Penggunaan Anggaran Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 Tidak Sesuai Ketentuan Sebesar Rp1.312.836. (3) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur.361.

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur (a) Laporan Realisasi Penyerapan Tenaga Tidak Akurat yaitu terkait adanya perbedaan perhitungan jumlah tenaga kerja menurut Laporan Mingguan.556.169.006. Kantor Administrator Pelabuhan Ternate. Satker Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur (a) Hasil Pelaksanaan Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan pada Satker Kementerian Perhubungan di Wilayah Provinsi Maluku Utara Tidak Mencapai Target yang Ditetapkan Sebesar Rp2. c) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kantor Bandar Udara Sultan Babullah.998.080.31 d) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Satuan Kerja Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Dan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Perhubungan Laut di Provinsi Sulawesi Selatan.641.783 OH (b) Ketidakhematan Dalam Perhitungan Harga Perkiraan Sendiri pada Enam Paket Pekerjaan Stimulus Belanja Infrastruktur Sebesar Rp2. Kantor Pelabuhan Gebe. Temuan : Temuan Pemeriksaan Terkait dengan Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur : BAKN-DPR RI | 37 . Kantor Pelabuhan Buli Dan Kantor Pelabuhan Laiwui di Provinsi Maluku Utara.62 (d) Proses Pengadaan Paket Pembangunan Fasilitas Pelabuhan (Faspel) Laut Sanana dan Bobong Tidak Sesuai Ketentuan Berindikasi Merugikan Keuangan Negara Sebesar Rp1. Kantor Pelabuhan Sanana.506.083.85 (c) Proses Pengadaan Pembangunan Fasilitas Bandar Udara Sultan Babullah Ternate Tidak Sesuai Ketentuan Berindikasi Merugikan Keuangan Negara Sebesar Rp10.061.809.31 tidak mencapai target yang ditetapkan.192. Selain itu terdapat ketidakseragaman metode perhitungan penyerapan tenaga kerja antara pekerjaan konstruksi dan pekerjaan supervisi.789.956. dan Satker Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Batang dan Rembang senilai Rp1. (d) Pertanggungjawaban keuangan pekerjaan pengawasan/ supervisi pada Satker Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya. Laporan Bulanan dan Absensi Harian.999.353.175.00 tidak lengkap.741.Sehingga Tidak Dapat Digunakan Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan (b) Ketidakhematan dalam Perhitungan Harga Perkiraan Sendiri pada Paket Pekerjaan Stimulus Belanja Infrastruktur Senilai Rp7. data rencana penyerapan tenaga tidak didukung dengan data penetapan rencana.099.071.60 dengan Jumlah Tenaga Kerja Yang Tidak Terserap Sebanyak 4. (c) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang perhubungan pada satker Kementerian Perhubungan di wilayah Provinsi Jateng atas 37 paket pekerjaan senilai Rp1.42 yang mengakibatkan ketidakhematan keuangan negara sebesar nilai tersebut.250.470.

pemilihan program/kegiatan dan pencapaian tujuan program stimulus belanja infrastruktur Yaitu hasil kegiatan stimulus infrastruktur belum dimanfaatkan secara optimal. Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Manokwari Provinsi Papua Dan Papua Barat di Jayapura.432.764.354.540. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil Pelaksanaan Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan pada Satker Kementerian Perhubungan di Wilayah Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Tidak Mencapai Target yang Ditetapkan Sebesar Rp6. Temuan : (1) Temuan pemeriksaan terkait efektivitas pengalokasian anggaran.433.125. Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Pomako. Dan Manokwari.000. f) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Di Lingkungan Sekretaris Jenderal.23 e) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perrhubungan Tahun 2009 pada Satuan Kerja Bandar Udara Sentani.670. (b) Menteri PU Belum Menyusun dan Menetapkan Standar/Pedoman Mengenai Cara Penetapan dan Perhitungan Target dan Realisasi Penyerapan Tenaga Kerja Pada Pelaksanaan Kegiatan Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum (2) Temuan Pemeriksaan terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. Sarmi. (c) Keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan pada program stimulus fiskal belanja infrastruktur belum dikenakan denda sebesar Rp4.435. Merauke.77 (b) Kualitas pekerjaan pada kegiatan stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang perhubungan tahun 2009 tidak memenuhi spesifikasi teknis. Mulia. Direktorat Jenderal Cipta Karya.903.569.861. Pembangunan Lalu Lintas Angkutan Sungai Danau Dan Penyeberangan Papua Barat. Bandar Udara Mulia. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Kelemahan Kebijakan (a) Kebijakan Penganggaran Belanja Stimulus Fiskal untuk Pembangunan Infrastruktur Milik Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota pada Kementerian PU tidak Didukung oleh Peraturan PerundangUndangan. Timika. Bandar Udara Mopah. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta. Direktorat Jenderal Bina Marga. Bandar Udara Domine Eduard Osok. Pemilihan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Kurang Mendukung Pencapaian Tujuan Peningkatan Penyerapan Tenaga Kerja dan BAKN-DPR RI | 38 .91. Sorong. dan Pemilihan Program/Kegiatan SF Belanja infrastruktur (a) Pengalokasian Anggaran.00 Belum Dimanfaatkan (2) Hasil Pelaksanaan Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan pada Satuan Kerja Kementerian Perhubungan di Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tidak Mencapai Target yang Ditetapkan Sebesar Rp1. Bandar Udara Sarmi.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (1) Hasil Kegiatan Stimulus Belanja Bidang Infrastruktur Sebesar Rp4.

331.34 dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 508 OH. (c) Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) DIPA stimulus fiskal tahun 2009 Provinsi Kepulauan Babel tidak membuat laporan kinerja h) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pembangunan Jalan Dan Jembatan Provinsi Jawa Barat SNVT Perencanaan Dan Pengawasan Jalan Dan Jembatan Provinsi Jawa Barat Snvt Preservasi Jalan Dan Jembatan Provinsi Jawa Barat Snvt Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citanduy SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citarum SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Cimanuk-Cisanggarung SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Barat di Bandung.862. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum. Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. Satker Pengembangan Kawasan Permukiman. Temuan : BAKN-DPR RI | 39 . Temuan terkait efektivitas pelaksanaan program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur (a) Kegiatan pengadaan barang dan jasa stimulus belanja infrastruktur di Kementerian PU belum sepenuhnya dilaksanakan melalui EProcurement (b) Pengadaan jada konsultasi dana stimulus fiskal tahun 2009 pada satker pembinaan penataan ruang Kawasan Sangat Berkembang tidak sesuai ketentuan senilai Rp2.796.155. (2) Temuan pemeriksaan terkait efektivitas pelaksanaan program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umumpada satuan kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp1. Temuan : (1) Temuan pemeriksaan terkait efektivitas pengalokasian anggaran. pemilihan program/kegiatan dan pencapaian tujuan program stimulus belanja infrastruktur (a) Program/kegiatan yang dilaksanakan dalam stimulus fiskal belum sepenuhnya sesuai dengan sasaran stimulus fiskal. dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pangkal Pinang.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (3) Mengatasi PHK (b) Indikator keberhasilan program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Kementerian Pekerjaan Umum Belum Ditetapkan dan Terukur Untuk Menilai Keberhasilan Program Stimulus.956.00 tidak didukung dengan bukti yang sah g) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pembangunan Jalan dan Jembatan.215.836.030. (b) Gambar/desain rencana pemasangan pipa PVC di Tanjungpandan tidak bisa digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan kontrak. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. (b) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku.902.75 (c) Pertanggungjawaban belanja perjalanan dinas kegiatan stimulus belanja infrastruktur pada 9 satker pusat senilai Rp5.

510. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Di Surabaya. SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Pemali Juana. (a) Pengalokasian anggaran program stimulus pembangunan infrastruktur sebagai Anggaran Biaya Tambahan (ABT) paket kontrak tahun jamak tidak efektif mendukung pencapaian tujuan penyerapan tenaga kerja.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (1) (2) Temuan pemeriksaan terkait efektivitas pengalokasian anggaran. (b) Pemilihan paket pekerjaan tidak mendukung penyerapan tenaga kerja secara signifikan. dan (c) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada satuan kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Jawa Barat tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp4. SNVT Pembangunan Jalan Dan Jembatan. (b) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Bidang Pekerjaan Umum. Temuan pemeriksaan terkait efektivitas pelaksanaan program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur. (b) Hasil pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi DI Pacal dan DI Gondang telah mengalami kerusakan pada masa pemeliharaan. SNVT Preservasi Dan Pembangunan Jalan Dan Jembatan Metropolitan Semarang.96. pemilihan program/kegiatan dan pencapaian tujuan program stimulus belanja infrastruktur. (c) Lokasi pekerjaan parapet penanganan banjir DAS Kali Madiun dan Kali Grindulu (sumberdana stimulus 2009) tumpang tindih dengan Paket Pembuatan Tanggul Banjir dan Pelindung Tebing Kali Madiun (sumber dana reguler 2009) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Brantas. SNVT Perencanaan Dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Metro Semarang. SNVT BAKN-DPR RI | 40 j) . dan (b) Pelaksanaan tiga paket pekerjaan stimulus belanja infrastruktur tidak sesuai spesifikasi dan mengurangi bangunan pelengkap sehingga berpotensi mengalami kerusakan i) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Bengawan Solo. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Bidang Pekerjaan Umum (a) Hasil kegiatan pembanguna jalan pada SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan Provinsi Jateng dan SKB Pembangunan Jalan Tol SoloKertosono belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.851. (a) Pengalokasian anggaran program stimulus pembangunan infrastruktur sebagai Anggaran Biaya Tambahan (ABT) paket kontrak tahun jamak tidak efektif mendukung pencapaian tujuan penyerapan tenaga kerja.737.

SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Surabaya.638. (c) Pengalokasian anggaran program stimulus pembangunan infrastruktur untuk pembayaran klaim Paket Bereng Bengkel – Km 35 (Pile Slab) tidak efektif mendukung pencapaian tujuan penyerapan tenaga kerja. (b) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku.347. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan.673. k) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Kalimantan Tengah I. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.056.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Perencanaan Dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur.413. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Kalimantan Tengah di Palangkaraya. SNVT PJJ Provinsi Kalimantan Tengah II. SNVT Preservasi Jalan Dan Jembatan. (b) Pengalokasian anggaran program stimulus pembangunan infrastruktur sebagai Anggaran Biaya Tambahan (ABT) pada paket kontrak tahun jamak tidak efektif mendukung pencapaian tujuan penyerapan tenaga kerja.04.04. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Pengalokasian anggaran program stimulus pembangunan infrastruktur sebagai Anggaran Biaya Tambahan (ABT) paket kontrak tahun jamak tidak efektif mendukung pencapaian tujuan penyerapan tenaga kerja. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur. BAKN-DPR RI | 41 . Provinsi Jawa Timur.121. (b) Konstruksi bangunan melintang Jembatan Kali Widas kurang terjamin keamanannya. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada satuan kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp1. SNVT Perencanaan Dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada Satuan Kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Jawa Timur tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp1. Snvt Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Timur di Surabaya.

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (b) Hasil Pelaksanaan pekerjaan pembangunan Jalan Kudangan .00 (e) Pelaksanaan pekerjaan paket pemeliharaan Kelua-Tanjung tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan keuangan negara sebesar Rp2.039.Batas Kalbar mengalami kerusakan.264. Temuan : BAKN-DPR RI | 42 .070. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin. Tabalong)-Kalua tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan negara sebesar Rp2. (d) Pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan berkala jalan Amuntai-Ds. (b) Laporan monitoring dan evaluasi program stimulus fiskal 2009 pada satker PKPAM Provinsi Kalsel tidak akurat. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. Rabur (Batas Kab. (c) Pelaksanaan pekerjaan pembangunan jalan Pelaihari-Kampung AsamAsam I tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan keuangan negara sebesar Rp1. (b) Kegiatan Rehabilitasi/Peningkatan Jaringan Rawa Tambak pada SNVT Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Air Kalimantan II Provinsi Kalimantan Selatan gagal dilaksanakan.10. l) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II. (c) Enerbitan jaminan pelaksanaan setelah addendum kontrak terlambat sehingga jaminan pelaksaan tidak dapat dicairkan bila terjadi peristiwa yang tidak terduga (wanprestasi) (d) Aset hasil pengadaan stimulus belanja infrastruktur tidak dikelola sesuai ketentuan dan belum dicatat sehingga kurang akuntabel. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. m) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Maluku Utara di Sofifi. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Pengalokasian anggaran program stimulus pembangunan infrastruktur untuk pembayaran retensi kontrak pekerjaan tahun jamak tidak efektif mendukung pencapaian tujuan penyerapan tenaga kerja. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VII.609. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Kualitas pekerjaan rigit beton dan pile salab pada SNVT pembangunan jalan dan jembatan Provinsi Kalsel berindikasi tidak memenuhi spesifikasi teknis.883. (c) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.37.763.979.423.369.

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (1) Hasil kegiatan penyediaan SPAM oleh Satuan Kerja PKPAM Provinsi Maluku Utara belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. SNVT PJJ Sorong Dan SNVT PKPAM Provinsi Papua Barat di Manokwari.167. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Pengalokasian anggaran program stimulus pembangunan infrastruktur sebagai Anggaran Biaya Tambahan (ABT) paket kontrak tahun jamak tidak efektif mendukung pencapaian tujuan penyerapan tenaga kerja. SNVT PJJ Fak-Fak. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja insfrastruktur bidang pekerjaan umum pada satuan kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Papua Barat tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp1. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI. SNVT Pembangunan Jalan Dan Jembatan. SNVT Perencanaan Dan Pengawasan Jalan Dan Jembatan (P2JJ) Provinsi Papua Barat. o) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Pompengan-Jeneberang. dan n) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Provinsi Papua Barat. (b) Hasil pelaksanaan pekerjaan pembangunan jalan kegiatan stimulus fiskal mengalami kerusakan. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: BAKN-DPR RI | 43 . SNVT Preservasi Dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar. (3) Pelaksanaan supervisi kegiatan SPAM Maluku Utara belum optimal. (c) Pelaksanaan pekerjaan pemasangan bronjong pada kegiatan pembangunan jalan Bomberai-Hurimber tidak seuai spesifikasi.76 dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 340 OH.599. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan Dan Jembatan. (b) Penetapan Target dan Perhitungan Realisasi Penyerapan Tenaga Kerja Tidak Didasarkan atas Standar atau Pedoman yang baku.305. sehingga hasilnya belum sepenuhnya sesuai dengan target yang ditetapkan. SNVT Pembangunan Jalan Dan Jembatan (PJJ) Provinsi Papua Barat. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional X Di Manokwari. (2) Proses pelelangan untuk kegiatan stimulus belanja infrastruktur di Satker PKPAM Provinsi Maluku Utara tidak sesuai ketentuan.

Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Program/kegiatan yang dilaksanakan dalam stimulus fiskal belum sepenuhnya sesuai dengan kriteria dalam SE-883/MK. (b) Usulan pengalokasian kegiatan dana stimulus Kabupaten Asahan kurang memperhatikan skala prioritas dalam rencana kerja. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Aset hasil KSD belum dicatat dan dilaporkan sebagai Barang Milik Daerah Kabupaten Asahan. (b) Saranan dan prasarana air minum belum dapat dimanfaatkan. (d) Analisa biaya pekerjaan pada konstruki lapis pondasi bawah pada penyusunan harga perkiraan sendiri memboroskan keuangan negara. (c) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada satuan kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp950.261. dan (c) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. Dinas Bina Marga Dan Dinas Tata Ruang Permukiman Pertambangan dan Energi Kabupaten Simalungun di Pamatang Raya. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. (c) Penggunaan anggaran stimulus belanja infrastruktur bidang pengairan Kabupaten Asahan tidak sesuai dengan peruntukannya. (b) Hasil kegiatan pembangunan 5 jembatan pada SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan dan pengadaan barang pada Satker PKPAM Provinsi Sulsel belum dapat dimanfaatkan secara optimal p) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Asahan di Kisaran .382.02/2009 .95. Temuan : BAKN-DPR RI | 44 .LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (a) Pengalokasian anggaran program stimulus pembangunan infrastruktur sebagai Anggaran Biaya Tambahan (ABT) paket kontrak tahun jamak tidak efektif mendukung pencapaian tujuan penyerapan tenaga kerja. dan q) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air. (b) Pengalokasian anggaran monitoring dan evaluasi kegiatan stimulus fiskal tahun 2009 pada Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Makassar tidak memperhatikan efektivitas penggunaan anggaran.

09/PRT/M/2009.065.679. serta hasil pekerjaan sia-sia (lost) (b) Pelaporan atas kegiatan stimulus fiscal tahun 2009 belum sesuai dengan PermenPU No.354. (c) Pembayaran termin terakhir pekerjaan pemeliharaan berkala jalan bangun raya Lumpatnihirik Kecamatan Raya Kahean kepada kontraktor dikembalikan ke kas negara. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Kabupaten Merangin tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp901. (b) Perencanaan program/kegiatan stimulus fiscal yang dikelola oleh Dinas Tarukim Tamben kurang matang.33. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Data target dan realisasi penyerapan tenaga kerja pada Bidang Bina Marga dan Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Kabupaten Merangin tidak diketahui. mengalami kerusakan dan belum berfungsi. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Program/kegiatan yang dilaksanakan dalam stimulus fiskal belum sepenuhnya sesuai dengan kriteria dalam SE-883/MK. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: BAKN-DPR RI | 45 .LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (1) (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. s) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bungo di Muara Bungo. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.02/2009. r) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Dan Perumahan Kabupaten Merangin di Bangko Provinsi Jambi.58 dan terdapat pekerjaan yang sudah rusak. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.813. (b) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada SKPD KSD Dinas Tarukim Tamben tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp216. dan (c) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. (b) Usulan pengalokasian kegiatan dana stimulus Kabupaten Simalungun kurang memperhatikan skala prioritas dalam rencana kerja.

(b) Penyusunan laporan dan pertanggungjawaban KSD kurang cermat dan belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Aset hasil KSD belum dicatat dan dilaporkan sebagai Barang Milik Daerah Kabupaten Kepahiang. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. (b) Penyusunan laporan dan pertanggungjawaban KSD kurang cermat dan belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan.55 dan mengalami kerusakan.545. (c) Pembayaran biaya langsung personil dan biaya langsung non personil kontrak jasa konsultansi tidak didukung bukti-bukti yang memadai dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.416. Kepahiang tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan keuangan negara sebesar Rp3. u) Program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mukomuko .270.473. t) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kepahiang di Kepahiang. (b) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Kegiatan stimulus fiskal program pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum masih bermasalah dengan tanah.781. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Aset hasil KSD belum dicatat dan dilaporkan sebagai Barang Milik Daerah Kabupaten Mukomuko.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. (d) Proses lelang kegiatan stimulus fiscal pada Dinas PU Kab. (c) Proses lelang 11 paket pekerjaan kegiatan Stimulus Fiskal tidak sesuai ketentuan. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. (b) Penyusunan laporan dan pertanggungjawaban KSD kurang cermat dan belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan.84. BAKN-DPR RI | 46 . (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bungo tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp834.

(b) Petunjuk operasional kegiatan Stimulus Fiskal bidang Pekerjaan Umum belum ditetapkan. w) Program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Pertambangan dan Energi (DPUPPE) Kabupaten Demak . (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Prosedur pengendalian mutu pekerjaan belum dirancang dan dilaksanakan secara baik.189. (c) Hasil kegiatan pembangunan rehabilitasi jaringan rawa/tambak Desa Wedung pada SKPD KSD DPUPPE Kab.219. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (1) Pelaksanaan Kegiatan Paket Pekerjaan Ruas Jalan Cibinong . Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.Bojong Gede Tidak Sesuai Ketentuan Berindikasi Merugikan Keuangan Negara Sebesar Rp 1.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (d) Biaya personil dan biaya non personil atas kegiatan jasa konsultan pada perencanaan dan pengawasan kegiatan yang didanao oleh dana stimulus tahun 2009 tidak didukung pertanggungjawaban berupa daftar gaji yang telah diperiksa (audited payroll) dan bukti pembayaran pajak.38. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. Demak belum dimanfaatkan secara optimal.56. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi BAKN-DPR RI | 47 .46. 4) Hasil pelaksanaan kegiatan Stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada Dinas DPUPPE Kabupaten Demak tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp923. Temuan : Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.028. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. (c) Perencanaan kegiatan rehabilitasi saluran irigasi Polder Batu pada SKPD KSD DPUPPE Demak kurang memperhatikan tujuan dan kriteria kegiatan Stimulus.911. (b) Prosedur pekerjaan tambah kurang tidak sesuai ketentuan.528. v) Program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada SKPD KSD Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bogor di Cibinong .409.327.648. x) Program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas PU Bina Marga dan Dinas PU Pengairan Kabupaten Nganjuk . dan (2) Pelaksanaan Kegiatan Paket Pekerjaan Ruas Jalan Kandang Roda-Sentul (Jalur Lambat) Tidak Sesuai Ketentuan Berindikasi Merugikan Keuangan Negara Sebesar Rp1.

y) Program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD DPU BMCK Kabupaten Tulungagung . Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. (e) Pekerjaan swakelola pemeliharaan jalan wilayah I. z) Program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek . III dan IV diantaranya menyajikan RAB item pekerjaan lapen.853. BAKN-DPR RI | 48 .87 OH. II.83 dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 9. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. (c) Pengeluaran perjalanan dinas untuk biaya transport dan penginapan belum dipertanggungjawabkan sesuai biaya riil. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Kabupaten Nganjuk tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp940. buras. (c) Pelaksanaan kegiatan di Dinas Pekerjaan Umum Pengairan yang didanai stimulus fiskal belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. (d) Pengeluaran untuk upah kerja dan biaya penggunaan alat walles pada 30 paket pekerjaan peningkatan jalan desa/dusun di SKPD KSD Kab.508. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku sehingga efektivitas pencapaian tujuan meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK tidak dapat diukur secara tepat dan akurat serta laporan target dan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan bagi manajemen. berm dan pekerjaan galian tanah dengan harga satuan yang dirancang lebih tinggi daripada RAB pekerjaan sejenis secara kontraktual.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku.374. (b) Penyampaian laporan pelaksanaan kegiatan stimulus fiscal tidak tertib. (b) Kegiatan pengawasan yang dilaksanakan oleh konsultan supervisi tidak efektif. burtu. telford. urug pasir. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Aset hasil KSD Kabupaten Tulungagung belum dicatat dan dilaporkan sebagai Barang Milik Daerah Pemerintah Kabupaten Tulungagung. batu tepi. Tulungagung tahun 2009 tidak efisien.

(2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Denda atas keterlambatan pekerjaan pemeliharaan berkala jalan SebaMesar tahun 2009 kurang dikenakan senilai Rp3. (c) Pengendalian terhadap pelaksanaan pengumuman lelang tidak memadai. (b) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku.00.04 dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebayak 251 OH. (b) Penyusunan laporan dan pertanggungjawaban KSD kurang cermat dan belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Usulan program dan kegiatan stimulus fiskal yang diajukan oleh SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai Timur ke Kementerian Pekerjaan Umum tidak didukung dengan perencanaan yang memadai. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. bb) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai Timur .528.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada SKPD KSD Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp953.355.483.355.00 sehingga mengakibatkan kekurangan penerimaan negara dari denda keterlambatan yang kurang dipungut sebesar Rp Rp3. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Usulan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum tidak berdasarkan analisa yang terukur untuk mencapai tujuan program. dan BAKN-DPR RI | 49 .528. aa) Program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. (c) Pekerjaan paket pemeliharaan berkala jalan Seba-Mesara TA 2009 dan paket pengawasan/supervisi tidak direalisasikan sehingga kurang mendukung penyerapan tenaga kerja secara signifikan.902. (b) Hasil kegiatan stimulus belanja bidang infrastruktur belum dimanfaatkan. (c) SKPD KSD tidak memiliki dokumen prosedur pedoman quality control sehingga tidak standardisasi pelaksanaan quality control pada tiap paket pekerjaan dan tidak didapatkan jaminan terpenuhinya kualitas (quality assurance).

34 dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 12. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (2) (b) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan belanja stimulus infrastruktur bidang Pekerjaan Umum pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai Timur tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp1. Manggarai Timur.205. Manggarai Timur tidak sesuai ketentuan. (b) Aset hasil KSD belum dicatat dan dilaporkan sebagai Barang Milik Daerah. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada SKPD KSD Dinas PU Kabupaten Barito Kuala tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp253.864 OH. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. dd) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Barito Kuala. BAKN-DPR RI | 50 .066. (b) Jaminan pelaksanaan empat paket pekerjaan pada program stimulus daerah Kabupaten Barito Kuala tidak sesuai ketentuan. (c) Penyusunan dan penetapan HPS paket pekerjaan program stimulus fiscal di SKPD KSD DPU Kab. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku.70. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.681. (c) Proses lelang 3 paket pekerjaan kegiatan stimulus fiscal tidak sesuai ketentuan. cc) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kota Palangka Raya Di Palangka Raya.753. (d) Perencanaan pekerjaan Jalan Flamboyan Bawah lemah. (b) Aset hasil KSD belum dicatat dan dilaporkan sebagai barang milik daerah Kab. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Kemahalan harga item pekerjaan pemindahan utilitas telekomunikasi pada paket pekerjaan kegiatan stimulus fiskal Jalan Mendawai.116. (d) Seluruh paket pekerjaan kegiatan stimulus fiscal di SKPD KSD DPU Kab. Manggarai Timur belum dilaksanakan serah terima akhir pekerjaan atau FHO (final hand over).

752. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang Pekerjaan Umum pada SKPD KSD Dinas PU dan Dinas PSDA Kabupaten Gowa tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp1. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.369. Takalar. (b) Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Penggunaan anggaran dana stimulus tidak tepat.367. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Aset hasil KSD belum dicatat dan dilaporkan sebagai Barang Milik Daerah Kabupaten Takalar. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 ee) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Kabupaten Gowa. BAKN-DPR RI | 51 .085.510. (c) Penyusunan laporan dan pertanggungjawaban KSD kurang cermat dan belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. (b) Kelebihan pembayaran pada pelaksanaan kegiatan belanja stimulus infrastruktur bidang pekerjaan umum pada SKPD KSD PU bidang SDA Kabupaten Takalar sebesar Rp1. (d) Kegiatan quality control untuk menjamin kualitas hasil pekerjaan belum dijalankan pada Dinas PU Kab. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. (b) Penyusunan laporan dan pertanggungjawaban KSD kurang cermat dan belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan.56.00. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. gg) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas PU Kabupaten Maros. ff) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Takalar . Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku.017. (c) Kegiatan quality control untuk menjamin kualitas hasil pekerjaan kurang memadai.

(2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Pelaksanaan program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum tidak sesuai target yang ditetapkan. (b) Realisasi KSD belanja infrastruktur Bidang Pengairan tidak sesuai dengan Usulan Daftar Rencana Definitif dan RKA-KL. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. ii) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Halmahera Timur.427. (c) Kegiatan quality control untuk menjamin kualitas hasil pekerjaan kurang memadai. Temuan : Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (1) Kualitas Hasil Pekerjaan Rehabilitasi Jalan Tanah Ke Aspal (Hotmix) Lebar 4.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Pelaksanaan program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum tidak sesuai target yang ditetapkan. (2) Penyusunan Laporan dan Pertanggungjawaban Kegiatan Stimulus Daerah Kurang Cermat dan Belum Sepenuhnya Sesuai dengan Pedoman yang Ditetapkan. BAKN-DPR RI | 52 . Maros tahun 2009 tidak optimal.714. (d) Monitoring dan evaluasi program stimulus fiscal pada Dinas PU Kab. Maros tidak dapat diyakini kebenarannya. hh) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pangkajene Kepulauan . (c) Kegiatan quality control untuk menjamin kualitas hasil pekerjaan kurang memadai.361. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku.35 dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 460 OH.5 m Ruas Jalan Lapter-Wayamli Berindikasi Tidak Memenuhi Spesifikasi Teknis. (d) Pelaksanaan kegiatan pembangunan jaringan irigasi Tombolu tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan keuangan negara sebesar Rp1. (e) Petunjuk operasional kegiatan stimulus fiscal bidang pekerjaan umum belum ditetapkan. (b) Aset hasil KSD belum dicatat dan dilaporkan sebagai barang milik daerah Kabupaten Maros. (f) Laporan mingguan yang dibuat oelh konsultan pengawas dan berita acara serah terima sementara pekerjaan (provisional hand over) pada SKPD-KSD sumberdaya air Dinas PU Ka.

38. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.487. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Selatan tidak mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp1.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (3) Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Halmahera Timur Belum Memungut Pajak Bahan Galian Golongan C dari Kontraktor Pelaksana Stimulus Daerah Senilai Rp1.60.665.74. (4) Proses pengadaan paket kenstruksi di Kabupaten Halmahera Timur tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan keuangan negara senilai Rp4. dan (c) Pelaksanaan pekerjaan peningkatan jalan ruas Klamono-Segun tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan Keuangan Negara sebesar Rp1.384.721. Temuan : Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (1) Pekerjaan Penanganan Jalan Saketa Matuting tidak efektif dan perhitungan pekerjaan tidak dapat diyakini kewajarannya.801.268. Temuan : (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Aset Hasil KSD belum dicatat dan dilaporkan sebagai Barang Milik Daerah Kabupaten Sorong. ll) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Selatan.574. kk) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong. BAKN-DPR RI | 53 . dan (3) Pelaksanaan pekerjaan penanganan jalan Galela-Kedi tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan keuangan negara sebesar Rp679. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku.00. (b) Hasil pelaksanaan pekerjaan pembangunan jalan kegiatan Stimulus Fiskal mengalami kerusakan.42.125.434. (2) Proses pelelangan untuk kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur di SKPD KSD Dinas Kimpraswil Provinsi Maluku Utara tidak sesuai ketentuan. dan jj) Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KSD Dinas Kimpraswil Provinsi Maluku Utara.636. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku.718.124.883.514.

414.00 tidak dapat diyakini kewajarannya.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (b) Hasil kegiatan pembangunan SPAM Wayer belum dimanfaatkan.291. (c) Kegiatan quality control untuk menjamin kualitas hasil pekerjaan kurang memadai.955.621.352. 6) KOMISI VI Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi VI DPR RI terdiri atas 11 objek pemeriksaan.384. (b) Kegiatan quality control untuk menjamin kualitas hasil pekerjaan kurang memadai. Pemeriksaan Keuangan atas PTPN (Persero) XII tahun 2009 di Surabaya.292. 1 (satu) objek Pemeriksaan Keuangan.912. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Belanja Infrastruktur: Penetapan target dan perhitungan realisasi penyerapan tenaga kerja tidak didasarkan atas standar atau pedoman yang baku. Kondisi BAKN-DPR RI | 54 (b) .936.96 dan alokasi biaya persediaan pupuk ke beban pokok penjualan Rp54.600. Kondisi tersebut mengakibatkan saldo persediaan pupuk per 31 Desember 2008 dan 2009 masingmasing sebesar Rp7. (c) Pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi saluran induk I di Tuaraisah tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan keuangan negara sebesar Rp2.92.00 dan Rp2. (2) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektifitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur: (a) Hasil pelaksanaan belanja stimulus infrastruktur bidang pekerjaan umum pada SKPD KSD Dinas PU Kab.054. (d) Pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi saluran induk II di Tuaraisah tidak sesuai ketentuan berindikasi merugikan keuangan negara sebesar Rp1.640.257. a) Opini Pemeriksaan: Laporan Keuangan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Teluk Bintuni tidak mencapai target sebesar Rp4. b) Temuan atas Sistem Pengendalian Intern : (a) Implementasi pengukuran dan pencatatan persediaan pupuk tidak dilakukan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang telah ditetapkan yaitu metode rata-rata bergerak.723.819.853.995.376. Temuan (1) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.634. mm) Program /Kegiatan Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Teluk Bintuni. 3 (tiga) objek Pemeriksaan Kinerja dan 7 (tujuh) objek Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT).20.341.20. Praktik pencatatan dengan menambahkan nilai buku tanaman yang dikonversi ke nilai perolehan tanaman pengganti tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan mengindikasikan adanya kebijakan manajemen untuk menunda beban konversi. a.00 dan aktiva tanaman Rp37.144.

Pemeriksaan Kinerja PT Garuda Indonesia: Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia Th 2008 dan Th 2009 di Cengkareng dan Jakarta.404.00 dan persediaan kayu lebih saji sebesar Rp19.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (c) (d) (e) (f) (g) (h) (i) tersebut mengakibatkan aktiva tetap aneka kayu lebih saji sebesar Rp34.00 yang saldonya tidak bergerak sejak tahun 2006. Terdapat kewajiban kepada Pemerintah. Pengakuan penyertaan modal PTPN XII kepada Yayasan Pengembangan Kepemimpinan BUMN tidak didukung bukti setoran modal.493. Laporan Keuangan per 31 Desember 2008 dan 2009 tidak melaporkan akun material yaitu Piutang Ditjenbun dan penyisihannya sebesar Rp11. penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 21 Jasa Dokter di Rumah Sakit Kaliwates serta PPh Pasal 21 dan Pasal 23 di unit kebun belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.238. Proyek dan Ness Cocoa dengan total sebesar Rp4.931. Manajemen PTPN XII tidak berupaya untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban tersebut sehingga besarnya kewajiban tidak dapat diyakini. Selain itu Piutang tersebut dihapuskan dari pembukuan tahun 2009 tanpa ada persetujuan dari Dewan Komisaris. Kpts.490. Tidak memiliki organ perseroan sesuai ketentuan dan persyaratan sebagai Persero dan Manajemen tidak membuat membuat laporan keuangan anak perusahaan PT MBLI tetapi dibukukansebagai unit kebun.438. Kondisi tersebut mengakibatkan nilai kewajiban dan beban imbalan pasca kerja tidak dapat diyakini kewajarannya.676. Selain itu Surat Keputusan Direksi tersebut sudah tidak berlaku lagi karena adanya revisi buku pedoman sehingga panitia pengadaan yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Direksi tersebut tidak mempunyai dasar hukum. Pemeriksa juga tidak memperoleh dokumentasi perjanjian hutang-hutang tersebut karena Manajemen PTPN XII tidak memelihara dokumennya. Terdapat beberapa panitia pengadaan barang dan jasa yang mutasi dan pensiun sehingga tugas-tugas Panitia Pengadaan sesuai Surat Keputusan Direksi No. Temuan : BAKN-DPR RI | 55 .163.872. Terdapat beberapa pencatatan nama rekening aktiva tetap pada daftar transaksi belum sepenuhnya didasarkan pada Kode Rekening Pembukuan Bagian Akuntansi yang sudah ditetapkan Direksi tanggal 22 Desember 2008 sehingga masing-masing rekening tidak menggambarkan kondisi sebenarnya. c) Temuan atas Ketidakpatuhan terhadap Perundang Undangan : (a) Berdasarkan pemeriksaan atas kepatuhan terhadap ketentuan perpajakan diketahui pelaksanaan pemotongan. Program perawatan dan pengobatan pensiunan belum pernah diperhitungkan dalam menghitung estimasi atas kewajiban dan beban imbalan pasca kerja.572.534. b.004/PTPN/UMUM/01/2008 tanggal 14 Januari 2008 tidak optimal. Hasil pemeriksaan atas kepemilikan PTPN XII dalam PT Maskapai Batoe Lempit Indonesia (MBLI) diketahui dokumen akta pendirian tidak ditemukan.189.00.00.

Pemeriksaan atas Efektifitas penyuelenggaraan Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Promosi Penanaman Modal BKPM TA 2009 dan 2010.00. Temuan : a) Pemupukan TM di Kebun SWS dan TGP pada tahun 2009 tidak tepat jenis. Medan. Temuan : a) Terdapat perangkapan tugas antara Bendahara Pengeluaran dan Pemegang Uang Muka Kerja dengan jabatan Kepala Seksi serta perangkapan fungsi pelaksanaan kegiatan dan fungsi evaluasi pada Seksi Penyelenggaraan dan Evaluasi. g) Tonase Angkut Pemborong Melebihi Ketentuan Dalam Surat Perjanjian Pekerjaan. d. h) Realisasi Perawatan Manual Jalan TR Dan CR Di Kebun TGP Tidak Sesuai Rencana Sehingga Tidak Efektif Memperbaiki Kerusakan Jalan. b) Uraian Tugas Senior Manager Marketing and Sales Passenger dan PassengerReservation Manager Tidak Lengkap dan Belum Diformalkan c) Kebijakan Pengembangan Sistem Reservasi Tiket Penumpang Berjadwal Tidak memadai d) PT GA Belum Merancang dan Menetapkan Laporan Evaluasi Kinerja Layanan Reservasi Tiket Penumpang e) Service Manual yang Mengatur Tentang Pre Journey Service Belum Dimutakhirkan dan Disempurnakan Secara Memadai f) Sistem Reservasi Tiket Penumpang Belum Dilengkapi dengan Fitur Auto Removal ofDuplicate PNRs g) PT GA Belum Memanfaatkan Data-data List Booking Active (LBA) dan List BookingCancel (LBX) Off-line untuk Meningkatkan Layanan Reservasi Tiket h) Pelayanan Sistem Reservasi Tiket Penerbangan Berjadwal Belum Menunjang Program Direct Channel c. Pemeriksaan Kinerja pada PTPN II Th 2008-2009 di Tanjung Morawa. Direktorat Pameran dan Sarana Promosi. Sub Direktorat Pameran. pemindahan TBS ke loading ramp tidak dilaksanakan secara FIFO dan perlakuan hasil sortasi buah mentah tidak sesuai ketentuan. c) Informasi yang tercantum dalam dokumen pemupukan dan inventaris belum memadai d) Jumlah Populasi Tanaman Per Ha Tidak Sesuai Standar e) Produktifitas Pemanen Karyawan Sendiri dibawah Karyawan Lepas f) Formulir-Formulir Laporan Kegiatan Panen dan Produksi Kurang Informatif. d) Pendidikan dan pelatihan teknis terkait pelaksanaan Kegiatan Marketing BAKN-DPR RI | 56 . b) Pemupukan di Kebun SWS dan TGP belum sepenuhnya tepat waktu.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 a) Uraian Tugas Senior Manager Revenue Support dan Manajer dibawahnya Belum ditetapkan Secara Formal dan Dituangkan dalam Manual Organisasi. b) Kegiatan Promosi Investasi pada DBPPM belum didukung dengan Survey Penilaian Kepuasan dari Calon Investor/Masyarakat. c) Kedudukan Kantor Investasi BKPM di luar negeri ((The Indonesian Investment Promotion Centre / IIPC) belum berada dalam suatu struktur organisasi yang jelas. i) Manajer Kebun SWS Tidak Mencantumkan Jumlah Tandan Yang Dikirim Ke PKS Dalam Surat Pengantar TBS j) Kegiatan sortasi di Loading Ramp belum berjalan efektif karena masih adanya petugassortasi tidak melakukan sortasi terhadap TBS yang datang setelah jam 18.

dan Belanja Kementrian Perdagangan TA 2009 dan Semester I 2010 di Jakarta. Semarang.d. Pemeriksaan atas Pengelolaan Anggaran dan Realisasi Pendapatan dan Belanja KDEI Taipei dan ITPC Busan Belanja Modal Tahun 2009 dan 2010. Ketidaktertiban pengelolaan PNBP pada KDEI disebabkan belum adanya SOP yang mengatur batas waktu proses administrasi dan prosedur pencatatan PNBP. Pemeriksaan atas Subsidi Bunga Kredit Program yang Ditagihkan oleh Bank Indonesia Kepada Pemerintah Th 2007 s. Temuan : a) PT Pertamina (Persero) lebih rendah menghitung biaya bunga Pertamina Hulu sebagai pengurang tambahan subsidi BBM Periode Tahun 2004 sebesar Rp10.246.99. g.372.358.d 2005 sebesar Rp235. b) PT Pertaminan (Persero) lebih tinggi menghitung biaya depresiasi aktiva tetap dalam tambahan subsidi BBM periode tahun 2003 s. Jakarta.Pencatatan dan Pelaporan Persediaan pada KDEI Belum Tertib Restitusi Biaya Pengobatan pada ITPC Busan TA 2009 dan 2010 Dibayarkan Lebih Besar Dari yang Seharusnya.138. Penutupan Kas di Bendahara Pengeluaran KDEI Belum Dilakukan Dengan Tertib. BAKN-DPR RI | 57 .933.797.738. Laporan pelaksanaan kegiatan Monitoring dan Evaluasi atas Kegiatan Promosi Investasi pada The Indonesian Investment Promotion Centre dan tiga Direktorat di lingkungan DBPPM Belum Memadai. Makasar.d.360.882. 31 Desember 2003 dan 1 Januari 2004 s. b) c) f. serta petugas yang kompeten dalam penatausahaan PNBP masih kurang. e. Pemeriksaan atas Tambahan Penggantian Biaya BBM Th 2003 s.729. Temuan : a) Pengelolaan PNBP Jasa Imigrasi dan Jasa Administrasi pada KDEI belum tertib.d. Temuan : Jumlah subsidi yang ditagihkan BI periode T.00 yang layak dibayarkan Pemerintah adalah sebesar Rp3.136.514 d) PT Pertamina (Persero) lebih rendah menghitung biaya pengadaan crude/minyak mentah Pro-rata Pertamina dalam tambahan subsidi BBM Periode 17 September 2003 s.374.A 1998/1999 s.800.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 e) Investasibelum pernah diadakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan BKPM.138.914.433.679.A 2002 sebesar Rp4.108. 31 Desember 2004 Total Sebesar Rp68. dan Gowa.d. Pontianak. 2009.921 7) KOMISI VII Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi VI DPR RI terdiri atas 23 objek pemeriksaan.d T.501 c) PT Pertamina (Pesero) lebih tinggi menghitung biaya pengadaan crude/minyakmentah Inkind Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas dalam tambahansubsidi BBM tahun 2003 sebesar Rp1. 2005 pada PT Pertamina (Persero). meliputi 2 (dua) objek Pemeriksaan Kinerja dan 21 objek Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT).

Dan Sukalaksana Senilai Rp4. Sulawesi Barat.00 tidak termanfaatkan dan menumpuk di gudang.274.504.190.00 dan USD530.105. Jawa Timur.634. Banten.970. Jawa Tengah.103. sisa material minimal senilai Rp3.981.224.230. BAKN-DPR RI | 58 .588.725. selain itu dalam laporan persediaan tidak mencerminkan jumlah dan nilai barang yang sebenarnya. Jaringan dan Gardu Induk Belum Optimal Dalam Menyerap Tenaga Kerja Sesuai Tujuan Program Stimulus Fiskal (b) Program DME Berbasis BBN Tidak Sesuai Dengan Karakteristik Pembiayaan Dalam Program Stimulus Fiskal (c) Pemilihan lokasi Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Leuwi Leksa Kabupaten Garut Tidak Tepat Sasaran (d) Pemilihan Lokasi Desa Mandiri Energi Tidak Melalui Tahap Identifikasi Potensi Terbarukan dan Identifikasi Kebutuhan Energi Masyarakat b) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan Stimulus (a) Pelaksanaan Pembangunan Transmisi.00 Belum Sepenuhnya Efektif Dalam Mencapai Tujuan Penganekaragaman Sumber Energi Masyarakat (f) Hasil Pengadaan Peralatan Kegiatan Produktif Senilai Rp1. Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V Jakarta. Pemilihan Program/Kegiatan dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur (a) Pembangunan Transmisi.828. Jaringan Dan Gardu Induk Tidak Sesuai Jadwal Waktu Sehingga Belum Dapat Dioperasikan (b) Hasil Pelaksanaan Pekerjaan yang Dibiayai dari Belanja Stimulus Infrastruktur Bidang Energi pada Ditjen LPE Tidak Mencapai Target yang Ditetapkan Sebesar Rp476. Kegiatan Pemeliharaan. Pemakaian Refinery Fuel dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan 2009 semester I pada Pertamina (Persero) Dit. Ciberang. mengakibatkan DC minimal senilai Rp6.00 (c) Hasil Pelaksanaan Pekerjaan Belanja Stimulus Infrastruktur Bidang Energi pada Ditjen LPE Tidak Sesuai Spesifikasi Teknis (d) Hasil Pekerjaan PLTMH Way Nipah.450. Lampung.647. Temuan : a) Kegiatan Pemeliharaan (a) Manajemen persediaan RU IV belum maksimal dalam mengelola direct charge (DC) dan surplus.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 a.00 tidak termanfaatkan. Temuan : a) Temuan Pemeriksaan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran.752. Program stimulus Belanja Infra Struktur Bidang Energi Tahun 2009 pada Satker Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Kementrian ESDM di Provinsi DKI.015. DIY.00 Belum Sepenuhnya Efektif Dalam Memenuhi Kebutuhan Listrik Perdesaan Dan Melengkapi Sistem Jaringan (e) Hasil Pekerjaan DME Bahan Bakar Nabati Senilai Rp19. NTB dan NTT.698. Jabar.00 Belum Efektif Dalam Peningkatan Produktivitas Kegiatan Ekonomi Masyarakat Desa (g) Hasil Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid Angin Surya Belum Sepenuhnya Efektif Dalam Penyediaan Energi Sebagai Entry Point Dalam Pengembangan Ekonomi Pedesaan b. Leuwi Leksa. Cilacap dan Balikpapan.

37 bbl sementara realisasinya adalah sebesar 1.176.378.3 dan 4.818.843. (b) Pemilihan HGO sebagai RF pada LOC-I dan LOC-II RU IV menimbulkan ketidakekonomisan senilai Rp57. mengakibatkan ketidakhematan senilai Rp76.767.821.189.00.642.22. 2009.927.00 b) Kegiatan Pemakaian RF (a) Program peningkatan efisiensi RF di RU IV belum sepenuhnya efektif menurunkan pemakaian RF pada tahun 2008 dan 2009 (semester 1). RL hingga bulan Juni ditargetkan sebesar 538. (e) Rumah dinas perusahaan (RDP) yang dimanfaatkan oleh pihak yang tidak berhak mengakibatkan pemborosan energi listrik sebesar 11. (c) Unscheduled plant stop tahun 2008 mengkibatkan loss pada oil water separator melebihi target sebesar 127.2. (d) Pemilihan RF belum sepenuhnya sesuai dengan Business Plan RU V 20062011mengakibatkan RU V kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan ekonomis senilai USD157.410.000. RL ditargetkan sebesar 1. c) Kegiatan Penurunan RL (a) Kegiatan penurunan loss RU IV belum efektif mengakibatkan realisasi loss masih di atas target. mengakibatkan ketidakefektifan pengadaan material direct charge (DC) senilai Rp14.00 bbl (d) Kelemahan alat ukur mengakibatkan nilai RL tidak dapat diyakini kewajarannya BAKN-DPR RI | 59 .13 pada periode 2008 s.39.d.873.200. (f) Penggunaan BSRF on crude sebagai pengukur pemakaian RF pada RU V tidak tepat karena tidak mencerminkan tingkat efisiensi yang sebenarnya.00belum bisa dioperasikan dan RU V kehilangan potensi pendapatan dari pencairan jaminan pelaksanaan senilai Rp197. (c) Beberapa kegiatan pemeliharaan kilang RU V terlambat dilaksanakan.950. Hal tersebut disebabkan oleh pengelolaan RDP belum mempertimbangkan aspek ekonomi.152. Pada tahun 2008.24 bbl. Pemeriksaan BPK RI menemukan bahwa RU IV belum menggunakan flow meter yang memiliki akurasi yang tinggi dan belum memperbaiki alat kalibrasi flow meter utama di area pemeliharaan IV.73 bbl sementara realisasinya adalah sebesar 818.000.338.740 bbl.167.889. (c) Kegiatan peningkatan kehandalan dan keakuratan peralatan serta sistem perhitungan yang terkait dengan RF RU IV belum sepenuhnya efektif.890 KWH atau setara Rp6.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (b) Proses inspeksi dan pengadaan perbaikan tangki 041T-122 di RU IV yang tidak memadai.503.365. (b) Flaring recovery system tidak berfungsi dengan baik sehingga RU IV kehilangan kesempatan untuk melakukan efisiensi RF senilai Rp57.000.701.5 Area TBL-Prod senilai Rp3.084.964.076 bbl. (d) Sistem metering PKS Jetty 1.00. Tangki 041Tiii 122 yang merupakan tempat penampungan slop wax mengalamikerusakannya.316. Di tahun 2009.76 bbl namun realisasnya sebesar 188.827.500.860. Evaporasi pada tahun 2008 ditargetkan sebesar 61.021.00.

(d) Tiga belas Sub Kontraktor PT Nusantara Termal Coal patut diduga melakukan kegiatan penambangan pada areal konsesi PKP2B PT Nusantara Termal Coal pada saat penghentian sementara kegiatan penambangan oleh Dirjen Minerbapabum melanggar ketentuan.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 d) Terkait dengan Pengendalian Intern Pengawasan dan pengelolaan pemasok RU IV dalam bentuk vendor management belum memadai sehingga terindikasi adanya pelanggaran terhadap pedoman pengadaan barang/jasa dan logistik. c.212.36 (f) Sepuluh kontraktor PKP2B kurang membayar DHPB sebesar Rp22.476. (e) Dua Pemda belum menetapkan peraturan teknis tentang reklamasi dan penutupan tambang dan satu pemda sudah menetapkan peraturan teknis tentang reklamasi namun belum sesuai dengan ketentuan.554.417. pemungutan dan penyetoran PNBP pada Kementerian ESDM yang seharusnya diatur oleh Menkeu setelah mendapat pertimbangan dari Menteri ESDM belum disusun.553. terdiri dari empat Pemerintah Kabupaten di Provinsi Jambi. (b) Kebijakan Menteri ESDM memberikan konsesi lahan pada dua PKP2B yang realnya berada di kawasan hutan tidak mendukung upaya pencegahan kerusakan hutan dan lingkungan.994.336. tiga Pemerintah Kabupaten di Provinsi Riau.30 (g) DBH SDA Tahun 2008 dan 2009 sebesar Rp1.493.38 dan tujuh puluh tujuh Pemegang Kuasa Pertambangan(KP)/Izin Usaha Pertambangan (IUP) kurang membayar royalti sebesar Rp145.366.135. BAKN-DPR RI | 60 .83 dan USD14.930.059.995.785.84 dan USD14.253.111.00. (e) Empat ratus ratus tujuh belas Pemegang Kuasa Pertambangan (KP)/Izin Usaha Pertambangan (IUP) kurang membayar iuran tetap sebesar Rp6. (b) Penggunaan jalan tambang oleh PT Arutmin Indonesia dari Tambang Satui ke Dermaga Muara Satui tidak sesuai ketentuan. Pemeriksaaan atas Pengadaan Barang dan Jasa di Kementrian ESDM dan BP Migas. dua Pemerintah Kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan. Pemeriksaan Pengelolaan Pertambanghan Batubara Tiga belas Pemerintah Kabupaten/Kota. e) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan yang Berlaku (a) Sembilan pemegang izin KP/IUP telah melakukan kegiatan penambangan di kawasan hutan tanpa izin pinjam pakai kawasan hutan. dan dua Pemerintah Kabupaten diProvinsi Kalimantan Timu.953. (c) Lima Sub Kontraktor PT NTC telah melakukan kegiatan penambangan di kawasan hutan tanpa izin pinjam pakai kawasan hutan. dua Pemerintah Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat.767.28 belum diterima dalam penyaluran kepada tiga kabupaten (h) Pengelolaan Jaminan Reklamasi oleh PKP2B dan Pemegang KP/IUP Belum Sesuai Ketentuan d.670. Temuan : a) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Pertambangan Batubara (a) Tatacara pengenaan. (f) Duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang kuasa pertambangan atau izin usaha pertambangan atas produksi/penjualan batubara minimal sebesar Rp5.

576. g. b) Pengadaan peralatan telemetri senilai Rp3.06 TA 2009 pada BPPT Jakarta. Temuan : a) Temuan yang terkait dengan penugasan Pemerintah kepada Pertamina (a) Pertamina melakukan pengadaan paket tabung LPG 3 kg tahun 2008 dan 2009 tanpa surat penugasan dari Menteri ESDM sebagaimana penugasan tahun 2007. e.05/2008 Tahun 2008 serta tidak ada kriteria untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai keperluan mendesak dan dapat dibiayai dari BA BSBL.00.147. b) HPS pekerjaan perbaikan ALS Channel Streamer yang disusun panitia memperhitungkan unsure PPh pasal 23 sebesar Rp33. Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Kondisi tersebut disebabkan lemahnya koordinasi antar satuan kerja dalam perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan. BAKN-DPR RI | 61 . Pengadaan Paket Tabung Gas 3kg Th 2007 sd 2009 pada PT Pertamina (Persero).00 sehingga mengakibatkan kelebihan pembayaran kepada CV-MDK.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Temuan : a) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kebijakan Hasil Pekerjaan Implementasi Pengendalian Volume BBM Bersubsidi Secara Tertutup berupa Draf Regulasi dan Renstra belum ditindaklanjuti oleh BPH Migas dan sebagian pelaksanaan pekerjaan tidak optimal. pengadaan barang. Kondisi tersebut disebabkan penentuan anggaran Belanja Lain-lain tidak memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam PMK Nomor: 196/PMK. Hal ini disebabkan oleh Panitia Pengadaan Barang/Jasa dan Pejabat Pembuat Komitmen tidak cermat dalam melaksanakan tugasnya. Temuan : a) Pelaksanaan pembuatan Concrete Tower dan pengadaan software AVL pada Satker TIRBR serta beberapa pengadaan pada satker Sestama terlambat diselesaikan dan rekanan belum dikenakan denda keterlambatan sebesar Rp24. b) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan yang Berlaku Beberapa aktivitas pada pelaksanaan pekerjaan jasa pemborongan. f.898.06 juta dan pembangunan gedung laboratorium AP senilai Rp2.30 juta belum dapat dimanfaatkan untuk penelitian pengembangan dan rekayasa teknologi roket tepat waktu.178. dan jasa konsultansi tidak sesuai spesifikasi teknis dan persyaratan kontrak.06 untuk membiayai kegiatan rutin tupoksi LAPAN sebesar Rp48. Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.088.36 juta tidak sesuai dengan karakteristik belanja.06 TA 2009 pada LAPAN Jakarta.000. Temuan : a) Alokasi BA 999.000. Hal tersebut disebabkan ketidaktegasan Pejabat Pembuat Komitmen dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana tercantum dalam SPK.

625.679.136.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (b) Kepmen ESDM No.108. (b) Pertamina tidak memperhitungkan denda sebesar Rp10. d) PT Pertamina (Persero) lebih rendah menghitung biaya pengadaan crude/minyak mentah Pro-rata Pertamina dalam tambahan subsidi BBM Periode 17 September 2003 s.000 set sehingga Pemerintah harus membayar tambahan biaya sebesar Rp2. Pemeriksaaan atas Tambahan Penggantian Biaya BBM Th 2003 s.738.883.210. Jakarta.870.729.514.377.d.432.d. 3175/K/12/MEM/2007 tentang Penugasan Pertamina dan Penetapan Daerah Tertentu Dalam Penyediaan dan Pendistribusian LPG Tabung 3 kg Tahun 2007 masih mengandung beberapa kelemahan.374. Temuan : a) PT Pertamina (Persero) lebih rendah menghitung selisih nilai persediaan awal dengan persediaan akhir produk Petrokimia Unit Pengolahan V Balikpapan sebagai pengurang tambahan subsidi BBM Periode Tahun 2003 sebesar Rp3. c) Temuan yang terkait dengan pelaksanaan/realisasi pengadaan (a) PT Topindo Raya Sejati tidak mampu memenuhi pengadaan regulator dan selang karet sebanyak 3.103. 11/M-IND/PER/3/2006. (c) Penunjukan langsung PT Tugu Pratama Indonesia (PT TPI) mengakibatkan biaya asuransi paket tabung LPG 3 kg tidak dapat diyakini kewajarannya.855 untuk penagihan kepada Pemerintah tahun 2006-2008 dan terdapat potensi kelebihan penagihan sebesar Rp19.680.d 2009 yang masih melebihi preferensi harga yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian RI No.500.d. b) Temuan yang terkait dengan penetapan harga resmi (a) Terdapat harga pengadaan tabung LPG 3 kg dalam negeri tahun 2008 s. h.000.000. c) PT Pertamina (Pesero) lebih tinggi menghitung biaya pengadaan crude/minyak mentah Inkind Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas dalam tambahan subsidi BBM tahun 2003 sebesar Rp1.769.709.160. b) PT Pertamina (Persero) lebih rendah menghitung biaya bunga Pertamina Hulu sebagai pengurang tambahan subsidi BBM Periode Tahun 2004 sebesar Rp10.914. 31 Desember 2004 Total Sebesar Rp68. 2005 pada PT Pertamina (Persero). (c) Pertamina lebih bayar kepada pabrikan sebesar Rp1.102/MIND/PER/12/2008. d) Temuan yang terkait dengan proses penagihan kepada Pemerintah Pertamina belum menyertakan perhitungan tabung impor dalam tagihan paket tabung LPG 3 kg kepada Pemerintah.921 BAKN-DPR RI | 62 . (b) Harga pengadaan paket konversi oleh Pertamina tahun 2007 dan 2008 diantaranya ada yang lebih rendah jika dibandingkan dengan harga yang ditetapkan oleh Pemerintah melalui Peraturan Menteri Perindustrian.368 sebagai akibat perbedaan tanggal pemberlakuan Permen Perindustrian No. 31 Desember 2003 dan 1 Januari 2004 s.372.

dan peralatan penanggulangan bencana lainnya seluruhnya senilai Rp27. c) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan (a) Terdapat penggunaan dana sebesar USD2. b.000. perangkat komputer. Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Penyelenggaraan Kemementerian Agama Tahun 1430h / 2009m.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 8) KOMISI VIII Hasil Pemeriksaan BPK semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi VIII DPR RI terdiri atas 2 (dua) objek Pemeriksaan atas Laporan Keuangan.56 miliar dan Rp429. serta tidak dapat digunakan secara optimal dalam kegiatan penanggulangan bencana. dan 1 (satu) objek Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu. mobil dan motor rescue.350. sehingga mengakibatkan kurang efektifnya pengendalian intern terhadap pengelolaan anggaran. (b) Pelaksanaan pengadaan peralatan komunikasi cepat. sehingga peralatanperalatan tersebut berisiko tidak dirawat secara optimal dan dapat mempengaruhi umur ekonomisnya.25 juta antara lain berasal dari pencatatan eliminasi saldo awal sebesar Rp1.00 untuk kepentingan di luar tujuan pembukaan rekening.00 belum sesuai ketentuan.385.122. mobilkomunikasi.39 miliar.732. 1 (satu) objek Pemeriksaan Kinerja. a. dalam Saldo Kas per 28 Febuari 2010 tersebut termasuk saldo Kas dan Bank Embarkasi sebesar Rp304. (b) Proses penyerahan dan pengelolaan bantuan peralatan penanggulangan bencana kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat belum memadai. b) Hasil Pemeriksaan Atas Pengendalian Intern (a) Pengelolaan dana hibah dari ADB untuk West Sumatera Earthquake Disaster Project masih mengandung kelemahan. Hal ini disebabkan BNPB tidak konsisten dalam melaksanakan tata kerja yang ditetapkan dalam Peraturan Kepala BNPB Nomor 1 tahun 2008 tentangOrganisasi dan Tata Kerja BNPB. Temuan : a) Opini Atas Laporan Keuangan Laporan Keuangan WSEDP mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) . Temuan : a) Opini Atas Laporan Keuangan BPK tidak menyatakan pendapat atas Laporan Keuangan PIH tahun 1430H/2009H antara lain karena hal-hal sebagai berikut : (a) Saldo Kas dan Setara Kas dan Setara Kas per 28 Februari 2010 dan per 31 Maret 2009 masing-masing disajikan sebesar Rp380.29 miliar yang disajikan BAKN-DPR RI | 63 Ibadah Haji . Hal ini disebabkan BNPB belum menetapkan secara jelas status kepemilikan barang bantuan yang dikirim ke pemerintah provinsi/kabupaten/kota sesuai ketentuan yang berlaku berikut pedoman pengelolaannya. Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) Pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP)untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2010 di Jakarta.

diantaranya terdapat tanah senilai Rp75. (b) Saldo Setoran Awal BPIH Biasa dalam Laporan Posisi Keuangan kurang sebesar Rp122.750.247.11 miliar yang diperoleh dari dana APBN.500.98 miliar serta bangunan senilai Rp3.000.00 (SAR 1 = Rp2. Saldo tersebut belum dietapkan dasar pengakuan dan pengukuran Utang DAU sebagai implementasi dari ketentuan Pasal 25 Ayat (2) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2008.00 di Asrama Haji yang Diperoleh dari Dana APBN. Saldo Setoran Awal BPIH Biasa tidak dapat dibandingkan dengan hasil perhitungan jumlah jamaah menurut data Siskohat dikali dengan tarif setoran awal per jamaah.92 juta.942.Selain itu.108.00 belum dilaksanakan (f) Saldo Hutang Kepada Dana AbadiUmat (DAU) sebesar Rp16.002. Dari saldo aset tetap yang disajikan dalam Laporan Keuangan PIH.20 miliar.63 miliar belum didukung dengan bukti kepememilikan yang sah dan tanah senilai Rp2.25 Ekuivalen Rp211.73 miliar.739.00 miliar yang diatasnya dibangun RSHJ sebagai penyertaan modal Badan Pengelola-Dana Abadi Umat (BP-DAU).00 tidak didukung dokumen sumber dan proses rekonsiliasi dengan BP-DAU c) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan PerundangUndangan. PIH menyajikan saldo Aset Tetap per 28 Februari 2010 dan 31 Maret 2009 masing-masing sebesar Rp643.628.00 dibandingkan dengan data siskohat. APBD dan DAU belum didukung dokumen serah terima. APBD dan DAU Belum Didukung Dokumen Serah Terima ke Penyelenggara Ibadah Haji (e) Kewajiban kepada jamaah haji atas pengembalian biaya paspor sebesar Rp7.566.001.320.00 serta Bangunan Senilai Rp3.00 Belum Didukung Dengan Bukti Kepememilikan yang Sah dan Tanah Senilai Rp2.262.125. b) Hasil Pemeriksaan Atas Pengendalian Intern (a) Penghapusbukuan Piutang kepada Anna for Development Sebesar SAR33.346.41 miliar dan Rp626.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (b) (c) (d) (e) dalam Laporan Keuangan PIH tahun 1429H/2008M yang tidak dapat dijelaskan keberadaan dan dasar pencatatan. Saldo Hutang DAU (Dana Abadi Umat) per 28 Februari 2010 sebesar Rp16. ditemukan kas dan bank di embarkasi yang tidak jelas statusnya sebesar Rp820.00) (c) Penetapan Harga Satuan Biaya Katering di Armina Tidak Jelas Perhitungannya dan Terdapat Tumpang Tindih Pembayaran Kepada Muassasah Di Armina Dengan Pembayaran Beban Maslahat Ammah BAKN-DPR RI | 64 . termasuk aset tetap yang masih dinilai Rp1.00. (a) Kekurangan Pembayaran atas Beban Maslahat Ammah karena Tidak Didasarkan Data Jumlah Jamaah Yang Valid (b) Pemborosan Pembayaran Naqobah Untuk Pengangkutan Jamaah Haji Indonesia Sebesar SAR84.17 miliar merupakan saldo yang terbawa dari saldo per 31 Maret 2009.017. Terdapat Aset Tetap berupa 8 bidang tanah senilai Rp7.000. (c) Pencatatan dan pengelolaan rekening BPIH khusus belum konsisten.000.499. (d) Aset Tetap Berupa 8 Bidang Tanah Senilai Rp7.160.984. Seharusnya aset tetap tersebut dinilai dengan harga perolehan.00 Belum Didukung Dengan Aspek Legal Yang Memadai.310. sehingga saldo yang tersaji dalam laporan keuangan kurang sebesar Rp122.175.248.

00 Equivalent Rp299. BAKN-DPR RI | 65 .257.200.250.00 = Rp2. b) Standar pelayanan transportasi. Temuan : a) Pelayanan pendaftaran.00 Tidak Berkaitan Langsung dengan Peningkatan Fasilitas Pelayanan Jamaah Haji c. belum ditetapkan.500.00 equivalent Rp28.67 Pembangunan Gedung Aula “PIH Batam” Sebesar Rp1.480.739.950 Ekuivalen Rp3.000.00).052.500.681.000. mengurangi kenyamanan dan kekhusu’an Jemaah Haji Reguler .00 = Rp2.700.219. Pemeriksaan Atas Pengelolaan Dan Pertanggungjawaban Keuangan Program Keluarga Harapan (PKH) Tahun Anggaran 2009 Dan Semester I 2010 Pada Kementerian Sosial Serta Dinas Sosial Dan UPT PKH di Provinsi DKI Jakarta.00 tidak didasarkan perencanaan yang memadai.875.500.805. d) Jemaah Haji Non Kuota yang tidak terdaftar sebagai Jemaah Haji Reguler dengan jumlah yang cukup tinggi.000. d.00 (SAR1. pelunasan dan pembatalan haji berpedoman pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 15 Tahun serta Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Haji belum sesuai dengan standar pelayanan publik untuk pelayanan prima yang ditetapkan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan).941. mengakibatkan Jemaah Haji Non Kuota terlantar.00) Belum Dapat Ditarik Dari Pemilik Rumah.00 (SAR1. Pemeriksaan Kinerja Atas Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1430h/2009m.495.236.00) Pendapatan Bunga Deposito Hasil Optimalisasi Setoran Awal BPIH Biasa Tahun 1430 H/2009 M Pada Tiga BPS Masih Terhutang Pajak Final Yang Belum Disetorkan ke Kas Negara Sebesar Rp3. yang memuat indikator-indikator pelayanan dan menjadi pedoman bagi penyedia jasa transportasi dan petugas haji dan Darat di Arab dalam melayani Jemaah Haji Indonesia. Kontak Pengadaan Asuransi Jiwa Jemaah Haji dan Petugas Haji Indonesia Tahun 1430 H/2009 M Tidak Mengatur Secara Jelas Beban-beban Yang Dapat Menjadi Pengurang Dalam Perhitungan Surplus Underwriting Yang Akan Dibagi Antara Perusahaan Asuransi Dengan Kementerian Agama Uang Muka Pembayaran Sewa Rumah Sebesar SAR119.192. Temuan : a) Pelaksanaan penyaluran bantuan PKH dalam tiga tahun anggaran terakhir sebesar Rp2.000. Jawa Barat Dan Jawa Timur.917.472.611. c) Pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas dan kebersihan lingkungan di Armina belum sepenuhnya memberikan kenyamanan bagi jemaah haji. sehingga dana bantuan PKH yang diterima oleh peserta PKH menjadi tidak tepat guna sesuai dengan tujuan PKH.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (d) (e) (f) (g) (h) Sebesar SAR11. Hal tersebut disebabkan pengelolaan PKH oleh Direktorat Jaminan dan Kesejahteraan Sosial tidak mempedomani ketentuan yang telah ditetapkan dan lemahnya pengawasan langsung dari pejabat yang berwenang. Dua Majmuah Yang Tidak Dapat Memenuhi Target Penempatan Jemaah Haji 75% di Markaziah Belum Dikenakan Sanksi Pemotongan Pembayaran Sebesar SAR1.00 (SAR 1 = Rp2.

Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI. d) Evaluasi yang berkelanjutan terhadap data dan informasi masalah TKI tidak ditangani secara tuntas dan komprehensif. Balai Pelayanan Penempatan Dan Perlindungan TKI.773.603. c) Kelebihan pembayaran sebesar Rp4.Dinas Tenaga Kerja Provinsi/Kabupaten/Kota Di DKI Jakarta.00.00. Temuan : a) Rekruitmen TKI belum didukung proses yang valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian. b) Penyiapan tenaga kerja yang legal dan prosedural kurang didukung kebijakan yang tegas.326. Singapura.000.627.250.526. a. b.00 untuk pekerjaan pengambilan kembali (pick up) formulir verifikasi PKH yang tidak dilaksanakan oleh PT Pos.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 b) Dana bantuan PKH tahap III tahun 2009 senilai Rp1.00 dipertanggungjawabkan oleh PT Pos tidak sesuai dengan prestasi pekerjaan yang dilaksanakan dan PPh tidak dikenakan sebesar Rp252. Jeddah.00 yang ditalangi dan disalurkan oleh PT Pos melampaui pagu anggaran sehingga membebani Kemensos untuk membayar utang kepada PT Pos senilai Rp1. Pemeriksan atas Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan BAKN-DPR RI | 66 .999.784.992. c) Data penempatan TKI tidak akurat.000.00 sehingga pertanggungjawaban yang dibuat oleh PT Pos tidak sah dan terdapat kelebihan pencetakan formulir senilai Rp292. Jawa Timur Dan Nusa Tenggara Barat serta Perwakilan RI di Kuala Lumpur.816.388.00 sehingga penyaluran bantuan menjadi tidak efektif. serta penegakan aturan yang tegas dan konsisten. sehingga mengganggu kelancaran kegiatan PKH. 9) KOMISI IX Hasil Pemeriksaan BPK semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi IX DPR RI terdiri atas 1 (satu) objek Pemeriksaan Kinerja dan 3 (tiga) objek Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu. Hal tersebut disebabkan PPK dan Panitia Pemeriksa Barang/Jasa tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. d) Realisasi anggaran pengadaan formulir PKH senilai Rp69.067.019. Pemeriksan kinerja atas penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Hal tersebut disebabkan Penanggungjawab PKH sekaligus sebagai Pejabat Pembuat Komitmen tidak mempedomani ketentuan dalam menetapkan pembayaran dan PT Pos Indonesia tidak sepenuhnya melaksanakan kesepakatan yang telah dibuat. dan perlindungan bagi TKI. sehingga tidak membantu upaya perlindungan TKI di luar negeri.000.000. dan sisa pembayaran dana PKH tahap I dan II Tahun 2010 belum dikembalikan oleh PT Pos Indonesia sebesar Rp1. keadilan.411. Hal tersebut disebabkan para pengelola keuangan PKH tidak mempedomani ketentuan yang berlaku serta pengawasan dan pengendalian dilakukan belum efektif.388.650. Jawa Tengah.00. Riyadh dan Kuwait.999.426. Hong Kong. sistem yang terintegrasi. penyaluran dana kepada peserta PKH dilakukan secara rapel senilai Rp111.

821.611. c. b) Pertanggungjawaban biaya perjalanan dinas tidak sesuai dengan bukti-bukti pengeluaran yang sebenarnya sehingga pembayaran biaya perjalanan dinas tersebut belum dipertanggungjawabkan senilai Rp113.D Triwulan Iii/2010) Pada Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Dalam Negeri (Bbplkdn). Direktorat Pengembangan Usaha. 2. terdapat kemahalan senilai Rp89. 10) KOMISI IX Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi X DPR RI terdiri atas 4 objek pemeriksaan.400. Dana bantuan modal usaha kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) pada BKKBN Provinsi Jateng yang seharusnya telah disetor ke Kas Negara. sehingga pembayaran biaya perjalanan dinas tersebut belum dipertanggungjawabkan senilai Rp1.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta.00. Penagihan piutang dana bantuan modal usaha (dana bergulir) tidak lancar dan pengeluaran sebesar Rp756. Pemeriksan Atas Pengelolaan Dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara Tahun 2009 Dan 2010 (S.663.086. Selain itu terdapat pengeluaran sebesar Rp756. Pemeriksan Kinerja Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata (Ditjen Pemasaran Pariwisata) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Temuan : 1.26 juta tidak didukung dengan bukti pertanggungjawaban.92 juta. Kegiatan Pengelolaan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO).00. 1 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Kinerja dan 3 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT a.125. a. masih dikelola dan disalurkan kepada kelompok UPPKS oleh Badan Pengurus Daerah Asosiasi Kelompok UPPKS (BPD AKU) Provinsi Jateng sebesar Rp5.00 dan kelebihan bayar sebesar Rp6. Temuan : a) Terdapat pegawai pensiun yang menempati rumah dinas di lingkungan BBPLKDN.26 juta rawan penyelewengan. dan Direktorat Penyerasian Lingkungan. Temuan : a) Pertanggungjawaban biaya perjalanan dinas tidak sesuai dengan bukti-bukti pengeluaran yang sebenarnya.580.818.60 yang harus ditarik kembali dan disetor ke Kas Negara.886. Direktorat Promosi Luar Negeri tidak memiliki SDM yang memadai dan Job Description yang jelas untuk mengelola kegiatan Visit Indonesia BAKN-DPR RI | 67 .300. Temuan : 1. Pemeriksan Pemeriksaan Atas Pelaksanaan Anggaran Belanja TA 2009 Dan Semester I TA 2010 Pada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Provinsi Jawa Tengah Di Semarang. d. b) Kontrak 15 pekerjaan TA 2009 pada Direktorat Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia dan Masyarakat.

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

Tourism Officer (VITO), mengakibatkan tugas kesekretariatan VITO tidak dapat dilaksanakan secara optimal. b. Direktorat Promosi Luar Negeri tidak memiliki pengendalian yang memadai terhadap aktivitas VITO, mengakibatkan pengendalian Direktorat Promosi Luar Negeri terhadap aktivitas MKL lemah yang pada akhirnya pengelolaan VITO menjadi kurang optimal. 2. Kegiatan Partisipasi di Bursa Pariwisata Internasional. Penentuan Person In Charge (PIC) dalam kegiatan partisipasi di Bursa Pariwisata Internasional tidak didukung standar kompetensi yang baku, mengakibatkan penempatan personil tidak sesuai dengan kompetensinya, pelaksanaan kegiatan tidak optimal serta laporan kegiatan yang disusun PIC tidak akurat dan tidak memadai untuk bahan evaluasi. 3. Kegiatan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata a. Kegiatan inventarisasi, pengumpulan dan pengolahan dokumentasi potensi promosi pariwisata serta pendistribusian hasil-hasil dokumentasi potensi pariwisata tidak efektif untuk mendukung kegiatan promosi pariwisata. b. Pelaksanaan kegiatan promosi cetak di Sub Direktorat Promosi Cetak belum didukung Standar Operasional dan Prosedur yang baku, sehingga kegiatan pencetakan bahan promosi tidak dapat dinilai apakah efektif untuk mendukung kegiatan promosi pariwisata. b. Pemeriksan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional. Temuan : 1. Pengendalian atas kegiatan joint audit tahun 2009 pada Itjen Kemdiknas lemah mengakibatkan sekurang-kurangnya sisa dana joint audit sebesar Rp. 6.280.658.913,00 tidak disetorkan ke kas negara. 2. Pertanggungjawaban perjalanan dinas kegiatan joint audit tidak tertib mengkibatkan realisasi biaya perjalanan dinas sekurang-kurangnya sebesar Rp. 22.079.427.400,00 tidak dapat diyakini kewajarannya dan indikasi kerugian negara sekurangkurangnya senilai Rp. 2.254.393.200,00 3. Biaya akomodasi atas kegiatan penyusunan SOP pengawasan dan pemeriksaan dipertanggungjawabkan secara tidak benar mengakibatkan indikasi kerugian negara sebesar Rp1.774.819.100,00 4. Penggunaan sisa anggaran joint audit sebesar Rp. 22.287.132.600,00 dilakukan tanpa merevisi Petunjuk Operasional Kegiatan (POK). 5. Pemberian transport kabupaten/kota dalam kegiatan joint audit melebihi dari yang ditetapkan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) Rp. 4.552.753.800,00 c. Pemeriksan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 (Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain) atau BSBL Tahun Anggaran (TA) 2009 pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar).. Temuan : 1. Penganggaran dan Peruntukan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL/BA 999.06) pada Kemenbudpar tidak sesuai dengan ketentuan. Sifat dan karakteristik kegiatan yang dibiayai tidak sesuai dengan ketentuan. Alokasi anggaran BSBL/BA 999.06 pada Kemenbudpar (dalam hal ini Ditjen Pemasaran) belum menunjukkan kondisi kebutuhan yang sebenarnya. BAKN-DPR RI | 68

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

Permasalahan tersebut terjadi karena para pengambil keputusan terkait dengan pengalokasian anggaran BA 999.06 tidak mengindahkan ketentuan yang berlaku. 2. Pencatatan dan Pelaporan Barang Milik Negara yang dibiayai Belanja Subsidi dan Belanja Lain lain (BSBL/BA 999.06) pada Kemenbudpar tidak memadai, sehingga saldo aset tetap sebesar Rp3.510.687.500,00 dan aset lainnya sebesar Rp3.540.000.000,00 tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya dan tidak dapat diyakini kewajarannya. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya koordinasi antara bagian pengelola Barang Milik Negara (BMN) dengan unit teknis selaku pengguna BMN dalam melakukan pencatatan atas BMN, kurangnya pemahaman petugas yang bertanggung jawab atas pengelolaan BMN dalam mencatat dan melaporkan BMN sesuai ketentuan yang berlaku serta fungsi pengawasan oleh pimpinan Ditjen Pemasaran atas pengelolaan BMN masih lemah. d. Pemeriksan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 (Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain) atau BSBL Tahun Anggaran (TA) 2009 pada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Temuan : 1. Penganggaran BA 999 pada Kemenpora tidak sesuai peruntukan dan karakteristik BSBL yang mengakibatkan ketidaktertiban dalam pelaksanaan anggaran. Hal ini disebabkan Kemenpora mengusulkan anggaran untuk kegiatan yang tidak sesuai peruntukan dan karakteristik BSBL dan Kementerian Keuangan memberikan persetujuan peruntukan anggaran BSBL tanpa mempedomani ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 2. Pengadaan alat kesehatan dan jaringan sistem informasi kesehatan senilai Rp58,97 milyar dilakukan sebelum gedung rumah sakit selesai dibangun sehingga pengadaan aset senilai Rp58,97 milyar menjadi idle capacity dan berisiko tidak berfungsi. Permasalahan tersebut terjadi karena lemahnya pengendalian dan pengawasan dari KPA. 3. Pertanggungjawaban dana bantuan sosial sebesar Rp40,05 milyar tidak memadai sehingga realisasi penyaluran bantuan sosial senilai Rp40,05 milyar tidak dapat dievaluasi untuk bahan pengambilan keputusan pemerintah terkait efektifitas program-program bantuan sosial, yang disebabkan lemahnya pengendalian dari penanggung jawab program penyaluran bantuan sosial. 11) KOMISI XI Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi XI DPR RI terdiri atas 4 (empat) objek Pemeriksaan Kinerja dan 50 objek Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT). a. Pemeriksan Kinerja pengelolaan kepabeanan di bidang impor (kegiatan pelayanan dan penatausahaan atas pengeluaran barang impor di kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas) pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam Tahun Anggaran 2008 - 2009. Temuan : 1. Kebijakan dan proseduratas importasi barang masih belum tepat. BAKN-DPR RI | 69

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

Hasil pemeriksaan atas kebijakan dan prosedur diketahui, hal-hal sebagai berikut: (a) Pembatasan atas importasi barang non konsumsi pada kawasan bebas tidak efektif.PP No. 2 tahun 2009,menyatakan bahwa setiap importir harus membuat master list tentang jumlah dan jenis barang yang akan diimpor, untuk pembatasan kuota terhadap importasi barang-barang konsumsi maupun non konsumsi. Sedangkan menurut UU No.44 Tahun 2007 yang dibatasi adalah kuota importasi barang-barang konsumsi saja. Terhadap pembatasan barang-barang non konsumsi, DJBC tidak dapat melakukan pemeriksaan atas jumlah sisa kuota yang diizinkan untuk diimpor, terutama tehadap pemasukan barang yang dilakukan oleh importir produsen; (b) Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) melakukan penelitian tarif dan nilai pabean terhadap pemasukan barang dari LDP, sedangkan atas pemasukan barang dari LDP ke kawasan bebas tidak dikenakan pungutan bea masuk, PPN, dan PPh Pasal 22. 2. Implemantasi kebijakan dan prosedur masih lemah. Hasil pemeriksaan atas implemantasi kebijakan danprosedur diketahui halhal sebagai berikut: (a) Nota Pemberitahuan Barang Larangan (NPBL) dan Nota Pemberitahuan Penolakan (NPP) tidak pernah dilakukan sehingga proses penyelesaian dokumen PPFTZ memerlukan waktu lebih dari 30 hari; (b) Belum ada pemisahan tempat antara barang ekspor, barang impor dan barang antar pulau di Pelabuhan Batu Ampar sehingga menyulitkan proses pemeriksaan dan pengawasan arus masuk dan keluar barang. 3. Evaluasi dan pengukuran kinerja belum berjalan. Berdasarkan pemeriksaan atas evaluasi dan pengukuran kinerja diketahui bahwa Indikator Kinerja Utama (IKU) belum ditandasahkan oleh Kantor Pusat DJBC sebagai alat dan indikator kinerja formal guna mengukur kinerja unit kerja pada KPUBC Batam serta laporan evaluasi kinerja belum menyimpulkan kinerja masing-masing unit/bidang. b. Pemeriksan kinerja kegiatan pelayanan dan penatausahaan pengeluaran barang impor dari kawasan pabean pada Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas Tahun Anggaran 2008 - 2009. Temuan : 1. Kegiatan pelayanan dan penatausahaan pengeluaran barang impor dari kawasan pabean belum sepenuhnya didukung dengan kebijakan dan prosedur yang memadai, yaitu : a. Belum ada prosedur formal untuk menindaklanjuti Laporan Hasil Evaluasi dan Penilaian Kinerja sehingga tindak lanjutnya belum efektif dan tidak terpantau dengan baik; b. Perubahan organisasi KPPBC Tanjung Emas dari Tipe A1 menjadi Tipe Madya Pabean belum ditindaklanjuti dengan penyesuaian peringkat jabatan, Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara (TKPKN) dan Tunjangan Kegiatan Tambahan (TKT) pegawai sehingga dapat mempengaruhi motivasi kerja pegawai. 2. Kebijakan dan prosedur terkait pelayanan dan penatausahaan pengeluaran barang impor dari kawasan pabean belum sepenuhnya diimplementasikan, yaitu : a. Ketidakkonsistenan penetapan klasifikasi/HS suatu barang impor sehingga menimbulkan risiko adanya potensi penerimaan negara yang tidak dipungut; BAKN-DPR RI | 70

30 Triliun.20 triliun serta subsidi langsung dan subsidi energi sebesar Rp4. 3. Pada saat terjadi krisis ekonomi global pada tahun 2009.30 Triliun (76.943. Bea Masuk Anti Dumping Sementara (BMADS) dan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) atas impor Hot Rolled Coil. BAKN-DPR RI | 71 .20 triliun untuk belanja infrastruktur tersebut diantaranya sebesar Rp6. Sistem informasi yang digunakan belum sepenuhnya mendukung kegiatan pelayanan dan penatausahaan pengeluaran barang impor dari kawasan pabean. Dari jumlah Rp 12.00 triliun. Peraturan Perundangan Yang Mengatur Penanganan Atau Penanggulangan Jika Terjadi Krisis Ekonomi Belum Dapat Menjamin Kepastian Hukum. 2.81%) dan stimulus belanja negara sebesar Rp17. Bea Masuk Anti Dumping (BMAD).00 Triliun (23. c.102. namun masih terdapat personil yang belum melakukan tugasnya dengan baik.200.617 triliun dan kegiatan belanja bidang infrastruktur yang menjadi kewenangan daerah sebesar Rp2. Dana tersebut terdiri dari stimulus perpajakan dan kepabeanan sebesar Rp56. Sistem aplikasi impor tidak menolak data beberapa PIB yang identitas manifestnya tidak diisi atau tidak valid dan tidak dapat mengakomodasi penyelesaian impor lewat pelabuhan udara dan kantor pos sehingga informasi yang dihasilkan tidak lengkap dan akurat.716.00. Kementerian Keuangan.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 b. Penerimaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan Pajak Dalam rangka Impor (PDRI) sebesar Rp2. sarana dan prasarananya telah dikelola dengan memadai. dialokasikan sebagai stimulus belanja infrastruktur sebesar Rp12.984 triliun. Evaluasi dan pengukuran kinerja atas kegiatan pelayanan dan penatausahaan pengeluaran barang impor telah dilakukan. namun evaluasi kinerja terkait kinerja Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) dalam pemeriksaan dokumen jalur merah tidak akurat. 4. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Perubahan sistem aplikasi impor dan manifest tidak pernah didokumentasikan sehingga menimbulkan risiko ketergantungan pada operator.19%). Penatausahaan inward manifest di KPPBC Tanjung Emas tidak sesuai ketentuan berlaku. yaitu : 1. Temuan : 1. d. Sumber daya manusia. antara lain status barang yang sudah keluar masih terbuka. Dari jumlah stimulus belanja sebesar Rp17. Pemerintah Indonesia melaksanakan program stimulus fiskal dengan mengucurkan dana sebesar Rp 73. BOPP Film dan Paku belum dipungut minimal sebesar Rp6.00 belum dilaporkan sehingga kinerja penerimaan negara belum menggambarkan keadaan yang sebenarnya. c.80 triliun. Pemeriksan atas program stimulus belanja infrastruktur pada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.060. yaitu adanya petugas gate tidak melakukan perekaman data SPPB pada aplikasi impor atas barang yang keluar sehingga kegiatan operasional pengeluaran barang impor tidak terpantau dengan baik.256. 5.601 triliun merupakan alokasi untuk pembangunan infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum yang terdiri dari anggaran untuk kegiatan belanja infrastruktur yang menjadi kewenangan pemerintah pusat sebesar Rp3.

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

2. Waktu Penganggaran Stimulus Fiskal Infrastruktur Kurang Mendukung Tercapainya Tujuan Stimulus Fiskal. 3. Penetapan Sanksi Bagi Kementerian yang Tidak Sepenuhnya Melaksanakan Belanja Stimulus Fiskal Infrastruktur Tidak Menggunakan Dasar Tujuan Penyerapan Tenaga Kerja. d. Pemeriksan Pengelolaan Surat Berharga Negara Pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Tahun Anggaran 2010. Temuan : 1. Strategi Pengelolaan Utang Negara Jangka Menengah (Lima Tahunan) perlu ditetapkan tepat waktu; 2. Koordinansi internal antar unit kerja Eselon I pada Kementerian Keuangan dan koordinasi eksternal dengan instansi terkait lain atas pengelolaan Surat Berharga Negara perlu ditingkatkan efektivitasnya dengan penyusunan Prosedur Operasional Standar (SOP); 3. Transparansi strategi pengelolaan utang perlu ditingkatkan dengan mendokumentasikan metodologi dan asumsi-asumsi yang digunakan dalam menentukan target atau rekomendasi portofolio utang optimal dalam dokumen strategi pengelolaan utang; 4. Pengendalian atas rasio penerbitan SBN-Neto terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) perlu ditingkatkan efektivitasnya; e. Pemeriksan gabungan atas penerimaan pajak dan kegiatan operasionalnya pada 16 (enam belas) KPP Direktorat Jenderal Pajak Tahun Anggaran 2009 dan 2010 di Jakarta, Malang, Cibitung, Bandung, Batam, Gresik, Pematang Siantar, Parepare, dan Medan Temuan : 1. Importir yang memasukkan barang dari luar daerah pabean diindikasikan belum membayar PPN Impor sebesar Rp2.101,51 milyar dan PPh Pasal 22 Impor sebesar Rp616 milyar; 2. Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi belum diterbitkan atas keterlambatan pembayaran pajak masa dan tahunan sebanyak 3.677 transaksi dengan nilai Rp41,86 milyar dan atas keterlambatan penyampaian SPT sebesar Rp1,9 milyar; 3. Rasio penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) tidak mencapai target; 4. Wajib Pajak (WP) non Efektif (NE) belum dievaluasi; 5. Penyelesaian penugasan pemeriksaan pajak tidak sesuai dengan strategi dan jadwal yang telah ditetapkan; f. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Satu dan instansi terkait lainnya. Temuan : 1. PPN Impor diindikasikan belum dipungut terkait transaksi atas PPnBM Impor; 2. KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Satu belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran pajak masa dan tahunan; 3. Importir yang memasukkan barang dari luar daerah pabean diindikasikan belum membayar PPN Impor dan PPh Pasal 22 Impor; BAKN-DPR RI | 72

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

4. Pemungut Pajak diindikasikan belum menyetor PPN dan PPh Pasal 22 yang telah dipungut; 5. Tahapan penagihan aktif belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan. g. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Jakarta Menteng Satu dan instansi terkait lainnya. Temuan : 1. Terdapat perbedaan jumlah penerimaan pajak yang dilaporkan dalam Laporan Keuangan, daftar realisasi penerimaan dan data MPN. 2. SPT Wajib Pajak belum Seluruhnya Dilakukan Perekaman oleh KPP Pratama Jakarta Menteng Satu. 3. Importir Yang Memasukkan Barang Dari Luar Daerah Pabean Diindikasikan Belum Membayar PPN Impor dan PPh Pasal 22 Impor. 4. Pemberian Imbalan Bunga kepada Wajib Pajak sebesar Rp 1.734.197.682,00 Tidak Dapat Diyakini Kebenaran dan Kewajarannya. 5. Potensi Tidak Tertagihnya Tunggakan Pajak Atas Tunggakan Yang Sudah Daluarsa Senilai Maksimal Rp7.033.592.575,00. h. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Jakarta Cakung Satu. Temuan : 1. KPP Pratama Jakarta Cakung Satu Belum Menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) Sanksi Administrasi Atas Keterlambatan Pembayaran Pajak Masa; 2. KPP Pratama Jakarta Cakung Satu Belum Sepenuhnya Melaksanakan SOP atas Kegiatan Ekualisasi Data Pajak Sehingga Terdapat Indikasi Pajak Yang Belum Diterima Negara Sebesar Rp870,04 juta; 3. Pengelolaan Piutang Pajak yang Tidak Tertib pada KPP Pratama Jakarta Cakung Satu. i. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu dan instansi terkait lainnya. Temuan : 1. KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran pajak secara Masa/Bulanan dan Tahunan sehingga mengakibatkan penerimaan negara atas sanksi keterlambatan pembayaran sebesar Rp3.789,86 juta belum terealisasi; 2. Pemeriksaan pajak tidak sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam peraturan yang berlaku yang mengakibatkan tujuan yang ingin dicapai oleh manajemen dengan penyusunan kebijakan jangka waktu pemeriksaan tidak dapat tercapai dan upaya untuk meningkatkan penerimaan pajak dan memberikan kepastian hukum bagi WP melalui pemeriksaan menjadi lambat; j. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Jakarta Pluit dan instansi terkait lainnya. BAKN-DPR RI | 73

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

Temuan : 1. SPT wajib pajak belum seluruhnya dilakukan perekaman oleh KPP Pratama Jakarta Pluit sehingga informasi dan data yang disampaikan oleh WP dalam SPT belum dapat segera dimanfaatkan lebih lanjut untuk mendukung proses atau tahapan perpajakan selanjutnya dan tidak mencerminkan dukungan pelayanan administrasi dan pengelolaan data yang baik; 2. Pemanfaatan data wajib pajak yang melakukan kegiatan membangun sendiri, pengalihan hak tanah/bangunan serta persewaan tanah dan/atau bangunan belum optimal sehingga KPP Pratama Jakarta Pluit mengalami kesulitan dalam meningkatkan penerimaan pajak dari wajib bayar yang belum ditetapkan NPWP-nya dan kegiatan ekstensifikasi menjadi kurang efektif; 3. Tahapan penagihan pajak pada KPP Pratama Jakarta Pluit belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai ketentuan sehingga potensi penerimaan negara terlambat direalisasikan dan terdapat potensi piutang pajak yang menjadi daluarsa. k. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP PMA Satu dan instansi terkait lainnya. Temuan : 1. Keterlambatan Pembayaran Pajak Masa Di KPP Penanaman Modal Asing Satu Belum Diketahui Penerbitan STP-nya 2. Importir Yang Memasukkan Barang Dari Luar Daerah Pabean Diindikasikan Belum Membayar PPN Impor Dan PPh Pasal 22 Impor 3. Pengeluaran Negara dari SPMKP dan SPMIB Sebesar Rp2.849.707,77 juta Tidak Dapat Diyakini Kebenaran dan Kewajarannya 4. Pelaksanaan Tahapan Penagihan Pajak Belum Efektif l. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP PMA Lima.. Temuan : 1. KPP Penanaman Modal Asing Lima belum mengelola seluruh Wajib Pajak terdaftarnya dengan optimal terkait kepatuhan dalam penyampaian SPT Tahunan; 2. KPP PMA Lima belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) atas keterlambatan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) sehingga penerimaan negara dari STP jadi tertunda; 3. KPP PMA Lima belum menyelesaikan perekaman atas Surat Pemberitahuan (SPT) tahun pajak 2009 dan 2010 sehingga informasi dan data yang disampaikan oleh WP dalam SPT tersebut belum dapat segera dimanfaatkan; 4. KPP Penanaman Modal Asing Lima belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran pajak masa dan tahunan sehingga mengakibatkan penerimaan negara atas sanksi keterlambatan pembayaran sebesar Rp770.022.031,00 belum terealisasi; 5. Saldo piutang pajak yang disajikan dalam Laporan Keuangan Tahun 2010 semester I pada KPP PMA Lima tidak menunjukkan kondisi yang sebenarnya sehingga tidak dapat digunakan sebagai informasi yang akurat dan tepat; BAKN-DPR RI | 74

4.00. 2. KPP Pratama Cibitung belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi atas keterlambatan penyampaian SPT tahunan BAKN-DPR RI | 75 . 3.157. o. m. Pemungut Pajak diindikasikan belum menyetor PPN dan PPh Pasal 22 yang telah dipungut. 2. sehingga potensi penerimaan dari pencairan tunggakan menjadi tertunda bahkan tidak tertagih. Importir yang memasukkan barang dari luar daerah pabean diindikasikan belum membayar PPN Impor.00 dan potensi tertundanya Penerimaan Negara atas Piutang Pajak Kriteria Kurang Lancar sebesar Rp5. dimanfaatkan lebih lanjut untuk mendukung proses atau tahapan perpajakan selanjutnya dan tidak mencerminkan dukungan pelayanan administrasi dan pengelolaan data yang baik. 3. 3. Tahapan penagihan aktif belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan.982.328. 5. Potensi tidak tertagihnya piutang pajak dengan kriteria macet sebesar Rp10.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 6. SPT wajib pajak belum seluruhnya dilakukan perekaman oleh KPP Pratama Cibitung sehingga informasi dan data yang disampaikan oleh WP dalam SPT belum dapat segera 2.103.d. Temuan : 1. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Cibitung dan instansi terkait lainnya. 4. Temuan : 1. 2009) berturut-turut tidak menyampaikan SPT Tahunan sebanyak 3. Temuan : 1.269.979. KPP Pratama Batu belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran pajak masa dan tahunan. n.612 SPT. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Perusahaan Masuk Bursadan instansi terkait lainnya. PTahapan kegiatan penagihan pajak pada KPP Pratama Batu belum optimal. Rekapitulasi Data yang disajikan oleh Seksi Pengolahan Data dan Informasi serta Modul Penerimaan Negara dari Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan. namun belum diusulkan menjadi Wajib Pajak Non Efektif. Wajib Pajak selama tiga tahun (2007 s. Terdapat Importir yang memasukkan barang dari Luar Daerah Pabean diindikasikan belum membayar PPN Impor dan PPh Pasal 22 Impor. PPN Impor diindikasikan belum dipungut terkait transaksi atas PPnBM Impor. 5. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Batu di Malang dan instansi terkait lainnya. Terdapat perbedaan penyajian nilai penerimaan pajak antara Laporan Keuangan. KPP Perusahaan Masuk Bursa belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran pajak masa dan tahunan.

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 sehingga penerimaan negara atas sanksi administrasi sebesar Rp216. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Gresik Utara dan instansi terkait lainnya. KPP Pratama Bandung Tegallega belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) Sanksi Administrasi atas keterlambatan pembayaran Pajak Masa dan Tahunan. Nilai piutang pajak pada KPP Pratama Batam tidak dapat diyakini kewajarannya yang mengakibatkan nilai piutang pajak dalam Laporan Keuangan KPP Pratama Batam belum menunjukkan nilai piutang yang sebenarnya dan tidak dapat digunakan sebagai informasi yang akurat dan tepat.180. BAKN-DPR RI | 76 .636.67 juta belum terealisasi. Temuan : 1. 6. KPP belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran pajak masa/bulanan dan tahunan sehingga penerimaan negara atas sanksi administrasi keterlambatan pembayaran pajak masa/bulanan dan tahunan minimal sebesar Rp1. Potensi tidak tertagihnya tunggakan pajak atas tunggakan yang sudah daluarsa senilai maksimal Rp3.436. r. 4. p.495. Temuan : 1. Terdapat perbedaan jumlah penerimaan pajak yang dilaporkan dalam laporan keuangan dan data MPN. q. Pengelolaan Data dan Dokumen Perpajakan pada KPP Pratama Batam dalam rangka modernisasi kurang tertib mengakibatkan data perpajakan KPP Pratama Batam kuarang dapat dipertanggungjawabkan sehingga pemantauan dan evaluasi tidak dapat dilaksanakan secara optimal dan potensi ketidakakuratan hasil pemeriksaan pajak atas SPTLB karena pendeknya waktu pemeriksaan. 3.00. Importir yang memasukkan barang dari luar daerah pabean diindikasikan belum membayar PPN Impor dan PPh pasal 22 Impor. Temuan : 1.78 juta 2.00 juta belum terealisasi. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Batam dan instansi terkait lainnya. 2. 5. Pemanfaatan data Wajib Pajak yang melakukan kegiatan atau transaksi yang berhubungan dengan tanah dan/atau bangunan belum optimal. 3. KPP Pratama Batam belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran pajak masa/bulanan dan tahunan yang mengakibatkan potensi penerimaan negara atas sanksi administrasi belum terealisasi sebesar Rp2. 4. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Tegallega dan instansi terkait lainnya. SPT Wajib Pajak belum seluruhnya dilakukan perekaman oleh KPP Pratama Bandung Tegallega.017. Terdapat perbedaan jumlah penerimaan pajak yang dilaporkan dalam laporan keuangan dan data MPN.

2.350.00. 3. 3. KPP Pratama Parepare belum menyelesaikan perekaman atas Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan tahun pajak 2007. 4. Importir yang memasukkan barang dari luar daerah pabean diindikasikan belum membayar PPN Impor dan PPh pasal 22 Impor. 2. BAKN-DPR RI | 77 . Temuan : 1.87 juta belum terealisasi. Pemeriksaan pajak tidak sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam peraturan yang berlaku. 5. Pembayaran pajak dilakukan oleh Wajib Pajak dengan status Non Efektif dan Wajib Pajak yang telah dicabut NPWPnya. KPP belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran pajak masa dan tahunan yang mengakibatkan penerimaan negara atas sanksi administrasi keterlambatan pembayaran pajak atas SPT Masa dan SPT Tahunan belum terealisasi. dan 2009 sehingga informasi dan data yang disampaikan oleh WP dalam SPT tersebut belum dapat segera dimanfaatkan untuk mendukung proses atau tahapan perpajakan selanjutnya. KPP Pratama Parepare belum menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran pajak masa dan tahunan sehingga mengakibatkan penerimaan negara atas sanksi keterlambatan pembayaran sebesar Rp209.636. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Pematang Siantar dan instansi terkait lainnya. 4. Tahapan Penagihan Pajak Belum Sepenuhnya Dilaksanakan Sesuai Ketentuan yang mengakibatkan potensi penerimaan negara terlambat direalisasikan dan terdapat potensi piutang pajak yang menjadi daluarsa. Saldo piutang pajak yang disajikan pada laporan keuangan tahun 2009 dan semester I tahun 2010 pada KPP Pratama Parepare tidak menunjukkan kondisi yang sebenarnya sehingga tidak dapat digunakan sebagai informasi yang akurat dan tepat. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Parepare dan instansi terkait lainnya.436. Importir Yang Memasukkan Barang Dari Luar Daerah Pabean Diindikasikan Belum Membayar PPN Impor dan PPh Pasal 22 Impor yang mengakibatkan adanya potensi kekurangan penerimaan negara minimal sebesar Rp4.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 2. Rasio Kepatuhan Penyampaian SPT Tahunan PPh Pada Tahun 2009 KPP Pratama Pematang Siantar Tidak Mencapai Target yang mengakibatkan KPI KPP Pratama Pematang Siantar tidak tercapai dan kepatuhan Wajib Pajak untuk menyampaikan SPT Tahunan rendah. 2008. Temuan : 1.99 juta sulit untuk diidentifikasikan dan pencairannya sulit untuk dilakukan. 6. 4.54 juta. 3. Potensi tidak tertagihnya tunggakan pajak atas tunggakan yang sudah daluarsa senilai maksimal Rp3. SPT Wajib Pajak belum seluruhnya dilakukan perekaman oleh KPP Pratama Bandung Tegallega.017. s. Pengelompokan tunggakan pajak berdasarkan kualitas tunggakan belum dilakukan dengan benar sehingga tunggakan pajak senilai Rp5. t.520.

3.59 juta dan menambah potensi penerimaan negara sebesar Rp193. Tahapan penagihan aktif belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai ketentuan. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Tegallega dan instansi terkait lainnya.636. Piutang Pajak Sebesar 94.82 miliar termasuk dalam kriteria macet dan berpotensi tidak dapat ditagih akibat tidak efektifnya proses penagihan pajak. KPP Pratama Medan Barat tidak optimal dalam meningkatkan kepatuhan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh.19 juta pada satu bank BUMN dan lima bank BUMD kurang memadai. Terdapat perbedaan penyajian nilai penerimaan pajak antara laporan keuangan dengan rekapitulasi data dari Seksi Pengolahan Data KPP Pratama Medan Barat dan data Modul Penerimaan Negara dari Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan. Terdapat keterlambatan pelimpahan penerimaan pajak oleh Bank Jateng dan Bank Sumut sebesar Rp32. 4. 4. 2. 5. Pemanfaatan data Wajib Pajak yang melakukan kegiatan atau transaksi yang berhubungan dengan tanah dan/atau bangunan belum optimal. SPT Wajib Pajak belum seluruhnya dilakukan perekaman oleh KPP Pratama Bandung Tegallega. w. Pemeriksan Gabungan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Dua Bank BUMN dan Delapan Bank BUMD Tahun Pajak 2009. Pemungutan PPh Pasal 22 pada Bank Sumsel Babel sebesar Rp597. 3.017. 2. 2. Pengendalian intern terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan kurang memadai.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 u.341. Potensi tidak tertagihnya tunggakan pajak atas tunggakan yang sudah daluarsa senilai maksimal Rp3.94 juta. Temuan : 1. Terdapat perbedaan jumlah penerimaan pajak yang dilaporkan dalam laporan keuangan dan data MPN.578. 3.89 juta dan Bank Sulsel sebesar Rp17. Temuan : 1. Importir yang memasukkan barang dari luar daerah pabean diindikasikan belum membayar PPN Impor dan PPh pasal 22 Impor. Temuan : 1.4 juta. Terdapat biaya yang belum dikoreksi fiskal dalam SPT Tahunan PPh Badan tahun pajak 2009 sebesar Rp760. 5. v.00.62% atau sebesar Rp66. 4. 5. 6. Perekaman SPT Masa dan Tahunan tahun pajak 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Medan Barat belum dilakukan secara menyeluruh.314. BAKN-DPR RI | 78 .436. Pemeriksan Penerimaan Pajak Dan Kegiatan Operasionalnya Pada KPP Pratama Medan Barat dan instansi terkait lainnya. Pemungutan dan penyetoran Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp947.53 juta tidak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. Tidak efektifnya penatausahaan piutang pajak berakibat pada tidak akuratnya nilai piutang pajak KPP Pratama Medan Barat.

5 juta 2. Temuan : 1. Pelaksanaan kewajiban Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23/26 Bank bjb tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku dan berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp11.16 juta yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp1. 3. Pendapatan Non Operasional (PNO) Hasil Sewa Gedung pada Laporan Keuangan Bank Mandiri sebesar Rp6.35 juta dalam perhitungan PPh Badan tahun pajak 2009 yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp89. x. Pemeriksan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Sumsel Babel. Temuan : 1. BRI belum melakukan koreksi fiskal sebesar Rp387. 2.470.214. Bank Mandiri belum melaporkan Penyerahan BKP dan/atau JKP dalam SPT Masa Januari sampai dengan Desember 2009 sebesar Rp 8. Bank Sumsel Babel belum melakukan koreksi fiskal Pajak Penghasilan (PPh) Badan tahun pajak 2009 sebesar Rp6.55 juta 2.313. Bank Mandiri belum melakukan koreksi fiskal PPh Badan tahun pajak 2009 sebesar Rp23. 3. BAKN-DPR RI | 79 .735. BRI tidak memotong PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar Rp31. Temuan lain-lain yang menyangkut tahun pajak selain tahun pajak 2009. Pemeriksan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Rakyat Indonesia (BRI). Selisih nilai penerimaan negara antara MPN dan SISPEN pada Bank Sulsel sebanyak 293 records sebesar Rp2.83juta.08 juta dan terdapat perbedaan pembayaran PPh Pasal 23 dengan data yang tercantum dalam MPN sebesar Rp925. Temuan : 1. 4.71 juta terhadap bunga atas giro.48 juta belum dipotong PPh Pasal 4 ayat 2. aa.323. Pemeriksan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Mandiri.512.258.80 juta.659. tabungan dan.138.99 juta.73 juta. Pengendalian intern terhadap pengelolaan perpajakan Bank Bank bjb belum memadai dan Bank bjb tidak menyajikan laporan keuangan unaudited.85 juta dan pada Bank Sumsel Babel sebanyak 540 records sebesar Rp4. 7.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 6. Pelaksanaan kewajiban PPN Bank bjb Tahun 2009 tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.95 juta yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp6.088. y. Pemeriksan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank DKI.889. z. Selain itu. Bank bjb belum melakukan koreksi fiskal sebesar Rp54.68 juta.704.16 juta yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp15.067. Temuan : 1.

682. Penerimaan pajak sebesar Rp29. dan 4. Bank Sumsel Babel belum melakukan koreksi fiskal PPh Badan tahun pajak 2008 sebesar Rp6.257.53 juta atas jasa layanan Safe Deposit Box.73 juta. Temuan : 1. 2.87 juta dalam perhitungan PPh Badan tahun pajak 2009 yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp16.719. Pengendalian intern terhadap pengelolaan pajak pada PT Bank Sumut kurang memadai. Keterlambatan pelimpahan penerimaan pajak oleh Kantor Cabang Slawi sebesar Rp2.79 juta.37 juta dan tahun pajak 2009 sebesar Rp61.20 juta.199. Terdapat kesalahan kode Mata Anggaran Penerimaan (MAP) dalam penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) atas bunga simpanan nasabah pada empat kantor cabang.84 juta. 3. Pemeriksan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Jateng. penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 4 ayat (2) pada lima kantor cabang belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan.330.711. Pemeriksan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Sumut.877.91 juta dan Rp17. cc. 3. Bank Jateng belum melakukan koreksi fiskal sebesar Rp59. dan 4. 3. Pemeriksan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Jatim. dan bb. PT Bank Sumut belum melakukan koreksi fiskal Pajak Penghasilan (PPh) Badan tahun pajak 2008 sebesar Rp2.85 juta dalam perhitungan PPh Badan tahun 2009 yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp8. BAKN-DPR RI | 80 .68 juta yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp742.445.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 2.97 juta melalui PT Bank Sumut terlambat dilimpahkan ke Kas Negara mengakibatkan timbulnya denda sebesar Rp333.204.96 juta. MPNP. Rekonsiliasi antara data penerimaan pajak tahun 2009 belum efektif sehingga masih terdapat selisih data penerimaan negara antara Data SISPEN.88 juta sebagai pengurang penghasilan mengakibatkan kekurangan pembayaran PPh Badan tahun 2006 sebesar Rp2. Bank Jatim belum memungut PPN sebesar Rp6.476. 3. Pemotongan. Temuan : 1. Temuan : 1.34 juta yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp1.52 juta.20 juta. Bank Jatim belum melakukan koreksi fiskal sebesar Rp31.925. Pembebanan penyisihan properti terbengkalai sebesar Rp7. dan THSPN Bank Jatim. dd.594. Selisih nilai penerimaan negara antara MPN dan SISPEN pada Bank Sumsel Babel tahun 2009 sebanyak 540 records sebesar Rp4. 2. 2.735.26 juta.876.45 juta belum dikenakan denda sebesar Rp19.

3.47 juta yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp12. ff. Temuan : 1. Pembentukan dana cadangan PPAP non kredit sebesar Rp28. 2. Pemeriksan atas Pengadaan barang dan jasa pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).638.00 dan KPPBC Bogor sebesar Rp18. Kanwil DJBC Sulawesi dan Kanwil DJBC Jawa Barat Kementerian Keuangan Tahun Anggaran 2009 dan 2010. Temuan : 1. 2.000. BPD Kaltim belum melakukan koreksi fiskal PPh Badan tahun 2009 sebesar Rp43.49 juta. Terdapat selisih jumlah transaksi penerimaan negara Tahun 2009 antara data dalam Sistem MPN PT Bank Sulsel dengan data dalam SISPEN KPPN Makassar I dan Ditjen Perbendaharaan sebanyak 293 records dengan nilai sebesar Rp2.51 juta belum dikoreksi positif dalam SPT Tahunan PPh Badan tahun pajak 2009 BPD Kaltim yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp7. Pemungutan PPN atas penyerahan jasa sewa ruangan dan rooftop/atap gedung Kantor Pusat BPD Kaltim kurang memadai yang mengakibatkan Pajak Pertambahan Nilai belum dipungut dan disetor sebesar Rp22. Pemeriksan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Sulsel.02 juta. Temuan : 1.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 ee.196.313. PT Bank Sulsel tidak melakukan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai atas Pemanfaatan Layanan Penerimaan Pembayaran Jasa Telekomunikasi Tahun 2009. Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC Kalimantan Bagian Barat. Pelaksanaan penerimaan negara melalui Bank Persepsi pada PT Bank Sulsel Tahun Buku 2009 tidak sesuai dengan Perjanjian Jasa Pelayanan Perbankan sebagai Bank Persepsi/Devisa Persepsi antara Ditjen Perbendaharaan Negara dengan PT Bank Sulsel. 3. 4.72 juta.000.139.309.566. Pemeriksan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Kaltim. BAKN-DPR RI | 81 . 4. PT Bank Sulsel belum melakukan koreksi fiskal Pajak Penghasilan (PPh) Badan tahun pajak 2009 senilai Rp16.88 juta.962. Pengendalian intern terhadap pengelolaan pajak pada PT Bank Sulsel kurang memadai. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan : a. dan 5. gg. Pengendalian intern terhadap pengelolaan pajak di BPD Kaltim kurang memadai.560.699.00.00 karena beberapa barang hasil pengadaan yang tidak diketahui keberadaan fisiknya di KPPBC Bandung sebesar Rp7. potensi kerugian negara sebesar Rp25.895.84 juta yang berpotensi menambah penerimaan negara sebesar Rp4.000.85 juta.

Ketidakhematan atas pengadaan barang dan jasa sebesar Rp4. perencanaan pengadaan barang pada Kantor Pusat DJBC belum memadai dan indikasi persaingan usaha tidak sehat dalam pengadaan jasa pada Pangsarop Pantoloan.097.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 b. 73.375.00 dilakukan dengan cara penunjukan langsung yang terjadi pada KPDJP. 1.44 pada KPPBC Bandung sebesar Rp. denda keterlambatan yang belum dikenakan sebesar Rp662. Kanwil DJP Jawa Barat I.00. 3.00 pada KPPBC Bogor sebesar Rp. 235.44 yaitu pada Pangsarop Pantoloan sebesar Rp. Kanwil DJP Jawa Barat I serta Kanwil DJP Jawa Barat II.018. Pemeriksan atas pengadaan barang dan jasa pemerintah TA 2009 pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan TA 2008 dan 2009 pada lima Kantor Wilayah (Kanwil) DJP dan instansi vertikal dibawahnya.41 pada pekerjaan. dan 7. Tidak ditandatanganinya pakta integritas oleh Panitia Pengadaan. BAKN-DPR RI | 82 . PPK dan rekanan di Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung. 2.616. Temuan : 1. Kelemahan sistem pengendalian intern. c.856. a. 3.307. 6.17. yaitu barang hasil pengadaan barang dan jasa yang belum dicatat sebagai aset tetap pada Pangsarop Pantolan sebesar Rp545.986.244. 2.763. perpanjangan sewa internet broadband pada KPDJP.200.400. pekerjaan jasa konsultan perencana dan pengawas serta pekerjaan pembangunan gedung Kanwil Bengkulu dan Lampung tahap IV pada Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung.000.997.355. kelebihan penyajian nilai aset dalam laporan keuangan pada Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat sebesar Rp643. Surat keterangan bank yang diserahkan oleh rekanan Kanwil DJP Jawa Tengah II tidak pernah dikeluarkan oleh bank.790.551.00.00 hh. Kanwil DJP Jawa Barat II serta Kanwil DJP Jawa Tengah II. Proses pengadaan barang/jasa atas lima paket pengadaan dengan total nilai pengadaan Rp18.00 dan Rp1. Penatausahaan dokumen perencanaan dan penganggaran yang tidak memadai menyebabkan kesulitan pengujian kewajaran pelaksanaan anggaran pada Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung.940.590.00 yang terjadi di enam entitas yang diperiksa. secara administratif.846. Rekanan tidak melakukan pekerjaan Jasa Pemeliharaan Sistem Monitoring Pembayaran KPDJP TA 2009 sesuai dengan kontrak berupa penanganan transaksi back office dan pekerjaan pemeliharaan tersebut melanggar UU KUP karena memungkinkan rekanan melihat data wajib pajak meskipun tidak memiliki ijin dari Menteri Keuangan.573.884.885. 5. Pemecahan kontrak atas 109 paket pengadaan barang untuk Tahun Anggaran 2008 dan 2009 sebesar total Rp9.770. 2. b.000. Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung.406.00 dan pada Kantor Pusar DJBC sebesar Rp.500.126. 4. Terdapat kemahalan dan ketidakwajaran harga sebesar Rp983.769.110. yaitu proses pengadaan barang dan jasa dengan pemecahan kontrak pada Kantor Pusat DJBC dan Kanwil DJBC Kalimantan Barat.820. yaitu: Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi.

161.d. 2. Terdapat pekerjaan yang tidak terealisasi dalam pembangunan gedung KPP Pratama Ciamis. Biaya langsung personil pada pengadaan jasa konsultansi perencanaan dan pengawasan pembangunan gedung kantor tidak didasarkan pada Keputusan Presiden No. Pemecahan kontrak atas pengadaan barang dan jasa terhadap 51 paket pengadaan dengan total nilai sebesar Rp2. Terdapat pemecahan pengadaan barang/ jasa sebesar Rp536.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 ii. Kelebihan Bayar Untuk Pembangunan Gedung Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung Sebesar Rp225. Temuan : 1. Temuan : 1. Temuan : 1. Pemeriksan atas pengadaan barang dan jasa pemerintah TA 2008 dan 2009 pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Bengkulu dan Lampung dan instansi vertikal dibawahnya. 4. Adanya pemecahan kontrak pengadaan barang Tahun Anggaran 2008 dan 2009 untuk beberapa paket pekerjaan senilai Rp4. Pemeriksan atas pengadaan barang dan jasa pemerintah TA 2008 dan 2009 pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Jabar I dan instansi vertikal dibawahnya. kk. Terdapat indikasi monopoli dalam proses pengadaan pencetakan formulir SPT tahunan PPh Pasal 21 beserta kelengkapannya Tahun Anggaran 2008.700. Konsultan pengawas pekerjaan renovasi gedung kantor untuk DPC diindikasikan membuat laporan tidak benar jj. Temuan : 1. 95 Tahun 2007.196. 3.00.84 juta. 3. Pelaksanaan pengadaan barang/jasa tanpa Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dan Pakta Integritas pada 66 kegiatan pengadaan pengeluaran negara tidak dapat diyakini kewajarannya. 2. Indikasi praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat atas beberapa pengadaan barang dan jasa. Sisa Partisi Hasil Pengadaan Tahun Anggaran 2008 Pada KPP Pratama Teluk Betung yang Tidak Digunakan Senilai Rp637. Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri untuk Pembangunan Gedung Kanwil Tahap IV Tidak Sesuai Ketentuan.47 juta. 2009. Pemeriksan Penelitian atas Subsidi Bunga Kredit Program yang ditagihkan oleh Bank Indonesia (BI) kepada Pemerintah Tahun Anggaran (TA) 2007 s.13 juta pada Kanwil DJP Jawa Barat I Tahun Anggaran 2008 dan 2009. 4.495. ll. 2. Pemeriksan atas pengadaan barang dan jasa pemerintah TA 2008 dan 2009 pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Sumatera Barat dan Jambi dan instansi vertikal dibawahnya. 80 Tahun 2003 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden No. 3. BAKN-DPR RI | 83 .09 juta dan pelaksanaannya tanpa didukung Harga Perkiraan Sendiri (HPS).

Pemeriksan Penelitian atas Nilai Tunggakan KUT Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 Pola Channeling dalam rangka Risk Sharing antara Pemerintah. BAKN-DPR RI | 84 . Perjanjian kontrak tidak mematuhi klausul kontrak sesuai ketentuan Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 masih terjadi di lingkungan Kanwil DJP Jawa Tengah II. yang meliputi kebijakan.880. pendokumentasian. Temuan : 1.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 2. Temuan : Jumlah subsidi yang ditagihkan oleh BI sebesar Rp144.469. Saldo rekening milik Pemda pada bank pelaksana untuk menampung pelunasan KUT sebesar Rp2. 1.982.77. Terdapat indikasi pemecahan kontrak atas sembilan paket pengadaan barang dan jasa di lingkungan Kanwil DJP Jawa Barat II Tahun Anggaran 2008 dan 2009 dengan total nilai Rp747.64 juta. 81 juta. 3.270. Tunggakan tanpa ada sertifikat penjaminan Perum Jamkrindo sebesar Rp1. oo.799.095.09.476.225.660.76 dan 2) kelebihan biaya per hektar sebesar Rp442.05 sehingga terdapat selisih sebesar Rp175.92. pelaporan. 2. 2009. 3. mm. yang seharusnya dibayar oleh Pemerintah adalah sebesar Rp144.424. ditemukan hal-hal sebagai berikut: a.16.375. Temuan : 1. d.923.110. Program KUT TP 1998/1999 Pola Channeling mengandung beberapa kelemahan sistem pengendalian manajemen baik dari segi desain dan implementasinya. Terdapat 14 kegiatan pengadaan barang dan jasa pada Kanwil DJP Jabar II dan KPP Pratama Cibitung tidak didukung HPS yang lengkap dengan total nilai Rp. dan pengawasan 2.052. Pemeriksan Penelitian atas Subsidi Bunga Kredit Program yang ditagihkan oleh Bank Indonesia (BI) kepada Pemerintah Tahun Anggaran (TA) 2007 s.450.d.787.023.753.18.367. b.192. Ketidaklengkapan dokumen penyaluran KUT di bank pelaksana dengan nilai tunggakan sebesar Rp1. Dari nilai tunggakan KUT TP 1998/1999 Pola Channeling per 31 Desember 2009 sebesar Rp5. 2009.235.09 juta.758.542.034.13. mekanisme penyaluran dan pelunasan KUT. Surat keterangan Bank yang diserahkan oleh Rekanan Kanwil DJP Jawa Tengah II tidak pernah dikeluarkan oleh Bank.d.708. dan Perum Jamkrindo.469. c. Ketidaksesuaian RDKK dengan ketentuan yang berlaku dengan nilai tunggakan sebesar Rp510.98. nn.53 yang terdiri dari: 1) komoditas tidak sesuai ketentuan sebesar Rp67.190. Bank Indonesia.194.539.426.568.825. Pemecahan kontrak atas pengadaan barang dan jasa terhadap 15 (lima belas) paket pengadaan dengan total nilai Rp742. organisasi.720. Pemeriksan Penelitian atas Subsidi Bunga Kredit Program yang ditagihkan oleh Bank Indonesia (BI) kepada Pemerintah Tahun Anggaran (TA) 2007 s.

rr.000. Pemeriksan atas Operasional Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumatera Barat Tahun Buku 2009 – 2010.863.266. Bank Jateng Tidak Tegas dalam Menyelesaikan Kredit Macet yang Telah Dihapusbukukan Atas Nama Ny. Pembukaan rekening giro perusahaan pada PT. BPD Sumatera Barat belum sesuai ketentuan. Pemberian kredit belum berpedoman pada kebijaksanaan Perkreditan Bank. Rating kredit belum sepunuhnya digunakan sebagai Identifikasi Awal Resiko Kredit. 12.000. Transaksi Penempatan Dana oleh Dealer melebihi Kewenangan tanpa Persetujuan Direksi sebesar Rp. Pemberian Suku Bunga deposito PT BPD Sumatera Barat yang melebihi ketetapan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) belum disertai dengan transparansi Informasi Risiko kepada Nasabah. Penatausahaan penerimaan setoran pajak dan bukan pajak pada PT BPD Sumatera Barat belum sepenuhnya sesuai ketentuan yang berlaku.000. Pemeriksan atas Operasional PD BPR Tanggo Rajo TA 2009 dan Semester I TA 2010. dan 3.137. Pembukaan rekening titipan pada PT BPD Sumatera Barat Cabang Pasaraya tidak sesuai ketentuan. 8.000.00 tanpa perjanjian kredit.493. Sisa kredit harian dan mingguan kepada nasabah yang digunakan untuk kepentingan pribadi Account Officer (AO) sebesar Rp90.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 e. Tabungan beku per 31 Desember 2009 di bank pelaksana yang disampling sebesar Rp266.00.00 Tidak Sesuai Ketentuan BAKN-DPR RI | 85 . 9.000. 4. PT BPD Sumatera Barat belum menerapkan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles) untuk Nasabah yang mempunyai risiko tinggi. Temuan : 1.738. 10. PT BPD Sumatera Barat cabang Periaman mengenakan suku bunga Kredit kepada Nasabah Debitur belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Denda kredit dengan kolektibilitas non lancar untuk 4.869. Pemberian pinjaman sebesar Rp235.46.000. B dan Berpotensi Tidak Tertagih Sebesar Rp2. 13. 130. 11. pp. 7.607 debitur belum diperhitungkan dalam Data On Line Banking System (OliBS). Keputusan Direksi Mengenai Asuransi Agunan Belum Berpedoman pada PBI Nomor 7/2/PBI/2005 tentang penilaian kualitas aktiva bank umum. Temuan : 1. Jaminan Kredit yang Diserahkan oleh CV IN Atas Kredit Rekening Koran (RC) Dengan Plafond Sebesar Rp300. Pemeriksan atas Operasional Bank Jateng TA 2009 dan Semester I TA 2010 Temuan : 1. qq.00 2. Terdapat negosiasi bunga deposito pad PT BPD Sumatera Barat kantor cabang bukit tinggi yang melebihi kewenangan divisi Treasury tanpa persetujuan Direksi.00. Pemberian fasilitas Kredit pada cabang pasaraya tidak sesuai ketentuan.601. 2.000.000. Proses penghapusbukuan kredit macet tidak tepat. 3. 5. 2. 6.

Persetujuan kredit tidak berdasarkan prosedur pemberian kredit dan ketentuan yang berlaku.091. Melaporkan kewajiban PPh Pasal 23 yang telah disetorkan ke Direktorat Jenderal Pajak. Menghitung kembali seluruh kewajiban PPh Pasal 23 tahun 2009 dan 2010 yang tidak dipungut. 2 Tahun 2008 dan Permendagri No. Menyetorkan kewajiban PPh Pasal 23 yang tidak dipungut ke Kas Negara. Temuan : 1. Bank NTB tidak mampu meminimalkan potensi kerugian 2. 5. ss.000. Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Serba Guna (KSG) PT. Pemeriksan atas Operasional Bank NTB TA 2009 dan Semester I TA 2010.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 3.000. Bank NTB kurang sempurna dalam penilaian kualitas kredit dan penghitungan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) BAKN-DPR RI | 86 . Meninjau kembali kebijakan yang tidak sesuai Peraturan Daerah No. Setiap pelaksanaan dan pembayaran pengadaan barang/jasa didasarkan pada kontrak perjanjian. Pemberian Fasilitas Kendaraan Dinas Kepada Dewan Komisaris dan DireksiBank Jateng Belum Sesuai Ketentuan 5.00 Tidak Sesuai Kontrak dan Tidak Dapat Diselesaikan Sampai Kontraknya Berakhir.416. 7.00 4. Temuan : 1. 4.937. Temuan : 1. Prosedur penghapusan piutang macet pada PD. NDS tidak sesuai ketentuan. Pembayaran Termin Pengadaan Sistem Aplikasi Perbankan dengan Nilai Sebesar Rp31. Departemen Keuangan Republik Indonesia. Pemberian Kredit Kepada Seorang Direksi dan 3 (tiga) orang Staf Komisaris Tidak Sesuai Ketentuan dengan Jumlah Seluruhnya Sebesar Rp946. 3. 2. Menetapkan honorarium Dewan Pengawas sesuai ketentuan yang berlaku. 2.00 Terlambat dari Waktu yangTelah Ditetapkan. 5. Pemberian kredit tidak sesuai dengan skema kredit yang diatur dalam SK Direksi tentang penetapan peraturan pemberian kredit. Pemberian tunjangan hari raya kepada Dewan Pengawas tidak diatur dengan Peraturan Daerah BPR Kabupaten Bantul tt.000. Pembaharuan kredit kepada sdri. Pelaksanaan Penghapusbukuan Kredit Macet tidak sesuai SOP 3. Penyelesaian Pembangunan Gedung Kantor Bank Jateng Cabang Slawi dengan Nilai Kontrak Sebesar Rp7. Pemeriksan atas Operasional PD BPR Bank Sleman TA 2009 dan Semester I TA 2010. 22 Tahun 2006. 3. Aplikasi Sistem Olibs pada PT. 6. 6. BPR Bank Bantul Tahun Buku 2009 dilaksanakan tidak melalui prosedur analisa yang memadai 4.730. Memerintahkan Kepala Divisi Operasional untuk membuat Surat Pernyataan merencanakan kegiatan dalam RKT. Pemeriksan atas Operasional PD BPR Bank Bantul TA 2009 dan Semester I TA 2010. uu.000.

8.000. Pemeriksan atas Operasional Bank Kalteng TA 2009 dan Semester I TA 2010.617.01/17/27/64/0016/2006 berseberangan dengan Surat Edaran Nomor SB.950.501.186.2. Pembagian Laba Tahun Buku 2008 sebesar Rp94.6. Pemberian Bunga dengan Special Rate atas Simpanan Deposito Berjangka Satu Tahun senilai Rp71.75.000.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 4.500. Analisis pemberian fasilitas kredit pada PT. ww.Bank NTB tidak memiliki pedoman penatausahaan Asuransi 7. Mekanisme pencairan dan pelaporan penggunaan Dana Peduli Sosial Kemasyarakatan Tahun 2009 dan Semester I 2010 belum diatur secara rinci dan jelas 8. 5.729. dan 9. Peraturan Direksi PT.000. Kinerja Kantor Cabang PT BPD NTT di Surabaya tidak mencapai target. Desk Penyelamatan Kredit tidak melaksanakan langkah restrukturisasi terhadap kredit yang bermasalah vv.890.445.000. Pemberian kredit kepada PT SGO dengan plafon sebesar Rp7.54. Pelaksanaan Emisi Obligasi Tahap I PT BPD NTT senilai Rp500.710. BPD NTT Nomor 04 Tahun 2006 yang membebankan Pajak Penghasilan atas Jasa Produksi dan Tantiem sebagai beban bank tidak tepat sehingga menambah beban bank Tahun 2009 dan 2010 sebesar Rp. 6. Kebijakan Asuransi Kredit sesuai Surat Direksi Nomor SB.00 belum dapat diselesaikan. Pekerjaan pembangunan Gedung Kantor Cabang PT BPD NTT Cabang Kalabahi senilai Rp2.00 belum memperhatikan prinsip kehati-hatian dan taksasi agunan dinilai belum menggambarkan kondisi yang sebenarnya.000. Analisis dan Persetujuan Kredit Investasi. 3.d.28 tidak berdasarkan alasan dan kriteria yang jelas dan tertulis.086.000.411.01/17/27/64/0001. Kegiatan penatausahaan atas Agunan pada PT.369. Temuan : 1. PT.462.00 kepada Debitur PT.Bank NTB belum melaksanakan kegiatan pemantauan dan tindakan koreksi penyimpangan sesuai ketentuan 5. dan Tahun Buku 2010 (s. 31 Agustus 2010) rugi sebesar Rp.000.000.450.AMB kurang mencerminkan prinsip kehati-hatian dan nilai/kualitas agunan tidak memadai.000.00 dan Tahun Buku 2009 sebesar Rp121. Bank Kalteng belum sepenuhnya memperhatikan prinsip kehati-hatian. Pembagian Laba PT BPD NTT untuk Dana Kesejahteraan Karyawan PT BPD NTT sebesar Rp40. 2.A/2007 9. BAKN-DPR RI | 87 .244.00 belum berdasarkan kriteria yang jelas dan tertulis.345.00. 4. Temuan : 1.00 belum sepenuhnya sesuai ketentuan.157.000.000.578. Pemeriksan atas Operasional Bank Kalteng TA 2009 dan Semester I TA 2010.000. Bank NTB Cabang Bima tidak memberikan informasi agunan yang lengkap 6. dan bank garansi dengan plaforn seluruhnya senilai Rp74.00 belum mencapai target dan menimbulkan beban bank sebesar Rp1. kredit modal kerja.255. 7.000. BPD NTT Nomor 01 Tahun 1984 dan Keputusan Komisari PT.521. PT.

Terdapat perbedaan pencatatan nilai hutang debitur pada Daftar Nominatif Ekstrakomtabel dengan pencatatan pada KPKNL. Pendapatan dari biaya administrasi atas penerbitan garansi bank yang diatur dalam perjanjian kerjasama dengan perusahaan asuransi tidak diterapkan secara konsisten di seluruh kantor cabang PT Bank Sulut yang berakibat ketidakseragaman biaya administrasi penerbitan garansi bank. 3.000. PT. Upaya penagihan Kredit Hapus Buku atas nama PT.00. Penghasilan Direksi dan Dewan Komisaris belum diungkap secara memadai dalam Laporan yang disampaikan kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) setiap tahun. PP pada Kantor Cabang Kuala Kapuas kurang optimal.000. 7. Pengamanan atas dokumen jaminan kredit belum memadai sehingga menimbulkan risiko pengeluaran biaya pengurusan sertifikat hak milik apabila dokumen jaminan tersebut hilang/tercecer dan/atau tuntutan hukum karena hilangnya berkas kepegawaian debitur. Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) kredit tidak mempertimbangkan agunan sebagai pengurang sehingga pembebanan PPAP dalam laporan keuangan tidak menggambarkan nilai yang sebenarnya. 9. 4. Bank Kalteng Kantor Cabang Utama Palangka Raya belum tegas dalam upaya penyelesaian Kredit Macet . Pelaksanaan pembangunan gedung kantor PT Bank Sulut tidak sesuai kontrak yang berakibat kekurangan penerimaan negara dari denda keterlambatan yang tidak dipungut sebesar Rp209.00 tidak sesuai Surat Edaran Tarif Bunga.000. Proses pensertifikatan atas berkas akta jual beli menjadi sertifikat hak atas tanah perumahan PNS Minahasa Utara dengan fasilitas KPR PT Bank Sulut terhambat sehingga menimbulkan risiko hukum berupa tuntutan hukum dari debitur karena tidak adanya sertifikat kepemilikan atas tanah dan bangunan yang dicicil melalui fasilitas KPR dan PT Bank Sulut tidak memiliki dokumen hukum yang kuat atas 43 unit jaminan kredit kepemilikan rumah.495. 6. 2. 5. PT. 3. Pengendalian risiko kerugian dalam penyaluran kredit melalui agunan dan perlindungan asuransi tidak sesuai dengan Surat Persetujuan Pemberian Kredit dan Syarat-syarat Umum Pemberian Kredit yang mengakibatkan risiko kerugian dalam penyaluran kredit PT Bank Sulut. Realisasi perjalanan dinas berupa penggantian perjalanan (Transport) pada PT. 4. Bank Kalteng Kantor Cabang Kuala Kapuas dan Kantor Cabang Kuala Kurun tidak sesuai tarif dan tidak didukung bukti dari sarana transportasi yang digunakan.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 2.000. xx.000. Pembagian Jasa Produksi sebesar 17% untuk Anggota Direksi dan Dewan Komisaris Belum Sesuai dengan Undang-undang Perseroan Terbatas. 6. 7.00 dan kerugian karena kekurangan fisik pekerjaan sebesar Rp775. Temuan : 1. Penempatan deposito pada Bank Mandiri melanggar ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit sehingga PT Bank Sulut dikenakan denda yang membebani keuangan PT Bank Sulut sebesar Rp500. 5.980. 8. Pemeriksan atas Operasional BPD Bank Sulut TA 2009 dan Semester I TA 2010.000. BAKN-DPR RI | 88 . Bank Kalteng belum mempertimbangkan agunan sebagai pengurang dalam pembentukan PPAP kredit.00. Pemberian Tingkat Suku Bunga Special Rate untuk Deposito dengan nominal di bawah Rp5.000.

5) Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan Kabupaten Parigi Moutong TA 2009 disajikan dalam akun kewajiban segera pada rekening titipan pihak ketiga sebesar Rp10.358.162. Pemeriksan atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. 2. 2) Pemberian kredit kepada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong pada Tahun 2009 sebesar Rp16. 6) Pengelolaan dan pertanggungjawaban dana THT pada Yayasan Kesejahteraan Bank Sulteng tidak akuntabel.800.641. 4) Penempatan dana pada bank lain oleh kantor cabang/cabang pembantu PT Bank Sulteng tidak sesuai dengan ketentuan. 1.000.00 tidak sesuai dengan ketentuan. Permasalahan tersebut terjadi karena Sekretaris Utama BPKP mengusulkan anggaran untuk kegiatan yang tidak sesuai peruntukan dan karakteristik BSBL dan Kementerian Keuangan yang memberi persetujuan atas peruntukan anggaran BSBL tanpa mempedomani ketentuan perundangundangan yang berlaku. Pajak penghasilan atas premi asuransi purnajabatan kepada Direksi dan Dewan Komisaris belum diperhitungkan dan disetorkan ke Kas Negara sehinggamengakibatkan kekurangan penerimaan negara dari Pajak Penghasilan sebesar Rp. Temuan : 1. Bank Sulut belum sepenuhnya menjalankan kewajibannya selaku bank persepsi sehingga Bank Sulut berpotensi dikenakan denda atas keterlambatan pelimpahan pajak ke Kas Negara. 3) Jaminan kredit tidak dalam penguasaan PT Bank Sulteng atas fasilitas kredit sebesar Rp3.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 8. sehingga tidak diyakini kebenarannya.425.000. Pertanggungjawaban belanja perjalanan dinas sebesar Rp256. 9.81 tidak sesuai dengan ketentuan.06 (Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain) atau BSBL Tahun Anggaran (TA) 2009 pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP.000.00 10. Pembangunan rumah ATM pada kantor cabang Kotamobagu dimasukkan sebagai komponen biaya perbaikan sehingga mengakibatkan biaya Tahun Buku 2009 dicatat terlalu tinggi.78.000.461.759. zz.000. Penganggaran dan pengelompokan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL) tidak sesuai peruntukan dan karakteristik BSBL mengakibatkan ketidaktertiban pelaksanaan anggaran dan pemanfaatan anggaran tidak efektif.921.241. Permasalahan tersebut disebabkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen dan Bendahara pengeluaran lalai dalam memverifikasi tagihan belanja perjalanan dinas sesuai ketentuan yang berlaku. yy. BAKN-DPR RI | 89 . tidak dilampiri tiket dan kuitansi tidak ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen dan Bendahara Pengeluaran serta sebagian bukti tiket pesawat terbang dinyatakan no confirm oleh maskapai penerbangan yang bersangkutan.732.07 juta tidak dilampiri buktibukti lengkap.00 tidak sesuai dengan ketentuan. Pemeriksan atas Operasional Bank Sulteng TA 2009 dan Semester I TA 201 Temuan : 1) Pemberian kredit kepada tujuh debitur sebesar Rp1.

posisi keuangan Kementerian Luar Negeri tanggal 31 Desember 2010 serta realisasi anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.600. posisi keuangan Kementerian Pertahanan per 31 Desember 2010 dan Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. mengingat dampak yang timbul dari surat Menkeu tersebut terdapat pengeluaran biaya yang disetujui dan tidak dimintakan pengembaliannya ke Kas Negara. sehingga atas pasal-pasal yang disetujui tersebut akan menimbulkan kecemburuan kepada perwakilan yang tidak menerapkan Permenlu No. 04 Tahun 2009. Temuan : Tukar Menukar (Ruilslag) Aset Tanah Senilai Rp15. 7 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Laporan Keuangan dan 21 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT). c) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN PERTAHANAN TAHUN 2010 BAKN-DPR RI | 90 . 04 Tahun 2009 Pada Kementerian Luar Negeri Tidak Sesuai Ketentuan.00 Pada Kodam XII/Tanjungpura Tidak Sesuai Ketentuan. BPK menemukan 6. sampai dengan pemeriksaan berakhir. menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material. Temuan : Pelaksanaan Anggaran Berdasarkan Permenlu No. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Penelaahan Atas Hasil Pemeriksaan Periode Semester-I Tahun 2011 a. Temuan Hasil Pemeriksaan BPK RI Dari hasil Pemeriksaan Semester II Tahun 2010 terhadap 734 objek pemeriksaan. a) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN LUAR NEGERI TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Neraca Kementerian Luar Negeri tanggal 31 Desember 2010 serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.000. b) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN PERTAHANAN TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Laporan keuangan yang disebut di atas menyajikan secara wajar.355 kasus senilai Rp 6. dalam segala hal yang material.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 5. tidak ada pembahasan mengenai Perwakilan RI di Luar Negeri yang tidak menerapkan Permenlu No. 04 Tahun 2009.46 triliyun dan USD 156. Dalam surat menyurat tersebut.43 juta. temuan tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut : 1) KOMISI I Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2011 yang terkait dengan Komisi I DPR RI terdiri atas 28 objek pemeriksaan.000.

Permasalahan tersebut telah diselesaikan dengan disetorkannya PNBP KJRI Sydney senilai USD114. III dr. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) PELAKSANAAN ANGGARAN PEMBINAAN KESEHATAN UNIT ORGANISASI TNI AD TAHUN ANGGARAN 2009 DAN 2010 PADA KESDAM DAN RUMAH SAKIT DI LINGKUNGAN KODAM III/SILIWANGI DAN KODAM VI/ MULAWARMAN Temuan : Terdapat Piutang Bermasalah Pada Rumkit Tk.00 Ekuivalen Rp263. menyajikan secara wajar.393.612.541.00. II Dustira dan Rumkit Tk. dalam semua hal yang material.00 c) Terdapat Hutang Beras TA 2006 sebesar Rp1.389. SURABAYA.481. e) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) PELAKSANAAN ANGGARAN DAN KEGIATAN TAHUN ANGGARAN 2009 DAN 2010 PADA BADAN PEMBEKALAN (BABEK) TNI BESERTA JAJARANNYA DI JAKARTA.475.028.090.481.128.00 dan indikasi perjalanan dinas tidak dilaksanakan sesuai bukti pertanggungjawaban Rp610.726.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Opini Pemeriksaan : Neraca Kemkominfo tanggal 31 Desember 2010 dan 2009.660. MAKASSAR.25 (kurs USD1.234. III Ciremai. serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.816. Temuan : Kelebihan pembayaran perjalanan dinas sebesar Rp 99.621. Rp1.05 eq.05 eq.985.271.625.028.170.250. Rumkit Tk.00 Kepada Perum Bulog yang Belum Dibayar f.40 yang Diterima Tidak Sesuai dengan Spesifikasi Teknis dalam Kontrak b) Terdapat Kelebihan Pembayaran Uang Saku Tim Inspektor Produk BMP dan Palkomlek Sebesar USD27.379. Hardjanto Minimal Sejumlah Rp1.601.00) ke Rekening Bendahara Khusus Penerima Pusat di Jakarta melalui rekening PNBP Fungsional Kemlu sesuai bukti transfer nomor M10IMTS01365001 tanggal 17 Desember 2010 dan M10IMTS013685-01 tanggal 5 Januari 2011. serta realisasi anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. BANDUNG. Rp1.10 Ekuivalen Rp2.25 Belum Ditransfer ke Rekening Bendahara Khusus Penerima Pusat Kementerian Luar Negeri untuk Selanjutnya Disetor ke Kas Negara. d) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) BELANJA DAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK TAHUN ANGGARAN 2009 DAN 2010 PADA KJRI SYDNEY AUSTRALIA Temuan : Saldo PNBP senilai USD114.00 = Rp8.00 BAKN-DPR RI | 91 . DAN ACEH Temuan : a) Terdapat Bekal Minyak dan Pelumas Senilai USD272. R.039. posisi keuangan Kemkominfo tanggal 31 Desember 2010 dan 2009.192.234.

997. b) Pemanfaatan Penyediaan Jasa Akses Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan dan Pemanfaatan Penyediaan Pusat Layanan Jasa Akses Internet Kecamatan KPU/USO belum sepenuhnya optimal 2) KOMISI II Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2011 yang terkait dengan Komisi II DPR RI terdiri atas 17 objek pemeriksaan. Bangfas dan Matzi TA 2009 dan 2010 Seluruhnya Sebesar Rp2. 8 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Laporan Keuangan dan 9 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT). RAMELAN DAN INSTANSI TERKAIT Temuan : Bagi Hasil Sisa Hasil Usaha atas Pengelolaan Apotek Askes Rawat Jalan dan Apotek Primkopal Rawat Inap Dikelola Tidak Sesuai Ketentuan dan Terdapat Sisa Hasil Usaha yang Belum Disetorkan kepada Bendahara Yanmasum. BAKN-DPR RI | 92 . LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) PELAKSANAAN ANGGARAN PEMBINAAN KESEHATAN UNIT ORGANISASI TNI AD TAHUN ANGGARAN 2009 DAN 2010 PADA KODAM IV/DIPONEGORO DAN KODAM VII/WIRABUANA Temuan : Terdapat Dana Pemeliharaan Kesehatan (DPK) TA 2009 dan 2010 (s.458.122.00.00 dan tahun 2010 sebesar Rp1. j.657.193.00.210.343.022. LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) PELAKSANAAN ANGGARAN PEMBINAAN KESEHATAN UNIT ORGANISASI TNI AL TAHUN ANGGARAN 2009 DAN 2010 PADA DINAS KESEHATAN TNI AL.317.602.989.d. dan  Penerimaan yanmasum dari sisa hasil usaha atas pengelolaan Apotek Askes Rawat Jalan dan Apotek Primkopal Rawat kurang setor sebesar Rp1.678.690.  Pelaporan penerimaan Yanmasum Tahun 2009 kurang catat sebesar Rp2.00. Maret) yang belum diterima Kodam IV/Diponegoro dan Kodam VII/Wirabuana masingmasing sebesar Rp5.00.00 dan indikasi perjalanan dinas tidak dilaksanakan sesuai bukti pertanggungjawaban sebesar Rp215.673. MOCHAMAD KAMAL. LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) PELAKSANAAN ANGGARAN DAN KEGIATAN TAHUN ANGGARAN 2009 DAN 2010 PADA DIREKTORAT ZENI ANGKATAN DARAT (DITZIAD) Temuan : Pelaksanaan Pekerjaan Tambah atas Harbang.000.081.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 g. RUMAH SAKIT Dr.282.115. LEMBAGA FARMASI TNI AL Drs.00.592.051.976.00 dan tahun 2010 sebesar Rp1.757.  Pelaporan pengeluaran Yanmasum Tahun 2009 kurang catat sebesar Rp1.638. LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) PENGELOLAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN BELANJA TA 2009 DAN 2010 DI KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA Temuan : a) Kelebihan pembayaran perjalanan dinas sebesar Rp 307.00 Tidak Sesuai Ketentuan i. h.592.501.805.356.00 dan Rp3.146.

serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. menyajikan secara wajar. Temuan : Aset hanggar Pesawat VVIP di atas tanah milik TNI Angkatan Udara di Bandar Udara Halim Perdanakusuma sebesar Rp19. posisi keuangan Kementerian Sekretariat Negara tanggal 31 Desember 2010 dan 2009.761. Temuan : a) Realisasi Belanja Barang pada Bagian Perencanaan Ditjen Kesbangpol Tidak Ada Bukti Pertanggungjawaban Sebesar Rp18.00 c) Kekurangan Volume Belanja Modal pada Empat Eselon I Sebesar Rp2. posisi keuangan BPN tanggal 31 Desember 2010 dan realisasi anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.00 b) Kelebihan Pembayaran Belanja Jasa Konsultan dan Jasa Lainnya pada Tujuh Eselon I Sebesar Rp1.431. posisi keuangan Kementerian Dalam Negeri tanggal 31 Desember 2010 dan 2009.43 d) Kegiatan Kerja Sama antara Ditjen Kesbangpol dengan Organisasi Massa/Lembaga Swadaya Masyarakat/Lembaga Nirlaba Lainnya Tidak Sesuai Permendagri No.239.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 a) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Neraca Kementerian Sekretariat Negara tanggal 31 Desember 2010 dan 2009.791.850. menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material.886. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. BAKN-DPR RI | 93 . serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggaltanggal tersebut. dalam semua hal yang material.00 dan Tidak Akuntabel Sebesar Rp3.73 juta belum ditetapkan statusnya b) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Neraca Kementerian Dalam Negeri tanggal 31 Desember 2010 dan 2009.000. serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggaltanggal tersebut. 44 Tahun 2009 Sebesar Rp5.301. serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.000.506.520. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.602.147.899.474.00 c) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) PERTANAHAN NASIONAL TAHUN 2010 LAPORAN KEUANGAN BADAN Opini Pemeriksaan : Neraca BPN tanggal 31 Desember 2010 dan Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.254.

41 Miliar f) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) PENGELOLAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN BELANJA LAINNYA (BA 999.69 juta d) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KOMISI PEMILIHAN UMUM TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Neraca KPU tanggal 31 Desember 2010 dan Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.00 e) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (ANRI) TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Neraca Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) tanggal 31 Desember 2010 dan 2009 serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggaltanggal tersebut.08 untuk Belanja Pegawai tidak sesuai dengan karakteristik Belanja Lainnya.08) TA 2010 PADA KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI DI JAKARTA Temuan : Alokasi anggaran BA 999. 3) KOMISI III Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2011 yang terkait dengan Komisi III DPR RI terdiri atas 14 objek pemeriksaan.379.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Temuan : Beberapa satuan kerja terlambat menyetor PNBP tahun 2010 sebesar Rp10. serta realisasi anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.133. dalam semua hal yang material. Temuan : a) Kendaraan Dinas Milik Negara Senilai Rp3. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.500.80 Miliar b) Proses Pengadaan Peralatan Mikrofilm Arsip Tidak Sesuai Ketentuan dan Terdapat Dugaan Kemahalan Harga Minimal Sebesar Rp2.747. menyajikan secara wajar.500. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. posisi keuangan ANRI tanggal 31 Desember 2010 dan 2009. Temuan : a) Proses Pengadaan Peralatan Digitalisasi Khasanah Arsip Tidak Sesuai Ketentuan dan Terdapat Dugaan Kemahalan Harga Minimal Sebesar Rp1. posisi keuangan KPU tanggal 31 Desember 2010 dan realisasi anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. menyajikan secara wajar. BAKN-DPR RI | 94 .000. dalam semua hal yang material. 10 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Laporan Keuangan dan 4 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT.00 Dikuasai oleh Mantan Anggota KPU dan Pejabat yang Telah Purnabakti b) Aset Komisi Pemilihan Umum Hilang Senilai Rp622.

serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.032.776 m² Senilai Rp2.38 Juta Berbeda dengan Database Perusahaan Penerbangan.59 Miliar Belum Memiliki Bukti Kepemilikan dan Seluas 3. Temuan : Pelaksanaan kontrak Pengadaan Publikasi Pelaksanaan Tugas–tugas Kejaksaan RI Tahun 2010 tidak sesuai ketentuan dan terjadi indikasi kerugian negara senilai Rp2.225. c) Pengelolaan Rumah Dinas di Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum Belum Memadai dan Terdapat 13 Rumah Negara/Dinas Dihuni oleh Pihak yang Tidak Berhak.757.310. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. c) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Neraca Polri tanggal 31 Desember 2010 dan 2009. menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material. serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.200.124. serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.311. menyajikan secara wajar. serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. posisi keuangan Kejaksaan RI tanggal 31 Desember 2010 dan 2009. posisi keuangan Mahkamah Agung tanggal 31 Desember 2010.00 Tidak Dilaporkan dan Digunakan Langsung Tanpa Melalui Mekanisme APBN. b) Tanah Seluas 18.683. b) Penerimaan Hibah secara Langsung Berupa Uang Minimal sebesar Rp24.195. serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.490m² Senilai Rp37. menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material. posisi keuangan Polri tanggal 31 Desember 2010 dan 2009.430. Temuan : a) Bukti Pertanggungjawaban Perjalanan Dinas Berupa 284 Tiket Penerbangan Senilai Rp445. dalam semua hal yang material.00.24 Miliar Sertifikatnya Hilang. serta realisasi anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 a) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN MAHKAMAH AGUNG TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Neraca Mahkamah Agung tanggal 31 Desember 2010. Temuan : a) Pendapatan Minimal sebesar Rp38. b) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Neraca Kejaksaan RI tanggal 31 Desember 2010 dan 2009.00 dan Berupa Barang Minimal senilai Rp7.00 Belum Dilaporkan kepada Kementerian Keuangan BAKN-DPR RI | 95 . sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.793. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.403.

00 tidak berdasarkan time sheet dan audited payroll untuk biaya personil serta bukti-bukti pengeluaran actual (at cost) untuk biaya non personol.700. (e) Penggunaan keuangan yang belum bisa dipertanggungjawabkan dan pemakaian oleh bendaharawan sebesar Rp615.135. (f) Sistem pengendalian pengamanan. piutang.710.502. (c) Pengelompokan jenis belanja pada saat penganggaran tidak sesuai kegiatan yang dilakukan. pencatatan.700. penatausahaan.00 untuk pengadaan jasa konsultansi tidak melalui proses verifikasi.089.829.372. pengelolaan dan pelaporan kas. persediaan.00 pada sembilan satker tidak berdasarkan inventarisasi fisik (stock opname) per tanggal Neraca dan pencatatan pada kartu persediaan belum tertib serta belum memiliki buku pembantu untuk mencatat mutasi persediaan.114. (d) Pembayaran biaya langsung non personil sebesar Rp17.00 4) KOMISI IV Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2011 yang terkait dengan Komisi IV DPR RI terdiri atas 3 (tiga) objek pemeriksaan. (b) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) satker Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan Balai Besar Taman Nasional (BBTN) Gunung Gede Pangrango (GGP) terlambat disetorkan.252.427.146.00. BAKN-DPR RI | 96 .LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 c) Kelebihan Pembayaran Kegiatan/Operasi dan Pengadaan Barang/Jasa sebesar Rp2.208. Temuan : a) Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan (a) Dalam Piutang Bukan Pajak terdapat beberapa kelemahan dalam pencatatan dan pelaporan piutang Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan DR pada Dishut Provinsi. (c) Didalam Belanja Barang per 31 Desember 2010 terdapat Belanja Jasa Konsultan sebesar Rp 17. b) Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern (a) Penyajian estimasi pendapatan tidak berdasarkan sistem yang berjenjang.017.013.00 dan Rp16.502. (b) Terdapat persediaan senilai Rp7.89 dan  tidak dilakukan rekonsiliasi atas piutang PSDH dan DR pada Dishut Provinsi berdasarkan pada dokumen sumber.905.586. d) Duplikasi Pendanaan Satuan Tugas Unit Polisi Berseragam (Formed Police Unit/FPU) Berpotensi Merugikan Negara Sebesar Rp6. yaitu  pelaporan piutang PSDH dan DR pada Dishut Provinsi belum didukung oleh dokumen sumber yang memadai sebesarRp166.089.515.311.024.326.. a) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEHUTANAN Opini Pemeriksaan : Laporan keuangan Kementerian Kehutanan tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian. dan asset tetap belum memadai.00.

648.092. (j) Penyelesaian Ganti Kerugian Negara Pada Kemenhut Belum Dilakukan Sesuai dengan Ketentuan yang Berlaku. AUD4.991.540. (b) Pengendalian atas pengelolaan jasa alih teknologi hasil penelitian di lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian belum memadai.446.00.932.889.216. (e) Kelebihan Pembayaran Sebesar Rp150.032.00.00.00. (b) Penerimaan sewa wisma tamu dan asrama pada Balai Besar Taman Nasional (BBTN) Gunung Gede Pangrango (GGP) tidak disetorkan ke kas negara dan digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN. BAKN-DPR RI | 97 .00 m2 Senilai Rp4.065. (b) Nilai aset tetap per 31 Desember 2010 Rp13.947. barang. EUR1.534.872. (f) Kelebihan Pembayaran Minimal Sebesar Rp5.00 tidak didukung bukti pertanggungjawaban yang sah.555.00 Atas Pengadaan Jasa Sewa Ruang Kelas dan Akomodasi Pada Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XVIII Manokwari.00 serta JPY1.730.00.853. aset tetap yang belum dilakukan inventarisasi senilai Rp60. (d) Pembayaran perjalanan dinas pada Kemenhut sebesar Rp7. Nilai tersebut termasuk aset tetap yang belum dilakukan penilaian kembali senilai Rp598. (h) Aset Tetap Berupa Tanah Seluas 35.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 c) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan PerundangUndangan (a) Dana pengelolaan Gedung Manggala Wanabakti (MWB) Kemenhut dikelola di luar mekanisme APBN.395.303.182.423.994.812. b) Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern (a) Sistem Aplikasi E-Plaq dan SIKAWAN QV untuk penerimaan jasa karantina tidak akurat.00 serta aset tetap yang tidak ditemukan senilai Rp76. (g) Terdapat Pemindahan Kas Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Pengeluaran Pembantu ke Rekening Pribadi.697.277.925. dan jasa dengan total nilai hibah sebesar Rp20.145.092. USD64. (i) Aktiva Tetap Masih Bermasalah Dengan Pihak Ketiga.363. Temuan : a) Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan (a) Kementerian Pertanian menerima hibah luar negeri baik berupa kas.45 Atas Kegiatan Pembangunan Markas Komando Satuan Polisi Reaksi Cepat Pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta Raya.000.685. Hibah tersebut dikelola di luar mekanisme DIPA APBN.802.659.00. b) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN PERTANIAN Opini Pemeriksaan : Laporan keuangan Kementerian Kehutanan tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian.953.250.00. (c) Pengelolaan hibah luar negeri pada Kemenhut belum sepenuhnya mempedomani ketentuan perundang-undangan yang berlaku. CNY12.574.326.948.00 Belum Bersertifikat.155.000.00.

540.93. (g) Perbedaan saldo asset tetap per 31 Desember 2010 antara SAK dengan SIMAK BMN sebesar Rp 10.00 (g) Pengadaan Bibit Sapi Potong Senilai Rp874.00.700. (f) Inventarisasi asset Rp 60.00.00.00 sehingga belum dapat dijadikan dasar perbaikan penyajian akun asset tetapdi Neraca.044.177.065.00 dan penilaian aktiva tetap senilai Rp 598. Temuan : a) Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Total asset tetap adalah Rp 7.948.00 pada Loka Penelitian Sapi Potong Grati Pasuruan Tidak Sesuai Keppres 80/2003 (h) Aset Tetap Berupa Tanah Kementerian Pertanian Belum Dilengkapi Bukti Sertifikat dan Pada Beberapa Lokasi Diokupasi Masyarakat.193.092.362.802.00 belum dapat dijelaskan.77 miliar.00.872.359.648.00 dan JPY 1. (e) Perjalanan Dinas Sebesar Rp2.158.89 miliar yang belum dinilai kembali dan tidak termasuk asset BAKN-DPR RI | 98 . (d) Sistem pencatatan dan pelaporan PNBP pada Loka Penelitian Sapi Potong Grati Pasuruan belum memadai untuk memastikan kelengkapan dan keakuratan PNBP yang dilaporkan.994.395.900.380.363.555.000. c) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan PerundangUndangan (a) Penerimaan negara bukan pajak atas pemanfaatan aset kurang dipungut sebesar Rp1.143.216.742. Selain itu terdapat asset yang tidak ditemukan Rp 76. EUR1 .932.155. (e) Pengelompokan jenis Belanja Barang sebesar Rp338.399.60 yang Belum Dapat Dipungut oleh Negara c) HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN Opini Pemeriksaan : Laporan keuangan Kementerian Kehutanan tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian. (d) Penerimaan hibah secara langsung pada Kementerian Pertanian tidak melalui mekanisme DIPA APBN 2010 senilai minimal Rp20.145.34 belum diterima Kas Negara.768.032.000.685.934.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (c) Pengendalian atas kegiatan dana kerjasama penelitian pada satker lingkup Balitbang Pertanian belum memadai.00.334.572. (c) PNBP dari jasa alih teknologi minimal sebesar Rp790.00.092.673.00.889.00 (f) Terdapat Kelebihan Penyaluran Dana Bansos BLM-PUAP Minimal Sebesar Rp2.00 pada saat penganggaran tidak sesuai kegiatan yang dilakukan.326.485.100.600. Nilai tersebut termasuk asset tetap Rp.000.697.853. CNY 12.00.00 dan Belanja Modal sebesar Rp898. AUD 4.952.400.299. USD 64. (b) PNBP dari pemanfaatan aset tidak disetorkan seluruhnya ke Kas Negara dan digunakan langsung sebesar Rp1. (i) Pemanfaatan Aset Milik Kementan oleh PT Riset Perkebunan Nusantara Belum esuai Ketentuan dan Terdapat Potensi Penerimaan Minimal Sebesar Rp1.060.659.000.00 Pada Kementerian Pertanian Tidak Didukung Dengan Bukti Yang Sah Serta Terdapat Kerugian Negara Sebesar Rp104.277.

123.00 yang berasal dari serah terima aset DJPT ke PSDKP tidak dapat diyakini kewajarannya.261. (b) Penatausahaan kas di bendahara pengeluaran tidak memadai.89 miliar yang belum selesai proses inventarisasinya. b) Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah sebagai berikut: (a) Pengelompokan jenis belanja pada saat penganggaran tidak sesuai kegiatan yang dilakukan senilai Rp1. (e) Tanah Pada Satker Balai Riset Perikanan Laut Seluas 2. posisi keuangan Kementerian Perhubungan tanggal 31 Desember 2010 dan 2009.Kelebihan Pembayaran Atas Pengadaan Jasa Konsultansi TA 2010 Pada Kementerian Kelautan dan Perikanan Sebesar Rp350. (c) Inventarisasi dan penilaian aset belum optimal sehingga aset tetap senilai Rp93. BAKN-DPR RI | 99 .586. a) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK. 7 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Laporan Keuangan dan 1 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT). jasa perkapalan dan jasa kepelabuhanan seperti yang diuraikan dalam paragraf di atas.912.560.00 dan US$340. (f) Kementerian Kelautan dan Perikanan belum menyajikan nilai investasi jangka panjang dari dana bergulir sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan. Neraca Kementerian Perhubungan tanggal 31 Desember 2010 dan 2009. c) 5) KOMISI V Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2011 yang terkait dengan Komisi V DPR RI terdiri atas 8 objek pemeriksaan.827.898.887. menyajikan secara wajar.00.15 belum dapat diyakini kewajaran nilainya.581.302.00 (c) Penetapan Biaya Langsung Personil Pada Pengadaan Jasa Konsultansi Tidak Didasarkan atas Audited Payroll (d) Kelebihan Pembayaran Perjalanan Dinas Sebesar Rp1. (d) Pencatatan aset eks deptan tidak memadai sehingga terdapat aset tetap senilai Rp32.438.058.189 m2 Belum Didukung Bukti Kepemilikan Yang Sah. Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang – Undangan (a) Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada Kementerian Kelautan dan Perikanan Terlambat Disetorkan ke Kas Negara (b) . serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.807. (e) Penambahan aset tetap Rp7.875.90 belum dicatat dalam neraca. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.850.20.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 tetap eks Kementerian Pertanian Rp.32.281.717. serta realisasi anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggaltanggal tersebut. kecuali untuk dampak tidak disajikannya Aset Tetap berupa Konstruksi Dalam Pengerjaan dan Piutang Bukan Pajak berupa jasa kenavigasian. dalam semua hal yang material.

00 Tidak Didukung dengan Bukti yang Sah. Neraca Kementerian PU tanggal 31 Desember 2010 dan 2009. kecuali untuk dampak persediaan dan aset tetap yang diuraikan dalam paragraph diatas. serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. 7 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Keuangan dan 5 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT).800. a) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN BUMN Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI.38. serta realisasi anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. b) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK. Laporan keuangan Kementerian BUMN tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (1) Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan Kementerian BUMN yang ditemukan BPK adalah sebagai berikut: (a) Penyimpanan dokumen pertanggungjawaban Keuangan Negara di Kementerian BUMN belum tertib. posisi keuangan Kementerian PU tanggal 31 Desember 2010 dan 2009. Temuan : (1) Investor Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Belum Melunasi Kewajiban kepada Badan Layanan Umum – Badan Pengatur Jalan Tol (BLU-BPJT) Berupa Nilai Tambah dan Denda Keterlambatan per 31 Desember 2010 Sebesar Rp21.010.772.012. (2) Bukti Pertanggungjawaban Realisasi Belanja Kegiatan Perjalanan Dinas pada Satker Pusat Kajian Strategis Sebesar Rp2. (c) Pengamanan aset Barang Milik Negara Kementerian BUMN masih belum memadai. dalam semua hal yang material. 6) KOMISI VI Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2011 yang terkait dengan Komisi VI DPR RI terdiri atas 12 objek pemeriksaan. (2) Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Perundang Undangan BAKN-DPR RI | 100 .684.289. (b) Perencanaan kegiatan pengadaan tidak dilaksanakan secara cermat.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Temuan : Aset Tetap Digunakan untuk Kepentingan Pribadi/Pihak Ketiga yang Tidak Sesuai dengan Tupoksi. sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. menyajikan secara wajar.

c) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI. 186 Tahun 2009. (b) Penatausahaan dan pelaporan Piutang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada Satker Bappebti tidak memadai. 2) Perjalanan dinas senilai Rp1. BAKN-DPR RI | 101 . (d) Pengelolaan dan penatausahaan BMN pada ITPC Budapest dan ITPC Hamburg belum tertib. (2) Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Perundang Undangan Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan adalah sebagai berikut: 1) Pembayaran Tunjangan Luar Negeri Kepala ITPC Budapest tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. b) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN PERDAGANGAN Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI. (c) Pengelolaan Persediaan pada beberapa Satker di lingkungan Kementerian Perdagangan belum tertib. 4) Aset Tanah Kementerian Perdagangan seluas 15. Laporan keuangan Kementerian Perindustrian tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian a. Laporan keuangan Kementerian Perdagangan tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (1) Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan Kementerian Perdagangan yang ditemukan BPK adalah sebagai berikut: (a) Pengelolaan dan pengendalian atas Kas di Bendahara Pengeluaran pada beberapa Satuan Kerja di Kementerian Perdagangan belum memadai. pemeriksa menjumpai klemahan sebagai berikut : 1) Pengklasifikasian Belanja Barang (MAK 52) dan Belanja Modal (MAK 53) masih terdapat beberapa kesalahan sehingga pnyajian Aset di Neraca berpotensi tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya.828 m2 belum disertifikatkan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No. Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Dari pengujian atas Sistem Pengendalian Intern yang ada.93 miliar tidak didukung dengan bukti yang sah.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 BPK menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan perundangundangan pada Kementerian BUMN karena belum selesai menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK RI tahun-tahun sebelumnya. 3) Pelaksanaan Kegiatan Pengadaan Peralatan Gudang Sistem Resi Gudang untuk 35 Gudang pada Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi tidak sepenuhnya sesuai dengan spesifikasi kontrak dan belum seluruhnya dimanfaatkan.058 m2 belum memiliki bukti kepemilikan yang memadai dan Aset Tanah seluas 92.

pemeriksa menjumpai kelemahan sebagai berikut : BAKN-DPR RI | 102 . Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Perundang-Undangan 1) Biaya akodomasi Assesor dalam kegiatan jasa akreditasi di pusat standarisasi industri tidak dikelola melalui mekanisme APBN. (f) Nilai dana bergulir pada KUMKM belum didasarkan pada system monitoring yang memadai. d) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI. tidak membuat kartu persediaan sbagai alat bantu.3jt pada Satker BLU LLP KUKM macet. e) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI. (c) Pengelolaan dana bergulir tidak sesuai ketentuan. (b) Penatana usahaan BMN belum sesuai ketentuan. 2) Tidak ada yang signifikan. (b) Tuntutan Ganti Rugi sebesar Rp154. (c) Penatusahaan dan Pencatatan Kas Bendaharawan Pengeluaran dan Kas Satker BLU belum memadai. (d) Penatausahaan PNBP pada BLU LLP KUKM belum memadai. Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Dari pengujian atas Sistem Pengendalian Intern yang ada.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 2) 3) 4) Pengelolaan persediaan pada 4 (empat) Satker lemah. 2) Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Perundang-Undangan BPK menemukan ketidakpatuhan. Laporan keuangan Badan Koordinasi Penanaman Modal tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualia a. (e) Penatauswahaan Piutang pada BLU LLP KUKM belum memadai. ketidakpaututan pada Kementerian Koperasi dan UKM yang dapat dijelaskan sebagai berikut : (a) Realiasi biaya perjalnanan dinas sebesar Rp1. Laporan keuangan Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian 1) Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Dari pengujian atas Sistem Pengendalian Intern yang ada. kecurangan. pemeriksa menjumpai kelemahan sebagai berikut : (a) Pengklasifikasian Belanja Barang (MAK 52) dan Belanja Modal (MAK 53) masih terdapat beberapa kesalahan sehingga pnyajian Aset di Neraca berpotensi tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya. . Terdapat 21 paket bantuan hibah yang belum dibuatkan BAST sehingga ada ketidakjelasan posisi aktiva tersbut.13 Miliar tidak didukung bukti. Penatanausahaan BMN pada beberapa Satker masih belum tertib.c.

Terdapat Aset Properti Eks BPPN Tidak Ditemukan Fisiknya dan Telah Dimanfaatkan Pihak Lain. Laporan keuangan Komisi Pengawas Persaingan Usahal tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian a.000.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 1) Pengklasifikasian Belanja Barang (MAK 52) dan Belanja Modal (MAK 53) masih terdapat beberapa kesalahan sehingga pnyajian Aset di Neraca berpotensi tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Dari pengujian atas Sistem Pengendalian Intern yang ada. 2) Pengelolaan persediaan pada 6 (empat) Satker lemah. Laporan keuangan Badan Standardisasi Nasional tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian a.00 d. pemeriksa menjumpai kelemahan sebagai berikut : 1) Kelemahan dalam SOP PNBP . f) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN STANDARDISASI INDONESIA Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI. Pengendalian dan Monitoring atas Aset Kredit Sisa Aset Eks BPPN yang Dikelola KPKNL Lemah b. BAKN-DPR RI | 103 (LHP) LAPORAN KEUANGAN BADAN . BKU ( Buku Kas Umum ) tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya.211. c. Terdapat Penetapan Status Penggunaan Aset Properti kepada Instansi Lain Belum Sesuai Ketentuan. 3) Penatanausahaan BMN pada beberapa Satker masih belum tertib. h) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU ATAS PENGELOLAAN SISA ASET EKS BADAN PENYEHATAN PERBANKAN NASIONAL (BPPN) Temuan Pemeriksaan a. g) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI. 2) Penatausahaan Persediaan belum memadai 3) Penatauswahaan Piutang pada KPPU belum memadai. tidak ada Berita Acara Pemeriksaan Fisik Akhir tahun. 2) Penatanausahaan BMN pada beberapa Satker masih belum tertib. Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern Dari pengujian atas Sistem Pengendalian Intern yang ada. Terdapat Kekurangan Penerimaan Hasil Lelang Aset Properti Tahun 2009 Sebesar Rp402. pemeriksa menjumpai klemahan sebagai berikut : 1) Pengklasifikasian Belanja Barang (MAK 52) dan Belanja Modal (MAK 53) masih terdapat beberapa kesalahan sehingga pnyajian Aset di Neraca berpotensi tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya.

30.534.411.792.00 sedangkan berdasarkan legal transfer tanggal 16 Februari 2004 terdapat 88 rekening dari 26 bank dengan nilai sebesar Rp51.184.000. Pengendalian atas Hasil Penjualan Tiket Penumpang Kapal Masih Lemah j) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU KEGIATAN PENGADAAN TAHUN BUKU 2009 DAN 2010 (SEMESTER I) PADA PERUSAHAAN UMUM PERCETAKAN UANG REPUBLIK INDONESIA Hasil Pemeriksaan Pengadaan Mesin Super Orlof Intaglio Produksi KBA Giori Tidak Sesuai ketentuan Perum Peruri.622.981.932.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 e. k) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN PADA PT KAI (PERSERO) PERIODE TAHUN 2009 S. Kementerian Keuangan tidak dapat menjelaskan kepada Tim BPK-RI perbedaan jumlah dan nominal atas aset Nostro tersebut.D.000.00 atau sebesar Rp319.125. i) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN PADA PT PELAYARAN NASIONAL INDONESIA (PERSERO)PERIODE TAHUN 2009 SAMPAI DENGAN SEMESTER I TAHUN 2010 DI JAKARTA Temuan Pemeriksaan Hasil pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern PT Pelni menunjukkan hal-hal sebagai berikut. SEMESTER I TAHUN 2010 BAKN-DPR RI | 104 . Hal-hal yang Perlu Diperhatikan 1) Permasalahan Terkait Aset Nostro Hasil pemeriksaan atas dokumen aset Nostro yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan. yaitu menurut catatan atas laporan Aktiva Bersih BPPN sebesar Rp478.51). diketahui hal-hal permasalahan sebagai berikut: a) Terdapat perbedaan aset Nostro berdasarkan Catatan atas Laporan Aktiva bersih BPPN per 30 April 2004 dengan legal transfer tanggal 16 Februari 2004.32 (kurs pada saat kontrak EUR1 = Rp13.888. Pengadaan dilakukan dengan metode penunjukan langsung kepada KBA Giori dengan nilai pekerjaan belum termasuk pajak sebesar EUR22. sehingga proses divestasi tidak dapat dilaksanakan. 2) Permasalahan terkait Pengelolaan Saham oleh PT PPA PT PPA belum menerima keputusan Menteri Keuangan mengenai Nilai Aset dan Harga Dasar aset saham . a. Karena Harga Dasar belum ditetapkan. b) Berdasarkan inventarisasi yang dilakukan Kementerian Keuangan pada tanggal 19 – 22 Mei 2009 ditemukan salinan/copy Financial Due Dilligence (FDD) dari 10 (sepuluh) bank dan data giro bank lain dalam valuta asing dan 20 BBO-BBKU dengan 142 rekening pada 65 bank di seluruh dunia pada Sistem Aplikasi Pengganti Bunisys (SAPB). maka PT PPA tidak dapat melakukan langkah pengelolaan lebih lanjut atas ketiga aset saham sesuai dengan jadwal di rencana kerja. PT Pelni belum Menerapkan Manajemen Risiko b.401.

Volume penyaluran pupuk bersubsidi yang disajikan dalam laporan subsidi pupuk PT PKT tahun 2010 tidak menggunakan formula perhitungan yang sesuai dengan Ketentuan c. DENPASAR DAN JAKARTA Hasil Pemeriksaan a. Temuan Terkait Perhitungan Subsidi Pupuk TA 2010 dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi 1.580. tidak jelas. Pengendalian atas Penjualan Tiket Penumpang Belum Sepenuhnya Memadai. PT PKT dalam Menghitung Jumlah Produksi dan Pemakaian Utilitas/Produk Menggunakan Data yang Belum Sepenuhnya Dapat Ditelusuri dan Andal 1) Perhitungan produksi dan pemakaian utilitas/produk menggunakan data yang belum sepenuhnya dapat ditelusuri 2) Perhitungan jumlah produksi dan pemakaian utilitas/produk menggunakan data yang kurang andal.20 3) Jumlah Subsidi Pupuk BPK RI mengoreksi positif perhitungan subsidi pupuk sebesar Rp59. 2.771.433 ton dan 56. l) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU ATAS PERHITUNGAN SUBSIDI PUPUK DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI TAHUN ANGGARAN 2010 PADA PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR DI BONTANG.912.592. 5.747. PT PKT mengoreksi biaya perhitungan Harga Pokok Penjualan pupuk bersubsidi dalam laporan subsidi pupuk TA 2010 belum berdasarkan kriteria yang jelas/baku 3.887.159. Perhitungan Subsidi Pupuk 1) Volume Penyaluran Pupuk Bersubsidi BPK RI telah mengusulkan koreksi positif atas volume penyaluran pupuk urea bersubsidi dan Zeorganik masing-masing sebesar 1.958. 2) Harga Pokok Penjualan (HPP) Pupuk Bersubsidi PT PKT menghitung HPP pupuk urea bersubsidi lebih kecil sebesar Rp61. SURABAYA.332. 3. Penanggung jawab pelaporan pergerakan KRL sejak dibubarkan Divisi Jabotabek.160. PT PKT menerima koreksi tersebut sehingga perhitungan subsidi pupuk PT PKT menjadi Rp1.03 dan Rp77.485. Asersi Manajemen PT PKT dalam Laporan Subsidi Pupuk TA 2010 Disajikan Belum Sepenuhnya Berdasar pada Informasi yang Objektif.040 ton dan koreksi negatif atas volume penyaluran pupuk NPK Pelangi sebesar 619. BAKN-DPR RI | 105 . PT KAI Belum Sepenuhnya Menerapkan Key Performance Indicator (KPI) dan Pemberian Renumerasi Pegawai Tidak Berdasarkan Kinerja Individu. b.98. MATARAM. 2.11.730. PT KAI Belum Menetapkan Uraian Tugas Untuk Pegawai di Bawah Level Junior/ Assistant Manager. sedangkan HPP pupuk NPK Pelangi dan Zeorganik lebih besar masing-masing sebesar Rp1.541.553 ton.224.75.349.076.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Hasil Pemeriksaan 1. PT KAI Belum Memiliki Pedoman Mengenai Pengambilan Kebijakan yang Menyimpang dari Ketentuan 4. MAKASSAR.

2) Pengelompokkan Jenis Belanja pada saat Penganggaran Belum Sesuai Kegiatan yang Dilakukan 3) Aset belum dicatat dan dilaporkan secara memadai (2) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan PerundangUndangan (a) Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Biaya Akreditasi Lembaga Sertifikasi Kompetensi dan Biaya Registrasi Sertifikat Kompetensi Pada Komisi Akreditasi Kompetensi Ketenagalistrikan (KAKK) Digunakan Langsung Tanpa Melalui Mekanisme APBN. (b) PNBP Terlambat Disetorkan di Lingkungan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Satuan Kerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas (Pusdiklat Migas) menyajikan realisasi pendapatan PNBP Lainnya dalam LRA per 31 Desember 2010 sebesar Rp72.610. f.00 BAKN-DPR RI | 106 . (c) Tujuh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Minyak dan Gas Bumi Belum Menyerahkan Jaminan Pelaksanaan Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi Senilai USD11. Laporan keuangan Kementerian BUMN tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian (1) Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan Kementerian BUMN yang ditemukan BPK adalah sebagai 1) Pencatatan dan Pelaporan Penerimaan Negara Bukan Pajak Sumber Daya Alam Pertambangan Umum (PNBP SDA PU) Belum Memadai.612.735. g.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 d.720.264.825.870. 10 yang meliputi Pemeriksaan atas Laporan Keuangan dan 8 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT). Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) antara Distributor dengan Pengecer di Kantor Pemasaran (KP) Jatim Tidak Mencantumkan Alokasi Penyaluran per Bulan.418. a) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN ESDM Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI.400.00.00 atau 53. e.00. Beberapa Pengecer di Wilayah KP Bali Menyalurkan Pupuk Bersubsidi Melebihi Alokasi dalam Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) Petani yang Memiliki Luas Lahan Lebih Dari 2 (Dua) Hektar Sesuai RDKK Masih Mendapat Alokasi Pupuk Bersubsidi Pengecer Mengadministrasikan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Kurang Memadai.009.00 (d) Kelebihan Pembayaran Perjalanan Dinas Konsultan pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sebesar Rp2. (e) Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan pada Tiga Satker Belum Dikenakan Denda Sebesar Rp1.053.700.23% dari total estimasi sebesar Rp136.000. 7) KOMISI VII Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2011 yang terkait dengan Komisi VII DPR RI terdiri atas 18 objek pemeriksaan.692.

941.484.00 Tidak didukung Bukti-bukti Yang Cukup (c) Penatausahaan Kas kurang memadai (d) Penatausahaan Persediaan KLH dan Pengamanan Aset Lain-lain Per 31 Desember 2010 Kurang Memadai Pemeriksaan Atas Kepatuhan Perundang-undangan (a) PNBP pada Empat Satker Terlambat Disetorkan ke Kas Negara.065.316. sehingga BAKN-DPR RI | 107 .825. Laporan keuangan Kementerian Ristektahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern (a) Pengelompokan jenis Belanja Barang pada saat penganggaran tidak sesuai kegiatan. (d) Penetapan Biaya Langsung Personil Sebesar Rp2. (d) Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) belum selesai mengidentifikasi dan belum menilai hasil-hasil penelitian yang berpotensi menjadi Aset Tak Berwujud. (b) Pengelolaan dan penatausahaan Kas di Bendahara Pengeluaran tidak tertib.00 atas Dua Paket Pekerjaan Jasa Konsultansi pada Dua Satker Tidak Didasarkan pada Bukti Audited Payroll (e) Dana Bergulir Berpotensi Tidak Tertagih Sebesar Rp6.355. (c) Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) belum selesai mengevaluasi laporan pertanggungjawaban keuangan pelaksanaan program insentif untuk mengidentifikasi perolehan Aset Tetap dari pelaksanaan program tersebut.071. b) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI.45 belum memiliki sertifikat.000.260.270.00 m2 dengan nilai minimal sebesar Rp36.578.662.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (f) Tanah yang tercatat pada satker PPPTMGB LEMIGAS seluas 49.000. (g) Aset tanah yang dimiliki Kementerian ESDM belum didukung dengan sertifikat.519.00 Tidak Didukung Bukti Pertanggungjawaban yang Sah.350.73 c) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN RISTEK Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI.727. Laporan keuangan Kementerian tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian Lingkungan Hidup Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern (a) Pengelompokan Jenis Belanja pada Saat Penganggaran Tidak Sesuai Kegiatan yang Dilakukan (b) Pembayaran atas Belanja Konsultan Sebesar Rp1. (b) Panitia/Pejabat Pengadaan Barang dan Jasa pada Dua Satker Tidak Menyusun Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Sesuai Dengan Keppres Nomor 80 Tahun 2003 (c) Pembayaran atas Belanja Perjalanan Dinas Sebesar Rp2.

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 KRT tidak dapat mengetahui dengan pasti berapa jumlah dan nilai Aset Tak Berwujud berupa paten. b. Realisasi belanja barang (MAK 52) sebesar Rp630. Hasil rekonsiliasi antara SAK dan SIMAK BMN LIPI Tahun 2010 menunjukkan selisih pada Aset Tetap Lainnya.90 juta. Pengelompokan jenis belanja pada saat penganggaran tidak sesuai dengan kegiatan yang dilakukan. BAKN-DPR RI | 108 . c. b. Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern a. Laporan keuangan Kementerian BUMN tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian 2. d.115.21 juta berada di pihak lain dan kondisinya tidak jelas.Undangan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) 6 satker ke Kas Negara terlambat antara 1 hari s. Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Perundang. Peralatan dan Mesin Puslit Oseanografi (P2O) senilai Rp6. Hasil kajian dan penelitian serta hak kekayaan intelektual BPPT belum seluruhnya dinilai. Pengelolaan Peralatan dan Mesin tidak tertib.d. Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern BPPT a. (e) Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) belum menghapus Aset Tetap yang kondisinya rusak berat atau fisiknya sudah tidak ada dan belum melelang Aset Tetap yang sudah ditetapkan SK Penghapusannya. Laporan keuangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian 2. Tanah dan Bangunan LIPI belum direvaluasi sehingga nilai Tanah dan Bangunan di Neraca Tahun 2010 tidak menunjukkan nilai yang wajar. 3. Pencatatan dan pelaporan persediaan beberapa satker kurang tertib c. Pemeriksaan Atas Kepatuhan Perundang Undangan (a) Pencatatan dan penyetoran PNBP di beberapa satker Kementerian Riset dan Teknologi belum tertib (b) Bukti perjalanan dinas beberapa pegawai Kementerian Riset dan Teknologi sebesar Rp1. f. 39 hari sebesar Rp11. Pencatatan dan pelaporan kas di bendahara pengeluaran kurang tertib.510. e) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA TAHUN 2010 1.56 juta tidak sesuai kenyataan dan diantaranya tidak dilaksanakan senilai Rp917. Aset hasil pengadaan tahun 2010 belum dilabelisasi sesuai kodefikasi dalam aplikasi SIMAK BMN.89 juta. e.78 juta tidak sesuai dengan karakteristik belanjanya. Opini BPK Atas Laporan Keuangan LIPI Tahun 2010 Menurut pendapat BPK RI.388. d) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI TAHUN 2010 1. Opini BPK Atas Laporan Keuangan BPPT Menurut pendapat BPK RI. d.

c. b. Pelaksanaan Program Pengembangan Kelembagaan tidak sesuai dengan Renstra LIPI dan tidak didukung SOP.50 juta di Satker Puslit SPMTP dan Pusat Inovasi terlambat disetorkan ke Kas Negara. Pengelolaan dan pembukuan PNBP kurang efektif untuk mendukung pelaporan Piutang PNBP. sehingga penkodefikasian persediaan yang tidak tertib melemahkan pengendalian intern. PNBP sebesar Rp841. Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Perundang Undangan Tidak ada temuan yang signifikan g) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN BAPETEN TAHUN 2010 1. 3. Penatausahaan persediaan di lingkungan Bapeten belum tertib. Belum seluruh jenis barang persediaan mempunyai Nomor Kodefikasi. Pemeriksaan Atas SPI pada BAPETEN a. b. Pemeriksaan Atas Kepatuhan Perundang Undangan a. c. Pengelolaan Belanja Barang dan Belanja Modal Tahun Anggaran 2010 tidak tertib sehingga fungsi penganggaran yang merupakan salah satu alat pengendalian intern tidak efektif. c. PNBP di satker Puslit Metalurgi dan Puslit SMTP tidak sesuai prosedur f) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN PADA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL TAHUN 2010 1. Pengelolaan BMN yang rusak berat belum tertib.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 g. Penatausahaan persediaan tidak tertib. e. Laporan keuangan Kementerian BAPETEN tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian 2. b. d. Status pinjam pakai tanah dan bangunan Kantor Pusat Bapeten dari Kemsetneg sudah habis dan belum diperpanjang. h) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN BADAN KOORDINASI SURVEI DAN PEMETAAN NASIONAL TAHUN 2010 BAKN-DPR RI | 109 . 3. Tarif dan jenis penerimaan di beberapa Satuan Kerja LIPI tidak sesuai/tidak diatur dalam PP Nomor: 75 Tahun 2007 tentang jenis dan tarif atas jenis PNBP yang berlaku pada LIPI. Penatausahaan Barang Milik Negara di beberapa satuan kerja belum dilaksanakan dengan baik sehingga kurangnya informasi nilai barang KIB dalam aplikasi SIMAK BMN melemahkan pengendalian intern. Opini BPK Atas Laporan Keuangan BATAN Menurut pendapat BPK RI. Laporan keuangan Kementerian Bantan tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian 2. Pemeriksaan Atas SPI Pada BATAN a. Opini BPK Atas Laporan Keuangan BAPETEN Menurut pendapat BPK RI.

a. Pencatatan dan pelaporan persediaan di beberapa satker Lapan belum tertib.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 1. Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Perundang Undangan BPK menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang signifikan dalam pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2010 dan pengelolaan aset pada Lapan. pemborosan sebesar Rp541. Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Perundang Undangan Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan. Penunjukan langsung pekerjaan jasa sewa berlangganan koneksi internet sebesar Rp432. Pemeriksaan atas SPI pada LAPAN Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan Lapan yang ditemukan BPK adalah sebagai berikut: a. Pekerjaan stock opname persediaan peta sebesar Rp150. c.93 juta fiktif. 4. Opini BPK Atas Laporan Keuangan LAPAN 2. i) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN LAPAN 2010 1. 3. Beberapa pekerjaan di satker-satker Bakosurtanal terdapat kelebihan perhitungan biaya sebesar Rp2. Potensi PNBP di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional belum seluruhnya Dimanfaatkan. Pencatatan Aset Tak Berwujud tidak sesuai dengan karakteristiknya dan nilainya sebagian sudah habis masa manfaatnya. Pengelolaan Kas di Bendahara Penerimaan kurang tertib.90 juta. Pengelolaan kas di bendahara pengeluaran di beberapa satker Lapan tidak tertib. d. Laporan keuangan Kementerian LAPAN tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian 3. BAKN-DPR RI | 110 .00 juta tidak sesuai ketentuan. Menurut pendapat BPK RI. sehingga nilai persediaan disajikan tidak sesuai dengan yang sebenamya. c. kecurangan dan ketidakpatutan adalah sebagai berikut: a.850.90 juta. b. Opini BPK Atas Laporan Keuangan Badan Koordinasi Survei Dan Pemetaan Nasional Tahun 2010 Menurut pendapat BPK RI.176. Terdapat Barang Milik Negara berupa tanah dan gedung/bangunan belum memiliki bukti kepemilikan yang sah dan dikuasai pihak ketiga.32 juta dan tidak dapat dinilai kewajarannya sebesar Rp1. Laporan keuangan Kementerian Badan Koordinasi Survei Dan Pemetaan Nasional tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian 2. b. b. Pengeluaran belanja barang untuk pengadaan bahan operasional kapal survei dan bahan-bahan survei lepas pantai sebesar Rp2.050. Penatausahaan persediaan kurang tertib.88 juta tidak dapat dipertanggungjawabkan dan prosedur lelang direkayasa. b. Pemeriksaan Atas SPI Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Tahun 2010 Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan Bakosurtanal yang ditemukan BPK adalah sebagai berikut: a. Akun Pendapatan Pelunasan Piutang Non Bendahara belum diketahui dokumen sumbernya (Surat Setoran Bukan Pajak). c.

08 pada BPPT Tahun 2010 Hasil Pemeriksaan 1) Pelaksanaan Belanja Lain-Lain di satker UPT Hujan Buatan tidak tertib. Proses pengadaan dilakukan melalui seleksi langsung. k) Pemeriksaan Laporan Keuangan Bagian Anggaran (BA) 999. Hasil Pemeriksaan Kepatuhan atas Peraturan Perundang-Undangan BPK menemukan adanya ketidakpatuhan dalam pengujian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai berikut :  Belanja Kelebihan Pembayaran Perjalanan Dinas Konsultan pada Belanja Lain-Lain Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sebesar Rp107.119. Pengadaan Barang dan Jasa Tahun 2009 dan 2010 pada lima pekerjaan sebesar Rp2. 3) Pengadaan Pesawat Terbang (Ex-Used) untuk digunakan dalam penelitian atmosfir dan penyemaian awan (hujan buatan).330. Penatausahaan persediaan perlengkapan kantor BPMIGAS tidak memadai.00. l) Laporan Keuangan Bagian Anggaran (BA) 999. c. Cibinong dan Bandung Ta 2009 Dan Semester I Tahun 2010 Temuan tentang kelemahan pengendalian intern. Pencatatan dan pelaporan aset tetap kantor perwakilan tidak memadai. m) Laporan Keuangan Pelaksanaan Belanja Barang Dan Belanja Modal LIPI Di Jakarta. Serpong.00 tidak tertib.703.739. Laporan keuangan Kementerian dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian BP MIGAS tahun 2010 Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern a. BAKN-DPR RI | 111 .LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 c. j) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) belum memproses usulan penghapusan aset tetap yang tidak digunakan PEMERIKSAAN LAPORAN KEUANGAN BADAN PELAKSANA KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI (BP MIGAS) TAHUN 2010 Opini BPK Atas Laporan Keuangan BP MIGAS Menurut pendapat BPK RI. b.600. 2) Jasa konsultansi penyiapan dokumen kajian pengadaan pesawat.D TRIWULAN III) 1) Kelemahan Pengendalian Intern dalam Proses Pengadaan Barang/Jasa 2) Perubahan pekerjaan perbaikan gedung I dan J Pusat Teknologi Bahan dan Radiometri tidak dilakukan dengan addendum. SERPONG DAN BANDUNG TAHUN 2009 DAN TAHUN 2010 (S.08 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun 2010. a. sehingga perhitungan nilai HPS tidak dapat dipertanggungjawabkan n) PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN PENGELOLAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN NEGARA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL (BATAN) DI JAKARTA. Pencatatan dan pelaporan akuntansi kantor perwakilan tidak memadai.

915 telah menyajikan perhitungan yang wajar sesuai dengan ketentuan : q) PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU ATAS LAPORAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN PADA PT PERTAMINA (a) Pertemuan Antara Direksi dan Organisasi Serikat Pekerja Perusahaan Tidak dilakukan Secara Rutin (b) Terdapat Kekosongan Sebanyak 74 Pekerja pada Satuan Pengawasan Intern (SPI) (c) Direktorat Pengolahan mengalami Kekurangan Jumlah Pekerja dan Kompentensi Pekerja di Kilang Perlu Ditingkatkan (d) Kompetensi Sumber Daya Manusia Divisi Keuangan Hilir dan Direktorat Pemasaran & Niaga Pertamina Belum Sesuai Dengan yang Dipersyaratkan (e) Risk Register Belum Ditandatangani oleh Direktur/Pimpinan Fungsi Masing-masing (f) Risk Register Direktorat Sumber Daya Manusia Tidak Memuat Risiko Personil yang Kurang Kompeten dan Terlatih (g) Alat Ukur Penerimaan Minyak Mentah dan Produk Kilang di Pertamina Masih Belum Optimal.145. a) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN AGAMA. BANDUNG.142. (i) Ketentuan Whistle Blowing System (WBS) pada Pertamina tidak mengatur tentang umpan balik antara pelapor dan penerima laporan (j) Corporate Shared Service (CSS) Belum Melakukan Pengujian Terhadap Media Backup Secara Periodik (k) Information and Communication Technology Master Plan (ICT Master Plan) Pertamina Belum Ditetapkan oleh Direksi 8) KOMISI VIII Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2011 yang terkait dengan Komisi VIII DPR RI terdiri atas 6 objek pemeriksaan.852.00.00 belum dimanfaatkan 2) Kehilangan 2 (dua) buah brankas pada satker Pusat Teknologi Dirgantara Terapan yang mengakibatkan kerugian negara senilai Rp102. b. Kelemahan Pengendalian Intern Perhitungan HPS tidak didukung data dan informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. p) PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN SUBSIDI LISTRIK TAHUN 2010 Berdasarkan hasil pemeriksaan. nilai subsidi listrik tahun 2010 Rp 58. SERPONG DAN BOGOR TA 2009 DAN TRIWULAN III TAHUN 2010 a. Kepatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-undangan 1) Hasil pengadaan barang senilai Rp1.530. pemecahan kontrak menjadi beberapa paket pekerjaan dan pekerjaan disubkontrakkan.596.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 o) PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN PENGELOLAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN NEGARA LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL (LAPAN) DI JAKARTA. BAKN-DPR RI | 112 .108. (h) Mekanisme Komunikasi Kepada Seluruh Pekerja atas Tindakan Pelanggaran Kode Etik di Pertamina Belum Ditetapkan.417.000.

Temuan Pemeriksaan (1) Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan (a) Saldo Kas Pada BLU per 31 Desember 2010 adalah sebesar Rp. (e) Terdapat Pembayaran Tunjangan Kepada Guru Yang Tidak Memenuhi Kriteria dan Keterlambatan Penyaluran Tunjangan (f) Terdapat Pendapatan Satker BLU Sebesar Rp. Nilai tersaji tersebut didalam nya meliputi saldo kas sebesar Rp.00 BAKN-DPR RI | 113 .296. (2) Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan Kementerian Agama yang ditemukan adalah sebagai berikut : (a) Pengelolaan Kas Oleh Bendahara Penerimaan. nilai PNBP TA 2010 disajikan sebesar Rp. dan Penyedia Barang Tidak Menyerahkan Hasil Pekerjaan Sesuai Dengan Spesifikasi yang Termuat Dalam Kontrak. Bendahara Pengeluaran.997. 10. (c) PNBP di lingkungan Kementerian Agama terlambat disetor ke Kas Negara sebesar Rp.191.358.346. 38. 1.897. (d) Penetapan Perhitungan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Tidak Didasarkan Pada Data yang Memadai. (3) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang Undangan (a) Sisa Uang Persediaan/Tambahan Uang Persediaan sebesar Rp.000. 2. 1. (b) Berkaitan dengan Pendapatan Negara dan Hibah. Kontrak Pengadaan Tidak Menyebutkan Spesifikasi Teknis Secara Jelas.765.00 terlambat disetor ke Kas Negara.67 miliar pada Universitas Islam negeri (UIN) Maulan Malik Ibrahim Malang yang tidak didukung dengan keberadaan fisik kas dan bukti-bukti pengeluaran kas yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan.273.88 Antara Nilai Koreksi Aset Tetap Berdasarkan Data Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Dengan Nilai Koreksi Yang Telah Terinput ke Dalam Aplikasi SIMAK BMN Kementerian Agama dan Pencatatan Aset Tetap Belum Tertib. (c) Terdapat Selisih Sebesar Rp. Nilai yang disajikan tersebut.139.827.00 yang Belum Disahkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.109.95 miliar. 132.00. 18. dan Pengelolaan Kegiatan Belum Tertib. 1.375. (c) Kesalahan klasifikasi pembebanan anggaran sebesar Rp.000.683. 40.08 miliar.. 683. (b) Pengelolaan Barang Persediaan Belum Tertib dan Distribusi Barang Persediaan dari Satuan Kerja Pemberi Kepada Satuan Kerja Penerima Belum Seluruhnya Disertai Dengan Nilai Perolehan. (b) Pencatatan dan pelaporan Saldo Kas pada BLU belum memadai. 1. Laporan keuangan Kementerian Agama tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian.24 miliar.420.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI.805. 1.227. Aset tetap yang dimiliki oleh Kementerian Agama belum didukung oleh bukti-bukti kepemilikan. belum disetor ke Kas Negara sebesar Rp.577.19 miliar. 1.00. tidak termasuk PNBP yang berasal dari penerimaan pada perguruan tinggi non BLU yang digunakan langsung di luar mekanisme APBN sebesar Rp.90 miliar dan penerimaan perguruan tinggi BLU yang belum disahkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) sebesar Rp.162. dan pendapatan jasa giro pada Rekening Bendahara Pengeluaran belum disetor ke Kas Negara sebesar Rp. 20 Rekening belum mendapat persetujuan dari BUN dan/atau KPPN.00 dan diantarnya digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN sebesar Rp.

705.321.00 belum dikenakan. sehingga tidak dapat dievaluasi penggunaannya.00 tidak dapat diyakini kewajarannya. Penatausahaan persediaan tahun 2010 di lingkungan Kementerian Sosial belum tertib 3. Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Pokok-pokok kelemahan dalam system pengendalian intern atas Laporan Keuangan Kementerian Sosial adalah sebagai berikut: a.64% dari realisasi belanja barang. dan relokasi rumah korban bencana alam tahun 2010 belum dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel. (h) Terdapat ketidakhematan pengeluaran biaya atas kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh satuan kerja di lingkungan Kementerian Agama selama tahun 2010 Sebesar Rp. diantaranya untuk belanja perjalanan dinas sebesar Rp405. rekonstruksi. (g) Denda keterlambatan atas penyelesaian pekerjaan pembelian barang/ pemborongan pekerjaan senilai Rp.Undangan Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan adalah sebagai berikut : BAKN-DPR RI | 114 . b. sehingga program Askesos sulit dievaluasi kinerja keuangannya dan pengelolaan sisa dana klaim oleh pelaksana yang sudah melewati masa pertanggungan 3 tahun berisiko disalahgunakan.00. yaitu tidak didukung dengan dokumen pertanggungjawaban yang sah sesuai ketentuan yang berlaku. 9.612.774. d.550.925.396.655.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (d) Pengalokasian dan realisasi anggaran dalam kelompok belanja yang tidak sesuai substansi kegiatannya dan terdapat bantuan sosial diberikan kepada satuan kerja lainnya dilingkungan Kementerian Agama. 2.00 atau 38.514.113.012.500.577.435.30 juta belum dipertanggungjawabkan.425. c. rekonstruksi dan relokasi rumah korban bencana alam di sepuluh provinsi senilai Rp29. dan pembangunan talud tidak dapat diselesaikan untuk kedua kalinya (f) Perhitungan harga satuan Biaya Langsung Personil (Remuneration) sebesar Rp. Penyaluran dana bantuan yang bersumber dari hibah dalam negeri sebesar Rp9. 3. Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang.104.467. 2. 2. Pengendalian atas pelaksanaan program Askesos lemah dan belum dilaporkan secara transparan. serta belum tercermin secara transparan dalam laporan keuangan.00 juta melalui kerja sama dengan Mabes TNI lemah dan pertanggungjawabannya tidak lengkap.049. b) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN SOSIAL Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI. sehingga tujuan merelokasi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana belum tercapai dan dana bantuan rehabilitasi. Terdapat ketidakpatuhan dalam mencairkan biaya perjalanan dinas.95 jaminan pelaksanaan belum disetor ke Kas Negara sebesar Rp. 3.00.054. Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Realisasi belanja barang tahun 2010 sebesar Rp1.000. Temuan Pemeriksaan 1. Pengendalian atas pelaksanaan kegiatan rehabilitasi.101. (e) Terdapat kelebihan pembayaran atas kekuarangan volume pekerjaan sebesar Rp.00.370. Laporan keuangan Kementerian Sosial tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian.607.

Aset Tetap yang dilaporkan tidak dapat diyakini kebenarannya karena belum termasuk Aset Tetap yang diperoleh dari BPIH. Rekonsiliasi dan Tanpa Penomoran pada Bukti Pendukung.447. Pengelolaan Setoran Awal. Saldo Kas dan Setara Kas-Terkait dan Pendapatan Ditangguhkan-Terikat per 31 Januari 2011 tidak dapat diyakini kebenarannya c.151.00 belum ada dasar hukumnya dan digunakan langsung untuk operasional b.770. dan dikelola oleh Kanwil dan Kantor TUH Jeddah yang dicatat dalam Daftar Inventaris Ruangan dan SIMAK BMN namun belum dilakukan pendaftaran ulang dan penilaian kembali.00 belum bersertifikat dan senilai Rp532. Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan a. Verifikasi tagihan pekerjaan pencetakan dan pengiriman kartu/formulir PKH dan imbal jasa penyaluran bantuan PKH belum optimal d. c. dikuasai. b.000.287. BAKN-DPR RI | 115 . f.27 Dari Data Jemaah Tunggu (Waiting List) Menurut Data Siskohat.640. Aset Tetap tanah senilai Rp66. d.278. c.189 dan 147 Transaksi Belum Dapat Diyakini Kewajarannya. Laporan keuangan Penyelenggaraan Ibadah Haji tahun 2010 dengan opini Tidak menyatakan pendapat (Disclaimer Opinion) Temuan Pemeriksaan 1.322.00 tidak didukung dengan dokumen yang sah. Pelunasan dan Pembatalan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Biasa pada BPS Tidak Didukung Pengendalian Yang Memadai. e.752. PIH Belum Memiliki Prosedur Baku yang Menjamin Seluruh Saldo Kas dan Setara Kas Tersaji dalam Laporan Posisi Keuangan dengan Benar. 285. d. Ketidaksesuaian Pencatatan Setoran Awal Haji Khusus antara Bank Mandiri dan SISKOHAT. b.499.244. dimanfaatkan. Transaksi Setoran Awal BPIH 1431 H/ 2010 M pada Rekening Menteri Agama pada Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri Masing-Masing Sebanyak 3.174. 2. Pencataan Buku Kas Umum (BKU) oleh Bendahara Pengeluaran Pemegang uang Muka BPIH Tahun 1431 H/2010 M Provinsi Sumatera Utara tidak melalui Proses Verifikasi.00 bersengketa dengan pihak lain c) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI TAHUN 1431 H / 2010 M.235. Pengelolaan PNBP belum tertib dan terdapat pungutan sebesar Rp712. Pengakuan dan pengukuran Hutang DAU dilakukan oleh PIH tidak konsisten setiap tahunnya dan tanpa dasar perhitungan serta tidak didukung dokumentasi yang memadai. Pertanggungjawaban biaya belanja perjalanan dinas sebesar Rp10. Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI. PIH tidak memiliki prosedur verifikasi dan rekonsiliasi yang dapat menjelaskan perbedaan cataatan dalam laporan keuangan dengan buku kas umum dan rekening koran Kanwil Kementerian Agama untuk memastikan hak Kementerian Agama atas asset tersebut terpenuhi. Nilai Saldo Setoran Awal yang Disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan PIH Tahun 1431 H Lebih Tinggi Disajikan Sebesar Rp. Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Temuan Kelemahan Atas Sistem Pengendalian Intern : a.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 a.

f.473.175. Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-Undangan Pokok temuan ketidakpatuhan adalah Jangka Waktu Kontrak Pekerjaan Pengaliran Lumpur Melebihi Satu Tahun Anggaran.267.004.093. Kekurangan Penerimaan Bunga Deposito Dana Setoran Awal dari Bank Mandiri Sebesar Rp. Besaran Ujrah (Management Fee) atas Penyelenggaraan Asuransi Jiwa Jemaah dan Petugas haji Indonesia Tidak Ditetapkan dalam Kesepakatan (Akad Wakalah Bil Ujrah) dengan Kementerian Agama Direktorat jenderal Pelayanan Haji dan Umroh. 1. Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang – Undangan Ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang material sebagai berikut : a. b.985. dan Pelaporan Realisasi Belanja Bantuan Sosial Belum Menjamin Bantuan Mencapai Sasaran.400(Equivalen Rp.650.39) Tidaj Ditempati Secara Maksimal.396.00 (Equivalen Rp.587.170.00. e) LAPORAN KEUANGAN BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA Opini Pemeriksaan BAKN-DPR RI | 116 . 2. b. d) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO (BPLS).644.637.20).022. 16. Tanpa Didukung Berita Acara Pelaksanaan Rekonsiliasi PJP2U/PSC.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 3. Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) serta Sistem Pencatatan Transaksi Belum Mendukung Penyusunan Laporan Keuangan.879. Pembayaran kepada 64 Pemilik Rumah yang Tidak Sesuai dengan Pedoman Penyewaan Rumah (Tasrih) sebesar SAR. e. Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI. Bukti Pertanggungjawaban Beban Pengeluaran Dalam Negeri pada Beberapa Kanwil Kemenag Tidak Dapat Diyakini Kebenarannya. h. d. g. 24.704. c.228. Laporan keuangan Kementerian Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian. Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern a.027.038.908. Pembayaran Selisih Pemondokan kepada Jemaah yang Tidak Berhak Sebesar SAR 905.757. 5.55 serta Belum Menerima Jasa Giro dan Bunga Deposito sebesar Rp. Pertanggungjawaban. Perhitungan Harga Satuan biaya Konsumsi di Armina Tidak Jelas Perhitungannya dan Pembayaran kepada Muassasah di Armina Tumpang Tindih dengan Pembayaran beban Maslahat Ammah Sebesar Rp. Pengelompokan Jenis Belanja pada Saat Penganggaran Tidak Sesuai Kegiatan yang Dilakukan 2. 28. 14. Temuan Pemeriksaan 1. Sistem Penyaluran.181.62) dan Pembayaran Sewa Rumah Sebesar SAR. c. Kementerian Agama Terlambat Menerima Hasil Optimalisasi Dana Setoran Awal BPS Sebesar Rp.137. 10.723.00. 333.00.762 (Equivalen Rp.

Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Pokok-pokok kelemahan dalam system pengendalian intern atas Laporan Keuangan BNPB adalah sebagai berikut: a. Laporan keuangan Kementerian Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA) Tahun Anggaran 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian. Laporan keuangan Badan Nasional Penanggulanan Bencana tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian.469. f) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK (KPP dan PA).723. b. Pengelompokan jenis belanja pada saat penganggaran tidak sesuai dengan kegiatan yang dilakukan sebesar Rp52.976. dari jumlah tersebut di antaranya sebesar Rp45.093.837. 3.00 berupa mobil rescue.708. Keterlambatan penyelesaian pekerjaan. Pengelolaan kas oleh bendahara pengeluaran di beberapa satker KPP dan PA belum tertib. Pembebanan anggaran kegiatan sebesar Rp.00. Opini Pemeriksaan Menurut pendapat BPK RI. 3.708. Pokok-pokok ketidakpatuhan adalah sebagai berikut: a.00.477.00 belum disetor ke Kas Negara. motor trail. 3. KPP dan PA belum mengusulkan dan memproses penghapusan asset tetap yang sudah tidak digunakan sebesar Rp.30 juta dan belum melaporkan biaya-biaya yang dapat dikapitalisasi untuk renovasi gedung dan bangunan yang dipinjam dari Seketariat Negara (Setneg) sebesar Rp. Temuan Pemeriksaan 1.000. d.500.713.051.244.30 juta tidak sesuai dengan karakteristik belanjanya.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Menurut pendapat BPK RI.374.583. c. Temuan Pemeriksaan 1.00. c.826. mobil komunikasi. perahu karet. Realisasi biaya perjalanan dinas diragukan kebenarannya sebesar Rp565.035. 156. Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang–Undangan. Pemungutan dan penyetoran pajak dan jasa giro atas kegiatan yang dibiayai dari dana hibah langsung tidak tertib.00 dan jasa giro sebesar Rp16. KPP dan PA belum mencatat biaya-biaya pemeliharaan tahun 2010 yang dapat dikapitalisasi sebesar Rp.889. BAKN-DPR RI | 117 .00 belum dipungut dan disetor ke kas negara.58 juta b.038. 2. Nilai persediaan dalam neraca belum sepenuhnya berdasarkan hasil stock opname.626. tenda. b.538. Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Nilai persediaan sebesar Rp110. 1. Pajak yang telah dipungut sebesar Rp44.00 dan kelebihan pembayaran perjalanan dinas sebesar Rp236.94 juta. dan peralatan komunikasi yang merupakan peralatan penanggulangan bencana dan telah dihibahkan ke daerah tetapi masih tercatat di Neraca BNPB karena belum mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan. Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Temuan atas Pengendalian Intern : a. namun rekanan/ kontraktor belum dikenakan denda sehingga denda minimal sebesar Rp39.096.

00 yang tidak disahkan dan/atau dilaporkan serta Belanja BLU RSCM sebesar Rp.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 2. 6.782.00.00.344. masih ada dana yang belum dibayarkan kepada pegawai yang berhak sebesar Rp.97 juta d.173. 80 Tahun 2003.00. 396.00. senilai Rp.444.00 tidak memiliki mekanisme pengendalian internal yang memadai (b) Didalam realisasi Belanja Pegawai (Bruto) termasuk belanja untuk pembayaran selisih kenaikan gaji dokter/bidan PTT.763.583. bukti pertanggunjawabannya tidak lengkap senilai Rp.634. BAKN-DPR RI | 118 .120. Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Perundang Undangan Temuan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan . Pertanggung jawaban perjalanan dinas pada KPP dan PA tahun anggaran 2010 tidak sesuai dengan bukti-bukti pengeluaran yang sebenarnya sebesar Rp. 517. 725. 213. (c) Didalam realisasi Belanja barang (Bruto) Rp.00. Permasalahan.900.00. sehingga gaji dokter/bidan PTT yang telah dilaporkan belum seluruhnya terjadi. a) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN KESEHATAN TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.555. Beberapa jenis barang hasil pengadaaan tahun 2010 belum dimanfaatkan sebesar Rp.549. 98. serta tidak dapat diyakini kewajarannya senilai Rp.330.  Belanja yang tidak didukung dengan bukti pertanggungjawaban senilai Rp.454. Penganggaran.838. 8.319. 73.000.150. a.600.8882. 591.270..770. Laporan keuangan Kementerian Kesehatan tahun 2010 dengan opini Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer Opinion).00 tidak dapat diyakini kewajarannya. Temuan : a) Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan (a) Didalam realisasi Pendapatan BLU termasuk Pendapatan Jasa Pelayanan pada Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta sebesar Rp 613. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa tahun anggaran 2010 di lingkungan KPP dan PA belum sesuai dengan Keppres No.204.. Terhadap hal tersebut tidak memiliki sistem pengendalian yang memadai.80 juta 9) KOMISI IX Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2011 yang terkait dengan Komisi IX DPR RI terdiri atas 5 objek pemeriksaan. dan pertanggungjawaban keuangan ragkap senilai Rp. 572.129. Sampai dengan pemeriksaan berakhir.00 yang disimpan pada rekening PT Pos Indonesia.570. c.866.443.346.488.673. 9.477. terdapat :  Belanja senilai Rp.155.983.  Belanja dari kegiatan yang dananya bersumber dari penerimaan Hibah Langsung BLN yang dikelola di luar mekanisme APBN senilai Rp. 26.70. pencatatan dan pelaporan hibah luar negeri belum sesuai ketentuan b.

(e) Didalam saldo Persediaan per 31 Desember 2010 termasuk persediaanpersediaan yang cukup material belum sepenuhnya berdasarkan hasil stock opname.00 BLU RSCM tidak dapat diyakini kewajarannya. 572.726.774.173.970.063.454.492.000. (c) Kebijakan pelaporan PNBP atas jasa giro dari rekening Jamkesmas tidak jelas.650.70.856. BAKN-DPR RI | 119 . 396. 2. 417. 9.477.398.00 belum disetor ke Kas Negara dan sebesar Rp. dan (m) Terdapat hasil pengadaan seniali Rp.533.549.770. 604. kelengkapan dan keakuratan PNBP yang dilaporkan. 65.945. 102.782.20 terlambat disetor ke Kas Negara.203.068.953. 138.583. 32. (g) Realisasi belanja BLU RSCM TA 2010 sebesar Rp. 141.00 dimanfaatkan tidak sesuai dengan peruntukannya.319.200.00 tidak dilaporkan.00 di lingkungan Kemenkes tanpa ada dasar hukum dan digunakan langsung di luar mekanisme APBN.344.00 dan digunakan langsung sebesar Rp. tidak cermat dalam menghitung HPS dan proses pengadaannya tidak melalui persaingan sehat.930.131.332. (e) Terdapat penerimaan Jasa Pelayanan Rumah Sakit di RSCM sebesar Rp.893.204. 9. (j) Pencatatan dan pelaporan piutang sebesar Rp. 5.00. (f) Terdapat belanja dan pengembalian belanja sebesar Rp.326.555. 86.000.00 belum disitribusikan dan sebesar Rp.566.000. (b) Sistem pencatatan dan pelaporan PNBP senilai Rp. (h) Dana kekurangan gaji dan insentif dokter dan bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) tahun 2010 sebesar Rp. b) Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern (a) Data SAI belum sepenuhnya dapat direkonsiliasi dengan data SAU serta Neraca SAK belum sepenuhnya dapat direkonsiliasi dengan Nerasa SIMAK BMN.503. 613.863. (k) Nilai persediaan sebesar Rp.916.522.500.00 terlambat disalurkan oleh PT Pos Indonesia (Persero) kepada yang berhak menerimanya.00 belum dimanfaatkan.634. (b) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tidak disetor ke rekening BLU RSCM minimal sebesar Rp.983.330.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (d) Pengadaan Alat Bantu Belajar Mengajar Pendidikan Dokter/Dokter Spesialis senilai Rp. (d) Pencatatan atas pendapatan jasa pelayanan sebesar Rp.838.776. 719.081.944.000. 1.00 pada satkersatker di lingkungan Kemenkes belum memadai untuk memastikan keberadaaan. 1.000.900.902.963.00.993.489.527.352. 3.725.61 tidak cermat serta tidak ada kejelasan dokumen sumber terkait pelaporan piutang.00 yang dilaporkan dalam Neraca Kemenkes per 31 Desember 2010 tidak dapat diyakini kewajarannya.00 belum dipungut serta sebesar Rp. (d) Penerimaan dana Hibah yang dikelola Kemenkes belum dipertanggungjawabkan melalui mekanisme APBN sebesar Rp.00 tidak dapat diyakini kewajarannya. 9. 98.406. (c) PNBP pada Kemenkes minimal sebesar Rp.477.00 belum diterima laporan pertanggungjawabannya. (l) Penatausahaan aset tetap belum memadai.00. (e) Kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan klasifikasi jenis belanja dalam DIPA sebesar Rp. c) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang – Undangan (a) Pungutan sebesar Rp. (i) Monitoring penyaluran dana Bansos di Lingkungan Ditjen Binkesmas belum maksimal sehingga Bansos sebesar RP.300.334.00 dan Pengadaan Alat Laboratorium Kesehatan Puskesmas dan Peralatan Rumah Sakit senilai Rp.002.

980. Temuan : a) Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan (a) Kemenakertrans belum menyusun kebijakan akuntansi atas asset berupa fasilitan perorangan untuk para transmigran. Hoesin Sebesar Rp. Laporan keuangan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian.275.462. 417.572.972. (p) Perjalanan dinas tidak didukung bukti yang valid mengakibatkan belanja perjalanan dinas minimal sebesar Rp. b) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KEMENAKERTRANS Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.00.090. (r) Aset Tetap belum bersertifikat atau belum didukung dengan bukti kepemilikan.948. 14.00 milik Kemenkes dikuasai pihak lain dan seluas 65.993.00 tidak dapat diyakini kewajaran harganya.780. 2.270.077. 497.570.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (f) Pemberian pelayanan RSUP Dr Moh.00 tidak didukung dengan dokumen pertanggungjawaban yang sah dan lengkap.50 miliar. 13.000. 213.428.000. 13. 1.000.460.00 dan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis sebesar Rp. 3.00 berindikasi merugikan Negara. (h) Proses Addendum pengadaan Alkes dan Kalibrasi di Pusat Sarana Prasarana dan Peralatan Kesehatan tidak sesuai dengan Keppres 80 tahun 2003.278.544. (t) Proses pemanfaatan lahan di lingkungan perkantoran Badan PPSDM Kesehatan belum dapat dilaksanakan disebabkan adanya sengketa atas kepemilikan lahan penghuni.270.35. peralatan dan mesin yang tidak ditemukan pada saat inventarisasi sebesar Rp.600. (q) Sisa pembayaran gaji dan insentif PTT terlambat dipertanggung-jawabkan sebesar Rp.00.190.726.000 m2 belum dapat ditelusuri keberadaannya.200. BAKN-DPR RI | 120 .118.300.00 serta selisih Kas di Bendahara Pengeluaran sebesar Rp.00 tidak dapat diyakini kewajarannya.827.492.763. 12.500. 250.966. (g) Denda atas keterlambatan penyelesaian pekerjaan sebesar Rp. (l) Pengadaaan Alat Bantu Belajar Mengajar Pendidikan Dokter/Dokter Spesialis Di Rumah Sakit Pendidikan dan Rumah Sakit Rujukan TA 2010 sebesar Rp.08 belum dikenakan kepada Penyedia Barang/Jasa. (m) Pengadaan Alat Laboratorium Kesehatan Puskesmas dan Peralatan Rumah Sakit Dana TP Dinkes Provinsi Jambi sebesar Rp.81 tidak terbayar.725. 6.253. 2. (n) Terdapat realisasi perjalanan dinas belum dipertanggungjawabkan sebesar Rp.926. (i) Terjadi kelebihan pembayaran terhadap Pembangunan Gedung sebesar Rp.69 miliar. 19.849 unit barang bernilai negatif sebesar Rp.547. (o) Terdapat perjalanan dinas sebesar Rp.00 dan kehilangan kas yang dikelola Bendahara Penerimaan/Pengeluaran sebesar Rp. 100. (k) Perhitungan HPS tidak cermat mengakibatkan indikasi kemahalan harga sebesar Rp.686. 1.00 berindikasi fiktif.905. 9. (s) Tanah minimal senilai Rp. 210. (b) Nilai peralatan dan mesin tersebut belum menggambarkan nilai yang sebenarnya karena adanya 2.787.063. (j) Kelebihan pembayaran karena kekuarangan pekerjaan penayangan televisi sebesar Rp.47 yang berindikasi merugikan Keuangan Negara.833.963.150.000.00 dan perjalanan dinas sebesar Rp.

59 miliar yang tidak dapat dijelaskan dan jumlah piutang yang tertagih dan tidak tertagih. (b) BKKBN telah melakukan koreksi atas hasil Inventarisai dan Penilaian kembali (IP) Aset Tetap.81 juta di 4 satker pusat dan 3 SKPD tidak sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. namun penyajiannya belum sesuai dengan nilai wajarnya. diantaranya ditemukan lebih catat sebesar Rp. (d) Nilai asset lain-lain belum sepenuhnya didasarkan pada hasil Inventarisasi dan nilai asset lain-lain sebesar Rp. 10. Laporan keuangan BKKBN tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian. (c) Penguasaan BMN pada BLKI Surabaya oleh Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur tidak sesuai ketentuan.073. c) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN BKKBN Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI. 4.15 miliar.75 .50 miliar dan kurang catat sebesar Rp. Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern (a) Catatan atas Laporan keuangan tahun 2010 belum mengungkapkan informasi secara memadai. dan mendesak bagi TKWNAP tahun 2010 pada Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Propinsi Jawa Timur disetorkan ke Kas Daerah. 14. Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan (a) Selama tahun 2010 telah disetor ke Kas Negara angsuran dana bergulir sebesar Rp. 20. (c) Nilai peralatan dan mesin belum menggambarkan nilai yang nilai yang sebenarnya. 13. (b) Pengelolaan PNBP di 4 satker pusat Kemenakertrnas tidak sesuai mekanisme APBN. sementara. BAKN-DPR RI | 121 . 2.72 trilyun tidak dapat diyakini kewajarannya. karena asal kelompok UPPKS penyetor tidak diketahui. (d) Prosedur pengadaan barang dan jasa senilai Rp. (e) Nilai pengalihan asset dari Kemenakertrans kepada BNP2TKI berbeda antar nilai asset yang tercatat dalam neraca Kemenakertrans dengan nilai yang disetujui Kementrian Keuangan. sehingga laporan tersebut tidak memberikan informasi yang memadai bagi penguna laporan keuangannya untuk mengambil keputusan. (e) Pertanggungjawaban biaya perjalanan dinas dibeberapa satker tidak sesuai dengan ketentuan sebesar Rp. Temuan : a. (f) Penyusunan catatan dan Laporan Keuangan di lingkungan Kemenakertrans tahun 2010 belum sesuai ketentuan c) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang Undangan (a) PNBP yang bersumber dari ijin kerja perpanjangan.. (b) Penatausahaan dan pelaporan persediaan peralatan fasilitas transmigran di Kemenakertrans belum memadai dan tidak konsisten.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 b) Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern (a) Penganggaran Belanja terkait Dana Operasional Menteri (DOM) dan dukungan kegiatan di Biro Keuangan Kemenakertrans tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.

080.d. (d) Pengelolaan administrasi pengadaan barang dan jasa Tahun Anggaran 2010 di Provinsi Jabar dan Kalimantan Selatan belum memadai. (d) Sistem pencatatan piutang bukan pajak BKKBN belum memadai untuk menyakinkan kelengkapan dan keakuratan piutang yang dilaporkan. tidak dapat diyakini kewajarannya. 31 juta. dan aset tetap/BMN berpotensi disajikan dalam neraca dengan nilai yang tidak sebenarnya. ketidakefektifan pengadaan barang/jasa yang dilakukan karena barang belum dimanfaatkan sepenuhnya. d) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang Undangan (a) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Guest House Graha Kencana (GHGK) BKKBN sebesar Rp. 2.530. (e) Status tindak lanjut pengelolaan dana bantuan modal usaha UPPKS yang masih outstanding di SKPD KB kebupaten/kota belum jelas. 5. tidak menjaminnya keamanan asset yang belum dibuatkan nomor inventaris dan kartu barangnya.102. BAKN-DPR RI | 122 .293. sehingga nilai piutang BKKBN yang tersaji dalam LK Tahun 2010 sebesar Rp.92 juta. 2.953.302. digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN. tidak dilaporkan dan digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN. berakibat kurang disetorkan ke Kas Negara sebesar Rp. 31 Desember 2010 tidak menggambarkan nilai yang sebenarnya dan fungsi penganggaran sebagai salah satu alat pengendalian intern tidak berjalan optimal.102. sehingga saldo belanja modal dan belanja barang yang disajikan pada LRA BKKBN periode 1 Januari s.656.500. pelaporan dan pengamanan Aset Tetap di beberapa Satker BKKBN belum memadai. (f) Selisih inventarisai dan penilaian Aset Tetap BKKBN belum dapat ditelusuri seluruhnya sehingga aset tetap hasil inventarisasi dan penilaian per 31 Desember 2010 belum dapat diyakini kewajarannya. (c) Pengelolaan pembukuan dan pengadministrasian kas oleh Bendahara Pengeluaran dan Pemegang Uang Muka (PUMK/BPP) di beberapa Satker BKKBN Tahun 2010 tidak tertib.51 juta pada tahun 2010 tidak disetorkan ke Kas Negara.10 juta belum dilaporkan kepada Bendahara Umum Negara dan belum melalui mekanisme APBN sebesar Rp. (b) PNBP Balai Latihan dan Pengembangan KB Nasional milik BKKBN tahun 2010 sebesar Rp. sehingga tidak memiliki bukti legal formal. pemborosan pengadaan barang yang belum dimanfaatkan sampai masa kadaluarsa. 13.00 yang tidak diketahui keberadaannya.903.40 juta tidak disetorkan ke Kas Negara. (c) Penganggaran. (e) Pencatatan . 6. 5. Laporan keuangan Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian.51 juta. pencatatan dan pelaporan penerimaan hibah secara langsung sebesar Rp. sehingga pencatatan dan laporan yang dibuat oleh Bendahara pengeluaran tidak dapat diyakini kehandalannya. 2.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (b) Pengelompokan jenis belanja di BKKBN TA 2010 tidak sesuai dengan kegiatan yang dilakukan sebesar Rp. Temuan : a) Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Terdapat asset sebesar Rp. 2. d) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BPK ATAS LAPORAN KEUANGAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.43 juta tidak dapat memberikan gambaran tingkat kolektibilitas piutang dana bergulir dan rincian debitur yang terkait.

920.00. (c) Penyelesaian pekerjaan pengadaaan barang/jasa tidak tepat waktu belum dikenakan denda keterlambatan sebesar Rp.039. b) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang Undangan (a) Terdapat kekurangan volume pada beberapa pekerjaan fisik dilingkungan BNP2TKI minimal sebesar Rp.250.434. Temuan : a) Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern (a) SOP untuk pencatatan hutang kepada pihak ketiga belum ada. 11.506. 101.308. 3.296.00 Belum Dilakukan.810. 2.880.Undangan (a) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak mengungkapkan jaminanjaminan bank yang dikelolanya minimal sebesar Rp.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 b) Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern (a) Sistem Pencataatn PNBP BPOM TA 2010 Tidak Tertib.00 belum dimanfaatkan. e) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN BNP2TKI TAHUN ANGGARAN 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI. 10) KOMISI X Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2010 yang terkait dengan Komisi X DPR RI terdiri atas 8 objek pemeriksaan.336.221. 297. (d) Penatausahaan Aset Tetap di Lingkungan BPOM Sebesar Rp.00 Belum Memadai.059.989.908.85 juta. (d) Aset Tetap senilai Rp.42 juta. BAKN-DPR RI | 123 .148. (b) Pengalihan status asset Kemenakertrans yang dikuasai BNP2TKI belum dilaksanakan. (b) Kas per 31 Desember 2010 sebesar Rp. 1.00 Belum Diberi Nomor Kode Register BMN.487. (b) Terjadi ketidakhematan pada kegiatan pembuatan dan pengadaan perlengkapan gedung BNP2TKI akibat penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang tidak akurat sebesar Rp.00 belum dapat dipertanggungjawabkan dan disetorkan ke Kas Negara. 134. Laporan keuangan BNP2TKI tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian.486.00.000.355. 2.00 dan terdapat ketidakhematan sebesar Rp. sehingga BMN Kemenakertrans yang telah dikuasai oleh BNP2TKI tidak terjamin statusnya akibat proses pengalihan status yang berlarut-larut. (f) Kapitalisasi atas Biaya yang Dikeluarkan untuk Renovasi dan Perbaikan Aset Tetap Sebesar Rp. 1. 1. 1.329.179.320. 4 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Keuangan dan 4 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT).239.225. (e) Sebagian Aset Tetap di Lingkungan BPOM Sebesar Rp. sehingga penatausahaan hutang kepada pihak ketiga belum dilakukan.009. (b) Saldo Hibah per 31 Desember 2010 Sebesar Rp. (c) Pengelompokan Jenis Belanja Pada Saat Penganggaran Tidak Sesuai dengan Kegiatan yang Dilaksanakan. c) Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang .218.400.31 Tidak Dicatat Dalam LK BPOM TA 2010.

00 yang tidak dilaporkan.833.409. BAKN-DPR RI | 124 .189.340.832.976. (3) Hasil Pemeriksaan terhadap Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan (a) PNBP/pungutan kementerian/lembaga (KL) yang tidak disetorkan ke Kas Negara.345.741.787.d VII senilai Rp26. Pekerjaan penggandaan/pencetakan buku Karakter Bangsa paket I s.491. 4.859. Proses Pengintegrasian Laporan Keuangan Satker PK-BLU Belum Memadai 2.00 berindikasi fiktif. Laporan keuangan Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010 dengan opini Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer Opinion).887.000. (2) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern 1.303. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan (a) PNBP yang dikelola di luar mekanisme APBN sebesar Rp25.63 Belum Dikapitalisasi 7.822.552.50 5.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 a) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI. Universitas Diponegoro Belum Dapat Mencatat Realisasi Belanja Hibah TA 2010 dari Islamic Development Bank (IDB) sebesar Rp26. (c) Realisasi belanja negara senilai Rp130.648.675.563.800.795.621.00 dan tidak dapat dipertanggungjawabkan (b) Penerimaan yang bersumber dari dana APBN sebesar Rp7. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) Belum Memberikan Informasi yang Memadai.596.00 tidak sesuai dengan perencanaan serta membebani DIPA Kemdiknas TA 2011 sebesar Rp4.000. (f) Terdapat persediaan buku dan peralatan praktek yang tidak dilaporkan sebesar Rp60.526.00 yang belum dapat ditelusuri dokumen sumbernya pada Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Negeri Malang dilaporkan sebagai realisasi pendapatan (c) Kemdiknas belum mencatatkan hibah yang diperoleh melalui satker Universitas Lampung minimal sebesar Rp5. (g) Saldo aset tetap sebesar Rp386.850.850.00.966.416.800.040.000.603. Pencatatan dan pelaporan PNBP Kemdiknas belum memadai untuk memastikan keakuratan PNBP yang dilaporkan.924. (d) Kemdiknas menyajikan realisasi belanja tahun anggaran 2010 sebesar Rp114. Penambahan Nilai Aset Tetap Sebesar Rp5.309.833. Sistem Pengendalian Intern atas Penatausahaan Aset Tetap pada Kementerian Pendidikan Nasional Belum Memadai 8. (e) Kemdiknas menyajikan akun Piutang dari kegiatan Operasional BLU sebesar Rp82.00. Pengakuan Realisasi Belanja BLU Tidak Memperhatikan Cut Off 3.477. (b) Hibah uang senilai Rp750.466.570.18 masih belum dapat diyakini kewajarannya.570. 6.00 belum dicatat dan barang milik negara yang bersumber dari hibah Pemprov Lampung senilai Rp4. tidak dilaporkan dan digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN sebesar Rp25.00 belum diproses hibah kepada DJPU.00 yang tidak dapat diyakini kewajarannya.795.675.00.382.00.

00 berindikasi kerugian negara dan sebesar Rp13.089.107.300.902.000.711.000.330.951.185. Kopertis Wilayah VII Jawa Timur dan Politeknik Negeri Malang Melebihi Standar yang Ditetapkan.291.00 tidak dapat diyakini kewajarannya.200.962.171.790.712.883. (h) Pelaksanaan Belanja Negara pada Satker di Lingkungan Kemdiknas Tidak Sesuai Ketentuan Sebesar Rp7.00 serta USD61.99.200.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (d) Pengadaan barang/jasa pada tiga satker di lingkungan Kemdiknas tidak selesai dilaksanakan senilai Rp55. (m) Pertanggungjawaban Belanja Senilai Rp5.152.262.00 Tidak Lengkap (n) Tunjangan Profesi dan Tagihan Beasiswa Tahun 2010 Kurang Dibayar Sebesar Rp61.00 Milik Universitas Negeri Malang oleh Sekolah Negeri Berpotensi Terjadi Sengketa (u) Tukar Menukar Aset Negara Antara Unhas dan Kodam VII Wirabuana Tidak Mengacu pada Prinsip Seimbang.843.000.141. (s) Tanah Milik Kemdiknas Belum Bersertifikat Seluas 2.807 m2 Senilai Rp2.00 (o) Belanja Bantuan Sosial di Lingkungan Kemdiknas Belum Disalurkan Sebesar Rp2.30 pada pekerjaan pengadaan barang dan/atau jasa di lingkungan Kemdiknas.748.00 (r) Kerjasama Unesa dan Unila dengan Yayasan Pembina Unesa dan Unila Tanpa Dasar Perikatan dan Belum Memberikan Kontribusi.000.449.262.685.978. (e) Kekurangan volume pekerjaan sebesar Rp1.00 (i) Denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan belum dikenakan dan belum disetor ke kas negara sebesar Rp5.450.079. Laporan keuangan Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan (a) Nilai persediaan disajikan sebesar Rp18. (f) Kelebihan Pembayaran Pengadaan Barang dan Jasa Sebesar Rp1.438.66 tidak diyakini kewajarannya.794.00 dan Rp17.353. (g) Pembayaran ganda atas belanja honorarium dan perjalanan dinas pada satker di lingkungan Kemdiknas sebesar Rp4.841.767.942 m2 dan Dimanfaatkan oleh Pihak Lain Tanpa Kerjasama yang Memadai (t) Pemanfaatan Aset Tanah Seluas 198.85 (j) Instansi/Lembaga/Perorangan Penerima Bantuan Sosial Belum MenyampaikanLaporan Pertanggungjawaban Penggunaan Dana Bantuan (k) Sisa dana bantuan sosial yang tidak tersalurkan (mengendap di pihak ketiga) belum disetor ke kas negara senilai Rp69.696.931. BAKN-DPR RI | 125 .00 (q) Kementerian Pendidikan Nasional Menggunakan Rekening yang Tidak Memiliki Ijin Kementerian Keuangan Sebanyak 43 Rekening dengan Saldo per 31 Desember 2010 sebesar Rp26.000.944.407.694.939.500.843 m2 Senilai Rp137.545.00.918.472.817.393. b) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.80 (l) Pembayaran Belanja Bantuan Sosial pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.613.627.028.00 dan Gedung dan Bangunan Seluas 3.871.00 (p) Harga Eceran Tertinggi atas Buku Teks Pelajaran Hasil Pengalihan Hak Cipta Belum Ditetapkan Sehingga Tidak Dapat Dimanfaatkan dan Berpotensi Pemborosan Sebesar Rp50.

304.283.000. (c) Penyaluran Bantuan Langsung Masyarakat PNPM Mandiri Bidang Pariwisata sebesar Rp4.422. Graha Lintas Properti tidak sesuai ketentuan.00 tidak selesai ketentuan.096.134. (f) Pelaksanaan perjalanan dinas tidak didukung bukti pertanggungjawaban yang seharusnya (g) Penyerahan aset tetap dan aset tetap lainnya kepada Pemerintah Daerah dan masyarakat sebesar Rp21. (b) Pengelompokan jenis belanja dalam penganggaran tidak sesuai dengan kegiatan yang dilakukan sebesar Rp46.143.422.821.424.00 (setelah dikurangi pajak).580.511.00 belum dipertanggungjawabkan.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (b) Saldo hutang kepada pihak ketiga per 31 Desember 2010 sebesar Rp1..717.000.000.424.328. pelaporan dan pengungkapan yang memadai.00.476.124. sehingga negara dirugikan sebesar Rp1.223. (3) Hasil Pemeriksaan Terhadap Sistem Pengendalian Intern (a) Proses penyusunan dan penyajian laporan keuangan Kemenbudpar belum sesuai ketentuan yang berlaku.998.717.462.821. (2) Hasil Pemeriksaan Terhadap Kepatuhan Peraturan Perundang-undangan (a) Pertanggungjawaban realisasi belanja pemeliharaan sebesar Rp1.00 dilakukan tanpa persetujuan Menteri Keuangan.00 tidak sesuai ketentuan (e) Pekerjaan pengembangan dan operasional E-Kiosk lebih bayar sebesar Rp380.00 dilaksanakan diluar mekanisme APBN.00 STP Bandung hanya formalitas untuk mencairkan anggaran. c) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMUDA DAN OLAHRAGA TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI..304. (d) Proses pengadaan pekerjaan penambahan daya listrik pada STP Bandung senilai Rp1. (h) Pemanfaatan Barang Milik Negara Kemenbudpar melalui mekanisme Bangun Guna Serah (BGS) dengan PT.00.610.149.638.810. Laporan keuangan Kementerian Pemuda dan Olahraga tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan BAKN-DPR RI | 126 .00. (e) Hutang kepada pihak ketiga sebesar Rp1.049.00 belum sesuai ketentuan. (c) Pelaksanaan pekerjaan pembangunan sarana ibadah STP Bandung senilai Rp2.00 pada STP Bandung yang dikelola di luar mekanisme APBN (off budget) dan tidak didukung pencatatan.998.250. (b) Pelaksanaan pekerjaan pembangunan ruang konvensi STP Bandung senilai Rp3. (c) Pengelompokan jenis belanja yang tidak sesuai dengan kegiatan yang dibiayai sebesar Rp46.000.480. (d) Pengelolaan Aset Bersejarah dan pengungkapan dalam Catatan atas Laporan Keuangan belum memadai.835.

504. (2) Hasil Pemeriksaan terhadap Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan (a) Penerimaan negara sebesar Rp38. (d) Bantuan sebesar Rp414. (e) Penggunaan dana bantuan Kemenpora sebesar Rp526.800.695.266.125.472. BAKN-DPR RI | 127 .625.00 oleh KOI tidak sesuai ketentuan dan sisa dana bantuan 31 Desember 2010 sebesar Rp1.620.140.00 tidak sesuai ketentuan.07 juta dari jasa keanggotaan Perpustakaan Tahun 2010.625.578. d) LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN PERPUSTAKAAN NASIONAL TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.816.610.00 di lingkungan Kemenpora tidak sesuai dengan ketentuan.947.500.302.266.155 penerima.00 belum dilaporkan realisasi penggunaannya oleh penerima bantuan.00 tidak menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana bantuannya.060.921. sebanyak 556 penerima bantuan senilai Rp405. (b) Sisa dana bantuan sebesar Rp10.000. (c) Kelebihan pembayaran sebesar Rp33.654.796.157.00 oleh penerima dana bantuan belum dilaporkan dan belum dikembalikan kepada Kemenpora untuk disetorkan ke Kas Negara.952. (b) Kelebihan pembayaran sebesar Rp14.000.00.00 juta dalam pelaksanaan pekerjaan pembuatan film dokumenter naskah kuno dan penayangan di media elektronik.994.845.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Realisasi penyaluran bantuan (block grant) kepada 1. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Aset Tetap Lainnya yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004 dan aset tetap Perpustakaan Blitar masing-masing sebesar Rp213.00 digunakan langsung tanpa mekanisme APBN.947. (3) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern Realisasi belanja barang tahun 2010 sebesar Rp1.00 dari Kemenpora dipertanggungjawabkan oleh PSSI tidak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dan pajak penghasilan kurang setor sebesar Rp167.224. (2) Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan (a) Penghapusan tarif pendaftaran Anggota Perpusnas oleh Kepala Perpusnas mengakibatkan hilangnya potensi PNBP sebesar Rp189. (c) Dana Dekonsentrasi 2010 di Propinsi Sumatera Selatan untuk membiayai program Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (SP3) sebesar Rp56.000.00 digunakan untuk pemberian dana bantuan (block grant) dan diantaranya sebesar Rp405.62 juta dalam pelaksanaan pekerjaan bantuan fasilitas layanan Perpustakaan Terapung untuk dihibahkan ke Perpustakaan Propinsi dan Kabupaten/Kota. Laporan keuangan Perpustakaan Nasional tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian. (f) Pertanggungjawaban biaya perjalanan dinas sebesar Rp419.061.89 juta belum dilakukan inventarisasi dan penilaian kembali.826.000.48 juta dan Rp32.00 dan jasa giro sebesar Rp2.00 belum disetorkan ke Kas Negara.

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

(3) Sistem Pengendalian Intern (a) Kesalahan penganggaran belanja barang sebesar Rp121,25 juta dan belanja modal sebesar Rp972,82 juta (b) Pengendalian pengelolaan, pencatatan dan pelaporan persediaan kurang memadai, sehingga tujuan pengendalian persediaan tidak tercapai, dan nilai persediaan dalam neraca tidak menyajikan saldo yang sebenarnya. e) Hasil Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu terhadap Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Dana Alokasi Khusus (Dana Alokasi Khusus (DAK)) Bidang Pendidikan TA 2007 s.d. 2010(Triwulan III)

Temuan Pemeriksaan: (1) Penetapan alokasi DAK Bidang Pendidikan Tahun 2007 - 2009 tidak didukung data teknis yang valid dan mutakhir. (2) DAK Bidang Pendidikan TA 2010 minimal senilai Rp4.090.056.110.000,00 tidak dapat dilaksanakan pada Tahun 2010. (3) DAK yang telah disalurkan pada akhir tahun 2010 sebagian besar tidak digunakan dan masih mengendap di Kas Daerah sehingga berpotensi digunakan untuk keperluan lain diluar DAK Bidang Pendidikan. (4) Dari 39 kabupaten/kota, hanya 19 kepala daerah yang mengirimkan laporan realisasi DAK Bidang Pendidikan sehingga evaluasi atas pencapaian Program DAK Bidang Pendidikan tidak dapat dilakukan secara menyeluruh. (5) Penetapan kebijakan paket pekerjaan rehabilitasi gedung sekolah tidak mempertimbangkan tingkat kerusakan ruang kelas dan paket pengadaan buku/alat peraga pendidikan tidak memperhitungkan kebutuhan sekolah. (6) Alokasi Dana Pendamping pada 18 kabupaten/kota dan Biaya Administrasi Umum pada 66 kabupaten/kota untuk DAK Bidang Pendidikan Tahun 2007 s.d Tahun 2009 lebih kecil dari ketentuan. (7) Alokasi DAK Bidang Pendidikan Tahun 2007 s.d Tahun 2009 pada 39 kabupaten/kota tidak sepenuhnya tepat sasaran karena terdapat sekolah rusak yang tidak mendapat alokasi DAK Bidang Pendidikan, sebaliknya sekolah yang berkondisi baik mendapat alokasi DAK Bidang Pendidikan. (8) Penyaluran DAK Bidang Pendidikan Tahun 2007, 2008 dan 2009 dari Kas Daerah ke sekolah terlambat. (9) Penyaluran DAK Bidang Pendidikan ke sekolah pada beberapa kabupaten/kota tidak sesuai dengan SK Penetapan Kepala Daerah.

f) Hasil Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu terhadap Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Tunjangan Profesi, Tunjangan Fungsional dan Dana Tambahan Penghasilan Guru TA 2009 dan 2010 pada Kementerian Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Kota Depok, Kota Bekasi, Kota Bogor dan Instansi Terkait Temuan Pemeriksaan: Sistem Pengendalian Intern (1) Organisasi pengelola program bantuan belum sepenuhnya didukung dengan komitmen, nilai integritas dan etika, serta jumlah pegawai yang memadai. (2) Hubungan kerja di antara organisasi pengelola program bantuan di setiap tingkatan belum sepenuhnya terkoordinasi. BAKN-DPR RI | 128

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

(3) Kualitas sumber daya para pengelola program bantuan untuk memahami peraturan perundangan-undangan terkait subsidi tunjangan guru kurang memadai. (4) Kebijakan terkait pemberian subisidi tunjangan tidak mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan. (5) Belum seluruh dinas pendidikan provinsi dan dinas pendidikan kabupaten/kota menyusun dan menyampaikan laporan realisasi pembayaran/rekonsiliasi tunjangan profesi dan tunjangan fungsional. Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan (1) Sebanyak 120 guru yang telah lulus sertifikasi Tahun 2009, belum ditetapkan dalam SK Penetapan Guru Penerima Tunjangan Tahun 2010 dan terdapat 170 guru yang ditetapkan dalam SK Tahun 2009 dan 2010 tidak memenuhi persyaratan. (2) Penyaluran subsidi tunjangan kepada guru terlambat dan dibayarkan tunai. (3) Penyaluran ganda dana subsidi tunjangan guru TA 2009 dan 2010 masing-masing senilai Rp3.539.323.310,00 dan Rp616.399.851,00. (4) Guru PNSD penerima tunjangan profesi Tahun 2009 dan 2010 masing-masing senilai Rp3.944.050.320,00 dan senilai Rp874.022.775,00 menerima tunjangan profesi tidak sesuai dengan gaji pokok setelah perubahan. (5) Sisa dana subsidi tunjangan guru sebesar Rp. 27.291.120,00 masih tersimpan di rekening bendahara pengeluaran dan sebesar Rp. 1. 338.650.000,00 belum disetor ke kas negara. g) Hasil Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu terhadap Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Dana Pendidikan Sumber Dana APBN TA 2008, 2009 dan 2010 yang Terkait Dengan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) pada SMPN 1 Jambi, SMPN 7 Jambi, SMKN 3 Jambi, SMKN 4 Jambi Temuan Pemeriksaan: (1) Penyusunan RKAS dan RAPBS pada SMP Negeri 7 Jambi Tidak Tertib; (2) Pembagian Urusan Pemerintah Provinsidan Kota Jambi atas pengelolaan SMP RSBI Belum Jelas dan Alokasi APBD Provinsi dan Kota Jambi terhadap Program SMP RSBI di Kota Jambi Tidak Sesuai Dengan RKAS. (3) Pengadaan Beberapa Paket Kegiatan Pada SMP dan SMK RSBI di Kota Jambi Sebesar Rp1.264.145.909,00 Tidak Sesuai Ketentuan dan Terdapat Indikasi Kemahan Harga Sebesar Rp45.037.000,00, Kelebihan Pembayaran Sebesar Rp17.724.294,70 Serta Sanksi Denda Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan Sebesar Rp1.076.000,00 Belum Dipungut; (4) Pengelolaan Aset/Barang Inventaris Hasil Pengadaan Dana RSBI Tahun 2008s.d.2010 Sebesar Rp1.073.083.557,23 Belum Memadai; h) Hasil Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu terhadap Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Belanja Lainnya (BA 999.08) Tahun 2010 pada Kementerian Pemuda dan Olah Raga di Jakarta. Temuan Pemeriksaan: (1) Dana Belanja Lain-Lain BA 999.08 TA 2010 sebesar Rp4.235.498.239,00 digunakan untuk kegiatan tahun 2011 dan pajak sebesar Rp471.101.517,41 belum disetor ke Kas Negara. (2) Saldo aset tetap dan persediaan eks dana BA 999.08 Kemenpora TA 2010 belum menggambarkan nilai yang sebenarnya. (3) Pengeluaran sebesar Rp562.244.800,00 yang dilaporkan sebagai realisasi BA 999.08 tidak dapat diyakini kebenarannya. BAKN-DPR RI | 129

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

11) KOMISI XI Pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2011 yang terkait dengan Komisi XI DPR RI terdiri atas 25 objek pemeriksaan, 17 obyek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Keuangan, 5 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Kinerja, dan 3 objek pemeriksaan merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDDT). a) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Kementerian Keuangan Nasional Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI, Laporan keuangan Kementerian Keuangan tahun 2010 dengan opini Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer Opinion). Temuan: (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan (a) Sistem pencatatan penerimaan perpajakan lemah sehingga terdapat transaksi pembatalan penerimaan (reversal) senilai Rp3,39 triliun yang tidak dapat diyakini data penggantinya. Transaksi pengganti memiliki perbedaan data yang signifikan dengan transaksi yang dibatalkan. (b) DJP tidak menggunakan dokumen yang sah sesuai dengan UU PBB untuk menagih PBB Migas tahun 2010 sebesar Rp19,29 triliun. (c) Pemerintah melaporkan PPN DTP Tahun 2010 Rp 11,28 triliun tidak sesuai dengan UU PPN. (d) Sistem Pencatatan piutang pajak masih menunjukkan kelemahan yaitu penambahan piutang menurut aplikasi piutang berbeda sebesar Rp2,51 triliun dengan dokumen sumbernya, yaitu Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atau Surat Tagihan Pajak (STP) dan pengurangan piutang PBB berbeda sebesar Rp1,03 triliun dengan penerimaanya. (2) Pengendalian Intern (a) Penerimaan Perpajakan menurut SAI senilai Rp645,20 miliar tidak dapat direkonsiliasi dengan penerimaan menurut SAU dan transaksi pembatalan Penerimaan Perpajakan senilai Rp3,39 triiiun tidak dapat diyakini kewajarannya. (b) Penerimaan Pajak yang berasal dari potongan SPM sebanyak 31.894 transaksi senilai Rp283,62 miliar tanpa NTPN tidak dapat diyakini kewajarannya. (c) Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersumber dari penjualan barang sitaanmasih disajikan secara neto. (d) Penatausahaan Kas di Bendahara Penerimaan pada KPPBC Madya Soekarno Hatta dan KPKNL Makassar belum tertib. (e) Pelaksanaan penatausahaan dan pencatatan barang persediaan pada KementerianKeuangan belum berjalan secara optimal. (f) Penatausahaan dan pengamanan Aset Tetap di lingkungan Kementerian Keuangan belum sepenuhnya memadai. (g) Pembangunan gedung sebesar Rp54,03 miliar di satker DJP dan GKN yang tidak terselesaikan berpotensi menimbulkan inefisiensi. (3) Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan.

BAKN-DPR RI | 130

(c) isa dana Surat Perintah Pencairan Dana Langsung (SP2D LS) terlambat dipertanggungjawabkan dan disetor ke kas negara sebesar Rp1. Laporan keuangan Kementerian Pembangunan dan Perencanaan Nasional/Bappenas tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan (Tidak ada) (2) Sistem Pengendalian Intern (1) Sistem Pengendalian dalam proses penyusunan Laporan Realisasi Anggaran pada Kementerian PPN/Bappenas kurang memadai. (c) Sistem pengelolaan.28 triliun melalui mekanisme Pajak Ditanggung Pemerintah tidak sesuai dengan UU PPN.32 miliar tidak didukung verifikasi dan validasi yang memadai. dan pelaporan Persediaan Perlengkapan Sensus Penduduk Tahun 2010 pada BPS tidak dilaksanakan secara memadai. (2) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern (a) Sistem pencatatan dan pengawasan PNBP penjualan publikasi /data pada beberapa satket belum memadai. c) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (a) Penyelesaian PPN sebesar Rp 11. BPS Kota Medan.605 eksemplar dengan nilai sebesar Rp.30 triiiun tidak diyakini kewajarannya. dan BPS Provinsi Sulawesi Selatan tidak tertib. (b) Hasil Inventarisasi Buku-Buku Koleksi Perpustakaan sebanyak 480. BAKN-DPR RI | 131 . Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan (a) sistem pencatatan dan pelaporan Aset tetap lainnya berupa Buku-buku koleksi Perpustakaan sebesar Rp. (b) Pengelolaan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan pada satker BPS Pusat. 4. 741. Laporan keuangan BPS tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian. 30. (3) Penatausahaan dan Pengamanan Aset Tetap di Lingkungan Kementerian PPN/Bappenas Belum Memadai. dan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Minyak dan Gas Bumi (PBB Migas) tidak sesuai dengan Undang-undang PBB dan Undangundang Migas sehingga realisasi PBB Migas sebesar Rpl9. (2) Aset tetap lainnya sebesar Rp.80 juta tidak dapat diyakini kewajarannya. b) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Kementerian Pembangunan Dan Perencanaan Nasional/Bappenas Tahun 2010\ Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.09 miliar tidak memadai karena belum seluruh BukuBuku tersebut disajikan dalam neraca. penagihan.08 miliar. pencatatan. (b) Penetapan.

38 miliar dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mengakibatkan BPKP menanggung beban listrik ruang ATM yang digunakan oleh PT BRI. e) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) TAHUN 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.98 juta masih disajikan sebagai aktiva tetap dan belum diproses sesuai ketentuan pengelolaan Barang Milik Negara (BMN).202 m2 dengan nilai sebesar Rp. (b) Proses pengadaan layanan Solution for Enterprises Network (SEN) oleh PT.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (d) Terdapat aset tanah seluas 284. Laporan keuangan BPKP tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian. (2) Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan (a) Kantor Pusat BPKP belum memperhitungkan biaya listrik terhadap ruang ATM yang digunakan oleh PT. konsumsi. (b) Pengadaan akomodasi. (3) Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan (a) Pengadaan generator set dan pemasangan instalasi untuk lima satker BPS Provinsi Sulawesi Tengah dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan. (d) BPS belum memperbarui Surat Keputusan Kepala BPS Nomor 79 Tahun 2000 mengenai Buku Petunjuk Pelaksanaan Penyelesaian Kerugian Negara sesuai ketentuan perundangan yang berlaku.54 miliar pada BPS belum bersertifikasi /didukung dokumen kepemilikan. Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara belum didukung legalitas kepemilikan yang jelas.84 juta. Telekomunikasi Indonesia Tbk tidak sesuai dengan ketentuan dan terdapat kelebihan pembayaran sebesar Rp35. (c) Tanah milik Perwakilan BPKP Provinsi Sumatera Selatan. Temuan : (1) Sistem Pengendalian Intern (a) BPKP belum memiliki Standar Operasional dan Prosedur (SOP) Pengelolaan PNBP (b) Pengelolaan persediaan di Kantor Pusat BPKP belum tertib. d) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan (BPKP) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI. (c) Pengadaan meubelair gedung 6 pada BPS Pusat senilai Rp2. tidak didukung dengan pengadministrasian yang baik. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern BAKN-DPR RI | 132 . sewa ruangan. Laporan keuangan LKPP tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian. (c) Aset tetap yang sudah tidak digunakan dan dalam kondisi rusak berat senilai Rp654. 45. dan spanduk peserta pelatihan instruktur daerah/korlap Sensus Penduduk 2010 pada BPS Provinsi Sulawesi Tengah dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan.

(b) Bank Indonesia mencatat biaya pelaksanaan percetakan uang sebesar Rp. d) Penghapusan kewajiban pengembalian biaya bantuan hukum bagi pelaksana tugas kedinasan BI yang dinyatakan bersalah oleh putusan hukum yang berkekuatan hukum tetap dalam PDG BI No. RS pada tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan ketentuan. BAKN-DPR RI | 133 .7/16/PDG/2005 dan PDG No. (b) Terdapat kelemahan sistem pengendalian intern pengelolaan kas di lingkungan LKPP. OHT dan Sdr. Laporan keuangan LKPP tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualian. dan Anggota Dewan Gubernur BI serta anggota supervisi Bank Indonesia belum memadai. e) BI belum menyetor pajak penghasilan (PPh) final sebesar Rp459. (b) Terdapat Aset Tetap Peralatan dan Mesin LKPP Perolehan Tahun 2010 Sebesar Rp342. (2) Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan (a) Proses pengadaan dan pengadministrasian dokumen lelang pekerjaan IT Plan Pengadaan Nasional tidak tertib dan terdapat kelebihan pembayaran sebesar Rp250.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (a) Pengelompokan jenis belanja pada saat penganggaran tidak sesuai kegiatan yang dilakukan. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan (a) Pelunasan obligasi bersumber dari surplus Bank Indonesia yang menjadi bagian Pemerintah dan dilakukan apabila rasio modal terhadap kewajiban moneter Bank Indonesia telah mencapai di atas 10%. mantan pegawai. (3) Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan a) Kewajiban imbalan pasca kerja program Tunjangan Hari Tua (THT) tidak dicatat sesuai ketentuan dan terdapat risiko berkurangnya kekayaan pendanaan program tersebut di YKKBI b) Belum ada kejelasan mengenai status BI sebagai pengusaha kena pajak.59 juta atas penerimaan sewa tanah dan bangunan. c) Pembayaran penghasilan kepada Sdr. (b) Pengendalian atas pembayaran biaya perjalanan dinas pegawai. 1. (c) Sistem pengendalian intern persediaan di LKPP belum memadai. (2) Sistem Pengendalian Intern (a) Defisit pendanaan DAPENBI per 31 Desember 2009 sebesar Rp147.560. 1.72 Juta Belum Dimanfaatkan.l 1/10/PDG/2009 tidak sesuai dengan asas kepatutan yang diatur dalam UU Keuangan Negara. f) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Bank Indonesia (BI) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.72 juta belum mencerminkan kewajiban BI yang sesungguhnya.52 triliun diantaranya sebesar Rp. (d) Pengelolaan dan penatausahaan aset tetap pada LKPP belum tertib.30 triliun masih bersifat sementara dan belum dituangkan dalam suatu kontrak antara BI dan Perum Peruri.31 juta. Cara pelunasan seperti itu dapat menimbulkan adanya ketidakjelasan mengenai saat dan jumlah pelunasan obligasi tersebut oleh Pemerintah di masa mendatang.

Penyaluran dana PMS kepada BC setelah tanggal 18 Desember 2008.361.000 ribu posisi 31 Desember 2010. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan a. h) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI. LPS mencatat Penyertaan Modal Sementara (PMS) pada Bank Mutiara Tbk sebesar harga perolehan yaitu Rp6. Pengelolaan Arsip di lingkungan LPS belum dilaksanakan dengan baik f.221. Belum ada tindak lanjut dari LPS terkait Piutang Denda Laporan Berkala BPR.762. b.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 g) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI. 4 Tahun 2008 ditolak oleh DPR sebesar Rp2. termasuk pengaruhnya terhadap laporan surplus defisit. yaitu setelah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.000 ribu tidak memiliki dasar (2) Sistem Pengendalian Intern a. Laporan keuangan STAN tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualiaan( WTP).73 Miliar Didanai Melalui Anggaran Belanja Barang (MAK 52) (b) Sistem Pengendalian atas Penerbitan Surat Perintah Membayar (SPM) Pengesahan STAN Belum Memadai (c) Penatausahaan Pembukuan oleh Bendahara BLU STAN Belum Sepenuhnya Tertib (d) Sistem Pengendalian Intern atas Pendapatan yang Berasal dari Kegiatan yang Dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Manajemen. Cadangan Khusus dan Cadangan Penjaminan pada Ekuitas LPS posisi 31 Desember 2010. sehingga LPS tidak menaksir jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount) dari nilai tercatat PMS pada neraca LPS. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern (a) Pengadaan Aset Tetap Berupa Buku Literatur Senilai Rpl. LPS belum memiliki kebijakan yang memadai terkait Piutang Denda yang masih ditanggung oleh Bank Dalam Likuidasi. Laporan keuangan LPS tahun 2010 dengan opini Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer Opinion). Terdapat anggota Komite Informasi yang berasal dari Bank Umum peserta penjaminan. b. Akuntansi dan Keuangan (LPMAK) Belum Memadai BAKN-DPR RI | 134 .886. LPS belum memiliki mekanisme penanganan klaim simpanan layak bayar pasca berakhirnya pelaksanaan likuidasi. e. c. LPS kurang optimal melakukan pengawasan terhadap Tim Likuidasi d.

dan pembayaran pajak bumi dan bangunan minyak dan gas bumi (PBB Migas) tidak sesuai dengan UU PBB dan UU Migas sehingga realisasi PBB Migas sebesar Rp19.83 triliun yang disajikan pada LKBUN Tahun 2010 belum dapat diyakini kewajarannya.41 juta diragukan keabsahannya.31 triliun termasuk penerimaan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar Rpl 1. (3) Hasil Pemeriksaan terhadap Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan (a) Penetapan. (c) Terdapat inkonsistensi penggunaan tarif pajak dalam perhitungan PPh Migas danperhitungan bagi hasil Migas sehingga pemerintah kehilangan penerimaan negara minimal sebesar Rp 1. Pengakuan. dan pencatatan penerimaan perpajakan sebesar Rp723. i) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara (BUN) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.30 triliun tidak diyakini kewajarannya.25 triliun tidak dipantau dan kekurangan PPh Migas sebesar Rp2. (d) Penerimaan Hibah langsung minimal sebesar Rp868.43 triliun.88 triliun yang merupakan pembayaran pembiayaan pendahuluan dari Bendahara Umum Negara (BUN) dalam rangka penarikan pinjaman luar negeri yang belum ada penggantian dari pemberi pinjaman. c.08) masing-masing sebesar Rp2.76 triliun termasuk Aset Tetap yang dikelola oleh LPP TVRI dan LPP RRI selaku Kuasa Pengguna Anggaran BA Belanja Lainnya (BA 999. (b) Pelaksanaan monitoring dan penagihan atas kewajiban PPh Migas tidak optimal sehingga selisih kewajiban PPh Migas sebesar Rp1. Saldo Uang Muka dari Rekening BUN sebesar Rp1. (2) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern (a) Penerimaan perpajakan menurut SAU senilai Rp965.74 triliun belum seluruhnya diinventarisasi dan direvaluasi sehingga nilai yang dicatat belum mencerminkan nilai wajar. b.43 miliar pada 18 KL belum dilaporkan kepada BUN dan dikelola diluar mekanisme APBN.28 triliun dan Pajak Bumi dan Bangunan Minyak dan Gas Bumi (PBB Migas) sebesar Rpl9. BAKN-DPR RI | 135 . penagihan. Nilai Aset Tetap yang disajikan per 31 Desember 2010 sebesar Rp15.30 triliun bermasalah. penagihan.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (2) Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan (a) Proses pemilihan langsung terhadap belanja barang pemeliharaan gedung/bangunan dan peralatan/mesin senilai Rp276.60 triliun belum ditagih.96 triliun dan Rp3. Laporan keuangan BUN tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualiaan ( WDP).40 miliar belum dapat direkonsiliasi dengan penerimaan menurut SAI dan transaksi pembatalan (reversal) penerimaan perpajakan senilai Rp3. (e) Uang Muka dari Rekening BUN sebesar Rp1. a.39 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan .28 triliun melalui pajak ditanggung pemerintah (DTP) tidak sesuai dengan UU PPN. (b) Penyelesaian PPN sebesar Rp11.

03) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.02) tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualiaan ( WDP). (c) Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan belum melakukan monitoring atas penyaluran dana hibah sebesar Rp70. Laporan keuangan Investasi Pemerintah (BA 999. (c) Pengembalian penarikan pinjaman proyek belum sepenuhnya didukung dengan dokumen sumber yang valid. Temuan : BAKN-DPR RI | 136 . (b) Notice of Disbursement (NoD) senilai Rp428.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (c) Terdapat aset eks Pertamina yang dipakai pihak ketiga tanpa didukung perjanjian sewa menyewa sehingga penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atas sewa belum dapat direalisasikan. belanja.02) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI. dan pengembalian hibah belum sepenuhnya memadai.01 Tahun 2010 mengandung kelemahan. k) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Hibah (BA 999.58 milyar belum didukung dengan Withdrawal Application (WA) dan/atau nota disposisi dari Bank Indonesia.03) tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualiaan ( WTP).999.01) tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualiaan ( WTP).01 miliar kepada pemerintah daerah (pemda). j) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Pengelolaan Utang (BA 999.02 tahun 2010 belum dapat diyakini kelengkapannya. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern (a) Aplikasi Sistem Akuntansi Utang Pemerintah (SAUP) dan aplikasi pendukungnya dalam penyusunan Laporan Keuangan BA 999. (2) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern (a) Sistem pengendalian intern atas pencatatan penerimaan.01) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI. Laporan keuangan Pengelolaan Utang (BA 999.43 miliar belum dilaporkan dan dimintakan pengesahannya.79 miliar dalam LRA BA 999. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Pendapatan hibah langsung yang diterima Kementerian Negara/Lembaga (KL) sebesar Rp868. l) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Investasi Pemerintah (BA. Laporan keuangan Hibah (BA 999. (b) Penerimaan hibah langsung oleh KL sebesar Rp864.

Penerusan Pinjaman Investasi Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI. n) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Bagian Anggaran Transfer Ke Daerah (BA 999.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat tidak secara konsisten mengatur pelaporan penerimaan yang bersumber dari laba BUMN. Laporan keuangan Bagian Anggaran Transfer ke Daerah (BA 999.63 triliun seharusnya tidak dicatat seluruhnya sebagai PNBP.05) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.19 Triliun belum didokumentasikan secara lengkap. Laporan keuangan Penerusan Pinjaman Investasi Pemerintah (BA 999. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Realisasi penerimaan PNBP yang berasal dari pengembalian pinjaman di muka sebesar Rp33.04) tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualiaan ( WDP). BAKN-DPR RI | 137 .05) tahun 2010 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualiaan ( WTP).04 Tahun 2010 Belum Didukung Dokumen Sumber yang Memadai dan dan Sistem yang Terintegrasi (b) Rekonsiliasi dalam Proses Penyusunan LK BA 999. (2) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern (a) Penyusunan Laporan Keuangan BA 999. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan BPK menambahkan paragraf penjelasan mengenai rincian Dana Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan (DBH PBB) dan DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (DBH BPHTB) bagian daerah per daerah penerima. (c) DJKN selaku pengguna anggaran tidak sepenuhnya dilibatkan dalam proses perencanaan atas Investasi Pemerintah.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern (a) Administrasi kepemilikan penyertaaan modal negara pada BUMN dan Non-BUMN sebesar Rp515. m) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Pemerintah (BA 999.97 miliar dan setoran saldo awal RDI/RPD/SLA Tahun 2010 sebesar Rp1.04 Tahun 2010 Belum Berjalan Efektif (3) Hasil Pemeriksaan terhadap Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-Undangan (a) Penerimaan atas pembayaran angsuran pokok dan pendapatan bunga Kredit Program belum disetorkan ke Rekening Kas Umum Negara sebesar Rp794. (b) Realisasi anggaran penerusan pinjaman Tahun 2010 relatif rendah.04) Tahun 2010 .77 miliar. (2) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern (a) Sistem pencatatan dan pelaporan atas PNBP yang berasal dari setoran tunai Pemdabelum memadai. (b) PMK 171/PMK.

08) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI.2010 belum diaudit sehingga belum ditetapkan nilai finalnya.08) tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualiaan ( WDP). (b) Terdapat alokasi anggaran setiap tahun dari Belanja Lain-lain untuk biaya operasional entitas yang belum jelas statusnya dan terdapat aset tetap pada entitas tersebut yang disajikan dalam Neraca LK BA BUN 999. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Belanja subsidi Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar Rp 11.69 triliun dan Rp4. Laporan keuangan Bagian Anggaran Belanja Lainnya (BA 999. (b) Pengalokasian Dana Penyesuaian tidak berdasarkan kriteria dan aturan yang jelas.05) tahun 2010 dengan opini Wajar Dengan Pengecualiaan ( WDP). (b) Realisasi subsidi pangan/beras tahun anggaran 2008 .72 miliar dari 15 kementerian negara dan Iembaga belum disetor ke kas negara per 31 Desember 2010.08 belum jelas status kepemilikannya serta belum seluruhnya dilakukan inventarisasi dan penilaian. (2) Hasil Pemeriksaan terhadap Sistem Pengendalian Intern (a) Terdapat alokasi biaya dari anggaran Belanja Lain-lain yang tidak sesuai dengan Nature of Account Belanja Lain-lain.90 triliun belum ada kejelasan status kepemilikan aset dan belum seluruhnya diinventarisasi dan direvaluasi sehingga nilai yang dicatat belum mencerminkan nilai wajar. Laporan keuangan Bagian Anggaran Transfer ke Daerah (BA 999. belum sepenuhnya (3) Hasil Pemeriksaan terhadap Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-Undangan (a) Penetapan alokasi dan penyaluran DBH Pajak TA 2010 mengalami keterlambatan. (c) Penempatan dana di rekening dana cadangan belum berdasarkan perkiraan yang handal (3) Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-Undangan Penyelesaian PPN sebesar Rp 11. BAKN-DPR RI | 138 . o) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Bagian Anggaran Belanja Subsidi (BA 999. Temuan : (1) Hasil Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Aset Tetap yang dikelola oleh LPP TVRI dan LPP RRI masing-masing sebesar Rp6.28 triliun belum sesuai UU PPN (2) Sistem Pengendalian Intern (a) Sistem pencatatan dan pelaporan utang subsidi kredit program pada kementerian keuangan belum memadai.28 triliun melalui Mekanisme Pajak Ditanggung Pemerintah tidak sesuai dengan UU PPN p) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Bagian Anggaran Belanja Lainnya (BA 999.07) Tahun 2010 Opini Pemeriksaan : Menurut pendapat BPK RI. (c) Sisa UP/TUP TA 2010 sebesar Rp5.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (b) Pencatatan DBH PBB dan BPHTB bagian daerah menggambarkanrealisasi yang diterima masing-masing daerah.

b. 4 Tahun 2009. apakah milik Yayasan Gadjah Mada atau Kementerian Pertahanan.91 juta tidak dapat dipertanggungjawabkan. 4 Tahun 2009. mengapa Menteri Keuangan menolak penerapan pasal-pasal yang ada dalam Permenlu No. REKOMENDASI BAKN 1) MITRA KERJA KOMISI I BAKN telah melakukan rapat konsultasi pembahasan dan pendalaman dengan BPK RI dan merekomendasikan sebagai berikut: a. Kedua proyek ini menggunakan anggaran Negara BAKN-DPR RI | 139 . c) Untuk meminta penjelasan kepada Kementerian Luar Negeri. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi I DPR RI: a) Meminta penjelasan kepada Kementerian Pertahanan tentang status tanah yang di ruilslag. Berkaitan dengan transaksi tukar menukar (ruilslag) tanah milik TNI AD dengan PT. tanah tersebut telah bersertifikat Hak Pakai No. Berkaitan dengan pelaksanaan anggaran berdasarkan Permenlu No. c) Meminta Kementerian Pertahanan untuk melakukan Inventarisasi Aset-Aset yang dimiliki. b) Untuk meminta penjelasan kepada Kementerian Luar Negeri.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 (3) Hasil Pemeriksaan terhadap Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-Undangan (a) Terdapat dokumen audited payroll yang berindikasi palsu sehingga biaya langsung personil sebesar Rp3. apakah ada yang bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan yang ada. b. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi I DPR RI untuk mengevaluasi program Penyediaan Jasa Akses Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan dan Penyediaan Pusat Layanan Jasa Akses Internet Kecamatan (PLIK) di Kementerian Komunikasi dan Informatika. Semantara menurut penjelasan TNI AD tanah tersebut adalah milik Yayasan Gadjah Mada. (c) Terdapat Kelebihan Pembayaran Sebesar Rp214. Mahkota Niaga Nusantara. 188 Tahun 1982 atas nama Dephan RI.85 miliar dan biaya kegiatan lainnya sebesar Rp21.95 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya dan penggunaan dokumen pendukung yang tidak sah sehingga biaya perjalanan dinas sebesar R1. (b) Pengadaan barang dan jasa pada tujuh Kementerian/Lembaga tidak sesuai dengan ketentuan.07 Juta karena Penggunaan Satuan Harga yang Tidak Sesuai dengan Standar Biaya Umum dan Kesalahan Perhitungan Pembayaran Rapel Tunjangan Kinerja. menentukan statusnya apakah milik Yayasan atau pihak lain. kemudian mengelompokkan berdasarkan status kepemilikannya tersebut. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi I DPR RI: a) Agar melakukan penelitian atas terbitnya Peraturan Menteri Luar Negeri No. b) Meminta penjelasan kepada Kementerian Pertahanan mengapa aset tanah yang tukar tambah (ruilslag) tidak terdaftar dalam SIMAK BMN Kementerian Pertahanan. 4 Tahun 2009 yang tidak sesuai dengan ketentuan. Hal ini karena sesuai bukti kepemilikan. 4 Tahun 2009 tersebut. sehubungan dengan rekomendasi BPK yang meminta Kemenlu mengembalikan kelebihan penggunaan anggaran karena penerapan Permenlu No. c.

BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi III DPR RI untuk melakukan pengawasan terhadap praktek Perjalanan Dinas Fiktif di setiap Kementerian dan Lembaga negara yang ada. karena berdasarkan hasil pemeriksaan BPK program ini tidak mencapai kinerja yang diharapkan.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 yang besar Tahun 2009 dan Tahun 2010. b) Mengevaluasi efektivitas program Kerjasama antara Ditjen Kesbangpol kementerian Dalam Negeri dengan Ormas/LSM/Organisasi Nirlaba Lainnya. Penyalahgunaan anggaran perjalanan dinas adalah modus yang selalu menjadi temuan audit BPK diberbagai Kementerian dan Lembaga Negara. b. b. Berkaitan dengan Pengelolaan Rumah Dinas di Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung (MA). Berkaitan dengan Kegiatan Kerja Sama antara Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri dengan Ormas/LSM/Lembaga Nirlaba lainnya. b) Meminta MA untuk mengambil kembali aset-aset negara yang dikuasai oleh pihak lain yang tidak berhak. BAKN-DPR RI | 140 . Penyalahgunaan anggaran perjalanan dinas adalah modus yang selalu menjadi temuan audit BPK diberbagai Kementerian dan Lembaga Negara. d. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi II DPR RI: a) Melakukan pengawasan atas pengelolaan dana bantuan Kesbangpol terhadap Ormas/LSM/Lembaga Nirlaba lainnya. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi III DPR RI: a) Meminta MA untuk memperbaiki manajemen pengelolaan rumah dinas dan melakukan inventarisasi atas aset-aset negara dilingkungan Mahkamah Agung. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi II DPR RI untuk menindaklanjuti adanya Kendaraan Dinas Milik Negara senilai Rp3. 3) MITRA KERJA KOMISI III BAKN telah melakukan rapat konsultasi pembahasan dan pendalaman dengan BPK RI dan merekomendasikan sebagai berikut: a. 2) MITRA KERJA KOMISI II BAKN telah melakukan rapat konsultasi pembahasan dan pendalaman dengan BPK RI dan merekomendasikan sebagai berikut: a. Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK RI praktek bantuan Ormas/LSM/Organisasi Nirlaba oleh Ditjen Kesbangpol ini sarat dengan berbagai penyimpangan. dalam implementasinya berdasarkan hasil uji petik pemeriksaan BPK RI berindikasi banyak masalah dan tidak sesuai dengan kinerja yang diharapkan.38 miliar yang dikuasai oleh angota KPU dan Pejabat yang sudah purna bakti. BAKN DPR RI mengharapkan Komisi II DPR RI segera meminta KPU untuk mengembalikan Kendaraan Dinas tersebut kepada Negara. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi I DPR RI untuk melakukan pengawasan terhadap praktek Perjalanan Dinas Fiktif di setiap Kementerian dan Lembaga negara yang ada.

00 dan JPY1.00 Belum Bersertifikat b. Meminta penjelasan Kepolisian RI atas sumber dan penggunaan dana Pengamanan Obyek Vital Nasional.446.395.00 Pada Kementerian Pertanian Tidak Didukung Dengan Bukti Yang Sah. d) Keterlambatan Pelaksanaan Tiga Paket Pekerjaan Pengadaan Belum Dikenakan Denda Minimal Sebesar Rp671.953.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 c.722.00.659.802. pembahasan dan pendalaman dengan BPK yang merekomendasikan sebagai berikut : a.485.177.362. Kementerian Kehutanan Meminta Menteri Kehutanan untuk meyelesaikan hal-hal sebagai berikut: a) Dana pengelolaan Gedung Manggala Wanabakti (MWB) Kemenhut dikelola di luar mekanisme APBN. b) PNBP dari pemanfaatan aset tidak disetorkan seluruhnya ke Kas Negara dan digunakan langsung sebesar Rp1.05 f) Perjalanan Dinas Sebesar Rp2.00 e) Kelebihan Pembayaran pada Kegiatan Rehabilitasi Gedung Kantor. Pembayaran Honor. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi III DPR RI: a.853. AUD4.092.45 Atas Kegiatan Pembangunan Markas Komando Satuan Polisi Reaksi Cepat Pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta Raya f) Aset Tetap Berupa Tanah Seluas 35.994. dana Pengamanan Obyek Vital Nasional rawan penyimpangan.00. Berdasarkan hasil uji petik pemeriksaan BPK. e) Kelebihan Pembayaran Minimal Sebesar Rp5. c) Penerimaan hibah secara langsung pada Kementerian Pertanian tidak melalui mekanisme DIPA APBN 2010 senilai minimal Rp20.303.00.000. Kementerian Pertanian Meminta Menteri Pertanian untuk meyelesaikan hal-hal sebagai berikut: a) Penerimaan negara bukan pajak atas pemanfaatan aset kurang dipungut sebesar Rp1. dan Pelatihan Sebesar Rp807.540.948.730. 4) MITRA KERJA KOMISI IV BAKN telah melakukan rapat konsultasi.399.334.00.380. EUR1.925.00.145.326.572. d) Pembayaran perjalanan dinas pada Kemenhut sebesar Rp7. CNY12.145.768. BAKN-DPR RI | 141 .000.534.994. baik yang berasal dari pemerintah maupun dari pihak swasta.516. Meminta Kepolisian RI untuk menyiapkan SOP atas Penerimaan dan Pengelolaan Dana yang bersumber dari Pengamanan Obyek Vital Nasional.000.00 m2 Senilai Rp4. Berkaitan dengan Pengelolaan PNBP khususnya pengelolaan dana Pengamanan Obyak Vital Nasional.648.991.00.00.277.179. c) Pengelolaan hibah luar negeri pada Kemenhut belum sepenuhnya mempedomani ketentuan perundang-undangan yang berlaku. g) Kelebihan Penyaluran Dana Bansos BLM-PUAP Minimal Sebesar Rp2. b) Penerimaan sewa wisma tamu dan asrama pada Balai Besar Taman Nasional (BBTN) Gunung Gede Pangrango (GGP) tidak disetorkan ke kas negara dan digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN.872. USD64.400.812.092.00 tidak didukung bukti pertanggungjawaban yang sah.00.032. b.

586.807.00 dan US$340. 6) MITRA KERJA KOMISI VI BAKN telah melakukan rapat konsultasi dan pendalaman dengan BPK yang merekomendasikan sebagai berikut : a.15 belum dapat diyakini kewajaran nilainya.887.250.852.912.776. Inventarisasi dan penilaian aset belum optimal sehingga aset tetap senilai Rp93. c.594.586.20 f) Tanah Pada Satker Balai Riset Perikanan Laut Seluas 2.261.261.00 c) Kelebihan Pembayaran Atas Pekerjaan Konstruksi TA 2010 Pada Kementerian Kelautan dan Perikanan Senilai Rp257. g) Inventarisasi dan penilaian aset belum optimal sehingga aset tetap senilai Rp93. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi V DPR RI untuk menindaklanjuti adanya Aset Tetap yang digunakan untuk kepentingan pribadi/pihak ketiga yang tidak sesuai Tupoksi di lingkungan Kementerian Perhubungan.00 e) Kelebihan Pembayaran Perjalanan Dinas Sebesar Rp1. BAKN-DPR RI | 142 . Kementerian Kelautan Dan Perikanan.887. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada Komisi V DPR RI untuk melakukan pengawasan terhadap praktek Perjalanan Dinas Fiktif di setiap Kementerian dan Lembaga negara yang ada.18 d) Denda Keterlambatan atas Empat Paket Pekerjaan TA 2010 Pada Kementerian Kelautan dan Perikanan Belum Dikenakan Senilai Rp213. sehingga tidak menjadi wilayah yang samar (grey area) jika tidak dapat dibuktikan dan menyalahi aturan yang berlaku maka harus dikembalikan ke Negara.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 h) i) Aset Tetap Berupa Tanah Kementerian Pertanian Belum Dilengkapi Bukti Sertifikat dan Pada Beberapa Lokasi Diokupasi Masyarakat.189 m2 Belum Didukung Bukti Kepemilikan Yang Sah.850. Meminta Menteri Pertanian untuk meyelesaikan hal-hal sebagai berikut: a) Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada Kementerian Kelautan dan Perikanan Terlambat Disetorkan ke Kas Negara b) Kelebihan Pembayaran Atas Pengadaan Jasa Konsultansi TA 2010 Pada Kementerian Kelautan dan Perikanan Sebesar Rp350.717.15 belum dapat diyakini kewajaran nilainya. b. Penyalahgunaan anggaran perjalanan dinas adalah modus yang selalu menjadi temuan audit BPK diberbagai Kementerian dan Lembaga Negara.438. Kementrian Perdagangan Harus tegas dalam penegakan aturan dalam masalah Belanja Perjalanan Dinas (baik rutin maupun proyek seperti Belanja perjalanan Dinas untuk Konsultan). BAKN DPR RI mengharapkan Komisi V DPR RI segera meminta Kementerian Perhubungan untuk mengembalikan aset tetap yang dikuasai pihak lain tersebut kepada Negara. 5) MITRA KERJA KOMISI V BAKN telah melakukan rapat konsultasi pembahasan dan pendalaman dengan BPK RI dan merekomendasikan sebagai berikut: a.

Kementerian BUMN Menginstruksikan kepada Direksi PT Perum Peruri untuk menjelaskan dan menuntaskan masalah pengadaan barang di BUMN tersebut dengan menjatuhkan sanksi kepada pejabat-pejabat yang bertanggungjawab. sehingga ke depan hanya ada satu sistem pencatatan atau dua sistem yang bisa langsung real time direkonsiliasi.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 b. 7) MITRA KERJA KOMISI VII BAKN telah melakukan rapat konsultasi dan pendalaman dengan BPK yang merekomendasikan berikut : a.  Kementrian EDM perlu segera menuntaskan masalah Aset (Barang Milik Negara ) dengan membentuk Tim Inventarisasi yang melibatkan Lembaga eskternal seperti BPKP sehingga Masalah Aset tidak menjadi masalah yang berlarut-larut. Kementerian Lingkungan Hidup  Harus tegas dalam penegakan aturan dalam masalah Belanja Perjalanan Dinas (baik rutin maupun proyek seperti Belanja perjalanan Dinas untuk Konsultan). dalam penatausahaan aset eks BPPN. sehingga tidak menjadi wilayah yang samar (grey area) jika tidak dapat dibuktikan dan menyalahi aturan yang berlaku maka harus dikembalikan ke Negara.  Atas masalah Biaya Perjalanan Dinas Kementrian Harus tegas dalam penegakan aturan dalam masalah Belanja Perjalanan Dinas (baik rutin maupun proyek seperti Belanja perjalanan Dinas untuk Konsultan). Kementrian ESDM  Atas selisih antara SAU dengan SAI pada Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan harus membentuk Tim Terpadu untuk penyelesaian selisih yang sangat signifikan tersebut. b) Membentuk Tim untuk menilai kewajaran transaksi penjualan aset Bintan dan penyelesaian selisih pencatatan aset Nostro. c.  Perlu mekanisme pengawasan yang lebih akuntabel atas Dana Bergulir di Kementrian LH. Kementerian Keuangan a) Segera melakukan inventarisasi atas semua aset eks BPPN tersebut dan melakukan pembenahan yang menyeluruh atas system pengendalian. b.  Atas pengelolaan PNBP di Kementrian ESDM perlu audit khusus pengelolaan (penatausahaan)-nya dan optimaliasi penerimaan PNBP-nya mengingat potensi yang cukup besar menambah penerimaan negara. sehingga tidak menjadi wilayah yang samar (grey area) jika tidak dapat dibuktikan dan menyalahi aturan yang berlaku maka harus dikembalikan ke Negara. BAKN-DPR RI | 143 .

156. d) Pertanggungjawaban biaya belanja perjalanan dinas sebesar Rp10.244.887.444. 9.287.00 belum didukung oleh kepemilikan dan 291 unit kendaraan bermotor senilai Rp. 2. sehingga berpotensi menjadi bermasalah di masa mendatang dan terdapat potensi penerimaan negara yang tidak dapat diperoleh dari pemanfaatan pihak lain untuk kepentingan komersial. Kementerian Agama Meminta Menteri Agama untuk meyelesaikan hal-hal sebagai berikut a) Aset tetap yang dimiliki oleh Kementerian Agama belum didukung oleh buktibukti kepemilikan. serta pengendalian dan pengawasan oleh atasan langsung terhadap kegiatan perjalanan dinas di masing-masing satker belum efektif. b) PNBP di lingkungan Kementerian Agama terlambat disetor ke Kas Negara sebesar Rp.000.499. dan pembangunan talud tidak dapat diselesaikan untuk kedua kalinya BAKN-DPR RI | 144 . 3.157.578.30 juta belum dipertanggungjawabkan.151. belum disetor ke Kas Negara sebesar Rp.00 juta melalui kerja sama dengan Mabes TNI lemah dan pertanggungjawabannya tidak lengkap b) Penyaluran dana bantuan yang bersumber dari hibah dalam negeri sebesar Rp9.00 tidak didukung dengan dokumen yang sah.994.370.299 belum didukung oleh bukti kepemilikan.00 dan diantarnya digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN sebesar Rp.212. tanah atas nama Kementerian Agama Seluas 1.897.088.113.683.774.322. 4. Hal tersebut disebabkan penatausahaan aset tetap terkait dengan bukti kepemilikan dan pemanfaatan oleh pihak lain.95.00 belum didukung oleh dokumen Akte Ikrar Wakaf. 18.465 m2 senilai Rp. c) Pengelolaan PNBP belum tertib dan terdapat pungutan sebesar Rp712.00 c) Terdapat kelebihan pembayaran atas kekurangan volume pekerjaan sebesar Rp.00 belum bersertifikat dan senilai Rp532.375.821. sehingga tidak dapat dievaluasi penggunaannya. serta penyelesaian aset-aset yang bersengketa pihak lain belum optimal.425.278.00 belum ada dasar hukumnya dan digunakan langsung untuk operasional.00 telah diakui tidak dilaksanakan. e) Aset Tetap tanah senilai Rp66. jaminan pelaksanaan belum disetor ke Kas Negara sebesar Rp.183 m2 senilai Rp.00.752.396. 1.000.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 8) MITRA KERJA KOMISI VIII BAKN telah melakukan rapat konsultasi.770. yaitu terdiri dari tanah wakaf seluas 65.500. Dari jumlah tersebut diantaranya sebesar Rp1.296.346.00 bersengketa dengan pihak lain.805.447.420.577.809.946.000. rekonstruksi dan relokasi rumah korban bencana alam di sepuluh provinsi senilai Rp29. Kementerian Sosial Meminta Menteri Sosial untuk meyelesaikan hal-hal sebagai berikut: a) Pengendalian atas pelaksanaan kegiatan rehabilitasi.273. b. Hal ini disebabkan pencairan belanja perjalanan dinas tidak menggunakan dokumen sebenarnya sesuai ketentuan yang berlaku.00. 9. pembahasan dan pendalaman dengan BPK yang merekomendasikan sebagai berikut : a. sehingga berisiko terjadi penyimpangan dan tidak dapat diyakini kewajarannya.640. Pejabat Pembuat Komitmen dan bendahara pada masing-masing satker tidak cermat meneliti bukti-bukti pertangungjawaban sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

b) Beberapa jenis barang hasil pengadaaan tahun 2010 belum dimanfaatkan sebesar Rp. b) Penerimaan dana Hibah yang dikelola Kemenkes belum dipertanggungjawabkan melalui mekanisme APBN sebesar Rp. dan mendesak bagi TKWNAP tahun 2010 pada Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Propinsi Jawa Timur disetorkan ke Kas Daerah.00 dan kelebihan pembayaran perjalanan dinas sebesar Rp236.583.966.00 belum dikenakan.70 c) Pengadaaan Alat Bantu Belajar Mengajar Pendidikan Dokter/Dokter Spesialis Di Rumah Sakit Pendidikan dan Rumah Sakit Rujukan TA 2010 sebesar Rp.00.634. 98.00 tidak dapat diyakini kewajaran harganya. 13.500. pembahasan dan pendalaman dengan BPK yang merekomendasikan sebagai berikut : a. Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (Kpp Dan Pa) Meminta Menteri Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (KPP dan PA)untuk meyelesaikan hal-hal sebagai berikut: a) Pertanggung jawaban perjalanan dinas pada KPP dan PA tahun anggaran 2010 tidak sesuai dengan bukti-bukti pengeluaran yang sebenarnya sebesar Rp.203.514.550.81 juta di 4 satker pusat dan 3 SKPD tidak sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan b) Pertanggungjawaban biaya perjalanan dinas dibeberapa satker tidak sesuai dengan ketentuan sebesar Rp. d) Perjalanan dinas tidak didukung bukti yang valid mengakibatkan belanja perjalanan dinas minimal sebesar Rp.566. sementara. 591.87 juta .75 miliar c) PNBP yang bersumber dari ijin kerja perpanjangan.826.993.00 di lingkungan Kemenkes tanpa ada dasar hukum dan digunakan langsung di luar mekanisme APBN.00 berindikasi merugikan Negara e) Aset Tetap belum bersertifikat atau belum didukung dengan bukti kepemilikan b. 10.077. 3.000. sehingga pembayaran biaya perjalan dinas tersebut tidak sah dan harus disetorkan oleh pegawai yang bersangkutan ke kas Negara dengan jumlah keseluruhan KPP dan PA sebesar Rp. c. 224. Badan Nasional Penanggulangan Bencana Meminta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk meyelesaikan Realisasi biaya perjalanan dinas diragukan kebenarannya sebesar Rp565.3. 4.705. 517. Kementerian Kesehatan Meminta Menteri Kesehatan untuk meyelesaikan hal-hal sebagai berikut: a) Pungutan sebesar Rp.090.200. sehingga BAKN-DPR RI | 145 .726.173. 9) MITRA KERJA KOMISI IX BAKN telah melakukan rapat konsultasi.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 d) Denda keterlambatan atas penyelesaian pekerjaan pembelian barang/pemborongan pekerjaan senilai Rp.80 juta sehingga asset tak berwujud (berupa software dan aplikasi) dan peralatan dan mesin hasil pengadaan tahun 2010 belum memberikan manfaat yang optimal.770. Kemenakertrans Meminta Menteri Kesehatan untuk meyelesaikan hal-hal sebagai berikut: a) Prosedur pengadaan barang dan jasa senilai Rp. d. 417.97 juta.096.073.

134.059.51 juta pada tahun 2010 tidak disetorkan ke Kas Negara.530.81 juta tidak didukung bukti pertanggung jawaban yang sah f) pelaksana kegiatan pengadaan barang dan jasa di lingkungan BKKBN kurang teliti dan cermat dalam memahami serta melaksanakan ketentuan tentang pelaksanaan pengadaan barang dan jasa yang berlaku dan kurang optimalnya pengawasan d.989.40 juta tidak disetorkan ke Kas Negara tidak dilaporkan dan digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN.487. d) Pencataan dan pelaporan asset belum memadai sehingga nilai asset per 31 Desember 2010 belum menggambarkan nilai yang sebenarnya.700. c. 5. digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN d) Penganggaran. c) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Guest House Graha Kencana (GHGK) BKKBN sebesar Rp.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 mengakibatkan kekuranagn PNBP Kemenakertrans tahun 2010 sebesar Rp.00 b) Penatausahaan Aset Tetap di Lingkungan BPOM Sebesar Rp.148.225. 5.903.00 d) Pertanggungjawaban perjalanan dinas berupa tiket tidak valid sekurangkurangnya Rp. pembahasan dan pendalaman dengan BPK dan merekomendasikan sebagai berikut : BAKN-DPR RI | 146 .1.00 e) Sistem Pencataatn PNBP BPOM TA 2010 Tidak Tertib e.239.42 juta 10) MITRA KERJA KOMISI X BAKN telah melakukan rapat konsultasi. pencatatan dan pelaporan penerimaan hibah secara langsung di BKKBN sebesar Rp.00 dan terdapat ketidakhematan sebesar Rp.486. 1.00 Belum Memadai c) Pertanggungjawaban perjalanan dinas berupa tiket tidak valid sekurangkurangnya Rp.102.700.68 milar. ketidakefektifan pengadaan barang/jasa yang dilakukan karena barang belum dimanfaatkan sepenuhnya b) PNBP Balai Latihan dan Pengembangan KB Nasional milik BKKBN tahun 2010 sebesar Rp. Badan Pengawas Obat Dan Makan (BPOM) Meminta Kepala BPOM untuk meyelesaikan hal-hal sebagai berikut: a) Penyelesaian pekerjaan pengadaaan barang/jasa tidak tepat waktu belum dikenakan denda keterlambatan sebesar Rp. 451. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Meminta Kepala BKKBN untuk meyelesaikan hal-hal sebagai berikut: a) Pencatatan . 2.000.296. 665.496. sehingga Aset Tetap/BMN tidak memiliki bukti legal formal sebagai aset BKKBN dan berpotensi hilang atau menjadi sengketa/bermasalah dimasa mendatang. 1. 14. 451.10 juta belum dilaporkan kepada Bendahara Umum Negara dan belum melalui mekanisme APBN e) Biaya perjalanan dinas pada BKKBN sebesar Rp. pelaporan dan pengamanan Aset Tetap BKKBN belum memadai. BNP2TKI Meminta Kepala BNP2TKI untuk meyelesaikan kekurangan kekurangan volume pada beberapa pekerjaan fisik dilingkungan BNP2TKI minimal sebesar Rp.336.496.

00 belum diproses hibah kepada DJPU.  Pelaksanaan Belanja Negara pada Satker di Lingkungan Kemdiknas Tidak Sesuai Ketentuan Sebesar Rp7.00  Harga Eceran Tertinggi atas Buku Teks Pelajaran Hasil Pengalihan Hak Cipta Belum Ditetapkan Sehingga Tidak Dapat Dimanfaatkan dan Berpotensi Pemborosan Sebesar Rp50.00.407.000.  Pembayaran ganda atas belanja honorarium dan perjalanan dinas pada satker di lingkungan Kemdiknas sebesar Rp4.712.300.00  Penyusunan HPS Lebih Tinggi dari Harga Pasar/Wajar Senilai Rp306.00 Tidak Lengkap  Tunjangan Profesi dan Tagihan Beasiswa Tahun 2010 Kurang Dibayar Sebesar Rp61.185.048.26 dan Pendapatan Sebesar Rp832.627.647.165.696.978.85  Instansi/Lembaga/Perorangan Penerima Bantuan Sosial Belum MenyampaikanLaporan Pertanggungjawaban Penggunaan Dana Bantuan.790.449. :  PNBP/pungutan kementerian/lembaga (KL) yang tidak disetorkan ke Kas Negara.545.685.99.883.  Pengadaan barang/jasa pada tiga satker di lingkungan Kemdiknas tidak selesai dilaksanakan senilai Rp55.000.00 BAKN-DPR RI | 147 .918.000.00 serta USD61.776.000.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 a.817.393.00  Denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan belum dikenakan dan belum disetor ke kas negara sebesar Rp5.500. tidak dilaporkan dan digunakan langsung tanpa melalui mekanisme APBN sebesar Rp25.748.00.902.200.000.  Penerimaan Jasa Giro Sebesar Rp501.843.00 belum dicatat dan barang milik negara yang bersumber dari hibah Pemprov Lampung senilai Rp4.262.833.00 Terlambat Diterima  Hibah uang senilai Rp750.000.028.200.330.580.526.00  Pembayaran Belanja Bantuan Sosial pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Kopertis Wilayah VII Jawa Timur dan Politeknik Negeri Malang Melebihi Standar yang Ditetapkan  Pertanggungjawaban Belanja Senilai Rp5. Kementerian Pendidikan Nasional Meminta agar Menteri pendidikan untuk : a) Memperbaiki Laporan Keuangannya karena dalam beberapa tahun terakhir BPK memberikan peilaian “Disclaimer” (Tidak Memberikan Pendapat) dan menindak pejabat-pejabat yang bertanggungjawab terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan sehingga menimbulkan potensi kerugian negara sbb.  Realisasi belanja negara senilai Rp130.291.672.767.00 berindikasi kerugian negara dan sebesar Rp13.  Sisa dana bantuan sosial yang tidak tersalurkan (mengendap di pihak ketiga) belum disetor ke kas negara senilai Rp69.00 dan Rp17.00  Belanja Bantuan Sosial di Lingkungan Kemdiknas Belum Disalurkan Sebesar Rp2.795.00 berindikasi fiktif.141.939.450.741.570.  Kekurangan volume pekerjaan sebesar Rp1.367.694.80  Penyaluran Bantuan Sosial Tidak Sesuai Peruntukannya atau Tidak Tepat Sasaran Senilai Rp438.66 tidak diyakini kewajarannya.871.850.951.794.262.675.353.535.472.962.30 pada pekerjaan pengadaan barang dan/atau jasa di lingkungan Kemdiknas  Kelebihan Pembayaran Pengadaan Barang dan Jasa Sebesar Rp1.

11) MITRA KERJA KOMISI XI BAKN telah melakukan rapat konsultasi pembahasan dan pendalaman dengan BPK RI dan merekomendasikan sebagai berikut: a.171.00. Kementerian Pemuda dan Olahraga Meminta agar Menpora untuk mempertanggungjawabkan penyaluran bantuan block grant sebesar Rp4.00.00 Milik Universitas Negeri Malang oleh Sekolah Negeri Berpotensi Terjadi Sengketa BMN Kemdiknas Hasil Pengadaan Tahun 2010 Belum Dimanfaatkan Tukar Menukar Aset Negara Antara Unhas dan Kodam VII Wirabuana Tidak Mengacu pada Prinsip Seimbang.079.00 karena Nilai tersebut tidak dapat diyakini kewajarannya.48 juta untuk tahun 2009 dan Rp32.323.89 juta tahun 2010.152.00 dan tahun 2010 sebesar Rp.107.841.000. b.00 dan Gedung dan Bangunan Seluas 3.200. d) Mempertanggungjawabkan 210 guru yang telah lulus sertifikat tetapi tidak memenuhi persyaratan.944.711. BAKN-DPR RI | 148 .578.851. d.3.942 m2 dan Dimanfaatkan oleh Pihak Lain Tanpa Kerjasama yang Memadai Pemanfaatan Aset Tanah Seluas 198. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Meminta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata untuk meyempurnakan pencatatan persediaan di Laporan Keuangan sebesar Rp18.539.224.498. Kementerian Keuangan Meminta agar Menteri Keuangan untuk : a) menyempurnakan pencatatan penerimaan pajak yang akuntabel sehingga bisa diyakini kebenaran jumlah penerimaan pajak yang sebenarnya.3.840.613. Perpustakaan Nasional Menyelesaikan Inventarisasi dan revaluasi asset aset tetap Perpustakaan masingmasing sebesar Rp213. b) Mempertanggungjawabkan subsidi Tunjangan Profesi sebesar Rp.807 m2 Senilai Rp2.000.843 m2 Senilai Rp137. c.616.310.239. c) Mempertanggungjawabkan pembayaran ganda dana subsidi tunjangan guru tahun 2009 sebesar Rp.399.931.438.994.00.235.089.00 Kerjasama Pemanfaatan Aset dengan Pihak Ketiga Tidak Memiliki Perikatan yang Jelas dan Tidak Memberikan Kontribusi Kepada Penerimaan Negara Kerjasama Unesa dan Unila dengan Yayasan Pembina Unesa dan Unila Tanpa Dasar Perikatan dan Belum Memberikan Kontribusi Penghapusan Aset Negara Tanpa Persetujuan Menteri Keuangan Tanah Milik Kemdiknas Belum Bersertifikat Seluas 2.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011         Kementerian Pendidikan Nasional Menggunakan Rekening yang Tidak Memiliki Ijin Kementerian Keuangan Sebanyak 43 Rekening dengan Saldo per 31 Desember 2010 sebesar Rp26.

999.199.762 triliun Bendahara Umum Nasional Meminta Menteri Keuangan sebagai Bendaharawan Umum Nasional menyelesaikan dan menyempurnaan Laporan Keuangan BUN terutama : a) PPN ditanggung pemerintah senilai Rp 11. d.29 triliun mempunyai dasar hukum yang benar. 999.43 miliar c) Pengembalian Pinjaman di muka sebesar Rp33.04. Kementerian Pembangunan dan Perencanaan Nasional/Bappenas Meminta Menteri PPN/Kepala Bappenas menyelesaikan asset-aset kementerian senilai Rp2.52 triliun c) Menyelesaikan deficit dana Pensiun dengan saham PT IPI sebesar Rp147.01.09 miliar. BAKN-DPR RI | 149 . antara lain: a) Notice of Disbursement sebesar Rp428. hal ini sesuai dengan Keputusan Pimpinan DPR RI Nomor 07A/DPR RI/IV/2010-2011 Tentang Tata Kerja BAKN DPR RI.72 juta e. 999.14 juta karena tidak bisa ditelesuri kewajarannya. maka BAKN akan menindaklanjuti dengan Kementerian dan Lembaga terkait.08 diminta Menteri Keuangan memperbaiki dan menyempurnakan Sistem Pengendalian Intern karena pencatatan dan pembukuan tidak didukung dengan bukti-bukti yang sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan perlu kiranya Menteri Keuangan memberi perhatian khusus terhadap masalah-masalah ini untuk mencegah terjadi masalah yang berulang kali. Perlu kami sampaikan bahwa apabila dalam 14 (empat belas) hari kerja Komisi XI tidak menindaklanjuti.97 miliar dan saldo awal RDI/RPD/SLA sebesar Rp1. Dan apabila Komisi telah menindaklanjuti.28 triliun b) f.560.88 triliun Khusus untuk Anggaran 999. g. Badan Pusat Statistik Meminta Kepala BPS menyelesaikan pencatatan bukti-bukti kepemilikan dan asset BPS sebesar Rp 4.39 triliun d) Uang muka rekening BUN senilai Rp1.05.63 triliun d) Penerimaan pembayaran angsuran pokok dan pendapatan bunga sebesar Rp794.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Menggunakan dokumen yang sesuai dengan UU PBB dalam menagih PBB Migas sehingga penerimaan PBB Migas senilai Rp19. b. 999. c.02. Lembaga Penjamin Simpanan Meminta kepala LPS menyelesaikan masalah penyertaan modal sementara pada Bank Mutiara Tbk sebesar Rp. 999.77 miliar e) Penyelesaian PPN ditanggung Pemerintah sebesar Rp1. Bank Indonesia Meminta Gubernur BI untuk : a) Menyelesaikan ketidakjelasan jumlah pelunasan obligasi Pemerintah sebesar Rp 126.03.07.7 triliun b) Menyelesaikan biaya percetakan uang dengan Perum Peruri sebesar Rp1.58 miliar b) Pendapatan Hibah sebesar Rp863.28 triliun b) PBB Migas sebesar 19.30 triliun c) Pembatalan Pajak seniali Rp3. mohon kiranya menginformasikan atau memberitahukan kepada BAKN. 6. 999.

yaitu : a. Kunjungan Kerja dan Rapat Dengar Pendapat ke Provinsi Jawa Barat Kunjungan kerja ke Provinsi Jawa Barat dilaksanakan pada tanggal 16 s. Muspida. C. koordinasi dengan komisi sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang tersebut sebagian besar belum terlaksana. BAKN-DPR RI | 150 . Irwilprov. KOORDINASI BAKN DENGAN KOMISI DAN ALAT KELENGKAPAN DPR RI Sebagaimana yang dikemukakan dalam UU No. Pemerintah Daerah yang dikunjungi adalah: a..d 19 Desember 2009 yang di ikuti oleh sebanyak 12 orang yang terdiri dari : 8 anggota BAKN. Perwakilan BPK Provinsi Jawa Barat . setelah hasil telaahan BAKN disampaikan kepada komisi. bahwa BAKN bertugas menindaklanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK atas permintaan komisi. Koordinasi yang selama ini dilakukan hanya berupa : . Pemerintah Daerah Kota Bandung c. yaitu : . DPD dan DPRD. Kunjungan kerja BAKN Masa Persidangan I Tahun Sidang 2009-2010 dalam rangka penguatan kelembagaan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara DPR RI dan menjelaskan ruang lingkup tugas BAKN DPR RI dan diharapkan dapat bermanfaat untuk Pemda Jawa Barat. sampai dengan bulan November 2011 BAKN telah melaksanakan Kunjungan Kerja dan sekaligus Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang merupakan upaya pendalaman materi dan tindak lanjut atas hasil telaahan atas Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI. Dalam kunjungan kerja tersebut juga sekaligus dilakukan pertemuan dan Rapat Dengar Pendapat dengan Gubernur.dalam ayat (3) bahwa BAKN dapat mengusulkan kepada komisi agar BPK melakukan pemeriksaan lanjutan. serta Instansi terkait. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat b. KUNJUNGAN KERJA DAN RAPAT DENGAR PENDAPAT (RDP) BAKN DPR RI Sejalan dengan amanat Pasal 113 UU No. DPRD. 1. Sejak periode semester II tahun 2009 sampai dengan semester II tahun 2010.dalam ayat (1) huruf c. serta Pasal 70 Peraturan DPR RI No. antara lain : . 27 Tahun 2009 Pasal 113.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 B.Belum pernah BAKN mengusulkan kepada komisi agar BPK melakukan pemeriksaan lanjutan.01/DPR RI/I/2009-2010 berikut Lampiran Keputusan DPR RI No.Penyampaian Memo dari Komisi kepada BAKN atas hasil tindak lanjut yang telah dilakukan oleh beberapa Mitra Kerja Komisi berdasarkan Rapet Kerja yang telah dilakukan Komisi dengan Mitra Kerjanya. . selanjutnya .27 Tahun 2009 Tentang MPR. Kunjungan Kerja dan Rapat Dengar Pendapat tersebut dimaksudkan untuk meminta tanggapan dan komentar langsung dari pihak-pihak terkait untuk memperoleh informasi yang akurat yang akan digunakan sebagai bahan analisis guna mendapatkan rekomendasi yang akuntabel. BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN.Penyampaian Memo dari BAKN kepada Komisi atas hasil telaahan BAKN atas temuan hasil pemeriksaan BPK RI. Kapolda. dan yang telah disampaikan kepada Komisi. .07A/DPR RI/IV/2010-2011. Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Dalam Kunjungan Kerja tersebut. DPR.Komisi belum pernah meminta kepada BAKN untuk menindak lanjuti hasil pembahasan komisi.

i. h. Muspida. Mengenai tumpang tindih aturan itu. Pemerintah Daerah yang dikunjungi adalah: a. BPKP Perwakilan Sumatera Utara. c. DPRD. Dan harus ada terobosan untuk mengamankan asset daerah secara hukum. 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN. BPKP melaksanakan audit untuk melihat azas manfaat daripada melihat pemanfaatan keuangan. 2. yaitu : a. BPK adalah auditing atau pemeriksa yang dilakukan sesuai dengan sistem. Badan Anggaran. BAKN-DPR RI | 151 . Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara b. Kunjungan kerja ini diikuti sebanyak 11 orang yang terdiri dari : 7 anggota BAKN. e. Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara 1) Hati-hati dengan angka-angka temuan audit yang dipublikasi di Hapsem. Badan Legislasi Daerah. g. Pemerintah Daerah Kota Binjai Dari hasil Rapat Dengar Pendapat tersebut. Penyimpangan itu terjadi umumnya bila sesuatu hal atau subyek diintervensi oleh suatu kepentingan pihak. BPKP adalah internal kontrol pemerintah dalam mengawal sistem yang diterapkan pemerintah. BPK dan BPKP ada kerja overlap yang dapat mengganggu kerja pemda. seharusnya sebuah kantor apakah itu kantor Gubernur. Didaerah banyak sekali terjadi kebocoran yang disebabkan oleh pelanggaran administrasi yaitu sistem dan prosedur. melalui Komisi XI sudah mengajukan prioritas amandemen Undang Undang 17. karena bisa menimbulkan bermacam interpretasi oleh masyarakat. provinsi maupun kabupaten. Kapolda. dan pelanggaran terhadap undang undang yang implikasinya pidana. Kunjungan Kerja BAKN ke Provinsi Sumatera Utara Kunjungan kerja ke Sumatera Utara dilaksanakan pada tanggal 21 sampai dengan 25 April 2010. Mungkin ada baiknya BPK membuat potret terhadap keuangan daerah. agar tidak berulang terjadi temuan yang sama dan agar tidak berlarut-larut. Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli c. Untuk lima tahun kedepan setiap instansi punya neraca awal. Pelanggaran terhadap undang undang terjadi karena tidak ada sistem dan prosedurnya. 2) Diperlukan forum untuk klarifikasi atas tindaklanjut hasil audit.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 b. bisa jadi dalam pandangan teknis pekerjaan temuan audit bukan permasalahan.3 Pasal 353 ayat 1 huruf g antara lain berbunyi Alat kelengkapan DPRD Kabupaten kota terdiri dari Pimpinan. Komisi. Masalah asset. d. Daerah diharapkan memperbaiki sistem dan prosedur. yang merupakan kesepakatan didalam pelaku-pelaku keuangan siapa yang bertanggung jawab in out keuangan. Departemen Keuangan pun belum beres. 3) Diperlukan tinjauan aspek teknis dalam angka-angka temuan audit. Target kita mudah-mudahan periode besok seluruh provinsi sudah ada BAKNnya. Basis dari keuangan adalah sistem. Berdasarkan UU 27 tentang MD. BAKN akan menindak lanjuti temuan BPK. Badan Musyawarah. f. Bupati memiliki safety boks yang besar untuk keamanan surat-surat berharga. j. Badan Kehormatan dan yang paling penting disebutkan alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk dalam Rapat Paripurna. Di daerah sering terjadi permasalahan yang overlaping. Asset daerah ada tetapi dokumen hukumnya tidak ada sehingga hal ini diangkat terus oleh BPK. BPK Perwakilan Sumatera Utara. fungsi BAKN nanti menjadi tulang punggung legislatif apakah itu di pusat. otonomi pengelolaan keuangan jangan lagi dikuasai Departemen keuangan. Itwil Prov/Kab/Kota dan instansi terkait. Dalam kunjungan kerja ini dilakukan pertemuan dan sekaligus RDP dengan Gubernur dan Pemda setempat. BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.

agar tidak berulang terjadi temuan yang sama dan agar tidak berlarut-larut. Dari hasil Rapat Dengar Pendapat tersebut. karena hal itu hanya akan menimbulakan masalah di masa yang akan datang. Perwakilan BPKP. Pemerintah Daerah Kota Binjai 1) Diharapkan pemerintah daerah lebih berhati-hati dalam pengelolaan keuangan daerah dengan lebih mengedepankan akuntabilitas dalam penggunaan keuangan negara. Dalam kunjungan kerja ini sekaligus dilakukan RDP dengan Pemerintah Daerah setempat. 16 Juni 2010. dan Bawasda. Kabupaten Tapanuli Tengah disarankan untuk mendirikan Panitia Akuntabilitas Keuangan Daerah (PAKD). Perwakilan BPK RI. agar opini pemeriksaan wajar tanpa pengecualian (WTP) dapat diperoleh di Kota Binjai. c. Kunjungan kerja tersebut diikuti oleh sebanyak 13 orang yang terdiri dari : 9 anggota BAKN. BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. dll di DPRD karena terjadinya perubahan aturan perundang-undangan. konsep pendiriannya telah dimulai oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta. e. 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN. BAKN-DPR RI | 152 . Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli 1) Dari 5 (lima) temuan pemeriksaan BPK RI. DPRD.d. Hal yang dikecualikan adalah “Revaluasi Aset”. listrik. 3) Untuk lebih meningkatkan akuntabilitas keuangan daerah. c. Kunjungan Kerja BAKN ke Provinsi Kalimantan Barat Kunjungan kerja BAKN ke Provinsi Kalimantan Barat dilaksanakan pada tanggal 13 s. 4) Diperlukan upaya penyelesaian yang lebih baik atas temuan-temuan BPK menyangkut honorarium. disarankan untuk membentuk Panitia Akuntabilitas Keuangan Daerah (PAKD). Saat ini Kabupaten Tapanuli Tengah menggunakan konsultan untuk “Revaluasi Aset” agar sesuai dengan ketentuan akuntansi. d. b. Untuk lebih meningkatkan akuntabilitas keuangan daerah. sehingga permasalahan aset daerah tidak menjadi penghambat penilaian opini pemeriksaan wajar tanpa pengecualian (WTP). Diperlukan tinjauan aspek teknis dalam angka-angka hasil temuan audit BPK. 2) Opini pemeriksaan BPK atas LKPD Tapanuli Tengah adalah Wajar Dengan Pengecualian (WDP). karena bisa saja terjadi dalam pandangan teknis pekerjaan hasil temuan audit BPK bukan permasalahan. Diperlukan forum untuk klarifikasi atas tindaklanjut hasil audit. diharapkan pemerintah daerah dapat menciptakan sistem pengendalian internal yang dapat mencegah penyimpangan keuangan dalam pengadaan barang daerah 3) Diperlukan pengelolaan dan revaluasi aset daerah yang lebih baik di masa yang akan datang. Kabupaten Tapanuli Tengah telah melakukan tindak lanjut sesuai dengan rekomendasi BPK. yaitu : a. Diperlukan pengelolaan kas daerah lebih akuntabel pengelolaan dokumen yang lebih baik. Diperlukan pengelolaan dan revaluasi aset daerah yang lebih baik di masa yang akan datang.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 4) Diperlukan perhatian besar terhadap pengelolaan aset. b. Jangan berspekulasi dalam celah-celah ketentuan perundang-undangan yang multi tafsir. konsep pendiriannya telah dimulai oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta. 2) Dalam rangka menciptakan “good government dan clean government”. 3. kas daerah yang lebih akuntabel dan pengelolaan dokumen Negara yang lebih baik.

Askes (Persero) Cabang Malang terlambat. Pemerintah Daerah Kabupaten Malang 1) Penerimaan Pajak Hiburan kurang diterima sebesar Rp. Kunjungan Kerja BAKN ke Provinsi Jawa Timur Kunjungan kerja ke Jawa Timur dilaksanakan pada tanggal 27 sampai dengan 30 Juni 2010. Yang mengikuti kunjungan kerja adalah sebanyak 13 orang yang terdiri dari : 9 anggota BAKN.00 sehingga bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.182.913.00 tidak sesuai dengan Peraturan Daerah 4) Retribusi Pelayanan Pasar dan Retribusi Pelayanan Perijinan Bidang Kesehatan terlambat disetor ke Kas Daerah 5) Pendapatan dari Klaim Askes tahun 2009 belum diterima sebesar Rp. BPKP Perwakilan Jawa Timur. 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN. seharusnya kegiatan tersebut dianggarkan pada belanja barang dan jasa.934. Hal ini disebabkan pengadaan obat-obatan dan bahan kimia/laboratorium di Sekretariat DPRD Jawa Timur dilaksanakan sesuai kebutuhan dan berdasarkan anggaran per triwulan sehingga terkesan dipecah dalam beberapa paket kegiatan. hal ini disebabkan Kelalaian seksi pajak yang tidak menggunakan hasil pemantauan lapangan yang dilakukan oleh UPTD dalam memeriksa kelengkapan dan kebenaran SPTPD yang diisi oleh wajib pajak. Kejaksaan Tinggi Jawa Timur e. Kapolda. bedak dan los yang tidak mengurus izin hak pakai ruangan pasar. Pemerintah Daerah dan instansi yang dikunjungi adalah : a.000. Dalam kunjungan kerja ini dilakukan pertemuan dan Rapat Dengar Pendapat dengan Gubernur. BPK Perwakilan Jawa Timur.419. Perwakilan BPK di Provinsi Jawa Timur d. 2) Pemungutan retribusi atas izin hak pakai ruangan pasar belum optimal .00 dan Pengajuan Klaim Kepada PT.00 .000. Dalam rangka menciptakan “good government dan clean government” diharapkan pemerintah daerah dapat menciptakan sistem pengendalian internal yang dapat mencegah penyimpangan keuangan dalam pengadaan barang daerah.928. BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. 1. Muspida. b.819. BAKN-DPR RI | 153 . yaitu : a.285. 3) Pengadaan obat-obatan dan bahan kimia/laboratorium pada Sekretariat DPRD dipecah beberapa paket kegiatan sehingga tidak sesuai ketentuan yang berlaku dan tidak diperoleh harga yang bersaing.2.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 f. dan Unit Pengelolaan Pasar Daerah (UPPD) kurang optimal dalam melakukan pengelolaan pasar. hal ini disebabkan kesengajaan dari pemakai kios. Direksi Bank Jatim. DPRD. Itwil Prov/Kab.048.110. Pemerintah Daerah setempat. Pemerintah Daerah Kabupaten Malang c. 3) Pembayaran retribusi pelayanan Pasar sistem bulanan sebesar Rp. 2) Pengeluaran biaya narasumber menambah beban pada kegiatan reses anggota DPRD sebesar Rp2. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur b. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur Antara lain : 1) Terdapat perbedaan persepsi penganggaran dimana belanja yang tidak menambah nilai aset dianggarkan pada belanja modal. 4.535. Dari hasil Rapat Dengar Pendapat tersebut.

BAKN-DPR RI | 154 . 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN. yaitu : a. sehingga akan dapat mempermudah pemanfaatan dan efektivitas asset-asset yang dimiliki oleh Pemda. d.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 6) Penerimaan daerah dari Klaim Kapitasi dan Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP) Askes TA 2008 dan 2009 sebesar Rp. DPRD. 6) Perlu dipikirkan untuk memanfaatkan jasa appraisal pemerintah atau swasta untuk menaksir nilai asset. Pemerintah Daerah dan instansi yang dikunjungi adalah : a. 1.319.500. BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.750. Terdapat barang bukti yang dikembalikan kepada pemilik dan belum diambil serta barang bukti yang tidak tercantum dalam putusan Pengadiian pada Kejaksaan Negeri Kediri belum diselesaikan sesuai ketentuan c. c.561. Beberapa Kerjaan di Lingkungan KEJATI Jawa Timur belum menyelesaikan masalah uang titipan dan sisa uang titipan denda uang pada BRI (Bank Rakyat Indonesia) wilayah Jawa Timur senilai Rp. Walikota. 5. Dalam kunjungan kerja ini sekaligus dilakukan pertemuan dan RDP dengan Gubernur. 8) Dalam membuat laporan keuangan. Bupati. perlu segera dipikirkan mekanisme peningkatan sumberdaya manusia dalam pengelolaan keuangan daerah dan terobosan ini dapat dilakukan dengan pemanfaatan kemampuan yang dimiliki oleh BPKP atau mengirimkan tenaga pengelolaan keuangan daerah di Balai Diklat Depkeu untuk di didik sebagai sebuah alternatif. Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Riau b. Kunjungan kerja ini diikuti oleh 10 orang yang terdiri dari : 6 anggota BAKN. BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau.300.808. Terdapat kelebihan perhitungan harga satuan sebesar Rp. -dan perhitungan biaya yang tidak dapat diniali kewajarannya sebesar Rp. BPKP Perwakilan Kepulauan Riau.d 4 September 2010. Pengelolaan barang bukti berupa uang tidak sesuai ketentuan dan basil eksekusi uang pengganti tidak segera disetorkan kepada pihak yang berhak.822.36. 708. Badan Pengusahaan Batam.b.127.890. Badan Pengusahaan Batam Dari hasil Rapat Dengar Pendapat tersebut.dalam kotrak pelaksanaan pembangunan gedung kntor tahap II Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. 7) Pendapatan obat pada Instalasi Farmasi RSUD Kanjuruhan Malang TA 2008 dan 2009 sebesar Rp. 32. Pemerintah Kota Batam c. Itwil Prov/Kab. 7) Perlu ditingkatkan kemampuan SDM di dalam pengelolaan Sistem informasi akuntasi. Kunjungan Kerja BAKN ke Provinsi Kepulauan Riau Kunjungan kerja ke Provinsi Kepulauan Riau dilaksanakan pada tanggal 1 s.835.000. 1. Muspida. sehingga akan mempermudah pembuatan neraca pemerintah daerah. Pertemuan dengan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur beserta jajarannya a.00 tidak didukung Perda dan disetor secara Netto ke Bendahara RSUD. Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Riau 5) Perlu kerjasama dengan BPN untuk memberikan catatan atas asset-asset properti yang diperlukan untuk sertifikasi aset pemerintah daerah harus sudah disepakati bersama antara BPN dengan Pemda yang nantinya akan mendapat persetujuan dari DPRD.114.00 tidak disetorkan ke Kas Daerah dan digunakan langsung oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas.498.

67 pada Pemerintah Kota Batam yang tidak tercatat dalam laporan keuangan Pemda Kota Batam. DPRD.6.328. Kunjungan Kerja BAKN ke Provinsi Sulawesi Utara Kunjungan kerja ke Sulawesi Utara dilaksanakan pada tanggal 1 s.000.00.694.949.015. belum dilaksanakan tindaklanjutnya 5) Kerjasama operasi pengelolaan Pasar Induk Jodoh dengan PT Golden Tirta Asia (GTA) tidak menguntungkan. b. Kapolda.802. 3) Realisasi belanja modal pembangunan ruang kelas baru tidak sesuai dengan prestasi fisik sebesar Rp.d 4 Desember 2010. sehingga kemampuan SDM perlu ditingkatkan. BAKN-DPR RI | 155 .000. Berdasarkan hasil pemantauan BPK Batam.000.500.136. dimungkinkan juga bekerjasama dengan BPKP untuk mendidik SDM bidang keuangan publik. 6) Perlu inventarisasi keunggulan-keunggulan dan kendala-kendala yang dimiliki dalam pengembangan Otorita Batam. Berdasarkan hasil pemantauan BPK Batam.254. 2) Adanya temuan-temuan yang berulang sehingga perlu sanksi yang lebih tegas agar hal tersebut tidak terulang kembali.404.24. SOP yang tegas dan jelas.00.148. belum disetor ke kas umum daerah termasuk tunjangan komunikasi intensif 7 anggota DPRD yang berhenti karena PAW sebesar Rp.700. Dalam kunjungan kerja ini sekaligus dilakukan RDP dengan Gubernur.50. Muspida. koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (PMPKUKM) Kota Batam sebesar Rp.34.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 9) Dalam kondisi pengelolaan keuangan masih belum sempurna.00.260. .000.PT GTA belum menyerahkan bank garansi sebesar Rp.70 serta kurang dikenakan denda sebesar Rp. Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) 1) Pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan belum sepenuhnya sesuai dengan rekomendasi hasil pemeriksaan. sehingga sangat diperlukan konsultasi yang lebih intensif dengan BPK dalam melaksanakan tindak lanjut hasil pemeriksaan. Pemerintah Daerah Kota Batam 1) Terdapat 755 rekening dengan total dana sebesar Rp. 3) Penyusunan laporan keuangan belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.348.593. 5) Perlu ada perhatian khusus terhadap pelaporan penerimaan dari pengelolaan Otorita Batam sangat disayangkan bahwa Otorita Batam yang diharapkan menjadi tujuan investasi utama namun belum terkelola dengan baik.656.00.295.Profit sharing yang masih belum dibayarkan oleh PT GTA minimal sebesar Rp. Hal ini diperbaiki dengan sistem online.42.2. Pasar.173. pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK dapat dijadikan sebagai sebuah pelajaran dan pembelajaran untuk tetap meningkatkan kemampuan dalam pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik lagi. belum dilaksanakan tindaklanjutnya. belum dilaksanakan tindaklanjutnya 4) Pelaksanaan fisik pekerjaan pembangunan unit sekolah baru SDN Taman Lestari tidak sesuai dengan kontrak sebesar Rp. Berdasarkan hasil pemantauan tindaklanjut oleh BPK Batam: Berdasarkan hasil pemantauan BPK Batam.00 dan terdapat fisik pekerjaan yang tidak sesuai kontrak sebesar Rp. 6.700.12. sehingga Batam kembali menjadi kawasan penuh harapan. 6) Tunjangan komunikasi intensif dan dana operasional bagi pimpinan dan anggota DPRD Kota Batam sebesar Rp.282.00.586. dari sejumlah Rp. 2) Terdapat piutang macet yang merupakan dana bergulir yang dikelola oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat.00 c.765.9.2.05 .000. 4) Sistem pelaporan administrasi pertanahan yang belum optimal.167.661.

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota, Perwakilan BPK RI, Bawasda, Itwilprov, Itwilkab serta Perwakilan BPKP. Yang mengikuti kunjungan kerja adalah sebanyak 11 orang yang terdiri dari : 7 anggota BAKN, 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN. Pemerintah Daerah adalah : a. Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara; b. Pemerintah Daerah Kabupaten Minahasa; c. Pemerintah Daerah Kota Manado. Dari hasil Rapat Dengar Pendapat tersebut, BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu : a. Pemda Propinsi Sulawesi Utara diharapkan lebih berhati-hati dalam setiap penggunaan dana APBD, agar tidak menimbulkan persoalan hukum dikemudian hari. Setiap rupiah penggunaan dana APBD harus dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. b. Pemda Provinsi Sulawesi Utara diharapkan lebih serius dalam inventarisasi dan penilaian aset tetap yang dimiliki. Penguasaan pihak ketiga atas aset-aset pemerintah daerah dan berpindahnya secara hukum penguasaan atas aset daerah dikemudian hari dapat dihindari. c. Pemda Propinsi Sulawesi Utara diharapkan lebih serius dalam menindaklanjuti temuan-temuan audit BPK dan segera mengambil langkah-langkah strategis atas temuan-temuan audit tersebut. Sehingga penyelesaian atas temuan-temuan audit tersebut tidak berlarut-larut dan tidak terjadi pengulangan di masa yang akan datang. d. Diperlukan kerja sama yang kuat antara Pemda Propinsi Sulawesi Utara dengan BPK Propinsi SULUT dan BPKP, agar pengelolaan keuangan daerah semakin transparan dan akuntabel dimasa yang akan datang; e. Pemda Kabupaten Minahasa diharapkan lebih hati-hati dalam proses administrasi atas penerimaan daerah. Sehingga kesalahan administrasi, pencatatan dan pelaporan atas pendapatan daerah dapat dihindari dimasa yang akan datang. f. Pemda Kabupaten Minahasa diharapkan lebih proaktif dan kreatif dalam pemungutan pendapatan daearah baik dari pajak maupun distribusi daerah. Dengan hal ini seluruh potensi penerimaan pajak dan restribusi daerah di Kabupaten Minahasa dapat di optimalkan penerimaannya. g. Diperlukan kerja sama yang kuat antara Pemda Kabupaten Minahasa dengan BPK Propinsi SULUT dan BPKP, agar pengelolaan keuangan daerah semakin transparan dan akuntabel dimasa yang akan datang. h. Badan Akuntabilitas Keuangan Negara DPR RI memberikan apresiasi yang tinggi kepada Pemda Kota Manado atas baiknya pengelolaan keuangan daerah dari Kota Manado. Diharapkan dimasa yang akan datang Pemda Kota Manado dapat lebih meningkatkan transparansi dan akuntabiltas dalam pengelolaan keuangan daerah. i. Pemda Kota Manado diharapkan lebih serius dalam inventarisasi dan penilaian aset tetap yang dimiliki. Penguasaan pihak ketiga atas aset-aset pemerintah daerah dan berpindahnya secara hukum penguasaan atas aset daerah dikemudian hari dapat dihindari. 7. Kunjungan Kerja BAKN ke Provinsi Bangka Belitung Kunjungan kerja ke Provinsi Bangka Belitung dilaksanakan pada tanggal 23 sampai dengan 25 Februari 2011. Dalam kunjungan kerja ini sekaligus dilakukan RDP dengan Gubernur, Muspida, Ketua DPRD, Kapolda, DPRD, Pemerintah Daerah setempat, BPK Perwakilan Daerah, BPKP Perwakilan Daerah., Itwil Prov/Bak/Kota. Yang mengikuti kunjungan kerja BAKN-DPR RI | 156

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

adalah sebanyak 11 orang yang terdiri dari : 7 anggota BAKN, 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN. Pemerintah Daerah dan instansi yang dikunjungi adalah : a. Pemerintah Daerah Provinsi Bangka Belitung b. Pemerintah Daerah Kota Pangkal Pinang c. Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Dari hasil Rapat Dengar Pendapat tersebut, BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu : a. Pemerintah Daerah Provinsi Bangka Belitung 1) Pemda Prov. Babel telah mengambil langkah-langkah dan tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK, namun masih diperlukan tindakan-tindakan pencegahan terjadinya kembali permasalahan yang sama untuk masa yang akan datang. 2) Peningkatan pengawasan untuk penggunaan dana bantuan/ Hibah dan membuat pertanggungjawaban penggunaan bantuan atau hibah tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 3) Perlu peningkatan penertiban aset-aset milik pemerintah baik tertib penggunaan maupun tertib administrasi. 4) Perlu peningkatan SDM yang mengelola keuangan negara sehingga dapat menyusun satu laporan keuangan yang akuntabel. b. Pemerintah Daerah Kota Pangkal Pinang 1) Pemerintah Kota Pangkal Pinang telah melakukan tindaklanjut rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK, namun yang lebih penting lagi Pemerintah Kota Pangkalpinang mencegah terjadinya kembali masalah yang sama dimasa yang akan datang. 2) Pemerintah Kota Pangkalpinang diharapkan dapat menyelesaikan kelengkapan bukti kepemilikan aset-aset pemerintah, sehingga Laporan Keuangan Tahun yang akan datang dapat diyakini keberadaannya. 3) Perlunya seluruh SKPD menyelenggarakan pembukuan secara tertib dan meningkatkan kemampuan SDM yang mengelola keuangan. 4) Perlunya meningkatkan fungsi pengawasan internal dilingkungan Pemda, untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam pengelolaan keuangan negara. Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka 1) Pemerintah Kabupaten Bangka telah menindaklanjuti hasil rekomendasi BPK, namun masih terdapat beberapa temuan yang sedang ditindaklanjuti diharapkan Pemda kab. Bangka lebih meningkatkan pengawasan Internal untuk mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan dalam pengelolaan keuangan negara. 2) Masih terdapat beberapa pengeluaran-pengeluaran belanja yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku diharpkan Pemda Kab. Bangka memperhatikan dan melaksanakan peraturan-peraturan yang berlaku untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum yang berakhir kepada tindak pidana korupsi. 3) Masih banyak terdapat kesalahan-kesalahan administarasi dalam pencatatan dan akuntansi sehingga laporan keuangan Pemda Kab. Bangka masih belum dapat diyakini kebenarannya. Oleh karena itu perlu meningkatkan kemampuan SDM yang mengelola Keuangan Negara. 4) Pengelolaan dana hibah masih harus menjadi perhatian, untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dana tsb.

c.

BAKN-DPR RI | 157

LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011

8. Kunjungan BAKN ke Provinsi Kalimantan Tengah Kunjungan kerja ke Provinsi Kalimantan Tengah dilaksanakan pada tanggal 4 sampai dengan 7 April 2011. Dalam kunjungan kerja ini sekaligus dilakukan RDP dengan Gubernur, Muspida, DPRD, Kapolda, Pemda setempat, BPK Perwakilan Daerah, BPKP Perwakilan Daerah., Itwil Prov/Bak/Kota. Yang mengikuti kunjungan kerja adalah sebanyak 12 orang yang terdiri dari : 8 anggota BAKN, 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN. Pemerintah Daerah yang dikunjungi adalah : a. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah. b. Pemerintah Daerah Kabupaten Katingan. c. Pemerintah Daerah Kabupaten Pulang Pisau. d. Pemerintah Daerah Kota Palangkaraya. Dari hasil Rapat Dengar Pendapat tersebut, BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu : a. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah 1) Melihat kepada hasil opini audit BPK atas Provinsi Kalteng beberapa tahun terakhir adalah “Tidak Wajar”, BAKN DPR RI mengharapkan semua pihak terutama SKPDSKPD di lingkungan Pemda Provinsi Kalimantan Tengah agar lebih bersungguhsungguh dalam memperbaiki Sistem Pengelolaan Keuangan Daerah, sehingga akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah di Kalteng dapat ditingkatkan dimasa yang akan datang. 2) Terkait dengan banyaknya temuan audit BPK terkait “Aset Daerah” di Provinsi Kalimantan Tengah, BAKN DPR RI mengharapkan kesungguhan SKPD-SKPD untuk sesegera mungkin menyelesaikan Inventarisasi dan Penilaian Aset Daerah. Kerja sama yang baik antara SKPD, BPKP dan BPK dapat mendorong penyelesaian berbagai kasus-kasus aset daerah di provinsi Kalteng. 3) Berkaitan dengan banyaknya temuan audit BPK yang belum ditindaklanjuti oleh Pemda Provinsi Kalimantan Tengah atau sudah ditindaklanjuti tapi belum sesuai dengan yang di rekomendasi oleh BPK, BAKN DPR RI memberikan apresiasi kepada Gubernur Kalteng yang telah menyiapkan “Action Plan” untuk penyelesaian tindak lanjut tersebut. Kemudian BAKN DPR RI mengharapkan komitmen penuh dari seluruh SKPD untuk menjabarkan “action Plan” yang telah disiapkan oleh gubernur kedalam tindakan-tindakan nyata, sehingga penyelesaian atas temuan audit BPK tidak berlarut-larut dan dapat segera diselesaikan. 4) Dalam rangka percepatan dalam perbaikan sistem pengelolaan keuangan daerah di Pemda Provinsi Kalimantan Tengah, BAKN mengharapkan adanya upaya peningkatan kapasitas SDM bagi SKPD-SKPD di lingkungan Pemda Provinsi Kalimantan Tengah, terutama pemahaman atas berbagai peraturan perundangundangan tentang keuangan Negara/Daerah dan sistem dan prosedur Akuntansi Keuangan daerah, sehingga kesalahan-kesalahan dalam pengelolaan keuangan daerah tidak terjadi lagi dimasa yang akan datang. b. Pemerintah Daerah Kabupaten Katingan 1) BAKN DPR RI memberikan apresiasi kepada Pemda Kabupaten Katingan, sebagai satu dari dua Kabupaten di Kalteng yang memperoleh Opini Audit “WDP”. BAKN DPR RI mengharapkan kerja keras lagi, terutama SKPD-SKPD di lingkungan Kabupaten Katengan, agar Opini Audit BPIK dapat ditingkatkan lagi dimasa yang akan datang menjadi “ WTP”. 2) BAKN DPR RI mengharapkan kerjasama dan koordinasi yang lebih intensif antara Pemda Kabupaten Katingan, BPKP dan BPK. Dengan kerjasama yang baik, sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah dapat ditingkatkan, sekaligus masalahmasalah internal seperti kurangnya SDM akan dapat diatasi. BAKN-DPR RI | 158

kedepannya lebih berhati-hati dalam menggunakan keuangan negara. d. Dengan sikap kehati-hatian ini. Pemerintah Daerah Kabupaten Pulang Pisau 1) Melihat kepada hasil opini audit BPK beberapa tahun terakhir di Kabupaten Pulang Pisau yang berindikasi kurang baik. 4) Terkait dengan banyaknya temuan audit BPK terkait “Aset Daerah” yang sangat mempengaruhi Opini Audit BPK. BAKN DPR RI mengharapkan semua pihak di Pemda Kota Palangka BAKN-DPR RI | 159 . BAKN DPR RI mengharapkan semua pihak di Pemda Kab. 2) Dengan masih banyaknya temuan audit “yang belum” di tindaklanjuti. atau sudah ditindaklanjuti tapi “belum sesuai” dengan rekomendasi BPK di Pemda Kota Palangkaraya. 2) Masih banyaknya temuan audit BPK yang belum ditindaklanjuti oleh Pemda Kabupaten Pulang Pisau. untuk menyiapkan “action plan” yang terukur untuk penyelesaian seluruh tindak lanjut tersebut. 5) Melihat kepada banyaknya temuan audit yang mengarah kepada penyimpangan dan penyalahgunaan keuangan negara. Pemahaman yang baik atas peraturan perundang-undangan tentang keuangan negara. Pemerintah Daerah Kota Palangka Raya 1) Opini audit BPK Kota Palangka Raya tahun 2006. 4) BAKN DPR RI mengharapkan Pemda Kabupaten Katingan. BAKN DPR RI mengharapkan seluruh SKPD di lingkungan Pemda Kabupaten Pulang Pisau untuk sesegera menyelesaikan “Inventarisasi dan penilaian aset”. Pulang Pisau. khususnya SKPD-SKPD. dan sistem dan prosedur akuntansi keuangan daerah. Undang-Undangan Keuangan Negara mengisyaratkan bahwa setiap rupiah uang yang digunakan memiliki konsekuensi pertanggungjawaban di depan hukum. Kerjasama dan koordinasi dengan BPKP. untuk lebih bersungguh-sungguh melakukan perbaikan atas “Sistem dan prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah”. Pulang Pisau. BPK dan BPN dapat mempercepat proses penyelesaian kasus-kasus aset daerah tersebut. sehingga persoalan aset daerah di masa yang akan datang tidak menimbulkan masalah serius dan mempengaruhi opini audit BPK. c. Kesalahan yang dilakukan akan dapat menyebabkan pelanggaran terhadap peraturan perundangan. BAKN DPR RI mengharapkan semua pihak terutama SKPD-SKPD untuk lebih bersungguh-sungguh memperbaiki “Sistem dan prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah” antara lain cara mematuhi seluruh ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan menjalankan Sistem dan prosedur Akuntansi Keuangan Daerah. 3) BAKN DPR RI mengharapkan adanya upaya-upaya serius untuk peningkatan kapasitas SDM terutama bagi SKPD-SKPD di lingkungan Kab. sistem pengelolaan keuangan daerah.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 3) BAKN mengharapkan Pemda Kabupaten Katingan untuk sesegera mungkin melakukan inventarisasi dan penilaian atas aset-aset daerah. akan mendorong perbaikan akuntabilitas pengelolaan keuangan dimasa yang akan datang. Pemahaman yang baik atas peraturan perundang-undangan tentang keuangan negara dan ketaatan dalam sistem dan prosedur akuntansi keuangan daerah adalah kunci keberhasilan dalam pengelolaan keuangan negara (daerah). untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan keuangan daerah. BAKN DPR RI berharap agar kasus-kasus hukum berkaitan dengan pengelolaan keuangan daerah tidak terjadi dimasa yang akan datang. BAKN DPR RI mengharapkan kepada seluruh jajaran Pemerintah Daerah Kab. Pulang Pisau. 2007 dan 2008 adalah “WDP” dan tahun 2009 Tidak Wajar (TW). sehingga perbaikan Opini audit di Kota Palangkaraya dimasa yang akan datang dapat dicapai. BAKN DPR RI mengharapkan semua pihak di Pemda Kota Palangka Raya.

DPRD. b. BPK. Kapolda. Kunjungan kerja ini diikuti oleh sebanyak 11 orang yang terdiri dari : 6 anggota BAKN. Pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung BPK RI telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan atas LKPD Pemerintah Kota Bandar Lampung Tahun 2009 yang memuat opini wajar dengan pengecualian dengan nomor 23a/HP/XVIII. sehingga dimasa yang akan datang. d.Kerjasama dengan berbagai pihak. Dalam kunjungan kerja ini sekaligus dilakukan RDP dengan Wakil Gubernur. c. Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang 1) Penata Usahaan dan pengelolaan Keuangan Daerah Tidak Sesuai dengan ketentuan 2) Pengelolaan rekening Kas Daerah Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang tidak sesuai ketentuan. 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN. Bawasda. b. pengelolaan Keuangan Daerah dapat menjadi lebih baik. 3) Melihat kepada banyaknya temuan audit berkaitan dengan ”aset daerah” yang mempengaruhi “Opini Audit” selama ini untuk Kota Palangka Raya.BLP/06/2010. 956. tanggal 9 Juni 2010. 9. Pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung. Dandim. sehingga penyelesaian tindak lanjut audit BPK tidak berlarut-larut. Kepala BPKP Daerah. 4) BAKN DPR RI mengharapkan Pemda Kota Palangka Raya dapat meningkatkan “Kapasitas SDM”. Pemerintah Daerah Provinsi Lampung. BAKN-DPR RI | 160 .LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Raya. khususnya SDM di bidang “Akuntansi dan Keuangan Daerah” dilingkungan SKPD-SKPD Kota Palangka Raya. c. untuk segera membuat “action plan” yang terukur. untuk meningkatkan “Fungsi Kontrol” Organisasi. Kepala Perwakilan BPK Daerah. Itwilprov dan Itwilkab. antara lain: BPKP. Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan Dari hasil Rapat Dengar Pendapat tersebut. Pemerintah Daerah yang dikunjungi adalah : a. Pemerintah Daerah Provinsi Lampung BPK RI telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan atas LKPD Provinsi Lampung tahun 2009 yang memuat opini Wajar dengan Pengecualian dengan Nomor 27A/HP/XVIII. BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Muspida. Pemda terkait. 5) BAKN DPR RI mengharapkan Pemda Kota Palangka Raya. akan dapat mendorong penyelesaian kasus-kasus “aset daerah” di Kota Palangka Raya.BLP/06/2010 tanggal 1 juni 2010. 3) Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Diragukan Kewajaran Nilainya 4) Penganggaran dan Realisasi Asuransi Kendaraan Bermotor Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang Tidak Sesuai Ketentuan Sebesar Rp. BPN dan Pemda-Pemda lain.000.BLP/06/2010. Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang.BLP/06/2010 tanggal 1 Juni 2010 dan Laporan atas Sistm Pengendalian Intern dengan nomor 23c/HP/XVIII. BAKN DPR RI mengharapkan seluruh SKPD-SKPD untuk sesegera menyelesaikan “inventarisasi dan penilaian aset daerah”. Kunjungan Kerja BAKN ke Provinsi Lampung Kunjungan kerja ke Provinsi Lampung dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2011 sampai dengan 2 Juni 2011. Walikota dan Wakil Walikota serta Inspektorat agar lebih sering melakukan inspeksi ke SKPD-SKPD agar pengendalian atas penggunaan anggaran di tingkat SKPD dapat menjadi lebih baik. tanggal 9 junii 2010 dan laporan atas kepatuhan dengan nomor 27B/HP/XVIII.471.00 5) Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK RI Periode Sebelumnya Belum Sepenuhnya Ditindaklanjuti. yaitu : a.

3) Meskipun secara umum pengelolaan keuangan daerah sudah cukup baik di provinsi Jabar. 3) Bupati Lampung selatan menerbitkan Perbub tentang Belanja Hibah dan Belanja Bantuan Keuangan di Lingkungan Pemda Kab. Yang mengikuti kunjungan kerja adalah sebanyak 11 orang yang terdiri dari : 7 anggota BAKN. Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan e. BPKP Perwakilan Daerah. b. Dari hasil Rapat Dengar Pendapat tersebut. Pemerintah Daerah dan instansi yang dikunjungi adalah : a. BPK Perwakilan Daerah. 5) Mendayagunakan dan mengoptimalkan fungsi pengawasan entern oleh Inspektorat melalui pengawasan reguler. 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN. yang telah bersikap proaktif atas berbagai temuan Audit BPK. BAKN DPR RI melihat masih adanya persoalan keuangan daerah yang masih memerlukan perhatian khusus dimasa yang akan datang. Pemerintah Daerah setempat. Kapolda. BAKN DPR RI berharap masalah aset.DPRD. DPRD. Itwil Prov/Kab. Dalam kunjungan kerja ini sekaligus dilakukan RDP dengan Wakil Gubernur. 4) Panitia anggaran untuk bekerja lebih cermat dan menganggarkan kegiatan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Kunjungan Kerja BAKN ke Provinsi Jawa Barat Kunjungan kerja ke Provinsi Jawa Barat dilaksanakan pada tanggal 21 sampai dengan 25 Juni 2011.. Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis d. BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. piutang yang belum ditagih. 6) Menyusun APBD. Pemerintah Daerah Kabupaten Garut. Lamsel. hibah BAKN-DPR RI | 161 . Pemerintah Daerah Kota Cirebon. perubahan APBD dan pertanggungjawaban APBD sesuai dengan peraturan perudangan yang berlaku. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat 1) BAKN DPR RI memberi apresiasi yang tinggi terhadap DPRD Jabar dan Pemda Provinsi Jabar. 2) Melakukan kegiatan pengawasan dan pengendalian sesuai dengan fungsi dan kewenangannnya masing-masing agar pengelolaan keuangan dari tahap perencanaan sampai dengan pertanggungjawaban sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 10. yaitu : a. BAKN DPR RI berharap proses tindak lanjut temuan BPK dapat segera diselesaikan dan tidak berlarut-larut dimasa yang akan datang.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 d. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan: 1) Bupati Lampung selatan sesuai dengan kewenangannya telah menginstruksikan/ memerintahkan kepada para pejabat yang mengelola keuangan negara agar berpedoman pada peraturan perundangan yang berlaku. c. BAKN DPR RI berharap adanya “sinergi yang kuat” antara DPRD. Pemprov. pengawasan atas pengaduan masyarakat dan menindaklanjuti Pengawasan masyarakat yang dilimpahkan dari pemerintah yang lebih tinggi. BPK dan BPKP untuk menyelesaikan persolan inventarisasi dan penilaian aset daerah tersebut. realisasi belanja yang tidak sesuai ketentuan. rekening yang belum dilaporkan. Muspida. 2) Masih banyaknya persoalan “inventarisasi dan penilaian aset” di Pemda Provinsi Jabar yang berpengaruh terhadap opini audit BPK “WDP” yang ada di Pemda Jabar beberapa tahun terakhir. 7) Memberikan sangsi disiplin bagi Pejabat yang mengelola keuangan Daerah apabila dalam melaksanakan tugasnya melanggar peraturan yang berlaku.

khususnya SKPD-SKPD untuk secara bersungguh-sungguh melaksanakan “Action plan” yang telah dicanangkan. khususnya SDM dilingkungan SKPD-SKPD. dan lain-lain segera dicarikan penyelesaiannya. BPN. BAKN DPR RI berharap kepada semua pihak di Pemda Kab Garut. b) Masih banyak temuan audit “krusial” di Kab. Pemda Kab. Garut dapat secara sistematis meningkatkan kemampuan SDM. BAKN DPR RI berharap Pemda Kab. Kuningan dapat secara berkelanjutan meningkatkan SDM bidang akuntansi dan keuangan daerah. dan diharapkan untuk bersungguh-sungguh menyusun “Action Plan” disertai tindakan nyata untuk mencapai “WTP” dimasa yang akan datang.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 4) aset. dan kekurangan volume pekerjaan berbagai proyek pembangunan. Kuningan khususnya SKPD-SKPD. Garut untuk lebih selektif dalam menentukan rekenan kerja dimasa yang akan datang. Pemda Provinsi. bansos. Kuningan tidak berpuas diri dengan Opini ini. d) Masih berulangnya temuan audit tentang kekurangan volume pekerjaan di Kab. BAKN DPR RI berharap Pemda Provinsi Jabar melakukan “updating berkelanjutan” atas SDM yang dimiliki di SKPD-SKPD yang ada. d) BAKN DPR RI berhadap. Kuningan lebih berhati-hati atas permasalahan ini dan lebih bersungguh-sungguh untuk melaksanakan tindak lanjut sesuai rekomendasi BPK. Kerjasama strategis dengan BPKP dapat menjadi solusi atas permasalahan ini. Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan a) Opini Audit BPK RI terhadap Kabupaten Kuningan beberapa tahun terakhir yaitu “WDP/Wajar Dengan Pengecualian”. BAKN DPR RI berharap Pemda Kab. BAKN DPR RI berharap Kab. sehingga perbaikan akuntabilitas keuangan daerah dimasa yang akan datang dapat dicapai. sehingga temuan ini tidak lagi berulang dimasa yang akan datang. BAKN DPR RI berharap Pemda Kab. sehingga penyelesaian persoalan aset daerah di Kab Garut dapat segera diselesaikan. Kuningan seperti Inventarisasi dan penilaian aset. BPK dan BPKP. kedalam tindakan-tindakan nyata. dan menjadikan “Isu BAKN-DPR RI | 162 c. c) Keberhasilan dalam pengelolaan keuangan daerah sangat ditentukan oleh SDM dibidang akuntansi dan keuangan. kedepan adanya “komitmen bersama” seluruh jajaran di Pemda Kab. sehingga berbagai tantangan pengelolaan keuangan daerah di masa yang akan datang dapat dihadapi. BAKN DPR RI berharap Kab. sehingga persoalan tindak lanjut dapat segera diselesaikan dan tidak berlarut-larut. b. Pemerintah Daerah Kabupaten Garut a) Masalah “Inventarisasi dan Penilaian aset” yang mempengaruhi opini audit di Kabupaten Garut. Garut. Garut. Dana Bergulir. c) Faktor kunci keberhasilan pengelolaan keuangan daerah ditentukan oleh “Ketertiban menjalankan sistem akuntansi dan regulasi pengelolaan keuangan negara”. sehingga tidak berpotensi menimbulkan masalah dimasa yang akan datang. BAKN DPR RI mengharapkan sinergi yang kuat berbagai pihak antara lain DPRD. b) Masih banyaknya temuan audit BPK yang belum ditindaklanjuti oleh Pemda Kab. Perjalanan Dinas. Garut. penatausahaan Barang Daerah. Mengingat bahwa akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah memerlukan pemahaman yang baik atas “Sistem Akuntansi Keuangan Daerah” dan “Peraturan Perundang-Undangan Keuangan Negara”. .

Ciamis dapat secara berkelanjutan meningkatkan kapasitas SDM. Pemda Kota Cirebon mengalami kebingunangan apakah akan mengikuti Permendagri atau Permendiknas. d) Pemda Kota Cirebon juga mengalami persoalan klasik yang belum ada titik terang penyelesaian sampai saat ini. Dinas BAKN-DPR RI | 163 e. b) Berkaitan dengan pengelolaan asset-aset daerah. b) Masih banyaknya temuan-temuan audit BPK tentang “Kelebihan volume pekerjaan” pada pekerjaan proyek pembangunan di Kab. BAKN DPR RI berharap sikap positif ini dapat dipertahankan untuk peningkatan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dimasa yang akan datang. Pemerintah Daerah Kota Cirebon a) Ada persoalan dalam implementasi Bantuan Operasional Sekolah di Dinas Pendidikan. yaitu masalah Taman Kota yang dulunya merupakan kerjasama antara Polisi Wilayah dengan Pemda Kota Cirebon. BPN untuk penyelesaian masalah ini. Pemda Kota Cirebon mengalami banyak permasalahan antara lain adanya aset-aset Pemda Kota Cirebon yang dikuasai oleh Badan Usaha Milik Daerah dan Pemda Kabupaten Cirebon. BPKP. . Ciamis untuk sesegera mungkin melaksanakan “inventarisasi dan penilaian aset”. terlihat bahwa masih adanya masalah aset pada OPD-OPD besar seperti Dinas Pendidikan. hal ini disebabkan oleh adanya Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat yang kontradiktif. Sampai saat ini persoalan aset ini belum ada penyelesaian. BAKN DPR RI berharap Pemda Kab. Kerjasama yang konstruktif dapat dilakukan dengan BPK. d) Masalah “Inventarisasi dan penilaian asset” menjadi kendala dalam perolehan opini “WTP” selama ini. Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis a) BAKN DPR RI memberikan apresiasi kepada Pemda Kab. e) Dilihat dari temuan-temuan audit BPK di Kota Cirebon. Dengan peningkatan SDM. dimana ada perbedaan substansi antara Permendagri dengan Permendiknas. Berbagai upaya juga telah dilakukan dengan Polda Jawabarat untuk penyelesaian kasus ini. Ciamis.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Akuntabilitas” sebagai bagian penting dalam menjalankan tugas dan fungsi kita sebagai pejabat negara. dimana menurut permendagri pencairan dana bantuan operasional sekolah dilakukan per 6 bulan sekali. upaya untuk mendapatkan opini “WTP” dapat dicapai dimasa yang akan datang. sehingga lebih bersih dimasa yang akan datang. Ciamis segera menyelesaikan persoalan ini. Menurut Pemda Kota Cirebon luas wilayah tersebut sangat tidak mencukupi dan tidak layak untuk sebuah Kota yang sangat pesat perkembangan daerahnya. tapi sampai saat ini belum ada titik terang dalam penyelesaiannya. Ciamis yang telah merespon dengan cepat berbagai temuan audit BPK. Dalam prakteknya. Sampai saat ini luas wilayah Kota Cirebon hanya sebesar 37 KM persegi. d. Beberapa upaya telah dilakukan melalui negosiasi dengan Pemda Kabupaten Cirebon untuk membagi beberapa wilayah kabupaten untuk dijadikan wilayah Kota Cirebon. Sampai saat ini belum ada penyelesaian atas luas wilayah tersebut. BAKN DPR RI berharap Pemda Kab. c) BAKN DPR RI berharap Pemda Kab. c) Pemda Kota Cirebon juga menghadapi permasalahan utama tentang Luas Wilayah. khususnya bidang “akuntansi dan keuangan daerah”. sedangkan menurut Permendiknas pencairan dana bantuan operasional pendidikan dilakukan per bulan.

Hal ini menjadi kendala bagi sekolah-sekolah untuk melakukannya. 4) BAKN DPR RI akan memberikan masukan kepada Komisi V. dimana RSUD Kota Cirebon seringkali menerima rujukan pasien dari berbagai kabupaten di sekitar Kota Cirebon. Kereta Api Indonesia (PT KAI). BAKN menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. BAKN DPR RI akan memberikan rekomendasi kepada Komisi-komisi terkait untuk ditindaklanjuti.DI). dan Perwakilan BPKP Jawa Barat 1) BAKN DPR RI mengharapkan permasalahan-permasalahan yang ditemukan BPK tidak terjadi lagi karena PT Bio Farma sudah berdiri lama dan telah dikelola secara baik. Tortama BPK. PT KAI telah menindaklanjuti tetapi memang masih memerlukan waktu untuk menjadi lebih baik (Renstra). 2) Masih terdapat beberapa permasalahan yang belum dapat ditindaklanjuti PT DI karena memerlukan bantuan Pemerintah. Dalam kunjungan kerja ini sekaligus dilakukan RDP dengan TORTAMA BPK RI. dan Bina Marga. PT. yaitu : a. dimana menurut edaran Dinas Pendidikan SP2D harus dibuat oleh sekolah dan harus ditandatangani oleh Bendahara di Dinas. Tortama BPK. 2 orang tenaga ahli dan 2 orang sekretaris BAKN. g) Pemda Kota Cirebon juga mengalami banyak komplain dari sekolah-sekolah. 4) Dari hasil klarifikasi masalah-masalah ini. 11.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Kesehatan. Pos Indonesia. 3) PT KAI perlu mengubah Mindset dari Pegawai Pemerintah menjadi Perusahaan Modern (Reformasi Kultur). Bio Farma. Bio Farma dan PT. Jumlah nya mencapai 40 s/d 60 persen dari total temuan aset di Kota Cirebon. Pertemuan dengan PT Kereta Api Indonesia. 2) Dari beberapa temuan BPK atas Sistem Pengendalian Intern. dan Komisi XI dari hasil Klarifikasi masalah-masalah yang dibahas hari ini b. 3) PT DI diharapkan meningkatkan Kinerja lebih baik lagi dengan adanya Tambahan Penyertaan Modal Negara. Yang mengikuti kunjungan kerja adalah sebanyak 10 orang yang terdiri dari : 6 anggota BAKN. PT. c. 2) BAKN DPR RI meminta agar PT Bio Farma memperhatikan kaedah-kaedah Hukum Internasional. tapi sampai saat ini kontribusi dari berbagai kabupaten dan provinsi Jawa Barat belum seimbang dengan kebutuhan. dan telah dilaporkan dalam RUPS pada tanggal 1 Juli 2011. Pertemuan dengan PT. PT Dirgantara Indonesia (PT. Kunjungan Kerja BAKN ke BUMN di Jawa Barat Kunjungan kerja ke BUMN di Jawa Barat dilaksanakan pada tanggal 12 sampai dengan 15 Oktober 2011. Perwakilan BPKP Jawa Barat. dan Perwakilan BPKP Jawa Barat 1) PT DI telah melaksanakan sebagian Rekomendasi BPK atas Temuan-temuan Audit. f) Pengelolaan Rumah sakit Umum Daerah di Kota Cirebon juga menjadi persoalan bagi Kota Cirebon. Dirgantara Indonesia. dan Perwakilan BPKP Jawa Barat 1) Banyak permasalahan di PT KAI yang memerlukan tanggung jawab bersama antara Perusahaan dan Pemerintah. Tortama BPK. karena sebagian besar produk PT Bio Farma di ekspor ke Luar Negeri dan juga perlu membuat Hak Paten atas seluruh produk PT Bio Farma. Komisi VI. Pertemuan dengan PT. BAKN-DPR RI | 164 . BUMN yang dikunjungi adalah : Dari hasil Rapat Dengar Pendapat tersebut.

6. sehingga proses tindak lanjut atas temuan hasil pemeriksaan BPK dapat berjalan dengan baik. 2. atau lebih tehnis lagi siapa yang akan menjadi counterpart (PIC). tata kerja/ hubungan kerja antara DPR RI dengan BPK RI. Diperlukan diskusi dalam rangka menyusun MoU antara DPR RI dengan BPK RI yang meliputi tata kerja. PT Bio Farma juga harus memperhatikan Vaksin yang dibutuhkan dalam negeri terutama untuk keperluan Haji. dan kaitannya dalam memberikan masukan kepada BPK atas rencana BAKN-DPR RI | 165 . Penegasan kewenangan BAKN-DPR RI untuk meminta BPK melakukan audit investigasi( pemeriksaan dengan tujuan tertentu). Pertemuan dengan PT. Hal ini agar dipertimbangkan apakah dalam Tartib sudah ada atau belum .. 4) PT Pos perlu meningkatkan fungsi Satuan Pengawasan Intern dan Manajemen Resiko. Bagaimana upaya BAKN dalam menindak lanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK. Dalam draft MoU ini perlu ditambahkan lingkup dan tugas kegiatan. KONSULTASI DAN KOORDINASI BAKN DENGAN BPK RI Rapat Konsultasi dan Koordinasi BAKN dengan BPK RI dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2010. 4 (empat) orang sekretariat BAKN dan dari pihak BPK RI hadir Ketua.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 3) 4) Khusus untuk Vaksin Flu Burung yang proyeknya didanai oleh Kementerian Kesehatan dengan nilai + Rp. dengan maksud agar dapat terrcipta hubungan kerja yang lebih baik. perlu dipikirkan adanya semacam MoU antara BAKN dengan komisi-komisi terkait khususnya mengenai mekanisme kerjanya. rekomendasi BAKN kepada BPK walaupun saat ini MoU dimaksud telah disampaikan oleh Sekretaris Jenderal BPK RI kepada Sekretariat Jenderal DPR RI namun perlu diadakan addendum mengingat bahwa saat disusun draf MoU tersebut BAKN belum ada. oleh karena itu PT Bio Farma diminta mengajukan perlakuan khusus terhadap pengadaan bahan baku importnya. Wakil Ketua dan anggota BPK RI beserta jajarannya Hal-hal yang diperoleh dari pertemuan tersebut dan yang perlu mendapat perhatian. antara lain adalah sebagai berikut : 1. Sebagai kelanjutan tugas BAKN khususnya menyangkut hasil telaahan pemeriksaan BPK yang disampaikan BAKN kepada komisi. 5 (lima) orang tenaga ahli. Rapa ini dihadiri oleh 6 (enam) anggota BAKN. Tortama BPK.3 trilyun agar segera diselesaikan dan BAKN DPR RI akan memberi masukan kepada Komisi IX untuk membicarakannya dengan Menteri Kesehatan. protokoler. Mendapatkan masukan-masukan dari BPK RI agar diperoleh pandangan dan kesamaan persepsi. d. Pos Indonesia. 3) PT Pos diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan atas pembayaran tunjangan pensiun pegawai yang menjadi tuntutan pensiunan pegawai PT Pos. 1. D. Pertemuan ini adalah dalam rangka meningkatkan koordinasi antara BAKN-DPR RI dengan BPK RI. PT Pos telah menyempurnakan produk dan Sistem Pengendalian Intern. 4. sehingga pengawasan dapat dilaksanakan secara efektif . 5. 3. 2) PT Pos perlu melakukan pengembangan Bisnisnya dengan melakukan kerja sama dengan pihak-pihak swasta baik Nasional maupun Internasional. 5) BAKN DPR RI akan memberikan masukan dan rekomendasi kepada Komisi terkait sehubungan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh PT Pos Indonesia. dan Perwakilan BPKP Jawa Barat 1) Dalam melaksanakan tindak lanjut Hasil Pemeriksaan BPK.

BAKN. AUDIENSI.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 7. Pemerintah. Nurul Falakh dan Bp. Dibahas pula apa tindak lanjut hasil temuan BPK RI dan kapan harus selesai. Anwar Nasution. menerima audiensi dan dialog dengan DPRD Kabupaten BAKN-DPR RI | 166 . Dalam melaksanakan tugas BAKN untuk meminta penjelasan dari BPK. Bank Indonesia. S. Pemerintah Daerah. BUMN. IP. Perlu dipikirkan agar staf ahli BAKN mempunyai akses berdiskusi dengan staf ahli/auditor BPK RI. E. rencana pelaksanakan penelaahan Laporan Hasil Pemeriksaan Investigasi BPK terhadap PT. Tahun Sidang 2009 – 2010 Pada masa persidangan I tahun 2009-2010 yang berlangsung mulai bulan Oktober 2009 s. lembaga negara lainnya. Tindak lanjut temuan pemeriksaan BPK agar dapat efektif dan dilaksanakan secara cepat. Bp. 8. antara lain berupa pemberian masukan kepada Badan Anggaran agar laporan-laporan keuangan. Rapat Internal a. Selanjutnya rapat-rapat internal berikutnya pada masa sidang tersebut membahas mekanisme tugas. TBk. BUMD dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara perlu dipikirkan adanya tata cara/ sistim dan prosedur pemanggilan rapat bagi unit-unit terkait/ para auditee . fungsi dan kelembagaan BAKN DPR RI. Ahmad Muzani (A-21)/Fraksi Partai Gerindra sebagai Ketua BAKN dan Mayjen TNI (Purn) Yahya Sacawiria. fungsi. Bank Century. Kalau tidak ada sanksi maka tidak akan ada perbaikan. maka DPR harus mendorong pemerintah untuk melakukan tidaklanjut dengan mengadakan perbaikan-perbaikan atas hal-hal tersebut. BAKN dapat mengundang BPK RI untuk membahas hasil temuan BPK lebih detail. Tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan BPK yang dilakukan oleh DPR dalam hal ini BAKN. pada hakekatnya tidak terlepas dari fungsi pengawasan DPR dalam menjalankan fungsi pengawasannya. Dilakukan pula pembahasan Hasil Pemeriksaan Investigasi BPK terhadap Bank Century TBK dengan calon Tenaga Ahli. Sehingga betulbetul fungsi DPR dalam melakukan pengawasan menjadi efektif. tata kerja dan program kerja BAKN serta rencana rekruitmen Tenaga Ahli. 9. setelah itu baru mengundang auditee untuk dibahas secara terbuka. Hal ini pula yang perlu menjadi salah satu masukan substansi MoU antara BAKN dengan BPK RI. Hasil rapat internal pada masa persidangan I tahun 2009-2010 tersebut selain menetapkan Pimpinan BAKN yaitu H. MM (A-488)/ Fraksi Partai Demokrat sebagai Wakil Ketua BAKN juga merumuskan tugas. Artinya adalah apabila dari hasil pemeriksaan BPK ditemukan adanya indikasi kelemahan-kelemahan yang terkait dengan kebijakan atau peraturan perundangundangan yang tidak jelas atau tidak dilaksanakan. 11. sekaligus menyusun tim dan mekanisme kerjanya. Untuk mendapatkan masukan dan mendiskusikan mekanisme tugas dan fungsi BAKN telah diundang Bp. sehingga BAKN paham betul materi dari laporan itu.. 12. hambatan pemeriksaan serta penyajian dan kualitas laporan. RAPAT INTERNAL. Setelah laporan hasil pemeriksaan BPK diterima DPR RI cq. Hal ini penting untuk klarifikasi dan pemahaman suatu masalah/ penyamaan persepsi karena tidak semua yang tersurat dalam LHP bisa disimak sesuai dengan substansi realnya. BAKN telah melaksanakan 10 (sepuluh) kali rapat internal yang diawali dengan rapat pada tanggal 21 Oktober 2009 dengan agenda rapat berupa Pemilihan dan Penetapan Pimpinan BAKN DPR RI . Badan Layanan Umum. kementerian/lembaga maupun daerah yang mendapatkan opini disclaimer itu supaya ada sanksi. dan dari BPK harus ditunjuk/ atas ijin dari pejabat berwenang di BPK RI. Mekanismenya agar diatur lebih lanjut yaitu bagi tenaga ahli BAKN harus ditunjuk/ atas ijin Ketua BAKN. Darul Siska sebagai narasumber.d Desember 2009.. KUNKER LUAR NEGERI DAN WORKSHOP 1. kerja pemeriksaan. 10.

BAKN telah mengadakan rapat internal sebanyak 11 (sebelas) kali berupa pembahasan atas program kerja BAKN DPR RI tahun 2010. pembahasan Hapsem I tahun 2010 dan rencana workshop BAKN. Hasil rapat internal tersebut berupa kesepakatan untuk melakukan kunjungan kerja di dalam negeri ke Provinsi Jawa Timur dan kunjungan kerja di luar negeri ke Spanyol dan Belanda. persiapan kunjungan kerja ke Spanyol dan Belanda. rencana kunjungan di dalam negeri dan luar negeri. Pimpinan Komisi III dan Komisi XI DPR RI. Pada masa persidangan II tahun 2009-2010 yang berlangsung pada bulan Januari 2010 s.. kesepakatan atas Laporan Hasil Penelaahan BAKN DPR RI terhadap Hapsem II tahun 2009 untuk disampaikan kepada Pimpinan DPR RI dan Pimpinan Komisi I s. Bank Century.d XI DPR RI. Hasil rapat internal tersebut antara lain berupa Laporan Hasil Telaahan atas Laporan Hasil Pemeriksaan Investigasi BPK atas kasus PT. persiapan penyusunan dan penyampaian SOP BAKN. Berdasarkan hasil rapat internal tersebut BAKN melaksanakan konsinyering pembahasan SOP BAKN dan penelaahan Hapsem II tahun 2009. pembahasan persiapan penyusunan SOP. melakukan konsinyering pembahasan telaahan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK atas LKPP tahun 2009 dan penyampaian hasil telaahannya kepada Pimpinan Badan Anggaran DPR RI sebagai bahan masukan pembahasan RUU tentang Pertanggungjawaban Atas Pelaksanaan APBN tahun anggaran 2009. melakukan telaahan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan BPK atas LKPP tahun 2008 dan penyampaian laporan hasil telaahannya kepada Pimpinan Badan Anggaran.d Maret 2010.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Kendari dan DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara terkait terbentuknya BAKN sebagai salah satu Alat Kelengkapan DPR RI. pembahasan LKPP tahun 2009. pembahasan rencana kunjungan kerja ke Provinsi Sumut. melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Kalimantan Barat untuk memperoleh masukan terkait dengan hasil audit BPK. telaahan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun anggaran 2008. dan rapat koordinasi BAKN serta persiapan kunjungan ke luar negeri. Bank Century. Ahmad Muzani(A-21)/Fraksi Partai Gerindra sebagai Ketua BAKN dan Mayjen TNI (Purn) Yahya Sacawiria. pemaparan Tenaga Ahli tentang SOP BAKN. pembahasan anggaran BAKN tahun 2011. Masa persidangan III tahun 2009-1010 berlangsung pada bulan Maret 2010 s. pembahasan Laporan Hasil Telaahan BAKN atas Laporan Hasil Pemeriksaan Investigasi BPK atas kasus PT. MM (A-488)/ Fraksi Partai Demokrat sebagai Wakil Ketua BAKN. Provinsi Kalbar dan luar negeri. rencana kunjungan kerja ke Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Rapat internal yang diadakan pada masa persidangan tersebut sebanyak 12 (duabelas) kali dengan agenda sidang berupa persiapan pembahasan SOP BAKN.d Juni 2010. Dari rapat internal tersebut diperoleh ketetapan Pimpinan BAKN yaitu H. melakukan pertemuan dengan BPK dalam rangka mencari masukan tentang mekanisme kerja dan keprotokolan BAKN. Agenda rapat internal antara lain adalah berupa persiapan menghadapi rapatrapat BAKN pada masa persidangan IV tahun 2009-2010. pemaparan oleh Tenaga Ahli dan diskusi mengenai konsep SOP dan mekanisme kerja BAKN. persiapan kunjungan kerja BAKN ke BPK dan BPKP. b. Tahun Sidang 2010 – 2011 Rapat internal BAKN masa persidangan I tahun 2010 – 2011 berlangsung pada bulan Agustus s. Sedangkan kegiatan rapat internal pada masa persidangan IV tahun 2009-2010 yang berlangsung sepanjang bulan Juli 2010 telah diadakan sebanyak 5 (lima) kali. Selanjutnya berdasarkan hasil rapat internal telah dilaksanakan kunjungan kerja ke Kepulauan Riau pada BAKN-DPR RI | 167 . TBK. S. IP.d Oktober 2010 dengan jumlah 9 (sembilan) kali rapat. TBk dan penyampaiannya kepada Ketua DPR RI. persiapan penelaahan hasil pemeriksaaan BPK semester II tahun 2009 dan penyusunan press-release BAKN. Agenda rapat internal berupa penetapan Pimpinan BAKN DPR RI.

d 4 September 2010 dan ke Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tanggal 14 s.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 tanggal 1 s. pertemuan konsultasi dengan BPK RI untuk memberikan masukan kepada BPK RI tentang peningkatan pemeriksaan. Sedangkan kunjungan kerja ke Spanyol dilaksanakan pada tanggal 24 s. persiapan kunjungan kerja ke Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil rapat internal lainnya berupa pertemuan dengan Pimpinan DPR RI.d 12 September 2010 dalam rangka melakukan klarifikasi terhadap hasil pemeriksaan BPK RI. seminar tentang Transparansi Bagian Anggaran Penerusan Pinjaman (BA. finalisasi laporan Hapsem II tahun 2010. dengan agenda berupa konsinyering dalam rangka pembahasan lanjutan Hapsem I Tahun 2010. MA untuk mendapatkan masukan tentang peningkatan kerja BPK RI.d 30 September 2010. Drs. persiapan pertemuan konsultasi dengan BPK RI.d 12 Pebruari 2011.d 19 Juni 2011. Anwar Nasution dan Bp. dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2010.d 25 Juni 2011.999.d 2 Juni 2011 dan ke Provinsi Jawa Barat pada tanggal 21 s.d 17 September 2010. menyepakati Laporan Hasil Telaahan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI semester I tahun 2010 untuk diserahkan kepada Pimpinan DPR RI dan Pimpinan Komisi I s. BAKN-DPR RI | 168 . Ak. rencana kunjungan kerja dalam negeri. menghadiri undangan CDI ke Australia tanggal 6 s.04). Pada masa persidangan II tahun 2010 – 2011 yang dilangsungkan pada bulan November dan Desember 2010 telah diadakan rapat internal sebanyak 8 (delapan) kali. pertemuan koordinasi antara Sekretariat BAKN dengan sekretariat Komisi-Komisi terkait tindaklanjut Hasil Telaahan BAKN. persentasi Tenaga Ahli terkait telaahan 6 wajib pajak. kunjungan kerja ke Provinsi Bangka Belitung dalam rangka melakukan klarifikasi hasil temuan BPK RI. dilakukan konsinyering pembahasan telaahan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI atas LKPP tahun 2010 pada tanggal 17 s. persiapan kunjungan kerja ke Provinsi Lampung dan Provinsi Jawa Barat. menerima audensi Ketua Fraksi dan para Ketua Komisi DPRD Provinsi Jawa Barat. membahas finalisasi Hapsem I tahun 2010 dan evaluasi kegiatan tahun 2010. Pimpinan Komisi I s. agenda rapat internal berupa menyusun jadwal kegiatan BAKN masa persidangan III tahun 2010 – 2011.d XI DPR RI. Pada masa persidangan III tahun 2010 – 2011 yang berlangsung pada bulan Januari hingga April 2011 dengan 16 (enam belas) kali rapat internal. Hasil keputusan rapat internal tersebut antara lain menyepakati Laporan Hasil Telaahan BAKN terhadap Hapsem II tahun 2010 untuk disampaikan kepada Pimpinan DPR RI dan Pimpinan Komisi I s.d Juli 2011 telah berlangsung 14 (empat belas) kali rapat internal dengan agenda konsinyering dalam rangka pembahasan Hapsem II Tahun 2010. finalisasi hasil telaahan BAKN terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan BPK atas BPN dan KLH. temuan pemeriksaan dan peningkatan kualitas laporan. Hasil keputusan rapat internal antara lain melakukan diskusi dengan Bp. I Agung Gusti Made Rai. Pada masa persidangan IV tahun 2010 – 2011 yang diadakan pada bulan Mei s. pertemuan konsultasi dengan Pimpinan DPR/Wk Ketua Bidang Korekku tentang SOP BAKN DPR RI dan penyampaian Laporan Hasil Telaahan BAKN terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI atas LKPP tahun 2010. Hasil rapat internal BAKN pada masa persidangan II tahun 2010 – 2011 berupa kunjungan kerja ke Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 1 s. membahas surat undangan dari Centre for Democratic Institutions (CDI) .d 4 Desember 2010 dan ke Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 9 s. rencana pembahasan LKPP 2010.d XI dan Badan Anggaran DPR RI membahas SOP BAKN dan tindaklanjutnya sebagai acuan standar dalam proses kerja BAKN.Australia. kunjungan kerja di Provinsi Lampung tanggal 30 Mei s.d XI. penundaan kunjungan kerja ke luar negeri. persiapan kunjungan kerja ke Australia. menyepakati untuk menghadiri undangan dari CDI ke Australia.

BAKN telah mengadakan diskusi dengan Bp. Ak. Bp Darul Siska dan Bp Nurul Falakh dan juga melakukan pertemuan dengan BPK RI untuk mendapatkan masukan tentang mekanisme kerja dan keprotokolan BAKN. pada tanggal 27 September 2011. Rapat Dengar Pendapat dengan BPKP. BP Migas dan Dirjen Migas Kementerian ESDM. sehingga proses pelaksanaan menindaklanjuti temuan hasil pemeriksaan BPK RI akan berjalan dengan baik. Jawa Barat dan diskusi tentang penguatan dan pengembangan BAKN dengan CDI di Bandung . Untuk mendapatkan masukan-masukan yang diperlukan. Sedangkan pada tahun sidang 2010 – 2011 BAKN menerima audensi Ketua Fraksi dan para Ketua Komisi DPRD Provinsi Jawa Barat. kunjungan kerja ke beberapa BUMN di Bandung. 3. Anwar Nasution. Hasil keputusan rapat internal antara lain adalah ditetapkannya H. dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran dan mempelajari tentang tatakerja dan kegiatan lembaga tersebut yang mungkin dapat diterapkan dalam menjalankan tugas dan fungsi BAKN. Dirjen Pajak dan Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan dengan acara klarifikasi tentang Hutang Pajak Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) Migas dan Cost Recovery pada tanggal 22 September 2011. Sebagai Alat Kelengkapan DPR RI yang baru. pertemuan konsultasi dengan Ketua dan Anggota BPK terkait Laporan Hasil Pemeriksaan BPK semester I tahun 2011. Dirjen Pajak dan Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan. MA guna mendapatkan masukan yang diperlukan. Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kepala BPKP. pembahasan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Proyek ADB TA 2010 yang dikelola oleh Pemerintah Indonesia. I Gusti Agung Made Rai. Dalam upaya untuk meningkatkan kinerja BAKN. Audiensi Kegiatan lainnya yang dilaksanakan oleh BAKN berupa mengadakan audensi dalam rangka menerima masukan atau menampung aspirasi/pengaduan dari masyarakat. Tahun Sidang 2011 – 2012 Pada masa persidangan I tahun 2011 – 2012 (Agustus – Oktober 2011). BAKN perlu untuk merumuskan mekanisme tugas. SI. Ahmad Muzani (A21)/Fraksi Partai Gerindra sebagai Ketua BAKN dan Mayjen TNI (Purn) Yahya Sacawiria.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 c. persiapan kunjungan kerja dan rencana pembahasan Hapsem I tahun 2011. telah diadakan rapat internal sebanyak 11 (sebelas) kali. RDP dengan Dirjen Migas Kementerian ESDM dan Kepala BP Migas dengan acara klarifikasi tentang Hutang PPh/BPDR Migas dan Cost Recovery perusahaan Kontraktor Minyak Asing. Dalam kunjungan kerja ke Spanyol pada tanggal 24 s. Anwar Nasution dan Bp. Kunjungan Kerja Keluar Negeri Telah dilakukan pula kunjungan kerja keluar negeri khususnya ke negara yang parlemennya telah memiliki lembaga sejenis yaitu Spanyol dan Australia. kerjasama dengan Program Representasi (Prorep) melaksanakan workshop sehari tentang “Optimalisasi Peran dan Fungsi BAKN dalam Pengawasan Parlemen terhadap Keuangan Negara” pada tanggal 25 Oktober 2011. BAKN mengunjungi Tribunal De Cuentas (TC) yang merupakan Badan Pemeriksa Keuangan Spanyol dan Intervencion General De La Administracion Del Estado (IGAE) yang merupakan unit BAKN-DPR RI | 169 . BAKN mengadakan diskusi lanjutan dengan Bp. MM (A-488)/ Fraksi Partai Demokrat sebagai Wakil Ketua BAKN.d 30 September 2010. fungsi dan kelembagaannya agar terlaksana fungsi pengawasan DPR RI secara optimal dalam mewujudkan akuntabilitas keuangan Negara.P. 2. Pada tahun sidang 2009 – 2010. BAKN menerima audiensi DPRD Kabupaten Kendari dan DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara sehubungan dengan terbentuknya BAKN sebagai salah satu Alat Kelengkapan DPR RI. pada masa persidangan III tahun 2010 – 2011. dengan agenda antara lain berupa penetapan Pimpinan BAKN DPR RI.

Pada tanggal 6 s. Pada masa mendatang diharapkan akan terbentuk organisasi semacam Canadian Council of Public Accounts Committee (CCPAC) yang sangat efektif dalam memperkuat pengawasan keuangan publik karena pada setiap wilayah hukum dalam CCPAC memiliki auditor independen. seperti dalam sistem Washington.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 pengendalian internal pengelolaan ekonomi dan keuangan sektor publik. DPD. sebagaimana dalam sistem Westminster. Dari pengalaman di beberapa Negara dapat disimpulkan bahwa : a. BAKN-DPR RI | 170 . a. Peranan BAKN masih lemah. Pada tanggal 25 Oktober 2011 telah diselenggarakan Workshop sehari tentang “Optimalisasi Peran dan Fungsi BAKN dalam Pengawasan Parlemen terhadap Keuangan Negara” diadakan atas kerjasama BAKN dengan Program Representasi (Prorep). Workshop Untuk meningkatkan kinerja BAKN selain kegiatan-kegiatan di atas. Di samping itu juga memperoleh pemahaman tentang model-model keterlibatan PAC dalam proses penganggaran.d 12 Pebruari 2011 melakukan workshop penguatan dan pengembangan BAKN bekerjasama dengan CDI Australia di Bandung. BAKN mendapat pemahaman tentang pengawasan keuangan negara oleh Public Accounts Committee (PAC) di Negara-negara Commenwelth serta bagaimana system pendukungnya.d 12 Februari 2011. dan masih lemahnya partisipasi public dan media. Memotori adanya kerjasama dan koordinasi antara BAKN dengan BPK RI. yang membahas : 1) Evaluasi dan Optimalisasi BAKN DPR RI 2) Proses dan Penyusunan Anggaran Negara 3) Hubungan Kelembagaan antara BAKN dengan BPK dalam Pengawasan Parlementer di Bidang Keuangan Negara 4) Mekanisme dan Proses Penetapan APBN di DPR b. komisi maupun alat kelengkapan lainnya. b. DPRD. Dalam sistem ex-post. Selain itu masih lemahnya dukungan dan kepedulian dari partai politik. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh BAKN antara lain adalah : a. Pada tanggal 6 s. yaitu ex-post dan ex-ante. Sedangkan dalam sistem ex-ante. telah dilaksanakan pula kegiatan lainnya berupa workshop dengan beberapa instansi terkait dan diskusi-diskusi serta kerjasama dengan pihak-pihak yang peduli dengan keberadaan BAKN. 4. karena secara perundang-undangan belum memberikan kewenangan kepada BAKN terhadap proses penganggaran dan tindak lanjut atas temuan hasil pemeriksaan BPK. BAKN mengunjungi Australia dalam rangka menghadiri undangan Centre for Democratic Institutions (CDI) untuk ikut serta dalam acara The Sixth Annual Summer Residency Program for Public Accounts Commitees. staf pendukung dan tenaga ahli untuk membangun pengawasan keuangan Negara yang transparan dan akuntabel b. Dari kunjungan tersebut BAKN memperoleh gambaran tentang profil dan cara kerja lembaga negara Spanyol tersebut . PAC terlibat lebih banyak pada sisi pengawasan pelaksanaan anggaran. PAC terlibat secara mendalam dalam perumusan anggaran sebelum disahkan.

huruf b. hambatan pemeriksaan serta penyajian dan kualitas laporan 2. BAKN dapat mengusulkan kepada komisi agar BPK melakukan pemeriksaan lanjutan 4. terdiri atas : a. BAKN dibantu oleh akuntan. b.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 BAB III AGENDA DAN TANTANGAN KE DEPAN A. jumlah anggota BAKN yang ada sebanyak 9 (Sembilan) orang dibantu oleh Tenaga Ahli sebanyak 5 (lima) orang dan dibantu oleh beberapa orang dalam Kesekretariatan BAKN. Selanjutnya dalam pasal 114. Sebagaimana yang diketahui. PENDAHULUAN Tugas dan kegiatan utama BAKN sebagaimana dalam UU No. Sesuai dengan UU No. 2. lembaga negara lainnya. ayat : 1. DPR menetapkan susunan dan keanggotaan BAKN pada permulaan masa keanggotaan DPRdan permulaan tahun siding. Ditinjau dari jenisnya. adalah : 1. 27 Pasal 113 ayat : 1. Anggota BAKN berjumlah paling sedikit 7 (tujuh) orang dan paling banyak 9 (Sembilan) orang atas usul fraksi DPR yang ditetapkan dalam rapat paripurna pada permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. b. BAKN dapat meminta penjelasan dari BPK. BAKN bertugas : a. Kabupaten dan Kota). Untuk memenuhi amanat dalam UU No. Melakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK yang disampaikan kepada DPR. atau badan lain yg mengelola keuangan negara 3. ahli. Pemeriksaan Kinerja. Hasil kerja sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a. Menindaklanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK atas permintaan komisi. untuk masa depan BAKN mendapatkan tantangan yang cukup besar dan seharusnya mempunyai agenda khusus. meliputi : a. 27 pasal 113 terkait dengan laporan hasil pemeriksaan terhadap pengelolaan Keuangan Negara yang telah dilakukan oleh BPK RI dengan jumlah yang cukup banyak serta permasalahan yang ditemukan semakin komprehensif. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf (c). dan c. Kementrian / Lembaga Tinggi Negara. sehingga keberadaan BAKN yang merupakan salah satu Alat Kelengkapan Dewan (AKD) di DPR RI BAKN-DPR RI | 171 . dan huruf d. dan d. BI. dan/atau peneliti”. Pemerintah Daerah (Provinsi. Memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja pemeriksaan tahunan. BLU. Pemerintah. Ditinjau dari ruang lingkup entitasnya pemeriksaannya. Menyampaikan hasil penelaahan sebagaimana dimaksud huruf (a) kepada komisi c. Pemda. b. Pada saat sekarang. dan d. Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu 2. BUMN serta BUMD. c. Pemeriksaan Keuangan. Pemerintah Pusat. BUMN. disebutkan bahwa : “Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 113 ayat (1). 27 Tahun 2009 pasal 111. BUMD. bahwa laporan-laporan hasil pemeriksan yang diterima dari BPK RI melalui Pimpinan DPR RI yang kemudian diserahkan kepada BAKN. disampaikan kepada pimpinan DPR dlm rapat paripurna secara berkala. analis keuangan.

dapat lebih tanggap dan konstruktif sebagai bahan utama dalam melakukan tindak lanjut dan/atau pembahasan dengan para mitra kerjanya masing-masing. Optimalisasi Peran dan Fungsi BAKN Sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. BLU. BAKN diharapkan dapat melaksanakan tugas penelaahan secara sistematik sehingga dapat menyajikan ”hasil telaahan” yang efisien (berdaya guna) dan efektif (berhasil guna) yang akan disampaikan kepada masing-masing Komisi sesuai dengan bidangnya. kemudian melakukan proses ”mengkaitkan dengan kebijakan dan anggaran/dana yang telah ditetapkan sebelumnya” dan akhirnya melakukan proses ”pemilahan sesuai dengan mitra kerja komisi-komisi”. Selanjutnya dalam UU No. 27 tahun 2009 pasal (1) huruf d dan ayat (3) dikemukakan. kemudian dilanjutkan dengan proses ”menganalisa yang dipermasalahkan/ditemukan oleh BPK”. Selanjutnya dalam UU No 27 tahun 2009 pasal (1) huruf c dan ayat (2) dikemukakan. temuan atau permasalahan yang diprioritaskan dirangkum tersebut harus cukup material (dari segi kepentingan dan dari segi jumlahnya). Kemungkinan dapat terjadi. bukan berarti melakukan pemeriksaan sebagaimana lazimnya.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 dapat lebih bermanfaat dan berbobot sebagaimana yang diharapkan oleh Dewan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. kemudian hasil telaahan tersebut disampaikan kepada Komisi-Komisi di DPR. BAKN-DPR RI | 172 . – Temuan/permasalahan yang cenderung terjadi berulang-ulang karena kurangnya perhatian/tanggap dari para pengelola keuangan/kebijakan. dan melakukan RDP dengan obyek yang diperiksa sebagaimana yang dipermasalahkan. dengan maksud agar temuan/permasalahan tersebut lebih jelas dan terarah sehingga dapat diselesaikan atau dikembangkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan sebagaimana peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bank Indonesia. – Temuan/permasalahan yang relatif jumlahnya sangat merugikan Negara/Daerah. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan tindak lanjut dengan melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pihak pemeriksa yang dalam hal ini adalah BPK RI. karena kemungkinan keterbatasan waktu dan anggaran. Dengan demikian. Pelaksanaan tugas penelaahan tersebut merupakan suatu proses ”pemahaman terhadap isi/maksud yang dilaporkan oleh BPK”. hambatan pemeriksaan serta penyajian dan kualitas laporan. BUMN. Pelaksanaan ”menindaklanjuti” mempunyai pengertian pendalaman atau investigasi terhadap temuan/permasalahan. namun hal tersebut semuanya demi untuk kepentingan umum atau masayarakat. BUMD dan lembaga atau badan lain yang mengelola Keuangan Negara. bahwa BAKN harus menindaklanjuti hasil pembahasan dengan Komisi atas permintaan Komisi. bahwa beberapa temuan hasil pemeriksaan oleh BPK tidak sesuai dengan pandangan DPR RI sebagaimana informasi atau data yang diperoleh sendiri oleh DPR RI dari masyarakat atau sumber lain. bahwa temuan hasil pemeriksaan BPK yang disampaikan kepada DPR harus dilakukan ”penelaahan” oleh BAKN. Pemda. dan melalui Komisi dapat mengusulkan agar BPK melakukan pemeriksaan lanjutan. Sehingga Komisi yang menerima hasil telaahan dari BAKN. antara lain: – Temuan/permasalahan yang menyangkut atau berdampak memperoleh perhatian masyarakat banyak/luas. antara lain dapat meminta penjelasan dari BPK. B. 27 ayat (1) huruf a dan b. bahwa BAKN memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja pemeriksaan tahunan (RKPT). – Temuan/permasalahan yang perlu segera diselesaikan. sehingga diperlukan presepsi yang sama terhadap suatu permasalahan/temuan meskipun dengan cara pandang yang berbeda. Pemerintah. Lembaga Negara lainnya. Rangkuman penelaahan oleh BAKN harus lebih selektif dalam arti tidak semua temuan harus dirangkum untuk disampaikan kepada Komisi.

terutama yang menyangkut : BAKN-DPR RI | 173 . lebih jelas (transparant) dan mudah dipahami. sehingga BAKN diharapkan menjadi suatu entitas yang lebih dapat dipercaya untuk memperbaiki kinerja BPK dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sehingga dapat menghasilkan laporan hasil pemeriksaan yang lebih optimal. BAKN dapat dibantu oleh tenaga akuntan. – BAKN dapat lebih aktif berkoordinasi dengan Komisi dan/atau Alat Kelengkapan Dewan lainnya. ahli. sehingga dapat memberi dorongan masyarakat untuk memberikan masukan kepada DPR/BAKN apabila ditemukan beberapa kasus yang sama atau mirip dengan kasus yang telah dilaporkan oleh BPK RI. C. maka untuk 11 Komisi diperlukan sebanyak 22 orang. apabila pembagiannya/ distribusinya sesuai dengan mitra kerja sebanyak 11 Komisi : – Untuk Anggota BAKN. apabila diperlukan 1 (satu) orang untuk masing-masing Komisi. maka BAKN memerlukan tenaga yang kompeten. Temuan hasil pemeriksaan BPK RI atas pengelolaan Keuangan Negara merupakan salah satu dokumen penting bagi Negara. sehingga hasil pemeriksaan BPK RI dapat lebih dioptimalkan dan bermanfaat bagi Negara dan Masyarakat. Dengan demikian diharapkan : – Temuan hasil pemeriksaan BPK dapat diakses oleh masyarakat. misalnya : – Tenaga Akuntan untuk memahami laporan hasil pemeriksaan.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 Pengertian ”masukan” dan ”mengusulkan” kepada BPK tersebut bermakna ”rekomendasi” kepada BPK. dan/atau peneliti dengan tidak menentukan jumlah orangnya. – Untuk Tenaga Ahli. bahwa untuk melaksanakan tugas. Sebagai contoh. perlu didukung penguatan terhadap system kinerja atau Standar Prosedur Operasional (SOP). analis keuangan. yaitu Anggota Dewan sebanyak 9 (Sembilan) orang dibantu dengan Tenaga Ahli sebanyak 5 (lima) orang. Selain dari penguatan SDM sebagaimana diatas. 27 pasal 111 ayat (1) dan (2) dikemukakan. hal ini masih perlu dipertimbangkan karena kurang memadai untuk menghasilkan telaahan yang berkualitas dan tepat waktu. apabila untuk penyiapan telaahan masing-masing Komisi diperlukan 2 (dua) orang. Apabila dikaitkan dengan berbagai temuan/permasalahan yang dilaporkan dalam hasil pemeriksaan BPK sangat bervariasi. Penguatan Institusi BAKN   tenaga ahli yang kompeten dalam bidang Pemeriksa kewenangan BAKN untuk melakukan pengawasan legislative secara mandiri Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam paragraph sebelumnya. baik dalam DPR RI sebagai salah satu Alat Kelengkapan Dewan . maka untuk untuk 11 Komisi diperlukan sebanyak 11 orang ditambah 1 (satu) orang sebagai koordinator. Apabila dikaitkan dengan jumlah laporan yang diterima dari BPK RI relatip cukup banyak dan bervariasi pada setiap semester tahunan dibandingkan dengan SDM yang ada sekarang. bahwa susunan dan keanggotaan BAKN ditetapkan oleh DPR pada saat permulaan masa keanggotaan dan permulaan tahun sidang dengan jumlah antara 7 (tujuh) orang sampai dengan 9 (Sembilan) orang. – Tenaga Displin ilmu lainnya untuk memahami beberapa hasil pemeriksaan yang bersifat teknis. Selanjutnya dalam pasal 114 dikemukakan. namun juga terbuka umum bagi masyarakat sebagaimana yang berlaku dibeberapa Negara. penguatan baik dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Peralatan (SDP) maupun dari segi kewenangannya dalam melakukan pengawasan. bahwa peran BAKN. – BAKN perlu diperkuat dan mendapat dukungan publik dalam menjalankan tugasnya sebagai penelaah laporan hasil pemeriksaan keuangan dan tugasnya melakukan pengawasan secara mandiri. Dalam UU No.

SOP Tindaklanjut Temuan Hasil Pemeriksaan. SOP Pengarsipan Dokumen/Berkas BAKN. Peningkatan penguatan SOP harus pula didukung dengan penguatan Sumber Daya Peralatan (SDP) yang akan digunakan oleh SDM yang ada di BAKN.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 – – – – – SOP Penelaahan Laporan Hasil Pemeriksaan. misalnya Komputer dan jaringannya serta program terapan (software) yang akan digunakan. BAKN-DPR RI | 174 . SOP Administrasi dan Pelaporan Hasil Penelaaahan dan Pelaporan Hasil Tindak Lanjut. SOP Laporan Semester dan Laporan Tahunan BAKN.

Pembentukan BAKN. Namun demikian. Bukan laporan semester tahun anggaran berjalan yang diharapkan oleh DPR yang dapat digunakan untuk melakukan koreksi dalam rangka pengawasan legislatif. sangat menghambat pelaksanaan efektifitas tata pemerintahan yang baik (good governanace). kapasitas yang cukup dalam kelembagaan sesuai dengan mandatnya. yang diposisikan untuk memiliki tingkat yang sama sebagai Komisi DPR dan memiliki tugas utama untuk menindaklanjuti temuan audit BPK. Lembaga pemeriksaan intern di kementerian maupuan daerah pada umumnya lemah. Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) telah didirikan di Parlemen. masih terjadi buruknya sistem dari ketidakjelasan akuntabilitas. kini dengan lahirnya Undang-undang Keuangan Negara telah dilakukan perubahan terhadap laporan jenis ini. alokasi sumber daya yang efisien antar lembaga. harapan DPR. lebih terfokus pada sisi analisis keuangan mengikuti sistem akuntansi (to satisfy the accounting analysis). merupakan indikasi dari kesediaan DPR untuk meningkatkan kemampuan pengawasan. lahirnya Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) sebagai institusi kelengkapan DPR dirasakan sangat penting artinya. Sekretariat DPR telah menghasilkan laporan analisis hasil audit BPK (tiga laporan di tahun 2007. merupakan himpunan hasil kerja BPK dalam suatu semester sesuai dengan program kerja BPK. dengan akuntabilitas lembaga audit di pusat dan daerah yang lemah. untuk penyusunan anggaran perubahan bersama pemerintah. pada hakekatnya. BAKN-DPR RI | 175 . Artinya. Dari 2007 sampai 2010. Meskipun Indonesia telah memiliki pengalaman dalam audit sektor publik selama beberapa dekade. Padahal. Terdapat bukti bahwa laporan analisis secara rutin telah digunakan oleh anggota dewan sebagai referensi untuk diskusi dengan Pemerintah tentang persiapan penyusunan anggaran negara dan perubahannya dan isu khusus nasional lainnya. sembilan laporan di tahun 2008. Akibatnya. Walaupun. Tanggung jawab atas kegagalan ini sebagian terletak pada fungsi sektor audit publik yang tidak dapat memenuhi mandatnya. sebagaimana tercermin dalam masalah substansi dan kualitas lembaga pemeriksaan yang kritis. Laporan ini telah membantu anggota dewan dalam memahami hasil audit BPK secara lebih baik dan lebih mudah. harus dihindarkan adanya pemikiran bahwa lahirnya BAKN akan diarahkan sebagai alat untuk memuaskan DPR memenuhi keinginannya untuk memperoleh informasi yang selama ini dibutuhkan.dampak akuntabilitas yang masih lemah. Sebagai hasil dari kelanjutan upaya BPK dalam mempromosikan pentingnya tindak lanjut oleh parlemen atas temuan audit BPK. laporan BPK yang disampaikan kepada DPR akan mampu menggambarkan bagaimana hasil kerja pemerintah dalam melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan oleh lembaga legislatif. Sekretariat DPR telah menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan sebagai pedoman operasinal harian bagi BAKN.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 BAB IV PENUTUP A. antara lain. baik dari materi maupun bentuknya. Hal tersebut meliputi suatu kerangka lembaga dan perundang-undangan yang kuat. laporan pemeriksaan terhadap pertanggungjawaban keuangan pemerintah. pengawasan yang efektif oleh parlemen dan tindak lanjut oleh lembaga eksekutif dan transparansi atas proses pemeriksaan dan hasilnya. dan upaya serius untuk meletakkan kerangka akuntabilitas lembaga . masalah transparansi yang semakin membaik. dan lima puluh laporan di tahun 2010) dan telah dipresentasikan kepada Parlemen. misalnya. Sementara itu. Baik dalam skala domestik maupun internasional. KESIMPULAN Lembaga pemeriksaan sektor publik menghendaki adanya faktor-faktor kunci untuk menciptakan sektor publik yang efisien dan efektif. Laporan hasil pemeriksaan semesteran (Hapsem) yang dihimpun oleh BPK dan disampaikan kepada DPR. Dalam situasi seperti tersebut di atas. Indonesia dianggap sebagai Negara dengan tingkat korupsi yang masih meluas .ketidakjelasan demokrasi. empat belas laporan di tahun 2009.

bukan berorientasi pada mikro-teknis. 2. BAKN harus dapat menjaga kredibilitas atau kepercayaan publik/masyarakat. Lahirnya BAKN sangat penting artinya dalam rangka menjembatani atau sebagai interface dalam hubungan antara DPR dan BPK sebagai lembaga politik. BAKN-DPR RI | 176 . 5. 3. 27 tahun 2009 tentang MD3 khususnya yang menyangkut wewenang. BAKN lebih aktif berkoordinasi dengan Komisi dan/atau Alat Kelengkapan Dewan lainnya dalam rangka mengoptimalkan temuan hasil pemeriksaan BPK RI untuk ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait. akan diharapkan melakukan audit terhadap pelaksanaan kegiatan keuangan Negara. BAKN diharapkan mampu menjadi interface dalam hubungan antara DPR dan BPK. BAKN perlu memperbanyak investigasi terhadap temuan BPK RI yang krusial dan mendapat perhatian masyarakat agar lebih jelas dan terarah sehingga dapat ditindak lanjuti oleh pihakpihak yang terkait sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal melaksanakan fungsi pengawasan keuangan negara. 3. khususnya dalam bidang akuntansi. fungsi dan tugas BAKN dalam melakukan pengawasan legislatif terhadap akuntabilitas keuangan Negara. 5. REKOMENDASI 1. BAKN yang didukung oleh tenaga-tenaga ahli. Oleh karena itu. Dalam memberikan masukan kepada BPK RI. Dalam kedudukannya yang demikian BAKN diharapkan mampu melakukan pendekatan dan mendorong BPK untuk menyajikan informasi sesuai kebutuhan DPR. lembaga tersebut harus memiliki sikap pikir yang berorientasi makrostrategis. Hal ini penting artinya agar informasi/ laporan BPK benar-benar bermanfaat untuk digunakan sebagai sarana pengawasan DPR sesuai keinginan Undang-undang Dasar 45. Bukan sekedar memenuhi kaidah-kaidah atau sesuai analisis akuntansi pemerintah. Lembaga BAKN harus diposisikan sebagai ujung tombak (focal point) DPR dalam usaha memahami masalah-masalah keuangan Negara yang diinformasikan oleh BPK ataupun berbagai pihak lainnya. dalam melaksanakan pengawasan terhadap pengelolaan keuangan Negara. 6. 2. Dapat dismpulkan beberapa hal dalam laporan tahunan ini : 1. BAKN harus memperhatikan hal-hal yang menjadi perhatian masyarakat dan mempunyai risiko yang tinggi dalam penyelenggaraan keuangan negara. Terkait dengan itu. lembaga legislatif memerlukan bantuan lembaga audit independen. Atau lebih konkritnya. 4. 4. Informasi/ laporan yang disajikan oleh BPK hingga saat ini masih belum memenuhi kebutuhan DPR untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan yang tercermin dalam pelaksanaan Keuangan Negara. B. BAKN perlu diperkuat dan mendapat dukungan publik dalam menjalankan fungsinya mengawasi tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK RI.LAPORAN TAHUNAN 2010 DAN 2011 BAKN akan diarahkan untuk melakukan langkah-langkah teknis-operasional dalam rangka mendukung peran pengawasan DPR. Lembaga legislatif merupakan lembaga penetap kebijakan (organe deliberante). Perlu melakukan penyempurnaan terhadap UU No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful